Keripik Pedas Untuk Para Pencari Kebenaran

Keripik Pedas Untuk Para Pencari Kebenaran

.

keripikpedas

.

Kita ini sebenarnya tahu kalau kita hidup bersama-sama dalam dunia yang mengandung banyak perbedaan. Tetapi menyedihkan masing-masing kita seolah-olah bersikap bahwa dunia ini adalah miliknya. Perbedaan kita anggap seperti penyakit yang harus diberantas dan tidak layak hidup bertengger [bahkan cuma nyangkut] dalam dunia kita.

Saya tidak sedang bicara politik lho, saya bicara soal keyakinan baik itu agama atau mazhab atau apapun lah [sebenarnya bisa diperluas ke perkara apapun]. Saya juga tidak sedang bicara tentang orang awam [saya sudah bosan menyindir mereka], sekarang yang saya sindir adalah orang-orang yang mengaku sebagai pencari kebenaran.

.

.

.

Menggelikan kalau melihat orang yang ngakunya “pencari kebenaran” tetapi berlagak seolah ia telah mendekap kebenaran dengan begitu nafsu sampai kebenaran itu tidak bisa lepas dari pangkuannya. Sejak kapan kebenaran itu cuma milik kita dan orang lain pasti tidak punya.

  1. Seorang pencari itu tidak anti dengan perbedaan, justru semakin banyak perbedaan maka ia semakin penasaran dalam pencariannya.
  2. Seorang pencari itu tidak anti kritik, justru semakin banyak kritik maka semakin bersemangat ia melangkah.
  3. Seorang pencari itu tidak pengecut, ia tidak perlu takut kalau ada yang menguliti keyakinannya.
  4. Seorang pencari itu selalu menjunjung tinggi kebenaran bukan kebenaran harus diperturutkan dengan keinginan dan keyakinannya.

Entah mengapa saya sering mendengar kabar di luar sana, banyak orang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang. Please bro, jangan membuat malu nama “Pencari Kebenaran”. Pencari kebenaran itu berbeda dengan Pembela kebenaran [itu mah satria baja hitam]. Orang yang tujuannya mencari maka seyogianya menerima semua masukan untuk dipilah-pilah mana yang benar dan mana yang tidak. Orang yang tujuannya mencari seharusnya berterimakasih [bukan marah-marah] jika ditunjukkan lubang-lubang dalam keyakinannya.

Nah kalau Pembela kebenaran itu wajar suka marah atau sedikit-sedikit tersinggung ketika dikritik keyakinannya. Ia akan membela kebenaran [baca : apa yang ia anggap benar] sekuat tenaga dengan cara apapun sampai titik darah penghabisan. Mana ada dalam pikirannya sedikit saja kalau apa yang ia yakini bisa keliru. Tidak ada itu, haram bagi mereka merasa ada yang bisa salah dalam keyakinannya. Ya bagus kalau keyakinannya itu memang sudah benar tetapi kalau hakikatnya ternyata keyakinannya itu keliru maka orang ini tidak lain telah diperbudak oleh kekeliruannya. Mau jadi seperti ini?. Saya pribadi tidak akan mau diperbudak seperti ini apalagi perbudakan yang dibungkus dengan baju “membela kebenaran”.

Lebih baik saya berkali-kali salah atau menyalahkan apa yang sebelumnya saya anggap benar [kalau memang terbukti salah] dibandingkan saya harus menanggung resiko membela mati-matian sesuatu yang hakikatnya salah. Jadi “Pencari Kebenaran” itu bukan sekedar label, bukan gelar membanggakan, bukan atribut spesial. Itu adalah manhaj orang-orang yang senantiasa menggunakan Akal-nya. Orang-orang yang mendengarkan berbagai hujjah dan mengambil yang paling baik diantaranya.

Tidak masalah apapun mazhab anda. Silakan yakini apa yang menurut anda benar tetapi ingatlah jauh lebih penting anda belajar “bagaimana mencapai kebenaran” dibandingkan anda bersusah-susah [mati-matian] membela “apa yang anda anggap benar”. Bukan berarti para pencari kebenaran tidak akan membela kebenaran, bukan jangan salah paham tetapi mereka tidak membela dalam perbudakan. Mereka melakukan pembelaan karena cinta kepada kebenaran. Mereka tidak takut membela kebenaran jika kebenaran itu ada pada orang yang mereka benci. Mereka tidak takut menyalahkan apa yang sebelumnya mereka anggap benar jika ternyata sudah terbukti salah.

.

.

.

Maka dari itu wahai para pencari kebenaran sebelum anda mempelajari mazhab ini mazhab itu, sebelum anda menyibukkan mencari mazhab yang benar tolong sibukkan diri anda dengan mempelajari “bagaimana mencapai kebenaran”. Cuma dua hal yang anda perlukan “Logika yang benar” dan “Informasi yang benar”

Masalahnya sering saya lihat, mereka yang mengaku “pencari kebenaran” itu seolah sudah paham kedua hal tersebut padahal hakikatnya cuma berasa-rasa paham.

  1. Berapa banyak dari mereka yang mempelajari ilmu tentang Berpikir yang benar?.
  2. Berapa banyak dari mereka yang mempelajari ilmu tentang Berpikir yang salah?.
  3. Berapa banyak dari mereka yang belajar ilmu Logika?.
  4. Berapa banyak dari mereka yang belajar ilmu Epistemologi?.
  5. Berapa banyak dari mereka yang bisa membedakan informasi yang benar [valid] dan informasi yang salah?
  6. Berapa banyak dari mereka yang memahami begitu banyaknya informasi yang tidak punya nilai hujjah [karena tidak bisa dipastikan benar salahnya]?.

Dan jauh lebih penting berapa banyak dari mereka yang sudah belajar itu memang betul-betul menerapkannya?. Percuma sudah belajar tetapi tidak pernah dipraktekkan. Bagaimana mempraktekkannya?. Cara sederhana dan murah yaitu “Diskusi”.

Diskusi, ya bahasa kerennya Metode Dialektis. Dalam pencarian kebenaran metode ini termasuk metode yang paling kuno. Sudah ada sejak zaman Mbah Socrates dan Mbah Plato, terus membudaya sampai ke zaman ini. Diskusi itu bukan ajang pamer kebolehan, bukan ajang pamer ilmu, bukan ajang pamer kepintaran.

  1. Diskusi itu untuk mendapatkan kebenaran yang terkadang tersembunyi saat kita belajar sendiri.
  2. Diskusi dapat menunjukkan kepada kita kelemahan atau lubang yang tidak bisa kita lihat sendiri.
  3. Diskusi dapat menunjukkan kepada kita warna-warna lain selain hitam putih.
  4. Diskusi dapat menunjukkan kepada kita hal-hal yang kurang dan hal-hal yang harus kita cari.
  5. Diskusi dapat menunjukkan kepada kita hal-hal penting yang awalnya kita anggap tidak penting
  6. Diskusi dapat membantu kita menemukan kegunaan dari hal-hal yang awalnya kita anggap tidak berguna.

Para “pencari kebenaran” yang gemar berdiskusi dan dengan baik menjalaninya [banyak juga yang cuma asal diskusi], mereka akan mendapatkan kebenaran yang berlipat-lipat dibandingkan “pencari kebenaran” yang hanya gemar membaca buku [kitab].

Dalam diskusi itu sejatinya tidak ada menang dan kalah. Yang ada adalah siapa yang mendapat banyak perolehan, sedikit perolehan atau malah tidak ada perolehan. Ketika mendiskusikan keyakinan, kita boleh saja gagal mempertahankan keyakinan kita dan tidak perlu marah-marah, rugi sekali. Renungkan perolehan apa yang kita dapatkan, apa yang membuat kita gagal mempertahankan keyakinan kita?.

  1. Kita mendapati kelemahan argumen dan cara berpikir kita maka bagaimana mengatasinya. Ya perbaiki cara berpikirnya.
  2. Kita kekurangan informasi dalam mempertahankan keyakinan kita maka bagaimana mendapatkan informasi tersebut. Ya perbanyak baca buku dan kitab untuk mencarinya.
  3. Kita melihat dan memikirkan berulang-ulang bahwa kelemahan argumen kita tidak bisa diperbaiki dan informasi yang selama ini kita andalkan keliru, maka bukankah sudah saatnya memutuskan bahwa kita harus meninggalkan keyakinan tersebut dan beralih mencari mana yang benar.

Gunanya diskusi adalah Memberikan jalan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Jadi hal ini bukan soal semata-mata membela keyakinan tetapi menguji dan menguatkan keyakinan kita. Apakah kita memiliki logika yang mantap dan apakah informasi yang selama ini kita andalkan sudah benar [valid]?. Diskusi akan menunjukkan kemiskinan logika dan kemiskinan informasi yang kita miliki. Sayangnya kebanyakan orang selesai diskusi [mana sambil marah-marah lagi] terus ditinggal tidur dan lupakan, “kali ini saya kalah besok bakal menang”. Mana ada gunanya diskusi seperti itu.

.

.

.

Kemiskinan “logika yang mantap” dan kemiskinan “informasi yang benar [valid]” tidak jarang diiringi dengan kekayaaan “emosi yang berlebihan”. Akibatnya sering kita lihat dalam diskusi orang yang suka marah-marah menghina ini itu ketika dikuliti argumennya. Ini kebiasaan buruk yang harus diubah. Tidak ada gunanya marah-marah, ngambek, emosian, lompat-lompat koprol dan sebagainya. Hal itu tidak akan membuat keyakinan anda benar. Justru hal itu akan menjadi penghalang bagi anda untuk melihat secara objektif. Mengapa banyak orang emosi gara-gara ada Cewek cantik salah mengartikan Tut wuri handayani?. Lha kok ketawa, serius saya masih bisa objektif melihat kalau sekedar salah itu mudah sekali dikoreksi tetapi watak orang-orang yang suka mencaci dan menghina itu tidak mudah diperbaiki. Uuups kok ngelantur, balik lagi. Intinya orang yang berdiskusi dengan baik akan mendapatkan bonus “emosinya jadi terkontrol dan terlatih”.

Orang yang asal-asalan diskusi bisa diajarkan cara berdiskusi dengan baik. Orang yang diskusi pakai emosian bisa dilatih untuk mengontrol emosinya. Nah yang paling susah itu menghadapi orang yang takut berdiskusi. Ya tidak bisa diapa-apain, diajak diskusi saja tidak bisa. Mengapa kita harus takut berdiskusi?. Biasanya bisikan-bisikan kegelapan bermain dengan hebatnya.

  • Jangan diskusi dengannya nanti kamu bakal terkena syubhat.
  • Jangan diskusi dengannya nanti kamu bakal tersesat.
  • Jangan diskusi dengannya karena dia itu orang sesat.
  • Jangan diskusi dengannya karena kamu belum mampu.
  • Jangan diskusi dengannya nanti hasilnya cuma marah-marah, emosian dan memutuskan tali silaturahmi.

Biasanya orang yang hatinya dipenuhi dengan bisikan-bisikan seperti ini adalah mereka yang tidak sadar hidup dalam “perbudakan”. Kami berlindung kepada Allah SWT dari bisikan-bisikan kegelapan.

Tetapi ada juga sebagian kecil Orang yang takut atau tidak suka diskusi adalah manusia langka yang sudah bertahun-tahun di jalan yang lurus mengasingkan diri dari perkara duniawi dan fokus pada kehidupan setelah mati. Orang-orang ini takut menyisihkan waktunya untuk berdiskusi yang dapat memancing keributan lawan diskusinya. Daripada bikin orang emosi lebih baik beribadah dan hidup tenang. Ya kalau ini kan kualitas orangnya memang lain jadi no komenlah.

Akhir kata, jadilah “orang yang memaklumi”. Harap maklum kalau anda melihat masih banyak saudara, teman atau kenalan yang sok sok “pencari kebenaran” tetapi bergaya “pembela kebenaran”. Harap maklum kalau anda melihat masih banyak saudara, teman atau kenalan yang suka emosian kalau diskusi soal keyakinan. Harap maklum kalau anda melihat diri anda ternyata tidak jauh berbeda dengan mereka. Dan yang paling penting, Harap maklum kalau anda melihat saya ini cuma banyak bicara. Mari lupakan apa yang saya bicarakan dan lebih baik kita “tidur panjang”. Salam Damai

.

Note : Gambar diambil dari Mbah Google dan tidak ada hubungannya sama isi tulisan. Btw jangan salah sambung ya, saya bukan fans JKT 48:mrgreen:

38 Tanggapan

  1. @secondprince

    Anda sendiri sebagai seorang pencari kebenaran meletakkan agama/mazhab yang anda teliti sebagai objek ilmiah atau objek iman-keyakinan?

  2. @Dedi

    Saya meyakini agama/mazhab yang saya anggap benar, tentunya setelah saya teliti agama/mazhab tersebut secara objektif

  3. Bang SP: Mohon definisi dari objektif dan kebenaran itu apa?

  4. @secondprince

    Hmmm…cukup dan terima kasih

  5. mengaburkan yg sudah benar lo mah tong.SP getoh lohh..

  6. jiiaaaah…paklephi lagi … maklum dah

  7. Pengen komen tapi bingung, soalnya ini tulisan kayaknya saya kena juga nih😦

  8. apa manfaatnya membanding2kan sahabat nabi… mana yg lebih agung…

  9. @Secondprince

    |Menggelikan kalau melihat orang yang ngakunya “pencari kebenaran” tetapi berlagak seolah ia telah mendekap kebenaran dengan begitu nafsu sampai kebenaran itu tidak bisa lepas dari pangkuannya. Sejak kapan kebenaran itu cuma milik kita dan orang lain pasti tidak punya.|

    …{Sepertinya ada penggambaran yang diselewengkan dan berlebihan disini.}

    |Entah mengapa saya sering mendengar kabar di luar sana, banyak orang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang.|

    …{Jangan pernah cepat berkesimpulan kalau cuma dengar dari kabar sekalipun dari orang yang anda kenal baik. Boleh jadi orang yang anda kenal baik itu lagi apes bertemu dengan seorang pencari kebenaran yang kebetulan tensi darahnya lagi naik.}

    |Please bro, jangan membuat malu nama “Pencari Kebenaran”. Pencari kebenaran itu berbeda dengan Pembela kebenaran [itu mah satria baja hitam]. Orang yang tujuannya mencari maka seyogianya menerima semua masukan untuk dipilah-pilah mana yang benar dan mana yang tidak. Orang yang tujuannya mencari seharusnya berterimakasih [bukan marah-marah] jika ditunjukkan lubang-lubang dalam keyakinannya.|

    …{Sekali lagi, jangan pernah cepat berkesimpulan kalau cuma dengar dari kabar meskipun dari orang yang anda kenal baik. Boleh jadi orang yang anda kenal baik itu lagi apes bertemu dengan seorang pencari kebenaran yang kebetulan tensi darahnya lagi naik.}

    |Nah kalau Pembela kebenaran itu wajar suka marah atau sedikit-sedikit tersinggung ketika dikritik keyakinannya. Ia akan membela kebenaran [baca : apa yang ia anggap benar] sekuat tenaga dengan cara apapun sampai titik darah penghabisan. Mana ada dalam pikirannya sedikit saja kalau apa yang ia yakini bisa keliru. Tidak ada itu, haram bagi mereka merasa ada yang bisa salah dalam keyakinannya. Ya bagus kalau keyakinannya itu memang sudah benar tetapi kalau hakikatnya ternyata keyakinannya itu keliru maka orang ini tidak lain telah diperbudak oleh kekeliruannya.|

    …{Ingat masbro, terkadang seseorang bisa salah namun dikesempatan lain anda bisa juga salah. Saya harap kiritikan anda itu bukan untuk pembenaran diri sendiri bahwa anda adalah orang yang maksum…hehe.}

    |Saya pribadi tidak akan mau diperbudak seperti ini apalagi perbudakan yang dibungkus dengan baju “membela kebenaran”.|

    …{Di abad ke 21 ini sepenuhnya hak anda mau dijadikan budak atau tidak. Bukankah dalam Islam perbudakan tidak secara mutlak dilarang sebagaimana poligami. Sepertinya anda sedang sewot saja.}

    |Lebih baik saya berkali-kali salah atau menyalahkan apa yang sebelumnya saya anggap benar [kalau memang terbukti salah] dibandingkan saya harus menanggung resiko membela mati-matian sesuatu yang hakikatnya salah.|

    …{Sepakat dengan pilihan anda. Pertanyaan saya kepada anda: 1. Mengapa seseorang mau menanggung resiko membela mati-matian sesuatu yang salah. 2. Dalam kondisi sadar atau tidak sadarkah orang itu kalau ia sebenarnya sedang meniti jalan yang bengkok?! Ha! Selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}

    |Jadi “Pencari Kebenaran” itu bukan sekedar label, bukan gelar membanggakan, bukan atribut spesial. Itu adalah manhaj orang-orang yang senantiasa menggunakan Akal-nya.|

    …{Kata “Pencari Kebenaran” saja kedengarannya sudah lucu dan sedikit lebaaay, sekarang anda gandengkan dengan manhaj orang-orang yang sentiasa menggunakan akal-nya, waduh lebih lucu dan tambah lebuuaaaay lagi. Apakah anda beranggapan mereka yang anda kritik tidak menggunakan akal-nya?. Kalau anda dan mereka yang anda kritik masing-masing menggunakan akal-nya mengapa bisa terjadi perbedaan kesimpulan? Sekali lagi selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}

    |…tetapi ingatlah jauh lebih penting anda belajar “bagaimana mencapai kebenaran” dibandingkan anda bersusah-susah [mati-matian] membela “apa yang anda anggap benar”.|

    …{Ingat masbro, akan selalu ada orang-orang yang rela bersusah payah membela hal-hal yang menurut orang lain konyol bahkan sesat. Kalau masbro tengok kiri- kanan bukan ala bebek lho yah, masbro pasti tahu lah pemikiran seperti ini selalu ada di setiap peradaban manusia. Bahkan di jaman sekarang ini akan dengan mudah kita temukan contoh orang yang rela mati demi hal-hal yang konyol. Koq bisa seperti itu…yaelah sudah takdir kali atau…auk aahh gelap, rahasia Allah itu. Takut salah ngomongin masalah yang ghaib.}

    |Bukan berarti para pencari kebenaran tidak akan membela kebenaran, bukan jangan salah paham tetapi mereka tidak membela dalam perbudakan.|

    …{Ingat masbro, manusia itu punya sifat seperti dua sisi duit koin. Mungkin pada satu masalah tertentu anda beranggapan si pencari kebenaran itu membela kebenaran sebagaimana orang dalam “perbudakan”. Tapi mungkin pada kasus lain anda berdua bisa sepakat dalam banyak masalah. Lantas problem anda dimana? Masak sih pasti selalu berbeda dalam banyak hal…imposible…hehe. Kalau cuma 1x, 2x, 3x ngotot, diterima saja lah. Anda jangan terlalu sensi dan lebay deh. Apalagi kalau infonya ternyata dapatnya cuma dari dengar kabar, waduuuuh.}

    |Mereka melakukan pembelaan karena cinta kepada kebenaran. Mereka tidak takut membela kebenaran jika kebenaran itu ada pada orang yang mereka benci. Mereka tidak takut menyalahkan apa yang sebelumnya mereka anggap benar jika ternyata sudah terbukti salah.|

    …{Sepakat, benar-benar cetar membahana yang satu ini.}

    |Maka dari itu wahai para pencari kebenaran sebelum anda mempelajari mazhab ini mazhab itu, sebelum anda menyibukkan mencari mazhab yang benar tolong sibukkan diri anda dengan mempelajari “bagaimana mencapai kebenaran”. Cuma dua hal yang anda perlukan “Logika yang benar” dan “Informasi yang benar”|

    …{Logika dan informasi yang benar? 1. Faktanya tidak semua orang memiliki kualitas [baca: logika] dari sisi keilmuan yang sama. 2. Informasi yang benar di jaman serba digital ini mudah untuk diakses meskipun harus dipilah-pilih juga karena banyak informasi yg tersebar di internet atau buku-buku ternyata dilatarbelakangi oleh faktor sosio-politik dan juga ekonomi [catatan: katanya lho yah, benar tidaknya??!!]. Intinya akses informasi yang benar ternyata masih tetap susah juga untuk diperoleh. Jadi…jadi semua ini salah SIAPAAAAAA?!. Seandainya Rasullulah masih hidup beliaulah pemutus dari permasalahan ini. Maaf ya masbro, bukan anda.}

    |Masalahnya sering saya lihat, mereka yang mengaku “pencari kebenaran” itu seolah sudah paham kedua hal tersebut padahal hakikatnya cuma berasa-rasa paham.|

    …{Aah, jangan-jangan anda salah lihat dan salah berasa-rasa plus terlalu sensi dan lebay. Anda saja bisa berkesimpulan hanya dari sekedar “dengar kabar diluar sana…”. Kata “Sering” juga kan tidak bermakna setiap pencari kebenaran yang anda temui bukan.}

    |Berapa banyak dari mereka yang mempelajari ilmu tentang Berpikir yang benar?.
    Berapa banyak dari mereka yang mempelajari ilmu tentang Berpikir yang salah?.
    Berapa banyak dari mereka yang belajar ilmu Logika?.
    Berapa banyak dari mereka yang belajar ilmu Epistemologi?.
    Berapa banyak dari mereka yang bisa membedakan informasi yang benar [valid] dan informasi yang salah?
    Berapa banyak dari mereka yang memahami begitu banyaknya informasi yang tidak punya nilai hujjah [karena tidak bisa dipastikan benar salahnya]?.|

    …{Komentar anda tentang ulama terdahulu dan juga saat ini, apakah kitab-kitab mereka semua konsisten memiliki semua poin-poin anda maksudkan. Bila tidak lantas masalah anda dimana…?! Apa yang anda harapkan dari seorang pencari kebenaran yang bukan siapa-siapa…?!}

    |Dan jauh lebih penting berapa banyak dari mereka yang sudah belajar itu memang betul-betul menerapkannya?. Percuma sudah belajar tetapi tidak pernah dipraktekkan. Bagaimana mempraktekkannya?. Cara sederhana dan murah yaitu “Diskusi”.|

    …{Ayo budayakan diskusi. Kebiasaan di kampus…yang rajin bertanya sudah pasti sesat nih orang harus diberantas, tas.}

    |Dalam diskusi itu sejatinya tidak ada menang dan kalah. Yang ada adalah siapa yang mendapat banyak perolehan, sedikit perolehan atau malah tidak ada perolehan. Ketika mendiskusikan keyakinan, kita boleh saja gagal mempertahankan keyakinan kita dan tidak perlu marah-marah, rugi sekali. Renungkan perolehan apa yang kita dapatkan, apa yang membuat kita gagal mempertahankan keyakinan kita?.|

    …{Kalau diskusinya tertutup, dan orang awam [jemaahnya] dilarang masuk, setuju tidak perlu marah ketika gagal mempertahankan keyakinan [baca: agama-mazhab]. Tapi kalau penontonnya terdiri dari kaum awam, wajar kalau si pembicara menjadi kesal, jengkel dan ujung-ujungnya marah ketika gagal untuk mempertahankan keyakinan [baca: agama-mazhab] orang awamnya [jemaahnya]. Mau ditaruh dimana muka dan yang utama bisa tutup lapak si pembicara yang gagal itu. Bakalan tidak ada jemaah yang mau mengundangnya lagi. Atau jangan-jangan malah jemaahnya rombongan pindah ke lapak lawan diskusi. Jadi saya pikir dilihat dahulu, situasi dan kondisi diskusinya seperti apa.}

    |Kita mendapati kelemahan argumen dan cara berpikir kita maka bagaimana mengatasinya. Ya perbaiki cara berpikirnya.
    Kita kekurangan informasi dalam mempertahankan keyakinan kita maka bagaimana mendapatkan informasi tersebut. Ya perbanyak baca buku dan kitab untuk mencarinya.|

    …{Perbanyak baca buku dan kitab belum jaminan masbro, manusia sejatinya mahluk yg absurds-kompleks. Apalah artinya seorang pencari kebenaran yang bukan siapa-siapa dibandingkan dengan ulama. Ulama yang suka baca banyak buku dan kitab saja masih bisa…….eniwey ketika ilmu genetika telah mencapai puncaknya, ayo kita kloning dan perbanyak orang-orang yang berpikiran sama seperti anda ini. Niscaya bumi akan semakin sejahtera, aman dan sentosa. Yang terucap dimulut setiap orang hanyalah, Salam Damai…Peace bro!.}

    |Sayangnya kebanyakan orang selesai diskusi [mana sambil marah-marah lagi] terus ditinggal tidur dan lupakan, “kali ini saya kalah besok bakal menang”. Mana ada gunanya diskusi seperti itu.|

    …{Sudah..sudah, yang lalu biarlah berlalu. Kalau tensi darah lagi kumat memang susah. Kitalah yang harus mengerti situasi&kondisi serta keadaan psikologis lawan diskusi kita. Kalau perlu bawa alat tensi darah. Setiap 10 menit sekali boleh di tensi tekanan darahnya. Kalau kira-kira tensi mulai naik, hentikan segera diskusinya alihkan dengan melempar lelucon-lelucon atau anekdot segar. Karya klasik ulama Islam cukup kaya lho soal lelucon dan anekdot. Coba anda baca dan praktekan cara diskusi seperti itu.}

    |Kemiskinan “logika yang mantap” dan kemiskinan “informasi yang benar [valid]” tidak jarang diiringi dengan kekayaaan “emosi yang berlebihan”. Akibatnya sering kita lihat dalam diskusi orang yang suka marah-marah menghina ini itu ketika dikuliti argumennya. Ini kebiasaan buruk yang harus diubah. Tidak ada gunanya marah-marah, ngambek, emosian, lompat-lompat koprol dan sebagainya.|

    …{Kebiasaan buruk yang harus diubah? Tidak ada harus diubah kecuali darah tingginya bisa secara ajaib-mukzizat normal. Bila ternyata darah tingginya masih belum bisa dikontrol sendiri, satu-satunya cara diskusi yang paling aman yaah seperti yg saya sarankan diatas, yaitu bawa alat tensi juga kumpulan buku humor-anekdot karya ulama klasik. Lain kasusnya kalau lawan diskusi anda mulai koprol tak terarah, ngambek, dan juga marah-marah, cerita humor dan anekdot tidak akan banyak membantu. Saran saya anda sebaiknya segera hentikan diskusi dan pulang. Sesampainya di rumah anda perlu untuk mengevaluasi kembali diri anda mengapa memilih lawan diskusi orang yang tidak hanya memiliki riwayat darah tinggi akut tapi juga telah hilang akalnya sampai-sampai koprol tak tentu arah seperti itu. Salahkanlah diri anda jangan melempar batu itu ke orang lain}

    |Mengapa banyak orang emosi gara-gara ada Cewek cantik salah mengartikan Tut wuri handayani?.|

    …{no comment…}

  10. @Sekar

    Bang SP: Mohon definisi dari objektif dan kebenaran itu apa?

    Tergantung dengan pokok bahasannya. Secara ringkas, Objektif itu apa adanya dan kebenaran itu yah sesuatu yang anda dapat setelah menganalisis dengan objektif

    @Dedi
    sama-sama

    @novapahlepi
    no komen

    @jaya
    maklum, maklum

    @MasB

    Baguslah, dulu saya juga begitu. Merasa bahwa diri kita begitu adalah hal yang wajar-wajar saja. Yang penting selanjutnya diperbaiki.

    @tes

    maaf agak gak nyambung sih, tapi ya tidak ada masalah dengan itu.

  11. @Wahyu

    …{Sepertinya ada penggambaran yang diselewengkan dan berlebihan disini.}

    Sepertinya tidak, itu bahasa kiasan. Lain ceritanya kalau anda tidak paham bahasa kiasan:mrgreen:

    …{Jangan pernah cepat berkesimpulan kalau cuma dengar dari kabar sekalipun dari orang yang anda kenal baik. Boleh jadi orang yang anda kenal baik itu lagi apes bertemu dengan seorang pencari kebenaran yang kebetulan tensi darahnya lagi naik.}

    Menggelikan, anda sendiri terlalu cepat berkesimpulan. Memangnya apa masalahnya tensi darah lagi naik?. Apa anda pikir orang tensi darah naik itu berarti orang tersebut tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang. Ilmu dari mana itu ya. Please deh tolong dipikir dahulu sebelum berkomentar

    …{Sekali lagi, jangan pernah cepat berkesimpulan kalau cuma dengar dari kabar meskipun dari orang yang anda kenal baik. Boleh jadi orang yang anda kenal baik itu lagi apes bertemu dengan seorang pencari kebenaran yang kebetulan tensi darahnya lagi naik.}

    Menggelikan lagi, anda segitu yakinnya kalau orang tensi darah lagi naik bisa berefek begitu. Ada tuh orang yang darah tinggi ternyata mau dikiritik, tidak marah kalau dikritik dan berdiskusi dengan baik. Intinya apa hubungannya bro?. Sok tahu tetapi hakikatnya tidak tahu

    …{Ingat masbro, terkadang seseorang bisa salah namun dikesempatan lain anda bisa juga salah. Saya harap kiritikan anda itu bukan untuk pembenaran diri sendiri bahwa anda adalah orang yang maksum…hehe.}

    Beginilah contoh orang gagal paham. Jelas-jelas saya tulis di atas saya lebih suka berkali-kali salah atau menyalahkan apa yang saya anggap benar kalau memang terbukti salah.

    …{Di abad ke 21 ini sepenuhnya hak anda mau dijadikan budak atau tidak. Bukankah dalam Islam perbudakan tidak secara mutlak dilarang sebagaimana poligami. Sepertinya anda sedang sewot saja.}

    Lha itu kan pendapat pribadi saya. Terserah saya dong. Lagipula situ sih gagal paham, kayak gak ngerti saja maksud kata “perbudakan” yang saya gunakan. Apa saya sedang membicarakan perbudakan yang anda maksudkan itu?. Menggelikan

    …{Sepakat dengan pilihan anda. Pertanyaan saya kepada anda: 1. Mengapa seseorang mau menanggung resiko membela mati-matian sesuatu yang salah. 2. Dalam kondisi sadar atau tidak sadarkah orang itu kalau ia sebenarnya sedang meniti jalan yang bengkok?! Ha! Selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}

    Saya sudah lama masuk ke “realitas kehidupan”. Situ kayaknya baru masuk sok mengatakan orang selamat datang. Harusnya saya yang bilang selamat datang. Berbagai manusia yang kompleks dan absurd itu memang realitas tetapi ada juga orang-orang yang setelah melihat realitas itu hatinya tergerak untuk menyampaikan hal yang benar kepada orang-orang tersebut. Orang-orang seperti saya ini juga bagian dari realitas masbro. Jadi ya terima saja apa adanya:mrgreen:

    …{Kata “Pencari Kebenaran” saja kedengarannya sudah lucu dan sedikit lebaaay, sekarang anda gandengkan dengan manhaj orang-orang yang sentiasa menggunakan akal-nya, waduh lebih lucu dan tambah lebuuaaaay lagi. Apakah anda beranggapan mereka yang anda kritik tidak menggunakan akal-nya?. Kalau anda dan mereka yang anda kritik masing-masing menggunakan akal-nya mengapa bisa terjadi perbedaan kesimpulan? Sekali lagi selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}

    Aduh maaf ya kata “Pencari Kebenaran” itu kedengarannya sama saja dengan kata yang anda gunakan “realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd”. Mau dikatakan lucu dan sedikit lebaaay, ya silakan. Tidak ada yang salah dengan orang-orang yang menggunakan akal. Pahami dulu makna “orang yang menggunakan akalnya”. Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya. Kalau setiap orang sudah pasti menggunakan akalnya maka untuk apa Al Qur’an sering mengingatkan manusia untuk menggunakan akalnya. Sekalian saja situ ngeyel sama Al Qur’an. Menggelikan, silakan bilang sana sama Al Qur’an selamat datang di realitas manusia yang kompleks dan absurd

    …{Ingat masbro, akan selalu ada orang-orang yang rela bersusah payah membela hal-hal yang menurut orang lain konyol bahkan sesat. Kalau masbro tengok kiri- kanan bukan ala bebek lho yah, masbro pasti tahu lah pemikiran seperti ini selalu ada di setiap peradaban manusia. Bahkan di jaman sekarang ini akan dengan mudah kita temukan contoh orang yang rela mati demi hal-hal yang konyol. Koq bisa seperti itu…yaelah sudah takdir kali atau…auk aahh gelap, rahasia Allah itu. Takut salah ngomongin masalah yang ghaib.}

    Oooh silakan di dunia ini akan ada orang-orang seperti anda ketika melihat kekonyolan manusia bahkan seperti kata anda “rela mati untuk hal konyol” anda tinggal mengatakan itu sudah takdir. Ya mungkin kalau orang tua anda, saudara anda, istri anda atau anak anda yang seperti itu, anda mungkin cuma bilang “yaelah sudah takdir kali” biarkan sajalah ya bung sudah takdir…auk aah gelap, rahasia Allah SWT, biarkan saja:mrgreen:

    …{Ingat masbro, manusia itu punya sifat seperti dua sisi duit koin. Mungkin pada satu masalah tertentu anda beranggapan si pencari kebenaran itu membela kebenaran sebagaimana orang dalam “perbudakan”. Tapi mungkin pada kasus lain anda berdua bisa sepakat dalam banyak masalah. Lantas problem anda dimana? Masak sih pasti selalu berbeda dalam banyak hal…imposible…hehe. Kalau cuma 1x, 2x, 3x ngotot, diterima saja lah. Anda jangan terlalu sensi dan lebay deh. Apalagi kalau infonya ternyata dapatnya cuma dari dengar kabar, waduuuuh.}

    Dimana letak sensi dan lebay-nya bro?. Saya paham kok namanya manusia itu tidak selalu berbeda terus. Ada kalanya manusia itu bersepakat dalam satu hal. Tetapi intinya yang dibahas bukan itu, kesepakatan dalam satu hal tidak berarti membuat kesalahan yang dilakukannya di saat lain jadi benar. Ya gak nyambung bro. Saya kan mengajak orang berpikir dan berdiskusi dengan baik

    …{Logika dan informasi yang benar? 1. Faktanya tidak semua orang memiliki kualitas [baca: logika] dari sisi keilmuan yang sama. 2. Informasi yang benar di jaman serba digital ini mudah untuk diakses meskipun harus dipilah-pilih juga karena banyak informasi yg tersebar di internet atau buku-buku ternyata dilatarbelakangi oleh faktor sosio-politik dan juga ekonomi [catatan: katanya lho yah, benar tidaknya??!!]. Intinya akses informasi yang benar ternyata masih tetap susah juga untuk diperoleh. Jadi…jadi semua ini salah SIAPAAAAAA?!. Seandainya Rasullulah masih hidup beliaulah pemutus dari permasalahan ini. Maaf ya masbro, bukan anda.}

    Memangnya dalam aqidah anda, logika orang itu adalah bawaaan lahir?. Kalau dalam pandangan saya, setiap manusia mampu mengasah kemampuan logikanya. Jadi perbedaan kemampuan logika seseorang ya tergantung pembelajaran dan latihannya. Justru itulah yang saya serukan disini.

    Makanya “informasi yang benar” bukan sekedar yang tersebar di internet atau buku, sok pakai bilang faktor sosisopolitik ekonomi, biar kelihatan keren ya. Tidak ada yang salah masbro, itulah realita kehidupan. Selamat datang di realita kehidupan. Tidak usah mengeluhkan salah siapa, pikirkan dan analisis bagaimana cara memperoleh informasi yang benar. Gunakan akal untuk memilah mana informasi yang benar, yang salah dan yang belum bisa dipastikan benar salahnya?. Dan apa hubungannya mengatakan “seandainya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masih hidup”?. Jadi sekarang dalam aqidah anda itu, informasi yang benar itu bisa atau tidak diperoleh?. Gak usah sok mengatakan “bukan anda”. Itu ocehan gak nyambung ciri orang gagal paham. Kalau anda menganggap informasi yang benar itu susah diperoleh, terus mau diapain. Diem aja di depan teras menadahkan tangan sambil nunggu informasi yang benar jatuh dari langit. Bangun dong bro hadapi realita kehidupan, kalau susah diperoleh ya usaha keras dong:mrgreen:

    …{Aah, jangan-jangan anda salah lihat dan salah berasa-rasa plus terlalu sensi dan lebay. Anda saja bisa berkesimpulan hanya dari sekedar “dengar kabar diluar sana…”. Kata “Sering” juga kan tidak bermakna setiap pencari kebenaran yang anda temui bukan.}

    Lucu sekali, bukannya anda sendiri mengatakan “informasi yang benar susah diperoleh”. Lha itu secara tidak langsung anda menerima bahwa banyak orang merasa-rasa paham informasi yang benar padahal kenyataannya cuma berasa-rasa paham. Apanya yang anda bantah disini masbro?.

    …{Komentar anda tentang ulama terdahulu dan juga saat ini, apakah kitab-kitab mereka semua konsisten memiliki semua poin-poin anda maksudkan. Bila tidak lantas masalah anda dimana…?! Apa yang anda harapkan dari seorang pencari kebenaran yang bukan siapa-siapa…?!}

    Anda tahu dari mana ulama terdahulu tidak punya itu semua?. Yang saya tahu pasti adalah zaman ini dimana ilmu sudah berkembang pesat bahkan ilmu tentang logika dan berpikir benar juga cukup maju. Ya tinggal dimanfaatkan, apa salah itu. Apalagi anda sendiri mengakui zaman sekarang susah memperoleh informasi yang benar?. Ya artinya anda butuh ilmu untuk memilah-milah informasi yang benar. Yang saya harapkan dari pencari kebenaran agar mereka belajar dan menggunakan akalnya dengan baik. Kalau menurut anda itu salah ya itu berarti ada yang salah dengan otak anda

    …{Ayo budayakan diskusi. Kebiasaan di kampus…yang rajin bertanya sudah pasti sesat nih orang harus diberantas, tas.}

    Tanda orang gagal paham:mrgreen:

    …{Kalau diskusinya tertutup, dan orang awam [jemaahnya] dilarang masuk, setuju tidak perlu marah ketika gagal mempertahankan keyakinan [baca: agama-mazhab]. Tapi kalau penontonnya terdiri dari kaum awam, wajar kalau si pembicara menjadi kesal, jengkel dan ujung-ujungnya marah ketika gagal untuk mempertahankan keyakinan [baca: agama-mazhab] orang awamnya [jemaahnya]. Mau ditaruh dimana muka dan yang utama bisa tutup lapak si pembicara yang gagal itu. Bakalan tidak ada jemaah yang mau mengundangnya lagi. Atau jangan-jangan malah jemaahnya rombongan pindah ke lapak lawan diskusi. Jadi saya pikir dilihat dahulu, situasi dan kondisi diskusinya seperti apa.}

    Gagal paham, tetapi sok sok-an membantah dengan membawa-bawa contoh yang tidak nyambung dengan pembahasan. Lagipula, Mau menjaga muka atau lapak gak perlu pakai marah-marah kali. Justru marah-marah malah menjatuhkan image dong bro. Tulisan di atas itu fokus pada kebenaran dan cara menyikapinya saat diskusi bukan soal acara show versi anda menjaga muka dan lapak

    …{Perbanyak baca buku dan kitab belum jaminan masbro, manusia sejatinya mahluk yg absurds-kompleks. Apalah artinya seorang pencari kebenaran yang bukan siapa-siapa dibandingkan dengan ulama. Ulama yang suka baca banyak buku dan kitab saja masih bisa…….eniwey ketika ilmu genetika telah mencapai puncaknya, ayo kita kloning dan perbanyak orang-orang yang berpikiran sama seperti anda ini. Niscaya bumi akan semakin sejahtera, aman dan sentosa. Yang terucap dimulut setiap orang hanyalah, Salam Damai…Peace bro!.}

    Gagal paham, mungkin menurut anda ulama itu makhluk planet yang turun dari langit kali ya. Atau menurut anda, mereka itu udah dari lahir punya otak ulama kali ya. Di dunia ini tidak ada jaminan pasti. Yang ada itu usaha, manusia yang berusaha dengan benar dan berdoa, insya Allah diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk mendapatkan kebenaran. Bukan tipe seperti anda yang sok bicara absudr kompleks pakai bawa-bawa ilmu genetika dan kloning. Kayak anda paham saja apa yang anda katakan:mrgreen:

    …{Sudah..sudah, yang lalu biarlah berlalu. Kalau tensi darah lagi kumat memang susah. Kitalah yang harus mengerti situasi&kondisi serta keadaan psikologis lawan diskusi kita. Kalau perlu bawa alat tensi darah. Setiap 10 menit sekali boleh di tensi tekanan darahnya. Kalau kira-kira tensi mulai naik, hentikan segera diskusinya alihkan dengan melempar lelucon-lelucon atau anekdot segar. Karya klasik ulama Islam cukup kaya lho soal lelucon dan anekdot. Coba anda baca dan praktekan cara diskusi seperti itu.}

    Maksud anda harus dipahami bahwa tensinya lagi kumat. Sepertinya andalah yang harus mengkoreksi diri anda dari mitos-mitos tensi darah tinggi berarti orangnya sedang marah. Soal lelucon saat berdiskusi itu sudah sering kok dipakai, jadi ya tidak ada masalah🙂

    …{Kebiasaan buruk yang harus diubah? Tidak ada harus diubah kecuali darah tingginya bisa secara ajaib-mukzizat normal. Bila ternyata darah tingginya masih belum bisa dikontrol sendiri, satu-satunya cara diskusi yang paling aman yaah seperti yg saya sarankan diatas, yaitu bawa alat tensi juga kumpulan buku humor-anekdot karya ulama klasik. Lain kasusnya kalau lawan diskusi anda mulai koprol tak terarah, ngambek, dan juga marah-marah, cerita humor dan anekdot tidak akan banyak membantu. Saran saya anda sebaiknya segera hentikan diskusi dan pulang. Sesampainya di rumah anda perlu untuk mengevaluasi kembali diri anda mengapa memilih lawan diskusi orang yang tidak hanya memiliki riwayat darah tinggi akut tapi juga telah hilang akalnya sampai-sampai koprol tak tentu arah seperti itu. Salahkanlah diri anda jangan melempar batu itu ke orang lain}

    Lucu ya mengulang-ngulang mitos. Sepertinya anda ini contoh orang yang berasa-rasa paham informasi yang benar padahal hakikatnya tidak paham. Segitu yakinnya sampai harus bawa alat tensi, pernah belajar apa itu “darah tinggi” masbro?. Kalau gak pernah ya jangan sok tahu atas apa yang belum pernah anda pelajari. Kalau sudah pernah berarti anda salah mempelajari apa itu “darah tinggi”?. Orang yang darah tinggi atau tensinya tinggi bukan berarti dia sedang marah masbro.

  12. @Secondprince

    |Sepertinya tidak, itu bahasa kiasan. Lain ceritanya kalau anda tidak paham bahasa kiasan|

    …{Ooh, seperti itu ya bahasa kiasan.}

    |Menggelikan, anda sendiri terlalu cepat berkesimpulan. Memangnya apa masalahnya tensi darah lagi naik?. Apa anda pikir orang tensi darah naik itu berarti orang tersebut tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang. Ilmu dari mana itu ya. Please deh tolong dipikir dahulu sebelum berkomentar|

    …{Tenang masbro, itu bahasa kiasan. Lain halnya kalau anda tidak paham bahasa kiasan. Ketika seseorang marah maka sudah dapat dipastikan jantung akan memompa darah lebih cepat logika sederhana saja, tensi orang marah itu pasti naik. Ketika marah akal sehat biasanya tidak bisa terkontrol. Boleh jadi imbasnya orang tersebut menjadi lebih defensif. Begitu maksud saya. Anda tidak percaya…yah terserah anda. Satu lagi inilah jadinya kalau anda hanya mengandalkan mendengar kabar tanpa pernah anda berdiskusi langsung alias bertatap muka dengan para pencari kebenaran. Apakah benar di luar sana banyak orang yang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang seperti yang anda selama ini sering dengar dan sangkakan. Keluar dan berdiskusilah dengan banyak pencari kebenaran masbro jangan hanya mengandalkan “saya mendengar…”. Semoga anda tidak gagal paham maksud saya kali ini.}

    |Menggelikan lagi, anda segitu yakinnya kalau orang tensi darah lagi naik bisa berefek begitu. Ada tuh orang yang darah tinggi ternyata mau dikiritik, marah kalau dikritik dan berdiskusi dengan baik. Intinya apa hubungannya bro?. Sok tahu tetapi hakikatnya tidak tahu|

    …{masbro…masbro apakah ada dalam kalimat saya suatu kepastian bahwa setiap orang yang tensi darahnya tinggi dipastikan berefek jadi anti kritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang. Saya jelaskan deh, Ketika seseorang marah maka sudah dapat dipastikan jantung akan memompa darah lebih cepat logika sederhana tensi orang marah itu pasti naik. Ketika marah akal sehat biasanya tidak bisa terkontrol. Boleh jadi imbasnya orang tersebut menjadi lebih defensif dan bersikap seperti kabar angin yang anda dengar itu. Boleh saja anda mengenal orang yang tensi darahnya tinggi tapi masih bisa bersikap logis. Tapi saya kan menulis “…apes bertemu dengan seorang pencari kebenaran yang kebetulan tensi darahnya lagi naik. Jadi orang itu tidak memiliki ciri-ciri seperti orang dengan tensi tinggi yang anda kenal. Semoga anda tidak gagal paham lagi maksud saya.}

    |Beginilah contoh orang gagal paham. Jelas-jelas saya tulis di atas saya lebih suka berkali-kali salah atau menyalahkan apa yang saya anggap benar kalau memang terbukti salah.|

    …{masbro…masbro anda ini mungkin PD-nya top banget. Tenang…kan anda yang menulis sendiri ini kutipannya:

    |nah kalau Pembela kebenaran itu wajar suka marah atau sedikit-sedikit tersinggung ketika dikritik keyakinannya. Ia akan membela kebenaran [baca : apa yang ia anggap benar] sekuat tenaga dengan cara apapun sampai titik darah penghabisan. Mana ada dalam pikirannya sedikit saja kalau apa yang ia yakini bisa keliru.|

    Itu yang anda tulis bukan, nah boleh jadi anda tahu kalau orang tersebut keliru membela kebenaran, tapi anda sendiri bisa juga keliru bukan. Anda tentu tidak merasa diri maksum jadi logika sederhana saja anda tentu bisa jadi juga keliru. Semoga anda sekali lagi tidak gagal paham maksud saya. Saya kenal ada tuh orang yang membela kebenaran tapi selalu mengedapankan logika dan kejujuran tanpa perlu marah-marah tidak seperti yang anda tuduhkan. Wah anda sepertinya selalu gagal paham terus. Tidak heran anda hanya mengandalkan kabar angin sih. Coba anda keluar masbro diskusilah dengan banyak pencari kebenaran barulah anda mengambil kesimpulan.}

    |Lha itu kan pendapat pribadi saya. Terserah saya dong. Lagipula situ sih gagal paham, kayak gak ngerti saja maksud kata “perbudakan” yang saya gunakan. Apa saya sedang membicarakan perbudakan yang anda maksudkan itu?. Menggelikan|

    …{ no comment saja. Sambil garuk-garuk kepala.}

    |Saya sudah lama masuk ke “realitas kehidupan”. Situ kayaknya baru masuk sok mengatakan orang selamat datang. Harusnya saya yang bilang selamat datang. Berbagai manusia yang kompleks dan absurd itu memang realitas tetapi ada juga orang-orang yang setelah melihat realitas itu hatinya tergerak untuk menyampaikan hal yang benar kepada orang-orang tersebut. Orang-orang seperti saya ini juga bagian dari realitas masbro. Jadi ya terima saja apa adanya|

    …{Betul, orang seperti anda termasuk dalam realitas manusia absurd dan kompleks yang saya maksud, demikian juga saya bukan. Anda, saya, kita semua termasuk dalam realitas manusia yang absud dan kompleks. Jadi tidak ada yang salah kalau saya dan anda saling mengucapkan selamat datang. Kalau anda PD mengklaim bahwa andalah yang terlebih dahulu masuk ke “realitas kehidupan” yaah silahkan saja. Saya tidak keberatan koq. Saya tidak mau terjebak dalam urusan klaim-klaim. Buat anda saja deh urusan klaim itu. Oh iya, mungkin anda percaya bahwa anda terpanggil untuk menyampaikan hal yang benar kepada orang-orang tersebut. Apakah termasuk saya yang menurut anda selalu gagal paham. Baiklah sekarang haruskah saya berterima kasih kepada anda. Kalau begitu saya ucapkan dulu deh terima kasih banyaaaak. Hehe}

    |Aduh maaf ya kata “Pencari Kebenaran” itu kedengarannya sama saja dengan kata yang anda gunakan “realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd”. Mau dikatakan lucu dan sedikit lebaaay, ya silakan. Tidak ada yang salah dengan orang-orang yang menggunakan akal. Pahami dulu makna “orang yang menggunakan akalnya”. Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya. Kalau setiap orang sudah pasti menggunakan akalnya maka untuk apa Al Qur’an sering mengingatkan manusia untuk menggunakan akalnya. Sekalian saja situ ngeyel sama Al Qur’an. Menggelikan, silakan bilang sana sama Al Qur’an selamat datang di realitas manusia yang kompleks dan absurd|

    …{Wuiddiih, masbro, bener deh, anda itu sadar tidak sih kalau PD anda itu top banget. Boleh anda kasih contoh disini siapa orang berakal yang pernah anda tahu, tidak harus anda kenal baik, ternyata tidak menggunakan akalnya. Seperti yang anda tulis di atas “…Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya.” Satu hal lagi Al Qur’an berulang-ulang mengingatkan manusia untuk menggunakan akalnya TIDAK dalam konteks atau seperti yang ada dalam benak dan bayangan anda itu. Ingat masbro, janganlah anda terlalu bersemangat dan serius membantah komentar saya. Anda bisa terjatuh kedalam syubhat. Ingat ulama besar seperti ibn Taimiyah yang terlalu bersemangat membantah Syi’ah membuat dirinya terjatuh dalam syubhat. Anggaplah komentar saya ini sekedar lucu-lucuan dari orang yang aneh saja.}

    …Saya cukupkan balasan komentar saya kepada anda sampai disini saja.

  13. Basi..madingnya udh terbit

  14. sodara wahyu berkhayal lalu khayalannya diyakininya sendiri sebagai kebenaran dan orang lain suruh ikut hasil khayalnya itu. gerrrr banget

  15. @Wahyu

    …{Tenang masbro, itu bahasa kiasan. Lain halnya kalau anda tidak paham bahasa kiasan. Ketika seseorang marah maka sudah dapat dipastikan jantung akan memompa darah lebih cepat logika sederhana saja, tensi orang marah itu pasti naik. Ketika marah akal sehat biasanya tidak bisa terkontrol. Boleh jadi imbasnya orang tersebut menjadi lebih defensif. Begitu maksud saya. Anda tidak percaya…yah terserah anda.

    Bahasa kiasan apanya?. Anda mengerti tidak sih apa itu bahasa kiasan. Anda sok mengatakan bahasa kiasan kemudian setelah itu menjelaskan bahwa orang marah itu tensinya pasti naik. Lha itu bukan kiasan berarti, anda sedang menjelaskan dengan bahasa jelas kondisi sebenarnya. Waduh “bahasa kiasan” saja anda tidak paham.

    Dan bagaimana bisa anda mengatakan bahasa kiasan, kalau pada komentar anda sebelumnya pakai mengatakan bawa alat tensi darah segala. Please bro jangan suka membantah terburu-buru. Baca dulu komentar anda sendiri

    Satu lagi inilah jadinya kalau anda hanya mengandalkan mendengar kabar tanpa pernah anda berdiskusi langsung alias bertatap muka dengan para pencari kebenaran. Apakah benar di luar sana banyak orang yang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang seperti yang anda selama ini sering dengar dan sangkakan. Keluar dan berdiskusilah dengan banyak pencari kebenaran masbro jangan hanya mengandalkan “saya mendengar…”. Semoga anda tidak gagal paham maksud saya kali ini.}

    Ooh saya sudah sering kok diskusi dengan banyak orang. Jadi jangan kira hanya dengan kalimat “saya mendengar” di atas anda jadi terburu-buru menghakimi saya. Saya menggunakan kalimat itu ya karena tulisan di atas memang terpicu oleh pengalaman teman saya yang sedang berdiskusi dengan orang lain. Dan saya pribadi juga mengalami pengalaman seperti itu. Saya heran, apa anda tidak pernah melihat fenomena seperti itu. Sepertinya andalah yang harus banyak berdiskusi dengan orang-orang di dunia luar sana

    …{Tenang masbro, itu bahasa kiasan. Lain halnya kalau anda tidak paham bahasa kiasan. Ketika seseorang marah maka sudah dapat dipastikan jantung akan memompa darah lebih cepat logika sederhana saja, tensi orang marah itu pasti naik.

    Aduh masbro kalau belajar itu yang benar. Sejak kapan ketika jantung memompa darah lebih cepat, tekanan darah sudah pasti naik. Lagipula maksud tekanan darah naik itu apakah naik dalam batas normal? atau naik menjadi tidak normal yang dalam bahasa awam sering disebut “darah tinggi”. Please, anda tidak sedang bicara dengan orang yang awam dalam masalah ini. Nih info yang benar buat anda, orang yang marah bisa saja jantungnya memompa darah lebih cepat tetapi tidak otomatis jadi darah tinggi. Mengapa karena tubuh manusia itu punya sistem homeostasis yang mengatur agar tekanan darah dalam batas normal. Kecepatan jantung yang meningkat karena marah itu tidak melampaui kerja sistem ini. Berbeda hal-nya kalau anda lari ngos-ngosan dalam jangka waktu lama, maka sangat mungkin tensi darah anda meningkat untuk beberapa saat karena melampaui sistem ini tetapi itu hanya sementara, selanjutnya ketika anda istirahat sistem tersebut akan bekerja mengembalikan tekanan darah kembali normal. Dan pada saat tekanan darah anda naik pada saat lari itu ya itu tidak berarti emosi anda sedang naik atau anda jadi mudah marah. Itu dua hal yang tidak ada hubungan langsungnya

    Ketika marah akal sehat biasanya tidak bisa terkontrol. Boleh jadi imbasnya orang tersebut menjadi lebih defensif. Begitu maksud saya. Anda tidak percaya…yah terserah anda.

    Ooh kalau ini pengalaman saya dan saya melihat orang lain memang demikian. Orang yang sedang marah biasanya susah untuk berpikir sehat karena ia sedang emosian. Subjektifnya sangat besar disini. Jadi kalau ingin berpikir dengan baik ya usahakan jangan dalam kondisi marah

    Satu lagi inilah jadinya kalau anda hanya mengandalkan mendengar kabar tanpa pernah anda berdiskusi langsung alias bertatap muka dengan para pencari kebenaran. Apakah benar di luar sana banyak orang yang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap tidak mau dikritik, tidak mau berdiskusi karena takut dikuliti keyakinannya, dan suka marah kalau keyakinannya diserang seperti yang anda selama ini sering dengar dan sangkakan. Keluar dan berdiskusilah dengan banyak pencari kebenaran masbro jangan hanya mengandalkan “saya mendengar…”. Semoga anda tidak gagal paham maksud saya kali ini.}

    Tidak ada dalam tulisan saya, keterangan bahwa saya tidak pernah berdiskusi di luar sana. Saya sudah sering kok berdiskusi dengan banayak orang baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Jadi please deh anda salah alamat mengatakan hal yang seperti itu kepada saya

    Itu yang anda tulis bukan, nah boleh jadi anda tahu kalau orang tersebut keliru membela kebenaran, tapi anda sendiri bisa juga keliru bukan. Anda tentu tidak merasa diri maksum jadi logika sederhana saja anda tentu bisa jadi juga keliru. Semoga anda sekali lagi tidak gagal paham maksud saya.

    Lha iya itu kan sudah saya akui kalau saya sendiri bisa salah. Apa sih maksud anda ini?. Jelas-jelas saya akui kalau saya bisa salah. Saya yang gagal paham atau anda yang gagal paham. jelas-jelas saya mengakui saya bisa salah kok anda ulang-ulang lagi. Lucu sekali anda ini

    Saya kenal ada tuh orang yang membela kebenaran tapi selalu mengedapankan logika dan kejujuran tanpa perlu marah-marah tidak seperti yang anda tuduhkan. Wah anda sepertinya selalu gagal paham terus. Tidak heran anda hanya mengandalkan kabar angin sih. Coba anda keluar masbro diskusilah dengan banyak pencari kebenaran barulah anda mengambil kesimpulan.}

    Heyy bangun, apa cuma anda sendiri yang kenal ada orang begitu. Saya juga kenal banyak orang yang mencari kebenaran dan membela kebenaran dengan mengedepankan logika dan kejujuran. Situ masih gagal paham, saya tidak pernah menghukum semua pencari kebenaran seperti itu dan saya juga tidak menghukum semua pembela kebenaran seperti itu. btw masbro itu kan istilah-istilah yang saya buat sendiri dalam tulisan di atas maka ya anda harus lihat dong bagaimana pemahaman saya terhadap istilah-istilah itu disana. Anda itu meributkan istilah yang saya gunakan dengan persepsi anda sendiri tanpa memperhatikan inti dari tulisan saya. Jadi saya bisa melihat kok kalau sebenarnya bantahan anda disini tidak penting dengan inti tulisan saya.

    …{ no comment saja. Sambil garuk-garuk kepala.}

    Lha iya, jelas-jelas saya katakan pendapat saya pribadi. Dan maaf kan anda yang tiba-tiba membawa hukum perbudakan dalam islam. Jadi ya saya hanya meluruskan saja

    …{Betul, orang seperti anda termasuk dalam realitas manusia absurd dan kompleks yang saya maksud, demikian juga saya bukan. Anda, saya, kita semua termasuk dalam realitas manusia yang absud dan kompleks. Jadi tidak ada yang salah kalau saya dan anda saling mengucapkan selamat datang. Kalau anda PD mengklaim bahwa andalah yang terlebih dahulu masuk ke “realitas kehidupan” yaah silahkan saja. Saya tidak keberatan koq. Saya tidak mau terjebak dalam urusan klaim-klaim. Buat anda saja deh urusan klaim itu.

    Halah kan duluan situ yang mengklaim, kalau memang situ paham saya termasuk relaitas manusia yang absurd dan kompleks ala anda itu. Maka apa yang anda keluhkan disini?. Maklumi saja saya dan apa yang saya tulis di atas sebagai realitas absurd dan kompleks. Gayanya saja anda sok bilang tidak terjebak urusan klaim-mengklaim. padahal ucapan anda malah menentang diri anda sendiri

    Oh iya, mungkin anda percaya bahwa anda terpanggil untuk menyampaikan hal yang benar kepada orang-orang tersebut. Apakah termasuk saya yang menurut anda selalu gagal paham. Baiklah sekarang haruskah saya berterima kasih kepada anda. Kalau begitu saya ucapkan dulu deh terima kasih banyaaaak. Hehe}

    Maaf kalimat “anda percaya bahwa anda terpanggil” itu terasa aneh di telinga saya. Apa situ tidak pernah melakukan usaha untuk memperbaiki masalah yang ada disekitar anda?. Usaha seperti itu ya biasa saja, itu dimiliki kebanyakan orang yang memang punya rasa kepedulian. Dan saya tidak tahu anda termasuk yang mana, lagian itu bukan urusan saya. Soal saya katakan anda “gagal paham” ya karena anda memang “gagal paham” dengan makna tulisan ini. Anda malah meributkan istilah atau kalimat yang saya gunakan. Anehnya anda membantah dengan menggunakan kalimat yang jauh lebih parah, tuh contohnya soal marah dan darah tinggi.

    …{Wuiddiih, masbro, bener deh, anda itu sadar tidak sih kalau PD anda itu top banget. Boleh anda kasih contoh disini siapa orang berakal yang pernah anda tahu, tidak harus anda kenal baik, ternyata tidak menggunakan akalnya. Seperti yang anda tulis di atas “…Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya.”

    Dimana letak “PD anda itu top banget” wahai kisanak. Jadi tolong cek dulu kalimat yang anda gunakan. Masa’ ketika saya mengatakan “tidak ada yang salah dengan orang-orang yang menggunakan akal” dan saya mengatakan “Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya” anda katakan PD top banget. Pernyataan itu memang benar dan tidak ada sangkut paut dengan soal PD top banget atau ndak. Perlu contoh?. wahai kisanak, namanya manusia itu pasti berakal tetapi kalau seseorang mencela atau mengkafirkan mazhab lain dengan semena-mena apalagi referensi cuma ambil dari akun facebook tidak jelas itu namanya “tidak menggunakan akalnya”. tidak perlu saya kasih contoh karena sudah terlihat jelas disini baik dalam tulisan bantahan saya kepada ybs atau komentar orang-orang tertentu di blog ini. (btw kalau anda sudah sering baca-baca di blog ini sih pasti nemu).

    Satu hal lagi Al Qur’an berulang-ulang mengingatkan manusia untuk menggunakan akalnya TIDAK dalam konteks atau seperti yang ada dalam benak dan bayangan anda itu.

    Halah memangnya situ tahu benak dan bayangan yang saya maksud. Please gak usah sok tahu, kalau memang anda mengatakan “tidak dalam konteks” ya silakan dijelaskan disini konteks mana yang dimaksud Al Qur’an tersebut dan mengapa anda mengatakan pemahaman saya itu diluar konteks. Maaf, saya tidak suka komentar banyak gaya tetapi kosong isinya

    Ingat masbro, janganlah anda terlalu bersemangat dan serius membantah komentar saya. Anda bisa terjatuh kedalam syubhat. Ingat ulama besar seperti ibn Taimiyah yang terlalu bersemangat membantah Syi’ah membuat dirinya terjatuh dalam syubhat. Anggaplah komentar saya ini sekedar lucu-lucuan dari orang yang aneh saja.}

    Oooh jadi harus bagaimana saya tanggapi komentar anda. Dengan nyengar-nyengir saja. Dengan “no komen sambil garuk-garuk kepala”. Lagian anda juga PD banget sok mengatakan saya serius membantah anda. Komentar gaya seperti anda ini memang hakikatnya lucu-lucuan bukan kritik yang membangun tulisan saya di atas. Saya menanggapi komentar seperti anda ini sebagai latihan saja bagi saya memahami cara berpikir orang lain, memilah-milah sesat pikir orang lain dan memberikan argumen tanggapan terhadap argumen orang lain

    Btw, soal perkataan anda “Ibnu Taimiyyah bersemangat membantah Syi’ah sehingga terjatuh dalam syubhat”. Anda yakin anda paham apa yang anda katakan?. Hehehe lucu soalnya salah satu sebab Ibnu Taimiyyah terjatuh dalam syubhat itu karena ia terlalu sibuk mengurusi dan membantah kalimat-kalimat orang yang ia bantah tetapi tidak memahami betul hakikat perkataan orang yang ia bantah tersebut. Dan ini kan kasusnya sama dengan anda disini. Btw saya tidak keberatan tuh dengan komentar anda jadi ya tidak ada masalah anda mau mencukupkan diri atau mau lanjut🙂

  16. Kebenaran objektif = Kebenaran Mutlak?

  17. @Secondprince

    Hehe, ya sudah, kalau anda itu ternyata bukan cuma aktif di dunia maya saja. Saya ini pembaca baru di blog anda jadi bukan salah saya dong kalau anda menulis “…saya sering mendengar kabar di luar sana…” lantas saya beranggapan kalau anda itu tipe orang yang suka dengar-dengar kabar. Ok deh saya minta maaf sudah menuduh ini-itu. Lagian kan: 1. Saya tidak kenal dengan anda, 2. Saya komentarnya pun lewat internet. Jadi bagaimana saya bisa tahu sifat atau keseharian anda, betul tidak masbro?

    Lanjut, anda menuduh saya salah alamat memberikan komentar atas pendapat anda disini karena saya harus memaklumi saja apa yang anda tulis di atas sebagai realitas dari manusia yang absurd dan kompleks. Maka saya pun balik bertanya kalau anda bilang paham akan realitas manusia yang absurd dan komplek mengapa anda tidak maknai saja gaya dan ulah “orang-orang” pembela kebenaran itu sebagai realitas manusia yang absurd dan kompleks. Mengapa anda harus repot-repot menulis artikel keripik pedas ini. Hadeegh anda ini yaah gayanya saja sok, bilang memahami makna realitas manusia yang absurd dan kompleks padahal ucapan anda malah menentang diri anda sendiri lewat artikel keripik pedas yang anda tulis disini🙂

    Kedepan saran saya fokuskan kritikan keripik pedas anda ini kepada kelemaham argumen dari “orang-orang” pembela kebenaran itu disertai dengan logika alasan anda dengan disertai dalil-hujjah, lebih bermanfaat gitu lho masbro (yang saya temukan di blog anda baru kritikan atas artikel dari para pembenci Syi’ah, tapi artikel kritikan kepada para pencari kebenaran belum ada.) jadi tidak perlu anda menulis artikel yang isinya seperti curcol begini masbro. Pencari kebenaran bersikap dan bertingkah seperti yang anda bilang anda pahami sebagai realitas manusia yang absurd dan kompleks bukan malah bikin artikel ala curcol yang komplain lah kalau mereka pencari kebenaran itu anti kritik lah, alergi kalau keyakinannya dikuliti lah, suka marah lah, kadang koprol sampai salto lah, tidak tahu makna epistimologi apa lah, belum belajar ilmu berpikir salah lah, belum belajar inilah itulah. Coba lihat adik-adik kita para ABG labil dikit-dikit curcol di internet/medos ahhh anda jangan lebay kayak ABG labil deh -:)

    (-Garuk-garuk kepala lagi-), Sudah saya baca beberapa artikel sanggahan anda yang meluruskan tentang Syi’ah maupun komentar ala copy paste, miring, sinis dan kotor di blog anda ini, bagi saya mereka semua itu BUKAN termasuk sebagai pencari kebenaran. Mereka adalah pencari keonaran atau pembenci Syi’ah atau apalah yang jelas bukan pencari kebenaran juga bukan pembela kebenaran. Ketika saya bertanya kepada anda “..coba anda kasih contoh orang berakal yang…” Maksud orang disitu ya masbro adalah orang-orang pencari kebenaran atau pembela kebenaran. Bingung saya sama anda deh, artikel keripik pedas anda ini ditujukan kepada siapa sih?! Pencari kebenaran?!, pembenci Syi’ah?!, atau para pencari keonaran?! Jangan-jangan anda beranggapan sama dan selevel antara para pencari kebenaran itu dengan orang-orang pencari keonaran yang biasa berkomentar ala copy paste, miring, dan kotor disini….+hiks mau nangis rasanya.

    Lanjut, contoh anda mengenai Al Quran yang memerintahkan orang untuk menggunakan akalnya secara konteks tidak nyambung dengan artikel keripik pedas yang anda tulis. Kerena: 1. Mereka yang anda tuduh itu adalah para pencari kebenaran yang hidup dimasa sekarang dan di abad ke 21 ini kebenaran tidak bisa diklaim oleh satu pihak saja (baca: anda saja). Anda tidak bisa langsung menuduh para pencari kebenaran ini-itu, ketika mereka menolak logika anda meskipun logika/cara berpikir/argumentasi anda didukung oleh dalil yang shahih di sisi anda. Pahami dulu maksud dari kata “sisi anda” baik-baik ya masbro. 2. Perbedaan itu suatu keniscayaan, apalagi kita yang hidup jauh dari jaman wahyu perbedaan itu akan semakin besar dan beragam. Taruhlah argumentasi anda benar dan didukung oleh sumber atau landasan yang kokoh tapi meskipun anda benar hal tersebut belum tentu adalah suatu kebenaran yang mutlak dan absolut bukan. Jadi mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan pencari kebenaran ini lah, itu lah.

    Berbeda dengan di masa turunnya wahyu (bukan wahyu saya yang turun lho masbro) ketika ada pencari kebenaran berdiskusi dengan Rasullulah kemudian pencari kebenaran itu masih ngeyel, tidak mau dikritik, lompat2, koprol sampai salto2 bolak balik. Barulah kita bisa menjatuhkan vonis pencari kebenaran itu adalah contoh orang yang berakal namun tidak menggunakan akalnya, atau tuduhan anda itu lebih pas ditujukan kepada para pencari keonaran kalau yang satu ini saya sih setuju saja, mereka adalah salah satu contoh orang yang tidak memanfaatkan akal yang telah Allah karuniakan kepada mereka.

    Meskipun artikel keripik pedas ini anda tutup dengan ajakan menjadi “orang yang memaklumi” menurut pendapat saya kata memaklumi tidak sama dengan memahami. Orang yang memaklumi baru sampai pada tingkatan “sadar” atau “menyadari” belum sampai paham betul hakikat realitas manusia yang absurd dan kompleks. Sedangkan orang yang memahami, insya Allah tahu betul apa itu hakikat dari realitas manusia. Kalau anda berbeda pandangan dengan saya silahkan saja🙂

  18. @alner raz

    Tidak mesti sama. Objektif itu apa adanya sesuai dengan pendekatan metodologis. Terkadang suatu perkara begitu rumitnya sehingga kita tidak bisa memastikan kebenaran mutlak-nya tetapi kita bisa melakukan pendekatan secara metodologis dan hasil pendekatan ini termasuk kebenaran yang objektif

    @Wahyu

    Hehe, ya sudah, kalau anda itu ternyata bukan cuma aktif di dunia maya saja. Saya ini pembaca baru di blog anda jadi bukan salah saya dong kalau anda menulis “…saya sering mendengar kabar di luar sana…” lantas saya beranggapan kalau anda itu tipe orang yang suka dengar-dengar kabar. Ok deh saya minta maaf sudah menuduh ini-itu. Lagian kan: 1. Saya tidak kenal dengan anda, 2. Saya komentarnya pun lewat internet. Jadi bagaimana saya bisa tahu sifat atau keseharian anda, betul tidak masbro?

    Heeh memangnya walaupun anda sudah sering kesini anda bakal tahu sifat dan keseharian saya?. Di dunia maya ini adalah hal yang wajar tidak saling kenal, makanya kalau komentar itu ya lisannya dijaga. Jangan terlalu nyinyir, nyantai saja bro

    Lanjut, anda menuduh saya salah alamat memberikan komentar atas pendapat anda disini karena saya harus memaklumi saja apa yang anda tulis di atas sebagai realitas dari manusia yang absurd dan kompleks. Maka saya pun balik bertanya kalau anda bilang paham akan realitas manusia yang absurd dan komplek mengapa anda tidak maknai saja gaya dan ulah “orang-orang” pembela kebenaran itu sebagai realitas manusia yang absurd dan kompleks. Mengapa anda harus repot-repot menulis artikel keripik pedas ini. Hadeegh anda ini yaah gayanya saja sok, bilang memahami makna realitas manusia yang absurd dan kompleks padahal ucapan anda malah menentang diri anda sendiri lewat artikel keripik pedas yang anda tulis disini

    Lagi-lagi salah alamat. Coba saya tanya, siapakah yang awalnya mengatakan “realitas absurd dan kompleks” dan sok mengatakan “selamat datang”.Ya anda orangnya. Apa yang saya tulis sebenarnya adalah bagian realitas juga menurut anda maka ya anda terima jugalah. Gak usah sok mau mengkritik orang lain menyuruhnya memaklumi realitas absurd ala anda itu.

    Adapun saya, ya tidak seperti anda. Bagi saya namanya manusia memang bermacam-macam kedudukannya dan itu memang realitas. Saya menerimanya tetapi saya juga mengajak orang yang mau untuk menjadi lebih baik. Itupun adalah realitas juga disisi saya. Saya tidak seperti anda yang mungkin kalau orang tua atau sanak famili, teman-teman anda berbuat konyol anda akan mengatakan ya maklumi saja, biarkan saja itu realitas. Ooh tidak, saya akan mengingatkan mereka, memberikan saran agar mereka berubah menjadi lebih baik. Cara saya menerima realitas bukan konyol seperti anda tetapi rasional.

    Cara anda berargumentasi disini begitu menyedihkan. Anda sepertinya jarang berdiskusi dengan baik. Sebelumnya bukankah anda yang pertama kali membawakan argumentasi dengan kalimat “realitas manusia yang absurd dan kompleks” sambil mengucapkan “selamat datang”. Seolah dengan kalimat itu anda menginginkan seharusnya saya menerima saja tingkah orang-orang di atas dan tidak perlu sampai dibuat tulisan. Untuk menjawab cara argumentasi anda yang konyol tersebut maka saya kembalikan argumentasi anda tersebut untuk menyerang anda sendiri. Kalau begitu maka seharusnya anda pun menerima saja apapun tingkah saya toh saya ini bagian dari realitas manusia yang absurd dan kompleks. Sampai disini harusnya anda paham bahwa cara argumentasi anda tersebut sudah hancur dengan sendirinya.

    Eeeeh bukannya paham kok sekarang anda menyodorkan hal itu kepada saya. Memangnya saya yang awalnya beragumentasi pakai kalimat “selamat datang” di “realitas manusia yang absurd dan kompleks”. Saya tidak seperti anda, bagi saya mengkritik dan menyarankan untuk kebaikan itu [seperti membuat tulisan di atas] adalah bagian dari menerima realitas manusia yang absurd dan kompleks.

    Kedepan saran saya fokuskan kritikan keripik pedas anda ini kepada kelemaham argumen dari “orang-orang” pembela kebenaran itu disertai dengan logika alasan anda dengan disertai dalil-hujjah, lebih bermanfaat gitu lho masbro (yang saya temukan di blog anda baru kritikan atas artikel dari para pembenci Syi’ah, tapi artikel kritikan kepada para pencari kebenaran belum ada.) jadi tidak perlu anda menulis artikel yang isinya seperti curcol begini masbro.

    Aduh maaf bagian ini benar-benar aneh. Mengapa?. Karena disini pada dasarnya anda malah membenarkan adanya orang-orang yang saya sebutkan di atas. Cuma anda lebih suka kalau saya memfokuskan pada kelemahan argumen-argumen mereka. Terus apa gunanya sejauh ini anda berkomentar panjang-panjang. Hanya ingin menekankan “tidak suka” dan “lebih suka” saja. Anda tahu tulisan saya di atas benar tetapi lebih suka kalau saya membuat tulisan khusus tentang kelemahan argumen masing-masing orang. Please bro kalau cuma sekedar itu ya gak perlu pakai komentar ala menggerutu yang sudah-sudah. Tinggal bilang saja toh saya pertimbangkan sebagai masukan. Lain ceritanya kalau anda ingin membantah tulisan saya di atas bahwa anda menganggap tidak ada tipe orang-orang yang saya sebutkan. Nah silakan sampaikan argumentasinya.

    Dan satu lagi, anda masih belum paham istilah “pencari kebenaran” yang saya gunakan. Blog ini sudah bertahun-tahun lamanya. Apa anda yakin sudah membaca semua tulisan saya disini. Pendatang baru saja gayanya setengah mati. Tulisan-tulisan tentang mazhab Syi’ah itu sangat sering sekali ya belakangan ini. Dahulu kala saya lebih fokus pada hal-hal lain. btw dan terserah siapapun ya untuk menulis apapun di blognya. Apakah dia mau curhat mau apalah ya terserah orang yang punya blog.

    Pencari kebenaran bersikap dan bertingkah seperti yang anda bilang anda pahami sebagai realitas manusia yang absurd dan kompleks bukan malah bikin artikel ala curcol yang komplain lah kalau mereka pencari kebenaran itu anti kritik lah, alergi kalau keyakinannya dikuliti lah, suka marah lah, kadang koprol sampai salto lah, tidak tahu makna epistimologi apa lah, belum belajar ilmu berpikir salah lah, belum belajar inilah itulah. Coba lihat adik-adik kita para ABG labil dikit-dikit curcol di internet/medos ahhh anda jangan lebay kayak ABG labil deh -:)

    Yaaa mungkin anda inilah ABG labil yang sok bergaya komentar dengan hujjah padahal isinya kosong. Tidak ada bedanya saya membuat tulisan di atas dengan fenomena orang memberi saran kepada orang-orang yang ia lihat melakukan kesalahan atau kemungkaran. Begitulah cara kerja sebagian orang di dunia realitas ini wahai kisanak. Kenapa pula saya harus menuruti kehendak anda atau apa maunya anda. Orang-orang seperti anda mah akan ada saja hal-hal yang bisa dikeluhkan. Dengan kata lain “Nyinyir” saja

    (-Garuk-garuk kepala lagi-), Sudah saya baca beberapa artikel sanggahan anda yang meluruskan tentang Syi’ah maupun komentar ala copy paste, miring, sinis dan kotor di blog anda ini, bagi saya mereka semua itu BUKAN termasuk sebagai pencari kebenaran. Mereka adalah pencari keonaran atau pembenci Syi’ah atau apalah yang jelas bukan pencari kebenaran juga bukan pembela kebenaran. Ketika saya bertanya kepada anda “..coba anda kasih contoh orang berakal yang…” Maksud orang disitu ya masbro adalah orang-orang pencari kebenaran atau pembela kebenaran. Bingung saya sama anda deh, artikel keripik pedas anda ini ditujukan kepada siapa sih?! Pencari kebenaran?!, pembenci Syi’ah?!, atau para pencari keonaran?! Jangan-jangan anda beranggapan sama dan selevel antara para pencari kebenaran itu dengan orang-orang pencari keonaran yang biasa berkomentar ala copy paste, miring, dan kotor disini….+hiks mau nangis rasanya.

    Lha coba cek komentar anda sebelumnya. Kalimat yang mengandung pertanyaan itu kan kalimat anda yang ini

    Boleh anda kasih contoh disini siapa orang berakal yang pernah anda tahu, tidak harus anda kenal baik, ternyata tidak menggunakan akalnya. Seperti yang anda tulis di atas “…Tidak setiap orang yang ngakunya berakal memang menggunakan akalnya.”

    Nah saya kasih contoh orang berakal tetapi tidak menggunakan akalnya. Eeeh sekarang kok anda mengaitkannya dengan orang-orang yang saya tuju dari artikel di atas. Anda ini sudah salah sambung. Kenapa gak langsung tanya saja dari awal siapa orang-orang tersebut. Orang nyinyir ya begitu, sudah dijawab bukannya dipahami tetapi nyinyir mencari-cari hal yang bisa dikeluhkan.

    Coba tolong dikonfirmasi disini, sebenarnya dalam pandangan anda, adakah orang-orang seperti yang saya sebutkan di atas?. Kalau menurut anda ada ya berarti tidak ada masalah dong anda menerima tulisan saya. Kalau menurut anda tidak ada, ya silakan disampaikan argumentasinya. Kalau sekedar anda belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu ya itu tidak menjadi hujjah. Orang lain mungkin punya banyak pengalaman dibanding anda.

    Adapun contoh dari orang-orang yang saya sebutkan dalam tulisan di atas jelas tidak bermanfaat disini saya sebutkan satu-satu siapa mereka. Toh sebagian termasuk teman saya juga. Intinya yang penting saya sudah menyampaikan hakikat permasalahan yang ingin saya ubah. Silakan bagi yang merasa atau siapa saja untuk mengambil atau meninggalkan saran saya tersebut. Tidak ada masalah bagi saya.

    Lanjut, contoh anda mengenai Al Quran yang memerintahkan orang untuk menggunakan akalnya secara konteks tidak nyambung dengan artikel keripik pedas yang anda tulis. Kerena: 1. Mereka yang anda tuduh itu adalah para pencari kebenaran yang hidup dimasa sekarang dan di abad ke 21 ini kebenaran tidak bisa diklaim oleh satu pihak saja (baca: anda saja). Anda tidak bisa langsung menuduh para pencari kebenaran ini-itu, ketika mereka menolak logika anda meskipun logika/cara berpikir/argumentasi anda didukung oleh dalil yang shahih di sisi anda. Pahami dulu maksud dari kata “sisi anda” baik-baik ya masbro.

    Kalau begitu saya tanya, apakah pernyataan “dalil shahih di sisi anda” itu anda maksudkan bahwa setiap orang punya batasan atau ukuran sendiri mengenai mana yang shahih mana yang tidak. Terus apakah menurut anda semua batasan masing-masing orang tersebut benar?. Faktanya memang banyak yang sudah mengklaim kebenaran. Terus anda anggap semua orang benar dengan klaimnya atau bisa anda pilah-pilah mana yang benar dan mana yang salah. Saya tidak paham maunya apa anda disini, kalau anda ingin menganggap semua orang benar dengan batasan mereka sendiri ya silakan terus terang saja mengatakan begitulah pandangan anda.

    2. Perbedaan itu suatu keniscayaan, apalagi kita yang hidup jauh dari jaman wahyu perbedaan itu akan semakin besar dan beragam. Taruhlah argumentasi anda benar dan didukung oleh sumber atau landasan yang kokoh tapi meskipun anda benar hal tersebut belum tentu adalah suatu kebenaran yang mutlak dan absolut bukan. Jadi mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan pencari kebenaran ini lah, itu lah.

    Kalimat awalnya bagus tetapi kalimat akhirnya salah sambung. Saya menerima adanya perbedaan dan yah saya tidak pernah begitu angkuhnya mengatakan kebenaran yang saya miliki itu absolut. Hanya saja gak nyambung sekali anda mengatakan mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan pencari kebenaran ini lah. Apa hubungannya masbro?. Saya ulang lagi, memangnya ada yang salah ketika saya mengkoreksi orang-orang pencari kebenaran yang saya maksudkan dalam tulisan di atas. Anda pikir harus orang dengan kebenaran absolut baru orang tersebut bisa mengatakan tentang pencari kebenaran begini begitu. Memangnya siapa orang yang anda maksud?. Atau anda ingin mengatakan karena orang tersebut tidak ada maka silakan siapapun pencari kebenaran bebas-bebas saja mau konyol bagaimana. Ya begitu yang anda inginkan:mrgreen:

    Berbeda dengan di masa turunnya wahyu (bukan wahyu saya yang turun lho masbro) ketika ada pencari kebenaran berdiskusi dengan Rasullulah kemudian pencari kebenaran itu masih ngeyel, tidak mau dikritik, lompat2, koprol sampai salto2 bolak balik. Barulah kita bisa menjatuhkan vonis pencari kebenaran itu adalah contoh orang yang berakal namun tidak menggunakan akalnya, atau tuduhan anda itu lebih pas ditujukan kepada para pencari keonaran kalau yang satu ini saya sih setuju saja, mereka adalah salah satu contoh orang yang tidak memanfaatkan akal yang telah Allah karuniakan kepada mereka.

    Lho kalau pencari keonaran itu mengaku bahwa mereka pencari kebenaran maka berdasarkan kalimat anda sebelumnya anda tidak punya hak untuk menjatuhkan vonis kepada mereka. Bukankah anda menganggap hanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja penentu yang bisa menentukan vonis pada pencari kebenaran. Jadi siapapun yang mengaku pencari kebenaran pada zaman sekarang ini anda tidak punya hak untuk memvonisnya. Itu pandangan anda sendiri dan silakan saja ambil pandangan itu yang hakikatnya tanaqudh dengan diri anda sendiri

    Meskipun artikel keripik pedas ini anda tutup dengan ajakan menjadi “orang yang memaklumi” menurut pendapat saya kata memaklumi tidak sama dengan memahami. Orang yang memaklumi baru sampai pada tingkatan “sadar” atau “menyadari” belum sampai paham betul hakikat realitas manusia yang absurd dan kompleks. Sedangkan orang yang memahami, insya Allah tahu betul apa itu hakikat dari realitas manusia. Kalau anda berbeda pandangan dengan saya silahkan saja

    Aaah bagian pilihan kata yang saya pilih disini tidak penting untuk anda permasalahkan karena itu bukan inti tulisannya. Saya tidak menganggap anda memahami apa yang sedang anda bicarakan disini. Pandangan anda disini tidak ada nilai hujjahnya karena seringkali menentang anda sendiri. Hal itu menunjukkan bahwa anda tidak memiliki logika yang kokoh dalam memahami sesuatu. Bahkan sampai sekarang saya tidak melihat apa sebenarnya yang anda permasalahkan dari tulisan saya. Saya hanya menangkap kesan anda ingin menyalahkan karena anda tidak suka saja dengan tulisan saya. Saya tunggu tuh argumentasi kuat yang menentang tulisan saya di atas.

    Coba tuh anda amalkan pandangan anda. Bukankah anda berpandangan bahwa hanya di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja bisa dijatuhkan vonis terhadap pencari kebenaran. Nah saya mengaku disini bahwa saya adalah pencari kebenaran dan pandangan saya sudah saya tuliskan di atas berarti anda tidak punya hak dong memvonis saya dan apa yang saya tulis di atas. Terus ngapain anda menggerutu disini. Hayoooo coba amalkan kisanak kalau anda memang berpandangan demikian🙂

  19. Blog ini Hoax

  20. @paklephi

    ente yang hoax

  21. 1+1=2 itu kebenaran matematika mutlak semua agama sepakat, Allah itu esa, nabi Muhammad itu utusan Alllah semua orang islam sepakat, tetapi di quran mengatakan hanya Allahlah yg menjadi saksi atas diangkatnya kenabian para nabi, lalu sebelum Nabi wafat katanya beliau berwasiat 1. Kutinggalkan kitabullah saja…dst, 2. Kutinggalkan kitabullah dan sunnahku dst, 3. Kutinggalkan dua perkara yg berat yaitu kitabullah dan ahlul baitku.. dst, dari ketiga wasiat tadi maka menimbulkan hasil kebenaran dan hukum yg akan berb3da2, wasiat yg katanya didengerin oleh ribuan umat tapi kok bisa beda2 ya, terus dari 3 wasiat tadi logikanya mana yg benar? Logika saya sih, Nabi ninggalin wasiat itu pasti apa yg diwasiatkan itu sudah ada, 1. Quran pasti sudah ada semua mazhab sepakat kan, 2. Sunnahku ? Hadist2 pd wAktu nabi wafat udah ada belum? 3. Keluarga nabi udah ada belum? Pasti udah ada tuh, saya suka blog ini walaupun bagi saya bahas2 hadist2, pro dan kontra para komentator membuat saya pusing hehehe, apa mas SP gak bahas quran juga? Apakah hukum2 di quran itu bisa dihapus oleh hadist

  22. Assalamu’alaikum Bang Secondprince dan semua sahabat di sini. Setelah dua tahun yang lalu, ini adalah komen kedua saya di blog ini.

    “Kemiskinan “logika yang mantap” dan kemiskinan “informasi yang benar [valid]” tidak jarang diiringi dengan kekayaaan “emosi yang berlebihan”. Akibatnya sering kita lihat dalam diskusi orang yang suka marah-marah menghina ini itu ketika dikuliti argumennya. Ini kebiasaan buruk yang harus diubah. Tidak ada gunanya marah-marah, ngambek, emosian, lompat-lompat koprol dan sebagainya.”

    Saya tertarik dengan penggalan paragraf ini. Tentang diskusi, saya lebih sering melakukannya di sosial media, termasuk di blog. Namun yang paling saya sering temukan adalah yang mampir di untuk marah-marah, menuduh sesat, kafir, atau kata-kata binatang bahkan menggunakan istilah seperti ‘l*n*te. Dan tidak bisa saya pungkiri, karena saya perempuan, cenderung sensitif ketika divonis sedemikian rupa, padahal mereka kan tidak tahu dan tidak kenal saya, namun hanya karena saya berkeyakinan berbeda dengan yang mereka yakini, maka sumpah serapah pun mereka umbar. Yang paling menyedihkan lagi, ketika FB kita direport beramai-ramai sampai akhirnya diblokir oleh pihak FB. *hanya berkeluh kesah, abaikan.

    Btw, trims atas tulisan-tulisannya yang keren Bang SP, saya silent reader sejak beberapa tahun lalu. Mau nimbrng tapi ilmu tidak ada. Tetaplah menulis, semangat!!

  23. @Secondprince

    |Saya tidak menganggap anda memahami apa yang sedang anda bicarakan disini. Pandangan anda disini tidak ada nilai hujjahnya karena seringkali menentang anda sendiri.|

    …Anda bilang pandangan saya menentang diri saya sendiri dan tidak bernilai hujjah silahkan saja itu hak anda untuk menilai siapa saya.

    |Hal itu menunjukkan bahwa anda tidak memiliki logika yang kokoh dalam memahami sesuatu. Bahkan sampai sekarang saya tidak melihat apa sebenarnya yang anda permasalahkan dari tulisan saya.|

    …Kalau yang satu ini saya merasa kasihan sekali kepada anda. Sedikitpun anda tidak bisa menangkap maksud saya, tidak juga setitik ide saya anda pahami. Saya jadi berpikiran sekarang, kemungkinan bisa saja ada yang salah dalam cara anda berdialektika atau bisa juga anda yang selalu gagal paham sehingga tidak heran pencari kebenaran yang anda kritik mengambil sikap seperti yang anda sebutkan itu. Jadi permasalahan sebenarnya bukan karena para pencari kebenaran itu tidak pernah belajar ini itu ataupun kalau belajar mereka tidak mengaplikasikannya, atau karena mereka diperbudak oleh kekonyolan, dst seperti tuduhan anda dalam artikel ini. Tapi sikap dan cara andalah mungkin penyebabnya🙂

    |Saya hanya menangkap kesan anda ingin menyalahkan karena anda tidak suka saja dengan tulisan saya. Saya tunggu tuh argumentasi kuat yang menentang tulisan saya di atas.|

    …weleh….weleh sekarang anda menuduh saya sebagai orang yang kerjaannya menentang “dakwah” anda. Hadeeegh masbrooo anda jangan lebay deh🙂 kalau saya merasa tersindir dengan tulisan anda apa salah kalau saya tidak suka dengan “dakwah” anda ini.

    |Coba tuh anda amalkan pandangan anda. Bukankah anda berpandangan bahwa hanya di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja bisa dijatuhkan vonis terhadap pencari kebenaran. Nah saya mengaku disini bahwa saya adalah pencari kebenaran dan pandangan saya sudah saya tuliskan di atas berarti anda tidak punya hak dong memvonis saya dan apa yang saya tulis di atas.|

    …hadeegh masbro, ucapan anda koq bertentangan terus. Anda hanya sibuk ngebantah komentar saya sih tanpa mau melihat yang tersurat dibalik yang tersirat eehh kebalik yang tersirat dibalik yang tersurat….yaah apalah hehe. Eniwey, yang anda permasalahkan itu apa?! memang benar saya mengatakan kalau di jaman Rasulullah saw, baru boleh kita menjatuhkan vonis demikian tapi kaitannya dengan anda itu dimana? Bingung deh saya. Apa pernah saya menulis kalimat disini dengan menuduh anda dengan vonis yang saya maksudkan itu, yaitu anda sebagai seorang pencari kebenaran dimasa sekarang adalah contoh seseorang yang memiliki akal tapi tidak mengunakan akalnya…masbro…masbro….Jangan-jangan dalam khayalan anda, anda membaca saya menulis dan menuduh seperti itu..heyyy bangun masbro.

    |Terus ngapain anda menggerutu disini. Hayoooo coba amalkan kisanak kalau anda memang berpandangan demikian :)|

    …sedang mengerutu? Seperti ini anda bilang mengerutu? No comment deh.

    |Lho kalau pencari keonaran itu mengaku bahwa mereka pencari kebenaran maka berdasarkan kalimat anda sebelumnya anda tidak punya hak untuk menjatuhkan vonis kepada mereka.|

    …Eitss tunggu dulu kita harus menyamakan persepsi. Ketika anda mengatakan, pencari keonaran yang mengaku sebagai pencari kebenaran, jenis orang yang bagaimanakah yang dimaksud. Apakah yang anda maksud jenis orang-orang seperti yang menulis artikel tentang Syi’ah yang anda bantah disini atau jenis orang-orang yang berkomentar ala copy paste, kotor dan miring. Kalau iya, bukankah saya sudah mengatakan tuduhan anda itu bila ditujukan kepada orang-orang yang suka berkomentar kasar, miring dan kotor maka hal tersebut sudah tepat sasaran, sekarang mengapa anda harus menanyakan lagi kepada saya. Anda ini suka mengulang-ulang pertanyaan atau dasarnya anda itu memang orang yang konsisten gagal paham.

    |Jadi Itu pandangan anda sendiri dan silakan saja ambil pandangan itu yang hakikatnya tanaqudh dengan diri anda sendiri.|

    …hadeegh susah kalau berbicara dengan ABG labil semuanya harus kita tunjukkan secara jelas. Apakah menurut anda logika saya akan membenarkan “…siapapun yang mengaku pencari kebenaran (baca: termasuk juga para pencari keonaran yang mengaku sebagai pencari kebenaran) pada zaman sekarang ini saya tidak punya hak untuk memvonisnya.” pliiis deh masbro anda itu suka muter bolak-balik jawaban orang lain ditambah khayalan anda sendiri. Lantas beranggapan seperti itulah pendapat itu.

    |Saya menerima adanya perbedaan dan yah saya tidak pernah begitu angkuhnya mengatakan kebenaran yang saya miliki itu absolut. Hanya saja gak nyambung sekali anda mengatakan mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan pencari kebenaran ini lah. Apa hubungannya masbro?|

    …suwer, kalimat “mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan…” itu gak sengaja ke sisiiiip. Sumpah deeh🙂

    |Siapapun pencari kebenaran bebas-bebas saja mau konyol, bagaimana. Ya begitu yang anda inginkan|

    …yang memaknai bebas saja mau konyol itu kan anda sendiri. Lagian maksud konyol itu seperti apa ya masbro. Maaf saya “tidak” terlibat atau hadir dalam setiap diskusi anda dengan pencari kebenaran. Jadi saya tidak tahu sekonyol apakah pemahaman mereka. Lebih baik anda memberikan contoh disini. Misal, pencari kebenaran percaya kalau bumi gepeng kayak karpet soalnya ada di Al Quran…Jadi sebelum saya menjawab bisa tolong dicontohkan terlebih dahulu kekonyolan pencari kebenaran itu seperti apa? Atau sekalian saja seperti saran saya, ketimbang artikel curcol ala ABG labil ini buat saja artikel yang membantah kekonyolan pencari kebenaran (tentunya kalau ada) disertai dengan dalil dan hujjah anda. Mengapa hal ini penting bagi saya, karena selama kekonyolannya tidak merugikan atau membahayakan orang lain ataupun merusak iman. Bagi saya tidak masalah…anda tidak sepakat dengan pendapat saya silahkan saja.

    |Kalau begitu saya tanya, apakah pernyataan “dalil shahih di sisi anda” itu anda maksudkan bahwa setiap orang punya batasan atau ukuran sendiri mengenai mana yang shahih mana yang tidak.|

    …yak, tepat sekali. Tidak gagal paham lagi?🙂 tentunya batasan tiap orang itu berdasarkan atas apa yang menjadi pegangan (kitab) dan yang mereka pahami benar.

    |Terus apakah menurut anda semua batasan masing-masing orang tersebut benar?.|

    …ooh pertanyaan anda ini baik sekali, apakah batasan masing-masing orang tersebut benar.? Jawaban saya tergantung dari kacamata (baca: agama/mazhab plus metoda) siapa yang mau anda pakai masbro.

    |Faktanya memang banyak yang sudah mengklaim kebenaran.|

    …maaf fakta yang sudah basi.

    |Terus anda anggap semua orang benar dengan klaimnya|

    …jawaban saya kalau klaim kebenaran dalam kaitan teologis dan dikaitkan dengan jaman sekarang, tergatung kacamata (baca: agama/mazhab plus metoda). Kalau kaitannya dalam hubungan antar manusia, apakah ada yang salah bila saya menanggap semua orang benar dengan klaimnya?

    |atau bisa anda pilah-pilah mana yang benar dan mana yang salah.|

    …Kalau anda mengaku aku sebagai pencari kebenaran silahkan anda pilah-pilih mana yang benar dan mana yang salah. Tapi saya ingatkan hal itu tidak seperti semudah membalik telapak tangan. Apakah anda siap? Kalau cuma sekedar memilah dan milih itu hal lain, yang terpenting adalah mau diapakan kebenaran itu setelah anda memilah dan memilih, apakah akan anda amalkan kebenaran itu atau sekedar jadi tahu saja.

    |Saya tidak paham maunya apa anda disini, kalau anda ingin menganggap semua orang benar dengan batasan mereka sendiri ya silakan terus terang saja mengatakan begitulah pandangan anda.|

    …anda terus menerus mengulangi tidak paham maksud saya. Jangan terlalu bangga jadi orang gagal paham masbro, saya saja paham koq tulisan anda cuma anda saja yang selalu curiga dengan saya dan menuduh saya gagal paham lah, tidak suka dengan “dakwah suci” anda lah hehe (kalau ini saya sedikit lebay, maaf masbro).

    |Intinya yang penting saya sudah menyampaikan hakikat permasalahan yang ingin saya ubah.|

    …eheem hakit permasalahan anda itu apa yah: apakah anda hendak menyampaikan kepada para pembaca anda bahwa diluar sana ada orang-orang pencari kebenaran yang suka marah-marah, alergi kalau dikuliti keyakinannya, sampai suka koprol dan salto. Atau anda ingin menyampaikan hakikatnya diluar sana ada para pencari kebenaran yang pada intinya adalah orang-orang yang belum belajar inilah itulah, tidak tahu ini lah itulah. Mereka diperbudak oleh kekonyolan mereka lah, dan tuduhan-tuduhan lainnya.

    (-garuk-garuk kepala lagi untuk yang kesekian kalinya-). Gini deh saya mau tanya nih masbro
    Berapa banyak sih dari pembaca blog anda yang punya kesempatan “mewah” seperti anda berdiskusi dengan banyak pencari kebenaran baik itu di dunia maya atau nyata. Bisa punya level ilmu yang tinggi dan luas seperti anda. Kalau jawabannya anda tidak tahu berapa banyak, Lalu mau diapakan hakikat tulisan anda yang satu ini oleh mereka. Jadi salahkah saya kalau menilai anda pada dasarnya hanya lagi sewot entah kenapa dan sama siapa lalu ujung-ujungnya bikin artikel curcol ala ABG labil.

    |Adapun saya, ya tidak seperti anda. Bagi saya namanya manusia memang bermacam-macam kedudukannya dan itu memang realitas.|

    …Hadeeegh masbro, anda meyakini realitas manusia memang bermacam-macam kedudukan maksud anda itu apakah seperti ini, manusia itu ada yang kaya ada yang miskin, anda yang beriman ada yang atheist, ada yang kulitnya putih, hitam, kuning atau coklat. Matanya ada yang biru, hijau muda, coklat tua? Dan lainnya….yang bener saja deh masbro, menurut anda saya mengingkari hakikat mendasar manusia seperti itu. Pliiis deeh, apakah ini yang anda tangkap dari semua yang saya tulis disini…+hiks mau nangis saya

    |Saya tidak seperti anda yang mungkin kalau orang tua atau sanak famili, teman-teman anda berbuat konyol anda akan mengatakan ya maklumi saja, biarkan saja itu realitas.|

    …halah gak usah bawa-bawa famili, teman atau orang tua deh. Anda itu tipe orang yang lebay jadi saya mau tanya dulu berbuat konyolnya itu seperti apa. Bisa anda kasih contoh kekonyolannya? Karena bisa saja konyol bagi anda (karena anda super lebay dan sensi hal sepele dalam mata anda sudah jatuh vonis “konyol”) sedangkan bagi saya mungkin tidak. Satu hal lagi tidak setiap kekonyolan harus dan patut kita nasehati. Kalau saya sih masih lihat-lihat dahulu kekonyolannya akan berdampak membahayakan atau merugikan orang lain tidak. Meruntuhkan iman orang itu tidak dan banyak pertimbangan lain. Kalau sekedar percaya bumi gepeng karena kitab yang dia pegang tertulis dan pahami demikian, lantas masalah anda dimana? Apakah kegepengan bumi itu akan menggugurkan iman orang tersebut? Apakah anda takut dia akan menyebarkan paham sesatnya itu sehingga menginfeksi seluruh penduduk bumi? Lebaay deh. Manfaat apa yang orang itu peroleh bila dia mendengarkan saran anda dan berubah menjadi baik? Menjadi baik yang bagaimana yah? Kalau anda gagal menasehati lantas antikel curcol ala ABG labil inikah pelarian anda? Ada waktu kita lebih baik berbicara ada waktu kita lebih baik diam. Tidak bisa seperti pemahaman realitas manusia anda yang setiap saat atau waktu bila anda melihat kekonyolan anda akan bangkit dan menasehati. Anda tidak setuju dengan pendapat saya…silahkan saja.

    |Ooh tidak, saya akan mengingatkan mereka, memberikan saran agar mereka berubah menjadi lebih baik. Cara saya menerima realitas bukan konyol seperti anda tetapi rasional.|

    …hehe silahkan anda mengklaim menerima realitas secara lebih rasional. Lagian sekarang siapa yang nyinyir, dikit-dikit anda kasih saran, dikit-dikit anda mengingatkan. Seperti artikel keripik pedas ini kan. Anda melihat sikap pencari kebenaran itu konyol karena mereka menolak entah hujjah serta dalil anda maka anda “menasehati” mereka supaya mereka menjadi lebih baik, bahwa mereka harus belajar inilah itulah, bla…bla…bla. Tapi sadarkah anda bahwa mereka orang-orang yang anda kritik pun mempunyai banyak sekali nasehat dan masukan kepada anda. Mereka pun mengharapkan anda menerima dan mendengarkan nasehat mereka supaya anda menjadi “lebih baik”. Haruskah mereka mendengarkan saran anda atau malah anda yang mendengarkan saran mereka? Artikel anda ini menggariskan seolah-olah memang sudah dapat dipastikan mereka berada di posisi yang salah (menurut versi anda) dan anda yang benar sehingga lebih baik bila mereka mendengar saran anda. Anda ini memang PD top banged. Apa yang membuat anda PD sekali kalau mereka mengarkan saran anda maka mereka akan menjadi lebih baik. Silahkan tanya kepada rumput yang bergoyang siapa yang pantas dinasehati anda atau mereka. Sebaiknya anda lebih bijak dalam melihat kekonyolan dan menasehati teman anda atau famili, adik, kakak dan orang tua. Terkadang diam itu lebih baik bila manfaatnya lebih besar. Kita diam bukan berarti kita acuh atau tidak perduli. Belum lagi ketika cara anda menasehati dengan mengunakan pemilihan kata-kata seperti ala anda atau saya. Waah kalau orang yang dinasehati tidak kuat imannya pasti marah lah. Sekali lagi semoga anda tidak konsisten gagal paham masbro.

    Ok, lanjut pertanyaan saya. Anda mengatakan bahwa anda menasehati supaya menjadi lebih baik. Pertanyaanya tahukah anda berapa banyakah dari para pencari kebenaran itu yang setelah anda berikan saran berubah menjadi lebih baik?! Manfaat apa yang bisa mereka dapatkan ketika mendengarkan saran anda dan menjadi baik. Berubah menjadi lebih baik itu atas dasar dan tolok ukur apa ya…? Siapa yang menilai mereka para pencari kebenaran itu sekarang menjadi lebih baik…andakah? Menjadi lebih baik yang bagaimana masbro?

    |Cara anda berargumentasi disini begitu menyedihkan. Anda sepertinya jarang berdiskusi dengan baik.|

    …widdiih anda ini keren banged.

    |Sebelumnya bukankah anda yang pertama kali membawakan argumentasi dengan kalimat “realitas manusia yang absurd dan kompleks” sambil mengucapkan “selamat datang”. Seolah dengan kalimat itu ujung-ujungnya seharusnya saya menerima saja tingkah orang-orang di atas dan tidak perlu sampai dibuat tulisan.|

    … Lho memangnya kalau tingkah orang orang itu hanya sebatas menolak dalil atau hujjah anda mengapa anda harus kebakaran jenggot, langsung nyolot bak pahlawan kesiangan lempar nasihat sana sini. Memangnya mereka juga tidak punya nasihat yang baik untuk anda. Baiklah saya melihat anda sepertinya cukup bangga dengan cara memahami realitas manusia ala anda itu yang anda klaim lebih rasional, maka pertanyaan saya: sudah berapa banyak para pencari kebenaran yang tadinya suka marah-marah, alergi kalau keyakinannya dikuliti, suka koprol dan salto anda nasehati berubah menjadi baik (tentu baik disini adalah baik versi anda hehe). Berapa banyak para pencari kebenaran yang tadinya belum belajar ini lah itulah kemudian mereka anda nasehati lalu berubah menjadi sadar serta giat memperdalam ilmu mereka? Berapa banyak dari pencari kebenaran itu yang……
    Atau semua upaya anda dalam menasehati mereka hanya berujung pada peringatan keras atas diri anda

    Seperti:—-

    Jangan diskusi dengannya nanti kamu bakal terkena syubhat.
    Jangan diskusi dengannya nanti kamu bakal tersesat.
    Jangan diskusi dengannya karena dia itu orang sesat.
    Jangan diskusi dengannya karena kamu belum mampu.
    Jangan diskusi dengannya nanti hasilnya cuma marah-marah, emosian dan memutuskan tali silaturahmi.

    Apakah sekarang anda masih merasa pemahamam hakikat manusia ala anda lebih rasional dan tepat sasarannya? Atau pemahaman hakikat manusia ala anda itu tak lebih seperti upaya menggarami laut dengan garam. Hanya saja anda tidak (mau) menyadarinya. Diam itu bisa emas tapi bisa juga tidak.

    Masbro permintaan saya itu simpel ketimbang anda menulis curcol ala ABG labil yang cuma berat sebelah (yang anda tulis disini semuanya dari sudut pandang anda saja, tapi detilnya hanya Allah, anda dan mereka yang tahu) postinglah sesuatu yang bermanfaat dari hasil diskusi anda dengan para pencari kebenaran itu, dan sharing lah ke pembaca blog anda. Bisa saya bayangkan bertahun-tahun anda berdiskusi, bahasan topik pastilah amat sangat menarik. Jadi…fokuskan upaya dan usaha anda untuk selalu memberikan pembelajaran yang bermanfaat kepada pembaca blog anda, karena pembaca andalah yang akhirnya akan membaca dan merenungi setiap kata dari tulisan anda bukan para pencari kebenaran yang anda kritik itu. Saya berharap semoga anda tidak gagal paham lagi masbro…

  24. @aishayublog

    Mba aishayublog yang dikasih kripik pedas itu pencari kebenaran lho dan bukan dari golongan awamnya pulak. Coba mbak baca lagi teliti dan hati-hati. Jadi yang di kritik adalah teman teman @secondprince yang sebenarnya adalah orang yang seperti @Secondprince juga sama sama pencari kebenaran tapi bukan dari kaum awamnya. Nah beda @Secondprince dengan mereka yang dikasih keripik pedas ini, meskipun sama-sama pencari kebenaran @secondprince merasa dia itu tidak seperti pencari kebanaran yang dia kritik. @secondprince merasa kalau mereka itu bukan pencari kebenaran tapi hanyalah sekedar pembela kebenaran yang merasa kalau kebenaran sudah didapat maka akan dedakap erat-erat seolah orang lain gak mungkin kebagian, yang kalau di kritik menjadi marah, kayakinannya absolut tidak boleh di ganggu gugat dan lain lain. Kalau @secondprince ini…mungkin…mungkin lho ya dia itu merasa sebagai pencari kebenaran tapi yang cool gitu. Tidak masalah kalau keyakinannya dikuliti, paham ilmu logika berpikir salah, paham ilmu logika berpikir benar…paham inilah paham itulah…mungkin lho ya dia berpandangan seperti itu. Mba yakin orang yang mba baca di forum diskusi itu seorang pencari kebenaran atau jangan-jangan seorang pencari keonaran atau jangan-jangan seorang kapiten..hehe

  25. Bang SP, anda jika disamakan dg mobil seperti Ferrari, melajunya kencang dan stabil. lawan2 abang itu Datsun, Avanza dll, mobil kelas marmot. debat sama mrk menang pun rugi. wis ga usah dilayani.

    debat sama mereka layaknya debat sama tembok, ora mudeng, ora nyambung. ga tutuk bang ilmunya.

  26. Asslm…, dokter ust kiayi SP punya info tragedi mina kemarin ga ? Penyebab pastinya apa ? (maaf ga nyambung sama jdul artikel) ….

  27. @Moyaa

    Saya suka blog ini walaupun bagi saya bahas2 hadist2, pro dan kontra para komentator membuat saya pusing hehehe, apa mas SP gak bahas quran juga? Apakah hukum2 di quran itu bisa dihapus oleh hadist

    Ya pernah juga membuat pembahasan tentang Al Qur’an, itu pun juga dicampur hadis. btw dalam mazhab Ahlus Sunnah memang yang menyatakan bahwa hadis bisa menghapus hukum Al Qur’an

    @aishayublog

    Wah jadi main kesini setelah saya mampir, ya saya yakin kita semua sudah sering menghadapi tipe orang yang seperti Mbak sebutkan. Saran saya sih kalau mereka cuma mau menghina ya tinggalkan saja. Terimakasih juga atas tulisan-tulisannya dulu, saya juga dahulu sering membaca tulisannya seputar dunia politik internasional:mrgreen:

  28. @Wahyu

    …Anda bilang pandangan saya menentang diri saya sendiri dan tidak bernilai hujjah silahkan saja itu hak anda untuk menilai siapa saya.

    Kenyataannya memang terbukti begitu. Tuh sudah saya buktikan, situ saja yang tidak paham. Makanya sebelum membantah ala menggerutu ya baca dan pikirkan dulu baik-baik

    …Kalau yang satu ini saya merasa kasihan sekali kepada anda. Sedikitpun anda tidak bisa menangkap maksud saya, tidak juga setitik ide saya anda pahami.

    Makanya perbaiki cara anda berdiskusi. Langsung membantah apa yang ingin anda bantah. Bukan ngedumel atau menggerutu. Coba tuh anda jabarkan dengan kalimat sederhana apa yang mati-matian anda bantah disini. Anda ingin membantah bahwa bisa saja saya salah. Lha itu sudah saya tulis di atas bahwa saya mengakui kalau saya sendiri bisa salah. Anda ingin membantah bahwa pencari kebenaran itu tidak ada seperti yang saya sebutkan, ya silakan buktikan. Apa hanya karena anda belum pernah menemukan orang seperti itu maka anda pikir orang lain juga tidak pernah menemukannya. Hayooo coba sebutkan dengan jelas bagian mana tulisan saya yang anda bantah.

    Saya jadi berpikiran sekarang, kemungkinan bisa saja ada yang salah dalam cara anda berdialektika atau bisa juga anda yang selalu gagal paham sehingga tidak heran pencari kebenaran yang anda kritik mengambil sikap seperti yang anda sebutkan itu. Jadi permasalahan sebenarnya bukan karena para pencari kebenaran itu tidak pernah belajar ini itu ataupun kalau belajar mereka tidak mengaplikasikannya, atau karena mereka diperbudak oleh kekonyolan, dst seperti tuduhan anda dalam artikel ini. Tapi sikap dan cara andalah mungkin penyebabnya

    Beginilah model anda berdiskusi, kebanyakan “kepikiran” kebanyakan syubhat yang tidak mengandung nilai hujjah. Model begini yang anda sebut tersirat dari tersurat?. Ada masalah dengan sikap dan cara saya bung, apa ketika saya mengatakan anda tidak memiliki logika yang kokoh, anda langsung mengatakan sikap dan cara saya bermasalah. Memangnya di dunia ini semua orang ketika berbicara pasti logikanya kokoh, ya nggak kan. Itu tergantung dengan penilaian lawan diskusinya. Kalau anda tidak setuju dikatakan begitu ya silakan bawakan logika yang kokoh. Sederhana kan

    …weleh….weleh sekarang anda menuduh saya sebagai orang yang kerjaannya menentang “dakwah” anda. Hadeeegh masbrooo anda jangan lebay deh🙂 kalau saya merasa tersindir dengan tulisan anda apa salah kalau saya tidak suka dengan “dakwah” anda ini.

    Hei bung, komentar-komentar anda disini adalah bukti nyata bahwa anda menentang apa yang saya sampaikan dalam tulisan di atas. Anda mau menyebunya kesindir atau apalah ya nggak penting bagi saya. Jadi tidak ada saya lebay disini, justru anda yang lebih pantas dikatakan lebay karena anda mempermasalahkan tulisan saya di atas tetapi tidak jelas apa yang anda permasalahkan, makanya saya tangkap anda cuma sekedar tidak suka. Coba tuh bagian mana dari tulisan saya yang bermasalah. Kecuali anda punya pandangan bahwa setiap orang itu bebas saja mau gimana yang penting maklumi saja. Yaa itulah anda bukan. Lucunya harusnya juga anda nerima dong saya mau ngapain ya terserah saya, maklumi saja bung. Bagaimana bisa anda menyuruh orang lain memaklumi kalau anda sendiri tidak memaklumi. Naaah masih gak paham juga

    …hadeegh masbro, ucapan anda koq bertentangan terus. Anda hanya sibuk ngebantah komentar saya sih tanpa mau melihat yang tersurat dibalik yang tersirat eehh kebalik yang tersirat dibalik yang tersurat….yaah apalah hehe. Eniwey, yang anda permasalahkan itu apa?! memang benar saya mengatakan kalau di jaman Rasulullah saw, baru boleh kita menjatuhkan vonis demikian tapi kaitannya dengan anda itu dimana? Bingung deh saya.

    Maaf dimana letak ucapan saya yang bertentangan?. kalau tidak paham makna “bertentangan” ya gak usah nanya. Memalukan saja. Kok pakai tanya apa kaitan dengan saya. Makanya saya tanya sebelumnya, tujuan anda disini ngapain. Ingin membantah saya atau say hello saja. Kalau anda ingin membantah saya ya berarti anda tidak setuju kan dengan tulisan saya di atas. Makanya anda mengatakan saya begini begitu dalam komentar anda. Gapapa nih saya kutipkan lagi ucapan anda

    Masak sih pasti selalu berbeda dalam banyak hal…imposible…hehe. Kalau cuma 1x, 2x, 3x ngotot, diterima saja lah. Anda jangan terlalu sensi dan lebay deh. Apalagi kalau infonya ternyata dapatnya cuma dari dengar kabar, waduuuuh.}

    Jadi…jadi semua ini salah SIAPAAAAAA?!. Seandainya Rasullulah masih hidup beliaulah pemutus dari permasalahan ini. Maaf ya masbro, bukan anda.}

    …{Kebiasaan buruk yang harus diubah? Tidak ada harus diubah kecuali darah tingginya bisa secara ajaib-mukzizat normal. Bila ternyata darah tingginya masih belum bisa dikontrol sendiri, satu-satunya cara diskusi yang paling aman yaah seperti yg saya sarankan diatas, yaitu bawa alat tensi juga kumpulan buku humor-anekdot karya ulama klasik.

    Dari kalimat-kalimat di atas saja saya bisa menangkap bahwa maksud anda adalah saya terlalu sensi dan lebay dalam masalah ini dan pemutus permasalahan ini cuma Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan saya. Bahkan soal kebiasaan buruk orang yang suka emosian saat diskusi [sebagaimana saya tuliskan di atas] anda mengatakan tidak ada yang harus diubah. So, jadi apa yang sedang anda lakukan, apa itu bukan vonis terhadap saya. Jangan-jangan anda punya bahasa tersendiri soal makna “vonis” yang anda maksudkan.

    Masih banyak vonis-vonis anda disini kepada saya. Nih contoh lain komentar anda

    Maka saya pun balik bertanya kalau anda bilang paham akan realitas manusia yang absurd dan komplek mengapa anda tidak maknai saja gaya dan ulah “orang-orang” pembela kebenaran itu sebagai realitas manusia yang absurd dan kompleks. Mengapa anda harus repot-repot menulis artikel keripik pedas ini. Hadeegh anda ini yaah gayanya saja sok, bilang memahami makna realitas manusia yang absurd dan kompleks padahal ucapan anda malah menentang diri anda sendiri lewat artikel keripik pedas yang anda tulis disini

    Taruhlah argumentasi anda benar dan didukung oleh sumber atau landasan yang kokoh tapi meskipun anda benar hal tersebut belum tentu adalah suatu kebenaran yang mutlak dan absolut bukan. Jadi mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan pencari kebenaran ini lah, itu lah.

    Berbeda dengan di masa turunnya wahyu (bukan wahyu saya yang turun lho masbro) ketika ada pencari kebenaran berdiskusi dengan Rasullulah kemudian pencari kebenaran itu masih ngeyel, tidak mau dikritik, lompat2, koprol sampai salto2 bolak balik. Barulah kita bisa menjatuhkan vonis pencari kebenaran itu adalah contoh orang yang berakal namun tidak menggunakan akalnya, atau tuduhan anda itu lebih pas ditujukan kepada para pencari keonaran kalau yang satu ini saya sih setuju saja, mereka adalah salah satu contoh orang yang tidak memanfaatkan akal yang telah Allah karuniakan kepada mereka.

    Tolong ya bung dibaca ulang kalimat-kalimat dalam komentarnya. Jangan mendadak amnesia. Atau anda ini tipe yang asal bunyi terus lupa apa yang sudah dikatakan. Saya sih memposisikan saya sebagai pencari kebenaran disini dan makna tulisan saya di atas adalah saya mengkritik pencari kebenaran yang bersikap tidak seharusnya sebagai seorang pencari kebenaran.

    Naah anda kan posisinya tidak setuju dengan saya disini, membantah saya begini begitu. Satu-satunya pijakan anda memang benar saya mengatakan kalau di jaman Rasulullah saw, baru boleh kita menjatuhkan vonis demikian . Bukankah disini anda sedang menjatuhkan vonis bahwa saya salah dalam tulisan saya di atas bahwa saya tidak bisa menjatuhkan tuduhan pada pencari kebenaran begini begitu. Itulah kaitannya wahai kisanak. Anda yang beragumentasi kok sekarang mengatakan apa kaitannya dengan saya.

    Please kalau memahami argumen sendiri saja tidak bisa tolong tidak usah sok lah. Argumen sendiri saja tidak paham, pakai nanya apa kaitannya dengan saya. Kalau menurut anda tidak ada satu pun orang yang berhak memvonis pencari kebenaran di zaman sekarang maka andapun tidak berhak memvonis saya dalam tulisan ini begini begitu bung karena saya juga mengaku sebagai pencari kebenaran.

    Apa pernah saya menulis kalimat disini dengan menuduh anda dengan vonis yang saya maksudkan itu, yaitu anda sebagai seorang pencari kebenaran dimasa sekarang adalah contoh seseorang yang memiliki akal tapi tidak mengunakan akalnya…masbro…masbro….Jangan-jangan dalam khayalan anda, anda membaca saya menulis dan menuduh seperti itu..heyyy bangun masbro.

    Halah situ yang mimpi kok menyuruh orang lain bangun. Sekarang anda ingin mengatakan bahwa vonis itu khusus soal seseorang yang memiliki akal tapi tidak mengunakan akalnya. Terus kalau seseorang memvonis keliru, menyimpang dan lain-lain, itu masuk tidak dalam kategori anda bahwa hanya di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja bisa dijatuhkan. Justru yang saya tangkap dari awal diskusi ini adalah anda ini sedang menyalahkan saya bahwa saya tidak bisa memvonis pencari kebenaran begini begitulah seperti yang saya tulis di atas. Mengapa kok saya tidak bisa?. ya pandangan anda demikian bahwa saya tidak punya hak cuma Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang punya. Betul atau tidak? atau ingin mengubah pandangan lagi. Tetapkan dulu dengan jelas pandangan yang jadi argumentasi anda untuk membantah saya.

    …Eitss tunggu dulu kita harus menyamakan persepsi. Ketika anda mengatakan, pencari keonaran yang mengaku sebagai pencari kebenaran, jenis orang yang bagaimanakah yang dimaksud. Apakah yang anda maksud jenis orang-orang seperti yang menulis artikel tentang Syi’ah yang anda bantah disini atau jenis orang-orang yang berkomentar ala copy paste, kotor dan miring.

    Ooh sekarang baru anda ingin menyamakan persepsi. Telat bung, makanya dari awal anda itu tidak paham istilah “pencari kebenaran”> yang saya gunakan dalam kalimat di atas. jelas-jelas saya tulis dalam tulisan di atas “orang yang mengaku pencari kebenaran”. Jelas tulisan saya tertuju pada siapapun yang mengaku pencari kebenaran. Kalau mengaku sebagai pencari kebenaran ya sudah seharusnya begini begitu seperti yang saya tulis di atas

    Kalau iya, bukankah saya sudah mengatakan tuduhan anda itu bila ditujukan kepada orang-orang yang suka berkomentar kasar, miring dan kotor maka hal tersebut sudah tepat sasaran, sekarang mengapa anda harus menanyakan lagi kepada saya. Anda ini suka mengulang-ulang pertanyaan atau dasarnya anda itu memang orang yang konsisten gagal paham.

    Halah situ yang gagal paham sok mengatakan orang lain gagal paham. Apa menurut anda “orang yang mengaku pencari kebenaran” tidak bisa berkomentar kasar, miring dan kotor?. Terus orang yang anda bela disini siapa?. Orang yang masuk kategori realitas manusia absurd kompleks itu orang-orang mana saja di sisi anda?. Jadi mereka yang suka berkomentar kasar, miring, kotor itu masuk tidak realitas manusia kompleks absurd ala anda itu?.

    Oh iya anda mengatakan jenis orang-orang seperti yang menulis artikel tentang Syi’ah yang anda bantah disini. Memangnya anda tahu siapa-siapa mereka?. anda tahu Abul Jauzaa’, Alfanarku, Farid, Jaser, Muhammad Abdurrahman Al Amiry, Firanda, Toyyib Muttaqin bahkan Syaikh Khalid Al Wushabiy. Menurut anda mereka masuk kemana, pencari kebenaran, pembela kebenaran atau pencari keonaran?.

    Sejauh ini komentar anda masih tidak penting, tidak jelas arahnya mau kemana. Saya ulang, apa yang anda bantah disini?. Anda ingin mengatakan bahwa saya salah ketika mengatakan ada pencari kebenaran yang begini begitu seperti yang saya tulis di atas. Anda ingin mengatakan bahwa tidak ada pencari kebenaran itu bersikap seperti yang saya tuliskan di atas. Atau bagaimana. Tegaskan dulu disini posisi anda terhadap tulisan saya, jangan ngedumelnya kepanjangan bro:mrgreen:

    …hadeegh susah kalau berbicara dengan ABG labil semuanya harus kita tunjukkan secara jelas. Apakah menurut anda logika saya akan membenarkan “…siapapun yang mengaku pencari kebenaran (baca: termasuk juga para pencari keonaran yang mengaku sebagai pencari kebenaran) pada zaman sekarang ini saya tidak punya hak untuk memvonisnya.” pliiis deh masbro anda itu suka muter bolak-balik jawaban orang lain ditambah khayalan anda sendiri. Lantas beranggapan seperti itulah pendapat itu.

    Lha terus apa pandangan anda?. Komentar-komentar anda justru mengesankan demikian. Kesannya saya ini gak boleh mengkritik orang-orang yang mengaku pencari kebenaran tetapi bersikap konyol seperti pembela kebenaran di atas. Kesannya anda menganggap para pencari kebenaran itu sah-saja begitu dan saya tidak berhak memvonisnya.

    …suwer, kalimat “mengapa anda lantas menjatuhkan tuduhan…” itu gak sengaja ke sisiiiip. Sumpah deeh

    Menggelikan, untuk yang ini saya cuma bisa bilang “capeek deh ” :mrgreen:

    …yang memaknai bebas saja mau konyol itu kan anda sendiri. Lagian maksud konyol itu seperti apa ya masbro. Maaf saya “tidak” terlibat atau hadir dalam setiap diskusi anda dengan pencari kebenaran. Jadi saya tidak tahu sekonyol apakah pemahaman mereka. Lebih baik anda memberikan contoh disini.

    Dasar gagal paham. Disini saja anda mengakui bahwa ada kekonyolan-kekonyolan yang bisa dikritik, bisa diluruskan, dan bisa dikasih saran perbaikan. Jadi kalau situ paham ya harusnya tidak masalah dengan tulisan saya di atas. Saya tidak mencontohkan kasus saya karena memang bukan itu intinya. Intinya itu tentang para pencari kebenaran seharusnya tidak melakukan kekonyolan seperti itu

    Misal, pencari kebenaran percaya kalau bumi gepeng kayak karpet soalnya ada di Al Quran…Jadi sebelum saya menjawab bisa tolong dicontohkan terlebih dahulu kekonyolan pencari kebenaran itu seperti apa? Atau sekalian saja seperti saran saya, ketimbang artikel curcol ala ABG labil ini buat saja artikel yang membantah kekonyolan pencari kebenaran (tentunya kalau ada) disertai dengan dalil dan hujjah anda. Mengapa hal ini penting bagi saya, karena selama kekonyolannya tidak merugikan atau membahayakan orang lain ataupun merusak iman. Bagi saya tidak masalah…anda tidak sepakat dengan pendapat saya silahkan saja.

    Hei bung, anda ini seperti orang yang tidak pernah berdiskusi saja. Orang mau bodoh bin konyol ya silakan saja, tetapi ya silakan juga dong orang lain menyatakan kesalahan dan kekonyolannya kemudian mengkritiknya. Itu sah sah saja. Gak ada urusan sama anda, anda mau menilai itu merugikan orang lain, membahayakan orang lain, merusak iman itu kan persepsi anda sendiri. Jangan samakan dengan persepsi orang lain. Memangnya kalau saya mengkritik keyakinan bumi kayak karpet pakai Al Qur’an, tidak boleh begitu?. Saya tidak punya hak begitu?. Kalau yang begitu saja anda katakan silakan terus bagaimana dengan tulisan saya di atas yang sekedar mengkritik agar para pencari kebenaran itu bersikap lebih baik.

    Komentar anda ini makin meluas kemana-mana karena anda memang tujuannya disini cuma ngedumel saja. Coba fokuskan dengan tulisan saya di atas kemudian bantah bagian mana yang harus dibantah. Kalau tidak ada dalam tulisan saya yang mau anda bantah ya cukup.

    …yak, tepat sekali. Tidak gagal paham lagi?🙂 tentunya batasan tiap orang itu berdasarkan atas apa yang menjadi pegangan (kitab) dan yang mereka pahami benar.

    Basi ah, semua orang juga ngakunya begitu. Mana ada yang mengambil pandangan dari hal yang mereka pahami salah:mrgreen:

    …ooh pertanyaan anda ini baik sekali, apakah batasan masing-masing orang tersebut benar.? Jawaban saya tergantung dari kacamata (baca: agama/mazhab plus metoda) siapa yang mau anda pakai masbro.

    Oooh jadi kebenaran itu tergantung dari kacamata yang dipakai ya masbro termasuk agama juga. Jadi Kristen benar sesuai dengan kacamata Kristen, Hindu benar sesuai dengan kacamata Hindu, Budha benar sesuai dengan kacamata Budha dan Islam benar sesuai kacamata Islam. Begitukah maksud anda masbro?. Itu sih rasanya sama saja dengan mengatakan semua orang benar sesuai dengan kacamata yang ia pakai sendiri. Kalau begitu apa gunanya diskusi?. Heeeh orang yang berpandangan begini cuma orang yang tidak paham apa itu namanya diskusi. Mungkin baginya diskusi buat pamer kepintaran kali ya:mrgreen:

    |Faktanya memang banyak yang sudah mengklaim kebenaran.|
    …maaf fakta yang sudah basi.

    Lucunya anda mengakui itu basi tetapi anda biarkan saja. Ya silakan itu hak anda. Nah saya berbeda disini, dalam tulisan di atas saya menekankan bahwa dalam diskusi tidak penting klaim kebenaran yang penting apa yang kita klaim sebagai kebenaran itu diuji apakah memang betul kebenaran atau sekedar klaim. Lagi-lagi tidak ada masalah dengan tulisan saya, berulang kali saya bingung dengan ulah anda disini.

    …jawaban saya kalau klaim kebenaran dalam kaitan teologis dan dikaitkan dengan jaman sekarang, tergatung kacamata (baca: agama/mazhab plus metoda). Kalau kaitannya dalam hubungan antar manusia, apakah ada yang salah bila saya menanggap semua orang benar dengan klaimnya?

    Ooooh silakan bung, anda mulai menekankan posisi anda disini. Maka saya katakan tidak ada yang salah juga dong kalau saya menganggap tidak semua orang benar dengan klaim-nya. Jadi sekali lagi saya tanya, ngapain anda disini?. Anda mau menyalahkan saya karena saya tidak sama seperti anda yang menganggap semua orang benar dengan klaimnya. Silakan ambil pandangan anda dan tidak perlu memaksakan saya. Selesai diskusinya kan, mudah tidak panjang-panjang tidak karuan seperti di atas yang kosong hujjah.

    Kalau anda ingin mengatakan pandangan saya keliru bahwa saya seharusnya seperti anda menganggap semua orang benar dengan klaim-nya maka silakan sampaikan argumentasi anda disini. Baru kita bisa diskusi, paham kisanak

    …Kalau anda mengaku aku sebagai pencari kebenaran silahkan anda pilah-pilih mana yang benar dan mana yang salah. Tapi saya ingatkan hal itu tidak seperti semudah membalik telapak tangan. Apakah anda siap? Kalau cuma sekedar memilah dan milih itu hal lain, yang terpenting adalah mau diapakan kebenaran itu setelah anda memilah dan memilih, apakah akan anda amalkan kebenaran itu atau sekedar jadi tahu saja.

    Menggelikan, memangnya saya ini baru mau jalan ya bung. Lucu anda ini sok mengajari orang hal yang sebenarnya tidak perlu diajarkan. Basiii ah

    …anda terus menerus mengulangi tidak paham maksud saya. Jangan terlalu bangga jadi orang gagal paham masbro, saya saja paham koq tulisan anda cuma anda saja yang selalu curiga dengan saya dan menuduh saya gagal paham lah, tidak suka dengan “dakwah suci” anda lah hehe (kalau ini saya sedikit lebay, maaf masbro).

    Gagal paham apanya jelas-jelas sebelumnya anda mengakui bahwa anda menganggap semua orang benar dengan batasannya sendiri. Kok mengatakan saya gagal paham, artinya apa yang saya pahami dari anda memang sudah benar. Kalau anda memang paham tulisan saya maka apa gunanya anda menggerutu disini, hayoooo. Merasa kesindir? lha bukannya semua orang benar dengan batasannya sendiri. Ya harusnya anda anggap saya ini benar dengan batasan saya sendiri. Selesai urusan, gak perlulah anda bergaya sok mengatakan “selamat datang di realitas manusia absurd dan kompleks” dan ucapan lainnya

    …eheem hakit permasalahan anda itu apa yah: apakah anda hendak menyampaikan kepada para pembaca anda bahwa diluar sana ada orang-orang pencari kebenaran yang suka marah-marah, alergi kalau dikuliti keyakinannya, sampai suka koprol dan salto. Atau anda ingin menyampaikan hakikatnya diluar sana ada para pencari kebenaran yang pada intinya adalah orang-orang yang belum belajar inilah itulah, tidak tahu ini lah itulah. Mereka diperbudak oleh kekonyolan mereka lah, dan tuduhan-tuduhan lainnya.

    Oh iya itu jelas, faktanya memang ada orang-orang yang mengaku pencari kebenaran tetapi melakukan kekonyolan seperti yang saya tulis. Tentu saja semuanya tidak dipukul rata sama kedudukannya dan hakikatnya saya tidak hanya menegaskan keberadaan mereka tetapi memberikan saran agar mereka berubah menjadi lebih baik bersikap bagaimana seharusnya pencari kebenaran. Ada bantahn ya silakan, jangan ngedumel ya

    (-garuk-garuk kepala lagi untuk yang kesekian kalinya-). Gini deh saya mau tanya nih masbro
    Berapa banyak sih dari pembaca blog anda yang punya kesempatan “mewah” seperti anda berdiskusi dengan banyak pencari kebenaran baik itu di dunia maya atau nyata. Bisa punya level ilmu yang tinggi dan luas seperti anda. Kalau jawabannya anda tidak tahu berapa banyak, Lalu mau diapakan hakikat tulisan anda yang satu ini oleh mereka. Jadi salahkah saya kalau menilai anda pada dasarnya hanya lagi sewot entah kenapa dan sama siapa lalu ujung-ujungnya bikin artikel curcol ala ABG labil.

    Lha saya tidak peduli mau berapa banyak dari pembaca blog yang mau mengikuti tulisan ini. Justru saya bingung apa maunya anda dengan pertanyaan seperti itu?. Kalau orang seperti anda yang gagal paham maksud tulisan ini [tetapi berasa-rasa paham] ya saya tidak yakin anda mendapatkan banyak manfaat dari tulisan ini. tetapi bagi mereka yang memang mau berubah maka tulisan ini bisa menjadi pengingat yang baik bagaimana seharusnya mereka bersikap. Sebenarnya tulisan di atas tidak perlu ditanggapi gak karuan seperti anda menanggapinya. Bagi para pencari kebenaran yang sebenarnya saya yakin tulisan ini akan mengingatkan mereka. Dulu saya juga sering begitu, tetapi seiring berlalunya waktu semakin sering diingatkan akhirnya semakin berusaha untuk menjadi lebih baik.

    …Hadeeegh masbro, anda meyakini realitas manusia memang bermacam-macam kedudukan maksud anda itu apakah seperti ini, manusia itu ada yang kaya ada yang miskin, anda yang beriman ada yang atheist, ada yang kulitnya putih, hitam, kuning atau coklat. Matanya ada yang biru, hijau muda, coklat tua? Dan lainnya….yang bener saja deh masbro, menurut anda saya mengingkari hakikat mendasar manusia seperti itu. Pliiis deeh, apakah ini yang anda tangkap dari semua yang saya tulis disini…+hiks mau nangis saya

    Sepertinya anda ini memang sengaja gagal paham. Padahal anda sendiri mengakui realitas manusia absurd komplesk ala anda itu kan. Perlu saya kutipkan tulisan anda, Nih

    …{Sepakat dengan pilihan anda. Pertanyaan saya kepada anda: 1. Mengapa seseorang mau menanggung resiko membela mati-matian sesuatu yang salah. 2. Dalam kondisi sadar atau tidak sadarkah orang itu kalau ia sebenarnya sedang meniti jalan yang bengkok?! Ha! Selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}

    …{Kata “Pencari Kebenaran” saja kedengarannya sudah lucu dan sedikit lebaaay, sekarang anda gandengkan dengan manhaj orang-orang yang sentiasa menggunakan akal-nya, waduh lebih lucu dan tambah lebuuaaaay lagi. Apakah anda beranggapan mereka yang anda kritik tidak menggunakan akal-nya?. Kalau anda dan mereka yang anda kritik masing-masing menggunakan akal-nya mengapa bisa terjadi perbedaan kesimpulan? Sekali lagi selamat datang di realitas kehidupan manusia yang kompleks dan absurd, masbro.}/p>

    …halah gak usah bawa-bawa famili, teman atau orang tua deh. Anda itu tipe orang yang lebay jadi saya mau tanya dulu berbuat konyolnya itu seperti apa. Bisa anda kasih contoh kekonyolannya? Karena bisa saja konyol bagi anda (karena anda super lebay dan sensi hal sepele dalam mata anda sudah jatuh vonis “konyol”) sedangkan bagi saya mungkin tidak.

    Menggelikan, coba lihat ke diri anda sendiri ketika anda mengatakan kalimat ini, maka konyol disana kembali ke mana

    …{Ingat masbro, akan selalu ada orang-orang yang rela bersusah payah membela hal-hal yang menurut orang lain konyol bahkan sesat. Kalau masbro tengok kiri- kanan bukan ala bebek lho yah, masbro pasti tahu lah pemikiran seperti ini selalu ada di setiap peradaban manusia. Bahkan di jaman sekarang ini akan dengan mudah kita temukan contoh orang yang rela mati demi hal-hal yang konyol. Koq bisa seperti itu…yaelah sudah takdir kali atau…auk aahh gelap, rahasia Allah itu. Takut salah ngomongin masalah yang ghaib.}

    Jadi ngapain saya harus mencontohkan karena anda sendiri sudah tahu maksudnya. Atau anda tidak paham dengan yang anda bicarakan:mrgreen:

    Satu hal lagi tidak setiap kekonyolan harus dan patut kita nasehati. Kalau saya sih masih lihat-lihat dahulu kekonyolannya akan berdampak membahayakan atau merugikan orang lain tidak. Meruntuhkan iman orang itu tidak dan banyak pertimbangan lain. Kalau sekedar percaya bumi gepeng karena kitab yang dia pegang tertulis dan pahami demikian, lantas masalah anda dimana? Apakah kegepengan bumi itu akan menggugurkan iman orang tersebut?

    Silakan itu hak anda tetapi hak orang lain juga ya berpandangan beda dengan anda. Memangnya harus sama dengan anda gitu, siapa anda gitu loh. Lagian kalau orang itu bilang kegepengan bumi itu pandangan Al Qur’an ya bagi sebagian orang bermasalah, walaupun mungkin bagi anda tidak. Jadi persepsi anda tidak menjadi ukuran bagi orang lain kisanak🙂

    Apakah anda takut dia akan menyebarkan paham sesatnya itu sehingga menginfeksi seluruh penduduk bumi? Lebaay deh. Manfaat apa yang orang itu peroleh bila dia mendengarkan saran anda dan berubah menjadi baik? Menjadi baik yang bagaimana yah? Kalau anda gagal menasehati lantas antikel curcol ala ABG labil inikah pelarian anda? Ada waktu kita lebih baik berbicara ada waktu kita lebih baik diam. Tidak bisa seperti pemahaman realitas manusia anda yang setiap saat atau waktu bila anda melihat kekonyolan anda akan bangkit dan menasehati. Anda tidak setuju dengan pendapat saya…silahkan saja.

    Menyampaikan apa yang kita anggap benar itu sah sah saja. Mengoreksi apa yang kita anggap keliru itu pun sah-sah saja. Lagian tahu dari mana anda ada orang meyakini kegepengan bumi ya karena ia menyampaikannya pada orang lain perkara yang ia anggap benar dan yang selama ini diyakini adalah keliru. Maka wajar dong orang lain menyampaikan bantahan sebaliknya. Adapun orang-orang seperti anda tidak ada urusan disini. Anda mau diam ya silakan tapi ya mbok jangan usil kalau orang lain mau bicara. Anda mau bergaya lebih baik diam ya gak ada urusan. Anda mau mempersepsi tulisan saya sebagai curcol ala ABG labil ya silakan [itu bukti bahwa anda gagal paham tulisan saya tetapi berasa-rasa paham].

    …hehe silahkan anda mengklaim menerima realitas secara lebih rasional. Lagian sekarang siapa yang nyinyir, dikit-dikit anda kasih saran, dikit-dikit anda mengingatkan. Seperti artikel keripik pedas ini kan. Anda melihat sikap pencari kebenaran itu konyol karena mereka menolak entah hujjah serta dalil anda maka anda “menasehati” mereka supaya mereka menjadi lebih baik, bahwa mereka harus belajar inilah itulah, bla…bla…bla.

    Lha sekarang anda bilang memberi saran atau mengingatkan itu nyinyir. Justru orang nyinyir itu adalah orang yang sewot kalau ada orang lain memberi saran dan mengingatkan. Wajar saja tuh saya mengingatkan, yang nyinyir tuh anda. Kalau anda menilai orang yang konyol begitu saja wajar kok orang yang kasih saran seperti saya malah anda permasalahkan, kemana akal sehat anda bung

    Tapi sadarkah anda bahwa mereka orang-orang yang anda kritik pun mempunyai banyak sekali nasehat dan masukan kepada anda. Mereka pun mengharapkan anda menerima dan mendengarkan nasehat mereka supaya anda menjadi “lebih baik”. Haruskah mereka mendengarkan saran anda atau malah anda yang mendengarkan saran mereka? Artikel anda ini menggariskan seolah-olah memang sudah dapat dipastikan mereka berada di posisi yang salah (menurut versi anda) dan anda yang benar sehingga lebih baik bila mereka mendengar saran anda. Anda ini memang PD top banged. Apa yang membuat anda PD sekali kalau mereka mengarkan saran anda maka mereka akan menjadi lebih baik. Silahkan tanya kepada rumput yang bergoyang siapa yang pantas dinasehati anda atau mereka.

    Please deh apa masalah anda bung?. Kan sangat jelas ketidaksukaan anda terhadap tulisan saya di atas. Anda lagi-lagi gagal paham, saya sangat bisa menerima nasehat dan masukan orang lain yang memang benar bernilai. Buktinya dalam tulisan di atas bahwa saya sering mengakui kalau saya salah dan mengubah pandangan yang semula saya anggap benar. Begitulah cara berdisksusi yang baik. Artinya apa yang saya tulis juga berlaku buat saya pribadi. Saya heran mengapa anda menganggap saya bermasalah ketika saya menyarankan agar mereka berubah menjadi lebih baik. Itu hal yang wajar saja dan tidak ada orang yang berakal sehat mempermasalahkannya. Maka nya tolong pahami dulu apa yang ingin anda katakan, jangan nanti sok bilang kelepasan.

    Sebaiknya anda lebih bijak dalam melihat kekonyolan dan menasehati teman anda atau famili, adik, kakak dan orang tua. Terkadang diam itu lebih baik bila manfaatnya lebih besar. Kita diam bukan berarti kita acuh atau tidak perduli. Belum lagi ketika cara anda menasehati dengan mengunakan pemilihan kata-kata seperti ala anda atau saya. Waah kalau orang yang dinasehati tidak kuat imannya pasti marah lah. Sekali lagi semoga anda tidak konsisten gagal paham masbro.

    Wah maaf ya mungkin anda kali yang marah dengan tulisan saya. Lagian kalau orang tersebut marah dengan nasehat seperti ini maka orang itulah yang bermasalah. Soal pilihan kata, memangnya ada orang-orang khusus yang saya serang masbro. Penggunaan kata-kata secara umum tanpa menyebutkan orangnya itu jauh lebih baik. Ngapain pula orang marah dengan pilihan kata yang saya buat dan terserah orang mau mempersepsi bagaimana. Masa’ itu juga harus saya atur. Daripada ngedumel kan lebih baik anda disini menyarankan bagaimana seharusnya pilihan kata yang menurut anda tidak membuat orang marah. Silakan tuh biar bisa saya koreksi bukan sekedar menggerutu ya kisanak

    Ok, lanjut pertanyaan saya. Anda mengatakan bahwa anda menasehati supaya menjadi lebih baik. Pertanyaanya tahukah anda berapa banyakah dari para pencari kebenaran itu yang setelah anda berikan saran berubah menjadi lebih baik?! Manfaat apa yang bisa mereka dapatkan ketika mendengarkan saran anda dan menjadi baik. Berubah menjadi lebih baik itu atas dasar dan tolok ukur apa ya…? Siapa yang menilai mereka para pencari kebenaran itu sekarang menjadi lebih baik…andakah? Menjadi lebih baik yang bagaimana masbro?

    Menggelikan anda ini. Apa mau anda dengan pertanyaan seperti itu?. Seharusnya anda mikir bagaimana menjawab pertanyaan seperti itu. Saya sih mencukupkan diri dengan memberi saran kepada mereka agar berubah menjadi lebih baik. Lha kalau mereka akhirnya menjadi pencari kebenaran yang siap dikritik, tidak emosian mengedepankan hujjah, berhujjah dengan cara yang lebih baik ya itu artinya mereka jadi lebih baik. Mengapa pula saya harus sibuk untuk mengetahui berapa banyak mereka yang mau atau akhirnya berubah jadi lebih baik. Itu sih urusan mereka sendiri selanjutnya mau bagaimana, ambil saran saya atau tinggalkan.

    … Lho memangnya kalau tingkah orang orang itu hanya sebatas menolak dalil atau hujjah anda mengapa anda harus kebakaran jenggot, langsung nyolot bak pahlawan kesiangan lempar nasihat sana sini.

    Lha siapa yang kebakaran jenggot?. Sepertinya anda yang kebakaran jenggot disini. Maaf ya cuma orang yang tidak berakal sehat yang sewot atau mempermasalahkan ketika ada orang yang ingin memberi nasehat. Pikirkan lah itu bro, jangan terlalu nafsu, apa itu tadi anda bilang “nyolot”:mrgreen:

    Memangnya mereka juga tidak punya nasihat yang baik untuk anda.

    Oooh punya, saya bisa menerima nasehat yang benar dari siapa saja. Itu kalau nasehatnya memang benar ya🙂

    Baiklah saya melihat anda sepertinya cukup bangga dengan cara memahami realitas manusia ala anda itu yang anda klaim lebih rasional,

    Saya cuma menekankan bahwa cara saya itu rasional. Kalau ada realitas yang tidak sesuai dengan hal yang benar kemudian saya berusaha meluruskannya. Bagi saya itu rasional, entah ya kalau bagi anda

    maka pertanyaan saya: sudah berapa banyak para pencari kebenaran yang tadinya suka marah-marah, alergi kalau keyakinannya dikuliti, suka koprol dan salto anda nasehati berubah menjadi baik (tentu baik disini adalah baik versi anda hehe). Berapa banyak para pencari kebenaran yang tadinya belum belajar ini lah itulah kemudian mereka anda nasehati lalu berubah menjadi sadar serta giat memperdalam ilmu mereka? Berapa banyak dari pencari kebenaran itu yang……
    Atau semua upaya anda dalam menasehati mereka hanya berujung pada peringatan keras atas diri anda

    Pertanyaan gak penting. Memangnya siapa di dunia ini yang bisa menjawabnya. Dan walaupun saya tidak tahu pertanyaan itu, hal itu tidak akan mengubah hakikatnya bahwa saya telah memberikan saran kepada mereka agar berubah menjadi lebih baik

    Apakah sekarang anda masih merasa pemahamam hakikat manusia ala anda lebih rasional dan tepat sasarannya? Atau pemahaman hakikat manusia ala anda itu tak lebih seperti upaya menggarami laut dengan garam. Hanya saja anda tidak (mau) menyadarinya. Diam itu bisa emas tapi bisa juga tidak.

    Anda mau beretorika seperti apapun tidak masalah bagi saya. Orang seperti anda lebih berkesan dengan syubhat terlihat dari kalimat “menggarami laut dengan garam”. Semua perbuatan baik apapun selalu bisa dikatakan begitu ya kan masbro🙂

    Masbro permintaan saya itu simpel ketimbang anda menulis curcol ala ABG labil yang cuma berat sebelah (yang anda tulis disini semuanya dari sudut pandang anda saja, tapi detilnya hanya Allah, anda dan mereka yang tahu) postinglah sesuatu yang bermanfaat dari hasil diskusi anda dengan para pencari kebenaran itu, dan sharing lah ke pembaca blog anda.

    Kenapa pula saya harus menuliskan hasil-hasil diskusi saya dengan mereka disini. Lagipula seperti yang saya bilang kan bukan itu inti yang saya sampaikan. Sepertinya sekali gagal selamanya anda gagal paham. Memangnya ini sedang membicarakan saya ya, saya disini sedang menyarankan agar mereka bersikap menjadi lebih baik. Apa salahnya itu, masa’ sih ketika saya mengatakan diskusi sebaiknya jangan emosian dan marah-marah eh mau anda bilang berat sebelah. Ketika saya menyarankan agar berusaha menerima kritik dengan objektif eeh anda mengatakan berat sebelah. ketika saya menyarankan agar mereka belajar eeh anda mengatakan berat sebelah.

    Kalau anda ingin mengatakan bisa saja saya yang salah bukan mereka, bisa saya saya yang kurang objektif bukan mereka, bisa saja saya yang kurang belajar bukan mereka. Ya silakan saja itu hak anda, tetapi itu tidak mengubah hakikat kebenaran saran saya bung. Makanya saya bilang anda itu tidak bisa mempermasalahkan tulisan saya tetapi bisa menyerang saya atau tidak suka saya menulis begini. Ya silakan akui saja dan itu tidak mengubah hakikat kebenaran apa yang saya tulis di atas. Masih gagal paham ya kasihan

    Bisa saya bayangkan bertahun-tahun anda berdiskusi, bahasan topik pastilah amat sangat menarik. Jadi…fokuskan upaya dan usaha anda untuk selalu memberikan pembelajaran yang bermanfaat kepada pembaca blog anda, karena pembaca andalah yang akhirnya akan membaca dan merenungi setiap kata dari tulisan anda bukan para pencari kebenaran yang anda kritik itu. Saya berharap semoga anda tidak gagal paham lagi masbro…

    Ehem bangun masbro, cuma anda sejauh ini yang mempermasalahkan tulisan saya di atas. Teman-teman saya yang membaca tulisan saya tidak ada tuh yang mempermasalahkan karena mereka tahu bahwa hal itu benar. Pembaca lain ya bisa dilihat dari komentar-komentar disini, maaf tidak ada tuh yang mempermasalahkan seperti anda. Seperti yang saya bilang cuma orang tidak berakal sehat yang mempermasalahkan ketika orang lain memeberikan nasehat agar orang-orang berubah jadi lebih baik. Adapun sebagian hasil diskusi saya sebenarnya ada yang sudah dituliskan dalam blog ini tentau saja penyampaiannya dengan bahasa tulisan bukan dialog percakapan

  29. @Tabah

    Bang SP, anda jika disamakan dg mobil seperti Ferrari, melajunya kencang dan stabil. lawan2 abang itu Datsun, Avanza dll, mobil kelas marmot. debat sama mrk menang pun rugi. wis ga usah dilayani.
    debat sama mereka layaknya debat sama tembok, ora mudeng, ora nyambung. ga tutuk bang ilmunya.

    Bagi saya diskusi apapun bisa jadi menarik dan masih bisa diambil manfaatnya. Angap saja latihan dalam berdiskusi. Kalau orangnya mau konyol seperti apapun tidak masalah [selagi bisa ditoleransi tutur katanya]

    @laharga

    Soal itu saya tidak tahu pasti, saya bertawaqquf disini sampai ada hasil investigasinya

  30. @Secondprince

    |Cuma anda sejauh ini yang mempermasalahkan tulisan saya di atas.|

    …memangnya tidak boleh?!

    |Teman-teman saya yang membaca tulisan saya tidak ada tuh yang mempermasalahkan karena mereka tahu bahwa hal itu benar.|

    …Ooh jadi teman anda telah membaca artikel ini. Ok, kalau begitu saya ucapkan selamat kepada anda dan teman-teman anda.

    |Pembaca lain ya bisa dilihat dari komentar-komentar disini, maaf tidak ada tuh yang mempermasalahkan seperti anda.|

    …coba saya tanya, anda lebih memilih mana. Membaca komentar artikel yang datar-datar saja dari pembaca blog anda ini atau komentar konyol tapi anda bisa berlatih berdiskusi dan mungkin mengambil “manfaatnya”, manfaatnya adalah sekarang anda jadi tahu kan bahwa diluar sana ada salah satu pembaca blog anda yang ternyata cukup aneh🙂

    |Seperti yang saya bilang cuma orang tidak berakal sehat yang mempermasalahkan ketika orang lain memeberikan nasehat agar orang-orang berubah jadi lebih baik.|

    …Eheem, saya berharap anda tidak sedang membicarakan atau menyindir saya ini -:)

    Eniway masbro, terima kasih sudah mau melayani komentar-komentar saya disini. Terus terang saya menikmati balasan komentar anda. Saya pun banyak belajar dan banyak manfaat yang bisa saya pelajari. Akhir kata mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang menyinggung anda. Sekali lagi terima kasih.

    ….ups ada yang kelupaan…Salam Damai🙂

  31. @Wahyu

    |Cuma anda sejauh ini yang mempermasalahkan tulisan saya di atas.|
    …memangnya tidak boleh?!

    Oooh silakan saja, kalau “tidak boleh” ya mana mungkin saya menanggapi komentar anda🙂

    …Ooh jadi teman anda telah membaca artikel ini. Ok, kalau begitu saya ucapkan selamat kepada anda dan teman-teman anda.

    Ya saya kan punya banyak teman:mrgreen:

    …coba saya tanya, anda lebih memilih mana. Membaca komentar artikel yang datar-datar saja dari pembaca blog anda ini atau komentar konyol tapi anda bisa berlatih berdiskusi dan mungkin mengambil “manfaatnya”, manfaatnya adalah sekarang anda jadi tahu kan bahwa diluar sana ada salah satu pembaca blog anda yang ternyata cukup aneh

    Hmmm saya sih sebenarnya apa adanya saja. Mau berkomentar datar, mau pro atau kontra ya terserah. Cuma memang komentar yang datar dengan komentar yang mengajak diskusi ya berbeda. Mana bisa latihan diskusi kalau komentarnya datar-datar saja. Tetapi bukan berarti saya selalu lebih suka dengan komentar yang mengajak diskusi. Itu kan tergantung arah diskusinya dan tergantung sayanya juga. Seperti misalnya dalam tulisan ini, komentar yang saya suka itu komentar aishayublog. Ya secara dia jarang berkomentar disini dan saya banyak belajar dari tulisan blog-nya yang dulu

    …Eheem, saya berharap anda tidak sedang membicarakan atau menyindir saya ini -:)

    Silakan introspeksi saja🙂

    Eniway masbro, terima kasih sudah mau melayani komentar-komentar saya disini. Terus terang saya menikmati balasan komentar anda. Saya pun banyak belajar dan banyak manfaat yang bisa saya pelajari. Akhir kata mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang menyinggung anda. Sekali lagi terima kasih.

    Saya pribadi menilai komentar anda sejauh ini tidak ada yang membuat saya tersinggung. Saya sampaikan juga mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan di hatinya dan terimakasih sudah ikut berkomentar disini🙂

  32. Kebenaran paling tidak memiliki 2 kerinduan:
    1. Rindu untuk ditemukan. dan
    2. Rindu untuk diuji.

    @Wahyu: Kalau saya sih menganggap tulisan SP sebagai nasihat yang bagi saya bahkan sangat terlambat munculnya (saya sangka baik karena SP tidak mau menggurui), yang konsekuensinya tentu SP sudah harus betulk2 rapih tidak terjebak pada hal yang sama. Kalau lihat jejak tapak kaki SP, sudah layak untuk mengeluarkan tulisan nasihat seperti ini. Secara realistic orang 2 tersebut memang ada, tapi bukan berarti dilakukan pembiaran. Ibarat orang tua yang melihat kekurangan/kesalahan anak2nya, kalau berfikir secara hanya sekedar realistis ya dibiarkan saja keadaan itu. Tapi rasa kasih sayang yang membawa seseorang menasihati (bahkan kadang marah).
    Tentunya konsekuensinya (saya yakin SP menerima) jika ada yang bisa memberi nasihat yang lebih tinggi dari tulisan SP tentunya SP akan menerima dengan suka cita.

    Salam damai

  33. Bang laharga, tragedi Mina itu sengaja buatan intel Saudi bekerjasama dengan zionis untuk membunuh para pejabat Iran yg sedang berhaji.
    anda boleh percaya atau tidak insya Allah hal ini akan terkuak. ada puluhan pejabat tinggi Iran yg dapat jatah haji tahun ini dan seluruh data namax2 jamaah haji Iran di kirim ke zionis lalu diberi catatan dan dikembalikan ke intel Saudi untuk dihabisi nama-nama yg sudah diberi catatan tsb. Pemerintah Saudi itu agen Iblis dimuka bumi. perusak Islam dan pencemar nama baik Islam. Makkah – Madinah jadi ajang bisnis dan judi mereka. Haramain tempat aman dinjadi tempat paling tidak aman. para jamaah haji menjadi seperti orang yg dihantui ketakutan terus menerus, ada keramaian sedikit saja mereka tnggang langgang ketakutan. pemerintah Saudi benar2x menzalimi jamaah haji.

  34. Bang Laharga dan Bang Tabah:

    Tentang tragedi Mina, tidak bisa dipungkiri bahwa jamaaah haji Iran yang paling banyak menjadi korban. Terakhir yang saya baca, korbannya mencapai 464 jiwa. Namun sampai hari ini, belum ada media Iran seperti Irib/Presstv/ Al-Alam/Farsnews dkk yang menyatakan bahwa penyebab tragedi adalah konspirasi dari Arab Saudi dan Israel untuk mengincar tokoh-tokoh penting Iran, padahal kita tahu bahwa media-media Iran sangat reaktif. Karenanya, saya menahan diri untuk percaya pada dugaan tersebut dan memilih menunggu.

    Andaikata pihak Arab Saudi mau transparan, niscaya tak selama ini kita menunggu penyebab tragedi. Cukup buka CCTV Mina, maka kita akan mengetahui penyebabnya.

    Bukan oot tapi out of the box, ketika semua orang saling tuding untuk mencari penyebab tragedi Mina, saya menemukan bukti yang sangat menarik tentang perseteruan di dalam Keluarga Kerajaan Arab Saudi. Adanya perpecahan itu adalah rahasia umum, namun banyak yang berusaha menutupi atau membantahnya. Tragedi Mina ini membuka pertarungan antar-Pangeran Arab Saudi yang tidak lagi di balik layar tetapi benar-benar dibuka kepada publik. Kalau mas mau baca, visit blog saya yang satunya lagi: https://penaaisyah.wordpress.com/2015/09/29/bukan-teori-konspirasi-tragedi-mina-dan-pertarungan-house-of-saud/

    Bang SP: Wah makasih banyak jika dulu Bang SP juga berkunjung ke blog saya, tapi sekarang sudah ditutup soalnya gabung sama teman di ‘wadah’ yang lebih besar dan lebih profesional. Masih sama sih bahas-bahas Timteng juga😀

  35. @SP
    Ya pernah juga membuat pembahasan tentang Al Qur’an, itu pun juga dicampur hadis. btw dalam mazhab Ahlus Sunnah memang yang menyatakan bahwa hadis bisa menghapus hukum Al Qur’an.
    ============::=========
    Wah sebagai orang islam i jdi bingung ni kalo hadist bisa menghapus hukum quran, pdhal di quran kalo gak salah ada ayat yg menyatakan quran itu sebagai batu uji bagi kitab2 yg lain, dari jaman sma logika saya quran itu sbg kitab standar kebenaran yg pokok, baru hadist dll, pantesan makin kesini orang islam lebih cenderung mengamalkan hukum2 yg dihadist, apakah hadist2 ini akan menjadi kitab seperti talmud orang2 yahudi? Bukankah quran itu sudah sempurna?

  36. mas SP, saya tunggu tulisan-tulisannya lagi…
    semoga ALLAH membalas mas SP, karena tulisan-tulisan anda telah membuka pikiran saya. mudah-mudahan kita semua segera menemukan kebenaran yang sejati mas…

  37. Pak SP, jangan lama2x istirahat. apa tega 2 sampai 3 kali sehari saya buka blog ini ternyata blm di update2x. semoga ilmu bapak bertambah dengan berbagi ilmi dengan kita semua. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: