Bukti Shahih Mazhab Syi’ah Memuji Sahabat Nabi

Para Sahabat Nabi Yang Dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Terdapat sebagian riwayat dalam mazhab Syi’ah yang ternyata memuji dan memuliakan para sahabat Nabi. Hal ini meruntuhkan anggapan dari para pembenci Syi’ah [baik itu dari kalangan nashibiy atau selainnya] bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi.

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis-salaam] “Para Sahabat Rasulullah [shallallaahu‘alaihi wa aalihi] berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaaduq hal 639-640 no 15]

Riwayat Syaikh Ash Shaaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

.

.

Riwayat Kedua

أخبرنا محمد بن محمد قال أخبرنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه القمي رحمهالله قال حدثني أبي قال حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن معروف بن خربوذ  عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهالسلام قال صلى أمير المؤمنين عليهالسلام بالناس الصبح بالعراق ، فلما انصرف وعظهم ، فبكى وأبكاهم من خوف الله ( تعالى ) ، ثم قال أما والله لقد عهدت أقواما على عهد خليلي رسول الله صلىاللهعليهوآله ، وإنهم ليصبحون ويمشون شعثاء غبراء خمصاء بين أعينهم كركب المعزى ، يبيتون لربهم سجدا وقياما ، يراوحون بين أقدامهم وجباههم ، يناجون ربهم ويسألونه فكاك رقابهم من النار ، والله لقد رأيتهم مع ذلك وهم جميع مشفقون منه خائفون

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihis salaam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] shalat bersama orang-orang di waktu shubuh di Iraq, ketika Beliau memberi nasehat kepada mereka maka Beliau menangis dan mereka juga menangis karena takut kepada Allah SWT. Kemudian Beliau berkata “Demi Allah sungguh aku telah hidup bersama kaum di masa kekasihku Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan sesungguhnya mereka di waktu pagi mereka berjalan dengan kusut dan berdebu, nampak diantara kedua mata mereka bekas seperti lutut kambing [karena sujud], dan di malam hari mereka sujud dan berdiri [menghadap Allah] bergantian antara kaki dan dahi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka, meminta Kepada-Nya agar dijauhkan dari api neraka, Demi Allah sungguh aku melihat mereka dalam keadaan demikian dan mereka selalu berhati-hati dan takut kepada-Nya [Al Amaliy Ath Thuusiy hal 102]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  8. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Imam Ali [‘alaihis salaam] memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka orang-orang beriman yang rajin beribadah.

.

.

Riwayat Ketiga

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن منصور بن حازم قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما بالي أسألك عن المسألة فتجيبني فيها بالجواب، ثم يجيئك غيري فتجيبه فيها بجواب آخر؟ فقال: إنا نجيب الناس على الزيادة والنقصان، قال: قلت: فأخبرني عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله صدقوا على محمد صلى الله عليه وآله أم كذبوا؟ قال: بل صدقوا، قال: قلت: فما بالهم اختلفوا؟ فقال: أما تعلم أن الرجل كان يأتي رسول الله صلى الله عليه وآله فيسأله عن المسألة فيجيبه فيها بالجواب ثم يجيبه بعد ذلك ما ينسخ ذلك الجواب، فنسخت الاحاديث بعضها بعضا

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Manshuur bin Haazim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “Bagaimana bisa ketika aku bertanya suatu permasalahan maka engkau menjawabku dengan suatu jawaban kemudian orang lain datang kepadamu dan engkau menjawab dengan jawaban yang lain?. Maka Beliau berkata “Sesungguhnya kami menjawab manusia dengan kalimat yang lebih dan kalimat yang kurang”. Aku berkata “maka kabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], apakah mereka seorang yang jujur atas Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] ataukah mereka berdusta?”. Beliau berkata “bahkan mereka jujur”. Aku berkata “maka mengapa mereka berselisih”. Beliau berkata “tahukah engkau bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan bertanya kepada Beliau suatu permasalahan maka Beliau menjawabnya dengan suatu jawaban kemudian setelah itu Beliau menjawab dengan jawaban yang menasakh jawaban yang pertama maka itulah sebagian hadis menasakh sebagian hadis lain [Al Kafiy Al Kulainiy 1/65 no 3]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Manshuur bin Haazim Abu Ayub Al Bajalliy seorang tsiqat shaduq meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah dan Abu Hasan Musa [‘alaihimus salaam] [Rijal An Najasyiy hal 413 no 1101]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka jujur atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja perbedaan yang terjadi di antara mereka para sahabat akibat sebagian mereka meriwayatkan hadis yang dinasakh oleh hadis sahabat lain.

.

.

Riwayat Keempat

حدثنا أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر البزنطي، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير، عن أبي جعفر عليه السلام قال: سمعته يقول: رحم الله الأخوات من أهل الجنة فسماهنأسماء بنت عميس الخثعمية وكانت تحت جعفر بن أبي طالب عليه السلام، وسلمى بنت عميس الخثعمية وكانت تحت حمزة، وخمس من بني هلال: ميمونة بنت الحارث كانت تحت النبي صلى الله عليه وآله، وأم الفضل عند العباس اسمها هند، والغميصاء أم خالد بن الوليد، وعزة كانت في ثقيف الحجاج بن غلاظ، وحميدة ولم يكن لها عقب

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy dari ‘Ashim bin Humaid dari Abi Bashiir dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Bashiir] berkata aku mendengar Beliau mengatakan semoga Allah memberikan rahmat pada saudari-saudari ahli surga. Nama-nama mereka adalah Asma’ binti Umais Al Khats’amiyyah istri Ja’far bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Salma binti Umais Al Khats’amiyyah istri Hamzah, dan lima orang dari bani Hilaal, Maimunah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], Ummu Fadhl istri ‘Abbas dan namanya adalah Hind, Al Ghamiishaa’ ibu Khaalid bin Waalid, ‘Izzah dari Tsaqiif istri Hajjaaj bin Ghalaazh, dan Hamiidah ia tidak memiliki anak [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 363 no 55]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Rijal Ath Thuusiy hal 332]
  5. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  6. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan bahwa terdapat para sahabat wanita yang dikatakan sebagai ahli surga diantaranya adalah Asma binti Umais [radiallahu ‘anha] dan Maimunah binti Al Harits Ummul Mukminin [radiallahu ‘anha]

.

.

Riwayat Kelima

علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن الحسين بن عثمان عن ذريح قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول قال علي بن الحسين عليهما السلام إن أبا سعيد الخدري كان من أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وآله) وكان مستقيما فنزع ثلاثة أيام فغسله أهله ثم حمل إلى مصلاه فمات فيه

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Husain bin ‘Utsman dari Dzuraih yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata bahwa Abu Sa’id Al Khudri termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan ia seorang yang lurus, ia menderita sakit selama tiga hari maka keluarganya memandikannya kemudian membawanya ke tempat shalat maka ia mati dalam keadaan seperti itu [Al Kafiy Al Kulainiy 3/125 no 1]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Husain bin ‘Utsman bin Syarik seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Abi ‘Umair [Rijal An Najasyiy hal 53 no 119]
  5. Dzuraih Al Muhaaribiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 127]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al Khudriy [radiallahu ‘anhu] termasuk sahabat yang terpuji kedudukannya dalam pandangan Imam Ahlul Bait.

.

.

Riwayat Keenam

قال معروف بن خربوذ فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan perkataan ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas adalah penggalan riwayat panjang dimana Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkan hadis dari Abu Thufa’il dari Huzaifah [radiallahu ‘anhu] mengenai sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Kemudian di akhir hadis Ma’ruf bin Kharrabudz menanyakan hadis yang ia dengar dari Abu Thufail [radiallahu ‘anhu] tersebut kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]. Sanad lengkap riwayat tersebut hingga Ma’ruf bin Kharrabudz adalah

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan pujian Abu Ja’far [‘alaihis salaam] kepada Abu Thufail, dan ia termasuk sahabat Nabi, Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan nama Abu Thufail dalam kitab Rijal-nya [Rijal Ath Thuusiy hal 44] dan Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan namanya tersebut dalam bab

باب من روي عن النبي صلى الله عليه وآله من الصحابة

Bab, orang-orang yang meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] termasuk kalangan sahabat-Nya

Riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya menjadi bukti yang menyatakan bahwa hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah

.

.

Kesimpulan

Tuduhan bahwa mazhab Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi adalah tuduhan yang tidak benar. Dalam kitab mazhab Syi’ah juga terdapat pujian terhadap para sahabat baik secara umum ataupun terkhusus sahabat tertentu. Walaupun memang terdapat juga riwayat yang memuat celaan terhadap sahabat tertentu. Perkara seperti ini juga dapat ditemukan dalam riwayat Ahlus Sunnah yaitu terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

Iklan

26 Tanggapan

  1. semoga tulisan-tulisan sdr.SP semakin menguatkan umat islam…

  2. intinya tulisan di atas semakin menunjukkan bahwa penulis blog makin goblok saja dalam menganalisa mazhab syiah. :mrgreen:

  3. @Syekh puji : Gobloknya dimana? Bisa ditunjukkan dari tulisan diatas? Thx

  4. mas sp tolong dong tunjukan riwayat syiah yang mencela sahabat tertentu tsb…dan bagaimana kedudukan riwayat tsb..

    matursuwun.
    salam

  5. ngapain ngurusin pencaci, … mencaci tanda tak mampu berhujjah

  6. @Erya Wintim

    Terimakasih atas komentarnya, semoga tulisan ini bermanfaat bagi mereka yang ingin mengetahui mazhab Syi’ah yang sebenarnya

    @syekh puji

    semoga suatu saat nanti Allah SWT memberikan kepada anda kemampuan untuk menjaga lisan anda dari menghina orang lain

    @Ki Joko

    saran saya sudahlah biarkan saja, itu cuma sekedar luapan emosinya bukan hujjah yang bisa diminta pembuktiannya

    @angling

    contoh riwayat tersebut dalam mazhab Syi’ah sudah pernah saya tulis sebelumnya. Misalnya

    ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقولثلاث هن فخر المؤمن وزينه في الدنيا والآخرة: الصلاة في آخر الليل ويأسه مما في أيدي الناس وولايته الامام من آل محمد (صلى الله عليه وآله) قال: وثلاثة هم شرار الخلق ابتلى بهم خيار الخلق: أبو سفيان أحدهم قاتل رسول الله (صلى الله عليه وآله) وعاداه ومعاوية قاتل عليا (عليه السلام) وعاداه ويزيد بن معاوية لعنه الله قاتل الحسين بن علي (عليهما السلام) وعاداه حتى قتله

    Ibnu Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan yang berkata aku mendengar Aba ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Ada tiga hal yang menjadi kebanggan seorang mukmin dan menjadi keindahan baginya dalam kehidupan dunia dan akhirat yaitu Shalat di akhir malam, tidak mengharapnya ia terhadap apa yang ada di tangan orang-orang, dan wilayah Imam dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau berkata “dan ada tiga orang makhluk yang paling buruk telah menyakiti makhluk yang paling baik yaitu Abu Sufyan yang memerangi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan memusuhinya, Mu’awiyah yang memerangi Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya, dan Yazid bin Mu’awiyah laknat Allah atasnya, yang memerangi Husain bin Aliy [‘alaihis salaam] dan memusuhinya sampai membunuhnya [Al Kafiy Al Kulainiy 8/234]

    Kedudukan hadis tersebut di sisi Syi’ah adalah shahih, sebagaimana saya bahas disini

    https://secondprince.wordpress.com/2014/02/28/benarkah-yazid-bin-muawiyah-tidak-terlibat-dalam-pembunuhan-husain-bin-aliy/

    Hadis Syi’ah di atas menyebutkan bahwa Abu Sufyan dan Mu’awiyah adalah makhluk yang paling buruk

    @haidar

    Siip benar sekali 🙂

  7. Assalamu’alaykum

    Tulisan yang cukup baik untuk menunjukkan bahwa mazhab Syi’ah memuji dan memuliakan para sahabat Nabi secara umum, yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah pujian thd para shahabat pada riwayat pertama sampai riwayat ketiga yg disebutkan dalam bentuk umum itu apakah mencakup Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubair, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, dll ? Atau ada pengecualian pada sahabat2 tertentu?

    Terimakasih atas penjelasannya 🙂

  8. @Naufal Assegaf

    Wa’alaikum salam. Prinsip saya dalam memahami nash dan itu seharusnya juga menjadi prinsip bagi siapapun yang ingin mencari kebenaran dengan objektif adalah nash yang umum tidak mesti mencakup keseluruhan tanpa terkecuali karena bisa juga nash itu hanya bermakna sebagian besar saja dan sebagian kecil tidak tercakup didalamnya. Hal ini banyak contohnya dalam kitab hadis. Adapun pengkhususan terhadap sahabat tertentu baik itu kemuliaan atau celaan terhadapnya harus memiliki nash khusus yang menyebutkannya.

  9. Terimakasih penjelasannya, masih terkait dgn pertanyaan saya itu, apakah nama2 shahabat yang saya sebutkan itu (terutama 3 khalifah pertama) termasuk pada kemumuman hadits tsb atau terkecualikan? jika terkecualikan, apa nash yg sharih yg mengecualikan mereka dari keumuman pujian tsb?

  10. @Naufai Assegaf : Ikut nimbrung kalo diperkenankan. Dalam hukum logika (berpikir tepat), setiap term mengandung makna setiap atau sebagian. Ketika syiah mengatakan : “sahabat nabi sholeh, gemar shalat malam, dsb” (secara umum) maka itu bisa bermakna sebagian sahabat atau setiap sahabat (seluruhnya). Pertanyaannya lalu bagaimana kita mengetahui makna yg dimaksud dalam kalimat tersebut? Seperti yg sudah dikemukakan penulis dalam komentar sebelumnya bahwa syiah juga memliki hadis shahih yang isinya celaan terhadap Abu Sufyan, Muawiyah, dan Yazid, maka itu sudah cukup menunjukkan bahwa yang dimaksud dalam hadis syiah pujian terhadap sahabat nabi diatas bermakna “sebagian sahabat” dengan catatan jika dalam pandangan syiah Abu Sufyan dan Muawiyah termasuk kategori sahabat nabi.

    Kemudian apakah Abu Bakar, Umar, dll yg anda sebutkan termasuk golongan sahabat (secara umum) yg dipuji2 dalam hadis2 diatas maka kita perlu mengetahui hadis2 sahih syiah lainnya yg berbicara tentang sahabat2 yang anda sebutkan tersebut. Salam

  11. @Naufal Assagaf

    Saya akan menjawab pertanyaan anda itu dalam kerangka apa yang ada dalam mazhab Syi’ah. Sejauh yang saya tahu dalam mazhab Syi’ah terdapat hadis shahih dimana Imam Aliy menyalahkan ketiga khalifah dalam hal imamah. Tetapi tidak ada dalil shahih yang menyatakan kekafiran mereka. Terdapat dalil shahih dalam mazhab Syi’ah yang menyatakan kesalahan Aisyah [radiallahu ‘anha] tetapi tidak ada dalil shahih yang menyatakan kekafirannya. Adapun untuk sahabat lain selain ketiga khalifah saya belum menemukan dalil shahih dalam mazhab Syi’ah secara khusus tentang mereka. Maka disini saya berprasangka baik bahwa keutamaan umum tersebut mungkin mencakup para sahabat yang anda sebutkan.

  12. @Ki Joko :
    Terimakasih atas komentar antum, yg saya tanyakan adalah sama seperti yg antum sampaikan pada paragraf terakhir pada komentar antum 🙂

    @secondprince:
    berarti 3 khalifah + aisyah [radhiallahu ‘anha] tidak termasuk pada pujian dlm hadits tsb? terimakasih tanggapannya.

  13. @Naufal Assegaf

    Bagi saya, saya lebih suka mereka masuk dalam pujian tersebut. Mengenai kesalahan mereka yang disebutkan dalam kitab Syi’ah, saya tidak melihat dalam lafaznya sesuatu yang bersifat mengecualikan mereka sehingga tidak layak mendapatkan pujian tersebut. Tetapi ini hanya sebatas pengetahuan saya, mungkin ada pengikut Syi’ah yang lebih paham tentang kitab mereka dan memiliki dalil dalam perkara ini

  14. Terimakasih atas kesediaan antum menjawab
    setiap pertanyaan saya, jazakallahukhayran.

  15. @Naufal asegaf:

    Saya ingin bertanya tentang pemahaman anda terhadap kalimat saudara penulis,

    apakah ketika dikatakan bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman bersalah dalam masalah imamah atau ummul mukminin aisyah bersalah dalam perang jamal maka hal tersebut akan bermakna para sahabat tersebut tidak termasuk golongan para sahabat yang rajin shalat, menangis di malam hari dsb (yg disebutkan dalam hadis2 diatas)? Jika jawabannya “ya” saya ingin mengetahui dasar dari kesimpulan tersebut. Jika tidak maka pertanyaan anda kepada saudara penulis sudah terjawab dengan sendirinya.

  16. @Ki Joko:
    Abdurrahman bin Muljam sang eksekutor pembunuhan thd Imam Ali pun dikabarkan adalah seorang ahli ibadah dan ahli berdzikir, tapi hal itu tidak menjadikannya terlepas dari ketersesatannya.

    Ala kulli hal, apa yg saya tanyakan sudah dijawab dgn bijak oleh penulis, saya sangat mengapresiasi hal itu, dan saya juga mengapresiasi tanggapan antum, tapi saya rasa jawaban dari penulis sudah cukup bagi saya mengenai yg ingin saya tanyakan, yg antum tanyakanpun sebenarnya sudah tercakup dalam jawaban penulis yg saya apresiasi itu. Terimakasih

  17. @naufal assegaf Terima kasih atas jawabannya, saya sudah mengerti. Salam wa rahmah,

  18. Salam

    Bang SP boleh minta alamat emailnya? Email sy zuljanzuko@gmail.com

  19. Dari dua belas ribu orang pastilah termasuk mereka-mereka yang turut dalam perang Badar, yang turut berhijrah bersama Rasulullah saw dan kaum Anshar yang menerima kaum Muhajirin utk dijadikan saudara mereka.

    Semoga SP sehat selalu 🙂

    Salam

  20. @SP
    Saya ada membaca beberapa hadits tentang para sahabat Beliau. Dan ingin menanyakan keshahthan hadits tersebut. Dan saya sangat mengharapkan anda dapat menjelasakan. Rasulullah SAW mengatakan kepada para sahabat (Sayangnya saya tidak bisa menyampaikan bahasa arabnya) :
    1.Sesungguhnya kalian akan serakah terhadap kepimpinan, dan akan menjadi penyebab penyesalan pada hari kiamat. Maka ia se-baik2 yang memberi susu dan se-jelek2 penyapih. (Diambil dari Shahih Bukhari Kitabul Ahkam, bab Yukrahu Min al- Hirsi al Imara 9/79

    2.” Keluarga itu dari Quraisy akan menghancurkan manusia akan menghancurkan manusia.” Mereka bertanya,: ” Wahai Rasulullah lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami.” Beliau menjawab: ” Andai manusia menjauhi mereka.” ( Shahih Bukhari 9/60 hadits ke 7058 dan kitab Bad’u al Khaq bab ‘Alamaat an-Nubuwwah fi al-Islam 4/242.
    Ini kedua hadits saya mengharapkan penjelasa anda mengenai sahabat. Syukran, wasalam

  21. @sp

    bukankah selain hal imamah, sahabat Abu Bakar & Umar juga menyelisih ahlul bait perihal tanah fadak, bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Fatimah marah sampai akhir hayatnya

  22. seorang wanita bertanya kpd Imam (Abu ‘Abdillah) :

    “Maka ia (wanita) menanyakan kepadanya (Imam) mengenai keduanya (Abu Bakr dan ‘Umar), maka Imam menjawab; “Berwalalah (memberikan cinta dan pembelaan -pent) kepada keduanya”. Ia (wanita) kembali bertanya; ‘Maka aku akan katakan kepada Tuhanku ketika aku berjumpa dengan-Nya bahwa engkau memerintahkan kepadaku untuk berwala kepada keduanya.’ Sang Imam menjawab; “Ya”
    [Al-Kafiy, 8/237 no. 319]

    apakah ini salah satu bukti shahih imam ahlulbait memuji secara khusus kepada kedua khalifah?

  23. @haidar
    Saya rasa ini satu pujian dari mereka para Imam. Pujian tsb merupakan pujian kalau boleh saya pergunakan istilah SP “FADHI”

  24. Alasan Imam Ali tidak melakukan
    Pemberontakan atas hilangnya kekuasaan dari
    Tangannya
    Nahjul Balaghah edisi Surat & Aforisme Surat No. 62, dikirim melalui Malik Asytar ketika dia diangkat Menjadi Guberner Wilayah Mesir (Ditujukkan kepada Rakyat Mesir).
    Amma ba’du. Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad saw sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal beliau. Demi Allah, tak pernah terpikir olehku, dan aku tak pernah membayangkan, bahwa setelah Nabi, orang Arab akan merebut kekhalifahan dari Ahlulbayt, tidak pula bahwa mereka akan mengambilnya dariku setelah (kepergian) beliau saw (al arrobu assudda kufron wanifaqo, QS [9]:[93] – Bangsa Arab sangat Kafir dan Munafik sekali). Tetapi secara mendadak, aku melihat orang mengelilingi lelaki itu (Abu Bakar) untuk membaiatnya 1)
    Oleh karena itu, aku menahan tanganku (dari membaiatnya, kepada dia, peny) hingga aku melihat bahwa banyak orang sedang menghindar dari Islasm dan berusaha untuk menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku khawatir bahwa apabila aku tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi didalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan pukulan yang lebih besar kepadaku daripada hilangnya kekuasaan atas kalian (dari tanganku, peny.), yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlansung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlaku sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini aku bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. (ketika ketiga Khalifah sudah berlalu runtuh dan berkuasanya Kekhalifahan Amiril Mukmin yang sebenarnya, walau hanya berlangsung tidak lebih dari 4 tahun, setelah beliau as terbunuh oleh Silaknatullah Ibnu Muljam).

    1) Deklarasi Nabi SAW tentang Imam Ali as bahwa “Ini (Ali) adalah saudaraku, wakil dan khalifahku di antara kalian,” dan sedang kembali dari Haji Perpisahan (Haji Wada, peny). Dengan mengatakan di Ghadir Khum bahwa “ Bagi barangsiapa yang aku adalah walinya, Ali adalah walinya” telah menetapkan masalah penggantian diri beliau saw dan suksesi; tak perlu lagi pemilihan, dan tak dapat pula dikhayalkan bahwa penduduk Madinah akan merasa perlu mengadakan pemilihan. Tetapi, orang-orang yang haus kekuasaan mengabaikan ajaran yang jelas ini seakan-akan telinga mereka tidak pernah mengenalnya (dan benar pada kenyataannya kebanyakan Arab tidak menghendaki Nubuwah dan Imamah dalam satu Bayt, peny.). Mereka memandang pemilihan demikian perlunya sehingga dengan meninggalkan persiapan pemakaman Nabi saw (Hak Rosul yang di sunnahkan kepada umatnya, yaitu menyegerakan mayit untuk dimakamkan, tidak berlaku untuk beliau saw, sehingga tubuh kaku Yang Mulia, Imam Agung terabaikan terbujur kaku selama 3 hari, 2 malam, karena Imam Ali as dan Fatimah Az Zahra, mengingatkan umat Muhammad atas baiatnya mereka di Ghadir Khum, tentang Haknya beliau sebagai pengganti Rosul, maka Imam pun kembali untuk menyelesaikan tugasnya untuk pemakaman Rosulullah, namun apa yang mereka katakan bahwa hal itu sudah terlambat, karena mereka sudah terlanjut membaiat Abu Bakar, peny. mereka berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan memilih Abu Bakar sebagai khalifah dengan suatu suatu pamer Demokrasi, demokrasi ala mantan Jahiliyah, karena Bani Hasyim, sebagai klan terbanyak, tidak ada yang hadir, peny.. 2)
    Ini adalah saat yang paling kritis bagi Amiril Mukminin as. Di sini, orang yang menaruh kepentingan tertentu menghasratkan agar dia (Ali as, peny.) mengangkat senjata, di sisi lain dia melihat bahwa orang-orang Arab yang telah menerima Islam karena tekanan militer sedang meninggalkannya dan Musailamah Si Pendusta (Al Kadzdzab) dan Tulailah bin Khuwailid sedang melemparkan suku demi suku ke dalam kesesatan.

    Dalam suasana itu, apabila timbul perang saudara dan kaum Muslim saling berperang maka kekuatan penghujat dan munafik akan bergabung dan menghancurkan Islam dari muka bumi. Oleh karena itu, maka Imam Ali as memilih diam ketimbang berjuang (atau memberontak kepada Abu Bakar, peny.); dengan tujuan untuk memelihara Persatuan Islam, dia memilih memprotes secara damai ketimbang mengangkat senjata. Ini disebabkan karena kekuasaan karena Kekuasaan Formal tidak begitu manis ketimbang Kemaslahatan Umat.
    Untuk menghentikan rekayasa kaum munafik dan mengalahkan maksud para pembuat bencana, tak ada jalan lain kecuali mengelakkan api peperangan (Hal inilah yang tidak terbaca atau dipahami oleh Para Penghujat Syiah, seolah-olah beliau as, ridho atas perbuatan mereka, peny.), dengan melepaskan klaimnya sendiri (sebagai satu-satunya Pemegang Kekuasaan Yang Syah untuk menghantarkan Risalah Nabi-Nya sampai Yaumul Kiamah, yang bergantian sesuai urutan yang sudah dikemukakan Rosul pada setiap kesempatan kepada umatnya, sampai akan diutarakan kembali pada detik-detik akhir hidupnya, namu terbantahkan oleh laku perbuatan Sahabat Terbaiknya, dan dia tidak merasa sudah keluar dari Nash-Nya, yang mewajibkan umatnya untuk berwasiat sebelum ajal menimpa dirinya, berarti beliau saw, tidak punya kesempatan menunaikan Haknya saw, adakah maksud lain yang terbenam dalam benaknya, hanya Allah SWT jualah yang Mahatahu akan sikapnya). Sebagai bahan renungan untuk menimbang sikap Sahabatnya saw, yaitu : “ Wahai Ali, barangsiapa yang tidak membaguskan wasiatnya menjelang kematiannya, maka dia termasuk AHLI NERAKA”. Dan apa yang bisa anda katakan pada kondisi diatas, sebelum paraghraph ini.

    Ini merupakan tindakan yang demikian agung demi Islam sehingga diakui oleh seluruh kalangan Muslim dan sebagian besar Muslim meniadakan esensinya, yang berdampak carut-marutnya diujung kehidupan, malah sekaligus meyakini bahwa Rukun Kepemimpinan, tidak mendatangkan ke Maslahatan, namun pada kenyataannya menjadi bumerang kepada dirinya, karena dalam fakta lapngan umat berjalan bagaikan “Domba Liar Tanpa ada Pengembala yang handal dan memadai” AS TAKEN A GRANTED.

    2) Disini akan saya tulis perbandingan yang terjadi di Yahudi dan Umat Islam, tentang penetapan Ilahi, disepelekan oleh umatnya, namun Yahudi jauh lebih gentle dari pada Umat Islam, sebagai contoh :
    Ketika Musa, mengangkat Harun sebagai wajirnya, atas permohonan dirinya dan diiyakan//disetujui Tuhannya, sebagian besar Bangsa Israel, dalam hal ini terwakilkan oleh 250 bangsa Israel dan dipimpin oleh :

    1. Datan,
    2. Abiram,
    3. On bin Pelet, orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang kenamaan untuk memberontak kepada Musa dan ini terungkap melalui :
    Bilangan [16]:[1-3] :

    “ Sekarang cukuplah itu!, segenap umat [baca; bangsa Israel] itu adalah orang-orang kudus (suci) dan Tuhan ada ditengah-tengah mereka, mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri [baca: keluarga Musa dan Harun serta suku Lewi] diatas Jemaat Tuhan”. Note : Musa dan Harun, bagaikan Muhammad dan Ali, sebagaimana dalam hadis selalu dikatakan oleh beliau saw, Musa dan Harun sama-sama suku Lewi, dan demikian juga Muhammad dan Ali, sama-sama dari Bani Hasim.

    Adapun di umat Islam, peristiwa Wisuda Ali oleh Rosul di Ghadir Khum, walau hanya terselang 6 bulan, sudah dilupakan mayoritas umat dan peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah, disinipun sama yang muncul ketika itu hanya Abu Bakar bin Qufahah dan Umar bin Khatab, juga kaum Muhajirin dan Anshor, maka terpilihlah Khalifah Pertama adalah Abu Bakar bin Qufahah.

    Anehnya, ketika Abu Bakar pun mendekati kematiannya, dengan lancarnya dia menunjuk langsung kepada Umar bin Khatab dan ini sudah diperkirakan oleh Imam Ali as, dengan ucapannya “Wahai Umar saat ini engkau sedang memeras susu untuk sahabatmu dan sekaligus untuk dirimu” dan benarlah bahwa setelah 2 (dua) tahun berkuasa, maka dengan penunjukkan langsung kepada dirinya, maka jadilah dia sebagai Ulil Amri kedua.
    Nah, ketika pembentukan 6 Formatur yang, terdiri dari :
    1. Ali bin Abi Thalib.
    2. Ustman bin Affan.
    3. Zubayr ibn al Awwam.
    4. Thalhah ibn Abdullah.
    5. Saad bin Waqqash.
    6. Abdurachman bin Auf

    Apa syarat yang dikemukakan oleh Umar bin Khatab, yaitu : Bila fakta menunjukkan posisi 50%:50% (3:3), maka salah satunya harus pindah pada kelompok yang ada : Abdurachman bin Auf.

  25. Dari sini sudah dapat disimpulkan, bahwa mayoritas Arab, tidak menghendaki Nubuwah dan Imamah dalam satu Bayt, dapat diwakilkan kepada Para Pemimpin Yang terhormat yang terdiri dari :
    1. Abu Bakar bin Qufahah,
    2. Umar bin Khatab,
    3. Abdurachman bin Auf.

    Adapun Usman bin Affan hanya korban konspirasi diantara mereka, dan akhirnya dia pun mengalami kematian yang tragis, bagaikan Preman Pasar dikeroyok oleh Para Pedagang Pasar, dan juga yang menyerahkan Tanah Fadak milik Rosul, yang disita Negara, malah diserahkan kepada menantu laki-lakinya, disini seharusnya bisa memberikan empati yang memadai kepada Rosul, kalaulah benar mereka itu adalah Para Mukmin Sejati, bukan hanya mampu menghujat Orang Lain, sementara kebusukan yang ada didalamnya, pura-pura tidak tahu, ini jauh lebih berbahaya kepada AKIDAH YANG SEBENARNYA.

    Bila dibandingkan denga Nasroni, maka dapat saya jelaskan disini :

    1. Di Nasroni Korban hanya 1, pada awalnya : yaitu :
    Seseorang yang diserupakan dengan Isa as, disalib dan mati dan beliau (Isa as) dinaikkan keatas atas Kehendak-Nya. Dari Buku Yudas Iskariot bukan Penghianat, karya Musadeq Marhaban, dimana yang jadi martyr itu adalah Yudas Iskariot itu sendiri, karena dari catatan Para Pendeta Keristen, mereka kebingungan dengan hilangnya Yudas Iskariot, malah ada yang menduga dia bunuh diri.
    2. Saul, mengisi kekosongan keberadaan Isa as, dengan mengangkat dirinya utusan ke 13 (dari buku the Hidden Prophecies, karya Mosadeq Marhaban), dan Isa as, menjadi Tuhan dengan Nama : Yesus.
    3. Pasca ketiadaan Isa as, setelah tahun 435 Masehi, setelah Concili Necea, adanya kesepakatan umum dengan ditunjang Kekuasaan Romawi, keyakinan Nasroni berubah dari Monotheis menjadi Trinitas, disinilah banyak ribuan umat dibakar, disalib dan dibunuh.

    Di Umat Islam,

    1. Awal pembunuhan pasca Rosul wafat, dan terbunuhnya Imam Ali as, sebagai Amiril Mukminin, dan selama berkuasanya Bani Umayyah dan Bani Abassiyah, total yang terbunuh adalah 11 dari 12 Keluarga Rosul dan disertai ribuan Para Korban Pendukung Keluarga Rosul berguguran.
    2. Para Paulus Islam yang sipatnya berjamaah, yang mendapat Legitimasi Pemerintahan Umayyah & Abasiyah membiarkan hadis-hadis palsu yang bergentayangan dalam tulisan-tulisan begitu saja.
    3. Qur’an tidak berubah, namun ribuan hadis terkontaminasi oleh hadis-hadis palsu yang dinisbathkan kepada Rosul, berkembang bagaikan jamur di musim hujan.
    4. Dampaknya adalah Keluarga Rosul yang terzalimi oleh sebagian besar umat Muhammad, terlupakan sudah tak dapat dielakkan lagi, sehingga dalam buku Ramalan Akhir Zaman Ali bin Abi Thalib, “ …..suatu ketika orang yang tak berilmu akan mengatakan, Allah SWT tidak memerlukan Keluarga Rosul”. Pas bila kita baca di blogger penghujat Syiah, dapat dipastikan Keluarga Rosul tidak ada nilainya, kecuali Fatimah, Hasan dan Husein, itupun dengan cerita tidak rinci baik ttg ahlaknya, amalannya, hadist-hadist yang diucapankannya.

  26. @ Abu Haladi.
    Semoga yg anda paparkan benar adanya, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi seseorang yg ingin mencari kebenaran yg sesungguhnya, bukan ‘kebenaran’ yg aslinya bathil tapi dianggap benar.

    “Mereka menjadikan
    orang-orang alimnya
    dan rahib-rahib mereka
    sebagai tuhan selain
    Allah dan (juga
    mereka mempertuhankan) Al
    Masih putera Maryam,
    padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” [AtTaubah 31]

    “Iblis berkata:
    Ya Rabbi, karena Engkau
    telah memutuskan
    bahwa aku sesat, maka
    pasti aku akan
    menjadikan mereka
    memandang baik
    (perbuatan maksiat) di
    muka bumi, dan pasti
    aku akan menyesatkan
    mereka semuanya.” (QS
    al-Hijr:39)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: