Pembahasan Hadis “Ash Shiddiq” dan “Bintu Ash Shiddiq”

Pembahasan Hadis “Ash Shiddiq” dan “Bintu Ash Shiddiq”

Tulisan ini hanya sekedar melanjutkan pembahasan mengenai sebutan Ash Shiddiq yang dinisbatkan kepada Abu Bakar radiallahu ‘anhu dan bagi kami juga layak dinisbatkan kepada Imam Ali alaihis salam. Sekali lagi kami tekankan agar pembaca tidak salah memahami pandangan kami dalam masalah ini. Dengan melihat berbagai dalil yang ada maka kami katakan bahwa nisbah Ash Shiddiq tidak hanya diperuntukkan bagi Abu Bakar tetapi juga kepada Imam Ali.

Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih dalam penyebutan shiddiq adalah ketika Beliau bersama para sahabatnya berada di atas Hira atau Uhud, dan saat itu Abu Bakar dan Imam Ali juga ada bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti yang telah kami singgung sebelumnya terdapat beberapa hadis yang menunjukkan gelar Ash Shiddiq bagi Abu Bakar tetapi hadis tersebut tidaklah tsabit dan begitu pula terdapat beberapa hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan sebutan Ash Shiddiq bagi Imam Ali tetapi hadis tersebut juga tidak tsabit. Berikut adalah hadis yang dijadikan dalil sebutan Ash Shiddiq bagi Abu Bakar.

.

.

Hadis Aisyah Lafaz “Bintu ASh Shiddiq”

حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان حدثنا مالك بن مغول عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن هذه الآية { والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة } قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar telah menceritakan kepada kami Sufyaan telah menceritakan kepada kami Maalik bin Mighwal, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’iid bin Wahb Al-Hamdaaniy Bahwa ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aaisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175]

Hadis ini juga disebutkan dalam Musnad Ahmad 6/159 no 25302 dengan lafaz “bukan wahai putri Abu Bakar wahai putri Ash Shiddiq” dan Musnad Ahmad 6/205 no 25746 dengan lafaz “bukan wahai putri Abu Bakar atau bukan wahai putri Ash Shiddiq”, Musnad Al Humaidi 1/132 no 275 dengan lafaz “bukan wahai putri Ash Shiddiq”, Mustadrak Al Hakim 2/393-394 no 3486 dengan lafaz “bukan” , Syu’ab Al Iman Baihaqi 1/477 no 762 dengan lafaz “bukan”, Tafsir Ath Thabari 19/47 dengan lafaz “bukan wahai putri Abu Bakar atau putri Ash Shiddiq”.

Hadis ini sanadnya dhaif karena ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu. Abu Hatim berkata “Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu” [Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 429].

Hadis ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani ini juga diriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada Aisyah tetapi masih terdapat pembicaraan dalam sanadnya. Hadis tersebut diriwayatkan dengan jalan dari ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Aisyah sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ath Thabari 19/46 dengan lafaz jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “bukan” tanpa tambahan “putri Ash Shiddiq” dan disebutkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath 4/198 no 3965 dengan lafaz “bukan wahai Aisyah” tanpa menyebutkan  lafaz “putri Ash Shiddiq”.

Hadis ini juga diriwayatkan dalam Tafsir Ath Thabari 19/47 dengan sanad telah menceritakan kepada kami Al Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepadaku Jarir dari Laits bin Abi Sulaim dan Husyaim dari ‘Awwam bin Hausyab keduanya [Laits dan ‘Awwam] dari Aisyah hadis di atas dengan lafaz “wahai putri Abu Bakar atau wahai putri Ash Shiddiq”. Hadis ini memiliki dua jalan sanad yaitu

  • Dari Qasim dari Husain dari Jarir dari Laits bin Abi Sulaim dari Aisyah
  • Dari Qasim dari Husain dari Husyaim dari ‘Awwam bin Hausyab dari Aisyah

Kedua jalan ini dhaif. Jalan pertama dhaif karena Laits bin Abi Sulaim telah dilemahkan oleh jumhur muhadditsin apalagi disebutkan kalau ia mengalami ikhtilath di akhir umurnya dan tidak diketahui apakah periwayatan Jarir dari Laits ini diriwayatkan sebelum atau setelah Laits mengalami ikhtilath. Selain itu Laits bin Abi Sulaim dimasukkan Ibnu Hajar dalam thabaqat keenam artinya ia tidak bertemu dengan seorangpun dari kalangan sahabat sehingga riwayatnya dari Aisyah adalah mursal [At Taqrib 2/48]. Jalan kedua tidak tsabit sampai ke ‘Awwam bin Hausyab karena Husyaim bin Basyir adalah mudallis martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 111] dan disini riwayatnya dengan ‘an anah adalah dhaif. Selain itu ‘Awwam bin Hausyab dimasukkan Ibnu Hajar dalam tabaqat keenam artinya tidak bertemu dengan Aisyah sehingga riwayatnya disini mursal [At Taqrib 1/759]

Hadis Laits bin Abi Sulaim juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya dengan jalan sanad telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Abi Israil yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari seorang laki-laki dari Aisyah hadis di atas dengan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq atau wahai putri Abu Bakar” [Musnad Abu Ya’la 8/315 no 4917]. Hadis ini dhaif karena kelemahan Laits bin Abi Sulaim dan tidak diketahui apakah periwayatan Jarir dari Laits ini diriwayatkan sebelum atau setlah Laits mengalami ikhtilath serta majhulnya laki-laki yang meriwayatkan dari Aisyah.

Secara keseluruhan hadis ini sanadnya dhaif terutama lafaz “wahai putri Ash Shiddiq”. Yang meriwayatkan dari Aisyah adalah Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb, Laits bin Abi Sulaim dan ‘Awwam bin Hausyab. Jalan ini tidak bisa saling menguatkan. Jalan Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb dhaif karena inqitha’ dan tidak bisa dikuatkan oleh jalan Laits bin Abi Sulaim karena Laits sendiri seorang yang dhaif dan riwayatnya juga inqitha’. Sedangkan jalan ‘Awwam bin Hausyab sendiri tidaklah tsabit sampai kepadanya ditambah lagi jalan ‘Awwam bin Hausyab juga inqitha’.

Memang jika dilihat diantara para syaikh [guru] Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb termasuk perawi-perawi yang tsiqat yaitu Sa’id bin Wahb, Salman Abu Hazim dan Asy Sya’bi tetapi hal ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk menguatkan riwayat ini seolah-olah riwayat ini berasal dari salah satu dari ketiga syaikh-nya bukan selainnya. Ini namanya menduga-duga alias mencari-cari hujjah karena yang namanya kemungkinan tidaklah menafikan kemungkinan yang lain apalagi diantara para syaikh Abdurrahman yang dikatakan meriwayatkan dari Aisyah adalah Asy Sya’bi dan riwayat Asy Sya’bi dari Aisyah sendiri ternyata mursal juga [Jami’ At Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 322]

Catatan : dalam kebanyakan riwayat Aisyah ini dibawakan dengan lafaz “wahai putri Abu Bakar atau wahai putri Ash Shiddiq”. Terdapat keraguan perawi soal lafaz yang benar, ada yang mengatakan keraguan ini tidak memudharatkan karena tidak menafikan satu dengan yang lainnya. Tentu saja yang jadi masalah ini bukan soal menafikan atau tidak tetapi soal yang mana yang tsabit dari lafaz tersebut karena tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan dengan lafal yang mengandung syak [keraguan] seperti itu. Bahkan dalam sebagian riwayat Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb yang dikatakan sanad paling kuat dalam masalah ini tetap saja memuat lafaz “wahai putri Abu Bakar atau wahai putri Ash Shiddiq” [lihat riwayat Ahmad dan Ath Thabari] dan sebagian lainnya hanya memuat lafaz “tidak” tanpa ada tambahan “putri shiddiq” [lihat riwayat Al Hakim dan Baihaqi]. Jadi masih ada kemungkinan lafaz “putri shiddiq” ini adalah tambahan dari perawinya. Riwayat Abdurrahman bin Sa’id dalam Sunan Tirmidzi di atas yang dengan jelas menyebutkan lafaz “putri Ash Shiddiq” tidak bisa dijadikan hujjah untuk menolak kemungkinan ini karena bisa saja perawi diantara Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb dan Aisyah yang menambahkan lafaz “putri Ash Shiddiq” tersebut karena dalam jalan sanad yang maushul dari Aisyah tidak terdapat lafaz “wahai putri Ash Shiddiq”.

 

حدثنا الحميدي قال ثنا سفيان قال ثنا داود بن أبي هند عن الشعبي عن مسروق عن عائشة أنها قالت يا رسول الله يوم تبدل الأرض غير الأرض فأين الناس يومئذ قال على الصراط يا بنت الصديق

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Hind dari Asy Sya’bi dari Masruq dari Aisyah bahwa ia pernah berkata “wahai Rasulullah pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, maka dimanakah manusia pada saat itu?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “di atas shiraath wahai putri Ash Shiddiq” [Musnad Al Humaidi 1/132 no 274]

Penyebutan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” dalam hadis ini adalah tambahan dari salah satu perawinya karena dalam semua riwayat hadis ini selain riwayat Al Humaidi di atas tidak mengandung lafaz tersebut. Hadis di atas diriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind dari Asy Sya’bi dimana terkadang ia meriwayatkan dari Aisyah dan terkadang melalui perantaraan Masruq.

  • Abdul A’la meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Musnad Ishaq bin Rahawaih 3/802 no 1438 dan 3/932 no 1633, Tafsir Ath Thabari 17/50]. Abdul A’la bin Abdul A’la seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/551]
  • Wuhaib bin Khalid meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Musnad Ahmad 6/134 no 25067]. Wuhaib bin Khalid seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/293]
  • Ismail bin ‘Ulayyah meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Musnad Ahmad 6/218 no 25870]. Ismail bin ‘Ulayyah seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 1/90]
  • Yazid bin Zurai’ meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Tafsir Ath Thabari 17/50]. Yazid bin Zurai’ seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/324]
  • Bisyr bin Mufadhdhal meriwayatkan dari Dawud dengan matan riwayat serupa dengan riwayat Yazid bin Zurai’ yaitu dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Tafsir Ath Thabari 17/50]. Bisyr bin Mufadhdhal seorang ahli ibadah yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/130]
  • Rib’iy bin Ibrahim Al Asdiy meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Tafsir At Thabari 17/51]. Rib’iy bin Ibrahim Al Asdiy seorang yang tsiqat shalih [At Taqrib 1/292]
  • Abdurrahiim bin Sulaiman Al Kinaniy meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Tafsir Ath Thabari 17/50]. Abdurrahiim bin Sulaiman Al Kinaniy seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/598]
  • Ismail bin Zakariya Al Asdiy meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz serupa lafaz riwayat Abdurrahiim bin Sulaiman Al Kinaniy yaitu “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Tafsir Ath Thabari 17/50]. Ismail bin Zakariya seorang yang shaduq dan sedikit salahnya [At Taqrib 1/94]
  • Muhammad bin Ibrahim bin Abi ‘Adiy meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Musnad Ahmad 6/35 no 24115]. Muhammad bin Ibrahim bin Abi ‘Adiy seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/50]
  • Aliy bin Mushir meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Sunan Ibnu Majah 2/1430 no 4279 dan Shahih Muslim 4/2150 no 2790]. Aliy bin Mushir seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/703]
  • Khalid bin ‘Abdullah meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Sunan Ad Darimi 2/423 no 2809]. Khalid bin Abdullah Al Wasithiy seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/259]
  • Ubaidah bin Humaid Al Kufiy meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Shahih Ibnu Hibban 16/387 no 7380]. Ubaidah bin Humaid Al Kufiy seorang yang shaduq tetapi pernah salah [At Taqrib 1/649]
  • Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Shahih Ibnu Hibban 2/40 no 331]. Hafsh bin Ghiyats seorang yang tsiqat faqih mengalami sedikit perubahan hafalan di akhir umurnya [At Taqrib 1/229]
  • Mahbub bin Hasan meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” [Mustadrak Al Hakim juz 2 no 3344]. Mahbub Bin Hasan adalah Muhammad bin Hasan bin Hilal seorang yang shaduq tetapi ada kelemahan padanya [At Taqrib 2/67]

Dapat dilihat bahwa jamaah tsiqat telah meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq”. Hanya Sufyan bin Uyainah yang meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath wahai putri Ash Shiddiq”. Lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” adalah tambahan dari perawinya mungkin Sufyan bin Uyainah atau mungkin Al Humaidi disini kemungkinan besar yang keliru adalah Sufyan bin Uyainah karena walaupun ia dikatakan seorang yang tsiqat faqih hafizh imam hujjah tetapi ia juga mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya [At Taqrib 1/371]. Apalagi di saat lain Sufyan bin Uyainah juga meriwayatkan dari Dawud dengan lafaz “di atas shiraath” tanpa tambahan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” seperti riwayat berikut

حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان عن داود بن أبي هند عن الشعبي عن مسروق قال تلت عائشة هذه الآية { يوم تبدل الأرض غير الأرض } قالت يا رسول الله فأين يكون الناس ؟ قال على الصراط

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Dawud bin Abi Hind dari Asy Sya’bi dari Masruq yang berkata Aisyah bertanya tentang ayat “pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain” Aisyah bertanya wahai Rasulullah dimanakah manusia pada saat itu?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab “di atas shiraath” [Sunan Tirmidzi 5/296 no 3121 dishahihkan oleh Tirmidzi]

Riwayat dengan lafaz inilah yang sesuai dengan riwayat jamaah tsiqat dari Dawud bin Abi Hind sedangkan riwayat dengan lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” bisa jadi adalah tambahan dari Sufyan bin Uyainah karena diantara semua murid Dawud bin Abi Hind tidak ada satupun yang meriwayatkan dengan lafaz tambahan tersebut. Padahal kalau diperhatikan baik-baik lafaz “wahai putri Ash Shiddiq” terikat dengan lafaz “di atas shiraath” karena merupakan satu kalimat jawaban dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi sangat tidak masuk akal kalau jamaah perawi tsiqat bersepakat untuk memotong atau tidak menyebutkan lafaz perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam tersebut. Jauh lebih mungkin kalau Sufyan bin Uyainah yang keliru menambahkan lafaz tersebut apalagi disini yang meriwayatkan dengan tanpa tambahan lafaz itu sangat banyak bukannya satu atau dua orang perawi bahkan sebagian diantaranya tidak kalah tsiqat tsabit dibanding Sufyan bin Uyainah.

.

.

.

Atsar Muhammad bin Sirin

حدثنا أبو أسامة عن هشام عن محمد قال ذكر رجلان عثمان فقال أحدهما قتل شهيدا ، فتعلق به الآخر فأتى به عليا فقال هذا يزعم أن عثمان بن عفان قتل شهيدا ، قال قلت ذاك ، قال نعم ، أما تذكر يوم أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وعنده أبو بكر وعمر وعثمان ، فسألت النبي صلى الله عليه وسلم فأعطاني وسألت أبا بكر فأعطاني ، وسألت عمر فأعطاني ، وسألت عثمان فأعطاني فقلت : يا رسول الله ! ادع الله أن يبارك لي قال ” وما لك لا يبارك لك وقد أعطاك نبي وصديق وشهيدان ” ، فقال علي دعه دعه دعه

Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah dari Hisyaam dari Muhammad ia berkata dua orang laki-laki membicarakan ‘Utsmaan. Salah seorang di antara keduanya berkata “Ia terbunuh sebagai syahiid”. Namun temannya membantahnya, yang kemudian ia menghadapkannya kepada ‘Aliy. Orang tersebut berkata “Orang ini berkata bahwa ‘Utsmaan bin ‘Affaan terbunuh sebagai syahiid”. ‘Aliy bertanya kepada temannya “Apakah engkau mengatakannya ?”. Ia berkata “benar, tidakkah engkau ingat pada hari ketika aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dimana di samping beliau ada Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan. Maka aku meminta sesuatu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau pun memberiku. Dan aku meminta sesuatu kepada Abu Bakr, ia pun memberiku. Dan aku meminta meminta sesuatu kepada ‘Umar, ia pun memberiku. Dan aku meminta sesuatu kepada ‘Utsmaan, ia pun memberiku. Lalu aku berkata ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku diberikan barakah”. Beliau bersabda “Bagaimana engkau ini tidak diberkahi, padahal Nabi, shiddiiq, dan dua orang syahiid telah memberimu”. ‘Aliy berkata “Biarkan ia, biarkan ia, biarkan ia” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/19].

Riwayat ini juga dibawakan Abu Ya’la dalam Musnad-nya dengan jalan sanad dari Hudbah dari Hammam dari Qatadah dari Ibnu Sirin dengan matan seperti di atas [Musnad Abu Ya’la 3/176 no 1601]. Dan diriwayatkan oleh Aslam bin Sahl Al Wasithi dengan jalan sanad dari Mubarak bin Fadahalah dari Yunus bin Ubaid dari Ibnu Sirin [Tarikh Wasith 1/211]. Kisah ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat hingga ke Muhammad bin Sirin tetapi riwayat ini mengandung illat [cacat] yaitu inqitha’ sanadnya [terputus] karena Muhammad bin Sirin tidaklah menyaksikan peristiwa tersebut.

Muhammad bin Sirin memang menemui masa kekhalifahan Ali, tetapi ketika itu ia masih sangat kecil dan belum memenuhi syarat untuk menerima atau meriwayatkan hadis. Muhammad bin Sirin lahir dua tahun akhir kekhalifahan Utsman radiallahu ‘anhu [At Tahdzib juz 9 no 338]. Jadi ketika Utsman terbunuh dan Imam Ali memegang pemerintahan umur Muhammad bin Sirin masih sekitar dua atau tiga tahun, tentu saja dengan usia seperti ini periwayatannya tidak bisa diterima. Selain itu tidak ada satupun ulama yang menyebutkan kalau Muhammad bin Sirin meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Walaupun dikatakan ia juga meriwayatkan dari para sahabat tetapi tidak bisa dinafikan kalau iapun sering mengirsalkan hadis diantaranya riwayat mursalnya adalah dari Ibnu Abbas, Abu Darda, Ma’qil bin Yasar, Aisyah dan yang lainnya [Jami’ At Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 683].

.

.

.

Hadis Nabi Shiddiq dan Syahid

Seperti yang telah kami jelaskan dalam pembahasan sebelumnya kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya di atas Uhud atau Hira dimana Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalau di atasnya terdapat Nabi, shiddiq dan syahid adalah shahih. Hanya saja kami menafsirkan kalau shiddiq yang ada disana tidak hanya tertuju pada Abu Bakar ra tetapi juga tertuju kepada Imam Ali alalihis salam. Tentu saja penafsiran ini berdasarkan dua hal

  • Keduanya Imam Ali dan Abu Bakar ikut berada di sana baik di atas Hira atau Uhud ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan sabda tersebut.
  • Keduanya memiliki kelayakan untuk dinyatakan sebagai Shiddiq. Imam Ali layak dikatakan shiddiq karena Beliaulah yang pertama kali membenarkan risalah Kenabian [berdasarkan riwayat shahih] dan Beliau senantiasa membenarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar ra layak dikatakan shiddiq karena telah masyhur bahwa ia telah membenarkan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihadapan kaum kafir.

Mengenai kisah ini memang terdapat sebagian riwayat yang menunjukkan kalau peristiwa itu terjadi di uhud dan sebagian riwayat yang menunjukkan kalau peristiwa itu terjadi di hira. Menurut kami semua riwayat itu tsabit sehingga tidak mungkin dilakukan tarjih menguatkan yang satu dan menafikan yang lainnya. Kesimpulan yang benar sudah tentu menjamak kedua versi riwayat tersebut. Kisah ini terjadi di kedua tempat tersebut yaitu di Hira dan di Uhud. Kemudian baik di Hira dan di Uhud Imam Ali dan Abu Bakar ada di sana bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Hadis Tentang Hira

حدثنا عاصم الأحول ثنا معتمر عن أبيه عن قتادة عن أبي غلاب عن رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا على حراء فرجف بهم أو تحرك بهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم اثبت فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al ‘Ahwal yang menceritakan kepada kami Mu’tamar dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Ghallab dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman berada di atas Hira’ kemudian tanah mengguncangkan mereka atau menggerakkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1440 dan Al Ahad Wal Matsaaniy 5/341 no 2902].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا علي بن الحسن أنا الحسين ثنا عبد الله بن بريدة عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان جالسا على حراء ومعه أبو بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فتحرك الجبل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أثبت حراء فإنه ليس عليك إلا نبي أو صديق أو شهيد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan yang berkata menceritakan kepada kami Husain yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas Hira’ dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman radiallahu ‘anhum kemudian gunung tersebut bergerak [bergetar] maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Hira’ sesungguhnya tidak ada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” [Musnad Ahmad 5/346 no 22986, Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”]

Tentu kalau hanya berlandaskan hadis di atas maka dapat disimpulkan kalau yang berada di Hira bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra. Tetapi kalau kita mengumpulkan berbagai riwayat lain tentang Hira ini maka dapat diketahui kalau Imam Ali berada di sana dan juga sahabat lainnya.

حَدَّثَنَا  مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الأَزْدِيُّ قَالَ نا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ أنا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَلَى حِرَاءٍ فَتَحَرَّكَ ، فَقَالَ مَا عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Syaqiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian tanahnya bergerak-gerak. Beliau berkata “tidaklah diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali radiallahu ‘anhum ajma’iin [Musnad Al Bazzar no 4419]

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبد العزيز بن محمد عن سهيل بن أبي صالح عن ابيه عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان على حراء هو و أبو بكر و عمر و علي و عثمان و طلحة و الزبير رضي الله عنهم فتحركت الصخرة فقال النبي صلى الله عليه و سلم اهدأ إنما عليك نبي أو صديق أوشهيد

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih]

ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن حصين عن هلال بن يساف عن عبد الله بن ظالم قال خطب المغيرة بن شعبة فنال من علي فخرج سعيد بن زيد فقال ألا تعجب من هذا يسب عليا رضي الله عنه أشهد على رسول الله صلى الله عليه و سلم انا كنا على حراء أو أحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم أثبت حراء أو أحد فإنما عليك صديق أو شهيد فسمى النبي صلى الله عليه و سلم العشرة فسمى أبا بكر وعمر وعثمان وعليا وطلحة والزبير وسعدا وعبد الرحمن بن عوف وسمى نفسه سعيدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id[Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

حدثنا محمد قثنا محمد بن إسحاق قثنا روح قثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال صعد النبي صلى الله عليه وسلم حراء أو أحدا ومعه أبو بكر وعمر وعثمان فرجف الجبل فقال اثبت نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata menceritakan kepada kami Rawh yang berkata menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Hira’ atau Uhud dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “ diamlah, ada Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [Fadha’il Ash Shahabah no 869 dishahihkan oleh Washiullah ‘Abbas]

Di dalam hadis ini dikatakan terdapat lafal yang mengandung syak yaitu “Hira atau Uhud”. Ada yang mengatakan kalau syak seperti ini bukan jenis yang dapat dijamak karena kedua tempat tersebut berbeda dan berjauhan letaknya sedangkan peristiwa yang dibicarakan satu. Pernyataan ini keliru dan mungkin memang begitulah keterbatasan akalnya dalam memahami matan riwayat. Syak seperti ini masih dapat dijamak yaitu dengan memahami bahwa peristiwa tersebut terjadi di kedua tempat yaitu Hira dan Uhud. Terdapat riwayat shahih kalau peristiwa ini terjadi Hira dan terdapat riwayat shahih kalau peristiwa ini juga terjadi di Uhud. Jadi dimana letak susahnya menjamak lafal tersebut. Pendapat yang benar adalah riwayat yang mengandung lafal “Hira atau Uhud” menunjukkan kalau peristiwa itu memang terjadi di kedua tempat tersebut baik di Hira ataupun Uhud.

ثنا يحيى بن خلف حدثنا أبو داود ثنا عمران عن قتادة عن أنس ابن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان على حراء فرجف بهم فقال أثبت فإنما عليك نبي أو صديق أو شهيد وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم وعمر وعثمان وعلي

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf yang menceritakan kepada kami ‘Abu Dawud yang menceritakan kepada kami ‘Imran dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian gunung mengguncangkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar, Utsman dan Ali [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1439]

Hadis di atas para perawinya tsiqat kecuali ‘Imran Al Qaththan dia seorang yang hasanul hadis. Dia adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan darinya yang berarti ia menganggapnya tsiqat. Yahya Al Qaththan memujinya. Ahmad berkata “ aku berharap hadisnya baik”. Ibnu Ma’in berkata “tidak kuat”. Abu Dawud terkadang berkata “termasuk sahabat Hasan dan tidaklah aku dengar tentangnya kecuali yang baik” terkadang Abu Dawud berkata “dhaif”. As Saji berkata “shaduq”. ‘Affan menyatakan tsiqat. Bukhari berkata “shaduq terkadang salah”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata “banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “shaduq”. Ibnu Ady berkata “ditulis hadisnya” [At Tahdzib juz 8 no 226]. Pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang shaduq terdapat kelemahan pada hafalannya tetapi tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Al Albani. Ada orang yang melemahkan hadis Imran dari Qatadah ini dengan alasan ia telah menyelisihi para perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Qatadah dimana

  • Imraan menyebutkan Hira sedangkan perawi yang lain menyebutkan Uhud
  • Imraan menyebutkan Ali sedangkan perawi yang lain menyebutkan Abu Bakar

Tentu saja penyelisihan yang dimaksud tidaklah benar. Bukankah telah disebutkan sebelumnya berbagai riwayat tsabit menyatakan bahwa kisah ini tidak hanya terjadi di Uhud tetapi terjadi juga di Hira. Berbagai hadis Hira yang lain menjadi saksi kebenaran riwayat Imraan dari Qatadah dari Anas tentang Hira. Apakah suatu hal yang aneh jika Anas terkadang menyatakan  peristiwa di Uhud dan terkadang di Hira?. Jelas tidak karena peristiwa itu memang terjadi di kedua tempat Hira dan Uhud. Begitu pula terbukti dalam hadis-hadis Hira tersebut kalau Imam Ali memang berada disana jadi Imraan tidaklah menyendiri dalam penyebutan Imam Ali di Hira. Tentu saja tidak bisa disimpulkan dari riwayat Imraan kalau orang yang dimaksud hanya terbatas pada Umar Utsman dan Ali karena berbagai riwayat lain juga menunjukkan kalau Abu Bakar dan sahabat lainnya juga berada disana. Kesimpulannya hadis Imraan ini hasan dan penyelisihan yang dituduhkan itu telah dikuatkan oleh berbagai riwayat tsabit yang lain.

Dengan berbagai hadis ini maka dapat disimpulkan kalau penyebutan Abu Bakar, Umar dan Utsman disana tidak bersifat mengkhususkan karena terbukti para sahabat lain termasuk Imam Ali juga berada di sana. Kesimpulan pada pembahasan hadis Hira ini adalah Imam Ali dan Abu Bakar keduanya berada disana bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Hadis Tentang Uhud

حدثنا محمد بن بشار حدثنا يحيى بن سعيد عن سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صعد أحدا و أبو بكر و عمر و عثمان فرجف بهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697]

Jika melihat hadis ini saja maka terlihat hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman yang ada di Uhud bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam padahal riwayat-riwayat lain membuktikan kalau terdapat sahabat lain termasuk Imam Ali yang ikut berada di sana.

حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالا ثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْكُوفَةِ فِي زَمَانِ زِيَادِ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ يَسُبُّ أَصْحَابَنَا وَاللَّهِ لا نَفْعَلُ أَشْهَدُ لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَأَنَا وَفُلانٌ فَحَفِظَهُمْ زَيْدٌ حَتَّى اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلا عَلَى أُحُدٍ فَرَجَفَ بِنَا الْجَبَلُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” اسْكُنْ أُحُدُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ ” فَسَكَنَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Yazid bin Sinan dan ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abi Maryam yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepadaku Zaid bin ‘Aslam yang berkata telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Iraq bahwasanya ia pergi ke masjid yaitu masjid kufah di zaman Ziyad bin Abi Sufyan dan dia [Ziyad] pada hari itu mencaci sahabat kami. [laki-laki itu berkata] “demi Allah jangan melakukannya, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, aku, fulan, Zaid menghafal sampai ada dua belas orang diatas Uhud. Kemudian gunung tersebut berguncang maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “tenanglah Uhud sesungguhnya tidaklah berada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” maka tenanglah gunung Uhud [Al Kuna Ad Duulabiy 1/89]

Ad Duulabiy menyebutkan kalau laki-laki penduduk Irak yang dimaksud adalah Sa’id bin Zaid radiallahu ‘anhu. Ini adalah sebuah kemungkinan yang tidak menafikan kemungkinan yang lain karena Zaid bin Aslam tidak dikenal meriwayatkan dari Sa’id bin Za’id dan Sa’id bin Zaid juga tidak dikenal sebagai penduduk Irak. Siapapun laki-laki penduduk Irak tersebut ia adalah seorang sahabat Nabi yang ikut menyaksikan peristiwa di uhud. Riwayat ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat termasuk Ad Duulabiy sendiri.

Daruquthni berkata tentang Ad Dulabiy “ia dibicarakan tidaklah nampak dalam urusannya kecuali kebaikan”. Ibnu Khalikan berkata “ia seorang yang alim dalam hadis khabar dan tarikh”. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang Imam hafizh dan alim. Ibnu Yunus berkata “ia telah dilemahkan” tetapi Ibnu Yunus juga mengatakan hadis tulisannya baik. Ibnu Ady berkata “ia tertuduh terhadap apa yang dikatakannya pada Nu’aim bin Hammad karena sikap kerasnya terhadap ahlur ra’yu” dan memang disebutkan Ibnu Ady kalau ia fanatik terhadap mahzab hanafi yang dianutnya. Pembicaraan terhadap Ad Dulabiy bukan terkait dengan hadis-hadisnya tetapi terkait dengan sikap terhadap mahzab hanafi yang dianutnya dan tentu saja pembicaraan ini tidak berpengaruh bagi kedudukannya sebagai seorang periwayat dan penulis hadis. Kesimpulannya ia seorang yang tsiqat seperti yang disebutkan dalam Irsyad Al Qadhi no 781

Sebagian orang berusaha melemahkan riwayat Ad Duulabiy di atas dengan alasan riwayat tersebut tidak mahfuzh karena semua riwayat Sa’id bin Zaid menyebutkan kisah Hira bukannya Uhud. Terdapat dua kemungkinan soal riwayat Ad Duulabiy ini.

  • Kemungkinan pertama laki-laki penduduk Irak itu bukanlah Sa’id bin Zaid maka gugurlah hujjah pertentangannya [yang dituduhkan] dengan riwayat Sa’id bin Zaid.
  • Kemungkinan kedua laki-laki itu adalah Sa’id bin Zaid maka seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya kisah ini terjadi di Hira dan Uhud jadi tidaklah bertentangan kalau Sa’id bin Zaid terkadang menyatakan kesaksian soal Hira dan terkadang menyatakan kesaksian soal Uhud.

Jika diperhatikan matan riwayat Sa’id bin Zaid yang dibawakan dalam berbagai kitab hadis kemudian dibandingkan dengan riwayat Ad Duulabiy di atas maka terdapat petunjuk kalau kisah Ad Duulabiy ini berbeda dengan riwayat Sa’id bin Zaid yang lain.

Disebutkan diantaranya dalam Musnad Ahmad 1/188 no 1638, Sunan Nasa’i 5/58 no 8205 dan Mustadrak Al Hakim no 5898 kalau kisah Sa’id bin Zaid itu terjadi pada masa Mughirah bin Syu’bah menjadi gubernur Kufah dan ia berkhutbah mencela Ali dihadapan orang-orang termasuk Sa’id bin Zaid maka Sa’id menyampaikan hadis tersebut. Sedangkan riwayat Ad Duulabiy menyebutkan kalau kisah tersebut terjadi di masa Ziyad bin Abihi menjadi gubernur kufah [menggantikan Mughirah bin Syu’bah] dan ia berkhutbah mencaci sahabat Nabi [kemungkinan Imam Ali]. Jadi tidak ada alasan untuk mempertentangkan keduanya. Terlepas dari apakah laki-laki penduduk kufah itu adalah Sa’id bin Zaid atau bukan yang penting kisah riwayat Ad Duulabiy ini terjadi di zaman Ziyad bin Abihi bukan di zaman Mughirah bin Syu’bah.

Dengan riwayat ini diketahui kalau pada saat itu yang berada di Uhud ada dua belas orang yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan tiga orang yang tidak disebutkan namanya [diantara ketiga orang itu terdapat sahabat Nabi yang dalam riwayat Ad Duulabiy di atas termasuk penduduk Irak pada zaman Ziyad bin Abihi]. Sedangkan dalam kisah Hira yang ada saat itu beradasarkan riwayat Sa’id bin Zaid ada sepuluh orang yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad dan Sa’id bin Zaid. Baik di Hira ataupun Uhud Imam Ali dan Abu Bakar ada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

ثنا عبيد الله بن معاذ ثنا أبي عن سعيد عن قتادة عن أنس بن مالك قال صعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدا واتبعه أبو بكر وعمر وعثمان وعلي فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Uhud dan mengikutinya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Uhud, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1438]

Hadis ini secara zahir sanadnya shahih tetapi mengandung illat [cacat] yaitu Sa’id bin Abi Arubah mengalami ikhtilath dan tidak diketahui apakah Mu’adz termasuk yang meriwayatkan dari Sa’id sebelum atau sesudah ikhtilath. Memang para perawi lain yang meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Arubah tidak menyebutkan nama Imam Ali tetapi ini tidaklah bertentangan, apalagi riwayat ini dikuatkan oleh riwayat Ad Duulabiy sebelumnya yang menyebutkan kalau Imam Ali juga ada di atas Uhud. Jadi tidak ada alasan untuk menolak tambahan lafazh “Ali” dalam riwayat di atas karena terbukti dalam riwayat shahih kalau Imam Ali memang berada di sana.

Secara keseluruhan metode yang kami gunakan disini adalah menjamak semua hadis-hadis yang berkaitan dengan kisah ini karena metode ini lebih baik dari pada metode tarjih. Kesimpulan dari pengumpulan semua hadis-hadis di atas adalah kisah ini terjadi di Hira dan Uhud dimana pada saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya termasuk Abu Bakar dan Imam Ali. Jadi tidak berlebihan jika kami katakan lafal “shiddiq” yang dimaksud dalam hadis di atas tidak tertuju hanya kepada Abu Bakar tetapi juga kepada Imam Ali karena Beliau juga layak disebut Ash Shiddiq. Salam Damai

21 Tanggapan

  1. Kita yang berusaha mencari kebenaran, akan bertanya wajarkah gelar ini disandang oleh Abubakar? Sebab kalau kita teliti sejarah dan riwayat2 dari Abubakar semasa kehalifaannya, banyak tindakan2 yang keluar dari KEBENARAN (SIDDIQ). Wasalam

  2. Gelar Ash-Shiddiq yang diberikan oleh Nabi saw kepada sayyidina Abubakar adalah karena pembenarannya atas kejadian Isra’ Mi’raj nya Nabi saw. Sy sih meyakini hal ini mengingat budi yang luhur dari junjungan kita Nabi Muhammad saw yang selalu memberikan pujian-pujian kepada sikap-sikap dan perbuatan yang baik/mulia dari para sahabatnya. Jika pun orang yg mendapat pujian kemudian berprilaku tidak spt yg diamanatkan Nabi saw, maka itu hanyalah bagian dari sisi kemanusiaan dan bukti ketidakmaksuman.
    Di sisi lain, menurut sy, gelar kehormatan/kemuliaan apa pun yg diberikan Nabi saw kepada para sahabat Beliau pada hakikatnya kan hanya akan semakin menunjukkan bagaimana tingginya kualitas Imam Ali as.

    Salam

  3. @armand
    Harus kita pahami dan yakini bahwa : SETIAP UCAPAN NABI ADALAH WAHYU. Jangan samakan Rasul dengan manusia biasa yang seenaknya memberikan gelar KEHORMATAN. Setiap ucapan Rasulullah berlaku untuk seterusnya. Dan apabila perkataan Nabi adalah WAHYU itu berarti dari Allah. Apakah dengan sekali berbuat baik Nabi langsung memberikan GELAR?
    Apakah Allah tidak mengetahui bahwa mereka yang diberikan gelar kehormatan akan berubah? Wasalam

  4. Semakin teliti kita meneliti kerak-gerik para sahabat Rasulullah pada zaman Rasulullah dan setelah beliau wafat…semakin terlihat kemulian yg Allah berikan kepada Rasulullah.

    1.Pada Zaman Rasulullah…gerak-gerik para sahabat tidak ada yg menyimpang dari ajaran islam…inilah kebesaran hikmah Rasulullah sebagai rahmatan lil alamin…yang dipagari oleh kalimat ” LA ILAHA ILLAH MUHAMMAD DARASULLAH”

    2.Pada zaman setelah Rasulullah wafat…ada beberapa kerak-gerik sahabat yang keluar dari ajaran islam…ini adalah mengukuhkan siapa yg berhak memposisikan diri sebagai Imam yg makhsum…dan inilah Hikmah Imam Ali K.W…

    Ya Allah sungguh besar kekuasaanMU…

  5. Saya tidak peduli, apakah Sayyidina Abu bakar termasuk Ash-shiddiq atau tidak. Bagi saya itu tidak penting. Jika sayyidina Abu bakar itu memang Ash-Shiddiq, saya ikut senang. Kalopun tidak, ya sudah. Biarin aja.

    Saya juga tidak peduli, apakah Sayyidina Umar itu termasuk Al-Faruq atau bukan. Bagi saya itu tidak penting. Jika sayyidina Umar itu memang Al-Faruq saya ikut senang. Kalopun tidak, ya sudah. Biarin aja.

    Saya juga tidak peduli, apakah Sayyidina Utsman itu termasuk Asy-Syahid atau bukan. Bagi saya itu tidak penting. Jika sayyidina Utsman itu memang AsySyahid, saya ikut senang. Kalopun tidak, ya sudah. Biarin aja.

    Yang lebih penting adalah saya meyakini dan peduli bahwa Imam Ali adalah Ash-Shiddiq alAkbar. Beliau juga Al-Faruq AlAkbar sekaligus AsySyahid AlAkbar. Jika saya harus memilih, siapakah murid terbaik dari madrasah Rasulullah, maka Imam Ali adalah jawabannnya.

    Kepribadian beliau begitu mempesona, sehingga saya kesulitan untuk mencari kekurangan-kekurangannya. Kalaupun ada kekurangannya, maka kekurangannya adalah kelebihannya yang luar biasa sehingga membuat iri setiap musuh-musuhnya.

    Keberaniannya membuat decak kagum, sehingga setiap pemberani hatinya kan bergetar. Beliau tidak pernah mundur dari setiap pertempuran, kalaupun mundur maka beliau lakukan untuk menarik nafas dan melihat situasi untuk kemudian maju kembali.

    Tidak ada satupun lawan yang mampu menjatuhkannya, justru setiap lawan berhasil beliau jatuhkan. Pukulan pedangnya tepat, tebasan-nya kuat. Demikian beraninya beliau, sehingga memaksa beliau harus menggunakan topeng agar lawan-lawannya memiliki keberanian untuk melawan beliau.

    Ilmu beliau, oh jangan tanyakan tentang ilmu beliau. Ilmu beliu laksana samudra, tidak akan habis walaupun setiap orang menimba ilmu dari beliau.

    Pidato beliau, duh bagaimana saya harus menjelaskan kehebatan orasi beliau. Beliau adalah mercusuar dalam bidang orasi. Beliau adalah orator ulung tanpa tanding. Logika beliau cemerlang, tajam dan terpecaya. Tidak ada satupun yang mampu mengungguli dan mengalahkan orasi beliau. Walaupun demikian, walaupun orasi beliau penuh dengan logika-logika cemerlang, tetap saja orasi beliau tidak meninggalkan unsur keindahan. Justru orasi beliau adalah puncak segala keindahan. Setiap orang berakal akan mengakui bahwa orasi beliau adalah puncak logika dan keindahan.

    Ibadah beliau, akan membuat setiap orang menahan nafas. Walaupun segala keutamaan berkumpul pada beliau, beliau tidak sekalipun meninggalkan ibadah beliau. Beliau adalah Raja para Abid, sekaligus Kaisar para Ilmuwan. Ilmu dan Amal berkumpul menjadi satu pada beliau.

    Cerita Zuhud beliau, akan membuat menangis setiap manusia. Ditangannya berkumpul setiap kekayaan dunia. Ditangannya terdapat setiap kunci kekuasaan. Tapi toh beliau dengan menangis berkata ,”O Dunia, pergilah kau jauh dariku. Rayulah siapapun selain aku. Tidak mungkin aku terjatuh dalam rayuanmu”.

    Pernah beliau berdiri diatas harta baitul mal yang terdiri dari emas dan perak sambil berkata kepada Rakyatnya : “Demi Allah, tidak sepeserpun aku ambil harta kalian. Baju yang aku gunakan ini adalah baju yang aku bawa semula dari Madinah”.

    Padahal beliau hanya memiliki dua buah baju, dan itu pun sudah kumal dan kusam.

    Apakah saya harus menceritakan cara makan beliau dan apa yang dimakan oleh beliau? Haruskah aku menceritakan bagaimana beliau harus mematahkan roti yang keras untuk menjadikkannya sebagai santapan? Beliau berikan setiap daging dan kenikmatan kepada tetangganya sementara beliau sendiri harus makan roti kering yang untuk makannya pun harus beliau patahkan menggunakan paha beliau.

    Apakah mungkin saya harus menyamakan manusia yang melebihi malaikat ini dengan manusia lainnya ?

    Tidak mungkin ..

  6. abu bakar itu sidiq tp dari segi salahnya, dia itu plg bnar dlm segi kslahan .. umar itu alfaruq bnar dia itu pemisah hak dan batil tp dia pengikut batilnya .. usman assyahid bnar syahid tp syahidnya djalan yahudi ….

  7. Anda tidak membawakan riwayat dari Tirmidzi yang menjelaskan tersambungnya sanad Abdurrahman bin Sa’id dari Salman Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Aisyah dengan lafadz “putri Ash Shiddiiq”

  8. Anda tidak membawakan riwayat dari Tirmidzi yang menjelaskan tersambungnya sanad Abdurrahman bin Sa’id dari Salman Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Aisyah dengan lafadz “putri Ash Shiddiiq”

    Ralat:

    dari Abu Hurairah dari Nabi, bukan dari Aisyah seperti yang saya tuliskan diatas.

  9. @salafy ucing

    abu bakar itu sidiq tp dari segi salahnya,dia itu plg bnar dlm segi kslahan ..

    maaf saya rasa anda keliru, gak ada tuh yang mengatakn Abu Bakar itu shiddiq dari segi salahnya.

    umar itu alfaruq bnar dia itu pemisah hak dan batil tp dia pengikut batilnya ..

    wah yang ini lebih aneh, pemisah hak dan bathil kok dikatakan pengikut bathil. Salah sekali

    usman assyahid bnar syahid tp syahidnya djalan yahudi

    Utsman ra itu syahid berdasarkan hadis shahih, jadi gak ada dasarnya menyatakan sahid di jalan Yahudi

    @Hendri
    Silakan bawakan apa yang anda bilang hadis Tirmidzi dengan lafaz “putri ash shiddiq” dengan sanad bersambung. Silakan bawakan matan hadis beserta sanadnya. Sejauh ini sudah saya tunjukkan kalau hadis dengan sanad maushul tidak mengndung lafaz “putri ash shiddiq” Salam🙂

  10. @Hendri
    Imam Tirmidzi tidak membawakan matan hadisnya, beliau hanya berkata
    وقد روي هذا الحديث عن عبد الرحمن بن سعيد عن أبي حازم عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم نحو هذا
    dan sungguh telah diriwayatkan hadis ini dari Abdurrahman bin Sa’id dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti di atas.

    Riwayat yang disinggung Imam Tirmidzi ini salah satunya disebutkan Ath Thabari yaitu
    حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا الحكم بن بشير ، قال : ثنا عمر بن قيس ، عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني ، عن أبي حازم ، عن أبي هريرة ، قال : قالت عائشة : ” يا رسول الله ( والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة ) هو الذي يذنب الذنب وهو وجل منه؟ فقال : لا ولكن من يصوم ويصلي ويتصدق وهو وجل
    Perhatikan jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “tidak” tanpa tambahan lafaz “putri ash shiddiq”.

  11. @@salafy kucing,

    jika anda syiah, maka pemuka syiah, Imam Khamenei telah mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya menghina pemuka-pemuka agama Sunni. Maka anda telah berbuat haram menurut fatwa Imam Khameini karena telah mengiha Sayydina Abu Bakar, Umar dan Utsman.

    Jika anda sunni, lebih-lebih lagi. Tidak ada sunni yang akan menghina pemuka agamanya sendiri.

    Jika anda salafy, ketahuilah bahwa mereka itu orang bodoh. Maka jangan ikuti kebodohan mereka. Biarlah mereka hidup dengan kebodohan mereka sendiri.

  12. Betul memang imam Tirmidzi tidak membawakan matan hadits dengan sanad tersebut, tetapi dapat kita ketahui penjelasan tambahan dari Imam Tirmidzi-lah yang mengindikasikan ketersambungan sanadnya. Mungkin anda “terlupa” untuk membawakan komentar dari imam Tirmidzi, setelah membawakan matan hadits tersebut…

    Riwayat yang dibawakan Thabari pun mempunyai jalur sanad yang berbeda dengan Tirmidzi, dapat dilihat dari komentar Imam Tirmidzi sendiri yang hanya menyebutkan Abdurrahman bin Sa’id mengambil riwayat dari Salman Abu Hazim. Dengan pengertian perawi yang mengambil riwayat dari Abdurrahman bin Sa’id tidak mengalami perubahan…

  13. @Hendri

    Betul memang imam Tirmidzi tidak membawakan matan hadits dengan sanad tersebut, tetapi dapat kita ketahui penjelasan tambahan dari Imam Tirmidzi-lah yang mengindikasikan ketersambungan sanadnya. Mungkin anda “terlupa” untuk membawakan komentar dari imam Tirmidzi, setelah membawakan matan hadits tersebut…

    Maaf sepertinya soal ketersambungan sanad itu sudah saya sebutkan dalam pembahasan di atas. Apa yang diisyaratkan oleh Imam Tirmidzi malah saya sebutkan perinciannya dari riwayat Ath Thabari dan Ath Thabrani

    Riwayat yang dibawakan Thabari pun mempunyai jalur sanad yang berbeda dengan Tirmidzi, dapat dilihat dari komentar Imam Tirmidzi sendiri yang hanya menyebutkan Abdurrahman bin Sa’id mengambil riwayat dari Salman Abu Hazim. Dengan pengertian perawi yang mengambil riwayat dari Abdurrahman bin Sa’id tidak mengalami perubahan…

    Ah maaf anda keliru sekali disini, pernyataan Imam Tirmidzi diawali dengan kata “dan telah diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Sa’id…”. Artinya perawi sebelum Abdurrahman tidaklah disebutkan bukan berarti perawinya sama seperti hadis sebelumnya. Tidak ada indikasi itu dalam perkataan Imam Tirmidzi. perkataan seperti itu sama seperti perkataan Imam Tirmidzi dalam hadis-hadis lain misalnya Beliau berkata tentang suatu hadis Abu Hurairah dari Nabi. kemudian beliau berkomentar “dan telah diriwayatkan pula hadis ini dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar”, maka bukan berarti semua perawi dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas sama dengan perawi dari hadis Abu Hurairah. Beliau hanya menegaskan ada jalur lain yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar selain jalur Abu Hurairah. Begitu pula pernyataan Imam Tirmidzi soal hadis Abdurrahman bin Sa’id dari Aisyah, beliau menegaskan ada jalur lain dimana Abdurrahman bin Sa’id meriwayatkan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah. Maka tugas penelitilah untuk menemukan jalur lain tersebut dan menilai sanadnya serta matannya. Itulah yang saya lakukan di atas. Apa yang diisyaratkan Imam Tirmidzi telah saya sebutkan dengan rinci yaitu sanad riwayat Ath Thabari dan Ath Thabrani dimana keduanya tidak mengandung lafaz “bintu Ash Shiddiq”. Salam

  14. Permasalahannya kalau saja anda membawakan komentar Tirmidzi,
    وقد روي هذا الحديث عن عبد الرحمن بن سعيد عن أبي حازم عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم نحو هذا
    (Dan sungguh telah diriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Sa’id dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “seperti ini”), yaitu dengan lafadz “putri Ash Shiddiiq” seperti yang diisyaratkan oleh beliau, diawal tulisan anda, mungkin ceritanya akan berbeda.

    Yang saya lihat anda membawakan riwayat dari Thabari hanya untuk membantah riwayat Tirmidzi yang memang terjadi inqitha’ antara Abdurrahman bin Sa’id dan Aisyah di satu sisi, disisi lainnya anda tidak membawakan komentar dari Tirmidzi setelah membawakan matan hadits tersebut, sehingga terkesan sanad yg maushul itu tidak menggunakan lafadz “putri Ash Shiddiiq”.

  15. @Hendri

    maaf saya rasa anda tidak memahami persoalannya dengan baik. Pernyataan anda

    Dan sungguh telah diriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Sa’id dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “seperti ini”), yaitu dengan lafadz “putri Ash Shiddiiq”

    Adalah keliru. kata Imam Tirmidzi “seperti ini” yang anda tafsirkan “yaitu dengan lafaz putri ash shiddiq” adalah penafsiran yang keliru. Maksud Tirmidzi mengatakan “seperti ini” adalah matannya serupa dengan hadis sebelumnya yaitu dimana Aisyah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ayat Al Mu’minun 60. kata “seperti ini” maksudnya matan itu serupa secara makna tetapi soal lafaz belum tentu. Untuk membuktikan apakah lafaz itu sama persis mengandung lafaz “putri ash shiddiq” maka harus dengan melihat hadisnya yang bersanad lengkap dengan matan yang lengkap pula yaitu riwayat Thabrani dan riwayat Thabari. Jadi justru andalah yang berusaha mengesankan seolah-olah sanad yang masuhul mengandung lafaz “putri ash shiddiq” padahal terbukti sanad yang maushul tidak mengandung lafaz tersebut.

    Secara keseluruhan baik sanad yang maushul maupun sanad yang inqitha’ matannya serupa perbedaannya cuma pada hadis dengan sanad inqitha’ mengandung lafaz “putri ash shiddiq” sedangkan pada hadis dengan sanad yang maushul tidak mengandung lafaz “putri ash shiddiq”. Ahli hadis manapun termasuk Tirmidzi pasti akan mengatakan kalau kedua hadis baik sanadnya inqitha’ maupun maushul matannya serupa tetapi yang kita permasalahkan disini bukan pada isi matannya secara keseluruhan tetapi hanya soal lafaz “putri ash shiddiq” dan itu tidak ada dalam riwayat yang sanadnya maushul. Disini kesannya anda memaksakan asumsi anda bahwa perkataan Tirmidzi “seperti ini” berarti harus serupa setiap kata atau lafaznya padahal faktanya tidak begitu. Imam Tirmidzi tidak pernah mensyaratkan kalau perkataannya “seperti ini” berarti serupa setiap lafaznya tetapi serupa pada maknanya.

  16. Assalamu’alaikum warahmatullahi waBarakatuh wahai uztaz..
    Saya ada hajat iaitu ingin meminta bantuan dari Ustaz berkenaan ilmu Aqidah Ahli Sunnah Wa al-Jamaah. Sebenarnya saya ingin meminta jasa baik ustaz dlm membantu saya menyiap projek kajian pembangunan Aqidah Ahli Sunnah Wa al-Jamaah di Universiti Kebangsaan Malaysia..
    Hajat saya ingin meminta sedekah ilmu-ilmu dari ustaz iaitu adakah Ustaz sudi menghulurkan artikal-artikal atau seumpamanyaberbentuk file-file word or PDF tentang “AQIDAH SIFAT DUA PULUH (AQIDAH AHLU SUNNAH WA AL-JAMAAH)”.

    Saya memohon agar diberi apa sahaja tentang tajuk tersebut ini kerana ustaz adlah salah seorang kepakaran dalam bidang Aqidah sifat dua puluh.. saya amat berterima kasih dan semoga Allah membalas jasa Ustaz dgn ditambahkan ilmu agama dan difaqehkan dlm ilmu ini..
    EMAIL SAYA = syeikh_roti@yahoo.com
    Website saya= http://pemikiran-firaq.blogspot.com/
    No Tel= 012-7689435
    Yang benar..
    (MOHD SYAMIL BIN MOHAMAD SULAIMAN)
    860402-56-5769

  17. ARTIKEL YG SANGAT MENARIK, TETAPI BIKIN KEPALA BEKUKUS

  18. @ben
    kenapa bisa berkukus? ^^,

    pembahasan yang mantap makasich SP😀

  19. soal sanad yang tidak bersambung dari riwayat tirmidzi, ini tashih dari tirmidzi:

    ” و قد روي هذا الحديث عن عبد الرحمن بن سعيد عن أبي حازم عن أبي هريرة عن
    النبي صلى الله عليه وسلم نحو هذا ” .
    قلت : و إسناد حديث عائشة رجاله كلهم ثقات ، و لذلك قال الحاكم : ” صحيح
    الإسناد ” و وافقه الذهبي .
    …قلت : و فيه علة ، و هي الانقطاع بين عبد الرحمن و عائشة فإنه لم يدركها كما في
    ” التهذيب ” ، لكن يقويه حديث أبي هريرة الذي أشار إليه الترمذي فإنه موصول
    و قد وصله ابن جرير : حدثنا ابن حميد قال : حدثنا الحكم بن بشير قال : حدثنا
    عمر بن قيس عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني عن أبي حازم عن أبي هريرة
    قال : قالت عائشة : الحديث نحوه .
    و هذا سند رجاله ثقات غير ابن حميد ، و هو محمد بن حميد بن حيان الرازي و هو
    ضعيف مع حفظه ، لكن لعله توبع ، فقد أخرج الحديث ابن أبي الدنيا و ابن الأنباري
    في المصاحف و ابن مردويه كما في ” الدر المنثور ” ( 5 / 11 ) و ابن أبي الدنيا
    من طبقة شيوخ ابن جرير ، فاستبعد أن يكون رواه عن شيخه هذا .

  20. @salafy
    soal tashih tirmidzi sudah dibahas dalam tulisan di atas dan komentar sebelumnya. yang kita permasalahkan disini adalah lafaz “putri ash shiddiq”. Silakan tampilkan hadis dengan sanad shahih maushul yang mengandung lafaz “wahai putri ash shiddiq”

  21. @armand

    Kata anda:
    Gelar Ash-Shiddiq yang diberikan oleh Nabi saw kepada sayyidina Abubakar adalah karena pembenarannya atas kejadian Isra’ Mi’raj nya Nabi saw.

    Kata saya:
    Saya juga membenarkan kejadian Isra’ Mi’raj, maka saya yakin Rasulullah SAW memberikan gelar kpd saya Ash-Shiddiq🙂

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: