Kejahilan dan Kedustaan Abu Azif Dalam Membela Mu’awiyah

Kejahilan dan Kedustaan Abu Azif Dalam Membela Mu’awiyah

Sungguh ajaib melihat bagaimana ketika orang jahil begitu bersemangat sok ingin membela agama tetapi hakikatnya malah menyebarkan kedustaan. Dan seperti orang jahil pada umumnya, ia tidak malu [atau mungkin sebenarnya tidak paham] akan kedustaan yang seringkali ia nampakkan.

Orang ini membela Mu’awiyah yang terbukti dalam riwayat shahih telah meminum minuman yang diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Memang orang ini tidak sendiri dalam membela Mu’awiyah. Ada juga sebagian ulama yang membela Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam perkara ini seperti yang sudah pernah kami bahas secara khusus yaitu Syaikh Abdurrahman Dimasyiqiyyah.

.

.

Sebenarnya kalau dipaksakan kami masih dapat memaklumi kejahilan orang ini. Kalau pembelaan seorang ulama seperti Syaikh Abdurrahman Dimasyiqiyyah bisa begitu anehnya maka wajar pembelaan orang yang jahil akan jauh lebih anehnya. Para pembaca yang ingin melihat langsung tulisan orang jahil tersebut dapat melihatnya disini. Orang tersebut berkata

Bantahan Abu azif

Tidak diragukan tuduhan ini adalah kedustaannya atas kami. Dalam pembahasan tentang Mu’awiyah disini tidak ada apa yang ia sebut “kebencian memuncak”. Pembahasan kami adalah pembahasan yang objektif dan menjunjung tinggi kaidah ilmiah. Kami tidak melakukan kedustaan seperti yang seringkali dinampakkan oleh orang ini.

Keburukan Mu’awiyah itu telah terbukti dalam berbagai riwayat shahih. Mu’awiyah terbukti berdusta atas nama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ia adalah pemimpin kelompok pembangkang yang mengajak ke neraka. Ia yang dikatakan dalam hadis shahih “mati tidak dalam keadaan islam”. Semua ini lebih dari cukup untuk menjatuhkan keadilannya. Oleh karena itu sudah dari dulu kami menganggap Mu’awiyah bukan seseorang yang bisa diterima hadisnya. Tentu saja pembahasan ilmiah mengenai perkara-perkara ini tidak bisa dipahami oleh orang jahil atau orang berilmu yang sengaja berlagak jahil.

.

.

Bantahan Abu azif2

Perhatikan lafaz perkataannya “susu olahan inilah yang menjadikan keraguan pada diri Buraidah akan keharamannya”. Silakan bandingkan ucapan orang jahil ini dengan lafaz perkataan Buraidah

قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم

[Buraidah] berkata “aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”

Adakah keraguan dalam ucapan Buraidah tersebut?. Tidak ada, itu adalah ucapan orang yang melihat langsung minuman tersebut kemudian ia bersaksi bahwa dulu ia pernah meminumnya kemudian berhenti sejak Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkannya. Tidak ada sedikitpun keraguan seperti yang dituduhkan orang jahil ini.

Perhatikan ucapannya “Muawiyah menerangkan bahwa susu olahan itu halal dan menasehati Buraidah untuk menyampaikan ketidaksukaan dengan kata-kata yang baik”. Ucapan ini hanyalah khayalan orang jahil tersebut padahal lafaz perkataan Mu’awiyah tidak ada menyebutkan soal halal ataupun menasehati Buraidah

فقال معاوية:”ما شيءٌ كنتُ أستَلِذَّهُ وأنا شابٌّ فآخُذُهُ اليومَ إلا اللَّبَنَ؛ فإني آخُذُه كما كنتُ آخُذُه قَبْلَ اليَومِ، والحديثَ الحَسَنَ

Mu’awiyah berkata “Tidak ada sesuatu yang aku pernah merasakan kenikmatannya ketika aku masih muda, yang kemudian aku ambil pada hari ini kecuali susu, maka aku mengambilnya sebagaimana dahulu aku pernah mengambilnya sebelum hari ini, dan juga perkataan [hadiits] yang baik”

Adakah dalam lafaz perkataan Mu’awiyah itu ia bersaksi bahwa minuman itu halal setelah Buraidah mengatakan itu diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Tidak ada. Adakah dalam perkataan Mu’awiyah itu ia membantah Buraidah dan menasehatinya agar menyampaikan ketidaksukaan dengan kata-kata yang baik?. Tidak ada.

Lafaz perkataan Mu’awiyah hanya menunjukkan perkataannya bahwa apa yang ia ambil pada hari itu adalah susu dan perkataan [hadiits] yang baik. Jika minuman yang dipermasalahkan itu adalah susu dengan lafaz perkataan Mu’awiyah ini maka perkataan [hadiits] yang baik itu tidak lain adalah perkataan Buraidah. Artinya Mu’awiyah menganggap ucapan Buraidah itu termasuk perkataan yang baik. Jadi tidak ada ceritanya Muawiyah menasehati Buraidah seperti yang dikatakan orang jahil ini.

.

.

Bantahan Abu azif3

Ucapan ini adalah kedustaan atas Ibnu Asakir. Ibnu Asakir menyebutkan riwayat Ahmad bin Hanbal di atas dalam kitabnya Tarikh Ibnu Asakir 27/127 dan tidak ada komentar dari Ibnu Asakir, ia hanya menukil riwayat. Jadi darimana datangnya ucapan Ibnu Asakir yang diklaim orang jahil ini.

.

.

Tarikh Ibnu Asakir juz 27

Tarikh Ibnu Asakir juz 27 hal 127

.

Mungkin orang jahil yang lemah akalnya itu akan berkilah mengenai kitab Tarikh Dimasyq yang ia nukil itu berasal dari cetakan lain. Hal itu tidak ada bedanya, beda cetakan kitab paling-paling hanya menghasilkan perbedaan hal atau juz kitab yang dimaksud. Seperti halnya Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij terhadap hadis ini, ia menukil kitab Tarikh Ibnu Asakir biografi Abdullah bin Buraidah hal 417. Syaikh Al Arnauth berkata dalam catatan kaki hadis no 22941 Musnad Ahmad 38/26

.

Musnad Ahmad juz 38 hal 26

Perhatikan perkataan Syaikh Al Arnauth “biografi Abdullah bin Buraidah hal 417” artinya hadis yang dimaksud berada dalam kitab Tarikh Dimasyq pada biografi Abdullah bin Buraidah. Terserah cetakan kitab Tarikh Dimasyq mana saja yang penting hadis tersebut ada pada biografi Abdullah bin Buraidah. Dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir yang kami punya biografi Abdullah bin Buraidah ada pada juz 27 hal 125-139 no 3200 dan hadis yang dimaksud ada pada hal 127 seperti yang kami kutip. Sekali lagi tidak ada sedikitpun perkataan Ibnu Asakir seperti yang dinukil secara dusta oleh orang jahil ini.

Bukti paling jelas yang menunjukkan kedustaan orang jahil ini adalah lafaz perkataan yang ia nukil sebenarnya bukanlah perkataan Ibnu Asakir tetapi perkataan Syaikh Syu’aib Al Arnauth setelah ia menyebutkan takhrij hadis tersebut. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata

Musnad Ahmad bin Hanbal juz 38 hal 26

Dan perkataannya “kemudian berkata “aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah” yaitu perkataan Muawiyah bin Abu Sufyaan, mungkin ia mengatakan demikian ketika melihat ketidaksukaan dan pengingkaran pada wajah Buraidah karena Buraidah mengira bahwa itu adalah minuman yang diharamkan”

Telah berlalu penjelasannya bahwa lafaz perkataan itu adalah perkataan Buraidah sebagaimana Ahmad bin Hanbal, Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir memasukkan hadis ini kedalam hadis Buraidah [radiallahu ‘anhu]. Maka bisa dipastikan apa yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth tersebut keliru.

Disini kami menukil perkataan Syaikh Syu’aib Al Arnauth hanya untuk menunjukkan kedustaan orang jahil ini atas nama Ibnu Asakir. Bahkan setelah disindir dan diperingatkan akan kedustaannya, orang ini masih berlagak dengan sombongnya. Alangkah tidak tahu malunya jika kedustaan disertai dengan kesombongan

.

.

Note :

Jika ada diantara para pembaca yang heran mengapa kami begitu rajin menanggapi orang jahil, maka jawabannya bukan untuk menyadarkan orang jahil tersebut. Tentu saja kami berharap kalau bisa ia sadar dari kejahilannya tetapi itu tidak menjadi tujuan atau motivasi kami dalam menulis tanggapan terhadap orang jahil tersebut.

Tujuannya adalah agar ada diantara para pembaca yang dapat mengambil ilmu atau manfaat dari bantahan yang kami buat. Jika para pembaca rajin mengikuti bantahan kami biasanya kami menuliskan secara detail bantahan sesuai dengan kaidah ilmu hadis sehingga ada faidah ilmu hadis yang bisa dipelajari. Selain itu para pembaca dapat juga belajar cara berdiskusi, membantah dan berhujjah dengan baik. Cara berhujjah yang baik hanya bisa dipelajari dengan sering-sering melihat diskusi atau sering ikut berdiskusi. Jadi ada faidah ilmu logika diskusi yang dapat diambil disini.

Jika ada diantara para pembaca yang tidak berkenan melihat tulisan bantahan yang seolah tidak berkesudahan maka silakan beralih ke tulisan lain yang lebih berkenan. Dan kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang muncul dari tulisan bantahan yang kami buat.

19 Tanggapan

  1. @SP

    Lihatlah anda !!!

    Tidak membuktikan, malah ngelantur kesana kemari dengan membawa-bawa syaikh Arnauth, yang justru menguatkan adanya pemahaman sebagaimana pemahaman saya.

    Buktikan kalau tarikh dimasyq hal 417 bukan seperti yang saya nukil sebagaimana juga telah dinukil oleh syaikh Arnauth.

    Intinya anda mendustakan Muawiyyah kan ? Maka cukuplah pendustaan anda terhadap Muawiyyah menjadi bukti akan penentangan anda terhadap ijma’, maaf, ini merupakan sebesar-besar kesalahan anda dalam beranalisa, tidak memakai kaidah, tidak ilmiah, baik anda suka atau tidak.

    Lihatlah syaikh Arnauth, Imam Ahmad, Imam Ibnu Abi Syaibah, dan Imam Ibnu Asakir, mereka tidak mengotori mulut mereka dengan tuduhan terhadap Muawiyah, mereka tetap menganggap Muawiyah sebagai seorang yang adil.

    Sekali lagi yang tersurat dalam riwayat adalah : perkataan Muawiyah dan pengingkaran Buraidah, padahal keduanya adalah shahabat Nabi yang adil, dianalisa tanpa mencela mereka berdua.

    Saya pun berkomentar disini hanya mengingatkan kepada anda, bahwa apa yang dilakukan Muawiyyah dan anda diam sedikitpun tidak memadharatkan anda.

    Tapi ketika anda bicara, maka akan menjadi bencana bagi anda.

  2. @abu azifah

    Mendiamkan sebuah “kedustaan” atas nama para ulama jelas mudharatnya sangat besar dan menjelaskan “kekeliruan” sebagian ulama juga sangat jelas maslahatnnya.

    Anda mengakui atau tidak . . tapi yang jelas anda telah berdusta atas nama Ibnu Asakir. Bobot keilmiyahan tulisan2 anda menjadi sangat patut untuk dipertanyakan . . . .

  3. @Dafa Sani

    Maaf tolong buktikan saya berdusta. Sedikit melebar, ketika SP membela tuduhan dusta terhadap penulis Muraja’at, dan ternyata hanya kesalahan penukilan sumber kedua, dan ini menurut saya bukan merupakan kedustaan.

    Justru yang patut disebut kedustaan adalah manakala semua ulama telah ijma atas ‘adalah shahabat (termasuk Muawiyah), justru SP menuduh Muawiyah pendusta.

    Jelas ini amat sangat memadharatkan SP, menjadikan bobot analisanya menjadi syadz dan mungkar.

  4. @abu azifah

    Lihatlah anda !!!
    Tidak membuktikan, malah ngelantur kesana kemari dengan membawa-bawa syaikh Arnauth, yang justru menguatkan adanya pemahaman sebagaimana pemahaman saya.
    Buktikan kalau tarikh dimasyq hal 417 bukan seperti yang saya nukil sebagaimana juga telah dinukil oleh syaikh Arnauth.

    Orang jahil dan sombong ya memang begitu. Setelah dibuktikan kedustaannya malah sok mengatakan mana bukti dustanya. Kalau gak punya akal mending diam deh bung. Sangat memalukan sekali anda ini.

    Oh iya Syaikh Al Arnauth tidak menukil ucapan Ibnu Asakir sebagaimana yang anda nukil. Anda ini tidak bisa membaca tulisan dengan benar ya, di bagian mana Syaikh Al Arnauth menukil ucapan Ibnu Asakir sebagaimana yang anda nukil?. Tidak hanya berdusta atas Ibnu Asakir, anda sekarang berdusta pula atas Syaikh Al Arnauth. Kalau sudah berdusta dan dibuktikan kedustaaannya tetapi masih saja sombong maka hal itu hanya menunjukkan kualitas anda lebih rendah dari pendusta

    Intinya anda mendustakan Muawiyyah kan ? Maka cukuplah pendustaan anda terhadap Muawiyyah menjadi bukti akan penentangan anda terhadap ijma’, maaf, ini merupakan sebesar-besar kesalahan anda dalam beranalisa, tidak memakai kaidah, tidak ilmiah, baik anda suka atau tidak.

    Halah tidak perlu sok. Muawiyah sudah terbukti berdusta atas nama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Pembelaan anda dengan mengatakan ijma’ juga tidak ada gunanya. Apalagi Ibnu Abbas juga mengatakan dusta terhadap Muawiyah. Lha anda ini justru membela kedustaan terhadap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] alangkah memalukannya

    Soal anda mendhaifkan riwayat Ibnu Abbas itu maaf ya kalau tidak pernah belajar ilmu hadis ya gak perlu sok tahu. Yang meriwayatkan dari Abdurrazaq dalam atsar itu adalah perawi yang mendengar sebelum ikhtilathnya kemudian ikhtilath Sufyan bin Uyainah itu berdasarkan pendapat yang rajih tidak benar karena hanya berasal dari atsar Yahya bin Sa’id dan dikatakan Adz Dzahabiy bahwa atsar tersebut adalah kesalahan perawinya. Sesuai kaidah ilmu hadis atsar Ibnu Abbas tersebut shahih

    Saya pun berkomentar disini hanya mengingatkan kepada anda, bahwa apa yang dilakukan Muawiyyah dan anda diam sedikitpun tidak memadharatkan anda.
    Tapi ketika anda bicara, maka akan menjadi bencana bagi anda.

    Maaf anda gak sadar diri ya bung, anda sudah banyak berbicara dusta atas nama ulama. Jadi lisan anda itu lebih pantas dikatakan bencana atas diri anda

    Maaf tolong buktikan saya berdusta. Sedikit melebar, ketika SP membela tuduhan dusta terhadap penulis Muraja’at, dan ternyata hanya kesalahan penukilan sumber kedua, dan ini menurut saya bukan merupakan kedustaan.

    Anda sudah terbukti berdusta. Orang yang punya sedikit akal sehat akan paham bahwa anda telah berdusta atas Ibnu Asakir. Saya sudah membuktikan bahwa nukilan itu tidak ada dalam kitab Ibnu Asakir. Kalau memang anda membacanya dalam hal 417 ya silakan cantumkan scan kitabnya. Dari kemarin-kemarin kan anda tidak bisa menampilkan scan kitabnya

    Tulisan yang mana itu bung soal muraja’at, tolong komentar di tulisan yang dimaksud. Karena akal anda seringkali bermasalah dalam menangkap makna tulisan. Maka tidak ada satupun ucapan anda yang layak untuk dipegang kecuali jika anda menampilkan bukti tuduhan yang anda maksud. Lagian gak penting banget apa yang disebut anda sebagai kedustaan. Dalam kamus akal anda, anda tidak paham apa itu kedustaan sehingga ketika anda jelas-jelas berdusta anda masih saja tidak nyadar. Memalukan sekali lagi memalukan.

  5. thx pay yai.

    saya termasuk orang yg mengambil pelajaran dari ilmu anda.

    dan saya yakin banyak orang diluar sana yg spt saya, mengambil pelajaran dari anda.

    jadi lupakan orang2 bodoh yg cerewet heran mengapa anda susah2 menanggapi orang jahil.

    mereka cerewet karena susah hati melihat kejeniusan anda yg mengungkap kebenaran dan menyebarkan ilmu..

    salam

  6. @SP

    Mu’awiyah berkata “Tidak ada sesuatu yang….dan juga perkataan [hadiits] yang baik”

    Yang saya tangkap mungkin si jahil salah memaknai maksud dari kata “perkataan” seperti yang diucapkan oleh Mu’awiyah, dimana anda memaknainya sebagai hadis, sedangkan si jahil sebagai bentuk permintaan dari Mu’awiyah kepada Buraidah untuk menasehati dengan kata² yang baik. Apakah seperti itu? Entahlah hanya si jahil sendiri yg bisa menjelaskannya.

  7. kepada guru kami bung SP andakata antum menulis spt ini 1000x panjangnya dan 1000x bab ilmu. saya akan setia mengikutinya. saya tdk akan pernah bosan mengikuti artikel-artikel antum. antum pembela kebenaran yg teramat sangat sabar. semoga Allah memberi sehat afiat dan umur panjang kepada kepada antum untuk berhidmat kpd ilmu dan kebenaran. semoga ilmu antum terus bertambah.

    kepada Abu Azif segera bertobatlah. tidak ada gunanya anda membela musuh-musuh keluarga Nabimu s a w. percuma anda menghabiskan umur anda untuk si tulaqa ibn tulaga, pemimpin kelompok angkara murka dan penggiring manusia ke nereka jahannam.

  8. Betul, betul, betul. Muawiyah itu bagian dari pohon terkutuk, penganjur ke api neraka anehnya masih banyak yg membela. Tobat lah wahai kau fulan bin fulan sebelum tiba hari dimana tangan dan kaki bersaksi. Ikutlah sabda rasullulah saw niscaya kamu berada di atas jalan yang lurus. Tobatlah wahai fulan bin fulan. Tobatlah………….

  9. salam,abu azifah sungguh membela muwiyah,alasan yg di beri ijma ulamak…….apakah ulamak2 bersetuju dgn perbuatan muawiyah tu,hingga menyebabkan berpuluh ribu sahabat2 nabi terbunuh

  10. k seorang yang beriman, jika yaqin kepada petunjuk AlQuran, dapat memikirkan tuduhan orang lain, lalu berkomentar yang menimbulkan dosa, ini berarti sama saja sedang bertolong-tolongandalam kejahatan (AlMaidah 3 )

  11. Salam alaikum bung SP

    Sekiranya Abu Azifah tidak menampilkan scan kitab yang dimaksud pada halaman 417, ada baiknya tidak perlu dilanjutkan.
    Saya melihat pola berdiskusi Abu Azifah dari kemarin selalu sama, ketika diminta bukti, maka dia akan membawa tema baru dan menuduh Anda keluar dari topik.

    sedikit saran dari Saya, Anda tidak perlu menjelaskan bahwa Anda tidak keluar dari topik, tuduhan tanpa bukti cukup dijawab dengan kata “tidak”, karena tulisan Anda sebelumnya telah membuktikan bahwa Anda tidak keluar dari topik.

    pada hakikatnya, berbicara pada orang yang telah mematikan dirinya sendiri adalah sia sia.

  12. @Yang Berserah Diri

    Tujuan @SP menjawab semua komen2 dusta si jahil semata2 ditujukan untuk para pembaca lainnya mungkin biar kita semua sama2 dapat mengambil ibrah atas bantahan @SP tersebut. Sedangkan untuk si jahil serahkan saja kembali kepada Allah bila Allah membuka hatinya maka keuntungan baginya tapi bila tidak yah mau dikatakan apa lagi Allah lebih tahu isi hati manusia. Kita berdoa saja semoga dijauhkan Allah dari penyakit hati yang aneh2. Amiin

  13. Si Ustad terus ngelajutin diskusi ini bukan supaya orang itu sadar atuuh. Namanya itu mah buang buang energi. Setuju sama @Khong Guan

  14. daftar DOSA DOSA yazid bin Mu’awiyah :
    teristimewa dosa yazid :mengepung keluarga Rasullullah dan Pasukan mini Imam husein.

    1.memerintahkan pasukannya melempar lempar ka’bah dengan batu
    2.konspirasi membunuh secara keji ibunda Aisyah
    3.bertangung jawab memecah belah umat islam/menghasut/adu domba
    4.mencaci maki dan merendahkan keluarga Rasullullah Muhammad SAW,
    5…….kalau ada tambahan dari sodara2 atas dosa Mu’awiyah silahkan disini nomer 5 dan seterusnya..

  15. Assalamualaikum…

    Kepada saudara SP, saya mohon agar saudara dapat emel ke saya. Saya cuba mencari cara untuk menghubungi saudara SP melalui emel tetapi saya tidak bertemu emel saudara. Saya ingin bertanya kepada SP secara peribadi. Ini alamat emel saya poeypd@gmail.com. Mohon dapat berhubung.

    Terima kasih.

  16. Pak SP, mana artikelnya yg baru?
    sudah rindu nih menunggu artikel-artikelnya, tiap hari buka blog antum tp terus belum ada updatenya. tolong pak ya updatenya sangat dinanti-nantikan. semoga bapak punya banyak waktu untuk menulis dan tambah ilmu. syukron jazilan.

  17. laknat atas abu sufyan bin yazid bin muawiyah.terlalu byk dosa2 besar membunuh sahabat rasullullah keluarga besar nabi muhammad saw.;apa lagi sblm sholat jumat wajib mencaci2 keluarga besar manusia yg mulia,laknat Allah atas mereka yg memuji2 abu sufyan bin yazid bin muawiyah,ya Allah segerakan lah kemunculan dari bani hasyim yg Engkau janjikan Imam Muhammad al mahdi.as

  18. alhamdulilllah dan terimaksih kiyai SP, sy sll mengikuti pelajaran yg kiayai berikan termasuk dalam berdebat dengan pihak2.. yg konon ahli2.. hadis dan ahlulilm.. yg mungkin bisa saja beliau2..itu masih harus belajar lag dg kiayai SP..
    beliau2..terlalu gegabah dalam memberi makna dan tafsir.. sehingga bisa mengelirukan fahaman dan pengertian bagi kaum awam seperti saya.. ini..?? saya sering dibuat bingung dengan jawaban2 beliau2 itu.. seperti tanpa ketiadaan pemahamannya terhadap referensi yg shahih atw yg relevan dengan maksud dan inti maslah yg sedang dibahas…?? bahkan cenderung memojokkan seseorang yg bermaksud mnjelaskannya sperti apa yg beliau komentarkan terhadap kiayai SP.

  19. lanjutkn bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: