Dalam Mazhab Syi’ah Shalat Tarawih Berjama’ah Hukumnya Bid’ah?

Mengapa Mazhab Syi’ah Menyatakan Shalat Tarawih Berjama’ah Hukumnya Bid’ah?

Pada tahun sebelumnya kami pernah membahas hukum shalat tarawih [yang menjadi pegangan di sisi kami] yaitu shalat tarawih adalah sunnah, lebih utama dilakukan di rumah dan boleh dilakukan  berjama’ah di masjid. Kali ini kami akan menyampaikan bagaimana pandangan mazhab Syi’ah mengenai shalat tarawih.

Pembahasan berikut akan mengutip hadis-hadis Syi’ah dan melakukan penilaian dengan standar ilmu Rijal Syi’ah sehingga dapat disimpulkan pandangan yang shahih dalam mazhab Syi’ah berkenaan hukum shalat tarawih. Tujuan penulisan ini hanya berusaha menampilkan secara objektif [sesuai kaidah ilmiah] apa sebenarnya pandangan mazhab Syi’ah tentang shalat tarawih.

.

.

.

وعنه عن حماد عن عبد الله بن المغيرة عن ابن سنان عن أبي عبد الله عليه السلام قال: سألته عن الصلاة في شهر رمضان قال ثلاث عشرة ركعة منها الوتر وركعتان قبل صلاة الفجر كذلك كان رسول الله صلى الله عليه وآله يصلي ولو كان فضلا لكان رسول الله صلى الله عليه وآله أعمل به وأحق

Dan darinya [Husain bin Sa’iid] dari Hamaad dari ‘Abdullah bin Mughiirah dari Ibnu Sinaan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam], [Ibnu Sinaan] berkata aku bertanya kepadanya tentang shalat di bulan Ramadhaan, maka Beliau menjawab “tiga belas raka’at termasuk di dalamnya witir dan dua raka’at sebelum shalat fajar, demikianlah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat dan seandainya ada yang lebih utama maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih berhak dalam mengamalkannya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/69]

Lafaz Syaikh Ath Thuusiy dalam awal sanad “dan darinya” maka “nya” yang dimaksud adalah Husain bin Sa’iid bin Hamaad sebagaimana yang nampak dalam riwayat sebelumnya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/68]. Jalan sanad Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Al Khu’iy daam biografi Husain bin Sa’iid bin Hamaad [Mu’jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu’iy 6/267 no 3424]

Benarkah jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid bin Hamaad adalah shahih?. Berikut pembuktiannya, disebutkan oleh Syaikh Ath Thuusiy

وما ذكرته فهذا الكتاب عن الحسين بن سعيد فقد أخبرني به الشيخ أبو عبد الله محمد بن محمد بن النعمان والحسين بن عبيد الله وأحمد بن عبدون كلهم، عن أحمد بن محمد بن الحسن بن الوليد، عن أبيه محمد بن الحسن بن الوليد وأخبرني أيضا أبو الحسين بن أبي جيد القمي، عن محمد بن الحسن بن الوليد، عن الحسين بن الحسن بن أبان عن الحسين بن سعيد ورواه أيضا محمد بن الحسن بن الوليد، عن محمد بن الحسن الصفار، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد

Dan apa yang disebutkan tentangnya dalam kitab ini dari Husain bin Sa’iid maka sungguh telah mengabarkan kepadaku Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, Husain bin ‘Ubaidillah dan Ahmad bin ‘Abduun semuanya dari Ahmad bin Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Ayahnya Muhammad bin Hasan bin Waliid. Dan telah mengabarkan kepadaku Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Dan diriwayatkan Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’iid [Syarh Masyaikh Tahdzib Al Ahkaam hal 63]

Untuk memudahkan cukuplah kami ambil salah satu jalan sanad dari keseluruhan sanad di atas yaitu Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy dari Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Para perawi sanad ini semuanya tsiqat

  1. Abu Husain bin Abi Jayyid adalah Aliy bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Jayyid seorang yang tsiqat karena ia termasuk diantara guru-guru An Najasyiy [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 384]
  2. Muhammad bin Hasan bin Waliid adalah Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid seorang syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  3. Husain bin Hasan bin Abaan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Daud Al Hilliy dalam biografi Muhammad bin Awramah [Rijal Ibnu Dawud hal 270 no 431]

Kesimpulannya adalah benar apa yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy bahwa jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih. Kemudian bagaimanakah sanad riwayat di atas dari Husain bin Sa’iid sampai ke Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]. Berikut keterangan para perawinya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. ‘Abdullah bin Mughiirah seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 215 no 561]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih termasuk sunnah. Apakah shalat tersebut dilakukan berjama’ah atau sendiri?. Jawabannya ada dalam riwayat berikut

الحسين بن سعيد عن حماد بن عيسى عن حريز عن زرارة وابن مسلم والفضيل قالوا: سألناهما عن الصلاة في رمضان نافلة بالليل جماعة فقالا: ان النبي صلى الله عليه وآله كان إذا صلى العشاء الآخرة انصرف إلى منزله، ثم يخرج من آخر الليل إلى المسجد فيقوم فيصلي، فخرج في أول ليلة من شهر رمضان ليصلي كما كان يصلي فاصطف الناس خلفه فهرب منهم إلى بيته وتركهم ففعلوا ذلك ثلاث ليال فقام في اليوم الرابع على منبره فحمد الله وأثنى عليه ثم قال: (أيها الناس إن الصلاة بالليل في شهر رمضان النافلة في جماعة بدعة، وصلاة الضحى بدعة ألا فلا تجتمعوا ليلا في شهر رمضان لصلاة الليل ولا تصلوا صلاة الضحى فان ذلك معصية، الا وإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة سبيلها إلى النار ثم نزل وهو يقول قليل في سنة خير من كثير في بدعة

Husain bin Sa’iid dari Hammaad bin Iisa dari Hariiz dari Zurarah dan Ibnu Muslim dan Fudhail, mereka berkata kami bertanya kepada mereka berdua [Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah] tentang shalat sunah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah. Maka keduanya menjawab “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] jika telah mengerjakan shalat Isyaa’ Beliau pulang ke rumahnya kemudian keluar ke masjid di akhir malam untuk shalat. Beliau keluar di malam pertama di bulan Ramadhan untuk shalat seperti biasa kemudian orang-orang ikut shalat di belakangnya maka Beliau menghindar dari mereka, pulang ke rumahnya dan meninggalkan mereka, mereka melakukan hal ini tiga malam maka pada malam keempat Beliau naik mimbar mengucapkan pujian kepada Allah SWT dan berkata “wahai manusia sesungguhnya shalat sunnah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah adalah bid’ah dan shalat Dhuha adalah bid’ah, mala janganlah kalian berkumpul di malam bulan Ramadhan untuk shalat malam dan janganlah kalian melakukan shalat Dhuha, sesungguhnya yang demikian adalah dosa. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan tempatnya di neraka”. Kemudian Beliau turun [dari mimbar] dan mengatakan “sedikit dalam sunnah lebih baik dari banyak dalam bid’ah” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 3/69-70]

Lafaz dalam riwayat Syaikh Ath Thuusiy dimana para perawi [yaitu Zurarah, Ibnu Muslim dan Fudhail] berkata “kami bertanya kepada mereka berdua”. Yang dimaksud mereka berdua disini adalah Imam Abu Ja’far Al Baqir dan Abu ‘Abdullah. Hal ini sebagaimana disebutkan [dalam hadis yang sama] dengan lafaz sharih [jelas] dalam riwayat Syaikh Ash Shaduq [Man La Yahdhuuru Al Faqiih 2/137 no 1964]

Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid telah disebutkan sebelumnya adalah shahih. Kemudian para perawi sanad di atas berikut keterangannya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy seorang penduduk Kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  4. Zurarah bin A’yan Asy Syaibaniy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdullah [Rijal Ath Thuusiy hal 337]
  5. Muhammad bin Muslim seorang faqih wara’ sahabat Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah, termasuk orang yang paling terpercaya [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Maka disini dapat dipahami pula bahwa shalat tarawih yang disunahkan pada riwayat sebelumnya adalah dikerjakan sendiri bukan dengan berjama’ah.

Terdapat riwayat lain dari imam Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] yang menegaskan kalau shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Riwayat ini disebutkan dalam Al Kafiy dengan matannya berupa khutbah Imam Aliy yang panjang dimana dalam sebagian khutbah Beliau terdapat ucapan berikut

والله لقد أمرت الناس أن لا يجتمعوا في شهر رمضان إلا في فريضة وأعلمتهم أن اجتماعهم في النوافل بدعة فتنادى بعض أهل عسكري ممن يقاتل معي: يا أهل الاسلام غيرت سنة عمر ينهانا عن الصلاة في شهر رمضان تطوعا

Demi Allah, ketika aku perintahkan orang-orang untuk tidak berkumpul [shalat berjama’ah] di bulan Ramadhan kecuali dalam shalat Fardhu dan aku beritahu mereka bahwa berkumpul [shalat berjama’ah] dalam shalat sunnah adalah bid’ah maka sebagian tentaraku yang berperang bersamaku berteriak “wahai orang islam, ia ingin mengubah sunah Umar, ia melarang kita untuk shalat sunah di bulan Ramadhan” [Al Kafiy Al Kulainiy 8/62-63]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas disebutkan Al Kulainiy di awal riwayat yaitu sanad berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن إبراهيم بن عثمان، عن سليم بن قيس الهلالي قال: خطب أمير المؤمنين عليه السلام

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammaad bin Iisa dari Ibrahim bin ‘Utsman dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] berkhutbah…[Al Kafiy Al Kulainiy 8/58]

Para perawi sanad Al Kulainiy tersebut adalah tsiqat maka kedudukannya shahih. Berikut keterangan mengenai para perawinya sesuai standar ilmu Rijal Syi’ah

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  4. Ibrahim bin Utsman yang dimaksud disini ada dua kemungkinan, pertama yaitu Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub sebagaimana disebutkan Sayyid Al Khu’iy bahwa ia meriwayatkan dari Sulaim bin Qais dan telah meriwayatkan darinya Hammaad bin Iisa [yaitu hadis ini] [Mu’jam Rijal Al Hadiits, Sayyid Al Khu’iy 1/233 no 208]. Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 11]. Kemungkinan kedua ia adalah Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dan penulisan “bin Utsman” tersebut adalah tashif [keliru] sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muhammad Al Abthahiy [Tahdzib Al Maqaal Fii Tanqiih Kitab Rijal An Najasyiy 1/187]. Pendapat kedua ini kami nilai lebih rajih karena Ibrahim bin Umar Al Yamaniy memang dikenal meriwayatkan dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy [selain dari hadis ini]. Dan qarinah yang menguatkan adalah Al Kulainiy juga membawakan dua hadis lain dengan sanad “Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dari Sulaim bin Qais” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/191 dan Al Kafiy Al Kulainiy 8/343]. Ibrahim bin Umar Al Yamaaniy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 20 no 26]
  5. Sulaim bin Qais Al Hilaaliy termasuk sahabat Amirul Mukminin, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 262]

.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah ternyata memang shahih bahwa Shalat tarawih berjama’ah hukumnya bid’ah dan yang disunahkah adalah shalat sunah malam di bulan Ramadhan yang dilakukan sendiri [tidak berjama’ah].

Tentu saja pandangan mazhab Syi’ah tersebut berdasarkan riwayat shahih di sisi mereka dan tidak menjadi hujjah bagi mazhab Ahlus Sunnah sebagaimana pula riwayat shahih di sisi mazhab Ahlus Sunnah tidak menjadi hujjah bagi mazhab Syi’ah. Perbedaan di antara kedua mazhab adalah suatu keniscayaan karena kitab pegangan masing-masing yang berbeda, yang bisa dilakukan adalah hendaknya masing-masing penganut kedua mazhab tersebut tidak menjadikan perbedaan itu sebagai bahan celaan.

24 Tanggapan

  1. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Umar telah sukses mengalahkan salat ‘Isya berjamaah dg salat Tarawih. Buktinya pada bulan Ramadhan orang beramai-ramai datang ke Mesjid dg tujuan untuk salat Tarawih

  2. adimulya@ paling tidak mrk ikut sholat isya berjamaah hehe

  3. yaaah dulu waktu SD tiap puasa dikasih buku kayak absensi gitu dari sekolah buat salah taraweh. abis sholat taraweh orsng tua kudu tanda tangan buat sebulan tuuuh gak boleh bolong bolong. naah pas dah gede yaaa udah jadi kebiasaan aja kalu tiap ramadhan tuh ke mesjid taraweh. lagian malu ame tetangga juga sih (eh salah ya koq malunya sama tetangga seh). trus klo gitu selama ini yang ane lakuin itu bidah. Kudu tanya ustad nih

  4. Terlepas dari bid’ah atau tidak, salat tarawih dg jumlah rakaat 11 – 23 yg dilakukan secara berjamaah pd umumnya memang cukup memberatkan. Makanya pd minggu ke 2 mesjid sdh mulai agak sepi. Kenapa ? Karena jamaah hrs mengikuti ritme salat berjamaah dg jumlah rakaat yg cukup banyak. Sementara kalau mengikuti contoh yg asli dari Nabi dilakukan secara sendiri2, sehingga bisa mengatur ritme salatnya masing2. Mgkn dg jeda yg agak panjang sambil berdzikir. Dg dmkn walaupun dg jmlh rakaat 20 tdk melelahkan.

  5. sy percaya dg uraian SP, demi kemaslahatan ummat sy ikut tarawih.

  6. Terima kasih untik uraiannya Mas SP…

  7. o gitu ya, apakah dalam mazhab syiah kita boleh kawin mutah selagi tarawih?

  8. aduuuuh @husen kemana aja ciiin eike cacamarica yey deeh ihhh. yuuuk kita nyalon aja neeek. Eike pyusiiing dueeh baca kretongan yey. daripada yey mretong dan kretong disini mendingan yey jali jali belenjong labores tar eike anter duehh neek.

  9. @husen ente harusnya hidup zaman nabimu, zaman itu di izinkan rame2 pade mutah, yang bikin aturan pertama kali istilah kawin mutah siapa hayoo?makanya kalau mau konsekwen yang bagus itu ya kawin satu seumur idup bro, lagipula apa bedanya kawin mutah sama kawin sehari terus dicerai ? bukankan di Islam boleh tuh? atau kalau nikah sejam kemudian dicerai hukum fikih nya boleh ngga? kalau ngga dalilnya apa?

  10. @Husen, ternyata nikah mut’ah lebih banyak dilakukan oleh org Sunni ….pura2 benci tp rindu…..he he he

  11. Bicara salat taroweh lari ke nikah.
    Joko sembung bawak golok ga nyambung dong

  12. @Bambang Suryana, ya itu tadi sudah tidak punya argumentasi yang kuat, Husen coba mengalihkan topik

  13. @Ustad SP
    Apakah dalam Mazhab syiah dibolehkan sehabis tarawih sendirian di rumah nonton film porn0 buatan Iran? Apakah bernilai pahala?

  14. Mengapa anda sekarang menggunakan nama hasan setelah sebelumnya anda berkomentar disini mengunakan nama Husen. Mengapa? Semoga hanyalah dikeranakan ketidak kaitan sahaja bukan dengan tujuan tertentu. Ingat orang2 dengan hati dan pikiran seperti anda telah ribuan tahun berjalan2 dimuka bumi ini. Sekarang kemana mereka semua itu….ketahuilah mereka semua telah binasa. Sekali lagi ingat anda pd suatu masa akan binasa dan anda akan sangat2 membutuhkan Syafa’at kelak kecuali anda telah mendapatkan hal ghaib dari sisi Allah SWT.

  15. @hasan @husen
    Keliatannya anda bukan muslim karena di bulan suci ini benak anda hanya dipenuhi syahwat dan hal2 mesum. Akal yang anda miliki hanya anda letakkan di antara lipatan dua paha.

    Dan sebaiknya jangan menggunakan nama Hasan dan Husen ketika anda berkomentar kotor di sini karena nama tersebut tidak pantas disematkan kepada mulut kotor seperti anda.

  16. Fatwa Sesat Syiah: Bersetubuh Tidak Membatalkan Puasa

    http://www.lppimakassar.com/2012/07/fatwa-sesat-syiah-bersetubuh-tidak.html

  17. bung SP ada hadis menarik dari blog tetangga.
    bagaimana menurut anda kedudukan hadis ini.
    apakah ada riwayat lain dari Sunni maupun Syiah, mohon pencerahan:
    Ini judul artikelnya: Hadis Ali bin Abi Thalib Tentang ISIS/Da’esh
    dan ini linknya: https://abusalafy.wordpress.com/2014/07/12/hadis-ali-bin-abi-thalib-tentang-isisdaesh/
    terima kasih bung

  18. @FUAD
    Kalau saya lebih baik menjauh dari mereka yang fanatik tarawih dari pada masuk neraka. wasalam

  19. kita harus saling menghargai, semuanya tidak ada yg pernah ketemu nabi, semua belajar dari guru dan guru dan ulama, jadi janganlah memonopoli kebenaran, guru2 dan ulama dg niat yg bersih tapi bisa salah tafsir to? mereka2 tidak ada jaminan kebenaran mutlak, silahkan wahabi ikuti penafsiran ulama A, sedangkan yang lain ikuti penafsiran ulama B dan seterusnya, carilah persamaan supaya erat persaudaraan seiman, seagama atau paling tidak persaudaraan sebangsa setanah air.

  20. Para Pemirsa mohon dipahami bahwa penulis menganalisis suatu fatwa secara objektif, yang namanya objektif tentunya harus dari sisi pengikut fatwa tsb. bukan berarti pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah wajib mengikutinya.
    kalau ingin ikut tarawihnya Syi’ah, jangan ikuti setengah2.
    yang diterangkan adalah hadits dari sisi mereka, sedangkan hadits2 / dalil dari sisi Ahlussunnah wal Jama’ah bisa disimak di video berikut

    http://aswaja.tv/watch/yGfjcacGKK0/bidahkah-puasa-di-bulan-rajab-buya-yahya

    dan yang sangat dimurkai dalam Islam adalah, orang yang mengkafirkan sesama muslim bahkan sampai membunuh sesama muslim.
    4 sahabat Nabi berbeda namun tidak saling mengkafirkan dan membunuh, Imam 4 Madzhab berbeda namun tidak saling mengkafirkan dan membunuh (atau menghalalkan untuk dibunuh).
    membunuh itu ada hukum qisasnya.

    Surat al Baqarah ayat 190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

  21. Mas SP, dlm riwayat Syeikh Thusi di atas qiyamuramadhan itu ‘(t)iga belas raka’at termasuk di dalamnya witir dan dua rakaat sebelum shalat fajar (…) (Thusi, Tahdzib, 3/69). Lalu bgmn yg berpendapat kalo raka’at qiyam ramadhan itu: 20 raka’at (8 raka’at qabla ‘Isya+12 raka’at ba’da ‘Isya) pada malam ke-1 s.d. 20; 30 raka’at (8 raka’at qabla ‘Isya+22 raka’at ba’da ‘Isya); plus 100 raka’at pada malam ke-19, 21, 23. Semua raka’at yang kalo dijumlah-jamleh totalnya jadi 1000 raka’at itu ‘di luar nafilah ‘Isya harian yg berjumlah 11 raka’at’ (tahajud?). Aku kurang tau soal sumbernya. Tapi, di situ disebutin Mafatih al-Jinan hlm. 184.
    Mungkin bisa disoal oleh Mas SP, karena menurut riwayat Syaikh Thusi di atas: ‘(d)emikianlah Rasulullah (saw) shalat. Seandainya ada yg lbh utama maka Rasulullah (saw) lbh berhak dlm mengamalkannya’.
    Demikian. Salam ukhuwah.

  22. “…. maka janganlah kalian berkumpul di malam bulan Ramadhan untuk shalat malam dan janganlah kalian melakukan shalat Dhuha, sesungguhnya yang demikian adalah dosa. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan tempatnya di neraka”.
    Amalan bid’ah yang baik dianggap sesat? Semua bid’ah sesat dan masuk neraka? 😨 Ya ampun, seperti pandangannya kaun Wahabi saja.

  23. Diskusi cari kebenaran itu bagus. Syaratnya, harus adil dan ikhlas, tanpa rasa benci dan prasangka negatif duluan kpd pihak lain. Insyaallah, bahasan topik ini bagus untuk renungan atau kajian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: