Al Kulainiy Tertangkap Basah Mengedit Sanad Hadis Pendahulunya? : Kedustaan Nashibiy

Al Kulainiy Tertangkap Basah Mengedit Sanad Hadis Pendahulunya? : Kedustaan Nashibiy

Dalam kitab yang dijadikan pegangan dalam mazhab Syi’ah yaitu Al Kafiy Al Kulainiy ditemukan riwayat yang menyebutkan nama dua belas Imam ma’shum di sisi Syi’ah. Sebagian ulama Syi’ah telah menshahihkan riwayat tersebut. Kemudian muncul sekelompok pencela menyebarkan fitnah atau syubhat bahwa Al Kulainiy telah mengedit sanad tersebut yang asalnya dhaif kemudian diubah sanadnya sehingga tampak baik. Tulisan ini berusaha menganalisis secara objektif apakah tulisan tersebut benar atau seperti biasa dusta murahan dari kalangan pencela. Berikut riwayat Al Kafiy yang dimaksud

.

 Al Kafiy juz 1

Al Kafiy juz 1 hal 337

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْبَرْقِيِّ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ دَاوُدَ بْنِ الْقَاسِمِ الْجَعْفَرِيِّ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الثَّانِي ع قَالَ أَقْبَلَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ ع وَ مَعَهُ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ ع وَ هُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى يَدِ سَلْمَانَ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَجَلَسَ إِذْ أَقْبَلَ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ وَ اللِّبَاسِ فَسَلَّمَ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَجَلَسَ ثُمَّ قَالَ

Sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam]datang dan bersamanya Hasan bin Ali [‘alaihis salaam]dan ia berpegang dengan tangan Salman, kemudian Beliau masuk ke dalam Masjid Haram, maka beliau duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki yang berpenampilan dan berpakaian baik, Ia mengucapkan salam kepada Amirul Mukminin [‘alaihis salaam], maka Beliau menjawab salamnya, Orang tersebut duduk kemudian berkata…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/337]

Sengaja kami tidak mengutip matan lengkapnya karena panjang dan bukan itu yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Cukuplah dikatakan bahwa matan tersebut menyebutkan bahwa orang yang dimaksud adalah Khidir [‘alaihis salaam] dan Ia bersaksi mengenai kedua belas Imam Syi’ah beserta nama-nama mereka. Bagi yang ingin melihat matan lengkapnya silakan dilihat disini

Pencela yang dimaksud kemudian membawakan riwayat dengan matan yang sama dalam kitab Al Mahasin oleh Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dengan sanad sebagai berikut

Al Mahasin no 99

عنه، عن أبيه، عن أبي هاشم الجعفري رفع الحديث قال: قال أبو عبد الله

Darinya [Ahmad bin Muhammad Al Barqiy] dari Ayahnya dari Abi Haasyim Al Ja’fariy, ia merafa’kan hadis, ia berkata Abu ‘Abdullah berkata…[Al Mahasin Ahmad bin Muhammad Al Barqiy 2/332 no 99]

Maka berdasarkan riwayat dalam Al Mahasin, pencela tersebut mengatakan bahwa hadis itu diambil Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari ayahnya yaitu Muhammad bin Khalid Al Barqiy. Riwayat dalam Al Mahasin dhaif dengan alasan

  1. Muhammad bin Khalid telah didhaifkan oleh An Najasyiy.
  2. Abu Haasyim tidak bertemu dengan Abu ‘Abdullah maka riwayatnya mursal

Asal riwayat ini dhaif kemudian Al Kulainiy mengubahnya dalam Al Kafiy dengan menghilangkan nama ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dan mengganti nama Imam Abu ‘Abdullah dengan Abu Ja’far Ats Tsaniy.

.

.

.

Sebenarnya hakikat permasalahan riwayat ini bukanlah demikian. Kesalahan pencela tersebut karena terburu-buru dalam menarik kesimpulan, ia tidak mengumpulkan semua jalan sanad-sanadnya. Sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu kedudukan ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy yaitu Muhammad bin Khalid bin ‘Abdurrahman. An Najasyiy berkata dalam kitab Rijal-nya

وكان محمد ضعيفا في الحديث، وكان أديبا حسن المعرفة بالاخبار وعلوم العرب

Muhammad dhaif dalam hadis, dia seorang ahli sastra [penyair], baik pengenalannya dalam kabar dan ilmu-ilmu arab [Rijal An Najasyiy hal 335 no 898]

Walaupun ia didhaifkan oleh An Najasyiy tetapi ia telah ditsiqatkan oleh Syaikh Ath Thuusiy

محمد بن خالد البرقي، ثقة، هؤلاء من أصحاب أبي الحسن موسى عليه السلام

Muhammad bin Khalid Al Barqiy, tsiqat, mereka termasuk sahabat Abu Hasan Muusa [‘alaihis salaam] [Rijal Ath Thuusiy hal 363]

Allamah Al Hilliy memasukkannya dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal bagian pertama yang memuat para perawi tsiqat atau yang ia berpegang dengannya. Allamah Al Hilliy mengutip Ibnu Ghada’iriy, An Najasyiy dan Ath Thuusiy kemudian berpegang pada pendapat Syaikh Ath Thuusiy.

محمد بن خالد بن عبد الرحمان بن محمد بن علي البرقي، أبو عبد الله، مولى أبي موسى الأشعري، من أصحاب الرضا (عليه السلام)، ثقةوقال ابن الغضائري: انه مولى جرير بن عبد الله، حديثه يعرف وينكر، ويروي عن الضعفاء ويعتمد المراسيلوقال النجاشي: انه ضعيف الحديثوالاعتماد عندي على قول الشيخ أبي جعفر الطوسي رضي الله عنه من تعديله

Muhammad bin Khaalid bin ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Aliy Al Barqiy, Abu ‘Abdullah maula Abu Musa Al Asy’ariy, termasuk sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat. Ibnu Ghadha’iriy berkata bahwasanya ia maula Jarir bin ‘Abdullah, hadisnya dikenal dan diingkari dan ia meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang pada riwayat mursal. Najasyiy berkata bahwa ia dhaif dalam hadis. Dan yang menjadi pegangan di sisiku adalah perkataan Syaikh Abu Ja’far Ath Thuusiy [radiallahu ‘anhu] yang menta’dilnya [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 237]

Sayyid Al Khu’iy menjelaskan dalam kitab Mu’jam-nya bahwa sebenarnya perkataan Syaikh Ath Thuusiy tidaklah bertentangan dengan apa yang dikatakan Najasyiy dan Ibnu Ghada’iriy. Ia menjelaskan bahwa kedhaifan yang dimaksud Najasyiy bukan mendhaifkan Muhammad tetapi kepada hadisnya karena ia sering meriwayatkan dari perawi dhaif dan mursal seperti yang dikatakan Ibnu Ghadha’iriy. [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 17/71 no 10715].

Oleh karena itu dalam Al Mufiid, Muhammad Jawahiriy menegaskan bahwa Muhammad bin Khalid Al Barqiy tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 524]. Begitu pula yang dirajihkan oleh Ahmad bin ‘Abdur Ridha Al Bashriy dalam Fa’iq Al Maqaal Fii Hadits Wa Rijal hal 150 no 882.

Menurut kami pendapat yang paling baik adalah dengan mengambil jalan tengah bahwa ia pada dasarnya tsiqat tetapi terdapat kedhaifan dalam hadisnya sehingga hadisnya dikenal dan diingkari. Oleh karena itu ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud tetapi hadisnya dapat dijadikan penguat.

.

.

.

Setelah itu mari kita mengumpulkan sanad-sanad riwayat Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy di atas selain dari kitab Al Kafiy.

عنه، عن أبيه، عن أبي هاشم الجعفري رفع الحديث قال: قال أبو عبد الله

Darinya [Ahmad bin Muhammad Al Barqiy] dari Ayahnya dari Abi Haasyim Al Ja’fariy, ia merafa’kan hadis, ia berkata Abu ‘Abdullah berkata…[Al Mahasin Ahmad bin Muhammad Al Barqiy 2/332 no 99]

Kamal Ad Din Shaduq

Kamal Ad Din Shaduq hal 295

حدثنا أبي ، ومحمد بن الحسن رضي الله عنهما قالا : حدثنا سعد بن عبد الله وعبد الله بن جعفر الحميري ، ومحمد بن يحيى العطار ، وأحمد بن إدريس جميعا قالوا : حدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي قال : حدثنا أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري ، عن أبي جعفر الثاني محمد بن علي عليهما السلام قال

Telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Muhammad bin Hasan [radiallahu ‘anhuma] keduanya berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Athaar, Ahmad bin Idris, semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy Muhammad bin Aliy [‘alaihimus salaam] yang berkata…[Kamal Ad Diin Wa Tammaam An Ni’mah hal 294-295, Syaikh Shaduq]

Ilal Syarai' Shaduq

Ilal Syarai' Shaduq hal 99

حدثنا أبي رضي الله عنه قال : حدثنا سعد بن عبد الله ، عن أحمد بن محمد عن ابن خالد البرقي ، عن أبي هاشم داود بن القاسم الجعفري ، عن أبي جعفر الثاني

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Abdullah dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Khaalid Al Barqiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy…[Ilal Asy Syarai’ Syaikh Shaduq 1/96]

  U'yun Akhbar Ridha juz 1

U'yun Akhbar Ridha juz 1 hal 67

حدثنا أبي ومحمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنهما قالا : حدثنا سعد بن عبد الله وعبد الله بن جعفر الحميري ومحمد بن يحيى العطار وأحمد بن إدريس جميعا قالوا : حدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي قال : حدثنا أبي هاشم  داود بن القاسم الجعفري عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهما السلام قال

Telah menceritakan kepadaku Ayahku dan Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid [radiallahu ‘anhuma] keduanya berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Athaar, Ahmad bin Idris, semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihimus salaam] yang berkata…[U’yun Akhbar Ar Ridhaa Syaikh Shaduq 1/67]

Dengan mengumpulkan semua sanad riwayat kisah di atas maka didapatkan bahwa terkadang Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari ayahnya dari Abu Haasyim dan terkadang meriwayatkan langsung dari Abu Haasyim. Disini ada dua kemungkinan

  1. Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy melakukan tadlis sehingga terkadang ia meriwayatkan dengan menghilangkan nama ayahnya
  2. Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari Ayahnya dan mendengar langsung pula dari Abu Haasyim

Yang kedua inilah yang benar sebagaimana nampak dalam zhahir riwayat Ash Shaduq dimana Ahmad bin Muhammad meriwayatkan dari Abu Haasyim dengan lafaz “haddatsana” yaitu telah menceritakan kepada kami. Maka kedustaan pertama pencela tersebut ketika ia mengatakan bahwa Al Kulainiy menghilangkan nama ayahnya Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dalam sanad kitab Al Kafiy. Padahal fakta riwayat menunjukkan bahwa sanad riwayat tersebut ada dua, yaitu Ahmad bin Muhammad Al Barqiy meriwayatkan dari Ayahnya dan Ahmad bin Muhammad Al Barqiy mendengar langsung dari Abu Haasyim. Maka dengan mudah dapat dikatakan bahwa riwayat Al Kafiy memang adalah riwayat Ahmad bin Muhammad Al Barqiy dari Abu Haasyim.

.

.

Terdapat perselisihan soal riwayat Abu Haasyim Dawud bin Qaasim. Dalam Al Mahasin, disebutkan bahwa ia merafa’kan kepada Abu ‘Abdullah. Lafaz merafa’kan di sisi ilmu hadis Syi’ah menunjukkan bahwa memang ada perawi yang tidak disebutkan namanya dalam sanad tersebut [rafa’ disini berbeda maksudnya dengan pengertian rafa’ di sisi Sunni]. Riwayat Al Mahasin berasal dari Muhammad bin Khalid Al Barqiy

Disebutkan oleh Ash Shaduq dalam Ilal Asy Syarai’ bahwa Muhammad bin Khalid Al Barqiy meriwayatkan dari Abu Haasyim dari Abu Ja’far Ats Tsaniy. Maka disini ada dua kemungkinan

  1. Muhammad bin Khalid Al Barqiy keliru dalam menyebutkan sanadnya sehingga hanya salah satu dari sanad tersebut yang benar
  2. Kedua riwayat tersebut benar, yaitu dari Abu ‘Abdullah seperti yang disebutkan dalam Al Mahasin dan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy seperti yang disebutkan Ash Shaduq

Berdasarkan pembahasan sebelumnya mengenai kedudukan Muhammad bin Khalid Al Barqiy maka diketahui bahwa terdapat kelemahan dalam hadisnya sehingga pendapat yang rajih adalah kemungkinan pertama yaitu salah satunya yang benar. Untuk menentukan mana yang benar tentu dengan melihat qarinah dari riwayat lain’

.

Riwayat Ash Shaduq yang tidak melalui jalur Muhammad bin Khalid yaitu riwayat dimana Ahmad bin Muhammad Al Barqiy meriwayatkan langsung dari Abu Haaysim juga terjadi perselisihan yaitu terkadang Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy dan terkadang Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Al Baqir. Disini juga ada dua kemungkinan

  1. Salah satu riwayat Abu Haasyim keliru, riwayat Abu Ja’far Ats Tsaniy atau riwayat Al Baqir
  2. Kedua riwayat Abu Haasyim tersebut benar artinya ia meriwayatkan dari Al Baqir juga dari Abu Ja’far Ats Tsaniy

Kemungkinan yang rajih adalah yang pertama, salah satu riwayat Abu Haasyim tersebut keliru dan yang benar adalah riwayat dari Abu Ja’far Ats Tsaniy dengan qarinah sebagai berikut

  1. Abu Haasyim tidak dikenal sebagai sahabat Abu Ja’far Al Baqir bahkan ia tidak menemui masa Al Baqir dan dalam kitab Rijal Syi’ah disebutkan bahwa ia adalah sahabat Abu Ja’far Ats Tsaniy atau Imam Jawad [‘alaihis salaam]
  2. Jika memang lafaz yang dimaksud dalam salah satu riwayat Ash Shaduq adalah Abu Ja’far Al Baqir maka akan disebutkan lafaz “merafa’kan sanadnya” yang menunjukkan bahwa ada perawi lain antara keduanya sebagaimana halnya yang nampak dalam riwayat Al Mahasin

Menurut kami terjadi tashif dalam kitab U’yun Akhbar Ar Ridha tersebut sehingga lafaz yang benar adalah Ats Tsaniy bukan Al Baqir. Bukti nyata akan hal ini adalah Ayahnya Syaikh Shaduq yaitu Ibnu Babawaih Al Qummiy meriwayatkan sanad tersebut dengan menyebutkan lafaz Abu Ja’far Ats Tsaniy

Imamah Wa Tabshirah

Imamah Wa Tabshirah hal 106

سعد بن عبد الله، وعبد الله بن جعفر الحميري، ومحمد بن يحيى العطار، وأحمد بن إدريس، جميعا قالواحدثنا أحمد بن أبي عبد الله البرقي، قال: حدثنا أبو هاشم داود بن القاسم الجعفري، عن أبي جعفر الثاني محمد بن علي عليهما السلام قال

Sa’d bin ‘Abdullah, Abdullah bin Ja’far Al Himyariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Aththaar, dan Ahmad bin Idris semuanya mengatakan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy dari Abu Ja’far Ats Tsaniy Muhammad bin ‘Aliy [‘alaihimas salaam] yang berkata…[Al Imamah Wal Tabshirah, Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy hal 106 no 93]

Hadis di atas menguatkan bahwa pendapat yang rajih mengenai riwayat Ash Shaduq adalah Abu Haasyim meriwayatkan dari Abu Ja’far Ats Tsaniy. Dan hadis ini juga menjadi dasar untuk menguatkan bahwa riwayat Muhammad bin Khalid Al Barqiy yang rajih adalah riwayat dalam kitab Ilal Asy Syarai’ yang menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy bukan riwayat dalam Al Mahasin

Maka kedustaan kedua adalah ketika pencela itu mengatakan bahwa Al Kulainiy mengganti nama Imam Abu ‘Abdullah menjadi Abu Ja’far Ats Tsaniy padahal justru yang rajih adalah riwayat yang menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy karena juga terdapat dalam riwayat selain dari Muhammad bin Khalid Al Barqiy.

Seandainya pun pencela tersebut menolak perajihan di atas maka itupun tetap membuktikan kedustaannya karena perselisihan riwayat yang tidak bisa ditarjih hanya menunjukkan bahwa terjadi idhthirab pada sanadnya dan idhthirab ini lebih mungkin dikembalikan kepada Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy atau Abu Haasyim Dawud bin Qaasim. Ini pun juga membuktikan bahwa Al Kulainiy tidaklah mengubah sanad tersebut karena penyebutan Abu Ja’far Ats Tsaniy juga ada dalam riwayat Ash Shaduq.

Kalau dikaji secara keseluruhan maka sanad yang benar memang dengan penyebutan Abu Ja’far Ats Tsaniy. Sebagaimana disebutkan oleh jama’ah dari Ahmad bin Muhammad Al Barqiy yang nampak dalam riwayat Al Kulainiy dan Ash Shaduq. Allamah Al Hilliy mengutip dari Al Kulainiy yang mengatakan

عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن خالد البرقي، فهم علي بن إبراهيموعلي بن محمد بن عبد الله ابن أذينة وأحمد بن عبد الله بن أميةوعلي بن الحسن

Sekelompok sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy maka mereka adalah Aliy bin Ibrahim, Aliy bin Muhammad bin ‘Abdullah Ibnu Adziinah, Ahmad bin ‘Abdullah bin Umayyah dan Aliy bin Hasan [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 430]

Ada empat perawi dalam riwayat Al Kulainiy dan empat lagi dari riwayat Ash Shaduq yang semuanya meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy dengan menyebutkan Abu Ja’far Ats Tsaniy. Riwayat ini juga disebutkan Sayyid Haasyim Al Bahraniy dalam Madinatul Ma’aajiz dengan lafaz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Ats Tsaniy [Madinatul Ma’aajiz 3/341-346]. Kesimpulannya memang benar riwayat tersebut berasal dari Abu Ja’far Ats Tsaniy [‘alaihis salaam]

Kami tidak membahas kedudukan riwayat tersebut secara detail, apakah ia shahih atau tidak berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah?. Kami hanya ingin menunjukkan kedustaan pencela tersebut dengan analisa murahannya. Sekedar informasi riwayat Al Kafiy ini telah dishahihkan oleh Al Majlisiy dalam Mirat Al Uqul 6/203 dan kami lihat tidak ada masalah dengan penilaian Al Majlisiy.

.

.

.

Dalam kitab ahlus sunnah juga ditemukan fenomena seperti ini dan hanya orang yang pikirannya awam saja yang menyatakan bahwa seorang ulama mengubah sanad pendahulunya hanya karena sanadnya dengan sanad pendahulunya berbeda. Berikut ada hadis yang menyebutkan kalau Zubair tergolong pihak yang zalim ketika memerangi Imam Aliy. Hadis tersebut diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad berikut

Mustadrak juz 3

Mustadrak no 5575

حدثنا بذلك أبو عمرو محمد بن جعفر بن محمد بن مطر العدل المأمون من أصل كتابه ثنا عبد الله بن محمد بن سوار الهاشمي ثنا منجاب بن الحارث ثنا عبد الله بن الأجلح حدثني أبي عن يزيد الفقير قال منجاب : و سمعت فضل بن فضالة يحدث به جميعا عن أبي حرب بن أبي الأسود الديلي قال

Telah menceritakan demikian Abu ‘Amru Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin Mathar Al ‘Adl Al Ma’mun dari Ushul Kitab-nya yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Sawaar Al Haasyimiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Munajaab bin Al Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Ajlah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Yaziid Al Faqiir. Munajaab berkata dan aku mendengar Fadhl bin Fadhalah menceritakan dengannya, keduanya [Yazid Al Faqiir dan Fadhl bin Fadhalah] dari Abi Harb bin Abil Aswad…[Mustadrak Al Hakim juz 3 no 5575]

Kemudian mari lihat hadis yang sama diriwayatkan oleh Baihaqiy dimana terjadi perubahan pada sanadnya

Dalail Nubuwah juz 6

Dalalil Nubuwah juz 6 hal 414

أخبرنا أبو بكر أحمد بن الحسن القاضي ، أخبرنا أبو عمرو بن مطر ، أخبرنا أبو العباس عبد الله بن محمد بن سوار الهاشمي الكوفي ، حدثنا منجاب بن الحارث ، حدثنا عبد الله بن الأجلح ، قال : حدثنا أبي ، عن يزيد الفقير ، عن أبيه ، قال : وسمعت الفضل بن فضالة ، يحدث أبي عن أبي حرب بن الأسود الدؤلي ، عن أبيه

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abu ‘Amru bin Mathar yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abbas ‘Abdullah bin Muhammad bin Sawaar Al Haasyimiy Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Munajaab bin Al Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ajlah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Yazid Al Faqiir dari Ayahnya. [Munajab] berkata aku mendengar Fadhl bin Fadhalah berkata telah menceritakan ayahku dari Abi Harb bin Aswad Ad Du’aliy dari Ayahnya… [Dala’il Nubuwah Baihaqiy 6/414].

Al Hakim meriwayatkan dari Abu ‘Amru bin Mathar dari Ushul kitabnya dengan dua sanad yaitu

  1. Munajaab dari Abdullah bin Ajlah dari Ayahnya dari Yaziid Al Faqiir dari Abi Harb bin Abil Aswad
  2. Munajaab dari Fadhl bin Fadhalah dari Abi Harb bin Abil Aswad

Al Baihaqiy dalam kitabnya meriwayatkan dari Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy dari Abu ‘Amru bin Mathar dengan dua sanad berikut

  1. Munajaab dari Abdullah bin Ajlah dari Ayahnya dari Yazid Al Faqiir dari Ayahnya dari Abi Harb bin Abil Aswad dari Ayahnya
  2. Munajaab dari Fadhl bin Fadhalah dari Ayahnya dari Abi Harb bin Abil Aswad dari Ayahnya

Sanad dalam kitab Al Baihaqiy terdapat penambahan kata ayahnya jika dibandingkan dengan sanad dalam Ushul Kitab Abu ‘Amru bin Mathar. Maka apakah itu berarti Baihaqiy mengubah atau mengedit sanad yang asalnya dari kitab Abu ‘Amru bin Mathar pendahulunya.

Mereka yang akrab dengan ilmu hadis tidak akan mengatakan demikian sebelum ada bukti nyata bahwa Baihaqiy mengubah sanad tersebut karena fenomena seperti ini banyak dalam kitab hadis. Hal yang bisa dikatakan disini adalah terdapat kekeliruan pada sanadnya dan siapa yang keliru jelas memerlukan penelitian atau qarinah lebih lanjut.

.

.

Kami pribadi tidak pernah keberatan dengan orang-orang yang mengkritik Syi’ah secara ilmiah. Bagi kami kritikan tersebut menjadi tambahan ilmu yang berguna dalam mencari kebenaran [dalam hal ini tentang Syi’ah]. Yang kami tidak suka adalah orang yang terburu-buru dan mungkin mengedepankan hawa nafsu kebenciannya atau kejahilan akalnya sehingga menghina Syi’ah dengan syubhat murahan yang bahkan hal itu banyak terjadi dalam kitab-kitab pegangan ahlus sunnah. Hal ini menunjukkan secara tidak langsung pencela tersebut juga menghina Ahlus Sunnah.

Dan orang seperti mereka jika kita tunjukkan bantahan atas tulisan mereka akan memandang siapapun yang membantah mereka sebagai antek syi’ah rafidhah, hamba mut’ah, dan celaan lain yang mereka nisbatkan kepada Syi’ah. Apa di dunia ini mereka pikir hanya ada dua jenis manusia yaitu Syi’ah dan Pencela Syi’ah?. Apa mereka hidup di dunia dimana siapapun Pembela Syi’ah maka sudah pasti Syi’ah?. Jika pertanyaan sederhana ini saja tidak bisa mereka pahami dan jawab secara kritis maka kami katakan tidak usah jauh-jauh membuat tulisan ilmiah karena kualitasnya pasti tidak jauh dari analisa murahan atau fitnah semata. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk bagi mereka yang mau menggunakan akalnya.

Iklan

15 Tanggapan

  1. terima kasih pak atas pencerahanya, saya dapat tambahan ilmu. lanjutkan terus.

  2. like it thumb…

  3. hmm luar biasa

  4. mantap …

  5. Kayaknya nasib agama islam sama kayak kristen

  6. Kayaknyah gueh jadih bingung deh

  7. yang mengagumkan dari wahabi takfiri, mereka PD sekali mengatakan mencontoh rosulullah, padahal mereka ilmu dan kepercayaan dan penafsiran2nya taqlid2 juga sama guru dan imam2nya dari arab sono

  8. @samara
    Mereka bukan saja pede mencontoh Rasulullah, mereka bahkan pede lebih hebat dari Rasulullah dan sahabat (mencontoh nenek moyang mereka):

    Abu Sa’id Al Khudri berkata: Ketika kita sedang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat beliau sedang membagi-bagi harta, datanglah Dzul Khuwaisiroh dia adalah seorang laki-laki berasal dari Bani Tamim. Orang itu berkata: “Ya Rasulullah,berbuat adillah!”

    Rasulullah berkata: “Celakalah kamu, siapa yang bisa adil jika aku saja tidak bisa adil. Celaka dan rugilah aku jika tidak bisa adil.”

    Umar bin Khattab radhiallahu anhu berkata: “Ya Rasulullah ,izinkan saya memenggal kepalanya.”

    Rasulullah berkata: “Biarkanlah. Dia ini mempunyai teman-teman yang seorang di antara kalian akan merasa rendah jika membandingkan shalatnya dengan shalat mereka, shiyamnya dengan shiyam mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, melesat dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah mengenai buruan…” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Terlalu banyak untuk dikutip kesombongan mereka.

    salam.

  9. Bung secondprince, apakah buku “Kejumudan wahabi” anda yg mengarang?

    Btw, senang sekali bisa mengunjungi kembali blog anda. Semoga anda dikumpulkan bersama Rasulullah dan ahlul baitnya atas jasa2 anda memuliakan mereka. Amin.

  10. alhamdulliah al haq tidak bisa terkalahkan dengan kebathilan, berbagai tipu daya mereka lakukan….Allohumma solli a’laa muhammad wa a’laa aali muhammad..

  11. makasih pencerahanya mas, saya jadi semakin yakin kalo Syiah itu bukan bagian dari Islam.. saya juga semakin mantap kalo syiah itu ternyata foundernya bangsa yahudi yg berusaha menghancurkan Islam dengan membuat aliran syiah ini..

  12. […] sebelumnya kami pernah membahas sedikit mengenai hadis dua belas imam di sisi Syi’ah walaupun sebenarnya pokok bahasan yang kami bahas adalah kedustaan nashibiy yang menuduh Al […]

  13. @SP

    assalamu alaikum, semoga selalu tercurah ilmu kepada sdr. SP

    kalau sdr.SP berkenan menjawab pertanyaan saya:

    bagaimana kedudukan hadits di bawah ini dan
    mengapa ada dua nama sulaim bin qais pada sanadnya
    juga betulkah husain pada masa hidupnya bertemu
    dengan muhammad bin ali..?

    Ali bin Ibrahim, daripada bapanya, daripada Hammad bin Isa, daripada Ibrahim bin Umar al-Yamani, daripada Abban bin Abi ‘Iyaysy, daripada Sulaim bin Qais dan Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Ibn Abi ‘Umair, daripada Umar bin Abu Udhinah dan Ali bin Muhammad, daripada Ahmad bin Hilal, daripada Ibn Abi ‘Umair, daripada Umar bin Udhinah, daripada [Abban] bin Abi ‘Iyyasy, daripada Sulaim bin Qais berkata: Aku telah mendengar Abdullah bin Ja’far al-Tayyar berkata: Kami telah berada di sisi Mu’awiyah, aku, al-Hasan, al-Husain, Abdullah bin al-‘Abbas, Umar bin Umm Salmah dan Usamah bin Zaid, maka telah berlaku di antara aku dan Mu’awiyah percakapan, lalu aku telah berkata kepada Mu’awiyah: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Aku adalah lebih baik (aula) dengan mukminin daripada diri mereka sendiri, kemudian saudaraku Ali bin Abu Talib adalah lebih baik (aula) dengan mukminin daripada diri mereka sendiri.
    Apabila Ali mati syahid, maka al-Hasan bin Ali adalah lebih baik dengan mukminin daripada diri mereka sendiri, kemudian anak lelakiku al-Husain selepasnya adalah lebih baik dengan mukminin daripada diri mereka sendiri. Apabila beliau mati syahid, maka anak lelakinya Ali bin al-Husain adalah lebih baik dengan mukminin daripada diri mereka sendiri dan anda akan mendapatinya, wahai Ali , kemudian anak lelakinya Muhammad bin Ali adalah lebih baik dengan mukminin daripada diri mereka sendiri. Dan anda akan mendapatinya, wahai Husain, kemudian sembilan daripada anak-anak lelaki al-Husain akan menyempurnakan dua belas imam, Abdullah bin Ja’far telah berkata: Aku telah menyaksikan al-Hasan, al-Husain, Abdullah bin ‘Abbas, Umar bin Umm Salmah dan Usamah bin Zaid, maka mereka telah memberi penyaksian kepadaku di sisi Mu’awiyah, Sulaim telah berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar sedemikian daripada Salman, Abu Dhar dan al-Miqdad dan mereka telah menyebut bahawa mereka telah mendengarnya daripada Rasulullah s.a.w.

  14. @Erya Wintim

    Waalaikum salam, Hadis yang anda kutip sanadnya dhaif berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah karena kelemahan Abaan bin Abi ‘Ayyaasy [silakan lihat tulisan terbaru tentang Abbaas]. Ada dua kali disebutkan nama Sulaim bin Qais karena hadis tersebut memiliki dua jalan sanad yang sama-sama berakhir pada Sulaim bin Qais. Berdasarkan tarikh tahun lahir, memang Muhammad Al Baqir lahir sebelum Husain bin Aliy wafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: