Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum
Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.
عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه
Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]
Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.
عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون انى أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له انى سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك له
Dari Abu Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]
Kata mawla dalam hadis ini sama halnya dengan kata waliy yang berarti pemimpin, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.
عن سعيد بن وهب قال قال علي في الرحبة أنشد بالله من سمع رسول الله يوم غدير خم يقول إن الله ورسوله ولي المؤمنين ومن كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه وأنصر من نصره
Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. [Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].
Dan perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar
قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم فان أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني الصدق أمانة والكذب خيانة والضعيف فيكم قوي عندي حتى أرجع عليه حقه إن شاء الله والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا خذلهم الله بالذل ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله ورسوله فاذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله
Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. [Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].
Terakhir kami akan menanggapi syubhat paling lemah soal hadis Ghadir Khum yaitu takwilan kalau hadis ini diucapkan untuk meredakan orang-orang yang merendahkan atau tidak suka kepada Imam Ali perihal pembagian rampasan di Yaman. Silakan perhatikan hadis Ghadir Khum yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada banyak orang, tidak ada di sana disebutkan perihal orang-orang yang merendahkan atau mencaci Imam Ali. Kalau memang hadis ghadir khum diucapkan Rasulullah SAW untuk menepis cacian orang-orang terhadap Imam Ali maka Rasulullah SAW pasti akan menjelaskan duduk perkara rampasan di Yaman itu, atau menunjukkan kecaman Beliau kepada mereka yang mencaci Ali. Tetapi kenyataannya dalam lafaz hadis Ghadir Khum tidak ada yang seperti itu, yang ada malah Rasulullah meninggalkan wasiat bahwa seolah Beliau SAW akan dipanggil ke rahmatullah, wasiat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali dan berpegang teguh pada Al Qur’an dan ithrati Ahlul Bait. Sungguh betapa jauhnya lafaz hadis tersebut dari syubhat para pengingkar.
Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.
عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثين إلى اليمن على أحدهما علي بن أبي طالب وعلى الآخر خالد بن الوليد فقال إذا التقيتم فعلي على الناس وان افترقتما فكل واحد منكما على جنده قال فلقينا بنى زيد من أهل اليمن فاقتتلنا فظهر المسلمون على المشركين فقتلنا المقاتلة وسبينا الذرية فاصطفى علي امرأة من السبي لنفسه قال بريدة فكتب معي خالد بن الوليد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم يخبره بذلك فلما أتيت النبي صلى الله عليه و سلم دفعت الكتاب فقرئ عليه فرأيت الغضب في وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله هذا مكان العائذ بعثتني مع رجل وأمرتني ان أطيعه ففعلت ما أرسلت به فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقع في علي فإنه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي وانه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي
Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu. [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].
Syaikh Al Albani berkata dalam Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah no 1187 menyatakan bahwa sanad hadis ini jayyid, ia berkata
أخرجه أحمد من طريق أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة وإسناده جيد رجاله ثقات رجال الشيخين غير أجلح وهو ابن عبد الله بن جحيفة الكندي وهو شيعي صدوق
Dikeluarkan Ahmad dengan jalan Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah dengan sanad yang jayyid (baik) para perawinya terpercaya, perawi Bukhari dan Muslim kecuali Ajlah dan dia adalah Ibnu Abdullah bin Hujayyah Al Kindi dan dia seorang syiah yang (shaduq) jujur.
Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.
Salam Damai
DIarsipkan di bawah: Hadis, Kritik Syiahphobia, Sirah


Hadis Ghadir Khum telah diakui oleh para ulama hadis sbg hadis sahih dg banyak jalur, diantaranya Zaid bin Arqam, Said bin Waqas, Buraidah bin Al-Hashib, Ai bin Abi Talib, Abi Ayub A-Anshari, Al-Bara bin Azib, Abdullah bin Abbas, Anas Bin Malik, Abu Daid al-Khudri dan Abu Hurairah. Dan menurut referensi Syiah lebih banyak lagi. Saking banyak jalurnya org Salafi mau engga mau harus menerima kesahihan hadis ini. Bahkan seorang ulama salafi, yaitu Nashrudin al-Bani telah men-sahihkan hadis ini. Hanya saja dia berusaha memalingkan maksud hadis ini dg memaknai kata “maula” sbg penolong dan pelindung. Tentu saja secara logika yg sehat pemaknaan spt itu sangat menggelikan dan spt dicari-cari. Akal sehat kita mengatakan bahwa kalau hanya menjadi penolong dan pelindung, kenapa Nabi saw harus begitu susah payah mengumpulkan begitu banyak orang ? Kenapa momentumnya ketika beliau akan meninggalkan dunia ini tdk pada waktu yg lain ?
Akal sehat kita juga menyatakan apa gunanya Nabi bersusah payah mengumumkan Ali sbg penolong dan pelindung umat tapi Ali oleh Nabi tdk diberikan power/kekuasaan (khalifah)untuk melaksanakan fungsinya sbg penolong dan pelindung umat ? Rasanya mustahil Nabi melakukan perbuatan yg sia-sia.
Jadi maksudnya org yg menolak hadits ghaidir ghum itu nggak sehat akalnya @ rizal
Terima kasih buat SP. Riwayat yg argumentatif dan tepat utk menjawab bagi para pembantah bagaimana pandangan Imam Ali sendiri terhdp hadits keutamaan kepemimpinan beliau.
Salam
wuakakakak bisa ditebak….
Jelas di sini bahwa Imam Ali telah menjadi Khalifah saat mengingatkan mengenai hadits ghadir khum tersebut, pertanyaannya mengapa Imam Ali mengingatkan hal ini baru setelah beliau menjadi khalifah? setelah hampir 25 th setelah Rasulullah wafat? mengapa beliau tidak gunakan hal tersebut saat Abu Bakar baru dibai’at, atau saat Abu Bakar akan meninggal, atau saat Umar baru dilantik atau saat pemilihan kepemimpinan setelah Umar, yg saya yakin beliau mempunyai byk kesempatan saat itu bahkan beliau menjadi panitia formatur pemilihan khalifah setelah Umar?
Jawabannya :
Karena memang hadits tersebut bukanlah hadits wasiat tentang kekhalifahan beliau setelah wafatnya Rasulullah, karena bukankah beliau sudah mendapatkan kedudukan khalifah saat mengingatkan orang2 di tanah lapang tsb?, sehingga jelas hadits tersebut digunakan beliau untuk tujuan yang lain bukan agar kaum muslimin memilih beliau menjadi khalifah yang beliau sudah memegangnya, tetapi untuk mengingatkan orang-orang yang tidak mau ta’at kepadanya setelah beliau dibai’at, hal tsb bisa dimengerti karena saat Imam Ali dilantik, fitnah sedang melanda umat Islam karena terbunuhnya Utsman, yg sebagian kaum muslimin tidak bersedia ta’at kepada beliau. Hal ini sesuai dengan uslub (hehehe bhsnya antirafidhah) hadits ghadir khum yang disabdakan Rasulullah agar kaum muslimin ta’at, menghormati dan tidak membenci Ali yang telah beliau pilih sebagai pemimpin rombongan di Yaman. itulah fungsi yang jelas dari hadits ghadir khum tersebut. Jadi sekali lagi hadits tersebut tidak menunjukkan sama sekali wasiat kekhalifahan untuk Imam Ali setelah Rasulullah wafat.
Saya melihat kok tidak tho, hadits tersebut mirip dengan hadits Manzilah saat perang Tabuk, seharusnya terjemahan وليكم بعدي bagi kalian setelahku, maksudnya jika Imam Ali sudah ditetapkan menjadi pemimpin rombongan di Yaman ya dia harus dita’ati sebagaimana menta’ati Rasulullah sendiri. lihatlah kalimat sebelumnya sangat jelas sekali itu :
jelas kalimat Nabi berhubungan dengan kalimat sebelumnya.
Ditambah lagi dapat kita temui hadits2 yang shahih dari Imam Ali sendiri yang membantah pemahaman seperti itu. hadits2 nya sudah disebutkan di threat2 sebelah.
So intinya ya sama ajah,.. hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk mazhab S** ‘ *h tulen .. wuakakakak ..
@imem:
“Jelas di sini bahwa Imam Ali telah menjadi Khalifah saat mengingatkan mengenai hadits ghadir khum tersebut, pertanyaannya mengapa Imam Ali mengingatkan hal ini baru setelah beliau menjadi khalifah? setelah hampir 25 th setelah Rasulullah wafat? mengapa beliau tidak gunakan hal tersebut saat Abu Bakar baru dibai’at, atau saat Abu Bakar akan meninggal, atau saat Umar baru dilantik atau saat pemilihan kepemimpinan setelah Umar, yg saya yakin beliau mempunyai byk kesempatan saat itu bahkan beliau menjadi panitia formatur pemilihan khalifah setelah Umar?”
Jawabannya gampang : karena Abu Bakar cs tidak pikun alias masih ingat wasiat Nabi di Ghadir Khum. Jarak antara peristiwa Ghadir Khum sangat dekat dg wafatnya nabi/peristiwa Saqifah.
@bob:
“Jadi maksudnya org yg menolak hadits ghaidir ghum itu nggak sehat akalnya @ rizal”
Benar. Buktinya imem masih mati2-an menghubung2kan hadis Buraidah dg hadis Ghadir Khum yg memang sama sekali tdk ada hubungannya.
@imem:
“So intinya ya sama ajah,.. hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk mazhab Syiah tulen .. wuakakakak ..”
Kalau memang Abu Bakar yg sdh ditunjuk nabi sblm wafatnya, tolong jelaskan kenapa Nabi tdk memanfaatkan KESEMPATAN TERAKHIRNYA di Ghadir Khum untuk mengumumkan untuk terakhir kalinya kpd umat bhw pengganti beliau adalah Abu Bakar ketimbang meminta org2 untuk mencintai Ali atau mengangkatnya sbg pelindung ? Apa masalah ekspedisi Ali ke Yaman lebih penting ketimbang pengumuman suksesi kepemimpinan di saat-saat akhir Nabi ?
@imem
ho ho percuma deh klaim sampean,anda kan suka melihat(mengada-ada) yang tidak dilihat orang lain, buktinya lafaz itu menunjukkan Imam Ali memang pemimpin setelah Nabi SAW, he he he karena tidak sesuai dengan keyakinan anda makanya cari-cari dalih, sejak dulu mah itikad anda memang begitu suka menentang hadis sambil pura-pura berpegang hadis, silakan cari or tanya deh dalam bahasa arab kira-kira lafaz itu artinya apa, seperti biasa komentar anda isinya menggerutu semua
@secondprince
Bisa dibayangkan dari dulu komentar Imem adalah menggerutu. Yang suka menggerutu mah biasanya cepat tua. Tuanya seperti apa ya? soalnya biasa menggerutu
@imem
Anda menolak hadits tsb saya tidak heran sekali lagi saya tidak heran. Karena anda berada dijaman 1400 thn kemudian. Mereka yang hidup bersama dikala Rasul masih hidupun tak mentaati Rasul. Apalagi sesudah Rasul meninggal. Itu mereka2 yang hidup bersama Rasul apalagi anda yang hidup jaman sekarang.
Padahal banyak Firman2 Allah yang memerintahkan kepada kita untuk TAAT pada Allah dan Rasul.
Dan sabda Rasul yang yang disampaikan di Khadir Ghum itu adalah WAHYU pada Rasul berubah perintah.
Disebut apa mereka yang tidak mentaati perintah Allah dan Rasul ya.
Sy tdk bisa melihat dari zahir teks ini selain pengukuhan Imam Ali sebagai pemimpin sebagaimana Rasul saw menjadi pemimpin.
Inikan hadits “muhkamat”? Orang-orang yg menganggap hadits ini msh “mutasyabihat” entah menggunakan otak yg sebelah mana? Nah Imem, otak sebelah mana yg telah sampeyan pakai?
Salam
hadits buraidah itu……
Yah, hanya pemimpin rombongan ke yaman.
hampir sama dg:
1.Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Said dan Abu Hurairah Marfu’ (yang tetap sanadnya sampai kepada Rasul): “Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat pemimpin salah satunya. Dan bentuk permintaan dalam hadits adalah perintah sebab menggunakan ungkapan Fi’il Mudhari (kata kerja sekarang dan akan datang) dengan disertai Lamul Amr (Huruf Lam yang mengandung arti perintah) maka ia mengandung makna kewajiban.
2.Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari hadits Abdullah bin Amr sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi tiga orang yang berada pada sebuah padang di bumi kecuali mereka mengangkat pemimpin salah seorang di antara mereka”.
Dua hadits telah jelas menetapkan kewajiban mengangkat pemimpin pada sebuah kelompok dan golongan yang kecil dalam sebuah perjalanan yang mereka lakukan.
Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin, HANYA dalam perjalanan.
Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.
LUCU YA…ngomongnya.
K’lo menurut hadis itu rumusannya adl sbb : Nabi SAW adl pemimpin umat Islam = Ali kw menjadi pemimpin umat Islam.
K’lo menurut penakwilan anda berarti rumusannya jd begini : Ali kw menjadi pemimpin dlm perjalanan ke Yaman = Nabi SAW menjadi pemimpin perjalanan.
Kesimpulannya anda telah menganggap derajat Nabi SAW = derajat Ali kw, yakni hanya memimpin umat Islam dlm perjalanan ke luar kota.
LUCU yah ngomongnya…?
@ armand
hadits yg anda bawa itu arabnya spt ini:
من كنت مولاه فعلى مولاه .
“ Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”.
Adapun yang dimaksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, maka dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah diterangkan sebagai berikut :
Pada tahun 10 H, Rasulullah beserta para sahabat berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan haji tersebut kemudian dikenal dengan haji Wada’.
Bertepatan dengan itu, rombongan Muslimin yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman sudah meninggalkan Yaman, mereka menuju Mekkah, untuk bergabung dengan Rasulullah. Rombongan tersebut dipimpin oleh Imam Ali bin Abi Thalib.
Begitu rombongan sudah mendekati tempat dimana Rasulullah berada, maka Imam Ali segera meninggalkan rombongannya guna bertemu dan melapor kepada Rasulullah SAW, dan sebagai wakilnya adalah sahabat Buraidah.
Sepeninggal Imam Ali, Buraidah membagi-bagikan pakaian hasil rampasan yang masih tersimpan dalam tempatnya, dengan maksud agar rombongan jika masuk kota (bertemu dengan yang lain) kelihatan rapi dan baik.
Namun begitu Imam Ali kembali menghampiri rombongannya beliau terkejut dan marah, serta memerintahkan agar pakaian-pakaian tersebut dilepaskan dan dikembalikan ke tempatnya. Hal mana karena Imam Ali berpendapat, bahwa yang berhak membagi adalah Rasulullah SAW.
Tindakan Imam Ali tersebut membuat anak buahnya kecewa dan terjadilah perselisihan pendapat.
Selanjutnya begitu rombongan sudah sampai ditempat Rasulullah, Buraidah segera menghadap Rasulullah dan menceritakan mengenai kejadian yang dialaminya bersama rombongan dari tindakan Imam Ali. Bahkan dari kesalnya, saat itu Buraidah sampai menjelek-jelekkan Imam Ali di depan Rasulullah SAW.
Mendengar laporan tersebut, Rasulullah agak berubah wajahnya, karena beliau tahu bahwa tindakan Imam Ali tersebut benar.
Kemudian Rasulullah bersabda kepada Buraidah sebagai berikut :
يا بريدة ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم.
“ Hai Buraidah, apakah saya tidak lebih utama untuk diikuti dan dicintai oleh Mukminin daripada diri mereka sendiri”.
Maka Buraidah menjawab :
بلى يارسول الله
“ Benar Yaa Rasulullah”.
Kemudian Rasulullah bersabda :
من كنت مولاه فعلى مولاه رواه الترمذى والحاكم
“ Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin”.
Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah, apabila Muslimin menganggap Rasulullah sebagai pemimpin mereka, maka Imam Ali harus diterima sebagai pemimpin, sebab yang mengangkat Imam Ali sebagai pemimpin rombongan ke Yaman itu Rasulullah SAW. Karena itu dia harus dicintai dan dibantu serta dipatuhi semua perintahnya.
Demikian maksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah (baca kitab Al Bidayatul Hidayah oleh Ibnu Katsir).
Selanjutnya, oleh karena perselisihan tersebut, tidak hanya terjadi antara Imam Ali dengan Buraidah saja, tapi dengan seluruh rombonganya, dimana orang-orang tersebut menjelek-jelekkan Imam Ali dengan kata-kata tidak baik, yang berakibat dapat menjatuhkan nama baik Imam Ali, bahkan perselisihan tersebut didengar oleh orang-orang yang tidak ikut dalam rombongan ke Yaman itu, maka setelah Rasulullah selesai melaksanakan ibadah haji, disaat Rasulullah dan Muslimin sampai di satu tempat yang bernama Ghodir Khum, Rasulullah berkhotbah, dimana diantaranya beliau mengulangi lagi kata-kata yang telah disampaikan kepada Buraidah tersebut, yaitu “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”
Itulah sebabnya hadits tersebut dikenal sebagai hadits Ghodir Khum. Karena waktu disampaikan di Ghodir Khum itu, disaksikan oleh ribuan sahabat.
Jadi sekali lagi, bahwa hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.
Sebenarnya apabila hadits tersebut akan diartikan sebagaimana orang-orang Syiah mengartikan hadits tersebut, yaitu dianggap sebagai pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah, maka faham yang demikian itu akan membawa konsekuensi dan resiko yang sangat besar. Sebab sangsi bagi orang-orang yang menolak atau meninggalkan nash Rasulullah, apalagi menghianati Rasulullah adalah kafir.
Dengan demikian, Sayyidina Abu Bakar akan dihukum kafir karena melanggar dan meninggalkan nash Rasulullah, demikian pula para sahabat yang membai’at Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Ustman mereka juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah. Bahkan Imam Ali sendiri akan terkena sangsi kufur tersebut, sebab dia melanggar dan menolak bahkan menghianati nash Rasulullah tersebut.
Itulah resiko dan konsekuensi bila hadits “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, diartikan sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah pengganti Rasulullah SAW.
Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari aqidah Syiah yang sesat dan menyesatkan. Amin.
@nomaden
COPAS di atas juga buat anda…..
@kembali ke aqidah yang benar
silakan aja berkeras dengan doktrin anda, kalau anda mau membaca hadis Buraidah dengan baik-baik maka sebelum Buraidah datang ke Rasul SAW Imam Ali sudah jadi pemimpin rombongan ke Yaman, nah ketika sahabat2 menjelekkan Imam Ali dan disampaikan Buraidah ke Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW mengatakan kepada mereka kalau Imam Ali itu adalah Pemimpin sepeninggal Beliau, jadi ya jangan coba-coba merendahkan Imam Ali, he he he pahami hadis itu jangan sepotong-potong
Hoooo yang ngomong “Imam Ali pemimpin sepeninggal Nabi SAW” ya Nabi SAW sendiri, kalau anda mau mengatakannya lucu, ya terserah saya berlepas diri dari anda
btw gak perlu deh kopas terus tulisan albayyinat yang gak jelas itu, isinya cuma asumsi-asumsi yang bertentangan dengan lafaz hadisnya. Anehnya anda lebih suka berpegang pada kopas gak jelas ketimbang hadis Nabi SAW
@ Keluar dari Aqidah… :
Konsekuensi dan resiko hadis tsb menurut penafisran Wahabi adl derajat Nabi SAW = derajat Ali kw yakni hanya pemimpin perjalanan ke luar kota. Kira 2x apa yah sangsi bg muslim yg merendahkan derajat nabi SAW?
Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari aqidah Wahabi yang sesat dan menyesatkan. Amin….
tes…
[...] Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang [...] Go to Source [...]
Imam Jafar as ditanya oleh pengikutnya,..”Bagaimana orang menyembah ulama2nya..? Dijawab “mereka mendahulukan perkataan ulamanya diatas perkataan Allah dan rasulNya…
Sedikitpun tidak heran kalau ketemu orang super nekad yg melecehkan perkataan Rasul saw hanya karena tidak sesuai dengan pendapat ulamanya,…
Mau nanya ”
@@@kepada Kembali Kepada Aqidah yang benar ”
kalimat a.. “”"”Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.”””
itu memang hadits dari nabi atau asumsi ulama ahli sunnah saja… ?
b….. juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah. Bahkan Imam Ali sendiri akan terkena sangsi kufur tersebut, sebab dia melanggar dan menolak bahkan menghianati nash Rasulullah tersebut…..
itu memang begitu ya… menurut ulama ahli sunnah … ?
apakah begitu aqidah yang benarnya….
Saya berlepas diri atas siapapun yg menafisiri kalimat saya dan menjadi keliru karenya,
Kepada yang punya blog maaf ikut-ikutan jua, terimakasih..
@kembali ke…..
Hadits point 1 & 2 kami tidak bantah. Tapi anda harus pakai akal anda dalam menganalisa/membaca sabda Rasul. Hadits tsb adalah sabda Rasul mengenai urusan dunia mereka. Tapi terhadap urusan Agama Allah, pemimpinnya Allah yang menentukan, bukan manusia yang penuh dengan kesalahan, dengki, hasut, munafik dlsb.Maka untuk kepimpinan para Mukmin/ Kerajaan Allah ada orang2 yang Allah telah persiapkan dengan bimbingan Rasulullah untuk memimpin Umat ini pasca Rasulullah SAW.. Bukan manusia2 yang serakah DUNIA yang akan memilih Pemimpin para Mukmin/Islam. Dan untuk itu Allah telah berfirman. Taati Allah dan Rasul dan Ulil Amri. Wasalam
Inilah akibat Sunnah di artikan Hadist dan Hadist berarti kertas-kertas kuning catatan Ulama.
Sudah sedemikian rendahkah Dienul Islam?? Sudah merosotkah kwalitas sifat-sifat dan nama-nama Allah ?? yg Allah di Zaman ini “lebih rendah” dari Allah di masa Rosul??
Campakkan kertas kuning PAHAMI Allah dan Islam selalu SAMA disetiap Zaman !!
@kembali…..
anda berkata:
hadits yg anda bawa itu arabnya spt ini:
من كنت مولاه فعلى مولاه .
“ Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”.
Adapun yang dimaksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, maka dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah diterangkan sebagai berikut
Biasanya riwayat2 tanpa mengatakan dari buku mana dansiapa periwayatnya, bukan riwayat dari Ahli Sunnah tapi riwayat dari Salafy
Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal)
maka sesungguhnya dia telah berkata DUSTA!
Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)
salafy berargumen
syiah berargumen
tetapi telah jelas siapa yg berDUSTA atas nama Ali ra dan rasul.
Sebenarnya apabila hadits tersebut akan diartikan sebagaimana orang-orang Syiah mengartikan hadits tersebut, yaitu dianggap sebagai pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah, maka faham yang demikian itu akan membawa konsekuensi dan resiko yang sangat besar. Sebab sangsi bagi orang-orang yang menolak atau meninggalkan nash Rasulullah, apalagi menghianati Rasulullah adalah kafir.
Dengan demikian, Sayyidina Abu Bakar akan dihukum kafir karena melanggar dan meninggalkan nash Rasulullah, demikian pula para sahabat yang membai’at Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Ustman mereka juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah. Bahkan Imam Ali sendiri akan terkena sangsi kufur tersebut, sebab dia melanggar dan menolak bahkan menghianati nash Rasulullah tersebut.
JELAS KAN?????
@kembali ke
Anda menulis: Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal)
maka sesungguhnya dia telah berkata DUSTA!
Benar riwayat ini terdapat dalam buku KOPING HO. hal. 25 jil. 4.
Hadits yang ini(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)
Adalah berasal dari abu hurairah yang menatas namakan Rasulullah SAW. Ada juga hadits dalam Sahih Bukhari yang disampaikan abu Hurairah dan mengatas namakan Rasulullah. Bersabda abu Hurairah: Aku mendengar Rasulullah berkata, pada waktu Allah mengutus Malikkilmaut untuk mencabut nyawa Nabi Musa. Nabi Musa menampar matanya kemudian mencongkel mata Malikilmaut. Sungguh hebat Nabi Musa menentang Allah. Hadits ini mungkin utk sdr kembali ke….. diangkap BENAR. Dan siapa yang tidak percaya oleh sdr kembali ke.. diakatakan PENDUSTA. Kalu saya lebih baik dikatakan pendusta dari pada menghina Rasulullah SAW.
Jelas yang telah berdusta adalah salafy. Bukan begitu? Sampai sekarang argumen2 salafy telah terpatahkan. Celakanya terpatahkan argumen2 yang ada di kitab Ahlulsunnah, bukan kita syiah.
@kembali ke aqidah salafi wahabi:
“Dengan demikian, Sayyidina Abu Bakar akan dihukum kafir karena melanggar dan meninggalkan nash Rasulullah, demikian pula para sahabat yang membai’at Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Ustman mereka juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah.”
nash2 yg mana ? kan semua hadis yg menyatakan Abu Bakar sbg khalifah setelah Nabi adalah palsu dan semua itu ada dlm kitab2 sunni sendiri. Bukankah di kalangan Sunni sangat masy hur pendapat yg mengatakan bahwa NABI TDK PERNAH MENUNJUK SIAPA PENGGANTINYA SETELAH WAFAT ? Kok tiba2 berpendapat ada nash mengenai person pengganti nabi ? he he lucu….lucu
@all
sudahlah ribut-2 siapa yang jadi khalifah/imam..seperti ngomongin pepesan kosong atau menggantang asap..semua sudah terjadi, sudah terjadi!
toh Ali sudah jadi imam/khalifah juga.. penerus nabi SAW. akan jadi masalah kalau Ali SAMA SEKALI tidak jadi menjadi khalifah.
penafsiran hadits : “Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir] ”
kan bisa dua macam : bisa langsung dan tidak langsung dan dua2nya benar.
langsung : ketika situasi Nabi memerintahkan Ali sebagai pemimpin rombongan menuju suatu tempat (suatu hal biasa ketika itu banyak dikirim rombongan dakwah dan itu MUSTI ada amir rombongan, tentunya)
tidak langsung : ketika suatu saat Ali menjadi khalifah (dan itu entah kapan, bisa setelah nabi wafat, atau setelahnya, setelahnya dan setelahnya karena Allah yang menskenariokannya, dan ternyata sejarah mencatat Ali sebagai khalifah keempat)
kenapa sih jadi ribut melulu?? kalian kayak anak kecil aja..
@RAFSANJANI:
“sudahlah ribut-2 siapa yang jadi khalifah/imam..seperti ngomongin pepesan kosong atau menggantang asap..semua sudah terjadi, sudah terjadi!”
yang namanya membongkar kepalsuan ya sampai kiamat mas. apalagi barang palsu ini dipake oleh kelompok tertentu untuk memojokkan bahkan mengkafirkan kelompok lainnya yg tdk sefaham.
@rafssanjani:
“kenapa sih jadi ribut melulu?? kalian kayak anak kecil aja..”
Dlm masalah agama yg normal saja harus selalu dibaca/dikaji ulang, apalagi yg tdk normal/bermasalah. Ini memang hrs “diributkan” alias diperdebatkan. Kalau engga senang ya udah engga usah ikutan…..
Bongkar terus segala Kepalsuan atas Nama Nabi Saw oleh org2 yg memuja MUAWIYAH La, sampai datangnya Al Qaim Al Muntazar As semua kebenaran yg dipalsukan/disembunyikan akan terbuka SEMPURNA (pengungkapan ol Imam Mahdi ini khusus pada para Ahlulkitab yg memalsukan kitab2nya)
OOT:
Ada website: syiahindonesia.com, tapi isinya mendeskriditkan syiah. Kok cara2nya mirip dengan org kafir yang bikin website tentang Islam, tapi isinya justru mendeskriditkan Islam.
Saking takut ketahuan siapa yang berada di belakang layar, lalu merekapun pake fasilitas Privacyprotect.org supaya ga keliatan siapa pemilik website tsb.
Btw, kajian tentang ahlul bait as yang dibukukan sangat jarang nih. Mohon pencerahannya.
@ rafidah
hadits yg saya bawa itu ada di sini:
(Shahih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal muwada’ah bab zimmah al-muslimin 6/273 dari Fathul Bari, Shahih Muslim Hadits no. 1370, Abu Dawud dalam al-Manasik 2/216, Musnad Ahmad 2/44)
Jadi sejak kapan KO PING HO jadi ahli hadits? hehe…
@rafidah
lagian ngapain anda bawa hadits yg ga nyambung?
udah ketahuan DUSTAnya yee? dasar rafidah.
@ressay
argumen terpatahkan oleh dUSTA2,maksudnya?
@RIZAL
iiih ga ngerti ya?
maksudnya kalau syiah menganggap pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah sebagai nash Rasul, maka
konsekuensinya SANGAT BESAR…………………….dst
Sebab sangsi bagi orang-orang yang menolak atau meninggalkan nash Rasulullah, apalagi menghianati Rasulullah adalah kafir.
Termasuk para sahabat yg mengadakan pertemuan di Saqifah untuk menunjuk abu bakar ra sebagai khalifah.
pertanyaanya:
Apakah saya berkata bahwa pengangkatan abu bakar ra, ummar ra dll sebagai khalifah SEBAGAI nash Rasul?
@kembali ke aqidah yg benar
ini ada tambahan referensi buat anda :
http://alfanarku.wordpress.com/2009/10/12/analisa-hadits-ghadir-khum-bagian-1/
Kepada temen-temen yg anti salafiers hendaknya langsung membinasakan aqidah manhajnya agar hilang seluruh kekuatan argumentasinya. jangan yg bersifat furuiyah ntar mereka bisa berkelit terus bak belut yg licin.
Karena saya lihat MANHAJ SALAF di bangun di atas AQIDAH YANG TERAMAT RAPUH
he..he..he..
@All
Bahwa Imam Ali telah diangkat dan ditunjuk atas perintah Allah dan Rasul-Nya di Ghadir Khum sebagai Pemimpin umat Islam pada saat Rasulullah saw masih hidup dan setelah Beliau wafat. Maka dari itu, suatu kewajiban bagi Imam Ali untuk menyampaikannya kepada umat Islam dgn mengakui sebagai kepemimpinannya, karena itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.
Wassalam…
@kembali ke aqidah…
Sy hanya ingin mengatakan bahwa ada masalah di cara berpikir anda. Semoga tdk di hati anda.
Pernyataan yg bagaimana sebenarnya yg ingin anda dengar dari Rasul saw bahwa Imam Ali adalah pemimpin pengganti Rasul saw? Sehingga isyarat kekhalifahan/kepemimpinan Imam Ali as di riwayat perang Tabuk & sekarang di Ghadir Khum serta isyarat-isyarat lainnya mengenai keutamaan Imam Ali as belum membukakan mata anda?
Apakah tdk terfikir oleh anda mengapa Rasul saw menggunakan kalimat2 isyarat kepememimpinan/ kekhalifahan atas diri Imam Ali as? Mengapa Rasul saw membandingkan kepemimpinan Imam Ali as dgn diri Beliau? Mengapa Rasul saw tdk menggunakan kalimat2 yg biasa saja tanpa isyarat apa-apa?
Adakah Rasul saw kemudian mentakwilkan yg seperti anda takwilkan? Adakah kemudian Rasul saw membatasi penetapan kepemimpinan Ali as? Jika tidak, maka zahir hadits itu sdh “muhkamat”. Berhati-hatilah. Jangan2 dengki & hasut yg berbicara.
Selanjutnya apa yg anda bayangkan mengenai konsekuensi thd Abubakar, Umar, Utsman dan Ali as jika Imam Ali as benar sebagai pengganti kepemimpinan Rasul saw, sy tdk berani berkomentar lebih jauh, yg jelas hal tsb tdk terkena pada Imam Ali as, karena alasan yg mendasari tdk dijalankannya amanat Rasul saw tsb berbeda antara Imam Ali as dengan Abubakar & Umar.
Wallahua’lam
Salam
@kembali ke
“iiih ga ngerti ya?
maksudnya kalau syiah menganggap pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah sebagai nash Rasul, maka
konsekuensinya SANGAT BESAR…………………….dst”
Lantas menurut anda peristiwa di Ghadir Khum itu bukan nash Rasul begitu ?
@kembali ke aqidah yg benar
Dapat dalil dari mana pula anda?..hmmm.. Sedikit kesalahn bagi anda semua masuk kategori kafir kali yaa?.
Bagaimana hukumnya mereka yang tidak shalat, atau tidak puasa? Bukankah mereka melanggar nash Allah dan Rasul?
Apakah mereka kafir?…ccck..cckkk Pantas saja jika banyak orang dengan mudah mengkafirkan orang lain.
Saran saya lebih berhati2lah. Kehidupan itu tidak hanya hitam putih. Setiap hal ada derajatnya.
Wassalam
Ammar bin Yassir mengecam umat Islam yg telah melupakan perintah Rasul SAW utk mengangkat ALi kw sbg khalifah dlm kitab Murrujah Jahhar – kitab sejarah juz 2 hal 252, T arikh Tabari juz 4 hal 233 dan Ibnu Qutaibah Al Imamah wal Syiasah hal 25 :
Ammar mennasihati khalifah Abu Bakr:
“Hai Abu Bakr, jgnlah enggkau mengambil hak yg sdh diberikan kpd org selain engkau, jgnlah engkau menjadi org yg pertama menentang Rasul SAW dan melawannya dlm urusan ahlulbaitnya. Kembalikannlah hak itu kpd ahlinya supaya ringan punggumu, supaya kamu berjumpa dgn Rasul dlm keadaan beliau ridokpdmu, kemudian kamu kmbl jod Allah yg maha pengasih dan ia akan menghisab amal kamu dan meminta pertanggung jawaban dr yg kamu kerjakankan”
Ammar mennasihati khalifah Utsman:
“K’lo kalian ingin atar org2x tsb tdk bertengkar satu sama lain maka bai’at;lah imam Ali.”
Miqdad menasihati khalifah Utsman:
“Benarlah Ammar, k’lo engkau membaiat Ali kami akan berkata sami’na wa atho’na.”
Ammar berkata kpd umat muslimin :
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah sdh memuliakan kita dgn mendatangkan nabinya dan sdh meninggikan kita dgn agamanya, bgm mungkin kalian mengalihkan urusan ini dr Ahli Bait nabi kalian?! Duhai yg akan menagisi kepergian Islam, menangislah skrg ini, krn kebenaran sdh mati dan kemungkaran mulai hidup.”
IMAM ALI MENASIHATI AMMAR :
“.DEMI ALLAH HAI ABU YA’DZON (PANGGILAN AMMAR), KITA INI TDK PUNYA BANYAK PENDUKUNG DAN AKU TDK INGIN MEMBEBANKAN KPD KALIAN APA YG KALIAN TDK MAMPU.”
@kembali ke…..
Anda berkata:kembali ke aqidah yg benar, di/pada Oktober 12th, 2009 pada 4:32 pm Dikatakan:
@rafidah
lagian ngapain anda bawa hadits yg ga nyambung?
udah ketahuan DUSTAnya yee? dasar rafidah.
kembali ke aqidah yg benar, di/pada Oktober 12th, 2009 pada 4:34 pm Dikatakan
Maaf saya lupa bahwa ilmu dan AKAL anda belum mapu MENYAMBUNGKAN/menghubungkan satu data dengan data yang lain.
1. Anda membawakan hadits tanpa sanad dan dari mana anda kutip maka saya katakan Kho ping Ho
2. Hadite yang anda sampaikan periwayat adalah Abu Hurairah. Saya tidak mau katakan ia pembohong
Tapi saya tunjukan suatu hadits yang jelas2 menunjukan kebohongan mengataskan Nabi.
Kalau orang yang berakal akan tahu hubungan kata2 saya. Yakni bahwa Bukhari bisa memasukan ke Shahinya kata2 Abu Hueairah yang bohong. Jadi supaya jelas bagi anda bahwa hadits yang anda sampaikan adalah bukan dari Rasulullah.