Hadis Dhaif Gelar Ash Shiddiq Turun Dari Langit Bagi Abu Bakar

Hadis Dhaif Gelar Ash Shiddiq Turun Dari Langit Bagi Abu Bakar

Terdapat hadis-hadis yang dijadikan hujjah salafy dalam mengutamakan Abu Bakar secara berlebihan. Yaitu hadis yang menyatakan kalau gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar itu turun dari langit. Setelah kami teliti ternyata hadis tersebut dhaif, cukup aneh juga salafy yang katanya alergi-an dengan hadis dhaif kok mau-maunya berhujjah pakai hadis dhaif. Kami tidak mengingkari gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar, gelar itu adalah gelar yang masyhur bagi Abu Bakar radiallahu ‘anhu. Yang kami ingkari adalah gaya salafy yang berlebihan bahwa gelar tersebut turun dari langit.


.

Hadis Imam Ali Radiallahu ‘anhu

Tidak jarang untuk menguatkan hujjah mereka, salafy mengambil hadis atau riwayat perkataan Imam Ali, salah satunya mengenai gelar Ash Shiddiq turun dari langit bagi Abu Bakar

حدثنا معاذ بن المثنى ثنا علي بن المديني ثنا إسحاق بن منصور السلولي ثنا محمد بن سليمان العبدي عن هارون بن سعد عن عمران بن ظبيان عن أبي يحيى حكيم بن سعد قال سمعت عليا يحلف : لله أنزل اسم أبي بكر من السماء الصديق

Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Al Mutsanna yang berkata menceritakan kepada kami Ali bin Madini yang berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur Al Saluuliy yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi dari Haarun bin Sa’d dari ‘Imran bin Zhabyaan dari Abi Yahya Hakiim bin Sa’d yang berkata aku mendengar Ali bersumpah “Allah SWT telah menurunkan dari langit untuk Abu Bakar dengan nama Ash Shiddiq” [Mu’jam Al Kabir 1/55 no 14]

Hadis ini juga diriwayatkan dalam Al Mustadrak Al Hakim no 4405, Al Ahad Wal Matsani Ibnu Abi Ashim 1/70 no 6, Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 30/75 dan Ma’rifat Ash Shahabah Abu Nu’aim no 59 semuanya dengan jalan sanad dari Ishaq bin Manshur dari Muhammad bin Sulaiman Al Abdi dari Harun bin Sa’d dari Imran bin Zhabyan dari Abi Yahya dari Ali.

Hadis ini sanadnya dhaif disebabkan Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi seorang yang majhul dan ‘Imran bin Zhabyaan seorang yang dhaif.

  • Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi dinyatakan majhul oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 7/269 no 1473]. Ibnu Hajar menyatakan kalau Muhammad bin Sulaiman Al ‘Abdi dinyatakan majhul oleh Ibnu Abi Hatim, dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat, ia meriwayatkan dari Harun Al A’war dan telah meriwayatkan darinya Ishaq bin Manshur. [Lisan Al Mizan juz 5 no 648]. Al Hakim sendiri menyatakan Muhammad bin Sulaiman ini tidak dikenal walaupun ia menshahihkan hadis tersebut karena memiliki penguat dari riwayat Nazzal bin Saburah dari Ali [Al Mustadrak no 4405]. Kami katakan pernyataan Al Hakim soal shahihnya hadis ini keliru karena hadis penguat yang dimaksud ternyata sanadnya dhaif.
  • ‘Imran bin Zhabyaan adalah perawi yang dhaif. Bukhari berkata “fihi nazhaar”, Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa seraya berkata bathil berhujjah dengannya. Ibnu Ady dan Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [At Tahdzib juz 8 no 230]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 1/752].

Selain ‘Imran bin Zhabyan, atsar ini juga diriwayatkan oleh Abu Ishaq As Sabi’i dari Ali dengan sanad yang dhaif. Disebutkan dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/75 & 76 dan Ma’rifat Ash Shahabah Abu Nu’aim no 58 dengan jalan sanad yang berujung pada Dawud bin Mihran dari Umar bin Yazid dari Abu Ishaq As Sabi’i dari Abi Yahya dari Ali. Sanad ini dhaif karena Umar bin Yazid Al Azdi, ia dinyatakan oleh Ibnu Hajar sebagai “munkar al hadits” [Lisan Al Mizan juz 4 no 968]. Ibnu Ady menyatakan Umar bin Yazid munkar al hadits dan ia meriwayatkan dari Atha’ dan Hasan hadis-hadis yang tidak terjaga [Al Kamil Ibnu Ady 5/29]

Al Hakim dalam Al Mustadrak no 4405 meriwayatkan atsar ini dari Nazzal bin Saburah dari Ali Radiallahu ‘anhu dengan sanad yang dhaif

حدثناه عبد الرحمن بن حمدان الجلاب ثنا هلال بن العلاء الرقي حدثني أبي ثنا إسحاق بن يوسف ثنا أبو سنان عن الضحاك ثنا النزال بن سبرة قال وافقنا عليا رضى الله تعالى عنه طيب النفس وهو يمزح فقلنا حدثنا عن أصحابك قال كل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم أصحابي فقلنا حدثنا عن أبي بكر فقال ذاك امرء سماه الله صديقا على لسان جبريل ومحمد صلى الله عليهما

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Hamdaan Al Jalaab yang menceritakan kepada kami Hilal bin Al A’la Ar Raqiiy yang menceritakan kepadaku ayahku yang berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf yang menceritakan kepada kami Abu Sinan dari Dhahhak yang berkata menceritakan kepada kami Nazzal bin Sabrah yang berkata kami menemui Ali radiallahu ‘anhu dalam keadaan baik maka kami berkata “ceritakanlah kepada kami tentang sahabatmu. Beliau menjawab “semua sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah sahabatku”. Kami berkata “ceritakanlah kepada kami tentang Abu Bakar”. Beliau menjawab “Ia adalah orang yang Allah SWT nyatakan Ash Shiddiq melalui lisan Jibril dan Muhammad SAW” [Al Mustadrak Ash Shahihain no 4405]

Hadis ini dijadikan oleh Al Hakim sebagai penguat riwayat Abu Yahya Hakim bin Sa’ad dari Ali. Kami katakan Al Hakim keliru hadis ini tidak bisa dijadikan penguat karena hadis ini sanadnya sangat dhaif, di dalamnya terdapat Al A’la bin Hilal Al Bahiliy ayahnya Hilal bin Al A’la Ar Raqiiy seorang yang sangat dhaif.

  • Hilal bin Al A’la Ar Raqiiy seorang perawi yang shaduq. Abu Hatim berkata shaduq. Nasa’i terkadang berkata “shalih” terkadang berkata “tidak ada masalah dan ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari ayahnya” [At Tahdzib juz 11 no 135]
  • Al A’la bin Hilal bin Umar Al Bahiliy seorang perawi yang dhaif. Abu Hatim menyatakan ia munkar al hadis, hadisnya dhaif dan meriwayatkan hadis maudhu’. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa seraya berkata “tidak boleh berhujjah dengannya” [At Tahdzib juz 8 no 351]. Ibnu Hajar menyatakan “ada kelemahan padanya” [At Taqrib 1/765] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Al A’la bin Hilal seorang yang “dhaif jiddan” [Tahrir At Taqrib no 5259].

.

.

Hadis Abu Hurairah

Selain dari Imam Ali terdapat hadis dari Abu Hurairah bahwa Jibril mengatakan kepada Rasulullah SAW kalau Abu Bakar akan membenarkan peristiwa isra’ sehingga ia dinamakan Ash Shiddiq.

حدثنا محمد بن أحمد الرقام ثنا إسحاق بن سليمان الفلفلي المصري نا يزيد بن هارون ثنا مسعر عن أبي وهب عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لجبريل ليلة أسري به إن قومي لا يصدقوني فقال له جبريل يصدقك أبو بكر وهو الصديق

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad Ar Raqaam yang berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman Al Fulfuliy Al Mishri yang menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang menceritakan kepada kami Mis’ar dari Abu Wahab dari Abu Hurairah yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Jibril pada malam isra’ “kaumku tidak akan membenarkanku”. Maka Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar, dia shiddiq” [Mu’jam Al Awsath Thabrani 7/166 no 7173]

Hadis di atas sanadnya khata’ atau salah. Yang meriwayatkan dari Abu Wahab adalah Najih Abu Ma’syar bukannya Mis’ar. Kesalahan ini bisa berasal dari Muhammad bin Ahmad Ar Raqaam atau Ishaq bin Sulaiman Al Fulfuly Al Mishri, keduanya tidak dikenal kredibilitasnya. Selain itu Abu Wahab sendiri seorang yang majhul dan ia terkadang menyebutkan hadis ini dari Abu Hurairah dan terkadang tanpa menyebutkan Abu Hurairah.

وحدثني وهب بن بقية الواسطي، ثنا يزيد بن هارون، أنبأ أبو معشر عن أبي وهب عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لجبريل ليلة أسري به إن قومي لا يصدقوني، فقال جبريل: يصدقك أبو بكر وهو الصديق

Telah menceritakan kepada kami Wahab bin Baqiyah Al Wasithiy yang menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang mengabarkan kepada kami Abu Ma’syar dari Abu Wahab dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Jibril pada malam isra’ “kaumku tidak akan membenarkanku”. Maka Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar dan dia shiddiq” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 3/307]

Selain Wahb bin Baqiyah, Ibnu Sa’ad dan Muhammad bin Husain bin Ibrahim juga meriwayatkan dari Yazid bin Harun dari Abu Ma’syar dari Abu Wahab.

أخبرنا يزيد بن هارون قال أخبرنا أبو معشر قال أخبرنا أبو وهب مولى أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ليلة أسري به قلت لجبريل إن قومي لا يصدقونني فقال له جبريل يصدقك أبو بكر وهو الصديق

Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Ma’syar yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Wahab mawla Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata pada malam isra’ kepada Jibril “kaumku tidak akan membenarkanku”. Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar dan dia shiddiq” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/90]

حدثنا عبد الله قال حدثني محمد بن الحسين بن إبراهيم بن إشكاب قثنا يزيد بن هارون قثنا أبو معشر قثنا أبو وهب مولى أبي هريرة أن رسول الله قال ليلة أسري به لجبريل عليه السلام إن قومي لا يصدقوني فقال له جبريل بلى يصدقك أبو بكر الصديق

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Husain bin Ibrahim bin Isykaab yang menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang menceritakan kepada kami Abu Ma’syar yang menceritakan kepada kami Abu Wahb mawla Abu Hurairah bahwa Rasulullah berkata di malam isra’ kepada Jibril alaihis salam “kaumku tidak akan membenarkanku” Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar Ash Shiddiq” [Fadhail Ash Shahabah no 116]

حدثنا أبو الوليد خلف بن الوليد قال حدثنا أبو معشرعن أبي وهب  مولى أبي هريرة قال لما رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة أسري به بلغ ذا طوى قال يا جبريل إن قومي لا يصدقوني قال يصدقك أبو بكر وهو صديق

Telah menceritakan kepada kami Abul Walid Khalaf bin Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Abu Wahb mawla Abu Hurairah yang berkata “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kembali dari Isra’, dan berada di Dzi Thuwa, beliau berkata “Wahai Jibril, kaumku tidak akan membenarkanku”. Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar dan dia shiddiq [Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah 1/180 no 429]

سعيد بن منصور ثنا أبو معشر عن أبي وهب مولى أبي هريرة عن أبي هريرة قال لما رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة أسري به قال يا جبريل إن قومي لا يصدقوني قال يصدقك أبو بكر وهو الصديق

Sa’id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Abu Wahb mawla Abu Hurairah dari Abu Hurairah yang berkata “ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kembali dari malam isra’ Beliau berkata “wahai Jibril kaumku tidak akan membenarkanku”. Jibril berkata “akan membenarkanmu Abu Bakar, dan dia shiddiq” [Tarikh Al Islam Adz Dzahabi 1/251]

Secara keseluruhan hadis ini dhaif semuanya berujung pada Abu Ma’syar dari Abu Wahb mawla Abu Hurairah. Abu Ma’syar adalah Najih bin Abdurrahman Al Madani seorang yang dhaif dan Abu Wahb tidak dikenal

  • Najih bin Abdurrahman Abu Ma’syar perawi Ashabus Sunan yang dhaif. Bukhari berkata “munkar al hadits”. Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Ma’in menyatakan dhaif. Ali bin Madini berkata “dhaif dhaif”. Ibnu Sa’ad dan Daruquthni menyatakan dhaif. Abu Nu’aim berkata “ ia meriwayatkan dari Nafi, Ibnu Munkadir, Hisyam bin Urwah, Muhammad bin Amru hadis-hadis palsu yang tidak bernilai apa-apa” [At Tahdzib juz 10 no 759]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif [At Taqrib 2/241].
  • Abu Wahb mawla Abu Hurairah adalah perawi yang tidak dikenal. Yang meriwayatkan darinya adalah Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman seorang yang dhaif. Ibnu Hajar telah menyatakan Abu Wahb sebagai orang yang tidak dikenal [Ta’jil Al Manfa’ah 2/545]

Selain Abu Wahb, hadis ini juga diriwayatkan oleh Hatim bin Huraits Ath Tha’iy dengan sanad yang dhaif. Riwayat Hatim ini disebutkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath 7/157 no 7148 dan Musnad Asy Syamiiyyin 1/145 no 232.

حدثنا محمد بن عبد الرحيم الديباجي ثنا أحمد بن عبد الرحمن بن المفضل الحراني نا المغيرة بن سقلاب الحراني ثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان عن حاتم عن أبي هريرة قال لما أسري بالنبي صلى الله عليه و سلم قال يا جبريل إن قومي يتهموني ولا يصدقوني قال إن اتهمك قومك فإن أبا بكر يصدقك

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahiim Ad Diibaajiy  yang berkata menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Mufadhdhal Al Harraaniiy yang menceritakan kepada kami Mughirah bin Saqlaab Al Harraaniy yang menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hatim dari Abu Hurairah yang berkata “ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam kembali dari isra’, beliau berkata “wahai Jibril kaumku akan menuduhku dan tidak akan membenarkanku”, Jibril berkata “kaummu akan menuduhmu tetapi Abu Bakar akan membenarkanmu” [Mu’jam Al Awsath Ath Thabrani no 7148]

Hadis ini dhaif karena Muhammad bin Abdurrahiim Syaikh Thabrani seorang yang majhul hal, Mughirah bin Saqlaab seorang yang dhaif, dan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban mengalami ikhtilath.

  • Muhammad bin Abdurrahiim Ad Diibaajiy adalah Syaikh Thabrani yang tidak dikenal kredibilitasnya. Tidak ada ulama mutaqaddimin yang menta’dilkannya dan yang meriwayatkan darinya hanya Ath Thabrani.
  • Mughirah bin Saqlaab seorang yang dhaif. Abu Ja’far An Nafiiliy berkata “tidak dipercaya”. Ibnu Ady berkata “munkar al hadits”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits”. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah”. Daruquthni mendhaifkannya [Lisan Al Mizan juz 6 no 282]. Al Uqaili memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa [Ad Dhu’afa Al Uqaili 4/182 no 1757]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa seraya mengatakan kalau Mughirah tergolong orang yang sering salah, meriwayatkan dari perawi dhaif dan majhul , meriwayatkan hadis-hadis yang mungkar dan waham serta harus ditinggalkan. [Al Majruhin no 1033].
  • Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban seorang yang diperbincangkan. Ahmad berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “meriwayatkan hadis-hadis mungkar”. Ibnu Ma’in terkadang berkata shalih terkadang berkata “dhaif”. Abu Zur’ah, dan Al Ijli berkata “layyin”. Duhaim berkata “tsiqat”. Abu Hatim mengatakan tsiqat tetapi mengalami perubahan hafalan di akhir hidupnya. Nasa’i terkadnag berkata “dhaif” terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat”. Ibnu Khirasy berkata “layyin”. Ibnu Ady berkata “ ia memiliki hadis-hadis shalih, seorang yang shalih ditulis hadisnya dan ia dinyatakan dhaif” [At Tahdzib juz 6 no 306]. Ibnu Hajar berkata “ia seorang yang jujur, sering salah dan mengalami perubahan hafalan di akhir hidupnya” [At Taqrib 6/306].

Dengan mengumpulkan jalan-jalannya maka hadis Abu Hurairah di atas kedudukannya dhaif dan tidak dapat dijadikan hujjah. Terdapat hadis lain riwayat Ummu Hani’ bahwa Rasulullah SAW mengatakan Allah SWT menamakan Abu Bakar dengan Ash Shiddiq. Hadis ini diriwayatkan dalam Ma’rifat Ash Shahabah Abu Nu’aim no 60 dan kedudukannya adalah maudhu’ karena di dalamnya terdapat Muhammad bin Ismail Al Wasawisi seorang yang dhaif pemalsu hadis. Ahmad bin Amru Al Bazzar Al Hafizh berkata “ia pemalsu hadis”. Daruquthni dan yang lainnya berkata “dhaif”. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Lisan Al Mizan juz 5 no 252]

.

.

Catatan Untuk Haulasyiah

Salafy yang kami maksud berlebihan dalam berhujjah adalah haulasyiah. Dalam salah satu tulisannya yang menanggapi Ibnujakfari dengan judul “Hadits : Abu Bakar Bergelar Shiddiq Palsu?”, ia menunjukkan berbagai riwayat yang menurutnya shahih kalau gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar itu turun dari langit dan diucapkan melalui Jibril Alaihis Salam. Setelah kami teliti hadis-hadis yang dijadikan haulasyiah sebagai hujjah adalah hadis yang dhaif kecuali satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya

حدثنا محمد بن بشار حدثنا يحيى بن سعيد عن سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صعد أحدا و أبو بكر و عمر و عثمان فرجف بهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697]

Hadis ini dijadikan hujjah bahwa Abu Bakar dinyatakan Nabi SAW sebagai Ash Shiddiq. Walaupun begitu tidak ada dalam hadis tersebut kabar bahwa gelar tersebut turun dari langit seperti yang disebutkan secara jelas oleh hadis-hadis lain. Kemudian silakan perhatikan hadis berikut.

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبد العزيز بن محمد عن سهيل بن أبي صالح عن ابيه عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان على حراء هو و أبو بكر و عمر و علي و عثمان و طلحة و الزبير رضي الله عنهم فتحركت الصخرة فقال النبي صلى الله عليه و سلم اهدأ إنما عليك نبي أو صديق أوشهيد

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesuangguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih]

ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن حصين عن هلال بن يساف عن عبد الله بن ظالم قال خطب المغيرة بن شعبة فنال من علي فخرج سعيد بن زيد فقال ألا تعجب من هذا يسب عليا رضي الله عنه أشهد على رسول الله صلى الله عليه و سلم انا كنا على حراء أو أحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم أثبت حراء أو أحد فإنما عليك صديق أو شهيد فسمى النبي صلى الله عليه و سلم العشرة فسمى أبا بكر وعمر وعثمان وعليا وطلحة والزبير وسعدا وعبد الرحمن بن عوف وسمى نفسه سعيدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair , Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id” [Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

Jika kita memperhatikan hadis-hadis di atas maka diketahui bahwa tidak ada penjelasan secara sharih atau terang bahwa Shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar. Bahkan dapat pula diartikan kalau Shiddiq itu merujuk juga pada Imam Ali Alaihis Salam mengingat Imam Ali berada di sana dan Sa’id bin Zaid ketika mendengar Mughirah mencaci Ali, ia menunjukkan keutamaan Imam Ali dengan menyebutkan hadis ini.

Gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar memang merupakan gelar yang mayshur, ada yang mengatakan kalau gelar tersebut diberikan karena Abu Bakar RA membenarkan Nabi SAW bahkan dalam peristiwa isra’ mi’raj. Jika memang demikian maka Imam Ali lebih pantas untuk dikatakan Ash Shiddiq mengingat beliau adalah orang pertama yang membenarkan Kenabian Rasulullah SAW, membenarkan risalah Beliau SAW dan membenarkan apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Pendapat yang kami pilih adalah sebutan Ash Shiddiq memang gelar Abu Bakar tetapi sebutan tersebut tidak menunjukkan keutamaan Beliau di atas Imam Ali dan Imam Ali adalah orang yang lebih pantas untuk dikatakan sebagai Ash Shiddiq. Salam Damai

Iklan

55 Tanggapan

  1. ya..ya..ya…

  2. @SP
    Luar biasa. Terima kasih atas informasi ini.
    Karena saya ingin mengetahui mengapa Abubakar bergelar As Shiddig. Pada hal menurut sejarah/riwayat banyak tindakan2nya diluar KEBENARAN.
    Yang saya pernah tau hanya cerita dari Abu Hurairah, yang sama dengan penjelasan mas diatas.
    Dan cerita Abu Hurairah ini saya tidak percaya. Karena Umar b. Khattab Khalifa ke II telah mencap Abu Hurairah sebagai PEMBOHONG.
    Tapi penjelasan masa mengenai sabda Rasulullah SAW di Bukit Uhud merupakan penjelasan baru bagi saya.
    Menjadi pertanyaan saya adalah:
    Mengapa UHUD berguncang (menurut pengetahuan saya kalau gunung/bukit berguncang berarti marah). Apakah UHUD akan marah kalau hamba2 yang dicintai Allah berada diatasnya.?
    Apabila hanya Rasul dan hamba2 yang dcintai Allah tidak mungkin UHUD berguncang. Salam damai Wasalam

  3. Seruan Persatuan Kaum Muslimin Menghadapi Musuh Bersama Yaitu Zionis Yahudi

    Kami Hanya Orang Kecil yang Ingin Memberi Arti

    saya Bukan siapa-siapa, bukan ulama, bukan sarjana, bukan orang kaya, bukan pula orang gila, hanyalah sekelompok minoritas yang terintegrasi dalam ide dan gagasan sederhana. Izinkan kami berbagi kisah, tentang suka, duka, dan cita-cita, agar kelak kami memiliki hujjah di depan Sang Penguasa bahwa kami tidak diam atas kesulitan dan ketertindasan yang kita alami bersama.

    Ketika mereka mulai membuka matanya dikala sang fajar segera terbit, mereka bersujud kepada sang Ilahi Rabbi…

    Disaat sinar mentari mulai menerangi dunia,, mereka memulai harinya dengan pekikan takbir dan dengan batu di tangan.

    Mereka bangkit berdiri gagah digaris terdepan perlawanan, dengan penuh keberanian mereka manantang maut yg selalu mengincarnya demi mempertahankan bumi al Quds yg telah diamanahkan Allah kepada mereka.

    Mereka sadar bahwa tanah tempat mereka berpijak bukanlah pemberian Cuma-cuma,tapi tanah semua itu ditebus dengan darah segar para syuhada’ dan para pejuang sejati mulai Umar bin Khattab The Lion Desert hingga The Wise Salahuddin al Ayyubi .

    Mereka berdiri menghadang setiap bulldozer yang akan meratakan rumah dan masjid-masjid mereka, mereka melempari setiap simpanse Yahudi yang datang untuk membunuh keluarga dan memperkosa kehormatan ibu dan saudara perempuan mereka!!!

    “dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”(TQS:al Buruuj:8-9)

    Mereka sadar bahwa mereka telah menjual semuanya baik harta maupun nyawa mereka untuk perlawanan di jalan Allah.

    “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”.(TQS: at Taubah:111)

    Mereka faham perjuangan ini sangat berat dan panjang, karena batu harus berhadapan dengan tank2 baja’. Namun mereka yakin bahwa mereka akan menang, karena senjata utama mereka adalah keimanan yang jauh lebih keras dari tank2 zionis Yahudi.

    “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmuI”.(TQS: Muhammad:7)

    Ketahuilah kawan perlawanan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman dan dunia berada digerbang kehancuran terdahsyat

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi yahudi, kemudian kaum muslimin memerangi mereka sampai akhirnya orang-orang yahudi (berlarian) berlindung dibalik batu dan pepohonan…lalu batu dan pohon itu berkata, “wahai Muslim…wahai hamba Allah…ini, ada orang yahudi bersembunyi dibelakangku, kemari dan bunuhlah dia”.(HR. Muttafaqun ‘alaih).

    Saudaraku’ renungkanlah Firman Allah berikut
    “Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan”(TQS: al Anfal:72)

    Dan bukankah mereka telah memanggil kita?
    “suara ini adalah suara jeritan dan ajakan yang keluar dari kerongkongan pejuang-pejuang Islam di bumi Palestina. Jeritan memanggil umat Islam, menyeru untuk kembali bersatu dalam menghadapi penindasan yg dilakukan Yahudi” (Syaikh Ahmad Yassin)

    Saudaraku apakah hati kita telah membatu dan telinga kita telah tuli’ sehingga tangisan keras umat ini tidak terdengar ditelinga kita?

    Apakah sekujur tubuh kita telah lumpuh atau usia kita telah lanjut sehingga tidak dapat berbuat apapun untuk melawan???

    Mungkin sekat-sekat nasionalisme yg batil masih mengerangkeng kita untuk berjihad dan melindungi saudara kita diseberang sana.

    Tapi Demi Allah saudaraku lakukanlah apa yang bisa kita lakukan hari ini, melawan dan bergeraklah semampu kita’

    Baik itu dengan Seruan perlawanan dan pembebasan, demonstrasi, Pamflet-pamflet, selembaran-selembaran, hingga sedikit uang yang bisa keluarkan semua itu adalah sebuah bentuk perlawanan. Jika itu masih belum bisa kita lakukan maka luangkanlah sedikit waktu malam kita untuk selalu mendoakan mereka karena ini juga bentuk perlawanan!!! Intinya lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, bukan saatnya berdiam diri, jadikan setiap hembusan nafas kita adalah perlawanan dan pembebasan!!!!!

    Namun’ alangkah indahnya jika kita bisa berhadapan langsung dengan kematian di medan Jihad. Dan tiada kematian yang lebih indah dari pada mati syahid di ujung pedang-pedang para pembangkang tuhan.

    “barang siapa yang mati belum berjihad dan tak terbesit dihatinya keinginan untuk berjihad, ia mati dalam cabang kemunafikan”(HR.Muslim)

    “Jihad dengan senjata, Jihad tidak dengan negosiasi, Jihad tidak dengan perjanjian damai, tidak juga dengan dialog”(Syaikh Abdullah Azzam)

    Mungkin, hanya ini yang dapat aku lakukan hari ini’ untuk memenuhi panggilan Allah untuk melakukan perlawanan’

    “Kobarkanlah semangat Para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah Amat besar kekuatan dan Amat keras siksaan(Nya)”.(TQS: An Nissa:84)

    Kawanku bangunkanlah singa-singa yang tertidur di dalam dirimu…
    Bukalahah mata dan telingamu untuk memenuhi seruan Islam…
    Rapatkan barisanmu, buat musuh-musuh Allah gentar melihat persatuan kita…
    Dan dengan lantang serukanlah perlawanan,
    Karena adakah kata yang lebih puitis dari perlawanan??

    ALLAHU AKBAR!!!!!!!!!!!!!

    YA ALLAH AKU TELAH MENYAMPAIKAN. SAKSIKANLAH!!!!!

    YA ALLAH AKU TELAH MENYAMPAIKAN. SAKSIKANLAH!!!!!

    YA ALLAH AKU TELAH MENYAMPAIKAN. SAKSIKANLAH!!!!!

  4. Shiddiq itu merujuk juga pada Imam Ali Alaihis Salam mengingat Imam Ali berada di sana dan Sa’id bin Zaid ketika mendengar Mughirah mencaci Ali, ia menunjukkan keutamaan Imam Ali dengan menyebutkan hadis ini.

    Ini namanya asumsi, apakah berarti Sa’id juga digelari Ash Shiddiq, krn beliau juga ada di sana? aneh 🙂

    jelas yang dimaksud Ash shiddiq adalah Abu Bakar dikuatkan hadits2 yg lain, dimana dlm riwayat Tirmidzi yang disebutkan hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman saja tanpa Ali, sedangkan Imam Ali termasuk Syahid berdasarkan hadits2 yg lain, sangat jelas Sa’id bin Zaid ingin menunjukkan bahwa Imam Ali adalah seorang yang syahid sebagai salah satu keutamaan beliau.

    ada-ada saja :mrgreen:

  5. @paiman

    Ini namanya asumsi, apakah berarti Sa’id juga digelari Ash Shiddiq, krn beliau juga ada di sana? aneh

    lha kalau ada orang yang mau menafsirkan begitu maka siapa yang bisa membantahnya 🙂

    jelas yang dimaksud Ash shiddiq adalah Abu Bakar dikuatkan hadits2 yg lain, dimana dlm riwayat Tirmidzi yang disebutkan hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman saja tanpa Ali, sedangkan Imam Ali termasuk Syahid berdasarkan hadits2 yg lain, sangat jelas Sa’id bin Zaid ingin menunjukkan bahwa Imam Ali adalah seorang yang syahid sebagai salah satu keutamaan beliau.

    Maaf Mas anda sendiri berasumsi, jelas sekali bahwa saat itu yang ada disana bukan hanya Abu Bakar Umar dan Utsman karena terdapat hadis lain yang menunjukkan bahwa banyak sahabat lain yang ada disana termasuk Imam Ali. Hadis riwayat Anas bisa saja hanya merupakan ringkasan [mungkin dari para perawinya] sedangkan hadis riwayat Abu Hurairah dan Sa’id bin Zaid menyebutkan pula kalau Imam Ali berada disana. btw lagipula tidak menutup kemungkinan kalau seorang shiddiq juga bisa menjadi seorang syahid. Kenapa anda begitu keberatan kalau ada sahabat lain yang layak disebut shiddiq selain Abu Bakar? 🙂

  6. @paiman
    Hadits mana yang menyebut Abubakar Shiddiq.

    @SP
    Yang menjadi pertanyaan saya adalah. Dimana sebenarnya Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697
    Apakah di UHUD atau di HIRA. Sebab UHUD berada di Madina sedang HIRA di Mekkah. Salam damai Wasalam

  7. Kebenaran
    31 Oktober 2006

    Aku bicara kepada semua manusia dan siapapun
    Hanya Allohlah yang berhak melarang dan memerintahmu
    Kenapa dari kamu kebanyakkan sombong dan ingkar?
    Engkau meninggikan logika dan apa-apa yang engkau anggap benar
    Tidak ada kebenaran kecuali yang datangnya dari Alloh penciptamu
    Jalanmu sesat kecuali mengikuti petunjukNya
    Hidup dan matimu dikekuasaanNya
    Hari engkau dibangkitkan dan dibalas setiap amalan pasti datang!
    Tidakkah kalian mempersiapkan diri?
    Sesungguhnya Alloh telah berfirman melalui kitab dan lisan nabi
    Apakah engkau akan berpaling?
    Jika telah datang firman tuhanmu atau dari lisan rosulmu
    Maka tinggalkanlah hawa nafsumu dan ikutilah
    Petunjuk itu karena disana ada keselamatan
    Manusia kalian semua lemah, kalian akan mati
    Maka jangan sombong dan menyekutukan Alloh
    Hanya Allohlah yang berhak kalian sembah
    Pemimpin muslim taatilah dalam kebaikan
    Jangan memberontak dan bersabarlah
    Dengan pengetahuan alam engkau sombong dengan tuhanmu
    Engkau membuat hukum sendiri bertentangan atau berbeda dengan hukum
    Yang ditetapkan tuhanmu
    Wahai manusia engkau melampaui batas
    Tidak ingatkah engkau hari pembalasan
    Allohlah yang akan mengadili di hari itu
    Tidakkah kalian semua berfikir?
    Membelanjakan harta di jalan Alloh adalah kebaikan
    Menegakkan sholat dan membayar zakat
    Berbuat baik kepada orang tua
    Menolong agama Islam maka Alloh akan menolong
    Alloh yang menciptakan langit dan bumi
    Alloh yang menciptakan neraka dan surga
    Kalian semua pasti akan kembali padaNya
    Suatu hari hanyalah Alloh yang menjadi Raja
    Hari pembalasan semua dibalas sesuai dengan amalannya
    Ada yang berseri-seri dan ada yang muram
    Ada yang masuk surga dan ada yang ke neraka
    Sungguh Alloh Maha Adil dan bijaksana kuasa lagi perkasa
    Manusia diciptakanNya dengan bentuk yang baik
    Diberinya rizeki dari langit dan bumi
    Semua berasal dariNya kenapa manusia tak bersyukur?
    Manusia ingatlah akan iblis yang berjanji akan mengajakmu
    Dalam jalan yang sesat lagi dosa
    Sesungguhnya Alloh telah memberikan petunjukNya
    Kenapa kalian berpaling?
    Yang beriman janganlah engkau jual agamamu
    Sesungguhnya dunia ini amat kecil dibanding dengan akherat
    Dunia ini adalah cobaan dan ujian, akheratlah negeri
    Perang untuk menegakkan panji-panji dan agama
    Alloh adalah kemuliaan
    Harta, nyawa dikorbankan ikhlas untuk Alloh
    Sesungguhnya sorga Alloh amatlah indah
    Bagi orang-orang yang sabar dan gugur di jalan Alloh
    Sesungguhnya orang yang memilih selain Islam
    Dia akan kekal di dalam neraka yang pedih
    Sesungguhnya Alloh itu mempergilirkan kekuasaan dimuka bumi ini
    Jangan terlalu terpukau pada dunia
    Dan raja-raja dan kekuasaanNya
    Karena itu telah di tulis dalam kitab Nyata
    Semua harus dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti
    Karena setelah kematian semua akan dibangkitkan
    Hanyalah orang –orang yang bertaqwalah yang berbahagia di hari itu
    Tanah air Indonesia ini, bumi ini alangkah indah
    Bila semua orang telah mengerti
    Banyak orang hanya menyembah Alloh dan tidak menyekutukanNya
    Dari pemerintahnya sampai rakyatnya
    Menjalankan syariat agama Alloh
    Bila semua orang telah mengerti
    Ini semua akan terjadi bila Alloh berkehendak
    Tidak ada orang berdusta atas nama Alloh
    Padahal Alloh berlepas diri dari kedustaan itu
    Beragama yang benar dan jelas
    Sesuai dengan yang diinginkan oleh Alloh
    Tempuhlah cara yang benar dan bertaqwalah
    Dunia ini fitnah dan akheratlah negerimu
    Ketika aku memberi makan ikan-ikan rejeki dari Alloh
    Ikan-ikan itu naik kepermukaan dengan tenang
    Ikan-ikan itu selalu bertasbih dan makhluk lainNya
    Namun aku tidak mengetahui cara tasbih ikan itu
    Ikan-ikan itu berenang mengelilingi makanan
    Lalu memakannya dengan lahapnya
    Islam adalah rahmat bagi orang beriman
    Islam adalah rahmat bagi seluruh makhluk
    Islam akan mengadili bagi orang yang ingkar
    Orang pendusta, banyak berdosa dan teman setan
    Sombong dengan hawa nafsu dan pikiran
    Yang dipenuhi kesesatan dan menyesatkan
    Islam akan tetap tinggi di dunia dan di akherat
    Orang kafir akan selalu rendah dan rendah
    Siapapun dalam kesesatan tanpa petunjuk
    Dia akan menderita dan dihancurkan
    Dia akan mendapatkan siksa di dunia dan akherat
    Bagi orang yang mendapat hidayah Alloh
    Mati dalam keadaan tidak menyekutukanNya
    Dia akan mendapat kebahagiaan
    Kebahagian di dunia dan di akherat
    Sungguh aku belum melihat Alloh dan malaikat-malaikatNya
    Alloh berjanji kita akan menemuiNya, bagi penduduk surga di surga
    Bagi penduduk surga akan bertemu malaikat-malaikat disana
    Alloh akan mempertemukan orang yang dikehendakiNya dengan
    Malaikat-malaikatNya di dunia ini
    Penduduk nerakapun akan bertemu malaikat-malaikat penjaga neraka
    Sungguh segalanya telah Alloh atur dengan aturan yang sempurna

  8. Numpang COPAS:

    Penyifatan ash-shiddiiq kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah karena keimanan dan kejujurannya yang sangat besar dalam membenarkan risalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – mendahului shahabat yang lainnya.

    حَدَّثَنِي هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَائِذِ اللَّهِ أَبِي إِدْرِيسَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ فَسَلَّمَ وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَيْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَيَّ فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ فَقَالَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالُوا لَا فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا

    Telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin ‘Ammaar : Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khaalid : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Waaqid, dari Busr bin ‘Ubaidillah, dari ‘Aaidzullah Abu Idriis, dari Abud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “Aku duduk di samping Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba Abu Bakr datang sambil memegang tepi baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga merapat pada lutut beliau. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Teman kalian ini pasti habis bertengkar”. Maka Abu Bakr memberi salam lalu berkata : “Aku punya masalah dengan Ibnul-Khaththaab. Lalu aku terlanjur marah kepadanya namun kemudian aku menyesal. Aku pun datang menemuinya untuk meminta maaf, namun ia enggan memaafkan aku. Maka dari itu, aku mendatangimu”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakr”. Beliau mengucapkan kalimat ini tiga kali. Kemudian ‘Umar menyesal lalu mendatangi kediaman Abu Bakr dan bertanya : “Apakah Abu Bakr ada di rumah ?”. Keluarganya menjawab : “Tidak ada”. Kemudian ‘Umar menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang kedatangannya ini membuat wajah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam nampak marah. Namun ketegangan itu berhenti karena kedatangan Abu Bakr yang langsung duduk bersimpuh pada lutut beliau seraya berkata : “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku telah berbuat aniaya kepada ‘Umar melebihi perbuatannya kepadaku”. Ia mengatakannya dua kali. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutus aku kepada kalian namun kalian mengatakan : ‘Kamu pendusta’ sedangkan Abu Bakr berkata : ‘Dia (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) orang yang benar/jujur’. Dan dia telah berjuang mengorbankan dirinya dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan kepadaku shahabatku ini ?” – Beliau mengulanginya dua kali -. Maka sejak saat itu Abu Bakr tidak disakiti lagi” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3661].[11]

  9. @rudy
    silakan , silakan

    Penyifatan ash-shiddiiq kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah karena keimanan dan kejujurannya yang sangat besar dalam membenarkan risalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – mendahului shahabat yang lainnya

    Tidak ada masalah, saya pribadi tidak keberatan dengan ini. Dan seperti yang sudah saya tulis di atas justru dengan alasan yang sama Imam Ali juga layak dikatakan dengan Ash Shiddiq karena Beliau yang pertama-tama membenarkan risalah kenabian [malah lebih dulu dari Abu Bakar] dan Imam Ali juga selalu membenarkan Nabi SAW. btw hadis yang anda kutip adalah hujjah bagi alasan penamaan shiddiq bukan hujjah bahwa Abu Bakar adalah Ash Shiddiq, ada bedanya itu. Karena pada hadis Bukhari yang anda kutip tidak ada pernyataan bahwa Abu Bakar diberi gelar Ash Shiddiq tetapi terdapat pernyataan bahwa Abu Bakar membenarkan Nabi SAW 🙂

  10. Saya tidak berasumsi, yang disebut perawi dalam hadits tirmidzi hanya tiga sahabat saja, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. sangat jelas siapa yang dimaksud Shiddiq dan siapa yang dimaksud syahid.

    seandainya saya berhujjah dg hadits ini saja sudah cukup untuk mengatakan bahwa Nabi SAW menyebut Abu Bakar sebagai Ash-Shiddiq.

    Disamping itu Nabi SAW pernah menyebut Aisyah sebagai putri Ash Shiddiq

    sedangkan hadits2 yg lain di atas justru menguatkan hal ini, karena Abu Bakar juga disebut hadir pada kejadian Uhud atau Hira.

    Jadi bisa dinilai siapa yg berasumsi.

  11. @paiman2

    Saya tidak berasumsi, yang disebut perawi dalam hadits tirmidzi hanya tiga sahabat saja, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. sangat jelas siapa yang dimaksud Shiddiq dan siapa yang dimaksud syahid.

    Sudah saya katakan sebelumnya, tidak menutup kemungkinan perawi sebenarnya meringkas hadis tersebut dan itu dilihat dari hadis-hadis lain dimana terdapat sahabat lain termasuk Imam Ali berada di sana.

    seandainya saya berhujjah dg hadits ini saja sudah cukup untuk mengatakan bahwa Nabi SAW menyebut Abu Bakar sebagai Ash-Shiddiq.

    Silakan, apa saya pernah menafikan gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar. Baca lagi tuh tulisan di atas

    Disamping itu Nabi SAW pernah menyebut Aisyah sebagai putri Ash Shiddiq

    Silakan bawakan buktinya dan saran saya jangan cuma bertaklid 🙂

    sedangkan hadits2 yg lain di atas justru menguatkan hal ini, karena Abu Bakar juga disebut hadir pada kejadian Uhud atau Hira

    Hadis-hadis lain justru menyebutkan kalau sahabat yang ada disana justru tidak hanya mereka bertiga, ada sahabat yang lain termasuk Imam Ali.

    Jadi bisa dinilai siapa yg berasumsi.

    Dalam penafsiran hadis ini kita sama-sama berasumsi. Makanya dalam kesimpulan saya tidak pernah menafikan gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar. Kesimpulan saya sebutan Ash Shiddiq itu layak untuk Abu Bakar dan Imam Ali. Jadi apa masalah anda? 🙂

  12. @SP

    Masalah si paiman dan manusia-manusia sejenisnya adalah ketidaksukaannya jika Abubakar disejajarkan dgn Imam Ali as.
    Whuihh…! Belum lagi riwayat2 yg menunjukkan bagaimana tingginya kedudukan Imam Ali as dibandingkan orang2 di sekitar Nabi saw.

    Salam

  13. @armand
    sy jg mnolak imam ali disejajarkan dgn abubakar..!!

  14. @aldj

    Oh ya… Itu artinya di satu sisi mas sdh sepahaman dgn Paiman cs :mrgreen:

    Salam

  15. Ini namanya asumsi, apakah berarti Sa’id juga digelari Ash Shiddiq, krn beliau juga ada di sana? aneh

    lha kalau ada orang yang mau menafsirkan begitu maka siapa yang bisa membantahnya 🙂

    berarti kalau mengikuti logika ini terdapat beberapa orang sahabat yang digelari Ash Shiddiq dong :

    Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Ash Shiddiq, Utsman Ash Shiddiq, Ali Ash Shiddiq, Thalhah Ash Shiddiq, Zubair Ash Shiddiq, Sa’ad Ash Shiddiq, Abdurrahman bin ‘Auf Ash Shiddiq dan Sa’id bin Zaid Ash Shiddiq

    😆

  16. @paiman2

    berarti kalau mengikuti logika ini terdapat beberapa orang sahabat yang digelari Ash Shiddiq dong :

    Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Ash Shiddiq, Utsman Ash Shiddiq, Ali Ash Shiddiq, Thalhah Ash Shiddiq, Zubair Ash Shiddiq, Sa’ad Ash Shiddiq, Abdurrahman bin ‘Auf Ash Shiddiq dan Sa’id bin Zaid Ash Shiddiq

    Lha silakan saja kalau anda mau menafsirkan begitu. Namanya penafsiran terhadap suatu teks yah begitulah konsekuensinya. Mereka yang objektif tidak pernah menafikan kemungkinan-kemungkinan yang memang tidk bisa dimustahilkan. Ada kalanya anda harus mengerti bagaimana cara berhujjah. btw bahkan kalau ada orang yang mau menafsirkan tidak ada sahabat yang disebut Ash Shiddiq karena Ash Shiddiq itu adalah Nabi SAW sendiri ya bisa saja atuh. Nah kalau bicara yang mana penafsiran yang paling baik dan paling berlandaskan dalil maka itu cerita lain dan kalau memang anda mau fokus diskusi tentang itu silakan. 🙂

  17. Seperti kata SP silahkan anda2 menafsirkan sesuai dengan keinginan anda2.. Memang bisa aja setiap orang menafsirkan menurut kemampuan daya pikir serta ilmu yang dimiliki.
    Tapi apakah tafsiran mereka BISA DITERIMA OLEH AKAL SEHAT? Karena kita memberikan PREDIKAT pada seseorang mempunyai dasar. Dan predikat yang disandang merupakan AMANAH yang harus dipegang teguh serta diamalkan. Apakah Abubakar memegang amanah ini atau tidak? Sebab Rasulullah SAW tidak akan memberikan PREDIKAT As-Shiddiq pada seseorang kalau beliau tahu bahwa dikemudian hari amanah ini dikhianati. Dari riwayat2 yang kita ikuti ternyata bukan Abubakar yang berhak mendapat gelar As-SHIDDIQ. Wasalam

  18. @ Chany

    Benar sekali, orang yang mendapat gelar ash-shiddiq haruslah orang yang menjaga amanah.

    Selain Nabi.saw, siapakah diantara Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, zubair, Abdurrahman, dan Sa’id yang benar benar menjaga amanah setelah sepeninggalan beliau?????

    Catatan sejarah dan fakta akal sehat menunjukkan bahwa Ali Bin Abu Thalib.as adalah ash-Shiddiq yang sebenar-benarnya, sementara Abu Bakar dan yang lain berada setingkat atau dua tingkat dibawahnya.

  19. Selain Nabi.saw, siapakah diantara Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, zubair, Abdurrahman, dan Sa’id yang benar benar menjaga amanah setelah sepeninggalan beliau?????

    Catatan sejarah dan fakta akal sehat menunjukkan bahwa mereka semua benar-benar memegang amanah sepeninggal Nabi SAW, makanya mereka dijamin masuk syurga. tetapi yang digelari Ash Shiddiq oleh Nabi SAW dan masyhur hanya Abu Bakar saja 🙂

  20. @ paiman

    Catatan sejarah palsu versi anda kan?

    Tapi dalam catatan sejarah sahih baik yang ada di Sunni maupun yang ada di Syiah menyatakan sebaliknya dari versi anda.

    Contoh:

    1. Abu Bakar tidak amanah dalam masalah Fadak !

    2. Umar tidak amnah dalam masalah Dua Mut’ah (Nikah dan Haji) dan dalam
    masalah Shalat !

    3. Usman tidak amanah dalam masalah Baitul Mal

    Dan Masih banyak bukti-bukti lain yang tertulis dalam kitab sejarah Sunni dan Syiah yang kebenarannya tidak dapat diganggu gugat lagi.

  21. Justru yang anda sampaikan adalah sejarah palsu versi syi’ah rafidhah yang matruk :mrgreen:

    1. Abu Bakar justru sangat Amanah dalam masalah peninggalan Nabi SAW, sehingga walaupun putri beliau SAW yang meminta, Abu Bakar tidak memberikannya dan itupun diakui oleh Ali.

    2. Umar sangat amanah dalam hal Mut’ah, Ali pun mendukungnya.

    3. Utsman sangat amanah dalam masalah Baitul Mal

    maka sejarah versi anda adalah sejarah yang lemah

  22. @paiman
    Coba anda jawab:
    1.Pada kekhalifaan siapa Khalid b. Walid membunuh seorang sahabat Nabi dan meperkosa istrinya. Tapi tdk dihukum?
    2. Pada kekhalifaan siapa terjadi pembunuhan besarr2an di Yaman dengan alasan tdk membayar zakat.
    3.Pada kekhalifaan siapa hadits Rasul dibakar dan tdk boleh disiarkan?
    4.Pada kekhalifaan siapa terjadi KKN. Dan apabila ditegur dihukum?

    Kalau kejadian ini anda katakan tdk pernah terjadi. Maka secara tdk langsung anda katakan bahwa ULAMA SUNI ADALAH PEMBOHONG.

    Anda berkata:Justru yang anda sampaikan adalah sejarah palsu versi syi’ah rafidhah yang matruk
    Kalau demikian anda mengatakan bahwa Bukhari, Muslim, Ahmad b. Hambal, dll ulama sekelompok mereka SYIAH RAFIDHAH. Jadi yang bukan Syiah adalah Ibnu Taymiyah, Nasaruddin Albany, Abd, Wahab. Ben Bazz dan lain2 YANG SEKELOMPOK DGN MEREKA?

  23. @paiman2

    1. Abu Bakar justru sangat Amanah dalam masalah peninggalan Nabi SAW, sehingga walaupun putri beliau SAW yang meminta, Abu Bakar tidak memberikannya dan itupun diakui oleh Ali.

    maaf ya Mas kayaknya keluarga Rasul menolak apa yang dikatakan Abu Bakar. Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar. Imam Ali berpihak pada sayyidah Fathimah bahkan setelah enam bulang Imam Ali tetap mengatakan kalau Abu Bakar bertindak sewenang-wenang. Bahkan dalam hadis yang shahih disebutkan kalau Imam Ali memandang Abu Bakar pendusta dalam perkara ini begitu pula Umar. Jadi singkat kata dari Imam Ali justru berpihak pada Sayyidah Fathimah.

    2. Umar sangat amanah dalam hal Mut’ah, Ali pun mendukungnya.

    lho tapi ijma’ sahabat membolehkannya lho berdasarkan hadis shahih Muslim riwayat Jabir. Anda juga tidak jeli melihat kalau Umar itu melarang mut’ah haji sedangkan Rasulullah SAW dan Imam Ali membolehkannya. 🙂

    3. Utsman sangat amanah dalam masalah Baitul Mal

    Wah saya gak tahu soal ini, dan saya berprasangka baik saja soal ini. Tapi tahukah anda fakta yang tidak dipahami kaum salafiyun yaitu pada peristiwa pengepungan Utsman diantara mereka yang mengepung bahkan memimpin pengepungan tersebut adalah para sahabat Nabi.

  24. @ paiman

    Kata anda: 3. Utsman sangat amanah dalam masalah Baitul Mal

    Tahukah anda bahwa pada masa khilafah Utsman Baitul Mal dijarah habis-habisan oleh keluarga klan-nya (Bani Mu’ith dan Bani Umayyah) yang membuat Baitul Mal bangkrut, sementara Khalifah diam saja????

    Dimana amanahnya??????

    Tahukah anda Utsman dituduh kafir dengan sebutan Na’tsal (yahudi) oleh Aisyah????

    Kalau Utsman amanah seperti dongeng yang anda ketahui dari kedustaan ulama anda, mengapa pula Aisyah mengkafirkannya??????

    Coba anda jawab fakta ini dengan jujur ( sepertinya mustahil mengharap kejujuran dari mazhab anda)

  25. @armand
    oo..jd anda setuju imam ali sejajar dgn abubakar???
    ber arti andalah yg sama dgn paiman
    @paiman
    anda cuma membaca kutamaan2 sahabat,yg keutamaan2 itu sendiri banyak diputar balikan,dlm sejarah sebelum rosul wafat pun mereka sdh tdk amanah,lihatlah ayat quran ttg kemarahan allah kpd mereka yg lari pd waktu perang,
    anda lihat peringatan allah kpd mereka2 yg telah menyakiti hati rosul.
    andai sj anda baca ayat2 yg memberikan peringatan kpd sahabat(?) n anda bc riwayat siapa mereka,tentu anda akan terkejut.
    anda bisa membaca salah satunya di atthabari

  26. maaf ya Mas kayaknya keluarga Rasul menolak apa yang dikatakan Abu Bakar. Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar. Imam Ali berpihak pada sayyidah Fathimah bahkan setelah enam bulang Imam Ali tetap mengatakan kalau Abu Bakar bertindak sewenang-wenang. Bahkan dalam hadis yang shahih disebutkan kalau Imam Ali memandang Abu Bakar pendusta dalam perkara ini begitu pula Umar. Jadi singkat kata dari Imam Ali justru berpihak pada Sayyidah Fathimah.

    tetapi kan dihadapan Khalifah Umar, Imam Ali mengakui kebenaran hadits yg disampaikan oleh Abu Bakar, apakah dia berubah pikiran? berarti Imam Ali ga ma’shum kan.. kemarahan Sydh Fatimah bukanlah suatu hujjah, dia bisa aja keliru, yg menjadi dalil adalah Nabi SAW.

    lho tapi ijma’ sahabat membolehkannya lho berdasarkan hadis shahih Muslim riwayat Jabir. Anda juga tidak jeli melihat kalau Umar itu melarang mut’ah haji sedangkan Rasulullah SAW dan Imam Ali membolehkannya.

    Itu bagi mereka yg belum mengetahui ttg haramnya nikah Mut’ah, apakah berarti Imam Ali menselisihi Ijma’? berarti beliau tdk ma’shum dong

    Wah saya gak tahu soal ini, dan saya berprasangka baik saja soal ini. Tapi tahukah anda fakta yang tidak dipahami kaum salafiyun yaitu pada peristiwa pengepungan Utsman diantara mereka yang mengepung bahkan memimpin pengepungan tersebut adalah para sahabat Nabi.

    ya kita hrs berprasangka baik thd beliau karena Nabi SAW sndiri mengatakan Utsman di pihak yang benar.

    Bukankah Mu’awiyah dan Ali adalah sahabat? tetapi mereka saling berperang, jd apa yg mengherankan? justru yg perlu disalahkan adalah org2 yg menyulut fitnah pengepungan dan pembunuhan thd Utsman. kita ketahui bahwa mrk sebenarnya sudah Ishlah dan kembali ke negeri mereka masing2 tetapi mrk menjumpai org yg membawa surat palsu atas nama Utsman yg isinya perintah utk membunuh mereka.

  27. @paiman
    Rasulullah TIDAK PERNAH MEMBERIKAN JABATAN PADA ABUBAKAR.
    Allah yang mencoba Abubakar dengan kedudukan Khalifah dan ternyata Abubakar mengkhinati AMANAH yang Allah TITIPKAN yakni kedudukan Khalifah

  28. @paiman2

    Bukankah Mu’awiyah dan Ali adalah sahabat?

    Angan-angan sampeyan jgnlah disalurkan di sini utk dijadikan hujjah. Muawiyyah & Imam Ali bersahabat? 🙄 Darimana sampeyan menyimpulkan ini? Adakah bukti atau riwayat yg menunjukkan persahabatan mrk?

    tetapi mereka saling berperang, jd apa yg mengherankan?

    Inilah akibatnya kalau otak hanya sekedar aksesoris di kepala. Bagaimana sampeyan bisa mengatakan tdk ada yg aneh jika 2 orang yg berperang dikatakan bersahabat? Yang namanya sahabat adalah selalu bersama, menanggung kesulitan bersama, senang bersama, menghadapi musuh bersama. Lhah ini saling berhadapan sebagai musuh, saling membunuh, bagaimana bisa dikatakan bersahabat?

    Oh iya…Jika sampeyan tdk memiliki dalilnya utk menjawab ini, sampeyan sebagai sosok salafiyyun boleh kok menggunakan dalil “pokoknya” 🙂

    Salam

  29. @ paiman2

    Kata anda:
    Tetapi kan dihadapan Khalifah Umar, Imam Ali mengakui kebenaran hadits yg disampaikan oleh Abu Bakar, apakah dia berubah pikiran? berarti Imam Ali ga ma’shum kan.. kemarahan Sydh Fatimah bukanlah suatu hujjah, dia bisa aja keliru, yg menjadi dalil adalah Nabi SAW.

    Ini yang bohong anda apa ustadz anda atau juga mungkin mazhab anda????

    Sejak kapan Imam Ali.as membenarkan hadis Abu Bakar itu? Justru dalam kitab anda menyatakan sebaliknya dimana Imam Ali dan Abbas.ra menyatakan Abu Bakar dan Umar sebagai PEMBOHONG.

    Ini dia buktinya!

    …..Kata Umar: “Setelah Rasulullah.saw wafat, Abu bakar mengatakan “Aku adalah pengganti Rasulullah”, lalu kalian berdua (ALI dan ABBAS) datang kepada Abu Bakar. Abbas! Kau minta pada Abu Bakar warianmu dari kemenakanmu dan orang ini (Ali) meminta pada Abu Bakar warisan istrinya dari ayahnya. Kemudian Abu Bakar berkata “Rasulullah pernah bersabda “Kami tidak boleh mewarisi. Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah.” Lalu kalian berdua menganggap Abu Bakar sebagai PENDUSTA, PENDOSA, CURANG, dan PENGKHIANAT sedangkan Allah mengetahui Abu Bakar benar, baik, jujur, dan mengikuti kebenaran….
    (Shahih Bukhari, No.3094, dan Shahih Muslim, Kitab Siyaar, Bab: Fiimaa Yushrafu al-Fai’u Idzaa Lam Yuujaf ‘Alaihi biQitaal)

    Itulah pandangan Imam Ali.as dan Abbas.ra terhadap Abu Bakar dan Umar dimana Imam Ali dan Abbas.ra mendatangi Abu Bakar pada masa Khilafahnya dan mendatangi Umar pada masa Khilafahnya.

    Jadi, KAPAN IMAM ALI.AS MEMBENARKAN HADIS YANG DIBAWA OLEH ABU BAKAR????

    Kata anda:
    kemarahan Sydh Fatimah bukanlah suatu hujjah, dia bisa aja keliru, yg menjadi dalil adalah Nabi SAW.

    Perlu anda ketahui, Kemarahan Fatimah.as adalah Hujjah karena Nabi.saw telah menyatakan dengan tegas bahwa keridhaan Fathimah.as adalah keridhaan beliau dan keridhaan Allah.swt sementara kemarahan Fathimah.as adalah kemarahan beliau dan kemarahan Allah.swt

    Dalam hal itu Fatimah.as tidak keliru, Imam Ali.as tidak keliru dan Abbas tidak keliru karena kesaksian mereka BENAR dan sesuai dengan al-Quran.

    Yang keliru adalah Abu Bakar dan Umar yang berbohong atas nama Nabi.saw, mereka berdua nekad menyatakan “para nabi tidak mewarisi” seolah-olah itu adalah ucapan Nabi.saw tapi kebohongan Abu Bakar dan Umar langsung ketahuan ketika Fatimah.as membaca ayat al-Quran “Dan Sulaiman mewarisi Dawud…”

    Jadi, MANA BUKTI ABU BAKAR DAN UMAR AMANAH??????
    Dan, MANA BUKTI IMAM ALI.AS MEMBENARKAN MEREKA BERDUA????

  30. @paiman2

    tetapi kan dihadapan Khalifah Umar, Imam Ali mengakui kebenaran hadits yg disampaikan oleh Abu Bakar, apakah dia berubah pikiran? berarti Imam Ali ga ma’shum kan.. kemarahan Sydh Fatimah bukanlah suatu hujjah, dia bisa aja keliru, yg menjadi dalil adalah Nabi SAW.

    Anda sangat salah kalau mengatakan “berubah pikiran”. karena disini terdapat tuduhan yang jelek. Anda mengatakan bahwa di hadapan Khalifah Umar Imam Ali mengakui kebenaran hadis Abu Bakar. Kalau anda menafsirkan begini maka konsekuensinya adalah Imam Ali mengetahui bahwa hadis tersebut benar -benar disampaikan Rasulullah SAW tetapi beliau tetap menolak pada awalnya bahkan mengatakan Abu Bakar bertindak sewenang-wenang. Tidak hanya itu Imam Ali bahkan menolak sampai pada masa khalifah Umar dimana khalifah Umar sendiri berdasarkan kesaksiannya bahwa ketika Ali dan Abbas meminta kepada khalifah Umar, mereka berdua memandangnya pendusta atau zalim. Kata-kata ini tidak lain adalah penolakan, nah baru pada hadis Malik bin ‘Aus [kemungkinan berdasarkan hadis ini] anda bilang Imam Ali mengakui hadis Abu Bakar. Intinya Imam Ali tahu hadis Rasulullah SAW tetapi sengaja menolaknya dan bukan hanya itu Beliau bahkan mengatakan mereka yang menjalankan hadis Rasul SAW itu dengan kata-kata sewenang-wenang, pendusta atau zalim. jelas sekali hal ini tidak benar. Hadi Malik bin ‘Aus itu tidak bisa tidak mesti ditafsirkan bukan Imam Ali mengakui kebenaran hadis tersebut tetapi Imam Ali mengakui kalau Abu Bakar menyebutkan hadis tersebut.

    Selain itu kemarahan Sayyidah Fathimah adalah hujjah karena berdasarkan hadis Nabi SAW kemarahan Sayyidah Fathimah adalah kemarahan Nabi SAW. Siapa saja yang membuat Sayyidah Fathimah marah maka itu berarti membuat Nabi SAW marah. Bagi saya pribadi karena saya tidak tahu anda meyakininya atau tidak, hadis-hadis shahih menyebutkan kalau Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat agar tidak tersesat, jadi sangat tidak mungkin Ahlul Bait dalam posisi yang keliru disini.

    Itu bagi mereka yg belum mengetahui ttg haramnya nikah Mut’ah, apakah berarti Imam Ali menselisihi Ijma’? berarti beliau tdk ma’shum dong

    Lagi-lagi anda salah disini dalam perkara nikah mut’ah Jabir melafazkan hadis dengan kata “kami” bukankah menurut metode ilmu hadis lafal tersebut marfu’ atau menunjukkan ijma’ sahabat. Yang lebih aneh mendudukan posisi sahabat tersebut tidak tahu, justru itu keliru Jabir menyampaikan hadis ini ketika mendengar perselisihan Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair soal nikah mut’ah dimana Ibnu Abbas membolehkan dan Ibnu Zubair melarang. Jabir menyebutkan hadis ini jauh setelah Umar menyampaikan larangan nikah mut’ah ke orang-orang artinya Jabir sendiri menyaksikan bahwa Umar melarang nikah mut’ah. Kalau memang Jabir dan sahabat lain awalnya tidak tahu maka seharusnya pada zaman Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih maka Jabir seharusnya sudah tahu dong keharamannya. Faktanya Jabir tetap menyampaikan bolehnya nikah mut’ah bahwa ia dan para sahabat lain pernah melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Logika yang sehat seharusnya kalau sudah tahu haram ya sampaikan bahwa itu telah diharamkan anehnya Jabir malah dengan jelas mengtakan ia bersama para sahabat lain melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Artinya Ijma’ sahabat membolehkan nikah mut’ah maka disini terdapat kemungkinan bahwa hadis pelarangan mut;ah tersebut tidak bersifat umum tetapi hanya berlaku saat Fathul Makkah saja. Sedangkan hadis Imam Ali itu sudah jelas tidak tsabit dari Beliau dengan dua alasan. Alasan yang pertama hadis tersebut matannya ganjil karena tidak ada wanita yang bisa dinikahi dengan mut’ah di Khaibar hal ini seperti yang disampaikan oleh sebagian ulama seperti Ibnu Qayyim dan kedua hadis ini bertentangan fakta bahwa nikah mut’ah justru dibolehkan di Fathul Makkah padahal kalau memang di Khaibar diharamkan maka di Fathul makkah jelas tidak boleh dilakukan. Saya tidak bilang bahwa pendapat ini pasti benar tetapi setidaknya saya ingin menyampaikan cara berhujjah dengan benar soal hadis-hadis mut’ah. Ehem kayaknya anda gak menanggapi dengan baik, dalam perkara mut’ah kan ada juga mut’ah haji. Nah kalau yang ini bagaimana?

    ya kita hrs berprasangka baik thd beliau karena Nabi SAW sndiri mengatakan Utsman di pihak yang benar.

    Maaf anda kurang lengkap menyebutkannya, maksudnya pada hari itu atau pada kejadian itu Utsman berada di pihak yang benar. Saya setuju, mereka yang membunuh Utsman jelas sudah bertindak zalim.

    Bukankah Mu’awiyah dan Ali adalah sahabat? tetapi mereka saling berperang, jd apa yg mengherankan?

    Lho apa maksud anda, jadi jika sesama muslim saling berperang dan membantai tidak perlu diherankan. Justru pikiran begitu yang mengherankan. Perselisihan tidak ada tanpa sebab, nah dalam perkara Muawiyah dan Imam Ali, Imam Ali jelas berada dalam kebenaran dan Muawiyah sangat salah sekali.

    justru yg perlu disalahkan adalah org2 yg menyulut fitnah pengepungan dan pembunuhan thd Utsman. kita ketahui bahwa mrk sebenarnya sudah Ishlah dan kembali ke negeri mereka masing2 tetapi mrk menjumpai org yg membawa surat palsu atas nama Utsman yg isinya perintah utk membunuh mereka.

    Kejadian persisnya tidak ada yang tahu pasti tetapi kalau hanya mengandalkan sejarah yang ada merujuk pada “surat palsu” yang anda sebutkan maka seharusnya perkara itu diselesaikan dengan cara yang lebih diplomatis. Jika memang surat palsu itu penyebabnya yang ada stempel Utsman maka siapa pelakunya itu yang harus diselidiki, dan tampaknya mungkin itu ulah Marwan bin Hakam salah satu pejabat yang membantu Utsman seorang yang berdasarkan hadis shahih termasuk yang dilaknat. Mungkin saja kesalahan Utsman RA disini yang tampaknya memicu kemarahan orang-orang adalah ia terkesan melindungi Marwan bin Hakam ketika mereka ingin memeriksanya. Saya pribadi berpendapat penyulut tragedi itu adalah orang yang bernama “Marwan” ini.

  31. ini penggalan haditsnya :

    Umar pun berkata : “Tenanglah kalian! Dan aku minta kepada kalian, demi Allah yang dengan ijin-Nya langit dan bumi tegak, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan semuanya sebagai shadaqah’ ?. Mereka (Utsman, Abdurrahman, Az-Zubair, dan Sa’d) menjawab : “Ya, beliau telah bersabda demikian”. Maka Umar kembali menghadap dan berbicara kepada Ali dan Abbas : “Aku minta kepada kalian berdua, demi Allah, apakah kalian berdua mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda seperti itu ?“. Keduanya (Ali dan Abbas) menjawab : “Ya, beliau telah bersabda seperti itu”.

    Tidak ada penafsiran yg lain kecuali memang Ali ra mengetahui hadits tersebut, jika sebelumnya beliau menolak, bisa jadi beliau mempunyai ijtihad yg sama dg Fatimah dan berhujjah dg hukum waris yg umum, tetapi jelas itu keliru krn Nabi SAW mempunyai kekhususan yg berbeda dg umat beliau berdasarkan hadits di atas.

    mestinya yg perlu direview adalah keyakinan bahwa ahlul bait adalah ma’shum, karena banyak riwayat yg menunjukkan bahwa mereka bisa berbuat keliru. sedangkan hadits tsaqalain menurut penafsiran kami bukanlah menjadikan ahlul bait sbg pedoman umat, hanya Al-Qur’an saja yg menjadi pedoman umat spt yg disebut dlm hadits Muslim.

    agi-lagi anda salah disini dalam perkara nikah mut’ah Jabir melafazkan hadis dengan kata “kami” bukankah menurut metode ilmu hadis lafal tersebut marfu’ atau menunjukkan ijma’ sahabat. Yang lebih aneh mendudukan posisi sahabat tersebut tidak tahu, justru itu keliru Jabir menyampaikan hadis ini ketika mendengar perselisihan Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair soal nikah mut’ah dimana Ibnu Abbas membolehkan dan Ibnu Zubair melarang. Jabir menyebutkan hadis ini jauh setelah Umar menyampaikan larangan nikah mut’ah ke orang-orang artinya Jabir sendiri menyaksikan bahwa Umar melarang nikah mut’ah. Kalau memang Jabir dan sahabat lain awalnya tidak tahu maka seharusnya pada zaman Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih maka Jabir seharusnya sudah tahu dong keharamannya. Faktanya Jabir tetap menyampaikan bolehnya nikah mut’ah bahwa ia dan para sahabat lain pernah melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Logika yang sehat seharusnya kalau sudah tahu haram ya sampaikan bahwa itu telah diharamkan anehnya Jabir malah dengan jelas mengtakan ia bersama para sahabat lain melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Artinya Ijma’ sahabat membolehkan nikah mut’ah maka disini terdapat kemungkinan bahwa hadis pelarangan mut;ah tersebut tidak bersifat umum tetapi hanya berlaku saat Fathul Makkah saja.

    Jabir tidak mengatakan bolehnya nikah Mut’ah, tetapi beliau hanya menceritakan bahwa sebagian sahabat pernah masih melakukan nikah Mut’ah pada masa Nabi, Abu Bakar dan Umar itu saja. hal itu bisa dimaklumi krn mgkn mereka tidak mengetahui keharaman Mut’ah, kalau memang nikah Mut’ah halal, mengapa hanya sampai masa Umar? apakah mungkin sahabat (yg katanya berijma’) soal bolehnya nikah Mut’ah akan mengabaikan perkataan Nabi SAW dan lebih menuruti perkataan Umar? maka bisa dimengerti bahwa sebelumnya mereka belum mengetahui sampai Umar menyampaikannya.

    Sedangkan hadis Imam Ali itu sudah jelas tidak tsabit dari Beliau dengan dua alasan. Alasan yang pertama hadis tersebut matannya ganjil karena tidak ada wanita yang bisa dinikahi dengan mut’ah di Khaibar hal ini seperti yang disampaikan oleh sebagian ulama seperti Ibnu Qayyim dan kedua hadis ini bertentangan fakta bahwa nikah mut’ah justru dibolehkan di Fathul Makkah padahal kalau memang di Khaibar diharamkan maka di Fathul makkah jelas tidak boleh dilakukan. Saya tidak bilang bahwa pendapat ini pasti benar tetapi setidaknya saya ingin menyampaikan cara berhujjah dengan benar soal hadis-hadis mut’ah

    Alasan anda bahwa hadits Imam Ali tidak tsabit adalah sangat lemah, hadits tsb shahih, saya tidak melihat adanya hubungan ada atau tidak nya wanita yg akan dinikah mut’ah di khaibar, bisa saja aturan itu keluar karena alasan yg lain, kemudian mengenai riwayat nikah mut’ah dibolehkan kemudian bbrp saat kemudian diharamkan lg di saat fathul mekah, bisa jadi mut’ah dibolehkan lg pd saat itu tetapi kemudian di larang lg hingga kiamat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

    dari kalimat di atas bisa disimpulkan, sebelumnya telah terjadi pembolehan & pelarangan thd Mut’ah bbrp kali sampai diharamkan sampai kiamat oleh Allah azza wa jalla.

    sedangkan riwayat Jabir bisa dikompromikan, bahwa mereka yg msh melakukan mut’ah s/d masa Umar adlh yg belum mengetahui pengharaman itu, berarti itu bukan ijma’ walaupun Jabir menggunakan kata “kami”.

    Lho apa maksud anda, jadi jika sesama muslim saling berperang dan membantai tidak perlu diherankan. Justru pikiran begitu yang mengherankan. Perselisihan tidak ada tanpa sebab, nah dalam perkara Muawiyah dan Imam Ali, Imam Ali jelas berada dalam kebenaran dan Muawiyah sangat salah sekali.

    artinya jika ada sahabat yg saling berperang, maka mengapa mesti heran kalau ada sahabat yg ikut mengepung sahabat lain (itupun kalau riwayatnya shahih)

    Mungkin saja kesalahan Utsman RA disini yang tampaknya memicu kemarahan orang-orang adalah ia terkesan melindungi Marwan bin Hakam ketika mereka ingin memeriksanya. Saya pribadi berpendapat penyulut tragedi itu adalah orang yang bernama “Marwan” ini.

    Sekali lagi Nabi SAW pernah bersabda bahwa Utsman dalam kebenaran dalam peristiwa fitnah, maka apa yg dilakukan beliau ya benar saat itu. kalau menurut saya yg menyulut fitnah adalah Ibnu Saba / Ibnu Sauda’ (pendiri sekte syi’ah)

  32. @paiman
    Kebohongan apa yang anda bawakan atas Nabi SAW.
    Menurut anda Umar berkata:”apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan semuanya sebagai shadaqah’ ?.dsr
    Menurut para salafy:
    Abubakar berkata: Para Nabi tidak meninggalkan WARISAN dan apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah.
    Ketahuilah SIAPA YANG MENYAMPAIKAN SUATU BERITA MENGATAS NAMAKU SEDANGKAN AKU TIDAK PERNAH MENGUCAPKAN YANG DEMIKIAN. MAKA NERAKA JAHANAM TEMPATNYA.
    Silahkan yang ingin mengicipi nikmatnya NERAKA.

  33. @chany

    Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, silahkan anda tidak percaya, saya maklum krn anda Syi’ah, tapi awas jgn coba-coba memakai riwayat2 dari sunni lg setelah ini ya, krn ketahuan anda hanya memakai riwayat2 sunni yang mendukung paham anda saja dan membuang riwayat sunni yg tidak mendukung paham anda, maka sampai anda berbusa-busa berdalil dg riwayat sunni kita tdk akan pedulikan :mrgreen:

  34. @ paiman

    Siapakah anda yang berhak menyatakan orang2 Syiah tidak boleh memakai riwayat Sunny????

    Apakah Syiah butuh pada riwayat Sunni??? Tidak!!!

    Orang2 Syiah memakai riwayat Sunni bukan berarti mereka butuh pada riwayat itu, tapi kebetulan untuk berhujjah dengan orang2 yang buta hati seperti kalian maka riwayat2 itu dipakai dan ternyata riwayat2 itu justru membenarkan klaim2 Syiah dan menjungkir balikkan dongeng2 Sunni.

    Syiah menggunakan riwayat2 Sunni hanya sekedar untuk memelekkan mata orang2 Sunni khususnya yang telah mereka yang telah tersesat jalan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

    Sekarang masalahnya keberadaan riwayat2 Sunni justru sangat menguntungkan dakwah Syiah pada kaum yang buta mata hati, yaitu orang2 yang fanatik buta pada kitabnya sendiri untuk menunjukkan bahwa kebenaran hujjah Syiah ternyata diakui oleh kitab Sunni dan sebaliknya riwayat2 Sunni tersebut justru menjadi boomerang bagi Sunni sendiri dan menjungkir balikkan paham2 sesat mereka.

    Sungguh sangat disayangkan banyak aqidah Sunni ternyata ditolak oleh riwayat2 Sunni sendiri dan riwayat2 itu telah membenarkan klaim2 Syiah yang selama ini kalian dustakan.

    Kalau sudah demikian dengan apa Sunni mempertahankan aqidah yang telah mereka pelihara selama ratusan tahun????

  35. @ paiman2

    Kata anda:
    Sekali lagi Nabi SAW pernah bersabda bahwa Utsman dalam kebenaran dalam peristiwa fitnah, maka apa yg dilakukan beliau ya benar saat itu.

    Baitul Mal dirampok koq benar!
    Patutlah banyak perampok dalam mazhab anda.

    Kata anda:
    kalau menurut saya yg menyulut fitnah adalah Ibnu Saba / Ibnu Sauda’ (pendiri sekte syi’ah)

    Ibnu Saba tidak pernah ada dalam sejarah dan tidak pernah ada pula pengikutnya. Dan dalam kitab2 Syiah tidak ada satupun ajaran Ibnu Saba dan tidak ada pula riwayat darinya, konon menurut dongeng Ibnu Saba hidup jaman Usman tapi anehnya jaman itu tidak ada yang kenal Ibnu Saba memang karena pribadinya adalah mitos.

    Justru menurut Imam Bukhari yang memunculkan fitnah adalah Aisyah istri Nabi.saw

    Ini buktinya!

    Ibnu Umar berkata: Suatu hari Nabi.saw naik ke mimbar dan kemudian memuji Allah.swt lalu bersabda: FITNAH MUNCUL DARI RUMAH AISYAH, DARI SINILAH MUNCUL TANDUK SETAN…(Shahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 53, Hadis ke: 336, translasi: Muhammad Muhsin Khan)

    Ada komentar????

  36. @ paiman2

    Kata anda:
    Sekali lagi Nabi SAW pernah bersabda bahwa Utsman dalam kebenaran dalam peristiwa fitnah, maka apa yg dilakukan beliau ya benar saat itu.

    Baitul Mal dirampok koq benar!
    Patutlah banyak perampok dalam mazhab anda. mulai dari perampok kas negara, perampok aqidah sampai perampok akal.

    Kata anda:
    kalau menurut saya yg menyulut fitnah adalah Ibnu Saba / Ibnu Sauda’ (pendiri sekte syi’ah)

    Ibnu Saba tidak pernah ada dalam sejarah dan tidak pernah ada pula pengikutnya. Dan dalam kitab2 Syiah tidak ada satupun ajaran Ibnu Saba dan tidak ada pula riwayat darinya, konon menurut dongeng Ibnu Saba hidup jaman Usman tapi anehnya jaman itu tidak ada yang kenal Ibnu Saba memang karena pribadinya adalah mitos.

    Justru menurut Imam Bukhari yang memunculkan fitnah adalah Aisyah istri Nabi.saw

    Ini buktinya!

    Ibnu Umar berkata: Suatu hari Nabi.saw naik ke mimbar dan kemudian memuji Allah.swt lalu bersabda: FITNAH MUNCUL DARI RUMAH AISYAH, DARI SINILAH MUNCUL TANDUK SETAN…(Shahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 53, Hadis ke: 336, translasi: Muhammad Muhsin Khan)

    Ada komentar????

  37. @paiman
    Anda mengerti apa saya tulis? O ya saya lupa bahwa tulisan anda sendiri anda tdk mengerti.
    Saya katakan bahwa Umar mengatakan sesuai yang anda sampaikan. Sedangkan kelompok anda berdalih dalam soal Tanah Fadak dengan kata2 Abubakar. Coba anda perhatikan kata2 KAMI TIDAK MENINGGALKAN WARISAN. Dan kata2: PARA NABI TIDAK MENINGGALKAN WARISAN
    Dari kedua kata2 tsb sangat besar bedanya.
    Saya bukan tidak percaya Hadits yang ada dlm Bukhari. tapi tdk boleh diterima begitu saja. Harus diteliti.
    Apakah anda yakin semua diriwayatkan oleh Bukhari SHAHIH. Bagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari abu hurairah tentang Nabi Musa MENAMPAR MALAIKAT MALIKILMAUT SAMPAI MATANYA TERLEPAS?

  38. @ chany

    Kalau Kaum Sunni mungkin meyakini semua hadis dalam Kitab Bukhari shahih (tapi banyak juga Ulama Sunni yang menolak kesahihan Kitab Bukhari, seperti An-Nasaa’i, As-Suyuthi, Syaikh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dll) karena labelnya “SHAHIH BUKHARI” tapi sayang HAMPIR 50% ISINYA TERNYATA TIDAK SHAHIH, DAN KONTRADIKSI.

    Kalau paiman mau tak mau harus menerima DOKTRIN SESAT bahwa seluruh hadis Bukhari adalah sahih karena kalau tidak sama saja menghancurkan aqidah mimpi di siang bolongnya.

    Salam

  39. @paiman2

    Maka Umar kembali menghadap dan berbicara kepada Ali dan Abbas : “Aku minta kepada kalian berdua, demi Allah, apakah kalian berdua mengetahui bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda seperti itu ?“. Keduanya (Ali dan Abbas) menjawab : “Ya, beliau telah bersabda seperti itu”.

    Yup inilah riwayat yang saya maksudkan, dan anda salah besar ketika berkata Tidak ada penafsiran yg lain kecuali memang Ali ra mengetahui hadits tersebut,. Kita ikuti logika anda, Imam Ali mengetahui hadis Rasulullah SAW tersebut tetapi Beliau tetap menolak Abu Bakar dan mengatakannya bertindak sewenang-wenang, tidak jujur, pendusta dan zalim. Imam Ali mengakui kalau keluarga Nabi lah yang lebih berhak. Bukankah disini anda mau mengatakan kalau Imam Ali sengaja mendustakan hadis Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Imam Ali mengetahui suatu hadis Rasulullah SAW tetapi dengan sengaja menolak atau mendustakannya. Berat sekali tuduhan seperti itu, silakan tuh dipikirkan dengan baik.

    jika sebelumnya beliau menolak, bisa jadi beliau mempunyai ijtihad yg sama dg Fatimah dan berhujjah dg hukum waris yg umum,

    Lha anda ini gimana, bukankah sebelumnya anda mengatakan Imam Ali mengetahui hadis Rasulullah SAW tersebut lantas kenapa ia menolaknya atau mendustakannya dengan sengaja. Bagaimana mungkin anda bisa bilang ijtihad, Apakah mendustakan dengan sengaja hadis Rasul SAW disebut ijtihad?. Itu kan maaf aneh sekali, Saya pribadi dan muslim lainnya tidak akan pernah menerima hal ini. Mungkin lain ceritanya dengan pengikut salafy kali ya

    tetapi jelas itu keliru krn Nabi SAW mempunyai kekhususan yg berbeda dg umat beliau berdasarkan hadits di atas

    Ini juga konyol lho, anda bilang sebelumnya Imam Ali sudah tahu hadis Rasulullah SAW tersebut. Imam Ali mengetahui Nabi SAW pernah bersabda demikian tetapi beliau dengan sengaja mendustakannya. saya berlindung kepada Allah SWT dari pemahaman yang begini.

    mestinya yg perlu direview adalah keyakinan bahwa ahlul bait adalah ma’shum, karena banyak riwayat yg menunjukkan bahwa mereka bisa berbuat keliru.

    Sekarang saya tanya kepada anda. Menurut anda pribadi atau menurut salafy [jika anda tahu] apakah Nabi SAW bisa berbuat keliru?. Silakan dijawab. Saya pribadi gak begitu tertarik soal ma’sum dan tidak ma’sum karena jujur saja saya melihat banyak orang termasuk salafiyun tidak mengerti apa itu artinya ma’sum. Mereka sok berlagak bilang hanya Nabi yang ma’sum padahal mereka mengatakan kalau para Nabi bisa salah seperti Nabi Adam AS dan Nabi Yunus AS. Jadi tidak usah bicara soal ma’sum atau tidak dengan saya

    sedangkan hadits tsaqalain menurut penafsiran kami bukanlah menjadikan ahlul bait sbg pedoman umat, hanya Al-Qur’an saja yg menjadi pedoman umat spt yg disebut dlm hadits Muslim

    Silakan saja, siapapun bisa melakukan penafsiran begitu yang justru bertentangan dengan lafaz hadisnya yang shahih.

    Jabir tidak mengatakan bolehnya nikah Mut’ah, tetapi beliau hanya menceritakan bahwa sebagian sahabat pernah masih melakukan nikah Mut’ah pada masa Nabi, Abu Bakar dan Umar itu saja.

    Silakan tuh anda belajar cara berhujjah yang benar atau setidaknya anda belajar ilmu logika. Di hadis Jabir, sangat jelas Jabir sedang menjawab soal mut’ah yang diributkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair. Jabir mengatakan kalau dirinyalah yang lebih tahu kemudian ia menyebutkan kalau “kami melakukan mut’ah di masa Nabi, Abu Bakar dan Umar”. Kalau memang menurut Jabir haram ya dia bakal bilang haram bukannya justru melafalkan lafaz hadis yang seperti itu.

    hal itu bisa dimaklumi krn mgkn mereka tidak mengetahui keharaman Mut’ah, kalau memang nikah Mut’ah halal, mengapa hanya sampai masa Umar?

    Logika anda salah sekali, justru karena menurut mereka para sahabat nikah mut’ah halal makanya mereka melakukannya sampai dimasa Umar yang melarangnya.

    apakah mungkin sahabat (yg katanya berijma’) soal bolehnya nikah Mut’ah akan mengabaikan perkataan Nabi SAW dan lebih menuruti perkataan Umar?

    Perkataan Nabi SAW di hadis tentang mut’ah bukan sebuah perintah, tetapi kebolehan. Bisa dilakukan dan bisa juga tidak. Jika Umar melarang maka Umar keliru tetapi jika para sahabat tidak melakukan lagi karena takut dihukum Umar ya tetap boleh, namanya saja dibolehkan.

    maka bisa dimengerti bahwa sebelumnya mereka belum mengetahui sampai Umar menyampaikannya.

    Anda salah lagi, pertama Umar gak pernah menyampaikan kalau nikah mut’ah dilarang karena Nabi mengharamkannya. Silakan tuh cek, Umar hanya melarang berdasarkan perkataannya, ia tidak menisbatkan larangan tersebut kepada Nabi. Bahkan yang lebih aneh Umar dengan jelas mengatakan “dua mut’ah dilakukan di masa Nabi” kalau memang yang satu yaitu nikah mut’ah sudah diharamkan maka apa yang mencegah Umar mengatakan “Nabi telah mengharamkan nikah mut’ah”. Umar bahkan melarang kedua mut’ah tersebut atasa dasar pandangannya sendiri. Kedua Jabir juga menyaksikan Umar melarang mut’ah, nah jika memang Umar menyampaikan Nabi mengharamkan mut’ah maka mengapa ketika ditanya soal mut’ah Jabir malah berkata “kami melakukannya di masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar”. Seharusnya ia bilang “Nabi telah mengharamkan mut’ah”.

    Alasan anda bahwa hadits Imam Ali tidak tsabit adalah sangat lemah, hadits tsb shahih, saya tidak melihat adanya hubungan ada atau tidak nya wanita yg akan dinikah mut’ah di khaibar, bisa saja aturan itu keluar karena alasan yg lain,

    dan bisa saja tidak ada alasan lain sehingga tidak ada disebutkan soal mut’ah. Intinya kenapa Rasul SAW harus berkata soal mut’ah di Khaibar kalau tidak ada seorang pun yang bisa menikahi wanita yang ada di Khaibar.

    kemudian mengenai riwayat nikah mut’ah dibolehkan kemudian bbrp saat kemudian diharamkan lg di saat fathul mekah, bisa jadi mut’ah dibolehkan lg pd saat itu tetapi kemudian di larang lg hingga kiamat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

    Yah silakan saja berpendapat begitu. Dalam perkara ini baik yang melarang maupun membolehkan sama-sama memiliki dalil. Dahulu saya bertawaquf soal ini tetapi setelah saya teliti kembali, mengharamkan terus membolehkan terus mengharamkan lagi dalam Syariat adalah sesuatu yang aneh. Dan terdapat hadis shahih lain yang dengan jelas mengatakan bahwa Nabi SAW tidak pernah mengharamkan mut’ah sampai Beliau SAW wafat.

    dari kalimat di atas bisa disimpulkan, sebelumnya telah terjadi pembolehan & pelarangan thd Mut’ah bbrp kali sampai diharamkan sampai kiamat oleh Allah azza wa jalla.

    Kalimat mana yang menyebutkan pembolehan dan pelarangan mut’ah terjadi beberapa kali. Kayaknya gak ada deh dalam kalimat hadis yang anda kutip.

    sedangkan riwayat Jabir bisa dikompromikan, bahwa mereka yg msh melakukan mut’ah s/d masa Umar adlh yg belum mengetahui pengharaman itu, berarti itu bukan ijma’ walaupun Jabir menggunakan kata “kami”.

    Nggak kok justru jika dianalisis dengan baik Jabir sampai ketika ia ditanya [setelah masa Umar] tetap membolehkan mut’ah dan menisbatkannya dengan kata “kami” yang berarti ijma’. Hadis yang anda kutip dengan jelas Nabi berkhutbah menyampaikan pengharaman nikah mut’ah dihadapan orang-orang kok bisa mayoritas sahabat besar seperti Jabir RA tidak mengetahuinya 🙂

    artinya jika ada sahabat yg saling berperang, maka mengapa mesti heran kalau ada sahabat yg ikut mengepung sahabat lain (itupun kalau riwayatnya shahih)

    kalau saya mendengar ada sahabat saling berperang atau mengepung sahabat lain saya pasti heran sekali sampai akhirnya saya teliti dan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Justru sikap orang yang tidak heran dengan peristiwa itu berarti ia telah menentang dirinya sendiri. Bukankah menurutnya para sahabat itu mulia, generasi terbaik, semuanya adil dan mendapat ridha Allah. Lha masa’ saling memerangi dan membunuh dikatakan mulia dan diridhai. Itu tidak laziiim

    Sekali lagi Nabi SAW pernah bersabda bahwa Utsman dalam kebenaran dalam peristiwa fitnah, maka apa yg dilakukan beliau ya benar saat itu.

    Peristiwa fitnah yang dimaksud itu kan saat pengepungan yang menyebabkan pembunuhan Utsman, Perkara apa yang terjadi sebelum itu maka Utsman bisa saja salah dan bisa pula benar.

    kalau menurut saya yg menyulut fitnah adalah Ibnu Saba / Ibnu Sauda’ (pendiri sekte syi’ah)

    Lha kalau riwayat Ibnu Saba’ dan perannya di masa Utsman bisa dipastikan dhaif jiddan. Silakan saja dicek sanadnya. Ingat pahami perkataan saya baik-baik, jangan nanti anda malah kopipaste riwayat adanya orang bernama Ibnu Saba’ di masa Imam Ali yang sering banget dikutip salafiyun.

  40. @SP
    Saya telah katakan bahwa sdr kita paiman tdk mengerti apa yang ia sendiri tulis. Karena tdk mengert, maka semua jadi NGAWUR. Wasalam

  41. sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

    begitu terang, apanya yg diragukan? adakah hadits yg lebih kuat dibanding perkataan yg keluar langsung dari lisan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yg mulia tsb? apakah perkataan sahabat bisa mengalahkan perkataan langsung Nabi? jika ada hadits tandingan yg mengatakan Nabi tdk pernah mengharamkan Mut’ah, apakah hadits tsb kedudukannya lebih kuat dibanding hadits Muslim di atas? lalu bagaimana dg hadits dr Imam Ali yang jelas shahih? apakah perkataan Jabir lebih kuat dibanding perkataan Nabi SAW & Imam Ali? mohon dianalisis dg jernih jika memang mengaku mencari kebenaran.

    Seperti hukum Khamer, dulu dibolehkan tetapi kemudian diharamkan. Khamer mempunyai maslahat tetapi mudharatnya lebih banyak demikian juga dg nikah mut’ah.

    Shadaqa rasul, sebenarnya hati nurani yg masih bersih bisa membedakan kok mana yang halal dan mana yang haram 🙂

  42. @sok tau benget
    yg tdk jelas itu anda,disini bcr ttg gelar ashiddiq,anda loncat kemslh mut’ah.
    klu mau jls2an,kita lihat jls mana?
    1.al quran membolehkan mut’ah
    2.ada kata2 umar,bhw “dizaman nabi mut’ah dibolehkan,sedang di zaman ku mut’ah diharam kan”
    3.sahabat2 banyak yg masih melakukan mut’ah,pd hal ini terjadi ba’da wafatnya rosul.n bbrp dr mereka adalah 10 yg dijamin masuk surga versi ahlusunnah
    4.banyak ulama ahlusunnah menyatakan bhw mut’ah halal

    lalu anda bw 1 dalil yg tdk jelas,dgn mengatakan hal tsb.
    skrg siapa yg mengabur2kan yg sdh jelas?
    justru anda mesti mnganalisa hadits yg anda bwkan tsb, apa hadits tsb benar2 dr rosul?

  43. from ytse-jam:
    —Siapakah anda yang berhak menyatakan orang2 Syiah tidak boleh memakai riwayat Sunny????

    Apakah Syiah butuh pada riwayat Sunni??? Tidak!!!—

    Baguslah..
    Alhamdulillah, jika memang Syi’ah punya riwayat sendiri, silahkan dipakai saja, jangan pernah lagi memakai riwayat dari Sunni.
    Dan setelah itu keputusan antara kami dan kalian adalah di hari penghisaban…insya Allah. 🙂

  44. @damai
    Masih lumayan ada orang Syiah masih mengakui keshahihan riwayat dari Suni.
    Dari pada anda yang mengakui seorang Suni tapi tidak mengakui riwayat Ulama anda sendiri. Disebut apa orang seperti anda?

  45. @ damai

    Syiah dalam menilai suatu riwayat masih objektif dan bila suatu riwayat mengandung kebenaran maka riwayat tersebut tetap diterima walaupun itu riwayat Sunni, dan itu adalah sebuah pertanggung jawaban ilmiyah. Tapi anehnya Sunni rela menolak kebenaran cuma karena itu riwayat Syiah, ini tentu tidak ilmiyah dan tidak bertanggung jawab alias buta mata dan buta hati.

    Namun begitu, tanpa riwayat Sunni sekalipun Syiah tetap mampu menbuktikan kebenaran hujjah mereka dari khazanah ilmu mereka sendiri baik masalah Ushul maupun masalah Furu’. Bila Syiah mau menerima hadis Sunni itu tandanya memang mereka berlaku adil (tidak diskriminatif) dan itu cukup menjadi bukti tindakan Syiah jauh lebih benar dari apa yang ditempuh Sunni.

    Dan, anda tidak punya hak untuk melarang Syiah mengutip riwayat Sunni karena BANYAK RIWAYAT SUNNI JUGA BERASAL DARI ORANG2 SYIAH, dalam Kitab Bukhari juga banyak perawi Syiah !

    Anda tentu tidak tau hal ini karena anda adalah Tong Kosong Yang Nyaring Bunyinya. Asal cuap2 tapi tanpa ilmu.
    Tapi anehnya banyak hujjah Sunni justru DIPATAHKAN oleh riwayat Sunni sendiri.

    Kalau sudah begini mau dibilang apa lagi

  46. agama syiah…………..
    apakah pantas pecinta mut’ah (pelacuran) bicara ttg islam???
    perbaiki dulu akhlak kalian.

    umat islam ………….
    MUI dari dulu melebeli SESAT dan MENYESATKAN utk syiah.
    buat apa kalian dengar ucapan syiah.

  47. @ alfhad

    Kalau Syiah anda katakan sebagai agama maka orang Syiah pun gak keberatan karena Syiah lebih dekat kepada Islam ketimbang Sunni. Syiah melaksanakan Sunnah lebih konsisten daripada Sunni karena akar Syiah lebih dekat padanya daripada Sunni. Sunni hanya labelnya saja Ahlusunnah tapi faktanya tidaklah seindah namanya. Bila kita buka kitab2 standar Sunni akan makin jelas dan gamblang bahwa apa yang diklaim oleh Syiah mayoritasnya ada di dalam kitab2 tersebut.

    Dalam al-Quran hukum nikah mut’ah masih berlaku dan Nabi.saw pun belum pernah melarangnya (berita tentang haram mut’ah dalam kitab2 Sunni sangat meragukan kebenarannya dan tidak masuk akal serta kontradiktif dengan fakta sejarah.

    Bukalah matamu kawan, lihatlah bahwa Allah dan Rasul-Nya membolehkan nikah mut’ah…! Apakah itu (menurut anda) Allah dan Rasul-Nya membolehkan pelacuran???????

    Ayat al-Quran tentang mut’ah ada dalam al-Quran dan belum ada ayat yang menasakhnya dan Nabi.saw pun tidak pernah berani menasakh-kan ayat itu.

    Kalaupun pernah, tapi Imam Syafi’i dan jumhur ulama Sunni berpendapat bahwa Hadis Nabi.saw tidak bisa menasakh ayat al-Quran. Ayat al-Quran hanya boleh dinasakh-kan oleh ayat al-Quran bukan oleh hadis yang konsekuensinya nikah mut’ah masih halal karena tidak ada ayat yang menasakh-kan ayat bolehnya mut’ah itu.

    MUI belum pernah menyatakan sesat untuk Syiah. KH. Ali Yafie, K.H Umar Shihab dan tidak pernah bersedia mengeluarkan fatwa sesat untuk Syiah dan mereka telah mempelajari Syiah dan mereka berpendapat Syiah adalah Islam.

    Memang pernah ada orang2 sok pintar seperti Dr. Hidayat Nurwahid, Dr. Irfan Zidni, Dr. Dawam Ahmad, K.H Syu’bah Asha dan antek2 iblis al-kadzab meminta fatwa MUI agar dikeluarkan fatwa sesat untuk Syiah tapi ditolak. Dan antek2 Iblis itupun tertunduk malu.

  48. @alfhad
    Kelihatan orang BODOH, GILA atau lebih dari itu.
    Anda katakam Mut’ah dalam kurang PELACUR.
    Disatu sisi anda anggap Rasul BODOH dan disini anda se-akan2 mengatakan Allah menganjurkan MELACUR.
    ASTAQFIIRULLAH, NAUDZUBILLAH.
    SUBHANALLAH maha SUCI Allah dari pada anda SIFATKAN,

  49. @Ytse-Jam

    Ayat yg anda maksud bukan tentang nikah mut’ah tetapi tentang nikah da’im, jelas2 mut’ah sudah dilarang Nabi SAW sampai hari kiamat, maka bagi pelakunya hukumnya adalah zinah, sebagaimana dulu khamer dibolehkan, maka setelah dilarang ya hukumnya haram. tanyalah pada hati nurani anda, bagaimana kalau anak perempuan, atau adik perempuan atau Ibu anda di mut’ah, pls jujurlah… karena fitrah akan bisa membedakan kok mana yg haram dan mana yg halal.

  50. @sok tau banget
    Rasulullah SAW tidak pernah melarang kawin Mut’ah. Karena Rasulullah tidak berani melanggar perintah Allah.
    Yang melarang kawin Muta’ah adalah Umar b. Khattab.
    Umar b. Khattab mengatakan: ” Dua Mut’ah yang berlaku pada jaman Rasulullah, pada hari ini aku melarang, yakni KAWIN MUT’AH DAN MUT’AH HAJI (haji tamattu). Siapa yang melaksanakan akan dihukum
    Anda mengambil contoh khamar. Khamar yang mengharamkan Allah. Tunjukan ayat yang melarang KAWIN MUT’AH.
    Jadi larangan Umar itu tidak berlaku karena Umar tigak mengerti hukum

  51. @chany

    sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

  52. @sok tau banget
    Kalau demikian mengapa Umar harus mengeluarkan larangan tersebut pada masa kekhalfan. Sesudah Raul wafat lho/
    Dan apakah firman Allah dalam surat An-Nisa dan Al-Azhab dapat dibatalkan oleh Rasul. Tanpa ada Firman Allah yang memansuhkan? Kapan Rasul merobah Firman2 Allah?
    Allah membenarkan kawin Mut’ah dengan firmanNya.
    Kemudian secara diam2 Allah wayuhkan pd Rasul bahwa Mut’ah HARAM. Yang benar dong. Anda anggap siapa Allah dan Rasul.

  53. hehehe……, ramai juga ya, coy…..
    maaf neh… buat orang bodoh kaya saya ini tetep saklek aja deh. BENAR DAN SALAH ITU TIDAK PENTING.
    saya menganggap semua yang utarakan di sini ibarat “LAGU” . silahkan bernyanyi sekencang dan semerdu merdunya. Toh “NOT” yang mendasari lagu anda semua tetap sama yakni ALQUR’AN. yang lebih pantas saya nilai bukan jenis lagu atau bahkan kualitas improvisasi not yang anda pamerkan.., melainkan bagaimana dalam panggung kehidupan ini, seberapa hebatkah kalian semua bisa membuat para penonton tersenyum, tertawa dan bertepuk tangan melihat penampilan “AKHLAQ” anda…
    Cermin Kenabian itu tidak segampang bisa didapat dari Hadits bahkan Al Qur’an sekalipun…, tapi diberikan oleh Allah kepada hamba hamba yang rajin bermunajah…
    Mely Guslow itu tidak paham “not”, tapi dia bisa nyanyi bagus bahkan karangan lagunya sendiri sangat berkualitas. Di kampung saya, ada buruh tani yang gak sempat ngaji mustholah hadits karena kecapekan, tapi akhlaqnya jauh lebih mulia dibanding para ustadz dan kiyai ternama, mulai dari tawadhu’nya, zuhudnya, waro’nya, sholat jamaahnya bahkan i’tikafnya…..
    Makasih sudah diposting..,

  54. @syiahsalafy
    Udah deh ente jangan kasih komentar, mending dengerin tuh lagunya melly guslow, soalnye ente masih terlalu bodoh memang, seperti pengakuan ente sendiri, hehehe kasian, merasa bodoh tapi kagak mau belajar, dasar! hehehe

  55. […] terkesan melakukan campur aduk dalam mencari syawahid bagi hadis ini. Diantaranya syaikh memasukkan hadis Imam Ali dan hadis Abu Wahb maula Abu Hurairah soal gelar Ash Shiddiq yang turun dari langit sebagai penguat. Hal ini jelas tidak benar, perkara gelar Ash Shiddiq turun dari langit adalah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: