Urwah bin Zubair Fuqaha As Sab’ah Mencaci Sahabat Nabi SAW : Hadiah Buat Pengikut Salafy

Urwah bin Zubair Fuqaha As Sab’ah Mencaci Sahabat Nabi SAW

Siapa yang tidak mengenal Urwah bin Zubair? Seorang tabiin masyhur putra sahabat Nabi Zubair bin Awwam RA. Beliau termasuk salah seorang Fuqaha As Sab’ah yang terkenal dalam sejarah kaum muslimin. Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar RA, Bibinya adalah Aisyah RA dan ia adik kandung Abdullah bin Zubair RA. Urwah bin Zubair dikenal tsiqah dan banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah RA. Hadis-hadisnya dijadikan hujjah dalam Kutub As Sittah [Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Dawud].

Sekarang apa jadinya jika Urwah bin Zubair ternyata mencaci sahabat Nabi. Mungkin ada yang tidak percaya, tetapi telah diriwayatkan dalam kabar shahih kalau Urwah bin Zubair pernah mencaci Hassan bin Tsabit RA seorang sahabat yang pernah membela Nabi SAW.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو أسامة عن هشام عن أبيه أن حسان بن ثابت كان ممن كثر على عائشة فسببته فقالت يا ابن أختي دعه فإنه كان ينافح عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari Ayahnya [Urwah] bahwa Hassan bin Tsabit termasuk orang yang berlebihan membicarakan Aisyah maka aku mencacinya. Aisyah berkata “wahai keponakanku, biarkan saja dia karena sesungguhnya dia pernah membela Rasulullah SAW”. [Shahih Muslim 4/1933 no 2487]


Mengapa Urwah mencaci Hassan bin Tsabit? Karena menurutnya Hassan bin Tsabit berlebih-lebihan dalam membicarakan atau mencela Aisyah. Peristiwa dimana Hassan membicarakan Aisyah adalah peristiwa yang berlangsung lama sebelumnya yaitu ketika Rasulullah SAW masih hidup [Urwah belum lahir]. Hassan bin Tsabit termasuk sahabat Nabi yang ikut menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah [hadis Al Ifki].

Tetapi bukankah mencaci sahabat Nabi itu bid’ah. Bukankah mereka yang mencaci sahabat Nabi dinyatakan sesat dan rafidhah. Aneh bin ajaib tidak ada satupun ulama yang menuduh Urwah bin Zubair rafidhah, padahal ia terbukti mencaci sahabat Nabi. Silakan lihat kitab-kitab biografi perawi hadis, tidak ada ulama yang mengkritik atau mencacat Urwah karena telah mencaci sahabat Nabi, tidak ada ulama yang menuduhnya rafidhah walaupun terdapat riwayat shahih kalau ia mencaci sahabat. Padahal diantara para ulama itu ada yang tidak segan-segan mencacat perawi hanya karena perawi tersebut meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait. Terkadang mereka dengan mudahnya menuduh perawi tersebut sebagai rafidhah tanpa membawakan bukti riwayat shahih kalau perawi tersebut mencaci sahabat Nabi. Apakah jarh wat ta’dil itu terkesan subjektif? Entahlah, yang pasti jarh wat ta’dil memang susah untuk diverifikasi kebenarannya. Silakan lihat pendapat para ulama mengenai Urwah bin Zubair. Al Ajli berkata tentang Urwah bin Zubair

عروة بن الزبير بن العوام مدني تابعي ثقة كان رجلا صالحا لم يدخل في شيء من الفتن

Urwah bin Zubair bin Awwam tabiin madinah yang tsiqat, ia seorang yang shalih dan tidak pernah sedikitpun terkena fitnah [ Ma’rifat Ats Tsiqah no 1229 dan At Tahdzib juz 7 no 352]

ذكره بن سعد في الطبقة الثانية من أهل المدينة وقال كان ثقة كثير الحديث فقيها عالما ثبتا مأمونا

Disebutkan Ibnu Sa’ad dalam thabaqat kedua dari penduduk Madinah, dan ia berkata “seorang yang tsiqah banyak meriwayatkan hadis, faqih, alim, tsabit dan ma’mun”. [At Tahdzib juz 7 no 352]

عروة بن الزبير بن العوام بن خويلد الأسدي أبو عبد الله المدني ثقة فقيه مشهور

Urwah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al Asadi Abu Abdullah Al Madani dikenal tsiqat dan faqih. [At Taqrib Ibnu Hajar 1/671]

Urwah bin Zubair telah disepakati ketsiqahannya. Bahkan para ulama menilai dia seorang yang faqih dan luas ilmunya sehingga dikabarkan kalau sahabat Rasulullah pun sering bertanya kepadanya.

ابن أبي الزناد حدثني عبد الرحمن بن حميد بن عبد الرحمن قال دخلت مع أبي المسجد فرأيت الناس قد اجتمعوا على رجل فقال أبي انظر من هذا فنظرت فإذا هو عروة فأخبرته وتعجبت فقال يا بني لا تعجب لقد رأيت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يسألونه

Ibnu Abi Zanad berkata telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Humaid bin Abdurrahman yang berkata “aku masuk bersama ayahku ke masjid maka aku melihat manusia sedang berkumpul kepada seseorang. Ayahku berkata “lihatlah siapa dia” maka aku mendekatinya dan ia adalah Urwah. Kemudian aku ceritakan dengan heran kepada ayahku. Ayahku terus berkata “jangan heran wahai anakku sungguh aku melihat sahabat-sahabat Rasulullah SAW bertanya kepadanya. [Siyar ‘Alam An Nubala  Adz Dzahabi 4/425]

Mari kita tanyakan kepada para pengikut salafiyun. Apakah kalian akan mengecam dan melaknat Urwah bin Zubair?. Bukankah kalian beranggapan siapa yang mencaci sahabat maka akan mendapat laknat Allah dan Rasulnya. Bersikaplah konsisten kalau kalian mampu. Jika tidak bisa maka diamlah dan jangan terlalu angkuh.

Kalau kalian berdalih Urwah dibolehkan mencaci Hassan bin Tsabit karena kesalahan Hassan yang menyebarkan berita bohong terhadap Aisyah, maka coba bandingkan dengan berbagai kesalahan sahabat yang pernah dimuat di blog ini.

Adakah penulis blog ini mengatakan caci-maki terhadap sahabat tersebut? Tidak ada kata-kata cacian, penulis blog ini hanya membawakan riwayat shahih tentang kesalahan sebagian sahabat Nabi. Anehnya ternyata kalian pengikut salafy bersemangat sekali menuduh blog ini [mencaci] bahkan menyebutnya Rafidhah tetapi terhadap Urwah bin Zubair yang nyata-nyata mencaci sahabat Nabi, kalian diam seribu bahasa. Mungkin sudah saatnya untuk memaklumi keterbatasan akal pikiran kalian.

38 Tanggapan

  1. Memang memprihatinkan para oknum yang mengaku pengikut Salafy ini. Dalam hal ini mereka tak ada bedanya dengan “mazhab standar ganda”nya Amerika dan kroni-kroninya.
    @Bung SP salam kenal. Ulasan yang patut mendapat 2 jempol…

  2. Artikel menarik…

    disinilah doble standartnya ahli hadis sunni.. padahal mereka telah membikin kaedah barang siapa (perawi) yang mencaci-maki sahabat hadisnya tertolak.. tetapi ternyata mereka tidak menta’ati hukum yang mereka buat sendiri.

    sekedar info ibnu jakfari juga menulis artikel berhubungan dengan ini sudah 3 seri

    Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (1)

    http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-imam-ali-as-dalam-menimba-informasi-agama-1/

  3. biasanya klo artikel yg kaya gini para salafiyun itu nggak pada mau komentar… (karena bingung kalee ya mau ngomong apa lagi)😀

  4. aduh-aduh kayanya ada orang yang kebakaran jenggot, emang kalo orang syiah pandai berdusta apalagi diajarkan oleh pemimpin mereka, ituloh yang namanya taqiyah,
    orang syiah emang terkenal memelintir hadis dan pendapat ulama sunni, tidak jelas asalnya hadisnya sohih atau tidak eh lebih parah lagi ditafsirkan sendiri tapi saya maklum inikan blog punya orang syiah yang amat membenci ahlussunnah wal jama’ah jadi wajar kalo suka mencaci dan memfitnah
    buat orang-orang sunni dari NU, MUHAMMADIYAH, SALAFI, WAHABI.PERSIS, DLL …..hati2 ya dgn blog ini sebab bisa menyebabkan kita sesat dan menjadi syiah…a’udzubillah

  5. @joko……………….,

    ini lagi doyan menyebar fitnah dan provokasi,
    maling teriak maling.
    Jelas2 dlm blog ini tdk bicara mazhab apalagi mencaci dan menfitnah…………????!
    Astaghfirullah……….., semoga saja iblis masih mau menggodamu
    (ya iyalah, gmn iblis mau goda wong dia udah terjerumus sendiri. Kata iblis: ” cape2in aja”…………..)

    @joko………….,

    coba terjemahkan Qs 16: 106

    jgn ngomongin mslh Takiyah klu tdk paham salah2 kamu akan dapat murka Allah.

    salam

  6. Tetapi bukankah mencaci sahabat Nabi itu bid’ah. Bukankah mereka yang mencaci sahabat Nabi dinyatakan sesat dan rafidhah. Aneh bin ajaib tidak ada satupun ulama yang menuduh Urwah bin Zubair rafidhah

    standar ganda ini bukan hanya dilakukan kepada urwah, bahkan kepada Ibnu Taimiah pun yang bukan tabi’in bukan pula salaf.

    Tidak ada satupun salafi/wahabi yang mengatakan bahwa Ibnu Tamiah sesat, bid’ah atau rafidah karena telah melakukan kejahatan dengan mencaci sahabat Rasulullah saw yang mulia Ali bin Abi Thalib as. yang menurut hadis Bukhari kedudukan beliau bagaikan Harun dengan Musa hanya saja tidak ada nabi setelah Rasulullah saw. dan menuduhnya sebagai pembunuh banyak kaum Muslimin yang menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa dan shalat!

    bacalah caci maki Ibnu Taimiah dan tuduhan kejinya terhadap sahabat sayyidina Ali bin Abi Thalib kw:

    .

    و قَتَلَ خَلْقًا كثيرًا مِن الْمسلمين الذين يُقيمون الصلاةَ و يُؤتون الزكاة و يصومون و يصلُون.

    Ia (Ali) membunuh banyak kaum Muslimin yang menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa dan shalat!”

    (Baca Minhâj as Sunnah, 6/356)

    maksudnya sayyidina Ali kw, “membunuh banyak kaum Muslimin yang menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa dan shalat!” itu dalam perang Jamal dan shifin!

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, inilah kaum yang konon mengagungkan dan memuliakan sahabat itu !

  7. Salaam

    Sahabat adalah panutan,..lihat bagaimana sdr Joko dengan gampangnya mencaci,..orang/golongan lain, begitulah agama akan kelihatan dari mana dia diambil.

  8. @ All
    Begini uraian lengkapnya
    Seluruh sahabat itu boleh diteladani karena sahabat itu bagaikan gemintang di langit dengan siapa saja kamu mengambil teladan dari mereka, kamu akan memperoleh petunjuk. Atau kata al-Razi: “”Maka Allah pun memuliakan mereka dengan anugrahNya dan meninggikannya dalam posisi teladan. Karena itu Allah menafikan (menghilangkan) dari mereka keraguan, kebohongan, kesalahan, kekeliruan, kebimbangan, kesombongan, dan kecaman. Allah menyebut mereka ‘adul al-ummah…Mereka menjadi umat yang paling adil, imam-imam petunjuk, hujah agama, dan teladan (pengamalan) Al-Kitab dan Sunnah”

    Jadi semua perkataan dan perbuatan sahabat adalah hujjah agama dan harus diteladani. Jadi kalau sahabat itu melakukan bid’ah, bid’ahnya menjadi sunnah yang harus kita ikuti. JIka mereka berbuat kejahatan, misalnya berzinah, para ulama tidak menyebutnya kejahatan, tetapi ijtihad dan sahabat mendapat pahala satu.

    Nah untuk SP kaidah ini akan menjawab artikel ini dan artikel artikel lain yang sejenis,…….he he he he hidup sunni,..

  9. salam…

    biasa itu mah…😀

    maklum, standar ganda…

  10. Ass. hemm gitu yaaa, Allahuma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘Ala Aali Sayyidina Muhammad Waththahirin, waththayyibin

  11. @all
    Biasa mereka dari Wahaby/Salafy. Kalau mereka tak dapat membantah KEBENARAN caranya hanya mencaci, memaki dan kata2 kotor lain. Mereka2 tidak mengenal KEBENARAN. Benar anda ZAhra mereka bukan dimasuki iblis tetapi……..

    @SP
    Yang HAK selalu mengalahkan yang BATHIL.Ayahnya yakni Zubair ibn Awwampun pernah menyatakan bahwa mereka2 (termasuk Abubakar, Umar, Usman dll ) termasuk orang2 dalam ayat Fitnah.
    Walaupun Zubair kemudian membelot tapi dia seorang yang JUJUR dan begitu juga anaknya.
    Jadi apabila mereka dari sebagian suni apalagi Wahabi/Salay tidak memberikan predikat RAFIDHAH pada Urwah wajar aja. Sebab kalau Urwah mendapat predikat RAFIDHAH maka ayahnya dll sahabat, Ibnu Tayimiyah, Nasaruddin Alabaypun bakal mendapat predikat RAFIDHAH. Wasalam

  12. ketika wahabi berkata kpd ku bhw sanya mencaci sahabat adalah sesat (pdhal aku hanya mengungkap sjarah)
    1.kutanya kpd wahabi,bagaimana apabila membunuh sahabat?
    jawab nya “lbih sesat lagi”
    kutanya kpd wahabi,siapakah yg sesat ali kah atau aisyah yg sesat pd waktu perang jamal? (ribuan sahabat tewas)
    jwbnya “mereka berijtihad” n PAHALA NYA SATU
    kutanya kpd wahabi
    apakah sahabat itu maksum?
    jwbnya ” tidak.!”
    kutanya lagi bukan kah kamu katakan bhw sanya mereka klu salah pahalanya satu?bknkah berarti mereka maksum?
    wahabi: OOT ???

    2.kutanya kpd wahabi tahukah kamu bhwsanya aisyah mencaci n menyumpah utsman,krn meminta hak waris yg ditolak utsman
    jwbnya “ya aku tau..”
    kutanya siapa yg sesat utsman atau aisyah?
    jwbnya:perselisihan sahabat umat skarang hrs diam
    ku tanya lg:bgm dgn mereka yg membuka sejarah n tdk diam
    jwbnya:”sesat..!”
    kukatakan kpd sahabatku ahlu sunnah yg hadir
    sesungguhnya agama wahabi ini telah mengatakan bhw ulama2 besar ahlu sunnah,adalah sesat..!

  13. Ada sahabat berbuat salah, tidak perlu dibesar2kan. Ada sahabat mencaci sahabat yang salah juga tidak perlu dibesar2kan, karena mereka memang bisa saja mereka berbuat salah. Dan kita tidak pernah tahu apakah Allah SWT sudah/belum memaafkan, dan juga kita tidak pernah tahu apakah Rasulullah SAW ridha atau tidal kepada mereka.
    Di hadits yang sama ada nasihat yang mulia dari Sy Aisyah. bahwa beliau menahan dan menasihati untuk tidak mencaci orang yang telah berlebih2an kepada beliau dengan alasan yang begitu mulia, yaitu karena orang yang menyalahi beliau pernah membela Rasululah.
    Ini adalah pesan yang indah bahwa jika kita merasa sebagai umat Muhammad SAW maka kita pun akan berhati2 dalam bersikap thd mereka yang pernah membela (berjasa) kepada Rasulullah SAW, terlepas seberapa besar dosa dan kesalahan orang tsb.
    Karena saya meyakini bahwa Rasulullah tidak pernah melupakan budi seseorang kepada Beliau SAW sekecil apapun, karena Allah SWT tidak akan membiarkan Rasulullah pernah berhutang budi kepada siapapun tanpa dibalas.

    Salam damai.

  14. @thruthseeker

    kata2 anda sepertinya bijak,tp terlihat tdk adil

  15. @aldj
    wah suka ngobrol sama wahabi nih Mas🙂

    @truthseeker
    wah kata-kata yang baik sekali, saya setuju banget🙂

  16. @aldj
    Saya memang belum sampai maqam adil, jadi setiap kata2 dan tindakan saya sangat mungkin tidak adil (walaupun tentunya saya berusaha seadil mungkin).
    Saya sedang menyatakan pendapat saya dan berusaha sedapat mungkin berpedoman kepada Sang Teladan.
    “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”
    Dan juga senang mendengar siapa saja yang sedang memuliakan Rasulullah SAW. Dan saya lihat disitu Sy Aisyah sedang mengorbankan perasaannya/egonya dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW.
    Dan bagi saya itu adil (tentunya dengan keterbatasan ilmu saya dalam memaknai kata adil itu sendiri).

    Salam damai.

  17. @truth sekers
    terlihat tdk adil,adlh dikalimat “ada sahabat berbuat salah tdk perlu dibesar2kan”.
    sy bernyakan apa mksd dr kalimat tsb?

    @sp
    maklum si aku minoritas,jd pingin curhat

  18. @aldj
    Kalau kita menganggap mereka adalah manusia biasa yang bisa salah kenapa kemudian kita menghujat mereka.
    Miris saja melihat oknum2 mazhab yang begitu mudah mencap sesama muslim.
    Ada yang dengan mudah mengkafirkan.
    Dan ada yang dengan mudah memunafikkan.
    berbuat salah ataupun berbeda khan tidak selalu harus dikafirkan ataupun dimunafikan.
    Maaf kalau saya nanti tidak tertarik untuk berdebat lebih jauh ttg ini.
    Bagi saya untuk menyematkan predikat2 itu bukan area (wewenang) saya (kita). Pula tidak ada perlunya.

    Salam damai.

  19. Bukankah prilaku2 beberapa orang di sekitar Nabi yang saling mencaci, berkata-kata kasar pada akhirnya menunjukkan bahwa derajat ketaqwaan dan akhlak mereka memang msh beragam dan bertingkat-tingkat? Terutama karna msh sulitnya menghilangkan prilaku/kebiasaan jahiliyyah yg telah beratus-ratus tahun mereka jalankan?

    Saya melihat ini bukanlah sesuatu yg luar biasa. Tidak mudah mengubah kebiasaan-kebiasaan yang sdh mendarah daging. Saya pikir, maaf kalau keliru, Nabi saw dengan kebesaran hatinya tentu memaklumi. Berbeda halnya bila caci maki, berkata-kata kasar ini ditujukan kepada pribadi-pribadi mulia, Nabi saw dan ahlulbait yang suci, karna artinya sdh menjurus kepada kedengkian & kemunafikan dimana jelas sdh mendapat larangan dari Allah dan Nabi-Nya.

    Yang problem adalah ada pada masa sekarang ini 1 jenis sekelompok manusia yang tdk jeli melihat kenyataan-kenyataan ini dan tdk adil dan tidak arif dalam cara bagaimana mensikapinya. Akal dan hati mereka telah tertutup oleh megahnya kata-kata “telah berucap salafussaleh….”, “telah bersepakat salafussaleh….”, dst. tanpa menyadari bahwa rasa keadilan, kearifan, kebersamaan dan kekonsistenan telah diinjak-injak.

    Selanjutnya penistaan kepada sekelompok orang di sekitar Nabi saw akan semakin meluas apabila kita selalu membanding-bandingkan dgn manusia-manusia suci terpilih, Imam Ali as dan ahlulbait lainnya.

    Bagaimana mungkin kita akan mampu menghargai besi bila selalu kita dampingkan dengan emas murni? Besi adalah besi, ia punya peran & fungsi sendiri. Emas pun memiliki kedudukan, peran & fungsi tersendiri. Pun tanpa besi rasanya tidak akan mampu melihat keistimewaan & kemuliaan emas.

    Wallahu a’lam

    Salam

  20. Assalamualaikum

    Kpd : Syekh2 Salafy Saudi Wahabi

    Waduh Syekh mana tuh fatwa zindiq, kafir, musyrik buat Urwah bin Zubair Fuqaha As Sab’ah yAng jelas2 udah Mencaci Sahabat Nabi SAW tuh ??

  21. mungkin bagi para nashibi, yang di maksud sahabat Hanyalah Abu Bakar, Umar, dan Usman. jadi kalo yang di caci sahabat selain yang tiga ini nda papa kali ya?

    jasa mereka untuk islam besar sekali, karena itulah kesalahan mereka jadi benar🙂

  22. @ Abu Daffa……………,

    Betul itu, sahabat itu ribuan bukan cuma 3 orang,
    Ali juga sahabat. Sahabat setia malah, berani menggantikan posisi nabi untuk dibunuh oleh orang2 dzolim tp coba lihat ada tdk yang ikut prihatin dgn sahabat yang satu ini………………?
    mereka tau ga si pesan2 Nabi Muhammad SAW berkenaan dgn sahabat yang satu ini………………?

    salam

  23. maslah urwah atau sahabat saling berselisih mengenai satu hal padahal kita tdk tau realita permasalahan pd waktu itu lalu memberi penilaian pantaskah kita?apabila ada ulama memfonis pencela sahabat rofidhoh,lalu menyamakn kita yang gak tau masalah ikut mencela juga, emangnya kita sepadan dengan mereka para ulama itu?atau kita ikut-ikutan mencela sahabat sementara kita tiada sepadan dengan mereka para sahabat pantaskah?sebagai orng awam kutidak banyak tau apa itu wahabi atau salafy namun bila da ke tdk beresan ku jg perlu tau hal itu.

  24. aku agak bingung dengan logika teman syiah kita ini,kalo orang mulia seperti urwah bin zubair dikatakan mencela sahabat lalu dia ikut mencela juga emangnye dia sudah sehebat urwah atau sahabat nabi?emang syiah selalu mbulet dengan taqiahnya.

  25. maslah urwah atau sahabat saling berselisih mengenai satu hal padahal kita tdk tau realita permasalahan pd waktu itu lalu memberi penilaian pantaskah kita?apabila ada ulama memfonis pencela sahabat rofidhoh,lalu menyamakn kita yang gak tau masalah ikut mencela juga, emangnya kita sepadan dengan mereka para ulama itu?atau kita ikut-ikutan mencela sahabat sementara kita tiada sepadan dengan mereka para sahabat pantaskah?sebagai orng awam kutidak banyak tau apa itu wahabi atau salafy namun bila da ke tdk beresan ku jg perlu tau hal itu.

    kalo nalar ini yg dipakai..artimya ngapain juga ikutin hadits..wong kita nggak tahu masalah sesungguhnya kok

    aku agak bingung dengan logika teman syiah kita ini,kalo orang mulia seperti urwah bin zubair dikatakan mencela sahabat lalu dia ikut mencela juga emangnye dia sudah sehebat urwah atau sahabat nabi?emang syiah selalu mbulet dengan taqiahnya.

    lho bukannya mengikuti shabat adalah salah satu kaidah hukum dalam ahlussunnah ?, buktinya sampeyan ikutan tarawih berjamaah ala Umar ibn khattab.
    gimana nih akal si Imam kok kontradiktif…
    dikasih akal kok kgk dipake…..
    kalo ukurannya harus sama hebatnya. Ngapain juga ente ngikutin sahabat, kan katanya mereka generasi yg paling hebat. maka dengan nalar ente seharusnya kgk usah ikutin itu sahabat, soal kgk selevel….

    kacau nih..cara berfikirnya…:)

  26. @Imama

    Salam,

    Substansinya adalah mencela,. semulia apapun dia tidak punya hak untuk mencela,..apalagi dia seorang Tabiin dan yang dicela adalah sahabat….Mas Imam sendiri tahu kan bagaimana hukumnya dalam Mazhab Ahlulsunnah mencela sahabat.

    Ini baru masalah mencela bagaiamana dengan membunuh,..apakah mas Imam mau bilang kalau membunuh seorang sahabat juga dibolehkan jika si pembunuh itu seorang sahabat juga,…

  27. Mencela adalah perbuatan tercela (tiap saat harus berjuang untuk tidak terjebak di cela mencela).
    Saya pernah lihat di tv suatu siaran yang memberitakan keburukan seseorang, kemudian saya berkomentar: “Koq bisa2nya orang itu berbuat seperti itu yaa, apa dia tidak malu dan tidak takut hukuman Allah”.
    Kebetulan di sebelah saya ada guru saya, Beliau berkata:” Jangan kamu mencela, jika kamu tidak bisa berbuat lebih maka cukup kamu berdo’a agar Allah melindungi melindungi kamu dan keluarga kamu dari perbuatan2 tercela tsb”.

    Mencela mereka yang melakukan perbuatan tercela adalah mencela, sehingga yang melakukan dan yang mencela akan menjadi tercela.
    Tidak semua informasi (baik dan buruk) otomatis menjadi hak kita. Jika Allah dan Rasul-Nya (atau siapapun) memberi informasi tentang si Fulan yang melakukan perbuatan tercela, bukan berarti kita diberi hak & wewenang untuk mencela mereka. Informasi tsb mengajak kita untuk introspeksi diri, membantu menentukan pilihan dan tawadhu’.

    Salam damai.

  28. @imam

    aku agak bingung dengan logika teman syiah kita ini,kalo orang mulia seperti urwah bin zubair dikatakan mencela sahabat lalu dia ikut mencela juga emangnye dia sudah sehebat urwah atau sahabat nabi?emang syiah selalu mbulet dengan taqiahnya

    maaf yang anda tujukan dengan kata-kata “teman syiah kita ini” itu siapa?. yang anda maksud ikut mencela itu siapa?. memangnya pemilik blog ini or penulis tulisan di atas sedang mencela siapa?. silakan perjelas siapa yang anda maksud, siapa menghina siapa?. salam

  29. Syi’ah benci dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh mereka semua pendusta dan munafik bahkan murtad. Tapi kalo ada dalil (hadits) yang dibawakan oleh para sahabat Nabi dan cocok dengan pembenaran akidahnya buru-buru di jadikan hujjah (kayak tulisan di atas) … padahal mereka sendiri mendustai perkataan para sahabat …. jadi lieur …. wah dasar gelo …. gelo …..

  30. wah betul pisang akang ….. sayah juga pucing jadinya ….

  31. @Asep
    lha jelas aja yang nulis bukan Syiah kok jadi gak ada masalah berhujjah dengan hadis di atas. btw kalau anda sendiri mau disebut apa? nashibi? or salafy? atau apa nih.🙂

  32. @secondprince

    Jelas sdr. Asep itu salafy, soalnya dikasih hadiah ditolak mentah2:mrgreen: dan ia mengatakan “padahal mereka sendiri mendustai perkataan para sahabat …. jadi lieur …. wah dasar gelo …. gelo …..”, namun perkataan Rasulullah saw tidak diikuti. Jadi siapa yg lieur dan gelo itu…:mrgreen:

    Wslkm

  33. @sikoplok

    ya jelas pucing atuh, klo ngga percaya sama Sunnah Rasulullah saw mah:mrgreen:

  34. Orang yang tidak mengenal imam zamannya pasti dech kebingungan kaya orang jahiliah.

  35. Masya’allah..sadarkah kalian yang ada disini bahwa..
    kalian sedang saling mencaci maki??
    segera insaf,, dan bertobatlah kepada Allah…

  36. astagfirullohal’adzim….coba deh dikaji QS.al hujurat:12.
    saudaraku….Allah Maha Tahu sgala Yg tersembunyi..Allah Maha tahu..siapa yang didalam hatinya selalu ada ke-tawaduan dan kebenaran tanpa berpenyakit hati sedikit pun…….dan siapa yg di dalam hatinya penuh dengan kedengkian dan penuh dengan penyakit hati yg mengotori….astagfirulloh……Wahai saudaraku…….”serulah manusia ke jalan Allah dengan HIKMAH……:

  37. penulis artikel diatas sedang bertaqiyyah seseorang yang dari kaum munafikin yang menyebarkan berita dusta terhadap ummul mukminin aisyah yang mana dinikahi rasulullah melalui wahyu dari malaikat jibril as, kalau penulis jeli yang menyebarkan fitnah terhadap ummul mukminin aisyah adalah pengikut abdullah bin ubay gembong munafikin di zaman rasulullah masih hidup? jadi penulis harus realita jangan berbohong karena tuduhan itu bisa berbalik kepada penulis ? bertaubatlah kepada ALLAH TA’ALA supaya akhi dapat ampunan dari NYA dan berjanjilah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: