Relativitas Kebenaran

Relativitas Kebenaran

Seperti banyak hal lain yang berubah nilainya seiring kemajuan pemikiran manusia, Kebenaran seolah-olah telah berubah nilainya menjadi barang mewah nan berkelas. Tampak jelas di antara sekian banyak orang maka kebenaran akan menjadi yang kesekian kalinya untuk diperbincangkan. Benarkah? Saya kira itu mungkin sekali . Entah mengapa ketika saya membicarakan soal kebenaran maka sebagian orang memandang dengan sinis dan berkata “ Ah Itu Cuma Utopis”. Apalagi ada kendala besar yang dihadapi ketika kita mau bersama-sama berbicara tentang Kebenaran. Raksasa itu adalah stigmata yang begitu melekat pada manusia bahwa Kebenaran Itu Relatif.

Kebenaran adalah suatu kebutuhan baik disadari atau tidak dan sebaliknya keraguan adalah sesuatu yang kurang disenangi bahkan dibenci oleh banyak orang. Alasannya sederhana, karena manusia pada dasarnya sangat butuh untuk Meyakini sesuatu. Keyakinan membuat manusia merasa Hidup ini berharga untuk dijalani. Bukan berarti saya menyatakan bahwa setiap apa yang diyakini orang maka itulah Kebenaran. Tidak, tidak, yang saya maksud adalah setiap manusia dari lubuk hatinya percaya bahwa ada sesuatu yang disebut kebenaran yang menjadi keyakinannya, terlepas dari kenyataannya apakah Keyakinan itu sendiri benar atau salah.

.

.

Kebenaran Itu Ada
Keyakinan akan adanya Kebenaran adalah landasan semua pengetahuan manusia. Apa pun yang diketahui manusia dari gosip ibu-ibu sampai Teori Evolusi yang Kontroversial (katanya sih) jelas dilandasi oleh perasaan Universal bahwa Kebenaran itu ada. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahkan oleh mereka yang besar sekali keraguannya seperti kaum Sophis, para Agnostik dan pengidap Pesimistik. Mengapa? Ok anggap saja klaim bahwa Kebenaran tidak ada itu adalah benar, maka hal ini membuktikan

  • Tidak ada satupun yang disebut benar sehingga premis apapun menjadi tidak ada nilainya atau tidak bermakna. Implikasinya pernyataan Anda seorang yang baik dan murah hati sama saja nilainya dengan pernyataan Anda brengsek dan bermental hina. Bumi itu bulat tidak ada bedanya dengan Bumi itu datar. Matahari mengelilingi bumi tidak ada bedanya dengan Bumi mengelilingi Matahari. Secara umum semua informasi menjadi tidak ada nilainya dan timbullah Kekacauan Universal yang mengerikan :mrgreen:
  • Yang Paling kacau adalah bahkan Premis Kebenaran tidak ada itu sendiri akan menjadi Sesuatu yang tidak bernilai juga
  • Dengan sudut pandang lain pernyataan Kebenaran tidak ada tidak mungkin bisa menjadi benar. Karena jika benar maka justru menunjukkan bahwa ada sesuatu yang benar dan ini kontradiktif dengan premisnya sendiri yang menyatakan Kebenaran tidak ada.

.

.

Kebenaran Yang Mutlak dan Relatif
Apakah Kebenaran itu terbagi menjadi Mutlak dan Relatif?. Ini pertanyaan yang menarik. Saya akan memulai dari sesuatu yang jelas bahwa Kebenaran Itu Ada. Dari sini kita melangkah pada bagaimana kedudukan Kebenaran itu? Statiskah ia atau justru Ia dinamis.

Jika anda meyakini sesuatu sebagai Kebenaran dan ternyata di kemudian hari apa yang anda yakini itu benar-benar terbukti salah, maka dalam posisi ini adalah hak anda sepenuhnya untuk mengatakan bahwa Kebenaran Itu Relatif. Tetapi mari saya jelaskan pokok masalah sesungguhnya adalah bahwa sebenarnya Anda telah meyakini sesuatu yang salah dan sekarang barulah anda tahu Kebenaran-nya.

Jika anda meyakini sesuatu sebagai Kebenaran dan ternyata saya meyakini apa yang anda yakini itu tidak benar, maka adalah hak anda sepenuhnya untuk mengatakan bahwa Kebenaran Itu Relatif. Tetapi mari saya jelaskan kenyataannya adalah bahwa sebenarnya anda bisa jadi meyakini sesuatu yang salah dan dalam hal ini sayalah yang benar. Atau justru saya sebenarnya salah maka Andalah yang benar.

Yang ingin saya tawarkan adalah Yang Benar adalah Benar. Kebenaran adalah kebenaran dan Kesalahan adalah kesalahan. Keduanya tidak berada pada satu tempat yang sama. Kebenaran Itu Mutlak, oleh karena itu tidak ada yang namanya Kebenaran akan menjadi Kesalahan atau Kesalahan menjadi Kebenaran. Tetapi Kebenaran Itu Relatif, oleh karena Sesuatu yang anda yakini sebagai Kebenaran bisa jadi adalah suatu Kesalahan dan sesuatu yang anda pikir salah bisa jadi adalah suatu Kebenaran.

.

.

Dua Dunia Yang Berbeda
Kebenaran Itu Mutlak dan Kebenaran Itu Relatif berada pada dua dunia yang berbeda. Sesuatu yang absolute berada pada Dunia Yang Objektif dan sesuatu yang relative berada pada Dunia Yang Subjektif. Dunia Yang Objektif mengandung Aturan bahwa Kebenaran itu Independen, tidak bergantung pada siapa yang merasa-rasa, sedangkan Dunia Yang Subjektif memberi keluasan bahwa siapapun bisa merasa-rasa apa yang disebut sebagai Kebenaran. Dalam dunia ini hal-hal yang kontradiksipun bisa dianggap sama-sama Kebenaran.

.

.

Dunia Kita Adalah Dunia Yang Subjektif
Realitanya kita hidup dalam Dunia yang subjektif. Kita manusia hidup dengan manusia lain dan saling berinteraksi. Dunia kita adalah dunia bersama, dimana kita semua manusia berhak merasa-rasa. Dalam hal ini maka kita semua bernilai sama, Apa yang saya yakini tidak lebih rendah nilainya dari apa yang anda yakini. Saya meyakini suatu Kebenaran dan sama halnya andapun meyakini sesuatu Kebenaran. Dan dalam tahap ini Kebenaran Anda tidak lebih rendah dari Kebenaran Saya. Semua Yang Kita Yakini adalah Kebenaran dalam Dunia Yang Subjektif, atau dengan kata lain merupakan sesuatu yang kita anggap sebagai Kebenaran.

.

.

Manusia Dan Dunia Yang Objektif
Dunia Yang Objektif adalah dunia dengan Kebenaran yang Independen. Disini Kebenaran dicapai dengan standar dan aturan. Terlepas dari anda tahu atau tidak standar dan aturan itu maka itu tidak menafikan bahwa standar itu ada. Jika anda mengatakan bahwa standar itu tidak ada maka bagaimana kebenaran itu dicapai?. Menyatakan standar itu tidak ada sama halnya dengan menyatakan bahwa Kebenaran itu tidak mungkin diketahui manusia sehingga sama halnya tidak ada yang namanya Kebenaran. Padahal sudah jelas Kebenaran Itu Ada.

.

.

.

Kesimpulan
Kebenaran Itu Mutlak dan Yang Dianggap Kebenaran Itu Relatif
Sejatinya Kebenaran Itu Mutlak karena itulah sifat asli kebenaran dan untuk mencapainya ada suatu standar dan aturan. Dalam aplikasinya Kebenaran Itu Relatif karena anda berhadapan dengan manusia sejenis anda yang sama-sama menghargai apa itu Kebenaran. Manusia yang akan terasa sakit hatinya jika anda menyatakan salah pada apa yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Oleh karena itu jika anda berbicara dengan orang lain soal Kebenaran maka janganlah sama-sama berdiri pada Dunia Yang Subjektif. Jika memang anda dan orang lain itu benar-benar mau mencari kebenaran maka mari bersama-sama meninggalkan Dunia Yang Subjektif dan beralih ke Dunia Yang Objektif. Dunia dengan standar dan aturan yang hendaknya disepakati bersama. Dunia yang hendaknya dimasuki atas dasar Toleransi yang Positif. Seperti Kata Seseorang Ada Sikap Tertentu Untuk Berdiskusi Soal Keyakinan. Ah cukup sampai disini dulu ya, melelahkan memang dan cukup berat :mrgreen: .

Iklan

51 Tanggapan

  1. Susah dibantah ya mas….., kecuali kalo dikasih pendefinisian, apa yg disebut kebenaran mutlak serta apa contoh yang disebut kebenaran mutlak itu. Karena dari pendefinisian dan contoh akan muncul respon-respon, saya kira.
    Sebagai tambahan, menurut saya, sebagai Pencari Kebenaran, dimana setiap Pencari pasti selalu menemukan Apa Yang Dicari, meskipun sebagian-sebagian, setingkat-setingkat (dan berubah-ubah?), seyogjanya pada kebenaran (mutlak?) itu terdapat apa yang dinamakan KEBENARAN BERLAPIS. Kenapa istilah ini pantas dimunculkan?:
    Ternyata anggapan kebenaran yang kita dapat (selama ini) BELUMLAH SEMPURNA. Tergantung menurut saya, dari meningkatnya pengetahuan, perkembangan jiwa, perubahan tujuan hidup, pengenalan lingkungan dan lain-lain (mungkin).
    Contoh: Sewaktu SD, kita bercita-cita ingin menjadi pilot. Kita berkeyakinan (pada saat itu) menjadi pilot adalah pilihan yang terbaik dan yang benar. Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi pilot tidak benar (sehingga bukan termasuk jenis Kebenaran Relatif). Ternyata dengan berlalunya waktu, meningkatnya pengetahuan, perkembangan jiwa, perubahan tujuan hidup dan pengenalan lingkungan, cita-cita kita berubah. Katakanlah pada waktu di SMA cita-cita kita berubah ingin menjadi dokter.
    Apakah cita-cita pertama salah? Tidak. Karena pengetahuan kita tentang hal tsb (cita-cita) terbatas sesuai pengetahuan kita. Apakah cita-cita kedua benar? Ya tentu saja sesuai pengetahuan dan perkembangan jiwa kita saat itu. Tapi apakah kemudian cita-cita ingin menjadi dokter ini yang akan menentukan kita setelah dewasa menjadi dokter? Belum tentu bukan? Meskipun perubahan yang akan datang pasti atas Kehendak dan Iradat Allah swt, namun setidak-tidaknya cita-cita kita kemudian ingin menjadi dokter bisa saja berubah karena berubahnya tujuan hidup kita dan dll perubahan. Hal inilah yang patut, menurut saya, direnungkan oleh kita bahwa ternyata kebenaran yang kita anut (selama ini), belumlah sesempurna seperti yang kita bayangkan.
    Contoh lainnya;
    Masih jamannya SD. Bukankah kita berkeyakinan bahwa guru kita dan buku-buku yang kita pelajari adalah sumber pengetahuan yang harus dipegang dan diakui kebenarannya?

    Intermezo:
    Bahkan saya masih ingat dulu, kalau ayah saya mengajar (matematika) dengan metode yang tidak sesuai dengan apa yang diterangkan oleh guru saya, atau tidak tercatat di buku pelajaran, maka saya langsung membantah dan mengatakan bahwa “hal itu tidak diajarkan oleh guru!”. Meskipun kalau melihat hasilnya apa yang diajarkan di sekolah tidak berbeda dgn apa yang disampaikan oleh ayah saya.

    Kembali ke pokok:
    Dengan meningkatnya pengetahuan, pada waktu di SMP. Apakah keyakinan akan kebenaran guru dan buku SD berubah? Tentu tidak. Kita tidak akan mengatakan bahwa guru SD salah, bukan?. Buku-buku pelajaran SD keliru, bukan? Yang berubah adalah bahwa ternyata ada kebenaran lain yang lebih tinggi. Bahwa ternyata guru SD kita tidak sepintar guru SMP. Buku-buku di SD kita tidaklah selengkap dan serumit buku-buku pelajaran SMP. Begitulah seterusnya, sesuai perkembangan jiwa dan meningkatnya pengetahuan, tujuan hidup, dll, maka tingkat kebenaran juga akan mengikuti. Tapi tentu bagi Pencari Kebenaran. Bagi yang ingin tetap di SD atau betah di SMP sih terserah yang bersangkutan :mrgreen:

    Setiap anak SD yang ingin ke SMP dan dari SMP ingin ke SMA. Dari SMA ingin kuliah, selalu melewati ujian dan test. Pencari Kebenaran jg selalu melalui tahap-tahap ini (bukan?).

    “Ternyata bagi setiap Pencari Kebenaran, akan menemukan banyak kebenaran sesuai tingkat pencariannya.”

    Semoga bermanfaat
    damai…..damai

  2. Kalo kebenaran yang ada (bahkan yang subyektif dan relatif sekalipun) itu ‘terbenar’ sesuai dengan aturan dan standar yang ada, maka itulah kebenaran yang normatif. Standar dan aturan kebenaran itu seperti apa? bisa dijelaskan?

    Menurut saya, kebenaran akan ‘ada’ ketika kita mencari dan mengalaminya untuk kemudian sampai pada tahap membukti-i. Sepuluh dikurangi lima sama dengan enam itu salah adalah kebenaran. Mengatai Anda sudah beristri itu sejatinya salah adalah kebenaran. Bukan begitu?

  3. @armand

    Susah dibantah ya mas….., kecuali kalo dikasih pendefinisian, apa yg disebut kebenaran mutlak serta apa contoh yang disebut kebenaran mutlak itu.

    Kalau kebenaran mutlak saya kasih contoh, maka itu justru menjadi kebenaran relatif Mas :mrgreen:

    Sebagai tambahan, menurut saya, sebagai Pencari Kebenaran, dimana setiap Pencari pasti selalu menemukan Apa Yang Dicari, meskipun sebagian-sebagian, setingkat-setingkat (dan berubah-ubah?), seyogjanya pada kebenaran (mutlak?) itu terdapat apa yang dinamakan KEBENARAN BERLAPIS.

    Keren juga istilahnya Kebenaran Berlapis, yang saya tangkap bisa saja namanya kebenaran itu bercampur dengan hal-hal yang tidak benar. Sehingga kelihatan berlapis-lapis

    Contoh: Sewaktu SD, kita bercita-cita ingin menjadi pilot. Kita berkeyakinan (pada saat itu) menjadi pilot adalah pilihan yang terbaik dan yang benar. Tidak ada yang mengatakan bahwa menjadi pilot tidak benar (sehingga bukan termasuk jenis Kebenaran Relatif). Ternyata dengan berlalunya waktu, meningkatnya pengetahuan, perkembangan jiwa, perubahan tujuan hidup dan pengenalan lingkungan, cita-cita kita berubah. Katakanlah pada waktu di SMA cita-cita kita berubah ingin menjadi dokter.
    Apakah cita-cita pertama salah? Tidak.

    saya rasa contoh di atas kurang tepat Mas, jika cita-cita tersebut adalah suatu keinginan yang dilandasi oleh apa yang lebih kita sukai maka pernyataan benar dan salah kurang relevan.
    Tetapi jika cita-cita yang dimaksud dilandasi atas keyakinan Yang mana pilihan yang terbaik, maka jika suatu saat kita menyadari bahwa pilihan kita awalnya bukan yang terbaik dan kita menemukan pilihan lain yang terbaik. Maka keyakinan kita bahwa cita-cita awal kita adalah yang terbaik merupakan suatu kesalahan karena kita telah menemukan yang lebih baik. 🙂

    Dengan meningkatnya pengetahuan, pada waktu di SMP. Apakah keyakinan akan kebenaran guru dan buku SD berubah? Tentu tidak. Kita tidak akan mengatakan bahwa guru SD salah, bukan?. Buku-buku pelajaran SD keliru, bukan? Yang berubah adalah bahwa ternyata ada kebenaran lain yang lebih tinggi.

    Menurut saya jika memang pengetahuan SD kita ternyata salah berdasarkan pengetahuan SMP yang kita ketahui maka tidak ada alasan untuk tetap menyatakannya benar. Saya tidak keberatan menyatakan guru SD saya salah jika ternyata ia benar-benar salah. sama halnya saya tidak keberatan menyatakan saya salah jika saya memang terbukti salah.
    Kebenaran Lain yang lebih tinggi adalah bahasa halus dari Kebenaran Absolut yang diyakini dan menjadi Kebenaran Relatif dalam ranah sosial.
    Walaupun begitu apa yang Mas katakan soal

    Buku-buku di SD kita tidaklah selengkap dan serumit buku-buku pelajaran SMP. Begitulah seterusnya, sesuai perkembangan jiwa dan meningkatnya pengetahuan, tujuan hidup, dll, maka tingkat kebenaran juga akan mengikuti.

    Saya sangat setuju akan ini

    “Ternyata bagi setiap Pencari Kebenaran, akan menemukan banyak kebenaran sesuai tingkat pencariannya.”

    Benar, karena itu Kebenaran bersifat relatif. Bisa saja dalam pencarian itu terdapat banyak pencari Kebenaran yang berbeda hasil yang mereka capai dan mungkin bertolak belakang, maka adalah hak anda sepenuhnya untuk menyatakan bahwa semua pencapaian mereka adalah Kebenaran
    Salam 🙂

    @hilda alexander
    Standar dan aturan kebenaran itu seperti apa? bisa dijelaskan? Wah itu masalah lain Mbak, tetapi saya pernah singgung sedikit dalam Absolutisme Agama Yang Relatif

    Mengatai Anda sudah beristri itu sejatinya salah adalah kebenaran. Bukan begitu?

    bukannya umur saya 10 tahun :mrgreen:
    *pura-pura nggak tahu*

  4. Kebenaran adalah keadilan yang akhir (lapis).
    Maka itulah ada hari ‘Kiamat’, yaitu hari pengadilan terakhir (Kebenaran Mutlak).
    Ingatlah pada Yang Awal dan Yang Akhir.
    Ingatlah pula pada Yang Maha Adil.

    Pengenalan ‘benar’ hanya 1, diantara 4 :
    benar – benar -> benar kebenaran mutlak
    benar – salah -> salah kebenaran relatif
    salah – benar -> salah kesalahan relatif
    salah – salah -> salah kesalahan mutlak
    Pengujian relatif :
    benar – benar – BENAR -> benar kebenaran yang BENAR
    benar – salah – BENAR -> salah kebenaran rel yang salah
    salah – benar – BENAR -> salah kesalahan rel yang salah
    salah – salah – BENAR -> salah kesalahan mut yang salah
    Berarti, kebenaran atau kesalahan relatif, tetap salah dibanding kebenaran mutlak.

    Kesimpulannya Kebenaran Mutlak itu suci.
    Maka ingatlah selalu kepada Yang Maha Mulia.

    Untuk menuju kepada Yang Maha Benar, kajilah perihal melihat, memandang, mengawasi (mengamati), memahami, mengetahui, mengenal, yakin, dan iman.

    “sangat filosofis”

  5. @SP
    Boleh lanjut kan?

    “Kalau kebenaran mutlak saya kasih contoh, maka itu justru menjadi kebenaran relatif Mas”

    Saya: Bukankah jika demikian Kebenaran Mutlak hanya menjadi angan-angan kosong dan setiap orang memiliki jalannya dan tujuannya sendiri-sendiri untuk mencapai kebenaran? Bukankah ayat “Tunjukilah aku pada jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” memberi kesan dan arahan bahwa terdapat suatu kebenaran (mutlak) yang disediakan Allah swt?
    Memang agak sulit menerjemahkan apa itu Kebenaran Mutlak dan seperti apa Kebenaran Mutlak itu. Menurut saya hal ini karena keterbatasan pengetahuan serta pandangan dan proses hidup kita tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk dari “orang-orang yang telah Engkau beri nikmat”.
    Namun karena ini forum diskusi, saya kira tidak ada salahnya untuk melemparkan bola panas dan melihat seperti apa tanggapan-tanggapan yang akan keluar. Tidak menutup kemungkinan akan muncul suatu contoh kebenaran mutlak yang tidak tidak bisa lagi relatifkan dan dipertentangkan.

    “Keren juga istilahnya Kebenaran Berlapis, yang saya tangkap bisa saja namanya kebenaran itu bercampur dengan hal-hal yang tidak benar. Sehingga kelihatan berlapis-lapis”

    Saya: Istilah ini muncul begitu saja. Kesan mas ngga bisa saya bantah karena saya juga belum punya dasar kuat dg istilah ini.

    “…………….Saya tidak keberatan menyatakan guru SD saya salah jika ternyata ia benar-benar salah. sama halnya saya tidak keberatan menyatakan saya salah jika saya memang terbukti salah”

    Saya: Memang benar bahwa jika mendapatkan suatu kebenaran baru, maka “kebenaran” lama yang kita anggap benar bisa kita katakan salah. Namun konteks yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa “guru SD dan buku-buku pelajaran SD adalah Kebenaran untuk taraf SD”. Kalau kita melihatnya setelah tingkat ilmu kita lebih tinggi lalu kita mengatakan guru SD dan buku-bukunya adalah suatu kesalahan, maka adalah suatu kekeliruan apabila kita kemudian memasukkan anak-anak kita ke SD, atau ke SMP, atau tingkat lainnya yang kita anggap salah bukan? Oleh karena kita mengganggap bahwa tingkat SD adalah sebuah kebenaran untuk mendapatkan pengetahuan bagi anak berumur 6-10 tahun, maka kita dengan penuh kesadaran memasukkan mereka di tingkat tsb. Kita bukan bicara mengenai isi dari buku dan cara mengajar oknum guru, karena memang sebuah tulisan dan manusia tidak akan terlepas dari kesalahan dan itu memang terlihat setelah kita memiliki pengetahuan yang lebih dari tingkat yang pernah kita jalani, sehingga kita mampu melakukan penilaian terhadapnya.

    Sorry SP jadi belain pendapat saya 🙂

    Damai…damai

  6. Dimana truthseeker mas? Biasanya dia suka komen yang ginian 🙂

  7. @armand
    Nonton aja seru.
    @SP
    Belum menjawab esensi dr statement armand
    misal:
    1. Kalau kebenaran mutlak saya kasih contoh, maka itu justru menjadi kebenaran relatif Mas :mrgreen: ==> ngeles.. :mrgreen:
    2. Keren juga istilahnya Kebenaran Berlapis, yang saya tangkap bisa saja namanya kebenaran itu bercampur dengan hal-hal yang tidak benar. Sehingga kelihatan berlapis-lapis.
    Bagaimana kl diganti: Kebenaran Berlapis => Kebenaran Bertingkat? Rasanya komentar mas SP hrs direvisi.
    3. Menurut saya jika memang pengetahuan SD kita ternyata salah berdasarkan pengetahuan SMP yang kita ketahui maka tidak ada alasan untuk tetap menyatakannya benar.
    “Bukan salah mas SP, yg dimaksud mas armand adalah kebenaran di SD berbeda kualitas/tingkat dg kebenaran di SM dstnya.

    Ngomong2 ttg Kebenaran Absolut, ada gak yaa yg mmg sdh memiliki definisi ataupun mengerti hakikatnya?
    Knp kt beranggapan bhw Kebenaran Absolut menjadi relatif pd saat dicontohkan?. Coba aja mas SP contohkan…:)
    Sebetulnya menurut saya sihh bkn berubah menjadi relatif, tp krn mmg manusia di alam ini tdk pernah bs membuat contoh Kebenaran Absolut, bkn krn Kebenaran Absolut itu tdk ada, tp krn keterbatasan akal kt utk memengerti “Absolut”. Akal kt tdk mengenal Absolut, kt hidup di dunia yg serba relatif. Sebagaimana kita tdk mampu mengenal sempurna, suci, dll yg dlm tataran Absolutnya mrk. Kita hanya bs mendekati (dan kt hanya bs paham bgm utk mendekati absolut2 tsb). Sebagaimana kt tdk bs memahami hakikat dr tdk terbatas, sbgm kt ambruk pd saat berfikir di luar ruang ada apa?, sebgm kt “hang” pd saat kt ditanya hakikat dr waktu.
    “..ngelantur lg dah..”

  8. @iwansyamsumin

    Kesimpulannya Kebenaran Mutlak itu suci.
    Maka ingatlah selalu kepada Yang Maha Mulia.

    Untuk menuju kepada Yang Maha Benar, kajilah perihal melihat, memandang, mengawasi (mengamati), memahami, mengetahui, mengenal, yakin, dan iman.

    Mencerahkan sekali Mas

    @armand

    Bukankah jika demikian Kebenaran Mutlak hanya menjadi angan-angan kosong dan setiap orang memiliki jalannya dan tujuannya sendiri-sendiri untuk mencapai kebenaran? Bukankah ayat “Tunjukilah aku pada jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” memberi kesan dan arahan bahwa terdapat suatu kebenaran (mutlak) yang disediakan Allah swt?

    hmm begini Mas, Kebenaran mutlak itu ada, hanya saja walaupun seandainya kita mencapai kebenaran mutlak itu tetap saja ketika memasuki wilayah sosial maka kebenaran itu akan menjadi relatif. kita berhadapan dengan manusia-manusia yang punya kebenaran sendiri

    Memang agak sulit menerjemahkan apa itu Kebenaran Mutlak dan seperti apa Kebenaran Mutlak itu. Menurut saya hal ini karena keterbatasan pengetahuan serta pandangan dan proses hidup kita tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk dari “orang-orang yang telah Engkau beri nikmat”.

    Saya setuju 🙂

    Namun karena ini forum diskusi, saya kira tidak ada salahnya untuk melemparkan bola panas dan melihat seperti apa tanggapan-tanggapan yang akan keluar. Tidak menutup kemungkinan akan muncul suatu contoh kebenaran mutlak yang tidak tidak bisa lagi relatifkan dan dipertentangkan.

    Silakan, tidak dipertentangkan wah rasanya sangat sulit, tetapi ya semoga saja

    Namun konteks yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa “guru SD dan buku-buku pelajaran SD adalah Kebenaran untuk taraf SD”. Kalau kita melihatnya setelah tingkat ilmu kita lebih tinggi lalu kita mengatakan guru SD dan buku-bukunya adalah suatu kesalahan, maka adalah suatu kekeliruan apabila kita kemudian memasukkan anak-anak kita ke SD, atau ke SMP, atau tingkat lainnya yang kita anggap salah bukan?

    Secara umum begitu, tetapi saya melihat itu hanya sebagai penyesuaian. Bukan soal kebenaran, bisa jadi saat SD guru SD atau buku-buku menjelaskan sesuatu dengan cara sederhana hanya agar anak SD bisa mengerti. Sedangkan kebenarannya justru merupakan hal yang bahkan tidak dimengerti oleh guru SD sendiri

    Oleh karena kita mengganggap bahwa tingkat SD adalah sebuah kebenaran untuk mendapatkan pengetahuan bagi anak berumur 6-10 tahun, maka kita dengan penuh kesadaran memasukkan mereka di tingkat tsb.

    saya setuju kok, hanya saja penekanan Mas itu adalah pada umumnya. Sedangkan konsep saya jelas pada sifat kebenaran, tidak menutup kemungkinan anak berumur 6-10 tahun menemukan kebenaran yang tidak dicapai oleh mereka yang jauh lebih dewasa darinya

    Kita bukan bicara mengenai isi dari buku dan cara mengajar oknum guru, karena memang sebuah tulisan dan manusia tidak akan terlepas dari kesalahan dan itu memang terlihat setelah kita memiliki pengetahuan yang lebih dari tingkat yang pernah kita jalani, sehingga kita mampu melakukan penilaian terhadapnya.

    Ini jelas benar sekali Mas, tetapi poin saya kadang kebenaran tidak perlu melalui tingkat-tingkat tertentu, ia datang begitu cepat seperti anugerah yang tak terkatakan :mrgreen:

    Sorry SP jadi belain pendapat saya 🙂

    Damai…damai

    Lha gapapa Mas, saya juga mau belajar dari Mas 🙂

  9. @truthseeker1964

    Bagaimana kl diganti: Kebenaran Berlapis => Kebenaran Bertingkat? Rasanya komentar mas SP hrs direvisi.

    Boleh saja, bagi saya istilah itu juga masih berkesan Kebenaran Itu Relatif

    “Bukan salah mas SP, yg dimaksud mas armand adalah kebenaran di SD berbeda kualitas/tingkat dg kebenaran di SM dstnya.

    Iya bisa saja kok, saya menyadari betul hal ini. Hanya saja bagi saya Kebenaran bertingkat tetap berkesan Kebenaran Itu Relatif

    Ngomong2 ttg Kebenaran Absolut, ada gak yaa yg mmg sdh memiliki definisi ataupun mengerti hakikatnya?

    Mungkin saja ada 🙂

    Knp kt beranggapan bhw Kebenaran Absolut menjadi relatif pd saat dicontohkan?.

    Pencontohan saya dalam kasus ini adalah salah satu bentuk komunikasi dengan orang lain, jadi situasi sosial seperti ini jelas Relatif sifatnya

    Sebetulnya menurut saya sihh bkn berubah menjadi relatif, tp krn mmg manusia di alam ini tdk pernah bs membuat contoh Kebenaran Absolut, bkn krn Kebenaran Absolut itu tdk ada, tp krn keterbatasan akal kt utk memengerti “Absolut”. Akal kt tdk mengenal Absolut, kt hidup di dunia yg serba relatif. Sebagaimana kita tdk mampu mengenal sempurna, suci, dll yg dlm tataran Absolutnya mrk. Kita hanya bs mendekati (dan kt hanya bs paham bgm utk mendekati absolut2 tsb). Sebagaimana kt tdk bs memahami hakikat dr tdk terbatas, sbgm kt ambruk pd saat berfikir di luar ruang ada apa?, sebgm kt “hang” pd saat kt ditanya hakikat dr waktu.

    Ah Mas, ini juga salah satu dari apa yang saya maksud sebagai Kebenaran Itu Relatif

    Hmmm saya tawarkan suatu permainan baik untuk Mas maupun siapa saja yang berkenan ikut
    Kalau kebenaran mutlak dicontohkan maka itu justru menjadi kebenaran relatif Mas

    Premis itu adalah contoh dari Kebenaran Mutlak

    Anggap premis itu benar mutlak dengan alasan
    Seabsolut apapun itu, itu tetap adalah suatu pandangan dan ketika ditawarkan pada pihak lain. Maka siapapun bisa menyatakan itu sebagai kebenaran atau malah kesalahan

    Dengan dasar ini adalah wajar jika komentar Mas dan armand meragukan premis saya

    Bukankah jika demikian Kebenaran Mutlak hanya menjadi angan-angan kosong

    Knp kt beranggapan bhw Kebenaran Absolut menjadi relatif pd saat dicontohkan?.

    Jadi ketika saya contohkan kebenaran mutlak maka anda sudah membuatnya relatif :mrgreen:
    Premis saya justru tidak lagi menjadi benar mutlak sebagai dampak pernyataan saya yang menyatakan bahwa premis itu benar mutlak

    Anggap premis itu salah mutlak, maka implikasinya kebenaran mutlak bisa dicontohkan dan tidak menjadi relatif., dan bisa saja contoh dari kebenaran mutlak itu adalah premis saya sebelumnya
    Kalau kebenaran mutlak dicontohkan maka itu justru menjadi kebenaran relatif Mas akibatnya
    Jika premis itu saya tetapkan salah mutlak maka ia berpotensi menjadi premis yang benar.

    *Just Game*
    Salam

  10. @SP
    Sebetulnya mas SP hrs membedakan Kebenaran yg Subjektif dg Kebenaran Relatif. Kdg2 mmg terkesan mas SP mencampuradukkan keduanya.
    Kebenaan Relatif = Kebenaran Berlapis = Kebenaan Bertingkat

    Kebenaran subjektif lain lg. Kebenaran yg mas SP bicarakan sptnya adlh kebenaran subjektif ini, dimn subjektivitas bs mempengaruhi kebenaran (bhkn bs jd salah). Nahh kl mmg yg dimksd adalah kebenaran subjektif tentunya benar yg mas SP katakan, krn kebenaran subjektif sangat dipengaruhi oleh ego. Bhkn kebenaran subjektivitas sangat perlu dipertanyakan kebenarannya.
    Namun kl kt bicara kebenaran relatif, mk kt tdk lg mempermasalahkan esensi benar salahnya, namun ada yg lebih benar.
    Misal (bolehkan?):
    Badan saya tinggi ==> statement ini mengandung 2 kebenaran, bs kebenaran subjektif, bs jg kebenaran relatif/bertingkat.
    Subjektifnya: saya ingin dibilang tinggi shg saya mengaku tinggi (pdhal bs saja sebetulnya pendek, krn tdk ada spec tinggi/pendek)
    Relatifnya: ada yg lbh pendek dr saya, ada yg lebih tinggi dr saya.
    Nahh, kl kt ambil cth lain Sholat. Seorg anak kecil mengerjakan sholat.
    Absolutnya: bagi umat islam ini kebenaran absolut.
    Subjektifnya: bagi penganut agama lain ini bs disalahkan.
    Relatifnya: Sholatnya anak tsb mmg sdh benar krn melihat gerakan2nya, waktunya, dan bacaannya (kt sdh cukup puas dia melakukan itu), tp krn tdk husu’, bacaannya tdk faseh, matanya liar dll mk kt setuju bhw ada tingkatan sholat yg lebih benar dr yg dilakukan anak tsb.

    Begitu mas SP yg sy mksdkan. Jd ada dr pembaca yg berkomentar dg asumsi, kebenaran relatif itu spt yg sy asumsikan sdgkan mas SP sptnya memaksudkan kebenaran subjektif.

    Contoh/pertanyaan::
    Makan sate kambing halal/benar dan baik, tp secara subjektifkah atau relatifkah bagi penderita darah tinggi makan sate kambing sdh tdk benar/baik..

  11. Oleh karena itu jika anda berbicara dengan orang lain soal Kebenaran maka janganlah sama-sama berdiri pada Dunia Yang Subjektif. Jika memang anda dan orang lain itu benar-benar mau mencari kebenaran maka mari bersama-sama meninggalkan Dunia Yang Subjektif dan beralih ke Dunia Yang Objektif.

    Persoalannya, tidak semudah itu menanggalkan subyektifitas. Dan menurutku agak absurd untuk sama-sama beralih ke dunia yang bersifat objektif. Karena, pada dasarnya yang objektif itu sangat bergantung pada penalaran Sang Subyek. Kebenaran obyektif pun pada hakikatnya tidak sungguh-sungguh obyektif — karena Sang Subyek mustahil ditanggalkan, sehingga sifatnya tidak mutlak. Kebenaran selama ia masih berada pada level pikiran dan diskursus, tidak bisa disebut Kebenaran Mutlak. Memang ada aturan “obyektif” dalam berdialog, tapi aturan itu bukan jaminan bahwa hasil dialog adalah Kebenaran yang Terakhir. Kita hanya berkejar-kejaran dalam mendekati Kebenaran.

    Salam

  12. setelah saya coba2 mengikuti setiap diskusi sdr2 mungkin saya bisa memberi sedikit pdpt yg bodoh. menrt saya didunia ini dimana berkeliaran iblis2 egois sehingga kebenaran yg mutlak itu tdk dpt kita temukan. Kebenaran yg mutlak hanya ada pd Allah. Maka apabila kita mau menegetahui kebenaran yg mutlak hrs kembali kefirmanNya. Tp akan menjadi relatif dlm penafsiran. Sbg contah Allah mengharamkan chamar krn mudharatnya. taruh kata memabukkan. Tp ada yg mengatakan kl tdk mabuk bgm. berarti tdk haram

  13. @jahil

    Kebenaran yg mutlak hanya ada pd Allah.

    Asumsinya memang begitu. Yang saya tangkap anda berpendapat bahwa manusia tidak bisa mengakses Kebenaran Mutlak.

    @second
    Mengapa lama sekali dikau membalas komentar2ku. 😀

  14. @truthseeker1964
    Ah ya benar, yang saya maksudkan bahwa kebenaran subjektif itu adalah kebenaran relatif, dalam arti jika kita mendiskusikan pandangan kita pada manusia lain yang berpandangan berbeda dengan apa yang kita yakini, maka Subjektivitas masing-masing berperan dalam relativitas kebenaran yang saya maksudkan.
    Kebenaran bertingkat tetap saja saya masukkan dalam kebenaran relatif karena kebenaran bertingkat bergantung pada sesuatu yang sifatnya subjektif juga yaitu sudut pandang manusia.
    Kita ambil contoh Mas

    Badan saya tinggi ==> statement ini mengandung 2 kebenaran, bs kebenaran subjektif, bs jg kebenaran relatif/bertingkat.

    Nah kita lihat penjelasan Mas

    Subjektifnya: saya ingin dibilang tinggi shg saya mengaku tinggi (pdhal bs saja sebetulnya pendek, krn tdk ada spec tinggi/pendek)

    saya mengaku tinggi itu subjektif , disini benar tidaknya tergantung perasaan orang. saya sebetulnya pendek itu pun relatif yaitu tergantung apa pembandingnya, intinya saya sebetulnya pendek dan saya sebetulnya tinggi bisa saja keduanya benar dan kebenaran itu relatif sifatnya tergantung sudut pandang.

    Relatifnya: ada yg lbh pendek dr saya, ada yg lebih tinggi dr saya.

    benar Mas dan tidak menutup kemungkinan pengakuan subjektif saya tinggi itu didasarkan pada sudut pandang saya terhadap yang lebih pendek dari saya
    Contoh lain Mas

    Nahh, kl kt ambil cth lain Sholat. Seorg anak kecil mengerjakan sholat.
    Absolutnya: bagi umat islam ini kebenaran absolut.
    Subjektifnya: bagi penganut agama lain ini bs disalahkan.

    Pandangan subjektif penganut agama lain bisa saja didasarkan pada sudut pandang tertentu

    Relatifnya: Sholatnya anak tsb mmg sdh benar krn melihat gerakan2nya, waktunya, dan bacaannya (kt sdh cukup puas dia melakukan itu), tp krn tdk husu’, bacaannya tdk faseh, matanya liar dll mk kt setuju bhw ada tingkatan sholat yg lebih benar dr yg dilakukan anak tsb.

    Tergantung sudut pandang penilaian Mas, jika shalat itu kita pandang sebagai satu kesatuan dan kebenaran terletak pada keseluruhannya maka apa yang dilakukan anak tersebut adalah salah. Tetapi jika sudut pandang kita terletak pada sejauh mana dia mampu mencapai kebenaran itu, maka walaupun ia tidak mencapai kebenaran secara keseluruhan tetap saja ia bisa disebut benar dalam arti itulah yang bisa dilakukannya.
    Pernyataan lebih benar dalam kebenaran bertingkat itu juga tidak mudah. kebenaran dengan perbedaan sudut pandang akan sulit dinyatakan benar atau lebih benar. Lebih mungkin kalau keduanya sama-sama benar tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Lebih benar seolah-olah menyatakan bahwa kita membandingkan kedua kebenaran itu padahal jelas-jelas sudut pandangnya berbeda. Bukankah kita bisa membandingkan kalau pembanding yang digunakan sama :mrgreen:
    Disini pernyataan lebih benar dalam kebenaran bertingkat lebih bersifat subjektif.
    Entah mengapa saya mengira sebenarnya pandangan kita tidak berbeda jauh tetapi cara membahasakannya saja berbeda, mungkin sih 🙂

    @gentole

    Persoalannya, tidak semudah itu menanggalkan subyektifitas. Dan menurutku agak absurd untuk sama-sama beralih ke dunia yang bersifat objektif.

    benar Mas kalau yang anda maksud objektif itu berarti subjektivitasnya 0

    Karena, pada dasarnya yang objektif itu sangat bergantung pada penalaran Sang Subyek.

    Oleh karena itu maka yang saya maksud sebagai yang objektif bukan berarti subjektivitasnya 0

    Kebenaran obyektif pun pada hakikatnya tidak sungguh-sungguh obyektif — karena Sang Subyek mustahil ditanggalkan, sehingga sifatnya tidak mutlak.

    Itu jika anda bermaksud menyatakan bahwa kebenaran mutlak berarti sang subyek mesti ditanggalkan. Masalahnya sama saja dengan mengatakan bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada dan walaupun ada manusia tidak mampu mencapainya. Atau sama saja dengan setiap kebenaran yang melekat pada manusia tidak akan menjadi mutlak.
    Saya tidak setuju. Sesuatu yang mutlak bisa saja ada pada manusia Mas 🙂

    Kebenaran selama ia masih berada pada level pikiran dan diskursus, tidak bisa disebut Kebenaran Mutlak.

    saya sih lebih suka menyebutnya jika kebenaran itu didiskusikan maka ia akan menjadi relatif 🙂

    Memang ada aturan “obyektif” dalam berdialog, tapi aturan itu bukan jaminan bahwa hasil dialog adalah Kebenaran yang Terakhir. Kita hanya berkejar-kejaran dalam mendekati Kebenaran.

    kata-kata yang bagus tuh mendekati kebenaran. setidaknya secara tidak sadar Mas juga mempercayai adanya kebenaran mutlak yang selalu kita dekati sebagai manusia kendati menurut Mas manusia tidak mungkin mencapainya.
    Salam

    @jahil

    Kebenaran yg mutlak hanya ada pd Allah. Maka apabila kita mau menegetahui kebenaran yg mutlak hrs kembali kefirmanNya. Tp akan menjadi relatif dlm penafsiran.

    kembali ke firmannya tetap saja relatif kan Mas 🙂
    kita kan tidak bisa menghindari penafsiran
    Kebenaran mutlak adalah milik Allah, saya sangat percaya tetapi saya percaya juga bahwa Allah menghendaki agar kebenaran mutlak itu bisa dicapai oleh manusia.
    Menurut saya oleh karena kita selalu terbiasa dengan yang namanya relatif-relatif sehingga kita tidak menyadari bahwa mungkin saja kebenaran mutlak itu justru tercecer di antara beragam kebenaran relatif yang pernah ada.
    Sederhana kan di antara sekian banyak penafsiran ada penafsiran yang benar 🙂
    Salam

    @gentole

    Yang saya tangkap anda berpendapat bahwa manusia tidak bisa mengakses Kebenaran Mutlak.

    Saya justru menangkap Mas juga berpandangan begitu, maafkan kalau saya salah persepsi
    Maaf kelamaan 😛
    Salam

  15. tksh atas respond kawan. menurut saya kebenaran mutlak bkn milik kita hanya berusaha mencari kebenaran dg rambu2 yg tlh Allah tunjukan. Apabila kita berpegang pd rambu2 yg tlh ditentukan tanpa pamrih akibat keakuan kita saya yakin kita akan mendpt kebenaran itu walaupun tdk MUTLAK. krn semua yg mutlak adalah milik Allah

  16. Klu kembali kefirman tdk ada yg relatif yg ada adalah rahmat Allah. Saya ambil contoh chamar. Yg benar adalah membawa mudharat. Tp krn ego kt maka kita menafsirkan penyabab dilarang adalah karena memabukan. mengapa kita tdk melihat pd sebab tp kita selalu melihat pd akibat. Dan biasanya akibat itu yg menjadi relatif

  17. Apakah mas percaya/yakin klu saya katakan bhw kita hidup dlm serba mungkin? klu mas percaya semua mungkin maka itu berarti kita sedang berkecimpung dlm kerelatifan.

  18. @second
    Iya persepsi anda betul. Saya menganggap kebenaran mutlak tidak bisa diakses oleh manusia.

    Kebenaran mutlak adalah milik Allah, saya sangat percaya tetapi saya percaya juga bahwa Allah menghendaki agar kebenaran mutlak itu bisa dicapai oleh manusia.

    Bagaimana menjelaskan pernyataan ini?

  19. Allah sangat menghendaki kita berada atau menghasilkan sesuatu dari akal kita kebenaran tp bukan mutlak. Krn kita hidup bermasyarakat dan setiap orang mempunyai pola berpikir yg berbeda menuju kebenaran. Sedangkan Allah Tunggal berdiri sendiri. Klu kita berdiri sendiri mk kebenaran mutlak kita hasilkan .Jadi yg MUTLAK tdk dpt kt miliki. Kita bisa perhatikan firman2 Allah utk orang2 beriman.

  20. Saya bs tambahkan lg. Klu kt pikirkan malaikat selalu dlm kebenaran. Tp toh Allah mengatakan Aku lb tau sdgkan kamu tdk tau

  21. Saya kok cenderung OK dengan apa yg si jahil (Jahil? 🙂 ) utarakan. Bahwa kenapa hanya Allah swt yang memiliki kebenaran mutlak, yakni karna sifat Allah “Berdiri Sendiri”, “Maha Esa”, “Tidak ada Yang Setara dengan-Nya”.
    Dengan demikian kita bisa membayangkan jika seseorang hidup sendiri di dunia, atau katakanlah sendiri di tempat yang sangat terasing yang tak pernah ada manusia lain yg tinggal, dimana ia tidak dikenai aturan, dan tidak dikenai hukum, maka segala apa yang dipebuatnya merupakan suatu kebenaran mutlak. Ia tidak lagi mengenal kebenaran relatif atau pun kebenaran subjektif. “Kebenaran” hanya milik dia sendiri.
    Jadi memang memang (pada akhirnya) bahwa selama terjadi sosialisi antara 2 manusia atau lebih, yang telah memiliki persepsi mengenai kebenaran, maka akan berpotensi menimbulkan apa yang namanya kebenaran relatif.
    Damai…damai

  22. Terima kasih sdr armand mungkin anda jg sependapat klu kita dlm diskusi dg mempergunakan nalar manusia jg mempergunakan kata MUTLAK dlm hal apa saja. Krn nanti akan terhenti diskusi kita. Sebab klu sdh sampai ke MAHA nya ALLAH kt terhenti. Salam bahagia utk semua

  23. Dengan demikian kita bisa membayangkan jika seseorang hidup sendiri di dunia, atau katakanlah sendiri di tempat yang sangat terasing yang tak pernah ada manusia lain yg tinggal, dimana ia tidak dikenai aturan, dan tidak dikenai hukum, maka segala apa yang dipebuatnya merupakan suatu kebenaran mutlak. Ia tidak lagi mengenal kebenaran relatif atau pun kebenaran subjektif. “Kebenaran” hanya milik dia sendiri.
    Jadi memang memang (pada akhirnya) bahwa selama terjadi sosialisi antara 2 manusia atau lebih, yang telah memiliki persepsi mengenai kebenaran, maka akan berpotensi menimbulkan apa yang namanya kebenaran relatif.

    Terima kasih…pencerahan..pencerahan..(terutama jika semua kata relatif diganti dg subjektif) Alhamdulillah.

    Dunia kita adala dunia subjektif dan relatif.
    Yang kita lakukan adalah menapak ke “Kebenaran Absolut (KA)” apakah ada yg pernah sampai (mungkin di kelas Nabi..sy blm berani memastikan, butuh perenungan yg lbh jauh).
    Namun yg sy bs sampaikan adalah bhw dlm jalan kita menuju ke “KA” yg kt lakukan adalah:

    1. Menanggalkan subjektivitas (tinggalkan ego, shg yg ada hanya Absolut atau yg ada adalah Allah sbg sumber Absolut dan yg Absolut).
    2. Meyakini adanya kebenaran relatif /bertingkat/bertangga(KR), krn dg meyakini adanya tingkat/tangga mk kt akan menerima adanya tangga2 yg hrs kt daki menuju “KA”. Sehingga kewajiban mendaki tangga kt lakukan mk sdh pasti kt akan selalu relatif lbh tinggi dr sebelumnya. Berbeda jika kt menafikan tangga/derajat tsb mk kt hanya melompat2/meraih2 namun akan kembali lg ke bumi/dasar.
    Sekali lg saya ingin mengingatkan kembali hakikat subjektif dan relati adalah berbeda. Tapi tentunya terserah teman2..lagi2 ini bs menjadi subjektif.

  24. Utkteman truthseeker. Terjadi kebenaran yg relatif akibat dr pandangan yg subyektif. Subyektif muncul karena ego kita. Dan ego muncul krn keinginan2/nafsu. Dan apakah menurut anda keinginan/nafsu ini dpt dihilangkan. kita tdk melihat apakah itu nafsu AMARAH, LAWAMMAH,, MULHAMAH, MUTMAINAH, RADHIAH, MARDHIAH atau KAMALIAH tp kita mempunyai nafsu yg menurut masing2 benar dg argumentasi masing2

  25. @jahil
    getol juga…..asyik ya….hehehe :mrgreen:

    *lagi ngebayain jahil duduk di belakang komputer, lalu shalat, dzikir….lalu ke komputernya lagi…makan….balik lagi ke komputer…..komputer…..komputer….tidur*

  26. Anda kan nda tau siapa si Jahil kok membayangi si Jahil. Mungkin si Jahil nganggur jd mau jaiili orang aja. Kelihatan skrg banyak org yg suka menjailii orang jd si Jahil jg ikutan2 hehehe

  27. Itu jika anda bermaksud menyatakan bahwa kebenaran mutlak berarti sang subyek mesti ditanggalkan. Masalahnya sama saja dengan mengatakan bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada dan walaupun ada manusia tidak mampu mencapainya. Atau sama saja dengan setiap kebenaran yang melekat pada manusia tidak akan menjadi mutlak.
    Saya tidak setuju. Sesuatu yang mutlak bisa saja ada pada manusia Mas

    Ah saya melewati ini. Anda benar juga. Hmmm…kalau begitu, alat ukurnya apa? Apa ukuran Kebenaran Mutlak, apa kriteria Kebenaran Mutlak? Subyektifitas? Obyektifitas? Bukan kedua-duanya?

  28. @gentole
    Itulah yang saya tanyakan di awal komentar…. hanya saja kalo Mas Gentole diimbuhi superlatif ‘Mutlak’…

  29. Kita adalah umat yg beragama terutama kawan2 yg turut serta berdiskusi adalah beragama Islam. Maka komentar saya tdk keluar dr ketentuan agama Islam. Firman Allah yg artinya kurang lebih ” Beramal/berbuatlah didunia utk akhirat” Jd menurut saya setiap perbuatan kita utk mencapai kebahagian di akhirat. Ini berarti apabila kita ingin berbahagia diakhirat maka kita hrs menginguti petunjuk Allah yg termaktub dlm Alqura’an dan Sunah Rasul. Klu anda2 setuju bhw jln hidup dan dasr berfikir kita bertolak dr apa yg Allah wahyukan melalui Rasullah. Maka yg mutlak itu dr Allah dan AKAL kita yg terbatas ini berusaha menafsirkan utk mendekati kebenaran MUTLAK yg milik Allah yg diberikan melalui firman2Nya

  30. Teman2 sepencari kebenaran DAMAI. Saya ingin sekali mendpt pencerahan terhadap suatu masalah:
    yakni ” KEMANA LARI HADITS RASULLAH”
    Untk ini saya akan memulai dgn suatu penjelasan:
    HADITS adalah ucapan2 Rasul yg disampaikan kepd siapa saja ditanya atau tdak terutama pd para sahabat. Dan setiap ucapan Rasulullah tdk keluar dr konteks Alqura’an atau kata2 Rasul adalah Wahyu. Alqura’an diturunkan dari Lauhim Al-Mauzh ke Bait AMa’mur {dlm hati Muhammad Rasulullah} pd malam Qadar{Lailatul Qadar} secara utuh. Kemudian baru diturunkan secara bertahap sesuai perintah Allah.
    Setelah masuk kedlm hati Rasulullah kemudian Allah memberikan HIKMAH hingga bisa menafsirkan semua ayat dlm Alqura’an {6666 ayat} wallahu A’lam.
    berarti dgn demikian setiap ayat yg turun kemudian secara bertahap dan menurut kondisi waktu itu sdh dipahami Rasul benar2…. bersambung

  31. Sehingga apabila para sahabat bertanya Rasul bisa menjawab dan apabila blm langsung menjawab maka Jibril dtg membawa jawaban. Dan setahu saya setiap para sahabat datang menemui Rasul pasti Rasul akan memberitahukan klu ada ayat yg turun. Atau klu tdk mereka dtg utk bertanya. Nah klu kita perhatikan semua yg saya sampaikan diatas td. Timbul pertanyaan: Para sahabat bersama hidup dan mendampingi Rasul lbh dr 20 th {setelah kenabian} berarti 7300 hr. Taruh mereka tdk setiap hari tdk ketemu Rasul tp paling tdak setiap hari Rasul tdk kosong dg sahabat. Jd klu saya pikir 6666 ayat sdh dijelaskan atau ditafsirkan oleh Rasul dan ini merupakan hadits {disamping ucapan2 Rasul yg lain.} Tapi kemana skrg Hadits ini sehingga kita memerlukan para penafsir lagi. Kemana dibawa oleh mereka para sahabat ini hadits2 Rasul. Sebab mereka bersama Rasul selama 20 thn paling tdk masing2 selama itu memiliki 2000. Tp kenyataan yg kita baca S.Abubakar kurang dr 100 begitu jg S.Umar apalagi S. Usman S. All 150. Saya ingin tanyakan kemana?. Apakah para sahabat waktu itu datang bertamu ke Rasul hanya diam aja dan Rasul ikut diam hanya saling padang lalu ketawa atau menangis? Tolong teman2 beri tahu saya kemana perginya . Saya butuh kebenaran. Terimah kasih. Wallahu a’lam bisawab

  32. @jahil

    menurut saya kebenaran mutlak bkn milik kita hanya berusaha mencari kebenaran dg rambu2 yg tlh Allah tunjukan. Apabila kita berpegang pd rambu2 yg tlh ditentukan tanpa pamrih akibat keakuan kita saya yakin kita akan mendpt kebenaran itu walaupun tdk MUTLAK. krn semua yg mutlak adalah milik Allah

    Saya cukup berbeda dalam masalah ini(gapapa kan)
    Kebenaran mutlak milik Allah SWTsaya setuju sekali Mas
    Tetapi Allah SWT menghendaki manusia bisa mencapai kebenaran mutlak tersebut. Dalam persepsi saya, kebenaran mutlak bukanlah suatu hal yang utopis dalam arti bisa dikejar-kejar tetapi gak akan mungkin terkejar. Saya menilai yang seperti ini adalah suatu kelemahan epistemologis yang cukup rawan 🙂

    Apakah mas percaya/yakin klu saya katakan bhw kita hidup dlm serba mungkin? klu mas percaya semua mungkin maka itu berarti kita sedang berkecimpung dlm kerelatifan.

    Saya percaya kok Mas, makanya saya membahasakan Kebenaran relatif

    Allah sangat menghendaki kita berada atau menghasilkan sesuatu dari akal kita kebenaran tp bukan mutlak.

    Allah SWT menghendaki manusia mencapai kebenaran mutlak itu sebisa-bisanya. dalam arti tergantung dengan usaha yang dilakukan, maka manusia akan menuai hasil yang berbeda-beda. Tetapi itu tidak menafikan bahwa manusia bisa mencapai yang mutlak.

    Krn kita hidup bermasyarakat dan setiap orang mempunyai pola berpikir yg berbeda menuju kebenaran.

    Memang begitu Mas, tetapi kenyataan ini tidak menunjukkan bahwa kebenaran mutlak itu tidak bisa dicapai manusia. Bisa saja kan ada manusia yang mencapainya kemudian ketika ia menyampaikan itu kepada orang lain maka kebenaran mutlak itu menjadi kebenaran relatif. Walaupun begitu tetap saja tidak menafikan kemutlakan nilai kebnaran tersebut

    Saya bs tambahkan lg. Klu kt pikirkan malaikat selalu dlm kebenaran.

    Saya rasa ndak mas, malaikat gak punya nafsu itu benar tetapi tetap saja tidak ada alasan rasional yang menyatakan malaikat selalu benar.

    Tp toh Allah mengatakan Aku lb tau sdgkan kamu tdk tau

    Premis ini justru menyatakan bahwa malaikat tidak selalu benar 🙂

    Jd menurut saya setiap perbuatan kita utk mencapai kebahagian di akhirat. Ini berarti apabila kita ingin berbahagia diakhirat maka kita hrs menginguti petunjuk Allah yg termaktub dlm Alqura’an dan Sunah Rasul. Klu anda2 setuju bhw jln hidup dan dasr berfikir kita bertolak dr apa yg Allah wahyukan melalui Rasullah. Maka yg mutlak itu dr Allah dan AKAL kita yg terbatas ini berusaha menafsirkan utk mendekati kebenaran MUTLAK yg milik Allah yg diberikan melalui firman2Nya

    Saya sependapat dengan anda Mas, bedanya saya meyakini kalau manusia tetap bisa mencapai kebenaran yang mutlak itu 🙂

    Soal masalah hadis yang Mas kemukakan, saya akan mengomentari singkat dulu. Hadis-hadis tersebut tentu saja berada pada mereka yang mempelajari hadis tersebut dari Rasulullah SAW. Dalam penyampaiannya sampai ke masa kita ada distorsi-distorsi yang terjadi baik kecil maupun besar. Masalah ini adalah historis sifatnya, dengan meluasnya jarak dan waktu maka distorsi-distorsi kecil dalam sejarah bisa saja menumpuk menjadi satu kesatuan yang besar(apalagi kalau distorsinya besar).

    *maaf komen Mas saya kumpulkan jadi satu ya*

    @gentole

    Bagaimana menjelaskan pernyataan ini?

    hmm mungkin bisa membantu dengan membaca Absolutisme Agama Yang Relatif

    @gentole dan Mbak Hilda

    Ah saya melewati ini. Anda benar juga. Hmmm…kalau begitu, alat ukurnya apa? Apa ukuran Kebenaran Mutlak, apa kriteria Kebenaran Mutlak? Subyektifitas? Obyektifitas? Bukan kedua-duanya?

    Setelah membaca tulisan yang saya maksudkan itu setidaknya memberi gambaran awal. Setelah itu baru kita lanjut lagi 🙂

  33. @armand

    Saya kok cenderung OK dengan apa yg si jahil (Jahil? 🙂 ) utarakan.

    silakanMas

    Bahwa kenapa hanya Allah swt yang memiliki kebenaran mutlak, yakni karna sifat Allah “Berdiri Sendiri”, “Maha Esa”, “Tidak ada Yang Setara dengan-Nya”.

    logikanya gak mesti begitu lho, Yang Mutlak milik Allah SWT dan adalah kuasaNya untuk memberikan Yang Mutlak itu kepada manusia yang jadi PilihanNya 🙂 . Yang seperti ini bisa juga kan dan tidak mengganggu Keesaan Allah SWT

    Dengan demikian kita bisa membayangkan jika seseorang hidup sendiri di dunia, atau katakanlah sendiri di tempat yang sangat terasing yang tak pernah ada manusia lain yg tinggal, dimana ia tidak dikenai aturan, dan tidak dikenai hukum, maka segala apa yang dipebuatnya merupakan suatu kebenaran mutlak. Ia tidak lagi mengenal kebenaran relatif atau pun kebenaran subjektif.

    bisa jadi Mas, tetapi bisa juga Kebenaran mutlak yang ia yakini itu bersifat relatif. karena dalam proses kehidupannya mungkin saja ia menyadari bahwa apa yang ia yakini sebagai kebenaran mutlak pada awalnya adalah salah dan ia menemukan Kebnaran Mutlak yang lain 🙂

    “Kebenaran” hanya milik dia sendiri.

    Kebenaran yang ia yakini memang miliknya sendiri :mrgreen:

    Jadi memang memang (pada akhirnya) bahwa selama terjadi sosialisi antara 2 manusia atau lebih, yang telah memiliki persepsi mengenai kebenaran, maka akan berpotensi menimbulkan apa yang namanya kebenaran relatif.
    Damai…damai

    benar sekali Mas, tetapi tidak menafikan bahwa kebenaran mutlak bisa saja dicapai manusia
    salam damai

    @truthseeker1964

    Dunia kita adala dunia subjektif dan relatif.
    Yang kita lakukan adalah menapak ke “Kebenaran Absolut (KA)” apakah ada yg pernah sampai (mungkin di kelas Nabi..sy blm berani memastikan, butuh perenungan yg lbh jauh).

    nah Mas, anda sudah mulai ke arah situ. Komentar anda mengisyaratkan ada manusia yang mencapai Kebenaran Mutlak, mari kita sama-sama merenung

    1. Menanggalkan subjektivitas (tinggalkan ego, shg yg ada hanya Absolut atau yg ada adalah Allah sbg sumber Absolut dan yg Absolut).
    2. Meyakini adanya kebenaran relatif /bertingkat/bertangga(KR), krn dg meyakini adanya tingkat/tangga mk kt akan menerima adanya tangga2 yg hrs kt daki menuju “KA”. Sehingga kewajiban mendaki tangga kt lakukan mk sdh pasti kt akan selalu relatif lbh tinggi dr sebelumnya. Berbeda jika kt menafikan tangga/derajat tsb mk kt hanya melompat2/meraih2 namun akan kembali lg ke bumi/dasar.

    setuju abis-abisan deh :mrgreen:

    Sekali lg saya ingin mengingatkan kembali hakikat subjektif dan relati adalah berbeda. Tapi tentunya terserah teman2..lagi2 ini bs menjadi subjektif.

    Memang beda Mas kalau menurut saya
    Subjektif berarti relatif
    relatif bisa jadi tidak subjektif :mrgreen:

  34. @secondprince
    Ah mas ini gimana sih udah setuju kita hidup dlm kemungkinan masih mengharap yg ABSULIT/ MUTLAK
    Kemudian mengenai Hadits yg hilang. Kita disini mencari kebenaran dg logika. Klu mas katakan distorsi atau hilang diperjalanan se-akan2 tdk logis. Krn penjelasan ini sama penting dg Alqura’an.

  35. @secondprince
    Mas SP saya jd bingung dg ttp ngototnya mas bahwa Allah mengajurkan kita mencari kebenaran yg Mutlak sehingga membuat saya tdk bs tdr. Krn pikir punya pikir akhirnya saya mengambil kesimpulan dg mencoba memasuki pola berfikir mas klu ini benar. Saya coba menganalisa: Kalau kita mempergunakan kata mencari berart yg kita cari itu ada. Dan krn KEBENARAN MUTLAK itu ada maka hrs dicari. Dan sebenarnya mas sdh dpt walaupun blm sepenuhnya. Tinggal bgm mas menmanfaatkan kebenaran yg mutlak td. Ingat ayat 2 S.2. Thx mudah2an ini yg mas maksudkan. SELAMAT BOBO

  36. @jahil

    Ah mas ini gimana sih udah setuju kita hidup dlm kemungkinan masih mengharap yg ABSULIT/ MUTLAK

    Ya gapapa kan Mas, saya mngakui bahwa kebenaran itu relatif sifatnya jika berhadapan dengan banyak manusia. Tetapi Kebenaran mutlak itu tetap ada Mas 🙂

    Kalau kita mempergunakan kata mencari berart yg kita cari itu ada

    Benar sekali Mas

    Dan krn KEBENARAN MUTLAK itu ada maka hrs dicari

    Benar lagi 🙂

    Dan sebenarnya mas sdh dpt walaupun blm sepenuhnya. Tinggal bgm mas menmanfaatkan kebenaran yg mutlak td.

    Bisa iya bisa tidak kan :mrgreen:

    Soal hadis

    Kemudian mengenai Hadits yg hilang. Kita disini mencari kebenaran dg logika. Klu mas katakan distorsi atau hilang diperjalanan se-akan2 tdk logis. Krn penjelasan ini sama penting dg Alqura’an.

    Distorsi itu tetap tidak bertentangan dengan kaidah logis.
    Premis pertama ada kabar-kabar yang diterima dari Rasulullah SAW
    Premis kedua yang mnerima kabar tersebut adalah manusia-manusia yang tidak luput dari kesalahan dalam arti mereka tidak selalu benar
    Dari kedua premis tersebut didapat kesimpulan, bisa saja terjadi distorsi atau malah memang tidak ada distorsi. Kedua kemungkinan itu adalah kesimpulan yang logis 🙂

  37. @secondprince
    Kirae mas sdh tau maksudnya sdh dispt atau lbh jelas sdg menuju ke Kebenaran yg Mutlak. Saya katakan tdk logis krn klu dibandingkan dg Abu Hurairah agak menyolok. Terutama lamanya berdampingan dg Rasul. Dan maaf mas klu melihat bgm cara mereka dr keturnan Ahlu Bait terutam mereka yg disebut 12 Imam sangat menguasai makna Alqur’an dan begitu banyak Hadits yg disampaika yg td bertentangan dg Alqur’an. Apakah tdk mungkin Imam Ali mencatat? Dan saya pasti para sahabat yg lain mencatat tp krn merugikan fihak mereka lalu dihilangkan dg alasan Rasul melarang utk ditulis? Ini coba dibahas mas

  38. @jahil
    kemungkinan yang Mas sebutkan itu bisa saja benar, tetapi tetap saja dalam hal ini hadis-hadis tersebut tercatat . Walaupun justru banyak diriwayatkan oleh Abu Hurairah dengan segala kontroversinya.
    Imam Ali mungkin saja mencatat Mas, hanya saja akan lebih baik kalau catatan tersebut memang benar ada dan bisa dirujuk sekarang.

    Dan saya pasti para sahabat yg lain mencatat tp krn merugikan fihak mereka lalu dihilangkan dg alasan Rasul melarang utk ditulis?

    Bisa saja iya, tetapi ini sebatas teori, kita membutuhkan sesuatu untk membuktikan hal ini 🙂
    Salam

  39. assalamu alaikum…
    salam kenal…
    beberapa waktu lalu saya sempat diskusi dengan teman saya tentang teori “daya tarik menarik” yang diposting diblog saya, dihubungkan dengan Hadis riwayat Abu Hurairah ra, ia berkata:
    Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku…
    kalo ada waktu tolong dibahas ya? maklum, pengetahuan saya terbatas…tapi saya mau belajar mencari kebenaran…

    terima kasih

  40. […] ternoda, bahwa Ia penuh dengan campuran kebohongan. Sehingga Mereka yang pintar akan berpikir bahwa Tidak ada itu yang namanya Kebenaran, semuanya relatif bisa benar dan salah. Tidak ada yang mutlak benar Gak nyangka kalau kebenaran itu […]

  41. KEBENARAN dan KESALAHAN mutlak BERLAWANAN, dimana Kebenaran berubah relatif pada Tingkat Kebenaran atau pada Ruang Kebenaran, serta Kesalahan berubah relatif pada Tingkat Kesalahan atau pada Ruang Kesalahannya .
    Dan KEBENARAN tidak akan pernah menjadi Kesalahan, dan KESALAHAN juga Tidak akan pernah berubah menjadi KEBENARAN .
    ” KEBENARAN ADALAH MUTLAK DAN KESALAHAN JUGA MUTLAK DENGAN DIBATASI TITIK NOL .”

    Seperti pemahaman garis Vertikal dan Horizontal maka kedua garis berpotongan pada titik NOL , dan mulai dari titik nol dan garis Vertikal keatas serta horizontal kekanan adalah perubahan relatif nilai angka POSITIF .
    Dan mulai dari titik Nol dan garis Horizontal kekiri dan garis Vertikal Kebawah sampai Negatif Tak Berhingga adalah KESALAHAN RELATIF .
    Kebenaran itu mutlak satu kesatuan, dan pemahaman kita tentang Kebenaran itu relatif berubah-bah dan bertingkat tingkat mulai dari positif Satu dst menuju KESEMPURNAAN KEBENARAN .
    KESALAHAN itu relatif berubah-ubah mulai dari negatif Satu dst ..sampai dengan Negatif tak berhingga menuju KESALAHAN TOTAL dan KEHINAAN .
    Pembatasnya adalah titik NOL atau KOSONG atau TIDAK ADA NILAI . atau mungkin juga Titik Silang Yang Penuh Makna .
    Yang Jelas KEBENARAN ADALAH MUTLAK KEBENARAN dan kesalahan adalah mutlak kesalahan , dan masing-masing bergerak berubah dalam ruang kwadrant dan garis yang berbeda dan bertolak belakang , jadi keduanya relatif berubah-rubah pada garis atau ruang masing-masing yang dibatasi titik NOL .
    ‘ MAKA KESALAHAN DIRUBAH MENJADI KEBENARAN ATAU KEBENARAN DIRUBAH MENJADI KESALAHAN HANYA DAPAT DIRUBAH DENGAN HUKUM ATAU DALIL “.

  42. @Ibnu Saud

    Menarik!

    Kuadran positip
    Kuadaran negatip.
    Dua kuadran lainnya?

    Aku punya poster “Apa ada yg tak ada!”
    Pertanyaanku: Dimana titik nol-nya?
    Pls!

    Salam Pikir Tiga!

  43. @ibnu saud

    Teori yang menarik! Nama anda “cukup aneh” jika melihat isi komennya 🙂

    Bisa dijawab pertanyaan-pertanyaan berikut?
    (1) Saya sering mendengar Kebenaran Mutlak. Tapi tidak dengan Kesalahan Mutlak. Ini istilah yg baru bagi sy. Sebagai perbandingan, bisakah anda memberi contoh? mana Kebenaran Mutlak & mana Kesalahan Mutlak? Ataukah ia hanya berada dalam ruang pemahaman, bukan realitas?

    Pemahaman anda hingga kalimat….”Yang jelas KEBENARAN ADALAH MUTLAK dst. sangat bagus dan sy sependapat.

    (2)

    MAKA KESALAHAN DIRUBAH MENJADI KEBENARAN ATAU KEBENARAN DIRUBAH MENJADI KESALAHAN HANYA DAPAT DIRUBAH DENGAN HUKUM ATAU DALIL

    Bukankah sebelumnya anda mengatakan bahwa “KEBENARAN tidak akan pernah menjadi Kesalahan, dan KESALAHAN juga Tidak akan pernah berubah menjadi KEBENARAN”? Ini sebuah kontradiksi yg tidak anda sadari atau sy keliru memahami?

    Kemudian apa maksudnya bahwa Hukum/Dalil dapat merubah Kebenaran dan Kesalahan?

    Salam

  44. dalam istilah al-qur’an kata kebenaran disepadankan maknanya dg kata ash-shidqu dan kata al-haqqu…apa makna dari kedua kata ini?…
    Ash-shidqu itu artinya benar dalam arti sesuai segaimana ‘ada’nya lawan dari kata al-kidzbu (dusta) yg artinya tidak sesuai segaimana ‘ada’nya. Kata ‘ada’ itu meliputi segala yg ada, baik ‘ada’ yg dapat diindra oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia (nyata) maupun yg tidak dapat diindra oleh panca indra dan akal manusia ketika hidup di dunia (ghoib) yg meliputi ‘ada’ dulu, sekarang, dan yg akan datang. Suatu perkataan asal sesuai sebagaimana ‘ada’nya maka perkataan itu adalah benar, jika sebaliknya maka perkataan itu adalah dusta. Alloh mengetahui segala yg ‘ada’ (yg nyata maupun yg ghoib) dan Alloh jujur dalam perkataannya (QS 4 ayat 87 dan 122) dan karena al-qur’an adalah perkataan Alloh maka al-qur’an adalah benar dalam arti menyatakan sebagaimana adanya makanya ia dinamakan juga ash-shidqu (QS 39 ayat 32-33)…misalnya dikatakan di dalam al-qur’an bahwa matahari tidak diam, tapi bergerak juga (QS 36 ayat 38), artinya matahari benar-benar bergerak, yakni bergerak mengelilingi pusat galaksi bima sakti
    Al-haqqu itu artinya benar dalam arti bermanfaat bagi manusia di dunia lebih lebih di akherat kelak, lawannya adalah al-bathil yg artinya yg sia-sia bagi manusia di dunia lebih-lebih di akherat kelak. Siapa yg tahu? hanya Alloh yg tahu…maka al-haqqu itu mesti dari Alloh (QS 2 ayat 147) dan Alloh adalah al-haqqu (QS 31 ayat 30) dan al-qur’an disifati dg al-haqqu juga (QS 35 ayat 31)…artinya kalau engkau mengabdi/menghambakan diri/menyembah kepada Alloh saja maka inilah al-haqqu…misalnya Alloh memerintahkan kita untuk sholat dan perintah ini ada didalam al-qur’an (QS 4 ayat 103) maka kita tegakkan sholat karena Alloh semata dan inilah yg dinamakan mengabdi/menghambakan diri/menyembah kepada Alloh dan inilah salah satu unsur al-haqqu (kebenaran) diantara unsur yg lain yg semuanya ada di dalam al-qur’an dan as-sunnah.
    disamping itu ada istilah lain dalam kaitannya dg ke dua hal di atas yaitu kata azh-zhonnu yg artinya dugaan, hipotesa, yg bisa salah dan bisa juga benar.
    sebenarnya di dalam al-qur’an dan as-sunnah terkumpul mutiara-mutiara kebenaran, sayangnya banyak orang yg berpaling dari padanya.
    Jadi kebenaran itu sesungguhnya mudah dan sederhana…tidak serumit seperti apa yg digagas oleh filosof-filosof itu…

  45. Yg ada di alam ini adalah kebenaran
    sementara Kesalahan = Ketiadaan Kebenaran

    jadi kebenaran itu ada wujud/eksistensinya sementara
    kesalahan bermuara dari ketiadaan, eksistensinya hanya ada dalam alam ide bukan dalam realitas.

  46. bagiku, tak ada kebenaran relatif.

    Kebenaran merupakan nilai. Sedangkan relatif bukanlah nilai. Jika keduanya tergabung, maka itu kontradiksi. Mustahil untuk menjadi sebuah kebenaran.

  47. istilah kebenaran relativ, kebenaran absolut, dst…jelas-jelas dibikin manusia khususnya para filosof dan jelas-jelas akan membingungkan orang awam….di dalam al-qur’an istilah-istilah itu tidak ada…yg ada hanya dua istilah kata ash-shidqu dan kata al-haqq…mengapa kita tidak mengambil petunjuk dari apa yg ada di dalam al-qur’an saja mengingat al-qur’an adalah petunjuk yg datang dari Alloh…

  48. Kata siapa tidak ada pembahasan soal itu? Lebih baik pelajari lagi al qur’an yg Anda pegang.

  49. islam tdk mempersulit manusia sehingga menjadi bingung.
    kebenaran itu mudah, terang, seterang bulan purnama. yang menjadikan kebenaran itu susah, karena sifat manusia yg masih diliputi oleh ego.

  50. Sejak awal sampai akhir keberadaan makhluk , Kebenaran dan Kesalahan akan tetap ada dan bertarung habis-habisan untuk mencari kemenangan , sama seperti Kebaikan dan Kejahatan alias Putih atau Hitam , semuanya sudah jelas perbedaannya , dan tak perlu didefinisikan lagi sebab malah bisa jadi kabur dan bingung tak karuan .
    Jadi saya setuju dengan pendapat anda , seperti rumus Sudut yang bertolak belakang sama besar , tetapi sudutnya jelas nyata perbedaannya , seperti disini dan disana atau seperti pro dan kontra , semuanya jelas perbedaannya , cuma kita saja yang suka memutar-mutar hal yang sudah jelas sehingga menjadi kabar kabur , hal ini pun sesuai firmanNya ; ” Bahwasanya sesudah Kebenaran itu adalah Kebathilan ” . .

    ” Al Haq “

  51. Benar..salah..benar..salah..benar..salah..benar..salah..benar..salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: