Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW

Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW

Tabarruk atau mencari barakah adalah hal yang ma’ruf dalam syariat walaupun tentu sudah seharusnya kita tidak asal-asalan dalam mencari barakah. Salafiyun mengatakan bahwa berkah Nabi SAW itu terjadi ketika Nabi SAW masih hidup sedangkan setelah Beliau SAW wafat maka tidak bisa lagi mendapat berkah dari Beliau SAW. Kami hanya ingin membawakan sebuah hadis yang menunjukkan bahwa mereka keliru. Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi 1/56 no 92

حدثنا أبو النعمان ثنا سعيد بن زيد ثنا عمرو بن مالك النكري حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله قال قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت انظروا قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كووا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال ففعلوا فمطرنا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Malik An Nukri yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah yang berkata “Suatu ketika penduduk Madinah dilanda kekeringan yang hebat, maka mereka mengadukan hal tersebut kepada Aisyah. Kemudian ia berkata “pergilah ke kubur Nabi SAW buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada penghalang diantaranya dengan langit”. Ia (Aus bin Abdullah) berkata “Kemudian penduduk Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah, setelah itu turunlah hujan, tanaman-tanaman tumbuh dan hewan ternak menjadi sehat. Oleh karena itu tahun tersebut disebut tahun kemenangan”.

Syaikh Husain Salim Asad pentahqiq kitab Sunan Ad Darimi berkata

رجاله ثقات وهو موقوف على عائشة

Para perawinya tsiqat dan ini mauquf dari Aisyah

Atsar di atas kedudukannya shahih dan memang itu mauquf. Atsar ini menunjukkan bahwa Aisyah RA memerintahkan penduduk Madinah untuk mengambil berkah dari kubur Nabi SAW. Apakah perilaku ini bisa dibilang syirik?. Silakan kita kembalikan permasalahan itu kepada para salafiyun.

Ternyata para salafiyun itu mencari-cari dalih untuk melemahkan atsar ini. Mereka membuat berbagai syubhat seputar para perawi hadis ini. Untuk membantah syubhat-syubhat salafy seputar atsar ini maka akan kami tunjukkan analisis singkat mengenai para perawi hadis tersebut. Syubhat salafy yang dimaksud adalah

  • Ikhtilat (kekacauan hafalan) Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl
  • Kelemahan Sa’id bin Zaid
  • Kelemahan Amru bin Malik An Nukri
  • Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah

Lihatlah baik-baik salafy begitu bersemangat untuk mencacatkan atsar ini, semua perawi atsar ini dicari-cari cacatnya, untung Aisyah RA tidak dicacat oleh salafiyun. Syubhat-syubhat yang dimaksud diantaranya dapat dilihat dalam kitab Tawasul Al Albani dan Hadzihi Mafaahimunaa Syaikh Shalih Alu Syaikh.

.

.

.

Ikhtilat Abu Nu’man Arim Muhammad bin Fadhl

Muhammad bin Fadhl As Sadusi dengan kuniyah Abu Nu’man atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Arim. Ia adalah seorang yang dikenal tsiqat. Telah meriwayatkan darinya para Hafiz seperti Bukhari, Abu Hatim, Abu Dawud, Al Hafiz Ad Darimi, Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/124 menyatakan ia tsiqat. Syaikh Al Albani mengatakan kalau Arim mengalami ikhtilat di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah Ad Darimi meriwayatkan sebelum atau sesudah ikhtilat. Arim memang dinyatakan oleh para hafiz seperti Abu Hatim, Bukhari dan Abu Dawud bahwa ia mengalami kekacauan pada akhir masa tuanya. Dalam At Tahdzib juz 9 no 659 Abu Hatim menyebutkan bahwa Arim mengalami ikhtilat pada tahun 220 H dan ia wafat pada tahun 224 H.

Tetapi menjadikan ikhtilat Arim sebagai cacat sungguh tidak beralasan karena diketahui bahwa Arim tidak meriwayatkan hadis ketika ia ikhtilath. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Daruquthni dalam At Tahdzib juz 9 n0 659 dan Al Mizan no 8057

وقال الدارقطني تغير بآخرة وما ظهر له بعد اختلاطه حديث منكر وهو ثقة

Daruquthni berkata “dia mengalami kekacauan pada hafalan pada akhir umurnya tidaklah ia memiliki hadis yang diingkari setelah ia ikhtilat, dan ia seorang yang tsiqat”.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan no 8057 membenarkan pernyataan Daruquthni dan menyatakan keliru pada Ibnu Hibban yang mengatakan “Arim punya riwayat-riwayat mungkar setelah ikhtilat”. Pernyataan Ibnu Hibban memang keliru karena tidak ada satupun riwayat mungkar yang muncul dari Arim dan Ibnu Hibban pun tidak bisa menunjukkannya. Oleh karena itu Adz Dzahabi berkata dalam Al Kasyf no 5114

تغير قبل موته فما حدث مات224

Ia mengalami taghayyur (kekacauan hafalan) sebelum wafat dan tidaklah ia meriwayatkan hadis setelah itu, wafat tahun 224 H.

Pernyataan Adz Dzahabi ini dibenarkan pula oleh Al Iraqi dalam Taqyid Wal Iidah hal 461. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir At Taqrib no 6226 juga menguatkan Adz Dzahabi dan Daruqutni dengan alasan  tidak dikenal adanya hadis-hadis Arim yang diingkari dan tidak ada satu orangpun dari kalangan mutaqaddimin (terdahulu) menyatakan ada kesalahan pada hadis Arim. Jadi melemahkan Atsar ini karena ikhtilat Arim sungguh tidak beralasan karena para Hafiz meriwayatkan hadis dari Arim sebelum ia mengalami ikhtilath.

.

.

.

Kelemahan Sa’id bin Zaid

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Tawassul hal 74 telah melemahkan Atsar ini karena Sa’id bin Zaid, Syaikh berkata

أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن زيد فيه ضعف. قال فيه الحافظ في “التقريب”: صدوق له أوهام. وقال الذهبي في “الميزان”: (قال يحيى بن سعيد: ضعيف، وقال السعدي: ليس بحجة، يضعفون حديثه، وقال النسائي وغيره: ليس بالقوي، وقال أحمد: ليس به بأس، كان يحيى بن سعيد لا يستمرئه

Sa’id bin Zaid, dia adalah saudara Hammad bin Zaid terdapat kelemahan padanya. Al Hafiz berkata dalam At Taqrib “jujur terkadang salah” dan Adz Dzahabi dalam Al Mizan berkata “Yahya bin Sa’id berkata “ia dhaif”, As Sa’di berkata “tidak bisa dijadikan hujjah” dan ia melemahkan hadis-hadisnya. Nasa’i dan yang lainnya berkata “tidak kuat”. Ahmad berkata “tidak ada masalah dengannya dan Yahya bin Sa’id tidak menerimanya”.

Tentu saja jika kita melihat kutipan Syaikh maka seolah-olah Sa’id bin Zaid adalah perawi yang dhaif dan hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya. Padahal kenyataan sebenarnya jauh dari yang demikian. Sa’id bin Zaid adalah perawi tsiqah dan kelemahan yang ada padanya jika memang terbukti hanya mendudukkannya dalam derajat hasan. Minimal Sa’id bin Zaid adalah perawi yang shaduq (jujur) hasanaul hadis (hadisnya baik). Kami lebih cenderung pada pernyataan tsiqah pada Sa’id bin Zaid karena terbukti banyak yang memberi predikat tsiqah dan menta’dilkannya.

Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 4 no 51 dan dia adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim, Abu dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disebutkan tidak hanya Ahmad bin Hanbal yang menta’dilkannya

وقال الآجري عن أبي داود كان يحيى بن سعيد يقول ليس بشيء وكان عبد الرحمن يحدث عنه وقال البخاري حدثنا مسلم هو بن إبراهيم ثنا سعيد بن زيد أبو الحسن صدوق حافظ وقال الدوري عن بن معين ثقة

Al Ajuri berkata dari Abu Dawud “Yahya bin Said mengatakan tidak ada apa-apanya dan Abdurrahman telah meriwayatkan hadis darinya”. Bukhari berkata telah menceritakan kepada kami Muslim (dia Ibnu Ibrahim) yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid Abu Hasan seorang hafiz yang shaduq (jujur). Ad Dawri berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”.

Walaupun Yahya bin Said melemahkannya tetapi Abdurrahman bin Mahdi malah meriwayatkan hadis Said bin Zaid, itu berarti Ibnu Mahdi menyatakan tsiqah padanya. Perhatikan dengan baik mereka yang menyatakan tsiqah kepada Sa’id bin Zaid adalah dari kalangan mutaqaddimin yang memang mengenal dan meriwayatkan hadis dari Sa’id bin Za’id

وقال بن سعد روى عنه وكان ثقة مات قبل أخيه وقال العجلي بصري ثقة وقال أبو زرعة سمعت سليمان بن حرب يقول ثنا سعيد بن زيد وكان ثقة وقال أبو جعفر الدارمي ثنا حبان بن هلال ثنا سعيد بن زيد وكان حافظا صدوقا قال بن عدي وليس له منكر لا يأتي به غيره وهو عندي في جملة من ينسب إلى الصدق

Dan berkata Ibnu Sa’ad (yang meriwayatkan darinya) ia seorang  yang tsiqat wafat  sebelum saudaranya. Al Ajli berkata “orang Bashrah yang tsiqat”. Abu Zar’ah berkata “aku mendengar Sulaiman bin Harb berkata telah menceritakan kepada kami Said bin Zaid dan dia tsiqat”. Abu Ja’far Ad Darimi berkata telah menceritakan kepada kami Hibban bin Hilal yang berkata telah menceritakan kepada kami Said bin Zaid dan dia seorang hafiz yang shaduq (jujur). Ibnu Ady berkata “tidaklah ia memiliki riwayat yang diingkari kecuali diikuti oleh yang lain, dalam pandanganku ia termasuk kelompok orang yang jujur”.

Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/353 memberikan predikat “jujur terkadang salah”. Hal ini merupakan kesalahan dari Ibnu Hajar. Pernyataan Ibnu Hajar dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 2312 bahwa Sa’id bin Zaid seorang yang shaduq hasanul hadis (jujur dan hadisnya hasan). Kami lebih cenderung dengan pendapat yang menyatakan ia tsiqah dikarenakan

  • Mereka yang menyatakan tsiqah termasuk dari kalangan mutaqaddimin yang memang megenal dan meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid seperti Abdurrahman bin Mahdi, Sulaiman bin Harb, Ibnu Sa’ad dan Hiban bin Hilal
  • Mereka yang melemahkan Sa’id bin Zaid tidak menyebutkan alasan pencacatannya seperti Yahya bin Sa’id dan Daruquthni. Tentu saja pencacatan yang tidak beralasan tidak diterima jika Sa’id telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama lain.

.

.

.

Kelemahan Amru bin Malik An Nukri

Cacat lain yang dikatakan oleh salafiyun adalah Amru bin Malik An Nukri. Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dalam kitabnya Hadzihii Mafahiimuna hal 43. Syaikh berkata

أن راويه عمرو بن مالك النكري ضعيف بمرة قال ابن عدي في “الكامل”(5/1799): (منكر الحديث عن الثقات، ويسرق الحديث سمعت أبا يعلى يقول: عمرو بن مالك النكري: كان ضعيفاً

Riwayat Amru bin Malik An Nukri dhaif, Ibnu Ady dalam Al Kamil 5/1799 berkata “ia meeriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi tsiqat dan dia mencuri hadis, aku mendengar Abu Ya’la mengatakan “Amru bin Malik An Nukri dhaif”.

Pernyataan ini benar-benar keliru dan sungguh suatu keanehan seorang Syaikh bisa melakukan kesalahan seperti ini. Ibnu Ady yang diikuti Syaikh Shalih telah melakukan campur aduk terhadap perawi yang bernama Amru bin Malik. Amru bin Malik yang dimaksud oleh Ibnu Ady tersebut bukanlah Amru bin Malik An Nukri tetapi Amru bin Malik Ar Rasibi. Ibnu Ady telah melakukan kesalahan dalam hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam biografi Amru bin Malik Ar Rasibi At Tahdzib juz 8 no 152. Pernyataan Ibnu Ady tersebut ditujukan pada Amru bin Malik Ar Rasibi bukan Amru bin Malik An Nukri.

Amru bin Malik An Nukri adalah seorang perawi yang tsiqat. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 154 dan ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya sekelompok perawi tsiqat seperti Nuh bin Qais, Hammad bin Zaid, Sa’id bin Zaid dan yang lainnya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/744 memberikan predikat “jujur terkadang salah” dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 5104 bahwa Amru bin Malik An Nukri “shaduq hasanul hadis”. Menurut kami Amru bin Malik An Nukri seorang yang tsiqah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ma’in. Pernyataan tsiqat Ibnu Main ini tidak dikutip dalam At Tahdzib dan juga dalam Tahrir At Taqrib. Baik At Tahdzib maupun Tahrir At Taqrib hanya mengutip pentsiqahan Ibnu Hibban mungkin karena itu dia dinilai shaduq. Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam 8/198 berkata

عمرو بن مالك النكرى، أبو يحيى وقيل أبو مالك. بصري صدوق

Amru bin Malik An Nukri Abu Yahya dikatakan juga Abu Malik, orang Bashrah yang shaduq (jujur).

Ibnu Hibban dalam kitabnya Masyahiir Ulama Al Amshar no 1223 menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri seorang yang shaduq. Ibnu Ma’in menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri tsiqat. Dalam Su’alat Ibnu Junaid 1/420 no 710 Ibnu Junaid berkata

سألت يحيى عن عمرو بن مالك النكري فقال ثقة

Aku bertanya kepada Yahya tentang Amru bin Malik An Nukri dan dia berkata “tsiqat”.

Pengikut salafiyun mengutip dari Ats Tsiqat bahwa Ibnu Hibban berkata tentang Amru bin Malik An Nukri ia sering melakukan kesalahan. Sama seperti Syaikhnya, mereka juga melakukan kesalahan yang sama yaitu mencampuraduk antara Amru bin Malik Ar Rasibi dan Amru bin Malik An Nukri. Ibnu Hibban menuliskan dua nama Amru bin Malik An Nukri dalam kitabnya Ats Tsiqat yaitu

Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 7 no 9802 berkata

عمرو بن مالك النكري كنيته أبو مالك من أهل البصرة يروى عن أبى الجوزاء روى عنه حماد بن زيد وجعفر بن سليمان وابنه يحيى بن عمرو ويعتبر حديثه من غير رواية ابنه عنه

Amru bin Malik An Nukri dengan kuniyah Abu Malik, termasuk penduduk Bashrah yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dan meriwayatkan darinya Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman dan anaknya Yahya bin Amru, diikuti hadis-hadisnya kecuali riwayatnya dari anaknya.

Inilah Amru bin Malik An Nukri dalam riwayat Darimi di atas karena ia yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’. Tidak ada Ibnu Hibban menyatakan bahwa Amru bin Malik An Nukri ini sering salah. Pernyataan sering salah ditujukan untuk perawi lain

Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 8 no 14585 berkata

عمرو بن مالك النكري من أهل البصرة يروى عن الفضيل بن سليمان ثنا عنه إسحاق بن إبراهيم القاضى وغيره من شيوخنا يغرب ويخطىء

Amru bin Malik An Nukri dari penduduk bashrah meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman dan meriwayatkan darinya Ishaq bin Ibrahim Al Qadhi dan yang lainnya, meriwayatkan hal-hal gharib dan sering salah.

Disini Ibnu Hibban melakukan kesalahan, Amru bin Malik yang dimaksud bukan An Nukri tetapi Amru bin Malik Ar Rasibi. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 8 no 152 menyebutkan bahwa yang meriwayatkan dari Fudhail bin Sulaiman adalah Amru bin Malik Ar Rasibi bukan Amru bin Malik An Nukri. Kesalahan inilah yang dengan seenaknya diikuti oleh salafiyun. Amru bin Malik An Nukri tidak diragukan lagi seorang yang tsiqah seperti yang dikatakan Ibnu Ma’in.

.

.

.

Inqitha’ Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah dari Aisyah RA

Aus bin Abdullah adalah seorang tabiin yang tsiqat seperti yang dikatakan Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/112 dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 489. Salafiyun mencacatkan atsar Darimi di atas bahwa sanadnya terputus.  Abul Jauzaa’ tidak mendengar dari Aisyah. Pernyataan ini bathil, terputusnya sanad atau mursal ditentukan oleh dua hal

  • Analisis tahun lahir dan tahun wafat perawi
  • Pernyataan Ulama mu’tabar bahwa itu mursal.

Disebutkan dalam At Tahdzib juz 1 no 702 bahwa Abul Jauzaa’ wafat tahun 83 H dan sebagaimana diketahui bahwa Aisyah RA wafat tahun 57 H atau 58 H. Hal ini masih memungkinkan Abul Jauzaa’ untuk bertemu dan meriwayatkan hadis dari Aisyah RA. Diantara Ulama mutaqaddimin yang menyatakan Abul Jauzaa’ memursalkan hadis adalah Abu Zar’ah dan yang ia maksudkan adalah riwayat Abul Jauzaa’ dari Ali RA dan Umar RA seperti yang dikutip Ibnu Abi Hatim dalam Al Marasil 1/16-17 dan Al Hafiz Abu Said Alaiy dalam Jami Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 49. Tidak ada keterangan ulama terdahulu yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal.

Mereka yang menyatakan riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA mursal berasal dari kalangan muta’akhirin seperti Ibnu Ady (Al Kamil 1/411) dan Ibnu Abdil Barr (At Tamhid 20/205) dan dasar hujjah mereka hanyalah kenyataan bahwa Abul Jauzaa’ tidak dikenal penyimakannya dari Aisyah. Hujjah ini sudah jelas bathil, Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah memang meriwayatkan hadis dengan lafal ‘an dari para sahabat termasuk Aisyah tetapi bukan berarti bisa seenaknya dikatakan mursal. Menurut persyaratan Imam Muslim hadis lafal ’an dari perawi tsiqah dapat dianggap muttashil. Kami menolak pencacatan Inqitha’ Abul Jauzaa’ dari Aisyah dengan alasan

  • Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim 1/357 no 498 telah berhujjah dengan hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah. Begitu pula Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 2/427 biografi Aus bin Abdullah, ia telah menyatakan shahih dan tsabit riwayat Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA.
  • Al Qaysarani Al Hafiz Muhammad bin Thahir dalam kitabnya Jami’ Baina Rijal Shahihain 1/46 menyatakan bahwa Abul Jauza’ mendengar langsung dari Aisyah RA.

Bukti paling kuat bahwa Abul Jauzaa’ bertemu dan mendengar dari Aisyah RA adalah berdasarkan kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri seperti yang diriwayatkan Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 1540

قال لنا مسدد عن جعفر بن سليمان عن عمرو بن مالك النكري عن أبي الجوزاء قال أقمت مع بن عباس وعائشة اثنتي عشرة سنة ليس من القرآن آية إلا سألتهم عنها

Telah mengatakan kepada kami Musaddad dari Ja’far bin Sulaiman dari Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ yang berkata “Aku bersama Ibnu Abbas dan Aisyah selama 12 tahun dan tidak ada satu ayat dalam Al Qur’an kecuali aku tanyakan kepada mereka”.

Bukhari berkata setelah membawa atsar ini “di dalam sanadnya perlu diteliti lagi”. Pernyataan Bukhari layak diberikan catatan. Atsar ini shahih, Musaddad bin Musarhad disebutkan dalam At Taqrib 2/175 bahwa ia Syaikh Bukhari seorang hafiz yang tsiqat dan Ja’far bin Sulaiman disebutkan dalam Al Kasyf no 792 bahwa ia tsiqat dan disebutkan dalam At Taqrib 1/162 bahwa ia shaduq. Sedangkan Amru bin Malik An Nukri telah berlalu penjelasannya bahwa dia seorang yang tsiqah, bahkan Bukhari sendiri memuat biografi Amru bin Malik An Nukri dalam Tarikh Al Kabir juz 6 no 2672 tanpa sedikitpun menyebutkan cacatnya. Sedangkan Abul Jauzaa’ seorang tabiin tsiqah yang dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim.

Menurut kami pernyataan Bukhari bisa jadi didasari keraguannya pada Ja’far bin Sulaiman. Bukhari berkata dalam Tarikh Al Kabir juz 2 no 2161 bahwa Ja’far bin Sulaiman diperselisihkan beberapa hadisnya. Sayangnya Ja’far telah dinyatakan tsiqat atau shaduq oleh banyak ulama lain, sehingga keraguan yang tidak beralasan tidak menjadi cacat untuk Ja’far bin Sulaiman.

Kesaksian Abul Jauzaa’ sendiri justru membantah anggapan bahwa hadis Abul Jauzaa’ dari Aisyah RA adalah terputus atau mursal. Oleh Karena itu pencacatan yang dilakukan oleh salafiyun benar-benar tidak berdasar.

.

.

.

Kesimpulan

Atsar Sunan Darimi di atas tidak diragukan lagi keshahihannya. Sebelum menutup tulisan ini kami akan membawakan hadis dengan sanad yang sama persis dengan atsar Sunan Darimi di atas yaitu diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 6/72 no 24478

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عارم ثنا سعيد بن زيد عن عمرو بن مالك عن أبي الجوزاء عن عائشة

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku (Ahmad bin Hanbal)  yang berkata telah menceritakan kepada kami Arim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid dari Amru bin Malik dari Abul Jauzaa’ dari Aisyah.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa hadis ini shahih ligahirihi dan sanad ini hasan. Syaikh Syu’aib tidak sedikitpun menyatakan adanya cacat pada sanad ini. Dalam Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain no 24315 dinyatakan bahwa sanad tersebut shahih. Itu membuktikan bahwa pada dasarnya sanad atsar Sunan Darimi jayyid (baik) tetapi salafy tidak rela kalau ada hadis shahih yang memberatkan keyakinan mereka sehingga yang harus mereka lakukan adalah mencari-cari cara untuk mencacatkan hadis tersebut.

Salam Damai

Iklan

25 Tanggapan

  1. pertamax…..
    mode nunggu komentar yg berbobot…bukan asal…
    damai dibumi, damai dihati…

  2. @bob
    Anda menantikan komentar yang bebobot. Tidak akan anda dapat, sebab mereka yang penentang TAWASUL terhadap yang sudah mati belum bisa membedakan YANG MATI DAN YANG HIDUP. Wasalam

  3. Ass Wr. Wb
    Sya ingin penjelasan perbedaan/persamaan antara Tawassul dengan Tabarruk
    Terima Kasih

  4. apa persamaan berhala dan orang yang telah meninggal dunia..????
    bagi bapak2 yang “pintar” coba tolong di jawab yahh……….

  5. @abu jufri
    bagi bapak2 yang “pintar” coba tolong di jawab yahh…
    Tidak perlu pintar untuk menjawab pertanyaan anda. Cukup dengan menanggalkan kesombongan, merasa paling benar sendiri dan berprasangka baik.

    Boleh kasih pertanyaan juga khan.. 🙂

    Apa bedanya menyembah berhala dengan menyembah Ka’bah?. Setelah itu baru pertanyaan anda saya jawab (tidak dg kepintaran lhoo)

    Saya juga pernah dengar bagi mereka yang anti tabarruk dan tawassul, alasannya adalah karena yg dijadikan perantara adalah sudah mati dan tidak memiliki daya apa2. Jadi apakah alasan berperantara dikarenakan yang diperantarai dan yang diharapkan berkahnya memiliki daya upaya? Kalau spt itu cara pikir mereka maka mereka harus belajar lagi apa makna dari tawassul & tabarruk.

    Mereka yang bertawassul dan bertabarruk tetap meyakini “Laa haula walaa quwwata illaa billaah”.

    Ribuan tahun umat Islam bertabarruk di kuburan Rasulullah, bertawassul kepada Rasulullah. Tidak ada satupun terjebak dalam syirik (menyembah kuburan ). Paranoid dari para penentang tabarruk & tawassul benar2 tidak beralasan.
    Padahal para penentang pun setiap hari bertawassul kepada Rasulullah dan mendo’akan keberkahan bagi Rasulullah dan keluarganya. Kalau yang sudah meninggal tidak bisa memberi keberkahan mengapa pula kita diperintahkan meminta agar mereka yang meninggal diberi keberkahan. Atau kita memiliki pemahaman yang berbeda ttg apa itu berkah?

    *Yaa Allah tolonglah hamba agar tidak berputus asa dengan kedangkalan cara berfikir saudara2ku yang tidak mampu memahami hakikat dan kebenaran Perintah-Mu*

    Salam Damai.

  6. hehe ada orang mabuk bertanya apa beda menyembah berhala dan orang mati?
    Kata mati aja nda tahu artinya mau tanya perbedaan.
    Kalau yang ditanya apa perbedaan menyembah berhala dan menyembah NAFSU. Nah itu baru pantas utk sdr abu jufri

  7. @ SP
    Saya hormat n salut untuk anda. Anda cukup sahih jika di sebut Ulama Hadist Zaman ini. Karena anda memiliki keyakinan dan kapasitas untuk menilai kwalitas sebuah hadis sesuai “aturan main” dalam ilmu hadis.

    Hadis-hadis atau atsar-atsar semacam ini sangat dibutuhkan masyarkat kita untuk menangkal racun salafiers

    Dan @ Para Salafiers
    Boleh aku minta tolong, carikan ulama kalian yang paling alim, paling tau tafsir dan hadist ato hujjah-hujjah apa saja andalan kalian dan dapat mewakili madzab kalian kalo perlu ke ilmuannya di atas BIN BAZ datangkan ke sini mempertahankan manhaj kalian, karena aku Rendy

    Akan membuktikan dengan TELAK bahwa MANHAJ SALAFIYYUN tidak sesuai dengan Dienul Islam dan wajib di jauhi !!!
    Aku tidak telaten kalo mbahas yang kecil-kecil karena ga akan pernah selesai, ujung-ujungnya hadis vs hadis yang mbulet gak karu-karuan (tapi tetap bermanfaat untuk referensi).
    Dan soal Salafiers aq mo membungkam mereka langsung yg menjadi aqidah manhajnya agar orang-orang yang ingin mendalami Islam tidak melalui “jaringan” mereka.

    Ingat setahu ku semua teroris bermanhaj Salaf yang khas bercelana cingkrang…

    @SP
    Tolong kapan-kapan mbahas celana cingkrang siih… He..he..he.. Apa ini “aplikasi” dari Riwayat Siti Aisyah R.A. (HR Ahmad) Tentang kedatangan Abu Bakar dan Umar tapi beliau membiarkan betisNya tetap terbuka?? Ada-ada saja….

    Salam Damai

  8. Tentang Tawassul dalam hal mendekatkan diri kepada Allah ada dua dan kesemuanya sahih dan ke duanya sama-sama punya hujjah dan dapat membuktikannya.

    Tapi lagi-lagi sayang Salafiers tidak berada pada ke dua kategory tersebut, tUHAN sesembahan mereka yang berupa “kertas kuning” menuliskan untuk tidak menggunakan tawasul. Dan perhatikan, tidak ada riwayat yang menceritakan ke tinggian akhlak dan ke dekatan ulama-ulama wahabiers kepada Allah.

    he..he..he..

    Salam Damai

  9. Apa bedanya sujud utk menhormati dgn sujud utk menyembah?
    Iblis disuruh sujud kpd Adam dan kuburannya utk menyembah atw menghormati?

    bagi abu2 yang “pintar” (abu Jufri, abul-jauzza, abu Imem, abu Antirafidah dll) coba tolong di jawab yahh……….

  10. Logikanya gini; orangtua yg punya hutang apabila meninggal dunia bisa dibayar hutangnya oleh ahli warisnya, Insya Allah sampai kepada Allah, apalagi Tabarruk dan Tawassul kepada Rasulullah saw. Betul ngga yah logika saya?

    Wassalam…

  11. @truthseeker08,
    Apa bedanya menyembah berhala dengan menyembah Ka’bah?. Setelah itu baru pertanyaan anda saya jawab (tidak dg kepintaran lhoo).
    _______
    kalian masih g tau yah tentang menghadap ka’bah kok dibilang nyembah pak? UDAH JELAS ITU PERINTAH ALLAH AZZAWAJALLA!!!. COBA BANDINGKAN BUNG DENGAN SUJUD DI KUBURAN,DENGAN BERHARAP ADA BERKAHNYA,KATE SIAPE OM ADA BERKAH?? DARI HONGKONG KALE.. ATO KATE GURU2 NT YAH YANG SUFI DAN SYIAH ATO SYIAH KAWIN SILANG DENGAN SUFI, COBA BEDAIIIIIINNNNNNNNN BUNG. EMANG ADA DISURUH SUJUD NGADEP KUBURAN…??? BAPAK2 YANG “PINTAR” KAN ANE NANYAIN PERSAMAAN BERHALA DAN ORANG MATI??? DI JAWAB DONG NTAR BARU DISKUSIKAN LAGE.

    @Nomad,
    Apa bedanya sujud utk menhormati dgn sujud utk menyembah?
    Iblis disuruh sujud kpd Adam dan kuburannya utk menyembah atw menghormati?
    ——–
    ANE COPAS AJE YAH.
    Apakah Sujud Kepada Adam as termasuk Syirik

    Pertanyaan ini muncul, karena sebagian orang menganggap bahwa Iblis adalah makhluk yang paling bertauhid, karena tidak mau sujud kepada selain Allah, pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu Arabi , seorang sufi yang dikecam oleh banyak para ulama dan divonis sebagai orang yang sesat karena ajaran Wihdat Al Wujud-nya. Yang lebih ironisnya lagi, pendapat yang menyatakan bahwa Iblis adalah bapak tauhid juga diikuti oleh beberapa cendekiawan Indonesia. Kita katakan kepada mereka bahwa sujud tidak mesti berarti menyembah, bahkan para ulama sepakat bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud untuk menyembah . Seperti halnya orang Islam yang bersujud menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah swt dengan menghadap ke Ka’bah. Begitu juga para malaikat sujud menghadap Adam demi melaksanakan perintah Allah swt, dan mereka sebenarnya sedang sujud dan menyembah Allah swt, bukan menyembah Adam. Ibadah sendiri berarti mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dia diperintahkan untuk mencium hajar aswad dan melempar jumrah yang disimbolkan sebagai Iblis, amalan-amalan ini disebut ibadah karena melaksanakan perintah Allah

    Kita katakan juga kepada mereka bahwa sujud berarti juga penghormatan. Sujud para malaikat kepada Adam bisa kita masukkan dalam katagori sujud penghormatan . Sujud penghormatan ini kita dapatkan juga dalam kisah nabi Yusuf as. Pada waktu nabi Yusuf as sudah menjadi mentri di Mesir, saudara-saudaranya beserta kedua orang tua-nya datang ke Mesir, kemudian mereka bersujud di depan nabi Yusuf as sebagai bentuk penghormatan kepadanya , sebagaimana firman Allah swt :

    وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا
    Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud ( QS Yusuf : 100 )

    SUJUD PENGHORMATAN INI, MERUPAKAN SYARIAT ORANG2 TERDAHULU, KEMUDIAN SETELAH DATANGNYA ISLAM , SYARIAT ATO AJARAN ITU DIHAPUSKAN, sebagaimana diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, bahwasanya ia berkata : « Ketika saya datang ke Syam, aku melihat orang-orang kristen sujud kepada para pemimpin dan pendeta mereka, dan aku menganggap engkau wahai Rosulullah saw orang yang paling berhak untuk kami sujud kepada-mu. Berkata Rosulullah saw : TIDAK , KALAU SAYA BOLEH PERINTAHKAN MANUISA UNTUK SUJUD KEPADA MANUSIA, NISCAYA SAYA PERINTAHKAN SEORANG ISTRI UNTUK SUJUD KEPADA SUAMINYA,KARENA BESARNYA HAK SUAMI KEPADANYA«
    Sebagian ulama mengistinbatkan dari ayat ini, bahwa orang yang meninggalkan sholat dan tidak mau sujud kepada Allah sekali saja, niscaya dia dihukumi sebagai orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada diri Iblis. Ini bagi yang meninggalkan sholat sekali, bagaimana kiranya orang yang secara sengaja meninggalkan sholat bekali-kali ??

    QIYAS IBLIS YANG TERTOLAK
    Iblis menolak sujud kepada Adam, karena dia merasa lebih baik dari Adam. Dia menganggap bahwa unsur api, lebih baik daripada unsur tanah. Qiyas yang digunakan Iblis di atas adalah qiyas yang tertolak, paling tidak ada empat alasan :

    1/ Qiyas seperti ini tidak bisa diterima , karena bertentangan dengan teks Al Qur’an. Dalam kaidah ushul disebutkan bahwa qiyas jika berhadapan dengan teks, secara otomatis telah tertolak.

    2/ Tidak benar kalau api itu lebih baik dari tanah, bahkan sebaliknya tanah itu lebih baik dari api, karena tanah mempunyai sifat yang ringan sedang api sifatnya merusak dan membakar. Tanah juga bersifat membangun dan menumbuhkan biji-biji yang ditanam di dalamnya, Jika anda ingin melihat fungsi tanah, lihatlah taman yang hijau , dipenuhi dengan pohon yang rindang, dihiasi dengan buah-buhan yang lezat dimakan, nyaman dipandang, setiap orang merasa betah tinggal di dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa tanah jauh leih baik dari api.

    3/ Taruhlah, kita terima bahwa api lebih baik daripada tanah, akan tetapi hal itu tidak menunjukkan bahwa Iblis lebih baik dari Adam . Karena bisa saja terjadi induknya baik, tapi keturunannya jelek. Kita dapatkan banyak orang tua yang baik, tetapi anaknya rusak dan bejat .
    4/ Sebenarnya kalau saja Iblis mau jujur, mestinya dia merasa malu, karena pada waktu dia menolak untuk sujud kepada Adam, disitu terdapat makhluk yang lebih tinggi derajatnya yaitu malaikat, karena mereka diciptakan dari cahaya. Walaupun begitu mereka mau bersujud ketika diperintah Allah, seharusnya – secara akal sehat – yang lebih rendah derajatnya ikut sujud juga. Akan tetapi begitulah Iblis, dia sombong dan menolak untuk sujud .

  12. @abu jufri

    kalian masih g tau yah tentang menghadap ka’bah kok dibilang nyembah pak? UDAH JELAS ITU PERINTAH ALLAH AZZAWAJALLA!!!.

    Jangan sewot ahhh..sabar..sabar. Pertanyaan saya masih lebih masuk akal dari pertanyaan anda koq. Semua umat tahu bahwa Ka’bah hanyalah sebagai kiblat dan bahwa yang kita sembah adalah Allah SWT. Tapi bagaimana dg mereka yang tidak tahu? bgm pendapat dg mereka yang beragama lain (yg tidak tahu)?. Karena mereka tidak tahuniat kita umat Islam, bukan?. Nahh, pertanyaan saya itu adalah seperti maksudnya. Kalau anda terlalu tolol untuk memahami apa yang dilakukan mereka yang bertabarruk yaa kita mau bilang apa. Lagi pula anda ini bicara tentang siapa tohh??, siapa sih yang menyembah kuburan?? Apakah anda melihat ada umat Islam di Madinah menyembah kuburan Rasulullah?
    Jadi jangan pakai nafsu angkara murka kalau bicara mas Abu Jufri… :mrgreen:

    COBA BANDINGKAN BUNG DENGAN SUJUD DI KUBURAN,

    Anda ini bicara tentang siapa tohh??, siapa sih yang menyembah kuburan?? Apakah anda melihat ada umat Islam di Madinah menyembah (bersujud) di kuburan Rasulullah?

    DENGAN BERHARAP ADA BERKAHNYA,KATE SIAPE OM ADA BERKAH?? DARI HONGKONG KALE..

    1. Menurut Firman Allah.
    2. Sunnah Rasul.
    3 Dicontohkan oleh sahabat
    Jangan jadikan ketidaktahuan anda sebagai hujjah.

    Al Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 107 , yang artinya, ”Dan tiada Kami utus Engkau (Ya Muhammad)melainkan untuk jadi rahmat bagi seluruh alam”

    Apakah anda tidak tahu bahwa Rasulullah itu membawa berkah? Bahkan lebih dari itu lho Rasulullah itu membawa rahmat yang bahkan bagi seluruh alam?? kemana aja anda selama ini?

    “Marwan bin Hakam memasuki masjid dan melihat seorang laki-laki MELETAKKAN MUKANYA DIATAS KUBUR. Marwan memegang lehernya dan berkata: Ta¬hukah engkau apa yang sedang engkau perbuat? Orang tersebut, Abu Ayyub al-Anshari, mengangkat kepalanya dan berkata: Aku tidak datang kepada batu, melainkan ke sisi Rasul…dstnya..

    Bedanya adalah anda berguru kepada Marwan yang Nashibi, sedang kami berguru kepada sahabat Rasul yang berkualitas dan cinta kepada Rasulullah.

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa; sewaktu Rasulullah dikebumikan, Fatimah –puteri Rasul satu-satunya- bersimpuh di sisi kuburan Rasul saw dan mengambil sedikit tanah makam Rasul saw kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis iapun membaca beberapa bait syair….
    Orang yang telah mencium tanah kubur Ahmad,
    untuk selama tak perlu lagi mencium wangi-wangian yang mahal.
    Sungguh telah tertuangkan atasku musibah-musibah,
    yang apabila dituangkan atas siang, niscaya akan menjadi malam
    (Lihat: al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar Jilid: 2 Halaman: 18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid: 2 Halaman: 340, Irsyad as-Sari jilid: 3 Halaman: 352, dsb)

    Abu Jufri said:

    ATO KATE GURU2 NT YAH YANG SUFI DAN SYIAH ATO SYIAH KAWIN SILANG DENGAN SUFI,

    Siapa saja yang mencontoh Sayyidah Fatimah akan juga bertabaruk. kepada Rasulullah. Apakah dengan begitu anda katakan mereka Syi’ah?? Apakah anda sudah tahu beda mereka yang mencintai anak Rasulu-Nya dengan yang membenci anak dari Rasul-Nya?

    Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Anas, bahwa ketika Nabi mencukur rambutnya, dan para sahabat berada di sekitar beliau. Setiap potongan rambut beliau diperebutkan oleh Setiap orang dari mereka

    Jika disana ada anda dan Marwan tentunya kalian tidak akan berlaku sebagaimana sahabat2 yang lain. kemudian anda salahkan kami tidak mencontoh para pembenci keluarga Rasul?
    Masih banyak lagi dalil2 bertabarruk mas Abu Jufri anya saja forum ini tidak memungkin untuk menampilkannya. Nahh, bukankah jelas bahwa kami pakai dalil yang jauh lebih baik dan berakhlak. Kemudian anda caci maki kami dan memerintahkan kami meninggalkan hal tsb dengan alasan/dasar:

    1. Ketidaktahuan anda tentang Tabarruk dg kata lain anda memerintahkan yang pintar (tahu/berilmu) mengikuti yang tolol (tdk berilmu).
    2. Kami anda suruh mengikuti para pembenci keluarga Rasul dan meninggalkan cntoh2 dari para sahabat yang pecinta keluarga Rasul. Bukankah itu sangat keblinger dan tidak amsuk akal?.
    3. Kami harus mendengarkan orang yang teriak2 dan memaki2 bahwa tabarruk adalah menyembah kuburan…hmmm… :mrgreen:
    4. Apakah karena galak dan seramnya anda dengan janggut yang acak2an kami harus takut?

    Abu Jufri said:

    COBA BEDAIIIIIINNNNNNNNN BUNG. EMANG ADA DISURUH SUJUD NGADEP KUBURAN…??? BAPAK2 YANG “PINTAR” KAN ANE NANYAIN PERSAMAAN BERHALA DAN ORANG MATI??? DI JAWAB DONG NTAR BARU DISKUSIKAN LAGE.

    Betulkan kedangkalan otak anda. Kemudian minta agar kami juga memangkas otak kami agar sama dangkalnya dengan anda.. hmmm.. :mrgreen:
    Berhala dengan dan orang mati adalah sama2 benda mati. Jadi mereka yang bertabarruk sama dengan menyembah berhala…hehehe..ccckk..cckkkk.. :mrgreen:
    Berhala dengan Hajarul aswad sama2 batu dan sama2 benda mati. Mereka yag beragama Hindu (dengan jenggot yang lebat dan acak2an) melihat kita umat islam bersujud di depannya. Apakah jika mereka teriak2 , mencaci maki anda penyembah berhala itu berarti mereka benar? Hehe anda kan akan bilang bahwa mereka tidak tahu hakikat dari sujud anda, betulkan?. Karena mereka bukan muslim maka kita hanya nisbahkan mereka sebagai tidak tahu. Namun anda khan seorang muslim yang mestinya mengerti apa itu Tabarruk (dan orang2 yang suci dan dekat dengan Allah, mereka ini Allah muliakan dg keberkahan.

    Salam Damai.

  13. ada horor disini 😆
    #berbalik pulang#

  14. @Abu Jufri\;
    Lu mah jelas2x bukan Sunni, tp Wahabi/Salafi. Baca ajah maslah tabaruk, tawasull dll di http://www.everyoneweb.com/tabarruk/. Ini saya copas sbgan:

    1. Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: ‘Sadarkah apa yang telah engkau lakukan?’. Kemudian lelaki itu menengok kearah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari ra) dan mengatakan: ‘Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasulallah’. Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda: ‘Sewaktu agama dipegang oleh pakarnya (ahli) maka janganlah menangis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya maka tangisilah’ ”. (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadits ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404).
    uga riwayat semacam itu bisa dirujuk didalam kitab-kitab: Ibnu Hibban dalam shahihnya, Imam Ahmad (5:422), Tabarani didalam Mu`jam al-Kabir (4:189) dan didalam ‘Awsat’ disahkan oleh Haithami dalam al-Zawa’id (5:245), Al-Hakim dalam Mustadrak (4:515), Al-Dhahabi menshahihkan juga, al-Subki didalam Shifa’ al-Siqam halaman 126, Ibnu Taimiyyah dalam al-Muntaqa 2:261f, Haithami dalam al-Zawa’id 4:2). Hadits di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshohihannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadits lain yang meragukannya.

    2.  Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasaan sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 halaman: 137; Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 hal. 208; Tahdzibul Kamal jilid: 4 hal. 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi jilid: 1 Halaman 358)

    3.Ibnu Hamlah menyatakan: “Abdullah bin Umar meletakkan tangan kanan- nya di atas pusara Rasul dan Bilal pun meletakkan pipinya di atas pusara itu”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 4 Halaman: 1405)

    4. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib kw. bahwa: “Sewaktu Rasulullah di- kebumikan, Siti Fatimah –puteri Rasul satu-satunya– bersimpuh disisi kuburan Rasulallah dan mengambil sedikit tanah makam Rasulallah kemudian diletakkan dimukanya dan sambil menangis ia pun membaca be- berapa bait syair….”. (al-Fatawa al-Fiqhiyah karya Ibnu Hajar jilid 2 hal.18, as-Sirah an-Nabawiyah jilid 2 hal.340, Irsyad as-Sari jilid 3 hal. 352 dsb.nya)

    5. Seorang Tabi’in bernama Ibnu al-Munkadir pun pernah melakukannya (bertabarruk kepada kuburan Rasulallah). “Suatu ketika, di saat beliau duduk bersama para sahabatnya, seketika lidahnya kelu dan tidak dapat berbicara. Beliau langsung bangkit dan menuju pusara Rasulallah dan meletakkan dagunya di atas pusara Rasulallah kemudian kembali. Melihat hal itu, seseorang mempertanyakan perbuatannya. Beliau menjawab: ‘Setiap saat aku mendapat kesulitan, aku selalu mendatangi kuburan Nabi’ ”. (Lihat: Wafa’ al-Wafa’ Jilid: 2 Halaman: 444)

    Dari kelima contoh sahabat di atas jelas mereka TDK MENYEMBAH KUBURAN, tp mencium kuburan Rasul SAW krn kecintaan, kerinduan dan mengambil berkah. Tp saya faham mengapa Wahabi tdk mengerti dan tdk bs membedakan antara tabarruk dgn syirik, sbb Wahabi tdk punya KECINTAAN di hatinya thd Rasul SAW, atau hanya punya otak (itu jg menafsirkan Al Qur’an dan hadis hanya sampai tenggorokan) tp tdk punya hati. Mungkin hati mereka sdh beku akibat merasa plg pintar sendiri, merasa sdh menguasai kitab anu dan anu, merasa plg salafus sholeh dll. Buktinya makam Rasul SAW ajah mau dihancurkan sama mereka dan beberapa makam sahabat & keluarga Rasul SAW saat awal pendirian Saudi Arabia.
    Na’udzubillah min dzallik, fitnah dari Najd !!!

  15. @Normad
    Mereka Wahabi dan sekarang menyebut diri pengikut para Salafy. Supaya dikatakan mereka adalah orang2 yang taat. Padahal karena kebodohan mereka menyebut diri Salafy. Kalau pintar dan berakhlak dan berenai memakai predikat tsb Mereka sekarang bisa berkicau karena Menguasai Ka’bah dan Medinah. Kalau tidak, mereka hanya KECOAK yang di…….

  16. Whaby/salafi selalu membedakan Nabi ketika masih hidup dan ketika sudah wafat. Wahaby/salafi sulit untuk memahami bahwa hakekat manusia adalah jiwa/ruh. Ketika seorang manusia dikatakan mati maka yg mati sesungguhnya adalah hanya jasadnya, tidak ruhnya, karena jiwa/ruh itu tdk pernah mati (abadi). Oleh karena itu Wahaby/salafi gagal membedakan antara kematian kucing dan manusia.

    Wahaby/salafi juga tdk pernah memahami adanya perbedaan atau tingkat2 dlm maqam ruhani manusia. Oleh karena itu mereka tdk bisa melihat adanya perbedaan antara maqam ruhani Nabi dan wali dg manusia biasa.

    Begitu juga wahaby/salafi tdk mampu memahami Ilmu Tauhid secara benar shg gagal membedakan antara “ibadah” dan “khudhu (penghormatan).” Makanya semuanya dipukul rata “musyrik” !

  17. Banyak mereka yang terdampar di Wahabi karena hanya bermodalkan semangat.
    Sehingga sebagaimana agama/sekte yang menggunakan metoda doktrinasi/dogma maka tidak ada jalan lain bagi pemuka2 mereka selain menyatakan semua yang selain cara mereka adalah bid’ah. Hal seperti ini pun terjadi di agama lain juga.
    Tapi seiring dengan waktu dan seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan tingkat kebijaksanaan mereka, maka tidak sedikit yang merubah haluan. Namun tentu pemuka2 yang ditinggalkan akan mendoktrin pendatang baru dengan menyatakan mereka yang mendapat hidayah (berubah) sebagai telah sesat.. :mrgeen:

    Wassalam

    Salam damai.

  18. saya seneng ada yang beradu otak. mudah-mudahan semakin pintar

  19. @truthseeker08..
    Kalau anda terlalu tolol untuk memahami apa yang dilakukan mereka yang bertabarruk yaa kita mau bilang apa. Lagi pula anda ini bicara tentang siapa tohh??, siapa sih yang menyembah kuburan?? Apakah anda melihat ada umat Islam di Madinah menyembah kuburan Rasulullah?
    Jadi jangan pakai nafsu angkara murka kalau bicara mas Abu Jufri…
    COBA BANDINGKAN BUNG DENGAN SUJUD DI KUBURAN,
    Anda ini bicara tentang siapa tohh??, siapa sih yang menyembah kuburan?? Apakah anda melihat ada umat Islam di Madinah menyembah (bersujud) di kuburan Rasulullah?
    _________
    Hehe belagak Pilon Nt Nt ini pade, kalo mau liat agama syiah sujud kuburan ama agama sufi sujud dikuburan Syaik2nya bukan dimadinah om.. apalagi kuburannya Rasulullah salallahualahiwassalam (bakalan publik akan mengatakan kalian sesat jadi lari dech orang2 awam yang mau kalian doktrin) Tapi disono om ditempat2 tersembunyi yang Cuma orang2 tariqat dia aja ama akidah sesama mereka aja kayak syiah dan sufi baru ENTE bakalan tau (atau ente udah tau tapi Taqiyah yah). Ya kalo gitu mah sama dengan bo’ong te. Disini bukti terang2 emang belum ketemu tapi berdasarkan pengakuan mantan2 sufi dan Syiah juga dari Foto/video yang diambil saat mereka lagi SUJUD DIKUBURAN, blon lage kalo nt ke gunung kawi sono/tempat2 keramat mungkin nt akan menemukan hal yang ente ajukan pertanyaan pada ane.

    @truthseeker08..
    DENGAN BERHARAP ADA BERKAHNYA,KATE SIAPE OM ADA BERKAH?? DARI HONGKONG KALE..
    1. Menurut Firman Allah.
    2. Sunnah Rasul.
    3 Dicontohkan oleh sahabat
    Jangan jadikan ketidaktahuan anda sebagai hujjah.
    Al Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 107 , yang artinya, ”Dan tiada Kami utus Engkau (Ya Muhammad)melainkan untuk jadi rahmat bagi seluruh alam”
    Apakah anda tidak tahu bahwa Rasulullah itu membawa berkah? Bahkan lebih dari itu lho Rasulullah itu membawa rahmat yang bahkan bagi seluruh alam?? kemana aja anda selama ini?
    “Marwan bin Hakam memasuki masjid dan melihat seorang laki-laki MELETAKKAN MUKANYA DIATAS KUBUR. Marwan memegang lehernya dan berkata: Tahukah engkau apa yang sedang engkau perbuat? Orang tersebut, Abu Ayyub al-Anshari, mengangkat kepalanya dan berkata: Aku tidak datang kepada batu, melainkan ke sisi Rasul…dstnya..
    Bedanya adalah anda berguru kepada Marwan yang Nashibi, sedang kami berguru kepada sahabat Rasul yang berkualitas dan cinta kepada Rasulullah.
    ——————–
    Menurut Firman Allah Surat Al-Anbiya ayat 107???? Dengan diartikan sebagai rahmat KUBURAN Rasulullah salallahualihiwassalam??? Ane mau tanya pade ente neh, siape nyang nyatakan maksud sedemikian tersebut, siape ulamanya? Kalo ulama syiah ma sufi wajar2 aje gitu om,
    ane copas dikit dari syaik Al Albani “Artinya : Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas menjelajah di seluruh permukaan bumi untuk menyampaikan kepadaku salam yang diucapkan oleh umatku” [Shahihul Jaami’ No. 2174]
    Seandainya mayit itu bisa mendengar, tentu mayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih memungkinkan bisa mendengar. Mayit beliau lebih mulia dibanding mayit siapapun, termasuk mayit para nabi dan rasul. Seandainya mayit beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa mendengar, tentu beliau mendengar salam dari umatnya yang ditujukan kepada beliau dan tidak perlu ada malaikat-malaikat khusus yang ditugasi oleh Allah untuk menyampaikan salam yang ditujukan kepada beliau. JADI DISINI BUKAN KUBURAN ATO ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA YANG BISA DITAWASULLI ATO TABARRUKI. ITU MAH SYIRIK ATUH MANG.
    Pake nyalahin marwan pula (dasar Rafidha bejat) mangkanya kalian itu musti NGACA jangan kebalik ntar tuduhan itu balik sendiri,siapa yang membunuh sayyidina Ali , siapa yang Mencela dan menghianati Al Hasan, Siapa yang menghianati Al Husain radiallahuanhum, tak lain kalian (Syiah) sendirilah yang berbuat demikian, tapi mau ngaku “CINTA” Ahlu bait….itu mah kebalik pak? Rasulullah dan Fathimah diejek dan dilecehkan, Al hasan juga tak luput dari ejekan (Ulama syiah) kalian, ibarat senjata makan tuan. Ente itu kalo g ngerti ya mbok ditanya dulu jangan ngenjawab langsung ker. Mangkanya ane bilang DARI HONGKONG KALEEEEEE….
    JUGA kisah oleh Abu Ayub al-anshari ane bawakan hadisnya
    – Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang ke Masjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya di atas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: “sadarkah apa yang telah engkau lakukan?”. Kemudian lelaki itu menengok ke arah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari) dan mengatakan: “Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang di sisi Rasul. Aku pernah mendengar Rasul bersabda: SEWAKTU AGAMA DIPEGANG OLEH PAKARNYA (AHLI) MAKA JANGANLAH MENANGIS UNTUK AGAMA TERSEBUT. NAMUN KETIKA AGAMA DIPEGANG OLEH YANG BUKAN AHLINYA MAKA TANGISILAH”.” (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi Jilid: 4 Halaman: 560 Hadis ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi Jilid: 4 Halaman 1404)
    Hadis di atas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshahihannya oleh adz-Dzahabi.
    Ck…ck…ck… Kalian ini pandai mempermainkan Ayat2 Allah dan Hadits2 yah, apalagi terhadap manusia. Ent bisa liat g kenapa abu ayub tersebut menangis juga menepelkan mukanya kekuburan…? karena teringat sabda rasul salallahuailahiwasallam “NAMUN KETIKA AGAMA DIPEGANG OLEH YANG BUKAN AHLINYA MAKA TANGISILAH” juga menempelkan mukanya kekuburan adalah Urf (kebiasaan) atau perassaaan sensitif ketika tiba dipemakaman orang yang dicintainya apalagi kekasih Allah. Jadi kagak ada hubunganya om dengan tabarruk ma orang meninggal…

    @truthseeker08..
    Bedanya adalah anda berguru kepada Marwan yang Nashibi, sedang kami berguru kepada sahabat Rasul yang berkualitas dan cinta kepada Rasulullah.
    _____________
    Apa buktinya pak??? Kalian itu tong kosong nyaring bunyinya, berMuka dua. Bertolak belakang dengan islam dan Ahlu bait, ngaku2 “cinta” segala… buktikan om (dasar Syiah).
    @truthseeker08..
    Jika disana ada anda dan Marwan tentunya kalian tidak akan berlaku sebagaimana sahabat2 yang lain. kemudian anda salahkan kami tidak mencontoh para pembencikeluargaRasul?
    Masih banyak lagi dalil2 bertabarruk mas Abu Jufri anya saja forum ini tidak memungkin untuk menampilkannya. Nahh, bukankah jelas bahwa kami pakai dalil yang jauh lebih baik dan berakhlak. Kemudian anda caci maki kami dan memerintahkan kami meninggalkan hal tsb dengan alasan/dasar:
    1.Ketidaktahuan anda tentang Tabarruk dg kata lain anda memerintahkan yang pintar (tahu/berilmu) mengikuti yang tolol (tdk berilmu).
    2. Kami anda suruh mengikuti para pembenci keluarga Rasul dan meninggalkan cntoh2 dari para sahabat yang pecinta keluarga Rasul. Bukankah itu sangat keblinger dan tidak amsuk akal?.
    3. Kami harus mendengarkan orang yang teriak2 dan memaki2 bahwa tabarruk adalah menyembah kuburan…hmmm…
    4. Apakah karena galak dan seramnya anda dengan janggut yang acak2an kami harus takut?
    ______
    Yang pintar itu bukan asal nyeloteh kayak kamu tapi memakai dalil yang shahih lagi dengan pemahaman para ulama salaf bukan ulama tukang taqiyah tukang penipu. Nyang nyuruh ningalin keluarga Rasul salallahuailahiwassalam siape (inilah akhlaq kalian tukang fitnah bermuka 2) contoh yang dilakukan oleh sahabat dilakukan dengan ilmu yang teliti bukan asal nyeblos gitu aja bung, liat penjelasan ulama sunnah. Ya..keblinger n g masuk akal jika kalian selalu bermuka 2 dan tukang fitnah (jangan2 ntar dibilang maling teriak maling). Hehehe bung… yang namanya tabarruk itu bukan nyembah kuburan om, tabarruk itu yang disyariatkan bukan nyembah kiai atau ulama apalagi kuburan, tahukah engkau bahwa menyembah ulama itu bukan sujud aja didepan mereka tapi kalian mentaati apa yang ulama kalian katakan, yang halal di haramkan yang haram di halalkan “ulama” kalian, kayak mut;ah sahabat dihujat, khilafah, shalat g jelas..dll. gitu om. Maaf mas dari mana NT tau ane berjanggut acak2an (ilmu apa lagi ini ,emang kblinger) jangan2 NT NT pade kagak berjanggut kale yah (katenye cinta ahlu bait), lagian kenapa NT harus takut om..? santai ajalah. Seharusnya umat yang harus waspada dengan adanya pemikiran seperti kalian ini.

    @truthseeker08..
    COBA BEDAIIIIIINNNNNNNNN BUNG. EMANG ADA DISURUH SUJUD NGADEP KUBURAN…??? BAPAK2 YANG “PINTAR” KAN ANE NANYAIN PERSAMAAN BERHALA DAN ORANG MATI??? DI JAWAB DONG NTAR BARU DISKUSIKAN LAGE.
    Betulkan kedangkalan otak anda. Kemudian minta agar kami juga memangkas otak kami agar sama dangkalnya dengan anda.. hmmm..
    Berhala dengan dan orang mati adalah sama2 benda mati. Jadi mereka yang bertabarruk sama dengan menyembah berhala…hehehe..ccckk..cckkkk..
    Berhala dengan Hajarul aswad sama2 batu dan sama2 benda mati. Mereka yag beragama Hindu (dengan jenggot yang lebat dan acak2an) melihat kita umat islam bersujud di depannya. Apakah jika mereka teriak2 , mencaci maki anda penyembah berhala itu berarti mereka benar? Hehe anda kan akan bilang bahwa mereka tidak tahu hakikat dari sujud anda, betulkan?. Karena mereka bukan muslim maka kita hanya nisbahkan mereka sebagai tidak tahu. Namun anda khan seorang muslim yang mestinya mengerti apa itu Tabarruk (dan orang2 yang suci dan dekat dengan Allah, mereka ini Allah muliakan dg keberkahan.
    __________
    Sebenarnya yang ngukur dangkal atau dalam itu bukan ente ama ane tapi dengan ilmu juga penjelasan ulama sunnah, bukannya dengan nafsu taqlid ma kiai syaik2 NT NT, andalah yang harus mengukur OTAK ANDA Sendiri sampai batas mana “AIR”nya, kan dah dibilang itulah persamaannya tapi ent nt kagak mau peduli nyang penting ngalap berkah (padahal syirik). nah rupanya tau juga ente yah tentang jawaban untuk orang Hindu, Tapi pak bukan berarti tabarruk membabi buta pak, diliat doloe tabaruk yang syar’i ama yang syirik baru boleh tabarruk jangan semua dianggap boleh tabaarruk atau kalian sering tabaaruk dengan maaf “buang anginnya” syaik sufi ato syiah kalian? Atau dahaknya kalian telan atau muntahannya? Atau dengan kyai kebo slamet…? (Paling keblingeeerrrr tuh kalian) jangan samakan sosok kiai kalian dengan Musthofa Rasulillah sallallahualahiwassallam.

    @Nomad,
    Dari kelima contoh sahabat di atas jelas mereka TDK MENYEMBAH KUBURAN, tp mencium kuburan Rasul SAW krn kecintaan, kerinduan dan mengambil berkah. Tp saya faham mengapa Wahabi tdk mengerti dan tdk bs membedakan antara tabarruk dgn syirik, sbb Wahabi tdk punya KECINTAAN di hatinya thd Rasul SAW, atau hanya punya otak (itu jg menafsirkan Al Qur’an dan hadis hanya sampai tenggorokan) tp tdk punya hati. Mungkin hati mereka sdh beku akibat merasa plg pintar sendiri, merasa sdh menguasai kitab anu dan anu, merasa plg salafus sholeh dll. Buktinya makam Rasul SAW ajah mau dihancurkan sama mereka dan beberapa makam sahabat & keluarga Rasul SAW saat awal pendirian Saudi Arabia.
    Na’udzubillah min dzallik, fitnah dari Najd
    —————-
    Dari mana pak, bapak bisa mengatakan mereka mengambil berkah dari kuburan Rasul salallahualaihiwassallam dengan hadis2 tersebut? Semua hadis2 tersebut menyatakan sahabat bukan mengambil berkah tetapi dalam rangka ziarah (itupun kalo shahih semua hadisnya). Hehe faham tentang salafy yang g ngerti antara syirik dan tabarruk.. ?? sebaiknya ente NGACA dong baru ngomongnya yang bener jangan ngelantur gitu atuh. Kalian mah kebal neraka wajar2 aja kalian santai n simple ngambil pendapat bukan dengan nash tapi dengan make AKAL Hadis dhaif bahkan maudhu ato GURU kalian yang dianggap “Ulama”. Apakah kalian dapat menunjukkan bahwa kalian itu “cinta” Allah dan RasulNYA…HA…?? mau ngancurin makam rasul…? memang dengan adanya hadis yang telah diperingatkan oleh Rasulillah sallallahualahiwassallam untuk melarang membangun bangunan dikuburan,
    نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, At-Tirmidzi 2/155, dishahihkan oleh Al-Imam Ahmad, 3/339 dan 399).
    ANA COPAS SEDIKIT …
    Asy-Syaikh Husein bin Mahdi An-Na’ami, dalam kitab beliau Ma’arijul Al-Bab, mengemukakan pernyataan sebagian mufti yang berhujjah dengan kubah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atas dibolehkannya membangun kubah di atas kuburan, maka sang mufti berkata, “Sudah diketahui sebelumnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kubah, begitu pula para pemimpin Madinah serta negeri-negeri yang lainnya. Kubah tersebut diziarahi setiap waktu dan diyakini mendatangkan berkah” Oleh karena itu, Syaikh Husein rahimahullhu berkata : Aku menyatakan, jika memang demikian adanya, maka bagaimana dengan peringatan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau mengingatkan serta menyatakan bebasnya diri beliau?! Lalu kalian nyata-nyata mengerjakan apa yang dilarang oleh Rasulullah, apakah ini tidak cukup bagi kalian sebagai pelanggaran terhadap perintah Rasulullah, dan sikap perlawanan atas diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?! Apakah Rasulullah pernah menganjurkan hal seperti ini, sekalipun dengan isyarat, atau beliau ridha atau beliau tidak melarangnya?! Adapun keyakinan kalian akan turunnya berkah, maka itu menurut kalian dan bukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala! Jadi perihal berkah ini sebagai bantahan terhadap kalian”.

    Demikianlah, dan saudara-saudara kita –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka- pernah bertekad untuk merubuhkan kubah ini ketika mereka datang ke Madinah saat Raja Abdul Aziz rahimahullahu memerintah. Mereka hampir salah melakukannya, sekiranya mereka tidak khawatir kalau-kalau terjadi fitnah yang lebih besar dari para quburiyyun dibanding merubuhkan kubah tersebut, yang pada akhirnya menyebabkan kemungkaran yang lebih dahsyat. Lalu berapa banyak dakwaan-dakwaan batil yang akan dilontarkan oleh para quburiyyun sekiranya diserukan penghancuran kubah-kubah tersebut, yang sebagiannya sudah menyerupai sembahan Lata, Uzza dan Hubal.
    ……………
    Jadi INILAH YANG DITAKUTI OLEH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Kuburanya bisa2 jadi tempat ibadah, yaitu seperti yang kalian lakukan mengusap,menangis, merenungi dosa, berdzkir dikuburan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa2 kalian juga shalat n minta perlindungan juga permohonan disana (na’uzubillah mindzalik). mengambil berkah tanah2 kuburan yang dianggap keramatlah, tanah karbalalah, kuburan al harari lah (sekte ahbas). Dan masih banyak lainnya.. inikah yang dinamakan “CINTA” itu……….????? hehehe (Dasar Syiah)

    @aburahat
    Mereka Wahabi dan sekarang menyebut diri pengikut para Salafy. Supaya dikatakan mereka adalah orang2 yang taat. Padahal karena kebodohan mereka menyebut diri Salafy. Kalau pintar dan berakhlak dan berenai memakai predikat tsb Mereka sekarang bisa berkicau karena Menguasai Ka’bah dan Medinah. Kalau tidak, mereka hanya KECOAK yang di…….
    ——————
    Kalian itu Rafidha jangan macem2 ama ahlussunnah, kalian kagak teranggap Islam karena kemungkaran2 akidah kalian, akidah kalian lebih mirip yahudi kalo nashrani sedikit ada juga seh. Siapa yang memberi kekuasaan di negeri haramain kalau bukan Allah Azzawajalla berkehendak agar cahaya syariatNYA terus hidup yang walaupun membuat orang2 kafir benci. Firman Allah “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci” (QS.Ash-Shaf: 8).OOOOooooo….. Jadi kalian ya yang sekarang yang jadi KECO’ANYA hehehehehehe DASAR KECO’A tak Semprot Pake BAYGON ntar.

    @Rizal
    Whaby/salafi selalu membedakan Nabi ketika masih hidup dan ketika sudah wafat. Wahaby/salafi sulit untuk memahami bahwa hakekat manusia adalah jiwa/ruh. Ketika seorang manusia dikatakan mati maka yg mati sesungguhnya adalah hanya jasadnya, tidak ruhnya, karena jiwa/ruh itu tdk pernah mati (abadi). Oleh karena itu Wahaby/salafi gagal membedakan antara kematian kucing dan manusia.
    Wahaby/salafi juga tdk pernah memahami adanya perbedaan atau tingkat2 dlm maqam ruhani manusia. Oleh karena itu mereka tdk bisa melihat adanya perbedaan antara maqam ruhani Nabi dan wali dg manusia biasa.
    Begitu juga wahaby/salafi tdk mampu memahami Ilmu Tauhid secara benar shg gagal membedakan antara “ibadah” dan “khudhu (penghormatan).” Makanya semuanya dipukul rata “musyrik”
    —————-
    Coba cek lagi perkataan kalian itu…. ————“Whaby/salafi selalu membedakan Nabi ketika masih hidup dan ketika sudah wafat. Wahaby/salafi sulit untuk memahami bahwa hakekat manusia adalah jiwa/ruh Ketika seorang manusia dikatakan mati maka yg mati sesungguhnya adalah hanya jasadnya, tidak ruhnya, karena jiwa/ruh itu tdk pernah mati (abadi). Oleh karena itu Wahaby/salafi gagal membedakan antara kematian kucing dan manusia”————–
    Waduh mas..mas.. kayaknya nt udah kedoktrin dech ama pikiran sufi. Ya jelas aja beda bung MATI DENGAN HIDUP WALAUPUN DIA MANUSIA SEKALIPUN. DARIMANA NT DAPET PIKIRAN GITU ???(TAK LAIN HANYA LOGIKA MULU DALIHNYA). INGET HADIS NYANG INI Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
    ”Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya” [HR. Muslim no. 1631]. Khalifah Umar bin Khattab pernah meminta hujan kepada Allah melalui paman Rasul, Abbas bin Abdul Mutthalib (Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami lantas Engkau beri kami hujan. Sekarang kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami maka beri kami hujan. Dan (perawi) berkata: maka mereka diberi hujan). (Lihat: Kitab “Shohih Bukhari” 2/32 hadis ke-947 dalam Bab Shalat Istisqo’), jadi dari sini aja siapa yang mengetahui hakikat MATI dan HIDUP itu mas…..? atau kalian lebih hebat dan merasa lebih tau dari para Assalaf shaleh ???. hahaha pake ngajari tauhid pula dia, kan dah dibilang tadi COBA KALIAN ITU NGACA KEK SEKALI KALI (padahal terlalu banyak kalian telah berbuat penyimpangan dari ISLAM)….

    @truthseeker08
    Banyak mereka yang terdampar di Wahabi karena hanya bermodalkan semangat.
    Sehingga sebagaimana agama/sekte yang menggunakan metoda doktrinasi/dogma maka tidak ada jalan lain bagi pemuka2 mereka selain menyatakan semua yang selain cara mereka adalah bid’ah. Hal seperti ini pun terjadi di agama lain juga.
    Tapi seiring dengan waktu dan seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan tingkat kebijaksanaan mereka, maka tidak sedikit yang merubah haluan. Namun tentu pemuka2 yang ditinggalkan akan mendoktrin pendatang baru dengan menyatakan mereka yang mendapat hidayah (berubah) sebagai telah sesat.. :mrgeen:
    —————-
    Dogma/doktrin sebenarnya itu tuh dari kalian sendiri wahai sekte syiah, sufi, khawarij, jahmiyah dst. Kecuali yang diberi hidayah oleh Allah ke jalan yang lurus dan mengilkuti salaf shaleh, nah kalo kalian itu berpenyakit hatinya mesti harus diobati dengan Alqur’an dan Hadits serta pemahaman para sahabat tabii’in dst… semua yang membuat hal baru dalam ibadah sesuai dengan hadis ya bid’ah dong mas, jadi NT NT ini mau protes ya, jangan2 NT NT ntar ngaku2 mimpi bertemu Rasullullah alalahuailahiwassallam dan mengatakan “rasul bilang boleh berbuat ini itu.. padahal g ada dalilnya… jadi kalian ini selalu membuat bid’ah terus. Mungkin kalianlah yang mendoktrin diri kalian sendiri juga umat ini gara2 kalian Islam terpecah adanya sekte firqoh sesat ini diataranya: Syiah rafidha dll,sufi,khawarij,jahmiyah, mu’tazilah dsb.. jadi disinilah peran Ulama2 Ahlussunah dalam menegakkan tiang agama Islam yang kalian hendak rubuhkan hanya bermodalkan akal dan niat baik saja, jadi saran ana NT NT sebaiknya Ruju’ dan kembalilah ke jalan al Haq AL Qur’an dan Sunnah dan Pemahaman assalaf shaleh agar kalian terhindar dari kecaman al Qur’an dan Hadits. See u

  20. knp yah nick name salafy…kebanyakan pake abu abuan….
    abu gosok kaleeeeee

  21. Ada yang senang menulis nih. Cuma sayangnya seribu sayang TAUNYA HANYA MENCACI. Hehehe biasa, TONG KODONG NYARING BUNYINYA.

  22. Abu Jufri sudah sampai ke Peringkat Makrifat ? Sekadar bertanya sebab saya tidak tahu.

  23. […] akan mengingatkan pembaca bahwa kami pernah membuat tulisan dengan judul seperti ini sebelumnya Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW. Baru-baru ini ternyata kami mengetahui kalau terdapat pengikut salafy yang membahas hadis ini. […]

  24. […] akan mengingatkan pembaca bahwa kami pernah membuat tulisan dengan judul seperti ini sebelumnya Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW. Baru-baru ini ternyata kami mengetahui kalau terdapat pengikut salafy yang membahas hadis ini. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: