Waham Abu Azifah : Secondprince Ternyata Syi’ah Rafidhah

Waham Abu Azifah : Secondprince Ternyata Syi’ah Rafidhah

Kami terus terang merasa heran ada sebagian orang yang sangat ingin menisbatkan waham khayal-nya kepada kami. Begitu bersemangat menuduh kami sebagai Syi’ah Rafidhah. Insya Allah disini kami akan mempermalukan dirinya menunjukkan betapa rendah hujjah tuduhannya terhadap kami.

Orang ini menegakkan hujjah tuduhan Rafidhah atas kami dengan perkataan Ibnu Hajar dalam Muqaddimah Fath Al Baariy

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو

Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding  para sahabat dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah. Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem dan jika mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem. [Hadiy As Saariy Muqaddimah Fath Al Baariy hal 483]

Kemudian Abu Fulan ini mengutip tulisan kami yang mengutamakan Imam Aliy di atas Abu Bakar dan Umar. Dengan dasar perkataan Ibnu Hajar inilah ia menyatakan kami Rafidhah.

Abu Azifah menuduh Rafidhah

.

.

Jawaban kami terhadap hal ini adalah sederhana. Jauh sebelum Ibnu Hajar sudah ada ulama lain yang justru menyatakan hal yang berbeda yaitu Ibnu Hazm, ia berkata


Al Fishal

Al Fishal hal 180

اختلف المسلمون فيمن هو أفضل الناس بعد الأنبياء عليهم السلام فذهب بعض أهل السنة وبعض أهل المعتزلة وبعض المرجئة وجميع الشيعة إلى أن أفضل الأمة بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم علي بن أبي طالب وقد روينا هذا القول نصا عن بعض الصحابة رضي الله عنهم وعن جماعة من التابعين والفقهاء وذهبت الخوارج كلها وبعض أهل السنة وبعض المعتزلة وبعض المرجئة إلى أن أفضل الصحابة بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أبوبكر ,ثم عمر

Kaum muslimin berselisih mengenai siapa yang paling utama setelah para Nabi [alaihis salam]. Telah datang sebagian ahlu sunnah, sebagian mu’tazilah, sebagian murji’ah dan seluruh Syi’ah menyatakan bahwa di kalangan umat yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu], dan telah diriwayatkan hal ini dari sebagian sahabat [radiallahu ‘anhum], jama’ah tabiin dan fuqaha. Dan telah datang khawarij seluruhnya, dan sebagian ahlus sunnah, sebagian mu’tazilah dan sebagian murjiah menyatakan bahwa sahabat yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakar kemudian Umar [Al Fishal Fi Al Milal Wa Al Ahwa’ Wa Al  Nihal Ibnu Hazm 4/181]

Silakan perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Hazm yaitu sebagian Ahlus Sunnah ada yang mengutamakan Aliy di atas Abu Bakar dan Umar dengan mengatakan bahwa Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi memutlakkan hal ini sebagai Rafidhah jelas kurang tepat.

.

.

Apa yang dikatakan Ibnu Hazm ini bersesuaian dengan apa yang dikatakan Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya. Ia berkata dalam biografi ‘Aliy bin Abi Thalib

.


Al Istiab hal 1090

كان علي أصغر ولد أَبِي طالب ، وكان أصغر من جَعْفَر بعشر سنين ، وَكَانَ جَعْفَر أصغر من عُقَيْل بعشر سنين ، وَكَانَ عُقَيْل أصغر من طالب بعشر سنين ، وَرَوَى عَنْ سلمان ، وَأَبِي ذر ، والمقداد ، وخباب ، وجابر ، وَأَبِي سَعِيد الْخُدْرِيّ ، وزيد بْن الأرقم : أن علي بْن أَبِي طالب رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أول من أسلم ، وفضله هؤلاء على غيره.

Aliy adalah anak Abu Thalib yang paling muda, ia lebih muda dari Ja’far sepuluh tahun, Ja’far lebih muda dari Aqiil sepuluh tahun dan Aqiil lebih muda sepuluh tahun dari Thalib. Dan telah diriwayatkan dari Salman, Abu Dzar, Miqdaad, Khubaab, Jaabit, Abu Sa’id Al Khudriy dan Zaid bin ‘Arqam bahwa Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu] adalah orang pertama yang masuk islam, dan mereka [para sahabat itu] mengutamakannya atas selainnya [Al Istii’aab Fii Ma’rifat Al Ashhaab Ibnu Abdil Barr 3/1090 no 1855]

Ibnu Abdil Barr juga menuliskan dalam biografi Aamir bin Watsilah Abu Thufail [dimana ia sebenarnya adalah Sahabat Nabi]. Ibnu Abdil Barr berkata

Al Istiab hal 799

وكان ثقة مأمونا يعترف بفضل الشيخين ، إلا أنه كان يقدم عليا

Ia tsiqat ma’mun, mengakui keutamaan Syaikhan [Abu Bakar dan Umar] hanya saja ia lebih mengutamakan ‘Aliy atas mereka [Al Istii’aab Fii Ma’rifat Al Ashhaab Ibnu Abdil Barr 2/799 no 1344]

Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr lebih mutaqaddimin dibanding Ibnu Hajar, oleh karena itu perkataan keduanya lebih layak dijadikan pegangan dibandingkan perkataan Ibnu Hajar.

.

.

Apalagi Ibnu Hajar disini terbukti menyalahi kaidah yang ia buat sendiri. Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdziib At Tahdziib pernah menuliskan biografi Abu Yaqzhaan Al Kuufiy Utsman bin Umair dimana ia menyebutkan

Utsman bin Umair Tahziib

وقال إبراهيم بن عرعرة عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة

Dan Ibrahim bin ‘Ar’arah berkata dari Abu Ahmad Az Zubairiy bahwa Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhaan percaya dengan Raj’ah [Tahdziib At Tahdziib 4/440 no 5300]

Harusnya berdasarkan apa yang dikatakan Ibnu Hajar sebelumnya maka perawi yang percaya Raj’ah adalah Rafidhah sangat ekstrim tetapi dalam kitabnya Taqriib At Tahdziib, Ibnu Hajar berkata

Utsman bin Umair Taqrib

أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلو في التشيع

Abu Yaqzhaan Al Kuufiy Al A’ma dhaif ikhtilath melakukan tadlis, dan tasyayyu’ ekstrim [Taqrib At Tahdziib no 4539]

Jadi dapat disimpulkan bahwa tuduhan Rafidhah atas kami yang disebutkan Abu fulan ini adalah tuduhan mandul yang tidak bernilai. Ia hanya berpegang pada perkataan Ibnu Hajar padahal apa yang dikatakan Ibnu Hajar tersebut tidaklah benar dan diselisihi oleh Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr. Bahkan telah kami buktikan kalau Ibnu Hajar telah menyalahi perkataannya sendiri dalam hal ini.

.

.

Sebenarnya dengan definisi yang ditetapkan Ibnu Hajar tersebut, Abu Fulan ini justru mempermalukan dirinya sendiri. Perhatikan kembali apa yang dikatakan Ibnu Hajar sebelumnya

  1. Syi’ah tertuju pada perawi yang tidak mengutamakan Aliy di atas Abu Bakar dan Umar
  2. Rafidhah tertuju pada perawi yang mengutamakan Aliy di atas Abu Bakar dan Umar

Berdasarkan kaidah Ibnu Hajar tersebut maka seseorang tidak bisa dikatakan sekaligus pada saat yang sama “Syi’ah Rafidhah”. Karena keduanya mengandung hal yang kontradiktif. Kalau Syi’ah ya Syi’ah kalau Rafidhah ya Rafidhah. Itu kalau Abu Fulan ini ingin menerapkan perkataan Ibnu Hajar secara konsisten tetapi sayangnya karena ia tidak paham maka ia malah menuliskan “Secondprince Ternyata Seorang Syi’ah Rafidhah”. Sungguh Menggelikan

Kami mengutamakan Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] di atas Abu Bakar dan Umar berdasarkan hadis-hadis shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Diantara hadis-hadis tersebut yang paling utama adalah Hadis Tsaqalain dengan perintah berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Ahlul Bait [‘alaihis salaam]. Kalau Abu Fulan ini ingin mendustakan hadis shahih maka itu adalah urusannya sendiri. Kami sudah sering menemukan orang-orang dengan kualitas seperti dirinya dan kami berlindung kepada Allah SWT dari syubhat dan tuduhan bathil mereka.

Iklan

24 Tanggapan

  1. @SP
    Istilah syi’ah menurut salaf masih termasuk ahlussunnah.
    Dengan dibaiatnya Abu Bakar, berarti seluruh shahabat mengutamakannya dr ali walaupun sebelumnya ali lebih diutamakan.

  2. Salam,,
    Mas SP. Setelah kita mengetahui bila kita harus mengikuti ahlulbait, lalu apa yang harus kita ikuti dari ahlulbait? mulai darimana? bagaimana ajaran ahlulbait itu dalam kitab2 ahlussunnah itu? Mohon Mas SP bersedia membahasnya lebih spesifik, karena saya melihat yang nampak dari ajaran ahlulbait disitus ini hanya mencakup Qunut sebelum ruku, teraweh tidak berjamaah, menjamak shalat, dan beberapa hal lainnya, namun sebagian besar lainnya terfokus pada mengungkap kaum munafik baik dari kalangan terdahulu maupun kontemporer..

    Intinya, semenjak dari berdirinya situs ini sampai sekarang, kami2 yang “telah sadar” ini, ingin belajar ke level berikutnya: bagaimana wudhu, sholat, puasa, maupun amalan2 lain yang diajarkan ahlul bait menurut kitab2 ahlussunnah..
    Semoga mas SP diberi ganjaran surganya Allah SWT
    syukron

  3. si Abu fulan hanya fokus pada ijma’ dalam menanggapi tulisan Anda.

  4. @abu azifah

    Istilah syi’ah menurut salaf masih termasuk ahlussunnah.
    Dengan dibaiatnya Abu Bakar, berarti seluruh shahabat mengutamakannya dr ali walaupun sebelumnya ali lebih diutamakan.

    Sejak kapan baiat menjadi bukti bahwa yang dibaiat lebih utama dari yang membaiat. Ibnu Umar membaiat Yazid bin Muawiyah maka apakah Yazid lebih utama dari Ibnu Umar?. Tentu saja tidak, Please jangan mencampuradukkan waham khayal anda disini

  5. Sudahlah bang SP… Dari banyaknya diskusi dan adu argumentasi antara anda dan Abu Salafi, buat saya pribadi sudah jelas siapa yang mencari kebenaran dan mencari “pembenaran.”

    Kebenaran hanya bisa didapat dengan obyektifitas, akal sehat, dan hati nurani yang condong kepada kebenaran..

    Semoga Allah merahmati anda untuk apa yang telah anda sampaikan.

    Salam.

  6. Sudah…sudah mau Sunni, Syiah, Ibadiyah atau apapun juga istilahnya mereka adalah muslim yang berarti saudara yg haram darahnya ditumpahkan. Rasullulah mungkin pernah wudhu dengan cara membasuh tapi pernah juga wudhu dengan cara mengusap. Sholat beliau saw mungkin pernah dengan cara melipat kedua tangan di lain hari tangan beliau luruskan. Beliau sholat dengan qunut tapi mungkin beliau pernah juga sholat tanpa qunut. Beliau pernah sholat malam di bulan ramadhan di mesjid kemudian stop, beliau pernah menggabungkan sholat tanpa uzur tapi beliau juga pernah sholat tanpa menggabungkannya.

    Mana yang paling benar yah ditunggu pas kiamat nanti. Kalau anda2 itu alim faqih maka anda berdiri atas madzhab tertentu! Alim faqih gak bisa mencla mencle (berubah2) beda sama orang awam. Yang saya tahu orang awam itu harus manut (nurut/ngikut) apa2 yang sudah digariskan oleh alim faqih madzhabnya. Namanya saja orang awam agak kurang paham masalah agama. Jadi yah sudah ngikut ahlinya saja! Intinya serahkan masalah keagamaan anda kepada alim faqih madzhab anda mulai dari sholatnya gimana, puasanya gimana…dst…..kecuali takdir anda berbicara lain atau anda itu awam tapi punya seabrek kitab2 para ulama di rumah dan pengetahuan agama yang cespleng. Kalau itu silahkan monggo anda kaji kitab2 para ulama itu dan tetapkan sendiri mana yang paling benar!

    Peace brow….!

  7. @Tovan

    Iya saya penasaran juga. Pasti ada amalan ahlul bait di dalam kitab-kitab ahlussunnah. Cuma katanya, konon yang paling banyak meriwayatkan hadis dalam kitab-kitab ahlussunnah bukan ahlul bait.
    Pertanyaanya:
    1.Apakah bisa ditarik kesimpulan kalau amalan ahlul bait itu tidak ada bedanya dengan amalan (sholat, puasa, wudhu…dst) yang ada di kitab-kitab ahlussunnah yang dibawakan oleh para sahabat?. Mengingat mayoritas keturunan Rasulluloh merupakan bagian dari ahlussunnah.
    2.Hadis-hadis yang sampai ke tangan kita sekarang diriwayatkan oleh para sahabat dengan sanad yang bersambung, tapi mengapa Rasulluloh mewasiatkan ahlul baitnya untuk diikuti? Tidak hanya mencukupkan dengan para sahabat saja?. Tentu Rasulluloh tidak meragukan para sahabatnya tapi Kenyataannya hadis-hadis yang ada ditangan kita saat ini dibawakan oleh para sahabat bukan ahlul bait
    3.Pertanyaan penting siapakah yang dimaksud dengan ahlul bait itu? Apakah hanya terdiri dari ahlul kisa saja? Atau ahlul kisa + istri-istri Rasulluloh? Atau ahlil kisa + keturunan mereka. (Siapa saja dan dari garis keturunan siapa)

    Ada yang bisa kasih pencerahannya?

  8. Numpang koment,
    memang sih dalam terminologi sunni urut2an kemulian itu seperti dalam urutan keholifahan 1- 4. Tapi setelah sy banyak baca, jadi tahu deh apa itu hadits Tsaqalain, Hadits Manzilah, Hadits iman bi hubbi Ali wa nifaq bi buhgdihi dll. Sehingga sy berkeyakinan bahwa Ali lah yang lebih utama, tanpa merendahkan yang lain tentunya.
    Perubahan haluan berpikir dan berkeyakinan terus terang setelah banyak membaca artikel syaikh hasan Ben Farhan al-Maliki mantan salafy dari Saudi itu. Klu dulu percaaya hadits iftiraq, skrg jadi ragu status haditsnya, klu dulu percaya qaidah sukut an ma syajaro bainahum, skrg jadi ragu minimal tidak pukul rata, mosok hadits mengatakan kelompok pembrontak dan penganjur ke neraka, lalu kita bilang tidak, mereka sdg berijtihad dan dapat satu pahala. Sy bukan seorang syiah sebagai sebuah madzhab, tapi sy tidak membenci mereka. Minimal sy jadi memahami Syiah bukan nama yang, maaf, yang jelek. Ketika Syiah mengkritik seorang shahabat mereka selalu memberi alasan terlepas dari alasan itu benar atau tidak. Tapi ada satu benang merah bahwa mereka yakin betul akan kedudukan Imam Ali kwj dan Ahlul Bait disisi Rasululallah saww dan mereka telah dan akan selalu siap membayar kecintaan walau dgn nyawa sekalipun.

  9. Jika “meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat paling utama adalah rafidhah”, maka saksikanlah bahwa saya seorang rafidhah.

  10. Numpang koment lagi mas@SP
    Pengeboman di sebuah masjid d Quwait dan sebelumnya di Qatif KSA menggambarkan betapa mereka selalu menjadi sasaran kebencian. Siapa yg mewariskan kebencian ini….?. Hingga membunuh manusia menjadi “ibadah” nya para pengebom intihary. Dulu sewaktu ada fatwa “boleh”nya bom istimata untuk pejuang Palestina seakan merupakan fatwa gress menjawab kebutuhan akan taktik perang melawan tentara zionis. Fatwa tsb sempat juga terbit dari forum bahsul masail sebuah org terbesar di Indonesia. Tapi tahukah kita…. ternyata fatwa tsb skrg menjadi dalil pembenar membunuh sesama muslim oleh mereka yang kesemsem dgn 70 bidadari.

    Tapi anehnya kelompok yg jadi korban selalu yang di kuyo2 sebagai pelaku onar dimana – mana. Disebut bukan muslim lah, sekutu Yahudi lah, dan seabreg tuduhan yang belum dikonfirmasi secara ilmiyah. Jadi mulailah kita menelaah kembali untuk mendewasakan cakrawala berpikir kita, adakah yg tidak beres dari sejarah yang telah ditulis ttg masa lalu umat ini, sepertinya ada yg ditutup2i atau sengaja dibuat bengkok……..?

  11. @SP

    Menurut Ibnu Hajar, Rafidhah adalah orang yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar.

    Menurut kesepakatan ahlul hadits riwayat Rafidhah ditolak.

    Abu Bakar dipilih menjadi khalifah = Abu Bakar lebih utama dari Ali.

    Adakah suara-suara shahabat Nabi bahwa “Ali lebih baik dari Abu Bakar setelah dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah ? = (kalau tidak ada) berarti mereka telah ruju’ atas pengutamaan Ali atas Abu Bakar sebelum dipilihnya beliau sebagai khalifah.

    Adakah perawi (selain shahabat) yang lebih mengutamakan Ali dibanding Abu Bakar yang tidak disebut Rafidhah oleh para ulama ?

  12. Istilah syiahnya ibn hajar ini kayak jurus dewa mabuk ala filem silat cina. Siapa saja manusia yg meyakini hadist tsaqalain pasti terhukumi sebagai rafidhah.
    Tapi tidak apa2, sebutan buruk rafidhah ala ibn hajar ini menunjukkan kalau dunia itu adalah pengulangan2 saja. Dalam Al-Quran kita akan menemukan kalau pengikut Nabi/Rasul Allah selalu mendapatkan olok2 dan sebutan yang buruk. Para Pengikut Nabi/Rasul itu mereka selalu dihina dan dicerca, dicap sesat menyimpang serta terkadang dibunuh. Jadi kalau ada orang yang mengolok2 rafidhi (hanya karena percaya dengan hadis tsaqalain) yah diterima saja hitung2 sebagai ajang untuk membuktikan kecintaan/ketaatan kepada agama-Nya.

  13. @abu azifah

    Menurut Ibnu Hajar, Rafidhah adalah orang yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar.
    Menurut kesepakatan ahlul hadits riwayat Rafidhah ditolak.

    Maaf ya kalau saya katakan ucapan anda di atas itu hanyalah sampah. Karena dalam tulisan anda sebelumnya, anda malah mengatakan kalau Rafidhah dengan pengertian orang yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar adalah Rafidhah yang diterima riwayatnya [jika ia tsiqat]. Ini buktinya

    Terus apa gunanya di atas anda mengatakan “menurut kesepakatan ahlul hadits riwayat Rafidhah ditolak”. Kemarin bilang riwayat Rafidhah [dengan pengertian orang yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar] jika tsiqat diterima kemudian sekarang bilang ditolak berdasarkan kesepakatan ahli hadis. Anda telah mendustakan diri anda sendiri. Orang seperti anda terbiasa berdusta mengatasnamakan para ulama maka tidak heran kalau anda sering mendustakan perkataan anda sendiri. Kemarin bilang A sekarang bilang B dan besok bilang C, apa saja akan anda katakan yang penting sesuai dengan hawa nafsu anda. Sungguh menggelikan

    Abu Bakar dipilih menjadi khalifah = Abu Bakar lebih utama dari Ali.
    Adakah suara-suara shahabat Nabi bahwa “Ali lebih baik dari Abu Bakar setelah dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah ? = (kalau tidak ada) berarti mereka telah ruju’ atas pengutamaan Ali atas Abu Bakar sebelum dipilihnya beliau sebagai khalifah.

    Berdiskusi dengan baik saja anda tidak mampu, coba jawab pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya, itu kalau memang anda mampu mempertahankan hujjah anda. Anda berhujjah bahwa ketika para sahabat membaiat Abu Bakar itu berarti para sahabat lebih mengutamakan Abu Bakar dibanding Aliy. Maka saya bantah hujjah anda dengan pertanyaan berikut

    Sejak kapan baiat menjadi bukti bahwa yang dibaiat lebih utama dari yang membaiat. Ibnu Umar membaiat Yazid bin Muawiyah maka apakah Yazid lebih utama dari Ibnu Umar?. Silakan jawab wahai Abu Fulan, apa dalam aqidah anda Yazid lebih utama dari Ibnu Umar?. Kalau tidak bisa menjawab ya tolong tidak usah mengulang-ngulang hujjah basi tersebut.

    Adakah perawi (selain shahabat) yang lebih mengutamakan Ali dibanding Abu Bakar yang tidak disebut Rafidhah oleh para ulama ?

    Tolong dibaca baik-baik perkataan Ibnu Hazm yang saya nukil di atas. Ibnu Hazm sudah membantah ocehan anda tersebut

    فذهب بعض أهل السنة , وبعض المعتزله , وبعض المرجئة , وجميع الشيعة , إلى أن أفضل الأمة بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب رضي الله عنه , وقد روينا هذا القول نصاً عن بعض الصحابة رضي الله عنهم , وعن جماعة من التابعين والفقهاء ,

    Telah datang sebagian ahlu sunnah, sebagian mu’tazilah, sebagian murji’ah dan seluruh Syi’ah menyatakan bahwa di kalangan umat yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu], dan telah diriwayatkan hal ini dari sebagian sahabat [radiallahu ‘anhum], jama’ah tabiin dan fuqaha.

    Menurut Ibnu Hazm pandangan yang menganggap Ali yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak hanya diyakini sebagian sahabat tetapi diyakini oleh sebagian tabiin dan fuqaha. Intinya adalah hal itu tidak hanya diyakini oleh Rafidhah tetapi juga diyakini oleh sebagian sahabat dan tabiin. Sungguh memalukan, makanya sebelum membantah ya tolong dibaca dulu pelan-pelan tulisan orang lain

  14. Ternyata dalam situsnya, Abu Fulan sudah membawakan bantahan atas tulisan di atas. Seperti biasa bantahan itu tidak ada nilainya dan kami dengan senang hati akan menunjukkan betapa lemahnya bantahan tersebut. Abu Fulan berkata

    Pernyataan Abu Fulan ini keliru, ia mencampuradukkan waham khayal-nya ke dalam perkataan Ibnu Hazm. Sebaik-baik bantahan atas waham khayal-nya adalah ucapan Ibnu Hazm sendiri

    فذهب بعض أهل السنة وبعض أهل المعتزلة وبعض المرجئة وجميع الشيعة إلى أن أفضل الأمة بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم علي بن أبي طالب وقد روينا هذا القول نصا عن بعض الصحابة رضي الله عنهم وعن جماعة من التابعين

    Telah datang sebagian ahlu sunnah, sebagian mu’tazilah, sebagian murji’ah dan seluruh Syi’ah menyatakan bahwa di kalangan umat yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu], dan telah diriwayatkan hal ini dari sebagian sahabat [radiallahu ‘anhum], jama’ah tabiin dan fuqaha

    Apakah sebelum Abu Bakar dibaiat itu sudah ada yang namanya mu’tazilah, murji’ah dan Syi’ah?. Memangnya sebelum Abu Bakar di baiat itu sudah ada yang namanya tabiin dan fuqaha?. Dan zhahir lafaz Ibnu Hazm adalah “umat yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Jadi lafaz ini tidak ada kaitannya dengan waktu sebelum dibaiat atau setelah dibaiat. Intinya adalah sebagian Ahlus Sunnah menganggap Aliy adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dari itu otomatis ia lebih utama dari Abu Bakar dan Umar.

    Hal ini tidak tergantung dengan siapa yang dibaiat dan siapa yang membaiat. Karena yang sedang dibicarakan Ibnu Hazm disini adalah keyakinan tafdhil yaitu siapa orang yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan soal kekhalifahan setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Abu Fulan ini telah mengada-adakan kedustaan atas Ibnu Hazm

    Tidak ada dalil shahih yang menunjukkan bahwa orang yang dibaiat sebagai khalifah itu adalah orang yang paling utama. Tidak ada juga dalil shahih yang menunjukkan bahwa orang yang dibaiat pasti lebih utama dari orang yang membaiat.

    Bukti paling jelas untuk hal ini adalah Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] telah membaiat Yazid sebagai khalifah dan tidak ada satupun ulama ahlus sunnah yang mengatakan kalau Yazid lebih utama dari Ibnu Umar atau Yazid lebih utama dari semua sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang masih hidup saat itu. Maka logika Abu Fulan ini yang menjadikan baiat sebagai dasar keutamaan adalah logika yang sangat keliru.

    Dalam tulisan sebelumnya kami membawakan contoh dimana Ibnu Hajar tidak konsisten dalam mengimplementasikan istilah yang ia buat. Dalam biografi Abu Yaqzhan disebutkan kalau ia percaya Raj’ah maka sesuai dengan kaidah Ibnu Hajar harusnya ia disebut Rafidhah sangat ekstrem atau kalau dengan bahasa Abu Fulan yaitu Rafidhah super ghuluw. istilah ini menurut Abu Azifah tergolong orang kafir

    Ibnu Hajar justru tidak menyebutkan Abu Yaqzhan dengan sebutan Rafidhah sangat ekstrem, ia justru menyebutkan dengan tasyayyu’ ekstrem yaitu orang yang mengutamakan Aliy dari Abu Bakar dan Umar tetapi tidak mencelanya. Nama lain tasyayyu’ ekstrem sesuai kaidah Ibnu Hajar adalah Rafidhah dan istilah ini menurut Abu Azifah masih tergolong bisa diterima riwayatnya dan tidak tergolong kafir. Inilah buktinya

    Silakan pembaca lihat, bukankah itu namanya tidak konsisten. Kalau memang Ibnu Hajar konsisten ya harusnya ia menyatakan Abu Yaqzhan “Rafidhah sangat ekstrem” bukannya “Tasyayyu’ ekstrem”. Apalagi kalau menuruti logika Abu Fulan tersebut Rafidhah sangat ekstrem itu kafir sedangkan tasyayyu’ ekstrem itu tidak kafir. Lucu sekali ya kalau saya harus menjelaskan hal seperti ini dengan terperinci. Ini menunjukkan untuk kesekian kalinya bahwa Abu Fulan ini tidak memiliki akal yang cukup untuk memahami perkataan orang lain.

    Oooh tidak begitu wahai Abu Fulan. Justru disini saya sedang mengkritik anda yang sembarangan menafsirkan makna Rafidhah dimana anda taklid kepada Ibnu Hajar dan mengatasnamakan hal itu seolah sudah menjadi ijma’ diantara para ulama. Padahal hakikatnya adalah makna Rafidhah di sisi para ulama itu tidak sesuai dengan apa yang disebutkan Ibnu Hajar.

    Contoh perkataan Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr yang saya nukil menunjukkan bahwa jika kaidah Ibnu Hajar dipakai maka itu berarti terdapat sebagian sahabat Nabi yang statusnya Rafidhah. Padahal di sisi Ibnu Hazm Rafidhah itu bukan tergolong kaum muslimin. Kan tidak mungkin kalau Ibnu Hazm menganggap para sahabat itu bukan golongan kaum muslimin. Jadi penjelasannya adalah Ibnu Hazm tidak mengenal makna Rafidhah ala Ibnu Hajar tersebut. Ibnu Hazm tidak akan menyatakan para sahabat yang mengutamakan Aliy di atas Abu Bakar dan Umar sebagai Rafidhah.

    Maaf anda katakan saya tidak memahami tulisan secara utuh. Justru saya menunjukkan kalau anda adalah orang yang tidak paham apa itu logika yang benar. Lihat saja anda justru mengulang kontradiksi yang anda lakukan tersebut, sok bilang orang “menyedihkan” padahal hakikatnya anda yang menyedihkan.

    Bukankah anda mengatakan Syi’ah itu adalah orang yang mengutamakan Aliy di atas sahabat kecuali Syaikhan dan Rafidhah adalah orang yang mengutamakan Aliy di atas sahabat termasuk syaikhan. Kalau begitu saya tanya pernyataan anda dalam judul tulisan menuduh saya “Syi’ah Rafidhah” itu bermakna apa?. Itu berarti saya Syi’ah dimana saya mengutamakan Aliy di atas sahabat kecuali Syaikhan dan disaat yang sama saya Rafidhah dimana saya mengutamakan Aliy di atas sahabat termasuk Syaikhan. Itu kan sangat jelas kontradiktif. Sungguh memalukan sekali anda ini, kok logika sederhana seperti itu tidak paham.

    Saya hanya menunjukkan kepada anda kalau anda konsisten menggunakan kaidah Ibnu Hajar maka seseorang itu tidak bisa disebut “Syi’ah Rafidhah”. Kalau Syi’ah ya Syi’ah kalau Rafidhah ya Rafidhah karena keduanya mengandung maka yang bertentangan yaitu Syi’ah tidak mengutamakan Aliy atas Abu Bakar dan Umar sedangkan Rafidhah mengutamakan Aliy atas Abu Bakar dan Umar. Jelas tidak mungkin mengatakan seseorang mengutamakan Aliy di atas sahabat dan tidak mengutamakan Aliy di atas Abu Bakar dan Umar [Syi’ah] tetapi di saat yang sama ia mengutamakan Aliy di atas sahabat termasuk Abu Bakar dan Umar [Rafidhah].

    Kalau sudah saya jelaskan dengan terperinci, anda masih tidak mengerti dan membantah tidak karuan wahai Abu Fulan maka saya yakin para pembaca akan melihat betapa memalukan dan rendahnya diri anda.

    Saya tidak keberatan untuk mengulangi bahwa apa yang anda klaim sebagai ijma’ itu tidak ada gunanya jika bertentangan dengan hadis yang shahih. Sekedar informasi buat anda cukup sering hal-hal yang dianggap ijma’ ternyata batal karena adanya dalil shahih yang menentang ijma’ tersebut. Makanya banyak-banyak membaca bung.

    Adapun soal pemahaman hadis Tsaqalain, saya ingatkan anda untuk tidak mengatasnamakan para ulama apalagi sahabat. Saya menafsirkan dan memahami hadis Tsaqalain sebagai perintah untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait [tidak hanya mencintainya]. Dan maaf ya terdapat ulama ahlus sunnah yang memahami seperti apa yang saya pahami diantaranya

    Al Manawiy dalam Faidh Al Qadir Syarh Jami’ Ash Shaaghiir 3/15 hadis no 2631 berkata

    قوله أولاً إني تارك فيكم تلويح بل تصريح بأنهما كتوأمين خلفهما ووصى أمته بحسن معاملتهما وإيثار حقهما على أنفسهما واستمساك بهما في الدين

    Perkataan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] yang pertama yaitu “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian” merupakan isyarat bahkan pernyataan jelas bahwa keduanya seperti saudara kembar yang beliau tinggalkan. Beliau berwasiat kepada umatnya agar memperlakukannya dengan baik, mendahulukan hak keduanya atas diri mereka dan berpegang kepada keduanya di dalam agama

    Mas’ud bin Umar At Taftaazaaniy dalam Syarh Al Maqaashid 5/303 berkata setelah mengutip hadis Tsaqalain

    ألا يرى أنه صلى الله عليه وسلم قرنهم بكتاب الله في كون التمسك بهما منقذا من الضلالة ، ولا معنى للتمسك بالكتاب إلا الأخذ بما فيه من العلم والهداية ، فكذا العترة

    Bukankah jelas terlihat bahwasanya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengikutkan mereka [itrah] dengan kitab Allah dalam hal dimana harus berpegang pada keduanya agar selamat dari kesesatan. Dan tidaklah makna berpegang kepada kitab Allah kecuali mengambil ilmu dan petunjuk darinya maka demikian pula halnya itrah.

    Berbeda halnya dengan sebagian orang yang tersesat dimana mereka hanya mengatakan kalau hadis Tsaqalain sekedar mengharuskan mencintai Ahlul Bait tetapi tidak perlu menjadikan pedoman. Padahal jelas-jelas lafaz hadisnya menyatakan perintah berpegang teguh kepada Ahlul Bait.

    Terakhir soal pernyataan anda bahwa para sahabat membaiat Abu Bakar berarti para sahabat mengutamakan Abu Bakar dibanding Aliy adalah pernyataan yang berpijak pada logika yang cacat. Karena baiat tidak menunjukkan kalau orang yang dibaiat adalah orang yang paling utama. Buktinya sudah saya sampaikan sebelumnya yaitu Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] bahkan membaiat Yazid bin Mu’awiyah. Dan alangkah bodohnya orang yang mengatakan Yazid lebih utama dari Ibnu Umar dengan dasar baiat tersebut.

  15. Saya melihat @SP cenderung memisahkan Syiah dengan Rafidhah, mungkin karena @SP sepakat dengan istilah dan penggolongan sebagaimana yang telah ditentukan oleh Ibnu Hajar. Seorang Rafidhah sudah dapat dipastikan adalah Syiah (secara madzhab) akan tetapi tidak sebaliknya, apakah benar seperti demikian @SP?
    Saya pribadi tidak terlalu suka dengan istilah Rafidhah, karena Rafidhah itu sendiri awal kemunculannya tidaklah dapat disepakati secara mutlak; banyak kabut yang melingkupinya. Meskipun para ulama meyandarkannya kepada hadis-hadis akan tetapi perlu untuk dikaji secara teliti dan hati-hati. Disamping itu, istilah Rafidhah sendiri cenderung hanya menjadi sebuah stigma buruk kepada orang-orang sebagai penanda sekaligus pembeda dari “mainstream” kesepakan yang dipahami secara bersama-sama. Saya berharap semoga istilah Rafidhah tidak menjadi semakin murah sehingga mudah untuk diobral oleh siapa sahaja.

  16. mengenai istilah Rafidah, terkadang kita lupa untuk membahasnya dari sisi bahasa.

    bisa jadi mereka yang gemar menuduh Syiah sebagai Rafidah adalah sebenar-benarnya Rafidah dari sisi ahlul bayt dan ahlus sunnah.

  17. @SP

    Telah masyhur istilah rafidhah termasuk jarh bagi perawi.

    Secara asal rafidhah periwayatannya ditolak kecuali ada qarinah lain, hal ini telah maklum. (detail dari komen saya sebelumnya)

    Para shahabat MEMILIH Abu Bakar sebagai khalifah merupakan qarinah lebih utamanya beliau dari Ali. (tidak ada hubungannya dengan yang dibaiat lebih utama daripada yang membaiat, yang ada hubungannya adalah kalimat “MEMILIH” — ini komen saya atas pembaiatan yazid oleh Ibnu Umar).

    Setelah pembaiatan Abu Bakar, tidak ada suara-suara Ali lebih utama dari Abu Bakar. (para shahabat telah ruju dari sebelumnya lebih mengutamakan Ali, sehingga tidak ada rafidhah dalam kelompok shahabat Nabi).

    Perkataan Ibnu Hazm “sebagian ahlussunnah” adalah sebagian kalangan shahabat yang lebih mengutamakan Ali dari Abu bakar sebelum terjadi pembaiatan Abu Bakar, hal ini DIRIWAYATKAN oleh jamaah tabi’in, bukan tabi’in berpendapat demikian. Makanya saya tanyakan kepada mas SP adakah perawi selain shahabat yang lebih mengutamakan Ali yang tidak disebut Rafidhah ?

    Mengenai tsaqalain, ternyata para shahabat menyelisihi SP, dimana mereka meninggalkan Ali dalam kekhalifahan, tidak hanya sekali, bahkan 3 kali.

    Tidak hanya para shahabat, tabi’in dan dibawahnya secara mutawatir juga mengambil ilmu dari para shahabat selain Ali juga, meriwayatkan dari mereka, tidak ada dari mereka yang mengkhususkan mengambil ilmu khusus dari ahlul bait sebagaimana yang dilakukan syiah hari ini.

    Terakhir tentang ijma’ … anda tentunya telah mempelajari apa itu hadits mungkar dan syadz. Bagi saya tidak mungkin ijma bertentangan dengan nash, akan tetapi pemahaman tentang nash itu yang yang tidak boleh menentang ijma’, pemahaman itu yang perlu dikoreksi, bukan ijma’nya.

  18. @abu azifah

    Telah masyhur istilah rafidhah termasuk jarh bagi perawi.
    Secara asal rafidhah periwayatannya ditolak kecuali ada qarinah lain, hal ini telah maklum. (detail dari komen saya sebelumnya)

    Ucapan dusta yang hanya muncul dari waham khayal anda saja. Silakan tunjukkan referensi-nya dalam kitab Jarh wat ta’dil atau kitab Ulumul Hadis yang menunjukkan kalau rafidhah itu makna asalnya adalah jarh. Kalau begitu saya tanya itu jarh dalam hal ‘adalah atau dalam hal dhabit?. Kemudian jarh Rafidhah itu masuk dalam tingkatan berapa?. Jangan kebanyakan ngeyel bung, jawaban anda itu seperti halnya jawaban “tetap kambing walaupun bisa terbang”. Rafidhah itu sama hal-nya dengan Khawarij dan Nashibiy yaitu salah satu mazhab yang menyimpang di sisi Ahlus Sunnah. Sejak kapan mazhab Rafidhah, Khawarij dan Nashibiy menjadi salah satu bentuk lafaz jarh. Ucapan anda ini hanya ngeyel bin ngeyel untuk menutupi hakikat diri anda yang telah mendustakan diri anda sendiri, tanaqudh bin tanaqudh

    Para shahabat MEMILIH Abu Bakar sebagai khalifah merupakan qarinah lebih utamanya beliau dari Ali. (tidak ada hubungannya dengan yang dibaiat lebih utama daripada yang membaiat, yang ada hubungannya adalah kalimat “MEMILIH” — ini komen saya atas pembaiatan yazid oleh Ibnu Umar).

    Cuma jawaban ngeyel saja, jelas-jelas dalam kalimat anda sebelumnya lafaz yang anda gunakan adalah “membaiat”. Tapi tidak maslaah, tinggal saya ubah saja tuh kalimatnya Ibnu Umar memilih Yazid sebagai khalifah buktinya ya Ibnu Umar membaiatnya. Masa’ Ibnu Umar mau membaiat kalau ia tidak memilih Yazid. Nah loooo itu berarti dalam keyakinan anda Yazid lebih utama dari Ibnu Umar. Silakan lanjutkan jawaban ngeyel-nya

    Setelah pembaiatan Abu Bakar, tidak ada suara-suara Ali lebih utama dari Abu Bakar. (para shahabat telah ruju dari sebelumnya lebih mengutamakan Ali, sehingga tidak ada rafidhah dalam kelompok shahabat Nabi).

    Jelas ada, itu seperti yang dikatakan Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr di atas. Tidak ada satupun dari kalimat mereka keterangan kalau itu berlaku sebelum pembaiatan Abu Bakar. Itu hanya waham khayal anda yang anda campuradukkan ke perkataan Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr di atas.

    Perkataan Ibnu Hazm “sebagian ahlussunnah” adalah sebagian kalangan shahabat yang lebih mengutamakan Ali dari Abu bakar sebelum terjadi pembaiatan Abu Bakar, hal ini DIRIWAYATKAN oleh jamaah tabi’in, bukan tabi’in berpendapat demikian. Makanya saya tanyakan kepada mas SP adakah perawi selain shahabat yang lebih mengutamakan Ali yang tidak disebut Rafidhah ?

    Uups sudah diulang juga masih ngeyel. Kalau tidak bisa bahasa arab please jangan sok tahu deh. Nih saya nukil lagi perkataan Ibnu Hazm

    وقد روينا هذا القول نصا عن بعض الصحابة رضي الله عنهم وعن جماعة من التابعين والفقهاء

    Dan sungguh telah diriwayatkan perkataan ini dari sebagian sahabat dan dari jamaah tabiin dan fuqaha

    Yang diriwayatkan itu adalah perkataan bahwa Ali paling utama setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dan siapakah yang mengatakan ini yaitu sebagian sahabat, jamaah tabiin dan fuqaha. Mana ada Ibnu Hazm mengeluarkan kalimat “diriwayatkan oleh jamaah tabiin”. Hal ini sama seperti lafaz “telah diriwayatkan dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Nah bukan berarti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang meriwayatkan tetapi maknanya telah diriwayatkan perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi zhahir makna lafaz Ibnu Hazm di atas adalah telah diriwayatkan perkataan sebagian sahabat, perkataan jamaah tabiin dan fuqaha bahwa Ali adalah yang paling utama setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aduuuuh punya malu sedikit dong bung, kalau sampean memang tidak paham bahasa arab ya jangan sok tahu lah.

    Mengenai tsaqalain, ternyata para shahabat menyelisihi SP, dimana mereka meninggalkan Ali dalam kekhalifahan, tidak hanya sekali, bahkan 3 kali.

    Lho saya tinggal menafsirkan bahwa para sahabat tersebut tidak menganggap bahwa khalifah itu harus orang yang paling utama atau orang yang menjadi pedoman. Buktinya adalah sahabat seperti Ibnu Umar tetap memilih dan membaiat Yazid sebagai khalifah padahal kualitas Yazid dalam agamanya itu sudah sangat jelas diketahui rendahnya.

    Tidak hanya para shahabat, tabi’in dan dibawahnya secara mutawatir juga mengambil ilmu dari para shahabat selain Ali juga, meriwayatkan dari mereka, tidak ada dari mereka yang mengkhususkan mengambil ilmu khusus dari ahlul bait sebagaimana yang dilakukan syiah hari ini.

    Lho silakan, saya mengakui hadis Tsaqalain adalah bukti bahwa Ahlul Bait adalah pegangan agar tidak tersesat. Terus apa pernah tuh saya mengkhususkan ilmu harus diambil dari Ahlul Bait?. Tidak kok. Bahkan saya banyak mengambil dan berpegang pada hadis dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melalui jalur sahabat. Siapa yang sedang bicara soal Syi’ah disini?. Makanya jangan kebanyakan waham khayal bung. Berpegang pada Ahlul Bait tidak mesti harus menafikan berpegang pada hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melalui jalur sahabat. Bahkan saya berpegang teguh pada Ahlul Bait juga karena saya berpegang pada hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melalui jalur sahabat.

    Terakhir tentang ijma’ … anda tentunya telah mempelajari apa itu hadits mungkar dan syadz. Bagi saya tidak mungkin ijma bertentangan dengan nash, akan tetapi pemahaman tentang nash itu yang yang tidak boleh menentang ijma’, pemahaman itu yang perlu dikoreksi, bukan ijma’nya.

    Kalau tidak punya ilmu ya tolong sadar diri. Apa anda pikir ijma’ itu sudah pasti benar?. Tidak kok, cukup sering kasus yang dinukil sebagai ijma’ ternyata menyelisihi dalil shahih maka apa yang dinukil sebagai ijma’ itu tertolak. Contohnya ada tuh dalam kitab-kitab fiqih para ulama, makanya banyak banyaklah membaca. Percuma anda mengatakan “bagi saya tidak mungkin ijma’ bertentangan dengan nash”. Lha iyalah bagi anda yang dasar ilmu hadis saja tidak punya, anda yang tidak tahu apa itu tadlis dan apa itu ikhtilath, anda yang sering berdusta atas nama ulama, anda yang cuma mengandalkan kopipaste tetapi tidak bisa membaca langsung kitab rujukan. Siapa anda gitu loh, anda ini tidak nyadar justru diri andalah yang penuh dengan banyak hal yang harus dikoreksi.

  19. Orang wahabi itu bertanya kepada @SP
    Mengapa para sahabat meninggalkan Ali hingga tiga kali?

    Mohon maaf sebelumnya kalau saya seenaknya saja ikut nimbrung…

    Saya tidak tahu hal2 yg ghaib termasuk juga apa2 yang ada di dalam benak para sahabat. Apakah para sahabat itu menganggap seorang pemimpin tidaklah harus dari orang yang paling utama atau kerana alasan lainnya saya tidak tahu pastinya dan saya tidak mau berandai2 melakukan pembelaan atas nama pihak lain.

    Akan tetapi satu hal yang pasti:
    Ayat Wilayah (Surah Al Maidah 55) merupakan petunjuk bahawa Imam Ali merupakan pemimpin kaum muslimin. Ayat Wilayah kemudian diperjelas dengan hadist Safinah. Bahkan diperkuat lagi, dimana Imam Ali (as) menegaskan kembali kepemimpinan beliau ketika beliau terpilih sebagai khalifah dengan mengumpulkan orang2 di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir-Khum. Kemudian beberapa orang dari para sahabat itu berdiri memberikan kesaksiannya.

    Sekarang mengapa sejarah tertulis seperti apa yang kita saksikan saat ini.

    Ingat….
    Bukankah Nabi SAW pernah berkata kepada Ali “Sesungguhnya kamu akan mengalami kesukaran sepeninggalku”
    dan…
    Bukankah Imam Ali pernah berkata “diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku, umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.

    Dan mengapa Imam Ali tidak berkeras menuntut apa2 yang menjadi haknya
    ………

    Jawablah pertanyaan itu dengan hati nurani anda sendiri…..

    Silahkan bagi siapa saja menuduh ini semua sebagai ocehan dari orang Rafidhah. Ketahuilah istilah Rafidhah datangnya bukan dari Allah dan Rasul-Nya jadi saya tidak cemas, kawatir dan gegana (gelisah, galau, merana)

    Kewajiban mengikuti Ahlul Bait (as) sebagai orang2 yang selalu bersama kebenaran adalah wajib.
    Sedangkan para ulama adalah orang2 yang berusaha selalu berada dalam kebenaran.

    Orang2 yang selalu bersama kebenaran (Ahlul Bait) BERBEDA JAUH dengan orang2 yang selalu berusaha berada dalam kebenaran (Para ulama) seperti jarak jauhnya langit dan bumi.

  20. Alhamdulillah banyak manfaat yg dapat diambil dari tulisan ini dan juga komentar2 yg ada, yg terang semakin benderang yg gelap semakin gulita

  21. mungkin menurut Abu Azifah, ijma lebih utama dari nash.

  22. Libur puasa, di rumah browsing internet dapat tambahan manfaat. Alhamdullilah

  23. abu azifah<—pak baca dong sejarah ghadir khum,pak sepanjang hayat masih dikandung badan cari kebenaran dong pak

  24. Apakah Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khobab, Jabir, Abu Said al-Khudri, dan Zaid b. Arqom (rodhiyallohu anhum)et al. tetap ISTIQOMAH meng-utama-kan Ali (alaihissalam) diatas sohabat lain pascabaiat Abu Bakar (rodhiyallohu anhu), juga pra- dan pascabaiat Umar maupun Utsman (rodhiyallohu anhum), dst.? Sejauh yg saya tau, bahkan Abu Dzar harus meninggal di Robadzah karena diasingkan oleh Khalifah Utsman ke sana. Shg klo dikatakan mereka telah ruju dari mengutamakan Ali (alaihissalam) pascabaiat Abu Bakar (rodhiyallohu anhu) kayaknya cuman waham aja. Wallohu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: