Tempat Yang Aneh : Nostalgia Sederhana

Tempat Yang Aneh : Nostalgia Sederhana

Perjalanan yang menyenangkan [pada bagian tertentu] dan membosankan [pada bagian yang lain]. Itulah yang saya alami beberapa hari ini. Hidup segan matipun segan. Maklumlah kalau “manusia cih” itu menyebut saya “tipe orang cepat mati”. Disini tempat yang baik untuk belajar, belajar lebih dekat memahami alam. Bahasa alam adalah bahasa universal karena alam juga memiliki jiwa [ho ho ho avatar mode on]. Beberapa hari disini membuat saya lebih memahami bahwa alam memberi lebih banyak kepada manusia tetapi manusia merusak alam lebih banyak.

Aura disini bermacam-macam. Ada yang angker sok mengerikan, ada yang menyejukkan[tapi kalau kelamaan bisa kedinginan], ada yang melayang-layang, dan ada juga yang berwarna. Tetapi kalau sudah berkumpul banyak manusia biasanya aura alam jadi gak jelas karena tertutupi berbagai macam penampakan.

  • Di sebelah utara ada tanah setapak [kayaknya lebih dari setapak] yang berlumpur kalau hujan dan membuat badan makin tinggi saja [sepatunya makin tebal].
  • Disebelah selatan pepohonan Akasia yang menari-nari sambil menatap sinis para “perusak alam”.
  • Di sebelah timur ada mata air sepertinya mengalir entah kemana, secara kasat mata saya melihatnya tercemar walaupun orang lain tidak bisa melihatnya [mata saya memang abnormal] dan di ujungnya ada pohon kurus yang menjulang tinggi tanpa cabang sampai pada puncaknya bercabang kecil dengan daun-daunan seadanya.
  • Di sebelah barat adalah tempat saya bermukim sementara bersama orang-orang yang harus terus saya ajak bicara. Singkatnya tempat ini aneh. Saya merasa alam disini kurang baik, paginya memang sejuk, siangnya malah panas sekali [ini sih gak masalah], tapi malamnya itu dingin [di hari tertentu malah sangat dingin] membuat badan saya kalang kabut. Alhamdulillah saya diberi selimut super tebal [itu selimut paling tebal yang pernah saya pakai].

Alam yang aneh seperti ini mengingatkan saya pada beberapa orang.

  • Akasia mengingatkan saya pada “si tampan menyebalkan” orang yang selalu bisa menyesuaikan diri dengan terpaan angin tetapi tatapannya sinis kepada mereka yang tidak menghargai aturan.
  • Tanah setapak mengingatkan saya pada “orang biasa yang lebih suka naik bus daripada mobil pribadi” [ah itu karena kau tidak punya] 😉  Orang yang lebih suka terus berada di bawah tetapi selalu bisa mempengaruhi orang yang ada di atasnya. Kalau ia mau, ia bisa membuat orang sulit untuk berada di atasnya dan tidak jarang ada yang terjatuh karenanya
  • Mata air itu mengingatkan saya pada sahabat baik yang pikirannya sudah tercemari oleh wanita-wanita yang hanya bisa ia pikirkan saja. Tipe pekerja keras jika urusannya bukan soal wanita. Ia lebih suka mengalir, lebih memilih mendengarkan pikiran brilian para sahabatnya ketimbang mengeluarkan pendapatnya sendiri. Tapi jika sedang marah ia bisa meluluhkan hati orang yang paling keras di antara kami.
  • Pohon kurus mengingatkan saya pada “manusia cih” yang lebih suka berilmu tinggi dan tidak suka merendah. Ia tidak begitu mau memikirkan urusan banyak orang yang menurutnya terlalu mengganggu.Tetapi untuk orang-orang tertentu yang tarafnya berada satu puncak dengan dirinya [menurutnya tentu] ia tidak segan untuk ikut campur bahkan sampai ke taraf yang menyebalkan [benar-benar hijau seperti pucuk pohon itu].
  • Tempat saya bermukim sementara mengingatkan saya pada “manusia alim” yang suka sekali senyum. Orang yang akan membuat siapapun berbicara dengannya jika melihat ia tersenyum [bukan karena tampannya]. Pembawaan yang ramah membuat dia sebagai orang no dua dalam urusan “menjadi orang yang disukai banyak orang”. Sayangnya ia tidak sepintar “akasia” dalam menilai pikiran orang-orang.
  • Selimut tebal mengingatkan saya pada Si Dia yang tanpa dirinya saya akan kalang kabut menderita. Dia entah mengapa lebih kuinginkan “ada” dibanding yang lainnya. Satu-satunya yang sampai saat ini bisa menerima dengan sabar semua keabnormalan [gak separah dulu sih].

Tempat ini memang aneh membuat saya tidak bisa melupakan kehidupan yang biasa dijalani. Tetapi yang menyedihkan saya tidak bisa melihat diri saya di tempat ini. Tidak ada jiwa saya di alam ini. Alam menolak untuk menerima saya sebagai bagian darinya. Saya tetaplah saya yang gelap yang tidak bisa melihat dirinya. Saya orang yang hanya bisa melihat apa yang dirindukannya saja. Salam Sedih

ehem saya nulis ini sambil dengerin Albeniz lho [gak penting banget] :mrgreen:

Iklan

6 Tanggapan

  1. nikmatnya….

  2. Nostalgia sederhana yang gak bisa kumengerti dengan pasti. Tapi tetap menarik juga, aneh kan? Nggak ngerti, tapi menarik, inilah yang langka. Berarti aku juga abnormal dunk? Salam kenal.

  3. Si Akasia masih saja diam dan menatap sinis tohh. Sayang sekali, dia sebetulnya bukanlah sekedar Akasia, dia bisa berbuat lebih banyak dari sekedar Akasia dia adalah Sang Macan di Rimba. Hanya saja dia terlalu banyak perhitungan, sebagaimana Macan yang menanti mangsa yang dia yakini dapat dimangsa. Yang diluar jangkauannya tentu hanya ditatap dengan sinis.
    Si Jalan Setapak?, sebagaimana Akasia, dia menanti untuk tampil sebagai Jalan Raya. Sementara ini Dia menikmati untuk menjadi Jalan Setapak, sebagaimana Dia menikmati menjadi pengamat.
    Si Pohon Kurus? hehhehe Dia masih konsisten tohh.? Dia tahu bahwa untuk tampil dan survive tidaklah dibutuhkan kejeniusan, Dia meyakini yang dibutuhkan adalah keunikan. Dia juga meyakini bahwa eksistensi kalian bukan dari kejeniusan kalian tapi dari keunikan kalian. Dan juga meyakini bahwa hutan tidak akan lengkap tanpa kehadiran Dia.
    Si Mata Air? Dia butuh keberanian untuk melakukan Revolusi.
    Si Tempat saya Bermukim? Sepertinya Dia butuh menemukan keunikan Dia.
    Selimut Tebal? Hehehe..gak berani ahhh, takut sama SP.

    PS: Runtuhkan dinding yang selama ini telah menutup Cahaya. Cahaya bukannya tidak ada, cahaya butuh diundang dan diijinkan masuk.
    Alam sangat luas dan besar, alam tidak pernah menolak siapapun. Diri kita sajalah yang telah menolak alam… :mrgreen:

    Salam,

  4. hmm….selimut tebal….
    sberapa tebal???

  5. ada yang nikah mut’ah ga ditempat itu ?

    Just curious lho 😛

  6. @Muhibbin
    anda ini keracunan mut’ah ya, kok ngawur lain yang ditulis lain pula komentarnya. apa pikiran anda dipenuhi hal-hal yang seperti itu ya :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: