Tadlis Abu Hurairah Berarti Juga Tadlis Imam Ali? Kekonyolan Nashibi Alfanarku

Tadlis Abu Hurairah Berarti Juga Tadlis Imam Ali? Kekonyolan Nashibi Alfanarku

Semakin hari ternyata pikiran saudara kita yang satu ini semakin konyol saja. Kami sarankan padanya agar ia belajar ilmu logika sehingga dapat mengambil kesimpulan sesuai dengan premis yang ada. Dan belajar ilmu hadis agar ia memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan hadis. Tulisannya kali ini benar-benar tidak berkualitas dan sebentar lagi akan kami tunjukkan buktinya. Pada salah tulisannya yang ia buat dengan niat membantah kami, ia berkata

Tetapi tanpa dinyana ternyata senjata makan tuannya sendiri, jika dia menganggap Abu Hurairah sebagai seorang yang melakukan tadlis maka dia seharusnya menganggap Imam Ali dan Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebagai orang-orang yang juga melakukan tadlis, bagaimana hal lucu ini bisa terjadi? Cekidot Gan.

Kami akan tunjukkan justru yang menjadi senjata makan tuan adalah tulisannya sendiri. Mengapa ini bisa terjadi? Ya karena seperti idolanya Abul Jauzaa’, ia ini mengidap penyakit yang sama [agak lebih parah sih] yaitu tidak mengerti betul apa yang ditulis orang lain. Sehingga ia sering mencampuradukkan khayalannya sendiri kepada tulisan orang lain yang ingin ia bantah. Sebenarnya yang ia bantah hanya wahamnya yang ia nisbatkan kepada orang lain. Yah kasarnya memang terkesan “agak skizofrenik”.

Orang syi’ah ini berhujjah pada hadits-hadits berikut ini yang mengindikasikan bahwa Abu Hurairah telah melakukan tadlis artinya Abu Hurairah mengaku meriwayatkan langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam padahal sebenarnya dia mendengar riwayat tersebut dari sahabat yang lain. (untuk selanjutnya nukilan perkataan dari si rafidhi ini saya tandai dengan warna biru)

Yup benar sekali, Abu Hurairah memang terbukti melakukan tadlis. Itu adalah fakta dari kedua riwayat shahih yang kami kutip sebelumnya. Kalau iatidak mengerti artinya tadlis maka silakan belajar kembali ilmu musthalah hadits.Kemudian nashibi itu mengutip perkataan kami soal riwayat dimana Ali dan Abbas berdialog dengan Umar soal harta warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut perkataan kami yang ia kutip, kami beri warna biru

jawaban Imam Ali dan Abbas kepada Umar dengan lafaz “na’am” [ya] ditafsirkan salafy seolah-olah menunjukkan kalau Imam Ali dan Abbas mendengar langsung hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Dalam hadis shahih riwayat Tirmidzi di atas dimana sanadnya juga berujung pada Az Zuhri dari Malik bin Aus diketahui ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Ali dan Abbas adalah orang yang datang kepada Abu Bakar dan meminta bagian warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Jika lafaz “na’am” dari Ali dan Abbas diartikan bahwa mereka berdua mendengar langsung dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hadis Nabi tidak mewariskan maka konsekuensinya berarti Ali dan Abbas dengan sengaja melakukan hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka berdua tahu kalau Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewariskan tetapi mereka tetap meminta warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bukankah ini contoh perbuatan yang fasiq atau mungkar. Tentu saja kami berlepas diri dari tuduhan seperti ini
Jika salafy mengatakan Ali dan Abbas mendengar langsung hadis tersebut dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka sama saja dengan salafy menuduh Ali dan Abbas sengaja melakukan perbuatan yang fasiq dan mungkar
Maka penafsiran yang benar terhadap lafaz “na’am” tersebut adalah Ali dan Abbas mengetahui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata demikian dari apa yang dikatakan Abu Bakar radiallahu ‘anhu. Jadi Ali dan ‘Abbas tidaklah mendengar langsung hadis tersebut dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melainkan mereka mengetahuinya dari Abu Bakar.

Silakan baca kutipan kami di atas dengan baik dan pahami kata demi kata. Perkataan kami Ali dan Abbas mengetahui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata demikian dari apa yang dikatakan Abu Bakar radiallahu ‘anhu bukan menunjukkan adanya tadlis. Mengapa? karena mereka berdua tidak pernah meriwayatkan hadis tersebut dan mereka tidaklah membenarkan hadis yang disebutkan oleh Abu Bakar tersebut. Nashibi itu tidak memahami tulisan kami kemudian ia berhujjah seolah-olah kami tanaqudh disini padahal itu cuma khayalan yang lahir dari kebenciannya semata. Ia berkata

Terlihat bagaimana si rafidhi yang salafyphobia ini pada kalimat-kalimatnya begitu getol menekankan bahwa Imam Ali dan Abbas membenarkan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang dinukil oleh Umar tersebut  bukan berarti mereka berdua mendengar langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tetapi mereka berdua mendengarhadits tersebut dari Abu Bakar.

Kami tidak pernah menyatakan “Imam Ali dan Abbas membenarkan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang disebutkan oleh Abu Bakar dan Umar”. Yang kami nyatakan sebelumnya adalah Imam Ali dan Abbas mengetahui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata demikian dari apa yang dinyatakan Abu Bakar. Apakah Imam Ali dan Abbas membenarkan hadis tersebut?. Jawabannya “tidak”. Buktinya sudah kami bahas tuntas dalam tulisan yang lalu

  1. Imam Ali dan Abbas menyatakan Abu Bakar dan Umar sebagai orang yang zalim dan durhaka dalam perkara ini. Pernyataan “zalim dan durhaka” menunjukkan Imam Ali dan Abbas tidak membenarkan hadis yang diriwayatkan Abu Bakar.
  2. Imam Ali dan Abbas pada masa pemerintahan Umar meminta kembali harta warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ini bukti nyata mereka berdua tidak membenarkan hadis yang diriwayatkan Abu Bakar bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewariskan
  3. Imam Ali setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [enam bulan setelah Abu Bakar menjadi khalifah] mendeklarasikan kalau Abu Bakar bertindak sewenang-wenang terhadap ahlul bait dan ahlul bait adalah orang yang lebih berhak atas perkara tersebut.

Ketiga fakta yang kami sebutkan adalah bukti nyata kalau Imam Ali tidak membenarkan hadis yang diriwayatkan Abu Bakar soal warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Imam Ali mengetahui adanya hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti itu dari Abu Bakar tetapi Imam Ali tidak membenarkannya.

Nah apakah kemudian kita juga boleh menganggap bahwa Imam Ali dan Abbas telah melakukan tadlis? Karena mereka membenarkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda seperti di atas padahal mereka sebenarnya tidak mendengar langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam tetapi mereka mengetahuinya dari Abu Bakar? Apakah Utsman yang membenarkan hadits di atas juga dianggap melakukan tadlis? Silahkan anda fikirkan sendiri.

Silakan baca baik-baik perkataan alfanarku di atas, karena kami tidak pernah menyatakan Imam Ali dan Abbas membenarkan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang diriwayatkan Abu Bakar tersebut maka pernyataan di atas tidak layak ditujukan pada kami. Wahai alfanarku, yang engkau bantah hanya khayalanmu sendiri yang engkau nisbatkan kepada kami. Kalau memang tidak memahami tulisan orang lain maka diam sajalah, jangan terlalu sering menunjukkan rendahnya kualitas diri.

Kesimpulan, sudah lazim di kalangan sahabat, jika seorang sahabat membawakan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam maka para sahabat yang lain akan mempercayainya dan membenarkannya sehingga mereka dapat langsung mengatakan bahwa rasulullah telah bersabda demikian demikian tanpa harus menyebutkan sahabat yang mendengar langsung dari Nabi tersebut, hal ini menunjukkan bahwa mereka saling mempercayai dan mengakui, ini juga menunjukkan bahwa para sahabat adalah adil. Jadi tidak ada istilah tadlis di kalangan para sahabat.

Pernyataannya bahwa para sahabat saling mempercayai dan mengakui bukan pernyataan yang bersifat mutlak untuk semua sahabat. Mengapa? Karena terdapat riwayat-riwayat yang menunjukkan hal yang sebaliknya tetapi bukan itu yang ingin kami bahas disini [insya Allah mungkin akan ada tulisan khusus tentang ini]. Nashibi ini mengatakan “tidak ada istilah tadlis di kalangan sahabat”.

Alasan yang ia kemukakan adalah karena “semua sahabat adil” dimana mereka saling mempercayai dan mengakui maka tidak ada istilah tadlis. Kami ucapkan padanya : Selamat anda alfanarku telah menunjukkan kekonyolan yang luar biasa. Kami sarankan agar anda membuka Ulumul hadis [yang pengantar saja] dan silakan lihat pengertian tadlis. Tadlis yang disebutkan dalam ilmu hadis tidak ada syarat apakah orang tersebut [yang menjadi perantara] seorang yang dipercaya ataukah tidak dipercaya?. Mau orang itu tsiqat, adil, pendusta kalau memang terbukti adanya tadlis ya tetap tadlis namanya.

Tadlis dalam ilmu hadis adalah meriwayatkan hadis dari seseorang secara langsung padahal sebenarnya ia tidak mendengar hadis itu secara langsung dari orang tersebut tetapi melalui perantara orang lain. Terlepas dari apakah orang perantara itu dipercaya atau tidak, tetap saja itu dinamakan tadlis?. Oleh karena itu dalam ilmu hadis ada dikenal istilah “ia tidak melakukan tadlis kecuali dari perawi tsiqat”  maksudnya orang yang dimaksud hanya melakukan tadlis dari para perawi tsiqat [terpercaya] dan dikenal juga istilah “ia suka melakukan tadlis dari para perawi dhaif” .

Jadi mari kembali ke hadis Abu Hurairah. Apakah Abu Hurairah meriwayatkan langsung dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]? Ya, telah kami tunjukkan dalil shahihnya. Apakah Abu Hurairah akhirnya mengakui kalau yang menceritakan hadis itu kepadanya ternyata Fadhl bin ‘Abbas? Ya, itu pun telah disebutkan dalam riwayat shahih. Abu Hurairah meriwayatkan langsung dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal sebenarnya ia mendengar hadis itu dari Fadhl bin ‘Abbas. Kesimpulannya Abu Hurairah memang melakukan tadlis dalam hadis ini. Kalau alfanarku nashibi itu keberatan atau tidak terima, ya silakan tunjukkan hujjahnya. Tapi bagaimana mau berhujjah, ia sendiri tidak memahami apa itu tadlis.

Apa sih sebenarnya masalah alfanarku?. Orang ini terlalu berprasangka buruk kepada kami. Ia menganggap setiap tulisan kami merendahkan sahabat yang ia idolakan sampai ke taraf “seolah maksum”. Diiringi dengan kebenciannya terhadap kami yang selalu ia tuduh syiah rafidhah [jika begitu maka alfanarku sendiri lebih cocok dikatakan rafidhah nashibi] ditambah lagi dengan kelemahan “cara berpikirnya” dan kualitas ilmu yang kurang maka lahirlah bantahan-bantahan yang ngawur ala pesakitan.

Apa sih yang ia bantah sebenarnya disini?. Apa masalahnya?. Apakah ia tidak rela sahabat Nabi Abu Hurairah dikatakan melakukan tadlis?. Mengapa? Apa menurutnya setiap tadlis itu adalah suatu sifat tercela yang dapat menjatuhkan kredibilitas seseorang?. Jika itu persepsinya maka silakan ia melemparkan pandangannya kepada para imam tsiqat dan perawi tsiqat yang dikatakan melakukan tadlis.

Silakan ia buka kitab Thabaqat Al Mudallisin karya Ibnu Hajar yaitu kitab yang memuat nama orang-orang yang dikatakan melakukan tadlis. Dalam kitab itu dapat ditemukan nama para imam atau ulama besar seperti Yahya bin Sa’id, Malik bin Anas, Imam Bukhari, Imam Muslim, Hisyam bin Urwah, Ibrahim An Nakha’iy, Sufyan Ats Tsawriy, Sufyan bin Uyainah dan yang lainnya. Lantas apakah itu membuat nama mereka tercela atau kredibilitas mereka jatuh?. Apakah Ibnu Hajar yang mencantumkan nama-nama mereka sedang merendahkan kredibilitas mereka?. Apakah para ulama yang menyatakan mereka melakukan tadlis sedang menjatuhkan kredibilitas mereka?. Apakah dalam ilmu hadis kredibilitas mereka jatuh karena pernah melakukan tadlis?. Berapa banyak para mudallis yang dijadikan hujjah dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim?. Silakan jawab kalau anda mampu. Jadi waham pesakitan anda yang menuduh kami merendahkan Abu Hurairah seharusnya anda tuduhkan pula pada para Ulama. Kalau anda masih tidak mengerti juga kekonyolan tulisan anda maka itu berarti anda sudah tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan. Akhir kata Salam Damai

6 Tanggapan

  1. Bila Alfanarku menyimpulkan,

    ‘Sudah lazim di kalangan sahabat, jika seorang sahabat membawakan hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam maka para sahabat yang lain akan mempercayainya dan membenarkannya sehingga mereka dapat langsung mengatakan bahwa rasulullah telah bersabda demikian demikian tanpa harus menyebutkan sahabat yang mendengar langsung dari Nabi tersebut, hal ini menunjukkan bahwa mereka saling mempercayai dan mengakui, ini juga menunjukkan bahwa para sahabat adalah adil. Jadi tidak ada istilah tadlis di kalangan para sahabat’.

    Ini adalah kesimpulan yg sangat menyesatkan dan sangat membodohi umat Islam! Hanya orang gila dan bodoh saja yg mempunyai kesimpulan seperti itu!

  2. ulama wahabi salafi memang akalnya cupet,ketika kita membuka dalil dr ulama ahlusunnah yg shahih ttg hal2 yg kontroversi dr sahabat,dikiranya kita membenci n menghujat sahabat,
    lucunya mereka membuat prasangka yg jahil lalu prasangka itu mereka berikan suatu vonis n memfitnah.
    tdk salah ucapan @SP; “yang engkau bantah hanya khayalanmu sendiri yang engkau nisbatkan kepada kami”
    sekali lagi ulama wahabi salafi akalnya cupet,tdk salah ucapan rosul pemahaman mereka hanya sebatas tenggorokan.

  3. Nashibi salafi memang logikanya cetek kelihatan dari dua bantahan/tanggapan mereka terhadap artikel Sp yang sangat memaksakan kehendak dia. Bagi salafi wahabi untuk mempelajari ilmu manthiq/logika dianggap menyesatkan makanya para salafiyun banyak yang jumud. Salah satu bukti kejumudan logikanya adalah tentang bagaimana matahari mengelilingi bumi hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, dan dengan bangganya para salafiyun mengedarkan buku ‘Matahari mengelilingi Bumi’ kata mereka bahwa kedudukan akal akan kalah sama wahyu.

    Tetapi anehnya jika ada hadis yang menerangkan tentang keutamaan dan yang ada kaitanya dengan Ahlul Bait maka logika salafiyun akan di pakai untuk mentakwilkan dan memelintir hadis sesuai dg kehendaknya.

  4. jika benar pada Suni seseorang telah/sering melakukan tadlis atas hadist Nabi Saw lalu kemudian dianggap hal biasa/sah2 ajah (terbukti bahwa Ima Buhori-Muslimpun dikatakan pernah melakukan tadlis), lalu mengapa AlFanarku ketika jelas2 abu hurairroh seorang mudallis justru seperti org yg kebakaran jenggotnya..?

    bagi saya yg perlu di koreksi oleh Alfanarku adalah: doktrin suni dalam ilmu ilmu hadist tentang seorang perawi hadist yg mudallis dianggap masih oke2 saja.

  5. mengingat resiko yang diakibatkan bila seseorang berbohong atas nama Nabi Saw (seperti ancaman dari Nabi Saw sendiri), ….alfanarku mesti merenungkan sedalamdalamnya akan larangan/ancaman Nabi Saw tsb.

  6. dilematis hadis Suni, seperti hadist yg dikatakan Abu Bakar ttg hak waris ahlulbayt Nabi saw, namun Imam Ali dan Ibnu Abbas mengaku jelas tdk pernah mendengarnya…Apakah di sini berarti Abu Bakar sdh berbohong atas nama NAbi SAw…kemudian demikian pula pada Abuhurairroh perawi hadis terbanyak di kitab2 Suni…terbukti dia sdh berbohong atas nama NAbi Saw. Apakah karena mereka termasuk sahabat Utama Nabi Saw lalu kemudian Hadis Nabi SAw tetntang Ancaman/larangan berbohong atas nana NAbi Saw jadi tdk berlaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: