Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi

Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi

Bukan nashibi namanya kalau tidak membela Muawiyah. Segala cara akan mereka lakukan untuk membela Muawiyah, apapun yang terjadi pokoknya Muawiyah harus dibebaskan dari segala perilaku buruk. Setiap perilaku buruk Muawiyah harus ditafsirkan sebagai akhlak yang mulia. Jika Muawiyah meminum minuman yang diharamkan maka harus ditafsirkan bahwa yang ia minum adalah susu. Jika Muawiyah menolak hadis dan menuduh sahabat berdusta maka harus ditafsirkan ia berijtihad. Orang yang berakal pasti akan merasa geli melihat ulah para nashibi yang menghalalkan segala cara untuk membela pujaan mereka Muawiyah.

Berkaitan dengan Muawiyah mencela Imam Ali, para nashibi [yang biasa terlibat di forum konyol kebanggaan mereka] menolak dengan sombongnya kalau Muawiyah mencela Imam Ali. Bahkan ada diantara mereka yang berlisan kotor menuduh orang yang tidak sependapat dengannya sebagai Dajjal. Na’udzubillah betapa buruknya akhlak para nashibi.

Kami sarankan agar para pembaca tidak terlibat diskusi dengan mereka karena kasihan itu hanya akan memperbanyak dosa mereka. Diskusi itu pada akhirnya hanya akan membuat para nashibi menghina anda bahkan menyebut anda Dajjal. Apalagi kalau anda tidak hati-hati dan terbawa emosi maka anda akan ikut ikutan menghina pula jadilah diksusi itu ajang caci mencaci dan hina menghina. Biarkanlah mereka hidup dengan tabiat mereka yang suka menghina, tidak lain itu warisan dari pujaan mereka Muawiyah yang suka mencaci Imam Ali

حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya [Sunan Ibnu Majah 1/45 no 121 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah no 98]

Nashibi yang sok berasa paham ilmu hadis Ahlus sunnah setelah menukil riwayat ini, ia menyatakan bahwa riwayat ini dhaif karena inqitha’ atau sanadnya terputus. Ibnu Sabith tidak mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqash maka riwayatnya mursal. Pernyataan ini hanya bertaklid buta pada pendapat Ibnu Ma’in berikut yaitu dari riwayat Ad Duuriy

سمعت يحيى يقول قال بن جريج حدثني عبد الرحمن بن سابط قيل ليحيى سمع عبد الرحمن بن سابط من سعد قال من سعد بن إبراهيم قالوا لا من سعد بن أبى وقاص قال لا قيل ليحيى سمع من أبى أمامة قال لا قيل ليحيى سمع من جابر قال لا هو مرسل كان مذهب يحيى أن عبد الرحمن بن سابط يرسل عنهم ولم يسمع منهم

Aku mendengar Yahya mengatakan Ibnu Juraij berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Saabith, dikatakan kepada Yahya, apakah ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Sa’ad?. Yahya berkata “Sa’ad bin Ibrahim?”. Mereka menjawab “bukan”, dari Sa’ad bin Abi Waqaash. Yahya berkata “tidak”. Dikatakan kepada Yahya, apakah ia mendengar dari Abu Umamah. Yahya menjawab “tidak”. Dikatakan kepada Yahya apakah ia mendengar dari Jabir. Yahya menjawab “tidak, itu mursal”. Mazhab Yahya adalah ‘Abdurrahman bin Saabith mengirsalkan hadis dari mereka dan tidak mendengar dari mereka [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 366]

Yahya bin Ma’in beranggapan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’ad, Abu Umamah, dan Jabir. Riwayat Ibnu Saabith dari ketiganya adalah mursal. Ini adalah pendapat atau mazhab Ibnu Ma’in dan ternyata terbukti keliru. Imam Bukhari berkata

عبد الرحمن بن عبد الله بن سابط الجمحي المكي سمع جابرا روى عنه ليث وعبد الله بن مسلم بن هرمز وفطر

‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy mendengar dari Jabir, meriwayatkan darinya Laits, ‘Abdullah bin Muslim bin Hurmuz dan Fithr [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 5 no 985]

عبد الرحمن بن سابط الجمحى مكى روى عن عمر رضى الله عنه مرسل وعن جابر بن عبد الله، متصل

‘Abdurrahman bin Saabith Al Jumahiy Al Makkiy meriwayatkan dari Umar radiallahu ‘anhu mursal dan dari Jabir bin ‘Abdullah muttashil [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/240 no 1137]

Dan terdapat riwayat dari Ibnu ‘Adiim dalam kitabnya Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab menyebutkan riwayat dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [silakan lihat http://islamport.com/w/tkh/Web/363/1013.htm%5D

وأخبرنا أبو اسحاق إبراهيم بن عثمان بن يوسف الكاشغري -قدم علينا حلب- قال: أخبرنا أبو المظفر أحمد بن محمد بن علي بن صالح الكاغدي وأبو الفتح محمد بن عبد الباقي بن أحمد بن سلمان. قال أبو المظفر: أخبرنا أبو بكر أحمد بن علي بن الحسين بن زكريا، وقال أبو الفتح: أخبرنا أبو الفضل أحمد بن الحسن بن خيرون قالا: أخبرنا أبو علي الحسن بن أحمد بن ابراهيم بن شاذان قال: أخبرنا أبو محمد عبد الله بن جعفر بن درستويه قال: أخبرنا أبو يوسف يعقوب بن سفيان الفسوي قال: حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير قال: حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله.

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kaasyghariy, yang mendatangi kami di Halab, yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muzhaffar Ahmad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Shalih Al Kaaghadiy dan Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan. Abu Muzhaffaar berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Husain bin Zakaria. Dan Abu Fath berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairuun. Keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan Al Fasawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabii’ bin Sa’d dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata “aku bersama Jabir maka masuklah Husain bin Ali radiallahu ‘anhum. Jabir kemudian berkata “siapa yang ingin melihat seorang ahli surga maka lihatlah orang ini, aku bersaksi telah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya [Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92]

Riwayat ini kedudukannya shahih telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Para perawi yang kami jelaskan berikut adalah yang kami cetak biru

  • Abu Ishaq Ibrahim bin Utsman bin Yusuf Al Kasyghariy disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar yaitu Syaikh Mu’ammar Musnad Iraq. Ibnu Nuqtah berkata “pendengarannya shahih” [dalam hadis]. Ibnu Najjar juga mengatakan ia shahih pendengarannya [As Siyar Adz Dzahabi 23/148-149 no 03]
  • Abu Fath Muhammad bin ‘Abdul Baqiy bin Ahmad bin Salmaan biografinya disebutkan Ibnu Ad Dimyathiy dalam kitabnya Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad dimana disebutkan kalau Abu Fath seorang syaikh shalih shaduq dan terpercaya [Al Mustafad Min Dzail Tarikh Baghdad no 14]
  • Abu Fadhl Ahmad bin Hasan bin Khairun disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam As Siyar bahwa ia Imam Alim Hafizh Musnad Hujjah. As Sam’aniy menyatakan ia tsiqat adil mutqin [As Siyar Adz Dzahabi 19/105-106 no 60]
  • Abu Ali Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan disebutkan biografinya oleh Adz Dzahabiy dalam As Siyaar bahwa ia Imam Al Fadhl Shaduq Musnad Iraq. Al Khatib berkata “aku menulis darinya, shahih pendengarannya, shaduq”. Abu Hasan bin Zarqawaih menyatakan ia tsiqat [As Siyar Adz Dzahabi 17/416-417 no 273]
  • ‘Abdullah bin Ja’far Abu Muhammad adalah Ibnu Darastawaih, Adz Dzahabi menyatakan ia seorang Imam, Allamah dan tsiqat [As Siyar 15/531 no 309]
  • Yaqub bin Sufyan Al Fasawi disebutkan Ibnu Hajar bahwa ia seorang hafiz yang tsiqat [At Taqrib 2/337]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6388]
  • Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat hafizh memiliki keutamaan [At Taqrib 2/100]
  • ‘Abdullah bin Numair adalah perawi kutubus sittah yang dikatakan Ibnu Hajar tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabiy menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]
  • Rabi’ bin Sa’d Al Ju’fiy dikatakan Abu Hatim “tidak ada masalah padanya” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 2077]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 6 no 7800]. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 2216]. Ibnu Syahin dan Ibnu Ammar menyatakan ia tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 354]
  • Abdurrahman bin Saabith, Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/570]. Adz Dzahabiy menyatakan ia faqih tsiqat [Al Kasyf no 3198]

Riwayat Ibnu Saabith di atas menjadi bukti bahwa mazhab Ibnu Ma’in keliru. Perkataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d, Abu Umamah dan Jabir disampaikan dengan satu lafaz perkataan dan menjadi mazhab Ibnu Ma’in. Jika terbukti bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir maka sangat wajar kita katakan pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d dan Abu Umamah sama tidak berdasarnya dengan pernyataan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Jabir. Satu-satunya yang mungkin Ibnu Ma’in mengatakan riwayat Ibnu Saabith dari mereka mursal karena menurut Ibnu Ma’in, Ibnu Saabith tidak menemui masa hidup mereka.

Dari riwayat tersebut Ibnu Saabith bertemu dengan Jabir bin ‘Abdullah radiallahu ‘anhu bahkan melihat Husain bin Ali [‘alaihis salam]. Imam Husain wafat pada tahun 61 H [Al Kasyf no 1097]. Maka peristiwa di atas terjadi sebelum tahun 61 H dan saat itu Ibnu Saabith sudah dewasa dan bersama Jabir radiallahu ‘anhu. Sa’d bin Abi Waqash wafat pada tahun 55 H [Al Kasyf no 1845] maka Ibnu Saabith bertemu dengan Sa’d bin Abi Waqash apalagi, Ibnu Saabith itu adalah orang Makkah dan peristiwa Muawiyah mencela Imam Ali terjadi ketika Sa’ad bin Abi Waqash sedang berada di Makkah. Bagaimana mungkin perawi yang berada dalam satu masa dan satu kota yang sama bisa dikatakan tidak mendengar dan riwayatnya mursal. Kesimpulannya mazhab Ibnu Ma’in dalam hal ini terbukti keliru.

Ibnu Hajar dalam Al Ishabah mengutip bahwa ada yang mengatakan kalau Ibnu Saabith tidak shahih mendengar dari sahabat Nabi dan ada yang mengatakan kalau ia tidak menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash [Al Ishabah 5/228 no 6691]. Kemungkinan orang yang dimaksud Ibnu Hajar tersebut adalah Ibnu Ma’in. Lagipula terlepas dari siapa yang dikutip Ibnu Hajar tersebut pernyataan itu keliru. Ibnu Saabith terbukti mendengar dari Jabir radiallahu ‘anhu dan ia menemui masa Sa’ad bin Abi Waqash.

Ad Dhiya’ Al Maqdisi dalam kitabnya Al Ahadits Al Mukhtarah [dimana ia menshahihkan hadis yang ia kutip] mengutip hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dengan judul “Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d radiallahu ‘anhu” [Al Ahadis Al Mukhtarah no 1008]. Hal itu menunjukkan bahwa di sisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’ad adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa’d. Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah Wan Nihayah 7/376 juga membawakan hadis ‘Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d di atas dan ia berkata “sanadnya hasan” maka itu berarti disisinya riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d adalah muttashil [bersambung] atau Ibnu Saabith mendengar dari Sa’d

.

.

.

عن عامر بن سعد بن أبي وقاص عن أبيه قال أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي

Dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqash dari ayahnya yang berkata Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku” [Shahih Muslim 4/1870 no 2404]

Kami telah menjelaskan panjang lebar makna hadis ini dalam tulisan kami yang lalu, dimana kami membantah penafsiran An Nawawi terhadap hadis ini. Disini kami hanya ingin mengutip ulama yang menguatkan hujjah kami bahwa makna hadis riwayat Muslim di atas adalah Muawiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali.

Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy termasuk ulama yang mengartikan riwayat Muslim sebagai Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Imam Ali. Dalam kitabnya Syarh Sunan Ibnu Majah, ketika menjelaskan lafaz “Fanala minhu” dalam hadis Ibnu Saabith di atas ia berkata

قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي

Perkataannya “Fanala minhu” bermakna Muawiyah mencela Ali, berkata buruk tentangnya dan mencacinya kemudian memerintahkan Sa’ad untuk mencacinya seperti yang dikatakan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi [Syarh Sunan Ibnu Majah no 121]

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Manhaj As Sunnah ketika menyinggung hadis Sa’ad riwayat Muslim, ia berkata

وأما حديث سعد لما أمره معاوية بالسب فأبى فقال ما منعك أن تسب علي بن أبي طالب فقال ثلاث قالهن رسول الله صلى الله عليه وسلم فلن أسبه لأن يكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم الحديث فهذا حديث صحيح رواه مسلم في صحيحه

Adapun hadis Sa’ad ketika Muawiyah memerintahkannya untuk mencaci dan ia menolak maka Muawiyah berkata “apa yang mencegahmu mencaci Ali bin Abi Thalib?” Sa’ad berkata “selama masih ada tiga hal yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentangnya maka aku tidak akan mencacinya. Seandainya aku memiliki satu saja diantara ketiganya maka itu lebih aku cintai dari segala macam kebaikan –al hadits-. Hadis ini adalah hadis shahih diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya [Manhaj As Sunnah Ibnu Taimiyyah 5/16]

Penafsiran kami terhadap hadis ini jelas bersandarkan pada teksnya. Lafaz pertama “Muawiyah memerintah Sa’ad” kemudian lafaz berikutnya Muawiyah berkata “apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab”. Maka orang yang paham dan punya akal pikiran dapat mengetahui bahwa hadis itu bermakna Muawiyah memerintahkan Sa’d mencaci Ali tetapi Sa’d menolaknya maka Muawiyah bertanya “apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab?”. Sedangkan apa yang dijelaskan oleh Nawawi dalam Syarh Muslim dan diikuti secara buta oleh para nashibi [karena membela idola mereka] adalah penakwilan dan tidak berdasarkan pada lafaz hadisnya.

.

.

.

Berikut akan kami bawakan hadis lain sebagai bukti Muawiyah mencela Imam Ali dan menuduhnya dengan tuduhan konyol yang jika saja perkataan serupa ditujukan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami yakin para nashibi akan mengkafirkan orang yang mengatakannya.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata “Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Ali dan sahabatnya, mereka membawanya dan melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita [Musnad Ahmad 4/199 no 17813 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Perhatikan hadis di atas setelah mengetahui ‘Ammar bin Yasar radiallahu ‘anhu terbunuh dan terdapat hadis bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang maka Muawiyah menolaknya bahkan melemparkan hal itu sebagai kesalahan Imam Ali. Menurut Muawiyah, Imam Ali dan para sahabatnya yang membunuh ‘Ammar karena membawanya ke medan perang dan menurut Muawiyah Imam Ali itu yang seharusnya dikatakan sebagai kelompok pembangkang. Sudah jelas ini adalah celaan yang hanya diucapkan oleh orang yang lemah akalnya.

Tentu saja itu sama halnya dengan Muawiyah menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membunuh para sahabat Badar dan Uhud yang syahid di medan perang karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membawa mereka ke medan perang. Bayangkan jika perkataan dengan “logika Muawiyah” ini diucapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka sudah pasti para nashibi itu akan menyatakan kafir orang yang mengatakannya. Mari kita lihat dalih dalih konyol para nashibi atas pembelaan mereka terhadap sahabat pujaan mereka Muawiyah.

53 Tanggapan

  1. hanya tulisan sampah, sangat tidak layak ditanggapi, siapapun yang mengkaji hadis pasti tahu kalau tulisan ini cuma sampah saja.

  2. @diatas saya.
    Tidak dipakai nama sandi anda, karena tdk senang mencela.
    Mengapa anda katakan tulisan SAMPAH? Bantah dong isnya jangan dikatakan tulisan sampah. Apakah anda tidak sanggup atau ilmu anda hanya ilmu sampah. Orang yang hanya mempunyai ilmu sedikit aja sudah mengetahui kualitas anda dengan cara anda berkomentar.
    Para peneliti sejarah semuanya termasuk orientalis mengatakan Muawiyah Raja yang DHALIM. Yang membelanya hanya orang2 yang senang dengan kedhaliman. Seperti Firman Allah: Hanya orang2 MUNAFIK yang mengangkat orang munafik menjadi pimpinan. .

  3. @syiah emang sinting
    saya setuju dengan Anda

    @second (maaf tidak bisa menyebut nama sisanya, karena kualitas anda cuma second/bekas aja. meminjam bahasa syiah emang sinting, kualitas anda cuma sampah. hohohohoho)

    Abdurrahamn bin tsabit itu kata banyak ulama, mursilul hadits, semua nama sahabat yang dia sebutkan itu adalah bentuk tadlisnya. ia memperoleh nama-nama sahabt itu dari para tabiin kibar meskipun tidak semua, ada beberapa yang ia temui langsung (terutama sahabat yang ada di mekah) dan ada juga melaui perantaraan sahabat yang dekat dengannya, hanya saja ibnu jabir ini suka tidak mau menyebutkan nama mereka, seolah kesannya ia bertemu langsung dengan mereka. berikut bukti bahwa ibnu tsabit sebelum menyebut nama sahabat ia menyebut nama tabiin kibar (yang semasa dengannya) terlebih dahulu:

    ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثنا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَابِطٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ قَالَ: قدم عَلَيْنَا مُعَاذٌ الْيَمَنَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الشِّحْرِ، رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ، أَجَشَّ الصَّوْتِ، فَأُلْقِيَتْ عَلَيْهِ مَحَبَّتِي، فَمَا فَارَقْتُهُ حَتَّى حَثَوْتُ عَلَيْهِ التُّرَابَ، ثُمَّ نَظَرْتُ إِلَى أَفْقَهِ النَّاسِ بَعْدَهُ، فَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ،

    (tarikh islam adz dzahabi. hal 457)
    Amru bin Maimun Al Adawi adalah tabiin kibar.

    sedikit logika saja, kalau memang abdurrahman bin tsabit itu memang mendengar dari jabir harusnya ia juga mendengar dari shahabat nabi lainnya, tapi faktanya tak ada satupun hadis yang menunjukan hal tersebut kucuali hanya berupa an’anah semata. moso’ sih dari sekian sahabat yang didengar/dijumpai langsung cuma abdullah bin jabir doang?!

    dan bukti lain adalah terjadinya syadz matan antara waki dengan abdullah bin numeir

    versi waki (Bidayah wan Nihayah, hal: 282):
    وَكِيْعٌ: حَدَّثَنَا رَبِيْع بنُ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بنِ سَابِطٍ، عَنْ جَابِرٍ:
    أَنَّهُ قَالَ – وَقَدْ دَخَلَ الحُسَيْنُ المَسْجِدَ -: (مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى سَيِّدِ شَبَابِ

    ngga ada tuh ada lafal yang mengatakan:

    كنت مع جابر”

    sebagaimana yang terdapat pada

    حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله .

    (Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92)

    Nah sekarang tinggal dibandingkan antara waki dengan abdullah bin Numeir itu siapa yang lebih hafiz dan tsabat?
    monggo dibuka kitab rijalnya…..

    dan yang perlu diingat kalau kita melihat banyak hadis yang diriwayatkan oleh abdurrahman bin tsabit ia sudah biasa langsung menyebut nama sahabat, seperti Umar begini dan begitu, padahal kata banyak ulama abdurrahman bin tsabit itu hadisnya dari umar mursal. dan begitupun dengan kasus jabir di atas, penyebutan abdurrahman bin tsabit atas nama Abdullah bin Jabir tidak menunjukan ia mendengarnya tapi itu adlah bentuk mursal yang dia lakukan. selesai.

    kesimpulan: jadi benarlah ibnu ma’in yang mengatakan bahwa abdurrahman bin tsabit tidak mendengar dari Abdullah bin Jabir.

  4. Saya rasa hanya kesalahan pahaman di antara para sahabat Nabi. Muawiyah berkata semacam itu bukan berarti membenci Saidina Ali, tapi merasa kesal dengan kebijaksanaan Saidina Ali yang lambat untuk mengusut para pembunuh Saidina Usman.Sedangkan di sisi Saidina Ali banyak pembangkang dan penyusup sehingga persoalan itu perlu diselesaikan oleh Saidina Ali secara perlahan.Tapi persoalan saat itu makin kisruh sehingga terjadi peperangan antar kaum muslimin. Karena kita tahu saidina Muawiyah salah sahabat Nabi yang Nabi doakan dengan doanya :“Ya Alloh, anugerahkanlah kepada Mu’âwiyah ilmu al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hisab (ilmu hitung) serta jauhkanlah beliau dari adzab.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah : 3227).Dan juga hadist yang lain yaitu :Dari Umu Haram Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah saw bersabda : “Pasukan pertama dari ummatku yang perang di lautan maka wajib baginya (surga).” [HR Bukhari : 2924].

  5. Asww, menarik sekali membaca beberapa tulisan di blog ini. Saya ingin memberikan tanggapan sedikit, yaitu sbb:
    1. Saudara second prince cukup baik analisanya, dan saya tidak akan menanggapi, karena memang tidak memiliki pengetahuan yang cukup, namun saya hanya ingin menyampaikan bahwa belum tentu mereka yang tidak menyerang Mu’awiyah berarti nashibi, masih banyak para Ulama Ahlu Sunnah, bahkan dari kalangan Awliya shalihin, yang menjaga adab terhadap beliau, karena beradab kepada RasuluLlah saw, dimana beliau masih merupakan sahabat Nabi SAW. Apa yang ana sampaikan ini bukan mengada2, tapi kenyataan, silahkan antum cek lagi di berbagai kitab. Bukan berarti mereka membenarkan Mu’awiyah alam memusuhi Imam Ali, namun untuk alasan yang saya sebutkan diatas.

  6. @daralhikmahAhmad..
    alasan yg anda sebutkan di atas adalah salah satu propaganda Nashibi yg sangat halus….

    sangat jelas dengan alasan anda di atas, jika diterapkan oleh umat, umat perlahan tapi pasti akan terjebak pada pemahaman akan tercampurnya HAQ dan BAthil…ndak usah berdalih menghormati dan menjaga adab karena pola lama Rumus pemahaman SOHABAT yg selalu Adil, sohabat yg jika salah (apapun kesalahannya) dapat bonus 1 pahala….

    itukah Islam yg antum akan sebarkan dan antum usung ke Dunia tentang Islam ? Ana harap antum kontemplasi kembali tentang keadaan Umat saat ini….Salam

  7. AstaghfiruLlahal adzim, ya akhina Arief, anda mau menuduh saya nashibi juga??? Ya akhi, inilah problem sebagian dari kita, maunya bersifat kritis, tapi berlebih2an, bukankah itu justru sifat nashibi??? Memangnya anda mau meniadakan jasa para Ulama salafuna shalih ke Dunia Islam, yang dakwah mereka tersebar ke seluruh penjuru dunia, bahkan sampai saat ini, bahkan mungkin juga berpengaruh kepada diri anda & keluarga, tapi mereka tidak “kritis” secara berlebihan terhadap Mu’awiyah….

  8. Percampuran antara Haq dan bathil hanya karena tidak ikut2an menyerang Mu’awiyah??? Sepertinya tidak ya, para Ulama Thariqah kami tetap mapu memberi pelajaran tentang agama ini kepada umat, tanpa harus menyerang siapapun, ternasuk Mu’awiyah…..
    Padahal ilmu mereka juga tersambung sanadnya kepada Ahlu Bayt Rasul SAW, bahkan mereka sendiri merupakan Ithrah Ahlul Bayt….
    Tampaknya antum masih perlu belajar banyak (termasuk juga saya), agar jangan hanya mengandalkan keberanian mengkritik saja. Salam Ukhuwwah.

  9. @daralhikmahAhmad
    Al Quran jelas memerintahkan Kita Tegas didalam hal Kebenaran dan Kebatilan..saya merasa ngga masuk akal jika banyak terkabarkan beberapa Sahabat yg melakukan Kejahatan/kemungkaran lalu anda menyuruh kita tetap menghormati sahabat tsb bersamaan kita menghormati pedoman umat yakni ahlulbayt NAbi Saw, padahal justru para sahabat yg antum perintahkan agar kita tetap menghormatinya merekalah yg telah banyak membuat sakit hati dan membuat makar/pemberontakan pada Kepemimpinan Illahiyah, Pedoman KIta, yakni Ahlulbayt Nabi Saw !

    Sungguh Absurd

  10. Betul, kita diperintahkan untuk tegas dalam kebenaran. Begini ya alhaudnet, kenyataan sejarah yang sudah terjadi belum bisa kita pastikan kebenarannya, bisa jadi versi kita yang benar, bisa jadi juga salah. Para shalihin mengambil pendapat untuk berprasangka baik, karena mereka, yang memiliki pemahaman dzahir & bathin, melihat bahwa terlalu banyak fitnah dalam hal ini, sehingga mana yang haq & mana yang bathil menjadi simpang siur, serta masing2 golongan menggunakan hawa nafsunya sendiri, sehingga mereka memandang dengan mata bathin mereka dan mengambil pendapat beradab terhadap para pendahulu ummat. Dan saya yakin mereka juga tidak sembarangan berpendapat. Perlu diingat bahwa mereka para Awliya’Allah tidak akan berpendapat tanpa petunjuk Allah & RasulNYA, serta berpegangan pada sanad guru2 mereka yang bersambung sampai ke RasuluLlah. WaLlahu a’lam.

  11. @daralhikmahAhmad

    berprasangka baik pada orang lai yg belum jelas niatnya jahat atau baikkah ia adalah ajaran Illahi,.namun masih absurd, bagi saya ketika anda berkata harus merujuk pada Para shalihin yg mereka mengambil pendapat untuk berprasangka baik, karena mereka, yang memiliki pemahaman dzahir & bathin,….??
    Mereka Paham Dzahir dan bathin,..namuntdk bisa memahami mana sejarah yg benar mana yg dibuat2?? tolong antum jelaskan kembali

  12. @darulhikmahAhmad.
    Anda mengatakan para ahlu Tharigah Alawyin yang berpangkal pada ahlulbait dalam mengajarkan agama tdk menyerang Muawiyah. Benar ,Mereka tdk mengungkit masa lalu. TAPI BUKAN BERARTI MEREKA TIDAK MENGETAHUI KEDHALIMAN MUAWIYAH. Bagi mereka tdk perlu mengungkit mengenai Muawiyah karena tdk ada hubungan dengan Syiar mereka. Tapi dalam blok ini kita sedang menimba ilmu sejarah Islam yang benar. Kepada siapa kita harus berpedoman dalam beribadah pada Allah.
    Kalau anda berpendapat bahwa Muawiyah tidak bersalah. Maka Imam Ali as SALAH memerangi Muawiyah. Kalau Imam Ali SALAH maka kita tdk bisa berpedoman pada orang yang berbuat salah. Dan kita harus berpedoman pada yang BENAR. Yaitu Muawiyah. Silahkan anda berwali pada Muawiyah. Atau Muawiyah menjadi panutan anda. Tapi kami MAAAF Kami yang mengetahui kesalahan Muawiyah tidak menrima.

  13. Kepada pencinta2 Mu’awiyah.. marilah kita sama2 doakan Mu’awiyah mengikut sunnah Rasulullah saw iaitu “Semoga Allah swt tidak mengenyangkan perut Mu’awiyah” .

  14. @darulhikmah ahmad
    hak anda utk berdiam diri ketika muawiyah cs melaknat imam ali disetiap khutbah
    hak anda berdiam diri ketika muawiyah memerangi imam ali
    hak anda berdiam diri ketika bani umayyah membantai keluarga rosul
    tapi bukan hak anda berthariqah yg sanad nya bersambung ke keluarga rosul
    kala anda berdiam diri dgn perbuatan dzalim yg dilakukan mereka trhdp keluarga rosul.
    karna anda tdk lebih seperti ahli kuffah yg membiarkan imam husein dgn keluarga n sahabat nya dibantai,
    karna apabila anda sama sprt ahli kuffah,maka anda pun tak lepas dr murkanya imam ali zainal abidin n sydh zainab binti ali bin abi thalib,yg mereka itu seolah2 mengaku mendukung imam husein tp ternyata khianat.

  15. @sp

    Setiap perilaku buruk Muawiyah harus
    ditafsirkan sebagai akhlak yang mulia. Jika
    Muawiyah meminum minuman yang diharamkan
    maka harus ditafsirkan bahwa yang ia minum adalah
    susu. Jika Muawiyah menolak hadis dan menuduh
    sahabat berdusta maka harus ditafsirkan ia
    berijtihad.

    Jika kita mengamati perilaku Muawiyah, dan menganalisisnya dengan teori kedokteran mutakhir, kemungkinan besar Muawiyah menderita kerusakan otak yg parah terutama pada bagian korteks prefrontal (pusat penilaian), lobus temporal (yang berusan dengan memori, stabilitas mood, dan agressi), bagian girus singulata, sistem limbik dan bagian basal ganglia.

    Kerusakan otak yg parah tersebut berasal dari kombinasi berikut:
    1. Sakit diabetes yg parah yg menyebabkan Muawiyah makan tidak pernah merasa kenyang. Diabetes mengakibatkan darah yg menuju ke otak terhambat terutama ke bagian basal ganglia dan girus singulata yg dpt menyebabkan kerusakan permanen.
    2. Minum2an dg kadar alkohol yg tinggi. Luas diketahui Muawiyah adalah seorang peminum berat. Alkohol memberikan sumbamgan yg besar untuk merusak otak lobus temporal.
    3. Kekerasan fisik atau trauma berlebihan di kepalanya yg dideritanya sewaktu kecil dari ibundanya yg ganas, setan berwajah manusia, dan pelacur murahan, HINDUN. Akibat kekerasan fisik ini, meninggalkan trauma berlebihan pada bagian otak Muawiyah terutama bagian korteks prefontal dan sistem limbik.

    Kerusakan2 pd bagian otak itu menyebabkan:

    1. Luka pada korteks prefrontal akan menyebabkan anda sulit mendengarkan pendapat orang lain, gagal
    menyelesaikan tugas, mudah beralih perhatian, impulsif (berkata atau bertindak tanpa berpikir lebih dahulu).

    2. Luka pada girus singulata membuat Anda cemas
    berlebihan, mudah tersinggung kalau terjadi
    sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda,
    gampang membantah atau menentang, mengulang-
    ulang pikiran negatif, menyimpan dendam, cenderung mengatakan “tidak” tanpa memperhatikan pertanyaannya.

    3. Luka pada sistem limbik menyebabkan depresi,
    pikiran negatif, kehilangan kemampuan untuk
    menikmati hiburan, merasa putus asa akan masa
    depan, merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak
    berarti, bosan, ada perubahan pola tidur atau
    makan.

    4. Luka pada basal ganglia menyebabkan sering nerveus dan cemas, simptom ketegangan otot (sakit kepala, sakit-sakit tubuh), cenderung untuk meramalkan hal yang buruk, sensitif terhadap kritik, motivasi kerja yang berlebihan, diam terpaku menghadapi situasi yang mengancam.

    5. Luka pada lobus temporal mengakibatkan berubah-berubah mood dengan cepat, mudah tersinggung dan agresif, sering menafsirkan ucapan orang secara negatif, mudah panik tanpa alasan yang jelas, paranoia ringan, pikiran kelabu seperti mau bunuh diri atau bunuh orang, masalah memori.

    Akibat2 dari kerusakan otak tersebut membuat Muawiyah terlahir sebagai manusia yg kejam, jahat, licik, tak berperasaan, biadab tetapi pada saat yg sama dpt menjadi penakut, pengecut, lemah syahwat dan impotensi..

  16. Weeeehh koq ada nama alawiyyin d bawa2 juga?? Yg perlu kita renungkan lebih lanjut, tariqah alawiyyin tidak mendakwahkan sejarah d dzoliminya ahlul bait bukan karena mereka mendukung mu’awiyyah.. Yg mereka dakwahkan itu ajaran dari ahlul bait,keutamaan ahlul bait, mereka tunjukkan bagaimana akhlaq ahlul bait saat mereka d dzolimi..ingat, ahlul bait ada bukan untuk d bunuh dan d dzolimi tp untuk umat.. Lebih utama mana menjelaskan sejarah bagaimana mereka d dzolimi atau menyebarkan apa yg mereka dakwahkan??

    Kami mencintai ahlul bait tapi tidak harus melaknat kami mencintai dengan cara melanjutkan perjuangan mereka hingga al mahdi muncul..

    Wallahu a’lam

  17. @alaydrus
    mana bisa mencintai ahlulbait juga mencintai muawiyah,
    mana bisa mencintai ahlulbait membenar kan kedzaliman muawiyah
    memang nya waktu muawiyah dzalim ahlulbait diam aja?
    ga terbuka tuh mata n fikiran anda imam ali n imam hasan perang melawan muawiyah?

  18. @alaydrus

    ya toriqoh seperti alawiyin inilah yg menawarkan dakwah yg stengah-stengah atas nama ahlulbayt, akibatnya perlahan tapi pasti justru akan smakin ditinggalkan umat yg kritis…

  19. @salafy is dead

    Nice analysis. Mungkin saja Muawiyah menderita kerusakan otak yg perah.

    Apalagi mengingat Muawiyah merupakan pribadi yg komplek. Satu sisi Muawiyah bisa kejam tetapi pada saat yg sama bisa jadi penakut luar biasa.

    Btw saya tertarik menjadikan studi Muawiyah menjadi skripsi saya di IAIN. Tentunya dengan mengkaji hadits2nya dan kemudian mengkaitkan dengan ilmu kedokteran..

    Minta ijinnya ya..

  20. @habsy

    Ahahaha afwan ya akhi.. Apa nt kurang memahami kata2 ana d atas?? Tariqah alawiyyin ini dakwah dengan mengutamakan akhlaq yg mulia.. Meniru akhlaq Rasulullah(shalallahu ‘alaihi wasallam) dan ahlul bait nya..
    Apakah hati nt sudah terpenuhi cinta buta dan kebencian sehingga nt lupa dgn mulia nya akhlaq Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam) dan ahlul baitnya saat di dzolimi??
    Kalo cuma sekedar kritis anak kecilpun jg bisa tp untuk bijak hanya orng2 cerdas yg mampu..
    Ibarat mengorek2 bangkai yg sudah tertimbun, klo udah ke bongkar ribut sendiri ma baunya..
    Afwan..

  21. @alaydrus
    sempit banget makna ahlak buat anda,melawan kezaliman n membenci kemungkaran tdk termasuk ahlak ya,ahlak itu menurut anda hanya bertutur kata manis n lembut
    klu pengertian anda ahlak rosul n ahlul bait ketika dizalimi hanya berdiam diri,maka anda salah mengenal ahlak rosul n ahlulbaitnya

  22. Kita harus berani menyatakan bahwa muawiyah sesungguhnya adalah gembong munafik dan bughat (pemberontak) bukan saja dia itu mencela Imam Ali as tapi juga menganjurkan mencelan dn pemberontak terhadap khalifah yg sah.

    Tidak mencintai Ali kecuali mu’min dan tidak membenci Ali kecuali munafik.

    Siapa saja yg sikapnya bias terhadap muawiyah dan menganggapnya pahlawan seperti sekte wahabi salafi maka bisa dipastikan pada diri orang tersebut tdk ada sifat adil dan jangan2 nanti bisa ketabrak hadis shahih diatas.

  23. Menghormati Sahabat harus dilandasi dan disebabkan karena Allah dan RosulNya.
    Bukan karena sahabat itu sendiri karena sahabat tdak ada dasarnya sbg pedoman.
    Secara umau kita mesti menghormati sahabat namun jika terbukti ada sahabat yg tersalah maka tidak boleh dipaksakan atau diperjuangkan menjadi benar.

    Salam Ukhuwwah

  24. @Para pencinta/pendukung Muawiyah.
    Saya akan menyampaikan sebuah Firman Allah. Asal saja anda2 tidak mengkufurkan/kadzabkanFirmanNya/menafsirkan atas nafsu anda/golongan anda.
    Firman Allah dalam Surah An-Nsaa ayat 93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.
    Apakah,
    Ali b. Abi Thalib. mantu Nabi, seorang yang didik Nabi dari kecil, seorang laki2 PERTAMA yang shalat dibelakang Nabi. Seorang yang Khalifah Abubakar dan Umar mengatakan : “Kalau tdk ada Ali maka celakalah kami. Dan
    Hasan b. Ali b. Abi Thalib cucu Nabi, Penghulu Pemuda Ahli Surga.
    Apakah mereka menurut anda2 orang2 Mukmin atau bukan? Kalau anda2 katakn BUKAN maka anda2 adalah PEMBOHONG BESAR..
    Dan apabila anda2 mengatakan mereka orang2 Mukmin. Maka siapa saja yang membunuh mereka DIA bukan seorang Mukmin dan akan menerima sesuai FirmanNya diatas. Apakah kita sebagai umat Islam harus membela orang2 yang Allah berikan ganjaran sesuai Firman diatas?
    Dan Muawiyah yang memerintahkan pembunuhan terhadap Ali as dan Hasan as.
    Silahkan anda2 pencinta Muawiyah membantah. Kalau tidak anda2 adalah PEMBOHONG BESAR.

  25. @aldj

    Yakher, trs mnurut nt gimana sikap Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam) sewaktu pribadinya yg d dzolimi (bukan syiar agamanya)??

    Kalo kalian anggap kami mendiamkan muawiyyah krna kami membelanya, kalian sudah salah menyikapi kami..

    Kami hanya lebih fokus meneruskan perjuangan dakwah Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam), mengenalkan pribadi Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam) dan ahlil bait nya drpd sekedar mengurusi bangkai yg sudah tertimbun..

  26. @alaydrus
    Kalau seperti anda sebut diatas saya sangat setuju. Dalam mendidik murid2 yang berakhlak dan lebih mendekati diri kepada Allah.
    Sayangnya anda berada ditempat yang berbeda dengan apa yang anda sedang berkecimpung atau pelajari. Kita dalam blog ini sedang mendalami SEJARAH atau Islam yang disampaikan Rasulullah SAW itu bagaimana sih. Sebab menurut pengetahuan kita atau dalam mempelajari agama Islam (kita tdk berada bersama Rasul) ternyata Islam ini telah disewengkan oleh mereka2 pasca Rasul. Banyak bukti. Contoh, banyak para Ulama menganggap Rasul sama dengan kita hanya beliau mendapat Wahyu. Apakah ini benar?. Kemudian menurut sejarah atau Hadits Pengganti Rasul Ali b. Abi Thalib. Tetapi ternyata yang menjadi Khalifah pasca Rasul adalah Abubakar. Benarkah ini. Ahlulbait bukan saja Rasul, Ali b Abi Thalib, Fatimah, Hasan. dan Husein tapi termasuk istri2nya. Benarkah ini. Ini semua harus kita selidiki/pelajari. Karena sangat berpengaruh dalam Ibadah kita. Jangan hanya TAKLID menjadi orang ABID. Firman Allah : Kedudukan mereka yang berilmu jauh lebih tinggi derajatnya. Wasalam

  27. @chany

    Siiiip, ana setuju soal ituu..maaf klo koment2 ana d atas bukan pada tempat nya, koment ana d atas cuma untuk nanggepin koment2 sebelumnya..

    Memang benar, penyakit syiahphobia ini sudah mendarah daging dalam tubuh ummat islam sejak dulu.. Sehingga hadits2 shohih tentang keutamaan ahlil bait banyak yg d sortir habis2an, malah lebih banyak hadits2 tentang keutamaan sahabat d bandingkan keutamaan ahlul bait.. terutama tentang sayyidina Ali karamallahu wajha..

  28. chany, on November 21, 2011 at
    12:51 pm said:
    @alaydrus
    Kalau seperti anda sebut diatas
    saya sangat setuju. Dalam
    mendidik murid2 yang
    berakhlak dan lebih mendekati
    diri kepada Allah.
    Sayangnya anda berada
    ditempat yang berbeda dengan
    apa yang anda sedang
    berkecimpung atau pelajari. Kita
    dalam blog ini sedang
    mendalami SEJARAH atau Islam
    yang disampaikan Rasulullah
    SAW itu bagaimana sih. Sebab
    menurut pengetahuan kita atau
    dalam mempelajari agama Islam
    (kita tdk berada bersama Rasul)
    ternyata Islam ini telah
    disewengkan oleh mereka2
    pasca Rasul. Banyak bukti.
    Contoh, banyak para Ulama
    menganggap Rasul sama
    dengan kita hanya beliau
    mendapat Wahyu. Apakah ini
    benar?. Kemudian menurut
    sejarah atau Hadits Pengganti
    Rasul Ali b. Abi Thalib. Tetapi
    ternyata yang menjadi Khalifah
    pasca Rasul adalah Abubakar.
    Benarkah ini. Ahlulbait bukan
    saja Rasul, Ali b Abi Thalib,
    Fatimah, Hasan. dan Husein tapi
    termasuk istri2nya. Benarkah
    ini. Ini semua harus kita selidiki/
    pelajari. Karena sangat
    berpengaruh dalam Ibadah kita.
    Jangan hanya TAKLID menjadi
    orang ABID. Firman Allah :
    Kedudukan mereka yang
    berilmu jauh lebih tinggi
    derajatnya. Wasalam
    alaydrouz, on November 21,
    2011 at 1:44 pm said:
    @chany
    Siiiip, ana setuju soal ituu..maaf
    klo koment2 ana d atas bukan
    pada tempat nya, koment ana d
    atas cuma untuk nanggepin
    koment2 sebelumnya..
    Memang benar, penyakit
    syiahphobia ini sudah mendarah
    daging dalam tubuh ummat
    islam sejak dulu.. Sehingga
    hadits2 shohih tentang
    keutamaan ahlil bait banyak yg
    d sortir habis2an, malah lebih
    banyak hadits2 tentang
    keutamaan sahabat d
    bandingkan keutamaan ahlul
    bait.. terutama tentang
    sayyidina Ali karamallahu
    wajha..

    SANGAT SETUJU !!!
    Salah satu Fakta membuktikan, tak ada dan belum pernah(yg saya tau) para da’i selama ini yg menyampaikan Hadis Tsaqalain.

  29. @alaydrus/pencinta ukhwah.
    Saya mencoba mengungkapkan kebenaran dan tdk mau taklid terhadap mereka terdahulu. Apabila benar saya akan akui kebenaran tp kalau diragukan nanti dulu. Kita pelajari serta selidiki.
    Saya takut atas Firman Allah : Apakah kalau orang2 tua dahulu Jahil yang akan mengajak kamu keneraka akan tetap kamu ikuti.?
    Al-Baqarah ayat 170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.”
    Wasalam

  30. Halah blog sampah begini dibaca. memalukan sekalee

  31. @garda
    Gua bingung sama orang indonesia yg suka mencela sama merendahkan oranglain..anda ini pede sekali, anda pikir indonesia akan menjadi negara super yg membanggakan karena orang2 seperti anda!
    siapa anda…adakah negara/kaum/pemimpin terhormat di dunia saat ini yang maju, berkarakter dan punya harga diri yg menjadi inspirasi anda dan panutan anda untuk hidup ?..tunjukan pada saya agar saya bisa belajar dari kalian !…sorry bro…sy pada tahap ini sedang mengalami krisis kepercayaan diri menjadi warga negara ini….

  32. Ada2 saja kerja pemilik blog ini, apa tidak ada kerjaan lain selain menghsilkan tulisan sampah kayak begini.

  33. @ syiah cemen
    sungguh sangat disayangkan negara tercinta ini…akibat salah urus dan banyaknya orang2 yg berkarakter pencaci seperti di atas, kerjanya memaki golongan lain yg tak sepaham dengannya, taqlid dalam kejumudan, dan tdk mampu mematahkan dalil/hujah lawannya…periharalah kebodohan anda utk generasi muda, maka matilah dalam keadaan terjajah negara tercinta ini

  34. @alhaudnet
    Tidak usah heran. Banyak orang2 yang telah Allah sebut dalam Alqur’an: “Mereka2 yang punya mata tdk bisa melihat, punya telinga tdk bisa mendengar, punya akal tdk bisa berpikir, hewan adalah lebih baik. Ini Firman lho

  35. @ semuanya

    Ada yang tahu dimana kuburan Mu’awiyah n keturunannya???????
    Gak ada yang tahu????????
    Kasian juga ya Muawiyah n keturunannya, sangat dibanggakan oleh pengikutnya tapi kuburannya gak pernah diziarahi….
    Mungkin mereka sudah tahu kalo Mu’awiyah gembong munafik, tapi mereka malu mengakuinya karena dia adalah guru mereka.

  36. @jackob13
    Wah, anda ketinggalan berita. Saya mendapat berita bahwa banyak yg berkunjung serta menginap disana. Cuma persisnya dimana saya nda tahu. Kalau anda ke Suria, anda cari para pengembala kambing atau domba. Anda tanya mereka. Pasti mereka tau.

  37. Kalo membaca artikel dari kang jalal ini:

    ahmadsahidin.wordpress.com/2011/01/31/dhogo’in-fi-shuduuri-aqwaamin-selebaran-masjid-istiqomah/

    Terlihat jelas bahwa kebencian orang awam wahhabi-salafy (sawah) terhadap Imam Ali dan pengikutnya semata karena alasan ideologi.

    Adapun ustadz atau ulama sawah membenci Imam Ali karena alasan uang dan perebutan pengaruh.

    Ideologi dan uang yg membuat mereka buta dan tidak mampu berpikir logis..

    dan laknat Allah buat Abu Sufyan, hindun, muawiyah , yazid bin muawiyah serta buat pengikut mereka..

  38. Asww, Masya’aLlah luar biasa website ini semarak, ana nggak online 3 hari. diskusi sudah semakin menarik, alhamduliLllah. Sedikit tanggapan untuk ikhwan sekalian:
    @ alhaudnet : tentang kalimat anda bahwa mereka memilik pemahaman dzahir & bathin, tapi tidak bisa memahami sejarah yang benar? Menurut siapa mereka tidak bisa memahami? Justru menurut saya mereka memahaminya & memahami cara menyikapinya dengan benar, insya’aLlah.
    @ chany : betul, saya sependapat dengan Anda, yaitu mereka memahami apa yang dilakukan oleh Mu’awiyah, dan juga tau cara menyikapinya. Kemudian soal Imam Ali yang memerangi Mu’awiyah, jelas & terang benderang, Imam Ali berada di pihak yang benar, dan beliaulah suri taulan kita, saya setuju banget dengan semua itu, cuma kita berbeda dalam menyikapi Mu’awiyah, apakah harus di”serang” atau tidak, itu saja.
    @ aldj : Mana yang merupakan hak saya dan mana yang bukan, tentu tidak harus mengikuti selera Anda, tapi tetap saya hargai tanggapan Anda. Soal Anda menyamakan saya dengan ahli kuffah, kemudian menyertakan saya kepada murka (????) Imam As Sajjad & Sayyidah Zaynab ( wa naudzubiLlah min dzalik…) saya kembalikan hal itu kepada Allah SWT untuk pertanggung jawabannya.

  39. Asww, tanggapan untuk Habsy : Thariqah alawiyah pemahamannya setengah2??? Saya rasa penilaian Anda yang kuran tepat dalam hal ini. Dakwah thariqah alawiyah akan ditinggalakn oleh umat yang kritis??? Wah…saya rasa Anda kurang up to date ya, justru dakwahnya thariqah alawiyah berkembang semakin pesat belakangan ini, di seluruh penjuru dunia, insya’aLlah. Saya rasa akan baik klo Anda mau meluangkan waktu untuk mempelajari thariqah ini secara komprehansif, dari sumber yang sebenarnya.

  40. @daralhikmahahmad

    1. Saudara second prince cukup baik analisanya, dan saya tidak akan menanggapi, karena memang tidak memiliki pengetahuan yang cukup, namun saya hanya ingin menyampaikan bahwa belum tentu mereka yang tidak menyerang Mu’awiyah berarti nashibi, masih banyak para Ulama Ahlu Sunnah, bahkan dari kalangan Awliya shalihin, yang menjaga adab terhadap beliau, karena beradab kepada RasuluLlah saw, dimana beliau masih merupakan sahabat Nabi SAW.

    maaf sepertinya saudara salah paham. Yang saya maksud nashibi adalah orang yang membela Muawiyah dimana mereka menolak fakta bahwa Muawiyah telah mencaci Imam Ali. Tulisan ini dibuat untuk menjawab syubhat yang dilontarkan oleh nashibi. Saya menghormati ulama ahlussunnah terutama dari kalangan Alawiy [saya tidak setuju dengan komentar yang mencela ulama Alawiy] walaupun begitu saya pribadi berpendapat menjaga adab bukan berarti kita tidak bisa berbicara sejarah atau meluruskan distorsi sejarah oleh kaum nashibi

    @all

    kepada siapapun lebih baik tidak usah menanggapi komentar sampah yang yang datang ke blog ini karena saya pribadi akan melemparkan komentar itu ke spam atau tong sampah. Jadi aneh sekali kalau anda mengomentari komentar yang akhirnya akan saya buang

  41. @Muhammad Ali

    anda sepertinya pendatang baru, Dalam dialognya dengan nashibi tentang Muawiyah (Pemimpin pembangkang/bughot Pengajak ke neraka -berdasarkan Shahih Bukhari-) pemilik blog ini sudah menulis artikel sudah puluhan, smua hujjah yang anda bawa itu sudah dibantah

    ini salah satunya

    Kedudukan Hadis “Ya Allah Jadikanlah Muawiyah Seorang Yang Memberi Petunjuk”

    https://secondprince.wordpress.com/2008/12/20/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cya-allah-jadikanlah-muawiyah-seorang-yang-memberi-petunjuk%E2%80%9D/

    lainnya cek saja di “Daftar Artikel”

  42. […] Shahih Muawiyah Mencela Imam Ali : Bantahan Bagi Nashibi […]

  43. @SP

    Tanggapan anda tentang tulisan Abul Jauza ini (link dibawah) di artikel tentang Muawiyah yang mana? mengingat banyak artikel/tanggapan anda tentang Muawiyah.

    Abul Jauza

    ‘Aliy bin Abi Thaalib : Mu’aawiyyah adalah Saudara Seiman, Sama dengan Dirinya

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/11/aliy-bin-abi-thaalib-muaawiyyah-adalah.html

  44. @SP
    Salam, saya memandang Antum cukup berilmu dan sangat teguh dalam membela agama antum.. kalaulah kami ingin mendapat ilmu langsung (undangan silaturrahmi) dari antum ke mana alamatnya? ditujukan kepada siapa?

    Terima kasih..

  45. Rupanya bukan milik Salafy saja: menuduh, mencela, memvonis.

    salam damai

  46. BRIGADE PEMBUNGKAM MULUT SYIAH RAFIDHI
    Abu Haura Ahmad Junayd bin Ahmad Dzulkifli (Jun Lab)
    Saya ucapkan kepada anda second prince bahwa pendapat anda Ibnu Sabith pernah mendengar dan bertemu (mutashil) Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu adalah benar. Dan Yahya bin Ma’in telah keliru mengenai mutashilnya Ibnu Sabith terhadap Jabir radhiyallahu’anhu. Tidak hanya dengan riwayat yang anda tunjukkan yang berbunyi :
    عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر
    dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata “aku bersama Jabir
    namun juga dalam riwayat berikut yang dikeluarkan Imam Al-Bayhaqi :
    …….، أنا علي بن عاصم ، أنا عبد الله بن عثمان بن خثيم ، عن عبد الرحمن بن سابط ، حدثني جابر بن عبد الله قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « يا كعب بن عجرة إنه لا يدخل الجنة من نبت لحمه من سحت
    ………..telah memberitakan kepada kami Ali bin Ashim, telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Utsman bin Khusyaim, dari Abdurrahman bin Sabith, telah menceritakan kepadaku Jabir bin Abdillah yang berkata :”Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda :”Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah sesungguhnya tidak masuk syurga barang siapa yang dagingnya tumbuh dari harta suapan…….”
    (HR. Al-Bayhaqi Syu’ab Al-Iman no. 5520)
    Namun tunggu dulu……..Anggapan anda second prince, bahwa bila pendapat Yahya bin Ma’in mengenai mursalnya riwayat Ibnu Sabith dengan Jabir terbukti ada kesalahan tentunya salah pula mengenai mursalnya Ibnu Sabith dengan Sa’ad dan Abu Umamah. Alasan yang anda sebutkan :
    Satu-satunya yang mungkin Ibnu Ma’in mengatakan riwayat Ibnu Saabith dari mereka mursal karena menurut Ibnu Ma’in, Ibnu Saabith tidak menemui masa hidup mereka.
    Bagaimana mungkin perawi yang berada dalam satu masa dan satu kota yang sama bisa dikatakan tidak mendengar dan riwayatnya mursal. Kesimpulannya mazhab Ibnu Ma’in dalam hal ini terbukti keliru.
    Maka dengan ini saya akan membuat kalian para syiah rawafidh tersadar bahwa sesungguhnya cara berpikir kalian tidak canggih dan biasa-biasa saja. Dan anda wahai second prince memang bodoh dalam ilmu mustalahul hadits.
    Sebelum saya bicara lebih jauh, saya beri dulu penjelasan pembuka :
    Untuk mengetahui bahwa seseorang perawi tidak mutashil/bersambung dengan perawi tertentu sesudahnya atau istilahnya ittishal sanad (tersabungnya sanad), dapat diketahui dengan dua cara :
    1. Adanya pengetahuan bahwa orang yang ia riwayatkan perkataannya telah wafat sebelum ia mencapai usia tamyiz (dapat membedakan baik dan buruk).
    2. Terdapat pernyataan dari perawi atau dari salah satu Imam ahli hadits yang menyatakan bahwa orang yang ia riwayatkan perkataanya tidak mutashil/bersambung dengannya, atau ia tidak pernah mendengar langsung dari orang tersebut, atau melihat langsung dari apa yang ia ceritakan mengenai si orang tersebut. Walaupun ia pernah sezaman dan satu daerah dengan orang yang ia riwayatkan perkataannya.
    Pada cara ke dua-lah para perawi mudallis masuk kedalamnya dan Ibnu Sabith termasuk di dalamnya karena telah terbukti banyak irsalnya. Silahkan simak lebih lanjut!!!!
    Sesungguhnya siapa yang benar-benar mengamati biografi Abdurrahman bin Sabith akan mengetahi maksud dari pernyataan Ibnu hajar terhadapnya : Tsiqah banyak irsal-nya. Begitu pula keterangan Adz-Dzahabi terhadapnya : Faqih tsiqah memiliki kemursalan-kemursalan.
    Berdasarkan riwayat-riwayat Abdurrahman bin Sabith cukup banyak ia memursalkan kepada para sahabat yang nyatanya ia belum pernah bertemu seperti Umar bin Al-Khathab(w.23H), ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah (w. 15 H), Mu’adz bin Jabbal (w.18), dan Abu Tsa’labah (w.75H) yang sezaman dengannya. Begitu pula orang yang ia tidak mendengar darinya seperti Abbas bin Abdulmuthalib (w. 32H), Abu Umamah Al-Bahili (w.86H.), dan Sa’ad bin Abi Waqash (w. 55H). Bahkan Abdurrahman bin Sabith juga meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu’alaiwasallam tanpa menyebutkan nama sahabat perantara. Ini menunjukkan kebiasaan Abdurrahman bin Sabith adalah memursalkan riwayat atau bisa juga disebut tadlis yaitu tidak mau menyebutkan nama perawi perantara. Perhatikan perkataan Ibnu hajar :
    وأما هو فتابعي كثير الإرسال ويقال لا يصح له سماع من صحابي أرسل عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كثيراً وعن معاذ وعمر وعباس بن أبي ربيعة وسعد بن أبي وقاص والعباس بن عبد المطلب وأبي ثعلبة فيقال إنه لم يدرك أحداً منهم قال الدوري سئل ابن معين هل سمع من سعد؟ فقال لا قيل من أبي أمامة؟ قال لا قيل من جابر؟ قال لا. قلت وقد أدرك هذين وله رواية أيضاً عن ابن عباس وعائشة وعن بعض التابعين.
    Dan adapun ia (ibnu Sabith) adalah tabi’in yang banyak irsal/mursalnya. Dan dinyatakan “tidak shahih ia mendengar dari para sahabat. Ia banyak memursalkanya riwayat dari Nabi shallallahu’alaihiwa ‘ala alihi was sallam. Dan dari Mu’adz, Umar, Ayyasy bin Abi Rabi’ah, Sa’ad bin Abi waqash, Abbas bin Abdilmuthalib, dan Abi Tsa’labah. Maka dinyatakan pula bahwa ia belum pernah bertemu seorangpun dari mereka. Berkata Ad-Duri :”Ibnu Ma’in ditanya apakah ia pernah mendengar dari Sa’ad? Maka ia menjawab :”tidak”. Ditanya lagi ia “dari Abi Umamah? Ia menjawab :”tidak”. Dan ia ditanya :”dari Jabir?”.ia menjawab :”tidak”.
    Aku (Ibnu Hajar) berkata : Dan ia pernah bertemu dengan dua orang ini dan ia juga mempunyai riwayat dari Ibnu Abbas dan ‘A’isyah, serta ia meriwayatkan dari sebagian tabi’in.(Al-Ishabah fii ma’rifah Ash-Shabah,2/399)
    Menurut kami pernyataan Ibnu Hajar (garis bawah) :” Dan ia pernah bertemu dengan dua orang ini” menunjukkan Ibnu Hajar menyatakan bahwa Ibnu Sabith pernah bertemu dengan Jabir dan Abu Umamah. Namun pendapat Ibnu Hajar sebatas pernah bertemunya Ibnu Sabith dengan Jabir dan Abu Umamah, dan tidak dengan Sa’ad bin Abi Waqash.
    Artinya Tidaklah musti kesalahan Yahya bin Ma’in mengenai pernyataannya bahwa riwayat Abdurrahman bin Sabith dari Jabir adalah mursal(tidak mutashil), tentu salah pula pada seluruh pernyataannya yang lain. Padahal Ibnu Sabith ini terbukti banyak sekali irsalnya. Barangsiapa yang kondisinya seperti ini maka tidaklah dapat ditetapkan bahwa ia telah mendengar langsung dari seseorang perawi sesudahnya kecuali datang dengan lafazh yang jelas telah mendengar seperti “aku telah mendengar” atau “telah menceritakan kepadaku” atau “aku bersama fulan”. Dan Imam Muslim telah menjelaskannya di dalam Muqadimahnya. Beliau berkata bahwa bentuk ucapan tahdits (“saya telah mendengar” atau “telah menceritakan kepadaku”) tidak dituntut ada kecuali bagi perawi yang dikenal bertadlis (irsal) dan populer dengan hal itu. Dan kondisi Ibnu Sabith adalah banyak mursalnya. Dan karena Ibnu Ma’in tidak menemukan bentuk lafazh tahdits Ibnu Sabith dari Jabir maka ia kembalikan kepada kaidah yang ditetapkan bagi para perawi yang banyak mursalnya(tadlis). Dan orang-orang yang telah melihat bentuk lafazh tahdits ini dalam riwayat Ibnu Sabith dari Jabir maka mereka mengeluarkan riwayatnya dari kondisi mursalnya ke kondisi mutashil. Dan penetapan (dengan terbukti adanya bentuk lafazh tahdits) adalah hujjah(yang didahulukan) atas peniadaan terhadap kemutashilannya.
    Atau
    المثبت حجة على النافي
    Yang menetapkan adalah hujjah atas yang menafikan
    المثبت مقدم على النافي
    Yang menetapkan di dahulukan dari yang menafikan
    Dan saya ulangi lagi :
    Karena Ibnu Sabith terbukti dominannya banyak irsal atau mursalnya sehingga kondisinya adalah sebagai mudallisin. Maka karena itulah berlaku kaedah baginya :
    “العبرة بالأغلب”
    Pelajaran yang diambil adalah yang dominannya
    Maksudnya setiap apa yang ia riwayatkan dari para sahabat yang diduga ia tidak mendengar lansung darinya dengan lafazh ‘an’anah (dari fulan….dari fulan) maka ditolak kecuali dengan lafazh jelas ia mendengarnya seperti “Telah menceritakan kepada kami” atau “aku pernah mendengar” atau “aku melihat” atau “aku bersama “.
    Maka suatu kebodohan pernyataan anda second prince :
    “Satu-satunya yang mungkin Ibnu Ma’in mengatakan riwayat Ibnu Saabith dari mereka mursal karena menurut Ibnu Ma’in, Ibnu Saabith tidak menemui masa hidup mereka”
    “Bagaimana mungkin perawi yang berada dalam satu masa dan satu kota yang sama bisa dikatakan tidak mendengar dan riwayatnya mursal. Kesimpulannya mazhab Ibnu Ma’in dalam hal ini terbukti keliru.”
    Kebodohan anda second prince, terhadap ilmu musthalah Al-Hadits nampak sekali.
    Dari sini anda second prince, tidak memahami istilah tadlis dan mudallis. Keadaan Ibnu Sabith ini merupakan perkara tadlis. Anda second prince perlu belajar lagi makna tadlis :
    أن يروي عمن لقيه ما لم يسمعه من قوله أو يره من فعله, بلفظ يوهم أنه سمعه أو رآه مثل: قال, أو فعل, أو عن فلان, أو أن فلانا قال, أو فعل, ونحو ذلك
    “Bahwasannya seseorang (menyatakan) telah meriwayatkan dari orang yang ia pernah bertemu dengannya, yang sebenarnya ia belum pernah mendengar langsung dari perkataannya atau belum pernah melihat perbuatan orang tersebut. Ia menyampaikan dengan lafazh yang mengambarkan bahwa seolah-olah ia telah mendengar (dari orang tersebut) atau telah melihatnya. Contohnya :”dia telah berkata, atau dia telah berbuat, atau dari fulan, atau bahwasannya fulan telah berkata, atau fulan telah berbuat dan semisalnya.”(Mustalah Al-Hadits, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 23)
    أن يروي عمن لقيه ما لم يسمعه منه, أو عمن عاصره ولم يلقه, موهما أنه سمعه منه
    “Bahwasannya seseorang (menyatakan) telah meriwayatkan dari orang yang pernah bertemu dengannya yang sebenarnya ia belum pernah mendengar lansung darinya (riwayat tersebut), atau dari orang yang hidup sezamannya dan ia belum pernah bertemu dengannya. Sebagai bentuk penyangkaan bahwa ia pernah mendengar langsung riwayat darinya.(Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Uluum Al-Hadits, Al-Hafizh Ibnu Katsir, tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, hal.46)
    dari pernyataan anda second prince, ingin menekankan bahwa Ibnu Sabith telah bertemu Sa’ad bin Abi Waqash di Makkah ketika menyampaikan riwayat pertemuan Muawiyah dengan Sa’ad tersebut. Padahal tidak dapat dipastikan bahwa Ibnu Sabith telah mendengarnya dari Saad ketika di Makkah. Karena bagi para mudallis tidak dapat dipastikan ia telah mendengarnya langsung walaupun ia sezaman dan pernah satu daerah kecuali dengan lafazh jelas, bukan dengan lafazh ‘an’anah(dari fulan). Jadi kita tidak dapat menyatakan pernyataan Ibnu Main itu mengenai mursalnya Ibnu Sabith salah semua.
    Pendapat yang benar bahwa riwayat Ibnu Sabith statusnya adalah mursal dari beberapa sahabat yang sezamannya seperti Abi Tsa’labah (w. 75 H), Saad bin abi waqash(w. 55H), dan Abu Umamah (w.86 H) dan lainnya -kecuali Jabir – di karenakan tidak adanya kepastian bahwa ia Ibnu Sabith mendengar langsung dari mereka walaupun pernah sezaman dan pernah satu daerah. Inilah yang dimaksud oleh Yahya bin Main :
    لم يسمع منه
    ia belum mendengar darinya
    sehingga keadaan riwayat Ibnu Sabith dari Sa’ad bin Abi Waqash statusnya mursal.
    Maka dhaiflah hadits riwayat Ibnu Majah (no.118) dari jalur riwayat Ibnu Sabith tersebut yang juga dikeluarkan oleh An-Nasaai (no. 8399), Ibnu Abi Syaibah(no. 15), Al-Hafizh Ibnu Katsir (Al-Bidayah wa An-Nihayah), Ibnu Abi ‘Ashim(As-Sunnah no. 1180).
    Jadi kami tunggu bantahan yang canggih dan ilmiah wahai second…………….

    Dan saya tambahkan lagi komentar.
    Komentar tambahan ini adalah komentar yang pernah saya posting untuk membantah syubhat ressay=yasser di kolom komentar Arrahmah.com mengenai “Muawiyah Ra mencela Ali bin Abi Tholib Ra adalah riwayat palsu”. Tapi tak apalah kalian rawafidh yang lain semacam second princes dan funsnya merasakan bantahan ini juga :
    BRIGADE PEMBUNGKAM MULUT SYIAH RAFIDHI
    Abu Haura Ahmad Junayd bin Ahmad Dzulkifli (Jun Lab)
    Ressay alias Yasser…….
    yasser….yasser ………ente ini rafidhi bodoh jahl bertingkah seolah-olah orang yang tidak tertipu oleh penjelasan Imam Nawawi mengenai isi hadits tersebut. Menurut ente perkataan yang secara zhahirnya menunjukkan Mu’awiyah radhiyallahu’anhu telah mencela Ali radhiyallahu’anhu adalah perkataan Mu’awiyah kepada Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu’anhuma yang berbunyi :

    قَالَ أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ
    Berkata(Sa’ad bin Abi Waqash) :” Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa’ad. Maka ia (Mu’awiyah) bertanya :”Apakah yang menghalangimu untuk mencela Aba Turab?”
    Menurut ente yang belajar sama orang persia kata :
    أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا
    ” Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa’ad.”
    Kata أمر(memerintahkan) artinya versi ente yang persia :
    أمرسعدا أن يسبّ عليا
    Memerintahkan (Sa’ad) untuk mencela Ali
    Karena menurut ente kata أمر berkaitan dengan pertanyaan Mu’awiyyah :
    مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ
    ”Apakah yang menghalangimu untuk mencela Aba Turab?”
    Baiklah kami katakan yasser dan orang-orang yang semacam ente:
    “Galilah kuburmu dalam-dalam karena sesungguhnya kehidupanmu hanya merusak dunia ini dengan lisanmu yang lancang lagi tak terdidik di hadapan orang-orang yang Rasulullah sendiri menghormatinya”
    Coba dengerin nih pasang telinga baik-baik :
    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
    Dari Abu Said Alkhudri radhyallahu’anhu berkata telah bersabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam :”Janganlah kalian mencela para sahabatku. Jikalau salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud maka hal itu belum dapat mencapai satu mud amal salah seorang dari mereka walaupun setengahnya.(HR. No. 3397)
    Pertama-pertama saya akan membuat kalian rafidhi malu dengan kebodohan kalian terhadap makna pertanyaan Mu’awiyah kepada Sa’ad:
    مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ
    Apakah yang menghalangimu untuk mencela Abu At-Turab?
    Mengapa Mu’awiyah menyebut Ali dengan sebutan Abu At-Turab? Abu Turab (bapak tanah) adalah sebutan yang terbaik yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam kepada Ali radhiyallahu’anhu. Lalu mengapa Mu’awiyah menambah (ا) alif ma’rifah dari kata Abu Turab(أبو تراب) menjadi Abu At-Turab (أبو التراب)? Penambahan Alif ma’rifah berdasarkan adat orang arab zaman dahulu menunjukkan penghormatan dan pemuliaan terhadap orang yang disebut namanya.
    Jadi dalam kalimat pertanyaan tersebut apakah Mua’wiyah mencela ataukah memuji Ali? Jelas memuji…….
    Jadi aneh sekali bila seseorang membenci orang lain namun ia malah menyebut diri orang yang dia benci dengan sebaik-baik nama yang meninggikan orang dibenci itu di atas kedudukannya.
    Sehingga Muawiyah di sini tidak mencela Ali. Dan majelis beliau bukan majelis cela-mencela seperti majelis kalian mencaci maki para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam.
    Maka kata :
    أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا
    ” Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa’ad.”
    Kata (أمر)amara (memerintah) disini bukan memerintahkan Sa’ad mencela namun maksudnya adalah :
    أمرسعدا أن يحضر له
    “Memerintahkan Sa’ad agar hadir dihadapannya”
    Inilah makna yang benar.
    Dari sikap mu’awiyah ini tercermin kecerdasan beliau memberikan alasan tentang haramnya merendahkan kedudukan Ali radhiyallahu’anhu kepada para pengikutnya.
    Maka itulah ketika Syahidnya Ali radhiyallahu’anhu terdengar kabarnya oleh Mu’awiyah iapun menangis sedih (bukan senang perhatikan wahai rafidhi bodoh) Perhatikan Ibnu Katsir berkata :
    وعن جرير بن عبد الحميد عن المغيرة قال: لما جاء خبر قتل علي إلى معاوية جعل يبكي، فقالت له إمرأته: أتبكيه وقد قاتلته؟ فقال:”: ويحك إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم
    Dari Jarir bin Abdulhamid dari Al-mughirah berkata : Tatkala sampai kepada Mu’awiyah berita wafatnya Ali maka hal itu membuat ia menangis. Bertanyalah isterinya :”Mengapa engkau menangisinya padahal engkau telah berperang kepadanya? Beliau menjawab :”Celaka kamu, sesungguhnya kamu tidak mengetahui bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan, kefakihan dan ilmu.”(Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 8/133)

    Perhatikan Ibnu Katsir berkata :
    وقد ورد من غير وجه: أن أبا مسلم الخولاني وجماعة معه دخلوا على معاوية فقالوا له: هل تنازع علياً أم أنت مثله؟ فقال: والله إني لأعلم أنه خير مني وأفضل، وأحق بالأمر مني
    ” dan hal ini datang dari beberapa segi : bahwasannya Abu Muslim Al-Khaulani dan sekelompok orang bersamanya mendatangi Mu’awiyah. Mereka berkata kepada beliau : Apakah anda berselisih dengan Ali atau anda malah meneladaninya? Maka beliau menjawab : demi Allah sesungguhnya dia lebih baik dan utama dariku dan lebih berhak dalam urusan kepemimpinan dibandingkanku.(Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 8/133)
    Dan pujian Mu’awiyah radhiyallahu’anhu kepada Amirul Mukminin Ali radhiyallahu’anhu cukup buaaanyak…….dan orang syiah mengakuinya ……..dan Mu’awiyah telah menyifati Ali radhiyallahu’anhu dengan Al-Laits(Singa), Adh-Dhirgham, Asadul-harab(Singa peperangan), dan Muqri Adh-Dhuyuuf (pemulia tamu). Sedangkan Mu’awiyyah biasa mengirim surat meminta fatwa kepada Ali mengenai persoalan yang terjadi pada kaumnya dan sebagainnya.
    Nih baca sendiri males gua ngartikan berasal dari kitab kalian sendiri :
    بكــــــــــــــــــــاء معاوية رضي الله عنه عندما استشهد أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه .. إليكم يا شيعة من كتبكم هذه الرواية:

    [ ضرار بن حمزة من أصحاب الإمام علي .. بعد استشهاد علي رضي الله عنه إلتقى بمعاوية – فقال له معاوية ياضرار صف لي عليا فقال له ضرار أو تعفيني؟ قال بل تصفه ، قال أو تعفيني؟ فقال معاوية لا أعفيك صفه ، فقال بعد ذلك أما إن لابد فإنه كان بعيد المدى شديد القوى يقول فصلا ويحكم عدلا يتفجر العلم من جوانبه وتنطق الحكمة من نواحيه يستوحش من الدنيا وزهرتها ويستأنس بالليل وظلمته كان والله غزير الدمعه طويل الفكرة يقلم كفه ويخاطب نفسه يعجبه من اللباس ماخشن ومن الطعام ماجشب كان والله كأحدنا يجيبنا إذا سألناه ويأتينا إذا دعوناه ونحن والله مع تقريبه لنا وقربه منا لا نكلمه هيبة له ولا نبتديه تعظيما له فإن تبسم مثل اللؤلؤ المنظوم يعظم أهل الدين ويحب المساكين لا يطمع القوي في باطله ولا ييئس الضعيف من عدله فأشهد بالله لرأيته في بعض مواقفه و قد أرخى الليل سدوله وغارت نجومه وقد مثل في محرابه قابضا على لحيته يتململ تململ السليم ويبكي بكاء الحزين و كأني أسمعه وهو يقول يا دنيا ألي تعرضتي؟ أم لي تشوفتي هيهات غري غيري فلا رجعة لي فيكِ فعمرك قصير وعيشك حقير وخطرك كبير آه من قلة الزاد وبعد السفر ووحشة الطريق ، قال فذرفت دموع معاوية فما يملكها وهو ينشفها بكمه وقد إختنق القوم بالبكاء ثم قال معاوية رحم الله أبا الحسن كان والله كذلك ثم قال فكيف حزنك عليه ياضرار؟ قال: حزن من ذبح ولدها في حجرها فلا ترفع عبرتها ولا يسكن حزنها ] الآمالي للشيخ الصدوق صفحة 724

    He yasser apakah masuk akal bila Mu’awiyah mengajak orang-orang untuk mencela Ali sedangkan beliau sendiri menyakini akan kemuliaan dan kedudukan Ali di hadapannya?
    Adapun riwayat yang dikeluarkan Ibnu Majah berbunyi :
    فنال منه
    “maka ia (Mu’awiyah) mencelannya (Ali)”
    (HR. Ibnu Majah, sunan Ibnu Majah no.118, 1/58)
    Di dalam sanadnya terdapat Ali bin Muhammad yang statusnya dhaif( ralat afwan yang benar bukan Ali bin Muhammad namun Abu Mu’awiyah). Dan juga terdapat Abdurrahman bin Sabith walaupun ia tsiqah namun ia pada kebanyakannya status irsal. Dan para imam ahli hadits seperti Al-Hafizh Ibnu Mu’ayyan, Abu Zur’ah dan Adz-Dzahabi di dalam Taqrib At-Taqrib Tarjamah (3867) menghukuminya tidak pernah mendengar langsung dari Sa’ad bin Abi Waqash. Maka riwayat tersebut tidak shahih. Segala puji bagi Allah.

    I AM SORRY (ayam sorry) YA YASSER…. ENTE MASIH KALAH CANGGIH DENGAN KAMI….HE…HE…HE….
    Selesai bantahan saya tersebut…..

  47. Mas syafiin…. Anda ini sepertinya harus memahami dulu apa itu imam apa itu kufur baru bilang kalau Si penganjur kepada kesesatan dan ke neraka jahannam sama dengan penghulku kaum beriman dan penganjur kepada keimanan dan kepada surga!
    jangan samakan antara bala tentara setan dengan waliyuullah!

  48. for slafynashibiy….
    cukuplah perkataan Nabi Saw ttg kerakusan,gila kekuasaan Muawiyah La,” Allah Swt tdk akan mengenyangkan perut Muawiyah”.
    suatu pernyataan yg sangat dalam tentang manusia yg HUBUDDUNYA WAL MAL.

  49. boss, beneran elo ga ” HUBUDDUNYA WAL MAL”

    what the syiah, elo zuhud bangets!!!

  50. Bagaimanapun Muawiyah adalah pemberontak dalam pemerintahan yang sah

  51. Perhatikan komentar 1 dan 2 paling atas, kelihatan sekali kalau mereka arogan… ciri kaum lemahh bisanya hanya ngomel!
    Teruskan perjuangan anda akhi, Allah ma’akum.

  52. […] Shahih Mu’awiyah Mencela Imam Aliy : Bantahan Bagi Nashibiy […]

  53. Khazanah ilmiah. Perlu tahu yg sebenarnya, supaya bisa mengambil ibrah, yg buruk jangan diikuti yang baik, diteladani.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: