Tinjauan Tafsir Al Hujurat Ayat 9 dan Hadis Imam Hasan Mendamaikan Kaum Muslimin

Tinjauan Tafsir Al Hujurat Ayat 9 dan Hadis Imam Hasan Mendamaikan Kaum Muslimin

Ada hadis shahih yang sering digunakan kaum salafy nashibi untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yaitu hadis Imam Hasan adalah Sayyid yang akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin.

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى عَنْ الْحَسَنِ سَمِعَ أَبَا بَكْرَةَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَالْحَسَنُ إِلَى جَنْبِهِ يَنْظُرُ إِلَى النَّاسِ مَرَّةً وَإِلَيْهِ مَرَّةً وَيَقُولُ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Musa dari Al Hasan yang mendengar Abu Bakrah berkata aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di atas mimbar dan ketika itu Hasan berada di sisinya, terkadang Beliau melihat kearah orang-orang dan terkadang melihat ke arahnya [Hasan] dan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Sesungguhnya anakku ini adalah Sayyid [pemimpin] dan dengan perantaraannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin” [Shahih Bukhari 5/26 no 3746]

Kami pernah berdiskusi dengan salah seorang salafy nashibi dan ia menyatakan dengan hadis ini sebagai bukti bahwa Muawiyah adalah muslim dan tidak kafir karena tindakannya yang memerangi Imam Ali. Sebenarnya kami pribadi tidak pernah menyatakan Muawiyah kafir karena perperangannya dengan Imam Ali, kami katakan Muawiyah dalam kesesatan karena perperangannya dengan Imam Ali [sebagaimana dinyatakan dalam hadis shahih]

Muawiyah adalah orang yang memiliki kemunafikan di dalam hatinya. Ia memerangi Imam Ali dengan alasan yang dicari-cari dan dengan alasan ini pula ia berusaha menghasut kaum muslimin di syam agar membantunya memerangi Imam Ali. Selain itu ia juga mencaci Imam Ali sampai-sampai Imam Hasan ketika berdamai dengannya menjadikan “tidak mencaci imam Ali” sebagai salah satu syarat perdamaian. Telah disepakati dalam hadis shahih bahwa tidaklah mencintai Imam Ali kecuali mukmin dan tidaklah membenci Imam Ali kecuali munafik.

Pada dasarnya seorang munafik mengaku bahwa dirinya seorang muslim sehingga orang-orang melihatnya masuk dalam kelompok kaum muslimin. Hadis Imam Hasan di atas mengandung lafaz “dua kelompok besar kaum muslimin”. Kelompok adalah kumpulan dari banyak orang. Jika orang-orang yang mengaku dirinya muslim berkumpul maka kumpulan tersebut bisa dibilang kelompok kaum muslimin. Dalam kelompok ini bisa jadi hakikat semua orangnya muslim atau bisa jadi sebagian besar muslim dan sebagian kecil mengaku muslim padahal sebenarnya munafik. Jadi lafaz “kelompok besar kaum muslimin” tidak menafikan ada sebagian kecil munafik yang masuk di dalamnya.

Salafy nashibi sebenarnya mengalami tanaqudh dalam pembelaan mereka terhadap Muawiyah. Hadis di atas menyebutkan ada dua kelompok besar kaum Muslimin yaitu

  1. Kelompok pengikut Imam Ali yang saat itu dipimpin Imam Hasan
  2. Kelompok pengikut Muawiyah yang saat itu dipimpin Muawiyah.

Nashibi menolak kalau Muawiyah munafik dengan alasan hadis Imam Hasan di atas tetapi nashibi gampang saja berkata bahwa yang membunuh Utsman adalah kaum munafik yang ada di pasukan Imam Ali. Padahal dengan hadis Imam Hasan di atas maka salafy nashibi harus mengakui bahwa para pembunuh Utsman termasuk kelompok kaum muslimin.

Inti dari tulisan ini adalah lafaz “kelompok besar kaum muslimin” tidaklah menafikan bahwa dalam kelompok tersebut terdapat sebagian kecil orang munafik. Buktinya dapat dilihat dari asbabun nuzul Al Hujurat ayat 9

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَتَيْتَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَيٍّ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ حِمَارًا فَانْطَلَقَ الْمُسْلِمُونَ يَمْشُونَ مَعَهُ وَهِيَ أَرْضٌ سَبِخَةٌ فَلَمَّا أَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِلَيْكَ عَنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ آذَانِي نَتْنُ حِمَارِكَ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْهُمْ وَاللَّهِ لَحِمَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْيَبُ رِيحًا مِنْكَ فَغَضِبَ لِعَبْدِ اللَّهِ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَشَتَمَهُ فَغَضِبَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَصْحَابُهُ فَكَانَ بَيْنَهُمَا ضَرْبٌ بِالْجَرِيدِ وَالْأَيْدِي وَالنِّعَالِ فَبَلَغَنَا أَنَّهَا أُنْزِلَتْ {وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا}

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’tamar yang berkata aku mendengar ayahku yang berkata bahwa Anas radiallahu ‘anhu berkata dikatakan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seandainya anda menemui Abdullah bin Ubay maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berangkat dengan menaiki keledai sedangkan kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang tandus. Ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menemuinya, Abdullah bin Ubay berkata “menjauhlah dariku demi Allah bau keledaimu mengaggangguku”. Seseorang dari kaum Anshar dintara mereka berkata “demi Allah keledai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih harum darimu” maka orang dari kaumnya Abdullah marah dan mencacinya. Kemudian setiap orang dari kedua kelompok menjadi marah. Dan diantara mereka terjadi saling pukul dengan pelepah kurma, tangan dan sandal kemudian sampai kepada kami bahwa turun ayat “jika dua kelompok kaum mukminin berperang maka damaikanlah antara keduanya” [Shahih Bukhari 3/183 no 2691]

Asbabun nuzul Al Hujurat ayat 9 di atas terkait dengan dua kelompok yang saling berselisih sehingga terjadi saling pukul diantara mereka.

  1. Kelompok pertama adalah kelompok yang membela Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] diantaranya salah seorang dari kaum Anshar dan sahabatnya.
  2. Kelompok kedua adalah yang membela Abdullah bin Ubay. Kelompok ini termasuk di dalamnya Abdullah bin Ubay berserta sahabat-sahabatnya.

Kedua kelompok ini tetap disebut Allah SWT dengan “kaum mukminin” padahal pada kelompok kedua terdapat Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya yang masyhur dikenal sebagai munafik. Apakah kaum munafik ini yang disebut “kaum mukminin”?. Jelas tidak, maka yang dapat dipahami dari lafaz tersebut adalah diantara mereka yang membela Abdullah bin Ubay terdapat kaum mukminin yang terpengaruh oleh Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya yang munafik.

Ayat ini membuktikan bahwa jika dalam suatu kelompok terdapat orang-orang mukmin dan sebagian kecil orang munafik maka kelompok tersebut masih disebut sebagai kelompok kaum mukminin. Dari sini dapat diterima bahwa walaupun di dalam kelompok Muawiyah terdapat orang yang munafik maka itu tidak bertentangan dengan hadis Imam Hasan di atas. Salam Damai

Iklan

26 Tanggapan

  1. sebenarnya wahabi nashibi menyadari bhw banyak riwayat ttg keburukan muawiyyah,
    sbnrnya mereka bertahan dgn kejahilan mereka adalah dikarnakan semua lawan berat muawiyah adalah ahlulbait,ini lah yg mereka tdk suka.meyalahkan muawiyyah sama juga membenarkan keutamaan ahlulbait

  2. @secondprince

    Mantap bro.. Ulasan anda selalu jernih Dan cerdas. Saking jernihnya, salafy wahhabi sampai kesulitan untuk membantahnya..

    Terus terang bro, semua artikel anda hampir tidak menyisakan ruang bagi salafy wahhabi..

  3. Ulasan SP berkenaan dengan asbab ayat 9 memang sesuai dengan logik

    Namun itu tidak sama dengan kasus pendamaian Hasan r.a dan Muawiya r.a

    Muawiya r.a tidak memerangi Ali r.a melainkan Ali r.a yang memerangi beliau dahulu. Adapun dia mencela Ali r.a kerana kegeramannnya atas salah ijitihadnya yakni menuntut Ali r.a mencari pembunuh Uthman r.a sedangkan Ali r.a tidak mampu

    Bahkan Muawiya r.a sendiri meyesali perbuatannya dihadapan Abu Darda r.a dan menangisi kematian Ali r.a

    Selain itu, logik SP tidak tepat untuk tentera Muawiya r.a kerana Ali r.a sendiri mengakui bahawa mereka yang memerangi beliau adalah muslim dan bukan munafik

    al-Baihaqi menyebutkan

    أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ السَّدِيرِيُّ، بخُسْرَوْجِرْدَ , أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الْخُسْرَوْجِرْدِيُّ، ثَنَا دَاوُدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْبَيْهَقِيُّ، ثَنَا حُمَيْدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ، ثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، ثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: مَنْ يَتَعَرَّفُ الْبُغَاةَ يَوْمَ قُتِلَ الْمُشْرِكُونَ؟ يَعْنِي أَهْلَ النَّهْرَوَانِ، فَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: ” مِنَ الشِّرْكِ فَرُّوا، قَالَ: فَالْمُنَافِقُونَ؟ قَالَ: الْمُنَافِقُونَ لَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا، قَالَ: فَمَا هُمْ؟ قَالَ: قَوْمٌ بَغَوْا عَلَيْنَا فَنُصِرْنَا عَلَيْهِمْ

    Bahkan dalam kitab syiah, Wasail Shia, 15/83 , Qurbul Asnad ms. 45, Majlisi dalam “Biharal anwar” 32/324 menyebutkan Ali r.a tidak memanggil mereka dengan munafik

    عن جعفر الصادق عن أبیه علیهما السلام أن علیا علیه السلام لم یكن ینسب أحداً من أهل حربة إلى الشرك ولا إلى النفاق، ولكنه كان یقول: هم إخواننا بغوا علینا

    Mereka hanyalah puak yang melampau

  4. Konco-konco Abdullah bin Ubai bukanlah orang yang beriman sebenarnya. al-Quran memanggil mereka dengan literal saja. Ini kerana dah tentu mereka memang ada iman walau hanya pada zahir saja.

    Jika tidak, mereka bukanlah muslim dan pasti dianggap kafir.

  5. @habib

    Namun itu tidak sama dengan kasus pendamaian Hasan r.a dan Muawiya r.a

    Saudara perlu menjelaskan dimana ketidaksamaannya.

    Muawiya r.a tidak memerangi Ali r.a melainkan Ali r.a yang memerangi beliau dahulu.

    Bacalah sejarah mas. Semua literatur menyatakan Muawiyyah melakukan pemberontakan kepada khalifah yg sah Imam Ali.

    Adapun dia mencela Ali r.a kerana kegeramannnya atas salah ijitihadnya yakni menuntut Ali r.a mencari pembunuh Uthman r.a sedangkan Ali r.a tidak mampu

    (1) Mencela adalah perbuatan buruk tdk terpuji, Apalagi mencaci-maki di mimbar2 di depan umum dan apalgi dilakukan berulang-ulang. Mencela dan memaki-maki dilarang utk semua manusia, termasuk sahabat. Apakah mas tidak mengetahui ini?

    Jika saudara membolehkan Muawiyyah mencela, maka mengapa mas melarang orang lain mencela Muawiyyah?

    (2) Perbuatan mencela adalah jelas bukan ijtihad. Ijtihad bertujuan baik, sedangkan mencela adalah perbuatan buruk.

    (3) Muawiyyah geram ke Imam Ali karna saudara anggap Imam Ali tdk mampu? Mana buktinya wahai @habib? Huh!

    Bahkan Muawiya r.a sendiri meyesali perbuatannya dihadapan Abu Darda r.a dan menangisi kematian Ali r.a

    Andaikan memang begitu, lantas kenapa? Semua orang bs menyesai. Semua orang bs menangis. Yg penting itu bukti taubat & penyesalan. Aneh, ini kok dijadikan hujjah?

    Salam

  6. Saudara Armand,

    Sekali-kali saya tidak membenarkan perbuatan mencela Ali r.a ini dan juga mencela Muawiya r.a. Kedua-duanya adalah salah

    Penyesalan Muawiya r.a kerana memerangi Ali r.a serta tangisannya atas kematian beliau sudah cukup dijadikan hujah.

    Seorang itu dinilai dengan tindakan akhir hidupnya. Banyak bukti sejarah akan hubungan baik ahlul bait dan Bani umayyah

    Muawiya r.a tidak memulakan peperangan Siffin atau apa-apa peperangan terhadap Ali r.a. Sebaliknya dia hanya menarik ketaatan kepada Ali r.a sehinggalah Ali r.a mencari pembunuh Uthman

    Bahkan dia sendiri menyebutkan akan menjadi orang syam yang pertama memba’iah Ali r.a jika pembunuh Uthman dapat dicari

    Janganlah kita pembesarkan pertelingkahan dikalangan sahabah

  7. @karim

    Ketika Muawiyah berkuasa, pembunuh Utsman ditangkap Muawiyah gak?

    Muawiyah menggunakan alasan pembunuhan Utsman sebagai alasan memberontak ke Imam Ali. Mestinya pembunuh ini ditangkap ketika Muawiyah berkuasa. Benar tidak?

  8. Saudara Salafy Tobat,

    Anda benar, Muawiyah juga tidak mampu maka ternyata tindakannya salah tapi itu tidak mengkafirkannya dan menjadikannya munafik.

  9. Janganlah kita pembesarkan pertelingkahan dikalangan sahabah

    cocok akhi….

  10. @Karim

    Sekali-kali saya tidak membenarkan perbuatan mencela Ali r.a ini dan juga mencela Muawiya r.a. Kedua-duanya adalah salah

    Pernyataan saudara ini bertolak belakang dgn pernyataan saudara di awal yang membenarkan Muawiyyah melakukan pencelaan ke Imam Ali karena geram dan ijtihad.

    Penyesalan Muawiya r.a kerana memerangi Ali r.a serta tangisannya atas kematian beliau sudah cukup dijadikan hujah.

    Tidak wahai Karim. Karna orang munafik pun bisa melakukannya.

    Seorang itu dinilai dengan tindakan akhir hidupnya. Banyak bukti sejarah akan hubungan baik ahlul bait dan Bani umayyah

    Coba tunjukkan ke sy, bagaimana hubungan baik yg saudara maksud ini.

    Muawiya r.a tidak memulakan peperangan Siffin atau apa-apa peperangan terhadap Ali r.a. Sebaliknya dia hanya menarik ketaatan kepada Ali r.a sehinggalah Ali r.a mencari pembunuh Uthman

    Menurut saudara benarkah tindakan Muawiyyah menolak baiat karna alasan ini?

    Bahkan dia sendiri menyebutkan akan menjadi orang syam yang pertama memba’iah Ali r.a jika pembunuh Uthman dapat dicari

    Wahai Karim, inikan baru ucapan? Bukankah yang penting itu prilaku dan tindakan? Mengapa saudara selalu terjebak kepada hal-hal lahiriah spt ini? Cobalah tunjukkan ke sy prilaku Muawiyyah yg menunjukkan “kebaikannya” dgn Imam Ali atau ahlulbait yg lain?

    Janganlah kita pembesarkan pertelingkahan dikalangan sahabah

    Membicarakan sejarah memang tdk akan terlepas dari membicarakan tokoh2 yg terlibat di dalamnya. Dibutuhkan kesantunan, otak yg jernih dan hati yg lapang serta sangat tdk dibutuhkan emosi utk itu.

    Salam

  11. Saudara Armand,

    Telitilah link berikut bukti-bukti kebaikan Muawiya kepada ahlul bait

    Jika anda menuduh Muawiya munafik kerana menangis, saya katakan itu tidak benar. Sebabnya tiada kepentingan untuk dia melakukan demikian.

    Berulang kali saya katakan tindakan Muawiya r.a menolak ketaatan adalah salah namun saya tidak mengkafirkan dia atau menganggap dia munafik sesuai dengan pernyataan Ali r.a sendiri

    Sekali lagi tidak perlu diperbesarkan isu pertelingkahan sahabah kerana ia tidak menguntungkan kita

  12. @karim

    Jika anda menuduh Muawiya munafik kerana menangis, saya katakan itu tidak benar. Sebabnya tiada kepentingan untuk dia melakukan demikian.

    menjadikan anaknya yazid sebagai penggantinya adalah bukti yg nyata bhw muawiyah sampai ajalnya adalah seorang yg munafik n pembenci ahlulbait

  13. @Karim

    Saudara menyodorkan sebuah dongeng. Bisakah saudara mempertanggungjawabkan kebenarannya? Bersediakah saudara menjawab pertanyaan2 sy seputar dongeng tsb?

    Tidakkah saudara menggunakan akal budi saudara utk menerima sebuah informasi? Tidakkah saudara mampu membaca betapa hebat penghinaan kepada ahlulbait yg tertulis di situ? Kesetujuan saudara dengan dongeng itu hanya menunjukkan betapa buruknya penilaian saudara terhdp ahlulbait Nabi saw dan betapa tingginya penilaian saudara thd musuh utama ahlulbait Muawiyyah!

    Berulang kali saya katakan tindakan Muawiya r.a menolak ketaatan adalah salah namun saya tidak mengkafirkan dia atau menganggap dia munafik sesuai dengan pernyataan Ali r.a sendiri

    Iya..iya. Lantas menurut anda label apa yg pantas buat Muawiyyah dgn tindakan buruknya itu?

    Salam

  14. @ Karim

    Ulasan SP berkenaan dengan asbab ayat 9 memang sesuai dengan logik
    Namun itu tidak sama dengan kasus pendamaian Hasan r.a dan Muawiya r.a

    Maaf Mas kasusnya ya memang jelas berbeda. Yang saya jadikan hujjah adalah soal penggunaan lafaz “muslimin” atau “mukminin” pada kelompok tertentu tidaklah harus diartikan semua kelompoknya. Jika ada sedikit diantaranya yang munafik maka penggunaan lafaz tersebut masih mungkin

    Muawiya r.a tidak memerangi Ali r.a melainkan Ali r.a yang memerangi beliau dahulu. Adapun dia mencela Ali r.a kerana kegeramannnya atas salah ijitihadnya yakni menuntut Ali r.a mencari pembunuh Uthman r.a sedangkan Ali r.a tidak mampu

    Kalau anda berkata begitu saya tanya, apa alasannya Imam Ali memerangi Muawiyah?. Apapun alasannya mencela Imam Ali jelas bukan perkara ringan karena hadis shahih telah menyebutkan mencela Imam Ali berarti sama dengan mencela Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Intinya siapapun yang mencela Imam Ali maka ialah yang keliru

    Bahkan Muawiya r.a sendiri meyesali perbuatannya dihadapan Abu Darda r.a dan menangisi kematian Ali r.a

    Silakan ditampilkan riwayat shahihnya, yah biar saya bisa belajar juga kan

    Selain itu, logik SP tidak tepat untuk tentera Muawiya r.a kerana Ali r.a sendiri mengakui bahawa mereka yang memerangi beliau adalah muslim dan bukan munafik

    Lha kalau begitu anda masih belum paham tulisan di atas. Mana ada pula saya mengatakan semua yang memerangi Imam Ali dalam perang shiffin adalah munafik. Tetapi kalau ada yang munafik diantara mereka maka itu sangat mungkin sekali. Jika Imam Ali menyebut kelompok yang memerangi Beliau di perang shiffin adalah muslim maka itu tidak menafikan bahwa ada diantara mereka yang munafik. Logikanya sama persis dengan tulisan saya di atas.

    al-Baihaqi menyebutkan
    أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ السَّدِيرِيُّ، بخُسْرَوْجِرْدَ , أَنْبَأَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الْخُسْرَوْجِرْدِيُّ، ثَنَا دَاوُدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْبَيْهَقِيُّ، ثَنَا حُمَيْدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ، ثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، ثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ عَامِرِ بْنِ شَقِيقٍ، عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: مَنْ يَتَعَرَّفُ الْبُغَاةَ يَوْمَ قُتِلَ الْمُشْرِكُونَ؟ يَعْنِي أَهْلَ النَّهْرَوَانِ، فَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: ” مِنَ الشِّرْكِ فَرُّوا، قَالَ: فَالْمُنَافِقُونَ؟ قَالَ: الْمُنَافِقُونَ لَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا، قَالَ: فَمَا هُمْ؟ قَالَ: قَوْمٌ بَغَوْا عَلَيْنَا فَنُصِرْنَا عَلَيْهِمْ
    Bahkan dalam kitab syiah, Wasail Shia, 15/83 , Qurbul Asnad ms. 45, Majlisi dalam “Biharal anwar” 32/324 menyebutkan Ali r.a tidak memanggil mereka dengan munafik

    Maaf atsar yang anda bawa bicara soal ahlu nahrawan bukan ahlu shiffin, aneh saja kalau anda menjadikan perkataan ini sebagai pembelaan bagi Muawiyah.

  15. @Anti-shia

    maaf saya sudah baca link anda. Anehny saya tidak melihat kalau mereka disana mengerti dengan maksud dan hujjah saya. Justru mereka malah berhujjah dengan gaya yang sama. Lihat saja si Efendi itu ia berkata

    3) Second hadith with Hasan refutes claims of rafidah. Because if verse was revealed about two groups, one of them contain munafigs, hadith of Hasan and his treaty, clearly shows us that this reason of revelation has nothing to do with this case, because sadiqul Masduq named them both as Muslims.

    Apa si Efendi itu tidak bisa baca dalam Al Hujurat ayat 9 Allah SWT menyebut kedua kelompok tersebut sebagai kaum mukminin dan faktanya dalam salah satu kelompok terdapat Abdullah bin Ubay dan sahabatnya yang munafik. Jadi walaupun hadis tersebut menyebutkan kedua kelompok sebagai Muslim itu tidak menafikan kalau Muawiyah bisa saja seorang munafik.

    Sebenarnya dalam link yang anda tampilkan si penanya sendiri perlu diluruskan [yaitu orang yang menyebut dirinya “ahlus sunnah”], penulis artikel di atas tidak sedang menyatakan bahwa kelompok Muawiyah semuanya munafik. intinya adalah hadis perdamaian Imam Hasan tidak bisa dijadikan hujjah sebagai bukti keutamaan Muawiyah. Misalnya dulu saya pernah diskusi dengan seorang nashibi yang menolak hadis Muawiyah mati bukan dalam agama islam, ia berhujjah dengan hadis ini bahwa Muawiyah termasuk kelompok kaum muslimin. Hujjahnya dengan hadis perdamaian Imam Hasan adalah bathil karena penyebutan suatu kelompok sebagai muslimin atau mukminin tidklah menafikan bahwa ada sebagian kecil diantara kelompok tersebut yang munafik

    Keanehan lain dalam link yang anda tampilkan adalah, orang-orang yang membawakan riwayat Syiah untuk membantah apa yang saya tulis. Tentu saja ini lucu, itulah akibatnya kalau suka menuduh orang lain “Syiah”. Riwayat syiah tidak menjadi hujjah bagi kami karena kami sendiri bukan seorang Syiah

    Perkara Muawiyah sudah banyak yang sudah kami tulis, silakan merujuk ke pembahasan dalam masing2 tulisan [lihat di daftar artikel]. Ada banyak artikel yang kami tulis tentang kedudukan Muawiyah. Saya tidak berkeberatan anda menampilkannya disana untuk ditanggapi, bahkan menurut saya itu bisa menjadi masukan siapa tahu ada komentar atau tanggapan yang memang bernilai

  16. dahsyat sekali sp, jawabannya..

    Btw, blog sebelah yg lucu keliatannya terobsesi dengan anda. Siapapun yang masuk kesana dan kontra dengan dia, pasti dituduh ente sedang menyamar..

    Kasihan sekali dia sp, kasih ijin untuk komentar disinilah..:)

  17. Bagi rekan-rekan yang membutuhkan e-book tentang mua’wiyah dari Ust SP dapat di download pada link di bawah ini:

    http://www.ziddu.com/download/16691767/Muawiyah.exe.html

    Judul artikel:

    1. Hadis Semoga Allah Tidak Mengenyangkan Perut Muawiyah

    2. Hadis Muawiyah Meminum Minuman Yang Haram

    3. Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Sunan Abu Dawud

    4. Muawiyah Membunuh Sahabat Nabi Hujr bin Adi

    5. Mu’awiyah Memberantas Hadis Keutamaan Imam Ali as.

    6. Shahih: Ishaq bin Rahawaih Mengakui Tidak Ada Satupun Hadis Shahih Keutamaan Muawiyah

    7. Muawiyah bin Abu Sufyan Seorang Yang Dilaknat Allah SWT

    8. Muawiyah dan Mimbar Nabi

    9. Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam

  18. @SP
    @dan pengunjung blog nya

    Ini ada 5 e-books bagus yang terkait pembahasan Mas SP tentang Muawiyah, e-books ini perlu dibaca tentunya bagi orang yang mau mengkaji….., bukan seperti salafy/wahabi yang meng”Haram”kan buku-buku selain karya para ulamanya sendiri.

    e-books ini karya 3 ulama suni
    1. Syekh Hasan Farhan Al Maliki seorang ulama Saudi.
    2. Sayyid Hasan bin Ali As Saqqaf Muhaddis Asal Jordania (sebuah bantahan atas buku seorang ulama salafy tentang Muawiyah)
    3. Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya asal Yaman

    Ketiga e-books (dalam bahasa arab) ini saya hadiahkan kepada Mas SP tapi saya pikir mungkin Mas SP sudah membaca buku-buku ini dan jika benar sudah, maka ini hadiah untuk pengunjung blog/bagi yang belum membacanya. Semoga bermanfa’at

    Link download buku ini akan saya masukkan satu persatu biar tidak terkategori Spam.

  19. @SP

    ebook_1 Tulisan Syekh Hasan Farhan Al Maliki

    بحث في إسلام معاوية بن أبي سفيان – تأليف الشيخ حسن بن فرحان المالكي

    دراسة حقيقة إسلام معاوية بن أبي سفيان وهل أسلم طائعاً أم مكرهاً؟ صادقاً أم منافقاً؟
    من القرآن الكريم والسنة النبوية وآثار الصحابة والتابعين وجملة من أقوال العلماء قديماً وحديثاً

    Download disni (DOC):

    jakfari.files.wordpress.com/2011/07/bahats-fi-islami-muawiyah.doc

  20. @SP

    ebook_2 Tulisan Syekh Hasan Farhan Al Maliki

    حديث : ( إذا رأيتم معاوية على منبري فاقتلوه) – تأليف الشيخ حسن بن فرحان المالكي
    سلسلة مثالب معاوية بن أبي سفيان بالأسانيد الصحيحة (1)
    استعراض طرقه ودراسة أسانيده وتخريجه من مصادر أهل الحديث
    مع مناقشة حديثية لآراء المحدثين ورد على شبهات المنكرين

    Download Disini (Doc.)

    jakfari.files.wordpress.com/2011/07/hadith-idza-roaitum-muawiyah-ala-minbari-faqtuluh.doc

    (silahkan copas link tersebut dan klik)

  21. ebook_3 Tulisan Syekh Hasan Farhan Al Maliki

    حديث الدبيلة – تأليف الشيخ حسن بن فرحان المالكي
    سلسلة مثالب معاوية في الأحاديث المرفوعة (2)
    وهل سعى معاوية بن أبي سفيان لاغتيال النبي (ص) في غزوة تبوك؟
    دراسة موسعة لحديث الدبيلة الذي رواه الإمام مسلم في صحيحه وبيان طرقه وألفاظه وفوائده وشواهده، وكشف دلالة مناسبته وتفسير غوامضه وإخراج قرائنه وبيان مواقف الناس من هذا الحديث وتفسيره، ومناقشة آراء السنة والشيعة والنواصب في هذا الحديث

    Download Disini (Doc):

    jakfari.files.wordpress.com/2011/07/hadits-ad-dubailah.doc

    (silahkan copas link tersebut dan klik, langsung download)

  22. @SP

    e-book 4 Tulisan Sayyid Hasan bin Ali As Saqqaf

    زهر الريحان في الرد على تحقيق البيان التعقب على ما كتبه قاسم بن نعيم الطائي حول ابن أبي سفيان –
    تأليف: السيد حسن بن علي السقاف

    Download Disini (Pdf):

    http://jakfari.files.wordpress.com/2008/05/disini.pdf

    (silahkan copas link tersebut dan klik, akan langsung download)

  23. e-book 5 Tulisan Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya

    النصائح الكافية لمن يتولى معاوية – تأليف السيد محمد بن عقيل بن عبد الله بن عمر بن يحيى العلوي

    Download Disini (Pdf):

    http://www.wahabiya.net/data/uploads/13009640691.pdf

  24. @karim: karim xtahu sejarah@ sengaja pesongkan sejarah… buat malu jer masuk comment di sini.. aish….

  25. Penafsiran saya atas sabda Rasul bahwa Hasan b.Ali cucu Nabi menjadi pendamai antara 2 kelompok mukmin yang bertikai. Adalah apabila terjadi pertikaian antara 2 kelompok dan bukan pertikaian antara Hasan as dan Muawiyah. Atau pertikaian antara Imam Ali as dan Muawiyah.
    Logika tdk bisa menerima orang yang bertikai mendamaikan pertikaian mereka. Kalau Imam Hasan yang akan mendamaikan BUAT APA IA BERTIKAI. Wasalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: