Shahih Hadis Malik Ad Daar : Menjawab Syubhat Inqitha’ Abu Shalih dari Malik Ad Daar

Shahih Hadis Malik Ad Daar : Menjawab Syubhat Inqitha’ Abu Shalih dari Malik

Ternyata lama menghilang di dunia maya membuat saya ketinggalan banyak hal diantaranya tanggapan terhadap tulisan-tulisan saya. Masih seputar hadis tawassul, (tentu tanpa diiringi niat mau menang sendiri) saya dapat cukup bersabar untuk terus berdialog mengenai keshahihan hadis Malik. Saudara yang saya hormati itu telah kembali menanggapi tulisan saya dalam tulisannya http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/04/kelemahan-riwayat-maalik-ad-daar-dialog_20.html.

Saya telah membacanya dan mendapati ternyata beliau masih tetap berkeras pada pendiriannya yang saya anggap keliru. Setelah membaca tulisan saya, beliau mengatakan

tetap saja saya tidak merasa puas akan jawabannya. Pernyataannya hanya berkisar pada “keyakinan” terhadap satu kemungkinan yang tidak didapatkan qarinah dalam perajihan.

Padahal dalam tulisan saya yang lalu telah saya sebutkan qarinah yang dimaksud,  sayang sekali ternyata hal itu belum memuaskan beliau. Memang puas atau tidak puas relative sifatnya, kita terkadang lebih puas dengan apa yang kita yakini daripada keyakinan orang lain, kita terkadang menetapkan standar yang tinggi bagi orang lain padahal kita sendiripun tidak dapat memenuhi standar tersebut. Baca lebih lanjut

Shahih Hadis Tawassul Malik Ad Daar : Jawaban Atas Matan Dengan Perawi Mubham

Hadis Malik Ad Daar Mubham

Anda mengatakan

Saya katakan : Perkataan Anda bahwa tidak ada keraguan mengenai sanad hadits tersebut telah lalu penjelasan akan kekeliruannya. Adapun tentang mubham, maka yang Anda katakan tidaklah mutlak. Perawi mubham tidaklah memberikan pengaruh terhadap riwayat jika ia tidak membawakan riwayat, kisah, dan yang sejenisnya dalam matan. Namun jika ia membawakan satu riwayat, kisah, dan yang sejenisnya; maka ini perlu dilihat.

Telah berlalu pula penjelasan saya akan kekeliruan anda. Adapun tentang mubham maka dalam hadis di atas ternyata tidak hanya memuat perkataan perawi mubham. Dalam matannya apa yang dibawa perawi mubham adalah mimpinya dimana ia mengadukan mimpinya kepada Khalifah Umar RA. Mari kita analisis dengan cermat. Malik Ad Daar, Perawi Mubham dan Khalifah Umar berada pada satu masa. Ini sudah sangat jelas. Dalam hadis di atas kita dapati Baca lebih lanjut

Shahih Hadis Tawassul Malik Ad Daar : Jawaban Atas Tuduhan Malik Ad Daar Majhul

Analisis Majhulnya Malik Ad Daar

Dalam tulisan saya yang lalu saya telah menolak predikat majhul yang disematkan kepada Malik Ad Daar yang kemudian ditanggapi oleh saudara penulis sebagai kekurangcermatan saya. Saya akan memulai penjelasan saya dengan tanggapan terhadap pernyataan Syaikh Al Albani.

kebenaran kisah ini tidak dapat diterima, karena Maalik Ad-Daar ini tidak dikenal kejujuran dan kekuatan hafalannya. Sedangkan dua persyaratan ini sangat esensial di dalam setiap sanad yang shahih, sebagaimana ditetapkan di dalam ilmu Mushthalah Hadiits.

Akan ditunjukkan nanti bahwa Syaikh keliru, cukuplah disini saya katakan bahwa orang yang dituduh Syaikh Al Albani kalau bukan seorang tabiin senior maka ia adalah sahabat Nabi. Dan telah jelas bahwa menurut salafy sendiri sahabat dan tabiin senior adalah manusia yang paling baik. Jadi kesaksian mereka jauh lebih baik dari orang setelah mereka, begitukah? Baca lebih lanjut

Shahih Hadis Tawassul Malik Ad Dar : Jawaban Atas Inqitha’ Abu Shalih Dari Malik Ad Daar

Ternyata tulisan “Analisis Hadis Tawasul” yang saya buat malas-malasan itu telah ditanggapi balik di Kelemahan-riwayat-maalik-ad-daar-dialog. Saya ucapkan terimakasih atas tanggapannya dan tentu tanpa mengurangi rasa hormat saya dengan anda maka izinkanlah saya menyampaikan jawaban untuk meluruskan apa yang saya anggap kekeliruan anda. Tulisan penulis tersebut adalah yang saya blockquote

Penulis awalnya mengatakan

Namun satu hal yang perlu menjadi kritik umum atas tulisan tersebut bahwasannya Penulis menyangka apa yang saya tulis adalah merupakan murni pen-dla’if-an dari Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. Hal itu terlihat bahwa di awal Penulis memfokuskan pada diri Asy-Syaikh Al-Albani yang dikatakan telah mendapat sanggahan dari ‘Abdullah Shiddiq Al-Ghummariy dan Mahmud Sa’id Mamduh.

Ini keliru, Saya tidak pernah beranggapan begitu, justru yang tersirat dalam tulisan saya adalah juga ditujukan untuk ulama salafy lainnya. Jika anda masih ingat, tepat sebelum saya membahas hadis Malik Ad Daar, saya mengatakan “Mengenai hadis Malik Ad Daar yang didhaifkan oleh para salafi maka kami katakan bahwa Salafi yang dalam hal ini dipimpin oleh Syaikh Al Albani telah melakukan kekeliruan”. Juga kata-kata saya yang iniPara salafiyun diantaranya Syaikh Al Albani telah mendhaifkan Hadis Malik Ad Daar. Mereka para pengikut salafy berlomba-lomba untuk mendukung Syaikh Al Albani dari kritikan para Ulama ahlussunnah seperti Syaikh Al Ghumari dan Syaikh Mamduh”. Saya telah menggunakan kata salafy yang mencakup syaikh Albani dan yang lainnya, mohon maaf jika anda kurang berkenan dengan kata “salafy”. Langsung saja, karena anda sudah menyepakati pembahasan saya tentang illat pertama maka saya akan langsung saja membahas illat lainnya yang tetap anda pertahankan. Baca lebih lanjut

Pola Hidup Abnormal

s640x480

Gambar saya rampok dari Sora, Guru besar Fisika Kuantum

Maaf kalau gak ada hubungannya, habis keren sih

Kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh orang-orang aneh adalah mereka akan dianggap asing oleh lingkungannya. Mengapa? karena hidup punya tatacara, kebersamaan itu memiliki ikatan baik sadar maupun tidak. Setiap manusia memang memiliki kebebasan, sehingga siapapun akan berpikir bahwa kita bebas untuk berbuat apapun, bergaya apapun dan punya kecenderungan apapun asalkan tidak merugikan orang lain. Tetapi ternyata perkaranya tidak semudah itu. Kita tidak bisa melupakan bahwa orang lain melihat dan mempersepsi apa yang kita lakukan, kita tidak bisa mengacuhkan begitu saja perasaan mereka yang peduli dan mencintai kita. Baca lebih lanjut

Analisis Hadis Kesucian Rasulullah dan Ahlul Bait

Kedudukan Hadis Kemuliaan Rasulullah dan Ahlul Bait

Muqaddimah
Dua malam yang lalu di tengah kelelahan dan pikiran yang tidak tenang, ingin sekali rasanya mata ini terlelap tetapi entah mengapa kedua mata ini tidak bisa terpejam. Yah daripada melamun dan bengong nggak jelas akhirnya diputuskan untuk mengecek blog secondprince yang sudah tidak terurus itu. Tidak ada yang spesial tetapi ada komentar yang bikin senang sekaligus kesal. Komentar dari seseorang dalam tulisan Al Quran dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran

@SP
Dari tulisan Anda: Al-Syawkani menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yg diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda … “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”.
Mohon bantuan tambahan info berupa letak hadis tsb dlm kitab hadis yg disusun Al-Hakim, Tirmidzi, Al-Thabrani, & Ibnu Mardawayh? Atau bisakah saya dikirimi teks hadis beserta sanadnya (via email)? Terima kasih sebelumnya. Salam ‘alaykum.

Senang karena saya punya dorongan untuk menulis, kesal karena saya sebenarnya ingin sekali tidur. Pyuuuuuh karena mata ini tidak bisa tidur maka ada baiknya saya memenuhi permintaan saudara tersebut. Baca lebih lanjut