Mengapa Abu Bakar Radiallahu’anhu Disebut Ash Shiddiq?

Mengapa Abu Bakar Radiallahu’anhu Disebut Ash Shiddiq?

Pembahasan ini bukanlah untuk menafikan gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar tetapi bertujuan untuk menilai sejauh mana validitas dalil yang sering dijadikan dasar penamaan Ash Shiddiq bagi Abu Bakar. Gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar adalah gelar yang masyhur. Terkait dengan gelar Ash Shiddiq ada dua kemungkinan, gelar Ash Shiddiq ini diberikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau gelar ini diberikan oleh para sahabat dan menjadi masyhur di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga masa sekarang. Kita sering mendengar dari sejarah yang kita baca waktu masih kecil kalau gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar ini diberikan atau muncul karena ia membenarkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam peristiwa isra’ mi’raj di hadapan kaum Quraisy. Nah tulisan ini akan membahas hadis gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar yang berkaitan dengan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.

Riwayat Aisyah

حدثنا أبو عمرو عثمان بن أحمد بن السماك الزاهد ببغداد ثنا إبراهيم بن الهيثم البلوي ثنا محمد بن كثير الصنعاني ثنا معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت لما أسري بالنبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد الأقصى أصبح يتحدث الناس بذلك فارتد ناس ممن كان آمنوا به وصدقوه وسعى رجال من المشركين إلى أبي بكر رضى الله تعالى عنه فقالوا هل لك إلى صاحبك يزعم أنه أسري به الليلة إلى بيت المقدس قال أو قال ذلك قالوا نعم قال لئن قال ذلك لقد صدق قالوا أو تصدقه أنه ذهب الليلة إلى بيت المقدس وجاء قبل أن يصبح فقال نعم إني لأصدقه ما هو أبعد من ذلك أصدقه في خبر السماء في غدوة أو روحة فلذلك سمي أبا بكر الصديق رضى الله تعالى عنه هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه فإن محمد بن كثير الصنعاني صدوق

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru ‘Utsman bin Ahmad bin As Simaak Az Zaahid di baghdad yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Haitsam Al Balawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Ash Shan’aniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari Urwah dari ‘Aisyah radiallahu ta’ala anha yang berkata ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam isra’ [diperjalankan] ke masjidil Aqsha maka pada pagi hari orang-orang membicarakannya. Orang-orang yang awalnya termasuk beriman dan membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi murtad. Orang-orang dari kalangan kaum musyrikin mendatangi Abu Bakar radiallahu ta’ala anhu dan berkata “apa pendapatmu tentang sahabatmu, ia menyangka dirinya diperjalankan tadi malam ke baitul maqdis”. [Abu Bakar] berkata “apakah Ia berkata demikian?”. [mereka] berkata ‘benar”. [Abu Bakar] berkata “jika Ia mengatakan demikian maka dia benar”. [mereka] berkata “apakah kamu membenarkan Ia tadi malam pergi ke baitul maqdis dan kembali sebelum pagi”. [Abu Bakar] berkata “benar, bahkan aku membenarkannya pada perkara yang lebih dari pada itu, aku membenarkannya tentang khabar [wahyu] yang Ia terima dari langit di pagi ataupun sore hari”. Oleh karena itu Abu Bakar dinamakan Ash Shiddiq. Hadis ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan mereka berdua tidak mengeluarkannya, Muhammad bin Katsir Ash Shan’ani seorang yang shaduq [Al Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim 3/62 no 4458]

Kisah ini juga disebutkan Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash Shahabah dengan jalan sanad dari ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far dari Muhammad bin Al Abbas dari Mufadhdhal bin Ghasan dari Muhammad bin Katsir dari Ma’mar dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah seperti di atas [Ma’rifat Ash Shahabah no 62]. Hadis ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrak no 4407 dimana Al Hakim dan Adz Dzahabi bersepakat menshahihkan hadis ini, dan pernyataan keduanya ini perlu ditinjau kembali. Riwayat ini juga disebutkan Baihaqi dengan sanad yang sama dengan sanad Al Hakim [Dala’il An Nubuwah 2/361]

Hadis riwayat Aisyah di atas sanadnya tidak shahih di dalamnya terdapat Muhammad bin Katsir Ash Shan’aniy. Bukhari berkata “Ahmad mendhaifkannya”. Abdullah bin Ahmad menyebutkan kalau Ayahnya sangat melemahkan Muhammad bin Katsir dan sangat melemahkah hadis-hadisnya dari Ma’mar dan ia berkata “mungkar al hadits”. Shalih bin Ahmad berkata dari ayahnya kalau Muhammad bin Katsir bukan seorang yang tsiqat. Hatim bin Laits berkata dari Ahmad “ia tidak ada apa-apanya meriwayatkan hadis-hadis mungkar yang tidak ada asalnya”. Abu Hatim menyatakan kalau ia seorang yang shalih tetapi sebagian hadis-hadisnya terdapat kemungkaran. Shalih bin Muhammad berkata “shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan”. Bukhari berkata “lemah sekali”. Ibnu Ma’in terkadang menyatakan shaduq terkadang menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “sering salah dan memiliki riwayat gharib”. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat tetapi disebutkan kalau ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Nasa’i berkata “tidak kuat dan banyak melakukan kesalahan”. As Saji berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Ibnu Ady menyebutkan kalau ia memiliki hadis-hadis yang tidak diikuti oleh seorangpun [At Tahdzib juz 9 no 685].

Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyatakan ia shaduq banyak melakukan kesalahan tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Muhammad bin Katsir seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 6251]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Mughni Adh Dhu’afa [Al Mughni no 2/626 no 5924]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 3168]. Al Uqaili memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa dimana ia mengatakan kalau Muhammad bin Katsir meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari Ma’mar dan tidak diikuti oleh seorangpun [Adh Dhu’afa Al Uqaili 4/128 no 1687]

Al Hakim keliru ketika menyatakan hadis ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim karena Muhammad bin Katsir bukanlah perawi Bukhari Muslim dan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar begitu pula Adz Dzahabi keliru ketika menyepakati penshahihan Al Hakim.

.

.

Tinjauan Terhadap Syaikh Al Albaniy

Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 306 dan menyatakan hadis ini shahih dengan syawahid. Pernyataan syaikh perlu ditinjau kembali. Syaikh terkesan melakukan campur aduk dalam mencari syawahid bagi hadis ini. Diantaranya syaikh memasukkan hadis Imam Ali dan hadis Abu Wahb maula Abu Hurairah soal gelar Ash Shiddiq yang turun dari langit sebagai penguat. Hal ini jelas tidak benar, perkara gelar Ash Shiddiq turun dari langit adalah perkara lain dan telah kami bahas dalam thread khusus kalau hadis-hadis seputar itu dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Hadis Aisyah di atas menceritakan bagaimana sikap kaum kafir Quraisy ketika mendengar kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bagaimana sikap Abu Bakar yang membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi penguat bagi riwayat Aisyah harus memuat kedua hal tersebut. Diantara riwayat yang ditampilkan Syaikh Al Albani dan relevan sebagai penguat adalah riwayat Syadad bin Aus secara marfu’ dan riwayat Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Riwayat Syadad bin Aus diantaranya disebutkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 7/282 no 7142 dan Baihaqi dalam Ad Dala’il 2/355-357. Riwayat ini dhaif karena di dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Ibrahim bin Dhahhak Az Zubaidiy dimana ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Al Haarits. Ibnu Ma’in memujinya dan berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata “syaikh” [Al Jarh Wat Ta’dil 2/209 no 711]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12489]. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya [laisa bisyai’]”. Muhammad bin ‘Auf menyatakan ia pendusta [Al Mizan juz 1 no 730]. Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyatakan ia shaduq banyak melakukan kesalahan dan Muhammad bin ‘Auf menyatakan ia pendusta kemudian dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Ishaq bin Ibrahim seorang yang shaduq dan dhaif riwayatnya dari ‘Amru bin Al Haarits [Tahrir At Taqrib no 330]. Disini adalah riwayat Ishaq bin Ibrahim dari ‘Amru bin Al Haarits maka riwayatnya dhaif. Selain itu dalam matan riwayat Syadad bin Aus tidak terdapat pernyataan bahwa Abu Bakar mendapatkan gelar Ash Shiddiq karena membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal hal itu yang menjadi pokok permasalahan.

Riwayat Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf disebutkan oleh Baihaqi dalam Dala’il Nubuwah 2/360 dengan matan sebagai berikut

قال ابن شهاب قال أبو سلمة بن عبد الرحمن فتجهز ناس من قريش إلى أبي بكر فقالوا له هل لك في صاحبك يزعم أنه قد جاء بيت المقدس ثم رجع إلى مكة في ليلة واحدة فقال أبو بكر أو قال ذلك قالوا نعم قال فأشهد لئن كان قال ذلك لقد صدق قالوا فتصدقه بأن يأتي الشام في ليلة واحدة ثم يرجع إلى مكة قبل أن يصبح قال نعم إني أصدقه بأبعد من ذلك أصدقه بخبر السماء قال أبو سلمة فبها سمي أبو بكر الصديق رضي الله عنه

Ibnu Syihab berkata Abu Salamah bin ‘Abdurrahman berkata “orang-orang dari kalangan quraisy bersiap-siap menemui Abu Bakar, mereka berkata “apa pendapatmu tentang sahabatmu yang menganggap dirinya datang ke baitul maqdis kemudian kembali ke Makkah dalam satu malam. Abu Bakar berkata “apakah Ia berkata demikian?”. [mereka] berkata “benar”. [Abu Bakar] berkata “maka aku bersaksi sungguh jika Ia berkata demikian maka ia benar”. [mereka] berkata “kamu membenarkan Ia pergi ke Syam dalam satu malam kemudian kembali ke Makkah sebelum shubuh?”. [Abu Bakar] berkata “benar, aku membenarkannya bahkan aku membenarkannya untuk perkara yang lebih dari itu yaitu khabar dari langit”. Abu Salamah berkata “maka oleh sebab itu Abu Bakar disebut dengan Ash Shiddiq” [Dala’il An Nubuwah 2/360]

Syaikh Al Albani mengatakan kalau riwayat Abu Salamah ini shahih mursal. Memang demikianlah kedudukannya. Abu Salamah bin ‘Abdurrahman adalah seorang tabiin, ia tidaklah menyaksikan peristiwa tersebut. Riwayat ini yang lebih tepat dikatakan penguat bagi riwayat Aisyah ra.

Jika kita memperhatikan matan riwayat Abu Salamah dengan baik maka dapat dilihat kalau alasan pemberian gelar Ash Shiddiq karena sikap Abu Bakar dalam peristiwa isra’ adalah pendapat Abu Salamah. Sebagaimana yang tampak dalam lafaz Abu Salamah berkata “maka dari itu Abu Bakar disebut Ash Shiddiq”. Dalam riwayat Aisyah sebelumnya, lafaz akhir matan tersebut “oleh karena itu Abu Bakar dinamakan Ash Shiddiq” juga mengandung kemungkinan kalau lafaz tersebut berasal dari salah satu perawinya. Menyatakan perkataan tersebut sebagai lafaz Aisyah belum tentu benar karena hadis tersebut sanadnya tidaklah tsabit sampai ke Aisyah akibat kelemahan Muhammad bin Katsir. Sangat mungkin karena kelemahan hafalan Muhammad bin Katsir maka ia mencampuradukkan antara perkataan Aisyah dan perkataan perawi lainnya.

.

.

Riwayat Ummu Hani’

حدثنا بهلول بن إسحاق بن بهلول الأنباري ثنا أبي عن عبد الأعلى بن أبي المساور عن عكرمة قال خبرتني أم هانئ قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لما أسري به ( إني أريد أن أخرج إلى قريش فأخبرهم ) فأخبرهم فكذبوه وصدقه أبو بكر فسمي يومئذ الصديق

Telah menceritakan kepada kami Buhlul bin Ishaq bin Buhlul Al Anbariy yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Abdul A’la bin Abi Musaawir dari Ikrimah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ummu Hani’ yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Beliau diperjalankan [isra’] bersabda “aku berniat keluar menemui kaum quraisy dan mengabarkan kepada mereka”. Maka [Beliau] mengabarkan kepada mereka, mereka mendustakannya dan Abu Bakar membenarkannya, maka sejak hari itu ia dinamakan Ash Shiddiq [Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 1/55 no 15]

Hadis Ummu Hani’ ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash Shahabah no 61 dan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsaniy 1/83 no 39 dengan jalan sanad dari ‘Abdul A’la bin Abi Musaawir dari Ikrimah dari Ummu Hani’ secara marfu’. Riwayat ini dhaif jiddan karena ‘Abdul A’la bin Abi Musaawir seorang yang matruk. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya” terkadang berkata “pendusta” terkadang berkata “tidak tsiqat”. Ali bin Madini berkata “dhaif tidak ada apa-apanya”. Ibnu ‘Ammar Al Maushulliy berkata “dhaif bukan hujjah”. Abu Zur’ah berkata “dhaif jiddan”. Abu Hatim menyatakan ia dhaif al hadits dan matruk. Bukhari berkata “mungkar al hadits”. Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya”. Nasa’i dan Ibnu Numair berkata “matruk al hadits”. Daruquthni berkata “dhaif” [At Tahdzib juz 6 no 204]

.

.

Akhir Pembahasan

Kami tidak menemukan adanya riwayat lain yang menyebutkan soal gelar Ash Shiddiq Abu Bakar terkait dengan peristiwa isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain apa yang telah kami tuliskan di atas. Berdasarkan riwayat-riwayat ini maka dapat disimpulkan tidak ada satupun dalil yang tsabit [kuat] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gelar Ash Shiddiq bagi Abu bakar karena Abu Bakar membenarkan isra’ Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi tidak dapat diingkari kalau kisah ini adalah kisah yang masyhur.

Supaya jangan ada yang salah memahami pandangan kami, maka kami tekankan disini kami bukannya menolak atau menafikan peristiwa isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, perkara ini benar dan telah diriwayatkan berbagai hadis shahih dan mutawatir. Kami juga tidak menolak atau menafikan kisah dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan peristiwa isra’ kepada kaum quraisy dan mereka mendustakannya, perkara ini benar dan diriwayatkan dalam hadis shahih. Kami juga tidak menolak atau menafikan kisah dimana Abu bakar membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun hadis-hadis seputar itu dhaif tetapi masih bisa saling menguatkan [riwayat Aisyah dan riwayat Abu Salamah] maka kedudukannya adalah hasan lighairihi [bukannya shahih seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani]. Kami juga tidak menolak gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar karena gelar tersebut adalah gelar yang masyhur. Kesimpulan kami disini adalah kami tidak menemukan adanya dalil shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberikan gelar Ash Shiddiq tersebut kepada Abu Bakar dalam peristiwa isra’ ini. Masih terdapat kemungkinan kalau gelar tersebut diberikan oleh para sahabat bukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Selain itu jika kita melihat alasan pemberian gelar Ash Shiddiq karena Abu Bakar ra telah membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka itu bukan kekhususan buat Abu Bakar, mengingat Imam Ali adalah orang yang pertama selalu membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan selalu membenarkan wahyu yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukankah perkara datangnya wahyu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah perkara yang lebih berat dari peristiwa isra’ Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana yang diakui Abu Bakar sendiri. Jika Abu Bakar dinyatakan shiddiq karena peristiwa isra’ ini maka Imam Ali lebih layak untuk dikatakan shiddiq karena beliau adalah orang yang pertama membenarkan wahyu yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Salam Damai

 

33 Tanggapan

  1. Yang jelas, Abu Bakar telah dijamin masuk surga. Kita?

  2. @hikam,

    Sayyidina Abu Bakar masuk surga ataukah neraka, emang ada hubungannya juga dengan anda? Pertanyaanya ada sangat tidak relevan dan cenderung suka ngeles seperti wahhabi/salafi. Kecuali anda memposting hal yang sama website salafy/wahhabi seperti hakekat.com, maka anda masih bisa dianggap fair.

    Apa yang dilakukan saudara secondprince sangat bermaanfaat karena membuat kita tahu bahwa julukan AsShiddiq buat Syd AbuBakar adalah julukan dari para sahabat.

    Dan Cukuplah Imam Ali yang berhak menyandang gelar Shiddiq Akbar, Faruq Akbar dan Syahid Akbar. Tidak yang mengucapkan sebelum dan sesudahnya kecuali pembohong.

  3. @Hikam,

    Jawablah/sanggahlah dengan ilmu yg anda ketahui, terhadap apa yg disampaikan secondprince sehingga diskusi ini akan lebih bermanfaat.

  4. Cukup dua hadits shahih ini sebagai dalil bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mensifati Abu Bakar sebagai Ash-Shiddiq dan kemudian diikuti oleh sahabat yang lain:

    Anas bin Malik Radhiallahu Anhu berkata bahwa Nabi Salallahu Alaihi Wasalam
    pernah naik ke bukit Uhud dan bersama beliau ada Abu Bakar Radhiallahu Anhu,
    ‘Umar Radhiallahu Anhu dan ‘Utsman Radhiallahu Anhu. Tiba-tiba bukit Uhud
    bergetar, maka beliau meng-hentakkan kakinya seraya berkata,

    اُثْبُتْ أُحُد فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيْقٌ وَشَهِيْدَانِ

    ” Tenanglah wahai Uhud sesungguhnya di atasmu ada nabi , shiddiq , dan dua orang syahid ” (HR Bukhari)

    إِنَّ اللهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ، فَقُلْتُمْ كَذِبْتَ وَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَ مَالِهِ ﴿رواه البخاري – الفتح ٧/٢٦٦﴾
    “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian. Maka kalian berkata (kepadaku): “Engkau dusta!” tapi Abu Bakar mengatakan: “Engkau benar!” Dan ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya.” (HR. Bukhari, Fathul Bari 7/366. Lihat Sirah Shahihah 1/134 karya D. Akram Dhiaul Umari)

  5. @sok tahu banget
    hadis pertama soal bukit uhud sudah dibahas kalau itu tidak dikhususkan buat Abu Bakar tetapi juga untuk Imam Ali karena keduanya layak disebut Ash Shiddiq dan memang berada bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Uhud, dan maaf tidak ada sisi hujjah-nya untuk mengaitkan hadis tersebut dengan peristiwa isra’.

    hadis kedua juga tidak ada dalil yang menguatkan hujjah shiddiq atau penamaan Ash Shiddiq. Hadis tersebut menyatakan Abu Bakar membenarkan Nabi [shallallahu ‘alaihai wasallam] tetapi tidak ada penamaan gelar Ash Shiddiq🙂

  6. @sok tau banget
    kt anda:
    Cukup dua hadits shahih ini sebagai dalil bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mensifati Abu Bakar sebagai Ash-Shiddiq dan kemudian diikuti oleh sahabat yang lain:
    kt sy:
    cukup sdh anda me maksa2 kan hadits spy sesuai dgn selera n kehendak anda

  7. @ SP,

    Intinya dari dua hadits tersebut dapat diketahui bahwa memang Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam sendiri yang mensifati Abu Bakar dengan sifat Shiddiq, sedang mengenai peristiwa Isra’ adalah sebagai salah satu contoh kongkrit implementasi sifat Shiddiq dari Abu Bakar yang masyhur.

    Bahkan bisa jadi gelar Ash Shiddiq (yang Membenarkan) pada Abu Bakr masyhur karena sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada hadits yang kedua tersebut, teks lengkapnya:

    “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian. Maka kalian berkata (kepadaku): “Engkau dusta!” tapi Abu Bakar mengatakan: “Engkau benar!” Dan ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian hendak meninggalkan sahabatku itu?” beliau mengucapkan ucapan itu dua kali. Maka tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakar setelah itu.” (HR Bukhari)

    Mengenai sifat Shiddiq pada Imam Ali ra dan sahabat yang lain saya pun tidak menolaknya karena beliau pun juga membenarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. tetapi yang dipuji Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam dalam berbagai riwayat adalah Abu Bakar ra sehingga gelar ini masyhur di kalangan para sahabat sehingga ini adalah keutamaan Abu Bakar ra dibandingkan sahabat yang lainnya.

  8. @sok tahu banget

    Intinya dari dua hadits tersebut dapat diketahui bahwa memang Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam sendiri yang mensifati Abu Bakar dengan sifat Shiddiq,

    Maaf hanya hadis pertama soal bukit Uhud itu yang menyebutkan kalau Nabi menyatakan ada shiddiq disana. Nah soal penafsiran kalau shiddiq itu adalah Abu Bakar ya itu adalah penafsiran, saya pun tidak keberatan dengan penafsiran ini tetapi sebagai penafsiran ia tidak menafikan penafsiran lain. Orang lain dapat membantah anda dengan mengatakan kalau shiddiq disana tertuju pada Imam Ali karena Beliau juga ada di Uhud bersama Nabi sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang lebih lengkap. Penafsiran yang saya pilih disini keduanya Abu Bakar dan Imam Ali adalah shiddiq dan ini saya ambil karena saya tidak memiliki bukti untuk menafikan salah satunya.

    sedang mengenai peristiwa Isra’ adalah sebagai salah satu contoh kongkrit implementasi sifat Shiddiq dari Abu Bakar yang masyhur.

    Sebelumnya saya ingin tanya, apakah diantara orng-orang beriman saat itu hanya Abu Bakar saja yang membenarkan Nabi SAW sedangkan yang lain mendustakannya atau menjadi murtad?. Kalau anda menjawab tidak, artinya ada orang lain yang ikut membenarkan Nabi SAW, apakah ia juga disebut Ash shiddiq?. Inti tulisan di atas adalah tidak ada dalil valid kalau Rasulullah SAW memberikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar dalam peristiwa isra’ ini.

    Bahkan bisa jadi gelar Ash Shiddiq (yang Membenarkan) pada Abu Bakr masyhur karena sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada hadits yang kedua tersebut, teks lengkapnya:

    “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian. Maka kalian berkata (kepadaku): “Engkau dusta!” tapi Abu Bakar mengatakan: “Engkau benar!” Dan ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian hendak meninggalkan sahabatku itu?” beliau mengucapkan ucapan itu dua kali. Maka tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakar setelah itu.” (HR Bukhari)

    Silakan perhatikan dengan baik dalam hadis Bukhari itu tidak ada penyebutan gelar ash shiddiq. Hadis ini sepertinya menjelaskan tentang dimana Abu Bakar membenarkan Nabi, nah peristiwanya tidak disebutkan. Kalau melihat lafaz “sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian” maka itu lebih merujuk pada saat Nabi SAW menyampaikan agama islam kepada orang-orang dimana Abu Bakar termasuk salah satu yang terdahulu memeluk agama islam. Jika alasan ini yang dijadikan dasar penamaan shiddiq bagi Abu Bakar maka Imam Ali lebih layak dikatakan shiddiq karena Beliau adalah orang yang pertama membenarkan Nabi SAW bahkan lebih dahulu dari Abu Bakar.

    Mengenai sifat Shiddiq pada Imam Ali ra dan sahabat yang lain saya pun tidak menolaknya karena beliau pun juga membenarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Silakan silakan🙂

    tetapi yang dipuji Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam dalam berbagai riwayat adalah Abu Bakar ra

    Nah perbedaan kita disini, saya pribadi tidak menemukan riwayat valid Rasulullah SAW memberikan gelar shiddiq khusus kepada Abu Bakar. Kalau memanfaatkan berbagai riwayat yang ternyata dhaif atau mengandung illat maka saya katakan riwayat Rasulullah SAW menyatakan shiddiq kepada Imam Ali juga banyak.

    sehingga gelar ini masyhur di kalangan para sahabat sehingga ini adalah keutamaan Abu Bakar ra dibandingkan sahabat yang lainnya.

    Masalah gelar ini masyhur, itu tidak saya nafikan bahkan begitu masyhurnya sebutan ini sehingga ada hadis-hadis Rasulullah atau sahabat dimana menyebutkan nama Abu Bakar ada tambahan dibelakangnya Ash Shiddiq, seolah-olah hadis itu menunjukkan kalau Rasulullah SAW atau sahabat yang memanggil ash shiddiq padahal terbukti dalam hadis lain kalau sebenarnya lafaz yang diucapkan itu hanya Abu Bakar saja tanpa tambahan ash shiddiq artinya lafal itu ditambahkan oleh ulama atau perawi hadis. Kasus ini mirip dengan sebutan radiallahuanhu pada setiap nama sahabat yang ada dalam hadis-hadis yang merupakan tambahan dari para ulama atau perawi hadis untuk memuliakan sahabat . Pandangan saya disini penjelasan kemasyhuran ini juga tidak bersifat mutlak dari Nabi SAW, bisa jadi yang membuat gelar ini masyhur adalah sebagian sahabat atau para tabiin atau para ulama setelahnya. coba tuh anda jawab pertanyaan ini, mengapa Umar dan Utsman tidak masyhur mendapat gelar Asy Syahid?. Terus menjadikan kemasyhuran ini sebagai keutamaan Abu Bakar di atas sahabat lainnya tidak bersifat mutlak, sudah kami tunjukkan kalau Imam Ali juga adalah ash shiddiq, jadi tidak pada tempatnya menjadikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar sebagai keutamaan di atas imam Ali.

  9. @sp
    argument mantaaap

  10. @sok tahu banget
    Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian. Maka kalian berkata (kepadaku): “Engkau dusta!” tapi Abu Bakar mengatakan: “Engkau benar!” Dan ia mendukungku dengan jiwa dan hartanya.” (HR. Bukhari, Fathul Bari 7/366. Lihat Sirah Shahihah 1/134 karya D. Akram Dhiaul Umari)

    ————————————————————

    Klu bisa dibawai aja riwayat yg lebih panjang, terlalu simple sehingga pembaca tdk mengetahui dan menyebabkan multi tafsir : yang saya tdk pahami
    1. saat kapan peristiwa tsb tejadi.
    2. Bagaimana sanadnya..
    3. Secara logika jangankan abu bakar mas aja klu mendengarkan Alqur’an pasti membenarkannya tapi tdk serta merta diberi gelar AshShiddiq, Apalagi merupakan salah satu sifat kenabian tentu hal-hal khusus sehingga sesorang diberi gelar tsb.

  11. Maaf hanya hadis pertama soal bukit Uhud itu yang menyebutkan kalau Nabi menyatakan ada shiddiq disana. Nah soal penafsiran kalau shiddiq itu adalah Abu Bakar ya itu adalah penafsiran, saya pun tidak keberatan dengan penafsiran ini tetapi sebagai penafsiran ia tidak menafikan penafsiran lain. Orang lain dapat membantah anda dengan mengatakan kalau shiddiq disana tertuju pada Imam Ali karena Beliau juga ada di Uhud bersama Nabi sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang lebih lengkap. Penafsiran yang saya pilih disini keduanya Abu Bakar dan Imam Ali adalah shiddiq dan ini saya ambil karena saya tidak memiliki bukti untuk menafikan salah satunya.

    Oke lah penafsiran boleh berbeda, tetapi bagi saya hadits di Uhud dan hadits2 yang lain sudah begitu jelas bahwa Shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar ra, apalagi hadits yang saya kutib di atas. Walau saya kadang merasa heran, mengapa hal yang sudah begitu jelas kok ditafsirkan ke yang tidak begitu jelas.

    Sebelumnya saya ingin tanya, apakah diantara orng-orang beriman saat itu hanya Abu Bakar saja yang membenarkan Nabi SAW sedangkan yang lain mendustakannya atau menjadi murtad?. Kalau anda menjawab tidak, artinya ada orang lain yang ikut membenarkan Nabi SAW, apakah ia juga disebut Ash shiddiq?. Inti tulisan di atas adalah tidak ada dalil valid kalau Rasulullah SAW memberikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar dalam peristiwa isra’ ini.

    Kalau menganalisa riwayat2 tsb sih banyak yang ragu atau masih mikir-mikir, tetapi Abu Bakar membenarkan tanpa mikir2 dulu🙂 Anda sendiri mengatkan kedudukannya Hasan Lighairihi.

    Silakan perhatikan dengan baik dalam hadis Bukhari itu tidak ada penyebutan gelar ash shiddiq. Hadis ini sepertinya menjelaskan tentang dimana Abu Bakar membenarkan Nabi, nah peristiwanya tidak disebutkan. Kalau melihat lafaz “sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian” maka itu lebih merujuk pada saat Nabi SAW menyampaikan agama islam kepada orang-orang dimana Abu Bakar termasuk salah satu yang terdahulu memeluk agama islam. Jika alasan ini yang dijadikan dasar penamaan shiddiq bagi Abu Bakar maka Imam Ali lebih layak dikatakan shiddiq karena Beliau adalah orang yang pertama membenarkan Nabi SAW bahkan lebih dahulu dari Abu Bakar.

    Masalahnya yang disebut di sini adalah Abu Bakar mas bukan Imam Ali. Apalagi beliau mengatakan hal tersebut untuk menunjukkan/menegaskan keutamaan Abu Bakar dihadapan sahabat-sahabat yang lain, dan sahabat yang lain-pun akhirnya tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakar setelah itu. Maka bisa dimengerti bahwa keutamaan/nilai plus/ strong character yg dimiliki Abu Bakar dibandingkan sahabat yg lain adalah beliau selalu membenarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (Ash Shiddiq). Bukan berarti sahabat yang lain tidak memiliki sifat shiddiq, tetapi sifat Shiddiq Abu Bakar-lah yang paling berkesan pada diri Nabi, sehingga beliau bersabda seperti itu.

    Nah perbedaan kita disini, saya pribadi tidak menemukan riwayat valid Rasulullah SAW memberikan gelar shiddiq khusus kepada Abu Bakar. Kalau memanfaatkan berbagai riwayat yang ternyata dhaif atau mengandung illat maka saya katakan riwayat Rasulullah SAW menyatakan shiddiq kepada Imam Ali juga banyak.

    Saya tidak menafikan hal tersebut, tetapi kenyataannya yang paling berkesan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang shahih adalah sifat shiddiq Abu Bakar. Dan ini adalah keutamaan beliau dibandingkan sahabat yang lain.

    Masalah gelar ini masyhur, itu tidak saya nafikan bahkan begitu masyhurnya sebutan ini sehingga ada hadis-hadis Rasulullah atau sahabat dimana menyebutkan nama Abu Bakar ada tambahan dibelakangnya Ash Shiddiq, seolah-olah hadis itu menunjukkan kalau Rasulullah SAW atau sahabat yang memanggil ash shiddiq padahal terbukti dalam hadis lain kalau sebenarnya lafaz yang diucapkan itu hanya Abu Bakar saja tanpa tambahan ash shiddiq artinya lafal itu ditambahkan oleh ulama atau perawi hadis. Kasus ini mirip dengan sebutan radiallahuanhu pada setiap nama sahabat yang ada dalam hadis-hadis yang merupakan tambahan dari para ulama atau perawi hadis untuk memuliakan sahabat . Pandangan saya disini penjelasan kemasyhuran ini juga tidak bersifat mutlak dari Nabi SAW, bisa jadi yang membuat gelar ini masyhur adalah sebagian sahabat atau para tabiin atau para ulama setelahnya. coba tuh anda jawab pertanyaan ini, mengapa Umar dan Utsman tidak masyhur mendapat gelar Asy Syahid?. Terus menjadikan kemasyhuran ini sebagai keutamaan Abu Bakar di atas sahabat lainnya tidak bersifat mutlak, sudah kami tunjukkan kalau Imam Ali juga adalah ash shiddiq, jadi tidak pada tempatnya menjadikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar sebagai keutamaan di atas imam Ali.

    Kemasyhuran sifat Shiddiq pada Abu Bakar ra karena memang sifat tersebut menonjol dan diekspose oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Dan ini adalah sifat yang unik yang layak disematkan untuk Abu Bakar ra, tentunya karena hal tersebut diekspose oleh Nabi dengan begitu jelas. Jadi tidak ada yang perlu diherankan jika gelar Ash -Shiddiq begitu masyhur di kalangan sahabat dan generasi berikutnya. Dan saya kira pada tempatnya jika hal tersebut menjadi keutamaan Abu Bakar di atas yang lain termasuk Imam Ali. Lha Imam Ali sendiri mengakui bahwa Abu Bakar adalah yang terbaik setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Sedangkan mengapa gelar syahid tidak Masyhur untuk Umar, Utsman, Ali ra dll? ya mudah saja, karena yang syahid lebih dari satu. Dan sahabat2 tersebut punya gelar yang masyhur sendiri2.

  12. @sok tahu banget

    Oke lah penafsiran boleh berbeda, tetapi bagi saya hadits di Uhud dan hadits2 yang lain sudah begitu jelas bahwa Shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar ra,

    maaf Mas silakan dibaca baik-baik di hadis Uhud itu apakah ada pernyataan Nabi SAW kalau shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar. Jawabannya tidak ada, Nabi menyatakan kalau yang ada di atas Uhud ada Nabi shiddiq dan syahid. Nah yang ada di atas itu ya para sahabat termasuk Abu Bakar dan Imam Ali, makanya wajar saja kalau ditafsirkan keduanya adalah ash shiddiq

    apalagi hadits yang saya kutib di atas. Walau saya kadang merasa heran, mengapa hal yang sudah begitu jelas kok ditafsirkan ke yang tidak begitu jelas.

    Maaf hadis yang anda kutip juga tidak ada tuh soal pernyataan Rasulullah SAW memberikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar. Jadi sesuatu yang menurut anda begitu jelas hanyalah persangkaan anda semata🙂

    Kalau menganalisa riwayat2 tsb sih banyak yang ragu atau masih mikir-mikir, tetapi Abu Bakar membenarkan tanpa mikir2 dulu🙂

    Maaf anda sepertinya tidak bisa membaca dengan baik. di dalam riwayat tersebut yang diberitakan hanya ada orang-orang yang murtad padahal awalnya beriman. Soal siapa yang ragu dan banyak mikir2, gak ada tuh penjelasan hadisnya, itu kan anggapan anda saja🙂

    Anda sendiri mengatkan kedudukannya Hasan Lighairihi.

    sudah saya bahas di atas🙂

    Masalahnya yang disebut di sini adalah Abu Bakar mas bukan Imam Ali.

    Maaf mas kalau merujuk pada hadis yang anda kutip, wajar yang disebut Abu Bakar karena yang diganggu itu kan Abu Bakar bukannya Imam Ali.

    Apalagi beliau mengatakan hal tersebut untuk menunjukkan/menegaskan keutamaan Abu Bakar dihadapan sahabat-sahabat yang lain, dan sahabat yang lain-pun akhirnya tidak ada yang berani mengganggu Abu Bakar setelah itu. Maka bisa dimengerti bahwa keutamaan/nilai plus/ strong character yg dimiliki Abu Bakar dibandingkan sahabat yg lain adalah beliau selalu membenarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam (Ash Shiddiq).

    kalau dikatakan Abu Bakar lebih utama dari sahabat lain berdasarkan hadis yang anda kutip maka itu masih bisa dimengerti tetapi kalau dikatakan lebih utama dari Imam Ali, itu gak kena. Silakan tuh perhatikan hadis yang anda kutip terdapat lafaz “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian. Maka kalian berkata (kepadaku): “Engkau dusta!” tapi Abu Bakar mengatakan: “Engkau benar!”
    Maaf kalian yang dimaksud disini jelas tidak termasuk Imam Ali, karena Imam Ali dari awal mula Nabi SAW menyampaikan agama islam tidak pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW dengan perkataan “Engkau dusta”. Imam Ali itu lebih dahulu membenarkan Nabi SAW, mengapa di hadis ini tidak disebut lha karena hadis ini kan sedang membicarakan peristiwa diganggunya Abu Bakar bukannya Imam Ali.

    Bukan berarti sahabat yang lain tidak memiliki sifat shiddiq, tetapi sifat Shiddiq Abu Bakar-lah yang paling berkesan pada diri Nabi, sehingga beliau bersabda seperti itu.

    Sabda Rasulullah SAW keluar karena pada saat itu terdapat sahabat yang mengganggu Abu Bakar dengan sikapnya maka Nabi SAW bersabda membela Abu Bakar dengan menyebutkan keutamaannya. Soal paling berkesan yang anda maksud, saya lihat hanya persepsi anda terhadap riwayat tersebut.

    Saya tidak menafikan hal tersebut, tetapi kenyataannya yang paling berkesan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang shahih adalah sifat shiddiq Abu Bakar. Dan ini adalah keutamaan beliau dibandingkan sahabat yang lain.

    Kita tidak perlu bicara sahabat lain, yang kita bicarakan adalah Abu Bakar dan Imam Ali. Apa dasarnya anda mengatakan sifat shiddiq abu bakar “paling berkesan” dibanding sifat shiddiq Imam Ali?. Itu gak ada di dalam hadis yang anda kutip, kalau soal mengapa hadis yang anda kutip menyebutkan Abu Bakar lha itu karena saat itu Abu Bakar yang sedang diganggu bukannya Imam Ali. Nah kalau melihat hadis Imam Ali mengakui dirinya “shiddiq al akbar” maka bisa dikatakan justru pembenaran Imam Ali atau sifat shiddiq imam Ali itu lebih utama🙂

    Kemasyhuran sifat Shiddiq pada Abu Bakar ra karena memang sifat tersebut menonjol dan diekspose oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri.

    lha kalau anda mengandalkan hadis yang anda kutip itu kan merujuk pada peristiwa awal Nabi SAW menyampaikan agama islam, nah saat itu yang membenarkan Nabi juga Imam Ali bahkan beliau lebih dahulu dari Abu Bakar.

    Dan ini adalah sifat yang unik yang layak disematkan untuk Abu Bakar ra, tentunya karena hal tersebut diekspose oleh Nabi dengan begitu jelas.

    Nabi mengekspose apa yang anda maksud dalam hadis Bukhari itu karena pada saat itu Abu Bakar diganggu oleh sahabat. nah wajar toh Nabi mengekspose untuk membela Abu Bakar. Tidak ada tuh soal keunikan yang anda maksud itu mah lagi-lagi persepsi anda saja. soal peristiwa di hadis Bukhari itu jelas Imam Ali lebih dahulu membenarkan Nabi SAW daripada Abu Bakar sebagaimana yang tampak dalam berbagai riwayat shahih kalau Imam Ali yang pertama masuk islam atau membenarkan Nabi SAW

    Jadi tidak ada yang perlu diherankan jika gelar Ash -Shiddiq begitu masyhur di kalangan sahabat dan generasi berikutnya. Dan saya kira pada tempatnya jika hal tersebut menjadi keutamaan Abu Bakar di atas yang lain termasuk Imam Ali.

    kalau di atas sahabat lain ya mungkin saja tetapi kalau di atas Imam Ali itu gak kena. Karena Imam Ali itu shiddiq al akbar, beliau lebih dahulu membenarkan Nabi SAW dibanding Abu Bakar🙂

    Lha Imam Ali sendiri mengakui bahwa Abu Bakar adalah yang terbaik setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

    Gak perlu melompat membahas hadis lain, hadis itu udah ada pembahasannya sendiri, saya buat dalam thread khusus. Atsar Imam Ali itu adalah bentuk tawadhu’ Beliau. Apalagi banyak hadis shahih yang menyatakan kalau Imam Ali lebih utama dari semua sahabat yang lain termasuk Abu Bakar. Silakan nih dibaca hadis Nabi SAW yang jelas menyatakan kalau Imam Ali lebih utama https://secondprince.wordpress.com/2010/10/30/hadis-imam-ali-sahabat-yang-paling-berilmu-keutamaan-di-atas-abu-bakar-dan-umar/. Bahkan Nabi SAW menolak ketika Abu Bakar melamar Sayyidah Fathimah AS dan menerima lamaran ketika yang melamar adalah Imam Ali AS.

    Sedangkan mengapa gelar syahid tidak Masyhur untuk Umar, Utsman, Ali ra dll? ya mudah saja, karena yang syahid lebih dari satu.

    Lha yang shiddiq juga bukan cuma Abu Bakar, saya sudah buktikan tuh atsar kalau Imam Ali juga ash shiddiq. btw Nabi SAW itu juga Asy Syahid lho🙂

    Dan sahabat2 tersebut punya gelar yang masyhur sendiri2.

    tidak ada masalah dengan ini🙂

  13. Hal udah jelas masi aja di ributkan..

    Abu bakar as shiddiq
    Imam ali as shiddiq al akbar.

    Umar al faruq
    Imam ali al faruq al akbar.

    Utsman as syahid
    Imam ali as syahid al akbar.

    Kenapa imam ali tidak masyhur dengan gelar2 demikian,padahal imam ali lebih shiddiq,faruq dan syahid daripada abu bakar,umar dan utsman??
    karena imam ali telah memperoleh gelar yang jauh lebih mulia daripada as shiddiq,al faruq atau as syahid..imam ali memperoleh gelar dalam kisa’ sebagai ahlil bait Rosulullah,suami dari sayyidah fatimah al zahra,ayah dhohir dari sayyidina hasan dan sayyidina husain..

  14. @Alaydrouz
    insya Allah kita tidak perlu ribut-ribut apalagi melibatkan emosi. Beda pendapat itu wajar wajar saja.

    Abu bakar as shiddiq
    Imam ali as shiddiq al akbar.

    ini termasuk pandangan kami🙂

    Umar al faruq
    Imam ali al faruq al akbar.

    kami belum menemukan dalil yang kuat soal gelar al faruq bagi Umar

    Utsman as syahid
    Imam ali as syahid al akbar.

    Utsman dan Imam Ali memang termasuk syahid

    Kenapa imam ali tidak masyhur dengan gelar2 demikian,padahal imam ali lebih shiddiq,faruq dan syahid daripada abu bakar,umar dan utsman??
    karena imam ali telah memperoleh gelar yang jauh lebih mulia daripada as shiddiq,al faruq atau as syahid..imam ali memperoleh gelar dalam kisa’ sebagai ahlil bait Rosulullah,suami dari sayyidah fatimah al zahra,ayah dhohir dari sayyidina hasan dan sayyidina husain..

    Tidak ada masalah dengan ini🙂

  15. @secondprince.

    Anda memang cerdas. Semakin anda menjawab, semakin tampak kecerdasan anda. Sebaliknya, @soktahubanget benar-benar pembual. Semakin @soktahubanget bicara, semakin jelas kepembualanya…

    Benarlah pepatah yang mengatakan : “Jika ingin pintar berdebat, jadilah syiah walaupun sedikit”. Saya percaya @secondprince tidak syiah tapi karena mencintai dan mengikuti Imam Ali (dan akhirnya sering dituduh menjadi syiah), maka secondprice jadi pandai berdialektika.

    Saya mengamati, hampir semua orang syiah atau simpatisannya, sangat pandai berdialektika. kebalikannya, semua orang salafy dari ulama-nya sampai pengikutnya, sangat memalukan dalam berdialektika ..

  16. @alaydrouz

    Hal udah jelas masi aja di ributkan..

    Abu bakar as shiddiq
    Imam ali as shiddiq al akbar.

    Umar al faruq
    Imam ali al faruq al akbar.

    Utsman as syahid
    Imam ali as syahid al akbar.

    kayaknya saya pernah lihat komentar ini di sini :

    https://secondprince.wordpress.com/2011/01/11/pembahasan-hadis-%E2%80%9Cash-shiddiq%E2%80%9D-dan-%E2%80%9Cbintu-ash-shiddiq%E2%80%9D/#comment-16361

    Apa alaydrouz sama dengan Wahabi kam***. 😀

  17. @baba,

    bukan. saya bukan alaydrouz. Tapi informasi yang saya sebutkan atau alaydouz sebutkan, adalah informasi yang sangat umum. jadi tidak usah heran, jika ada kesamaan.

    BTW, apa yang secondprince bahas dalam blog ini dan semua usaha kerasnya untuk membagi ilmu kepada kita semua, hanyalah menguatkan sinyalemen yang telah diucapkan oleh Imam Hambali beberapa abad silam : “Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang memiliki fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanadnya yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib”.

    Secondprince juga sekali lagi menguatkan ucapan Imam Hambali kepada anaknya mengenai Imam Ali : “Anakku, Imam Ali adalah ahlul bait nabi. Dan tidak seorang pun yang dapat dibandingkan dengan dia dalam hal keutamaan”.

    Secondprince “hanya” mengulangi ucapan Imam Hambali, bahwa semua keutamaan Imam Ali sampai kepada kita dengan jalan yang sahih sanadnya. Dan hal itu, tidak berlaku untuk semua sahabat selain-nya.

    Secondprince “hanya” membuktikan ucapan Imam Hambali bahwa sahabat yang paling utama disisi Rasulullah adalah Imam Ali dan tidak selainnya.
    Kalaupun ada keutamaan sahabat lainnya, itu pun tidak bisa dijadikan hujjah untuk membuktikan bahwa keutamaan sahabat tersebut melebihi keutamaan Imam Ali. Hanya prasangka baik dan logika samata maka kita mengakui bahwa sahabat lainnya -selain Imam Ali-, memiliki keutamaan.

    Terima kasih secondprince.

  18. saya terkesan dengan pemaparan mas SP, terus berkarya….

    oh ya, saya sekalian minta maaf atas kelancangan saya dalam mengcopy paste percakapan anda dalam diskusi tanpa saya edit(cuma perkecil tulisan biar hemat)… itu saya bagikan kepada teman2 saya (saya seorang suni pencari kebenaran dan akan terus mencari)

    jika anda mengizinkan, saya akan terus memperhatikan diskusi2 anda, dan menyebarluaskannya

    terimakasih

  19. semoga allah selalu memberikan jalan lurus kepada kita semua.

    jangan sampai qt berlebihan memuja-muja sahabat rosul melebihi cinta kita kepada allah.

    bukankah kita diciptakan dibumi ini hanya untuk menyembah allah.

  20. @ SP

    Salam, bagaimana pula dengan atsar di bawah?

    حدثنا معاذ بن المثنى ثنا علي بن المديني ثنا إسحاق بن منصور السلولي ثنا محمد بن سليمان العبدي عن هارون بن سعد عن عمران بن ظبيان عن أبي يحيى حكيم بن سعد قال سمعت عليا يحلف : لله أنزل اسم أبي بكر من السماء الصديق

    Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Al Mutsanna yang berkata menceritakan kepada kami Ali bin Madini yang berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur Al Saluuliy yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi dari Haarun bin Sa’d dari ‘Imran bin Zhabyaan dari Abi Yahya Hakiim bin Sa’d yang berkata aku mendengar Ali bersumpah “Allah SWT telah menurunkan dari langit untuk Abu Bakar dengan nama Ash Shiddiq”

    [Mu’jam Al Kabir 1/55 no 14]

  21. @ SP

    Salam,

    bagaimana pula dengan atsar di bawah?

    حدثنا معاذ بن المثنى ثنا علي بن المديني ثنا إسحاق بن منصور السلولي ثنا محمد بن سليمان العبدي عن هارون بن سعد عن عمران بن ظبيان عن أبي يحيى حكيم بن سعد قال سمعت عليا يحلف : لله أنزل اسم أبي بكر من السماء الصديق

    Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Al Mutsanna yang berkata menceritakan kepada kami Ali bin Madini yang berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur Al Saluuliy yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi dari Haarun bin Sa’d dari ‘Imran bin Zhabyaan dari Abi Yahya Hakiim bin Sa’d yang berkata aku mendengar Ali bersumpah “Allah SWT telah menurunkan dari langit untuk Abu Bakar dengan nama Ash Shiddiq”
    [Mu’jam Al Kabir 1/55 no 14]

  22. Salam SP,

    ya..lagi kelmarin saya sudah menemuinya di link itu. Terima kasih atas responnya.

    Salam Damai.

  23. Hahaha..
    Sepertinya sang penulis bukanlah sang pemikir,, ђa̲̅ήγ̥ą sekedar “merasa bahwa dirinya tlah berfiikir..
    APA yang tlah anda pikir??
    Tak ada satupun tulisan anda yang Orisinil..
    Narsis, sih boleh2 śªjªªª,, τåpi mengaku sebagai pemikir kemudian tak ada bukti,, tak ada hasil,, yaaa.. Gåќ ada beda dengan pendusta.. Omong besar,, pembuaL,, SOTOYYYY… Hahaha

  24. haha

  25. hm…copy paste baanget sih,,,. Trus gak gentle banget bilang aja saya syiah, trus Abu Bakr Kafir…bla..bla…Pake taqiyyah segala. Udah kebaca dah…

  26. Bagi Para Mukmin Sejati, apa dasar ABU Bakar, menyatakan bahwa “Nabi tidak mewarisi hartanya”, apakah ini Nash atau Hadis, kenapa Fatimah, Ali, Hasan, Husein dan Umu Aima kesaksiannya diabaikan.
    Pertanyaannya, bila benarlah ucapan Abu Bakar, maka Rosul telah melawan Firman-Nya, yaitu :”Selamatkan dirimu dan Keluargamu dari API NERAKA”, karena Rosul menyampaikan Hadistnya lebih dahulu ke Sahabatnya dari pada Keluarganya sendiri, mungkinkah secara akal waras, Nabi melakukan penyimpangan (Aku berlindung dari Murka-Nya, atas tuduhan ini), bila tidak maka satu-satunya TERDAKWA adalah ABU Bakar sendiri, karena ucapannya hany keluar dari mulutnya sendiri, dan anehnya yang dijamin oleh Penguasa Alam Semesta ini via Al Azhab 33, hanyalah Keluarga Rosul, karena ini terkait kepada Long Term Strategy Dakwah Islamiyah, harus berlaku sampai Yaumul Kiamah, maka sebagai KRITERIA PEWARIS NABI, harus memenuhi :

    1. Al Baqarah 124 & Lukman 13, dan As-Nisa 59 (Allah Mahakudus, Muhammad Maksum, demikian juga ULIL AMRI MINKUM harus MAKSUM —-Tidak mungkin degradasi, krn tidak ILMIAH).
    V. Al Baqarah [2]:124,
    Renungkan isinya :” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”.”

    a) Al Baqarah 124, ini adalah Kriteria Pemimpin atau Ulil Amri Minkum yang telah Allah Swt tetapkan dan tentunya haram untuk dilanggar, karena itu sama saja melawan PerintahNya.

    b) Hadist Rosulullah (Informasi dari Tuhan Alam Semesta), yang telah menetapkan Kriteria Pengganti Rosulullah Saw, yaitu :

    Abdullah bin Mas’ud, meriwayatkan dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda : “Allah berkata kepada Ibrahim,’ Aku tidak memberikan JanjiKu (Imamah) kepada turunanmu yang zalim.’ Ibrahim berkata : Siapakah orang – orang yang zalim yang JanjiMu tidak meliputi keturunanku?’, Allah berfirman; ‘ Siapa saja yang bersujud di hadapan berhala, berarti meninggalkanKu dan Aku tidak mengangkatnya sebagai seorang Imam”. Tafsir NURUL QUR’AN, Jilid 1, QS [2]:[124], Hal. 333 (Jilid 1 s/d 20)

    c) Mari kita perhatikan bilangan pada Surat [2], jelas yang dimaksud adalah :

    1. Nabi Muhammad Saw, dan pelanjutnya yaitu :

    2. Imam Ali bin Abi Thalib, al Murthado as, kenapa karena beliau as diasuh oleh Nabi Saw, sejak berumur 10 tahun, dan beliau selalu mengikutinya kemanapun beliau saw pergi, dan beliau berunjar “Dirinya as précis kaya anak itik mengikuti induknya”, beliau sebagai sepupunya dan juga sekaligus setelah dewasa, beliau as diikat oleh Rosul Saw, diikat sebagai saudaranya, ketika para sahabat Anshar dan Muhajirin dipasangkan satu sama lainnya sebagai saudara, dan pasangan Ali as adalah Nabi Saw itu sendiri sebagai saudaranya, juga beliau as, dipersandingkan dengan putrinya, setelah menolok pinangan sahabat lainnya keatas putrinya dan beliau Saw, hanya setuju putrinya dipinang oleh Ali bin Abi Thalib dan beliau as sedetikpun tak pernah menyembah berhala, maka tentunya criteria yang diungkapkan oleh QS [2]:[124], hanya cocok satu-satunya kepada Ali bin Abi Thalib tidak untuk selainnya.

    d) Mari kita perhatikan bilangan pada Ayatnya [124] :
    [124]=1+2+4=7, bilangan ini akan menghasilkan suatu hal yang sangat mengagumkan, karena pada akhirnya akan menghasilkan angka 14, bahwa benarlah mereka itu maksum, dan memang yang telah Allah Swt tetapkan sebagai Pengawal RisalahNya, sampai Yaumul Kiamah yang tidak boleh terkontaminasi oleh nafsu egonya, mari kita buktikan :

    1. Maksumim dengan nama awalnya Muhammad ada 4
    2. Maksumim dengan nama awalnya Al ada 4
    3. Maksumim dengan nama awalnya Hasan ada 2
    4. Maksumim dengan nama awalnya Husein ada 1
    5. Maksumim dengan nama awalnya Ja’far Shodik ada 1
    6. Maksumim dengan nama awalnya Musa al Kazim ada 1
    7. Maksumim lainnya, Fatimah az Zahra ada 1
    Jumlah total semuanya ada 14

    Maka apabila kita jumlahkan, totalnya ada = 14, bukankah ini sesuatu yang mengherankan, adakah ini kebetulan, atau memang cantiknya Allah Swt dalam membuat suatu Program yang tak mungkin manusia bisa mengelabuhinya.

    Untuk mendukung hal tsb diatas, maka akan dikutip dari Mizanul Hikmah Jilid 3, BAB 282, dari halaman 235 s/d 236, KEMAKSUMAM, No. 4284, 4285, 4286, 4287, yaitu :
    1. “ Imam Ali as, ‘ Siapa yang telah dibekali dengan kemaksuman maka dia akan aman dari segala bentuk kesalahan (ketergelinciran)’ (No. 4284) ”
    2. “ Imam Ali Zainal Abidin as, Para Imam di antara kami tidaklah menjadi Imam kecuali dalam keadaan maksum. Namun bukanlah kemaksumam itu dalam segi lahiriah penciptaan sehingga dapat dikenal (oleh setiap orang dengan mata mereka). Katanya, imam itu haruslah ditunjuk dengan Nas’. Perawi bertanya, “ Wahai putra Rosulullah ! Kalau begitu, apa arti KEMAKSUMAN itu?’. ‘ Yakni yang berpegang teguh dengan tali Allah, yaitu al-Qur’an. Karenanya, keduanya tidak akan terpisah hingga Hari Kiamat. Imam menunjukkan kepada al-Qur’an dan begitu pula sebaliknya al Qur”an menunjukkan kepada Imam, sebagaimana firman-Allah Swt, Sesungguhnya al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada yang lurus’. (No. 4285)”.
    3. “ Imam Ja’far Shadiq as saat ditanya oleh salah seorang muridnya., Hisyam tentang makna MAKSUM, beliau menjawabnya , “ Orang yang MAKSUM adalah orang yang mencegah dirinya karena Allah untuk melakukan segala hal yang dilarang oleh-Nya. Allah Swt berfirman, Siapa yang berpegang –teguh dengan Allah maka dia telah mendapatkan petrunjuk kejalan yang lurus. ”(No. 4286).
    4. “ Rasulullah saw, “ Sesungguhnya, Allah Swt melindungi (menjaga) orang yang mentaati-Nya dan tidak melindungi orang yang melanggar-Nya ”( No. 4287).
    5. Kutipan dari Tafsir Nurul Qur’an jilid XVII, hal 687. Oleh Allamah Kamal Faqih Imani, Kehadiran “IMAM MAKSUM as.”berfungsi sebagai kriteria untuk pengujian KEBENARAN dan KEPALSUAN. Bersamanya individu dan masyarakat dapat menyebabkan pemahaman terhadap KEBENARAN dan menemukan bimbingan.

    e) Mari kita perhatikan bilangan pada Surat & Ayatnya [2][124] :
    Apa yang terjadi bila kedua bilangan ini dijumlahkan,
    [2][124] = 2+1+2+4=9, karena antara Al Baqarah 124, terikat dengan Lukman 13. Angka ini akan dijumlahkan dengan yang diurai pada Surat & Ayat di Lukman.

  27. d) Perhatikan Bilangan [31][13], dan kita jumlahkan : [31][13]=3+1+1+3=8, ini akan terdiri dari 4 & 4, dimana kedua bilangan ini masing-masingnya akan teruarai menjadi 2 Kategori, yaitu :
    1. 4 huruf Arab untuk nama Allah, dan 4 huruf Arab untuk nama Muhammad, atau. Merupakan penjelasan tentang ;
    2. 4 Ulil Amri Minkum nama awalnya Muhammad dan 4 Ulil Amri Minkum nama awalnya Ali.
    e) Perhatikan Bilangan [13], dan bilangan [13] ini, dimaksudkan
    – Secara kepercayaan umum adalah angka SIAL.
    – Bila digandengkan dengan bilangan [31], menjadi [31][13], lihat klausul VI.b, dapat digambarkan dalam Segitiga “ MIRROR IMAGE”.
    – Ini sudah sesuai dengan Firman-Nya (QS.[91]:[8]) : “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan ( KEFASIKAN dan KETAKWAANnya).”
    – Pada Kitab Mizanul Hikmah Jilid 3, No. 4224 & 4226, halaman 211, yaitu :
    1. “ Imam Zainal Abidin as, ‘ Kepatuhan pada para pemimpin (Wali Amr) adalah Kemuliaan Yang Sempurna’ . (No. 4226)”
    2. “ Allah Swt. Mewahyukan kepada Nabi Daud as, ‘ Wahai Daud! Aku meletakkan kemuliaan itu pada ketaatan [pada-Ku, namun mereka (manusia) mencarinya dengan berbakti pada raja (zalim) maka mereka tak mendapatkannya (No. 4226) *)’ .”
    Note : *) Ini yang dilakukan sebagian besar Umat Islam, yang lebih condong untuk membela Kebenaran yang ada atau diwariskan dari Islam Bani Umayah – Bani Abasiyah. Maka dalam setiap diskusi aku katakan mereka itu adalah orang-orang yang terkena NARKOBA (NAra sumbeR KOtor BA-ni umayah & bani abasayiah), yang sudah akut sejak 1371 tahun Hijriyah yang lalu.

    Dalam Segitiga Putih yang Puncaknya menjelang ketas dan nembus Arasy,
    akan terisi dengan susunan sebagai berikut :

    1. Ali bin Abi Thalib.
    2. Hasan bin Ali bin Abi Thalib as.
    3. Husein bin Ali bin Abi Thalib as.

    1 – terletak pada garis dasar Segitiga, yang tertancap di permukaan bumi.

    Dalam Segitiga Hitam sebagai Mirror Image segitiga diatas, puncaknya ke dasar kerak bumi, dengan bangunan yang terisi oleh.

    1 – terletak dibawah garis dasar segitiga (under surface of the earth), dengan susunan dari 1 s/d 3, dimana 1 dimulai dari sisi puncaknya, maka dapat tertulis menjadi.

    1

    3. Khalifah C bin Pulan.
    2. Khalifah B bin Pulan.
    1. Khalifah A bin Pulan.

    Mudah-mudahan yang membaca tulisan ini bisa memahaminya.

    Untuk Para Mukmin Sejati, mudah-mudahan bisa memahaminya.

    Salam
    Abu Haladi

  28. si dungu syiah mendhoif2 khn hadist sesuai nafsuny. klw mut’ah di sahih2 khn :v

    Mendhoifkan seluruh perawi dari Aisyah, syiah cemburu dengan Sayyidah Aisyah :v

  29. TERIMA KASIH KIYAI SP… SUNGGUH SY MENDAPAT PENCERAHAN DALAM BELAJAR AGAMA DAN ILMUNYA YG DEMIKIAN TINGGI DAN SANGAT DALAM DAN LUAS.. SERTA MENGGALI KESHAHIHAN DAN KEBENARAN TERNYATA TIDAK MUDAH.. WLW BNYK AHLI DALIL DAN TAFSIR.. YG SEBENARNYA BELUM DMK KUAT DAN FAHAM BENAR.. NAMUN AWAM SEPERTI SY.. TERKADANG.. BILA TDK JELAS.. DAN KURANG REFERENSI.. DAN KEFAHAMAN..NYA SERINGNYA MASIH ADA PERTANYAAN2..?
    JADI TENTANG ASHSHIDDIQ.. TERNYATA BUKAN HANYA KEPADA ABU BAKAR.. TETAPI JUGA KEPADA SYD ALI.. YG SHIDDIQ AKBAR..

    MASYAA ALLAH.. DAN ARGUMEN KIYAI SP SANGAT KOMPREHENSIF DAN TERANG.. SERTA DALIL2 YG PAS.. DENGAN SETIAP MASALAH DAN TAFSI2NYA YG SANGAT MASUK AKAL SECARA SEHAT.. DAN TIDAK.. MEMBUAT REKAYASA.. FAHAMAN YG MASIH SANAR.. TETAPI TEGAS DAN JELAS..

    ADAPUN YG MSH MEMBANTAHNYA.. KRN MUNGKIN SBG AHLI.. ILMU MASIH JG PENASARAN DENGAN GAMBARAN FAHAMAN YG SELAMA INI MEMANG DMK MASYHUR DIKALANGAN AWAM..

    SEMOGA KEBENARAN ADALAH KEBENARAN.. DAN BUKAN UTK TUJUAN LAENNYA..

    TERIMAKASIH BP SP..YG SUNGGUH LUAS..DAN REFENSI YG VALID..DAN ILMUNYA LUAR BIASA..

  30. SY KEPINGIN BS BAHASA ARABNYA.. DAN MUNGKIN AKAN SEMAKIN YAKIN DENGAN ARGUMEN …DAN REFERENSI2NYA..

  31. Kenapa syiah benci sama Abu Bakar Umar dan Utsman sih?

  32. @arifin

    Iya sama saya juga kepingin bs bahasa arab, jadi lebih ngerti. gimana caranya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: