Kedustaan Al Amiry : Syi’ah Mencela Ahlul Bait “Abbaas bin ‘Abdul Muthalib”

Kedustaan Al Amiry : Syi’ah Mencela Ahlul Bait “Abbaas bin ‘Abdul Muthalib”

Cukup banyak para pencela Syi’ah [dari golongan Ahlus Sunnah] yang dengan sukses menunjukkan kebodohannya. Ketika mereka menulis atau membahas tentang mazhab Ahlus Sunnah mereka akan bersikap kritis dan luar biasa ilmiah tetapi ketika mereka menulis tentang mazhab Syi’ah maka mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab. Asal nukil riwayat atau asal nukil qaul ulama dalam kitab Syi’ah kemudian seenaknya menjadikan nukilan tersebut sebagai bahan celaan atas mazhab Syi’ah.

Al Amiry adalah contoh dari para pencela Syi’ah yang kami maksudkan. Orang yang menyebut dirinya Al Amiry ini memang sungguh menyedihkan. Dirinya mungkin merasa-rasa sebagai pembela Ahlus Sunnah tetapi hakikatnya ia tidak lebih dari seorang pendusta. Ia mengutip kisah atau riwayat dalam kitab Syi’ah tanpa membuktikan kebenaran kisah atau riwayat tersebut kemudian dengan seenaknya ia menisbatkan hal itu atas mazhab Syi’ah.

Apakah tak pernah terpikirkan olehnya siapapun bisa mengutip riwayat atau kisah bathil dalam kitab Ahlus Sunnah kemudian menisbatkan riwayat atau kisah itu atas Ahlus Sunnah. Siapapun bisa menukil kisah Al Gharaniq dalam kitab Ahlus Sunnah kemudian seenaknya berkata “Ahlus Sunnah Mencela Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Kalau orang Syi’ah mengatakan hal ini maka kami yakin Al Amiry pasti akan mengatakan orang Syi’ah tersebut pendusta, bodoh, dungu dan berbagai celaan lainnya.

.

.

.

Tulisan ini akan menunjukkan [untuk kesekian kalinya] kedustaan Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiry terhadap mazhab Syi’ah. Dalam salah satu tulisannya, ia mengatakan Syi’ah mencela Ahlul Bait yaitu ‘Abbaas bin ‘Abdul Muthalib.

.

Dusta Al Amiry

.

Al Amiry hanya bisa menukil tanpa mengecek validitas kisah atau riwayat yang ia nukil. Ia tidak memusingkan apakah itu shahih atau tidak di sisi mazhab Syi’ah. Baginya yang penting riwayat itu dapat memuaskan nafsunya untuk mencela Syi’ah. Sumber primer riwayat di atas [yang dinukil Al Amiry] dalam kitab Mazhab Syi’ah adalah berasal dari Kitab Sulaim bin Qais Al Hilaliy hal 219

.

Abbas Kitab Sulaim

.

Kitab Sulaim bin Qais [berdasarkan pendapat yang rajih] tidak bisa dijadikan pegangan dalam mazhab Syi’ah karena Kitab Sulaim yang ada sekarang adalah Kitab Sulaim dengan jalan sanad dari Aban bin Abi ‘Ayyaasy dan dia seorang yang dhaif bahkan dikatakan telah memalsukan kitab Sulaim tersebut.

.

Aban bin Abi Ayasy Rijal Thusiy

.

Syaikh Ath Thuusiy menyatakan bahwa Aban bin Abi ‘Ayyaasy seorang tabiin yang dhaif [Rijal Ath Thuusiy hal 129 no 1264]

.

Khulashah Al Aqwal Aban bin Abi 'Ayyaasy

.

Allamah Al Hilliy menyatakan bahwa Aban bin Abi ‘Ayyasy dhaif jiddan [sangat dhaif] kemudian berkata

روى عن انس بن مالك، وروى عن علي بن الحسين (عليهما السلام)، لا يلتفت إليه، وينسب أصحابنا وضع كتاب سليم بن قيس إليه، هكذا قاله ابن الغضائري

Ia telah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan meriwayatkan dari Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam], tidak usah diperhatikan dirinya dan para sahabat kami menisbatkan pemalsuan kitab Sulaim bin Qais terhadapnya, demikianlah dikatakan Ibnu Ghada’iriy [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 325 no 1280]

Syaikh Al Mufiid pernah berkata tentang kitab Sulaim riwayat Aban bin Abi ‘Ayyaasy dalam salah satu kitabnya

.

Tashih I'tiqadat Al Mufiid

.

وأما ما تعلق به أبو جعفر – رحمه الله – من حديث سليم الذي رجع فيه إلى الكتاب المضاف إليه برواية أبان بن أبي عياش، فالمعنى فيه صحيح، غير أن هذا الكتاب غير موثوق به، ولا يجوز العمل على أكثره، وقد حصل فيه تخليط وتدليس، فينبغي للمتدين أن يجتنب العمل بكل ما فيه، ولا يعول على جملته والتقليد لرواته وليفزع إلى العلماء فيما تضمنه من الاحاديث ليوقفوه على الصحيح منها والفاسد

Adapun apa yang dipegang Abu Ja’far [rahimahullah] dengannya yaitu dari hadis Sulaim yang mana itu merujuk pada kitab yang disandarkan atasnya oleh riwayat Abaan bin Abi ‘Ayyaasy maka makna di dalamnya shahih hanya saja kitab tersebut tidak dapat dipercaya dengannya, tidak boleh beramal dengan banyak hal di dalamnya, dan terdapat di dalamnya [kitab tersebut] takhlith dan tadliis, maka sudah selayaknya bagi orang yang taat beragama untuk menjauhi dari beramal dengan seluruh apa yang ada di dalamnya, dan tidak pula mengandalkan sebagiannya dan taklid dengan riwayatnya. Dan hendaknya mengembalikan kepada para ulama mengenai apa yang terkandung di dalamnya mana hadis-hadis yang shahih dan yang tidak [Tashiih I’tiqaadaat Al Imaamiyah Syaikh Al Mufiid hal 149-150]

Kami tidak menafikan ada ulama Syi’ah yang berhujjah dengan kitab Sulaim bin Qais dan hal ini keliru berdasarkan penjelasan di atas. Perselisihan para ulama harus dituntaskan dengan dalil dan dinilai mana yang lebih rajih bukan dengan cara seenaknya mengambil mana saja yang sesuai dengan keinginan.

.

.

.

Andaipun ada ulama Syi’ah yang mencela ‘Abbaas dengan berdasarkan riwayat dhaif maka tidak bisa langsung dikatakan bahwa begitulah sejatinya mazhab Syi’ah. Justru terdapat riwayat shahih dalam mazhab Syi’ah yang mengandung pujian bagi Abbaas dan Aqil yaitu riwayat berikut

.

Al Kafiy Pujian Abbaas

.

قال: فرجع الاسرى كلهم مشركين إلا العباس وعقيل ونوفل كرم الله وجوههم وفيهم نزلت هذه الآية ” قل لمن في أيديكم من الاسرى إن يعلم الله في قلوبكم خيرا – إلى آخر الآية

[Abu ‘Abdullah] berkata “maka para tawanan semuanya kembali musyrik kecuali Abbaas, Aqiil dan Naufal, semoga Allah memuliakan wajah mereka dan untuk merekalah turun ayat “katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu “jika Allah mengetahui kebaikan yang ada di hati kalian – hingga akhir ayat [QS Al Anfal : 70] [Al Kafiy Al Kulainiy 8/113 no 244]

Riwayat di atas mengandung lafal pujian dari Abu Abdullah [imam ahlul bait] kepada Abbaas bin Abdul Muthalib yaitu “semoga Allah memuliakan wajah mereka” dan riwayat ini kedudukan sanadnya shahih dalam mazhab Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218].
  4. Mu’awiyah bin ‘Ammaar seorang yang terkemuka, tsiqat, besar urusannya dan agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 411 no 1096]

Allamah Al Hilliy menyebutkan Abbaas bin Abdul Muthalib dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal pada bagian pertama yaitu orang-orang yang dapat dijadikan pegangan atasnya

.

Khulashah Al Aqwal Abbas 2

Abbas Khulashah Al Aqwaal

.

العباس بن عبد المطلب، عم رسول الله (صلى الله عليه وآله) سيد من سادات أصحابه، وهو من أصحاب علي (عليه السلام) أيضا

Abbaas bin ‘Abdul Muthalib paman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] Sayyid dari pemimpin para sahabat, dan ia termasuk sahabat Aliy [‘alaihis salaam] [Khulashah Al Aqwaal hal 209 no 676]

Jadi sungguh dusta kalau dikatakan Syi’ah mencela Abbaas bin Abdul Muthalib [radiallahu ‘anhu]. Adanya riwayat atau kisah [dalam suatu mazhab] yang mencela sahabat tertentu bukan berarti langsung dikatakan mazhab tersebut mencela sahabat yang dimaksud. Mazhab Ahlus Sunnahpun tidak lepas dari riwayat yang mencela sahabat atau ahlul bait. Silakan perhatikan riwayat shahih berikut

.

Shahih Muslim Abbas Mencela Aliy

.

ثم جاء فقال هل لك في عباس وعلي ؟ قال نعم فأذن لهما فقال عباس يا أمير المؤمنين اقض بيني وبين هذا الكاذب الآثم الغادر الخائن

Kemudian [Yarfa’] datang dan berkata [kepada Umar] “Apa yang anda katakan tentang ‘Abbaas dan ‘Aliy”?. [Umar] berkata “Ya izinkan mereka berdua masuk”. Maka ‘Abbaas berkata “wahai Amirul Mukminin putuskan antara aku dan pendusta, pendosa, penipu dan pengkhianat ini”...[Shahih Muslim no 1757 tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy]

Apakah dengan menukil riwayat ini maka seseorang dengan seenaknya mengatakan Ahlus Sunnah mencela sahabat atau ahlul bait?. Jawabannya tidak, kami yakin Ahlus Sunnah tidak akan membenarkan perkataan Abbaas tersebut kepada Imam Aliy. Cukuplah sampai disini, kami tidak perlu memperpanjang hujjah karena sudah jelas kalau Al Amiry ini tidak lebih dari seorang pendusta ketika berbicara atas mazhab Syi’ah.

.

Note : Dalam kitab Al Kafiy juga terdapat riwayat yang mencela Abbaas dan ‘Aqiil dan berdasarkan pendapat yang rajih kedudukannya dhaif [sesuai dengan standar ilmu hadis mazhab Syi’ah]. Sengaja tidak kami nukilkan di atas karena pembahasan tentang riwayat ini cukup panjang dan bisa menjadi tulisan tersendiri lagipula riwayat Al Kafiy ini tidak dijadikan hujjah oleh Al Amiry. Oleh karena itu kami mencukupkan diri dengan membahas riwayat yang dinukil Al Amiry saja.

10 Tanggapan

  1. Lucu ada orang yang begitu semangat berkomentar kotor di blog ini. Sedikit kami bahas komentarnya yang mengandung sedikit hujjah. Sengaja tidak kami tampilkan komentarnya karena bahasanya kurang pantas untuk ditampilkan. Ia membantah saya, berdalil dengan perkataan Syaikh Mufid di atas, ia berkata

    Syeh mupid berkata: “Adapun apa yang dipegang Abu Ja’far [rahimahullah] dengannya yaitu dari hadis Sulaim yang mana itu merujuk pada kitab yang disandarkan atasnya oleh riwayat Abaan bin Abi ‘Ayyaasy maka makna di dalamnya shahih hanya saja kitab tersebut tidak dapat dipercaya dengannya, tidak boleh beramal dengan banyak hal di dalamnya, dan terdapat di dalamnya [kitab tersebut] takhlith dan tadliis, maka sudah selayaknya bagi orang yang taat beragama untuk menjauhi dari beramal dengan seluruh apa yang ada di dalamnya, dan tidak pula mengandalkan sebagiannya dan taklid dengan riwayatnya. Dan hendaknya mengembalikan kepada para ulama mengenai apa yang terkandung di dalamnya mana hadis-hadis yang shahih dan yang tidak [Tashiih I’tiqaadaat Al Imaamiyah Syaikh Al Mufiid hal 149-150]”

    ______________
    Tolong perhatikan perkataannya: “maka makna di dalamnya shahih”

    ITu artinya makna daripada ucapan sebelumnya: ““Adapun Hamzah maka beliau dibunuh pada peperangan uhud. Dan adapun Ja’far maka beliau dibunuh pada peperangan mu’tah. Maka aku berada diantara dua orang yang dungu, dan dua orang yang berwatak keras, dan dua orang yang hina, dan dua orang yang rendah, dan dua orang yang lemah, yakni “Abbas dan Aqil”.”

    adalah benar maknanya.

    Perkataan ini sangat keliru karena hadis Sulaim yang dibicarakan Syaikh Mufiid bukan hadis yang dinukil Al Amiry jadi maksud “maknanya shahih” itu tertuju pada hadis lain bukan hadis yang dibicarakan di atas.

    Sangat ma’ruf bahwa seorang perawi dhaif bisa saja meriwayatkan hadis shahih dan ini harus dibuktikan yaitu hadis tersebut harus diriwayatkan juga oleh perawi tsiqat. Tidak mungkin mengatakan hadis dari perawi dhaif bermakna shahih kalau tidak ada buktinya

  2. Alhmd…,ust SP nulis lgi…terimaksih ust atas analisanya…sya salah satu penikmat tulisan ust….Mudah mudahan banyak orang tercerahkan oleh tulisan ust. Dan mudah mudahan para nashibi sadar akan kelemahan hujjahnya…

  3. apakah syaikh mupid punya istri 50 orang? lalu bagaimana cara syaikh yang udah aki-aki itu menggilirinya? apakah boleh minta bantuan teman?

  4. @bang udin
    bagaimana mungkin syaikh mupid punya istri 50 orang, bukankah dia itu punya banyak “simpanan pedesaan” di Qum. syaikh mupid doyan mutah, yang ketauan mungkin baru 50 orang, tapi yang ga ketauan banyak. jangan2 penulis blog ini turunan dari syaikh mupid. hiiii.
    adapun cara syaikh menggilir, yah mana mau syaikh yang pelit itu bagi2 gundik ke yang lain, ya pasti dimakan sendiri lah. lho jangan dikira udah aki2 tenaganya cepat abis loh, biar aki2 tenaganya strong kayak babi utan, maklum makanannnya tanah karbala!

  5. @bang udin&bung asep

    Koq bisa sih sampeyan sampai kepikiran kayak gitu. Sampeyan jangan memfitnah sebaiknya sampeyan tabayun dahulu ke Syaikh Mufid mengenai jumlah istrinya. Fitnah itu buruk. Apa susahnya sih sampeyan tabayun dulu.

  6. ada orang sakit jiwa, yang panas hati tidak bisa membantah tulisah syaikh second prince.

    thx pak yai..

    tulisan yg mencerahkan..

  7. kalo dah tak punya hujjah biasanya hanya umpatan yg keluar, ini kebiasaan nasibi.

  8. bang udin dan bung asep mana ? apa mungkin lagi berkunjung ke Syaikh Mufid untuk tabayyun…..

  9. @jaya : huahuahua

  10. Bahasan di sini boleh juga direnungkan demi cari kebenaran. Sayangnya diskusi peserta tsb di atas banyak kandungan yang sia-sia. Kebenaran harus digapai dengan sabar, ikhlas dan belajar terus tanpa didahului rasa benci dan prasangka negatif thd pihak lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: