Kritik Terhadap Distorsi Hadis Tsaqalain

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Hadis diatas adalah hadis Tsaqalain, disebut Tsaqalain karena berarti dua peninggalan yang berat, berharga atau dua pusaka. Hadis ini menjelaskan tentang wasiat Rasulullah SAW kepada umatnya agar tidak sesat dengan cara berpegang teguh kepada Al Quran dan Itrati Ahlul Bait Rasul as. dan Kedua hal tersebut yang dimaksud dengan At Tsaqalain atau dua peninggalan yang berharga. Kebanyakan dari umat muslim lebih sering mendengar hadis dengan redaksi yang berbeda yaitu

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”(Hadis riwayat Malik dalam Al Muwatta dan Al Hakim dalam Al Mustadrak As Shahihain)

Dalam pembahasan sebelumnya sudah dibuktikan bahwa hadis ini memiliki sanad yang dhaif dan yang lebih shahih adalah hadis dengan redaksi wa itraty ahlul baity atau hadis Tsaqalain. Walaupun pada dasarnya Kitabullah dan Sunah Rasulullah SAW adalah dua sumber hukum yang mutlak bagi umat Islam dan hal ini telah ditetapkan dengan dalil yang qathi dari Al Quranul Karim. Sebenarnya tidak diragukan lagi bahwa hal ini bersifat pasti kebenarannya, tetapi yang ingin ditekankan disini bahwa Rasulullah SAW telah berpesan kepada umatnya untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan Ahlul Bait Rasul as, karena redaksi inilah yang sanadnya shahih Sedangkan redaksi Kitabullah dan Sunah RasulNya memiliki sanad yang dhaif .

Berkenaan dengan hadis Tsaqalain terdapat beberapa ulama yang meragukannya atau mengkritik hadis ini dan menyatakan bahwa hadis ini tidak shahih, ulama yang dimaksud adalah

• Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-‘llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah
• Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhaj As Sunnah Nabawiyah
• Ali As Salus dalam kitabnya Imamah dan Khilafah

Tulisan ini ditujukan untuk menanggapi pernyataan ulama-ulama tersebut dan untuk menegaskan bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis yang shahih, jadi bisa dikatakan kalau tulisan ini adalah bantahan terhadap ulama-ulama tersebut. Sebelumnya perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa ulama-ulama ini sebenarnya menolak hadis Tsaqalain yang memiliki redaksi berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait, tetapi Mereka menyatakan shahih hadis Tsaqalain dengan riwayat dalam Shahih Muslim, Sunan Ad Darimi dan Musnad Ahmad berikut

Shahih Muslim juz 2 hal 279
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka beliau memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.
Kemudian Beliau bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu.Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Sunan Ad-Darimi juz 2 hal 431
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka beliau memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.
Kemudian Beliau bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu.Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Musnad Ahmad jilid IV hal 266
Dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah SAW bersabda “dan saya meninggalkan bagimu dua hal. Pertama Kitabullah yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya maka jadikanlah dia sebagai pedoman dan berpegang teguhlah kepadaNya”,Beliau SAW menghimbau untuk berpegang teguh kepada Al Quran dan Beliau SAW berkata”dan Ahlul BaitKu.Saya ingatkan kamu tentang Ahlul BaitKu”.

Sebenarnya hadis-hadis ini saja sudah cukup untuk membenarkan hadis Tsaqalain yang menyatakan keharusan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait, tetapi ulama-ulama tersebut menafsirkan bahwa yang dimaksudkan tentang Ahlul Bait ini adalah bersikap baik dengan mencintai dan menjaga hak–hak Ahlul Bait. Mereka menolak penafsiran hadis ini bahwa yang dimaksud Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait adalah berpegang teguh kepada Ahlul Bait karena tidak ada kata-kata yang jelas menunjukkan hal tersebut dalam hadis –hadis diatas.

Alasan bahwa tidak ada kata-kata yang jelas pada hadis-hadis di atas yang menunjukkan keharusan berpegang kepada Ahlul Bait merupakan alasan yang rancu. Hal tersebut dikarenakan alasan ini juga dapat ditujukan untuk menolak anggapan mereka bahwa yang dimaksud tentang Ahlul Bait ini adalah bersikap baik dan menjaga hak- hak Ahlul Bait. Karena juga tidak ada kata-kata yang jelas menunjukkan hal tersebut dalam hadis-hadis diatas.

Walaupun tidak ada kata-kata yang jelas dalam hadis-hadis diatas tentang apa sebenarnya maksud kata-kata Rasulullah SAW “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.” .Tetapi kata-kata ini bisa dimengerti sebagai isyarat yang menunjukkan keharusan berpegang teguh kepada Ahlul Bait, merujuk kepada arti Ats Tsaqalain yang berarti dua peninggalan yang berharga atau berat. Dari hadis tersebut Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berpegang teguh kepada Al Quran dari kata-kata “ Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Rasulullah melanjutkan dengan kata-kata “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”.

Bukankah pesan ini adalah lanjutan dari pesan sebelumnya tentang berpegang teguh kepada Al Quran, dari sini dapat dilihat bahwa pesan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait atau hal yang dimaksud peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait adalah sama seperti dengan apa yang Beliau SAW nyatakan tentang Al Quran sebelumnya yaitu keharusan untuk berpegang teguh kepada keduanya. Hanya itu yang bisa disimpulkan kalau merujuk dengan hadis diatas saja. Dan dapat dimengerti kenapa Rasulullah SAW tidak menggunakan kata-kata yang jelas “berpegang teguh kepada Ahlul Bait” karena pengertian ini sudah tercakup dalam pesan Rasulullah SAW sebelumnya tentang Al Quran.

Sedangkan dakwaan mereka yang beranggapan bahwa yang dimaksud tentang Ahlul Bait adalah bersikap baik dan menjaga hak-hak Ahlul Bait maka dakwaan seperti inilah yang memerlukan kata-kata yang jelas oleh karena hal ini tidak tersirat dari pesan sebelumnya. Dengan kata lain jika pesan Rasulullah SAW yang dimaksudkan tentang Al Quran dan Ahlul Bait itu berbeda maksudnya maka seharusnya terdapat kata-kata yang jelas yang membedakannya, tetapi Rasulullah SAW hanya mengatakan “dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”. Oleh karena tidak ada kata-kata yang jelas itulah yang menunjukkan bahwa pesan Rasulullah SAW tentang Al Quran dan Ahlul Bait itu adalah sama yaitu peringatan untuk berpegang teguh kepada keduanya.

Apalagi pada kenyataannya terdapat banyak hadis yang menggunakan kata-kata yang jelas tentang kewajiban berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait, hadis-hadis inilah yang dinyatakan dhaif atau tidak shahih oleh mereka yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Pendapat ini jelas tidak benar dan akan dibuktikan bahwa pernyataan mereka tersebut adalah keliru.

33 Tanggapan

  1. Ass. Wr. Wb.

    @Secondprince atau Sp,
    Kenapa setelah ada peringatan yg nyata mengenai hadist Tsaqalain dan Ghadir Khum, umat Islam selalu berselisih saja mulai dari Rasul Saw wafat sampai dengan sekarang? apa sebabnya?

    Wass. Wr. Wb.

  2. Berselisihnya umat bukan sejak wafat Rasul SAWW.,malah sejak tenatnya Beliau SAWW.., ketamakan dan kebencian dari mereka yang tidak lebih utama kepada yang lebih utama ( Itroh Ahlul Bait Rasul SAWW yang suci ) memandu kepada peselisihan ini., lalu mereka menyatakan keutamaan mereka berbanding Ahlul Bait AS dan dipaksakan kepada umat di jaman mereka.., Mereka yang berpegang teguh terhadap hadith di atas terus tidak mengakui mereka (penguasa sesudah Rasul SAWW )dan tetap bersikeras mengagungkan Ahlul Bait AS. Di sudut lain pendukung para penentang Ahlul Bait terus memaksakan umat dan pendukung Ahlul Bait AS untuk tunduk kepada fahaman mereka walaupun kekerasan digunakan untuk menyebar faham mereka,sedang dikenal Rasul SAWW dan Ahlul baitnya tidak pernah menggunakan kekerasan dalam memberitahukan kebenaran kerana itu bukan yang diperintahkan dari RABB nya kepada mereka., tapi penentang Ahlul Bait tidak mengira jika mereka perlu mengunakan kekerasan untuk menyatakan bukti yang mereka di sudut benar.,
    Bukankah dapat dilihat dengan jelas jalan siapa yang lebih hak untuk di ikuti..??? Hanya saja jika pembaca dan penganalisa bisa berfikir waras lagi logis..

  3. Bagi mereka yang telah Allah sesatkan, tetap akan sesat. Pentunjuk apa saja yang diberikan tetap ditolak

  4. Mohon izin berkomentar.

    Hadith-hadith tsaqalain adalah salah satu akar perbedaan antara syiah dengan sunni. Yang dimaksud dengan hadith tsaqalain adalah hadith yang berisi sabda Nabi saw yang menyebutkan perihal tsaqalain (dua pusaka) yang beliau tinggalkan kepada ummat. Pada dasarnya hadith-hadith tsb menjadi kontroversi karena salah satu dari 2 pusaka yang dimaksud adalah “ahlul bayt”. Sedangkan mengenai salah satu pusaka yang lain, yaitu “Kitabullah”, dapat dikatakan tidak ada perselisihan atasnya bagi kedua pihak (syiah dan sunni). Atas dasar hadith inilah syiah menyandarkan doktrin kepatuhan mutlak kepada ahlul bayt (dan itrahnya). Didukung oleh hujjah lain yang diyakini oleh pihak syiah (surah 33:33 dan hadith kisa’), maka status ahlul bayt dan itrahnya sebagai petunjuk/pedoman juga menjadi ma’shum.

    Realitas sejarah juga mencatat adanya upaya menyimpangkan hadith tsaqalain, termasuk yang dialami oleh saya sendiri, dimana dalam pelajaran agama Islam yang diajarkan sejak sekolah dasar, hadith tsaqalain yang diajarkan menyebutkan bahwa 2 pusaka yang dimaksud adalah: Kitabullah dan sunnah Nabi saw. Padahal hadith yang menyebutkan “sunnahku” ternyata derajatnya tidak sahih.

    Saya sudah dapati ada 11 hadith tsaqalain (ada yang pernah mendapatkan lebih?). Semua hadith bersumber dari seorang saksi/pelaku sejarah, yakni Zaid bin Arqam ra. Kecuali 1 hadith yang menyebutkan Ali ra sebagai saksi/pelaku sejarah yang menjadi sumbernya (dalam kitab Musykil Al Athar, karya Ath Thahawi). Sementara 1 hadith lagi menyebutkan Jabir bin Abdillah ra (dalam kitab Sunan Tirmidzi). Hadith yang bersumber dari Ali diatas juga menjadi kontroversi perihal kata “mawla” yang oleh syiah dipahami sebagai pelantikan Ali ra menjadi pemimpin.

    Sepemahaman saya, hadith-hadith tsaqalain awalnya dapat saya bagi menjadi setidaknya 3 kelompok:

    Kelompok pertama adalah hadith-hadith tsaqalain yang terkait dengan peristiwa khutbah Nabi saw di ghadir khumm, yang juga terkenal dengan hadith-hadith ghadir khumm. Kontroversi pemahaman antara syiah dengan sunni terkait hadith ghadir khumm setidaknya mencakup 3 hal:

    – 2 pusaka (Al Quran dan ahlul bayt)

    – siapakah ahlul bayt

    – serta pelantikan Ali ra sebagai pemimpin

    Namun fokus kali ini adalah khusus membahas tsaqalain (2 pusaka) saja. Dalam kelompok ini ada 7 hadith, yaitu:

    – 4 hadith dari Imam Muslim (nomor 5920-5923)

    Yazid bin Hayyan berkata: “Aku bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk di sisinya, Husain berkata kepadanya (Zaid bin Arqam): Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau berjumpa dengan Rasulullah (saw), engkau mendengar sabda beliau, engkau berperang bersama beliau, dan engkau shalat di belakang beliau. Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Wahai Zaid, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah (saw). Ia (Zaid bin Arqam) berkata: Aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah (saw). Maka terimalah apa yang bisa aku sampaikan kepadamu dan apa yang tidak aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya. Kemudian ia (Zaid bin Arqam) berkata: Pada suatu hari Rasulullah (saw) berdiri menyampaikan khutbah di suatu daerah perairan yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, meninggikanNya, lalu beliau berkhutbah menasehati (kami) dan bersabda: Sekarang mengenai tujuan kita. Wahai manusia, aku adalah manusia (seperti kalian). Sebentar lagi utusan Rabb-ku (malaikat pencabut nyawa) akan datang, dan aku akan menyambut panggilan Allah. Tapi aku akan meninggalkan kepada kalian tsaqalain (2 pusaka), yaitu: Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu berpegang teguhlah kalian padanya dan taatilah. Beliau menasehati (kami) untuk (berpegang teguh kepada) Kitabullah. Kemudian beliau bersabda: Kedua adalah ahlul baytku. Aku ingatkan kalian (akan tanggung jawab kalian) kepada ahlul baytku. Ia (Husain) bertanya kepada Zaid: Wahai Zaid, siapakah ahlul bayt beliau (Rasulullah saw)? Apakah istri-istri beliau bukan ahlul baytnya?. Maka ia (Zaid bin Arqam) menjawab: Istri-istri beliau memang ahlul-baitnya, (namun) ahlul bayt beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat. Dan ia (Husain) bertanya: Siapakah mereka?. Maka ia (Zaid bin Arqam) menjawab: Ali dan keluarga Ali, Aqil dan keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas. Husain berkata: Mereka semua adalah yang diharamkan menerima zakat. Zaid berkata: Ya”. (Hadith #5920)

    Hadith #5921 memiliki redaksi yang sama dengan hadith #5920, namun berbeda sanad.

    Hadith #5922 juga berbeda sanad dengan hadith #5920, namun memiliki redaksi yang sama dengan tambahan: “Kitabullah berisi petunjuk yang lurus, cahaya, dan barang siapa yang menaatinya dan berpegang teguh padanya, maka ia berada di atas petunjuk. Dan barang siapa yang menyimpang, maka ia tersesat”.

    Yazid bin Hayyan berkata: “Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya: Sungguh kamu telah menemukan banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah (saw), shalat di belakang beliau – dan seterusnya sebagaimana hadits Abu Hayyan (#5920), hanya terdapat variasi kalimat: Rasulullah bersabda: Ketahuilah sesungguhnya aku meninggalkan kalian 2 pusaka. Salah satunya adalah Kitabullah, yang tinggi dan mulia, ialah tali Allah. Barang siapa yang berpegang teguh padanya akan berada dalam petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat. Juga di dalam hadith ini disebutkan perkataan: Lalu kami bertanya: Siapakah ahlul bayt beliau? Apakah istri-istri bukan ahlul bayt beliau?. Dia (Zaid) menjawab: Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang wanita bisa saja mendampingi seorang pria (sebagai istrinya) untuk waktu tertentu. Tapi kemudian bisa saja ia (pria itu) menalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Ahlul bayt beliau adalah keluarga beliau dan keturunan beliau (yang berhubungan darah dengan beliau), yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat. (Hadith #5923)

    – 1 hadith dari Imam Ahmad bin Hambal (4/366)

    Yazid bin Hayyan At Taimiy berkata: “Aku, Husain bin Sabrah, dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk di sisinya, Husain berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau telah mendapatkan kebaikan yang banyak, wahai Zaid. Engkau telah berjumpa dengan Rasulullah (saw) dan mendengar sabdanya. Engkau juga telah berperang bersamanya dan shalat bersamanya. Engkau sungguh telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Karena itu, ceritakanlah kepada kami apa yang telah engkau dengar dari beliau. Zaid berkata: Demi Allah, usiaku telah lanjut, masaku telah berlalu, dan aku telah lupa sebagian yang telah aku ingat dari Rasulullah (saw). Maka apa yang aku ceritakan pada kalian, terimalah. Dan apa yang tidak, maka janganlah kalian membebankan aku dengannya. Ia (Zaid) berkata: Pada suatu hari Rasulullah (saw) berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka’bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan. Dan setelah itu beliau bersabda: Wahai manusia, aku hanyalah seorang manusia, hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku meninggalkan 2 pusaka di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah ‘azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, berpegang teguhlah kalian padanya dan taatilah. Beliau menasehati (kami untuk berpegang teguh) kepada Kitabullah. Kemudian beliau bersabda lagi: Dan (yang kedua adalah) ahlul baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul-baitku. Kemudian ia (Husain) bertanya kepadanya (Zaid): Siapakah ahlul baytnya, wahai Zaid? Apakah istri-istri beliau bukan termasuk ahlul bayt beliau? Zaid menjawab: Istri-istri beliau termasuk bagian dari ahlul bayt beliau. Akan tetapi, ahlul bayt beliau adalah mereka yang diharamkan untuk menerima sedekah. Husain bertanya lagi: Siapakah mereka? Zaid menjawab: Keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas. Husain bertanya lagi: Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah? Ia (Zaid) menjawab: Ya”.

    – 1 hadith dari kitab Mustadrak Al Hakim (Mustadrak ala Sahihain)

    Dari Abu Thufail bin Watsilah: Ia mendengar Zaid bin Arqam ra berkata: “Rasulullah (saw) berhenti di suatu tempat antara Makkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh, dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah (saw) mendirikan shalat. Setelah itu beliau (saw) berkhutbah kepada orang-orang. Beliau memuji dan meninggikan Allah ta’ala, mengingatkan dan menasehati (kami). Kemudian beliau (saw) bersabda: Wahai manusia, aku tinggalkan kepadamu 2 pusaka, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitabullah dan ahlul baytku, itrahku. Kemudian beliau melanjutkan: Bukankah aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri? Orang-orang menjawab: Ya. Kemudian Rasulullah (saw) bersabda: Barangsiapa yang menganggap aku sebagai mawlanya, maka Ali adalah juga mawlanya”.

    – 1 hadith dari kitab Musykil Al Athar karya Ath Thahawi (hanya ini yang bersumber dari Ali ra)

    Dari Ali: Nabi saw berteduh di Khum kemudian beliau keluar sambil memegang tangan Ali. Beliau bersabda: “Wahai manusia, bukankah kalian bersaksi bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb kalian? Orang-orang berkata: Benar. Beliau kembali bersabda: Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri, serta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah mawla bagi kalian?. Orang-orang berkata: Benar. Beliau (saw) kembali bersabda: Maka barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya maka dia ini juga sebagai mawlanya – atau (Rasul saw bersabda): Maka Ali sebagai mawlanya (keraguan di bagian ini dari Ibnu Marzuq). Aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitabullah yang berada di tangan kalian, dan ahlul bayt-ku”.

    Kelompok kedua adalah hadith tsaqalain yang terkait dengan peristiwa khutbah Nabi saw di arafah pada saat haji wada, yaitu 1 hadith dari Sunan Tirmidzi nomor 3786. Saya berikan catatan bahwa khutbah Nabi saw di arafah ini sama sekali tidak menyinggung pelantikan Ali ra sebagai pemimpin. Dimana secara pribadi saya menganggap jika Nabi saw memang bermaksud mengumumkan Ali ra sebagai penerusnya, akan lebih tepat jika penyampaiannya pada saat di arafah ini, dimana ummat yang berkumpul jauh lebih banyak dan merepresentasikan berbagai wilayah di dunia Islam, dibanding di ghadir khumm yang hanya mewakili rombongan haji yang hendak pulang ke Madinah dan daerah utara lainnya.

    Dari Zaid bin Al Hasan, ia adalah Al Anmathiy, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw dalam hajinya ketika di Arafah, beliau sedang berkhutbah di atas untanya, Al Qahwa, dan aku mendengar beliau bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang padanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitabullah, dan itrahku ahlul baytku”.

    Kelompok ketiga adalah hadith-hadith tsaqalain yang tidak memiliki penjelasan waktu terjadinya peristiwa. Hanya memberitakan bahwa Nabi saw pernah menyampaikan demikian-demikian. Ada 3 hadith, yaitu:

    – 1 hadith dari Imam Ahmad bin Hambal (3/26)

    Dari Abdul Malik, yaitu Ibnu Abi Sulaiman, dari Athiyyah, dari Abu Sa’id Al Khudriy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Aku tinggalkan untuk kalian 2 pusaka, salah satunya lebih agung dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan itrahku ahlul bayt-ku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku”.

    – 1 hadith dari Sunan Tirmidzi nomor 3788

    Dari Al A’masy, dari Athiyyah, dari Abu Sa’id. Dan Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam ra, mereka berdua berkata: Telah bersabda Rasulullah (saw): “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, salah satu dari keduanya itu lebih agung dari yang lain, yaitu Kitabullah, tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan itrahku ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telagaku, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sepeninggalku”.

    – 1 hadith dari kitab Al Ma’rifat wat Tarikh karya Al Fasawi (1/536)

    Dari Yahya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al Hasan bin Ubaidillah, dari Abu Dhuha, dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Telah bersabda Nabi (saw): “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan itrahku ahlul baytku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di telagaku”.

    Berdasarkan redaksi hadithnya, saya membagi hadith-hadith tsaqalain setidaknya ke dalam 2 kelompok:

    Kelompok pertama adalah hadith-hadith tsaqalain yang secara redaksional menyebutkan Kitabullah adalah petunjuk/pedoman dst – kemudian menyebutkan ahlul bayt tanpa keterangan ahlul bayt tsb menyertai Kitabullah sebagai petunjuk/pedoman. Ada 5 hadith, yaitu:

    – 4 hadith dari Imam Muslim (nomor 5920-5923)

    Salah satu contoh redaksinya adalah sbb:

    “Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu berpegang teguhlah kalian padanya dan taatilah. Beliau menasehati (kami) untuk (berpegang teguh kepada) Kitabullah. Kemudian beliau bersabda: Kedua adalah ahlul baytku”.

    – 1 hadith dari Imam Ahmad bin Hambal (4/366)

    Redaksinya sbb:

    “Yang pertama adalah Kitabullah ‘azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, berpegang teguhlah kalian dengannya dan taatilah”. Beliau menasehati (kami untuk berpegang teguh) kepada Kitabullah. Kemudian beliau bersabda lagi: “Dan (yang kedua adalah) ahlul baytku”.

    Kelompok kedua adalah hadith-hadith tsaqalain yang secara redaksional menyebutkan Kitabullah dan ahlul bayt “berdampingan sebagai petunjuk/pedoman”. Ada 6 hadith, yaitu:

    – 1 hadith dari Imam Ahmad bin Hambal (3/26)

    Redaksinya sbb:

    “Aku tinggalkan untuk kalian 2 pusaka, salah satunya lebih agung dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan itrahku ahlul bayt-ku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku”.

    Secara khusus saya hendak memberikan catatan untuk hadith dari Imam Ahmad bin Hambal diatas, bahwa redaksi hadith yang menyebutkan Kitabullah dan ahlul bayt berdampingan sebagai petunjuk/pedoman tidak sefrontal kelima hadith lainnya. Yang saya maksudkan adalah tidak adanya bagian serupa: “apabila kalian berpegang teguh padanya/pada keduanya“. Dapat disimak hadith-hadith selanjutnya.

    – 2 hadith dari Sunan Tirmidzi nomor 3786 dan 3788

    Salah satunya memiliki redaksi sbb:

    “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, salah satu dari keduanya itu lebih agung dari yang lain, yaitu Kitabullah, tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan itrahku ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telagaku”.

    – 1 hadith dari kitab Al Ma’rifat wat Tarikh karya Al Fasawi (1/536)

    Redaksinya sbb:

    “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan itrahku ahlul baytku”.

    – 1 hadith dari kitab Mustadrak Al Hakim (Mustadrak ala Sahihain)

    Redaksinya sbb:

    “Wahai manusia, aku tinggalkan kepadamu 2 pusaka, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitabullah dan ahlul baytku, itrahku”.

    – 1 hadith dari kitab Musykil Al Athar karya Ath Thahawi

    Redaksinya sbb:

    “Aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitabullah yang berada di tangan kalian, dan ahlul bayt-ku”.

    Catatan saya berikutnya adalah: dari 5 hadith terakhir yang redaksionalnya menyebutkan Kitabullah dan ahlul bayt “berdampingan sebagai petunjuk/pedoman”, 4 hadith menggunakan kata “bihi” yang menunjukkan kata ganti tunggal untuk menyebutkan “sesuatu” yang dinisbatkan sebagai petunjuk/pedoman (contoh: jika kalian berpegang teguh kepada“nya”; “nya” disini menggunakan kata “bihi”). Kondisi ini berlaku pula untuk hadith yang bersumber dari Ali ra dalam kitab Musykil Al Athar (yang ada kontroversi pelantikan Ali ra sebagai pemimpin). Jadi meski Kitabullah dan ahlul bayt secara redaksional seakan disebut berdampingan, namun yang hendak dinisbatkan sebagai petunjuk/pedoman hanya salah satu saja, karena penggunaan kata ganti tunggal tsb. Dalam bahasa Indonesia hal ini tidak terlihat karena bahasa Indonesia tidak mengenal kata ganti tunggal-jamak untuk konteks ini, sehingga hanya menggunakan sebutan “nya”. Jika menggunakan bahasa Inggris mungkin dapat terlihat karena seharusnya diterjemahkan sebagai “it” (bukan “them”).

    Jika Kitabullah dan ahlul bayt secara bersama-sama hendak dinisbatkan sebagai petunjuk/pedoman, maka yang digunakan adalah “bihima”.

    Hanya 1 hadith yang secara redaksional benar-benar “mendampingkan Kitabullah dan ahlul bayt sebagai petunjuk/pedoman” dengan menggunakan kata ganti jamak “huma”, (diterjemahkan menjadi “keduanya”; “Wahai manusia, aku tinggalkan kepadamu 2 pusaka, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitabullah dan ahlul baytku, itrahku”) yaitu dalam kitab Mustadrak Al Hakim. Perlu diketahui, bahwa kitab Mustadrak ini direspons oleh Al Dzahabi dengan kitab Talkhis al Mustadrak yang bermaksud “merevisi” kekurangotentikan hadith-hadith Bukhari dan Muslim (sahihain) yang dibawakan oleh Al Hakim.

    Terakhir, sebagai pelengkap saja, saya hendak menambahkan pemakaian logika sederhana dalam memahami kontroversi tsaqalain, khususnya untuk peristiwa ghadir khumm (ini terlepas dari peristiwa khutbah haji wada di arafah). Bahwa peristiwa tsb terjadi hanya sekali, dan disitu Nabi saw tentu hanya mengatakannya sekali saja. Bagaimana redaksi perkataan Nabi tsb persisnya, wallahua’lam, yang jelas hanya 1 versi (1 pengertian) saja yang benar, tidak ambigu. Bahwa sumber hadith, baik dari tangan pertama maupun tangan berikutnya, hingga akhirnya sampai ke saya dan juga ke Anda, bisa saja menyampaikan redaksi kalimat berdasarkan persepsi/penangkapan/pemahaman si penyampai sendiri.

    Jika saya adalah seorang guru, kemudian di depan seisi kelas saya berseru: “Anak-anak, makanlah apel, buah yang bergizi dan berwarna merah, dan juga jeruk”. Disitu saya hendak menisbatkan apel saja sebagai buah yang bergizi dan berwarna merah. Sementara jeruk, bisa jadi ia bergizi, tapi ia tidak berwarna merah.

    Jika kemudian murid-murid saya bercerita kepada orang tuanya di rumah, mungkin mereka bisa menyampaikan persis seperti apa yang saya maksudkan; tapi mungkin pula mereka menyampaikan pengertian yang berbeda dengan redaksi sbb: Pak Guru berkata “Anak-anak, makanlah apel dan jeruk, buah yang bergizi dan berwarna merah”, atau “Anak-anak, makanlah buah yang bergizi dan berwarna merah, yaitu apel dan jeruk”.

    Barangkali tidaklah terlalu penting perkara apel-jeruk ini untuk mengetahui versi mana yang benar, namun jika terkait dengan perkara petunjuk/pedoman hidup, ia dapat menyebabkan seseorang mengambil jalan yang lurus atau jalan yang sesat.

    Wallahua’lam, silahkan menentukan keyakinan, seperti apa pemahaman Anda terhadap hadith-hadith tsaqalain.

    Kami mengundang Anda sekalian untuk berdiskusi di 1syahadat.wordpress.com

  5. 1syahadat

    Catatan saya berikutnya adalah: dari 5 hadith terakhir yang redaksionalnya menyebutkan Kitabullah dan ahlul bayt “berdampingan sebagai petunjuk/pedoman”, 4 hadith menggunakan kata “bihi” yang menunjukkan kata ganti tunggal untuk menyebutkan “sesuatu” yang dinisbatkan sebagai petunjuk/pedoman (contoh: jika kalian berpegang teguh kepada“nya”; “nya” disini menggunakan kata “bihi”). Kondisi ini berlaku pula untuk hadith yang bersumber dari Ali ra dalam kitab Musykil Al Athar (yang ada kontroversi pelantikan Ali ra sebagai pemimpin). Jadi meski Kitabullah dan ahlul bayt secara redaksional seakan disebut berdampingan, namun yang hendak dinisbatkan sebagai petunjuk/pedoman hanya salah satu saja, karena penggunaan kata ganti tunggal tsb. Dalam bahasa Indonesia hal ini tidak terlihat karena bahasa Indonesia tidak mengenal kata ganti tunggal-jamak untuk konteks ini, sehingga hanya menggunakan sebutan “nya”. Jika menggunakan bahasa Inggris mungkin dapat terlihat karena seharusnya diterjemahkan sebagai “it” (bukan “them”).

    Sesungguhnya penggunaan “bihi” sebagai kata ganti kedua pusaka tsb muncul sebagai penegas bahwa Itrah Ahlulbait dengan Alquran adalah satu. Mereka tidak terpisahkan. Yang dinamakan tidak terpisahkan ya tidak terpisah, menyatu. Dimana Itrah Ahlulbait disitulah hakikatnya Alquran berada. Begitu pula dimana Alquran disitulah hakikatnya Itrah Ahlulbait berada. Ini artinya melalui Itrah Ahlulbait kita dapat menemukan sifat-sifat Alquran dan melalui Alquran kita dapat menemukan sifat-sifat Itrah Ahlulbait. Benar, terjaga, suci, penerang, penuh hikmah, dsb. Sebagaimana dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah Alquran yang berjalan, yang menunjukkan bahwa sifat-sifat Nabi Muhammad saw adalah merupakan manifestasi dari sifat2 Alquran.
    Sy kira tidak ada penafsiran lain dari “tidak terpisahkan” selain sudah menyatu dalam sifat. Karena penyatuan atau peleburan mestilah berkesuaian dalam sifat. Dengan demikian malah keliru sy kira jika menggunakan “bihima” yg mengisyaratkan pemisahan dan ada dikotomi antara Ahlulbait dgn Alquran.

    “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan itrahku ahlul baytku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di telagaku”

    Wallahu a’lam

    Salam

  6. @1syahadat

    Jika saya adalah seorang guru, kemudian di depan seisi kelas saya berseru: “Anak-anak, makanlah apel, buah yang bergizi dan berwarna merah, dan juga jeruk”. Disitu saya hendak menisbatkan apel saja sebagai buah yang bergizi dan berwarna merah. Sementara jeruk, bisa jadi ia bergizi, tapi ia tidak berwarna merah.

    Permisalan anda setidaknya mengandung 2 kekeliruan;

    (1) Jika anda anggap itu pernyataan yg ambigu, maka Rasul saw tdk akan berbuat demikian. Beliau adalah sebagai penerang dan penjelas. Ambigu terjadi karena penyampai yg lalai/lupa atas apa-apa yg disampaikan Rasul saw. Makanya dibutuhkan Itrah Ahlulbait sebagai penerang dan penjelas.

    (2) Apel dan jeruk memiliki sifat2 yg berbeda shg meskipun keduanya bergizi, warna keduanya bisa saja berbeda. Namun jika ia memiliki sifat yg sama, maka baik rasa, gizi maupun warnanya mestinya sama. Anda harus mencari permisalan lain yg lbh menggambarkan kedudukan Alquran dan Itrah Ahlulbait.

    Salam

  7. @armand
    Kira2 mereka yang tidak bisa membedakannya bisa masuk dalam kategori sahabat gak yaa?
    Kira2 mereka yang tidak bisa membedakannya bisa masuk dalam perawi hadits Tirmidzi dan Ahmad gak yaa?

    Salam damai.

  8. @ armand1

    Anda berbicara di tataran penafsiran yang hanya berdasarkan pada prasangka. Dan prasangka orang jelas bisa berbeda-beda. Saya berbicara berdasarkan tata bahasa Arab. Bahwa Kitabullah dan ahlul bayt bagaimana pun secara tata bahasa adalah 2 obyek/benda yang berbeda. Jika Anda memahami tata bahasa, maka menggunakan kata ganti tunggal untuk menyebutkan benda/sesuatu yang lebih dari satu adalah sebuah peristiwa salah grammar. Mohon saya diberitahu jika ada dalil lain yang menggunakan grammar yang keliru, menggunakan kata ganti tunggal untuk menyebutkan sesuatu yang jamak, atau sebaliknya, menggunakan kata ganti jamak untuk menyebutkan sesuatu yang tunggal; tentang apapun.

    @armand2
    Saya tidak pernah menyebut Nabi saw membuat pernyataan yang ambigu. Justru saya tegas-tegas menyebutkan bahwa beliau saw TIDAK menyebutkan sesuatu yang ambigu. Saya mengambil contoh mudah apel dan jeruk untuk menunjukkan saja bahwa pengertian yang ambigu bisa timbul dari pemahaman orang yang mendengarkan. Bukan dari orang yang mengucapkan. Sangat situasional sekali. Misalnya Anda habis berjalan dari Mekkah ke Madinah dengan unta di udara yang panas, bukan dengan bus, kondisi fisik Anda bisa jadi tidak begitu fit untuk mengerjakan satu test matematika sederhana, misalnya, ketika Anda berhenti di suatu tempat di antaranya. Apa lagi ketika Anda baru saja menyelesaikan rangkaian ritual haji. Sedangkan dengan berbagai kenyamanan fasilitas yang ada sekarang saja sudah sangat melelahkan, apa lagi zaman dahulu? Demikian satu perumpamaan lain yang saya buat, meski bukan mengenai perbandingan untuk tsaqalain.

    @armand & Truthseeker08
    Kesalahan bukan pada perawi hadith. Sekali lagi, perhatikan tata bahasa Arab, bahwa yg para perawi menggunakan kata “bihi”. Dan yang dimaksud dengan “bihi” dalam hadith-hadith tsb tentunya adalah salah satu, kalau tidak Kitabullah ya ahlul bayt. Kalau keyakinan saya, saya memilih Kitabullah untuk konteks ini, meski saya tentunya tetap tiada berarti apa-apa dibanding dengan mulianya ahlul bayt Rasulullah saw. Sementara keyakinan Anda yang mana (antara Kitabullah dan ahlul bayt) saya kembalikan kepada Anda berdua, termasuk kalaupun Anda tetap berkeras menganggap 2 obyek diatas adalah satu.
    Selain itu, saya menambahkan pula adanya satu hadith yang menggunakan “huma”, sehingga memang mengacu kepada “keduanya”, baik Kitabullah maupun ahlul bayt. Bagaimana pun hadith bukanlah murni wahyu. Ada ilmu untuk menentukan derajatnya, tidak seperti Al Quran yang mutlak kebenarannya. Dan saya menyerahkan kepada Anda semua, bagaimana memahami hadith-hadith tsaqalain, berdasarkan semua uraian yang ada. Sekali lagi, semua uraian yang ada. Bukan cuma komentar dari saya yang masih sangat dangkal ini.

    @Truthseeker08
    If you ‘re really a truth seeker, please start acting like one. Janganlah malah menjadi Justificationseeeker. Truthseeker akan mengoreksi pemahamannya bila ternyata ia menyadari ada kesalahan. Namun Justificationseeker kerjanya hanya mencari-cari justifikasi saja, tidak peduli pemahamannya betul atau bathil. Mudah-mudahan kita semua minimal bisa behave/berlaku santun dalam berdiskusi.

  9. Soal “bihi” dan “bihima” udah dibahas tuntas di thread lain tentang hadis Tsaqalain, silakan tuh dicek. Mereka yang memahami bahasa arab dengan baik tidak akan menyebarkan syubhat seperti yang anda lakukan. Berbeda halnya jika anda hanya mengandalkan syubhat dari pengikut salafy yang suka mencari-cari dalih. Baik hadis dengan lafaz bihi maupun bihima memiliki arti yang sama yaitu “berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait”.

  10. @1syahadat

    Anda berbicara di tataran penafsiran yang hanya berdasarkan pada prasangka. Dan prasangka orang jelas bisa berbeda-beda.

    Tidak ada prasangka, sy hanya berusaha menilai secara objektif mengapa hadits2 tsb menggunakan kata ganti “bihi”. Dan itu sy kira itu sebuah argumen yg dapat dipertanggungjawabkan kecuali anda menemukan dimana kelemahan dan prasangkanya. Bukan asal klaim-klaim. Karena bila demikian mudah bagi sy jg mengklaim tulisan2 anda secara negatif. Argumen sy jelas beralasan mengingat sy mengakui keshahihan hadits2 tsalaqain yg menggunakan pengganti “bihi”. Sy tdk tau bagaimana dgn anda. Adakah anda jg mengakui keshahihannya? Jika kita sepakat mengakui keshahihannya, maka tidak ada alasan utk menggugat kata ganti “bihi”, bukan? Yang diperdebatkan kemudian adalah, apa alasannya hadits2 tsaqalain tsb menggunakan kata ganti “bihi”.

    Saya berbicara berdasarkan tata bahasa Arab. Bahwa Kitabullah dan ahlul bayt bagaimana pun secara tata bahasa adalah 2 obyek/benda yang berbeda.

    Memang benar bahwa Kitabullah dan Ahlulbait adalah dua objek yg berbeda, namun keduanya memiliki sifat-sifat yg sama sehingga dikatakan “keduanya tidak akan berpisah”. Bagaimanakah anda menjelaskan hal tidak terpisah ini? Mengapa anda menolak argumen bahwa ketinggian dan kesucian Alquran hanya bisa disejajarkan dengan manusia-manusia yg memiliki sifat yang sama dengan Alquran?

    Jika Anda memahami tata bahasa, maka menggunakan kata ganti tunggal untuk menyebutkan benda/sesuatu yang lebih dari satu adalah sebuah peristiwa salah grammar. Mohon saya diberitahu jika ada dalil lain yang menggunakan grammar yang keliru, menggunakan kata ganti tunggal untuk menyebutkan sesuatu yang jamak, atau sebaliknya, menggunakan kata ganti jamak untuk menyebutkan sesuatu yang tunggal; tentang apapun.

    Ini contohnya kata jamak digunakan utk menunjuk tunggal;

    1) Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan… (2:41). Tapi,
    Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu… (38:29)

    2) “….Aku telah melebihkan kamu atas segala umat” (2:122). Tapi,
    “… dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa” (45:16)

    3) “…pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga…” (3:195). Tapi,
    “kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga..” (4:57)

    4) “…Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir…” (8:12). Tapi,
    “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut..” (3:151)

    Dalam percakapan bahasa Indonesia pun kita sering menggunakan kata “kami” sebagai pengganti “saya” untuk kesopanan.

    Oh ya, apa ucapan anda jika bertemu seorang muslim adalah “Assalamu’alaika ataukah Assalamu’alaikum?

    Di Alquran sy kira msh ada beberapa ayat yg menyebut tungal/jamak tapi yg dimaksud sebaliknya.

    @armand2
    Saya tidak pernah menyebut Nabi saw membuat pernyataan yang ambigu. Justru saya tegas-tegas menyebutkan bahwa beliau saw TIDAK menyebutkan sesuatu yang ambigu. Saya mengambil contoh mudah apel dan jeruk untuk menunjukkan saja bahwa pengertian yang ambigu bisa timbul dari pemahaman orang yang mendengarkan. Bukan dari orang yang mengucapkan.

    Lalu siapakah yg anda maksud dgn “guru sekolah” dan “murid2” di atas jika bukan Nabi saw dan para perawi?

    Sangat situasional sekali. Misalnya Anda habis berjalan dari Mekkah ke Madinah dengan unta di udara yang panas, bukan dengan bus, kondisi fisik Anda bisa jadi tidak begitu fit untuk mengerjakan satu test matematika sederhana, misalnya, ketika Anda berhenti di suatu tempat di antaranya. Apa lagi ketika Anda baru saja menyelesaikan rangkaian ritual haji. Sedangkan dengan berbagai kenyamanan fasilitas yang ada sekarang saja sudah sangat melelahkan, apa lagi zaman dahulu? Demikian satu perumpamaan lain yang saya buat, meski bukan mengenai perbandingan untuk tsaqalain.

    Lalu apakah anda ingin mengatakan bahwa para perawi bisa menyampaikan hal yg berbeda makna dengan apa yg disampaikan oleh Nabi saw? Itukah yg anda maksudkan?

    Jelas antara 2 saja maksud anda. Nabi saw kah yang bisa berambigu ataukah para perawi?

    Salam

  11. @1syahadat
    Saya baru komentar pendek saja anda sudah begitu sewotnya…😀

    Tolong tunjukkan kepada saya dimana saya melakukan justifikasi?
    Kembali kepada komentar saya. Saya tidak melakukan apa2 selain menunjukkan bahwa analogi yang anda lakukan kontradiktif dengan keyakinan banyak orang (sunni).
    Untuk menghindarkan “salah paham” silakan anda jelaskan lagi maksud dari analogi tsb. Karena analogi tsb bagi kami jelas2 menunjukkan bahwa apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah (guru) bisa disalah mengerti oleh sahabat atau perawi selanjutnya (murid). Bukankah begitu selayaknya kami memahami analogi tsb?
    Konsekuensi dari pemahaman anda ttg bihi dan bihima berakibat anda terjebak kepada hal tsb. Saya paham anda mencoba membersihkan Rasulullah dari ambigu namun ternyata anda tidak melihat konsekuensi (yang saya lihat) yaitu bahwa sahabat yang mendengar hadits tsb ataupun para perawinya “tidak/salah paham” apa yang disampaikan Rasulullah.
    Nahh karena saya membuka kelemahan ini maka anda marah dan secara subjektif menyerang nickname saya..:mrgreen:
    Tapi juga tidak usah berkecil hati, saya anggap amarah anda sebagai nasihat..🙂

    Salam damai

  12. Jelas “bihi” beda donk sama “bihima”…🙂 dari uraian 1syahadat sangat jelas kesimpulannya, bahwa penafsiran orang syi’ah thd hadits2 tsb sangat lemah dari segala sisi.

  13. @paiman2
    Wahh anda malah salah, 1 syahadat masih ambigu dan ngambang, dan mencoba tidak membuat kesimpulan. Dia baru melemparkan analisa pribadinya yang masih babak belur.
    Jika anda begitu mudah sepaham dengan 1syahadat, mk pertanyaannya adalah: siapa yang menyebabkan perbedaan tsb? Sahabat yang mendengar hadits tsb, ataukah perawinya atau dari Rasulullah sendiri sudah berbeda? Anda jangan lupa dengan konsekuensi dari pernyataan tsb. Karena sudah jelas dari analogi yang disampaikan oleh 1 syahadat bahwa perawinya/murid tidak bisa membedakan jeruk dengan apel..:D

    Jelas “bihi” beda donk sama “bihima”

    Memangnya siapa yang tidak bisa membedakan?..:)
    Untuk menunjukkan hal tsb saudara armand sudah menyampaikan beberapa ayat yang mempunyai konteks yang sama namun menggunakan kata ganti yang berbeda (Aku dan Kami).
    Atau anda tidak paham dengan contoh/analogi yang disampaikan oleh armand?..:mrgreen:

    Salam damai

    Salam damai

  14. @ J Algar
    Mohon tunjukkan thread tsb. Biar saya ikut juga di dalam diskusinya. Saya ingin meminta pelajaran kepada guru bahasa Arab yang ada di thread tsb.

    @armand
    Saudaraku,
    Tadinya Saya pikir Saya tidak perlu jadi guru bahasa disini, tapi baiklah, Anda betul ttg itu. Bahwa tata bahasa Arab juga mengenal penggunaan kata ganti jamak untuk menyatakan sesuatu yang tunggal, sebagai penghormatan. Pemakaian “Nahnu/Kami” untuk “Ana/Saya/Aku”, “Antum/Kalian/Anda” untuk “Anta/Kamu”, dengan tujuan penghormatan (lita’dzim). Ada juga pengertian bahwa Allah swt menggunakan kata “Kami” jika konteksnya adalah Dia melibatkan pihak lain dalam sebuah proses; misalnya: Allah menurunkan Al Quran kepada Nabi saw tidak secara langsung, melainkan melewati Jibril as. Baik, saya tidak segan-segan mengakui itu. Itu adalah salah satu pelajaran bahasa Quran yang paling dasar (FAQ, kenapa Allah swt menyebut dirinya “Kami”). OK, sekali lagi, contoh yang Anda berikan betul, bahwa ada penggunaan kata ganti jamak untuk menyebut tunggal. Ada yang lain? Rasanya memang hanya itu, kata ganti jamak untuk benda/sesuatu yang tunggal. Tidak ada penggunaan kata ganti tunggal untuk benda/sesuatu yang jamak, apa lagi yang “sejauh” penafsiran “bihi” yang berarti “nya” tunggal menjadi “nya” jamak. Atau dalam bahasa Inggris, “it” tetaplah “it”.

    Satu hal yang barangkali Anda lupa, “penerjemahan”nya (sekali lagi, penerjemahannya) ke dalam bahasa Indonesia tetap dalam bentuk jamak! “Kami”, tetap ditulis “Kami”, tidak berubah menjadi “saya”. Ada pengecualian disini, dimana “Antum”, yang mungkin sering diterjemahkan sebagai “Anda” atau “Engkau” (tunggal) – sebagai vocab/kata penghormatan. Tapi jika Anda jeli, penerjemahan ke dalam bahasa Inggris yang tidak mengenal perbedaan kata ganti orang kedua tunggal/jamak, baik “Anta” maupun “Antum” akan diterjemahkan sebagai “You”. Menurut saya argumen ini tidak dapat dipakai, terlalu dipaksakan, jika mau menjelaskan kenapa “bihi” bisa menunjuk kepada 2 benda, bukan “bihima”. Itulah obyketifnya kalau menurut Saya. Wallahua’lam kalau Anda tetap bersikeras, sudah bersikap obyektif – bukan berprasangka, hanya Allah Yang mampu membolak balikkan hati manusia.

    Penjelasan Saya mengenai bagian “tak terpisahkan” Saya rasa sederhana. Seperti angka 10 (sepuluh), terdiri dari angka 1 (satu) dan 0 (nol). Tak terpisahkan, karena kalau terpisahkan ya tidak akan jadi 10. Tapi mereka tetap terdiri dari 2 entitas yang berbeda, yaitu angka 1 dan 0.

    Penjelasan Saya untuk “Assalamu’alaykum” adalah bahwa kita memberi salam bukan hanya untuk si manusia seorang (tunggal), melainkan juga untuk “(para) malaikat” yang menyertainya, sebagaimana tata cara bersalam secara Islami yang tercantum dalam hadith. Sebagaimana kita memberi salam seusai melakukan shalat, meski tidak ada siapa-siapa di kanan-kiri kita (Namun sepertinya ada aliran syiah yang tidak mengajarkan salam sebagai penutup shalat? Wallahu’alam, mungkin Anda lebih tahu). Begitulah uniknya bahasa Arab. Anda pernah dengar senandung berbahasa Arab: “Ya Nabi, salam alayka, Ya Rasul, salam alayka”? Salahkah itu menurut tata bahasa Arab?🙂

    @armand dan Truthseeker08
    Mengenai analogi/permisalan apel-jeruk, Saudaraku, itu adalah permisalan sederhana ttg jalur penyampaian informasi (Anda tahu permainan pesan berantai?). Saya tidak berpikir sedang berada dalam posisi seperti Nabi yang sedang bersabda, dan murid-murid saya adalah para perawinya. Terlalu naif kalau saya berpikir begitu. Penjelasan Saya begini, dalam hadith, ada narasumber utama, dialah saksi/pelaku sejarahnya. Yang dia saksikan adalah perkataan ataupun perilaku Nabi saw, atau perilaku sahabat yang mencontoh Nabi. Perawi adalah mereka yang menyampaikan hadith tsb berdasarkan rantai generasi (sanad). Demikian makna khusus (sekali lagi, makna khusus) perawi. Namun istilah perawi secara umum sendiri sebetulnya lebih luas. Bila kita menyampaikan sebuah hadith kepada orang lain, secara umum (sekali lagi, secara umum), sebetulnya kita juga disebut perawi.
    Lagi pula dalam konteks hadith tsaqalain ini, Saya sudah tegaskan bahwa perawi yang termasuk dalam sanad hadith telah menyampaikan APA ADANYA, mereka menyebut “bihi”, kata ganti tunggal, dan Saya yakin mereka tidak salah. Cuma di antara kita-kita ini sajalah ada yang menafsirkan “bihi” tsb sebagai jamak. Dan Saya ingatkan lagi, bahwa tetap ada 1 hadith yang menggunakan kata “huma” (“dia”/”nya” jamak), wallahua’lam. Jadi maaf, mudah-mudahan Anda paham kenapa Saya tidak bisa menjelaskan sesuai 2 pilihan yang Anda berikan (Nabi atau perawi yang ambigu), karena Saya yakin harusnya sudah jelas, bahwa maksud Saya bukan itu. Saya sungguh berharap jangan sampai Anda masih belum paham juga, karena sudah sedetail itu. Sekali lagi, sepertinya hanya persepsi Anda saja yang mengarah kesana.

    @Truthseeker08
    Saya sewot/marah sesungguhnya adalah prasangka Anda.🙂
    Saya tidak sedang menuduh Anda sebagai Justificationseeker. Saya hanya mengingatkan Anda, saya dan juga kita semua, minimal agar bisa beradab dalam berdiskusi. Karena seandainya Anda yakin bahwa Anda sedang menyampaikan kebenaran, jika cara yang Anda gunakan salah, saya yakin tidak akan ada manfaatnya bagi siapapun. Alhamdulillah kalau Anda menangkapnya sebagai nasehat.

    Wallahua’lam. Terima kasih atas dimuatnya komentar ini.

  15. @1syahadat
    Baik jika anda belum bisa juga memahami komentar2 kami.
    Saya akan jelaskan pemahaman saya atas hadits Tsaqalain.

    Pemahaman saya atas bihi dan bihima, bukanlah menyatakan bahwa keduanya sama, namun keduanya dalam konteks ini adalah sejalan dan tidak bertentangan. Contoh/analoginya:
    Kita diwajibkan ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Perintah tsb bisa berupa perintah ta’at kepada keduanya, ataupun ta’at kepada Allah atau kepada Rasul saja. Namun kita sebagai orang berakal akan memahami bahwa perintah ta’at kepada Rasul sama saja dengan ta’at kepada Allah. Kenapa kita memahami seperti itu? Adalah karena keduanya tidak terpisah dan tidak pernah bertentangan. Maka, penjelasan Rasulullah di awal mengenai kedudukan Al Qur’an dan ittrati Ahlul Bayt bahwa keduanya tidak akan terpisah, adalah agar kita paham bahwa berpedoman kepada ahlul bayt berarti berpedoman kepada Al Qur’an.

    QS:24:54. Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

    QS:4:80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

    Tambahan; coba anda renungkan dengan jujur. Mereka yang sudah berpisah kembali dikumpulkan di Ghaidir khum. Tentunya ada sesuatu yang besar dan super penting yang akan Rasul sampaikan. Apakah dengan usaha tsb Rasul hanya ingin menyampaikan kedudukan Al Qur’an yang sudah sangat dimengerti oleh umat?. Tentunya akal sehat kita akan mengatakan pasti ada sesuatu yang tidak biasanya/belum pernah disampaikan yang akan beliau sampaikan. Selain isi pesannya yang special juga urgensi dari pesan tsb sangat tinggi.

    Salam damai

  16. @1syahadat

    Lagi pula dalam konteks hadith tsaqalain ini, Saya sudah tegaskan bahwa perawi yang termasuk dalam sanad hadith telah menyampaikan APA ADANYA, mereka menyebut “bihi”, kata ganti tunggal, dan Saya yakin mereka tidak salah. Cuma di antara kita-kita ini sajalah ada yang menafsirkan “bihi” tsb sebagai jamak. Dan Saya ingatkan lagi, bahwa tetap ada 1 hadith yang menggunakan kata “huma” (“dia”/”nya” jamak), wallahua’lam. Jadi maaf, mudah-mudahan Anda paham kenapa Saya tidak bisa menjelaskan sesuai 2 pilihan yang Anda berikan (Nabi atau perawi yang ambigu), karena Saya yakin harusnya sudah jelas, bahwa maksud Saya bukan itu. Saya sungguh berharap jangan sampai Anda masih belum paham juga, karena sudah sedetail itu. Sekali lagi, sepertinya hanya persepsi Anda saja yang mengarah kesana.

    Siip… I agree with you…

  17. @Truthseeker08

    Sebelumnya, salam hormat dan terima kasih Saya atas kesediaan Anda untuk berdiskusi panjang (rally) dengan Saya.

    Terima kasih lagi atas nasehatnya dengan surah 24:54 dan surah 4:80. Sungguh ayat-ayat yang indah untuk dibaca (apa lagi diamalkan). Saudaraku, izinkan Saya menasehati Anda juga, bahwa salah satu ayat yang Anda tunjuk itu sendiri sudah menjelaskan semuanya. Yang mana? Surah 24:54. Disitu disebutkan “jika kamu taat kepadanya”, “nya” disitu menggunakan kata “hu”, yang berarti dia/beliau (tunggal). Siapakah yang dimaksud dengan “hu” disitu? Allah dan RasulNya? Atau Rasulullah saja? Pengertian kita tentu seharusnya adalah “Rasulullah saja” (tunggal), bukan “Allah dan RasulNya” (jamak), betapapun pemahaman kita bahwa “ta’at kepada Allah” harus juga disertai konsekuensi yang tak terpisahkan dengan “ta’at kepada RasulNya”. Mudah-mudahan Anda paham dengan yang Saya maksud.

    Izinkan pula Saya sedikit menambahkan lagi sebagai bahan masukan bagi kita semua dalam memahami hadith tsaqalain. Berdasarkan pemahaman bahasa Arab saya yang cuma secuil ini, jikalau (sekali lagi, jikalau) Kitabullah hendak disandingkan dengan Kitabullah juga (jadi Kitabullahnya ada dua. Untuk gampangnya saja, kita anggaplah Kitabullah itu mushaf, jadi 1 mushaf hendak kita sandingkan dengan mushaf yang lain, yang benar-benar sama persis – bukan cuma ditafsirkan/diinterpretasikan “tak terpisahkan”), niscaya tata bahasa Arab akan tetap menyebut persandingan Kitabullah dengan Kitabullah itu dengan menggunakan kata ganti “bihima”. Karena “dari sononya” memang begitu grammarnya untuk menyebut 2 benda/entitas yang berbeda, meski keduanya sama persis.. Makanya Saya ingin sekali belajar dari guru bahasa Arab yang membenarkan pemakaian “bihi” untuk 2 benda yang berbeda. Belajar dari mana beliau itu, dst?

    Wallahua’lam, terima kasih.

  18. @1syahadat

    Pertama,

    Penjelasan Saya mengenai bagian “tak terpisahkan” Saya rasa sederhana. Seperti angka 10 (sepuluh), terdiri dari angka 1 (satu) dan 0 (nol). Tak terpisahkan, karena kalau terpisahkan ya tidak akan jadi 10. Tapi mereka tetap terdiri dari 2 entitas yang berbeda, yaitu angka 1 dan 0.

    Penjelasan mengenai “tak terpisahkan” ini tidak sesederhana seperti yg anda bayangkan apalagi spt contoh yg anda berikan. Anda tidak mampu melihat konsekuensinya.

    Jika anda mengatakan bahwa 1 adalah sebuah entitas tersendiri, kemudian 0 jg adalah entitas tersendiri, maka gabungan 1 dan 0 menjadi 10. Dengan demikian tentunya 10 adalah entitas baru yg muncul bukan?

    Nah, coba katakan kepada sy, apakah gabungan antara Alquran dan Ahlulbait menghasilkan objek (entitas) baru? Apa itu?

    Dengan demikian pula, objek (entitas) baru yg muncul adalah tunggal, bukan? Lantas mengapa anda msh berkeras penggunaan “bihi” di hadits di atas?

    Kedua,

    Apa yg diyakini dan apa yg dimaksud tidak selalu sesuai dgn apa yg disampaikan. Hal ini sdh lumrah. Tdk perlu anda memaksakan ke sy apa yg anda maksud dan anda yakini sdh sesuai dgn apa yang anda sampaikan.

    Inilah yg anda sampaikan;

    Jika saya adalah seorang guru, kemudian di depan seisi kelas saya berseru: “Anak-anak, makanlah apel, buah yang bergizi dan berwarna merah, dan juga jeruk”. Disitu saya hendak menisbatkan apel saja sebagai buah yang bergizi dan berwarna merah. Sementara jeruk, bisa jadi ia bergizi, tapi ia tidak berwarna merah

    Lihatlah perintah sang guru kepada murid2nya. Sebelum anda menjelaskan – dan perlu apa anda menjelaskan? – bisakah yg mendengar/membaca memahami bahwa jeruk adalah buah yg bergizi dan tidak bewarna merah?

    Jika jawaban anda bahwa hal itu tdk perlu dijelaskan karena semua tau bahwa jeruk adalah buah yg bergizi dan tdk ada jeruk yg bewarna merah, maka lihatlah kelanjutan kisah anda;

    Jika kemudian murid-murid saya bercerita kepada orang tuanya di rumah, mungkin mereka bisa menyampaikan persis seperti apa yang saya maksudkan; tapi mungkin pula mereka menyampaikan pengertian yang berbeda dengan redaksi sbb: Pak Guru berkata “Anak-anak, makanlah apel dan jeruk, buah yang bergizi dan berwarna merah”, atau “Anak-anak, makanlah buah yang bergizi dan berwarna merah, yaitu apel dan jeruk”.

    Tidak tahukah murid2 itu bahwa jeruk tdk ada yg bewarna merah?

    Nah, bukankah apa yg anda sampaikan berbeda dgn apa yg anda maksudkan?

    Bukankah sang guru telah membuat bahasa yang ambigu?
    Jika tidak, maka pasti murid2 tdk akan salah menyampaikan pesan bahwa jeruk bewarna merah.

    @paiman2
    🙄

    Salam

  19. @1syahadat
    Thread yg membahas aturan pemakaian kata “bihi” dan “bihima” dlm sebuah kalimat ada di sini:
    https://secondprince.wordpress.com/2010/05/11/ahlul-bait-jaminan-keselamatan-dunia-akhirat-membantah-syubhat-salafy-nashibi/
    Silakan dibaca dgn tenang & niat mencari kebenaran.

    Adapun analogi Anda melalui cerita pesan guru ttg apel & jeruk, sayang sekali, buat saya, itu terlalu jelas hanya argumen cari2 pembenaran. Maaf, ya. Salam.

  20. @Badari
    Terima kasih infonya. Dengan senang hati Saya akan mencoba nimbrung disana. Mengenai analogi atau apapun tulisan Saya yang Anda anggap tidak berharga, seperti sampah, dsb, Anda bisa mengabaikannya saja. Anggap saja tidak pernah ada.

    @armand
    Mungkin daripada hanya mengomentari kekurangan analogi Saya, barangkali bisa gantian, Anda yang memberikan sebuah analogi yang Anda anggap lebih tepat ke Saya, supaya Saya bisa tergugah untuk memahami kebenaran yang Anda yakini? Kalau bisa yang sederhana, sehingga mudah dimengerti oleh orang dengan kemampuan bernalar selevel Saya.

    Terima kasih sebelumnya.

  21. @1syahadat

    Sebelumnya perlu kita clearkan dulu;

    (1) Apa yg sy sampaikan selama ini adalah bukan mutlak sebuah kebenaran. Semua itu hanya apa yg menurut pikiran sy benar. Sy bisa saja keliru dan andalah yg benar.

    (2) Sy tdk menganggap diri sy lebih baik, salah satu sebab sy terus mengkritisi anda adalah karna sy melihat adanya ketidakkonsistenan dan ketidakjelasan pemahaman anda.

    Adapun mengenai analogi, sy sendiri mengalami kesulitan analogi apa yg cocok utk menggambarkan bagaimana keterikatan hubungan antara Ahlulbait dan Alquran dimana salah satunya menunjukkan sifat yg lainnya. Tapi, mungkin manusia kembar identik dapat dijadikan analogi.

    Pada pasangan kembar identik (A & B) kita akan melihat kemiripan, baik sikap, tingkah laku, bahkan hingga ke sifat-sifat pribadinya. Jika kita bertemu salah satunya, maka kita tidak pernah tau yang mana yg kita temui (A atau B) kecuali orang yg sangat mengenal mereka mengatakannya atau salah satu dari mereka mengaku.

    Jadi jika kita bertemu dgn si A, maka kita mampu melihat sifat2 B, demikian pula sebaliknya. Sehingga jika salah satu tidak ada, maka yg satunya sdh ckp untuk menggambarkan bagaimana yg tidak ada itu. Sifat2 ini tidak akan pernah terpisah/hilang karena sdh menyatu dalam pribadi masing2.

    Sehingga mereka (berdua) bisa dibilang satu saja disebabkan kesamaan sifat-sifat mereka. Ia bukan gabungan yg memunculkan entitas baru yg berbeda.

    Tapi tentu tidak ada kembar identik yg benar2 mirip hingga sekecil-kecilnya, begitu pula Itrah Ahlulbait Nabi saw dengan Alquran. Kesamaan sifat yg dimiliki adalah kesamaan sifat dalam hal-hal pokok sebagai pedoman dan pegangan hidup.

    Demikian, wallahu a’lam. Jika saya keliru tolong dikoreksi.

    Salam

  22. @armand

    Terima kasih atas uraian Anda. Saya sangat menghargai analogi yang Anda berikan, dan tidak akan merendahkannya, serta menyerahkan kepada setiap orang untuk meyakini atau tidak meyakininya.
    Saya hanya mohon izin untuk bertanya lagi, tapi mungkin sedikit keluar dari konteks hadith tsaqalain, meski menurut Saya tetap ada kaitannya. Mana yang menurut Anda lebih mirip engan kembar identik, Kitabullah dengan Rasulullah (yang serig dikatakan sebagai Al Quran hidup/berjalan), atau Kitabullah dengan ahlul bayt? Mohon dijawab antara 2 pilihan itu, atau Anda punya pemikiran lain? Misalnya, ketaatan pada ahlul bayt sudah merepresentasikan ketaatan kepada Rasulullah? Atau yang lainnya, sehingga kurang perlu memandang bahwa Kitabullah lebih pantas disejajarkan dengan Rasulullah saw?

    Terima kasih.

  23. @all
    Anda2 sedang terjerumus untuk menganalog hadits Tsaqalain.
    Mengapa tidak beranalog sesuai Alqur’an.
    Hadits Tsaqalain seperti TALI yang terentang dari LANGIT ke BUMI. Ujung atas (langit) dalam genggaman Allah dan Ujung yang dibumi dalam genggaman Itrahti Ahlulbait.
    Dengan demikian Tali merupakan penghubung kita dengan Allah. Tapi tidak mungkin menuju ke Allah tanpa mendekati/mengenali Ahlulbait.
    Karena Alqur’an adalah Firman2 Allah berasal dari Allah. Maka kedudukan lebih BESAR dan berada diastas. Sedangkan Ahlulbait lebih KECIL berada dibumi.
    Oleh karena itu Rasulullah bersabda YANG SATU LEBIH BESAR . Yakni Alqur’an.
    Insya Allah dengan penjelasan saya ini anda2 tdak terjebak dalam analogi “BIHI’ dan “BIHIMA”. Salam damai Wasalam

  24. @chany

    Analogi sesuai dengan Al Quran di bagian mana bisa Saya dapati analogi tsb?
    Bagaimanapun, Saya hargai analogi Anda. Sebuah analogi yang bagus.
    Yang perlu diketahui adalah, analogi apapun yang digunakan sebetulnya terlepas dari tata bahasa Arab, dimana kata “bihi” tetap tidak bisa digunakan untuk menyebut 2 benda. Saya sudah berikan contoh (mudah-mudahan bukan analogi), bahwa kalaupun Kitabullah hendak disandingkan dengan Kitabullah (contohnya: ada 2 mushaf kembar identik yang hendak kita nisbatkan, yang satu kita pegang di tangan kanan dan yang lain kita pegang di tangan kiri), maka tata bahasa Arab akan tetap menyebutnya dengan kata “bihi”.

    Di thread sebelah Saya sudah bertanya, jika kata “bihi” menurut tata bahasa Arab diperbolehkan untuk kata ganti jamak, maka selain di hadith tsaqalain dimana lagi hal seperti itu dapat kita jumpai? Atau ketentuan tata bahasa ini hanya berlaku unique, seperti pengecualian, atau bagaimana?

    Saya mendoakan mudah-mudahan kita semua tidak terjerumus.

  25. @1 syahadat
    Saya bukan ahli Nahu. Dan saya tidak ingin terjebak dalam bahasa. Anda juga bisa bertanya pada ahli Nahu atau mungkin anda sendiri ahlinya. Bahwa Firman Allah serta sabda Rasul diatas Nahu. Atau dengan kata lain Ilmu Nahu membenarkan Firman maupun Sabda Rasul. Banyak kata2 dalam Alqur’an yang tidak sesuai dengan Ilmu Nahu.
    Dan jangan anda minta saya tunjukan. Seperti permintaan anda diatas mengenai Tali Allah. Apakah anda belum pernah baca kata2 HABLU dalam Alqur’an.
    Silahkan kalau anda mau bermain dengan kata2. Saya tidak akan terpancing. Dan apabila anda ingin bermain dalam bahasa disini bukan tempatnya.
    Bagi saya yang penting adalah HAKEKATnya. Dan bukan KULITnya. Wasalam

  26. @1syahadat

    Sebelum sy menjawab pertanyaan anda, yakni bagaimana hubungan keterkaitan antara Nabi Muhammad saw dengan Alquran, sy pikir bahasan yg kita perbincangkan lebih baik dituntaskan dulu. Sy hanya khawatir apa yg menjadi gagasan sy tentang hubungan keterkaitan antara Itrah Ahlulbait dan Alquran dalam sifatnya ternyata keliru dan cuman omong kosong. Selama belum dikritisi, sy belum tau apakah memang gagasan ini bersesuaian dan tdk bertentangan dgn dalil-dalil mayor, dapat diterima, masuk akal, kecuali ia keluar dari mulut2 manusia yg telah dijamin kebenarannya.

    Bukankah akan percuma jika sy mengembangkan gagasan sy ke hubungan keterkaitannya dengan Nabi Muhammad saw, namun landasan berpikir sy tentang Itrah Ahlulbait dan Alquran ternyata keliru?

    Dan bukankah jika gagasan tentang kesamaan sifat antara Itrah Ahlylbait dan Alquran adalah benar, maka bagaimana menggambarkan hubungan keterkaitan antara Nabi Muhammad saw dan Alquran menjadi lebih mudah?

    Demikian, semoga dapat dipahami.

    Jika ada para pembaca lain yg mau bergabung, sangat sy hargai.

    Salam

  27. Sedikit koreksi juga atas kekhilafan Saya pada postingan saya sebelumnya. Saya sebutkan: Bila 2 mushaf hendak disandingkan, digunakan “bihi”, seharusnya tertulis “bihima”.

    @chany
    Saya bukan ahli nahwu. Yang Saya tahu sungguh hanya sedikit. Hanya sepemahaman Saya Al Quran adalah kitab yang paripurna. Ia berbahasa Arab dan mengikuti kaidah bahasa Arab. Jika ada kesalahan grammar, masya Allah, kaum kafir musuh Islam PASTI akan menghantam issue ini habis-habisan. Jadi, izinkan pada kesempatan ini Saya menegaskan bahwa TIDAK ADA kata-kata dalam Al Quran yang tidak sesuai dengan ilmu nahwu. Jadi memang tidak dikaitkan dengan jebak-menjebak dalam ketatabahasaan.
    Maaf, topik di atas mengenai keotentikan Al Quran agak OOT. Kembali ke topik hadith tsaqalain. Jika Anda menyebutkan bahwa analogi “tali Allah yang menghubungkan Kitabullah dengan ahlul bayt” itu Anda ambil dari Al Quran, Saya hanya mendapati analogi “tali Allah” itu dalam surah Ali Imran:103, dan apa yang dimaksud dengan tali Allah itu “ditafsirkan” oleh para mufasir sebagai “Al Quran”. Namun tentunya tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi jika hati Anda memiliki penafsiran yang lain. Ketahuilah, sesungguhnya ayat tsb cocok sekali dengan hadith tsaqalain dari Imam Ahmad bin Hambal yang berbunyi:

    “Aku tinggalkan untuk kalian 2 pusaka, salah satunya lebih agung dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan itrahku ahlul bayt-ku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku”.

    Perhatikan bahwa istilah “tali Allah yang dibentangkan dari langit ke bumi” itu digunakan untuk menjelaskan “Kitabullah”.

    Bagaimanapun, analogi Anda tetap sebuah analogi yang bagus.

    @armand
    Argumen Saya masih tetap berpegang pada tata bahasa dulu. Sebab yang namanya mendefinisikan sesuatu, sepemahaman Saya tentu dari aspek bahasanya dulu, baru dari aspek yang lainnya. Untuk simpelnya, mohon dijawab saja, bagi Saudaraku yang lain juga silahkan membantu, jika ada kata “bihi” yang digunakan untuk menyebutkan kata ganti jamak, bukan tunggal, apakah itu dalam Al Quran maupun dalam hadith, selain daripada hadith-hadith tsaqalain ini, mohon Saya diberi tahu? Atau ada yang meyakini pengecualian/anomali tata bahasa ini hanya berlaku unique (khusus) untuk hadith-hadith tsaqalain. Sebagai catatan, penggunaan kata ganti jamak untuk sesuatu yang tunggal, sebagaimana penjelasan Saya diatas dalam tata bahasa Arab sesungguhnya adalah hal yang biasa dikenal, bukan anomali tata bahasa.

    Wallahua’lam, terima kasih.

  28. @1syahadat

    Sebenarnya jika anda cermat yg anda anggap permasalahan di “bihi” ini sdh dijawab di https://secondprince.wordpress.com/2010/05/11/ahlul-bait-jaminan-keselamatan-dunia-akhirat-membantah-syubhat-salafy-nashibi

    Sebab ternyata tdk ada permasalahan.

    Salam

  29. @armand

    Saya sudah ikut juga pada thread tsb, dan sesungguhnya pertanyaan Saya disana belum mendapatkan jawaban.

    Anyway, menurut Saya sebetulnya topik tsb lebih cocok dibahas di thread ini. Thread disana mungkin sebaiknya lebih fokus membahas seputar kontroversi pemahaman ahlul bayt (tapi bukan “siapa yang dimaksud dengan ahlul bayt”), seperti misalnya kema’shuman ahlul bayt, dsb.

  30. @chany

    Hadits Tsaqalain seperti TALI yang terentang dari LANGIT ke BUMI. Ujung atas (langit) dalam genggaman Allah dan Ujung yang dibumi dalam genggaman Itrahti Ahlulbait.
    Dengan demikian Tali merupakan penghubung kita dengan Allah. Tapi tidak mungkin menuju ke Allah tanpa mendekati/mengenali Ahlulbait.
    Karena Alqur’an adalah Firman2 Allah berasal dari Allah. Maka kedudukan lebih BESAR dan berada diastas. Sedangkan Ahlulbait lebih KECIL berada dibumi.
    Oleh karena itu Rasulullah bersabda YANG SATU LEBIH BESAR . Yakni Alqur’an.

    Wah perkataan anda ini layak dibingkai dengan emas, saluuutt🙂

    Insya Allah dengan penjelasan saya ini anda2 tdak terjebak dalam analogi “BIHI’ dan “BIHIMA”. Salam damai Wasalam

    Mereka yang mengerti bahasa arab dengan baik tidak akan mempermaslahkan soal bihi dan bihimma🙂

  31. salam,
    terlepas dari kata ‘bihi’ dan ‘bihima’ kita harus lihat shahihan mana antara hadis yg isinya ‘alquran dan assunah’ dengan ‘alquran dan alitrah ahlul bait’, setelah itu ambilah hadis yg shahih itu. Jika kita benar para pencari kebenaran seharusnya membuang jauh fanatik golongan dan dalam berdialog buanglah prasangka trhdp yg lain karena berprasangka itu tdk akan membawa pada kebenaran.
    Wassalam

  32. @ G2
    Setuju dan cocok

  33. catatan serbaneka asrir pasir
    Belajar menyimak teks (matan) hadits
    Dalam usia sudah lebih tujuh puluh tahun, isteri saya mencoba belajar mengetik, menulis menggunakan komputer pinjaman dari seoang keponakan. Saya iktu-ikutan turut membantu, menolongnya. Adakalanya ikut mencarikan, menemukan ayat-ayat Quran dan Hadits-hadits Rasulullah saw yang dicomot (diunduh, didownload) dari situs http://kitab_kuning.blogspot.com yang terhimpun, terkoleksi dalam suatu mausu’at yang terdiri dari 20 kitab hadits.
    Saya sendiri tak mengerti bahasa Arab, hanya sekedar mengenal bahasa Arab dasar yang sangat minim. Dengan hanya memiliki pengetahuan dasar bahasa bahasa Arab yang sangat minim itu, saya meraba-raba mencari teks (matan, naskah) hadits yang diperlukan sebagai rujukan tulisan oleh isteri saya dari mausu’at digital tersebut. Pernah mencari hadits yang maknanya, maksudnya “Aku tinggalakan kepada kamu sekalian dua hal (panduan hidup). Kamu sekalian tak akan tersesat bilamana kamu sekalian berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah RasulNya”. Namun saya gagal, tak berhasil menemukan teks (redaksi, matan) yang bermakna seperti itu. Yang saya temukan hanyalah hadits yang menyebutkan bahwa yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw itu adalah Kitabullah dan Ahlul Bait, dalam “Mustadrak” AlHakim dari Zaid bin Arqam, pada kitab Makrifah Shahabat, hadits no.4577. Seangkan hadtis sebelumnya, hadits no.4576 menggunakan lafal “tsaqalain”, dan bukan “amrain”.
    Pernah pula mencari hadits yang maknanya, maksudnya “Peliharalah yang lima sebelum datang yang lima”. Hadits tersebut ditemukan dalam “Mustadrak” AlHakim, kitab ArRiqa, hadits no.7846 dari Ibnu Abbas, dalam “Mushanil” Ibnu Syaibah, kitab AzZuhd, hadits no 18/19, dalam “Fathul Bary” Ibnu Hajar, kitab ArRiqaq, komentar hdits no.6053. Sehubungan dengan hadits no.6053 yang maknanya, maksudnya “Hiduplah di dunia seolah-olah bagai orang asing atau sebagai musafir”, ketika mengomentari, mensyarah sanad hadits tersebut, Ibnu Hajar menyebutkan nama Ulama Hadits yang menemukan tadlis (penyamaran) dalam sanad hadits tersebut. Lafal ‘haddatsani” (telah memberitakan kepadaku) aalah tadlis (penyamaran) dari lafal “’an” (dari).
    A Qadir Hasan dalam kitabnya “Ilmu Musthalah hadits” menyebutkan bahwa di dalam kitab Bukhari terdapat 1341 hadits Mu’allaq dan dalam Shahih Muslim ada sedikit. Hadits Mu’allaq aalah hadits yang awal sanadnya gugur seorang rawi atau lebih secara berturut-turut. Hadits Mu’allaq itu hukumnya lemah, tidak boleh dipakai sebagai rujukan. Juga disebutkan bahwa dalam Kitab Bukhari dan Muslim terdapat riwayat Mudallas, tetapi riwayat-riwayat itu di bab lain dan di temapt lain, ada sanadnya yang tidak Mudallas. jadi boleh dikatakan tidak ada hadits Mudallas yang tersendiri dalam kedua-dua kitab itu. Hadits Mudallas adalah hadits yang sadanya samar (hal 92,93,99,107).
    Kesahihan hadits riwayat Bukhari disepakati oleh semua ahli hadits, apabila hadits-hadits itu dikembalikan kepada kriteria-kriteria jumhur Simak “Ragam Madah” ALMUSLIMUN, Bangil, No.215, hal 69)
    (BKS1105190830)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: