Kedustaan Al Amiry : Bukti Nyata Bahwa Syi’ah Adalah Pembunuh Husain?.

Kedustaan Al Amiry : Bukti Nyata Bahwa Syi’ah Adalah Pembunuh Husain?.

Orang ini memang “agak lucu” dan mohon maaf kalau kata-kata “pendusta” sangat cocok disematkan kepadanya. Menuduh orang-orang Syi’ah bersandiwara ketika menangisi Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah kedustaan. Kami tidak tahu apa dasarnya tuduhan orang ini, adapun tulisan ngawurnya itu benar-benar salah sambung kalau ditujukan kepada mazhab Syi’ah yang ada sekarang.

Tidak dipungkiri bahwa dalam mazhab Syi’ah terdapat riwayat [terlepas dari kedudukannya apakah dhaif ataukah shahih] dimana ahlul bait mengecam orang-orang yang mengaku Syi’ah mereka. Seperti dalam kasus yang menimpa Imam Husain [‘alaihis salaam] yaitu terdapat orang-orang Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] kemudian orang-orang ini malah meninggalkan Beliau atau malah ikut menyakiti Beliau.

Pertanyaan penting yang harus dijawab disini adalah “Syi’ah Kufah” yang dimaksud itu sebenarnya Syi’ah yang bagaimana?. Pertanyaan ini yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang seperti Al Amiry. Apa itu Syi’ah yang dikenal sekarang sebagai Syi’ah Imamiyah atau Syi’ah yang dikenal karena kecenderungan kepada Imam Aliy?. Sebelum Al Amiry sok memfitnah mazhab lain, ada baiknya ia banyak membaca kitab mazhab ahlus sunnah.

.

.

.

Salah satu dari orang-orang yang dikatakan Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] adalah Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan dia adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahkan meriwayatkan hadis dalam kutubus sittah. Ibnu Sa’d ketika menuliskan biografinya mengatakan

.

Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4

Thabaqat Ibnu Sa'ad juz 4 hal 196

.

وشهد مع علي بن أبي طالب عليه السلام الجمل وصفين كان فيمن كتب الى الحسين بن علي أن يقدم الكوفة فلما قدمها أمسك عنه ولم يقاتل معه

Dan dia bersama ‘Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] pada perang Jamal dan perang Shiffiin, dia termasuk diantara orang yang menulis surat kepada Husain bin ‘Aliy agar datang ke Kufah, maka ketika Beliau datang ia menahan darinya dan tidak berperang bersamanya…[Thabaqat Ibnu Sa’d 5/196 no 855]

Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib bahwa Sulaiman bin Shurad adalah sahabat Nabi dan termasuk perawi kutubus sittah [Shahih Bukhariy, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’iy, Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmidzi].

.


Tahdziin At Tahdziib juz 3

Tahdziib At Tahdziib juz 3 hal 36

.

سليمان بن صرد بن الجون بن أبي الجون بن منقذ بن ربيعة بن أصرم بن حرام الخزاعي أبو مطرف الكوفي له صحبة روى عن النبي صلى الله عليه وسلم وعن أبي بن كعب وعلي بن أبي طالب والحسن بن علي وجبير بن مطعم وعنه أبو إسحاق السبيعي ويحيى بن معمر وعدي بن ثابت وعبد الله بن يسار الجهني وأبو الضحى وغيرهم قال بن عبد البركان خيرا فاضلا وكان اسمه في الجاهلية يسارً افسماه النبي صلى الله عليه وسلم سليمان سكن الكوفة وكان له سن عالية وشرف في قومه وشهد مع علي صفين وكان فيمن كتب إلى الحسين يسأله القدوم إلى الكوفة فلما قدمها ترك القتال معه فلما قتل قدم سليمان هو والمسيب بن نجبة الفزاري وجميع من خذله وقالوا ما لنا توبة إلا أن نقتل أنفسنا في الطلب بدمه

Sulaiman bin Shurad bin Al Jawniy bin Abil Jawni bin Munqidz bin Rabii’ah bin Ashram bin Haraam Al Khuzaa’iy Abuu Muthrif Al Kuufiy seorang sahabat Nabi. Ia meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ubai bin Ka’ab, ‘Aliy bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Aliy dan Jubair bin Muth’im. Telah meriwayatkan darinya Abu Ishaaq As Sabii’iy, Yahya bin Ma’mar, ‘Adiy bin Tsaabit, ‘Abdullah bin Yasaar Al Juhaaniy, Abu Dhuha dan selain mereka. Ibnu ‘Abdill Barr berkata “ia seorang yang memiliki kebaikan dan keutamaan, namanya di masa jahiliah adalah Yasaar kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menamakannya Sulaiman, ia tinggal di Kuufah, dia memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di tengah kaumnya, ia ikut bersama ‘Aliy dalam perang Shiffiin dan ia termasuk diantara yang menulis surat kepada Husain memintanya datang ke kuufah kemudian ketika [Husain] datang maka ia meninggalkan berperang bersamanya. Ketika [Husain] terbunuh, datanglah Sulaiman, Musayyab bin Najabah Al Fazaariy dan sekumpulan orang-orang yang menelantarkannya [Husain] dan mereka berkata “tidak ada bagi kita taubat kecuali bahwa kita terbunuh dalam menuntut balas atas darahnya [Husain]” …[Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 3/36-37 no 3013]

.

.

.

Siapakah Musayyab bin Najabah Al Fazaariy yang disebutkan Ibnu ‘Abdil Barr [sebagaimana dinukil Ibnu Hajar]?. Dia adalah salah satu perawi hadis kitab Sunan Tirmidzi sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib

.

Tahdziib At Tahdziib juz 6

Tahdziin At Tahdziib juz 6 hal 280

.

المسيب بن نجبة كوفي روى عن حذيفة وعلي وعنه أبو إسحاق السبيعي وأبو إدريس المرهبي قال أبو حاتم عن أبيه يقال إنه خرج مع سليمان بن صرد في طلب دم الحسين بن علي فقتلا سنة خمس وستين

Al Musayyab bin Najabah Al Kuufiy meriwayatkan dari Hudzaifah dan ‘Aliy, telah meriwayatkan darinya Abuu Ishaaq As Sabii’iy, Abuu Idriis Al Murhibiy. Abu Hatim berkata dari ayahnya dikatakan bahwa ia keluar bersama Sulaiman bin Shurad untuk menuntut darah Husain bin ‘Aliy maka keduanya terbunuh tahun 65 H [Tahdziib At Tahdziib Ibnu Hajar 6/280 no 7889]

Ibnu Hibban memasukkan Musayyab bin Najabah Al Fazaariy dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan 5/437] dan Ibnu Hibban dalam kitab Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar berkata

.


Masyaahiir Ulamaa' Al Amshaar

Masyaahiir Ulamaa' Al Amshaar no 819

.

المسيب بن نجبة الفزاري من جلة الكوفيين قتله عبيد الله بن زياد يوم الخازر سنة سبع وستين

Al Musayyab bin Najabah Al Fazaariy termasuk diantara orang-orang Kufah yang mulia, Ubaidillah bin Ziyaad membunuhnya di hari Khaazar tahun 67 H [Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar hal 134 no 819]

Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan Al Musayyab bin Najabah Al Kuufiy dikenal sebagai Syi’ah ‘Aliy. Adz Dzahabiy menyebutkan hal ini dalam kitabny Tarikh Al Islaam

.


Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy

Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy juz 2 hal 602

.

وقد كان سليمان بن صرد الخزاعي، والمسيب بن نجبة الفزاري وهما من شيعة علي ومن كبار أصحابه خرجا في ربيع الآخر يطلبون بدم الحسين

Dan sungguh Sulaiman bin Shurad Al Khuzaa’iy dan Musayyab bin Najabah Al Fazaariy keduanya termasuk Syi’ah ‘Aliy dan termasuk sahabat utamanya, keduanya keluar pada bulan Rabii’ul Akhir untuk menuntut darah Husain…[Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 2/602]

Perhatikanlah sekali lagi, Syi’ah kufah yang dimaksud menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] ternyata termasuk di dalamnya sahabat Nabi dan tabiin yang mulia di sisi ahlus sunnah bahkan hadis-hadisnya ada diambil dalam kitab hadis ahlus sunnah. Hal ini menguatkan bahwa makna Syi’ah yang dimaksud pada masa itu juga mencakup ahlus sunnah yang mencintai dan berpihak kepada ‘Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam].

.

.

.

Selanjutnya mari kita lihat kutipan Al Amiry dari kitab Al Irsyad dimana ia menyebutkan bahwa Syabats bin Rib’iy termasuk orang Syi’ah yang mengundang Imam Husain tetapi setelah itu malah ingin membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Al Amiry menukil

.

Al Amiry

.

Siapakah Syabats bin Rib’iy di sisi kitab ahlus sunnah?. Al Ijliy memasukkannya dalam kitab Ma’rifat Ats Tsiqat dan mengatakan

.


Ma'rifat Ats Tsiqat juz 1

Ma'rifat Ats Tsiqat juz 1 no 448

.

شبث بن ربعي من تميم هو كان أول من أعان على قتل عثمان رضي الله عن عثمان وهو أول من حرر الحرورية واعان على قتل الحسين بن علي

Syabats bin Rib’iy dari Tamiim, ia adalah orang pertama yang membantu dalam pembunuhan Utsman [radiallahu ‘anhu], dan orang pertama yang melepaskan [dari] Al Haruuriyah dan membantu dalam pembunuhan Husain bin ‘Aliy [Ma’rifat Ats Tsiqat Al Ijliy 1/448 no 714]

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia termasuk salah satu perawi hadis dalam kitab Sunan Abu Dawud [Tahdziib At Tahdziib 3/131 no 3203]. Diantara ulama yang memujinya adalah Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat seraya berkata “yukhti’u” [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/371]. Kemudian Ibnu Abi Hatim berkata

.

Al Jarh Wat Ta'dil juz 4 hal 388

.

شبث بن ربعى روى عن على وحذيفة روى عنه محمد بن كعب وسليمان التيمى سمعت ابى يقول ذلك وسألته عنه فقال: حديثه مستقيم لا اعلم به بأسا، والذى روى انس عنه يقال ليس هو هذا

Syabats bin Rib’iy meriwayatkan dari ‘Aliy dan Hudzaifah, telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Ka’ab dan Sulaiman At Taimiy. Aku mendengar ayahku mengatakan hal itu. Dan aku bertanya kepadanya tentangnya maka ia berkata “hadisnya lurus tidak ada masalah padanya, ia adalah orang yang Anas telah meriwayatkan darinya, dan dikatakan bukan orang ini. [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 4/388 no 1695]

.

.

.

Agak aneh memang kalau kita melihat orang yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] masih dinyatakan oleh ulama tertentu dengan ta’dil atau bahkan tsiqat. Umar bin S’ad yang sudah dikenal sebagai pemimpin pasukan yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] tetap dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy. Al Ijliy berkata

.


Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2

.Ma'rifat Ats Tsiqat juz 2 hal 166

عمر بن سعد بن أبي وقاص مدني ثقة كان يروي عن أبيه أحاديث وروى الناس عنه وهو الذي قتل الحسين قلت كان أمير الجيش ولم يباشر قتله

‘Umar bin Sa’d bin Abi Waqaash orang madinah yang tsiqat, ia meriwayatkan dari ayahnya hadis-hadis dan orang-orang telah meriwayatkan darinya, ia adalah orang yang membunuh Husain. [Al Haitsamiy] aku berkata “ia pemimpin pasukan dan tidak secara langsung membunuhnya” [Ma’rifat Ats Tsiqat 2/166-167 no 1343].

Lafaz “aku berkata” di atas berasal dari perkataan Al Haitsamiy [salah seorang penyusun kitab Ma’rifat Ats Tsiqat Al Ijliy]. Hal ini ditegaskan dalam catatan kaki kitab Ma’rifat Ats Tsiqat tahqiq Abdul Aliim Al Bastawiy.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ‘Umar bin Sa’d termasuk perawi hadis kitab Sunan Nasa’iy dan menyatakan tentangnya bahwa ia seorang yang shaduq. [Taqriib At Tahdziib Ibnu Hajar no 4937].

.

.
Taqrib At Tahdziib

Taqrib At Tahdziib no 4937

.

Sejauh ini terlihat jelas bahwa orang-orang yang dikatakan Al Amiriy sebagai Syi’ah Kufah yang menulis surat kepada Imam Husain [‘alaihis salaam] dan orang yang terlibat dalam pembunuhan Imam Husain [‘alaihis salaam] ternyata adalah orang-orang yang hadisnya ternukil dalam kitab hadis ahlus sunnah bahkan ternukil sebagian ulama ahlus sunnah yang memujinya. Seharusnya sebelum Al Amiry membuat tuduhan dusta atas orang-orang Syi’ah [yang menangisi apa yang terjadi pada Imam Husain] hendaknya ia meneliti kitab-kitab ahlus sunnah. Jangan seperti orang yang mencela baju saudaranya lusuh padahal bajunya sendiri compang camping robek sana robek sini.

.

.

.

Tidak ada sedikitpun niat kami untuk menyudutkan mazhab Ahlus Sunnah apalagi menuduh mazhab Ahlus Sunnah sebagai pembunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Maaf kami tidak akan merendahkan akal kami seperti Al Amiry [dan orang-orang sejenisnya].

Dalam pandangan kami, Orang-orang yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam] dan terlibat di dalamnya adalah orang-orang tercela yang akan dihukum oleh Allah SWT tidak peduli apapun pengakuan mazhab mereka. Adapun mereka yang menelantarkan Imam Husain [‘alaihis salaam] dan tidak menolongnya pada saat itu maka perhitungannya kembali kepada Allah SWT [walaupun begitu kami tetap menyalahkan sikap mereka]. Tidak ada gunanya menisbatkan orang-orang tersebut dengan mazhab Syi’ah ataupun Ahlus Sunnah. Bagaimana mungkin suatu mazhab bisa disalahkan dengan perilaku segelintir pengikut mazhab tersebut yang menyimpang.

Kami yakin apapun mazhabnya baik Syi’ah maupun Ahlus Sunnah pasti akan bersedih dan menangisi apa yang menimpa Imam Husain [‘alaihis salaam]. Dan hanya orang-orang rendah yang menuduh mereka yang menangisi Imam Husain [‘alaihis salaam] tersebut dengan tuduhan bersandiwara.

Ketika orang-orang Syi’ah mengenang Imam Husain [‘alaihis salaam] dan mengambil hikmah dari perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam] maka muncul orang-orang [seperti Al Amiry] yang memanfaatkan momen tersebut untuk mencela orang-orang Syi’ah. Alangkah memalukannya mereka ini, mereka yang hatinya dipenuhi penyakit tetapi merasa dirinya telah berjihad untuk agama Allah SWT. Cukuplah kami katakan bahwa kami berlepas diri dari orang-orang seperti mereka dan kami berlindung kepada Allah SWT dari keburukan yang ditimbulkan orang-orang seperti mereka.

.

.

.

.

Sedikit Catatan

Kisah dan perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam] mengandung hikmah yang sangat bermanfaat bagi umat islam sepanjang masa. Berikut sedikit nilai-nilai luhur yang kami dapatkan ketika merenungkan perjuangan Imam Husain [‘alaihis salaam].

  1. Kezaliman itu bisa dilakukan oleh orang mazhab manapun dan persatuan itu bisa terjadi antar orang-orang mazhab manapun. Modal awal persatuan itu cuma satu yaitu kemanusiaan dan ketika orang-orang mulai mengikis kemanusiaannya maka kezaliman akan muncul sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi kezaliman terbesar ketika kemanusiaan itu benar-benar hilang.
  2. Cinta kepada Ahlul Bait itu bukan sekedar pengakuan di mulut, tidak penting pengakuan bermazhab ini atau sebutan bermazhab itu. Cinta itu dari hati yang merasuk ke seluruh tubuh sehingga terpancar dalam perkataan dan perbuatan.
  3. Celakalah orang-orang yang berjuang mengatasnamakan agama tetapi hati mereka kosong dari cinta kepada sesama. Agama itu menyempurnakan kemanusiaan manusia bukan menghancurkannya.
  4. Kekuatan suatu perjuangan tidak dilihat dari keunggulan fisik tetapi terlihat dari “atas apa perjuangan itu berdiri” dan bagaimana perjuangan itu melahirkan kekuatan bagi siapapun yang berada di sisinya menembus batas ruang dan waktu.
  5. Orang-orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan serta mereka yang terbuai di dalamnya tidak lebih dari orang lemah yang mudah terjatuh dalam kezaliman ketika mereka mulai menganggap rendah kemanusiaan dengan alasan apapun [bahkan mengatasnamakan agama].
  6. Manusia adalah manusia sebelum mereka beragama. Maka perlakukan manusia sebagai manusia sebelum memperlakukannya sebagai orang yang beragama. Bayi dan anak kecil adalah manusia sebelum mereka sadar akan agama mereka. Orang beragama yang tidak memperlakukan manusia sebagai manusia sungguh telah kehilangan kemanusiaannya. Maka jangan heran dalam kisah perjuangan sang Imam, bayi dan anak kecil menjadi korban kezaliman. Hal itu menunjukkan bahwa kezaliman bisa muncul dari orang yang mengaku beragama ketika mereka kehilangan kemanusiaan.
  7. Perhatikanlah dimana berdiri dan perhatikanlah berada di tengah-tengah orang yang zalim atau tidak kemudian ketika berada di ujung jalan ingatlah baik-baik akan kemanusiaan karena kisah perjuangan sang imam mengajarkan bahkan orang yang awalnya berada di sisi kelompok yang zalim bisa berubah haluan ketika ia kembali pada kemanusiannya.

Kami yang lemah ini rasanya tidak sanggup melihat betapa luasnya arti perjuangan sang Imam dan sangat tidak sanggup untuk membayangkan penderitaan ketika kezaliman itu terjadi. Ketika orang-orang yang mengaku beragama sudah kehilangan kemanusiaan maka umat islam akan menderita disana-sini, berpecah belah dan saling berperang.

Jangan anggap remeh kemanusiaan bahkan cahaya Ahlul Bait tidak bisa diterima oleh orang yang kehilangan kemanusiaannya tetapi ketika sedikit kemanusiaan itu muncul kembali pada seseorang dan berpadu dengan cinta kepada Ahlul Bait maka cahaya Ahlul Bait akan menyempurnakannya bagaikan “terlahir kembali”. Mari bersama-sama berpegang teguh pada apa yang diajarkan dari perjuangan sang Imam. Mari senantiasa kita jadikan agama untuk menyempurnakan kemanusiaan.

16 Tanggapan

  1. Tapi kenapa kitab2 syiah memberitakan kalo syiah pembunuhnya?

    Berikut copas dari tulisan Amin Muchtar :

    Syi’ah Harus Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Husen Ra.

    Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan Husen Ra., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da. Ketetapan turun dari langit, dan Allah kuasa berbuat se-kehendak-Nya.” Al-Husein menjawab: “Anda benar, Allahlah yang kuasa menetapkan persoalan. Dan setiap hari ia berada di dalam urusan. Sekiranya datang ketentuan sebagaimana kesukaan dan kerelaan kami, kami pun memuji Allah atas karu-nia-karunia nikmatnya, bahkan Dialah tempat tujuan selayak-nya untuk mengungkapkan syukur. Tetapi apabila terjadi si-tuasi yang di luar harapan, niscaya Dia tidak akan jauh dari orang-orang yang berniat baik dan berbatin takwa.” (Lihat, al-Majaalis al-Faakhirah, hal. 79; ‘Alaa Khathi al-Husen, hal 100; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 60; Ma’aalim al-Madrasatain, III:62)

    Husen Ra. tatkala beliau berpidato kepada mereka, beliau telah menyinggung sikap pendahulu mereka dan juga sikap mereka terhadap bapak dan saudara beliau. Di dalam pidato beliau itu, beliau menyatakan: “ . . ., sekiranya kalian tidak bersedia melaksanakannya dan kalian hendak membatalkan janji kalian, kalian hendak menanggalkan baiat terhadapku dari pundak kalian, maka memang kalian sudah dikenal dengan sikap demikian, karena kalian pun telah bersikap serupa itu terhadap bapakku, saudaraku, dan juga putra pamanku Muslim. Akan tertipulah orang-orang yang cenderung kepada kalian, . . . “(Lihat, Ma’aalim al-Madrasatain, II:71-72; Ma’aali as-Sibthain, I:275; Bahr al-‘Uluum, hal. 194; Nafs al-Mahmuum, hal. 172; Khoir al-Ashhaab, hal. 39; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 170.)

    Dan pernyataan-pernyataan Husen Ra. sebelumnya yang meragukan surat-surat mereka. Kata beliau: “Sesungguhnya mereka itu telah membuat diriku cemas, dan inilah surat-surat penduduk Kufah, sedang mereka memerangiku.” (Lihat, Maqtal al-Husain, hal. 175)

    Pada kesempatan lainnya, beliau mengatakan: “Wahai Allah, turunkanlah ketetapan antara kami dengan kaum yang telah mengundang diri kami yang hendak membela, tetapi justru memerangi kami!”(Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:535).

    Dari pernyataan-pernyataan Husen Ra. di atas tampak jelas bahwa Syi’ah (pengikut) Husein ra. telah mengundang beliau dengan dalih hendak membelanya, namun faktanya mereka justru memerangi beliau.

    Salah seorang Syi’i bernama Husein Kurani mengatakan: “Penduduk Kufah tidak puas sekedar berpisah meninggalkan Imam Husen, bahkan mereka berubah sikap, mengubah pendirian mereka ke pendirian ketiga, yaitu kini mereka bergegas berangkat menuju Karbala dan memerangi Imam Husen Ra. di Karbala’. Mereka saling berlomba menyatakan pendirian mereka sesuai dengan kepuasan setan dan mendatangkan murka Sang Mahapemurah. Contohnya, kita lihat, bahwa Amru bin al-Hajjaj, lelaki yang baru kemarin bersiap siaga di Kufah laksana seorang penggembala gembalaan Ahlul Bayt, berjuang membela mereka, juga merupakan orang yang telah mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan orang besar Hani bin Urwah, secara nyata-nyata telah berbalik pendirian, yaitu menganggap bahwa Imam Husen telah keluar dari agama (Islam). Marilah kita renungkan pernyataan berikut:
    “Ketika itu Amru bin al-Hajjaj berkata kepada rekan-rekannya: “Perangilah orang-orang yang telah keluar dari agama dan meninggalkan jamaah …” (Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 60-61)

    Husein Kurani juga menjelaskan: “Kita lihat pendirian lain yang membuktikan sikap munafik penduduk Kufah. Abdullah bin Hauzah at-Taimi datang berdiri di hadapan Imam Husen Ra. seraya berteriak, ‘Adakah di antara kalian yang bernama Husein?’

    Orang ini termasuk penduduk Kufah sedang kemarin ia tergolong Syi’ah Ali As. dan boleh jadi ia termasuk orang yang turut menulis surat kepada Imam, atau termasuk jamaah yang terlibat dan mereka yang lain yang juga menulis surat . . . , “ Lebih lanjut ia berkata, “Hai Husen, berbahagialah dengan masuk neraka !”(Lihat, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 61).

    Murtadha Muthahari mempertanyakan: “Bagaimana penduduk Kufah sampai berangkat untuk memerangi Husen Ra. pada saat menganggap cinta kepada mereka dan memiliki jalinan kasih sayang?”

    Kemudian ia pun menjawabnya sendiri: “Jawabannya, ialah karena rasa gentar dan takut yang telah menjangkiti penduduk Kufah. Secara umum sejak masa pemerintahan Ziyad dan Mu’awiyah, dan yang kemudian kian meningkat dan bertambah-tambah dengan kehadiran Ubaidillah, lelaki yang dengan serta merta telah membunuh Maitsam at-Tamar, Rasyid, Muslim, dan Hani, . . , dan ini berkaitan dengan perubahan sikap mereka yang terlibat lantaran berambisi dan berhasrat kepada penghasilan, harta, dan kehormatan duniawi. Sebagaimana hal itu terjadi pada diri Umar bin Sa’ad . . .,”

    “Adapun sikap orang-orang terpandang dan para tokoh, mereka ini telah dilanda takut terhadap Ibnu Ziyad, terpikat oleh harta sejak hari pertama ia memasuki Kufah. Pada saat ia berseru kepada mereka semua seraya berkata, ‘Barangsiapa di antara kalian berada di barisan yang menentang, maka saya akan menghapuskan soal hadiah kepadanya.’

    Demikianlah, contohnya Amir bin Majma’ atau bernama Majma’ bin Amir, ia berkata: “Adapun para tokoh mereka, maka mereka telah menjadi besarlah korupsi mereka, dan telah memenuhi tabiat mereka.” (Lihat, al-Malhamah al-Huseniyyah, III:47-48).

    Ulama Syi’i Kazhim al-Ihsa’i an-Najafi menjelaskan: “Pasukan yang berangkat hendak memerangi Imam Husen a.s. sebanyak 300.000. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada di antara mereka yang berasal dari Syam, Hejaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, maupun Afrika, bahkan seluruhnya adalah penduduk Kufah yang terhimpun dari beraneka ragam kabilah.” (Lihat, Asyuura’, hal. 89).

    Seorang sejarawan Syi’i Husein bin Ahmad al-Buraqi an-Najafi menerangkan: “Al-Qazwaini mengatakan: “Balasan yang perlu dilakukan terhadap penduduk Kufah, adalah lantaran mereka telah menikam Hasan bin Ali As., dan mereka membunuh Husen Ra. setelah mereka mengundang beliau.” (Lihat, Taariikh Kuufah, hal. 113).

    Seorang sejarawan Syi’i ternama Ayatullah al-‘Uzhma Muhsin Amin mengatakan: “Lalu berbaiatlah dari penduduk Kufah sebanyak 20.000 orang, di mana mereka mengkhianatinya. Kemudian mereka pun berangkat memerangi beliau pada saat baiat (janji setia) masih berada di pundak mereka. Kemudian mereka pun membunuh beliau.” (Lihat, A’yaan asy-Syii’ah, I:26).

    Jawad Muhaditsi mengatakan: “Segala penyebab seperti ini berdampak menyusahkan Imam Ali As. dalam dua kasus, dan Imam al-Hasan menghadapi pengkhianatan mereka. Di antara mereka Muslim bin ‘Aqil terbunuh dalam kondisi teraniaya. Husein mati dalam keadaan kehausan di Karbala dekat Kufah dan di tangan tentara Kufah.”(Lihat, Mawsuu’ah Asyuura’, hal. 59).

    Seorang tokoh Syi’i Abu Manshur ath-Thabrisi, Ibnu Thawus, al-Amin, dan para tokoh lainnya mengutip informasi dari Ali bin Hasan (menurut kami: Husein –pent) bin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Zainal Abidin Ra., dari bapak-bapaknya, seraya mencela Syi’ahnya yang telah menghinakan bapaknya dan membunuhnya pula, ia berkata: “Wahai manusia, kuperingatkan kalian terhadap Allah, tidak sadarkah kalian, bahwa kalian telah menulis surat kepada bapakku, lalu kalian khianati? Kalian memberikan janji, ikrar, dan baiat, lalu kalian membunuhnya dan menghinakannya. Celakalah hasil dari perbuatan yang telah kalian lakukan bagi diri kalian, buruknya nalar kalian. Dengan pandangan bagaimanakah kalian akan memandang kepada Rasulullah saw. manakala beliau bertanya kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh keturunanku, dan kalian telah mencemarkan kehormatanku. Jadi, kalian bukanlah umatku!’.”

    Para wanita saling menjerit seraya menangis dari berbagai penjuru. Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Binasalah kalian lantaran perbuatan kalian.” Lalu beliau As. berkata lagi: “Semoga Allah merahmati orang yang suka menerima nasehatku, menjaga wasiatku berkaitan (hak-hak) Allah, Rasul-Nya, dan Ahlul Baytnya. Sebab, kami telah memperoleh teladan baik dari Rasulullah.”

    Secara serentak para hadirin berseru: “Kami semua bersedia mendengar, patuh, siap membantu beban tuan, tidak akan mengabaikan tuan dan tidak pula melalaikan tuan. Oleh karena itu, perintahkanlah kami dengan suatu perintah, semoga tuan dirahmati Allah. Sebab, kami siap berperang kepada orang yang memerangi tuan, berdamai dengan orang yang berdamai dengan tuan. Benar-benar kami akan menuntut bela terhadap Yazid, dan kami pun memutuskan hubungan dari mereka yang menzalimi tuan dan menzalimi kami.”

    Beliau As. menjawab: “Aduhai, aduhai, wahai para pengkhianat penipu. Ambisi kalian telah dihalangi oleh hawa nafsu kalian. Adakah kalian akan bersikap terhadapku sebagaimana sikap kalian terhadap bapak-bapakku sebelumnya? Tidak lagi, betapa banyak orang-orang yang suka menari-nari. Sungguh luka ini belum lagi kering. Baru kemarin bapakku terbunuh dan Ahlul Baytku pun terbunuh bersamanya. Saya belum dapat melupakan derita Rasulullah saw. beserta keluarganya, derita bapakku beserta putra-putra bapakku. Dan itu bisa didapati di antara duka dan kepahitanku, di antara kerongkongan dan tenggorokanku, sedang cabang-cabangnya mengalir di hamparan dadaku…”(Pidato ini diterangkan oleh ath-Thabari, al-Ihtijaaj, II:32; Ibnu Thawus, al-Malhuuf, hal 92; Al-Amin, Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 158; Abbas al-Qumi, Muntahaa al-Aamaal, I:572; Husein al-Kurani, Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 183; Abdur Razaq al-Muqarram, Maqtal al-Husen, hal. 317; Murtadha ‘Iyad, Maqtal al-Husen, hal. 87; Diulang pula oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 360. Juga dikemukakan oleh Ridha al-Qazwaini di dalam Tadhlim az-Zahraa’, hal. 262)

    Tatkala Imam Zain al-Abidin rahimahullahu Ta’ala lewat dan melihat penduduk Kufah sedang meratap dan menangis, lalu beliau menegurnya seraya berkata: “Kalian meratapi dan menangisi kami, lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, al-Malhuuf, hal. 86; Nafsu al-Mahmuum, hal. 257; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal. 83; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 257).

    Di dalam sebuah riwayat dikisahkan, tatkala beliau melewati Kufah di mana penduduknya meratap. Ketika itu beliau tinggal sebagai tamu karena terhalang oleh sakit. Dengan suara pelahan beliau berkata: “Kalian meratapi dan menangis kami? Lalu siapa yang telah memerangi kami?” (Lihat, Muntahaa al-Aamaal, I:570).

    Pada riwayat lain tentang diri beliau, dinyatakan bahwa beliau berkata dengan suara lemah karena beliau sedang dirundung sakit: “Sekiranya mereka itu menangisi kami, lalu siapakah yang telah memerangi kami selain mereka?” (Lihat, al-Ihtijaaj, II:29).

    Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husen dan membunuhnya, kalian rampok harta bendanya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.”

    Tragedi apakah yang menimpa kalian, beban apakah yang terpikulkan di punggung kalian, darah-darah manakah yang telah kalian tumpahkan, kehormatan-kehormatan mana pulakah yang telah kalian cemarkan, anak-anak manakah yang telah kalian bajak, harta-harta mana yang telah kalian rampok. Kalian telah membunuh orang-orang baik sesudah Nabi saw. dan keluarganya, dan kasih sayang sudah tercabut dari hati kalian!”(Lihat, al-Luhuuf, hal. 91; Nafsu al-Mahmuum, 363; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 316; Lawaa’ij al-Asyjaan, hal. 157; Maqtal al-Husen, karya Murtadha ‘Iyad, hal.86; Tadhlim az-Zahraa’, hal. 261).

    Tentang riwayat Ummu Kultsum ini juga diterangkan pula oleh ath-Thabrisi dan al-Qumi, al-Muqarram, al-Kurani, Ahmad Rasim, dan juga menjelaskan tentang penyelewengan para pengkhianat yang hina dina. Kata beliau: “Kemudian dari itu, wahai penduduk Kufah, hai para pengkhianat, para penipu, dan tukang makar. Inga-lah, sejarah tiada akan terlupakan dan tragedi pun tiada akan tertenteramkan. Orang-orang seperti kalian adalah laksana orang yang merusak jalinan tenunannya sendiri setelah kokoh hingga tercerai berai.”

    Kalian jadikan iman kalian selaku barang dagangan di antara kalian. Adakah pada pribadi kalian selain hasrat hati dan bangga, lirikan dan dusta, merayu budak-budak wanita, bergelimang permusuhan. Seperti seorang penggembala pada tempat sampah, atau perak di dasar tanah. Betapa buruk bidang-bidang yang kalian upayakan bagi diri kalian, karena kemurkaan Allah akan menimpa kalian, dan kalian pun akan kekal di dalam azab. Adakah kalian menangisi saudaraku? Memang, sungguh! Banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit, karena kalian mendapat tragedi kehinaan dan terkenang aib karenanya, dan tak akan pernah terlupakan selamanya.
    Bagaimana kalian dapat melupakan pembunuhan terhadap keturunan Sang Penutup para nabi? sumber risalah? pemimpin pemuda penghuni surga? tempat berlindung perang kalian dan pembela kelompok kalian? pusat kesejahteraan kalian, wilayah pangkalan kalian, tempat rujukan untuk kalian mengadu, dan menara hujah kalian sendiri? Betapa buruk apa-apa yang telah kalian upayakan bagi diri kalian sendiri, betapa buruk beban yang akan kalian pikul pada hari kebangkitan kalian. Binasa, binasa, celaka, celaka, sebab upaya telah sia-sia, dan celakalah tangan-tangan manusia, tepukan-tepukan pun merugi. Dan kalian akan kembali dengan menghadap kemurkaan Allah. Kalian akan ditimpa kehinaan dan kenistaan. Celakalah kalian, tidakkah kalian mengerti betapa susah payah Muhammad telah kalian sia-siakan? Betapa janji telah kalian pungkiri? Betapa kehormatan beliau telah kalian cemarkan? Betapa darah beliau telah kalian tumpahkan? Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karenanya, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung pun runtuh. Sesungguhnya kalian telah mendatangkan kelusuhan dan ketercabik-cabikan sepenuh bumi dan langit.” (Lihat, al-Ihtijjaaj, II29; Muntahaa al-Aamaal, I:570; Maqtal al-Husen, karya al-Muqarram, hal. 311, dan berikutnya; Fii Rihaab Karbalaa’, hal. 146, dan seterusnya; ‘Alaa Khathi al-Husen hal. 138; Tadhlim az-Zahraa’, 258).

    Seorang pemuka Syi’i Asad Haidar berkenaan Zainab binti Ali, di mana Zainab berpidato kepada segenap orang yang menyambutnya dengan tangisan seraya meratap. Kata beliau seraya mencemooh mereka: “Adakah kalian menangis dan berpura-pura sayang? Ya, benar, banyak-banyaklah menangis dan tertawalah sedikit. Sebab kalian akan menderita aib dan kenistaan karenanya, dan kalian tak akan dapat terbebas daripadanya melalui upaya pembersihan selama-lamanya. Bagaimana mungkin kalian akan terbebas dari pembunuhan terhadap cucu Sang Penutup para nabi? …” (Lihat, Ma’a al-Husen fii Nahdhatih, hal. 295, dan seterusnya).

    Pada riwayat lain dinyatakan, beliau mengeluarkan kepala dari tandu seraya berkata kepada penduduk Kufah: “Celakalah kalian hai penduduk Kufah! Para lelaki kalian membunuhi kami sementara para wanita kalian menangisi kami. Yang akan menjadi hakim bagi kami atas kalian adalah Allah pada hari ditetapkannya hukuman masing-masing.” (Dikutip oleh Abbas al-Qumi di dalam Nafsu al-Mahmuum, hal. 365. Juga disebutkan oleh Syeikh Ridhla bin Nubi al-Qazwaini di dalam Tadhlimu az-Zahraa’, hal. 264)

    Berbagai penjelasan yang gamblang dari para saksi sejarah, baik dari Ahli Bait Nabi saw. Maupun lainnya, yang diakui kebenarannya oleh para sejarawan dan ulama Syi’ah di atas, telah membongkar kedustaan kelompok Syi’ah sendiri, di mana pada hakikatnya mereka tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa Husen As. telah dicela, dihinakan, dikhianati dan dibunuh oleh orang Syiah sendiri, karena mereka pengecut dan rakus akan kehidupan dunia.

  2. @boyanders

    Saya tidak membantah soal “syi’ah” yang ikut terlibat membunuh. Yang tidak mereka pahami termasuk Al Amiry dan Amin Muchtar itu adalah yang dimaksud “Syiah kufah” pada masa itu adalah Syi’ah yang bagaimana?. Syi’ah pada masa itu bisa merujuk pada orang yang memang mengakui Imamah Ahlul Bait dan menolak ketiga khalifah atau Syi’ah yang merujuk pada orang yang menerima ketiga khalifah hanya saja lebih mengutamakan Aliy dibanding Utsman. Atau mungkin bisa saja Syi’ah dalam makna “pengikut” Aliy bin Abi Thalib berpihak kepadanya dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan

    Jadi sangat mungkin bahwa orang-orang Syi’ah Kufah tersebut hakikatnya ahlus sunnah hanya saja cenderung berpihak kepada ahlul bait. Buktinya pemimpin atau pemuka mereka yaitu Sulaiman bin Shurad adalah sahabat Nabi yang dijadikan pegangan hadis-hadisnya oleh Ahlus Sunnah. Coba lihat tulisan mereka ketika ditunjukkan ada perawi Syi’ah dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah, bisanya jawaban mereka adalah bersikeras kalau Syi’ah yang dimaksud bukan Rafidhah tetapi hanya mengutamakan Aliy di atas Utsman, yang jelas bukan mazhab Syi’ah Imamiyah yang ada sekarang. Lha kok ini seenaknya membawa makna Syi’ah Kufah dalam tragedi Imam Husain [‘alaihis salaam] ke makna Syiah Imamiyah sekarang. Tanaqudh itu namanya

    Coba tuh mereka berpikir sedikit, Yazid, Ibnu Ziyaad dan Umar bin Sa’d itu dari golongan mana?. Ya dari ahlus sunnah mereka kan pemimpin dan pejabat kekhalifahan pada saat itu. Lantas apa mau dikatakan kalau mazhab Ahlus Sunnah yang membunuh Imam Husain [‘alaihis salaam]. Saya heran para pembenci Syi’ah itu kalau sudah bicara Syi’ah kok akalnya jadi begitu rendah.

  3. pembela ahlussunnah itu sebenar adalah pemeluk agama wahabiyah,mereka ini pengikut ajaran sesat yg banyak mengkafirkan org dan sanggup mengebom org2 yg sedang sembahyang di dalam masjid2 konon2 di atas namanya jihad

  4. Mantab Pak dokter…,biarlah mereka para nasibi terus bernyanyi …,toh kebenaran tak bisa ditutup tutupi.

  5. kenapa agama wahabi kok selalu menyerang keyakinan orang lain?. kayak orang jual jamu, jamu orang lain jelek yg bagus jamunya sendiri.
    penganut agama wahabi itu ragu2x thd kebenaran agamanya, agamanya tdk akan laku kecuali dengan menjelek-jelekan mazhab yg lain. bahkan ini terjadi diantara mrk. kayaknya penganut wahabi kenak sindrom tertentu yg perlu diobati ke dokter jiwa.

  6. merek dagang wahabi sudah ngak laku terpaksa ganti merek jadi salafi, supaya ngak keliatan ngaku2 ahlulsunnah waljamaah….. hhehehehe… contohnya buku mui syiah sesat orang salafi yg bikin buku dan cetak ratusan ribu buku gratis lagiiiii

  7. Labbaik Ya Hussein.

  8. Kategori syiah:
    1. Ikut pasukan imam Ali as saat perang jamal
    2. Ikut pasukan imam Ali as saat perang siffin
    3. Ikut wilayah imam hasan as saat berdamai dngn muawiyah
    4. Ikut ke Karbala bersama rombongan imam husen as,
    5. orang kuffah yg mau bergabung dengan imam husen as namun diintimidasi pasukan yazid bin muawiyah LA

    #selain itu kaum KHAWARIJ Dan para pengikut yazid seperti sahabat Ibnu umar yg mengakui yazid

  9. apa kah krn kebencian kamu terhadap mazhab syiah maka membuatkan hati2 kamu tidak berasa sedih dan pilu diatas pembunuhan imam husin cucu kesayangan rasulullah saw,apa kah hati2 kamu sudah mati

  10. Ummu Kultsum binti Ali berkata: “Wahai penduduk Kufah, celakalah kalian, mengapa kalian menghinakan Husen dan membunuhnya, kalian rampok harta bendanya dan kalian warisi, kalian caci maki istri-istrinya dan kalian buat menderita. Celakalah kalian, terazablah kalian.” dari perkataan Ummu Kultsum tersebut beliau mengatakan “wahai penduduk kuffah, bukan wahai orang syiah kuffah.. ini menunjukkan ditujukan ke semua penduduk dari gubernur sampai rakyat apapun mazhabnya, apakah penduduk kuffah 100% syiah, hmm katanya waktu itu sepeninggal Ali bin abi thalib warga syiah adalah warga teraniaya oleh rezim muawiyah mereka diusir dibunuh, dari kuffah jadi mungkin penduduk kuffah saat itu justru lebih banyak yg bukan syiah, apakah yg nulis surat orang syiah? bisa ya tapi karena penduduk kuffah yg kirim surat dan akan baiat hussain diancam akan dibunuh oleh gubernur ziyad maka satu per satu penduduk itu meninggalkan tempat pertemuan dan pulang ke rumah masing masing, tetapi menurut saya yg kutukan itu adalah bukan kepada syiah tapi kepada penduduk kuffah titik

  11. Al-Husain pergi dari Mina ke Kufah berserta 50 orang lelaki (terlepas dari wanita dan anak-anak) yang menjadi perhatian orang sekitar. Mereka ke Mina bukan untuk berhaji, tetapi justru meninggalkan Makkah ke Kufah. Di tengah perjalanannya itu, Al-Husain bertemu dengan Farazdaq, seorang penyair muda. Farazdaq meminta Al-Husain agar tidak berangkat ke Kufah. “Hati mereka (orang-orang Kufah) bersamamu, tapi pedang mereka bisa melawanmu,” kata Farazdaq. Namun Al-Husain tetap berangkat.

    Berikut copas dari tulisan Amin Muchtar :
    Syi’ah Harus Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Husen Ra.
    Seorang penyair tersohor, Farazdaq berpantun berkaitan dengan Husen Ra., tatkala ia ditanya tentang Syi’ah beliau yang hendak dijumpai oleh beliau. Ia menjelaskan: “Hati mereka bersama Anda, sedang pedang beliau melawan An-da

    Di Al-Sifah, Imam Husain as bertemu dengan penyair Farazdaq yang berkata: “Hati penduduk Kufah bersamamu, tapi pedang mereka (diarahkan) untuk membunuhmu.” (Tarikh Thabari, 6:218)

    ini yg bener yg mana? dari kompasiana imam hussain bertanya tentang penduduk kuffah, copasan tulisan amin muchtar tentang orang syiah? dari tarikh thabari yg dibicarakan adalah penduduk kuffah bukan orang syiah. Imam hussain berangkat ke kuffah ingin ketemu penduduk kuffah yang telah mengirim surat akan membaiatnya, imam hussain ke kuffah bukan pengin ketemu syiah. farazdag juga ga nyebut2 syiah tapi yg disebut penduduk kuffah

  12. Kok kitab syiah nyebut nama Husein tanpa sebutan IMAM dan Alaihisalam. Bener nih dr kitab2 syiah 😃😃😃

  13. Moyaa ini nampaknya tdk cerdas, apa yg ia kemukakannya yg hanya copas2 bukunya Amin Muchtar sdh terjawab oleh pak SP diatas sebelum Moyaa rajin mencopas Amin Muchtar. jadi ngomong sama orang model Moyaa ini tak ubahnya ngomong sama tembok. kasihan.

  14. Amin Muchtar: “Syiah harus bertanggung jawab atas pembunuhan Husen ra”. Yg di maksud “Syiah” di sini, di antaranya, adalah Sulaiman b. Shurad al-Khuza’i dan Musayyab b. Najabah al-Fazari. Dan mereka termasuk generasi sahabat. Jadi, “Sahabat harus bertanggung jawab atas pembunuhan Husen ra”.

    Hati2 loh, ash-shohabatu kulluhum ‘udul!

  15. @tohaa, saya memang copas2 dari komentar diatas no.1 dan membandingkannya dengan kata2 copasan dari yg lain (kompasiana & tarikh tabari) kenapa tidak sama? itu copasan dari amin muchtar hanya menggiring kalo kematian husein adalah syiah yang salah, padahal farazdag itu ditanya sama hussein tentang orang kuffah bukan orang syiah, baca koment jgn hanya sepotong nanti salah pengertian,

  16. @tabah, saya memang copas2 dari komentar diatas no.1 dan membandingkannya dengan kata2 copasan dari yg lain (kompasiana & tarikh tabari) kenapa tidak sama? itu copasan dari amin muchtar hanya menggiring kalo kematian husein adalah syiah yang salah, padahal farazdag itu ditanya sama hussein tentang orang kuffah bukan orang syiah, baca koment jgn hanya sepotong nanti salah pengertian,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: