Sahabat Nabi Ahli Badar Meminum Khamar

Sahabat Nabi Ahli Badar Meminum Khamar.

Sahabat Nabi adalah orang-orang yang mulia, apalagi mereka yang terdahulu dalam memeluk islam serta berjihad bersama Rasulullah SAW. Hanya saja keutamaan tersebut tidaklah membuat seorang Sahabat selalu benar. Sahabat Nabi SAW bisa saja melakukan kekeliruan yang bernada maksiat seperti Meminum Khamar sampai mabuk. Hal inilah yang dilakukan juga oleh beberapa sahabat Nabi SAW diantaranya seorang Ahli Badar yang bernama Qudamah bin Mazh’un.

Al Bukhari dalam Shahih Bukhari Kitab Al Maghazi hadis no 3709 meriwayatkan

حدثنا ‏ ‏أبو اليمان ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏شعيب ‏ ‏عن ‏ ‏الزهري ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏عبد الله بن عامر بن ربيعة ‏وكان من أكبر ‏ ‏بني عدي ‏ ‏وكان أبوه شهد ‏ ‏بدرا ‏ ‏مع النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏أن ‏ ‏عمر ‏ ‏استعمل ‏ ‏قدامة بن مظعون ‏ ‏على ‏ ‏البحرين ‏ ‏وكان شهد ‏ ‏بدرا ‏ ‏وهو خال ‏ ‏عبد الله بن عمر ‏ ‏وحفصة ‏ ‏رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Amir bin Rabi’ah dan dia seorang yang terhormat dari kalangan Bani Adiy, ayahnya pernah mengikuti perang Badar bersama Nabi SAW “ bahwa Umar menugaskan Qudamah bin Mazh’un sebagai Gubernur di Bahrain dan dia seorang yang mengikuti Perang Badar, paman Abdullah bin Umar RA dan Hafsah RA.

Kisah Qudamah bin Mazh’un meminum Khamar dan mabuk pada masa khalifah Umar telah disebutkan oleh riwayat yang shahih dalam Sunan Baihaqi 8/315 no 17293 dan Al Mushannaf Abdurrazaq 9/240 no 17076

عبد الرزاق عن معمر عن الزهري قال أخبرني عبد الله بن عامر بن ربيعة وكان أبوه شهد بدرا أن عمر بن الخطاب استعمل قدامة بن مظعون على البحرين وهو خال حفصة وعبد الله بن عمر فقدم الجارود سيد عبد القيس على عمر من البحرين فقال يا أمير المؤمنين إن قدامة شرب فسكر ولقد رأيت حدا من حدود الله حقا علي أن أرفعه إليك فقال عمر من يشهد معك قال أبو هريرة فدعا أبا هريرة فقال بم اشهد قال لم أره يشرب ولكني رأيته سكران فقال عمر لقد تنطعت في الشهادة قال ثم كتب إلى قدامة أن يقدم إليه من البحرين فقال الجارود لعمر أقم على هذا كتاب الله عز و جل فقال عمر أخصم أنت أم شهيد قال بل شهيد قال فقد أديت شهادتك قال فقد صمت الجارود حتى غدا على عمر فقال أقم على هذا حد الله فقال عمر ما أراك إلا خصما وما شهد معك إلا رجل فقال الجارود إني أنشدك الله فقال عمر لتمسكن لسانك أو لأسوءنك فقال الجارود أما والله ما ذاك بالحق أن شرب بن عمك وتسوءني فقال أبو هريرة إن كنت تشك في شهادتنا فأرسل إلى ابنة الوليد فسلها وهي امرأة قدامة فأرسل عمر إلى هند ابنة الوليد ينشدها فأقامت الشهادة على زوجها فقال عمر لقدامة إني حادك فقال لو شربت كما يقولون ما كان لكم أن تجلدوني فقال عمر لم قال قدامة قال الله تعالى ليس على الذين آمنوا وعملوا الصالحات جناح فيما طعموا إذا ما اتقوا وآمنوا الآية فقال عمر أخطأت التأويل إنك إذا اتقيت اجتنبت ما حرم الله عليك

Dari Abdurrazaq dari Ma’mar dari Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, ayahnya adalah seorang yang ikut perang Badar “Bahwa Umar bin Khattab menugaskan Qudamah bin Mazh’un sebagai Gubernur di Bahrain dan dia adalah paman Hafshah dan Abdullah bin Umar. Kemudian datanglah Jarud Sayyid Abdul Qais menghadap Umar dari Bahrain, ia berkata “Wahai Amirul mukminin Qudamah telah meminum khamar dan mabuk maka jatuhkanlah hukuman had kepadanya”. Umar berkata “siapa yang menjadi saksi bersamamu?”. Jarud menjawab “Abu Hurairah”. Maka dipanggillah Abu Hurairah dan Umar berkata “Adakah kamu menyaksikannya” Abu Hurairah berkata “Aku tidak melihatnya minum tetapi aku melihatnya mabuk”. Umar berkata ”kamu merubah kesaksian”. Kemudian Umar menulis surat kepada Qudamah untuk datang menemuinya. Ketika dia datang, Jarud berkata “jatuhkanlah hukuman (had) Allah kepadanya” Umar berkata “kamu memusuhinya atau seorang saksi”. Jarud menjawab “saksi” .Umar berkata “kamu telah memberikan kesaksian”. Kemudian Jarud memaksa Umar untuk melaksanakan had kepada Qudamah. Umar berkata “menurutku kamu memusuhinya, tidak ada yang menyaksikan bersamamu kecuali seorang”. Jarud berkata “Allah SWT menyaksikanmu”. Umar berkata “Jagalah lisanmu atau aku akan menyakitimu” Jarud berkata “Wahai Umar, itukah kebenaran, anak pamanmu meminum khamar dan kamu menyakitiku”. Abu Hurairah berkata “Wahai Umar jika kamu meragukan kesaksian kami maka pergilah bertanya  kepada anak perempuan Walid yaitu istri Qudamah. Maka Umar mendatangi Hind binti Walid dan meminta kesaksian. Kemudian dia memberi kesaksian. Maka Umar berkata kepada Qudamah “Aku akan menghukummu”. Qudamah berkata “jika memang aku meminum khamar maka kamu tidak berhak menghukumku”. Umar berkata “kenapa?”. Qudamah menjawab “karena Allah SWT berfirman “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan Amalan yang saleh kerana memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertaqwa dan beriman dan mengerjakan amalan-amaln yang saleh”(Al Maidah ayat 93). Umar berkata “takwilmu keliru, jika kamu bertakwa kepada Allah maka kamu pasti menjaukan diri dari apa yang diharamkan”…

Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Siyar A’lam An Nubala Dzahabi 1/161 telah membawakan hadis ini dan berkata “semua perawinya terpercaya”. Ibnu Hajar juga membawakan hadis riwayat Abdurrazaq dan menyatakan hadis tersebut shahih dalam Fath Al Bari 13/141.

Qudamah bin Mazh’un tidak diragukan lagi seorang sahabat Nabi. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 794 berkata

قدامة بن مظعون الجمحي القرشي له صحبة

Qudamah bin Mazh’un Al Jumahi Al Qurasy adalah seorang Sahabat Nabi SAW.

Selain Bukhari, biografinya sebagai seorang Sahabat Nabi SAW juga ditulis oleh Ibnu Atsir dalam Asad Al Ghabah 4/417, Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab 3/1277, Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 5/423 no 7093, Adz Dzahabi dalam Tajrid Asma As Shahabah 2/13 no 134 dan As Siyar 1/161 dimana disebutkan kalau Qudamah bin Mazh’un adalah Sahabat Nabi yang tergolong Assabiqunal Awwalun (orang yang pertama-tama masuk islam) dan berjihad bersama Rasulullah SAW dalam perang Badar. Ibnu Hajar dalam Al Ishabah menyebutkan

قدامة بن مظعون بن حبيب بن وهب بن حذافة بن جمح القرشي الجمحي أخو عثمان يكنى أبا عمرو كان أحد السابقين الأولين هاجر الهجرتين وشهد بدرا

Qudamah bin Mazh’un bin Habib bin Wahab bin Huzafah bin Jumah Al Qurasy Al Jumahi saudara Utsman dengan kunniyah Abu Amr termasuk orang yang pertama-tama memeluk islam, melakukan hijrah dua kali dan mengikuti perang Badar.

Pembahasan ini bukanlah suatu celaan, hujatan atau merendahkan seorang Sahabat seperti Qudamah bin Mazh’un. Kami hanya menunjukkan bahwa bahkan seorang Sahabat yang terdahulu masuk islam, ikut hijrah dua kali dan seorang Ahli Badar juga bisa melakukan kesalahan yaitu Meminum Khamar di masa Khalifah Umar RA.
.

.

Salam Damai

Iklan

32 Tanggapan

  1. horeee……the first…
    Mabuk lagi…..mabuk lagi…..
    si pemabuk di adili sama ……hihihhih

  2. Qudamah menjawab “karena Allah SWT berfirman “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan Amalan yang saleh kerana memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertaqwa dan beriman dan mengerjakan amalan-amaln yang saleh”(Al Maidah ayat 93). Umar berkata “takwilmu keliru, jika kamu bertakwa kepada Allah maka kamu pasti menjaukan diri dari apa yang diharamkan”…

    ooh.. ada sahabat yang keliru mentakwil ayat Al-Qur’an tho… kirain apa…

    Jadi inget dengan kisah seorang sahabat, Hatib bin Abi Balta’ah, yang sangat menarik. Ketika amalan kebaikan hijrahnya dan keikutsertaannya dalam Perang Badar bersama Rasulullah saw. lebih berarti daripada kesalahannya ketika membocorkan rencana Rasulullah dan para pasukannya untuk menaklukkan kota Mekah. Apa yang dikatakan Rasulullah kepada Umar ketika ia berkeinginan membunuh sahabat Hatib bin Balta’ah karena telah membocorkan rencana tersebut? “Wahai Umar, tahukah kamu mengenai pahala orang yang mengikuti Perang Badar? Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang ikut Perang Badar, ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (HR Bukhari no. 4066, Muslim No. 4550).

    Apatah lagi seorang sahabat yang hanya keliru menta’wil ayat Al-Qur’an? dan sudah ditegur lagi akan kekeliruannya tsb oleh Amirul Mukminin..

    Ya kalo orang yang beriman kepada Rasul pasti akan setuju donk dengan perkataan beliau dalam hadits di atas, walopun pahit dalam hati karena kok ga sesuai nafsunya, sebaliknya orang yg dihatinya ada penyakit hasut .. biasanya sih dia akan terus-menerus menjelek-jelekkan sahabat ahlul Badar tsb.. ya terserah saja mau ikut rasul ato ikut nafsu.. lha sumonggo…

    Btw.. hebat juga ya Khalifah Umar, begitu adil dan tegas, tak pandang bulu pada siapapun, kalo ada yg keliru, dia menegurnya dan menegakkan hukuman padanya..

    (* manggut2 mode on)

  3. @bob
    Selamat anda dapat PertamaX tapi jangan diminum sampai mabuk 😛

    @imem

    Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang ikut Perang Badar, ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (HR Bukhari no. 4066, Muslim No. 4550).

    sepertinya khalifah Umar tetap tidak paham hadis ini ya, karena ahli badar kan bebas berbuat sesukanya karena Allah mengampuninya, jadi bingung :mrgreen:

    Apatah lagi seorang sahabat yang hanya keliru menta’wil ayat Al-Qur’an? dan sudah ditegur lagi akan kekeliruannya tsb oleh Amirul Mukminin..

    lha iya, intinya seorang sahabat bisa saja melakukan kesalahan seperti meminum khamar,, itulah inti tulisan ini

    Ya kalo orang yang beriman kepada Rasul pasti akan setuju donk dengan perkataan beliau dalam hadits di atas, walopun pahit dalam hati karena kok ga sesuai nafsunya, sebaliknya orang yg dihatinya ada penyakit hasut .. biasanya sih dia akan terus-menerus menjelek-jelekkan sahabat ahlul Badar tsb.. ya terserah saja mau ikut rasul ato ikut nafsu.. lha sumonggo…

    Gak ada yang menjelekkan kok, anda aja yang sensi amat. Saya cuma menunjukkan peristiwa historis dan siapapun orang beriman kalau ditanya minum khamar itu jelek apa tidak? mereka bilang pasti jelek dan itu kan haram. Atau anda mau bilang itu baik karena sahabat Nabi melakukannya. ck ck ck gawat sekali

    Btw.. hebat juga ya Khalifah Umar, begitu adil dan tegas, tak pandang bulu pada siapapun, kalo ada yg keliru, dia menegurnya dan menegakkan hukuman padanya..

    sudah seharusnya seorang pemimpin bersikap begitu 🙂

  4. @inem
    Anda seperti tidak mengerti apa yang diposting dan penjelasan mas SP.
    HERAN saya atas mereka ini. Mas SP kan mengatakan bahwa para sahabat yang ikut perang Badarpun berbuat salah. Soal apa hukuman mereka diakhirat itu urusan Allah. Tapi mas SP hanya ingin memberitahukan kepada kita banhwa: PARA SAHABAT PERNAH MELANGGAR PERINTAH ALLAH TITIK.
    Dan anda tambahkan lagi seorang SAHABAT yang berbuat salah. Tapi untuk ini saya berterima kasih. Jadi makin banyak koleksi saya terhadap SAHABAT2 yang berbuat salah.

  5. Mungkin diperlukan konfirmasi dari sdr Imem sebagai pengacara salafy dan atau pemuja sahabat bagaimana kedudukan sahabat itu semestinya. Bolehkah mereka para sahabat berbuat salah (seperti minum khamer) ataukah mereka semua benar-benar adil yang sdh pasti benar atau seperti apa? Jangan-jangan sdr Imem juga mengakui bahwa sahabat itu ada yg keliru, munafik, fasik, dll? Jika demikian berbantahan dg sdr Imem mengenai masalah ini menjadi tidak jelas sasarannya bukan?

    @Imem
    Mohon dikonfirmasi dong!

    Salam

  6. he he he Mas Imem kebanjiran Order lagi neh dari Klien.

    salam,

  7. @imem

    Hadis yg anda bawakan ini :

    Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang ikut Perang Badar, ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (HR Bukhari no. 4066, Muslim No. 4550).

    Masa kalau begitu, Allah masih menurunkan ayat ini pada NabiNya:

    Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
    Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.
    QS. al-Haqqah (69) : 43-47

    Masa Nabi saaw yg ma’sum masih diberi ancaman sementara Ahli Badar bisa berbuat semaunya.

    Salam Damai

  8. @hadi

    Pastikan dulu Rasulullah SAW ikut perang Badar atau tidak… 🙂

    Damai..damai…. 😀

  9. Testing…

  10. test
    🙂

  11. huakakakak

    berhasil berhasil….si dede kagak…berhasil…berhasil

    bikin yg banyak biar si dede jealous…
    🙂 🙂 🙂

  12. biar dede tambah panas…

    😛 :mrgreen: :mrgreen:) 😦 :mrblack:(

  13. kok ada yg gagal yah…

    :mryellow:

  14. @bob

    Aduh gue jadi bete nih, bagi dong ilmunya jadi…sedih (diketik)

  15. Testing lagi lah

    😛 :mrgreen: :mrgreen: ) 😦 :mrblack:(

  16. Hore berhasil, berhasil berhasil hore ! Coba sekali lagi ah….:) 🙂 🙂

  17. test
    😛 :mrgreen: :mrgreen: ) 😦 :mrblack:(

  18. Coba tes lg, misi yah SP

    😀 =)) :-bd B-)

  19. @Nomad

    😀

  20. @Nomad

    :-c

  21. sepertinya khalifah Umar tetap tidak paham hadis ini ya, karena ahli badar kan bebas berbuat sesukanya karena Allah mengampuninya, jadi bingung

    Justru andalah yg tidak paham hadits di atas, justru hudud itu mesti diterapkan di dunia, sedangkan pahala dari Allah berupa ampunan tidaklah berkurang sedikitpun. Sepeninggal Rasul, hukuman diterapkan berdasarkan zhahirnya, karena tidak ada lagi wahyu yg turun, sedangkan mengenai sahabat Hatib, hal tsb terjadi saat rasulullah masih hidup, dia sudah menyampaikan alasannya mengapa dia melakukan itu, dan Rasulullah berkenan menerima penjelasannya tsb. Silahkan anda baca sendiri secara lengkap hadits tsb di Shahih Muslim.

    lha iya, intinya seorang sahabat bisa saja melakukan kesalahan seperti meminum khamar,, itulah inti tulisan ini

    Terus apa maksudnya? itu kan sudah kita akui bahwa sahabat maupun ahlul bait itu memang tidak maksum.. seharusnya anda tahu, bahwa masa awal-awal Islam adalah masa2 tarbiyah dari Rasul, masak orang langsung begitu saja jadi bener? tanpa diawali kekeliruan.. wajar kok yg namanya proses tarbiyah spt itu.. namanya juga dunia bani adam, pasti tidak luput lah dari kekeliruan.. justru org2 yg berpikiran bahwa selain rasul ada yg maksum, perfect, zero defect itulah yg perlu dirombak mindsetnya, kalo perlu diformat lagi.. wuakakak..

    Gak ada yang menjelekkan kok, anda aja yang sensi amat. Saya cuma menunjukkan peristiwa historis dan siapapun orang beriman kalau ditanya minum khamar itu jelek apa tidak? mereka bilang pasti jelek dan itu kan haram. Atau anda mau bilang itu baik karena sahabat Nabi melakukannya. ck ck ck gawat sekali

    kalo sy perhatiin justru anda-lah yg lg sensi ama sahabat akhir2 ini.. ngaku ajah.. ga napa2 kok.. saya lihat anda juga sdh kutip alasan Qudamah melakukan itu, dan dari kalimatnya ketika dia menjawab pertanyaan Umar, begitu yakin dia telah benar menta’wilkan ayat Al-Qur’an tsb.. ya kita positif thinking ajalah.. lagian kan sudah ditegur jg oleh Umar.. trs apa lagi?

    @armand

    Mungkin diperlukan konfirmasi dari sdr Imem sebagai pengacara salafy dan atau pemuja sahabat bagaimana kedudukan sahabat itu semestinya. Bolehkah mereka para sahabat berbuat salah (seperti minum khamer) ataukah mereka semua benar-benar adil yang sdh pasti benar atau seperti apa? Jangan-jangan sdr Imem juga mengakui bahwa sahabat itu ada yg keliru, munafik, fasik, dll? Jika demikian berbantahan dg sdr Imem mengenai masalah ini menjadi tidak jelas sasarannya bukan?

    Begini saudara Armand, SP dan lainnya selaku jaksa penuntut sahabat sekaligus pengkultus ahlul bait, kyknya dah dari awal kita mengakui bahwa sahabat maupun ahlul bait adalah tidak maksum.. mereka bisa melakukan kekeliruan, contoh ya kekeliruan ta’wil spt di atas.. Jelas? tetapi kami menolak sahabat maupun ahlul bait disebut munafik, murtad atau kafir. Tolong perhatikan itu.

    @bob, dede, nomad

    Kalian ini OOT banget seh.. tp lucu.. wuakakakak..

  22. @imem

    Justru andalah yg tidak paham hadits di atas, justru hudud itu mesti diterapkan di dunia, sedangkan pahala dari Allah berupa ampunan tidaklah berkurang sedikitpun.

    Lha iya soal urusan pahala dan ampunan semuanya urusan Allah SWT.

    Sepeninggal Rasul, hukuman diterapkan berdasarkan zhahirnya, karena tidak ada lagi wahyu yg turun, sedangkan mengenai sahabat Hatib, hal tsb terjadi saat rasulullah masih hidup, dia sudah menyampaikan alasannya mengapa dia melakukan itu, dan Rasulullah berkenan menerima penjelasannya tsb.

    Maaf Mas, kan yang membawa-bawa riwayat itu adalah Mas sendiri kan, saya membawakan bahwa ada sahabat Badar yang meminum khamar eh anda membawakan hadis lain yang kurang jelas apa tujuannya.

    Silahkan anda baca sendiri secara lengkap hadits tsb di Shahih Muslim.

    🙂

    Terus apa maksudnya? itu kan sudah kita akui bahwa sahabat maupun ahlul bait itu memang tidak maksum..

    ah itu kan kata anda saja. Jangan samakan diri anda dengan orang lain begitu saja. Pertanyaan sederhana, apa arti hadis Tsaqalain bagi anda?. Anda mengakui tidak kalau Ahlul Bait adalah pegangan umat islam agar tidak tersesat.

    seharusnya anda tahu, bahwa masa awal-awal Islam adalah masa2 tarbiyah dari Rasul, masak orang langsung begitu saja jadi bener? tanpa diawali kekeliruan.. wajar kok yg namanya proses tarbiyah spt itu.. namanya juga dunia bani adam, pasti tidak luput lah dari kekeliruan..

    Seharusnya anda tahu, masa khalifah Umar adalah masa setelah Rasulullah SAW dan sudah jauh lewat masa tarbiyah, Sekali lagi saya cuma menunjukkan bahwa seorang Sahabat meminum khamar di masa Umar

    justru org2 yg berpikiran bahwa selain rasul ada yg maksum, perfect, zero defect itulah yg perlu dirombak mindsetnya, kalo perlu diformat lagi.. wuakakak..

    Silakan saja, itu kan bukan urusan saya. Bagi saya berdasarkan hadis Tsaqalain Ahlul Bait adalah pegangan bagi umat islam agar tidak tersesat, kalau anda mau menolak perkataan Rasulullah SAW ya terserah saudara dan saya maaf tidak berkepentingan untuk merubah mindset siapapun. Perhatikanlah kata-kata anda sendiri Ya kalo orang yang beriman kepada Rasul pasti akan setuju donk dengan perkataan beliau dalam hadits di atas, walopun pahit dalam hati karena kok ga sesuai nafsunya,

    kalo sy perhatiin justru anda-lah yg lg sensi ama sahabat akhir2 ini.. ngaku ajah.. ga napa2 kok..

    Aneh sekali, sensi atau tidak itu terlihat dari sikap yang berlebihan dalam menilai sesuatu, ketika saya menuliskan sebuah fakta historis berdasar hadis shahih,kemudian ada orang yang mengkaitkan itu dengan menjelek-jelkkan sahabat, menurutkan nafsu dan sebagainyalah maka orang tersebutlah yang terlalu sensi 🙂

    saya lihat anda juga sdh kutip alasan Qudamah melakukan itu, dan dari kalimatnya ketika dia menjawab pertanyaan Umar, begitu yakin dia telah benar menta’wilkan ayat Al-Qur’an tsb.. ya kita positif thinking ajalah.. lagian kan sudah ditegur jg oleh Umar.. trs apa lagi?

    apa artinya positif thinking?, mau bagaimana thinking anda itu urusan andalah. Saya menunjukkan bahwa sahabat itu bisa salah dan tulisan ini sekaligus menunjukkan kepada siapapun bahwa ijtihad yang keliru tetap saja keliru, apakah anda mau mengatakan ijtihad sahabat Qudamah meminum khamar itu berpahala, rasanya dulu ada yang bilang kalau benar ijtihadnya maka dua pahal kalau salah ya satu pahala. Sekarang saya tanya anda kapan terjadinya pengharaman khamar, apakah hal seperti itu terlewatkan oleh Rasulullah SAW, apakah anda berpikir akan ada seorang sahabat yang tidak tahu kalau khamar sudah diharamkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, Apakah sahabat tidak melihat bahwa Rasulullah SAW pernah menghukum orang yang meminum khamar. Singkat cerita apakah seorang sahabat punya kapabilitas untuk berijtihad terhadap hal-hal yang bersifat qathi alias usdah ditetapkan oleh nash?. Jawablah dengan jujur dan berpikirlah dengan baik, jangan hanya karena anda melihat orang tersebut adalah seorang sahabat maka anda tidak bisa melihat suatu persoalan dengan objektif

    Begini saudara Armand, SP dan lainnya selaku jaksa penuntut sahabat sekaligus pengkultus ahlul bait,

    bukankah kata-kata ini bukti kalau anda yang sensi amat, silakan tunjukkan dalam tulisan saya di atas, apa tuntutan saya terhadap sahabat, saya cuma mengulang apa yang ditulis para ulama saja 🙂

    kyknya dah dari awal kita mengakui bahwa sahabat maupun ahlul bait adalah tidak maksum.. mereka bisa melakukan kekeliruan, contoh ya kekeliruan ta’wil spt di atas..

    memang kenyataannya anda dan salafy lainnya tidak bisa menerima keutamaan hadis tsaqalain bahwa Ahlul Bait pegangan umat islam agar tidak tersesat.

    Jelas? tetapi kami menolak sahabat maupun ahlul bait disebut munafik, murtad atau kafir. Tolong perhatikan itu.

    Kalau sahabat ada kok kenyataannya, seperti yang tercantum dalam hadis bahwa ada sahabat yang munafik, ada juga riwayat mengatakan sahabat murtad atau kafir, kalau anda mau menolak ya silakan. Tidak ada paksaan 🙂

  23. @all
    Menurut sdr inem Ahlulbait tidak maksum.
    Tidak usaha heran sdr Inem kan pengikut Umar b. Khattab.
    Umar b. Khattab katakan bahwa dia dan Rasul sederajat, cuma Rasul menerima wahyu. Jadi rasulpun pernah berbuat salah jadi juga tidak maksum. Rasul munisia biasa sama dengan kita.
    Yah apalagi Ahlulbai mana mereka mau mengakui.kemaksuman mereka
    Hadits Tsaqalain? mereka tidak akui.
    Firman Allah aja mereka otak atik apalagi Hadits

  24. Salam

    @ aburahat

    Namanya aja NASHIBI :mrgreen:

    Wassalam

  25. Bwt Imem 😀

  26. @bagir
    Apa arti NASHABI mas?

    Apakah singkatan dari

    NAS= MANUSIA
    H= HAYYU =HIDUP
    I = ILA = HANYA
    B= BI = UNTUK
    I= INGKAR

  27. @ aburahat

    wah..itu sudah mewakili artinya mas :mrgreen:

  28. @Bagir
    Alhamdulillah. Terima kasih mas

  29. @ aburahat

    sama-sama mas… 🙂

  30. Jd ngiri nih ama sahabat. Mabuk, membunuh, memperkosa dan memberontak dpt pahala dan dipuja – puja oleh pentaklidnya lagi. Seandainya gw jd sahabat nabi :mrgreen:

  31. Assalamualaikum …
    wah lama juga nih absen dimajlis ini….
    Semoga saudara-saudara selalu sehat dan semakin bahagia.
    @SP : Kief kabarnya mas ?? semoga selalu sehat yah.
    langsung aja deh ke saudara IMEM :
    Itu diriwayatkan dalam shahih Bukhari, dan diinformasikan sama SP, jadi ga patut kita menuduh SP itu menjelekkan sahabat bukan ?
    dan maaf, mengenai tulisan anda yang mengatakan Ahlul Bait itu tidak Maksum,.. itu memang hak anda untuk mengatakan itu, tapi tulisan ini tidak membahas siapa yang maksum, kalau memang ada hadis yang menunjukkan perilaku sahabat sebagai contoh manusia yang tidak mungkin Maksum kenapa anda melebarkan nafsu anda ke Ahlul bait Nabi ??
    Ini membuat anda terlihat tidak menyukai Ahlul Bait Nabi, dan anda juga telah menyinggung saudara-saudara yang mencintai Ahlul Bait Nabi.

  32. Ada yg bisa bantu kasih info…”Apakah sahabat Qudamah bin Mazh’un ketika salah takwil dan meminum khamar dicambuk atau tidak oleh sahabat umar ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: