Benarkah Riwayat Sayyidah Fathimah Marah Kepada Abu Bakar Adalah Idraaj Az Zuhriy?

Benarkah Riwayat Sayyidah Fathimah Marah Kepada Abu Bakar Adalah Idraaj Az Zuhriy?

Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi para nashibi yang tidak henti-hentinya menyelewengkan sejarah demi menjaga kesalahan sebagian sahabat. Sangat masyhur dalam kitab shahih dan sirah bahwa Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar ketika Abu Bakar menolak tuntutannya atas warisan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Disebutkan bahwa Sayyidah Fathimah tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat bahkan disebutkan pula Beliau berwasiat agar dimakamkan pada malam hari sehingga Abu Bakar tidak menshalatkannya.

Nashibi yang risih dengan kabar seperti itu [terutama sangat risih jika kabar itu dijadikan hujjah oleh Syiah] membuat syubhat wat talbiis yang intinya menunjukkan bahwa riwayat marahnya Fathimah pada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari Az Zuhriy maka kedudukannya dhaif. Pernyataan nashibi itu sangat tidak benar dan inilah pembahasannya.

.

.

.

Riwayat Shaalih bin Kaisaan Dari Az Zuhriy

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ، أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ، مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahiim bin Sa’d Az Zuhriy dari ayahnya dari Shaalih bin Kaisaan dari Ibnu Syihaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertanya kepada Abu Bakar setelah wafatnya Rasulullah tentang bagian warisannya yang ditinggalkan Rasulullah dari harta fa’i yang dikaruniakan Allah kepada Beliau. Abu Bakar berkata kepadanya “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” maka Fathimah menjadi marah dan ia hidup setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan [Thabaqat Ibnu Sa’ad 8/256-257]

Terlihat jelas dalam riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah adalah bagian dari perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Hal ini juga disebutkan dalam Shahih Bukhari no 3092-3093 dan Sunan Baihaqiy 6/300-301 no 12734.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبِي ، عَنْ صَالِحٍ ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ : أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا ، مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ عَلَيْهَا ذَلِكَ ، وَقَالَ : لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ ، إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ ، وَإِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ ، فَأَمَّا صَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ فَدَفَعَهَا عُمَرُ إِلَى عَلِيٍّ وَعَبَّاسٍ ، فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا عَلِيٌّ ، وَأَمَّا خَيْبَرُ ، وَفَدَكُ ، فَأَمْسَكَهُمَا عُمَرُ ، وَقَالَ : هُمَا صَدَقَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَتَا لِحُقُوقِهِ الَّتِي تَعْرُوهُ ، وَنَوَائِبِهِ ، وَأَمْرُهُمَا إِلَى مَنْ وَلِيَ الْأَمْرَ ، قَالَ : فَهُمَا عَلَى ذَلِكَ الْيَوْمَ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah meminta kepada Abu Bakr setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar membagi untuk-nya bagian harta warisan yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari harta fa’i yang Allah karuniakan kepada beliau. Abu Bakr berkata kepadanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah bersabda “Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan semuanya shadaqah”. Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat. [qaala] dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. [qaala] “Fathimah pernah meminta Abu Bakr bagian dari harta yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berupa tanah di Khaibar dan di Fadak dan shadaqah beliau di Madinah namun Abu Bakr mengabaikannya dan berkata Aku tidak akan meninggalkan sedikitpun sesuatu yang pernah dikerjakan Rasulullah  melainkan akan aku kerjakan. Sungguh aku takut menjadi sesat jika meninggalkan apa yang diperintahkan beliau. Adapun shadaqah beliau di Madinah telah diberikan oleh ‘Umar kepada ‘Ali dan ‘Abbas, sementara tanah di Khaibar dan Fadak telah dipertahankan oleh ‘Umar dan mengatakannya bahwa keduanya adalah shadaqah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang hak-haknya akan diberikan kepada yang mengurus dan mendiaminya sedangkan urusannya berada di bawah keputusan pemimpin”. [qaala] “dan keadaannya tetap seperti itu hingga hari ini” [Musnad Ahmad 1/6 no 25]

Menurut nashibi lafaz “dan ia hidup selama enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” bukan lafaz dari Aisyah mereka berhujjah dengan riwayat Ahmad di atas yang menunjukkan bahwa lafaz tersebut diucapkan setelah lafaz [qaala]. Lafaz qaala berarti perawi laki-laki berkata karena kalau perempuan [Aisyah] lafaznya adalah qaalat. Lafaz [qaala] ini juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim no 1758 dan Mustakhraj Abu Awanah 4/250 no 6677.

Jika kita menuruti hujjah nashibi bahwa lafaz setelah lafaz [qaala] berarti itu idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah maka itu berarti lafaz sebelum lafaz [qaala] adalah perkataan Aisyah. Maka lafaz

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Faathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pun marah dan kemudian meng-hajr Abu Bakr. Ia terus dalam keadaan seperti itu hingga wafat

Adalah lafaz perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Maka dengan hujjah nashibi itu sendiri dibuktikan bahwa riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar adalah tsabit dari Aisyah [radiallahu ‘anha]

Tetapi benarkah apa yang dikatakan oleh nashibi bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi laki-laki yang berkata bukan Aisyah [radiallahu ‘anha]. Untuk melihat lebih jelas maka kita harus memperhatikan satu-persatu riwayat tersebut. Kami mengutip riwayat tersebut hanya dari lafaz hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan karena bagian itu termasuk lafaz Aisyah

Riwayat Ibnu Sa’ad

لا نُوَّرَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Riwayat Ahmad

” لَا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Muslim

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Abu Awanah

لا نُوَرَّثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، قَالَ : وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفَدَكَ ، وَصَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Baihaqiy

لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَةً لَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ ، وَعَاشَتْ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَ : فَكَانَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ

Riwayat Bukhariy

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، قَالَتْ : وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتَهُ بِالْمَدِينَةِ

Jika kita perhatikan lafaz riwayat-riwayat di atas terutama pada lafaz yang diawali dengan kata [qaala] maka didapat keterangan

  1. Riwayat marahnya Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hanbal, Baihaqiy dan Bukhariy dimana mereka semua menyebutkan lafaz itu sebagai bagian dari lafaz Aisyah karena terikat dengan lafaz hadis Abu Bakar dan diucapkan sebelum lafaz [qaala] [kecuali riwayat Ibnu Sa’ad yang tidak ada lafaz qaala]`
  2. Riwayat dengan lafaz “Fathimah hidup enam bulan setelah Rasulullah wafat” disebutkan oleh Muslim dan Abu Awanah setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Baihaqiy lafaz tersebut masuk dalam lafaz Aisyah yaitu sebelum lafaz [qaala]
  3. Riwayat dengan lafaz dimana Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah disebutkan Ahmad, Muslim, Abu Awanah dan Baihaqiy setelah lafaz [qaala] tetapi dalam riwayat Bukhariy lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah karena dimulai dengan lafaz [qaalat]

Jika kita menuruti anggapan nashibi bahwa lafaz qaala bermakna perawi laki-laki berkata bukan perkataan Aisyah maka nampak terjadi kekacauan padahal hadis itu berujung pada perawi yang sama. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala itu bermakna perawi hadis melanjutkan hadis perkataan Aisyah, sehingga pada dasarnya lafaz qaala bermakna sama dengan lafaz qaalat. Bukti shahihnya adalah riwayat Bukhari yaitu lafaz “Fathimah meminta kepada Abu Bakar peninggalan khaibar, fadak dan shadaqah di madinah” adalah perkataan Aisyah dengan lafaz qaalat dimana pada riwayat Ahmad, Muslim, Baihaqiy dan Abu Awanah itu disebutkan dengan lafaz qaala.

.

.

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah Dari Az Zuhriy

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah disebutkan dalam Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823 [riwayat Utsman bin Sa’id Ad Daarimiy] dan Sunan Baihaqi 6/300 no 1273 dan Ad Dalaail Baihaqiy 7/279, Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097 semuanya [riwayat Abul Yamaan] dengan lafaz yang menyebutkan kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan mensibatkannya pada perkataan Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ “، إِنَّمَا كَانَ يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ مِنْ هَذَا الْمَالِ يَعْنِي مَالَ اللَّهِ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يَزِيدُوا عَلَى الْمَأْكَلِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أُغَيِّرُ صَدَقَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

‘Aaisyah berkata Lalu Abu Bakr berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad makan dari harta ini – yaitu harta Allah yang tidak ada tambahan bagi mereka selain dari yang dimakan. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan mengubah shadaqah-shadaqah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari keadaan semua yang ada di jaman Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam. Dan sungguh aku memperlakukan shadaqah tersebut seperti yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Maka Abu Bakr enggan memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun pada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr, lalu ia pun meng-hajr-nya dan tidak mengajaknya bicara hingga wafat. Dan Faathimah hidup setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama enam bulan [Musnad Asy Syamiyyin Thabraniy 4/198-199 no 3097].

Kemudian disebutkan riwayat Bukhari dalam Tarikh Ash Shaghiir bahwa lafaz “Fathimah hidup setelah wafat Nabi selama enam bulan” diucapkan setelah lafaz [qaala].

حدثنا أبو اليمان انا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير عن عائشة فذكر الحديث قال وعاشت فاطمة بعد النبي صلى الله عليه وسلم ستة أشهر ودفنها علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari Aisyah lalu menyebutkan hadis, [qaala] “Fathimah hidup setelah wafat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan kemudian wafat dikuburkan oleh Aliy [Tarikh Ash Shaghiir juz 1 no 116]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Bukhari bahwa perkataan “Fathimah hidup enam bulan” adalah idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah. Hal ini disebabkan lafaz itu diucapkan setelah lafaz [qaala] yang berarti perawi laki-laki berkata.

Sebenarnya dengan hujjah nashibi ini maka lafaz yang diucapkan sebelum lafaz qaala adalah lafaz Aisyah. Jadi dengan hujjah nashibi tersebut lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah perkataan Aisyah.

Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan Nashibi bahwa lafaz “Fathimah hidup selama enam bulan” adalah bukan milik Aisyah tetapi idraaj [sisipan] perawi laki-laki sebelum Aisyah. Ada baiknya diperhatikan riwayat berikut

حدثنا محمد بن عوف حدثنا عثمان بن سعيد حدثنا شعيب بن أبي حمزة عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله ص بعد رسول الله ص ستة اشهر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Sa’iid yang berkata telah menceritakan Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafat Rasulullah selama enam bulan” [Adz Dzuriyat Ath Thaahirah Ad Duulabiy hal 110]

Muhammad bin ‘Auf bin Sufyaan Ath Thaa’iy seorang yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Khallal berkata “imam hafizh pada zamannya” [At Tahdzib juz 9 no 634]. Ibnu hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 2/121].

أخبرناه أبو الحسين بن الفضل القطان أخبرنا عبد الله بن جعفر حدثنا يعقوب بن سفيان حدثنا أبو اليمان قال أخبرناشعيب قال وأخبرنا الحجاج بن أبي منيع حدثنا جدي جميعا عن الزهري قال حدثنا عروة أن عائشة أخبرته قالت عاشت فاطمة بنت رسول الله بعد وفاة رسول الله ستة أشهر

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, [Yaqub berkata] dan mengabarkan kepada kami Hajjaaj bin Abi Manii’ yang berkata telah menceritakan kakekku, semuanya dari Az Zuhriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya berkata “Fathimah binti Rasulullah hidup setelah wafatnya Rasulullah selama enam bulan” [Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/366]

Abu Husain bin Fadhl Al Qaththaan adalah syaikh alim tsiqat musnad [As Siyaar Adz Dzahabiy 17/331]. Abdullah bin Ja’far adalah imam ‘allamah tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 15/532]. Yaqub bin Sufyaan Al Fasawiy seorang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/337]

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ ، ثنا أَبُو زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ ، ثنا أَبُو الْيَمَانِ ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِسِتَّةِ أَشْهُرٍ ، وَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah Ad Dimasyiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah wafat enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ali menguburkannya pada waktu malam” [Hilyatul Auliya 2/42]

Sulaiman bin Ahmad adalah Ath Thabraniy imam hafizh tsiqat [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/120]. Abu Zur’ah Ad Dimasyiq adalah seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 1/584]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa hadis Utsman bin Sa’id dan Abul Yamaan dari Az Zuhriy menyatakan bahwa lafaz “Fathimah hidup enam bulan” adalah bagian dari lafaz Aisyaah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] yang dibawakan Bukhari itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah bukan idraaj [sisipan] perawi tersebut.

.

.

Riwayat Uqail bin Khaalid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya 1/9-10 no 55 dengan matan yang mengandung lafaz Fathimah marah kepada Abu Bakar kemudian diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya no 4240-4241, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 14/573-574 no 6607 dan Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsaar no 143 dengan lafaz Fathimah marah kepada Abu bakar tidak berbicara pada Abu Bakar sampai wafat dan ia hidup enam bulan setelah wafat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Berikut lafaz Bukhari

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ، وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Dari ‘Aisyah Bahwa Faathimah [‘alaihassalaam] binti Rasulillah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr untuk meminta kepadanya bagian harta warisan dari Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari harta fai’ di Madinah, Fadak, dan sisa harta khumus Khaibar. Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dengan sanad dari La’its bin Sa’d dari Uqail bahwa lafaz dimana Fathimah tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai wafat terletak setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ” ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا ، الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ شَيْئًا ، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Maka Abu Bakar berkata “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya makan dari harta ini. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakar. [qaala]“Ia meng-hajr  Abu Bakr dan tidak berbicara kepadanya hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] ketika ia wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya. [Shahih Muslim no 1759]

Nashibi berhujjah dengan riwayat Muslim bahwa lafaz Fathimah tidak berbicara pada Abu Bakar, hidup selama enam bulan setelah Nabi wafat dan ketika wafat Ali menguburkannya di waktu malam adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan perkataan Aisyah.

Jika kita menuruti hujjah nashibi di atas itu berarti lafaz sebelum [qaala] adalah perkataan Aisyah maka lafaz “Fathimahpun marah kepada Abu Bakar karenanya” adalah lafaz Aisyah. Tetapi benarkah demikian seperti yang dikatakan nashibi bahwa lafaz [qaala] adalah idraaj perawi laki-laki.

أخبرنا أبو إسحاق إبراهيم بن محمد بن يحيى ، وأبو الحسين بن يعقوب الحافظ قالا : ثنا أبو العباس محمد بن إسحاق ، ثنا قتيبة بن سعيد ، ثنا الليث ، عن عقيل ، عن الزهري ، عن عروة ، عن عائشة قالت : دفنت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ليلا ، دفنها علي ، ولم يشعر بها أبو بكر رضي الله عنه حتى دفنت وصلى عليها علي بن أبي طالب رضي الله عنه

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibrahiim bin Muhammad bin Yahya dan Abu Husain bin Ya’quub Al Haafizh keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Uqail dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah yang berkata “Fathimah dikuburkan di waktu malam, dikuburkan oleh Aliy dan tidak memberitahu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sampai ia dikuburkan, dan Ali [radiallahu ‘anhu] yang menshalatkannya [Mustadrak Al Hakim no 4764]

Abu Ishaaq Ibrahim bin Muhammad bin Yahya Al Muzakkiy seorang yang dikatakan Al Khatib tsiqat tsabit [Tarikh Baghdad 6/168]. Abul Husain bin Ya’qub Al Hafizh adalah imam hafizh, Al Hakim berkata “ahli ibadah shalih shaduq tsabit” [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/242]. Abu ‘Abbas Muhammad bin Ishaaq Ats Tsaqafiy adalah imam hafizh tsiqat syaikh islam [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/389]. Qutaibah bin Sa’id adalah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/27]. Perhatikan riwayat Muslim dengan lafaz

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ لَيْلًا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، وَصَلَّى عَلَيْهَا عَلِي

Telah dibuktikan di atas bahwa bagian terakhir lafaz Muslim yaitu “ketika ia [Sayyidah Fathimah] wafat suaminya Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar dan Ali yang menshalatkannya” adalah perkataan Aisyah padahal lafaz itu disebutkan Muslim setelah lafaz qaala. Disini terdapat faedah bahwa lafaz qaala dalam riwayat Muslim bukan bermakna idraaj [sisipan] perawi melainkan bermakna perawi berkata melanjutkan perkataan Aisyah. Inilah yang dipahami dengan menyatukan riwayat Al Hakim dan riwayat Muslim dan hal ini bersesuaian dengan riwayat Bukhari, Ibnu Hibban dan Thahawiy yang menjadikan keseluruhan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah.

.

.

Riwayat Ma’mar bin Raasyid Dari Az Zuhriy

Diriwayatkan dalam Mushannaf Abdurrazaaq 5/472-472 no 9774, Tarikh Ath Thabariy no 935, Mustakhraj Abu Awanah no 6679, Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732 dengan jalan sanad dari ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dimana lafaz kemarahan Sayyidah Fathimah kepada Abu Bakar disebutkan setelah lafaz [qaala]

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “Maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, maka Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini bahwa lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar adalah idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki bukan dari Aisyah. Untuk menilai validitas hujjah nashibi ini mari kita perhatikan satu-persatu riwayat tersebut yang mengandung lafaz [qaala]

Riwayat Ath Thabariy [jalan sanad dari Abu Shaalih Ad Dhiraariy dari Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ . وَكَانَ لِعَلِيٍّ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Abu Awanah [dengan jalan sanad dari Adz Dzuhliy, Muhammad bin Aliy Ash Shan’aniy dan Ishaaq Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا وَلَمْ يؤَذِّنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ وَجْهُ حَيَاةِ فَاطِمَةَ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat Baihaqiy [dengan jalan sanad dari Ahmad bin Manshuur dari ‘Abdurrazaaq]

قَالَ : فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قالتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ النَّاسِ وَجْهٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا انْصَرَفَ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ

Riwayat ‘Abdurrazaaq dalam Al Mushannaf

قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Perhatikan dalam riwayat Ath Thabariy lafaz Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah bagian dari lafaz [qaala] sedangkan pada riwayat Abu Awanah dan Abdurrazaaq [dalam Al Mushannaf] lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah. Maka disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] itu bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah artinya sama dengan lafaz [qaalat] bukan idraaj [sisipan] dari perawi laki-laki.

Lantas bagaimana dengan lafaz kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar dan dikuburkannya oleh Ali di waktu malam tanpa memberitahu Abu Bakar. Untuk lebih jelasnya silakan perhatikan riwayat berikut

قَالَتْ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ , فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ , فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلا , وَلَمْ يُؤْذَنَ بِهَا أَبُو بَكْرٍ , قَالَتْ : فَكَانَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجْهٌ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْ عَلِيٍّ , فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Riwayat dengan lafaz [qaalat] ini disebutkan oleh Abu Bakar Al Marwaziy dalam Musnad Abu Bakar no 38 dan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 1/90 dengan jalan sanad Abu Bakar bin Zanjawaih dari ‘Abdurrazaaq. Abu Bakar bin Zanjawaih seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/107].

Maka riwayat ini menguatkan apa yang kami katakan sebelumnya bahwa lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah sehingga lafaz [qaala] dan [qaalat] adalah sama, tidak ada penyelisihan seperti yang dikatakan oleh nashibi.

Nashibi mengatakan bahwa Abu Bakar bin Zanjawaih menyelisihi jamaah tsiqat dari ‘Abdurrazaq yaitu Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’, Abd bin Humaid, Abu Shalih Adh Dhiraariy, Ahmad bin Manshuur Ar Ramaadiy, Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy dan Ishaq bin Ibrahim Ad Dabariy.

Pernyataan nashibi itu patut diberikan catatan, riwayat Ishaq bin Rahawaih, Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid disebutkan oleh Muslim dalam Shahih-nya secara ringkas tanpa ada penegasan apakah lafaz yang digunakan adalah [qaala] atau [qaalat]. Jika dikatakan ia mengikut riwayat Uqail maka telah berlalu pembahasannya di atas bahwa riwayat Uqail menetapkan kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar sebagai lafaz Aisyah.

Maka tersisalah empat perawi tsiqat yang dikatakan nashibi itu menyelisihi Abu Bakar bin Zanjawaih. Ternyata Abu Bakar bin Zanjawaih tidaklah menyendiri. Perhatikan riwayat berikut

عبد الرزاق، عن معمر، عن عروة، عن عائشة: أن عليا دفن فاطمة ليلا، ولم يؤذن بها أبا بكر

‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6556]

حدثنا إسحاق عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة أن علياً دفن فاطمة ليلاً ولم يؤذن بها أبابكر

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah bahwa Aliy menguburkan Fathimah di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar [Al Awsath Ibnu Mundzir no 3144].

حدثنا إسحاق بن إبراهيم الدبري عن عبد الرزاق عن معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة رضي الله عنها أن عليا دفن فاطمة ليلا

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahim Ad Dabariy dari ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Zuhriy dari Urwah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] bahwa Ali menguburkan Fathimah di waktu malam [Mu’jam Al Kabir Thabraniy 22/398]

Ishaaq bin Ibraahim Ad Dabariy termasuk perawi yang meriwayatkan hadis tersebut dengan lafaz [qaala] tetapi ia sendiri menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah. Dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam kitabnya Al Mushannaf menjadikan lafaz tersebut sebagai perkataan Aisyah padahal ia menuliskan dalam kitabnya lafaz [qaala]. Maka benarlah seperti yang kami katakan bahwa riwayat ‘Abdurrazaaq baik dengan lafaz [qaala] maupun [qaalat] bermakna sama yaitu menetapkan lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha]

.

.

.

Sekarang mari kita sederhanakan pembahasan panjang di atas mengenai jalan periwayatan Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah tentang kisah marahnya Fathimah

  1. Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  2. Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  3. Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]
  4. Riwayat Ma’mar bin Raasyid dari Az Zuhriy menetapkan bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar sebagai perkataan Aisyah dan lafaz [qaala] pada sebagian hadis terbukti bermakna sama dengan [qaalat]

Kesimpulan dengan mengumpulkan semua riwayat di atas bahwa lafaz marahnya Fathimah kepada Abu Bakar dan meng-hajr-nya hingga wafat adalah perkataan Aisyah bukan idraaj dari Az Zuhriy.

Nashibi berkata bahwa yang menguatkan lafaz tersebut sebagai idraaj Az Zuhriy adalah riwayat Baihaqiy yang memuat lafaz berikut

قَالَ مَعْمَرٌ: قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ: كَمْ مَكَثَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سِتَّةَ أَشْهُرٍ، فقَالَ رَجُلٌ لِلزُّهْرِيِّ: فَلَمْ يُبَايِعْهُ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى مَاتَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا؟، قَالَ: وَلا أَحَدٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Ma’mar berkata Aku bertanya kepada Az-Zuhriy “Berapa lama Faathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]?”. Az-Zuhriy berkata “Enam bulan”. Seorang laki-laki berkata kepada Az-Zuhriy“ Apakah ‘Aliy [radliyallaahu ‘anhu] tidak berbaiat kepadanya [Abu Bakr] hingga Faathimah [radliyallaahu ‘anhaa] wafat?”. Az-Zuhriy berkata “Tidak seorang pun dari Baani Haasyim yang berbaiat” [Sunan Baihaqiy 6/300 no 12732]

Dan Al Baihaqi berkomentar bahwa lafaz penundaan baiat Ali terhadap Abu Bakar adalah munqathi’ [terputus] karena berasal dari perkataan Az Zuhriy. Maka Nashibi berkata begitu pula dengan lafaz semisal marahnya Fathimah dan pemboikotannya kepada Abu Bakar juga munqathi’ karena berasal dari perkataan Az Zuhriy.

Tentu saja pernyataan ini keliru. Jawaban Az Zuhriy atas pertanyaan Ma’mar ia ucapkan karena ia sendiri telah mendengar dari Urwah hadis Aisyah perihal Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi serta tidak berbaiatnya Ali kepada Abu Bakar sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah dalam kitab Shahih. Jadi statusnya disini adalah perkataan sang perawi [Az Zuhriy] berdasarkan hadis Aisyah yang ia riwayatkan.

Perkataan Ma’mar di atas adalah kutipan Baihaqiy dalam riwayat ‘Abdurrazaaq dan ‘Abdurrazaaq sendiri dalam Al Mushannaf menuliskan bahwa Fathimah hidup enam bulan sepeninggal Nabi sebagai lafaz Aisyah

قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

Pernyataan Fathimah hidup sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan adalah berdasarkan perkataan Aisyah dan Az Zuhriy mengatakannya enam bulan bukan dari pendapatnya sendiri tetapi dari hadis yang ia dengar dan ia riwayatkan. Begitu pula halnya dengan penundaan baiat Ali kepada Abu Bakar berasal dari hadis yang ia dengar. Jadi tidak ada hujjah untuk menjadikan perkataan Az Zuhriy itu sebagai bukti idraaj

.

.

.

Penggunaan Lafaz [qaala] Dalam Hadis ‘Aisyah

Syubhat model seperti ini yaitu [idraaj Az Zuhriy] dengan mengandalkan lafaz [qaala] adalah syubhat khas ala nashibi yang menunjukkan kelemahan dalam ilmu atau gelap mata karena kebencian dan hawa nafsu. Perkara hadis atau atsar dari Aisyah dengan terselip lafaz [qaala] pada hadisnya adalah perkara ma’ruf dalam hadis-hadis Aisyah. Berikut akan kami berikan contohnya.

.

Hadis Pertama

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو المنذر ثنا مالك عن الفضيل بن أبي عبد الله عن عبد الله بن نيار الأسلمي عن عروة عن عائشة ان رجلا اتبع رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال اتبعك لأصيب معك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فإنا لا نستعين بمشرك قال فقال له في المرة الثانية تؤمن بالله ورسوله قال نعم فانطلق فتبعه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata tel;ah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik dari Fudhail bin Abi ‘Abdullah dari ‘Abdullah bin Niyaar Al Aslamiy dari Urwah dari Aisyah bahwa seorang laki-laki mengikuti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia berkata “aku ingin mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “tidak”. Beliau berkata “kami tidak meminta bantuan orang musyrik”. [qaala] maka Rasulullah berkata kepadanya pada kedua kalinya “apakah engkau beriman pada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia menjawab “Ya”. Rasulullah berkata “pergilah turut berperang” maka ia mengikutinya [Musnad Ahmad 6/67 no 24431 shahih dengan syarat Muslim]

Perhatikan lafaz “qaala faqaala lahuu” yang artinya perawi berkata [qaala] : maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”. Bukankah ini adalah hadis dari Aisyah lantas siapakah yang sedang berkata “maka Beliau [Rasulullah] berkata kepadanya”, tidak lain itu adalah Aisyah. Tetapi mengapa dipakai lafaz [qaala], apakah itu berarti idraaj dari perawi sebelum Aisyah?. Jelas tidak, lafaz [qaala] menunjukkan bahwa perawi melanjutkan perkataan atau cerita Aisyah. Kisah lebih panjang hadis Aisyah di atas dapat dilihat dalam riwayat berikut

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم أنها قالت خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل بدر فلما كان بحرة الوبرة أدركه رجل قد كان يذكر منه جرأة ونجدة ففرح أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رأوه فلما أدركه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم جئت لأتبعك وأصيب معك قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم تؤمن بالله ورسوله قال لا قال فارجع فلن أستعين بمشرك قالت ثم مضى حتى إذا كنا بالشجرة أدركه الرجل فقال له كما قال أول مرة فقال له النبي صلى الله عليه وسلم كما قال أول مرة قال فارجع فلن أستعين بمشرك قال ثم رجع فأدركه بالبيداء فقال له كما قال أول مرة تؤمن بالله ورسوله قال نعم فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم فانطلق

Dari ‘Aisyah istri Nabi [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia berkata Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] keluar menuju Perang Badar. Setelah sampai di Harratul Wabarah Beliau ditemui oleh seorang laki-laki yang terkenal pemberani. Maka para shahabat Rasulullah merasa senang ketika melihat laki-laki itu. Setelah dia menemui Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] dia berkata kepada beliau “Saya datang untuk mengikutimu dan memenangkan perang bersamamu”. Rasulullah bertanya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”. Dia menjawab “Tidak”. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. Aisyah berkata kemudian laki-laki itu pergi. Setelah sampai di sebuah pohon, Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] ditemui lagi oleh laki-laki itu. Lalu, dia mengatakan seperti apa yang dikatakan sebelumnya. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] bertanya seperti apa yang beliau tanyakan sebelumnya. Beliau berkata “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. [qaala] kemudian laki-laki itu pergi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditemui lagi oleh laki-laki itu di Baidaa’, lalu Beliau bertanya sebagaimana pertanyaan sebelumnya “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ?”. Laki-laki itu menjawab “Ya”. Maka Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada laki-laki itu “Pergilah turut berperang” [Shahih Muslim no 1817]

Perhatikan lafaz yang kami cetak biru, hadis di atas bersumber dari satu orang yaitu Aisyah tetapi dalam riwayat Muslim lafaz [qaalat] dan [qaala] digunakan dalam penceritaan Aisyah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua lafaz tersebut bermakna sama. Dan perhatikan apa yang ditulis Baihaqiy tentang kisah yang sama dalam Sunan Al Kubra 9/63 no 17877

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : لَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ بَدْرٍ ، فَلَمَّا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ أَدْرَكَهُ رَجُلٌ قَدْ كَانَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً ، فَفَرِحَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَأَوْهُ ، فَلَمَّا أَدْرَكَهُ ، قَالَ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، جِئْتُ لأَتِّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : لا ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ مَضَى ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الشَّجَرَةُ أَدْرَكَهُ الرَّجُلُ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ ، قَالَ : فَارْجِعْ , فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ ، قَالَ : ثُمَّ رَجَعَ فَأَدْرَكَهُ بِالْبَيْدَاءِ ، فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ : تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَانْطَلِقْ “

Baihaqiy menggunakan lafaz [qaala] dalam riwayat di atas padahal dari awal digunakan lafaz [qaalat] atau Aisyah berkata. Kemudian perhatikan lafaz “kemudian laki-laki itu pergi, setelah sampai di sebuah pohon” dalam riwayat Muslim digunakan lafaz [qaalat] tetapi dalam riwayat Baihaqiy digunakan lafaz [qaala]. Disini terdapat faedah bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama. Apakah ini dikatakan idraaj [sisipan] dari perawi?. Tentu mereka yang punya pemahaman akan menjawab tidak, tetapi para nashibi telah dikenal sebagi kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan.

.

.

Hadis Kedua

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْه أَنَّ بَرِيرَةَ جَاءَتْ تَسْتَعِينُهَا فِي كِتَابَتِهَا وَلَمْ تَكُنْ قَضَتْ مِنْ كِتَابَتِهَا شَيْئًا قَالَتْ لَهَا عَائِشَةُ ارْجِعِي إِلَى أَهْلِكِ فَإِنْ أَحَبُّوا أَنْ أَقْضِيَ عَنْكِ كِتَابَتَكِ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لِي فَعَلْتُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ بَرِيرَةُ لِأَهْلِهَا فَأَبَوْا وَقَالُوا إِنْ شَاءَتْ أَنْ تَحْتَسِبَ عَلَيْكِ فَلْتَفْعَلْ وَيَكُونَ وَلَاؤُكِ لَنَا فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَاعِي فَأَعْتِقِي فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَ ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَلَيْسَ لَهُ وَإِنْ شَرَطَ مِائَةَ مَرَّةٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَق.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihaab dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan kepadanya bahwa Barirah datang meminta tolong kepadaku tentang ketetapan dirinya sedang dia belum menerima ketetapan tersebut. Maka ‘Aisyah [radliallahu ‘anha] berkata, kepadanya: “Kembalilah kamu kepada tuanmu. Jika mereka suka aku akan penuhi ketetapanmu dan perwalian kamu ada padaku, maka aku penuhi. Kemudian Barirah menceritakan hal itu kepada tuannya namun mereka menolak dan berkata “Jika dia mau silahkan dia berharap untuk memperolehmu, namun perwalian kamu tetap ada pada kami”. Maka aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Belilah dan bebaskanlah karena perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya”. [qaala] Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan bersabda “Mengapa ada diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabullah. Barangsiapa yang membuat persyaratan yang tidak ada pada Kitab Allah maka tidakberlaku baginya sekalipun dia membuat seratus kali persyaratan. Syarat dari Allah lebih berhak dan lebih kuat [Shahih Bukhari no 2561]

Apakah lafaz [qaala] berarti idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Tentu saja tidak, zahir riwayat menunjukkan bahwa kisah tersebut bersumber dari Aisyah maka lafaz [qaala] bermakna perawi melanjutkan perkataan Aisyah. Buktinya dapat dilihat pada riwayat Shahih Bukhari berikut

فَقَالَ خُذِيهَا فَأَعْتِقِيهَا وَاشْتَرِطِي لَهُمْ الْوَلَاءَ فَإِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَأَيُّمَا شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ فَقَضَاءُ اللَّهِ أَحَقُّ وَشَرْطُ اللَّهِ أَوْثَقُ مَا بَالُ رِجَالٍ مِنْكُمْ يَقُولُ أَحَدُهُمْ أَعْتِقْ يَا فُلَانُ وَلِيَ الْوَلَاءُ إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda] “Ambillah dia lalu bebaskanlah dan ajukanlah persyaratan wala’ kepada mereka karena wala’ menjadi milik orang yang membebaskannya”. ‘Aisyah berkata “Maka kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdiri di hadapan manusia lalu memuji Allah dan mengangungkan-Nya kemudian bersabda ‘amma ba’du mengapakah ada orang diantara kalian membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabulloh.  Syarat apa saja yang tidak ada pada Kitab Allah maka dia bathil sekalipun dengan seratus persyaratan. Ketetapan Allah dan syarat dari Allah lebih kuat. Dan apa alasannya orang-orang diantara kalian berkata “Bebaskanlah dia wahai fulan namun perwaliannya tetap milikku”. Sesungguhnya perwalian menjadi milik orang yang membebaskannya.[Shahih Bukhari no 2563]

.

.

Hadis Ketiga

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ ، ثنا عَبْدَةُ ، عَنْ هِشَامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” تَحَجَّرَ كَلْمُ سَعْدٍ بِالنَّزْفِ ، فَدَعَا سَعْدٌ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُجَاهِدَ مِنْ قَوْمٍ كَذَبُوا رَسُولَكَ وَآذَوْهُ وَأَخْرَجُوهُ ، اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ إِنْ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ ، فَإِنْ كُنْتَ أَبْقَيْتَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْئًا فَابْقِنِي لَهُمْ أُجَاهِدْهُمْ فِيكَ ، وَإِنْ كُنْتَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَافْجُرْ بِهَا وَاجْعَلْ مَنِيَّتِي فِيهَا ، قَالَ : فَانْفَجَرَ مِنْ لَيْلَتِهِ فَمَا زَالَ يَسِيلُ حَتَّى مَاتَ

Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdah dari Hisyaam dari ayahnya dari ‘Aisyah yang berkata “Sa’ad sakit dengan perdarahan, maka Sa’d berdoa “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. [qaala] maka lukanya terus mengalirkan darah sampai ia meninggal. [Musnad ‘Aisyah Ibnu Abi Daud no 66]

Apakah lafaz [qaala] dalam riwayat di atas bermakna idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah?. Jawabannya tidak, riwayat tersebut juga disebutkan Bukhari dalam Shahih-nya yaitu

قَالَ هِشَامٌ فَأَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ سَعْدًا قَالَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ مِنْ قَوْمٍ كَذَّبُوا رَسُولَكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخْرَجُوهُ اللَّهُمَّ فَإِنِّي أَظُنُّ أَنَّكَ قَدْ وَضَعْتَ الْحَرْبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَإِنْ كَانَ بَقِيَ مِنْ حَرْبِ قُرَيْشٍ شَيْءٌ فَأَبْقِنِي لَهُ حَتَّى أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ وَإِنْ كُنْتَ وَضَعْتَ الْحَرْبَ فَافْجُرْهَا وَاجْعَلْ مَوْتَتِي فِيهَا فَانْفَجَرَتْ مِنْ لَبَّتِهِ فَلَمْ يَرُعْهُمْ وَفِي الْمَسْجِدِ خَيْمَةٌ مِنْ بَنِي غِفَارٍ إِلَّا الدَّمُ يَسِيلُ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا يَا أَهْلَ الْخَيْمَةِ مَا هَذَا الَّذِي يَأْتِينَا مِنْ قِبَلِكُمْ فَإِذَا سَعْدٌ يَغْذُو جُرْحُهُ دَمًا فَمَاتَ مِنْهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Hisyam berkata Ayahku telah mengabarkan kepadaku dari ‘Aisyah bahwa Sa’ad berkata; Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada yang lebih aku sukai untuk berjihad di jalan-Mu daripada memerangi kaum yang mendustakan Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah mengusir beliau. Ya Allah, aku mengira bahwa Engkau telah menghentikan perang antara kami dan mereka. Seandainya masih ada perang melawan Quraisy, panjangkanlah umurku supaya aku dapat berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Sekiranya memang benar Engkau telah menghentikan perang, pancarkanlah lukaku ini dan matikanlah aku karenanya. Maka memancarlah darah dari dadanya. Dan tidak ada yang mencengangkan mereka saat dimasjid di dalam tenda bani Ghifar, kecuali darah yang mengalir. Mereka berkata “wahai penghuni tenda, apakah yang datang kepada kami ini dari arah kalian?”. Ternyata luka Sa’ad menyemburkan darah lalu dia meninggal karena lukanya itu. Semoga Allah meridlainya. [Shahih Bukhari no 4122]

Riwayat Bukhari di atas menunjukkan dengan jelas bahwa lafaz [qaala] pada riwayat Ibnu Abi Daud sebenarnya masih termasuk bagian dari cerita Aisyah [radiallahu ‘anha]. [qaala] tersebut bermakna perawi melanjutkan cerita atau perkataan Aisyah [radiallahu ‘anha].

.

.

Hadis Keempat

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رِفَاعَةَ الْقُرَظِيَّ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَبَتَّ طَلَاقَهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ فَجَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَهَا آخِرَ ثَلَاثِ تَطْلِيقَاتٍ فَتَزَوَّجْتُ بَعْدَهُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا مَعَهُ إِلَّا مِثْلُ الْهُدْبَةِ وَأَخَذَتْ بِهُدْبَةٍ مِنْ جِلْبَابِهَا قَالَ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا فَقَالَ لَعَلَّكِ تُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ وَتَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَالِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ قَالَ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Syihab yang berkata telah menceritakan kepadaku Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengabarkan kepadanya bahwa Rifa’ah Al Qurazhiy telah menceraikan istrinya, setelah itu istrinya menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, kemudian ia datang kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Aku [Aisyah] berkata wahai Rasulullah, sesungguhnya ia pernah menjadi istri Rifa’ah, kemudian ia menceraikannya dengan talak tiga. Setelah itu, ia menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabir, dan dia, demi Allah sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain yang ini, sambil mengambil ujung jilbabnya. [qaala] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum sambil bersabda “sepertinya kamu ingin kembali kepada Rifa’ah, itu tidak mungkin, sampai Abdurrahman merasakan madumu dan kamu merasakan madunya”. Waktu itu, Abu Bakar sedang duduk di samping Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Khalid bin Sa’id bin Al ‘Ash duduk di samping pintu, dia tidak di izinkan masuk. [qaala] Maka Khalid menyeru Abu Bakar, kenapa kamu tidak menghardik wanita itu yang berkata dengan keras di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?  [Shahih Muslim no 1433]

Perhatikan lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum dan bersabda”. Apakah lafaz itu berarti idraaj [sisipan] perawi padahal hadis itu adalah kisah yang diceritakan Aisyah. Begitu pula lafaz [qaala] sebelum lafaz “maka Khalid menyeru Abu Bakar”, apakah itu idraaj dari perawi bukan lafaz Aisyah?. Tentu saja tidak, lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama, perhatikan lafaz Bukhari dalam kisah istri Rifa’ah ini yaitu riwayat Aisyah yang sama hanya saja dengan lafaz

قَالَ وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَابْنُ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الْحُجْرَةِ لِيُؤْذَنَ لَهُ فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[qaala] dan Abu Bakar duduk di samping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Ibnu Sa’iid bin ‘Aash duduk di depan pintu kamar supaya diizinkan masuk maka Khalid menyeru Abu Bakar “wahai Abu Bakar mengapa kamu tidak menghardik wanita ini yang berkata keras di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 6084]

Bukhari meriwayatkan perkataan Aisyah ini dengan lafaz [qaala] sedangkan Muslim meriwayatkan perkataan Aisyah dengan lafaz [qaalat] silakan perhatikan riwayat berikut

عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةُ رِفَاعَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كُنْتُ عِنْدَ رِفَاعَةَ فَطَلَّقَنِي فَبَتَّ طَلَاقِي فَتَزَوَّجْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الزَّبِيرِ وَإِنَّ مَا مَعَهُ مِثْلُ هُدْبَةِ الثَّوْبِ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ لَا حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ قَالَتْ وَأَبُو بَكْرٍ عِنْدَهُ وَخَالِدٌ بِالْبَابِ يَنْتَظِرُ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ فَنَادَى يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَا تَسْمَعُ هَذِهِ مَا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah yang berkata suatu ketika istri Rifa’ah menemui Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dia berkata “aku adalah istri Rifa’ah, kemudian dia menceraikanku dengan talak tiga, kemudian aku menikah dengan Abdurrahman bin Az Zabiir, tapi sesuatu yang ada padanya seperti ujung kain”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersenyum mendengarnya, dan berkata “Apakah kamu ingin kembali kepada Rifa’ah? itu tidak mungkin, sebelum kamu merasakan madunya dan dia merasakan madumu”. ‘Aisyah berkata dan Abu Bakar berada di samping Rasulullah, sedangkan Khalid berada di pintu sedang menunggu untuk diizinkan, maka dia berseru “Wahai Abu Bakar, apakah kamu tidak mendengar perempuan ini berkata dengan keras di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” [Shahih Muslim no 1433]

Contoh-contoh di atas sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa lafaz [qaala] dan [qaalat] bermakna sama yaitu bagian dari riwayat Aisyah bukan idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Aisyah.

.

.

.

Pembahasan Syubhat Nashibi Atas Kemarahan Sayyidah Fathimah

Selain menyebarkan syubhat pada kedudukan hadis “kemarahan Fathimah”, nashibi juga membuat syubhat untuk mendistorsi makna hadis tersebut. Ia mengatakan kalau kemarahan Fathimah itu bersifat sementara dan manusiawi lantaran kecewa karena penolakan Abu Bakar namun setelah itu Sayyidah Fathimah menerima penjelasan Abu Bakar sebagai bentuk taslim-nya terhadap sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada satu hal yang perlu para pembaca perhatikan nashibi itu mengatakan bahwa kemarahan Sayyidah Fathimah itu terjadi lantaran Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah. Bukankah nampak jelas dalam hadis shahih bahwa alasan penolakan Abu Bakar karena berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “Kami tidak mewariskan”. Apakah masuk akal Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar jika Beliau memang mengakui kebenaran hadis tersebut?. Bukankah Ahlul Bait [Sayyidah Fathimah] adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan bukankah Al Qur’an mengatakan

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya [QS An Nisa : 65]

Jika merasa berat hati kepada keputusan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja tidak diperbolehkan maka apalagi menyikapinya dengan marah. Penjelasan yang paling mungkin adalah Sayyidah Fathimah tidak mengakui kebenaran hadis yang disampaikan Abu Bakar. Nashibi itu berhujjah dengan riwayat berikut

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، وَسَمِعْتُهُ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ جُمَيْعٍ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، قَالَ: لَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ فَاطِمَةُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟ قَالَ: فَقَالَ: لَا، بَلْ أَهْلُهُ، قَالَتْ: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ “، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، قَالَتْ: فَأَنْتَ، وَمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah. Abdullah berkata dan aku mendengarnya [juga] dari ‘Abdullah bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Walid bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat, Fathimah mengirim utusan kepada Abu Bakar yang pesannya “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”. Abu Bakar menjawab “bukan aku tapi keluarganya”. Sayyidah Fathimah berkata “dimana bagian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?”. Abu Bakar berkata “aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya, maka aku berpendapat untuk menyerahkannya kepada kaum muslimin”. Sayyidah Fathimah berkata “engkau dan apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah lebih tahu” [Musnad Ahmad 1/4 no 14, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan perawinya perawi tsiqat perawi Bukhari dan Muslim kecuali Walid bin Jumai’ ia termasuk perawi Muslim]

Nashibi berhujjah dengan riwayat ini tetapi anehnya ia tidak bisa memahami karena memang akalnya tidak punya kemampuan dalam memahami riwayat atau dalam kasus ini adalah tidak paham bahasa manusia. Kalau teman anda mengatakan kepada anda “siapakah yang berhak mewarisi ayahku, engkau atau keluarga ayahku?”. Anda menjawab “tentu saja keluarga ayahmu”. Orang dari sudut bumi manapun jika berpikiran waras akan paham bahwa anda mengakui kalau keluarga teman andalah yang mewarisi ayahnya.

Namun karena pengaruh kebencian dan hawa nafsu ada sekelompok manusia bermental nashibi yang mengalami kekacauan pemahaman terutama dalam hal bahasa yang sederhana. Nashibi itu berkata

Jawaban pertama yang dikatakan Abu Bakr itu terkait hukum umum bahwa jika ada seorang meninggal, maka hartanya diwarisi oleh anak dan keluarganya. Itulah yang nampak pada dialog dalam riwayat Abu Hurairah.

Kelucuan pertama, nashibi ini suka meloncat-loncat dalam memahami suatu riwayat. Bukankah yang sedang ia bahas adalah riwayat Abu Thufail di atas lantas kenapa buru-buru ia meloncat ke riwayat Abu Hurairah. Kita katakan padanya perhatikan terlebih dahulu hadis Abu Thufail yang anda kutip. Sayyidah Fathimah bertanya pada Abu Bakar

: أَنْتَ وَرِثْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ أَهْلُهُ؟

“Engkau yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ataukah keluarganya?”.

Mari perhatikan para pembaca, Apakah Sayyidah Fathimah sedang membicarakan hukum warisan secara umum?. Ooh tidak, Sayyidah Fathimah langsung ke pokok masalahnya yaitu siapa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lantas apa jawaban Abu Bakar

لَا، بَلْ أَهْلُهُ

“tidak, bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya”.

Apakah jawaban Abu Bakar ini tentang hukum waris secara umum?. Ooh tidak, Abu Bakar dengan sharih [tegas] menyatakan bahwa yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah keluarganya.

Sekarang kalau kita bicara masalah hukum waris secara umum bahwa yang mewarisi seseorang adalah keluarganya maka kita tanya pada para pembaca berdasarkan dialog Abu Bakar dan Sayyidah Fathimah di atas, apakah hukum waris secara umum dimana seseorang diwarisi keluarganya berlaku pada diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Kita sederhanakan lagi bahasanya, jika hukum waris umum berlaku pada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang akan mewarisi Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja berdasarkan jawaban Abu Bakar “bahkan yang mewarisinya adalah keluarganya” maka itu berarti hukum waris secara umum juga berlaku atas diri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Adapun jawaban kedua diberikan setelah Abu Bakr benar-benar paham akan maksud Faathimah radliyallaahu ‘anhaa yang akan meminta bagian harta warisan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari harta fai’ di Fadak dan Khaibar

Sebenarnya secara tidak langsung nashibi itu sedang merendahkan IQ Abu Bakar yang tidak bisa menangkap maksud pertanyaan Sayyidah Fathimah. Apakah sebelumnya Abu Bakar tidak paham maksud pertanyaan “engkaukah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau keluarganya?”.

Kira-kira lafaz mana sih yang tidak dipahami Abu Bakar. Apakah kata “engkaukah”. Ya sebodoh-bodohnya orang akan paham maksud kata “engkau”. Apakah pada kata “Rasulullah”?. Kalau Abu Bakar tidak paham dengan kata ini mungkin lebih baik ia tidak perlu menyandang gelar sahabat Nabi. Apakah pada kata “keluarganya”?. Kita yakin Abu Bakar itu punya keluarga maka sudah pasti ia paham apa makna keluarga.

Mungkin yang belum dipahami Abu Bakar itu adalah lafaz “mewarisi”, lha kalau memang belum paham ya mbok ditanya lebih jelas bukannya langsung menjawab. Lagipula serumit apakah kata “mewarisi”. Mungkin akan ada yang bersilat lidah bahwa mewarisi itu tidak selalu dinisbatkan pada harta tetapi juga pada ilmu dan hikmah. Tetap saja jawaban Abu Bakar “tidak, bahkan keluarganya yang mewarisinya” merujuk pada mewarisi harta dimana orang yang meninggal hartanya akan diwarisi keluarganya dalam hal ini jika Rasulullah meninggal yang mewarisinya adalah keluarganya. Jadi dari awal Abu Bakar sudah paham makna pertanyaan Sayyidah Fathimah sehingga ia bisa langsung menjawabnya. Sekarang perhatikan pertanyaan Sayyidah Fathimah selanjutnya

: فَأَيْنَ سَهْمُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dimanakah bagian harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”

Pertanyaan Sayyidah Fathimah ini menunjukkan bahwa dalam dialog tersebut Sayyidah Fathimah memahami jawaban Abu Bakar sebelumnya sebagai pengakuan Abu Bakar kalau keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sehingga Beliau langsung bertanya perihal harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apa jawaban Abu Bakar? Inilah dia

: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَطْعَمَ نَبِيًّا طُعْمَةً، ثُمَّ قَبَضَهُ جَعَلَهُ لِلَّذِي يَقُومُ مِنْ بَعْدِهِ

Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi suatu makanan kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya

Kita tanya pada para pembaca, apakah ada bagian dari hadis ini yang menyatakan bahwa Nabi tidak mewariskan atau apa yang Beliau tinggalkan adalah sedekah?. Tidak ada, jadi hadis di atas tidaklah menafikan hak ahli waris Nabi. Intinya jika Allah memberikan bagian makanan kepada Nabi maka jika Nabi wafat yang berhak atas makanan itu adalah orang yang bertugas setelahnya tetapi hal ini tidak lantas menelantarkan ahli waris Beliau sehingga ahli waris-Nya tidak akan mendapat apa-apa. Hukum Allah sangat jelas dalam Al Qur’an dan itulah yang dipahami oleh Sayyidah Fathimah bahwa ahli waris juga berhak atas harta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Abu Bakar sendiri yang membawakan hadis di atas mengakui hak ahli waris Nabi.

Sayyidah Fathimah tidaklah menolak hadis Abu Bakar yang ini bahwa “ada hak atau bagian orang yang bertugas setelah Nabi dalam harta milik Nabi”. Dalam pandangan Sayyidah Fathimah ahli waris berhak atas harta Nabi dan berdasarkan hadis Abu Bakar ternyata orang yang bertugas setelah Nabi juga punya hak atas harta milik Nabi. Inilah yang dipahami dalam hadis Abu Thufail.

Hadis Abu Thufail ini berbeda dengan hadis Aisyah dan Abu Hurairah dimana Sayyidah Fathimah meminta warisan Nabi dan Abu Bakar berkata bahwa para Nabi tidak mewariskan, semua yang ditinggalkan adalah sedekah. Kedua hadis yang disampaikan Abu Bakar adalah dua hadis yang berbeda maknanya

Hadis “Nabi tidak mewariskan” menafikan hak ahli waris Nabi maka itu berarti keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini bertentangan dengan pengakuan Abu Bakar sebelumnya dalam hadis Abu Thufail

Hadis “Nabi tidak mewariskan dan semua yang ditinggalkan adalah sedekah” menunjukkan bahwa harta Nabi adalah untuk kaum muslimin dan ini marfu’ dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi pada hadis Abu Bakar riwayat Abu Thufail, yang berhak atas bagian Nabi itu adalah orang yang bertugas setelahnya. Dan Abu Bakar berkata

“، فَرَأَيْتُ أَنْ أَرُدَّهُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ،

Maka aku berpendapat atau berpandangan untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin

Nampak bahwa “harta tersebut untuk kaum Muslimin” adalah pendapat atau pandangan Abu Bakar padahal dalam hadis riwayat Aisyah Abu Bakar dengan jelas memarfu’kan itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Kedua hadis yang berbeda menunjukkan bahwa peristiwa yang diriwayatkan Abu Thufail berbeda dengan peristiwa yang diriwayatkan Aisyah. Kisah Abu Thufail terjadi sebelum Kisah Aisyah dengan alasan

  1. Pada riwayat Abu Thufail, Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sangat tidak mungkin kalau hal ini diucapkan setelah Abu Bakar menyatakan Nabi tidak mewariskan
  2. Jika Sayyidah Fathimah telah mendengar hadis Abu Bakar [dalam riwayat Aisyah] maka sangat tidak mungkin Sayyidah Fathimah bertanya kembali pada Abu Bakar “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”.
  3. Dalam kisah Aisyah dinyatakan bahwa Sayyidah Fathimah marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat maka tidak mungkin kisah Aisyah terjadi sebelum kisah Abu Thufail.

Ketiga poin di atas menunjukkan bahwa Kisah Abu Thufail dimana Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Rasulullah yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terjadi sebelum kisah Aisyah dimana Abu Bakar menyatakan hadis Nabi tidak mewariskan.

Kisah Abu Thufail dan Kisah Aisyah diriwayatkan dengan sanad yang shahih maka yang diperlukan adalah menggabungkan keduanya. Tentu saja penggabungan keduanya tidak dengan seenak perut seperti yang dinyatakan oleh nashibi. Penggabungan tersebut harus dengan dasar yang jelas dan sesuai dengan kedua hadis tersebut.

Penggabungan kedua kisah tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya Sayyidah Fathimah datang kepada Abu Bakar atau mengirim utusan [sebagaimana yang nampak dalam riwayat] dan pada saat itu Abu Bakar mengakui bahwa yang mewarisi Nabi adalah keluarganya hanya saja Abu Bakar menyampaikan hadis bahwa orang yang bertugas setelah Nabi berhak atas bagian [makanan] yang diberikan Allah untuk Nabi. Dan Abu Bakar sendiri berpendapat untuk mengembalikannya kepada kaum muslimin. Sayyidah Fathimah menerima hal ini tetapi bukan berarti ahli waris Nabi tidak memiliki hak sedikitpun atas harta Nabi maka kali kedua ia meminta kembali warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu riwayat Aisyah.

Pada kali kedua, Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah dengan membawakan hadis “Nabi tidak mewariskan”. Berbeda dengan sebelumnya dimana Sayyidah Fathimah membenarkan hadis Abu Bakar kali ini Sayyidah Fathimah marah dan tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Hal ini disebabkan Sayyidah Fathimah tidak mengakui hadis Nabi tidak mewariskan. Alasannya memang tidak nampak jelas tetapi bisa diperkirakan

  1. Mungkin karena sebelumnya Abu Bakar telah mengakui bahwa keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lantas sekarang Abu Bakar malah menentang perkataannya sendiri
  2. Mungkin karena Sayyidah Fathimah beranggapan hadis tersebut bertentangan dengan hukum waris yang jelas dalam Al Qur’anul Karim dan Beliau sebagai ahlul bait adalah orang yang selalu bersama Al Qur’an dan orang yang seharusnya paling mengetahui jika memang ada hadis seperti itu.

Apapun alasannya yang jelas Sayyidah Fathimah menampakkan kemarahan setelah mendengar penjelasan Abu Bakar soal hadis Nabi tidak mewariskan. Mungkin nashibi itu akan berkata kami mendustakan hadis shahih.

Kami jawab : dalam hal ini kami berpegang pada Al Qur’anul Karim dan hadis shahih bahwa ahlul bait adalah pedoman bagi umat termasuk pedoman bagi Abu Bakar. Ditambah lagi dengan hadis kemarahan Fathimah yang adalah kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Intinya kemarahan Fathimah juga termasuk hujjah seperti halnya kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Penafsiran kami dalam hal ini adalah Abu Bakar keliru dalam pendengarannya atau pemahamannya terhadap hadis tersebut tentu kami tidak akan menyatakan bahwa Abu Bakar berdusta atas Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kami menghormati Abu Bakar dan kejujurannya tetapi walaupun begitu Beliau tetap manusia yang bisa salah. Nashibi itu berkata

Mengapa ketika ia mengkritik Abu Bakr ia tidak mengkritik Faathimah ? (o iya lupa, haram hukumnya mengkritik Faathimah, karena ia harus benar apapun keadaannya, dan lawannya harus salah apapun keadaannya). Kritikannya terhadap Abu Bakr secara tidak langsung merendahkan IQ Faathimah yang tidak bisa menangkap unsur manipulasi hadits yang dilakukan Abu Bakr, yang kemudian baru ditangkap oleh orang Raafidlah itu ratusan tahun setelah wafatnya. Sungguh menjijikkan ! Bodoh sekali Faathimah itu menurut logika orang Raafidlah itu.

Bagian mana dari kritikan kepada Abu Bakar yang ia maksud merendahkan IQ Sayyidah Fathimah?. Inilah akibatnya jika kebodohan bercampur dengan kebencian plus hawa nafsu. Jika diri sendiri yang bodoh tolong jangan menisbatkan pada orang lain apa lagi mengandaikannya pada semulia-mulia wanita Sayyidah Fathimah.

Silakan pembaca perhatikan pembahasan kami terhadap riwayat Abu Thufail dan riwayat Aisyah adakah kami menunjukkan atau mengisyaratkan kebodohan Abu Bakar atau Sayyidah Fathimah?. Tidak ada, justru perkataan nashibi itu yang menunjukkan kejahilannya.

Bagaimana mungkin lafaz khusus keluarga Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mewarisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditafsirkan Abu Bakar sedang membicarakan kaidah umum waris bukan untuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Nashibi itu sedang menunjukkan bahwa Abu Bakar jahil atau bodoh dalam bahasa manusia pada umumnya. Jika memang yang dibicarakan kaidah umum maka Abu Bakar akan berkata “seseorang memang diwarisi oleh keluarganya tetapi tidak untuk Rasulullah karena Beliau tidaklah diwarisi apa yang ia tinggalkan adalah sedekah”. Tetapi faktanya dengan jelas Abu Bakar menjawab “tidak bahkan keluarganya yang mewarisinya”.

.

.

Nashibi itu membawakan distorsi makna yang lain yaitu dengan mengatakan bahwa sikap meng-hajr atau berhenti berbicara kepada Abu Bakar bukan berarti berhenti total tetapi tidak berbicara dalam masalah itu hingga wafat. Nashibi itu membawakan sebagian lafaz yang ia pikir dapat mendukung hujjahnya

فَقَالَ لَهُمَا أَبُو بَكْرٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : لا نُورَثُ ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذَا الْمَالِ ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لا أَدَعُ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ ، إِلا صَنَعْتُهُ ، قَالَ : فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَفَنَهَا عَلِيٌّ لَيْلا ، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ

Maka Abu Bakar berkata kepada keduanya “Aku mendengar Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Dan hanyalah keluarga Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] makan dari harta ini. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak akan meninggalkan perkara yang aku lihat melakukannya, kecuali aku akan melakukannya juga”. [qaala] “maka dalam hal itu Faathimah meng-­hajr Abu Bakr dan tidak berbicara dengannya hingga wafat, Ali menguburkannya di waktu malam dan tidak memberitahukan kepada Abu bakar [Mushannaf ‘Abdurrazaq no 9774]

Lafaz yang dijadikan hujjah nashibi itu adalah “Falam tukallimhu fii dzalika hatta maatat”. Nashibi mengartikannya sebagai tidak berbicara tentang masalah warisan sampai wafat. “Fii dzalika” diartikan nashibi sebagai “masalah warisan”. Ini termasuk distorsi dalam mengartikan lafaz riwayat.

Lafaz “fii dzalika” dalam kalimat bukan lafaz yang berdiri sendiri melainkan kata ganti yang menerangkan sesuatu hal yang telah disebutkan atau dijelaskan pada kalimat sebelumnya. Terkait dengan hadis riwayat ‘Abdurrazaaq di atas, lafaz “fii dzalik” menerangkan tentang reaksi Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah, reaksi itu berupa penolakan Abu Bakar atas permintaan Fathimah dengan membawakan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi makna yang benar lafaz tersebut adalah “maka dalam hal itu [yaitu penolakan Abu Bakar] Fathimah meng-hajr-nya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat”. Makna ini serupa dengan lafaz “fii dzalika” pada riwayat Uqail dari Az Zuhriy

فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا، فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُر

Maka Abu Bakar berkata  “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi dan semua yang kami tinggalkan adalah shadaqah’. Hanyalah keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari harta ini. sesungguhnya aku demi Allah tidak akan mengubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] dari keadaan yang ada di zaman Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Dan sungguh aku akan memperlakukan shadaqah tersebut sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] padanya”. Abu Bakar pun menolak memberikan harta peninggalan tersebut sedikitpun kepada Faathimah. Maka dalam hal itu Faathimah pun marah kepada Abu Bakr dan meng-hajr-nya. Ia tidak berbicara kepada Abu Bakr hingga wafat. Dan ia hidup selama enam bulan setelah wafatnya Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] [Shahih Bukhari no 4240]

Dalam riwayat Uqail di atas terdapat lafaz “Fawajadat Fathimah ‘ala Abu Bakar fii dzalika” yang artinya “maka dalam hal itu Fathimah marah kepada Abu Bakar”. Apakah hal itu atau fii dzalika yang dimaksud? Itu diterangkan dalam kalimat sebelumnya yaitu Abu Bakar menolak memberikan peninggalan Nabi dengan alasan hadis Nabi tidak mewariskan. Jadi “fii dzalika” adalah kata ganti yang menerangkan penolakan Abu Bakar, maka dalam hal penolakan Abu Bakar ini, Fathimah menjadi marah kepadanya, meng-hajr-nya dan tidak berbicara hingga wafat. Itulah makna sebenarnya lafaz “fii dzalik” dalam riwayat Az Zuhriy.

Hal ini menjelaskan mengapa dalam semua riwayat lain dari Az Zuhriy selain sebagian riwayat ‘Abdurrazaq dari Ma’mar dari Aliy tidak menyebutkan lafaz “fii dzalika” karena pada dasarnya lafaz tersebut hanya sebagai kata ganti yang menegaskan penolakan Abu Bakar atas permintaan Sayyidah Fathimah.

Riwayat Shalih bin Kaisaan dari Az Zuhriy

، فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ ، عَلَيْهَا السَّلَام ، فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka Fathimah [alaihis salaam] menjadi marah dan meng-hajr Abu Bakar dan ia terus meng-hajr Abu Bakar sampai ia wafat

Riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ، فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka dalam hal itu Fathimah marah terhadap Abu Bakar meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Uqail bin Khaalid dari Az Zuhriy

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ

Maka dalam hal itu Sayyidah Fathimah marah kepada Abu Bakar  meng-hajr-nya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah meng-hajrnya dan tidak berbicara dengannya sampai wafat

Riwayat Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Az Zuhriy

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فَلَمْ تُكَلِّمُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى مَاتَت

Maka dalam hal itu Fathimah meng-hajr Abu Bakar tidak berbicara dengannya hingga wafat

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهَجَرَتْهُ ، فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى مَاتَتْ

Maka Fathimah [radiallahu ‘anha] marah dan meng-hajrnya serta tidak berbicara dengannya sampai wafat.

Qarinah [petunjuk] lain yang menguatkan lafaz “tidak berbicara dengannya sampai wafat” adalah Sayyidah Fathimah dikuburkan Ali di waktu malam dan tidak memberitahu Abu Bakar hingga ia dikuburkan. Kalau seandainya hubungan Abu Bakar dengan Fathimah baik-baik saja bahkan dikatakan oleh nashibi terjalin persaudaraan erat maka apa yang mencegah Ali memberitahu Abu Bakar tentang wafatnya Sayyidah Fathimah. Qarinah ini menguatkan lafaz “terus meng-hajr-nya hingga wafat”. Secara umum dalam hidup bermasyarakat saja kalau ada anggota keluarga yang wafat, kita pasti menghubungi keluarga, tetangga, sahabat, saudara dan teman-teman kecuali kalau misalnya ada orang yang menzhalimi keluarga kita maka mungkin kita tidak perlu repot-repot memberitahunya.

.

.

Sayyidah Fathimah tidak menyendiri dalam penolakannya, diriwayatkan dalam kitab Shahih [riwayat Aisyah] bahwa Imam Ali ketika ia berbaiat kepada Abu Bakar setelah Fathimah wafat [enam bulan], Beliau mengakui bahwa ahlul bait berhak akan harta tersebut karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

فَدَخَلَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ فَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَقَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا فَضْلَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبًا

Maka Abu Bakar masuk, Ali mengucapkan syahadat dan berkata “kami mengetahui keutamaanmu dan apa yang telah Allah karuniakan kepadamu, kami tidak dengki terhadap kebaikan yang diberikan Allah kepadamu tetapi kamu telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami, kami berpandangan bahwa kami berhak memperoleh bagian karena kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari no 4240 & 4241] 

Artinya selepas enam bulan dan setelah mendengar hadis Abu Bakar, Imam Ali masih berpendapat kalau ahlul bait lebih berhak. Kemudian dalam riwayat Malik bin Aus, Imam Ali juga datang kembali ketika Umar menjabat khalifah dan kembali meminta warisan Nabi kepada Umar. Umar berkata

ثم جئتماني جاءني هذا يعني – العباس – يسألني ميراثه من بن أخيه وجاءني هذا – يعني عليا – يسألني ميراث امرأته من أبيها فقلت لكما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لانورث ما تركنا صدقة

Kemudian kalian berdua mendatangiku, datang kepadaku dia yakni Abbas meminta kepadaku warisannya dari putra saudaranya dan dia ini datang kepadaku yakni Ali meminta warisan istrinya dari ayahnya. Maka aku berkata kepada kalian berdua bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kami tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” [Mushannaf Abdurrazaq 5/469-470 no 9772 dengan sanad yang shahih]

Hal ini membuktikan bahwa Imam Ali dan Abbas setelah mendengar hadis Abu Bakar mereka tetap meminta warisan Nabi kepada Umar ketika Umar menjabat khalifah, tidak lain ini menunjukkan bahwa Imam Ali dan Abbas tidak mengakui kebenaran hadis Abu Bakar.

.

.

Ada petunjuk lain bahwa hadis Abu Bakar keliru yaitu pada lafaz “apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”. Diriwayatkan dalam kabar shahih bahwa pakaian-pakaian milik Nabi masih disimpan oleh istri Beliau dan tidak disedekahkan kepada kaum muslimin.

حدثنا شيبان بن فروخ حدثنا سليمان بن المغيرة حدثنا حميد عن أبي بردة قال دخلت على عائشة فأخرجت إلينا إزارا غليظا مما يصنع باليمن وكساء من التي يسمونها الملبدة قال فأقسمت بالله إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قبض في هذين الثوبين

Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughiirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Humaid dari Abi Burdah yang berkata “aku masuk menemui Aisyah dan ia mengeluarkan kepada kami kain kasar buatan Yaman dan baju yang terbuat dari bahan kasar [Abu Burdah] berkata kemudian ia [Aisyah] bersumpah dengan nama Allah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dengan memakai kedua pakaian ini [Shahih Muslim 3/1649 no 2080]

Nashibi berpanjang-panjang berhujjah membuat pembelaan atau bantahan tetapi pembelaannya gak nyambung. Intinya ia mau mengatakan kalau pakaian adalah nafkah bagi istri maka itu dikecualikan. Tentu saja ini konyol bin naif, jika anda ingin menafkahi istri anda maka anda akan memberikan kepadanya pakaian khusus buat istri anda bukan pakaian yang sering anda pakai. Intinya bagaimana mungkin pakaian Nabi menjadi nafkah buat istri Nabi. Apa anda memberikan nafkah pakaian istri anda dengan memberikan pakaian yang anda pakai kepada istri anda?. Tolong kalau mau membantah yang cerdas sedikit lah, jangan berpanjang-panjang supaya kelihatan keren padahal gak nyambung.

.

.

Dalam masalah Fadak ini kami tidak mempermasalahkan bagaimana Abu Bakar dan Umar memperlakukan harta tersebut. Nampak dalam riwayat shahih bahwa mereka memperlakukan harta tersebut sebagaimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memperlakukannya. Tetapi yang jadi permasalahan disini adalah bagaimana pandangan Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fathimah terhadap harta tersebut?.

Sekelompok nashibi yang binasa mengatakan bahwa dengan riwayat kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar menunjukkan bahwa Sayyidah Fathimah tamak akan harta warisan. Ini ucapan batil dari orang yang berhati busuk, kami sedikitpun tidak ragu jika harta itu ada di tangan Sayyidah Fathimah atau Imam Aliy maka mereka akan memperlakukannya seperti yang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lakukan. Apa nashibi pikir cuma Abu Bakar dan Umar yang mampu mengurus harta itu seperti halnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?.

Inti permasalahan antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar tidak terletak pada besar kecilnya harta peninggalan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi pada pandangan masing-masing mereka terhadap status harta tersebut. Bagi yang ingin membela Abu Bakar, kami persilakan dan bagi yang ingin membela Sayyidah Fathimah juga kami persilakan. Hal yang menjijikkan adalah ulah nashibi yang berusaha menafikan adanya perselisihan ini dengan berbagai syubhat murahan.

Bagi kami pribadi kebenaran ada pada Sayyidah Fathimah dan pandangan kami ini tegak atas dasar hujjah Al Qur’an dan Al Hadis tidak seperti tuduhan nashibi bahwa kami mendustakan hadis shahih. Jika kami dikatakan mendustakan hadis shahih maka sungguh mereka lebih layak untuk dikatakan mendustakan Al Qur’an dan Hadis. Jika mereka bisa membuat pembelaan maka mengapa kami tidak bisa membuat pembelaan.  Dan tidak ada urusannya pandangan kami ini dengan apa yang diyakini Syiah. Kami menegakkan pandangan kami bukan dengan kitab-kitab Syiah dan tidak pernah pula kami menyatakan bahwa kami ini penganut Syiah yang mewakili mazhab Syiah.

Tentu saja sebagai suatu pandangan maka ia bisa benar ataupun salah. kami tidak keberatan jika ada yang bersedia menunjukkan kesalahan pandangan kami, akan kami pelajari setiap masukan yang tertuju kepada kami dan jika memang salah maka kami akan mengakuinya. Begitu pula jika kami terbukti benar maka kami akan mempertahankan kebenaran tersebut meskipun para nashibi penuduh dan pencela itu tidak suka.

Bagi nashibi mungkin masalah ini terkait dengan khayalan mereka yang jika khayalan tersebut diungkapkan dalam bahasa nashibi akan menjadi kalimat “cuma agama nashibi yang mereka anut yang benar sedangkan agama syiah yang mereka cela adalah sesat dan menyesatkan”.  Begitu terikatnya mereka dengan waham ini sampai-sampai setiap ada pandangan yang menyelisihi mereka dan sependapat dengan Syiah akan mereka tuduh Syiah yang menyesatkan walaupun pandangan tersebut sebenarnya diungkapkan bukan oleh penganut Syiah. Yah di mata para nashibi, perkara ini bukan lagi soal mencari kebenaran tetapi sudah menjadi bagian dari pembenaran atas tuduhan mereka terhadap mazhab Syiah yang selalu mereka cela.

.

.

Kami tutup pembahasan kali ini dengan membawakan riwayat dimana keturunan Aliy bin Abi Thalib yaitu Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib mengakui perselisihan yang terjadi antara Sayyidah Fathimah sampai beliau wafat dengan Abu Bakar.

عبد الرزاق عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم دفنت بالليل قال فر بها علي من ابي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء عبد الرزاق عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك

‘Abdurrazaaq dari Ibnu Juraij dan ‘Amru bin Diinar bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah binti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikuburkan Aliy pada malam hari untuk menghindari Abu Bakar menshalatkannya karena diantara mereka berdua ada sesuatu. ‘Abdurrazaaq dari Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti itu kecuali bahwa ia berkata “[Fathimah] telah mewasiatkan kepadanya tentang hal itu”  [Al Mushannaf ‘Abdurrazaaq 3/521 no 6554-6555]

Riwayat di atas sanadnya shahih hingga Hasan bin Muhammad. Diriwayatkan ‘Abdurrazaaq dengan sanad yaitu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Uyainah dari ‘Amru bin Diinar dari Hasan bin Muhammad. Dalam kitab Al Mushannaf tertulis “Ibnu Juraij dan ‘Amru Diinar” ini kemungkinan besar tashif [salah tulis] yang benar adalah “Ibnu Juraij dari ‘Amru bin Diinar” hal ini dikuatkan pada lafaz “bahwa Hasan bin Muhammad mengabarkan kepadanya”. Frase “nya” disana merujuk pada satu orang maka dia adalah ‘Amru bin Diinar apalagi dikenal bahwa Ibnu Juraij termasuk salah satu murid ‘Amru bin Diinar.

Ibnu Juraij adalah ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Aziz bin Juraij Al Makkiy seorang tsiqat faqih memiliki keutamaan tetapi melakukan tadlis dan irsal [At Taqrib 1/617]. Sufyan bin Uyainah adalah tsiqat hafizh faqih imam hujjah kecuali mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya, dituduh melakukan tadlis tetapi dari perawi tsiqat, termasuk pemimpin thabaqat kedelapan dan ia orang yang paling tsabit dalam riwayat ‘Amru bin Diinar [At Taqrib 1/371]. ‘Amru bin Diinar Al Makkiy adalah seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/734]. Hasan bin Muhammad bin Aliy bin Abi Thalib adalah seorang yang tsiqat faqih [At Taqrib 1/210]. Adz Dzahabiy berkata “ia termasuk ulama ahlul bait” [As Siyaar Adz Dzahabiy 4/131]

Menurut Hasan bin Muhammad, Sayyidah Fathimah telah berwasiat kepada Imam Ali agar menguburkannya di waktu malam sehingga Abu Bakar tidak bisa menshalatkannya. Hasan bin Muhammad mengatakan bahwa hal ini terjadi karena antara Sayyidah Fathimah dan Abu Bakar terjadi sesuatu, dan itu tidak lain perselisihan masalah warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti yang dijelaskan dalam hadis Aisyah. Salam Damai

12 Tanggapan

  1. pembahasan yang kereeeen …

  2. Senang banget waktu baca tulisan ini sebagai bantahan atas tulisan yang pernah dimuat dalam blog Abul-Jauzaa, dan sekarang dah ada bantahan lagi di blog tersebut.
    Cuma yang sangat disayangkan adalah keduanya saling menisbatkan personal dengan istilah Rafidhah dan Nashibi. -_-”

    Salam

  3. Ada bantahan aneh muncul dari nashibi dan pengikutnya. Pada dasarnya itu bukan bantahan tetapi cuma ngeyelisme nggak penting yang muncul dari pribadi yang tidak mau mengakui kesalahannya. Nashibi itu berkata

    Bagi yang mengerti, tentu akan paham kekeliruan mendasar dalam analisanya. Bagaimana bisa ia menafikkan peringatan dari para ulama terhadap Az-Zuhriy bahwa ia sering menyisipkan lafadh dalam hadits yang ia bawakan ?. Bahkan setelah ada bukti nyata dan terang adanya idraaj tersebut ?.

    Maaf tidak ada bukti nyata idraaj Az Zuhriy seperti yang dikatakannya. Bisa dipastikan ia sedang membual atau ia tidak sadar akan bualannya sehingga ketika ia membual ia merasa telah membawakan bukti nyata. Kemudian ia mengatakan kalau mengikuti apa yang kami sampaikan di atas niscaya tidak akan ada yang namanya hadis mudraaj. Justru kalau mengikuti hujjah nashibi itu maka alangkah banyaknya hadis musnad yang dikatakan hadis mudraaj.

    Perhatikan bantahan atau komentar nashibi itu ketika kami membawakan riwayat Syu’aib bin Abi Hamzah dari Az Zuhriy yang membuktikan bahwa lafaz “Fathimah wafat enam bulan” sebagai lafaz Aisyah.

    Sanad ketiga riwayat di atas adalah shahih. Tapi itu mesti dipahami bahwa lafadh yang dibawakan dalam tiga riwayat tersebut merupakan ikhtishar (ringkasan) riwayat panjang yang ada dalam artikel di atas. Atau dengan kata lain, lafadh hadits ‘Aaisyah selengkapnya adalah sebagaimana yang ada dalam artikel.

    Jika dikatakan itu ringkasan maka ringkasan [ikhtisar] itu justru menjadi bukti nyata kalau lafaz tersebut adalah lafaz Aisyah. Ketiga riwayat yang kami kutip jelas-jelas membawakan lafaz [qaalat]. Nashibi itu punya mata tetapi tidak bisa melihat, mungkin ia melihat tetapi tidak bisa memahami. Selanjutnya nashibi itu berkata

    حَدَّثَنَا محمد قال: حَدَّثَنَا أبو اليمان قال: أخبرنا شعيب، عن الزهري قال: أخبرني عروة بْن الزبير، عن عائشة….فذكر الحديث، وقال: وعاشت فاطمة بعد النبي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ستة أشهر ودفنها علي.
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah,… lalu ia menyebutkan hadits. Dan perawi (laki-laki) berkata : “Dan Faathimah hidup sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama enam bulan, dan kemudian wafat, dikuburkan oleh ‘Aliy” [Al-Ausath 1/114 no. 93 ].
    Perkataan : wa dzakaral-hadiits, maksudnya hadits tentang tuntutan Faathimah radliyallaahu ‘anhaa atas warisan. Di situ Al-Bukhaariy meringkasnya. Dan kemudian menisbatkan perkataan wa ‘aasyat Faathimah… dst. kepada perkataan Az-Zuhriy. Inilah idrajnya yang sangat jelas.

    Ucapannya “kemudian menisbatkan perkataan wa’aasyat Fathimah kepada perkataan Az Zuhriy” adalah mengada-ada. Itu bukan idraaj sebagaimana yang disangkakan oleh nashibi itu. lafaz [qaala] disana bermakna “perawi melanjutkan hadis Aisyah” atau “perawi berkata dalam hadis Aisyah tersebut”. Buktinya adalah ketiga riwayat yang kami kutip dimana digunakan lafaz [qaalat] untuk lafaz wa ‘aasyat Faathimah. Telah kami contohkan dimana terdapat hadis Aisyah yang menggunakan lafaz [qaala] dan ternyata lafaz itu adalah perkataan Aisyah sehingga dalam riwayat lain digunakan lafaz [qaalat]. Satu lagi yang aneh adalah bagaimana bisa ia mengatakan dalam riwayat Bukhari di atas bahwa lafaz [qaala] itu bermakna idraaj dari Az Zuhriy, ya itu dari waham-nya sendiri.

    Begitu pula riwayat :
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الرَّمَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، قَالَ: قُلْتُ لِلزُّهْرِيِّ: ” كَمْ مَكَثَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” سِتَّةُ أَشْهُرٍ ”
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Manshuur Ar-Ramaadiy : telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar : Aku pernah bertanya kepada Az-Zuhriy : “Berapa lama Faathimah hidup sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia berkata : “Enam bulan” [Diriwayatkan oleh Ad-Duulabiy dalam Adz-Dzuriyyah no. 205].
    Riwayat ini merupakan bagian atau ringkasan dari keseluruhan riwayat yang dibawakan Ma’mar dari Az-Zuhriy sebagaimana dibawakan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 6/300 no. 12732 (catatan kaki no. 21).

    Nashibi ini ingin melucu tapi tidak lucu, kalau ini ia katakan sebagai bukti idraaj maka itu sangat salah sekali. Riwayat Ma’mar dari Az Zuhriy juga menetapkan bahwa Fathimah hidup enam bulan adalah bagian dari lafaz Aisyah

    قَالَتْ عَائِشَةُ : وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ حَيَاةَ فَاطِمَةَ حَظْوَةٌ ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ فَاطِمَةُ انْصَرَفَتْ وُجُوهُ النَّاسِ عَنْهُ ، فَمَكَثَتْ فَاطِمَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُوُفِّيَتْ

    Itu riwayat yang disebutkan Abu Awanah dalam Mustakhraj dan ‘Abdurrazaaq dalam Al Mushannaf, sanadnya juga berujung pada Ma’mar dari Az Zuhriy. Riwayat ini membuktikan apa yang kami katakan di atas bahwa jawaban Az Zuhriy itu ia katakan berdasarkan hadis Aisyah yang ia riwayatkan, bukan dari pendapatnya sendiri. Jadi posisi kami adalah menerima riwayat Ma’mar bertanya pada Az Zuhriy dan menerima riwayat Az Zuhriy dari Urwah dari Aisyah. Sedangkan nashibi itu justru menolak riwayat Aisyah dengan alasan idraaj Az Zuhriy padahal telah terbukti bahwa itu adalah lafaz Aisyah. Jika hadis dengan lafaz [qaalat] tidak bisa menjadi bukti baginya maka bukti apa lagi untuk membuktikan bahwa itu bukan idraaj. Semakin lama kami semakin geleng-geleng kepala melihat keanehannya dalam ilmu hadis.

    Ini adalah bukti bahwa sebenarnya pemilik perkataan tersebut adalah Az-Zuhriy. Tentu saja ini jika kita mau memahami hadits secara keseluruhan. Dan itulah yang dikuatkan dalam riwayat lain sebagaimana telah disebutkan dalam artikel di atas.

    Sekarang anggap saja Az Zuhriy berkata demikian, lantas apakah sebelum Az Zuhriy tidak boleh ada yang mengatakannya?. Bagaimana kalau misalnya Az Zuhriy sebenarnya taklid pada perkataan Aisyah?. Az Zuhriy mengetahui perkataan itu sebagai perkataan Aisyah dari gurunya Urwah yang merupakan murid Aisyah. Apa buktinya? ya buktinya adalah riwayat yang jelas-jelas menyatakan lafaz tersebut sebagai lafaz Aisyah yaitu dengan lafaz [qaalat].

    Sebenarnya bantahan nashibi disini bukanlah bantahan, ini tidak cocok disebut sebagai bantahan karena apa yang ia katakan sudah dibantah dalam tulisan di atas. Hanya saja ia tidak membacanya atau jika ia membacanya ia tidak bisa memahaminya atau pura-pura tidak bisa memahaminya. Intinya sih harus ada saja kata-kata sebagai bantahan untuk menjaga wibawanya diantara para pengikut nashibinya.

    Yang menarik lagi adalah riwayat dari jalur ahlul-bait :
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ الْجَوَّازُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: ” لَبِثَتْ فَاطِمَةُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ أَشْهُرٍ ”
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshuur Al-Jawwaaz : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari ‘Amru bin Diinaar, dari Muhammad bin ‘Aliy, ia berkata : “Faathimah hidup sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama tiga bulan” [Diriwayatkan oleh Ad-Duulabiy dalam Adz-Dzuriyyah no. 204].
    Riwayat ini shahih. Muhammad bin ‘Aliy di situ adalah Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain bin Abi Thaalib yang terkenal dengan nama Abu Ja’far Al-Baaqir. Ia mengatakan 3 bulan. Akankah orang Raafidlah itu mengatakan bahwa imamnya telah melakukan manipulasi sejarah ?. Kita tunggu……

    Silakan lihat para pembaca, apa hubungannya coba riwayat ini dengan pembahasan hadis kemarahan Fathimah. Perkataannya disini menunjukkan kalau ia memang seorang nashibi yang sok berlabel salafy atau mengatasnamakan ahlus sunnah. Kami memuliakan ahlul bait termasuk Abu Ja’far Al Baqir, Muhammad bin Aliy. Beliau di sisi kami adalah imam. Beliau tidak hanya Imam bagi Syiah dan pengikutnya tetapi juga imam bagi ahlus sunnah juga bagi umat islam. Kalau memang nashibi itu benar-benar ahlus sunnah, ia tentu tidak akan mengatakan bahwa Abu Ja’far Al Baqir melakukan manipulasi sejarah. Lisan kotornya itu terjaga hanya untuk Abu Bakar, Umar, Muawiyah dan para pengikutnya sedangkan untuk ahlul bait dan ulama ahlul bait di sisi ahlus sunnah ia tidak punya kewajiban untuk menjaga lisannya.

    Soal riwayat Abu Ja’far Al Baqir di atas, telah diriwayatkan pula bahwa Beliau mengatakan kalau Sayyidah Fathimah wafat setelah enam bulan, yaitu riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al Humaidi dari Sufyan dari ‘Amru bin Diinar dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy, sanadnya shahih hingga Abu Ja’far [Tarikh Ibnu Asakir 3/159 dan 3/160]

    قال وحدثني أبو عبد الله أنبأنا سفيان عن أبي جعفر قال ماتت بعد النبي (صلى الله عليه وسلم) بستة أشهر قيل لسفيان عمرو عن أبي جعفر قال نعم

    Dan telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdullah yang berkata telah memberitakan kepada kami Sufyan dari Abi Ja’far yang berkata [Fathimah] wafat setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] enam bulan. Dikatakan kepada Sufyan, ‘Amru dari Abi Ja’far?. Sufyan berkata “benar” [Tarikh Ibnu Asakir 3/159]

    Riwayat Abu Ja’far dengan lafaz “enam bulan” lebih bersesuaian dengan riwayat Aisyah dan inilah yang rajih.

    Kemudian ada komentar dari pengikut nashibi yang diaminkan oleh nashibi tersebut, menurut mereka hadis tersebut menunjukkan Fathimah gila harta jadi sebenarnya tidak boleh ada yang berhujjah dengan hadis Aisyah di atas. Tipe komentar seperti ini sudah kami tulis pula di atas hanya muncul dari mereka yang berhati busuk. Kemarahan Fathimah di atas adalah sikapnya yang tidak membenarkan hadis yang disampaikan Abu Bakar, analoginya sama seperti jika ada yang merampas harta anda maka itu jelas salah dan anda pasti marah walaupun pada akhirnya harta itu dijadikan oleh si perampas sebagai sedekah. Apalagi jika si perampas mengatasnamakan ayah anda padahal ayah anda tidak pernah mewasiatkannya kepada anda. Ditambah lagi Sayyidah Fathimah itu adalah ahlul bait yang menjadi pedoman bagi umat islam termasuk bagi Abu Bakar maka sudah sewajarnya sikap dan kemarahannya menjadi hujjah seperti halnya sikap dan kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

  4. Si Nasibi Abul Jauza persis dengan nenek moyang guru-gurunya, Ibn Taymiyah yang menganggap Fatimah as gila harta bahkan menyamakannya dengan orang munafik. Naudzu billah

  5. Pemaparan yang begitu mencerahkan ….

  6. Sholawat

  7. ALLAHHUMMA SHOLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD
    ane sih mo sholawat yang komplit aje deh biar sampai ke Nabi Muhammad SAWW.ngak seperti yang mengatakan rafidah tapi sholawat nya aje kagak komplit hehhehe|)

  8. احسنت

    انا لم اعلم الغتہ التی انت تکلم فیھا

    و لکن ھذہ المقالتہ اکثر من رائع

    جزاک اللہ خیرا

  9. Berikut tanggapan dari kami terhadap komentar nashibi yang cuma pepesan kosong seperti biasanya.

    Tiga hadits yang dibawakan oleh Raafidliy di atas ikhtishar riwayat panjang yang disampaikan perawi dari hadits Az-Zuhriy. Dan sangat jelas dalam riwayat yang dibawakan di atas terdapat sisipan perkataan Az-Zuhriy. Pertanyaannya : Lantas siapakah yang mengatakan qaala itu ?. ‘Aaisyah ?.

    Wah cuma ngeyel seperti biasa. Buktikan dulu wahai nashibi kalau qaala disana berarti Az Zuhriy yang berkata. Posisi kami disini jelas kami telah membuktikan bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Aisyah dimana ia menyebutkan dengan lafaz [qaalat]. Yah karena anda tidak mampu mencari dalih lain maka dengan ngeyel anda berkata oh itu kan ikhtisar. Orang idiot juga bisa bilang begitu. Ditambah lagi kalau memang lafaz tersebut adalah idraaj tentu sang perawi hadis tersebut lebih mengetahui kalau lafaz tersebut adalah idraaj dan ketika mereka meringkas riwayat maka sangat tidak mungkin lafaz idraaj tersebut dijadikan sebagai lafaz Aisyah. Itu namanya sudah jatuh dalam berdusta atau manipulasi.

    Pengertian adanya sisipan ini diamalkan ketika telah diketahui bahwa Az-Zuhriy adalah perawi yang sering menyisipkan lafadh perkataannya atau penafsirannya terhadap hadits yang ia bawakan. Tentu beda halnya dengan orang yang tidak disifati sering membawakan hadits mudraj. Di atas pun telah dibawakan qarinah-qarinahnya beberapa jalan. Selain itu, tambahan lafadh ini tidaklah dibawakan selain dari jalur Az-Zuhriy dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.

    Mana qarinah yang anda maksud?. qarinah-qarinah anda itu kan cuma lafaz qaala dalam hadis Aisyah dan maaf saja orang yang sudah sering baca hadis-hadis Aisyah akan sering melihat kok banyak hadis-hadis Aisyah yang tersisipkan lafaz qaala dan itu bukanlah idraaj tetapi bagian dari hadis Aisyah. Belajar hadis sana wahai nashibi, baca tuh kitab-kitab hadis:mrgreen:

    Sangatlah aneh kemudian jika orang Raafidliy itu mengatakan kata qaala itu artinya si perawi laki-laki melanjutkan perkataan ‘Aaisyah. Dalam banyak hadits lain pun disebutkan kalau memang perawi dibawahnya ingin menyebutkan kelanjutan perkataan perawi di atasnya yang wanita, pasti mengatakan qaalat atau qaala : qaalat Fulanah atau yang semisalnya. Aneh-aneh saja si Rafidliy ini ya…. he…he..he….

    Aneh mungkin dalam kepala anda, buktinya sejauh ini saya sudah membawakan banyak hadis-hadis Aisyah yang tersisipkan lafaz qaala dan itu termasuk bagian dalam hadis atau perkataan Aisyah. Kalau anda bilang aneh, ya bukan salah saya begitulah yang tertera dalam sebagian hadis-hadis Aisyah. Diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan diingkari oleh orang yang jahil.

    Dari dulu orang Raafidliy ini memang bermasalah dengan dirinya. Hanya mengingatkan bagi yang merasa amnesia tentang hadits :
    حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “. تَقُولُ الْمَرْأَةُ: إِمَّا أَنْ تُطْعِمَنِي وَإِمَّا أَنْ تُطَلِّقَنِي، وَيَقُولُ الْعَبْدُ: أَطْعِمْنِي وَاسْتَعْمِلْنِي، وَيَقُولُ الِابْنُ: أَطْعِمْنِي إِلَى مَنْ تَدَعُنِي، فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا، هَذَا مِنْ كِيسِ أَبِي هُرَيْرَةَ
    Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy : Telah menceritakan kepada kami Abu Shaalih, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik shadaqah adalah yang masih menyisakan kecukupan, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mulailah dengan orang-orang yang ada dalam tanggunganmu. Seorang wanita berkata : ‘Berilah aku makan, atau kalau tidak, ceraikanlah aku’. Seorang budak berkata : ‘Berilah aku makan dan pekerjakanlah aku’. Dan seorang anak berkata : ‘Berilah aku makan, kepada siapa engkau meninggalkanku”. Mereka bertanya : “Wahai Abu Hurairah, apakah engkau mendengar hal ini dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Tidak, ini berasal dari pendapat Abu Hurairah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5355].
    Kata orang Raafidliy itu, kalimat yang bercetak tebal menunjukkan kedustaan Abu Hurairah karena menisbatkan perkataan pribadinya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Faktanya anda yang sedang berdusta wahai abul jauzaa an nashibi. Silakan lihat kembali tulisan saya terkait masalah ini dan silakan kutip kapan saya berkata atau berpandangan kalau Abu Hurairah berdusta dalam hadis tersebut. Silakan buktikan bila perlu quote mana kata-kata saya yang menyatakan hal itu. Jika tidak silakan akui kalau anda sedang berdusta. Heh anda membaca tulisan saja tidak becus sok berkomentar macam-macam. Belajar dulu membaca yang baik dan benar. Saya tunggu buktinya, cobalah berhenti ngeyel dan bersikaplah dewasa, biacaralah atasa dasar bukti bukan prasangka.

    Padahal, telah ada bukti lain secara jelas bahwa telah terjadi idraaj perkataan Abu Hurairah oleh perawi di bawahnya dan terdapat peringkasan. Buktinya adalah dalam hadits :

    أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَدِيبُ، أنا أَبُو بَكْرٍ الإِسْمَاعِيلِيُّ، أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ هُوَ ابْنُ سُفْيَانَ، نا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا أَبُو مُعَاوِيَةَ.ح قَالَ: وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ، نا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، نا أَبُو أُسَامَةَ، قَالَ: نا الأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ أَفْضَلَ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ “، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: تَقُولُ امْرَأَتُكَ أَطْعِمْنِي وَإِلا فَطَلِّقْنِي، وَيَقُولُ: خَادِمُكَ أَطْعِمْنِي وَإِلا فَبِعْنِي، وَيَقُولُ: وَلَدُكَ إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ هَذَا شَيْءٌ تَقُولُهُ مِنْ رَأْيِكَ أَوْ مِنْ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لا، بَلْ هَذَا مِنْ كَيْسِي، أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الأَعْمَشِ

    Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Amru Muhammad bin ‘Abdillah Al-Adiib : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr Al-Ismaa’iliy : Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan bin Sufyaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Mu’aawiyyah (ح). Dan telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan : Telah mengkhabarkan kepada kami Nashr bin ‘Aliy : telah mengkhabarkan kepada kami Abu Usaamah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya shadaqah yang paling utama adalah yang masih menyisakan kecukupan, dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Mulailah dengan orang-orang yang ada dalam tanggunganmu”. Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : “Istrimu berkata : ‘Berilah aku makan, atau kalau tidak, ceraikanlah aku’. Pembantumu berkata : ‘Berilah aku makan, atau jika tidak, bebaskanlah aku’. Anakmu berkata : ‘Kepada siapa engkau menyerahkanku ?”. Mereka bertanya : “Wahai Abu Hurairah, apakah ini sesuatu yang engkau katakan menurut pendapatmu, ataukah berasal dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Tidak, bahkan ini berasal dari pendapatku semata” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy, 7/471].

    Rasanya riwayat ini juga saya kutip dalam tulisan saya dan sayapun menyatakan bahwa lafaz tersebut adalah idraaj karena terbukti dalm riwayat Baihaqi terdapat lafaz Abu Hurairah berkata . Saya sih setuju-setuju saja bahwa ini termasuk idraaj tetapi lain cerita dengan riwayat Bukhari dalam Tarikh As Shaghir di atas yang anda katakan idraaj. Mana ada lafaz seperti itu, yang ada cuma lafaz [qaala] dan waham anda menyatakan itu idraaj. Duh idraaj dari hongkong kaleee, mana nama perawi yang melakukan idraaj-nya?.

    Ini adalah penjelas adanya idraaj perkataan Abu Hurairah yang dilakukan oleh perawi di bawahnya, dimana dijelaskan bagian mana perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bagian mana perkataan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Selengkapnya silakan baca :
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/09/abu-hurairah-tidak-berdusta.html.
    Mengapa orang Raafidlah itu gak mau buka sebelah matanya ?. Antum tentu tahu jawaban klise-nya : tabiat ngotot. Juga karena memang benci dengan Abu Hurairah, satu penyakit akut yang belum sembuh.
    Membandingkan lafadh antar riwayat itu dapat mengetahui, mana lafadh asli hadits, mana pula lafadh yang terdapat tambahan perawi.

    Komentar omong kosong, apa yang anda katakan itu sama seperti apa yang saya katakan dalam tulisan saya perihal ini. Saya mengakui ini sebagai idraaj dan menolak tuduhan dusta terhadap Abu Hurairah. Jadi darimana tuduhan anda bahwa saya benci dengan Abu Hurairah. Justru anda yang sedang sakit, mengatasnamakan pada saya apa yang bukan menjadi pandangan saya. Bahkan dalam kesimpulan tulisan saya, saya tidak menyatakan Abu Hurairah berdusta tetapi menyatakan ia tercampur atau berubah hafalannya. Penyakit syiahpobhia anda itu sudah terlalu parah sampai mengganggu daya penglihatan dan daya pikir anda. Kasihan, kasihan. Apa dengan embel-embel salafy anda, jadi anda bebas berdusta atas nama orang lain?.

    Jika lafadh qaala yang menjadi sisipan dalam sebuah lafadh hadits tidak dijadikan i’tibar dalam penilaian hadits mudraj, lantas apa ?. Kalau memang dirinya menyangka bahwa jika kita melakukan penelitian lafadh-lafadh seperti di atas akan mengkonsekuensikan banyaknya hadits mudraj, ya sangat dipersilakan dirinya untuk membuktikan angan-angannya itu

    Ya salah sampean sendiri kalau tidak bisa membaca dengan benar. saya sih sudah mencantumkan contoh hadis-hadis Aisyah yang tersisipkan lafaz qaala tetapi bukan bermakna idraaj melainkan perkataan Aisyah. Silakan dibaca biar jadi bahan pelajaran buat anda. Bangun dong dari waham-nya gak akan maju-maju anda kalau cuma ngeyel.

    Tapi bagaimana ulah orang Raafidliy itu untuk membatalkan riwayat shahih ini. Maka ia mengarang-ngarang dengan menyisipkan sendiri perawi Abu Nadlrah ketika memberikan analisa terjemahan dari riwayat Al-Haakim dan Al-Baihaqiy di atas :
    berkata “ini sahabat kalian maka baiatlah ia” kemudian mereka pergi.
    [Abu Nadhrah berkata] Ketika Abu Bakar berdiri di atas mimbar, ia melihat kepada orang-orang kemudian ia tidak melihat Ali, ia bertanya tentangnya maka ia menyuruh orang-orang dari kalangan Anshar memanggilnya, Abu Bakar berkata “wahai sepupu Rasulullah dan menantunya apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Ali berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” maka ia membaiatnya. Kemudian Abu Bakar tidak melihat Zubair, ia menanyakan tentangnya dan memanggilnya kemudian berkata “wahai anak bibi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan penolongnya [hawariy] “apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Zubair berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah” maka ia membaiatnya…”, [selesai].
    Asli, kata-kata yang saya cetak tebal itu adalah hasil rekayasanya. Dalam teks asli gak ada lafadh qaala Abu Nadlrah atau yang semisal. Ini hanyalah usahanya – yang sia-sia – untuk mengesankan bahwa riwayat itu terputus. Padahal tidak, karena itu merupakan lafadh Abu Sa’iid Al-Khudriy yang menyambung kemursalan riwayat Abu Nadlrah.

    Inipun sudah saya bahas wahai nashibi dan maaf kapan saya pernah bilang bahwa lafaz [Abu Nadhrah berkata] adalah bagian dari teks hadisnya. Sejak awal saya sengaja menambahkan lafaz tersebut untuk menunjukkan illat [cacat] bahwa riwayat tersebut terjadi percampuran antara perkataan Abu Sa’id dan Abu Nadhrah. Itu hanya ilustrasi saya untuk memudahkan pembaca memahami illat [cacat] apa yang saya maksud. Kami sudah membuktikan bahwa lafaz tersebut yang rajih adalah mursal Abu Nadhrah.

    Yang gak ada qarinah idraaj dibikin-bikin ada idraj, sedangkan yang ada qarinah idraj diingkari. Basi….. basi…..

    Lha bukannya itu sampean. Kalau hadis Abu Nadhrah yang anda bahas itu sudah saya bawakan qarinahnya yaitu hadis-hadis yang menunjukkan bahwa lafaz tersebut mursal Abu Nadhrah bukan lafaz Abu Sa’id. Sedangkan anda wahai nashibi mana bukti anda kalau riwayat Aisyah di atas mengandung idraaj? paling balik lagi ke lafaz qaala, bukti idraaj macam apa itu.Penetapan Az Zuhriy yang melakukan idraaj itu cuma andai-andai berhadiah, main pasang seenaknya, begitu pula matan yang menjadi idraaj juga asal comot sesuka hati.

    Muhammad bin Manshuur Al-Jawwaaz dalam riwayat Ad-Duulabiy itu mempunyai mutaba’ah dari ‘Abdurrazzaaq.
    Dan mungkin – sekali lagi dia amnesia – dengan teori ngaco nya tentang sanad ‘aliy dan sanad nazil. Menilik teorinya tersebut, sanad Ad-Duulabiy jelas lebih pendek daripada sanadnya Ibnu ‘Asaakir. Tapi mengapa ia benarkan sanadnya Ibnu ‘Asaakir ?. Pertama, karena gak mau kalah. Kedua, karena lupa. Ketiga, karena mencocoki seleranya.

    Riwayat Ibnu Asakir itu juga dimuat dlama Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawiy jadi ya sama aja tuh sanadnya sama-sama tinggi dgn riwayat Duulabiy. Al Humaidiy juga memiliki mutaba’ah dari Ahmad bin Hanbal dan Abdul Jabbar bin A’la [dalam riwayat Abu Nu’aim]. kalau mau Dicari yang lebih rajih ya riwayat Al Humaidiy lebih rajih selain memiliki mutaba’ah, Al Humaidiy seperti yang dikatakan Abu Hatim adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat Ibnu Uyainah.

    Tapi secara inshaf saya katakan, Ibnu ‘Uyainah dalam membawakan riwayat telah idlthiraab, karena ia membawakan sanad dari ‘Amru bin Dinar dari dua jalan sekaligus. Pertama dari Abu Ja’far, dan kedua dari Az-Zuhriy. Satu riwayat (misal : Ad-Dulabiy) pertama dikatakan bahwa Abu Ja’far mengatakan 3 bulan dan Az-Zuhriy 6 bukan. Sedangkan dalam lain riwayat dikatakan bahwa Abu Ja’far berkata 6 bulan dan Az-Zuhriy 3. Ini idlthiraabnya. Siapakah sebenarnya pemilik 3 bulan dan 6 bulan ini ?.

    Kalau anda meyakini itu idhthirab lantas mengapa anda bawa-bawa riwayat itu heh cuma unjuk kebolehan dan akhirnya ngaku yaaa riwayat itu idhthirab. Gak penting bangettt. jujur saja gak jelas tuh tujuan anda mengutip riwayat tersebut dalam pokok bahasan ini. Apa mau menyudutkan saya karena dalam waham anda, saya meyakini para imam ma’shum?. Maaf ya situ salah alamat kata siapa saya Syiah, begitu tuh kalau penyakitan, terus akan berkelanjutan semakin parah.

    Kalau mau dinilai lebih luas, masyhur pendapat Az-Zuhriy bahwa Faathimah itu wafat 6 bulan pasca Nabi. Jadi kalau mau dipaksakan tarjih, maka pemilik 6 bulan itu adalah Az-Zuhriy karena masyhur dari jalan lain selain jalan Sufyan dari ‘Amru bin Diinar.. Wallaahu a’lam.

    Gampang toh, apa anda pikir cuma anda yang bisa berakrobat dalih. Apa Az Zuhriy itu gak bisa mengalami apa yang anda sebut tadi idhthirab?. Kalau Sufyan bin Uyainah yang kedudukannya seperti itu bisa dgn gampang anda bilang idhthirab maka gampang juga tuh dibilang Az Zuhriy idhthirab.

    Cerebrofot di apotik masih terjangkau untuk dibeli untuk memberikan nutrisi kepada otak. Di pikirannya, mungkin pakaian orang Arab jaman dulu itu seperti kita kali ya… He..he..he… Masak si, ‘Aaisyah diberi celana dan T-Shirt Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Begitu kali. Jaka sembung makan kedondong. Gak nyambung dong.

    Yah gak ada juga kok yang bilang celana t shirt wahai nashibi. Lucunya kali ini anda menampakkan waham baru bahwa di arab sana terutama pada zaman Nabi, Nabi beserta istri-istrinya bisa saling bertukar pakaian. Pakaian Nabi adalah pakaian istrinya dan pakaian istrinya adalah pakaian Nabi. Selamat anda bisa jadi juara ngibul. Lucunya ada hadis shahih yang menyatakan Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki. Lengkap deh kena laknat semua, yah itulah di dunia wahamnya nashibi abul jauzaa’

    Apa gak mungkin kain yang seperti itu dijadikan sebagai pemberian nafkah kepada istri untuk dipakainya ?. Halo,..halo…

    Halo-halo otaknya dipakai dong wahai nashibi. Sejak kapan tuh Aisyah sering memakai pakaian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bahkan dalam hadis tersebut nampak bahwa pakaian itu masih dipakai Nabi hingga Beliau wafat. So kapan Nabi memberikannya sebagai nafkah kepada Aisyah. Nabi berwasiat bahwa pakaiannya akan jadi nafkah Aisyah? mana mungkin, Aisyah sendiri menyatakan Nabi tidak berwasiat sampai Beliau wafat. Apa Nabi bangkit lagi dari kubur hanya untuk mengatakan bahwa pakaiannya diberikan kepada Aisyah sebagai nafkah?. Halooo skizonya parah betul

    Banyak hadits-hadits yang menunjukkan demikian. Banyak shahabat memberikan kain yang semula ia pakai kepada istrinya.

    Nah riwayat mana yang menunjukkan kalau Nabi memberikan pakaian yang ia pakai kepada istrinya, spesial terutama pakaian yang ditunjukkan Aisyah dalam riwayat tersebut?. Berhujjah dengan cara yang benar dong nashibi masa’ loncat sana loncat sini. ayo langsung bawakan buktinya gak usah kebanyakan ngibul

    Bo abo,…. ini Raafidliy ngerti hadits gak ya. Jelas saja itu perkataan ‘Aaisyah bung, karena di situ disebutkan dengan lafadh :
    illaa annahu qaala
    “Hanya saja ia (perawi laki-laki) berkata”.
    Maknanya : Hanya saja Muhammad bin Bakr berkata (dalam lafadh perkataan ‘Aaisyah).
    Semua orang tentu paham bahwa kalimat ini diucapkan oleh perawi untuk menjelaskan perbedaan lafadh antara satu sanad dengan sanad lainnya. Bisa perbedaan ini dalam awal-awal sanad, atau ujung sanad. Tergantung konteks dan bentuk sanad yang disampaikan.

    Bo abo wahai nashibi, anda sudah mengakui bahwa lafaz [qaala] dalam suatu hadis bisa saja bermakna sebagai perkataan Aisyah. Tuh anda bisa saja buat maknanya dengan model seperti itu. Jadi kemana ocehan anda bahwa [qaala] ya berarti mudzakkar. Silakan pelototi apa yang anda tulis, bahwa anda mengakui ada bentuk dimana [qaala] bisa berarti menunjukkan perkataan Aisyah. Yah gak perlu komentar panjang-panjang intinya itu. Terlepas anda mau bilang alasannya begono begini begitu, ya gak masalah.

    Asli, beda banget ! (bagi yang paham tentu saja). Ini hadits satu paket. Bukan perbandingan seperti di atas.

    Duuh malu ni yee, beda banget apanya. sama-sama berupa ringkasan hadis kok. Intinya terjemahan yang benar adalah berikut

    دَّثَنَا محمد قال: حَدَّثَنَا أبو اليمان قال: أخبرنا شعيب، عن الزهري قال: أخبرني عروة بْن الزبير، عن عائشة….فذكر الحديث، وقال: وعاشت فاطمة بعد النبي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ستة أشهر ودفنها علي.

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah,… lalu ia menyebutkan hadits. Dan perawi (laki-laki) berkata dalam hadisnya “Dan Faathimah hidup sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama enam bulan, dan kemudian wafat, dikuburkan oleh ‘Aliy” [selesai].

    Bukhari itu sedang membawakan hadis Aisyah dan ia meringkasnya, kemudian perawi berkata dalam hadis Aisyah tersebut bahwa Fathimah hidup sepeninggal Nabi selama enam bulan. Makna [qaala] diatas adalah perawi berkata dalam hadisnya yaitu hadis Aisyah tersebut. Jadi tetap saja itu lafaz adalah perkataan Aisyah. Mana idraaj-nya wahai nashibi?.Kalau memang itu diraaj az Zuhriy, Bukhari akan langsung menampilkan lafaz qaala Az Zuhriy, nyatanya tidak

    Dan untuk kasus yang seperti ini (langsung dalam kalimat satu hadits utuh), pada asalnya satu perkataan itu dihukumi pada dhahir dlamir yang ada pada hadits itu. Kalau qaalat ya itu muannats. Kalau qaala, ya itu mudzakkar. Atau kalau semua perawinya laki-laki, maka jika ada sisipan perkataan perawi akan disebutkan siapa yang mengatakannya. Misalnya :
    Haddatsanaa Tono, haddatsanaa Roni, haddatsanaa Anton, annahu qaala :…… Qaala Tono : …..
    Nah, ini riwayat yang benar yang dapat membedakan perkataan satu dengan yang lainnya. Jika tidak ada kalimat qaala Tono, maka titik-titik tadi adalah kalimat yang dikatakan oleh Anton.
    Intinya, tulisan orang Raafidlah itu tidak nyambung. Ia tidak paham konteks bahasa sanadnya.

    Suatu lafaz dikatakan sebagai [idraaj] jika lafaz tersebut dinyatakan dengan jelas bahwa perawi fulan or fulanah mengatakannya. Bukannya dengan waham nashibi itu hanya dengan lafaz [qaala]. Karena ia pikir itu hadis Aisyah maka setiap yang muncul lafaz [qaala] pasti idraaj.

    Ini jelas keliru, faktanya kami telah mengumpulkan banyak hadis Aisyah yang tersisipkan lafaz [qaala] dan itu bukan idraaj karena terbukti dalam hadis lain bahwa itu adalah lafaz Aisyah dengan lafaz [qaalat]. Begitu pula dengan hadis kemarahan Fathimah di atas. Lafaz yang diawali dengan kata [qaala] ternyata dalam riwayat lain diawali dengan [qaalat] maka kedudukannya sama bahwa lafaz [qaala] itu bukan bermakna idraaj melainkan perawi berkata melanjutkan hadis atau perkataan Aisyah. Ini sangat jelas kok bagi yang sering membaca hadis-hadis Aisyah. Kesimpulan : syubhat rendahan ala nashibi itu hanya menunjukkan kejahilan mereka dalam ilmu hadis. Ia sok berasa ahli hadis tetapi hal sederhana saja tidak mengerti, kasihan kasihan.

  10. ini ada video mufti wahabi menjelaskan masalah rasul saaw menerima hadiah khamr
    http://www.4shared.com/get/jsx3Lmx1/mufti-whb-al-arifi.html

  11. Yg jelas nasibhi tdk pernah ikut perang dan nulis hadis di masa nabi dan setelahnya. Cuma bisa otak atik hadis.

  12. setuju nashibi itu kayak bunglon alias bermuka dua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: