Aku dan Dia Yang Absurd

Aku dan Dia Yang Absurd

Ada sebuah Cerita dari orang yang Aku kenal dengan baik. Cerita yang belum selesai. Seolah-olah cerita itu hanyalah keluhan yang dibesar-besarkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Entahlah Aku juga tidak mengerti. Dia berkata Itu seperti benturan keras yang rasanya sakit sekali, dan…….. berlangsung lama. Sadar, terbangun, epifani terserah, kata yang pas menurutnya adalah ”Absurd”. ”Yang Absurd” begitulah Sartre menyebutnya, apa itu absurd? tidak masuk akal, tidak sesuai, mustahil apa lagi….putus asa, hampa, kering, hambar atau…I dont know apa pastinya, Tapi begitulah ”Yang Absurd”.

Cerita ini bermula ketika Dia sadar, sadar akan kehidupannya dan orang lain di sekelilingnya. Sadar menjadikan Dia banyak bertanya, bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang ternyata luar biasa. Siapa aku? Kenapa disini? Ada apa sebenarnya? Mau kemana aku ini? Siapa Mereka? Apa yang terjadi?. Tidak ada jawabannya, cukup lama tak diacuhkannya pertanyaan-pertanyaan aneh itu. Semua berlalu begitu saja, Dia hidup, hidup sehari-hari, makan, tidur, sekolah, belajar dan membaca semua yang bisa dibaca. Membaca yang terlalu parah hingga rasanya jadi aneh sekali. Keanehan pertama, Mereka semua menyebut Dia pintar, luar biasa, jenius, tanpa mereka sadari betapa tidak senang Dia dengan sebutan-sebutan itu. Sungguh Dia merasa menjadi sosok tidak pantas yang dipentaskan. Keanehan kedua, Dia tampak sendirian, benar-benar sendiri, beberapa orang menyebutnya tidak berperasaan, tidak pedulian, atau ah kasar sekali kurang manusiawi. Kira-kira apa yang dilakukan jika orang suka sendirian? berpikir Cuma itu yang rasanya banyak sekali Dia lakukan, dari yang sederhana sampai rumit, dari yang kotor sampai bersih, dari jahat sampai baik. Semuanya terasa aneh.

Biasanya Dia selalu bisa memecahkan sesuatu, apa saja, tinggal tutup pintu kamar, matikan lampu, dan mulai berpikir. Tapi Dia tak pernah bisa menjawab pertanyaan yang sederhana, Siapa aku?. Itu saja rasanya membuatnya pusing. Belum ditambah hal yang lain, pikiran-pikiran yang terlalu besar seperti tentang Dunia, Agama, dan Tuhan. Sekali lagi Dia berusaha mencari jawabannya, baca lagi, kali ini bacaannya lebih aneh. Dia mencari di kumpulan Filsafat, Kitab Suci dan Buku-buku yang agamis. Dan berpikir lagi hingga akhirnya dapat, ya akhirnya dia mendapatkan jawabannya. Benar-benar tercerahkan sampai Dia lupa kalau sebenarnya Dia masih sangat muda. Karena tidak lama kemudian Dia menyadari kalau ini cuma euforia.

Tibalah waktunya Kuliah, orang-orang yang baru, lingkungan yang baru dengan diri yang baru, diri muda yang berasa grandiosa, dengan kesederhanaan yang tampak ditutup-tutupi. Lebih hidup begitulah rasanya, walaupun orang lain melihat Dirinya dengan sedikit keanehan.Ya sisa-sisa kurang manusiawi itu memang tidak bisa hilang sepenuhnya, tapi paling tidak Dia sebisanya beradaptasi dengan baik.

Adaptasi itu baik sekali, sampai Dia sendiri heran kalau Dia bisa melakukannya. Heeeeh(menghela panjang) begitulah hari-hari berlalu dalam perkembangan Dirinya yang katanya jauh lebih baik. Tidak ada yang aneh pada mulanya, tapi lambat laun Dia mulai merasa sesuatu, sedikit tidak enak, kering, dan mengganjal. Cuma sedikit yang ternyata semakin lama semakin besar sampai rasanya sakit sekali. Dia sering tidak bisa tidur dibuatnya, tapi ya dasar aneh Dia merasa ini malah menguntungkan. Waktu yang ada malah Dia benamkan dalam bacaan tentang tubuh manusia yang rumit dan menyebalkan. Bacaannya banyak sekali, rasanya beruntung ternyata subjek ini seperti tak ada habisnya. Hasilnya sekali lagi Mereka menyebut Dia pintar, Baginya hal ini mungkin menguntungkan karena membuatnya lebih mudah berhubungan dengan Mereka (walaupun sebenarnya Dia lebih banyak dibantu). Tapi rasa tidak suka tetap saja ada, Ada seseorang menyebutnya aneh kenapa tidak suka disebut pintar?. Ingin sekali rasanya cerita, bukan itu masalahnya bukan pada apa yang disebut pintar, Masalahnya adalah ada sesuatu di orangnya.

Sesuatu itu yang akhirnya besar sekali seperti tumor besar yang mendesak (Sartre menyebutnya Nausea). Saat rasanya tak tertahankan Dia putuskan bahwa hal ini tidak bisa tidak serius. Sebenarnya Dia tak pernah mendiamkan sesuatu ini hanya saja Dia tak pernah benar-benar serius memikirkannya. Pikirannya sederhana ”nanti juga hilang”, atau ”sudahlah biasa saja”, atau ”jalani saja apa adanya”. Tapi cara ini tak pernah berhasil, sesuatu itu tidak hilang malah semakin besar, nyatanya Dia tidak pernah bisa biasa dan menjalani apa adanya. Benar-benar keras kepala, tapi mau bagaimana lagi? Dia harus serius.

Apa sebenarnya sesuatu itu? Dia menyebutnya ”absurd”. Semua pikirannya tentang Diri, Dunia, Agama, dan Tuhan adalah besar bahkan terlalu besar. Jawabannya ada tapi tak pernah memuaskan bahkan setelah bersusah payah. Rasa tak puas itu membuat pikirannya terus bekerja sembunyi-sembunyi hingga akhirnya mungkin dia kelelahan. Entahlah

Dia menyadari itu, benar-benar merasakan sesuatu dalam Dirinya, sepertinya Dia menjadi sedikit eksistensialis. Betapapun ada jawabannya semua ini tetap misteri tetap tak terjelaskan,dan menggantung dengan berat. Dia berhenti memikirkan dan memusatkan Dirinya untuk merasakan semua ini. Sungguh ini semua rasanya benar-benar absurd. Saat seperti itu entah kenapa Dia teringat dengan ”Yang Absurd” Sartre dan Camus. Hal yang sebelumnya tak pernah Dia mengerti. Tapi sekarang akhirnya Dia rasakan sendiri ”Absurd”.

Dia tidak terlalu senang dengan Sartre dan Camus, Baginya mereka tampak atheis dan pesimistik. Pokoknya pandangan filsafat mereka jelas tidak menyenangkan. Anehnya sekarang Dia sendiri mengalami sendiri apa itu ”Absurd”. Sesuatu yang dulu dianggapnya aneh, asing dan tidak mengerti. Hidup ya begitulah hidup. ”Terlalu banyak berpikir sampai lupa kalau ada”. Now selanjutnya apa?

Tidak ada selanjutnya, inilah adanya, absurd dan absurd. Haruskah seperti ini terus, menyakitkan, menderita tidak jelas, ah buruknya. ”Tidak, tidak, tidak buruk” begitulah kata hatinya. Sempat terpikir haruskah seperti yang dikatakan Camus ”bunuh diri”. Atau seperti kata Kierkegaard ”kembalilah kepada iman”, entahlah nyatanya Dia selalu beriman, oleh karena itu rasanya tidak mungkin Dia ”bunuh diri”. Melompat kepada iman, lucunya Camus justru menyebut itu ”bunuh diri” juga. Mungkin ”Berontak Ala Camus” cukup menarik, tetapi itu tak berguna sama sekali, apa yang harus dilawan? Itu malah membuat semua ini jadi lebih absurd. Lalu bagaimana?

Tidak ada, tetap seperti ini, cukup seperti ini, terus seperti ini, ”Bertahan” Dia menyebutnya seperti itu. Why? Padahal rasanya tidak enak, sakit, hambar, kering tapi kenapa dipertahankan?. Karena tidak ada yang bisa diperbuat, jika dari awal Dia tahu pencariannya akan seperti ini hasilnya, Dia pasti akan cukup berpuas diri dengan ”biasa-biasa” saja. Jika Dia tahu begini jadinya tak perlu Dia susah-susah berjalan, cukup menidurkan diri, berselimut dalam manusia keseharian. Nyatanya semua ini sudah terjadi, tidak ada yang bisa diubah dan tidak bisa kembali. Menyedihkan, ya memang, oleh karena itu Dia tidak akan membuatnya menjadi lebih menyedihkan lagi dengan berputus asa dan bersedih-sedih .”Untung karena tidak semua orang bisa mengalami ini” kata-kata penghibur yang aneh, ”semoga saja ada hikmah dibalik ke’absurd’an ini ” harapan dalam hatinya yang membuat Dia bertahan hidup. Bertahan itu satu-satunya yang bisa Dia lakukan. Bertahan, bertahan, terus bertahan sampai akhirnya lupa kalau rasanya sakit sekali.

Bertahan membuatnya hanya peduli dengan apa yang ada sekarang. Dia tidak lagi memusingkan masa lalu atau masa depannya. Baginya sekarang itulah Hidup, selebihnya cuma angan-angan. Naif memang, tapi itulah kenyataan Dirinya. Absurd yang terus bertahan, rasanya tetap ada walau tidak sehebat sebelumnya. Waktu memang obat yang mujarab, entahlah hikmah atau bukan yang jelas absurd ini melahirkan kerinduan. Dia merindukan, tidak tahu apa yang dirindukan tapi merindukan. Kerinduan dalam yang absurd. Baru terasa………..baru belum lama.

Sekarang Dia telah menyelesaikan Kuliahnya. Sekali lagi Dia mendapat perhatian yang lebih. Perhatian dan Pujian yang membuatnya semakin absurd dengan hidup yang Dia jalani. Aku selalu berkata kepadanya ”Bersabarlah, dan teruskan hidup”. Sejujurnya Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Tapi Aku sangat peduli dengannya lebih dari siapapun.

Ceritanya berakhir sampai disini, tetapi akan terus berlanjut. Selagi Dia masih hidup, Dia akan terus bercerita denganKu. Apa yang akan terjadi waktulah yang akan menjawabnya. Apa ini lelucon? Bukan, ini cerita hidupnya sampai saat ini, saat Aku menulis ini. Kenapa menulis ini? Entahlah, kenapa harus ada kenapa?, cukuplah dengan adanya cerita ini dan tak perlu ditambah kenapa. Biarkan saja karena begitulah hidup.

Iklan

14 Tanggapan

  1. mohon maaf ya J, saya lagi sibuk TM…jadi ndak bisa komen

    😎

    :mrgreen:

  2. @ Siw
    gapapa saya tahu kok Siw lagi sibuk
    *lihat di blog*
    semoga cepet beres kerjaannya 😀

  3. Wei wi jg suka satre!
    Apalagi satre kambing, yummy
    *eh, oot ya ;p*

  4. Anehnya sekarang Dia sendiri mengalami sendiri apa itu ”Absurd”. Sesuatu yang dulu dianggapnya aneh, asing dan tidak mengerti.

    Ah jadi ingat…
    Bukankah kita dianjurkan untuk tidak menyukai ataupun membenci sesuatu secara berlebihan

  5. @ dwi
    we puasa ingatnya makanan 😀
    eh kapan buka puasa bersama?

    @ Pak De
    oh iya sih sebenarnya
    tapi ya gimana lagi
    begitulah adanya
    he he he 🙂

  6. betapa rumitnya dirimu ya

  7. @ aswad
    maaf salah seharusnya
    “betapa rumitnya dirinya ya”

  8. menurutku “nya”=”mu”

  9. @ aswad
    ah asal itu, nya itu kata ganti orang ketiga
    mu kata ganti orang kedua
    beda atuh Mas 😀

  10. gaya yang aneh
    autobiografi dengan kata ganti orang ketiga
    kreatif juga 😀

  11. @ Mirza
    ah dilihat dari mana sih jadi autobiografi 😀

  12. […] sederhana Manusia satu ini sering membuat Hidup Ini Menjadi Tampak Absurd hingga Depresi Sampai Mati dan Akhirnya Mati Dengan Terkutuk Walaupun begitu tidak menutup […]

  13. Ya jelas absurd, wong harimau disuruh tarik gerobak. Sudah gitu tidak pernah kenal harimau lain yang menjalani hidup sebagai harimau. Yang dia tahu hanya teman2 penarik gerobak lainnya. Bayangkan betapa sedih dan depress nya si harimau penarik gerobak..

  14. Hahaha….terimakasih omm secondprince. Tulisannya menginspirasi saya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: