Studi Kritis Anak Kecil Yang Ribut Di Masjid

Muqaddimah

Saya teringat Insiden menyebalkan ini waktu saya shalat tarawih di masjid. Sebenarnya saya kurang tahu pasti, sisi mana yang menimbulkan rasa menyebalkan ini. Lagipula biasa saja kan yang namanya Anak kecil ribut atau berlari-larian atau tertawa-tawa atau bermain-main dengan sesamanya. Yah begitulah anak kecil dan cobalah mengerti itu. Mengapa harus harus dipaksakan seorang anak kecil itu mesti duduk diam tanpa bicara, tanpa ikut tertawa padahal ia berada di antara sesamanya yang sedang ribut. Saya rasa anak seperti itu patut dicurigai (jadi teringat masa kecil) :mrgreen:

.

.

Insiden Tarawih

Ok maafkan kalau saya langsung mulai begitu, ceritanya begini… hmmm saya deskripsikan dalam bentuk perincian saja biar nggak repot

  • Orang-orang Shalat tarawih di Masjid
  • Anak-anak kecil sibuk bermain, ribut dan sesekali berlarian di Masjid
  • Tiba-tiba Seorang dari generasi tua angkat bicara dengan suara tinggi(yang membuat saya dan yang lainnya terkejut) dan langsung memarahi para anak kecil yang lucu-lucu itu

Peristiwa ini buat saya sebal dan seperti biasa kesebalan sering mengundang otak saya bekerja dengan cara yang aneh. Saya heran apa yang saya sebalkan? apa peduli saya? saya mah harus cepet2 pulang dan tidur(capek berat dan besok harus mulai lagi…)

.

.

Studi Kritis Di Saat Kritis

Betapapun saya bersikap tidak peduli dan tambah lagi saya memang tidak pedulian tetap saja saya jadi kepikiran. Mengapa saya sebal?, ok mari kita runut dan analisis:mrgreen:

Karena Sahalat Tarawih di Masjid, hmmm kayaknya nggak deh. Ngapain saya sebal sama tarawih, wong saya nggak dipaksa kok. Murni niat sendiri mau shalat, terlepas dari kontroversi seputar tarawih. Walaupun bisa dibilang saya nggak pernah semangat shalat tarawih di masjid. Kultum yang cuma itu-itu aja, lagu lama yang terus diulang berserta hadis-hadisnya(yang menurut sebagian golongan dhaif dan maudhu’) dan doa bersama dengan suara keras(yang menurut sebagian golongan itu bid’ah) . he he he nggaklah saya mah orang awam, gak ngerti yang begituan apalagi mau sebal dengan hal-hal begitu

.

Karena Anak-anak kecil, hmm gimana ya. Saya pribadi sih nggak ada urusan sama mereka. Walaupun terkadang saya tidak suka keributan.

  • Anak kecil mah memang biasa bermain karena itu dunia mereka.
  • Mereka suka tertawa karena mereka sepertinya tidak memikirkan berbagai hal ribet di dunia.
  • Mereka suka main kejar-kejaran karena dengan itu mereka lebih merasa akrab dan senang.

So, ada yang salah dengan itu. Ya iyalah, ngapain coba di Masjid. Apa nggak ada tempat lain, di luar kek atau di jalan sono yang nggak ada orang shalatnya. Benarkah begitu? saya rasa ada yang kurang. Anak kecil itu ke Masjid bisa jadi ikut orang tuanya atau disuruh orang tuanya dan seperti biasa Orang tua suka marah kalau anak tercintanya yang seharusnya ke masjid malah keluyuran kemana-mana. Jadi kayaknya anak kecil itu punya rasa amanah yang cukup tinggi untuk tetap pergi ke masjid sesuai anjuran orang tuanya(membayangkan kalau saya jadi Orang tua). Mengapa mereka harus dipermasalahkan dengan sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja ada pada mereka?

.

Seperti yang saya katakan pada awalnya, Jika ada anak yang kerjanya cuma duduk diam, kalem, gak senyum gak ketawa di tengah-tengah anak-anak yang lagi pada ribut, tertawa dan bermain maka anda punya alasan kuat untuk berpikir Itu anak pasti ada apa-apanya. Saran saya kalau anda bertemu anak seperti itu, cepat-cepat berikan pertolongan. Bila perlu anda paksa untuk ikutan senyum dan ketawa:mrgreen:

Dan malah lebih aneh kalau Anak-anak kecil itu duduk diam tanpa suara secara bersama-sama. Bayangkan apa yang terjadi, kalau saya sudah pasti bingung dan lebih merasa Ada apa-apanya.

  • Pasti ada konspirasi yang mau mencuci otak generasi muda kita
  • Atau ada sejenis penyakit misterius yang membuat anak-anak itu tidak bisa bersuara
  • Ho ho Mereka semua adalah Indigo

Sepertinya saya malah lebih suka kalau mereka anak-anak itu tetap ribut, tertawa dan bermain apa adanya. Lebih manusiawi menurut saya dan saya punya alasan kuat untuk itu karena pengalaman telah mengajarkan pada saya betapa seorang anak benar-benar butuh sifat ke-Anak-an dalam proses tumbuh kembangnya. So, saya pasti tidak sebal sama mereka.🙂

.

Kemungkinan terakhir, saya sebal sama Satu Orang tua yang tiba-tiba memarahi anak-anak itu. Umurnya nggak tua-tua amat tetapi saya yakin umur begitu paling tidak sudah bisa punya anak lima. Begini Pak, untuk apa sih marah-marah. Apalagi dengan suara yang bikin saya dan orang lain terkejut. Namanya juga anak-anak, jika saya berada dalam sudut pandang mereka maka saya dapat memakluminya. Mereka, maaf belum mengerti banyak hal yang sudah dimengerti oleh anda wahai para Kaum tua. Mereka lebih butuh banyak pelajaran dan senyuman bukan kemarahan yang saya rasa malah menyebarkan ketakutan.

Beberapa orang tua sepertinya terbiasa dengan Metode instan dalam mendidik, tinggal marah dan bila perlu diancam maka semua beres. Pendidikan gaya horor begitu nggak menarik dan hasilnya tidak memuaskan. Anak-anakyang saya ceritakan ini cuma terdiam sebentar mungkin karena ketakutan dan setelah berlalu beberapa menit semuanya kembali ribut seperti semula (tuh lihat itu adalah proses alami yang manusiawi)

.

Anda wahai para Kaum tua mungkin punya sejuta alasan untuk tidak suka dengan anak-anak kecil yang ribut di masjid. Mungkin anda merasa ritual anda terganggu alias anda jadi nggak khusyu’. Ok itu masalah anda, tapi lihat baik-baik apa yang anda tunjukkan. Saya rasa malah jauh lebih buruk. Seharusnya di bulan penuh rahmat ini anda sebagai kaum tua harus menjadi contoh untuk dapat menahan diri dari kemarahan yang seperti itu. Saya melihat itu sangat tidak pada tempatnya. Saya berpikir Tuhan mungkin lebih memaklumi anak kecil itu dibanding sikap yang anda tunjukkan.

  • Anda marah-marah dengan suara keras pada anak kecil di rumah Tuhan.
  • Anda sudah tidak bisa menahan emosi karena suatu kewajaran.
  • Anda sama saja juga mengganggu ritual ibadah orang lain tapi bedanya mereka Anak kecil belum mendapat porsi besar pengetahuan soal apa yang seharusnya mereka lakukan.

Bukankah kita puasa untuk melatih kesabaran. Maafkan saya bukan bermaksud menggurui anda tetapi saya akui saya memang tidak punya keberanian seperti anda untuk marah-marah seperti itu. Ngapain pula saya harus marah, sangat tidak ada gunanya😦

.

Bukankah kita punya banyak cara yang lebih baik untuk memberi pengajaran dan saya yakin anda para Kaum tua punya banyak pengalaman dan kompetensi soal ini. Satu-satunya kendala hanyalah emosi dan tidak sabaran. Cuma itu saya rasa😦

Sebelum mengakhiri saya mau memaparkan bagian yang hilang disini, yaitu Para Orang Tua Mereka. Boleh saja anda atau siapa saja berharap agar mereka anak-anak kecil itu jangan ribut ketika orang sedang shalat. Tetapi tentu kita harus berusaha keras untuk itu. Beritahu pada mereka para Orang Tua anak-anak itu agar mereka berusaha keras untuk mengajarkan tatacara atau adab atau apapun yang diperlukan. Saya curiga sepertinya setelah pulang maka masalah ini malah terlupakan dan lenyap dalam ketidakpedulian. Di rumah para orang tua akan kembali sibuk dengan masalah rumah dan anak-anak kecil seperti biasa menonton atau langsung tidur(setelah makan tentunya). Susah memang dan kalau nggak mau maka jangan banyak menuntut:mrgreen:

Ah akhirnya saya tahu mengapa saya kesal (karena saya belum makan besar sehabis buka tadi) :mrgreen:

.

.

Akhir Cerita

intinya mengingatkan siapa saja termasuk saya sendiri kalau kita-kita ini sering melupakan Keragaman Sudut Pandang dalam bersikap dan memahami. Kita terlalu asyik dengan sudut pandang kita sendiri dan tidak peduli dengan bagaimana sudut pandang pihak lain. Bukan berarti kita harus nurut-nurut saja alias disini senang disana senang. Silakan berprinsip tetapi pahami terlebih dulu sudut pandang lain sebelum anda bersikap karena itu akan membuat anda lebih bijak. Mari sama-sama berbenah diri 😉

.

.

Salam damai

.

Update :

Catatan : Ini ada tulisan yang bagi saya, cukup menggambarkan bahwa sudut pandang lain itu benar-benar penting apalagi jika berkaitan dengan anak kecil. Tulisan sedih sih😦

25 Tanggapan

  1. Nah, kebetulan. Anak anak yang ada di sekitar komplek kalau lagi bulan ramadhan selalu ribut.

    Saya, waktu kecil ga suka ribut di rumah ibadah. karena pernah ditakut takuti bahwasanya kalau ada anak ribut di rumah ibadah, maka yang dosa bapaknya!

    Namun selanjutnya saya ga suka ribut di rumah ibadah karena malu sendiri.

    tentang bagaimana mengajari anak saya kelak? Entahlah, karena saya belum punya anak. Mungkin dan kalau bisa saya akan mengajarkan dan menanamkan rasa malu …

    Thanks for this post….

  2. Hehehe… Ternyata bisa juga ya diangkat tema yang seperti ini (biasanya yang diangkat isinya cukup ‘berat’ –untuk ukuran saya yang miskin ilmu agama–, makanya sering capek setelah baca-baca blog ini :p ). Sering memang nemuin cerita seperti di atas saat shalat jamaah di masjid yang lingkungan sekitarnya banyak anak kecil.

    Saya jadi teringat anak-anak yang berlarian diantara orang-orang yang sedang shalat atau menirukan ruku’/sujud dengan versi mereka sendiri (yang kadang2 gayanya menakjubkan😀 ).

    Mumpung yang dibahas tentang anak kecil yang ribut di masjid, saya ingin menanyakan sesuatu. Hal yang mengganggu pikiran saya dan belum pernah saya diskusikan dengan orang lain, yaitu orang dewasa yang sedang shalat kemudian mengacungkan lengannya untuk merintangi anak yang sedang berlari agar tidak lewat di depannya.

    Apakah memang harus seperti itu? Apakah akan mengurangi nilai ibadah bila kita membiarkan bocah-bocah itu berlarian di depan kita?
    Kira-kira bagaimana sebaiknya menyikapi situasi semacam itu?

  3. @sp
    Waktu kecil saya juga suka ribut.😀

    @fortynine

    Saya, waktu kecil ga suka ribut di rumah ibadah. karena pernah ditakut takuti bahwasanya kalau ada anak ribut di rumah ibadah, maka yang dosa bapaknya!

    Ih, keren juga tuh metodenya.😀

  4. Mengapa harus harus dipaksakan seorang anak kecil itu mesti duduk diam tanpa bicara, tanpa ikut tertawa padahal ia berada di antara sesamanya yang sedang ribut. Saya rasa anak seperti itu patut dicurigai (jadi teringat masa kecil) :mrgreen:

    Apakah SP termasuk anak kecil patut icurigai tsb?..😉
    Saya sih termasuk yang ikut maen (maen wajib taraweh sunnah..:mrgreen: ).
    Kalau kita asumsikan SP termasuk yg patut dicurigai maka:
    1. SP tidak paham betul kenapa anak2 selalu maen/ribut saat taraweh. Shg SP butuh mewancarai mrk2 yang masuk kelompok tukang ribut saat tarawih.
    2. SP jadi lebih bisa menghargai anak2 tsb.

    Bagi saya tarawih adalah the best moment for maen:
    1. Disitu anak2 terkumpul.
    2. Baru selesai makan banyak shg energi berlebih.
    3. Sekolah biasanya libur.
    4. Jarang punya kesempatan maen malam2.
    5. Seharian lapar shg kurang jatah main di siang hari.
    6. Masjid adalah tempat bermain favorit saya (besar/lapang, bersih, sejuk, merasa berpahala krn rajin ke mesjid)
    7. Banyak jenis permainan yg hanya bisa dimainkan pd malam hari dan hanya pd Ramadhan.
    8. Senang bisa dikejar2 oleh bapak2 yg paranoid.

    PS: saya tidak termasuk yang lari diantara jama’ah, biasanya hanya di area belakang yg kosong dan di halaman masjid.

    Oyaaa, saya maen di masjid cuma pada saat tarawih, kalau jum’atan yg pernah saya lakukan cuma: tertawa besar2 pada saat jama’ah meneriakkan amin, dan berusaha tidak tertawa setelah amin selesai.

    Jadi sampai sekarang saya tidak peduli/menyalahkan anak2 bermain saat tarawih (status tarawih berjama’ah khan belum jelas …:mrgreen: ). Tapi saat shalat jum’at saya sih masih suka terbetik, apakah para orang tua mrk juga membiarkan mereka yang bermain?.

    Mengapa mereka harus dipermasalahkan dengan sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja ada pada mereka?

    Saya punya pendapat yang dg SP bhw anak2 itu memang tidak bisa lepas dg berman, dan itu adalah dunia mrk. Namun berbedanya pada bhw, saya tdk menganggap bhw seiap waktu dan setiap tempat mrk bisa bermain. Tapi bagi saya, tarawih adalah waktu dan tempat yang tepat…😀

    Selebihnya untuk masalah bagaimana mendidik anak, saya setuju banget dg SP (padahal belum punya anak, lhaa emang gak ada hubungannya koq..mendidik anak adalah ilmu yg tdk mengenal status).
    Banyak orang tua yang merasa super, mereka pikir mereka lebih tahu, mereka pikir mereka pling benar, mereka pikir mereka layak untuk marah2.

    Mari sama-sama berbenah diri 😉

    Mari….mari…

    Wassalam

  5. @Mas Farid

    Saya, waktu kecil ga suka ribut di rumah ibadah. karena pernah ditakut takuti bahwasanya kalau ada anak ribut di rumah ibadah, maka yang dosa bapaknya!

    wah aneh juga ya ini🙂

    tentang bagaimana mengajari anak saya kelak? Entahlah, karena saya belum punya anak. Mungkin dan kalau bisa saya akan mengajarkan dan menanamkan rasa malu

    prinsipnya Orang tua harus lebih mengerti anaknya ketimbang siapapun, tapi gak tahu ya apa saya ntar bisa

    Thanks for this post….

    Sama-sama dan Met puasa ya
    Salam

    @anulucu

    Hehehe… Ternyata bisa juga ya diangkat tema yang seperti ini (biasanya yang diangkat isinya cukup ‘berat’ –untuk ukuran saya yang miskin ilmu agama–, makanya sering capek setelah baca-baca blog ini :p ).

    Oh ternyata berat ya, padahal udah sebisanya dikompress:mrgreen:

    Apakah memang harus seperti itu? Apakah akan mengurangi nilai ibadah bila kita membiarkan bocah-bocah itu berlarian di depan kita?
    Kira-kira bagaimana sebaiknya menyikapi situasi semacam itu?

    Saya pribadi, biarin aja karena mereka anak-anak kecil belum mengerti soal itu dan lebih baik lagi kalau setelah itu langsung dikasih tahu kalau itu gak boleh

    @Gentole

    Waktu kecil saya juga suka ribut.😀

    Beda banget sama saya:mrgreen:

    Ih, keren juga tuh metodenya.

    Tapi gak enaknya kalau udah jadi bapak-bapak😆

    @Truthseeker

    Apakah SP termasuk anak kecil patut icurigai tsb?..😉

    Ah itu di luar konteks tulisan:mrgreen:

    1. SP tidak paham betul kenapa anak2 selalu maen/ribut saat taraweh. Shg SP butuh mewancarai mrk2 yang masuk kelompok tukang ribut saat tarawih.
    2. SP jadi lebih bisa menghargai anak2 tsb.

    tapi seandainya saya tidak mengerti, saya tetap akan menghargai mereka kok.🙂

    Oyaaa, saya maen di masjid cuma pada saat tarawih, kalau jum’atan yg pernah saya lakukan cuma: tertawa besar2 pada saat jama’ah meneriakkan amin, dan berusaha tidak tertawa setelah amin selesai.

    Kecil-kecil perhitungannya etis juga ya🙂

    Jadi sampai sekarang saya tidak peduli/menyalahkan anak2 bermain saat tarawih (status tarawih berjama’ah khan belum jelas …:mrgreen: ).

    udah jelas kok😉

    Namun berbedanya pada bhw, saya tdk menganggap bhw seiap waktu dan setiap tempat mrk bisa bermain

    lho saya juga sependapat dengan ini, saya nggak suka lihat anak kecil main-main di tengah jalan raya. beresiko banget

    Tapi bagi saya, tarawih adalah waktu dan tempat yang tepat…😀

    Hati-hati lho ntar suka ada yang salah sambung🙂

    Selebihnya untuk masalah bagaimana mendidik anak, saya setuju banget dg SP (padahal belum punya anak, lhaa emang gak ada hubungannya koq..mendidik anak adalah ilmu yg tdk mengenal status).

    Jadi saya belum punya anak nih ceritanya🙂

    Banyak orang tua yang merasa super, mereka pikir mereka lebih tahu, mereka pikir mereka pling benar, mereka pikir mereka layak untuk marah2.

    lho emang tahu, emang bener dan emang layak:mrgreen:
    *siap-siap dilempar cemilan buat buka*
    Salam

  6. ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

    BERITA BAIK!!!
    Mari kita liat nich blog. keren abiss!

    MARI MENCARI KEBENARAN

    Masuk sini= http://mustahil-kristen-bisa-menjawab.notlong.com/

    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

  7. ………………………., wong saya nggak dipaksa kok. Murni niat sendiri mau shalat, terlepas dari
    kontroversi seputar tarawih.
    Kayaknya bagus klo di bahas tentang kontroversinya solat taraih berjamaah.

    Jadi sampai sekarang saya tidak peduli/menyalahkan anak2 bermain saat tarawih (status tarawih berjama’ah khan belum jelas …:mrgreen: ).

    udah jelas kok😉

    Maksudnya udah jelas gimana…? katanya kontroversi tapi berikutnya udah jelas….

    Tolong di jelasin dong Mas SP……

    Syukur2 mau di bahas dengan detail di blog ini……

  8. @meremmelek
    terimakasih linknya

    @Oezie
    waktu saya bilang kontroversi maka saya menggunakan sudut pandang kita semua umat islam yang mungkin punya banyak pandangan soal ini. Dan waktu saya bilang jelas maka itu menggunakan sudut pandang saya pribadi🙂
    Doakan saja Mas🙂
    Salam

  9. *marana nggak bisa login*
    Saya pribadi memang tidak setuju kalo anak-anak ribut di dalam mesjid walau pada kenyataannya itu nggak buat saya tergangggu…
    Nggak ambil pusing. Cuex aja, asal nggak keterlaluan ributnya nggak masalah😛

    Tapi, tetap Ribut dan lari-lari dalam mesjid itu tidak baik. apalagi saat orang-orang sedang Ibadah.
    Mungkin, kita sebagai yang lebih dewasa, terhadap adik atau mungkin anak kita nanti, dididik dan diberi pemahaman untuk nggak ribut selama di dalam mesjid🙂

    tapi, sikap bapak yang marah dengan cara seperti itu sih memang lebih buruk lagi…:mrgreen:

  10. Ada cerita, mungkin cocok

    ketika seseorang mengegur temannya yang ngobrol dalam keadaan solat, lalu dia –saat sedag solat juga— berkata pada temannya yang ngobrol itu,
    “Hus, nggak boleh ngomong kalo lagi sholat…”😆

  11. tulisan ini mengingatkan pada saya sendiri yang suka ribut juga di masjid terutama pada saat tarawih. Kalau baca amin selalu dipanjang-panjangin, dengan nada yg dibikin beda. habis itu pecicilan nggak keruan. buatku sekarang itu adalah masa kecil yang indah.

  12. heh, mestinya situ juga maklum, namanya juga orang dah tuwa. khan dalam salah satu ayat surah yasin, disebutkan, bahwa mereka-mereka yg sudah mencapai usia senja, bakalan dikembalikan lagi ke keadaan ketika mereka dulu (kanak-kanak). nah, jadi… anggep aja tuh, anak-anak lagi ngebentak anak-anak juga😆

  13. ee…ee…ee…
    tapi pas Husein (atau Hasan?), cucu Rasul.saw naik ke pundak beliau ketika sujud, bukannya nggak dimarahi, bahkan rasul.saw malah memperpanjang sujudnya, dan tersenyum ketika pundaknya tak lagi ditaiki,
    nah:mrgreen:

  14. sy dulu marahin habis2an anak sy,kl ramai bgt di mushola,cz sy gag enak ama yg lain,jd kadang sy ngalahin ndak sholat tarawih,tp semakin besar anak,anak jd tau sendiri koq,dan skrg sy biarkan dia…..
    artikel anda:

    http://orang-tua-anak.infogue.com/
    http://orang-tua-anak.infogue.com/studi_kritis_anak_kecil_yang_ribut_di_masjid

    promosikan artikel anda di infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler,telah tersedia widget shareGue dan nikmati fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

  15. seharusnya…yg muda/dewasa mengkondisikan mereka dalam kelompok kecil yg bermaterikan shiroh, game dst. lakukan ini di halaman masjid/diluar masjid atau dibelakang masjid.

    bermain adalah dunia mereka
    mencintai masjid adalah pelajaran utk mereka.
    jgn malah mereka di usir dari sesuatu yg mereka harus tahu dan cintai.

    jadi saran saya bikin kelompok mentoring khusus utk mereka dengan thema yg sesuai dengan mereka.
    bahkan sholat tarawihnya pun di sesuaikan dengan mereka.

    itu yg pernah saya lakukan pilot project yg agak besar
    dan sampai sekarang masih eksis adalah
    PAS Salman ITB, PAR (Pembinaan Anak di bln Romadhon)

    saran saya kepanitian romadhon seharusnya sudah mulai memikirkan program utk anak2..

    bihaqqi muhammad saaw

  16. Memang para orang tua itu sungguh aneh. Begini salah eh begitu salah juga. Kalo memang mengganggu ya dibuat gimana caranya kek agar kehebohan anak2 tersalurkan secara positif.

    Mungkin ada divisi dongeng untuk anak-anak, ada panitia yang nguwongake (memanusiakan) anak2 – jadi kehadiran anak2 tidak cuma dianggap ganep-ganep gitu lho.

    Salah sendiri anak2 kok dicuekin. Hik Hik

  17. pingin jadi anak kecil😀

  18. Anak kecil yang belum diajar adab dalam Masjid sesungguhnya nggak boleh ke Masjid, belajar sholat itu bukan belajar bacaannya atau gerakannya dulu, tapi belajar Adabnya.

    Masak di Rumah Allah, dirumah Camat aja Lu nggak berani ribut, apalagi di Rumah Presiden, apalagi di Rumah Allah ya nggak boleh dong Ribut dan berlari larian, Orang tua yang menegur itu yang benar, dasar bego yang posting, sok bisa agama . . . padahal Goblok, yang kasih komen juga banyak yang bego . . .sok penuh kasih sayang.

    kalau mau sayang sama ajak ajari ereka Adab yang baik

  19. Masalahnya bukan sekedar sudut pandang, tapi memang ada hukumnya , afwan :

    http://www.pernikmuslim.com/bagaimana-hukum-mengajak-anakanak-ke-masjid-a-520.html

  20. marah, membentak, melotot, pemarah, raut muka yg menakutkan, tersirat ancaman, intimidasi, superior or ingin dipandang orang or justru menyiratkan sesuatu kelemahan diri yg besar dibalik marahnya itu……yaah pokoknya semua itu memang membuat hati ngga nyaman melihatnya, ngga betah, and so on 2x

  21. anak kcl tsb diingatkan jika sdh kelewatan,ttpi dgn perasaan kasih sayang..

  22. aktual dan butuh pencerahan.
    Contoh nabi saja. Saat sujud d naiki cucunya ngak marah kan?

  23. maaf baru gabung, kebetulan ada bahasan ttg anak kecil, di masjid dekat kantor biasa saya sholat jum’at juga begitu, samalah, banyak anak-2 kecil yg berisik, kalo udah salam langsung cabuuuuutttttt heheehehe…

    ada sedikit pertanyaan dari saya, kebetulan saya baru punya anak 1, jagoan, usia 1thn 3 bln, dah bisa jalan, kalo saya lagi sholat misalnya, dia wara wiri di depan saya, di belakang saya….naaaahh ketika saya mau sujud…pas anak saya meluk saya dari depan, saya ga bisa sujud, gimana nih sholat saya? apakah sujud dg bentuk masih duduk? atau nunggu anak saya pergi setelah puas meluk saya ???

    mohon penjelasannya yaaahh….

  24. Dalam suatu peristiwa dizaman Rasullulah,seseorang mengadukan masalah anak yang ribut atau lari lari didalam Mesjid kepada beliau. Beliau memanggil orang tua sianak,dan menanyakan kepada orang tua sianak, apakah ada sesuatu yang haram yang diberikan kepada anaknya.Mulanya bapak sianak ,merasa tidak ada yang haram yang diberikan kepada anaknya. Tetapi setelah diperiksa kepada istrinya,barulah ketahuan yang memang secara tidak sengaja telah memberikan sesuatu yang bukan haknya, telah diberikan kepada anaknya.

  25. bos… kalo anak situ sendiri yang ribut anak sendiri kita biasa aja kale… tapi kalo anak orang lain.. dan berkali2 buat gaduh dengan lari2an…….yang sebel bukan cuma yang tua… yang anak2 dah mulai ngerti juga sebel ….. baca buku lagi deh ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: