Hadis Imam Ali Mengakui Beliau Adalah Ash Shiddiq

Hadis Imam Ali Mengakui Beliau Adalah Ash Shiddiq

Imam Ali pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan mengakui kalau dirinya adalah Ash Shiddiq disebabkan Beliau adalah orang yang pertama kali membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk islam dan beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pengakuan ini menunjukkan bahwa beliau juga adalah Ash Shiddiq sebagaimana yang dimaksud dalam berbagai hadis tentang Hira dan Uhud dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalau di atasnya terdapat Nabi, Shiddiq dan Syahid. Inilah alasan mengapa kami menafsirkan kalau shiddiq yang dimaksud dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya merujuk pada Abu Bakar tetapi juga kepada Imam Ali ‘alaihis salam.

.

.

Riwayat Mu’adzah Al Adawiyah

حدثنا زياد بن يحيى أبو الخطاب قال حدثنا نوح بن قيس وحدثني أبو بكر مصعب بن عبد الله بن مصعب الواسطي قال حدثنا يزيد بن هارون قال أنبأ نوح بن قيس الحداني قال حدثنا سليمان بن عبد الله أبو فاطمة قال سمعت معاذة العدوية تقول سمعت علي بن أبي طالب رضي الله عنه يخطب على منبر البصرة وهو يقول أنا الصديق الأكبر آمنت قبل أن يؤمن أبو بكر وأسلمت قبل أن يسلم

Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Yahya Abul Khaththab yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Mush’ab bin ‘Abdullah bin Mush’ab Al Wasithi yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Nuh bin Qais Al Hadaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah yang berkata aku mendengar Mu’adzah Al ‘Adawiyah yang berkata aku mendengar Ali bin Abi Thalib radiallahu’anhu berkhutbah di atas mimbar Bashrah dan ia mengatakan “aku adalah Shiddiq Al Al Akbar aku beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku memeluk islam sebelum ia memeluk islam” [Al Kuna Ad Duulabiy 5/189 no 1168]

Hadis ini juga disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsani 1/151 no 187, Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/131 no 616, Ibnu Ady dalam Al Kamil 3/274 dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 1835 semuanya dengan jalan sanad dari Nuh bin Qais dari Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah dari Ali radiallahu ‘anhu. Riwayat Ad Duulabiy di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Sulaiman bin Abdullah Abu Fathimah.

  • Ziyad bin Yahya Abul Khaththab adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 710]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/324].
  • Mush’ab bin ‘Abdullah bin Mush’ab adalah perawi Nasa’i dan Ibnu Majah yang tsiqat. Ahmad bin Hanbal menyatakan tsabit. Daruquthni menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Maslamah bin Qasim dan Abu Bakar bin Mardawaih menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 311]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 2/186]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5467]
  • Yazid bin Harun adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Madini dan Ibnu Ma’in. Al Ijli berkata tsiqat tsabit dalam hadis, Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum melihat orang yang lebih kuat hafalannya dari Yazid”. Abu Hatim berkata tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat memiliki banyak hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat mutqin ahli ibadah” [At Taqrib 2/333]
  • Nuh bin Qais adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Dawud menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli berkata “orang Bashrah yang tsiqat” [At Tahdzib juz 10 no 877]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 2/254]
  • Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan berkata “Sulaiman bin ‘Abdullah orang Bashrah yang meriwayatkan dari Mu’adzah Al Adawiyah dan telah meriwayatkan darinya Nuh bin Qais Ath Thahiy” [Ats Tsiqat juz 6 no 8211]. Al Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah tidak dikenal sima’ [pendengaran] Sulaiman dari Mu’adzah” [Tarikh Al Kabir juz 4 no 1835]. Al Uqaili memasukkannya dalam Adh Dhu’afa seraya mengutip pernyataan Bukhari [Adh Dhu’afa 2/131 no 161]. Ibnu Ady dalam Al Kamil berkata “Sulaiman dikenal melalui hadis ini, tidak dikenal ia memiliki riwayat lain dan riwayat ini tidak memiliki mutaba’ah seperti yang dikatakan Bukhari” [Al Kamil Ibnu Ady 3/274]. Sangat jelas kalau Al Uqaili dan Ibnu Ady hanya mengikuti pernyataan Bukhari dan pernyataan Bukhari disini keliru. Riwayat Sulaiman bin Abdullah dari Mu’adzah Al Adawiyah dari Ali dengan lafaz “aku adalah shiddiq al akbar” memiliki penguat dari riwayat Abbad bin Abdullah Al Asady dari Ali, kemudian Bukhari juga keliru ketika mengatakan tidak dikenal Sulaiman mendengar dari Mu’adzah karena riwayat Yazid bin Harun dan Ziyad Abul Khattab dari Nuh bin Qais yang disebutkan Ad Duulabiy dengan jelas menyatakan Sulaiman mendengar langsung dari Mu’adzah begitu pula yang diriwayatkan dari Muslim bin Ibrahim dari Nuh bin Qais yang disebutkan Ibnu Abi Ashim dalam Al Ahad Wal Matsaniy.
  • Mu’adzah binti Abdullah Al ‘Adawiyah adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 2895]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/659]

Atsar Imam Ali ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah, ia telah dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya Nuh bin Qais. Nuh bin Qais dalam periwayatannya dari Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah memiliki mutaba’ah dari Abu Hilal Rasibi sebagaimana yang disebutkan Al Baladzuri.

حدثني محمد بن أبان الطحان عن أبي هلال الراسبي عن أبي فاطمة عن معاذة العدوية قالت سمعت عليا على منبر البصرة يقول أنا الصديق الاكبرآمنت قبل أن يؤمن أبو بكر وأسلمت قبل أن يسلم

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Aban Ath Thahaan dari Abi Hilal Ar Raasibiy dari Abu Fathimah dari Mu’adzah Al ‘Adawiyah yang berkata aku mendengar Ali di atas mimbar Basrah berkata “aku adalah shiddiq al akbar aku beriman sebelum Abu Bakar beriman dan aku memeluk islam sebelum ia memeluk islam” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 1/287]

Muhammad bin Aban Ath Thahaan termasuk perawi Bukhari telah meriwayatkan darinya Abu Zur’ah dan Baqiy bin Makhlad dimana keduanya dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Maslamah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “pernah salah” [At Tahdzib juz 9 no 1]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 2/49].

Abu Hilal Ar Raasibiy adalah Muhammad bin Sulaim Al Bashri dia adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari dan Ashabus Sunan. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan darinya yang berarti ia menganggap Muhammad bin Sulaim tsiqat. Ibnu Ma’in terkadang berkata shaduq terkadang berkata tidak ada masalah padanya. Abu Dawud menyatakan ia tsiqat. Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Sa’ad berkata ada kelemahan padanya. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia mudhtharib al hadis dari Qatadah. [At Tahdzib juz 9 no 303]. Ibnu Hajar menyatakan “shaduq ada kelemahan padanya” [At Taqrib 2/81]. Adz Dzahabi menyatakan ia shalih al hadits [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 301]. Pada dasarnya ia seorang yang shaduq tetapi ada kelemahan padanya yaitu riwayatnya dari Qatadah yang mudhtharib sehingga sebagian ulama membicarakannya. Tetapi disini bukan riwayatnya dari Qatadah maka riwayatnya baik.

.

.

.

Riwayat ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy

Riwayat Mu’adzah Al Adawiyah dari Ali dengan lafaz “shiddiq al akbar” dikuatkan oleh riwayat ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asadiy dari Ali  yaitu riwayat berikut

حدثنا محمد بن إسماعيل الرازي حدثنا عبيد الله بن موسى أنبأنا العلاء بن صالح عن المنهال عن عباد بن عبد الله قال قال علي أنا عبد الله وأخو رسوله صلى الله عليه و سلم . وأنا الصديق الأكبر لا يقولها بعدي إلا كذاب  صليت قبل الناس لسبع سنين

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail Ar Raziy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa yang berkata telah memberitakan kepada kami Al A’la bin Shalih dari Minhal dari ‘Abbad bin ‘Abdullah yang berkata Ali berkata “aku hamba Allah dan saudara Rasul-Nya dan aku adalah shiddiq al akbar tidak ada yang mengatakan setelahku kecuali ia seorang pendusta. Aku shalat tujuh tahun sebelum orang lain shalat [Sunan Ibnu Majah 1/44 no 120]

Riwayat ini juga disebutkan dalam Mustadrak Al Hakim no 4584, Sunan Al Kubra An Nasa’i no 8338, Khasa’is An Nasa’i no 7, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 32084,  Ma’rifat As Shahabah Abu Nu’aim no 322, Al Ahad Wal Matsani 1/148 no 178 dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1125. Semuanya diriwayatkan dari jalan Minhal bin Amru dari ‘Abbad bin Abdullah dari Ali. Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq kecuali ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asadiy ia seorang yang diperselisihkan tetapi pendapat yang rajih ia seorang yang hadisnya hasan.

  • Muhammad bin Ismail Ar Raziy adalah perawi Ibnu Majah telah meriwayatkan darinya Ibnu Majah, Abu Hatim dan yang lainnya. Abu Hatim berkata “shaduq” [At Tahdzib juz 9 no 60]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/56]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 4725]
  • Ubaidillah bin Musa seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat shaduq hasanul hadits. Al Ijli, Ibnu Ady dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan ia tasyayyu’. Ibnu Qani’ berkata orang kufah yang shalih dan tasyayyu’ [At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dan tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]
  • Al A’la bin Shalih adalah perawi Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i. Ibnu Ma’in dan Abu Dawud menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Sufyan, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan ia tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia meriwayatkn hadis-hadis mungkar”. Ibnu Khuzaimah berkata “syaikh” [At Tahdzib juz 8 no 331]. Ibnu Hajar berkata “shaduq pernah keliru” [At Taqrib 1/763]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat memiliki riwayat gharib [Al Kasyf no 4334]
  • Minhal bin ‘Amru Al Asdiy adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 10 no 556]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tertuduh keliru tetapi dikoreksi dalam At Tahrir kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 6918].
  • ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy seorang yang diperbincangkan kedudukannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 5 no 4268]. Al Ijli menyatakan ia tabiin kufah yang tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 840]. Bukhari berkata “fihi nazhar”. Ali bin Madini menyatakan ia dhaif al hadits. Ibnu Sa’ad berkata “ia memiliki hadits”. Ibnu Jauzi berkata “Ahmad bin Hanbal melemparkan hadisnya dari Ali “aku adalah shiddiq al akbar” dan berkata mungkar. Ibnu Hazm menyatakan ia majhul [At Tahdzib juz 5 no 165].

Mengenai perkataan Bukhari “fihi nazhar” maka terdapat pembicaraan oleh para ulama mengenai istilah ini. Ada yang mengatakan istilah ini bersifat jarh yang keras namun ada pula yang berkata bersifat pertengahan [tergantung qarinah yang ada]. Jarh ini dinyatakan oleh Bukhari dalam kitabnya Tarikh Al Kabir biografi Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy [tetapi ia tidak memasukkannya dalam Adh Dhu’afa] dan kemudian Bukhari menyebutkan hadis peristiwa turunnya ayat al inzar dimana Nabi mengumpulkan para kerabatnya. Tampaknya hadis ini yang dipermasalahkan oleh Bukhari.

Hadis yang dipermasalahkan Bukhari juga disebutkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya Tahdzib Al Atsar dan ia berkata “kabar ini di sisi kami sanadnya shahih” [Tahdzib Al Atsar no 1367]. Pernyataan Ibnu Jarir bahwa sanadnya shahih berarti di sisi Ibnu Jarir, ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy adalah seorang yang tsiqat. Hadis yang disebutkan Bukhari itu juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dimana Al Haitsami berkata “riwayat Ahmad dan sanadnya jayyid” [Majma’ Az Zawaid 9/146 no 14665] padahal Al Haitsami mengetahui kalau dalam sanad tersebut terdapat ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy. Pernyataan Al Haitsami kalau sanadnya jayyid itu berarti di sisi Al Haitsami ‘Abbad bin ‘Abdullah itu mendapat predikat ta’dil. Tidak bisa dikatakan kalau Al Haitsami tidak mengetahui pernyataan Bukhari soal ‘Abbad karena jelas-jelas dalam kitabnya Majma’ Az Zawaid, Al Haitsami pernah menulis “riwayat Abu Ya’la dan didalamnya ada ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy ditsiqatkan Ibnu Hibban dan berkata Bukhari “fihi nazhar” [Majma’ Az Zawaid 7/475 no 12029]. Hal ini membuktikan bahwa jarh Bukhari “fihi nazhar” di sisi Al Haitsami tidak mencegahnya untuk menta’dilkan ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy.

Mengenai pernyataan Ali bin Madini yang dikutip Ibnu Hajar itu tidak memiliki asal penukilan yang tsabit kecuali ia mengutip apa yang disebutkan Ibnu Jauzi dalam Adh Dhu’afa [Ad Dhu’afa Ibnu Jauzi no 1780]. Pernyataan Ali bin Madini ini tidak ditemukan dalam Tahdzib Al Kamal biografi ‘Abbad bin ‘Abdullah dan tidak juga ditemukan dalam Su’alat Ibnu Abi Syaibah yang merupakan kitab yang memuat pendapat Ali bin Madini terhadap para perawi hadis. Dan juga tidak ditemukan dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim yang terkadang memuat pendapat Ali bin Madini soal perawi hadis. Abu Hatim menyebutkan biografi ‘Abbad bin ‘Abdullah tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil [Al Jarh Wat Ta’dil 6/82 no 420]. Ini membuktikan jarh terhadap ‘Abbad tidaklah masyhur di kalangan mutaqaddimin.

Begitu pula dengan perkataan Ibnu Jauzi yang mengutip pendapat Ahmad bin Hanbal juga tidak memiliki asal penukilan, pernyataan ini tidak ditemukan dalam kitab Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal apalagi ternyata hadis ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy ini dimuat oleh Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Fadhail Ash Shahabah no 993. Bagaimana mau dikatakan Ahmad bin Hanbal melemparkan hadis itu kalau ternyata ia sendiri menyebutkannya dalam kitabnya Fadhail Ash Shahabah.

Mengenai pernyataan Ibnu Hazm kalau ‘Abbad majhul maka tertolak dengan adanya tautsiq dari para ulama seperti Ibnu Hibban, Al Ijli, Ibnu Jarir Ath Thabari dan Al Haitsami dimana sudah jelas majhulnya menjadi terangkat dengan adanya ta’dil dari ulama lain. Al Bushairi berkata soal hadis shiddiq al akbar riwayat ‘Abbad bin ‘Abdullah “hadis ini sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat” [Misbah Az Zujajah 1/20 no 49]. Itu berarti Al Bushairi juga menyatakan ‘Abbad bin ‘Abdullah tsiqat.

Kesimpulan yang kami pilih soal kedudukan ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy ini adalah ia seorang yang hadisnya hasan apalagi ia tergolong tabiin yang mendengar langsung dari Imam Ali. Kami tidak menafikan kalau ada sekelompok ulama yang melemahkan ‘Abbad seperti yang kami sebutkan diantaranya Bukhari, Ali bin Madini, Ibnu Jauzi yang diikuti oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi. Tetapi seperti yang telah kami bahas pada thread yang lain kalau sebenarnya mereka yang membicarakan ‘Abbad bin ‘Abdullah karena mereka menganggap bathil atu mungkar hadis yang ia riwayatkan. Tuduhan ini tidaklah memiliki bukti yang kuat, ambil contoh hadis “shiddiq al akbar” di atas yang dikatakan bathil atau mungkar oleh Adz Dzahabi dan yang lainnya, ternyata perkataan Imam Ali ini juga dikuatkan oleh riwayat Mu’adzah Al Adawiyah seperti yang kami sebutkan di atas. Soal lafaz lainpun juga tidak bisa dikatakan bathil karena juga telah diriwayatkan perawi lain dengan sanad yang hasan seperti berikut

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ , عَنِ الْحَارِثِ بْنِ حَصِيرَةَ , قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو سُلَيْمَانَ الْجُهَنِيُّ , يَعْنِي زَيْدَ بْنَ وَهْبٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيًّا عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَقُولُ : أَنَا عَبْدُ اللهِ , وَأَخُو رَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم , لَمْ يَقُلْهَا أَحَدٌ قَبْلِي , وَلاَ يَقُولُهَا أَحَدٌ بَعْدِي إلاَّ كَذَّابٌ مُفْتَرٍ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Al Harits bin Hashirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman Al Juhani yakni Zaid bin Wahb yang berkata aku mendengar Ali berkata di atas mimbar “aku adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorangpun sebelumku yang mengatakannya dan tidak pula seorang pun setelahku mengatakannya kecuali ia seorang pendusta yang mengada-ada” [Al Mushannaf 12/62 no 32742]

Atsar ini kedudukannya hasan. Telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Al Harits bin Hashirah seorang yang shaduq hasanul hadis.

  • Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ijli dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 110]
  • Al Harits bin Hashirah adalah perawi yang shaduq hasanul hadis. Ia adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad dan perawi Nasa’i dalam Khasa’is Ali. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Hibban, Al Ijli dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Abu Dawud berkata “seorang syiah yang shaduq”. Al Uqaili mengatakan “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. [At Tahdzib juz 2 no 236]
  • Zaid bin Wahb Al Juhani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Khirasy, Ibnu Sa’ad, Ibnu Hibban dan Al Ijli menyatakan “tsiqat” [At Tahdzib juz 3 no 781]

Begitu pula dengan perkataan Imam Ali kalau Beliau shalat tujuh tahun sebelum orang lain shalat tidak bisa dikatakan bathil karena memang dinyatakan dalam kabar yang shahih bahwa Beliau adalah orang yang pertama kali shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika belum diwajibkan perintah shalat kepada mereka yang baru memeluk islam.

حدثنا أبو داود قال حدثنا شعبة قال أخبرني عمرو بن مرة قال سمعت أبا حمزة عن زيد بن أرقم قال أول من صلى مع رسول الله صلى الله عليه و سلم علي

Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Amru bin Murrah yang berkata telah mendengar Abu Hamzah dari Zaid bin Arqam yang berkata “Orang yang pertama kali shalat bersama Rasulullah SAW adalah Ali” [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 2/61 no 713 dengan sanad yang shahih]

.

.

Kesimpulan Pembahasan

Kembali ke riwayat dengan lafaz “shiddiq al akbar”. Riwayat perkataan Imam Ali ini telah diriwayatkan oleh Mu’adzah Al Adawiyah dan ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy. Riwayat Mu’adzah terdapat pembicaraan seputar Sulaiman bin ‘Abdullah Abu Fathimah dimana ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya Nuh bin Qais dan Abu Hilal Raasibiy. Riwayat ‘Abbad bin ‘Abdullah Al Asdiy terdapat pembicaraan seputar dirinya dimana ia dita’dilkan oleh sebagian ulama dan dilemahkan oleh sebagian yang lain. Secara keseluruhan kedua riwayat ini saling menguatkan karena diantara para perawinya tidak ada pendusta atau terbukti pemalsu hadis maka riwayat perkataan Imam Ali tersebut adalah riwayat yang hasan.

Terdapat sebagian orang [terutama dari kalangan syiah] yang menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk menolak atau menafikan gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar. Kami tidak sependapat dengan pandangan ini. Pengakuan Imam Ali kalau beliau adalah shiddiq al akbar itu tidaklah menafikan kalau ada selain beliau yang dikatakan shiddiq. Sebagaimana yang diketahui kalau shiddiq al akbar itu berbeda dengan shiddiq. Gelar shiddiq bagi Abu Bakar adalah gelar yang masyhur dinisbatkan pada beliau dan disebutkan dalam tarikh kalau gelar ini diberikan karena beliau membenarkan peristiwa isra’ mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihadapan orang kafir. Kami pribadi tidak pernah menafikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar tetapi gelar tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mengutamakan beliau dari Imam Ali karena Imam Ali juga adalah seorang shiddiq bahkan beliau adalah shiddiq al akbar karena Imam Ali lebih dahulu membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding Abu Bakar. Salam Damai

10 Tanggapan

  1. pertamaxxxxxxxxxxxxx mahal…

  2. Kalau saya menafsirkan riwayat tersebut bukan MENGAKUI tapi MEMPERINGATI kembali bagi mereka dan kita2 sekarang. Wasalam

  3. Dgn memahami artikel tsb diatas, jelas bahawa gelar Ash Shiddiq hanya pantas disandang oleh Imam Ali, lalu siapa yg memberi gelar Ash Shiddiq kpd Abu Bakar? berdasar pd riwayat yg mana?
    Wassalam

  4. Kami pribadi tidak pernah menafikan gelar ash shiddiq bagi Abu Bakar tetapi gelar tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mengutamakan beliau dari Imam Ali karena Imam Ali juga adalah seorang shiddiq bahkan beliau adalah shiddiq al akbar karena Imam Ali lebih dahulu membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding Abu Bakar

    Saya pribadi pun demikian🙂

    Salam

  5. @armand
    Siddiq yang kita diskusikan bukan untuk membedakan keutamaan Imam Ali dan Abubakar. Tetapi apakah benar Abubakar diberikan PREDIKAT SIDDIQ oleh Rasulullah? Kalu pernah tolong diberitahukan pada kami sabda beliau ( haditsnya) serta atas dasar apa beliau digelar siddiq . Salam damai

  6. @chany

    Kalau mengenai hadits sy serahkan sepenuhnya kepada sang pakar yg empunya blog saja🙂

    Sy hanya ingin mengatakan bahwa gelar Ash-Shiddiq pada Abubakar pada hakikatnya adalah mirip-mirip dengan gelar Ummul Mu’minin yang diberikan Allah swt ke isteri-isteri Nabi saw.

    Salam

  7. Menurutku Kalau imam Ali brgelar shidiq al akbar, berarti ada shidiq lain..Al akbar itu keterangan/pembeda, jd tak mungkin ada pembeda kalau tdk ada yang dibedakan.

  8. Allahuma shali ala Muhammad wa ali Muhammad, indahnya pembahasan ini. makasich SP. sangat bermanfaat skali ^^,

  9. Assalamu’alaikum warahmatullahi waBarakatuh wahai uztaz..
    Saya ada hajat iaitu ingin meminta bantuan dari Ustaz berkenaan ilmu Aqidah Ahli Sunnah Wa al-Jamaah. Sebenarnya saya ingin meminta jasa baik ustaz dlm membantu saya membuat nilai tambah Projek Kajian Pembangunan Aqidah Ahli Sunnah Wa al-Jamaah di Universiti Kebangsaan Malaysia..

    Hajat saya ingin meminta sedekah ilmu-ilmu dari ustaz iaitu adakah Ustaz sudi menghulurkan artikal-artikal atau seumpamanya berbentuk file-file word or PDF tentang “AQIDAH SIFAT DUA PULUH (AQIDAH AHLU SUNNAH WA AL-JAMAAH)”. Sama ada dalam perbahasan SEJARAHNYA atau TAHQIQnya atau HUKUMnya atau PANDANGAN ULAMA atau PERBAHASAN ILMIYAH semua berhubung dengan tajuk SIFAT DUA PULUH atau AQIDAH AHLU SUNNAH WA AL-JAMAAH. Tiada masalah dalam bahasa Arab atau Melayu.

    Saya memohon agar diberi apa sahaja tentang berkaitan tajuk tersebut ini kerana ustaz adlah salah seorang kepakaran dalam bidang Aqidah sifat dua puluh.. saya amat berterima kasih dan semoga Allah membalas jasa Ustaz dgn ditambahkan ilmu agama dan difaqehkan dlm ilmu Agama ini.. AMIN..
    # Boleh terus di hantar melalui email saya,terima kasih ya al-Fadhil al-Ustaz..
    Yang benar..
    (MOHD SYAMIL BIN MOHAMAD SULAIMAN)
    I/C : 860402-56-5769
    P46878 M.A. USULUDDIN DAN FALSAFAH
    BLOG : http://pemikiran-firaq.blogspot.com/
    Email : syeikh_roti@yahoo.com

  10. Yakinilah yang engkau yakini dan amalkan. Nanti Alloh yang akan memutuskan apa yang kalian perselisihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: