Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif

Analisis Hadis Tawassul : Hadis Utsman bin Hunaif

Hadis Utsman bin Hunaif merupakan hadis yang menjadi bantahan telak bagi para pengingkar tawassul yang lebih dikenal dengan sebutan “salafy”. Hadis ini menjadi dasar dibolehkannya tawassul kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam baik ketika Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hidup maupun wafat.

حدثنا طاهر بن عيسى بن قيرس المصري التميمي حدثنا أصبغ بن الفرج حدثنا عبد الله بن وهب عن شبيب بن سعيد المكي عن روح بن القاسم عن أبي جعفر الخطمي المدني عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف عن عمه عثمان بن حنيف أن رجلا كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته فلقي عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه فقال له عثمان بن حنيف ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصلي فيه ركعتين ثم قل اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد صلى الله عليه و سلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربك ربي جل وعز فيقضي لي حاجتي وتذكر حاجتك ورح إلي حتى أروح معك فانطلق الرجل فصنع ما قال له عثمان ثم أتى باب عثمان فجاء البواب حتى أخذ بيده فأدخله عثمان بن عفان فأجلسه معه على الطنفسة وقال حاجتك فذكر حاجته فقضاها له ثم قال له ما ذكرت حاجتك حتى كانت هذه الساعة وقال ما كانت لك من حاجة فأتنا ثم ان الرجل خرج من عنده فلقي عثمان بن حنيف فقال له جزاك الله خيرا ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إلي حتى كلمته في فقال عثمان بن حنيف والله ما كلمته ولكن شهدت رسول الله صلى الله عليه و سلم وأتاه ضرير فشكا عليه ذهاب بصره فقال له النبي صلى الله عليه وآله وسلم أفتصبر فقال يا رسول الله إنه ليس لي قائد وقد شق علي فقال له النبي صلى الله عليه و سلم إئت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم ادع بهذه الدعوات قال عثمان فوالله ما تفرقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا الرجل كأنه لم يكن به ضرر قط

Telah menceritakan kepada kami Thahir bin Isa bin Qibarsi Al Mishri At Tamimi yang berkata menceritakan kepada kami Asbagh bin Faraj yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makkiy dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami Al Madini dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari pamannya Utsman bin Hunaif bahwa seorang laki-laki berkali-kali datang kepada Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu untuk suatu keperluan [hajat] tetapi Utsman tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal itu. Maka Utsman bin Hunaif berkata “pergilah ke tempat berwudhu’ dan berwudhu’lah kemudian masuklah ke dalam masjid kerjakan shalat dua raka’at kemudian berdoalah “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku” kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu. Maka orang tersebut melakukannya kemudian datang menghadap Utsman, ketika sampai di pintu Utsman penjaga pintu Utsman memegang tangannya dan membawanya masuk kepada Utsman bin ‘Affan maka ia dipersilakan duduk disamping Utsman. Utsman berkata “apa keperluanmu” maka ia menyebutkan keperluannya dan Utsman segera memenuhinya. Utsman berkata “aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini” kemudian Utsman berkata “kapan saja engkau memiliki keperluan maka segeralah sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Utsman bin Hunaif, ia berkata “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku”. Utsman bin Hunaif berkata “Demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya, hanya saja aku pernah menyaksikan seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “bersabarlah”. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penuntun yang dapat membantuku dan itu sungguh sangat menyulitkanku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “pergilah ke tempat wudhu’, berwudhu’lah kemudian shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah” yaitu doa ini. Utsman bin Hunaif berkata “demi Allah kami tidaklah berpisah dan berbicara lama sampai ia datang kepada kami dalam keadaan seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatan sebelumnya” [Mu’jam As Shaghir Ath Thabrani 1/306 no 508]

Hadis ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam As Shaghir 1/306 no 508 dan Mu’jam Al Kabir 9/30 no 8311 dengan jalan dari Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif. Dan diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/167 dengan jalan dari Ismail bin Syabib dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Kemudian diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/168 dan Abdul Ghani Al Maqdisi dalam At Targhib fi Du’a no 61 dengan jalan dari Ahmad bin Syabib bin Sa’id dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif.

Kedudukan hadis ini adalah shahih. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya dimana Syabib bin Sa’id seorang yang tsiqat dan telah meriwayatkan hadis ini darinya Abdullah bin Wahb seorang yang tsiqat dan kedua anaknya Ahmad bin Syabib yang tsiqat dan Ismail bin Syabib yang tidak dikenal kredibilitasnya. Berikut para perawi Thabrani

  • Thahir bin Isa At Tamimi adalah syaikh Thabrani yang tsiqat dimana Ath Thabrani sendiri telah menshahihkan hadisnya dalam Mu’jam As Shaghir. Ibnu Makula menyatakan ia tsiqat [Al Ikmal 1/296]
  • Asbagh bin Faraj adalah seorang yang tsiqat. Ia adalah perawi Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Al Ijli berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu ‘Ali bin Sakan berkata “tsiqat tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 657]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/107]
  • Abdullah bin Wahb bin Muslim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits, shaduq lebih saya sukai daripada Walid bin Muslim”. Abu Zur’ah menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat”. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “disepakati tsiqat”. [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan hafizh [At Taqrib 1/545]
  • Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud yang tsiqat. Ali bin Madini menyatakan ia tsiqat. Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Adz Dzuhli menyatakan tsiqat. Ath Thabrani menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 534]. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun” [Al Mustadrak no 1929]. Ibnu Hajar berkata “tidak ada masalah pada hadisnya jika yang meriwayatkan darinya adalah anaknya Ahmad tetapi tidak untuk riwayatnya dari Ibnu Wahb” [At Taqrib 1/411]. Dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat kecuali riwayatnya dari Ibnu Wahb [Tahrir At Taqrib no 2739].
  • Rawh bin Qasim At Tamimi adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 557]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/305]
  • Abu Ja’far Al Khatami adalah Umair bin Yazid Al Anshari perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Numair, Al Ijli dan Ath Thabrani menyatakan “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 628]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/756] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5190]
  • Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan. Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak mendengar hadis darinya. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat dan Abu Hatim berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 497]

Tidak diragukan lagi para perawi riwayat Thabrani di atas adalah para perawi tsiqat. Tetapi sanad tersebut mengandung illat [cacat] yaitu yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah Ibnu Wahb dan Ibnu Ady mengatakan kalau telah meriwayatkan Ibnu Wahb dari Syabib hadis-hadis munkar [Al Kamil Ibnu Ady 4/30]. Ibnu Ady membawakan hadis-hadis yang menjadi bukti bahwa riwayat Ibnu Wahb dari Syabib adalah mungkar tetapi setelah kami teliti hadis-hadis tersebut tidaklah tsabit untuk dikatakan mungkar. Tetapi kami tidak perlu membahas hal ini karena pada hadis ini perawi yang meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id At Tamimi tidak hanya Abdullah bin Wahb tetapi juga anaknya yaitu Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi.

Ahmad bin Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah salah satu guru Bukhari yang tsiqat. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 2/54-55 no 70]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 8 no 12050]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/36] tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 46]

Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau kedudukan hadis ini shahih. Dan seperti biasa salafy yang mengingkari tawasul berusaha mencacatkan hadis ini dengan melemahkan Syabib bin Sa’id At Tamimi seperti yang dilakukan Syaikh Al Albani dan pengikutnya. Syaikh Al Albani dan pengikutnya mengatakan hadis Syabib bin Sa’id shahih jika memenuhi dua syarat yaitu pertamayang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Syabib dan kedua: Syabib meriwayatkan dari Yunus bin Yazid dan yang tidak memenuhi kedua persyaratan tersebut maka riwayatnya dhaif. Sudah jelas persyaratan yang mereka tetapkan itu ngawur dan tidak ada dasarnya sama sekali.

Syabib bin Sa’id telah mendapat predikat ta’dil dari para ulama terdahulu, tidak ada dari mereka ulama yang menta’dilkan Syabib mencacatkan hadisnya Syabib bin Sa’id atau membuat persyaratan-persyaratan aneh. Satu-satunya cacat yang ada padanya adalah apa yang dinukil dari Ibnu Ady bahwa hadisnya yang diriwayatkan dari Ibnu Wahb terdapat hadis-hadis mungkar. Tentu saja bukan berarti semua hadis Ibnu Wahb dari Syabib dinilai mungkar, jika perkataan Ibnu Ady ini dijadikan pegangan maka hadis Ibnu Wahb dari Syabib itu mengandung keraguan sehingga memerlukan pendukung dari yang lain. Nah hadis ini ternyata dikuatkan oleh Ahmad bin Syabib yang juga meriwayatkan dari Syabib bin Sa’id. Jadi sudah jelas tidak ada lagi cacat yang bisa dipermasalahkan. Persyaratan yang diajukan salafy itu sudah jelas mengada-ada dan tentu saja mereka bersikeras mengada-ada daripada menerima keshahihan hadis yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

.

.

Penjelasan Hadis

Hadis di atas mengandung faedah bahwa tawasul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT adalah perkara yang dibolehkan dalam syariat Islam. Dan pembolehan ini tidak dibatasi baik saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup atau sudah wafat. Buktinya adalah pada hadis di atas dengan jelas Utsman bin Hunaif mengajarkan doa tawasul kepada seorang laki-laki di masa pemerintahan khalifah Utsman bin ‘Affan. Sudah jelas pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah wafat. Lafaz hadisnya pun sangat jelas menyebutkan tawasul kepada Nabi yaitu dengan lafaz doa “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku”. Jika lafaz doa seperti ini dikatakan syirik oleh salafiyun maka orang-orang seperti mereka tidak pantas mengaku-ngaku sebagai pengikut sunnah.

Bisa dikatakan salafiyun itu tidak mengerti apa yang dinamakan tawasul. Tawasul dalam islam adalah memohon kepada Allah SWT, menghadap kepada Allah SWT dengan perantara dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena kedudukan Beliau yang tinggi di sisi Allah SWT. Nah kalau mereka memahami ini dengan baik maka mereka tidak akan membedakan soal masih hidup atau sudah wafat. Baik ketika hidup ataupun sudah wafat kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetaplah tinggi di sisi Allah SWT. Bahkan dalam perkara doa pun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bisa berdoa kepada Allah SWT baik ketika masih hidup ataupun setelah wafat. Yang berkuasa dan memiliki kekuasaan hanyalah Allah SWT oleh karena itu tidak ada bedanya baik hidup maupun wafat.

Bagaimana mungkin ada orang yang mau mengatakan karena sudah wafat maka tidak bisa lagi diminta bantuan, meminta bantuan itu hanya kepada yang hidup. Ini sangat tidak benar, ketika seseorang berdoa memohon kepada Allah SWT maka disini hanya Allah SWT sebagai pemegang kuasa. Seorang muslim harus meyakini bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT, tawasul berarti menganggap orang yang mulia tersebut sebagai wasilah atau perantara bukan sebagai yang punya kemampuan atau yang berkuasa mengabulkan doa. Kedudukan sebagai wasilah ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang mulia dan tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT dan ini sekali lagi tidak terkait hidup dan mati. Justru salafy yang meributkan atau membedakan soal hidup dan mati, seolah-olah mereka meyakini kalau orang yang hidup memiliki kuasa sedangkan yang mati tidak. Lha sudah jelas batil, apa perlu diingatkan bahwa tiada daya dan upaya selain milik Allah SWT yang Maha Agung.

Sungguh yang membuat perkara ini semakin aneh adalah salafy begitu bersemangat menjadikan ini sebagai masalah akidah dan tidak jarang mensesat-sesatkan dan menyatakan syirik kepada mereka yang melakukan tawasul. Tingkah salafy ini mengingatkan kami pada kaum yang disebut sebagai tidak memahami tetapi berbicara hal-hal besar seolah-olah mereka yang paling paham dan paling ahli. Pendapat yang kami yakini dalam perkara ini adalah seorang muslim diberikan pilihan dalam berdoa atau memohon kepada Allah SWT, boleh melakukannya dengan tawasul dan boleh juga tidak. Salam damai

.

.

.

Lampiran :


Berikut adalah riwayat Ahmad bin Syabib dari ayahnya yang kami ambil dari kitab At Targhib fi Ad Du’a hal 62-63 no 61 Abdul Ghaniy bin ‘Abdul Wahid Al Maqdisi

Lampiran ini kami tambahkan untuk memenuhi permintaan salah seorang pembaca. Terimakasih atas permintaannya dan silakan dipelajari hadis tersebut. Salam

64 Tanggapan

  1. Salam

    Sudah merupakan hal yang sangat lumrah berdo’a dengan membawa-bawa nama-nama kekasih Allh. Apalagi Nabi Muhammad S.A.W., penghulunya para Nabi,yang bumi dan seisinya tidak akan Allh ciptakan kalau bukan karena beliau. Nabi Adam A.S. saja bertawassul kepada Rasulullah S.A.W., kenapa kita umatnya tidak mau??!!! Apa sudah merasa hebat sehingga tidak perlu Rasulullah S.A.W. bila menghadap dan meminta pertolongan Allh S.W.T ??!!! Gunakanlah otak kalian wahai orang2 yang dapat berpikir. Jangan hanya taklid buta kepada ustadz2,guru,syeik2 kalian saja.
    Semoga kita semua umat Islam, umat Nabi Muhammad S.A.W. diberikan petunjuk oleh Allh S.W.T. sehingga tidak menyimpang dan tersesat,amiiinn.

    Wassalam

  2. Sampai saat ini mereka tidak mampu menjelaskan sebabnya mengapa bertawassul kepada Nabi saw dan orang2 saleh setelah wafatnya adalah syirik sementara tidak jika mereka masih hidup. Padahal meminta kepada seseorang, bila disertai dengan keyakinan bahwa orang tsb memiliki kekuasaan yang mandiri tanpa tergantung kekuasaan Allah swt untuk mengabulkan permintaannya, maka itu sdh termasuk syirik.

    Nah katakanlah wahai salafiyyun, apakah seseorang itu perlu mati dulu untuk menyatakan bahwa meminta pertolongan kepada mrk, adalah termasuk syirik?

    Begitu pula kata mereka tidak bermanfaat? Tahu darimana kalau tidak bermanfaat jika mrk sendiri belum pernah melakukannya? Yang tahu manfaatnya adalah mereka-mereka yang telah melakukannya. Bagaimana bisa mereka mengatakan madu tidak ada manfaat jika mereka belum pernah meminumnya?

    Saya yakin, jika anda wahai para salafiyyun berkunjung ke teman karib ayah anda dan anda mengaku anak dari teman karib mereka, maka teman karib anda akan menerima anda dengan gembira. Sy yakin jika ayah anda, umpamanya, sdh wafat, maka sambutan yg anda terima lebih dari rasa gembira. Nah, coba katakanlah wahai salafiyyun, apakah seseorang yg telah wafat tdk mampu memberikan manfaat kepada yg hidup?

    Renungkanlah wahai salafiyyun, sebelum anda terjerumus lebih dalam di tempat anda sekarang.

    Salam

  3. @PAMTEREK
    Buat apa kita bertawasul kepada Nabi Muhammad,
    Beliau kan hanya MANUSIA BIASA SEPERTI KITA. Bedanya karena beliau menerima WAHYU. Jadi kalau beliau sudah meninggal maka sama dengan manusia biasa yang meninggal. Salam damai wasalam

  4. Dasar PANGGODA:mrgreen:

  5. Umar bin Khattab juga bertawasul pada Nabi.saw sebagaimana tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
    Mungkinkah orang2 Salafy gak pernah baca riwayat itu, ataukah mereka sudah membaca tapi tidak paham dan tidak akan pernah memahami apa yang mereka baca??????

    Wajar saja toh, Salafy membaca sesuatu tapi tidak pernah meresap ke dalam kerongkongan mereka, apalagi membaca al-Quran! Sebab al-Quran tak dapat disentuh oleh orang2 yang bernajis hatinya seperti mereka.

  6. @ytse-Jam
    Anda juga rupanya tidak mengerti. Saya sudah sering komentar bahwa:
    YANG MEREKA TULIS SENDIRI TIDAK MEREKA MENGERTI (asal nulis) apalagi tulisan yang ditulis para Ulama. Salam damai wasalam

  7. @Ytse-Jam

    Umar bin Khattab juga bertawasul pada Nabi.saw sebagaimana tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
    Mungkinkah orang2 Salafy gak pernah baca riwayat itu, ataukah mereka sudah membaca tapi tidak paham dan tidak akan pernah memahami apa yang mereka baca??????

    Sepengetahuan saya salafy tidak mengingkari akan tawasul umar pada Nabi SAW saat beliau masih hidup, yg dipermasalahkan adalah tawasul kepada beliau yg sudah wafat.. karena saat Nabi sudah wafat Umar bertawasul kepada Abbas paman Nabi SAW.. hal ini menunjukkan bahwa bertawasul itu dibolehkan kepada yg masih hidup bukan kpd yg wafat. justru kelihatan anda yg tidak memahami apa yg anda baca…

    sebenarnya do’a yang diajarkan Nabi SAW kpd orang buta dalam riwayat di atas adalah saat beliau masih hidup bukan setelah beliau wafat… terus terang riwayat di atas meragukan… mungkin ini termasuk hadits2 mungkar dari Sabib… wallahu a’lam

  8. @sok tau banget,
    Pernah anda bersalawat? Kepada siapa anda tujukan dan apa gunanya. Atau anda tidak pernah bersalawat. Karena Rasul sudah wafat

  9. Sunni dan Syi’ah sepakat bhw boleh brtawasul kpd Nabi SAW baik beliau msh hidup ataupun sdh wafat.

  10. Mungkin orang2 salafy yang anti tawassul tidak bisa membedakan antara :
    ” Menghadap dengan Rasulullah ”
    dan
    “Memohon kepada Rasulullah ”

    Padahal keduanya beda jauh loh !!!

  11. Salam

    @PANGGODA
    Dari nama ente saja ana bisa lihat kalau ente ini suka godahan orang. Ana mau tanya ente,apa ente dalam sholat ada baca sholawat atau tidak?Dalam berdo’a apa ente baca sholawat juga?Apabila jawaban ente TIDAK,maka selesailah sudah.Tetapi apabila jawannya IYA,maka pertanyaannya dengan tujuan apa ente baca sholawat tersebut?!

    Wassalam

  12. Salam

    @All
    Para salafiyun/salafier beranggapan bahwa bertawassul itu hukumnya haram/syirik,karena mereka anggap tawassul itu memohon selain kepada Allah. Jadi mau sudah mati atau tidak,hukumnya sama,yaitu DOSA alias BID”AH alias KAFIR.Maka kita-kita yang meyakini tawassul sebagai perbuatan yang baik mereka hukumi seperti di atas.Namun mereka lupa bahwa IDOLA mereka pernah melakukan tawassul.Hayoo..berani gak hukumi seperti di atas..??!!!
    Oh iya..IDOLA mereka kan punya senjata ampu,jadi berbuat salah/dosa tetap saja mendapat 1 pahala.

    Wassalam

  13. @PANTEREK
    Anda bertanya pada saya: Dalam berdo’a apa ente baca sholawat juga?Apabila jawaban ente TIDAK,maka selesailah sudah.Tetapi apabila jawannya IYA,maka pertanyaannya dengan tujuan apa ente baca sholawat tersebut?!
    Jawaban saya TIDAK. Karena saya tidak mengucapkan tapi berbuat. Mungkin pengertian anda mengenai SHALAWAT dengan saya beda. Saya ingin bertanya pada anda menurut anda apa arti ShALAWAT dan apa arti SHALAT yang dalam tulisam ARAB sama.
    Salam

  14. Numpang lewat aja Mas. Buas Mas SP good writing. Teruslah memberikan pencerahan kepada kami yang awam

  15. Assalamualaikum
    numpang lewat

    @panggodo
    Saya tertarik dengan tulisan anda pada tanggal 23 juli 2010 pada 4:05 pm anda menulis bahwa Nabi Muhammad Saw hanya manusia Biasa seperti kita. Bedanya karena beliau menerima WAHYU.

    mungkin nabimu saja yang manusia biasa tapi Nabiku bukan manusia biasa malahan beliau adalah manusia luar biasa karena beliau adalah manusia rahmat bagi semesta alam artinya dari jaman Nabi Adam as malahan sebelum itu juga Nabiku yaitu Nabi Muhammad Saw telah merahmatinya sebagaimana diterangkan dalam Al-qur’an QS AlAnbiya (21) : 107 “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”

    terus anda juga menulis “Jadi kalau beliau sudah meninggal maka sama dengan manusia biasa yang meninggal” karena anda menulis ini jadi Nabi Muhammad SAW tidak menyaksikan apa-apa yang kita perbuat sekarang ini dong karena anda menyamakan beliau dengan manusia biasa. ini bertentangan dengan Al-qur’an QS At- TAubah (9) : 105 “dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Dan QS An-Nahl (16) : 89 “(dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

    Salam

  16. @ G2

    Setujuuuuuuuu……!!!

    Nabi kita Muhammad.saw jasadnya sudah wafat tapi “diri” beliau yang sesungguhnya TIDAK PERNAH MATI.

    Para Syuhada atau orang2 yang terbunuh di jalan Allah saja walaupun mereka sudah dukubur tapi disisi Allah MASIH TETAP HIDUP dan masih memperoleh rezeki apalagi Muhammad.saw. Hanya orang2 kafir saja yang menyatakan mereka sudah mati padahal mereka tidak mati.

  17. Salam

    @PANGGODA, di/pada Juli 25, 2010 pada 9:52 am Dikatakan: r
    Mau diucapkan atau dalam bentuk perbuatan saya rasa itu adalah sama.Saya berkesimpulan bahwa anda juga bershawalat,walaupun anda katakan tidak.Tapi sayangnya anda tidak tahu tujuan dari perbuatan anda.
    Oh iya,yang saya maksudkan di sini adalah shalawat atas Nabi Muhammad S.A.W.,,tidak usah anda hubung-hubungkan dengan arti kata shalat.Hanya akan membuat diskusinya lari kesana-kemari.

    Wassalam

  18. .@G2
    Anda jangan salahkan saya atas tulisan pd tgl 23 Juli.
    Pendapat yang demikian adalah aqidah Sunnah wal,jama’ah. Dan ini adalah penafsiran Ulama Suni yang mengatakan Rasul adalah manusia biasa. Dan Umar Ibn Khattab Ra pun mengucapkan demikian. Sedangkan Rasulullah pun bersabda “aku bukan malaikat aku sama seperti kamu manusia biasa.

    Sedangkan yang kedua yakni meninggal Nabi seperti manusia biasa. Coba anda pahami benar2 kata2
    Saya katakan MENINGGAL RASUL SEPERTI MANUSIA
    BIASA. Apakah salah? Apakh ada kematian lain.
    Dan supaya anda ketahui bahwa yang mati adalah JASAD. Apakah saya pernah katakan ROH/JIWA Rasul mati?

    @PANTEREK
    Karena anda tidak mengerti arti SHALAWAT maka anda bershlawat karena kebiasan (taklid). Hanya ucapan dengan mengharapkan feedback. Bukan diamalkan. Salam

  19. @panggodo
    saya pernah membaca jika ada hadist bertentangan dengan Alqur’an maka tolaklah hadist tersebut nah yang ingin saya tanyakan sumber-sumber mana yang menyatakan bahwa beliau bersabda “aku bukan malaikat aku sama seperti kamu manusia biasa” dan dalam hal apa Nabi itu manusia biasa?

    ya benar anda memang tidak mengatakan Roh/Jiwa Rasul meninggal. Dan Demi ALLAH Jiwa rasul tidak meninggal oleh sebab itu saya berkeyakinan dengan bertwasul pada beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah. Apakah itu salah?

    salam

  20. @G2
    Anda benar tidak salah. Allah telah berfirman bahwa para Syuhadah tidak mati dan hidup disisi Allah. Dan diberi reziki. Jadi menurut saya Rasul sudah wafat tapi dibangkitkan sebelum kita dibangkitkan Wallah ‘Alam.
    Kalau anda berkeyakinan Roh/Jiwa Rasul tdk mati. Tapi saya berkeyakinan; Allah terlah membangkitkan Rasul sblm kita. Dan sedang mengawasi tingkah laku kita.
    Memang ada muncul beberapa masalah dengan Firman Allah yang berbunyi. Muhammad adalah manusia SEPERTI kamu. Penganut mazhab Sunah Wal jama’ah berpegang teguh seperti yang anda pikirkan ada perpedaan karena pemberian Allah
    Bagi saya Rasulullah SAW SEPERTI manusia Biasa.Yakni kelihatan makan tapi tidak makan Berpakaian berjalan dlsbTapi TIDAK SAMA dengan manusia biasa..Salam damai Wasalam

  21. @sok tau banget

    sebenarnya do’a yang diajarkan Nabi SAW kpd orang buta dalam riwayat di atas adalah saat beliau masih hidup bukan setelah beliau wafat… terus terang riwayat di atas meragukan… mungkin ini termasuk hadits2 mungkar dari Sabib…

    Ccckkk…ccckkk.. Dimana2 sama modelnya orang yang semzhab dengan anda. Kalau meminta argumen orang lain sangat ketat dan berbelit2 segala macam cara digunakan untuk menyulitkan orang lain untuk berargumen. Namun ketika diri mereka sendiri berargumen sangat sembarangan dan seenaknya tanpa dalil (aqli maupun naqli).

    1. Riwayat ini menunjukkan bhw Sahabat Utsman b Hunaif di jaman Khalifah Utsman (artinya setelah Rasulullah meninggal) mengajarkan bertawassul. Mestinya anda yakini sebagai kebenaran atau anda bermaksud mencela/syirik Utsman b Hunaif (sahabat)?.
    2. Apakah anda ingin mengatakan bahwa do’a yang Rasulullah ajarkan itu tidak lagi benar utk digunakan sekarang? Apakah Rasulullah ada mengatakannya begitu?. Ataukah anda ingin mengingkari Sunnah? Bukankah ini menunjukkan bhw anda telah mentakwil secara serampangan?
    3. Pernyataan anda:terus terang riwayat di atas meragukan… mungkin ini termasuk hadits2 mungkar dari Sabib…
    Bukankah ini pernyataan yang seenaknya/serampangan, dan anda anggap sah2 saja?. Apakah ketika orang lain berargumen dg anda maka anda juga menerima bantahan spt ini?…:mrgreen:
    Bukankah ada caranya menilai hadits?

    Kesimpulan:
    Tawassul kpd yang masih hidup maupun sudah mati adalah dibolehkan dan dicontohkandi Islam, baik dalil Naqli maupun dalil Aqli.
    Bantahan dari salafy selama ini hanyalah bantahan ngotot dan tanpa dalil yang kuat dan sehat.

    Aneh b ajaib ketika berperantara kepada yang hidup dibolehkan krn dasarnya meminta tetap kepada Allah dan perantara hanyalah perantara. Kemudian berperantara kpd yang sudah mati dilarang krn yang mati sudah tidak memberikan manfaat. Mereka yang berakal akan merasakan keabsurdan logika ini…:mrgreen:

    Salam damai

  22. @G2
    Maaf atas tulisan tgl 26 juli, mengenai sabda Nabi sebenarnya saya membaca dalam buku Ushuluddin penfsiran atas Surah An-‘Aam ayat :9. Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki-laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri[461].
    dan surah Al-Mukminun ayat:
    24. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

    Ayat tsb diatas dalam konteks dengan Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat:110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”
    Wasalam

  23. @panggoda
    maaf yah dalam surah Al-Mukminun ayat: 24. yang anda kemukakan bahwa nabi itu manusia biasa itu bukan perkataan Allah dan Rasul tapi pemuka-pemuka orang kafirlah yang berkata coba anda baca, teliti dan tadaburi lagi ayat tersebut yakni “Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu….” apakah dengan bunyi ayat ini anda berkeyakinan bahwa Nabi itu manusia biasa. oleh sebab itu Demi Allah saya berkeyakinan rasul itu bukan manusia biasa karena yang berkeyakinan nabi itu manusia biasa adalah pemuka-pemuka orang kafir

    anda menulis “Jadi menurut saya Rasul sudah wafat tapi dibangkitkan sebelum kita dibangkitkan Wallah ‘Alam.
    Kalau anda berkeyakinan Roh/Jiwa Rasul tdk mati.” YA DEMI ALLAH SAYA BERKEYAKINAN RO/JIWA RASUL TIDAK MATI. karena beliau adalah Rahmattan Lilalamin rahmat seluruh alam
    wassalam

  24. @G2
    Bukan maksud mengatakan bahwa ayat dlm Surah Mukminun adalah kata Rasul. Tapi saya bawakan ke tiga ayat tsb. sebagai perbandingan.
    1.Dalam Surah An-‘Aam Allah yang berfirman bahwa para Nabi bukan dari Malaikat hanya manusia.
    2.Mereka yang kafir menganggap Utusan Allah harus seorang Malaikat (al Mukminun)
    3.Bahwa Allah lebih mengetahui bahwa tdk mungkin dalam kolompok manusia diutus Malaikat untuk memberi petunjuk. Maka Allah perintahka pada Rasul
    ” Katakan dst……..(Al-Kahfi)
    Dari tiga kesimpulan tsb. menunjukan bahwa mereka yang munafik, kafir, musyrik dan lain2 akan TETAP MENGANGGAP NABI/ RASUL MANUSIA BIASA YANG SAMA DENGAN MEREKA.
    Dalam tubuh Umat Islam pendapat demikian masih sangat kuat. Salam damai wasalam

  25. @G2
    Siapa yang mengatakan ROH maupun JIWA MATI. Mereka2 tsb adalah KAFIR. Karena mereka tidak percaya pada hari KEBANGKITAN. Wasalam

  26. assalamualaikum,
    @panggoda
    Memang benar bahwa yang diutus oleh Allah ke bumi ini yakni para nabi dari kalangan manusia bukan malaikat. Saya ingin bertanya mulya mana Nabi Muhammad Saw dengan para malaikat?

    Anda mengatakan :
    “Dari tiga kesimpulan tsb. menunjukan bahwa mereka yang munafik, kafir, musyrik dan lain2 akan TETAP MENGANGGAP NABI/ RASUL MANUSIA BIASA YANG SAMA DENGAN MEREKA”

    Tapi anda juga mengatakan pada tanggal 23 juli 2010 pada 4 :05
    “Beliau kan hanya MANUSIA BIASA SEPERTI KITA. Bedanya karena beliau menerima WAHYU.”

    Terus saya tanyakan pada anda mana dalil-dalinya bahwa nabi Muhammad Saw adalah manusia biasa? Tapi anda membawakan Surah Al-Mukminun ayat 24 tersebut. Jelas-jelas dalam surah tersebut yang menyatakan nabi Muhammad Saw manusia biasa adalah orang-orang kafir Jadi mana Dalil-dalil yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw itu manusia biasa seperti kita seperti yang anda katakan dulu?

    saya setuju mereka2 yang tidak percaya pada hari kebangkitan adalah kafir

    wassalam

  27. @G2
    1.Pertanyaan no 1. Mulia mana Nabi Muhammad dari Malaikat ok Nabi Muhammad
    2.Mengenai komentar 23 Juli. Apakah menurut anda Rasul bukan manusia biasa seperti kita? Kalau anda panya Nash yang mengatakan TIDAK, saya harap anda berikan Nashnya
    3. Tolong anda baca komentar saya yang benar.
    Pertanyaan anda ini saya sudah jawab di Juli 26 2010 jam 5.10 am. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 110.
    Dan saya harap anda juga dapat memberi jawaban atas pertanyaan saya diatas. Wasalam

  28. Konteksnya beda donk, kalo disebut manusia biasa itu ya konteksnya dari segi jasadiah, manusia biasa, karena orang2 musyrik fikir kan seorang utusan Tuhan tuh harus luar biasa, misalnya lebih hebat dari malaikat, dan ga jalan2 di pasar misalnya, dll. Tetapi kalo konteksnya nilai2 ruhaniah ya Nabi SAAW bukan manusia biasa. Bukankah manusia paling baik adalah yang paling bertakwa? Ya Nabi SAAW lah yg paling bertakqa. Bahkan Nabi SAAW lebih mulia dari Jibril AS.

  29. @panggoda
    anda bertanya Apakah menurut anda Rasul bukan manusia biasa seperti kita?
    saya jawab Ya Nabi Muhammad Saw bukan manusia biasa dalilnya dalam Al-qur’an QS AlAnbiya (21) : 107 “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” Apakah merahmati seluruh alam itu manusia biasa bukan?

    terus anda katakan “Kalau anda panya Nash yang mengatakan TIDAK, saya harap anda berikan Nashnya” maksudnya apa? saya belum mengerti mengenai pernyataan ini maaf ya

    wassalm

  30. @abah zahra
    saya setuju itu

    wassalam

  31. @G2
    Anda se-akan2 tidak menyetujui kalau saya katakan bahwa Rasulullah manusia bisa seperti kita dan matinya pun biasa seperti kita. Maka apabila anda tidak dapat menyetujui yang saya katakan saya harap anda berikan saya nashnya. Anda minta pada saya nash bahwa beliau manusia biasa, Saya berikan. Kalao nash menyatakan beliau Rakhmat Lil Alamin itu kan Fungsi belia menjadi Rakhmat Lil Alaman. Wasalam

  32. @aba zahra
    Saya telah jelaskan bahwa Rasul SEPERTI manusia biasa. Tapi Rasulullah TIDAK SAMA DENGAN MANUSIA BIASA.
    Apakah penjelasan ini anda tidak mengerti. Wasalam

  33. @Panggoda
    Sehubungan dengan topik di atas, masalah tawassul, yang dilihat kan aspek ruhaniahnya, jadi kemuliaan Rasul SAAW, maqom beliau, kedudukan beliau di sisi Allah, itulah yang menjadi wasilah kita dalam berdo’a ( bertawassul). Jadi kalo ente ngebahasnya pake aspek jasadiah, bahwa Rasul manusia biasa, Rasul telah meninggal, Rasul berdarah, dll…. ya ga bakal nyambung lah…

  34. @abah zahra
    Coba anda baca komentar saya yang benar dong. Jangan membaca hanya sebagian.
    Siapa sih sebenarnya yang mengatakan Nabi sama dengan manusia biasa.
    Dan Kelompok mana yang mengatakan Manusia mati sudah tidak perlu dihormati.
    Apakah Yang meninggal Itu Rasulullah SAW yang dengan adanya beliau kita mendapat Rakhmat. Dan Kalau bukan bilau Alam semesta ini tidak diciptakan.
    Mengapa saya membahas aspek jasadiah? Baca komentar para salafy dan komentar saya baru anda katakan saya membahas secara jasadiah, Wasalam
    Atau seorang Wal Allah. Mereka2 ini yang anda pantas katakan nda nyambung

  35. @panggoda
    Iya saya tidak setuju bahwa Rasulullah Saw manusia seperti kita dengan alasan
    1. Rahmat bagi seluruh alam dalilnya QS Al-Anbiya (21) : 107
    2. Saksi amal kita semua dalilnya QS At- TAubah (9) : 105
    3. Saksi seluruh umat manusia mulai dari Nabi Adam as mpai hari akhir dalilnya Dan QS An-Nahl (16) : 89
    4. Manusia yang suci dan disucikan sesucisucinya Al-Ahzab : 33
    5. Mengetahui yang gaib QS Al-Jin : 26-27

    dengan dalil-dalil tersebut saya berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw bukan manusia biasa seperti kita, berbeda dengan yang anda yakini selama ini bahwa anda berkeyakinan beliau hanya MANUSIA BIASA SEPERTI KITA.

    wassalam

  36. assalamualaikum wr.wb megenai tawasul antara ulama yang memakai atau yang tidak memakai semuanya adalah perbedaan pendapat.para ulama warusatul ambiyya tidak main-main dalam menentukan boleh atau tidaknya tawassul karna beliu-beliu semua berdasarkan hujja masing-masing untuk kita sendiri mempelajari perbedaan yang terjadi di antara pendapat para ulama dan memilih apa yang menjadi keyakinan kita kita pakai tawasul tau tidak tawasul karana setiap perbedaan pendapat adalah rahmat itulah kekayaan agama islam sebagai rahmtallialamin.

  37. @Panggoda
    Yang ingin saya katakan adalah… setiap saya berdiskusi dengan yang anti tawassul, mereka selalu bilang Rasul SAAW manusia biasa, sudah meninggal, tidak bisa berbuat apa2. Nah argumen inilah yang saya sebut ga nyambung karena beda konteksnya. Ada ga dalil / argumen lainnya yang konteksnya nyambung untuk membantah dalil2/ argumen yang pro tawassul? Kalo ada mohon dishare disini biar saya sama2 belajar…..( btw, boleh tau ga, ente yang pro tawassul atau yang anti ? )

  38. @G2
    Saya harap anda jangan menafikan ayat 110 dari Surah Al Kahfi. Sebab kalau anda tetap mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak seperti manusia biasa berarti anda tidak membenarkan Firman Allah QS Al Kahfi 110.
    Bagi saya SEPERTI berarti sifat LAHARIAH Rasul sama dengan manusia biasa (makan, minum, tidur, berjalan, berperasaan, bisa bicara dlsb) Tapi Rasulullah SAW YIDAK SAMA MANUSIA BIASA. Beliau adalah NUR yang Allah Ciptakan SEBELUM alam semesta ini diciptakan.
    Bagi saya Rasulullah SAW adalah MAKHLUK YANG PALING MULIA YANG ALLAH CIPTAKAN dan tidak ada yang dapat menandingi beliau. Sesudah beliau baru Imam Ali as dan seterusnya Ahlulbaiti dan Itrahtinya. Salam damai wasalam

  39. @abah zahra
    Mengapa saya berkomentar demikian yang akhirnya menjadi suatu diskusi yang berkepanjangan.
    Maksud saya untuk menjelaskan bagi para kellompok SUNI yang masih menganggap. Rasul SAMA DENGAN MANUSIA BIASA. Sehingga kelompok Wahaby/salafiyan meningkatkan pemahaman mereka menjadi APABILA RASUL WAFAT MAKA WAFATNYA SEPERTI MANUSIA BIASA, Kalau perlu tak berkubur. (malahan pernah terjadi kubur Rasul mau dibongkar)
    Soal tawassul. Saya setiap malam bertawasul pada Rasul, Imam Ali as, Syadati Fatimah as serta 12 Imam.
    Dan bagi saya tawassul itu WAJIB. Karena Allah memberikan contoh bagaimana cara memohon pada Allah Maha Pemberi. Allah memberikan sesuatu dengan Rahmannya tidak LANGSUNG selalu memakai PERANTARA.
    Anda bertanya apakah ada nash2 yang membantah/argumen yang pro tawassul. Saya jawab ADA dan yang lebih mengetahui nash tsb adalah kelompok Wahaby/salafiyn. Salam damai Wasalam

  40. @surasi
    Kalau demikian menurut anda tawasul atau tidak terserah kita, karena setiap ulama mempunyai nash/argumen sendiri. Dan setiap perbedaan adalah Rakhmat.
    Kalau demikian tolong ada berikan nash para Ulama yang melarang bertawasul.
    Menurut anda bahwa perbedaan pendapat adalah Rakhmat. Apakah saling membunuh sesama Islam itu RAKHMAT? Gara2 perbedaan paham maka terjadi saling membunuh. Apakah anda tidak pernah membaca Firman2 Allah dimana Allah mengabarkan akibat PERBEDAAN PENDAPAT? Jangan berpegang pada Hadits tapi Firman Allah. Wasalam

  41. @Panggoda
    Kalo begitu anda dan saya merupakan yang pro tawassul. Saya sendiri masih menunggu komen dari yang anti tawassul khususnya wahabi atas topik yang digelar oleh Tuan rumah, Bung SP….. silakan wahabi…silakan wahabi ditunggu komennya……..

  42. Telah terjadi salah paham antara Panggoda dg Abah Zahra & G2.
    Kalian semua sama2 meyakini bhw Rasulullah bukanlah manusia biasa. Hanya saja Panggoda mengingat pada anda2 untuk menyimak dan memahami QS:18: 110:

    Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: dstnya

    Nahh dalil inilah yang digunakan oleh salafy untuk menyatakan bhw Rasulullah adalah “manusia”.
    Sebetulnya jika mereka memang punya niat/i’tiqad untuk memuliakan Rasulullah maka dengan mudah dijelaskan. Hanya krn pada dasarnya mmg mereka punya i’tiqad memangkas kemuliaan Rasulullah maka i’tiqad itu membawa mrk kpd pemahaman mrk yang dangkal.

    Ada 2 dalil yg mestinya cukup menjadi pemikiran mereka:

    1. Berlian dengan kerikil sama2 batu, apakah ada bedanya?
    2. Ada banyak kata manusia dalam bahasa Arab (as far as i know), kenapa ayat tsb menggunakan kata Basyar?

    Salam damai.

  43. Ralat:
    Nahh dalil inilah yang digunakan oleh salafy untuk menyatakan bhw Rasulullah adalah “manusia biasa”.

    Ralat:
    3. Darimana datang kata biasa yang ditambahkan di belakang kata basyarun?

    Salam damai

  44. @Truthseeker08, di/pada Juli 28, 2010 pada 11:37 am Dikatakan: r

    …3. Darimana datang kata biasa yang ditambahkan di belakang kata basyarun?….
    ==============================================
    Ya mungkin dari kalimah terusannya…. basyarun mitslukum….
    yang artinya manusia semisal kamu, atau seperti kamu,….. dan memang bener, Rasul SAAW manusia seperti kita, makan, minum, dll….

    Salam damai….

  45. Copas:
    Kata basyar terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain.
    Al-Quran menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna (dual) untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Karena itu Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk menyampaikan bahwa,

    Aku adalah basyar (manusia secara fisik) seperti kamu yang diberi wahyu (QS Al-Kahf [18]: 110).

    Kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Pendapat ini, jika ditinjau dari sudut pandang Al-Quran lebih tepat dari yang berpendapat bahwa ia terambil dan kata nasiya (lupa), atau nasa-yanusu (berguncang).
    Kitab Suci Al-Quran –seperti tulis Bint Al-Syathi’ dalam Al-Quran wa Qadhaya Al-Insan– seringkali memperhadapkan insan dengan jin/jan. Jin adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata lagi ramah.
    Kata insan, digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.

    Diharapkan mereka yang lebih berilmu dalam tafsir dan bahasa untuk memberikan komentar dan analisanya.

    Salam damai.

  46. @PANGGODA
    ternyata kita berdua yang pro tawasul yah habis anda dulu berkomentar “Buat apa kita bertawasul kepada Nabi Muhammad Beliau kan hanya MANUSIA BIASA SEPERTI KITA. Bedanya karena beliau menerima WAHYU. Jadi kalau beliau sudah meninggal maka sama dengan manusia biasa yang meninggal” habis anda tidak langsung menjelaskannya coba kalau anda langsung menjelakannya kan gak jadi berkepanjangan gini.

    Wassalam

  47. @g2

    Sebenarnya saya tidak akan menjelasakan agar berkembang diskusi ini. Itu saja. Dan dengan demikian menambah wawasan menuju kebenaran.
    Maaf. Salam damai. Wasalam

  48. Sungguh indah pelajaran-pelajaran yang kita dapat selama ini berkat tawassul pada Rasul, Imam Ali as, Syadati Fatimah as serta 12 Imam.

    Wassalam

  49. Ternyata PANGGODA …. konco dewe rek…..

  50. Namanya saja PANGGODA. Suka godain oranglah…

  51. penggoda benar2 pintar berbelit bolak balik tetap aja dibelat belit ckckck.

  52. Numpang nanya:

    Pada bagiab akhir (COPAS): Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan. Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak mendengar hadis darinya. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat dan Abu Hatim berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 497]

    Saya bingung dengan pernyataan ini (COPAS):
    “…Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam TETAPI TIDAK MENDENGAR HADITS DARINYA”

    Namun dalam lafaz hadits disebutkan (COPAS):
    “…aku pernah MENYAKSIKAN seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya,…”

    Koq kayaknya ada kontradiksi ya?

  53. @Abdul Aziz

    Saya bingung dengan pernyataan ini (COPAS):
    “…Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam TETAPI TIDAK MENDENGAR HADITS DARINYA”

    Ia yang dimaksud dalam perkataan ini adalah Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif

    Namun dalam lafaz hadits disebutkan (COPAS):
    “…aku pernah MENYAKSIKAN seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya,…”

    perkataan ini adalah milik Utsman bin Hunaif, ia adalah sahabat Nabi pamannya Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Jadi tidak ada yang kontradiksi kok🙂

  54. Saya tidak mengerti apa itu aliran salafy atau apalah yang lain. Yang jelas tawassul itu musryik. Selama di malaysia bahkan pembimbing di naik haji saja melarang untuk menjadi kan Nabi Muhammad sebagai perantara.

    Orang arab yang notabene adalah tempat kelahiran Islam aj melarang keras bagi yang naik haji jika datang kekuburan Nabi Muhammad minta berkah atau apa lah. Kok aneh banget sama orang Indonesia yang pada bodoh ini ya? Mungkin orang Indonesia ini lebih pintar dari ibu Islam sendiri x ya?

    Mungkin orang2 Indonesia ini mau meluruskan Arab x ya? Mungkin mau menggantikan ajaran resmi yang di ajarkan Nabi Muhammad, gtu x ya? Mending yang tawassul mau membuktikan dirinya benar, naik hajilah ke mekkah sana, lihat disana, diri anda dapat selamat di mekkah atau tidak, mungkin itu jawaban bagi orang2 tawassul bodoh ini x ya.

    Ini aj yang tawassul ini aj tukang jelek2kin negeri arab itu sendiri, bahkan aj dari mereka bilang Arab bikin keputusan menggal kepala TKI asal2an. Nah orang yang menyerang agama sendiri kayak gni mau di ikuti, bodoh sekali namanya. Karena isinya dah syethan semua x, khodam2nya syethan semua di sisi dia makanya kerjanya itu ya begitu, tukang hancurin Islam. Kumpulan orang munafik, musryik dan syirik. Mau kemana loe pada mati? Bego amat ini orang Indonesia tukang tawassul, bego2.

  55. @otak junius = otak udang

  56. @otak jenius
    Anda berkata: Orang arab yang notabene adalah tempat kelahiran Islam aj melarang keras bagi yang naik haji jika datang kekuburan Nabi Muhammad minta berkah atau apa lah
    Apa anda tidak tau bahwa bangsa Arab sebelum Islam masuk, adalah JAHILIYAH? Mereka dahulu bertawasul kepada patung2 yang mereka buat sendiri. Dan paham jahiliiyah itu masih dipertahankan sampai sekarang, Mereka2 yang melarang bertawasul kepada orang2 yang Allah Muliakan.
    tetapi boleh bertawusul kepada yang dihinakan Allah. Wasalam

  57. @chany
    susah lho diksusi sama yang “otak jenius”:mrgreen:

  58. @SP
    Otak yang terlalu jenius bisa2 fatal lho karena tdk mampu menampung.

  59. mz second prince boleh minta sanad atsar diatas yg lewat ahmad bib syabib gk?

    krna mnurut wahabi jika dri syabib bin said melewati abdullah bin wahab itu dianggap dhoif

    rima kasih utk bantuannya mz

  60. oh ya boleh tau juga kitab rujukannya mz…..trima kasih utk bantuannya

  61. @silent
    Tulisan di atas sudah kami lengkapi, nah Silakan lihat di lampiran [di atas]🙂

  62. Hadist ini Hadist Shohih Rawi-nya Tsiqqoh. Tawassul itu diajarkan dan Boleh untuk kita Umat Muhammad. Adapun untuk orang yang tidak suka tawassul, Silahkan renungkan tentang hadist itu. Orang arab belum tentu alim sampai berani mengatakan orang2 syirik.
    Salamun Qoulam min Rabbir Rahiim…I’m Ahlus Sunnah wal Jamaah

  63. Kalo kata ya dalam kalimat ya husain atau ya ahlal bait itu dasar nya apa ya mas SP?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: