Apakah Imam Ali Menyiksa Kaum Syiah Dengan Api? : Menyingkap Dusta Salafy

Apakah Imam Ali Menyiksa Kaum Syiah Dengan Api? : Menyingkap Dusta Salafy

Salafy berdusta ketika mengatakan Imam Ali telah menyiksa kaum Syiah dengan membakar mereka. Salafy berdusta ketika menisbatkan bahwa kaum yang dibakar Imam Ali adalah termasuk dalam golongan Syiah. Salafy berdusta ketika mengatakan Imam Ali telah keliru atas tindakannya. Jadi apa fakta yang benar?. Bisa jadi Imam Ali memang membakar kaum zindiq [bukan kaum syiah] tetapi Beliau telah membunuh mereka terlebih dahulu sebagai hukuman atas kemurtadan mereka kemudian baru membakar jasad mereka, dan tindakan Imam Ali ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Kami telah membahas hadis-hadis yang dijadikan hujjah salafy untuk menyalahkan Imam Ali. Hadis-hadis tersebut tidak ada satupun yang selamat dari ‘illat [cacat] sehingga kami katakan pada tulisan sebelumnya bahwa kisah tersebut tidak tsabit. Kemudian kami meninjau kembali masalah ini dan kami temukan bahwa sebenarnya Imam Ali tidaklah membakar mereka hidup-hidup seakan-akan Imam Ali menyiksa mereka dengan api melainkan Imam Ali membakar jasad mereka setelah membunuh mereka. Beberapa riwayat memang tidak menyebutkan soal Imam Ali membunuh mereka terlebih dahulu melainkan hanya menyebutkan kalau Imam Ali membakar mereka tetapi hal ini dijelaskan dalam sebagian riwayat lain. Berikut diantaranya

حدثنا علي بن الجعد قال أخبرنا قيس بن الربيع قال أخبرنا أبو حصين عن قبيصة بن جابر قال أتي علي بزنادقة فقتلهم ثم حفر لهم حفرتين فأحرقهم فيها

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Ja’d yang berkata telah mengabarkan kepada kami Qais bin Rabi’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Hushain dari Qabishah bin Jaabir yang berkata “didatangkan kaum zindiq kepada Ali maka Beliau membunuh mereka kemudian menggali dua lubang dan membakar mereka didalamnya” [Al Isyraaf Fii Manaazilil Asyraaf Ibnu Abi Dunyaa no 268]

Riwayat Ibnu Abi Dunyaa ini juga disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 49/248 para perawinya tsiqat kecuali Qais bin Rabi’ ia seorang yang diperbincangkan.

  • Ali bin Ja’d Al Jauhariy adalah Syaikh [guru] Bukhari yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat shaduq”. Abu Zur’ah berkata “shaduq dalam hadis”. Abu Hatim berkata “mutqin shaduq”. Shalih bin Muhammad berkata “tsiqat”. Nasa’i berkata “shaduq”. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun”. Muthayyan berkata “tsiqat”. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit” [At Tahdzib juz 7 no 502]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/689]
  • Qais bin Rabi’ Al Asdiy adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Abu Hushain memuji Qais bin Rabi’. Syu’bah dan Sufyan Ats Tsawriy menyatakan ia tsiqat. Abu Walid berkata “tsiqat hasanul hadis”. A’mru bin Ali berkata telah mendengar Mu’adz bin Mu’adz memuji Qais bin Rabi’. Ahmad melemahkannya, Waki’ menyatakan ia dhaif. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Abu Zur’ah berkata “layyin”. Abu Hatim berkata “tidak kuat ditulis hadisnya tetapi tidak dijadikan hujjah, ia lebih aku sukai daripada Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Laila”. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ibnu Adiy berkata “kebanyakan riwayatnya lurus”.  Ibnu Hiban menyatakan ia shaduq tetapi jelek hafalannya. Al Ijli berkata “ia dikenal dalam hadis shaduq”. Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq tetapi mengalami idhthirab pada sebagian hadisnya”. Daruquthni menyatakan ia dhaif [At Tahdzib juz 8 no 698]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tetapi mengalami perubahan hafalan [At Taqrib 2/33].
  • Abu Hushain Al Asdiy adalah Utsman bin ‘Aashim bin Hushain perawi kutubus sittah yang tsiqat. Syu’bah meriwayatkan darinya itu berarti ia tsiqat menurut Syu’bah. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Yaqub bin Syaibah, Nasa’i dan Ibnu Khirasy menyatakan tsiqat. Yaqub bin Sufyan menyatakan “tsiqat tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Abdil Barr menyatakan kalau ia telah disepakati tsiqat hafizh [At Tahdzib juz 7 no 269]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/660]
  • Qabiishah bin Jaabir adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Nasa’i. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Sufyan berkata “ ia ikut bersama Ali dalam perang Jamal”. Yaqub bin Syaibah menyatakan ia termasuk thabaqat awal dari Fuqaha Ahlul Kufah setelah sahabat. [At Tahdzib juz 8 no 628]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat mukhadhramun” [At Taqrib 2/15]

Riwayat ini dikuatkan oleh riwayat Suwaid bin Ghafallah yang juga menyatakan kalau Imam Ali membunuh kaum zindiq tersebut terlebih dahulu baru kemudian membakar mereka. sebagaimana riwayat berikut

حدثنا يحيى بن عبد الحميد الحماني أن أبا بكر بن عياش حدثهم عن أبي حصين عن سويد بن غفلة أن عليا رضي الله عنه قتل زنادقة ثم أحرقهم ثم قال صدق الله ورسوله

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin ‘Abdul Hamid Al Himmaniy bahwa Abu Bakar bin ‘Ayasy menceritakan kepada mereka dari Abi Hushain dari Suwaid bin Ghafallah bahwa Ali radiallahu ‘anhu membunuh kaum zindiq kemudian membakar mereka kemudian berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya” [Raad Ala Al Jahmiyyah Ad Darimi no 193]

أخبرنا الشافعي قال أخبرنا أبو بكر بن عياش عن ابن حصين عن سويد بن غفلة أن عليا رضى الله عنه أتى بزنادقة فخرج بهم إلى السوق فحفر لهم حفرا فقتلهم ثم رمى بهم في الحفر فحرقهم بالنار

Telah mengabarkan kepada kami Asy Syafi’i yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayasy dari Ibnu Hushain dari Suwaid bin Ghafallah bahwa didatangkan kepada Ali kaum zindiq kemudian Beliau keluar menuju pasar menggali lubang dan membunuh mereka kemudian Beliau melemparkan mereka ke dalam lubang dan membakar mereka dengan api [Al Umm Asy Syafi’i 7/192]

Riwayat Asy Syafi’i di atas juga diriwayatkan Baihaqi dalam Ma’rifat As Sunan no 5289. Riwayat Asy Syafi’i di atas para perawinya tsiqat hanya saja Abu Bakar bin ‘Ayasy bermasalah pada hafalannya. Asy Syafi’i memiliki mutaba’ah yaitu dari Yahya bin ‘Abdul Hamid Al Himmaniy sebagaimana yang terlihat di atas

  • Abu Bakar bin ‘Ayyaasy. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”, Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat, Utsman Ad Darimi berkata “termasuk orang yang jujur tetapi laisa bidzaka dalam hadis”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].
  • Abu Hushain Al Asdiy adalah Utsman bin ‘Aashim bin Hushain perawi kutubus sittah yang tsiqat. Syu’bah meriwayatkan darinya itu berarti ia tsiqat menurut Syu’bah. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Yaqub bin Syaibah, Nasa’i dan Ibnu Khirasy menyatakan tsiqat. Yaqub bin Sufyan menyatakan “tsiqat tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Abdil Barr menyatakan kalau ia telah disepakati tsiqat hafizh [At Tahdzib juz 7 no 269]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/660]
  • Suwaid bin Ghafallah termasuk perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ia menemui masa Jahiliyah dikenal meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 488].

Terdapat riwayat lain yaitu riwayat Abu Idris yang menyebutkan kalau Imam Ali membunuh kaum zindiq tersebut tanpa menyebutkan soal pembakaran.

حدثناه يحيى بن يحيى أنبأ هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس قال أتي علي بن أبي طالب بقوم من الزنادقة فأنكروا فقامت عليهم البينة فقتلهم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata telah memberitakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abu Idris yang berkata “didatangkan kepada Ali kaum zindiq dan mengingkarinya, ditegakkan atas mereka bukti-bukti maka Beliau membunuh mereka [Raad Ala Al Jahmiyyah Ad Darimi no 195]

Riwayat di atas para perawinya tsiqat dan Abu Idris ia adalah Abu Idris Yazid bin ‘Abdurrahman Al Awdiy [Tahdzib Al Kamal 3/98 no 447] seorang tabiin tsiqat yang mendengar hadis dari Ali bin Abi Thalib.

  • Yahya bin Yahya At Tamimi adalah Yahya bin Yahya bin Bakir Abu Zakariya An Naisabury perawi Bukhari Muslim Nasa’i dan Tirmidzi. Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat. ‘Abbas bin Mush’ab dan Ahmad bin Sayaar menyatakan ia tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit” terkadang berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 479]
  • Husyaim bin Basyiir adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Mahdiy berkata “Husyaim lebih hafal hadis dari Sufyan Ats Tsawriy”. Al Ijli menyatakan ia tsiqat dan melakukan tadlis. Abu Hatim berkata “tsiqat dan ia lebih hafizh dari Abu Awanah”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat tetapi banyak melakukan tadlis. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “melakukan tadlis”. [At Tahdzib juz 11 no 100]
  • Ismail bin Salim Al Asdiy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Ahmad berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah, Abu Hatim, Nasa’i, Ibnu Khirasy dan Daruquthni menyatakan tsiqat. Yaqub Al Fasawi berkata “tidak ada masalah padanya seorang kufah yang tsiqat”. Abu ‘Ali Al Hafizh menyatakan tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 554]
  • Abu Idris adalah Yazid bin ‘Abdurrahman Al Awdiy termasuk perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 562].

Riwayat di atas mengandung kelemahan lain yaitu Husyaim bin Basyiir yang dikatakan melakukan tadlis tetapi kelemahan ini terangkat dengan adanya riwayat Husyaim bin Basyiir yang menegaskan penyimakannya dari Ismail bin Salim seperti yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Ahlu Al Milal Wa Ar Riddah Min Jaami’ Al Khallaal no 138.

Riwayat seputar kisah pembakaran ini memang tidak ada satupun yang tsabit dan sangat nampak bahwa para perawi hanya meriwayatkan sebagian dari kisah tersebut sehingga bisa dimaklumi terdapat riwayat yang hanya menyebutkan soal pembakaran saja, terdapat riwayat yang menyatakan kalau sebelum dibakar mereka sudah dibunuh terlebih dahulu dan terdapat riwayat yang menyebutkan kalau mereka dibunuh tanpa menyebutkan soal pembakaran. Jika kita menerapkan metode penjamakan maka dengan mengumpulkan semua riwayat tentang itu dapat disimpulkan bahwa Imam Ali telah membunuh kaum zindiq terlebih dahulu baru kemudian membakar jasad mereka. Hal ini Beliau lakukan atas petunjuk dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana yang nampak dalam riwayat Suwaid bahwa Imam Ali berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Tidak lain perkataan itu menunjukkan kalau Imam Ali telah mendapat petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perkara ini.

حدثنا أحمد بن عبدة الضبي البصري حدثنا عبد الوهاب الثقفي حدثنا أيوب عن عكرمة أن عليا حرق قوما ارتدوا عن الإسلام فبلغ ذلك ابن عباس فقال لو كنت أنا لقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم من بدل دينه فاقتلوه ولم أكن لأحرقهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تعذبوا بعذاب الله فبلغ ذلك عليا فقال صدق ابن عباس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Adh Dhabiiy Al Bashri yang menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahaab Ats Tsaqafiiy yang menceritakan kepada kami Ayub dari Ikrimah bahwa Ali membakar kaum yang murtad dari islam maka sampailah itu kepada Ibnu Abbas. Ia berkata “Jika itu adalah aku maka aku akan membunuh mereka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “barang siapa yang meninggalkan agamanya maka bunuhlah ia” dan aku tidak akan membakar mereka sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “janganlah menyiksa dengan siksaan Allah SWT” maka sampailah itu kepada Ali dan ia berkata “benarlah Ibnu Abbas” [Sunan Tirmidzi 4/59 no 1458]

Riwayat Ibnu Abbas di atas menunjukkan bagaimana pengingkarannya terhadap apa yang dilakukan Imam Ali dengan membawakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Salafy berhujjah dengan hadis ini untuk menyatakan kalau Imam Ali telah salah dalam tindakannya. Sebenarnya yang keliru disini adalah Ibnu Abbas, ia tidaklah menyaksikan langsung peristiwa tersebut sehingga ketika sampai kabar tersebut kepadanya maka ia mengira Imam Ali membakar mereka hidup-hidup sehingga Ibnu Abbas mengingkarinya dengan hadis marfu’ “jangan menyiksa dengan siksaan Allah SWT”.

Perkataan Ibnu Abbas “jika itu adalah aku maka aku akan membunuh mereka” adalah bukti kalau Ibnu Abbas tidak menyaksikan peristiwa tersebut karena nampak dalam riwayat-riwayat di atas bahwa memang itulah yang dilakukan Imam Ali. Imam Ali memang membunuh mereka baru kemudian membakar mereka. Jadi Imam Ali tidaklah menyiksa kaum zindiq tersebut dengan api seperti yang dituduhkan.

Adapun perkataan Imam Ali “benarlah Ibnu Abbas” adalah lafaz yang dhaif. Lafaz perkataan ini adalah milik Ikrimah dan ia menyendiri dalam meriwayatkannya. Sanad hadis Tirmidzi tersebut berakhir pada Ikrimah dan ia lah yang sedang bercerita tentang perkataan Ibnu Abbas dan perkataan Imam Ali. Mengenai perkataan Ibnu Abbas maka itu shahih  dari Ikrimah tetapi mengenai perkataan Imam Ali maka itu dhaif karena Abu Zur’ah berkata “riwayat Ikrimah dari Ali adalah mursal” [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/158 no 585]. Jadi dari sisi ini gugurlah hujjah salafy bahwa Imam Ali membenarkan pengingkaran Ibnu Abbas. Anehnya salafy yang lucu itu tidak paham illat [cacat] yang telah kami jelaskan, ia pikir kami mendhaifkan semua riwayatnya padahal yang kami dhaifkan adalah lafaz perkataan Imam Ali. Kelucuan itu semakin bertambah menyedihkan ketika ia berkata

‘Aliy bin Al-Husain rahimahullah menolak kecintaan-kecintaan berlebihan berlebihan ala Syi’ah yang telah mencapai derajat ‘menuhankan’ Ahlul-Bait. Maka, ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu pernah membakar mereka sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa riwayat shahih

Perkataan di atas disebutkan oleh salah seorang salafy dan ini adalah perkataan dusta. Ada dua kedustaan, pertama Syiah yang kami ketahui [jika yang ia maksud Syiah adalah Syiah Imamiyah, Zaidiyah dan Ismailiyah] tidak pernah mencintai Ahlul Bait sampai ke taraf menuhankan mereka. Kedustaan kedua ia mengatakan bahwa Imam Ali telah membakar Syiah yang menuhankan mereka seperti dalam riwayat shahih maka ini sangat jelas kedustaannya.

Kami belum menemukan adanya riwayat shahih kalau yang dibakar oleh Imam Ali itu adalah kaum Syiah yang menuhankan Ahlul Bait. Riwayat-riwayat shahih yang dikatakan salafy itu justru menentang perkataannya. Misalnya dalam riwayat Ikrimah disebutkan kalau yang dibakar adalah kaum yang murtad dari islam atau kaum zindiq. Dalam riwayat Anas yang dishahihkan salafy tersebut mereka adalah orang Zuth penyembah berhala. Dalam riwayat Ubaid bin Nisthaas disebutkan kalau mereka adalah para penyembah berhala dan berpura-pura islam. Dimanakah riwayat shahih salafy kalau yang dibakar adalah kaum syiah?.

Memang terdapat satu riwayat yang ia kutip dari Ibnu Hajar soal kaum yang menuhankan Imam Ali yaitu riwayat Syarik Al ‘Amiri. Jika salafy itu menyatakan ini riwayat yang dimaksud maka kami persilakan ia belajar kembali ilmu hadis dan silakan lihat apakah benar riwayat tersebut shahih. Tidak ada satupun ulama yang menta’dil Syarik Al Aamiri, Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Al Jarh Wat Ta’dil 4/365 no 1598] begitu pula Bukhari menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2659] sedangkan yang meriwayatkan darinya hanya satu orang yaitu anaknya ‘Abdullah bin Syarik Al ‘Amiri. Bukankah ini menunjukkan kalau Syarik adalah perawi majhul ‘ain maka riwayatnya dhaif dari sisi ini apalagi Ibnu Hajar tidak membawakan sanadnya dengan lengkap maka terdapat kemungkinan illat [cacat] yang lain. Dan yang paling jelas [entah jelas atau tidak dalam mata salafy itu] dalam riwayat tersebut tidak ada lafaz yang menyebutkan kalau mereka adalah kaum Syiah.

Jika salafy itu menyatakan bahwa Syiah adalah kaum yang dibakar oleh Imam Ali maka tunjukkan satu bukti kalau dalam aqidah Syiah [Imamiyah dan Zaidiyah] yang diyakini oleh kaum Syiah bahwa mereka menuhankan Imam Ali. Jika tidak mampu maka silakan akui kalau anda salafy sedang berdusta. Tingkah salafy yang sok mengutip sana sini sambil membuat kesimpulan ngawur adalah perkara yang menggelikan. Kelihatan pintar oleh orang awam tetapi terlihat menyedihkan bagi orang yang paham. Sangat disayangkan ulah ngawur yang mungkin ia anggap sepele adalah perkara berat terkait tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ahlul Bait. Merendahkan mazhab lain dalam islam dengan menisbatkan hal-hal dusta termasuk perbuatan yang zalim. Kami sering melihat orang-orang yang karena kebenciannya terhadap mazhab lain mereka bermudah-mudahan dalam berlaku zalim. Mereka bersemangat membuat kedustaan atas mazhab tersebut padahal mazhab tersebut berlepas diri dari apa yang mereka nisbatkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu selalu menegakkan [kebenaran] karena Allah menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berlaku adillah karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [QS Al Maidah : 8]

Iklan

42 Tanggapan

  1. pertamax…..sblm nyalap qiqiiqiqi

  2. Apabila Salafy mengatakan Syiah Imamiyah atau Syiah Zaidiyah yang dibakar Imam Ali. Maka mereka adalah pembohong dan pebdusta yang terang benderang.
    Syiah Zaidiyah dibentuk oleh penyinta Zaid b. Ali b. Zainal Abidin dan Imam Ali sudah tdk berada didunia ini. Begitu juga Syiah Imamiyah dibentuk oleh pencinta Ahlulbait (yang kedudukan mereka diakui sebagai IMAM) pada masa Imam Jafar As Shadiq, Karena Syiah Imamiyah pegangan mereka adalah Mahzab Jafariyah.
    Kalau yang dibakar itu Syiah Ali. Lebih tdk mungkin lagi. Karena Yang disebut Syiah Ali pada waktu bisa dihitung dengan jari. Dan ketaatan mereka terhadap Allah dan Rasul jauh lebih dari sahabat2 yang lain. Wasalam

  3. Salafy memang suka begitu..

  4. Mimpi sebelum tidur alias menghayal tuh salafy..hahaha

  5. Salafinya sdh ga mau diskusi nih paling mereka ngomnya tdk ada manfaatnya diskusi dg ahlul bid’ah…

  6. Riwayat Ibnu Abbas di atas menunjukkan bagaimana pengingkarannya terhadap apa yang dilakukan Imam Ali dengan membawakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Salafy berhujjah dengan hadis ini untuk menyatakan kalau Imam Ali telah salah dalam tindakannya. Sebenarnya yang keliru disini adalah Ibnu Abbas, ia tidaklah menyaksikan langsung peristiwa tersebut sehingga ketika sampai kabar tersebut kepadanya maka ia mengira Imam Ali membakar mereka hidup-hidup sehingga Ibnu Abbas mengingkarinya dengan hadis marfu’ “jangan menyiksa dengan siksaan Allah SWT”.

    Perkataan Ibnu Abbas “jika itu adalah aku maka aku akan membunuh mereka” adalah bukti kalau Ibnu Abbas tidak menyaksikan peristiwa tersebut karena nampak dalam riwayat-riwayat di atas bahwa memang itulah yang dilakukan Imam Ali. Imam Ali memang membunuh mereka baru kemudian membakar mereka. Jadi Imam Ali tidaklah menyiksa kaum zindiq tersebut dengan api seperti yang dituduhkan.

    cari-cari alasan :mrgreen:

    Adapun perkataan Imam Ali “benarlah Ibnu Abbas” adalah lafaz yang dhaif. Lafaz perkataan ini adalah milik Ikrimah dan ia menyendiri dalam meriwayatkannya. Sanad hadis Tirmidzi tersebut berakhir pada Ikrimah dan ia lah yang sedang bercerita tentang perkataan Ibnu Abbas dan perkataan Imam Ali. Mengenai perkataan Ibnu Abbas maka itu shahih dari Ikrimah tetapi mengenai perkataan Imam Ali maka itu dhaif karena Abu Zur’ah berkata “riwayat Ikrimah dari Ali adalah mursal” [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/158 no 585]. Jadi dari sisi ini gugurlah hujjah salafy bahwa Imam Ali membenarkan pengingkaran Ibnu Abbas. Anehnya salafy yang lucu itu tidak paham illat [cacat] yang telah kami jelaskan, ia pikir kami mendhaifkan semua riwayatnya padahal yang kami dhaifkan adalah lafaz perkataan Imam Ali. Kelucuan itu semakin bertambah menyedihkan ketika ia berkata

    bisanya cuma cari-cari alasan 😆

    Jika salafy itu menyatakan bahwa Syiah adalah kaum yang dibakar oleh Imam Ali maka tunjukkan satu bukti kalau dalam aqidah Syiah [Imamiyah dan Zaidiyah] yang diyakini oleh kaum Syiah bahwa mereka menuhankan Imam Ali. Jika tidak mampu maka silakan akui kalau anda salafy sedang berdusta. Tingkah salafy yang sok mengutip sana sini sambil membuat kesimpulan ngawur adalah perkara yang menggelikan. Kelihatan pintar oleh orang awam tetapi terlihat menyedihkan bagi orang yang paham. Sangat disayangkan ulah ngawur yang mungkin ia anggap sepele adalah perkara berat terkait tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ahlul Bait. Merendahkan mazhab lain dalam islam dengan menisbatkan hal-hal dusta termasuk perbuatan yang zalim. Kami sering melihat orang-orang yang karena kebenciannya terhadap mazhab lain mereka bermudah-mudahan dalam berlaku zalim. Mereka bersemangat membuat kedustaan atas mazhab tersebut padahal mazhab tersebut berlepas diri dari apa yang mereka nisbatkan.

    kacian….kacian….. :mrgreen:

    baca ini baik2, biar nyadar!!!!

    disebutkan dalam kitab syiah sendiri:

    Mustadrak al-Wasa`il, karya Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi, hal 121:

    محمد بن علي بن شهر آشوب في المناقب : روي أن سبعين رجلامن الزط أتوه يعني أمير المؤمنين (عليه السلام) بعد قتال أهل البصرة ، يدعونه الها بلسانهم، وسجدوا له ، فقال لهم: “ويلكم لاتفعلوا، انما انا مخلوق مثلكم ” فأبوا عليه ، فقال: ” لئن لم ترجعوا عما قلتم في، وتتوبوا الى الله ، لأقتلنكم ” قال: فأبوا، فخذ علي (عليه السلام) لهم أخاديد واوقد نارا، فكان قنبر يحمل الرجل بعد الرجل على منكبه فيقذفه في النار، ثم قال (عليه السلام ): ” إني اذا أبصرت امرا منكرا أوقدت نارا ودعوت قنبرا ثم احتفرت حفرا فحفرا وقنبرا(يحطم حطما) منكرا ”

    Muhammad bin Ali bin Syhar Asyub dalam al-Manaqib meriwayatkan bahwa ada 70 laki2 dari Zith mendatangi Ali setelah pembantaian penduduk Bashrah, mereka lalu memanggil Ali Tuhan dan bersujud kepadanya, namun Ali berkata, celaka kalian, jangan katakan itu, aku ini manusia sama seperti kalian, mereka tak menanggapinya, dan terus bersujud, lalu Ali berkata, seandainya kalian tidak menarik kembali ucapan kalian, dan bertaubat kepada Allah maka akan ku bunuh kalian, sayangnya mereka tetap tak peduli dengan ucapan Ali. Lalu Ali menyeret mereka dan mulai menyalakan api, adapun mengambil kayu bakar dan membakar mereka. Adapun Qanbur menyeret mereka satu persatu dan melempar mereka ke dalam api. Lalu Ali berkata, Aku, apabila melihat perkara mungkar, maka aku akan meyalakan api, lalu memanggil Qanbar, lalu ku gali lubang satu persatu dan Qanbar siap mengeksekusi kemungkaran ……

    wasalam… 8)

  7. Salafinya kelihatannya sdh ga mau diskusi.
    Mending membahas topik yg baru kalau ga ngerepotin tlg mas SP bahas ttg imam 12 di tinjau dari sudut pandang suni berdasarkan dalil2 yg ada. Tks

  8. @wah abi thalib

    kacian….kacian….. :mrgreen:

    baca ini baik2, biar nyadar!!!!

    disebutkan dalam kitab syiah sendiri:

    Mustadrak al-Wasa`il, karya Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi, hal 121:

    ah cari-cari alasan buat nuduh syiah, Silakan anda perhatikan baik-baik tulisan di atas, adakah satu saja riwayat dari kitab syiah? tidak ada, terus siapa yang sedang anda ajak bicara disini, apakah si penulis artikel? wah maaf ya dia bukan orang syiah jadi gak relevan hujjah dari kitab syiah yang anda bawa.

    Mustadrak al-Wasa`il, karya Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi, hal 121:

    محمد بن علي بن شهر آشوب في المناقب : روي أن سبعين رجلامن الزط أتوه يعني أمير المؤمنين (عليه السلام) بعد قتال أهل البصرة ، يدعونه الها بلسانهم، وسجدوا له ، فقال لهم: “ويلكم لاتفعلوا، انما انا مخلوق مثلكم ” فأبوا عليه ، فقال: ” لئن لم ترجعوا عما قلتم في، وتتوبوا الى الله ، لأقتلنكم ” قال: فأبوا، فخذ علي (عليه السلام) لهم أخاديد واوقد نارا، فكان قنبر يحمل الرجل بعد الرجل على منكبه فيقذفه في النار، ثم قال (عليه السلام ): ” إني اذا أبصرت امرا منكرا أوقدت نارا ودعوت قنبرا ثم احتفرت حفرا فحفرا وقنبرا(يحطم حطما) منكرا ”

    Muhammad bin Ali bin Syhar Asyub dalam al-Manaqib meriwayatkan bahwa ada 70 laki2 dari Zith mendatangi Ali setelah pembantaian penduduk Bashrah, mereka lalu memanggil Ali Tuhan dan bersujud kepadanya, namun Ali berkata, celaka kalian, jangan katakan itu, aku ini manusia sama seperti kalian, mereka tak menanggapinya, dan terus bersujud, lalu Ali berkata, seandainya kalian tidak menarik kembali ucapan kalian, dan bertaubat kepada Allah maka akan ku bunuh kalian, sayangnya mereka tetap tak peduli dengan ucapan Ali. Lalu Ali menyeret mereka dan mulai menyalakan api, adapun mengambil kayu bakar dan membakar mereka. Adapun Qanbur menyeret mereka satu persatu dan melempar mereka ke dalam api. Lalu Ali berkata, Aku, apabila melihat perkara mungkar, maka aku akan meyalakan api, lalu memanggil Qanbar, lalu ku gali lubang satu persatu dan Qanbar siap mengeksekusi kemungkaran ……

    Maaf anda menanggapi komentar saya yaitu tidak ada riwayat bahwa yang dibakar Imam Ali adalah Syiah yang menuhankan Ahlu Bait. Perkataan saya tersebut jelas merujuk pada riwayat kitab ahlus sunnah atau sunni. Jadi terlepas dari ada tidaknya riwayat syiah itu tidak relevan sebagai hujjah

    Kedua saya bukan orang syiah, mana saya tahu riwayat yang anda kutip shahih atau tidak di sisi Syiah. Bisa saja tuh anda mencatut riwayat dhaif sesuka hati anda. Nah silakan tuh kalau memang anda mampu buktikan riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi syiah.

    Ketiga, secara saya membaca teks riwayat, tidak ada satupun bukti atau lafaz yang menunjukkan kalau orang yang dibakar itu dari golongan Syiah, mereka yang menuhankan ahlul bait itu adalah orang Zuth

    Keempat, sevatas pengetahuan saya, orang Syiah sendiri menyatakan mereka yang menuhankan ahlul bait sebagai kafir, dan dalam akidah syiah tidak ada satupun ajaran yang menuhankan ahlul bait. Jadi mereka yang menuduh syiah menuhankan ahlul bait cuma orang-orang yang suka menzalimi mazhab lain dengan tuduhan dusta.

    btw saran saya kalau mau berhujjah tolong bersikap kritis sedikit biar enak gitu loh :mrgreen:

  9. ah cari-cari alasan buat nuduh syiah, Silakan anda perhatikan baik-baik tulisan di atas, adakah satu saja riwayat dari kitab syiah? tidak ada, terus siapa yang sedang anda ajak bicara disini, apakah si penulis artikel? wah maaf ya dia bukan orang syiah jadi gak relevan hujjah dari kitab syiah yang anda bawa.

    kalau bukan syiah, wahabi dong!!!! :mrgreen:
    atau bisa jadi SYIHAB (marga yang ngaku keturunan nabi itu tuh) 🙄

    SYIHAB = SYIah waHABi 😆

    halah dsar kau 😛 ngeles mulu, sampai saya ikut-ikutan mules dengarnya!!!

    Maaf anda menanggapi komentar saya yaitu tidak ada riwayat bahwa yang dibakar Imam Ali adalah Syiah yang menuhankan Ahlu Bait. Perkataan saya tersebut jelas merujuk pada riwayat kitab ahlus sunnah atau sunni. Jadi terlepas dari ada tidaknya riwayat syiah itu tidak relevan sebagai hujjah

    biasa 🙄 , lagu lama syiah :mrgreen: , udah basi, hari gini, ngga penting ditanggepin, ngga ada isinya :mrgreen:

    Kedua saya bukan orang syiah, mana saya tahu riwayat yang anda kutip shahih atau tidak di sisi Syiah. Bisa saja tuh anda mencatut riwayat dhaif sesuka hati anda. Nah silakan tuh kalau memang anda mampu buktikan riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi syiah.

    kalau iya gimana, anda mau ngga jadi budak saya seumur hidup 😆

    Ketiga, secara saya membaca teks riwayat, tidak ada satupun bukti atau lafaz yang menunjukkan kalau orang yang dibakar itu dari golongan Syiah, mereka yang menuhankan ahlul bait itu adalah orang Zuth

    idih ngga baca/tau sejarah, wajar aja bukan orang syiah sih :mrgreen:

    Keempat, sevatas pengetahuan saya, orang Syiah sendiri menyatakan mereka yang menuhankan ahlul bait sebagai kafir, dan dalam akidah syiah tidak ada satupun ajaran yang menuhankan ahlul bait. Jadi mereka yang menuduh syiah menuhankan ahlul bait cuma orang-orang yang suka menzalimi mazhab lain dengan tuduhan dusta.

    syiah itu banyak mpe, hadis di atas terjadi sebelum adanya syiah 12 imam atau syiah lainnya, itu adalah riwayat syiah jaman awal2 bukan sekarang, yang anda sampaikan itu udah ngga relevan karena riwayat itu terjadi jaman duluuuuuuu cekali, sementara yang mengatakan kafir itu baru lahir kemaren soreeeeeeee

    btw saran saya kalau mau berhujjah tolong bersikap kritis sedikit biar enak gitu loh

    memangnya yang ngga kritis di sini siapa sih?? 😆

  10. @ wah abi thalib

    Kedua saya bukan orang syiah, mana saya tahu riwayat yang anda kutip shahih atau tidak di sisi Syiah.

    wajar aja si secondprince ini tidak mau ngaku syiah, orang dia malu :mrgreen: , karena hadis-hadis syiah banyak yang ngga jelas sanad dan rawinya :mrgreen: makanya dia ngga mau pake hadis syiah, lebih baik dia memilih menjadi Ahlussunnah Wahabi… :mrgreen:

  11. @wah abi thalib
    kalau cuma main jawab-jawaban doang, saya gak ikutan. Kalau mau diskusi argumen atau hujjah ya silakan, wahamnya itu memang khas, udah dibilang saya bukan syiah eh masih ngeyel waham waham dan gaya bahasanya familiar sekali :mrgreen:

    btw kalau memang anda punya itikad baik, coba tolong tunjukkan apakah riwayat syiah yang anda bawakan dari kitab mustadrak wasa’il itu shahih?. Silakan bawakan sanadnya beserta para perawinya dan analisis apakah mereka tsiqat atau tidak di sisi Syiah?. Berdiskusilah dengan cara yang baik 🙂

  12. Baik, saya mau nanya dulu, Anda kenal

    Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi??

    sepertinya Anda memang bukan syiah dan sangat 2 tak pantas menjadi syiah (dalam artian pengikut Ahlul Bait sesungguhnya), jadi tak mengenal beliau?!! 😆

    Anda kan sering ngutip al-Albani untuk menguatkan pendapat Anda yang nakal tersebut, nah Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi selevel Albani (kalau anda wahabi) dalam hal kepercayaan umat syiah terhadap kemampuannya. dan sangat lucu, bila dalam kitabnya beliau mencatut hadis palsu/lemah sebagaiman yang saya bawakan di atas

    dan kitab mustadrak wasa’il adalah berisi hadis yang disleksi sekali oleh Mirza ath-Thabrasi, kalau anda sering baca kitab al-Albani tingkatannya selevel dengan kitab silsilah hadis shahih milik beliau, hanya saja ulama hadis syiah jarang sekali memberi judul kitab2 mereka dengan istilah shahih meskipun hadis di dalmnya shahih…

    kalau belum paham, daripada anda asal bicara, baca di sini dulu,

    http://al-shia.org/html/ara/others/?mod=monasebat&id=133

    nanti saya bahas lebih lanjut,

  13. @wah abi thalib

    Anda kan sering ngutip al-Albani untuk menguatkan pendapat Anda yang nakal tersebut, nah Al-Muhaddits Mirza Husein an-Nuri ath-Thabrasi selevel Albani (kalau anda wahabi) dalam hal kepercayaan umat syiah terhadap kemampuannya. dan sangat lucu, bila dalam kitabnya beliau mencatut hadis palsu/lemah sebagaiman yang saya bawakan di atas

    ada banyak sekali contoh para ulama yang mu’tabar dimana kitab mereka mengandung hadis hadis dhaif, diantaranya ada Ath Thabari, Ath Thabrani, Daruquthni, Ibnu Majah, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Jadi seorang ulama membawakan hadis dhaif dalam kitabnya adalah perkara ma’ruf.

    Maka dari itu cara pamungkas untuk menentukan shahih tidaknya riwayat ya berdasarkan ilmu hadis atau ilmu rijal. Dan itulah yang saya sarankan kepada anda.

    dan kitab mustadrak wasa’il adalah berisi hadis yang disleksi sekali oleh Mirza ath-Thabrasi, kalau anda sering baca kitab al-Albani tingkatannya selevel dengan kitab silsilah hadis shahih milik beliau, hanya saja ulama hadis syiah jarang sekali memberi judul kitab2 mereka dengan istilah shahih meskipun hadis di dalmnya shahih…

    Apakah Husein Nuri itu menyatakan dengan jelas dalam kitabnya bahwa semua riwayat yang ada dalam kitabnya shahih?. Selagi tidak ada perkataan jelas dari Husein An Nuri maka pernyataan anda hanyalah klaim semata. Lagipula dimana2 gak ada kok ulama yang mengatakan shahih tanpa ia tahu sanad para perawinya, memang ulama menshahihkan hadis itu pakai apa? ya sudah pasti pakai ilmu hadisnya kan, nah saya sih simpel saja. Silakan tuh anda bawakan sanad yang lengkap soal riwayat yang anda kutip dan analisis dengan ilmu rijal di sisi Syiah.

    sekedar mengingatkan anda, riwayat yang anda kutip itu sebenarnya bukan riwayat hadis dari Husein An Nuri, ia pun sebenarnya mengutip seperti yang anda tulis “Muhammad bin Ali bin Syhar Asyub dalam al-Manaqib meriwayatkan bahwa”. Kutip mengutip riwayat dhaif adalah ma’ruf di sisi ulama. tidak perlu disebutkan banyak sekali ulama sunni yang mengutip riwayat dhaif diantaranya seperti yang tertera dalam berbagai kitab tafsir.

  14. @si komo

    wajar aja si secondprince ini tidak mau ngaku syiah, orang dia malu :mrgreen: , karena hadis-hadis syiah banyak yang ngga jelas sanad dan rawinya :mrgreen: makanya dia ngga mau pake hadis syiah, lebih baik dia memilih menjadi Ahlussunnah Wahabi…

    Tuh kan bener waham, sudah jelas anda memang menderita waham :mrgreen:

  15. Sok mengkutip hadits syiah biar dikatakan nambah wawasan padahal sok tahu, kalau berani anda kemukakan tuh sanad dan rijalnya pake aturan hadits sunni, apa anda mampu? Mungkin selevel syaikhnya wahabi indonesia saja tdk mampu seperti, muhammad umar assewed dll, karena bagi faham wahabi baru pegang kitab syi’ah saja sdh jijik apalagi utk menggali yg dlm. Inilah bentuk fanatik buta..

  16. ada banyak sekali contoh para ulama yang mu’tabar dimana kitab mereka mengandung hadis hadis dhaif, diantaranya ada Ath Thabari, Ath Thabrani, Daruquthni, Ibnu Majah, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Jadi seorang ulama membawakan hadis dhaif dalam kitabnya adalah perkara ma’ruf.

    beginilah bicaranya orang jahil, (sori ya bukan hinaan tapi kenyataan) :mrgreen:

    kamu ini sepertinya masih katro jadi ngomongya ngasal!!! 

    ulama yang kamu sebutkan tadi adalah kolektor hadis, mereka meriwayatkan hadis sekaligus mengumpulkannya, terkdang mereka menggabungkan semua hadis, terkdang memisahkan, ada yang shahih, dhaif dll

    ITU BEDA SEKALI DENGAN AL-ALBANI DAN AN-NURI, MEREKA BEDUA INI lahir belakangan, dan TIDAK MERIWAYAKTKAN HADIS sebagaimana mereka yang kamu sebutin, MEREKA INI ALALIST HADIS, kerjanya memverivikasi kembali hadis-hadis tersebut,
    Jadi mohon anda itu belajar yang giat lagi :mrgreen:

    Maka dari itu cara pamungkas untuk menentukan shahih tidaknya riwayat ya berdasarkan ilmu hadis atau ilmu rijal. Dan itulah yang saya sarankan kepada anda.

    o gitu ya, kalo boleh saya nilai, takhrij hadis kamu dalam blog kamu itu, nilainya cuma 1 dari 1-100. itu juga cuma nilai usah kamu menerjemahkan sumber yang sudah ada??? sisanya hanya “perasaan” kamu saja yang bermain….kamu pikir saya ngga tahu..hihihihihi :mrgreen:

    sekedar mengingatkan anda, riwayat yang anda kutip itu sebenarnya bukan riwayat hadis dari Husein An Nuri, ia pun sebenarnya mengutip seperti yang anda tulis “Muhammad bin Ali bin Syhar Asyub dalam al-Manaqib meriwayatkan bahwa”. Kutip mengutip riwayat dhaif adalah ma’ruf di sisi ulama. tidak perlu disebutkan banyak sekali ulama sunni yang mengutip riwayat dhaif diantaranya seperti yang tertera dalam berbagai kitab tafsir.

    situ punya malu ngga sih :mrgreen:
    omongan situ itu sangat katro sekali, ketahuan sekali jahilnya 😆
    Husein nuri itu itu ahli hadis yang lahir belakangan, udah ngga riwayatin hadis lagi, beliau cuma memverivikasi ulang kembali hadis 2 yng udah ada…
    Ya udah kalau gitu, saya ngga lanjutin lagi bicara mengenai hadis di atas, karena kita sudah sama2 tahu di syiah tak ada satupun hadis shahih hihihihihihi :mrgreen:
    Maklumin ajalah namanya juga agama rapuh seperti itu, dasarnya ngga jelas,!!!! Tapi anehnya kok ulama2 syiah mau aja yah ngamalin hadis ngga jelas, kikikikikiikikikik 😆
    Kaciaaaan, ternyata mereka semua kena tipuuuuu 😆 wuahahahahahahahahahahaha

    Apakah Husein Nuri itu menyatakan dengan jelas dalam kitabnya bahwa semua riwayat yang ada dalam kitabnya shahih?. Selagi tidak ada perkataan jelas dari Husein An Nuri maka pernyataan anda hanyalah klaim semata. Lagipula dimana2 gak ada kok ulama yang mengatakan shahih tanpa ia tahu sanad para perawinya, memang ulama menshahihkan hadis itu pakai apa? ya sudah pasti pakai ilmu hadisnya kan, nah saya sih simpel saja. Silakan tuh anda bawakan sanad yang lengkap soal riwayat yang anda kutip dan analisis dengan ilmu rijal di sisi Syiah..

    Ah, cari2 alasan, lagu lama, persis tembang kenangan, :mrgreen:
    biar situ nyadar aja ya, ilmu rijal syiah itu ngga jelas!!! 😛 Dan ngga ada apa2nya di banding ilmu rijal sunni :mrgreen: , syiah itu kebanyakan menetapkan hadis itu shahih atau dhaif bukan berdasarkan jarh wa ta’dil tapi berdasarkan qila wa qala (dongeng turunan). Hahahahahaahah :mrgreen:

    buktinya:

    محمد بن علي بن شهر آشوب في المناقب : روي أن
    سبعين رجلامن الزط أتوه يعني أمير المؤمنين (عليه السلام) بعد قتال أهل البصرة ،
    يدعونه الها بلسانهم، وسجدوا له ، فقال لهم: “ويلكم لاتفعلوا، انما انا مخلوق
    مثلكم ” فأبوا عليه ، فقال: ” لئن لم ترجعوا عما قلتم في، وتتوبوا الى الله ،
    لأقتلنكم ” قال: فأبوا، فخذ علي (عليه السلام) لهم أخاديد واوقد نارا، فكان قنبر
    يحمل الرجل بعد الرجل على منكبه فيقذفه في النار، ثم قال (عليه السلام ): ” إني
    اذا أبصرت امرا منكرا أوقدت نارا ودعوت قنبرا ثم احتفرت حفرا فحفرا
    وقنبرا(يحطم حطما) منكرا

    catatan kakinya di tulis begini oleh an-nuri (mustadrak wasail hal 181):
    وهذا من مشهور الأخبار عنه ( عليه السلام)
    Ini adalah hadis yang masyhur darinya

    Menurut Anda apa maksud an-Nuri bicara begitu????? 🙄

  17. husainahmad (seconprince yang bermuka dua alias cari dukungan), on Juni 6, 2011 at 9:23 pm said:

    Sok mengkutip hadits syiah biar dikatakan nambah wawasan padahal sok tahu, kalau berani anda kemukakan tuh sanad dan rijalnya pake aturan hadits sunni, apa anda mampu? Mungkin selevel syaikhnya wahabi indonesia saja tdk mampu seperti, muhammad umar assewed dll, karena bagi faham wahabi baru pegang kitab syi’ah saja sdh jijik apalagi utk menggali yg dlm. Inilah bentuk fanatik buta..

    nyamar nih ye!!!

    asal tahu saja ya, syiah itu dari dulu mewarisi hadis kebanyakan tanpa sanad!!!! (meskipun ada beberapa yang masih pk sanad)

    seperti kitab mustadrak al-wasail di ats yang hadisnya di ambil dari kitab manaqib syahr asyub:

    setelah dicek ke sana sama sekali ngga ada sanad-nya dan tiba2 langsung berkata “qala Abu abdillah:…..”

    bagaimana bisa saya sebutkan sanad-nya!!!! kitab syiahnya sendiri sudah begitu!!!!

    meskipun kitab syiah begitu, namun tetap dipuji-puji oleh ulama syiah bahkan banyak kitab hadis lain yang mengambil periwayatan dari kitab manaqib syahr asyub

    kalau mau mencela jangan ke saya dong cela saja agama syiah yang ngga jelas sistem hadisnya!!!!

  18. @waha bi
    Mengapa sih anda2 suka mencaci dan menuduh orang lain. Apakah demikian akhlak anda2. Akhlak Islam bukan demikian. Kalau mau diskusi silahkan. Yang dibahas adalah materi yang disodorkan bukan sipembawa materi tsb yang dicaci dituduh. Pernahkah anda2 mengikuti forum diskusi? Saya rasa belum pernah.

  19. @chany

    tidak ada sedikit kerugian pun bagi kita andai kita biarkan org ini dengan pikirannya sendiri. tak usah kita nilai pengikutnya bagaimana jika kita sudah tahu ulamanya juga akhlaknya bagaimana.

  20. @wah abi thalib

    beginilah bicaranya orang jahil, (sori ya bukan hinaan tapi kenyataan) :mrgreen:

    kamu ini sepertinya masih katro jadi ngomongya ngasal!!! 

    ulama yang kamu sebutkan tadi adalah kolektor hadis, mereka meriwayatkan hadis sekaligus mengumpulkannya, terkdang mereka menggabungkan semua hadis, terkdang memisahkan, ada yang shahih, dhaif dll

    ITU BEDA SEKALI DENGAN AL-ALBANI DAN AN-NURI, MEREKA BEDUA INI lahir belakangan, dan TIDAK MERIWAYAKTKAN HADIS sebagaimana mereka yang kamu sebutin, MEREKA INI ALALIST HADIS, kerjanya memverivikasi kembali hadis-hadis tersebut,
    Jadi mohon anda itu belajar yang giat lagi

    Syaikh Al Albani dan Husein An Nuri itu jelas bedanya. dalam kitab Silsilah Ahadits Ash Shahihah Syaikh Al Albani mentakhrij suatu hadis kemudian melakukan penilaian atau analisis terhadap sanad-sanadnya kemudian ia menyimpulkan hadis tersebut shahih. Sedangkan Husein An Nuri dalam Mustadrak Wasa’il hanya mengumpulkan riwayat hadis yang ia kutip dalam kitab-kitab lain sebagai pelengkap terhadap kitab Wasa’il Syiah Al Hurr atau dengan kata lain Husein An Nuri menyebutkan hadis-hadis dalam kitab lain yang tidak disebutkan oleh Al Hurr dalam Wasa’il Syiah. Apa yang dilakukan Husein An Nuri hanya mengumpulkan riwayat hadis, ia tidak menilai atau menyatakan riwayat tersebut shahih. Sangat jelas bedanya

    o gitu ya, kalo boleh saya nilai, takhrij hadis kamu dalam blog kamu itu, nilainya cuma 1 dari 1-100. itu juga cuma nilai usah kamu menerjemahkan sumber yang sudah ada??? sisanya hanya “perasaan” kamu saja yang bermain….kamu pikir saya ngga tahu..hihihihihi

    apapun penilaian anda gak ada ngaruhnya kok buat saya. lagipula apa yang anda tahu kan cuma waham yang biasa anda tunjukkan.

    situ punya malu ngga sih :mrgreen:
    omongan situ itu sangat katro sekali, ketahuan sekali jahilnya 😆
    Husein nuri itu itu ahli hadis yang lahir belakangan, udah ngga riwayatin hadis lagi, beliau cuma memverivikasi ulang kembali hadis 2 yng udah ada…

    seharusnya andalah yang malu, Husein An Nuri dalam kitab Mustadrak wasa’il tidak menyatakan hadis-hadis yang ia sebutkan sebagai hadis shahih. Ia hanya mengumpulkan riwayat dari kitab-kitab lain.

    Ya udah kalau gitu, saya ngga lanjutin lagi bicara mengenai hadis di atas, karena kita sudah sama2 tahu di syiah tak ada satupun hadis shahih hihihihihihi :mrgreen:

    Wah kayaknya apa yang anda tahu beda dengan apa yang saya tahu. ada tuh ulama Syiah yang melakukan penilaian terhadap hadis-hadis mereka seperti Al Majlisi misalnya yang menilai shahih atau tidaknya hadis dalam Al Kafi. Jadi disisi Syiah juga dikenal kok adanya hadis shahih menurut mereka.btw kalau memang anda tahu hadis yang anda kutip itu tidak ada sanadnya maka sudah jelas status hadisnya dhaif. Jika anda mau berhujjah dengan hadis itu ya silakan lengkapi dulu hujjahnya buktikan kalau riwayat tersebut shahih. ehem saya ketemu kok sanad hadis ini dari kitab syiah yang lain, tinggal di google aja

    Maklumin ajalah namanya juga agama rapuh seperti itu, dasarnya ngga jelas,!!!! Tapi anehnya kok ulama2 syiah mau aja yah ngamalin hadis ngga jelas, kikikikikiikikikik 😆
    Kaciaaaan, ternyata mereka semua kena tipuuuuu 😆 wuahahahahahahahahahahaha

    saya maklum sih, orang seperti anda memang kerjanya cuma bisa menghina mazhab lain tetapi tidak pernah berkaca pada diri sendiri. Jangan2 dasar agama anda sendiri anda gak tahu 🙂

    Ah, cari2 alasan, lagu lama, persis tembang kenangan, :mrgreen:
    biar situ nyadar aja ya, ilmu rijal syiah itu ngga jelas!!! 😛 Dan ngga ada apa2nya di banding ilmu rijal sunni :mrgreen: , syiah itu kebanyakan menetapkan hadis itu shahih atau dhaif bukan berdasarkan jarh wa ta’dil tapi berdasarkan qila wa qala (dongeng turunan). Hahahahahaahah

    saya pribadi memang tidak tahu banyak soal ilmu rijal syiah, yang saya tahu syiah memang punya ilmu rijal. Tetapi saya tidak seperti anda yang mudah sekali merendahkan mazhab lain padahal anda tidak tahu ilmunya sama sekali. kasihan kasihan kasihan

    buktinya:

    محمد بن علي بن شهر آشوب في المناقب : روي أن
    سبعين رجلامن الزط أتوه يعني أمير المؤمنين (عليه السلام) بعد قتال أهل البصرة ،
    يدعونه الها بلسانهم، وسجدوا له ، فقال لهم: “ويلكم لاتفعلوا، انما انا مخلوق
    مثلكم ” فأبوا عليه ، فقال: ” لئن لم ترجعوا عما قلتم في، وتتوبوا الى الله ،
    لأقتلنكم ” قال: فأبوا، فخذ علي (عليه السلام) لهم أخاديد واوقد نارا، فكان قنبر
    يحمل الرجل بعد الرجل على منكبه فيقذفه في النار، ثم قال (عليه السلام ): ” إني
    اذا أبصرت امرا منكرا أوقدت نارا ودعوت قنبرا ثم احتفرت حفرا فحفرا
    وقنبرا(يحطم حطما) منكرا

    catatan kakinya di tulis begini oleh an-nuri (mustadrak wasail hal 181):
    وهذا من مشهور الأخبار عنه ( عليه السلام)
    Ini adalah hadis yang masyhur darinya

    Menurut Anda apa maksud an-Nuri bicara begitu?????

    kutipan anda di atas itu sebagai bukti apa? bukti kalau syiah menetapkan hadis shahih dengan dongeng. Dimana letak buktinya?. Mungkin anda harus belajar dulu apa itu yang namanya bukti baru berbicara. Pernyataan seorang ulama kalau sebuah hadis masyhur adalah hal yang ma’ruf dan itu tidak menandakan bahwa hadis tersebut shahih, contoh begitu banyak dalam berbagai hadis sunni. Kalau anda tidak tahu ya silakan belajar 🙂

  21. @wah abi thalib

    husainahmad (seconprince yang bermuka dua alias cari dukungan), on Juni 6, 2011 at 9:23 pm said:

    Sok mengkutip hadits syiah biar dikatakan nambah wawasan padahal sok tahu, kalau berani anda kemukakan tuh sanad dan rijalnya pake aturan hadits sunni, apa anda mampu? Mungkin selevel syaikhnya wahabi indonesia saja tdk mampu seperti, muhammad umar assewed dll, karena bagi faham wahabi baru pegang kitab syi’ah saja sdh jijik apalagi utk menggali yg dlm. Inilah bentuk fanatik buta..

    nyamar nih ye!!!

    Perkataan anda di atas adalah waham. Saya [penulis di blog ini] bukanlah husainahmad. Jadi tuduhan bermuka dua yang anda katakan itu cuma fitnah anda saja. Anda sendiri tidak punya bukti kalau saya dan husainahmad itu adalah orang yang sama? anda tahu dari mana? perasaan anda saja atau asal yakin doang, nah itulah waham. gak tahu alasannya kok tiba-tiba nuduh orang

    Orang yang terbukti bermuka dua di sini adalah anda. anda “wah abi thalib” adalah orang yang sama dengan “si komo”. Buktinya apa? no IP adress nya sama dan data itu ada pada saya. Terlihat jelas kalau andalah yang sedang cari-cari dukungan. Ini buktinya

    Tingkah anda ini memang mirip sekali dengan si nyalap, orang ini banyak bicara tetapi tidak ada isinya. Sudah saya pinta bukti soal Kultsum bin Ziyad yang ia kutp tetapi sampai sekarang tidak muncul2. Mungkin karena malu akhirnya ia muncul dengan nama lain, mungkin sih.

    asal tahu saja ya, syiah itu dari dulu mewarisi hadis kebanyakan tanpa sanad!!!! (meskipun ada beberapa yang masih pk sanad)

    dari dulu itu dari kapan? dari sejak anda lahir? ya jelas aja anda lahirnya kapan, waktu anda lahir sanadnya juga udah gak ada lagi alias sudah selesai :mrgreen:

    seperti kitab mustadrak al-wasail di ats yang hadisnya di ambil dari kitab manaqib syahr asyub:

    setelah dicek ke sana sama sekali ngga ada sanad-nya dan tiba2 langsung berkata “qala Abu abdillah:…..”

    bagaimana bisa saya sebutkan sanad-nya!!!! kitab syiahnya sendiri sudah begitu!!!!

    Kalau suatu hadis gak ada sanadnya maka secara ilmu hadis ya hadis tersebut dhaif, simpel saja kan. Perkara seperti itu juga banyak kok dalam kitab sunni. Jadi jangan jadikan ini sebagai alasan buat merendahkan mazhab lain. Faktanya anda kurang banyak belajar jadi tidak mengetahui kalau sunni sendiri juga memiliki fenomena seperti itu yaitu “hadis yang tidak diketahui sanadnya”

    meskipun kitab syiah begitu, namun tetap dipuji-puji oleh ulama syiah bahkan banyak kitab hadis lain yang mengambil periwayatan dari kitab manaqib syahr asyub

    ah saya kurang tahu, itu kan urusan ulama mereka 🙂

    kalau mau mencela jangan ke saya dong cela saja agama syiah yang ngga jelas sistem hadisnya!!!!

    wah maaf agama islam yang saya anut tidak menganjurkan saya untuk mencela mazhab lain, apalagi terhadap syiah yang notabene masih saudara sesama muslim. kalau memang anda suka mencela ya gak usah mengajak orang lain untuk cela mencela.

  22. @wah abi
    Demi Allah sy bkn mas SP beliau ahlaknya sangat luhur dan mempunyai wawasan keislaman yg luas dan juga berbudi pekerti yang baik tdk seperti anda kalau ngomong aja tdk mencerminkan ahlak yg baik, padahal di agama kita org yg paling sempurna imannya adalah mereka yg paling baik ahlaknya.

    Sedangkan sy org awam ttg agama, ex wahabi dari INDRAMAYU. pernah sy ikut kajian di masjid agung indramayu pematerinnya adalah ust muh assewed dlm kajian itu yg di pojokan adalah mazhab syiah bahkan omonganya tdk pantas dikeluarkan oleh seorang ust.

    Anda kalau ngomong hati2 apa anda melupakan alquran.
    Tidak ada satu ucapan pun yg di ucapkan melainkan ada malaikat pengawas yg selalu hadir. ( QS al Qaf 16). Juga firmannya yg lain.
    Sesungguhnya persangkaan tdk mendekati kebenaran sedikitpun.

    Jadi sy mengenal ust2 wahabi indonesia, ust qomar, hakim abdad, muh aljawaz dan muh assewed.

  23. @wah abithalib
    ga punya malu..ketangkap basah anda…
    @all
    memang begitulah yg diajarkan oleh ulama2 wahabi.
    “fitnah dulu,malu belakangan…”

  24. @wah abi thalib

    Saya menyarankan kepada anda untuk sesering mungkin mengirim koment dan tetap pertahankan gaya anda dalam berhujjah, dan kalau perlu berganti-gantilah inisial apabila anda merasa terdesak dalam satu tema diskusi. Adanya orang-oarang seperti anda menurut kacamata pandangan sy samakin memperlihatkan mutu serta kwalitas pemilik blog berikut seluruh tulisan2nya.

    @SP

    Pertahankan sdr.@wah abi thalib dan orang orang yg se-kufu’ dgn nya untuk tetap memberikan komentar pada blog ini. Komentar mereka merupakan “ADVANTAGE” tersendiri atas seluruh tulisan2 anda.

  25. saya menilai para wahabiyun yg masuk ke mari akan mengalami KEBANGKRUTAN…. saya adalah NONMUSLIM yg sedang mempertimbangkan masuk Islam,kebetulan di dalamproses pertimbangan itu saya banyak membaca dan salah satunya juga mengamati perdebatan antar Mazhab Islam di situs2 internet.

    banyak sekali yg sy dapat baik pemahaman maupun Hikamah dan banyak sekali yg sy nilai dr berbagai perdebatan tersebut termasuk di Blog-nya SP ini….ternyata para salafy/wahabi jika sudah berdebat argumennya ngawur dan selalu mengeluarkan kalimat2 kotor dan keji…mengingat sy pun di dalam mengambil keputusan nantinya untuk hijrah ke Islam tdk ingin salah jalan masuk ke dalam Islam yg sdh terkontaminasi, apalagi “Islam” yg menghalalkan membunuh/memBom seenaknya saja terhadap org/umat yg lainnya tanpa Kasih Sayang, seakan mereka sebagai wakil Tuhan berhak mengadili manusia.

    demikian lah pendapat saya, mudah2an sy semakin paham akan ajaran Illahi yg sejati, bukan ajaran yg sdh terkontaminasi oleh Iblis, sebab sy yakin Islam pun juga sampai Kiamat tdk akan terlepas dari upaya penyesatan Iblis.

  26. @yoseph.
    Mudah2an Allah akan menujuki kpd anda jalan yang terang mengenai agama islam dan mudah2an juga usaha anda di hargai oleh Allah. Terus berupaya untuk mencari kebenaran dan bersabarlah, karena manusia di berikan anugrah yaitu akal dan ruh maka galilah apa yang ada di dunia ini mengenai perbandingan agama2 dan alam jagat raya utk di renungkan.

    Alquran berpesan.
    Wahai ahli kitab (pemilik buku, pemilik ajaran atau yahudi dan nasrani) mari kita berpegang pada prinsip kalimat Allah antara kita dan kamu, kita hanya menyembah kpd Allah dan tidak menyekutukanya.

  27. @yoseph
    Apabila anda ingin mengenal Islam, maka saya anjurkan utk anda jangan dulu melalui MAHZAB. Islam setelah Rasulullah banyak terjadi perobahan.
    Caranya:
    1. Pelajari firman2 Allah dalam Alqur’an. Dengan keyakinan penuh bahwa firman Allah tsb absulit BRNAR.
    2. Bahwa Nabi Muhammad Rasulullah sebagai penyambung lida Allah serta menjelaskan.
    3. membaca Alqur’an jangan membaca hanya satu penafsir.
    4. Begitu juga dalam mempelajari Hadits serta Sunah Rasul jangan hanya dari satu kelompok.
    5.Untuk menilai 3 & 4 pergunakan AKAL yang sehat dan NETRAL.
    Mudah2an anda bisa mengerti Islam lebih mendalam . Wasalam

  28. Ini hadith sahih syiah yang menyatakan Ali r.a membakar syiah yang ghulu pada beliau

    Ia ditulis oleh Nader Zaveri, seorang syiah bahkan blog ini adalah blog syiah

    “..here are 3 SaHeeH aHaadeeth that talks about ‘Abd Allaah bin Saba, the first chain is one of the most impeccable chains you can get in Shee`ah hadeeth books. This is like our “golden” chain.

    1.) حدثني محمد بن قولويه، قال حدثني سعد بن عبد الله، قال حدثنا يعقوب بن يزيد و محمد بن عيسى، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، قال : سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول و هو يحدث أصحابه بحديث عبد الله بن سبإ و ما ادعى من الربوبية في أمير المؤمنين علي بن أبي طالب، فقال إنه لما ادعى ذلك فيه استتابه أمير المؤمنين (عليه السلام) فأبى أن يتوب فأحرقه بالنار
    .
    Hishaam bin Salim, who said that he heard it from Imam Aboo `Abd Allaah (AS) when he told that `Abd Allaah bin Saba called (to people) the lordship/divinity of Imaam `Alee (AS). Upon that ‘Alee ordered him to repent, but he refused. Then Ali let him burn in fire.”

    Source: Al-Kashee, Rijaal, pg. 107, hadeeth # 171

    2.) حدثني محمد بن قولويه قال حدثني سعد بن عبد الله قال حدثنا يعقوب بن يزيد و محمد بن عيسى عن علي بن مهزيار عن فضالة بن أيوب الأزدي عن أبان بن عثمان قال سمعت أبا عبد الله (ع) يقول لعن الله عبد الله بن سبإ إنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين (ع) و كان و الله أمير المؤمنين (ع) عبدا لله طائعا الويل لمن كذب علينا و إن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم
    .
    I heard Aboo `Abd Allaah (AS) saying: ‘May Allaah curse `Abd Allaah bin Saba, he claimed a divinity / lordship for Ameer Al-Mu’mineen (AS). By Allaah, Amierul-Mu’mineen (AS) was volunterily the slave of Allah. Woe to him who lie about us, for there are people who say about us what we don’t say about ourselves, we disassociate ourselves to Allah from them, we disassociate ourselves to Allah from them’.”

    Source: Al-Kashee, Rijaal, pg. 107, hadeeth # 172

    Here is another SaHeeH hadeeth about Ibn Saba, and him being cursed.

    3.)و بهذا الإسناد عن يعقوب بن يزيد عن ابن أبي عمير. و أحمد بن محمد بن عيسى عن أبيه و الحسين بن سعيد عن ابن أبي عمير عن هشام بن سالم عن أبي حمزة الثمالي قال قال علي بن الحسين (ع) لعن الله من كذب علينا إني ذكرت عبد الله بن سبإ فقامت كل شعرة في جسدي لقد ادعى أمرا عظيما ما له لعنه الله كان علي (ع) و الله عبدا لله صالحا أخو رسول الله (ص) ما نال الكرامة من الله إلا بطاعته لله و لرسوله و ما نال رسول الله (ص) الكرامة من الله إلا بطاعته
    .
    ‘May the curse of Allah be upon those who tell lies about us. I mentioned `Abd Allaah Ibn Saba and each hair in my body stood up, Allah cursed him. Ali was, by Allah, a proper servant of Allah, the brother of the Messenger of Allah . He did not earn the graciousness/honor from Allah except with the obedience to Allah and His Messenger. And (similarly) the Messenger of Allah did not earn the honor from Allah except with his obedience to Allah’.”

    Source:Al-Kashee, Rijaal, pg. 107, hadeeth # 173

    Each one of these aHaadeeth goes through multiple routes:
    1st hadeeth = 2 different routes
    2nd hadeeth = 2 different routes
    3rd hadeeth = 3 different routes

    2 + 2 + 3 = 7 different isnaads, all of them saying that Ibn Sabaa is mal`oon (accursed). Some people unfortunately say he is a “fake” or “myth”. I HIGHLY doubt our Imaams will be giving la`n (curse) upon “thin air”.

    http://www.revivingalislam.com/2010/07/abd-allaah-bin-saba.html

    Jadi memang sahih disisi syiah Ali r.a membakar syiah yang ghulu padanya

  29. @ahmad

    Persoalannya adalah apakah frase : “…Then Ali let him burn in fire.”, mengandung makna membakar mereka dalam keadaan hidup-hidup atau kah membakar mereka setelah jasad mereka menjadi mayat terlebih dahulu ? Mohon klarifikasinya…

  30. Dalam lafaz hadith itu jelas menunjukkan dia dibakar maka tak perlu kita andaikan dia dibunuh kemudian dibakar melainkan kitab syiah ada menyebutkannya

    Jika hanya mengandai, maka kita juga boleh mengandai Ali mengantung mereka kemudian membakar

    Kita boleh saja mengandai 1001 perkara

  31. @Ahmad

    Lantas untuk apa antum membawa-bawa literatur kitab Syiah dlm masalah ini toh @SP sendiri tatkala membahas tema ini tidak merujuk pada kitab-kitab Syi’ah melainkan merujuk pada kitab kitab yg ada pada jalur Ahlussunnah. Jangan-jangan antum tidak membaca tulisan diatas dan sekedar mencari alasan untuk membantah.

    Oh ya kepada antum yg telah membawa-bawa hadis-hadis Syiah saya jadi teringat kata-kata @wah abi thalib tepat ditujukan untuk anda berikut kutipannya :

    “Sok mengkutip hadits syiah biar dikatakan nambah wawasan padahal sok tahu, kalau berani anda kemukakan tuh sanad dan rijalnya pake aturan hadits sunni, apa anda mampu? Mungkin selevel syaikhnya wahabi indonesia saja tdk mampu seperti, muhammad umar assewed dll, karena bagi faham wahabi baru pegang kitab syi’ah saja sdh jijik apalagi utk menggali yg dlm. Inilah bentuk fanatik buta..”

  32. Sedikit ralat bukan perkataan @wah abi thalib melainkan perkataan sdr @husainahmad

  33. Msaleh, kalau kamu bukan syiah maka baik saja kamu diam. Saya paparkan disini supaya syiah tahu ia memang sahih dalam kitab syiah

    Syiah tidak membutuhkan kitab sunni. Mereka hanya mahu menanam syubhah itu saja

    Jadi paparan saya kepada syiah.

  34. @Ahmad
    maaf hujjah anda gak ada gunanya disini, saya bukan syiah dan blog ini bukan blog syiah. Riwayat yang anda bawakan tidak menjadi hujjah bagi saya 🙂

  35. Menyimak….hmmm

  36. hehe, secondprince dan taqiyyahnya…

  37. @saiful
    semoga Allah SWT mengampuni kedustaan yang anda katakan 🙂

  38. Aamiin

  39. “…Then Ali let him burn in fire.” bukanlah berarti Ali kw membakarnya hidup2 karena jika demikian maka teksnya akan menjadi “…Then Ali let him burn in fire alive.”
    Untuk masalah yg menyangkut Ahlul Bait Nabi khususnya Imam Ali kw, saya akan sangat berhati2 dan lebih baik memilih mencintai mereka karena itu adalah perintah dari Allah dan Nabi SAW.

  40. @zaky

    Syukron atas pencerahannya…

  41. Hadis2 Syiah yg dibawakan oleh AHMAD itu perlu di teliti lagi, masalahnya Syiah telah memvonis bahwa Abdullah ibn Saba’ kan tokoh fiktif? mohon penjelasan hehehe, Salam damai.

  42. ngakak saat liat wah abi nuduh sp bermuka dua tapi ternyata malah dibuktikan si wah abi yang bermuka dua, nyamar pake id lain dengan ip yang sama, setelah ketahuan, pengen liat tanggapannya eh malah ga muncul2 lagi, saya membayangkan wajahnya merah seperti kepiting rebus (marah plus malu), ini pasti menjadi momen yang tak terlupakan buat si wah abi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: