Memegang Kemaluan Tidak Membatalkan Shalat? Versi Syiah & Versi Sunni

Memegang Kemaluan Tidak Membatalkan Shalat?  Versi Syiah & Versi Sunni

Seperti biasa nashibi yang terlalu bernafsu mencela Syiah hanya menunjukkan kebodohannya. Ia membawakan riwayat Syiah tentang seorang yang memegang kemaluan ketika shalat dan shalatnya tetap sah kemudian menjadikan riwayat ini sebagai bahan tertawaan padahal riwayat yang sama juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah. Yah ini bukti nyata kalau nashibi ini bukan bagian dari ahlussunnah.

.

.

Berikut riwayat versi Syi’ah yang dikutipnya dari kitab Wasa’il Syi’ah, kami kutip dari kitab Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy

 Istibshar Thuusiy

Istibshar juz 1 hal 52

الحسين بن سعيد عن فضالة عن معاوية بن عمار قال: سألت أبا عبد الله (ع) عن الرجل يعبث بذكره في الصلاة المكتوبة؟ فقال: لا بأس

Husain bin Sa’iid bin Fadhaalah dari Mu’awiyah bin ‘Ammaar yang berkata aku bertanya pada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang memainkan dzakar-nya dalam shalat fardhu?. Maka Beliau berkata “tidak apa-apa” [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 6]

عنه عن أخيه الحسن عن زرعة عن سماعة قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن الرجل يمس ذكره أو فرجه أو أسفل من ذلك وهو قائم يصلى أيعيد وضوءه؟فقال: لا بأس بذلك إنما هو من جسده

Telah meriwayatkan darinya dari saudaranya Al Hasan dari Zurarah dari Samaa’ah yang berkata aku bertanya kepada ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seorang laki-laki yang menyentuh dzakar-nya atau farji-nya atau yang terletak di bagian bawah darinya sedangkan ia dalam keadaan shalat, apakah ia harus wudhu lagi?. Beliau berkata “tidak apa-apa dengannya, sesungguhnya itu hanyalah bagian dari tubuhnya” [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 7]

Selain kedua riwayat di atas juga ditemukan riwayat lain yang zhahirnya tampak bertentangan dengan kedua hadis tersebut,

فأما ما رواه محمد بن أحمد بن يحيى عن أحمد بن الحسن بن علي بن فضال عن عمرو بن سعيد عن مصدق بن صدقه عن عمار بن موسى عن أبي عبد الله عليه السلام قال: سئل عن الرجل يتوضأ ثم يمس باطن دبره قال: نقض وضوءه وإن مس باطنإحليله فعليه أن يعيد الوضوء، وإن كان في الصلاة قطع الصلاة ويتوضأ ويعيد الصلاة وان فتح إحليله أعاد الوضوء وأعاد الصلاة

Adapun riwayat Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari Ahmad bin Al Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl dari ‘Amru bin Sa’iid dari Mushadiq bin Shadaqah dari ‘Ammaar bin Muusa dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [‘Ammar] berkata Beliau ditanya tentang seorang laki-laki yang telah berwudhu’ kemudian menyentuh dubur-nya. Maka Beliau berkata“ itu membatalkan wudhu-nya dan jika ia menyentuh lubang kemaluannya maka ia hendaknya mengulang wudhu’nya dan jika [menyentuh dubur] di dalam shalat maka shalatnya batal, hendaknya berwudhu dan mengulangi shalatnya dan jika ia membuka lubang kemaluannya maka hendaknya mengulang wudhu dan shalatnya [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/52 no 8]

Sebagian ulama Syi’ah berusaha mengkompromikan riwayat-riwayat di atas, diantaranya Syaikh Ath Thuusiy sendiri dalam Al Istibshaar yang menyatakan bahwa kemungkinan maksud riwayat terakhir itu jika ditemukan adanya najis pada dubur dan lubang kemaluan tersebut sedangkan jika tidak ada maka hukumnya berlaku seperti dua hadis sebelumnya [tidak batal wudhu’ dan shalat].

Atau Muhaqqiq As Sabzawaariy yang menggabungkan riwayat-riwayat tersebut dan menyatakan bahwa riwayat terakhir menunjukkan anjuran atau disunahkan untuk berwudhu’ [Dzakhiirah Al Ma’ad1/15, Muhaqqiq Sabzawariy]

Terlepas dari apa sebenarnya hukum dalam perkara ini di sisi Syi’ah, penulis disini hanya menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak menjadi masalah bagi ulama Syi’ah dan ternyata juga ditemukan dalam kitab hadis Ahlus Sunnah sebagaimana yang akan ditunjukkan berikut.

.

.

.

Riwayat dengan matan serupa ditemukan dalam kitab hadis ahlussunnah dan telah dishahihkan oleh sebagian ulama ahlussunnah

Shahih Ibnu Hibban juz 3

Shahih Ibnu Hibban no 1121

أخبرنا محمد بن إبراهيم بن المنذر النيسابوري بمكة حدثنا محمد بن عبد الوهاب الفراء حدثنا حسين بن الوليد عن عكرمة بن عمار عن قيس بن طلقعن أبيه أنه سأل النبي صلى الله عليه و سلم عن الرجل يمس ذكره وهو في الصلاة قال لا بأس به إنه لبعض جسدك

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahiim bin Mundzir An Naisabuuriy di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Wahaab Al Faaraa yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waliid dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dari Qais bin Thalq dari ayahnya bahwasanya ia bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihiwasallam] tentang seorang laki-laki yang menyentuh dzakar-nya dan ia dalam keadaan shalat. Maka Beliau berkata “tidak apa-apa dengannya, sesungguhnya itu adalah bagian dari tubuhnya” [Shahih Ibnu Hibban no 1121, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

Kami mengakui bahwa sebagian ulama berselisih mengenai kedudukan hadis ini, ada yang melemahkannya dan ada yang menguatkannya. Pendapat yang rajih adalah hadis tersebut kedudukannya hasan.

.

.

Hadis ini juga diamalkan oleh sebagian sahabat seperti Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Aliy bin Abi Thalib, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud. Berikut contoh atsar riwayat Hudzaifah

Sunan Daruquthniy

Sunan Daruquthni no 547

حدثنا أبو محمد بن صاعد، ثنا أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، نا عبثر، عن حصين، عن سعد بن عبيدة، عن أبي عبد الرحمن قال: قال حذيفة: ما أبالي مسست ذكري في الصلاة، أو مسست أذني

Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Shaa’idi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hushain ‘Abdullah bin Ahmad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abtsar dari Hushain dari Sa’d bin ‘Ubaidah dari ‘Abu ‘Abdurrahman yang berkata Hudzaifah berkata “sama saja bagiku, aku menyentuh dzakar-ku dalam shalat atau aku menyentuh telinga-ku” [Sunan Daruquthniy no 547]

Atsar ini sanadnya shahih, diriwayatkan oleh para perawi tsiqat sampai Hudzaifah

  1. Abu Muhammad bin Shaa’idi adalah Yahya bin Muhammad bin Shaa’idi, seorang imam hafizh, ditsiqatkan oleh Al Khaliliy, Al Baghawiy dan Daruquthniy [As Siyaar Adz Dzahabiy 14/501-503]
  2. Abdullah bin Ahmad bin Yunus, Abu Hushain adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/295 no 3204]
  3. ‘Abtsar bin Qaasim termasuk perawi Bukhari Muslim yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/294 no 3197]
  4. Hushain bin ‘Abdurrahman termasukperawi Bukhari Muslim yang tsiqat tetapi hafalannya berubah pada akhir hayatnya [At Taqrib Ibnu Hajar 1/170 no 1369] dan periwayatan ‘Abstar dari Hushain telah diambil Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka
  5. Sa’d bin Ubaidah, Abu Hamzah Al Kuufiy perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat [At Taqrib Ibnu Hajar 1/232 no 2249]
  6. Abu ‘Abdurrahman As Sulamiy adalah Abdullah bin Habiib bin Rabii’ah perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib Ibnu Hajar 1/299 no 3271]

.

.

Dan terdapat hadis yang zhahirnya nampak bertentangan dengan hadis tersebut yaitu hadis Busrah yang menyatakan bahwa harus berwudhu’ jika menyentuh kemaluan.

Sunan Tirmidzi

Sunan Tirmidzi no 82

حدثنا إسحق بن منصور قال حدثنا يحيى بن سعيد القطان عن هشام بن عروة قال أخبرني أبي عن بسرة بنت صفوان : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من مس ذكره فلا يصل حتى يتوضأ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’iid Al Qaththaan dari Hisyaam bin ‘Urwah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku dari Busrah binti Shafwaan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihiwasallam] berkata “barang siapa yang menyentuh kemaluannya janganlah shalat sampai ia berwudhu” [Sunan Tirmidzi no 82, Tirmidzi berkata “hadis hasan shahih”, dishahihkan oleh Al Albaniy]

.

.

Ulama-ulama ahlussunnah mengalami ikhtilaf dalam perkara ini, diantara mereka ada yang menguatkan hadis Busrah dan melemahkan hadis Thalq dan ada juga yang menguatkan hadis Thalq dari pada hadis Busrah. Sebagian ulama lagi berusaha menjamak kedua hadis tersebut dengan menyatakan bahwa wudhu’ karena menyentuh kemaluan hanyalah disunahkan

 Majmu Fatawa juz 21

Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah juz 21 hal 241

وَالْأَظْهَرُ أَيْضًا أَنَّ الْوُضُوءَ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ مُسْتَحَبٌّ لَا وَاجِبٌ وَهَكَذَا صَرَّحَ بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ وَبِهَذَا تَجْتَمِعُ الْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ بِحَمْلِ الْأَمْرِ بِهِ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ لَيْسَ فِيهِ نَسْخُ قَوْلِهِ  وَهَلْ هُوَ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْك وَحَمْلُ الْأَمْرُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ أَوْلَى مِنْ النَّسْخِ

Yang nampak [lebih kuat] bahwa berwudhu ketika menyentuh kemaluan hukumnya hanyalah dianjurkan atau disunahkan, tidak wajib. Pendapat ini secara tegas dinyatakan oleh Imam Ahmad dalam salah satu dari dua riwayat darinya. Pendapat ini telah menjamak berbagai hadis dan atsar [dalam perkara ini] sehingga perintah Nabi bermakna disunahkan [anjuran], tidak ada nasakh terhadap hadis “bukankah itu adalah bagian dari tubuhmu”. Memahami perintah tersebut kepada makna sunnah itu lebih utama daripada nasakh [Majmuu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyyah 21/241]

.

.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah baik di sisi Sunni maupun di sisi Syiah memang terdapat pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan saat shalat tidaklah membatalkan wudhu’-nya dan shalatnya. Jadi apa sebenarnya yang dipermasalahkan nashibi tersebut kecuali kejahilannya terhadap sunnah.

Satu Tanggapan

  1. admin bolehkah dijelaskan tentang namaz/shalat, jika saya perhatikan ada ‘perbedaan’ dalam rukun shalatnya bacaan shalatnya dgn kebanyakan ahlul sunnah-jazzakallahu khairan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: