Apakah Ibnu Abbas Ruju’ Dari Fatwanya Tentang Mut’ah?

Apakah Ibnu Abbas Ruju’ Dari Fatwanya Tentang Mut’ah?

Jawabannya tidak, tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan Ibnu Abbas ruju’ dari fatwanya yang menghalalkan mut’ah. Sebaliknya Ibnu Abbas menyatakan halalnya mut’ah dengan berdalil Al Qur’anul Karim dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sampai akhir hayatnya Ibnu Abbas tetap memfatwakan halalnya nikah mut’ah, sehingga masyhur dalam sejarah bahwa murid dan sahabat-sahabat Ibnu Abbas [bahkan setelah Ibnu Abbas wafat] tetap menghalalkan mut’ah seperti Thawus, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Atha’ bin Abi Rabah.

.

.

Salafy yang kebingungan dengan sikap Ibnu Abbas ternyata mencatut riwayat [yang ia katakan shahih] kalau Ibnu Abbas telah ruju’ dari pandangannya. Riwayat yang dimaksud sebenarnya telah kami bahas dalam tulisan sebelumnya yaitu Riwayat Abu Awanah

قال يونس قال ابن شهاب : أخبرني الربيع بن سبرة أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا

Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah. Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu [yang dari ayahnya sebelumnya] kepada Umar bin Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk. Ia [Ibnu Syihab] berkata “Tidaklah Ibnu Abbas meninggal hingga ia rujuk dari fatwanya ini” [Mustakhraj Abu Awanah no 4057].

Salafy berhujjah dengan hadis di atas bahwa yang berkata Ibnu Abbas ruju’ dari fatwanya itu adalah Rabi’ bin Sabrah. Sehingga ia menerjemahkan Ia [Ibnu Sabrah] berkata “tidaklah Ibnu Abbas meninggal hingga ia rujuk dari fatwanya”. Kami telah menunjukkan bahwa terjemahan tersebut keliru, yang benar adalah seperti yang kami tuliskan di atas. Tetapi yang namanya salafy tidak peduli apakah benar atau tidak yang penting ia mendapatkan dalih untuk membela keyakinannya. Mungkin Salafy yang aneh bin ajaib itu mengira kalau hadis di atas itu adalah dua riwayat Ibnu Sabrah yang terpisah yaitu

قال يونس قال ابن شهاب : أخبرني الربيع بن سبرة أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة

Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah

قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتي

Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis kepada Umar bin Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk. Ia [Ibnu Sabrah] berkata “Tidaklah Ibnu Abbas meninggal hingga ia rujuk dari fatwanya ini

.

.

Terjemahan di atas memang tampak benar bagi mereka yang belum meneliti riwayat tersebut. Seperti yang telah kami tunjukkan riwayat tersebut bukannya terpisah seperti itu, melainkan satu riwayat Ibnu Sabrah dari ayahnya soal pelarangan mut’ah. Perhatikan riwayat-riwayat berikut

قال ابن شهاب وأخبرني ربيع بن سبرة الجهني أن أباه قال قد كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن المتعة قال ابن شهاب وسمعت ربيع بن سبرة يحدث ذلك عمر بن عبدالعزيز وأنا جالس

Ibnu Syihab berkata dan mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhaniy bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah”. Ibnu Syihab berkata dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu kepada Umar bin ‘Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk [Shahih Muslim 2/1023 no 1406]

قال بن شهاب وأخبرني الربيع بن سبرة الجهني أن أباه قال قد كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن المتعة قال بن شهاب وسمعت الربيع بن سبرة يحدث ذلك عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Ibnu Syihab berkata dan mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhaniy bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah”. Ibnu Syihab berkata dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu kepada Umar bin ‘Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk [Sunan Baihaqi 7/205 no 13942]

قال بن شهاب وأخبرني ربيع بن سبرة الجهني ان أباه قال قد كنت استمتعت في عهد النبي صلى الله عليه و سلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن المتعة قال بن شهاب وسمعت ربيع بن سبرة يحدث ذلك عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Ibnu Syihab berkata dan mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhaniy bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah”. Ibnu Syihab berkata dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu kepada Umar bin ‘Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk [Tahdzib Al Kamal biografi Khalid bin Muhajir no 1654]

حدثنا محمد حدثني عيسى بن يونس الرملي ، ثنا أيوب بن سويد ، حدثني ابن شهاب محمد بن مسلم ، أخبرني الربيع بن سبرة الجهني أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ونهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة قال : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث ذلك عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub bin Suwaid yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab Muhammad bin Muslim yang berkata telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah Al Juhaniy bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah”. [Ibnu Syihab] berkata dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu kepada Umar bin ‘Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk [Musnad Umar bin Abdul Aziz Al Baghandiy no 73]

.

.

Hadis-hadis diatas memiliki lafaz yang serupa dengan riwayat Abu Awanah. Jadi riwayat Abu Awanah itu hanya memuat satu riwayat Ibnu Sabrah yaitu riwayat dari ayahnya tentang larangan mut’ah. Maka pembagian yang benar adalah Bagian pertama berupa

قال يونس قال ابن شهاب : أخبرني الربيع بن سبرة أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah. Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu [yang dari ayahnya sebelumnya] kepada Umar bin Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk.

Bagian pertama ini sama dengan riwayat Muslim, Baihaqi, Al Mizziy dan Al Baghandiy di atas yang menunjukkan bahwa hadis yang diceritakan oleh Rabi’ bin Sabrah kepada Umar bin ‘Abdul Aziz dimana saat itu Az Zuhri sedang duduk adalah hadis Rabi’ bin Sabrah dari Ayahnya tentang larangan mut’ah bukan tentang Ibnu Abbas. Hanya saja dalam riwayat Abu Awanah, ia tidak menuliskan lafaz “dzalik” yang artinya [itu] atau [demikian] setelah lafaz “yuhadditsu” yang artinya [menceritakan hadis]. Terlepas dari apakah ini kekeliruan Abu Awanah atau bukan, tetapi penghilangan lafaz “dzalik” itu ternyata berakibat fatal. Contoh kesesatan yang ditimbulkan hilangnya lafaz “dzalik” itu ya terlihat dari ulah salafy.  Lafaz yang seharusnya berbunyi

وسمعت الربيع بن سبرة يحدث ذلك عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu kepada Umar bin ‘Abdul Aziz

Dimana dengan lafaz ini maka hadis yang dimaksudkan oleh Ibnu Syihab Az Zuhri diceritakan Rabi’ bin Sabrah kepada Umar bin ‘Abdul Aziz adalah hadis Sabrah sebelumnya tentang larangan mut’ah. Tetapi dengan penghilangan lafaz “dzalik” menjadi

وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis kepada Umar bin Abdul Aziz

Maka salafy yang aneh itu keliru menisbatkan hadis yang dimaksud kepada perkataan setelahnya yaitu tentang ruju’nya Ibnu Abbas padahal yang dimaksud Ibnu Syihab Az Zuhri adalah hadis Rabi’ Bin Sabrah dari ayahnya sebelumnya. Jadi kata [menceritakan hadis] dan kata [menceritakan hadis itu] bisa menimbulkan perbedaan, kata [menceritakan hadis itu] menunjukkan kalau hadis yang dimaksud sudah disebutkan sebelumnya sedangkan lafaz [menceritakan hadis] seolah-olah hadis yang dimaksud belum disebutkan sebelumnya atau baru mau akan disebutkan. Riwayat yang tsabit adalah dengan lafaz “dzalik” sebagaimana yang tampak dalam riwayat Muslim, Baihaqi, Al Mizziy dan Al Baghandiy. Hilangnya lafaz “dzalik” dalam riwayat Abu Awanah bisa karena kekeliruannya atau kekeliruan dari naskah kitab Abu Awanah.

Bagian kedua dari riwayat Abu Awanah adalah terpisah dari bagian sebelumnya dimana disitu terdapat orang yang berkata kalau Ibnu Abbas telah ruju’ dari fatwanya.

أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا

Ia [Ibnu Syihab] berkata “Tidaklah Ibnu Abbas meninggal hingga ia rujuk dari fatwanya ini”

Kami menyatakan kalau orang tersebut Ibnu Syihab dan lafaz ini adalah lafaz yang diucapkan oleh Yunus bin Yazid dan dituliskan secara langsung oleh Abu Awanah. Bukti akan hal ini adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Hajar

وأخرج البيهقي من طريق الزهري قال ما مات بن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا وذكره أبو عوانة في صحيحه أيضا

Dan dikeluarkan Al Baihaqi dari jalan Az Zuhri yang berkata “tidaklah Ibnu Abbas wafat hingga ia rujuk dari fatwanya ini”, dan disebutkan pula oleh Abu Awanah dalam shahihnya [Talkhis Al Habiir 3/158 no 1506]

Ibnu Hajar sangat jelas menisbatkan perkataan “tidaklah Ibnu Abbas wafat hingga ia rujuk dari fatwanya ini” sebagai perkataan Az Zuhri bukan perkataan Rabi’ bin Sabrah. Salafy yang aneh itu merasa rancu dengan potongan kalimat seperti itu, padahal kalau setiap bagian hadis dituliskan sanadnya dengan lengkap maka tidak akan ada yang rancu. Untuk melihat sanad lengkapnya maka perhatikanlah riwayat lengkap Abu Awanah

حدثنا أحمد بن عبد الرحمن ، قثنا عمي ، ح وحدثنا محمد بن يحيى ، ثنا هارون بن معروف ، وأبو سعيد الجعفي ، قالا : أنبا ابن وهب ، ح وحدثنا محمد بن عوف ، ثنا أصبغ بن الفرج ، عن عبد الله بن وهب ، قال : أخبرني يونس ، عن ابن شهاب ، قال : حدثني عروة بن الزبير ، أن عبد الله بن الزبير ، قام بمكة ، فقال إن ناسا أعمى الله قلوبهم كما أعمى أبصارهم ، يفتون بالمتعة ، يعرض بابن عباس ، قال محمد بن يحيى : برجل ، وقال غيره : ابن عباس ، فناداه ابن عباس : إنك جلف جاف ، فلعمري لقد كانت المتعة تعمل في عهد إمام المتقين ، يريد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال له ابن الزبير : فجرب بنفسك ، فوالله لئن فعلتها لأرجمنك بأحجارك ، قال يونس : قال ابن شهاب : وأخبرني خالد بن المهاجر بن سيف الله أنه بينما هو جالس عند ابن عباس جاءه رجل  فاستفتاه في المتعة ، فأمره ابن عباس بها ، فقال له ابن أبي عمرة الأنصاري : مهلا يا ابن عباس قال ابن عباس : أما هي والله لقد فعلت في عهد إمام المتقين ، قال ابن أبي عمرة : يا أبا عباس إنها كانت رخصة في أول الإسلام لمن اضطر إليها ، كالميتة ، والدم ، ولحم الخنزير ، ثم أحكم الله الدين ، ونهى عنها  قال يونس : قال ابن شهاب : وأخبرني عبيد الله بن عبد الله أن ابن عباس كان يفتي بها ، ويغمص ذلك عليه أهل العلم فأبى ابن عباس أن ينتقل عن ذلك ، حتى طفق بعض الشعراء يقول : يا صاح هل لك في فتيا ابن عباس ؟ هل لك في ناعم خود مبتلة تكون مثواك حتى يصدر الناس ؟ قال : فازداد أهل العلم لها قذرا ، ولها بغضا حين قيل فيها الأشعار قال يونس : قال ابن شهاب : أخبرني الربيع بن سبرة أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا

Dengan melengkapi sanadnya berdasarkan sanad di bagian awal maka sanad lengkap kedua bagian tersebut adalah

حدثنا أحمد بن عبد الرحمن ، قثنا عمي ، ح وحدثنا محمد بن يحيى ، ثنا هارون بن معروف ، وأبو سعيد الجعفي ، قالا أنبا ابن وهب ، ح وحدثنا محمد بن عوف ، ثنا أصبغ بن الفرج ، عن عبد الله بن وهب قال قال يونس قال ابن شهاب : أخبرني الربيع بن سبرة أن أباه قال : كنت استمتعت في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم من امرأة من بني عامر ببردين أحمرين ، ثم نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf dan Abu Sa’id Al Ja’fiy dimana keduanya berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Faraj dari Abdullah bin Wahab yang berkata Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : telah mengabarkan kepadaku Rabi’ bin Sabrah bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah. Yunus berkata : Ibnu Syihab berkata : dan aku mendengar Rabi’ bin Sabrah menceritakan hadis itu [yang dari ayahnya sebelumnya] kepada Umar bin Abdul Aziz dan saat itu aku sedang duduk.

Sedangkan bagian kedua yang kata salafy rancu itu akan menjadi

حدثنا أحمد بن عبد الرحمن ، قثنا عمي ، ح وحدثنا محمد بن يحيى ، ثنا هارون بن معروف ، وأبو سعيد الجعفي ، قالا  أنبا ابن وهب ، ح وحدثنا محمد بن عوف ، ثنا أصبغ بن الفرج ، عن عبد الله بن وهب ، قال : أخبرني يونس ، عن ابن شهاب أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf dan Abu Sa’id Al Ja’fiy dimana keduanya berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahab. Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Faraj dari Abdullah bin Wahab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab bahwa ia berkata “tidaklah Ibnu Abbas meninggal hingga ia ruju’ dari fatwanya ini”.

.

.

Silakan para pembaca melihat tidak ada yang rancu pada kalimat tersebut jika kalimat tersebut dituliskan dengan sanad yang lengkap. Salafy itu tetap bersikeras bahwa perkataan tentang Ibnu Abbas itu adalah milik Ibnu Sabrah, dan disebabkan tidak bisa membantah soal riwayat Muslim dan Baihaqi maka ia mengatakan kalau perkataan tentang Ibnu Abbas ini adalah ziyadah [tambahan] riwayat Ibnu Sabrah dari ayahnya. Maka dengan jawaban ngawur begini maka hadis lengkap Ibnu Sabrah akan menjadi seperti ini

Rabi’ bin Sabrah berkata bahwa ayahnya berkata “aku melakukan mut’ah di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan wanita dari bani ‘Aamir dengan dua kain merah kemudian Beliau melarang kami melakukan mut’ah dan Rabi’ berkata “tidaklah Ibnu Abbas wafat hingga ia ruju’ dari fatwanya ini”

Agak luar biasa jika salafy itu tidak melihat kerancuan hadis dengan lafaz seperti ini. Rabi’ bin Sabrah menceritakan kalau ayahnya pernah melakukan mut’ah kemudian dilarang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiba-tiba dengan lompatan yang mengagumkan Rabi’ bin Sabrah berkata “tidaklah Ibnu Abbas wafat hingga ia ruju’ dari fatwanya ini”. Pertanyaannya kapan Rabi’ bin Sabrah menyebutkan soal fatwa Ibnu Abbas?. Lihat baik-baik, lafaz yang diucapkan oleh Rabi’ bin Sabrah adalah “fatwanya ini”. Lafaz itu menunjukkan kalau sebelumnya Rabi’ bin Sabrah telah menyebutkan fatwa Ibnu Abbas, tapi fatwa apa?. Dimana Ibnu Sabrah menyebutkannya? Bukankah hadis sebelumnya bicara soal ayahnya?. Lafaz seperti ini jelas sangat rancu kalau dikembalikan kepada Rabi’ bin Sabrah.

Lain ceritanya jika lafaz tersebut adalah milik Ibnu Syihab Az Zuhri seperti yang kami tuliskan. Az Zuhri berkata “tidaklah Ibnu Abbas wafat hingga ia ruju’ dari fatwanya ini” maka dimengerti bahwa fatwa yang dimaksud adalah fatwa Ibnu Abbas yang menghalalkan mut’ah dalam hadis yang disebutkan oleh Az Zuhri sebelumnya. Jadi inti dari keseluruhan hadis panjang riwayat Abu Awanah adalah Penceritaan Az Zuhri kepada Yunus bin Yazid dimana Az Zuhri menggabungkan beberapa hadis dan pendapatnya sendiri. Awalnya Az Zuhri membawakan hadis Ibnu Abbas yang menghalalkan mut’ah kemudian Az Zuhri membawakan hadis Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mut’ah. Kemudian Az Zuhri menutup ceritanya dengan mengatakan kalau Ibnu Abbas telah ruju’ dari fatwanya. Az Zuhri tidak mendengar dari Ibnu Abbas maka riwayatnya disini dhaif karena inqitha’ [sanadnya terputus].

Kenyataannya adalah Ibnu Abbas tidak pernah ruju’ dari fatwanya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir [Al Bidayah Wan Nihayah 4/194] dan Ibnu Hajar yang mengutip Ibnu Batal menyebutkan kalau riwayat ruju’nya Ibnu Abbas adalah dhaif [Fath Al Bari 9/173]. Hadis riwayat Az Zuhri soal perselisihan Ibnu Zubair dan Ibnu Abbas adalah bukti yang jelas kalau Ibnu Abbas sampai mendekati akhir hayatnya tetap menghalalkan mut’ah. Peristiwa pertemuan Ibnu Zubair dan Ibnu Abbas dimana Ibnu Zubair menjadi pemimpin di Mekkah dan Ibnu Abbas yang sudah buta tinggal di Mekkah terjadi tahun 66 H [Fath Al Bari 8/327] sedangkan Ibnu Abbas sendiri wafat pada tahun 68 H [ada yang berkata 67 H]. Apalagi ternyata diketahui bahwa para sahabat dan murid Ibnu Abbas setelah wafatnya Ibnu Abbas tetap mengikuti fatwa Ibnu Abbas yang menghalalkan mut’ah.  Jadi sangat jauh kemungkinan kalau Ibnu Abbas ruju’ dari fatwanya. Salam Damai

.

.

Lampiran : Berikut ini adalah hadis riwayat Abu Awanah dalam kitab yang sudah ditahqiq, kami hanya ingin menunjukkan bahwa pada versi kitab yang ditahqiq hadis Rabi’ bin Sabrah dipisahkan dengan perkataan tentang ruju’nya Ibnu Abbas

-----------------------------
Lihat hadis no 4057, perhatikan setiap  sanad dengan matan tertentu dibuat secara terpisah. Kalau suatu hadis satu kesatuan dengan sanad dan matannya maka akan ditulis dalam satu bentuk paragraf dimana bagian awal kalimat menjorok kedalam. Perhatikan bagian

قال يونس : قال ابن شهاب : وسمعت الربيع بن سبرة يحدث عمر بن عبد العزيز وأنا جالس

Awal kalimat “qaala Yunus” dibuat menjorok kedalam menandakan sanad baru dan kalau memang matan sanad tersebut adalah perkataan “ruju’nya Ibnu Abbas” maka mengapa itu ditulis secara terpisah. Lafaz

أنه قال : ما مات ابن عباس حتى رجع عن هذه الفتيا

Tidak dituliskan langsung setelah lafaz “wa ana jalis” padahal kalau memang itu satu kalimat matan yang sama maka ya tinggal lanjut saja tetapi kenyataannya lafaz “annahu qaala” dituliskan dibawahnya dengan menjorok kedalam [sejajar dengan lafaz “qaala Yunus”] menunjukkan itu adalah matan yang baru terpisah dari matan sebelumnya.

Iklan

15 Tanggapan

  1. buyar…buyar….!!!
    rame tok ae…!!!

  2. wahabi salafy=wahabi falacy

  3. Dengan muncul dua riwayat yang berbeda konteksnya
    kemudian digabungkan oleh salafy menjadi satu kesatuan untuk mepertahankan teori mereka, menunjukan golongan ini senang merekayasa hadits untuk kepentingan golongan mereka.
    Hai, golongan yang suka mereka yasa hadits Rasul!
    Ingat sabda rasululllah SAW: “Siapa2 yang menyampaikan berita yang bukan berasal dariku dan mereka berkata “BAHWA INI DARI AKU” maka neraka jahanam tempatnya” Wasalam

  4. 1. Ibnu Abbas hanya memberi rukshah (keringanan) bagi mereka yang melakukan mut’ah dalam kondisi yang terpaksa, artinya pada dasarnya mut’ah ini memang diharamkan. Hal ini sangat jelas disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jadi bagi siapapun yg mengikuti fatwa Ibnu Abbas ini, demikianlah adanya fatwa tsb, jadi tidak asal main mut’ah saja, syaratnya dalam kondisi yg sangat terpaksa, jadi Nikah Daim yang diutamakan.

    5116 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ سُئِلَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَرَخَّصَ فَقَالَ لَهُ مَوْلًى لَهُ إِنَّمَا ذَلِكَ فِي الْحَالِ الشَّدِيدِ وَفِي النِّسَاءِ قِلَّةٌ أَوْ نَحْوَهُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ نَعَمْ
    (7/12)

    “Dari Abi Jamrah berkata aku mendengar Ibnu Abbas ditanya tentang mut’ah dengan wanita, kemudian dia memberikan keringanan (rukhshah). Lantas seorang bekas hambanya bertanya: Apakah yang demikian itu dalam keadaan terpaksa dan karena sedikitnya jumlah wanita atau yang seperti itu? Ibnu Abbas menjawab: Ya!” (Riwayat Bukhari 7/12 No. 5116).

    2. Fatwa Ibnu Abbas untuk kebolehan Mut’ah dalam kondisi yang terpaksa tersebut jelas keliru karena Nabi SAW sudah mengharamkan mut’ah sampai hari kiamat dan Imam Ali sendiri sudah memperingatkannya bahwa Mut’ah sudah diharamkan.

    3. Ibnu Abbas telah rujuk dari fatwanya tersebut berdasarkan riwayat yang shahih. Dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Rabi’ dari ayahnya. Sesuai dzahir sanad sebelumnya.

    4. Seandainyapun Ibnu Abbas belum rujuk dari fatwanya, maka dia adalah ulama dikalangan sahabat yang memberi rukshah untuk mut’ah dalam kondisi darurat bukan asal mut’ah, Dan perkataan seorang boleh diambil atau boleh tidak kecuali perkataan Nabi SAW.

  5. @stb
    Rasulullah mengharamkan sampai kiamat. Allah menghalalkan sampai kiamat. Artinya menurut ente Rasul mengharamkan yang Allah halalkan. Jangan berasumsi. Allah menhalalkan dengan Firman. Dan tdk ada satu Firman yang Allah BATALKAN. Sedangkan hadits rekayasa MEMBATALKAN.

  6. @sok tau banget

    Ibnu Abbas telah rujuk dari fatwanya tersebut berdasarkan riwayat yang shahih. Dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Rabi’ dari ayahnya. Sesuai dzahir sanad sebelumnya.

    Cuma ngiklan doang disini ya, sudah jelas-jelas dibahas di atas 😛

    Seandainyapun Ibnu Abbas belum rujuk dari fatwanya, maka dia adalah ulama dikalangan sahabat yang memberi rukshah untuk mut’ah dalam kondisi darurat bukan asal mut’ah, Dan perkataan seorang boleh diambil atau boleh tidak kecuali perkataan Nabi SAW.

    Maaf ya Ibnu Abbas itu memarfu’kan pendapatnya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] begitu pula Jabir dan mayoritas sahabat lainnya. Jadi ya mereka juga berhujjah dengan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

    Soal darurat atau terpaksa, bukan itu yang dipermasalahkan disini. Tulisan di atas kan soal apakah Ibnu Abbas ruju’ atau tidak dari fatwanya. Riwayat shahih yang anda bilang itu adalah talbis yang dibuat oleh salafy dengan memanfaatkan riwayat Abu Awanah padahal faktanya riwayat tersebut jauh sekali dari yang ia inginkan.

  7. apa benar tafsir Al quran surat An nisa’ ayat 24 itu tentang nikah mut’ah???tapi ada yang bilang itu justru sebagai pengharaman mut’ah…..! mana yang benar nih

  8. @nania
    Kalau tdk ada Firman Allah mengenai Mut’ah. maka:
    1. Kita tdk mengenal kata Mut’ah
    2. Kita tak akan mendengar para sahabat kawin Mut’ah
    3.Tidak ada kehebohan tentang hadits yang menyebut
    bahwa Rasul pernah menharamkan
    4. Dan tdk ada kata2 yang berbunyi : DUA MUT’AH YANG DIHALALKAN ZAMAN RASUL SEKARANG DIHARAMKAN. Wasalam

  9. kalau surah an nisa 24 itu tentang pengharaman mut’ah, mana pula ayat yang mengharuskannya? adakah pengharusan nikah mut’ah dari NABI SAW sehingga Allah turunkan ayat yang mengharamkannya? mungkinkah?

  10. @al kazim
    Pertanyaan anda logis. Dan jawaban mereka, itupun kalau mau menjawab pasti NGAWUR. Wasalam

  11. jika mut’ah halal, apakah halalnya dengan syarat ( kondisi tertentu) atau halalnya tanpa syarat???Adakah riwayat yang menceritakan bahwa para imam yang 12 itu pernah melakukan mut’ah???

  12. Jika benar begitu, bolehkah saya menikahi anak perempuan kamu dengan nikah mut’ah untuk satu malam?

  13. kali kedua, bolehkah saya menikahi anak perempuan kamu dengan nikah mut’ah untuk satu malam?

  14. kali ketiga saya bertanya, sukakah jika saya menikahi anak perempuan kamu dengan nikah mut’ah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: