Imam Ali Berselisih Dengan Abu Bakar Dalam Masalah Fadak

Ah maafkan kalau saya masih membahas ini. Sebenarnya sih saya jadi tertarik membahas ini setelah terprovokasi oleh seseorang membaca tulisan dari situs hakekat.com yang berujudul Imam Ali Bertaqlid Buta Kepada Abu Bakar As Shiddiq. Tulisan yang dengan terpaksa saya katakan keliru besar. Bukannya mau membela siapa-siapa, baik Syiah ataupun Sunni sebenarnya saya cuma mau melakukan koreksi terhadap tulisan yang mendistorsi sejarah karena terlalu nyata kebencian pada Syiah. Kalau menurut saya sih distorsi Ini adalah Sejarah Versi Salafy Wahabi.

Awalnya sih berkesan mau membantah Syiah dan membela Sunni tetapi sangat disayangkan sang penulis di situs itu tidak mendasarkan penulisannya pada Metode yang valid. jadi bahkan beliau malah membantah kabar shahih di sisi Sunni sendiri dengan dalih membantah Syiah. Salah kaprah dong Mas, dan untuk Mas Penulis saya katakan

Maaf tidak pantas anda mewakili nama Ahlus Sunnah jika anda tidak menghiraukan kabar yang Shahih dalam kitab hadis yang shahih. Jangan mengklaim sesuatu hanya berdasar pada prasangka dan dugaan semata. Ah yang terakhir maafkan jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Langsung saja ya, Mas penulis anda menuliskan

Bukannya ikut membela Fatimah -putri baginda Nabi SAW- Ali malah membela keputusan Abubakar yang dituduh syi’ah menzhalimi Fatimah, sebenarnya siapa yang zhalim? Abubakar yang melaksanakan wasiat Nabi SAW atau syi’ah yang menggugat imamnya yang maksum?

Masalah siapa yang zalim itu bukan urusan saya, tetapi pernyataan anda bahwa Imam Ali membela keputusan Abu Bakar jelas sekali tidak benar. Karena hadis yang shahih telah menjelaskan sebaliknya. nanti saya tuliskan hadisnya Mas……..yang sabar ya :mrgreen:

Kemudian Mas berkata

Sebuah pertanyaan penting, jika memang tanah Fadak itu adalah benar milik Fatimah, apakah kepemilikan itu gugur setelah Fatimah wafat? Tentunya tidak, artinya ahli waris dari Fatimah yaitu Ali, Hasan, Husein dan Ummi Kultsum tetap berhak mewarisi harta Fatimah. Begitu juga ahli waris Nabi bukan hanya Fatimah, melainkan juga Abbas pamannya.

Nah Mas saya acungkan jempol dengan anda, siiiip benar sekali Mas. Seandainya saja Mas tidak melanjutkan dengan kata-kata

Sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Selama ini syi’ah selalu melakukan black campaign terhadap Abubakar yang dituduh menghalangi Fatimah untuk mendapatkan warisannya.

Ah Mas sayang sekali, anda salah besar. Sayyidina Abbas telah menuntut hal yang sama seperti yang dilakukan Sayyidah Fatimah AS dalam masalah Fadak. Hal ini tercatat dengan jelas dalam kitab Shahih Bukhari, berikut saya kutip hadis tersebut dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta. Nah ini kitab Ringkasan Syaikh kita yang Mulia Syaikh Al Albani

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwarisi ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW. Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya.

Subhanallah sungguh anda telah membuat kekeliruan yang besar dengan berkata Sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Shahih Bukhari ternyata luput dari pengamatan anda. Sangat disayangkan :(

Mari kita teruskan perkataan Mas

Tetapi alangkah terkejutnya ketika kita membaca riwayat-riwayat dari kitab Syi’ah sendiri yang memuat pernyataan para imam syi’ah -yang tidak pernah keliru- yang setuju dengan keputusan Abubakar. Seakan-akan para imam syi’ah begitu saja bertaklid buta pada Abubakar As Shiddiq.

Ah Mungkin Mas memang pintar kalau bicara soal Syiah. Dalam hal ini saya cuma bilang abstain aja deh. Saya gak yakin deh kalau Mas yang bilang. Masalahnya soal hadis Sunni sendiri Mas bisa keliru apalagi soal hadis mahzab lain. Maaf Mas kalau saya terpaksa meragukan anda. Afwan, afwan :) btw saya nggak terkejut lho

Ah Mas alangkah beraninya Mas berkata

Sampai hari ini syi’ah masih terus menangisi tragedi Fatimah yang dihalangi oleh Abubakar dari mengambil harta warisan, tapi ternyata Ali setuju dengan keputusan Abubakar. Apakah Ali setuju dengan keputusan Abubakar yang menyakiti Fatimah? Ataukah keputusan Abubakar adalah tepat karena didukung oleh pernyataan dari imam maksum? Karena Imam maksum tidak pernah salah.

Aduh Mas, lagi-lagi Mas keliru besar. imam Ali justru berselisih dengan Abu Bakar dalam masalah ini. Apakah ini juga bisa luput dari pandangan Mas. Ok lah saya kasih tahu, hal ini saya dapatkan dari kitab Shahih Bukhari, berikut saya kutip hadis tersebut yang merupakan lanjutan dari hadis sebelumnya yaitu dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta. Seperti yang saya katakan ini kitab Ringkasan Syaikh kita yang Mulia Syaikh Al Albani

Dan Ali masih terkenang dengan kehidupan Fatimah daripada kebanyakan manusia. Dia tidak terlalu memperhatikan orang-orang hingga ia tidak langsung berdamai dengan Abu Bakar dan lantas berbaiat. Ia tidak berbaiat pada bulan itu. Kemudian Ali mengirim utusannya kepada Abu Bakar dan mengatakan “hendaklah engkau datang kemari tanpa seorangpun yang menyertaimu”. Hal ini karena ia tidak suka Umar ikut hadir. Umar berkata “Tidak Demi Allah Aku tidak akan menyertaimu”. Lalu Abu Bakar menemui mereka. Kemudian Ali berkata “Aku telah mengetahui keutamaan dan apa yang telah Allah berikan kepadamu dan aku tidak hasut terhadap anugerah yang Allah berikan kepadamu. Namun kamu mempunyai pemikiran tersendiri terhadap suatu masalah padahal kami melihat ada bagian bagi kami karena kekerabatan kami dengan Rasulullah SAW. Hal ini membuat air mata Abu Bakar berlinang dan ketika Abu Bakar berkata “Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman tanganNya, Kerabat Rasulullah SAW lebih aku sukai untuk terjalin dibanding kerabatku sendiri. Adapun pertentangan yang terjadi antara aku dan kalian karena harta ini tidak ada tujuan lain kecuali kebaikan, bagiku sungguh aku tidak akan melihat sesuatu yang Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku melakukannya. Lalu Ali berkata “Setelah matahari condong adalah waktumu utnuk dibaiat”.

Sungguh jelas bagi saya tetapi entah bagi anda wahai Mas Penulis, hadis diatas adalah bukti nyata bahwa sampai sayyidah Fatimah AS wafat Imam Ali tetap berpendirian berbeda dengan Abu Bakar RA. Pandangan Abu Bakar dinilai oleh Imam Ali sebagai pemikiran tersendiri yang berbeda dengan pandangan yang diyakini oleh Imam Ali, Sayyidah Fatimah AS, Sayyidina Abbas(kerabat Rasulullah SAW).

Sayang sekali saya justru tidak peduli dengan kata-kata anda

Salah seorang ulama syi’ah bernama Al Murtadho Alamul Huda –saudara kandung As Syarif Ar Radhiy, penyusun kitab Nahjul Balaghah- menyatakan: saat Ali menjabat khalifah, ada orang mengusulkan agar Ali mengambil kembali tanah fadak, lalu dia berkata: saya malu pada Allah untuk merubah apa yang diputuskan oleh Abubakar dan diteruskan oleh Umar. Bisa dilihat dalam kitab As Syafi hal 213.

Kitab As Syafi? ah apa pula itu saya tidak pernah baca. Apakah anda membacanya wahai Mas Penulis. Kalau iya tolong katakan pada saya apakah riwayat itu shahih. Anda tidakmencantumkan sanadnya dan dengan sangat menyesal riwayat itu belum bisa dipercaya jika belum ada sanadnya

Atau kata-kata anda yang cukup mengherankan saya

Ketika Abu Ja’far Muhammad bin Ali yang juga dijuluki Al Baqir -Imam Syi’ah yang kelima- saat ditanya oleh Katsir An Nawwal yang bertanya: semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu, apakah Abubakar dan Umar mengambil hak kalian? Tidak, demi Allah yang menurunkan Al Qur’an pada hambanya untuk menjadi peringatan bagi penjuru alam, mereka berdua tidak menzhalimi kami meskipun seberat biji sawi, Katsir bertanya lagi: semoga aku dijadikan tebusanmu, apakah aku harus mencintai mereka? Imam Al Baqir menjawab: iya, celakalah kamu, cintailah mereka di dunia dan akherat, dan apa yang terjadi padamu karena itu aalah menjadi tanggunganku.

Bisa dilihat di Syarah Nahjul Balaghah jilid 4 hal 84.

Ah lagi-lagi anda tidakmencantumkan sanadnya Mas. Sangat disayangkan Mas, lagipula bukankah Kitab Nahjul Balaghah berisi perkataan Imam Ali. Lalu mengapa anda bisa menukil perkataan Imam Baqir dalam kitab yang memuat perkataan Imam Ali. Sungguh saya yang bodoh ini tidak mengerti. Dan saya akan menghaturkan terimakasih jika Mas mau sedikit meluangkan waktunya untuk memberi wejangan kepada saya.

Kemudian Mas terus membuang-buang waktu dengan menulis

Begitu juga Majlisi yang biasanya bersikap keras terhadap sahabat Nabi terpaksa mengatakan: ketika Abubakar melihat kemarahan Fatimah dia mengatakan: aku tidak mengingkari keutamaanmu dan kedekatanmu pada Rasulullah SAW, aku melarangmu mengambil tanah fadak hanya karena melaksanakan perintah Rasulullah, sungguh Allah menjadi saksi bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda: kami para Nabi tidak mewarisi, kami hanya meninggalkan Al Qur’an, hikmah dan ilmu, aku memutuskan ini dengan kesepakatan kaum muslimin dan bukan keputusanku sendiri, jika kamu menginginkan harta maka ambillah hartaku sesukamu karena kamu adalah kesayangan ayahmu dan ibu yang baik bagi anak-anakmu, tidak ada yang bisa mengingkari keutamaanmu. Bisa dilihat dalam kitab Haqqul Yaqin, hal 201-202.

Wah saya yang polos ini baru tahu ada kitab Haqqul Yaqin, ya iyalah bagaimana saya bisa tahu kalau kitab itu adalah kitab Syiah. Tetapi lagi-lagi Mas tidak mencantumkan sanad riwayat tersebut dan Mas juga tidak menyebutkan apakah riwayat itu benar diakui shahih oleh Majlisi. Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau kitab Syiah itu banyak hadis dhaifnya. Nah saya jadi ragu Mas jangan-jangan riwayat ini dhaif astaghfirullah saya berprasangka :mrgreen:

Mari kita lanjutkan, dan saya juga mulai capek

Abubakar mengatakan pada Fatimah: kamu akan mendapat bagian seperti ayahmu, Rasulullah SAW mengambil dari Fadak untuk kehidupan sehari-hari, dan membagikan lainnya serta mengambil untuk bekal berjihad, aku akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Fatimah pun rela akan hal itu dan berjanji akan menerimanya.
Syarah Nahjul Balaghah, Ibnul Maitsam Al Bahrani jilid 5 hal 107, Cet. Teheran

Oooh rupanya Syarh Nahjul Balaghah Ibnul Maitsam, ah tumben yang ini disebutkan cetakannya. baca sendiri kan. Nah tolong kasih tahu saya riwayat itu shahih tidak. Masalahnya lagi-lagi Mas tidak mencantumkan sanadnya :(

Sama seperti yang diriwayatkan oleh Ibnul Maitsam, Al Danbali dan Ibnu Abil Hadid:

Bahwa Abubakar mengambil hasil Fadak dan menyerahkannya pada ahlul bait secukup kehidupan mereka, begitu juga Umar, Utsman dan Ali
.
Bisa dilihat di kitab Syarah Nahjul Balaghah karangan Ibnu Maitsam dan Ibnu Abil Hadid, juga Durah An Najafiyah hal 332.

Iden aja deh, males saya mengulang-ngulang kata-kata yang sama :mrgreen:

Oh iya Mas kesimpulan Mas yang ini

Ternyata imam maksum mengakui keputusan Abubakar dalam amsalah fadak, walaupun demikian syi’ah tetap saja menangisi Fatimah yang konon dizhalimi oleh Abubakar. Tetapi yang aneh, imam Ali -yang konon maksum- bukannya ikut membantu Fatimah merebut harta miliknya tetapi malah menyetujui keputusan Abubakar.

Sudah jelas salah besar Mas. Justru dalam kitab Shahih Bukhari yang saya baca telah membuktikan kekeliruan Mas. Dan semua riwayat Syiah yang Mas katakan tidak ada artinya memangnya saya Syiah karena tidak ada sanadnya dan tidak jelas kedudukan hadisnya. Jadi terima yang shahih aja deh Mas :mrgreen:

Begitu juga dengan kata-kata Mas

Keputusan Abubakar yang dianggap syi’ah sebagai keputusan yang keliru dan kezhaliman malah didukung oleh imam maksum. Berarti imam maksum ikut berperan serta menzhalimi Fatimah. Tetapi syi’ah tidak pernah marah pada imam maksum, yang dijadikan objek kemarahan hanyalah Abubakar.

Abubakar benar dalam keputusannya, dengan bukti dukungan imam maksum atas keputusannya itu. Jika imam maksum melakukan kesalahan maka dia tidak maksum lagi.

Semuanya cuma asumsi semata dan yah asumsi tidak bisa mengalahkan hadis yang shahih, benar tidak Mas? Begitu yang telah diajarkan Syaikh-syaikh Kita Ahlul Hadis yang mulia :mrgreen:

Akhir kata Mas Penulis

Tetapi -seperti biasanya- kenyataan ini ditutup rapat-rapat oleh syi’ah, sehingga barangkali anda hanya bisa menemukannya di situs ini. Syi’ah selalu menuduh Bani Umayah memalsukan sejarah, padahal syi’ah selalu mengikuti jejak mereka yang dituduh memalsu sejarah.

Saya tidak tahu apa bani Umayyah atau Syiah yang memalsukan sejarah. Yang saya tahu Mas penulis sendiri telah memalsukan sejarah dengan kata-kata Sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Bukankah nyata sekali pemalsuan sejarah yang Mas lakukan. Hadis Shahih Mas dustakan hanya karena Syiahphobia. Wassalam

Salam Damai

Catatan : saran saya buat Mas Penulis, mari kita sama-sama belajar dan kalau mengutip riwayat Syiah lebih baik cantumkan sanadnya dan sertakan pendapat Ulama Syiah yang menshahihkan riwayat tersebut. Bukannya Mas sendiri yang bilang riwayat Syiah banyak yang dhaif. Saya mau belajar dari Mas tapi saya mau belajar yang shahih-shahih aja :mrgreen:

428 Tanggapan

  1. salamun’alaika

  2. Hakekat.com pasti gemes sama mas. Setiap cuap-cuap situs ini tentang syiah ngga pernah luput dari sentilan mas.

  3. @armand
    Beliaulah ksatria terkutuk !!!…….tapi hatinya manis loooo (sori saya sok tau ya). Mas sp keep on extreme mas, sile ja’

  4. @SP

    Catatan : saran saya buat Mas Penulis, mari kita sama-sama belajar dan kalau mengutip riwayat Syiah lebih baik cantumkan sanadnya dan sertakan pendapat Ulama Syiah yang menshahihkan riwayat tersebut.

    Jangan naif ahh..:), emang semua org yg bikin web site or blog punya tujuan yg sama dg SP?. Kan tdk sedikit yg tujuannya utk menyebarkan doktrin, apa yg diharapkan dr penyebaran doktrin?. Kalau cm berbeda pemikiran tp punya tujuan yg sama utk menemukan kebenaran tentu suatu saat akan ketemu di satu titik.

    Peace..peace..

  5. SP telah menelanjangi hakikat.com

  6. mas SP, kalau boleh tahu, berarti nahjul balaghah itu tidak cuma ada 1 ya? berarti banyak versinya? apakah ada yg dibelak-belokkan begitukah? thanks

  7. JASMERAH…….( JANGAN SEKALI KALI MELUPAKAN SEJARAH ) tapi sejarah yang benar ya mas…..cari.cari..cari.

  8. [...] Imam Ali Berselisih Dengan Abu Bakar Dalam Masalah Fadak [...]

  9. Orang2 terlalu melihat Tanah Fadak hanya sebagai persengketaan antara Sayidah Fatimah dengan Abu Bakar. Padahal hakekatnya adalah salah satu usaha kelompok Abu Bakar, Umar dll untuk mematikan ekonomi Ahlul Bait, sehingga Ahlul Bait tidak menjadi kekuatan yang bisa membahayakan kelompok Abu Bakar cs. yang telah merampas hak kekhalifahan Imam Ali.

  10. @Khalisa
    Inti-nya kalo analisa saya sih, Money Talks..dari dulu Money Talks..jangankan anak-nya Sahabat, orang anak sendiri aja atau saudara kandung sendiri aja bisa ribut gara2 duit (walaupun saya ngga muna..duit itu penting :) )..

    Alhamdulillah Allah SWT dengan kuasa-nya sudah memberikan contoh orang2 yang tidak mengingini dunia, udah gitu contoh2nya maksum lagi…biar gak ada konflik maksudnya mungkin, tapi koq..ternyata,..masih ada yang ngga meyakini orang2 maksum juga’..

    Wallahualam bish shawab..

  11. salam..
    fatimah azzahra as meminta tanah fadak itu mrpkn hak beliau..knpa abu bakar tdk memenuhi prmntaan fatimah azzahra as?karna jika fatimah brhsl mndptkan hakx,maka stlh itu fatimah akan dgn mudah menuntut hak suamix kepada abu bakar untk mengembalikan kepemimpinan umat kepada amirul mukminin sejati,yaitu imam ali bin abi thalib as..tetapi kenyataan pahitlah yg ditrima fatimah azzahra as..itulah duka trbsr fatimah hingga akhr hayatx..bukankah fatimah adalah penghulu wanita surga?abu bakar tw itu,tp koq fatimah te2p disakiti dgn tdk mmbri fadak kepada beliau y?dan juga pd saat prstiwa idul ghadir yaitu pengangkatan imam ali as sbg pengganti rasulullah saw,smua shbt rasul hadir,tak trkecuali abu bakar dan umar..bukankah rasul brsbda bhwa ali adalah dariku,dan aku dr ali,siapa yg menyakiti ali brarti tlh menyakitiku?skrg imam ali as yg disakiti oleh abu bakar dan umar,dgn merampas hak imam ali as tsb..rasulullah saw pun menjelang ajalx disakiti oleh umar..ketika itu rasul meminta kertas dan pena,tetapi umar melarangx dan umar blg rasul sedang mengigau..apa itu adab yg baik trhdp ahlulbait?sy sndr brpkr,jika ada org menjelang ajalx,apa blh melarang org itu menitipkan wasiat?saya malu sekali jika hrs berbuat demikian..
    @mba hilda
    udah dpt buku dua pusaka nabi saw?

  12. kok di hakekat.com saya ga bisa kasih komentar kayak gini ya? biar enak diskusinya gitu. hehehe :D

  13. coba di majelsi rasulullah pasti terjawab, gak peke blog blogkan , yang penting sopan he he he

  14. maksutnya majelisrasulullah he he he

  15. @reekoheek.
    kok di hakekat.com saya ga bisa kasih komentar kayak gini ya? biar enak diskusinya gitu. hehehe

    Ya iyalah,… Hakekat.com(BERAN) *maaf keterusan nulisnya,,,,* ga akan kasih ruang buat komentar. itu kan salah satu ciri2 kelompok PENAKUT, TUKANG FITNAH, dan PEMBENCI AHLUL BAIT.

    Semoga makin banyak saudara-saudara kita yang sadar, dan bisa berfikir mana yang terpercaya dan mana yang cuma situs PEMBOHONG !!!.

    @ SP,
    Jangan pernah bosen ngebantai Hakekat.com yah. saya ngedoain biar mas selalu sehat, butuh suplemen tambahan kah ??

    memang Syiahphobia tetap pada KETAKUTANnya. KETAKUTAN dari peristiwa Karbala,
    KETAKUTAN hingga mengarang riwayat yang lebih mirip dongeng untuk menutupi kebenaran, KETAKUTAN terbebas dari Doktrin,
    KETAKUTAN tidak bijaksana hingga selalu menilai semuanya baik, tapi malah cenderung menuduh yang benar itu Extreme !!!
    Hingga KETAKUTAN ngasih ruang komentar bagi blogsnya..

  16. Apakah akhirnya Ali yang kelak menjadi khalifah mengambil kembali tanah fadak untuk dibagikan pada ahli warisnya yang sah?

  17. Hidup Syiah..!!!

  18. Assalamu’alaikum,

    Perbedaan pendapat diantara orang-orang terdekat Rasulullah Shalallahu ‘Alihi Wasallam baik di kalangan sahabat maupun ahlul baitnya adalah hal yang wajar, hanya dalam perkara ijtihad, tidak sampai mereka saling benci dan bermusuhan seperti yang antum dan pengikut syi’ah gambarkan… buktinya adalah sangat nyata, kalau antum perhatikan anak-anak keturunan mereka, baik dari Pihak Ali + Fathimah ra dan Abu Bakar ra, keturunan mereka tetap saling menjalin hubungan yang baik bahkan sampai tahap menikahkan anak-anak mereka…

    Ana yakin antum semua tahu siapakah Imam Ja’far Ash Shadiq, siapakah ibu beliau? Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) pernah berkata, “Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali.” Mengapa imam Ja’far menyebut nama Abu Bakar, dan tidak menyebut Muhammad bin Abu Bakar? Memang, beliau terang-terangan menyebut nama Abu Bakar karena sebagian orang Syiah mengingkari keutamaan beliau. Sedang putra beliau Muhammad bin Abu Bakar, Syiah sepakat atas keutamaannya. Sekarang bagaimana menurut Antum, dengan siapa seorang Imam syiah berbangga? Beliau berbangga dengan seorang yang dituduh sebagai perampas Tanah Fadak milik leluhur beliau??? Bukalah mata kalian wahai saudaraku… apakah ini ahistories??? Kalau antum tidak percaya dengan kitab-kitab Ahlussunnah silahkan antum buka sendiri di kitab-kitab rujukan Syiah seperti “‘Umdatu ath-Thaalibiin”; hal. 95; edisi Dahran. Juga “Al Kaafi”; juz 1; hal. 472.

    Suatu hal yang nyata bahwa sepeninggal para Khulafa’ur Rasyidin, keluarga dan anak-anak keturunan mereka tetap menjalin hubungan baik, bahkan menjalin ikatan yang kuat diantara mereka yaitu berupa pernikahan, sehingga fakta mengatakan bahwa Imam Ja’far Ash Shadiq dan keturunannya disamping adalah keturunan dari Ali bin abi Thalib ra dari pihak ayah, juga sekaligus keturunan Abu Bakar ra dari pihak ibu… pertanyaannya adalah jika memang antara Abu Bakar ra dan Fathimah ra terjadi perselisihan (yang gambarannya di besar-besarkan oleh Syi’ah), mengapa keturunan mereka tetap melanjutkan hubungan baik? bahkan sampai ke jenjang pernikahan??…

    maka kesimpulannya adalah bahwa :
    1. Perselisihan diantara para shahabat itu adalah dalam perkara ijtihad dan tidak sampai kepada rasa saling benci dan permusuhan diantara mereka sebagaimana yang digambarkan oleh syi’ah…renungkanlah…
    2. Sebagian Imam yang 12 adalah juga tidak lepas dari darah keturunan Abu Bakar ra…

    Apakah antum akan menyelisihi Imam antum sendiri dalam menyikapi Abu Bakar Ash Shidiq ra?

    Wallahu A’lam

    Peace…

    Wassalamu’alaikum

  19. Jika kita tidak bisa memahami kemuliaan akhlak ahlul bayt, maka akan muncul pertanyaan2 yang bersumber dari kedangkalan akhlak kita sendiri. Ahlul Bayt bukan manusia2 pendendam, mereka bukan mencari kesenangan duniawi mereka. Coba saudara2 bayangkan mereka sebagai penerus Rasulullah dalam tauladan, penyampaian Risalah Rasulullah, tempat bertanya. Jika kita bisa memahami ini maka tidak akan muncul pertanyaan kenapa Imam Ali tidak mengambil alih hak tanah Fadaq. Akhlak beliau terlalu agung untuk melakukan itu (sehingga Muawiyah cs kehabisan akal untuk mencari kelemahan beliau, bayangkan jika Imam Ali mengambil tanah Fadaq pd saat beliau menjadi khalifah, maka Muawiyah akan dg mudah menyebarkan fitnah). Ahlul Bayt sudah selesai menyampaikan/menuntut hak2 mereka (terlalu berlebihan jika dilanjutkan oleh generasi selanjutnya). Sehingga semua diserahkan berpulang kepada umat apakah akan memberikan hak tersebut ataukah tetap ingkar.
    Sebagaimana Rasulullah yg diutus hanya memberi peringatan dan membawa berita gembira, maka ahlul bayt pun tidak berani melebihi yang menjadi kewajiban mereka. Sekali lagi janga berfikir dg akhlak kita yg masih dangkal. Kita berasumsi jika hak kita direbut maka kita tidak peduli dg kepentingan2 lain maka kita akan memperjuangkan dengan cara apapun.
    Saudara2 ku, jika ahlul bayt menyuarakan hak2 mereka, maka itu bukanlah hadir dari amarah dan keinginan untuk berkuasa. Allah dan Rasul menunjuka mereka sebagai penerus/emimpin setelah Rasul bukanlah dg tujuan sekedar memberi kekuasaan kepada mereka. Allah dan Rasul menentukan mereka sebagai pemimpin setelah Rasul adalah dg tujuan untuk kepentingan kita semua. Agar kita umat islam selamat. Sehingga sudahlah jelas ahlul bayt menyuarakan hak2 mereka dengan berat hati agar umat ini patuh/taat kepada Allah & Rasul sehingga selamat dunia akhirat.
    Dan ketika umat islam krn kedengkiannya memilih untuk ingkar, maka tidak banyak yang ahlul bayt lakukan kecuali mendo’akan kita semua agar mendapat petunjuk dan hidayah.
    Semoga bisa menjadi pertimbangan dalam mengenali pribadi ahlul bayt, sehingga tidak terjebak dalam cara pikir yg salah.

    Wassalam

  20. Takutlah keadilan ALLAH Ta’ala

    salam al-Mubaraq

  21. Salam..

    @ Bims
    “Apakah antum akan menyelisihi Imam antum sendiri dalam menyikapi Abu Bakar Ash Shidiq ra?”

    Baca al Kafi semua dan Bihar juga mas (semua)
    (males ngukang2 di blog)

    Cuma saran..
    PEACE

    Wassalam

  22. Salah ketik..

    Yg diatas mksdnya “males ngulang2 diblog”

    PEACE

  23. Assalamu’alaikum,

    @Bagir,

    Menurut pendapat ana, lahirnya Imam Ja’far Ash Shadiq dari keturunan Ali dan Abu Bakar Ra adalah bukti yang paling otentik yang pernah ada bahwa diantara keluarga mereka (Ali dan Abu Bakar ra) sudah tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal…

    kalaupun ada perselisihan diantara mereka sebelumnya, maka itu sudah diselesaikan secara baik dan “case closed” sehingga kita sebagai pengikut ahlul bait yang terpisahkan dengan mereka lebih dari 1000 tahun tidak perlu lagi mengungkit-ungkit lagi….sebagaimana anak keturunan mereka saling menjalin hubungan dengan erat… apakah mungkin semisal Imam Ja’far akan menghujat kakek beliau sendiri?… renungkanlah wahai saudaraku…

    seandainya ada tulisan2 ulama yang menulis mengenai sikap ahlul bait yang berlawanan dengan bukti otentik tersebut, maka itulah yang patut dipertanyakan…

    Wallahu A’lam

    Peace…

    Wassalamu’alaikum

  24. Salam…

    @ bims
    Sesuai yg antum bilang :

    “Menurut pendapat ana, lahirnya Imam Ja’far Ash Shadiq dari keturunan Ali dan Abu Bakar Ra adalah bukti yang paling otentik yang pernah ada bahwa diantara keluarga mereka (Ali dan Abu Bakar ra) sudah tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal…”

    ana jawab :

    Ya namanya juga PENDAPAT antum, ya ga pa2..

    “kalaupun ada perselisihan diantara mereka sebelumnya, maka itu sudah diselesaikan secara baik dan “case closed” sehingga kita sebagai pengikut ahlul bait yang terpisahkan dengan mereka lebih dari 1000 tahun tidak perlu lagi mengungkit-ungkit lagi…”

    Ana jawab :

    Yang ana tau dan ana baca sendiri juga, ucapan antum : “maka itu sudah diselesaikan secara baik dan “case closed” ….ana belum dapat buktinya telah diselesaikan dg baik…btw, antum sendiri jg mungkin tau masalah2 apa sih..

    terus :

    “apakah mungkin semisal Imam Ja’far akan menghujat kakek beliau sendiri?… renungkanlah wahai saudaraku…”

    terima kasih akhi..saya merenung dan saya ingat ucapan terakhir SAYYIDATUNISA’IL-ALAMIN FATHIMAH AZ ZAHRA as (yang keridhaannya adalah keridhaan Rasul saww dan murkanya adalah murka Rasul saww) yang tercatat dikitab2 sunni maupun syi’i…(mungkin antum jg uda tau ko apa yg diucap Fathimah as)

    Maaf mas sudah banyak dibahas hal diatas di sini..sekali lagi ana males ngulang2..tp terima kasih mengingatkan ana untuk merenung..ana jadi ingat ucapan Sayyidah Fathimah as..sukron..!

    Wassalam

  25. cuma tmbahn..

    yang jelas Syiah dan Suni ditempat ana ga ribet, yang bikin ribet yg ga tau apa2 dan wahabi2 yg suka nyebar benih kebencian tapi dari belakang, ga pernah berani didepan lgsng, dan ga ada taqiyah ditempat ana (maaf bilang ini, krn orang yg asal ngom sll bilang syiah bisa berbaur karena taqiyah yg oleh sebagian orang taqiyah disamakan dg kemunafikan)

    beda adl wajar asal ada bukti.

  26. Assalamu’alaikum

    @bagir,

    bagir wrote:
    Yang ana tau dan ana baca sendiri juga, ucapan antum : “maka itu sudah diselesaikan secara baik dan “case closed” ….ana belum dapat buktinya telah diselesaikan dg baik…btw, antum sendiri jg mungkin tau masalah2 apa sih..

    Bukti bahwa “case closed” adalah adanya Imam Ja’far di dunia ini yang terlahir dari dua keturunan Sahabat utama Nabi… pernikahan antara Imam Muhammad Al Baqir dan Ummu Farwah… nasab adalah bukti yang otentik ya akhi… orang mau bilang apa saja tentang 2 keluarga tersebut… pada kenyataannya akhirnya mereka bersatu dalam suatu mahligai pernikahan yang mulia dan melahirkan keturunan imam-imam berikutnya yang mulia…

    Marilah berfikir jernih ya akhi… ana yakin antum juga punya keluarga, jika sekarang ini antum belum berkeluarga dan akan dinikahkan dengan anak keturunan keluarga yang bermusuh bebuyutan dengan keluarga antum… pasti orang tua antum akan berfikir 1000 kali ya ga… tetapi jika sebaliknya maka pernikahan itu akan berjalan dengan penuh cinta kasih antara sesama keluarga…

    Mengenai kasus tanah fadak yang tertera di shahih bukhari, ana pun tidak mengingkarinya… tetapi yang menjadi masalah adalah interpretasi kita mengenai kasus tersebut… marah dalam bentuk apakah yang dilakukan oleh sayyidah Fatimah? karena Rasul pun pernah marah, Sahabat pun pernah marah, ada saatnya kan kemarahan seseorang akan redam? apalagi untuk seorang Fatimah Az Zahra…apalagi jika antum membaca Hakekat.com dan literatur2 yang lain, ternyata ada banyak interpretasi mengenai hadits ini… dan bahkan sebagaimana yang dikutip oleh yang mulia pemilik blog ini bahwa akhirnya walaupun sedikit ada saling berargumentasi antara Ali dan Abu Bakar… “case closed” nya ada pada baiat Ali ra kepada Abu Bakar ra dan dukungan beliau selama pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq.

    Tetapi sekali lagi pendapat ana… bukti yang paling otentik persatuan dua keluarga sahabat tersebut saat ini adalah nasab Imam Ja’far Ash Shadiq yang sampai kepada Abu bakar Ash Shiddiq ra… yang hal tersebut sepakat antara syi’ah dan sunni.

    Justru dengan “positive tinking” yang kita kembangkan terhadap para pendahulu umat inilah yang akan membuat kita bersatu dan ga ribet diantara kita…

    Wallahu A’lam

    Peace…

    Wassalamu’alaikum

  27. Salam..

    @ Bims..

    ” nasab adalah bukti yang otentik ya akhi… orang mau “bilang apa saja tentang 2 keluarga tersebut… …….”

    Mas, antum coba cari tau siapa Muhammad bin Abu Bakar dan bgmna dia bersikap terhadap ayahnya..penentangan2nya atas kekhalifahannya, jadi antum jgn asal ngom ” Nasab adalah bukti otentik”…

    Contoh yang gampang ajah mas…Umar bin Abdul Aziz (dari dinasti Umayyah) nasab nya kacau, tp satu2nya yang bersikap adil teradap Ahlul Bait cm dia..! Tapi apakah itu berarti semua BANI Umayyah baik ke Ahlul Bait dan sebaliknya ..? jwbnya TIDAK .

    Terus antum bilang :

    “Mengenai kasus tanah fadak yang tertera di shahih bukhari, ana pun tidak mengingkarinya… tetapi yang menjadi masalah adalah interpretasi kita mengenai kasus tersebut… marah dalam bentuk apakah yang dilakukan oleh sayyidah Fatimah?

    ana jawab :

    Makanya antum cari tau dl sampai tuntas..dan kenapa juga Fathimah as marah karena “sebuah” Fadak…sepenting apakah itu..?

    Terus ucapan antum :

    “apalagi jika antum membaca Hakekat.com dan literatur2 yang lain, ternyata ada banyak interpretasi mengenai hadits ini… dan bahkan sebagaimana yang dikutip oleh yang mulia pemilik blog ini bahwa akhirnya walaupun sedikit ada saling berargumentasi antara Ali dan Abu Bakar… “case closed” nya ada pada baiat Ali ra kepada Abu Bakar ra dan dukungan beliau selama pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq.”

    saya jawab :

    Waduh mas…ana baru tau ternyata ente sebagian (mgkin ambil / cari) di Hakekat.com…antum tanya ajah sama semua bloger disini bgmn Hakekat.com…ana bilang “KUNO MAS”… dan semuanya cuma mbulet ga karu2an.

    Antum kasi saran ana cari literatur (sy hargai bgt mas) dan ga ada slhnya ana jg ksi saran : baca Al KAfi (jgn nukil mas, pa lagi dari HAKEKAT…) baca Bihar Al Anwar, atau Al Amali, atau antum cari lgsung aja dr sumbernya…oke

    Antum bilang :

    “Tetapi sekali lagi pendapat ana… bukti yang paling otentik persatuan dua keluarga sahabat tersebut saat ini adalah nasab Imam Ja’far Ash Shadiq yang sampai kepada Abu bakar Ash Shiddiq ra… yang hal tersebut sepakat antara syi’ah dan sunni.”

    Ana jawab :

    Ana sdh bilang, pendapat antum, ya ga pa2..khan pendapat..iya khan..No Problemo buat ana . Hehe..

    Masalh “bukti otentik” krn Nasab…udah ana jawab diatas…sekali lagi antum cari tau Sejarah Muhammad bin Abubakar..dan bgmn dia sebagai SYIAH ALI..!

    ada pertanyaan : “APAKAH KESALAHAN ORANG TUA JUGA KESALAHAN ANAK..?”

    Atau : ”

    APAKAH KEADILAN ANAK JUGA KEADILAN ORANG TUANYA (atau sebaliknya)..??”

    (itu cm contoh, ga perlu dijawab…heheheh)

    Wassalam

  28. Imam Jaafar as-saddiq adalah keturunan Muhammad bin Abu Bakar. Yang as-Saddiq hanya Imam Jaafar…. Bukannya Abu Bakar.

  29. @ Bims
    Nasab tidak menjadi bukti otentik yag Mas bilang. Perbuatan seseorang tidak lantas itu mejadi kesalahan bagi keluarganya. hanya mereka yang berpikiran sederhana yang ikut-ikutan membawa keluarganya dalam perselisihan.
    Banyak sekali contohnya dimulai dari Qabil putra Nabi Adam AS, Istri Nabi Luth, Putra Nabi Nuh AS, Ayahnya Nabi Ibrhim AS dan apa anda tahu kalau ada putri Nabi Muhammaad SAW yang pernah menjadi istri orang kafir, dll

    Apa yang dilakukan Abu Bakar RA, itu tidak menjadi tanggung jawab anaknya, cucunya atau keturunannya karena yang namanya dosa atau kesalahan itu tidak diwariskan. Lagipula Ahlul Bait adalah manusia mulia yang bisa membedakan siapa yang sebenarnya salah dan siapa yang benar. Jadi Imam Ja’far sebagai keturunan Abu Bakar bukanlah bukti bahwa Abu bakar selalu benar. Dan perlu diingatkan baik-baik Mas kita tidak bicara soal benci-membenci tapi soal bersikap tentang kebenaran. Semoga anda bisa mengerti itu.

  30. Cuma tambhn :

    @ bims

    antum bilang :

    “Marilah berfikir jernih ya akhi… ana yakin antum juga punya keluarga, jika sekarang ini antum belum berkeluarga dan akan dinikahkan dengan anak keturunan keluarga yang bermusuh bebuyutan dengan keluarga antum… pasti orang tua antum akan berfikir 1000 kali ya ga… tetapi jika sebaliknya maka pernikahan itu akan berjalan dengan penuh cinta kasih antara sesama keluarga…”

    ana jawab :

    gmn ya..ko muter mas..? heheh… Ngapain juga keluarga ana harus mikir 1000 x sdgkan dia mau menikahkan ana dg anak keturunan musuh buyut ana..??? nah loh.. ya dari pada repot mikir ya ga usah ada niat nikahkan aja…heheheh

    lagian antum jangan spt “Pesulap” lah, pake ngeramal pikiran ortu ana…heheheh…kidding mas…

    dan lagi anda salah besar.. klrga ana ga mikir spt itu mas.

    ” Inna akromakum indallahi atqokum”

    sekali lagi mas…kesalahan bapak belum tentu kesalahan anak, dosa bapak belum tentu dosa anak, cucu, cicit, dst

    jadi ga ada urusan bapaknya bandit anaknya soleh atau solehah…pribadi yg dilihat….klo memang ternyata anak yg harus dinikahi adalah ank Solehah knp di tolak..??

  31. Asalamu’alaikum
    Syukron atas komen2 dr antum sekalian

    @bagir, J Algar, fatamorgana
    sebenarnya point yang ingin ana sampaikan adalah bahwa anak keturunan Ali maupun Abu Bakar sudah melebur jadi satu, sehingga dengan peleburan itu maka segala permasalahan yang mengganjal tentunya sudah terselesaikan diantara mereka… hal ini bisa dilihat di beberapa riwayat yang menunjukkan pembelaan Imam Ja’far terhadap kakeknya Abu Bakar terhadap celaan orang kepadanya…

    Pertanyaannya mengapa kita yang terpisahkan lebih dari 1000 tahun dengan para pelaku sejarah tersebut mengungkitnya lagi… sedangkan seperti permasalahan fadak tersebut sebenarnya sudah sangat jelas… hanya perbedaan ijtihad… Fatimah az-Zahrah r.a merasa berhak atas hak tanah fadak yang diberikan oleh Rasul, sedangkan Khalifah Abu Bakar tidak mau melanggar apa yang sudah ditetapkan oleh Rasul sebelumnya yang telah diketahuinya secara pasti bahwa Beliau Saw tidak meninggalkan harta apapun kecuali untuk diserahkan kepada umatnya….(sehingga masalah benar atau salah diantara keduanya masih bisa dilihat dari berbagai sisi bukan hanya satu sisi saja) dan hal itupun juga terekam dalam shahih bukhari… dan endingnya pun juga terekam… sedangkan kita saat ini jadi saksi pun tidak… mengapa kita yang saat kejadian tsb tidak hadir, dengan pedenya ikut menjadi hakim diantara mereka (dengan segala interpretasi kita) …seberapa kapasitas kita dibandingkan mereka (orang-orang yang dipilih oleh Allah dekat dengan rasul-Nya) yang dampaknya adalah negative thinking tanpa ilmu terhadap salah satu diantara mereka (ini nyata… anda lihat komen2 mengenai Abu Bakar) parahnya lagi sebagian dari kita memasukkannya dalam keyakinan sehingga langsung memvonis bahwa yang ini benar, yang itu salah dan telah melakukan DOSA???…bahkan mengembangkannya lagi masalah tersebut ke conspiracy theory …

    Sekali lagi, peristiwa yang terjadi antara Khalifah Abu Bakar dengan Fatimah r.a, beberapa waktu sesudah wafatnya Rasul tidak bisa kita tinjau dari satu sisi dan mengabaikan sisi yang lainnya, kita semua tahu siapa Fatimah az-Zahrah ra, menyakitinya sama halnya dengan menyakiti pribadi Muhammad Saw, duka Fatimah adalah duka Rasulullah. Beliau termasuk salah satu dari wanita-wanita mulia yang disebutkan oleh Nabi Saw berada dalam keanggunan syurga.

    Tapi kita juga tahu siapa Khalifah Abu Bakar, dia termasuk generasi awal yang menegakkan Islam bersama-sama dengan Nabi Muhammad Saw, merasakan pahit getirnya perjalanan Islam, berdua melakukan perjalanan dimalam Hijrah bersama sang Nabi, keluar dari kepungan para musuh yang berusaha membunuh mereka sampai digua Tsur. Satu-satunya pemimpin sholat seluruh sahabat yang ditunjuk langsung oleh Nabi disaat-saat menjelang wafatnya.

    Ingatlah.. selain Rasul, semua manusia adalah tidak ma’sum termasuk keluarga dan sahabat beliau…

    Mengapa kita tidak coba rubah mindset kita untuk berkhusnudzon (positive thinking) saja berdasar bukti yang ada bahwa mereka telah menyelesaikan masalah yang terjadi lebih dari 1000 tahun yang lalu dengan baik dan saling penuh pengertian?, jika seandainya kita salah dalam hal ini, kita telah berkhusnudzon dan ana kira lebih selamat… tetapi sebaliknya jika menghujat salah satu diantara keduanya dan ternyata salah… maka kita akan dimintai pertanggungjawaban di “sana” kelak. Terserah silahkan pilih yang mana…

    Wallahu A’lam

    Peace…

    Wassalamu’alaikum

  32. @semuanya
    kalau kawan-kawan semua jeli, terdapat landasan berpikir yang saling bertolak belakang antara secondprince dengan bims.

    Jika kedua landasan berpikir ini tidak dipertemukan terlebih dahulu untuk diverifikasi kebenarannya, maka selamanya diskusi ini ndak akan pernah ada ujung yang menggembirakan, yaitu terkuaknya kebenaran.

    Jadi inget ma tulisannya ustadz muhsin labib tentang Logika Mayor dan Logika Minor. Kita pakai Logika Mayor saja.

    http://muhsinlabib.wordpress.com/2008/02/01/jeruk/

  33. Salam..

    @ Bims

    “seberapa kapasitas kita dibandingkan mereka (orang-orang yang dipilih oleh Allah dekat dengan rasul-Nya) yang dampaknya adalah negative thinking tanpa ilmu terhadap salah satu diantara mereka (ini nyata… anda lihat komen2 mengenai Abu Bakar) parahnya lagi sebagian dari kita memasukkannya dalam keyakinan sehingga langsung memvonis bahwa yang ini benar, yang itu salah dan telah melakukan DOSA???

    ——–sampai : ” ingatlah.. selain Rasul, semua manusia adalah tidak ma’sum termasuk keluarga dan sahabat beliau…”

    —–…………………………………
    Maaf mas, saya bukan orang alim, tapi saya sarankan antum untuk mencari tau dari kitab2 kami (jgn cuma nukil)…dan justru kami berpositive thinking..klo kami ga berpositiv thinking akhirnya malah keblinger dg sejarah2 palsu…maaf biukan sok tau..tapi benran ana sarankan antum belajr lagi ttg syiah dan sunni, n kalo mau jg pelajari wahabi, antum bahkan tau semua…masa masalah maksum aja hrs diulang2..wah otak bisa cupet kalo cuma muter disitu mas..semua udh sering dibahas..ok

    maaf, bukan sok menggurui..

    tambahan..ttg pernytaan Imam Ja’far, saya sdh bilang baca Al KAfi dan Biahr mas, jgnn cuma nukil2, cr jg di Al Amali, atau apalah..

    Afwan
    wassalam

  34. @bims
    salam
    saya mau komentar
    bahwa ketika terjadi perselisihan antara sayidah fatimah as dgn khalifah abu bakar ttg fadak,fatimah as memperlihatkan kepada khalifah abu bakar dokumen yang ditulis lgsng oleh rasulullah saw,bhwa didlm dokumen itu,fadak adalah hak untk fatimah as dan kedua pemuda surga,imam hasan as dan imam husain as..
    ketika khaibar tlh ditaklukkan,rasul bersabda kpd imam ali :wahai ali,bangkit dan bawa panji ini! kemudian imam ali mmbw panji itu ke fadak,dan dgn org2 fadak,ia membuat prjanjian bahwa ia akan menjamin kslmtn mereka sbg ganti dari kebun2 mereka.dgn dmkian,kebun fadak menjadi khusus milik rasul saw. jibril kemudian mndatangi nabi dan berkata: Allah memerintahkanmu untk memberikan keluarga dekatmu hak-hak mereka. nabi bertanya, wahai jibril,siapakah keluarga dekatku dan apa hak mereka? jibril mnjwb, fatimah; oleh karna itu,beri ia kebun2 fadak dan segala isinya yg merupakan kepunyaan Allah dan rasulNya. rasul kemudian memanggil fatimah dan nabi menulis sebuah dokumen untk tujuan itu,yang fatimah bawa kepada khalifah Abu Bakar stlh wafatnya nabi..
    ketika imam mahdi afs muncul stlh lama gaib,imam mahdi afs akan mengambil alih fadak sepenuhnya dr kerajaan saud..
    salam

  35. Salam..

    Nah…mas Arif nongol..ana lupa mau tanya email antum…klo blh tau kasi ke ana yach…sp tau klo ada wktu ke jogja ana mampir..Thx yach

    Wassalam

  36. Assalamu’alaikum,

    @Ressay
    Thx infonya…

    @Bagir, Arif
    Terima kasih saran antum untuk mempelajari kitab-kitab syi’ah seperti Al-Kafi, Biharul Anwar dll…

    mas Bagir saya cukup lama mengamati dialog antara sunni dan syi’ah dengan segala argumentasi mereka yang sebenarnya adalah lagu lama… yang diperdebatkan ya itu-itu saja… tetapi ada beberapa perubahan akhir-akhir ini, contoh biasanya sunni menyerang keyakinan syi’ah mengenai keaslian Al-Qur’an dengan menggunakan kitab2 syiah sendiri (Sunni tidak ada yang percaya kitab syi’ah) spt Al-Kafi, Bihar dll, tetapi saat ini sebagian syi’ah utk membantah hal ini mengatakan bahwa Syi’ah mengakui keaslian Al-Qur’an yang ada sekarang ini dan mengatakan bahwa menurut ulama syi’ah sendiri kitab Al-Kafi tidak semuanya shahih isinya, bahkan ada yang mengatakan bahwa di syi’ah tidak ada kitab yang dianggap shahih selain Al-Qur’an berbeda dengan sunni yang menganggap bukhari – muslim adalah kitab shahih selain Al-Qur’an. ana tidak tahu apakah perkataan tersebut mewakili keseluruhan syi’ah atau tidak, ataukah hanya taqiyah saja.. dan biasanya syiah menyerang balik dengan menggunakan hadits2 sunni (yang tidak populer) mengenai tahrif Al-Qur’an (walaupun sebenarnya ternyata sebagian yang dinukil hanyalah perbedaan qira’ah belaka).

    Syi’ah pun tidak percaya terhadap hadits-hadits sunni, tetapi mereka biasa mengambil hadits-hadits sunni yang berkecocokan dengan paham mereka untuk menyerang sunni seperti : hadits tsaqolain, hadits wilayah, hadits fadak dll sedangkan yang lain mereka tidak akan percaya… tetapi bedanya, jika memang hadits yang dibawakan oleh syi’ah tsb adalah terbukti shahih, mereka (sunni) tidak akan mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif atau palsu dan jika yang diambil dari shahih bukhari atau muslim, hal tsb tidak mengurangi kedudukan shahih bukhari atau muslim di mata sunni… paling-paling sunni akan membantah syiah mengenai interpretasi hadits tersebut berdasarkan hadits-hadits yang lain. (mungkin pemilik blog ini lebih tahu banyak tentang masalah hadits)

    Nah ana tidak tahu bagaimana keyakinan antum.. akhi Bagir dan Arif mengenai kitab Al-Kafi, Bihar, Amali dll…, kalau anda mengikuti pendapat sebagian ulama syi’ah bahwa kitab semisal Al-Kafi adalah berisi riwayat2 yang tidak shahih, bagaimana cara antum membangun keyakinan antum berdasarkan kitab tersebut dan kemudian menganggap bahwa sejarah telah dipalsukan?

    Semua hal di atas adalah kontroversi antar dua kelompok dari sejak zaman baheula dan menurut mas Ressay adalah logika-logika minor saja (maaf jika ana salah mengartikannya ya mas)

    Lepas dari kontroversi tersebut, yang ana sampaikan di atas mengenai silsilah Imam Ja’far adalah hal yang telah masyhur dan disepakati oleh sunni maupun syi’ah…mengapa ini yang tidak dijadikan landasan untuk menilai hubungan antara ahlul bait dan sahabat yang sebenarnya?

    Kemudian ada juga riwayat mengenai pernikahan Umar bin Khattab ra dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib ra dan melahirkan anak yang bernama Zaid dan Ruqayyah, yang ternyata riwayat tersebut tercatat juga di kitab rujukan syi’ah, Nah, apakah mungkin seandainya memang Imam Ali ra dan keluarga bermusuhan dengan Umar ra, dia akan merelakan putrinya dinikahi oleh Umar ra?? Mengapa fakta-fakta sejarah seperti ini yang tidak kita jadikan landasan dalam menilai hubungan antara ahlul bait dan sahabat yang sebenarnya pada waktu itu?

    Wallahu A’lam

    Peace…

    Wassalamu’alaikum

  37. syi’ah kan banyak golongannya…. ahli sunnah wal jemaah pun banyak golongannya. ALLAH Yang Dituju.
    waSalam

  38. @bagir
    salam
    imel ana daox_marixo@yahoo.com..kynya ana yg prl bljr bnyk ahlulbait dr antum..btw kmntr antum ttg achmad aljufri ditopik lain diblog 2ndprince keras jg..karna memang setahu ana yg marganya aljufri y pengikut ahlulbait..ana kenal n tahu ahlulbait jg dr teman yg marganya aljufri..afwan, ana skrg udah g diyk,sudah blk ke cirebon..
    salam

  39. @bims
    sbnrnya bnyk yg bwt sy ykn ahlulbait..bbrp keyakinan saya didasarkan pada 1.sabda rasul saw:siapa yg menyakiti ali berarti menyakitiku,sabda yg sama jg ditujukan rasul saw untk fatimah,hasan n husein..pernah bbrp wkt saad bin abi waqqosh mencela imam ali,kemudian mndngr sabda rasul diatas,stlh kjdian itu saad tdk prnh mencela imam ali.. 2. ali pintu kota ilmu 3.pengangkatan ali di ghadir khum 4.karbala,syhdnya imam husein yg dibantai tentara yazid bin muawiyah laknatulah alaih 5.surat 33:33 6.dialog antara rabi yahudi dgn abu bakar,tp syngnya abu bakar g mampu jwb prtnyan rabi tsb,yahudi ini blg klo prtnyan tsb hny bs dijwb oleh washi (pemegang wasiat) rasul saw. untk menyelamatkan islam dr bahaya yahudi ini,kemudian salman al farisi memanggil imam ali untk menjawabnya,dan prtnyan yahudi td bs djwb smua oleh imam ali,dr prmslhn ini,yahudi b ilang kepada imam ali:”sesungguhnya anda benar2 washi rasul saw” n mengakui bahwa imam ali adalah benar2 washi rasul saw,n akhrnya yahudi ini menjadi seorang muslim 7.plat kapal nabi nuh as,dlm doa nabi nuh as di plat tsb untk kslmtn kapalnya,beliau bertawassul kepada rasul saw,imam ali as,sydh fatimah as,imam hasan as n imam husein as..n plat itu tersimpan di sebuah museum di rusia,klo sy pny ksmptn,sy akan kunjungi museum itu untk melihat doa nabi nuh as di plat tsb 8.perang siffin,dimana imam ali ada dlm kbnrn,muawiyah dlm kesesatan n msh bnyk lg..

  40. @bims
    salam
    ttg buku2 yg anda sebut diatas,sy blm prnh lht buku tsb,tp mgkn sy dpt sebagian isi buku tsb dr bbrp artikel di internet..mgkn trmsk dr blog ini..buku2 n kitab dr ahlulbait senantiasa dibakar n dimusnahkan oleh kerajaan bani umayyah n bani abbasiyah,sejarah tlh mengungkapkan keburukan 2 dinasti ini..tnyt propaganda 2 dinasti ini hebat untk mereduksi keutamaan ahlulbait nabi saw..terutama yg brhbngn dgn ahlulbait nabi yg bermuara pd imam ali,dinasti ini tdk mau kerajaannya hancur karna keutamaan ahlulbait,sehingga mereka berani membunuh imam ali,meracuni imam hasan,membantai imam husain,meracuni imam ali bin husain,imam al baqir,imam ash shadiq,imam al kadzim,imam arridha,imam jawad,imam al hadi,imam al askari n trakhr kelak mereka jg akan meracuni imam mahdi..kesemua itu mereka lakukan untk menghilangkan jejak ahlulbait yg lurus..bagaimanapun jg cahaya kebenaran tak akan prnh redup..bagai awan yg menghalangi matahari,namun cahaya matahari te2p bs menembus awan tsb..

  41. Salam
    @ Bims

    anda bilang :

    “….dan biasanya syiah menyerang balik dengan menggunakan hadits2 sunni (yang tidak populer) mengenai tahrif Al-Qur’an (walaupun sebenarnya ternyata sebagian yang dinukil hanyalah perbedaan qira’ah belaka).”

    ——

    Maaf mas mungkin ga populer buat antum, tapi ulama suni sendiri banyak yang mensahihkan…bukan maksud ga mau diskusi disini, sekali lagi hal tersebut LAGU LAMA.
    Mau lebih jelas silahkan klik :

    http://jakfari.wordpress.com/2008/05/01/tokoh-tokoh-ulama-ahlusunnah-yang-meyakini-terjadinya-tahrif-3/

    —————-

    Anda tulis :

    “Syi’ah pun tidak percaya terhadap hadits-hadits sunni, tetapi mereka biasa mengambil hadits-hadits sunni yang berkecocokan dengan paham mereka untuk menyerang sunni seperti : hadits tsaqolain, hadits wilayah, hadits fadak dll sedangkan yang lain mereka tidak akan percaya… tetapi bedanya, jika memang hadits yang dibawakan oleh syi’ah tsb adalah terbukti shahih, mereka (sunni) tidak akan mengatakan bahwa hadits tersebut dhaif atau palsu dan jika yang diambil dari shahih bukhari atau muslim, hal tsb tidak mengurangi kedudukan shahih bukhari atau muslim di mata sunni… paling-paling sunni akan membantah syiah mengenai interpretasi hadits tersebut berdasarkan hadits-hadits yang lain. (mungkin pemilik blog ini lebih tahu banyak tentang masalah hadits)”

    ——

    Tuduhan anda tidak berdasar sama sekali…
    Mas, akal yang sehat akan menrima jika berdiskusi harus menggunakan dalil yang disetuji oleh kedua pihak .

    Terus kenapa jika kami berargumen menggunakan Hadis Shahih dari kitabb sunni malah kadang disangkal..???

    dan lucunya sebagian dari “oknum” sunni tidak mau menerima hadis yang diriwayatkan oleh Syiah (maksud ana dari kitab2 syiah, dan ana bilang sebagian oknum suni)…

    Lebih2 wahabi yang bisa2nya mendaifkan sebagian hadis2 keutamaan Imam Ali..!

    Anda tulis :

    “Kemudian ada juga riwayat mengenai pernikahan Umar bin Khattab ra dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib ra dan melahirkan anak yang bernama Zaid dan Ruqayyah, yang ternyata riwayat tersebut tercatat juga di kitab rujukan syi’ah, Nah, apakah mungkin seandainya memang Imam Ali ra dan keluarga bermusuhan dengan Umar ra, dia akan merelakan putrinya dinikahi oleh Umar ra?? Mengapa fakta-fakta sejarah seperti ini yang tidak kita jadikan landasan dalam menilai hubungan antara ahlul bait dan sahabat yang sebenarnya pada waktu itu?”

    —–

    Duh maaas, cuma wahabi yang brpgang dengan riwayat terebut… ! , kcuali memang anda mau sejalan dengan pikiraan mereka…ya monggo…INI JUGA LAGU LAMA MAS…LAMA BANGETSSS….

    silahkn anda download filenya, semua jelas disitu, tggal baca : (lihat kiri atas, ad 2 file, file pdf dan zip, download dua2nya klo mau lbh jelas)

    http://www.answering-ansar.org/answers/umme_kulthum/en/index.php

    wassalam

  42. @ Bims
    Tambahan mas, antum bilang :

    “…kalau anda mengikuti pendapat sebagian ulama syi’ah bahwa kitab semisal Al-Kafi adalah berisi riwayat2 yang tidak shahih..”

    —-

    Maaf mas, ga ada ulma syiah bilang Al KAfi BERISI riwayat2 dhaif..tetapi dibilang : TIDAK SEMUA RIWAYAT DALAM AL KAFI ADALAH SHAHIH…

    dan cuma sunni yang mengkalim shahih bukhari adalah palng shahih setelah al Qur’an, dan semua riwayatnya shahih..! (ini sebagian sunni jg lhooo yg ngom gitu…).

  43. Salam

    @ Arif

    Udah di cirebon toh, ana pikir antum asli Jogja..ya ga pa2lah..kpn2 Insya Allah bisa ketemu kalo ada waktu pas lewat cirebon..

    Thx emailnya ya mas…

    Wassalam

  44. @Bagir
    Salam
    Yup,asli cirebon..mungkin antum punya informasi ttg jamaah ahlulbait di cirebon,coz ana g tw ya2san ahlulbait di crbn…
    Klo bs antum krm imel ke ana dl y,mgkn bs tukar info lwt imel…
    Antum kenal dgn Aljufri yg di Wonosobo?tmen ana yg di wonosobo namanya abdurrahman aljufri,tp ayahnya ana g tahu namanya…pengasuh ponpes Al-Husein di wonosobo (klo g salah loh,afwan ana g tahu nama ponpes lengkapnya)
    Salam

  45. Salam

    @ Arif

    ntar lewat email aja ya mas..ntar klo disini bisa dijitakin SP…hehehehe…

  46. Sebenarnya saya sangat hormat dan kagum terhadap semua sahabat. Tapi setelah saya kaji dan bandingkan saya harus mengakui bahwa reputasi imam Ali jauh diatas rata rata sahabat lainnya termasuk dua sahabat terkemuka yaitu Abubakar dan Umar. Imam Ali mempunyai karya Nahjul Balaghoh yang sangat agung dan mencengangkan ungkapan ungkapannya. Dimanakah karya para sahabat termasuk Abubakar dan Umar meskipun mereka semua bersatu yang mampu menandingi Nahjul Balaghoh.
    Imam Ali adalah pendekar tak tertandingi di semua medan pertempuran, bahkan di laga perang Badar separo musuh tewas di tangan Imam Ali, termasuk Abu jahal dan umayyah. Lalu pernahkah Abubakar atau Umar yang katanya paling sangar itu membunuh kafir tidak usah banyak banyak satu kafir saja di medan perang mana ?
    Dg segala hormat saya minta teman teman yg mempunyai riwayat shohih bahwa Umar pernah membunuh seorang kafir, tolong sampaikan pada saya, supaya kepercayaan saya pada sahabat Umar bisa pulih seperti semula. Jangan cuma menyebar mitos Umar paling ditakuti tapi nol di medan perang yg sesungguhnya. salam

  47. Salam..

    Umar membunuh orang kafir..? yg jadi pertanyaan (nambahin Endang Bratajaya)..ada ga riwayat shahih yng mencatat Umar membunuh PAHLAWAN2 KAFIR..????

    Umar terkenal tukang gertak ..!

    Wassalam

  48. Assalamu’alaikum,

    mas SP, kok susah banget ya ane posting di sini? selalu discarded? why?

    Wassalamu’alaikum

  49. @bims
    wah nggak tahu ya
    kayaknya selama ini lancar-lancar aja :)
    Wa alaikum salam

  50. @bagir
    kirimin ke emailku juga yach.

    someoneku juga di cirebon. hehehehe…

  51. Salam

    @Bims
    Soalan ini hanya di tuju kepada Mas Bims shj..
    Mas Bims… Apa pandangan kamu tentang Abu Thalib bin Abd.Muthalib?
    Apakah kamu setuju…. Ada yang mengkhabarkan (hadis) bahawa seksa neraka yang paling ringan ditanggungi Abu Thalib adalah DIPAKAIKAN TEROMPAH DARI NERAKA?
    waSalam

  52. @fatamorgana

    Salam

    kalau ngikut perasaan sih sebenarnya ana ga tega kalau paman Nabi yg selalu membela Nabi akhirnya mendapat siksa di neraka walaupun yg paling ringan… demikian juga perasaan Nabi ketika mengetahui pamannya mati dalam keadaan su’ul khatimah…

    Tetapi jika ternyata hadits tersebut terbukti berdasar ilmu hadits memang bener shahih dari Nabi sendiri bahwa pamannya adalah masuk neraka, mau ga mau ya kita harus sami’na wa atho’na… iya ga? ya memang kebenaran itu kadang pahit…

    mestinya antum tanyakan ke mas SP mengenai hadits tsb… apakah hadits tsb shahih apa dhaif…silahkan dianalisis…

    Wasalam

  53. to Arif

    Salam

    Mengenai keutamaan Imam Ali pada dasarnya tdk ada yg mengingkari… Tentang hadits Ghadir Kum, banyak interpretasi mengenainya…tentang tragedi karbala, ada juga yang berpendapat bahwa pembunuh Imam Hussein adalah syi’ah kufah…. Di 33:33, ternyata yg dimaksud ahlul bait adlh istri-istri Nabi…

    Wallahu A’lam

  54. @bagir
    Salam

    anda wrote:
    Terus kenapa jika kami berargumen menggunakan Hadis Shahih dari kitabb sunni malah kadang disangkal..???
    Sebenarnya interpretasi kalian thd hadits2 tsb yg disangkal…

    terima kasih lingk-nya, ana sdh baca… setahu ana memang dibolehkan kalo kita meminang seorang gadis untuk melihat terlebih dahulu., dan itu bukan berarti merendahkan…
    lepas dari hal di atas, Ummu Kultsum dan Umar telah menikah dan mempunyai dua anak yg hal tsb tercatat di kitab sunni maupun syi’ah…
    pertanyaan, apakah Imam Ali yang terkenal keberaniannya bisa begitu lemah dihadapan Umar sehingga merelakan putrinya dinikahi oleh musuhnya? bukankah lebih baik dianggap sebaliknya… memang Umar dan Ali adalah 2 orang sahabat karib seiman dan seperjuangan… kalo antum baca riwayat mengenai Ummu Kultsum yang menolong seorang wanita yang melahirkan atas permintaan sumainya (Umar) maka akan terlihat begitu harmonisnya pasangan tersebut dan tidak ada kesan keterpaksaan dlm pernikahan mrk…

    anda mengatakan:
    Maaf mas, ga ada ulma syiah bilang Al KAfi BERISI riwayat2 dhaif..tetapi dibilang : TIDAK SEMUA RIWAYAT DALAM AL KAFI ADALAH SHAHIH…

    Lha terus bagaimana antum menentukan riwayat di Al Kafi bahwa yang ini shahih dan yang itu dhaif / maudhu’?

    @Endang Bratajaya
    Sahabat dan Ahlul Bait Nabi adalah bukan lakon seperti di dunia persilatan… mereka mempunyai andil masing2… mereka telah ditakdirkan oleh Allah menemani rasul-Nya untuk membesarkan agama-Nya… ibarat Islam adalah Pohon maka mereka adalah akarnya…(nyontek komen si soegi di blog sebelah :) ) sehingga jika saat ini ada usaha pendiskreditan/pembunuhan karakter terhadap Ahlul Bait dan Shahabat Nabi, maka sebenarnya saat ini sedang ada usaha pencabutan Islam dari akar-nya… anda bisa bayangkan jika hal ini dibiarkan.. akan jadi bagaimanakah Islam ini nantinya…

    Wallahu A’lam

    Peace…

  55. salam
    @bims
    saya baru tahu ada syiah kufah..siapa mereka2 itu?mohon penjelasan anda mas..karena jika anda ngomong gt brarti anda punya data yg bisa dipercaya..

  56. @ Arif
    Salam

    Ana copaz in aja ya…

    Syiah Kufah pembunuh-pembunuh sebenar Imam Hussein.

    Apabila kelihatan dua kenyataan sejarah berkenaan dengan Yazid yang saling bercanggah, bagaimanakah cara untuk mengkompromikannya? Bagi Ahlus Sunnah Wal Jamaah sepatutnya tidak melupakan catatan sejarah di dalam kitab paling sahih di sisi mereka selepas Al-Quran di mana Imam Bukhari mengemukakan satu riwayat daripada Ibnu Abi Nu’min bahawa dia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar r.a. ditanya oleh seseorang (penduduk Iraq) tentang seorang yang memakai ihram lalu dia membunuh lalat (apakah dendanya)? Lantas Ibnu Umar r.a. menjawab, penduduk Iraq bertanyakan tentang (denda) membunuh lalat? Sedangkan mereka telah membunuh anak lelaki kepada anak perempuan (cucu) Rasulullah s.a.w.”. (Sahih Al-Bukhari, Kitabul Manaqib jilid 1 hal. 531).

    Bukankah jelas di dalam riwayat ini Ibnu Umar r.a. mengisyaratkan bahawa pembunuh cucu Rasulullah s.a.w. itu adalah penduduk Kufah? Jadi mana-mana riwayat yang bertepatan dengan isyarat di dalam riwayat sahih ini maka ia menjadi penguat kepada riwayat tersebut dan sebaliknya mana-mana riwayat yang bertentangan dengan riwayat yang sahih maka ia tidak boleh diterima lagi.

    Kerana itu ulama Ahlus Sunnah ada di antaranya dengan jelas mengatakan bahawa pembunuh Sayyidina Husain r.a. yang sebenarnya bukanlah Yazid. Antaranya Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin mengatakan, “Sesungguhnya tidak terbukti sama sekali bahawa Yazid yang membunuh Husain r.a. Kerana itu tidak harus untuk dikatakan bahawa beliaulah yang membunuh Husain r.a. ataupun yang memerintahkannya, apatah lagi untuk melaknatnya kerana tidak harus menisbahkan seseorang muslim kepada suatu dosa besar tanpa sebarang kepastian”. (Ihya’ Ulumiddin jilid 3 hal 134)
    Ibnus Solah mengatakan, “Tidak sahih di sisi kita bahawa Yazid telah memerintahkan supaya Husain r.a. dibunuh”. (Fatawa Wa Masaail Ibnus Solah jilid 1 hal 216).

    Ibnu Hajar sendiri selepas mengemukakan hadis berkenaan tentera yang mula-mula merentasi lautan berkata, “Imam Muhallab berkata, Hadis ini menunjukkan kedudukan yang mulia untuk Mu’awiyah r.a. kerana dialah orang yang mula-mula berperang merentasi lautan dan juga kedudukan mulia anaknya Yazid kerana dialah orang yang mula-mula memerangi Bandar Qaisar”. (Fathul Bari jilid 6 hal. 114)

    Bahkan Imam Ibnu Kathir selepas mengemukakan riwayat-riwayat sejarah tersebut telah membuat komentar dengan katanya,” Syi’ah Rafidhah telah melakukan banyak pembohongan dan membawa khabar-khabar yang tidak benar sama sekali di dalam cerita-cerita kesyahidan Husain r.a.. Kisah-kisah yang telah dikemukakan sudahpun memadai. Kalaulah tidak kerana imam-imam sejarah seperti Ibnu Jarir At-Thabari dan lain-lain menyebutkannya tentu sekali saya juga tidak akan mengemukakannya. Kebanyakannya adalah melalui riwayat Abu Mikhnaf Lut bin Yahya sedangkan dia adalah seorang Syi’ah dan dia adalah seorang yang lemah dalam periwayatan menurut tokoh-tokoh sejarah. (Al-Bidayah Wan Nihayah jilid 8 hal. 220)

    Bagi golongan Syi’ah pula sepatutnya tidak lupa untuk mengkaji catatan ulama-ulama muktabar di dalam kitab-kitab utama pegangan mereka. Umpamanya di dalam Al-Ihtijaj ‘Ala Ahlil Lajaj, Ahmad bin Ali bin Abi Talib At-Thabarsi menulis bahawa Imam Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain r.a. yang ikut serta dalam rombongan Husain r.a. ke Kufah telah berkata kepada penduduk Kufah, “Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasanya kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu lakukan untuk dirimu”.(Al-Ihtijaj juz 2 hal. 306)

    Pada halaman sebelumnya At-Thabarsi mengemukakan kata-kata Fatimah As-Shughra anak perempuan Sayyidina Husain r.a. kepada penduduk Kufah, “Wahai Penduduk Kufah, wahai pembelot dan pengkhianat! Kami adalah Ahlul Bait yang Allah Ta’ala menguji kami dengan kamu dan menguji kamu dengan kami,” seterusnya selepas memuji-muji kedudukan Ahlul Bait beliau berkata lagi, “Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami sebagaimana kamu telah membunuh datuk kami Ali r.a.. Pedang-pedang kamu sentiasa menitiskan darah-darah kami Ahlul Bait”.(Al-Ihtijaj juz 2 hal 302).

    Mulla Baqir Al-Majlisi yang diberikan gelaran Khatimatul Muhaddithin (penyudah kepada ahli-ahli hadis) di sisi Syi’ah menukilkan kata-kata Sayyidina Husain r.a. kepada Syi’ah Kufah yang telah bersiap untuk bertempur dengan beliau,”Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh dalam menentang kami”.(Jilaau Al’ Uyun,hal 391).

    Di dalam kitab A’yanus Syi’ah pengarangnya Sayyid Muhsin Al-Amin mengatakan bahawa “seramai dua puluh ribu penduduk Iraq telah berbai’ah kepada Husain kemudian mereka mengkhianatinya lalu memberontak terhadapnya dalam keadaan bai’ah masih lagi berada di tengkuk-tengkuk mereka dan membunuhnya”.(A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 34).

    Dan banyak lagi kitab-kitab Syi’ah menukilkan perkara yang sama seperti Al-Irsyad Syeikh Mufid hal. 234, I’lamul Wara hal. 242, Kasyful Ghummah jilid 2 hal 18 dan lain-lain lagi.

    Berdasarkan kepada segala fakta yang dikemukakan di atas dapatlah disimpulkan bahawa segala cerita berkenaan kezaliman Yazid dan tenteranya tidak lebih daripada dongengan yang datangnya dari kilang-kilang Syi’ah terutamanya Abu Mikhnaf Lut bin Yahya. Kerana itulah tidak akan ditemui riwayat-riwayat tersebut di dalam mana-mana kitab bertaraf sahih di sisi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Riwayat sahih yang ada sebagaimana yang telah dikemukakan sebelum ini begitu jelas bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam kitab-kitab sejarah. Bahkan kalau dikaji apa yang terdapat di dalam kitab-kitab Syi’ah yang merupakan rujukan utama mereka seperti Al-Ihtijaj, Al-Irsyad dan lain-lain akan didapati perkara sebaliknya iaitu pembunuh Husain yang sebenar adalah penduduk Kufah yang terkenal sebagai golongan Syi’ah.

    Wallahu A’lam

  57. @Bims
    Salam
    Saya kutipkan pula tentang Imam Husain as ketika akan berangkat menuju Karbala dari artikel Kang Jalal :
    Ketika Imam Husain as bersiap-siap untuk berangkat, Ummu Salamah datang. Dengan airmata berlinang, ia memohon, “Janganlah engkau dukakan daku dengan kepergianmu ke Iraq. Aku telah mendengar kakekmu Rasulullah saw bersabda, “Anakku al-Husain akan terbunuh di bumi ke Iraq, di bumi yang dikenal dengan nama Karbala.” Masih kusimpan tanahmu dalam botol yang diberikan Nabi kepadaku.” Imam Husain berkata, “Ya ummah, aku tahu aku akan terbunuh, terbantai karena kezaliman dan permusuhan. Allah telah berkenan memperlihatkan kepadaku keluargaku dan sahabatku yang dihalau; anak-anakku yang disembelih, ditawan dan dibelenggu. Mereka minta pertolongan tetapi tidak mereka dapatkan pertolongan.”

    “Ajaib!Lalu mengapa engkau pergi padahal engkau akan terbunuh?,” ujar Ummu Salamah. Imam Husain menjawab, “Ya Ummah, jika aku tidak berangkat hari ini, aku akan berangkat esok. Jika tidak esok, esoknya lagi. Demi Allah, kematian tidak dapat dihindari. Sungguh, aku tahu hari ketika aku terbunuh, detik- detik ketika aku terbunuh, dan kuburan yang di situ aku dikebumikan. Aku mengetahuinya seperti mengetahuimu. Aku melihatnya seperti melihatmu. Jika engkau mau, akan kuperlihatkan padamu tempat pembaringanku dan tempat sahabat- sahabatku.” Ummu Salamah memohonnya. Ia memperlihatkan kepadanya turbah (tanah) sahabat-sahabatnya dan memberikan sebagian untuk Ummu Salamah. Dipesankannya agar ia menyimpannya dalam botol lagi. Bila ia melihatnya bersimbah darah, yakinlah bahwa Husain terbunuh. Pada hari kesepuluh Muharram, sesudah Zhuhur ia melihat kedua botol itu, dan keduanya telah berubah menjadi genangan darah.

    Peristiwa yang saya kutip dari Maqtal al-Husain, tulisan Abd al-Razzaq al-Musawi ini, diriwayatkan oleh banyak muhaddits. Tak seorang pun mempersoalkan keabsahannya.Tetapi banyak orang bertanya, seperti Ummul Mukminin ra, mengapa Imam Husain pergi juga padahal ia telah mengetahui bahwa ia akan terbunuh. Sebagian malah menolak hadis itu hanya dengan alasan: tidak mungkin Imam Husain menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. Bukankah Tuhan berfirman,

    “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah 195)

    Izinkan saya bertanya: Apa yang dimaksud dengan kebinasaan? Apakah setiap kematian dianggap kebinasaan? Apakah setiap kehidupan keberuntungan? Ketika Nero membakar Roma, ia tertawa menyaksikan ratusan ribu orang yang terpanggang hangus. Apakah Nero beruntung dan rakyat yang mati semua binasa? Hitler bersenang-senang di istananya, ketika jutaan manusia dijebloskan ke kamar gas dan dibunuh dengan gas beracun. Apakah Hitler beruntung dan rakyat yang tertindas itu celaka? Vlad The Impaler, raja Kristen dari Rumania, melemparkan tawanan Turki yang Muslim ke sebuah lembah yang dipenuhi dengan tombak-tombak, yang bagian tajamnya diarahkan ke atas. Kaum Muslimin itu tertusuk puluhan tombak dan mati karena kehabisan darah. Apakah kaum Muslim itu binasa dan raja Rumania itu

    beruntung? Kejadian seperti itu berulang terus dalam sejarah umat manusia: Pengungsi Palestina yang dibunuh tentara Israel di Sabra dan Shatilla, Muslim Bosnia yang dibantai Kristen Serbia, pejuang Muslim Kasymir yang didrel serdadu Hindu dari India, Muslim Ambon yang dijagal oleh saudara-saudaranya yang berbeda agama.

    Bila kita mengukur kebinasaan dari kekalahan dalam pertempuran, kelemahan dalam perbekalan, atau kekurangan dalam dukungan, ucapkanlah salam perpisahan kepada Islam. Kebinasaan dan keberuntungan tidak terletak pada kematian dan kehidupan; tetapi pada tujuan yang menyertai keduanya. Imam Ali, yang digelari George Jordac sebagai Suara Keadilan Insani, memberikan kriteria tegas:

    AI-Hayat fi mawtikum qahirin; wal mawt.fi hayatikum maqhurin.

    Kehidupan itu dalam kematianmu yang menaklukkan dan kematian itu dalam kehidupanmu yang ditaklukkan. Dalam peribahasa melayu, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

    Mati untuk menegakkan kalimah Allah adalah kebaikan yang di atasnya tidak ada yang lebih baik menyaksikan lagi. Hidup mewah dengan mencampakkan syariat adalah kehinaan yang di bawahnya tidak ada yang lebih hina lagi. Imam Husain berkata dalam khotbahnya, ” Aku tidak melihat kematian selain kebahagiaan; dan aku tidak melihat kehidupan bersama orang yang zalim selain kehinaan.” Ketika Allah SWT berfirman …” Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.” Dia meletakkan kehormatan dan kemuliaan pada ketakwaan. Harta menjadi mulia bila berada di tangan orang yang beragama, yang memperoleh dan mengeluarkan harta itu sesuai dengan tuntunan syariat. Harta menjadi fitnah yang mencelakakan bila dipegang oleh orang yeng mencari dan membelanjakannya dengan cara yang haram. Kekuasaan menjadi mahkota yang mulia bila dipergunakan untuk menegakkan keadilan dan menumbangkan kezaliman. Kekuasaan menjadi godaan yang menjerumuskan bila dijalankan untuk menyengsarakan rakyat dan memperkaya diri dan golongan. (Rasululllah saw bersabda, Jika para penguasamu adalah orang-orang yang baik di antara kalian; jika orang-orang kayamu adalah orang-orang dermawan di antara kalian; jika urusanmu selalu dimusyawaratkan di antara kamu, maka punggung dunia lebih baik bagimu dari perutnya. Jika para penguasamu adalah orang-orang buruk di antara kamu; jika orang-orang kayamu orang-orang yang bakhil; dan urusan diserahkan pada isteri-isterimu, maka perut bumi lebih baik bagimu dari punggungnya.”

    Zaman buruk yang digambarkan Nabi adalah zaman Imam Husain. Pada masanya, Bani Umayyah menegakkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang yang tidak bersalah, menumpuk kekayaan dengan merampas hak orang-orang kecil, dan menyebarkan ideologi “Might is right” yang berkuasa adalah yang benar. la “membayar’ para ulama untuk melegitimasikan kekuasaannya dan menghamun-maki orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Agama diberi makna sesuai dengan kehendak penguasa. Lewat mesin propaganda waktu itu antara lain, khotbah-khotbah Jumat dan majlis- majlis pengajian ajaran keluarga Rasulullah saw (pasangan al-Qur’an) dianggap sebagai Islam yang sesat, dan fatwa keluarga Akilat al-Kabad, Hindun, sebagai Islam yang benar.

    Simaklah ucapan Imam Ali as. ketika ulah Bani Umayyah: “Ingatlah bahwa bencana yang buruk bagi Anda di mata saya ialah bencana Bani Umayyah, karena bencana itu buta dan menciptakan kegelapan pula. Melandanya umum tetapi akibat buruknya adalah bagi orang-orang tertentu. Orang yang tetap berpandangan cerah didalamnya akan tertimpa kesedihan, dan orang yang tetap buta didalamnya akan menjahui kesedihan itu. Demi Allah, Anda akan mendapatkan Bani Umayyah sesudah saya adalah orang yang terburuk bagi Anda, seperti unta betina tua pembangkang yang menggigit dengan mulutnya, memukul dengan kaki depannya, menendang dengan kaki belakangnya, dan menolak untuk diperahi susunya. Mereka akan tetap menguasai Anda sehingga mereka hanya akan meninggalkan di antara Anda orang-orang yang bermanfaat bagi mereka atau orang-orang yang tidak merugikan mereka. Petaka mereka akan berlanjut hingga permintaan tolong Anda pada mereka seperti permintaan tolong oleh budak pada tuannya atau pengikut pada pemimpinnya. Bencana mereka akan menimpa Anda seperti ketakutan bermata jahat dan perpecahan jahiliah di mana tak kan terlihat menara yang petunjuk atau suatu tanda (keselamatan). Kami Ahlul Bait bebas dari kejahatan dan kami tidak termasuk kalangan orang yang akan melahirkannnya.” (Puncak Kefasihan, Khotbah 92)

    Apa yang dikuatirkan Imam Ali betul-betul terjadi pada zaman Imam Husain. Muawiyyah mati meninggalkan Yazid sebagai penguasa.

    Dalam hadis ia mendapat julukan “bocah bodoh.” Abdullah bin Hanzhalah (yang jasadnya dimandikan para malaikat), melaporkan perilaku Yazid, ketika bersama delegasi Madinah kembali dari Syam: “Wahai manusia, kami baru saja kembali dari seorang lelaki yang meninggalkan shalat, minum minuman keras, menikahi ibu dan saudara kandung, bermain bersama monyet dan anjing. Jika kita tidak melepaskan baiat kepadanya, aku takut kita akan dilempari batu dari langit.” Ibnu Khaldun, sosiolog Islam itu, dengan tegas menyatakan bahwa para ulama Muslimin telah sepakat (ijmak) berkenaan dengan kefasikan dan kemaksiatan Yazid.

    Orang dengan kualitas seperti itu, yang mencemoohkan agama dengan syair-syairnya diangkat sebagai penguasa Islam. la memaksa semua orang untuk berbaiat kepadanya. Di Madinah, di kota Rasulullah yang mulia, Marwan bin al-Hakam memaksa Imam Husain untuk berbait kepadanya. Ia juga mengancam untuk membunuh cucu Nabi itu jika menolaknya. Imam Husain berkata, “Yazid manusia yang fasik, pendosa, pembunuh orang yang tidak bersalah, yang menyebarkan kefasikan dan kemakslatan. Orang sepertiku tidak mungkin berbaiat kepada orang seperti dia! Dan Imam Husain memilih kematian ketimbang tunduk kepada kezaliman. Dengan darahnya di Karbala, ia meletakkan tonggak sebuah mazhab yang meletakkan kehormatan, bukan pada kekuatan fisik dan kekuasaan, tetapi pada pengorbanan untuk agama yang memihak keadilan. Baginya, kemenangan sejati diperoleh ketika benih kemaslahatan umat tumbuh subur dari siraman darah dan air matanya. Bila Yesus, menurut pandangan Kristiani, mati untuk menebus dosa umat manusia, Imam Husain gugur untuk meletakkan nilai kemanusiaan di atas nilai-nilai kekuasaan, keturunan, kekayaan dan kepandaian.

    Kematiannya menghidupkan kembali Islam Muhammadi yang asli, yang memasukkan Salman orang Persl dalam kelompok Ahli Bait karena ketakwaannya dan mengeluarkan Abu Lahab, keluarga dekat Nabi, dari kelompok Ahli Bait karena keingkarannya.

    Ketika ia meninggalkan Madinah, ia menulis surat wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyyah: ” Aku keluar bukan karena kesombongan dan kepongahan, bukan juga untuk berbuat kerusuhan dan kezaliman. Aku keluar untuk menimbulkan perbaikan dalam tubuh umat kakekku Muhammad saw. Aku ingin melakukan amar makruf nahi mungkar. Aku ingin mengikuti perjalanan hidup kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib. Jika orang menerimaku dengan penerimaan kebenaran maka Allah lebih utama untuk dipatuhi kebenaman- Nya. Barangsiapa yang menolakku, aku akan bersabar sampai Allah memutuskan kebenaran antara aku dan mereka. Dialah sebaik-baiknya hakim.”

    Lebih dari seribu tahun sesudah itu, seorang perempuan tua dan peneliti yang tekun berbicara di depan para pejabat Jerman, termasuk presiden dan anggota parlemen di sebuah istana di Berlin, memperingatkan para penguasa Dunia Barat untuk tidak mengajari orang Islam memperjuangkan hak asasi manusla. Sejarah Islam adalah perjuangan panjang untuk menentang tirani dan otokrasi. Dengan suara yang serak karena ketuaan, ia menglsahkan pengorbanan Imam Husain di Karbala. Inilah contoh utama pengorbanan besar untuk menegakkan pemerintahan yang adil dan beradab.

    Perempuan itu namanya Annemarie Schimmel.

    Jauh di sebelah timur, di bumi Indonesia, kita menangis pada hari Asyura, bukan karena menyesali nasib. Kita menangis untuk memasukkan arwah kita dalam barisan Imam Husain. Kata Imam Hasan al-Askari, “Bukan golongan kami yang tidak menderita karena derita kami dan tidak bergembira karena kegembiraan kami” Kita menangis duka karena para imam yang berduka. Dan mereka hanya berduka karena redupnya cahaya kebenaran dan berkobamya api penindasan. Duhai, alangkah bahagianya bila kami bergabung bersamamu, ya Aba Abdillah.

    Kami penuhi panggilanmu, labbaik wahai Penyeru Allah. Jika badan dan lidah kami tidak dapat memenuhi panggilanmu ketika engkau mencari pertolongan, hati kami, pendengaran kami dan penglihatan kami telah menjawab seruanmu.

    Salam

  58. @bims
    Salam
    Bani Umayyah menegakkan kekuasaan dengan mengalirkan darah orang yang tidak bersalah, menumpuk kekayaan dengan merampas hak orang-orang kecil, dan menyebarkan ideologi “Might is right” yang berkuasa adalah yang benar. Perlu digarisbawahi disini
    Yang menjadi pertanyaan, pada saat itu yang memegang kekuasaan adalah Yazid dari Bani Umayyah…Bukankah sudah hal yang umum bahwa setiap orang yang berkuasa adalah orang yang selalu benar saat memegang kekuasaannya? Setelah kejatuhannya, baru ketahuan kejelekan2 penguasa itu (berdasarkan kesaksian orang2 yang pernah dizaliminya diwaktu mereka berkuasa)…
    Btw hanya Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayyah yang mencintai Ahlulbait,dizaman kekuasaannya beliau menghapuskan pelaknatan thdp Imam Ali bin Abi Thalib as dan mengembalikan tanah Fadak kepada ahlulbait, diwakilkan oleh Imam ke-5 Imam Muhammad Al-Baqir…
    Sedangkan dizaman Bani Abbasiyyah hanya Al-Muntasir yang menghormati Ahlulbait..beliau menggantikan ayahandanya sejak 248 H. Dia merupakan salah seorang penguasa yang sangat memusuhi kebejatan ayahnya (al-Mutawakkil). dan sangat menghormati Ahlul Bait Rasulullah saww. Walau hanya berkuasa selama 6 bulan. Beliau telah banyak berlaku baik dan lemah lembut kepada Bani Hasyim serta tidak pernah meneror apalagi membunuhnya, bahkan tanah Fadak dikembalikan kepada Ahlul Bait sebagai pemilik yang sah. Enam bulan setelah berkuasa, beliau wafat dan digantikan oleh al-Musta’in yang bejat.
    salam…

  59. Salam,
    Afwan, ada yang kurang….
    yang digarisbawahi disini adalah Might is Right

  60. Salam..
    @ Bims

    antum bilang
    “Sebenarnya interpretasi kalian thd hadits2 tsb yg
    disangkal…”

    ====

    Ana ga ngerti mksd antum.

    trs antum bilang :

    “setahu ana memang dibolehkan kalo kita meminang seorang gadis untuk melihat terlebih dahulu., dan itu bukan berarti merendahkan…”

    ana jawab :

    yang bilang ga blh mlht siapa ? ana ga bilang gitu, dan setau ana, ana ga ngebahas itu dech…apa mungkin ana lupa ya,,? tlng kasi tau mas kalo ana prnh bilang itu.

    Tapiii..Kalo antum baca artikelnya antum bakal tau GA ADA RASA HORMAT SAMA SEKALI DLM RIWAYAT2 TSB..!

    saran saya mas, baca dl artikel nya dan PAHAMI.

    antum bilang :

    “lepas dari hal di atas, Ummu Kultsum dan Umar telah menikah dan mempunyai dua anak yg hal tsb tercatat di kitab sunni maupun syi’ah…”

    ana jawab :

    antum belum baca artikel trsbt yg ana sarankan utk antum download…baca sampai selesai mas..karena semua udah terjawab disitu, DAN JELAS BANGET.

    salam.

  61. @ bims

    anda bilang ke arif:

    Mengenai keutamaan Imam Ali pada dasarnya tdk ada yg mengingkari… Tentang hadits Ghadir Kum, banyak interpretasi mengenainya…

    anda kbyakan bilang “byk interpetasinya”…lucu bgt apalagi Hadis Ghadir Khum..perawinya aja bukan satu dua orang…

    antum bilang :

    tentang tragedi karbala, ada juga yang berpendapat bahwa pembunuh Imam Hussein adalah syi’ah kufah….
    —-
    Syiah kufah..? hehehe…pendapat wahabi ..

    ana sarankan juga antum pelajri Tragedi tsb sampai dg pemberontakan Al Mukhtar..!

    —–

    Di 33:33, ternyata yg dimaksud ahlul bait adlh istri-istri Nabi…

    Contoh yg gampang jika pgn tau hadis itu lemah apa tidak, salah satunya (dr cnth ayat 33:33 diatas), ada riwayat mjlskn Ahlul Bait adl isytri2 Nabi..kalo antum pelajari HADIS KISA ,dimana Ayat itu trn, dirmh siapa, ada siapa saja, trs apa yg dikatakan Nabi ketika Istrinya mau masuk Kisa dan dijawab ” ttplah ditempatmu…dll”, siapa saksi kuncinya..dll yg semua ada dikitab SUNI sendiri , apalagi kitab Syiah..!

    —-

    Jujur ya mas, ana males dialog sesuatu yg udah sering dibahas..apalagi diblog2 sprti ini ud byk jwbnya..cm muter2..bolak-balik doang.

    wassalam.

  62. Dan tambahan mas,,,

    “Aku mendengar Ibnu Umar r.a. ditanya oleh seseorang (penduduk Iraq) tentang seorang yang memakai ihram lalu dia membunuh lalat (apakah dendanya)? Lantas Ibnu Umar r.a. menjawab, penduduk Iraq bertanyakan tentang (denda) membunuh lalat? Sedangkan mereka telah membunuh anak lelaki kepada anak perempuan (cucu) Rasulullah s.a.w.”.

    —–

    Mana ada kata “syiah Kufah”..?

    jadi kalo org kufah semua Syiah Ali (Ahlul Bait)..??

    trs pengikutnya Yazid disbt apa..?

    Pembunuh Imam Ali, Ibn Muljam, disebut apa..??

    Pengkhianat Hadis Ghadir Khum yg bilang… “selamat…selamat..anda pemimpin kami………” tp kedepannya mengkianati disbt apa..??

    Muawiyah sama Yazid ko dibela maaas…mas….ente mau ikut pikiran Syaikhul MUNAFIKUN IBN TAIMIYAH..?

  63. Kalau yang dimaksud penduduk Kuffah adalah Gubernur Kuffah saat itu, yaitu Ubaidillah Ibnu Ziyad bersama para kaki tangannya : Syimr bin Dzil Jausyan, Umar bin Saad bin Abi Waqash, dll., maka benar seperti kata Ibnu Umar : merekalah yang membunuh cucu Rasulullah.

    Kalau Yazid ? Dia mah Mbahnya pembunuh !!!

  64. @Arif
    salam

    Yang jelas mengenai siapa pembunuh Imam Hussain ternyata masih dalam perdebatan dan saya sudah bawakan artikel berdasarkan riwayatnya, baik yang tercatat di kitab rujukan sunni maupun syi’ah… sehingga lebih bijak jika dianalisis terlebih dahulu sebelum kita menuduh atau melaknat tokoh-tokoh tertentu… iya kalau benar… kalau ternyata salah? kita akan gigit jari ntar di “sana”.

    dan di atas itu baru sebagian saja lho yang saya nukilkan… ada lagi yang lainnya…

    Maka pelurusan sejarah umat ini adalah kebutuhan yang sangat mendesak… karena sejarah yang telah terdistorsi kenyataannya telah banyak memakan korban… he.. he.. he.. bener ga?
    ——–

    @Bagir

    Salam

    Saya sudah download artikel tsb, intinya mereka menafikan riwayat pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali… tetapi satu point yang saya pegang bahwa hal tsb telah tercantum baik di kitab sunni maupun syi’ah, walaupun sebagian dari kalangan syi’ah menafikannya, tetapi sebagian yang lain telah menetapkannya… so 2:1 lebih kuat yang menetapkan saya kira daripada yang menafikan riwayat2 tersebut silahkan dianalisis kembali…
    ———

    Antum wrote :
    anda kbyakan bilang “byk interpetasinya”…lucu bgt apalagi Hadis Ghadir Khum..perawinya aja bukan satu dua orang…

    Iya memang banyak thuruq-nya… setahu saya interpretasi sunni terhadap hadits tersebut berbeda dengan syi’ah, bahwa hadits tsb: “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.
    ———

    Anda mengatakan:
    tentang tragedi karbala, ada juga yang berpendapat bahwa pembunuh Imam Hussein adalah syi’ah kufah….
    —-
    Syiah kufah..? hehehe…pendapat wahabi ..

    Itu baru satu pendapat lho mas mengenai Tragedi Karbala… bahkan ada yang berpendapat (bukan wahabi kyknya) bahwa tragedi karbala adalah fiktif…yang sebenarnya Imam Hussain di bunuh di kediaman beliau di Kufah, karena sebenarnya beliau adalah Gubernur Kufah waktu itu… tentunya pendapat ini dengan seonggok dalil juga… he he he pusing kan… tapi artikel yang di atas itu harap dianalisis dulu… ingat pesan mas SP : “Ambillah Hikmah Yang Ada Di Dalamnya Tanpa Perlu Melihat Apa Dan Siapa Pemilik Pendapat Tersebut” eh bukan dink ” Pemilik Blog Ini” :)
    ——–

    Anda Wrote:
    Contoh yg gampang jika pgn tau hadis itu lemah apa tidak, salah satunya (dr cnth ayat 33:33 diatas), ada riwayat mjlskn Ahlul Bait adl isytri2 Nabi..kalo antum pelajari HADIS KISA ,dimana Ayat itu trn, dirmh siapa, ada siapa saja, trs apa yg dikatakan Nabi ketika Istrinya mau masuk Kisa dan dijawab ” ttplah ditempatmu…dll”, siapa saksi kuncinya..dll yg semua ada dikitab SUNI sendiri , apalagi kitab Syiah..!

    Sebenarnya dah pernah dimuat masalah ini oleh SP, tapi mungkin saya agak berbeda dg beliau, pertama bahwa yang dibicarakan ayat 33:33 tsb memang istri-istri Nabi jelas sekali konteksnya… bukan hanya sekedar urutan yang tidak berhubungan, tetapi sebaliknya sangat berhubungan sekali… yang pada awal ayat dibuka dengan kalimat:
    يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ…….
    Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain.… (al-Ahzaab: 32)
    Kemudian diakhiri pada ayat berikutnya dengan kalimat:
    إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الأحزاب: 32-33الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.
    Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzaab: 33)

    Kedua mengenai hadits Kisa’, disebutkan dalam Tuhfatul Ahwazi Syarh Jami’ Tirmidzi bahwasanya tidak dimasukkannya Ummu Salamah dalam selimut bersama mereka, karena adanya Ali bin Abi Thalib (dan beliau bukan mahramnya), bukan berarti dia tidak termasuk ahlul bait. (Tuhfatul Ahwazi Syarh Jami’ Tirmidzi, Juz 9 hal. 48), antum bayangin aja orang yang bukan mahramnya dimasukkan ke dalam satu selimut…ya ga boleh lah…
    ——–

    Bagir wrote:
    Muawiyah sama Yazid ko dibela maaas…mas….ente mau ikut pikiran Syaikhul MUNAFIKUN IBN TAIMIYAH..?

    He… he… bukan membela… tetapi meluruskan… takutnya kita sudah menuduh dan melaknat seseorang, eh ternyata tuduhan kita salah kan berabe… iya ga? Makanya ini gunanya blog ini “Analisis Pencari Kebenaran” maklum terlalu banyak korban akibat penipuan sejarah :)
    ——–

    Kian Santang Wrote:
    Kalau yang dimaksud penduduk Kuffah adalah Gubernur Kuffah saat itu, yaitu Ubaidillah Ibnu Ziyad bersama para kaki tangannya : Syimr bin Dzil Jausyan, Umar bin Saad bin Abi Waqash, dll., maka benar seperti kata Ibnu Umar : merekalah yang membunuh cucu Rasulullah.
    Kalau Yazid ? Dia mah Mbahnya pembunuh !!!

    Jelas sekali, yang dimaksud penduduk/syi’ah Kuffah adalah orang-orang yang mengaku syi’ah/pendukung Imam Hussain, yang sebelumnya mereka telah mengirim ribuan surat kepada Imam Hussain agar beliau mau datang ke Kuffah untuk dibai’at dan ternyata sampai di sana beliau malah dikhianati dan di bunuh… mohon dibaca lagi artikel di atas…

    Wallahu A’lam

    Peace…

  65. Salam

    @ bims

    Antum bilang :
    “Saya sudah download artikel tsb, intinya mereka menafikan riwayat pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali… tetapi satu point yang saya pegang bahwa hal tsb telah tercantum baik di kitab sunni maupun syi’ah, walaupun sebagian dari kalangan syi’ah menafikannya, tetapi sebagian yang lain telah menetapkannya… so 2:1 lebih kuat yang menetapkan saya kira daripada yang menafikan riwayat2 tersebut silahkan dianalisis kembali…”
    ——
    Antum sdh download tp ga baca mas, kalo antum baca semua antum tau semuanya.
    O iya mas, Yg antum pegang dari kitab suni dan syiah yg mana , sebutkan ya, ana tunggu,..
    O iya jgn lupa siapa ulama syiah yg MENETAPKANNYA (spt yg antum bilang) dan besrta teksnya dg refnya yach…khan pegangan antum kt nya..

    Antum bilang :
    ”Iya memang banyak thuruq-nya… setahu saya interpretasi sunni terhadap hadits tersebut berbeda dengan syi’ah, bahwa hadits tsb: “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.”
    ———
    Ooo jadi maslh ”Man kuntu…” tho…heheheh,….makanya belajar lagi mas..(hehe, mulai terbuka kedoknya…kedok apa ya..? kidding mas)
    Dari pada ana tls2 ulang hal kuno yg udah dibahas ulama2 yg lbh pinter, mending antum pelajari dibawah ini :
    http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/07/16/ahlulbait-dalam-al-qu%E2%80%99an/
    atau buat tambahan :
    http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/

    Anda mengatakan:
    tentang tragedi karbala, ada juga yang berpendapat bahwa pembunuh Imam Hussein adalah syi’ah kufah….
    —-
    Ana jawab :
    Syiah kufah..? hehehe…pendapat wahabi ..
    Trs antum jwb :
    Itu baru satu pendapat lho mas mengenai Tragedi Karbala… bahkan ada yang berpendapat (bukan wahabi kyknya) bahwa tragedi karbala adalah fiktif…yang sebenarnya Imam Hussain di bunuh di kediaman beliau di Kufah, karena sebenarnya beliau adalah Gubernur Kufah waktu itu… tentunya pendapat ini dengan seonggok dalil juga… he he he pusing kan… tapi artikel yang di atas itu harap dianalisis dulu… ingat pesan mas SP : “Ambillah Hikmah Yang Ada Di Dalamnya Tanpa Perlu Melihat Apa Dan Siapa Pemilik Pendapat Tersebut” eh bukan dink ” Pemilik Blog Ini”
    ——–
    Ana jwb lg yach :
    Makanya ana bilng khan pendapat, faktanya udah ada…hehehe… tertulis disemua kitab2 suni dan syi’i maknaya klo mo ikut pendapat wahabi ya monggo,..
    ”….bahkan ada yang berpendapat (bukan wahabi kyknya) bahwa tragedi karbala adalah fiktif…”
    Hehehe…ketawa aja ah sama pendapat yg ini…hehehehhe..kbykn pendapat mas, ga ada dalilnya…hehehehe…
    —–
    Antum bilang :
    Sebenarnya dah pernah dimuat masalah ini oleh SP, tapi mungkin saya agak berbeda dg beliau, pertama bahwa yang dibicarakan ayat 33:33 tsb memang istri-istri Nabi jelas sekali konteksnya… bukan hanya sekedar urutan yang tidak berhubungan, tetapi sebaliknya sangat berhubungan sekali… yang pada awal ayat dibuka dengan kalimat:
    يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ…….
    Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain.… (al-Ahzaab: 32)
    Kemudian diakhiri pada ayat berikutnya dengan kalimat:
    الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.الأحزاب: 32-33إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ
    Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzaab: 33)
    Kedua mengenai hadits Kisa’, disebutkan dalam Tuhfatul Ahwazi Syarh Jami’ Tirmidzi bahwasanya tidak dimasukkannya Ummu Salamah dalam selimut bersama mereka, karena adanya Ali bin Abi Thalib (dan beliau bukan mahramnya), bukan berarti dia tidak termasuk ahlul bait. (Tuhfatul Ahwazi Syarh Jami’ Tirmidzi, Juz 9 hal. 48), antum bayangin aja orang yang bukan mahramnya dimasukkan ke dalam satu selimut…ya ga boleh lah…
    ——–

    Wah..wah krn bukan mahramnya..? lucu banget alesannya..mas..cm masuk bukan ngapa2in didlmnya mas, cm diselimuti mas…!
    “….Kemudian beliau mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : “Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya”. Ummu Salamah berkata: “Dan aku BERSAMA mereka wahai Nabi Allah?” Beliau bersabda: “Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335; Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).”
    Setelah Nabi bilang dan berdoa ”…mereka Ahlul Baitku……..(smp sls).” Ummu salamah tanya ” Aku bersama mereka…….?”
    Jadi mksdnya apa beliau termasuk Ahlul Bait…itu jelas bgt..!
    Antum peljari dari link diatas aja lbh jls..

    Dari ana bilang :
    Muawiyah sama Yazid ko dibela maaas…mas….ente mau ikut pikiran Syaikhul MUNAFIKUN IBN TAIMIYAH..?
    Antum jawab :
    He… he… bukan membela… tetapi meluruskan… takutnya kita sudah menuduh dan melaknat seseorang, eh ternyata tuduhan kita salah kan berabe… iya ga? Makanya ini gunanya blog ini “Analisis Pencari Kebenaran” maklum terlalu banyak korban akibat penipuan sejarah
    ——–
    Ana jwb lg nih mas :
    Hehehe..mas…mas..lucu ajah…yg udah lurus ga usah dibenggkokkan lagi mas…hihihi..
    Yang udah lurus dibengkokkan sama Ibn Tai-Miyah lwt “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid)…hehehe…
    Cb baca nukilan dibwah ini :
    Padahal, Dzahabi menukil pendapat Ahmad bin Hanbal yang mengatakan “Tiada satupun riwayat yang berkaitan dengan keutamaan Muawiyah masuk kategori riwayat sahih”.
    An Nasa’i penulis As Sunan yang termasuk dari enam buku standar Ahlusunnah datang ke kota Damaskus, ibu kota kerajaan Dinasti Umayyah. Ketika itu, penduduk Damaskus meminta darinya riwayat-riwayat tentang keutamaan Muawiyah. Mendengar permintaan tersebut an-Nasa’i mengatakan:
    “Saya tidak mengetahui keutamaannya, kecuali ada satu riwayat dari Rasulullah saww tentang dia, beliau bersabda: “Semoga Allah tidak akan pernah mengenyangkan perutmu”.
    Selain itu Hasan al-Basri pernah mengatakan:
    “Ada beberapa hal yang terdapat pada diri Muawiyah, dimana setiap satu dari sekian hal tersebut menyebabkan ia disiksa; meng-ghoshob (merampas) kekhalifahan dengan kekerasan dan pedang, mengangkat anaknya (Yazid) sang pemabuk sebagai pengganti dirinya dalam menduduki kursi kekhilafahan, memakai baju sutera, menari, Ziyad dianggap sebagai anak, sedang Hijr bin ‘Adi dan pengikutnya dizalimi hingga mati”.

    Cm contoh…masih banyak..ntar ana tulis sdri aja sm rujukannya (maklum nie smbl kerja…jd wktunya ga luas..heheh) Ulama2 yg sepakat yazid dn bapknya pantasnya dilaknat..!, KECUALI Ibn Taimiyah n CS nya yg getol bgt belain Muawiyah n Yazid…heheheh…mau ikut mereka mas..? monggo..

  66. O iya mas cm tambahan :

    Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah as SELAMA ENAM BULAN, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya“. ( Al-Turmudzi 2:29).

    ketinggalan..hehehe…bc mas…” RUMAH FATHIMAH”…jls khan siapa yg didlm rumah Fathimah…hehehe..

  67. “Abu Umar narrates on the authority of Zubayr Bakri, ‘Umar asked for the hand of Ali’s daughter, who replied that she was too young. ‘Umar asked twice more. ‘Ali said ‘I shall send the girl to you, if you like her than say ‘I accept”. ‘Ali then sent the girl with a cloth and told her to say [to 'Umar] ‘This is the scarf that I was talking about’. She conveyed these words to ‘Umar, who said ‘Tell your father that I accept’. Umar then touched the girl’s calf. She exclaimed ‘You have done this to me? If it hadn’t been for the fact that you are Khalifa of the Muslims I would have broken your nose’. The girl went home and repeated the episode to her father, stating ‘You sent me to a foul man’, with that ‘Ali said ‘He is your husband’.”

    arabnya di :

    http://www.answering-ansar.org/answers/umme_kulthum/asadul_ghaiba.jpg
    —–

    We read in Zakhair Al-Aqba, Page 169

    “Umar asked ‘Ali that he be permitted to marry Umme Kalthum binte Fatima (as), to which Ali replied that he had to consult some people before giving Umar an answer. ‘Ali gathered his and Fatima’s children and told them about it (the proposal). They all agreed. ‘Ali (as) asked that Umme Kalthum, who was still a milk fed baby, go to Umar and tell him that the request had been granted. When Umme Kalthum went to Umar and delivered the message, he grabbed her, hugged her and said, ‘I had asked her father for consent to marry you and he has agreed”.

    Tanggapin mas… apa perlu dipreteli disin, ayo bahas sama saya mas..ok..

  68. Salam…
    Ibnu Taimyah buat buku tentang Keutamaan Muawiyah dan Yazid?Saya belum baca nih…Pasti kalau saya baca yang ada cuma ngakak doank, g ada yang lain…coz smua isinya palsu,hehehe…Inget lagi Might is Right, yang berkuasa yang benar, pastilah saat kekuasaan Muawiyah dan Yazid mereka yang paling benar…RAsul saw bersabda: Semoga Allah tidak akan mengenyangkan perutnya (Muawiyah)…

  69. Salam
    Saya jadi ingat,setelah Imam Husain as dipenggal kepalanya, Yazid bin Muawiyah sujud syukur…Kalau dari logika saya, orang yang sujud syukur berarti telah puas dan bersyukur dengan apa yang telah dicapainya…Yazid sujud syukur atas syahidnya imam Husain as…Ibnu Taimiyah jelas2 pembenci Imam Ali as, keutamaan Imam Ali as dilecehkan ataupun dikaburkan oleh Ibnu Taimiyah…Seperti yang Mas Bagir kutip: “Tidak akan mencintai Ali kecuali orang yang beriman, dan tidak ada yang membenci Ali kecuali orang munafik” saya setuju sepenuhnya…Ijinkan saya untuk melaknat siapa2 yang telah merampas hak Ahlulbait Nabi dari yang pertama sampai yang terakhir…

  70. Tapi sblmnya kita preteli disini artikel tsb dr awal smpai akhir ttg tulisan antum :

    “…tetapi satu point yang saya pegang bahwa hal tsb telah tercantum baik di kitab sunni maupun syi’ah, walaupun sebagian dari kalangan syi’ah menafikannya, tetapi sebagian yang lain telah menetapkannya…”

    —-
    Yg ana minta siapa yg MENETAPKAN (menetapkan dg mensahihkan sm ga ya, klo menetpakan sbg sahih br lain lg… )…beserta rujukan lgkap teksnya..ok..

    Jadi yg dibhs ga muter2..ana ingt tulisan Dhea Navy, “mslh satu blm sls ditambh lg..klo jls mengingakri..” ana jg agak lp..intinya itulah…hehehe…dan antum kbykn nukil yg ga jls…hehehe…cm pendapat mas…hihihi

    Ud ah, mau krja dl…klo ntar komentr ana lama berarti ana libur..! hehehehe…puyeng kerja mulu..

    Wassalam semuanya..!

  71. @Bagir & Arif
    Terima kasih tanggapannya…

    Saran saya “open your mind” jangan terkunci pada satu sisi saja… yang kita bicarakan adalah peristiwa2 yang terjadi 1000 tahunan yg lalu… sangat jauh jaraknya dengan kita saat ini… jangankan yang 1000 tahun, yg berjarak 50 tahunan dengan generasi kita saat ini saja seperti sejarah orba dengan Soehartonya bisa terdistorsi… contoh sejarah supersemar, serangan umum 1 Maret 1949 dll.. yg masih menjadi polemik… so janganlah kita jadi korban sejarah yang terdistorsi…

    Itu dulu aja tanggapan sementara saya… mau kerja juga nich…. :)

    Wallahu A’lam

    Peace…

  72. @Bims

    “Saran saya “open your mind” jangan terkunci pada satu sisi saja…”
    —-
    Thax mas….tapi bukannya antum yg pertama menitikberatkan pada Nasab..?? lalu melebar kemana2..??hehehe…

    makanya satu2 ms…ayo kita bahas ucapan antum :
    “….intinya mereka menafikan riwayat pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali… tetapi satu point yang saya pegang bahwa hal tsb telah tercantum baik di kitab sunni maupun syi’ah, walaupun sebagian dari kalangan syi’ah menafikannya, tetapi sebagian yang lain telah menetapkannya…”


    Naaah…Makanya ana blang (ana minta) :
    “siapa yg MENETAPKAN (menetapkan dg mensahihkan sm ga ya, klo menetpakan sbg sahih br lain lg… )…beserta rujukan lgkap teksnya..ok.. ”

    ——

    “contoh sejarah supersemar, serangan umum 1 Maret 1949 dll.. yg masih menjadi polemik…”
    —-
    Hanifa prnh bilg itu ya karena catatan2 sejarah yg dipaparkan..tp ga nyambung..hehehe…knp?

    Mas sejarah Islam bukan sejarah Pak Harto…yang mencatat dan mensyarah tulisan sejarah Pak harto (khususnya Supersemar) siapa..? Umat Islam..?? Penyusun Bukhari..? Penyusun Syarh Nahjul Balaghah..? atau ulama siapa ajah lah yg nyusun2 riwayat2 Islam tsb..


    “…so janganlah kita jadi korban sejarah yang terdistorsi…”

    —–
    So pasti dunk…khan saya udah bilang :
    “…yg udah lurus jgn dibengkokan lg…” hehehehe

  73. Salam wa rahmah,
    Terus terang saya agak pusing juga dengan diskusi yang sedang berjalan.

    Banyak tema yang dibahas sehingga pembahasan tidak fokus. Belum selesai permasalahan pertama, ditambah lagi permasalahan yang kedua.

    Saya akui kalian semua pintarlah sehingga mampu berdiskusi dengan banyak tema sekaligus. Tapi bagi saya yang awam ini, terus terang, sangat bingung mengikutinya.

    Saran saya sebagai orang awam ini, mbok ya diskusi dengan fokus dan menggunakan bahasa yang santun.

    Jangan seperti saya yang ndak bisa bahasa santun. Maklum karena awam, jadi bahasanya belum tertata dengan baik.

    Semoga Allah merahmati Anda semua.

    wassalam.

  74. Salam
    @ Ressay

    Ana aja mumet ngikutin mas Bims..yg dibahas kesana-kesini ga fokus (cm awal krn nasab) smp ana bilang :

    “Jadi yg dibhs ga muter2..ana ingt tulisan Dhea Navy, “mslh satu blm sls ditambh lg..klo jls mengingakri..”

    Sblm antum ngerasa muter2, ana udah ngerasa ga fokus sm skli dlm dialog..

    antum bilang ..

    “Saran saya sebagai orang awam ini, mbok ya diskusi dengan fokus dan menggunakan bahasa yang santun.”


    Mas, makanya waktu antum tanya ke ana knp ga bikin Blog, ana jwb ga mampu, ya ini slh satunya..Ana bukan org yg santun, ajuh dr semua..Maaf..maaf..maaf..

    Bihaqqi Muhammad wa Alihi Thohirin

    wassalam

  75. @bagir

    Salam

    Antum wrote:
    O iya mas, Yg antum pegang dari kitab suni dan syiah yg mana , sebutkan ya, ana tunggu,..
    O iya jgn lupa siapa ulama syiah yg MENETAPKANNYA (spt yg antum bilang) dan besrta teksnya dg refnya yach…khan pegangan antum kt nya..

    Saya Jawab :
    Bukhari telah memberitakan dari Tsa’labah bin Abu Malik ra. bahwa Umar bin Al-Khatthab ra. telah membagi-bagikan kain antara kaum wanita, dan ada sisa sepotong kain yang agak baik sedikit, maka berkata orang-orang yang di sisi Khalifah Umar ra.: Wahai Amirul Mukminin! Kain potong yang lebih ini berikanlah kepada cucunda Rasulullah SAW yang menjadi isterimu – maksudnya Ummu Kultsum binti Ali ra. Tetapi mereka dijawab oleh Khalifah Umar ra.: Ummu Sulaith lebih berhak darinya (Ummu Kultsum), dan Ummu Sulaith seorang wanita Anshar, di antara yang membaiat Rasulullah SAW. Tambah Umar ra. lagi: Karena dia pernah memberi kita minum pada hari peperangan Uhud. (Kanzul Ummal 7:97)

    Kalau membaca bantahan Answering Ansar terhadap riwayat di atas sungguh terlalu dipaksakan, kalau orang yang dekat dengan Umar dari cucu perempuan Rasul adalah bukan istri Umar, terus apanya Umar donk? Masa Umar bisa dekat atau akrab dengan seorang perempuan yang bukan mahram? Terus bagaimana mereka bisa mengharuskan bahwa kata “undh” adalah tidak boleh diartikan istri? Sekali lagi maaf, usaha mereka untuk menafikan hadits di atas terlalu dipaksakan…

    Dari referensi Syi’ah selain yang telah disebutkan oleh situs tsb:
    Imam Shafiyuddin Muhammad bin Tajuddin (yang dikenal dengan Ibnu ath-Thaqthaqi Al Hasani; wafat 709 H) bergelar pakar sejarah dan imam. Di dalam kitabnya yang dihadiahkan kepada Ashiluddin Hasan bin Nashiruddin ath-Thusi, teman dekat si “Hulagu”, Ia memberi nama kitab tersebut dengan namanya. Di dalamnya menjelaskan putri-putri Amirul Mukminin Ali ra. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan: “Dan Ummu Kultsum, ibunya adalah Fathimah binti Rasulullah. Ia dinikahi Umar bin Khathab dan melahirkan putra bernama Zaid. Sepeninggal Umar Ummu Kultsum menikah dengan Abdullah bin Ja’far (pada halaman 58).”

    ———
    Antum wrote :
    Ooo jadi maslh ”Man kuntu…” tho…heheheh,….makanya belajar lagi mas..

    Saya Jawab:
    Mengenai “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, sekali lagi banyak interpretasi yang beredar mas… jadi bukan yang itu saja… masih bisa didiskusikan kok…

    ———
    Antum wrote:
    Makanya ana bilng khan pendapat, faktanya udah ada…hehehe… tertulis disemua kitab2 suni dan syi’i maknaya klo mo ikut pendapat wahabi ya monggo,..

    Saya Jawab:
    Silahkan di cek lagi artikel di atas… sudahkah mas baca informasi2 mengenai siapa pembunuh2 Imam Hussein sebenarnya menurut kitab mu’tabar sunni dan syi’ah pada artikel di atas… menurut antum gimana? Apakah masih berkeras jg bahwa itu pendapat wahabi…

    ——–
    Antum wrote :
    Wah..wah krn bukan mahramnya..? lucu banget alesannya..mas..cm masuk bukan ngapa2in didlmnya mas, cm diselimuti mas…!

    Saya Jawab:
    Bagi antum mungkin lucu tetapi bagi Rasul itu adalah bukan hal yang lucu, kalau anda pernah tinggal di negara-negara Arab yang menerapkan syari’at, anda akan lihat di bus umum saja ada tempat khusus bagi wanita untuk menghindari ikhtilat..
    Coba antum baca hadits2 Kisa’ berkali-kali, mudah2an antum akan mengerti… dan o iya ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah lho mas menurut hadits riwayat Tirmizi…

    ——
    Antum wrote:
    Hehehe..mas…mas..lucu ajah…yg udah lurus ga usah dibenggkokkan lagi mas…hihihi..
    Yang udah lurus dibengkokkan sama Ibn Tai-Miyah lwt “Fadho’il Muawiyah wa Yazid” (Keutamaan Muawiyah dan Yazid)…hehehe…

    Saya Jawab:
    Artikel yg saya nukilkan di atas adalah mengenai siapakah pembunuh Imam Hussain sebenarnya bukan membahas keutamaan Mu’awiyah wa Yazid mas… mengetahui pembunuh sebenarnya sang imam bukan berarti membela si tertuduh lho mas, tapi utk mendapatkan kebenaran… kyknya yang melebarkan pembahasan bukan saya aja lho…masalah keutamaan mrk bisa kita bahas nanti, kalo mas mau…dan coba mas cek lagi artikel di atas, apakah ada nama Ibnu Taimiyah disebut-sebut di sana? Kalo ga ada… wah berarti mas terlalu apriori dg beliau nich… memang ada masalah apa mas dengan beliau? 

    ——
    Antum wrote:
    Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah as SELAMA ENAM BULAN, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya“. ( Al-Turmudzi 2:29).
    ketinggalan..hehehe…bc mas…” RUMAH FATHIMAH”…jls khan siapa yg didlm rumah Fathimah…hehehe..

    Saya Jawab:
    Imam Muslim meriwayatkan bahawa Zaid bin Arqam di tanya,
    “Adakah isteri-isterinya (Rasulullah s.a.w.) termasuk Ahlul Bait ?” Zaid menjawab: “isteri-isterinya adalah termasuk Ahlul Bait…”

    Imam Bukhari meriwayatkan Rasulullah s.a.w. pergi ke bilik Aisyah lalu memberi salam:
    “Assalammu’alaikum Ahlul baiti wa rahmatullah”

    Kalau anda berkeluarga siapakah yang menjadi ahlul bait anda mas?

    ——
    Mengenai Pinangan Umar ra kepada Ummu Kultsum, apanya yang perlu ditanggapi mas? Mengenai riwayat 1 yg anda bawakan, sekali lagi, melihat betis, leher, kepala gadis yang dipinang adalah dibolehkan dan hal itu bukanlah penghinaan atau tidak hormat kepada si gadis… kalaupun Ummu Kultsum bicara agak kasar kepada Umar, hal itu bisa jadi karena usianya yang masih muda dan baru pertama kali dipinang…justru pertanyaannya mengapa Imam Ali seorang yang dikenal seorang pemberani begitu saja merelakan anak gadisnya untuk dinikahi Umar? riwayat 2 saya tidak tahu status kesahihannya demikian juga riwayat 1, apakah anda bisa menerangkannya kepada saya mas?…

    Wallahu A’lam

    Peace…

  76. @Arif

    Salam

    Antum wrote:
    Ibnu Taimyah buat buku tentang Keutamaan Muawiyah dan Yazid?Saya belum baca nih…Pasti kalau saya baca yang ada cuma ngakak doank, g ada yang lain…coz smua isinya palsu,hehehe

    Saya Jawab:
    Silahkan cek lagi artikel yang saya bawakan di atas, apakah menyebut-nyebut nama Ibnu Taimiyah?

    ——–
    Antum wrote:
    Saya jadi ingat,setelah Imam Husain as dipenggal kepalanya, Yazid bin Muawiyah sujud syukur…

    Saya Jawab:
    Mohon disebutkan riwayatnya mas?

    @ressay
    syukron, nasehatnya

    Peace…

    Wassalam.

  77. Salam Eid al-Mubaraq

    Andai Abu Thalib diberi syafaat. Maka, syafaatnya diterima ALLAH Ta’ala.
    Pembela NAbi s.a.w.w. Benar-benar yang sanggup mati dari mereka yang berdua yang telah ditinggalkan oleh Nabi sa.w.w.

    waSalam

  78. Salam
    @ Bims,

    Minal Aidzin Wal Faizin…

    Anda menulis :

    Bukhari telah memberitakan dari Tsa’labah bin Abu Malik ra. bahwa Umar bin Al-Khatthab ra. telah membagi-bagikan kain antara kaum wanita, dan ada sisa sepotong kain yang agak baik sedikit, maka berkata orang-orang yang di sisi Khalifah Umar ra.: Wahai Amirul Mukminin! Kain potong yang lebih ini berikanlah kepada cucunda Rasulullah SAW yang menjadi isterimu – maksudnya Ummu Kultsum binti Ali ra. Tetapi mereka dijawab oleh Khalifah Umar ra.: Ummu Sulaith lebih berhak darinya (Ummu Kultsum), dan Ummu Sulaith seorang wanita Anshar, di antara yang membaiat Rasulullah SAW. Tambah Umar ra. lagi: Karena dia pernah memberi kita minum pada hari peperangan Uhud. (Kanzul Ummal 7:97)

    Jawab :

    Tulisan (riwayat) diatas banyak ditemukan disitus2 (hampir semuanya sama , mgkin yg punya blog pada copas2an…hehehe) , salah satunya (tapi ga tau juga sih anda baca lgsg atau copas) dr :
    http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/sahabiyah-dalam-medan-jihad.html
    atau yg lainnya….

    Anda tulis :

    Kalau membaca bantahan Answering Ansar terhadap riwayat di atas sungguh terlalu dipaksakan, kalau orang yang dekat dengan Umar dari cucu perempuan Rasul adalah bukan istri Umar, terus apanya Umar donk? Masa Umar bisa dekat atau akrab dengan seorang perempuan yang bukan mahram? Terus bagaimana mereka bisa mengharuskan bahwa kata “undh” adalah tidak boleh diartikan istri? Sekali lagi maaf, usaha mereka untuk menafikan hadits di atas terlalu dipaksakan…
    Jawab : ga ada yg dipaksakan mas..

    Bgtu juga anda anda tulis :

    Imam Shafiyuddin Muhammad bin Tajuddin (yang dikenal dengan Ibnu ath-Thaqthaqi Al Hasani; wafat 709 H) bergelar pakar sejarah dan imam. Di dalam kitabnya yang dihadiahkan kepada Ashiluddin Hasan bin Nashiruddin ath-Thusi, teman dekat si “Hulagu”, Ia memberi nama kitab tersebut dengan namanya. Di dalamnya menjelaskan putri-putri Amirul Mukminin Ali ra. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan: “Dan Ummu Kultsum, ibunya adalah Fathimah binti Rasulullah. Ia dinikahi Umar bin Khathab dan melahirkan putra bernama Zaid. Sepeninggal Umar Ummu Kultsum menikah dengan Abdullah bin Ja’far (pada halaman 58).”

    anda mgkin copas dari blog wahabi dibwh ini :

    http://ainuamri.wordpress.com/2007/12/03/saling-berkasih-sayang-antara-ahlul-bayt-nabi-saw-dengan-segenap-sahabat-radhiyallahu-anhum/
    tapi ntar juga kebuka semua ko mas, jwbnnya jg ada, tp sabar mas, satu2..ok

    Malah saya kaget anda tulis ini :

    Mengenai Pinangan Umar ra kepada Ummu Kultsum, apanya yang perlu ditanggapi mas? Mengenai riwayat 1 yg anda bawakan, sekali lagi, melihat betis, leher, kepala gadis yang dipinang adalah dibolehkan dan hal itu bukanlah penghinaan atau tidak hormat kepada si gadis… (wah..wah…hebat ya mas) kalaupun Ummu Kultsum bicara agak kasar kepada Umar, hal itu bisa jadi karena usianya yang masih muda dan baru pertama kali dipinang…

    jawab :

    Ooo jadi bgtu ya cara nya, blh ya melihat betis perempuan bukan muhrim,memeluk, mencium??.itu MENURUT ANDA…

    Mas.. riwayatnya mereka BELUM NIKAH ketika umar menjamah betisnya..!

    Anda jg tulis :

    “….justru pertanyaannya mengapa Imam Ali seorang yang dikenal seorang pemberani begitu saja merelakan anak gadisnya untuk dinikahi Umar?…dst..” (lihat bgmn proses pernikahannya mnrt riwayat tsb mas)

    Jawab :

    Jika riwayat PROSES pernkahannya aja ga Sahaih (bahkan ga masuk akal sama sekali dan sangat2 dekil) bgmn orang bisa mempercayai pernikahan itu ada..??
    Maas SP saya minta maaf, agar lebih jelas saya tuliskan disini poin2nya aja, apa yg ada dalam Artikel tsb….maaf…

    (dari artikel tsb)

    Narasi Pertama :

    Abu Umar meriwayatkan menurut Zubayr Bakri, Umar meminta persetujuan (melamar) putri Ali, yang dijawab olehnya bahwa dia terlalu muda. Umar memintanya lebih dari dua kali. ‘Ali berkata ”’Aku akan mengutus anak perempuan kepada anda, jika anda suka pdnya katakan ‘Aku menerima”. ‘Ali lalu mengutus anak perempuannya dengan sebuah kain (syal) dan mengatakan kepadanya untuk berkata (kepada Umar) ”Ini adalah selendang / syal yang telah aku bicarakan tentangnya. Dia menyampaikan kata-kata tsb kpd Umar, lalu (umar) berkata ‘Katakan kepada ayahmu bahwa aku menerimanya’. Umar lalu menjamah betis anak perempuan itu. Dia berseru ‘Apa yang kau lakukan kepada saya? Jika bukan karena kau Khalifah Muslim aku pasti akan mematahkan hidungmu.!” Anak perempuan itu kembali kerumahnya dan mengatakan kejadian (yg ia alami) kepada Ayahnya, ”Anda mengutus aku kepada seorang manusia yag licik”, Ali berkata ”Ia adalah suami anda.”

    Dalam Al Isaba Vlme 4 halamn 492, ada perbedaaan sedikit :

    ”Jika bukan karena kau Khalifah dari Muslim aku pasti akan meludahi wajahmu.!”

    ”Ila Shaykh Suw’” yang berarti ”anda mengutus aku kepada seorang Suw’”.
    Di Dalam bahasa Arab kata ”Suw” adalah suatu perkataan yg bersifat menghina. The Hans Wehr Dictionary Modern Written Arabic (edisi ketiga) halaman 436 tercatat “Suw” berarti :

    “buruk, Jahat (iblis), licik, jahat” hal tersebut diterapkan dalam konteks dimana anak perempuan yang masih kecil dijamah oleh Umar, teks tsb menyatakan bahwa Ummi Kulthum memandang Umar sebagai seorang yg sesat, paedophile atau penganiaya anak-anak (kalau menurut saya “ tukang cabul terhadap anak dibawah umur” kalo melihat riwayat tsb lho..)

    Narasi Kedua :

    Al Istiab Volume 4 page 467 :

    ” Umar meminta persetujuan Ali untuk Ummi Kalthum. ‘Ali menjawab bahwa dia terlalu muda. ‘Umar berkata ‘Nikahkan dia kepadaku dan lakukan sebagaimana yang aku katakan karena aku ingin mencapai kedudukkan tersebut yang tidak ada orang lain telah mencapainya. ‘Ali lalu berkata, ‘Aku akan mengutus Ummi Kulthum kepada anda. Jika kau suka kepadanya aku akan menikahkannya kepadamu.’ Ali lalu mengutus anak perempuan dengan ssebuah kain dan mengatakan kepada nya untuk berkata (kepada Umar) ‘Ini adalah selendang (syal) yang aku bicarakan tentangnya’. Dia menyampaikan kata-kata ini kepada Umar, yang (lalu) berkata ‘Katakan kepada ayah mu bahwa aku menerima’. Umar lalu menjamah betis anak perempuan itu. Dia berseru, ‘Kau lakukan hal ini kepada saya (mksdnya menjamah betisnya..!) ? Jika bukan karena kau adalah Khalifah Muslim aku pasti telah mematahkan hidungmu!’. Anak perempuan itu kembali kerumah dan menceritakan peristiwa itu kepada ayah nya, dan (ia) berkata ‘Anda mengutus aku kepada seorang manusia yang jahat (licik)’, dengan (pernyataan itu) Ali berkata ‘Ia adalah suami anda’. Umar lalu menghadiri suatu pertemuan Muhajirin dan berkata ‘Beri aku selamat ‘. Mereka berkata ‘Mengapa?’ Ia berkata ‘Aku telah menikah dengan Ummi Kalthum binti Ali’.

    Narasi Ketiga :

    Dalam Zakhair Al-Aqba, hal 169

    “Umar bertanya kepada Ali apakah ia diizinkan untuk menikahi Ummi Kulthum binti Fatimah (as), kepadanya Ali menjawab bahwa ia harus membicarakannya kepada beberapa orang sebelum memberi Umar sebuah jawaban. Ali berkumpul bersama anak-anak Fatima dan mengatakan kepada mereka tentang hal tersebut (lamaran). Mereka semua menyetujui. Ali (as) meminta agar Ummi Kulthum, yang masih menyusu, pergi ke Umar dan mengatakan kepadanya bahwa permintaannya dikabulkan. Ketika Ummi Kulthum pergi ke Umar dan membawa pesan (mksdnya dr ayahnya) ia menariknya, memluknya dan berkata, ‘Aku telah minta kpd ayahnya untuk diizinkan menikahimu dan ia telah menyetujuinya”.

    Beginikah cara ulama “Ahlul Sunnah” memberikan rasa hormat kepada putri agung Rasulullah (saww) ?? Apakah anak perempuan Abu Bakar, Umar atau Utsman menikah dengan cara seperti ini ?? Apakah dg cara ini wanita-wanita dari keluarga Afriki ( atau anda juga) mendapatkan jodoh utk anaknya?? Ahlul bayt (as) adalah pancaraan cahaya dari kesucian, dg sikap kesederhanaan dan menggunakan tirai (penutup/hijab), lalu (apakah) mereka mengutus putri2 mereka tanpa pengantar kepada seorang calon suami yang dapat melakukan apapun juga utk menyenangkan diri mereka sendiri…??

    Apakah seorang ayah yang terhormat memperlakukan putrinya seperti sebuah produk yang mana seorang peminang (mkdnya penawar, jika itu sebuah produk) dapat menjamahnya (menyentuhnya), menguji, mengembalikan dan lalu membuat suatu keputusan (beli apa ga ya…hehehe)?

    Apakah dg cara itu Imam Ali (as) akan menikahkan putrinya? Di dalam pernikahan hanya dengan persetujuan thd sebuah lamaran tidaklah mencukupi, upacara Nikah (mksdnya khutbah nikah jg ada dan prose lainnya) perlu dibaca dan kedua pihak itu harus menerima satu sama lain, tidak dilaksanakan dengan mengirim anak putrinya kepada calon pengantin laki-laki yang lalu tanpa nikah memeluk anak gadis ts…! (bahkan menjamah betisnya…! )

    Narasi Ke 4 :

    Tarikh Khamis Volume 2 hal 384 ‘Dhikr” Umm Kalthum’ dan Zakhair Al-Aqba, hal 168 :

    “Umar bertanya kpd Ali untuk meminang putrinya, Ummi Kulthum untuk dinikahi. ‘Ali menjawab bahwa dia belum cukup usianya (dari kedewasaan). Umar menjawab, ‘Demi Allah, Ini tidak benar. Anda tidak menghendaki untuk menikahkan aku. Jika dia dibawah umur, utus dia kepada saya’. Dengan demikian Ali memberi putrinya Ummi Kulthum sebuah pakaian dan menyuruhnya pergi kepada Umar dan mengatakan kepadanya bahwa ayahnya ingin tahu untuk apa pakaian itu. Ketika dia datang kepda Umar dan memberinya pesan, ia merebut (mengambil) tangannya dan secara paksa menarik ke arahnya. Ummi Kulthum meminta agr tangnnya dilpeaskan, atas yg Umar lakukan, dan (umar) berkata, ‘Kau adalah seorang dewasa dengan akhlak yang bagus. Pergi dan katakan kepada ayahmu bahwa kau sangat cantik dan kau bukanlah seperti yg ia katakan (mksdnya msh kcl). Dengan itu Ali menikahkan dengan Ummi Kulthum kepada Umar.”

    Kisah berikutnya adalah riwayat yang sama luar biasa dekilnya (tidak dpt dipercaya).

    Narasi Ke 5 :

    Dalam Tarikh Baghdad Volume 6 Halaman 182 :

    ”Umar meminta putri Ali (agar dinikahkan ke umar mksdnya). Ali memerintahkannya (putrinya) untuk mengurus dirinya. Ia mengutusnya ke Umar, orang yang telah menjamah betisnya, menciuminya, dan berkata ‘katakan kepada ayahmu bahwa aku bahagia.’ Sampai ia kembali, dia berkata kepada ayahnya, ‘Ia mencium aku, menjamah betisku dan mengatakan kepadaku untuk menyampaikan kepada anda bahwa ia telah bahagia’”

    Tanggapan :

    Allah (swt) Maha Tahu niat2 kita. Kita telah dipaksa untuk mengutip ”kotoran” ini oleh para Nasibi. Kami tidaklah bangga dg pencatatan dongeng-dongeng yang dekil. Tetapi kita ingin menunjuk kenyataan yang sebenarnya kepada musuh kami yang telah menuduh Syiah adalah ”makhluk Saba’tis” (sebuah fitnah yang dibuat yaitu Syiah dibentuk oleh seorang Yahudi Abdullah bin Saba) dan mereka sebenarnya adalah orang2 yg tidak menghormati Ahlul Bayt (as). Ini adalah dongeng-dongeng yang dekil, yang jelas dibuat-buat,catatan dari pena2 ulama2 dari Ahlul Sunnah waal Jamaah. Ini kisah-kisah yang sesat yang melukiskan ‘Umar sebagai seorang paedophile (“penganiaya” anak dibawah umur) membuktikan bahwa ulama2 Nasibi berdusta dg mulut mereka sendiri sebagaimana kepercayaan mereka bahwa syiah dibentuk oleh seorang yg disebut Abdullah bin Saba sama halnya kisah yang dibuat tentang sebuah nafsu seorang paedophile yang telah dikutip di atas. Sebagai tambahan mereka membuktikan (bahwa) keberadaan dari sebuah riwayat tsb sangat berkaitan dengan kebencian yang hina dlm islam “suni” terhadap Ahlul Bait. Bentuk kebencian yang hina ini ditemukan di dalam seperempat Wahabi didunia islam. Orang-orang suni yang mempunyai harga diri akan sangat dikejutkan oleh ketidakhormatan yang ditunjukkan Nasibi Wahabi kepada Ahlul Bait (as). Kebetulan, mereka juga mempunyai, dan mungkin tanpa disadari, dengan menunjukkan Umar sebagai seorang paedophile (Penganiaya/cabul thd anak2)

    Secara berurutan riwayat2 seperti itu mungkin telah dibuat kedua-duanya untuk mencemarkan nama baik kehormatan Ahlul Bait, dan untuk membenarkan paedophilia (yg mana itu menjadi bagian dari “Sunnah Umar” ) sebagai islam tertentu dr kelompok Nasibi yg telah mengizinkannya untuk para pengikut mereka menuruti sejarah. Pada jaman ini hal itu lebih terkenal termasuk para anggota keluarga Kerajaan Saudi, namun juga telah mencakup para Nasibi lainnya didalam sejarah.

    —-

    Ini hanyalah bagian kecil dari hasil cetakan yang dibaca yang mana Afriki “pinjamkan” kepada kita. Jika kita menerima riwayat ini , lalu kita akan membenarkan bahwa Imam Ali (as) dengan senang hati mengirimkan putrinya yg masih muda, yang belum menikah ke rumah seorang manusia yang lebih tua yang memutuskan untuk menganiayanya (mengingat dalam riwayat tersebut banyak perbuatan2 cabul dilakukan umar. pen). Orang ini adalah Umar, orang sesat pertama menurut riwayat-riwayat Nasibi ini.

    Ya, ada orang sesat didalam jawatan yang tinggi dibanyak Negara, skandal sex memalukan dibuat dan menjadi berita setiap saat..apakah kita percaya bahwa kesesatan seperti itu sedang berlangsung dan jg dilakukan oleh Khalifah Umar?

    sejarah mengajarkan kpd kita betapa busuknya para politikus-politikus, dugaan ini mungkin telah menjadi berharga jika tidak untuk fakta anak perempuan yang sangat muda yg sampai ayahnya mengatkan dia belum cukup usia untuk menikah .
    Bagaimana sebuah lamaran pernikahan diselenggarakan?

    Dapatkah Afriki ( orang yang disanggah oleh Answering Ansar) mengatakan kepada kita tentang orang tua islam akan mengizinkan [membiarkan) seorang peminang yang potensial (calon suami) untuk ”berbuat ramah” terhadap putri mereka di dalam cara tsb?
    (namun) Di sini seorang Ayah muslim menurut dugaannya mengrim (mengutus) anak gadisnya ke rumah seorang peminang yang mana (peminang tsb) mencium dan menjamah betisnyanya (Istiab) dan menarik lengannyanya (Khamees / Baghdad)..!! Kedua tindakan Umar tersebut adalah HARAM selama ia (ummi Kulstum) belum dinikahi olehnya..!!

    Mengapa ayahnya, (yaitu) Imam Ali (as), tidak menemani putrinya? Apakah ini tidak diperkenalkan (diajarkan) dan dipraktekkan dlm hukum Islam..?? Dan setelah perlakuan jorok dari si peminang, (yaitu) Umar, masih diterimakah oleh (calon) ayah mertua utk bisa menjadi suami putri nya..??

    Kita mungkin yakin tidak menjadi masalah jika kemerosotan itu terjadi pada keluarga muslim, tidak ada yang mau bertahan pada laporan yang dekil sejenis ini - namun Ulama Marwani Nasibi ini menujukan ”kekotoran” ini (menimpa) kepada cucu perempuan Rasulullah (saww)..! Kebencian dari mereka thd Ahlul Bait benar-benar merupakan sejenis penyakit. Itu menunjukkan hal yang besar, dalam kenyataannya, mengenai pikiran mereka yang benar2 sakit dan sesat.

    (pada artikel Tsb, ditulis jg kutipan dri Sawaiqh al Muhriqa hal 280 dan Asaaf al Ghaniin hal 162 dg sdkt perbedaan)

    --

    Selagi mengisahkan “kotoran” ini yang kami mohon maaf kepada Sayyidah Fatimah as, tetapi para Nasibi ini telah meninggalkan(memberikan) kepada kita tanpa adanya pilihan yang lain untuk mengutip sampah ini dari buku mereka…acuan-acuan (referensi) yang ditempatkan untuk menurunkan kedudukan empat khalifah mereka sebagai pemimpin yang telah mereka tetapkan.

    Nasibi ini mengutip acuan-acuan tersebut sebagai bukti dari “kebaikan-kebaikan” Umar yang pada kenyataannya kebanyakan semua itu malah menghancurkannya (umar), mempresentasikan dia (umar) sebagai orang tua yang sakit dan sesat. Tindakan-tindakan yang ia dakwakan dilakukan yang tidak pantas dilakukan seorangpun demi kesenangannya. Namun inilah “penghormatan” mereka kepada putri Imam Ali (as). Kita yakin bahwa Yahudi tidak pernah melakukan jenis kepalsuan (kebohongan) seperti ini kepada ibu Musa (as) ataupun dilakukan orang-orang Kristen yang berhubungan dengan Hadhrat Maryam (as).! Namun riwayat-riwayat yang sakit tersebut telah ditunjukkan oleh mereka yang disebut Ansar (penolong) Agama (mengingat artikel tsb adalah jawaban untuk http://www.Ansar.org yg mengutip riwayat-riwayat tersebut. ). Kebohongan-kebohongan ini bukanlah bagian dari sebagian orang “menyiapkan” komplotan Yahudi tidak pula mereka yg menulis Ibn Saba yang fiktif.

    Ini adalah tulisan ”Ahlul Sunnah” yang mengklaim (mengatakan) Imam itu Ali (as) mempersiapkan putrinya dan lalu mengutusnya sendirian kepada Umar yaitu orang yang telah menempatkan anak perempuan tersebut dalam pangkuannya dan menciuminya..! Apakah syariah mengizinkan seorang manusia untuk menempatkan seorang anak perempuan yang bukan muhrimnya ataupun yang telah mencapai masa puber dalam pangkuannya dan lalu menciumnya?

    Apakah “Ahlul Sunnah” siap untuk menerima bahwa Khalifah yang dipandang Islam Suni telah memeluk dan menciumi seorang anak perempuan non-muhrim..? Apakah perilaku figur yang oleh Ahlul Sunnah dianggap sebagai Khalifah sudah pantas pada tempatnya sebagai seorang pemimpin..? atau itu adalah contoh dari seorang yang fasiq / khalifah yang membelot ? Tanggung jawab itu ada pada para Nasibi untuk membela Umar. Itulah mereka yang menerima pernikahan ini terjadi. (Dan) Inilah kami yang menolaknya sebagaimana halnya sejauh ini kami mensifati riwayat-riwayat tersebut dibuat oleh ”kekeruhan” Nasibi untuk menghina (melecehkan) islam yang benar.

    Narasi Ke 6

    Tabaqat, ibn Sa'd Volm 8 hal 464 “Dhikr” Umm Kalthum :

    Umar meminta persetujuan Imam Ali untuk menikahi Ummi Kulthum (as), kepadanya Ali menjawab, “Hai amirul mukminin, dia (Ummi Kulthum) anak yang masih menyusu. Kepadanya Umar menjawab, “Demi Allah! (itu) tidak benar. Anda sedang mencari-cari untuk menghindari aku”. Dengan sebab itu Ali memerintahkan agar Ummi Kulthum mandi dan lalu memakai sehelai selendang. Ali mengatakan kepadanya untuk pergi kepada Khalifah, “Salamku untuknya dan tanyalah kepadanya jika ia menyukai selendang ini, ia dapat menyimpannya, jika tidak, ia harus mengembalikannya”. Ketika dia datang kepada Umar, ia berkata, “Semoga Allah memberkati anda dan ayah anda, aku suka”. Karenanya Ummi Kulthum kembali kepada ayahnya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa Umar tidak membuka selendang hanya melihat aku. Ali menikahkannya dengan Umar dan mereka telah memiliki seorang anak bernama Zayd.

    Lagi-lagi, apakah seorang ayah menikahkan anaknya dengan cara seperti ini. Memakaikan pakaian (supaya membuat tampilannya menarik) dan lalu mengutusnya ke rumah calon suaminya? Beginikah “Mulllah-mullah” Nasibi menikahkan putri-putri atau saudari-saudari mereka? Jika demikian, mungkin Mullah Umar telah mengutus salah satu putrinya untuk melihat 'Usama bin Ladin yang menikah dengannya! Dalam hal ini, 'Usama bin Ladin juga salah satu orang yang sesat. Kami perlu menekankan kepada Nasibi ini tindakan mengirim para putrid mereka kepada kandidat calon suami adalah Sunnah dari Umar bukan Sunnah dari Ahlul bayt (as) !. (nie Answering Ansar yg ngomong lhoooo....)

    Sahih Bukhari, Volume 5, Hadis Nomor 352 bab Nikah : (riwayat bgmn proses pernikahan Hafsa)

    " Umar bin Al-Khattab berkata, 'Ketika Hafsa binti 'Umar menjadi seorang janda setelah kematian (suaminya) Khunais bin Hudhafa As-Sahmi yang tadinya adalah salah satu [dari] sahabat Nabi, dan ia meninggal di Madinah. Aku pergi ke Uthman bin Affan dan memperkenalkan Hafsa (untuk dinikahkan) kepada nya. Ia berkata, ‘Aku akan memikirkan kembali.’ Aku menantikan beberapa hari, dan lalu ia menemui aku dan berkata, ‘Tampaknya tidaklah mungkin untukku menikah sekarang.’ ‘Umar lebih lanjut berkata, ‘Aku menjumpai Abu Bakar As-Siddiq dan berkata kepadanya, ‘Jika kau mau, aku akan menikahkan putriku Hafsa kepadamu.’ Abu Bakar diam dan tidak mengatakan apapun dengan sebuah jawaban kepada saya. Aku menjadi lebih marah dengannya dibanding dengan Uthman. Aku menantikan beberapa hari dan lalu Rasul Allah meminta peresetujuannya (“….I waited for a few days and then Allah’s Apostle asked for her hand… and I gave her in marriage to him” ,maksudnya adalah bahwa Rasul saww meminta persetujuan Hafsa. pen), dan aku menikahkan (Hafsa) kepadanya (Rasul)’. “

    BAWA PULANG PESAN INI KEPADA PARA NASIBI (kata artikel tsb):

    Jika anda yakin bahwa ummi kulthum (as) binti Ali (as ) menikah dengan Umar kau harus menerima bahwa umar juga seorang yang sesat. Tidak ada “jika” atau “tapi” dalam hal ini. Inilah riwayat-riwayat yang kalian kutip untuk menjadi dasar kepercayaan anda didalam pernikahan dan juga mengkatagorikan sebuah metode dalam hal meminang, berkomitmen bahwa tindakan umar tersebut mencap dia sebagai seorang yang sesat..! Kami Tidak percaya pernikahan tersebut pernah terjadi. (ada lanjutannya mgenai sanggahan riwayat2 suni tsb…sabaaar…)

    Insya Allah berlanjut dg bab2 lain artikel tsb, jika yg lain mengizinkan, terutama pemilik blog ini…sementara ini dl.

    Mohon maaf kpd Mas Sp dan yang lainnya krn kepanjangan.. Maaf..maaf..

    wassalam

  79. @bagir
    Minal Aidzin wal faidzin

    Antum wrote:
    Tulisan (riwayat) diatas banyak ditemukan disitus2 (hampir semuanya sama , mgkin yg punya blog pada copas2an…hehehe) , salah satunya (tapi ga tau juga sih anda baca lgsg atau copas) dr :

    saya jawab:
    He he lha kalau boleh tau anda di atas itu lg ngapain? walaupun bukan copas tetapi anda nerjemahin plek dari satu situs… ya sami mawon tho mas…

    Silahkan anda teruskan menterjemahkan tulisan answering ansar (kalau perlu semua), terus terang saja bantahan dr situs tsb hanya akal-akalan yg justru terlihat terlalu dipaksakan dlam upaya mereka untuk menafikan peristiwa pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali yang tercatat baik di referensi sunni dan di referensi syi’ah (bahkan tercatat di kutubul arba’ah) tapi saya cukup menunjukkan saja respon/bantahan tuntas thd answering ansar di bawah ini dan juga pengakuan ulama syi’ah mengenai pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali :
    http://www.ahlelbayt.com/articles/sahabah/rebuttal

    http://www.ahlelbayt.com/mistaken-identity

    http://www.al-islam.org/Organizations/Aalimnetwork/msg00166.html

    silahkan dibaca-baca selagi ada :) kalo ada waktu mau sih nerjemahin… tapi maaf kyknya utk saat ini waktu blm memungkinkan…

    Peace…

  80. @ Bims
    He he lha kalau boleh tau anda di atas itu lg ngapain? walaupun bukan copas tetapi anda nerjemahin plek dari satu situs… ya sami mawon tho mas…

    ana jawab ;

    khan ud ana bilang ana terjemahin biar semua baca, lagian ana terjemahin dr situs yag ada link kitabnya…heheheh

    anda tulis :

    terus terang saja bantahan dr situs tsb hanya akal-akalan yg justru terlihat terlalu dipaksakan dlam upaya mereka untuk menafikan peristiwa pernikahan Umar dan Ummu Kultsum binti Ali yang tercatat baik di referensi sunni dan di referensi syi’ah (bahkan tercatat di kutubul arba’ah)

    Ana jawab..:
    Akal-akalan..?? hehehe..mas…ga usah asal ngom yg jelas begitu adanya..dan anada tinggal pake akal anda…tp akal sehat…jd bisa nerima..yg jls semua tgl baca n tgl pk akal masing2…gitu aja ko repot…heheheh

  81. saudara bagir,
    teruskan usaha anda
    saya mendapat manfaat darinya
    syukron

  82. Salam
    @ Zalu

    Bihaqqi Muhammad Wa aalihi Thohirin.

    Insya Allah..

    Wassalam

  83. Ass. Wr. Wb.

    Kpd sahabat yg ada di forum diskusi ini, sy ingin menambahkan bahwa nasab atau hubungan kekerabatan tidak bisa dihubungkan dengan ahlak seseorang. Banyak fenomena didlm Al-Qur’an dan Hadist diantaranya: seorang Fir’aun mempunyai istri Asyiah yg dlm hadist termasuk bidadari surga, Seruan Nabi Nuh As kpd anak dan istrinya yg tidak dipatuhi, kisah Nabi Yusuf As yg dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri, yg menjadi musuh Rasulullah Saw banyak diantaranya spt Abu Jahal, Abu Sofyan, Abu Lahab dll msh ada hub kekerabatan dgn Rasul Saw. Dan masih banyak lagi fenomena-fenomena yg semisal dng itu. Jadi kita hrs menyikapinya setiap perbedaan tidak berdasarkan mahzab/golongan saja, tapi berdasarkan Al Qur’an dan Hadist. Fungsi Al Qur’an adalah pembeda antara yg hak dgn yg batil, ini berlaku dlm setiap zaman, dari mulai diturunkannya Al Qur’an sampai sekarang ini. Tidak semua sahabat itu adil, ini dapat dibuktikan oleh ayat-ayat Al Qur’an : ada ayat munafikun, kafirun, fasikun dan ….

    Wass. Wr. Wb.

  84. @atasku

    Logika anda bisa dibalik kok, antum yakin ga kalau Rasulullah itu ma’sum? yakin ga kalau beliau selalu dijaga oleh Allah dalam segala tindakannya… apakah mungkin beliau keliru mengambil sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dll? bahkan beliau menjalin hubungan kekerabatan dengan mereka, 2 org diantaranya adalah mertua beliau dan satu adalah menantu beliau… demikian juga ahlul bait yg diyakini oleh satu golongan adalah ma’sum, apakah mgkin mrk salah dalam menjalin kekerabatan? logika anda di atas bisa dijalankan, tetapi tidak untuk semua kasus kan? tidak bisa digeneralisir, jd hrs case by case… spt abu lahab, abu jahal dll sebelum beliau diangkat mjd Rasul-pun mrk adalah kerabat beliau… tetapi di sini kasusnya lain… dalam kasus ini beliau yg punya hak untuk menentukan menjalin kekerabatan dengan seseorang (dan saat itu beliau sudah diangkat menjadi Rasul), beliau meminang Aisyah dan Hafshah yg mrpkan anak dari Abu Bakar dan Umar, jika memang dua orang tsb bukan mrpkan orang2 yg baik & utama tentu beliau tidak memilih anak2 dr mrk dan beliau berhak utk memilih yg lainnya, demikian jg dlm hal memilih menantu, bahkan beliau menikahkan dua putri beliau kepada Utsman… nah jika anda menuduh Rasulullah bahwa beliau salah dalam mengambil keputusan… trs dimana letak kema’suman beliau? hal ini berlaku juga terhadap Ahlul Bait. Ali berhak utk menolak pinangan Umar dg tegas jika memang Umar adalah bukan pribadi yg baik… apalagi Imam Ali terkenal akan keberanian dan ketegasannya… coba antum renungkan…

    Antum wrote:
    Jadi kita hrs menyikapinya setiap perbedaan tidak berdasarkan mahzab/golongan saja, tapi berdasarkan Al Qur’an dan Hadist. Fungsi Al Qur’an adalah pembeda antara yg hak dgn yg batil, ini berlaku dlm setiap zaman, dari mulai diturunkannya Al Qur’an sampai sekarang ini. Tidak semua sahabat itu adil, ini dapat dibuktikan oleh ayat-ayat Al Qur’an : ada ayat munafikun, kafirun, fasikun dan ….

    Saya Jawab:
    saya setuju dg antum, justru dari Al-Qur’an lah kita mendapatkan ayat2 tentang persaksian keutamaan generasi awal Islam tsb, begitu byk dech… sedangkan antum hrs tau definisi sahabat… kalo munafikun, kafirun dan fasikun ya jelas dan pasti bukan termasuk sahabat Rasul…

    Peace…

  85. @bims

    Ass. Wb. Wb.

    Jelas Rasul Saw maksum, berarti mengenai hadist Gadhir Khum ngga mungkin salah dong, krn diperkuat oleh QS Al Maidah : 67 dan sebelumnya QS Al Maidah : 3, yg hadir waktu itu 100rb orang lebih termasuk para sahabat. Yg intinya pengangkatan Imam Ali As sebagai maula/khalifah kaum muslimin. Setelah Rasul Saw wafat, para sahabat dan bbrp kaum Ansor dan Muhajirin tanpa dihadiri oleh Ahlul Bayt Nabi Saw, mengadakan pemilihan dgn sistim syuro, dgn mengabaikan nas Al Qur’an dan Hadist tsb. Nah disinilah orang klo sdh mengabaikan nas-nas tsb, orang itu dpt dikatakan spt apa yg Al Qur’an katakan : munafikun, kafirun, fasikun, musyrikun. Klo mengenai perjodohan itu rahasia Allah Swt dan Rasul Saw tdk mengetahui bahwa stlh wafat, para sahabat dan kerabatnya banyak yg berpaling, bahkan istrinya sendiri memerangi Imam Ali As, yg dlm hadist dikatakan gudangnya ilmu dan banyak lagi keutamaan-keutamaan Imam Ali As. Demikian yg sy maksudkan dlm Al Qur’an banyak fenomena sejarah para Nabi dikhianati oleh kerabatnya sendiri dan para pengikutnya, bahkan ada yg dibunuh. Hal tsb sy katakan berlaku dalam setiap zaman tanpa memandang sahabat dan kerabat.

    Wass. Wr. Wb.

  86. @atasku

    Salam

    Hadits Gadhir Kum memang tidak salah, ayat2 Al-Qur’an pun tidak ada satupun yang salah, tetapi yg perlu dicek kembali adalah interpretasi kita thd hadits & ayat2 tsb… apakah memang spt itu? dan kejadian lbh dr 1000 th yang lalu di Saqifah pun perlu kita cek kembali, jika memang Abu Bakar, Umar dan Utsman telah melanggar Al-Qur’an dan Hadits dalam hal khilafah, tentu Imam Ali yg dikenal tegas dlm membela agama ini tidak akan tinggal diam, tetapi kenapa justru beliau malah akhirnya turut membaiat dan mendukung 3 pemimpin tsb dlm masing2 masa pemerintahan mrk… sedangkan Imam Ali dalam kitab2 yg sahih tidak pernah memvonis mereka adalah munafikun, kafirun, fasikun ato musyrikun… mengapa kita yg terpisahkan lebih dr 1000 th dr peristiwa tsb begitu Pedhenya menjadi hakim antar mereka dan menjatuhkan vonis seperti itu?? mohon direnungkan kembali…

    Apakah anggapan spt ini bukan berarti menzerokan dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam sebagai seorang Murabbi yang agung? bahwa usaha beliau telah gagal total? padahal di dalam Al-Qur’an Allah telah menjanjikan kekhilafahan thd kaum muslimin (An-Nur:55) dan janji tsb telah terwujud di Jaman mereka para sahabat… dan hal tsb telah tercatat di tinta emas sejarah…terus terang saya ga habis pikir dg mindset orang2 yg berusaha menghilangkan masa keemasan yg begitu nyata dg begitu saja…

    Wassalam

  87. @bims

    Logika anda bisa dibalik kok, antum yakin ga kalau Rasulullah itu ma’sum? yakin ga kalau beliau selalu dijaga oleh Allah dalam segala tindakannya… apakah mungkin beliau keliru mengambil sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dll?

    Kayaknya nggak pas Mas, Kema’suman Rasulullah SAW tidak berimplikasi lantas semua sahabatnya juga ma’sum. Aneh sekali kalau beranggapan karena seseorang ma’sum maka beliau tidak akan salah memilih sahabat. Sema’sum apapun orang maka ia tidak bisa memaksakan orang lain harus seperti apa. Sema’sum apapun orang maka itu tidak berarti bahwa ia harus mengambil sahabat orang yang ma’sum saja. Tidak ada syarat yang begitu. Apa yang dilakukan orang lain maka itu adalah urusan orang tersebut sepenuhnya. Contohnya nih
    Nabi Ya’qub memiliki banyak anak, dan mereka justru mencelakakan Nabi Yusuf saudara mereka sendiri. Apakah dengan logika Mas, maka Nabi Ya’qub menjadi tidak ma’sum karena tidak bisa mendidik anak. Jadi sangat tidak tepat menurut saya Mas

    demikian juga ahlul bait yg diyakini oleh satu golongan adalah ma’sum, apakah mgkin mrk salah dalam menjalin kekerabatan?

    Dalam menjalin kekerabatan maka tidak ada syarat bahwa orang tersebut harus selalu benar atau tidak ada cacatnya sama sekali. Kalau memang begitu maka hanya orang ma’sum saja yang pantas menjadi kerabat Ahlul Bait. Jadi kata-kata salah menjalin kekerabatan itu perlu didefiniskan dengan jelas.

    dalam kasus ini beliau yg punya hak untuk menentukan menjalin kekerabatan dengan seseorang (dan saat itu beliau sudah diangkat menjadi Rasul), beliau meminang Aisyah dan Hafshah yg mrpkan anak dari Abu Bakar dan Umar, jika memang dua orang tsb bukan mrpkan orang2 yg baik & utama tentu beliau tidak memilih anak2 dr mrk

    Mereka memang baik, tetapi tidak ada jaminan bahwa mereka akan selalu benar. Sama seperti kebanyakan manusia lainnya, Aisyah Hafsah Abu Bakar dan Umar juga bisa melakukan kesalahan

    dan beliau berhak utk memilih yg lainnya, demikian jg dlm hal memilih menantu, bahkan beliau menikahkan dua putri beliau kepada Utsman… nah

    Siapa yang anda maksud yang lainnya? apakah ada orang yang selalu baik dan benar untuk dipilih sehingga orang tersebut tidak membuat Rasul salah menjalin kekerabatan. Rasanya terlalu memaksa kalau Mas beranggapan bahwa siapapun yang Rasul SAW jalin kekrabatannya maka ia tidak mungkin bisa berbuat salah. Menurut saya terlalu naif jika orang yang dijalin kekerabatannya oleh Rasul SAW melakukan suatu kesalahan atau keburukan maka anda mengatakan Rasul SAW salah mengambil kerabat.

    Ali berhak utk menolak pinangan Umar dg tegas jika memang Umar adalah bukan pribadi yg baik

    Tentu Umar adalah pribadi yang baik tetapi beliau bukan berarti tidak bisa melakukan kesalahan atau keburukan Mas.

    saya setuju dg antum, justru dari Al-Qur’an lah kita mendapatkan ayat2 tentang persaksian keutamaan generasi awal Islam tsb, begitu byk dech

    Ada banyak memang tetapi anehnya sebagian orang justru memperluas dalil tersebut kemana-mana. Contohnya nih, ayat Al Qur’an menyebutkan keutamaan mereka tetapi tidak menyebutkan bahwa mereka akan selalu benar dan tidak bisa salah. Tetapi sebagian orang berdalil seolah-olah dengan dalil tersebut maka para Sahabat itu suci dari salah dan dosa.

    sedangkan antum hrs tau definisi sahabat… kalo munafikun, kafirun dan fasikun ya jelas dan pasti bukan termasuk sahabat Rasul…

    Masalahnya Mas ayat-ayat Al Quran yang anda maksud itu apa memang sesuai dengan definisi sahabat yang anda maksud. Saya mau tanya nih, siapa yang pertama kali mendefinisikan Sahabat. Apakah definisi itu muncul dari zaman Rasulullah SAW ketika ayat2 Al Quran tersebut diturunkan atau justru setelah itu. Mengenai orang kafir maka itu jelas tetapi kalau orang fasiq dan munafik, apa benar Mas tahu semuanya atau apa benar Ulama yang datang setelah zaman Rasul SAW mengetahui semua orang munafik yang ada pada zaman Rasul SAW sehingga dengan itu mereka bisa memilah-milah yang ini yang munafik dan yang ini Sahabat Nabi SAW.
    Salam

  88. @bims

    Ass. Wr. Wb.

    Diantaranya terkena ayat munafikun, kafirun, musyrikin, fasikun. Itu kata Al Qur’an, bukan menurut sy. Apabila ada orang mengabaikan Al Qur’an dan Hadist tinggal memilih aja terkena ayat yg mana? krn perkembangan Islam waktu itu masih sangatlah muda, sehingga Imam Ali As berdiam diri, sedangkan pergerakan umat sdh terlanjur memilih khalifah Abubakar Ra, jadi Imam Ali As berdiam diri karena untuk menjaga ukhuwah Islam, jangan sampai terjadi perpecahan yg menjadikan Islam menjadi lemah kembali, sementara dilingkungan sekitarnya banyak pihak yg siap meruntuhkan Islam : Yahudi, Nasrani, kaum munafikin, musyrikin dll. Klo dilihat pada jaman sekarang ini negara mana yg konsisten menjaga Syariat Islam utk melawan musuh-musuh Islam tsb, walaupun telah dipisahkan 1000 thn lebih, tetapi perjuangan mereka berlandaskan perang Badar, syahidnya Imam Husein As di Karbala, walaupun minoritas tetapi mereka berpegang teguh kpd hadist Ghadir Khum dan Tsaqalain, tidak kebarat maupun ketimur, tidak terpengaruh oleh berubahnya jaman, sedangkan yg mayoritas ?

    Wass. Wr. Wb.

  89. Salam-alaikum

    Khutbah Rasul saww di Ghadir Khum (reffrensisunni syiah) tersebutkan nama2 pemimpin yg diperintahkan untuk diikuti.

    http://islamalternatif.net/iph/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=142

    Silahkan klik link dibawah ini juga (download file word tanggapan Muh Anis):

    melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=8&Itemid=43 –
    ada juga tanggapan Imam Ali ttg Hak2nya.

    kita baca dirumah masing2 biar jelas.

    wassalam

  90. Copy link dibawah ini di menu browser anda, mgkin sebagian yg disini sudah membacanya :

    melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=8&Itemid=43 –

  91. Ass. Wr. Wb.

    Trmaksh kpd mas Bagir yg meberi info mengenai hadist Ghadir Khum, sy telah selesai membacanya, semoga Allah Swt dan RasulNya melipatgandakan amalnya, amin.

    Wass. Wr. Wb.

  92. @SP
    Salam wa rahmah

    Waduh suatu kehormatan nich buat saya, pemilik blog berkenan menanggapi langsung komentar saya…

    Antum wrote:
    Contohnya nih
    Nabi Ya’qub memiliki banyak anak, dan mereka justru mencelakakan Nabi Yusuf saudara mereka sendiri. Apakah dengan logika Mas, maka Nabi Ya’qub menjadi tidak ma’sum karena tidak bisa mendidik anak. Jadi sangat tidak tepat menurut saya Mas

    Saya jawab:
    Sebenarnya pada prinsipnya saya setuju bahwa hubungan kekeluargaan dg Nabi tidaklah menjamin mereka adl baik spt Nabi dan tentunya bukan berarti nabi tidak ma’sum jika didikan / dakwahnya pada keluarga / kerabatnya tdk berhasil (berarti ini juga berlaku kpd ahlul bait Nabi, bahwa mereka adl manusia biasa dan tdk ma’sum krn mrk bukan Nabi) tetapi kan tidak bisa digeneralisir tho mas, case by case lah…bahkan spt anak Nabi Zakaria yaitu Nabi Yahya adlh seorang Nabi juga, Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW juga baik2 kok…dan di forum ini ada yg secara tdk lgsung menuduh sahabat utama spt Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah termasuk dlm ayat Kafirun, Fasikun dan Munafikun… ini adalah tuduhan yg sgt serius & ekstrim sy kira, yg jelas mrk tidak bisa disamakan dg anak2 Nabi Ya’qub, ato dg abu Lahab cs…krn terlalu banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits yg menyebut keutamaan mrk…ingatlah generasi awal itu sebenarnya satu umat yg bersatu, kalo ga, Islam tdk akan bisa menguasai dunia saat itu… justru sy sgt sedih dg adanya dikotomi Ahlul Bait dan Sahabat spt saat ini…maaf kalo sy katakan ini adl dikotomi yg tidak sehat warisan musuh2 yg membenci generasi awal Islam yg berusaha memecah belah umat Islam…

    Baiklah saya ingatkan kembali bahwa bahasan kita di thread ini berhubungan dg sahabat Nabi yg utama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali (yg termasuk ahlul bait), yg kebetulan (eh sengaja dink) mrk saling menjalin kekerabatan dengan Nabi dan Ahlul Bait beliau, yg hal itu merupakan bukti akan harmonisnya hubungan mrk sebenarnya, tentunya bukan berarti tanpa ada perbedaan pendapat diantara mrk, yg hal tsb adl hal yg sgt wajar, dan tdk menjadikan mrk saling benci ato bermusuhan, nah yang saya sorot adl kita skrg ini yg hidup terpisahkan dg mrk lebih dr 1000 th mencoba membesar-besarkan perbedaan pendapat diantara mrk dan mengarahkannya ke dlm bentuk permusuhan yg abadi… kmdn diantara kita ada yg mencoba mjd hakim perselisihan dintara mrk para leluhur kita dg alasan mengkritisi dsb… pdhal apa yg kita lakukan belum tentu benar bahkan inilah yg menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam saat ini…

    Antum wrote:
    Mereka memang baik, tetapi tidak ada jaminan bahwa mereka akan selalu benar. Sama seperti kebanyakan manusia lainnya, Aisyah Hafsah Abu Bakar dan Umar juga bisa melakukan kesalahan

    Saya jawab:
    Saya setuju mas, saya pun tdk pernah menganggap para sahabat secara individu tdk pernah berbuat salah, sy kira sunni jg berkeyakinan demikian, dan tentunya hal ini berlaku jg utk ahlul bait… walaupun ada ayat 33:33 (terlepas dr definisi ahlul bait itu sndri yg msh berpolemik), tetapi di ayat tsb tdk menunjukkan kema’suman ahlul bait justru mrk dituntut utk beramal agar mrk bisa dibersihkan oleh Allah sebersih-bersihnya. Sebagaimana Rasulullah pernah berkata kepada Fatimah “Beramallah wahai Fatimah, kerana aku tidak dapat berbuat apapun di sisi Allah bagi pihak diri kamu” Sedangkan Ijma’ umat di masa sahabat dan ahlul bait (krn sy berpandangan mrk sebenarnya adlah satu umat tdk terpecah spt gambaran kita saat ini) bisa dijadikan hujjah, mengapa? Krn mrk prnh hidup bersama Nabi dan Nabi pun pernah bersabda “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan” yg sy tangkap adl umat Islam di masa itu.

    Antum wrote:
    Ada banyak memang tetapi anehnya sebagian orang justru memperluas dalil tersebut kemana-mana. Contohnya nih, ayat Al Qur’an menyebutkan keutamaan mereka tetapi tidak menyebutkan bahwa mereka akan selalu benar dan tidak bisa salah. Tetapi sebagian orang berdalil seolah-olah dengan dalil tersebut maka para Sahabat itu suci dari salah dan dosa.

    Saya jawab:
    Sekali lg prinsip saya selain Rasul itu tidaklah ma’sum, sahabat maupun ahlul bait bisa berbuat salah. Dan mengenai dalil2 ttg keutamaan sahabat maupun ahlul bait tdklah menyebabkan mrk seolah-olah suci dari salah dan dosa, tetapi tentunya kita umat akhir zaman ini perlu bercermin terlebih dulu sblm memposisikan diri mjd hakim diantara mrk saya kira…

    Antum wrote:
    Masalahnya Mas ayat-ayat Al Quran yang anda maksud itu apa memang sesuai dengan definisi sahabat yang anda maksud. Saya mau tanya nih, siapa yang pertama kali mendefinisikan Sahabat. Apakah definisi itu muncul dari zaman Rasulullah SAW ketika ayat2 Al Quran tersebut diturunkan atau justru setelah itu.

    Saya jawab:
    Al-Qur’an lah yg pertama kali mendefinikan mengenai sahabat spt : Al-Fath:29, Al-Hasyr:9, At-Taubah:100 dll dan jelas sekali berbeda ketika Al-Qur’an berbicara tentang kafirun, munafikun, musyrikun dan fasikun…dan ingat yg dibicarakan al-Qur’an mengenai sahabat yg mendapat ampunan dan ridha dr Allah adlh kumpulan besar dari kalangan muhajirin dan anshar bukan hanya segelintir orang… nah jika ada yg menganggap sepeninggal Rasul hampir seluruh sahabat telah menjadi kafir, munafik, fasik dan musyrik kecuali segelintir orang saja, apakah Allah telah salah memberi keridhaan-Nya kepada mereka? Atau apa seharusnya ayat2 tsb dinasakh saja? Demikian juga disebutkan dlm hadits tentang sahabat2 Nabi.

    Sedangkan ulama2 selanjutnya mendefinisikan sahabat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

    Antum wrote:
    Mengenai orang kafir maka itu jelas tetapi kalau orang fasiq dan munafik, apa benar Mas tahu semuanya atau apa benar Ulama yang datang setelah zaman Rasul SAW mengetahui semua orang munafik yang ada pada zaman Rasul SAW sehingga dengan itu mereka bisa memilah-milah yang ini yang munafik dan yang ini Sahabat Nabi SAW.

    Saya jawab:
    Baik, karena yg kita bicarakan saat ini adl Abu Bakar, Umar, dan Utsman, jika mrk termasuk munafikun atau fasikun apakah Allah tidak memberitahukan kepada beliau tentang mereka? Bukankah pada masa itu orang munafik telah diberitahukan oleh Allah kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah mengetahui siapa2 yg munafik dan siapa yg bukan…terus bgmana dg hadits 10 org yg dikhabarkan Nabi masuk syurga? Bukankah nama2 di atas adalah diantaranya? jika contoh semacam Abu Bakar adalah seorang munafik yg menyembunyikan kekafirannya, mengapa Nabi menyuruh Abu Bakar memimpin shalat ketika beliau sakit, menemani beliau berduaan saja ketika berhijrah, padahal jika memang Abu Bakar adl seorang munafik maka itu adalah saat yg tepat buat dia utk membunuh Nabi…

    Mohon perhatikan firman Allah berikut ini:
    Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. 48:18)

    Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 48:19)

    Ayat di atas membahas para sahabat yang bersama Nabi dalam peristiwa baiat di hudaibiyah, jumlah mereka sekitar 1500 orang. Allah telah ridha pada mereka padahal mereka masih hidup di dunia. (ingat Abu Bakar dan Umar termasuk mereka yang berbaiat) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, Mereka para sahabat yang dianggap “gembel” oleh raja persia, dan akhirnya kerajaan persia dikubur oleh para sahabat untuk selamanya, ternyata diridhai oleh Rabb mereka.

    Justru dg ketidaktahuan kita, seharusnya kita tidak melemparkan ayat munafikun dan fasikun begitu saja ke mereka…

    Wallahu A’lam

    Peace…

  93. @asep

    Salam

    Antum wrote:
    Diantaranya terkena ayat munafikun, kafirun, musyrikin, fasikun. Itu kata Al Qur’an, bukan menurut sy. Apabila ada orang mengabaikan Al Qur’an dan Hadist tinggal memilih aja terkena ayat yg mana?

    Saya jawab:
    Iya itu memang menurut Al-Qur’an, tetapi interpretasinya menurut anda… mohon dibaca lagi dech Al-Qur’annya tetapi jgn lupa baca ayat yg lain juga ya…

    Antum wrote:
    krn perkembangan Islam waktu itu masih sangatlah muda, sehingga Imam Ali As berdiam diri, sedangkan pergerakan umat sdh terlanjur memilih khalifah Abubakar Ra, jadi Imam Ali As berdiam diri karena untuk menjaga ukhuwah Islam, jangan sampai terjadi perpecahan yg menjadikan Islam menjadi lemah kembali, sementara dilingkungan sekitarnya banyak pihak yg siap meruntuhkan Islam : Yahudi, Nasrani, kaum munafikin, musyrikin dll.

    Saya jawab:
    Anda dapat darimana keterangan tsb? Bisa dinukilkan ga? Atau itu menurut anda saja? Kalaupun memang demikian mengapa di masa pemerintahan Umar dan selanjutnya Utsman beliau juga tetap bersikap demikian? Mengapa antum ga mengikuti saja apa yang telah ditauladani oleh Imam Ali untuk menjaga persatuan umat?

    Wasalam

  94. @bims

    (berarti ini juga berlaku kpd ahlul bait Nabi, bahwa mereka adl manusia biasa dan tdk ma’sum krn mrk bukan Nabi) tetapi kan tidak bisa digeneralisir tho mas, case by case lah…

    Kesan saya ketika memahami komentar Mas, Mas berkesan menggeneralisir bahwa setiap sahabat yang menjadi kerabat Nabi maka mereka akan selalu baik. Tapi mungkin kesan saya saja ya. Saya setuju case by case tapi itu buat para Sahabat Nabi SAW. Kalau Ahlul Bait, bagi saya Ahlul Bait dalam Hadis Tsaqalain dan Al Ahzab 33 sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai pedoman kebenaran bagi umat islam. Jadi dalam hal ini Allah SWT melalui Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa manusia tidakakan tersesat jika berpegang pada Al Quran dan Ahlul Bait :)

    justru sy sgt sedih dg adanya dikotomi Ahlul Bait dan Sahabat spt saat ini…maaf kalo sy katakan ini adl dikotomi yg tidak sehat warisan musuh2 yg membenci generasi awal Islam yg berusaha memecah belah umat Islam…

    Silakan kalau Mas mau berpendapat begitu. IMHO dikotomi ini justru berasal dari Rasulullah SAW sendiri. Beliau telah berpesan kepada umat islam termasuk shabat Nabi agar berpegang teguh pada Ahlul Bait :)

    Baiklah saya ingatkan kembali bahwa bahasan kita di thread ini berhubungan dg sahabat Nabi yg utama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali (yg termasuk ahlul bait), yg kebetulan (eh sengaja dink) mrk saling menjalin kekerabatan dengan Nabi dan Ahlul Bait beliau, yg hal itu merupakan bukti akan harmonisnya hubungan mrk sebenarnya, tentunya bukan berarti tanpa ada perbedaan pendapat diantara mrk, yg hal tsb adl hal yg sgt wajar, dan tdk menjadikan mrk saling benci ato bermusuhan,

    Tulisan saya secara pribadi tidak membahas apapun soal permusuhan tapi membahas siapa yang benar dalam masalah Fadak. Dalam hal ini saya katakan Ahlul Bait berbeda dengan sahabat dalam masalah Fadak. Dan dalam hal ini saya berpegang bahwa kebenaran ada pada ahlul bait. Oh iya Mas komentar saya sebelumnya tidak mengkhususkan pada sahabat siapa tetapi sahabat Nabi secara umum.

    nah yang saya sorot adl kita skrg ini yg hidup terpisahkan dg mrk lebih dr 1000 th mencoba membesar-besarkan perbedaan pendapat diantara mrk dan mengarahkannya ke dlm bentuk permusuhan yg abadi… kmdn diantara kita ada yg mencoba mjd hakim perselisihan dintara mrk para leluhur kita dg alasan mengkritisi dsb… pdhal apa yg kita lakukan belum tentu benar bahkan inilah yg menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam saat ini…

    Tepatnya inilah yang saya maksud, Mas berkata bahwa Mas meyakini bahwa para shabat tidak ma’sum tetapi ketika ada yang mengatakan bahwa sahabat salah atau keliru maka Mas berkeras untuk menolak. Hal ini yang saya tangkap seolah-olah mensucikan sahabat sehingga mereka tidak bisa berbuat salah. Tidak perlu mendramatisir dengan kata-kata permusuhan abadi, jangan terlalu meluas kemana-mana. Intinya Jika sahabat menyelisihi Ahlul Bait maka saya tidak ragu untuk mengatakannya salah atau keliru karena Ahlul Bait seharusnya menjadi pedoman bagi para sahabat dan untuk itu para sahabat tidak berhak menyelisihinya. saya tidak akan mengklaim bahwa saya pasti benar tapi selalu saya katakan bahwa apa pandangan saya selalu ada dasarnya dan itulah yang benar bagi saya . Jika memang ada yang menyatakan saya keliru maka sudah selayaknya orang tersebut menunjukkan kekeliruan dalam argumen2 saya dan menunjukkan argumen yang benar. Itulah gunanya diskusi yang baik. Semoga Saya dan semua yang ada disini tidak cuma pamer perasaan semata, oleh karena itu mari kita bahas dalil-dalilnya dengan baik.

    walaupun ada ayat 33:33 (terlepas dr definisi ahlul bait itu sndri yg msh berpolemik), tetapi di ayat tsb tdk menunjukkan kema’suman ahlul bait justru mrk dituntut utk beramal agar mrk bisa dibersihkan oleh Allah

    Pahamilah baik-baik bahwa segala sesuatunya bisa saja dibuat polemik bahkan untuk sesuatu yang sifatnya sangat jelas sekalipun. Dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan Mas, Al Ahzab ayat 33 terkhusus untuk Ahlul Bait yang telah dinyatakan sendiri oleh Rasulullah SAW. Saya sudah membahas sendiri dalam postingan khusus dan silakan kalau anda mau membahasnya. Dalam ayat tersebut tidak ada yang Mas maksud beramal agar mrk bisa dibersihkan oleh Allah. Silakan cek kembali :)

    “Umatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan” yg sy tangkap adl umat Islam di masa itu.

    bagi saya hadis ini justru berarti bahwa diantara umat islam akan selalu ada yang berpegang teguh kepada kebenarandan itu tidak terkhusus bagi zaman shabat saja, hal ini untuk semua umat islam sepanjang masa :)

    Dan mengenai dalil2 ttg keutamaan sahabat maupun ahlul bait tdklah menyebabkan mrk seolah-olah suci dari salah dan dosa, tetapi tentunya kita umat akhir zaman ini perlu bercermin terlebih dulu sblm memposisikan diri mjd hakim diantara mrk saya kira…

    Ada orang yang memang terbiasa berbicara dengan dalil2 yang umum dan menarik kesimpulan yang umum pula. Saya mengakui keutamaan sahabat dan Ahlul Bait. setelah saya memahami dalil2 keutamaan mereka maka ada perbedaan besar di antara keduanya. keutamaan sahabat tidak pernah membuat mereka sebagai hujjah akan kebenaran dalam arti mereka tidak selalu benar sedangkan keutamaan ahlul bait justru membuat mereka sebagai hujjah kebenaran karena Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan para sahabatnya untuk berpegang teguh pada ahlul bait. Dalam hal ini posisi Ahlul Bait di atas sahabat Nabi SAW. ketika sahabat Nabi SAW menyelisihi Ahlul Bait maka ketika itulah mereka salah. Dan saya tidak menjadi hakim apapun soal ini karena sudah jelas ketetapan Allah dan RasulNya bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam termasuk para sahabat.

    Al-Qur’an lah yg pertama kali mendefinikan mengenai sahabat spt : Al-Fath:29, Al-Hasyr:9,At-Taubah:100

    Anehnya saya tidak menemukan kata-kata sahabat dalam ayat tersebut.
    Al fath 29 bunyinya seperti ini

    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

    tidak ada disana disebutkan kata-kata sahabat Nabi, yang ada itu yaitu orang2 bersama Nabi SAW dan mereka mendapat keutamaan oleh Allah SWT bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Ada bedanya itu Mas kata sahabat dengan orang bersamanya. Sahabat itu kata yang umum karena para ulama juga memasukkan mereka yang islam setelah peristiwa fathul makkah sebagai sahabat sedangkan kata2 orang yang bersamanya dan keras terhadap orang kafir bersifat khusus yaitu yang bersama Nabi SAW dalam berjuang melawan orang kafir yang memerangi Nabi SAW.
    Al Hasyr ayat 9 bunyinya begini

    Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung

    Keutamaan mereka disini adalah kaum muhajirin yang berhijrah dan kaum anshar di madinah yang menyambut mereka. Tidak ada penggunaan kata sahabat. Ayat ini tidaklah mencakup sahabat yang bukan muhajrin dan bukan pula anshar. keutamaan mereka yang disebutkan dalam ayat di atas adalah keutamaan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dalam ayat tersebut tidak ada pernyataan bahwa mereka yang disebutkan itu akan selalu benar atau tersuci dari dosa, tidak ada ketetapan seperti itu dalam ayat yang Mas sebutkan.
    At Taubah ayat 100 bunyinya

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

    tidak ada disini kata-kata sahabat, yang ada itu yaitu orang2 yang lebih dahulu masuk islam di antara muhajirin dan anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik. bagaimana dengan mereka yang bukan muhajirin dan anshar yang dan yang masuk islam pada masa-masa akhir?. sekali lagi ayat tersebut tidak membuat mereka yang disebutkan itu sebagai orang yang selalu benar. Mereka utama tapi tidak berhak untuk menyelisihi Ahlul bait. :)

    Baik, karena yg kita bicarakan saat ini adl Abu Bakar, Umar, dan Utsman, jika mrk termasuk munafikun atau fasikun apakah Allah tidak memberitahukan kepada beliau tentang mereka?

    Saya membicarakan sahabat secara umum dan saya tidak pernah mengatakan kalau mereka yang anda sebutkan itu kafir atau munafik. bagi saya mereka tetap bukanlah orang yang selalu benar dan saya tidak akan menyatakan mereka keliru kecuali dengan dalil-dalil yang kuat dari Rasulullah SAW.

    Bukankah pada masa itu orang munafik telah diberitahukan oleh Allah kepada Rasulullah, sehingga Rasulullah mengetahui siapa2 yg munafik dan siapa yg bukan

    yang ini juga bisa dibahas, tapi poin saya cuma kalau memang begitu adakah Rasulullah SAW telah menyampaikan siapa yang munafik dan fasik itu sehingga Mas atau Ulama bisa menggeneralisir bahwa semua sahabat yang dimaksud itu bukan munafik. saya ingin tahu riwayat yang dimaksud

    terus bgmana dg hadits 10 org yg dikhabarkan Nabi masuk syurga? Bukankah nama2 di atas adalah diantaranya?

    yah kalau begitu ada 10 kan, nah sahabat itu saya rasa jumlahnya lebih dari 10. Bicara soal hadis, pernah dengar tidak hadis shahih bukhari dan muslim bahwa banyak para sahabat yang diusir dari Haudh karena telah mengada2kan hal yang baru setelah Nabi SAW wafat. Kalau hadis ini yang bilang itu sahabat adalah Sang Nabi SAW sendiri :)
    ah ini dulu kayaknya
    Salam

  95. Ass. Wr. Wb.

    Sebagai contoh marilah kita lihat kisah Nabi Yakub As dan anak-anaknya. Suatu hari mereka datang kpd ayahandanya dgn menangis sambil mengatakan: “Wahai ayahanda, kami berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf didekat barang-barang kami, lalu ia dimakan serigala. Dan ayahanda pasti tidak akan percaya pada kami, walaupun Kami orang-orang yg benar” (QS Yusuf : 16). Lantas apa tindakan nabi Yakub As ? Nabi yg mulia ini ternyata menerima kebohongan cerita mereka seraya memohon kesabaran kpd Allah Swt, krn beliau tahu bahwa mereka itu berdusta ” Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan buruk itu. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan ” (QS Yusuf : 18). Nabi Yakub As faham, bahwa ia sedang menghadapi orang-orang yang bersepakat dlm kebohongan. Apakah Nabi Yakub As lantas membongkar kebohongan mereka dan memberikan ganjaran hukuman yg setimpal? ternyata tidak, krn Nabi Yakub As adalah Nabi pilhan Allah Swt dgn segudang ilmu kebijaksanaan ” Sesungguhnya Yakub memiliki pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya ” ( QS Yusuf : 68 ). Beliau hanya berpaling, seraya berkata : ” Aduhai duka citaku pada Yusuf dan kedua matanya menjadi putih, karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarah terhadap anak-anaknya ” ( QS Yusuf : 84 ).

    Dari kisah Nabi Yakub As tsb diatas, dapat diambil hikmah bahwa sikap ‘ diam ‘ dalam situasi tertentu sangatlah dianjurkan, dimana jika menentangnya justru akan menimbulkan kekacauan dan kerusakan, demi memelihara umat manusia. Kalau kita meneliti sejarah hidup Nabi Saw, akan ditemukan bahwa Nabi Saw bersikap ‘diam’ dalam situasi-situasi dimana kepentingan umat Islam lebih utama, seperti pada perjanjian Hudaibiyah. Setelah Nabi Saw wafat, demikian juga Imam Ali As dlm menghadapi pergerakan kaum muslimin semasa tiga kekhalifahan tsb ‘hanya untuk menjaga ukhuwah Islamiah’.

    Wass. Wr. Wb.

  96. Ma’af tulisan tsb buat mas bims, lupa ngetik. Oh iya, sy ingin menambahkan mengenai ayat : munafikun, kafirun, fasikun, musyrikun. Interpretasinya bisa dihubungkan dgn memahami dan merenungkan tulisan tsb diatas.

    Wass. Wr. Wb.

  97. Salam

    sahabat ada 3 :

    1. Golongan sahabat yang beriman kepada Allah Swt, Nabi saww, dan mengorbankan seluruh diri mereka demi kepentingan Islam. Mereka adalah golongan paling utama.
    2. Golongan sahabat (mereka adalah orang2 islam) tetapi perbuatan mereka tidak sungguh-sungguh.
    3. Golongan ketiga adalah meraka( sahabat) yang mengingkari Islam setelah wafatnya Nabi saww, tidak mengutamakan Nabi saww, tetapi berusaha menyusup ke dalam islam agar dimasukkan kedalam golongan kaum muslimin.

    Penggolongan ini tidak asal2an, (silahkan cari arti sahabat menurut sunni maupun syi’i) karena memang pada kenyataannya banyak sahabat yang tidak beriman, apalagi munafik.

    —-
    Cm nambahin keterangan SP :

    Al Fath 29 :

    “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan Ridha-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (shalat). Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menguatkannya, lalu menjadi lebat (besar) dan tegak lurus di atas batangnya (pokoknya); tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”


    “Allah menjanjikan kepada ORANG-ORANG DIANTARA MEREKA yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar …
    Perhatikan kata, “…orang-orang diantara mereka…”

    Mengapa Allah tidak mengatakan “…Allah telah menjanjikan kepada SEMUA orang dari mereka…” ?

    Karena tidak semua orang beriman.

    —-

    asyrah mubassyarin bil jannah…???

    Telah disangkal kesahihannya oleh para ulama :

    Dalam Tahdzib AlTahdzib 3/40, pertama hadis tersebut sanadnya kembali kepada Humaid bin Abdurrahman bin Auf, Humaid menukil hadis tersebut dari ayahnya, Abdurrahman. Padahal sewaktu ayahnya meninggal, Humaid masih kecil.

    Dalam Dzu’afaa AlKabir 2/267, alKamil fi adz-Dzu’afaa 4/223, Tahdzib Al Tahdzib 5/236 , Sanad kedua kembali kepada Abdullah bin Dzalim yg oleh Ahlussunah sendiri disebutkan bahwa Abdullah bin Dzalim memiliki kepribadian yang ditentang oleh Ibn Adi, Aqili, Bukhari dll.

    Nabi saww berkata : Langit tidak menaungi dan bumi tidak memikul seorang yang lebih teguh selain Abu Dzar. Ia berjalan dimuka bumi ini dengan sikap tidak peduli pada dunia seperti halnya Nabi Isa putra Maryam. (Shahih Tirmidzi j.5 hlmn 334, Hds.3889, Musanad Ahmad bin Hanbal, Hds.6519,6630, 7078, Mustadrak, jld 3 hlm 342, Tabaqat ; ibn Sa’d jld 4 bab1 hlm 167-168)

    Nabi saww berkata kepada Amar bin Yasir dan orang tuannya :
    “ Wahai keluarga Yasir ! bersabarlah, karena tempat kembali kalian adalah surga” (Shahih Tirmidzi jl. 5 hal. 233)

    Nabi juga berkata kepada Amar : “ Amar, bergembiralah karena kelompok orang2 kafir akan membunuhmu” (Shahih Muslim (versi Inggris jld 4 hal hadis 6968)

    Dalam catatan kaki penerjemah ke bhsa Inggris (jld 4 hal. 1508) mengatakan riwayat ini merupakan petunjuk jelas bahwa pertempuran Imam Ali dengan musuhnya, Imam Ali pada pihak yang benar karena Amar bin Yasir terbunuh pada perang Shiffin berada dipihak Imam Ali (melawan Muawiyah)

    Jadi aneh kalo masih ada yg memandang Muawiyah sebgai orang mukmin..!


    Nabi saww berkata : “Allah memerintahkanku untuk mencintai 4 orang, Ia memebreitahuku bahwa Ia mencintai mereka.” Orang-orang bertanya tentang siapa mereka. Nabi berkata : “Ali adalah salah satu dari mereka ((ia mngulangnya 3 kali) dan Abu Dzar, Salman, serta Miqdad” (ibn Majah jld 1 hds 149)

    Nabi saww berkata “ Surga merindukan 3 orang, Ali, Amar dan Salman” (Shahih Tirmidzi jl.5 hal 332)

    mengenai Ibn Abbas Nabi saww berkata : “Ya Allah, aku memohon pada Mu agar Engkau mengajarinya ilmu dan menjadikannya memahami agama dan masukkanlah ia kedalam golongan orang-orang beriman” (Al Hakim dlm Al Mustadrak jl.3 hal.536)

    —-

    Cm saran, baca baik2 khubah Syiqsyiqiyah oleh Imam Ali as , bukan berarti beliau tdk menentang kekhalifahan tsb,dan tgl diam…bahkan beliau berkata ttg Abu Bakar “…yg mengangkat didrinya sdri sbg khalifah..” .. Dan khutbah itu bukan karangan Sayyid Radhi, ulama2 Sunni sebelum sayyid radhi telah memiliki teks2nya dan mengakui bahwa itu ucapan Imam Ali, salah satunya Ibnu al-Atsir al-Jazari dll.

    Wassalam

  98. Ass. Wr. Wb.

    @Bagir

    Tolong dijelaskan khutbah Syiqsyiqiyah oleh Imam Ali As, krn sy belum mengetahuinya. Garis besarnya saja, tmksh sebelumnya.

    Wass. Wr. Wb.

  99. @SP

    Antum wrote:
    bagi saya Ahlul Bait dalam Hadis Tsaqalain dan Al Ahzab 33 sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai pedoman kebenaran bagi umat islam. Jadi dalam hal ini Allah SWT melalui Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa manusia tidakakan tersesat jika berpegang pada Al Quran dan Ahlul Bait

    Saya jawab:
    Saya setuju mas dengan hadits tsb… dan saya juga setuju dengan hadits yg berbunyi berpegang terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, dan saya pun setuju dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan Khulafaur Rasyidin atau mengikuti pemahaman sahabat… karena bagi saya ajaran mereka sebenarnya sama saja… lha wong mereka satu umat kok… dan mengambilnya sama2 dari sumber yang sama yaitu Rasulullah… makanya saya bilang sedih dg adanya dikotomi ahlul bait dan sahabat…

    Antum wrote:
    Tulisan saya secara pribadi tidak membahas apapun soal permusuhan tapi membahas siapa yang benar dalam masalah Fadak. Dalam hal ini saya katakan Ahlul Bait berbeda dengan sahabat dalam masalah Fadak. Dan dalam hal ini saya berpegang bahwa kebenaran ada pada ahlul bait. Oh iya Mas komentar saya sebelumnya tidak mengkhususkan pada sahabat siapa tetapi sahabat Nabi secara umum.

    Saya jawab:
    Menurut saya tentang masalah Fadak adalah perbedaan ijtihad saja diantara kedua belah pihak dan masing2 punya dasar dan kasusnya pun sudah selesai ndak perlu diperpanjang lagi… kalau mas berpendapat yg benar adalah ahlul bait ya monggo, kalau saya mending bersikap diam saja ttg hal itu dan selalu mendoakan mereka…
    Sebaliknya ketika mas menanggapi komentar saya, saya sedang menanggapi seseorang yg berkomentar mengenai sahabat utama…

    Antum wrote:
    Tepatnya inilah yang saya maksud, Mas berkata bahwa Mas meyakini bahwa para shabat tidak ma’sum tetapi ketika ada yang mengatakan bahwa sahabat salah atau keliru maka Mas berkeras untuk menolak. Hal ini yang saya tangkap seolah-olah mensucikan sahabat sehingga mereka tidak bisa berbuat salah. Tidak perlu mendramatisir dengan kata-kata permusuhan abadi, jangan terlalu meluas kemana-mana.

    Saya jawab:
    Koment saya di atas hanya menunjukkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perbedaan pendapat diantara mereka…

    Antum wrote:
    Intinya Jika sahabat menyelisihi Ahlul Bait maka saya tidak ragu untuk mengatakannya salah atau keliru karena Ahlul Bait seharusnya menjadi pedoman bagi para sahabat dan untuk itu para sahabat tidak berhak menyelisihinya. saya tidak akan mengklaim bahwa saya pasti benar tapi selalu saya katakan bahwa apa pandangan saya selalu ada dasarnya dan itulah yang benar bagi saya . Jika memang ada yang menyatakan saya keliru maka sudah selayaknya orang tersebut menunjukkan kekeliruan dalam argumen2 saya dan menunjukkan argumen yang benar. Itulah gunanya diskusi yang baik.

    Saya jawab:
    Tepatnya inilah yang juga saya maksud sok menjadi hakim karena langsung memvonis bahwa salah satu diantara mereka yg berselisih adalah salah/keliru…
    Bukankah kita saat ini sedang saling berargumen mas? Mengenai pandangan mas ya monggo, sayapun tidak memaksakan pandangan saya kok, cuman terima kasih mas telah membikin blog dan memberi kesempatan orang lain utk mengkritisi pandangan mas.

    Bukankah mereka yg berselisih masing2 punya argumen mas, bagaimana jika ternyata ahlul bait yg menyelisihi Rasulullah misal di dalam kasus Fadak tersebut? Sedangkan sahabat hanya ittiba’ terhadap Rasul, apakah ahlul bait berhak menyelisihi Rasul?

    Antum wrote:
    Pahamilah baik-baik bahwa segala sesuatunya bisa saja dibuat polemik bahkan untuk sesuatu yang sifatnya sangat jelas sekalipun. Dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan Mas, Al Ahzab ayat 33 terkhusus untuk Ahlul Bait yang telah dinyatakan sendiri oleh Rasulullah SAW.

    Saya jawab:
    Memang benar kita berbeda dlm hal ini, justru yg saya lihat jelas adalah konteks ayat tsb berkenaan dg istri2 nabi dan ditambah dg keluarga Ali berdasarkan hadits beliau SAW dan inipun begitu jelasnya.

    hadis riwayat Tirmizi daripada Ummu Salamah r.a., katanya: Ayat ini turun di rumahku. Selepas turun ayat ini Rasulullah s.a.w. memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, lalu Rasulullah s.a.w. masuk bersama mereka ke dalam kain (kisa) Khaibar dan berkata “mereka ini adalah Ahli Bait Aku”. Rasulullah s.a.w. membaca ayat (at-Tahhir) dan bcrdoa:
    “Ya Allah hapuskanlah daripada mereka kekejian dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”

    Ummu Salamah berkata maksudnya: “Ya Rasullullah tidakkah aku daripada Ahli kamu?” Jawab Rasulullah s.a.w. maksudnya: Kamu di tempat kamu, kamu telah berada dalam kebaikan”. Riwayat yang lain menyebutkan: Aku (Ummu Salamah) berkata: “Ya Rasulullah, tidakkah aku daripada Ahli kamu?” Rasulullah menjawab: ( balaa ) ‘ya’.

    Dan alasan mengapa Ummu Salamah dicegah untuk masuk kisa, sdh sy sampaikan di komen saya terdahulu, yaitu krn ada Ali yg bukan mahramnya Ummu Salamah.

    Ketika mengulas hadis ini, Shah Abdul Aziz al-Dahlawi berkata: “Hadis ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa ayat ini turun pada hak isteri-isteri Rasulllllah s.a.w. saja. Rasulullah s.a.w. telah memasukkan mereka berempat r.a. dalam kelebihan ini dengan doanya yang berkat. Sekiranya ayat ini turun pada mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husin r.a., maka tentulah doa tidak perlu; karena Rasulullah tidak melakukan sesuatu yang telah berhasil (tahsilul Hasil) Pemahaman ini didukung oleh hadis sahih riwayat Imam Baihaqi bahwa Rasulullah berbuat demikian juga terhadap al-Abbas dan anak-anaknya (Lihat at-Tuhfah al-Ithna ‘Asyariah”, lkhtisar Syed Mahmud Syukri al-Alusi”, hlm. 151)

    Antum wrote:
    Dalam ayat tersebut tidak ada yang Mas maksud beramal agar mrk bisa dibersihkan oleh Allah. Silakan cek kembali.

    Saya jawab:
    Ayat “wayuthahhirukum tathiiraa” bukanlah merupakan khabar yang memberitahu bahwa Ahlul Bait telah bersih daripada kekejian dan dosa: malah ayat ini mengandung perintah kepada mereka untuk mengerjakan amalan yang boleh membawa kepada hilangnya kekejian dan pembersihan. Ayat ini seperti juga ayat-ayat dalam Surat Al-Maidah:6 dan Surat An-Nisa:26.

    Bukti yang lain adlh ayat ini berada di tengah-tengah ayat yang mengandung perintah dan larangan (baca Al-Ahzab 30-34). Urutan dan konteksnya jelas menunjukkan bahwa ayat tsb adalah perintah dan larangan; dan bahwa isteri-isteri Nabi s.a.w adalah termasuk Ahlul Bait karena ayat ini ditunjukkan kepada mereka.” (Ad-Dzahabi dlm Al-Muntaqa)

    Kalau mas konsisten sbgmana mas menggunakan hadits dalam mendefinisikan ahlul bait di ayat 33:33, mestinya demikian juga dalam menjelaskan makna “wayuthahhirukum tathiiraa”

    Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ra selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya“. (HR Tirmidzi 2:29, Hadis ini juga diriwayatkan oleh kitah- kitab Syiah. Lihat al-Majlisi, “Bihar al- Anwar”).
    Hadis di atas jelas menunjukkan hubungan ayat al-Thahhir dengan amalan.

    Dalam hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda memperingatkan kaum Bani Hashim:
    “Wahai Bani Hashim, janganlah nanti manusia lain datang kepadaku dengan amalan, sedangkan kamu datang dengan keturunan”. (HR Tabrani)

    Antum wrote:
    Ada orang yang memang terbiasa berbicara dengan dalil2 yang umum dan menarik kesimpulan yang umum pula. Saya mengakui keutamaan sahabat dan Ahlul Bait. setelah saya memahami dalil2 keutamaan mereka maka ada perbedaan besar di antara keduanya. keutamaan sahabat tidak pernah membuat mereka sebagai hujjah akan kebenaran dalam arti mereka tidak selalu benar sedangkan keutamaan ahlul bait justru membuat mereka sebagai hujjah kebenaran karena Rasulullah SAW sendiri yang memerintahkan para sahabatnya untuk berpegang teguh pada ahlul bait. Dalam hal ini posisi Ahlul Bait di atas sahabat Nabi SAW. ketika sahabat Nabi SAW menyelisihi Ahlul Bait maka ketika itulah mereka salah. Dan saya tidak menjadi hakim apapun soal ini karena sudah jelas ketetapan Allah dan RasulNya bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam termasuk para sahabat.

    Saya jawab:
    Disinilah letak perbedaan kita mas, bagi saya yang bisa dijadikan hujjah bukan hanya ahlul bait saja tetapi juga sahabat, karena kalau kita lihat dlm definisi sunni ahlul bait juga masuk definisi sahabat, contoh Ali bin abi thalib ra, dia adalah sahabat dan sekaligus ahlul bait Rasulullah, jadi tidak ada pemisahan/dikotomi tetapi bukan berarti menafikan keutamaan sebagai ahlul bait itu sendiri, sedangkan ahlul bait sendiri ternyata bukan hanya keluarga Ali, tetapi juga keluarga Abbas, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan istri-istri Nabi yang mereka masuk dalam definisi sahabat juga. Dan kita tahu sunni juga mengambil riwayat dari mereka. Hadits yang paling shahih mengenai tsaqolain adalah hadits Zaid bin Arqam, dalam redaksinya mengenai ahlul bait Rasul bersabda: “Aku ingatkan kalian tentang ahlul baitku” di sini banyak interpretasi mengenainya mas. Kemudian juga kita berbeda mengenai kema’suman ahlul bait, bagi saya ahlul bait pun juga tidak ma’sum sebagaimana sahabat, mereka memang lebih utama dalam hal kedudukan mrk sebagai ahlul bait Nabi tetapi bukan berarti mrk ma’sum, demikian juga sahabat walau mrk mpy kedudukan tersendiri di sisi Nabi tetapi mrk pun juga tdk ma’sum.

    Tetapi ada satu yg membedakan anda dg yg lain dan saya salut akan hal itu adalah anda menulis di atas “Saya mengakui keutamaan sahabat dan Ahlul Bait”

    Antum wrote:
    tidak ada disana disebutkan kata-kata sahabat Nabi, yang ada itu yaitu orang2 bersama Nabi SAW

    Saya jawab:
    Ya silahkan saja kalau mas mau ngasih istilah lain, misalnya orang2 yg bersama Nabi
    atau apapun yang jelas ya mereka itulah yg dimaksud sahabat Nabi… :) he he bener juga perkataan mas “Pahamilah baik-baik bahwa segala sesuatunya bisa saja dibuat polemik bahkan untuk sesuatu yang sifatnya sangat jelas sekalipun”

    Ini aja dulu ya mas… InsyaAllah bersambung…maklum habis lebaran kerjaan lg numpuk.

    Wassalam

  100. Ternyata masih sama saja. Ndak berubah-berubah alur diskusi ini. Masih gak jelas. Mau diskusi sahabat atau Ahlulbayt? Mau diskusi Fadak ataukah mau diskusi tentang Surat Al-Ahzab itu turun untuk siap?

    Saya senantiasa menyimak diskusi yang ndak karuan ini.

    Ingin rasanya saya menanggapi beberapa komentar yang sudah ada. Namun biarlah, saya tidak akan mengganggung jalannya diskusi ndak jelas ini.

    silakan lanjutnya. maaf…hanya sekedar menorehkan keresahan saja.

    Kalau boleh usul, silakan tentukan tema yang akan didiskusikan.

    selesaikan dulu tema itu, baru beranjak ke tema yang lain. Tapi itu sih hanya usul. Semua tergantung sama tuan-tuan semuanya.

  101. @bims

    antum wrote

    Saya jawab

    Wassalam

  102. Salam :

    @ Asep

    Antum copy link :

    melayu.husayniya.org/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=8&Itemid=43 –
    pada menu browser anda saja, jika anda baca Khutbah tersebut akan lebih jelas.

    —-

    Dan…
    Bagi yang mengutip tulisan Wan Zahidi Wan Teh seorang yg mengatakan Al Alamah Baqir Majlisi sbg orang yg jahil dlm bhsa arab, sebaiknya membaca tulisan SP menegenai pejelasan Ayat 33 al Ahzab pd :

    http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/

    dan kalu mau copy jg link diatas, untuk membaca tafsir ayat 33 tsb.

    Wassalam

  103. @bims

    Saya setuju mas dengan hadits tsb… dan saya juga setuju dengan hadits yg berbunyi berpegang terhadap Al-Qur’an dan Sunnah

    Silakan Mas, saya cuma mau mengkritisi ada perbedaan besar antara keduanya. Hadis Tsaqalain adalah hadis yang shahih secara sanad dan lebih banyak sanadnya. Hadis tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan telah meninggalkan dua hal yang jadi pegangan agar tidak sesat yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait. Sedangkan hadis yang berbunyi

    berpegang terhadap Al Quran dan Sunnah

    tidak saya temukan sanadnya yang shahih, dan saya juga telah menulis khusus tentang hadis ini dalam pembahasan khusus
    Analisis Hadis “Kitab Allah dan Sunah Rasul”
    Silakan kalau Mas mau dibahas disana

    dan saya pun setuju dengan berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan Khulafaur Rasyidin atau mengikuti pemahaman sahabat…

    Saya setuju dengan anda masalah berpegang dengan Al Quran dan Sunnah, dan semoga anda mengerti bahwa saya setuju karena anda tidak menyebutkan dengan kata-kata hadis yang berbunyi berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Saya pun setuju dengan Sunnah Khulafaur Rasydin, tapi pengertian saya tentang Khulafaur Rasydin itu berbeda. Sedikit pembahasan tentang hadis tersebut telah saya singgung pula disini
    Hadis Sunah Khulafaur Rasyidin

    Semoga dalam waktu dekat saya dapat menulis hal ini lebih lanjut. Sedikit masukan, hadis tersebut mengatakan untuk taat kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin, sehingga konsekeunsinya sunnah khulafaur Rasyidin itu adalah sumber hukum yang juga harus dipegang teguh. Dengan dasar ini maka seyogianya yang namanya Khulafaur Rasydin itu adalah orang yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Seandainya yang namanya Khulafaur Rasydin itu diserahkan urusannya kepada orang banyak maka bukankah tidak ada jaminan bahwa apa yang ditetapkan oleh para Khalifah itu adalah Sunnah yang juga harus dipegang teguh, bukankah yang memilih itu manusia yang bisa saja salah. Jadi orang yang mereka pilih juga tidak ada jaminan benar dari Allah dan RasulNya. Saya pribadi sudah jauh2 hari menyinggung masalah ini, oleh karena itulah saya menulis tulisan ini
    Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait

    Rasulullah SAW yang telah menetapkan khulafaur Rasydin yang dimaksud dan harus dipegang teguh sunnahnya. Tapi yah itu pandangan saya

    Kemudian kata-kata Mas mengikuti pemahaman sahabat adalah kata-kata umum yang tidak bernilai hujjah(bagi saya). Karena

    1. Tidak ada hadis yang menyatakan bahwa para Sahabat itu harus dipegang teguh supaya tidak tersesat. saya pun sudah sedikit membahasnya disini
    Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Atau Sahabat Nabi
    2. Menurut hasil telaah saya, para Sahabat ternyata tidak selalu sama pemahaman mereka sehingga bisa kita jadikan hujjah. Terkadang malah saling bertolak belakang, anda bisa saja menyebutnya ijtihad atau apa, tapi masalahnya yang benar itu siapa, apakah yang bertolak belakang itu keduanya benar sehingga kita bebas memilih. Salah satu contoh masalah ini pun telah saya berikan disini
    Abu Bakar, Umar dan Usman Yang Melarang Haji Tamattu
    Silakan direnungkan

    karena bagi saya ajaran mereka sebenarnya sama saja… lha wong mereka satu umat kok

    Saya tidak tahu apa makna kalimat Mas satu ini, kenyataannya tidak semuanya selalu sama, pada kenyataannya ada yang namanya perbedaan di antara para Sahabat Nabi, ada contoh lain disini
    Meluruskan Muawiyah
    Lagipula Mas, saya dan anda sepertinya satu umat yang sama, tapi kok rasanya kita juga tidak sama ya :mrgreen:

    dan mengambilnya sama2 dari sumber yang sama yaitu Rasulullah…

    Saya sepakat dengan ini tapi sepertinya Allah dan RasulNya tahu bahwa kemampuan para sahabat itu macam2 dan mereka tidak selalu benar. Oleh karena itu Rasulullah SAW memberikan pemecahannya dengan menyatakan berpegang teguhlah pada dua hal agar tidak tersesat yaitu Al Quran dan Ithrati Ahalul BaitKu.

    makanya saya bilang sedih dg adanya dikotomi ahlul bait dan sahabat…

    Saya turut prihatin atas kesedihan Mas, walau saya tidak begitu mengerti :(

    Menurut saya tentang masalah Fadak adalah perbedaan ijtihad saja diantara kedua belah pihak

    Ah beda dengan saya dong, saya menganggap yang sahabat mungkin sedang berijtihad atau keliru dalam memahami hadis. Kalau Ahlul Bait sudah jelas mereka adalah sumber syariat seperti yang ditetapkan Rasulullah SAW dalam hadis Tsaqalain.

    dan masing2 punya dasar

    yah dasar selalu ada tapi masalahnya yang benar itu yang mana

    dan kasusnya pun sudah selesai ndak perlu diperpanjang lagi…

    Memang sudah selesai dan sangat jelas yang benar itu siapa, saya cuma menulis sejarah lama dan mengoreksi distorsi2 yang dibuat untuk menutupi perselisihan ini

    kalau mas berpendapat yg benar adalah ahlul bait ya monggo, kalau saya mending bersikap diam saja ttg hal itu dan selalu mendoakan mereka…

    Silakan, mari kita sama-sama untuk teguh pada pendirian

    Sebaliknya ketika mas menanggapi komentar saya, saya sedang menanggapi seseorang yg berkomentar mengenai sahabat utama…

    Ah ya memang begitu, seandainya Mas kurang berkenan jika saya menyela maka Mas tinggal bilang dan saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya cuma berpikir ada sesuatu yang bisa saya tanggapi dan yah siapa tahu saya bisa belajar juga dari Mas, Just it.

    Koment saya di atas hanya menunjukkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perbedaan pendapat diantara mereka…

    Sama dong Mas, saya pun cuma menunjukkan bahwa sikap yang baik adalah jika Ahlul bait dan sahabat berselisih maka berpeganglah pada Ahlul Bait karena begitulah pesan Rasulullah SAW.

    Tepatnya inilah yang juga saya maksud sok menjadi hakim karena langsung memvonis bahwa salah satu diantara mereka yg berselisih adalah salah/keliru…

    Kayaknya saya tidak sepakat, yang namanya hakim itu
    1. Selain menentukan mana yang salah dan benar, ia juga menetapkan hukuman.
    2. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat

    Saya tidak seperti itu
    1. saya memaparkan pandangan saya soal yang mana yang benar dan yang salah, tapi saya tidak menghukum siapa2. Itu bukan urusan Saya :mrgreen:
    2. Saya berbeda karena pendapat saya bukan suatu ketetapan tetapi pandangan yang bisa dikritisi atau digugat oleh siapa saja
    3. Saya menerima setiap masukan dan saya nilai dan menanggapi hal-hal yang tidak memuaskan :mrgreen:

    Mengapa saya menilai dalam masalah Fadak ini ada yang keliru, maka itu adalah prinsip rasionalitas yang sederhana dalam cara berpikir manusia. Yaitu Hukum nonkontradiktif. Jika ada dua hal yang kontradiktif maka tidak mungkin keduanya benar

    Bukankah kita saat ini sedang saling berargumen mas?

    Benar sekali, tapi kan saya yang terlebih dahulu menulis baru kemudian Mas menanggapi. Tapi sepertinya kita membicarakan banyak hal sekaligus

    Mengenai pandangan mas ya monggo, sayapun tidak memaksakan pandangan saya kok

    Yang ini kita sama, silakan

    cuman terima kasih mas telah membikin blog dan memberi kesempatan orang lain utk mengkritisi pandangan mas.

    Terimaksih juga telah memberikan apresiasi

    Bukankah mereka yg berselisih masing2 punya argumen mas

    Masalahnya kan bukan punya atau tidak, tapi yang benar itu ya yang mana

    bagaimana jika ternyata ahlul bait yg menyelisihi Rasulullah misal di dalam kasus Fadak tersebut?

    ini jawaban saya
    1. Ahlul Bait tidak menyelisihi Rasul SAW, karena anda yang pertama bilang begitu maka akan lebih baik kalau anda menampilkan apakah benar mereka menyelisihi Rasul SAW.
    2. Pertanyaan itu bagi saya sama seperti bagaimana Jika Rasul Menyelisihi Rasul atau jika Rasul menyelisihi Allah?. Maksudnya begini, anda mungkin merujuk pada hadis yang dibawakan Abu Bakar RA dan dengan dasar itu maka anda bisa menyatakan Ahlul Bait menyelisihi Rasul. Tapi Rasul sendiri bilang bahwa Ahlul Bait beliau dalah pedoman bagi para sahabat, ini yang saya maksud Rasul menyelisihi Rasul. Hadis Abu Bakar RA sendiri telah menyelisihi apa yang termaktub dalam Kitab Allah tentang waris mewarisi, jadi ini yang saya maksud Rasul Menyelisihi Allah, nah dengan logika anda itu maka semuanya berujung pada permasalahan yang seharusnya dianalisis dengan baik.

    Untuk lebih jelas maka anda dapat melihat tulisan saya soal Fadak yang lain, ada banyak dan ini salah satunya
    Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA

    Sedangkan sahabat hanya ittiba’ terhadap Rasul, apakah ahlul bait berhak menyelisihi Rasul?

    Saya sudah sampaikan intinya di atas, dan tambahannya adalah Sahabat itu ternyata bisa juga keliru lho dalam meriwayatkan hadis, tetapi kekeliruan itu hanya dinyatakan jika bertentangan dengan hadis Shahih yang lain atau Al Quranul Karim, semoga tidak salah paham dengan maksud saya

  104. @bims

    Memang benar kita berbeda dlm hal ini, justru yg saya lihat jelas adalah konteks ayat tsb berkenaan dg istri2 nabi dan ditambah dg keluarga Ali berdasarkan hadits beliau SAW dan inipun begitu jelasnya.

    Bagi saya Mas keliru disini, itu bukan soal konteks tapi soal urutan ayat, jika bicara konteks maka seharusnya anda menelaah asbabun nuzulnya sehingga mengetahui apa latar belakang peristiwa yang menjadi konteks ayat tersebut. Ayat tersebut turun sendiri dan berbeda dengan ayat sebelum ataupun sesudahnya, ini yang tampak jelas dari Hadis Sunan Tirmidzi. Ketika ayat tersebut turun, ayat itu tidak sedang membicarakan istri Nabi, oleh karena itulah Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW? jika memang ayat tersebut turun beriringan maka Ummu Salamah tentu tahu bahwa Beliau yang dimasukkan dalam ayat tersebut. Hadis-hadis Nabi SAW yang shahih telah menjelaskan bahwa Ahlul Bait yang dimaksud dalam surat Al Ahzab itu adalah Sayyidah Fatimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW tidak pernah menyatakan bahwa istri2 Nabi yang dimaksud dalam ayat tersebut.

    Riwayat yang lain menyebutkan: Aku (Ummu Salamah) berkata: “Ya Rasulullah, tidakkah aku daripada Ahli kamu?” Rasulullah menjawab: ( balaa ) ‘ya’.

    Maaf anda cuma menulis Riwayat Tirmidzi dan saya tahu kalau hadis itu shahih, tetapi riwayat lain ini tidak ada dalam Sunan Tirmidzi, bisa tolong disebutkan sumbernya dan bagaimana kedudukan hadis tersebut.

    Dan alasan mengapa Ummu Salamah dicegah untuk masuk kisa, sdh sy sampaikan di komen saya terdahulu, yaitu krn ada Ali yg bukan mahramnya Ummu Salamah.

    Saya rasa anda cuma mengulang Syarh Al Mubarakfuri mengenai hadis ini. Ini catatan saya
    1. Yang jadi masalah utama bukan mengenai masuk kisa’ atau tidak, tapi apakah Ummu Salamah memang Ahlul Bait, kalau memang begitu kan Rasul SAW tinggal bilang kamu memang ahlulbaitKu.
    2. saya tanya nih kalau Imam Ali yang bukan muhrim datang ke rumah Ummu Salamah atau berada bersama dalam satu ruangan boleh tidak? Karena pada saat itu Imam Ali AS sudah bersama Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS, Imam Husain AS dan Ummu Salamah RA di dalam satu ruangan. Kalau memang alasannya seperti yang Mas katakan soal muhrim itu maka tinggal selimuti saja dulu Ahlul Bait kemudian pisahkan Imam Ali. Setelah itu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS, Imam Husain AS bersama Ummu Salamah RA masuk kembali ke dalam kisa’. Tapi bukan itu yang terjadi sepertinya. Dengan kata lain, tidak ada satupun hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menyelimuti istri-istri Beliau sebagai tanda bahwa merekalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tersebut.
    Jika Al Mubarakfuri bisa berandai-andai maka apa alasannya hingga perandaiannya itu lebih baik dari perandaian yang lain.

    Ketika mengulas hadis ini, Shah Abdul Aziz al-Dahlawi berkata: “Hadis ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa ayat ini turun pada hak isteri-isteri Rasulllllah s.a.w. saja.

    Saya sudah membahas ini, ada beberapa alasan mengapa istri2 Nabi SAW tidak termasuk dalam ayat ini
    Al Quran dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran
    Atau bisa juga disini
    Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan Istri-istri Nabi SAW
    Inilah Ahlul Bait Dalam Ayat Tathiir
    Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir Tentang Ahlul Bait
    Silakan ini dibahas disana jika Mas berkenan

    Sekiranya ayat ini turun pada mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husin r.a., maka tentulah doa tidak perlu; karena Rasulullah tidak melakukan sesuatu yang telah berhasil (tahsilul Hasil)

    Jawabannya
    1. Ada hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain yang justru menyatakan bahwa doa itu dilakukan terlebih dahulu baru ayat tersebut turun.
    2. Doa tersebut adalah sebuah penegasan bahwa merekalah Ahlul Bait yang dimaksud, karena dengan begitu maka yang menyaksikan akan bersaksi dengan jelas bahwa Merekalah yang sedang dituju dalam ayat tersebut :) . Oleh karena itu tidak jadi masalah mau doa dulu kemudian turun ayat atau sebaliknya.

    Pemahaman ini didukung oleh hadis sahih riwayat Imam Baihaqi bahwa Rasulullah berbuat demikian juga terhadap al-Abbas dan anak-anaknya

    Oh pernah sih baca hadis ini, tetapi apa benar sanadnya shahih? bukannya dhaif ya :mrgreen: ntar saya cek lagi

    Ayat “wayuthahhirukum tathiiraa” bukanlah merupakan khabar yang memberitahu bahwa Ahlul Bait telah bersih daripada kekejian dan dosa

    Setahu saya arti kata itu adalah dan menyucikanmu sesuci-sucinya, kata itu tidak memuat apapun soal amal yang harus dilakukan. Kata itu justru menunjukkan penyucian tersebut begitu tingginya. Jika dikaitkan dengan kata Iradah dan Innama sebelumnya maka jelas penyucian tersebut bersifat penetapan atau kehendak takwiniyah. Kata Innama bermakna hashr yaitu pembatasan. Jadi Kehendak penyucian itu terbatas bagi mereka yang tertuju saja :) .

    malah ayat ini mengandung perintah kepada mereka untuk mengerjakan amalan yang boleh membawa kepada hilangnya kekejian dan pembersihan.

    Hmmm kira-kira aamalan apa ya itu Mas, kok tidak disebutkan dalam ayat tersebut.

    Ayat ini seperti juga ayat-ayat dalam Surat Al-Maidah:6 dan Surat An-Nisa:26.

    Oh silakan itu pendapat Mas, bagi saya ayat tathir mirip dengan Al Maidah ayat 3 :mrgreen:

    Bukti yang lain adlh ayat ini berada di tengah-tengah ayat yang mengandung perintah dan larangan (baca Al-Ahzab 30-34). Urutan dan konteksnya jelas menunjukkan bahwa ayat tsb adalah perintah dan larangan; dan bahwa isteri-isteri Nabi s.a.w adalah termasuk Ahlul Bait karena ayat ini ditunjukkan kepada mereka.” (Ad-Dzahabi dlm Al-Muntaqa)

    Lho intinya kan kalau ayat tersebut memang turun beriringan atau bersamaan. Kalau nggak ya nggak dong, jangan dipaksa lho Mas. Perintah dan larangan yang anda maskud itu berlaku khusus untuk istri2 Nabi SAW terus bagaimana dengan Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Apakah mereka juga harus tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Kalau memang dipaksa ayat tersebut turun berurutan maka perintah itu tidaklah tepat ditujukan pada Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tetapi bukankah hadis shahih telah menetapkan kalau mereka adalah Ahlul Bait dalam ayat tersebut, Agak sedikit rancu kalau menurut saya.

    Kalau mas konsisten sbgmana mas menggunakan hadits dalam mendefinisikan ahlul bait di ayat 33:33, mestinya demikian juga dalam menjelaskan makna “wayuthahhirukum tathiiraa”

    Sudah saya jelaskan dan menurut saya, saya sudah konsisten, silakan dinilai

    Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ra selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya“. (HR Tirmidzi 2:29, Hadis ini juga diriwayatkan oleh kitah- kitab Syiah. Lihat al-Majlisi, “Bihar al- Anwar”).
    Hadis di atas jelas menunjukkan hubungan ayat al-Thahhir dengan amalan.

    Kalau begitu perintah tersebut adalah Shalat ya, nah lantas mengapa ayat tersebut bermakna hashr atau pembatasan. Bukankah shalat adalah amalan seluruh umat islam dan tentu jika memang iradah itu berkaitan dengan amalan Shalat maka mengapa hanya dikhususkan untuk Ahlul Bait.
    Saya pribadi, menilai hadis ini justru dengan pasti menyatakan bahwa ayat yang dimaksud memang tertuju pada Ahlul Kisa’ saja karena tidak ada satupun hadis yang menyatakan Rasulullah SAW mengetuk pintu para Istri-istrinya seperti yang Beliau SAW lakukan pada Ahlul Kisa’. Jadi ajakan shalat itu bukanlah sebagai konsekuensi yang harus dilakukan Ahlul Bait setelah turunnya ayat Tathir. Itu adalah kewajiban semua umat islam tanpa terkecuali termasuk Ahlul bait bahkan sebelum ayat tathir turun. Jika memang amalan Shalat terkait dengan ayat tathir maka mengapa kita tidak mendengar hadis ajakan Rasulullah SAW kepada Ahlul Bait sambil mengucapkan ayat tathir pada Shalat2 selain shalat Subuh.

    “Wahai Bani Hashim, janganlah nanti manusia lain datang kepadaku dengan amalan, sedangkan kamu datang dengan keturunan”. (HR Tabrani)

    Apakah riwayat ini shahih? mohon saya diberi wejangan
    Hubungan Keturunan Rasul SAW itu tetap ada pada hari kiamat, dalilnya dari hadis ini bahwa Rasulullah SAW bersabda “Setiap sabab dan nasab akan putus pada hari kiamat kecuali sabab dan nasabKu”. Hadis ini shahih dalam Silsilah Al Hadis As Shahihah Syaikh Al Albani hadis no 2036. Perlu dipahami hadis ini memang tidak mengartikan bahwa keturunan Nabi SAW hanya mengandalkan hubungan kekerabatan saja.
    Lagipula Mas, hadis tersebut bersifat umum untuk semua bani hasym. Ahlul Bait Mereka orang-orang yang terbaik baik dalam amalan, ilmu maupun ketakwaan karena hal ini terkait dengan hadis Tsaqalain dan kesucian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Ayat Tathir.

    Disinilah letak perbedaan kita mas, bagi saya yang bisa dijadikan hujjah bukan hanya ahlul bait saja tetapi juga sahabat

    Silakan kalau Mas berpandangan demikian, tapi tentunya dalam diskusi kita membutuhkan argumen tertentu yang dijadikan dasar. Bolehkah saya tahu mengapa sahabat bisa sebagai hujjah?. Yang jadi Hujjah itu ya Rasulullah dan Ahlul Bait, Sahabat itu Muqallid

    karena kalau kita lihat dlm definisi sunni ahlul bait juga masuk definisi sahabat, contoh Ali bin abi thalib ra, dia adalah sahabat dan sekaligus ahlul bait Rasulullah

    ya terserah sih kalau maunya begitu. Tetapi tetap diingat bukan berarti lantas semuanya bisa sama dipukul rata, tetap saja Ahlul Bait yang menurut Mas adalah sahabat juga telah ditetapkan sebagai pedoman bagi sahabat-sahabat lain.

    jadi tidak ada pemisahan/dikotomi tetapi bukan berarti menafikan keutamaan sebagai ahlul bait itu sendiri

    Sudah saya katakan Rasul SAW sendiri yang membuat dikotomi itu.
    1. Ahlul Bait dikatakan oleh Rasul SAW sebagai pedoman bagi para Sahabat.
    2. Para Sahabat diperingatkan oleh Rasulullah SAW untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait.
    Nah masih bisa bilang sama saja, ya silakan

    sedangkan ahlul bait sendiri ternyata bukan hanya keluarga Ali, tetapi juga keluarga Abbas, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan istri-istri Nabi yang mereka masuk dalam definisi sahabat juga. Dan kita tahu sunni juga mengambil riwayat dari mereka.

    Oooh boleh saya tidak menolak terminologi ini tetapi tetap Ahlul Bait dalam hadis Tsaqalain dan Ahlul Bait dalam ayat Tathir jelas bukan istri-istri Nabi SAW.

    Hadits yang paling shahih mengenai tsaqolain adalah hadits Zaid bin Arqam

    Ada banyak kok hadisnya, bukan hanya dalam Shahih Muslim saja yang shahih. Lantas bagaimana anda menyikapi hadis Tsaqalain lainnya yang juga shahih. Bukankah yang paling dalam membahas suatu hadis adalah kita mengumpulkan jalan-jalannya.

    dalam redaksinya mengenai ahlul bait Rasul bersabda: “Aku ingatkan kalian tentang ahlul baitku” di sini banyak interpretasi mengenainya mas.

    Ini juga sudah saya bahas. Interpretasi selalu bisa dibuat dan oleh karena itu setiap interpretasi selalu bisa dinilai. Lihat tulisan saya yang ini, justru hadis-hadis lain yang menggunakan kata berpegang teguh adalah penjelasan yang pasti bahwa itulah peringatan yang dimaksud.
    Kritik Terhadap Distorsi Hadis Tsaqalain
    Kekeliruan Penafsiran Hadis Tsaqalain

    Kemudian juga kita berbeda mengenai kema’suman ahlul bait, bagi saya ahlul bait pun juga tidak ma’sum

    Bagi saya Ahlul Bait selalu benar karena itu konsekuensi logis Hadis Tsaqalain. Umat Islam tidak akan berpedoman pada sesuatu yang bisa salah. Umat islam disuruh berpegang teguh pada Ahlul bait karena mereka selalu benar. Seandainya mereka bisa salah, maka sudah jelas kesalahan itu akan dijadikan sebagai pedoman oleh umat Islam dan tersesatlah mereka. Ini berarti bertentangan dengan hadisnya. Soal kata ma’sum, saya sih tak terlalu peduli dengan kata itu

    sebagaimana sahabat, mereka memang lebih utama dalam hal kedudukan mrk sebagai ahlul bait Nabi

    Sepakat, dan ditambahkan Ahlul bait lebih utama karena Mereka adalah tempat para Sahabat merujuk sepeninggal Rasulullah SAW.

    Tetapi ada satu yg membedakan anda dg yg lain dan saya salut akan hal itu adalah anda menulis di atas “Saya mengakui keutamaan sahabat dan Ahlul Bait”

    Dari dulu saya sudah berpandangan begitu, ah ya saya tidak terlalu kenal yang lain yang anda maksud

    Ya silahkan saja kalau mas mau ngasih istilah lain, misalnya orang2 yg bersama Nabi

    Wah wah pahamilah baik-baik Mas, yang membuat istilah baru kan anda, saya cuma mengulang persis kata-kata dalam ayat tersebut

    atau apapun yang jelas ya mereka itulah yg dimaksud sahabat Nabi…

    Ya bisa kok, penjelasan saya yang panjang lebar itu agar Mas bisa menempatkan dalil itu semestinya. Sahabat itu kata yang umum dan mencakup bermacam-macam orang. Apa benar ayat tersebut ditujukan untuk semua yang disebutkan sebagai Sahabat. Nyatanya tidak, ayat tersebut sepertinya menggunakan frase bersyarat dan penjelas yang membatasi keumuman kata Sahabat. Semoga tidak salah paham dengan apa yang saya maksud.

    he he bener juga perkataan mas “Pahamilah baik-baik bahwa segala sesuatunya bisa saja dibuat polemik bahkan untuk sesuatu yang sifatnya sangat jelas sekalipun”

    Benar sekali, oleh karena itu bersikap terbuka dan memahami dengan baik setiap pembahasan jelas sangat diperlukan

    Ini aja dulu ya mas… InsyaAllah bersambung…maklum habis lebaran kerjaan lg numpuk.

    silakan, semoga kerjaannya dimudahkan

    Eh iya ini sedikit catatan buat Mas
    kalau menquote tulisan, caranya dengan menulis
    <blockquote>tulisan yang mau anda quote</blockquote>

    Maafkan kalau komentar saya banyak memakai link, karena sepertinya akan jauh lebih baik kalau bagian-bagian tersebut dibahas di bagian khusus.
    Salam

  105. @ressay

    Kalau boleh usul, silakan tentukan tema yang akan didiskusikan.

    selesaikan dulu tema itu, baru beranjak ke tema yang lain. Tapi itu sih hanya usul. Semua tergantung sama tuan-tuan semuanya.

    Maaf kalau sudah meresahkan, sebenarnya saya juga inginnya begitu. Untuk selanjutnya saya sih setuju aja kalau mau diskusi bagian tertentu :)
    Saya buatkan linknya, biar diskusinya di tempat yang tepat
    Salam

  106. Salam
    @ asep… Ini email add saya fatimah_alkubra@yahoo.com. Kalau kamu mahu saya akan berkongsi dengan kamu Artikel IJTIHAD IMMAMAH (salinan dari KITAB IJTIHAD IMAMAH)
    wasSalam

  107. Ass. Wr. Wb.

    @Bagir
    Sy kurang bisa menuliskan menu browser, lebih baik dilinkan saja maklum baru belajar. he he
    @fatamorgana
    Salam kenal, sy belum pernah menggunakan email, jadi lbh baik dilinkan saja.
    @Semuanya
    Tolong kritik dan sarannya, klo tanggapan/tulisan sy ada yg kurang berkenan atau salah, terimakasih.

    Wass. Wr. Wb.

  108. @ bims
    Antum pada komentar sebelumnya nulis begini

    tetapi di sini kasusnya lain… dalam kasus ini beliau yg punya hak untuk menentukan menjalin kekerabatan dengan seseorang (dan saat itu beliau sudah diangkat menjadi Rasul), beliau meminang Aisyah dan Hafshah yg mrpkan anak dari Abu Bakar dan Umar, jika memang dua orang tsb bukan mrpkan orang2 yg baik & utama tentu beliau tidak memilih anak2 dr mrk dan beliau berhak utk memilih yg lainnya, demikian jg dlm hal memilih menantu, bahkan beliau menikahkan dua putri beliau kepada Utsman… nah jika anda menuduh Rasulullah bahwa beliau salah dalam mengambil keputusan… trs dimana letak kema’suman beliau?

    Kemudian Antum menulis begini

    Sebenarnya pada prinsipnya saya setuju bahwa hubungan kekeluargaan dg Nabi tidaklah menjamin mereka adl baik spt Nabi dan tentunya bukan berarti nabi tidak ma’sum jika didikan / dakwahnya pada keluarga / kerabatnya tdk berhasil

    Gak ngerasa antagonis ya, saya juga bisa bilang dengan antum
    Tentunya bukan berarti Nabi tidak ma’sum jika didikan atau dakwahnya pada para Sahabat tidak berhasil, sehingga sahabat itu bisa menyalahi perintah Rasul.
    Gimana, itu saya analogikan dengan jawaban antum lho :mrgreen:
    Atau saya bisa meniru kata-kata ini untuk kasus Nabi Ya’qub
    Tapi disini kasusnya lain, kita tahu bahwa anak-anak Nabi dibesarkan dan dididik Nabi selama bertahun-tahun. Mereka mendapat pengajaran langsung dari Nabi setiap hari, jadi sangat tidak mungkin mereka akan berbuat salah atau keliru. Apakah Nabi bisa salah dalam mengajarkan anak-anaknya? Jika memang salah lantas dimana kema’sumannya.
    Semua itu cuma permainan kata-kata, karena sudah jelas Al Quran menyatakan kesalahan mereka anak-anak Nabi Ya’qub alaihis salam.
    Jadi cara berlogika antum itu keliru karena antum sendiri bahkan telah membantahnya sendiri.

  109. Eh iya ini sedikit catatan buat Mas
    kalau menquote tulisan, caranya dengan menulis

    lagi latihan ngeblock tulisan…praktek

  110. Waduh sorry baru terbit lagi…banyak banget tanggapannya ya… jadi bingung mulai dari mana :)

    @SP
    Salam
    Terima kasih atas tanggapan mas…& ngasih tau cara nampilin kutipan, maklum sy org ndeso mas jd katrok gitu dech :) saya akan usahakan menaruh komentar saya di link2 yg mas tunjukkan… tapi pelan2 ya.. maklum sambil melakukan aktifitas spy dapur tetep ngebul.. :)

    Semoga dalam waktu dekat saya dapat menulis hal ini lebih lanjut. Sedikit masukan, hadis tersebut mengatakan untuk taat kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin, sehingga konsekeunsinya sunnah khulafaur Rasyidin itu adalah sumber hukum yang juga harus dipegang teguh. Dengan dasar ini maka seyogianya yang namanya Khulafaur Rasydin itu adalah orang yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Seandainya yang namanya Khulafaur Rasydin itu diserahkan urusannya kepada orang banyak maka bukankah tidak ada jaminan bahwa apa yang ditetapkan oleh para Khalifah itu adalah Sunnah yang juga harus dipegang teguh, bukankah yang memilih itu manusia yang bisa saja salah. Jadi orang yang mereka pilih juga tidak ada jaminan benar dari Allah dan RasulNya.

    اِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ اُمَّتىِ عَلىَ ضَلاَ لَةٍ, وَيَدُاللهِ مَعَ اْلَجَماعَةِ
    “Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan.” (Tirmidzi no. 2093, Ahmad 6/396)

    Kita tahu yang membaiat Abu Bakar dan 2 khalifah sesudahnya adalah sebagian besar ummat Islam saat itu termasuk Ali didalamnya, sehingga berdasarkan hadits di atas saja sudah cukup dijadikan sebagai hujjah.

    Tidak ada hadis yang menyatakan bahwa para Sahabat itu harus dipegang teguh supaya tidak tersesat.

    Cukup dari ayat Al-Qur’an ini:
    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (At Taubah: 100)
    Perhatikan kalimat “dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” adalah para sahabat dan kaum muslimin setelahnya sampai hari kiamat yg mengikuti sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar … itulah dalil yg dipakai sepanjang masa… Bagi saya, orang2 yang diridhai oleh Allah dan diperintahkan oleh-Nya untuk mengikuti mereka, berarti mereka adalah orang-orang yg benar dan tidak akan sesat orang yang mengikuti mereka, ijma’ mereka adalah hujjah yang qoth’i, sedangkan untuk per individu bisa diambil hujjah dari mereka bisa juga tidak dan mrk tdk lepas dari kesalahan. dan ahlul bait pun termasuk di dalamnya.

    Menurut al-Hakim dalam Mustadrak, Sahabat terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:

    1. Para sahabat yang masuk Islam di Mekkah, sebelum melakukan hijrah, seperti Khulafa’ur Rasyidin
    1. Khadijah binti Khuwailid
    2. Ali bin Abi Thalib
    3. Zaid bin Haritsah
    4. Abu Bakar ash-Shiddiq
    5. Umar bin Khattab
    6. Utsman bin Affan
    7. Abbas bin Abdul Muthalib
    8. Hamzah bin Abdul Muthalib
    9. Ja’far bin Abi Thalib
    2. Para sahabat yang mengikuti majelis Darunnadwah
    3. Para sahabat yang ikut serta berhijrah ke negeri Habasyah
    4. Para sahabat yang ikut serta pada bai’at Aqabah pertama
    5. Para sahabat yang ikut serta pada bai’at Aqabah kedua
    6. Para sahabat yang berhijrah setelah sampainya Rasulullah ke Madinah
    7. Para sahabat yang ikut serta pada perang Badar
    8. Para sahabat yang berhijrah antara perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah
    9. Para sahabat yang ikut serta pada bai’at Ridhwan
    10. Para sahabat yang berhijrah antara perjanjian Hudaibiyyah dan fathu Makkah
    1. Khalid bin Walid
    2. Amru bin Ash
    11. Para sahabat yang masuk Islam pada fathu Makkah,
    1. Abu Sufyan
    2. Mu’awiyah bin Abu Sufyan
    12. Bayi-bayi dan anak-anak yang pernah melihat Rasulullah saw pada fathu Makkah

    Kedua hadis tersebut adalah hadis yang dhaif . Hadis pertama riwayat Thabrani dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Sufyan dimana Al Uqaili berkata Hadisnya tidak bisa diikuti. Oleh karena itu Al Uqaili memasukkan hadis ini dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabir no 938. Hadis kedua riwayat Tirmidzi dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqi dan sebagaimana dijelaskan dalam At Taqrib bahwa dia adalah dhaif. Oleh karena itu Al Mubarakfuri menyatakan dhaifnya hadis tersebut dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi hadis no 2565.

    Tetapi hadits ini dikuatkan oleh banyak hadits lain. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari beberapa orang shahabat, antara lain : Abu Hurairah, Mu’awiyah, Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, Auf bin Malik, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Darda’, Watsilah bin Al-Asqa’, Amr bin ‘Auf Al-Muzani, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ariy, dan Anas bin Malik.
    Dan Imam Tirmidzi mengatakan hadist yg diriwayatkannya HASAN, karena banyak syawahidnya.

    Bukankah salah satu prinsip anda untuk membahas suatu hadits adalah kita mengumpulkan jalan-jalannya?

    Baiklah jika sekiranya riwayat yg lebih shahih berbunyi “Al-Jama’ah” saya kira hal ini juga tidak bertentangan dg hadits di atas, karena yg dimaksud Al-Jama’ah (bentuk tunggal) adalah jama’ah kaum muslimin saat itu yaitu para shahabat (pengertian ini sudah masyhur di kalangan ulama) dan hadits di atas sebagai penjelasan dari kata Al-Jama’ah…

    Wallahu A’lam

  111. Mengenai hadits Kisa’

    Maaf anda cuma menulis Riwayat Tirmidzi dan saya tahu kalau hadis itu shahih, tetapi riwayat lain ini tidak ada dalam Sunan Tirmidzi, bisa tolong disebutkan sumbernya dan bagaimana kedudukan hadis tersebut.

    Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab yang mengatakan, Saya mendengar Ummu Salamah, salah seorang istri Nabi, ketika datang kabar kematian Husain bin Ali, melaknat penduduk Irak. Ummu Salamah berkata, Mereka telah membunuh Husain bin Ali, semoga Allah membinasakan mereka. Mereka telah membuat tipu muslihat terhadap Husain dan mereka telah menghinanya, semoga Allah melaknat mereka.
    Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah didatangi oleh Fatimah pagi-pagi. Ia membawa periuk (terbuat dari tanah) yang berisi bubur yang ia buat untuk Rasulullah. Periuk itu ia bawa dengan dilambari talam. Kemudian ia meletakkannya dihadapan Nabi. Maka Nabi bertanya, “Dimana anak pamanmu (maksudnya Ali -pen)?” Fatimah menjawab, “Ia di rumah.” Nabi bersabda, Pergilah dan panggillah Ali, dan bawa serta kedua anaknya (yaitu Hasan dan Husain -pen.)
    Ummu Salamah berkata, Setelah itu datanglah Fatimah kembali dengan menuntun kedua puteranya, masing-masing berada pada satu tangan. Sedangkan Ali berjalan dibelakangnya. Sampai akhirnya mereka masuk menemui Rasulullah. Maka beliau mendudukkan kedua anak Ali di pangkuan beliau. Sementara Ali duduk di sebelah kanan Rasulullah dan Fatimah duduk di sebelah kirinya. Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, Kemudian Rasulullah menarik selimut yang berasal dari Khaibar yang ada dibawahku. Selimut itu biasa sebagai hamparan kami di tempat tidur di Madinah. Selanjutnya Rasulullah menyelimutkan selimut itu kepada semuanya (Nabi, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain -pen.) Kedua ujung selimut itu dipegangi dengan tangan kiri beliau, sedangkan tangan kanannya, beliau isyaratkan kepada Allah seraya berdo’a,
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk ahli bait (keluarga)mu?” Beliau menjawab, “Tentu, masuklah ke dalam selimut.”

    Hadits di atas, dikatakan oleh pensyarah, yaitu Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, “Sanadnya hasan.” Lihat Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, hadits no. 26429 jilid 28, cet. I 1416H/1995.

    Silahkan dianalisis mas…kyknya antara 2 hadits tsb perlu disinkronkan…

    Dari hadits di atas juga dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata penduduk Iraq-lah yang telah membunuh Imam Hussain.

    Wallahu A’lam

    1. Yang jadi masalah utama bukan mengenai masuk kisa’ atau tidak, tapi apakah Ummu Salamah memang Ahlul Bait, kalau memang begitu kan Rasul SAW tinggal bilang kamu memang ahlulbaitKu.

    Sebenarnya di riwayat Tirmidzi pun tidak ada kata menafikan dari Nabi bahwa Ummu Salamah bukan ahlul bait Nabi, beliau hanya menyuruh Ummu Salamah agar tetap di tempatnya dan dia dalam kebaikan. Tentu kalau memang Ummu Salamah bukan Ahlul Bait Nabi, pasti Nabi sudah menjawabnya dg tegas, maka saya kira pendapat Syaikh Mubarakfuri ada benarnya juga yaitu dicegahnya Ummu Salamah masuk ke dalam selimut karena ada Ali…

    Dengan kata lain, tidak ada satupun hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menyelimuti istri-istri Beliau sebagai tanda bahwa merekalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tersebut.

    Ternyata ada tuch mas…

    Saya setuju dengan Shah Abdul Aziz al-Dahlawi, yang jelas ayat Al-Ahzab 32-34 diturunkan untuk istri-istri Nabi (tidak ada syak sedikitpun), dan Rasulullah menginginkan ahlul baitnya yang lain (ahlul bait keturunan) dari keluarga Ali dan Abbas juga mendapatkan penyucian dari Allah, sehingga dengan menyelimuti mereka bersama beliau, beliau ingin menunjukkan bahwa mereka juga ahlul bait beliau dan bagian dari beliau disamping istri2 beliau, baru kemudian beliaupun berdo’a memohon kepada Allah untuk memasukkan juga ahlul bait beliau tersebut kedalam ayat penyucian tersebut…sehingga logikanya istri-istri Nabi ga perlu diselimuti, lha wong mereka yg dimaksud ayat tersebut… sehingga enam bulan setelah ayat tsb turun beliau terus –menerus mengingatkan Fatimah dan keluarganya untuk beramal (beramal di sini banyak mas) agar do’a beliau diterima oleh Allah…begitu mas logikanya… dan saya kira ini klop banget… tidak bertentangan kemana-mana…

    Lho intinya kan kalau ayat tersebut memang turun beriringan atau bersamaan. Kalau nggak ya nggak dong, jangan dipaksa lho Mas. Perintah dan larangan yang anda maskud itu berlaku khusus untuk istri2 Nabi SAW terus bagaimana dengan Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Apakah mereka juga harus tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Kalau memang dipaksa ayat tersebut turun berurutan maka perintah itu tidaklah tepat ditujukan pada Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tetapi bukankah hadis shahih telah menetapkan kalau mereka adalah Ahlul Bait dalam ayat tersebut, Agak sedikit rancu kalau menurut saya..

    Justru hal itu membuktikan bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi, gamblang banget kok mas itu… sedangkan Ali, Fatimah, Hasan, Husein ra adalah melengkapi saja, yang diharapkan oleh Rasulullah juga masuk ke ayat pembersihan tersebut karena mereka ahlul bait beliau juga, justru yg rancu kalau logikanya dibalik menurut saya…

    Silakan kalau Mas berpandangan demikian, tapi tentunya dalam diskusi kita membutuhkan argumen tertentu yang dijadikan dasar. Bolehkah saya tahu mengapa sahabat bisa sebagai hujjah?. Yang jadi Hujjah itu ya Rasulullah dan Ahlul Bait, Sahabat itu Muqallid

    Saya kira saya sudah menyampaikan argument saya di atas, menurut saya ahlul bait dan sahabat ittiba’ kepada Rasul…dan hanya Rasul saja yang ma’sum (atau apapun istilahnya)…

    Wallahu A’lam

  112. Ass. Wr. Wb

    @bims
    Iya kemana aja, kebetulan saya juga baru muncul. Jadi saya yg lebih dulu ngasih komentar. Gimana ya? memang seru diskusi ini, tapi mata ini nanar bacanya, karena tulisannya panjang-panjang. Bicara masalah hadist kelihatannya argumen ini kokoh pd pendirian masing-masing, tapi dari keduanya pasti ada yg benar dan yg salah. Saya kasih gambaran ketika Rasul Saw wafat, hadist yang satu mengatakan dipangkuan Imam Ali As, hadist yang lainnya dipangkuan Aisyah Ra. Dari kedua peryataan tsb pasti ada salah satu yang benar dan yg lainnya salah. Jadi apa kata dunia…apa ya? Hemm…mikir dulu ah….. akhirnya begini….
    Sempurnakan ikhtiar, tetap bertawakal kepada Allah Swt. Tidak ada paksaan dalam agama. Saudaraku, jalan menuju kebenaran yang hakiki jalannya terjal dan berliku penuh onak dan berduri. Ya Allah, tunjukkanlah kami semua kepada jalan kebenaran menuju jalan orang-orang yang benar dan takwa yang Engkau ridhoi. Semuanya dalam proses menuju Allah Swt. Ma’af bila ada kata yang salah.

    Wass. Wr. Wb.

  113. Mohon maaf ingin ikut nanggapin punya mas bims
    (1) Mas ingin meyakinkan pembaca di sini bahwa berpegang teguh kepada sahabat telah ditegaskan Allah swt dalam Alquran surah Attaubah: 100. Benar mas?
    Kemudian mas mencoba menunjukkan siapa-siapa yang dimaksud dengan sahabat baik perorangan maupun yang masuk kelompok tertentu.
    (Termasuk perseorangan adalah Muawiyyah dan Abu Sufyan! Serius nih mas? :) )
    Saya ingin membenturkan ayat 100 Attaubah dengan ayat 101 Attaubah yang bunyinya demikian:
    “Di antara orang-orang yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
    Bagaimana menurut mas? Apakah kira-kira kelompok munafiqun terdapat pada sahabat yang mas rangkum di atas? Kalau tidak, apakah mas bisa menyebutkan siapa-siapa orang-orang yang dekat dengan Nabi saw yang memiliki sifat tercela itu? Dimana notabene Rasul saw di ayat tsb tersurat juga tidak mengetahui siapa-siapa orang dekat beliau yang munafik? Jadi kalau tidak bisa ditentukan mana yang munafik, bagaimana mas bisa meyakinkan saya bahwa kelompok sahabat yang mas maksudkan tidak mungkin termasuk di dalamnya?

    Abu Sufyan dan Muawiyyah? :) Mas sungguh terlalu!

    (2) Mengenai Ahlulbayt Nabi dan siapa-siapa yang termasuk di dalamnya terkesan sekali bahwa mas ingin memaksakan bahwa Ahlulbayt Nabi adalah bukan saja Fatimah-Ali-Hasan dan Husein. Dimana isteri-isteri Nabi juga termasuk di dalamnya.
    Apakah mas tidak menyadari bahwa surah Al-Ahzab sangat mengindikasikan penyucian dan kebersihan jiwa bagi Ahlulbayt Nabi serta pencegahan thd kesalahan dan dosa? Bagaimana mas bisa terfikir untuk juga memasukkan para isteri Nabi ke dalamnya, dimana salah satu dari mereka dengan beraninya keluar rumah untuk memimpin peperangan thd seorang keluarga Nabi sementara Nabi saw menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah? Begitu pula ada teguran di salah satu ayat thd isteri Nabi yang lain atas kecemburuan mereka thd Nabi. Dan perlu juga mas pertimbangkan bahwa ikatan suami-isteri bisa saja lepas. Karena apa? Karena jika terjadi perceraian, maka tidak ada lagi hubungan kekerabatan. Bagaimana mas akan menjelaskan mereka para isteri Nabi saw termasuk Ahlulbayt Nabi padahal ikatan kekerabatan mereka dengan Nabi saw sangat lemah?

    (3) Kemudian mas ada nulis yang perlu dikoreksi,
    “Tentu kalau memang Ummu Salamah bukan Ahlul Bait Nabi, pasti Nabi sudah menjawabnya dg TEGAS, maka saya kira pendapat Syaikh Mubarakfuri ada benarnya juga yaitu dicegahnya Ummu Salamah masuk ke dalam selimut karena ada Ali…”
    Eh, bagaimana mas bisa menafsirkan sebuah hadits hanya dengan kesan tegas dan tidak dari Nabi saw. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan Nabi biarlah Nabi saw yang memutuskan, kita hanya mentatati. Tegas atau tidak itu bukan urusan kita mas, lagipula itu hanya kesan kan?

    Salam

  114. @bims

    “Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan.” (Tirmidzi no. 2093, Ahmad 6/396)

    Kita tahu yang membaiat Abu Bakar dan 2 khalifah sesudahnya adalah sebagian besar ummat Islam saat itu termasuk Ali didalamnya, sehingga berdasarkan hadits di atas saja sudah cukup dijadikan sebagai hujjah.

    Ah ini namanya kembali memperluas arah pembicaraan. Soal hadis yang anda kutip, sudah saya sebutkan penafsiran saya. inti dalam pendapat saya soal Khulafaur Rasydin adalah berdasarkan hadis yang shahih maka mereka adalah hujjah. Jadi sudah sewajarnya kalau mereka harus mendapat penetapan dari Allah SWT dan RasulNya mengenai siapa mereka. IMHO Adalah tidak mungkin pribadi yang dikatakan harus kita pegang teguh Sunnahnya adalah orang yang dipilih oleh orang banyak. Saya ingin tahu bagaimana Mas menanggapi bahwa khalifah yang anda sebutkan itu pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasul. Misalnya dalam perkara haji tamattu. Jika memang dengan logika Mas bahwa mereka adalah Khulafaur Rasydin maka ketetapan mereka yang bertentangan dengan Sunnah Rasul SAW adalah Sunnah yang harus dipegang teguh. Maka apalah artinya berpegang pada SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasydin.

    Cukup dari ayat Al-Qur’an ini:
    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (At Taubah: 100)
    Perhatikan kalimat “dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” adalah para sahabat dan kaum muslimin setelahnya sampai hari kiamat yg mengikuti sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar … itulah dalil yg dipakai sepanjang masa…

    Bagi saya tidak cukup karena penunjukkannya tidak jelas. Intinya berulang kali saya baca tidak ada dalam ayat tersebut kata-kata tentang siapa yang harus dipegang teguh agar tidak tersesat.
    Ayat tersebut bicara soal siapa yang diridhai oleh Allah SWT yaitu
    1. Orang2 terdahulu dan pertama-tama masuk islam dari golongan Muhajirin dan Anshar.
    2. Orang yang mengikuti mereka dengan baik.

    Bagi saya, orang2 yang diridhai oleh Allah dan diperintahkan oleh-Nya untuk mengikuti mereka, berarti mereka adalah orang-orang yg benar dan tidak akan sesat orang yang mengikuti mereka

    Tidak ada dalil yang jelas bahwa orang-orang yang diridhai oleh Allah SWT itu terbatas hanya pada mereka yng dijadikan hujjah saja. Bagi saya orang-orang yang diridhai oleh Allah adalah mereka yang berusaha untuk berpegang teguh pada kebenaran dan seandainya mereka lalai atau keliru atau berdosa maka mereka cepat2 bertaubat kepada Allah SWT. Bagaimana mungkin dikatakan kalau Keridhaan Allah SWT hanya untuk Mereka yang Selalu Benar atau hanya untuk Pribadi yang dijadikan pegangan agar tidak sesat. Lantas untuk apa pula kita senantiasa berdoa mengharap ridha Allah SWT kan percuma karena keridhaan Allah SWT itu hanya untuk mereka yang menjadi hujjah saja.
    *btw saya tidak menangkap kata-kata perintah dalam ayat di atas*

    ijma’ mereka adalah hujjah yang qoth’i, sedangkan untuk per individu bisa diambil hujjah dari mereka bisa juga tidak dan mrk tdk lepas dari kesalahan. dan ahlul bait pun termasuk di dalamnya.

    Bagi saya, Mas terlalu memperluas dalil (ayat at taubah 100) itu kemana-mana. di satu sisi Mas mengatakan mereka adalah hujjah. Tetapi disisi lain Mas malah berkata yang menjadi hujjah adalah ijma’ mereka sedangkan perindividu tidak lepas dari kesalahan. Semua kata-kata anda ini tidak bisa saya tangkap dari Surah At Taubah 100 yang anda kutip. Terlalu banyak konsepsi yang Mas tambahkan sendiri dari pikiran2 Mas padahal teks ayatnya sendiri tidak berbicara tentang itu.

    Saya kurang tahu apa relevansinya Mas mengutip berbagai jenis tingkatan Sahabat. Bukankah itu mempertegas maksud saya bahwa kataa Sahabat adalah kata yang umum. Nah coba lihat apakah semua sahabat yang Mas sebutkan itu adalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat Taubah 100? Dapatkah Mas membuktikannya. :)

    Coba lihat At Taubah ayat 101 yang berbunyi

    Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

    Begini nih, dari ayat di atas diketahui bahwa di antara orang-orang disekeliling Nabi baik dari golongan Arab Badui atau penduduk Madinah ada juga yang dikatakan munafik, Dan disini disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri tidak mengetahuinya. Kira-kira ini disebut sahabat juga nggak. Bagaimana cara mengetahui yang mana yang disebut munafik dalam ayat ini jika Sang Rasul SAW sendiri dikatakan Allah tidak mengetahuinya?.
    *cuma kepikiran dan semoga Mas bisa memberi pencerahan*

    Soal komentar tentang berpegang teguh pada sahabat sudah saya tanggapi di post yang bersangkutan. Silakan dilihat :)

    Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab yang mengatakan, Saya mendengar Ummu Salamah, salah seorang istri Nabi, ketika datang kabar kematian Husain bin Ali, melaknat penduduk Irak. Ummu Salamah berkata, Mereka telah membunuh Husain bin Ali, semoga Allah membinasakan mereka. Mereka telah membuat tipu muslihat terhadap Husain dan mereka telah menghinanya, semoga Allah melaknat mereka.
    Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah didatangi oleh Fatimah pagi-pagi. Ia membawa periuk (terbuat dari tanah) yang berisi bubur yang ia buat untuk Rasulullah. Periuk itu ia bawa dengan dilambari talam. Kemudian ia meletakkannya dihadapan Nabi. Maka Nabi bertanya, “Dimana anak pamanmu (maksudnya Ali -pen)?” Fatimah menjawab, “Ia di rumah.” Nabi bersabda, Pergilah dan panggillah Ali, dan bawa serta kedua anaknya (yaitu Hasan dan Husain -pen.)
    Ummu Salamah berkata, Setelah itu datanglah Fatimah kembali dengan menuntun kedua puteranya, masing-masing berada pada satu tangan. Sedangkan Ali berjalan dibelakangnya. Sampai akhirnya mereka masuk menemui Rasulullah. Maka beliau mendudukkan kedua anak Ali di pangkuan beliau. Sementara Ali duduk di sebelah kanan Rasulullah dan Fatimah duduk di sebelah kirinya. Ummu Salamah melanjutkan ceritanya, Kemudian Rasulullah menarik selimut yang berasal dari Khaibar yang ada dibawahku. Selimut itu biasa sebagai hamparan kami di tempat tidur di Madinah. Selanjutnya Rasulullah menyelimutkan selimut itu kepada semuanya (Nabi, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain -pen.) Kedua ujung selimut itu dipegangi dengan tangan kiri beliau, sedangkan tangan kanannya, beliau isyaratkan kepada Allah seraya berdo’a,
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk ahli bait (keluarga)mu?” Beliau menjawab, “Tentu, masuklah ke dalam selimut.”

    Hadits di atas, dikatakan oleh pensyarah, yaitu Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, “Sanadnya hasan.” Lihat Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syakir dan Hamzah Ahmad Az-Zain, hadits no. 26429 jilid 28, cet. I 1416H/1995.

    Nah ini beberapa catatan saya terhadap hadis yang anda kutip
    1. Hadis ini dalam Musnad Ahmad Tahqiq Versi Syaikh Syu’aib Al Arnauth telah dinyatakan dhaif. Walaupun begitu saya tidak keberatan jika anda mau berhujjah dengan hadis ini. Atau berpegang pada yang menghasankan hadis ini
    2. Hadis yang Mas kutip ada beberapa hal yang menurut saya keliru kata-katanya. Anda menulis

    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
    Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.

    Dalam Musnad Ahmad yang saya temukan adalah kata-kata pertama adalah Ya Allah mereka adalah keluargaKu(Allahuma Ahlu). kemudian kata-kata kedua dan ketiga baru Ya Allah Mereka Ahlul BaitKu(Allahuma Ahlal Bait)
    Kemudian Mas menulis

    Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk ahli bait (keluarga)mu?” Beliau menjawab, “Tentu, masuklah ke dalam selimut.”

    kata-kata Ummu Salamah bukan begitu, beliau tidak menyebutlan bukankah aku termasuk ahli baitmu? tetapi menyebutkan bukankah aku termasuk ahlu(keluargamu)?.
    3. Mas mengutip hadis tersebut tidak seluruhnya, anehnya bagian yang menurut saya paling penting justru tidak Mas kutip. Itu ada di bagian akhir. Setelah Rasulullah SAW mengatakan Tentu, masuklah ke dalam selimut.. ada terusannya yaitu kata2 Ummu Salamah
    Maka aku pun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau.
    4. Hadis yang Mas kutip tidak sedang membicarakan Asbabun Nuzul ayat Tathir, lihat sendiri tidak ada penjelasan soal ayat Al Ahzab 33 yang turun. Hadis di atas menjelaskan soal doa Rasulullah SAW kepada Ahlul Kisa’.

    Penafsiran saya
    Hadis yang Mas kutip menceritakan peristiwa lain dimana Rasulullah SAW menyelimuti Ahlul Kisa’ dan berdoa untuk mereka. Peristiwa ini adalah selepas ayat Tathir turun sebagaimana yang dimuat dalam hadis Sunan Tirmidzi di atas. Selepas ayat tersebut turun, Rasulullah SAW berulangkali menyelimuti Ahlul Kisa’ dan mendoakan mereka. Doa ini adalah suatu penegasan berulang-ulang bahwa Merekalah ahlul bait yang dimaksud. Melihat hal ini maka Ummu Salamah yang sebelumnya(pada hadis Sunan Tirmidzi) bertanya Apakah aku bersama mereka?, sekarang malah menggunakan kata-kata wahai Rasul bukankah aku termasuk ahlumu?. Hal ini dikarenakan pada doa Nabi yang pertama, Nabi SAW menggunakan kata Ahlu dan baru yang kedua dan ketiga menggunakan kata Ahlul bait. Nabi menjawab bahwa Ummu Salamah memang ahlu beliau dan mempersilakan masuk ke dalam selimut hanya saja itu setelah semua doa Rasul SAW selesai.

    Jadi kesimpulan yang saya tangkap
    1. Hadis ini tidak memuat sedikitpun hujjah bahwa Al Ahzab ayat 33 turun untuk istri-istri Nabi SAW. karena memang hadis tersebut tidak menceritakan soal turunnya Al Ahzab ayat 33
    2. Hadis ini hanya menceritakan kalau Ummu Salamah adalah ahlu Nabi, sayangnya beliau bukan termasuk dalam mereka yang didoakan oleh Nabi SAW sebanyak 3 kali dan jelas bukan ahlul bait dalam ayat tathir. Hal ini tampak dalam kata-kata terakhir hadis tersebut bahwa Ummu Salamah masuk ke dalam selimut setelah doanya selesai.

    Karena lafaz doa ini serupa dengan lafaz ayat Al Ahzab 33 maka ada dua kemungkinan.
    1. Kemungkinan pertama peristiwa ini terjadi setelah ayat tathir turun seperti yang saya perkirakan. Maka ini berarti kembali menguatkan bahwa Ummu Salamah selaku istri Nabi bukan Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33. Karena untuk apa bertanya atau berharap ikut masuk dalam selimut atau berharap ikut dalam doa Rasulullah SAW. Bukankah sudah jelas kalau ayat tersebut telah turun maka Ummu Salamah sebagai istri Nabi akan tahu bahwa dialah yang dimaksud.
    2. Kemungkinan kedua bahwa persitiwa ini terjadi sebelum Al Ahzab 33 turun. maka hadis ini tidak layak dijadikan hujjah bahwa istri-istri nabi SAW adalah ahlul bait yang dituju dalam ayat tersebut. Lha ayat nya saja belum turun. Justru yang bisa ditangkap dari kemungkinan ini maka Al Ahzab ayat 33 adalah penegasan atau penetapan Allah SWT terhadap apa yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW bahwa yang disucikan itu adalah Mereka Ahlul Bait yang didoakan dan diselimuti oleh Nabi SAW. Seperti yang telah ditetapkan dalam hadis Sunan Tirmidzi riwayat Umar bin Abu Salamah dan sudah saya bahas.

    Sebenarnya di riwayat Tirmidzi pun tidak ada kata menafikan dari Nabi bahwa Ummu Salamah bukan ahlul bait Nabi, beliau hanya menyuruh Ummu Salamah agar tetap di tempatnya dan dia dalam kebaikan.

    Pahami baik-baik hadisnya. Jika memang Ummu Salamah sebagai istri-istri Nabi adalah yang dimaksud dalam Al Ahzab ayat 33 yang turun di rumah Beliau itu, maka Beliau tidak perlu mengungkapkan pertanyaan dan harapan ingin ikut bersama Mereka yang diselimuti oleh Rasulullah SAW. Kemudian kata-kata Rasulullah SAW bahwa Ummu Salamah punya tempat sendiri dan dalam kebaikan adalah peniolakan yang halus dari Rasulullah SAW terhadap keinginan Ummu Salamah.

    maka saya kira pendapat Syaikh Mubarakfuri ada benarnya juga yaitu dicegahnya Ummu Salamah masuk ke dalam selimut karena ada Ali…

    Maaf Mas tetapi anda telah melakukan kontradiksi yang nyata dalam masalah ini. Pada hadis Musnad Ahmad yang Mas gunakan sebagai hujjah adalah dalil yang cukup untuk menolak perandaian Al Mubarakfuri, bukankah di hadis tersebut Ummu Salamah masuk ke dalam selimut. Bagaimana mungkin anda sepakat dengan Al Mubarakfuri untuk menyelisihi hadis yang anda bawa sendiri dan anda berhujjah bahwa hadis tersebut hasan. Silakan direnungkan

    Ternyata ada tuch mas…

    Sudah saya jelaskan kok, dan tetap tidak ada. Ingat apa yang saya tulis adalah Dengan kata lain, tidak ada satupun hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menyelimuti istri-istri Beliau sebagai tanda bahwa merekalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tersebut.. Hadis yang Mas kutip bukanlah tanda bahwa Ahlul bait dalam Al Ahzab 33 adalah Istri-istri Nabi.

    Saya setuju dengan Shah Abdul Aziz al-Dahlawi, yang jelas ayat Al-Ahzab 32-34 diturunkan untuk istri-istri Nabi (tidak ada syak sedikitpun), dan Rasulullah menginginkan ahlul baitnya yang lain (ahlul bait keturunan) dari keluarga Ali dan Abbas juga mendapatkan penyucian dari Allah,

    Silakan saja, dan bagi saya itu mencampuradukkan hadis shahih, hadis dhaif dan prakonsepsi pribadi.

    sehingga dengan menyelimuti mereka bersama beliau, beliau ingin menunjukkan bahwa mereka juga ahlul bait beliau dan bagian dari beliau disamping istri2 beliau, baru kemudian beliaupun berdo’a memohon kepada Allah untuk memasukkan juga ahlul bait beliau tersebut kedalam ayat penyucian tersebut…

    Kayaknya yang saya tangkap, Mas justru beranggapan Al Ahzab 33 itu turun khusus untuk istri2 Nabi dan Rasul SAW menginginkan kerabat Beliau yang lain sebagai Ahlul bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33. Lantas bagaimana dengan keluarga Aqil dan keluarga Ja’far sebagai kerabat Nabi tidak diselimuti juga. Mengapa menurut kata Mas hanya keluarga Ali dan keluarga Abbas saja?. Silakan saja mau meyakini seperti apa. Disini kita cuma membahas masing2 dalil yang dipakai. :)

    sehingga logikanya istri-istri Nabi ga perlu diselimuti, lha wong mereka yg dimaksud ayat tersebut…

    Yah itu kan kata Mas dan kata Mereka yang berpendapat bahwa ayat tersebut khusus untuk istri Nabi SAW. Hadis shahih sendiri justru menyatakan bahwa Ummu Salamah sebagai istri Nabi SAW tidak memahami bahwa ayat tersebut ditujukan untuknya sehingga beliau bertanya dan mengharap agar ikut masuk dalam ayat tersebut. :)

    sehingga enam bulan setelah ayat tsb turun beliau terus –menerus mengingatkan Fatimah dan keluarganya untuk beramal (beramal di sini banyak mas) agar do’a beliau diterima oleh Allah

    Saya tidak menolak bahwa Rasulullah SAW mengingatkan keluarganya untuk beramal. Hanya saja mengaitkan bahwa tindakan Rasulullah SAW mengajak beramal itu dengan tujuan agar ayat penyucian ditujukan kepada Mereka juga adalah penjelasan yang maksa. Ayat penyucian sudah ditujukan buat Mereka tepat ketika ayat tersebut turun. Dalilnya sudah jelas salah satunya di hadis Sunan Tirmidzi.

    begitu mas logikanya… dan saya kira ini klop banget… tidak bertentangan kemana-mana…

    Saya mengerti logika Mas dan saya sudah paparkan logika saya dalam tulisan saya yang banyak soal ini. Yang saya pahami dari perbedaan kita yaitu dasar logika anda adalah berdasarkan urutan ayat dan dasar logika saya berdasarkan hadis shahih yang marfu’ dari Rasulullah SAW. Just it :)

    Justru hal itu membuktikan bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi, gamblang banget kok mas itu…

    Lha mungkin saja begitu kalau berdasarkan urutan ayat. Hanya saja saya termasuk dalam golongan yang memahami bahwa ayat Al Quran tidak diturunkan secara berurutan. Sebagai perbandingan Anda bisa melihat Al Maidah ayat 2, 3 dan 4. Ayat-ayat ini coba Mas bandingkan. Lucu sekali kalau Mas bilang ayat tersebut turun berurutan. Karena Al Maidah ayat 3 telah masyhur sebagai ayat yang terakhir turun(itu pun cuma penggalan tertentu atau tidak seluruh al maidah ayat3 ). Aneh sekali kan setelah turun Al Maidah ayat 3 yang menyatakan syariat sudah sempurna tiba-tiba ayat berikutnya turun untuk menetapkan syariat baru tentang makanan yang dihalalkan. :)

    sedangkan Ali, Fatimah, Hasan, Husein ra adalah melengkapi saja, yang diharapkan oleh Rasulullah juga masuk ke ayat pembersihan tersebut karena mereka ahlul bait beliau juga,

    Silakan mengajukan klaim Mas, dalam hal ini saya sudah paparkan pendirian saya dan argumentasi saya. Dan saya sudah menanggapi argumen yang Mas pakai.

    justru yg rancu kalau logikanya dibalik menurut saya…

    Saya sudah mengatakan apa yang rancu menurut saya dan dari jawaban saya maka tampak jelas bahwa anda menyatakan bahwa Al Ahzab 33 turun khusus untuk istri-istri Nabi SAW dan ahlul kisa’ hanyalah orang yang diharapkan Nabi SAW untuk ikut juga dalam ayat tersebut. Nanya nih, pada akhirnya ayat tersebut tidak pasti untuk ahlul kisa’ kalau menurut anda karena bahkan selama 6 bulan Nabi SAW mengajak ahlul kisa’ untuk shalat agar mereka juga yang dituju dalam ayat tersebut. Tetapi kepastian bahwa ayat tersebut turun untuk ahlul kisa’ tetap belum ada. Begitukah maksud Mas yang saya tangkap.

    Saya sebelumnya menangkap kalau Mas berpandangan bahwa Al Ahzab 33 diturunkan untuk Istri-istri Nabi SAW beserta Sayyidah Fatimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Makanya saya katakan itu rancu. Ternyata komen Mas berikutnya saya menangkap bahwa Mas mengkhususkan Al Ahzab 33 turun untuk istri2 Nabi saja sedangkan Ahlul Kisa’ adalah pribadi yang diharapkan oleh Rasul SAW untuk ikut masuk dalam ayat tersebut.

    Saya kira saya sudah menyampaikan argument saya di atas, menurut saya ahlul bait dan sahabat ittiba’ kepada Rasul…dan hanya Rasul saja yang ma’sum (atau apapun istilahnya)…

    Rasul Ma’sum ya sepakat, dan Ahlul Bait bagi saya selalu bersama kebenaran sebagai konsekuensi Hadis Tsaqalain. Sedangkan Sahabat sudah selayaknya ittiba’ pada Rasul dan Ahlul Bait.

  115. Ingin coba berkomentar ah.

    Ada beberapa hal yang sudah disampaikan oleh mas secondprince.

    Aku hanya menambahkan sedikit saja, terkait dengan Surat At-Taubah ayat 100 dan surat 33 ayat 33.

    1. Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

    Orang-orang yang Allah Ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaummuhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

    2. Mas secondprince diatas mengatakan bahwa logika antara mas bims dengan mas secondprince itu berbeda. Mas bims lebih melihat urutan ayat, sedangkan mas secondprince lebih mendasarkan pada penafsiran Nabi melalui hadits Al-Kisa’.

    Terkait dengan urutan ayat, sebenarnya tidak selamanya kita bisa mendasarkan argumen pada urutan ayat. Karena terkadang ada urutan ayat yang sebenarnya ndak nyambung sama sekali.

    Mas secondprince sudah menunjukkan bahwa surat 33 ayat 33 itu termasuk salah satu ayat yang urutanya ndak nyambung.

    Coba kita lihat ayat yang lain, semisal surat al maidah ayat 3-4.

    QS. 3 : 3
    Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    QS. 3 : 4
    Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.

    Pada ayat yang ke-3, disana terdapat 3 kalimat.
    1. Mengenai makanan yang diharamkan.
    2. Disempurnakannya agama Islam
    3. Jaminain bagi orang yang terpaksa memakan makanan yang diharamkan pada kalimat ke-1.

    Lalu pada ayat yang ke-4 berbicara mengenai makanan-makanan yang halal.

    Lihatlah, urutan dari ayat tersebut ternyata ngacak.

    ayat itu berisi tentang halal haramnya makanan, lalu disempurnakannya islam, lalu balik lagi ke halal haramnya makan.

    wallahu a’lam
    wassalam.

  116. @Armand
    Salam kenal

    Bagaimana menurut mas? Apakah kira-kira kelompok munafiqun terdapat pada sahabat yang mas rangkum di atas? Kalau tidak, apakah mas bisa menyebutkan siapa-siapa orang-orang yang dekat dengan Nabi saw yang memiliki sifat tercela itu? Dimana notabene Rasul saw di ayat tsb tersurat juga tidak mengetahui siapa-siapa orang dekat beliau yang munafik? Jadi kalau tidak bisa ditentukan mana yang munafik, bagaimana mas bisa meyakinkan saya bahwa kelompok sahabat yang mas maksudkan tidak mungkin termasuk di dalamnya?.

    Yang jelas Shahabat Nabi menurut pengertian ahli hadits adalah bukan Munafik dan Munafik bukan Shahabat Nabi, tetapi pengertian shahabat secara lughoh/bahasa memang iya.

    Rasulullah pada awalnya memang tidak mengetahui, namun kemudian Allah-lah yang membuka kedok mereka dan membedakan dan menyisihkan mereka dengan kaum mu’minin, sehingga Rasulullah dan kaum mu’minin pada waktu itu mengetahuinya.

    Kedok mereka terungkap dalam berbagai peristiwa yg terjadi sperti : kasus pembangunan masjid Dhirar, kisah perang tabuk, perang uhud dan lainnya..

    Yang perlu antum ketahui bahwa para shahabat nabi sudah tercatat biografinya dalam kitab rijal-rijal hadits. Misal di kitab Siyar A’lami An Nubala, karangan Imam Adz Dzahabi, di sana termuat biografi para shahabat dan aimmah… mudah bukan…

    Baik untuk lebih yakin lagi, silahkan perhatikan uraian berikut ini, saya kutip dari salah satu blog :

    Sesungguhnya, jika pertanyaan mereka adalah: “Siapa tahu hati mereka (sahabat)?”, maka jawabannya sangat jelas . Allahlah yang maha Mengetahui hati mereka sebagaimana dise-butkan dalam firman-Nya:
    وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ. ]العنكبوت: 11[

    Dan sungguh Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman, dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (al-Ankabut: 11)

    Dan Allah berjanji akan memberitahu ciri-ciri mereka secara detail. Bahkan dalam beberapa kejadian, Allah telah memisahkan siapa munafiqin dan siapa para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman:

    مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ… ال عمران: 179

    Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisih-kan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)… (Ali Imran: 179)

    Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata: “…yaitu pasti Allah akan berikan suatu cobaan yang akan menampakkan wali-wali-Nya dan mem-permalukan musuh-musuh-Nya dan akan di-ketahui siapa mukmin yang sabar dan siapa munafik yang jahat…” (Tafsir Ibnu Katsir 1/468)

    Juga Allah mengancam orang-orang munafik untuk membongkar kedok mereka dalam ayat-Nya:

    أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ (29) وَلَوْ نَشَآءُ َلأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ. محمد: 29-30

    Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mere-ka? Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-k-iasan perkataan mereka dan Allah menge-tahui perbuatan-perbuatanmu. (Muham-mad: 29-30)

    Dan Allah memiliki hikmah dalam taqdir-Nya ketika Ia menguji setiap orang yang mengaku beriman dengan berbagai ma-cam ujian, hingga terlihat siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa-kah yang berdusta (munafik).

    الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ. العنكبوت: 1-3

    Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) berkata: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami te-lah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah menge-tahui orang-orang yang benar dan sesung-guhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (al-Ankabut: 1-3)

    Ujian pertama yang dihadapi oleh orang-orang yang beriman dari kalangan para shahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah gangguan dan penyik-saan dari kaumnya di Mekah. Sebagian mere-ka disiksa dengan api. Sebagian lainnya di-usir, dicela dan dicaci-maki dengan berbagai macam tuduhan yang keji.

    Dengan demikian semua orang paham bahwa para shahabat yang masuk Islam di Mekah sebelum hijrah adalah orang-orang yang telah terbukti keislaman dan keima-nannya, dan terbebas dari tuduhan munafik, karena tidak mungkin ada seorang yang ber-pura-pura masuk Islam ketika itu untuk dicaci-maki, dan disiksa.

    Ujian berikutnya adalah perintah untuk hijrah yaitu untuk meninggalkan negeri dan tanah tumpah darahnya serta meninggalkan sanak saudaranya yang masih kafir dalam rangka mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah katakan tentang mereka:

    لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحشر: 8

    (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari har-ta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (al-Hasyr: 8)

    Dalam ayat ini Allah memuji para muhajirin dengan kalimat ash-Shadiqiin (orang-orang yang jujur dan benar imannya).

    Demikian pula orang-orang yang beriman di Madinah, mereka menyambut dan mempersiapkan tempat bagi para muhajirin, bahkan mereka lebih mementingkan tamu-tamunya tersebut melebihi daripada diri dan keluarganya. Maka Allah pun memuji para shahabat dari kalangan Anshar tersebut.

    وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. الحشر: 9

    Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Mu-hajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (al-Hasyr: 9)

    Dalam ayat ini Allah menjuluki kaum Anshar dengan kalimat al-Muflihuun (orang-0rang yang akan mendapatkan kemenangan dan kemuliaan). Merekalah yang disebut sebagai as-Saabiqunal Awwalun yaitu kaum muha-jirin dan kaum Anshar.

    Jihad Sebagai Tolok Ukur
    Ketika kaum muslimin mulai kuat dan banyak di Madinah, muncullah orang-orang yang berpura-pura mengaku sebagai muslim, pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam hatinya menyimpan kekufuran. Hal ini mereka laku-kan agar terlindung jiwa dan harta mereka, yakni karena takut dibunuh dan dirampas hartanya sebagai pampasan perang.

    Tentu saja mereka (orang-orang mu-nafiq) itu adalah kaum yang paling tidak suka sesuatu yang akan mengorbankan diri dan hartanya. Sehingga ketika turun perintah un-tuk berjihad, terlihat bahwa merekalah yang paling pertama menolak dan menghindarinya dengan alasan yang dibuat-buat. Dengan perintah untuk berjihad ini terpisahlah de-ngan jelas antara dua golongan yaitu mereka yang lulus (mukmin) dan yang gagal (munafik).

    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ. محمد: 31

    Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) keadaan kalian. (Muham-mad: 31)

    Tentang mereka yang lulus pada ujian ini, Allah katakan:

    وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال: 74

    Dan orang-orang yang beriman dan ber-hijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediam-an dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Me-reka memperoleh ampunan dan rezeki (nik-mat) yang mulia. (al-Anfaal: 74)

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ. الحجرات: 15

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mere-ka tidak ragu-ragu dan berjuang (ber-jihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang be-nar. (al-Hujuraat: 15)

    Dalam ayat di atas, Allah kembali memuji mereka dan menggelarinya sebagai ash-Shaadiquun yaitu orang-orang yang jujur dan be-nar-benar beriman, bukan kaum munafik.

    Adapun orang-orang yang tidak jujur alias pendusta, berpura-pura masuk Islam, tetapi memendam kekafiran dan penentangan dalam hatinya, mereka telah gagal dalam menghadapi ujian yang berat ini. Allah tampakkan kemunafiqan mereka dalam beberapa kejadian.
    Setiap mereka berupaya untuk meng-hindari jihad dengan kedustaan-kedustaan dan sumpah-sumpah palsu, Allah menurun-kan ayat-Nya yang menceritakan alasan-alasan mereka itu. Allah katakan dalam ayat-ayat tersebut dengan kalimat: “Berkata kaum munafik…” atau kalimat “Berkata dengan mulutnya yang tidak ada dalam hatinya”. Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya mengerti tentang siapa-siapa orang-orang munafik. Bahkan kaum muslimin setelahnya dan kita semua mengetahui siapa para muna-fik itu satu persatu.

    Allah berfirman:

    وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالاً لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ. ال عمران: 167

    Dan supaya diketahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka ber-kata: “Sekiranya kami mengetahui peperangan, tentulah kami mengikutimu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan de-ngan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (Ali Imran: 167)

    أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. الحشر: 11

    Apakah kalian tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada sauda-ra-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kalian diusir nis-caya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantu kalian.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (al-Hasyr: 11)

    يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلآءِ دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. الأنفال: 49

    (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (al-Anfaal: 49)

    وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُورًا. الأحزاب: 12

    Allah berfirman: Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (al-Ahzaab: 12)

    Selain dengan kalimat-kalimat tersebut di atas, Allah juga jelaskan mereka dengan kalimat yang semakna dan senada seperti al-Mukhalafuun (yakni orang-orang yang meng-hindar dari jihad), “yang tidak jujur”, atau “yang di hatinya ada penyakit” dan lain-lainnya.

    Allah berfirman:

    فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لاَ تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ. التوبة: 81

    Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan ting-galnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mere-ka berkata: “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui. (at-Taubah: 81)

    سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ اْلأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. الفتح: 11

    Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merinta-ngi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hati-nya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerang-an) yang dapat menghalang-halangi ke-hendak Allah jika Dia menghendaki kemu-dharatan bagimu atau jika Dia meng-hendaki manfa’at bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Fath: 11).Wallahu a’lam

    O iya coba anda lihat tingkatan sahabat sampai no. 9 dari tulisan Al-Hakim, yaitu sahabat yg ikut serta dlm bai’atur Ridwan, saat itu ada 1400 sahabat dan Allah berfirman :

    Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (QS 48:18)

    Lihatlah Allah mengetahui isi hati mereka mas, jadi jelas 1400 org tsb bukanlah munafik.. oce..

    Abu Sufyan dan Muawiyyah? Mas sungguh terlalu!

    Ups! Saya hanya menukil dari Al-Hakim lho mas… memang kenapa mas kok kyknya shock banget membaca nama mereka berdua?

    (2) Mengenai Ahlulbayt Nabi dan siapa-siapa yang termasuk di dalamnya terkesan sekali bahwa mas ingin memaksakan bahwa Ahlulbayt Nabi adalah bukan saja Fatimah-Ali-Hasan dan Husein. Dimana isteri-isteri Nabi juga termasuk di dalamnya.
    Apakah mas tidak menyadari bahwa surah Al-Ahzab sangat mengindikasikan penyucian dan kebersihan jiwa bagi Ahlulbayt Nabi serta pencegahan thd kesalahan dan dosa? Bagaimana mas bisa terfikir untuk juga memasukkan para isteri Nabi ke dalamnya, dimana salah satu dari mereka dengan beraninya keluar rumah untuk memimpin peperangan thd seorang keluarga Nabi sementara Nabi saw menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah? Begitu pula ada teguran di salah satu ayat thd isteri Nabi yang lain atas kecemburuan mereka thd Nabi. Dan perlu juga mas pertimbangkan bahwa ikatan suami-isteri bisa saja lepas. Karena apa? Karena jika terjadi perceraian, maka tidak ada lagi hubungan kekerabatan. Bagaimana mas akan menjelaskan mereka para isteri Nabi saw termasuk Ahlulbayt Nabi padahal ikatan kekerabatan mereka dengan Nabi saw sangat lemah?

    Justru hal yang sangat dipaksakan jika ayat tsb diperuntukkan bukan untuk istri2 nabi atau membuang istri2 Nabi dari cakupan ahlul bait, anak SMP kelas 1 aja begitu membuka 33:30-34 langsung tahu ketika ditanya ditujukan kepada siapakah ayat tsb, sedangkan kita yg sudah gede gini sukanya kok yg samar-samar.:)

    Apakah mas tidak menyadari bahwa surah Al-Ahzab sangat mengindikasikan penyucian dan kebersihan jiwa bagi Ahlulbayt Nabi serta pencegahan thd kesalahan dan dosa? Bagaimana mas bisa terfikir untuk juga memasukkan para isteri Nabi ke dalamnya, dimana salah satu dari mereka dengan beraninya keluar rumah untuk memimpin peperangan thd seorang keluarga Nabi sementara Nabi saw menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah? Begitu pula ada teguran di salah satu ayat thd isteri Nabi yang lain atas kecemburuan mereka thd Nabi.

    Makanya mohon dibaca ayat sebelum dan sesudahnya, ayat tsb terkait dengan perintah dan larangan, Ayat itu jelas-jelas asalnya buat istri2 Nabi dan ayat tersebut adalah penyucian buat mereka dan ahlul bait Nabi yang lain berdasar hadits beliau, teguran dalam Al-Qur’an menunjukkan salah satu bentuk penjagaan & perhatian Allah terhadap istri2 Nabi mas, jadi mohon jangan salah tafsir, jangankan istri2 Nabi, Nabi sendiri pun dijaga oleh Allah salah satunya dengan cara teguran.

    Bagaimana mas akan menjelaskan mereka para isteri Nabi saw termasuk Ahlulbayt Nabi padahal ikatan kekerabatan mereka dengan Nabi saw sangat lemah?

    Kalau anda sekarang ini sudah berkeluarga, kira-kira siapa saja yang menjadi ahlul bait anda mas? Tolong sebutkan…

    Eh, bagaimana mas bisa menafsirkan sebuah hadits hanya dengan kesan tegas dan tidak dari Nabi saw. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan Nabi biarlah Nabi saw yang memutuskan, kita hanya mentatati. Tegas atau tidak itu bukan urusan kita mas, lagipula itu hanya kesan kan?

    Saya hanya membalik logikanya mas SP kok mas, coba anda perhatikan lagi diskusi di atas.

    Salam

  117. @SP

    Ah ini namanya kembali memperluas arah pembicaraan. Soal hadis yang anda kutip, sudah saya sebutkan penafsiran saya. inti dalam pendapat saya soal Khulafaur Rasydin adalah berdasarkan hadis yang shahih maka mereka adalah hujjah. Jadi sudah sewajarnya kalau mereka harus mendapat penetapan dari Allah SWT dan RasulNya mengenai siapa mereka. IMHO Adalah tidak mungkin pribadi yang dikatakan harus kita pegang teguh Sunnahnya adalah orang yang dipilih oleh orang banyak

    Allah, Rasul-Nya dan kaum mu’minin telah menetapkannya sbgmana komentar saya di sholat tarawih dalam timbangan bagian tiga.
    http://secondprince.wordpress.com/2008/09/14/shalat-tarawih-dalam-timbangan-bagian-ketiga/#comment-4070

    Saya ingin tahu bagaimana Mas menanggapi bahwa khalifah yang anda sebutkan itu pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasul. Misalnya dalam perkara haji tamattu. Jika memang dengan logika Mas bahwa mereka adalah Khulafaur Rasydin maka ketetapan mereka yang bertentangan dengan Sunnah Rasul SAW adalah Sunnah yang harus dipegang teguh. Maka apalah artinya berpegang pada SunnahKu dan Sunnah Khulafaur Rasydin.

    Masalahnya mindset antum sudah terlanjur menganggap bahwa selain Nabi ada yang ma’sum (atau apapun istilah antum), yg menurut antum itu adalah konsekuensi logis dr hadits tsaqolain dan hadits di atas, tetapi mnrt saya tidak mas, ketidakma’suman mereka tidak menggugurkan hadits tsaqolain maupun hadits khulafa’ur Rasyidin, saya sudah sampaikan sebelumnya, kesepakatan/ijma’ merekalah yg terjaga dan menjadi hujjah, berdasarkan hadits yg saya sebutkan di atas, sedangkan per individu mereka bisa saja keliru baik khulafa’ur rasyidin, sahabat maupun ahlul bait.

    Dalam kasus Haji Tamattu’ khulafa’ur rasyidin tidaklah sepakat, yaitu Ali tidak sepakat dg 3 khalifah sebelumnya. Pada saat terjadi perbedaan pendapat seperti itu kita kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah, mana yang lebih mencocoki keduanya itu yg kita ambil, dan memang pendapat Ali adalah yg rajih dalam masalah ini, juga pendapat Ibnu Abbas dan bahkan Ibnu Umar sendiripun berbeda dengan ayahnya dlm masalah ini. Pertanyaannya apakah hanya karena masalah ijthad yg keliru lantas sahabat yg menyelisihi tidak mengakui khalifah mereka saat itu? ga ada riwayat yg mengatakan hal itu mas, ingat jika ijtihad seorang hakim benar maka dia mendapat 2 pahala jika salah 1 pahala. Sekarang coba anda cek lebih banyak mana kesesuaian mereka dg sunnah nabi daripada yg tidak, padahal mungkin saja mereka jg punya dasar dlm ijtihad mereka tsb yg sahabat lain mungkin tidak mengetahuinya. Dan yg jelas kekhalifahan mereka tetap syah berdasarkan Al-Qur’an dan hadits2 yg shahih.

    Bagi saya tidak cukup karena penunjukkannya tidak jelas. Intinya berulang kali saya baca tidak ada dalam ayat tersebut kata-kata tentang siapa yang harus dipegang teguh agar tidak tersesat

    Saya kira sudah jelas mas, anda tinggal buka kitab para ulama mengenai biografi2 mereka, siapakah yang termasuk dalam ayat tersebut… sebenarnya secara khusus tentang mereka tersebar di berbagai riwayat hadits, contoh yg paling mudah adalah riwayat tentang shahabat utama Nabi… Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali …jelas keempat orang tsb mesti kita ikuti…

    *btw saya tidak menangkap kata-kata perintah dalam ayat di atas*

    Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya mengatakan tentang keridhoannya dengan golongan dari orang–orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang Muhajirin dan Anshor tetapi Allah juga mengatakan akan keridhoannya dengan orang–orang yang mengikuti jalan mereka baik dalam keimanan mereka, perbuatan mereka dan metode mereka sebagai konsekuensi atas amal sholeh mereka maka Allah menjanjikan kepada 2 golongan tersebut (Golongan shahabat dan orang–orang yang mengikutinya) yaitu mereka akan mewarisi surga..

    3. Mas mengutip hadis tersebut tidak seluruhnya, anehnya bagian yang menurut saya paling penting justru tidak Mas kutip. Itu ada di bagian akhir. Setelah Rasulullah SAW mengatakan Tentu, masuklah ke dalam selimut.. ada terusannya yaitu kata2 Ummu Salamah
    Maka aku pun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau.

    Apa masalahnya mas? Bahkan tambahan matan di atas membuktikan bahwa Nabi mendo’akan ahlul baitnya (keluarga Fathimah) agar juga dibersihkan oleh Allah dari segala kotoran dosa, maka dengan dido’akannya mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah tidak ma’sum (atau apapun istilah antum).

    4. Hadis yang Mas kutip tidak sedang membicarakan Asbabun Nuzul ayat Tathir, lihat sendiri tidak ada penjelasan soal ayat Al Ahzab 33 yang turun. Hadis di atas menjelaskan soal doa Rasulullah SAW kepada Ahlul Kisa’.

    Ups! Maaf, Anda terlalu memaksakan diri untuk mengatakan hadits di atas tidak berkaitan dg QS 33:33

    Kalo saya boleh menafsirkan mas:
    Pada hadits riwayat Tirmidzi Ummu Salamah dicegah masuk ke dalam selimut karena beliau sedang ingin mendoakan Ahlul Baitnya dari keluarga Fathimah agar dibersihkan juga oleh Allah. Nah setelah selesai baru kemudian Nabi membolehkan Ummu Salamah masuk sebagaimana yg termuat dlm riwayat Ahmad. Atau yg dimaksud Ummu Salamah mempunyai tempat tersendiri dan dia dalam kebaikan adalah karena ayat tsb pada asalnya turun buat istri2 Nabi termasuk Ummu Salamah, sehingga ga perlu lagi untuk dido’akan.

    Jadi kesimpulan yang saya tangkap
    1. Hadis ini tidak memuat sedikitpun hujjah bahwa Al Ahzab ayat 33 turun untuk istri-istri Nabi SAW. karena memang hadis tersebut tidak menceritakan soal turunnya Al Ahzab ayat 33

    Sekali lagi maaf, anda terlalu memaksakan diri agar hadits tsb sesuai dg mindset antum

    2. Hadis ini hanya menceritakan kalau Ummu Salamah adalah ahlu Nabi, sayangnya beliau bukan termasuk dalam mereka yang didoakan oleh Nabi SAW sebanyak 3 kali dan jelas bukan ahlul bait dalam ayat tathir. Hal ini tampak dalam kata-kata terakhir hadis tersebut bahwa Ummu Salamah masuk ke dalam selimut setelah doanya selesai.

    Ya jelas lah mas lha wong ayat 33:30-34 memang asalnya buat istri2 Nabi kok, jadi yg perlu didoakan ya ahlul bait beliau yg lain yaitu keluarga Fathimah ra agar masuk juga dalam ayat tsb.

    Pahami baik-baik hadisnya. Jika memang Ummu Salamah sebagai istri-istri Nabi adalah yang dimaksud dalam Al Ahzab ayat 33 yang turun di rumah Beliau itu, maka Beliau tidak perlu mengungkapkan pertanyaan dan harapan ingin ikut bersama Mereka yang diselimuti oleh Rasulullah SAW. Kemudian kata-kata Rasulullah SAW bahwa Ummu Salamah punya tempat sendiri dan dalam kebaikan adalah peniolakan yang halus dari Rasulullah SAW terhadap keinginan Ummu Salamah.

    Justru spt komen sy di atas yg dimaksud Ummu Salamah mempunyai tempat tersendiri dan dia dalam kebaikan adalah karena ayat tsb memang asalnya turun buat istri2 Nabi termasuk Ummu Salamah. Sehingga beliau sudah dalam kebaikan.

    Silakan saja, dan bagi saya itu mencampuradukkan hadis shahih, hadis dhaif dan prakonsepsi pribadi.

    Maaf, nampaknya hal tsb terjadi juga pada diri anda mas.

    Kayaknya yang saya tangkap, Mas justru beranggapan Al Ahzab 33 itu turun khusus untuk istri2 Nabi dan Rasul SAW menginginkan kerabat Beliau yang lain sebagai Ahlul bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33.

    Pada asalnya memang ayat tersebut turun untuk istri2 Nabi dan baru diperluas untuk ahlul bait yg lain.

    Lantas bagaimana dengan keluarga Aqil dan keluarga Ja’far sebagai kerabat Nabi tidak diselimuti juga. Mengapa menurut kata Mas hanya keluarga Ali dan keluarga Abbas saja?.

    Wallahu A’lam, karena yg ditemukan baru hadits yg menceritakan perlakuan Nabi tsb hanya kepada keluarga Ali dan Abbas saja. Dan alasan Nabi mengapa hanya 2 keluarga tsb Allahu A’lam.

    Lha mungkin saja begitu kalau berdasarkan urutan ayat. Hanya saja saya termasuk dalam golongan yang memahami bahwa ayat Al Quran tidak diturunkan secara berurutan. Sebagai perbandingan Anda bisa melihat Al Maidah ayat 2, 3 dan 4. Ayat-ayat ini coba Mas bandingkan. Lucu sekali kalau Mas bilang ayat tersebut turun berurutan. Karena Al Maidah ayat 3 telah masyhur sebagai ayat yang terakhir turun(itu pun cuma penggalan tertentu atau tidak seluruh al maidah ayat3 ). Aneh sekali kan setelah turun Al Maidah ayat 3 yang menyatakan syariat sudah sempurna tiba-tiba ayat berikutnya turun untuk menetapkan syariat baru tentang makanan yang dihalalkan.

    Saya mau Tanya sama mas, apakah urutan ayat seperti pada Al-maidah ayat 3 terjadi pada setiap ayat dlm Al-Qur’an yg lain ataukah jarang terjadi? Apa dasar mas bahwa urutan QS 33:33 sama spt QS 5:3? Apakah krn hadits dr riwayat Tirmidzi tsb? Sbgmana mas sampaikan bahwa urutan ayat dlm QS 5:3 tidak saling berhubungan, OK mungkin mas benar, tetapi di QS 33:33, urutan ayatnya saling berhubungan, jadi QS 33:33 berbeda dg QS 5:3. makanya saya bilang di atas kalo anak SMP kelas 1 ditanya untuk siapa ayat tsb turun mereka InsyaAllah akan menjawab bahwa ayat tsb berkaitan dg istri2 Nabi. jelas sekali bedanya..

    Saya sebelumnya menangkap kalau Mas berpandangan bahwa Al Ahzab 33 diturunkan untuk Istri-istri Nabi SAW beserta Sayyidah Fatimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Makanya saya katakan itu rancu. Ternyata komen Mas berikutnya saya menangkap bahwa Mas mengkhususkan Al Ahzab 33 turun untuk istri2 Nabi saja sedangkan Ahlul Kisa’ adalah pribadi yang diharapkan oleh Rasul SAW untuk ikut masuk dalam ayat tersebut.

    Kalo menurut saya, pendapat yg terbaik sbgmana yg sy sebutkan di awal sekali memang ayat tersebut turun untuk istri2 Nabi dan juga ahlul bait Nabi yg lainnya, walaupun pada asalnya ayat tsb turun utk istri2 Nabi tetapi kmdn diperluas ke ahlul bait yg lainnya. dan tentunya argumen2 saya di atas untuk mengcounter pendapat yg mengatakan bahwa ahlul kisa’ saja yg dimaksud ayat tsb dan membuang istri2 Nabi. Padahal jika diperhatikan benar, justru istri2 Nabi lah yg lebih dekat dg apa yg dimaksud oleh ayat tsb. Wallahu A’lam

    Terima kasih mas SP karena mau bersabar menanggapi komen2 saya… saya mohon maaf jika ada kata2 yg krg berkenan.. maaf juga kalo kepanjangan..

    Peace… :)

    @ressay

    Komentar anda sudah saya jawab di atas mas… syukron.

  118. @Bims
    Maaf mas, masih ada yang mau ditanyakan… :)
    Kata mas:
    “…..Rasulullah pada awalnya memang tidak mengetahui, namun kemudian Allah-lah yang membuka kedok mereka dan membedakan dan menyisihkan mereka dengan kaum mu’minin, sehingga Rasulullah dan kaum mu’minin pada waktu itu mengetahuinya..”

    Kalimat “….namun kemudian Allah-lah yang membuka kedok mereka…..” apakah ini lanjutan ayat 101 mas? Atau tambahan mas sendiri?
    Bukannya ayat 101 di atas sudah jelas mas? Apakah mas tidak faham maksudnya? Ataukah menurut mas teks tsb keliru? RASUL SAW TIDAK MENGETAHUI SIAPA-SIAPA YANG MUNAFIK.
    Baiklah….Jika menurut mas sudah dikasi tau oleh Allah swt, adakah ayat yang menyatakannya? Serta siapa-siapa saja yang disebutkan oleh Allah swt sebagai manusia-manusia yang munafik itu? Adakah Rasul saw pernah menyebutkannya dan sampai ke mas?

    Coba mas sebutkan siapa-siapa manusia yang dimaksud munafik di ayat tsb? Sehubungan dgn ayat 101 ini mas, bukan ayat yang lain.
    Mungkin bagi mas ga perlu, tapi bagi saya sangat penting mengingat riwayat-riwayat yang sampai ke kita sekarang adalah berasal dari orang-orang di sekitar Nabi saw. Jika kita tidak tahu mana-mana yang munafik, bagaimana kita yakin bahwa riwayat-riwayat yang sampai ke kita benar-benar berasal dari Rasul saw?

    Sorry, ayat2 yang mas sebutkan di atas msh belum menjawab pertanyaan saya, siapa-siapa yang munafik.

    Salam

  119. @armand

    saran saya coba baca lagi carefully…

    Salam

  120. @bims
    Sudah mas….sudah saya baca bolak-balik kok komen mas. Mungkin saya kelewat. Tapi ternyata ngga juga ditemukan nama-nama orang yang munafik di ayat 101 yang menurut mas sudah diketahui oleh Nabi saw.
    Jika mas masih juga meragukan ketelitian saya, maka saya ngga tau lagi mau komen apa.
    Salam.

  121. @atasku

    Maksud saya, sudah dibaca blm kitab rijal-rijal hadits seperti siyar ‘alami an nubala-nya Adz-Dzahabi, shg antum tahu siapakah shahabat2 Nabi tsb. sudah dibaca blm hadits2 yg bertebaran, paling mudah dulu aja, misal mengenai Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yg sudah jelas2 mereka adalah shahabat Nabi dan bukan munafik… anda sudah yakin belum kalau mereka adalah bukan munafik? sebelum melangkah ke sahabat yg lainnya.

    sekarang saya mau tanya sama mas apakah Al-Qur’an menyebut nama-nama Ahlul Bait Nabi satu per satu? misalnya Ali, Fathimah, Hasan dan Hussain? misal di QS 33:33, jika ada, tolong saya dikasih tahu di surat apa dan ayat berapa?

    salam

  122. @bims
    Saya ngga tertarik dan naif untuk menanyakan satu per satu siapa-siapa sahabat Nabi saw karena jumlahnya ribuan/jutaan? Biarlah mas saja yang menelan kesemua nama-nama itu.
    Yang saya tanyakan ke mas hanya nama-nama orang yang munafik yang disebut-sebut di ayat 101, karena menurut mas Nabi saw mengetahuinya. Jika Nabi saw mengetahui, tentu dibuktikan dengan nama-nama mereka sampai ke kita bukan?
    Bagaimana pun jika mas kesulitan me-list nama-nama tsb saya bisa memakluminya kok :)

    Ada pun nama-nama Ahlulbayt di QS 33:33 memang ditunjukkan oleh Nabi saw kan? Masalahnya dimana mas?

    Salam

  123. @armand

    Memang benar Nabi mengetahuinya, karena Allah telah membuka kedok mereka, makanya baca uraian yg panjang di komen saya, bagaimana Allah memisahkan antara munafik dan mukmin. tanda-tanda mereka sudah diperlihatkan melalui ujian2 yg berat yg kaum munafik tidak akan bisa menyembunyikan kemunafikannya dari mulai ujian penyiksaan oleh kaum kafir, hijrah, jihad, menginfaqkan harta benda, berpisah dg kaum kerabat dll. dan yg lulus ujian tsb merekalah kaum mukminin yang disebut shahabat Nabi… dan nama-nama mereka tertulis di dalam kitab2 para tabi’in, tabi’ut tabi’in dan dst…

    Mengenai nama2 orang munafik, Rasulullah telah memberikan catatannya kepada shahabatnya yg bernama Hudzaifah Ibnul Yaman pada saat itu… mengapa Rasulullah memerintahkan untuk merahasiakannya ya Allahu A’lam.

    sehingga Umar pun merujuk kepada Shahabat satu ini, misal ketika mau mensalatkan jenasah, jika hudzaifah menshalatkan, Umar ikut mensholatkan jika Hudzaifah tidak mensalatkan Umar pun tidak menshalatkannya.

    Demi Allah, rasa takut kepada kemunafikan hampir-hampir mencopot jantung generasi terdahulu. Karena, mereka mengetahui kemunafikan secara terpenrinci, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Mereka mencurigai dirinya, sehingga khawatir mereka termasuk golongan munafikin.

    Umar bin Khathab r.a. berkata kepada Hudzaifah r.a., “Hai Hudzaifah, demi Allah aku ingin bertanya kepadamu, apakah Rasulullah saw. telah menyebutku dalam golongan kaum munafikin?”
    “Tidak, beliau tidak menyebut namamu! Dan setelah ini aku tidak akan merekomendasi siapa pun selamanya!” jawab Hudzaifah. (satu lagi terbukti bahwa Umar bukan seorang munafik, makanya kalau mau tahu lebih dalam baca riwayat2 mengenai mereka para shahabat)

    Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Saya telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi saw. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya. Tidak seorang pun di antara mereka yang berkata, ‘Imanku seperti iman Jibril dan Mikail’.”

    Riwayat ini disebutkan oleh Imam al-Bukhari.
    Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, “Tidak ada yang merasa aman darinya (dari kemunafikan), kecuali seorang munafik. Dan tidak ada yang merasa khawatir atasnya, kecuali seorang mukmin.”

    Diriwayatkan dari salah seorang sahabat Nabi saw., bahwa ia berkata dalam do’anya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari khusyu’ kemunafikan.”
    Ada yang bertanya kepadanya, “Apa itu khusyu’ kemunafikan?”
    Ia berkata, “Badan terlihat khusyu’, tetapi hatinya tidak khusyu’.”

    Ada pun nama-nama Ahlulbayt di QS 33:33 memang ditunjukkan oleh Nabi saw kan? Masalahnya dimana mas?

    Masalahnya bagaimana anda bisa yakin bahwa Nabi pernah benar-benar bersabda mengenai ahlul bait tsb? Anda harus ingat bahwa hadits Kisa’, Tsaqolain, Safinah. Gadhir Kum dan semua hadits yang meriwayatkan adalah para shahabat… Nah bagaimana anda bisa yakin kalau shahabat periwayat hadits di atas bukanlah seorang munafik? Jika anda meragukan keadilan para shahabat yang meriwayatkan hadits2 bagaimana anda membangun keyakinan anda thd hadits2 spt Tsaqalain, Safinah, Ghadir Kum, Kisa’ dll?… itu baru hadits lho mas, bagaimana dengan Al-Qur’an? Kita tahu pengumpulan Al-Qur’an terjadi di masa shahabat, pengkodifikasian Al-Qur’an menjadi bentuk mushaf spt yg kita pegang saat ini juga di masa shahabat, bagaimana anda yakin bahwa Al-Qur’an yg sekarang adalah otentik jika meragukan keadilan shahabat? Kalau anda yakin bahwa Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah-lah yang menjaganya tentu anda harus yakin pula bahwa pengumpul dan pengkodifikasi Al-Qur’an ini adalah juga dijaga oleh Allah dan terbebas dari kemunafikan.

    Makanya sering saya sampaikan bahwa Islam adalah pohon, sedangkan para shahabat adalah akarnya, maka jika meragukan mereka berarti sedang mencabut akar pohon Islam itu sendiri… maka tak ada sedikitpun tersisa Islam ini buat kita… mohon direnungkan baik-baik…

    Salam

  124. @bims

    Masalahnya mindset antum sudah terlanjur menganggap bahwa selain Nabi ada yang ma’sum (atau apapun istilah antum),

    Nanya nih Mas, kalau mindset anda yang bilang Rasulullah SAW itu ma’sum datangnya dari mana?.
    *giliran saya memperluas pembicaran*

    yg menurut antum itu adalah konsekuensi logis dr hadits tsaqolain dan hadits di atas,

    Saya tidak main pukul rata sama seperti Mas. konsekuensi logis hadis Tsaqalain yang saya maksud jelas bersandar pada teksnya. Lihat teks hadis ini

    Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”

    Sebelum hadis Tsaqalain itu dibahas panjang lebar coba anda pahami teks tersebut. Bukankah teks itu dasar jelas bahwa Sunnah mesti dipegang teguh agar tidak sesat. Nah kan tinggal simple aja dengan hadis Tsaqalain, tinggal diganti kata Sunnah menjadi Ahlul Bait.

    ketidakma’suman mereka tidak menggugurkan hadits tsaqolain maupun hadits khulafa’ur Rasyidin, saya sudah sampaikan sebelumnya, kesepakatan/ijma’ merekalah yg terjaga dan menjadi hujjah, berdasarkan hadits yg saya sebutkan di atas

    Teks hadisnya tidak menyebutkan soal ijma’ jadi apa dasarnya bahwa yang dimaksud itu adalah ijma’. Dengan logika anda yang langsung bilang bahwa itu adalah ijma’ maka saya juga bisa bilang begini.
    berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
    Kata-kata di atas dengan logika anda bisa ditafsirkan bahwa yang disuruh berpegang itu adalah ijma’ Rasul bersama khulafaur Rasydin sedangkan perindividu mereka tidak menjadi hujjah bisa saja keliru. Alangkah kacaunya itu :mrgreen:

    Dalam kasus Haji Tamattu’ khulafa’ur rasyidin tidaklah sepakat, yaitu Ali tidak sepakat dg 3 khalifah sebelumnya. Pada saat terjadi perbedaan pendapat seperti itu kita kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah

    Hadis Irbadh itu saya tanya ditujukan pada siapa? Para sahabat bukan, Pesannya apa, Teksnya bilang
    maka berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
    kemudian kapan berlakunya hadis atau pesan tersebut. Teksnya menyebutkan
    sungguhnya siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak
    Jadi tentu selepas Nabi SAW wafat.
    Kalau seperti yang anda bilang bahwa Sunnah Khulafaur Rasydin yang dimaksud itu adalah Ijma’ Khulafaur Rasydin bukan perindividu maka hadis itu hanya bisa diamalkan atau pesan itu dipegang teguh tepat setelah zaman keempat Khalifah(merujuk pada pengertian anda). Sedangkan zaman sebelum itu ya gak bisa dong, kan belum ada 4 khalifah yang disebut Khulafaur Rasydin dan ini bertentangan dengan teks hadisnya yang justru menyatakan pesan itu harus dipegang teguh sepeninggal Nabi SAW wafat.

    Atau dengan cara lain jika saya turuti pengertian anda bahwa Sunnah Khulafaur Rasydin adalah Ijma’ Khulafaur Rasydin. Maka lihatlah implikasinya

    1. Misalnya nih Zaman Umar yang waktu itu melarang haji tamaatu, maka merujuk pengertian anda maka yang khulafaur Rasydin baru ada 2 yaitu Abu Bakar dan Umar. Mereka berdua sepakat melarang haji tamattu’. Anda bisa lihat hadisnya di bagian khusus. Nah disini Imam Ali belum menjadi Khalifah maka sudah jelas bahwa larangan haji tamattu’ menjadi bagian Sunnah Khulafaur Rasydin dan ternyata bertentangan dengan Sunnah Rasul. Anehnya para sahabat lain lebih berpegang pada Sunnah Rasul dan menolak Sunnah Khulafaur Rasydin. Kontradiktif dengan hadisnya.

    2. Atau zaman Usman yang juga melarang haji tamattu’. Disini merujuk pada pengertian anda bahwa khulafaur Rasydin sudah ada 3 yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman yang ketiganya sepakat melarang haji tamattu’. Maka larangan haji tammatu kembali menjadi Sunnah Khulafaur Rasydin . Saat ini Imam Ali belum menjadi Khalifah. maka Penentangan beliau tidak melanggar ijma’ Khulafaur Rasydin maka Sunnah Khulafaur Rasydin kembali bertentangan dengan Sunnah Rasul. Dan para Sahabat lebih memilih Sunnah Rasul dan menolak Sunnah Khulafaur Rasydin. So bagaimana mungkin bisa begitu?. Tidak mungkin Rasulullah SAW menyuruh berpegang pada dua hal yang kontradiktif. apalagi bertentangan dengan Sunnahnya sendiri.

    Pertanyaannya apakah hanya karena masalah ijthad yg keliru lantas sahabat yg menyelisihi tidak mengakui khalifah mereka saat itu?

    Saya tidak mengangkat masalah ini, masalah saya itu adalah Sunnah Khulafaur Rasydin yang harus dipegang teguh itu yang mana?

    ga ada riwayat yg mengatakan hal itu mas, ingat jika ijtihad seorang hakim benar maka dia mendapat 2 pahala jika salah 1 pahala.

    Apakah jika sudah jelas ketetapan Allah dan RasulNya maka seseorang diperkenankan untuk berijtihad?.Sudah jelas yang shahih dari Rasul SAW maka mengapa lagi perlu berijtihad

    Sekarang coba anda cek lebih banyak mana kesesuaian mereka dg sunnah nabi daripada yg tidak, padahal mungkin saja mereka jg punya dasar dlm ijtihad mereka tsb yg sahabat lain mungkin tidak mengetahuinya.

    Oh ya mungkin saja mereka punya dasar, mungkin karena khawatir atau karena tidak suka. silakan dicari ada riwayat tentang ini. Mereka bahkan tidak menisbatkan larangan itu kepada Rasulullah SAW jadi dasar apa lagi yang bisa digunakan untuk menolak ketetapan shahih dari Rasulullah SAW. Maaf, Mas berandai-andai dalam masalah ini, silakan saja :)

    Dan yg jelas kekhalifahan mereka tetap syah berdasarkan Al-Qur’an dan hadits2 yg shahih.

    Silakan saja, saya tidak pernah mempermasalahkan ini. Kalau Mas berkeras mau membahas, silakan di tempat khusus yang berkaitan.

    Saya kira sudah jelas mas, anda tinggal buka kitab para ulama mengenai biografi2 mereka, siapakah yang termasuk dalam ayat tersebut…

    Kita bicara dengan sudut pandang yang berbeda. silakan mau berapapun banyaknya Qaul Ulama jika tidak ada dasar shahihnya baik dari Allah dan RasulNya maka itu tidak mutlak benar.

    sebenarnya secara khusus tentang mereka tersebar di berbagai riwayat hadits, contoh yg paling mudah adalah riwayat tentang shahabat utama Nabi… Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali …jelas keempat orang tsb mesti kita ikuti…

    Yah doktrin yang sudah saya dengar sedari kecil. Masalahnya apakah hadis-hadis itu sedang membicarakan At Taubah ayat 100 yang anda kutip itu. Lompatan yang cukup mengagumkan :)

    Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya mengatakan tentang keridhoannya dengan golongan dari orang–orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang Muhajirin dan Anshor tetapi Allah juga mengatakan akan keridhoannya dengan orang–orang yang mengikuti jalan mereka baik dalam keimanan mereka, perbuatan mereka dan metode mereka sebagai konsekuensi atas amal sholeh mereka maka Allah menjanjikan kepada 2 golongan tersebut (Golongan shahabat dan orang–orang yang mengikutinya) yaitu mereka akan mewarisi surga..

    Hoooo kembali memperluas teks kemana-mana, silakan-silakan. Saya tidak mau capek2 memperpanjang perkataan jika teksnya sendiri tidak bicara begitu.

    Apa masalahnya mas? Bahkan tambahan matan di atas membuktikan bahwa Nabi mendo’akan ahlul baitnya (keluarga Fathimah) agar juga dibersihkan oleh Allah dari segala kotoran dosa, maka dengan dido’akannya mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah tidak ma’sum (atau apapun istilah antum).

    Masalahnya maka hadis di atas bukanlah bukti bahwa istri2 Nabi yang dimaksud dalam ayat tathir. apa maksudnya agar juga, sudah jelas itu untuk mereka. Hadis di atas bahkan mengkhususkan doa untuk mereka saja, Ummu Salamah tidak ikut dalam doa tersebut. Perhatikan hadisnya.
    Bukankah saya sudah membahasnya bahwa doa tersebut untuk menegaskan bahwa merekalah yang dimaksud. Bahkan ada hadis lain dalam Al Mustadrak bahwa ayat tathir turun selepas doa Rasulullah SAW yang berarti menetapkan doa Rasulullah SAW tersebut. (Jika merujuk pengertian anda bahwa doa tersebut hanyalah sekedar doa atau harapan Rasulullah SAW semata).

    Ups! Maaf, Anda terlalu memaksakan diri untuk mengatakan hadits di atas tidak berkaitan dg QS 33:33

    Saya tidak mengatakan kalau itu tidak berkaitan, saya mengatakan hadis itu tidak membicarakan asababun nuzulnya. Kaitannya bahkan sudah saya bahas panjang lebar, bisa jadi hadis di atas adalah peristiwa selepas ayat tathir turun atau sebelum ayat tathir turun. silakan baca kembali komentar saya sebelumnya
    Mari kita buktikan sama-sama siapa yang maksa dalam hal ini?. Kalau memang hadis di atas membicarakan asbabun nuzul ayat tathir maka akan jelas ada kata-kata tentang turunnya ayat al Quran. Dan saya lihat sekali lagi tetap tidak ada?. Jadi siapa yang maksa?. Saya kah? :roll:

    Nah setelah selesai baru kemudian Nabi membolehkan Ummu Salamah masuk sebagaimana yg termuat dlm riwayat Ahmad

    Itu namnya Tadlis, atau mencampur aduk. Hadis riwayat ahmad tidak sedang membicarakan asbabun nuzul dan hadis riwayat Tirmidzi membicarakan asbabun nuzul. Teksnya berbicara begitu.Saya sudah membahas ini.
    Lagipula apa gunanya masuk kalau doanya sudah selesai, Justru Mas tidak menanggapi poin yang paling penting Mengapa Ummu Salamah mau ikut-ikutan bersama mereka kalau Beliau seperti kata anda sudah jelas-jelas yang dimaksud dalam ayat tersebut.

    Atau yg dimaksud Ummu Salamah mempunyai tempat tersendiri dan dia dalam kebaikan adalah karena ayat tsb pada asalnya turun buat istri2 Nabi termasuk Ummu Salamah, sehingga ga perlu lagi untuk dido’akan.

    Silakan berandai-andai, karena hadis di atas tidak menjadi dasar perandaian anda. Saya tidak tahu bagaimana kata-kata mempunyai tempat tersendiri dan dia dalam kebaikan bisa berarti begitu. Tempat tersendiri berarti tempat itu berbeda dengan kedudukan yang sedang dibicarakan dan dalam kebaikan itu berarti walau tidak termasuk dalam ayat ini, Ummu Salamah juga dalam kebaikan. Kedudukan Ahlul Bait bukan satu-satunya kebaikan yang ada sehingga ketika Rasul bilang dalam kebaikan maka itu berarti sama dengan kedudukan Ahlul Bait.

    Sekali lagi maaf, anda terlalu memaksakan diri agar hadits tsb sesuai dg mindset antum

    Klaim adalah hal yang tidak perlu diungkapkan dalam berdiskusi, karena orang lain bisa mementahkan semua kata-kata anda dengan klaim tersebut. Maaf saya rasa anda terlalu memaksakan agar sesuai dengan mindset antum. Betapa mudah dan tidak ada artinya yang seperti itu.

    Intinya kalau memang mau melihat siapa yang terpengaruh mindset siapa. Maka kita lihat siapa yang berpegang pada teks hadisnya dan tidak menambah-nambah seenaknya atau tarik ulur sekenanya. Begitu jauh lebih baik kan

    Ya jelas lah mas lha wong ayat 33:30-34 memang asalnya buat istri2 Nabi kok, jadi yg perlu didoakan ya ahlul bait beliau yg lain yaitu keluarga Fathimah ra agar masuk juga dalam ayat tsb.

    Ya itu kan kata Mas, Teksnya bicara lain. Teksnya menunjukkan kalau Ummu Salamah justru tidak memahami seperti yang anda pahami (bahwa ayat tersebut untuk istri Nabi SAW termasuk beliau). Toh makanya beliau juga ingin ikut bersama mereka. Ngapain sih tanya-tanya atau berharap ikut kalau memang sudah jelas yang dimaksud. Poin ini yang belum anda tanggapi dan terlihat jelas pada teks hadisnya.

  125. @bims

    Justru spt komen sy di atas yg dimaksud Ummu Salamah mempunyai tempat tersendiri dan dia dalam kebaikan adalah karena ayat tsb memang asalnya turun buat istri2 Nabi termasuk Ummu Salamah. Sehingga beliau sudah dalam kebaikan.

    Maaf Mas kita sudah sama-sama membahas arti kata-kata Tempat tersendiri dan dalam kebaikan. Saya dengan penafsiran saya dan Mas dengan penafsiran Mas. Untuk menguji mana yang klop dengan teksnya maka saya hadapkan dengan permasalahan Mengapa Ummu Salamah tanya-tanya atau berharap ikut dengan mereka?. Penafsiran saya klop dengan ini karena beliau bukanlah yang dituju sehingga beliau berharap ikut masuk. Sedangkan penafsiran Mas tidak klop dengan hal ini karena mengapa mesti bertanya ikut atau tidak atau mengapa mesti berharap masuk bersama mereka kalau sudah jelas Beliau itu adalah yang dituju ayat tersebut.

    Maaf, nampaknya hal tsb terjadi juga pada diri anda mas.

    Tentu, bisa saja. Saya tidak bisa yakin sepenuhnya saya terbebas masalah prakonsepsi pribadi tetapi sejauh ini saya berhujjah dengan hadis-hadis shahih. Saya rasa kita sama-sama tahu siapa yang berhujjah dengan hadis dhaif dalam masalah ini.

    Pada asalnya memang ayat tersebut turun untuk istri2 Nabi dan baru diperluas untuk ahlul bait yg lain.

    Maksudnya gimana, ada 2 kemungkinan itu
    1, Ayat tersebut khusus untuk istri-istri Nabi SAW kemudian Nabi SAW berharap Ahlul Kisa’ ikut masuk.
    2. Ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi SAW dan ahlul kisa’.
    Ada bedanya itu
    yang no1 itu hanya harapan dan keinginan yang tidak tahu sudah ditetapkan atau tidak karena komentar anda sebelumnya malah berkata 6 bulan Nabi menyuruh shalat agar Ahlul Kisa’ bisa ikut masuk dalam ayat tersebut.(padahal sudah 6 bulan)
    sedangkan yang no 2. itu sudah ketetapan jadi bukan lagi harapan dan keinginan.

    Wallahu A’lam, karena yg ditemukan baru hadits yg menceritakan perlakuan Nabi tsb hanya kepada keluarga Ali dan Abbas saja. Dan alasan Nabi mengapa hanya 2 keluarga tsb Allahu A’lam.

    Hanya Allah yang tahu :)

    Saya mau Tanya sama mas, apakah urutan ayat seperti pada Al-maidah ayat 3 terjadi pada setiap ayat dlm Al-Qur’an yg lain ataukah jarang terjadi? Apa dasar mas bahwa urutan QS 33:33 sama spt QS 5:3? Apakah krn hadits dr riwayat Tirmidzi tsb?

    Sudah saya tulis dalam salah satu tulisan saya, saya akan berpegang pada urutan ayat jika tidak ada dalil shahih yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun secara terpisah. Dasarnya jelas sekali hadis asbabun nuzulnya

    Sbgmana mas sampaikan bahwa urutan ayat dlm QS 5:3 tidak saling berhubungan, OK mungkin mas benar, tetapi di QS 33:33, urutan ayatnya saling berhubungan, jadi QS 33:33 berbeda dg QS 5:3.

    Dasar saya itu asbabun nuzul bukan perasaan berhubungan atau tidak.

    makanya saya bilang di atas kalo anak SMP kelas 1 ditanya untuk siapa ayat tsb turun mereka InsyaAllah akan menjawab bahwa ayat tsb berkaitan dg istri2 Nabi. jelas sekali bedanya..

    Dan anehnya Mas, Ummu Salamah sebagai istri Nabi justru tidak menangkap hal yang semudah itu sehingga ketika ayat itu turun Beliau bertanya kepada Rasul atau berharap untuk ikut bersama mereka Ahlul Bait yang disucikan.

    Kalo menurut saya, pendapat yg terbaik sbgmana yg sy sebutkan di awal sekali memang ayat tersebut turun untuk istri2 Nabi dan juga ahlul bait Nabi yg lainnya, walaupun pada asalnya ayat tsb turun utk istri2 Nabi tetapi kmdn diperluas ke ahlul bait yg lainnya.

    Silakan kita sudah memaparkan pendapat masing2 yang kita anggap terbaik dan sama-sama membahasnya :)

    dan tentunya argumen2 saya di atas untuk mengcounter pendapat yg mengatakan bahwa ahlul kisa’ saja yg dimaksud ayat tsb dan membuang istri2 Nabi. Padahal jika diperhatikan benar, justru istri2 Nabi lah yg lebih dekat dg apa yg dimaksud oleh ayat tsb.

    Begitu pula saya, argumen saya untuk mengcounter mereka yang menyatakan bahwa ayat tersebut khusus untuk istri2 Nabi atau ayat tersebut untuk Ahlul Kisa’ bersama istri2 Nabi

    Terima kasih mas SP karena mau bersabar menanggapi komen2 saya… saya mohon maaf jika ada kata2 yg krg berkenan.. maaf juga kalo kepanjangan.

    Terimakasih sudah mau menanggapi dan mohon maaf jika saya membuat hati anda tidak enak. :)

    Salam

  126. Salam

    Istri2 Nabi masuk dalam ayat “ innama yuridullahu …..”…???

    1. Jika Ahlul Bait yg dimksd dlm Ayat 33 surah Al Ahzab adalah “Ahlul Kisa” maka tidak ditemukan perbuatan2 mereka (Ahlul Kisa) yg bertentangan dg Al Qur’an ataupun Sunah…maka jelas bagi kita bahwa yg termasuk dalam Ayat ” inama yuridullahu ……dst.”(ayat penyucian) adalah mrk yg ada didalam Kisa.

    2. Jika Ahlul Bait yg dimksd dlm ayat “ inama yuridullahu…dst” adalah istri2 Nabi , maka akn ditemukan pd sebagian istri Nabi perbuatan2 yg bertentangan dg Al Qur’an dan sunah dari perbuatan mereka,maka tidak sesuai jika ayat penyucian utk mereka.

    Yg mengatakn istri2 Nabi termasuk Ahlul Bait adalah berasal dari Ikrimah, silahkan dicek siapa ikrimah (entah menurut Dzahabi atau ulama lainnya).

    Sedangkan riwayat yg mengatakan Ahlul Bait adl istri2 Nabi dan Ahlul Kisa hanya berasal dari Ad Dahak..aneh..riwayat2 turunnya ayat Tathir adalah berkenaan dg Ahlul Kisa dibawakan oleh sahabat2 spt Ibn Abas, Ummu Salamah, Jabir, bahkan dr Aisyah sendiri dpt “gugur” oleh riwayat Ad Dahak yg mengatakan Ahlul Bait adalah termasuk Istri2 Nabi.

    Malahan jika melihat urutan ayat yg membicarakan istri2 Nabi (wlpn mmg istri2 Nabi bukan Ahlul Bait yg disbt dalam ayat penyucian tersebut), maka jelas siapa yg tidak pantas masuk dalam ayat tsb dan doa beliau karena setelah wafatnya Nabi saww ada yg tidak mengikuti Ayat itu sendiri dg keluar memerangi Imam Ali, bahkan setelah mendapat teguran dari Ummu Salamah (Ummu Salamah yg dikatakan oleh Rasul “inaka illa khair” ketika berkata “aku bersama mereka..?”) agar tidak keluar memerangi Imam Ali. (saya tidak akan membahas disini ttg Aisyah keluar memerangi Imam Ali, yg jelas yg memerangi Imam Ali adalah memerangi Rasul saww.)

    Al Tahrim Ayat 5

    Aisyah dan Hafsah pernah akan diceraikan dari Nabi oleh Al Qur’an disebabkan oleh sebuah berita rahasia yang mereka ceritakan kepada orang tua mereka.

    Penjelasan dari Shahih Bukhari (edisi Arab Inggris bab “Boleh jadi, jika dia menceraikan kalian, Tuhannya akan…..(al Tahrim 5)

    Dari Umar (ibn Khattab) : Istri2 Nabi karena kecemburuan mereka, saling membantu untuk melawan Nabi, sehingga aku berkata kepada mereka, “ Boleh jadi jika dia menceraikan kalian, Allah akan memberinya istri2 pengganti yang lebih baik dari kalian” {Surat al Tahrim (66) 5} (Shahih Bukhari, jlid 6 hadis ke-438).

    Diriwayatkan dari Ibn Abbas :

    Saya bermaksud bertanya kepada Umar, maka saya katakana; “Siapakah dua orang perempuan yang mencoba saling membantu dalam menentang Rasul?” Saya hampir tak mampu melanjutkan perkataan saya ketika dia (umar) berkata : “Mereka adalah Aisyah dan Hafsah” (Shahih bukhari hadis ke 6.436)

    Ada riwayat yg lebih panjang, namun ini sekaligus sebagai contoh bahwa istri nabi bukanlah bagian dari Ayat Thathir (al ahzab 33), mereka bukan maksum, bahkan pernah diancam perceraian. Dan buktinya banyak mereka sering menyakiti hati Nabi.

    Bahkan Aisyah pernah berkata dg marah kepada Rasul saww :

    “ Kamulah orangnya yang menganggap diri seolah-oleh nabi dari Allah” (Ihya Ulum al Din, Al Ghazali, bab 94 hlmn 283)

    (masa Nabi dituduh “menganggap dirinya sbg Nabi Allah”…)

    Bahkan stelah sebulan Nabi saww mengasingkan diri dari istri2 beliau dan turun ayat 51 surat al Ahzab (silahkan cek sendiri2 ayat tersebut) Aisyah mengatakan sesuatu yang sangat2 tidak pantas kepada Rasul saww : “ Nampak bagiku bahwa Tuhan mu bercepat-cepat memuaskan keinginanmu” (Sahih Muslim, Inggris jld 2 hlmn 748-749)

    Masih pantaskah mereka disebut “…suci dari dosa..” dg perbuatan2 spt itu??

    —-
    Zaid bin Arqam berkata (riwayat dari Ibn Hayyan) : ……. Nabi saww bersabda “camkanlah aku meninggalkan bersama kalian dua perkara berat, salah satunya adalah kitabullah…..(sampai Ahlul Bait) : Kami berkata “siapakah Ahlul Bait beliau tersebut (yang dimaksudkan oleh Nabi saww) ? Apakah mereka istri2 beliau..?
    Zayd menjawab :
    “ Tidak, Demi Allah, seorang perempuan hidup bersama dengan seorang pria (sbg istrinya) untuk sementara waktu, pria itu kemudian (dapat) menceraikannya dan dia (perempuan itu ) kembali kepada orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi saww adalah garis darah dan keturunan beliau yang dilarang menerima sedekah. (shahih Muslim hadis ke 5923 versi Inggris)


    Lalu pada riwayat lain, juga dari Zaid mengenai Hadis Tsaqolain dan membacakan khotbah Rasul sww lalu Zaid ditanya oelh Husain Bin Sabra siapa anggota Ahlul Bait Nabi saww bukankah istri2 Nabi termasuk Ahlul Bait saww ?” Zaid menjawab : “ Istri2 beliau termasuk Ahlul Bait, tetapi Ahlu disini adalah orang2 yang dilarang menerima zakat”

    Husain bin sabra berkata : Siapakah mereka? Dia menjawab : “ Ali dan keturunannya, Aqil dan keturunannya, keturunan Ja’far, ketrunan Abas” (Sahaih Muslim bab keutamaan Ali 1980 Arab Saudi Jld 4 hal 1874 hds ke 37, versi Inggris hds ke 5920)

    Terlihat bahwa setelah membacakan Hadis Tsaqolain, lalu Zaid mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai Ahlul Bait, dan bukan perkataan Nabi (dia sedang membawa hadis Tsaqolain bukan Hadis Kisa atau turunya Ayat 33 al ahzab), disini ketika ditanya siapa Ahlul Bait dia menjawab “istri2 Nabi temasuk Ahlul bait beliau TETAPI ahlul bait disini adalah orang2 yang………(sampai dg) Ali dan ketrunannya…aqil….ja’far…..Abbas dan ketrunannya..”

    Tinggal pilih, apakah kita akan mengikuti Nabi yang menyebutkan siapa Ahlul Bait Nabi saww yang maksum seperti riwayat :

    Ibn Abas meriwayatkan bahwa Rasul saww membacakan (ayat) “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangka segala kekotoran dari kalian wahai Ahlil Bait, dan mensucikan kalian sesuci-succinya” Kemudian Rasul saww bersabda : “ Karena itu, aku dan Ahlul Baitku adalah bersih dari dosa” (Shahih Tirmidzi, dikutip dalam Darul Manstur, Jalaludin Suytuti jl 5 halamn 605-606 dan lainnya)

    Atau mengikuti pendapat sahabat yg dalam kasus ini bertentangan dengan pendapat Nabi saww..?

    Jelas bahwa Ahlul Bait harus diikuti (atas perintah Allah dan Rasul saww berdasarkan hadis Tsaqolain), tapi jika pendapat Zaid yg mengatakan keturunan Abas juga termasuk Ahlul Bait, maka apakah kita akan mengikuti TIRAN2 dari Bani Abbas..?? sejarah telah membuktikan bagamaimana kekejaman para Tiran Abasiyah (keturunan Abbas)..! Apakah Tiran dari Abasiyah termasuk dalam Ahlul Bait yang diletakkan oleh Rasul saww berdampingan dengan Al Qur’an, yang mana umat diperintahkan untuk mentaatinya setelah beliau..??

    “ dan janganlah kamu taati orang-orang yang berdosa dan orang yang kafir diantara mereka” (Al Insan 24)

    ada baiknya baca lagi hadis dibawah ini :

    Ibn Abas meriwayatkan bahwa Rasul saww membacakan (ayat) “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangka segala kekotoran dari kalian wahai Ahlil Bait, dan mensucikan kalian sesuci-succinya” Kemudian Rasul saww bersabda : “ Karena itui, aku dan Ahlul Baitku adalah bersih dari dosa” (Shahih Tirmidzi, dikutip dalam Darul Manstur, Jalaludin Suytuti jl 5 halamn 605-606 dan lainnya)

    Jelas sekali bahwa Nabi sendiri yang menyimpulkan dengan kata2 “Karena Itu”, bahwa beliau dan Ahlul Baitnya bersih dan bebas dari dosa (maksum).

    Yang mengatakan Ahlul Bait tidak maksum, silahkaaan…mau nafsirkan ayat seenaknya sendiri, silahkaaan…

    Dalam Tafsirnya Ibn Jarir Al Thabari mengutip Qatadah, berkata :

    “Hanya inilah, tidak ada lainnya, bahwa Allah berkehendak untuk mengilangkan segala keburukan dan ketidakpantasan dari anggota keluarga Muhammad dan memebrsihkan mereka dari setiap kontaminasi dan dosa” (tafsir At Thabari, jl 22 hl 5 pd komentar surah 33 ayat 33)

    Jika melihat riwayat diatas maka jelas bahwa Istri2 Nabi tidak termasuk dalam ayat penyucian, karena :

    1. Banyak tindakan yang bertentangan dengan perintah2 Allah dan Rasul saww.
    2. Sering mengatakan sesuatu yg tidak pantas kepada Nabi..mungkinkah orang seperti ini bebas dari dosa.?
    3. Mengenai hadis Kisa sudah jelas, tinggal pake akal sehat masing2 dan baca komentar Bims dan SP.
    4. Riwayat2 yg mengatakan Istri2 Nabi termasuk dalam Ahlul Bait adalh jalur Ikrimah (budak Ibn Abas), ttg ikrimah ulma suni sendiri mengatakan dia pendusta.
    5. Riwayat yang mengatakan bahwa Ahlul Bait (dalam ayat “innama yuridullahu…” ) adalah Istri2 Nabi dan Ahlul Kisa berasal dari Ad Dhahak..mana mungkin pendapat satu orang seperti Ad Dhahak bisa mengugurkan riwayat2 dari Ummu Salamah, Ibn Abbas, Jabir al Anshari dan bahkan Aisyah sendiri meriwayatkan ayat penyucian tersebut sekaligus menunjukkan siapa yg ada dalam kisa.

    Wassalam

  127. @Secondprince
    Salut

    @bims

    Mengenai nama2 orang munafik, Rasulullah telah memberikan catatannya kepada shahabatnya yg bernama Hudzaifah Ibnul Yaman pada saat itu…

    Darimana muncul nama ini? Siapa Hudzaifah? Kenapa bukan orang terpecayanya dan “utama” Rasul saw, semisal Abubakar dan Umar? Bukankah menurut mas mereka berdua orang-orang kepercayaan Rasul saw lebih dari sahabat yang lain? Apakah maksud mas Hudzaifah lebih dipercaya Rasul saw daripada Abubakar dan Umar? :roll:
    Wallahu a’lam ya? :) Saya maklum kok.
    Adakah riwayat yang shahih mengenai pemberian catatan orang-orang yang munafik dari ayat 101 ini dari Rasul saw ke Hudzaifah?

    mengapa Rasulullah memerintahkan untuk merahasiakannya ya Allahu A’lam

    Wallahu a’lam. Tentu saja :)

    Demi Allah, rasa takut kepada kemunafikan hampir-hampir mencopot jantung generasi terdahulu. Karena, mereka mengetahui kemunafikan secara terpenrinci, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Mereka mencurigai dirinya, sehingga khawatir mereka termasuk golongan munafikin.

    Ah, klaim lagi. Bagi saya doktrin-doktrin ini tidak ada artinya mas. Dimunculkan dalam diskusi bagi mereka-mereka yang kehabisan argumen untuk menjawab.

    Mas mencoba meyakinkan saya dengan cerita ini lagi,

    Umar bin Khathab r.a. berkata kepada Hudzaifah r.a., “Hai Hudzaifah, demi Allah aku ingin bertanya kepadamu, apakah Rasulullah saw. telah menyebutku dalam golongan kaum munafikin?”
    “Tidak, beliau tidak menyebut namamu! Dan setelah ini aku tidak akan merekomendasi siapa pun selamanya!” jawab Hudzaifah. (satu lagi terbukti bahwa Umar bukan seorang munafik, makanya kalau mau tahu lebih dalam baca riwayat2 mengenai mereka para shahabat)

    Bukankah mas yakin seyakin-yakinnya bahwa Umar adalah sahabat terdekat Rasul saw? Bagi saya sungguh sangat mengherankan dan membingungkan. Tanya nih mas:
    Mengapa Umar tidak langsung saja bertanya kepada Rasul saw?
    Wallahu a’lam? Tentu….Kenapa tidak?

    Kemudian mengenai pertanyaan-pertanyan seputar Ahlulbayt dan sahabat bagaimana cara saya berpegang thd riwayat-riwayat yang sampai ke saya sementara riwayat-riwayat tsb menurut mas berasal dari sahabat. Maka dengarkan ini mas:
    1. Riwayat-riwayat yang kita terima hingga saat ini bukan hanya berasal dari sahabat, ia bisa berasal dari Ahlulbayt dan Itrahnya Yang Suci. Bagi saya Imam Ali bukan sekedar sahabat. Tapi Beliau juga adalah kerabat dan Ahlulbayt Nabi saw yang diisyaratkan dalam Hadits Tsaqalain dan AQ 33:33.
    2. Saya tidak mampu menerima riwayat-riwayat yang mencoba untuk mengurangi, melemahkan, bahkan yang menjatuhkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt nabi saw sesuai Hadits Tsaqalain dan AQ 33:33. Sebaliknya hadits Ghadir Khum dll, yang mas sebutkan menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt Nabi saw yang bahkan diriwayatkan oleh begitu banyak orang.

    Salam.

  128. @bims
    Apakah Mughirah bin Syu’bah termasuk sahabat Nabi juga mas?

  129. Ass. Wr. Wb.

    @semua yang diatas

    Ma’af ya, sebentar diskusinya dipotong dulu. Kelihatannya diskusi ini berlarut-larut seperti yang dimaksud oleh rekan-rekan keduabelah pihak yang berbeda pemahaman. Tanggalkanlah apapun mahzab / golongan anda, karena itu akan menjadi hijab / penghalang dalam ma’rifatullah untuk mencari kebenaran.
    Yang mungkin harus digarisbawahi adalah sahabat mempunyai kedudukan yang istimewa dalam perjuangan menegakkan syariat Islam bersama Nabi Saw pada awal perkembangan Islam, sedangkan Allul Bait Nabi Saw adalah keluarga Nabi Saw yang lebih tahu kehidupan Nabi Saw, dari mulai lahir sampai dewasa selalu ada dalam bimbingan Nabi Saw yang merupakan manifestasi dari Al Qur’an. Sedangkan Nabi Saw adalah seorang yang maksum yang tidak mungkin salah dalam setiap kata-kata dan perbuatannya.
    Adapun dalam perkembangannya setelah Nabi Saw wafat, sejarah Islam telah terkontaminasi oleh peranan penguasa yang selalu mendiskreditkan Ahlul Bait Nabi Saw dengan menggunakan ahli-ahli hadist untuk membuat / menuliskan / meriwayatkan ribuan hadist yang menjadi tandingan hadist-hadist dari Ahlul Bait Nabi Saw demi kepentingan kekuasaanya, sehingga terjadilah apapun yang terjadi. Sudah terlalu banyak umat Islam yang tidak berdosa yang menjadi korban setelah Nabi Saw wafat sampai sekarang.
    Demikian juga dengan sejarah Islam / tarikh Islam ada dua versi : ada yang menurut versi Ahlul Bait Nabi Saw, ada yang menurut versi ahli hadist penguasa yang merupakan tandingannya.
    Sehingga dalam menyikapi / memahami / mengkaji fenomena tsb sangatlah tidak mudah dalam memilih 1 (satu) diantara 2 (dua) yang berbeda ? Hidup didunia ini hanya 2 (dua) pilihan, memilih yang benar atau yang salah ? Karena ” tidak ada paksaan dalam agama “.
    Hanya taufik dan hidayah Allah Swt yang dapat merubah segalanya untuk mencapai kebenaran dalam ma’rifatullah.
    Akan tetapi sebagai tanda-tanda orang yang berfikir, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penciptaanNya, tentu dapat memilih manakah yang benar hadist yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait Saw ataukan yang lainnya ?

    Demikianlah untuk menjadi bahan renungan didalam mencari kebenaran, yang merupakan jalan yang lurus didunia maupun akhirat. Apabila ada tulisan / kata-kata yang salah mohon dima’afkan.

    ” Ya Allah, tunjukkanlah kami kejalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat ”

    Wass. Wr. Wb.

  130. @SP

    Nanya nih Mas, kalau mindset anda yang bilang Rasulullah SAW itu ma’sum datangnya dari mana?.
    *giliran saya memperluas pembicaran*

    An-Najm:4

    berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
    Kata-kata di atas dengan logika anda bisa ditafsirkan bahwa yang disuruh berpegang itu adalah ijma’ Rasul bersama khulafaur Rasydin sedangkan perindividu mereka tidak menjadi hujjah bisa saja keliru. Alangkah kacaunya itu

    Saya kira bukan itu mas yg saya maksud, anda pun saya yakin mengerti maksud saya :)

    Mengenai haji tamattu’, coba mas teliti kembali komentar saya,
    1. Sudut pandang saya di atas adalah generasi kita saat ini yg sudah lebih dari 1000 th dr mereka, sudah lewat dr 4 khalifah tsb… dan ulama telah mengambil istinbat berdasarkan mereka para khulafa’ur Rasyidin dan para sahabat tak terkecuali… jadi deskripsi mas di atas ga relevan.
    2. Sebagaimana komentar saya yang lalu, saya sudah sampaikan bahwa ijma’ para shahabat (termasuk di dalamnya Khulafa’ur Rasyidin sebagai pemimpin shahabat saat itu dan juga ahlul bait) adalah hujjah, sehingga pemilihan khalifah pun adalah kesepakatan mereka, dan ketika Khalifah terpilih, bukanlah kemudian khalifah meninggalkan shahabat2 yg lain (terutama sahabat2 utama Nabi) dalam setiap pengambilan keputusan, dan hal ini kita bisa menemuinya riwayat2 bagaimana mrk saling bermusyawarah dg sahabat yg lain, demikian juga ketika Imam Ali menjadi khalifah, beliau menerima berbagai masukan dari sahabat2nya pada waktu itu. Jika suatu pendapat dari seorang khalifah dlm hal hukum syari’ah tidak ada yang menselisihi dari kalangan sahabat utama (atau istilahnya ahlul halli wal aqdhi) ya itulah hujjah yg harus dipegang teguh, tetapi jika ada yang menselisihi, maka harus dikembalikan kepada Al-Qur’an wa Sunnah. Sedangkan yang kita tahu pendapat pelarangan haji tamattu’ adalah pendapat pribadi khalifah sbgmana trdapat riwayat mengenai hal tsb. Dan terbukti mereka tidak memaksakan kehendak mereka kepada sahabat yg lain, makanya kita tidak pernah dengar riwayat Abu Bakar, Umar maupun Utsman menghukum sahabat yang lain yang melakukan haji tamattu’, bahkan dlm riwayat tentang dialog antara Utsman dan Ali, mereka saling bertoleransi.

    Apakah jika sudah jelas ketetapan Allah dan RasulNya maka seseorang diperkenankan untuk berijtihad?.Sudah jelas yang shahih dari Rasul SAW maka mengapa lagi perlu berijtihad

    Justru mas harus cari dulu alasan mereka jgn langsung mengambil kesimpulan spt itu, apalagi setahu saya, seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah orang2 yg begitu berpegang teguh terhadap sunnah Nabi, contoh yg paling mudah adl soal tanah Fadak.

    Yah doktrin yang sudah saya dengar sedari kecil. Masalahnya apakah hadis-hadis itu sedang membicarakan At Taubah ayat 100 yang anda kutip itu. Lompatan yang cukup mengagumkan

    Lho kan jelas mereka adalah termasuk dari Assabiqunal Awwalun mas? Kalo itu memang doktrin tetapi bener mengapa mesti dilawan mas? Mainstream itu tidak selalu salah lho mas, iya ga?

    Hoooo kembali memperluas teks kemana-mana, silakan-silakan. Saya tidak mau capek2 memperpanjang perkataan jika teksnya sendiri tidak bicara begitu.

    OK gampang2 an aja, anda yakin ga bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang ini (mushaf Utsmani) adalah otentik? Kalo anda yakin, maka anda terpaksa harus yakin pula bahwa pengkodifikasi Al-Qur’an saat itu adalah adil terbebas dari kemunafikan, kalo anda ga yakin bahwa mereka adil, patut dipertanyakan nich keyakinan anda thd keotentikan Al-Qur’an :) .

    Maaf Mas kita sudah sama-sama membahas arti kata-kata Tempat tersendiri dan dalam kebaikan. Saya dengan penafsiran saya dan Mas dengan penafsiran Mas. Untuk menguji mana yang klop dengan teksnya maka saya hadapkan dengan permasalahan Mengapa Ummu Salamah tanya-tanya atau berharap ikut dengan mereka?. Penafsiran saya klop dengan ini karena beliau bukanlah yang dituju sehingga beliau berharap ikut masuk. Sedangkan penafsiran Mas tidak klop dengan hal ini karena mengapa mesti bertanya ikut atau tidak atau mengapa mesti berharap masuk bersama mereka kalau sudah jelas Beliau itu adalah yang dituju ayat tersebut.

    Terlalu banyak kemungkinan mas, bisa jadi ketika ayat tersebut turun Ummu Salamah belum sempat dikasih tahu oleh Nabi, atau Ummu Salamah sudah mengetahui namun heran dengan apa yang dilakukan oleh Nabi kepada anak, cucu dan menantu beliau. Saya yakin seandainya saya di posisi Ummu Salamah pasti saya juga akan bertanya, soalnya memasukkan orang2 ke dalam satu selimut adalah pemandangan yg sangat jarang terjadi dan mungkin kelihatan aneh, sedangkan beliau merasa sebagai istri Nabi. Wallahu A’lam.

    Kalo menurut saya, pendapat yg terbaik sbgmana yg sy sebutkan di awal sekali memang ayat tersebut turun untuk istri2 Nabi dan juga ahlul bait Nabi yg lainnya, walaupun pada asalnya ayat tsb turun utk istri2 Nabi tetapi kmdn diperluas ke ahlul bait yg lainnya.
    Silakan kita sudah memaparkan pendapat masing2 yang kita anggap terbaik dan sama-sama membahasnya

    Ya benar mas semua kembali kepada diri kita masing-masing, sekali lagi syukron mas SP atas tanggapannya..

    Wassalam

  131. @bagir

    Mengenai QS 33:33, sudah saya kemukakan argument saya ketika berdiskusi dg mas SP dan mas Armand.
    Kalo boleh kasih saran, coba baca lagi QS 33:30-34 berulang-ulang, mudah2 an kita diberi hidayah oleh Allah..

    Tapi ada bbrp hal yg ingin saya tanggapi dr komentar antum

    2. Jika Ahlul Bait yg dimksd dlm ayat “ inama yuridullahu…dst” adalah istri2 Nabi , maka akn ditemukan pd sebagian istri Nabi perbuatan2 yg bertentangan dg Al Qur’an dan sunah dari perbuatan mereka,maka tidak sesuai jika ayat penyucian utk mereka.

    Itu kan menurut anda mas, justru ayat tsb adalah pembersihan buat mereka istri2 Nabi dan juga ahlul bait dari segala kotoran dosa…pertanyaannya kalau orang yang tidak pernah berbuat berdosa/maksum (menurut anda) trus apanya yang harus dibersihkan? Kan udah bersih? Padahal ayat tsb berbunyi : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa mereka adalah maksum mas justru sebaliknya, dan hal itu dilakukan dengan ikhtiyar yaitu bertaqwa… anda kan di komen yg lalu berkaitan dg ayat ini pernah menukilkan riwayat bagaimana Rasulullah selalu lewat pintu rumah Fathimah dan menyerukan untuk shalat.

    Malahan jika melihat urutan ayat yg membicarakan istri2 Nabi (wlpn mmg istri2 Nabi bukan Ahlul Bait yg disbt dalam ayat penyucian tersebut), maka jelas siapa yg tidak pantas masuk dalam ayat tsb dan doa beliau karena setelah wafatnya Nabi saww ada yg tidak mengikuti Ayat itu sendiri dg keluar memerangi Imam Ali, bahkan setelah mendapat teguran dari Ummu Salamah (Ummu Salamah yg dikatakan oleh Rasul “inaka illa khair” ketika berkata “aku bersama mereka..?”) agar tidak keluar memerangi Imam Ali. (saya tidak akan membahas disini ttg Aisyah keluar memerangi Imam Ali, yg jelas yg memerangi Imam Ali adalah memerangi Rasul saww.)

    Mas Bagir, Aisyah ra keluar ke Bashrah bukan untuk memerangi Ali ra tetapi hendak menuntut darah Utsman ra yang dibunuh secara dzalim di bulan haram, bahkan di Bashrah saat itu diantara keduanya (Ali dan Aisyah) sudah ada saling pengertian dan perdamaian, tetapi yang menyulut pertempuran antara kedua pasukan tsb adalah para pembunuh utsman yang menyusup ke dalam kedua pasukan, yang mereka tidak menghendaki adanya perdamaian diantara keduanya, karena jika mereka berdamai kaum muslimin akan kuat dan mereka pasti akan diadili…sehingga terjadilah pertempuran yang tidak dikehendaki dan tidak dapat dicegah oleh keduanya (Ali dan Aisyah)… saya pun juga tidak ingin memperpanjangnya, untuk bahan perbandingan, silahkan baca di sini :

    http://yakinku.wordpress.com/2008/06/18/insiden-jamal-dan-shiffin/

    Masih pantaskah mereka disebut “…suci dari dosa..” dg perbuatan2 spt itu??

    Kan udah dibersihkan oleh ayat tersebut dan tentunya ahlul bait Nabi yg berdasar nasab pun demikian juga :) dan mereka adalah ahlul taubat mas, yang selalu bersegera bertaubat jika melakukan kesalahan.

    Mas Bagir, justru teguran-teguran Allah langsung kepada istri-istri nabi adalah merupakan perhatian dan penjagaan khusus Allah terhadap rumah tangga Nabi SAW dan sebagai pengajaran buat ummat Islam yg lain dalam hal berumah tangga, coba anda baca An-Nuur : 11-16 siapakah yang Allah bersihkan namanya dari berita bohong yang menimpa dirinya? Aisyah ra istri Nabi ya akhi!

    Jelas bahwa Ahlul Bait harus diikuti (atas perintah Allah dan Rasul saww berdasarkan hadis Tsaqolain), tapi jika pendapat Zaid yg mengatakan keturunan Abas juga termasuk Ahlul Bait, maka apakah kita akan mengikuti TIRAN2 dari Bani Abbas..?? sejarah telah membuktikan bagamaimana kekejaman para Tiran Abasiyah (keturunan Abbas)..! Apakah Tiran dari Abasiyah termasuk dalam Ahlul Bait yang diletakkan oleh Rasul saww berdampingan dengan Al Qur’an, yang mana umat diperintahkan untuk mentaatinya setelah beliau..??

    Ati-ati lho mas, keluarga Abbas adalah kerabat dekat dan dikatakan ahlul bait Rasulullah juga…mereka diharamkan menerima shadaqah. Yang dita’ati adalah yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya saja, yang ga ya tidak dita’ati.. makanya ahlul bait itu tidaklah ma’sum..

    4. Riwayat2 yg mengatakan Istri2 Nabi termasuk dalam Ahlul Bait adalh jalur Ikrimah (budak Ibn Abas), ttg ikrimah ulma suni sendiri mengatakan dia pendusta.
    5. Riwayat yang mengatakan bahwa Ahlul Bait (dalam ayat “innama yuridullahu…” ) adalah Istri2 Nabi dan Ahlul Kisa berasal dari Ad Dhahak..mana mungkin pendapat satu orang seperti Ad Dhahak bisa mengugurkan riwayat2 dari Ummu Salamah, Ibn Abbas, Jabir al Anshari dan bahkan Aisyah sendiri meriwayatkan ayat penyucian tersebut sekaligus menunjukkan siapa yg ada dalam kisa.

    4. Bukan hanya Ikrimah kok mas ada riwayat dari Atha’, Al-Kalbi, Muqathil, Sa’id bin Jubair dll. Tentang Ikrimah yang dituduh pendusta, ada bahasannya tersendiri mas, tapi tidak di sini saya kira..

    5. Saya kira pendapat tersebut tidak menggugurkan hadits riwayat Ummu Salamah maupun Ibnu Abbas kok mas… yang jelas QS 33:33 adalah turun untuk istri-istri Nabi dan Ahlul Bait Nabi SAW yang lainnya yaitu ahlul kisa’, I think it’s the best opinion.

    Wassalam

  132. @armand

    Darimana muncul nama ini? Siapa Hudzaifah? Kenapa bukan orang terpecayanya dan “utama” Rasul saw, semisal Abubakar dan Umar? Bukankah menurut mas mereka berdua orang-orang kepercayaan Rasul saw lebih dari sahabat yang lain? Apakah maksud mas Hudzaifah lebih dipercaya Rasul saw daripada Abubakar dan Umar?

    Nabi mempunyai sahabat2 yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri, dan untuk spesialisasi orang munafik beliau menunjuk Hudzaifah, just it! Sahabat masing2 memiliki keutamaan2 tersendiri dan tentunya ada shahabat2 yang lebih utama diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

    1. Riwayat-riwayat yang kita terima hingga saat ini bukan hanya berasal dari sahabat, ia bisa berasal dari Ahlulbayt dan Itrahnya Yang Suci. Bagi saya Imam Ali bukan sekedar sahabat. Tapi Beliau juga adalah kerabat dan Ahlulbayt Nabi saw yang diisyaratkan dalam Hadits Tsaqalain dan AQ 33:33.

    Jadi riwayat dari sahabat selain ahlul bait ga anda percayai ya mas? Saya juga setuju bahwa Imam Ali bukan hanya sahabat Nabi tetapi beliau juga ahlul bait Nabi, dan beliau adalah termasuk hamba Allah yang terpilih.

    2. Saya tidak mampu menerima riwayat-riwayat yang mencoba untuk mengurangi, melemahkan, bahkan yang menjatuhkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt nabi saw sesuai Hadits Tsaqalain dan AQ 33:33. Sebaliknya hadits Ghadir Khum dll, yang mas sebutkan menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt Nabi saw yang bahkan diriwayatkan oleh begitu banyak orang.

    Saya pun tidak bisa menerima jika ahlul bait direndahkan mas, siapa yang merendahkan mereka berarti merendahkan Rasul dan tentunya hal ini juga berlaku kepada mereka yang merendahkan ummul mukminin (istri-istri nabi) karena mereka juga termasuk ahlul bait Nabi dalam QS 33:33.

    O iya mas kalo menurut anda bahwa istri-istri Nabi adalah lemah kekerabatannya dengan Nabi, anda keliru mas, bahkan mereka adalah istri-istri Nabi di dunia dan juga di akhirat, karena menurut Al-Qur’an setelah Nabi wafat mereka dilarang untuk dinikahi oleh orang lain… lihat QS 33:53.

    O iya terus bagaimana keyakinan mas mengenai Al-Qur’an (mushaf utsmani) yang ada sekarang ini? Apakah otentik atau tidak? Masalahnya shahabat-lah yang mengumpulkan Al-Qur’an ini dan akhirnya sampai ke tangan kita dalam bentuk seperti saat ini…

    Al-Mughirah bin Syu’bah tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang shahabat Nabi.

    Wassalam

  133. salam
    Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu.
    Salah seorang sahabatnya bertanya kepada Imam Ja’far. ‘Apakah tanda tawadhu?’ “Beliau menjawab, hendaknya kau senang pada majelis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai dan MENINGGALKAN PERDEBATAN SEKALIPUN ENGKAU BERADA DALAM KEBENARAN.”

  134. Ikutan aaah… udah lama nieh gak nongkrong disini

    @bims
    “Saya pun tidak bisa menerima jika ahlul bait direndahkan mas, siapa yang merendahkan mereka berarti merendahkan Rasul dan tentunya hal ini juga berlaku kepada mereka yang merendahkan ummul mukminin (istri-istri nabi) karena mereka juga termasuk ahlul bait Nabi dalam QS 33:33″

    Semua orang juga tidak akan menerima ahlul bayt direndahkan. Hanya saya rasa mas Bims harus melihat kembali sebab2/peristiwa pada saat QS 33:33 itu diturunkan dan telah dijelaskan panjang lebar disini.

    “O iya terus bagaimana keyakinan mas mengenai Al-Qur’an (mushaf utsmani) yang ada sekarang ini? Apakah otentik atau tidak? Masalahnya shahabat-lah yang mengumpulkan Al-Qur’an ini dan akhirnya sampai ke tangan kita dalam bentuk seperti saat ini…”

    Orang syiah atau pemeluk madzhab Ahlul Bayt, yakin kok bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini adalah otentik, dan Al-Qurannya sama dengan Al-Quran yang diyakini saudara2 madzhab lain, semua sudah dijelaskan. Hanya saja, anda pasti taulah, bagi yang ingin menjatuhkan pengikut madzhab Ahlul Bayt selalu memakai “senjata” kuno yaitu selalu membuka masalah2 yang sebenarnya sudah basi dan berulang kali dilontarkan, yaaaah mut’ah, raj’ah, imam Mahdi, imam yang ma’sum, shalat 3 waktu, ini itu bla bla blaaaa. Apa gak ada masalah lainnya, maaf mas bukan mengajari mas, saya juga masih belajar kok…

    @Arif
    Salam alaikum, saya selalu terngiang ucapan Imam Ja’far tsb, semoga kita selalu mendapat hidayah Nya

  135. “saya selalu terngiang”

    Oooops, kesannya seperti udah ketemu Imam Ja’far aj, yg bener teringat…

  136. @bims

    Maaf mas, mas belum menjawab 2 pertanyaan saya sebelumnya;

    1. Adakah riwayat yang shahih mengenai pemberian catatan orang-orang yang munafik dari ayat 101 ini dari Rasul saw ke Hudzaifah?

    2. Mengapa Umar tidak langsung saja bertanya kepada Rasul saw?

    Mas sudah terlalu banyak dan sering menjadi juru bicara Nabi saw tanpa dasar kokoh *saya sampai kesel* :) salah satunya ini;
    blockquote>Nabi mempunyai sahabat2 yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri, dan untuk spesialisasi orang munafik beliau menunjuk Hudzaifah, just it!

    Darimana mas tau bahwa Nabi punya sahabat2 dengan spesifikasi sendiri-sendiri? Darimana kesimpulan ini? Inikan cuma karangan mas saja?

    Bagaimana mas bisa tau bahwa Hudzaifah memiliki spesifikasi mengenai orang munafik? Lagi-lagi karangan kosong. Apa Nabi saw pernah ngomong begitu?

    Jadi riwayat dari sahabat selain ahlul bait ga anda percayai ya mas?

    Maaf, saya ga percaya dengan riwayat-riwayat yang melemahkan, mengurangi bahkan menjatuhkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt. Oleh karenanya saya akan terus mengujinya dengan kritis.

    Berikutnya ada komen mas saya temui yang sangat perlu klarifikasi dari mas.

    Saya pun tidak bisa menerima jika ahlul bait direndahkan mas, siapa yang merendahkan mereka berarti merendahkan Rasul

    *Mudah-mudahan i’tikad mas benar*

    saya gabung dengan konfirmasi mas mengenai sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah.

    Al-Mughirah bin Syu’bah tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang shahabat Nabi

    Tolong mas jelaskan kontradiksi ini berdasarkan hadits berikut;

    Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.

    Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419

    Lebih jelasnya mengenai hadits ini mas bisa baca di tulisan SP di sini: http://secondprince.wordpress.com/2008/10/06/sahabat-nabi-yang-menghina-ahlul-bait/

    Kalau mas keberatan mengenai matan, sanad, tolong ditujukan ke SP saja :)

    Bukan saja Imam Ali adalah Ahlulbayt Nabi, bahkan Beliau juga telah dinisbatkan sebagai pemisah Orang Yang Beriman dan Orang Yang Munafik.

    O iya mas kalo menurut anda bahwa istri-istri Nabi adalah lemah kekerabatannya dengan Nabi, anda keliru mas, bahkan mereka adalah istri-istri Nabi di dunia dan juga di akhirat, karena menurut Al-Qur’an setelah Nabi wafat mereka dilarang untuk dinikahi oleh orang lain… lihat QS 33:53.

    Saya sudah baca, ayat tsb ada diakhir, seperti ini;
    “……..Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah

    Kata-kata mana yang menyatakan mereka isteri Nabi saw di akherat? Salah satu penyakit mas yang saya amati (selain terobsesi menjadi jubir Nabi saw) adalah suka menarik-ulur ayat. Ayat yang teksnya belum jelas dibilang jelas. Ayat-ayat yang sudah jelas teksnya dibilang masih perlu tafsiran.

    Bagi saya ayat itu melarang kita menyakiti Nabi saw serta untuk menghormati kesucian Nabi saw yakni dengan tidak mengawini isteri-isteri Nabi setelah Beliau wafat. Tidak ada hubungannya dengan kedudukan isteri-isteri Nabi.

    O iya terus bagaimana keyakinan mas mengenai Al-Qur’an (mushaf utsmani) yang ada sekarang ini? Apakah otentik atau tidak? Masalahnya shahabat-lah yang mengumpulkan Al-Qur’an ini dan akhirnya sampai ke tangan kita dalam bentuk seperti saat ini…

    Apakah pada waktu penyusunan terdapat Imam Ali atau yang diminta untuk mewakili Beliau? Jika Imam Ali serta Ahlulbayt (Itrah) tidak mempermasalahkan, bagaimana mungkin saya akan mempermasalahkan?

    @Arif
    Terima kasih nasehatnya. Saya khawatir tidak termasuk dalam golongan ini.
    Menurut mas menguji kebenaran dan mencoba mempertahankannya seperti dalam forum ini apakah termasuk yang diisyaratkan oleh Imam Jafar?

    Salam

  137. @bims

    Maaf mas, mas belum menjawab 2 pertanyaan saya sebelumnya;

    1. Adakah riwayat yang shahih mengenai pemberian catatan orang-orang yang munafik dari ayat 101 ini dari Rasul saw ke Hudzaifah?

    2. Mengapa Umar tidak langsung saja bertanya kepada Rasul saw?

    Mas sudah terlalu banyak dan sering menjadi juru bicara Nabi saw tanpa dasar kokoh *saya sampai kesel* :) salah satunya ini;
    blockquote>Nabi mempunyai sahabat2 yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri, dan untuk spesialisasi orang munafik beliau menunjuk Hudzaifah, just it!

    Darimana mas tau bahwa Nabi punya sahabat2 dengan spesifikasi sendiri-sendiri? Darimana kesimpulan ini? Inikan cuma karangan mas saja?

    Bagaimana mas bisa tau bahwa Hudzaifah memiliki spesifikasi mengenai orang munafik? Lagi-lagi karangan kosong. Apa Nabi saw pernah ngomong begitu?

    Jadi riwayat dari sahabat selain ahlul bait ga anda percayai ya mas?

    Maaf, saya ga percaya dengan riwayat-riwayat yang melemahkan, mengurangi bahkan menjatuhkan keutamaan dan kemuliaan Ahlulbayt. Oleh karenanya saya akan terus mengujinya dengan kritis.

    Berikutnya ada komen mas saya temui yang sangat perlu klarifikasi dari mas.

    Saya pun tidak bisa menerima jika ahlul bait direndahkan mas, siapa yang merendahkan mereka berarti merendahkan Rasul

    *Mudah-mudahan i’tikad mas benar*

    saya gabung dengan konfirmasi mas mengenai sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah.

    Al-Mughirah bin Syu’bah tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang shahabat Nabi

    Tolong mas jelaskan kontradiksi ini berdasarkan hadits berikut;

    Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.

    Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419

    Lebih jelasnya mengenai hadits ini mas bisa baca di tulisan SP di sini: http://secondprince.wordpress.com/2008/10/06/sahabat-nabi-yang-menghina-ahlul-bait/

    Kalau mas keberatan mengenai matan, sanad, tolong ditujukan ke SP saja :)

    Bukan saja Imam Ali adalah Ahlulbayt Nabi, bahkan Beliau juga telah dinisbatkan sebagai pemisah Orang Yang Beriman dan Orang Yang Munafik.

    O iya mas kalo menurut anda bahwa istri-istri Nabi adalah lemah kekerabatannya dengan Nabi, anda keliru mas, bahkan mereka adalah istri-istri Nabi di dunia dan juga di akhirat, karena menurut Al-Qur’an setelah Nabi wafat mereka dilarang untuk dinikahi oleh orang lain… lihat QS 33:53.

    Saya sudah baca, ayat tsb ada diakhir, seperti ini;
    “……..Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah

    Kata-kata mana yang menyatakan mereka isteri Nabi saw di akherat? Salah satu penyakit mas yang saya amati (selain terobsesi menjadi jubir Nabi saw) adalah suka menarik-ulur ayat. Ayat yang teksnya belum jelas dibilang jelas. Ayat-ayat yang sudah jelas teksnya dibilang masih perlu tafsiran.

    Bagi saya ayat itu melarang kita menyakiti Nabi saw serta untuk menghormati kesucian Nabi saw yakni dengan tidak mengawini isteri-isteri Nabi setelah Beliau wafat. Tidak ada hubungannya dengan kedudukan isteri-isteri Nabi.

    O iya terus bagaimana keyakinan mas mengenai Al-Qur’an (mushaf utsmani) yang ada sekarang ini? Apakah otentik atau tidak? Masalahnya shahabat-lah yang mengumpulkan Al-Qur’an ini dan akhirnya sampai ke tangan kita dalam bentuk seperti saat ini…

    Apakah pada waktu penyusunan terdapat Imam Ali atau yang diminta untuk mewakili Beliau? Jika Imam Ali serta Ahlulbayt (Itrah) tidak mempermasalahkan, bagaimana mungkin saya akan mempermasalahkan?

    @Arif
    Terima kasih nasehatnya. Saya khawatir tidak termasuk dalam golongan ini.
    Menurut mas menguji kebenaran dan mencoba mempertahankannya seperti dalam forum ini apakah termasuk yang diisyaratkan oleh Imam Jafar?

    Salam

  138. Salam
    @abu Syahzanan
    Waalaikum salam.. Amien mas
    @Armand
    Saya hanya mengingatkan supaya dalam blog ini tidak sampai tejadi perdebatan,merasa benar, memaksakan opini dll..
    Untuk diskusi silakan…
    Salam

  139. @bims

    Anda mengatakan:
    Di 33:33, ternyata yg dimaksud ahlul bait adlh istri-istri Nabi…

    A;-Ahzab 33 tak mungkin istri2 Nabi. Jika demikian, mengapa pada kata penyucian menggunakan kata “kum”, bukan “kunna”?

    Dalam qa’idah Bahasa Arab, kum bisa berarti lebih dari 2 orang dan kesemua laki2 atau lebih dari 2 orang dan ada laki2 serta perempuan.

    Mengenai makna berselimut, Anda memaksakan diri menggunakan perspektif kebe-ruang-an Anda dalam memaknai hadiits itu. Apa makna berselimut di ayat tersebut berarti campurnya laki2 dan perempuan2 (istri2 Nabi) yang bukan mahram seperti dalam benak Anda? He3x..

  140. Af-1, maksud saya Anda memaksakan diri menggunakan perspektif kebe-ruang-an Anda dalam memaknai AYAT itu.

    @SP
    Koq gambarnya Desu Nouto? Apa hubungannya dg judul postingan ini? He3x, piss.

  141. @bims

    An-Najm:4

    Bukankah ayat tersebut bicara tentang Al Quranul Karim yang disampaikan oleh Nabi SAW?. Saya rasa Mas dalilnya kurang mengena, bisa kasih tahu saya yang lain, atau paling tidak tolong dijelaskan dasar atau penafsiran An Najm ayat 4 tersebut.

    Saya kira bukan itu mas yg saya maksud, anda pun saya yakin mengerti maksud saya

    Masalahnya bukan pada apakah saya mengerti? karena saya mengerti maksud anda tapi yang saya permasalahkan adalah cara anda memahami atau dasar logika anda dalam menafsirkan Hadis Tsaqalain dan Hadis Khulafaur Rasydin.
    Bukankah Mas sebelumnya berkata

    ketidakma’suman mereka tidak menggugurkan hadits tsaqolain maupun hadits khulafa’ur Rasyidin, saya sudah sampaikan sebelumnya, kesepakatan/ijma’ merekalah yg terjaga dan menjadi hujjah, berdasarkan hadits yg saya sebutkan di atas

    Mas memahami hadis Tsaqalain dan Hadis Khulafaur Rasydin dengan pemahaman bahwa ijma’ merekalah yang menjadi hujjah. Saya tidak begitu saja menerima klaim anda ini, karena bunyi teks hadisnya tidak seperti itu. Oleh karena itu saya menunjukkan kacaunya pemahaman anda itu dengan logika anda pula dan saya kenakan terhadap kata-kata berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
    Sama seperti anda sebelumnya maka saya dapat membuat klaim(dengan logika anda) bahwa yang dimaksud dalam kata-kata itu adalah Ijma’ mereka dan perindividu tidak sebagai hujjah. Implikasi itu jelas rusak sehingga dengan ini saya katakan logika anda dalam mengatakan kesepakatan/ijma’ merekalah yg terjaga dan menjadi hujjah, berdasarkan hadits yg saya sebutkan di atas adalah rusak pula. Wah, wah saya tidak terpikir harus menjelaskan maksud saya sedetail ini :)

    Mengenai haji tamattu’, coba mas teliti kembali komentar saya,

    Ok, saya teliti kembali

    1. Sudut pandang saya di atas adalah generasi kita saat ini yg sudah lebih dari 1000 th dr mereka, sudah lewat dr 4 khalifah tsb… dan ulama telah mengambil istinbat berdasarkan mereka para khulafa’ur Rasyidin dan para sahabat tak terkecuali… jadi deskripsi mas di atas ga relevan.

    saya baca komen anda ini, dan setelah saya pahami maka deskripsi saya memang tidak relevan dengan sudut pandang anda yang baru anda tulis di atas. Tapi ingat tujuan utama diskusi kita adalah mengenai hadis Sunnah Khulafaur Rasydin. Hadis tersebut jelas ditujukan untuk umat beliau yang pada saat itu adalah para sahabatnya agar diamalkan tepat setelah beliau wafat. Ingat Mas begitu teks hadisnya. Oleh karena itu deskripsi saya sangat relevan dengan hadis Sunnah Khulafaur Rasydin yang sedang kita bahas. Dengan kata lain mari berpegang pada teks hadisnya dan menilai sudut pandang masing-masing dengan teks hadis tersebut. Clear?

    2. Sebagaimana komentar saya yang lalu, saya sudah sampaikan bahwa ijma’ para shahabat (termasuk di dalamnya Khulafa’ur Rasyidin sebagai pemimpin shahabat saat itu dan juga ahlul bait) adalah hujjah, sehingga pemilihan khalifah pun adalah kesepakatan mereka, dan ketika Khalifah terpilih, bukanlah kemudian khalifah meninggalkan shahabat2 yg lain (terutama sahabat2 utama Nabi) dalam setiap pengambilan keputusan, dan hal ini kita bisa menemuinya riwayat2 bagaimana mrk saling bermusyawarah dg sahabat yg lain, demikian juga ketika Imam Ali menjadi khalifah, beliau menerima berbagai masukan dari sahabat2nya pada waktu itu.

    Ayolah Mas jangan membuat saya kecewa dengan menjelaskan hal lain. Kita sedang membicarakan Khulafaur Rasydin yang harus dipegang sunnahnya. Anda harus perhatikan bahwa teks hadis itu Rasul SAW menjelaskan bahwa para sahabat harus berpegang dengan Sunnah Khulafaur Rasydin. Ini poin pentingnya

    Jika suatu pendapat dari seorang khalifah dlm hal hukum syari’ah tidak ada yang menselisihi dari kalangan sahabat utama (atau istilahnya ahlul halli wal aqdhi) ya itulah hujjah yg harus dipegang teguh, tetapi jika ada yang menselisihi, maka harus dikembalikan kepada Al-Qur’an wa Sunnah.

    Mari kembali kepada Al Quran dan Sunnah, Al Quran mengatakan bahwa umat islam harus taat kepada RasulNya. Rasul SAW dalam Sunnahnya yaitu hadis Khulafaur Rasydin ini telah memerintahkan para sahabatnya untuk berpegang teguh dengan Sunnah Khulafaur Rasydin dan mesti digigit kuat-kuat. Nah kita sedang membicarakan hadis Khulafaur Rasydin ini. Anda dengan klaim anda telah menyatakan bahwa khulafaur Rasydin yang dimaksud dalam hadis ini adalah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Saya mengatakan ini keliru karena Abu Bakar, Umar dan Usman telah jelas-jelas menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan hadis shahih artinya mereka telah membuat sunnah yang bertentangan dengan Sunnah Rasul. Disinilah poin yang saya kemukakan bahwa klaim anda itu maksa, Rasul SAW tidak akan menentang SunnahNya sendiri. Oleh karena itu Sunnah ketiga khalifah yang bertentangan dengan Sunnah Rasul menjadi bukti bahwa Mereka bukanlah Khulafaur Rasydin yang dimaksud oleh Nabi SAW. Ini dasar penolakan saya
    Kemudian anda kembali membuat klaim bahwa yang menjadi hujjah berdasarkan hadis Sunnah Khulafaur Rasydin itu adalah Ijma’ mereka berempat bukan perindividu. Disini saya kembali menanggapi dengan menjelaskan berdasarkan teks hadisnya.
    1. Teks Hadis Sunnah Khulafaur Rasydin menyatakan bahwa kata-kata berpeganglah kalian dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. ditujukan untuk semua umatnya dimulai dari para sahabat. Dan mereka harus berpegang dengan Sunnah Khulafaur Rasydin tepat setelah Rasulullah SAW wafat.
    Nah pada posisi ini kalau anda tiba-tiba mengajukan sudut pandang anda yang anda katakan

    bahwa Sudut pandang saya di atas adalah generasi kita saat ini yg sudah lebih dari 1000 th dr mereka, sudah lewat dr 4 khalifah tsb… dan ulama telah mengambil istinbat berdasarkan mereka para khulafa’ur Rasyidin dan para sahabat tak terkecuali…

    Adalah tidak relevan dengan pembahasan kita karena sudut pandang anda hanya berlaku untuk generasi kita. Padahal Hadis Sunnah Khulafaur Rasydin berdasarkan teks hadisnya berlaku tepat setelah Nabi SAW wafat dan bahkan kata-kata Rasul SAW itu ditujukan untuk para Sahabat nya. (dan memang juga ditujukan buat umat islam seluruhnya). Teks hadis ini sudah jelas menentang klaim anda bahwa yang dimaksud itu adalah ijma’ khalifah karena ijma’ khalifah hanya ada setelah masa keempat khalifah. Sedangkan masa sebelum berlalu keempat khalifah jelas tidak bisa karena belum ada ijma’ khalifah(jika anda mengartikan ijma’ itu harus keempat-empatnya). Padahal teks hadisnya justru mengatakan tepat setelah Nabi SAW wafat yang jelas termasuk masa sebelum berlalu keempat khalifah.

    2. Kembali berdasarkan teks hadis Sunnah Khulafaur Rasydin di atas, saya mau menguji klaim anda bahwa yang dimaksud itu adalah ijma’ khlaifah. Setelah Nabi SAW wafat ada masa Khalifah Abu Bakar, ada masa Khalifah Umar dan ada masa Khalifah Usman. umat islam pada ketiga masa ini jelas tercakup dalam teks hadis Sunnah Khulafaur Rasydin. Oleh karena itu mereka juga dituntut untuk berpegang pada Sunnah Khulafaur Rasydin. Ambil contoh Pada masa Usman khalifah sudah ada Beliau,Abu Bakar dan Umar. jika pada masa ini beliau melarang haji tamattu’ dan sesuai dengan ketentuan kedua khalifah sebelumnya. Maka larangan haji tamattu’ menjadi ijma’ khulafaur Rasydin. Penentangan Imam Ali tidak menentang ijma’ khalifah karena pada saat itu Imam Ali belum menjadi Khalifah. Maka dengan teks hadis Sunnah Khulafaur Rasydin, umat islam di masa itu harus memegang teguh ketentuan ini. Tetapi hal ini bertentangan dengan Sunnah Rasul SAW. Ini sama saja dengan Rasul SAW menentang SunahNya sendiri dan sangat tidak mungkin. Konsekuensinya maka yang dimaksud Sunnah Khulafaur Rasydin pada hadis di atas jelas bukan sunnah mereka bertiga. Nah ini panjang lebar maksud saya.

    Sedangkan yang kita tahu pendapat pelarangan haji tamattu’ adalah pendapat pribadi khalifah sbgmana trdapat riwayat mengenai hal tsb.

    Oleh karena itu maka Sunnah mereka bukan yang dimaksud dalam Sunnah Khulafaur Rasydin yang dimaksud dalam hadis di atas.

    Dan terbukti mereka tidak memaksakan kehendak mereka kepada sahabat yg lain, makanya kita tidak pernah dengar riwayat Abu Bakar, Umar maupun Utsman menghukum sahabat yang lain yang melakukan haji tamattu’, bahkan dlm riwayat tentang dialog antara Utsman dan Ali, mereka saling bertoleransi

    Masalahnya bukan bagaimana cara mereka menetapkan?. Tetapi ketetapan yang mereka buat ternyata bertantangan dengan Sunnah Rasul. Oleh karena itu Mereka ini tidak bisa disebut sebagai Khulafaur Rasydin yang sunnahnya mesti dipegang teguh. Ini intinya Mas

    Justru mas harus cari dulu alasan mereka jgn langsung mengambil kesimpulan spt itu, apalagi setahu saya, seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah orang2 yg begitu berpegang teguh terhadap sunnah Nabi,

    Membenturkan kabar shahih dengan klaim adalah absurd. Kabar shahih menetapkan bahwa Mereka melarang haji tamattu’. Klaim anda, mereka adalah orang yang berpegang teguh pada sunnah. Jika klaim anda benar sudah pasti mereka tidak akan melarang haji tamattu’. Saya sudah pernah mencari apa dasar mereka dalam melarang haji tamattu’ dan yang saya dapat hanya menurut pendapat saya sendiri. Jadi kira-kira bagaimana itu, pendapat sendiri menjadi penentang sunnah yang shahih. Silakan Mas kalau anda bisa memberitahu saya apa alasan Mereka. Kalau tidak bisa maka Kesan saya, Mas hanya membela saja tanpa dasar. Silakan saya tunggu :)

    contoh yg paling mudah adl soal tanah Fadak.

    Pembahasan ini ada pada tempatnya khusus, silakan kalau anda berkenan disana. Kalau tidak mau maka saya tidak perlu membahasnya :)

    Lho kan jelas mereka adalah termasuk dari Assabiqunal Awwalun mas? Kalo itu memang doktrin tetapi bener mengapa mesti dilawan mas? Mainstream itu tidak selalu salah lho mas, iya ga?

    Kalau Imam Ali jelas saya punya dalil bahwa Beliau harus diikuti tetapi kalau ketiga khalifah lagi-lagi tidak saya temukan. Ayat At Taubah ayat 100 sudah saya bahas di atas. Lagipula anda belum membahas hadis2 asbabun nuzul ayat tersebut yang menunjukkan siapa Assabiqunal Awwalun yang dimaksud. Bukankah ayat tersebut tidak menyebutkan nama-nama mereka. itu yang saya sebut lompatan yang mengagumkan.

    OK gampang2 an aja, anda yakin ga bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang ini (mushaf Utsmani) adalah otentik?

    Yakin kok

    Kalo anda yakin, maka anda terpaksa harus yakin pula bahwa pengkodifikasi Al-Qur’an saat itu adalah adil terbebas dari kemunafikan

    Yakin :)

    kalo anda ga yakin bahwa mereka adil, patut dipertanyakan nich keyakinan anda thd keotentikan Al-Qur’an :) .

    Mereka itu siapa ya Mas, generalisasi kan kalau anda bilang mereka itu semua sahabat. Tolong diperjelas dan maksud adil disitu apa? apakah adil itu berarti selalu benar?.

    Terlalu banyak kemungkinan mas, bisa jadi ketika ayat tersebut turun Ummu Salamah belum sempat dikasih tahu oleh Nabi,

    buktinya apa? justru bukti nyata yang menentang klaim anda itu adalah Ummu Salamah dan Umar bin Abu Salamah meriwayatkan hadis itu jauh setelah peristiwa ini terjadi. Kalau memang ada yang perlu dikasih tahu Nabi SAW kepada Ummu Salamah RA maka pada hadis di atas akan jelas terlihat. So, siapa yang memasukkan mindset nih :mrgreen:

    atau Ummu Salamah sudah mengetahui namun heran dengan apa yang dilakukan oleh Nabi kepada anak, cucu dan menantu beliau. Saya yakin seandainya saya di posisi Ummu Salamah pasti saya juga akan bertanya, soalnya memasukkan orang2 ke dalam satu selimut adalah pemandangan yg sangat jarang terjadi dan mungkin kelihatan aneh, sedangkan beliau merasa sebagai istri Nabi.

    btw, anda keliru satu hal. Ummu Salamah bertanya dengan kata-kata “Apakah saya bersama Mereka, ya Rasul?”. So Beliau tidak sedang mempertanyakan apa yang Rasul SAW lakukan. Beliau tidak sedang keheranan dengan itu apalagi merasa aneh dengan itu, justru karena beliau paham apa maksud tindakan Nabi SAW menyelimuti tersebut maka beliau bertanya apakah bisa ikut bersama mereka. Itu teks hadisnya yang lagi-lagi bertentangan dengan klaim anda
    Salam :)

  142. @Dwi

    Koq gambarnya Desu Nouto? Apa hubungannya dg judul postingan ini? He3x, piss.

    Jelas ada dong :mrgreen:
    sepertinya Mas harus berpikir ala indigo untuk menemukan hubungannya :lol:
    *lirik-lirik seseorang*

  143. @Bims
    Konsistensi atas inkonsistensi mas benar-benar membuat saya terperangah sekaligus takjub
    Mengutip istilah teruthseeker: …membuat logika saya jadi jungkir balik
    :mrgreen:

    Salam

  144. @ Bims

    Itu kan menurut anda mas, justru ayat tsb adalah pembersihan buat mereka istri2 Nabi dan juga ahlul bait dari segala kotoran dosa…pertanyaannya kalau orang yang tidak pernah berbuat berdosa/maksum (menurut anda) trus apanya yang harus dibersihkan? Kan udah bersih? Padahal ayat tsb berbunyi : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. AYAT INI TIDAK MENUNJUKKAN BAHWA MEREKA ADALAH MAKSUM MAS JUSTRU SEBALIKNYA, dan hal itu dilakukan dengan ikhtiyar yaitu bertaqwa… anda kan di komen yg lalu berkaitan dg ayat ini pernah menukilkan riwayat bagaimana Rasulullah selalu lewat pintu rumah Fathimah dan menyerukan untuk shalat.

    Pendapat saya..?? justru komentar anda itu pendapat anda sendiri..khn ud ditulis :

    Ibn Abas meriwayatkan bahwa Rasul saww membacakan (ayat) “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan segala kekotoran dari kalian wahai Ahlil Bait, dan mensucikan kalian sesuci-succinya” Kemudian Rasul saww bersabda : “ KARENA ITU, AKU DAN AHLUL BAITKU ADALAH BERSIH DARI DOSA” (Shahih Tirmidzi, dikutip dalam Darul Manstur, Jalaludin Suytuti jld 5 halamn 605-606 dan lainnya)

    Yg ngomong Rasul saww..dan itu jelas sekali.

    Mas Bagir, Aisyah ra keluar ke Bashrah bukan untuk memerangi Ali ra tetapi hendak menuntut darah Utsman ra yang dibunuh secara dzalim di bulan haram, bahkan di Bashrah saat itu diantara keduanya (Ali dan Aisyah) sudah ada saling pengertian dan perdamaian, tetapi yang menyulut pertempuran antara kedua pasukan tsb adalah para pembunuh utsman yang menyusup ke dalam kedua pasukan, yang mereka tidak menghendaki adanya perdamaian diantara keduanya, karena jika mereka berdamai kaum muslimin akan kuat dan mereka pasti akan diadili…sehingga terjadilah pertempuran yang tidak dikehendaki dan tidak dapat dicegah oleh keduanya (Ali dan Aisyah)..

    Dalam Ansab al-Asyraf , Baladzuri, ,jilid 5, hlm. 71 disebutkan Aisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke Al-Hajar Kemudian mengumpul orang dan berkata:

    ”Hai manusia. Utsman telah dibunuh secara zalim! Demi Allah kita harus menuntut darahnya’(diriwayatkan juga ) dia berkata : ‘Hai kaum Quraisy! Utsman telah dibunuh. DIBUNUH OLEH ALI BIN ABI THALIB. DEMI ALLAH SEUJUNG KUKU ATAU SATU MALAM KEHIDUPAN UTSMAN, LEBIH BAIK DARI SELURUH HIDUP ALI.’”

    Wah..wah…Siapa yg ngomong itu..?? Aisyah..!

    Msh banyak lagi riwayat2 ttg Aisyah diperingati Ummu Salamah, sampai ada ucapan dari Ibnu Ummu al Kilab berkata didepan Aisyah sdri : Fa minki’l bada’, wa minki’l ghiyar, Wa minki’rriyah, wa minki’l mathar, Wa anti amarti bi qatli’l-imam. Wa qulti lanna innahu qad kafara

    (Dari Anda (mksdnya Aisyah) bibit disemai, Dari Anda kekacauan dimulai, Dari Anda datangnya badai,Dari Anda hujan berderai, Anda suruh bunuh imam (mksdnya Khalifah Ustman), Ia telah kafir, Anda yang bilang)

    Pengertian dan damai..?? Mas…ribuan Muslim syahid
    gara2 fitnah ini..! masih ingat hadis tanduk setan khan..??

    Mas Bagir, justru teguran-teguran Allah langsung kepada istri-istri nabi adalah merupakan perhatian dan penjagaan khusus Allah terhadap rumah tangga Nabi SAW dan sebagai pengajaran buat ummat Islam yg lain dalam hal berumah tangga, coba anda baca An-Nuur : 11-16 siapakah yang Allah bersihkan namanya dari berita bohong yang menimpa dirinya? Aisyah ra istri Nabi ya akhi!

    Oo betul sekali mas..! banyk teguran dari Allah..Malahan teguran2 langsung itu “dicampakkan” oleh sebagian Istri Nabi saww sebelum dan setelah wafatnya Nabi saww dg perbuatan2 yg ga pantas..! (sdkt ud ada diatas)

    Spt komen yg diatas, setelah sebulan Nabi saww mengasingkan diri dari istri2 beliau dan turun ayat 51 surat al Ahzab (silahkan cek sendiri2 ayat tersebut) Aisyah mengatakan sesuatu yang sangat2 tidak pantas kepada Rasul saww : “ Nampak bagiku bahwa Tuhan mu bercepat-cepat memuaskan keinginanmu” (Sahih Muslim, Inggris jld 2 hlmn 748-749)

    Mas..jelas ayat 51 al ahzab trn stlh ayat 33…tapi ttp ajah tuh Aisyah ngom yg ga pantas sama sekali, apalagi NABI yg diajak ngomong..!

    Yg setelah wafat..? wah lbh byk pengingkarannya atas sabda2 Nabi mas..! makanya istri2 Nabi Ga masuk dlm Al Ahzab 33 ttg penyucian.

    Ati-ati lho mas, keluarga Abbas adalah kerabat dekat dan dikatakan ahlul bait Rasulullah juga…mereka diharamkan menerima shadaqah. Yang dita’ati adalah yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya saja, yang ga ya tidak dita’ati.. makanya ahlul bait itu tidaklah ma’sum..

    Saya tidak bicara “KERABAT”, saya bicara Ahlul Bait dlm ayat 33 yg disucikan dan diperkuat dg ucapan Nabi saww sendiri. Apa urusannya dg keturunan Abbas tidak menerima sedekah..?? itu khan omongn Zaid ketika ditanya siapa Ahlul Bait dlm menjelskan Hadis Tsaqolain..! dan kata2 “ mereka yg tidak menerima sedekah” adl Ahlul Bait dlm Ayat Tathir tsb itu bukan Ucapan Nabi saww…tapi ucapan Zaid..!

    Dan Rasul sendiri yg menyatakan Ahlul Bait SUCI DARI DOSA berdasarkan ayat penyucian dan hadis2 Nabi sdri ( “ KARENA ITU, AKU DAN AHLUL BAITKU ADALAH BERSIH DARI DOSA”)…

    anda pelajari aja sampai khalifah2 Abasiyah jadi ngerti mereka bukan Ahlul Bait yg tersebut dlm ayat penyucian tsb…apalagi ko mau disejajarkan dg Sabda Rasul saww bahwa ditinggalkan Kitabullah dan Ahlul Baitnya yg berdampingan dan tidak pernah berpisah..yg wajib diikuti..!

    Bukan hanya Ikrimah kok mas ada riwayat dari Atha’, Al-Kalbi, Muqathil, Sa’id bin Jubair dll. Tentang Ikrimah yang dituduh pendusta, ada bahasannya tersendiri mas, tapi tidak di sini saya kira..

    Oke.. Insya Allah klo ga sibuk..

  145. Maaf ketinggalan..

    Saya kira PENDAPAT tersebut tidak menggugurkan hadits RIWAYAT Ummu Salamah maupun Ibnu Abbas kok mas…

    Yup..benar sekali…! tidak mungkin menggugurkan riwayat yg kuat yg diriwayatkan oleh Ummu Salamah (saksi langsung turunnya ayat tsb dan Sabda Nabi ttg Hadis Kisa), Ibn Abbas, Jabir al Anshari dan bahkan Aisyah ttg ayat penyucian tersebut sekaligus menunjukkan siapa yg ada dalam kisa dr pd PENDAPAT satu orang Ad Dhahak..Makanya riwayat Ummu Salamah, Ibn Abbas atau Jabir lbh kuat dr pd pendapat satu orang Ad Dhahak yg mengatakan Istri2 Nabi termasuk dlm ayat Tathir..!

  146. @Abu Syahzanan
    Salam kenal

    Orang syiah atau pemeluk madzhab Ahlul Bayt, yakin kok bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini adalah otentik, dan Al-Qurannya sama dengan Al-Quran yang diyakini saudara2 madzhab lain, semua sudah dijelaskan. Hanya saja, anda pasti taulah, bagi yang ingin menjatuhkan pengikut madzhab Ahlul Bayt selalu memakai “senjata” kuno yaitu selalu membuka masalah2 yang sebenarnya sudah basi dan berulang kali dilontarkan,

    Saya pun senang mendengarnya… komen saya di atas berkaitan dg keraguan mas Armand terhadap keadilan para shahabat Nabi, padahal sahabat rasul dalam pengertian ahlul hadits adalah mereka yang bukan munafik, makanya saya tanya ke dia apakah dia percaya terhadap Al-Qur’an (mushaf Utsmani), masalahnya para shahabatlah yg mengumpulkannya dan mengkodifikasikannya menjadi mushaf spt saat ini. Tentunya jika dia yakin thd Al-Qur’an yg ada sekarang ini maka mau ga mau dia hrs yakin akan keadilan sahabat saat itu, kalo dia ragu maka perlu ditanyakan keyakinan dia thd Al-Qur’an yg ada skrg ini.

    @arif syukron nasehatnya…

    @armand

    1. Adakah riwayat yang shahih mengenai pemberian catatan orang-orang yang munafik dari ayat 101 ini dari Rasul saw ke Hudzaifah?
    2. Mengapa Umar tidak langsung saja bertanya kepada Rasul saw?
    Mas sudah terlalu banyak dan sering menjadi juru bicara Nabi saw tanpa dasar kokoh *saya sampai kesel* salah satunya ini;
    blockquote>Nabi mempunyai sahabat2 yang mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri, dan untuk spesialisasi orang munafik beliau menunjuk Hudzaifah, just it!
    Darimana mas tau bahwa Nabi punya sahabat2 dengan spesifikasi sendiri-sendiri? Darimana kesimpulan ini? Inikan cuma karangan mas saja?
    Bagaimana mas bisa tau bahwa Hudzaifah memiliki spesifikasi mengenai orang munafik? Lagi-lagi karangan kosong. Apa Nabi saw pernah ngomong begitu?

    Supaya saya ga dikatakan sebagai jubir Nabi, silahkan anda buka sendiri kitab-kitab para ulama mengenai biografi shahabat hudzaifah, kalo anda tahu saya bukan jubir Nabi kenapa anda tanya ke saya spt : “kenapa Umar tidak langsung saja bertanya kepada Rasul saw?” mau dijawab nanti ngeselin anda ga dijawab jg salah… repot dech…

    Tolong mas jelaskan kontradiksi ini berdasarkan hadits berikut;
    Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.
    Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419

    Sebelum anda menanyakan mengenai beliau saya sudah baca kok artikel mas SP mengenai beliau…

    Mengenai riwayat di atas saya belum mengetahui komentar ulama (semisal Syaikh Al-Albani, Syaikh Ahmsd Syakir dll) mengenai riwayat tsb selain mas SP sebutkan.

    Jika riwayat di atas benar, justru hal tsb menunjukkan bahwa mereka tidak ma’sum, tidak disebutkan di riwayat tsb apa dan bagaimana bentuk penghinaan yg dilakukan oleh Al-Mughirah thd Ali krn bisa jadi perkataan orang bisa ditafsirkan lain oleh orang lain… dan sahabatnya Zaid bin Arqam telah mengingatkannya dan bagaimana reaksi dari Al-Mughirah setelah diingatkan juga tidak disebutkan dlm riwayat tsb. Jika kemudian dia bertobat maka selesailah urusannya dan sekali lagi hal2 spt itu tidaklah menggugurkan keadilan para sahabat atau menggugurkan status mereka sebagai shahabat Nabi saw, apalagi hal tsb terjadi pada masa2 fitnah dimana yg benar dan salah menjadi begitu samar.

    Saya sudah baca, ayat tsb ada diakhir, seperti ini;
    “……..Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah
    Kata-kata mana yang menyatakan mereka isteri Nabi saw di akherat? Salah satu penyakit mas yang saya amati (selain terobsesi menjadi jubir Nabi saw) adalah suka menarik-ulur ayat. Ayat yang teksnya belum jelas dibilang jelas. Ayat-ayat yang sudah jelas teksnya dibilang masih perlu tafsiran.
    Bagi saya ayat itu melarang kita menyakiti Nabi saw serta untuk menghormati kesucian Nabi saw yakni dengan tidak mengawini isteri-isteri Nabi setelah Beliau wafat. Tidak ada hubungannya dengan kedudukan isteri-isteri Nabi.

    Cukuplah anda perhatikan apa yang dikatakan Imam Ali ra tentang salah satu istri Nabi SAW yaitu Aisyah ra.

    Didalam Tarikh Ath Thabari 5/225 diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata di saat perang Jamal: “Wahai kaum muslimin! Dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur dan demi Allah dia seorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada antara kami dengan dia kecuali yang demikian itu. Dan (ketahuilah -pen) dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat.”
    Kalau anda konsisten tentunya anda harus mengikuti Imam Ali ra dalam hal ini.

    O iya terus bagaimana keyakinan mas mengenai Al-Qur’an (mushaf utsmani) yang ada sekarang ini? Apakah otentik atau tidak? Masalahnya shahabat-lah yang mengumpulkan Al-Qur’an ini dan akhirnya sampai ke tangan kita dalam bentuk seperti saat ini…

    Apakah pada waktu penyusunan terdapat Imam Ali atau yang diminta untuk mewakili Beliau? Jika Imam Ali serta Ahlulbayt (Itrah) tidak mempermasalahkan, bagaimana mungkin saya akan mempermasalahkan?

    Waktu penyusunan setahu saya tidak ada riwayat bahwa Imam Ali ikut serta atau ada orang yg mewakili beliau, nah terus gimana donk mas? jadi yakin ga nich sampeyan thd Al-Qur’an yg ada saat ini?

    wassalam

  147. @Dwi
    salam kenal

    Anda mengatakan:
    Di 33:33, ternyata yg dimaksud ahlul bait adlh istri-istri Nabi…
    A;-Ahzab 33 tak mungkin istri2 Nabi. Jika demikian, mengapa pada kata penyucian menggunakan kata “kum”, bukan “kunna”?
    Dalam qa’idah Bahasa Arab, kum bisa berarti lebih dari 2 orang dan kesemua laki2 atau lebih dari 2 orang dan ada laki2 serta perempuan.

    Bahwasanya dlamir jamak untuk laki-laki dalam ayat tathhir disebutkan karena kembalinya kepada ahlul bait. Sedangkan kalimat ahli dapat dipakai untuk mu’anats dan mudzakar. Seperti ucapan seseorang: “kaifa ahluka” yang dimaksud bagaimana istrimu. Dan ini dapat dipahami oleh orang-orang yang mengerti bahasa Arab dengan dzauqul arabi. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ Tirmidzi, Imam Muhammad Abdurrahman Ibnu Abdurrahim al-Mubarakfuuri, juz 9 hal. 48-49).

    Dhamir “mudzakkar” digunakan disana kerana dua sebab. Pertama, lafaz al-ahl adalah mudzakkar. Orang-orang Arab menggunakan lafaza mudzakkar sekalipun pada perempuan sekiranya yang diperhatikan adalah perkataan tersebut. Penggunaan seperti ini terdapat dalam ayat-ayat lain dalam Al-Quran seperti (lihat tulisan Arabnya):

    “Berkata Musa berkata kepada Ahlinya (isteri anak Nabi Syuaib a.s.) Tunggulah kamu disini.”
    (Taha: 10 )

    “Apakah kamu (isteri Nahi Ibrahim a.s.) heran tentang kekuasaan Allah; rahmat Allah dan berkat-Nya ke atas kamu Ahlul-Bait, sesungguh-Nya la amat terpuji lagi Mulia”
    (Huud: 73)

    Di dalam hadis juga terdapat penggunaan seperti ini, seperti hadis berikut:

    “Lalu Rasulullah s.a.w. pergi ke bilik Aisyah r.a. dan berkata: ‘Assalamu Alaikum Ya Ahlul Bait Wa Rahmatullah, maka Aisyah menjawah: Wa Alaikassalam Wa Rahmatullah, bagaimana dengan Ahli (isteri) kamu (Zainab Bt. Jahsy), semoga Allah memberi berkat kepada mu,” (Sahih Bukhari, Kitab Tafsir. Peristiwa ini berlaku selepas Rasulullah diakad nikah dengan Zainab bt. Jahsy r.a. dan selesai jamuan walimah)

    Dalam hadis ini ada dua petunjuk penting yang membatalkan hujah Syiah. Pertama penggunaan “dhamir mudzakkar” kepada perempuan iaitu Aisyah r.a. kerana meraikan lafaz “ahl”. Kedua isteri-isteri Rasulullah s.a.w. yang dimaki dan dikafirkan oleh Syiah 23 adalah daripada kalangan Ahlul Bait.

    Sebab kedua mengapa “dhamir mudzakkar” digunakan dalam ayat at-Tahhir di atas ialah kerana yang dimaksudkan dengan Ahlul Bait dalam ayat ini bukan saja isteri-isteri Rasulullah s.a.w ., tetapi juga anak menantu dan cucunya, malah setengah pendapat memasukkan juga Bani Muttalib dan Bani Hashim. Menurut kaedah Bahasa Arab, apabila berhimpun lelaki dan perempuan, digunakan lafaz “mudzakkar” (lihat Ahlul Bait, Wan Zahidi Wan Teh)

    wassalam

  148. @SP

    Bukankah ayat tersebut bicara tentang Al Quranul Karim yang disampaikan oleh Nabi SAW?. Saya rasa Mas dalilnya kurang mengena, bisa kasih tahu saya yang lain, atau paling tidak tolong dijelaskan dasar atau penafsiran An Najm ayat 4 tersebut.

    Ma’af seharusnya saya tulis An-Najm : 2-4, bukan hanya ayat 4 saja. Saya kira ayat tsb sudah lebih dari cukup sebagai dalil bahwa Rasulullah adalah ma’sum, kalo mas mau tambahin ya silahkan. Tetapi baiklah saya bawakan tafsirnya (copas)

    مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2)
    Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa kawan mereka itu (Muhammad) adalah benar-benar seorang Nabi. Dia tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar. Juga tidak pernah ia melakukan kebatilan.
    Kenyataan Rasulullah saw adalah seorang Rasul yang diberi petunjuk oleh Allah, dia mengikuti kebenaran. Dia bukan seorang yang menyesatkan (dan bukanlah pula ia berjalan pada jalan yang ia sendiri tidak mengetahuinya). Dia bukan pula seorang yang sesat yang berpaling dari kebenaran dengan suatu tujuan tertentu. Keadaan beliau yang seperti itu, bukan saja setelah beliau diangkat menjadi Rasul, tetapi juga sebelumnya. Oleh sebab itulah Allah memberikan kepadanya petunjuk dan syariat untuk memberikan sinar kepada orang-orang yang sesat baik Yahudi maupun Nasrani yang sebenarnya mereka mengetahui kebenaran itu, tetapi tidak mengamalkannya.

    وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3)
    Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Muhammad saw itu tidak sesat dan tidak keliru karena beliau seorang yang tidak pernah menurutkan hawa nafsunya. Orang yang mungkin keliru atau tersesat ialah orang yang menurutkan hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah SWT:

    ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله
    Artinya:
    Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
    (Q.S. Shad: 26)

    إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4
    Dalam ayat ini, Allah SWT menguatkan ayat 3; yakni bahwa Muhammad saw hanyalah mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, tidak ditambah-tambah dan tidak pula dikurangi menurut apa yang diwahyukan kepadanya.

    Abdullah bin ‘Amr bin ‘As menulis setiap apa yang ia dengar dari Rasulullah saw, karena ia mau menghafalkannya. Tapi orang-orang Quraisy melarangnya. Mereka mengatakan mengapa ia menulis setiap perkataan Muhammad, sedangkan Muhammad itu adalah manusia biasa yang berkata dalam keadaan marah. Maka berhentilah Abdullah bin Umar menulis. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw, dan memberitahukan perihalnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw.

    اكتب فوالذي نفسي بيده ما خرج مني إلا الحق
    Artinya:
    “Tulislah, demi Tuhan, tidak ada yang keluar dari perkataanku kecuali kebenaran”.
    (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

    Al Hafiz, Abu Bakar Al Bazzar mendapat riwayat dari Ahmad bin Mansyur, dari Abdullah bin Saleh, dari Al Lais, dari Ibnu Ajlan, dari Zaid bin Aslam, dari Abu Saleh dan dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:

    ما أخبرتكم أنه من عند الله فهو الذي لا شك فيه
    Artinya:
    “Apa-apa yang aku katakan kepadamu bahwa ia dari Allah SWT, maka tidak ada keraguan padanya”.
    (HR. Abu Hurairah)

    Dari Yunus, Lais, Muhammad bin Said bin Abu Said, dari Abu Hurairah mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

    لا أقول إلا حقا
    Artinya:
    “tidaklah aku berkata kecuali yang benar”.
    (HR. Abu Hurairah, Lihat Tafsir Al Maragi, hl. 45, juz 27, jilid IX)

    Pemahaman mengenai berpegang teguh kepada khulafa’ur rasyidin kita memang berbeda mas, hal ini disebabkan karena mindset kita juga berbeda, kalau anda menganggap khulafa’ur rasyidin adalah ma’sum tidak boleh ada kesalahan sedikitpun (apakah ada manusia selain Rasul yg spt ini?) krn oleh Rasul disuruh jg berpegang kpd sunnah mereka, sedangkan saya menganggap selain Rasul adalah tidak mak’sum termasuk khulafa’ur rasyidin, tetapi yang terjaga menurut saya adalah kesepakatan mereka (para shahabat) yang dipimpin oleh khulafa’ur rasyidin pada waktu itu krn Rasul sendiri merekomendasikan bahwa kesepakatan mrk adalah tidak sesat. disamping khulafa’ur rasyidin ada yg disebut Ashabus Syura (beberapa sahabat yang selalu dimintai pendapat dalam bermusyawarah)

    Yang saya lihat adalah anda menjadikan permasalahan haji tamattu’ sebagai alat utk membantah bahwa 3 khalifah sebelum Ali adalah bukan khulafa’ur rasyidin, apakah anda tidak memperhatikan bahwa ijtihad2 Umar banyak yg dikonfirmasi oleh Allah pada saat Rasulullah masih hidup dan jadi pegangan oleh kaum muslimin selanjutnya, bahkan Nabi sendiri pernah bersabda seandainya ada Nabi setelah beliau, tentulah Umar orangnya. Apakah hanya krn haji tamattu’ anda menzerokan mereka? apakah Ali ra tidak pernah berbuat satu kesalahan sedikitpun? Silahkan anda tidak berpegang kepada mereka krn mindset anda tsb, tetapi bagi saya alasan anda terlalu dipaksakan, anda mengambil satu dalil tetapi mengabaikan ribuan dalil yang lainnya.

    Kalau Imam Ali jelas saya punya dalil bahwa Beliau harus diikuti tetapi kalau ketiga khalifah lagi-lagi tidak saya temukan.

    Masa sih mas ga menemukan dalilnya?

    @armand

    @Bims
    Konsistensi atas inkonsistensi mas benar-benar membuat saya terperangah sekaligus takjub
    Mengutip istilah teruthseeker: …membuat logika saya jadi jungkir balik

    Yang bener mas? Kereeen dunk… :mrgreen:

    wassalam

  149. @bagir

    Pendapat saya..?? justru komentar anda itu pendapat anda sendiri..khn ud ditulis :
    Ibn Abas meriwayatkan bahwa Rasul saww membacakan (ayat) “SESUNGGUHNYA ALLAH BERKEHENDAK MENGHILANGKAN SEGALA KEKOTORAN DARI KALIAN WAHAI AHLIL BAIT, dan mensucikan kalian sesuci-succinya” Kemudian Rasul saww bersabda : “ KARENA ITU, AKU DAN AHLUL BAITKU ADALAH BERSIH DARI DOSA” (Shahih Tirmidzi, dikutip dalam Darul Manstur, Jalaludin Suytuti jld 5 halamn 605-606 dan lainnya

    Disitu jelas kalau mereka dibersihkan, berarti ya ga ma’sum

    Dalam Ansab al-Asyraf , Baladzuri, ,jilid 5, hlm. 71 disebutkan Aisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke Al-Hajar Kemudian mengumpul orang dan berkata:
    ”Hai manusia. Utsman telah dibunuh secara zalim! Demi Allah kita harus menuntut darahnya’(diriwayatkan juga ) dia berkata : ‘Hai kaum Quraisy! Utsman telah dibunuh. DIBUNUH OLEH ALI BIN ABI THALIB. DEMI ALLAH SEUJUNG KUKU ATAU SATU MALAM KEHIDUPAN UTSMAN, LEBIH BAIK DARI SELURUH HIDUP ALI.’”
    Wah..wah…Siapa yg ngomong itu..?? Aisyah..!
    Msh banyak lagi riwayat2 ttg Aisyah diperingati Ummu Salamah, sampai ada ucapan dari Ibnu Ummu al Kilab berkata didepan Aisyah sdri : Fa minki’l bada’, wa minki’l ghiyar, Wa minki’rriyah, wa minki’l mathar, Wa anti amarti bi qatli’l-imam. Wa qulti lanna innahu qad kafara
    (Dari Anda (mksdnya Aisyah) bibit disemai, Dari Anda kekacauan dimulai, Dari Anda datangnya badai,Dari Anda hujan berderai, Anda suruh bunuh imam (mksdnya Khalifah Ustman), Ia telah kafir, Anda yang bilang)
    Pengertian dan damai..?? Mas…ribuan Muslim syahid

    Yah terlalu banyak korban dari sejarah yang terdistorsi… tampaknya anda belum baca secara keseluruhan ya link yg saya berikan…

    Baik ini jawaban terhadap tuduhan2 tsb:
    1. Aisyah menerima bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk berbai’at kepada Ali bin Abi Thalib. (Al Mushannaf 7/540)

    2. Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin Affan. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan ijtihad walaupun Ali bin Abi Thalib lebih mendekati kebenaran daripada mereka. (Daf’ul Kadzib 216-217)

    3. Tawaran Ali bin Abi Thalib kepada Aisyah semata-mata untuk menyatukan cara pandang bahwa hukum qishash baru bisa ditegakkan setelah keadaan negara tenang. Beliaupun sangat mengetahui bahwa Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair tidaklah datang ke Bashrah dalam rangka memberontak kekhilafahannya. Akhirnya hampir terbentuk kesepakatan diantara mereka. (Tarikh Ath Thabari 5/158-159 dan 190-194)

    4. Akan tetapi melihat keadaan seperti ini, beberapa kaum Saba’iyah (pengikut faham Abdullah bin Saba’-pendiri Syi’ah) mulai memancing konflik diantara pasukan Aisyah dan Ali. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa salah satu pasukan telah berkhianat. Maka terjadilah perang Jamal. (Tarikh Ath Thabari 5/195-220)

    Perkataan anda bertentangan dengan perkataan imam Ali berikut ini:

    Didalam Tarikh Ath Thabari 5/225 diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata di saat perang Jamal: “Wahai kaum muslimin! Dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur dan demi Allah dia seorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada antara kami dengan dia kecuali yang demikian itu. Dan (ketahuilah -pen) dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat.”

    gara2 fitnah ini..! masih ingat hadis tanduk setan khan..??

    Baca di sini mas:

    http://media.isnet.org/islam/ss/S77-78.html

    Oo betul sekali mas..! banyk teguran dari Allah..Malahan teguran2 langsung itu “dicampakkan” oleh sebagian Istri Nabi saww sebelum dan setelah wafatnya Nabi saww dg perbuatan2 yg ga pantas..! (sdkt ud ada diatas)
    Spt komen yg diatas, setelah sebulan Nabi saww mengasingkan diri dari istri2 beliau dan turun ayat 51 surat al Ahzab (silahkan cek sendiri2 ayat tersebut) Aisyah mengatakan sesuatu yang sangat2 tidak pantas kepada Rasul saww : “ Nampak bagiku bahwa Tuhan mu bercepat-cepat memuaskan keinginanmu” (Sahih Muslim, Inggris jld 2 hlmn 748-749)
    Mas..jelas ayat 51 al ahzab trn stlh ayat 33…tapi ttp ajah tuh Aisyah ngom yg ga pantas sama sekali, apalagi NABI yg diajak ngomong..!
    Yg setelah wafat..? wah lbh byk pengingkarannya atas sabda2 Nabi mas..! makanya istri2 Nabi Ga masuk dlm Al Ahzab 33 ttg penyucian.

    Saya cuma mengingatkan anda agar hati2 bersikap thd orang2 terdekat rasul, ntar kualat lho! Saya serius mas… mungkin anda kebanyakan diceritain yg negative aja ya ttg mereka, nich saya kasih yg positif biar imbang:

    Kedudukan Para Istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mulia dan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang mengangkat derajat mereka di atas wanita lainnya. Allah jalla jalaaluhu berfirman yang artinya:
    يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ
    “Wahai istri Nabi, (kedudukan) kalian bukanlah seperti wanita-wanita yang lainnya.” (Al Ahzab: 32)

    Allah ‘Azza wa Jalla telah meridhai mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang termulia, sampai-sampai melarang beliau untuk menceraikan mereka. Allah berfirman :
    لاَ يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلاَ أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ
    “Tidak halal bagimu wahai Nabi, untuk mengawini wanita-wanita lain sesudahnya, dan tidak halal (pula) bagimu untuk mengganti mereka dengan wanita-wanita lain walaupun kecantikan mereka memikat hatimu.” (Al Ahzab: 52)

    Para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibu-ibu kaum mukminin yang tentu saja wajib untuk dimuliakan dan dihormati. Oleh karena itu para istri beliau mendapat gelar Ummahatul Mu`minin.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:
    النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
    “Nabi itu lebih berhak untuk dicintai kaum mukminin daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin).” (Al Ahzab: 6)

    Saya tidak bicara “KERABAT”, saya bicara Ahlul Bait dlm ayat 33 yg disucikan dan diperkuat dg ucapan Nabi saww sendiri. Apa urusannya dg keturunan Abbas tidak menerima sedekah..?? itu khan omongn Zaid ketika ditanya siapa Ahlul Bait dlm menjelskan Hadis Tsaqolain..! dan kata2 “ mereka yg tidak menerima sedekah” adl Ahlul Bait dlm Ayat Tathir tsb itu bukan Ucapan Nabi saww…tapi ucapan Zaid..!

    Sekali lagi anda begitu merendahkan orang2 terdekat Nabi SAW, maaf ya mas kalo terpaksa saya bilang kalo anda dibandingkan dg Zaid bin Arqam ra sangat jauh sekali yaitu baina sama’i wa sumur… beliau lebih mengerti siapakah ahlul bait yg dimaksud dlm hadits tsaqolain drpada anda krn beliau sendiri yg meriwayatkan hadits tsb… so berfikirlah yg jernih mas…

    peace…

  150. @bims

    Disitu jelas kalau mereka dibersihkan, berarti ya ga ma’sum

    Saya coba ikuti nalar mas bims. Sekarang saya bertanya setelah Allh secara khusus mesucikan sesuci2nya, mas bims menafsirkan bahwa krn mereka tidak maksum, mestinya tidak maksum sebelumnya, tapi setelah dibersihkan apakah mas bims tetap ngotot bahwa mereka tidak maksum?, jika spt itu nalar mas bims, terus apa makna, himah & tujuan ayat tsb? Jika mas bims menganggap setelah dibersihkan mrk menjadi maksum, apakah konsekuensi kita umat islam setelah Allah menjamin mrk ahlul bayt dg ayat tsb?

    2. Keluarnya Aisyah bersama Thalhah dan Az Zubair bin Al Awwam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Utsman bin Affan.

    Kenapa mas bims tidak pernah menyinggung perintah Allah & Rasulullah kepada para istrinya utk tidak keluar rumah? Kenapa harus sampai Aisyah memilih keluar rumah, bukankah cukup kirim utusan Talha & Zubair, atupun cara lain yang tidak menentang perintah Allah.
    Karena jika kita bicara tujuan & niat mereka datang kepada Imam Ali, mas bims akan bisa mengada2kan kisahnya. Bahkan mereka yg berangkatpun bisa punya lisan yg berbeda dg niat mrk, dan sayangnya mas bims mengaaikan dalil2/hadits yg menguatkan bhw mrk datang kpd Imam Ali as dlm rangka menggugat.

    Sekali lagi anda begitu merendahkan orang2 terdekat Nabi SAW,

    Saya tidak pernah bisa mengerti claim2 spt ini. Mas bims harus membedakan caci maki yg kita buat sendiri dengan kita mengutip hadits ataupun riwayat. Yang disampaikan adalah hadits & riwayat dr mereka2 yg mas bims muliakan knp kita yg mengutip yg disalahkan? In