Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW [Edisi Terbaru]

Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW [Edisi Terbaru]

Segala puji bagi Allah SWT yang memberikan kesempatan kepada kami untuk membahas masalah ini kembali. Sebelumnya kami akan mengingatkan pembaca bahwa kami pernah membuat tulisan dengan judul seperti ini sebelumnya Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW. Baru-baru ini ternyata kami mengetahui kalau terdapat pengikut salafy yang membahas hadis ini. Kesimpulannya ia menganggap hadis tersebut dhaif dengan berbagai illat yang telah kami sebutkan. Insya Allah pada edisi terbaru kali ini kami akan membahas lebih rinci berbagai syubhat yang digunakan salafiyun untuk mencacatkan hadis ini.

Tulisan pengikut salafy itu hanya mengulang hujjah Syaikh mereka Abdullah bin Fahd Al Khalify dalam Al Is’aaf min Ighaatsati As Saqqaaf. Tidak perlu menjadi seorang ahli untuk melihat apakah hujjah Syaikh mereka benar ataukah hanya dalih-dalih yang seperti biasa muncul dari salafiyun yang merasa terpojokkan.

حدثنا أبو النعمان ثنا سعيد بن زيد ثنا عمرو بن مالك النكري حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله قال قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت انظروا قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كووا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال ففعلوا فمطرنا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin Malik An Nukri yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah yang berkata “Suatu ketika penduduk Madinah dilanda kekeringan yang hebat, maka mereka mengadukan hal tersebut kepada Aisyah. Kemudian ia berkata “pergilah ke kubur Nabi SAW buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada penghalang diantaranya dengan langit”. Ia (Aus bin Abdullah) berkata “Kemudian penduduk Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah, setelah itu turunlah hujan, tanaman-tanaman tumbuh dan hewan ternak menjadi sehat . Oleh karena itu tahun tersebut disebut tahun sejahtera [Sunan Ad Darimi 1/56 no 92]

Telah kami tunjukkan sebelumnya bahwa hadis tersebut shahih dan pencacatan salafy tidak berdasar. Seperti biasa salafy membantah kembali dengan bantahan yang terkesan ilmiah karena banyaknya data disana sini tetapi cara penarikan kesimpulannya tidak benar [tidaklah aneh jika hal seperti ini muncul dari kalangan salafiyun].

.

.

Pembahasan Tentang Ikhtilath ‘Arim

Pengikut salafy itu menyebutkan illat pertama hadis ini adalah ikhtilath Abu Nu’man atau ‘Arim atau Muhammad bin Fadhl As Sadusi. Sebelumnya telah ditunjukkan kalau tidak ada hadis munkar dari ‘Arim setelah ia ikhtilath. Hal ini telah dikemukakan oleh Daruquthni, Adz Dzahabi, Al Iraqi yang diikuti oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan [Basyar Awad Ma’ruf penulis Tahrir Taqrib At Tahdzib].

حدثني الحسين بن عبد الله الذارع حدثنا أبو داود قال بلغنا أن عارم أنكر سنة ثلاث عشرة ثم راجعه عقله واستحكم الاختلاط سنة ست عشرة ومائتين

Telah menceritakan kepadaku Husain bin Abdullah Adz Dzara’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah sampai kepada kami bahwa ‘Arim diingkari riwayatnya pada tahun 213 H kemudian akalnya kembali dan menjadi sempurna ikhtilatnya pada tahun 216 H [Adh Dhu’afa Al Kabir Uqaili 4/121 no 1680]

Pernyataan Abu Dawud ini tidaklah tsabit karena ia bertentangan dengan pernyataan Abu Hatim dimana ‘Arim mengalami ikhtilath pada tahun 220 H apalagi Abu Hatim menegaskan kalau riwayat ‘Arim sebelum tahun 220 H adalah jayyid [baik].

نا عبد الرحمن سمعت ابى يقول: اختلط عارم في آخر عمره وزال عقله فمن سمع عنه قبل الاختلاط فسماعه صحخيح وكتبت عنه قبل الاختلاط سنة اربع عشرة ولم اسمع منه بعدما اختلط فمن كتب عنه قبل سنة عشرين ومائتين فسماعه جيد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku [Abu Haatim] berkata “’Aarim mengalami ikhtilath [bercampur hapalannya] di akhir umurnya dan hilang akalnya. Barangsiapa yang mendengar riwayatnya sebelum ikhtilath, maka riwayatnya shahih. Aku menulis riwayat darinya sebelum ikhtilath pada tahun 214 H, dan aku tidak mendengar riwayat darinya setelah ikhtilath. Barangsiapa yang menulis darinya sebelum tahun 220 H, maka riwayatnya itu baik [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 8/58 no 267]

Pernyataan Abu Hatim di atas lebih shahih dan tsabit dibandingkan pernyataan Abu Dawud sebelumnya karena  Abu Hatim dikenal sebagai murid dari ‘Arim yang lebih mengetahui keadaan gurunya daripada Abu Dawud dan dalam sanad riwayat Uqaili terdapat Husain bin Abdullah Syaikh [guru] Uqaili yang tidak dikenal kredibilitasnya. Ditambah lagi sighat yang dipakai Abu Dawud adalah “telah sampai kepada kami” yang menunjukkan bahwa kabar tersebut inqitha’ atau terputus sanadnya dalam arti tidak diketahui siapa yang mengabarkan kepada Abu Dawud. Jadi penukilan Abu Dawud tidak dapat dijadikan hujjah karena tidak tsabit dan bertentangan dengan pernyataan Abu Hatim.

عارم بن الفضل أبو النعمان السدوسي بصرى ثقة رجل صالح خولط قبل أن يموت بسنة أو سنتين

‘Arim bin Fadhl Abu Nu’man As Sadusi orang Bashrah yang tsiqat, seorang yang shalih mengalami ikhtilath setahun atau dua tahun sebelum kematiannya [Ma’rifat Ats Tsiqat Al Ijli no 806]

Perkataan Al Ijli ini lebih mendekati perkataan Abu Hatim dimana ‘Arim mengalami ikhtilat setahun atau dua tahun sebelum kematiannya. Disebutkan kalau ‘Arim wafat pada tahun 224 H sehingga kemungkinan yang rajih disini adalah ‘Arim mengalami ikhtilath pada tahun 220 H atau di atas tahun tersebut. Para ulama menyebutkan bahwa tidak ada riwayat mungkar dari ‘Arim setelah ia mengalami ikhtilath.

قال السُّلَمِيُّ قال الدَّارَقُطْنِيّ عارم أبو النعمان ثقة وتغير بأخرة وما ظهرعنه بعد اختلاطه حديث منكر

As Sulami berkata Daruquthni berkata ‘Arim Abu Nu’man tsiqat mengalami kekacauan hafalan di akhir umurnya dan tidak ada hadis mungkar darinya setelah ia ikhtilath [Mausu’ah Aqwaal Ad Daruquthni no 3295]

Pernyataan Daruquthni ini disepakati oleh Adz Dzahabi, Al Iraqi dan yang lainnya. Adz Dzahabi berhujjah dengan perkataan Daruquthni ketika membantah Ibnu Hibban yang menuduh ‘Arim memiliki banyak riwayat yang diingkari setelah ia mengalami ikhtilath. Tidak ada satupun bukti yang menunjukkan kalau ‘Arim memiliki riwayat mungkar setelah ia mengalami ikhtilath.

Salafy berhujjah dengan apa yang ditulis Al Uqaili dalam biografi ‘Arim dimana Al Uqaili membawakan riwayat yang seolah-olah menunjukkan kekacauan periwayatan ‘Arim. Kami katakan salafy tersebut tidak meneliti dengan benar, mereka hanya sekedar taklid kepada ulama salafy mereka. Riwayat yang disebutkan Al Uqaili tidak ada satupun yang tsabit sebagai bukti ikhtilath [kekacauan] ‘Arim.

Al Uqailiy telah membawakan hadits tentang keutamaan bersedekah “Maka jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setengah biji kurma” yaitu dari Muhammad bin ‘Ismaa’iil dan ‘Aliy bin ‘Abdil-‘Aziiz, mereka berdua berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aarim Abun-Nu’maan [berkata ‘Aliy : yaitu pada tahun 217 H], ia berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Humaid, dari Anas Bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian. Akan tetapi dalam riwayat kakeknya Al Uqaili , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aarim pada tahun 218 H telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Humaid, dari Al-Hasan Bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda lalu disebutkan hadits tersebut. [Adh Dhu’afa Al Kabir Uqaili 4/122 no 1680]

Salafy mengatakan ada ketidakakuratan penyebutan perawi setelah Hammaad an ini berasal dari ‘Aarim. Padahal justru pernyataan salafy ini yang tidak akurat. Hadis tersebut justru memang tsabit dari Anas bin Malik sedangkan hadis riwayat Hasan Bashri tidaklah tsabit. Seandainya pun terjadi ketidakakuratan dalam riwayat ini, hal itu bukanlah kesalahan dari ‘Arim tetapi bersumber dari Humaid karena ia dikenal sering melakukan tadlis. Ibnu Hajar telah menyebutkan Humaid dalam perawi mudallis martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 73]. Jadi bisa saja terkadang Humaid meriwayatkan hadis ini dari Anas dan bisa pula dari Hasan Al Bashri.

حَدَّثَنَا  مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ نَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ نَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Fadhl yang berkata menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Humaid dari Anas yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setengah biji kurma” [Musnad Al Bazzar no 6619]

Selain Muhammad bin Basyaar hadis dengan sanad dari Humaid dari Anas juga diriwayatkan oleh Abu Rifa’ah Abdullah bin Muhammad [Mu’jam Ibnu Arabi no 1932] dan Ahmad bin Ishaq bin Shalih Al Wazzan [Ad Dhiya’ Al Mukhtarah 6/68] dari ‘Arim Muhammad bin Fadhl. Jadi yang meriwayatkan hadis ini dari ‘Arim adalah

  • Muhammad bin Ismail Ash Sha’igh Abu Ja’far Al Baghdadi seorang yang shaduq [At Taqrib 2/55]
  • Ali bin ‘Abdul ‘Aziz Al Baghawi seorang yang tsiqat ma’mun [Su’alat Hamzah no 389]
  • Muhammad bin Basyaar seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/58]
  • Abu Rifa’ah Abdullah bin Muhammad bin Umar Al Adawiy seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 10/83 no 5197]
  • Ahmad bin Ishaq Al Wazzan seorang yang shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 2/41 no 9]

Hadis riwayat ‘Arim yang tsabit adalah riwayat ‘Arim dari Hammad bin Salamah dari Humaid dari Anas secara marfu’ dan jalan ini telah diriwayatkan oleh jama’ah tsiqat dari ‘Arim sedangkan riwayat yang dibawakan Uqaili yaitu dari kakeknya dari ‘Arim dari Hammad dari Humaid dari Hasan secara mursal adalah riwayat yang tidak tsabit karena kakeknya Uqaili yaitu Abu Yazid bin Muhammad Al Uqaili adalah seorang yang tidak dikenal kredibilitasnya sehingga riwayatnya yang menyelisihi jumhur perawi tsiqat tidak diterima.

Al Uqaili juga menyebutkan pengingkaran ‘Affan bin Muslim ketika ada seseorang yang datang kepadanya dan menanyakan hadis di atas dengan jalan Hammad bin Salamah dari Humaid dari Anas. ‘Affan bin Muslim mengingkari hadis dengan jalan ini dan berkata “adapun kami, maka telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Humaid dari Al Hasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setengah biji kurma”. [Adh Dhu’afa Al Uqaili 4/122 no 1680]

Kami tidak menemukan hadis tersebut dengan jalan sanad dari Humaid dari Al Hasan secara mursal kecuali riwayat yang disebutkan oleh Al Uqaili. Seandainya pun ‘Affan bin Muslim meriwayatkan demikian maka ini tidaklah menjadi bukti ikhtilatnya ‘Arim. Telah disebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh ‘Arim pada tahun 217 H dan pada saat itu ‘Arim belum mengalami ikhtilath sebagaimana yang dikatakan Abu Hatim sehingga riwayatnya disini adalah jayyid. Sedangkan ‘Affan bin Muslim dikatakan oleh Abu Ya’la Al Khalili bahwa ia mengalami kekacauan hafalan sebelum wafatnya [Al Irsyad Al Khalili 1/469] dan disebutkan ‘Affan bin Muslim wafat pada tahun 220 H [Al Kasyf no 3827]. Peristiwa dimana ada seseorang yang datang kepada ‘Affan bin Muslim kemungkinan besar terjadi setelah tahun 217 H sehingga bisa saja saat itu ‘Affan bin Muslim sudah mengalami ikhtilath. Jadi jika mau dipaksakan maka lebih tepat riwayat ini dijadikan bukti ikhtilatnya ‘Affan bin Muslim bukan bukti ikhtilathnya ‘Arim.

Hadis ‘Arim ini memang berasal dari sahabat Anas bin Malik, selain Humaid dari Anas hadis ini juga diriwayatkan dengan jalan Sinan bin Sa’d Al Kindi dari Anas secara marfu’

حدثنا يونس بن عبد الأعلى حدثنا عبد الله بن وهب أخبرني عمرو بن الحارث و حدثنا عيسى بن إبراهيم الغافقي حدثنا ابن وهب عن عمرو بن الحارث عن يزيد بن أبي حبيب عن سنان بن سعد الكندي عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إفتدوا من النار و لو بشق تمرة

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin ‘Abdul A’la yang menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb yang mengabarkan kepadaku Amru bin Al Harits dan telah menceritakan kepada kami Isa bin Ibrahim Al Ghaafiqiy yang menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari ‘Amru bin Al Harits dari Yazid bin Abi Habib dari Sinan bin Sa’d Al Kindi dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan setengah biji kurma” [Shahih Ibnu Khuzaimah no 2430, Syaikh Al Azhami pentahqiq kitab ini berkata ; sanadnya hasan]

Jadi tidak ada alasan untuk menjadikan hadis ini sebagai bukti kekacauan hafalan atau ikhtilathnya ‘Arim Muhammad bin Fadhl. Tidak ada satupun riwayat ‘Arim yang diingkari setelah ia mengalami ikhtilath. Pendapat yang rajih disini adalah ‘Arim tidak meriwayatkan hadis setelah ia mengalami ikhtilath yaitu di atas tahun 220 H. Adapun yang disebutkan oleh Salafy mengenai riwayat yang disebutkan Abu Dawud dalam Tahzdib Al Kamal maka kami katakan Abu Dawud tidaklah menunjukkan bukti kalau riwayat tersebut adalah bagian dari ikhtilath ‘Arim dan ‘Arim tidaklah dikenal sebagai gurunya Abu Dawud, jadi darimana Abu Dawud bisa mengatakan riwayat tentang puasa itu adalah bagian ikhtilathnya ‘Arim?.

‘Arim Muhammad bin Fadhl adalah gurunya Al Bukhari dimana Al Bukhari sendiri lahir pada tahun 194 H dan wafat pada tahun 256 H sedangkan Ad Darimi yang meriwayatkan hadis tabarruk ini dari ‘Arim lahir pada tahun 181 H dan wafat pada tahun 255 H. Jadi Ad Darimi ini lebih tua dari Al Bukhari jika Al Bukhari dikatakan mengambil riwayat dari ‘Arim sebelum ia mengalami ikhtilath maka Ad Darimi lebih mungkin untuk mengambil riwayat dari ‘Arim sebelum ia mengalami ikhtilath.
.

.

.

Pembahasan Kedudukan Sa’id bin Zaid Al Azdy

Salafy menyebutkan illat yang kedua yaitu kelemahan Sa’id bin Zaid bin Dirham Al Azdy. Kedudukan Sa’id bin Zaid Al Azdy memang diperbincangkan oleh para ahli hadis tetapi jika dianalisis dengan baik maka pendapat yang rajih adalah pendapat yang menta’dilkannya. Sa’id bin Zaid Al Azdy seorang yang tsiqat atau minimal kedudukannya adalah seorang yang shaduq hasanul hadits.

Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat”. Abdurrahman bin Mahdi telah meriwayatkan darinya yang berarti ia memandangnya tsiqat. Sulaiman bin Harb yang meriwayatkan darinya berkata “tsiqat”. Hiban bin Hilal yang meriwayatkan darinya berkata “shaduq hafizh”. Muslim bin Ibrahim yang meriwayatkan darinya berkata “shaduq hafizh” [At Tahdzib juz 4 no 51]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq dan terkadang keliru [At Taqrib 1/353] tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Sa’id bin Zaid seorang yang shaduq hasanul hadits [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 2312]

Ali bin Madini berkata “aku mendengar Yahya bin Sa’id sangat mendhaifkan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid dalam hadisnya”. [At Tahdzib juz 4 no 51]. Abu Hatim dan Nasa’i berkata “tidak kuat”. Al Jauzjaany berkata “mereka mendhaifkan hadisnya dan tidak dijadikan hujjah”. Al Bazzar berkata “layyin” terkadang berkata “bukan seorang yang hafizh” [At Tahdzib juz 4 no 51]. Daruquthni berkata “dhaif, Yahya Al Qaththan telah membicarakannya” [Su’alat Al Hakim no 331]. Al Baihaqi berkata “tidak kuat” [Sunan Al Kubra Baihaqi 6/112 no 11397]

Penjelasan : Ali bin Madini dan Daruquthni hanyalah mengikuti pencacatan Yahya bin Sa’id dimana ia terkenal terlalu ketat dan berlebihan dalam mencacatkan perawi. Al Jauzjaany juga dikenal sebagai orang yang terlalu mudah mencacatkan perawi sehingga perkataannya tidak bisa dijadikan pegangan. Jarh “tidak kuat” yang dinyatakan Abu Hatim, Nasa’i dan Baihaqi tidak bersifat mutlak karena itu bisa berarti seorang yang hadisnya hasan. Kelemahan yang ada pada Sa’id bin Zaid hanya terbatas pada hafalannya tetapi itu tidak menjatuhkan hadisnya ke dalam derajat dhaif melainkan hasan. Perkataan Al Bazzar bahwa ia bukan seorang yang hafizh bertentangan dengan pernyataan Hiban bin Hilal dan Muslim bin Ibrahim yang berkata “shaduq hafizh” dimana keduanya termasuk orang yang meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid sehingga mereka lebih mengenal Sa’id bin Zaid daripada Al Bazzar. Ibnu Hajar juga menyebut Sa’id bin Zaid bin Dirham Al Azdy dengan sebutan Hafizh [Lisan Al Mizan juz 7 no 3098]

Ibnu Hibban berkata “ia seorang yang shaduq dan hafizh tetapi ia melakukan kekeliruan dalam atsar dan waham dalam khabar sehingga tidak boleh berhujjah dengannya jika ia menyendiri. Kemudian Ibnu Hibban membawakan hadis Sa’id bin Zaid dari Amru bin Khalid dari Habib bin Abi Tsabit dari Nafi’ dari Ibnu Umar-alhadits- [Al Majruhin no 393]

Penjelasan : Pernyataan Ibnu Hibban tidak memiliki bukti yang kuat, hadis yang ia jadikan bukti kelemahan Sa’id bin Zaid tidaklah benar. Seandainya hadis tersebut cacat maka yang penyebab cacatnya bukan pada Sa’id bin Zaid tetapi pada Amru bin Khalid Al Wasithi. Ia seorang pemalsu hadis. Yahya, Ahmad bin Hanbal, Daruquthni menyatakan ia pendusta. Nasa’i berkata “tidak tsiqat” [Al Mizan juz 3 no 6359]. Ibnu Ady telah berkata tentang Sa’id bin Zaid “ ia tidak memiliki matan hadis mungkar yang tidak diriwayatkan selain dirinya, menurutku ia seorang yang shaduq [Al Kamil Ibnu Ady 3/376] perkataan Ibnu Ady justru menunjukkan kalau ia telah memberikan predikat ta’dil shaduq kepada Sa’id bin Zaid dan menjelaskan kalau Sa’id bin Zaid tidak memiliki riwayat mungkar yang membuat Sa’id bin Zaid menjadi tertuduh.

Tidaklah benar kalau dikatakan Ibnu Ma’in mencacatkan Sa’id bin Zaid. Pendapat yang rajih dari penukilan Ibnu Ma’in adalah ia menyatakan tsiqat kepada Sa’id bin Zaid. Ibnu Abi Hatim berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbas Ad Duury yang berkata aku mendengar Ibnu Main berkata “Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid tidak kuat”, aku [Ad Duury] berkata “apakah ia bisa dijadikan hujjah?”. Ia menjawab “ditulis hadisnya” [Al Jarh Wat Ta’dil 4/21 no 87] tetapi Ad Duuriy sendiri dalam kitabnya berkata aku mendengar Yahya mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid seorang yang tsiqat [Tarikh Ibnu Ma’in no 3851]. Tentu saja apa yang tertulis dalam Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy lebih bisa dijadikan pegangan, dalam perkara ini ada kemungkinan Ibnu Abi Hatim keliru atau pada awalnya Ibnu Ma’in memandang Sa’id bin Zaid tidak kuat tetapi setelah itu Ibnu Ma’in memandangnya tsiqat. Sehingga apa yang dinukil Ad Duuriy dalam kitabnya adalah pendapat terakhir dari Ibnu Ma’in.

Al Uqaili mengutip riwayat dari Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata “aku bertanya kepada Yahya bin Main tentang Sa’id bin Zaid” ia berkata “dhaif” [Adh Dhu’afa Al Kabir Uqaili 2/106 no 574]. Riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah karena bertentangan dengan riwayat Abbas bin Muhammad Ad Duury dimana ia lebih tsabit dibanding Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah. Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah adalah seorang yang diperselisihkan sebagian menta’dilkannya dan sebagian lagi mencacatkannya. Daruquthni berkata “dhaif” [Su’alat Al Hakim no 172]. Al Khalili berkata “mereka para ulama mendhaifkannya” [Al Irsyad 1/446]. Baihaqi berkata “tidak kuat” [Sunan Al Kubra Baihaqi 6/174 no 11757].

Janganlah para pembaca terpedaya dengan syubhat salafy dalam perkataannya “Ibnu Ady memasukkan Sa’id bin Zaid kedalam perawi dhaif”. Ibnu Ady memang memasukkan Sa’id bin Zaid dalam kitabnya Al Kamil, tetapi kitab itu tidaklah memuat semua perawi yang dinyatakan dhaif oleh Ibnu Ady. Ibnu Ady dalam Al Kamil menyebutkan para perawi yang dhaif, tertuduh dhaif atau diperbincangkan kedudukannya. Termasuk pula di dalam kitab Al Kamil adalah para perawi yang dita’dilkan sebagian ulama dan dicacatkan oleh sebagian yang lain, disini Ibnu Ady menetapkan mana yang lebih rajih dalam pandangannya, apakah predikat ta’dil ataukah jarh?. Ibnu Ady berkata dalam muqaddimah kitab Al Kamil

وذاكر في كتابي هذا كل من ذكر بضرب من الضعف، ومن اختلف فيهم فجرحه البعض وعدله البعض الآخر، ومرجح قول أحدهما مبلغ علمي من غير محاباة، فلعل من قبح أمره أو حسنه تحامل عليه أو مال إليه. وذاكر لكل رجل منهم مما رواه ما يضعف من أجله، أو يلحقه بروايته له اسم الضعف لحاجة الناس إليها

Dan saya sebutkan dalam kitab saya ini semua orang yang telah disebutkan dengan suatu kelemahan, dan orang-orang yang diperselisihkan keadaannya dimana ada sebagian orang mencelanya dan ada sebagian orang yang memujinya. Dan saya merajihkan salah satu dari kedua pendapat tersebut sebatas pengetahuan saya tanpa berlebihan, bisa jadi mereka yang mencelanya karena memiliki prasangka terhadapnya atau mereka yang memujinya memiliki kecenderungan terhadapnya. Dan saya sebutkan untuk setiap orang, riwayat-riwayat dimana mereka menjadi tertuduh karenanya atau yang dikatakan lemah karena meriwayatkan suatu riwayat dimana manusia berhajat kepadanya [Al Kamil Ibnu Ady 1/2]

Dalam perkara Sa’id bin Zaid, Ibnu Ady telah merajihkan pendapat yang menta’dilkannya sehingga dalam hal ini dapat dikatakan kalau di sisi Ibnu Ady Sa’id bin Zaid adalah perawi yang shaduq [jujur] dan hadisya hasan. Ini sudah jelas predikat ta’dil bukan jarh. Pada intinya kelemahan yang ada pada Sa’id bin Zaid terletak pada hafalannya tetapi tidaklah benar menyatakan bahwa kelemahan ini menjadikannya sebagai perawi dhaif karena telah dinyatakan pula bahwa ia seorang hafizh dan perkataan ini berasal dari para ulama yang memang mengenal dan meriwayatkan hadis dari Sa’id bin Zaid. Pendapat para ulama terdahulu yang mengenal langsung perawi tersebut jelas lebih didahulukan daripada pendapat yang datang kemudian sehingga pendapat yang rajih disini Sa’id bin Zaid seorang yang tsiqat atau shaduq dan hadisnya hasan
.

.

.

Pembahasan Kedudukan ‘Amru bin Malik An Nukri

Kelemahan lain yang disebutkan Salafy adalah mengenai ‘Amru bin Malik An Nukri. Salafy tidak sedikitpun memiliki hujjah untuk mendhaifkan ‘Amru bin Malik An Nukri. ‘Amru bin Malik An Nukri Abu Yahya adalah seorang perawi yang tsiqat.

سألت يحيى عن عمرو بن مالك النكري فقال ثقة

Aku bertanya kepada Yahya tentang Amru bin Malik An Nukri, ia menjawab “tsiqat” [Su’alat Ibnu Junaid no 710]

Ibnu Hibban menyatakan telah memasukkan ‘Amru bin Malik An Nukri ke dalam kitabnya Ats Tsiqat dan kitabnya Masyaahir Ulama Al Amshaar, hal ini berarti Ibnu Hibban telah memberikan predikat ta’dil kepadanya.

عمرو بن مالك النكري أبو مالك والد يحيى بن عمرو وقعت المناكير في حديثه من رواية ابنه عنه وهو في نفسه صدوق اللهجة

‘Amru bin Malik An Nukri Abu Malik ayahnya Yahya bin ‘Amru, aku mendapati hal-hal yang diingkari dalam hadis-hadis riwayat anaknya darinya dan ia sendiri seorang yang jujur dalam perkataannya [Masyaahir Ulama Al Amshaar no 1223]

عمرو بن مالك النكري كنيته أبو مالك من أهل البصرة يروى عن أبى الجوزاء روى عنه حماد بن زيد وجعفر بن سليمان وابنه يحيى بن عمرو ويعتبر حديثه من غير رواية ابنه عنه

Amru bin Malik An Nukri dengan kunyah Abu Malik, termasuk penduduk Bashrah yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dan meriwayatkan darinya Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman dan anaknya Yahya bin Amru, hadisnya dijadikan i’tibar kecuali riwayatnya dari anaknya. [Ats Tsiqat juz 7 no 9802]

Sangat jelas bagi orang yang bisa memahami dengan baik bahwa Ibnu Hibban sendiri telah memberikan predikat ta’dil bagi ‘Amru bin Malik An Nukri. Kelemahan soal riwayat mungkar darinya itu berasal dari anaknya yaitu Yahya bin Amru bin Malik An Nukri seorang perawi yang dhaif [At Taqrib 2/311]. Jadi janganlah pembaca terkecoh dengan talbis yang dibuat salafy bahwa perkataan “hadisnya dijadikan i’tibar” berarti perawi tersebut dhaif. Dalam perkara ini sangat jelas kalau Ibnu Hibban sendiri memasukkan ‘Amru bin Malik An Nukri ke dalam kitab para perawi tsiqat bahkan Ibnu Hibban memujinya sebagai orang yang jujur dalam perkataannya.

Ibnu Hajar menyatakan Amru bin Malik An Nukri shaduq dan pernah melakukan kesalahan [At Taqrib 1/744] tetapi pernyataan ini dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Amru bin Malik An Nukri seorang yang shaduq hasanul hadits [Tahrir At Taqrib no 5104]. Adz Dzahabi menyatakan ‘Amru bin Malik An Nukri tsiqat [Al Mizan 3/286] dan dalam Al Kasyf menyatakan bahwa ‘Amru bin Malik An Nukri seorang yang dipercaya [Al Kasyf no 4223] dan di lain tempat ia berkata “shaduq”

عمرو بن مالك النكرى، أبو يحيى وقيل أبو مالك. بصري صدوق

Amru bin Malik An Nukri Abu Yahya dikatakan juga Abu Malik, orang Bashrah yang shaduq [Tarikh Al Islam 8/198].

Ibnu Ady dalam biografi Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah berkata “telah menceritakan Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas sepuluh hadis yang tidak terjaga” [Al Kamil Ibnu Ady 1/411]. Disini tidaklah jelas disebutkan siapa yang bertanggung jawab atas sepuluh hadis yang tidak mahfuz tersebut, Ibnu Ady tidak menyebutkan sepuluh hadis yang dimaksud dan jika memang Ibnu Ady menuduh ‘Amru bin Malik An Nukri sebagai orang yang bertanggung jawab atas sepuluh hadis tersebut maka mengapa ia tidak menukil jarh ini dalam biografi ‘Amru bin Malik An Nukri?. Penyebutan hadis-hadis tersebut sangatlah penting untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang tertuduh atas hadis-hadis tersebut karena perlu diketahui bahwa anaknya ‘Amru bin Malik yaitu Yahya bin ‘Amru [yang dikenal dhaif] juga meriwayatkan hadis-hadis dari ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas.

حدثنا محمد بن عبد الملك بن أبي الشوارب حدثنا يحيى بن عمرو بن مالك النكري عن أبيه عن أبي الجوزاء عن ابن عباس قال ضرب بعض أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم خباءه على قبر وهو لا يحسب أنه قبر فإذا فيه إنسان يقرأ سورة تبارك الذي بيده الملك حتى ختمها فأتى النبي صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله إني ضربت خبائي على قبر وأنا لا أحسب أنه قبر فإذا فيه إنسان يقرأ سورة تبارك الملك حتى ختمها فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم هي المانعة هي المنجية تنجيه من عذاب القبر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abi Asy Syawarib yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Amru bin Malik An Nukri dari ayahnya dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas yang berkata “sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan kemah di atas kuburan, Ia tidak tahu kalau itu adalah kuburan, ternyata di sana ada seseorang yang membaca surah Al Mulk sampai selesai. Ia kemudian mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata “wahai Rasulullah, aku mendirikan kemah di atas kuburan dan aku tidak tahu kalau itu adalah kuburan, ternyata disana ada seseorang yang membaca surah Al Mulk sampai selesai”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “surat itu adalah pencegah dan penyelamat yang dapat menyelamatkan dari azab kubur” [Sunan Tirmidzi 5/164 no 2890]

ثنا أحمد بن عبد الملك الحراني قال ثنا يحيى بن عمرو بن مالك النكري قال سمعت أبى يحدث عن أبى الجوزاء عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم كفارة الذنب الندامة وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو لم تذنبوا لجاء الله عز و جل بقوم يذنبون ليغفر لهم

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul Malik Al Harani yang berkata menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Amru bin Malik An Nukri yang berkata aku mendengar ayahku menceritakan dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas yang berkata Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabd “tebusan dosa adalah penyesalan”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda “seandainya kalian tidak berdosa maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa untuk diampuni” [Musnad Ahmad no 2623]

Adz Dzahabi mengatakan hadis di atas mungkar dan menggolongkannya sebagai kemungkaran dari Yahya bin ‘Amru bin Malik An Nukri [Al Mizan juz 4 no 9595]. Sebagaimana yang terlihat hadis di atas adalah riwayat ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas, bisa jadi ini adalah salah satu dari hadis yang dikatakan Ibnu Ady sebagai “tidak mahfudzh” dan yang bertanggung jawab dalam hadis ini bukan ‘Amru bin Malik An Nukri tetapi anaknya yaitu Yahya bin ‘Amru bin Malik yang dikenal dhaif.

Kenyataan bahwa Ibnu Ady tidak menukil jarh ini dalam biografi ‘Amru bin Malik An Nukri dan ia malah menukilnya dalam biografi Abul Jauzaa’ mengisyaratkan bahwa di sisi Ibnu Ady sepuluh hadis yang tidak mahfudz tersebut adalah masuk dalam kelemahan Abul Jauzaa’ Aus bin Abdullah. Apalagi jika diperhatikan dalam biografi Abul Jauzaa’ Ibnu Ady berkata

سمعت محمد بن احمد بن حماد يقول قال البخاري أوس بن عبد الله الربعي أبو الجوزاء البصري في إسناده نظر

Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Hammad mengatakan Bukhari berkata Aus bin ‘Abdullah Ar Ruba’iy Abul Jauzaa’ Al Bashri dalam sanadnya perlu diteliti kembali [Al Kamil Ibnu Ady 1/411]

Kemudian Ibnu Ady menyebutkan kalau Abul Jauzaa’ meriwayatkan dari sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Aisyah. Ibnu Ady menafsirkan perkataan Bukhari “fii isnad nazhar” sebagai cacat bagi Abul Jauzaa’ bahwa riwayat Abul Jauzaa’ dari para sahabat tersebut tidak shahih dan ia tidak mendengar dari mereka. Hal ini mengisyaratkan kalau sepuluh hadis yang tidak mahfudz tersebut terkait dengan kelemahan riwayat Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas yang terputus sanadnya menurut Ibnu Ady.

Telah kami sebutkan dalam artikel sebelumnya bahwa Ibnu Ady keliru. Abul Jauzaa’ bertemu dengan para sahabat seperti Ibnu Abbas dan Aisyah dan ini terbukti dari riwayat Abul Jauzaa’ sendiri. Sedangkan perkataan Bukhari tersebut dapat dilihat dalam kitab Tarikh Al Kabir

وقال لنا مسدد عن جعفر بن سليمان عن عمرو بن مالك النكري عن أبي الجوزاء قال أقمت مع بن عباس وعائشة اثنتي عشرة سنة ليس من القرآن آية إلا سألتهم عنها قال محمد في إسناده نظر

Telah mengatakan kepada kami Musaddad dari Ja’far bin Sulaiman dari Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ yang berkata “Aku bersama Ibnu Abbas dan Aisyah selama 12 tahun dan tidak ada satu ayat dalam Al Qur’an kecuali aku tanyakan kepada mereka”. Muhammad berkata “dalam sanadnya perlu diteliti kembali” [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1540]

Atsar yang dibawa Bukhari di atas adalah shahih, perkataan Bukhari seolah menunjukkan adanya cacat pada sanadnya. Keraguan Bukhari ini bukan tertuju pada Abul Jauzaa’, Amru bin Malik An Nukri atau Musaddad tetapi tertuju pada Ja’far bin Sulaiman karena dalam biografi Ja’far bin Sulaiman Bukhari mengutip jarh terhadap Ja’far bin Sulaiman dalam beberapa hadisnya. Bukhari sendiri menulis biografi Amru bin Malik An Nukri tanpa menyebutkan jarh atau cacat [Tarikh Al Kabir juz 6 no 2672]. Jadi perkataan Ibnu Ady soal sepuluh hadis tersebut tidaklah menjadi hujjah untuk melemahkan ‘Amru bin Malik An Nukri karena Ibnu Ady sendiri tidaklah berpandangan demikian seperti yang telah kami jelaskan, apalagi terbukti Ibnu Ady mengalami kekeliruan dalam pembahasan biografi Abul Jauzaa’, ia keliru menjadikan perkataan Bukhari sebagai kelemahan bagi Abul Jauzaa’.

Ibnu Ady menuliskan biografi ‘Amru bin Malik An Nukri dalam kitabnya Al Kamil. Ibnu Ady mendhaifkan ‘Amru bin Malik An Nukri dan mengutip berbagai riwayat ‘Amru bin Malik An Nukri. Salafy itu hanya menukil tanpa memperhatikan dengan baik. Amru bin Malik An Nukri yang disebutkan Ibnu Ady disini adalah Syaikh [gurunya] Abu Ya’la yaitu orang yang meriwayatkan hadis dari Walid bin Muslim dan Fudhail bin Sulaiman bukan ‘Amru bin Malik An Nukri yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’.

عمرو بن مالك النكري بصري منكر الحديث عن الثقات ويسرق الحديث سمعت أبا يعلى يقول عمرو بن مالك النكري كان ضعيفا أخبرنا أبو يعلى وعمران السجستاني وعلي بن سعيد بن بشير الرازي قالوا حدثنا عمرو بن مالك النكري البصري قال ثنا الوليد بن مسلم

‘Amru bin Malik An Nukri Al Bashri munkar al hadits, meriwayatkan hadis dari para perawi tsiqat dan mencuri hadis. Aku mendengar Abu Ya’la berkata “Amru bin Malik An Nukri ia dhaif”. Telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’la dan Imran As Sijistani dan Ali bin Sa’id bin Basyiir Ar Raziy dimana mereka berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Malik An Nukri Al Bashri yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim. [Al Kamil Ibnu Ady 5/150-151]

‘Amru bin Malik An Nukri yang dimaksud Ibnu Ady disini sebenarnya adalah ‘Amru bin Malik Ar Rasibi sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Ibnu Hajar. Ibnu Hajar dalam biografi ‘Amru bin Malik Ar Rasibi menyebutkan kalau ia meriwayatkan dari Walid bin Muslim dan Fudhail bin Sulaiman dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Abu Ya’la. Ibnu Hajar juga mengutip pencacatan Ibnu Ady di atas dan pendhaifan Abu Ya’la serta menjelaskan kekeliruan Ibnu Ady dalam penyebutan ‘Amru bin Malik An Nukri [At Tahdzib juz 8 no 152]

Justru sangat tidak berguna dalih salafy kalau Ibnu Ady menyebut dengan tasrih Aku mendengar Abu Ya’la berkata “Amru bin Malik An Nukri seorang yang dhaif”. Tentu saja cara pikir salafy itu aneh bin ajaib, lha Amru bin Malik An Nukri yang dimaksud Ibnu Ady disini adalah gurunya Abu Ya’la yaitu ‘Amru bin Malik An Nukri yang meriwayatkan dari Walid bin Muslim dan Fudhail bin Sulaiman dan sebenarnya ia adalah ‘Amru bin Malik Ar Rasibi. Hal ini tampak jelas dalam riwayat Ibnu Ady dengan kata-kata “telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Malik An Nukri Al Bashri yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim”.  Jadi salah besar menjadikan ini sebagai cacat ‘Amru bin Malik An Nukri yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’. Perlu diketahui Amru bin Malik An Nukri yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ merupakan perawi thabaqat ketujuh dan wafat pada tahun 129 H [Al Kasyf no 4223] sedangkan Walid bin Muslim wafat pada tahun 195 H [Al Kasyf no 6094] dan Amru bin Malik Ar Rasibi yang meriwayatkan dari Walid bin Muslim adalah perawi thabaqat kesepuluh. Jadi sangat jauh perbedaannya.

Ibnu Ady telah keliru dalam penyebutan biografi ‘Amru bin Malik An Nukri atau ‘Amru bin Malik Ar Rasibi. Kasus ini menjadi bukti bahwa perawi hadis tidak selalu benar dalam periwayatan hadisnya. Disini Ibnu Ady sebagai perawi hadis telah keliru dalam penyebutan nama ‘Amru bin Malik, ia adalah Ar Rasibi bukan An Nukri. Mereka berdua Amru bin Malik An Nukri dan Ar Rasibi memang sama-sama orang Bashrah tetapi berada pada masa atau thabaqat yang berbeda. Kesalahan Ibnu Ady ini mirip dengan pembahasan kami sebelumnya soal biografi Yahya bin Ya’la dan hadisnya dari Bassaam yang dimasukkan Ibnu Ady dalam biografi Yahya bin Ya’la Al Aslamy padahal ia sebenarnya adalah Al Muharribi.

Salafy berusaha melemahkan ‘Amru bin Malik An Nukriy dengan mengutip penolakan Ahmad bin Hanbal dalam perkara shalat tasbih. Perlu diketahui para ulama telah berselisih dalam perkara shalat tasbih, sebagian ulama telah menguatkan hadis-hadisnya dan sebagian lagi menolak hadis-hadisnya dan diantara yang menolak hadis shalat tasbih adalah Ahmad bin Hanbal. Abdullah bin Ahmad berkata

قال سمعت أبي يقول لم تثبت عندي صلاة التسبيح وقد اختلفوا في إسناده لم يثبت عندي وكأنه ضعف عمرو بن مالك البكري

Aku mendengar ayahku berkata “tidak tsabit di sisi ku shalat tasbih, sungguh terdapat perselisihan dalam sanad hadisnya sehingga itu tidak tsabit menurutku”. Abdullah berkata “seolah-olah ia mendhaifkan ‘Amru bin Malik An Nukri” [Al Masa’il Ahmad bin Hanbal 1/89 no 315]

Al-Khallaal telah membawakan riwayat dari ‘Aliy  bin Sa’iid, ia berkata Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang shalat tasbih, lalu ia menjawab “Hal itu tidak shahih sedikitpun menurutku”. ‘Aliy berkata “hadits ‘Abdullah bin ‘Amru?”. Ia menjawab “Semua hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amru bin Maalik terdapat pembicaraan” [An-Naqdush-Shahiih oleh Al-‘Alaa’iy hal 32]

Tidak ada disebutkan bahwa Ahmad bin Hanbal mendhaifkan ‘Amru bin Malik An Nukri. Ahmad mengatakan hadis tersebut tidak tsabit karena terdapat perselihan pada sanad-sanadnya yaitu hadis ‘Amru bin Malik. Jadi maksud perkataan semua hadis ‘Amru bin Malik terdapat pembicaraan adalah semua hadis ‘Amru bin Malik tentang shalat tasbih ini diperselihkan dan dibicarakan sanad-sanadnya. Pernyataan Abdullah bin Ahmad itu hanyalah dugaan seolah-olah Ahmad mendhaifkan ‘Amru bin Malik padahal tidak tsabitnya sanad itu bukan karena dhaif perawinya tetapi karena perselisihan yang nampak dalam sanad-sanad hadisnya sehingga membuat ragu Ahmad bin Hanbal. Kata-kata “seolah-olah” hanyalah dugaan yang tidak bisa dijadikan hujjah. Ibnu Hajar ketika membahas perawi yang bernama Hasan bin Musa Al ‘Asyyab ia membawakan riwayat dari Abdullah bin Ali bin Madini dari ayahnya dengan lafaz “seolah-olah ia mendhaifkannya”. Ibnu Hajar mengatakan ini hanyalah dugaan dan tidak bisa dijadikan hujjah kemudian Ibnu Hajar membawakan penukilan Abu Hatim dari Ali bin Madini yang menyatakan ia tsiqat [Hady As Sari Ibnu Hajar hal 397-398]

Kalau memang Ahmad bin Hanbal menganggap dhaif ‘Amru bin Malik An Nukri maka ketika ditanya tentang hadis Abdullah bin ‘Amru ia pasti akan menjawab “Amru bin Malik An Nukri dhaif” tetapi kenyataannya ia menjawab “semua hadis riwayat ‘Amru bin Malik terdapat pembicaraan”. Untuk mengetahui duduk persoalan sebenarnya masalah ini maka mari kita lihat hadis shalat tasbih yang diriwayatkan oleh ‘Amru bin Malik An Nukri.

حدثنا محمد بن سفيان الأبلي ثنا حبان بن هلال أبو حبيب ثنا مهدي بن ميمون ثنا عمرو بن مالك عن أبي الجوزاء قال حدثني رجل كانت له صحبة يرون أنه عبد الله بن عمرو قال قال لي النبي صلى الله عليه و سلم ” ائتني غدا أحبوك وأثيبك وأعطيك ” حتى ظننت أنه يعطيني عطية قال ” إذا زال النهار فقم فصل أربع ركعات ” فذكر نحوه قال ” ثم ترفع رأسك يعني من السجدة الثانية فاستو جالسا ولا تقم حتى تسبح عشرا وتحمد عشرا وتكبر عشرا وتهلل عشرا ثم تصنع ذلك في الأربع الركعات ” قال فإنك لو كنت أعظم أهل الأرض ذنبا غفر لك بذلك قلت فإن لم أستطع أن أصليها تلك الساعة ؟ قال ” صلها من الليل والنهار “

قال أبو داود وحبان بن هلال خال هلال الرئي قال أبو داود رواه المستمر بن الريان عن أبي الجوزاء عن عبد الله بن عمرو موقوفا ورواه روح بن المسيب وجعفر بن سليمان عن عمرو بن مالك النكري عنن أبي الجوزاء عن ابن عباس قوله وقال في حديث روح فقال حديث النبي صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sufyan Al Ubuliy yang menceritakan kepada kami Hibban bin Hilal Abu Habib telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Malik dari Abul Jauzaa’ yang berkata telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dan dia seorang sahabat, menurut mereka, dia adalah Abdullah bin ‘Amru yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Datanglah kepadaku besok hari, aku akan memberimu suatu pemberian.” Hingga aku mengira beliau benar-benar akan memberiku suatu pemberian. Beliau bersabda: “Apabila siang agak reda, maka berdirilah untuk menunaikan shalat empat raka’at” kemudian dia menyebutkan hadits seperti di atas. Beliau lalu bersabda: “Kemudian kamu mengangkat kepalamu [yaitu dari sujud kedua] sehingga kamu benar-benar duduk, dan janganlah berdiri hingga membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil masing-masing sepuluh kali, lalu kamu melakukan hal itu di empat raka’at.” Beliau melanjutkan; “Seandainya kamu orang yang paling besar dosanya di antara penduduk bumi, maka dosa-dosamu akan di ampuni dengan melakukannya”  Aku bertanya; “Jika aku tidak mampu melaksanakan shalat pada waktu itu?” beliau menjawab: “Kerjakanlah di malam hari atau siang hari.” Abu Daud berkata “Habban bin Daud adalah pamannya Hilal Ar Ra’yi. Abu Daud berkata; “Hadits ini di riwayawatkan pula oleh Al Mustamir bin Ar Rayyan dari Abu Al Jauzaa` dari Abdullah bin ‘Amru secara mauquf. Dan di riwayatkan pula oleh Rauh bin Al Musayyab dan Ja’far bin Sulaiman dari ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abu Al Jauzaa`dari Ibnu Abbas. Sedangkan perkataannya mengenai hadits Rauh, dia berkata; yaitu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Shahih Sunan Abu Dawud no 1298 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani]

Inilah hadis ‘Amru bin Malik An Nukri soal shalat tasbih dan memang secara zahir sebagaimana yang dikatakan Abu Dawud terdapat perselisihan pada sanad-sanadnya

  • Mahdi bin Maimun meriwayatkan dari ‘Amru bin Malik dari ‘Abul Jauzaa’ dari sahabat yang diduga Abdullah bin ‘Amru
  • Rauh bin Al Musayyab dan Ja’far bin Sulaiman meriwayatkan dari ‘Amru bin Malik An Nukri dari Abul Jauzaa’ dari Ibnu Abbas.

Disini seolah-olah terdapat ketidakjelasan mengenai riwayat siapa sebenarnya hadis ini apakah Abdullah bin ‘Amru ataukah Abdullah bin Abbas, hal inilah yang menyebabkan Ahmad bin Hanbal menyatakan hadis tersebut tidak tsabit. Padahal hadis tersebut memang berasal dari keduanya yaitu Abdullah bin ‘Amru dan Ibnu Abbas. ‘Amru bin Malik diikuti oleh Mustamir bin Ar Rayyan yang meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dari Abdullah bin ‘Amr secara mauquf dan hadis tersebut telah diriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Musa bin Abdul Aziz dari Hakam bin Aban dari Ibnu Abbas secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Sunan Abu Dawud no 1297. Jadi Abul Jauzaa’ memang meriwayatkan hadis tersebut dari Abdullah bin ‘Amru bin Ash dan Abdullah bin Abbas dan begitulah yang akhirnya diriwayatkan oleh ‘Amru bin Malik An Nukri.

Kesimpulannya tidak ada penunjukkan bahwa Ahmad bin Hanbal mendhaifkan ‘Amru bin Malik An Nukri, itu hanyalah dalih yang dicari-cari oleh salafy untuk melemahkan hadis yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Pendapat yang benar ‘Amru bin Malik An Nukri seorang yang tsiqat. Hadis tabarruk riwayat Darimi di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat jadi sungguh benarlah apa yang dikatakan pentahqiq kitab Sunan Ad Darimi Syaikh Husain Salim Asad yang berkata “para perawinya tsiqat”.

.

.

Berkaitan dengan matan atsar Sunan Darimi di atas maka tidak ada sesuatu yang patut untuk dikatakan mungkar kecuali karena hal itu bertentangan dengan keyakinan salafy maka salafy mengatakan matan tersebut mungkar. Berikut perkataan Ibnu Taimiyyah

وما روي عن عائشة – رضى الله عنها – من فتح الكوة من قبره إلى السماء لينزل المطر، فليس بصحيح ولا يثبت إسناده، وإنما نقل ذلك من هو معروف بالكذب. ومما يبين كذب هذا أنه في مدة حياة عائشة لم يكن للبيت كوة، بل كان بعضه باقياً كما كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم، بعضه مسقوف وبعضه مكشوف، وكانت الشمس تنزل فيه كما ثبت في “الصحيحين” عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي العصر والشمس في حجرتها لم يظهر الفيء بعد. ولم تزل الحجرة كذلك حتى زاد الوليد بن عبد الملك في المسجد في إمارته لما زاد الحجر في مسجد الرسول صلى الله عليه وسلم

“Apa yang diriwayatkan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa tentang membuka lubang kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ke arah langit agar turun hujan, maka itu tidak shahih dan tidak tsabit sanadnya. Ia hanyalah dinukil dari orang yang dikenal kedustaannya. Termasuk yang menjelaskan kedustaan atsar ini adalah bahwa rumah tersebut – selama ‘Aaisyah masih hidup – tidak pernah mempunyai lubang. Bahkan tetap sebagaimana pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; sebagiannya diberi atap dan sebagiannya terbuka, sehingga sinar matahari sampai kepadanya. Di samping itu, diriwayatkan dalam Ash-Shahiihain dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar, sedangkan sinar matahari masuk ke kamarnya. Selanjutnya tidak nampak ada tambahan, dan kamar tersebut masih tetap demikian sampai pada masa pemerintahan Al-Waliid bin ‘Abdil-Malik yang menambahkan kamar-kamar itu di masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam [Ar-Radd ‘Alal-Bakriy, hal. 68-69].

Sangat tampak bahwa sebenarnya yang lebih layak dikatakan dusta disini adalah Ibnu Taimiyyah. Perkataannya “hanyalah dinukil dari orang yang dikenal kedustaannya” adalah dusta. Silakan lihat para perawi hadis tersebut tidak ada satupun diantaranya yang dikatakan dusta atau tertuduh pendusta. Jadi dari mana datangnya perkataan Ibnu Taimiyyah tersebut. Bagaimana ia bisa tahu kalau atap rumah tersebut tidak pernah mempunyai lubang?. Apakah ia hidup di zaman Aisyah hingga ia bisa dengan pasti mengatakannya?. Riwayat Ad Darimi menjadi bukti bahwa atap tersebut pernah dibuat lubang. Bisa saja setelah kejadian itu atap rumah tersebut ditutup kembali karena setelah kejadian tersebut kemarau yang berkepanjangan itu berakhir dimana tanaman telah tumbuh dan hewan ternak menjadi sehat kembali. Jadi tidak ada alasan bagi Ibnu Taimiyyah berhujjah dengan riwayat Shahihain soal sinar matahari masuk kekamar Aisyah RA, ini cuma dalih-dalih yang tidak nyambung yang tidak jelas dimana letak hujjahnya. Salam Damai

18 Tanggapan

  1. pertamax….
    salafy lagih salafy lagih….lagi2 salafy heheheh

  2. Ibnu Taymiyah membantah atsar tsb dengan alasan bahwa atap rumah Aisyah tidak pernah ada lobangnya.
    Saya ingin bertanya dan saya harap siapa saja yang mengetahui supaya dapat menginformasikan.
    Apakah kubur Rasul didalam rumah Aisyah?
    Aisyah berkata buatlah lobang di KUBUR Rasul dan bukan atap Rumah Rasul.
    Dan apakah rumah Aisyah tidak kebanjiran, ketika turun hujan?
    Sungguh aneh bantahan Taimiyah ini. Kalau kata2 ini
    dari ibnu Taimiyah, maka beliau kalau bukan BODOH yah NGAWUR. Hanya mencari-cari alasan untuk mendhaifkan atsar tsb.
    Atau ibnu Taimiyah tidak pernah berkata demikian. Dan yang merusak namanya adalah orang2 tertentu.
    Tolong para salafyan bantah atas KEBOHONGAN ibnu TaImiyah.

  3. Wahai para salafiyyun,

    Apa yg melatarbelakangi pendlaifan dan pencacatan anda atas segala hadits yg berhubungan dgn tabbaruk kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw?

    Apa yg menghalangi anda sehingga enggan mengakui kemuliaan nabi anda sendiri? Atau Nabi Muhammad saw yang anda yakini adalah nabi dgn keterbatasan dan penuh kelemahan spt kita ini?

    Adakah yg aneh dgn Nabi saw mampu memberikan manfaat kepada yg hidup setelah beliau wafat? Atau jangan2 anda berkeyakinan bahwa setelah wafatnya seseorang maka ia tak lagi mampu memberikan manfaat?

    Janganlah kepicikan cara berpikir dan lemahnya pengetahuan anda tentang Nabi saw, anda tularkan dan sebarkan kepada orang2 awam.

    Salam

  4. sorry atas username bareskrim yg muncul🙂

  5. @all
    Mereka para salafyn mungkin punya Alqur’an tapi hanya hiasan agar jangan disebut…………
    Sebab kalau mereka membaca dan berusaha mendalami makna dari Firman2 Allah. Mereka tidak mungkin mendhaifkan atsar2 atas kemulian dan kebesaran Rasulullah SAW. Wasalam

  6. @chany

    Apakah kubur Rasul didalam rumah Aisyah?
    Aisyah berkata buatlah lobang di KUBUR Rasul dan bukan atap Rumah Rasul.
    Dan apakah rumah Aisyah tidak kebanjiran, ketika turun hujan?
    Sungguh aneh bantahan Taimiyah ini. Kalau kata2 ini
    dari ibnu Taimiyah, maka beliau kalau bukan BODOH yah NGAWUR. Hanya mencari-cari alasan untuk mendhaifkan atsar tsb.

    saya sarankan anda belajar dulu dan jangan membodoh-bodohkan ulama, melihat komen anda di atas saja terlihat kok kapasitas anda, jauh.. jauh… maka jgn sok lah jd org:mrgreen:

  7. berkunjung antar blog kawan

    thanks untuk sharing ilmunya sangat bermanfaat
    Cara Menghindari penipuan Di Internet
    Ready Stock Chip Telkomsel Unlimited

  8. @paiman
    Saia tahu siapa anda. Pengetahuan yang anda pelajari hanya MEMAKI dan MENCACI. Untuk membahas sesuatu anda nda mampu. Tulisan anda sendiri anda tidak mengerti bagaimana anda bisa mengerti tulisan lain orang?

  9. @ paiman

    Kalau membodoh-bodohkan ulama yang anda maksud adalah Ibnu Taimiyah, itu bukan membodoh-bodohkan tapi memang kenyataannya Ibnu Taimiyah adalah orang yang SUPER GOBLOK, kata Ibnu Batuthah tuh orang jiwanya memang sakit, ocehan manusia yang muncul dari Bani Mudhar itu memang ukurannya udah sekian TERRABYTE sesat menyesatkan.

    Nggak aneh bila ocehan Ibnu Taimiyah la’natullah itu sesat menyesatkan, karena memang Nabi.saw telah menyatakan dia adalah SETAN yang muncul dari sulbi Bani Mudhar.

    Na’udzubillahi min Ibni Taimiyah wa na’udzubillahi min asy-syaithani ar-rajim

  10. @atasku

    Puaassss? tampaknya andalah yang sedang sakit🙂

  11. @ytse-jam
    kebenaran tdk sejalan dgn penghujatan n mencela,
    penghujatan memberikan arti lain,sehingga menghilangkan nilai2 mulia dari kebenaran itu sendiri.
    ucapan2 nada kebencian dr anda tdk ada arti bagi ibnu taimiyah sendiri,selain balasan kebencian yg ditujukan keanda dr pengikut2 mereka.
    kebencian kaum kafir qurays terhadap rosul bukan dikarnakan ada ucapan rosul yg menyakiti mereka n memang rosul tdk pernah mengeluarkan kata2 dgn nada kebencian.
    salam damai…

  12. @ sok tau banget

    O yaa….!!!!!!
    Kalaupun jiwa saya sakit itu karena saya pernah mengikuti ajaran sesat Ibnu Taimiyah. Tapi Alhamdulillah saya tidak sesakit jiwanya.

    Bukan saya yang menghujatnya tapi Ibnu Batuthah yang menyatakan dia sakit jiwa.

    @ aldj

    Bukan saya yang menyatakannya setan tapi hadis Nabi.saw yang menunjukkannya demikian.
    Dan, kalaupun pangikut Ibnu Taimiyah akan membalas kebencian itu pada saya, saya ucapkan Alhamdulillah karena memang saya berharap dibenci oleh setan dan pengikut satan. Bukankan Nabi.saw menyatakan Anak cucu Bani Mudhar itu setan???? Bukankah kita diperintahkah untuk memohon perlindungan dari tipudaya setan???

    Salam

  13. damai…………damai…………..
    kita tunggu jawaban pengikut bin taimiyah yg ilmiah, bukan yg hanya mengikuti caciannya doang.

  14. @ All

    Amat sulit akal sehat kita mau menerimanya sebagai seorang muslim (yang dengan tak tau malu, oleh suatau golongan dianggap sebagai ulama dan diberikan padanya gelar sebagai “syaikhul islam” yang sebenarnya sangat tidak pantas dia sandang) pada Ibnu Taimiyah yang dengki pada keutamaan Ahlulbait.
    Bagi orang sepertinya dan pengikutnya kaum Salafy Nashibi berat hati mereka menerima kenyataan bahwa kemuliaan dan kedudukan Ahlulbait melebihi kedudukan tokoh-tokoh yang mereka puja.
    Seakan tidurnya tak nyenyak dan makannya tak enak bila dia menemukan nash-nash agama sebagai bukti ketinggian maqam Ahlulbait, maka dicarilah segala cara untuk mendhaifkan nash-nash tersebut sesuai dengan selera hawa nafsu dan kesesatannya.

    Sangat tidak wajar mereka yang benci pada maqam Ahlulbait berada dalam agama sesuci agama Islam. MEREKA LEPAS DARI ISLAM BAGAI ANAK PANAH LEPAS DARI BUSURNYA ALIAS MURTAD.

    Salam

  15. […] Pencari Kebenaran Velkooky Velkousty : Mata Besar dan Mulut Besar [karya Jakub Farobek]Analisis Hadis Tabarruk : Berkah Kubur Nabi SAW [Edisi Terbaru]Studi Kritis Hadis Taat Kepada Ali Berarti Taat Kepada Nabi SAW : Bantahan Terhadap SalafyStudi […]

  16. Salam,

    Salam kenal untuk semuanya, terutama untuk pemilik blog ini, mas SP

    Wassalam.

  17. maaf temen2………yang kurang berfikir itu ……syaraf indon…..mereka taqlid buta……..otaknya terpasung……..kalau para ulama’nya baik2…….konteks mereka ideal……..tetapi nyampai di sini jadi amburadul…..

  18. saya lebih menanggapi sosok ibnu taymiyah adalah seorang yang ‘alim, meskipun memang beliau tidak memiliki kapasitas dalam bidang hadits,
    jadi, pendapat ibnu taymiyah yang sesuai dengan pendapat ulama jumhur atau ahli hadits ternama (Ibnu Hajar al’Asqolani – al-Nawawi – dll) kita dapat teriam.
    namun jika bertentangan, maka kita tolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: