Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.

Inkonsistensi Dalam Pembahasan Tentang Syiah, Tasyayyu’, Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem ; Menggugat Antirafidhah.

Terdapat beberapa orang yang menanggapi tulisan saya Sahabat Nabi Yang Rafidhah Ekstrem Dan Percaya Raj’ah?. Diantara mereka ada yang berpandangan bahwa Ta’dil pada Amir bin Watsilah Abu Thufail sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia bukan Rafidhah ekstrem. Tulisan ini merupakan koreksi atas cara berpikir mereka yang keliru dalam berhujjah.

Antirafidhah berkata

Jadi apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm maupun Ibn Qutaybah adalah tidak kuat dibandingkan dengan apa yg dikatakan oleh sebagian besar Ulama Jarh wa Ta’dil di atas

Tanggapan : tidak diragukan kalau Abu Thufail seorang sahabat, hal inipun diakui oleh Ibnu Qutaibah sendiri tetapi beliau tetap memasukkan Abu Thufail sebagai Rafidhah ekstrem. Kalau seandainya kedudukan Sahabat sudah cukup untuk membuktikan kalau seseorang bukan Rafidhah ekstrem lantas mengapa Ibnu Qutaibah tetap memasukkannya ke dalam nama Rafidhah ekstrem. Apakah Ibnu Qutaibah tidak mengetahui kaidah umum yang sangat dikenal di kalangan Sunni “Semua sahabat adalah adil”. Sungguh mustahil kalau seorang Ibnu Qutaibah tidak mengetahuinya.

Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah keduanya menyatakan bahwa Abu Thufail percaya dengan Raj’ah dan disini saudara antirafidhah berusaha menolak pernyataan ini dengan dalih bahwa pernyataan tersebut dibantah oleh Ibnu Hajar. Beliau menukil perkataan Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib 5/82 yaitu

Ibn Hajar berkata: “Abu Muhammad ibn Hazm memandang Amir sebagai orang yang jelek, ia mendha’ifkan hadits-haditsnya.” Lebih lanjut Ibn Hajar mengatakan: “Dia memiliki riwayat hadits yang pilihan. Ia seorang sahabat, tak syak lagi. Tidak ada pengaruhnya tuduhan orang atas dirinya, apalagi jika tuduhan itu hanya bersifat emosional semata.

Bisa dipastikan kalau orang yang berkedok antirafidhah ini tidak membaca kitab At Tahdzib tersebut, karena dalam kitab At Tahdzib 5/82 no 135 biografi Amir bin Watsilah yang ia katakan tidak terdapat keterangan seperti itu, so darimana dia menukil. Menurut perkiraan saya, ia menukil dari sumber sekunder dari tulisan “sunni yang sunni” Mahmud Az Za’by  yang  beredar di internet. Hal ini jelas sekali dapat dilihat dari kata-kata setelahnya.

Ringkasnya, para ulama sepakat bahwa Amir adalah seorang sahabat yang adil dan tsiqat. Semua sahabat, menurut ulama Sunni, adalah adil. Ulama hadits tidak menemukan sesuatu pada diri Amir yang dapat merusak sifat adil dan tsiqatnya.
Adapun tuduhan bahwa ia Syi’ah, itu artinya ia berpendapat bahwa kebenaran ada di pihak ‘Ali, sewaktu dia berselisih dan berperang dengan Mu’awiyah. Sudah saya jelaskan bahwa hal seperti itu banyak terjadi di kalangan sahabat. Karena itu, sebagian dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits Amir.

Nukilan di atas adalah perkataan Mahmud Az Za’by dalam “sunni yang sunni” hal 56. Anehnya antirafidhah itu seenaknya saja mengatakan bahwa kutipan Ibnu Hajar tentang Ibnu Hazm tersebut berasal dari At Tahdzib. Kutipan yang ia maksud tidak ada di At Tahdzib tetapi Ada dalam Hady As Sari 1/412

أبو محمد بن حزم فضعف أحاديث أبي الطفيل وقال كان صاحب راية المختار الكذاب وأبو الطفيل صحابي لا شك فيه ولا يؤثر فيه قول أحد ولا سيما بالعصبية والهوى

Abu Muhammad bin Hazm mendhaifkan hadis-hadis Abu Thufail dan berkata “dia pembawa panji Mukhtar Al Kadzab. Abu Thufail tidak diragukan lagi kalau ia sahabat, dan tidak ada gunanya perkataan seseorang terhadapnya karena terdorong oleh ashabiyah dan hawa nafsu semata.

Silakan diperhatikan, sedikitpun Ibnu Hajar tidak menyinggung soal Abu Thufail yang Rafidhah dan percaya dengan Raj’ah. Ibnu Hajar menolak sikap Ibnu Hazm yang mendhaifkan hadis Abu Thufail karena tidak diragukan Abu Thufail seorang sahabat. Secara prinsip ilmu hadis jika didapatkan ta’dil dan jarh terhadap seorang perawi maka jarh tersebut akan diunggulkan jika dijelaskan sebab-sebabnya. Ibnu Hazm telah menyebutkan sebab ia mendhaifkan hadis Abu Thufail yaitu karena ia seorang pembawa panji Mukhtar dan percaya Raj’ah.

Sekarang pertanyaannya adalah Apakah kedua alasan ini cukup mengugurkan ta’dil terhadap Abu Thufail?. Sekarang coba perhatikan apa yang ditulis oleh Ibnu Hazm dalam Al Muhalla dan perkataan Ibnu Hazm yang dikutip oleh Ibnu Hajar.
.

Dalam Al Muhalla, Ibnu Hazm berkata

أن أبا الطفيل صاحب راية المختار، وذكر أنه كان يقول بالرجعة

Abu Thufail pembawa panji Mukhtar dan dikatakan percaya Raj’ah
.

Dalam Hady As Sari perkataan Ibnu Hazm yang dikutip Ibnu Hajar

وقال كان صاحب راية المختار

Abu Thufail pembawa panji Mukhtar

Lihat dengan baik, Ibnu Hajar meninggalkan atau tidak mengutip soal Raj’ah yang dikatakan Ibnu Hazm. Kenapa? Apakah karena beliau tidak mau mengungkapkannya atau karena beliau menganggap itu bukan sebab yang tepat untuk mendhaifkan hadis Abu Thufail. Dalam Hady As Sari Ibnu Hajar tidak mengutip soal Raj’ah yang disebutkan Ibnu Hazm, padahal jika memang Ibnu Hajar menolak atau membantah soal ini maka sudah sepatutnya ia menjelaskan tentang itu, tidak adanya pembahasan tentang Raj’ah menunjukkan Ibnu Hajar tidak membantah bahwa “Abu Thufail percaya Raj’ah” (ditambah lagi hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah) tetapi menurut beliau hal itu tidak membuat hadis-hadis Abu Thufail menjadi dhaif karena beliau adalah seorang Sahabat. Hanya ini yang dapat kita simpulkan dari perkataan Ibnu Hajar yang sangat singkat tersebut. Anehnya si antirafidhah itu malah seenaknya mengambil kesimpulan bahwa perkataan Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah lemah, padahal diantara mereka yang menyatakan Abu Thufail sahabat tidak ada yang membantah soal pernyataan Ibnu Hazm dan Ibnu Qutaibah bahwa “Abu Thufail percaya Raj’ah”.

Kemudian Antirafidhah ini berkata

Baiklah kita lihat penilaian Ibnu Hajar mengenai Rafidhah:
Menurut ibn Hajar, Tasyayyu’ adalah sikap mencintai ‘Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain. Dan bila di antara sahabat-sahabat itu termasuk Abu Bakar dan ‘Umar, maka tasyayyu’nya ekstrim, dan biasanya disebut paham Rafidhah. Tetapi jika sikap tadi tidak memandang ‘Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu hanya disebut Syi’ah. Namun, jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa ‘Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim.” (Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2)

Tanggapan : sekarang antirafidhah menukil perkataan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari, lagi-lagi saya meragukan kalau ia membaca sendiri kitab tersebut, anehnya beliau tidak menyebutkan halaman berapa kutipan yang ia sebutkan itu berada. Dalam Hady As Sari 1/459 Ibnu Hajar berkata

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو

Tasyayyu adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding  semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem dan jika mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem.

Mari kita kelompokkan perkataan Ibnu Hajar

  • Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain
  • Tasyayyu’ ekstrem adalah Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar
  • Syiah adalah Tasyayyu’ tanpa mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar
  • Rafidhah adalah Tasyayyu’ ekstrem
  • Rafidhah ekstrem adalah Mencela Abu Bakar dan Umar
  • Rafidhah sangat ekstrem adalah Percaya dengan Raj’ah

Kemudian antirafidhah menukil

Ibn Hajar berkata: “Pelaku bid’ah itu ada yang menjadi kafir dan fasiq. Bahwa perbuatan bid’ah ada yang menjadikan pelakunya kafir, ini disepakati oleh para ulama. Misalnya, (bid’ah) pada ajaran Rafidhah ekstrim. Sebagian Rafidhah meyakini bahwa Tuhan telah mengambil tempat pada diri ‘Ali dan lainnya. Menurut mereka, ‘Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat. Syi’ah Imamiyah juga meyakini kebangkitan kembali Imam Muhammad ibn Hasan al-Askari berikut para pendukung maupun musuhnya, sebelum hari kiamat. Mereka ini tergolong kaum Rafidhah ekstrim yang dipandang kafir lantaran bid’ahnya, dan karenanya, riwayat mereka ditolak.” (Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal. 143)

Dasar logika antirafidhah adalah Ibnu Hajar menganggap bahwa Rafidhah esktrem dipandang kafir lantaran bid’ahnya diantaranya mereka yang percaya Raj’ah. Nah dengan dasar ini ia megatakan Ta’dil Ibnu Hajar terhadap Abu Thufail sudah cukup menggugurkan kalau Abu Thufail Rafidhah ekstrem dan percaya Raj’ah.

Cara berhujjah seperti ini hanya dilakukan oleh mereka yang tidak pernah membaca langsung kitab Rijalul hadis. Perkataan Ibnu Hajar di atas hanyalah bersifat teoretis belaka yang tidak bisa diterapkan ke dalam kitab-kitab rijal. Bahkan beliau Ibnu Hajar menyalahi kaidah yang ia buat sendiri di atas dalam pembahasannya terhadap para perawi hadis yang dapat dilihat dalam kitabnya At Tahdzib dan At Taqrib. Berikut saya akan membuktikan dimana Ibnu Hajar menyalahi dirinya sendiri.

Metode pembuktian yang akan saya lakukan adalah sederhana, kita melihat para perawi hadis yang dikatakan mempercayai Raj’ah dalam Tahdzib At Tahdzib sekaligus dilihat komentar para ulama tentangnya. Karena kitab tersebut adalah kitab Ibnu Hajar maka sudah pasti ia mengetahui dengan jelas bahwa perawi tersebut dikatakan mempercayai Raj’ah karena nyata-nyata ia menuliskannya dalam At Tahdzib. Kemudian saya akan melihat kesimpulan Ibnu Hajar dalam At Taqrib. Kaidah Ibnu Hajar yang dikutip antirafidhah di atas menyatakan bahwa Mereka yang percaya Raj’ah akan disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah sangat ekstrem dan dipandang kafir karena bid’ahnya tersebut. Inilah nama-nama perawi yang menggugurkan hujjah tersebut.

.

.

Jabir bin Yazid Al Ju’fi

Jabir adalah perawi hadis Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan mempercayai Raj’ah. Dalam At Tahdzib jilid 2 no 75 didapatkan banyak perkataan ulama tentang Jabir. Dari yang menganggapnya tsiqat, shaduq, dhaif sampai sangat dhaif. Tetapi inti yang akan kita ambil adalah bahwa ia percaya Raj’ah bukan masalah kredibilitasnya karena hal itu akan memakan tempat yang khusus. Di antara mereka yang mengatakan kalau Jabir mempercayai Raj’ah dalam At Tahdzib adalah Ibnu Qutaibah

وقال بن قتيبة في كتابه مشكل الحديث كان جابر يؤمن بالرجعة

Ibnu Qutaibah berkata dalam kitabnya Musykil Al Hadis, Jabir percaya dengan Raj’ah.

Jadi Jabir bin Yazid Al Ju’fi adalah seorang yang percaya dengan Raj’ah maka merujuk ke hipotesis sebelumnya, sudah pasti Ibnu Hajar akan menganggap Jabir bin Yazid Al Ju’fi sebagai Rafidhah sangat ekstrem. Tetapi apa yang Ibnu Hajar tulis dalam At Taqrib 1/154

جابر بن يزيد بن الحارث الجعفي أبو عبد الله الكوفي ضعيف رافضي

Jabir bin Yazid bin Al Harits Al Ju’fi Abu Abdullah Al Kufi seorang Rafidhah yang dhaif.
.

Kembali ke kutipan dalam Hady As Sari, bukankah Rafidhah bagi Ibnu Hajar adalah Tasyayyu’ ekstrem yaitu Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Bukankah mereka yang percaya Raj’ah seharusnya disebut Rafidhah sangat ekstrem.🙄

.

Lihat perkataan Al Ajli dalam At Tahdzib jilid 2 no 75

وقال العجلي كان ضعيفا يغلو في التشيع وكان يدلس

Al Ajli berkata, Jabir dhaif, Tasyayyu’ ekstrem dan melakukan tadlis
.

Bukankah ini salah satu bukti bahwa kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari justru tidak digunakan oleh Ibnu Hajar sendiri dan ulama lainnya. Anehnya Antirafidhah itu dengan bangga berhujjah dengan kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari.

.

.

Utsman bin Umair

Utsman bin Umair Abu Yaqzhan juga salah seorang perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 7 no 293 disebutkan

عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة ويقال كان يغلو في التشيع

Dari Abu Ahmad Az Zubairi “Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhan percaya dengan Raj’ah dan dikatakan Tasyayyu’ ekstrem

.
Ibnu Ady juga berkata tentang Utsman bin Umair

غال في التشيع يؤمن بالرجعة ويكتب حديثه مع ضعفه

Tasyayyu’ ekstrem percaya dengan Raj’ah ditulis hadisnya dan dia dhaif.

Lagi-lagi kita lihat para ulama tetap menyebut mereka yang percaya Raj’ah dengan sebutan Tasyayyu’ ekstrem padahal menurut Ibnu Hajar dalam Hady As Sari orang yang percaya Raj’ah adalah Rafidhah yang sangat ekstrem.

.

Mari kita lihat ucapan Ibnu Hajar sendiri dalam At Taqrib 1/663

أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلفي التشيع

Abu Yaqzhan Al Kufi dhaif ikhtilat, melakukan tadlis dan tasyayyu’ esktrem.
.

Perhatikan Ibnu Hajar tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem, beliau menyebut Utsman bin Umair tasyayyu’ ekstrem. Begitulah fakta yang terjadi:mrgreen:

.

.

Al Harits bin Hushairah Al Azdi
Beliau adalah perawi hadis Bukhari dalam Adab Al Mufrab dan Nasa’i dalam Al Khasa’is. Al Harits bin Hushairah Abu Nu’man Al Kufi juga perawi yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam At Tahdzib jilid 2 no 236 disebutkan

وقال أبو أحمد الزبيري كان يؤمن بالرجعة

Abu Ahmad Az Zubairi berkata “dia percaya Raj’ah”.

وقال الدارقطني شيخ للشيعة يغلو في التشيع وقال الآجري عن أبي داود شيعي صدوق ووثقه العجلي وابن نمير

Daruquthni berkata “Syaikh Syiah Tasyayyu’ esktrem “ dan Al Ajri berkata dari Abu Daud “seorang syiah yang shaduq” dan dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli dan Ibnu Numair.
.

Perhatikan, Menurut Daruquthni, Al Harits adalah Syiah yang Tasyayyu’ ekstrem. Maka lihatlah kembali pengelompokkan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari di atas. Ibnu Hajar berkata

  • Tasyayyu’ ekstrem adalah Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar
  • Syiah adalah Tasyayyu’ tanpa mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar

Artinya  jika seseorang dikatakan Tasyayyu’ ekstrem berarti ia mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar dan jika seseorang dikatakan Syiah ia mengutamakan Ali di atas sahabat lain tetapi tidak mengutamakan Ali diatas Abu Bakar dan Umar. Sangat tidak mungkin kalau dikatakan ia Syiah Tasyayyu’ ekstrem, jadi kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari ini tidak dikenal oleh Daruquthni.

Al Harits bin Hushairah telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasai, Al Ajli, Ibnu Numair. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi kendati ia percaya Raj’ah beliau tetap dinyatakan tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/173 berkata

أبو النعمان الكوفي صدوق يخطئ ورمي بالرفض

Abu Nu’man al Kufi shaduq tetapi sering salah, rafidhah

Ibnu Hajar tentu mengetahui kalau Al Harits percaya dengan raj’ah karena hal itu beliau tulis sendiri dalam At Tahdzib tetapi dalam At Taqrib beliau tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem tetapi rafidhah saja. Dan bagaimana mungkin seseorang akan mengkafirkan Al Harits karena ia percaya Raj’ah sungguh mustahil.

.

.

Muslim bin Nadzir
Beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib jilid 10 no 258 Ibnu Hajar mengutip Ibnu Sa’ad yang berkata

كان قليل الحديث ويذكرون أنه كان يقول بالرجعة

Ia memiliki sedikit hadis dan dikatakan kalau ia percaya Raj’ah.
.

Beliau dianyatakan oleh Abu Hatim dengan sebutan la ba’sa bihi (tidak ada masalah), dinyatakan shaduq oleh Abu Dawud dan dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/181 berkata “maqbul”(diterima hadisnya).

.

.

Semua contoh yang telah saya sebutkan sudah cukup untuk menggugurkan hujjah antirafidhah bahwa Ibnu Hajar membedakan rafidhah dengan rafidhah ekstrem atau Ibnu Hajar tidak menerima hadis Rafidhah ekstrem. Para perawi di atas dikatakan percaya dengan Raj’ah dan Ibnu Hajar hanya menyebut mereka Rafidhah saja dan ada diantara mereka yang tetap Ibnu Hajar katakan shaduq atau maqbul hadisnya. Jadi ta’dil Ibnu Hajar tidaklah menggugurkan Rafidhahnya seorang perawi atau menggugurkan bahwa seorang perawi percaya Raj’ah. Kredibilitas seorang perawi tidak ditentukan oleh apakah ia Rafidhah atau percaya Raj’ah tetapi ditentukan oleh kejujuran dan hafalannya. Jadi sangat mungkin seorang Rafidhah dan percaya Raj’ah tetap diberikan predikat ta’dil oleh Ibnu Hajar.

Ada hal yang lucu yang muncul dari seseorang yang berkedok imem, ketika saya membantah antirafidhah dengan menunjukkan seorang perawi Rafidhah yang masyhur yaitu Abbad bin Yaqub yang dikatakan Ibnu Hajar sebagai shaduq, imem itu malah berkata

dari definisi Ibnu Hajar di atas dpt disimpulkan rafidhah yg ada pada diri Abbad adalah Tasyayyu’ ekstrim, yaitu sikap mencintai ‘Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain termasuk Abu Bakar dan Umar di dalamnya tetapi dengan tidak disertai kebencian kepada keduanya.., maka jika syarat shaduq terpenuhi, bisa diterima riwayatnya, lagian kan Ibnu Hajar tidak mengatakan bahwa si Abbad ini seorang sahabat. Jadi Abbad ini bukanlah termasuk Rafidhah Ekstrim yg didefinisikan Ibnu Hajar di atas : jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan ‘Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa ‘Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim. Maka jika Abu Thufail ini benar percaya sama akidah Raj’ah (menurut Ibnu Hazm & Ibnu Quthaibah) maka dia bisa digolongkan Rafidhah sangat ekstrim menurut definisi Ibnu Hajar. Dan hal tersebut tidaklah mungkin karena terbukti Ibnu Hajar menta’dil dia dan membantah Ibnu Hazm.

Imem ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar membedakan para perawi hadis yang Rafidhah dan Rafidhah ekstrem. Kita sudah menunjukkan kekeliruan akan pendapat ini, Ibnu Hajar tidak membedakan apa yang ia katakan tentang Jabir Al Ju’fi yang percaya Raj’ah dengan Abbad bin Yaqub. Keduanya disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah bedanya yang satu dhaif dan yang satu shaduq. Ibnu Hajar tidak menyebut mereka yang percaya Raj’ah sebagai Rafidhah ekstrem dan kita telah tunjukkan bahwa diantara mereka yang percaya Raj’ah ada yang ditetapkan oleh Ibnu Hajar sebagai shaduq dan maqbul, bukankah ini berarti percaya dengan Raj’ah itu tidak membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif. Tetapi saya rasa para pembaca yang terhormat tidak perlu kecewa karena sudah tentu kita masih bisa melihat dalih-dalih lain dari antirafidhah atau imem.:mrgreen:

11 Tanggapan

  1. Ada teori juga nih mengenai Wahabi & Nashibi

    Wahabi adalah kelompok manusia yang mencintai sahabat lain dan mengutamakannya dibanding Ali dan ahlulbait lainnya.

    Syiahphobia adalah Wahabi yang tidak suka mendengarkan kemuliaan Ali dan ahlulbait lainnya dari mulut syiah.

    Nashibi atau Wahabi ekstrim atau Syiahphobia ekstrim, adalah Wahabi yang Syiahphobia yang tidak suka dan benci bila mendengar keutamaan-keutamaan Ali dan ahlulbait lainnya disebut-sebut dari mulut siapa saja.
    :mrgreen:
    Salam

  2. Salam

    Wah…Mas SP, jadi tajuk khusus ya?

    Nah….semoga antirafidhah dan sekutu2nya bangga dan gembira punya tajuk khusus utk diperbahaskan….silakan.

  3. Maha suci Allah yg telah memberikan ilmu dan kecerdasan kpd bung SP. Menurut saya Ibnu Hajar tdk konsisten dgn konsep yg dia buat sendiri. Dlm Hady As-Sari Ibnu Hajar berkonsep ttg Syi’ah, Tassayu’, Rafidhah dst, tp konsep yg dia buat justru dia sendiri yg langgar di dlm kitabnya At Taqrib dan At Tahdzib. Atw bisa disebut Ibnu Hajar mendefinisikan Syi’ah, Tassayu’, Rafidhah dst berbeda yg di Hady As-Sari dgn yg di At Taqrib dan At Tahdzib.
    Biar tambah jelas, lebih dulu mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?

  4. @ armand
    ah Mas ini cerdas sekali ya, saran saya “buatlah blog” pasti menarik🙂

    @hadi
    iya, gak tahu juga kenapa jadi tajuk khusus, kesambet kali ya😆

    @Nomad

    Biar tambah jelas, lebih dulu mana Ibnu Hajar membuat Hady As Sari atw kitab At Taqrib dan At Tahdzib?

    Setahu saya, At Tahdzib terlebih dahulu kemudian Fath Al Bari (Hady As Sari itu Muqaddimah Fath Al Bari). Fath Al Bari mulai ditulis tahun 817 H Tetapi At Taqrib itu lebih belakangan (selesai 827 H) dan dikatakan bahwa itu adalah hasil ijtihad terakhir Ibnu Hajar terhadap para perawi hadis.
    Salam

  5. Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).

    Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas, eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP? wuakakakak…. kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau? Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni? Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak

    Lihat dengan baik, Ibnu Hajar meninggalkan atau tidak mengutip soal Raj’ah yang dikatakan Ibnu Hazm. Kenapa? Apakah karena beliau tidak mau mengungkapkannya atau karena beliau menganggap itu bukan sebab yang tepat untuk mendhaifkan hadis Abu Thufail. Dalam Hady As Sari Ibnu Hajar tidak mengutip soal Raj’ah yang disebutkan Ibnu Hazm, padahal jika memang Ibnu Hajar menolak atau membantah soal ini maka sudah sepatutnya ia menjelaskan tentang itu, tidak adanya pembahasan tentang Raj’ah menunjukkan Ibnu Hajar tidak membantah bahwa “Abu Thufail percaya Raj’ah” (ditambah lagi hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qutaibah) tetapi menurut beliau hal itu tidak membuat hadis-hadis Abu Thufail menjadi dhaif karena beliau adalah seorang Sahabat. Hanya ini yang dapat kita simpulkan dari perkataan Ibnu Hajar yang sangat singkat tersebut.

    Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..

    Jadi Jabir bin Yazid Al Ju’fi adalah seorang yang percaya dengan Raj’ah maka merujuk ke hipotesis sebelumnya, sudah pasti Ibnu Hajar akan menganggap Jabir bin Yazid Al Ju’fi sebagai Rafidhah sangat ekstrem. Tetapi apa yang Ibnu Hajar tulis dalam At Taqrib 1/154
    جابر بن يزيد بن الحارث الجعفي أبو عبد الله الكوفي ضعيف رافضي
    Jabir bin Yazid bin Al Harits Al Ju’fi Abu Abdullah Al Kufi seorang Rafidhah yang dhaif.

    Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?

    Kembali ke kutipan dalam Hady As Sari, bukankah Rafidhah bagi Ibnu Hajar adalah Tasyayyu’ ekstrem yaitu Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. Bukankah mereka yang percaya Raj’ah seharusnya disebut Rafidhah sangat ekstrem.
    .
    Lihat perkataan Al Ajli dalam At Tahdzib jilid 2 no 75
    وقال العجلي كان ضعيفا يغلو في التشيع وكان يدلس
    Al Ajli berkata, Jabir dhaif, Tasyayyu’ ekstrem dan melakukan tadlis
    .
    Bukankah ini salah satu bukti bahwa kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari justru tidak digunakan oleh Ibnu Hajar sendiri dan ulama lainnya. Anehnya Antirafidhah itu dengan bangga berhujjah dengan kutipan Ibnu Hajar dalam Hady As Sari.

    Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri. Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?

    Utsman bin Umair
    Utsman bin Umair Abu Yaqzhan juga salah seorang perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang dikatakan percaya dengan Raj’ah. Dalam At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 7 no 293 disebutkan
    عن أبي أحمد الزبيري كان الحارث بن حصين وأبو اليقظان يؤمنان بالرجعة ويقال كان يغلو في التشيع
    Dari Abu Ahmad Az Zubairi “Al Harits bin Hushain dan Abu Yaqzhan percaya dengan Raj’ah dan dikatakan Tasyayyu’ ekstrem
    .
    Ibnu Ady juga berkata tentang Utsman bin Umair
    غال في التشيع يؤمن بالرجعة ويكتب حديثه مع ضعفه
    Tasyayyu’ ekstrem percaya dengan Raj’ah ditulis hadisnya dan dia dhaif.
    Lagi-lagi kita lihat para ulama tetap menyebut mereka yang percaya Raj’ah dengan sebutan Tasyayyu’ ekstrem padahal menurut Ibnu Hajar dalam Hady As Sari orang yang percaya Raj’ah adalah Rafidhah yang sangat ekstrem.
    .
    Mari kita lihat ucapan Ibnu Hajar sendiri dalam At Taqrib 1/663
    أبو اليقظان الكوفي الأعمى ضعيف واختلط وكان يدلس ويغلفي التشيع
    Abu Yaqzhan Al Kufi dhaif ikhtilat, melakukan tadlis dan tasyayyu’ esktrem.
    .
    Perhatikan Ibnu Hajar tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem, beliau menyebut Utsman bin Umair tasyayyu’ ekstrem. Begitulah fakta yang terjadi

    Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?

    Artinya jika seseorang dikatakan Tasyayyu’ ekstrem berarti ia mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar dan jika seseorang dikatakan Syiah ia mengutamakan Ali di atas sahabat lain tetapi tidak mengutamakan Ali diatas Abu Bakar dan Umar. Sangat tidak mungkin kalau dikatakan ia Syiah Tasyayyu’ ekstrem, jadi kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari ini tidak dikenal oleh Daruquthni.

    Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.

    Al Harits bin Hushairah telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasai, Al Ajli, Ibnu Numair. Ibnu Hibban juga memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Jadi kendati ia percaya Raj’ah beliau tetap dinyatakan tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/173 berkata
    أبو النعمان الكوفي صدوق يخطئ ورمي بالرفض
    Abu Nu’man al Kufi shaduq tetapi sering salah, rafidhah
    Ibnu Hajar tentu mengetahui kalau Al Harits percaya dengan raj’ah karena hal itu beliau tulis sendiri dalam At Tahdzib tetapi dalam At Taqrib beliau tidak menyebutnya Rafidhah sangat ekstrem tetapi rafidhah saja. Dan bagaimana mungkin seseorang akan mengkafirkan Al Harits karena ia percaya Raj’ah sungguh mustahil

    Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri.

    Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?

    Muslim bin Nadzir
    Beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib jilid 10 no 258 Ibnu Hajar mengutip Ibnu Sa’ad yang berkata
    كان قليل الحديث ويذكرون أنه كان يقول بالرجعة
    Ia memiliki sedikit hadis dan dikatakan kalau ia percaya Raj’ah.
    .
    Beliau dianyatakan oleh Abu Hatim dengan sebutan la ba’sa bihi (tidak ada masalah), dinyatakan shaduq oleh Abu Dawud dan dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/181 berkata “maqbul”(diterima hadisnya).

    Kasus yang sama seperti di atas..

    Semua contoh yang telah saya sebutkan sudah cukup untuk menggugurkan hujjah antirafidhah bahwa Ibnu Hajar membedakan rafidhah dengan rafidhah ekstrem atau Ibnu Hajar tidak menerima hadis Rafidhah ekstrem.

    Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.

    Para perawi di atas dikatakan percaya dengan Raj’ah dan Ibnu Hajar hanya menyebut mereka Rafidhah saja dan ada diantara mereka yang tetap Ibnu Hajar katakan shaduq atau maqbul hadisnya. Jadi ta’dil Ibnu Hajar tidaklah menggugurkan Rafidhahnya seorang perawi atau menggugurkan bahwa seorang perawi percaya Raj’ah.

    Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul. Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…

    Kredibilitas seorang perawi tidak ditentukan oleh apakah ia Rafidhah atau percaya Raj’ah tetapi ditentukan oleh kejujuran dan hafalannya. Jadi sangat mungkin seorang Rafidhah dan percaya Raj’ah tetap diberikan predikat ta’dil oleh Ibnu Hajar.

    Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.

    Imem ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar membedakan para perawi hadis yang Rafidhah dan Rafidhah ekstrem. Kita sudah menunjukkan kekeliruan akan pendapat ini

    Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.

    Ibnu Hajar tidak membedakan apa yang ia katakan tentang Jabir Al Ju’fi yang percaya Raj’ah dengan Abbad bin Yaqub. Keduanya disebut oleh Ibnu Hajar sebagai Rafidhah bedanya yang satu dhaif dan yang satu shaduq.

    Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..

    Ibnu Hajar tidak menyebut mereka yang percaya Raj’ah sebagai Rafidhah ekstrem dan kita telah tunjukkan bahwa diantara mereka yang percaya Raj’ah ada yang ditetapkan oleh Ibnu Hajar sebagai shaduq dan maqbul, bukankah ini berarti percaya dengan Raj’ah itu tidak membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif.

    Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.

    Tetapi saya rasa para pembaca yang terhormat tidak perlu kecewa karena sudah tentu kita masih bisa melihat dalih-dalih lain dari antirafidhah atau imem.

    Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup & tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…

  6. Maaf, justru sebenarnya yang ga konsisten itu si pemilik blog yang berkedok SP ini, dalam artikel sebelumnya jelas-jelas SP mengambil pendapt dari Ibnu Hajar mengenai Abu Thufail ini, eh kemudian dia men-jarh Ibnu Hajar ini, dia bilang beliau inkonsisten (menurut pandangannya).

    😆 lucu sekali anda ini, jangan samakanlah orang yang taklid seperti anda dengan para penuntut ilmu. Mereka para penuntut ilmu terus belajar, mereka tidak pernah mengakui bahwa seluruh yang dikatakan seorang ulama adalah benar. Yang benar diambil, yang tidak ya tinggalkan. Kalau itu yang namanya inkonsisten, maka hampir semua ulama inkonsisten. Mereka para ulama terkadang merujuk pada Ulama lain tapi terkadang malah membantah ulama tersebut. ho ho maaf anda sepertinya asing sekali dengan hal ini ya:mrgreen:

    Analoginya adalah SP menggelar acara diskusi dengan mengambil nara sumber bernama Ibnu Hajar di dalam diskusi tsb, seharusnya SP mempercayai kredibilitas Ibnu Hajar ini (termasuk prinsip beliau dalam menilai rawi yg mgkn berbeda dg ulama lain), karena dia telah menjadikannya sebagai nara sumber dalam topik yg dia bahas, eh, kemudian dg tiba-tiba dia dan menyerang dan menilai nara sumber tersebut inkonsisten karena tidak sesuai dg pendapat pribadinya.. nah siapa kira-kira yg sebenarnya ga inkonsisten itu? Ibnu Hajar ato SP?

    sudah saya jelaskan di atas, kita menyatakan sesuatu dengan bukti bukan dengan asumsi liar. Saya pribadi mengakui kredibilitas Ibnu Hajar tetapi saya tidak mangakui kalau dia selalu benar. Dalam pembahasan di atas saya menunjukkan masalah inkonsistensi yang beliau buat sendiri🙂

    wuakakakak…. kalo memang menurut SP, ulama spt Ibnu Hajar ini inkonsisten (sekali lagi menurut SP), buat apa dia ambil pendapat beliau?

    yah buat belajar dong, saya kan tidak taklid seperti anda:mrgreen:

    Sekalian juga buat apa dia pelajari kitab2 sunni?

    buat belajar, lagian kasihan kan kalau gak dibaca, yah kalau anda mungkin gak merasa perlu kali ya belajar kitab-kitab sunni:mrgreen:

    Kenapa ga dia pelajari saja kitab-kitab orang Rafidhah yg mungkin menurut dia konsisten.. wuakakak

    kapan saya pernah bilang begitu ya🙄

    Ini dia satu lagi asumsi dari si SP, padahal jelas sekali Ibnu Hajar dengan tegas riwayat Rafidhah Ekstrim yg mempercayai Raj’ah (sudah dinukilkan sebelumnya), berdasarkan sikap Ibnu Hajar tsb, bisa disimpulkan mengapa beliau tidak mengutip soal Raj’ah, yaitu karena beliau mengingkari apa yg dikatakan oleh Ibnu Hazm.. jelas banget kok ini..

    Kalau seperti kata anda, Bagi Ibnu Hajar yang percaya Raj’ah maka dianggap kafir maka ketika Ibnu Hazm mengatakan Abu Thufail percaya Raj’ah seharusnya Ibnu Hajar mengecam keras akan hal ini. Ya mana mungkin seorang sahabat dianggap kafir kan?. faktanya Ibnu Hajar bukannya buru-buru membantah, beliau malah tidak menuliskan perkataan Ibnu Hazm tentang itu. Artinya Ibnu Hajar tidak bisa membantah bahwa Abu Thufail percaya Raj’ah. Masa’ sikap Ibnu Hajar yang diam saja soal Raj’ah itu dianggap membantah, logika apa ya itu:mrgreen:

    Apa masalahnya? Di sini terlihat jelas Ibnu Hajar tetap konsisten dengan sikapnya, yaitu menganggap dhaif perawi Rafidhah yang percaya kepada Raj’ah,apakah hanya soal istilah aja yg beda dipermasalahkan oleh SP?

    Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Nyatanya anda tidak mengerti apa yang sedang dipermasalahkan. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai Rafidhah sangat ekstrem, bukan Rafidhah. Masa’ yang begini gak ngerti, capeeeee deh:mrgreen:

    Lah ya wajar aja, dan bagus itu, Ibnu Hajar menyebutkan pendapat2 dari ulama lain tetapi beliau tetap mempunyai pendapatnya sendiri.

    lho saya cuma menunjukkan kalau kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari tidak dikenal oleh ulama-ulama lain.

    Kalo anda ga setuju dengan beliau, mengapa anda rujuk kitab beliau? Iya ga?

    lagi-lagi pertanyaan gak penting, kalau anda sudah terbiasa taklid ya jangan harus samakanlah orang lain dengan anda:mrgreen:

    Lha apa masalahnya, kalo Ibnu Hajar menilai tingkat keyakinan Abu Yaqzhan Al – Kufi pada tingkat Tasyayyu’ Ekstrem (yg tdk percaya Raj’ah), berbeda dg ulama lain dalam menilai rawi tsb? Tentunya itu adalah pendapat beliau sendiri, ya syah2 saja, trs dimana letak inkonsistennya?

    Hooo maksa banget, Pendapat Ibnu Hajar selalu berdasarkan pendapat ulama-ulama sebelumnya karena beliau termasuk ulama belakangan yang tidak mengetahui langsung keadaan perawi tersebut🙂
    Letak inkonsistennya sudah saya tunjukkan, jika memang Ibnu Hajar menganggap kafir mereka yang percaya Raj’ah maka beliau pasti akan membantah keras atau mengecam ulama yang menyebutkan bahwa para perawi hadis tersebut percaya Raj’ah. Yah masa’ sih hadis kutub As sittah memuat para perawi kafir:mrgreen:

    Sekali lagi ya wajar2 saja kalo beliau memiliki criteria ato istilah tersendiri dalam menilai para perawi dan itu sudah biasa di kalangan para ulama, yg penting orang2 sesudahnya mengetahui apa yg dimaksud para ulama berdasarkan kaidah2 yg masing2 mereka tetapkan.

    ho ho ho gayanya seolah anda terbiasa saja membaca karya para Ulama:mrgreen:

    Sekali lagi, wajar jika beliau berbeda penilaian dengan ulama lain dalam menilai perawi, bukankah dalam At Tahdzib yg berpendapat Al-Harits mempercayai Raj’ah adalah Abu Ahmad Az Zubairi bukan beliau, sebagaimana biasa beliau hanya mengutip pendapat dari ulama lain, tetapi beliau tetap mempunyai pendapat sendiri.

    Tapi pendapat sendiri Ibnu Hajar bukan sesuatu yang muncul dari ilham atau turun dari langit. Pendapat tersebut berdasar dari para ulama yang ia kutip di At Tahdzib. Kembali ke pokok persoalan, kalau memang orang yang dikatakan Raj’ah dianggap kafir karena bid’ahnya. Maka disini Ibnu Hajar harusnya memberikan bantahan keras terhadap Abu Ahmad Az Zubairi, karena pernyataannya tersebut menurut kaidah Ibnu Hajar dalam Hady As Sari telah membuat Al Harits menjadi kafir. Faktanya Ibnu Hajar tidak membantah, malah adem ayem aja, artinya Ibnu Hajar tidak menerapkan apa yang ia tulis dalam Hady As sari secara konsisten. Seperti yang saya katakan, kutipan dalam Hady As Sari itu hanyalah teoretis belaka, sampai akhirnya orang-orang seperti anda datang dan main kutip sekenanya tanpa memahami persoalannya dengan benar:mrgreen:

    Justru terlihat beliau tetap konsisten bahwa rafidhah yang ekstrem tidak akan diterima riwayatnya, makanya dia beranggap Al-Harits bukanlah Rafidhah Ekstrem, tetapi Rafidhah aja = Tasyayyu’ Ekstrem (menurut criteria beliau) yg masih diterima riwayatnya jika syarat Shaduq terpenuhi pada diri perawi tsb. Iya toh?

    Sekarang coba buktikan, bukankah pengertian rafidhah (dalam Hady As Sari) adalah mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar. nah kira-kira alasan apa yang membuat Ibnu Hajar beranggapan Al Harits itu Rafidhah saja atau tasyayyu’ esktrem?. Dalam At Tahdzib, keterangan yang saya temukan adalah Al Harits percaya dengan Raj’ah. Bisakah anda menemukan dalam At Tahdzib keterangan kalau Al Harits mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar?. Bukankah pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib itu berdasar pada keterangan dalam At Tahdzib. Tolong dijawab ya, saya malas kalau diskusi pakai asumsi terus:mrgreen:

    Justru terlihat bahwa beliau selalu konsisten, bahwa Rafidhah Ekstrem tidak diterima periwayatannya.

    Bahkan arti inkonsisten saja anda tidak paham:mrgreen:

    Inilah yg saya maksud bahwa beliau selalu konsisten dengan kaidah yg dipegangnya.. makanya beliau tidak pernah menganggap Rafidhah Ekstrem terhadap perawi yg shaduq atau maqbul.

    Yang mengatakan mereka percaya Raj’ah adalah ulama yang menjadi rujukan Ibnu Hajar, dan Ibnu Hajar tidak memberi bantahan sedikitpun jadi Ibnu Hajar tetap menerima perawi yang percaya Raj’ah.

    Btw.. jangan2 anda ini percaya Raj’ah ya.. wuakakakak…

    lho bukannya anda ya:mrgreen:

    Justru jelas sekali terlihat, beliau memperhatikan masalah tsb dan berusaha untuk konsisten.

    buktikan dong, kok kalau ada perawi yang dikatakan percaya Raj’ah beliau tidak memberi bantahan

    Lho justru saya melihat akan kebenaran pendapat tsb.

    ho ho anda kan melihat apa saja yang tidak dilihat oleh orang lain:mrgreen:

    Dhaif dan shaduq itu sudah cukup membedakannya, iya toh..

    lucu sekali,😆 benar-benar anda ini tidak mengerti persoalan dengan baik. Yang kita persamalahkan adalah penyebutan terhadap Jabir. Kalau Ibnu Hajar mengakui Jabir percaya Raj’ah kok dia tidak menyebutnya dengan Rafidhah sangat ekstrem. Kalau dia menolak Jabir mempercayai Raj’ah sehingga dia berkata Rafidhah saja, kok dia tidak membantah para ulama yang mengatakan Jabir percaya Raj’ah. Anda kok gak paham ya soal itu malah melarikannya ke dhaif dan shaduq, memangnya kenapa Ibnu Hajar menganggap Jabir dhaif?. Tolong dijawab ya

    Kayaknya itu bukan pendapat Ibnu Hajar dech, tetapi pendapat ulama2 lain yg beliau kutip, sedangkan beliau tetap pada pendapat beliau sendiri.

    dan pendapat beliau sendiri itu tidak membantah pendapat Ulama-ulama lain yang sudah saya kutip:mrgreen:

    Ooh tentu, saya tidak akan mengecewakan para pembaca dan anda tentunya, supaya blog anda tetap hidup & tdk dipenuhi oleh org2 yg hanya sendiko dawuh saja.. wuakakakak…

    anda mau ada atau tidak, itu bukan urusan saya. saya meragukan kalau anda telah membuat blog saya hidup, setidaknya anda harus berterimakasih kepada saya, secara cukup banyak permintaan orang-orang sekitar saya agar komentar anda itu dianggap spam saja tetapi saya merasa itu masih belum perlu.

    secara umum yah saya pribadi masih bisa toleran terhadap kebodohan, kekolotan, kecuekan, kekeraskepalaan, kepintaran, kepura-puraan, kesokpintaran dan sebagainya tetapi saya tidak toleran dengan ketidaksopanan dan kekurangajaran:mrgreen:

  7. he he imem …mendingan ente gabung aja di blog hakekat.com atau haulasyiah…

  8. @SP

    Eh, mas saya biasa-biasa saja🙂 kayaknya msh lebih asyik kasi komen

    Anda itu cuma mau membantah saja setiap apa yang dikatakan orang lain. Disini yang kita permasalahkan bukan soal dhaif tidaknya tetapi soal penyebutan istilah yang dilakukan Ibnu Hajar. Kalau kutipan dalam Hady As Sari itu diterapkan Ibnu Hajar secara konsisten maka sudah pasti beliau akan menyebut Jabir sebagai Rafidhah sangat ekstrem, bukan Rafidhah. Masa’ yang begini gak ngerti, capeeeee deh:mrgreen:

    Ah, saya liat mas ga cape-cape:mrgreen:

    Salam

  9. Keliatan bgt paham salafinya yakni paham pokoknya, wkwkwkwkw……

  10. jadi ingat sebuah Wasiat Imam Ali;
    Barangsiapa banyak berbuat niscaya dia banyak
    mengetahui. Barangsiapa banyak bicara niscaya banyak pula kesalahannya.
    Barangsiapa banyak salahnya niscaya tipis rasa malunya. Barangsiapa tipis
    rasa
    malunya niscaya hatinya mati. Dan barangsiapa hatinya mati maka nerakalah
    tempatnya.

    salam,

  11. Salam… Wah, saya mau masuk ke mana ya.. banyak kali penggolongannya😀 Kalo mengutamakan Ali di atas para sahabat disebut tasyayyu’ ekstrim, berapa banyak umat Islam yang tasyayyu’ ya🙄

    Salut, dengan analisis SP, izinkan saya link😀 Kalo berkenan tukeran link😳

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: