Takhrij Hadis Al Ma’aazif [Alat Musik] Dan Pembahasannya

Takhrij Hadis Haram Al Ma’aazif [Alat Musik] Dan Pembahasannya

Hadis Al Ma’aazif termasuk hadis pamungkas yang menjadi andalan salafy dalam mengharamkan musik. Berikut adalah pembahasan ilmiah hadis tersebut sesuai dengan kaidah yang dikenal dalam ilmu hadis.

.

.

Takhrij Hadis Al Ma’aazif

بَاب مَا جَاءَ فِيمَنْ يَسْتَحِلُّ الْخَمْرَ وَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا عَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ الْأَشْعَرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَامِرٍ أَوْ أَبُو مَالِكٍ الْأَشْعَرِيُّ وَاللَّهِ مَا كَذَبَنِي سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيهِمْ يَعْنِي الْفَقِيرَ لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمْ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Bab apa yang datang tentang orang yang menghalalkan khamar dan menamakan bukan dengan namanya. Hisyaam bin ‘Ammaar berkata telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ariy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy, demi Allah dia tidak mendustaiku, bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan kemaluan, sutra, khamar dan Al Ma’aazif. Dan sungguh kaum itu akan tinggal tempat yang terletak di sekitar gunung tinggi kemudian mereka didatangi oleh orang faqiir untuk suatu keperluan, maka mereka berkata “kembalilah kepada kami besok”. Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka dan menjadikan sebagian yang lain kera dan babi hingga hari kiamat [Shahih Bukhariy 7/106].

Hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhariy secara mu’allaq dalam kitab Shahih-nya. Tetapi telah diriwayatkan oleh yang lain secara muttashil dari Hisyam bin ‘Ammaar, yaitu

  1. Husain bin ‘Abdullah Al Qaththaan sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no 6754 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/17-18 no 5590
  2. Hasan bin Sufyaan sebagaimana diriwayatkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20777 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  3. Husain bin Idriis sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/17 no 5590
  4. Ja’far bin Muhammad Al Firyaabiy sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  5. Muusa bin Sahl Al Bashriy sebagaimana diriwayatkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 3/319 no 3417, Ad Da’laj dalam Al Muntaqa Min Musnad Al Muqiliin hal 34 no 8, Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 20/156 no 3961 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  6. ‘Abdaan Al Ahwaaziy sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  7. Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al Baghandiy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 67/189 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/18 no 5590
  8. Muhammad bin Marwan sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590
  9. Muhammad bin Yaziid bin ‘Abdush Shamad Ad Dimasyiq sebagaimana diriwayatkan Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syaamiyyiin 1/334 no 588 dan disebutkan Ibnu Hajar dalam Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590
  10. Muhammad bin Ismaiil bin Mihraan Al Ismailiy sebagaimana diriwayatkan Ad Da’laj dalam Al Muntaqa Min Musnad Al Muqiliin hal 34 no 8

Sedikit catatan mengenai matan riwayat Hisyaam bin ‘Ammaar di atas. Lafaz Al Hira [kemaluan] hanya disebutkan dalam riwayat mu’allaq Al Bukhariy. Ibnu Hajar ketika menjabarkan jalan sanad muttashil Hisyam bin ‘Ammaar, ia tidak menyebutkan matan masing-masing jalan sanad Hisyam bin ‘Ammaar yang ia sebutkan sedangkan dalam riwayat Ath Thabraniy, Ibnu Hibbaan, Al Baihaqiy, Ibnu Asakir dan Ad Da’laj tidak disebutkan lafaz al hira.

Kemudian semua riwayat di atas menyebutkan dengan lafaz yang mengandung syak nama sahabat yang dimaksud yaitu “telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy” kecuali Ibnu Hibban dalam Shahih-nya [riwayat Husain bin ‘Abdullah] yang menyebutkan lafaz “telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir dan Abu Maalik keduanya Al-Asy’ary bahwa mereka berdua telah mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam]”. Dan lafaz Ibnu Hibban ini syadz karena menyelisihi semua perawi lain yang menyebutkan dengan lafaz syak [ragu] bukan dengan lafaz jamak [penggabungan].

Shadaqah bin Khalid dalam periwayatan dari ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir memiliki mutaba’ah dari Bisyr bin Bakr sebagaimana diriwayatkan Al Baihaqiy berikut

أخبرنا أبو عمرو محمد بن عبد الله الأديب أنبأ أبو بكر الإسماعيلي أخبرني الحسن يعني بن سفيان ثنا هشام بن عمار ثنا صدقة يعني بن خالد ثنا بن جابر عن عطية بن قيس عن عبد الرحمن بن غنم حدثني أبو عامر أو أبو مالك الأشعري والله يمينا أخرى ما كذبني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وأخبرني الحسن أيضا ثنا عبد الرحمن بن إبراهيم ثنا بشر يعني بن بكر ثنا بن جابر عن عطية بن قيس قال قام ربيعة الجرشي في الناس فذكر حديثا فيه طول قال فإذا عبد الرحمن بن غنم الأشعري قلت يمين حلفت عليها قال حدثني أبو عامر أو أبو مالك والله يمين أخرى حدثني أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ليكونن في أمتي أقوام يستحلون قال في حديث هشام الخمر والحرير وفي حديث دحيم الخز والحرير والخمر والمعازف ولينزلن أقوام إلى جنب علم تروح عليهم سارحة لهم فيأتيهم طالب حاجة فيقولون ارجع إلينا غدا فيبيتهم فيضع عليهم العلم ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abu ‘Amru Muhammad bin ‘Abdullah Al Adiib yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Bakr Al Isma’iiliy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Hasan yaitu bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Shadaqah yaitu bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir dari ‘Athiyah bin Qais dari ‘Abdurrahman bin Ghanm yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik Al Asy’ariy, demi Allah dia tidak mendustaiku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dan telah mengabarkan kepadaku Hasan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahiim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Bisyr yaitu bin Bakr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir dari ‘Athiyah bin Qais yang berkata Rabi’ah Al Jurasyiy berdiri di hadapan orang-orang, ia menyebutkan hadis yang panjang, [perawi] berkata maka ketika menyebutkan ‘Abdurrahman bin Ghanm Al Asy’ariy, aku [‘Athiyah] berkata aku bersumpah atasnya, bahwa ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Aamir atau Abu Maalik, demi Allah aku bersumpah ia telah menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “akan ada diantara umatku, kaum yang menghalalkan [dalam hadis Hisyaam] khamar dan sutra, [dalam hadis Duhaim] al khazz, sutra, khamr dan al ma’aazif Dan sungguh kaum itu akan tinggal di tempat yang terletak di sekitar gunung tinggi kemudian mereka didatangi oleh pengembara untuk suatu keperluan, maka mereka berkata “kembalilah kepada kami besok”. Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka dan menjadikan sebagian yang lain kera dan babi hingga hari kiamat [Sunan Al Baihaqiy 3/272 no 5895]

Riwayat Al Baihaqiy di atas sanadnya jayyid, para perawinya tsiqat dan shaduq hanya saja ‘Athiyah bin Qais ternukil sedikit kelemahan pada dhabit-nya

  1. Abu ‘Amru Muhammad bin ‘Abdullah Al ‘Adiib seorang ulama syafi’iy yang tsiqat muhaddis fadhl [Muntakhab Min Siyaaq Tarikh An Naisaburiy no 62]
  2. Abu Bakr Al Ismaa’iiliy seorang imam hafizh hujjah faqiih syaikh al islaam [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 16/292 no 208]
  3. Hasan bin Sufyaan An Nasawiy seorang imam hafizh tsabit [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 14/157 no 92]
  4. Hisyam bin ‘Ammaar seorang yang shaduq muqri’ ketika tua menerima talqin maka hadisnya shahih terdahulu lebih shahih daripada saat ia tua, termasuk thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 2/268]
  5. Shadaqah bin Khaalid Abul ‘Abbaas Ad Dimasyiq seorang yang tsiqat, termasuk thabaqat kedelapan [Taqriib At Tahdziib 1/435]
  6. ‘Abdurrahman bin Ibrahiim atau Duhaim seorang yang hafizh tsiqat mutqin termasuk thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/559]
  7. Bisyr bin Bakr seorang yang tsiqat dan memiliki riwayat gharib, termasuk thabaqat kesembilan [Taqriib At Tahdziib 1/126]
  8. ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jabir Al Azdiy seorang yang tsiqat termasuk thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 1/595]
  9. ‘Athiyah bin Qais berdasarkan pendapat yang rajih dia seorang yang shaduq tetapi terdapat sedikit kelemahan pada dhabit-nya [akan dijelaskan lebih detail dalam penjelasan di bawah]
  10. ‘Abdurrahman bin Ghanm dipersilisihkan kalau ia sahabat, Al Ijliy memasukkannya dalam tabiin tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/586]

Ibnu Hajar menyebutkan jalan sanad Abdurrahman bin Ibrahiim [Duhaim] di atas hanya saja pada matannya menyebutkan lafaz “al hira” bukan “al khazz” sebagaimana matan riwayat Baihaqiy di atas. [Taghliiq At Ta’liiq 5/19 no 5590]

‘Abdurrahman bin Ibrahiim [Duhaim] dalam periwayatan dari Bisyr bin Bakr memiliki mutaba’ah dari

  1. ‘Abdul Wahb bin Najdah sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/443 no 4039 hanya saja matannya tidak menyebutkan lafaz al ma’azzif
  2. Iisa bin Ahmad Al Asqallaniy sebagaimana diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 67/189 dengan matan yang lebih panjang dan menyebutkan lafaz al khazz, sutra, khamar dan al ma’aazif.

‘Athiyah bin Qais dalam periwayatannya dari ‘Abdurrahman bin Ghanm memiliki mutaba’ah dari Malik bin Abi Maryam, sebagaimana nampak dalam riwayat berikut

أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاشِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ  قَالَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ قَالَ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ ، قَالَ حَدَّثَنِي حَاتِمُ بْنُ حُرَيْثٍ  عَنْ مَالِكِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ  قَالَ تَذَاكَرْنَا الطِّلاءَ فَدَخَلَ عَلَيْنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ فَتَذَاكَرْنَا فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبُو مَالِكٍ الأَشْعَرِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  يَشْرَبُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ  يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا  يُضْرَبُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْقَيْنَاتِ  يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الأَرْضَ  وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Imraan bin Muusa bin Mujaasyi’ yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Hatim bin Huraits dari Maalik bin Abi Maryam yang berkata kami bercerita tentang ath thila’ [sejenis khamr] maka ‘Abdurrahman bin Ghanm masuk menemui kami dan kami pun bercerita. Maka ia berkata telah menceritakan kepadaku Abu Maalik Al Asy’ariy bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda akan ada sekelompok orang dari umatku yang meminum khamar dan menamakannya bukan dengan namanya, dimainkan untuk mereka al ma’aazif [alat musik] dan al qainat [penyanyi wanita] kemudian Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebagian dari mereka kera dan babi [Shahih Ibnu Hibbaan no 6758]

Riwayat di atas para perawinya tsiqat kecuali Maalik bin Abi Maryam ia seorang yang shaduq berdasarkan qarinah [petunjuk] yang kuat

  1. ‘Imraan bin Muusa bin Mujaasyi’ seorang hafizh yang tsiqat tsabit [Thabaqat Al Huffazh As Suyuthiy no 734]
  2. Utsman bin Abi Syaibah seorang tsiqat hafizh memiliki beberapa kekeliruan [Taqriib At Tahdziib 1/664]
  3. Zaid bin Hubaab seorang imam hafizh tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/393 no 126]
  4. Mu’awiyah bin Shaalih Al Himshiy seorang yang shaduq memiliki beberapa kekeliruan [Taqriib At Tahdziib 2/196]. Kemudian dikoreksi dalam Thariir Taqriib At Tahdziib bahwa Mu’awiyah bin Shaalih seorang yang tsiqat [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 6762]
  5. Hatim bin Huraits Ath Tha’iy, Ibnu Ma’in tidak mengenalnya tetapi Ad Darimiy menyatakan ia tsiqat [Tarikh Ad Darimiy no 287]
  6. Maalik bin Abi Maryam seorang yang shaduq berdasarkan qarinah [petunjuk] yang kuat pembahasannya secara detail akan ditampilkan dibawah.
  7. Abdurrahman bin Ghanm dipersilisihkan kalau ia sahabat, Al Ijliy memasukkannya dalam tabiin tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/586]

Riwayat Zaid bin Hubaab dari Mu’awiyah bin Shaalih di atas juga disebutkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 5/342 no 22951, Ibnu Arabiy dalam Mu’jam-nya no 1646, Al Mahamiliy dalam Amaliy Al Mahaamiliy riwayat Ibnu Yahya Al Bayyi’ no 61, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/495 semuanya dengan matan yang menyebutkan bahwa Malik bin Abi Maryam saat itu duduk bersama dengan Rabi’ah Al Jurasyiy, kemudian disebutkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/81 no 24212 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/354 no 3688 [dengan matan yang lebih ringkas].

Zaid bin Hubaab dalam periwayatan dari Mu’awiyah bin Shaalih memiliki mutaba’ah yaitu

  1. Abdullah bin Shalih, Abu Shalih sebagaimana disebutkan oleh Al Bukhariy dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 967 dan Tarikh Al Kabir juz 7 no 956, Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syaamiyyin no 2061 dan Mu’jam Al Kabir 3/283 no 3419, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20778, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/494-495.
  2. ‘Abdullah bin Wahb sebagaimana disebutkan Al Muwatta Ibnu Wahb hal 37 no 46, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/295 no 17160, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/496 dan Tarikh-nya 67/190
  3. Ma’n bin Iisa sebagaimana disebutkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya 5/151 no 4020, Hamzah As Sahmiy dalam Tarikh Jurjaan hal 76, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 56/496.

Secara keseluruhan hadis yang menyebutkan Al Ma’aazif ini diriwayatkan oleh para perawi yang dikenal tsiqat kecuali perawi yang meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm yaitu ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy dan Malik bin Abi Maryam. Berikut akan dibahas secara rinci kedudukan keduanya.

.

.

.

Kedudukan ‘Athiyah bin Qais dan Malik bin Abi Maryam

‘Athiyah bin Qais disebutkan Al Mizziy bahwa ia adalah perawi Bukhariy dalam At Ta’liq [Shahih Bukhariy] dan perawi Muslim dalam kitab Shahih-nya. Disebutkan dalam Al Jarh Wat Ta’dil yaitu

نا عبد الرحمن قال سئل ابى عن عطية بن قيس فقال صالح الحديث

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Ayahku ditanya tentang ‘Athiyah bin Qais, maka ia berkata “shalih al hadiits” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/383-384 no 2131]

Lafaz “shalih al hadiits” di sisi Abu Hatim termasuk lafaz ta’dil tetapi perawi dengan predikat tersebut terdapat kelemahan pada dhabit-nya sehingga hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah tetapi bisa dijadikan i’tibar. Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil

وإذا قيل صالح الحديث فانه يكتب حديثه للاعتبار

Dan jika perawi dikatakan shalih al hadiits maka ia seorang yang ditulis hadisnya sebagai i’tibar [Al Jarh Wat Ta’dil 2/37]

Dan itu sesuai dengan apa yang dikatakan Abu Hatim terhadap perawi yang hanya mendapat predikat “shalih al hadiits” [tanpa tambahan lafaz ta’dil lain]

نا عبد الرحمن قال سألت ابى عن عبد الواحد النصرى فقال كان واليا على المدينة صالح الحديث، قلت يحتج به ؟ قال لا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku bertanya kepada ayahku [Abu Hatim] tentang ‘Abdul Waahid An Nashriy, maka ia berkata “ia pemimpin Madinah shalih al hadiits”. Aku berkata “apakah ia bisa dijadikan hujjah?”. Ayahku menjawab “tidak” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/22 no 115]

عمر بن روبة التغلبي روى عن عبد الواحد بن عبد الله النصرى وابى كبشة روى عنه أبو سلمة سليمان بن سليم واسمعيل بن عياش ومحمد بن حرب نا عبد الرحمن قال سمعت ابى يقول ذلك وسألته عنه فقال صالح الحديث فقلت تقوم به الحجة ؟ فقال لا ولكن صالح

‘Umar bin Ru’bah At Taghlibiy meriwayatkan dari ‘Abdul Waahid bin ‘Abdullah An Nashriy dan Abi Kabsyah, telah meriwayatkan darinya Abu Salamah Sulaiman bin Sulaim, Isma’iil bin ‘Ayaasy, dan Muhammad bin Harb. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku mengatakan demikian dan aku bertanya tentangnya kepadanya, maka ia menjawab “shaliih al hadiits”. Aku berkata “dapatkah berhujjah dengannya?”. Ia menjawab “tidak, tetapi ia shalih” [Al Jarh Wat Ta’dil 6/108 no 570] 

Dan memang dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil terdapat cukup sering perawi yang disifatkan dengan shalih al hadiits kemudian diiringi dengan lafaz ta’dil lain seperti “tsiqat” atau “shaduq” atau “dapat dijadikan hujjah” maka makna “shaliih al hadiits’ tersebut terangkat dengan adanya lafaz tambahan yang membuatnya bisa dijadikan hujjah. Atau jika perawi tertentu dikatakan “shalih al hadiits” kemudian di saat lain dikatakan Abu Hatim “tsiqat” maka lafaz “shalih al hadiits” tersebut terangkat kedudukannya menjadi perawi yang bisa dijadikan hujjah.

Adapun jika lafaz “shalih al hadiits” itu tidak diiringi lafaz ta’dil lain dan tidak ada qarinah lain dari Abu Hatim yang menyatakan perawi itu tsiqat atau shaduq maka kedudukannya diambil makna seperti yang dikatakan Abu Hatim [dalam dua contoh di atas] dan ditegaskan oleh Ibnu Abi Hatim yaitu predikat ta’dil tetapi tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [bisa dijadikan i’tibar].

‘Athiyah bin Qais hanya disifatkan Abu Hatim dengan lafaz “shalih al hadiits” tanpa ada tambahan lafaz ta’dil lain maka di sisi Abu Hatim kedudukannya bisa dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud

Al Bazzar berkata tentang ‘Athiyah bin Qais yaitu laba’sa bihi [tidak ada masalah dengannya] [Kasyf Al Asytaar 1/106 no 189]. Lafaz ini termasuk lafaz ta’dil bahkan untuk kalangan ulama tertentu seperti Ibnu Ma’in dan Duhaim lafaz ini bermakna “tsiqat” tetapi di sisi Al Bazzaar lafaz ini tidak mengindikasikan kekuatan dhabit [hafalannya], sehingga terdapat perawi yang disifatkan Al Bazzaar dengan “tidak hafizh” tetap dinyatakan juga “tidak ada masalah dengannya”.

Al Bazzaar pernah meriwayatkan hadis dari Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dimana di dalam sanadnya terdapat ‘Atha’ bin Muslim, kemudian ia berkata

قَالَ الْبَزَّارُ  لا نَعْلَمُهُ يُرْوَى عَنْ عَلِيٍّ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ وَلا نَعْلَمُ رَوَى أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ أَوْسٍ شَيْئًا وَهِمَ فِيهِ عَطَاءٌ لَمْ يَكُنْ بِالْحَافِظِ وَلَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

Al Bazzaar berkata “kami tidak mengetahui diriwayatkan dari Aliy kecuali sanad ini, dan kami tidak mengetahui diriwayatkan Abu Ishaaq dari Aus sedikitpun, ini kesalahan dari ‘Atha’ ia bukan seorang hafizh dan tidak ada masalah dengannya” [Kasyf Al Asytaar 3/251 no 2684]

Syaikh Abu Ishaaq Al Huwainiy pernah membicarakan mengenai lafaz ta’dil “laisa bihi ba’sa” di sisi Al Bazzaar, Syaikh mengatakan Al Bazzaar dikenal tasahul dan perkataannya laisa bihi ba’sa bermakna beramal dengannya sebagai syawahid dan mutaba’ah [An Naafilah Fii Al ‘Ahaadiits Adh Dha’iifah Wal Baathilah no 113]

Ibnu Hibbaan memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam kitabnya Ats Tsiqat tanpa menyebutkan lafaz ta’dil

عَطِيَّة بْن قَيْس الْكلابِي من أهل الشَّام كُنْيَتُهُ أَبُو يحيى مولى لأَبِي بكر بْن كلاب يَرْوِي عَن مُعَاوِيَة رَوَى عَنْهُ الشاميون وابْنه سعد بْن عَطِيَّة مَاتَ سنة إِحْدَى وَعشْرين وَمِائَة وَهُوَ بن أَربع وَمِائَة سنة وَكَانَ مولده سنة سبع عشرَة وَمَات قبل مَكْحُول

‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy termasuk penduduk Syam, kuniyah-nya Abu Yahya maula Abi Bakr bin Kilaab, meriwayatkan dari Mu’awiyah dan telah meriwayatkan darinya penduduk Syam dan anaknya Sa’d bin ‘Athiyah, ia wafat tahun 121 H dan ia berumur 104 tahun, ia lahir tahun 17 H dan wafat sebelum Makhuul [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 5/260 no 4740].

Tentu jika memakai metodologi salafiy terhadap tautsiq Ibnu Hibban maka Ibnu Hibban memasukkan ‘Athiyah bin Qais ke dalam Ats Tsiqat tidak memiliki nilai hujjah karena Ibnu Hibbaan tidak menegaskan lafal ta’dilnya dan Ibnu Hibbaan dikenal tasahul dalam mentautsiq para perawi majhul.

Di sisi kami, penyebutan Ibnu Hibbaan dalam kitabnya Ats Tsiqat memiliki qarinah yang menguatkan ta’dil-nya yaitu Ibnu Hibban memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban. Dimana dalam muqaddimah kitab Shahih Ibnu Hibbaan disebutkan bahwa salah satu syarat perawi dalam kitabnya adalah “shaduq dalam hadis”.

Selain Abu Hatim, Al Bazzaar dan Ibnu Hibbaan tidak ditemukan ada ulama mutaqaddimin yang menta’dilkan ‘Athiyah bin Qais Al Kilaabiy sehingga dengan mengumpulkan pendapat ketiga ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘Athiyah bin Qais seorang yang shaduq tetapi terdapat sedikit kelemahan dalam dhabit-nya sehingga ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud atau jika menyelisihi perawi lain.

Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib menyebutkan lafaz ta’dil Abu Hatim dan Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdziib At Tahdziib juz 7 no 419] dan dalam At Taqriib, Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [Taqriib At Tahdziib 1/678]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdziib dikoreksi bahwa ia seorang yang shaduq hasanul hadis tidak ada seorang imam pun yang menyatakan tsiqat tetapi telah meriwayatkan darinya jama’ah, Ibnu Hibbaan memasukkan dalam Ats Tsiqaat dan Abu Hatim berkata “shaalih al hadiits” [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 4622]

Memang benar perkataan Ibnu Hajar bahwa ia tsiqat tidak memiliki asal penukilan dari kalangan ulama mutaqaddimin, hal itu berasal dari ijtihad Ibnu Hajar sendiri. Pendapat yang lebih rajih adalah ‘Athiyah bin Qais seorang yang shaduq, jika hadisnya tidak ada illat [cacat] tafarrud atau tidak ada penyelisihan maka riwayatnya hasan tetapi jika mengandung illat [cacat] tafarrud atau ada penyelisihan maka riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah.

Bukankah Bukhariy memasukkan ‘Athiyah bin Qais dalam Shahih Bukhariy dan Muslim juga memasukkannya dalam kitab Shahihnya?. Memang benar tetapi Bukhariy memasukkan hadisnya secara ta’liq dalam Shahih Bukhariy. Dan sudah dikenal dalam ilmu hadis bahwa hadis mu’allaq dalam Shahih Bukhariy bukan termasuk dalam golongan hadis yang dinyatakan Bukhariy sebagai shahih dalam kitabnya Shahih Bukhariy. Intinya hadis mu’allaq tidaklah sesuai dengan syarat Bukhariy

وَقَالَ طَاوُسٌ قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِي بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ

Thawus berkata Mu’adz [radiallahu ‘anhu] berkata kepada penduduk Yaman “berikan kepadaku barang-barang berupa pakaian khamiis atau pakaian lainnya sebagai zakat menggantikan gandum dan jagung, hal itu lebih mudah bagi kalian dan lebih baik bagi para sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Madinah [Shahih Bukhariy 2/116]

Atsar di atas disebutkan oleh Bukhariy dalam kitab Shahih-nya secara ta’liq dan atsar tersebut sanadnya dhaif karena Thawus sedikitpun tidak mendengar dari Mu’adz sebagaimana yang dikatakan oleh Aliy bin Madini [Jami’ At Tahshil Fii Ahkam Al Marasil no 307]. Ibnu Hajar berkata

قوله : ( وقال طاوس : قال معاذ لأهل اليمن ) هذا التعليق صحيح الإسناد إلى طاوس ، لكن طاوسا لم يسمع من معاذ فهو منقطع ، فلا يغتر بقول من قال : ذكره البخاري بالتعليق الجازم فهو صحيح عنده ، لأن ذلك لا يفيد إلا الصحة إلى من علق عنه ، وأما باقي الإسناد فلا

Perkataanya [dan Thawus berkata Mu’adz berkata kepada penduduk Yaman] ta’liq ini shahih sanadnya hingga Thawus, tetapi Thawus tidak mendengar dari Mu’adz maka ia munqathi’. Maka janganlah tertipu dengan perkataan orang yang mengatakan “jika Bukhariy menyebutkan ta’liq dengan sighat jazm maka ia shahih di sisinya, karena hal itu sebenarnya hanya menunjukkan shahih hingga perawi yang dita’liq adapun sisa sanadnya tidak [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 3/366]

Padahal Bukhariy mensyaratkan hadis shahih jika antara kedua perawi berada dalam satu masa dan sudah dipastikan bertemu, hal ini tidak terjadi antara Thawus dan Mu’adz maka sanad Thawus dari Mu’adz tidak memenuhi syarat Bukhariy. Hal ini membuktikan bahwa hadis ta’liq dalam Shahih Bukhariy tidak memenuhi syarat shahih Bukhariy.

Contoh lain terdapat hadis ta’liq dalam Shahih Bukhariy yang di dalam sanadnya terdapat perawi dhaif

وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ الْجَعْدِ سَمِعَ قَتَادَةَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ جُوَيْرِيَةَ حَدَّثَتْهُ فَأَمَرَهَا فَأَفْطَرَتْ

Dan berkata Hammaad bin Ja’d yang berkata aku mendengar Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Ayuub bahwa Juwairiyah telah menceritakan kepadanya Beliau memerintahkannya, maka ia berbuka [Shahih Bukhariy 3/42]

Hammaad bin Ja’d termasuk perawi yang lemah di sisi Al Bukhariy, At Tirmidzi pernah menanyakan suatu hadis kepada Al Bukhariy dan beliau menjawab

فقال لم أر أحدا رواه عن قتادة غير حماد بن الجعد وعبد الرحمن بن مهدي كان يتكلم في حماد بن الجعد

Maka [Bukhariy] berkata “aku tidak melihat seorangpun yang meriwayatkan dari Qatadah kecuali Hammaad bin Ja’d, dan ‘Abdurrahman bin Mahdiy telah membicarakan Hammaad bin Ja’d [Tartib Ilal Tirmidzi 1/27 no 10]

Contoh-contoh di atas hanya ingin menunjukkan bahwa perawi Bukhariy dalam At Ta’liq Shahih Bukhariy bukanlah perawi yang memenuhi syarat Bukhariy sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Al Bukhariy telah berhujjah dengan ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih-nya. Yang benar adalah Bukhariy hanya menjadikan hadis ‘Athiyah bin Qais sebagai syahiid. Al Mizziy dalam biografi ‘Athiyah bin Qais mengatakan

استشهد له البخاري بحديث واحد

Bukhariy mengeluarkan satu hadis darinya sebagai syahid [Tahdzib Al Kamal 20/156 no 3961]

Hadis yang dimaksud Al Mizziy tidak lain adalah hadis al ma’azif di atas dan kenyataaannya memang hadis tersebut sebagai penguat dari hadis Malik bin Abi Maryam [yang juga dikeluarkan Al Bukhariy dalam kitabnya Tarikh Al Kabir]

Muslim juga mengeluarkan hadis ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih-nya yaitu sebanyak dua hadis dan hadis ‘Athiyah bin Qais tersebut tidak dijadikan sebagai hujjah tetapi sebagai syawahid dan mutaba’ah.

  1. Dalam Shahih Muslim 1/335 no 454 ‘Athiyah bin Qais meriwayatkan hadis Abu Sa’id Al Khudriy dan ia memiliki mutaba’ah dari Rabi’ah bin Yaziid
  2. Dalam Shahih Muslim 1/347 no 477 ‘Athiyah bin Qais meriwayatkan hadis Abu Sa’id Al Khudriy dan sebagai syawahid dari hadis Ibnu ‘Abbas yaitu dalam Shahih Muslim 1/347 no 478.

Kesimpulannya adalah walaupun Imam Bukhariy dan Imam Muslim mengeluarkan hadis ‘Athiyah bin Qais dalam kitab Shahih [Bukhariy secara ta’liq] tetap tidak akan mengangkat derajat ‘Athiyah bin Qais sebagai hujjah karena hadis-hadisnya justru dijadikan sebagai syawahid dan mutaba’ah bukan sebagai hujjah. ‘Athiyah bin Qais tetaplah seorang yang shaduq dan memiliki sedikit kelemahan pada dhabit-nya sehingga hadisnya jika mengandung illat [cacat] tafarrud tidak bisa dijadikan hujjah.

Malik bin Abi Maryam tidak ditemukan keterangan tentangnya kecuali Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Ats Tsiqat

مَالك بن أبي مَرْيَم الْحكمِي يروي الْمَرَاسِيل ويروي عَن عبد الرَّحْمَن بن غنم عداده فِي أهل الشَّام روى عَنهُ حَاتِم بن حُرَيْث الطَّائِي

Maalik bin Abi Maryam Al Hakamiy meriwayatkan hadis-hadis mursal dan meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm, digolongkan dalam penduduk Syam, telah meriwayatkan darinya Haatim bin Huraits Ath Tha’iy [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 5/386 no 5323]

Penyebutan Ibnu Hibbaan dalam kitabnya Ats Tsiqat memiliki qarinah yang menguatkan ta’dil-nya yaitu Ibnu Hibban memasukkan Maalik bin Abi Maryam dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibban. Dimana dalam muqaddimah kitab Shahih Ibnu Hibbaan disebutkan bahwa salah satu syarat perawi dalam kitabnya adalah “shaduq dalam hadis”.

Al Bukhariy telah berhujjah dengan hadis Maalik bin Abi Maryam Al Hakamiy dalam merajihkan sahabat yang meriwayatkan hadis di atas, dimana ia memastikan kalau sahabat itu adalah Abu Maalik Al Asy’ariy

إبراهيم بن عبد الحميد بن ذي حماية عمن أخبره عن أبي مالك الأشعري أو أبي عامر سمعت النبي صلى الله عليه وسلم في الخمر والمعازف قاله لي سليمان بن عبد الرحمن قال حدثنا الجراح بن مليح الحمصي قال ثنا إبراهيم قال أبو عبد الله وإنما يعرف هذا عن أبي مالك الأشعري حديثه في الشاميين حدثنا عبد لله بن صالح قال حدثني معاوية بن صالح عن حاتم بن حريث عن مالك بن أبي مريم عن عبد الرحمن بن غنم أنه سمع أبا مالك الأشعري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ليشربن أناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها يضرب على رؤوسهم بالمعازف والقينات يخسف الله بهم الأرض ويجعل منهم القردة والخنازير

Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid bin Dzii Himayaah dari orang yang mengabarkan kepadanya daro Abu Maalik Al Asy’ariy atau Abu ‘Aamir yang berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang khamar dan al ma’aazif. Telah mengatakannya kepadaku Sulaiman bin ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Jarrah bin Maliih Al Himshiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim. Abu ‘Abdullah [Al Bukhariy] berkata “sesungguhnya hadis ini dikenal dari Abu Malik Al Asy’ariy hadis-hadisnya dari penduduk Syam”. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Shaalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari Hatim bin Huraits dari Maalik bin Abi Maryam dari ‘Abdurrahman bin Ghanm bahwa ia mendengar Abu Maalik Al Asy’ariy dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata akan ada sekelompok orang dari umatku yang meminum khamar dan menamakannya bukan dengan namanya, dimainkan untuk mereka al ma’aazif [alat musik] dan al qainat [penyanyi wanita] kemudian Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebagian dari mereka kera dan babi [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 1 no 967]

Bukhariy meriwayatkan hadis Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid yang mengandung lafaz syak nama sahabat yaitu Abu Maalik Al Asy’ariy atau Abu ‘Aamir Al Asy’ariy [dan hadis ‘Athiyah bin Qais juga mengandung lafaz syak]. Kemudian Al Bukhariy merajihkan nama Abu Maalik Al Asy’ariy berdasarkan riwayat Maalik bin Abi Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa Bukhariy telah berhujjah dengan hadis Maalik bin Abi Maryam. Kemudian kalau kita melihat judul bab Bukhariy ketika ia menukil hadis ‘Athiyah bin Qais

بَاب مَا جَاءَ فِيمَنْ يَسْتَحِلُّ الْخَمْرَ وَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ

Bab apa yang datang tentang orang yang menghalalkan khamr dan menamakan bukan dengan namanya

Nampak bahwa yang menjadi hujjah dalam judul bab ini adalah riwayat Maalik bin Abi Maryam yang memuat lafaz kaum yang meminum khamar dan menamakan bukan dengan namanya. Lafaz ini tidak ada dalam riwayat ‘Athiyah bin Qais yang dinukil Bukhariy. Maka kuat petunjuknya bahwa riwayat Malik bin Abi Maryam dijadikan hujjah di sisi Bukhariy dan riwayat ‘Athiyah bin Qais dijadikan sebagai penguat riwayat Maalik bin Abi Maryam.

Ibnu Hajar menyatakan tentang Maalik bin Abi Maryam “maqbul” [Taqriib At Tahdziib 2/155]. Adz Dzahabiy berkata “tidak dikenal” [Mizan Al I’tidal juz 6 no 7035]. Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ighaasatul Lahfaan menukil hadis Maalik bin Abi Maryam di atas yang diriwayatkan Ibnu Majah kemudian ia berkata “sanad hadis ini shahih” [Ighaasatul Lahfaan Ibnu Qayyim 1/459]. Maka ini menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Qayyim, Maalik bin Abi Maryam itu seorang yang tsiqat.

Jika kita bandingkan antara ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam maka akan didapatkan sebagai berikut

  1. ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam sama-sama dimasukkan Ibnu Hibbaan dalam Ats Tsiqat dan dimasukkan hadisnya dalam kitabnya Shahih Ibnu Hibbaan.
  2. Ternukil ulama muta’akhirin yang menyatakan tsiqat kepada keduanya yaitu Ibnu Hajar menyatakan tsiqat pada ‘Athiyah bin Qais dan Ibnu Qayyim yang menyatakan tsiqat pada Maalik bin Abi Maryam
  3. ‘Athiyah bin Qais dikatakan Abu Hatim “shalih al hadiits” dan Al Bazzaar berkata “tidak ada masalah dengannya”. Hal ini menyiratkan sedikit kelemahan pada dhabitnya dan hadisnya dijadikan syawahid dan mutaba’ah oleh Bukhariy dan Muslim. Adapun Maalik bin Abi Maryam telah dijadikan hujjah oleh Bukhariy dalam kitabnya Tarikh Al Kabiir ketika merajihkan nama Abu Maalik Al Asy’ariy.

Kesimpulannya adalah kedudukan ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam tidak jauh berbeda keduanya bisa dikatakan shaduq hanya saja ‘Athiyah bin Qais ternukil pendapat ulama mutaqaddimin yang menyatakan sedikit kelemahan pada dhabit-nya.

.

.

.

 

Pembahasan Makna Hadis

Hadis ‘Athiyah bin Qais dijadikan hujjah oleh sekelompok orang [baca: salafy] untuk mengharamkan alat musik secara mutlak karena di dalam hadisnya terdapat lafaz “kaum yang menghalalkan [al hirr] kemaluan, sutra, khamr dan Al Ma’aazif [alat musik]”. Lafaz “menghalalkan” menunjukkan bahwa asal hukumnya adalah haram dan oleh karena menghalalkan yang haram itulah mereka diazab dan dijadikan kera dan babi.

Jika ‘Athiyah bin Qais seorang yang tsiqat dan dhabit maka hujjah ini akan menjadi hujjah yang kuat tetapi faktanya tidak, ia sedikit diperbincangkan dalam masalah dhabit-nya. Mutaba’ah baginya yaitu Maalik bin Abi Maryam meriwayatkan hadis tersebut dari ‘Abdurrahman bin Ghanm tidak dengan lafaz seperti itu, tetapi dengan lafaz kaum yang meminum khamar dan menamakan bukan dengan namanya kemudian mereka diiringi dengan alat-alat musik [al ma’aazif] dan penyanyi wanita [al qainaat].

‘Athiyah bin Qais tafarrud dengan lafaz menghalalkan al ma’aazif dan ia sedikit dibicarakan dhabit-nya apalagi dalam hadis ini terdapat qarinah yang menunjukkan hafalannya tidak dhabit yaitu

  1. Dalam sebagian hadis terkadang disebutkan lafaz “al hira” [kemaluan] dan dalam sebagian hadis lain disebutkan lafaz “al khazz” [sejenis sutra].
  2. Dalam semua hadisnya terdapat lafaz syak [ragu] mengenai sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut apakah Abu ‘Aamir ataukah Abu Maalik.

Kalau kita menggabungkan hadis ‘Athiyah bin Qais dan hadis Maalik bin Abi Maryam maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud menghalalkan ma’aazif tersebut adalah mengiringi acara mabuk-mabukan dengan alat musik dan penyanyi wanita. Dengan kata lain pengharaman al ma’aazif tersebut tidak bersifat mutlak tetapi muqayyad yaitu terikat pada iringan maksiat. Jika alat musik tersebut dimainkan untuk mengiringi maksiat dan menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT maka hukumnya sudah pasti haram.

Penafsiran ini lebih tepat dan sesuai dengan hadis-hadis shahih yang menyatakan dibolehkan al ma’azif dan penyanyi wanita.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو تميلة يحيى بن واضح أنا حسين بن واقد حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم من بعض مغازيه فجاءت جارية سوداء فقالت يا رسول الله انى كنت نذرت ان ردك الله تعالى سالما ان أضرب على رأسك بالدف فقال ان كنت نذرت فافعلي وإلا فلا قالت انى كنت نذرت قال فقعد رسول الله صلى الله عليه و سلم فضربت بالدف

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Tamiilah Yahya bin Waadhih yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waaqid yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah [shallallhu ‘alaihi wasallam] kembali dari perperangannya maka budak wanita hitam datang kepadanya dan berkata “wahai Rasulullah, aku telah bernazar jika Allah ta’ala mengembalikanmu dalam keadaan selamat maka aku akan menabuh duff di hadapanmu”. Beliau berkata “jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah tetapi jika tidak maka jangan kau lakukan”. Ia berkata “aku telah bernadzar”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] duduk dan ia menabuh duff [Musnad Ahmad 5/356 no 23601, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

Tidak diragukan lagi bahwa duff termasuk dalam al ma’aazif sebagaimana Ibnu Atsir dalam An Nihayah berkata

العزف: اللعب بالمعازف وهي الدفوف وغيرها مما يضرب به

Al ‘Azf adalah bermain dengan al ma’aazif dan itu adalah duff duff dan selainnya yang biasa ditabuh [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar hal 612]

أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ نا الْجُعَيْدُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ  يَا عَائِشَةُ تَعْرِفِينَ هَذِهِ؟ قَالَتْ لا  يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ قَيْنَةُ بَنِي فُلانٍ تُحِبِّينَ أَنْ تُغَنِّيَكِ؟ فَغَنَّتْهَا

Telah mengabarkan kepada kami Haruun bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Makkiy bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Ju’aid dari Yaziid bin Khushaifah dari As Saa’ib bin Yaziid bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], maka Beliau berkata “wahai Aisyah apakah engkau mengenal wanita ini?”. [Aisyah] berkata “tidak wahai Nabi Allah”. Beliau berkata “wanita ini adalah penyanyi [qainah] dari bani fulan, sukakah engkau jika ia menyanyi untukmu” maka ia menyanyi [Sunan Al Kubra An Nasa’iy 8/184 no 8911, sanadnya shahih]

.

.

.

Kesimpulan

Seandainya maksud dari hadis ‘Athiyah bin Qais dan Maalik bin Abi Maryam adalah mengharamkan secara mutlak al ma’aazif [alat musik] dan penyanyi wanita maka itu berarti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menghalalkan apa yang diharamkan yaitu duff [contoh al ma’aazif] dan penyanyi wanita, dan ini sudah pasti bathil dan mustahil. Oleh karena itu penafsiran yang benar atas hadis al ma’azif adalah diharamkan jika alat musik dan penyanyi wanita dijadikan iringan perbuatan maksiat atau menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.

.

.

Note : Tulisan ini merevisi tulisan terdahulu soal hadis al ma’aazif yang sebelumnya mengambil faedah dari pembahasan Al Qardhawiy. Alhamdulillah Allah SWT memberikan kemudahan kepada kami untuk meneliti kembali tulisan tersebut. Nampak bahwa sebagian pembahasan Al Qardhawiy tersebut keliru dan pendapat yang kami pegang sekarang adalah apa yang tertulis dalam tulisan di atas.

8 Tanggapan

  1. Subhanullah, tulisan antum ini luar biasa dan sangat bermanfaat, semoga Allah memperbanyak orang seperti antum.

    ustad perkenankanlah saya menanyakan kedudukan hadis-hadis ini:

    Hukum membunuh Cicak

    Didalam shahih Muslim, Sunan Abu Daud dan Jami’ at Tirmidzi dari Abu Hurairoh berkata : Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa membunuh cecak maka pada awal pukulannya baginya ini dan itu satu kebaikan. Barangsiapa yang membunuhnya dalam pukulan kedua maka baginya ini dan itu satu kebaikan yang berbeda dengan yang pertama. Jika dia membunuhnya pada pukulan ketiga maka baginya ini dan itu kebaikan yang berbeda dengan yang kedua.

    Didalam shahih Muslim disebutkan : Barangsiapa yang membunuh cecak pada satu kali pukulan maka baginya seratus kebaikan. Dan jika pada pukulan kedua maka baginya (kebaikan) berbeda dengan itu (yang pertama), dan jika pada pukulan ketiga maka baginya (kebaikan) berbeda dengan itu (yang kedua).

    Hukum Memasang Foto, lukisan manusia

    Dalam hadits shahih riwayat Muslim dari Abul Hayyaj Al Asadi disebutkan, katanya: “Ali bin Abi Thalib pernah berkata kepadaku: Maukah kau kuutus dengan misi yang pernah diembankan Rasulullah kepadaku? (Yaitu:) Jangan kau biarkan ada gambar kecuali kau hapus, dan jangan kau biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali kau ratakan”.

    ini apa termasuk syirik dan pengultusan individu.

    sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas ketika bercerita ttg bagaimana tersesatnya kaum Nuh AS. (Anti bisa baca di tafsir surat Nuh secara lengkapnya) Yang intinya bahwa Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama orang-orang shalih dari umat Nabi Nuh. sepeninggal mereka berlima, kaumnya berusaha ‘mengenang’ keshalihan mereka lewat membuat patung2 dengan niat baik, yaitu memacu mereka untuk giat beribadah. akan tetapi setan menyesatkan mereka perlahan-lahan, hingga generasi demi generasi berganti, namun mereka tidak tau bahwa niat leluhur mereka dlm membuat patung/gambar org2 shalih tadi adl untuk motivasi, tapi mulai terbetik dari diri mereka bahwa yg digambar bukanlah orang sembarangan dst, hingga akhirnya mereka berlima jadi sesembahan selain Allah, sebagaimana firman-Nya dlm surat Nuh: 23.

    mohon maaf atas panjangnya pertanyaan saya tsb dan atas jawaban antum saya ucapkan terima kasih sebelumnya. semoga Allah membalas kebaikan antum untuk berbagi ilmu.

  2. @Ust SP
    benarkan mazhab ahlul bait membolehkan sodomi?
    Dan apakah para marja yang membolehkan sodomi dengan hewan itu berlandaskan mazhab ahlul bait?

  3. mas useng, diperjelas dong pertanyaannya dengan data2 supaya saya bisa ikut bertanya dan belajar, contoh info dari mana, kitab mana dan marja nya siapa? menarik juga pertanyaan anda , tapi tanpa dilengkapi data percuma saja, satu lagi harusnya tanya nya pada pengikut ahlulbait bukan sama mas SP

  4. @surdai
    apakah maksud dari pertanyaan anda adalah, adalah itu suka sodomi dengan hewan?😛

  5. pertanyaan oseng-oseng itu tdk perlu ditanggapi. maklumi saja orang sakit yg tdk mampu berargumen dan hanya bisa membual. kacian deh

  6. salam alaikum
    tulisan ini sangat pas dan masuk logika, tepat sasaran untuk mematahkan dalil pamungkas dari kaum yang menolak musik.

    diantara hal yang dipermasalahkan oleh kaum seperti ini salah satunya adalah hadis mengenai “haji itu wukuf”, jika Anda berkenan, pembahasan atas hadis tersebut bisa sangat bermanfaat.

  7. Bung @SP

    Betulkah disisi adz-Dzahabi dan Ibn Hazm Malik bin Abi Maryam itu adalah orang yang majhul ? Lantas apa tanggapan anda ?

  8. @Dafa Sani

    Sudah saya nukilkan di atas perkataan Adz Dzahabiy tentang Malik bin Abi Maryam dimana ia berkata “tidak dikenal”. Baik Adz Dzahabiy dan Ibnu Hazm adalah ulama muta’akhirin. Pernyataan mereka dalam hal ini tidak diterima karena Al Bukhariy ulama mutaqaddimin telah berhujjah dengan hadis Malik bin Abi Maryam di atas dan Ibnu Qayyim yang juga termasuk muta’akhirin menganggap Malik bin Abi Maryam tsiqat [karena tashih isnad di sisi muta’akhirin memiliki konsekuensi tautsiq para perawinya].

    Apalagi Ibnu Hibban memasukkan Malik bin Abi Maryam dalam kitabnya Ats Tsiqat dan disini terdapat qarinah yang menguatkan tautsiq Ibnu Hibban yaitu Ibnu Hibban menshahihkan hadisnya dalam Shahih Ibnu Hibban.

    Kesimpulannya berdasarkan pendapat yang rajih Malik bin Abi Maryam seorang yang shaduq sebagaimana dalam pembahasan di atas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: