Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih

Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih

fractal_jpg

Salah satu kabar yang masyhur dalam Sejarah Ahlul Bait adalah Adanya pihak-pihak yang mencaci maki Imam Ali AS. Tradisi ini dikatakan berasal dari bani Umayyah yang diawali oleh Muawiyah dan diikuti oleh para pengikutnya seperti Marwan, Mughirah dan Gubernur-gubernur yang diangkat Muawiyah. Tentu saja tradisi seperti ini adalah suatu kebatilan yang nyata dan tindakan seperti ini jelas mencoreng dan merendahkan siapapun yang melakukannya. Hal ini dikarenakan adanya hadis shahih yang menyatakan bahwa barang siapa yang mencaci maki Ali maka ia telah mencaci maki Rasulullah SAW.

Tentu sudah bisa ditebak kalau mereka para pecinta Muawiyah yang notabenenya para Salafiyun berteriak dengan parau seraya menuduh bahwa cerita itu adalah dusta dan dibuat-buat untuk menjatuhkan kedudukan Muawiyah. Dan tidak jarang mereka katakan bahwa Syiah lah yang membuat cerita palsu tersebut. Mereka para Salafiyun itu mencari segala macam cara untuk mendustakan adanya tradisi itu atau menakwilkannya demi melindungi Muawiyah. Bahkan tidak puas dengan sekedar membela, mereka malah membuat kitab-kitab khusus tentang Keutamaan Muawiyah.

Tulisan ini akan menunjukkan dengan jelas bahwa Tindakan Muawiyah yang mencela Imam Ali telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Kami akan menunjukkan dua riwayat yang menjadi bukti yaitu dalam Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah

.

.

Riwayat Shahih Muslim
Dalam kitab Shahih Muslim Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 4/1870 no 2404 diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash

أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي

Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku”.
.
.

Penjelasan Hadis

Jika kita melihat hadis di atas dengan baik, maka kita akan melihat bahwa pada awalnya Muawiyah memberikan perintah pada Sa’ad bin Abi Waqqash baru setelah itu ia bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”. Timbul pertanyaan, perintah apa yang diberikan Muawiyah kepada Sa’ad sehingga setelah itu ia bertanya kepada Sa’ad. Jika kita mengkaitkan antara perintah Muawiyah dengan pertanyaan selanjutnya Muawiyah yaitu “Apa yang menghalangimu mencaci Abu Turab” maka kita dapat memahami bahwa Perintah yang diberikan Muawiyah adalah agar Sa’ad mencaci Abu Turab tetapi Sa’ad menolak sehingga Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab?”.

Tentu saja pemahaman seperti ini akan mudah dimengerti tetapi para Salafiyun berusaha membela Muawiyah dengan mencatut Penakwilan Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Dalam Syarh Shahih Muslim 15/175-176 An Nawawi berkata

Menurut para Ulama(ahli ilmu), semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi salah seorang sahabat maka hadis tersebut mesti ditakwilkan. Mereka mengatakan semua hadis dari perawi tsiqat pasti dapat ditakwilkan. Karena itu perkataan Muawiyah di atas tidak harus itu berarti dia memerintah Sa’ad mencaci Ali. Dia hanya bertanya alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mencaci Ali?. Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”. Mungkin juga Sa’ad ketika itu berada di tengah-tengah suatu kelompok yang mencaci maki Ali tetapi dia tidak turut mencaci bersama mereka. Sa’ad mungkin tidak mampu menentang mereka tetapi ia tidak setuju dengan mereka. Lalu Muawiyah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad. Atau menurut mereka, hadis tersebut bisa juga ditakwilkan dengan kata-kata “Mengapa kamu tidak menyalahkan pendapat dan ijtihad Ali dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa pendapat dan ijtihad kami adalah benar sedangkan ijtihad Ali itu salah?.

Sayangnya para Salafiyun itu tidak bisa membedakan sebuah pendekatan yang benar dan penakwilan yang jauh dan dibuat-buat. Mereka hanya bisa berdalih dan bertaklid bahwa makna hadis tersebut adalah seperti yang dikatakan An Nawawi. Sebelum kami menganalisis Penakwilan Nawawi di atas, maka kami ingatkan bahwa Dalil sejelas apapun tetap bisa dicari-cari penolakannya dan bisa dibuat tafsiran-tafsiran untuk menakwilkan demi mengarahkannya pada makna tertentu yang diinginkan. Oleh karena itu kita akan menerapkan tiga landasan metode dalam menilai setiap interpretasi

  1. Berpegang pada teksnya
  2. Mencari Penafsiran yang terdekat dengan teksnya
  3. Membandingkannya dengan riwayat lain yang relevan dengan hadis tersebut

.

.

Analisis Penakwilan Imam Nawawi
Pada awalnya Imam Nawawi berkata

Menurut para Ulama, semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi salah seorang sahabat maka hadis tersebut mesti ditakwilkan. Mereka mengatakan semua hadis dari perawi tsiqat pasti dapat ditakwilkan.

Perhatikan baik-baik, Imam Nawawi mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi sahabat harus ditakwilkan. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Nawawi juga menangkap dalam hadis di atas adanya serangan terhadap pribadi Muawiyah sehingga dengan itu ia melakukan penakwilan untuk membela Muawiyah.

Imam Nawawi berkata

Karena itu perkataan Muawiyah di atas tidak harus itu berarti dia memerintah Sa’ad mencaci Ali. Dia hanya bertanya alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mencaci Ali?

Memang benar kalau Muawiyah bertanya Alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mau mencaci Ali?. Dan Muawiyah ingin mengetahui alasan yang membuat Sa’ad menolak perintahnya untuk mencaci Abu Turab.
Secara zahir teks kita melihat ada dua premis

  • Muawiyah Memerintah Sa’ad
  • Muawiyah bertanya kepada Sa’ad “Apa yang menghalangimu Mencaci Abu Turab”?

Dengan asumsi bahwa kedua premis tersebut berhubungan maka kita dapat menduga ada hubungan antara apa yang diperintahkan Muawiyah dan apa yang membuat Muwiyah bertanya. Jika kita mengasumsikan bahwa Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Ali maka kita dapat menarik hubungan antara perintah tersebut dengan pertanyaan Muawiyah. Hubungannya yaitu Sa’ad menolak untuk mencaci Abu Turab, hal inilah yang membuat Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu mencaci Abu Turab”?. Jadi asumsi Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab cukup relevan dan sesuai dengan zahir teks hadisnya.

Imam Nawawi membuat penakwilan pertama

Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”.

Tentu saja perkataan Muawiyah yang seakan-akan ini hanyalah rekaan yang dibuat oleh Nawawi. Siapapun tidak akan bisa menghubungkan kata-kata Muawiyah yang seakan-akan ini dengan zahir teks hadis
Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?.
Jadi singkat kata penjelasan Nawawi itu malah merekayasa teks hadis sendiri yang berbeda dengan zahir teks hadis yang sudah ada. Tentu saja berbeda dengan asumsi “Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab” yang justru berawal dari zahir teks hadis bahwa Muawiyah memerintah Sa’ad kemudian bertanya.

Imam Nawawi memberikan penakwilan kedua

Mungkin juga Sa’ad ketika itu berada di tengah-tengah suatu kelompok yang mencaci maki Ali tetapi dia tidak turut mencaci bersama mereka. Sa’ad mungkin tidak mampu menentang mereka tetapi ia tidak setuju dengan mereka. Lalu Muawiyah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad.

Inipun bisa dibilang asumsi yang dimasukkan pada hadis tersebut. Seandainya kita menerima asumsi ini maka itu tidak menafikan kalau Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Abu Turab. Bahkan bisa dibilang kita dapat menguatkan asumsi kalau Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab dengan asumsi Imam Nawawi ini. Perhatikan, mungkin saja saat itu Muawiyah dan Sa’ad berada di tengah-tengah kelompok yang mencaci-maki Ali. Sa’ad tidak mencaci Ali bersama mereka, tetapi bagaimana dengan Muawiyah, ada dua kemungkinan

  • Muawiyah ikut mencaci
  • Muawiyah tidak ikut mencaci

Mari kita ambil perandaian Imam Nawawi tentang perkataan Muawiyah yang Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”.

Intinya Imam Nawawi mendudukkan posisi Muawiyah sebagai orang yang mengetahui bahwa mencaci Ali itu jelas tidak benar. Nah kalau memang begitu bukankah Muawiyah yang berada di tengah-tengah kelompok yang mencaci maki Ali dapat melarang tindakan kelompok tersebut atau mengecam mereka. Sa’ad mungkin saja tidak mampu menentang mereka tetapi bukankah Muawiyah yang merupakan Penguasa saat itu memiliki kemampuan untuk itu.

Hal yang aneh ditampilkan oleh Imam Nawawi adalah ketimbang Muawiyah melarang kelompok tersebut ia malah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Paling tidak pertanyaan yang harus diajukan untuk situasi tersebut adalah pertanyaan kepada kelompok yang mencaci Ali “mengapa mereka sampai mencaci Ali” bukan kepada Sa’ad

Adanya pertanyaan kepada Sa’ad membuat kita berasumsi bahwa Muawiyah ikut mencaci Ali bersama kelompok tersebut sehingga dalam hal ini Muawiyah tidak perlu bersusah-susah melarang mereka dan ketika ia melihat Sa’ad tidak mau mencaci Ali atau bisa saja saat itu ia memerintah Sa’ad untuk ikut mencaci Ali dan Sa’ad menolak maka Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”. Asumsi ini jelas lebih masuk akal. Nah kita lihat, kesimpangsiuran dari andai-andai Imam Nawawi ini sangat jelas terlihat jika dianalisis dengan baik.

Imam Nawawi mengajukan penakwilan terakhir

Atau menurut mereka, hadis tersebut bisa juga ditakwilkan dengan kata-kata “Mengapa kamu tidak menyalahkan pendapat dan ijtihad Ali dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa pendapat dan ijtihad kami adalah benar sedangkan ijtihad Ali itu salah?.

Sudah jelas penakwilan seperti ini sangat jauh sekali dari teks hadisnya. Intinya kita tidak dapat menarik atau menimbulkan kata-kata ini dari zahir teks hadisnya. Singkatnya asumsi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan zahir teks hadis
Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?.
Sudah jelas kata-kata pada hadis tersebut adalah mencaci bukan soal ijtihad yang benar atau salah. Jadi penakwilan ini sungguh jauh sekali dari teks hadisnya bahkan hanya sekedar dibuat-buat.

.

.

Penafsiran Ulama Lain

Penakwilan Nawawi di atas sudah jelas hanyalah sebuah pembelaan semata yang tidak memuat sedikitpun hujjah dan argumentasi yang kuat sehingga dalam hal ini kita dapat melihat terdapat ulama-ulama yang mengkritik penakwilan yang dilakukan Imam Nawawi atau menyatakan dengan jelas bahwa hadis Muslim di atas memang mengindikasikan Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Abu Turab, diantara mereka adalah

  • Al Hafiz Muhammad bin Abdul Hadi As Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah no 118 berkata ”Muawiyah telah mencaci Ali dan ia juga memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali sebagaimana disebutkan oleh Muslim dan Tirmidzi”.
  • Muhibbudin Ath Thabari dalam Riyadh An Nadirah 3/194 telah membawakan hadis Muslim dan Tirmidzi di atas dan beliau mengawali penjelasan hadis Muslim di atas dengan kata-kata ”Muawiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Abu Turab kemudian Sa’ad berkata Selama aku masih mengingat tiga hal..(dan seterusnya) dikeluarkan oleh Muslim dan Tirmidzi.”
  • Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh Mahdzab Al Islam 1/38 telah mengkritik Imam Nawawi mengenai penjelasannya dalam Syarh Shahih Muslim, beliau telah menilai Imam Nawawi tidak jujur dalam membela Muawiyah.

Sebagai penjelasan terakhir akan ditunjukkan bukti kuat yang benar-benar membuktikan kalau Muawiyah telah mencela Imam Ali yaitu riwayat dalam Sunan Ibnu Majah berikut
.

.

.

Riwayat Sunan Ibnu Majah
Dalam Sunan Ibnu Majah Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/45 no 121 terdapat hadis riwayat Sa’ad berikut

حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya”.

.

.

Hadis ini telah dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 98. Hadis di atas adalah bukti yang paling kuat kalau Muawiyah memang telah mencela Imam Ali. Al Hafiz Muhammad bin Abdul Hadis As Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah no 118 telah menunjukkan dengan kata-kata yang jelas dalam komentarnya tentang hadis ini ”bahwa Muawiyah telah mencaci Imam Ali bahkan memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali sebagaimana yang disebutkan oleh Muslim dan Tirmidzi”.

.

.

Salam Damai

Catatan :

  • Kutipan dari Al Hafiz Al Sindi dan Muhibudin Ath Thabari itu memang dari kami sendiri
  • Kutipan Abu Zahrah adalah tambahan dari saudara FP, terimakasih atas masukannya 🙂


Iklan

99 Tanggapan

  1. hhhhmmmm….kira-kira alasan apa lagi ya yang bisa menyanggah hadits ini…..

    peace.

  2. Penjelasan yang sangat bagus dan lebih bisa masuk akal dan dimengerti ini yang saya tunggu2… thank SP semoga dikau diberi kesehatan selalu….. oleh Allah SWT…. btw menurut salafy mencaci sahabat hukumnya kafir… so Muawiyah mencaci salahseorang sahabat nabi Muawiyah kafir dong……..??!!!!!??? (dahi mengkerut..)

  3. Salaam Dahsyat,…..

    SP you dont need to write such a long long article,….
    Please Note: A KAFIR words is not accounted but a bunch of sheet,…. let see what we have

    Rasulullah saw
    Ini Hadits,tentang Muawiyah …….. ”semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya” Sahih Muslim, Kitab 32, nomor 6298 hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Hakin dalam Mustadraknya dengan sanad yang sahih

    Menurut Ibn Kathir:
    Di dunia ini dengan caranya ketika Muawiyah menjadi Amir di Syiria, dia biasa makan TUJUH kali sekali. Mangkok yang diberikan kepadanya untuk makan penuh dengan daging dan bawang. Dia biasa makan dari mangkuk ini TUJUH kali sehari bersama dengan banyak manisan (Halwa) dan buah buahan. Tapi masih saja dia mengatakan “Demi tuhan! Perutku belum kenyang, tapi saya sudah capek. …….
    Ref: Al-Badaya wa al-Nahaya, Jilid 8, hal 158,

    Dan Do’i juga mencatat:
    Dan Mughirah mencatat dari Shu’bi: “ Dan Muawiyah adalah orang yang pertama yang memulai memberikan khutbah (salat Jumah) SAMBIL DUDUK (bertentangan dengan sunah Rasul-pen) dan ini terjadi ketika Muawiyah penuh dengan timbunan lemak dan perutnya tumbuh menjadi besar, riwayat yang sama juga diberitakan oleh Mughirah dan Abu Malih
    Ibn Kathir al-Damishqi al Nasibi dalam al Bidayah wa Nihaya, Jilid 8, hal 181

    Imam Muslim
    Imam Muslim mencatat sebuah Hadits yang menarik
    Sahih Muslim, Kitab Al-Ashriba Jilid 7, Kitab 65 nomor 306
    Meriwayatkan Ib Umar: Rasulullah berkata, “ Seoarang Mukmin makan sebanyak satu usus (cukup dengan sedikit makanan), dan seorang KAFIR atau munafiq makan sebanyak TUJUH usus (makan terlalu banyak)

    Imam Bhukari
    Sahih Bhukari, Jilid 7, Buku 65 noor 308
    Mengabarkan Abu Huraira:
    Rasulullah berkata, “ Seorang Muslim makan sebanyak satu usus ( dia puas hanya dengan sedikit makanan) sementara seorang KAFIR makan sebanyak TUJUH usus (makan banyak)”

    See,…kata TUJUH padanannya dengan KAFIR,….
    Jadi menurut para Imam diatas do’i itu Kafir, cuma karena do’i itu termasuk “SAHABAT” maka seperti lagu yang lagi ngetop sekarang,….”perSAHABATan bagi kepompong merubah LAKNAT menjadi BERKAH

    My dear SP, sorry kalau comment-nya gak nyambung tolong……disambungin aja…cheeeer,

    God Bless You,….and Xia Xia
    A_Lee

  4. I raise no objection to the abovementioned article which might tragically backfires me…hehe

    Damai…Damai

  5. Ada pun riwayat itu tidak akan mengurangi keutamaan-keutamaan Muawiyyah. Bukan?
    Ini nih beberapa keutamaan Muawiyyah;

    (1) Bila ia dilaknat Nabi saw maka sesungguhnya ia sedang dimuliakan (laknat Nabi saw, laknat manusia & laknat Allah swt sepertinya berbeda definisi)

    (2) Bila ia keliru sesungguhnya ia sedang berijtihad dan mendapakan 1 pahala (hak kekebalan yang luar biasa, padahal Rasul saw ga pernah ngasih)

    (3) Bila ia mencela (Imam Ali) maka sesungguhnya ia tidak bermaksud seperti itu (padahal zahir teksnya jelas)

    (4) Bila tidak ada lagi riwayat lain yang menunjukkan keutamaannya, maka cukuplah keutamaannya karena ia hidup bersama Rasul saw dan melihat Rasul menerima wahyu (padahal Iblis juga bersama Allah swt dan langsung berkomunikasi dengan-Nya).

    (5) Bila terlalu banyak riwayat yang menceritakan kejelekannya, maka cukup dengan mengatakan “Janganlah menjelek-jelekkan sahabat, karena mereka lebih utama dari kita” (Padahal yang meriwayatkan bukan kita, tapi dari sahabat sendiri)

    Salam

  6. @SP
    Banyak pertanyaan nih:

    1. Bukankah Salafy (Wahabi) menolak takwil?
    2. Yang ditakwil bukankah hadits, atau riwayat termasuk sahabat hadits?
    3. Apakah definisi takwil sudah berubah? Apakah dalam pernayataan An Nawawi takwil dikhususkan untuk merubah makna dari mencela sahabat (dipaksakan) menjadi tidak mencela?
    4. Jika begitu (no.3) kenapa hadits yang “mencela” Rasul tidak diperlakukan sama?
    5. Bisakah disatukan dengan riwayat yang menyatakan bahwa Khalifar Umar b Abd Aziz telah menghentikan caci maki di mimbar jum’at (jika ada yang dihentikan (caci maki) tentunya ada yg sedang berjalan (caci maki)).
    6. Saya pernah mendengar riwayat bahwa Imam Ali masuk dalam Khulafaurrasyidin oleh Imam Ahmad (Hambali). Artinya sebelumnya Imam Ali diluar Khulafaurrasyiddin.
    7. Saya pernah membaca di beberap artikel bahwa beberapa ulama Salafy (wahabi) mengatakan bahwa An Nawawi sesat & kafir, tentunya tidak layak mereka berargumen dg hujjah2 An Nawawi.
    QS:104. Al Humazah:
    1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
    2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung
    3. dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya
    4. sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
    5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
    6. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan
    7. yang (membakar) sampai ke hati.
    8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka
    9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang

    Cukup dulu.

    Wassalam

  7. Salam

    Saidina Ali tidak termasuk dalam Khulafaurrasyiddin kerana mereka (ahlu bayt Nabi saww) tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Tidak begitukah SP.

    wasSalam

  8. Dear All

    Justru pendapat Imam An-Nawawy yg terakhir (mungkin beliau ini salah satu kelompok salafiyun kali ya :mrgreen: ) yang mendekati kebenaran… kita tahu seharusnya dalam memahami suatu hadits, melihat juga hadits2 yg lain yg berhubungan… kita tahu bahwa terjadi perselisihan pendapat antara Mu’awiyah yg didukung oleh penduduk Syam dengan Ali bin Abi Thalib yg didukung oleh penduduk kufah dalam hal darah Utsman, kita pun tahu bahwa namanya orang yg berselisih pasti akan menganggap bahwa pendapatnya-lah yg benar dan akan mempertahankannya, sedangkan pendapat lawannya-lah yg salah, apalgi dua2-nya keukeuh dg pendapatnya masing2 shg sampai terjadi pertempuran, maka mereka-pun akan saling mencela (atau apalah, yg intinya menyalahkan) pendapat lawan-nya, maka jika yg dimaksud mencela (antasabu di sini lebih mendekati diterjemahkan mencela drpd mencaci) adalah spt ini, maka menurut saya tidaklah dikategorikan dengan mencaci terhadap pribadi Imam Ali yg dilarang oleh Rasulullah, buktinya rasulullah sendiri mengatakan bahwa seruan dua kelompok tersebut adalah satu dan mereka adalah masih bagian dari kaum muslimin, walopun sebenarnya pihak Imam Ali-lah yang mendekati kebenaran dalam hal ini. Bandingkan dengan sabda Rasulullah mengenai khawarij, beliau katakan bhwa mereka telah keluar dari Islam bagaikan anak panah lepas dari busurnya…

    Nah untuk hadits di atas, kita bayangkan saja dua kelompok tersebut saling menggalang opini mengenai pendapat mereka, dan hadits di atas adalah yg merekam kubu Mu’awiyah tetapi tidak lengkap, sehingga masih menimbulkan pertanyaan. Dan ternyata ada salah satu sahabat yg tidak sepaham yaitu Sa’ad karena beliau ingat akan hadits2 tentang keutamaan Imam Ali, sayangnya hadits tsb tidak menyebutkan reaksi Mu’awiyah setelah itu…timbul pertanyaan, apakah Mu’awiyah tidak mengakui keutamaan Ali? Jawabannya spt yg telah saya sampaikan di thread sebelah, justru Mu’awiyah mengakui keutamaan Imam Ali dan mengakui bahwa Imam Ali yg lebih berhak dalam urusan pemerintahan, dia hanya menuntut qishas bagi para pembunuh Utsman tetapi Imam Ali berpendapat lain, makanya Mu’awiyah dan pengikutnya merasa pendapat Imam Ali tidak benar dan menyalahkannya (mencelanya)… itu saja…

    Abu Muslim al-Khaulani dan mereka yang bersama dengannya, pernah datang menemui Mu`awiyah dan bertanya: “Engkau memerangi Ali, apakah engkau ini setaraf dengannya?”.
    Jawab Mu`awiyah: “Demi Allah, aku benar-benar tahu bahwa dia lebih baik dan afdhal serta lebih berhak di dalam pemerintahan daripadaku. Namun kamu semua tahu bahwa Utsman dibunuh secara zalim dan aku adalah sepupunya. Aku menuntut darah Utsman. Beritahu Ali, serahkan pembunuh Utsman kepadaku niscaya aku menyerahkan urusan ini kepadanya.” (Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 8/132).

    Menurut pandangan Mu’awiyah dan pengikutnya seolah-olah Imam Ali melindungi para pembunuh Utsman, padahal Imam Ali sendiri tidak mengetahui siapa pembunuh Utsman tsb, dan para pembunuh Utsman begitu banyak di sekitar beliau, beliaupun dalam keadaan terjepit saat itu, makanya beliau berpendapat agar kaum muslimin bersatu terlebih dahulu.

    Nah sekarang apakah menurut kalian orang-orang yang berpihak kepada Imam Ali tidak mencela Mu’awiyah? Saya yakin iya, apalagi para pembunuh Utsman… jadi jelas menurut saya, jika terdapat saling cela/menyalahkan antar kelompok yg saling berselisih dan berperang saat itu adalah hal yang wajar, dan hal ini perlu dikaji lebih mendalam lagi… jangan asal tembak aza… justru yang saya heran adalah orang2 sekarang ini yg terpisahkan ribuan tahun dengan mereka dan sama sekali tidak terlibat perselisihan diantara mereka saat itu, masih saja terus menghujat dan mencela salah satu diantara dua sahabat tsb, padahal mereka aja sudah saling berdamai dan lebih aneh lagi Rasulullah saja menganggap kelompok yang berselisih adalah kaum muslimin, tetapi orang2 mutaakhirin ini berani mengkafirkan salah satunya, sungguh keberanian yg ruarrr biasa… :mrgreen:
    *heran mode on*

    Allahu A’lam bishowab…

    Salam damai selalu…

  9. Sedihh..benar2 sedihh..
    Apakah ini kebenaran yang sekarang dianut oleh sebagian umat islam?
    Karena saudara dibunuh maka sah2 saja, halal2 saja, dan menjadi suatu kebenaran (dapat pahala) menciptakan peperangan dan menentang pemimpin yang sah..??. Bagaimana jika Saudara2 Khalifah Abu Bakar menuntut balas? Sehingga mereka memerangi Khalifah Umar b Khattab krn beliau tidak bisa menyerahkan pembunuh Khalifah Abu Bakar??, bagaimana jika saudara2 Khalifah Umar menuntut balas? Kemudian memerangi Khalifah Utsman krn beliau tidak bisa menyerahkan pembunuh Khalifah Umar? Bagaimana jika saudara2 Malik b Nuwairah menuntut balas kepada Khalifah Abu Bakar krn Khalifah Abu Bakar tidak bisa/sanggup mengadili/menghukum Khalid b Walid..???
    Apakah semua problem umat diselesaikan dengan peperangan??. Bukankah ini semua argumen yang mengada2?
    Mengherankan ketika membela Muawiyah mereka menjadi begitu naif untuk melihat kebenaran. Bagaimana nilai2 kebenaran diterapkan dapat diterapkan secara konsisten? ketika: Semua yang salah jika dilakukan oleh orang lain, akan menjadi sah krn dilakukan oleh Muawiyah..?? Semua hukum2 Allah menjadi tidak berlaku ketika yang melanggar adalah Muawiyah? Semua hadits2 mentah ktk berhadapan dg Muawiyah? Semua sejarah harus dirombak untuk memuliakan Muawiyah..?? Semua pelanggaran atas hukum2 Allah menjadi bernilai pahala 1 (ijtihad) ketika dilakukan oleh Muawiyah? Sebagaimana kita dipaksa meyakini bahwa ketika Khalid b Walid membunuh Malik b nuwairah dan meniduri istri Malik b Nuwairah ketika itu juga, maka apa yang dilakukan Khalid b Walid mendapat pahala 1.. Logika macam apa ini?? kemana hukum2 yang sudah ditegakkan oleh Rasulullah, ataukah kita memaksakan diri untuk menerima bahwa Khalid b Walid sedang berijtihad??
    Keprihatinan ini bukan dikarenakan pilihan2 yang masing2 kita dipersilakan untuk mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah SWT. Tentunya tidk satupun dari kita berhak menggugat pilihan2 tsb.
    Bukan pula keprihatinan ini hadir karena pembelaan2 atas Muawiyah, iinsyaallah saya tidak di posisi mencela Muawiyah, kecuali jika memilih berada di pihak Ahl Bayt diangap sebagai mencela. Komentar2 ini hadir dari niatan untuk memposisikan Imam Ali (Ahl Bayt) kepada posisi yang semestinya. Biarlah Allah yang mengadili mereka2 yang telah wafat.

    Dan yang terpenting lagi adalah membangun pola pikir yang logis agar Islam bisa eksis di atas kebenaran.

    PS: bersikap proporsional thd sejarah/sahabat bukan berarti mencaci maki. Dengan menerima bahwa mereka isa/pernah berbuat salah bukan berarti kita harus mencaci maki mereka. Karena caci maki tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah & Ahl Bayt.

    Wassalam

  10. @Soegi

    Salam damai juga

    Saya heran dengan anda, seorang munafik seperti Muawiyah yang sudah jelas sebagai pemberontak dan memerangi Imam Ali as, selalu anda bela. Apakah anda seperti Muawiyah?

    Wassalam

  11. Jika si Soegi ini mengerti dan ‘ngeh’ kedudukan dan kemuliaan Imam Ali yang tidak dapat dibandingkan dengan sahabat lain, apalagi Muawiyyah, mungkin kebandelannya tidak seperti ini.

    Sesungguhnya Rasulullah
    SAWW meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib as pada perang Tabuk. Maka ‘Ali as bertanya pada Rasulullah SAWW, “Wahai Rasulullah, mengapa Engkau tinggalkan aku bersama para perempuan dan anak-anak?”
    Lalu Rasulullah (SAWW) menjawab, “Apakah engkau tidak ridlo atas kedudukanmu terhadapku, sebagaimana
    kedudukan (Nabi) Harun as terhadap (Nabi) Musa as, terkecuali tiada lagi Nabi setelah aku.?”

    Telah bersabda Rasulullah (SAWW) pada hari Ghadir Khum, “Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka ’Ali bin Abi Thalib as adalah pemimpinnya. Ya Allah, jadilah pemimpin atas orang- orang yang menjadikannya sebagai pemimpinnya dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.”

    Rasanya 2 hadits ini pun mencukupi untuk menunjukkan ketidakpantasan dan kejelekan Muawiyyah membantah, mencela, memusuhi apalagi memberontak kepada Imam Ali.

    Atau apakah harus disebutkan semua keutamaan dan kemuliaan Imam Ali agar bisa sadar?

    Salam

  12. @armand

    Sepertinya tidak usah menyebutkan semua keutamaan dan kemuliaan Imam Ali as. Karena dunia beserta isinya juga tidak akan cukup untuk memuatnya.

    Semoga rakhmat Allah swt senantiasa menyertaimu saudaraku.

    Wassalam

  13. dear all

    Saya hanya mendudukkan perselisihan tersebut sebagaimana Rasulullah mendudukannya “Sesungguhnya cucuku ini adalah Sayyid, semoga Allah mendamaikan dengannya dua kumpulan umat Islam yang sedang berselisih.” [Shahih al-Bukhari – hadis no: 3629]

    Jika kalian tanya saya, lebih utama manakah antara Ali dan Mu’awiyah, saya sudah sering menjawabnya bahwa sampai kapanpun Imam Ali lebih utama dari Mu’awiyah dan beliau (Mu’awiyah) sendiri-pun mengakuinya… tetapi jika karena Mu’awiyah berselisih dengan imam Ali dalam satu masalah, anda Nafikan keutamaan Mu’awiyah sebagai sahabat Rasul, saya tidak sepakat, atau diantara kalian menganggap Mu’awiyah adalah munafik, kafir dan celaan2 yg lainnya, saya pun tidak akan pernah terima, karena Rasulullah sendiri mendoakan Mu’awiyah dan menganggap kumpulan yang berselisih saat itu masih bagian dari kaum muslimin… jadi perselisihan mereka masih dalam perkara ijtihad… dan riwayat2 lain (yg shahih tentunya) yg seolah-olah bertentangan mau ga mau harus dipahami yg sesuai dg hadits tsb… maka menurut saya apa yang disampaikan Imam Nawawi lebih mendekati kebenaran…

    Allahu A’lam bishowab

    Salam damai selalu…

  14. dear all

    Baiklah saya tambahkan lagi keterangan dari kitab-kitab syi’ah sendiri, bagaimana penilaian Imam Ali terhadap Mu’awiyah dalam perselisihan tersebut, bahkan jelas banget pendirian beliau ini :

    Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Ja’far dari ayahnya, bahwa Ali mengatakan pada pasukannya :
    “Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun merasa demikian.”

    Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali.
    Riwayat ini diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45.

    Jadi Ali sendiri tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai kafir, seperti anggapan orang sekarang.

    Lebih jelas lagi, dalam Nahjul Balaghah:

    “Pada awalnya, kami bertempur dengan penduduk Syam, dan nampak bahwa Tuhan kita sama, begitu juga Nabi kita sama, begitu juga kami dan mereka sama-sama mengajak kepada Islam, tingkat keimanan kami pada Allah dan kepercayaan kami pada Rasul adalah sama, begitu juga mereka tidak melebihi kami dalam iman pada Allah dan percaya para Rasul, seluruhnya satu, kecuali perbedaan yang ada tentang darah Utsman, dan kami tidak ikut serta membunuhnya.”

    Nahjul Balaghah, wa min kitabin lahu katabahu ila ahlil amshar yaqushshu fiihi ma jara bainahu wa baina ahli shiffin, hal 448.

    Dari Abdullah bin Ja’far Al Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun bin Muslim dari Mas’adah bin Ziyad, dari Ja’far, dari ayahnya, bahwa Ali tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi Ali hanya mengatakan: mereka adalah saudara kami yang membangkang</I.. Qurbul Isnad, dari Wasa’ilu As Syi’ah jilid 15 hal 69 – 87.

    Ali memang tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai munafik, tapi hanya pengikutnya saja yang berpandangan keliru dan Muawiyah sebagai kafir dan munafik. Alih-alih menganggap kafir, Ali malah menganggap Muawiyah sebagai saudaranya.

    Silahkan ditela’ah sendiri… di atas adalah kitab pegangan kalian sendiri…

    Salam damai selalu…

  15. @Soegi

    Ada hadist yg mengatakan mengenai ijtihad sahabat apabila benar mendapat 2 pahala, apabila salah mendapat 1 pahala. Apakah hadist ini shahih? mohon penjelasannya.

    Wassalam

  16. @Soegi

    Setiap manusia adalah saudara entah itu kafirin, munafikin, fasikhin, murtadin, mutaqqin, pembangkang dlsb. Tentu saja Imam Ali as mengatakan bahwa Muawiyah sebagai saudara, karena sama keturunan dari Nabi Adam as dengan berbagai akhlaknya. Apabila akhlak-akhlak manusia tersebut semua dibela oleh anda, maka apakah artinya Al Qur’an sebagai pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Disini anda sepertinya keliru dalam menyikapinya. Semoga anda sadar dengan pemahaman anda selama ini. Dan semoga anda mendapat hidayah dari Allah swt, amin yaa arhamarraahimiin.

    Wassalam

  17. Salam

    Mau tau ttg Muawiyah lebih detail..?

    bgmn pandangan Rasul saww dan kutukannya ke Muawiyah LA ini?pandangan Imam Ali? pandangan Aisyah..?sahabat2 Rasul saww..? ulama2 sunni..? mau..mau…mau..?

    download disini :
    http://www.answering-ansar.org/answers/muawiya/en/chap1.php

    cuma calapiyun CS yang belain muawiyah LA…

    wassalam

  18. @Soegi
    Mungkin anda harus lebih menyimak tulisan diatas…
    Bahwa muawiyah mencela Imam Ali itu benar. Koq komentar anda seakan-akan andalah muawiyah, anda lebih mengetahui kepribadian muawiyah bahkan sampai isi hati muawiyah… dan anda menyampaikan sesuatu mengenai muawiyah berdasarkan apa yang menurut anda saja.

    Anda mengakui keutamaan Imam Ali, bahkan anda menyampaikan bahwa Imam Ali tidak pernah menganggap muawiyah kafir.. (kembali lagi ke topik diatas.. bahwa muawiyah mencela Imam Ali adalah benar…) berarti tulisan diatas juga ga salah kan ?? yang mencela kan muawiyah.. bukan Imam Ali.

    dan yang mas Soegi harus ingat, kita di blognya SP bukan orang2 yang tidak mau umat bersatu dan anti perdamaian…. cuma kita tidak setuju dengan metode yang salah 1 pahala yang benar 2 pahala.

    dan seharusnya andalah yang harus memahami arti kata ..” Saudara kita yang membangkang..” itu apa ..

    Kalau anda mengakui keutamaan Imam Ali.as(mudah2an benar2 pengakuan dari hati mas Soegi hehehehe *maaf loh) dan tidak setuju dengan keburukan muawiyah untuk dibahas atau ditampilkan… silahkan aja kalo itu namanya pilihan mas kan..

    oh iya mas komentar mas Soegi diatas jadi ngingetin saya sama menteri luar negeri Mesir yang bicara mengenai serangan israel ke Gaza dia bilang “Kita jangan selalu menyalahkan Israel…).

  19. Salaam,

    @ Asep-Hadits Ijtihad
    Inilah konsep paling ngawur -a Hardcore fallacy

    Allah SWT berfirman
    Q:S An-Nisa : 93. Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya

    Rasulullah saww bersabada:
    ……Aku bersumpah demi Dia yang hidupku berada ditangannya dan seandainya Fatimah, putri Muhammad telah melakukan kejahatan ini (mencuri) maka aku akan potong tangannya.

    Allah SWT dan Rasul-Nya saww di atas tidak mengecualikan siapapun, apakah dia seorang sahabat, hatta putri Nabi sekalipun, jelas hukumannya. camkan,..jadi tidak ada tuh karena dia seorang SAHABAT setelah MEMBUNUH seorang Mukmin kemudian dia dapat PAHALA,…

    These guy’s(ulama?) never stop to amaze me,…..

    Tao Xie
    Lee

  20. @A_Lee

    Salam kenal,

    Alhamdulillah, terimakasih banyak atas penjelasannya yang sangat berarti bagi saya, maupun yang hadir di blog ini. Semoga anda senantiasa dalam lindungang Allah swt, amin.

    Wassalam

  21. alhamdulillahir Rabbil’alamin

    welcome back @Bagir.

    wasSalam

  22. Salam Mas Soegi

    Anda ‘memetik’ kata2 Imam Ali dari sumber2 syiah…namun apa yg anda ‘petik’ itu shahih menurut ulama syiah? Bisa disertakan komentar mereka ttg ‘riwayat’ yg anda ‘petik’ itu?

    Kami menunggu ulasannya dari kitab rijal syiah. jgn hampakan kami ya Mas.

    Salam

  23. Oh ya Mas Soegi

    Kata2 Amirul Mukminin dari Nahjul Balaghah itu khutbah no berapa ya?

    Salam

  24. Seru juga diskusinya. Baguslah, nambah ilmu ‘n pengalaman. Thx 4 all.

    @A_Lee

    Mas menulis

    Rasulullah saw
    Ini Hadits,tentang Muawiyah …….. ”semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya” Sahih Muslim, Kitab 32, nomor 6298 hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Hakin dalam Mustadraknya dengan sanad yang sahih

    Mau nanya boleh ga?

    Sejak kecil saya diajari (mungkin dogma kali, ya) agar berdoa yang baik-baik. Walau ada yang berbuat ga baik kepada saya, saya diajari berdoa agar Alloh memberi cahaya hati kpd orang itu, bukan berdoa agar orang itu celaka atau yg lain.

    Lalu, katanya Rosululloh itu pemaaf, santun, lembut bicaranya dst. yang baik-baik lah.

    Kok di sini Rosul berdoa ketidakbaikan utk Muawiyah? Rasanya tidak masuk akal seorang Rosul berdoa spt ini krn yang saya dapat selama ini Rosul itu sangat tinggi akhlaknya. Seorang Rosul gitu loh.

    Mungkin hadits itu shoheh secara sanad, tapi secara matan menurut saya aneh dan perlu dipertanyakan.

    Jelasin dong Mas. Siapa saja deh, pokoknya bisa jelasin dan masuk akal. Mas SP kan pinter di bidang ilmu hadits, jelasin dong Mas. Thx before.

    Salam damai selalu.

  25. Salam Pencari Kebenaran

    Andai Rasul saaw itu pemaaf maka Allah Maha Pemaaf. Maha Penyantun dan Maha Lembut. Namun itu tidak melepaskan kelompok tertentu dari tertimpa laknatNya:

    1. ‘mereka dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua(makhluk) yang dapat melaknat’ QS 2:159

    2. ‘Maka laknat Allah atas orang2 yang ingkar’ QS 2:89

    Hatta para nabi as pun melaknat:

    ‘Telah dilaknati orang2 kafir dari bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam’ QS 5:78

    Apa ada yg aneh pada ayat2 quran ini dan perlu dipertanyakan?

    Salam

  26. @hadi

    Thx 4 ur explanation.

    Mas menulis:

    Telah dilaknati orang2 kafir dari bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam

    Di situ jelas yang dilaknat adalah orang2 kafir.

    Setahu saya neh, informasi tentang orang-orang munafik saja dirahasiakan oleh Rosululloh dan hanya diberitahukan kepada Hudzaifah.

    Kalau Rosul nyata2 begitu thd Muawiyah, apakah Rosul menghukumi Muawiyah kafir? Dan itu di masa Rosul hidup. Apa spt itu?

    Pls explain. Salam damai selalu.

  27. @pencari kebenaran

    Menurut anda, apakah hukumnya orang yg memerangi Allah dan RasulNya?

    Salam Damai

  28. @hadi

    Setahu saya seh, yang berperang melawan Rosul seperti perang Badar, perang Uhud dll ya orang-orang kafir.

    Salam damai selalu.

  29. Salam
    @pencari Kebenaran

    “Di situ jelas yang dilaknat adalah orang2 kafir.”

    anda khan pencari kebenaran, silahkan cari tau riwayat orang2 yang meninggalkan (enggan ikut perang) tentara Usamah, yg diperintahkan oleh Rasul saww.

    Wassalam

  30. @pencari kebenaran

    Lalu bagaimana anda menakrifkan hadis ini:

    Rasulullah saw bersabda bahawa “Barangsiapa taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangku berarti dia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti dia taat kepadaku dan siapa yang menentang Ali berarti dia menentangku.”
    (Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. beliau berkata bahawa hadis ini sahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz-Dzahabi juga mengakui kesahihan hadis ini dalam Talkhis Al Mustadrak.)

    Nabi saaw bersabda ttg Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as: ‘Aku berdamai dgn org yg berdamai dgn kalian dan berperang dgn org yg memerangi kalian’
    -Sunan Ibnu Majah, jilid 1, h 81
    -Musnad Ahmad, jilid 2, h 767

    Salam Damai

  31. abelardo

    salam kenal

    Bahwa muawiyah mencela Imam Ali itu benar. Koq komentar anda seakan-akan andalah muawiyah, anda lebih mengetahui kepribadian muawiyah bahkan sampai isi hati muawiyah… dan anda menyampaikan sesuatu mengenai muawiyah berdasarkan apa yang menurut anda saja.

    Lho kan saya tidak mengingkari hadits tersebut, hanya interpretasi kita berbeda, saya lebih condong kepada apa yg disampaikan oleh Imam Nawawi, justru kalian-lah yg seakan-akan tahu isi hati Mu’awiyah… bahkan diantara kalian mengatakan beliau kafir dan munafik, sedangkan Rasulullah saja mengatakan kelompok yg berselisih tsb adalah kaum muslimin, dan lihatlah menurut sumber syi’ah sendiri, Imam Ali begitu jelas menjelaskan kepada kita mengenai perselisihannya dengan mu’awiyah , dan sangat cocok sekali dengan pemahaman saya mengenai perselisihan tsb… jd bukan menurut saya sendiri…intinya menurut beliau adalah perkara ijtihad yang sama-sama merasa benar, sama-sama mengajak Islam… Imam Ali emang OYE pokoknya… 🙂

    Anda mengakui keutamaan Imam Ali, bahkan anda menyampaikan bahwa Imam Ali tidak pernah menganggap muawiyah kafir.. (kembali lagi ke topik diatas.. bahwa muawiyah mencela Imam Ali adalah benar…) berarti tulisan diatas juga ga salah kan ?? yang mencela kan muawiyah.. bukan Imam Ali.

    Hadits tsb shahih dan saya tidak mengingkarinya, tetapi yg jadi masalah adalah interpretasi “mencela” di situ apakah termasuk “melaknat” atau “mencaci” terhadap pribadi Imam Ali yg berarti “melaknat” atau “mencaci” pribadi Rasulullah? kalo memang dikategorikan spt itu, maka Rasulullah tidak akan mengatakan Mu’awiyah dan kelompoknya termasuk bagian kaum muslimin, dan Imam Ali pun tidak akan berkomentar seperti di atas… maka yg mendekati kebenaran adalah sebagaimana yg disampaikan Imam Nawawi bahwa “mencela” di sini berarti menyalahkan ijtihad/pendapat Imam Ali, dan hal ini wajar, terjadi jika terjadi perselisihan, saya kira Imam Ali dan pengikutnyapun menyalahkan pendapat Mu’awiyah karena mereka sama-sama merasa benar, beliau menganggap Mu’awiyah membangkang (menurut anda apakah ini bukan suatu celaan / menyalahkan?) dan itulah yg saya pahami, jadi perselisihan mereka masih belum keluar dr zona Islam, karena masing-masing pihak merasa dirinya sedang membela Islam dan kaum muslimin… Cocok dengan apa yg disampaikan Rasulullah maupun pendirian Imam Ali… mudah2an anda paham maksud saya…

    dan yang mas Soegi harus ingat, kita di blognya SP bukan orang2 yang tidak mau umat bersatu dan anti perdamaian…. cuma kita tidak setuju dengan metode yang salah 1 pahala yang benar 2 pahala.

    Saya pun berpendapat demikian, Ya silahkan jika anda tidak setuju, tetapi saya setuju, dan pahala itu hanya berlaku bagi orang-orang yg layak menjadi mujtahid… dan mereka berdua adalah layak sebagai mujtahid.

    Kalau anda mengakui keutamaan Imam Ali.as(mudah2an benar2 pengakuan dari hati mas Soegi hehehehe *maaf loh) dan tidak setuju dengan keburukan muawiyah untuk dibahas atau ditampilkan… silahkan aja kalo itu namanya pilihan mas kan..

    Mas siapa sih yg ga tertarik dengan pribadi Imam Ali? pribadi yang hampir tiada cela, salah satu sahabat sekaligus ahlul bait Nabi… yang beliau berjuang sampai akhir hayatnya untuk Islam sebagaimana tiga orang Syaikh pendahulunya… beliau adalah salah satu benteng Islam saat itu… tetapi banyak orang yang mengaku mencintainya, tetapi ternyata sebenarnya jauh dari orang yg dicintainya… apakah cara kita mencintai Imam Ali dengan menjunjung beliau setinggi langit sambil merendahkan, mencela sahabat Nabi selain beliau serendah-rendahnya? Saya kira Imam Ali sendiri tidak mempunyai sifat spt itu… kembali ke soal Mu’awiyah, di atas telah dinukil ucapan Imam Ali mengenai perselisihannya dengan Mu’awiyah dari sumber Syi’ah, tentunya jika mereka mengaku mencintai Imam Ali, ya ikuti saja pendirian beliau, tetapi anehnya malah berbeda pendirian dengan orang yg dicintai, terus kecintaan model apa itu?

    oh iya mas komentar mas Soegi diatas jadi ngingetin saya sama menteri luar negeri Mesir yang bicara mengenai serangan israel ke Gaza dia bilang “Kita jangan selalu menyalahkan Israel…).

    Lho apa hubungannya tho mas… jgn memperlebar bahasan dulu dech… 🙂

    Salam damai selalu…

    @A_Lee

    Menurut anda apakah Imam Ali dan pasukannya tidak membunuh kaum muslimin waktu itu? Pihak siapakah yg terlebih dulu menyerang? Pihak Mu’awiyah atau pihak Ali? Aneh logika anda itu…

    Rasulullah saww bersabada:
    ……Aku bersumpah demi Dia yang hidupku berada ditangannya dan seandainya Fatimah, putri Muhammad telah melakukan kejahatan ini (mencuri) maka aku akan potong tangannya.

    Allah SWT dan Rasul-Nya saww di atas tidak mengecualikan siapapun, apakah dia seorang sahabat, hatta putri Nabi sekalipun, jelas hukumannya. camkan,..jadi tidak ada tuh karena dia seorang SAHABAT setelah MEMBUNUH seorang Mukmin kemudian dia dapat PAHALA,…

    Saya setuju dengan hukum berlaku buat siapa saja baik ahlul bait maupun sahabat, dan ini menunjukkan selain Rasulullah itu tidak ada yg kebal hukum…

    @hadi

    Anda ‘memetik’ kata2 Imam Ali dari sumber2 syiah…namun apa yg anda ‘petik’ itu shahih menurut ulama syiah? Bisa disertakan komentar mereka ttg ‘riwayat’ yg anda ‘petik’ itu?
    Kami menunggu ulasannya dari kitab rijal syiah. jgn hampakan kami ya Mas

    Lho kan itu pegangan anda, ya andalah seharusnya yg menjelaskan ke kita, justru kalo anda anggap riwayat tsb ga shahih tunjukkan kpd kita bukti dr anda, ato anda punya keyakinan apa saja yg ga sesuai dg pendapat anda maka hadits tsb ga shahih gitu? Jika anda ga bisa tunjukkan, kami menganggap itu adalah shahih di mazhab anda, kami bukan spt mazhab anda, kami punya pegangan sendiri, tanpa hadits2 dr mazhab anda pun kami sudah tegak, tetapi spt kata anda “Hujjah lawan adalah sebaik baik bukti kebenaran” :mrgreen: justru yang saya lihat, anda itu tidak PeDe dengan pegangan anda sendiri, bisanya hanya mendompleng dalil dr mazhab lain 😆 jika anda merasa minder dengan pegangan sendiri dan lebih suka dengan pegangan dr mazhab lain, mending anda pindah mazhab lagi aza… 😆

    Salam damai selalu…

    Lihatlah masih ada juga yg menganggap Mu’awiyah kafir, sedangkan Rasul dan Imam Ali saja tidak berpendapat seperti itu, cinta model apa yang dibangga-banggakan itu??? ga habis pikir aku 🙄

    كُلٌ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى
    وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
    Setiap lelaki mengaku kekasih Laila
    Namun Laila tidak pernah mengakuinya

    Salam damai selalu…

  32. “Hujjah lawan adalah sebaik baik bukti kebenaran”

    —-

    asik nih…calapiyun unjuk gigi :mrgreen:
    baca nih :

    Tarikh Tabari Volume 8 page 186 that Abdullah ibne Umar narrates that he heard Rasulullah say:

    “Mu’awiya shall not die on the path of Islam”.

    —–

    Hehehehe…Horeeee…:lol:

  33. makanya download dulu, trs baca semua…Yang PeDE yah… 😆

    Btw..kata hadi itu khutbah ke berapa yah…??

  34. @Soegi

    Anda memang cerdik seperti Muawiyah, namun pertanyaan saya kenapa belum dijawab?

  35. Salam Mas Soegi

    Nah, ini kata2 Amirul Mukminin Ali as dari Nahjul Balaghah:

    KHOTBAH 56
    Amirul Mukminin berkata kepada para sahabatnya tentang Mu’awiah
    Segera setelah saya, akan muncul pada Anda seorang lelaki dengan mulut lebar dan perut besar. la akan menelan apa saja yang diperolehnya dan akan menaruh serakah atas apa yang tidak diperolehnya. Anda harus membunuhnya tetapi (saya tahu) Anda tidak akan membunuhnya. la akan me-merintahkan Anda untuk mencerca saya dan menyangkali saya. Tentang cercaan, Anda boleh mencerca saya karena hal itu berarti penyucian bagi saya dan penyelamatan bagi Anda. Mengenai penyangkalan, Anda tak boleh menyangkali saya karena saya dilahirkan dalam agama fitrah dan mendahului dalam menerimanya maupun dalam hijrah.[1] •

    ——————————————————————————–

    [1] Tentang apa yang disinggung Amirul Mukminin dalam khotbah ini, scbagian orang mengira Ziyad ibn Abih, sebagian berpendapat al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi dan sebagian berpendapat Mughirah ibn Syu’bah. Tetapi kebanyakan pensyarah menganggapnya Mu’awiah, dan ini tepat, karena sifat-sifat yang digambarkan Amirul Mukminin sepenuhnya tepat bagi Mu’awiah sendiri. Sekali Nabi SAWW menyuruh memanggilnya dan kepada beliau dilaporkan bahwa Mu’awiah sedang sibuk makan. Kemudian kedua dan ketiga kali diutus seorang untuk memanggilnya, tetapi ia membawa kabar yang sama. Karena itu Nabi berkata, “Semoga Allah tak pernah memuaskan perutnya.” Karena sumpah ini maka apabila ia telah capek makan, ia akan mengatakan, “Singkirkanlah! Demi Allah, saya belum kenyang, tetapi saya telah capek dan muak.” Begitu pula, pencemarannya terhadap nama baik Amirul Mukirunin dan memerintahkan para pejabatnya untuk itu merupakan fakta-fakta yang diterima bulat oleh sejarah sehingga tak mungkin disangkal. Sehubungan dengan ini kata-kala yang demikian keji digunakan di mimbar mesjid sehingga Allah dan Rasul-Nya pun terkena. Demikianlah, Ummul Mu’mimn Salamah menulis kepada Mu’awiah, “Pastilah orang-orang Anda mencemari Allah dan Rasul, dan ini adalah karena Anda me-lemparkan cercaan kepada ‘Ali dan orang-orang yang mencintainya, sedangkan saya menyaksikan bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” (ul-‘lqd al-Farid, III, h. 131).

    Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz mengakhiri kebiasaan mencerca Ali, dan mengajukan kalimat ini scbagai. pengganti kalimat cercaan nu,

    “Sesungguhnva Allah menvuruh (kamu) berbuat adil dan bajik dan memberi kepada karib kerabat dan mencegah kejelekan dan kemungkaran dan pemberontakan; la menasihati kamu supaya kamu ingat. ” (QS. 16:90)

    Dalam Khotbah ini Amirul Mukminin telah memberi perintah untuk membunuhnya atas dasar perintah Nabi, “Apabila kamu melihat Mu’awiah di mimbarku, bunuhlah dia.” (Kitab ash-Shiffin, h. 243-248; Syarh Ibn Abil Hadid. I, h. 348; Tarikh al-Baghdad. XII, h. 181; Mizan al-I’tidal, II, h. 128; Tahdzib al-Tahdzib, II, h. 428; V, h. 110: VII, h. 324).

    Ada bantahan ttg ini?

    2. Anda ada pegangan sendiri? Benar, saya setuju…buktinya anda berseberangan dgn ulama2 anda sendiri.

    3. Ketika kami membawa hujjah2 lawan, gunanya sbg bukti bahawa kami tidak menyendiri dlm mengkritik hal2 tersebut dan kami bukanlah pelaku bida’ah…lagian kaliankan hanya betah dgn dalil sendiri?

    Salam

  36. @ halwa
    alasan yang dibuat-buat lah 🙂

    @oezie
    hmm terimakasih penjelasannya, ah kalau soal kafir mengafirkan saya tidak begitu paham 😛

    @A_Lee
    Hooo penjelasan yang menarik nih, khas anda sekali :mrgreen:

    @hadi
    ho ho merasa ya 🙂

    @armand
    hmm ah saya manggut-manggut saja

    @truthseeker08
    1. katanya sih begitu
    2. yah begitulah
    3. benar begitu bahkan menurut Nawawi harus begitu
    4. nah itu kurang tahu saya
    5. mungkin bisa 😛
    6. yah itu mungkin karena propaganda bani umayyah
    7. Ooh pernah baca juga, masalahnya mungkin mereka gak nyadar kali ya

    @fatamorgana
    siip benar sekali Imam Ali jelas jauh di atas sahabat Nabi yang lain

    @soegi

    Justru pendapat Imam An-Nawawy yg terakhir (mungkin beliau ini salah satu kelompok salafiyun kali ya :mrgreen: ) yang mendekati kebenaran…

    Kayaknya nggak deh Mas, itu takwil paling jauh makanya Imam Nawawi sendiri meletakkannya di bagian terakhir

    kita tahu seharusnya dalam memahami suatu hadits, melihat juga hadits2 yg lain yg berhubungan…

    Berhubungan tapi yang relevan dong, bukan sekedar asal dihubung-hubungkan 🙂

    kita tahu bahwa terjadi perselisihan pendapat antara Mu’awiyah yg didukung oleh penduduk Syam dengan Ali bin Abi Thalib yg didukung oleh penduduk kufah dalam hal darah Utsman, kita pun tahu bahwa namanya orang yg berselisih pasti akan menganggap bahwa pendapatnya-lah yg benar dan akan mempertahankannya, sedangkan pendapat lawannya-lah yg salah, apalgi dua2-nya keukeuh dg pendapatnya masing2 shg sampai terjadi pertempuran,

    Makanya gak mungkin keduanya benar, yang mungkin itu salah satu benar atau keduanya salah. Dan dalam hal ini Imam Ali yang benar karena berdasarkan dalil shahih telah ditetapkan kalau kebenaran selalu bersama Imam Ali kemudian dalil shahih lain yang mengatakan kalau kelompok Muawiyah adalah kelompok pemberontak

    maka mereka-pun akan saling mencela (atau apalah, yg intinya menyalahkan) pendapat lawan-nya, maka jika yg dimaksud mencela (antasabu di sini lebih mendekati diterjemahkan mencela drpd mencaci) adalah spt ini

    Saya kira ini argumen bersilat lidah dengan memanfaatkan spektrum linguistik. Secara harfiah kata antasabu itu berarti mencaci. kalau menterjemah ya itu artinya sedangkan kata-kata Mas itu adalah takwil 🙂

    maka menurut saya tidaklah dikategorikan dengan mencaci terhadap pribadi Imam Ali yg dilarang oleh Rasulullah, buktinya rasulullah sendiri mengatakan bahwa seruan dua kelompok tersebut adalah satu dan mereka adalah masih bagian dari kaum muslimin,

    pandangan anda itu keliru, banyak ulama lain yang justru menilai kata-kata Muawiyah itu sebagai cacian terhadap Imam Ali . Imam Nawawi sendiri mengakui kok kalau kata-kata dalam hadis tersebut sangat memberatkan Muawiyah makanya ia bersusah payah menakwil
    Kemudian argumen Mas soal hadis bahwa seruan kedua kelompok tersebut adalah satu dan masih bagian kaum muslimin maka saya katakan
    1. apa buktinya hadis tersebut tertuju pada kelompok Imam Ali dan kelompok Muawiyah, anda masih perlu membuktikan ini sebelum menggunakannya sebagai hujjah.
    2. Orang lain bisa dengan mudah membantah anda dengan mengatakan kelompok yang dimaksud adalah kelompok Imam Ali dan kelompok Aisyah dalam perang jamal jadi tidak tertuju pada Muawiyah
    3. Kelompok tersebut mungkin memang bagian dari kaum muslimin tapi bukan berarti setiap yang muslimin tidak bisa berbuat salah atau melanggar ketetapan Rasul. Namanya manusia yang tidak maksum jelas bisa saja melakukan kesalahan dalam hal ini mencaci Imam Ali walaupun ia bagian dari kaum muslimin

    walopun sebenarnya pihak Imam Ali-lah yang mendekati kebenaran dalam hal ini. Bandingkan dengan sabda Rasulullah mengenai khawarij, beliau katakan bhwa mereka telah keluar dari Islam bagaikan anak panah lepas dari busurnya…

    Imam Ali selalu bersama kebenaran dan yang menentangnya sudah jelas batil, tidak ada istilah mendekati kebenaran disini karena yang benar dan yang batil itu sudah jelas dengan dalil-dalil yang shahih.

    Nah untuk hadits di atas, kita bayangkan saja dua kelompok tersebut saling menggalang opini mengenai pendapat mereka, dan hadits di atas adalah yg merekam kubu Mu’awiyah tetapi tidak lengkap, sehingga masih menimbulkan pertanyaan.

    Silakan jika anda mau banyak berasumsi tapi apa buktinya asumsi anda tersebut benar 🙂

    Dan ternyata ada salah satu sahabat yg tidak sepaham yaitu Sa’ad karena beliau ingat akan hadits2 tentang keutamaan Imam Ali,

    Sa’ad jelas tidak sepaham dengan Muawiyah, kalau Muawiyah mau mencaci Ali maka Sa’ad tidak mau. Jelas sangat jauh bedanya

    sayangnya hadits tsb tidak menyebutkan reaksi Mu’awiyah setelah itu…

    Bukankah lebih baik berhujjah dengan yang telah ada ketimbang menduga-duga yang tidak ada, Itulah metode yang benar dan objektif

    timbul pertanyaan, apakah Mu’awiyah tidak mengakui keutamaan Ali?

    Jawabannya bisa iya bisa tidak, dan apapun jawabannya itu tidak menafikan kalau Muawiyah sudah mencaci Imam Ali.

    Jawabannya spt yg telah saya sampaikan di thread sebelah, justru Mu’awiyah mengakui keutamaan Imam Ali dan mengakui bahwa Imam Ali yg lebih berhak dalam urusan pemerintahan, dia hanya menuntut qishas bagi para pembunuh Utsman tetapi Imam Ali berpendapat lain, makanya Mu’awiyah dan pengikutnya merasa pendapat Imam Ali tidak benar dan menyalahkannya (mencelanya)… itu saja…

    Iya sama dengan orang yang mengakui kalau hadis Tsaqalain itu keutamaan Ahlul Bait tetapi mereka tidak mengamalkannya dengan berpegang teguh pada ahlul bait. Mereka terus saja bilang Ahlul Bait itu utama tetapi tetap mengatakan kalau mereka Ahlul Bait bisa saja keliru atau salah. Padahal hadis Tsaqalain itu adalah keutamaan bahwa Ahlul bait adalag pegangan agar tidak sesat. So, Muawiyah bisa saja mengakui semua keutamaan Imam Ali tapi apakah beliau mengamalkan atau berhujjah dengannya. Bukankah keutamaan Imam Ali adalah barang siapa yang Rasul maulanya maka Ali adalah maulanya, apakah dalil ini tidak cukup untuk menyerahkan urusan qishas pembunuhan usman itu kepada Imam Ali. Anehnya anda melakukan tadlis disini dengan menyamakan kata menyalahkan dengan mencela, seolah-olah kedua kata itu berarti sama.

    Abu Muslim al-Khaulani dan mereka yang bersama dengannya, pernah datang menemui Mu`awiyah dan bertanya: “Engkau memerangi Ali, apakah engkau ini setaraf dengannya?”.
    Jawab Mu`awiyah: “Demi Allah, aku benar-benar tahu bahwa dia lebih baik dan afdhal serta lebih berhak di dalam pemerintahan daripadaku. Namun kamu semua tahu bahwa Utsman dibunuh secara zalim dan aku adalah sepupunya. Aku menuntut darah Utsman. Beritahu Ali, serahkan pembunuh Utsman kepadaku niscaya aku menyerahkan urusan ini kepadanya.” (Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 8/132).

    Bagaimanakah kedudukan riwayat yang anda bawa ini?

    Menurut pandangan Mu’awiyah dan pengikutnya seolah-olah Imam Ali melindungi para pembunuh Utsman, padahal Imam Ali sendiri tidak mengetahui siapa pembunuh Utsman tsb, dan para pembunuh Utsman begitu banyak di sekitar beliau, beliaupun dalam keadaan terjepit saat itu, makanya beliau berpendapat agar kaum muslimin bersatu terlebih dahulu.

    Kalau begitu Muawiyah benar-benar keliru dan anehnya ia terus tidak menyadari kalau ia keliru bahkan sampai Imam Ali wafat dan pemerintahan dipimpin oleh Imam Hasan

    Nah sekarang apakah menurut kalian orang-orang yang berpihak kepada Imam Ali tidak mencela Mu’awiyah?

    yah bawakan dulu buktinya, kemudian apa relevansinya?

    Saya yakin iya, apalagi para pembunuh Utsman…

    Saya jadi bingung pembunuh Usman itu siapa sih?

    jadi jelas menurut saya, jika terdapat saling cela/menyalahkan antar kelompok yg saling berselisih dan berperang saat itu adalah hal yang wajar, dan hal ini perlu dikaji lebih mendalam lagi…

    boleh saja setiap kelompok mengaku kalau merekalah yang benar tetapi kebenaran selalu bersandar pada dalil. Intinya yang benar itu sudah jelas, so bukan suatu kewajaran terus-terusan membela yang salah

    jangan asal tembak aza… justru yang saya heran adalah orang2 sekarang ini yg terpisahkan ribuan tahun dengan mereka dan sama sekali tidak terlibat perselisihan diantara mereka saat itu, masih saja terus menghujat dan mencela salah satu diantara dua sahabat tsb,

    Semua pandangan apapun disini, baik yang sependapat dengan anda atau yang berseberangan dengan anda adalah mereka yang terpisahkan ribuan tahun jadi gak ada bedanya. Kalau saya pribadi, saya cuma mau menunjukkan kalau Muawiyah memang mencaci Imam Ali dan itu adalah salah. so, sangat sederhana dan tidak pakai hujatan atau celaan

    padahal mereka aja sudah saling berdamai dan lebih aneh lagi Rasulullah saja menganggap kelompok yang berselisih adalah kaum muslimin, tetapi orang2 mutaakhirin ini berani mengkafirkan salah satunya, sungguh keberanian yg ruarrr biasa…

    walaupun mereka sudah berdamai atau mereka adalah kaum muslimin maka itu tidak menafikan kalau Muawiyah sudah melakukan kesalahan dengan menentang Imam Ali dan mencaci Beliau. Yang perlu Mas perhatikan adalah di dunia ini ada banyak orang yang berpandangan tidak dengan prinsip dikotomi, seolah-olah mereka yang menyalahkan Muawiyah berarti menganggap kafir Muawiyah.

    @truthseeker08

    PS: bersikap proporsional thd sejarah/sahabat bukan berarti mencaci maki. Dengan menerima bahwa mereka isa/pernah berbuat salah bukan berarti kita harus mencaci maki mereka. Karena caci maki tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah & Ahl Bayt.

    Nah semoga kata-kata ini bisa dimengerti oleh Mas Soegi

    @asep
    ah anda heran juga rupanya 🙂

    @armand
    mungkin beliau mengerti tapi apa yang beliau mengerti mungkin beda dengan apa yang saya dan Mas mengerti 🙂

    @asep
    wah wah kata-kata yang membuat saya terpana :mrgreen:

    @soegi

    Saya hanya mendudukkan perselisihan tersebut sebagaimana Rasulullah mendudukannya “Sesungguhnya cucuku ini adalah Sayyid, semoga Allah mendamaikan dengannya dua kumpulan umat Islam yang sedang berselisih.” [Shahih al-Bukhari – hadis no: 3629]

    yah kedua kelompok itu memang umat islam tetapi yang satu bersama kebenaran dan yang satu kelompok pemberontak, begitulah Rasulullah SAW mendudukkannya

    tetapi jika karena Mu’awiyah berselisih dengan imam Ali dalam satu masalah, anda Nafikan keutamaan Mu’awiyah sebagai sahabat Rasul, saya tidak sepakat, atau diantara kalian menganggap Mu’awiyah adalah munafik, kafir dan celaan2 yg lainnya, saya pun tidak akan pernah terima, karena Rasulullah sendiri mendoakan Mu’awiyah dan menganggap kumpulan yang berselisih saat itu masih bagian dari kaum muslimin… jadi perselisihan mereka masih dalam perkara ijtihad…

    Apapun keutamaan Muawiyah yang Mas klaim, itu tetap tidak membuat kesalahan Muawiyah menjadi benar. Beliau seperti yang dikatakan Rasul SAW adalah kelompok pemberontak atau pembangkang

    dan riwayat2 lain (yg shahih tentunya) yg seolah-olah bertentangan mau ga mau harus dipahami yg sesuai dg hadits tsb… maka menurut saya apa yang disampaikan Imam Nawawi lebih mendekati kebenaran…

    Semua riwayat tersebut harus ditempatkan secara proporsional sesuai dengan metode yang benar, silakan kalau mau berpandangan demikian tapi cukup banyak Ulama yang tidak sependapat dengan Imam Nawawi. pertanyaan sederhana, mengapa tidak hadis tsb yang harus dipahami sesuai dengan hadis-hadis yang menurut Mas bertentangan? mengapa harus yang bertentangan yang perlu disesuaikan?

    @soegi
    ho ho ho riwayat syiah ya, no komen deh saya serahkan pada mereka yang lebih ahli untuk menilainya
    Salam

    @asep
    saya pernah dengar tapi hadis tersebut menceritakan tentang Hakim dan keputusannya 🙂

    @bagir
    terimakasih linknya, apa kabar Mas? ditanya sama Mas tok laki tuh 🙂

    @abelardo
    hmm saya menyimak 🙂

    @A_Lee
    waduh bahasanya hardcore fallacy 😆

    @tok laki
    ehem ehem 😛

    @hadi

    Anda ‘memetik’ kata2 Imam Ali dari sumber2 syiah…namun apa yg anda ‘petik’ itu shahih menurut ulama syiah? Bisa disertakan komentar mereka ttg ‘riwayat’ yg anda ‘petik’ itu?

    Kami menunggu ulasannya dari kitab rijal syiah. jgn hampakan kami ya Mas.

    Saya nggak yakin lho Mas itu tahu 🙂

    @pencari kebenaran

    Lalu, katanya Rosululloh itu pemaaf, santun, lembut bicaranya dst. yang baik-baik lah.

    Kok di sini Rosul berdoa ketidakbaikan utk Muawiyah? Rasanya tidak masuk akal seorang Rosul berdoa spt ini krn yang saya dapat selama ini Rosul itu sangat tinggi akhlaknya. Seorang Rosul gitu loh.

    Mungkin hadits itu shoheh secara sanad, tapi secara matan menurut saya aneh dan perlu dipertanyakan.

    Masih masuk akal kok, karena semua doa atau perkataan Rasulullah SAW bersifat proporsioanal dan tepat sasaran :mrgreen:

  37. @soegi

    Lho kan saya tidak mengingkari hadits tersebut, hanya interpretasi kita berbeda, saya lebih condong kepada apa yg disampaikan oleh Imam Nawawi, justru kalian-lah yg seakan-akan tahu isi hati Mu’awiyah…

    Makanya dari awal saya katakan metode yang benar adalah berpegang pada teks hadisnya bukan penakwilan 🙂

    intinya menurut beliau adalah perkara ijtihad yang sama-sama merasa benar, sama-sama mengajak Islam…

    Ya, karena itulah menurut masing-masing mereka dan yang memang benar adalah Imam Ali sedangkan Muawiyah salah

    Hadits tsb shahih dan saya tidak mengingkarinya, tetapi yg jadi masalah adalah interpretasi “mencela” di situ apakah termasuk “melaknat” atau “mencaci” terhadap pribadi Imam Ali yg berarti “melaknat” atau “mencaci” pribadi Rasulullah?

    Jawabannya iya, hadis Shahih Muslim menggunakan kata-kata mencaci. Sedangkan hadis Sunan Ibnu Majah maka Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam tahqiqnya terhadap Sunan Ibnu Majah mengatakan kalau mencela disitu adalah mencaci Ali dan begitu pula yang dikatakan pensyarah Ibnu Majah Al Hafiz Al Sindi. Lagipula secara sederhana hadis Shahih Muslim dan hadis Sunan Ibnu Majah sangat berhubungan dan relevan jadi interpretasi mencela ke arah mencaci itulah yang benar 🙂

    kalo memang dikategorikan spt itu, maka Rasulullah tidak akan mengatakan Mu’awiyah dan kelompoknya termasuk bagian kaum muslimin,

    Mas sudah keliru menarik kesimpulan, seorang muslim bukan berarti bebas dari kesalahan, walaupun Muawiyah adalah bagian dari kaum muslimin maka itu tidak berarti bahwa ia tidak bisa melakukan kesalahan dalam hal ini Mencaci Imam Ali

    maka yg mendekati kebenaran adalah sebagaimana yg disampaikan Imam Nawawi bahwa “mencela” di sini berarti menyalahkan ijtihad/pendapat Imam Ali,

    Ini adalah takwil yang jauh karena setiap takwil selalu membutuhkan bukti. Hadis Shahih Muslim menggunakan kata “Mencaci” sedangkan Hadis Sunan Ibnu Majah menggunakan kata “Mencela”. Mencela disini adalah ke arah mencaci karena kalau memang sekedar menyalahkan ijtihad maka Sa’ad tidak perlu sampai marah lagipula Muhmmad Fuad Abdul Baqi dan Al Hafiz As Sindi telah menjelaskan bahwa kata mencela dalam Sunan Ibnu Majah berarti Mencaci Imam Ali. So, sudah sangat jelas

    terjadi jika terjadi perselisihan, saya kira Imam Ali dan pengikutnyapun menyalahkan pendapat Mu’awiyah karena mereka sama-sama merasa benar,

    Ya siapapun bebas mengira-ngira 🙂

    beliau menganggap Mu’awiyah membangkang (menurut anda apakah ini bukan suatu celaan / menyalahkan?)

    Menyalahkan itu berbeda dengan mencela karena mencela adalah tindakan yang bisa jadi cerminan dari akhlak yang buruk, bisa jadi berlandaskan kebenaran atau malah kekliruan. Sedangkan Menyalhkan itu terkait dengan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Muawiyah adalah kelompok pembangkang itu sudah terbukti berdasarkan dalil shahih

    dan itulah yg saya pahami, jadi perselisihan mereka masih belum keluar dr zona Islam, karena masing-masing pihak merasa dirinya sedang membela Islam dan kaum muslimin…

    Rasa merasa ya boleh saja tapi kalau tolak ukur kebenaran adalah rasa merasa maka setiap orang bisa mengklaim bahwa dirinya benar. Dan sudah jelas tidak begitu karena standar kebenaran itu jelas. Kelompok Muawiyah boleh saja merasa benar atau menyeru ke arah yang benar tetapi hadis shahih membuktikan kalau mereka berada dalam kelompok yang salah dan mengajak ke arah yang salah

    Saya pun berpendapat demikian, Ya silahkan jika anda tidak setuju, tetapi saya setuju, dan pahala itu hanya berlaku bagi orang-orang yg layak menjadi mujtahid… dan mereka berdua adalah layak sebagai mujtahid

    Kalau setahu saya sih, hadisnya bicara soal Hakim 🙂

    di atas telah dinukil ucapan Imam Ali mengenai perselisihannya dengan Mu’awiyah dari sumber Syi’ah, tentunya jika mereka mengaku mencintai Imam Ali, ya ikuti saja pendirian beliau, tetapi anehnya malah berbeda pendirian dengan orang yg dicintai, terus kecintaan model apa itu?

    saya bingung, bukannya belum ada yang membahas validitas riwayat yang Mas bawa apakah benar atau tidak

    Saya setuju dengan hukum berlaku buat siapa saja baik ahlul bait maupun sahabat, dan ini menunjukkan selain Rasulullah itu tidak ada yg kebal hukum…

    lho jadi Rasulullah SAW itu kebal hukum? tambah bingung saya 😦

    Lho kan itu pegangan anda, ya andalah seharusnya yg menjelaskan ke kita, justru kalo anda anggap riwayat tsb ga shahih tunjukkan kpd kita bukti dr anda, ato anda punya keyakinan apa saja yg ga sesuai dg pendapat anda maka hadits tsb ga shahih gitu?

    hmm apa benar ya itu pegangan Mas hadi? kalau menurut saya kan yang berhujjah dengan riwayat itu adalah Mas maka Mas perlu dong membuktikan validitasnya, kan aneh Mas yang menyodorkan tapi menyuruh orang lain membuktikan.

    Jika anda ga bisa tunjukkan, kami menganggap itu adalah shahih di mazhab anda, kami bukan spt mazhab anda, kami punya pegangan sendiri, tanpa hadits2 dr mazhab anda pun kami sudah tegak

    Ho ho ho tampaknya Mas benar-benar tahu atau berasa tahu soal mahzab Mas Hadi sehingga bisa bicara begitu dan kalau boleh saya tahu mahzab Mas itu sendiri apa?

    justru yang saya lihat, anda itu tidak PeDe dengan pegangan anda sendiri, bisanya hanya mendompleng dalil dr mazhab lain 😆 jika anda merasa minder dengan pegangan sendiri dan lebih suka dengan pegangan dr mazhab lain, mending anda pindah mazhab lagi aza…

    Ho ho ho Mas menuduh nih, saya gak ikutan ah cuma mengingatkan bahwa tuduhan itu selalu perlu bukti lho kalau tidak itu namanya fitnah 🙂
    Salam

  38. Salam Mas SP

    Terima kasih atas penjelasan buat Mas Soegi ya ttg hujjah itu.
    Semoga Mas Soegi membawa hujjahnya…which i doubt he would.

  39. @ Mas Soegi

    Nah, satu lagi khutbah Amirul Mukminin Ali as dari Nahjul Balaghah ttg Muawiyah:

    KHOTBAH 191

    Hati-hatilah! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada saya untuk memerangi mereka yang memberontak atau membuat kekacauan di bumi. Mengenai para pelanggar baiat, saya telah memerangi mereka; mengenai para penyeleweng dari kebenaran, saya telah melancarkan perang suci terhadap mereka; dan mengenai orang-orang yang telah keluar dari agama, saya telah menempatkan mereka dalam kehinaan (yang parah
    ————————————————————————–

    Amirul Mukminin ‘Ali, Abû Ayyub al-Anshari, Jabir ibn ‘Abdullah al-Anshari, ‘Abdullah ibn Mas’ud, ‘Ammar ibn Yasir, Abfl Sa’id al-Khudri, dan ‘Abdullah ibn ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi telah memerintahkan ‘Ali ibn Abi Thalib untuk memerangi orang-orang pelanggar baiat (nâkitsûn), penyeleweng dari kebenaran (qâsithûn), dan orang-orang yang meninggalkan agama (mâriqûn). (Mustadrak, III, h. 139; al-Isti’ab, III, h. 1117; Usd al-Ghdbah, III, h. 32-33; ad-Durr al-Mantsur, VI, h. 18; al-Khasha’ish al-Kubrâ, II, h. 138; Majma’ az-Zawa’id, V, h. 186 dan VI, h. 235 dan VII, h. 238; Kanz al-‘Ummâl, VI, h. 72, 82, 88, 155, 215, 319, 391, 392; Tarikh Baghdâd, VIII, h. 340, h. 186-187; Tarikh Ibn Katsîr, VII, h. 304-306; ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 240; Syarh al-Mawâhib al-Laduniyyah, III, h. 316-317; Mawadhdhah al-Auham, I, h. 386.) Ibn Abil Hadid mengatakan, “Telah dibuktikan (dengan periwayatan yang benar) dari Nabi bahwa beliau berkata kepada ‘Ali,

    ‘Anda akan memerangi para pelanggar janji, para penyeleweng dari kebenaran, dan orang-orang yang meninggalkan agama.'”

    Pelanggar janji adalah kaum Jamal, karena melanggar baiat mereka kepadanya. Penyeleweng dari kebenaran adalah orang Suriah (Syam) di Shiffin. Orang yang meninggalkan agama adalah kaum Khariji. Tentang ketiga kelompok ini Allah berfirman,

    “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri….” (QS. 48:10)

    (Tentang kelompok yang kedua) Allah berfirman,

    “Adapun orang-omg yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka mejadi kayu api bagi neraka jahanam.” (QS. 72:15)

    Mengenai kelompok yang ketiga, Ibn Abil Hadid merujuk hadis berikut: Bukhari, ash-Shahih, IV, h. 166-167; Muslim, ash-Shahih, m, h. 109-117; Tarmidzi, al-Jami’ al-Shahih, IV, h. 481; Ibn Majah, as-Sunan, I, h. h. 59-62; an-Nasa’i, as-Sunan, II, h. 65-66; Malik ibn Anas, d-Muwaththa’, h. 204-205; ad-Daraquthni, as-Sunan, III, h. 131-132; ad-Darimî, as-Sunan, II, h. 133; Abû Dawûd, as-Sunan, IV, h. 241-246; al-Hakim, al-Mustadrak, II, h. 145-154 dan IV, h. 531; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 88, 140, 147, dan III, h. 56, 65; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubrâ, VIII, h. 170-171. Semuanya telah meriwayatkan melalui sekelompok sahabat Nabi bahwa beliau berkata tentang Dzul Khuwaishirah (julukan Dzuts-Tsudayyah Hurqûs ibn Zuhair at-Tamimi, pemimpin kaum Khariji).

    “Dari keturunan orang ini akan muncul orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka; mereka akan membunuh para pengikut Islam dan akan membiarkan pemuja berhala. Mereka akan memandang sekilas melalui ajaran Islam sama tergesa-gesanya seperti panah melewati mangsanya. Apabila saya sampai mendapatkan mereka, saya akan membunuh mereka seperti kaum ‘Ad.”

    Kemudian Ibn Abil Hadid melanjutkan,

    “Ini suatu tanda kenabian (Nabi Muhammad saw) dan ramalannya tentang pengetahuan rahasia.” (Syarh Nahjul Balâghah, XIII, h. 183)

    Apa anda masih yakin kalau Amirul Mukminin Ali as berkata ttg Muawiyah suatu kebaikan spt yg anda petik itu?

    Marilah kita renungkan ayat ini bersama:

    ‘Dan janganlah kamu cenderungkepada org2 yg zalim yg menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali kali kamu tidak mempunyai seorang penolong punselain drpd Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan’ QS Hud:113

    Salam Damai

  40. Waduuh kalo pemilik blog sdh turun gunung begini repot dech 🙂 … banyak banget komentarnya mas SP… bingung ngejawabnya 🙂 tetapi bgmanapun juga thanks atas komen-nya but I got the point, dikit aza yg saya mo tanggapi

    walaupun mereka sudah berdamai atau mereka adalah kaum muslimin maka itu tidak menafikan kalau Muawiyah sudah melakukan kesalahan dengan menentang Imam Ali dan mencaci Beliau. Yang perlu Mas perhatikan adalah di dunia ini ada banyak orang yang berpandangan tidak dengan prinsip dikotomi, seolah-olah mereka yang menyalahkan Muawiyah berarti menganggap kafir Muawiyah.

    Saya lihat Mas SP tidak spt yg lain, beliau tidak mengkafirkan Mu’awiyah hanya menganggap Mu’awiyah-lah yang salah dan masih dalam koridor Islam, bagi saya ini sudah cukup, berarti kita agak sepaham di sini, mengenai siapa yang salah dan benar dalam perselisihan tsb, saya kira kita semua sepakat bahwa kebenaran ada pada ijtihad Imam Ali… masalahnya adalah jika sahabat berijtihad lalu keliru, lantas orang mencelanya, mengeluarkannya dari jajaran sahabat dan mengkafirkannya dll itulah yg saya tidak sependapat… Soal riwayat tentang Mu’awiyah mencela Imam Ali silahkan saja jika berpendapat demikian, tetapi saya tetap lebih setuju dengan apa yang diuraikan Imam An-Nawawi… btw mas SP bisa lihat sendiri kok bahwa memang bener ada yang bukan sekedar menyalahkan Mu’awiyah bahkan lebih dari itu yaitu mengkafirkan beliau… dan itu bukan saya mengada-ada lho…

    Salam damai selalu…

  41. Salam

    @soegi
    Semoga sahabat terdekatmu kini adalah sebaik-baik sahabat yang tidak akan kamu benci suatu ketika….

    Damainya di Syurga
    wasSalam

  42. @Soegi

    Saya kira Muawiyah tidaklah kafir, akan tetapi munafik yang mana hukumannya kelak di akhirat lebih berat. Kalau orang kafir masih ada harapan untuk mendapat hidayah dari Allah swt. Akan tetapi orang munafik sudah mengetahui hukum-hukum Allah swt, namun ia mengingkarinya.

    Semoga anda mendapat hidayah dari Allah swt dan sadar atas kekhilafannya selama ini.

    Wassalam

  43. @ Soegi

    Seringnya anda melaungkan kata2 ‘ijtihad’ guna menyelamatkan Muawiyah. Bagaimana ijtihad bisa lulus di hadapan nas?

    Amirul Mukminin Ali as tidak sedang berijtihad saat memerangi Muawiyah, beliau sedang menerapkan nas:

    a. ‘Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya utk Allah belaka..’ QS Al Baqarah:193

    b. Nabi telah memerintahkan ‘Ali ibn Abi Thalib untuk memerangi orang-orang pelanggar baiat (nâkitsûn), penyeleweng dari kebenaran (qâsithûn), dan orang-orang yang meninggalkan agama (mâriqûn). (Mustadrak, III, h. 139; al-Isti’ab, III, h. 1117; Usd al-Ghdbah, III, h. 32-33; ad-Durr al-Mantsur, VI, h. 18; al-Khasha’ish al-Kubrâ, II, h. 138; Majma’ az-Zawa’id, V, h. 186 dan VI, h. 235 dan VII, h. 238; Kanz al-’Ummâl, VI, h. 72, 82, 88, 155, 215, 319, 391, 392; Tarikh Baghdâd, VIII, h. 340, h. 186-187; Tarikh Ibn Katsîr, VII, h. 304-306; ar-Riyâdh an-Nâdhirah, II, h. 240; Syarh al-Mawâhib al-Laduniyyah, III, h. 316-317; Mawadhdhah al-Auham, I, h. 386.) Ibn Abil Hadid mengatakan, “Telah dibuktikan (dengan periwayatan yang benar) dari Nabi bahwa beliau berkata kepada ‘Ali,

    ‘Anda akan memerangi para pelanggar janji, para penyeleweng dari kebenaran, dan orang-orang yang meninggalkan agama.’”

    Mas Soegi, tiada siapa yg mengeluarkan Muawiyah dari jajaran Islam…kecuali dia sendiri.
    Bukan saja dia memerangi Imam zamannya, bahkan dia melaknat Amirul Mukminin Ali as pada masa pemerintahannya, sedangkan Nabi saaw bersabda:

    “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam”

    Dan ini pendapat ulama mengenai hukum org yg mencela Allah dan RasulNya:

    a. Berkata Ibnu Qudamah:
    “Barang siapa mencela Allah maka dia telah kafir, sama saja
    apakah dengan bergurau atau sungguh-sungguh. Demikian pula (sama hukumnya
    dengan) orang yang mengejek Allah atau ayat-ayat-Nya atau Rasul-Nya
    atau kitab-kitab-Nya…” – Al-Mughni X/103.

    b. Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan para sahabat)
    bahwa orang yang mencela Rasulullah wajib dibunuh. – Al-Ijma’ Li-Ibnil Mundzir hal 153 no 722

    c. Berkata Ibnu Hazm:
    “Benarlah apa yang telah kami sebutkan bahwasanya siapa saja
    yang mencela atau mengejek Allah; atau seseorang malaikat dari para
    malaikat atau seorang nabi dari para nabi atau sebuah ayat dan ayat-ayat
    Allah, maka dengan hal itu ia menjadi kafir yang murtad dan berlakulah
    hukum murtad padanya.” – Al-Muhalla 2308 hal 408.

    Dan anda beranggapan bahawa kami mengada adakan dusta terhadap pemimpin anda?

    Mas Soegi, bisa anda bawakan dalil dibolehkan berijtihad di hadapan nas yang jelas?

    Salam Damai

  44. @SP
    Semoga ada yang berkenan mengupas masalah Ijtihad 🙂

  45. salam
    Menurut Mas Soegi pendapat Nawawi yg terakhir itulah yg benar:
    (Atau menurut mereka, hadis tersebut bisa juga ditakwilkan dengan kata-kata “Mengapa kamu tidak menyalahkan pendapat dan ijtihad Ali dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa pendapat dan ijtihad kami adalah benar sedangkan ijtihad Ali itu salah?”)

    namun logiknya, Kritik atas pendapat harus ditanggap pula dengan bantahan terhadap kritikan itu. Kalau dikritik ttg pemerintahan, maka harus dijawab dengan sesuatu yg berkaitan dengan pemerintahan. Kalau yg dikritik itu masalah ijtihad, maka harus dijawab pula dengan bantahan sekaitan ijtihad tersebut.

    Maka apabila Saad menanggapi Muawiyyah dengan hadis2 ketinggian Ali a.s di sisi Allah dan RasulNya, maka kita pun segera memahami bahawa Muawiyyah itu sedang menghina Ali a.s dan merendah2kannya.

  46. @Bill

    Wah Mas Bill, setuju banget dgn hujjah anda. Nah…ini baru bukan ‘mentakwil’.

    Salam Damai

  47. @ hadi

    Salam Mas SP

    Terima kasih atas penjelasan buat Mas Soegi ya ttg hujjah itu.
    Semoga Mas Soegi membawa hujjahnya…which i doubt he would.

    Sama-sama 🙂

    @soegi

    Soal riwayat tentang Mu’awiyah mencela Imam Ali silahkan saja jika berpendapat demikian, tetapi saya tetap lebih setuju dengan apa yang diuraikan Imam An-Nawawi…

    Yang jelas saya sudah bahas panjang lebar soal kekeliruan penakwilan Imam Nawawi dan ulama-ulama yang menolak penakwilan beliau. Silahkan saja untuk ikut siapa yang anda suka. Saya cuma menyampaikan 🙂
    Tapi saya kecewa kalau komentar saya sepanjang itu hanya ditanggapi sekedarnya, yah bagaimanapun juga terimakasih 😛

    @F@T L
    heh gak ngeerti saya

    @asep
    oooh jadi Muawiyah itu munafik, hmm hmm
    *berfikir*

    @hadi
    wah bagusnya Mas buat blog juga tuh, ilmunya banyak 🙂

    Mas Soegi, bisa anda bawakan dalil dibolehkan berijtihad di hadapan nas yang jelas?

    Sudah jelas gak boleh ijtihad kalau sudah jelas nashnya 🙂

    @armand
    lho, kenapa bukan Mas aja yang bahas, saya berharap banget lho :mrgreen:

    @billionaire
    wah nama Mas rasanya tidak asing, dimana ya saya pernah lihat

    Maka apabila Saad menanggapi Muawiyyah dengan hadis2 ketinggian Ali a.s di sisi Allah dan RasulNya, maka kita pun segera memahami bahawa Muawiyyah itu sedang menghina Ali a.s dan merendah2kannya.

    sangat benar sekali Mas 🙂

    @hadi
    sama saya juga setuju, itu komentar yang sangat baik 🙂

  48. @SP

    Tapi saya kecewa kalau komentar saya sepanjang itu hanya ditanggapi sekedarnya,..

    Ya..ya..gimana nih mas Soegi? Masak penyelesaiannya hanya “lakum takwilukum wa liyatakwiliin“? 😦

    Tentang ijtihad, kalau saya yang bahas? Hmmm……. jangan…jangan….biar mas saja. Mas yang ahlinya 🙂
    Ngga maksa sih, hanya kalo mas ga sibuk banget 🙂

    Salam

  49. @SP

    Buat blog? Belum layak lagi Mas…perlu banyak belajar lagi nih..dari Mas SP

    Salam

  50. Salam

    @hadi
    Tak susah pun buat blog… Pilih2 template yang disukai aja lor.. Yang penting isi kandungannya…

    ahak… wasSalam

  51. Salam

    @F@T L

    May one day that dream of having my blog, comes true

    Salam

  52. @SP

    Ya bisa dikatakan munafik, karena dengan cerdik dan liciknya orang ini bisa mengelabui umat Islam pada masanya untuk mendukungnya ; memusuhi dan mencaci Imam Ali as di mimbar-mimbar jum’at, serta meracun Imam Hasan as dengan pengaruh kekuasaannya. Kalau menurut anda bagaimana? hmm…sudah berfikirnya?

    Wassalam

  53. Salam

    @SP

    Alhamdulillah..baik mas, mas juga khan..?

    @ F@TL
    gmn kabarnya mas?

    @ Asep

    anda benar sekali, si calapiyun seakan2 lebih kitab syiah dari pada oarng syiah sendiri, dia membawa nahjul balaghah sekan dia mmbaca semua isinya…mengatakan oarng syiah ga ngikutin apa yg diucapakn Imam nya dan ga PD bawa dalil dari kitab2 syiah sdri..aneh..!

    saya setuju dengn anda karena dalam Khutbah ke 199 jelas dikatakan oleh Imam Ali as :

    “Demi Allah, Mu’awiah tidak lebih cerdik dari saya, tetapi ia menipu dan melakukan perbuatan jahat. Sekiranya saya tidak benci akan penipuan maka tentulah saya menjadi paling cerdik dari semua manusia. Tetapi setiap penipuan adalah dosa dan setiap dosa adalah pendurhakaan (kepada Allah), dan setiap orang penipu akan mempunyai sebuah panji yang dengan itu ia akan dikenal pada Hari Pengadilan. Demi Allah, saya tak dapat dilalaikan oleh siasat, tak dapat pula saya dikalahkan oleh kesulitan”

    dalam ucapan tersebut jelas muawiyah LA adalah penipu dan munafik..!

    wassalam

  54. ada sedikit penjelasannya, yg mgkin bisa dibaca, sekedar info aja ;

    http://www.al-shia.org/html/id/books/nahjol-balahgee/khotbah/199.htm

  55. @Bagir

    Alhamdulillah…, terima kasih atas informasinya. Insya Allah yg anda katakan benar adanya, Muawiyah dengan pengaruh kekuasaannya telah menyesatkan umat Islam pada zamannya sampai zaman sekarang, sehingga umat Islam terjebak kedalam berbagai mazhab dan golongan. Segala ucapan dan perbuatannya akan kembali lagi kepada dirinya sendiri, karena dia telah melanggar ketentuan Allah swt dan akan mendapatkan azab yg sangat pedih di neraka jahanam.

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (QS Al Ahzab: 57)

    “…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS An Nur: 63)

    “Dan barangsiapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahanam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka atasnya dan melaknatnya serta menyediakan baginya azab yang berat” (QS An Nisa’: 93)

    Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

    Wasalam

  56. wa alhamdulillahir Rabbil’alamin

    🙂

  57. allahumma shalli ala Muhammad wa ahlil baitihin

  58. Salam kenal semuanya

    Dalam Al qur’an ,disebutkan yang isinya kurang lebih :Barangsiapa yang memerangi wali Allah sama saja dengan memerangi Allah.
    Sejarah membuktikan banyak sahabat Nabi yang memerangi Imam Ali, salah satunya Muawiyah. Siapapun orangnya dan apapun alasannya yang memerangi Imam Ali jelas ada dipihak yang salah.
    Tidak ada seorang pun manusia yang kebal terhadap hukum Qur’an apalagi oarang seperti muawiyah yang hobinya makan. Kalopun ada hadist yang menyatakan keutamaan Muawiyah, hadist itu perlu dipertanyakan karena bertentangan hukum tertinggi (Qur’an).
    Bila bila suatu ketetapan (hukum) Allah & Rosul-Nya sudah jelas untuk apalagi ijtihad.
    Sabda nabi: “Ali selalu bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali.”

    Peace,

  59. He he he…
    Kumpulan Taqiyers sedang beraksi…

  60. @single_fighter

    Argumentum ad homenim? Sisi mana ya taqiyahnya?

    Salam

  61. salam
    @ Mas SP
    mungkin kerana seringnya saya membaca tulisan Mas di sini, lalu sebaik saya menjelmakan diri, Mas langsung rasa kenal 🙂

    @Mas Hadi
    Aktif kamu ya 🙂

  62. @bill

    biasa aja Mas…hee

  63. bukan aktip lg tapi hyperactive.. maklum lg semangat2-nya.. ntar kalo dah gedean dikit jg mereda sndri.

  64. Begini aja deh…

    memang benar, bila mauawiyah salah..manusiawi kan? Nabi aja pernah salah..

    SUKARNO-SUHARTO-HABIBIE-GUS DUR-MEGAWATI-SBY itu presiden negara ini dengan segala kekurangan-kelebihan.
    Lantas, apabila ada salah diantara mereka, padahal mereka masih muslim, org Indonesia, lantas apa kalian akan memisahkan diri dari republik ini?membentuk negara baru atau bikin negara dalam negara dengan mencari pemimpin baru?

    kalau seandainya sekarang kalian ga suka dengan SBY, lantas tetep ngotot presidennya gus dur gitu, karena gus dur anak seorang ulama?atau kalian ngotot presidennya adalah HARUS kelompok kalian?
    pokoknya kalau presidennya SBY, kalian berontak. Kalau presidennya dari kelompok kalian, maka oke-lah…begitu kan analoginya? childish sekali.

    sudahlah, ikuti saja siapa pemimpinnya..yg dihisab nanti diakhirat adalah diri kalian sendiri koq..bukan Ali-abu bakar, Umar..
    mereka aja pusing ko mikirin diri sendiri nti bgm hisabnya, lalu kenapa kalian justru pusing mikirin orang lain????

  65. Mudah2an kita semua disini tidak berniat menjelek2an apalagi mencaci maki. Karena kedua hal tsb dibenci oleh Allah & Rasul-Nya.
    Memang tidak mudah mencari kebenaran (sejarah) dengan tetap bersih dari nafsu untuk menjelek2an yang berseberangan dengan kita. Inilah mungkin salah satu sebab kenapa seolah2 para alawiyyin melarang pengikutnya membicarakan hal ini. Tidak banyak orang yang bisa tetap istiqomah dengan pencariannya tanpa terjebak pada kutub2 tsb.
    Di sisi yang lain dengan “hilangnya” batas2 jarak, maka semakin mudah benturan terjadi. Keterbukaan mba Fatma saja sudah suatu yg luar biasa, sehingga mestinya bisa diterima pula bahwa ada kelompok yang tidak menggunakan jalur2 hadits mereka dari orang2 yang tidak mereka percayai. Namun juga jangan sampai mereka yang “benar” dalam versi sejarahnya terjebak dalam kebencian dan caci maki.
    Iblis bekerja pada kedua pihak. Pada mereka yang jumud sehingga membela dg membabi buta. Juga pada mereka yang benar, yaitu dengan menebarkan kebencian dan caci maki pada musuh2nya.
    Janganlah kita menjadi pengikut yang mengecilkan arti rahmatin lil alamin. Tidak ada caci maki dan kebencian dalam diri Baginda Rasul, bahkan kepada musuh2nya. Tidak heran mengapa Imam Ali tidak jadi membunuh musuhnya hanya krn kuatir tindakannya mengandung unsur kebencian kpd musuhnya.
    Imam Ali berkata: “Di dunia ini hanya ada 2 pilihan, yaitu mendzalimi ataukah didzalimi. Dan aku memilih untuk didzalimi”
    Kepada para pencinta dan pengikut Imam Ali, ingat beliau sudah membuat pilihan.
    Ya.. mazlum..

    Semoga pencarian ini berujung pada hal2 yang diridhai oleh Allah SWT.

    Wassalam

  66. @Fatma

    Mengenai SUKARNO-SUHARTO-HABIBIE-GUS DUR-MEGAWATI-SBY? Ah, pandangan saya tidak berbeda dgn mba.

    Namun ada beberapa pernyataan mba yang membuat dahi saya berkerut dan kepala tergeleng-geleng;

    memang benar, bila mauawiyah salah..manusiawi kan? Nabi aja pernah salah..

    Pertanyaannya:
    (1) Apakah mba bermaksud ingin mengatakan bahwa Nabi saw tidak memiliki sifat maksum?
    (2) Apakah mba ingin mengatakan bahwa kekeliruan Muawiyyah dapat dimaafkan karena Nabi juga pernah salah? Jika demikian, semua orang yang melakukan kesalahan akan dimaafkan lantaran Nabi juga berbuat salah?
    (3) Apakah mba ingin mengatakan bahwa kekeliruan Nabi (jika ada) mirip seperti apa yang dilakukan oleh Muawiyyah?
    (4) Apakah mba ingin mengatakan bahwa derajat Muawiyyah juga seperti derajat Nabi?

    sudahlah, ikuti saja siapa pemimpinnya..yg dihisab nanti diakhirat adalah diri kalian sendiri koq..bukan Ali-abu bakar, Umar..

    Kontadiksi. Mba menyuruh ikuti seorang pemimpin, namun mba katakan bahwa yang dihisab adalah diri sendiri bukan Ali-Abubakar-Umar.

    mereka aja pusing ko mikirin diri sendiri nti bgm hisabnya, lalu kenapa kalian justru pusing mikirin orang lain????

    Pandangan mba yang seperti ini, bagaimana bisa memberikan pembelaan thd mereka sebelum-sebelumnya? Lagipula bagaimana mba bisa tau bahwa mereka pusing memikirkan hisab mereka?

    Salam

  67. hans
    @fatma
    Kata mba: nabi pernah berbuat salah, kapankah itu terjadi?
    Bila itu terjadi bukankah hal itu bertentangan dg hadist yg diriwayatkan aisyah bahwa ahlak nabi adalah qur’an?
    Bagaiman dg ayat yg berbunyi bahwa: … pada diri rasulullah terdapat suri tauladan yg baik atau ayat yg menerangkan….rosulullah tidak berkata dg nafsunya, tapi berdasarkan tuntunan wahyu?
    “sejarah itu dak perlu diimani, tapi iman perlu sejarah”

  68. Mungkin argumen-nya pake Surah Abasa yang menyatakan nabi pernah bermuka masam.

    Bila iya (maaf, hanya menduga, bila salah, saya mohon maaf) Silahkan buka Qur’an lagi dan liat terjemahannya. Di ayat 1 , terjemahan memakai kata ganti “Dia” (kata ganti orang ketiga), dan yang lain memakai “Engkau” (kata ganti orang kedua). Bila memang ayat itu memang DITUNJUKKAN untuk Rasul saww, dan Al Qur’an diturunkan Allah Swt melalui jibril, seharusnya memakai kata ganti kedua, which is “Engkau”, bukan “Dia”..

    Kalo saya bertanya ke mbak fatma, apakah mbak fatma sudah makan, saya menggunakan : “Apakah ENGKAU sudah makan?” namun apabila mbak fatma bersama dengan orang lain, dan saya hendak menjadikan orang itu sebagai objek, tentu saya bertanya ke mbak fatma “Apakah DIA sudah makan?”

    Bila memakai kata ganti “Dia”, berarti ada orang lain dan PASTINYA itu bukan Rasul saww..and that person was………

    Wallahualam..

  69. Salam
    @Fatma

    Bilakah kali terakhir mbak Fatma pernah melakukan kesilapan yang sebesar zarah?

    Logik dan Mantik? Apa perbedaannya mbak Fatma.

    wasSalam

  70. Orang syiah-ahlul byt berargumen dengn Otak doank..percuma aja, ga bakalan nyambung.

    padahal kita punya hati. membaca sejarah tidk melulu dng otak, harus dng hati
    kalo cuma membaca apa yg tersurat..nnti mirip-2 Yahudi….

  71. Oky:
    Bila iya (maaf, hanya menduga, bila salah, saya mohon maaf) Silahkan buka Qur’an lagi dan liat terjemahannya. Di ayat 1 , terjemahan memakai kata ganti “Dia” (kata ganti orang ketiga), dan yang lain memakai “Engkau” (kata ganti orang kedua). Bila memang ayat itu memang DITUNJUKKAN untuk Rasul saww, dan Al Qur’an diturunkan Allah Swt melalui jibril, seharusnya memakai kata ganti kedua, which is “Engkau”, bukan “Dia”..

    Bila memakai kata ganti “Dia”, berarti ada orang lain dan PASTINYA itu bukan Rasul saww..and that person was………

    Hueh! jangan sok jadi ahli tafsir lah! lo baca ga dari ayat 1 s/d 11?? jangan hanya baca ayat 1 doank! baca sampai selesai! sudah baca jg blm asbabun nuzulnya? tau ga lo kalo Allah menegur Nabi itu sangatlah pantas sekali dan bukan suatu aib, justru itu adalah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap Nabi-Nya! makanya beliau itu dikatakan Maksum, hikmah lainnya adalah sebagai bukti bagi orang kafir bahwa AlQur’an bukanlah perkataan Muhammad.. karena jika AlQur’an perkataan beliau, ga mungkin beliau menegur dirinya-sendiri..

    Coba liat Al-Kahfi : 23-24, apakah yang dimaksud di situ bukan Nabi?? AJIEB! rafidhah emang virus ganas!

  72. Siapapun yang memerangi Imam Ali kwh, sesungguhnya ia memerangi Allah dan rasul-Nya, dan sudah jelas tempatnya adalah neraka.
    Ingatlah sabda Nabi :
    1.” Kebenaran selalu bersama Ali, dan Ali selalu bersama kebenaran”.
    2. “Engkau dan syiahmu adalah penghuni surga”
    3. “Wahai Ali, aku perang terhadap siapapun yang memerangi”
    Maka dg ketiga hadist ini sudah cukup sebagai bukti siapapun yang memerangi Imam Ali laknat Allah menaunginya.

  73. @hans..

    Pentesan orag syiah itu cuma berpedoman ma satu hadits itu doangk.. betapa dangkalnya.

    sunni mengagumi ali-jelas. Tapi kekaguman itu sebatas kpd makhluk yg diciptakan Allah. Lebih jauh lagi, HEBAT sekali Allah menciptakan sosok makhluk seperti ali. itu baru ali..bagaimana dg Rasulullah? para nabi yg lain?..kita harus proprsional kalau mau menilai seseorang. adil dn bijaksana. jgn berlebih2an.

    sunni itu lengkap, dikaji menyeluruh dan comprhensif. antara satu ayat dpadankan dengan ayat lainnya, hadits satu dg hadits lainnya, perawi satu dg perawi lainny, antara mata kepala dg mata kepala lainny, mata kepala dg mata bathin sehingga KETEMU PEMAHAMAN YANG SEMPURNA..

    OTAK harus bisa dibimbing oleh hati. BEtapa banyak OTak Pinter tapi HAti keblinger. liat para JEnius Yahudi! (camkan utk para syiah-er lainnya, spesial armand)

  74. @bahlul
    Kamu bisa ngitung gak sih. Hadist yg aku bawakan bukan cuma 1 tapi 3.
    Saya sarankan sebelum ngomong dipikir dulu, jangan emosi begitu.
    Seandainya para sahabat yg memerangi Imam Ali punya keutamaan, ibadahnya tak ada artinya karena mereka memerangi wali Allah dg kata lain mereka telah murtad dari agama Allah.
    Orang2 yg memerangi Imam Ali apapun alasan, dalilnya pasti mereka orang munafik.

  75. @hans..

    Pantesan orag syiah itu cuma berpedoman ma satu hadits itu doangk.. betapa dangkalnya.

    sunni mengagumi ali-jelas. Tapi kekaguman itu sebatas sbg makhluk yg diciptakan Allah. Lebih jauh lagi, HEBAT sekali Allah menciptakan sosok makhluk seperti ali. itu baru ali..bagaimana dg Rasulullah? para nabi yg lain?..kita harus proprsional kalau mau menilai seseorang. Adil dn bijaksana. baik katakan baik, jahat harus dihukum..
    jgn berlebih2an doooong!

    sunni itu lengkap, dikaji menyeluruh dan comprhensif. antara satu ayat dpadankan dengan ayat lainnya, hadits satu dg hadits lainnya, perawi satu dg perawi lainny, antara mata kepala dg mata kepala lainny, mata kepala dg mata bathin sehingga KETEMU PEMAHAMAN YANG LURUS, TERINTEGRASI.

    OTAK harus bisa dibimbing oleh hati. BEtapa banyak OTak Pinter tapi HAti keblinger. liat para JEnius Yahudi! (camkan utk para syiah-er lainnya, spesial armand)

  76. @hans
    mau satu hdits, dua, tiga, sejuta, tetap intinya kan SATU : Ali..
    itu maksudnya! do you got me???

    murtad ya murtad, dzolim ya dzolim..orang-2 itu memang pantas untuk dihukum.

    tp mbok ya o itu kan urusan Allah. apalagi sudah masa lalu. let it be. let the past be passed.

    kalo mau nih aku kasih gambaran… bagaimana dengan ahlul bait lainnya-paman nabi : Hamzah yg dirobek-2 jantungnya? apakah perlu ada syiah – hamzah?

    pembunuhan terhadap ahlul bait lainnya, mantu nabi ; Usman.? apakah perlu ada syiah-usman?

    kedua pembunuhan itu tak jauh beda dengan pembunuhan ali dan husein. INTI-nya kan sama-sama menghilangkan nyawa orang!. yg membedakan cuma CARA membunuhnya, waktunya dan siapa pembunuhnya.

    belum lagi pembunuhan para nabi dijaman yahudi

    Nah..kalian berpikir yg logis dong.

  77. @bahlul

    Ah…, anda ini hanya ngarang dan kira-kira saja. Sudah nampak kebenaran didepan mata dan buktinya sudah kuat menurut nash Al Qur’an dan Hadist yg muttawatir dan shahih. Sesungguhnya sunni (ahlusunnah waljama’ah) adalah hasil rekayasa (propaganda) muawiyah dan abbasiyah, sehingga umat Islam terjebak kedalam perpecahan umat.

    Salam

  78. Maaf saya menyela.

    Tidak peduli Syiah atau Sunni, sebenarnya apa yang saya tangkap dari tulisan-tulisan di blog ini adalah ingin menunjukkan keutamaan dan kemuliaan dari sosok ahlulbayt, serta perintah untuk taat kepada mereka, baik berdasarkan riwayat-riwayat hadits maupun dari Alquran. Figur utama dari Ahlulbayt adalah Imam Ali yang memiliki keutamaan dan kemuliaan yang tidak dapat dibandingkan dari figur yang lain di sekitar Nabi saw. Kita dapat mengetahuinya dari riwayat-riwayat shahih baik dari sisi Sunni maupun Syiah. Jika mau menelaah dan berpikir jernih, maka keutamaan-keutaman dan kemuliaan Imam Ali bukan sekedar untuk dicintai namun yang penting adalah untuk ditaati. Hal kedua inilah yang sering menjadi pertentangan antara Sunni dan Syiah. Meski pun sesungguhnya di tengah-tengah itu ada yang berfaham Sunni melalui ketaatannya kepada Imam Ali. Banyak dan sangat banyak malah nash-nash, baik ia langsung maupun berupa isyarat-isyarat yang menunjukkan kewajiban untuk mencintai dan taat kepada Imam Ali. Ketaatan kita kepada Imam Ali dan Ahlulbayt Nabi saw tidak bisa diklaim sepihak oleh golongan Syiah. Siapa pun kita, mazhab apa pun kita, tidak selayaknya perintah-perintah Allah swt dan Nabi-Nya untuk mencintai dan taat kepada Ahlulbayt kita langgar setelah pengetahuan tentang itu kita dapatkan.
    Di blog ini sudah banyak memaparkan mengenai kelebihan Ahlulbayt dibanding sosok-sosok lain serta mengapa kita harus mencintai dan taat kepada mereka dll. Mohon tulisan-tulisan mengenai keutamaan ahlulbayt ini juga dibaca, ditelaah dan dipikirkan dengan jernih dan hati yang bersih. Semoga pengetahuan kita mengenai keutamaan dan kemuliaan ahlulbay Nabi menjadikan kita pengikut setianya. Semoga Allah swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.

    Salam

  79. @bahlul
    Sejak kapan usman jadi bagian ahli bait nabi?
    Setahu saya puti nabi cuma fatimah saja. Memang benar usman menikahi 2 putri nabi, itu bukan putri kandung nabi, melainkan anak angkat nabi.

    Sejarah pasti menceritakan masa lalu, bukan masa depan.
    Anda suka baca qur’an kan?
    Bila Anda perhatikan Allah sering menceritakan kaum2 terdahulu, supaya kita mau belajar dan mengambil hikmah dari peristiwa2 masa lampau supaya dalam mengarungi kehidupan kita tidak sampai meniru orang2 yg keliru dan mengikuti orang2 yg dirahmati Allah swt.
    Bagi saya jelas sejarah itu perlu dipelajari.
    “Iman itu perlu sejarah”.

    Jika saya dan yang lainnya menghormati begitu tinggi thd ya wajar sajalah. Rosulullah manusia paling agung pun memuji Ali, belum lagi para malaikat, bahkan musuh2 Ali pun mengakuinya.
    Dari segi nasab, Imam Ali lahir dari keturunan mulia.
    Dari segi keilmuan, Imam Ali adalah pintunya kota ilmu tempat rujukan semua orang.
    Dari segi keimanan dan ketakwaan, Imam Ali tidak pernah musyrik apalagi membunuh anaknya sendiri.
    Saya akan bawakan hadist nabi ttg keutamaan Imam Ali lainnya: ” Tidakkah kau senang kedudukanmu di sisiku seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tidak ada lagi nabi setelahku.”

    Baik suni maupun syiah mengakui bahwa Imam Ali lah yang terbaik dari semua sahabat,

    Anda nyuruh saya berpikir logis, Anda sendiri juga bahlul.

  80. Ahlul Bait Nabi saaw adalah milik semua umat Islam, tanpa eksklusif. Andai saja kita semua mengimani hadis Safinah, pasti persatuan umat Islam bukan lagi mimpi.
    Saat lita berbicara dgn Allah lewat solat, kita bermohon, Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
    QS. al-Fatihah (1) : 6-7

    Bukankah Allah telah mengabulkan doa kita? Maka marilah kita kembali kpd as tsaqalain, pusaka peninggalan Rasul saaw agar kita terhindar dari kesesatan.

    Salam

    .

  81. Betapa indahnya jika diskusi ini bukan memperlebar perbedaan namun membangun jembatan dari perbedaan yang ada. Sehingga Syi’ah bisa mengerti kenapa sunni bersikap berbeda, dan sunni bisa memahami knp syi’ah bersikap yang lain.

    Secara alamiah manusia mempunyai persepsi yang berbeda bahkan dari pengalaman yang sama. Sehingga sesuatu yang wajar pula jika dalil2 yang ada dipersepsi dengan cara berbeda.
    Jangan kita membuat kriteria baru ttg siapa yang bisa masuk kategori muslim. Apakah kira2 sunni menurut Rasulullah muslim?, apakah kira2 syi’ah menurut Rasulullah juga muslim?. 100% saya yakin bhw Rasulullah akan mengatakan keduanya adalah muslim.
    Kita sebagai manusia pasca sengketa mestinyamembangun jembatan, jangan malah merusaknya dan memperlebar jurang tsb. Pada masa salaf saja pun pertentangan hanya sebatas politik. Dari segi aqidah mereka tidak mempunyai permasalahan.

    Wassalam.

  82. Misal saja, salah satu dari yang berseteru sudah menang. Saya yakin tidak lama kemudian harus bersiap2 untuk menghadapi kelompok islam lain, krn disanapun banyak perbedaan2. Sebagaimana, amerika setelah kehilangan musuh (komunis/sovyet) secara alamiah mencari musuh baru.

    Mari kita bahagiakan Rasulullah (Rasulnya syi’ah dan sunni dan semua kelompok islam lainnya) dengan meneladani akhlak beliau. Bahwa islam bukanlah hitam putih yang tidak toleran.
    Kebencian atas dasar apapun adalah salah. Karena kebencian sama saja dengan melakukan sesuatu (permusuhan) dikarenakan EGO. Sedang kita diajarkan untuk merespon sesuatu karena Allah SWT. Sehingga sampai ditataran berperang dg kaum kafir yang memerangi islam pun Rasulullah tidak terbetik sedikitpun kebencian pada musuh2nya.

    Wassalam.

  83. hans:
    Setahu saya puti nabi cuma fatimah saja. Memang benar usman menikahi 2 putri nabi, itu bukan putri kandung nabi, melainkan anak angkat nabi.

    LO PERNAH SEKOLAH GA SIH!, DONGENG DARIMANA LG ITU? Ruqoyyah dan Ummu Kultsum adalah putri Nabi Muhammad dengan Khadijah, makanya Utsman digelari Dzurunnain (pemilik dua cahaya)

  84. @imem
    Seandainya Ummu kultsum & Rukayah putri nabi, mengapa hanya fatimah dan kedua putranya saja dpuji begitu tinggi?
    Harusnya nabi bersikap adil dong terhadap kedua putri lainnya, jika memang mereka putri nabi.
    Sebelum hijrah ke madinah, Nabi setiap harinya mendapat ancaman dan tantangan kaum kafir.

    Sekali lagi sejarah membuktikan fatimah lah yg menolong dan menghibur ayahandanya. Di mana peran Ummu kultsum & Rukayah?

    Sebelum khadijah menikah dg nabi, di rumah Khadjah telah ada 3 orang gadis. 2 orang telah saya sebutkan di atas, dan satunya lagi adalah zaenab.

    Khadijah hanya memiliki 2 putra & 1 putri hasil pernikahannya dg Nabi.

    Lebih lengkanya silahkan baca buku Sejarah Khadijah al Kubro yg ditulis Sayyid A.A Razwy.

  85. JANGAN KOTORI HATI ANDA DENGAN KEBENCIAN, DENDAM..ISLAM MENGAJARKAN MEMAAFKAN MUSUH-2NYA.

    HATI ANDA ADALAH SINGGASANA RAJA YANG STERIL DARI HASUTAN DAN KEBENCIAN. HANYA RAJA YG LAYAK MENDUDUKI SINGGASANA ITU, DAN RAJA ITU ADALAH ALLAH SWT YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG

    KEBENCIAN DAN DENDAM ITULAH YG MEMBUAT IBLIS PERTAMA KALI DIKUTUK DAN TERUSIR DARI SURGA ALLAH.

  86. bukannya sdh jelas bhw muawiyah yang sudah merusak ajaran islam sejak menjadi khalifah?????

  87. @Pemerhati

    Terima kasih nasehatnya. Tapi benci dan dendam kepada siapa Iblis sehingga ia harus diusir?

    Salam

  88. @pemerhati

    ISLAM MENGAJARKAN MEMAAFKAN MUSUH-2NYA.

    Dicontohkan dengan konsisten oleh oleh ahlul bayt. Jadi kalau mengaku pecinta dan pengikut ahlul bayt maka harus bisa meneladani ini.

    HATI ANDA ADALAH SINGGASANA RAJA YANG STERIL DARI HASUTAN DAN KEBENCIAN. HANYA RAJA YG LAYAK MENDUDUKI SINGGASANA ITU, DAN RAJA ITU ADALAH ALLAH SWT YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG

    Benar sekali.
    Tidak ada satu alasan pun untuk mebenarkan hadirnya kebencian dan hasut dalam hati kita. Sebagaimanapun besarnya kedzaliman yang sudah menimpa kita ataupun idola kita, tetap kebencian tidak boleh hadir.
    Semua pecinta Imam Ali mestinya tahu persis bahwa beliau sudah mencontohkan ini. Artinya sama saja dengan beliau memerintahkan pengikutnya utk melakukan hal yang sama. Inilah kenapa beliau (ahlul bayt) dikatakan disucikan sesuci2nya.

    Salam kenal saudara Pemerhati

    Wassalam..

  89. assalamu alaikum kawan2
    saya cuma seorang bodoh yang masih belum banyak tau dalam masalah ini. Namun yang saya ingin ajukan adalah walaupun menurut ulama sunni muawiyah mencela imam ali
    1. apakah kawan2 ada sumber yang kuat seperti apa kata2 muawiyah dalam mencela imam ali??
    2. mungkinkah muawiyah mencela imam ali dalam masalah tidak ditegakkannya qishas (karena berbagai pertimbangan tentunya) dalam kasus pembunuhan khalifah utsman?? kalau hanya ini walaupun bukan perbuatan yang sesuai syariat namun ini adalah perasaan fitrah dari keluarga korban yang menuntut keadilan dan muawiyah sama sekali tidak pernah mengatakan imam ali telah kafir.
    3. Dari sumber2 berita yang kuat imam ali sekalipun tidak pernah menganggap muawiyah sebagai orang kafir, termasuk dalam nahjul balaghoh juga. Kalau pernyataan imam ali menganggap muawiyah sebagai bughat bukanlah hal yg perlu diperselisihkan karena memang begitu adanya. Namun hukum bughat & murtad jelas berbeda. Bughat tetaplah seorang muslim secara zhahir dan ketika ia meninggal memiliki hak2 sebagai muslim dan dikubur di pekuburan kaum muslimin. Hadits tentang perintah rasulullah kepada imam ali tentang memusuhi 3 golongan juga tidak mengatakan bahwa ketiga golongan tersebut kafir. Memang imam ali lah manusia termulia dan pemilik kebenaran kala itu namun beliau tidak pernah denagn keji melontarkan takfir terhadap muawiyah
    4. status muawiyah jelas berbeda dengan kaum khawarij yang telah mengkafirkan imam ali
    5. tentang hadits imam bukhari yang menjelaskan rasulullah saw bersabda adanya para sahabat yang berbalik kafir setelah wafatnya rasulullah, kita tak perlu memvonis salah seorangpun dari sahabat bukan. sebab seorang yang telah mengucapkan syahadatain dgn lisannya adalah seorang muslim termasuk kita yg sunni & syi’i. Maka dalam hal ini bukankah Allah swt lebih layak menjadi hakim??

    saya hanya mengajak kepada kawan2 syi’ah agar tidak usah berlebih2an dalam mencela muawiyah & bani umayyahnya apalagi sampai takfir karena itu akan merusak persatuan yang memang kalian idam2kan juga bukan?? lagi pula khalifah umar bin abdul aziz yang keturunan bani umayah juga merupakan orang saleh yang telah menghentikan penghujatan2 kepada imam ali dan beliau khalifah umar juga telah mendapat pujian dari imam muhammad al-baqir. semoga bermanfaat kawan2.

  90. saydina Ali berkata:2 golongan yg celaka krn aku,yaitu org2 yg membenciku dan org2 yg terlalu mencintaiku.

  91. […] SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran […]

  92. […] telah menjelaskan panjang lebar makna hadis ini dalam tulisan kami yang lalu, dimana kami membantah penafsiran An Nawawi terhadap hadis ini. Disini kami hanya ingin mengutip […]

  93.  سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ 

    “Mencela seorang Muslim adalah kefasiqan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kalau begitu, Hukumnya Mu’awiyah Fasik, Karena Telah Mencaci Sayidina Ali bin Abi Thalib.
    Dan Mu’awiyah adalah Kufur, Karena Telah Membunuh Hujur bin Adi.

    Kalau Syi’ah saja yang mencaci Sahabat Nabi dinyatakan SESAT, Lantas kenapa Mu’awiyah yang mencaci Sahabat sekaligus Keluargga Nabi tidak dinyatakan SESAT?
    Syi’ah saja yang tidak membunuh Sahabat Nabi Dinyatakan KAFIR, Lantaas kenapa Mu’awiyah yang telah membunuh Sahabat Nabi tidak dinyatakan KAFIR??????????????????

  94. Jika Semua Ijtihad yang salah Mendapatkan 1 Pahala, Berarti Syi’ah dan Aliran-aliran sesat lainnya yang telah salah berijtihad juga sama dong dapet 1 Pahala seperti Mu’awiyah?

    bahkan menurut Mereka (*********************) orang yang salah berijtihad untuk membunuh semua manusia baik secara terorisme maupun brutalisme itu dapat 1 pahala seperti Mu’awiyah yang salah berijtihad.

    Lucu Argumennya, Tapi berbahaya Ingin menyatakan Syi’ah Sesat tapi Mu’awiyah tidak. Bagaimana bisa?

    Awas Hati-Hati..! kepada orang yang mengatakan “jika salah berijtihad dapat 1 Pahala”, Karena Mereka dapat berijtihad sewaktu-waktu untuk menebas leher kaum muslimin yang tidak sefaham dengan mereka, dengan dalil bahwa mereka memerangi kebid’ahan dan kesesatan.

  95. ente2 semua disini pada jago tafsir tapi lupa akan kekuatan Allah yang telah diberikan penuh kepada iblis…yaitu menipu dan menggelincirkan orang2 berilmu yang takabur….

    coba telaah kembali tulisan2 ente semua diatas dengan sifat Rahman dan Rahim yang telah Allah berikan….

    kembali kepada Allah dan RasulNya…..cukuplah denga Al Qur’an dan Sunnah Rasul yang berhubungan dengan kecintaan kepada Allah….

    kite semua hanya diperintahkan untuk taat beribadah kepada Allah kok, dan kesempurnaan risalah di bumi sudah termaktub dalam kehadiran Rasulullah SAW….

    Seberapa kenal ente semua kepada Amirul Mu’awiyah RA ataupun kepada Amirul Ali RA???? coba buang semua omongan negatif yang diagung2kan orang2 yg mengaku ustad dan ulama utk mencari tau kedua sahabat Rasul ini dan gunakan nalar dan hati sendiri dalam mencari tau….dan INGAT…kembalikan kepada tujuan Allah menciptakan kita didunia ini…HANYA utk BERIBADAT KEPADA ALLAH..

  96. Ente sudah baca semua belum, ente kira ustad secondprince ngarang indah apa. Omongannya ustad secondprince itu sekedar mengutip ucapan yang ditulis oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah. Lah kalau ente mau ikut Imam Nawawi yang mentakwilkan hadis tentang Muawiyah yah gak apa tho. Eh ngana tara usah marah dang. Ngana kira surga itu buat ngana saja?

  97. From All
    Imam Ali Khalifah yang sah
    Muawiyah pemberontak
    Imam Ali masuk salah seorang yang disucikan : Q. S. 33 ayat 33
    Muawiyah mendapat do`a Nabi (Semoga Alloh tidak mengenyangkan perut Muawiyah)
    Keutamaan Imam Ali sangat banyak berdasarkan Hadis Nabi (berbagai riwayat Shoheh)
    Tidk ada keutamaan bagi Muawwiyah, kalaupun ada hadisnya dhoif bahkan palsu
    Jadi kesimpulan IMAM ALI BENAR DAN MUAWWIYAH SALAH DALAM SEGALA HAL …..OK BEGITU AJA REPOT

  98. hehehe lucu juga ya perdebatan ini, ada satu kelompok menolakkeutamaan ali bin abi thalib dan mengutamakan kelompok di luarnya, bagi kelompok yang mengagungkan ali bin abi thalib mencela kelompoknya di luarnya, contoh kecil mengenai larangan mencela sahabat, terus mengenai 10 sahabat yang dijamin masuk surga dan ada juga hadis pensucian terhadap ahlul bait rasulullah saw, diantara semua hadis ini walaupun sama-sama shahih tapi juga sama-sama saling bertentangan, kelompok yang bersikeras dengan hadis 10 sahabat dijamin masuk surga menolak pernyataan yang menyudutkan 10 sahabat yang dijamin masuk surga bahkan jika pun penjelekan dan pencacian itu terbukti, maka otomatis mereka sahabat yang bersalah itu toh sudah dijamin masuk surga (suci) dan iapun tidak digolongkan bersalah karena ijtihadnya, maka dikuatkan lagi dengan hadis orang yang berijtihad walaupun salah tetap dapat 1 pahala, namun bagi yang mengagungkan hadis al-kisah tentang pensucian ahlul bait rasulullah saw, mereka tidak mengakui tentang 10 sahabat yang dijamin masuk surga (maksum), justru mereka lebih cenderung kepada ali, fathimah hasan dan husein yang maksum, lantas fakta dan sejarah yang telah terjadi pun saling dianulir, syi’ah menganulir sunni dan sunni menganulir syi’ah, yang menjadi pokok pangkal masalahnya adalah fatwa-fatwa yang dikeluarkan para sahabat nabi termasuk khalifah penggantinya itu sampai sekarangpun tetap diperdebatkan seperti tentang pengakuan ijtihadnya abubakar, umar dan usman serta ali pun sampai sekarang masih diragukan kebenarannya, karena sebuah produk hukum yang kontradiktif bila fatwa-fatwa, mereka dan para salafus shalih yang meneruskan melegitimasi fatwa mereka, seperti pengakuan pengesahan pengangkatan khalifah sepeninggal rasul, bagi ali dan para pengikutnya yang tidak mau berbai’at kepada abubakar pada waktu itu, alasannya hanya satu, abubakar tidak pantas menduduki jabatan khalifah karena ia tidak lebih utama dari pada ali, namun faktanya telah terjadi bahwa seluruh ummat islam telah menetapkan pilihan terakhir sekali kepada ali, artinya ali dalam urutan keutamaan diantara abubakar, umar dan usman mendapat urutan terakhir, itupun faktanya ali akhirnya terbunuh dan tidak lama berkuasa, yang jadi pertanyaan saya, apakah antara yang sebenarnya dengan yang seharusnya bisa sejalan, dan apakah antara sebenarnya sekarang banyak terjadi kemungkaran seperti korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkup pemerintahan negara merupakan suatu kebenaran sedangkan menurut hukum seharusnya itu tidak terjadi, inilah yang sedang melanda ummat Islam, dan allah sedang menguji semuanya, semoga kita dapat membuka pintu hati, mata, pendengaran dan penglihatan kita, janganlah kita menjadi golongan orang-orang yang disebut allah dalam albaqarah “khotamalllahu ‘ala qulubihim, wa’ala sam’ihim, wa’ala abshorihim ghisyawatun walahum ‘adzabun azhim”, na ‘udzubillahi min dzalik” dan bagi yang menolak keberadaan ahlul bait rasul, keluarga rasul, ingatlah jangan sampe kita dibutakan oleh hujjah-hujjah yang kitapun tidak mengetahui dengan jelas tentang kebenarannya, bagi yang bersikukuh terus memusuhi keberadaan ahlul bait rasul, maka insyaflah, janganlah kamu menjadi orang2 munafik yang terus melantun shalawat kepada rasulullah wa ‘ala alihi namun dalam implementasinya tidak sama sekali, kalimat allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad hanyalah dijadikan sekedar menunaikan kebiasaan orang-orang (ummat) islam kebanyakan tapi bukanlah dari lubuk hati yang dalam yang dinatkan dalam hati dan diwujudkan dengan perbuatan, jika mulutmu berkata menyanjung sementara perbuatanmu tercipta menjatuhkan dan memusuhi, maka kamu termasuk orang-orang yang munafiq dan ingatlah posisi orang munafiq itu berada di dalam neraka jahannam, semoga allah tidak pernah ingkar dengan janjinya, amin ya allah bihaqqi, bil fadhli, wa bil barokati wabil hurmati syafa’ah rasulillahi saw

  99. […] Riwayat Mu’awiyah Mencela Imam Aliy [‘alaihis salaam] Adalah Shahih […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: