Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”

Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

.

Takhrij Hadis

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Ja’far bin Sulaiman dari Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir Al Harasy dari Imran bin Hushain RA. Berikut sanad Abu Dawud

حدثنا جعفر بن سليمان الضبعي ، حدثنا يزيد الرشك ، عن مطرف بن عبد الله بن الشخير ، عن عمران بن حصين

Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’iy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir dari Imran bin Hushain-alhadis- [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 829]

Hadis Imran bin Hushain ini sanadnya shahih karena para perawinya tsiqat

  • Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’iy adalah seorang yang tsiqat. Ja’far adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Madini dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Ahmad mengatakan kalau Ja’far hadisnya baik, ia memiliki banyak riwayat dan hadisnya hasan [At Tahdzib juz 2 no 145]. Al Ajli menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 221]. Ibnu Syahin juga memasukkannya sebagai perawi tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 166]. Kelemahan yang dinisbatkan kepada Ja’far adalah ia bertasayyyu’ tetapi telah ma’ruf diketahui bahwa tasyayyu’ Ja’far dikarenakan ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/162]. Adz Dzahabi menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Al Kasyf no 729]
  • Yazid Ar Risyk adalah Yazid bin Abi Yazid Adh Dhuba’iy seorang yang tsiqat perawi kutubus sittah. Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia “shalih al hadis”.[At Tahdzib juz 11 no 616]. Disebutkan kalau Ibnu Ma’in mendhaifkannya tetapi hal ini keliru karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ibnu Ma’in justru menta’dilkannya. Ibnu Abi Hatim menukil Ad Dawri dari Ibnu Ma’in yang menyatakan Yazid “shalih” dan menukil Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dari Ibnu Main yang menyatakan Yazid “laisa bihi ba’sun”. perkataan ini berarti perawi tersebut tsiqah menurut Ibnu Ma’in. [Al Jarh Wat Ta’dil 9/298 no 1268].
  • Mutharrif bin Abdullah adalah tabiin tsiqah perawi kutubus sittah. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Al Ajli mengatakan ia tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqah. [At Tahdzib juz 10 no 326]. Ibnu Hajar menyatakan Mutharrif bin Abdullah tsiqah [At Taqrib 2/188].

Hadis Imran bin Hushain di atas jelas sekali diriwayatkan oleh perawi tsiqah dan shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. Ja’far bin Sulaiman adalah perawi Muslim dan yang lainnya adalah perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menyatakan sanad hadis ini kuat dalam kitabnya Al Ishabah 4/569. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini shahih [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis ini sanadnya kuat [Shahih Ibnu Hibban no 6929]. Syaikh Husain Salim Asad menyatakan hadis ini para perawinya perawi shahih [Musnad Abu Ya’la no 355]

Selain riwayat Imran bin Hushain, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Buraidah RA. Hadis Buraidah disebutkan dalam Musnad Ahmad 5/356 no 22908[tahqiq Ahmad Syakir dan Hamzah Zain], Sunan Nasa’i 5/132 no 8475, Tarikh Ibnu Asakir 42/189 dengan jalan sanad yang berujung pada Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Berikut sanad riwayat Ahmad

ثنا بن نمير حدثني أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya Buraidah yang berkata-hadis marfu’-[Musnad Ahmad 5/356 no 22908]

Hadis Buraidah ini sanadnya hasan karena diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah yaitu Ibnu Numair dan Abdullah bin Buraidah dan perawi yang hasan yaitu Ajlah Al Kindi.

  • Ibnu Numair adalah Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ajli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. [At Tahdzib juz 6 no 110]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabi menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]
  • Ajlah Al Kindi adalah seorang yang shaduq. Ibnu Main dan Al Ajli menyatakan ia tsiqat. Amru bin Ali menyatakan ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus. Ibnu Ady berkata “ia memiliki hadis-hadis yang shalih, telah meriwayatkan darinya penduduk  kufah dan yang lainnya, tidak memiliki riwayat mungkar baik dari segi sanad maupun matan tetapi dia seorang syiah kufah, disisiku ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus”. Yaqub bin Sufyan menyatakan ia tsiqat tetapi ada kelemahan dalam hadisnya. Diantara yang melemahkannya adalah Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Abu Dawud dan An Nasa’i. [At Tahdzib juz 1 no 353]. Abu Hatim dan An Nasa’i menyatakan ia “tidak kuat” dimana perkataan ini bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi dikenal kalau Abu Hatim dan Nasa’i termasuk ulama yang ketat dalam menjarh. Ibnu Sa’ad dan Abu Dawud menyatakan ia dhaif tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarhnya adalah jarh mubham. Tentu saja jarh mubham tidak berpengaruh pada mereka yang telah mendapat predikat tsiqat dari ulama yang mu’tabar. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [At Taqrib 1/72]. Adz Dzahabi juga menyatakan Ajlah seorang yang shaduq [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 13]. Bagi kami ia seorang yang tsiqah atau shaduq, Bukhari telah menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1711]. Hal ini menunjukkan kalau jarh terhadap Ajlah tidaklah benar dan hanya dikarenakan sikap tasyayyu’ yang ada padanya.
  • Abdullah bin Buraidah adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Al Ajli dan Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Ibnu Kharasy menyatakan ia shaduq [At Tahdzib juz 5 no 270]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/480] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 2644].

Sudah jelas hadis Buraidah ini adalah hadis hasan yang naik derajatnya menjadi shahih dengan penguat hadis-hadis yang lain. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis Buraidah ini sanadnya jayyid [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187].

Selain Imran bin Hushain dan Buraidah, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih. Riwayat Ibnu Abbas disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752, Tarikh Ibnu Asakir 42/199, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/201, Musnad Ahmad 1/330 no 3062, Al Mustadrak 3/143 no 4652, As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188, dan Mu’jam Al Kabir 12/77. Berikut sanad riwayat Abu Dawud

حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abi Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 2752]

Hadis Ibnu Abbas ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat.

  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Al Ajli menyatakan ia tsiqah [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1937].Ibnu Hajar menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6049].
  • Abu Balj adalah Yahya bin Sulaim seorang perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Abu Fath Al Azdi menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih laba’sa bihi”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Bukhari berkata “fihi nazhar” atau perlu diteliti lagi hadisnya. [At Tahdzib juz 12 no 184]. Perkataan Bukhari ini tidaklah tsabit karena ia sendiri telah menuliskan biografi Abu Balj tanpa menyebutkan cacatnya bahkan dia menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan dari Abu Balj [Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996]. Hal ini berarti Syu’bah menyatakan Abu Balj tsiqat karena ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi yang tsiqat. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Jauzi menyatakan bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj [At Tahdzib juz 12 no 184]. Tentu saja perkataan ini tidak benar karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ishaq bin Mansur kalau Ibnu Ma’in justru menyatakan Abu Balj tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 9/153 no 634]. Kesimpulannya pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat.
  • Amru bin Maimun adalah perawi kutubus sittah yang tsiqah. Al Ajli, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 181]. Ibnu Hajar menyatakan Amru bin Maimun tsiqat [At Taqrib 1/747].

Hadis Ibnu Abbas ini adalah hadis yang shahih dan merupakan sanad yang paling baik dalam perkara ini. Hadis ini juga menjadi bukti bahwa tasyayyu’ atau tidaknya seorang perawi tidak membuat suatu hadis lantas menjadi cacat karena sanad Ibnu Abbas ini termasuk sanad yang bebas dari perawi tasyayyu’. Hadis Ibnu Abbas ini telah dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi [Talkhis Al Mustadrak no 4652] dan Syaikh Ahmad Syakir [Musnad Ahmad no 3062].

Hadis dengan jalan yang terakhir adalah riwayat Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 22/135, Tarikh Ibnu Asakir 42/199 dan Al Bidayah Wan Nihayah 7/381. Berikut jalan sanad yang disebutkan Ath Thabrani

حدثنا أحمد بن عمرو البزار وأحمد بن زهير التستري قالا ثنا محمد بن عثمان بن كرامة ثنا عبيد الله بن موسى ثنا يوسف بن صهيب عن دكين عن وهب بن حمزة قال

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amru Al Bazzar dan Ahmad bin Zuhair Al Tusturi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Shuhaib dari Dukain dari Wahab bin Hamzah yang berkata [Mu’jam Al Kabir 22/135]

Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Dukain, ia seorang tabiin yang tidak mendapat predikat ta’dil dan tidak pula dicacatkan oleh para ulama.

  • Ahmad bin Amru Al Bazzar adalah penulis Musnad yang dikenal tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Al Khatib dan Daruquthni, Ibnu Qattan berkata “ia seorang yang hafizh dalam hadis [Lisan Al Mizan juz 1 no 750]
  • Ahmad bin Zuhair Al Tusturi adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair, Abu Ja’far Al Tusturi. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Hujjah Al Muhaddis, Syaikh Islam. [As Siyar 14/362]. Dalam Kitab Tarajum Syuyukh Thabrani no 246 ia disebut sebagai seorang Hafizh yang tsiqat.
  • Muhammad bin Ustman bin Karamah seorang perawi yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Maslamah dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman dan Daud bin Yahya berkata “ia shaduq”. [At Tahdzib juz 9 no 563]. Ibnu Hajar menyatakan Muhammad bin Utsman bin Karamah tsiqat [At Taqrib 2/112]
  • Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Ajli, Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Ady menyatakan ia tsiqah.[At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan Ubaidillah tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 3593].
  • Yusuf bin Shuhaib adalah seorang perawi tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Ibnu Hibban, Utsman bin Abi Syaibah, Abu Nu’aim menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim dan An Nasa’i berkata ‘tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 11 no 710]. Ibnu Hajar menyatakan Yusuf bin Shubaih tsiqat [At Taqrib 2/344] dan Adz Dzahabi juga menyatakan Yusuf tsiqat [Al Kasyf no 6437]
  • Dukain adalah seorang tabiin. Hanya Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan biografinya dalam Al Jarh Wat Ta’dil dan mengatakan kalau ia meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan telah meriwayatkan darinya Yusuf bin Shuhaib tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil terhadapnya. [Al Jarh Wat Ta’dil 3/439 no 1955]. Dukain seorang tabiin yang meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sakan kalau Wahab bin Hamzah adalah seorang sahabat Nabi [Al Ishabah 6/623 no 9123]

Hadis Wahab bin Hamzah ini dapat dijadikan syawahid dan kedudukannya hasan dengan penguat dari hadis-hadis lain. Al Haitsami berkata mengenai hadis Wahab ini “Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat Dukain yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, tidak ada ulama yang mendhaifkannya dan sisanya adalah perawi yang dipercaya “ [Majma’ Az Zawaid 9/109].

.

.

Ibnu Taimiyyah Mendustakan Hadis Shahih

Jika kita mengumpulkan semua hadis tersebut maka didapatkan

  • Hadis Imran bin Hushain adalah hadis shahih [riwayat Ja’far bin Sulaiman]
  • Hadis Buraidah adalah hadis hasan [riwayatAjlah Al Kindi]
  • Hadis Ibnu Abbas adalah hadis shahih [riwayat Abu Balj]
  • Hadis Wahab bin Hamzah adalah hadis hasan [riwayat Dukain]

Tentu saja dengan mengumpulkan sanad-sanad hadis ini maka tidak diragukan lagi kalau hadis ini adalah hadis yang shahih. Dan dengan fakta ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah tentang hadis ini, ia berkata

” أنت ولي كل مؤمن بعدي ” فهذا موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث

“kamu adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu” ini adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahli hadis [Minhaj As Sunnah 5/35]

قوله : هو ولي كل مؤمن بعدي كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Perkataannya ; “Ia pemimpin setiap mukmin sepeninggalku” adalah dusta atas Rasulullah SAW [Minhaj As Sunnah 7/278]

Cukuplah kiranya pembaca melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang berdusta atau sedang mendustakan hadis shahih hanya karena hadis tersebut dijadikan hujjah oleh orang syiah. Penyakit seperti ini yang dari dulu kami sebut sebagai “Syiahpobhia”.

.

.

Singkat Tentang Matan Hadis

Setelah membicarakan hadis ini ada baiknya kami membicarakan secara singkat mengenai matan hadis tersebut. Salafy nashibi biasanya akan berkelit dan berdalih kalau hadis tersebut tidak menggunakan lafaz khalifah tetapi lafaz waliy dan ini bermakna bukan sebagai pemimpin atau khalifah. Kami tidak perlu berkomentar banyak mengenai dalih ini, cukuplah kiranya kami bawakan dalil shahih kalau kata Waliy sering digunakan untuk menunjukkan kepemimpinan atau khalifah

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir [dan beliau menshahihkannya] dalam Al Bidayah wan Nihayah bahwa ketika Abu Bakar dipilih sebagai khalifah, ia berkhutbah

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih menjadi pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian. [Al Bidayah wan Nihayah 5/269]

Diriwayatkan pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal bahwa Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kepemimpinan Umar dengan kata Waliy

ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’. [Musnad Ahmad 1/52 no 369 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ahmad Syakir]

Kedua riwayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kata Waliy digunakan untuk menyatakan kepemimpinan para Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar. Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas bermakna Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.

Iklan

60 Tanggapan

  1. pertamax……….alhamdulillah…
    senengnya bisa guling2 sendirian,,,
    lagi nunggu komentnya para nashibi…dan para pendengki…nih…
    tarik…mang,….

  2. Setiap zaman ada org munafiq dlm agama ini. Masa Nabi.saw ada Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai mawla kaum munafiqun dan tentunya Ibnu Taymiyyah adalah mawla kaum munafiqun pada masanya.

  3. Q.almaidah
    55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman(imam ali as), yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
    56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman(imam ali as) menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

  4. Aslkm,

    “Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW”

    Menyimak posting tsb diatas menurut hadits dari saya berarti Abubakar dan Umar adalah Pemimpin setiap orang yg munkar sepeninggal Rasulullah saw.

    Wslkm,

  5. @SP
    mana nasehatnya kepada orang ini (@yadi) katanya yang kelewat batas mau di nasehatin??????
    yadi, di/pada Maret 5, 2010 pada 8:52 am Dikatakan: r
    Menyimak posting tsb diatas menurut hadits dari saya berarti Abubakar dan Umar adalah Pemimpin setiap orang yg MUNKAR sepeninggal Rasulullah saw.
    ,LAGAKNYA MAU NASEHATIN YANG BERLEBIH….KELAUT AJA PAK KALO MAU CUMA NGOMONG NASEHATIN AJA.. DASAR SYI’AH YA SYI’AH

  6. Nasihatnya sudah ada dari dulu2, bahwa mencela siapa saja dan mencaci siapa saja adalah perbuatan tercela.
    memuliakan Imam Ali dengan menyampaikan hadits2 teantang kemuliaan beliau (oleh SP) adalah perbuatan mulia, namun ketika ada yang memanfaatkan hal tsb dengan kesempatan mencaci dan mencela yang lain adalah perbuatan tercela (dan tentunya bukan berpedoman kepada Imam Ali).

    Yang tertipu (oleh nafsunya) bukan hanya para musuh/pembenci Imam Ali namun juga tidak sedikit yang mengaku pengikutnya telah tertipu (oleh nafsu).
    Karena sudah jelas bagaimana akhlak/cara Imam Ali memperlakukan musuh2nya dan bagaimana cara/akhlak Muawiyah memperlakukan musuh2nya.
    Sudah jelas caci maki kepada musuh2nya adalah cara Muawiyah. Sehingga mereka yang mengaku pengikut Imam Ali namun mencontoh/berpedoman kepada cara Muawiyah, maka sesungguhnya mereka telah tertipu.

    Salam Damai

  7. @abu jufri

    Kan udah jelas hadits dari Rasulullah saw;

    “Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu”.

    Ini artinya bahwa yg mengambil pemimpin selain drpd Imam Ali, maka ia adalah orang yg munkar.

    Wslkm,

  8. Dua jempol buat truthseeker …… he… he….

  9. @kepada siapapunlah
    baik anda sunni maupun syiah hendaknya menggunakan kata-kata yang baik saja. kita sama-sama saling mengingatkan, ok. salam damai 🙂

  10. @truthseeker08 & @secondprince

    Saya mau tanya apakah orang yg ingkar kepada ketetapan Allah dan Rasul-Nya disebut apa?

    Wslkm,

  11. Apakah Rasulullah memanggil: Hai kafir kepada para kafir Quraisy?
    Apakah Rasulullah menggunakan panggilkan Raja kafir kepada para Raja yang Beliau SAW kirimi surat mengajak masuk Islam?
    Bagaimanakah Imam Ali memanggil musuh2nya?
    Apakah ketika orang mengunjungi para tahanan di penjara sudah tidak lagi memanggil nama?
    Ini saja pada yang sudah jelas statusnya.
    Bagaimana bisa seorang faqir seperti kita2 ini mengeneralisasi semua yang begitu banyak orang sebagai munkar? Apakah sekalian ingin dikatakan bahwa Imam Ali tidak ta’at kepada Allah dengan tidak melakukan nahi munkar??
    Apa bedanya mereka yang marah karena ada satu mazhab dengan mudah mencaci saudara2nya kafir, ahli bida’h, kuburiyun, dll dengan mereka yang mencaci saudara2nya dengan munafiqun, mungkar dll.

    Yang dinyatakan munkar oleh saudara yadi bisa jadi orang tua kita (termasuk orang tua yadi sendiri).

    ketika kita membatilkan cara pikir hitam-putih, ternyata kita sendiri menggunakan cara yang sama.
    Ketika kita membatilkan cara pandang yang menganggap paling benar sendiri, ternyata kita sendiri melakukan hal yang sama.

    Ingat! Apakah yang sudah dicontohkan mereka Ahlul Bayt?

    Salam damai

  12. @truthseeker08

    Saya hanya mengutip hadits dari Rasulullah saw bahwa Ali adalah pemimpin setiap mukmin sepeninggalku. Siapapun orangnya yg ingkar kepada hadits tsb, berarti munkar. Apakah itu tidak hitam putih atau abu2 ?

    Wslkm,

  13. @yadi
    Anda berhak mengambil kesimpulan spt itu tapi akhlatul karimah haruslah tetap dijaga dalam keadaan bagaimanapun dan kepada siapapun, terlebih kepada saudara kita sesama muslim, baik sunni maupun syiah

  14. Maaf saudara Yadi saya juga tidak hendak berpanjang di masalah ini. Maafkan jika saya salah.
    Dan kepada teman2 yang lain saya juga tidak bersih dari mencela. Dan saya mengharapkan peringatan dari teman2 ketika itu.

    Salam damai

  15. @truthseeker08 @Pemburu Ilmu

    Terimakasih atas nasihatnya, memang seperti itulah yg diharapkan sehingga saya bisa intropeksi diri. Klo ada kata2 yg salah, saya juga mohon ma’af.

    Wslkm,

  16. kembali ke laptop…….
    jadi motivasi Ibnu Taimiyah yg menggunakan standar Ganda apa donk….
    kayak USA aje yah….
    dipersila…koment pemuja Ibnu taimiyah ” a syaikh double std”

  17. Kayaknya hadits di atas perlu dipertanyakan deh, soalnya Imam Ali bin Abi thalib ra sendiri, tidak merasa kalau beliau menerima wasiat kepemimpinan itu.
    Masa Imam Ali ra (yg katanya “kota ilmu” ) tidak pernah tahu kalau ada hadits di atas,sebagai penunjukkan dirinya sebagai pemimpin bagi setiap mukmin????? ❓

    Karena ada hadits begini :

    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه البخاري

    Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun MENGETAHUINYA dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

    Jadi, kalau mau KONSISTEN terhadap Imam Ali ra, jangan tanggung2. Terima semua hadits yg dari beliau dan yg menceritakan beliau.

    Konsistenlah terhadap Imam Ali ra jika kalian mampu… 😀

    @yadi
    Menyimak posting tsb diatas menurut hadits dari saya berarti Abubakar dan Umar adalah Pemimpin setiap orang yg munkar sepeninggal Rasulullah saw.

    jwb:
    Mas, komen anda tidak sesuai dengan tabiat Imam Ali ra,
    Masa Imam Ali ra mau merelakan Ummar ra
    yg menikahi Ummu Kultsum binti ‘Aliy
    Berarti Imam Ali ra mau mengambil menantu “pemimpin orang yg munkar”(sesuai sangkaan anda), gitu yaaa??? ❓

    Betul 2 sangkaan yg sangat tidak tepat, mas..

  18. @KAB lagi

    Klo masalah jodoh mah urusan Allah, seperti Nabi Nuh as yg punya istri yg munkar, Fir’aun punya istri yg mukmin, begitu juga Rasulullah saw ada istrinya yg munkar dlsb. Bila dihubungkan dgn pasca Rasulullah saw wafat, banyak diantara sahabat yg munkar, diantaranya Abubakar dan Umar. Makanya klo mengutip hadits Rasulullah saw bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Rasulullah saw. Ini artinya bahawa yg mengambil pemimpin selain drpd Imam Ali, maka ia adalah orang yg munkar.

    Wslkm,

  19. @KAB lagi

    Dari hadits yg anda kutip ada yg aneh…Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam… Imam Ali pernah tidak meminta suatu jabatan apapun kepada Rasulullah saw, namun Imam Ali telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya bahwa Imam Ali sebagai pemimpin setiap mukmin dan baca lagi hadits Ghadir Khum bahawa…barang siapa yg menjadikan Rasulullah saw sebagai pemimpin, maka Imam Ali sebagai pemimpinnya… Saya pikir hal ini sudah sangat jelas sekali mengenai kepemimpinan Imam Ali sepeninggal Rasulullah saw.

    Wslkm,

  20. @KAB

    kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan.

    Kalau memang begitu, bukankah ini berarti Abbas mengakui kalau tiga hari lagi Imam Ali akan memegang kepemimpinan :mrgreen:

    selain itu ada yang aneh dengan perkataan tersebut. Nabi SAW pada saat itu masih hidup, dan btw saya rasa tidak ada satupun yang tahu kapan tepatnya ajal seseorang. Nah kok bisa Abbas RA dengan pasti bilang “tiga hari lagi”. btw musykil sekali itu, apa Abbas tahu “kabar ghaib”

  21. Sebagian sunni khususnya Salafy tdk suka dan pasti menolak bila ada hadis yg terang tentang kepemimpinan Imam Ali yg ternyata sahih menurut ulama sunni sendiri. Ini sama persis dgn sikap rabi yahudi yg tidak segan2 membunuh nabi mereka bila nabi tsb mengajarkan sesuatu yg tidak mereka sukai. Seharusnya suatu dalil (ttg kepemimpinan Imam Ali) yg telah dipastikan sahih oleh Syiah dan Sunni maka tentu wajib kita percayai. Penolakan oleh sebagian sunni khususnya Salafy thdp hadis kepemimpinan Imam Ali memang aneh tapi wajar karena kaum munafiq yg mengambil agama hanya sesuai dgn nafsunya memang selalu ada setiap jamam, dan iblis yg bertopeng ulama juga selalu ada utk menipu kita, terutama org2 awam yg memang tdk terlibat dlm mengkaji kitab2 dan sejarah Islam.

  22. @kab lagi
    anda klu mau mencari tau kebenaran ttg perkawinan antara umar n ummu kultsum bacalah kitab al-haft al syarif
    dr al mufdhdhal bin umar al jafi(150 H) prihal tanya jwb beliau dgn imam jafar shodiq as,ini versi syiah, terserah anda mau percaya atw tdk,tp syiah punya bantahan trhdp hal tsb.

  23. Kekuasaan memang merupakan ujian yg berat bagi manusia. Rasulullah SAW meramalkan bahwa para sahabat beliau akan berebut kekuasaan sepeninggal beliau padahal mereka tahu bahwa Imam Ali as yang berhak atas kepemimpinan umat sepeninggal Rasulullah SAW. Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah; ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya kalian akan serakah terhadap kepemimpinan, dan ini akan menjadi (penyebab) penyesalan kalian pada hari kiamat. Maka ia sebaik-baik yang memberi susu (hasil) dan sejelek-jelek penyapih (yg memutus hasil)”.

  24. @SP

    Kalau memang begitu, bukankah ini berarti Abbas mengakui kalau tiga hari lagi Imam Ali akan memegang kepemimpinan :mrgreen:

    jwb :

    Logika anda itu tidak sesuai dengan penggalan hadits berikutnya :

    “Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita MENGETAHUInya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun MENGETAHUINYA dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.(HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

    Kata siapa Abbas sudah tahu? Buktinya Abbas dan Ali ra ingin menanyakan pd Rasul SAW kepada siapa urusan kepemimpinan itu dipegang. Artinya mereka benar2 dalam kondisi TIDAK TAHU. Dan Imam Ali ra TIDAK PERNAH MERASA mendapatkan wasiat kepemimpinan itu.

    Jadi, analisis hadits ghadir khum dan lain2 yg DIKLAIM syiah sebagai wasiat kepemimpinan Ali ra, adalah analisis yg sifatnya khayalan belaka (kalo tidak mau dibilang “nafsu”). Soalnya Ali bin Abi Thalib TIDAK MERASA seperti itu.

    Konsistenlah terhadap Imam Ali ra jika kalian mampu. :mrgreen:

  25. @KAB lagi

    Coba atuh tampilkan hadits keutamaan Abubakar dan Umar, biar diskusinya berimbang, jika anda mampu. :mrgreen:

  26. @KAB lagi

    Coba baca lagi hadits yg anda kutip sebelumnya;

    …“Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini…dst

    Sungguh aneh bunyi hadits tsb, karena Abbas bisa menentukan wafatnya seseorang, kaya paranormal saja. Suatu hil yg mustahal :mrgreen:

    Hehehe…anda itu SOK TAHU dgn mengatakan “Imam Ali ra TIDAK PERNAH MERASA mendapatkan wasiat kepemimpinan itu” berdasarkan hadits aneh yg anda kutip setelahnya. Emangnya anda tahu perasaan Imam Ali ketika itu?

    Hadits yg ANEH anda kutip, dasar pengkhayal yg ANEH 😆

  27. @KAB
    weit anda belum jawab tuh, saya bilang hadis itu mungkar kok Abbas bisa tahu kabar ghaib kalau tiga hari lagi Nabi SAW bakal wafat?. nah lho :mrgreen:

  28. Bukankah Abbas ra berkata seperti itu karena beliau mengetahui wajah anak cucu bani muthalib yang akan meninggal, jadi ada alasannya yaitu berdasarkan pengalaman beliau berkata begitu. katanya anda ini ahli hadits, kok gampang banget memungkarkan hadits shahih, sedangkan hadits-hadits yg statusnya di tepi jurang kedhaifan dan maudhu’ anda bela-belain biar naik jadi hasan atau shahih? apa anda ndak punya dalih lagi ya.

    Makanya teman-teman ahlussunnah, biarlah syi’ah berbicara tentang agama mereka sendiri, cukup kita tahu saja.

  29. @SP

    Mas, kan yg tau kabar ghaib cuman Allah swt dan Nabi saw tdk? Apakah mrk menganggap ada manusia yg ilmunya melebihi nabi? 🙂

    Salam

  30. @KAB:
    Anda mengatakan logika SP tidak sesuai dgn penggalan hadits berikutnya.
    Jawaban saya: Logika penggalan hadis berikutnya itu tidak sesuai dgn ucapan ‘Abbas r.a. pada penggalan hadis awalnya. 🙂

    ‘Abbas r.a. berkata dgn bersumpah (demi Allah) bhw Imam Ali akan memegang tongkat kepemimpinan setelah 3 hari. Anehnya, setelah itu ‘Abbas r.a. mengajak Imam ‘Ali utk bertanya kpd Nabi saw. kepada siapa urusan itu akan dipegang?
    Lho, bukankah pada awal kalimatnya, ‘Abbas sudah yakin bhw tongkat kepemimpinan akan dipegang oleh Imam ‘Ali? Lalu, kenapa dia masih mau bertanya kpd Nabi saw. ttg hal tsb?
    Kalau Nabi saw. belum menyebut di tangan siapa urusan itu akan dipegang, kenapa ‘Abbas bisa yakin pada awalnya bhw Imam ‘Ali yg akan memegang kepemimpinan setelah 3 hari berikutnya?

    Bagi saya, cukup jelas adanya kontradiksi makna dlm kalimat2 yg dinisbahkan kpd ‘Abbas r.a. dlm ucapannya kpd Imam ‘Ali dlm matan hadis tsb.
    Hadis yg Anda bawakan tidak kokoh dari segi makna. Berbeda sekali dgn hadis yg dibahas SP dlm artikel di sini: “…dan dia [‘Ali] adalah waliyy setiap mukmin sepeninggalku.” Sungguh kokoh makna sabda Nabi Muhammad saw. tsb.
    Salam.

  31. btw di atas @Yadi mengatakan :

    Ini artinya bahawa yg mengambil pemimpin selain drpd Imam Ali, maka ia adalah orang yg munkar.

    Lho padahal waktu itu sebagian besar sahabat membai’at Abu Bakar termasuk juga Imam Ali, berarti mereka semua adalah orang yg mungkar?

    kalau sebagian besar sahabat adalah orang mungkar mengapa blog ini masih memakai riwayat-riwayat mereka untuk berhujjah?

    blog yang aneh tapi nyata.

  32. @edi

    Bukankah Abbas ra berkata seperti itu karena beliau mengetahui wajah anak cucu bani muthalib yang akan meninggal, jadi ada alasannya yaitu berdasarkan pengalaman beliau berkata begitu.

    Maaf sepertinya anda tidak mengerti letak kemungkarannya. kalau Abbas sekedar berkata “sebentar lagi” itu masih wajar tetapi kalau berkata “tiga hari” nah itu sudah jadi mungkar. kok bisa-bisanya membatasi dengan kata “tiga hari”. Apakah beliau tahu dengan pasti tiga hari?. itulah yang saya katakan mungkar. Kalau anda tidak setuju ya sudah toh, biasa aja 🙂

    katanya anda ini ahli hadits, kok gampang banget memungkarkan hadits shahih,

    wah kata siapa saya ahli hadis, apa anda memandangnya begitu. wah wah maaf Mas anda salah denger gosip 😛

    sedangkan hadits-hadits yg statusnya di tepi jurang kedhaifan dan maudhu’ anda bela-belain biar naik jadi hasan atau shahih? apa anda ndak punya dalih lagi ya.

    btw yang memandang hadis tersebut di tepi jurang kedhaifan dan maudhu’ kan anda yang mengikut ulama-ulama anda. kalau dibahas sesuai ilmunya maka tidak seperti yang anda katakan “dhaif atau maudhu'”

    Makanya teman-teman ahlussunnah, biarlah syi’ah berbicara tentang agama mereka sendiri, cukup kita tahu saja.

    sebenarnya cuma salafy nashibi yang mengucapkan kata-kata seperti ini. mereka yang ahlussunnah masih menganggap saudara mereka syiah sebagai penganut agama yang sama yaitu Islam.

  33. @edi

    kalau sebagian besar sahabat adalah orang mungkar mengapa blog ini masih memakai riwayat-riwayat mereka untuk berhujjah?

    blog yang aneh tapi nyata.

    lho siapa yang berkata siapa yang anda tuduh, tolong diperhatikan baik-baik. sepertinya penganut salafy punya tabiat yang sama yaitu suka sekali menuduh. tidak bisa menahan diri untuk tidak menuduh orang lain ya. Aneh tapi nyata 🙂

  34. Maaf copas dari salafytobat

    abu salma, on February 18, 2009 at 3:27 am Said:

    perpecahan salafy (bingung sama salafy)

    ketika saya datang ke as sofwa di lenteng agung ( biara salafy turotsi), ustadz2 as sofwa bilang haram hukumnya bermajelis dan bertalim dengan salafy yamani.

    ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan ( biara salafy wahdah islamiyyah), pendeta2 salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.

    ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid hidyatusalihin poltangan pasarminggu ( gereja markas geng salafy sururi), ustad2nya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij anjing2 neraka yang menggunakan sistem marhala.

    ketika saya hadir di masjid fatahillah ( salah satu sinagog salafy yamani), rabi-rabi salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.

    Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat ( salafy turotsi)itu ustad otodidak yang pakar hadas ( najis) bukan pakar hadis

    Muhamad Umar As Seweed ( salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as seweed bikin buku dengan judul ” pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh

    Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi.oragnisasi adalah hizbi.

    salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy2 primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.

    pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy. dan….ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.

    ironis sekali, salafy yang mengaku2 anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.

    ironis sekali, rabi-rabi salafy yang konon belajar jauh2 dan lama2 ke timur tengah, tapi ditataran basic yaitu akhlak, sangat bejat dan arogan.

    mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku2 tebal.

    yah…keledai ditengah tumpukan buku2 tebal tetap saja keledai.

    jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf.

    jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.

    jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.

    sudah terlalu lama firqoh salafy dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat islam, melukai ahlu sunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya2nya yang egomaniak. mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah azawajalla.

    gara2 cara dan tabiat orang salafylah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah

  35. @edi

    Imam Ali mambaiat Abubakar, kerana untuk menjaga Ukwuah Islamiah dari kemunkarannya sepeninggal Rasulullah saw. Makanya klo tokoh panutan anda (Abubakar dan Umar) tidak ingin dicela, tolong kutip hadits dari Rasulullah saw yg menyatakan mereka pantas sebagai pemimpin kaum Muslimin. Klo tidak mampu, nyata tapi aneh :mrgreen:

  36. Assalamualaikum Wr.Wb
    Telah terjadi suatu fenomena menarik, yaitu ratusan orang dalam waktu singkat berbondong bondong pindah dari aliran salafi wahabi ke mazhab AHLUL BAiT, adapu pemicunya adalah setelah mereka membaca website :
    https://syiahindonesia1.wordpress.com

    Web mengguncang dan menggemparkan tersebut memuat 7 buah artikel yaitu :

    1. Bukti Imamah Ali Yang Mengguncang Semesta ! Meruntuhkan Aswaja Sunni

    2. Guncang !!! Hadis Palsu Dalam Kitab Bukhari Terungkap !

    3. KAiDAH : HADiS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT ADALAH PALSU DENGAN SENDiRi NYA

    4. Nabi SAW bilang tidak semua sahabat adil.. Kok Ulama Aswaja membantahnya !!!

    5. 12 khulafaur rasyidin Syi’ah Dizalimi Rezim Umayyah – Abbasiyah Dan Kaitannya Dengan Kitab Hadis Bukhari Muslim

    6. SALAFi WAHABi MEMAKAi HADiS DHA’iF SYi’AH SEBAGAI BLACK CAMPAiGN

    7. Kesalahan Terfatal Aswaja Sunni Karena Membela Rezim Mu’awiyah

    Telah terjadi suatu fenomena menarik, yaitu ratusan orang dalam waktu singkat berbondong bondong pindah dari aliran salafi wahabi ke mazhab AHLUL BAiT, adapu pemicunya adalah setelah mereka membaca website :
    https://syiahindonesia1.wordpress.com

  37. Lalu bagaimana dengan beberapa hadits berikut :

    عن ‏ ‏أبي موسى ‏ ‏قال ‏
    ‏مرض رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فاشتد مرضه فقال ‏ ‏مروا ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فليصل بالناس فقالت ‏ ‏عائشة ‏ ‏يا رسول الله إن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏رجل رقيق متى يقم مقامك لا يستطع أن يصلي بالناس فقال مري ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فليصل بالناس فإنكن ‏ ‏صواحب ‏ ‏يوسف ‏ ‏قال فصلى بهم ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏حياة رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏

    Dari Abu Musa ra., ia berkata:
    Rasulullah saw. sakit dan semakin bertambah parah. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang yang berhati halus. Kalau ia menempati tempat baginda, ia tidak akan mampu mengimami salat Kaum muslimin. Beliau bersabda: Perintahkan Abu Bakar agar mengimami salat kaum muslimin. Kalian ini seperti teman-teman Yusuf (dalam berdebat). Abu Musa berkata: Kemudian Abu Bakar mengimami salat mereka ketika Rasulullah saw. masih hidup
    ( Kitab Shahih Muslim : 638)

    ‏ ‏عن ‏ ‏محمد بن جبير بن مطعم ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏
    ‏أن امرأة سألت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏شيئا فأمرها أن ترجع إليه فقالت يا رسول الله أرأيت إن جئت فلم أجدك قال أبي كأنها تعني الموت قال ‏ ‏فإن لم تجديني فأتي ‏ ‏أبا بكر ‏

    Dari Muhammad bin Jubair bin Muth`im dari ayahnya bahwa seorang wanita pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah saw. kemudian beliau menyuruh wanita itu supaya kembali lagi kepada beliau di lain waktu. Lalu wanita itu bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau kalau aku nanti datang dan tidak menjumpaimu. Bapakku berkata: Tampaknya wanita itu bermaksud kematian. Beliau bersabda: Jika kamu nanti tidak menjumpaiku, maka temuilah Abu Bakar
    ( Kitab Shahih Muslim : 4398 )

    عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏قالت ‏
    ‏قال لي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏في مرضه ‏ ‏ادعي لي ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏أباك وأخاك حتى أكتب كتابا فإني أخاف أن يتمنى متمن ويقول قائل أنا أولى ‏ ‏ويأبى الله والمؤمنون إلا ‏ ‏أبا بكر

    Dari Aisyah ra., ia berkata:
    Sewaktu Rasulullah saw. sakit, beliau berkata kepadaku: Tolong panggilkan Abu Bakar dan saudara lelakimu sehingga aku dapat menulis surat (wasiat). Sesungguhnya aku merasa khawatir terhadap orang yang ambisius yang mengatakan: Aku adalah orang yang lebih berhak sementara Allah dan orang-orang mukmin enggan kecuali Abu Bakar
    ( Kitab Shahih Muslim : 4399)

  38. @siti bahren,

    Ane sebenarnya ga mau nyebut2 soal syiah rafidhah disini, ntar disinggung lagi sama ts-nya kalo lagi ga bahas shiah 😛

    Tapi karena kamu udah bahas masalah shiah rafidhah, oke Ane masuk ke ranah ini.
    Ane harap inti jangan takiah lah. Mana bukti otentiknya banyak yg lari ke syiah ?
    Sebagai renungan sedikit aja lah, Ane masukan surat dari para ulama sepuh hadramaut kepada mengenai nasehat mereka untuk para shiah rafidhah agar kembali kejalan yang benar…

    بسم الله الرحمن الرحيم

    والعصر،ان الانسان لفى خسر،الاّ الذين ءامنوا وعملوا الصالحت،وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر.

    والمؤمنون والمؤمنت بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة

    ويطيعون الله ورسوله

    Dari para ulama dan tokoh tokoh Al Abi Alawi Al Husainiyyin di Tarim Hadramaut:

    1. Alhabib Abdulloh bin Muhammad bin Alwi Bin Syihabuddin.
    2. Alhabib Salim bin Abdulloh bin Umar Asy-Syatiri. Mudir Rubat Tarim Al Ilmi.
    3. Alhabib Ali Almasy’hur bin Muhammad bin Salim Bin Hafid, ibnu Asy_Syaih Abibakar bin Salim. Ketua Majlis Iftak, Mudir Darul Mustofa.
    4. Alhabib Hamid bin Muhammad bin Hamid Hamid Ba’alawi. Munsib Maqomal Imam Hamid bin Umar. Imam Masjid Ba’alawi.
    5. Alhabib Muhammad Sa’ad bin Alawi bin Umar Al Aidrus. Musyrif Tahfidhul Qur’an, Imam Masjid Asseggaf.
    6. Alhabib Husin bin Edrus bin Ahmad Aidid. Imam dan Khotib Masjid Maula Aidid.
    7. Alhabib Husin bin Abdul Qodir bin Muhammad Bilfagih.
    8. Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim Bin Hafid Ibnu Asy’syeh Abibakar Bin Salim. Amid Darul Mustofa.

    Kepada anak anak mereka dan saudara saudara mereka yang datang dari Indonesia untuk berziarah ke Wadi AlMaimun dan Salaf Ash Sholihin:

    1. Assayyid Muhammad bin Alwi bin Ahmad Bin Syeh Abubakar Bin Salim.
    2. Assayyid Ali Ridho’ bin Husin bin Abubakar Alhabsyi.
    3. Assayyid Hasan bin Ahmad Alaidrus.
    4. Assayyid Ibrahim Asseggaf.
    5. Assayyid Syafiq bin Segaf Asseggaf.
    6. Assayyid Suyuthi bin Abdurrahman Asy ‘Syatiri.
    7. Assayyid Hadun bin Muhammad Almuhdhor.

    Hususnya dan segenap anak mereka dan orang orang yang mengikuti jalan mereka di Indonesia dan seluruh penjuru pada umumnya.

    Assalamualaikum warohmatullohi Wabarokatuh, Waba’du.

    Dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai orang tua dan kerahmatan serta kasih sayang dan nasehat, maka kami tekankan kepada kalian untuk berpegang teguh kepada petunjuk dan thorigoh para Aslaf kalian Ash Sholihun, dari sesepuh sesepun kita dan ayah ayah kita serta ayah ayah mereka dan sesepuh sesepuh mereka. Generasi kegenerasi sampai kegenerasi para leluhur kita, seperti Al Imam Alhaddad dan yang setingkat dengannya, sampai ke Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Attos dan yang setingkat dengannya, sampai ke Asy’syeh Abubakar bin Salim, kemudian Al Imam Syihabuddin, kemudian Al Imam Al Aidrus dan Syeh Ali bin Abibakar, kemudian Al Imam Asseggaf dan orang orang yang setingkat mereka dan yang diatas mereka, sampai keguru besar Al Fagih Almugoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi Syaikhutthorigoh dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Imam Al Muhajir Ilalloh Ahmad bin Isa dan orang orang yang setingkat dengannya, sampai ke Sadatina Ash Shodig dan Albagir dan Zainal Abidin, sampai ke kedua cucu yang terhormat Al Hasan dan Al Husin dan ayah mereka Al Karror (Imam Ali ) serta ibu mereka Az Zahro, sampai ke Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam.

    Jalan mereka semuanya adalah keimanan dan ketaqwa’an, yang berdiri diatas Ilmu, Amal, Ikhlas, Alkhouf serta Warok. Dan sifat mereka adalah sayang hamba hamba Alloh serta sangka baik kepada mereka. Dan mempersatukan kekuatan Muslimin dan merukunkan antara hati mereka dan membersihkan diri dari caci dan maki dan sangka buruk, serta mencari kedudukan dan untuk mendapatkan keuntungan duniawi. Kemudian memfokuskan hati untuk cinta kepada Alloh dan Rosulnya serta para Nabinya, Malaikat, Sahabat, Tabi’in, Ahlul Bait dan Sholihin hususnya, serta semua orang yang mengucap La Ilaha Illalloh, dari zaman Adam sampai yaumul hisab pada umumnya.

    Dan Sunnah yang baik menyumber dan keluar dari rumah mereka, mereka adalah orang orang yang berpegang teguh dengannya dan mereka itulah Imam Imam Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian kami wasiatkan kepada kalian untuk mempelajari sejarah mereka dan ahlaq mereka serta managib dan sifat sifat mulia mereka, kemudian meniru dan mengikuti mereka. Maka pelajari dan kaji dengan baik apa yang ada di buku buku: Syarhul Ainiyyah, Ghuror Albaha’ Adh Dhowi, Albargoh Almasyigoh, Al Igdunnabawi Wafaidhul Asror dan serupa dengannya dari kitab kitab yang menghadapkan kalian kepada kenyataan dari jalan orang orang yang terhormat serta pengetahuan dan petunjuk mereka.

    Ketahuilah bahwa orang orang Islam sedang mengalami ujian Kristenisasi dan ajakan ajakan kepada aneka macam keburukan dan kemungkaran, serta meremehkan dan mengolok olok agama, dan fitnah adu domba dan perpecahan serta menyulut kebencian dan permusuhan dan kekacauan dan pengkeruhan pada benak dan hati. Dan dampaknya telah sampai kepada anak anak kita Al Abi Alawi. Maka berhati hatilah setiap orang dari kalian menjadi penyebab penguatan dan penyebaran fitnah dan ujian tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar.

    Ketahuilah bahwa apabila seseorang dari kami atau dari kalian mendapat kemuliaan dan kehormatan untuk bergabung pada kelompok atau golongan, maka kemuliaan dan kehormatan yang kami pilih adalah bergabung kepada Sanad yang bersambung kepada Rosululloh. Dan golongan inilah yang membawa bendera Da’wah Islamiyah dan kejujuran serta kesabaran dan tawadhuk dan ihlash. Bukan bergabung kepada salah satu pergerakan dan fron fron dan kelompok kelompok lain yang saat ini tersebar didunia yang bercampur dengan politik yang kotor dan kepentingan kepentingan yang jelek.

    Tidakkah kita dengan sungguh sungguh menghendaki untuk dikumpulkan di Mahsyar dalam salah satu kelompok pada hari kiamat, kecuali bersama mereka.

    فهم القوم الذين هدوا، وبفضل الله قد سعدوا ولغير الله ماقصدوا، ومع القران فى قرن

    Mereka adalah kaum yang mendapat hidayat, dan dengan karunia Alloh mereka bahagia.

    Mereka tidak menuju keselain Alloh, dan mereka selalu bersama Al Qur’an.

    رب فانفعنا ببركتهم، واهدنا الحسن بحرمتهم وأمتنا فى طريقتهم، ومعافاة من الفتن

    Tuhanku berilah manfaat kepada kami dengan barokah mereka, dan tunjukkan kepada kami kebajikan dengan berkat kehormatan mereka.

    Dan matikanlah kami dalam jalan mereka, serta selamatkanlah kami dari fitnah.

    وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه والتابعين.

    Ditulis pada hari Rabo tanggal 17 Robiul Akhir 1429 Hijriyah, bertepatan 23 April 2008 M.

    Semoga bisa menjadi bahan renungan.
    Oh ya, bagi para rafidhah mania, tolong kalo argument pake bukti yang valid lah, jangan amatiran takiahnya.
    Sukron 🙂

  39. @Muhibbin
    lho hadis-hadis yang anda bawakan membuktikan apa, mana hadis yang menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah pemimpin sepeninggal Nabi SAW. Aneh sekali nih, hadis di atas yang lafalnya jelas menunjukkan kepemimpinan sepeninggal Nabi SAW mau dibandingkan dengan hadis yang lafalnya tidak menunjukkan kepemimpinan sepeninggal Nabi SAW.

  40. Fodhol dibaca hadits kedua dan ketiga mas 🙂

  41. Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

    hadits yg dibawa SP cukup mengundang pertanyaan.

    Aku darinya maksudnya apa? 🙄

  42. @Muhibbin

    Okeeelah kalau begitu. Jadi kalau dibilang Abu Bakar sebagai perampas khalifah, itu adalah fitnah.

  43. Kalau ditanyakan kepada orang-2 Yahudi: “Siapa orang-2 yang TERBAIK di antara kalian?” Mereka menjawab: “Adalah orang-2 yg hidup bersama Nabi Musa A.S., beriman dan berjuang bersamanya.”
    Kalau ditanyakan kepada orang-2 Nasrani: “Siapa orang-2 yang TERBAIK di antara kalian?” Mereka menjawab: “Adalah orang-2 yg hidup bersama Nabi ‘Isa A.S., beriman dan berjuang bersamanya (yaitu Al Hawariyyun).”
    Tapi kalau ditanyakan kepada orang-2 Syi’ah: “Siapa orang-2 yang TERBURUK di antara kalian?” Mereka menjawab: “Adalah orang-2 yg hidup bersama Nabi Muhammad SAW., beriman dan berjuang bersamanya (yaitu para Sahabat Nabi SAW).”

  44. Ternyata penganut agama Syi’ah di Indonesia sudah sedemikian banyak, sesat & menyesatkan. Wallaahul musta’an.

  45. Saya ingin mengomentari berkenaan dengan Ajlah Al Kindi

    Yahya bin Sa’id al-Qattan menjarahnya dengan mengatakan ada sesuatu padanya serta dia tidak dapat membezakan antara al-Husin bin Ali dan Ali bin Hussain

    Ahmad bin Hanbal mengatakan dia meriwayatkan lebih dari satu mungkar hadith

    Abu Hatim mengatakan dia tidak kuat dan tidak boleh dipegang

    An-Nasaie mengatakan dia lemah dan mempunyai pandangan yang buruk
    Abu Daud dan Ibnu Sa’d mengatakan dia lemah dan al-Aqili mengatakan dia meriwayatkan secara keliru dari al-Sha’abi

    Ibnu Hibban mengatakan dia tidak tahu apa yang diperkatakan, dia mengatakan Abu Zubair sedangkan sepatutnya Abu Sufyan

    Al-Saji mengatakan dia lemah tapi saduq

    Abu Qasim dan al-Balkhi melemahkan beliau

    Bagaimana mungkin kesemua mereka ini hanya melemahkan beliau kerana tasayyu sedangkan an-Nasaie’ termasuk salah satu yang melemahkan beliau

    Sebahagian yang menstiqahkannya juga beranggapan dia lemah seperti Ya’kub bin Sufyan dan Yahya bin Mai’n yang mengatakan laysa bihi ba’as

  46. @Habib
    maaf penukilan anda itu mau mengatakan apa, apa anda mau menyatakan Ajlah itu dhaif, lantas mau dikemanakan pernyataan para ulama yang menta’dilkan Ajlah. Jarh dan ta’dil terhadap Ajlah sudah saya bahas di atas dan kesimpulannya dia seorang yang shaduq. Kalau anda mengharapkan perawi yang diterima hadisnya adalah perawi yang zero jarh-nya maka apa yang akan anda katakan terhadap perawi bukhari muslim yang sebagian besar perawinya ada saja ulama yang menjarah-nya. Perhatikan metode yang anda gunakan agar tidak berbalik menyerang anda sendiri. Dan satu lagi Ajlah tidak tafarrud meriwayatkan hadis di atas, hadis yang ia riwayatkan memiliki syahoid [silakan lihat di atas]. Salam

  47. Sp,

    Mereka yang menta’dilkannya telah melakukan kesilapan. Jarh mufassar lebih utama dari ta’dil mubham

    Majoriti perawi dalam Sahihain diterima tsiqat dimana ramai dikalangan ulama telah menta’dilkan mereka. Hanya kerana pandangan seorang dua tidak akan menjatuhkan ta’dil yang diberikan

    Tambahan, tidak boleh dibandingkan perawi Sahihain dengan perawi ini. Majoriti ulama melemahkannya

    Tambahan perawi ini tidak ditemui dalam hadith yang diriwaytkan oleh mereka yang tsiqaat.

    Syawahid tidak diterima kerana ia datang dari satu perawi yang majhul, syiah yang extrim dan hadith yang ma’lul. Tidak satupun diterima sebagai syawahid

  48. Diakui ataupun tidak…

    Dalam penilaian jarh atau ta’dilnya seorang perawi oleh ulama-ulama yang datang kemudian (setelah perawi tersebut), ada unsur subyektivitas di dalamnya. Apabila jika dalam riwayat tersebut mengandung unsur politis (misalnya keutamaan Imam Ali a.s. dalam masalah imamah/kepemimpinan).

    Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi yang lebih utuh, kita seyogyanyalah memperhatikan peristiwa sejarah pada masa lalu. JAS MERAH, demikianlah kata Bung Karno, yang maknanya jangan sekalipun melupakan sejarah.

    Salam,

    Abu Yusuf

  49. Diakui ataupun tidak…

    Dalam penilaian jarh atau ta’dilnya seorang perawi oleh ulama-ulama yang datang kemudian (setelah perawi tersebut), ada unsur subyektivitas di dalamnya. Apalagi jika dalam riwayat tersebut mengandung unsur politis (misalnya keutamaan Imam Ali a.s. dalam masalah imamah/kepemimpinan).

    Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi yang lebih utuh, kita seyogyanyalah memperhatikan peristiwa sejarah pada masa lalu. JAS MERAH, demikianlah kata Bung Karno, yang maknanya jangan sekalipun melupakan sejarah.

    Salam,

    Abu Yusuf

  50. @Abu Yusuf
    ya memang benar, termasuk perawi syiah yang suka membuat hadis palsu tentang keutamaan Ali.

    Salam,

    Abu Yucup

  51. Saya berpandangan Ja’afar bin Sulaiman dalam sanad hadith pertama tidak boleh digunakan sebagai hujah dalam hadith ini

    Dia adalah seorang rafidi

    Disebutkan dalam Tahzib at-Tahzib, dia membenci Abu Bakar dan Umar

    في تهذيب التهذيب قال الدوري كان جعفر إذا ذكر معاوية شتمه وإذا ذكر عليا قعد يبكي وقال ابن حبان في كتاب الثقات حدثنا الحسن بن سفيان حدثنا إسحاق بن أبي كامل
    حدثنا جرير بن يزيد بن هارون بين يدي أبيه قال بعثني أبي إلى جعفر فقلت بلغنا أنك تسب أبا بكر وعمر قال أما السب فلا ولكن البغض ما شئت فإذا هو رافضي الحمار

    Sahl bin Abu Khadweih juga menyatakan dia menbenci Abu Bakar dan Umar

    وقال إذنه حدثنا محمد بن مروان القرشي حدثنا أحمد بن سنان حدثني سهل بن أبي خدوية قال قلت لجعفر بن سليمان بلغني أنك تشتم أبا بكر وعمر فقال أما الشتم فلا ولكن البغض ما شئت

    Pengakuan dia sebagai rafidi juga disebutkan oleh Yazid bin Zurai’

    وقال أحمد بن المقدام كنا في مجلس يزيد بن زريع فقال من أتى جعفر بن سليمان وعبد الوارث فلا يقربني وكان عبد الوارث ينسب الى الاعتزال وجعفر ينسب الى الرفض

    Maka tak mungkin seorang rafidi dijadikan hujjah dalam hadith yang ada unsur syiah.

    Dalam Mizan al i’itidal fi Naqd al Rijal 2/136 disebutkan Yahya Bin Ma’in tidak menulis hadithnya dan menganggap dia lemah serta Ibn Sa’ad menanggap dia

    قال يحيى بن معين كان يحيى بن سعيد لا يكتب حديثه ويستضعفه
    وقال ابن سعد ثقة فيه ضعف وكان يتشيع

    وقال أحمد بن المقدام كنا في مجلس يزيد بن زريع فقال من أتى جعفر بن سليمان وعبد الوارث فلا يقربني وكان عبد الوارث ينسب الى الاعتزال وجعفر ينسب الى الرفض

    Walaupun menurut anda dia merupakan perawi al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Bukhari sendiri mengkritik beliau dalam ad-Dua’fa

    قال البخاري في الضعفاء له جعفر بن سليمان الحرشي ويعرف بالضبعي يخالف في بعض حديثه

    Pada pandangan saya, dia adalah tsiqah tapi dia termasuk dikalangan syiah yang ekstrim maka hadith ini melalui jalan periwayatan beliau tidak boleh diterima. Pernyataan anda bahawa dia adalah tasayyu’ perlu dinilai semula kerana bukti ia adalah rafidi lebih jelas berdasarkan pernyataan ulama

  52. @Fauzan

    Disebutkan dalam Tahzib at-Tahzib, dia membenci Abu Bakar dan Umar

    mas kalo membenci Abu Bakar & Umar hadisnya ditolak, lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan melaknat Ali bin Abi Thalib ra yang benyak bertaburan di kitab 6 khususnya Bukhari?

  53. @Fauzan

    Saya berpandangan Ja’afar bin Sulaiman dalam sanad hadith pertama tidak boleh digunakan sebagai hujah dalam hadith ini

    Pandangan anda mesti ditinjau kembali, Ja’far bin Sulaiman seorang yang tsiqat walaupun ia dikatakan tasyayyu’. Adapun tuduhan rafidhah itu tidaklah tsabit

    Disebutkan dalam Tahzib at-Tahzib, dia membenci Abu Bakar dan Umar

    في تهذيب التهذيب قال الدوري كان جعفر إذا ذكر معاوية شتمه وإذا ذكر عليا قعد يبكي وقال ابن حبان في كتاب الثقات حدثنا الحسن بن سفيان حدثنا إسحاق بن أبي كامل
    حدثنا جرير بن يزيد بن هارون بين يدي أبيه قال بعثني أبي إلى جعفر فقلت بلغنا أنك تسب أبا بكر وعمر قال أما السب فلا ولكن البغض ما شئت فإذا هو رافضي الحمار

    Riwayat di atas perlu ditinjau kembali karena di dalam sanadnya terdapat Jarir bin Yazid bin Harun seorang yang tidak dikenal kredibilitasnya.

    Sahl bin Abu Khadweih juga menyatakan dia menbenci Abu Bakar dan Umar

    وقال إذنه حدثنا محمد بن مروان القرشي حدثنا أحمد بن سنان حدثني سهل بن أبي خدوية قال قلت لجعفر بن سليمان بلغني أنك تشتم أبا بكر وعمر فقال أما الشتم فلا ولكن البغض ما شئت

    Pengakuan dia sebagai rafidi juga disebutkan oleh Yazid bin Zurai’

    وقال أحمد بن المقدام كنا في مجلس يزيد بن زريع فقال من أتى جعفر بن سليمان وعبد الوارث فلا يقربني وكان عبد الوارث ينسب الى الاعتزال وجعفر ينسب الى الرفض

    Maka tak mungkin seorang rafidi dijadikan hujjah dalam hadith yang ada unsur syiah.

    Kedua riwayat di atas juga perlu ditinjau kembali, karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Marwan Al Qurasyiy seorang yang tidak dikenal kredibilitasnya.

    Mengenai tuduhan membenci Abu Bakar dan Umar, ada baiknya anda membaca apa yang dikatakan Ibnu Adiy dan Dzahabi. Anehnya anda merujuk pada kitab At Tahdzib dan Al Mizan tetapi anda tidak membaca Ibnu Adi meriwayatkan dari Zakaria As Saji bahwa yang dibenci Ja’far adalah dua tetangganya yang bernama Abu Bakar dan Umar bukan Abu Bakar dan Umar yang sahabat Nabi. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Adz Dzahabi dalam Al Mizan karena Ja’far meriwayatkan hadis keutamaan Abu Bakar dan Umar. Silakan baca kutipan Ibnu Adiy [dalam At Tahdzib] berikut

    وقال بن عدي عن زكريا الساجي وأما الحكاية التي حكيت عنه فإنما عنى به جارين كانا له قد به تأذى بهما يكنى أحدهما أبا بكر ويسمى الآخر عمر فسئل عنهما فقال أما السب فلا ولكن بغضا يا لك ولم يعن به الشيخين

    Mengenai perkataan Ibnu Adi ini, Adz Dzahabi berkata dalam Al Mizan

    ما هذا ببعيد ، فإن جعفرا قد روى أحاديث من مناقب الشيخين رضى الله عنهما

    Dalam Mizan al i’itidal fi Naqd al Rijal 2/136 disebutkan Yahya Bin Ma’in tidak menulis hadithnya dan menganggap dia lemah serta Ibn Sa’ad menanggap dia

    قال يحيى بن معين كان يحيى بن سعيد لا يكتب حديثه ويستضعفه
    وقال ابن سعد ثقة فيه ضعف وكان يتشيع

    وقال أحمد بن المقدام كنا في مجلس يزيد بن زريع فقال من أتى جعفر بن سليمان وعبد الوارث فلا يقربني وكان عبد الوارث ينسب الى الاعتزال وجعفر ينسب الى الرفض

    Anda keliru, bahkan anda tidak membaca dengan baik tulisan arab yang anda kutip. Yang tidak menulis darinya adalah Yahya bin Sa’id, walaupun Ibnu Ma’in meriwayatkan Yahya bin Sa’id tidak menulis darinya, dalam pandangan Ibnu Ma’in sendiri Ja’far seorang yang tsiqat. Ibnu Sa’ad tidak mendhaifkannya justru menyatakan tsiqat tetapi ada kelemahan padanya. Ini adalah jarh yang ringan dan jika telah tsabit ta’dil ulama mu’tabar maka jarh harus dalam bentuk mufassar.

    Walaupun menurut anda dia merupakan perawi al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, al-Bukhari sendiri mengkritik beliau dalam ad-Dua’fa

    قال البخاري في الضعفاء له جعفر بن سليمان الحرشي ويعرف بالضبعي يخالف في بعض حديثه

    Benar sekali, tetapi kesimpulan akhir seorang perawi tidak hanya berdasarkan pada pendapat satu ulama. Dan Jarh yang dikatakan Bukhari adalah jarh yang ringan dan tidak menjatuhkan ke taraf dhaif

    Pada pandangan saya, dia adalah tsiqah tapi dia termasuk dikalangan syiah yang ekstrim maka hadith ini melalui jalan periwayatan beliau tidak boleh diterima. Pernyataan anda bahawa dia adalah tasayyu’ perlu dinilai semula kerana bukti ia adalah rafidi lebih jelas berdasarkan pernyataan ulama

    Anda harus mendefinisikan terlebih dahulu apa itu tasyayyu’, syiah ekstrim dan rafidhi, agar anda bisa memahami apa yang sedang anda bicarakan. Riwayat yang anda kutip sudah saya tanggapi dan silakan anda meninjau kembali pandangan anda.

  54. Salam,

    Hadith Wahab bin Hamzah tidak layak dijadikan shahid kerana Dukain tidak mendapat tautheeq ulama

  55. @Hakim

    Salam. Silakan anda buka Ulumul hadis atau kitab Takhrij hadis para ulama semisal Talkhis Al Habir Ibnu Hajar. Anda dapat melihat bahwa hadis dengan sanadnya terdapat kedudukan perawi seperti Dukain adalah hadis yang dapat dijadikan syawahid dan mutaba’ah.

  56. hadis tersebut cuma hasan sahaja. ia tidak sahih. lagi pula ia diriwayatkan oleh tasyayyu. coba anda berikan hadis yg serupa yg diriwayatkan oleh semua jalur sanadnya adalah ahlusunnah..hah! saya cabar deh

  57. @Hang Kara
    Hadis hasan juga jadi hujjah toh. ehem hadis-hadis di atas adalah hadis-hadis ahlus sunnah. Maaf sepertinya anda belum bisa membedakan antara Tasyayyu’ dan syiah rafidhah. Tasyayyu’ itu dibenarkan dalam hadis-hadis Ahlus sunnah. Lagipula sudah saya bilang kok di atas hadis Ibnu Abbas itu para perawinya bebas dari tasyayyu’, silakan dicek. Jadi tidak ada yang perlu ditunggu anda langsung cek saja hadis Ibnu Abbas di atas 🙂

  58. […] anda bisa lihat dalam tulisan saya yang ini. Itu adalah hadis shahih dari Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Walaupun sebenarnya saya […]

  59. […] Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ajlah Al Kindiy Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad hadis no 22908 dan sanadnya hasan]. […]

  60. Penunjukan Ali sebagai pemimpin adalah penunjukan Ilahiah bukan ala khilafah. Orang mau ngikut atau tidak bukan keharusan, Contohnya Nabi Isa meskipun banyak orang Yahudi yang menolak, beliau tetaplah pemimpin yang harus diikui dan ditaati. Karena Allah yang menetapkan. Bukan hasil diskusi, pemilihan atau kesepakatan manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: