Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Salah satu isu yang sering dilontarkan penganut Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah adalah ulama Ahlus Sunnah diantaranya Imam Bukhariy juga meriwayatkan dari perawi Syi’ah.

Dan jawaban dari sebagian Ahlus Sunnah biasanya berupa bantahan yaitu Imam Bukhariy memang meriwayatkan dari Syi’ah tetapi Syi’ah yang dimaksud bukan Syi’ah Rafidhah tetapi Syi’ah dalam arti lebih mengutamakan Aliy bin Abi Thalib dari Utsman atau sahabat lainnya, Syi’ah yang tetap memuliakan para sahabat bukan seperti Syi’ah Rafidhah yang mencela para sahabat. Salah satu bantahan yang dimaksud dapat para pembaca lihat disini.

Benarkah demikian?. Tentu saja cara sederhana untuk membuktikan hal itu adalah tinggal menunjukkan adakah perawi Bukhariy yang dikatakan Rafidhah atau dituduh Syiah yang mencela sahabat Nabi. Akan diambil beberapa perawi Bukhariy sebagai contoh yaitu

  1. ‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy
  2. ‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawajiniy
  3. Auf bin Abi Jamiilah Al Arabiy
  4. Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

.

.

‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi dalam Taqrib At Tahdzib hal 621 no 4192 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Abdul Malik bin A'yan

[perawi kutubus sittah] ‘Abdul Maaalik bin A’yaan Al Kuufiy maula bani Syaibaan, seorang Syi’ah yang shaduq, memiliki riwayat dalam Shahihain satu hadis sebagai mutaba’ah, ia termasuk thabaqat keenam

Dari keterangan di atas maka ‘Abdul Maalik bin A’yaan termasuk perawi Bukhariy dalam Shahih-nya. Adapun soal hadisnya yang hanya satu sebagai mutaba’ah maka itu tidak menjadi soal disini. Lantas Syi’ah seperti apakah dia? Apakah dia seorang rafidhah?. Jawabannya ada pada apa yang disebutkan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid]

Abdul Malik bin A'yan2

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin A’yan, seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah shaahib ra’yu

Atsar di atas sanadnya shahih sampai Sufyan dan ia adalah Ibnu Uyainah. Dalam atsar tersebut ia menyatakan bahwa Abdul Malik bin A’yan seorang rafidhah

  1. Bisyr bin Muusa seorang imam hafizh tsiqat [Siyar A’lam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 13/352 no 170]
  2. Al Humaidiy yaitu Abdullah bin Zubair bin Iisa seorang tsiqat hafizh faqih [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 506 no 3340]
  3. Sufyan bin Uyainah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 395 no 2464]

.

.

.

‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy

Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 14/175 no 3104 [tahqiiq Basyaar Awwaad Ma’ruuf] menyebutkan salah satu biografi perawi yang termasuk perawi Bukhariy

Abbad bin Ya'qub4

[perawi Bukhariy, Tirmidzi dan Ibnu Majah] ‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid Al Kuufiy, seorang Syi’ah

Lantas Syiah yang bagaimanakah dia?. Jawabannya bisa dilihat dari pernyataan Shalih bin Muhammad yang dinukil oleh Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal

'Abbad bin Ya'qub2

Aliy bin Muhammad Al Marwaziy berkata Shalih bin Muhammad ditanya tentang ‘Abbaad bin Ya’quub Ar Rawaajiniy, Maka ia berkata “ia telah mencaci Utsman”

Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruuhin 2/163 no 794 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] menyatakan dengan jelas bahwa ia rafidhah

'Abbad bin Ya'qub

‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid termasuk penduduk Kuufah, meriwayatkan dari Syariik, telah meriwayatkan darinya guru-guru kami, wafat pada tahun 250 H di bulan syawal, ia seorang Rafidhah yang mengajak ke paham rafadh, dan bersamaan dengan itu ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur maka selayaknya ditinggalkan

Bukhariy meriwayatkan darinya dan memasukkannya dalam kitab Shahih-nya. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari guru Imam Bukhariy. Bukhariy hanya meriwayatkan satu hadis darinya dan itu pun sebagai mutaba’ah. Tidak jadi soal berapa jumlah hadis yang diriwayatkan Bukhariy darinya, yang penting telah dibuktikan bahwa ia termasuk perawi Bukhariy yang dikatakan rafidhah.

.

.

.

‘Auf bin Abi Jamiilah Al A’rabiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 757 no 5250 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Auf bin Abi Jamilah

[perawi kutubus sittah] Auf bin Abi Jamiilah [dengan fathah pada huruf jiim] Al A’rabiy, Al ‘Abdiy, Al Bashriy, seorang yang tsiqat dituduh dengan faham qadariy dan tasyayyu’ termasuk thabaqat keenam wafat pada tahun 146 atau 147 H pada umur 86 tahun

Bagaimanakah tuduhan tasyayyu’ yang dimaksud?. Adz Dzahabiy menukil dalam kitabnya Mizan Al I’tidal 5/368 no 6536 [tahqiq Syaikh ‘Aliy Al Mu’awwadh, Syaikh ‘Adil Ahmad dan Ustadz Dr ‘Abdul Fattah]

Auf bin Abi Jamilah2

Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshaariy berkata aku melihat Dawud bin Abi Hind memukul Auf Al Arabiy dan mengatakan “celaka engkau wahai qadariy”. Dan Bundaar berkata dan ia membacakan kepada mereka hadis Auf “demi Allah sungguh Auf seorang qadariy rafidhah syaithan”

.

.

.

‘Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 691 no 4732 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Aliy bin Ja'd

[perawi Bukhariy dan Abu Dawud] Aliy bin Ja’d bin Ubaid Al Jauhariy, Al Baghdadiy seorang tsiqat tsabit dituduh dengan tasyyayyu’, termasuk thabaqat kesembilan dari kalangan sighar, wafat pada tahun 230 H

Aliy bin Ja’d termasuk salah satu guru Bukhariy, tidak ada yang menuduhnya rafidhah tetapi ia pernah menyatakan Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Dalam Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaaq bin Ibrahim bin Haani’ An Naisaburiy 2/154 no 1866 [tahqiiq Zuhair Asy Syaawiisy], ia [Ishaaq] berkata

Aliy bin Ja'd2

Dan aku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal], telah berkata kepadanya Dalluwaih “aku mendengar Aliy bin Ja’d mengatakan demi Allah, Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam”

Dalluwaih yang dimaksud adalah Ziyaad bin Ayuub Abu Haasyim juga termasuk perawi Bukhariy, seorang yang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib hal 343 no 2067]

.

.

.

Ulasan Singkat

Fakta-fakta di atas adalah bukti yang cukup untuk membatalkan pernyataan bahwa Bukhariy tidak mengambil hadis dari perawi Rafidhah atau perawi Syi’ah yang mencela sahabat.

Yang kami sajikan disini hanyalah apa yang tertera dan ternukil dalam kitab Rijal Ahlus Sunnah, kami sendiri pada akhirnya [setelah mempelajari lebih dalam] memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal ini. Pengalaman kami dalam menelaah kitab Rijal menunjukkan bahwa perawi dengan mazhab menyimpang [di sisi ahlus sunnah] seperti khawarij, syiah, qadariy, bahkan nashibiy tetap ada yang dikatakan tsiqat atau shaduq sehingga mazhab-mazhab menyimpang tersebut tidak otomatis menjadi hujjah yang membatalkan keadilan perawi.

Hal ini adalah fenomena yang sudah dikenal dalam mazhab Ahlus Sunnah dan tidak ada yang bisa diperbuat dengan itu, memang kalau dipikirkan secara kritis bisa saja dipermasalahkan [sebagaimana kami dulu pernah mempermasalahkannya] tetapi sekeras apapun dipikirkan tidak akan ada solusinya, tidak ada gunanya berkutat pada masalah yang tidak ada solusinya. Lebih baik menerima kenyataan bahwa memang begitulah adanya.

  1. Silakan dipikirkan berapa banyak hadis shahih Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mencela khawarij tetapi tetap saja dalam kitab Rijal ditemukan para perawi yang dikatakan khawarij tetapi tsiqat dan shaduq.
  2. Atau jika ada orang yang mau mengatakan bahwa mencela sahabat dapat menjatuhkan keadilan perawi maka ia akan terbentur dengan para perawi tsiqat dari golongan rafidhah yang mencela sahabat tertentu seperti Utsman dan dari golongan nashibiy yang mencela Aliy bin Abi Thalib.
  3. Bukankah ada hadis shahih bahwa tidak membenci Aliy kecuali munafik tetapi dalam kitab Rijal banyak perawi nashibiy yang tetap dinyatakan tsiqat.

Mungkin akan ada yang berpikir, bisa saja perawi yang dikatakan atau dituduh bermazhab menyimpang [rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij] tidak mesti memang benar seperti yang dituduhkan. Jawabannya ya memang mungkin, tetapi apa gunanya berandai-andai, kalau memang begitu maka silakan dipikirkan bagaimana memastikan tuduhan tersebut benar atau keliru. Dalam kitab Rijal secara umum hanya ternukil ucapan ulama yang menyatakan perawi tertentu sebagai rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij tanpa membawakan bukti atau hujjah. Perkara ini sama halnya dengan pernyataan tautsiq terhadap perawi. Kita tidak memiliki cara untuk membuktikan benarkah ucapan ulama bahwa perawi tertentu tsiqat atau shaduq atau dhaif. Yang bisa dilakukan hanyalah menerimanya atau merajihkan atau mengkompromikan perkataan berbagai ulama tentang perawi tersebut.

Lantas mengapa isu ini dibahas kembali disini?. Isu ini menjadi penting ketika ada sebagian pihak yang mengkafirkan orang-orang Syi’ah maka orang-orang Syi’ah melontarkan syubhat bahwa dalam kitab Ahlus Sunnah termasuk kitab Bukhariy banyak terdapat perawi Syi’ah. Kemudian pihak yang mengkafirkan itu membuat bantahan yang mengandung syubhat pula bahwa perawi Syi’ah dalam kitab Shahih bukanlah Rafidhah. Kami katakan bantahan ini mengandung syubhat karena faktanya terdapat sebagian perawi syiah dalam kitab Shahih yang ternyata dikatakan Rafidhah [contohnya sudah disebutkan di atas].

36 Tanggapan

  1. makanya kalo belajar itu yang benar SP (soak plintat-plintut), rafidhoh yg dimaksud oleh ulama2 tersebut adalah dalam artian yang baik, bukan yang buruk sebagaimana yang disangkakan. Sekarang adakah:
    ‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy
    ‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawajiniy
    Auf bin Abi Jamiilah Al Arabiy
    Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy
    .yang terbukti melakukan amalan syiah laknat? seperti mut’ah dengan pelacur, dll? Tidak! Jadi apa masalahnya, kalau rafidhoh cuma sekeder nama/julukan?

  2. @SP

    Mengapa anda menuliskan bahwa orang2 Syiah sering melontarkan syubhat tentang perawi Syiah dalam Kitab Bukhari? Bukankah anda telah menuliskan secara rinci nama2 perawi Syiah dalam kitab Bukhari dan apa pendapat ulama Sunni tentang mereka. Lantas syubhat seperti apa lagi yang anda maksudkan.

    Bila maksud syubhat anda disini adalah bahwa kita yang hidup dimasa sekarang tidak memiliki cara untuk membuktikan apakah perawi2 itu adalah benar Syiah Rafidhah sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama maka bukankah anda sendiri juga telah terjebak oleh syubhat2 yang anda buat sendiri.

    Entahlah mungkin masalah ada pada diri saya yang tidak memahami artikel anda ini secara baik

  3. @Ibnu Mut’ah

    Rafidhah ya tetap Rafidhah wahai yang mengaku anak mut’ah [Ibnu Mut’ah]. Coba tunjukkan secara ilmiah jika ada ulama ahlus sunnah yang membagi Rafidhah menjadi beberapa macam. Dan coba tunjukkan pula ulama ahlus sunnah yang mengatakan ada makna Rafidhah dalam artian yang baik?. Silakan tunjukkan, jangan hanya bisa berbicara menyuruh orang lain belajar. Kalau soal nikah mut’ah ada perawi ahlus sunnah yang lebih cocok untuk dipermasalahkan misalnya Ibnu Juraij yang dikatakan melakukan nikah mut’ah. Silakan berbingung ria wahai yang mengaku anak mut’ah

  4. @Farhoz

    Syubhat yang saya maksudkan disana adalah perkara yang samar dan ternyata setelah diteliti dengan baik terdapat beberapa hal yang perlu diluruskan. Misalnya kesan yang saya tangkap dari sebagian pengikut Syi’ah ketika menyatakan bahwa Bukhariy mengambil hadis dari perawi Syi’ah adalah mereka tidak membedakan antara Syi’ah dan Rafidhah padahal dalam ilmu hadis ahlus sunnah nampak bahwa tidak setiap perawi yang dikatakan Syi’ah [tasyayyu’] adalah Rafidhah. Rafidhah sudah pasti Syi’ah tetapi Syi’ah belum tentu Rafidhah, itulah terminologi yang dipakai ulama ahlus sunnah yang nampak dalam kitab-kitab Rijal.

    Itulah salah satu contoh syubhat yang saya maksud dan sudah banyak bantahan yang menunjukkan bahwa Syi’ah belum tentu Rafidhah. Hanya saja memang diantara pembantah Syi’ah ada yang juga terjatuh kedalam Syubhat pula yaitu menafikan bahwa Bukhariy mengambil hadis dari Rafidhah padahal faktanya sudah saya tunjukkan bahwa Bukhariy juga mengambil hadis dari perawi yang dikatakan Rafidhah

  5. @SP

    Tidak ada yang syubhat ketika pengikut Syiah tidak membedakan antara Syiah dan Rafidhah berkaitan dengan para perawi dalam kitab Bukhari karena dalam Syiah tidak dikenal pembagian2 kelompok antara Syiah tasyayyu dan Syiah rafidhah. Menjadi syubhat bila dikemukakan oleh pembantah Syiah.

    Saya heran mengapa ulama klasik membagi2 Syiah ke dalam kelompok2 itu. Pembagian seperti itu menurut saya sangat bias dan tidak adil terlebih para ulama klasik itu tidak memberikan batasan yang jelas kapan seseorang boleh menjadi Rafidhah, akibatnya batasan Rafidhah itu sendiri menjadi sangat subyektif. Ada yang beranggapan melihat apa2 yang anda tulis disini tentang diri sahabat telah lebih dari cukup untuk menjatuhkan vonis Rafidhah atas diri anda🙂

  6. @shahnameh

    Sudah selayaknya jika seseorang ingin menisbatkan sesuatu kepada suatu mazhab tertentu maka ia harus merujuk pada kaidah ilmu yang ada dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu jika orang Syi’ah ingin mengatakan ada perawi Syi’ah dalam Shahih Bukhariy [dimana pernyataan syiah-nya perawi tersebut berdasarkan nukilan ulama ahlus sunnah] maka sangat wajar untuk ditelaah apa maksud Syi’ah yang dimaksud ulama ahlus sunnah tersebut. Bagi saya ini cara yang benar untuk melihat permasalahan ini. Jadi jika anda katakan Syi’ah tidak membedakan antara tasyayyu’ dan rafidhah maka itu tidak relevan.

    Mungkin saja batasan Syi’ah dan Rafidhah oleh ulama-ulama ahlus sunnah sifatnya subjektif. Mengingat secara umum para ulama tersebut tidak menyebutkan apa alasan atau hujjah kenapa perawi tertentu dituduh tasyayyu’ dan yang lain dituduh Rafidhah. Dan mungkin saja batasan masing-masing ulama tersebut tidak sama. Seperti yang sudah saya singgung di atas, wilayah ini sudah masuk dalam area dimana tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima saja apa adanya.

    Adapun soal tuduhan rafidhah yang dinisbatkan kepada saya dengan batasan berupa apa yang saya tulis tentang sahabat dalam blog ini. Maka jawabannya sederhana, apa yang saya tulis itu berdasarkan dalil shahih dalam kitab ahlus sunnah [yang sejauh ini masih menjadi pegangan saya] jika begitu maka itu sama saja mengatakan bahwa rafidhah memiliki dasar yang shahih dalam mazhab ahlus sunnah. Saya yakin mereka yang menuduh itu akan mati-matian menolak konsekuensi ini, jadi bisa dibilang tuduhan rafidhah tersebut hanya luapan emosi mereka saja

  7. “Coba tunjukkan secara ilmiah jika ada ulama ahlus sunnah yang membagi Rafidhah menjadi beberapa macam. Dan coba tunjukkan pula ulama ahlus sunnah yang mengatakan ada makna Rafidhah dalam artian yang baik?. Silakan tunjukkan, jangan hanya bisa berbicara menyuruh orang lain belajar.”
    ==================================

    Lha itu, bukankan ente sendiri sudah mengutipnya, masa tulisan sendiri ngga paham, lucu lucu lucu banget sih ente, hihihi hahahaha, otak ente telmi juga wakakakaaka😛

    “Kalau soal nikah mut’ah ada perawi ahlus sunnah yang lebih cocok untuk dipermasalahkan misalnya Ibnu Juraij yang dikatakan melakukan nikah mut’ah. Silakan berbingung ria wahai yang mengaku anak mut’ah.”

    Kalo memang ente bukan syiah maka buktikan kalo ente bukan anak mut’ah, cepat! hehehe:mrgreen:

  8. @Ibnu Mut’ah

    waduh masa’ komentar begitu pakai ketawa, apanya yang lucu?. Coba saya ajak anda melihat kembali tulisan di atas. Dimana ada keterangan bahwa ulama yang membagi Rafidhah menjadi bermacam-macam?. Saya mengutip sebagian ulama yang menyatakan perawi tertentu adalah rafidhah. Diantara yang dikatakan Rafidhah ada yang mencaci sahabat Utsman bin ‘Affan. Ada yang malah dikatakan Rafidhah Syaithan. Selain yang dikatakan Rafidhah ada juga yang dikatakan Syi’ah tetapi ternyata menganggap Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Itukah jenis pembagian Rafidhah yang anda maksudkan?. Itukah jenis Rafidhah yang anda maksud dalam artian yang baik?. Kalau iya, maaf apa yang anda tertawakan, jangan-jangan anda malah mentertawakan diri anda sendiri

    Kalo memang ente bukan syiah maka buktikan kalo ente bukan anak mut’ah, cepat! hehehe

    Jadi berdasarkan perkataan anda di atas, kalau anda mengaku sebagai anak mut’ah berarti anda Syiah ya. Kalau memang iya maka saya sarankan jadilah orang Syi’ah yang baik:mrgreen:

  9. “waduh masa’ komentar begitu pakai ketawa, apanya yang lucu?. Coba saya ajak anda melihat kembali tulisan di atas. Dimana ada keterangan bahwa ulama yang membagi Rafidhah menjadi bermacam-macam?. Saya mengutip sebagian ulama yang menyatakan perawi tertentu adalah rafidhah. Diantara yang dikatakan Rafidhah ada yang mencaci sahabat Utsman bin ‘Affan. Ada yang malah dikatakan Rafidhah Syaithan. Selain yang dikatakan Rafidhah ada juga yang dikatakan Syi’ah tetapi ternyata menganggap Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Itukah jenis pembagian Rafidhah yang anda maksudkan?. Itukah jenis Rafidhah yang anda maksud dalam artian yang baik?. Kalau iya, maaf apa yang anda tertawakan, jangan-jangan anda malah mentertawakan diri anda sendiri”

    Ente emang telmi, kalo sekedar mencaci, saya kira pihak ahlussunnahpun ada, tapi tidak disebut mencari melainkan mengkritik. paham ya? OON!😛 ente aja yang terlalu lebay:mrgreen:

    kalo rafidhoh syaithon, itu murni karena otak ente cetek, alias dangkall!

    di naskah itu hanya tertulis: Auf itu adalah seorang qadari, rafidhoh dan setan, bukan rafidhoh syaithon atau rafidhoh yang syaithon seperti yang ente kira, dasar bahlul ente! Makanya belajar yang benar, kalo kesulitan memahami ente bisa belajar dari ana, syaratnya cukup sederhana ente cium kaki ane.😛

    kalo ali bin ja’d menyatakan muawiyah mati tidak dalam agama Islam, so apa masalahnya? muawiyah mati dalam islam ato tidak bukankah hanya Allah yang tahu? Plis deh SP otak ente ditaroh dimana? taroh dong di tempat yang bener, jangan di bawah meja. hehe😛 makanya jangan keseringan main kartu buat mengundi cewek yang mau diajak mutah:mrgreen:

    Jadi mulai sekarang ente menghadap cermin lalu tertawakan diri ente sepuasnya:mrgreen:

    =====================

    “Jadi berdasarkan perkataan anda di atas, kalau anda mengaku sebagai anak mut’ah berarti anda Syiah ya. Kalau memang iya maka saya sarankan jadilah orang Syi’ah yang baik ”

    Itu artinya ente juga anak mutah makanya bertaqiyah begitoh, wakakakaka:mrgreen:

  10. @Ibnu Mut’ah

    Ente emang telmi, kalo sekedar mencaci, saya kira pihak ahlussunnahpun ada, tapi tidak disebut mencari melainkan mengkritik. paham ya?

    Lho silakan anda mau bilang apa, saya sudah nukilkan teks arabnya memang disebutkan “mencaci Utsman”. Kalau anda mengatakan ahlus sunnah juga ada ya berarti ahlus sunnah pun juga mencaci sahabat tidak ada bedanya dengan Rafidhah. Kok pertanyaan saya tidak dijawab, inikah “Rafidhah dalam artian baik” yang anda maksud?. Jawab dengan jelas gak perlu ketawa, menghina atau mencela saya, tidak ada gunanya itu dan saya pun tidak berminat dengan celaan anda. Silakan buktikan mana yang anda katakan bahwa maksud ulama di atas adalah “rafidhah dalam artian yang baik”.

    di naskah itu hanya tertulis: Auf itu adalah seorang qadari, rafidhoh dan setan, bukan rafidhoh syaithon

    silakan tuh baca teks arabnya memangnya ada kata “dan” diantara rafidhah dan syaithan?. Jangak sok menyalahkan kalau memang tidak bisa bahasa arab. Diam sajalah itu lebih baik kok. Pertanyaannya tetep sama, apakah ini yang anda maksud “rafidhah dalam artian baik”?

    kalo ali bin ja’d menyatakan muawiyah mati tidak dalam agama Islam, so apa masalahnya? muawiyah mati dalam islam ato tidak bukankah hanya Allah yang tahu?

    Lho kalau anda anggap nggak ada masalah ya gapapa. Intinya Aliy bin Ja’d menganggap Muawiyah itu mati kafir jadi kalau anda menganggap Mengkafirkan Muawiyah adalah tidak ada masalah ya silakan. Hanya saja saya ingin pastikan apakah ini yang anda maksud “rafidhah dalam artian baik”?

    Oh iya satu lagi, sekalian saya tambahkan mengenai perawi yang bernama ‘Abdul Malik bin A’yan, ketika Sufyan menyatakan ia rafidhah maka itu sudah jelas dalam artian buruk. Berikut buktinya

    وقال حامد عن سفيان هم ثلاثة إخوة عبد الملك وزرارة وحمران روافض كلهم اخبثهم قولا عبد الملك

    Dan berkata Hammaad dari Sufyaan “mereka tiga bersaudara ‘Abdul Malik, Zurarah dan Hamraan semuanya rafidhah dan yang paling buruk diantara mereka adalah ‘Abdul Malik [Tahdzib At Tahdzib juz 6 hal 729]

    Kalau mau menjawab maka jawablah pertanyaan saya mana bukti dari ulama bahwa rafidhah yang dimaksud di atas adalah “rafidhah dalam artian baik”?. Tidak usah menghina saya begini begitu, saya gak akan terpancing untuk ikut-ikutan menghina, justru saya malah kasihan sama anda yang semakin banyak berkomentar malah semakin banyak menumpuk dosa. Komentar biasa sajalah bung, salam damai

  11. @SP
    makin ke sini koment ente ini kok malah makin ngga keliatan cerdas yach?

    “Kalau anda mengatakan ahlus sunnah juga ada ya berarti ahlus sunnah pun juga mencaci sahabat tidak ada bedanya dengan Rafidhah.”

    mengkritik dengan mencaci itu beda bro, contoh:
    syiah: Usman anak ahli neraka, dsb
    sunni: usman keliru dalam pengambilan keputusan, dsb

    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother.

    Ente ini kayaknya masih ga paham dengan rafidhoh dalam artian baik ya? kasian saya lihat Anda ini. Miskin pehaman.

    “silakan tuh baca teks arabnya memangnya ada kata “dan” diantara rafidhah dan syaithan?. Jangak sok menyalahkan kalau memang tidak bisa bahasa arab. Diam sajalah itu lebih baik kok. Pertanyaannya tetep sama, apakah ini yang anda maksud “rafidhah dalam artian baik”?”

    lho makin keliatan bahlulnya ente ini, qadari, rafidhi, syaithani, ini semua sifat. kalau dibahasa indonesiakan menjadi: qadariyah, rafidhoh, setan,
    cuman dalam penulisan bahasa indo biasanya jarang dikoma semua harus ditambahkan dan biar enak dibaca, jadinya, qadariyah, rafidhoh dan setan.
    Ini beda dengan ente, yang menjadikan satu kata “rafidhoh setan”, padahal rafihoh tersendiri dan setan juga tersendiri.

    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!

    “Lho kalau anda anggap nggak ada masalah ya gapapa. Intinya Aliy bin Ja’d menganggap Muawiyah itu mati kafir jadi kalau anda menganggap Mengkafirkan Muawiyah adalah tidak ada masalah ya silakan. Hanya saja saya ingin pastikan apakah ini yang anda maksud “rafidhah dalam artian baik”?”

    lho memangnya ada ahlussunah yang berani bilang muawiyah mati dalam keadaan Islam atau masuk surga? pengen tahu ana?!

    dalam akidah islam itu jelas, hanya Allah yang tahu isi hati manusia,
    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!


    وقال حامد عن سفيان هم ثلاثة إخوة عبد الملك وزرارة وحمران روافض كلهم اخبثهم قولا عبد الملك
    Dan berkata Hammaad dari Sufyaan “mereka tiga bersaudara ‘Abdul Malik, Zurarah dan Hamraan semuanya rafidhah dan yang paling buruk diantara mereka adalah ‘Abdul Malik [Tahdzib At Tahdzib juz 6 hal 729]”

    lho apa gunanya ente menukil ini, Abdul Malik. e ente ini kayaknya ga paham ilmu jarh, akhbatas qaulan ini sering terjadi dalam jarh. Tidak harus rafidhoh yang melakukan itu. banyak ahli jarh yang sering melakukan itu dari kalangan ahlussunah.

    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!

    sekarang tinggal pertanyaannya apa itu rafidhoh dalam artian yang baik. ente ini ana lihat cuman bisa copas sana copas sini tanpa bisa memahami apa yg ente baca, ente pikir ente akan jadi hebat apa dengan begitu.

    dengerin nih, di zaman lebih tepatnya tabi’in hingga era berakhirnya penulisan hadis, istilah rafidhoh itu mengalami “pengkaretan”. Bisa ditarik ke sana ke mari. Hanya saja yang perlu diluruskan di sini rafidhoh yang dimaksud oleh para muhadditsin tsb tentu adalah rafidhoh yang mereka pahami saat itu.

    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!

    jadi apa maksud rafidhoh saat itu, istilah selalu dipake para muhadditsin untuk dilempar kepada para pemikir yang bersimpatik kepada Ali dan itu hanya sebatas pemikiran, tidak sampai masuk ke sistim keagamaan sebagaimana yang orang-orang syiah yakini.

    Artinya kalau ana sekarang jadi Doraemon, katakanlah ente nobita, ente ana ajak ke zaman itu maka yang ente temukan bahwa orang2 yang digelari rafidhoh itu ngga ada yang punya amalan atau keyakinan parah sebagaimana syiah saat ini, maen pelacur, bunuh orang, mabuk-mabukan, nyembah kubur, dll.

    Kalau yang ente pahami rafidhoh dari scene2 sejarah yang ente kutip ini sebagaimana kata rafidhoh yang dilontarkan oleh ahlussunnah sekarang maka ana minta ente buktikan ke ana sekarang juga bahwa rawafidh yang sedang dibicarakan dalam banyak kitab tarjaman punya amalan2 seperti rafihoh yang paling dibenci ahlussunnah saat itu, seperti yang ana sebutkan barusan.

    kalopun iya ana ngga yakin bisa begitu, soalnya imam bukhari pernah dikenal ngga jadi berguru sama orang yang nipu ayam buat dikasih makan. sikapnya ama binatang aja membuat imam bukhari ilfell untuk diambil ilmunya lha bagaimana dengan rafihoh yang maen perempuan, mabok, nyembah kubur, dll.

    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!

    tapi ada pertanyaannya ana yang belum ente jawab: ente ini anak mutah ato bukan?:mrgreen:

  12. ralat:
    syiah: Usman ahli neraka krn merebut khalifah dari ali, dsb

  13. @Ibnu Mut’ah

    mengkritik dengan mencaci itu beda bro, contoh:
    syiah: Usman anak ahli neraka, dsb
    sunni: usman keliru dalam pengambilan keputusan, dsb

    Maaf apa hubungannya dengan penukilan ulama tentang ‘Abbad bin Ya’qub di atas. Toh ulama dengan jelas menyatakan bahwa ia “mencaci Utsman”. Apa anda mau mengatakan kalau ulama tersebut tidak bisa membedakan mana mencela dan mana mengkritik. Apa yang anda bela disini ketika ulama tersebut dengan jelas menyebutkan lafaz bahwa ‘Abbaad mencaci Utsman.

    lho makin keliatan bahlulnya ente ini, qadari, rafidhi, syaithani, ini semua sifat. kalau dibahasa indonesiakan menjadi: qadariyah, rafidhoh, setan,
    cuman dalam penulisan bahasa indo biasanya jarang dikoma semua harus ditambahkan dan biar enak dibaca, jadinya, qadariyah, rafidhoh dan setan.
    Ini beda dengan ente, yang menjadikan satu kata “rafidhoh setan”, padahal rafihoh tersendiri dan setan juga tersendiri.

    Sebagai suatu persepsi akan lafaz arab-nya saya akan bilang apa yang anda katakan itu sesuatu yang mungkin. Tapi masalahnya disini andalah yang seenaknya menafikan kemungkinan bisa saja maksud dari lafaz tersebut adalah qadariy dan rafidhah syaithan. Kemungkinan ini juga masih mungkin, karena bid’ah yang dituduhkan ulama kepada Auf itu ada dua yaitu qadariy dan rafidhah. Kalau dilihat dari kemungkinan mana yang lebih rajih ya tentu kemungkinan kedua yaitu qadariy dan rafidhah syaithan, karena syaithan itu bukan dalam satu kedudukan sifat yang sama dengan qadariy dan rafidhah sehingga harus ditafsirkan berdiri sendiri. Qadariy dan Rafidhah itu kedua aliran atau mazhab yang dianggap menyimpang di sisi ahlus sunnah sedangkan Syaithan itu bukan nama aliran atau mazhab menyimpang dalam ahlus sunnah jadi lebih masuk akal kalau syaithan itu adalah hinaan yang terikat pada lafaz firqah sebelumnya yaitu rafidhah. Kecuali kalau memang lafaznya menggunakan lafaz waw maka saya tidak akan bicara soal kemungkinan. btw lafaz rafidhah memang biasanya sering ditambah dengan embel-embel buruk oleh ulama, misalnya ada perawi tertentu yang dikatakan “rafidhah khabits” bagi saya ini sama maknanya dengan “rafidhah syaithan”

    lho memangnya ada ahlussunah yang berani bilang muawiyah mati dalam keadaan Islam atau masuk surga? pengen tahu ana?!
    dalam akidah islam itu jelas, hanya Allah yang tahu isi hati manusia,
    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!

    Maaf kalau gak tahu ya silakan baca tulisan-tulisan salafiy tentang keutamaan Muawiyah yang mereka katakan sebagai ahli surga. Lain ceritanya kalau anda menganggap ulama-ulama salafiy tersebut bukan dari golongan ahlus sunnah. Yang harus anda pahami itu adalah Aliy bin Ja’d jelas menyatakan Muawiyah mati kafir dan ia juga dituduh dengan tasyayyu’. Jadi di sisi ahlus sunnah ia terbukti seorang Syi’ah yang mengkafirkan Mu’awiyah dan hadis-hadisnya tetap diambil Bukhariy dalam Shahih-nya. Oh iya apa anda tidak tahu kalau sebagian orang Syi’ah sekarang juga ada yang mengkafirkan Mu’awiyah. Artinya amalan Aliy bin Ja’d tersebut dalam hal ini sama dengan orang Syi’ah yaitu menganggap Mu’awiyah kafir. Saya tidak akan memastikan Aliy bin Ja’d sebagai rafidhah karena saya tidak menemukan ulama yang menyatakan ia rafidhah tetapi saya bawakan di atas sebagai contoh bahwa Imam Bukhariy juga mengambil hadis dari perawi yang dituduh Syi’ah dan mencela bahkan mengkafirkan sahabat tertentu

    lho apa gunanya ente menukil ini, Abdul Malik. e ente ini kayaknya ga paham ilmu jarh, akhbatas qaulan ini sering terjadi dalam jarh. Tidak harus rafidhoh yang melakukan itu. banyak ahli jarh yang sering melakukan itu dari kalangan ahlussunah

    Itu sebagai bukti bahwa lafaz Rafidhah atas Abdul Malik yang dimaksud Sufyan itu dalam arti buruk dan gak mungkin banget seperti yang anda katakan “rafidhah dalam artian baik”. Masa’ itu saja nggak paham, duuuh apalagi yang bisa membuat anda paham kalau yang sejelas ini saja masih ngeles pura-pura gak paham. Oh iya sekedar info tambahan buat anda, Abdul Malik bin A’yan, Zurarah bin A’yan dan Hamraan bin A’yan itu dalam mazhab Syi’ah sekarang, termasuk perawi pegangan dan rujukan dalam kitab mereka dan dikenal sebagai sahabat Imam Ahlul Bait. Hal ini menguatkan bahwa rafidhah yang dimaksud atas Abdul Malik memang mazhab Rafidhah bukan sekedar “pemikiran simpatik pada Ali”

    dengerin nih, di zaman lebih tepatnya tabi’in hingga era berakhirnya penulisan hadis, istilah rafidhoh itu mengalami “pengkaretan”. Bisa ditarik ke sana ke mari. Hanya saja yang perlu diluruskan di sini rafidhoh yang dimaksud oleh para muhadditsin tsb tentu adalah rafidhoh yang mereka pahami saat itu.
    jelas ya, paham ya? kalo masih ga paham jangan salahkan saya brother. salahkan ente sendiri!
    jadi apa maksud rafidhoh saat itu, istilah selalu dipake para muhadditsin untuk dilempar kepada para pemikir yang bersimpatik kepada Ali dan itu hanya sebatas pemikiran, tidak sampai masuk ke sistim keagamaan sebagaimana yang orang-orang syiah yakini.

    Maaf ya sepertinya anda yang keliru, untuk pemikir yang simpatik kepada Aliy biasanya lafaz yang digunakan adalah tasyayyu’ atau paling keras Syi’ah. Nah kalau lafaznya sudah menjurus ke “syiah ghuluw” atau “rafidhah” itu tidak mungkin ditujukan pada perawi yang simpatik kepada Aliy. Jadi jangan mencampuradukkan khayalan anda dan mengatasnamakan ulama. Coba tunjukkan ulama mana yang menafsirkan ada istilah Rafidhah dalam artian baik atau arti seperti anda yang katakan “pemikir yang simpatik kepada Aliy”.

    Kalau yang ente pahami rafidhoh dari scene2 sejarah yang ente kutip ini sebagaimana kata rafidhoh yang dilontarkan oleh ahlussunnah sekarang maka ana minta ente buktikan ke ana sekarang juga bahwa rawafidh yang sedang dibicarakan dalam banyak kitab tarjaman punya amalan2 seperti rafihoh yang paling dibenci ahlussunnah saat itu, seperti yang ana sebutkan barusan

    Sudah saya tunjukkan tetapi anda yang tidak paham. Biasanya para ulama ketika mengatakan perawi tertentu sebagai rafidhah mereka tidak menyebutkan alasan atau hujjahnya tetapi ada juga kasus perawi yang disebutkan alasannya yaitu karena perawi tersebut mencela Abu Bakar, Umar atau para sahabat lainnya. Bagi ulama tersebut tindakan pencelaan sahabat itu adalah bid’ah yang menjadi amalan kaum rafidhah. Tentu saya tidak punya dasar untuk melakukan generalisasi bahwa alasan semua ulama itu sama karena perawi tersebut mencela sahabat mungkin saja ada ulama yang menganggap perawi tersebut ternyata punya aqidah raj’ah atau amalan lainnya yang menunjukkan ia seorang rafidhah

    kalopun iya ana ngga yakin bisa begitu, soalnya imam bukhari pernah dikenal ngga jadi berguru sama orang yang nipu ayam buat dikasih makan. sikapnya ama binatang aja membuat imam bukhari ilfell untuk diambil ilmunya lha bagaimana dengan rafihoh yang maen perempuan, mabok, nyembah kubur, dll.

    No komen lah, saya gak tahu ya anda mengambil ilmu anda dari mana, apa dari cerita khurafat atau riwayat shahih atau isu-isu yang tidak jelas. Apa yang anda sebut rafidhah “maen perempuan, mabok dan nyembah kubur” mungkin fitnah murahan atau perbuatan individu yang memang tidak benar?. Apa situ yakin dalam ahlus sunnah gak ada yang maen perempuan, mabok dan nyembah kubur?. Jangan karena anda tidak senang dengan mazhab lain maka anda seenaknya menuduh mazhab tersebut.

  14. makin ente jawab makin ngelantur argumentasi ente, kasian.

  15. @Ibnu mut’ah

    Sepertinya andalah yang ngelantur. Dari awal saja ketika saya tanya apa maksudnya “rafidhah dalam artian baik” yang anda katakan?. eh anda malah sok mengatakan sudah saya sebutkan contohnya di atas. Terus pas saya tanya bagian mana dari contoh di atas yang menunjukkan “rafidhah dalam arti baik” eh anda malah menjawab dengan khayalan anda bahwa istilah rafidhah mengalami pengkaretan, bisa ditarik kesana kemari. Lha harusnya anda jawab dengan mengambil dari contoh di atas bukannya malah buat khayalan baru. Kalau seenaknya begitu ya, silakan hidup saja sesuka anda maka anda bisa merasa benar sesuka anda, menyalahkan sesuka anda dan ngelantur sesuka anda.

  16. ibnu mut’ah ini gak perlu diladeninlah…kita penyimak udah pada ngerti kok…ini udah tipikal banget…bahkan kalo perlu nafas yang keluar dari hidung seorang syiahpun pasti dia katakan bahwa itu adalah nafas yang sesat🙂

  17. Saya pernah membaca buku dialog Sunnah Syiah, buku lama memang, tapi disana terdapat pernyataan bahwa adanya perawi Syiah dalam riwayat Bukhori atau Bukhori menganggapnya dapat dipercaya, seperti.

    – Ibrahim bin Yazid an-Nakba’i al-Kufi (al-faqih). Ia tergolong di antara tokoh-tokoh Islam yang sangat dipercaya. Namanya tersebut diantara mata-rantai sanad-sanad yang shahih dalam kitab-kitab hadist yang Enam; meskipun ia diketahui sebagai seorang Syi’ah.
    Ibnu Qutaibah dalam kitabnya al-Ma’arif (halaman 206) memasukkannya dalam kelompok tokoh-tokoh Syi’ah, tanpa keraguan sedikitpun. Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dijumpai hadits yang diriwayatkan lewat paman ibunya, yaitu ‘Alqamah bin Qais dan lain-lain. (hal.101)

    – Isma’il bin Abban al-Azdi al-Kufi al-Warraq. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam al-Mizan bahwa al-Bukhari dan Turudzi berpegang pada riwayat Isma’il dalam kedua kitab Shahih mereka. Demikian pula Yahya dan Ahmad mengambil riwayat haditsnya. Al-Bukhari menilainya sebagai seorang yang amat boleh dipercaya. Yang lainnya menyebutkan sebagai seorang yang berfaham Syi’ah. Ia meninggal tahun 286 H. (hal. 101)

    – Isma’il bin Zakaria al-Asadi al-Khalqami al-Kufi. Adz-Dzahabi dalam kitabnya: al-Mizan menyebutnya sebagai seorang shaduq yang berfaham Syi’ah. Ia termasuk di antara yang dikutip hadits-haditsnya dalam kitab-kitab hadits yang Enam. Ikutilah haditsnya di shaih al-Bukhari dan Muslim dan lain-lain. (hal.102)

    – Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabi. Ibnu Qutaibah dalam kitabnya: al-Ma’arif memasukkannya dalam kelompok tokoh-tokoh Syi’ah. Adapun adz-Dzahabi– dalam Mizannya–, menyatakan bahwa ahli-ahli hadits di antaranya Bukhari dan Muslim, dalam kedua kitab Shahih mereka berpegang pada hadits-hadits yang diriwayatkan melaluinya. (hal. 103)

    Demikianlah apa yang tercantum dalam kitab Dialog Sunnah Syiah. Apakah dalam kitab rijal yang Anda baca dibahas mengenai mereka?

  18. @Hamzah Asdullah

    Saya meladeni orang seperti itu bukan untuk kepentingan saya dan bukan pula untuk kepentingan dirinya. Saya meladeninya sebagai usaha untuk menunjukkan kepada para pembaca bagaimana cara yang baik [menurut saya] dalam menghadapi atau berdiskusi dengan orang yang suka menghina dan merendahkan orang lain. Selagi orang tersebut masih bisa diajak diskusi atau masih menyampaikan hujjah [terlepas hujjah tersebut bodoh atau tidak] saya tidak keberatan untuk meladeninya walaupun hujjah tersebut ia campurkan dengan cacian dan hinaan. Tetapi jika orang tersebut hanya menyampaikan cacian dan hinaan tanpa hujjah maka saya tidak ada urusan dengannya. Silakan para pembaca mengambil apa yang bisa diambil dari diskusi saya dengan orang seperti itu dan saya harap para pembaca tidak usah ikut-ikutan mencela. Salam

    @Yang Berserah Diri

    Mengenai Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy dalam kitab Rijal [Tahdzib Al Kamal 2/231 no 265] saya tidak menemukan ada ulama yang menyatakan ia Syi’ah. Tetapi memang benar Ibnu Qutaibah dalam Al Ma’arif hal 624, memasukkannya ke dalam golongan Syi’ah. Hanya saja perlu dijelaskan disini bahwa Ibnu Qutaibah sendiri membedakan antara Syi’ah dan Rafidhah. Dan makna Syi’ah disini mungkin bisa jadi bermakna perawi yang cenderung kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain atau mengutamakan Aliy dibanding Utsman atau sahabat lainnya.

    Mengenai Isma’iil bin Abaan Al Waraaq dalam kitab Tahdzib Al Kamal 3/5 no 411 disebutkan bahwa diantara yang menyatakan ia tasyayyu’ adalah Ibnu Adiy tetapi tidak ada yang menyebutnya rafidhah. Dan makna Syi’ah disini mungkin bisa jadi bermakna perawi yang cenderung kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain atau mengutamakan Aliy dibanding Utsman atau sahabat lainnya.

    Mengenai Isma’iil bin Zakariya Al Asadiy dalam kitab Tahdzib Al Kamal 3/92 no 445 tidak ditemukan ulama yang menyatakan ia Syi’ah dan Rafidhah. Tetapi memang benar Adz Dzahabi dalam Mizan Al I’tidal 1/385 no 879 mengatakan ia seorang shaduq Syi’ah. Dan makna Syi’ah disini mungkin bisa jadi bermakna perawi yang cenderung kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain atau mengutamakan Aliy dibanding Utsman atau sahabat lainnya.

    Mengenai Jarir bin ‘Abdul Hamiid dalam kitab Tahdzib Al Kamal 4/540 no 918 tidak ditemukan ulama yang menyatakan ia Syi’ah atau Rafidhah. Tetapi Ibnu Qutaibah dalam Al Ma’arif hal 624 memang memasukkannya kedalam golongan Syi’ah. Dan makna Syi’ah disini mungkin bisa jadi bermakna perawi yang cenderung kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain atau mengutamakan Aliy dibanding Utsman atau sahabat lainnya

    Intinya adalah keempat perawi yang anda sebutkan tidak ternukil dalam kitab Rijal ada yang menyatakan bahwa mereka Rafidhah. Sedangkan penyebutan Syi’ah di sisi para ulama ahlus sunnah memiliki banyak makna, bisa saja memang bermazhab Syi’ah atau bisa saja bermakna perawi yang cenderung kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain atau mengutamakan Aliy dibanding Utsman atau sahabat lainnya. Karena tidak bisa dipastikan yang mana maka tidak bisa dijadikan hujjah disini.

    Ini yang saya maksud bahwa diantara pengikut Syi’ah ada yang terjatuh dalam syubhat tidak membedakan antara Syi’ah dan Rafidhah padahal di sisi ulama ahlus sunnah makna keduanya tidak sama. Bukankah pengikut Syi’ah tersebut menukil keterangan dari ulama ahlus sunnah soal Syi’ah tidaknya para perawi tersebut maka sudah seharusnya dipahami dengan baik makna Syi’ah yang dimaksud ulama tersebut apa, baru kemudian hal itu dijadikan hujjah.

  19. “Maaf apa hubungannya dengan penukilan ulama tentang ‘Abbad bin Ya’qub di atas. Toh ulama dengan jelas menyatakan bahwa ia “mencaci Utsman”. Apa anda mau mengatakan kalau ulama tersebut tidak bisa membedakan mana mencela dan mana mengkritik. Apa yang anda bela disini ketika ulama tersebut dengan jelas menyebutkan lafaz bahwa ‘Abbaad mencaci Utsman.”

    Ente ini emang bahlulnya ngga ketolong lagi. Kalau memang khabar itu benar sekarang ana minta bukti di riwayat mana ‘Abbad bin Ya’qub mencaci utsman dan sekalian tunjukkan redaksinya seperti apa!, bukankah sebuah berita hanya tetap menjadi berita tanpa ada bukti. Pak otak dong!😛

    “Sebagai suatu persepsi akan lafaz arab-nya saya akan bilang apa yang anda katakan itu sesuatu yang mungkin. Tapi masalahnya disini andalah yang seenaknya menafikan kemungkinan bisa saja maksud dari lafaz tersebut adalah qadariy dan rafidhah syaithan. Kemungkinan ini juga masih mungkin, karena bid’ah yang dituduhkan ulama kepada Auf itu ada dua yaitu qadariy dan rafidhah. Kalau dilihat dari kemungkinan mana yang lebih rajih ya tentu kemungkinan kedua yaitu qadariy dan rafidhah syaithan, karena syaithan itu bukan dalam satu kedudukan sifat yang sama dengan qadariy dan rafidhah sehingga harus ditafsirkan berdiri sendiri. Qadariy dan Rafidhah itu kedua aliran atau mazhab yang dianggap menyimpang di sisi ahlus sunnah sedangkan Syaithan itu bukan nama aliran atau mazhab menyimpang dalam ahlus sunnah jadi lebih masuk akal kalau syaithan itu adalah hinaan yang terikat pada lafaz firqah sebelumnya yaitu rafidhah. Kecuali kalau memang lafaznya menggunakan lafaz waw maka saya tidak akan bicara soal kemungkinan. btw lafaz rafidhah memang biasanya sering ditambah dengan embel-embel buruk oleh ulama, misalnya ada perawi tertentu yang dikatakan “rafidhah khabits” bagi saya ini sama maknanya dengan “rafidhah syaithan””

    maaf ya ente ini menurut orang paling tolol di dunia blogger, masa ente sendiri yang suka menolak kemungkinan lha sekarang ente sendiri yang bermain2 dengan kemungkinan. dasar stress. Kalo ente ga paham tanya pakar bahasa arab mana yang lebih benar penafsiran ana ato ente yang bahlul itu, makanya belajar itu yang bener.

    Kalo pun kemungkinan yang ente buat itu benar maka datangkan ke ana satu bukti saja adanya istilah “rafidhoh syaithon!” menjadi satu kata untuk dilempar ke perawi2 syiah saat itu, kalo ngga ada berarti ente emang jelas orang OON sedunia.:mrgreen:

    “Maaf kalau gak tahu ya silakan baca tulisan-tulisan salafiy tentang keutamaan Muawiyah yang mereka katakan sebagai ahli surga. Lain ceritanya kalau anda menganggap ulama-ulama salafiy tersebut bukan dari golongan ahlus sunnah.”

    Kalo ngomong yang jelas dan pake bukti! Mana buktinya dari tulisan salafy bahwa muawiyah masuk surga!

    “Yang harus anda pahami itu adalah Aliy bin Ja’d jelas menyatakan Muawiyah mati kafir dan ia juga dituduh dengan tasyayyu’. Jadi di sisi ahlus sunnah ia terbukti seorang Syi’ah yang mengkafirkan Mu’awiyah dan hadis-hadisnya tetap diambil Bukhariy dalam Shahih-nya. Oh iya apa anda tidak tahu kalau sebagian orang Syi’ah sekarang juga ada yang mengkafirkan Mu’awiyah. Artinya amalan Aliy bin Ja’d tersebut dalam hal ini sama dengan orang Syi’ah yaitu menganggap Mu’awiyah kafir. Saya tidak akan memastikan Aliy bin Ja’d sebagai rafidhah karena saya tidak menemukan ulama yang menyatakan ia rafidhah tetapi saya bawakan di atas sebagai contoh bahwa Imam Bukhariy juga mengambil hadis dari perawi yang dituduh Syi’ah dan mencela bahkan mengkafirkan sahabat tertentu”

    ente itu harus dengan baik bahwa dalam penerimaan hadits, sepanjang hadits tersebut shahih dan bisa dipertanggung jawabkan matannya maka tidak mengapa menerima khabar itu dari siapapun.

    dalil dalam al-quran: “jika datang seorang fasik bawa berita ceklah dulu”

    di sini al-quran tidak menolak mentah2 berita orang fasik tapi di cek dulu, benar ya diambil ngga benar ya ditolak, sederhana khan?!

    dalil dalam hadits, yaitu kisah abu hurairah yang diberitahu oleh setan mengenai ayat kursi, abu hurairah tidak menerima mentah2 berita darinya setelah ia cek dari nabi dan nabi membenarkan barulah berita dari setan itu ia terima,

    lha apalagi ini cuman sekedar rafidhah atau menyatakan muawiyah mati tidak dalam keadaan islam?

    Otak ente itu segede apa sih? pengen tau ana.😛

    “Itu sebagai bukti bahwa lafaz Rafidhah atas Abdul Malik yang dimaksud Sufyan itu dalam arti buruk dan gak mungkin banget seperti yang anda katakan “rafidhah dalam artian baik”. Masa’ itu saja nggak paham, duuuh apalagi yang bisa membuat anda paham kalau yang sejelas ini saja masih ngeles pura-pura gak paham. ”

    Trus kenapa? apa kalo ucapannya buruk otomatis orangnya ikutan buruk juga, kalo memang seperti ini persepsi ente lha ngapain imam bukhari mengambil riwayat dari abdul malik kalo begitu. Itu artinya imam bukhari lebih cerdas dari ente.😛

    “Oh iya sekedar info tambahan buat anda, Abdul Malik bin A’yan, Zurarah bin A’yan dan Hamraan bin A’yan itu dalam mazhab Syi’ah sekarang, termasuk perawi pegangan dan rujukan dalam kitab mereka dan dikenal sebagai sahabat Imam Ahlul Bait. Hal ini menguatkan bahwa rafidhah yang dimaksud atas Abdul Malik memang mazhab Rafidhah bukan sekedar “pemikiran simpatik pada Ali”

    justru itu, yang sayangnya ente dari kemarin2 ga paham2 juga. kalo lah mereka bukan rafidhoh lha ngapain juga orang2 saat itu menuding mereka rafihoh. ente lamban juga ya dalam berpikir:mrgreen:

    cuman yang harus ente pahami rafidhoh itu khan bermacam2. ada kelas-kelasnya, yang jelas para perawi rafidhoh ini bukan rafidhoh kelas bajingan tengik!😛

    Insya Allah mereka orang baik semua.

    “Sudah saya tunjukkan tetapi anda yang tidak paham. Biasanya para ulama ketika mengatakan perawi tertentu sebagai rafidhah mereka tidak menyebutkan alasan atau hujjahnya tetapi ada juga kasus perawi yang disebutkan alasannya yaitu karena perawi tersebut mencela Abu Bakar, Umar atau para sahabat lainnya. Bagi ulama tersebut tindakan pencelaan sahabat itu adalah bid’ah yang menjadi amalan kaum rafidhah. Tentu saya tidak punya dasar untuk melakukan generalisasi bahwa alasan semua ulama itu sama karena perawi tersebut mencela sahabat mungkin saja ada ulama yang menganggap perawi tersebut ternyata punya aqidah raj’ah atau amalan lainnya yang menunjukkan ia seorang rafidhah”

    Inilah yang ente ngga paham2 dari kemarin. apakah hanya karena ia katakanlah cinta ali dan mencela khalifah lantas gelar rafidhoh yang dilemparkan ke dia menjadikan dia otomatis sama dengan rafidhoh2 bajingan yang memiliki amalan2 batil? ya ngga la brothe! Kalau iya ngga mungking banget imam bukhari mau belajar ama bajingan2 begini!:mrgreen:

    “No komen lah, saya gak tahu ya anda mengambil ilmu anda dari mana, apa dari cerita khurafat atau riwayat shahih atau isu-isu yang tidak jelas. Apa yang anda sebut rafidhah “maen perempuan, mabok dan nyembah kubur” mungkin fitnah murahan atau perbuatan individu yang memang tidak benar?. Apa situ yakin dalam ahlus sunnah gak ada yang maen perempuan, mabok dan nyembah kubur?. Jangan karena anda tidak senang dengan mazhab lain maka anda seenaknya menuduh mazhab tersebut.”

    di sini ana cuman ingin nanya sekali lagi: ente ini anak mutah ato bukan:mrgreen:

  20. @Ibnu Mut’ah

    Ente ini emang bahlulnya ngga ketolong lagi. Kalau memang khabar itu benar sekarang ana minta bukti di riwayat mana ‘Abbad bin Ya’qub mencaci utsman dan sekalian tunjukkan redaksinya seperti apa!, bukankah sebuah berita hanya tetap menjadi berita tanpa ada bukti. Pak otak dong!

    Aduh lucunya, coba kalau anda komentarnya biasa saja, ini kok nafsu sekali menghina. Padahal justru anda yang nggak paham, sepertinya apapun yang saya katakan meskipun benar tetap saja anda bantah. Perkataan bahwa ‘Abbaad mencaci Utsman itu berasal dari ulama rijal yaitu Shalih bin Muhammad dan Shalih ini termasuk ulama yang semasa, bertemu dan mendengar langsung dari ‘Abbaad. Jadi perkataan Shalih bin Muhammad itu sudah menjadi bukti, kecuali kalau anda mau menunjukkan hujjah yang membatalkan perkataan Shalih bin Muhammad tentang ‘Abbaad, silakan bawakan. Jadi bukti apa lagi yang anda minta. Perkataan ulama tentang perawi tertentu biasanya tidak perlu diminta bukti, misalnya ada perawi yang dikatakan tsiqat, apa perlu ditanya mana bukti tsiqat-nya?. atau ada perawi yang dikatakan “pendusta”, apa perlu ditanya mana bukti dustanya. Kalau jarh ta’dil ulama harus diminta bukti maka saya yakin betapa banyaknya jarh dan ta’dil yang tidak terpakai dan konsekuensinya banyak hadis yang tidak bisa diketahui shahih tidaknya. Jadi cara yang benar dalam memandang persoalan ini adalah anda terima saja apa yang dikatakan Shalih bin Muhammad tentang ‘Abbaad

    maaf ya ente ini menurut orang paling tolol di dunia blogger, masa ente sendiri yang suka menolak kemungkinan lha sekarang ente sendiri yang bermain2 dengan kemungkinan. dasar stress. Kalo ente ga paham tanya pakar bahasa arab mana yang lebih benar penafsiran ana ato ente yang bahlul itu, makanya belajar itu yang bener.

    Sudah saya tunjukkan bahwa kemungkinan yang saya katakan itu jauh lebih rajih dari penafsiran anda. Alasannya karena kata “syaithan” disana jika dianggap berdiri sendiri ya jadi rancu. Dua kata sebelum syaithan adalah qadariy dan rafidhah ini ada dua aliran menyimpang di sisi ahlus sunnah, dan tidak ada aliran atau firqah menyimpang di sisi ahlus sunnah yang dinamakan syaithan. Justru lebih tepat syaithan itu terikat dengan lafaz rafidhah maka maksudnya adalah “rafidhah syaithan”. Sudah saya katakan pula bahwa lafaz rafidhah sering digabungkan dengan lafaz hinaan seperti “rafidhah khabits”. Nah maknanya kurang lebih sama lah. Anda gak perlu basa-basi menghina saya, silakan tunjukkan mana hujjah yang membuktikan kemungkinan anda lebih rajih. Jangan sok bilang tanya pakar bahasa arab, silakan anda saja yang tanya kalau memang anda punya pakar bahasa arab yang bisa ditanya.

    Kalo ngomong yang jelas dan pake bukti! Mana buktinya dari tulisan salafy bahwa muawiyah masuk surga!

    Tinggal googling aja kok banyak, kalau memang malas maka silakan baca yang ini http://almanhaj.or.id/content/3768/slash/0/keutamaan-muawiyah-bin-abi-sufyan-radhiyallahu-anhu/
    Penulisnya berhujjah dengan hadis Ummu Haram [radiallahu ‘anha] soal keutamaan Mu’awiyah. Tidak perlu sok wahai Ibnu Mut’ah, coba lihat diri anda, apakah anda termasuk orang yang “ngomong pake bukti”. Sebelumnya anda bicara seperti ini kalopun iya ana ngga yakin bisa begitu, soalnya imam bukhari pernah dikenal ngga jadi berguru sama orang yang nipu ayam buat dikasih makan. Boleh saya tanya mana buktinya? atau anda hanya mengandalkan cerita khayal, khurafat atau dongeng sebelum tidur?. Saya tinggal mengembalikan perkataan anda Kalo ngomong yang jelas dan pake bukti!

    ente itu harus dengan baik bahwa dalam penerimaan hadits, sepanjang hadits tersebut shahih dan bisa dipertanggung jawabkan matannya maka tidak mengapa menerima khabar itu dari siapapun.
    dalil dalam al-quran: “jika datang seorang fasik bawa berita ceklah dulu”
    di sini al-quran tidak menolak mentah2 berita orang fasik tapi di cek dulu, benar ya diambil ngga benar ya ditolak, sederhana khan?!
    dalil dalam hadits, yaitu kisah abu hurairah yang diberitahu oleh setan mengenai ayat kursi, abu hurairah tidak menerima mentah2 berita darinya setelah ia cek dari nabi dan nabi membenarkan barulah berita dari setan itu ia terima,
    lha apalagi ini cuman sekedar rafidhah atau menyatakan muawiyah mati tidak dalam keadaan islam?

    Lho kalau begitu apa yang anda permasalahkan disini, tulisan saya di atas kan membantah si Al Amiriy yang menafikan Bukhariy mengambil hadis dari Syi’ah yang Rafidhah atau Syiah yang mencaci sahabat Nabi. Dialah yang saya bantah. Lagipula kalau memang begitu menurut anda maka harusnya mau Bukhariy mengambil hadis dari perawi bajingan seperti apapun [bahkan kafir sekalipun] ya anda gak perlu sewot kan. Tinggal bilang saja, tidak masalah sepanjang hadis tersebut shahih dan bisa dipertanggungjawabkan matannya maka mau perawi itu fasiq, rafidhah, kafir, nikah mut’ah, mabuk, nyembah kubur ya rapopo. Begitukah maksud perkataan anda tersebut?

    Trus kenapa? apa kalo ucapannya buruk otomatis orangnya ikutan buruk juga, kalo memang seperti ini persepsi ente lha ngapain imam bukhari mengambil riwayat dari abdul malik kalo begitu. Itu artinya imam bukhari lebih cerdas dari ente.

    Kok tanya terus kenapa, itu artinya anda salah. Kan anda sebelumnya dengan sok berkata bahwa itu rafidhah dalam artian baik. Sudah salah dan dikasih tahu kalau salah malah balik nanya “terus kenapa?”. Lagian apa maksudnya pertanyaan apa kalo ucapannya buruk otomatis orangnya ikutan buruk juga. Coba jawab bung, Apa kalau ucapannya kafir otomatis orangnya ikutan kafir?. Apa kalau ucapannya kotor otomatis orangnya ikutan kotor?. Anda menganut agama apa bung?. Kok hal sederhana seperti ucapan buruk saja perlu anda tanya segala. Apa karena itu anda mudah sekali berkata kotor dan menghina karena dalam agama anda jika seseorang berkata kotor maka itu tidak otomatis membuat orangnya jadi kotor. Dari mana lagi anda menilai seseorang itu buruk atau tidak?. Perkataan atau perbuatan buruk adalah salah satu cara untuk menilai buruk tidaknya seseorang. Itu hal sederhana hanya saja karena anda terlalu bernafsu membantah maka hal yang sederhanapun jadi ngawur

    justru itu, yang sayangnya ente dari kemarin2 ga paham2 juga. kalo lah mereka bukan rafidhoh lha ngapain juga orang2 saat itu menuding mereka rafihoh. ente lamban juga ya dalam berpikir:mrgreen:
    cuman yang harus ente pahami rafidhoh itu khan bermacam2. ada kelas-kelasnya, yang jelas para perawi rafidhoh ini bukan rafidhoh kelas bajingan tengik!

    Bukankah anda yang sebelumnya berkata bahwa Abdul Malik di atas termasuk dalam rafidhah dalam artian baik. Maka saya tunjukkan fakta bahwa Abdul Malik itu adalah rafidhah yang memang bermazhab Syiah Rafidhah karena dalam kitab-kitab Hadis dan Rijal Syiah ia termasuk sahabat Imam ahlul bait dan menjadi pegangan dalam mazhab Syiah Rafidhah sekarang. Itu lho mazhab yang anda tuduh maen perempuan, mabuk dan nyembah kubur. Ucapan sendiri saja lupa, yah begitulah kalau orang yang terlalu mudah berkata kotor, menghina dan memfitnah maka akalnya akan tertutup dari kebenaran. Dan kalau boleh tahu apa sih sebenarnya makna rafidhah kelas bajingan tengik dalam khayalan anda. Soalnya perbuatan mencaci sahabat [seperti Abbaad] dan mengkafirkan sahabat [seperti Aliy bin Ja’d] pun anda anggap biasa saja atau masuk dalam kategori “rafidhah dalam artian baik”

    Inilah yang ente ngga paham2 dari kemarin. apakah hanya karena ia katakanlah cinta ali dan mencela khalifah lantas gelar rafidhoh yang dilemparkan ke dia menjadikan dia otomatis sama dengan rafidhoh2 bajingan yang memiliki amalan2 batil? ya ngga la brothe! Kalau iya ngga mungking banget imam bukhari mau belajar ama bajingan2 begini!

    Wah kalau begitu apa dalam pandangan anda rafidhah yang mencela khalifah [Abu Bakar, Umar, Utsman] atau mengkafirkan mereka bukan termasuk dalam rafidhah bajingan dengan amalan bathil atau termasuk dalam “rafidhah artian baik”?. Silakan saja kalau mau jawab iya, tapi izinkan saya katakan kayaknya anda gak jauh beda dengan orang syiah rafidhah yang mencela para khalifah.

    di sini ana cuman ingin nanya sekali lagi: ente ini anak mutah ato bukan

    saya sih bukan, kalau anda tidak perlu ditanya ya kan dari awal kesini anda sudah ngakunya begitu “anak mut’ah”

  21. @SP

    Saya dapat menerima maksud anda. Siapa saja yang berhujah atas nama mahzab lain sebaiknya menggunakan kaidah yang berlaku atas mahzab tersebut. Tapi bila kaidah yang akan digunakan itu mengandung kecacatan baik dalam metoda dan prinsipnya, haruskah orang dengan mahzab lain itu berkeras mengambilnya sebagai landasan untuk melakukan analisanya. Bukankah ada prinsip Garbage in Garbage out.

    Saya ingin bertanya kepada anda penisbatan Syiah, Rafidhah dan seumpamanya secara metoda dan prinsipnya apakah dapat dipertanggung jawabkan menggunakan kaidah dlm metode Ilmiah atau lebih kepada subjektifitas ulama tersebut.

    Kedua, ketika ada seorang Ulama klasik menjatuhkan vonis kepada seorang perawi sebagai Syiah, Rafidhah dan seumpamanya apakah dilandasi oleh semangat ukhuwah Islam atau merupakan usaha2 dari Ulama itu untuk menjauhkan perawi itu dari sebagian umat.

    Ketiga, apakah anda bersetuju dengan saya kata mencaci itu sendiri bila tidak ada bukti yang mendukungnya maka menjadi abu2 maknanya? Saya sering menemukan ketika kami mengkritisi Sahabat maka ada orang2 yang mengatakan kami telah mencaci sahabat. Kamipun tidak menutup mata bahwa diantara kami (Syiah dengn berbagai macam firqahnya) ada orang2 yang berkata kasar dan sungguh mencaci Sahabat.

    Dengan demikian menurut hemat kami penisbatan Syiah dan Rafidhah menurut kaidah Ahlus Sunnah tidak memiliki keseragaman secara metoda dan tidak mengandung prinsip keadilan karena: 1. Tidak didukung oleh bukti kuat dari ulama Klasik itu dalam bentuk kutipan2 kalimat,ucapan ataupun pemikiran dari perawi yang tertuduh Syiah yang dapat memvalidasi “kesyiahan” perawi itu. 2. Penisbatan Syiah, Rafidhah dan seumpamanya menjadi sumir karena point 1 tidak terpenuhi sehingga penisbatan itu menjadi tak lebih dari upaya Ulama Klasik dalam menjauhkan umat dari perawi tertuduh Syiah itu.

    Kaidah ilmiah harus kita junjung tinggi tapi bukankah timbangan akal juga penting

  22. @Setiadharma

    Saya dapat menerima maksud anda. Siapa saja yang berhujah atas nama mahzab lain sebaiknya menggunakan kaidah yang berlaku atas mahzab tersebut. Tapi bila kaidah yang akan digunakan itu mengandung kecacatan baik dalam metoda dan prinsipnya, haruskah orang dengan mahzab lain itu berkeras mengambilnya sebagai landasan untuk melakukan analisanya. Bukankah ada prinsip Garbage in Garbage out.

    Kalau begitu maka silakan kritik kaidah mazhab tersebut. Anda tidak mungkin berbicara atas mazhab lain atau mengatasnamakan mazhab tersebut dengan memaksakan standar yang tidak dipakai mazhab tersebut. Disini kita belum bicara soal kebenaran mazhab tersebut tetapi kita bicara soal validitas penisbatan terhadap suatu mazhab.

    Secara sederhana saya contohkan seperti ini. Bagi para pengingkar hadis seperti para orientalis yang mempelajari agama islam, mereka seringkali melakukan kritik terhadap metodologi ilmu hadis [dalam hal sanad dan jarh wat ta’dil]. Itu artinya dalam pandangan mereka metodologi ilmu hadis tersebut cacat. Tidak jadi soal siapa yang benar disini tetapi mereka tidak bisa berbicara tentang islam atau mengatasnamakan islam seenaknya dengan standar mereka. Mana mungkin diterima jika mereka asal comot riwayat dhaif kemudian menjadikan riwayat tersebut sebagai hujjah untuk merendahkan islam. Umat islam akan menolak penisbatan riwayat dhaif tersebut atas nama islam.

    Mengkritik kaidah metodologi dalam mazhab tertentu adalah perkara yang berbeda dengan menisbatkan sesuatu atas nama mazhab tertentu. Penisbatan menuntut adanya validitas nisbat sesuai yang disepakati dalam mazhab tersebut.

    Saya ingin bertanya kepada anda penisbatan Syiah, Rafidhah dan seumpamanya secara metoda dan prinsipnya apakah dapat dipertanggung jawabkan menggunakan kaidah dlm metode Ilmiah atau lebih kepada subjektifitas ulama tersebut.

    Silakan bertanya, itu pertanyaan yang baik. Tetapi sudahkah anda memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut dan apa konsekuensi dari pertanyaan tersebut. Apakah terdapat data atau sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat untuk memverifikasi apakah penisbatan Syiah dan Rafidhah terhadap perawi, sehingga kita bisa mengetahui apakah itu memang benar secara objektif atau hanya subjektivitas para ulama?. Saya akan jawab berdasarkan pembelajaran saya, jawabannya “secara umum tidak”. Memang ada beberapa kasus yang bisa dibuktikan bahwa ternyata tuduhan Rafidhah terhadap seorang perawi tidak valid contohnya adalah ulama hadis Al Hakim penulis Al Mustadrak yang dituduh rafidhah.

    Tuduhan rafidhah kepada Al Hakim tertolak karena terdapat bukti yang membantahnya yaitu tulisan Al Hakim sendiri dalam Al Mustadrak. Dalam Al Mustadrak, Al Hakim menyebutkan keutamaan para khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dengan lafaz sharih [jelas] dan Al Hakim dengan sharih [jelas] juga mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Hal ini bertentangan dengan mazhab rafidhah maka dengan dasar ini kita bisa yakin mengatakan bahwa tuduhan rafidhah atas Al Hakim bersifat subjektif.

    Jadi cara yang benar untuk membatalkan atau membuktikan benar tidaknya tuduhan Syi’ah dan Rafidhah terhadap seorang perawi adalah berdasarkan dengan perkataan perawi tersebut yang menjelaskan mengenai keyakinannya. Hal ini bisa diketahui dengan syarat Perawi tersebut memiliki kitab yang memuat perkataannya dan bisa dirujuk atau terdapat riwayat shahih yang menukil perkataan perawi tersebut. Sayangnya secara umum perawi-perawi yang dituduh Syi’ah dan Rafidhah tidak memenuhi syarat-syarat tersebut sehingga tidak ada yang bisa dilakukan kecuali ya menerima saja tuduhan tersebut.

    Dasar penerimaan tuduhan tersebut sama seperti dasar penerimaan ucapan ulama tentang jarh dan ta’dil terhadap suatu perawi. Hal ini menjadi kaidah dasar dalam ilmu Jarh wat Ta’dil. Secara umum kita tidak memiliki alat verifikasi untuk membuktikan benarkah perkataan ulama tertentu terhadap seorang perawi [tsiqat, shaduq, dhaif atau pendusta] adalah benar secara objektif atau termasuk subjektivitas ulama. Ada kasus dimana subjektivitas tersebut bisa dibuktikan tetapi kasus seperti ini tidak banyak.

    Kedua, ketika ada seorang Ulama klasik menjatuhkan vonis kepada seorang perawi sebagai Syiah, Rafidhah dan seumpamanya apakah dilandasi oleh semangat ukhuwah Islam atau merupakan usaha2 dari Ulama itu untuk menjauhkan perawi itu dari sebagian umat.

    Saya tidak menafikan kedua kemungkinan tersebut. Tetapi menetapkan kemungkinan mana yang benar atau lebih rajih harus berdasarkan bukti. Selagi tidak ada bukti maka yang bisa dilakukan hanya menerima tuduhan ulama tersebut.

    Ketiga, apakah anda bersetuju dengan saya kata mencaci itu sendiri bila tidak ada bukti yang mendukungnya maka menjadi abu2 maknanya? Saya sering menemukan ketika kami mengkritisi Sahabat maka ada orang2 yang mengatakan kami telah mencaci sahabat. Kamipun tidak menutup mata bahwa diantara kami (Syiah dengn berbagai macam firqahnya) ada orang2 yang berkata kasar dan sungguh mencaci Sahabat.

    Pendekatan yang saya pakai disini adalah pendekatan metodologis. Artinya secara objektif jika ada ulama mengatakan perawi tertentu mencaci sahabat maka dianggap zhahirnya adalah seperti itu kecuali terdapat bukti yang menunjukkan bahwa mencaci yang dimaksud adalah mengkritik dengan dasar kuat atau shahih. Hal ini berdasarkan kaidah sederhana bahwa zhahir lafaz diutamakan sampai terbukti qarinah yang memalingkan maknanya dari makna zhahir.

    Dengan demikian menurut hemat kami penisbatan Syiah dan Rafidhah menurut kaidah Ahlus Sunnah tidak memiliki keseragaman secara metoda dan tidak mengandung prinsip keadilan karena: 1. Tidak didukung oleh bukti kuat dari ulama Klasik itu dalam bentuk kutipan2 kalimat,ucapan ataupun pemikiran dari perawi yang tertuduh Syiah yang dapat memvalidasi “kesyiahan” perawi itu. 2. Penisbatan Syiah, Rafidhah dan seumpamanya menjadi sumir karena point 1 tidak terpenuhi sehingga penisbatan itu menjadi tak lebih dari upaya Ulama Klasik dalam menjauhkan umat dari perawi tertuduh Syiah itu.

    Silakan itu adalah pilihan untuk masing-masing orang yang memiliki standar kebenaran sendiri. Konsekuensinya adalah maka anda tidak berhak untuk mengatakan bahwa Bukhariy dan ulama ahlus sunnah lainnya mengambil hadis dari perawi Syi’ah dan Rafidhah. Mengapa? Sebab anda sendiri tidak membenarkan atau tidak menerima pensibatan Syi’ah atau Rafidhah tersebut karena menurut anda tidak sesuai dengan kaidah ilmiah.

    Kalau anda katakan “kami tidak mempercayainya tetapi ahlus sunnah mempercayainya” jadi tetap bisa dipakai. Maka saya jawab kalau begitu posisikanlah hal itu sesuai dengan kaidah yang dipercayai Ahlus sunnah yaitu kaidah ilmu yang disepakati dalam mazhab Ahlus Sunnah jangan menggunakan kaidah ilmiah menurut anda untuk menisbatkan sesuatu atas nama mazhab Ahlus Sunnah.

  23. @SP

    Diskusi ini kalau saya runut ke atas,
    1. Dimulai dari pertanyaan tentang syubhat Syiah atas perawi dalam kitab Bukhari.
    2. Kemudian anda membalas, bahwa syubhat disini adalah bahawa pengikut Syiah tidak mengikuti kaidah dalam mahzab Ahlus Sunnah berkaitan dengan definisi Syiah yang terbagi-bagi.
    3. Kemudian ada jawaban balik tentang pendefinisian Syiah menurut kaidah Ahlus Sunnah tidak dikanal dalam mahzab Syiah, sehingga boleh diberikan uzur.
    4. Kemudian anda berbalas, bahwa sepatutnya kaidah suatu mahzab haruslah dijunjung tinggi. Bila hendak berhujjah atas suatu mahzab gunakanlah kaidah yang dikenal dalam mahzab itu. Sehingga anda tidak memberikan uzur atas sikap pengikut Syiah yang tidak membagi Syiah sebagaimana definisi Ahlus Sunnah, apakah iaitu Syiah, Rafidhah atau tasyayyu.
    5. Kemudian saya membalas bahwa pembagian Syiah menurut definisi Ahlus Sunnah tidak sepenuhnya didukung oleh sumber yang dapat kita verifikasi sepenuhnya (menurut kaidah penisbatan Ahlus Sunnah)

    Saya melihat kilas balik diskusi ini dan keseluruhan pertanyaan dan jawaban ada beberapa point yang harus saya terima tetapi bersamaan ada point2 tertentu yang saya tolak.

    1. Saya pikir, ketika ada pengikut Syiah yang mengatakan bahawa Bukhari mengambil perawi Syiah dalam kitabnya maka ini bermakna bahwa standar penetapan Syiah itu berdasarkan atas kesepakatan dari ulama Klasik Ahlus Sunnah bukan Syiah. Tidak disebutkannya apakah perawi itu benar bermahzab Syiah atau perawi itu bermahzab Syiah dan Rafidhah atau mungkin Syiah tetapi tasyayyu, adalah berdasarkan keterangan yang saya sampaikan diatas, Contoh relevansinya. Adakah orang Africa-American yang dengan kesadarannya menuliskan kata Nigger hanya dikarenakan kata itu ada dalam buku2 sejarah mereka. Atau mereka akan menggantinya dengan kata Black-American atau African-American (nisbat yang sama) karena kata Nigger sendiri adalah upaya dari sekelompok kaum putih Amerika untuk mengasingkan kelompok African-American dari mainstream masyarakat.

    2. Menurut saya kami telah mengikuti kaidah penisbatan Syiah berdasarkan atas ketetapan dari Ahlus Sunnah (meskipun kami tidak menggolong-golongkannyakannya sebagaimana ulama Klasik). Tapi bila pertanyaannya anda menjadi apakah kami meyakini bahwa perawi itu benar Syiah atau bukan. Maka kami katakan bahwa dalam kitab kami ada tercantum nama2 perawi yang kami akui. Saya terkadang melihat ada perawi yang tertuduh Syiah dalam Ahlus Sunnah tapi tidak saya temukan dalam kitab2 standar kami.

    3. Perbedaan kerangkan berpikir anda dan kamilah yang menyebabkan timbulnya perbedaan penafsiran. Saya pikir ini hal yang wajar. Karena bagaimanapun anda berangkat dengan pemahaman Ahlus Sunnah dan kami berangkat dengan pemahaman yang berbeda.

    Saya menikmati banyak dari tulisan2 anda dan saya salut atas kegigihan anda untuk mempelajari mahzab lain dalam Islam. Semoga Allah memberikan pahala-Nya atas apa2 yang anda lakukan.

  24. @setiadharma

    Saya hanya akan mengomentari bagian ini sebagai catatan atau masukan

    Menurut saya kami telah mengikuti kaidah penisbatan Syiah berdasarkan atas ketetapan dari Ahlus Sunnah (meskipun kami tidak menggolong-golongkannyakannya sebagaimana ulama Klasik).

    Perhatikan dengan benar “Syi’ah” yang anda maksudkan itu apakah sama maknanya dengan “Syi’ah” menurut ketetapan Ahlus Sunnah. Karena pasti orang-orang ahlus sunnah akan membantah di bagian ini. Sangat wajar untuk perawi yang cenderung kepada Imam Aliy dikatakan Syi’ah tetapi tidak anda temukan dalam kitab Syi’ah karena pada dasarnya mungkin perawi tersebut memang ahlus sunnah tetapi punya kecenderungan mengutamakan Imam Aliy dan Ahlul Bait jadilah ada yang menuduh mereka Syi’ah.

    Lain ceritanya dengan tulisan saya di atas, saya menekankan pada lafaz “Rafidhah” yang merupakan lafaz yang lebih jelas dan tidak bisa dibuat ambigu dengan makna “perawi yang cenderung kepada Imam Aliy”. Seperti ‘Abdul Malik bin A’yan di atas, dia merupakan contoh perawi yang dikatakan Rafidhah oleh ahlus sunnah dan menjadi pegangan dalam kitab hadis mazhab Syi’ah. Walaupun memang saya tidak menafikan ada juga perawi yang dikatakan rafidhah oleh ahlus sunnah tetapi tidak ditemukan dalam pegangan hadis mazhab Syi’ah

    Sejauh yang saya tahu, Rafidhah di sisi ulama ahlus sunnah biasanya mengacu pada perawi bermazhab Syi’ah dengan amalan yang dianggap ulama ahlus sunnah sebagai bid’ah tercela seperti pencelaan dan pengkafiran sahabat, akidah raj’ah atau mungkin yang lainnya

  25. @SP

    Terima kasih atas sedikit komentarnya, kamipun akan memberikan sedikit komentar juga…..

    Kalau anda melihat kembali tulisan kami maka apa yang anda utarakan itulah maksud kami. Anda mengatakan bahwa boleh jadi ada perawi yang cenderung kepada Imam Ali (as) berserta Ahlu Baitnya (as) maka Ulama klasik Ahlus Sunnah pun menjatuhkan vonis Syiah atas dirinya.

    Maka ketika ada pengikut Syiah membaca apa2 yg ditulis oleh ulama Klasik Ahlus Sunnah tersebut tentang perawi tertuduh Syiah (meskipun boleh jadi mahzab perawi itu adalah Ahlus Sunnah) maka pengikut Syiah itu pun akan mengikuti kaidah penisbatan Syiah menurut kaidah Ahlus Sunnah. Dengan ikut serta menisbatkan bahwa perawi tersebut adalah Syiah sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.

    Meskipun pengikut Syiah itu tahu bahwa nama perawi tertuduh Syiah itu tidak akan ditemukan dimanapun dalam kitab2 standar Syiah. Inilah maksud bahwa kamipun telah mengikuti kaidah penisbatan Syiah menurut definisi Ahlus Sunnah. Iaitu dengan tetap menisbatkan Syiah kepada diri perawi itu.

    Mengenai definisi Rafidhah pada sisi Ahlus Sunnah seperti amalan bid’ah tercela seperti mengkafirkan sahabat, pencelaan sahabat dan lainnya maka kamipun mengatakan bahwa bukankah itu merupakan contoh dari amalan para salafus sholih yang juga adalah pegangan dari mahzab Ahlus Sunnah. Mungkin kami pun boleh memberikan definisi baru yaitu Sunni Rafidhah? Duhai apa jadinya dengan perang, pembunuhan serta pertumpahan darah pasca wafatnya Rasullulah SAW.

    Mengenai penisbatan Rafidhah atas diri perawi pegangan kami, bagi kami tidak masalah.

  26. @SP

    Dengan Anda menyatakan bahwa Syiah yang dimaksud bermakna:

    – “kecenderungannya kepada Aliy dalam perselisihannya dengan sahabat lain.”

    – “Sedangkan penyebutan Syi’ah di sisi para ulama ahlus sunnah memiliki banyak makna”.

    Jika disandingkan dengan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] yang telah Anda kutip, yaitu “…seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah…”

    Bukankah akan tetap memaksa mereka sebagai seorang Rafidhah?

    Kecuali Anda memilikii nukilan lain yang telah menyatakan adanya pemisah diantara keduanya, yaitu Syi’ah dan Rafidhah.

  27. @Setiadharma

    Maaf saya merasa bahwa anda kurang menangkap apa sebenarnya maksud yang saya sampaikan.

    Kalau anda melihat kembali tulisan kami maka apa yang anda utarakan itulah maksud kami. Anda mengatakan bahwa boleh jadi ada perawi yang cenderung kepada Imam Ali (as) berserta Ahlu Baitnya (as) maka Ulama klasik Ahlus Sunnah pun menjatuhkan vonis Syiah atas dirinya.
    Maka ketika ada pengikut Syiah membaca apa2 yg ditulis oleh ulama Klasik Ahlus Sunnah tersebut tentang perawi tertuduh Syiah (meskipun boleh jadi mahzab perawi itu adalah Ahlus Sunnah) maka pengikut Syiah itu pun akan mengikuti kaidah penisbatan Syiah menurut kaidah Ahlus Sunnah. Dengan ikut serta menisbatkan bahwa perawi tersebut adalah Syiah sebagaimana yang dituduhkan kepadanya.

    Saya kasih gambaran kenapa isu ini menjadi penting. Ada sebagian pihak dari ahlus sunnah yang mengkafirkan Syi’ah maka Syi’ah menjawab “Bukhariy dan ulama ahlus sunnah banyak mengambil hadis dari perawi Syi’ah, maka silakan dikafirkan pula?. Jawaban pihak ahlus sunnah tersebut “oh bukan, ulama kami tidak mengambil hadis dari Syi’ah seperti kalian, kalian itu rafidhah sedangkan Syi’ah yang dimaksud di sisi ulama kami adalah bla bla bla”.

    Silakan lihat maksudnya, kalau orang Syi’ah itu ingin berhujjah dengan cara yang benar [terkait masalah ini] maka ia tidak bisa menunjukkan perawi Syi’ah yang pada hakikatnya bermazhab ahlus sunnah dan punya kecenderungan lebih mengutamakan Aliy dibanding sahabat lain. Yang harus ditunjukkan orang Syi’ah tersebut adalah perawi Syi’ah yang dikatakan Rafidhah sehingga bantahan bla bla bla pihak ahlus sunnah itu tidak berlaku.

    Jadi kalau anda katakan anda mengikuti kaidah penisbatan Syi’ah oleh ahlus sunnah maka justru seharusnya anda tidak akan menjadikan perawi tersebut sebagai hujjah dalam masalah ini, anda harusnya lebih fokus pada perawi Syi’ah yang dikatakan Rafidhah oleh ulama ahlus sunnah.

    Mengenai definisi Rafidhah pada sisi Ahlus Sunnah seperti amalan bid’ah tercela seperti mengkafirkan sahabat, pencelaan sahabat dan lainnya maka kamipun mengatakan bahwa bukankah itu merupakan contoh dari amalan para salafus sholih yang juga adalah pegangan dari mahzab Ahlus Sunnah. Mungkin kami pun boleh memberikan definisi baru yaitu Sunni Rafidhah? Duhai apa jadinya dengan perang, pembunuhan serta pertumpahan darah pasca wafatnya Rasullulah SAW.

    Soal anda tidak sepakat dengan definisi yang dilontarkan oleh pihak ahlus sunnah maka itu soal lain. Silakan diskusikan itu tanpa mencampuradukkan dengan penisbatan rafidhah oleh ulama ahlus sunnah yang dibahas di atas. Saya tidak pernah bilang bahwa semua ulama ahlus sunnah konsisten soal terminologi Syi’ah dan Rafidhah, disini saya hanya ingin menunjukkan bagaimana caranya melihat permasalahan ini dengan benar karena bagi saya baik pihak Syi’ah maupun pembantahnya dari Ahlus Sunnah sama-sama jatuh ke dalam syubhat.

    @Yang Berserah Diri

    Jika disandingkan dengan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] yang telah Anda kutip, yaitu “…seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah…”
    Bukankah akan tetap memaksa mereka sebagai seorang Rafidhah?
    Kecuali Anda memilikii nukilan lain yang telah menyatakan adanya pemisah diantara keduanya, yaitu Syi’ah dan Rafidhah.

    Solusinya sederhana, Rafidhah itu sudah pasti Syi’ah sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Jadi jika dalam kitab Rijal ternukil lafaz Syi’ah dan Rafidhah bersama-sama maka hakikatnya perawi tersebut Rafidhah sedangkan jika hanya ternukil lafaz Syi’ah maka ada kemungkinan perawi tersebut hanya cenderung dalam mengutamakan Imam Aliy diantara sahabat lain. Contohnya sudah saya sebutkan di atas tuduhan Rafidhah terhadap Al Hakim pernah dibantah oleh Adz Dzahabiy bahwa ia bukan Rafidhah hanya Syi’ah saja. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa ulama ahlus sunnah membedakan term Syi’ah dan Rafidhah.

  28. @SP

    Terima kasih atas koreksinya, anda betul bila situasi meminta kami untuk menunjukkan bukti tentang status “kesyiahan” perawi Syiah dalam kitab Bukhari maka usaha yang pasti kami lakukan adalah menimbang pendapat Ulama klasik Ahlus Sunnah berkaitan dengan perawi tersebut.

  29. @SP
    Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkah Syi’ah belum tentu Rafidhah, sebuah pernyataan yang cukup adil untuk tidak menggeneralisasi kepada setiap mereka yang lebih mengutamakan Aliy, tetapi mencaci sahabat.

    Tanpa bermaksud untuk memperlebar masalah, Saya hanya mempertanyakan perihal sanad dalam kitab bukhari. Jika mereka yang mencaci para sahabat disebut Rafidhah, maka apa sebutan bagi mereka yang mencaci Aliy?

    Saya pernah membaca dalam kitab sahih Muslim Bab kelebihan para sahabat bagian Kelebihan Aliy bin Abi Thalib mengenai sebutan Abu Thurab kepadanya. Bila Anda membaca Matannya maka akan Anda dapati bahwa pada masa itu ada kegiatan mencaci Aliy bin Abi Thalib dengan sebutan Abu Thurab, padahal sebutan Abu Thurab tidak bermakna cacian melainkan bermakna pujian bagi Aliy dari Rasulullah.

    Pertanyaan Saya, adakah perawi yang dinyatakan tsiqat dan termasuk dalam perawi kitab Bukhari sedangkan dia termasuk orang yang mencaci Aliy?

  30. @SP
    sekedar tambahan

    Pada paragraf pertama ada sedikit kesalahan dalam kalimat, yang Saya maksud adalah cukup adil untuk menyebut mereka yang lebih mengutamakan Aliy sebagai Syiah, tetapi bagi mereka yang mengutamakan Aliy disertai mencaci para sahabat, maka mereka disebut Rafidhah.

    Dan mengenai maksud dari pertanyaan Saya adalah, barangkali ini adalah pertanyaan juga bagi setiap orang Syiah karena menurut mereka, Aliy juga pernah dilaknat pada masa hidupnya, dan apabila mereka yang mencaci sahabat disebut Rafidhah, maka Aliy juga termasuk para sahabat Rasulullah.

    Sekian.

  31. @yang berserah diri

    Mereka yang mencaci Aliy biasanya disebut nashibiy dan dalam kitab Shahih [Bukhariy dan Muslim] juga ditemukan para perawi nashibiy.

  32. Predikat “Rafidah yg baik” disematkan oleh Ibnu Mut’ah krn mereka adalah perawi Imam Bukhori. Andai bukan perawi Bukhori maka ane yakin Ibnu Mut’ah tidak akan membagi Rafidhah menjadi dua. Lalu adakah Ulama sebelum Ibnu Mut’ah ini yg pernah menyampaikan bhw ada Rafidhi yg baik?? #ngigau sebelum tidur🙂

  33. lanjutkan bang SP….. semakin banyak bicara si ibnu mutah senakin kelihatan kosong ilmunya

  34. Kalau kita mengacu kpd fatwa2 para ulama besar Syiah trmsk Ali Khamenei, kaum Syiah dilarang untuk mencaci para sahabat yg dimuliakan oleh saudara2 kita dari kaum Sunni. Apabila fatwa tsb ditaati maka kita tdk akan terjebak oleh dikhotomi antara rafidhah vs nashibi yg mengakibatkan perpecahan diantara kaum muslimin selama berabad-abad !

  35. Maaf pak Adimoelya, hanya sedikit meluruskan saja kalau banyak kaum Syiah dari berbagai belahan dunia yang menyambut fatwa Imam Rahbar tentang pelarangan untuk mencaci para sahabat. Keyakinan Syiah bukanlah berasaskan atas pencacian para sahabat dan menjadi bagian dari amalan ibadah. Hal ini perlu diungkapkan untuk meluruskan. Jangan sampai bapak beranggapan bahwa fatwa Imam dianggap sebagai angin sepoi saja.

    Tapi mungkin sebagian teman2 disini akan berkata tapi saya mendengar dari si A atau saya membaca sebuah tulisan atau saya melihat dengan mata kepala saya sendiri di Youtube masih ada kaum Syiah yang mencela para sahabat. Maka kami katakan….fatwa Imam tersebut sebatas hanya fatwa pelaksaannya kembali kepada pribadi masing2 kaum Syiah terlepas dari Imam Marja masing2. kemuliaan para sahabat tidak akan ternodai oleh celaan oknum Syiah yang lalai tersebut. Andaikan celaan oknum Syiah atas diri para sahabat tidak terbukti ketika di hari Yaumul Qiyamah nanti, tentu beban dosa itu akan ditanggung oleh oknum Syiah yang lalai itu bukan bapak yang menanggung tidak juga saya.

    Apakah bapak membayangkan celaan atas diri para sahabat adalah bagian dari amalan ibadah kaum Syiah sehingga para Imam Marja yang hidup di abad 16, 17, 18, 19 dan 20 (Sebelum Imam Khameni mengeluarkan fatwa beliau) suka duduk2 bersama para pengikutnya sembari mencela para sahabat karena hal itu dipandang baik dan mendatangkan rahmat Allah?

  36. Penelitian terakhir bhw terdapat ratusan perawi hadist di kitab bukhori n muslim adalah perawi dr syiah rafidoh,,, mk jk nama2 mereka disingkirkan akibatnya kitab2 tsb tinggal halaman sampul judul sampul dan halaman terakhir. Betapa miskinnya referensi Aswaja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: