Kejahilan Bantahan Abu Azif Tentang Riwayat Abdullah bin Saabu’

Kejahilan Bantahan Abu Azif Tentang Riwayat Abdullah bin Saabu’

Baru-baru ini muncul blog yang sepertinya dibuat dengan tujuan “Membantah Secondprince”. Awalnya kami pikir ini sesuatu yang menarik tetapi setelah membaca tulisannya ternyata orang ini adalah orang yang memang sudah pernah diskusi dengan kami sok membantah sana sini padahal hakikatnya jahil dalam ilmu. Bahkan setelah ditunjukkan kaidah ilmu yang benar ia tetap bersikeras dengan kejahilannya.

Orang ini sok ingin membela Abul-Jauzaa padahal ia tidak memahami kesalahan Abul-Jauzaa dalam tulisannya tersebut. Bersikeras membela sesuatu yang salah hanya menunjukkan kesombongan dan kejahilan. Berikut akan kami tunjukkan betapa rusaknya bantahan tersebut. Seperti biasa bantahan dari orang tersebut akan kami blockquote. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui tulisan kami yang dibantah blog tersebut maka silakan lihat tulisan kami Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

.

.

.

Mengenai riwayat Ali ra sebagai wali bagi kaum muslimin memang ditetapkan dari riwayat yang shahih, akan tetapi pengertian wali diartikan dengan kepemimpinan merupakan kesalahan, apalagi sampai mempunyai anggapan bahwa Abu Bakar cs merampas hak kepemimpinan Ali, kalau sudah beranggapan seperti itu maka tidak syak lagi status dia sebagai syiah rafidhah.

Hal ini dibuktikan dengan ke-shahih-an riwayat yang sedang kita bahas.

Lebih baik kami tidak usah sibuk dengan tuduhan atau prasangka dustanya. Kami langsung saja menunjukkan hujjah yang ilmiah dan objektif dan mari kita lihat nanti bagaimana ia akan bersikeras untuk menolak. Riwayat tentang Imam Aliy sebagai Waliy kaum muslimin adalah sebagai berikut

حدثنا يونس قال حدثنا أبو داود قال حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Aliy “engkau adalah Waliy bagi setiap mukmin sepeninggalku” [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy no 2875]

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Aliy “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalku. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1222]

Jadi apa yang perlu ditafsirkan, lha hadisnya memang menyebutkan kalau Waliy yang dimaksud adalah Khalifah. Makna Waliy sebagai Khalifah itu sudah dikenal di kalangan orang Arab bahkan dikalangan para sahabat. Buktinya adalah sahabat Nabi yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sendiri menggunakan kata Waliy untuk menyatakan kepemimpinannya


Al Bidayah juz 9

Al Bidayah juz 9 hal 414

وقال محمد بن إسحاق بن يسار : حدثني الزهري ، حدثني أنس بن مالك قال : لما بويع أبو بكر في السقيفة وكان الغد ، جلس أبو بكر على المنبر ، فقام عمر فتكلم قبل أبي بكر ، فحمد الله وأثنى عليه بما هو أهله ، ثم قال : أيها الناس ، إني قد قلت لكم بالأمس مقالة ما كانت مما وجدتها في كتاب الله ، ولا كانت عهدا عهده إلي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولكني قد كنت أرى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سيدبر أمرنا – يقول : يكون آخرنا – وإن الله قد أبقى فيكم كتابه الذي به هدى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فإن اعتصمتم به هداكم الله لما كان هداه له ، وإن الله قد جمع أمركم على خيركم ; صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم وثاني اثنين إذ هما في الغار ، فقوموا فبايعوه . فبايع الناس أبا بكر بيعة العامة بعد بيعة السقيفة ، ثم تكلم أبو بكر فحمد الله وأثنى عليه بالذي هو أهله ، ثم قال : أما بعد ، أيها الناس ، فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم ، فإن أحسنت فأعينوني ، وإن أسأت فقوموني ، الصدق أمانة ، والكذب خيانة ، والضعيف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه ، إن شاء الله ، والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه ، إن شاء الله ، لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل ، ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء ، أطيعوني ما أطعت الله ورسوله ، فإذا عصيت الله ورسوله ، فلا طاعة لي عليكم ، قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله . وهذا إسناد صحيح

Dan Muhammad bin Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Az Zuhri yang berkata telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik yang berkata ketika Abu Bakar dibaiat di Saqifah, esok harinya ia duduk diatas mimbar dan Umar berdiri di sampingnya memulai pembicaraan sebelum Abu Bakar. Umar mulai memuji Allah sebagai pemilik segala pujian, kemudian berkata “wahai manusia aku telah katakan kepada kalian kemarin perkataan yang tidak terdapat dalam kitabullah dan tidak pula pernah diberikan Rasulullah SAW kepadaku. Aku berpandangan bahwa Rasulullah SAW akan hidup terus dan mengatur urusan kita maksudnya Rasulullah akan wafat setelah kita. Dan sesungguhnya Allah SWT telah meninggalkan kitab-Nya yang membimbing Rasulullah SAW maka jika kalian berpegang teguh dengannya Allah SWT akan membimbing kalian sebagaimana Allah SWT membimbing Nabi-Nya. Sesungguhnya Allah SWT telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik diantara kalian yaitu Sahabat Rasulullah dan orang yang kedua ketika ia dan Rasulullah SAW bersembunyi di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan berilah baiat kalian kepadanya. Maka orang-orang membaiat Abu Bakar secara umum setelah baiat di saqifah. Kemudian Abu Bakar berkata setelah memuji Allah SWT pemilik segala pujian. Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai [Waliy] pimpinan atas kalian dan bukanlah aku orang yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. Riwayat ini sanadnya shahih. [Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 9/414-415]

.

.

Apa yang mas SP tulis secara panjang lebar tersebut hanyalah berupa teori-teori kemungkinan saja, faktanya Abu Bakar bin Ayyasy menjayyid-kan sanad tersebut.

Dan kalau bermain teori kemungkinan, maka dapat juga dikemukakan teori lawan : bahwa Abu Bakar bin Ayyasy setelah tahu sanad Salamah dan Salim, maka beliau merajihkan sanad Salim.

Masyhur Ishaq bin Ibrahim merupakan murid Abu Bakar bin Ayyasy dan sima’ nya dengan lafaz sami’tu, dua hal tersebut menjadi qarinah bahwa kemungkinan besar riwayat ini terjadi ketika Abu Bakar tidak ikhtilath.

Seperti biasa ini hanya jawaban akal-akalan orang yang tidak paham kaidah ilmu hadis atau sebenarnya ia paham tetapi pura-pura bodoh. Jika seorang perawi dikatakan ikhtilath maka yang harus diperhatikan adalah apakah perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang meriwayatkan sebelum ikhtilath atau sesudah ikhtilath. Maka perinciannya adalah sebagai berikut

  1. Jika perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang mendengar sebelum ikhtilath maka hadisnya diterima
  2. Jika perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang mendengar setelah ikhtilath maka hadisnya ditolak
  3. Jika perawi yang meriwayatkan darinya tidak diketahui mendengar sebelum atau sesudah ikhtilath maka hukumnya tawaqquf sampai ada qarinah yang menguatkan kalau perawi tersebut mendengar darinya sebelum ikhtilath. Salah satu qarinah yang sering dipakai para ulama adalah periwayatan Bukhariy dan Muslim. Jika riwayat perawi tersebut dari gurunya yang ikhtilath dipakai Bukhariy dan Muslim maka ini termasuk qarinah yang menguatkan kalau perawi tersebut mendengar dari gurunya sebelum ikhtilath.

Aneh bin ajaib dalam bantahan terhadap riwayat ‘Amru bin Sufyaan, orang ini berlagak sok paham dan mengucapkan kalimat yang menentang dirinya sendiri

Ikhtilath Abu Azif

JAWAB :

Benar Qutaibah dari Jarir telah disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, akan tetapi ketika disebutkan dalam riwayat selain mereka berdua harus dilihat, bila mendengar sebelum ikhtilath diterima, bila mendengarnya sesudah ikhtilath atau tidak diketahui sebelum atau sesudah ikhtilath, maka riwayatnya ditolak.

Ishaaq bin Ibrahim tidak diketahui mendengar dari Abu Bakar bin ‘Ayasy sebelum atau sesudah ikhtilath maka sesuai dengan perkataannya sendiri di atas seharusnya riwayat Ishaaq dari Abu Bakar itu ditolak. Jadi ngapain dia sok membela atau berhujjah dengan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy tersebut.

Dan lucunya orang ini mengatakan bahwa Ishaaq sebagai murid Abu Bakar dan menggunakan lafal sami’tu adalah qarinah Ishaaq mendengar Abu Bakar sebelum ikhtilath. Alangkah mengherankannya orang ini, bagaimana bisa hal seperti itu jadi qarinah perawi mendengar sebelum ikhtilath. Ilmu hadis dari mana itu?. Orang ini memang ajib selalu punya kaidah ilmu hadis yang mencengangkan dan tidak tahu datang dari mana.

.

.

Seandainya toh, riwayat tautsiq ini lemah, tidak mempengaruhi terangkatnya ke-majhulan Abdullah bin Sabu’. (Salim, Tsa’labah, Ibnu Hibban, dan Ibnu Hajar mengenal Abdullah bin Sabu’)

Ucapan ini tidak ada nilai hujjahnya. Abdullah bin Sabu’ berdasarkan pendapat yang rajih adalah perawi majhul ‘ain. Berikut kita bahas perkataan orang ini. Ia mengatakan

Salim mengenal Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah mengangkat jahalah Abdullah bin Sabu’. Memang dalam kitab Rijal disebutkan bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari Abdullah bin Saabu’ kecuali Salim bin Abi Ja’d [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/105 no 4348]. Hukum perawi yang dikenal hanya satu orang yang meriwayatkan darinya adalah majhul ‘ain.

Tetapi kalau diteliti kembali maka periwayatan Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ tidak tsabit dengan dua alasan

  1. Riwayat tersebut mudhtharib sebagaimana telah kami bahas sebelumnya dan sumber idhthirabnya berasal dari A’masy
  2. Jika alasan mudhtharib ini tidak diterima oleh orang itu maka tetap saja riwayat tersebut tidak tsabit sampai Salim bin Abil Ja’d karena tadlis A’masy dan ia disini meriwayatkan dengan ‘an anah.

Jadi kesimpulannya hal ini tidaklah mengangkat predikat majhul ‘ain dari ‘Abdullah bin Sabu’.

Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah benar. Riwayat Tsa’labah bin Yazid yang dimaksud tidak tsabit sanadnya hingga Tsa’labah karena ‘an anah A’masy dan Habiib bin Abi Tsabit padahal keduanya mudallis. Maka bagaimana bisa dikatakan Tsa’labah mengenal ‘Abdullah bin Sabu’ kalau riwayat Tsa’labah tersebut dhaif. Kalau memang riwayat tersebut shahih sanadnya sampai Tsa’labah bin Yaziid maka baru bisa dikatakan Tsa’labah mengenal ‘Abdullah bin Sabu’.

Ibnu Hibban mengenal ‘Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah mengangkat predikat majhul ‘ain Abdullah bin Sabu’. Hal ini disebabkan Ibnu Hibban sering memasukkan perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat [termasuk perawi majhul ‘ain]. Siapapun yang meneliti kitab Ibnu Hibban maka ia akan menemukan kalau disisi Ibnu Hibban, predikat majhul atau jahalah perawi bukanlah cacat. Oleh karena itu wajar jika Ibnu Hibban memasukkan para perawi majhul [baik majhul ‘ain atau majhul hal] yang tidak dikenal jarh-nya [cacatnya] dalam kitabnya Ats Tsiqat. Kalau Ibnu Hibban sering memasukkan perawi majhul ‘ain dalam Ats Tsiqat maka bagaimana bisa dikatakan hal itu menghilangkan predikat majhul ‘ain perawi tersebut.

Ibnu Hajar mengenal ‘Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini juga patut diberikan catatan. Mungkin orang ini hanya melihat apa yang disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib At Tahdzib bahwa ia menyatakan Abdullah bin Sabu’ maqbul. Hal ini tidaklah benar dan menyalahi metode Ibnu Hajar sendiri karena Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib tidak menukil satupun tautsiq terhadap Abdullah bin Sabu’ dan menyebutkan hanya satu orang perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Salim bin Abil Ja’d.

Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Basyaar Awad Ma’ruf mengkoreksi perkataan maqbul Ibnu Hajar dan yang benar adalah majhul. Keduanya berkata

Tahrir Taqrib At Tahdziib no 3340

Majhul, tafarrud [menyendiri] dalam meriwayatkan darinya Salim bin Abil Ja’d, tidak ada yang mentsiqatkan selain Ibnu Hibban dan demikianlah disebutkan Adz Dzahabiy dalam Al Miizan, hanya memiliki satu hadis yang dikeluarkan An Nasa’iy dalam Musnad ‘Aliy, terdapat perselisihan [sanad-sanadnya] atas Al A’masy, [hadis tersebut] tidak shahih [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 3340]

.

.

Mas SP, karena salah sangka maka terlontarlah ucapan makian kepada Ust. Abul Jauza, padahal perkataan Ust. Abul Jauza begini :

Bakr bin ‘Ayyaasy dalam sanad riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari : Jarir dan Abdullah bin Dawud. (yaitu dalam sanad Salamah)

Mudah-mudahan ini bukan akhlaq asli mas SP.

Ada baiknya jika orang ini sebelum berbicara meneliti dahulu permasalahan yang dibicarakan dengan baik. Abul Jauzaa itu sudah jelas keliru, ini buktinya saya tunjukkan langsung dari situsnya

Kesalahan Abul Jauzaa

Perhatikan poin no 2 tersebut yaitu sanad riwayat dengan jalan dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Ini adalah salah satu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy. Kemudian Abul Jauzaa mengatakan

Abu Bakar bin ‘Ayyasy dalam sanad riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari Jarir bin ‘Abdul Hamiid dan ‘Abdullah bin Dawud

Bukankah itu sudah sangat jelas “sanad riwayat ini” yang dituliskan Abul Jauzaa adalah

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—-Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Sekarang silakan orang itu lihat riwayat Jarir bin ‘Abdul Hamiid dan riwayat ‘Abdullah bin Dawud yang disebutkan Abul Jauzaa. Silakan lihat salah satu riwayat Jarir bin ‘Abdul Hamiid yang disebutkan Abul Jauzaa, misalnya dari Abu Ya’la dalam catatan kaki no 14

Kesalahan Abul Jauzaa1

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Kemudian silakan lihat salah satu riwayat ‘Abdullah bin Dawud yang disebutkan Abul Jauzaa, misalnya dari Aajurriy dalam catatan kaki no 18

Kesalahan Abul Jauzaa2

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْوَاسِطِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، قَالَ: سَمِعْتُ الأَعْمَشَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ

Bagaimanakah sanad riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawuud tersebut?. Orang yang punya mata akan melihat sanad tersebut adalah

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Silakan bandingkan dengan apa yang ditulis Abul Jauzaa “sanad riwayat ini” yaitu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—-Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Sudah jelas berbeda, riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud menyebutkan Salim bin Abil Ja’d dalam sanadnya sedangkan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy tidak menyebutkannya. Dalam pembahasan sanad-sanad yang idhthirab jelas sangat penting membedakan sanad-sanadnya untuk mengetahui sumber idhthirab atau dimana letak idhthirabnya. Orang ini sok ingin membela Abul Jauzaa padahal sudah jelas-jelas Abul Jauzaa itu keliru dalam masalah ini.

.

.

Mas SP, sekali lagi salah sangka, riwayat Abu Bakar bin Ayyasy dari Salim adalah shahih karena ada Waki’, sedangkan riwayat Yahya bin Yaman menurut Ust. Abul Jauza lemah karena (mungkin) tidak ada mutaba’ahnya. Dalam tautsiq Abu Bakar yang dibicarakan jalur sanad, sedang dalam riwayat Yahya yang dibicarakan adalah status perawi yang menyebabkan kelemahan riwayat. Harap dibedakan ini !.

Maaf justru orang ini yang salah sangka karena tidak meneliti dengan baik apa yang ditulis Abul Jauzaa’. Abul Jauzaa’ itu telah berhujjah dengan hadis Abu Bakar bin ‘Ayyasy dalam masalah tautsiq terhadap Abdullah bin Sabu’ yaitu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang berkata “menurutku, hadis ini sanadnya jayyid”. Kalau memang Abul Jauzaa’ melemahkan Yahya bin Yaman maka orang semisalnya yaitu Abu Bakar bin ‘Ayyasy harusnya lemah juga oleh karena itu tautsiq terhadap ‘Abdullah bin Sabu’ itu hakikatnya lemah tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

Riwayat Bakr sudah sah dijadikan qarinah tarjih, karena kelemahannya hanya berkisar dalam masalah hafalan dan munkarul hadits bahkan ada yang menta’dilnya. Dan tentunya yang ditarjih pertama kali adalah riwayat tanpa Abdullah bin Sabu’, akan tetapi ternyata ada qarinah lain pula bahwa sanad yang lain pun dapat terangkat pula.

Riwayat Bakr itu kedudukannya dhaif bahkan lebih dhaif dari riwayat Al A’masy. Kelemahannya ada pada Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair. Pendapat yang rajih Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair keduanya adalah perawi yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar. Hadis yang didalamnya terdapat seorang perawi yang dhaif dapat dijadikan i’tibar maka hadisnya bisa dikuatkan oleh hadis lain yang memiliki kelemahan yang sama atau lebih kuat sanadnya. Adapun jika dalam satu sanad hadis terdapat dua orang perawi yang dhaif dapat dijadikan i’tibar maka kedudukannya menjadi lebih berat dan jatuh ke derajat hadis dhaif.

Sebenarnya cukup dengan apa yang dinukil oleh Abul Jauzaa’ mengenai kelemahan Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair

Kesalahan Abul Jauzaa3

Silakan para pembaca pikirkan jika dalam sanad suatu hadis terdapat dua cacat yaitu perawi yang dilemahkan jumhur ulama dan perawi yang dhaif maka apakah hadisnya bisa dipakai sebagai hujjah? Bukankah seharusnya riwayat tersebut ditolak dan tidak bisa dipakai.

.

.

SP memotong pengertian perkataan Ibnu Asaakir, lanjutan perkataan Ibnu Asaakir adalah : Salim HANYALAH  meriwayatkan melalui perantaraan Abdullah bin Sabu’, pernyataan ini umum terhadap seluruh periwayatan Salim dari Ali ra. Termasuk riwayat Bakr ini-pun menjadi bersambung kepada Ali, termasuk riwayat riwayat mursal Salim dari Ali, dan termasuk pula riwayat mausul Salim dari Abdullah bin Sabu dari Ali ra.

Orang ini berdusta, kami tidak pernah memotong pengertian perkataan Ibnu Asakir. Inilah yang kami katakan

Secondprince

Silakan perhatikan kami justru menuliskan lafaz hanyalah meriwayatkan melalui perantara Abdullah bin Sabu’.

Adapun ucapannya bahwa pernyataan itu umum terhadap seluruh periwayatan Salim dari Aliy adalah ucapan ngawur yang muncul dari kejahilan. Yang dimaksud Ibnu Asakir itu adalah khusus dalam hadis yang sedang dibahas ini. Perkataan Ibnu Asakir tersebut justru berlandaskan pada riwayat Al A’masy.

Silakan cek berikut yang tertulis dalam kitab Ibnu Asakir setelah ia menyebutkan riwayat Bakr bin Bakkaar


Tarikh Ibnu Asakir juz42

Tarikh Ibnu Asakir juz42 hal 538

سالم لم يسمعه من علي وإنما يرويه عن عبد الله بن سبع

أخبرناه أبو علي الحسن بن المظفر أنا أبو محمد ح وأخبرنا أبو القاسم بن الحصين أنا أبو علي قالا أنا أحمد بن جعفر نا عبد الله حدثني أبي نا وكيع نا الأعمش عن سالم بن أبي الجعد عن عبد الله بن سبع قال سمعت عليا

Saalim tidak mendengarnya [hadis itu] dari ‘Aliy, sesungguhnya ia hanyalah meriwayatkannya [hadis itu] dari ‘Abdullah bin Sabu’.

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan bin Muzhaffar yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim bin Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy. Keduanya [Abu Muhammad dan Abu ‘Aliy] berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Aliy…[Tarikh Ibnu Asakir 42/538]

Jadi sebenarnya Ibnu Asakir menjadikan riwayat A’masy sebagai hujjah untuk menutup cacat riwayat Bakr bin Bakkaar. Padahal sebenarnya riwayat A’masy itu sendiri mudhtharib.

Sedangkan Abul Jauzaa’ justru menjadikan riwayat Bakr bin Bakkaar sebagai qarinah tarjih riwayat Al A’masy yang idhthirab. Kemudian Abul Jauzaa’ mengakali riwayat Bakr bahwa Salim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’ padahal zhahir sanad riwayat Bakr tidak menyebutkan Abdullah bin Sabu’. Ucapan Ibnu Asakir itu tidak bisa dijadikan hujjah oleh Abul Jauzaa’ karena Ibnu Asakir justru sedang berhujjah dengan riwayat A’masy yang sedang ingin ditarjih oleh Abul Jauzaa’.

.

.

Bisa saja ada qarinah tarjih untuk menghilangkan idhthirabnya, yaitu riwayat Bakr, atau sanad asli (yang lengkap dan urut sesuai dengan riwayat yang tidak lengkap).

Atau kedua-duanya dipakai, alias riwayat tersebut tidak idhthirab.

Melihat beberapa jalan riwayat di atas nampak bahwasannya jalan riwayat ‘Abdullah bin Sabu’ ini yang raajih adalah dari jalan Saalim bin Abi Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ – wallaahu a’lam –. Atau bisa jadi jalan riwayat Salamah bin Kuhail, dari ‘Abdullah bin Sabu’ juga mahfudh; atau dengan kata lain : ‘Abdullah bin Sabu’ mempunyai dua jalan, yaitu dari Saalim bin Abi Ja’d dan Salamah bin Kuhail. Dalam hal ini, Al-A’masy meriwayatkan dari dua jalan tersebut.

Orang ini sok mengatakan sebelumnya bahwa penjelasan kami hanya berupa teori-teori kemungkinan saja tetapi kenyataannya justru ia sekarang yang bersemangat berandai-andai teori kemungkinan. Toh gampang saja ditolak perkataannya bahwa itu cuma kemungkinan tidak ada nilai hujjah.

Dalam ilmu hadis sudah jelas status riwayat seperti Al A’masy ini adalah mudhtahrib. Untuk menghilangkan idhthirab ya silakan dinilai dan ditarjih mana riwayat A’masy tersebut yang mahfuzh. Tetapi tentu saja mentarjih itu harus dengan dasar ilmiah bukan ala teori kemungkinan orang ini. Bahkan hakikatnya tidak ada satupun riwayat Al A’masy yang mahfuzh sampai Saalim bin Abil Ja’d dan Salamah bin Kuhail karena ‘an anah A’masy dan ia seorang mudallis yang juga sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif.

.

.

Ini adalah kesalahan utama mas SP, yaitu menghukumi idhthirab riwayat A’masy.

Perhatikan riwayat no. 3, jalur ini adalah jalur asli dari ke-4 riwayat A’masy.

Dimana jalaur 1,2 dan 4 urut-urutannya tidak menyalahi jalur ke-3 ini.

Jalur 1,2 dan 4 adalah sesuai dengan ungkapan kalau A’masy rajin menyambung sanad kalau malas beliau memutus sanad, dikarenakan situasi yang berbeda-beda ketika menyampaikan hadits.

Maaf rasanya lebih masuk akal untuk dikatakan idhthirab ketimbang ocehan orang ini yang tidak karuan. Orang ini mengatakan jalur asli adalah yang no 3, nah itu dasarnya dari mana?. Seenak perutnya bilang itu yang asli, terus jalur yang lain [no 1, 2 dan 4] itu tidak asli?. Dengan logika orang ini maka bisa dipastikan yang namanya hadis mudhtharib akan lenyap dari muka bumi. Mengapa? Karena setiap ada hadis yang mudhtharib bisa ditarjih seenaknya yang ini asli dan yang lain tidak asli.

Memang ada kasus dimana seorang perawi tsiqat karena banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu maka ia memiliki banyak guru, sehingga seolah-olah dalam suatu hadis sanadnya berselisih padahal sebenarnya itu berasal dari guru-gurunya yang berbeda. Tetapi dalam kasus riwayat Al A’masy di atas hal ini tidak bisa diterapkan dengan alasan berikut

  1. Al A’masy telah dikenal sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif oleh karena itu ‘an anah A’masy dari perawi yang tidak dikenal sebagai Syaikh [gurunya] yang ia banyak meriwayatkan darinya [seperti Abu Wail, Ibrahim, dan Abu Shalih] tidak bisa dianggap muttashil. Maka disini ‘an anah A’masy dari Salamah bin Kuhail dan Salim bin Abil Ja’d tidak bisa dianggap bahwa A’masy memang mendengar dari keduanya. Bahkan bisa saja dalam riwayat ini dikatakan A’masy melakukan tadlis dari para perawi dhaif tertentu dan para perawi dhaif inilah yang terkadang menambah atau mengurangi sanadnya. Kemungkinan ini bisa saja terjadi mengingat semua riwayat disampaikan A’masy dengan lafaz ‘an anah.
  2. Perselisihan sanad ini tidak hanya pada thabaqat guru Al A’masy tetapi juga pada thabaqat di atasnya. Misalnya Salim bin Abil Ja’d terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Aliy atau dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Kemudian Salamah bin Kuhail juga terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d atau dari Abdullah bin Sabu’.

.

.

Sehingga cacat riwayat ini hanyalah tadlis dari A’masy saja.

Mengenai Abdullah bin Sabu’ tidak benar ia majhul ‘ain.

Beliau diriwayatkan oleh Salim dan dikenal oleh Tsa’labah dari riwayat A’masy yang tidak idhthirab.

Selain itu beliau ditsiqatkan oleh Ibnu Hibban, dimana pentsiqatan Ibnu Hibban seorang dapat dijadikan sebagai penguat, menurut Syaikh Muqbil.

Selain itu syarat perawi maqbul dari Ibnu Hajar telah terpenuhi dengan adanya mutaba’ah dari Tsa’labah.

Tadlis A’masy memang menjadi cacat [illat] atas riwayat tersebut tetapi idhthirab pada sanad A’masy juga menjadi cacat [illat] bagi riwayat tersebut. Pembahasannya sudah kami jelaskan secara detail. Adapun bantahan orang ini tidak memiliki nilai hujjah karena hanya bersumber dari waham khayal-nya saja. Idhthirab bisa diangkat jika salah satu riwayat bisa ditarjih dengan metode tarjih yang ilmiah bukan dengan waham khayal atau riwayat dhaif.

Adapun status majhul ‘ain Abdullah bin Sabu’ sudah dibahas di atas. Orang ini sok berhujjah dengan perkataan Syaikh Muqbil tentang tautsiq Ibnu Hibban padahal ia tidak bisa menunjukkan sumber yang valid perkataan Syaikh Muqbil tersebut. Silakan para pembaca tanyakan pada orang ini, di kitab mana Syaikh Muqbil pernah mengatakan secara mutlak pentsiqatan Ibnu Hibban dapat dijadikan penguat.

Hakikatnya perawi yang ada dalam Ats Tsiqat Ibnu Hibban itu ada beberapa macam yaitu ada perawi yang majhul ‘ain, ada yang majhul hal, ada yang shaduq, ada yang tsiqat dan ada yang sebenarnya berdasarkan pendapat yang rajih ia dhaif. Jadi jelas tidak bisa dipukul rata bahwa setiap yang dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat maka bisa dijadikan penguat. Perawi yang majhul ‘ain itu berdasarkan kesepakatan para ulama hadis, hadisnya tidak bisa dijadikan penguat. Abdullah bin Sabu’ ini adalah perawi yang majhul ‘ain maka hadisnya tidak bisa dijadikan penguat walaupun Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.

Riwayat Tsa’labah bin Yazid tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi Abdullah bin Sabu’ karena riwayat tersebut sanadnya lemah karena ‘an anah A’masy dan Habib bin Abi Tsabit. Apalagi baik riwayat Tsa’labah dan riwayat Abdullah bin Sabu’ memiliki kelemahan yang sama yaitu bersumber dari ‘an anah Al A’masy. Daruquthniy berkata

ورواه عمار بن رزيق عن الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن ثعلبة بن يزيد عن علي ولم يضبط إسناده

Dan diriwayatkan ‘Ammaar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yaziid dari ‘Aliy, tidak dhabit sanadnya [Al Ilal Daruquthniy 3/266 no 396]

.

.

Dalam riwayat Tsa’labah, disebutkan : Tsa’labah berkata : …… lalu Abdullah bin Sabu berkata …..

Perhatikan ini ….

  1. Perkataan Abdullah bin Sabu ada 2 kali, dan beliau tidak termasuk dalam jalur sanad, akan tetapi masih dalam kalimat matan riwayat.
  2. Kalimat “LALU” menunjukkan peristiwa yang berurutan, yaitu setelah Ali berkata, lalu Abdullah bin sabu berkata.
  3. Yang menyampaikan perkataan Abdullah bin Sabu adalah Tsa’labah, bukan A’masy.

Dari 3 alasan tersebut dapat dipastikan kalau perkataan Abdullah bin Sabu adalah asli matan dari riwayat bukan merupakan penggabungan riwayat akibat idhthirabnya A’masy.

Tidak mengapa kalau orang ini tidak sepakat dengan kemungkinan yang kami katakan bahwa A’masy mencampuradukkan matan riwayat Abdullah bin Sabu’ dan matan riwayat Tsa’labah. Hujjah kami disini sebenarnya adalah riwayat Tsa’labah tersebut tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena ‘an anah A’masy dan ‘an anah Habib bin Abi Tsabit dimana keduanya adalah mudallis ditambah lagi Daruquthniy mengatakan “tidak dhabit sanadnya”. Kesimpulannya riwayat ini tidak bisa menjadi hujjah sebagai penguat riwayat Abdullah bin Sabu’.

39 Tanggapan

  1. Berikut bantahan lanjut dari sang penulis, silakan bagi yang berminat melihatnya disini, disini dan disini. Ia berkata

    Dari 7 jalur ini yang shahih sampai kepada A’masy hanya 2 jalur, yaitu :

    A’masy –> Salim –> Abdullah bin Sabu

    A’masy –> Salamah –> Salim –> Abdullah bin Sabu

    Jujurlah wahai seconprince, apakah 2 jalur diatas idhthirab ?

    Yang mengatakan bahwa hadis ini berselisih sanad-sanadnya dari Al A’masy itu bukan hanya kami. Daruquthniy telah memasukkan hadis A’masy di atas dalam kitabnya Al Ilal dan menyebutkan dengan jelas telah berselisih sanad-sanadnya dari Al A’masy.

    Tapi tidak mengapa kalau memang ingin menerapkan metode tarjih artinya siapa saja yang riwayatnya memiliki kelemahan tidak perlu dipakai seperti Abu Bakar bin Ayasy dan Yahya bin Yaman. Oleh karena itu mari kita dhaifkan riwayat-riwayat lain yang menurut orang ini tidak shahih sampai A’masy maka tersisa dua riwayat di atas.

    Manakah riwayat tersebut yang rajih?. Kalau tidak bisa dirajihkan ya masih idhthirab. Kalau ia mengatakan dua-duanya diterima bahwa A’masy menerima hadis itu dari Salim dan dari Salamah maka tinggal bawakan buktinya?. Lha lafaz riwayat A’masy saja ‘an anah bagaimana bisa orang itu sok yakin mengatakan mahfuzh kalau A’masy mengambil riwayat ini dari Salim dan juga dari Salamah. Bisa saja saya bilang A’masy idhthirab terkadang ia meriwayatkan dari Salim dan terkadang meriwayatkan dari Salamah.

    Contoh bentuk idhthirab seperti ini banyak dalam ilmu hadis, ya mungkin orang ini tidak tahu contoh hadis-hadis idhthirab. Silakan lihat kitab Al Ilal Daruquthniy hadis no 83, dimana Daruquthniy berkata

    فقال هو حديث يرويه عاصم بن عبيد الله بن عاصم عن عبد الرحمن بن أبن بن عثمان عن أبيه عن عثمان

    [Daruquthniy] berkata “itu adalah hadis yang diriwayatkan ‘Aashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Aashim dari ‘Abdurrahman bin Aban bin ‘Utsman dari Ayahnya dari Utsman”

    Kemudian setelah membawakan sanad selain dari ‘Aashim, Daruquthniy berkata

    ورواه الثوري عن عاصم بن عبيد الله عن أبان بن عثمان عن عثمان عن عمر ولم يذكر فيه عبد الرحمن بن أبان وهذا الإضطراب فيه من عاصم بن عبيد الله

    Dan diriwayatkan Ats Tsawriy dari ‘Aashim bin ‘Ubaidillah dari Aban bin ‘Utsman dari Utsman dari Umar dan tidak menyebutkan di dalam sanadnya ‘Abdurrahman bin Aban. Hadis ini terdapat idhthirab di dalamnya dari ‘Aashim bin Ubaidillah.

    Dalam satu riwayat ‘Aashim meriwayatkan dari Abdurrahman bin Aban dari Aban bin Utsman dari Utsman dan dalam riwayat lain ‘Aashim meriwayatkan dari Aban bin Utsman dari Utsman. Daruquthni menyatakan dengan jelas bahwa kasus ini adalah idhthirab dari ‘Aashim.

    Jadi sah sah saja kalau saya katakan dalam salah satu riwayat A’masy meriwayatkan dari Salamah dari Salim dari Abdullah bin Sabu’ kemudian dalam riwayat lain A’masy meriwayatkan dari Salim dari Abdullah bin Sabu’, maka hal ini adalah idhthirab dari A’masy.

    Orang ini seenaknya mengatakan bahwa A’masy punya dua jalur yang mahfuzh yaitu dari Salamah dan juga dari Salim padahal ia tidak membawakan bukti bahwa kedua jalur tersebut mahfuzh. Bahkan saya bisa dengan mudah mengatakan kedua jalur tersebut sama-sama tidak mahfuzh karena A’masy meriwayatkan dengan lafaz ‘an anah. Oleh karena kedudukan kedua riwayat A’masy itu tidak bisa ditarjih maka wajar dinyatakan idhthirab.

    Dan sebenarnya kalau kita menuruti Daruquthniy dalam hal ia memasukkan riwayat Tsa’labah sebagai bagian dari perselisihan sanad A’masy maka riwayat yang tsabit sampai ke A’masy harusnya ada 3 yaitu

    A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Habib bin Abi Tsabit—Tsa’labah bin Yaziid—Aliy

    Jadi sangat jelas bahwa riwayat ini adalah bagian dari idhthirab Al A’masy. Bagaimana orang ini akan mentarjih riwayat tersebut?. Orang ini malah seenaknya menjadikan riwayat Tsa’labah bin Yaziid sebagai syahid riwayat Abdullah bin Sabu’ padahal masih bersumber dari sanad Al A’masy.

    Kemudian orang ini sok mengatakan saya melakukan kesalahan fatal padahal hakikatnya ia sendiri yang melakukan kesalahan fatal, ia berkata

    Setelah kamu tahu bahwa riwayat Waqi’ diatas tidak mudhtharib, maka perkataan Ibnu Asakir menjadi bumerang bagimu, bahwa riwayat Bakr tersebut dapat dikuatkan oleh riwayat Waqi’, artinya 2 jalur riwayat tersebut saling menguatkan, sebagaimana kamu ketahui pula bahwa riwayat mudallis dapat dijadikan penguat, sebagaimana kamu ketahui pula bahwa riwayat perawi yang buruk hafalannya disamping ketsiqatannya (bakr) dan perawi yang mungkarul hadits disamping ke-shaduqannya (Hakim) dapat dijadikan penguat walau-pun dalam satu jalur terdapat mereka berdua, dan ini merupakan hujjah keilmuan yang dimiliki Ibnu Asakir, dan ini dipahami bahwa Ibnu Asakir menguatkan riwayat tidak adanya wasiat kepemimpinan kepada Ali ra.

    Riwayat A’masy diatas memang mudhtharib, bahkan dengan metode tarjih yang ketat telah ditunjukkan bahwa riwayat A’masy tetap mudhtharib. Seandainyapun riwayat A’masy tidak mudhtharib maka riwayat tersebut tetap saja lemah. Dua jalur yang orang itu sebutkan tetap dhaif kedudukannya dan tidak saling menguatkan.

    Riwayat A’masy dhaif karena tadlis A’masy dan Abdullah bin Sabu’ seorang yang majhul ‘ain.
    Riwayat Bakr bin Bakkaar dhaif karena Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair keduanya dhaif.

    nullBakr bin Bakkaar

    Bakr bin Bakkaar Abu ‘Amru Al Qaisiy dilemahkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Jarud, Nasa’iy dan didhaifkan Abu Hatim dan Anaknya, As Sajiy dan selain mereka, ditsiqatkan Ibnu Hibban, An Nabiil dan Asyhal [Mishbaah Al Ariib 1/254 no 5066]

    Pendapat yang melemahkan Bakr bin Bakkaar jauh lebih banyak apalagi jarh terhadapnya tergolong mufassar sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Lisan Al Mizan no 1566 bahwa Bakr bin Bakkaar termasuk perawi yang mencuri hadis. Maka jarh mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil

    Bakr bin Bakkaar2

    Adapun Hakim bin Jubair menurut pendapat yang rajih adalah perawi yang dhaif dapat dijadikan i’tibar. Cukuplah kami nukilkan apa yang dikatakan Ibnu Hajar dalam At Taqrib no 1476 bahwa ia dhaif.

    Hakim bin Jubair

    Jadi apa dasarnya orang itu mengatakan shaduq kecuali memang ia suka mencomot seenaknya [tanpa dasar ilmu] pendapat apapun yang dapat menguatkan hawa nafsunya dan meninggalkan pendapat yang menentang dirinya. Kesimpulannya riwayat Bakr bin Bakkaar ini dhaif dan tidak bisa dikuatkan oleh riwayat A’masy begitu pula sebaliknya.

    Riwayat Bakr dapat dijadikan qarinah untuk menghilangkan tadlisnya A’masy akibat jalur tersebut diluar jalur A’masy, dan riwayat A’masy dapat dijadikan qarinah memausulkan riwayat Bakr yang tidak menyebutkan Abdullah bin Sabu’.

    Ini ucapan yang sangat ngawur tetapi anehnya orang yang mengucapkan ini sok mengatakan orang lain melakukan kesalahan fatal. Riwayat Bakr itu dhaif mana bisa dijadikan qarinah apalagi dijadikan qarinah menghilangkan tadlis A’masy. Tadlis A’masy tidak akan hilang dengan qarinah riwayat Bakr, yang namanya tadlis itu hilang jika dalam riwayat lain si perawi dalam hal ini A’masy meriwayatkan dengan lafaz sima’ yang sharih. Atau bisa juga tadlis A’masy ini statusnya hilang sebagai illat [cacat] riwayat tersebut jika A’masy memiliki mutaba’ah dari perawi tsiqat dalam periwayatannya dari Salim atau dari Salamah.

    Setelah kita ketahui bahwa riwayat A’masy tidak idhthirab, dan telah hilang tadlisnya A’masy, maka telah sah bahwa Salim meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu (lihat riwayat A’masy bersama dengan riwayat Bakr)

    Riwayat A’masy diatas terbukti idhthirab dan tadlis A’masy tidaklah hilang. Semua ocehan orang ini hanya waham khayalnya semata tanpa ada bukti ilmiah. Tidak tsabit bahwa Salim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’ karena sanadnya mengandung ‘an anah A’masy dan kedudukannya dhaif. Lihat baik-baik cara berpikirnya yang tidak karuan

    Orang ini berhujjah dengan riwayat Bakr untuk menghilangkan tadlis A’masy padahal riwayat Bakr sendiri sanadnya dhaif sampai Salim bin Abil Ja’d kemudian dengan riwayat A’masy ia malah menambal cacat riwayat Bakr bahwa antara Salim dan Aliy harus ada ‘Abdullah bin Sabu’ padahal riwayat A’masy sendiri dhaif sanadnya sampai Salim karena tadlis A’masy. Inilah namanya akal-akalan kalau mau menjadikan riwayat yang satu sebagai penambal cacat riwayat lain ya setidaknya salah satu riwayat sanadnya harus tsabit sampai Salim bin Abil Ja’d. Faktanya kedua riwayat tersebut tidak tsabit sanadnya sampai Salim bin Abil Ja’d. Jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa Salim memang tsabit meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’.

    Justru pada hakikatnya disini riwayat Bakr itu berselisih dengan riwayat A’masy karena riwayat Bakr tidak menyebutkan Abdullah bin Sabu’ sedangkan riwayat A’masy menyebutkannya. Perhatikanlah, kalau ia mau membuktikan Salim memang tsabit meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’ maka yang harus ia bawakan sebagai penguat riwayat A’masy adalah riwayat Bakr yang menyebutkan Abdullah bin Sabu’ tetapi faktanya riwayat Bakr tidak menyebutkan nama ‘Abdullah bin Sabu’. Riwayat yang menyebutkan nama Abdullah bin Sabu’ hanya muncul dari riwayat A’masy saja.

    Riwayat penguat tidak harus shahih, dan tidak benar kalau riwayat Tsa’labah merupakan riwayat yang idhthirab, hanya saja lemah karena mudallis, akan tetapi ketika diiringi dengan riwayat dari Waqi’ atau Abdullah bin Dawud maka riwayat tersebut menjadi KUAT, menambah keyakinan kita akan kebenaran peristiwa tersebut. Menambah keyakinan kita bahwa benar Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’

    Riwayat penguat memang tidak harus shahih tetapi tergantung lafaz mana yang dijadikan penguat dan lafaz mana yang dijadikan hujjah. Orang ini mengatakan Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini adalah hujjah. Yang namanya hujjah harus tegak dengan riwayat shahih sanadnya sampai Tsa’labah kalau tidak bisa dengan riwayat shahih maka boleh dengan riwayat-riwayat yang mengandung kelemahan tetapi saling menguatkan.

    Sekarang pertanyaannya adakah riwayat dimana Tsa’labah mengenal ‘Abdullah bin Sabu’?. Ada tetapi riwayat ini tidak tsabit sanadnya hingga Tsa’labah jadi kedudukannya dhaif. Kalau riwayat dhaif ini mau dicarikan penguat ya silakan tinggal bawakan saja riwayat dhaif lain dengan kelemahan yang ringan dimana menunjukkan Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’. Setelah itu baru kita lihat apakah riwayat tersebut dapat menguatkan riwayat Tsa’labah yang lemah sebelumnya. Beginilah caranya menegakkan hujjah, bukannya sembarangan ala orang ini.

    Adapun riwayat Waqi’ dan riwayat Abdullah bin Dawud yang disebutkan orang itu tidak ada dalam matannya Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’ jadi ya tidak ada gunanya. Orang ini hujjahnya berputar-putar tidak karuan, awalnya riwayat Waqi’ dan Abdullah bin Dawud itu lemah dan salah satu penyebab lemahnya adalah majhulnya Abdullah bin Sabu’. Nah orang ini membantah Abdullah bin Sabu’ majhul ‘ain dengan alasan Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’. Ketika ditunjukkan riwayat Tsa’labah itu dhaif eh orang ini malah mengatakan dikuatkan oleh riwayat Waqi’ dan Abdullah bin Dawud yang lemah sebelumnya. Muter-muter saja terus

    Setelah kita tahu tsabitnya Salim menerima dari Abdullah bin Sabu, dan “hasan” nya peristiwa Tsa’labah, maka pendapat majhulnya Abdullah bin Sabu perlu dikoreksi kembali.

    Salim tidaklah tsabit meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’ karena riwayat yang menyebutkan hal itu hanya berasal dari riwayat A’masy secara tafarrud dan ia menyebutkan dengan lafaz ‘an anah. Riwayat Bakr mana bisa dijadikan penguat karena memang riwayat tersebut tidak menyebutkan sanad Abdullah bin Sabu’.

    Peristiwa Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’ tidaklah tsabit. Bagaimana bisa orang ini mengatakan “hasan”?. Padahal terbukti riwayat tersebut dhaif karena tadlis A’masy dan tadlis Habiib bin Abi Tsabit. Seenaknya saja mengatakan hasan. Sok mengatakan orang lain melakukan kesalahan fatal padahal dirinyalah yang sebenarnya melakukan kesalahan fatal. Orang ini tidak tahu caranya berhujjah tetapi menggebu-gebu dalam membantah.

    Penghukuman Maqbul dari Ibnu Hajar bukan hanya dikarenakan, hanya Salim saja yang meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu’, akan tetapi ada juga jalur Salamah, ada juga jalur riwayat Nasa’i, akan tetapi beliau tidak yakin akan mahfudznya jalur tersebut, sehingga beliau memilih status maqbul sampai ditemukan mutaba’ahnya.

    Penghukuman maqbul tersebut keliru. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Bashar Awad Ma’ruf telah mengkoreksi Ibnu Hajar bahwa yang benar Abdullah bin Sabu’ itu majhul. Pendapat mereka inilah yang benar karena memiliki hujjah yang kuat bahwa Abdullah bin Sabu’ hanya muncul dalam riwayat A’masy yang berselisih sanad-sanadnya dan tidak shahih. Kalau orang itu mau taklid kepada Ibnu Hajar ya silakan sedangkan saya lebih berpegang pada kaidah ilmiah dan disini kaidah ilmiah bersama para ulama yang mengkoreksi Ibnu Hajar.

    Adapun perkataan Syaikh Muqbil tentang tautsiq Ibnu Hibban maka orang tersebut telah keliru dalam memahami maksudnya. Di sisi Syaikh Muqbil tautsiq Ibnu Hibban secara tafarrud tidaklah mu’tamad sehingga tautsiq Ibnu Hibban secara jelas pada para perawi dalam Ats Tsiqat tidak langsung diterima oleh Syaikh Muqbil. Hal ini berbeda dengan manhaj Al Mu’allimiy yang menerima tautsiq Ibnu Hibban secara sharih [jelas].

    Tautsiq Ibnu Hibban1

    Soal 32 : berkaitan dengan tautsiq Al Ijliy, Syaikh Al Albaniy hafizhahullahu ta’ala telah menyebutkan bahwa Al Ijliy dan Al Hakim keduanya tasahul dalam tautsiq tetapi aku mendapati Ibnu Hajar jika dalam biografi perawi tidak ada selain perkataan Al Ijliy “orang kufah yang tsiqat” atau “tabiin madinah yang tsiqat” maka Al Hafizh dalam At Taqriib berkata “tsiqat” jadi dalam hal apa tasahulnya Al Ijliy?.

    Jawaban [Syaikh Muqbil] : sesungguhnya hal itu dikenal dengan penelitian terhadap tafarrudnya [Al Ijliy] bersama Ibnu Hibbaan dalam mentautsiq sebagian perawi yang tidak ditsiqatkan selain oleh mereka berdua. Maka hal ini diketahui berdasarkan penelitian karena jika tidak begitu maka aku tidak mengetahui ucapan seorangpun hafizh dalam hal ini. Dan perawi yang tidak ditsiqatkan kecuali oleh Al Ijliy atau yang ditsiqatkan oleh salah satu dari keduanya [Al Ijli atau Ibnu Hibban] atau ditsiqatkan oleh keduanya maka terkadang perawi tersebut tidak dihukumi shaduq namun baik dalam hal syawahid dan mutaba’ah dan sesungguhnya Al Ijli lebih mu’tabar dibanding Ibnu Hibban tetapi dalam perkara ini [tasahul] keduanya sama [Al Muqtarah Fii Ajwibat Ba’dhu As’ilatul Musthalah hal 46-47 soal 32]

    Orang itu telah salah memahami perkataan Syaikh Muqbil. Ia pikir hal itu berlaku untuk semua perawi yang dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat padahal maksud Syaikh Muqbil adalah perawi yang dinyatakan dengan jelas tautsiqnya oleh Ibnu Hibban. Lafaz yang dijadikan hujjah oleh orang itu adalah

    والذى لا يوثقه إلا العجلي، والذي يوثقه أحدهما أو كلاهما، فقد لا يكون بمنْزلة صدوق، ويصلح في الشواهد والمتابعات

    Dan perawi yang tidak ditsiqatkan kecuali oleh Al Ijliy atau yang ditsiqatkan oleh salah satu dari keduanya [Al Ijli atau Ibnu Hibban] atau ditsiqatkan oleh keduanya maka terkadang perawi tersebut tidak dihukumi shaduq namun baik dalam hal syawahid dan mutaba’ah

    Sangat jelas bahwa maksud dari lafaz tersebut adalah perawi yang dinyatakan dengan jelas oleh Al Ijliy dan Ibnu Hibban dengan lafaz tautsiq bukan tertuju pada semua perawi dalam kitab Ats Tsiqat. Hal ini akan lebih nampak ketika Syaikh Muqbil ditanya langsung tentang tautsiq Ibnu Hibban

    Tautsiq Ibnu Hibban2

    Soal 34 : Ibnu Hibbaan dikenal bahwasanya ia sering mentautsiq para perawi majhul maka jika seorang perawi bukan majhul dan telah meriwayatkan darinya lebih dari seorang, dan Ibnu Hibbaan berkata tentang perawi ini “mustaqiim al hadiits” atau ia berkata “perawi ini tsiqat” apakah tawaqquf atas tautsiqnya atau menerimanya?.

    Jawaban [Syaikh Muqbil] : Sebagian ahli ilmu sebagaimana dalam kitab At Tankiil Bimaa Fii Ta’niib Al Kautsariy Min Al Abathiil termasuk yang berkata tentangnya bahwa hal itu diterima, dan ini adalah pendapat yang dipilih Al Mu’allimiy. Adapun lafaz “tsiqat” maka dalam kebanyakan kasus telah dikenal bahwa ia tasahul jadi hendaknya bertawaqquf atasnya karena telah dikenal bahwa ia [Ibnu Hibban] tasahul dalam mentautsiq para perawi majhul. Jika ia mentautsiq perawi yang bukan majhul maka tautsiqnya diterima adapun para perawi majhul maka ia telah dikenal tasahul dalam hal ini [Al Muqtarah Fii Ajwibat Ba’dhu As’ilatul Musthalah hal 47-48 soal 34]

    Manhaj Syaikh Muqbil dalam hal tautsiq Ibnu Hibban ini lebih ketat dari Manhaj Al Mu’allimi dan Syaikh Al Albani dimana keduanya menerima tautsiq Ibnu Hibban dengan lafaz sharih [jelas]. Adapun Syaikh Muqbil tawaqquf atas perawi yang hanya ditautsiq oleh Ibnu Hibban dengan lafaz sharih seperti lafaz tsiqat dan mustaqiim al hadiits dimana tidak ada ulama lain yang mentautsiqnya. Syaikh Muqbil tidak menetapkan perawi ini sebagai perawi shaduq tetapi perawi tersebut dapat dijadikan syawahid dan mutaba’ah.

    Dalam kasus Abdullah bin Sabu’, Ibnu Hibban tidak menyebutkan lafaz tautsiq terhadapnya dalam kitab Ats Tsiqat dan hakikatnya perawi ini adalah majhul ‘ain. Jadi gak nyambung sekali orang ini berhujjah dengan perkataan Syaikh Muqbil tersebut

    Syaikh Ahmad Syakir dan Al Hatsami menyatakan Abdullah bin Sabu tsiqat (musnad Ahmad hadits no. 1078).Syaikh Ahmad Syakir dan Al Hatsami menyatakan Abdullah bin Sabu tsiqat (musnad Ahmad hadits no. 1078).

    Syaikh Ahmad Syakir dan Al Haitsamiy telah dikenal bahwa manhaj mereka adalah menerima secara mutlak tautsiq Ibnu Hibban yaitu mereka menganggap tsiqat semua perawi yang disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan hal ini sudah terbukti keliru di kalangan ahli hadis. Silakan saja kalau orang ini mau berpegang pada kekeliruan ulama tersebut

  2. Ilmu anda ketinggian, sehingga sulit membedakan idhthirab yang bisa didudukkan dengan idhthirab yang tidak. Tolong jelaskan dimanakah letak idhthirabnya 2 jalur riwayat A.masy diatas.

  3. secara tersirat anda mengakui ke-tidak idhthirab-an riwayat A’masy dengan kata-kata anda :

    “Riwayat A’masy diatas memang mudhtharib, bahkan dengan metode tarjih yang ketat telah ditunjukkan bahwa riwayat A’masy tetap mudhtharib. SEANDAINYAPUN RIWAYAT A’MASY TIDAK MUDHTHARIB MAKA RIWAYAT TERSEBUT TETAP SAJA LEMAH. Dua jalur yang orang itu sebutkan tetap dhaif kedudukannya dan tidak saling menguatkan.”

    Perhatikan kalimat yang berhuruf besar diatas baik-baik.

  4. ketinggian ilmu saudara menyebabkan tertutupnya pengetahuan saudara akan perbedaan jalur idhthirab dengan tadlis.

    benar riwayat A’masy berstatus lemah karena tadlisnya A’masy, akan tetapi TIDAK BENAR bahwa riwayat A’masy tersebut mudhtharib.

  5. @abu azifah

    Ilmu anda ketinggian, sehingga sulit membedakan idhthirab yang bisa didudukkan dengan idhthirab yang tidak. Tolong jelaskan dimanakah letak idhthirabnya 2 jalur riwayat A.masy diatas.

    Lho saya hanya mengikuti ulah anda yang akhirnya hanya menerima dua jalur riwayat A’masy. Walaupun hanya tersisa dua jalur ya tetap bisa dikatakan idhthirab. Contohnya sudah sangat jelas bung, saya bawakan ulama seperti Daruquthniy yang menyatakan bahwa perbedaan dua jalur yang semisal dikatakan idhthirab. Jadi anda ngapain sok nanya dimana letak idhthirab. lebih baik anda baca ulumul hadis bagian idhthirab supaya anda paham bahwa perbedaan dua jalur seperti itu memang bisa dikatakan idhthirab.

    Dan sebenarnya disisi saya riwayat yang sanadnya tsabit tanpa ada kelemahan sampai A’masy ada tiga jalur seperti yang sudah saya sebutkan dan itu memang idhthirab. Masalahnya kan anda seenaknya menolak kalau riwayat Tsa’labah bukan bagian dari idhthirabnya A’masy

    secara tersirat anda mengakui ke-tidak idhthirab-an riwayat A’masy dengan kata-kata anda :
    “Riwayat A’masy diatas memang mudhtharib, bahkan dengan metode tarjih yang ketat telah ditunjukkan bahwa riwayat A’masy tetap mudhtharib. SEANDAINYAPUN RIWAYAT A’MASY TIDAK MUDHTHARIB MAKA RIWAYAT TERSEBUT TETAP SAJA LEMAH. Dua jalur yang orang itu sebutkan tetap dhaif kedudukannya dan tidak saling menguatkan.”
    Perhatikan kalimat yang berhuruf besar diatas baik-baik.

    Maaf sudah kehabisan hujjah ya bung. Sepertinya anda ini jarang sekali berdiskusi dengan orang lain. Apa yang saya katakan itu termasuk membantah dengan detail sampai ke perandaian seandainya anda bebal dan bersikeras menganggap itu bukan idhthitrab. Kenyataannya kan watak anda memang begitu dari kemarin-kemarin. Di sisi saya sudah jelas itu idhthirab, cuma anda saja yang sok menyalahkan orang lain padahal hakikatnya andalah yang salah

    ketinggian ilmu saudara menyebabkan tertutupnya pengetahuan saudara akan perbedaan jalur idhthirab dengan tadlis.
    benar riwayat A’masy berstatus lemah karena tadlisnya A’masy, akan tetapi TIDAK BENAR bahwa riwayat A’masy tersebut mudhtharib.

    Maaf bagi saya komentar anda ini cuma mau nyampah saja. Coba cek dalam tulisan anda sendiri ketika membahas dua jalur tersebut. Adakah anda bilang itu adalah tadlis?. Anda malah seenaknya bilang kalau A’masy menerima riwayat itu dari Salamah dan juga dari Salim. Sekarang setelah kepepet keluar jurus lain. Adapun di sisi saya memang ketiga riwayat A’masy itu lemah karena tadlis tetapi ia juga lemah karena idhthirab.

  6. Sebenarnya seluruh diskusi saya sama dengan anda, saya sampaikan kepada anda berbagai alternatife pemahaman yang mungkin terjadi, tapi ketika satu telunjuk menuding orang lain, maka empat telunjuk mengarah kepada dirinya sendiri (bebal).

    Jalur A’masy dari Salim terdapat dalam shahih Bukhari, bab mandi no. 249.

    Jalur A’masy dari Salamah terdapat dalan shahih Bukhari bab orang yang wafat meninggalkan hutang puasa no. 1817

    Sehingga dipastikan bahwa A’masy menerima dari Salim dan Salamah, yang berarti A’masy tidak idhthirab antara Salim atau Salamah, akan tetapi A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Tentang mengatakan A’masy dari Habib idhthirab, sungguh ini kebodohan yang nyata.

  7. @abu azifah

    Sebenarnya seluruh diskusi saya sama dengan anda, saya sampaikan kepada anda berbagai alternatife pemahaman yang mungkin terjadi, tapi ketika satu telunjuk menuding orang lain, maka empat telunjuk mengarah kepada dirinya sendiri (bebal).

    Maaf saya rasa anda tidak mengerti apa artinya kebenaran. Dalam diskusi ini tidak butuh kok sekedar alternatif pemahaman karena semua orang akan punya ribuan alternatif di kepalanya masing-masing. Hal yang paling penting dalam diskusi adalah kebenaran hujjah alternatif pemahaman yang anda maksudkan itu. Untuk itulah perkara penting dalam penilaian hujjah adalah kaidah ilmu, yang mohon maaf hal inilah yang tidak tampak di dalam diri anda.

    Jalur A’masy dari Salim terdapat dalam shahih Bukhari, bab mandi no. 249.
    Jalur A’masy dari Salamah terdapat dalan shahih Bukhari bab orang yang wafat meninggalkan hutang puasa no. 1817
    Sehingga dipastikan bahwa A’masy menerima dari Salim dan Salamah, yang berarti A’masy tidak idhthirab antara Salim atau Salamah, akan tetapi A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Coba lihatlah, maaf hanya orang yang tidak paham kaidah ilmu dan tidak paham hujjah orang lain yang akan mengucapkan kalimat di atas. Tidak ada gunanya anda membawakan riwayat Bahwa A’masy pernah menerima hadis dari Salim dan Salamah. Itu sudah dikenal ma’ruf. Bahkan ketika saya mengatakan bahwa bisa saja A’masy melakukan tadlis dari Salim dan Salamah maka secara kaidah ilmu saya sudah mengakui bahwa A’masy pernah menerima hadis dari Salamah dan dari Salim. Karena dalam ilmu hadis “tadlis” itu berlaku untuk perawi yang memang sudah pernah bertemu dengan perawi di atasnya. Kalau anda memang paham apa itu “tadlis” maka anda tidak akan tuh membawakan bukti yang sangat tidak perlu diatas.

    Hujjah saya kan sudah saya bawakan, riwayat A’masy dari Salamah dan Salim tentang riwayat yang kita bahas diatas itu tidak tsabit karena A’masy meriwayatkan dengan lafaz ‘an anah sehingga tidak selamat dari cacat tadlis. Sedangkan anda berhujjah bahwa A’masy menerima riwayat ini dari Salim dan juga dari Salamah. Sesuai kaidah ilmu hujjah ini lemah karena lafaz ‘an anah A’masy tidak selamat dari cacat tadlis A’masy. Karena kalau cuma lafaz ‘an anah bisa saja dengan mudah dikatakan bahwa riwayat itu berasal dari tadlis A’masy dan konsekuensinya tidak mungkin dikatakan A’masy menerima dari Salim dan juga dari Salamah. Apakah hal sederhana seperti ini anda tidak paham. Kalau anda ingin mengatakan A’masy menerima riwayat itu dari Salim dan dari Salamah maka silakan bawakan buktinya yaitu lafaz tasrih sima’ A’masy dari Salim dan Salamah dalam hadis ini. Kalau tidak ada dan saya yakin anda tidak akan menemukan bukti tersebut maka hujjah anda itu tidak ada nilainya secara ilmiah. Itu saja bung.

    Tentang mengatakan A’masy dari Habib idhthirab, sungguh ini kebodohan yang nyata.

    Maaf lisan anda itu berbanding terbalik dengan isi kepala anda. Anda terlalu banyak berbicara tetapi miskin kaidah ilmu. Silakan anda pahami apa pengertian idhthirab dalam ilmu hadis baru anda cuap-cuap soal kebodohan yang nyata. Saya yakin anda tidak pernah membaca kitab Al Ilal Daruquthniy karena kalau anda rajin membaca maka contoh seperti ini banyak dalam kitab tersebut. Toh Daruquthniy sendiri memasukkan riwayat A’masy dari Habiib tersebut sebagai bagian dari perselisihan sanad A’masy. Jadi siapa yang bodoh disini.

  8. Nah disinilah letak pencampuradukan pemahaman anda antara mudhtharib dengan tadlis.

    Terkesan dalam tulisan anda bahwa jalur A’masy maupun jalur Tsa’labah mengalami idhthirab dengan sebab ‘an’anah A’masy, padahal dua hal tersebut (yaitu antara idhthirab dengan tadlis) berbeda.

    Jalur A’masy dari Habib dari Tsa’labah dengan jalur A’masy dari Salim/Salamah dikatakan idhthirab dimana letak idhthirabnya mas ?

    Kalau idhthirab dikarenakan riwayat Adz Dzahabi (tarikh Islam) dan Ibnu Abdil Barr (Al Isti’ab) maka ini baru logis, tapi kalau idhthirab karena dibandingkan dengan jalur A’masy dari Salim/Salamah, maaf maka ini merupakan kebodohan.

    Kalau anda sudah mengakui bahwa jalur A’masy dari Salim/Salamah tidak idhthirab dan hanya lemah dikarenakan ‘an ‘anah nya A’masy, maka kita akan urai persoalan yang kedua, yaitu tentang tadlis A’masy.

  9. Saya tekankan sekali lagi, kalau anda tetap memudhtharibkan jalur A’masy dari Salim/Salamah, maka ini kesalahan fatal anda.

    Kalau anda mengatakan bahwa jalur A’masy dari Salim/Salamah ini lemah karena tadlis A’masy, maka ini benar.

    Kalau anda salahkan saya karena ucapan saya tentang hilangnya tadlis A’masy dikarenakan riwayat Bakr, maka yang saya maksud adalah bahwa riwayat A’masy bisa menjadi kuat karena riwayat Bakr walaupun ‘an’anah.

    Dan menurut keterangan anda pula bahwa manhaj Ibnu Asakir adalah menjadikan riwayat A’masy sebagai penambal keterputusan riwayat Bakr, sehingga riwayat Bakr menjadi maushul, walupun dalam sanadnya terdapat Bakr dan Hakim.

    Oleh karena itu riwayat ‘an’anah A’masy dengan riwayat bakr saling kuat menguatkan, memberi faedah akan benarnya peristiwa tersebut.

  10. Mengenai Bakr ditsiqatkan oleh An Nabil, Asyhal dan Ibnu Hibban.

    Perhatikan jarh para ulama dibawah ini :

    Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya” ini jarh yang mujmal..

    Nasa’i terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat” ini jarh yang mujmal.

    Abu Hatim berkata “tidak kuat”.ini jarh yang mujmal.

    Al Uqailiy, Ibnu Jaruud dan As Saajiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [At Tahdzib juz 1 no 882], ini jarh yang mujmal.

    Ibnu Abi Hatim berkata “dhaif al hadits, buruk hafalannya dan mengalami ikhtilath, inilah jarh yang mufassar.

    Sebagai pencuri hadits, ini akibat buruk hafalannya.

    So…Bakr adalah perawi yang buruk hafalannya bersama dengan ke-tsiqatannya.

  11. Mengenai Hakim, ia seorang yang shaduq menurut Abu Zur’ah.

    Ahmad berkata “dhaif al hadits mudhtharib”, akibat pernah meriwayatkan hadits yang mungkar.

    Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, ini jarh yang mujmal

    Yaqub bin Syaibah berkata “dhaif al hadits”. jarh yang mujmal

    Abu Hatim berkata “dhaif al hadits mungkar al hadits”, ini jarh yang mufasar

    Nasa’i berkata “tidak kuat”, jarh yang mujmal

    Daruquthni berkata “matruk”, akibat meriwayatkan hadits yang mungkar

    Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya” [At Tahdzib juz 2 no 773] jarh yang mujmal.

    So…Hakim seorang yang pernah meriwayatkan hadits yang mungkar bersama dengan ke-shaduq-annya.

  12. Setelah anda lihat “hasannya” peristiwa khotbah dan tanya jawab dari Ali kepada pengikutnya, maka riwayat diatas (riwayat Bakr dan A’masy dari Salim/Salamah) dapat menguatkan dan memberi faedah yakin akan benarnya peristiwa Tsa’labah.

  13. Kesalahan fatal anda yang kedua : tidak mau menjadikan riwayat Bakr dan A’masy saling kuat menguatkan.

    Ini dikarenakan anda bercampur aduk dalam memahami idhthirab dengan ‘an’anah.

    Riwayat ‘an’anah dapat dijadikan sebagai penguat dari riwayat perawi yang bermasalah dalam kedhabitan. Bukan begitukan mas ?

    Inilah yang dilakukan oleh Imam Ibnu Asakir dalam menambal keterputusan Salim dengan Ali melalui jalur A’masy.

    Dan inilah pula yang dilakukan oleh Ustadz Abul Jauza untuk menaikkan status tadlisnya A’masy dengan riwayat Bakr dimana riwayat ini diluar jalur sanad A’masy yang bercacat ‘an’anah tadi.

  14. @abu azifah

    Nah disinilah letak pencampuradukan pemahaman anda antara mudhtharib dengan tadlis.
    Terkesan dalam tulisan anda bahwa jalur A’masy maupun jalur Tsa’labah mengalami idhthirab dengan sebab ‘an’anah A’masy, padahal dua hal tersebut (yaitu antara idhthirab dengan tadlis) berbeda.
    Jalur A’masy dari Habib dari Tsa’labah dengan jalur A’masy dari Salim/Salamah dikatakan idhthirab dimana letak idhthirabnya mas ?

    Maaf saya tidak mencampuradukkan antara mudhtharib dan tadlis. Andalah yang sebenarnya tidak memahami perkataan atau hujjah saya. Ternyata akar masalah rusaknya diri anda tidak hanya pada miskinnya kaidah ilmu tetapi akal anda juga tidak mampu memahami kalimat orang lain. Jadi saya maklum kalau sebenarnya apa yang anda baca dari suatu ilmu tidak anda pahami karena ada yang rusak dari akal anda untuk memahami. Maka sangat wajar kalau saya melihat bahwa anda tidak paham apa itu tadlis taswiyah, tadlis syuyukh, tidak paham makna tadlis [sebagaimana yang saya singgung dalam komentar sebelumnya] dan tidak paham apa itu idhthirab.

    Dalam Ulumul hadis, yang dinamakan hadis mudhtharib atau adanya idhthirab adalah jika dalam suatu hadis terjadi perselisihan antara sanad-sanadnya dalam arti terkadang perawi meriwayatkan dengan suatu sanad kemudian di saat lain perawi tersebut meriwayatkan dengan sanad yang lain, dimana perselisihan ini tidak bisa ditarjih.

    Kembali pada hadis A’masy di atas. Saya sudah berulang kali menjelaskan bahwa perselisihan sanad A’masy di atas adalah sebagai berikut

    A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Habib bin Abi Tsabit—Tsa’labah bin Yaziid—Aliy

    Riwayat dari Imam Aliy di atas diriwayatkan oleh A’masy dan terdapat perselisihan sanad-sanadnya dimana perselisihan itu berasal dari A’masy. Perselisihan ini tidak bisa ditarjih secara ilmiah maka riwayat tersebut dinyatakan idhthirab dan sumber idhthirabnya adalah Al A’masy. Sederhana sekali bagi orang yang memang berniat mencari kebenaran.

    Tetapi bagi orang yang dipenuhi kesombongan dan kejahilan, setelah dijelaskan berulang-ulang, ia tetap bertanya dimana letak idhthirab-nya?. Bahkan orang itu menuduh mencampuradukkan mudhtharib dan tadlis.

    Adapun soal tadlis, itu adalah hal lain dan memang menambah kelemahan bagi masing-masing riwayat A’masy tersebut karena dalam ketiga riwayat itu, A’masy meriwayatkan dengan lafaz ‘an anah jadi tidak selamat dari cacat tadlis. Maka kelemahan riwayat A’masy ada dua yaitu mudhtharib dan tadlis.

    Saya sederhanakan lagi seandainya riwayat A’masy ini hanya ada satu yaitu A’masy dari Habib dari Tsa’labah dari Aliy maka kelemahannya cuma tadlis saja. Tidak mungkin saya katakan idhthirab karena memang tidak ada perselisihan dalam sanad A’masy. Tetapi faktanya disini terdapat perselisihan dalam riwayat A’masy sebagaimana saya sebutkan sebelumnya jadi berlakulah idhthirab.

    Kalau idhthirab dikarenakan riwayat Adz Dzahabi (tarikh Islam) dan Ibnu Abdil Barr (Al Isti’ab) maka ini baru logis, tapi kalau idhthirab karena dibandingkan dengan jalur A’masy dari Salim/Salamah, maaf maka ini merupakan kebodohan.

    Saya heran dengan orang yang bersemangat menuduh orang lain dengan kebodohan padahal hakikatnya justru dirinya yang penuh kebodohan. Kan sudah saya persilakan anda membaca kitab Al Ilal Daruquthniy, maka anda akan temukan contoh-contoh hadis mudhtharib yang mirip dengan kasus di atas. Ini saya bawakan contohnya

    وسئل عن حديث سلمان عن أبي بكر الصديق عن النبي صلى الله عليه وسلم في علامات المنافق فقال هو حديث يرويه علي بن عبد الأعلى الثعلبي واختلف عنه فرواه حكام بن سلم عن علي بن عبد الأعلى عن أبي نعمان عن أبي وقاص عن سلمان ورواه إبراهيم بن طهمان عن علي بن عبد الأعلى فأسنده عن زيد بن أرقم عن النبي صلى الله عليه وسلم وأبو النعمان مجهول وعلي بن عبد الأعلى ليس بالقوي والحديث مضطرب غير ثابت وقيل إن أبا النعمان هو الحارث بن حصيرة والله أعلم

    Dan Daruquthniy ditanya tentang hadis Salman dari Abu Bakar Ash Shiddiiq dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang tanda-tanda orang munafik. Maka Daruquthniy berkata “itu adalah hadis yang diriwayatkan ‘Aliy bin ‘Abdul A’laa Ats Tsa’labiy dan terdapat perselisihan atasnya. Diriwayatkan Hakkaam bin Salm dari ‘Aliy bin Abdul A’laa dari Abi Nu’maan dari Abi Waqqaash dari Salman dan diriwayatkan Ibrahiim bin Thahmaan dari ‘Aliy bin Abdul A’la maka ia menjadikan sanadnya dari Zaid bin Arqam dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Abu Nu’man majhul dan ‘Aliy bin Abdul A’laa tidak kuat, dan hadis ini mudhtharib tidak tsabit, dikatakan bahwa Abu Nu’maan adalah Harits bin Hashiirah, wallahu a’lam [Al Ilal Daruquthniy no 11]

    Silakan perhatikan hadis yang disebutkan Daruquthniy di atas di sisi Daruquthniy memiliki dua sanad yaitu

    Aliy bin ‘Abdul A’laa dari Abi Nu’maan dari Abi Waqqaash dari Salman dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]
    Aliy bin ‘Abdul A’laa dari Zaid bin ‘Arqam dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

    Kedua sanad di atas terjadi perselisihan yang bersumber dari Aliy bin Abdul A’laa dan tidak bisa ditarjih salah satunya makanya Daruquthniy menyatakan hadis tersebut mudhtharib. Sederhananya sanad dari Aliy bin Abdul A’la sampai ke Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] itu telah berselisih [menurut Daruquthniy] makanya Daruquthniy menyatakan mudhtharib.

    Silakan perhatikan kembali riwayat A’masy dengan sanad sampai ke Imam Aliy di atas. Bukankah telah terjadi perselisihan sanad-sanadnya sampai ke Imam Aliy. Terkadang A’masy meriwayatkan dari Salim dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Terkadang A’masy meriwayatkan dari Salamah dari Salim dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Terkadang A’masy meriwayatkan dari A’masy dari Habiib dari Tsa’labah dari Aliy. Jadi ya wajar dikatakan idhthirab.

    Seandainya setelah saya jelaskan panjang lebar di atas dengan membawakan contoh ulama seperti Daruquthniy kemudian anda masih sok bertanya dimana letak idhthirab-nya maka saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa anehnya diri anda.

    Kalau anda sudah mengakui bahwa jalur A’masy dari Salim/Salamah tidak idhthirab dan hanya lemah dikarenakan ‘an ‘anah nya A’masy, maka kita akan urai persoalan yang kedua, yaitu tentang tadlis A’masy.

    Saya maklum kalau akal anda rusak, sehingga tidak memperhatikan hujjah orang lain tetapi hanya sibuk dengan waham khayal anda sendiri. Sampai kapan anda akan dibodohi oleh diri anda sendiri. Saya tidak punya masalah dengan orang awam atau orang bodoh karena saya juga merasa diri saya awam dan bodoh tetapi saya sangat bermasalah dengan orang yang setelah ditunjukkan kebodohannya tetapi masih bersikeras sok pintar dan menuduh orang lain bodoh. Tidak ada obat untuk penyakit seperti ini kecuali doa kepada Allah SWT agar minta segera disembuhkan.

    Saya tekankan sekali lagi, kalau anda tetap memudhtharibkan jalur A’masy dari Salim/Salamah, maka ini kesalahan fatal anda.
    Kalau anda mengatakan bahwa jalur A’masy dari Salim/Salamah ini lemah karena tadlis A’masy, maka ini benar.

    Siapapun bisa sok mengatakan orang lain melakukan kesalahan fatal. Bahkan orang idiotpun bisa berkata begitu. Maka dari itu kalau sekedar tuduhan ya tidak ada nilainya disini. Kalau anda mengatakan saya melakukan kesalahan fatal maka silakan buktikan dan tunjukkan dimana letak kesalahan fatal yang anda maksud. Saya sudah bawakan bukti atau contoh kasus seperti riwayat A’masy di atas adalah mudhtharib sebagaimana saya bawakan contoh dari Daruquthniy. Apa ada bantahan anda?. Tidak ada kan, anda cuma berlagak bilang kesalahan fatal tetapi tidak ada buktinya.

    Kalau anda salahkan saya karena ucapan saya tentang hilangnya tadlis A’masy dikarenakan riwayat Bakr, maka yang saya maksud adalah bahwa riwayat A’masy bisa menjadi kuat karena riwayat Bakr walaupun ‘an’anah.

    Lha itu juga sudah saya salahkan, riwayat A’masy tidak akan menjadi kuat dengan riwayat Bakr. Anda mau jungkir balik gimana ya tetap saja riwayat Bakr dan riwayat A’masy sampai ke Imam Aliy sama-sama dhaif dan tidak saling menguatkan.

    Riwayat A’masy dhaif mudhtharib dan seandainya anda menolak mudhtharib ini ya tetap saja dhaif karena tadlis A’masy dan Abdullah bin Sabu’ majhul ‘ain. Kedhaifan seperti ini tidak bisa dijadikan i’tibar.

    Riwayat Bakr itu dhaif karena Bakr bin Bakkaar dhaif [menurut pendapat yang rajih] dan Hakim bin Jubair [dhaif dapat dijadikan i’tibar]. Ditambah lagi sanadnya Salim dari Aliy mursal sebagaimana dikatakan Abu Zur’ah. Riwayat seperti ini dhaif dan tidak bisa dijadikan i’tibar.

    Dan menurut keterangan anda pula bahwa manhaj Ibnu Asakir adalah menjadikan riwayat A’masy sebagai penambal keterputusan riwayat Bakr, sehingga riwayat Bakr menjadi maushul, walupun dalam sanadnya terdapat Bakr dan Hakim.

    Ya itulah yang dilakukan Ibnu Asakir dan di sisi saya itu sudah sangat jelas keliru karena riwayat A’masy itu mudhtharib jadi tidak tsabit sanadnya sampai Salim. Seandainya pun anda menolak mudhtharib itu ya tetap saja tidak tsabit karena tadlis A’masy. Kalau seandainya A’masy meriwayatkan hadis ini dari perawi dhaif dari Salim maka apa yang dilakukan Ibnu Asakir itu jelas keliru. Bagaimana bisa menambal cacat munqathi’ antara Salim dan Aliy dengan riwayat yang bersumber dari perawi dhaif.

    Oleh karena itu riwayat ‘an’anah A’masy dengan riwayat bakr saling kuat menguatkan, memberi faedah akan benarnya peristiwa tersebut.

    Seperti yang sudah saya jelaskan di atas ucapan anda tidak ada gunanya karena tidak terbukti secara ilmiah. Pada sisi mana riwayat-riwayat itu saling menguatkan?. Percayalah bung kalau saya menuruti cara atau logika anda yang menganggap riwayat-riwayat dhaif di atas itu saling menguatkan maka akan banyak sekali riwayat keutamaan Ahlul Bait yang dinilai dhaif oleh para ulama akan menjadi kuat. Dan yah orang model seperti anda ini sering saya temukan juga di dalam mazhab Syi’ah dimana orang itu sering sekali menguatkan berbagai hadis ahlus sunnah tentang keutamaan Ahlul Bait yang didhaifkan oleh para ulama ahlus sunnah. Tentu dengan cara-cara lemah seperti yang anda lakukan.

    Mengenai Bakr ditsiqatkan oleh An Nabil, Asyhal dan Ibnu Hibban.
    Perhatikan jarh para ulama dibawah ini :
    Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya” ini jarh yang mujmal..
    Nasa’i terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat” ini jarh yang mujmal.
    Abu Hatim berkata “tidak kuat”.ini jarh yang mujmal.
    Al Uqailiy, Ibnu Jaruud dan As Saajiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [At Tahdzib juz 1 no 882], ini jarh yang mujmal.
    Ibnu Abi Hatim berkata “dhaif al hadits, buruk hafalannya dan mengalami ikhtilath, inilah jarh yang mufassar.
    Sebagai pencuri hadits, ini akibat buruk hafalannya.
    So…Bakr adalah perawi yang buruk hafalannya bersama dengan ke-tsiqatannya.

    Lho kalau anda mengatakan jarh Ibnu Abi Hatim itu jarh mufassar maka harusnya itu didahulukan dibanding mereka yang menta’dil. Maka harusnya Bakr itu dhaif dong karena buruk hafalan dan ikhtilath. Lagipula apa perlu saya ingatkan di sisi anda bukankah perawi yang tidak diketahui meriwayatkan sebelum atau sesudah ikhtilath hadisnya ditolak. Maka riwayat Bakr ini ya ditolak harusnya dengan kaidah anda tersebut. Bukankah tidak diketahui perawi yang meriwayatkan dari Bakr itu mendengar sebelum ikhtilath atau sesudah ikhtilath. Bingung saya melihat anda ini.

    Satu lagi yang namanya “mencuri hadis” itu jarh yang berbeda dengan “hafalan buruk” jadi jangan mengada-ada sendiri bahwa mencuri hadis itu akibat hafalan buruk. Orang yang mencuri hadis itu dengan sengaja mengambil hadis yang bukan miliknya dan ia bawakan dengan sanadnya sendiri. Jarh mencuri hadis itu sudah cukup untuk merajihkan bahwa Bakr seorang yang dhaif. Apalagi ini bersesuaian dengan jumhur ulama yang mendhaifkan.

    Ulah anda disini sangat lucu sekali, anda seolah menafikan jarh para ulama mu’tabar dan berpegang pada tautsiq terhadap Bakr dari ulama yang kalah mu’tabar dibandingkan ulama yang mendhaifkan. Telah maklum diketahui bahwa Nasa’iy, Yahya bin Ma’in dan Ibnu Abi Hatim adalah ulama yang lebih mu’tabar dalam jarh wat ta’dil dibanding Ibnu Hibban, An Nabil dan Asyhal.

    Mengenai Hakim, ia seorang yang shaduq menurut Abu Zur’ah.
    Ahmad berkata “dhaif al hadits mudhtharib”, akibat pernah meriwayatkan hadits yang mungkar.
    Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, ini jarh yang mujmal
    Yaqub bin Syaibah berkata “dhaif al hadits”. jarh yang mujmal
    Abu Hatim berkata “dhaif al hadits mungkar al hadits”, ini jarh yang mufasar
    Nasa’i berkata “tidak kuat”, jarh yang mujmal
    Daruquthni berkata “matruk”, akibat meriwayatkan hadits yang mungkar
    Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya” [At Tahdzib juz 2 no 773] jarh yang mujmal.
    So…Hakim seorang yang pernah meriwayatkan hadits yang mungkar bersama dengan ke-shaduq-annya.

    Coba lihat cara anda mentarjih, hasilnya adalah anda berpegang pada ta’dil Abu Zur’ah tetapi menafikan semua ulama yang mendhaifkannya. Sungguh luar biasa. Dan lihat anda mengambil jarh itu dari kitab At Tahdzib tetapi Ibnu Hajar sendiri pemilik kitab tersebut menyimpulkan Hakim bin Jubair dhaif. Saya justru melihat apa yang dinyatakan Ibnu Hajar itu lebih beralasan karena bagaimana bisa ia menafikan banyak ulama yang melemahkan Hakim bin Jubair dan berpegang pada ta’dil Abu Zur’ah semata.

    Bisa ditambahkan disini Ibnu Hibban dalam Al Majruhin menyatakan tentang Hakim bin Jubair bahwa ia banyak melakukan kesalahan terhadap apa yang diriwayatkannya [Al Majruhin Ibnu Hibban 1/299 no 230]. Dengan mengumpulkan semua jarh dan ta’dil terhadp Hakim saya menyimpulkan ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

    Penghukuman saya ini berbeda dengan penghukuman anda. Karena konsekuensi dari perawi yang dhaif dijadikan i’tibar adalah hadisnya dhaif jika tafarrud sedangkan penghukuman anda yang menyatakan Hakim bin Jubair shaduq itu berarti hadisnya hasan. Sangat jauh perbedaannya. Anda hanya berpegang pada Abu Zur’ah yang menta’dil Hakim dan menafikan jumhur ulama yang melemahkannya sedangkan saya berpegang pada semua jarh dan ta’dil dari para ulama terhadap Hakim bin Jubair.

    Setelah anda lihat “hasannya” peristiwa khotbah dan tanya jawab dari Ali kepada pengikutnya, maka riwayat diatas (riwayat Bakr dan A’masy dari Salim/Salamah) dapat menguatkan dan memberi faedah yakin akan benarnya peristiwa Tsa’labah.

    Anda tidak perlu mengulang klaim basi anda yang tidak terbukti secara ilmiah. Riwayat Imam Aliy tersebut telah terbukti dhaif dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadis. Terserah anda mau ngeyel bagaimanapun juga itu tidak ada artinya.

    Kesalahan fatal anda yang kedua : tidak mau menjadikan riwayat Bakr dan A’masy saling kuat menguatkan.
    Ini dikarenakan anda bercampur aduk dalam memahami idhthirab dengan ‘an’anah.
    Riwayat ‘an’anah dapat dijadikan sebagai penguat dari riwayat perawi yang bermasalah dalam kedhabitan. Bukan begitukan mas ?

    Soal penjelasan idhthirab dan tadlis sudah saya sebutkan di atas, silakan dibaca ulang dengan pelan-pelan sampai anda mengerti. Saya tidak pernah menafikan riwayat ‘an anah dapat dijadikan penguat bersama dengan riwayat perawi yang bermasalah dalam dhabitnya. Tetapi hakikatnya disini anda sedang mengada-ada mencari cara menguatkan riwayat padahal hakikatnya lemah.

    Riwayat A’masy itu tidak hanya lemah karena tadlis tetapi juga lemah disisi saya karena mudhtharib [dengan penjelasan yang sudah saya sebutkan]. Andaipun anda menolak mudhtharib tersebut maka riwayat A’masy juga lemah karena Abdullah bin Sabu’ majhul ‘ain. Jadi apanya yang bisa jadi penguat, jumhur ulama hadis menganggap perawi majhul ‘ain tidak bisa dijadikan penguat.

    Riwayat perawi yang bermasalah dhabitnya yang anda maksud adalah riwayat Bakr. Hakikatnya ia tidak hanya lemah karena dhabit, Bakr itu juga lemah karena mencuri hadis. Ditambah lagi ia bukan satu-satunya perawi yang bermasalah disini tetapi juga Hakim bin Jubair. Kalau Cuma Hakim bin Jubair yang menjadi illat [cacat] riwayat ini maka saya terima itu bisa dijadikan penguat tetapi jika kelemahannya bersama Bakr maka kedhaifannya lebih parah dan jelas tidak bisa dijadikan penguat.

    Satu lagi yang perlu ditekankan adalah dalam riwayat Bakr ada illat [cacat] lain yaitu riwayat Salim dari Aliy itu mursal. Dan sesuai dengan kaidah ilmu tentu menmabal cacat mursal dengan riwayat A’masy yang mudhtharib atau yang tidak tsabit sanadnya sampai Salim [karena tadlis A’masy] adalah keliru karena bisa saja tadlis A’masy berkonsekuensi itu berasal dari perawi dhaif maka tambalan itu berasal dari riwayat perawi dhaif dan ini tidak bisa dijadikan hujjah.

    Inilah yang dilakukan oleh Imam Ibnu Asakir dalam menambal keterputusan Salim dengan Ali melalui jalur A’masy.
    Dan inilah pula yang dilakukan oleh Ustadz Abul Jauza untuk menaikkan status tadlisnya A’masy dengan riwayat Bakr dimana riwayat ini diluar jalur sanad A’masy yang bercacat ‘an’anah tadi.

    Ucapan nyampah di atas tidak ada gunanya, bukankah sudah saya tunjukkan apa yang dilakukan Ibnu Asakir dan apa yang dilakukan Abul Jauzaa itu berbeda. Saya maklum kalau anda begitu mengidolakan Abul Jauzaa jadi wajar anda tidak bisa menerima kalau Abul Jauzaa disalahkan.

    Ibnu Asakir menambal riwayat Bakr dengan riwayat A’masy. Artinya Ibnu Asakir berhujjah dengan riwayat A’masy tersebut untuk menambal riwayat Bakr. Telah saya jelaskan bahwa hujjah Ibnu Asakir keliru. Tidak ada gunanya menambal cacat dengan riwayat yang sebenarnya cacat juga karena mudhtharib dan tadlis A’masy.

    Adapun Abul Jauzaa berusaha mentarjih riwayat A’masy yang mudhtharib dengan riwayat Bakr. Artinya Abul Jauzaa itu sudah dari awal menganggap riwayat A’masy itu bermasalah sehingga perlu ditarjih. Nah ia mentarjih menggunakan riwayat Bakr. Tetapi anehnya ia malah bertaklid dengan pernyataan Ibnu Asakir yang menambal riwayat Bakr dengan riwayat A’masy. Ya kan lucu jadinya, itu jelas lingkaran setan. Abul Jauzaa ingin mentarjih riwayat A’masy dengan riwayat Bakr dan memakai tambalan Ibnu Asakir yang menggunakan riwayat A’masy yang sebelumnya dianggap bermasalah di sisi Abul Jauzaa sendiri. Kalau mau mentarjih dengan riwayat Bakr ya tarjihlah dengan zhahir riwayat Bakr yang dalam sanadnya tidak menyebutkan Abdullah bin Sabu’.

  15. Anda memang gudangnya caci maki, salut deh untuk anda.

    Kalau Ibnu Asakir saja mudah anda kelirukan, maka lebih mudah lagi bagi anda untuk mencaci saya.

    Dalam kitab ittihafun nabil jilid 1 soal no. 127 disebutkan :

    HADITS MUDHTHORIB YANG DHOIF

    Soal no. 127 :
    Kapan hadits Mudhtorib didhoifkan dan kapan tidak didhoifkan ?

    Jawaban :

    mudthorib yang merusak hadits kriterianya adalah sbb :

    1. Takafau Thuruq : mereka berselisih terhadap seorang rowi dengan kedudukan yang satu, dan tidak bisa dikuatkan salah satu sisinya.

    2. sulit untuk mengkompromikan perselisihan tersebut, akan tetapi jika perselisihan yang terjadi misalnya dari orang yang tsiqoh kemudian menyebutkan syaikh yang berbeda yang semuanya tsiqoh dan porosnya masih berkisar pada rowi yang tsiqoh, maka bisa kita katakan bahwa rowi ini mungkin memiliki banyak guru karena banyak melakukan rihlah (menuntut ilmu).
    Sehingga ungkapan ia malas, maka memursalkan hadits dan ia rajin maka menyambungkan sanad bisa diterapkan.
    akan tetapi jika bersumber dari rowi yang jelek hapalannya maka harus mentamtsil haditsnya, yakni karena kemungkinan kegoncangan ini bersumber dari jeleknya hapalannya, dan jika ternyata selamat dari kegoncangan, maka shohih haditsnya. Lihat ittihafun-nabiil-jilid-1

    Dan riwayat A’masy tersebut termasuk dalam kaidah diatas, sehingga tidak termasuk riwayat idhtirab.

    Dimana A’masy memiliki banyak guru, dalam hal ini Salim dan Salamah dan termasuk pula Habib, walaupun jenis sanad Habib berbeda 180 derajat dengan jalur Salim/Salamah. Dan A’masy termasuk perawi yang tsiqah.

    Hal ini pernah anda singgung dengan perkataan anda :

    “Memang ada kasus dimana seorang perawi tsiqat karena banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu maka ia memiliki banyak guru, sehingga seolah-olah dalam suatu hadis sanadnya berselisih padahal sebenarnya itu berasal dari guru-gurunya yang berbeda. Tetapi dalam kasus riwayat Al A’masy di atas hal ini tidak bisa diterapkan dengan alasan berikut

    1. Al A’masy telah dikenal sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif oleh karena itu ‘an anah A’masy dari perawi yang tidak dikenal sebagai Syaikh [gurunya] yang ia banyak meriwayatkan darinya [seperti Abu Wail, Ibrahim, dan Abu Shalih] tidak bisa dianggap muttashil. Maka disini ‘an anah A’masy dari Salamah bin Kuhail dan Salim bin Abil Ja’d tidak bisa dianggap bahwa A’masy memang mendengar dari keduanya. Bahkan bisa saja dalam riwayat ini dikatakan A’masy melakukan tadlis dari para perawi dhaif tertentu dan para perawi dhaif inilah yang terkadang menambah atau mengurangi sanadnya. Kemungkinan ini bisa saja terjadi mengingat semua riwayat disampaikan A’masy dengan lafaz ‘an anah.

    2. Perselisihan sanad ini tidak hanya pada thabaqat guru Al A’masy tetapi juga pada thabaqat di atasnya. Misalnya Salim bin Abil Ja’d terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Aliy atau dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Kemudian Salamah bin Kuhail juga terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d atau dari Abdullah bin Sabu’.”

    Alasan pertama gugur dengan tsabitnya pendengaran A’masy dari Salim/Salamah yang terbukti terdapat dalam shahih Bukhari.

    Alasan kedua gugur dengan tidak ada perselisihan dalam 2 jalur tersebut tentang periwayatan Salim dari Abdullah bin Sabu.

    Tentang mengatakan idhthirabnya jalur A’masy –> Habib, sekali lagi saya katakan ini kebodohan yang nyata.

    Apakah setiap A’masy meriwayat jalur yang berbeda-beda yang mana nama-nama perawinya berbeda satu sama lain lalu langsung divonis idhthirab, anda ini aneh sekali.

  16. @abu azifah

    Anda memang gudangnya caci maki, salut deh untuk anda.
    Kalau Ibnu Asakir saja mudah anda kelirukan, maka lebih mudah lagi bagi anda untuk mencaci saya.

    Maaf bukannya anda yang sebenarnya gudang caci maki. Siapa yang menuduh saya rafidhah disini?. siapa yang mengatakan “kebodohan yang nyata”. Ya anda kan. Terus apa menganggap seorang ulama keliru adalah suatu bentuk caci maki?. Apa seumur hidup anda, anda tidak pernah menyalahkan ulama?. Apa menurut anda para ulama itu ma’shum?. Tentu saja saya tidak akan sembarangan menyalahkan ulama?. Tolak ukurnya adalah kaidah ilmu, ulama yang bertentangan dengan kaidah ilmu ya wajar dianggap salah. apa masalah anda bung

    Dalam kitab ittihafun nabil jilid 1 soal no. 127 disebutkan :

    Anda tahu tidak siapa penulis kitab Ittihafun Nabil?. Itu lho ulama yang sebelumnya saya kutip mengenai penafsiran maqbul Ibnu Hajar yaitu Abu Hasan As Sulaimaniy. Bukankah seenaknya anda tolak pendapatnya kemarin. Eeh sekarang anda berpegang pada tulisan kitabnya. Oh iya anda anggap salah atau benar Abu Hasan As Sulaimaniy itu dalam menafsirkan lafaz maqbul Ibnu Hajar. Kalau anda anggap benar maka mengapa anda tidak menerimanya. Kalau anda anggap salah terus anda merasa boleh menyalahkan ulama?. Kalau boleh kok anda keberatan ketika saya menyalahkan Ibnu Asakir

    Lucu, anda pernah baca tidak di kitab itu bagian tentang tadlis taswiyah?. kalau anda baca anda bakal malu sendiri dengan pendapat anda sebelumnya yang mengatakan tadlis taswiyah cukup dengan sima’ terhadap gurunya saja. Tapi kok saya lihat anda suka sekali berhujjah dengan kitab tersebut. Apa yang sesuai dengan hawa nafsu anda, ya anda terima sedangkan yang tidak sesuai dengan hawa nafsu anda ya anda tinggalkan. Sungguh baik sekali anda.

    HADITS MUDHTHORIB YANG DHOIF
    Soal no. 127 :
    Kapan hadits Mudhtorib didhoifkan dan kapan tidak didhoifkan ?
    Jawaban :
    mudthorib yang merusak hadits kriterianya adalah sbb :
    1. Takafau Thuruq : mereka berselisih terhadap seorang rowi dengan kedudukan yang satu, dan tidak bisa dikuatkan salah satu sisinya.
    2. sulit untuk mengkompromikan perselisihan tersebut, akan tetapi jika perselisihan yang terjadi misalnya dari orang yang tsiqoh kemudian menyebutkan syaikh yang berbeda yang semuanya tsiqoh dan porosnya masih berkisar pada rowi yang tsiqoh, maka bisa kita katakan bahwa rowi ini mungkin memiliki banyak guru karena banyak melakukan rihlah (menuntut ilmu).
    Sehingga ungkapan ia malas, maka memursalkan hadits dan ia rajin maka menyambungkan sanad bisa diterapkan.
    akan tetapi jika bersumber dari rowi yang jelek hapalannya maka harus mentamtsil haditsnya, yakni karena kemungkinan kegoncangan ini bersumber dari jeleknya hapalannya, dan jika ternyata selamat dari kegoncangan, maka shohih haditsnya. Lihat ittihafun-nabiil-jilid-1
    Dan riwayat A’masy tersebut termasuk dalam kaidah diatas, sehingga tidak termasuk riwayat idhtirab.

    Lha riwayat A’masy itu memang berselisih sanad-sanadnya dan tidak bisa dikompromikan maka jatuhlah ia pada mudhtharib yang dhaif.

    Dimana A’masy memiliki banyak guru, dalam hal ini Salim dan Salamah dan termasuk pula Habib, walaupun jenis sanad Habib berbeda 180 derajat dengan jalur Salim/Salamah. Dan A’masy termasuk perawi yang tsiqah.
    Hal ini pernah anda singgung dengan perkataan anda :
    “Memang ada kasus dimana seorang perawi tsiqat karena banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu maka ia memiliki banyak guru, sehingga seolah-olah dalam suatu hadis sanadnya berselisih padahal sebenarnya itu berasal dari guru-gurunya yang berbeda. Tetapi dalam kasus riwayat Al A’masy di atas hal ini tidak bisa diterapkan dengan alasan berikut
    1. Al A’masy telah dikenal sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif oleh karena itu ‘an anah A’masy dari perawi yang tidak dikenal sebagai Syaikh [gurunya] yang ia banyak meriwayatkan darinya [seperti Abu Wail, Ibrahim, dan Abu Shalih] tidak bisa dianggap muttashil. Maka disini ‘an anah A’masy dari Salamah bin Kuhail dan Salim bin Abil Ja’d tidak bisa dianggap bahwa A’masy memang mendengar dari keduanya. Bahkan bisa saja dalam riwayat ini dikatakan A’masy melakukan tadlis dari para perawi dhaif tertentu dan para perawi dhaif inilah yang terkadang menambah atau mengurangi sanadnya. Kemungkinan ini bisa saja terjadi mengingat semua riwayat disampaikan A’masy dengan lafaz ‘an anah.
    2. Perselisihan sanad ini tidak hanya pada thabaqat guru Al A’masy tetapi juga pada thabaqat di atasnya. Misalnya Salim bin Abil Ja’d terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Aliy atau dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Kemudian Salamah bin Kuhail juga terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d atau dari Abdullah bin Sabu’.”
    Alasan pertama gugur dengan tsabitnya pendengaran A’masy dari Salim/Salamah yang terbukti terdapat dalam shahih Bukhari.

    Astaga, sudah dijelaskan masih tidak mengerti. Subhanallah saya benar-benar kehabisan kata-kata melihat perkataan anda bahwa alasan pertama gugur karena tsabit sima’ Amasy dari Salim dan Salamah dalam Shahih Bukhariy. Alasan pertama itu sudah saya sebutkan adalah soal tadlis. Baca bung tadlis ya bukannya mursal. Tadlis itu tidak akan hilang atau gugur dengan anda membawakan riwayat sima’ lain A’masy dari Salim dan Salamah dalam Shahih Bukhariy.

    Sudah diketahui bahwa tadlis itu terjadi antara perawi dengan orang yang memang gurunya. Dalam kasus ini ya antara A’masy dengan orang-orang yang dikenal sebagai gurunya. Disini mereka adalah Salim, Salamah dan Habiib. Anda bawakan riwayat lain sima’ Amasy dari mereka itu tidak ada nilai hujjahnya. Toh di riwayat ini A’masy membawakan dengan ‘an anah maka bisa saja A’masy melakukan tadlis dari para perawi dhaif dari ketiganya. Jadi ucapan anda bahwa alasan pertama gugur dengan riwayat sima’ A’masy dalam Shahih Bukhariy adalah ucapan gak nyambung yang hanya muncul dari orang yang tidak paham apa itu maknanya tadlis. Bahkan setelah saya jelaskan berulang-ulang anda masih tidak paham juga. Alangkah baiknya kalau anda sedikit punya malu untuk menyatakan orang lain bodoh padahal hakikatnya hal itu lebih tepat untuk diri anda.

    Alasan kedua gugur dengan tidak ada perselisihan dalam 2 jalur tersebut tentang periwayatan Salim dari Abdullah bin Sabu.
    Tentang mengatakan idhthirabnya jalur A’masy –> Habib, sekali lagi saya katakan ini kebodohan yang nyata.

    Silakan katakan “kebodohan yang nyata” itu kepada ulama seperti Daruquthniy dimana ia memasukkan hadis A’masy dari Habiib itu sebagai bentuk perselisihan sanad-sanad A’masy dalam riwayat ini. Sungguh tidak tahu malu bagi orang yang sudah diberi penjelasan dengan merujuk pada ulama tetapi ia tetap saja mengulang-ngulang waham khayal-nya dan menuduh orang lain bodoh.

    Apakah setiap A’masy meriwayat jalur yang berbeda-beda yang mana nama-nama perawinya berbeda satu sama lain lalu langsung divonis idhthirab, anda ini aneh sekali.

    Kalau jalur-jalur yang berbeda-beda itu terjadi dalam satu riwayat dan tidak bisa dikompromikan atau ditarjih maka itulah namanya mudhtharib. Anda yang tidak mengerti apa itu mudhtharib ya wajar berkata aneh. Saya sudah bawakan tuh contoh-contohnya.

    Intinya sederhana bung, kalau anda mau mengkompromikan ketiga jalur A’masy itu dengan tujuan menghilangkan idhthirabnya maka silakan buktikan dalam riwayat tersebut kalau memang A’masy menerima hadis itu dari Salim, A’masy menerima hadis itu dari Salamah dan A’masy menerima hadis itu dari Habib. Cara membuktikannya ya dengan riwayat sima’ langsung A’masy dari mereka bertiga dalam hadis ini, cuma itu satu-satunya cara untuk membuktikan hujjah anda bahwa A’masy memang menerima hadis itu dari mereka bertiga. kalau tidak bisa dan saya yakin pasti tidak bisa ya gak perlu mengulang-ngulang hujjah basi. Akui saja kalau riwayat tersebut dhaif sesuai dengan kaidah ilmiah ilmu hadis.

  17. Tentang tuduhan rafidhah, disebabkan saya membaca tulisan ini awalnya di blog haulawahabiyah, saya minta maaf. Tentang “kebodohan yang nyata” saya tidak mencaci pribadi anda, saya menilai bila hal itu amal itu dilakukan menurut saya itu merupakan kebodohan yang nyata. Tentang tadlis taswiyah, saya tidak menyalahkan, hanya menurut saya tidak salah pula bila ada yang bermetode seperti Imam Dzahabi. Tentang maqbulnya Ibnu Hajar yang diterangkan Syaikh Abu Hasan, menurut saya tidak dhaif, hanya tawaquf, karena msyhur istilah maqbul merupakan istilah perawi hasan martabat ke-3. Tapi …. baiklah ini kita abaikan.

    Terlihat disini pencampuradukan pemahaman anda antara idhthirab dengan tadlis.

    Idhthirab dapat hilang manakala dapat didudukkan posisinya, dan tadlis dapat diterima manakala diketemukan adanya jalur sima’ atau adanya penguat.

    7 jalur A’masy dapat dikatakan mudhtharib, betul, lalu kita tarjih menjadi 2 jalur, dimana 2 jalur tadi dapat didudukkan posisinya masing-masing, merupakan jalur tersendiri dari A’masy, akan tetapi tiap-tiap jalur tetap lemah karena tadlisnya A’masy.

    Coba anda perhatikan antara 7 jalur dengan 2 jalur, kalau anda campuadukkan antara idhthirab dengan tadlis, dan tidak bisa hilang idhthirabnya karena tadlis, buat apa kita merajih menjadi 2 jalur ? Kalau begitu dirajih atau-pun tidak tetap idhthirab.

    Coba anda perhatikan jalur :
    A’masy ——————> Salim –> Abdullah
    A’masy –> Salamah –> Salim –> Abdullah
    Jalur ini bisa terlihat idhthirab.

    Tapi Coba anda perhatikan jalur :
    A’masy –> Salim/Salamah –> Abdullah
    A’masy –> Habib –> Tsa’labah
    Dimana idhthirabnya bung ?

    Sekali lagi coba anda berpikir yang tenang, jangan dicampuradukkan dulu antara idhthirab dengan tadlis, nanti anda akan tahu posisi masing-masing jalur berdiri sendiri. TAPI MASIH LEMAH KARENA TADLIS.

  18. @abu azifah

    Tentang tuduhan rafidhah, disebabkan saya membaca tulisan ini awalnya di blog haulawahabiyah, saya minta maaf. Tentang “kebodohan yang nyata” saya tidak mencaci pribadi anda, saya menilai bila hal itu amal itu dilakukan menurut saya itu merupakan kebodohan yang nyata. Tentang tadlis taswiyah, saya tidak menyalahkan, hanya menurut saya tidak salah pula bila ada yang bermetode seperti Imam Dzahabi. Tentang maqbulnya Ibnu Hajar yang diterangkan Syaikh Abu Hasan, menurut saya tidak dhaif, hanya tawaquf, karena msyhur istilah maqbul merupakan istilah perawi hasan martabat ke-3. Tapi …. baiklah ini kita abaikan.

    Maaf saya sebenarnya juga tidak berminat membahas soal tuduhan tetapi ada waktunya hal itu terasa perlu yaitu ketika melihat orang-orang yang berasa sok suci menuduh orang lain caci maki padahal dirinya sendiri penuh caci maki. Dalam diskusi ini tidak penting dibahas basa-basi tuduhan dan lain-lain cukup kita bahas hujjah masing-masing.

    Terlihat disini pencampuradukan pemahaman anda antara idhthirab dengan tadlis.

    Sampai kapan anda akan mengulang waham khayal anda. Jawaban saya akan tetap sama, saya sudah menjelaskan perihal idhthirab A’masy dalam hadis ini dan saya juga sudah bahas cacat tadlis A’masy dalam hadis ini. Anda menerima cacat tadlis tetapi tidak menerima cacat idhthirab. Selesai urusannya, saya sudah bawakan buktinya dan anda tidak menerima maka andalah yang bermasalah bukan saya. Kalau anda merasa bukti yang saya sampaikan keliru maka silakan bawakan bantahan anda. Jangan bawakan lagi kengeyelan anda dan sok herannya anda yang tidak ada gunanya. Masalahnya disini adalah pada diri anda yang tidak mengenal contoh-contoh hadis idhthirab bukan pada saya. Saya sudah bawakan contoh ulama seperti Daruquthniy yang menyatakan kasus lain yag mirip dengan riwayat A’masy di atas sebagai hadis mudhtharib.

    Idhthirab dapat hilang manakala dapat didudukkan posisinya, dan tadlis dapat diterima manakala diketemukan adanya jalur sima’ atau adanya penguat.
    7 jalur A’masy dapat dikatakan mudhtharib, betul, lalu kita tarjih menjadi 2 jalur, dimana 2 jalur tadi dapat didudukkan posisinya masing-masing, merupakan jalur tersendiri dari A’masy, akan tetapi tiap-tiap jalur tetap lemah karena tadlisnya A’masy.
    Coba anda perhatikan antara 7 jalur dengan 2 jalur, kalau anda campuadukkan antara idhthirab dengan tadlis, dan tidak bisa hilang idhthirabnya karena tadlis, buat apa kita merajih menjadi 2 jalur ? Kalau begitu dirajih atau-pun tidak tetap idhthirab.

    Intinya kalau dua jalur yang tersisa tersebut masih tidak bisa dirajihkan ya tetap idhthirab. Apalagi sebenarnya yang tersisa itu tiga jalur bukan dua jalur seperti yang anda maksudkan. Namanya merajihkan ya sudah bisa ditetapkan mana jalur yang mahfuuzh. Kalau masih tersisa tiga jalur dan tidak diketahui mana yang mahfuuzh ya masih idhthirab bung.

    Coba anda perhatikan jalur :
    A’masy ——————> Salim –> Abdullah
    A’masy –> Salamah –> Salim –> Abdullah
    Jalur ini bisa terlihat idhthirab.

    Luar biasa, boleh saya tanya kapan anda mengakui kedua jalur di atas idhthirab. Sudah dari awal atau baru sekarang. Apa perlu saya kutip tulisan anda sebelumnya yang menggebu-gebu membantah saya disini

    Dari 7 jalur ini yang shahih sampai kepada A’masy hanya 2 jalur, yaitu :
    A’masy –> Salim –> Abdullah bin Sabu

    A’masy –> Salamah –> Salim –> Abdullah bin Sabu

    Jujurlah wahai seconprince, apakah 2 jalur diatas idhthirab ?

    Perkataanmu dibawah ini hanya merupakan taktikmu saja untuk meragukan riwayat Abdullah bin Sabu ini dan ini merupakan bumerang bagimu.

    Kalau anda sudah tahu dari dulu bahwa kedua jalur itu idhthirab maka apa gunanya tulisan anda sebelumnya itu. Begitulah, semakin banyak anda berbicara anda malah menentang diri anda sendiri. Atau anda baru tahu kedua jalur itu bisa dikatakan idhthirab ketika anda melihat contoh Daruquthniy yang saya bawakan. Kalau begitu kok tanggung, saya juga bawakan contoh kasus dari Daruquthniy yang mirip dengan idhthirab riwayat A’masy dari Habib dari Tsa’labah dari Aliy.

    Tapi Coba anda perhatikan jalur :
    A’masy –> Salim/Salamah –> Abdullah
    A’masy –> Habib –> Tsa’labah
    Dimana idhthirabnya bung ?

    Mau beribu-ribu kali dikasih penjelasan anda memang tidak akan mengerti. Bagi orang yang paham hadis mudhtharib mereka tidak akan mempermasalahkan dengan berkata “dimana letak idhthirab-nya”. Penjelasan paling mudah untuk anda adalah contoh Daruquthniy yang saya bawakan tetapi entah apa ada masalah dengan mata anda atau otak anda saya gak paham kok anda masih tidak mengerti. Coba tolong dibaca contoh kasus Daruquthniy yang saya bawakan sebelumnya. Ini contoh hadis mudhtharib di sisi Daruquthniy

    Aliy bin ‘Abdul A’laa dari Abi Nu’maan dari Abi Waqqaash dari Salman dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]
    Aliy bin ‘Abdul A’laa dari Zaid bin ‘Arqam dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

    Idhthirab itu berasal dari Aliy bin Abdul A’laa, kedua jalurnya benar-benar berbeda tetapi ujungnya tetap sama sampai kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kemudian mari perhatikan riwayat A’masy

    A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Habib bin Abi Tsabit—Tsa’labah bin Yaziid—Aliy

    Ketiga jalur itu berbeda sanad-sanadnya tetapi ujungnya tetap sama sampai kepada Aliy. Tidak bisa ditarjih mana yang mahfuuzh maka dikatakan idhthirab dan sumbernya adalah dari A’masy. Mirp sekali dengan kasus Daruquthniy di atas. Jadi sangat tidak perlu pertanyaan anda “dimana letak idhthirab-nya?” karena idhthirab itu sudah tampak jelas di depan mata anda. Kalau mau melihat ya dibuka matanya jangan dipejamkan. Mau berjuta-juta tahun anda menunggu ya tetap gak akan bisa melihat kalau mata anda tidak dibuka.

    Sekali lagi coba anda berpikir yang tenang, jangan dicampuradukkan dulu antara idhthirab dengan tadlis, nanti anda akan tahu posisi masing-masing jalur berdiri sendiri. TAPI MASIH LEMAH KARENA TADLIS.

    Mau beribu-ribu kali dikasih penjelasan anda memang tidak akan mengerti. Tidak ada saya mencampuradukkan antara idhthirab dan tadlis. Idhthirab itu sudah terbukti berdasarkan penjelasan di atas. Nah syubhat anda untuk membantah itu idhthirab adalah dengan jalan ngeyel satu-satunya yaitu andai-andai bahwa A’masy memang menerima hadis itu dari Salim, A’masy memang menerima hadis itu dari Salamah dan A’masy memang menerima hadis itu dari Habiib. Anda sok berhujjah A’masy punya banyak guru dan bisa saja menerima dari ketiganya.

    Perandaian anda inilah yang saya bantah. Perandaian anda tersebut tidak bisa digunakan untuk menghilangkan idhthirab tersebut. Mengapa? Karena perandaian itu sendiri cacat karena tadlis A’masy. Bagaimana bisa anda mengatakan A’masy memang menerima hadis dari ketiganya padahal A’masy membawakan dengan lafaz ‘an anah dan berarti tidak selamat dari cacat tadlis. Bisa saja A’masy melakukan tadlis dan menerima hadis itu dari perawi dhaif dari ketiganya. Jadi kalau anda mau berhujjah dengan perandaian itu ya silakan bawakan bukti lafaz sima’ A’masy dari ketiganya dalam hadis ini maka hilanglah cacat tadlis A’masy dalam riwayat ini dan saya akan menyetujui hujjah anda bahwa A’masy memang menerima hadis ini dari ketiga gurunya.

    Oleh karena perandaian anda tersebut lemah maka ya tidak bisa digunakan untuk menghilangkan cacat idhthirab A’masy. Jadi ya tetap berlaku idhthirab. Silakan baca pelan-pelan dan coba tunjukkan dimana saya mencampuradukkan antara idhthirab dan tadlis.

  19. Kalau anda belum sadar dalam menampuradukkan antara mudhtharib dengan tadlis, akan saya tunjukkan, mohon dibaca pelan-pelan.

    1. Seorang yang tsiqat bila mempunyai banyak sanad, maka dimungkinkan, karena banyak melakukan rihlah sehingga ia mempunyai banyak guru, kecuali kalau syadz atau mungkar.s

    2. Seorang pendusta mempunyai banyak sanad, maka dimungkinkan ia akan membaguskan sanadnya.

    3. Seorang yang lemah hafalannya mempunyai banyak sanad, memungkinkan goncang riwayatnya.

    4. Seorang mudallas mempunyai banyak sanad, memungkinkan samar riwayatnya.

    A’masy dalam kasus ini mempunyai 2 jalur sanad, karena dia seorang yang hafidz, maka tidak terjadi kesalahan di dalam menyebut jalur sanadnya, dan tidak terjadi kegoncangan dalam menyebutkan jalur sanadnya, berbeda dengan perawi yang buruk hafalannya, sangat dimungkinkan terjadi idhrhirab dalam penyebutan jalur sanadnya. Hanya saja A’masy sangat dimungkinkan terjadi kesamaran dalam riwayat yang ia sebutkan.

    Jalur Amasy -> Salim dengan jalur A’masy -> Salamah -> Salim, dapat anda lihat bukan idhthirab, tapi karena A’masy mentadlis Salamah.

    STATUS ROWI YANG DIKATAKAN MERIWAYATKAN
    HADITS DARI BEBERAPA JALAN
    Soal no. 184 :
    Apa status rowi yang dikatakan ia meriwayatkan hadits dari
    beberapa jalan ?
    Jawaban :
    Meriwayatkan hadits dari banyak jalan ada beberapa sebab :
    a. karena jelek hapalannya berarti ini menunjukkan kegoncangan
    haditsnya
    b. si rowi banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu, sehingga
    memiliki banyak guru, oleh karena itu jika seorang tsiqot yang
    banyak menuntut ilmu dan berselisih riwayatnya dari gurunya, maka
    mereka mengatakan bisa dimungkinkan hadits ini datang dari dua
    jalan.
    c. Si rowi meriwayatkan dengan makna dalam kondisi Ia seorang yang
    tsiqoh.
    d. Si rowi pendusta sehingga ia memperbagus sanadnya.
    e. atau si rowi Mudalis
    dan semua kondisi ini memiliki hukum khusus yang dikaitkan dengan
    qorinah-qorinahnya.

  20. @abu azifah

    Kalau anda belum sadar dalam menampuradukkan antara mudhtharib dengan tadlis, akan saya tunjukkan, mohon dibaca pelan-pelan.

    Sudah saya baca pelan-pelan dan tidak ada satupun penjelasan anda tersebut yang menunjukkan saya mencampuradukkan antara mudhtharib dengan tadlis. Justru sebenarnya anda yang tidak membaca komentar saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan dengan panjang lebar soal mudhtharib A’masy dan tadlis A’masy

    1. Seorang yang tsiqat bila mempunyai banyak sanad, maka dimungkinkan, karena banyak melakukan rihlah sehingga ia mempunyai banyak guru, kecuali kalau syadz atau mungkar.s
    2. Seorang pendusta mempunyai banyak sanad, maka dimungkinkan ia akan membaguskan sanadnya.
    3. Seorang yang lemah hafalannya mempunyai banyak sanad, memungkinkan goncang riwayatnya.
    4. Seorang mudallas mempunyai banyak sanad, memungkinkan samar riwayatnya.

    Apa gunanya anda mengutip poin-poin di atas yang anda ambil dari kitab Ittihaf An Nabil Abul Hasan?. Kesalahan anda disini adalah anda menjadikan sepenggal info di atas untuk mendudukkan hadis mudhtharib. Dalam Ulumul hadis, hadis mudhtharib itu bisa terjadi pada perawi tsiqat, perawi shaduq, perawi yang bermasalah hafalannya, perawi mudallis, perawi dhaif dan perawi pendusta.

    Apa anda pikir sebab mudhtharib itu hanya hafalan yang buruk?. Apa anda pikir seorang yang tsiqat punya banyak guru dan banyak melakukan rihlah itu pasti tidak pernah idhthirab hadisnya?. Banyak contohnya dalam kitab Al Ilal Daruquthniy, berikut salah satunya

    وقال علي بن المبارك عن يحيى بن أبي كثير قال حدثني أبو شيخ عن أبي حمان عن معاوية وقال حرب بن شداد عن يحيى حدثني أبو شيخ عن أخيه عن حمان عن معاوية واضطرب به يحيى بن أبي كثير فيه

    Aliy bin Mubarak berkata dari Yahya bin Abi Katsiir yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Syaikh dari Abi Himmaan dari Mu’awiyah dan berkata Harb bin Syadaad dari Yahya yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Syaikh dari saudaranya dari Himmaan dari Mu’awiyah, telah idhthirab Yahya bin Abi Katsiir di dalamnya. [Al Ilal Daruquthniy 7/73-74 no 1225]

    Yahya bin Abi Katsir seorang yang tsiqat tsabit melakukan tadlis dan irsal [Taqrib At Tahdziib 2/313]. Intinya seorang tsiqat bisa saja idhthirab hadisnya sebagaimana seorang yang tsiqat bisa saja melakukan kesalahan dalam hadisnya.

    A’masy dalam kasus ini mempunyai 2 jalur sanad, karena dia seorang yang hafidz, maka tidak terjadi kesalahan di dalam menyebut jalur sanadnya, dan tidak terjadi kegoncangan dalam menyebutkan jalur sanadnya, berbeda dengan perawi yang buruk hafalannya, sangat dimungkinkan terjadi idhrhirab dalam penyebutan jalur sanadnya. Hanya saja A’masy sangat dimungkinkan terjadi kesamaran dalam riwayat yang ia sebutkan.

    Sungguh ucapan yang tidak berguna, A’masy tidak diragukan bahwa ia seorang yang tsiqat dan hafizh tetapi bersamaan dengan itu ia dibicarakan sebagian hadisnya dari sebagian gurunya karena idhthirab.

    Ahmad bin Hanbal pernah mengatakan “dalam hadis A’masy terdapat banyak idhthirab”. [Mizan Al I’tidal 3/316 no 3520]

    Ibnu Rajab Al Hanbaliy dalam kitabnya Syarh Ilal Tirmidzi 2/647 mengutip Aliy bin Madiniy yang berkata

    A’masy banyak melakukan kesalahan dalam hadis-hadis para tabiin sighar seperti Al Hakam, Salamah bin Kuhail, Habiib bin Abi Tsabiit, Abu Ishaaq dan semisal mereka. Ibnu Madiniy berkata “A’masy idhthirab dalam hadis-hadis Abu Ishaaq”. Berkata Yaqub bin Syaibah dari Aliy bin Madini “hadis-hadis A’masy dari tabiin sighar seperti Abu Ishaaq, Habiib dan Salamah tidak kuat”

    Jalur Amasy -> Salim dengan jalur A’masy -> Salamah -> Salim, dapat anda lihat bukan idhthirab, tapi karena A’masy mentadlis Salamah.

    Lucu kalau memang begitu mengapa tidak dari awal saja anda mengatakan A’masy melakukan tadlis dalam riwayat Salim tetapi anehnya anda malah bersikeras mengatakan A’masy menerima hadis itu dari Salim dan juga dari Salamah dengan alasan keduanya guru A’masy dan A’masy menerima hadis dari keduanya. Kelihatan sekali kalau anda tidak konsisten dalam berhujjah lompat sana lompat sini yang penting bisa terus membantah.

    Jalur seperti itu memang bisa bersifat tadlis dan bisa juga idhthirab. Hal itu tergantung dengan qarinah-qarinahnya. Anehnya anda sendiri mengakui bahwa hal itu bisa dikatakan idhthirab. Kalau anda lupa maka silakan lihat komentar sebelumnya anda berkata

    Coba anda perhatikan jalur :
    A’masy ——————> Salim –> Abdullah
    A’masy –> Salamah –> Salim –> Abdullah
    Jalur ini bisa terlihat idhthirab.

    Hujjah kuat untuk dikatakan A’masy melakukan tadlis dalam hadis ini dari Salamah dari Salim adalah jika dalam riwayat A’masy menyebutkan lafaz ‘an anah dari Salim kemudian dalam riwayat lain A’masy menyebutkan sima’ langsung dari Salamah dari Salim. Dengan hujjah seperti ini maka sudah pasti riwayat itu adalah tadlis A’masy bukan idhthirab tetapi jika keduanya hanya menyebutkan lafaz ‘an anah A’masy baik dari Salamah dan dari Salim maka masih bisa dikatakan idhthirab.

    Apalagi qarinah yang menguatkan idhthirab itu adalah ada riwayat lain dimana A’masy menyebutkan sanad dari Habiib dari Tsa’labah dari Aliy. Sanad inilah yang anda tolak sebagai bagian dari idhthirab A’masy. Penolakan anda tersebut juga tidak ada gunanya karena faktanya Daruquthni memasukkan sanad tersebut sebagai bagian dari perselisihan sanad A’masy dalam hadis ini.

    Saya bisa bawakan contoh-contoh lain idhthirab A’masy yang disebutkan Daruquthniy. Daruquthniy dalam Al Ilal 11/343 no 2326

    Silakan perhatikan perselisihan sanad-sanad riwayat A’masy yang dikatakan Daruquthniy sebagai idhthirab, diantaranya adalah

    A’masy — Athiyah — Abu Sa’id
    A’masy — Abu Shalih — Abu Hurairah
    A’masy — Abu Sufyaan — Jabir

    Bukankah menurut anda A’masy itu punya banyak guru dan dia tsiqat maka harusnya itu bukan idhthirab. Nah itu menurut anda tetapi menurut Daruquthniy perselisihan itu ia sebut idhthirab.

    Contoh lain, Daruquthniy menyebutkan dalam kitabnya Al Ilzaamaat Wat Tatabbu’ no 101 suatu hadis riwayat A’masy dari ‘Umarah dari Wahb bin Rabiiah dari ‘Abdullah kemudian Daruquthniy berkata

    قال : وهذا كان الأعمش اضطرب في إسناده
    رواه الثوري هكذا وتابعه عبد الله بن بشر. وقال قطبة وأبو معاوية ، عَن الأعمش ، عَن عمارة ، عَن عبد الرحمن بن يزيد.
    وقال أبو مريم ، عَن الأعمش ، عَن عمارة ، عَن زيد بن وهب.
    وقال زيد أبي أنيسة ، عَن الأعمش ، عَن أبي الضحى ، عَن مسروق وقال المسعودي والحسن بن عمارة ، عَن الأعمش ، عَن أبي وائل. وقال شعبة ، عَن الأعمش ، عَن رجل ، عَن عبد الله. وهو صحيح من حديث منصور وابن أبي نجيح ، عَن مجاهد ، عَن أبي معمر

    [Daruquthniy] berkata “disini Al A’masy mengalami idhthirab dalam sanad-sanadnya”. Diriwayatkan Ats Tsawriy demikian dan diikuti Abdullah bin Bisyr. Dan berkata Quthbah dan Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Umaraah dari ‘Abdurrahman bin Yaziid dan berkata Abu Maryam dari A’masy dari ‘Umaarah dari Zaid bin Wahb dan berkata Zaid bin Abi Unaisah dari A’masy dari Abu Dhuha dari Masruuq dan berkata Al Mas’uudiy dan Hasan bin Umaarah dari A’masy dari Abi Wa’il dan berkata Syu’bah dari A’masy dari seorang laki-laki dari ‘Abdullah. Dan hadis ini yang shahih adalah dari hadis Manshuur, Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Abi Ma’mar

    Silakan perhatikan memang ada sebagian jalan A’masy dari Umarah yang terjadi perselisihan sanad-sanadnya. Tetapi yang perlu anda lihat adalah jalur lain yang tidak melewati ‘Umarah itu dianggap Daruquthniy juga sebagai bagian dari idhthirab A’masy yaitu jalur

    A’masy — Abu Dhuha — Masruuq
    A’masy — Abi Wail
    A’masy — seorang laki-laki — Abdullah

    Semoga jelas bagi anda bahwa perselisihan A’masy dalam hadis Imam Aliy yang kita diskusikan ini memang merupakan idhthirab dari A’masy. Di sisi saya, ini lah tiga jalur dengan sanad tsabit sampai A’masy dimana A’masy mengalami idhthirab

    A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—Aliy
    A’masy—Habib bin Abi Tsabit—Tsa’labah bin Yaziid—Aliy

    Seandainya pun anda bersikeras menganggap riwayat A’masy dari Salim itu adalah tadlisnya dari Salamah maka perselisihan sanad itu menjadi

    A’masy — Salamah bin Kuhail — Salim — Abdullah bin Sabu’ — Aliy
    A’masy — Habiib bin Abi Tsabiit —- Tsa’labah bin Yaziid —- Aliy

    Riwayat A’masy di atas hakikatnya keduanya sama-sama lemah dan tidak bisa ditarjih maka tetap dinyatakan idhthirab dari A’masy. Apalagi sebagaimana yang saya kutip dari Ibnu Rajab yang menukil Aliy bin Madini bahwa hadis A’masy dari para tabiin sighar seperti Salamah, Habiib dan Abu Ishaaq banyak terdapat kesalahan dan di saat lain Aliy bin Madiniy menyebutkan bahwa contoh kesalahan itu adalah idhthirab sebagaimana dikatakan olehnya bahwa A’masy idhthirab dalam hadis Abu Ishaaq.

  21. Contoh idhthirab daraquthni yang anda sampaikan bisa dianggap idhthirab manakala tidak ada qarinah pertemuan antara Abu Dhuha, Abi Wail dan yang lainnya, atau qarinah lain tentang bentuk-bentuk idhthirab, akan tetapi bila ada qarinah pertemuan atau qarinah yang lainnya yang dapat menghilangkan idhthirab tersebut maka idhthirab tersebut bisa hilang.

    Untuk jalur A’masy -> Salamah/Salim, sudah saya tunjukkan ada qarinah periwayatan mereka dalam shahih Bukhari, sehingga idhthirabnya hilang.

    Sebagai tambahan, bentuk-bentuk idhthirab adalah diantaranya : idhthirab dalam makna matan, idhthirab dalam penyampaian lafal matan, idhthirab dalam menentukan status seorang perawi, idhtirab dalam menentukan jalur sanad.

  22. maaf nimbrung bentar..

    waduh.
    kalo ulama hadits debat, benar2 ndak ngerti saya..

    mbok dijelaskan istilah2 nya… spt istilah idhtirab, tadlis, an’anah, makruf, dll.. biar2 kita2 juga bisa mengikuti..

    maaf kalo ada salah penulisan istilah dari saya..

  23. Perkataan Imam Daraquthni diatas betul bahwa riwayat A’masy mengalami idhthirab, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat didudukkan, sehingga hilang idhthirabnya.

    Perkataan idhthirab Imam Daraquthni dan Imam yang lainnya dalam semua riwayat A’masy diatas bukan merupakan kalimat melemahkan riwayat tersebut, hanya memberi informasi bahwa dalam sanad A’masy terjadi idhthirab atau dalam qarinah yang lain yang menyebabkan idhthirab, akan tetapi bila dapat didudukkan pada posisinya, maka idhthirab tersebut dalam hilang.

  24. @abu azifah

    Contoh idhthirab daraquthni yang anda sampaikan bisa dianggap idhthirab manakala tidak ada qarinah pertemuan antara Abu Dhuha, Abi Wail dan yang lainnya, atau qarinah lain tentang bentuk-bentuk idhthirab, akan tetapi bila ada qarinah pertemuan atau qarinah yang lainnya yang dapat menghilangkan idhthirab tersebut maka idhthirab tersebut bisa hilang.
    Untuk jalur A’masy -> Salamah/Salim, sudah saya tunjukkan ada qarinah periwayatan mereka dalam shahih Bukhari, sehingga idhthirabnya hilang.

    Ucapan anda qarinah periwayatkan A’masy dari gurunya dalam Shahih Bukhariy dapat menghilangkan idhthirab adalah ucapan ngayal yang muncul dari waham anda saja. Tidak mungkin idhthirab bisa hilang dengan qarinah seperti itu. Hal ini hanya diucapkan oleh orang yang tidak mengerti apa itu idhthirab.

    Sekedar informasi buat anda, periwayatan A’masy dari Abu Dhuha dan dari Abu Wail juga terdapat dalam kitab Shahih Bukhariy dan Shahih Muslim dan periwayatan tersebut tidak menjadi qarinah menghilangkan idhthirab. Tentu saja ulama seperti Daruquthniy tahu persis kalau periwayatan A’masy dari Abu Dhuha dan Abu Wail ada dalam Shahih Bukhariy dan itu tetap tidak mencegah Daruquthniy menyatakan idhthirab

    Perkataan Imam Daraquthni diatas betul bahwa riwayat A’masy mengalami idhthirab, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat didudukkan, sehingga hilang idhthirabnya.
    Perkataan idhthirab Imam Daraquthni dan Imam yang lainnya dalam semua riwayat A’masy diatas bukan merupakan kalimat melemahkan riwayat tersebut, hanya memberi informasi bahwa dalam sanad A’masy terjadi idhthirab atau dalam qarinah yang lain yang menyebabkan idhthirab, akan tetapi bila dapat didudukkan pada posisinya, maka idhthirab tersebut dalam hilang.

    Waduh sudah jelas saya nukilkan dari kitab Daruquthniy ya mbok dibaca benar-benar. Lagian apa gunanya Daruquthniy memasukkan dalam kitab Al Ilal kalau tidak menganggap hadis tersebut lemah atau cacat. Apalagi contoh yang saya kutip dari kitab Al Ilzaamaat Wat Tatabbu’ jelas-jelas di kalimat akhir Daruquthniy menyatakan yang shahih adalah hadis dengan sanad lain. itu berarti hadis idhthirab yang dimaksud lemah di sisi Daruquthniy. Wah lama-lama bosan juga saya melihat anda kok semakin lama semakin banyak ngawurnya. Saya berdoa semoga suatu saat anda sadar akan kapasitas diri anda yang terlalu banyak bicara melampaui ilmu yang anda punya.

  25. Anda sangat ngotot mendhaifkan riwayat ini dikarenakan inilah satu-satunya jalan untuk menguatkan kesimpulan anda, dan kalau sampai hal ini shahih, maka gugurlah semua argumen syiah.

    Imam Daraquthni memasukkan riwayat ini dalam Al Illal menunjukkan bahwa ini termasuk pembahasan yang rumit.

    Membahas idhthirab dan menghilangkannya merupakan persoalan yang pelik yang membutuhkan ekstra perhatian dan penelitian dari berbagai qarinah yang ada, dan tidak pada tempatnya kita membahas contoh illath Imam Daraquthni yang anda sodorkan.

    Jalur A’masy -> Salim dengan jalur A’masy -> Salamah, sepintas dapat dikatakan idhthirab, setelah diperiksa ternyata berporos kepada A’masy, A’masy seorang yang tsiqat, hafidz, dan alim, serta seorang mudallis. Setelah diperiksa ternyata jalur A’masy -> Salim/Salamah terdapat dalam shahih Bukhari. Maka idhthirab disini berbentuk tadlis A’masy atau memang 2 jalur itu berdiri sendiri, bukan berbentuk idhthirab akibat salah menyambungkan sanad seperti yang dialami para perawi yang buruk hafalannya.

    Kalau idhthirab dalam bentuk tadlis, maka bisa diketahui bahwa yang rajih adalah sanad A’masy -> Salamah -> Salim

    Hal seperti inilah yang dilakukan Ibnu Asakir yang menggunakan jalur A’masy -> Salim sebagai penambal jalur Bakr. Menurut anda riwayat mudhtharib tidak dapat menambal, tapi ternyata Ibnu Asakir menggunakannya, berarti beliau tidak menganggap riwayat ini idhthirab.

    Seperti ini pula yang dilakukan Syaikh Ahmad Syakir, dalam dalam catatan kaki no 1339 bahwa A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Seperti ini pula yang dilakukan oleh Ustadz Abul Jauza : A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Orang-orang yang sebutkan tadi adalah orang yang tahu dalam masalah ilmu hadits, yang tidak mengatakan setelah melalui penelitian.

  26. @abu azifah

    Anda sangat ngotot mendhaifkan riwayat ini dikarenakan inilah satu-satunya jalan untuk menguatkan kesimpulan anda, dan kalau sampai hal ini shahih, maka gugurlah semua argumen syiah.

    Halah kalau mau sibuk pamer klaim ya silakan saja. Lagian apa urusannya sama Syi’ah. Syi’ah punya dalil sendiri dari kitab mereka gak ada urusannya disini. Untuk membedakan mana yang ngotot dan mana yang memang berniat mencari kebenaran itu tergantung dengan siapa yang berpegang pada kaidah ilmu. Kaidah ilmu adalah penentu siapa yang benar disini. Saya sudah bawakan hujjah saya beserta penjelasannya dengan panjang lebar. Maaf anda saja yang tidak paham penjelasan saya karena memang kualitas anda ya cuma segitu. Silakan tuh pelajari ilmu hadis dengan baik baru banyak bicara.

    Kekonyolan anda sudah banyak sekali anda tunjukkan yaitu tidak paham tadlis taswiyah, tidak paham persyaratan Imam Muslim tentang lafaz an anah, tidak paham lafaz maqbul Ibnu Hajar, tidak paham makna tadlis, tidak paham makna idhthirab. Tetapi gayanya berlagak sok tahu menyalahkan dan menuduh yang bukan-bukan kepada saya bahkan secara tidak sadar anda juga sudah berdusta atas para ulama. Kasihan sekali

    Imam Daraquthni memasukkan riwayat ini dalam Al Illal menunjukkan bahwa ini termasuk pembahasan yang rumit.

    Maaf kalau tidak mengerti tolong tidak usah banyak bicara. Kalau belum pernah membaca kitab Al Ilal Daruquthniy tolong tidak usah sok tahu. Namanya saja kitab Ilal yang membahas cacat hadis, ya secara sederhana itu kumpulan hadis yang dinilai cacat oleh Daruquthniy si penulis kitab.

    Membahas idhthirab dan menghilangkannya merupakan persoalan yang pelik yang membutuhkan ekstra perhatian dan penelitian dari berbagai qarinah yang ada, dan tidak pada tempatnya kita membahas contoh illath Imam Daraquthni yang anda sodorkan.

    Lho memangnya siapa yang menyuruh anda membahas contoh hadis idhthirab Daruquthniy tersebut. Saya hanya menunjukkan bahwa perselisihan sanad dalam riwayat A’masy di atas itu adalah idhthirab. Kan anda yang seenaknya menolak riwayat A’masy dari Habib dari Tsa’labah sebagai bukan bagian idhthirab. Pakai sok nanya “dimana letak idhthirab” padahal di sisi Daruquthniy itu sudah jelas idhthirab. Contoh-contoh itu hanya sebagai gambaran bahwa perselisihan sanad seperti itu memang idhthirab di kalangan para ulama dalam hal ini Daruquthniy. Jadi sangat jelas orang yang bertanya “dimana letak idhthirab-nya” adalah orang yang memang tidak paham contoh-contoh hadis mudhtharib

    Jalur A’masy -> Salim dengan jalur A’masy -> Salamah, sepintas dapat dikatakan idhthirab, setelah diperiksa ternyata berporos kepada A’masy, A’masy seorang yang tsiqat, hafidz, dan alim, serta seorang mudallis. Setelah diperiksa ternyata jalur A’masy -> Salim/Salamah terdapat dalam shahih Bukhari. Maka idhthirab disini berbentuk tadlis A’masy atau memang 2 jalur itu berdiri sendiri, bukan berbentuk idhthirab akibat salah menyambungkan sanad seperti yang dialami para perawi yang buruk hafalannya.

    Kalau mau ngeyel dan bersilat lidah ya silakan. Orang seperti anda bukan barang baru di dunia ini. Saya sudah sering melihat orang yang kehabisan hujjah akhirnya ngeyel begini begitu membawa-bawa asumsi khayalnya sendiri dan menjadikan seolah khayalannya itu ilmiah. Sungguh menjijikkan

    Akan saya ulang satu kali lagi, orang yang menjadikan hujjah periwayatan A’masy dari Salim atau Salamah dalam Shahih Bukhariy sebagai petunjuk untuk menghilangkan idhthirab adalah orang yang sebenarnya tidak paham apa itu idhthirab. Dalam ilmu hadis Idhthirab itu bahkan bisa terjadi pada perawi tsiqat, tsabit bahkan hafizh sekalipun tidak peduli ia mau perawi Bukhari Muslim atau tidak. Idhthirab itu adalah perselisihan sanad yang tidak bisa ditarjih, jadi ya tidak akan hilang hanya dengan sekedar adanya periwayatan perawi tersebut dalam Shahih Bukhariy.

    Kalau idhthirab dalam bentuk tadlis, maka bisa diketahui bahwa yang rajih adalah sanad A’masy -> Salamah -> Salim
    Hal seperti inilah yang dilakukan Ibnu Asakir yang menggunakan jalur A’masy -> Salim sebagai penambal jalur Bakr. Menurut anda riwayat mudhtharib tidak dapat menambal, tapi ternyata Ibnu Asakir menggunakannya, berarti beliau tidak menganggap riwayat ini idhthirab.

    Aduh maaf gak usah mengatasnamakan Ibnu Asakir deh. Gak sekalian anda bilang Ibnu Asakir tidak menganggap riwayat tersebut adalah tadlis A’masy. Ibnu Asakir menggunakan riwayat ini artinya ia tidak menganggap A’masy itu perawi mudallis. Ya kan bung, begitulah konsekuensi logika anda.

    Faktanya A’masy itu memang perawi mudallis jadi ya sangat tidak berguna berpegang pada ulama yang sudah jelas sekali salah. Banyak kok ulama yang baik sadar maupun tidak sadar berpegang pada riwayat yang dhaif. Itu bukan fenomena baru di kalangan para peneliti. Tetapi orang yang berniat mencari kebenaran maka mereka akan meninggalkan kesalahan ulama dan berpegang pada kebenaran.

    Seperti ini pula yang dilakukan Syaikh Ahmad Syakir, dalam dalam catatan kaki no 1339 bahwa A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Maaf anda juga sok tahu terhadap Syaikh Ahmad Syakir. Anda lihat tidak hadis no 1339 yang anda kutip, itu adalah riwayat Abu Bakar bin Ayasy dari A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’.

    Riwayat itu kan termasuk riwayat yang anda lemahkan lha kok sekarang anda petantang petenteng bawa-bawa syaikh Ahmad Syakir yang menshahihkan sanad tersebut. Teruslah banyak bicara maka anda akan menentang dan mendustakan diri anda sendiri.

    Seperti ini pula yang dilakukan oleh Ustadz Abul Jauza : A’masy menerima dari Salim dan Salamah.

    Siapa Abul Jauzaa di mata anda?. ulama besar yang bisa anda jadikan pegangan taklid?. Kalau benar begitu ya silakan saja. Tulisan saya tentang ini memang dibuat untuk membantah Abul Jauzaa’. Itu artinya saya tidak menganggap dia berada di dalam kebenaran tentang riwayat A’masy di atas.

    Orang-orang yang sebutkan tadi adalah orang yang tahu dalam masalah ilmu hadits, yang tidak mengatakan setelah melalui penelitian.

    Maaf, ini cuma logika orang awam dan sebenarnya inilah hakikat anda yang sebenarnya. Jadi tidak perlulah anda bergaya sok tahu sibuk membantah sana sini tetapi miskin ilmu. Diam saja, yakini apa yang menurut anda benar dan tidak usah sibuk membantah apa yang diyakini orang lain. Silakan anda taklid kepada ulama yang anda inginkan sesuai dengan hawa nafsu anda. Sedangkan saya lebih berpegang pada kaidah ilmu hadis dan ulama yang berpegang pada kaidah ilmu hadis dalam pembahasan hadis ini. Bagi orang yang sudah sering membaca kitab hadis dan kitab fiqih maka mereka akan tahu bahwa tidak semua ulama itu benar dalam pendapatnya dan tolak ukur yang utama adalah kaidah ilmu dimana para ulama tersebut berdiri bukan semata-mata pendapat ulama tersebut. Saya yakin hal seperti ini tidak dipahami oleh orang seperti anda wahai abu azifah. Jadi silakan anda berpegang pada keyakinan anda dan begitu pula saya. Salam

  27. percakapan ulama hadits lebih susah dimengerti daripada teori quantum relativity ternyata..

    huft…

    mbok minta tolong dijelaskan istilah2nya ya..

  28. Beginilah anda, terlalu PD dengan pengetahuan kaedah hadits, sehingga berani mengkelirukan para ulama, saya catat, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, Ibnu Asakir, Syaikh Albani, Syaikh Muqbil, Syaikh Syakir, yang tidak sesuai dengan kaedah anda langsung hantam kromo, semua keliru, mbok yao mau berhenti sebentar untuk berpikir lebih lanjut.

    Sebenarnya saya tidak bertaklid kepada semua ulama tadi, cuma saya sampaikan bahwa pendapat A’masy menerima dari Salim dan dari Salamah juga difahami oleh mereka, bukan merupakan faham khayal saya.

    Akan saya ringkasan berbagai qarinah dalam masalah riwayat Abdullah bin Sabu, ada 9 jalur riwayat, 7 riwayat berporos pada A’masy, yang lain adalah riwayat Bakr dan riwayat Tsa’labah.

    Qarinah 1.
    Tujuh riwayat A’masy tadi dapat ditarjih menjadi 2 jalur, yaitu :
    1. A’masy->Salim->Abdullah
    2. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah.

    A’masy seorang hafidz,alim,tsiqat, tapi mudallas.

    Sehingga 2 jalur tadi idhthirab dalam bentuk tadlis, bukan idhthirab dalam bentuk goncang dalam menyampaikan sanad karena buruk hafalan/ikhtilath.

    Karena A’masy seorang mudallis, maka kita ketahui bahwa dalam jalur 1 Salamah digugurkan oleh A’masy.

    Hal ini menjadikan jalur no.2 adalah jalur yang rajih.

    Sehingga tersisa 3 jalur, yaitu :
    1. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah
    2. Bakr->Hamzah->Hakim->Salim->Ali
    3. A’masy->Habib->Tsa’labah

    Jalur 1 dan 3, masih berporos di A’masy sehingga masih idhthirab.,

    Lalu datanglah jalur 2 tidak melalui A’masy, tetapi melalui Salim, sehingga jalur ini dapat merajihkan jalur 1 dan memarjuhkan jalur 3.

    Akhirnya tersisa 2 jalur yang tidak ada idhthirabnya, yaitu :

    1. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah->Ali
    2. Bakr->Hamzah->Hakim->Salim->Ali.

    Riwayat mudallas dengan riwayat dhaif (dari segi ke-dhobitan) dapat saling menguatkan, naik menjadi hasan lighairihi.

    Sehingga idhtirab A’masy dapat dihilangkan.

    Ini adalah Qarinah yang pertama.

    Silahkan anda mau menerima atau tidak.

  29. Qarinah yang kedua.

    Tersisa 2 jalur A’masy :
    1. A’masy->Salim->Abdullah
    2. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah

    HADITS MUDHTHORIB YANG DHOIF

    Soal no. 127 :

    Kapan hadits Mudhtorib didhoifkan dan kapan tidak didhoifkan ?

    Jawaban :

    mudthorib yang merusak hadits kriterianya adalah sbb :

    1. Takafau Thuruq : mereka berselisih terhadap seorang rowi dengan kedudukan yang satu, dan tidak bisa dikuatkan salah satu sisinya.

    2. sulit untuk mengkompromikan perselisihan tersebut, akan tetapi jika perselisihan yang terjadi misalnya dari orang yang tsiqoh kemudian menyebutkan syaikh yang berbeda yang semuanya tsiqoh dan porosnya masih berkisar pada rowi yang tsiqoh, maka bisa kita katakan bahwa rowi ini mungkin memiliki banyak guru karena banyak melakukan rihlah (menuntut ilmu).

    ” Sehingga ungkapan ia malas, maka memursalkan hadits dan ia rajin maka menyambungkan sanad bisa diterapkan”.

    akan tetapi jika bersumber dari rowi yang jelek hapalannya maka harus mentamtsil haditsnya, yakni karena kemungkinan kegoncangan ini bersumber dari jeleknya hapalannya, dan jika ternyata selamat dari kegoncangan, maka shohih haditsnya. Lihat ittihafun-nabiil-jilid-1

    Dari penjelasan diatas, kita ketahui A’masy seorang yang tsiqat, hafidz,alim, hafalannya tidak buruk.

    Jalur 1 adalah jalur yang dimursalkan A’masy karena kondisi malas, sedang jalur 2 jalur yang disambungkan ketika kondisi bersemangat dalam menyampaikan riwayat.

    Sehingga 2 jalur tersebut tidak idhthirab, hanya berstatus lemah karena mudallisnya A’masy.

    Lalu datang jalur Bakr, yang berstatus dhaif (dari segi kedhabitan) dan keterputusan antara Salim dengan Ali.

    Sudah maklum bahwa riwayat mudallas dapat dijadikan penguat riwayat dhaif (akibat kedhabitan).

    Maka tidak salah kalau Ibnu Asakir menjadikan riwayat jalur 1 ini sebagai penguat (penambal) riwayat Bakr.

    Sehingga jalur 1 dan riwayat Bakr menjadi hasan lighairihi.

    Dari qarinah kedua ini diketahui bahwa idhthirabnya A’masy dapat dihilangkan.

    Terserah bagi anda mau menerima atau tidak.

  30. @ abu azifah

    Beginilah anda, terlalu PD dengan pengetahuan kaedah hadits, sehingga berani mengkelirukan para ulama, saya catat, Adz Dzahabi, Ibnu Hajar, Ibnu Asakir, Syaikh Albani, Syaikh Muqbil, Syaikh Syakir, yang tidak sesuai dengan kaedah anda langsung hantam kromo, semua keliru, mbok yao mau berhenti sebentar untuk berpikir lebih lanjut.

    Setelah anda terpojok maka keluarlah jurus dusta anda. Menyatakan ulama keliru itu bukan hal yang aneh bahkan anda sendiri pada hakikatnya juga menyalahkan ulama yang saya kutip sebelumnya.

    Soal Adz Dzahabiy sudah lewat pembahasannya dan andalah yang terbukti berdusta. Anda mengatasnamakan Adz Dzahabiy bahwa kaidahnya dalam menerima tadlis taswiyah hanya dengan lafaz ‘an anah perawi tersebut padahal Adz Dzahabiy cuma berbicara tentang Walid bin Muslim bukan tentang tadlis taswiyah. Dan saya menyalahkan Adz Dzahabiy yang berkata “Walid bin Muslim jika mengucapkan haddatsana maka ia hujjah” itu dengan menggunakan bukti yang kuat dan saya juga menukil pendapat Ibnu Hajar yang mendukung pendapat saya. Anda berdusta dan saya berhujjah dengan bukti yang kuat. Jauh sekali bedanya

    Soal Ibnu Hajar yang menyatakan maqbul terhadap Abdullah bin Sabu’ itu memang terbukti keliru dan yang benar ia majhul. Pendapat yang menyalahkan Ibnu Hajar bukan cuma saya kok tetapi ulama hadis juga yaitu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Basysyaar Awwad Ma’ruf.

    Soal Ibnu Asakir yang keliru, itu sudah terbukti jelas kok. Riwayat A’masy itu mudhtharib ya tidak menjadi hujjah atau bagi yang menolak itu mudhtharib maka riwayat A’masy disana dengan lafaz ‘an anah dan A’masy dikenal sebagai mudallis maka riwayatnya tetap tidak tsabit sanadnya sampai Salim. Ada begitu banyak ulama yang melemahkan lafaz ‘an anah A’masy

    Soal Syaikh Al Albani saya tidak mengerti di bagian mana dalam diskusi ini saya menyalahkannya. Soal Syaikh Muqbil, saya justru meluruskan kekeliruan atau kedustaan anda terhadap Syaikh Muqbil. Syaikh Muqbil tidak mengatakan bahwa semua perawi dalam kitab Ats Tsiqat Ibnu Hibban bisa menjadi penguat. Yang dikatakan Syaikh Muqbil adalah perawi yang mendapat tautsiq dari Ibnu Hibban yaitu dengan lafaz tautsiq yang jelas sebagaimana Al Ijliy berkata “tsiqat” itu bisa dijadikan penguat dalam syawahid dan mutaba’ah.

    Soal Syaikh Ahmad Syakir, tolong berkaca dulu bung, Anda hakikatnya juga orang yang menyalahkan Syaikh Ahmad Syakir tersebut. Baca saja riwayat yang anda sebutkan no 1339 itu riwayat Abu Bakar bin Ayasy yang anda anggap lemah padahal Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan.

    Saya bisa juga tuh mengumpulkan para ulama yang anda anggap salah karena tidak sesuai dengan keyakinan anda disini yaitu Daruquthniy, Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Basysyar Awwad Ma’ruf dan Syaikh Ahmad Syakir. Jangan anda pikir cuma anda yang berpegang pada ulama. Tidak perlu sok suci, anda sendiri pernah menyalahkan sebagian ulama yang tidak sesuai dengan keyakinan anda atau tidak sesuai dengan ulama yang anda ikuti.

    Sebenarnya saya tidak bertaklid kepada semua ulama tadi, cuma saya sampaikan bahwa pendapat A’masy menerima dari Salim dan dari Salamah juga difahami oleh mereka, bukan merupakan faham khayal saya.

    Coba nukilkan dengan jelas kalimat ulama yang anda maksud bahwa mereka menyatakan A’masy menerima hadis ini dari Salim dan juga dari Salamah. Saya gak nemu kok kalimat tersebut. Jadi wajar saja kalau saya katakan itu waham khayal anda saja. Dan yang paling penting sesuai kaidah ilmu riwayat itu sanadnya tidak tsabit sampai ke Salamah dan Salim karena tidak selamat dari cacat tadlis A’masy.

    Akan saya ringkasan berbagai qarinah dalam masalah riwayat Abdullah bin Sabu, ada 9 jalur riwayat, 7 riwayat berporos pada A’masy, yang lain adalah riwayat Bakr dan riwayat Tsa’labah.
    Qarinah 1.
    Tujuh riwayat A’masy tadi dapat ditarjih menjadi 2 jalur, yaitu :
    1. A’masy->Salim->Abdullah
    2. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah.
    A’masy seorang hafidz,alim,tsiqat, tapi mudallas.
    Sehingga 2 jalur tadi idhthirab dalam bentuk tadlis, bukan idhthirab dalam bentuk goncang dalam menyampaikan sanad karena buruk hafalan/ikhtilath.
    Karena A’masy seorang mudallis, maka kita ketahui bahwa dalam jalur 1 Salamah digugurkan oleh A’masy.
    Hal ini menjadikan jalur no.2 adalah jalur yang rajih.
    Sehingga tersisa 3 jalur, yaitu :
    1. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah
    2. Bakr->Hamzah->Hakim->Salim->Ali
    3. A’masy->Habib->Tsa’labah
    Jalur 1 dan 3, masih berporos di A’masy sehingga masih idhthirab.,
    Lalu datanglah jalur 2 tidak melalui A’masy, tetapi melalui Salim, sehingga jalur ini dapat merajihkan jalur 1 dan memarjuhkan jalur 3.
    Akhirnya tersisa 2 jalur yang tidak ada idhthirabnya, yaitu :
    1. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah->Ali
    2. Bakr->Hamzah->Hakim->Salim->Ali.
    Riwayat mudallas dengan riwayat dhaif (dari segi ke-dhobitan) dapat saling menguatkan, naik menjadi hasan lighairihi.
    Sehingga idhtirab A’masy dapat dihilangkan.
    Ini adalah Qarinah yang pertama.
    Silahkan anda mau menerima atau tidak.

    Kesalahan anda yang pertama riwayat no 2 itu dhaif tidak bisa dijadikan penguat atau qarinah tarjih. Kedhaifannya tidak hanya dari segi dhabit, contohnya Bakr bin Bakkaar yang dikatakan pernah mencuri hadis. Maka sangat mudah untuk dikatakan bisa saja ia mencuri hadis A’masy ini dan membawakan dengan sanadnya sendiri.

    Kesalahan anda yang kedua, tolong berhujjahlah dengan baik dan benar. Riwayat no 2 itu anda katakan merajihkan jalur satu dan menghilangkan jalur 3 adalah hujjah yang konyol karena riwayat no 2 yaitu dari Salim dari Aliy ternyata sanadnya juga tidak sama dengan sanad riwayat no 1 yang menyebutkan Salim dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Bagaimana bisa anda merajihkan no 1 lha sanadnya saja beda. Maaf cara berhujjah anda saja sembarangan bagaimana bisa orang lain menerima.

    Dari penjelasan diatas, kita ketahui A’masy seorang yang tsiqat, hafidz,alim, hafalannya tidak buruk.
    Jalur 1 adalah jalur yang dimursalkan A’masy karena kondisi malas, sedang jalur 2 jalur yang disambungkan ketika kondisi bersemangat dalam menyampaikan riwayat.
    Sehingga 2 jalur tersebut tidak idhthirab, hanya berstatus lemah karena mudallisnya A’masy.
    Lalu datang jalur Bakr, yang berstatus dhaif (dari segi kedhabitan) dan keterputusan antara Salim dengan Ali.
    Sudah maklum bahwa riwayat mudallas dapat dijadikan penguat riwayat dhaif (akibat kedhabitan).
    Maka tidak salah kalau Ibnu Asakir menjadikan riwayat jalur 1 ini sebagai penguat (penambal) riwayat Bakr.
    Sehingga jalur 1 dan riwayat Bakr menjadi hasan lighairihi.
    Dari qarinah kedua ini diketahui bahwa idhthirabnya A’masy dapat dihilangkan.
    Terserah bagi anda mau menerima atau tidak.

    Sekarang giliran saya yang berhujjah, riwayat no 1 dan no 2 dalam kasus ini lebih masuk akal dikatakan idhthirab karena A’masy selain ia seorang hafizh, tsiqat dan mudallis, ia juga dikatakan idhthirab dalam sebagian hadisnya sebagaimana yang dikatakan ulama mu’tabar yaitu Ahmad bin Hanbal dan Aliy bin Madiniy. Apalagi ditambah dengan qarinah riwayat Tsa’labah yang lebih menguatkan fakta kalau A’masy idhthirab dalam hadis ini.

    Hujjah anda kan kelihatan sekali lemahnya. Pertama tidak ada ulama yang anda jadikan dasar anda dalam mengatakan A’masy terkadang malas dan terkadang bersemangat menyampaikan riwayat. Itu hanya ucapan yang anda kopipaste dari Ittihaf An Nabil kemudian anda pakai seenaknya pada kasus A’masy. Silakan bandingkan hujjah saya yang berpegang pada ulama mu’tabar Ahmad bin Hanbal dan Aliy bin Madiniy dimana mereka menyatakan bahwa A’masy juga sering idhthirab dalam riwayatnya.

    Kedua, hujjah anda dengan riwayat Bakr itu sudah saya jelaskan sangat dhaif. Bakr itu dhaif tidak hanya dari segi dhabit, ia juga dikatakan pernah mencuri hadis. Kemudian Hakim bin Jubair lemah dan Salim sanadnya mursal dari Aliy. Silakan bandingkan dengan hujjah saya yang menambahkan riwayat A’masy dari Habiib dari Tsa’labah dari Aliy sebagai bagian idhthirab A’masy. Riwayat ini sanadnya jayyid sampai A’masy dan Daruquthniy dalam Al Ilal memasukkan sanad ini sebagai bentuk perselisihan sanad A’masy artinya termasuk bagian idhthirab A’masy. Saya berhujjah dengan riwayat bersanad jayyid sampai A’masy dan juga memakai ulama mu’tabar seperti Daruquthniy. Mudah sekali untuk melihat siapa yang berpegang pada kaidah ilmiah, anda atau saya?. Silakan para pembaca saja yang menilai. Jadi mana mungkin saya akan menerima hujjah abal-abal anda seperti itu karena saya sudah punya hujjah yang kuat sesuai dengan kaidah ilmu hadis

  31. @abu azifah

    Anda berkata :

    Tujuh riwayat A’masy tadi dapat ditarjih menjadi 2 jalur, yaitu :
    1. A’masy->Salim->Abdullah
    2. A’masy->Salamah->Salim->Abdullah.

    A’masy seorang hafidz,alim,tsiqat, tapi mudallas.

    Sehingga 2 jalur tadi idhthirab dalam bentuk tadlis, bukan idhthirab dalam bentuk goncang dalam menyampaikan sanad karena buruk hafalan/ikhtilath.

    Karena A’masy seorang mudallis, maka kita ketahui bahwa dalam jalur 1 Salamah digugurkan oleh A’masy.

    Hal ini menjadikan jalur no.2 adalah jalur yang rajih.

    —————
    Sedikit tanggapan saya :

    Anda berkata bahwa pada 2 jalur dari A’masy terjadi “idhthirab dalam bentuk tadlis”.
    Kenapa terjadi “idhthirab dalam bentuk tadlis” ? Maka selanjutnya anda mengemukakan alasan : Karena A’masy seorang mudallis, maka kita ketahui bahwa dalam jalur 1 Salamah digugurkan oleh A’masy.
    Sampai disini maka penjelasan anda menurut saya masih logis.

    Nah yang membuat saya heran dan tak habis pikir adalah pada pernyataan anda selanjutnya yang berkata :
    “Hal ini menjadikan jalur no.2 adalah jalur yang rajih. . . “. Pertanyaan saya kepada anda adalah : Kalau penilaian idhthirabnya kedua jalur tersebut disebabkan karena A’masy adalah seorang mudallis, maka apakah jalur yang anda rajihkan tersebut memang sudah terbukti tidak mengandung kemungkinan terjadi tadlis sebagai alasan untuk menanggapnya sebagai jalur yang marjuh juga?
    Kalau anda bisa berkata bahwa faktor marjuhnya jalur no 1 karena A’masy menggugurkan satu rawi antara dirinya dan Salim yaitu Salamah, maka apakah tidak mungkin bahwa faktor tersebut bisa juga terjadi di antara A’masy dan Salamah bahwa kemungkinan terjadi pengguguran seorang rawi diantara keduanya ? Kalau ditanya apa indikasinya, maka alasannya jelas bahwa kemungkinan terjadi tadlis pada jalur no 2 tidak bisa dikatakan sepenuhnya telah hilang sampai anda dapat menemukan “jalur lain” yang menunjukkan terdapat lafaz penyimakan antara A’masy dengan Salamah.

    Kesimpulannya : jalur no 2 tetap tidak bisa dianggap lebih rajih dari jalur 1 karena faktor kemungkinan terjadinya tadlis oleh A’masy tidak bisa dihilangkan dari kedua jalur tersebut.

  32. @abu azifah

    Anda berkata :

    Dari penjelasan diatas, kita ketahui A’masy seorang yang tsiqat, hafidz,alim, hafalannya tidak buruk.

    Jalur 1 adalah jalur yang dimursalkan A’masy karena kondisi malas, sedang jalur 2 jalur yang disambungkan ketika kondisi bersemangat dalam menyampaikan riwayat.

    Sehingga 2 jalur tersebut tidak idhthirab, hanya berstatus lemah karena mudallisnya A’masy.

    ——————————–

    Tadi anda berkata bahwa ke 2 jalur tesebut telah “idhthirab dalam bentuk tadlis”. . . eh sekarang anda berkata lain lagi : “Jalur 1 adalah jalur yang dimursalkan A’masy karena kondisi malas, sedang jalur 2 jalur yang disambungkan ketika kondisi bersemangat dalam menyampaikan riwayat.

    Sehingga 2 jalur tersebut tidak idhthirab, hanya berstatus lemah karena mudallisnya A’masy.”
    Yang tsabit dari pendapat anda tentang 2 jalur tersebut yang mana sih sebenarnya ?
    Dua perkataan anda :

    1. “idhthirab dalam bentuk tadlis” dan

    2.”Sehingga 2 jalur tersebut tidak idhthirab, hanya berstatus lemah karena mudallisnya A’masy” . . . jelas menunjukkan “kebingungan” anda memahami apa itu tadlis dan idhthirab serta perbedaan antara keduanya.

  33. @SP

    Tentang idhthirabnya jalur Tsa’labah, bukan berkaitan idhthirab dengan jalur sanad Salamah/Salim mas.

    Berkaitan dengan penyampaian lafal yang berbeda antara riwayat ini, dengan riwayat Adz Dzahabi dan riwayat Ibnu Abdil Barr.

    Dan ini sudah saya bantah.

  34. @ abu azifah

    Tentang idhthirabnya jalur Tsa’labah, bukan berkaitan idhthirab dengan jalur sanad Salamah/Salim mas.
    Berkaitan dengan penyampaian lafal yang berbeda antara riwayat ini, dengan riwayat Adz Dzahabi dan riwayat Ibnu Abdil Barr.
    Dan ini sudah saya bantah.

    Waduh ngawur anda ini, yang dimaksud idhthirab disini adalah pada sanadnya yang berselisih dari A’masy dan itulah yang disebutkan Daruquthniy dalam Al Ilal

    Mana ada penyebutan riwayat Adz Dzahabiy dan riwayat Ibnu Abdil Barr itu dikaitkan dengan idhthirab sanad. Ya gak nyambung. Berbeda masalahnya kalau yang anda singgung itu idhthirab pada matannya. Beginilah anda, hujjah orang lain saja anda tidak paham terus sok bilang sudah membantah. Kasihan

  35. kalo kalian semua di jakarta, saya bersedia jadi tuan rumah debat ini..

  36. Catatan tambahan :

    1. Dapat ditambalnya riwayat Bakr dengan riwayat A’masy berdasarkan kepada :

    SYARAT HADITS DHOIF YANG LEMAH YANG BISA
    DIJADIKAN PENGUAT UNTUK MURSAL

    Soal no. 137 :
    Jika datang hadits yang bersambung tapi didalamnya ada dhoif
    Munjabir (yang bisa dijadikan penguat) kemudian datang hadits shohih
    tapi mursal, maka bagaimana status haditsnya ?

    Jawaban :
    Jika ada hadits dhoif yang besambung dan datang jalan lain hadits
    yang shohih mursal, maka haditsnya hasan. Akan tetapi harus dilihat
    apakah dua jalan tersebut atau satu jalan, apabila asalnya satu jalan
    maka dihukumi mana yang rojih dari jalan tersebut, atau misalnya
    ternyata salah satu jalan adalah illatnya, maka tidak bisa saling
    menguatkan. Baru jika itu adalah dua jalan yang berbeda bisa saling
    menguatkan.

    2. Status pencuri hadits, sependek pengetahuan saya adalah seorang perawi mengganti sanad milik orang lain.
    Hal ini dapat terjadi akibat buruknya hafalan si perawi akan jalur-jalur sanad masing-masing perawi, sehingga hanya tercacat dari segi ke-dhabit-annya saja.

    3. Menurut mas SP, yang dimaksud syaikh Muqbil tautsiq Ibnu Hibban adalah perawi yang hanya mendapat ta’dil Ibnu Hibban saja, ini keliru, karena sudah maklum para ulama sepakat akan diterimanya ta’dil Ibnu Hibban, akan tetapi berselisih terhadap perawi yang tercantum dalam ats tsiqat. Dan ini yang dimaksud syaikh Muqbil (hanya layak dijadikan penguat).

    Ini saja dari saya, astaghfirullahal ‘adzim, mohon maaf atas segala kesalahan, insya Allah bertemu kembali dalam bantahan/diskusi yang lain (kalau berkenan).

  37. Buat yang berkomentar kotor disini, apakah hati anda puas sekarang?

  38. Assalamualaikum @secondprince…bagaimana saya boleh hubungi saudara melalui emel. Mohon saudara dapat emel ke saya poeypd@gmail.com. Saya ada pertanyaan yang memerlukan pertolongan saudara.

  39. Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma sholi ‘ala muhammad wa ali muhammad

    sungguh ulasan ustd SP sangat dalam… ohya, negeri ini masih banyak kekurangan literatur syiah, apalagi sampai yang mengkaji validitas sebuah riwayat.

    Hadirnya blog analisis pencari kebenaran, mengisi celah yang memang belum dimuat disitus-situs atau blog-blog … lain, maju telus ustd SP…

    Ohya… mohon ustad ulas… tentang do’a Sonamay Quraisy…
    di situs misykat belum tuntas sepertinya :

    http://misykatnews.blogspot.com/2015/05/menjawab-tentang-sonamay-quraisy-1.html

    http://misykatnews.blogspot.com/2015/05/menjawab-tentang-sonamay-quraisy-2.html

    Bila ustad luang waktu… mohon blog dari nashibi

    jaser-leonheart.blogspot.com ›

    ustad tanggapi… (meskipun sudah ustd tanggapi) tapi kayaknya dia sangat rajin melakukan penyesatan informasi…

    syukran untuk ustd… Maju terus Ustd SP untuk Indonesia yang mencintai Ahlul Ba’it….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: