Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

Mengenal Mushaf Fathimah Di Sisi Mazhab Syi’ah?

Di antara tuduhan busuk para pencela Syiah [yaitu para Nashibi di jagad maya] adalah Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada sekarang tebalnya tiga kali dari Al Qur’an sekarang dan disebut Mushaf Fathimah. Tuduhan ini hanya muncul dari kejahilan yang bercampur dengan kedengkian. Apa sebenarnya Mushaf Fathimah?. Berikut riwayat shahih di sisi Syi’ah mengenai Mushaf Fathimah

Diriwayatkan dalam sebuah riwayat yang panjang dari Abu Bashiir dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis salaam] dimana Beliau berkata

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ

Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] itu?. Beliau berkata “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”. Aku berkata “demi Allah, ini adalah ilmu”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/239]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَجَّالِ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْحَلَبِيِّ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عليه السلام

Beberapa dari sahabat kami dari Ahmad bin Muhammad dari Abdullah bin Hajjaal dari Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy dari Abi Bashiir dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam].. [Al Kafiy Al Kulainiy 1/238]

Sebagian orang mengira bahwa sanad di atas dhaif karena terdapat lafaz “dari sahabat kami” yang seolah-olah perawi-perawi tersebut majhul. Anggapan ini tidak benar karena An Najasyiy dalam biografi Al Kulainiy menyebutkan

وقال أبو جعفر الكليني: كل ما كان في كتابي عدة من أصحابنا عن أحمد بن محمد بن عيسى، فهم محمد بن يحيى وعلي بن موسى الكميذاني وداود بن كورة وأحمد بن إدريس وعلي بن إبراهيم بن هاشم

Abu Ja’far Al Kulainiy berkata “setiap apa yang ada dalam kitabku, beberapa sahabat kami dari Ahmad bin Muhamad bin ‘Iisa maka mereka adalah Muhammad bin Yahya, Aliy bin Muusa Al Kumaydzaaniy, Dawud bin Kawrah, Ahmad bin Idris dan Aliy bin Ibrahim bin Haasyim [Rijal An Najasyiy hal 377-378 no 1026]

Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946]. Ahmad bin Idris Al Qummiy seorang yang tsiqat faqiih shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92 no 228]. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim seorang yang tsiqat dalam hadis dan tsabit [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]

  1. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  2. Abdullah bin Hajjaal adalah Abdullah bin Muhammad Al Hajjaal seorang yang tsiqat tsiqat tsabit [Rijal An Najasyiy hal 226 no 595]
  3. Ahmad bin ‘Umar Al Halabiy adalah Ahmad bin ‘Umar bin Abi Syu’bah Al Halabiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 98 no 245]
  4. Abu Bashiir adalah Yahya bin Qasim dikatakan juga Yahya bin Abi Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah. Hal ini telah dinyatakan oleh Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul bahwa sanadnya shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/54]

Matan hadis di atas menyebutkan bahwa Mushaf Fathimah ukurannya tiga kali dari Al Qur’an dan tidak ada di dalamnya ayat-ayat Al Qur’an. Hal ini ditegaskan dalam lafaz

وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ

Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu hurufpun dari Al Qur’an kalian

Lafaz “Qur’anikum” artinya “Al Qur’an kalian”, makna kum disana sesuai dengan yang diajak bicara oleh Imam Ja’far [Abu ‘Abdullah] saat itu adalah Abu Bashiir yang notabene adalah Syiah-nya sendiri. Maka maksudnya adalah tidak ada di dalam Mushaf Fathimah, Al Qur’an yang dipegang oleh Syi’ah. Adapun lafaz perkataan Abu ‘Abdullah “dan sesuangguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah” maka disini terdapat faedah bahwa Mushaf Fathimah dimiliki oleh para Imam Ahlul Bait tidak disebarkan kepada Syi’ah mereka.

Jadi apa kandungan sebenarnya Mushaf Fathimah?. Hal itu dijelaskan dalam riwayat Al Kafiy selanjutnya dari Abu Ubaidah dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

قَالَ فَمُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ فَسَكَتَ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْحَثُونَ عَمَّا تُرِيدُونَ وَ عَمَّا لَا تُرِيدُونَ إِنَّ فَاطِمَةَ مَكَثَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَمْسَةً وَ سَبْعِينَ يَوْماً وَ كَانَ دَخَلَهَا حُزْنٌ شَدِيدٌ عَلَى أَبِيهَا وَ كَانَ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) يَأْتِيهَا فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَ يُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَ يُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَ مَكَانِهِ وَ يُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ (عليه السلام) يَكْتُبُ ذَلِكَ فَهَذَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام

[salah seorang] berkata “maka apa itu Mushhaf Faathimah?”. Abu ‘Abdillah terdiam beberapa lama, lalu berkata “Sesungguhnya kalian benar-benar ingin mempelajari apa-apa yang kalian inginkan dan tidak kalian inginkan. Sesungguhnya Faathimah hidup selama 75 hari sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Ia sangat merasakan kesedihan atas kematian ayahnya. Maka pada waktu itu, Jibriil datang kepadanya dan mengucapkan ta’ziyyah atas kematian ayahnya, menghiburnya, serta mengabarkan kepadanya tentang keadaan ayahnya dan kedudukannya [di sisi Allah]. Jibril juga mengabarkan kepadanya tentang apa yang akan terjadi terhadap keturunannya setelah Faathimah meninggal. Dan selama itu ‘Aliy mencatatnya. Inilah Mushaf Faathimah [‘alaihas salaam] [Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Sanad riwayat ini dalam Al Kafiy adalah sebagai berikut

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنِ ابْنِ رِئَابٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) بَعْضُ أَصْحَابِنَا

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Ibnu Mahbuub dari Ibnu Ri’aab dari Abu Ubaidah yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] pernah ditanya oleh sebagian sahabat kami…[Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241]

Riwayat Al Kaafiy di atas sanadnya shahih sesuai dengan ilmu Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Muhammad bin Iisa seorang yang tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits Sayyid Al Khu’iy 3/85 no 902]
  3. Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  4. Aliy bin Ri’aab Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. Abu Ubaidah adalah Ziyad bin Iisa Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 170 no 449]

Muhammad Baqir Al Majlisiy dalam Mirat Al ‘Uqul menyatakan hadis di atas shahih [Mirat Al ‘Uqul 3/59]. Riwayat Al Kaafiy di atas menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah bukanlah Al Qur’an melainkan kabar yang dibawa Jibril kepada Sayyidah Fathimah dan dicatat oleh Imam Aliy [‘alaihis salaam], diantara kandungannya adalah kabar mengenai apa yang terjadi pada keturunan Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam]. Maka dustalah para pencela yang menyatakan bahwa Mushaf Fathimah adalah Al Qur’an versi Syi’ah yang tebalnya tiga kali Al Qur’an yang kita pegang sekarang.

27 Tanggapan

  1. hmm, mentep

  2. @SP

    عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) إِلَى مُحَمَّدٍ (صلى الله عليه وآله) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ
    ‘Aliy bin Al-Hakam, dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah (‘alaihis-salaam), ia berkata : “Sesungguhnya Al-Qur’an yang diturunkan melalui perantaraan Jibril (‘alaihis-salaam) kepada Muhammad (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) adalah 17.000 ayat” [Al-Kaafiy, 1/643].

    Al-Majlisiy saat mengomentari hadits Al-Qur’an yang katanya 17.000 ayat tersebut berkata :
    موثق، وفي بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون ابن سالم، فالخبر صحيح ولا يخفى أن هذا الخبر وكثير من الأخبار في هذا الباب متواترة معنى، وطرح جميعها يوجب رفع الاعتماد عن الأخبار رأسا، بل ظني أن الأخبار في هذا الباب لا يقصر عن أخبار الامامة فكيف يثبتونها بالخبر ؟
    ”Muwatstsaq. Dalam sebagian naskah tertulis : ”dari Hisyaam bin Saalim” pada tempat rawi yang bernama Haaruun bin Saalim. Maka khabar/riwayat ini shahih dan tidak tersembunyi lagi bahwasannya riwayat ini dan banyak lagi yang lainnya dalam bab ini telah mencapai derajat mutawatir secara makna. Menolak keseluruhan riwayat ini (yang berbicara tentang perubahan Al-Qur’an) berkonsekuensi menolak semua riwayat (yang berasal dari Ahlul-Bait). Aku kira, riwayat-riwayat dalam bab ini tidaklah lebih sedikit dibandingkan riwayat-riwayat tentang imamah. Nah, bagaimana masalah imamah itu bisa ditetapkan melalui riwayat ? [Mir-aatul-‘Uquul fii Syarhi Akhbaari Aalir-Rasuul 12/525].

    Pertanyaannya validkah pernyataan Al-Majlisiy tentang kemutawatiran hadits tersebut ? Salam damai . . .

  3. @SP

    Jawaban pertanyaan saya sudah saya temukan pada postingan yg lain. Tetapi tak mengapa kalau antum memberikan jawaban yg melengkapi pertanyaan saya tersebut. Kalaupun tidak jawaban anda pada postingan tersebut sudah mencukupi. Salam damai

    https://secondprince.wordpress.com/2011/03/07/apakah-ibnu-umar-meyakini-adanya-tahrif-al-qur%E2%80%99an/

  4. Asww, artikel yang menarik dari bung SP. Insya’aLlah bisa membantu mengurangi kecurigaan antar madzhab islam. Namun yang masih cukup mengganggu adalah banya sekali saya saksikan dalm video2 di youtube bahwa ketika kalangan Ulama Syiah membawakan sebuah ayat, disambung atau disisipkan kalimat2 lain yang bukan Al Qur’an. Hal ini perlu ada penjelasan juga agar tidak menimbulkan fitnah. WaLlahua’lam. Wassalam.

  5. @Ahmad betul demikian, namun boleh jadi video tersebut tidaklah sepenuhnya valid. Kita juga banyak menyaksikan ulama syiah yg ‘mencemooh’ aisyah r,a. Namun itu semua perlu validasi. yang menarik adalah namaz. spt rukun, syarat atau bacaan doa-doa berbeda. SP mohon pencerahan, terima kasih,

  6. Klarifikasi yang bagus. Beberapa kali saya membaca karangan-karangan Abul Jauzaa yang bernada ofensif terhadap Syi’ah. Seru juga melihat secondprince turun gelanggang, jadi tambah seru😀

    Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan berdasarkan keterangan antum di atas:

    Pertama, mengapa Muṣḥaf Fāṭimah hanya dikhususkan bagi A’immatu Ahlil Bait saja? Bukankah Allāh berfirman لا تكتموا الشهادة dan و أما بنعمة ربك فحدث? Taḥdīts an-Ni‘mah berdasarkan kedua ayat ini merupakan perkara wajib. Nabī (SAW) sendiri dalam setiap kesempatan, ketika beliau mendapat penghiburan dan kabar suka, baik secara langsung dari Tuhan atau melalui perantaraan Jibrīl, selalu menyampaikannya kepada para ṣaḥābat. Kitab-kitab kaum sufi pun, yang mana Sayyidunā ‘Alī (ra) disebut sebagai Bapak mereka, penuh dengan ungkapan-ungkapan demikian.

    Dari ḥadīts yang bersumber dari al-Kulaynī ini, saya dapat menangkap bahwa pintu wahyu tidak tertutup setelah kewafatan Ḥaḍrat Rasūlu-Llāh (SAW) bahkan akan terus terbuka. Maka dari itu, Jibrīl pun tak harus menganggur😀 Hal ini sama dengan pendapat yang dikemukakan Ismā‘īliyyah dalam Ikhwān aṣ-Ṣafā mereka yang terkenal, namun bertentangan dengan keyakinan mainstream Ahlus Sunnah. Sebagai seorang Aḥmadī, saya ber-i‘tiqād bahwa sifat-sifat Allāh adalah azalī dan abadī, termasuk sifat-Nya sebagai al-Mutakallim. Sebagaimana Dia dahulu bercakap-cakap dan menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia, pun hari ini dan seterusnya sampai hari Kiamat, Dia akan senantiasa bercakap-cakap dengan hamba-hamba-Nya.

    BTW, karena blog ini cukup terkenal, saya ingin membonceng untuk mempromosikan blog baru saya, http://nafirihayat.wordpress.com/. Masih cuman 2 postingan *_*

    Bilākhir, saya haturkan Jazākumu-Llāh Aḥsan al-Jazā.

  7. Knp org2 syiah tdk prnh mnjwb menanggapi tntg ritual brdarah2 asyura, apa itu memang dianjurkn dlm ajaran syiah?

  8. Memangnya ente atu atunya mahluk di dunia ini yang kepikiran kyk gtu. Mas syiah tuuh dah lebih dari 1400an tahun ada di bumi ini. Semua permasalahan yang ada sekarang mulai dari imamah, mutah, asyura dah dibahas oleh ulama syiah sejak 1400an tahun lalu. Mang ulama syiah gak ngeh apa klo org d luar sana pd tanya kyk ente gitu. Jujur pertanyaan ente tuh bisa dikatakan dah ketinggalan jaman. Mangkanya rajinlah membaca

  9. @Ahmadiy : tdk semua ritual suatu kepercayaan bisa dianggap sbg bagian dari keprcayaan itu sendiri. tolong dicari dlm kitab2 syiah yg mu’tabar atau fatwa2 para ulama syiah adakah yg membenarkan ritual seperti yg anda maksud. bahkan yg ada mereka para ulama syiah menentangnya. salam damai.

  10. Bro tanya dong…Abu Abdillah tuh siapa yah? kayaknya kok cuman doi aja yang tahu ttg mushaf fathimah ini? beda banget yah sama alqur’an ataupun injil ataupun taurat yang telah diturunkan Tuhan untuk sekalian alam.

    “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”.

    Ngemeng2 tuh Abu Abdillah agama/kepercayaannya apa yah? doi kok membuat perbandingan mushaf itu dgn alqur’an seperti statementnya begitu. Berarti doi ngemeng begitu dgn maksud ingin menantang Allah dong dengan jumawa sanggup membuat tandingannya Al qur’an…bahkan 3x kualitasnya seperti Qur’an dan sombong banget tidak ada satu huruf pun dari qur’an didalamnya????

    Emang doi pake’ bahasa apa nulis mushaf itu? katanya dari Fathimah RA dan ditulis oleh Ali RA, tapi menggunakannya bukan dengan huruf Al Qur’an??? Jadi pake bahasa apa tuh? owh…i see, doi (Abu Abdillah pasti bilangnya pake’ bahasa universal alias bahasanya alam akherat yah???)

    Aduh…bingung bro, ma’af yeh ane orang awam yang selalu ikut perintah Allah dan RasulNya

  11. Kelihatan banget kl org yg percaya kebohongan ini org ga berakal…trs trg Q org awam,awam banget bahkan ttg agama,tp ktk ente ngomong malaikat Jibril menemui Fatimah ra,dan ttp menyampaikan wahyu,sepertinya ente termasuk yg ga berakal jg dech….trs ga ush ngomong sanad/perawi dech,perawi og ga ada satupun dr jmn Nabi Sholallohu alaihi wasallam….pakai logika deh….bengal og dipelihara….

  12. Anda menerima perintah dari Allah?? gimana , dimana? terus kapan anda bertemu Rosul dan menerima perintah dari Rosul? dalam mimpikah? sepertinya anda seperti yang lain2 juga taqlid buku dan/atau guru, jadi janganlah bernada sombong kaya gitu ah.

  13. sudah sampai mana ni mas mempelajari syiah?oya anda kan pencari kebenaran mau tanya apakah mas SP jg meyakini hadis2 dr syiah?kl misalkan ada hadis yg di sunni dan syiah saling betentangan anda ambil yg mana?

    salam,

  14. Banyak yg mengingkari padahal fakta sudah nyata.

  15. 17 ribu ayat, satu huruf pun tdk pernah di riwayatkan /dibacakan oleh Rasul saw….dan udah berabad abad sampe skrg gak pernah mushaf itu ketemu apalagi di baca org,,, kalo bener ada untuk apa dan tuk siapa mushaf itu ?
    Mungkinkah Allah mewahyukan hal sia sia?
    Tapi entah juga konon menurut agama si saba tuhannya memiliki “sifat gak tau/bada” jadi mungkin besok terlintas di tuhan nya saba perkara baiknya mushaf itu di keluarin…?????
    Ayo gunakan akal, stop kebodohan berabad abad akibat tipudaya antek nya setan (sabaiyun)

  16. @sp. satu kajian anda lagi yang membuat saya berkeyakinan bahwa anda, bermain dengan opini membuat samar yang sudah jelas, anda sedang bermanuver politik dalam membuat kajian tentang suatu hal agama yang selalu menyentuh 2 golongan dalam islam, saya tidak benci dengan kajian anda, tetapi saya benci dengan anda yang munafik, anda tidak jujur dalam blog yang berjudul ” apa paham dari Secondprince ?, saya lebih menaruh rasa hormat, jika anda menyatakan diri anda Syiah ato Sunni berarti anda sudah punya keyakinan akan kebenaran golongan tersebut, hormat saya terhadap orang seperti itu, dalam tulisan anda yg berjudul ” apa paham dari Secondprince ” menyatakan bahwa anda tidak Syiah dan bukan Sunni, tetapi anda selalu bermain dalam perbandingan dalam 2 golongan tersebut dan selalu kajian anda bermuara pada kaidah Syiah, sekali lagi saya katakan, saya lebih hormat jika anda termasuk dalam salah satu golongan tersebut dan tidak mendustakannya. saya tidak benci akan kajian anda tentang syiah, tetapi saya membenci sfiat pengecut anda yang mensamarkan diri anda, menjadi sebuah fatamorgana dipadang pasir yang membuat orang2 mendekatinya.
    kebencian saya terhadap anda hanya karena anda berdusta atas keyakinan anda dengan tulisan anda sendiri..
    Maaf atas kata – kata yang tidak berkenan

    salam

  17. @ SP. Lanjutan
    Judul dalam blog anda menjadi mentah dgn sendirinya dengan isi dalam blog itu sendiri, ” Seorang pencari kebenaran akan memposisikan dirinya sebagai orang yang meng-analisa kajian ilmiah dari sumber yang jelas, dan itu juga akan melekat dalam dirinya, sehingga dengan jelas orang akan paham apa dan siapa anda ? dan tidak bermain dalam dunia oponi dan terlepas dari tujuan – tujuan tertentu, APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MENCARI KAJIAN DARI SEORANG YANG SAMAR2 DAN TIDAK JELAS WALAUPUN SUMBER KAJIAN ORANG TERSEBUT JELAS…?APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MEMPERCAYAI ORANG YANG MENGAKU TIDAK HITAM, TIDAK PUTIH JUGA BUKAN ABU – ABU ( Itu hanya istilah ) ? dimana nilai ke-validan diri anda sendiri ?

    salam

  18. @Muhammad Alim

    satu kajian anda lagi yang membuat saya berkeyakinan bahwa anda, bermain dengan opini membuat samar yang sudah jelas, anda sedang bermanuver politik dalam membuat kajian tentang suatu hal agama yang selalu menyentuh 2 golongan dalam islam, saya tidak benci dengan kajian anda, tetapi saya benci dengan anda yang munafik, anda tidak jujur dalam blog yang berjudul ” apa paham dari Secondprince ?,

    Saya heran dengan orang seperti anda. Saya ingin mendapatkan kejelasan dari kata-kata yang anda ucapkan. Anda mengatakan saya membuat samar perkara yang sudah jelas. Bisa anda jelaskan perkataan anda tersebut, bagian mana dari perkara yang sudah jelas yang anda katakan saya buat jadi samar. Apakah tulisan di atas?. Silakan langsung ke contohnya, jangan berbicara dengan bahasa umum seolah anda paling paham padahal hakikatnya andalah yang buta. Kalau boleh saya tanya, bagaimana anda bisa mengatakan suatu perkara itu sebagai sesuatu yang jelas?. Anda lihat dengan mata kepala anda? anda dengar dengan telinga anda?. Atau cuma persepsi anda, kalau hanya persepsi saja maka anda harus belajar bahwa persepsi itu bisa berbeda-beda, maka apa buktinya persepsi anda benar dan persepsi orang lain salah.

    Anda mengatakan saya bermanuver politik dalam membuat kajian yang selalu menyentuh dua golongan dalam islam. Boleh saya tanya wahai saudara, politik macam apa yang anda bicarakan?. Apakah kedua golongan ini sedang berebut kursi kekuasaan dan saya adalah tim sukses salah satu golongan?. Coba tunjukkan bagian mana dari tulisan saya yang mengajak para pembaca saya untuk menganut salah satu dari kedua golongan tersebut. Kalau cuma asumsi khayal anda maka janganlah sok banyak bicara. Orang yang logikanya baik akan terlihat dari caranya berkomentar dan argumen yang ia gunakan.

    Anda mengatakan saya munafik dan tidak jujur dalam tulisan saya “Apa mazhab penulis blog secondprince?”. Bagian mana yang tidak jujur, apakah dari tulisan saya di atas. Bukankah dalam tulisan “Apa mazhab penulis blog secondprince?” dalam bagian “pandangan tentang mazhab Syi’ah” saya menyebutkan bahwa dalam tulisan saya terkadang saya berusaha meluruskan syubhat yang dibuat oleh para pembenci Syi’ah, nah tulisan di atas adalah salah satunya.

    Para pembenci Syi’ah berdusta ketika menuduh Syi’ah punya Al Qur’an sendiri yang disebut Mushaf Fathimah. Mengapa saya katakan dusta? karena berdasarkan rujukan shahih dalam mazhab Syi’ah Mushaf Fathimah bukanlah Al Qur’an.

    Dalam pandangan saya kajian saya bersifat objektif maka dimana letak ketidakjujuran atau kedustaan yang anda katakan. Apa ada dalam tulisan di atas saya mengajak pembaca untuk masuk ke dalam Syi’ah?. Apa ada dalam tulisan di atas saya mengajak pembaca untuk meyakini Mushaf Fathimah?. Tidak ada wahai saudara, saya hanya meluruskan syubhat, jika anda ingin berbicara tentang mazhab Syi’ah maka bicaralah yang benar jangan termakan syubhat. Para pembaca tidak perlu menjadi Syi’ah hanya untuk mengetahui Syi’ah itu sebenarnya seperti apa. Heran sekali saya bagian mana yang menunjukkan kedustaan atau ketidakjujuran. Nampaknya anda hanya mampu berbicara begini begitu tetapi tidak paham apa yang anda bicarakan.

    saya lebih menaruh rasa hormat, jika anda menyatakan diri anda Syiah ato Sunni berarti anda sudah punya keyakinan akan kebenaran golongan tersebut, hormat saya terhadap orang seperti itu,

    Saya tidak membutuhkan hormat anda wahai saudara, saya hanya berbicara fakta bahwa saya bukan Sunni dan bukan pula Syi’ah karena seperti yang saya bilang sebutan itu tidak penting. Standar saya jelas adalah Al Qur’an dan As Sunnah sedangkan anda hanya berpijak pada asumsi anda, lihat saja anda dengan gampangnya lebih suka orang yang mengatakan dirinya Sunni atau dirinya Syi’ah. Bagi saya, saya tidak peduli apakah orang tersebut menyebut dirinya Sunni atau dirinya Syi’ah kalau yang ia katakan benar ya tetap benar. Apa kebenaran akan berubah tergantung dari mazhab orang yang mengatakannya [apakah ia Sunni ataukah Syi’ah]?. Maaf logika dangkal seperti itu tidak pantas bicara soal objektifitas.

    dalam tulisan anda yg berjudul ” apa paham dari Secondprince ” menyatakan bahwa anda tidak Syiah dan bukan Sunni, tetapi anda selalu bermain dalam perbandingan dalam 2 golongan tersebut dan selalu kajian anda bermuara pada kaidah Syiah, sekali lagi saya katakan, saya lebih hormat jika anda termasuk dalam salah satu golongan tersebut dan tidak mendustakannya. saya tidak benci akan kajian anda tentang syiah, tetapi saya membenci sfiat pengecut anda yang mensamarkan diri anda, menjadi sebuah fatamorgana dipadang pasir yang membuat orang2 mendekatinya.

    Apa salahnya saya membuat kajian soal kedua golongan Sunni dan Syi’ah?. Dan apa yang anda maksudkan soal bermuara pada kaidah Syi’ah?. Apa saya sedang mempromosikan mazhab Syi’ah wahai saudara?. Bisa tunjukkan satu saja dalam tulisan saya. Jangan sok bicara begini begitu kalau anda tidak paham. Anda tidak perlu sok bicara soal saya pengecut, membuat perkara samar atau seperti fatamorgana, semua kata-kata itu hanya asumsi khayal atau persepsi anda yang tidak ada nilainya di mata saya. Mari bicara objektif, tunjukkan satu saja tulisan yang menurut anda yang saya buat samar-samar atau yang mengindikasikan saya pengecut atau apa yang anda bilang seperti fatamorgana. Kalau cuma mengandalkan persepsi anda maka maaf wahai saudara, anda bukan siapa-siapa, anda tidak berbeda dengan orang awam lainnya yang bisa rasa merasa. Maka mengapa saya harus mengikuti rasa merasa orang lain padahal saya punya standar kebenaran yang lebih bernilai.

    kebencian saya terhadap anda hanya karena anda berdusta atas keyakinan anda dengan tulisan anda sendiri..

    Orang yang berdusta adalah jika ia berkata-kata dan ternyata perkataannya tidak sesuai dengan fakta yang ada. Anda boleh membenci saya, saya persilakan dan saya tidak peduli tetapi anda menuduh saya berdusta maka saya tanya silakan bawakan bukti yang menunjukkan kedustaan saya. Jika anda tidak bisa membawakan buktinya maka silakan anda akui bahwa andalah yang sedang berdusta.

    Judul dalam blog anda menjadi mentah dgn sendirinya dengan isi dalam blog itu sendiri, ” Seorang pencari kebenaran akan memposisikan dirinya sebagai orang yang meng-analisa kajian ilmiah dari sumber yang jelas, dan itu juga akan melekat dalam dirinya, sehingga dengan jelas orang akan paham apa dan siapa anda ? dan tidak bermain dalam dunia oponi dan terlepas dari tujuan – tujuan tertentu,

    Maaf anda ini bicara apa, seorang pencari kebenaran akan mengikuti standar kebenaran ia akan menganalisis semua informasi yang ada dengan standar yang benar dan apapun hasil analisis berdasarkan standar tersebut ia tidak ragu untuk menyatakan kebenarannya. Dan jika ia belum mampu mencapai kebenaran dengan standar tersebut maka ia akan bertawaqquf dan terus mencari bahkan mengevaluasi kembali standar tersebut. Entah anda mengerti atau tidak apa yang saya katakan.

    Apa urusannya soal siapa saya atau mazhab apa saya?. Anda itu bukan sedang bicara soal kebenaran tetapi bicara soal orang yang menurut anda benar. Mungkin menurut anda orang yang benar itu adalah orang yang mendeklarasikan dirinya golongan mana apakah ia dari Sunni ataukah ia dari Syi’ah?. Apakah ia dari golongan ulama ataukah dari golongan santri?. Apakah ia satu golongan dengan anda ataukah berbeda dengan anda?. Maaf saja saya tidak terikat dengan hal-hal seperti itu. Kebenaran itu bagi saya jelas dan punya standarnya jadi yang sesuai dengan standar tersebut maka itulah yang saya anggap sebagai kebenaran. Semoga anda bisa mengerti

    APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MENCARI KAJIAN DARI SEORANG YANG SAMAR2 DAN TIDAK JELAS WALAUPUN SUMBER KAJIAN ORANG TERSEBUT JELAS…?APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MEMPERCAYAI ORANG YANG MENGAKU TIDAK HITAM, TIDAK PUTIH JUGA BUKAN ABU – ABU ( Itu hanya istilah ) ? dimana nilai ke-validan diri anda sendiri ?

    Tidak ada masalah wahai saudara, selagi anda punya standar kebenaran dan berpegang dengannya maka tidak akan peduli dengan informasi manapun yang masuk ke dalam diri anda, anda dapat menganalisisnya sesuai standar kebenaran tersebut dan menyimpulkan apakah itu benar atau tidak. Jadi bagi orang yang objektif maka masalahnya sangat sederhana, Anda punya standar kebenaran atau tidak?.

    Apa urusannya dengan status seorang yang samar-samar, status seorang yang tidak hitam, tidak putih atau abu-abu? kebenaran tidak ada urusannya dengan status seseorang. Siapapun yang berakal dan mau menggunakan akalnya akan bisa mendapatkan kebenaran dan tidak ada masalah bagi saya mengambil kebenaran tersebut walaupun orang yang mengatakannya anak kecil yang masih bau kencur. Memang kebanyakan anak kecil tidak bisa bicara hal-hal pintar dan rumit tetapi fakta membuktikan kepada saya bahwa ada juga anak kecil yang bisa berbicara hal pintar, rumit dan metodis. Yah semoga anda bisa mengerti apa yang saya bicarakan

  19. Apa pandangan Sp berkenaan riwayat-riwayat ini?

    1. Mushaf Fatimah merangkumi ayat al-Quran

    كتاب الكافي للكليني الجزء8 صفحة57

    http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/al-kafi-8/03.htm

    أتى الوحي إلى النبي ( صلى الله عليه وسلم) فقال: ” سأل سائل بعذاب واقع * للكافرين (بولاية علي) ليس له دافع * من الله ذي المعارج ” قال: قلت: جعلت فداك إنا لا نقرؤها هكذا فقال: هكذا والله نزل بها جبرئيل على محمد ( صلى الله عليه وسلم) وهكذا هو والله مثبت في مصحف فاطمة

    Perhatikan perkataan berikut :

    هكذا والله نزل بها جبرئيل على محمد ( صلى الله عليه وسلم) وهكذا هو والله مثبت في مصحف فاطمة

    “Seperti inilah yang Allah turunkan dengannya jibril kepada Muhammad saw (Al-Qur’an) dan seperti inilah yang Allah tetapkan dalam Mushhaf Fathimah.”

    Ini kontradik dengan riwayat pertama yang Sp bawakan

    وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ
    Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] itu?. Beliau berkata “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”. Aku berkata “demi Allah, ini adalah ilmu”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/239]

    Mana mungkin dikatakan tidak ada satu huruf dari al-Quran tapi juga mengandungi ayat ayat al-Quran??

    2. Mushaf Fatimah tidak saja merangkumi apa yang berlaku pada keturunan Fatimah r.a tapi juga perkara bersangkutan dengan aqidah seperti sifat penghuni Surga, jumlah yang masuk ke dalamnya, jumlah yang masuk ke dalam neraka, nama-nama mereka dan selainnya

    ففيه شئ من القرآن ؟ فقال : ما فيه شئ من القرآن . قلت فصفه لي ، قال : له دفتان من زبرجدتين على طول الورق ، وعرضه حمراوين . قلت : جعلت فداك فصف لي ورقه ، قال : ورقه من در أبيض ، قيل له : كن فكان . قلت : جعلت فداك فما فيه ؟ قال : فيه خبر ما كان وخبر ما يكون إلى يوم القيامة ، وفيه خبر سماء سماء ، وعدد ما في السماوات من الملائكة ، وغير ذلك ، وعدد كل من خلق الله مرسلا وغير مرسل وأسماؤهم ، وأسماء من أرسل إليهم ، وأسماء من كذب ومن أجاب ، وأسماء جميع من خلق الله من المؤمنين والكافرين من الأولين والآخرين ، وأسماء البلدان ، وصفة كل بلد في شرق الأرض وغربها ، وعدد ما فيها من المؤمنين ، وعدد ما فيها من الكافرين ، وصفة كل من كذب ، وصفة القرون الأولى وقصصهم ، ومن ولي من الطواغيت ومدة ملكهم وعددهم ، وأسماء الأئمة وصفتهم ، وما يملك كل واحد واحد ، وصفة كبرائهم ، وجميع من تردد في الأدوار .

    قلت : جعلت فداك وكم الأدوار ؟ قال : خمسون ألف عام ، وهي سبعة أدوار ، فيه أسماء جميع ما خلق الله وآجالهم ، وصفة أهل الجنة ، وعدد من يدخلها ، وعدد من يدخل النار ، وأسماء هؤلاء وهؤلاء ، وفيه علم القرآن كما أنزل ، وعلم التوراة كما أنزلت ، وعلم الإنجيل كما أنزل ، وعلم الزبور ، وعدد كل شجرة ومدرة في جميع البلاد

    http://www.mezan.net/mawsouat/fatima/mos7af.html

    Mari perhatikan pada perkataan :

    وصفة أهل الجنة ، وعدد من يدخلها ، وعدد من يدخل النار ، وأسماء هؤلاء وهؤلاء ، وفيه علم القرآن كما أنزل ، وعلم التوراة كما أنزلت ، وعلم الإنجيل كما أنزل ، وعلم الزبور

    “(di dalam Mushhaf Fathimah terdapat)……Sifat penghuni Surga, jumlah yang masuk ke dalamnya, jumlah yang masuk ke dalam neraka, nama-nama mereka dan mereka. Dan di dalamnya pula terdapat ILMU AL-QURAN SEBAGAIMANA DITURUNKAN…….”

  20. @Sunni

    Apa pandangan Sp berkenaan riwayat-riwayat ini?
    1. Mushaf Fatimah merangkumi ayat al-Quran
    كتاب الكافي للكليني الجزء8 صفحة57
    http://www.al-shia.org/html/ara/books/lib-hadis/al-kafi-8/03.htm
    أتى الوحي إلى النبي ( صلى الله عليه وسلم) فقال: ” سأل سائل بعذاب واقع * للكافرين (بولاية علي) ليس له دافع * من الله ذي المعارج ” قال: قلت: جعلت فداك إنا لا نقرؤها هكذا فقال: هكذا والله نزل بها جبرئيل على محمد ( صلى الله عليه وسلم) وهكذا هو والله مثبت في مصحف فاطمة
    Perhatikan perkataan berikut :
    هكذا والله نزل بها جبرئيل على محمد ( صلى الله عليه وسلم) وهكذا هو والله مثبت في مصحف فاطمة
    “Seperti inilah yang Allah turunkan dengannya jibril kepada Muhammad saw (Al-Qur’an) dan seperti inilah yang Allah tetapkan dalam Mushhaf Fathimah.”
    Ini kontradik dengan riwayat pertama yang Sp bawakan
    وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ
    Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah [‘alaihas salaam] itu?. Beliau berkata “Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti Al Qur’an kalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu huruf pun Al Qur’an kalian”. Aku berkata “demi Allah, ini adalah ilmu”…[Al Kafiy Al Kulainiy 1/239]
    Mana mungkin dikatakan tidak ada satu huruf dari al-Quran tapi juga mengandungi ayat ayat al-Quran??

    Sanad lengkap riwayat tersebut dalam Al Kafiy adalah

    عدة من أصحابنا، عن سهل بن زياد، عن محمد بن سليمان، عن أبيه، عن أبي بصير

    Sekelompok sahabat kami dari Sahl bin Ziyaad dari Muhammad bin Sulaiman dari Ayahnya dari Abu Bashiir…[Al Kafiy Al Kulainiy 8/57]

    Sahl bin Ziyaad seorang yang dhaif. An Najasyiy berkata bahwa ia dhaif dalam hadis dan tidak dijadikan pegangan kemudian ia menukil Ahmad bin Muhammad bin Iisa yang bersaksi bahwa ia ghuluw dan dusta [Rijal An Najasyiy hal 185 no 490].

    Muhammad bin Sulaiman bin ‘Abdullah Ad Dailamiy seorang yang dhaif jiddan [Rijal An Najasyiy hal 365 no 987]

    Ayahnya yaitu Sulaiman bin ‘Abdullah Ad Dailamiy, Najasyiy berkata dikatakan bahwa ia ghuluw dan pendusta, begitu pula anaknya [Rijal An Najasyiy hal 182 no 482]

    2. Mushaf Fatimah tidak saja merangkumi apa yang berlaku pada keturunan Fatimah r.a tapi juga perkara bersangkutan dengan aqidah seperti sifat penghuni Surga, jumlah yang masuk ke dalamnya, jumlah yang masuk ke dalam neraka, nama-nama mereka dan selainnya
    ففيه شئ من القرآن ؟ فقال : ما فيه شئ من القرآن . قلت فصفه لي ، قال : له دفتان من زبرجدتين على طول الورق ، وعرضه حمراوين . قلت : جعلت فداك فصف لي ورقه ، قال : ورقه من در أبيض ، قيل له : كن فكان . قلت : جعلت فداك فما فيه ؟ قال : فيه خبر ما كان وخبر ما يكون إلى يوم القيامة ، وفيه خبر سماء سماء ، وعدد ما في السماوات من الملائكة ، وغير ذلك ، وعدد كل من خلق الله مرسلا وغير مرسل وأسماؤهم ، وأسماء من أرسل إليهم ، وأسماء من كذب ومن أجاب ، وأسماء جميع من خلق الله من المؤمنين والكافرين من الأولين والآخرين ، وأسماء البلدان ، وصفة كل بلد في شرق الأرض وغربها ، وعدد ما فيها من المؤمنين ، وعدد ما فيها من الكافرين ، وصفة كل من كذب ، وصفة القرون الأولى وقصصهم ، ومن ولي من الطواغيت ومدة ملكهم وعددهم ، وأسماء الأئمة وصفتهم ، وما يملك كل واحد واحد ، وصفة كبرائهم ، وجميع من تردد في الأدوار .
    قلت : جعلت فداك وكم الأدوار ؟ قال : خمسون ألف عام ، وهي سبعة أدوار ، فيه أسماء جميع ما خلق الله وآجالهم ، وصفة أهل الجنة ، وعدد من يدخلها ، وعدد من يدخل النار ، وأسماء هؤلاء وهؤلاء ، وفيه علم القرآن كما أنزل ، وعلم التوراة كما أنزلت ، وعلم الإنجيل كما أنزل ، وعلم الزبور ، وعدد كل شجرة ومدرة في جميع البلاد
    http://www.mezan.net/mawsouat/fatima/mos7af.html
    Mari perhatikan pada perkataan :
    وصفة أهل الجنة ، وعدد من يدخلها ، وعدد من يدخل النار ، وأسماء هؤلاء وهؤلاء ، وفيه علم القرآن كما أنزل ، وعلم التوراة كما أنزلت ، وعلم الإنجيل كما أنزل ، وعلم الزبور
    “(di dalam Mushhaf Fathimah terdapat)……Sifat penghuni Surga, jumlah yang masuk ke dalamnya, jumlah yang masuk ke dalam neraka, nama-nama mereka dan mereka. Dan di dalamnya pula terdapat ILMU AL-QURAN SEBAGAIMANA DITURUNKAN…….”

    Riwayat yang dinukil di atas berasal dari kitab Dala’il Imamah Ath Thabariy dengan sanad sebagai berikut

    عن محمد بن هارون بن موسى التلعكبري ، قال : حدثنا جعفر بن محمد بن مالك الفزاري ، قال : حدثنا محمد بن أحمد بن حمدان ، قال : حدثني علي بن سليمان وجعفر بن محمد ، عن علي بن أسباط ، عن الحسين بن أبي العلاء وعلي بن أبي حمزة ، عن أبي بصير قال : ( سألت أبا جعفر محمد بن علي عن مصحف فاطمة

    Dari Muhammad bin Haruun bin Muusa At Tal’akbariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hamdaan yang berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Sulaiman dan Ja’far bin Muhammad dari Aliy bin Asbath dari Husain bin Abi A’la dan Aliy bin Abi Hamzah dari Abi Bashiir yang berkata aku betanya kepada Abu Ja’far Muhammad bin Aliy tentang Mushaf Fathimah…[Dala’il Imamah Ath Thabariy hal 104]

    Ja’far bin Muhammad bin Malik Al Fazariy seorang yang dhaif. Najasyiy berkata ia dhaif dalam hadis dan ia menukil Ahmad bin Husain yang mengatakan bahwa ia pemalsu hadis [Rijal An Najasyiy hal 122 no 313]

    Singkatnya kedua riwayat yang anda kutip tidak bisa dijadikan hujjah di sisi mazhab Syi’ah karena status keduanya dhaif.

  21. @Sp berkata :
    ” kebenaran tidak ada urusannya dengan status seseorang,

    Saya :
    klo anda berpikir seperti itu, kenapa dalam mencari hadist yang shahih, ( baik Sunni ato Syiah ) para pakar ilmu hadist selalu menanyakan status seseorang dari para perawi hadist tersebut, bagaimana kehidupannya,ilmunya,kejujurannya,sampai ditingkat mana status ke-ilmuan perawi tersebut, apakah kuat,lemah,samar2.
    trus bagaimana status Muhammad bin Abdullah sebagai seorang Nabi dan Rasul,

    Apakah kebenaran tidak melekat pada diri seorang Muhammad bin Abdullah yang statusnya sebagai Nabi dan Rasul.?

    Apakah kebenaran tidak melekat pada diri seorang Ali bin Abi Tahlib yang statusnya sebagai,sahabat,sepupu,menantu dari Nabi Muhammad SAW ?
    Semua kebenaran melekat ( ato ada urusannya ) dengan status orang tersebut.

    Bagaiman dengan status :
    Abu Bakar
    Umar bin Khattab
    Imam Hasan
    Imam Husein
    Imam Jafar As shiddiq

    apakah status mereka ” TIDAK ADA URUSANNYA DENGAN KEBENARAN ?
    pendapat saya, Status seseorang itu penting dalam nilai – nilai kebenaran, bagaimana mungkin anda ato saya percaya kepada status seseorang yang di cap sebagai pendusta ?
    Status ( sifat ) yang baik dari seseorang pasti mencerminkan kebenaran.

    Maaf saya terus komen terhadap anda, dan semoga komen saya tidak kasar terhadap anda.
    Wassalam.

  22. @Muhammad alim

    Ente kan nulis..

    “APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MENCARI KAJIAN DARI SEORANG YANG SAMAR2 DAN TIDAK JELAS WALAUPUN SUMBER KAJIAN ORANG TERSEBUT JELAS…?

    Mangkanye dibalas ama SP
    “kebenaran tidak ada urusan dengan status seseorang”

    Maksudnya…..
    Ente sendiri mengakui klo sumber kajian SP tuh jelas tapi ente gak tahu SP itu siapa.

    Naah…klo ente memang cari kebenaran ya udah di cek saja ke sumber kajian SP itu buku hadis di cek satu2. Kan nanti ketahuan dri hasil ngecek ke buku2 hadis itu SP dusta ato kagak. Kan yg penting itu.

    Kalo SP tuh ngaku2 sebagai perawi hadis naaahhh boleh tuh ente ngotot minta identitas jadi SP nanti bisa dinilai lewat jarh wa tadil

    Lah ini SP gak ngaku sebagai perawi ato alim faqih cuma numpang berbgi ilmu doang di dunia maya eh koq ente nyang muter2 kayak komedi puter hadeeuuhh capedeeh

    Catatan…ketimbang ente muter2 gak karuan mending buka buku hadis ente cek deh atu2 sumber tulisan SP…..okeeeh baru ente komentar lagi disini

    Caoooo

  23. @Muhammad Alim

    klo anda berpikir seperti itu, kenapa dalam mencari hadist yang shahih, ( baik Sunni ato Syiah ) para pakar ilmu hadist selalu menanyakan status seseorang dari para perawi hadist tersebut, bagaimana kehidupannya,ilmunya,kejujurannya,sampai ditingkat mana status ke-ilmuan perawi tersebut, apakah kuat,lemah,samar2.

    Lucu sekali, cara anda berdiskusi dan menanggapi komentar begitu menyedihkan. Silakan anda perhatikan komentar anda sebelumnya, status orang seperti apa yang anda permasalahkan. Yang anda permasalahkan sebelumnya adalah status para pengkaji seperti saya, sebagaimana nampak dalam perkataan anda

    APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MENCARI KAJIAN DARI SEORANG YANG SAMAR2 DAN TIDAK JELAS WALAUPUN SUMBER KAJIAN ORANG TERSEBUT JELAS…?APAKAH PANTAS SAYA SEBAGAI SEORANG PENCARI KEBENARAN MEMPERCAYAI ORANG YANG MENGAKU TIDAK HITAM, TIDAK PUTIH JUGA BUKAN ABU – ABU ( Itu hanya istilah ) ? dimana nilai ke-validan diri anda sendiri ?

    Bukankah yang anda permasalahkan itu adalah status para pengkaji seperti saya dan para penulis lainnya di dunia maya yang mungkin menurut anda memiliki status atau profil yang tidak jelas.?. Kenapa anda malah sok bicara soal perawi hadis mengenai status kejujuran dan keilmuannya?. Kalau seandainya dalam pandangan anda, orang yang bisa anda terima kajiannya adalah mereka yang status keilmuan dan kejujurannya diakui sebagaimana para perawi hadis. Maka saya tanya wahai saudara, dimana anda bisa menemukan orang dengan status demikian?.

    Apakah anda bisa dengan yakin akan mengatakan bahwa guru anda memiliki status kejujuran dan keilmuannya yang diakui sebagaimana para perawi hadis?. Kalau memang demikian maka boleh saya tanya di kitab Rijal manakah guru anda tersebut bisa saya temukan keterangan soal status kejujuran dan keilmuannya?. Kalau anda sekedar percaya atau yakin bahwa guru anda tidak perlu diragukan status kejujuran dan keilmuannya tanpa merujuk kitab Rijal apapun, maka saya katakan anda tidak perlu sok mengait-ngaitkan masalah status ini dengan status para perawi hadis.

    Kalau anda memang punya jalan berpikir yang baik maka anda dapat melihat bahwa kebanyakan kajian saya tidaklah lepas dari kaidah ilmiah seperti ilmu hadis beserta pembahasan para perawinya. Artinya saya dalam melakukan kajian selalu berusaha untuk menerapkan standar kebenaran yang memang sudah disepakati dalam ilmu hadis. Disini juga saya tidak meminta para pembaca untuk menelan bulat-bulat kajian saya, silakan siapapun untuk menilai apakah kajian saya tersebut betul atau tidak sesuai dengan kaidah ilmiah. Bukannya seperti anda yang dengan gampangnya mempermasalahkan status saya yang samar-samar atau tidak jelas?. Dan setelah saya jelaskan bahwa status seseorang tidak ada hubungannya dengan kebenaran yang ia sampaikan, anda malah ngeyel mengaitkannya dengan status perawi hadis. Tidak nyambung tetapi sengaja anda sambung-sambungkan agar anda bisa membantah komentar lawan bicara anda

    trus bagaimana status Muhammad bin Abdullah sebagai seorang Nabi dan Rasul,

    Apakah kebenaran tidak melekat pada diri seorang Muhammad bin Abdullah yang statusnya sebagai Nabi dan Rasul.?

    Apakah kebenaran tidak melekat pada diri seorang Ali bin Abi Tahlib yang statusnya sebagai,sahabat,sepupu,menantu dari Nabi Muhammad SAW ?
    Semua kebenaran melekat ( ato ada urusannya ) dengan status orang tersebut.

    Bagaiman dengan status :
    Abu Bakar
    Umar bin Khattab
    Imam Hasan
    Imam Husein
    Imam Jafar As shiddiq

    apakah status mereka ” TIDAK ADA URUSANNYA DENGAN KEBENARAN ?
    pendapat saya, Status seseorang itu penting dalam nilai – nilai kebenaran, bagaimana mungkin anda ato saya percaya kepada status seseorang yang di cap sebagai pendusta ?
    Status ( sifat ) yang baik dari seseorang pasti mencerminkan kebenaran.

    Apalagi anda mengaitkannya dengan status Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ahlul Bait. Apakah di mata anda seorang pengkaji tulisan itu harus Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ahlul Bait baru bisa anda terima kajiannya?. Tolong dikonfirmasi wahai saudara, apakah anda menginginkan yang menulis kajian tersebut adalah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ahlul Bait baru bisa anda terima ?. Kalau iya maka mohon maaf saya berlepas diri dari keanehan waham khayal anda. Atau apakah atau anda akan menerima siapapun yang menulis asalkan mereka mengutip ajaran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ahlul Bait?. Kalau begitu maka bukankah itu yang sedang saya usahakan dalam blog ini.

    Saran saya wahai saudara, sebelum anda berkomentar biasakanlah untuk memikirkan terlebih dahulu apa yang anda katakan jangan membantah dengan membabi buta tanpa memahami konteks pembicaraan yang dimaksudkan lawan bicara anda. Jangan asal comot kalimat lawan bicara anda kemudian anda bantah tanpa anda memperhatikan bahwa kalimat yang anda comot tersebut sebenarnya menanggapi komentar anda sebelumnya. Ulah anda hanya menunjukkan bahwa anda hanya suka membantah lawan bicara anda tanpa memahami hakikat permasalahan yang sedang anda diskusikan

    Maaf saya terus komen terhadap anda, dan semoga komen saya tidak kasar terhadap anda.
    Wassalam.

    Bagi saya ini bukan masalah kasar atau tidak kasar tetapi masalah pemahaman dan itikad baik, silakan perbaiki pemahaman anda terhadap komentar lawan bicara anda atau jika anda sudah paham komentar lawan bicara anda maka biasakanlah diri anda untuk beritikad baik bahwa diskusi itu bukan soal bantah membantah tetapi soal mencari mana yang benar antara pandangan anda dan pandangan lawan bicara anda

  24. Maaf, Mas. Apa Mas bisa bantu utk mengklarifikasi otentisitas dan reliabilitas riwayat ttg Mushaf Ali dlm al-Kafi, 2/633, no.23? Dlm riwayat tsb disebutkan: Abu Abdillah berkata: Jangan baca dgn bacaan ini, bacalah al-Qur’an spt org lain smp dtngx al-Qaim. Jk al-Qaim tlh dtng, dia akn mbc Kitabullah dgn bnr dan mengeluarkan Mushaf yg ditulis oleh Ali.

    Mushaf it disebut sbg al-Qur’an al-mahfuzh (mir’at anwar, hlm. 36), al-Qur’an al-haqiqi (irsyad anwar, 3/121) yg dgnx al-Qaim akn fayurtafa’u hadza al-qur’an (anwar numaniyah, 2/360).

    Apk riwayat tsb dpt mnjd dalil bhw syiah sedang bertaqiyah mengenai Mushaf Utsmani yg ada skrg?

  25. @Alner

    Berikut riwayat yang dimaksud, saya nukil dari kitab Mir’atul ‘Uquul Al Majlisiy 12/523 no 23 dimana ia menyatakan “dhaif”

    Dan dalam sanadnya terdapat Salim bin Salamah dan dia adalah perawi majhul sebagaimana yang disebutkan dalam Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 242

    Sejauh yang saya pelajari pendapat yang shahih dan mu’tamad [dijadikan pegangan] dalam mazhab Syi’ah adalah tidak meyakini adanya tahrif Al Qur’an

  26. Insyaallah, soal benar-salah tidak perlu bergantung pada menang-kalah, atau pendukung banyak-sedikit, atau sumbernya putih-hitam-abu2, atau terkenal-tak dikenal. Contohnya, lihat Qur’an 3:28, 18:79, 25:63, 28:20, 36:20, dan 40:28. Salam kpd Bung SP, Wallahu a’lam.

  27. […] selama itu ‘Aliy mencatatnya. Inilah Mushaf Faathimah [Al Kaafiy Al Kulainiy 1/241] Selengkapnya: https://secondprince.wordpress.com/2013/11/17/mengenal-mushaf-fathimah-di-sisi-mazhab-syiah/ NB: Anda tidak perlu keberatan krna jibril berbicara dgn fatimah seakan – akan dia seorg […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: