Kemuliaan Rasulullah SAW Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.

Kemuliaan Rasulullah SAW  Baik Hidup Maupun Wafat ; Studi Kritis Hadis Tawassul.

Mayoritas Ahlussunnah menghalalkan tawassul tetapi terdapat sebagian kelompok yang katanya Ahlussunnah pula yaitu Salafy dan pengikutnya yang mengharamkan tawassul. Salafy atau yang lebih dikenal dengan Wahabi sangat mengecam yang namanya tawassul kepada Rasulullah SAW. Menurut salafy, tawassul datang ke kubur Nabi SAW dan meminta agar Rasulullah SAW mendoakan termasuk hal yang syirik.

Telah sampai kabar kepada saya bahwa diantara alasan mereka mengharamkan tawassul adalah karena Rasulullah SAW sudah wafat dan sudah tidak bisa mendoakan lagi. Dengan kata lain mereka berpandangan bahwa ketika Rasulullah SAW hidup maka bertawassul dengan meminta Beliau SAW untuk mendoakan itu dibolehkan tetapi setelah Beliau SAW wafat maka itu tidak diperbolehkan.

Pernyataan seperti ini jelas sekali kebatilannya karena terdapat dalil yang shahih dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Beliau SAW tetap bisa mendoakan kendati Beliau SAW sudah wafat. Hadis tersebut diriwayatkan Al Bazzar dalam Musnad Al Bazzar no 1925 atau Kasyf Al Astar Zawaid Musnad Al Bazzar 1/397 no 845

حدثنا يوسف بن موسى قال  نا عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد عن سفيان عن عبد الله بن السائب عن زاذان عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن لله ملائكة سياحين يبلغوني عن أمتي السلام وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم حياتي خير لكم تحدثون ونحدث لكم ووفاتي خير لكم تعرض علي أعمالكم فما رأيت من خير حمدت الله عليه وما رأيت من شراستغفرت الله لكم

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad dari Sufyan dari Abdullah bin Sa’ib dari Zadzan dari Abdullah dari Nabi SAW yang bersabda “Allah SWT memiliki malaikat yang berkeliling menyampaikan kepadaku salam dari umatku” dan Rasulullah SAW kemudian bersabda “Hidupku baik bagi kalian, kalian menyampaikan dariku dan akan ada yang disampaikan dari kalian. Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.

.

.

Kedudukan Hadis

Hadis ini adalah hadis yang shahih dan diriwayatkan oleh para perawi shahih sebagaimana yang telah ditegaskan oleh para ulama diantaranya Al Haitsami, Al Hafiz Al Iraqi dan Al Hafiz As Suyuthi.

Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 8/594 no 14250 juga menyebutkan hadis Abdullah bin Mas’ud ini dan berkata

رواه البزار ورجاله رجال الصحيح

Hadis riwayat Al Bazzar dan para perawinya adalah perawi shahih.

Al Hafiz Al Iraqi dalam Tharh Tatsrib Fi Syarh Taqrib 3/275 membawakan hadis ini dan berkata

وروى أبو بكر البزار في مسنده بإسناد جيد عن ابن مسعود رضي الله عنه

Diriwayatkan Abu Bakar Al Bazzar dalam Musnadnya dengan sanad yang jayyid(bagus) dari Ibnu Mas’ud radiallahuanh

Al Hafiz As Suyuthi dalam Khasa’is Kubra 2/281 menyatakan bahwa hadis ini shahih

وأخرج البزار بسند صحيح من حديث ابن مسعود مثله

Dikeluarkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang Shahih dari hadis Ibnu Mas’ud.

.

.

Kritik Salafy dan Jawabannya

Para pengikut salafiyun menyatakan bahwa hadis ini dhaif, kebanyakan mereka hanya mengulang pendapat Syaikh mereka Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadis Ad Dhaifah no 975. Syaikh Al Albani mengatakan bagian pertama hadis tersebut bahwa Malaikat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW adalah shahih dan diriwayatkan dengan berbagai jalan dari Sufyan dan ‘Amasy. Sedangkan bagian lainnya hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad sendiri. Oleh karena itu menurut Syaikh Albani tambahan itu syadz ditambah lagi Abdul Majid telah dibicarakan oleh sebagian ulama bahwa ia sering salah. Intinya Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis Ibnu Mas’ud oleh Abdul Majid itu khata’ (salah).

Pernyataan Syaikh Al Albani tersebut tidak seluruhnya benar. Memang bagian awal hadis tersebut telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Sufyan dan ‘Amasy yang dapat dilihat dalam Sunan Nasa’i 1/189, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 10/219-2210 hadis no 10528,10529 dan 10530, Mushannaf Abdurrazaq 2/215 no 3116. Sedangkan bagian akhir hadis tersebut yang memuat kata-kata Rasulullah SAW “hidupku baik untuk kalian” diriwayatkan oleh Abdul Majid dari Sufyan dari Abdullah bin Sa’ib dari Zadzan dari Ibnu Mas’ud. Selain itu tambahan ini juga diriwayatkan secara mursal oleh Bakr bin Abdullah Al Muzanni dengan jalan sanad yang tidak satupun memuat nama Abdul Majid yang artinya Abdul Majid tidak menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Oleh karena itu riwayat Abdul Majid lebih merupakan ziyadah tsiqah yang diterima dan bukanlah tambahan yang syadz.

.

.

Kredibilitas Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad

Dalam usahanya mendhaifkan hadis tersebut, Syaikh Al Albani menunjukkan kelemahan pada Abdul Majid yaitu bahwa ia sering salah dan telah dibicarakan oleh sebagian ulama. Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah perawi yang tsiqah, justru mereka yang membicarakannya itu telah keliru. Diantara mereka yang mengkritik Abdul Majid tidak ada satupun dari mereka menunjukkan alasan yang kuat .

Ulama Yang Menta’dil Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad

Dalam At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 6 no 724 disebutkan bahwa Abdul Majid adalah perawi hadis dalam Shahih Muslim. Hal ini berarti Imam Muslim memberikan predikat ta’dil kepadanya. Abdul Majid telah dinyatakan tsiqah oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Nasa’i dan Al Khalili.

قال أحمد ثقة وكان فيه غلو في الإرجاء

Ahmad berkata dia tsiqat dan berlebihan dalam Irja’

قال عبد الله بن أحمد بن حنبل عن بن معين ثقة ليس به بأس وقال الدوري عن بن معين ثقة

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat laisa bihi ba’sun” dan Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat’.

وقال الآجري عن أبي داود ثقة حدثنا عنه أحمد ويحيى بن معين قال يحيى كان عالما بابن جريج قال أبو داود وكان مرجئا داعية في الإرجاء

Al Ajuri berkata dari Abu Dawud “tsiqah, diceritakan kepada kami dari Ahmad dan Yahya bin Main , Yahya berkata “ia paling mengetahui tentang Ibnu Juraij”. Abu Dawud berkata “ia seorang Murjiah dan menyebarkan paham irja’

وقال النسائي ثقة وقال في موضع أخر ليس به بأس

An Nasa’i berkata “tsiqat” dan di saat yang lain ia berkata “tidak ada masalah”.

وقال الخليل ثقة لكنه أخطأ في أحاديث

Al Khalili berkata “tsiqat dan melakukan kesalahan dalam hadis”

Ibnu Syahin memasukkan Abdul Majid sebagai perawi tsiqah dalam kitabnya Tarikh Asma’ Ats Tsiqah no 978. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/612 memberikan predikat shaduq tetapi sering salah dan Adz Dzahabi dalam Mizan ‘Al Itidal no 5183 mengatakan bahwa dia seorang yang jujur dan penganut paham Murjiah.
.

.

Ulama Yang Menjarh Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad

Di antara mereka yang membicarakan Abdul Majid terdapat nama-nama Bukhari, Al Humaidi, Abu Hatim, Muhammad bin Yahya, Daruquthni, Abdurrazaq dan Ibnu Hibban. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan alasan yang kuat untuk mendhaifkan Abdul Majid. Dalam kitab At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 6 no 724 disebutkan

وقال البخاري كان يرى الإرجاء كان الحميدي يتكلم فيه

Bukhari berkata dia penganut paham irja’ dan Al Humaidi membicarakannya

وقال أبو حاتم ليس بالقوي يكتب حديثه وقال الدارقطني لا يحتج به يعتبر به

Abu Hatim berkata “tidak kuat dan dapat ditulis hadisnya” dan Daruquthni berkata “tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat dijadikan i’tibar atau pendukung”

وقال العقيلي ضعفه محمد بن يحيى وقال أبو أحمد الحاكم ليس بالمتين عندهم وقال بن سعد كان كثير الحديث مرجئا ضعيف

Al Uqaili berkata “Muhammad bin Yahya melemahkannya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat” dan Ibnu Saad berkata “banyak meriwayatkan hadis, Murjiah dan dhaif”.

وقال بن حبان كان يقلب الأخبار ويروي المناكير عن المشاهير فاستحق الترك

Ibnu Hibban berkata “dia sering membolak balik riwayat, meriwayatkan hadis-hadis munkar dari orang-orang terkenal oleh karena itu riwayatnya ditinggalkan”.

Kritikan Ibnu Hibban ini telah dinyatakan berlebihan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/612 ketika berkata tentang Abdul Majid

صدوق يخطئ وكان مرجئا أفرط بن حبان فقال متروك

Jujur tetapi sering salah, dia seorang murjiah. Ibnu Hibban berlebihan ketika mengatakan ia matruk.

.

.

Analisis Jarh Wat Ta’dil

Dalam ilmu hadis jika kita dihadapkan pada seorang perawi yang mendapat jarh dari sebagian ulama dan ta’dil oleh sebagian ulama lain maka hendaknya jarh tersebut bersifat mufassar atau dijelaskan karena jika tidak maka jarh tersebut tidak diterima dan perawi tersebut mendapat predikat ta’dil. Selain itu alasan jarh tersebut haruslah alasan yang tepat sebagai jarh bukan dicari-cari atau dikarenakan sentimen mahzab dan sebagainya sehingga perawi yang tertuduh tersebut memang layak untuk mendapat predikat cacat.

Setelah melihat berbagai jarh atau kritikan Ulama terhadap Abdul Majid maka kritikan tersebut dapat kita kelompokkan menjadi

  • Ulama yang mencacatkan Abdul Majid karena ia penganut paham Murjiah
  • Ulama yang mencacatkan Abdul Majid karena kesalahannya dalam hadis dan meriwayatkan hadis munkar
  • Ulama yang mencacatkan Abdul Majid tanpa menyebutkan alasan jarhnya.

.

Perawi Murjiah Yang Tsiqat

Pencacatan seorang perawi karena menganut paham Murjiah tidaklah dibenarkan dan sebenarnya sebagian mereka yang mencacat tersebut diam-diam mengakui akan hal ini. Misalnya saja Al Bukhari memasukkan nama Abdul  Majid ke dalam Dhuafa As Shaghir no 239 dan yang tertulis disana

عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد أبو عبد الحميد مولى الأزد كان يرى الإرجاء عن أبيه وكان الحميدي يتكلم فيه

Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad Abu Abdul Hamid mawla Al Azdi menganut paham irja’ dari ayahnya dan Al Humaidi membicarakannya.

Ini seolah-olah menunjukkan bahwa Bukhari menyatakan dhaif pada perawi yang Murjiah tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam kitab Dhu’afa tersebut no 24 Al Bukhari menuliskan

أيوب بن عائذ الطائي سمع الشعبي وقيس بن مسلم روى عنه بن عيينة كان يرى الإرجاء وهو صدوق

Ayub bin ‘Aidz Ath Tha’i mendengar dari Sya’bi dan Qais bin Muslim, meriwayatkan darinya Ibnu Uyainah, ia menganut paham irja’ dan ia shaduq (jujur)

Ayub bin ‘Aidz seorang perawi yang menganut paham irja’ tetap dikatakan sebagai shaduq atau jujur oleh Bukhari dan Ayub ini disebutkan dalam At Tahdzib jilid 1 no 746 bahwa beliau perawi Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i. Ayub juga telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i, Abu Dawud, Ali bin Madini dan Al Ajli. Oleh karena itu menganut paham Irja’ bukanlah suatu cacat yang mendhaifkan bahkan Bukhari sendiri dalam Shahihnya meriwayatkan hadis perawi yang menganut paham Irja’ seperti Ayub bin ‘Aidz.

Dengan kata lain tindakan Bukhari yang memasukkan nama Abdul Majid dalam kitabnya Adh Dhu’afa bukan karena ia meragukan kredibilitasnya tetapi karena paham Irja’ yang dianut Abdul Majid seperti halnya Bukhari memasukkan nama Ayub bin A’idz ke dalam kitabnya Adh Dhu’afa padahal diketahui Bukhari sendiri mengakui kredibilitas Ayub dengan meriwayatkan hadis Ayub dalam Shahihnya.

Bisa diperkirakan bahwa kebanyakan mereka yang menolak riwayat Abdul Majid atau mencacatnya adalah dikarenakan paham irja’ yang dianut oleh Abdul Majid. Ibnu Ady dalam Al Kamil 5/346 berkata tentang Abdul Majid

وعامة ما أنكر عليه الإرجاء

Dan kebanyakan mereka yang menolaknya adalah karena Irja’

Oleh karena itu mereka yang mencacatkan Abdul Majid tanpa menyebutkan alasannya bisa dimasukkan dalam kategori ini seperti Abu Hatim, Abu Ahmad Al Hakim, Al Humaidi, Ibnu Saad (ketika mencacat Abdul Majid, Ibnu Sa’ad menyebutkan paham Irja’ Abdul Majid) dan Daruquthni (dalam kitab Sunan Daruquthni 1/311 no 33, Daruquthni malah menyatakan tsiqat kepada Abdul Majid). Padahal telah diketahui bahwa pencacatan karena mahzab seperti Irja’ tidaklah diterima. Adz Dzahabi dalam Man Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq 1/124 no 220 berkata

عبد المجيد بن عبد العزيز بن أبي رواد المدني م على ثقة مرجى ء داعية غمزه ابن حبان

Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad Al Madani (perawi Muslim) seorang yang tsiqat. Dia seorang Murjiah yang menyebarkan pahamnya seperti yang diisyaratkan Ibnu Hibban.

Perhatikanlah, Adz Dzahabi kendati ia mengetahui bahwa Abdul Majid seorang Murjiah yang menyebarkan pahamnya, beliau tetap menyatakan Abdul Majid tsiqat, Ini berarti paham Irja’ sedikitpun tidak merusak kredibilitas Abdul Majid sebagai perawi hadis.

.

Analisis Kesalahan Abdul Majid

Selain Irja’, cacat yang lain yang disematkan kepada Abdul Majid adalah kesalahannya dalam meriwayatkan hadis sehingga terkesan ia meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan ulama lain sehingga hadisnya dinilai mungkar. Tuduhan seperti ini tidaklah benar. Kesalahan yang dilakukan Abdul Majid adalah kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun dan pada dasarnya kesalahan yang ia lakukan baru bertaraf dugaan bahwa ia salah. Abdul Majid pernah satu kali meriwayatkan hadis yang dinilai salah dan mungkar oleh para ahli hadis. Dalam At Tahdzib jilid 6 no 724 disebutkan

وقال الساجي روى عن مالك حديثا منكرا عن زيد بن أسلم عن عطاء بن يسار عن أبي سعيد الأعمال بالنيات وروى عن بن جريج أحاديث لم يتابع عليها

As Saji berkata “dia meriwayatkan hadis dari Malik yaitu hadis munkar dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abi Sa’id bahwa Amal tergantung niat.

Al Khalili dalam Al Irsyad 1/76 no 20 setelah menyatakan bahwa Abdul Majid tsiqah dan melakukan kesalahan dalam hadis, beliau mengutip hadis Malik di atas. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesalahan yang dimaksud Al Khalili itu adalah hadis Malik tersebut.

Mengapa Abdul Majid dinilai salah dalam meriwayatkan hadis tersebut?, Hadis tersebut pada matannya shahih dan diriwayatkan dengan jalan yang shahih dengan sanad dari Malik dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrahim Al Taimi dari Alqamah dari Umar RA. Hadis ini telah disebutkan oleh para huffaz dengan sanad seperti itu dari Malik tetapi Abdul Majid meriwayatkan dari Malik dengan sanad yang berbeda yaitu dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id RA. Oleh karena itulah Abdul Majid dinilai salah dan hadisnya dinyatakan mungkar karena menyelisihi para perawi lain. Padahal hadis Abdul Majid dan yang lainnya memiliki matan yang sama hanya saja sanadnya berbeda.

Seandainya ini disebut sebagai kesalahan maka kesalahan ini hanya bersifat dugaan semata karena siapa yang bisa memastikan bahwa hadis Malik dari Abdul Majid itu bermasalah. Bukankah masih ada kemungkinan bahwa Abdul Majid memang meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad demikian?. Taruhlah itu sebagai kesalahan lantas apakah tepat menjadikan satu kesalahan ini sebagai cacat Abdul Majid sehingga jika ia meriwayatkan hadis lain maka hadisnya mesti diragukan. Tentu saja tidak karena kesalahan seperti itu adalah kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun atau perawi tsiqah manapun.

Semua penjelasan di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah seorang yang tsiqah, sedangkan cacat yang ditujukan kepadanya oleh sebagain orang tidaklah merusak hadis yang ia riwayatkan walaupun ia meriwayatkan secara tafarrud. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir Taqrir At Tahdzib no 4160 menyatakan Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad tsiqah, mereka berkata

Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad

Ia adalah seorang yang tsiqah, kesalahan dalam hadisnya adalah sebagaimana orang lain juga bisa salah dan ia orang yang paling tsabit mengenai riwayat Ibnu Juraij. Dan ia dikecam  orang-orang karena menganut paham Irja’ dan mereka mendhaifkannya karena sebab itu. Ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Main, Abu Dawud, Nasa’i dan Al Khalili. Ibnu Ady berkata “kebanyakan mereka yang menolaknya karena paham Irja’ yang dianutnya”.

.

.

Hadis Bakr bin Abdullah Al Muzanni

Hadis di atas ternyata tidak hanya diriwayatkan oleh Abdul Majid. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Bakr bin Abdullah Al Muzanni dengan sanad yang shahih sampai ke Bakr bin Abdullah. Qadhi Ismail bin Ishaq dalam kitab Fadhail Shalatu Ala Nabi no 25 dan no 26 meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad

حدثنا سليمان بن حرب ، قال : ثنا حماد بن زيد ، قال : ثنا غالب القطان ، عن بكر بن عبد الله المزني : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghalib al Qattan dari Bakr bin Abdullah Al Muzani bahwa Rasulullah SAW bersabda

حدثنا الحجاج بن المنهال ، قال ثنا حماد بن سلمة ، عن كثير أبي الفضل ، عن بكر بن عبد الله : أن رسول الله

صلى الله عليه وسلم قال

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Katsir Abi Thufail dari Bakr bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda


Syaikh Al Albani dalam tahqiqnya terhadap kitab Fadhail Shalatu Ala Nabi no 25 mengatakan “isnadnya mursal shahih”. Begitu pula ketika mengomentari hadis no 26 “Para perawinya adalah perawi Muslim kecuali Katsir bin Abi Thufail”. Katsir Abi Thufail atau Katsir bin Yasar disebutkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir jilid 7 no 928 tanpa menyebutkan cacatnya. Dalam Lisan Al Mizan jilid 4 no 1535, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia dikenal dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Hal ini cukup untuk menyatakan ia orang yang terpercaya.

Kemudian disebutkan pula oleh Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/194

أخبرنا يونس بن محمد المؤدب أخبرنا حماد بن زيد عن غالب عن بكر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Muhammad Al Mu’addib yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ghalib dari Bakr bin Abdullah yang berkata Rasulullah SAW bersabda

Hadis Bakr bin Abdullah Al Muzani adalah hadis mursal karena beliau adalah seorang tabiin yang dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i,Abu Zar’ah, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ajli, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib jilid 1 no 889. Hadis Bakr bin Abdullah merupakan petunjuk bahwa Abdul Majid tidak menyendiri ketika meriwayatkan hadis ini. Lihatlah sanad-sanad hadis Bakr bin Abdullah tidak ada satupun yang memuat nama Abdul Majid.

.
.

Kesimpulan

Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan yang cukup panjang ini, yaitu

  1. Hadis tersebut sanadnya Shahih
  2. Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah perawi tsiqah
  3. Abdul Majid tidak menyendiri ketika meriwayatkan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan pula secara mursal oleh Bakr bin Abdullah.

Salam damai

.

.

Catatan :

  • Tulisan ini terinspirasi oleh diskusi dengan saudara firstprince dan kasmir’s knight
  • Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan kemudahan untuk belajar hidup dengan normal, memangnya selama ini gak normal :mrgreen:
  • Kepada seseorang yang berinisial SK, yah saya doakan semoga yang kau lakukan benar-benar kau pikirkan dengan baik :(


About these ads

78 Tanggapan

  1. Sepertinya kelompok yg satu ini tersesak nafas dgn artikel seperti ini…kerna merobohkan tembok ‘syirik’ yg mereka bangunkan selama ini

    Benar kata al Quran, ‘Telah datang yang hak dan telah hapus yang bathil, sesungguhnya yang bathil itu pasti hapus’

    Salam Damai

  2. bravoooooo……
    salam sapa j ………………… he he he lama tidak melihat ketiga syekh bertatap muka …
    peace…… ;0

  3. Klo Tawassul dengan Nabi Muhammad yang saat itu belum di ciptakan gimana yah, apakah bidah juga ?

    salam,

  4. Ustadz…
    (mau terima apa kagak pokonye ane panggil ajah…hihiii)

    artikelnya ane kutip yah…
    Habis bagus dan menarik

    thanks atas izinnya
    (yg ini asli fait accomply)…

  5. @para anti Tawassul

    Bagaimana dengan ayat2 ini:

    At-Taubah 99:

    Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Al-Ahzab 56:

    Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

    Apakah semua ayat ini berhenti ketika Rasulullah telah wafat?

    Dan ini:
    Ali Imran 169:

    Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.

    Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “ barang siapa yang melihatku diwaktu tidur maka sungguh melihatku, barang siapa melihatku disaat tidur maka sungguh-sungguh melihatku, sesengguhnya setan tidak bisa menyerupaiku ‘.

    Koq saya pesimis yaa?. Seberapa banyakpun dalil diajukan tetap akan tidak merubah keyakinan. Saya jadi teringat ungkapan yang jitu untuk itu:

    Ada ribuan dalil bagi seorang atheis untuk membuktikan Tuhan tidak ada, begitu pula ada ribuan dalil bagi yang mempercayai-Nya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

    Wassalam

  6. Mr. Troll coming.. wuakakakak

    1. Hadis tersebut sanadnya Shahih

    Maaf SP, anda suka terlalu terburu-buru menilai

    Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad adalah perawi tsiqah

    Ketsiqahan rawi tidaklah cukup, apalagi jika ternyata si rawi dijarh melakukan kesalahan dalam meriwayatkan, apalagi pernah (walopun ktnya br 1 kali) meriwayatkan hadits mungkar, siapa tau yg ini juga iya toh? Yg menjarh dia itu bukan ulama sembarangan lho…

    Abdul Majid tidak menyendiri ketika meriwayatkan hadis ini karena hadis ini telah diriwayatkan pula secara mursal oleh Bakr bin Abdullah.

    Wah sayang sekali penguatnya adalah hadits mursal, Walaupun dia tabi’in tsiqah, kalo mursal, kyknya mesthi dipertimbangkan dulu dech…

    Kesimpulan : Analisis anda untuk hadits di atas lemah & terlalu dipaksakan… maaf yah.. :(

  7. Mr. Pengung pindah tempat… :mrgreen:

  8. @SP
    Saya pernah baca dalam suatu blog yang membeberkan ucapan2 Ibn Taimiyah, Nasarudin Albani dan Ben Baz, kalau tidak salah di Jakfari. Salah satu point yang dibicarakan soal Allah berjisim. Duduk di Arsy betul2 duduk, turun kebumi benar2 turun seperti saya turun dari mimbar (ucapan Ibn Taimyah). Jadi kalau bertawasul harus kepada yang berjisim. Orang yang sudah Mati jasadnya sudah hancur jadi tidak perlu bertawasul kepada mereka.
    Para salafy menganggap roh dan jiwa tidak ada lagi sesudah mati. Seperti jiwa ayam. Mana mungkin bertawasul pada sesuatu yang sudah tidak ada . Wasalam

  9. KRITIK HADIST ”DOA RASULULLAH UNTUK AMPUNAN IBUNYA TIDAK DIKABULKAN ALLAH”
    (Kritik Rasul Lupa Ayat Al-Quran ada ditema ‘kedudukan shahis Bukhari..’ – dan ini membuktikan bahwa semua hadist harus dapat dicek apakah senafas dengan Al-Quran meskipun masuk kategori shahih)

    Materi ini sebagai kelanjutan dari kritik hadist dengan Al-quran sebagai pedomannya. tujuan dari pembahasan ini adalah agar seluruh ummat Islam dapat memilah sunnah-sunnah yang bisa dijadikan sandaran hukum sehingga tidak menjerumuskan ummat pada kekeliruan yang resikonya amat sangat membahayakan diri dan orang lain.

    Oleh karena itu kita perlu menelaah sunnah-sunnah yang selama ini beradar di masyarakat Islam dan sudah diyakini sebagai sesuatu yang hak karena diriwayatkan dengan sanad hadits yang oleh sebahagian besar ulama hadits sebagai hadits “sahih”, namun setelah ditelaah isi atau redaksi hadits tersebut banyak yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an.

    Mengapa harus Al-Qur’an sebagai standarisasi…? Karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena segala ucapan, perbuatan dan diamnya Rasulullah SAWW adalah wahyu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah.

    QS. 53 (An-Najm): 3 – 4
    Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

    Dengan tegas dan jelas Allah menyatakan melalui firman-Nya bahwa apa yang diucapkan, apa yang diperbuat serta diamnya Al-Musthofa Rasulullah SAWW bukanlah mengikuti hawa nafsu yang dipengaruhi oleh syetan, akan tetapi senantiasa didasarkan pada “Wahyu” yang disampaikan kepada Beliau.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawuud, Ahmad dan lain-lain dijelaskan sebagai berikut:

    UKTUB.! FAWALLADZII NAFSII BIYADIHI MAA KHOROJA MINNI ILLA HAQQUN.
    Artinya: Tulislah ! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya! Tidak keluar dariku melainkan kebenaran.

    Oleh karena itu kita perlu memeriksa kebenaran suatu hadits. Kita tidak menyangsikan bahwa apa yang keluar dari diri pribadi Rasulullah SAWW adalah kebenaran yang dapat dibuktikan. Dan sebagai alat pembuktinya adalah Kitab suci Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah Akhlaq Rasulullah SAWW, karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena Rasulullah SAWW adalah Al-Qur’an yang berjalan.

    Tatkala sesorang menerima dan mengimani hadits-hadits yang tidak senafas dengan Al-Qur’an maka secara sadar atau tidak, sengaja atau tidak maka orang tersebut telah melakukan hal yang teramat membahayakan dirinya dan orang lain, hal yang dimaksud adalah:

    1. Menghina, memfitnah dan merendahkan Allah.
    2. Menghina, memfitnah dan merendahkan Rasulullah SAWW.
    3. Menghina, memfitnah Malaikat Allah.
    4. Menghina dan merendahkan kebenaran Kitab Suci Al-Qur’an.

    Jika sudah demikian maka Allah tidak akan meridhoi dan Rasulullah SAWW tidak akan memberikan syafa’atnya. Dan sekalian malaikat serta orang-orang yang mencintai Allah dan Rasulullah SAWW akan melaknat mereka.” Na’udzu billahi min dzalik”

    Pada materi ini kita akan menelaah sebuah hadits yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH MUSLIM,” Cetakan Ketiga 1993, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid II bab ’JENAZAH’, Hadits no. 924 riwayat Abu Hurairah ra. hadits tersebut mengkisahkan perihal Bahwa doa rasulullah tidak dikabulkan Allah. Yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
    ”dari Abu Hurairah ra, katanya: ”Pada suatu ketika, rasulullah saw, ziarah ke kubur ibunya, lalu beliau menangis, maka menangis pulalah orang seekelilingnya. Kemudian beliau bersabda:”Aku mohon izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi tidak diperkenankan-Nya. Kemudian kumohon izin untuk menziarahi kuburnya, maka diperkenankan-Nya bagiku. Karena itu pergilah kalian ke kuburan. Karena hal itu akan mengingatkan kalian kepada maut.”

    kajian
    pertama
    hadist ini tentunya sangat mengagetkan dan membuat kita sangat sedih, karena hadist ini telah menfitnah Rasulullah dan menfitnah Allah dengan sangat dahsyat sekali, subhanallah…
    bagaimana mungkin seorang rasulullah atau habibullah doanya tidak dikabulkan oleh Allah? Sedangkan kita memohon senantiasa disuruh memohon syafaat dan pertolongan Rasulullah setiap saat. Bagaimana mungkin Allah yang sangat memuji kepribadian Rasulullah begitu tega menolak permintaan Habibullah? Bukankah Ibunda Rasulullah seorang wanita yang BAIK? Bukankah Ibunda rasulullah sangat mencintai anaknya? Pernahkah ibunda rasulullah berbuat tidak sepantasnya kepada Rasulullah?, subhanallah…sungguh kejam sekali orang-orang yang mau mempercayai hadist ini. Dan kemanakah iman mereka kepada Allah dan rasulullah jika secara sadar dan tidak sadar kita mempercayai hadist fitnah kubro ini?. Marilah kita kaji hadist ini dengan berlandaskan Al-Quran dan sunnah yang senafas dengan Al-Quran
    firman Allah dalam Al-Qur’an surat 2 (Al-Baqara): 2
    “Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”,

    Kedua
    Marilah kita kaji dan teliti kedudukan baginda Rasulullah didalam al-quran, sampai seberapa tingginya Rasulullah dipuja oleh Allah bahkan sebelum Baginda rasulululah di turunkan kemuka bumi,
    a) Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengam-bil janji setia dari kaumnya untuk melaku-kan hal yang sama. QS. Al-Imran/3:81: Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Mu-hammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kali-an benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah ka-lian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.”
    b) kabar gembira tentang kedatangan Muhammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para peng-anut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146).

    QS.2:146. ”Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang Telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui.”
    Dari ayat-ayat diatas jelaslah bagi kita untuk mengetahui bahwa yang akan diutus melalui rahimnya siti Aminah (ibunda Rasulullah) adalah seorang yang sangat luar biasa kedudukannya dihadapan Allah.
    Wahai para pencinta Allah dan Rasulullah, kemanakah iman anda dengan mengimani hadist tersebut?? Bukalah mata hati dan pikiran sehat anda!!!

    Ketiga
    Lantas bagaimana keistimewaan rasulullah dalam hal pemberi risalah, dan pembawa amanah? Bagaimanakah istimewanya rasullulah diberlakukan oleh Allah?, Allah berfirman, Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93/Ad-dhuha:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenang-kan hati Nabi saw. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah wewenang memberi syafaat kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pe-ngabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umat-nya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.
    Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengam-pun dan Maha Pengasih (QS. 4/An-Nisa:64).
    Sungguh ayat terakhir ini adalah suatu pembuktian kebenaran dan keutamaan Rasullah, bahwasanya kita disuruh bertawasul melalui baginda Rasulullah dalam setiap doa kita, bagaimana mungkin Allah dapat mengecewakan KekasihNya, sedangkan kita diperintahkan untuk berdoa kepada Allah melalui wasilah Baginda Rasulullah. Subhanallah…

    Bahkan baginda rasulullah, dapat atas IZIN Allah mensucikan jiwa kita
    ”Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad saw) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan MENYUCIKAN mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana” (QS. 2/Al-Baqarah:129).
    Dan diayat lain, baginda rasulullah dapat melepaskan beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka, beban – beban dan belenggu umatnya yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia,
    QS.7 (AL-A’RAAF): 157:
    (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

    Wahai para pencinta Allah dan Rasulullah, kemanakah iman anda dengan mengimani hadist tersebut?? Bukalah mata hati dan pikiran sehat anda!!!

    Keemapat
    Demikianlah keterangan dari Al-quran yang dapat kita kaji bahwa hadist tersebut tidak senafas dan Al-quran. Jangnlah kita termasuk orang-orang yang selalu menfitnah Allah dan Rasulullah, sungguh ancaman bagi yang selalu memojokan rasulullah adalah sangat berat.
    Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33/Al-Ahzab:57).

    Kesimpulannya, kitab hadits “SHAHIH MUSLIM,” Cetakan Ketiga 1993, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid II bab ’JENAZAH’, Hadits no. 924 riwayat Abu Hurairah ra. hadits tersebut mengkisahkan perihal Bahwa doa rasulullah tidak dikabulkan Allah. adalah SANGAT BERTENTANGAN DENGAN AL-QURAN, SEHINGGA HADIST INI TELAH MENGHINA, MEMFITNAH DAN MENYESATKAN UMMAT ISLAM.

    Allahumma shali ala muhammad wa ala aly muhammad

  10. Allah SWT mencintai baginda rasul, baginda rasul mencintai keluarganya, orang tuanya dan jg pamannya Abu Thalib. Apakah mungkin Allah SWT membenci apa yg dicintai oleh baginda Rasul ? K’lo kita mencintai seseorg, kita pasti akan mencintai apa yg dia cintai dan apa yg dia miliki. “Engkau bersama dgn yg engkau cintai.” ( Hayat Al Shahabah 2:252, Bihar Al Anwar 17:561, Al Syifa 2:25).

  11. Keliatannya mengenai ketidakbolehan tawassul kepada mayit ini para wahabiers mengalami kesulitan dan kebingungan karena logika-logika mereka melarang tawassul ternyata menjadi berantakan oleh logika-logika sederhana yang mempertanyakan mengapa boleh bertawassul kepada yang hidup namun tdk untuk yang mati?
    Jawabannya kalau kita perhatikan (juga pada diskusi-diskusi di tempat lain) selalu mendua dan berbolak-balik antara karena tidak memberi faedah dan syirik. Sementara mereka tidak menyadari bahwa keduanya memiliki nilai dan makna yang berbeda.
    Saya tdk heran jika mereka hanya akan bolak-balik mempertanyakan keshahihan hadits, ketsiqahan perawi dan semua yang berkaitan dgn periwayatannya dan enggan (baca: tdk berani) untuk membicarakan subtansi tawassul itu sendiri serta ketidakmasuk-akalan pelarangannya.

    @Wahabiers
    Jika saya keliru, tolong koreksi

    Salam

  12. Lafadz yang bagaimana dari Hadits tersebut yang membolehkan atau menganjurkan Tawasul kepada Rasulullah?

  13. @abdul
    he he he kalau begitu lafadz hadis mana yang mengharamkan tawassul, sini bawa hadis-hadis yang dipakai wahabi untuk mengharamkan tawassul, sangat tidak ada :lol:

  14. mas abdul yg baik, apa sih yg dimaksud tawassul? Kita pertama harus memahami apa yg dimaksud tawassul, kalau sdh faham maknanya baru kita mengetahui banyak sekali hadits2 yg meriwayatkan para sahabat (tokoh salaf sholeh) bertawassul pada Rasulallah saw. atau pada antara para sahabat sendiri. Jadi fahami dahulu apa makna tawassul? mas Abdul kalau hobby membaca dan ingin tahu silahkan buka website http://www.abusalafy.wordpress.com ttg. tawassul atau buka http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab Tawassul/istighotsah dan Tabarruk, insya Allah anda akan memahaminya. Semoga kita semua diberi taufiq dan hidayah oleh Allah swt. amin

  15. @dede, kalau kamu ada di depanku, udah ku tendang kamu. Aku ga’ tahu malah di ketawain.
    @Salmah, Trimakasìh atas infonya, Ternyata yang di maksud wahabi tu salafy ya. Maklum orang kampung, jd ga’ tau deh, dikampung ku tu gak ada wahabi atau apa, yang ada cuma NU dan damai-damai aja, setelah merantau kok islam jd banyak.
    @ Admin, maaf kalau komenya ga’ nyambung ama artikelnya.
    @Semua pengunjung, Tolong do’akan aku semoga Allah Memberikan kebaikan di dunia dan Akhirat. Amiin.

  16. Wah panjang banget, belum sempat kubaca baik2 masalah perawinya..

    “…Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”
    Ada dua interpretasi :
    1. Rasulullah selalu “Online” melihat perbuatan pengikutnya. Rasulullah seolah2 bertindak sebagai Maha Tahu akan perbuatan pengikutnya yang baik dan buruk shg beliau akan memuji Allah bila perbuatan pengikutnya itu baik dan meminta ampun kepada Allah bila perbuatan pengikutnya buruk. Kalo model begini maka Bertawassul adalah hal yang syah krn Rasullullah mendengar/mengetahui.

    2. Perbuatan2 tsb diperlihatkan kepada Rasulullah nanti dihari kiamat. Rasulullah akan menjadi saksi akan perbuatan umatnya di hari pengadilan.

    Menurut saya yang kedua lebih tepat…

    Al-Ahzab 56:
    Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya
    –>
    Memang benar ketika kita bershalawat kepada Rasulullah SAW, akan ada malaikat khusus yang mengantarkan salam kita kepada Rasulullah… namun, hal ini tidak berlaku untuk tawassul tidak krn tidak ada hadis shahih yang mengatakan bahwa permintaan kita kepada Rasulllah yang telah meninggal akan sampai kepada Beliau … ucapan tawassul berbeda dengan ucapan shalawat.

    Ali Imran 169:
    Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
    –> tidak ada yang mati, ruh itu abadi. Ruh orang beriman dekat dengan Tuhan, mendapat kasih sayangNya dan mendapat rezki.. Tapi bukan berarti para syahid itu dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup.. alamnya sudah beda..

    Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “ barang siapa yang melihatku diwaktu tidur maka sungguh melihatku, barang siapa melihatku disaat tidur maka sungguh-sungguh melihatku, sesengguhnya setan tidak bisa menyerupaiku ‘.
    –> tidak menjadi dalil bahwa Rasulullah itu “Online” / Maha Tahu akan perbuatan umatnya.

  17. @Ja’far

    Bingung mau tanggapin karena terlalu banyak penafsiran yang ga jelas dan kurang bertanggungjawab. Sy ga tau apakah ini menurut mas sendiri ataukah mas menukil dari ucapan-ucapan ulama mas?

    (1)

    Rasulullah selalu “Online” melihat perbuatan pengikutnya. Rasulullah seolah2 bertindak sebagai Maha Tahu akan perbuatan pengikutnya yang baik dan buruk shg beliau akan memuji Allah bila perbuatan pengikutnya itu baik dan meminta ampun kepada Allah bila perbuatan pengikutnya buruk. Kalo model begini maka Bertawassul adalah hal yang syah krn Rasullullah mendengar/mengetahui.

    Apa yg mas maksud dengan Maha Tahu? Apakah sekedar pujian ketinggian pengetahuan Nabi saw atau sudah setara dengan sifat Maha Tahu Allah SWT yang bersifat mandiri? Apakah ketinggian pengetahuan Nabi saw ini yang menyebabkan mas menolak kebolehan / kemungkinan tawassul?

    Perbuatan2 tsb diperlihatkan kepada Rasulullah nanti dihari kiamat. Rasulullah akan menjadi saksi akan perbuatan umatnya di hari pengadilan.

    Sy coba mencari-cari apa makna dan maksud penafsiran ini. Tapi sungguh sy msh tdk faham :roll: Mengapa sampai ke penafsiran ini?

    Apa yg mas simpulkan bahwa penafsiran kedualah yang mas anggap tepat benar-benar menambah kebingungan saya.

    (2) Mengapa shalawat bisa sampai sementara tawassul tidak?

    (3)

    Tapi bukan berarti para syahid itu dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup.. alamnya sudah beda..

    Mengapa? Kenapa dengan alam yang berbeda? Yang bertanggungjawab sedikit dong, wahai Ja’far!

    Ada setidak-tidaknya satu informasi yg belum mas masukkan mengenai kemungkinan mampunya bertawassul kepada Nabi saw. Yakni bukankah setiap shalat kita selalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan orang-orang shalih? Sementara diwajibkan bagi mereka-mereka yang mendapat salam untuk menjawab kembali? Nah, komunikasi dua arah sudah terbuka dan memungkinkan antara mereka yg sdh wafat dengan yg masih hidup. Lantas mengapa tawassul tidak mungkin?

    Pertanyaan terakhir bagi mas dan mereka yg menentang tawassul: Dihukumi apa mereka yg bertawassul dari penafsiran mas di atas? Syirik? Haram? Sia-sia?
    Penting!

    Harapan (kosong) sy kita akan fokus dan konsisten.

    Salam

  18. @Ja’far
    Saya ingin tanya anda apakah ayat2 yang anda panerkan disini berlaku hanya waktu Rasulullah SAWW masih hidup?
    Kemudian anda membawa ayat 56 Surah Al-Azhab.
    Dimana anda menafsirkan Shalli sebagai salam. Anda mengerti nda asal kata SHALLI .? Jangan seenaknya ngomong dong pikir dulu baru berbicara. Anda sangak Rasul butuh salam yang anda maksudkan. Rasul tidak meminta upah atas jasa2nya yang telah melepaskan umat dari kegelapan menuju ke terang. Wasalam.

  19. @Ja’far

    At-Taubah 99:

    Di antara orang-orang Arab itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh Shalawat (doa) Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Bagaimana dengan ayat ini? Apakah setelah Rasul meninggal maka janji Allah bhw kita akan mendapat shalawat Rasul tidak lagi berlaku?

    Mohon pejelasannya.

    Wassalam.

  20. Saya bukanlah seorang ustadz ataupun seorang yang sgt paham agama, tahu mendetil hadis2, tafsir qur’an, dsb.. saya sangatlah jauh dari yang seperti itu.. Disini saya hanyalah menyumbangkan buah pikir saya.. bukan untuk menantang !!!!

    @ Armand
    Saya pilih yang kedua sebab :

    “Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…. (QS al-Baqarah [2]: 143).

    “Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS an-Nisa’ [4]: 41).

    Menurut sebagian besar mufassir, kesaksian itu akan diberikan kepada Allah Swt kelak di akhirat (Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma‘ânî at-Tanzîl, vol. 1(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 87; as-Suyuthi, Op. cit., 265; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 1, 404; asy-Syaukani, Op. cit., 189; al-Qinuji, Op. cit., 300; asy-Syatqithi, Adhwâ’ al-Bayân, 45.)

  21. @abu rahat
    saya tahu shalawat (do’a)..
    kalo ucapan shawalat misalnya Allahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘ala ‘ali muhammad.. intinya kita mendo’akan nabi. yang pada akhirnya juga akan memberi keberkahan bagi yang mengucapkan shawalat tsb.

    Kalo tawassul kepada Rasulullah setahu saya meminta kepada Rasulullah misalnya
    “Wahai Abul Qosim, Wahai Rasulullah, Wahai Imam pembawa rahmat, wahai junjungan kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawassul denganmu kepada Allah serta mengajukan seluruh keperluan kami. Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah..” (Sumber tawassul ini : Do’a kumayl, thaif, keselamatan, tawassul, ziaran. Penerbit: Yayasan Fatimah, jakarta).

    Dapat diambil kesimpulan kalo shalawat meminta kepada Allah agar memberi keberkahan kapada Nabi SAW sedangkan tawassul meminta kepada Nabi SAW..

  22. @ Truthseeker08

    At-Taubah 99:
    Di antara orang-orang Arab itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh Shalawat (doa) Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    –> nah kan sudah jelas menurut ayat tsb bahwa dengan menafkahkan sesuatu dijalan Allah akan memperoleh shawalat (doa) rasul.

    Ya jelas dong masih terus, walaupun Rasulullah SAW telah wafat.

  23. @Ja’far

    Oh kalau begitu seharusnya kalimat mas di atas adalah seperti ini;

    Perbuatan2 tsb diperlihatkan kepada Rasulullah dan nanti di hari kiamat (tanpa titik) Rasulullah akan menjadi saksi akan perbuatan umatnya di hari pengadilan.

    Benar begitu?

    Jika demikian, maka penafsiran seperti ini menjadi keliru berkaitan dengan masa peristiwa dari maksud zahir hadits yang diriwayatkan Al Bazzar di atas (begitu pula penguatan dengan ayat QS An-Nisa: 41), karena hadits tsb berbicara mengenai persaksian Nabi saw terhadap umatnya yang masih hidup di dunia. Sementara tafsiran mas dan menurut ayat QS An-Nisaa berbicara mengenai persaksian Beliau saw terhadap umatnya kelak di Akhirat.

    Cobalah baca lagi dgn cermat hadits yang disodorkan SP dan lihat yg dihuruf tebalkan;

    …….Nabi SAW yang bersabda “Allah SWT memiliki malaikat yang berkeliling menyampaikan kepadaku salam dari umatku” dan Rasulullah SAW kemudian bersabda “Hidupku baik bagi kalian, ……

    salam dari umatku memiliki makna bahwa umat Muhammad saw msh hidup di dunia.

    Semoga bisa difahami.

    Btw, bagaimana dgn pertanyaan2 yg lain, baik dari sy maupun dari teman2 lain?

    Salam

  24. @ abu rahat lagi

    Saya sgt setuju Rasul tidak meminta upah atas jasa2nya yang telah melepaskan umat dari kegelapan menuju ke terang.
    Ucapan shalawat adalah bukti terima kasih dan bukti rasa kerinduan kepada Beliau SAW

  25. @ Armand

    Rasulullah menjadi saksi di hari pengadilan bagi umatnya.. kalo penyaksian kehidupan sehari2 kita ya tidak dong.. karena Rasulullah SAW itu telah wafat..

    Adalah benar kalau shawalat dari umat Muhammad SAW akan disampaikan kepada beliau SAW via malaikat khusus..

    Penyampaian shalawat dari umatnya itu via malaikat bukan rasulullah SAW mendengar/mengatahui langsung..

    Yang disampaikan malaikat khusus tsb adalah shalawat saja… (tawassul tidak termasuk)

  26. Menurut saya percuma kalo tawassul yang seperti ini
    “Wahai Abul Qosim, Wahai Rasulullah, Wahai Imam pembawa rahmat, wahai junjungan kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawassul denganmu kepada Allah serta mengajukan seluruh keperluan kami. Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah..” atau yang serupa dengan ini..

    karena tidak sampai ke Rasulullah SAW..

    Atau adakah diantara kalian yang memiliki bukti nyata do’a tawassul kalian yang seperti itu di ijabah?

  27. @Ja’far

    Tawassul jelas rujukannya di dalam Al Qur’an, sbb:

    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”(QS.AlBaqarah:154)

    Anda saja yg tidak menyadarinya.

    Wassalam

  28. @Ja’far

    Contoh Tawassul : “Ya Allah, melalui cinta-Mu kepada Rasulullah, aku mohon kepada-Mu…..”

  29. @Ja’far

    Contoh lagi: “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…”

  30. @ asep
    Memang g mati krn ruh itu abadi… akan tetapi ayat tsb tidak menunjukkan bahwa Rasulullah SAW ataupun para syahid mampu melihat semua perbuatan kita..

    Saya setuju yang “Ya Allah, melalui cinta-Mu kepada Rasulullah, aku mohon kepada-Mu..” dan SANGAT BENAR2 TIDAK SETUJU yang “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…”

    Bila anda membaca semua komentar saya, maka Anda akan mengerti mengapa komentar saya seperti ini

  31. Sekali lagi SAYA MAU BERTANYA :

    Adakah diantara kalian yang memiliki bukti nyata do’a tawassul seperti “Ya Rasulullah bla bla bla dst” di ijabah?

  32. Sekali lagi SAYA MAU BERTANYA :

    Adakah diantara kalian yang memiliki bukti nyata do’a tawassul seperti “Ya Rasulullah bla bla bla dst” di ijabah?

    Pertanyaan seperti ini tidak ada maknanya, Karena apa bukti sebuah doa itu dikabulkan?. Silakan saudara Ja’far apa buktinya doa saudara, satu kali saja pernah dikabulkan Tuhan?. Silakan kalau bisa jawab, kalau gak bisa maka saya katakan pertanyaan anda itu absurd.

  33. Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?

    Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…

    Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…

  34. @Ja’far

    Saya pikir contoh yg ke-dua itu sudah benar, karena Rasulullah saw mendengarkan do’a kita, kemudian menyampaikan do’a tsb kepada Allah swt. Itulah buktinya.

    Wassalam

  35. @ Ali
    Pernyataan Anda benar..Oke saya g jadi bertanya kalo begitu…

  36. Bunyi hadis

    Nabi SAW yang bersabda “Allah SWT memiliki malaikat yang berkeliling menyampaikan kepadaku salam dari umatku” dan Rasulullah SAW kemudian bersabda “Hidupku baik bagi kalian, kalian menyampaikan dariku dan akan ada yang disampaikan dari kalian. Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.

    Tidak merujuk pada hari kiamat, buktinya ada pada hadis itu sendiri. Malaikan berkeliling menyampaikan salam kepada Nabi SAW, apa itu terjadi hari kiamat?. Jelas sekali tidak, itu terjadi ketika Rasulullah SAW wafat dan manusia yang memberi salam masih hidup. Oleh karena itu teks hadis selanjutnya harus dipahami sesuai dengan teks sebelumnya. Kita harus bedakan penafsiran yang benar dan penafsiran yang dicari-cari karena tidak sesuai dengan mahzab yang kita yakini.

  37. Rasulullah selalu “Online” melihat perbuatan pengikutnya. Rasulullah seolah2 bertindak sebagai Maha Tahu akan perbuatan pengikutnya yang baik dan buruk shg beliau akan memuji Allah bila perbuatan pengikutnya itu baik dan meminta ampun kepada Allah bila perbuatan pengikutnya buruk.

    Menurut saya pemahaman seperti ini terburu-buru, hadisnya sendiri menjelaskan

    perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku.

    Kata-kata itu menunjukkan bahwa amal perbuatan yang dimaksud diperlihatkan oleh Allah SWT kepada Nabi, bukan langsung dikatakan kalau Nabi online palagi dikatakan Mahatahu. Semoga kita bisa berhati-hati dalam menggunakan kata-kata.

  38. @ asep
    Saya g percaya… Apa dalilnya?
    Kalo sholawat..pasti sampai karena ada malaikat yang mengatarkan shalawat dari kita tsb kepada Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW tidaklah seperti Allah SWT yang Maha Mendengar… jadi kalo ANda berdo’a dengan model seperti “Ya Rasulullah bla bla bla…” tidak akan diterima

  39. @Ja’far

    Dalilnya kan sudah jelas dlm QS AlBaqarah:154, yg mati dijalan Allah itu hidup, berarti bisa mendengar do’a kita.

  40. “Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…. (QS al-Baqarah [2]: 143).

    Ada dua kesaksian disini. Kesaksian umat islam atas perbuatan manusia…..
    Kesaksian Rasul atas perbuatan Umat Islam
    Apakah keduanya berlangsung dikiamat nanti?.,… Apakah umat islam sebagai umat yang adil dan pilihan berlaku pada hari kiamat nanti?.,,,…. Bukankah ada yang mengatakan kalau ayat ini ditujukan kepada sahabat Nabi sebagai dalil bahwa semua sahabat Nabi itu adil. As Shahabi Kuluhum Udul.

  41. Rasulullah SAW tidaklah seperti Allah SWT yang Maha Mendengar… jadi kalo ANda berdo’a dengan model seperti “Ya Rasulullah bla bla bla…” tidak akan diterima

    Hati-hati, mari berhati-hati. Allah SWT maha mendengar, jika Allah SWT bisa menjadikan Rasulullah SAW mendengar salam dan shalawat umat islam setelah Beliau wafat, Maka Allah SWT bisa pula menjadikan Rasulullah SAW mendengar tawassul umat islam. Tiada daya dan upaya melainkan Milik Allah SWT. Semua pendengaran adalah milik Allah SWT, kita mendengar karena Allah SWT menjadikan kita mendengar.

  42. @ Ali
    Pernyataan Anda : …Tidak merujuk pada hari kiamat, buktinya ada pada hadis itu sendiri. Malaikat berkeliling menyampaikan salam kepada Nabi SAW, apa itu terjadi hari kiamat?. Jelas sekali tidak, itu terjadi ketika Rasulullah SAW wafat dan manusia yang memberi salam masih hidup.

    Anda salah memahani pernyataan saya.. Dalam pemikiran saya yaitu Rasulullah SAW telah wafat dan beliau hidup di sisi Allah.. ketika ada umatnya yang shalawat kepada beliau maka akan ada malaikat yang menyampaikan shalawat dari umatnya tsb kpd beliau shg beliau mampu mengetahui saat itu juga bahwa ada umatnya yang salam kepadanya… Rasulullah tau ada umatnya yang shalawat kapadanya bukan pada saat hari kiamat..

    Nah… kalo masalah Rasulullah SAW jadi saksi perbuatan baik dan buruk umatnya itu baru di hari pengadilan..

  43. @ Ali

    Susah juga ya menjelaskan kepada orang yg tidak sadar, apapun penjelasan kita tidak akan dimengerti dan dipahaminya karena dia tidak sadar.

    Wassalam

  44. @ asep
    iya memang hidup di sisi Allah, dekat dengan Allah, disayang Allah… tapi belum tentu kan mampu mendengar do’a-do’a umatnya.

    Misalnya gini.. Ayah si ustad A meninggal… Ayah si ustad A sebenarnya hidup namun hidupnya di alam lain (krn udah meninggal). Oleh sebab itu ayah si A tsb tidak akan mampu mendengar ketika anaknya lagi berkoar-koar berceramah karena ayah si A tidak Maha Mendengar

  45. @ asep
    Seberapa sadar Anda? Apakah anda menganggap diri Anda sudah sangat beriman?

  46. @Ja’far,

    Mudah-mudahan sekarang anda menyadarinya, bahwa sesungguhnya yg mati dijalan Allah itu hidup.

  47. @Ja’far,

    Ah, kenapa sih anda itu mempersulit diri? sudah jelas dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS.Al Baqarah:154)

    Wassalam

  48. @ asep, ali, truthseeker09, armand
    Untuk yang satu ini pasti kalian semua sepakat :
    Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada siapa yang salah ke jalan yang benar..
    Amiiiin bareng yuukkkk

  49. @Ja’far,

    Dalam ayat tsb jelas dikatakan bahwa mereka itu hidup, berarti bisa mendengar dan melihat semua yg terjadi di alam nyata. Cuma yg membedakannya mereka itu ghaib. Dan kamu tidak menyadarinya, karena kita tidak bisa melihat alam yg ghaib.

    Wassalam

  50. @Ja’far

    –> nah kan sudah jelas menurut ayat tsb bahwa dengan menafkahkan sesuatu dijalan Allah akan memperoleh shawalat (doa) rasul.

    Ya jelas dong masih terus, walaupun Rasulullah SAW telah wafat.

    Mudah2an anda tidak bermasalah dalam berlogika… :)
    Bagi anda jelas bagi saya sangat kabur/tidak masuk akal. Anda punya 2 statement yang bagi saya bertolak belakang.

    1. Rasulullah sudah meninggal tidak bisa memberi manfaat apa2, sehingga tidak bisa kita bertawassul kepada beliau.
    2. Rasulullah sudah meninggal namun masih bisa memberi manfaat kepada kita dengan bershalawat (do’a) kepada kita.

    Bagi saya ini kontradiksi yang sangat gamblang, apakah teman2 yang lain juga melihat sebagai kontradiksi?

    Jika hanya untuk mempertahankan paham anda maka anda mengijinkan kontrakdiksi maka hal tsb sangat disayangkan.

    Wassalam.

  51. @truthseeker08

    Ya, saya melihat kontradiksi tsb. Untuk mempertahankan pemahamannya, apapun dia lakukan. Namun setidaknya ada perubahan antara statement yg ke-satu dengan statement yg ke-dua. Mudah2an sdr Ja’far menyadarinya.

    Wassalam

  52. @ Truthseeker08
    Rasulullah bisa memberi manfaat kepada umatnya namun bukan melalui jalan tawassul yang berdo’a “ya rasul, ya ali, dsb..”
    Rasulullah bisa memberi memberi manfaat kepada umatnya dengan jalan umatnya mengucapkan shalawat kepada nabi sehingga Allah akan memberikan keberkahan bagi pengucap shalawat tersebut.

  53. Wah dikepung gue hari ini… salah masuk situs gue… Waduh masuk sarangnya..

  54. o iya lupa… shalawat yang saya maksud tidak termasuk yang model kayak gini :
    “Ya rasul, salam kepadamu…bla3x..” atau yang serupa dengan ini

  55. Oh, ternyata dia tidak menyadarinya!

  56. @Ja’far

    Coba anda perhatikan:

    Contoh ke-1 : “Ya Allah, melalui cinta-Mu kepada Rasulullah, aku mohon kepada-Mu…..”

    Contoh ke-2: “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…”

    Ke-dua contoh tsb hanyalah berbeda dalan susunan kata-katanya, namun tujuannya sama yaitu berdo’a kepada Allah swt.

    Wassalam

  57. Ada tambahan:
    Ke-dua contoh tsb hanyalah berbeda dalan susunan kata-katanya, namun tujuannya sama yaitu berdo’a kepada Allah swt melalui perantara Rasulullah saw.

  58. @Ja’far

    Hanya dengan Qodrat dan Iradat Allah swt, anda memasuki situs ini. Semoga anda dapat mengambil hikmah kebenaran di dalamnya. Amin ya Allah, yaa Rabbal’alamin.

    Wassalam

  59. @Jafar
    Kata shali berasal dari kata shila yang artinya menghubungi.
    Sekarang saya akan bawakaan sebuah riwayat dimana bertawasul kepada yang meninggal diperbolehkan.
    Ketika kematian Ibnu Abbas sudah mendekat ia bertawasul pada Imam Ali yang telah meninggal. Beliau berdoa sbb: Ya Allah aku mendekatkan diri kepadaMu dengan berwilayah kepada Ali b. Abi Thalib (Fada’il ash-Shabah Ahmad b. Hambal jil.2 hal.662 hadits 1129; Ar Ryiadh an Nadhirah, Muhibuddin Thabari jil.3 hal.167 Managib Ahmad).

  60. Wah…udah ketinggalan jauh… :)

  61. Kematianku baik bagi kalian, perbuatan kalian diperlihatkan kepadaku. Jika Aku melihat kebaikan maka Aku memuji Allah SWT dan jika Aku melihat keburukan maka Aku meminta ampun kepada Allah SWT”.

    manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas? manaaa??? wuakakakak…

    Bener kata Kang Ja’far, nanti pada hr kebangkitan, perbuatan2 umatnya akan diperlihatkan kepada beliau..

    hal tersebut diperjelas dengan QS. at-Taubah (9) : 105 :

    Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

    dan ini tafsirnya :

    Mujahid said that this Ayah carries a warning from Allah to those who defy His orders. Their deeds will be shown to Allah, Blessed and Most Honored, and to the Messenger and the believers. This will certainly occur on the Day of Resurrection, just as Allah said,

    [يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لاَ تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ ]

    (That Day shall you be brought to Judgement, not a secret of you will be hidden.) [69:18],

    [يَوْمَ تُبْلَى السَّرَآئِرُ ]

    (The Day when all the secrets will be examined.)[86:9], and,

    [وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُورِ ]

    (And that which is in the breasts (of men) shall be made known.)[100:10] Allah might also expose some deeds to the people in this life. Al-Bukhari said that `Aishah said, “If the good deeds of a Muslim person please you, then say,

    [اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ]

    (Do deeds! Allah will see your deeds, and (so will) His Messenger and the believers.)” There is a Hadith that carries a similar meaning. Imam Ahmad recorded that Anas said that the Messenger of Allah said,

    «لَا عَلَيْكُمْ أَنْ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ،فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بَــرهَةً مِنْ دَهْرِهِ . بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّءٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِه»

    (Do not be pleased with someone’s deeds until you see what his deeds in the end will be like. Verily, one might work for some time of his life with good deeds, so that if he dies while doing it, he will enter Paradise. However, he changes and commits evil deeds. one might commit evil deeds for some time in his life, so that if he dies while doing them he will enter the Fire. However, he changes and performs good deeds. If Allah wants the good of a servant He employs him before he dies.) He was asked, “How would Allah employ him, O Allah’s Messenger” He said,

    «يُوَفِّقُهُ لِعَمِلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه»

    (He directs him to perform good deeds and takes his life in that condition.) Only Imam Ahmad collected this Hadith.

  62. @imem
    Sebelum kita lanjutkan pembahasan Tawasul jawab dulu pertanyaan saya agar kita sepaham. Sebab sdr Jafar teman dalam semazhab tidak berani menjawab.
    Pertanyaan saya adalah; Apakah Firman2 Allah hanya berlaku pada zaman Nabi saja atau sampai KIAMAT/Sampai ditarik Allah kembali. Jawablah. Wasalam

  63. @Ja’far
    Mudah2an ini bukan usaha terakhir utk berdiskusi dengan anda.. :D

    Rasulullah bisa memberi manfaat kepada umatnya namun bukan melalui jalan tawassul yang berdo’a “ya rasul, ya ali, dsb..”
    Rasulullah bisa memberi memberi manfaat kepada umatnya dengan jalan umatnya mengucapkan shalawat kepada nabi sehingga Allah akan memberikan keberkahan bagi pengucap shalawat tersebut.

    Mas Ja’far, bertawassul adalah sesuatu yang boleh (menurut saya bahkan diperintahkan Allah) sesuai dg ayat berikut:
    Surat Al Maidah ayat 35 : “Hai orang-0rang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada Nya. Supaya kamu mendapat keuntungan.”
    Tawassul menjadi terlarang ketika mazhab wahabi muncul. Ketika mazhab ini kesulitan mempertahankan paham mereka, maka kemudian mereka menyatakan tawassul boleh hanya kepada yang hidup.
    Pertanyaan saya:
    1. Tunjukkan bahwa mazhab anda bertawassul kepada yang hidup (kepada siapa?). Kalau tidak ada apakah itu menunjukkan bahwa mazhab ini hakikatnya mengharamkan tawassul?
    2. Apa dasar anda melarang tawassul kepada yang sudah mati? Apa bedanya dg yang hidup? Karena bagi mereka yang meyakini tawassul, bukan fisik/kehidupan orang yang menyebabkan mereka jadikan sebagai perantara, namun kemuliaan orang tsb, sedangkan kemuliaan tidaklah pernah mati.
    3. Dari mana Rasulullah tahu bahwa ada yang menafkahkan di jalan Allah, sehingga beliau shalli kepada orang tsb?

    Wassalam.

  64. @Ja`far dan Imem

    mohon tanggapannya

    Adam Bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW.

    ” tersebut dalam hadits, bahwa Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW. Al Hakim berkata dalam kitabnya Al Mustadrak, dari Umar Ra, ia berkata, Rasululloh SAW bersabda, ” Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata, ” Wahai Rabb-ku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad karena dosa-dosaku, agar engkau mengampuniku. Lalu Allah berfirman, ” Wahai Adam, bagaimana engkau mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya ? Adam menjawab, ” Wahai Rabb-ku, karena Engkau tatkala menciptakanku dengan ” Tangan-Mu’ dan meniupkan “Ruh-Mu ” ke dalam diriku, maka Engkau mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki ( penyangga ) Arasy tertulis ” Laa Ilaaha Illallahu Muhammadur-Rasulullah ” sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam nama-Mu kecuali Mahluk yang Engkau paling cintai. ” Lalu Allah berfirman, ” Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah mahluk yang paling Aku cintai, berdoalah kepada-Ku dengan hak dia, maka sungguh Aku mengampunimu, sekiranya tidak ada Muhammad, maka aku tidak menciptakanmu ( Adam ). ” (HR Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak dan di shahihkannya.Juz II, hal 615)

    salam,

  65. @Ja’far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm

    Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?

    Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…

    Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…

    Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api. Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat. Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian. Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan & ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.

    Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?

    Salam

  66. @Ja’far, di/pada Juni 24th, 2009 pada 5:30 pm

    Kalo berdo’a model begini : “Ya Rasulullah, aku mohon do’akan aku kepada Allah…” jadi mirip kayak orang kristen ya?

    Orang kristen kan berdo’a kepada Yesus atau Bunda Maria seperti “Wahai Yesus,, Wahai Bunda Maria…” sambil melihat patung mereka…

    Hmmm… jadi ingat penyembah berhala zaman Rasul.. yang mereka itu berdo’a pada patung mereka yang katanya sebagai perantara berdo’a kepada Tuhan…

    Menganalogikan “permohonan” kepada Nabi saw dan orang-orang shalih (wali-wali Allah) dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Kaum Nasrani dan para penyembah berhala adalah sangat jauh panggang dari api. Permohonan kaum Nasrani kepada Yesus atau Bunda Maria dilandasi keyakinan dan itikad adanya sifat ketuhanan dan sifat kemandirian sebagai pemberi manfaat pada diri keduanya. Begitu pula para penyembah berhala yang menganggap berhala yang disembah memiliki kedudukan layaknya Tuhan sebagai pemberi manfaat. Sementara permohonan yang ditujukan kepada para Nabi dan wali-wali Allah jauh dari itikad demikian. Permohonan kepada para Nabi Allah dan wali-wali Allah swt adalah merupakan bentuk penghormatan & ketakziman dengan adanya sifat-sifat mulia pada diri-diri mereka, yang sehingga kedudukan mereka yang sangat khusus dengan Allah swt menjadikan mereka pantas untuk dijadikan wasilah (perantara) antara kita dengan Allah swt.

    Anda harus tegas menentukan apakah tawassul itu: sia-sia, haram, atau syirik?

    Salam

  67. @imem, di/pada Juni 25th, 2009 pada 6:06 am:

    manaaaa???? yang nunjukin bolehnya tawasul kepada Nabi yang sudah meninggal pada kalimat hadits di atas? manaaa??? wuakakakak…

    Sy kira SP tdk sedang menunjukkan boleh/tidaknya tawassul, namun sedang menunjukkan kemungkinan bisanya bertawassul. Boleh/tidaknya bertawasul harusnya tidak perlu ditanyakan, karena selama tidak ada larangan dari Nabi saw terhadap sebuah perkara, maka semuanya menjadi boleh. Sesuai kaidah ushul yang kita pahami, yakni: “Segala perbuatan manusia secara umum adalah mubah (boleh), kecuali bila perbuatan tersebut termasuk jenis perbuatan yang terlarang dalam syareat”.

    Andalah yg seharusnya membuktikan kepada kami bahwa telah ada larangan bertawassul kepada mayit oleh Nabi saw, sebab anda yang menolak serta mensyirikkan pelakunya. Bisakah anda menyodorkan buktinya? Tidak bukan?

    Salam

  68. Ops..salah bold lagi..sorry :(

  69. saya yakin tulisan diatas udh cukup jelas, tentang salah satu keutamaan Baginda Rasulullah Kecintaan kita, bahwa :
    1. Bahkan baginda rasulullah, dapat atas IZIN Allah mensucikan jiwa kita
    ”Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad saw) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan MENYUCIKAN mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana” (QS. 2/Al-Baqarah:129).
    2. Dan diayat lain, baginda rasulullah dapat melepaskan beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka, beban – beban dan belenggu umatnya yang masih hidup dan yang sudah meninggal dunia,
    QS.7 (AL-A’RAAF): 157:
    (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

    Pribadi Baginda Rasulullah lah yang telah dirahmati ALLAH (itulah arti rahmat segala Alamnya Rasulullah) untuk dapat mensucikan jiwa-jiwa para pecintanya, dan dapat melepaskan belenggu-belenggu beban berat para pecintanya.

  70. @syaefullah

    Terima kasih.

    Semoga saudara2 kita yang masih belum menyadari bahwa betapa Allah telah memuliakan Rasul SAW dan memerintahkan kita juga memuliakan beliau. Sayang sekali ketika mereka tidak bisa membedakan memuliakan dengan syirik. Semoga hati mereka terbuka bahwa segaa kemuliaan kepada beliau tidak akan pernah membawa kepada kesyirikan. Islam telah dibentengi dengan kalimat tauhid yang kokoh dan tegas; LAA ILAAHA ILLALLAHU MUHAMMADURRASULULLAAH.
    Sangat berlebihan dan keterlaluan cara pikir wahabi yaitu jika memuliakan beliau SAW dikuatirkan terjadi sebagaimana kaum Nasrani menuhankan yesus. Bukti menunjukkan sudah ribuan tahun umat islam memuliakan Rasulullah setinggi2nya namun tidak ada satupun umat islam yang terjebak sebagaimana umat Nasrani.

    Wassalam

  71. @Imem

    Bagaimana? Sudahkan anda menemukan hadits yg menyatakan bahwa Rasul saw melarang bertawassul kepada mereka (Nabi dan orang-orang shalih) yg telah meninggal?

    @Ja’far

    Jadi diklasifikasikan apa bertawassul kepada mereka yg telah meninggal? (sia-sia, haram ataukah syirik?)

    Salam

  72. Assalamuálaikum saudaraku semuanya.
    Saya membaca artikel mengenai tawassul diatas tk ada habis2nya. Sebenarnya Tawassul/istightsah atau tabarruk bukan suatu yg wajib hanya sarana saja. Begitu juga tidak ada nash baik dari Al-Qurán maupun hadits yang mengatakan kalau tawassul dengan pribadi yg masih hidup tak apa2 tapi kalau dengan pribadi yg sudah wafat tak boleh.
    Jadi bila orang mengakui adanya hadits shohih Tawassul kepada orang yg masih hidup itu sudah berarti mereka memohon kepada Allah dengan menyebut nama seorang yg sholeh. Ini sudah dinamakan tawassul. Kalau tdk demikian mengapa mereka tidak langsung doá kepada Allah, mengapa harus menyertakan nama seseorang? Allah swt. toh maha mengetahui, maha mendengar? Begitu juga ayat2 ilahi yg menyebutkan bahwa Rasulallah saw. memohonkan ampun untuk para sahabatnya dan anak2 Nabi Ya’kub memohon agar ayahnya memohonkan ampun buat mereka. Hal yg demikian ini tidak dicela dan ditegor oleh Allah swt. malah Dialah yg memerintahkan para sahabat untuk ke Rasulallah saw. agar beliau memohonkan ampun mereka, padahal Allah swt. maha mengetahui dan maha mendengar. Ini juga dinamakan tawassul/istighotsah. Jadi kita harus memahami dahulu apa makna tawassul menurut jumhur ulama berbagai madzhab. Jadi jangan diputar-putar maknanya menurut pikiran yg kurang ini.

    Bila seseorang mengikuti salah satu ulama madzhabnya yg melegalkan tawassul itu sudah cukup buatnya sebagai dalil. Jadi kita tidak perlu memaksa atau mewajibkan orang ini utk mengikuti ulama atau madzhab lainnya!! Karena satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama dan hadits yg sama ini bisa dilemahkan oleh ulama lainnya. Dengan adanya perbedaan ini maka berbedalah hukumnya.
    JANGANLAH KITA TAWASSUL KEPADA RASULALLAH SAW. ATAU HAMBA SHOLEH DISAMAKAN DENGAN ORANG KRISTEN YG MEMOHON KEPADA MARIA ATAU YESUS. ORANG KRISTEN MEMOHON LANGSUNG KEPADA MARIA ATAU YESUS AGAR DIAMPUNKAN DOSA MEREKA. TETAPI ORANG MUSLIMIN MEMOHON KEPADA RASUL SAW. ATAU HAMBA YG SHOLEH AGAR MEREKA BERDOÁ KEPADA ALLAH SWT. UNTUK MEMOHONKAN AMPUN BAGI MUSLIMIN. RENUNGKANLAH PERBEDAAN ANTARA ORANG KRISTEN DAN ORANG MUSLIM.
    CUKUP BANYAK RIWAYAT BAIK DARI AL-QURÁN MAUPUN HADITS YG MENYATAKAN BAHWA ORANG YG TELAH WAFAT MASIH BISA BERDOÁ DLL.
    Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah dan Tabarruk ini. Saya ingin mengutip contoh beberapa tokoh dari mereka saja yg saya nukil dari situs http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab tawassul/tabarruk
     Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri pernah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi .red) dan men- datangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan do’aku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)

     As-Samhudi yang bermadzhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi saw.red) dengan meminta pertolongan berkait an suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasulallah saw. memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafa’atnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan do’anya, walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala sese- orang meminta; ‘aku memohon kepadamu (wahai Rasulallah .red) untuk dapat menemanimu di sorga…’, tiada yang dikehendakinya melainkan bahwa Nabi saw. menjadi sebab dan pemberi syafa’at” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374)

     As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah swt. melalui para nabi dan manusia sholeh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37)

     Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh madzhab Hanbali pernah menyata- kan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Ja’far (keturunan Rasulullah saw. yang kelima pen.) dan aku ber tawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagai- mana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).

    Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah swt.. berfirman: “Mereka berkata: ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’ ”.
    Jika kita teliti dari ayat ini maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Ya’qub as. mereka tidak meminta pengampunan dari Ya’qub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah swt.. Dan ternyata, nabi Ya’qub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah swt., karena Allah Maha mendengarkan segala per- mohonan dan do’a, malahan nabi Ya’qub as menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan: “Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang’ ”(QS Yusuf: 98).

    – Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
    Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah saw. sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki keduduk- an (jah/maqom/wajih) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah swt.untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah swt… Dan terbukti (nanti kita akan dijelaskan dalam halaman berikutnya) bahwa banyak dari para sahabat mulia Rasulallah saw. yang tergolong Salaf Sholeh menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memohon ampun kepada Allah swt.. melalui perantara Rasulullah saw.. Hal ini yang menjadi kajian para penulis Ahlusunnah wal Jama’ah dalam mengkritisi ajaran Wahabisme, termasuk orang seperti Umar Abdus Salam dalam karyanya “Mukhalafatul Wahabiyyah” (Lihat: halaman 22).

    Semua ahli tafsir al-Qur’an termasuk Mufasir Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat An-Nisa: 64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah swt. telah meresponnya:

     Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, Dia memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw dan kemudian memintakan ampun kepada Allah swt, dan Rasulallah saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan/majazi sedangkan Allah swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki/sebenarnya. (baca keterangan pada bab 2 dalam buku ini)
     Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

    Lihat firman Allah swt. itu malah Dia yang memerintahkan para sahabat untuk minta tolong pada Rasulallah saw. untuk berdo’a pada Allah swt. agar mengampunkan kesalahan-kesalahan mereka, mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah swt.? Bila hal ini dilarang maka tidak mungkin Allah swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak di zinkan-Nya ! Dan masih banyak lagi firman Allah swt. meminta Rasul-Nya untuk memohonkan ampun buat orang lain umpamanya: Q.S 3:159, QS 4:106, QS 24:62, QS 47:19, QS 60:12, dan QS 63

    Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

    Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:

    قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,
    فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ
    وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله
    مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ
    صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

    “Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.

    Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.

    Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

    وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ

    ‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.

    Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :

    قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,
    وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا
    آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ
    تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ

    “Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka bertaubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.

    Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:

    لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟
    وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ
    لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,
    وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ

    “Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.

    Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang menganggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:
    “Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ” (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.”

    Atas dasar itu, Allah swt. memerintahkan kepada para pelaku dosa dari kaum muslimin untuk berpegangan dengan tonggak yang tidak tergoyahkan tersebut (hakekat Muhammad Rasulullah saw.) dan meminta pengampunan di setiap majlis mereka, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Karena melalui permohonan ampun melalui hakekat pribadi Muhammad saw.adalah kunci dari penyebab turunnya rahmat, pengampunan dan ridho Allah swt.

    Dalam hal itu Allah swt… berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa’: 64). Ayat ini dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah swt…: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri” (QS al-Munafiqqun

    Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan berbangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)

    Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan ber- bangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. (Lihat: Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)

    Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa, Rasulallah saw. mengajar- kan kepada kita bagaimana kita berdo’a untuk menghapus dosa kita dengan menyebut (bersumpah dengan kata ‘demi’) diri (dzat) para peminta do’a dari para manusia sholeh dengan ungkapan ‘Bi haqqi Saailiin ‘alaika‘ (demi para pemohon kepada-Mu), Rasulallah saw. disitu tidak menggunakan kata ‘Bi haqqi du’a Saailiin ‘alaika’ (demi do’a para pemohon kepada-Mu), tetapi langsung menggunakan ‘diri pelaku perbuatan’ (menggunakan isim fa’il). Dengan begitu berarti Rasulallah saw. membenarkan –bahkan mengajar- kan– bagaimana kita bertawassul kepada diri dan kedudukan para manusia sholeh kekasih Ilahi (wali Allah) –yang selalu memohon kepada Allah swt.– untuk menjadikan mereka sebagai sarana penghubung antara kita dengan Allah swt. dalam masalah permintaan syafa’at, permohonan ampun, meminta hajat dan sebagainya.

    – Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan menggunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)

     Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:

    “Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad. ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.)

    Pada hadits itu Rasulallah saw. bertawassul disamping pada diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits itu jelas beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do’anya demi diri beliau sendiri dan demi para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do’anya menyertakan kata-kata demi para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo’a saja tanpa menyebutkan …demi para Nabi lainnya ?
    Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.

    Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya.
    Hadits di atas jelas sekali bagaimana Rasulallah bersumpah demi keduduk- an (jah) yang beliau saw. miliki, yaitu kenabian, dan kenabian para pendahulunya yang telah wafat, untuk dijadikan sarana (wasilah) pengampunan kesalahan ibu (angkat) beliau, Fathimah binti Asad. Dan dari hadits di atas juga dapat kita ambil pelajaran, bagaimana Rasulallah saw. memberi ‘berkah’ (tabarruk) liang lahat itu untuk ibu angkatnya dengan merebahkan diri di sana, plus mengkafani ibunya tersebut dengan jubah beliau.

    – Diriwayatkan bahwa Sawad bin Qoorib melantunkan pujiannya terhadap Rasulallah saw. dimana dalam pujian tersebut juga terdapat muatan permohonan tawassul kepada Rasulullah saw. (Kitab Fathul Bari 7/137, atau kitab at-Tawasshul fi Haqiqat at-Tawassul karya ar-Rifa’i hal. 300)
    Penjelasan-penjelasan semacam inilah yang tidak dapat dipungkiri oleh kaum muslimin manapun, terkhusus para pengikut sekte Wahabisme. Atas dasar itu, Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya “at-Tawassul wa al-Wasilah” dengan mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti; Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi, at-Thabrani, dan sebagainya telah melegalkan tawassul sesuai dengan hadits-hadits yang ada. (Kitab “at-Tawassul wal Wasilah” karya Ibnu Taimiyah halaman 144-145)

    Walaupun beberapa hadits di atas secara tersirat telah membuktikan legalitas tawassul terhadap para nabi terdahulu dan para manusia sholeh yang telah mati, namun mungkin masih menjadi pertanyaan di benak kaum muslimin, adakah dalil yang dengan jelas memperbolehkan tawassul/ istigho- tsah terhadap orang yang dhahirnya telah wafat? Marilah kita ikuti kajian selanjutnya.

    Prilaku Salaf Sholeh Penguat Legalitas Tawassul / Istighotsah
    Kita semua mengetahui bahwa para sahabat, tabi’in dan tabiut at-tabi’in adalah termasuk dalam golongan salaf sholeh dimana mereka hidup sangat dekat dengan zaman penurunan risalah Islam. Terkhusus para sahabat yang mendapat pengajaran langung dari Rasulullah saw. dimana setiap perkara yang tidak mereka pahami langsung mereka tanyakan dan langsung men- dapat jawabannya dari baginda Rasulallah saw.. Salah satu dari sekian perkara yang menjadi bahan kajian kita kali ini adalah, bagaimana pemaham an para sahabat berkaitan dengan konsep istighotsah /tawassul yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

    Disini kita akan menunjukkan beberapa riwayat yang menjelaskan pemaham an Salaf Sholeh–yang dalam hal ini mencakup para sahabat mulia Rasul saw.– berkaitan dengan konsep tersebut, dan praktek mereka dalam kehidup an sehari-hari. Oleh karenanya, kita akan memberikan beberapa contoh seperti di bawah ini:

     Dahulu Rasulullah saw. mengajarkan seseorang tentang tata cara memohon kepada Allah swt. dengan menyeru Nabi untuk bertawassul kepadanya, dan meminta kepada Allah agar mengabulkan syafa’atnya (Nabi) dengan mengatakan:
    (“Wahai Muhammad, Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bertawassul denganmu kepada Tuhanku dalam memenuhi hajatku agar dikabulkan untuk ku. Ya Allah, terimalah bantuannya padaku”). (Kitab “Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il” karya Ibnu Taimiyah 1/18)
    Jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan lelaki di atas adalah lelaki muslim yang sezaman dan pernah hidup bersama Rasulallah saw., serta pernah belajar dari beliau, yang semua itu adalah memenuhi kriteria sahabat menurut ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Mari kita teliti dan renungkan kata demi kata dari ajaran Rasulallah saw. terhadap salah seorang sahabat itu sewaktu beliau mengajarinya tata cara bertawassul melalui diri Muhammad sebagai Rasulullah saw., satu ‘kedudukan’ (jah) tinggi di sisi Allah. Sengaja kita ambil rujukan dari Ibnu Taimiyah agar pengikut sekte Wahabi memahami dengan baik apa sinyal dibalik tujuan kami menukil dari kitab syeikh mereka itu, agar mereka berpikir.

     Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas bin Malik :

    عَنْ أنَسِ, أنَّ عُمَرَبْنَ الخَطَّابِ كَانَ إذَاقُحِـطُوْا إستََسْـقََى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ: اللهُـمَّ إنَّـا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَنَسْقِيْنَا
    وَإنَّا نَتَوَسَّلُ إلَيْكَ بَعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ (رواه البخاري)

    “Bahwasanya jika terjadi musim kering yang panjang, maka Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawassul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam do’anya ia berkata; ‘Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawassul kepada-Mu dengan Nabi saw. dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami’. Anas berkata; ‘Maka Allah menurun- kan hujan pada mereka’ ”. (Lihat: Kitab “Shohih Bukhari” 2/32 hadits ke-947 dalam Bab Shalat Istisqo’)

    Perbuatan khalifah Umar dengan tawassul pada paman Nabi saw. tidak seorang pun dari sahabat Nabi yang mengingkari, mensyirikkan atau tidak membenarkan prakarsa khalifah ini. Khalifah Umar ra. yang sudah terkenal dikalangan kaum muslimin masih menyertakan paman Rasulallah saw. didalam do’anya kepada Allah swt., apalagi kita-kita ini.

     Imam an-Nawawi dalam kitab ‘al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab’ (Jilid: 5 Halaman: 68) dalam Kitabus-Shalat dan dalam Babus-Shalatul-Istisqo’ yang menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab telah memohon do’a hujan melalui Abbas (paman Rasulallah) dengan menyatakan: ‘Ya Allah, dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkan hujan bagi kami ’. Kemudian turunlah hujan”. (Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa; Abu Zar’ah ad-Damsyiqi juga telah menyebutkan kisah ini dalam kitab sejarahnya dengan sanad yang shohih).

     Ibnu Hajar dalam kitab ‘Fathul Bari’ (Syarah kitab Shohih al-Bukhari) pada jilid:2 halaman: 399 dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan: “Dapat diambil suatu pelajaran dari kisah Abbas ini yaitu, dimustahabkan (sunah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi”.

     Ibnu Atsir dalam kitab ‘Usud al-Ghabah’ (Jilid: 3 Halaman: 167) dalam menjelaskan tentang pribadi (tarjamah) Abbas bin Abdul Mutthalib pada nomor ke-2797 menyatakan: “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan: ‘Selamat atasmu wahai penurun hujan untuk Haramain’. Saat itu para sahabat mengetahui, betapa keutamaan yang dimiliki oleh Abbas sehingga mereka mengutama- kannya dan menjadikannya sebagai rujukan dalam bermusyawarah”.

    Dalam kitab yang sama ini disebutkan bahwa Muawiyah telah memohon hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan: ‘Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat). ’ Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad’. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada di sekitanya). Maka mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing’. ( Lebih kami sayangkan lagi ada sebagian ulama yang mengakui keshohihan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan tawassul dan tabarruk, tapi mereka berani memutar balik maknanya dan sampai-sampai berani melarang dan mensyirikkan hal tersebut pada orang yang mengamalkannya! Na’udzubillah . )

    Riwayat di atas memberikan pelajaran kepada kita bagaimana Khalifah Umar –sahabat Rasulallah saw.– melakukan hal yang pernah diajarkan Rasulallah kepada para sahabat mulia beliau saw.. Walaupun riwayat di atas menunjuk- kan bahwa Umar bin Khattab bertawassul kepada manusia yang masih hidup, akan tetapi hal itu tidak berarti secara otomatis riwayat di atas dapat menjadi bukti bahwa bertawassul kepada yang telah wafat adalah ‘haram’ (entah karena alasan syirik atau bid’ah), karena tidak ada dalil baik dari firman Ilahi atau Sunnah

    Rasulallah saw. yang menyatakan kalau tawassul pada orang yang telah wafat itu haram sedangkan pada orang yang masih hidup dibolehkan! Sebenarnya tawassul pada pribadi seseorang baik yang masih hidup maupun telah wafat itu inti/pokoknya adalah sama, yaitu berdo’a kepada Allah swt. sambil menyertakan nama pribadi seseorang itu. Kalau ini dilarang berarti semua bentuk tawassul itu harus diharamkan juga.
    Apakah golongan pengingkar ini lupa atau pura-pura lupa bahwa nabi Adam as. bertawassul pada Nabi saw. yang antara lain diriwayatkan oleh ulama pakar yang mereka andalkan yaitu Syeikh Ibnu Taimiyyah, begitu juga mengenai tawassul Nabi Yusuf a.s kepada beliau saw., tawassul mereka pada Nabi saw. yang mana beliau bukannya sudah wafat malah belum dilahirkan dialam wujud ini ! Begitu juga tawassul Rasulallah saw. kepada para Nabi sebelum beliau saw.
    Di tambah lagi nanti terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa sebagian sahabat –sesuai dengan pemahaman mereka dari apa yang diajarkan Rasulallah saw.– juga melakukan tawassul kepada seseorang yang secara dhahir telah mati. Yang jelas, riwayat di atas dengan tegas menjelaskan akan dibolehkannya tawassul/istighotsah dan menyangkal pendapat madzhab Wahabi dan pengikutnya yang mengatakan bahwa bertawassul adalah perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan –Maha Mendengar dan Maha Mengetahui– Allah swt.. Juga sekaligus menjelaskan legalitas tawassul melalui diri selain Rasulallah saw. (Abbas bin Abdul Mutthalib) dan kedudukan (sebagai paman manusia termulia) di hadapan Allah swt..

    Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:
     Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)
    Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.
    Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan memeluk pusara Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni kubur tersebut?

    Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah meninggal:
    “Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351)

    Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan tabarruk dan tawassul kepada orang yang dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh.

    BAGI YG INGIN MENDETAIL KETERANGANNYA BUKALAH SITUS http://WWW.EVERYONEWEB.COM/TABARRUK PADA BAB TAWASSUL ATAU BAB ZIARAH KUBUR.

  73. saya boleh nanya`kan….
    saya mau nanya jika orang yang sudah meninggal itu, apakah ruh mereka itu bisa berpergian ke dunia (bumi) dengan semaunya?

    dan 1 lagi.
    apakah benar jika ada orang yang bisa memanggil ruh orang yang sudah mati dan kita bisa berbicara kepada ruh orang yang sudah mati melalui perantara dirinya itu( MAKSUD : jadi orang itu seakan-akan memanggil ruh orang yang sudah mati, dan ruh orang yang sudah mati itu datang dan masuk ke dalam tubuhnya, jadi setelah itu seakan-akan orang yang memanggil tadi itu adalah ruh yang dipanggilnya tadi) APAKAH BENAR?

  74. @kurnia
    tidak benar :)

  75. @ kurnia
    pertanyaan anda yg pertama jawabannya bisa. Karena menurut hadits ruh seorang mukmin bisa terbang kemana-mana menurut kehendaknya. dihadits ini tidak ada syarat yang menunjukkan hanya terbatas di alam barzakh. Begitu juga banyak hadits yg meriwayatkan bahwa ruh sering kembali ketempat jasad waktu dikuburkan dll. banyak para sholihin yang bisa lihat ruh2 yg hadir dimajlis2 dzikir. Hanya tidak semua orang diberikan ilmu oleh Allah swt. untuk bisa lihat ruh2 yg hadir di majlis2 dzikir.Zaman sekarang terutama di Eropa, sering dilayngkan di tv dokumentair
    mengenai ruh2 keluarga atau orang lain yg bisa dilihat oleh orng yg msh hidup. wallahu a’lam

    sedangkan pertanyaan anda yg kedua, ana belum tahu dlm hal tsb., ana kira bukan ruh org yg mati tapi jin atau setan yg masuk disitu. Tetapi kalau menurut ceritera ada orang yg bisa kontak dengan ruh. wallahu a’lam.
    wassalam

  76. An nisa’a 3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

    Al Azhab 50. Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Ayat pertama (An Nisa’a 3 hanya untuk manusia/umat islam tapi tidak untuk sang Nabi…..Nabi kita selalu dapat pengkhususan atau dispensasi dari Aloh SWT.

    Sedangkan untuk Nabi sudah di turunkan tap atau ayat yg kedua (Al Azhab 50) yang membolehkan Nabi berkahwin sekehendak hatiNya.

    Wahai engkau nabi ku yang selalu dapet dispensasi makanya ada ayat :

    Al Azhab 56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[1230].

    Wassalam

  77. ajibbbbb

  78. @MACHAMADIGM & Efran

    Anda Heran? silahkan baca buku ini.

    KISAH PERNIKAHAN PARA MA’SHUM AS
    HIKMAH PERNIKAHAN RASULULLAH SAW
    #Jawaban atas Tuduhan

    http://alhassanain.com/indonesian/show_book.php?book_id=44&link_book=holy_prophet_and_ahlul_bayt_library/general_books/pernikahan_para_makshum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 148 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: