Dua Imam Syiah Beda Pendapat, Mana Yang Benar? : Kejahilan Nashibi

Dua Imam Syiah Beda Pendapat, Mana Yang Benar? : Kejahilan Nashibi

Yaitu, beda pendapat tentang hukum mandi Jum’at, sunnah ataukah wajib. Dalam Kitab Al Istibshaar tulisan Abu Ja’far Ath Thuusiy [salah seorang ulama Syiah] menyebutkan riwayat sebagai berikut.

أخبرني الشيخ رحمه الله عن أحمد بن محمد عن أبيه عن سعد بن عبدالله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن علي بن يقطين عن أخيه الحسين عن علي بن يقطين قال: سألت أبا الحسن عليه السلام عن الغسل في الجمعة والاضحى والفطر قال: سنة ليس بفريضة

Telah mengabarkan kepadaku Syaikh rahimahullah dari Ahmad bin Muhammad dari Ayahnya dari Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Ali bin Yaqthiin dari saudaranya Husain dari Aliy bin Yaqthiin yang berkata “aku bertanya kepada Abul Hasan [‘alaihis salam] tentang mandi pada hari Jum’at, Idul Adha dan Idul Fitri. Ia berkata “sunah tidak wajib” [Al Istibshaar 1/102]

ما رواه محمد بن يعقوب عن علي بن ابراهيم عن أبيه عن عبدالله بن المغيرة عن أبي الحسن الرضا عليه السلام قال: سألته عن الغسل يوم الجمعة فقال: واجب على كل ذكر وانثى من عبد وحر

Apa yang diriwayatkan Muhammad bin Ya’qub dari Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Abdullah bin Mughiirah dari Abu Hasan Ar Ridhaa [‘alaihis salam], ia berkata “aku pernah bertanya kepadanya tentang madni hari Jum’at”. Beliau menjawab “wajib bagi setiap laki-laki, wanita, hamba dan orang merdeka” [Al Istibshaar 1/103]

Riwayat pertama Abul Hasan yaitu Imam Musa bin Ja’far menyatakan bahwa hukum mandi pada hari Jum’at adalah sunah bukan wajib [lafaz yang digunakan disini adalah laisa bifariidah]. Kemudian pada riwayat kedua, Imam Ali Ar Ridha menyatakan hukumnya wajib [lafaz yang digunakan adalah waajib].

Nashibi berkata “jika Imam Syiah semuanya ma’shum maka perkataan siapa yang dipegang dalam masalah ini, apakah mungkin dua versi bertolak belakang ini dibenarkan semua, boleh dikatakan wajib dan boleh dikatakan tidak wajib. Intinya Nashibi ingin menunjukkan bahwa kedua riwayat di atas membatalkan teori kema’shuman para Imam Syiah.

.

.

.

Pembahasan Dari Sudut Pandang Syiah

Memang teologi kema’shuman para Imam Ahlul Bait adalah perkara yang diyakini kebenarannya dalam mazhab Syiah. Kami tidak akan membicarakannya, tulisan ini hanya ingin menunjukkan kejahilan nashibi dalam menjadikan kedua riwayat tersebut sebagai pembatal kema’shuman.

Perlu diketahui perkara mandi pada hari Jum’at telah menjadi ikhtilaf diantara para ulama Syiah [sebagaimana juga terjadi ikhtilaf diantara ulama ahlussunnah]. Sebagian dari Ulama Syiah telah membahas kedua riwayat di atas dan mengkompromikannya. Syaikh Ath Thuusiy sendiri berkata

فأما ما روي من أن غسل الجمعة واجب وأطلق عليه لفظ الوجوب فالمعنى فيه تأكيد السنة وشدة الاستحباب فيه

Apa yang diriwayatkan bahwa mandi pada hari Jum’at wajib dan yang telah dimutlakkan dengan lafaz “kewajiban” maka maknanya adalah penekanan terhadap Sunnah dan sangat dianjurkan dengannya. [Al Istibshaar 1/103]

Nashibi yang sok ilmiah [padahal hakikatnya jahil] menolak pernyataan Ath Thuusiy dengan alasan karena jelas beda antara jawaban Imam Syiah sunnah/tidak wajib dengan wajib. Selain itu para ulama Syiah lain berpegangan pada zhahir riwayat kedua yang menyatakan wajib.

Mengenai argumen nashibi bahwa beda antara jawaban “sunnah” dengan jawaban “wajib” maka memang begitulah zhahir-nya. Tetapi perlu diingat bahwa makna wajib tidak selalu bermakna fardhu’ karena lafaz wajib bisa juga bermakna “sunah mu’akkad” atau yang sangat dianjurkan dan makna ini dipakai jika ada qarinah yang menguatkannya. Kami melihat hal inilah yang dipahami oleh Syaikh Ath Thuusiy bahwa lafaz “wajib” tersebut harus dikompromikan dengan lafaz “sunnah laisa bifariiidah” pada riwayat sebelumnya, itulah qarinah yang memalingkan maknanya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Muhaqqiq Al Hilliy setelah membawakan riwayat Imam Shadiq bahwa mandi Jum’at hukumnya sunnah, ia berkata

ولا يعارض ذلك ما رواه ابن المغيرة ومحمد بن عبد الله عن الرضا عليه السلام قال سألته عن غسل الجمعة فقال: ” واجب على كل ذكر وأنثى من حر وعبد ” لأنا نقول المراد بذلك تأكيد الاستحباب ويدل على ذلك ما رواه علي بن يقطين عن أبي الحسن عليه السلام قال: ” الغسل في الجمعة والأضحى والفطر سنة وليس بفريضة

Dan tidak bertentangan dengan hal itu apa yang diriwayatkan Ibnu Mughiirah dan Muhammad bin ‘Abdullah dari Ar Ridha [‘alaihis salam] bahwa ia ditanya tentang mandi Jum’at dan Beliau menjawab “wajib bagi setiap laki-laki, wanita, orang merdeka dan budak”. Kami katakan bahwa maksudnya adalah penekanan terhadap suatu anjuran /sunnah, dan dalil akan hal itu adalah riwayat Ali bin Yaqthiin dari Abu Hasan [‘alaihis salam] yang berkata mandi pada hari Jum’at Idul Adha dan idul Fitri adalah sunnah bukan fardhu [Al Mu’tabar Muhaqqiq Al Hilliy 1/353]

Apa yang dilakukan Syaikh Ath Thuusiy dan yang lainnya ini sangat mirip dengan para ulama ahlus sunnah yang juga memahami lafaz wajib dalam salah satu hadis tentang mandi Jum’at sebagai penekanan atau sunnah mu’akkad.

Kemudian argumen nashibi bahwa ada sebagian ulama Syiah berpegang pada zhahir riwayat dengan lafaz “wajib” maka hal itu tidak menafikan ada sebagian ulama Syiah yang berusaha mengkompromikan kedua riwayat tersebut seperti yang dilakukan Ath Thuusiy dan Al Hilliy. Seperti yang dikatakan sebelumnya perkara mandi Jum’at ini menjadi ikhtilaf di kalangan Ulama Syiah. Argumen ini agak terlihat konyol karena perkara yang sama juga terjadi dalam mazhab Ahlus sunnah. Ada ulama yang menyatakan wajib hukumnya mandi Jum’at dengan hujjah hadis shahih yang mengandung lafaz “wajib” kemudian sebagian ulama lain menyatakan hukumnya sunnah dan makna wajib disana adalah sunah mu’akkad. Bagaimana mungkin pernyataan  ulama yang menakwilkan wajib sebagai sunah mu’akkad ditolak hanya karena sudah ada ulama lain yang menyatakan hukum wajib secara zhahir. Apalagi ternyata nashibi yang jahil itu sendiri cenderung berpendapat bahwa hukum mandi Jum’at adalah sunnah, artinya ia sendiri menakwilkan lafaz wajib dalam hadis shahih bukan sebagai hukum wajib tetapi sebagai sunnah. Apa bedanya dengan Syaikh Ath Thuusiy?.

Ada Qarinah lain yang menguatkan apa yang dikatakan oleh Syaikh Ath Thuusiy mengenai riwayat dengan lafaz “wajib”. Al Majlisiy membawakan sebuah riwayat dalam kitabnya Bihar Al Anwar

العلل: لمحمد بن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن جده إبراهيم ابن هاشم، عن علي بن معبد، عن الحسين بن خالد قال: قلت للرضا عليه السلام: كيف صار غسل يوم الجمعة واجبا على كل حر وعبد، وذكر وأنثى؟ قال: فقال إن الله تبارك وتعالى تمم صلوات الفرائض بصلوات النوافل، وتمم صيام شهر رمضان بصيام النوافل، وتمم الحج بالعمرة، وتمم الزكاة بالصدقة، وتمم الوضوء بغسل يوم الجمعة

[Dari Kitab Al Ilal] : Muhammad bin Aliy bin Ibrahiim dari ayahnya dari kakeknya Ibrahim bin Haasyim dari Aliy bin Ma’bad dari Husain bin Khalid yang berkata aku bertanya kepada Ar Ridha [‘alaihis salam] “bagaimana bisa mandi pada hari Jum’at waib bagi setiap orang yang merdeka, budak, laki-laki dan wanita?. Beliau menjawab “Allah tabaraka wata’ala telah melengkapi shalat-shalat fardhu dengan shalat-shalat nawafiil, melengkapi puasa Ramadhan dengan puasa nawafiil, melengkapi Haji dengan Umrah, melengkapi zakat dengan shadaqah dan melengkapi wudhu’ dengan mandi pada hari Jum’at [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 78/129].

Riwayat dengan matan serupa juga dibawakan oleh Hurr Al Amiliy dalam Wasa’il Syiah 3/313, hanya saja disebutkan bahwa Husain bin Khalid bertanya kepada Abu Hasan Al Awwal yaitu Musa bin Ja’far. Al Hurr Al Amiliy berkata setelah membawakan riwayat tersebut

في هذا قرينة واضحة على أن المراد بالوجوب الاستحباب المؤكد ان إتمام وضوء النافلة ليس بواجب ولا لازم، كيف وإتمام الصلاة والصيام الواجبين هنا ليس بواجب، للقطع بعدم وجوب صوم النافلة وصلاة النافلة

Dalam riwayat ini terdapat petunjuk yang menjelaskan bahwa maksud dengan kewajiban tersebut adalah mustahab [anjuran] yang sangat ditekankan. Bahwa melengkapi wudhu nafilah tidaklah wajib dan tidak perlu, bagaimana dengan melengkapi shalat dan puasa,  yang diwajibkan disini bukan bermakna wajib karena tidak ada kewajiban puasa nawafiil dan shalat nawafiil [Wasa’il Syiah 3/313-314]

Disini kami hanya membawakan pendapat sebagian Ulama Syiah yang berusaha mengkompromikan hadis dengan lafaz “wajib” dan hadis dengan lafaz “sunnah” sehingga mereka menghukumi mandi Jum’at sebagai sunnah mu’akkad. Tidak satupun dari mereka menganggap riwayat ini sebagai pembatal atau membuat masalah dengan teologi kema’shuman Imam yang mereka yakini.

.

.

.

Pembahasan Dalam Sudut Pandang Sunni

Berikutnya kami akan membawakan masalah mandi Jum’at dari sudut pandang Ahlus Sunnah dan silakan perhatikan dengan baik bahwa apa yang dipermasalahkan oleh nashibi jahil itu sebenarnya juga ada dalam mazhab Ahlus Sunnah.

حدثنا علي قال حرمي بن عمارة قال حدثنا شعبة عن أبي بكر بن المنكدر قال حدثني عمرو بن سليم الأنصاري قال أشهد على أبي سعيد قال أشهد على رسول الله صلى الله عليه و سلم قال الغسل يوم الجمعة واجب على كل محتلم وأن يستن أن يمس طيبا إن وجد

Telah menceritakan kepada kami Aliy telah berkata Haramiy bin ‘Umaraah yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bakar bin Munkadir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Sulaim Al Anshariy yang berkata aku menyaksikan Abu Sa’id yang berkata aku menyaksikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mandi hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang muhtalim [sudah baligh] dan bersiwak dan memakai wangi-wangian jika ada [Shahih Bukhari no 840]

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُفْيَانَ الْجَحْدَرِىُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Muusa Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sufyaan Al Jahdariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Hasan dari Samurah bin Jundub yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang berwudhu’ pada hari Jum’at maka itu baik dan barang siapa yang mandi maka mandi itu lebih utama” [Sunan Tirmidzi no 499, At Tirmidzi berkata “hadis hasan”].

Hadis Bukhari secara zhahir memiliki konsekuensi hukum mandi Jum’at wajib sedangkan hadis Tirmidzi secara zhahir memiliki konsekuensi hukum mandi Jum’at sunnah. Tidak jauh berbeda dengan apa yang ternukil dalam riwayat-riwayat Syiah.

Perkara mandi pada hari Jum’at hukumnya diperselisihkan oleh para Ulama Ahlus sunnah. Ada yang mengatakan hukumnya wajib dengan berhujjah pada hadis Shahih Bukhari dan melemahkan hadis Tirmidzi. Sebagian Ulama Ahlus Sunnah [bahkan ada yang menyatakan ini pendapat Jumhur] menyatakan bahwa hukumnya sunnah mu’akkad, mereka menerima kedua hadis di atas dan mereka menakwilkan bahwa makna wajib pada hadis Bukhari bukan wajib fardhu tetapi sunah yang sangat ditekankan.

Hadis Bukhari di atas juga diriwayatkan oleh Malik dalam Al Muwatta dan Al Hafizh Zarqaniy dalam Syarh-nya menafsirkan kata “wajib” sebagai berikut

واجب أي مسنون متأكد قال ابن عبد البر ليس المراد أنه فرض بل هو مؤول أي واجب في السنة أو في المروءة أو في الأخلاق الجميلة كقول العرب وجب حقك ثم أخرج بسنده عن أشهب أن مالكا سئل عن غسل يوم الجمعة أواجب هو قال هو حسن وليس بواجب وأخرج عن ابن وهب أن مالكا سئل عن غسل يوم الجمعة أواجب هو قال هو سنة ومعروف قيل إن في الحديث واجب قال ليس كل ما جاء في الحديث يكون كذلك

Wajib disini maknanya sunah yang ditekankan, Ibnu Abdil Barr berkata Yang dimaksudkan wajib disini bukanlah fardhu tetapi ditakwilkan yaitu wajib dalam sunnah atau dalam muru’ah atau dalam akhlak baik, seperti perkataan orang Arab “hakmu itu wajib” kemudian dikeluarkan dengan sanadnya dari Asyhab bahwa Malik ditanya tentang mandi pada hari Jum’at wajibkah itu?. Ia berkata “itu baik tetapi tidak wajib”. Dan dikeluarkan dari Ibnu Wahb bahwa Malik ditanya tentang mandi hari Jum’at wajibkah itu?, Ia menjawab “itu sunnah yang sudah dikenal”, Dikatakan bahwa dalam hadis disebutkan wajib, Ia berkata “tidaklah setiap apa yang datang dalam hadis dinyatakan demikian [secara zhahir] [Syarh Al Muwatta Az Zarqaniy 1/310].

At Tirmidziy berkata setelah membawakan hadis Samurah bin Jundub di atas

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَمَنْ بَعْدَهُمُ اخْتَارُوا الْغُسْلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَأَوْا أَنْ يُجْزِئَ الْوُضُوءُ مِنَ الْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ. قَالَ الشَّافِعِىُّ وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَمْرَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بِالْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنَّهُ عَلَى الاِخْتِيَارِ لاَ عَلَى الْوُجُوبِ حَدِيثُ عُمَرَ حَيْثُ قَالَ لِعُثْمَانَ وَالْوُضُوءَ أَيْضًا وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِالْغُسْلِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ. فَلَوْ عَلِمَا أَنَّ أَمْرَهُ عَلَى الْوُجُوبِ لاَ عَلَى الاِخْتِيَارِ لَمْ يَتْرُكْ عُمَرُ عُثْمَانَ حَتَّى يَرُدَّهُ وَيَقُولَ لَهُ ارْجِعْ فَاغْتَسِلْ وَلَمَا خَفِىَ عَلَى عُثْمَانَ ذَلِكَ مَعَ عِلْمِهِ وَلَكِنْ دَلَّ فِى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ الْغُسْلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ فَضْلٌ مِنْ غَيْرِ وُجُوبٍ يَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ فِى ذَلِكَ

Hadis ini telah diamalkan oleh ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan setelah mereka bahwa mereka memilih mandi pada hari Jum’at dan berpandangan bahwa wudhu’ mencukupi sebagai pengganti mandi pada hari Jum’at. Syafi’i berkata dan diantara hal yang menunjukkan bahwa perintah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mandi pada hari Jum’at adalah pilihan bukan wajib yaitu hadis Umar yang berkata kepada Utsman “dan wudhu’, bukankah kau mengetahui bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan mandi pada hari Jum’at. Seandainya mereka mengetahui hal itu sebagai wajib bukan pilihan tentu Umar tidak akan membiarkan Utsman dan menolaknya seraya berkata “kembalilah dan mandilah dulu”. Dan sebenarnya Utsman mengetahui akan hal ini tetapi yang ditunjukkan dalam hadis tersebut bahwa mandi pada hari Jum’at di dalamnya ada keutamaan bukan kewajiban dan tidak diwajibkan atas seorangpun [Sunan Tirmidzi no 499]

Ibnu Hajar dalam Fath Al Bariy juga menukil apa yang dikatakan Imam Syafi’i tersebut ketika ia menjelaskan hadis Bukhari di atas

وقد قال الشافعي في الرسالة بعد أن أورد حديثي ابن عمر وأبي سعيد : احتمل قوله واجب معنيين ، الظاهر منهما أنه واجب فلا تجزي الطهارة لصلاة الجمعة إلا بالغسل ، واحتمل أنه واجب في الاختيار وكرم الأخلاق والنظافة . ثم استدل للاحتمال الثاني بقصة عثمان مع عمر التي تقدمت قال : فلما لم يترك عثمان الصلاة للغسل ولم يأمره عمر بالخروج للغسل دل ذلك على أنهما قد علما أن الأمر بالغسل للاختيار ا ه . وعلى هذا الجواب عول أكثر المصنفين في هذه المسألة كابن خزيمة والطبري والطحاوي وابن حبان وابن عبد البر وهلم جرا ، وزاد بعضهم فيه أن من حضر من الصحابة وافقوهما على ذلك فكان إجماعا منهم على أن الغسل ليس شرطا في صحة الصلاة وهو استدلال قوي ، وقد نقل الخطابي وغيره الإجماع على أن صلاة الجمعة بدون الغسل مجزئة

Dan Sungguh telah berkata Asy Syafi’i dalam Ar Risalah setelah membawakan dua hadis yaitu hadis Ibnu Umar dan Abu Sa’id “kata wajib disini memiliki dua kemungkinan makna. Pertama “zhahir maknanya wajib tidak mencukupi bersuci untuk shalat Jum’at selain dengan mandi”. Kedua “wajib yang bermakna pilihan, anjuran untuk kemuliaan akhlak dan kebersihan. Kemudian Syafi’i telah berdalil dengan kemungkinan kedua berdasarkan kisah Utsman bersama Umar sebelumnya, Utsman tidak meninggalkan shalat untuk mandi dan Umar tidak memerintahkannya keluar untuk mandi. Hal itu menunjukkan bahwa keduanya memahami bahwa mandi itu adalah pilihan. Berdasarkan hal inilah para penulis [ulama] menjawab masalah ini seperti Ibnu Khuzaimah, Ath Thabariy, Ath Thahawiy, Ibnu Hibban, Ibnu Abdil Barr dan yang lainnya. Bahkan sebagian mereka menambahkan bahwa sahabat yang hadir saat itu sepakat dengan keduanya [Umar dan Utsman]. Maka ini menunjukkan Ijma’ diantara mereka bahwa mandi bukan syarat sahnya shalat dan ini pendapat yang kuat. Dan telah dinukil Al Khaththabiy dan yang lainnya telah menjadi Ijma’ bahwa shalat Jum’at tanpa mandi itu dibolehkan [Fath Al Bari Ibnu Hajar 3/281]

Bahkan ulama kebanggaan para nashibi yaitu Syaih Bin Baz pun juga menyatakan hal yang serupa bahwa hukum mandi Jum’at adalah sunnah mu’akkad dan lafaz wajib disana bukan fardhu

وقد اختلف أهل العلم هل غسل الجمعة واجب أم مستحب؟ ورجح سماحة العلامة ابن باز أن غسلَ الجمعة سنة مؤكدة، وينبغي للمسلم أن يحافظ عليه خروجاً من خلاف من قال بالوجوب، وأقوال العلماء في غسلِ الجمعة ثلاثة: منهم من قال بالوجوب مطلقاً وهذا قول قوي، ومنهم من قال: بأنه سنة مؤكدة مطلقاً، ومنهم من فصَّل فقال: غسل يوم الجمعة واجب على أصحاب الأعمال الشاقة؛ لما يحصل لهم من بعض التعب والعرق، ومستحب في حق غيرهم، وهذا قول ضعيف، والصواب أن غسل الجمعة سنة مؤكدة،أما قوله غسل الجمعة واجب على كل محتلم فمعناه عند أكثر أهل العلم متأكد كما تقول العرب: ((العدة دين وحق عليَّ واجب)). ويدل على هذا المعنى اكتفاؤه بالأمر بالوضوء في بعض الأحاديث.. وهكذا الطيب والاستياك، ولبس الحسن من الثياب، والتبكير إلى الجمعة، كله من السنن المرغَّب فيها، وليس شيء منها واجباً

Dan sungguh telah berselisih para ahli ilmu mengenai hukum mandi Jum’at apakah wajib ataukah sunnah?. Allamah Bin Baaz telah mentarjih bahwa mandi Jum’at hukumnya sunnah mu’akkad. Oleh karena itu seorang muslim harus benar-benar menjaganya agar keluar dari perselisihan dengan mereka yang mewajibkannya. Pendapat para ulama mengenai mandi Jum’at ini ada tiga . Pertama : wajib mutlak dan ini perkataan yang kuat. Kedua sebagian mereka berpendapat sunnah mu’akkad mutlak. Ketiga dan sebagian ulama merincikan mandi Jum’at itu wajib bagi para pekerja berat karena pekerjaan itu dapat menimbulkan rasa lelah dan keringat yang banyak tetapi sunah bagi selain mereka. Pendapat ini lemah, yang benar adalah mandi Jum’at hukumnya sunnah mu’akkad. Adapun hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “mandi Jum’at wajib bagi setiap yang muhtalim” maka maknanya menurut banyak ahli ilmu adalah sebagai penekanan sebagaimana orang Arab  berkata “Janji adalah hutang dan saya wajib memenuhinya”. Yang menunjukkan hal itu juga adalah kebijakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang memerintahkan wudhu’ saja dalam beberapa hadis. Begitu pula dengan wangi-wangian, siwak, pakaian yang baik dan berangkat lebih dahulu ke masjid semuanya adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan tidak ada didalamnya sedikitpun unsur wajib [Ash Shalatul Mu’min hal 69-70, Sa’id bin Aliy bin Wahf A Qahthaniy]

.

.

.

Silakan perbandingkan apa yang dikatakan oleh mazhab Ahlus Sunnah dan apa yang dikatakan mazhab Syiah. Mengapa nashibi jahil itu mempermasalahkan ketika Syaikh Ath Thuusiy dan selainnya menakwilkan makna wajib dalam hadis Imam mereka sebagai sunnah mu’akkad, padahal ia sendiri menerima jika hal yang sama dilakukan oleh ulama Ahlus Sunnah. Mengapa nashibi jahil itu terburu-buru menunjukkan bahwa riwayat Syiah dalam masalah ini membatalkan teori kema’shuman Imam padahal riwayat yang sama ada dalam mazhab Ahlus sunnah dan tidak menjadi pembatal kema’shuman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainya nashibi jahil itu ngeyel menjawab bahwa dalam Syiah itu adalah pernyataan dua Imam yang berbeda sedangkan dalam Ahlus Sunnah riwayat-riwayat tersebut bersumber dari satu Imam yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka cukuplah hal ini menunjukkan kedunguan yang nyata. Karena hakikat permasalahan disini adalah lafaz “wajib” dalam suatu riwayat. Kalau nashibi bersikeras menafsirkan wajib secara zhahir dan menolak penakwilan maka celaannya terhadap syiah juga berlaku untuk Ahlus Sunnah. Bedanya dalam pandangan Nashibi, Imam yang satu kontradiktif [bertolak belakang] dengan Imam yang lain, sehingga salah satu keliru maka batallah kema’shuman. Kemudian jika ditujukan pada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka perkataan Beliau kontradiktif [bertolak belakang] dengan perkataan Beliau di saat yang lain, sehingga salah satu keliru maka batal juga kema’shuman. Bukankah ini konsekuensi kejahilan nashibi tersebut.

Jika Nashibi mentakwilkan perkataan “wajib” dalam hadis ahlus sunnah maka Syiah-pun bisa mentakwilkan perkataan “wajib” dalam hadis Imam mereka sehingga tidak ada yang namanya kontradiktif atau sebagaimana yang diinginkan nashibi tersebut pembatal kema’shuman. Maka apalah guna tulisan yang dibuatnya

Jika para ulama ahlus sunnah bisa mengkompromikan berbagai riwayat dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang mandi Jum’at ini maka para ulama Syiah pun bisa mengkompromikan berbagai riwayat dari Imam mereka tentang hukum mandi Jum’at. Jujur saja kami tidak melihat ada masalah disini karena sebenarnya yang bermasalah adalah akal para nashibi yang memang jahil dan tertutupi oleh kenifaqan hati mereka. Akhir kata kami tutup pembahasan ini dengan meminta petunjuk dan ampunan dari Allah SWT. Salam Damai

About these ads

11 Tanggapan

  1. Kaidah mana dalam Ushul madzhab Syi’ah yang menetapkan bahwa jika 2 atau lebih imam2 Syi’ah beda pendapat, maka perkataan dari imam yang satu harus dibawakan kepada imam yang lainnya?
    Semisal dalam bahasan di atas, anda membawakan perkataan wajib dari Ar-Ridha di sana kepada sunnah menurut perkataannya al-Kazhim…..
    Mengapa tidak dibalik yaitu perkataannya al-Kazhim dibawakan kepada pengertian sunnah menurut al-Kazhim sebenarnya adalah wajib.

  2. @green
    Saya hanya menunjukkan bahwa sebagian ulama Syiah melakukan demikian, jika anda tidak setuju maka itu urusan anda. Lagipula sepertinya saya juga membawakan riwayat Ar Ridha yang mengisyaratkan bahwa wajib disitu bermakna sunah mu’akkad. Sama halnya dengan hadis Bukhari dan hadis Tirmidzi. Mengapa harus ada hadis Bukhari yang dipalingkan maknanya ke hadis Tirmidzi kenapa nggak hadis Tirmidzi yang dipalingkan ke hadis Bukhari. Jawabannya ya tergantung qarinah-qarinah nya :)

  3. Dalam kajian Ahlus Sunnah, maka kaidahnya jelas, dan lagipula itu berbicara tentang satu ucapan dari satu orang yang sama, yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
    Tentu saja itu berbeda dengan kasus 2 orang imam yang dibahas di sini.
    Makanya saya tanya, apakah memang ada dalam madzhab Syi’ah yang menetapkan kaidah Ushul seperti itu, yakni bahwa jika yang menetapkan bahwa jika 2 atau lebih imam2 Syi’ah beda pendapat, maka perkataan dari imam yang satu harus dibawakan kepada imam yang lainnya?
    Itu kalau anda kritis…..tapi kalau mo asal terima saja, ya sudah….terserahlah.

  4. @Green
    Sudah dibahas kok di atas, kaidah ahlus sunnah mana yang jelas? coba tolong dibawakan kaidahnya dan maksud “jelas” versi anda itu berdasarkan dalil apa.

    Pokok permasalahannya bukan pada masalah dua orang imam yang berbeda, tetapi pada lafaz hadis yang digunakan. Jika Imam yang satu mengatakan “wajib” yang satu lagi mengatakan “sunah bukan fardhu” maka wajar kalau ada ulama menafsirkan wajib disitu sebagai sunah mu’akkad. Apa bedanya dengan hadis Rasulullah yang mengandung lafaz wajib dan di hadis lain mengisyaratkan sunnah. Lagipula anda sepertinya tidak menyimak, dalam tulisan di atas dinukilkan juga penjelasan Imam Ridha maksud wajib disana sama seperti dengan puasa dan shalat nawafil [jadi bukan wajib yang artinya hukum fardhu].

    Intinya saya tidak mengerti apa maunya anda, kenyataannya yang asal terima itu kan anda. Tempatkan dalil sesuai proprosinya masing-masing dan tidak perlu saya ulang, saya disini hanya menunjukkan bahwa dalam mazhab Syiah mereka punya jawaban yang baik mengenai dua riwayat yang dipermasalahkan para nashibi. tersebut Itulah yang sedang saya tunjukkan, perkara bagaimana hukum sebenarnya itu di luar kajian tulisan saya

  5. Ada salafy nashibi yang tergopoh-gopoh membantah dan bantahannya seperti yang sudah saya duga hanya menunjukkan kedunguan. Sebelumnya sudah saya bahas secara singkat kalauNashibi ngeyel itu akan menjawab bahwa dalam syiah itu adalah dua pernyataan Imam yang berbeda maka tidak bisa dilakukan penjamakan.

    Jawabannya sederhana, kaidah darimana yang menyatakan bahwa riwayat dari dua sumber yang berbeda, tidak bisa dilakukan penjamakan. Apalagi dalam sudut pandang syiah kedua imam tersebut adalah ma’shum maka perkataan keduanya adalah benar sama halnya dengan perkataan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Jadi dalam sudut pandang Syiah penjamakan itu sangat memungkinkan toh syiah meyakini kalau ucapan Imam-imam mereka adalah syariat yang berasal dari Allah SWT.

    Lagipula intinya permasalahan disini adalah apa makna lafaz wajib dalam suatu riwayat. Dan terlalu pembahasan di atas bahwa lafaz wajib dalam suatu hadis tidak mesti bermakna fardhu tetapi bisa juga bermakna penekanan terhadap sunnah.

    Kemudian mengenai komentarnya atas riwayat berikut

    العلل: لمحمد بن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن جده إبراهيم ابن هاشم، عن علي بن معبد، عن الحسين بن خالد قال: قلت للرضا عليه السلام: كيف صار غسل يوم الجمعة واجبا على كل حر وعبد، وذكر وأنثى؟ قال: فقال إن الله تبارك وتعالى تمم صلوات الفرائض بصلوات النوافل، وتمم صيام شهر رمضان بصيام النوافل، وتمم الحج بالعمرة، وتمم الزكاة بالصدقة، وتمم الوضوء بغسل يوم الجمعة

    [Dari Kitab Al Ilal] : Muhammad bin Aliy bin Ibrahiim dari ayahnya dari kakeknya Ibrahim bin Haasyim dari Aliy bin Ma’bad dari Husain bin Khalid yang berkata aku bertanya kepada Ar Ridha [‘alaihis salam] “bagaimana bisa mandi pada hari Jum’at waib bagi setiap orang yang merdeka, budak, laki-laki dan wanita?. Beliau menjawab “Allah tabaraka wata’ala telah melengkapi shalat-shalat fardhu dengan shalat-shalat nawafiil, melengkapi puasa Ramadhan dengan puasa nawafiil, melengkapi Haji dengan Umrah, melengkapi zakat dengan shadaqah dan melengkapi wudhu’ dengan mandi pada hari Jum’at [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 78/129].

    “Selain itu, riwayat yang ada dalam Bihaarul-Anwaar itu tidak menunjukkan bahwa mandi Jum’at itu sunnah. Salah alamat Anda membawakannya dengan taqlid pada Al-Hilliy. “Kenapa ?. Justru riwayat itu menjelaskan sebab kenapa diwajibkan. Sesuai kaedah ushul, penetapan hukum dalam riwayat itu terletak pada perkataan ‘wajib’-nya, sedangkan ‘illat hukum ada penjelasan setelahnya. Ringkasnya, mandi Jum’at itu diwajibkan karena ia merupakan pelengkap/penyempurna wudlu. Oleh karena itu, penyebutan shalat nawaafil, puasa nawaafil, dan ‘umrah itu tidak mesti satu kedudukan dengan mandi Jum’at, karena ‘illat wajibnya mandi Jum’at bukan terletak pada tiga hal tersebut, akan tetapi pada penyebutan : ‘sebagai penyempurna/pelengkap’ wudlu. Logika ushul fiqh Anda kacau, tidak bisa membedakan bahasan hukum dan ‘illat hukum.

    Silakan saja, itu kan kata dia, dia mah bisa ngeyel sana ngeyel sini. Saya cuma membawakan perkataan Al Hurr Al Amiliy dalam kitab Wasa’il Syiah bahwa riwayat tersebut menunjukkan kalau wajib disana dibawa dalam pengertian penekanan terhadap Sunnah. dan komentar ini lebih masuk akal dan mengisyaratkan kalau mandi disana hukumnya sama dengan puasa nawafil dan shalat nawafil, sehingga wajib disana ia bawakan dalam pengertian sunnah mu’akkad. Gak perlu sok berbusa-busa bicara soal logika ushul padahal yang nampak hanya angan-angannya sendiri yang mengatasnamakan logika ushul.

  6. Ada sedikit tambahan mengenai hujjah bahwa lafaz wajib dalam perkara ini bermakna sunah mu’akkad. Imam Ja’far memahami bahwa lafaz wajib yang disampaikan dalam hadis Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] bermakna sunnah

    كتاب النوادر: لعلي بن بابويه أو غيره: عن محمد بن الحسن بن الوليد عن الصفار، عن إبراهيم بن هاشم، عن النوفلي، عن السكوني، عن جعفر بن محمد، عن آبائه عليهم السلام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: غسل يوم الجمعة واجب على كل محتلم.

    Kitab Nawaadir : Ali bin Babawaih atau yang lainnya dari Muhammad bin Hasan bin Waalid bin Ash Shaffaar dari Ibrahim bin Haasyim dari An Naufalliy dari As Sakuuniy dari Ja’far bin Muhammad dari Ayah-ayahnya [alaihimus salam] yang berkata Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] berkata “mandi hari Jum’at wajib bagi setiap yang muhtalim [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 78/130]

    Imam Ja’far mengetahui hadis ini tetapi ia tetap menyatakan mandi Jum’at hukumnya sunnah

    وبهذا الاسناد عن سعد بن عبدالله عن يعقوب بن يزيد عن محمد بن أبي عمير عن عمر بن أذينة عن زرارة عن أبي عبدالله عليه السلام قال: سألته عن غسل الجمعة قال: سنة في السفر والحضر إلا أن يخاف المسافر

    Dan dengan sanad ini, dari Sa’d bin ‘Abdillah, dari Ya’quub bin Yaziid, dari Muhammad bin Abi ‘Umair, dari ‘Umar bin Adziinah, dari Zuraarah, dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam. Ia (Zuraarah) berkata : Aku pernah bertanya kepadanya (Abu ‘Abdillah) tentang (hukum) mandi Jum’at. Ia menjawab : “Sunnah ketika safar dan hadir, kecuali musafir mengkhawatirkan dirinya karena hawa dingin [Al Istibshaar 1/102]

    Dan pada dasarnya apa yang dinyatakan Imam Ali Ar Ridha adalah sama halnya dengan lafaz dalam hadis Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] sehingga lafaz wajib yang dimaksud Imam bermakna sunah mu’akkad.

  7. Beda orang yg bicara cuma pake ilmu pokoke dengan orang yang bicara dengan akal dan hati. Bisa nt bandingkan disini

  8. Euleuh…….euleuh!

  9. Intinya penulis blog ini memang bego banget!

  10. eh masa imam 12 syiah entu si koim nyang ternyate…..

    http://tanyasyiah.wordpress.com/2013/08/14/wow-al-qaim-imam-mahdi-syiah-ternyata-dajjal/

  11. Tambahan nih bro dari kitab ‘Uyun Akhbar Ar Ridhaa

    عن عبد الواحد بن محمد بن عبدوس، عن علي بن محمد بن قتيبة، عن الفضل بن شاذان، عن الرضا (عليه السلام)، في كتاب كتبه إلى المأمون: وغسل يوم الجمعة سنة، وغسل العيدين، وغسل دخول مكة والمدينة، وغسل الزيارة، وغسل الإحرام، وأول ليلة من شهر رمضان، وليلة سبع عشرة وليلة تسع عشرة وليلة إحدى وعشرين وليلة ثلاث وعشرين من شهر رمضان، هذه الأغسال سنة وغسل الجنابة فريضة، وغسل الحيض مثله

    Imam Ar Ridhaa as juga menyatakan secara jelas bahwa mandi hari Jum’at itu sunnah so seperti yang sampean katakan lafaz wajib harus dipalingkan maknanya ke sunah mu’akkad :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 148 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: