Ilmu Rijal Syi’ah : Ikhtilaf Mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah?

Ilmu Rijal Syi’ah : Ikhtilaf Mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah?

Tulisan ini kami buat sebagai pertanggungjawaban secara ilmiah dalam salah satu tulisan mengenai hadis Syi’ah yang di dalam sanadnya terdapat Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy. Dalam tulisan tersebut kami menampilkan secara ringkas ikhtilaf mengenai perawi ini dan menetapkan kedudukan yang rajih menurut pendapat kami. Kali ini kami akan membahas dengan lebih terperinci untuk menguatkan apa yang pernah kami katakan sebelumnya tentang Aliy bin Muhammad bin Qutaibah di sisi Syi’ah. Terjadi perselisihan di kalangan ulama Syi’ah muta’akhirin dalam menetapkan kedudukan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy.

.

.

Sebagian ulama Syi’ah menyatakan ia majhul hal atau tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya seperti Sayyid Al Khu’iy, Muhammad Al Jawahiriy, Sayyid Muhammad bin Aliy Al Musawiy [shahib Madarik Al Ahkam], dan Muhammad bin Aliy Al Ardabiliy

علي بن محمد القتيبي هو علي بن محمد بن قتيبة المجهول

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy, ia adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijalul Hadiits hal 413, Muhammad Al Jawahiriy]

والى الفضل بن شاذان فيه عبد الواحد بن عبدوس النيشابوري العطار رضي الله عنه وهو غير مذكور وعلي بن محمد بن قتيبة ولم يصرح بالتوثيق

Dan jalan kepada Fadhl bin Syadzaan di dalamnya ada ‘Abdul Waahid bin ‘Abduus An Naisaburiy Al ‘Aththaar [radiallahu ‘anhu] dan ia tidak disebutkan tentangnya, Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, tidak ada tautsiq yang jelas padanya [Jami’ Ar Ruwaat 2/539, Muhammad bin Aliy Al Ardabiliy].

.

.

Sebagian ulama Syi’ah menyatakan ia tsiqat atau minimal hadisnya hasan, diantara yang berpandangan demikian adalah Syaikh Muslim Ad Dawuriy, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy, Syaikh Muhammad Al Mahaayiy dan yang lainnya

وعده العلامة وغيره في المعتمدين فظهر ضعف قول من ضعفه، وقصور قول الوجيزة والبلغة أنه ممدوح، و قوة من قال: إنه ثقة، مثل الشيخ الأمين الكاظمي في المشتركات والفاضل الجزائري; كما حكاه المامقاني واستقربه

Dimasukkan oleh Allamah dan selainnya dalam golongan orang-orang mu’tamad maka nampak lemahlah pendapat yang mendhaifkannya dan kurang kuat pendapat dalam Al Wajizah dan Balaghah bahwa ia mamduh [terpuji], dan kuatlah yang mengatakan bahwa ia tsiqat seperti Syaikh Amin Al Kaazhimiy dalam Al Musytarakaat dan Fadhl Al Jazaa’iriy sebagaimana diceritakan oleh Al Mamaqaniy [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/466 no 10468]

وأما علي بن محمد بن قتيبة فقد تقدم أنهثقة على الأقوى

Dan adapun Aliy bin Muhammad bin Qutaibah maka pada pembahasan sebelumnya ia adalah seorang yang tsiqat berdasarkan pendapat yang paling kuat [Al Iidhah Ad Dala’il Fii Syarh Al Wasa’il, Syaikh Muslim Ad Dawuuriy 1/542]

.

Untuk menilai pendapat yang rajih maka yang harus dilihat adalah apa dasar setiap masing-masing ulama dan menilai secara ilmiah mana dasar atau hujjah yang paling kuat. Setiap ulama syi’ah muta’akhirin selalu merujuk pendapatnya pada pandangan ulama mutaqaddimin. Dalam hal ini hujjah kedudukan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah terletak pada apa yang dikatakan ulama mutaqaddimin tentangnya

.

.
Perkataan An Najasyiy

علي بن محمد بن قتيبة النيشابوري (النيسابوري) – عليه اعتمد أبو عمر والكشي في كتاب الرجال

Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy, Abu ‘Amru Al Kissyiy telah berpegang dengannya dalam kitab Rijal [Rijal An Najasyiy hal 259 no 678]

Perkataan An Najasyiy ini dianggap sebagian ulama sebagai bentuk tautsiq karena Abu ‘Amru Al Kissyiy telah berpegang dengan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitab Rijal.

Hal ini telah dijawab oleh Sayyid Al Khu’iy dimana ia mengutip perkataan An Najasyiy pula dalam biografi Abu ‘Amru Al Kasyiy

محمد بن عمر بن عبد العزيز الكشي أبو عمرو، كان ثقة، عينا، وروى عن الضعفاء كثيرا

Muhammad bin ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz Al Kasyiy Abu ‘Amru ia tsiqat ‘ayn banyak meriwayatkan dari para perawi dhaif [Rijal An Najasyiy hal 372 no 1018]

Yang dimaksud dengan perkataan An Najasyiy bahwa Al Kasyiy telah berpegang dengan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah maksudnya adalah Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya dalam kitab Rijal-nya. Hal ini disebabkan dalam kitab Rijal Al Kasyiy tidak ditemukan pernyataan Al Kasyiy yang mentautsiq Aliy bin Muhammad bin Qutaibah. Jadi maksud berpegang dengannya disana adalah banyak meriwayatkan. Seperti apa yang dikatakan Najasyiy dalam biografi berikut

محمد بن أحمد بن يحيى بن عمران بن عبد الله بن سعد بن مالك الأشعري القمي أبو جعفر، كان ثقة في الحديث. إلا أن أصحابنا قالوا: كان يروي عن الضعفاء ويعتمد المراسيل

Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin ‘Imraan bin ‘Abdullah bin Sa’d bin Malik Al Asy’ariy Al Qummiy Abu Ja’far, ia tsiqat dalam hadis hanya saja sahabat kami mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat-riwayat mursal [Rijal An Najasyiy hal 348 no 939]

Maksud berpegang dengan riwayat mursal tidak lain adalah ia banyak meriwayatkan dengan riwayat mursal. Ada yang mengatakan bahwa “berpegang dengannya” berbeda dengan “meriwayatkan darinya” maka dikatakan bahwa walaupun Al Kasyiy banyak meriwayatkan dari perawi dhaif maka bukan berarti ia berpegang dengan mereka sebagaimana diketahui bahwa berpegang dengannya berbeda dengan periwayatan.

Kami jawab An Najasyiy mengatakan dengan lafaz “Al Kasyiy berpegang dengannya dalam kitab Rijal” maka untuk memahami yang dimaksud dengan lafaz “berpegang dengannya” harus merujuk pada kitab Rijal Al Kasyiy. Dan dalam kitab tersebut tidak ada keterangan bahwa Al Kasyiy menshahihkan, menguatkan atau mentautsiq Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, yang ada adalah Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya. Maka maksud berpegang dengannya yang dimaksud An Najasyiy adalah “banyak meriwayatkan”.

Yang tidak dapat dimengerti secara ilmiah adalah anggapan sebagian ulama Syi’ah seolah-olah bahwa banyaknya periwayatan seorang perawi menunjukkan tautsiq terhadap perawi tersebut. Periwayatan bisa dianggap tautsiq jika perawi tersebut dikenal hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Hal ini bisa diketahui dari kesaksian perawi itu sendiri atau penelitian oleh ulama lain. Contohnya jika dalam ilmu rijal ahlus sunnah adalah Syu’bah yang dikenal hanya meriwayatkan dari perawi yang tsiqat dalam pandangannya atau Abu Zur’ah, Baqiy bin Makhlad dan yang lainnya. Atau Yahya bin Abi Katsir yang dikatakan Abu Hatim “ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi tsiqat”. Adapun dalam ilmu rijal Syi’ah contohnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Abi Umair dikatakan sebagian ulama Syi’ah bahwa ia hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Maka periwayatan mereka terhadap seorang perawi bisa dianggap sebagai tautsiq. An Najasyiy yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwa semua gurunya tsiqat.

Dari biografi Al Kasyiy sebagaimana dijelaskan oleh An Najasyiy maka An Najasyiy mensifatkan Al Kasyiy sebagai ulama yang banyak meriwayatkan dari perawi dhaif artinya ia bukan dikenal sebagai ulama yang hanya meriwayatkan dari perawi tsiqat. Maka bagaimana bisa periwayatan Al Kasyiy dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah menjadi tautsiq terhadapnya. Tidak peduli seberapa banyaknya Al Kasyiy meriwayatkan dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tetap itu tidak menjadi tautsiq terhadapnya.

.

Kita dapat menyederhanakan kasusnya dengan bahasa yang mudah dimengerti orang awam. Misalkan ada seseorang yang memiliki 2 orang guru, guru yang satu ilmunya banyak sehingga orang tersebut banyak mengambil ilmu darinya [maka ia banyak meriwayatkan dari gurunya yang ini] sedangkan guru yang satunya ilmunya sedikit jadi ilmu yang diambil juga sedikit [maka riwayat dari gurunya yang ini tidak banyak]. Kemudian pertanyaannya apakah bisa dikatakan orang tersebut hanya berpegang pada guru yang ilmunya banyak dan tidak berpegang dengan guru yang ilmunya sedikit, hanya dengan melihat bahwa ia punya banyak riwayat dari guru yang banyak ilmunya?. Sama saja bukan, orang tersebut berpegang pada kedua gurunya hanya saja bedanya guru yang satu ilmunya banyak sehingga riwayat darinya banyak pula dan guru yang satu ilmunya sedikit sehingga riwayat darinya sedikit.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kedua gurunya itu tsiqat?. Hal ini tidak bisa diketahui kecuali orang tersebut mengatakan dengan jelas bahwa “kedua guruku adalah tsiqat” atau ia menyatakan “guruku yang ini tsiqat dan guruku yang ini dhaif” atau “aku hanya meriwayatkan dari guru yang tsiqat”. Selagi tidak ada penjelasan darinya maka kita hanya bisa berprasangka dan prasangka tidak menjadi hujjah. Dan seandainya ada yang berkata “orang tersebut sering berguru pada guru yang dhaif” maka tidak akan bedanya antara guru yang banyak ia ambil ilmunya dengan guru yang sedikit ia ambil ilmunya, toh keduanya adalah gurunya dan kemungkinan dhaif itu bisa mencakup kedua gurunya atau salah satunya.

Tentu saja kita tidak sedang menyatakan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dhaif, kita hanya mengatakan bahwa hujjah sebagian ulama Syi’ah dengan banyaknya periwayatan Al Kasyiy dari Ali bin Muhammad bin Qutaibah menunjukkan tautsiq terhadapnya adalah keliru. Secara kritis kita dapat bertanya harus berapa banyak periwayatan sehingga menjadi tautsiq? Dan apa bedanya dengan satu atau beberapa periwayatan?. Jawabannya hanya sekedar zhan atau dugaan.

Kesimpulannya adalah perkataan An Najasyiy bahwa Al Kasyiy berpegang pada Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitab Rijal-nya tidak dapat dijadikan landasan tautsiq bagi Aliy bin Muhammad bin Qutaibah.

Ada tambahan hujjah dari ulama yang menyatakan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tsiqat, yaitu disebutkan dalam Qamuus Ar Rijal

يمكن استفادة وثاقته من قول الكشي في إبراهيم بن عبده: «حكى بعض الثقات بنيسابور الحديث»، وفي العلل روى التوقيع عن علي بن محمد بن قتيبة. فهو المعني به في كلام الكشي

Dapat dijadikan kajian pentsiqatannya dari perkataan Al Kasyiy tentang Ibrahim bin ‘Abdah “dihikayatkan oleh sebagian orang-orang tsiqat di Naisabur al hadits” dan dalam Al Ilal ternyata diriwayatkan dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, maka ialah yang dimaksud dalam perkataan Al Kasyiy [Qamuus Ar Rijal, Muhammad Taqiy At Tusturiy 7/151]

Pernyataan di atas ma’lul [cacat], perkataan Al Kasyiy tersebut dapat ditemukan dalam kitab Rijal-nya 2/844 dan sanad yang dimaksud dalam kitab Al Ilal Ash Shaduq adalah sebagai berikut

حدثنا علي بن أحمد رحمه الله: قال حدثنا محمد بن يعقوب عن علي بن محمد عن إسحاق بن إسماعيل النيسابوري

Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ya’quub dari Aliy bin Muhammad dari Ishaq bin Ismail An Naisaburiy…[Al Ilal Asy Syarai’ Syaikh Ash Shaduq 1/249]

Dalam sanad di atas tidak ada penyebutan bahwa Aliy bin Muhammad yang dimaksud adalah Al Qutaibiy, Muhammad bin Ya’qub yang meriwayatkan dari Aliy bin Muhammad di atas adalah Al Kulainiy dan salah satu diantara guru Al Kulainiy yang bernama Aliy bin Muhammad adalah Aliy bin Muhammad bin Bundaar.

علي بن محمد من مشايخ الكليني وقد أكثر الرواية عنه في الكافي في جميع أجزائه وأطلق. ومن ثم قد يقال بجهالته. ولكن الظاهر أنه علي بن محمد بن بندار الذي روى عنه كثيرا

Aliy bin Muhammad termasuk guru Al Kulainiy dan ia banyak meriwayatkan darinya dalam Al Kafiy dalam semua bagiannya, kemudian sungguh ada yang mengatakan bahwa ia tidak dikenal tetapi zhahirnya ia adalah Aliy bin Muhammad bin Bundaar yang Al Kulainiy banyak meriwayatkan darinya [Kulliyat Fi Ilm Rijal, Syaikh Ja’far Syubhaniy hal 455]

Maka hujjah penulis Qamuus Ar Rijal cacat sampai bisa dibuktikan bahwa Aliy bin Muhammad yang dimaksud dalam riwayat Ash Shaduq tersebut adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah.

.

.

.
Perkataan Syaikh Ath Thuusiy

علي بن محمد القتيبي، تلميذ الفضل بن شاذان، نيسابوري، فاضل

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy, murid Fadhl bin Syaadzaan, penduduk Naisabur, fadhl [Rijal Ath Thuusiy hal 429]

Sangat baik sekali jika ditemukan penjelasan dari Syaikh Ath Thuusiy sendiri mengenai lafaz “fadhl” yang ia gunakan tetapi tidak ditemukan keterangan demikian dalam kitabnya. Sehingga para ulama kemudian berselisih dalam memahami perkataan tersebut.

Perselisihan di kalangan ulama muta’akhirin terhadap perkataan Ath Thuusiy adalah dalam memahami lafaz fadhl. Sayyid Al Khu’iy berpandangan bahwa lafaz fadhl tidak menunjukkan tautsiq dalam kualitasnya sebagai perawi hadis. Pernyataan ini bahkan dibenarkan oleh mereka yang membantah Sayyid Al Khu’iy.

وأما قول الشيخ: فاضل، فكذلك لا يدل على التوثيق، نعم هو مدح فيكونحسنا

Adapun perkataan Syaikh “fadhl” maka darinya tidak dapat dijadikan dasar tautsiq, benar itu pujian maka menjadi hasan [Al Iidhah Ad Dala’il Fii Syarh Al Wasa’il, Syaikh Muslim Ad Dawuuriy 1/248]

Syahid Ats Tsaniy berkata dalam salah satu kitabnya mengenai lafaz “fadhl”

وأما الفاضل.، فظاهر عمومه.، لان مرجع الفضل إلى العلم.، وهو يجامع الضعف بكثرة

Dan adapun “fadhl” maka zhahirnya itu lafaz yang umum, merujuk “fadhl” kepada ilmu, dan lafaz itu sering digabungkan dengan lafaz yang mengandung kelemahan [Ar Ri’ayah Fi Ilm Dirayat hal 207, Syahid Ats Tsaniy]

Contoh dari apa yang dikatakan Syahid Ats Tsaniy bahwa lafaz “fadhl” sering digabungkan dengan lafaz yang mengandung kelemahan telah disebutkan An Najasyiy dalam biografi berikut

محمد بن جعفر بن أحمد بن بطة المؤدب، أبو جعفر القمي، كان كبير المنزلة بقم، كثير الأدب والفضلوالعلم (العلم والفضل)، يتساهل في الحديث، ويعلق الأسانيد بالإجازات، وفي فهرست ما رواه غلط كثيروقال ابن الوليد: كان محمد بن جعفر بن بطة ضعيفا مخلطا فيما يسنده

Muhammad bin Ja’far bin Ahmad bin Bathah Al Mu’addib Abu Ja’far Al Qummiy, ia besar kedudukannya di Qum, banyak meriwayatkan Sya’ir, memiliki keutamaan dan ilmu, tasahul dalam hadis, ia memutuskan sanad-sanad dengan ijazah dan dalam Al Fahrasat apa yang diriwayatkannya banyak mengandung kekeliruan. Ibnu Walid berkata “Muhammad bin Ja’far bin Bathah dhaif sering tercampur dalam sanadnya [Rijal An Najasyiy hal 372-373 no 1019]

Satu hal yang pasti adalah lafaz “fadhl” tidak menyatakan tautsiq di sisi ilmu Rijal Syi’ah maka kelirulah yang beranggapan bahwa Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tsiqat. Karena dari perkataan Syaikh Ath Thuusiy tidak bisa ditetapkan lafaz tsiqat.

Lafaz “fadhl” memang lafaz pujian maka dikatakan oleh sebagian ulama Syi’ah bahwa hadisnya hasan. Disinilah timbul perselisihan lain. Pengertian hadis hasan di sisi Ilmu Hadis Syi’ah adalah

الحسن: وهو على ما ذكروه ما اتصل سنده الى المعصوم (عليه السلام) بإمامي ممدوح مدحاً مقبولاً معتداً به غير معارض بذم من غير نص على عدالته مع تحقق ذلك في جميع مراتب رواة طريقه أو في بعضها بان كان فيهم واحد أمامي ممدوح غير موثق مع كون الباقي من الطريق من رجال الصحيح

Hadis hasan adalah apa yang disebutkan secara muttashil sanadnya sampai imam ma’shum [‘alaihis salaam] oleh perawi Imamiyah yang terpuji dengan pujian yang maqbul dan dapat dijadikan pegangan, tidak ada celaan yang menentangnya, tanpa disertai nash [dalil] tentang keadilannya, yang ditetapkan pada semua perawi dalam jalan tersebut atau sebagiannya yang mana di dalamnya terdapat satu perawi Imamiyah yang terpuji bukan muwatstsaq dan perawi sisanya dalam jalan tersebut adalah perawi shahih [Miqbas Al Hidayah Fii Ilm Ad Diraayah 1/145, Abdullah Mamaqaniy]

Perselisihan terletak pada lafaz mamduuh maqbul mu’taddu bihi yang artinya “pujian yang maqbul yang diakui atau yang dianggap atau dapat dijadikan pegangan”. Mereka yang menerima Aliy bin Muhammad bin Qutaibah menerima lafaz “fadhl” sebagai pujian yang bisa dijadikan pegangan tetapi mereka yang menyatakan majhul menyatakan bahwa “fadhl” adalah pujian yang tidak bisa dijadikan pegangan. Hal ini yang diisyaratkan oleh Sayyid Muhammad bin Aliy Al Musawiy penulis Madaarik Al Ahkam

لكن في طريق هذه الرواية علي بن محمد بن قتيبة، وهو غير موثق بل ولا ممدوح مدحا يعتد به

Tetapi dalam jalan riwayat ini ada Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, ia tidak ditsiqatkan bahkan tidaklah ia dipuji dengan pujian yang dapat dijadikan pegangan [Madaarik Al Ahkam 6/84]

Kami menimbang dan menganalisis perkara ini dengan hati-hati, kami sependapat bahwa lafaz “fadhl” yang artinya memiliki keutamaan adalah lafaz yang bersifat umum. Sehingga memutlakkannya bahwa lafaz itu kembali kepada ilmu tidak selalu benar karena banyak contohnya dalam kitab Rijal Najasyiy bahwa lafaz “fadhl” beriringan dengan lafaz “ilmu” dan lafaz selain “ilmu”. Kalau memang mutlak kembali kepada ilmu maka apa feadahnya disebutkan beriringan.

عمرو بن دينار المكي، أحد أئمة التابعين، وكان فاضلا عالما

Amru bin Diinar Al Makkiy, salah seorang imam tabiin, ia seorang yang fadhl alim [Rijal Ath Thuusiy hal 131]

Mungkin lebih tepat untuk dinyatakan jika lafaz tersebut beriringan dengan lafaz ilmu atau alim maka fadhl berarti menegaskan keutamaannya dari sisi ilmu. Ada contoh lain dimana lafaz fadhl beriringan dengan lafaz lain selain ilmu

أحمد بن محمد بن عيسى القسري، يكنى أبا الحسن، روى عن أبي جعفر محمد بن العلا بشيراز – وكان أديبا فاضلا

Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qasariy, kuniyah Abu Hasan, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad bin A’la di Syiiraz, ia seorang ahli sastra [penyair] yang fadhl [Rijal Ath Thuusiy hal 413]

علي بن إسماعيل الدهقان، زاهد خير فاضل، من أصحاب العياشي

Aliy bin Ismaiil Ad Dahqaan, orang yang zuhud, khair, fadhl, termasuk sahabat ‘Ayasyiy [Rijal Ath Thuusiy hal 429]

Bagi kami lafaz “fadhl” memiliki banyak kemungkinan dalam arti belum jelas keutamaan yang dimaksud dalam hal apa. Apakah dalam hal keshalehannya, ilmunya, jabatannya, kemasyhurannya, nasabnya dan sebagainya?. Banyak ternukil dalam kitab Rijal Syi’ah sebutan bagi perawi bahwa ia ahli kalam, ahli sastra [penyair], faqih, qadhiy, memiliki kitab yang baik, masyhur di kalangan sahabat kami, dan sebagainya.

عمرو بن جميع، أبو عثمان الأزدي البصري، قاضي الري، ضعيف الحديث

‘Amru bin Jami’ Abu ‘Utsman Al Azdiy Al Bashriy, Qadhiy di Ray, dhaif dalam hadis [Rijal Ath Thuusiy hal 251]

Dan sebutan-sebutan ini tentu termasuk keutamaan bagi mereka tetapi nyatanya terkadang beriringan dengan lafaz yang mengandung kedhaifan dalam hadis. Kemudian tentu tidak sama kualitasnya antara lafaz seorang perawi sebagai “faqih alim fadhl” dengan lafaz seorang perawi “fadhl”. Lafaz pertama jelas lebih kuat dan lebih jelas dibanding lafaz kedua. Oleh karena itu perkara menentukan pujian [mamduh] sebagai maqbul atau bisa dijadikan pegangan adalah perkara yang rumit dan sifatnya subjektif antara masing-masing ulama. Mereka yang bertasahul akan mudah menerima setiap pujian sebagai perawi berhadis hasan dan mereka yang kritis tidak mudah menerima setiap pujian sebagai perawi berhadis hasan.

.

.

Kami merajihkan pendapat yang menyatakan ia majhul hal atau tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya karena kami juga melihat bahwa lafaz “fadhl” mengandung banyak kemungkinan sehingga belum jelas menunjukkan keutamaannya dari sisi apa. Sehingga permasalahan disini lafaz “fadhl” adalah lafaz pujian yang mengandung dua kemungkinan

  1. Pujian yang dapat dijadikan pegangan sehingga hadisnya hasan misalnya jika fadhl beriringan dengan lafaz alim, jalil, khair dan sebagainya
  2. Pujian yang tidak dapat dijadikan pegangan untuk menetapkan hadisnya hasan yaitu jika lafaz “fadhl” tersebut tafarrud tanpa beriringan dengan lafaz lain yang menunjukkan keutamaannya. Karena “fadhl” juga mencakup keutamaan yang sifatnya umum misalnya keutamaan jabatan seseorang sebagai qadhiy, statusnya sebagai ahli kalam, ahli sastra atau penyair, keutamaan sebagai sahabat ulama tertentu, keutamaan nasabnya, memiliki banyak kitab, dan sebagainya

Kemungkinan yang satu tidaklah menafikan kemungkinan yang lain, dan pujian “fadhl”  untuk Aliy bin Muhammad bin Qutaibah lebih cenderung kami golongkan pada kelompok kedua yaitu pujian yang tidak dapat dijadikan pegangan. Tentu namanya kemungkinan kami tidak akan berani memastikan, yang terpenting adalah lafaz “fadhl” bersifat umum dan mengandung kemungkinan dapat dijadikan pegangan dan tidak dapat dijadikan pegangan. Sehingga mereka yang memastikan hadisnya hasan harus menunjukkan bukti bahwa lafaz “fadhl” tersebut memang menunjukkan “pujian yang maqbul atau diakui atau dapat dijadikan pegangan”. Selagi tidak ada bukti maka lebih rajih menetapkan tidak ada tautsiq yang jelas terhadapnya.

.

.

Allamah Al Hilliy telah memasukkan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dalam kitabnya Khulashah Al Aqwaal bagian pertama yang memuat golongan perawi yang dijadikan pegangan hadisnya, ia berkata

علي بن محمد بن قتيبة، ويعرف بالقتيبي النيسابوري، أبو الحسن، تلميذ الفضل بن شاذان، فاضل، عليه اعتمد أبو عمرو الكشي في كتاب الرجال

Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, yang dikenal dengan Qutaibiy, An Naisaburiy, Abu Hasan murid Fadhl bin Syadzan, fadhl, Abu ‘Amru Al Kasyiy telah berpegang dengannya dalam kitab Rijal [Khulashah Al Aqwal hal 177]

Seperti yang nampak secara zhahir, Al Hilliy berpegang pada perkataan An Najasyiy dan Ath Thuusiy maka pembahasannya kembali pada pembahasan di atas. Cukuplah kiranya kami mengutip catatan kaki dari pentahqiq kitab Khulasah Al Aqwaal [Syaikh Jawad Al Qayyumiy]

كلام المصنف هنا دال على اعتماده عليه، كما يؤيده ما ذكره في ترجمة يونس بن عبد الرحمان: ” وروى الكشي حديثا صحيحا عن علي بن محمد القتيبي – الخ “، وهذا الامر اما لما يقال: ان الكشي اعتمد عليه في كتابه وروى عنه كثيرا  كما يومئ عليه اعتماد المصنف هنا -، ويرده ما قال النجاشي في ترجمة الكشي: 372، الرقم: 1018، من أنه روى عن الضعفاء كثيرا واما لأصالة العدالة، ففيه ما مر سابقا واما لحكم الشيخ بأنه فاضل، وهو دال على فضل في نفسه، لاتصافه بالكمالات والعلوم لا مدح فيه بما هو راو، فالرجل غير موثق ولا ممدوح بمدح يعتد به.

Perkataan penulis [Al Hilliy] menunjukkan bahwa ia berpegang dengannya seperti yang disebutkannya dalam biografi Yunus bin Abdurrahman, ia berkata “diriwayatkan oleh Al Kasyiy hadis shahih dari Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy”. Dan perkaranya disini seperti yang dikatakan “Al Kasyiy berpegang padanya dalam kitabnya dengan banyak meriwayatkan darinya”. Hal inilah yang dijadikan pegangan penulis [Al Hilliy] disini, dan dijawab dengannya adalah perkataan Najasyiy dalam biografi Al Kasyiy hal 372 no 1018 bahwa ia banyak meriwayatkan dari perawi dhaif. Adapun perkataan Syaikh bahwasanya ia “fadhl” maka itu adalah keutamaan tentang dirinya disifatkan dengan kesempurnaan dan keilmuan, bukan pujian mengenai statusnya sebagai perawi maka ia termasuk yang tidak ditsiqatkan dan tidak memiliki pujian yang dapat dijadikan pegangan [catatan kaki pentahqiq Khulasah Al Aqwal hal 177]

Nampak sekali bahwa pentahqiq kitab disini hanya mengulang apa yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah. Secara umum kami sependapat dengan Al Khu’iy kecuali pada bagian perincian dimana Sayyid Al Khu’iy menetapkan secara pasti bahwa lafaz “fadhl” itu disifatkan dengan keilmuan. Pembahasannya sudah berlalu di atas walaupun pada akhirnya kesimpulan kami menyepakati apa yang dikatakan Sayyid Al Khui’y dan yang lainnya bahwa Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tidak memiliki lafaz tautsiq yang jelas padanya. Pendapat kami disini tidaklah mewakili mazhab Syi’ah, kami hanya meneliti bagaimana perselisihan yang terjadi di kalangan ulama Syi’ah dan menetapkan pendapat yang menurut kami lebih rajih.

20 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum,

    saya tak perlu tanya kabarlah ya karena sepertinya makin “makmur” sejak ada si kecil. Langsung saja lagi buru-buru nih, saya tidak sepakat dengan kesimpulanmu

    Soal qaul Syaikh An Najasyiy, maka perkataanmu benar tidak ada tautsiq disana tetapi qaul Syaikh Ath Thuusiy “fadhl” itu sifatnya mamduh maka hadisnya hasan.

    Hujjah pertama bahwa lafaz fadhl bersifat umum dan tidak menunjukkan keutamaan sebagai apa, itu agak dipaksakan. Saya menangkap sikap overkritis disini. Dalam ilmu Rijal banyak terdapat lafaz mamduh yang sifatnya umum seperti khair, wajha, jalil, kabir manzilah. Ambil lafaz “khair”, tidak disebutkan sifatnya sebagai apa. Bisa saja saya paksakan “khair” itu bermakna umum dan bisa saja saya paksakan “khair” belum jelas menunjukkan kebaikan sebagai apa, bisa saja menunjukkan kebaikan sebagai qadhiy, kebaikan nasabnya, kebaikannya sebagai ahli mantiq, ahli lughah dan lainnya yang menurutmu tidak maqbul dikatakan hasanul hadis. Jika fadhl tidak bisa dinyatakan hasan hadisnya maka lafaz mamduh seperti khair, wajha, jalil, kabir manzilah juga tidak bisa dinyatakan hasan.

    Hujjah kedua bahwa lafaz fadhl sering digabungkan dengan lafaz dhaif, itu memang benar dan sudah ditunjukkan contohnya, saya pun mengakui ini tetapi pemahaman saya berbeda. Pada dasarnya semua lafaz mamduh bisa saja digandengkan dengan lafaz dhaif fii hadits, hanya saja itu tidaklah menghapuskan lafaz mamduhnya, harusnya penggabungan itu dimaknai sebagai telah tetap mamduhnya tetapi lemah dalam hadisnya. seorang yang tsiqat dan shaduq bisa saja banyak melakukan kesalahan sehingga dikatakan lemah dalam hadis. Hal itu hanya menunjukkan bahwa orang tersebut adil tetapi lemah dalam dhabitnya maka hadis-hadisnya lemah.

    Contoh yang dibawakan diatas sudah bagus, Muhammad bin Ja’far bin Ahmad bin Bathah adalah orang yang kedudukannya agung, banyak memiliki keutamaan dan ilmu tetapi lemah dalam hadis. kedhaifan dalam hadis yang dituduhkan padanya tidaklah menghapuskan sifat banyak memiliki keutamaan dan ilmu. Seandainya lafaz lemah dan dhaif dalam hadis itu dihapus maka yang tersisa adalah ia seorang yang kedudukannya agung, banyak keutamaan dan ilmu. Sifat seperti ini sangat cukup menjadikan hadisnya hasan. Jika tidak ada lafaz dhaif fii hadits maka hadisnya hasan, jika ada lafaz dhaif fii hadits maka kedudukannya turun menjadi dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

    Cukup sedikit ini dulu, ditunggu balasannya, titip salam buat keluarga.

  2. @FP

    saya tak perlu tanya kabarlah ya karena sepertinya makin “makmur” sejak ada si kecil. Langsung saja lagi buru-buru nih, saya tidak sepakat dengan kesimpulanmu

    Wa’alaikum salam, Alhamdulillah, akhirnya ada komentar yang masuk dari ahlinya. Ehem apa itu maksudnya menyindir saya ya, haha perubahannya jelas sekali ya masbro:mrgreen:

    Tidak sepakat ya tidak masalah, btw kapan kita pernah sepakat, uups maksudnya kapan kita pernah merasa kalau kita sama-sama sepakat😀

    Soal qaul Syaikh An Najasyiy, maka perkataanmu benar tidak ada tautsiq disana tetapi qaul Syaikh Ath Thuusiy “fadhl” itu sifatnya mamduh maka hadisnya hasan.

    Sebenarnya saya merasa kalau saya sudah tahu apa pandangan anda. btw saya panggil “anda” sajalah ya biar agak formal sedikit.

    Hujjah pertama bahwa lafaz fadhl bersifat umum dan tidak menunjukkan keutamaan sebagai apa, itu agak dipaksakan. Saya menangkap sikap overkritis disini. Dalam ilmu Rijal banyak terdapat lafaz mamduh yang sifatnya umum seperti khair, wajha, jalil, kabir manzilah. Ambil lafaz “khair”, tidak disebutkan sifatnya sebagai apa. Bisa saja saya paksakan “khair” itu bermakna umum dan bisa saja saya paksakan “khair” belum jelas menunjukkan kebaikan sebagai apa, bisa saja menunjukkan kebaikan sebagai qadhiy, kebaikan nasabnya, kebaikannya sebagai ahli mantiq, ahli lughah dan lainnya yang menurutmu tidak maqbul dikatakan hasanul hadis. Jika fadhl tidak bisa dinyatakan hasan hadisnya maka lafaz mamduh seperti khair, wajha, jalil, kabir manzilah juga tidak bisa dinyatakan hasan.

    Ini komentar yang baik sekali, saya agak kesulitan membantah bagian ini. Saya akan mulai dari standar yang terbaik dalam perkara ini. Makna suatu lafaz itu paling baik dimengerti dari sudut pandang siapa yang mengucapkan lafaz tersebut. Sejauh yang saya pahami bahwa ulama terkadang memiliki makna tersendiri mengenai lafaz yang ia ucapkan. Saya tidak menafikan lafaz “fadhl” bersifat mamduh tetapi seperti yang anda katakan perbedaan kita disini adalah apakah mamduh yang dimaksud menjadikannya hasanul hadis atau tidak. Disini saya berusaha mengembalikannya pada qarinah yang ada. Apakah ada qarinah dari Syaikh Ath Thuusiy yang menunjukkan makna demikian?. jawabannya tidak ada, kalau seandainya anda bisa menunjukkan satu saja hadis dimana Syaikh Ath Thuusiy berhujjah dengan perawi yang berpredikat “fadhl” tersebut maka diskusi selesai dan saya sepakat.

    Karena tidak ada qarinah dari Ath Thuusiy maka saya kembalikan pada perkataan para ulama Syi’ah. Maka saya dapatkan bahwa disini ulama Syi’ah terbagi jadi dua pendapat yaitu menyatakan “Fadhl” mamduh hasanul hadis dan yang lain menyatakan mamduh tetapi tidak cukup dikatakan hasanul hadis. Pertentangan para ulama harus dikembalikan pada kaidah ilmiah yaitu dengan melihat apa dasar hujjah mereka. Disini saya merajihkan hujjah ulama yang menyatakan “fadhl” sebagai pujian yang tidak kuat sebagai hasanul hadis. Adapun pandangan saya terhadap lafaz “fadhl” tidak bisa langsung diterapkan pada lafaz-lafaz lainnya. Sejauh yang saya tahu tidak ada perselisihan soal lafaz yang lain di kalangan para ulama Syi’ah. Secara sederhana jika tidak ada perselisihan di kalangan ulama Syi’ah bahwa lafaz “fadhl” bersifat hasanul hadis maka saya akan mengikuti pendapat tersebut

    Hujjah kedua bahwa lafaz fadhl sering digabungkan dengan lafaz dhaif, itu memang benar dan sudah ditunjukkan contohnya, saya pun mengakui ini tetapi pemahaman saya berbeda. Pada dasarnya semua lafaz mamduh bisa saja digandengkan dengan lafaz dhaif fii hadits, hanya saja itu tidaklah menghapuskan lafaz mamduhnya, harusnya penggabungan itu dimaknai sebagai telah tetap mamduhnya tetapi lemah dalam hadisnya. seorang yang tsiqat dan shaduq bisa saja banyak melakukan kesalahan sehingga dikatakan lemah dalam hadis. Hal itu hanya menunjukkan bahwa orang tersebut adil tetapi lemah dalam dhabitnya maka hadis-hadisnya lemah.

    Lagi-lagi komentar yang baik, perbedaan kita sangat halus disini yaitu pada makna “tetap mamduhnya”. Bukankah mamduh itu sifatnya umum ada yang bersifat pujian atas sifat pada diri orang tersebut misalnya pada akhlaknya. Nah mamduh yang kita permasalahkan itu kan apakah mamduh itu bersifat hasanul hadis atau tidak. Seorang yang dikatakan wara’ atau ahli ibadah maka itu bersifat mamduh [pujian] tetapi tidak bisa langsung dikatakan bermakna hasanul hadis. Mamduh dalam statusnya sebagai perawi hadis adalah perkara yang berbeda, itulah inti dari hujjah Sayyid Al Khu’iy di atas.

    Contoh yang dibawakan diatas sudah bagus, Muhammad bin Ja’far bin Ahmad bin Bathah adalah orang yang kedudukannya agung, banyak memiliki keutamaan dan ilmu tetapi lemah dalam hadis. kedhaifan dalam hadis yang dituduhkan padanya tidaklah menghapuskan sifat banyak memiliki keutamaan dan ilmu. Seandainya lafaz lemah dan dhaif dalam hadis itu dihapus maka yang tersisa adalah ia seorang yang kedudukannya agung, banyak keutamaan dan ilmu. Sifat seperti ini sangat cukup menjadikan hadisnya hasan. Jika tidak ada lafaz dhaif fii hadits maka hadisnya hasan, jika ada lafaz dhaif fii hadits maka kedudukannya turun menjadi dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

    Setelah melihat komentar anda, justru saya merasa contoh yang saya kutip ternyata tidak kuat mewakili hujjah yang saya maksudkan. Harusnya saya mencari perawi yang hanya mengandung lafaz “fadhl” dan “dhaif” saja. Anda sudah benar sekali, jika lafaz “dhaif fii hadits” tersebut dihapus maka statusnya menjadi hasanul hadis tetapi bukan karena lafaz “fadhl” tetapi karena lafaz “kedudukan yang agung” dan “banyak memiliki keutamaan dan ilmu”. Silakan diperhatikan tulisan saya di atas, singkatnya dalam pandangan saya lafaz “fadhl” saja tidak cukup sebagai hasanul hadis tetapi lafaz “fadhl” yang beriringan dengan lafaz “khair” dan “alim” bisa bersifat hasanul hadis.

    Cukup sedikit ini dulu, ditunggu balasannya, titip salam buat keluarga.

    Sedikit tetapi baik sekali, anda harus sering-sering komentar disini, biasanya “otak” saya langsung tegang melihat ada komentar anda di kolom komentar. Salam diterima dan salam kembali untuk siapa saja yang ada di sana🙂

  3. Berarti benar feeling saya Akasya adalah FP…🙂
    Kalau 2 ahli pedang sedang bertarung lebih baik kita menjauh, karena kilatan cahaya pedangnya saja sudah mampu merobek daging kita. Kalaupun berkomentar, lebih baik bukan pada jurus2 pedang mereka. Rakyat jelata yang menonton lebih akan berkomentar secara subjektif kepada pribadi2 ahli pedang.
    Sehingga dengan saya tetap berpihak kepada SP, karena seahli2nya ahli pedang tetap tidak berarti apa2 ketika yang dipotong hanya bambu2 di hutan. Pada akhirnya yang dilihat adalah manfaat si ahli pedang kepada rakyat jelata yang tertindas.
    @FP, selamat memotong bambu di hutan..😛

    Salam damai.

  4. Assalamu’alaikum

    Ehem saudara SP tidak perlulah bawa-bawa gosip disini, sebaiknya kita fokus pada tema diskusi saja. Sepakat, perkataan Syaikh At Thuusiy merupakan hujjah final yang menjadi pemutus diskusi ini. Insya Allah ini akan jadi PR bagi saya.

    Soal pertentangan ulama-ulama Syi’ah dimana SP mengatakan dikembalikan pada kaidah ilmu, harusnya saudara SP sudah paham bahwa dalam perselisihan ini kaidah ilmu yang dipakai sifatnya subjektif. Sebagian mengatakan hasanul hadis karena pada dasarnya fadhl itu bersifat mamduh dan tidak perlu ada perincian detail layaknya seperti sifat khair, wajha, alim. Semua sifat itu bisa saja bergabung dengan lafaz dhaif tetapi mengapa khusus untuk “fadhl” harus ada syarat-syarat tertentu.

    Menurut Sayyid Al Khu’iy, fadhl tidak bersifat hasanul hadis karena hanya menunjukkan sifat dirinya dalam kesempurnaan ilmu bukan sifat sebagai perawi hadis. Pengakuan Sayyid Al Khu’iy kalau fadhl tertuju pada keilmuan itu sudah cukup sebagai hasanul hadis. Tidak perlu ada pembedaan antara sifat sebagai perawi hadis dengan sifat keilmuan, kalau dicari-cari seperti ini maka banyak sekali lafaz tautsiq yang bisa dipermasalahkan termasuk lafaz khair, wajha, alim, laba’sa bihi, dan selainnya.

    Analisis masalah ini cukup dengan mengembalikan pada kaidah umum bahwa yang namanya mamduh sudah cukup membuat hasanul hadis. Penambahan pokok bahasan mamduh apakah maqbul sebagai hasanul hadis atau tidak, jelas masuk dalam ranah subjektif. Kalau hanya mengandalkan perselisihan ulama muta’akhirin maka diskusi kita tidak akan ada titik temunya. Saya sarankan saudara SP merujuk pada Al Wajiizah karya Al Majlisiy dimana ia banyak mensifatkan perawi dengan mamduh kemudian bandingkan dengan Mir’at Al ‘Uqul dimana ia memberikan predikat hadis-hadis Al Kafiy. Al Majlisiy menjadikan hadis perawi mamduh sebagai hadis hasan.

    Saudara SP terkesan disini mencampuradukkan fenomena yang terjadi di ilmu hadis Sunni ke dalam ilmu hadis Syi’ah. Dalam ilmu hadis Sunni tidak ada yang disebut mamduh, adanya Jarh (celaan) dan ta’dil (pujian). Perawi yang disifatkan dengan kriteria shalih, wara’, abid, faqih mungkin di Sunni tidak menunjukkan adil dan dhabit dalam hadis tetapi sifat-sifat seperti itu dalam ilmu hadis Syi’ah masuk kriteria mamduh.

  5. @FP

    Ehem saudara SP tidak perlulah bawa-bawa gosip disini, sebaiknya kita fokus pada tema diskusi saja. Sepakat, perkataan Syaikh At Thuusiy merupakan hujjah final yang menjadi pemutus diskusi ini. Insya Allah ini akan jadi PR bagi saya.

    Haha bukannya masbro yang awalnya bawa-bawa gosip. Uups jangan bilang “saya kan larang kamu bergosip dan itu tidak berkonsekuensi saya tidak boleh bergosip, kamu tidak boleh bergosip itu satu hal dan saya boleh bergosip itu hal yang lain”. Just kidding

    Saya sudah pernah meneliti hal ini yaitu terkhusus lafaz “fadhl” dan lafaz “asnad ‘anhu”. Dengan melihat kitab-kitab Syaikh Ath Thuusiy maka hasilnya saya belum mendapatkan keterangan soal lafaz “fadhl” di sisi Ath Thuusiy itu sebenarnya bersifat mamduh hasanul hadis atau tidak. Berbeda halnya dengan lafaz “asnad ‘anhu” yang juga sering diucapkan Syaikh Ath Thuusiy. Ternukil perselisihan para ulama Syi’ah dalam menafsirkan lafaz ini tetapi setelah saya menelusuri kitab Rijal Ath Thuusiy dan kitab Ath Thuusiy yang lain maka didapatkan kesimpulan kalau lafaz “asnad ‘anhu” di sisi Syaikh Ath Thuusiy tidak bermakna mamduh [pujian]. Uups itu cerita lain:mrgreen:

    Soal pertentangan ulama-ulama Syi’ah dimana SP mengatakan dikembalikan pada kaidah ilmu, harusnya saudara SP sudah paham bahwa dalam perselisihan ini kaidah ilmu yang dipakai sifatnya subjektif. Sebagian mengatakan hasanul hadis karena pada dasarnya fadhl itu bersifat mamduh dan tidak perlu ada perincian detail layaknya seperti sifat khair, wajha, alim. Semua sifat itu bisa saja bergabung dengan lafaz dhaif tetapi mengapa khusus untuk “fadhl” harus ada syarat-syarat tertentu.

    Dalam tulisan di atas saya sudah mengisyaratkan bahwa perselisihan soal mamduh yang maqbul sebagai hasanul hadis adalah perkara subjektif. Memang kalau saya pikir ulang dengan baik hal ini tergantung dengan kecenderungan metode yang dipakai. Bagi mereka yang syaratnya ketat maka dapat dimaklumi kalau mereka menetapkan fadhl tidak bersifat hasanul hadis.

    Menurut Sayyid Al Khu’iy, fadhl tidak bersifat hasanul hadis karena hanya menunjukkan sifat dirinya dalam kesempurnaan ilmu bukan sifat sebagai perawi hadis. Pengakuan Sayyid Al Khu’iy kalau fadhl tertuju pada keilmuan itu sudah cukup sebagai hasanul hadis. Tidak perlu ada pembedaan antara sifat sebagai perawi hadis dengan sifat keilmuan, kalau dicari-cari seperti ini maka banyak sekali lafaz tautsiq yang bisa dipermasalahkan termasuk lafaz khair, wajha, alim, laba’sa bihi, dan selainnya.

    Dalam tulisan di atas saya menyebutkan bahwa saya tidak sepakat dengan penafsiran Sayyid Al Khu’iy terhadap lafaz “fadhl”. Pendapat yang benar menurut saya adalah lafaz “fadhl” tidak jelas menunjukkan pada sisi apa, kalau dirincikan maka kemungkinannya banyak termasuk pada sisi ilmu, sisi nasab, sisi kedudukan, sisi keshalihan, sisi akhlak jadi memutlakkan kepada sisi ilmu menurut saya tidak benar. Hal yang umum tetap pada keumumannya sampai ada dalil atau keterangan yang merincikan.

    Analisis masalah ini cukup dengan mengembalikan pada kaidah umum bahwa yang namanya mamduh sudah cukup membuat hasanul hadis. Penambahan pokok bahasan mamduh apakah maqbul sebagai hasanul hadis atau tidak, jelas masuk dalam ranah subjektif. Kalau hanya mengandalkan perselisihan ulama muta’akhirin maka diskusi kita tidak akan ada titik temunya. Saya sarankan saudara SP merujuk pada Al Wajiizah karya Al Majlisiy dimana ia banyak mensifatkan perawi dengan mamduh kemudian bandingkan dengan Mir’at Al ‘Uqul dimana ia memberikan predikat hadis-hadis Al Kafiy. Al Majlisiy menjadikan hadis perawi mamduh sebagai hadis hasan.

    Dalam Ulumul hadis mazhab Syi’ah memang ternukil sebagian ulama yang ketika mendefinisikan hadis hasan, mereka tidak menggunakan lafaz mamduh yang maqbul dapat dijadikan pegangan tetapi cukup lafaz mamduh saja, Misalnya berikut

    الحسن عرفه في بداية الدراية: بما اتصل سنده إلى المعصوم عليه السلام بإمامي ممدوح، من غير نص على عدالته، مع تحقق ذلك في جميع مراتبه، أو في بعضها، مع كون الباقي من رجال الصحيح
    سماء المقال في علم الرجال – أبو الهدى الكلباسي – ج ٢ – الصفحة ٤٤٨

    Tetapi tidak dinafikan bahwa sebagian ulama Syi’ah yang lain membuat perincian mengenai sifat mamduh tersebut ada yang maqbul dan ada yang tidak. Contohnya sudah saya kutip dalam tulisan di atas. Dan menurut saya ini yang lebih kuat.

    Melihat dari pendapat anda maka anda sepertinya memutlakkan mamduh bersifat hasanul hadis. Saya kasih contoh saja, apakah lafaz “hafiz” di sisi ilmu hadis Syi’ah bersifat mamduh atau tidak?. apakah lafaz taradhiy “radiallahu ‘anhu” atau lafaz tarahim “rahimahullah” bersifat mamduh atau tidak?. Kalau anda memutlakkannya maka itu berarti banyak sekali guru-guru Syaikh Shaduuq yang harusnya mamduh hasanul hadis. Dan setahu saya sih, faktanya anda juga selektif terhadap kredibilitas guru-guru Syaikh Shaduuq.

    Mengenai Syaikh Al Majlisiy dalam Kitab Al Wajizah, ya saya sudah pernah menelitinya dan sepertinya Al Majlisiy termasuk ulama yang memutlakkan lafaz mamduh sebagai hasanul hadis walaupun begitu saya juga pernah menemukan inkonsistensi dalam penilaian hadisnya, misalnya di Al Wajiizah ia berkata majhul tetapi dalam kitabnya yang lain Al Majlisiy menyatakan hadis perawi tersebut sebagai hasan.

    Saudara SP terkesan disini mencampuradukkan fenomena yang terjadi di ilmu hadis Sunni ke dalam ilmu hadis Syi’ah. Dalam ilmu hadis Sunni tidak ada yang disebut mamduh, adanya Jarh (celaan) dan ta’dil (pujian). Perawi yang disifatkan dengan kriteria shalih, wara’, abid, faqih mungkin di Sunni tidak menunjukkan adil dan dhabit dalam hadis tetapi sifat-sifat seperti itu dalam ilmu hadis Syi’ah masuk kriteria mamduh.

    Yah mungkin saja, saya juga merasa memang ada pengaruhnya. Saya akan berusaha mengevaluasi lagi masalah ini. Yang saya tangkap dari diskusi ini adalah anda termasuk orang yang memutlakkan lafaz mamduh sebagai hasanul hadis. Perbedaan kita disitu dan saya akui dalam metode saya yang mungkin menurut anda terlalu ketat terdapat hal-hal memberatkan yang perlu dicari pemecahannya [seperti yang sudah anda sampaikan]. Tetapi saya juga telah menyampaikan keberatan saya akan metode anda yang menurut saya agak tasahul. Maka silakan anda memberikan jawaban, dimulai dari lafaz “hafiz”, taradhi dan tarahim sebagaimana saya tanyakan pada paragraf sebelumnya.

  6. @SP

    Maafkan saya malas buat quote, bagusnya langsung saya sebutkan poin-poin dari komentar SP yang saya tanggapi

    Bagus sekali SP sudah melakukan analisis perkataan Syaikh At Thusi. Izinkan saya memberi masukan, ada perbedaan antara kedua perkataan Syaikh dalam kitab Rijalnya yaitu fadhl dan asanad ‘anhu. Fadhl bersifat mamduh atau pujian, baik secara bahasa, secara awam, secara ilmu baik Sunni maupun Syi’ah. Sedangkan asanad ‘anhu tidak jelas bersifat mamduh, spesial case from Syaikh sehingga sangat butuh dianalisis maksud Syaikh dengan lafaz itu melalui kitab-kitabnya, hasilnya sepakat memang benar tidak bersifat mamduh

    Menurut saudara SP istilah fadhl bersifat umum, akan tetap umum sampai ada dalil yang merincikan. SP terlalu memaksakan diri, tidak perlu dikatakan fadhl bersifat umum dan tidak perlu pula disebutkan perincian. Saya ulangi ke contoh lain, mengapa tidak dikatakan juga kalau khair, alim, wajha, dan istilah lain bersifat umum sehingga perlu dalil yang merincikan. Tempatkanlah istilah itu sesuai dengan fungsinya. Istilah-istilah mamduh dipakai oleh ulama Rijal untuk memberikan predikat kepada perawi bukan dengan tujuan merincikan keadaan perawi tersebut.

    Jika ulama ingin mensifatkan perawi dari sisi tertentu maka ulama akan menyebutkannya. SP mengatakan fadhl itu umum bisa saja merujuk statusnya sebagai memiliki kitab atau lahu kitab, sebagai qadhiy, sebagai faqih, sebagai orang alim, wara’ dan sebagainya. Kita kembali pada fakta saja, Syaikh dalam kitab Rijalnya kalau memang ingin menyebutkan perawi tertentu sebagai qadhiy atau faqih atau alim maka ia akan menyebutkannya, tidak perlu istilah fadhl. Apalagi istilah lahu kitab tidak ada kaitannya dengan istilah fadhl, silakan lihat Al Fahrasat, disana para perawi disebutkan Syaikh dengan istilah lahu kitab, terus apakah mereka semua masuk dalam istilah fadhl.

    Kemudian SP menerapkan aturan jika fadhl sendiri belum maqbul hasanul hadis tetapi jika bergabung dengan khair atau alim menjadi maqbul hasanul hadis. Aturan ini rancu, karena dalam pandangan SP istilah fadhl alim berarti fadhl itu menunjukkan keutamaan dari sisi ilmu. terus dimana bedanya fadhl alim dengan alim saja. tempatkan istilah itu apa adanya, fadhl ya fadhl, alim ya alim, dan jika dikatakan fadhl alim maka perawi tersebut memiliki kedua sifat mamduh tersebut, tidak perlu diarahkan fadhl menjelaskan sisi alim. Kesan yang saya tangkap, istilah fadhl menjadi tidak berguna sebagai mamduh justru istilah yang mengiringinya yang SP jadikan sifat sebagai mamduh. Pikirkanlah lagi, istilah fadhl status dan sifatnya sama seperti istilah khair.

    Definisi hadis hasan terjadi perbedaan di kalangan muta’akhirin, tidak ada yang patut dipermasalahkan. ulama yang bilang hadis hasan perawi mamduh saja karena mereka lebih spesifik dalam mengelompokkan perawi sebagai mamduh, sedangkan ulama yang mensyaratkan mamduh harus maqbul berarti mereka terlalu umum dalam mengelompokkan mamduh bahkan istilah lahu kitab atau ijazah dimasukkan ke dalamnya

    Saya akan jawab pertanyaan saudara SP, istilah hafizh apakah mamduh?. jawabannya benar. Ulama yang mensifatkan perawi tertentu dengan hafizh maka bermakna mamduh di sisi ulama tersebut kalau yang dimaksudkan olehnya adalah kualitas siperawi yang memenuhi kriteria hafizh. Tetapi hal ini tidak bisa dipakai dalam periwayatan, contoh seorang Syaikh berkata telah menceritakan kepadaku hafizh fulan bin fulan. Tidak bisa langsung bermakna Syaikh tersebut memuji fulan bin fulan karena ada istilah hafizh. Bisa saja fulan bin fulan itu sudah masyhur oleh panggilan orang-orang dengan sebutan hafiz fulan bin fulan. Sama seperti istilah ‘Adl yang melekat pada perawi tertentu, jika seorang Syaikh berkata telah menceritakan kepadaku fulan bin fulan Al ‘Adl, tidak bisa bermakna itu pujian karena ada kemungkinan’Adl adalah panggilan yang sudah melekat pada namanya.

    Bagaimana dengan taradhiy dan tarahim ulama?. Jawabannya tidak bersifat mamduh, keduanya adalah doa. Maka doa bukanlah sifat bagi seseorang tetapi sesuatu yang diharapkan jatuh pada orang tersebut. Berbeda kalau taradhiy dan tarahim ini berasal dari Allah ‘azza wajalla, Rasulullah shallallahu’alaihiwa’alihi dan para Imam ‘alaihimussalam, keduanya menjadi mamduh karena taradhiy dan tarahim itu sudah jadi ketetapan atas orang tersebut.

    Al Majlisi terkadang inkonsisten dalam penilaian hadis, tetapi hal itu bisa berlaku pada siapa saja, ulama mana saja baik mazhab Sunni maupun Syi’ah. SP sudah terlalu banyak pengalaman disini, bukankah tinggal dilihat separah apa inkonsistensinya, apakah berasal dari kekeliruan atau khilaf yang kadang-kadang muncul layaknya manusia atau karena dari awal memiliki metode yang tidak jelas?. Kemudian perlu dipertimbangkan kemungkinan inkonsistensi tersebut sebenarnya hanya perubahan pendapat ulama yang ruju’ dari pendapatnya yang lalu.

  7. Kilatan cahaya pedang semakin menyilaukan.
    Jurus2 sudah ditumpahkan. Para penonton yang berilmu cetek agak bergeser untuk menghindarkan sayatan cahaya pedang. tertinggal yang berilmu tinggi yang masih bertahan di sekitar arena.
    Semua bertanya2 siapa yang akan keluar sebagai pemenang, namun rasanya kedudukan masih sama kuat. Semoga kedua mereka tidak ada yang cedera.
    Keadaan semakin sulit karena masing2 sudah mengenal jurus2 masing2. Tinggal kejelian dan kekokohan yang akan menentukan akhir dari pertarungan ini. Walaupun terlihat juga bagi mereka yang berilmu tinggi bahwa terjadi transfer ilmu yang semakin membuat mereka saling mengagumi.

  8. @FP

    Menurut saudara SP istilah fadhl bersifat umum, akan tetap umum sampai ada dalil yang merincikan. SP terlalu memaksakan diri, tidak perlu dikatakan fadhl bersifat umum dan tidak perlu pula disebutkan perincian. Saya ulangi ke contoh lain, mengapa tidak dikatakan juga kalau khair, alim, wajha, dan istilah lain bersifat umum sehingga perlu dalil yang merincikan. Tempatkanlah istilah itu sesuai dengan fungsinya. Istilah-istilah mamduh dipakai oleh ulama Rijal untuk memberikan predikat kepada perawi bukan dengan tujuan merincikan keadaan perawi tersebut.

    Wa ‘alaikum salam. Secara sederhana komentar anda baik sekali, maaf saya pribadi sudah pernah terpikir metode sederhana dalam menyelesaikan masalah ini seperti yang anda tunjukkan di atas. Tetapi saya juga kembali pada fakta yaitu bagaimana kedudukan lafaz-lafaz tersebut di sisi para ulama Syi’ah. Bukankah saya sebutkan di atas diantara yang menyatakan fadhl bersifat umum adalah ulama Syi’ah yaitu Tsahiid Tsaniy

    وأما الفاضل.، فظاهر عمومه.، لان مرجع الفضل إلى العلم.، وهو يجامع الضعف بكثرة

    Dan adapun “fadhl” maka jelas keumumannya, merujuk “fadhl” kepada ilmu, dan lafaz itu sering digabungkan dengan lafaz yang mengandung kelemahan [Ar Ri’ayah Fi Ilm Dirayat hal 207, Syahid Ats Tsaniy]

    Dan sudah jadi kaidah ushul bahwa dalil umum akan tetap keumumannya sampai ada dalil yang merincikan atau mengkhususkan. Perkataan saya ini hanya konsekuensi logis dari perkataan ulama yang mengatakan lafaz fadhl bersifat umum.

    مأخوذ من الفضل، وهو في اللغة بمعنى الزيادة
    مقباس الهداية، ج‏2، ص‏247

    [Faadhl] diambil dari kata Al Fadhl dan itu secara lughah [bahasa] bermakna tambahan

    Apakah hanya dengan makna lughah yang sifatnya umum seperti ini akan bisa dipahami maksudnya tanpa ada perincian dan penjelasan khusus.

    Jika ulama ingin mensifatkan perawi dari sisi tertentu maka ulama akan menyebutkannya. SP mengatakan fadhl itu umum bisa saja merujuk statusnya sebagai memiliki kitab atau lahu kitab, sebagai qadhiy, sebagai faqih, sebagai orang alim, wara’ dan sebagainya. Kita kembali pada fakta saja, Syaikh dalam kitab Rijalnya kalau memang ingin menyebutkan perawi tertentu sebagai qadhiy atau faqih atau alim maka ia akan menyebutkannya, tidak perlu istilah fadhl. Apalagi istilah lahu kitab tidak ada kaitannya dengan istilah fadhl, silakan lihat Al Fahrasat, disana para perawi disebutkan Syaikh dengan istilah lahu kitab, terus apakah mereka semua masuk dalam istilah fadhl.

    Saya terima yang ini karena memang tidak bisa dibantah bahwa Syaikh Ath Thuusiy telah menyebutkan dengan jelas hal-hal seperti itu pada kitab Rijal-nya termasuk dalam Al Fahrasat. Tetapi poin saya tetap saja lafaz fadhl itu bersifat umum, dasarnya sudah saya nukilkan di atas. Kalau kita memang harus merujuk pada apa maksud Syaikh Ath Thuusiy maka kembali pada PR anda, yang sudah saya kerjakan dan hasilnya masih nihil dalam pandangan saya. Intinya apakah fadhl itu bermakna umum atau khusus di sisi Syaikh Ath Thuusiy.

    Kemudian SP menerapkan aturan jika fadhl sendiri belum maqbul hasanul hadis tetapi jika bergabung dengan khair atau alim menjadi maqbul hasanul hadis. Aturan ini rancu, karena dalam pandangan SP istilah fadhl alim berarti fadhl itu menunjukkan keutamaan dari sisi ilmu. terus dimana bedanya fadhl alim dengan alim saja. tempatkan istilah itu apa adanya, fadhl ya fadhl, alim ya alim, dan jika dikatakan fadhl alim maka perawi tersebut memiliki kedua sifat mamduh tersebut, tidak perlu diarahkan fadhl menjelaskan sisi alim. Kesan yang saya tangkap, istilah fadhl menjadi tidak berguna sebagai mamduh justru istilah yang mengiringinya yang SP jadikan sifat sebagai mamduh. Pikirkanlah lagi, istilah fadhl status dan sifatnya sama seperti istilah khair.

    Bukankah perbedaannya sederhana masbro, orang yang fadhl alim kedudukannya lebih tinggi dari orang yang alim saja. Dalam persepsi saya lafaz fadhl bersifat meninggikan atau menambahkan sesuatu dalam sifat orang tersebut yang berbeda dari orang-orang lainnya. Jadi kalau fadhl alim maka sifatnya kealimannya lebih tinggi dari orang-orang alim lainnya. Atau dalam kasus berikut

    أحمد بن محمد بن عيسى القسري، يكنى أبا الحسن، روى عن أبي جعفر محمد بن العلا بشيراز – وكان أديبا فاضلا

    Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qasariy, kuniyah Abu Hasan, meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad bin A’la di Syiiraz, ia seorang ahli sastra [penyair] yang fadhl [Rijal Ath Thuusiy hal 413]

    Dalam persepsi saya, perawi di atas adalah seorang ahli sastra atau penyair yang kedudukannya lebih tinggi dibanding para penyair lainnya, sehingga fadhl disana terikat kepada lafaz ‘adiib [ahli sastra] artinya sifat tersebut dari sisi ilmu sastra penyair tersebut. Mungkin dalam pandangan anda kedua lafaz tersebut berdiri sendiri terpisah dari yang lain, kalau begitu maaf saya tidak sepakat.

    Adapun pernyataan anda bahwa apa yang diterapkan pada kasus fadhl harusnya diterapkan pula ke kasus khair. Jawaban saya sederhana, mari kembalikan apa yang dikatakan para ulama Syi’ah mengenai lafaz fadhl dan khair

    Pertama lafaz khair diartikan Al Mamaqaniy

    يفيد المدح المعتدّ به و في إفادتها التوثيق كلام .
    مقباس الهداية ، ج۲ ، ص۲۴۶

    kemudian dalam kitab yang sama, lafaz fadhl diartikan

    مأخوذ من الفضل ، وهو في اللغة بمعنى الزيادة .
    مقباس الهداية ، ج۲ ، ص۲۴۷

    Kedua lafaz khair diartikan Syahid Ats Tsaniy

    يفيد المدح مع احتمال دلالته على التعديل
    الرعاية في علم الدراية ، ص۲۰۷ ـ ۲۰۸

    kemudian dalam kitab yang sama, lafaz fadhl diartikan

    يفيد المدح دون التعديل ؛ لأنّ مرجع الفضل إلى العلم ، و هو يجامع الضعف بكثرة .
    الرعاية في علم الدراية ، ص۲۰۷ و ۲۰۸

    Dengan menganalisis perkataan kedua ulama di atas saya menempatkan bahwa lafaz khair sebagai hasanul hadis sedangkan lafaz fadhl tergantung dari qarinah yang sudah saya sebutkan dalam tulisan di atas. walaupun memang sebagaimana bisa dilihat dalam tulisan di atas saya tidak semata-mata taklid begitu saja pada pandangan kedua ulama tersebut, saya menganalisis hujjah mereka semampu saya dan berpegang pada apapun hasilnya [dan tidak masalah jika ternyata hasil akhirnya menyelisihi pandangan mereka berdua].

    Definisi hadis hasan terjadi perbedaan di kalangan muta’akhirin, tidak ada yang patut dipermasalahkan. ulama yang bilang hadis hasan perawi mamduh saja karena mereka lebih spesifik dalam mengelompokkan perawi sebagai mamduh, sedangkan ulama yang mensyaratkan mamduh harus maqbul berarti mereka terlalu umum dalam mengelompokkan mamduh bahkan istilah lahu kitab atau ijazah dimasukkan ke dalamnya

    Saya tidak mempermasalahkan perbedaan definisi tersebut. Sebelumnya saya hanya menguatkan mazhab yang anda anut disini memang berdasarkan sebagian ulama Syi’ah yang menyatakan demikian. Walaupun menurut saya definisi yang lebih rajih adalah yang lebih detail menjelaskan mamduh harus bersifat maqbul sebagai hasanul hadis.

    Saya akan jawab pertanyaan saudara SP, istilah hafizh apakah mamduh?. jawabannya benar. Ulama yang mensifatkan perawi tertentu dengan hafizh maka bermakna mamduh di sisi ulama tersebut kalau yang dimaksudkan olehnya adalah kualitas siperawi yang memenuhi kriteria hafizh. Tetapi hal ini tidak bisa dipakai dalam periwayatan, contoh seorang Syaikh berkata telah menceritakan kepadaku hafizh fulan bin fulan. Tidak bisa langsung bermakna Syaikh tersebut memuji fulan bin fulan karena ada istilah hafizh. Bisa saja fulan bin fulan itu sudah masyhur oleh panggilan orang-orang dengan sebutan hafiz fulan bin fulan. Sama seperti istilah ‘Adl yang melekat pada perawi tertentu, jika seorang Syaikh berkata telah menceritakan kepadaku fulan bin fulan Al ‘Adl, tidak bisa bermakna itu pujian karena ada kemungkinan’Adl adalah panggilan yang sudah melekat pada namanya.

    Jawaban yang baik sekali, lagi-lagi bedanya disini bagi saya hafizh bersifat mamduh tetapi tidak maqbul sebagai hasanul hadis. Syahiid Tsaniy menjelaskan lafaz hafizh sebagai

    يفيد المدح دون التوثيق ؛ لأنّه قد يجامع الضعف .
    الرعاية في علم الدراية ، ص ۲۰۴

    walaupun saya tidak menafikan bahwa sebagian ulama Syi’ah lain menyatakan hafizh sebagai mamduh yang maqbul sebagai hasanul hadis.

    Bagaimana dengan taradhiy dan tarahim ulama?. Jawabannya tidak bersifat mamduh, keduanya adalah doa. Maka doa bukanlah sifat bagi seseorang tetapi sesuatu yang diharapkan jatuh pada orang tersebut. Berbeda kalau taradhiy dan tarahim ini berasal dari Allah ‘azza wajalla, Rasulullah shallallahu’alaihiwa’alihi dan para Imam ‘alaihimussalam, keduanya menjadi mamduh karena taradhiy dan tarahim itu sudah jadi ketetapan atas orang tersebut.

    Inipun saya sepakat, penjelasan anda dalam masalah ini sudah baik sekali, taradhiy dan tarahim sangat tergantung dengan dari mana asal taradhi dan tarahim tersebut.

    Al Majlisi terkadang inkonsisten dalam penilaian hadis, tetapi hal itu bisa berlaku pada siapa saja, ulama mana saja baik mazhab Sunni maupun Syi’ah. SP sudah terlalu banyak pengalaman disini, bukankah tinggal dilihat separah apa inkonsistensinya, apakah berasal dari kekeliruan atau khilaf yang kadang-kadang muncul layaknya manusia atau karena dari awal memiliki metode yang tidak jelas?. Kemudian perlu dipertimbangkan kemungkinan inkonsistensi tersebut sebenarnya hanya perubahan pendapat ulama yang ruju’ dari pendapatnya yang lalu.

    Sebelumnya saya hanya sekedar menginfokan saja bahwa Al Majlisiy terkadang inkonsisten dengan penilaian hadis dan ia khilaf sebagaimana para ahli hadis lain juga bisa mengalami khilaf. Pada prinsipnya saya sudah mengakui kalau Al Majlisiy berada di sisi anda dalam perselisihan kita disini.

    btw, diskusi ini makin menarik, apalagi jika “saudara kita yang berlagak stress” itu ikutan bertarung disini. Apa anda tidak keberatan jika saya meminta tolong anda untuk memancing Beliau kesini?. Terimakasih atas kesediaannya *lho lho kok maksa*

  9. @SP

    Assalamu ‘alaikum

    Saya mengakui SP punya pegangan kuat soal ini. Saya memahami dasar SP yaitu perselisihan istilah jarh, ta’dil dan mamduh dikembalikan pada ulama. Kenyataan perkara ini para ulama berselisih pendapat. SP mengutip ulama yang sejalan dengan SP dan saya pun bisa mengutip ulama yang sejalan dengan saya.

    Akar masalahnya harus ditelusuri lebih dalam lagi yaitu evaluasi argumentasi para ulama. Di atas saya bilang mengapa tidak menerapkan kasus istilah fadhl kepada istilah khair. SP berhenti pada ulama yang sejalan SP yaitu mereka membedakan istilah fadhl sebagai tidak hasanul hadis dan istilah khair sebagai hasanul hadis. Hakikat jawaban SP tidak menjawab pertanyaan saya. SP hanya melemparkan pertanyaan itu pada para ulama yang sejalan dengan SP padahal saya juga memiliki para ulama yang tidak membedakan istilah fadhl dan istilah khair.

    Saya tinggal bertanya ulang. Apa dasar para ulama yang dinukil SP dalam membedakan istilah fadhl dan istilah khair?. secara bahasa keduanya istilah umum dan sifatnya sama bahkan dalam beberapa hadis Sunni ataupun Syi’ah istilah fadhl dan istilah khair bertukar tempat di hadis yang sama. Tidak perlu saya beri contoh karena SP tentu tahu soal ini. Saya tidak bisa menerima jawaban istilah fadhl dinyatakan umum oleh ulama dan istilah khair tidak. Justru itu yang sedang saya tanyakan.

    Jika SP menjawab muara akhir ilmu Rijal adalah taklid pada ulama, saya tidak akan menyangkal hanya saya perlu meminta apa dasar SP berhenti pada ulama yang satu dan meninggalkan ulama yang lain. Apa standar SP dalam memilih pendapat ulama soal istilah mamduh maqbul hasanul hadis?.

    Boleh jika SP mengajak orang stress itu kesini, saya tidak heran kalau dia akan menyerang SP dengan jurus pisau cukurnya. Persiapkan diri dan berdoa semoga moodnya lagi baik.

  10. @TSO8
    Anda benar jangan coba masuk kedalam gelangan pertempuran ahli. Tetapi mendekat gelanggang tentu bisa, untuk melihat lebih jelas. Dan menurut saya jurus SP kuat (pakai tenaga dalam) sehingga cahaya pedang lebih panjang dan sinarnya lebih terang

  11. @naolako
    Pertempuran ini bagi sy hanya terlihat kilatan pedangnya saja. Jurus yang digunakan masih susah terlihat. Pandangan mata menjadi kabur dan bahkan jadi nanar. Memang dasar-dasar ilmu silatnya tdk pernah dipelajari bagaimana bisa mengetahui kembangannya. Dengan tenaga dalam, kilatan pedang pun mampu menggores dan merubuhkan. Bagi yang awam, mendekat hanya menimbulkan celaka, menjauh hampir tidak melihat apa-apa🙂

    Salam

  12. @Armand
    Karena ilmu yang tinggi dan kecepatan tinggi susah mengikuti dan mengetahui kembangnya. Dasar ilmu kita ketahui. Kalau tidak susah kita bisa bedakan siapa lebih unggul. Karena ilmu mereka sudah tinggi yang susah diikuti adalah kembangnya. Tapi kita tetap masih bisa menilai dengan mengetahui siapa gurunya dan buku apa yang menjadi dasar berkembang ilmunya. He he he. Kata2 orang jahil.

  13. @FP

    Saya tinggal bertanya ulang. Apa dasar para ulama yang dinukil SP dalam membedakan lafaz fadhl dan lafaz khair?. secara bahasa keduanya lafaz umum dan sifatnya sama bahkan dalam beberapa hadis Sunni ataupun Syi’ah lafaz fadhl dan lafaz khair bertukar tempat di hadis yang sama. Tidak perlu saya beri contoh karena SP tentu tahu soal ini. Saya tidak bisa menerima jawaban lafaz fadhl dinyatakan umum oleh ulama dan lafaz khair tidak. Justru itu yang sedang saya tanyakan.

    Wa ‘alaikum salam. Disini saya tidak bisa memberikan jawaban pasti tetapi dalam pengalaman saya mempelajari ilmu hadis [terutama ilmu Rijal ahlus sunnah] tidak semua lafaz yang nampak dalam berbagai hadis atau riwayat memiliki makna yang sama ketika lafaz tersebut diterapkan dalam ranah ilmu Rijal. Mungkin ini yang menjadi dasar sebagian ulama membedakan definisi lafaz-lafaz tersebut.

    Hal ini juga yang menjadi dasar penerimaan saya terhadap definisi lafaz yang dilontarkan oleh sebagian ulama. Saya yakin anda juga mengetahuinya tetapi tidak mengapa saya berikan contoh dari ilmu Rijal ahlus sunnah bagi para pembaca yang belum mengetahuinya. Misalnya lafaz “maqbul” disisi Ibnu Hajar bermakna hadisnya dapat dijadikan syawahid dan mutaba’ah tetapi tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud. Adapun lafaz maqbul secara bahasa artinya “diterima”. Atau lafaz “sakatu’anhu” di sisi Bukhariy. Jika diartikan secara bahasa maka bermakna “mereka [para ulama] mendiamkannya” padahal maksud lafaz tersebut di sisi Bukhariy bahwa perawi tersebut sangat tercela disisinya.

    Dalam persepsi saya, lafaz-lafaz mamduh yang diperselisihkan sebagian ulama Syi’ah bermula dari cara pandang mereka terhadap lafaz tersebut. Tujuan pembahasan mereka pada dasarnya untuk mengkategorikan apakah lafaz tersebut termasuk lafaz mamduh atau tidak, dan [bagi sebagian ulama] untuk mengkategorikan apakah mamduh tersebut sifatnya menjadikannya berpredikat hasan atau tidak. Jadi seharusnya cara mendefinisikan lafaz tersebut harus kembali pada berbagai kitab Rijal dan penggunaannya oleh ulama mutaqaddimin [kalau memang ada].

    Asumsi saya : Ketika Syahid Tsaniy mendefinisikan lafaz fadhl sebagai mamduh tanpa ta’dil dan sifatnya umum merujuk pada ilmu serta banyak digabungkan dengan lafaz dhaif hal itu berdasarkan penelitiannya bahwa penggunaan lafaz fadhl dalam kitab-kitab Rijal memang demikian. kemudian ketika ia mendefinisikan lafaz khair sebagai mamduh [pujian] yang mengandung kemungkinan ta’dil maka hal itu berdasarkan penelitiannya bahwa dalam kitab Rijal memang demikian adanya.

    Saya tidak bisa memberikan jawaban yang lebih baik daripada asumsi tersebut dan hal ini lebih saya nilai rajih dibandingkan dengan pendapat sebagian ulama yang memandang fadhl mutlak sebagai mamduh hasanul hadis bahkan tautsiq tanpa mereka menjelaskan dasar dan argumentasi mereka.

    Adapun hujjah anda mengenai penggunaan lafaz fadhl dan khair yang sering bertukar tempat dalam kalimat hadis atau riwayat, tidak bisa diterapkan begitu saja ke dalam ilmu Rijal. Karena bahkan dalam satu lafaz tertentu pada setiap kalimat memiliki konteksnya masing-masing, ketika lafaz tersebut anda lepaskan dari kalimatnya dan menerapkannya pada kalimat lain maka tidak mesti lafaz tersebut bermakna sama.

    فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من دل على خير فله مثل أجر فاعله

    Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “barang siapa menunjukkan suatu kebaikan [khair] maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya” [Shahih Muslim no 1893]

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

    Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya ditusukkan kepala seorang dari kamu dengan jarum dari besi itu lebih baik [khair] baginya daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya [Mu’jam Al Kabir Thabraniy 20/211 no 486, hadis shahih]

    lafaz khair pada hadis pertama tidaklah memiliki makna yang persis sama dengan lafaz khair pada hadis kedua, walaupun secara bahasa artinya sama-sama baik. Saya hanya menunjukkan bahwa suatu lafaz dalam kalimat memiliki konteks masing-masing.

    Jika SP menjawab muara akhir ilmu Rijal adalah taklid pada ulama, saya tidak akan menyangkal hanya saya perlu meminta apa dasar SP berhenti pada ulama yang satu dan meninggalkan ulama yang lain. Apa standar SP dalam memilih pendapat ulama soal lafaz mamduh maqbul hasanul hadis?.

    Standar saya sifatnya melalui pendekatan metodologis yang sederhana

    Jika para ulama Syi’ah tidak berselisih soal lafaz tersebut bersifat mamduh hasanul hadis atau maqbul atau bersifat ta’dil maka tidak ada masalah disini untuk menerimanya

    Jika terjadi perselisihan maka saya akan melihat dasar atau argumentasi mereka yang berselisih jika memang ada. Misalnya jika disebutkan suatu lafaz bersifat mamduh tanpa bersifat ta’dil dan sering digabungkan dengan lafaz dhaif maka bagi saya ini dasar yang kuat untuk menyatakan mamduh tersebut tidak maqbul hasanul hadis. Dalam asumsi saya, ulama yang mengatakan seperti ini sudah mengumpulkan atau meneliti keadaan lafaz tersebut pada kitab-kitab Rijal dan ia menemukan bahwa lafaz tersebut sering digabungkan dengan lafaz dhaif.

    Jika tidak ditemukan adanya argumentasi hanya sekedar perkataan bahwa lafaz itu mamduh tidak hasanul hadis kemudian terdapat yang menyelisihinya yaitu ulama lain yang mengatakan mamduh tersebut hasanul hadis maka dilihat berapa banyak ulama yang mengatakannya. Pendapat yang terbanyak itu yang saya ambil.

    Boleh jika SP mengajak orang stress itu kesini, saya tidak heran kalau dia akan menyerang SP dengan jurus pisau cukurnya. Persiapkan diri dan berdoa semoga moodnya lagi baik.

    Lho kan saya meminta bantuan anda kok anda malah menyuruh saya yang mengajaknya. btw saya juga sudah banyak latihan jurus pisau cukur, sepertinya jurus saya tidak lebih jelek dari jurusnya. Hmmm atau mungkin punya saya agak lebih baik, secara saya dengar gosipnya dia sudah malas belajar sekarang hehehe peace bro

  14. Woouh, sudah ada yang mengharapkan bantuan. Sudah mulai kelihatan siapa yang unggul kembangnya. Tapi bagi penonton yang awam beryerima kasih atas pertarungan kedua jagoan ini. Insya Allah keduanya dan kami mendapatkan hikmah atas pertarungan ini. Amin Wasalam

  15. @SP

    Assalamu ‘alaikum

    Thanks atas jawabannya, SP sudah menunjukkan dasar dimana SP berdiri. Saya tidak akan bilang SP salah dan saya benar. SP punya metode sendiri dan saya punya metode sendiri. Awalnya saya pikir SP tidak punya dasar yang kukuh hanya mengandalkan sebagian ulama yang mendukung pandangan SP. Setelah melihat penjelasan SP, saya akui memang rumit tetapi ada dasar berpijak walaupun saya tidak sepakat.

    Standar SP dalam memilih pendapat ulama juga bagus.
    1. Jika para ulama sepakat maka diambil kesepakatan tersebut
    2. Jika para ulama berselisih maka yang diambil adalah ulama yang memiliki argumen lebih kuat
    3. Jika argumentasi para ulama tersebut sama kuat atau sama-sama tidak memiliki argumentasi maka diambil pendapat yang terbanyak

    Saya akan memakai standar SP untuk menyimpulkan predikat Ali bin Muhammad bin Qutaibah

    1. Ulama tidak sepakat mengenai statusnya, ada yang bilang tsiqat, ada yang bilang mamduh, dan ada yang bilang majhul.

    2. Ulama-ulama berselisih dan saya nilai tidak ada yang punya argumentasi kuat. SP di atas menyebutkan argumentasi Sayyid Al Khu’i yaitu istilah fadhl menunjukkan kesempurnaan diri dalam hal ilmu bukan dalam riwayat hadis. Saya jawab, itu benar dan alasan tersebut hanya menunjukkan dia tidak berpredikat tautsiq tetapi berpredikat mamduh.

    Kemudian SP beragumen dengan mengutip sebagian ulama yaitu istilah fadhl bersifat umum sering bergabung dengan istilah dhaif sehingga menurut SP tidak kuat disebut mamduh hasanul hadis. Menurut SP ini argumen kuat, tetapi menurut saya tidak. Istilah fadhl mau dibilang umum atau khusus tetap saja bersifat mamduh, seperti istilah khair. Soal istilah fadhl sering bergabung dengan istilah dhaif, apakah SP sudah memverifikasi kalau istilah fadhl dalam kitab-kitab Rijal sering digabungkan dengan istilah dhaif?. Silakan dibuktikan dengan kitab-kitab Rijal dan SP akan temukan jumlahnya tidak banyak, sehingga hal ini tidak bisa menjadi dasar untuk menolak istilah fadhl bersifat hasan.

    Saya menelusuri kitab Rijal Al Kasyi, Rijal Najasi, Rijal Thusi dan tidak menemukan istilah fadhl saja bergabung dengan istilah dhaif. paling sering saya temukan justru istilah fadhl bergabung dengan istilah mamduh seperti khair ‘alim dan yang lainnya. Sedikit saya temukan istilah fadhl bergabung dengan istilah mamduh lain kemudian digabungkan pula dengan istilah dhaif seperti contoh SP di atas. Contoh yang SP bawakan di atas justru menguatkan pendapat saya yaitu istilah mamduh digabungkan dengan istilah dhaif hanya menunjukkan perawi tersebut mamduh tetapi lemah dalam hadis.

    3. SP mengakui istilah fadhl bersifat mamduh tetapi tidak maqbul hasanul hadis dengan bertaklid pada sebagian ulama yaitu Sayyid Al Khu’i dan Shahib Madarik. Argumen Sayyid Al Khu’i tidak kuat bahkan argumennya menunjukkan istilah fadhl bersifat mamduh dan Shahib Al Madarik tidak menjelaskan argumennya. Jadi dapat disimpulkan ulama yang bilang Ali bin Muhammad Al Qutaibiy majhul tidak memiliki dasar argumen kuat. Maka dengan standar SP yang ketiga diambil pendapat terbanyak yaitu para ulama yang bilang mamduh.

    Di sisi lain saya punya argumen kuat yaitu Allamah Al Hilli mengelompokkan Ali bin Muhammad bin Qutaibah dalam bagian pertama kitab Khulashah Al Aqwaal. Hal ini bermakna di sisi Allamah ia termasuk perawi yang dijadikan pegangan hadisnya. Allamah mengutip pujian Ath Thuusiy yaitu istilah fadhl, fakta ini menunjukkan istilah fadhl bersifat mamduh di sisi Al Hilli dan menjadi dasar baginya sehingga Al Qutaibi ia jadikan pegangan hadisnya. Bagi saya ini argumen kuat karena ulama yang dijadikan pegangan SP lebih muta’akhirin dibanding Allamah Al Hilli.

    Saya tidak memaksa SP berubah pendapat, saya tahu SP punya metode sendiri dan konsisten dengan metodenya. Blog SP cukup populer di kalangan orang syi’ah sehingga mereka sering taklid buta kepada SP. Tulisan SP tentang syi’ah saya akui baik sekali, banyak orang syi’ah yang mendapat manfaatnya tetapi mereka kadang lupa kalau SP bukan Syi’ah. Saya perlu berkomentar pada tulisan ini karena pendapat kuat menjadi pegangan jumhur mazhab Syi’ah adalah Ali bin Muhammad Al Qutaibi perawi mamduh hadisnya hasan.

  16. @Akasya
    Anda berkata: “Blog SP cukup populer di kalangan orang syi’ah sehingga mereka sering taklid buta kepada SP. Tulisan SP tentang syi’ah saya akui baik sekali, banyak orang syi’ah yang mendapat manfaatnya tetapi mereka kadang lupa kalau SP bukan Syi’ah.”
    Anda salah besar. Kita senua cukup berpengetahuan untuk menilai. Mungkin anda menganggap bahwa kita akan menelan mentah2 apa disampaikan oleh blok ini. Sekali lagi anda salah. Kami bukan yang kelompok taklid atau sami’a wa ata’na. Supaya anda tau, walaupun jumhur ulama syiah anda mengatakan hadits itu shahih belum tentu kami membenarkan. Karena kami mempunyai cara untuk mengetahui apa itu dari Rasulullah/Ahlubait atau bukan. Jangan melihat SIAPA penulisnya tapi lihatlah APA yang ditulisnya. Wasalam

  17. @Akasya & SP
    Terima kasih banyak. Diskusi yang sempurna..!!
    Penuh dengan ilmu, akhlak, logic, tajam, jeli dan jujur.
    Terima kasih..terima kasih…
    Semoga kita semua mendapakan manfaat dari “bincang-bincang” kalian.

    Salam damai.

  18. @FP

    Wa’alaikum salam. Penjelasan anda memang lebih baik dan lebih sederhana. Saya sebelumnya pernah berpandangan seperti anda tetapi akhirnya setelah saya tinjau ulang saya lebih memilih pendapat dalam tulisan di atas. Pada dasarnya semua yang anda katakan sudah pernah saya pertimbangkan, termasuk hujjah yang menurut anda kuat yaitu Allamah Al Hilliy, bisa anda lihat sudah juga saya sebutkan dalam tulisan di atas. Tidak ada lagi yang perlu saya bantah karena saya sudah menjelaskan posisi saya sampai ke dasarnya dan saya pun sudah mengetahui dengan persis hujjah anda dalam masalah ini.

    Tetapi saya mendapat tambahan ilmu dari anda mengenai pengakuan bahwa anda sudah menelusuri kitab Rijal Al Kasyiy, Rijal Najasyiy dan Rijal Ath Thuusiy dan anda menyimpulkan bahwa lafaz fadhl tidak banyak bergabung dengan lafaz dhaif. Insya Allah saya akan berusaha melakukan hal yang sama karena sebelumnya saya cukup berhenti pada perkataan Syahid Ats Tsaniy dan tidak memverifikasi ulang.

    Saya tidak memaksa SP berubah pendapat, saya tahu SP punya metode sendiri dan konsisten dengan metodenya. Blog SP cukup populer di kalangan orang syi’ah sehingga mereka sering taklid buta kepada SP. Tulisan SP tentang syi’ah saya akui baik sekali, banyak orang syi’ah yang mendapat manfaatnya tetapi mereka kadang lupa kalau SP bukan Syi’ah. Saya perlu berkomentar pada tulisan ini karena pendapat kuat menjadi pegangan jumhur mazhab Syi’ah adalah Ali bin Muhammad Al Qutaibi perawi mamduh hadisnya hasan.

    Fenomena ini memang patut disayangkan. Bagi saya, anda memiliki ilmu yang jauh lebih baik dan jauh lebih banyak dari saya perihal mazhab Syi’ah dan saya yakin pandangan anda lebih pantas untuk dikatakan mewakili mazhab Syi’ah. Saya memang tidak terlalu suka dengan pengikut Syi’ah yang hanya gemar mengkopipaste tulisan saya dalam situs mereka atau dalam forum diskusi mereka tanpa meneliti terlebih dahulu apa yang saya tulis.

    Apalagi ada situs-situs yang seenaknya mengkopipaste tulisan saya tanpa menyebutkan bahwa mereka mengambilnya dari blog secondprince ini atau setidaknya menampilkan link secondprince [seperti situs syiahali.wordpress.com]. Sehingga membuat kesan bagi para pembaca mereka bahwa itu seolah tulisan asli mereka. Akhirnya tulisan saya bercampur dengan tulisan mereka lainnya yang tidak layak jika dinisbatkan kepada saya. Dan akibatnya bermunculan troll-troll yang suka membuang sampah dan mengacau disini karena mereka beranggapan bahwa pemilik blog secondprince adalah orang yang sama dengan pemilik blog syiahali.wordpress.com dan yang lainnya.

    Menurut saya, sudah bukan zamannya lagi orang Syi’ah berhujjah dengan hadis-hadis Sunni dalam tulisan mereka. Masa-masa seperti itu sudah lewat. Sekarang sudah terlalu banyak situs salafiy yang membuat syubhat dan fitnah dengan kitab-kitab Syi’ah maka sudah seharusnya orang-orang Syi’ah seperti anda, “orang stress itu” dan teman-teman Syi’ah lainnya membuat pembahasan khusus dengan kitab-kitab Syi’ah. Saya yakin anda dan mereka lebih memahami kitab-kitab Syi’ah dibanding saya.

    Semoga anda dan “teman kita yang stress itu” memikirkan fenomena ini dan bisa menindaklanjutinya [sebenarnya sudah dari dulu saya mengharapkan kalian berdua, orang stress itu dengan satriasyiah-nya sudah keren sekali, sayangnya tidak tahan lama, tidak ada gunanya keren kalau cuma sebentar]. Uuups kok saya jadi curhat ya, ok lah cukup kalau begitu dan jangan sungkan-sungkan berkomentar. Saya senang sekali kalau anda memberikan komentar atas tulisan saya. Tidak masalah jika saya dikatakan pamrih, untuk setiap tulisan yang saya buat saya mengharapkan pamrih berupa komentar anda. Sepertinya itu harga yang pantas, tidak mahal dan tidak murah.

  19. Saya hampir lupa kalau ada penontonnya disini

    @Mas Armand

    Wah apa kabar?, semoga Mas sekeluarga dalam keadaan sehat. Sudah lama tidak melihat komentarnya disini. Maaf baru bisa menanggapi komentarnya, hehehe keren sekali bahasanya ya, agak lebay. Yah semoga ada manfaat yang bisa diambil, walaupun saya akui tema ini memang agak kurang menarik bagi mas Armand dkk.

    @naolako

    Anda salah besar. Kita senua cukup berpengetahuan untuk menilai. Mungkin anda menganggap bahwa kita akan menelan mentah2 apa disampaikan oleh blok ini. Sekali lagi anda salah. Kami bukan yang kelompok taklid atau sami’a wa ata’na. Supaya anda tau, walaupun jumhur ulama syiah anda mengatakan hadits itu shahih belum tentu kami membenarkan. Karena kami mempunyai cara untuk mengetahui apa itu dari Rasulullah/Ahlubait atau bukan. Jangan melihat SIAPA penulisnya tapi lihatlah APA yang ditulisnya. Wasalam

    Saya yakin tidak semuanya seperti yang dia katakan, dan Alhamdulillah kalau anda termasuk orang yang suka meneliti apa-apa yang saya tulis. So nyantai sajalah, dia dari dulu memang begitu orangnya *hehehe sok tahu nih saya*

    @TS08

    Alhamdulillah kalau Mas bisa mengambil manfaat dari bincang-bincang disini. Jarang-jarang baginda satu itu mau mampir kesini, sekali mampir langsung tampil wah. btw email saya kemarin sudah sampai kan, saya masih menunggu balasannya lho.

  20. @SP

    Saya baik-baik dan sehat mas. Yah ada beberapa kali sakit dan ga baik, tapi kan akhirnya baik dan sehat lagi🙂

    Senang bisa mampir di blog mas ini.dan menyimak argumen mas lho. Apalagi dapat respon hehehe….

    Mengenai pertempuran ini sy akan coba utk tetap menyimak dari jarak pandang yang paling tepat menurut saya (ini seperti ditawarin durian, tapi ga tau cara belahnya).

    Btw, ini benar2 sebuah diskusi yang menyenangkan dan menyegarkan utk disimak. Teruskan pertempuranmu!🙂

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: