Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy

Najd Bukan Iraq? : Bantahan Bagi Salafy

Ini merupakan kelanjutan dari tulisan kami sebelumnya yang berjudul Analisis Hadis Tanduk Setan : Najd Bukan Iraq?. Tulisan kami tersebut ternyata ditanggapi oleh salah satu situs salafy dan kali ini kami berusaha meluruskan bantahannya yang berkesan “tidak paham dengan tulisan orang lain”. Sudah sewajarnya sebelum membantah tulisan orang lain kita hendaknya memahami betul-betul tulisan yang ingin dibantah supaya tidak terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu. kita akan lihat bersama tanggapan orang tersebut tetapi sebelumnya kami akan memperjelas lagi hujjah atau dalil kalau tempat yang dimaksud sebagai fitnah itu adalah Najd. Silakan perhatikan hadis-hadis berikut

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan[Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan[Musnad Ahmad 2/72 no 5410]

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003]

Hadis riwayat Thabrani di atas sanadnya shahih. Musa bin Harun Abu ‘Imran seorang imam yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 229]. Abdullah bin Muhammad bin Muhaajir Fuuraan adalah sahabat Ahmad bin Hanbal seorang yang tsiqat ma’mun [Takmilat Al Ikmal Muhammad bin Abdul Ghaniy no 4757]. Aswad bin ‘Aamir seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/102]. Hammad bin Salamah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/238]. Yahya bin Sa’id Al Anshari seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/303]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau tempat munculnya fitnah tersebut adalah timur Madinah dan arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit dari Madinah. Dengan fakta ini saja maka diketahui bahwa Najd merupakan tempat yang lebih sesuai daripada Iraq karena Najd terletak di arah timur matahari terbit dari Madinah sedangkan Iraq tidak terletak di arah matahari terbit dari Madinah. Dari hadis-hadis di atas juga diketahui kalau tempat yang dimaksud tertuju pada kediaman orang-orang arab badui Rabi’ah dan Mudhar. Telah ma’ruf bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Najd merupakan kediaman orang-orang arab badui [ahlul wabar] Rabi’ah dan Mudhar bukannya Iraq, Jadi semua hadis-hadis di atas menyiratkan kalau tempat fitnah yang dimaksud adalah Najd. Oleh karena itu jika menerapkan metode tarjih maka hadis Najd lebih didahulukan daripada hadis Iraq.

.

.

.

Hadis Ubadillah bin ‘Abdullah bin ‘Aun

حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda  “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

Kami sebelumnya mengatakan hadis ini tidak shahih karena Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yaitu Azhar bin Sa’d dan Husain bin Hasan dimana keduanya menyebutkan lafaz Najd bukan lafaz Iraq. Orang tersebut membantah dengan berkata

Saya katakan : Nampaknya orang ini sedang berandai-andai dengan pemikirannya. Yang dikatakan ta’arudl (dalam matan) dalam ilmu hadits adalah jika bertentangan dalam makna dan tidak bisa untuk dijamak. Pengandai-andaiannya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq adalah bertentangan (ta’arudl) adlah sesuai dengan definisi dan keinginannya. Bukan sesuai dengan ilmu ushul hadits dan ushul-fiqh yang ma’ruf. Telah saya tulis sebelumnya bahwa lafadh Najd dan ‘Iraq tidak bertentangan dan bisa dijamak. Sesuai dengan lisan dan pemahaman orang ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut orang tersebut).

Sungguh orang ini patut dikasihani, bagaimana mungkin ia bisa tidak mengerti panjang lebar hujjah kami dalam masalah ini. Lafaz Najd dan Iraq bertentangan karena keduanya adalah nama negeri yang berbeda. Seandainya pun kedua lafaz itu mau dijamak maka itu berarti kedua tempat tersebut adalah tempat munculnya fitnah. Bukan seperti logika aneh salafy yang mengatakan kalau Najd adalah Iraq. Perhatikan baik-baik hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Zahir hadis di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, keduanya adalah nama Negri yang sudah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Najd kami”. Tentu saja secara zahir maksud Najd disini adalah nama suatu Negeri seperti halnya Syam dan Yaman. Dan telah kami sebutkan bahwa di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah masyhur Negeri yang bernama Najd dan negri itu berbeda dengan Iraq seperti dalam hadis berikut

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam [Shahih Sunan Nasa’i no 2656]

أخبرنا قتيبة حدثنا الليث عن سعيد بن أبي سعيد أنه سمع أبا هريرة يقول بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم خيلا قبل نجد فجاءت برجل من بني حنيفة يقال له ثمامة بن آثال سيد أهل اليمامة فربط بسارية من سواري المسجد مختصر

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Sa’id bin Abi Sa’id yang mendengar Abu Hurairah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan berkuda ke Najd kemudian pasukan ini datang dengan membawa seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal pemimpin penduduk Yamamah kemudian diikat di salang satu tiang masjid, demikian secara ringkas. [Shahih Sunan Nasa’i Syaikh Al Albani no 712]

Hadis di atas bahkan menyebutkan kalau Najd yang dimaksud termasuk Yamamah yang pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terletak tepat disebelah timur Madinah dan yang sekarang telah menjadi daerah Riyadh dan sekitarnya. Justru membedakan Najd dan Iraq telah sesuai dengan lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pemahaman para sahabat bahwa Najd dan Iraq memang kedua tempat yang berbeda pada masa itu. Jadi tidak ada gunanya perkataan ulama yang dicatut oleh orang salafy itu.

Kembali ke hadis riwayat Thabrani di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan Syam dan Yaman, kemudian para sahabat bertanya bagaimana dengan “Iraq kami”. Anehnya salafy langsung bisa paham kalau Iraq yang dimaksud disini adalah nama suatu negeri tapi kalau di hadis Najd salafy jadi pura-pura tidak paham. Salafy itu mengutip perkataan Ibnu Mandzur

وما ارتفع عن تِهامة إِلى أَرض العراق، فهو نجد

“Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].

Bagi kami tidak ada masalah dengan istilah itu. Najd yang ada pada hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah masyhur dikenal sahabat sebagaimana halnya negeri Syam dan Yaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah membedakan Najd dan Iraq jadi tidak ada gunanya perkataan Ibnu Mandzur disini. Apalagi kalau diperhatikan ternyata ulama lain justru mengatakan hal yang lebih aneh yaitu Al Khaththabi [sebagaimana yang ditulis sendiri oleh salafy itu]. Ia berkata

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya gurun ‘Iraaq dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Anehnya Al Khattabi mengatakan kalau Najd adalah arah timur dan menurut Al Khaththabi timurnya madinah adalah Iraq maka Najd-nya madinah adalah Iraq. Pertanyaannya sejak kapan Najd yang secara etimologi [asal kata] bermakna tanah yang tinggi berubah maknanya menjadi “arah timur”?. Kemudian apa gunanya perkataan Ibnu Mandzur “semua tanah yang tinggi dari Tihamah sampai Iraq maka itu Najd” padahal Al Khaththabi mengatakan seluruh wilayah Tihamah adalah ghaur. Salafy itu hanya bisa bertaklid tetapi tidak bisa memahami perkataan ulama yang ia kutip.

Pada dasarnya setiap kata memiliki makna secara etimologi tetapi selain itu ternyata ada beberapa kata yang dalam perkembangannya berubah secara historis. Seperti halnya kata Najd secara etimologi memang bermakna tanah yang tinggi, tetapi secara historis maksud Najd yang ada dalam hadis Tanduk setan adalah nama suatu negri yang masyhur saat itu yaitu Najd di sebelah timur Madinah oleh karena itu para sahabat menisbatkannya dengan kata “Najd kami”. Negri ini dinamakan Najd karena memang tempat tersebut adalah dataran tinggi. Tidak hanya Najd, kata Iraq pun secara etimologi bermakna “daerah tepian” atau “daerah yang terletak diantara sungai sungai” dan secara historis Iraq dikenal sebagai nama suatu negri karena memang negri tersebut terletak diantara sungai sungai sehingga dinamakan Iraq. Pada hadis tanduk setan, kata Najd dan Iraq yang dinisbatkan dengan kata “kami” adalah nama suatu Negri bukan makna kata secara etimologi.

Adapun ‘Ubaidullah sendiri, maka Al-Bukhaariy berkata : “Ma’ruuful-hadiits” [At-Taariikh Al-Kabiir, 5/388 no. 1247]. Abu Haatim berkata :  “Shaalihul-hadiits” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 5/322 no. 1531].

Kita telah buktikan kalau Najd dan Iraq yang ada di hadis Ibnu Umar adalah dua negri yang berbeda sehingga penjamakan yang dilakukan oleh salafy itu terlalu memaksa. Kesannya justru malah mendistorsi makna hadis tersebut. Yang meriwayatkan dari  Ibnu ‘Aun dari Nafi’ ada tiga orang yaitu Husain bin Hasan, Azhar bin Sa’d dan Ubaidillah. Husain dan Azhar menyebutkan kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sedangkan Ubaidillah menyebutkan Iraq. Ubaidillah telah menyelisihi dua orang perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Nafi’ sedangkan kedudukannya sendiri paling tinggi hanya dikatakan “shalihul hadits”. Perawi seperti ini jika bertentangan dengan perawi yang lebih tsiqat maka hadisnya tidak bisa diterima. Kaidah ini sesuai dengan yang berlaku dalam ilmu hadis.

.

.

.

Hadis Ziyaad bin Bayaan

حدثنا علي بن سعيد قال نا حماد بن إسماعيل بن علية قال نا ابي قال نا زياد بن بيان قال نا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال صلى النبي صلى الله عليه و سلم صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على  القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله فسكت ثم قال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل والعراق يا رسول الله قال من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu’jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

Pada tulisan sebelumnya kami menyatakan bahwa hadis ini tidak shahih karena mengandung illat [cacat] pada Ziyaad bin Bayaan. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Salafy itu menanggapi dengan berkata

Saya katakan : Ia hanya menyebutkan jarh-nya saja. Padahal kedudukan yang benar atas diri Ziyaad bin Bayaan adalah shaduuq lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 343 no. 2068]. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya (laisa bihi ba’s)”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat, dan berkata : “Ia seorang syaikh yang shaalih”. Tautsiq Ibnu Hibbaan jika dijelaskan seperti ini adalah diterima, sebagaimana penjelasan Al-Mu’allimiy Al-Yamaaniy dalam At-Tankiil.

Mengenai perkataan Nasa’i maka begitulah yang dinukil Ibnu Hajar dalam At Tahdzib tetapi mengenai perkataan Ibnu Hibban maka ini patut diberikan catatan. Ibnu Hibban tidak hanya menta’dil Ziyaad bin Bayaan, Ibnu Hibban juga memasukkan nama Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa yang memuat nama perawi dhaif menurutnya. Ibnu Hibban berkata “Ziyaad bin Bayaan mendengar dari Ali bin Nufail, dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali (fii isnad nazhar)” [Al Majruhin no 365].

Ibnu ‘Adiy memasukkan dalam Al-Kaamil karena mengambl pertimbangan perkataan Al-Bukhaariy. Dan sebab pendla’ifan Al-Bukhaariy pun dijelaskan, yaitu dengan sebab hadits Al-Mahdiy. Al-Bukhaariy berkata : “Fii isnadihi nadhar”. Jarh ini kurang shariih.

Perkataan salafy kalau jarh ini kurang sharih hanyalah andai-andai dirinya yang memang tidak bisa memahami dengan baik. Justru jarh Bukhari telah dijelaskan bahwa dalam sanad hadis Ziyaad bin Bayaan perlu diteliti kembali [fii isnadihi nazhar]. Ziyaad bin Bayaan terbukti meriwayatkan hadis mungkar dan kemungkarannya terletak pada sanad hadis tersebut. Hadis yang dimaksud adalah hadis Al Mahdi dimana Ziyad bin Bayaan membawakan dengan sanad dari Ali bin Nufail dari Ibnu Musayyab dari Ummu Salamah secara marfu’. Hadis ini yang diingkari oleh Bukhari dan pengingkaran tersebut terletak pada sanadnya. Ibnu Ady dalam Al Kamil dengan jelas mengatakan kalau Bukhari mengingkari hadis Ziyad bin Bayaan ini.

Al Uqaili sependapat dengan pengingkaran Bukhari dan menunjukkan kalau yang tsabit hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Sa’id bin Al Musayyab bukan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [Adh Dhu’afa Al Uqaili 2/75 no 522]. Ibnu Jauzi dalam Al Ilal Al Mutanahiyah juga menegaskan bahwa hadis dengan lafaz seperti itu adalah perkataan Ibnu Musayyab bukan hadis Nabi dan disini Ziyaad bin Bayaan yang merafa’kan atau menyambungkan hadis tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi kesimpulannya Ziyaad bin Bayaan tertuduh meriwayatkan hadis mungkar dan pengingkaran Bukhari terhadap hadisnya justru menunjukkan kalau disisi Bukhari Ziyaad bin Bayaan adalah seorang yang dhaif. Perkataan Bukhari ini adalah perkataan yang tsabit bersumber darinya dan kedudukan dirinya lebih dijadikan pegangan daripada penta’dilan Nasa’i. Apalagi telah ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa jarh yang mufassar lebih didahulukan dari ta’dil.

Ibnu ‘Adiy pun menyebutkan pentautsiqan Abul-Maliih (Al-Hasan bin ‘Umar – seorang yang tsiqah) pada Ziyaad bin Bayaan saat menyebutkan sanad hadits Al-Mahdiy; Abul-Maliih berkata : “Telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah”. Ibnu ‘Adiy menjelaskan : “Telah menceritakan kepada kami sorang yang tsiqah, maksudnya adalah Ziyaad bin Bayaan”. Kemudian Ibnu ‘Adiy menyebutkan sanad yang lain yang menjelaskan hal tersebut [Al-Kaamil, 4/144-145 no. 697].

Perkataan salafy ini sangat patut diberikan catatan, entah ia pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu bahwa tautsiq Abul Maliih ini tidaklah tsabit. Ibnu Ady membawakan dengan sanad telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdurrahman bin Yazid bin ‘Aqaal Al Harrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far An Nufaili yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Maliih yang berkata telah menceritakan kepada kami seorang yang tsiqah [Al Kamil 3/196. Hadis ini tidak tsabit karena Ahmad bin Abdurrahman Al Harrani adalah seorang yang dhaif. Adz Dzahabi memasukkannya kedalam perawi dhaif seraya mengutip jarh Abu Arubah [Al Mughni 1/46 no 346]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 200]. Al Haitsami berkata “riwayat Thabrani dalam Al Ausath dari syaikh-nya Ahmad bin ‘Abdurrahman bin ‘Aqaal dan dia dhaif” [Majma’ Az Zawaid 5/65 no 8057]. Jadi tautsiq Abul Maliih disini tidaklah benar. Apalagi penetapan kalau orang yang dimaksud Ziyaad bin Bayaan tidak nampak dalam sanad tersebut melainkan dugaan Ibnu Adiy.

Hal yang sama pada Al-‘Uqailiy, dimana ia memasukkan dalam Adl-Dlu’afaa dengan pijakan perkataan Al-Bukhaariy di atas [2/430-431 no. 523]. Adz-Dzahabiy pun demikian, yaitu menyandarkan ketidakshahihan haditsnya pada hadits Al-Mahdiy. Akan tetapi ia memberikan penghukuman akhir terhadap Ziyaad : “Shaduuq” [Al-Kaasyif, 2/408 no. 1671].

Al Uqaili dalam hal ini sepakat dengan Al Bukhari dan disini ia telah menjelaskan kalau hadis Ziyaad bin Bayaan adalah mungkar dan yang benar hadis tersebut adalah perkataan Ibnu Musayyab. Mengenai perkataan Adz Dzahabi walaupun ia menyatakan Ziyaad bin Bayaan shaduq ia sendiri telah menyebutkan dalam Al Mizan dan Al Mughni kalau Ziyaad bin Bayaan tidak shahih hadisnya dan penulisannya dalam dua kitab tersebut menunjukkan kalau Adz Dzahabi lebih cenderung dengan pendapat yang menjarh Ziyaad bin Bayaan.

Oleh karenanya, pentautsiqan An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan Abul-Maliih lebih kuat dari perkataan yang mendla’ifkannya. Kaidah mengatakan : Ta’diil lebih didahulukan daripada jarh yang mubham.

Pentautsiqan Nasa’i adalah penukilan sedangkan jarh Bukhari terhadap Ziyaad bin Bayaan berasal dari kitab Bukhari sendiri. Pentautsiqan Ibnu Hibban juga bertentangan dimana ia sendiri memasukkan Ziyaad bin Bayaan dalam kitabnya Adh Dhu’afa sedangkan pentautsiqan Abul Maliih tidak tsabit. Tidak benar kalau jarh terhadap Ziyaad dikatakan mubham justru jarh terhadapnya mufassar yaitu dimana ia telah meriwayatkan hadis dengan sanad yang mungkar dan ini telah terbukti dari riwayat-riwayat yang disebutkan oleh para ulama seperti Al Bukhari, Al Uqaili dan Ibnu Jauzi. Mengenai pernyataan Ibnu Hajar dalam At Taqrib kalau Ziyaad bin Bayaan seorang yang shaduq, itu telah dikritik dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib bahwa kedudukan sebenarnya Ziyaad bin Bayaan adalah “dhaif ya’tabaru bihi” [Tahrir At Taqrib no 2057].

Kedudukan hadis yang diriwayatkan perawi seperti Ziyaad bin Bayaan jika bertentangan dengan hadis shahih maka hadisnya mesti ditolak. Hadis tanduk setan yang sanadnya shahih adalah hadis dengan lafaz Najd sedangkan hadis dengan lafaz Iraq matannya mungkar. Sebagaimana telah kami tunjukkan bahwa di hadis shahih Najd merupakan tempat timbulnya fitnah.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin Syawdzab

حدثنا محمد بن عبد العزيز الرملي حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في مدينتنا وفي صاعنا، وفي مدِّنا وفي يمننا وفي شامنا. فقال الرجل يا رسول الله وفي عراقنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بها الزلازل والفتن، ومنها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

Mengenai hadis ini kami katakan Ibnu Syawdzab melakukan tadlis, ia tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al ‘Anbari. Terdapat hadis yang menyebutkan kalau ia mendengar hadis tersebut melalui perantara.

حدثنا عبد الله بن العباس بن الوليد بن مزيد البيروتي حدثني أبي أخبرني أبي حدثني عبد الله بن شوذب حدثني عبد الله بن القاسم ومطر الوراق وكثير أبو سهل عن توبة العنبري عن سالم بن عبد الله بن عمر عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال اللهم بارك في مكتنا وبارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا اللهم بارك لنا في صاعنا وبارك لنا في مدنا فقال رجل يا رسول الله وعراقنا فأعرض عنه فرددها ثلاثا وكان ذلك الرجل يقول وعراقنا فيعرض عنه ثم قال بها الزلازل والفتن وفيها يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

Pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz ‘an ‘anah dari Taubah Al ‘Anbari kemudian pada riwayat kedua Ibnu Syawdzab membawakan hadis dengan lafaz telah menceritakan padanya Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah. Sanad ini menjadi bukti bahwa pada riwayat pertama Ibnu Syawdzab melakukan tadlis. Riwayat ‘an ‘an ah-nya dari Taubah ia dengar dari para syaikh-nya.

Illat [cacat] riwayat Ibnu Syawdzab disini adalah ia menggabungkan hadis dari ketiga syaikh-nya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dalam satu lafaz matan hadis. Tetapi tidak disebutkan lafaz matan hadis yang ia sebutkan itu adalah milik siapa. Apakah ketiga syaikh-nya menyebutkan dengan matan yang sama yang mengandung lafaz Iraq atau hanya salah satu saja dari syaikh-nya yang menyebutkan lafaz Iraq. Jika kemungkinan yang kedua maka itu berarti Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis ketiga syaikh-nya dengan menyebutkan matan yang mengandung lafaz Iraq. Kemungkinan ini cukup beralasan mengingat Ibnu Syawdzab sendiri terbukti melakukan tadlis dari hadis ini. Jika semua syaikh-nya itu tsiqat tsabit maka tidak ada masalah dengan kemungkinan ini tetapi ternyata diantara syaikh-nya terdapat perawi yang banyak melakukan kesalahan dalam hadis yaitu Mathr Al Waraaq jadi terdapat kemungkinan kalau lafaz Iraq itu berasal dari kesalahan Mathr Al Waraaq. Mengapa dikatakan kesalahan karena telah disebutkan di awal pembahasan di atas kalau tempat yang dimaksud adalah Najd bukannya Iraq. Jadi kemungkinan kalau perawi disini melakukan kesalahan dengan menyebutkan lafaz Najd menjadi illat [cacat] hadis tersebut. Salafy itu mengatakan

Pertama, menyandarkan keterputusan Ibnu Syaudzab dengan Taubah hanya karena Ibnu Syaudzab juga meriwayatkan melalui perantaraan ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl; dari Taubah, bukan sebab yang kuat. Alasannya, telah ma’ruf bahwa salah satu guru/syaikh dari Ibnu Syaudzab adalah Taubah Al-‘Anbariy [lihat : Tahdziibul-Kamaal, 15/94]. Jadi bukan satu hal yang mustahil ia meriwayatkan dari Taubah, dan bersamaan dengan itu ia juga meriwayatkan melalui perantaraan orang lain. Semuanya dihukumi bersambung.

Alasan yang dikemukan salafy kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab patut diberikan catatan. Dalam Tahdzib Al Kamal juga disebutkan kalau salah satu Syaikh Ibnu Syawdzab adalah Hasan Al Bashri [Tahdzib Al Kamal 15/94] dan Abu Hatim mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak melihat Hasan dan tidak mendengar dari-nya [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/116 no 94]. Bagaimana mau dikatakan syaikh-nya kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar darinya?. Jadi mengatakan Taubah ma’ruf sebagai syaikh Ibnu Syawdzab berdasarkan penyebutan dalam Tahdzib Al Kamal bukan hujjah yang kuat. Sejauh yang kami tahu, tidak ada hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al ‘Anbari kecuali dari hadis ini dan di hadis ini ia terbukti melakukan tadlis.

Misalnya, Hafsh bin Ghiyaats meriwayatkan hadits puasa Syawal melalui jalan Sa’d bin Sa’iid bin Qais [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 6/123 no. 2345 dan Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912]. Namun, di lain kesempatan ia juga meiwayatkan melalui perantaraan Yahyaa bin Sa’iid bin Qais. Keduanya adalah riwayat bersambung. Hafsh bin Ghiyaats sendiri berkata : “Kemudian aku bertemu dengan Sa’d bin Sa’iid, lalu ia menceritakan kepadaku (hadits ini)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy 4/136 no. 3912].

Dalam contoh yang disebutkan salafy itu jelas-jelas Hafsh bin Ghiyaats mengatakan “kemudian aku bertemu Sa’d bin Sa’id lalu ia menceritakan kepadaku”. Kalau sudah seperti ini ya mana mungkin mau dikatakan tadlis berbeda dengan contoh yang ia sebutkan tidak ada pengakuan dari Ibnu Syawdzab kalau ia bertemu dengan Taubah atau tidak ada Ibnu Syawdzab menyebutkan dengan lafaz sima’ langsung dari Taubah. Riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah adalah riwayat ‘an anah dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah itu dengan lafaz sima’ langsung. Jadi dalam hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq, Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis. Kasus seperti ini termasuk salah satu cara ulama untuk menetapkan seseorang itu melakukan tadlis atau tidak.

Kedua, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasawiy di atas munqathi’; maka sejak kapan meriwayatkan hadits secara munqathi’ seperti ini langsung di-ta’yin melakukan tadlis ? Jelas beda antara irsal dan tadlis. Pensifatan tadlis itu hanya diterima jika ada perkataan para ulama yang menjelaskan bahwa ia orang yang melakukan tadlis.

Pernyataan salafy ini menunjukkan kalau ia memang susah sekali untuk memahami tulisan orang dengan baik. Sebelumnya kami mengatakan kalau Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Apa buktinya? Buktinya adalah terdapat riwayat kalau Ibnu Syawdzab mengambil hadis ini dengan perantaraan ketiga syaikh-nya dari Taubah. Kami pribadi tidak pernah memastikan bahwa Ibnu Syawdzab tidak mendengar satupun hadis dari Taubah atau Ibnu Syawdzab tidak pernah bertemu dengan Taubah. Illat [cacat] yang kami sebutkan adalah Ibnu Syawdzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah. Bisa saja dikatakan kalau Ibnu Syawdzab pernah bertemu dengan Taubah Al Anbari, tetapi ini adalah kemungkinan yang perlu dibuktikan walaupun kami sendiri tidak menafikan kemungkinan ini. Berbeda halnya dengan salafy yang dengan angkuhnya mengatakan kalau Taubah ma’ruf dikenal sebagai syaikh-nya Ibnu Syawdzab padahal kemungkinan irsal tetap ada. Oleh karena kemungkinan bertemu antara Ibnu Syawdzab dan Taubah itu masih ada maka kami menggunakan kata-kata tadlis bukan irsal. Sangat maklum kalau pengertian tadlis adalah seorang perawi semasa dan pernah bertemu dengan perawi lain tetapi ia meriwayatkan suatu hadis dari perawi lain tersebut [yang sebenarnya ia dengar melalui perantara] tetapi ia mengatakan seolah-olah ia mengambil hadis itu langsung dari perawi lain tersebut.

Yang lebih lucu bin ajaib adalah perkataan salafy kalau pensifatan tadlis hanya diterima jika ada ulama yang menjelaskan bahwa ia melakukan tadlis. Lha memangnya seorang ulama bisa tahu si perawi melakukan tadlis dengan cara apa, wangsit dari langit, asal tebak sesuai selera, atau sok berasa-rasa. Dalam ilmu hadis justru disebutkan kalau salah satu cara ulama mensifatkan tadlis kepada seorang perawi adalah dengan melihat hadis yang ia riwayatkan. Jika terdapat riwayat bahwa ia membawakan suatu hadis dengan ‘an anah dari seorang perawi [semasa dan pernah bertemu] dan disaat lain ia menyebutkan riwayat dengan sima’ langsung melalui perantara dari perawi tersebut maka orang ini dikatakan melakukan tadlis.

Kalau hanya sekedar meriwayatkan secara maushul di satu jalan dan mursal/munqathi’ di jalan yang lain, itu bukan tadlis namanya. Saya pingin tahu rujukannya di kitab ilmu hadits yang menjelaskan kaedah aneh ini. Jika ini diterapkan, maka jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath-Thabaqaat akan bertambah tebal dua kali lipat atau lebih.

Lha iya, saya juga pingin tahu rujukan mana yang mengatakan seperti yang salafy katakan itu. Seharusnya salafy itu memahami dulu tulisan orang lain dengan baik baru membantah. Jika kasus seperti Ibnu Syawdzab ini tidak dikatakan tadlis dengan alasan mungkin saja Ibnu Syawdzab juga mendengar hadis ini dari Taubah secara langsung maka kami katakan dengan cara seperti ini mungkin jumlah perawi mudallis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Ath Thabaqaat akan berkurang dua kali lipat atau lebih.  Kenapa? karena setiap perawi tidak bisa dituduh melakukan tadlis [kecuali ia sendiri yang mengaku] bisa saja dikatakan mungkin saja ia mendengar secara langsung. Kami perjelas kembali jika ada suatu hadis diriwayatkan oleh seorang perawi [kita sebut A] dengan dua kondisi

  • A meriwayatkan dengan ‘an anah dari B
  • A meriwayatkan dengan sima’ langsung dari C dari B

Maka si A dikatakan melakukan tadlis dalam riwayat ini. Jika mau dikatakan A juga mendengar langsung hadis ini dari si B maka harus dicari riwayat  yang memang menyebutkan riwayat A dari si B dengan lafal sima’ langsung sehingga dari sini baru kita dapat menyebutkan kalau A mengambil hadis ini secara langsung dari B dan C sehingga terangkatlah ia dari tuduhan melakukan tadlis dalam hadis tersebut.

Ketiga, taruhlah kita terima bahwa riwayat Al-Fasaawiy di atas munqathi’, justru riwayat Ibnu Syaudzaab yang secara shaarih berkata : “Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Qaasim, Mathr, dan Katsiir bin Sahl, dari Taubah Al-‘Anbariy” menunjukkan penyambungan riwayat munqathi’ tadi.

Lha iya, justru riwayat inilah yang langsung kita fokuskan untuk dibahas dan dikritik dengan menunjukkan illat [cacat] yang berupa kemungkinan kesalahan perawinya yaitu Mathar Al Warraq. Riwayat Al Fasawy langsung kita palingkan pada riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya.

Keempat, ‘Abdullah bin Al-Qaasim adalah seorang yang shaduuq. Mathr Al-Warraaq ini adalah shaduuq, namun banyak salahnya. Katsiir (bin Ziyaad) Abu Sahl ini adalah seorang yang tsiqah. Ketiganya meriwayatkan dari Taubah, dari Saalim, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’. Riwayat ketiganya saling menjadi saksi dengan yang lain, sehingga tidak ragu untuk mengatakan bahwa riwayat ini shahih.

Pernyataan ini kembali membuktikan ia tidak memahami atau tidak berniat mau memahami illat [cacat] yang kami sebutkan. Satu hal yang harus kami tekankan kembali disini, Ibnu Syawdzab menggabungkan ketiga sanad dari gurunya itu dalam satu sanad hadis bukannya membawakan sanad beserta matan hadis dari guru-gurunya secara terpisah. Pada pembahasan sebelumnya kami menunjukkan bahwa dalam penggabungan sanad seperti ini terdapat dua kemungkinan

  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
  • Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

Untuk kemungkinan pertama maka benarlah apa yang dikatakan oleh salafy itu bahwa ketiga syaikh-nya itu saling menjadi saksi dengan yang lain. Tetapi mengenai kemungkinan kedua maka itu tidak bisa, jika lafaz Iraq itu berasal dari Mathar Al Warraq maka sudah jelas dhaif.

Oleh karena itu, perkataan : Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal; tidak perlu dihiraukan.

Silakan saja, sejak kapan salafy itu menghiraukan argumen orang lain. Pada pembahasan sebelumnya kami telah menunjukkan kepada pembaca contoh penggabungan sanad seperti ini, kami tidak keberatan untuk menyebutkannya kembali.

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو علي الحسين بن علي الحافظ أنا أبو يعلى الموصلي ثنا واصل بن عبد الأعلى و عبد الله بن عمر ثنا محمد بن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول : يا أهل العراق و ما أسألكم للصغيرة و أركبكم للكبيرة سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا و أومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان و انتم يضرب بعضكم رقاب بعض و إنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطا فقال الله عز و جل قتلت نفسا فنجيناك من الغم و فتناك فتونا

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali Husain bin Ali Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Waashil bin ‘Abdul A’laa dan ‘Abdullah bin ‘Umar berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”. [Syu’aib Al Iman Baihaqi 4/346 no 5348].

Pada hadis riwayat Baihaqi ini disebutkan bahwa Abu Ya’la menggabungkan sanad kedua syaikh-nya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin ‘Abdul A’la dengan satu matan hadis. Padahal sebenarnya matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban berbeda dengan matan hadis Washil bin Abdul A’la. Hadis riwayat Baihaqi di atas yang mengandung lafaz “wahai penduduk irak” adalah matan hadis Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan matan hadis Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz “wahai penduduk irak”. Buktinya adalah apa yang tertera dalam Musnad Abu Ya’la

حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله  صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

حدثنا عبد الله بن عمر بن أبان حدثنا محمد فضيل عن أبيه قال : سمعت سالم بن عبد الله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغير وأترككم للكبير ! ! سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول : سمعت رسول الله ـ صلى الله عليه و سلم ـ يقول : الفتنة تجيء من ها هنا ـ وأومأ بيده نحو المشرق ـ وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى ـ صلى الله عليه و سلم ـ الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Umar bin Aban yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya yang berkata aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/420 no 5570 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

Perhatikanlah riwayat Baihaqi sebelumnya, Abu Ya’la menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari kedua syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin Abdul A’la kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut. Ini contoh nyata kalau seorang perawi bisa saja menggabungkan sanad para syaikhnya dan membawakan matan salah satu syaikhnya saja. Seandainya ini seandainya lho, Abdullah bin Umar bin Aban ini dhaif maka lafaz tersebut “wahai penduduk Irak…” adalah dhaif. Tidak bisa dikatakan kalau Washil bin ‘Abdul A’la menjadi saksi atas lafaz tersebut karena matan hadis Washil tidak memuat lafaz yang dimaksud.

Kembali ke riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya maka kami katakan tidak ada penjelasan dari Ibnu Syawdzab kalau lafaz tersebut milik syaikh-nya yang mana. Bisa saja memang dari ketiga syaikh-nya tetapi bisa saja dari salah satu syaikhnya. Poin kami disini kemungkinan dhaif itu ada apalagi Ibnu Syawdzab terbukti melakukan tadlis maka bisa saja disini lafaz matan itu milik Mathar Al Waraaq tetapi Ibnu Syawdzab menggabungkan sanadnya dengan syaikh-nya yang lain.

Anehnya, ada metode pilih-pilih perawi saat orang itu berkata : Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Mengapa harus Mathar bin Thahmaan ? Ya, karena ia adalah perawi yang paling mungkin untuk dijadikan alasan pendla’ifan. Padahal, sanad hadits itu satu, dimana Mathar ini diikuti (punya mutaba’ah) dari ‘Abdullah bin Al-Qaasim dan Katsiir bin Ziyaad Abu Sahl.

Lucu sekali salafy ini, kami telah panjang lebar menjelaskan dan jelas-jelas kami katakan disitu terdapat kemungkinan kalau lafaz tersebut berasal dari Mathar Al Warraq. Kami tidak berani memastikan tetapi kami menunjukkan kemungkinan ini apalagi telah kami kutip perkataan Abu Nu’aim

كذا رواه ضمرة عن ابن شوذب عن توبة  ورواه الوليد بن مزيد عن ابن شوذب عن مطر عن توبة

Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathar dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

Perhatikan baik-baik disini Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar padahal setelah itu ia menyebutkan hadis Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikh-nya. Mengapa Abu Nu’aim hanya menyebutkan Mathar dalam komentarnya di atas?. Mengapa Abu Nu’aim tidak menyebutkan Abdullah bin Qasim dan Katsir Abu Sahl?. Abu Nu’aim pilih-pilih perawi?. Bagi kami disini terdapat isyarat kalau matan tersebut adalah milik Mathar Al Warraq. Kemungkinan dhaif yang kami paparkan disini menjadi illat [cacat] karena hadis ini bertentangan dengan hadis shahih kalau tempat keluarnya fitnah tersebut adalah Najd. Jadi pada awalnya kami menganggap hadis Iraq matannya mungkar sehingga kemungkinan dhaif atau illat yang seperti itu sudah cukup menjadi alasan kalau hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah

 

.

.

.

Hadis Salim bin ‘Abdullah bin Umar

حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي ( واللفظ لابن أبان ) قالوا حدثنا ابن فضيل عن أبيه قال سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول يا أهل العراق ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الفتنة تجئ من ههنا وأومأ بيده نحو المشرق من حيث يطلع قرنا الشيطان وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ فقال الله عز و جل له { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا } [ 20 / طه / 40 ] قال أحمد بن عمر في روايته عن سالم لم يقل سمعت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

Hadis ini shahih dan menunjukkan kalau Salim bin ‘Abdullah bin Umar sedang mengingatkan penduduk Iraq atas sikap mereka. Perhatikan baik-baik perkataan Salim terhadap penduduk Iraq hanya berupa kata-kata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar” selebihnya ia menyebutkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah sampai akhir hadis. Jadi sangat wajar kalau kami katakan Salim sedang mengingatkan atas sikap penduduk Irak karena sikap mereka tersebut dapat menimbulkan fitnah.

Adapun perkataannya bahwa perkataan tabi’in tidak menjadi hujjah, maka ini bukan konteksnya. Konteks yang berlaku di sini adalah perkataan Saalim diterima dalam penafsiran hadits. Asal perkataan perawi terhadap hadits yang dibawakannya lebih didahulukan daripada selainnya. Ini yang ma’ruf.

Silakan saja, sebagai suatu penafsiran maka itu mengandung kemungkinan benar atau salah. Apalagi jika hadis yang dimaksud terkait dengan ramalan maka penafsiran Salim tidak bersifat mutlak. Kaidah perkataan perawi terhadap hadis yang dibawakannya lebih didahulukan jelas tidak relevan disini karena perkara yang ada dalam hadis Salim adalah Nubuwat atau ramalan, bisa jadi si perawi kurang memahami hadis tersebut karena dimasa ia hidup belum nampak nubuwatnya. Diketahui dari hadis shahih yang diriwayatkan oleh Salim sendiri bahwa arah timur yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah arah matahari terbit sedangkan Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Berdasarkan fakta yang ada sekarang Irak terletak di arah timur laut yang lebih dekat ke utara dari Madinah. Sejak kapan matahari terbit dari arah ini di madinah. Silakan bagi siapa yang berminat untuk pergi ke Madinah dan lihat dimana arah matahari terbit disana, kemudian teruslah berjalan menelusuri arah itu. Apakah akan sampai di Irak? silakan pembaca menjawabnya sendiri.

Lagipula terdapat hadis lain riwayat Nafi dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd dan ini sesuai dengan hadis Salim bahwa tempat tersebut terletak pada arah matahari terbit dari Madinah. Jadi bisa saja Salim tidak mengetahui dengan tepat arah yang dimaksud [karena keterbatasan ilmu alam saat itu] dan bisa saja Salim tidak mengetahui hadis Najd yang diriwayatkan oleh Nafi’. Yang ia tahu adalah hadis dengan lafaz timur sehingga ia menafsirkan timur disini bisa termasuk Irak. Oleh karena itu kami katakan perkataan tabiin tidak menjadi hujjah disini karena yang menjadi hujjah adalah hadis shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terakhir ada hadis pamungkas yang dijadikan hujjah oleh salafiyun bahwa timur yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا بن نمير ثنا حنظلة عن سالم بن عبد الله بن عمر عن بن عمر قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير بيده يؤم العراق ها ان الفتنة ههنا ها ان الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku [Ahmad bin Hanbal] yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Hanzalah dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar dari Ibnu Umar yang berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke Iraq [dan bersabda] “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, tiga kali dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/143 no 6302]

Hadis ini khata’ [salah] dan kesalahan ini kemungkinan berasal dari Ibnu Numair [atau bisa saja terjadi tashif]. Telah diriwayatkan dari Salim, Nafi dan Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar semuanya dengan lafaz timur dan telah diriwayatkan dari jama’ah tsiqat dari Salim hadis tersebut semuanya dengan lafaz “timur” bukan Iraq bahkan Hanzalah bin Abi Sufyan sendiri juga meriwayatkan dari Salim hadis dengan lafaz timur. Disebutkan dalam Shahih Muslim 4/2228 no 2905 dan Musnad Ahmad 2/40 no 4980 riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah bin Abi Sufyan dari Salim dari ayahnya secara marfu’ dengan lafaz timur

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسحاق بن سليمان سمعت حنظلة سمعت سالما يقول سمعت عبد الله بن عمر يقول رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق أو قال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير إلى المشرق يقول ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع الشيطان قرنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman yang berkata aku mendengar Hanzalah berkata aku mendengar Salim berkata aku mendengar Abdullah bin Umar berkata “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur atau [Ibnu Umar] berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan bersabda “ fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/40 no 4980]

Riwayat Ishaq bin Sulaiman Ar Razi dari Hanzalah ini sesuai dengan riwayat shahih yang lain dimana disebutkan dengan lafaz timur. Ishaq bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqat dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/81] sedangkan Abdullah bin Numair adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/542]. Jadi riwayat Ishaq bin Sulaiman dari Hanzalah lebih didahulukan daripada riwayat Ibnu Numair.

Selain itu bukti kalau hadis ini khata’ adalah pada hadis Muslim dimana Salim mengingatkan penduduk Iraq, Salim sendiri tidak mengutip hadis ini padahal hadis ini mengandung lafaz Iraq. Salim malah membawakan hadis dengan lafaz timur yang menunjukkan bahwa lafaz timur itulah yang tsabit sedangkan lafaz Iraq adalah kesalahan dari perawinya. Bukankah kalau mau mengingatkan penduduk Irak maka digunakan hadis yang memang menunjukkan kata Irak. Ada baiknya salafy itu melihat hadis berikut

حدثنا موسى بن إسماعيل حدثنا جويرية، عن نافع، عن عبد الله رضي الله عنه قال قام النبي صلى الله عليه وسلم خطيبا، فأشار نحو مسكن عائشة، فقال هنا الفتنة – ثلاثا – من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Juwairiah dari Nafi’ dari ‘Abdullah radiallahu’anhu yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menyampaikan khutbah kemudian Beliau berisyarat menunjuk tempat tinggal Aisyah dan berkata “disini fitnah” tiga kali dari arah munculnya tanduk setan [Shahih Bukhari no 2937]

Hadis dengan lafaz seperti ini anehnya ditolak oleh para salafiyun dengan alasan telah diriwayatkan oleh jama’ah dengan lafaz timur dan itulah yang tsabit. Pada hadis ini dikatakan kalau yang sebenarnya ditunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah arah timur. Kalau tempat tinggal Aisyah yang sangat dekat itu saja bisa terjadi salah persepsi maka apalagi hadis dengan lafaz Iraq. Karena telah ma’ruf bahwa Iraq itu terletak sangat jauh dari Madinah. Jadi jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan tangannya ke suatu arah maka yang dipersepsi oleh mereka yang melihat adalah arah seperti arah timur atau barat. Jika memang tempatnya dekat seperti rumah Aisyah ra, rumah Hafsah ra atau rumah salah satu sahabat ra maka mereka yang melihat dapat mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang menunjuk ke tempat tersebut. Tetapi jika tempat yang dimaksud adalah Iraq yang jauh sekali dari Madinah, bagaimana mungkin orang tahu kalau yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq padahal dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada disebutkan Iraq, disinilah keanehan lafaz tersebut. Sudah jelas bahwa hadis-hadis shahih dari Ibnu Umar [termasuk riwayat Salim] menyebutkan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya ke arah timur dan timur yang dimaksud disini adalah arah matahari terbit arah munculnya tanduk setan dan sekali lagi Irak tidak terletak pada arah matahari terbit dari Madinah.

Soal pernyataan salafy bahwa para ulama terdahulu menjelaskan kalau tempat yang dimaksud adalah Irak maka kami katakan terdapat juga ulama yang mengatakan kalau tempat yang ada pada hadis fitnah itu adalah tepat di timur Madinah termasuk Najd. Kami sebelumnya sudah mengutip pernyataan Ibnu Hibban dimana ia setelah mengutip hadis tanduk setan menyebutkan kalau timur yang dimaksud adalah timur madinah yaitu bahrain tempat keluarnya Musailamah yang pertama kali membuat bid’ah di dalam islam dengan mengaku sebagai Nabi [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648]

.

.

.

Kesimpulan

Kesimpulannya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq tidaklah shahih baik dari segi matan maupun sanad, sebagiannya dhaif dan sebagian mengandung illat. Seandainya kita menutup mata terhadap illat [cacat] tersebut, itu tetap saja tidak mendukung hujjah salafy. Karena itu berarti ada dua hadis yang menunjukkan tempat munculnya fitnah yaitu Najd dan Irak. Jika kedua hadis tersebut diterima maka ada dua tempat dimana munculnya fitnah yang dimaksud oleh hadis tersebut yaitu Najd dan Irak. Sedangkan logika salafy kalau Najd adalah Irak sudah jelas fallacy. Adakah salafy memahami hal ini? Tidak tidak dan tidak, sejak kapan salafy bisa memahami logika berpikir yang baik. Kebanyakan mereka hanya sibuk membaca kitab dan sibuk membantah disana-sini tapi cara berpikir benar tidak dipelajari dengan baik. Akibatnya sangat susah berdialog dengan mereka yang ngaku-ngaku salafy, sudah ditunjukkan kalau mereka fallacy ya tetap tidak paham dan berulang-ulang mereka membantah kembali hal yang sama. Salam Damai

82 Tanggapan

  1. pertamax….
    benarlah perkataan
    Imam Ali bin Abi Thalib AS :
    اثبات الحجّة على الجاهل سهل، ولكن اقرا ره بها صعب“

    membuktikan kebenaran kpd orang bodoh itu mudah, ttp membuatnya menerima kebenaran tsb itu yang susah

    karena sdh bebal kali yah atau,,,karena akal/nalarnya tdk pernah dipakai utk menganalisa kecuali cuma copas atau telen bulat2 ajeh…

    tapi jgn kecewa, karena banyak org yg masih menggunakan akal sehatnya…..ustad…teruslah berkarya..

  2. Salam

    saya kutip

    “Kebanyakan mereka hanya sibuk membaca kitab dan sibuk membantah disana-sini tapi cara berpikir benar tidak dipelajari dengan baik. Akibatnya sangat susah berdialog dengan mereka yang ngaku-ngaku salafy, sudah ditunjukkan kalau mereka fallacy ya tetap tidak paham dan berulang-ulang mereka membantah kembali hal yang sama. ”

    @SP, kalau mereka bisa faham dan bisa berfikir benar, mereka bukan Salafy lagi namanya,………………..

  3. Syukron ustad tulisannya mantap dan mencerahkan..!
    bagaimanapun kejelasan argumentasi antum maka jangan harap salafy akan menerima bahwa yang dimaksud oleh Rasul saw dalam hadis tsbt adalah Nejed…

    karena di nejed lah munculnya wahabi dan bin Abdulwahab si pembuat fitnah dikalangan umat Islam..

    Alhamdulillah atas nikmatnya akal!

  4. Mission Impossible..!!
    Sebagaimana Impossiblenya merubah keyakinan Umat Nasrani bahwa Nabi Isa (baca:Yesus) hanyalah seorang Rasul sebagaimana Rasul2 lainnya.

    Salam damai.

  5. “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”.”

    bang sp btw itu yang bertanya sahabat dari Iraq kah ? atau dari Arab kah ?

  6. Wahai saudaraku SP yang kucintai, semoga rahmat dan ridha AllaaH selalu tercurah untukmu.

    Teruslah berjuang untuk selalu sampaikan kebenaran.

  7. Aslkm…

    Sebagai bahan perbandingan artikel tsb diatas, coba kunjungi situs ini :

    http://ummatiummati.wordpress.com/2010/07/07/kebenaran-najd-riyadh-sebagai-tempat-keluarnya-tanduk-syaitan/#comment-1299

    Wslkm…

  8. salam mas SP…
    mas masukan dikit ah …
    sisi bahasa saja, kalo studi kritis sebuah tulisan, sebaiknya gunakan bahasa yang spesifik agar lebih terlihat sisi kritisnya, jika itu dimuat disitus, dicantumkan situsnya, misalkan jika mas SP sedang bantah tulisan seseorang, maka sebaiknya sebut saja nama buku, atau pengarangnya, jadi akan jauh lebih bs diterima dan tidak terkesan mas SP memang telah menaruh kebencian dengan yang mas sebut salafy secara massal…apalagi kita tau sama tau..salaf secara bahasa itu bermakna apa, … ya kecuali mas SP secara pribadi memang telah mempunyai kebencian luarbiasa kepada yang mas sebut salafy itu, sehingga bener2 sangat anti sekalipun kepada sisi etimologi yang bahkan nama tersebut adalah nama sebuah golongan ath-thoifah al manshuroh al firqotun najiyah, maka saran ini g akan bermanfaat, saya hanya terkesan dengan istilah analisa pencari kebenaran, tentunya istilah menuntut untuk sebuah penyesuaian ya mas…terima kasih, semoga mas bs terima saran saya…sekedar saran….

  9. @abahnajibril

    sisi bahasa saja, kalo studi kritis sebuah tulisan, sebaiknya gunakan bahasa yang spesifik agar lebih terlihat sisi kritisnya, jika itu dimuat disitus, dicantumkan situsnya, misalkan jika mas SP sedang bantah tulisan seseorang, maka sebaiknya sebut saja nama buku, atau pengarangnya, jadi akan jauh lebih bs diterima dan tidak terkesan mas SP memang telah menaruh kebencian dengan yang mas sebut salafy secara massal…

    Terkadang saya menyebutkan situs yang dimaksud tetapi terkadang juga tidak. Dalam tulisan di atas secara umum saya tujukan kepada para pengikut salafy yang membahas hadis tentang Najd dan menyatakan kalau Najd adalah Iraq. Secara khusus tulisan di atas adalah bantahan terhadap saudara Abul-Jauzaa🙂

    apalagi kita tau sama tau..salaf secara bahasa itu bermakna apa, … ya kecuali mas SP secara pribadi memang telah mempunyai kebencian luarbiasa kepada yang mas sebut salafy itu, sehingga bener2 sangat anti sekalipun kepada sisi etimologi yang bahkan nama tersebut adalah nama sebuah golongan ath-thoifah al manshuroh al firqotun najiyah, maka saran ini g akan bermanfaat,

    Tentu saja saya tidak akan main pukul rata seperti itu. Jika saya menulis “salafy” maka perhatikanlah kata itu ia terikat dengan sifat apa?.kalau dalam tulisan di atas maka salafy yang tertuju secara umum adalah salafy yang menyatakan Najd adalah Iraq. Dan satu lagi ketika saya mengatakan salafy maka itu tertuju kepada orang-orang yang memang mengaku salafy atau mengaku ulama salafy. Walaupun begitu saya mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan penyebutan ini.

    saya hanya terkesan dengan istilah analisa pencari kebenaran, tentunya istilah menuntut untuk sebuah penyesuaian ya mas…terima kasih, semoga mas bs terima saran saya…sekedar saran….

    Istilah itu bukan sebuah klaim tetapi sebuah dorongan bagi saya agar senantiasa belajar dan mengkaji. Terimakasih untuk sarannya🙂

  10. salam saudara, saya farhan dari malaysia. Saya mat lemah dalam memahami metod hadis Syiah dan ilmu rijalnya. bolehkah saudara membantu saya menanggapi artikel ini?

    http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/5

  11. @Ibnu Azmi:

    Yg pertama dan terpenting adalah saudara jangan sekali-kali mempelajari atau menilai metode hadis Syiah dg kacamata Sunni. Pasti engga akan ketemu.

    Saudara akan sangat sulit memahami metode hadis dan ilmu rijal Syiah apabila anda belum memahami perbedaan yg mendasar antara prinsip2 akidah Syiah dan Sunni terutama dlm hal Imamah. Dlm hal ini Sunni dan Syiah punya cara pandang yg berlainan. Dan hal ini terbawa pula dlm metode hadis. Umpamanya Sunni menganggap semua sahabat adil shg metode Jarh wa ta’dil tidak boleh dikenakan kpd para sahabat yg nota bene ada sebagian sahabat yg perkataan dan perbuatannya ada yg bertentangan dg hadis yg lebih sahih dan Al-Quran shg tidak aneh kalau ada hadis rwayat Bukhori yg sahih tapi amat memojokkan Nabi spt diungkap baik oleh mas Secondprince atau Jakfari.

    Begitu pula dlm hal kesinambungan kepemimpinan ilahiyah, Sunni dan Syiah berbeda pendapat shg bagi Sunni, hadis hanya berasal dari Nabi. Sementara Syiah berdasarkan kesinambungan antara Nubuwwah dan Imamah sampai Hari Kiamat menganggap hadis tidak hanya dari Nabi tapi juga dari para imam maksum.

    Dlm hal metode hadis dan rijal hadis sering orang Sunni mengatakan bahkan membanggakan bhw metode hadis Sunni lebih “canggih” dibanding yg dipunyai Syiah.

    Persoalannya bukan canggih atau sederhana dan mapan atau tdk mapan tapi menurut saya adalah sbg akibat adanya perbedaan yg sangat mendasar dlm masalah spt saya sebutkan diatas.

    Di pihak Sunni akibat pemahaman yg mengatakan bhw hadis tidak boleh dicatat/dibukukan sampai abad ke 2 atau 3 dan karena sangat jauhnya jarak mata rantai antara Nabi / sahabat sampai dg masa para pengumpul hadis, maka timbulah kesulitan2 dlm memisahkan antara hadis2 sahih dan palsu. Itulah sebabnya Sunni sangat membutuhkan suatu metode hadis yg tidak sederhana.

    Sementara Syiah relatif tdk mengalami kesulitan spt Sunni karena jaminan adanya kesinambungan dari Nubuwwah – Imamah sampai Hari Kiamat yg berarti adanya kesinambungan sunnah Rasul/hadis sejak dari Nabi Muhammad saw secara estafet melalui para imam zaman sampai dg imam terakhir shg mata rantai sanad relatif lebih pendek dibanding Sunni.

    Ada lagi satu hal yg membedakan Sunni dan Syiah dlm menilai kesahihan suatu hadis. Sunni menganggap suatu hadis sahih apabila telah memenuhi kriteria2 yg ditetapkan dlm ilmu musthalah hadis sekalipun tidak sesuai dg hadis2 yg lebih sahih dan Al-Quran. Sementara Syiah berpendapat bhw suatu hadis dianggap sahih apabila tidak bertentangan dg hadis yg lebih sahih dan Al-Quran.

    Apa yg saya sampaikan diatas hanya berupa pandangan yg masih global yg barangkali ada kekurangan dan bahkan kekeliruan. Mudah2an bisa membantu sdr Ibnu Azmi.

  12. terima kasih, semoga Allah membantu dalam perjuangan saudara. salam alaikum

  13. “Artinya: Dajjal akan diikuti oleh orang-orang Yahudi Ashfahan sebanyak tujuh puluh ribu orang yang mengenakan jubah tiada berjahit. ” [Shahih Muslim. Kitabul Fitan wa Asyrotis Sa’ah, Bab Fi Baqiyyah Min Ahaadiitsid Dajjal hadits No. 2944]

    Asfahan juga berbeda dengan irak, tapi hampir deket siih.. 😀

    (jangan di terima, logika nyeleneh ini)
    Mungkin dajjal jalan2 dulu dari najd ke irak kemudian mampir ke isfahan (iran), menjemput anak buahnya…(jangan di terima, logika nyeleneh ini)

  14. saya masih percaya najd itu Irak looh..
    (gapapa kann…)

  15. @baba
    Kayaknya anda memang harus “percaya” Najd itu Iraq, kalau tidak khan keyakinan anda bisa hancur lebur dan mulai dari nol lagi…🙂
    Saya rasa Salafy tidak punya pilihan kecuali mempertahankan sampai titik darah penghabisan bahwa Najd itu Iraq (sangat make sense untuk ngotot, walaupun salah).
    Jadi anda juga jangan berharap ulama2 dari kelompok anda (yang akan dirugikan dengan pemahaman bahwa Najd itu ada di Saudi) akan mengakui bahwa Najd itu adalah kota kelahiran ulama2 Wahaby.

    Kesimpulannya, diskusi tidak akan kemana2..😀
    Cukup mas SP memberi info dan argumen2 validnya, selanjutnya kita masing2 memilih.
    Keyakinan tentang bumi datar saja bagi sebagian orang tetap dipertahankan, apalagi hanya masalah lokasi Najd.

    Salam damai.

  16. Seperti yang kita pelajari dari SD, bumi berotasi pada sumbu yang tidak tegak lurus dengan bidang edar revolusi bumi.

    Akibatnya, kalau dilihat dari bumi, maka posisi matahari selalu berubah-ubah setiap tahun, agak ke utara (sampai garis lintang utara 23,5 derajat), kemudian agak ke selatan (sampai garis lintang selatan 23,5 derajat) dan kembali ke utara demikian seterusnya dengan teratur. Ketika matahari berada di utara, maka belahan bumi utara akan mengalami musim panas dan siangnya lebih panjang daripada malamnya, sedangkan belahan bumi selatan akan mengalami musim dingin dan siangnya lebih pendek. Begitu pula sebaliknya.

    Matahari akan berada di titik paling utara (23,45 derajat LU) pada tanggal 22 Juni setiap tahunnya, dan berada di titik paling selatan (23,45 derajat LS) pada tanggal 22 Desember, sedangkan matahari akan berada di khatulistiwa pada setiap tanggal 23 September dan 21 Maret.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa matahari terbit itu tidaklah selalu lurus tepat dr sebelah timur, tetapi kadang agak ke sebelah selatan (tenggara) dan kadang agak ke sebelah utara (timur laut). Maka logika yang dibangun oleh penulis di atas bahwa matahari terbit pasti tepat dari sebelah timur adalah keliru dan tidak sesuai dengan ilmu dan kenyataan yang ada.

  17. Ooo gitu ya…

    Saya pun juga kepikiran, yang namanya tanduk kan lazimnya ada dua, dan biasanya kan tanduk letaknya di sebelah kiri dan kanan dari kepala makhluk, malah justru yang tengah itu ga ada tanduknya.

    Anggap Najd itu membentang di sebelah timur madinah dari dari Iraq sampai mendekati Oman, maka justru yang tengah-tengah itu kan bukan tanduk, tanduk itu sebelah utara yaitu sekitar Iraq atau sebelah selatan.

    Hehehehe selamat berpusing ria…

  18. bumi berotasi? revolusi? tapi, bukankah bumi itu datar? bukankah mataharilah yg brputar mengelilingi bumi?

  19. Matahari akan berada di titik paling utara (23,45 derajat LU) pada tanggal 22 Juni setiap tahunnya, dan berada di titik paling selatan (23,45 derajat LS) pada tanggal 22 Desember, sedangkan matahari akan berada di khatulistiwa pada setiap tanggal 23 September dan 21 Maret.

    titik paling utara pergerakan matahari 23,45 derajat LU dari Madinah juga tidak mengarah ke Iraq, di arah itu masih termasuk daerah Najd. Kalau Iraq lebih tepatnya diantara timur laut dan utara Madinah diatas 45 derajat LU kali:mrgreen:

  20. @sok tahu banget
    Maaf saran saya kalau mau membantah jangan tanggung-tanggung dan langsung fokus ke bagian yang mau dibantah. Soal pergerakan matahari itu memang benar, ada kalanya tempat matahari terbit itu tidak persis di satu tempat yang sama tetapi juga gak sembarangan. Arah matahari terbit adalah di timur diantara 23,45 derajat ke utara dan 23,45 derajat ke selatan. Antara Najd dan Iraq hanya Najd yang terletak pada arah tersebut. Jadi tidak ada yang anda bantah disini.

    Yang harusnya anda bantah karena sangat jelas fallacy-nya adalah tulisan alfanarku soal arah timur. Jelas-jelas dalam hadis dajjal tersebut yang dimaksud arah timur tempat munculnya dajjal adalah Khurasan. Perlu diketahui khurasan di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencakup daerah yang luas [bukan hanya iran tetapi juga mencakup afghanistan dan sekitarnya] dan keseluruhan daerah itu memang terletak di arah timur dari Madinah [walaupun tidak tepat di timur tetapi lebih dekat ke arah timur] bukannya seperti logika alfanarku kalau khurasan itu adalah nama tempat yang bernama khurasan sekarang. Yang jauh lebih fallacy adalah mengkait-kaitkan arah timur dengan jalan antara Irak dan Syam, lha memangnya timur yang dimaksud dalam hadis dajjal adalah jalan antara Irak dan Syam, itu kan sangat fallacy🙂

  21. @truthseeker

    jelas2 hadits yg saya bawa itu ISFAHAN lho, ya terserah ente kalau menurut ente keyakinan saya mulai dari nol lagi.

    masak dajjal mau muter2 dari najd lalu ke irak kemudian ke isfahan (iran) lalu balik lagi ke madinah, khan lucu banget… 😀 Kurang kerjaan kalii die..

  22. أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مكتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا وبارك لنا في صاعنا ومدنا، فقال رجل: يا رسول الله! وفي عراقنا، فأعرض عنه فقال: فيها الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان.

    Maksudnya: Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Madinah kami, berkatilah negeri Makkah kami, berkatilah negeri Syam kami, berkatilah negeri Yaman kami dan berkatilah (sukatan) gantang dan cupak kami”.

    Tiba-tiba seorang lelaki mencelah: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri IRAK kami. Lalu Baginda berpaling darinya seraya bersabda: “Padanya (berlaku) gempa bumi, fitnah dan tempat terbit tanduk syaitan.”

    (Abu Nu’aim Al-Asbahani, Ahmad Ibn Abd Allah, Hilyah Al-Auliya’, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Beirut, Lubnan, 1405H, 6: 133 dan Ibn ‘Asakir, ‘Ali Ibn Al-Hasan Ash-Shafi’ie, Tarikh Madinah Dimashq, Dar Al-Fikr, Beirut, Lubnan, 1995, 1: 130. Matan (lafaz) ini juga diriwayatkan oleh Ya’kub Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah, Al-Mukhallis dalam Al-Fawaid Al-Muntaqah dan Al-Jurjani dalam Al-Fawaid, Lihat: Al-Albani, Muhammad Nasir Ad-Din, Silsilah Al-Ahadith As-Sahihah, Maktabah Al-Maarif, Riyadh, Arab Saudi, 1996, 5: 271-302.)

  23. Dari Khurasan akan keluar beberapa bendera hitam, tak sesuatupun bisa menahannya sampai akhirnya bendera-bendera itu ditegakkan di Iliya (Baitul Maqdis).

    So dari khurasan juga muncul antidajjal

  24. @baba
    baba, di/pada Oktober 29, 2010 pada 4:59 pm Dikatakan: r

    saya masih percaya najd itu Irak looh..
    (gapapa kann…)
    komentar anda yang ini yang saya tanggapi.
    Saya tidak menanggapi hadits anda tentang dajjal, bagi saya itu masalah lain.
    Kita bicara Najd kenapa sekarang bicara Ishafan?..😀

    Salam damai

  25. @baba
    Ini saya kutip beberapa hal yang inkonsisten dengan keyakinan a andanda. Karena anda “lebih paham” saya minta komentar:
    1. Seterusnya Pada tahun 1343 H / 1925 M pemimpin Mekah Syarif Hussein bin Ali
    dapat dikalahkan. Pada tahun 1345 H / 1927 M Pemerintah Inggris mengakui
    Kerajaan Saudi. Dari sejak tahun 1345 H / 1927 M gelar Ibnu Saud dirobah
    dari Sultan Najd menjadi Raja Hijaz dan Najd.

    2. Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb, yang memiliki nama lengkap Muhammad bin ʿAbd al-Wahhāb bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi.

    3. Bagaimana tanggapan anda tentang biografi Syaikh Muhammad Abd Wahab yang menyatakan bahwa beliau dilahirkan di Najd, apakah artinya beliau dilahirkan di Iraq?

    4. Jika najd adalah Iraq, mengapa teks ahditsnya tidak menyebutkan Iraq?

    Semoga dijawab.

    Salam damai.

  26. @truthseeker
    saya juga masih awam, mungkin jawaban lengkapnya ada di sini :

    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=5763#5763

  27. saya copy dari tulisan di link tsb:

    Maksud “Najd” Berdasarkan Bandingan Dengan Riwayat-Riwayat Lain.

    Selain daripada riwayat Al-Bukhari di atas, hadith ini juga telah diriwayatkan dalam beberapa kitab sumber hadith yang lain dengan matan seperti berikut:

    أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مكتنا وبارك لنا في شامنا وبارك لنا في يمننا وبارك لنا في صاعنا ومدنا، فقال رجل: يا رسول الله! وفي عراقنا، فأعرض عنه فقال: فيها الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان.

    Maksudnya: Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Madinah kami, berkatilah negeri Makkah kami, berkatilah negeri Syam kami, berkatilah negeri Yaman kami dan berkatilah (sukatan) gantang dan cupak kami”.

    Tiba-tiba seorang lelaki mencelah: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Iraq kami. Lalu Baginda berpaling darinya seraya bersabda: “Padanya (berlaku) gempa bumi, fitnah dan tempat terbit tanduk syaitan”

    (Abu Nu’aim Al-Asbahani, Ahmad Ibn Abd Allah, Hilyah Al-Auliya’, Dar Al-Kitab Al-Arabi, Beirut, Lubnan, 1405H, 6: 133 dan Ibn ‘Asakir, ‘Ali Ibn Al-Hasan Ash-Shafi’ie, Tarikh Madinah Dimashq, Dar Al-Fikr, Beirut, Lubnan, 1995, 1: 130. Matan (lafaz) ini juga diriwayatkan oleh Ya’kub Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah, Al-Mukhallis dalam Al-Fawaid Al-Muntaqah dan Al-Jurjani dalam Al-Fawaid, Lihat: Al-Albani, Muhammad Nasir Ad-Din, Silsilah Al-Ahadith As-Sahihah, Maktabah Al-Maarif, Riyadh, Arab Saudi, 1996, 5: 271-302.)

  28. sepertiny artikel ini sdh di sanggah oleh al akh abul jauzaa di komen artikel yg antum bantah.

  29. Para Ulama pada masa lalu cukup dibingungkan oleh kedua hadits yang seolah2 bertentangan tsb. Terlebih lagi mereka melihat kenyataan pada saat itu fitnah besar terjadi di Iraq (pembantaian keluarga Rasulullah di Karbala/Iraq), dan mereka tidak melihat ada hal2 khusus di Najd (Arab Saudi) sendiri, hingga munculnya paham Wahaby yang membawa fitnah dan pembunuhan besar2an umat Islam.

    Ada cara pandang berbeda terhadap hadits ini, yaitu bahwa bisa saja keduanya juga benar bahwa fitnah akan muncul dari Najd dan Iraq (bukankah tanduk itu bisa 2 buah.. :D).
    Dengan pemahaman seperti ini maka tidak ada masalah. Karena sejarah membuktikan keduanya memang sebagai tempat munculnya fitnah. yaitu:
    Di Karbala: Umat islam dihasut untuk membunuh keluarga Rasulullah.
    Dari Najd muncul paham yang mensesatkan (fitnah) selain mereka (dan membunuh mereka yang berbeda dengan mereka).

    @baba
    Jangan dicampurkan adukkan isu Dajjal dengan tanduk setan di hadits ini. Sementara ini harus kita bedakan sebelum anda membuktikan bahwa hadits pada artikel ini berbicara ttg Dajjal (tumben SP menanggapi comment baba yg gak nyambung ini..😛. Ataukah SP juga menganggap bhw tanduk setan disini adalah Dajjal?? ).
    Jadi bicara Ishafan dilain topik saja ya baba..🙂

    Salam damai

  30. @third prince
    maaf bagian mana yang dibantah, silakan tuh ditunjukkan. Bantah membantah semua orang bisa, yang dilihat ya argumen bantahannya. Secara umum bisa dibilang tanggapan saudara abul-jauzaa gak ada satupun yang membantah kesimpulan saya. Secara pribadi saya telah menjelaskan panjang lebar mengapa saya mentarjih riwayat antara najd dan Irak. Hal itu disebabkan Najd dan Irak yang dipahami secara zahir dari teks tersebut adalah dua negri yang berbeda dan berbagai hadis fitnah lain menyebutkan kalau tempat yang dimaksud adalah arah matahari terbit dari madinah. Antara Najd dan Irak hanya Najd yang terletak pada arah matahari terbit dari Madinah sedangkan Irak tidak terletak pada arah ini.

    Seandainya pun saya harus menuruti salafy yang mau menjamak hadis Najd dan Irak maka saya tidak akan menerapkan logika rusak mereka yang mengatakan Najd adalah Irak. Jika menerapkan metode Jamak maka kesimpulan yang benar adalah Najd dan Irak merupakan kedua tempat munculnya fitnah. Jadi baik metode tarjih ataupun jamak semuanya tetap menguatkan hujjah saya kalau Najd bukan Irak. Tidak ada alasan menyatakan Najd adalah Irak karena keduanya nama dua nergri yang berbeda. Perhatikan baik-baik hadis tersebut penyebutan “Najd kami” setelah disebutkan nama negri “Syam kami” dan “Yaman kami” menandakan kalau Najd tersebut adalah nama negri yang ada saat itu bukannya diartikan sebagai “dataran tinggi” yang selalu diulang-ulang oleh salafy.

    Secara historis Najd memang tempat munculnya fitnah karena dari sana muncul Musailamah yang mengaku sebagai Nabi palsu. Jadi tidak ada alasan menafikan hadis Najd atau mendistorsi dengan mengartikan Najd tersebut adalah Irak. Silakan anda lihat kembali dan tunjukkan kepada saya bagian mana yang dibantah oleh saudara Abul-Jauzaa🙂
    Salam damai

  31. @truthseeker

    (tumben SP menanggapi comment baba yg gak nyambung ini..😛 . Ataukah SP juga menganggap bhw tanduk setan disini adalah Dajjal?? ).

    Ehem kayaknya saya bukan menanggapi saudara baba. Yang saya tanggapi adalah saudara “sok tahu banget” dan kalau tidak salah dia pernah menampilkan link tulisan alfanarku tentang Dajjal. Saya cuma menyebutkan fallacy-nya alfanarku dalam tulisan tersebut🙂

  32. hehehe..berarti saya yang sedang berangan2 sp menanggapi tulisan saudara baba..🙂

  33. silahkan anda membahas kembali bantahan al akh abul jauzaa di posting antum yg lain atau di kolom komentar postingan ini…terserah antum.

    sy lihat sanggahan al akh abul jauzaa logis.

  34. *palembang mode on*
    dem woi mending eFBe-an daripado mantah wong dak jelas cak itu:mrgreen:

    kukiro sudah telantar blog ini karno penulisnya ngebet fesbuk… caknyo keracunan fesbuk kaw
    *palembang mode of*

    cih dulu haram mau fesbukan sekarang tiada hari tanpa fesbuk..jika dirimu sudah tergoda maka lihatlah tatapanku yang menghina😆

  35. :))
    Dede memang selalu mantap..:mrgreen:

    Apa kabar Dede?

  36. @thirdprince
    silakan saja kalau menurut anda logis. Saya pribadi telah menjelaskan posisi saya disini dan hujjah yang saya pakai. Bantahan saudara abul-jauzaa tidak sedikitpun merusak hujjah saya seperti yang sudah saya jelaskan pada komentar sebelumnya🙂

    @dede
    waduh kirain bahasa seperti itu hanya muncul di fesbuk:mrgreen:

    @truthseeker08
    halah apaan ituh🙂

  37. @secondprince

    bagian tulisan abul jauzaa yg saya rasa membantah anda adalah :

    ——————————————————–
    Telah saya sebutkan dalam peristilahan dalam Lisaanul-‘Arab bahwa yang dinamakan Najd itu semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd. Dan itulah kata yang dikenal dalam lisan orang Arab. Katanya, definisi ini tidak masalah baginya. Lalu ia sok menjelaskan definisi etimologi dan terminologi. Namun pada intinya, definisi terminologi yang ia bangun adalah yang sesuai dengan kehendaknya.

    Jika perkataan Saalim sebagai periwayat hadits yang menjelaskan makna hadits saja ditolak karena bertentangan dengan pikirannya, lantas siapa yang diacu dalam definisi terminologi dalam hal ini ? Dirinya ?

    Oleh karena itu, jangan heran jika hadits Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422 yang sanadnya jayyid dan Musnad Ahmad 2/143 yang sanadnya shahih ia hukumi bertentangan karena tidak sesuai dengan keinginannya. Ia tidak punya jalan lain kecuali menghukumi bertentangan.
    ——————————————————————-

    ———————————————————
    Ketika ‘Iraaq dan Najd dibawakan dalm satu lafadh, maka ia menuntut adanya pembedaan. Dan memang benar adanya di jaman Nabi daerah yang bernama Najd.

    Namun ketika satu lafadh dikatakan Najd dalam satu lafadh, di lafadh lain digantikan dengan ‘Iraaq, maka kita mengkajinya berdasarkan ilmu ushul (hadits dan fiqh) dan bahasa Arab. Apakah ia bertentangan atau tidak ? Jawabnya tidak bertentangan sebagaimana telah lalu uraiannya.
    ——————————————————–

  38. @fourthprince

    Telah saya sebutkan dalam peristilahan dalam Lisaanul-‘Arab bahwa yang dinamakan Najd itu semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd. Dan itulah kata yang dikenal dalam lisan orang Arab. Katanya, definisi ini tidak masalah baginya. Lalu ia sok menjelaskan definisi etimologi dan terminologi. Namun pada intinya, definisi terminologi yang ia bangun adalah yang sesuai dengan kehendaknya.

    Maaf dimana letak bantahannya. walaupun saya harus menuruti perkataan Ibnu Manzhur dalam Lisan Al Arab maka itu berarti Najd [nama negri] di sebelah timur madinah juga termasuk toh. Jadi masih klop dengan kesimpulan saya kalau Najd dan Irak adalah nama dua negri yang berbeda dan keduanya menjadi tempat munculnya fitnah. Kenapa salafy itu hanya berfokus pada irak semata. Gak perlu jauh-jauh pakai lisan al arab jelas melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang dimaksud Najd itu nama negri yang beda dengan Irak. Zahir teks membuktikan demikian, kalau ada kata “Syam kami” dan “yaman kami” terus ada kata “Najd kami” maka Syam, Yaman dan Najd disini adalah nama suatu negri. nah di zaman Nabi memang ada negri yang bernama Najd yaitu tempat munculnya Musailamah sang nabi palsu.

    Jika perkataan Saalim sebagai periwayat hadits yang menjelaskan makna hadits saja ditolak karena bertentangan dengan pikirannya, lantas siapa yang diacu dalam definisi terminologi dalam hal ini ? Dirinya ?

    Ini ulah orang yang gak ngerti tulisan orang lain. Jelas-jelas saya tuliskan disitu yang menjadi hujjah adalah hadis shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa timur yang dimaksud adalah arah matahri terbit dari Madinah. Antara Najd dan Irak cuma Najd yang terletak pada arah matahari terbit dari madinah. Kalau gak percaya silakan pergi ke madinah dan lihat arah matahari terbit disana kemudian telusuri saja arah itu dijamin anda gak sampai ke Irak tapi sampai ke Najd.

    Oleh karena itu, jangan heran jika hadits Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422 yang sanadnya jayyid dan Musnad Ahmad 2/143 yang sanadnya shahih ia hukumi bertentangan karena tidak sesuai dengan keinginannya. Ia tidak punya jalan lain kecuali menghukumi bertentangan.

    Sudah berlalu penjelasan panjang lebar soal ini. Jika ia tidak sepakat ya apa mau dikata🙂

    Ketika ‘Iraaq dan Najd dibawakan dalm satu lafadh, maka ia menuntut adanya pembedaan. Dan memang benar adanya di jaman Nabi daerah yang bernama Najd.

    Namun ketika satu lafadh dikatakan Najd dalam satu lafadh, di lafadh lain digantikan dengan ‘Iraaq, maka kita mengkajinya berdasarkan ilmu ushul (hadits dan fiqh) dan bahasa Arab. Apakah ia bertentangan atau tidak ? Jawabnya tidak bertentangan sebagaimana telah lalu uraiannya.

    Jangan mengatasnamakan ilmu ushul kalau gak paham. kata “Najd kami” yang bersamaan dengan “Syam kami” dan “Yaman kami” menunjuukkan kalau Najd disana adalah nama negri yang memang masyhur saat itu makanya para sahabat menyebut “Najd kami”. Lagipula kalaupun mau menggabungkan kedua hadis Najd dan Irak maka kesimpulan yang benar adalah Najd dan Irak adalah kedua negri tempat munculnya fitnah. Bukannya kesimpulan ngawur Najd adalah Irak.

  39. @secondprince

    [quote]Gak perlu jauh-jauh pakai lisan al arab jelas melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang dimaksud Najd itu nama negri yang beda dengan Irak.[/quote]

    oleh karena Rasulullah pun adalah orang Arab, maka tidak salah juga jika kita memahami makna najd sesuai dengan lisan dan pemahaman orang ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut anda)..

    sehingga metode jama’ yg dihasilkan akan lebih pas & tidak ta’arudl pada matannya.. hadits itu saling menasirkan satu sama lain. karenanya akan lebih pas jika diartikan najd adalah iraq..

    memang benar pernah ada fitnah musailamah disana, namun sejarah itu telah berlalu. Berbeda dgn iraq yg didalamnya terjadi fitnah terkait aqidah & i’tiqad yg terus ada hingga kini semisal firqah sesat Syi’ah Raafidlah, Khawarij/Haruriyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan yang lainnya dari daerah ‘Iraaq.

  40. kutip :
    Ini ulah orang yang gak ngerti tulisan orang lain. Jelas-jelas saya tuliskan disitu yang menjadi hujjah adalah hadis shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa timur yang dimaksud adalah arah matahri terbit dari Madinah. Antara Najd dan Irak cuma Najd yang terletak pada arah matahari terbit dari madinah. Kalau gak percaya silakan pergi ke madinah dan lihat arah matahari terbit disana kemudian telusuri saja arah itu dijamin anda gak sampai ke Irak tapi sampai ke Najd.

    sedikit tambahan :
    dihadits ini
    حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].

    salim sedang mengamalkan apa yang ia pahami tentang hadits fitnah, kemunculan tanduk setan. Ia berbicara tentang hadits itu kepada penduduk ‘Iraaq, bukan selainnya.

  41. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض
    kalau dilihat sesuai dengan lafaz hadis maka perkataan Rasulullah أنتم يضرب بعضكمtertuju kepada sahabat Nabi. penggunaan kata antum berarti orang yang dimaksud adalah para sahabat yang berada dihadapan Rasulullah.

  42. @fourthprince

    oleh karena Rasulullah pun adalah orang Arab, maka tidak salah juga jika kita memahami makna najd sesuai dengan lisan dan pemahaman orang ‘Arab. Telah saya sebutkan perkataan Al-Khaththaabiy dan Al-Kirmaaniy bagaimana makna kata ‘Najd’ bagi orang ‘Arab (bukan menurut anda)..

    walah yang bersabda Rasulullah dan yang mendengar sabda para sahabat. maka yang benar adalah memahami Najd sesuai lisan Rasulullah dan para sahabat yaitu Najd berbeda dengan Irak.

    sehingga metode jama’ yg dihasilkan akan lebih pas & tidak ta’arudl pada matannya.. hadits itu saling menasirkan satu sama lain. karenanya akan lebih pas jika diartikan najd adalah iraq..

    metode jama’ yang benar dengan asumsi hadis irak shahih justru menyimpulkan kalau tempat munculnya fitnah adalah Najd dan Irak bukan kesimpulan aneh Najd adalah Irak🙂

    memang benar pernah ada fitnah musailamah disana, namun sejarah itu telah berlalu. Berbeda dgn iraq yg didalamnya terjadi fitnah terkait aqidah & i’tiqad yg terus ada hingga kini semisal firqah sesat Syi’ah Raafidlah, Khawarij/Haruriyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan yang lainnya dari daerah ‘Iraaq.

    Cukuplah pengakuan anda kalau Najd juga tempat munculnya fitnah, Jadi seharusnya anda sepakat dengan kesimpulan kalau tempat muncul fitnah dalam hadis tanduk setan adalah Najd dan Irak🙂

    @thirdprince

    salim sedang mengamalkan apa yang ia pahami tentang hadits fitnah, kemunculan tanduk setan. Ia berbicara tentang hadits itu kepada penduduk ‘Iraaq, bukan selainnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu juga sedang berbicara kepada para sahabat yang notabene penduduk Madinah bukan kepada selainnya dan bukan pula kepada penduduk Irak. Nah masa’ mau dikatakan kalau para sahabat atau penduduk Madinah yang dimaksud dalam hadis tersebut.

    Aneh, saya sudah menjelaskan panjang lebar kenapa perkataan Salim disini tidak bisa menjadi hujjah. Soalnya justru bertentangan dengan hadis shahih-nya kalau tempat yang dimaksud berada pada arah matahari terbit dari madinah. Sekali lagi irak tidak terletak pada arah ini [terbukti dengan ilmu pengetahuan yang ada sekarang], tolong perhatikan kata-kata saya ini dan silakan bantah poin ini. Poin ini justru menggugurkan argumen abul-jauzaa dan anda kalau timur yang dimaksud adalah Irak. Timur yang dimaksud adalah timur matahari terbit bukan yang lain. Sedangkan Najd memang terletak pada arah timur matahari terbit dari madinah.

  43. memang benar pernah ada fitnah musailamah disana, namun sejarah itu telah berlalu. Berbeda dgn iraq yg didalamnya terjadi fitnah terkait aqidah & i’tiqad yg terus ada hingga kini semisal firqah sesat Syi’ah Raafidlah, Khawarij/Haruriyyah, Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan yang lainnya dari daerah ‘Iraaq.

    Memang benar kenyataan yang ada bahwa fitnah yang bertubi-tubi terjadi di Iraq sampai saat ini, dan Iraq jelas dikenal sebagai negeri Masyriq menurut lisan orang Arab sampai saat ini dan terdapat di Wikipedia juga.

    @sok tau juga,

    سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض
    kalau dilihat sesuai dengan lafaz hadis maka perkataan Rasulullah أنتم يضرب بعضكمtertuju kepada sahabat Nabi. penggunaan kata antum berarti orang yang dimaksud adalah para sahabat yang berada dihadapan Rasulullah.

    Itu perkataan Salim bin Abdullah bin Umar bukan perkataan Nabi SAW, dan yg dimaksud adalah penduduk Iraq yang ada dihadapannya. sedangkan Hadits Nabi SAW yg dikutip oleh Salim hanya ini ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’.
    ini riwayat lengkapnya :

    حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].

  44. @sok tahu banget

    Memang benar kenyataan yang ada bahwa fitnah yang bertubi-tubi terjadi di Iraq sampai saat ini, dan Iraq jelas dikenal sebagai negeri Masyriq menurut lisan orang Arab sampai saat ini dan terdapat di Wikipedia juga.

    wah Syam juga termasuk negeri Masyriq dan disebutkan dalam wikipedia juga:mrgreen:

    Itu perkataan Salim bin Abdullah bin Umar bukan perkataan Nabi SAW, dan yg dimaksud adalah penduduk Iraq yang ada dihadapannya. sedangkan Hadits Nabi SAW yg dikutip oleh Salim hanya ini ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’.

    Maaf anda justru keliru sekali disini. lafaz yang disebutkan oleh saudara sok tahu juga itu memang termasuk lafaz hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Buktinya dapat anda lihat dalam riwayat lain yang tidak memuat perkataan kepada penduduk irak

    حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

    atau riwayat dalam Tafsir Ath Thabari berikut

    حَدَّثَنِي وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ سَالِمٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” إِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ خَطَأً ، فَقَالَ اللَّهُ لَهُ : وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا سورة طه آية 40 ”

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin ‘Abdul A’la yang berkata telah emnceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Abdullah bin Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sesungguhnya Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”

  45. wah Syam juga termasuk negeri Masyriq dan disebutkan dalam wikipedia juga:mrgreen:

    Nah berarti anda mengakui juga kan bahwa Iraq termasuk negeri Masyriq (negeri timur):mrgreen:

    Maaf anda justru keliru sekali disini. lafaz yang disebutkan oleh saudara sok tahu juga itu memang termasuk lafaz hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Buktinya dapat anda lihat dalam riwayat lain yang tidak memuat perkataan kepada penduduk irak

    Pertama, Justru riwayat yang menyebutkan penduduk Iraq menjadi penjelas riwayat tsb, anggap saja riwayat di atas belum lengkap.

    Kedua, berarti hadits Nabi selain mengenai tanduk setan adalah :

    Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”

    sedangkan kalimat Kalian saling menebas leher satu sama lain bukan termasuk hadits, dan anda belum membuktikan bahwa perkataan itu adalah hadits, baik dengan riwayat yang tidak menyebut penduduk Iraq maupun dari tafsir Ath-Thabari.🙂

  46. atau riwayat dalam Tafsir Ath Thabari berikut

    حَدَّثَنِي وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ سَالِمٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” إِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ خَطَأً ، فَقَالَ اللَّهُ لَهُ : وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا سورة طه آية 40 ”

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin ‘Abdul A’la yang berkata telah emnceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Abdullah bin Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sesungguhnya Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”

    Riwayat ini justru menjadi bukti bahwa kalimat Kalian saling menebas leher satu sama lain bukanlah bagian dari hadits Nabi SAW, dan juga menunjukkan bahwa riwayat yg tidak menyebutkan penduduk Iraq (Musnad Abu Ya’la) memang riwayat yang tidak lengkap.

  47. @sok tahu banget

    Nah berarti anda mengakui juga kan bahwa Iraq termasuk negeri Masyriq (negeri timur)

    Lho kapan saya mengingkari itu, saya cuma menunjukkan pada anda kata masyriq yang ada dalam hadis tanduk setan bukan nama suatu negri tetapi arah timur. Sedangkan penamaan negri masyriq sendiri entah sejak kapan muncul. buktinya Syam yang didoakan rahmat oleh Rasul masuk juga dalam negri masyriq. padahal masyriq yang dimaksud dalam hadis tanduk setan kan arah tempat munculnya fitnah. Apa memang pada zaman Nabi sudah ada penamaan negri masyriq?. btw sekalianlah buat anda kemarin kan anda menampilkan link soal tulisan alfanarku bukankah disana ada juga kata masyriq yang tertuju pada tempat bernama khurasan. lha memangnya khurasan itu termasuk negri masyriq, silakan cek wikipedia:mrgreen:

    Pertama, Justru riwayat yang menyebutkan penduduk Iraq menjadi penjelas riwayat tsb, anggap saja riwayat di atas belum lengkap.

    Kelihatan banget sih ngeyel-nya. Perhatikan riwayat Abdullah bin Umar bin Aban dan Washil bin Abdul A’la dan silakan bedakan yang mana perkataan Salim kepada penduduk Irak dan yang mana hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

    sedangkan kalimat Kalian saling menebas leher satu sama lain bukan termasuk hadits, dan anda belum membuktikan bahwa perkataan itu adalah hadits, baik dengan riwayat yang tidak menyebut penduduk Iraq maupun dari tafsir Ath-Thabari

    Lho ada tuh, buktinya sangat jelas di riwayat Abu Ya’la yang saya kutip. Baca aja bener-bener. Saya heran dengen anda yang bilang lafaz tersebut bukan termasuk hadis padahal jelas-jelas dalam riwayat Abu Ya’la lafaz itu adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saran saya, kalau anda salah lebih baik mengaku saja salah gak perlu mencari-cari alasan🙂

  48. @sok tahu banget

    Riwayat ini justru menjadi bukti bahwa kalimat Kalian saling menebas leher satu sama lain bukanlah bagian dari hadits Nabi SAW, dan juga menunjukkan bahwa riwayat yg tidak menyebutkan penduduk Iraq (Musnad Abu Ya’la) memang riwayat yang tidak lengkap.

    Apanya yang menjadi bukti Mas?. saya tidak mengerti jalan pikiran anda, maaf mungkin anda terlalu pintar sehingga logika berpikirnya sulit dimengerti. Kalau anda mengakui lafaz Ath Thabari sebagai hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka mengapa anda mengingkari lafaz Abu Ya’la Kalian saling menebas leher satu sama lain sebagai hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bisa dijelaskan apa alasan anda menolak lafaz tersebut sebagai bukan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

  49. Baik saya jelaskan kembali, ini adalah hadits paling lengkap dari shahih Muslim. saya tebalin yang merupakan ucapan Nabi SAW, berarti selainnya menurut saya bukan perkataan Nabi SAW tetapi perkataan Salim yang ditujukan kepada penduduk Iraq.

    حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : 1. ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. 2. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].

    Berarti terdapat dua hadits di sana, kenapa kalimat : “Kalian saling menebas leher satu sama lain” tidak termasuk hadits Nabi SAW? anda sendiri yang telah membuktikannya berdasarkan riwayat Ath-thabari :

    حَدَّثَنِي وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ سَالِمٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” إِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ خَطَأً ، فَقَالَ اللَّهُ لَهُ : وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا سورة طه آية 40 ”

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin ‘Abdul A’la yang berkata telah emnceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Abdullah bin Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sesungguhnya Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)”

    Pada riwayat Ath Thabari tsb tidak terdapat kalimat : “Kalian saling menebas leher satu sama lain”. berarti kalimat ini memang bukan perkataan Nabi SAW tetapi perkataan Salim. sedangkan riwayat Musnad Abu Ya’la di atas adalah riwayat yg tidak lengkap karena tidak memuat “Wahai penduduk Iraq dst..” tapi perkataan Salim “Kalian saling menebas leher satu sama lain ” ikut termuat di dalam riwayat tsb.

    Allahu A’lam.

  50. @sok tahu banget
    baik saya jelaskan kembali. perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang dicetak tebal
    حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].
    Jadi perkataan Salim kepada penduduk Irak hanya berupa “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar.
    Buktinya di hadis Abu Ya’la yang dibawakan SP tertulis berikut
    حدثنا واصل بن عبد الأعلى الكوفي حدثنا ابن فصيل عن ابيه عن سالم عن ابن عمر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم – يقول : إن الفتنة تجيء من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق حيث يطلع قرن الشيطان وأنتم يضرب بعضكم بعض رقاب بعض وإنما قتل موسى الذي قتل من آل فرعون خطأ قال الله له : { وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا }

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]
    Nah ini bukti jelas kalau hadis Rasulullah adalah yang dicetak tebal termasuk kata-kata Kalian saling menebas leher satu sama lain. Sedangkan riwayat Ath Thabari yang dibawakan SP adalah ringkasan dari hadis Muslim atau Abu Ya’la sehingga hanya menyebutkan bagian akhir.

    Berarti terdapat dua hadits di sana, kenapa kalimat : “Kalian saling menebas leher satu sama lain” tidak termasuk hadits Nabi SAW? anda sendiri yang telah membuktikannya berdasarkan riwayat Ath-thabari :

    Riwayat Ath Thabari tidak membuktikan pernyataan anda. Riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dari hadis Abu Ya’la dan Muslim. Kalau setiap lafaz yang tidak ada di riwayat Thabari dihukumi bukan hadis Nabi maka kata-kata fitnah dari timur juga bukan hadis Nabi.

    Pada riwayat Ath Thabari tsb tidak terdapat kalimat : “Kalian saling menebas leher satu sama lain”. berarti kalimat ini memang bukan perkataan Nabi SAW tetapi perkataan Salim.

    Riwayat Ath Thabari tidak ada kata-kata itu karena memang riwayat Ath Thabari hanya ringkasan hadis Abu Ya’la. kok ringkasan dijadikan dasar untuk menafikan hadis lengkapnya.

    sedangkan riwayat Musnad Abu Ya’la di atas adalah riwayat yg tidak lengkap karena tidak memuat “Wahai penduduk Iraq dst..”

    Riwayat Abu Ya’la itu riwayat yang lengkap sedangkan riwayat Ath Thabari itu yang ringkasan. ngerti ora’ sampean😆

    tapi perkataan Salim “Kalian saling menebas leher satu sama lain ” ikut termuat di dalam riwayat tsb.

    Asal ngomong aja, itu perkataan Nabi bukan perkataan Salim. Mana bukti kalau itu perkataan Salim. Salim sendiri bilang bahwa itu perkataan Rasulullah. sejak kapan perkataan tabiin bisa nyelip nyelip begitu di tengah-tengah sabda Nabi, kalau memang itu perkataan Salim pasti dihadisnya ada kata-kata “Salim berkata”. kok main campuraduk memangnya karedok😆

  51. @sok tahu banget

    kalau saya lihat anda tidak membuktikan apapun. Cuma mengulang-ngulang komentar anda sebelumnya. Saya sebelumnya bertanya apa dasar anda mengatakan kalau lafaz hadis Abu Ya’la Kalian saling menebas leher satu sama lain bukan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi perkataan Salim. Teks hadis Abu Ya’la menyebutkan kalau itu adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukan perkataan Salim. Anda juga tidak bisa menjadikan riwayat Ath Thabari sebagai hujjah anda karena riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dari riwayat Abu Ya’la.

    @sok tahu juga
    nah ya itu, anda jauh lebih mengerti dibanding saudara anda sok tahu banget:mrgreen:

  52. @ SP atau Sok Tau Juga

    OK lah bisa saya terima penjelasan anda, tetapi perlu diingat bahwa jika anda mengatakan bahwa riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dari hadits Musnad Abu Ya’la, maka riwayat-riwayat tentang tanduk setan yang lain adalah ringkasan dari riwayat Musnad Abu Ya’la, benarkah demikian? spt hadits2 berikut:

    وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه
    أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

    Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

    حدثنا الحسن بن علي المعمري ثنا إسماعيل بن مسعود ثنا عبيد الله بن عبد الله بن عون عن أبيه عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

    Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

    dan lain-lain

    Apakah hadits2 di atas ringkasan dari Musnad Abu Ya’la atau Musnad Abu Ya’la yg merupakan ringkasan hadits2 di atas? ada bagian2 yg tdk terdapat di hadits2 di atas tetapi terdapat di hadits musnad abu ya’la dan sebaliknya ada bagian2 yg terdapat di hadits2 di atas tetapi tidk terdapat di musnad Abu Ya’la. silahkan tentukan.

    Jika anda tidak bisa menenentukan, berarti perkataan anda bahwa riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dr hadits Musnad Abu Ya’la belum dibuktikan dan hanya perkiraan anda belaka.

    Justru lebih masuk akal jika Salim sedang meriwayatkan dua hadits Nabi SAW pada saat yang sama dan jika riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dr Musnad Abu Ya’la, masak menggal-nya kok ya tanggung banget, kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” tidak disebutkan. justru lebih masuk akal bahwa hadits tentang Nabi Musa tersebut bunyinya memang itu saja. sedangkan kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” adalah perkataan Salim yang ditujukan ke penduduk Iraq karena perbuatan mereka yang membunuh sesama muslim yang merupakan inti dari fitnah yang datangnya dari tempat mereka. Hal ini diperkuat dengan riwayat Ibnu Umar

    Bukhari 7/77 dan Ahmad 2/85, 153 meriwayatkan dari Ibnu Abi Nu’min, bahwasanya dia menyaksikan Ibnu Umar -radhiyallahu a’nhu- ketika ditanya oleh seorang dari Iraq tentang hukum membunuh lalat bagi muhrim (orang yang sedang ihram). Maka berkata Ibnu Umar,

    ’Wahai penduduk Iraq! Kalian bertanya kepadaku tentang orang muhrim membunuh lalat, padahal kalian telah membunuh anak putri-Rasulullah, sedangkan beliau (Nabi) sendiri bersabda: Keduanya (al-Hasan dan al-Husain) adalah kesayanganku di dunia.’”

    (Silsilah Ahadits Shahihah 5/655-656)

    OK, saya terima juga pendapat anda bahwa kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” adalah termasuk perkataan Nabi SAW terhadap para sahabat di hadapannya karena memang sepeninggal Nabi SAW terjadi fitnah yang bersumber dari Iraq yaitu terbunuhnya Utsman, perang Jamal, perang Imam Ali dengan kaum khawarij, perang Shiffin, terbunuhnya Imam Ali, terbunuhnya Husein, yang semuanya terjadi di Iraq. justru ini semakin menguatkan bahwa tempat keluarnya Tanduk Setan yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah Iraq.

  53. @sok tahu banget

    OK lah bisa saya terima penjelasan anda, tetapi perlu diingat bahwa jika anda mengatakan bahwa riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dari hadits Musnad Abu Ya’la, maka riwayat-riwayat tentang tanduk setan yang lain adalah ringkasan dari riwayat Musnad Abu Ya’la, benarkah demikian? spt hadits2 berikut:

    Tidak perlu berandai-andai. Silakan tuh diperiksa alur berpikir anda yang tidak tentu arah. Riwayat Ath Thabari saya katakan ringkasan dari riwayat Abu Ya’la karena kedua riwayat tersebut sanadnya sama yaitu dari Washil bin ‘Abdul A’la dari Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar kemudian matan Ath Thabari memang ringkasan dari matan Abu Ya’la.

    Apakah hadits2 di atas ringkasan dari Musnad Abu Ya’la atau Musnad Abu Ya’la yg merupakan ringkasan hadits2 di atas? ada bagian2 yg tdk terdapat di hadits2 di atas tetapi terdapat di hadits musnad abu ya’la dan sebaliknya ada bagian2 yg terdapat di hadits2 di atas tetapi tidk terdapat di musnad Abu Ya’la. silahkan tentukan.

    Gak ada hubungannya tuh, saya gak pernah bilang riwayat lain ringkasan dari riwayat Abu Ya’la, itu cuma andai-andai anda sahaja:mrgreen:

    Jika anda tidak bisa menenentukan, berarti perkataan anda bahwa riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dr hadits Musnad Abu Ya’la belum dibuktikan dan hanya perkiraan anda belaka.

    Lho masa’ andai-andai anda, anda minta orang lain membuktikannya, jelas banget tuh fallacy-nya. Walaupun seandainya saya tidak bisa membuktikan apa yang anda bilang tetap tidak ada pengaruhnya dengan kesimpulan saya riwayat Ath Thabari ringkasan riwayat Abu Ya’la. Itu dua hal yang gak ada hubungan langsungnya tetapi dipaksa nyambung oleh pikiran anda sendiri🙂

    Justru lebih masuk akal jika Salim sedang meriwayatkan dua hadits Nabi SAW pada saat yang sama dan jika riwayat Ath Thabari adalah ringkasan dr Musnad Abu Ya’la, masak menggal-nya kok ya tanggung banget, kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” tidak disebutkan.

    Wah kayaknya yang tidak dimasukkan itu berawal dari lafaz ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain.. Kalau anda menganggap tanggung ya silakan itu hak anda tetapi persepsi anda tidak menjadi hujjah disini [ringkasan model tanggung menurut anda itu adalah hal yang ma’ruf dalam kitab2 hadis]. Faktanya riwayat Ath Thabari hanya memuat penggalan akhir dari hadis Abu Ya’la. Jadi menjadikan riwayat Ath Thabari untuk menafikan sebagian lafaz Abu Ya’la adalah keliru tenan🙂

    justru lebih masuk akal bahwa hadits tentang Nabi Musa tersebut bunyinya memang itu saja. sedangkan kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” adalah perkataan Salim yang ditujukan ke penduduk Iraq karena perbuatan mereka yang membunuh sesama muslim yang merupakan inti dari fitnah yang datangnya dari tempat mereka. Hal ini diperkuat dengan riwayat Ibnu Umar

    mungkin masuk di akal anda kaliii, btw anda tidak perlu jauh berandai-andai, jelas-jelas terbukti di riwayat Abu Ya’la kalau lafaz tersebut adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan perkataan Salim🙂

    Sebenarnya bukan sesuatu yang aneh jika lafaz “kalian saling menebas leher satu sama lain” adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada siapapun yang mendengar saat itu. Misalnya ada hadis lain dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada para sahabatnya

    فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

    Janganlah kalian menjadi murtad sepeninggalku, kalian saling menebas leher satu sama lain [HR Bukhari no 67]

    atau hadis dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

    فإني أرى الفتن تقع خلال بيوتكم كوقع المطر

    Sesungguhnya aku melihat fitnah menimpa rumah-rumah kamu seperti titisan air hujan” [Hadis riwayat Bukhari, no: 6651]

    Saya tidak tahu tuh, mengapa anda berkeras menolak lafaz itu sebagai perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dalih-dalih yang maaf dicari-cari atau mengada-ada🙂

    OK, saya terima juga pendapat anda bahwa kalimat “Kalian saling menebas leher satu sama lain” adalah termasuk perkataan Nabi SAW terhadap para sahabat di hadapannya karena memang sepeninggal Nabi SAW terjadi fitnah yang bersumber dari Iraq yaitu terbunuhnya Utsman, perang Jamal, perang Imam Ali dengan kaum khawarij, perang Shiffin, terbunuhnya Imam Ali, terbunuhnya Husein, yang semuanya terjadi di Iraq. justru ini semakin menguatkan bahwa tempat keluarnya Tanduk Setan yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah Iraq.

    Maaf tetapi anda melupakan fitnah yang lebih awal yaitu munculnya Musailamah yang mengaku Nabi palsu dari Najd dan diriingi dengan murtadnya sebagian umat islam [sahabat] saat itu🙂

  54. sebagai orang awwam, saya mencermati bahwa inti dari bantah-membantah di atas adalah pada bentuk pemberian keterangan. jika yang salafy memakai keterangan orang arab (karena diucapkan dalam bahasa arab) dalam memahami hadits terkait dengan Najd, sedangkan second price memakai keterangan “versinya sendiri”.
    hanyalah kepada allah kita memohon pertolongan..

  55. @org awwam

    bener2 awam nih org..jiakakakakakakak

  56. @orang awam

    ehem kalau memang bener orang awam maka komentarnya harus begini “jika yang salafy memakai keterangan versinya sendiri dalam memahami hadis terkait najd sedangkan second prince memakai keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat untuk memahami hadis Najd” .Nah itu lebih pas:mrgreen:

  57. @SP
    Saya ada baca diblog kutipan sperti ini, apa artinya yaa?
    Apakah ini keterangan arab ?

    الوهابية منسوبة إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمه الله المتوفى سنة 1206 هـ ، وهو الذي قام بالدعوة إلى الله سبحانه في نجد
    ….Syekh Bin Baz: “Wahhabiyyah adalah nisbah kepada Sheikh Imam Muhammad bin Abdil Wahab r.a. yang wafat pada 1206 Hijrah yang mana dia mendirikan dakwah menuju Allah di Najd (dengan pemikirannya)”.
    [Majmu Fatawa wa Maqalat seri ke-9]

    Disini Syeokh bin Baz menisbahkan bahwa Syeik M Abd Wahab lahir di Najd.

    Salam damai

  58. Wah….. Wahhabi sesat, memang muter2 doang….
    Hahaha……

    Wahabi… wahabi….
    Muteriyun….

    Dasar pengikut tanduk syetan dari Najd.

  59. [3:19] Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab,kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya

    ——- Perselisihan hanya terjadi karena adanya KEDENGKIAN ——–

  60. gue gk mau pusing, mending ente mati dulu, entar tanya ama malaikat yang bener mana, ntar ente sms gue …

  61. @darmanto

    syiah…syiah…

    pengikut dajjal dari “ISFAHAN”

    “Artinya: Dajjal akan diikuti oleh orang-orang Yahudi Ashfahan,/b> sebanyak tujuh puluh ribu orang yang mengenakan jubah tiada berjahit. ” [Shahih Muslim. Kitabul Fitan wa Asyrotis Sa’ah, Bab Fi Baqiyyah Min Ahaadiitsid Dajjal hadits No. 2944]
    😀 😀 😀

  62. Isfahan adanya di negara mana yah.. ❓ .

  63. di isfahan itu adanya syiah atau yahudi yah ?

    terserah deh yg mana pengikut dajjal…

  64. tapi di haditsnya tertulis “yahudi Isfahan ” bukan “syiah isfahan” lho…

    Mirip gak sich ❓

  65. @baba
    sudah biasa kalau sudah terdesak salafiyun seperti anda gak bahas inti masalah, tapi muter2 melebar ke mana mana dan ujung-ujungnya…………… sumpah serapah dan tuduhan2 yg gak jelas juntrungannya.

  66. […] Analisis Pencari Kebenaran Artikel dibawah ini adalah bantahan balik  J. Algar atas tulisan Abu al Jauza “Najd Bukan […]

  67. حدثنا أبو بكر
    بن أبي شيبة حدثنا علي
    بن مسهر عن الشيباني عن
    يسير بن عمرو قال سألت سهل
    بن حنيف هل سمعت النبي
    صلى الله عليه و سلم يذكر
    الخوارج ؟ فقال سمعته ) وأشار
    بيده نحو المشرق )
    Y قوم يقرأون القرآن
    بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم
    يمرقون من الدين كما يمرق
    السهم من الرمية
    ] ش ) يعدوا ( يجاوز ]
    (2/750)
    Dari Yusair bin Amru, ia berkata:
    Saya bertanya kepada Sahal bin
    Hunaif: Apakah engkau pernah
    mendengar Nabi saw. menyebut-
    nyebut Khawarij? Sahal
    menjawab: Aku mendengarnya,
    (beliau menunjuk dengan
    tangannya ke arah Timur),
    satu kaum yang membaca
    Alquran dengan lisan mereka,
    tetapi tidak melampaui
    tenggorokan mereka. Mereka
    keluar dari agama secepat anak
    panah melesat dari busurnya.
    (Shahih Muslim 2/750 No. 1068)

  68. 6934 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ
    إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
    الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا
    الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا
    يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ
    قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ
    حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ
    النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي
    الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ
    سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى
    بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ
    يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ
    يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا
    يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ
    يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ
    مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ
    الرَّمِيَّةِ
    (9/17)
    Dari Yusair bin Amru, ia berkata:
    Saya bertanya kepada Sahal bin
    Hunaif: Apakah engkau pernah
    mendengar Nabi shalallahu
    ‘alaihi wasallam bersabda
    tentang Khawarij? Sahal
    menjawab: Saya mendengar
    beliau bersabda sambil
    menunjuk dengan tangannya
    ke arah negeri Iraq, sabda
    beliau “akan keluar dari situ
    suatu kaum yang membaca
    Alquran dengan lisan mereka,
    tetapi tidak melampaui
    tenggorokan mereka. Mereka
    keluar dari Islam bagaikan anak
    panah melesat dari busurnya”.
    (Shahih Bukhari 9/17 no. 6934).

    Gmn ustad dgn 2 hadits d atas?

  69. @Alaydrouz

    kedua hadis yang Mas bawakan tidak ada masalah. Hadis tersebut menceritakan tentang khawarij. Hadis ini tidaklah menjadi penentang apa yang kami tuliskan di atas.

    Soal fitnah Najd itu hadisnya jelas, nama tempat yang dimaksud adalah jelas yaitu “najd” dan Najd di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah memang nama tempat khusus yang berbeda dengan Iraq [berdasarkan hadis shahih]. Tidak ada satupun dalil yang menunjukkan kalau Iraq disebut Najd.

    Soal arah yang dimaksud juga jelas yaitu timur pada arah matahari terbit dari Madinah. kami pribadi tidak pernah menafikan arah timur untuk daerah Iraq dan Khurasan, secara umum arah itu termasuk timur tetapi mengenai hadis najd arahnya sangat jelas yaitu arah timur matahari terbit dari madinah. Antara Najd dan Iraq hanya Najd yang terletak pada arah timur matahari terbit dari Madinah

    Jadi adanya hadis yang menunjukkan irak atau khurasan sebagai arah timur itu tidak sedikitpun merusak hujjah yang kami tuliskan di atas. Secara logis saja, Irak terletak di arah timur, Khurasan terletak di arah timur, Najd terletak di arah timur. Nah apakah ada yang mau menyimpulkan kalau Irak = Khurasan = Najd hanya karena sama-sama terletak di arah timur?. Contoh lain Bandung terletak pada arah timur dari Jakarta, Surabaya juga terletak pada arah timur dari Jakarta dan Papua juga terletak pada arah timur dari Jakarta, apakah ada yang mau menyimpulkan Bandung = Surabaya = Papua?. Kesimpulan ini sangat jelas fallacy. kembali pada dua hadis yang Mas bawakan, disitu kan terdapat indikasi kalau Irak itu terletak pada arah timur, it’s ok tidak ada masalah. Apakah dengan adanya hadis irak sebagai arah timur maka najd sebagai arah timur jadi tertolak? jelas tidak itu kan perkara lain. Apakah dengan adanya hadis irak sebagai arah timur maka seiap tempat lain yang juga di arah timur harus diklaim sebagai irak?. Apakah india yang terletak di arah timur harus juga dikatakan sebagai Irak hanya karena sama-sama di timur?. Jelas tidak dan tidak. Tetapi akan bermasalah jika dalam suatu hadis disebutkan dengan jelas arah timur matahari terbit. Sekali lagi antara Iraq dan najd hanya Najd yang terletak pada arah timur matahari terbit dari madinah. Hal ini bisa dibuktikan dengan jelas terutama dengan mereka yang paham dengan arah mata angin dan arah pergerakan matahari. Kita berpegang pada hadis tetapi kita juga memahami hadis dengan logika yang baik [tidak fallacy] dan dengan ilmu pengetahuan

  70. Sukron ya akhi..ana sependapat dengan anda.

    bongkar terus fallacy salafi/wahabi/nawashib/khawarij untuk membersihkan nama najd mereka.

    -Hadits fitan “Sumber kekafiran berasal dari timur” sudah terbukti dengan munculnya musailamah al kadzab dari najd sepeninggal Rasulullah.
    Sumber = awal

    -“Kegoncangan dan fitnah dari timur di arah terbitnya matahari,arab badui,beternak unta,dari rabi’ah dan mudhar..ini semua jelas2 mencirikan najd hijaz bukan iraq.

  71. @SP

    “Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].

    saudara Sp kurang cermat dalam membantah, kalimat ibnumanzur bermakna semua tanah tinggi di Jazirah Arab mulai dari Tihamah sampai ke Irak adalah Najd dengan pengertian Irak tidak masuk Najd karena arti sampai itu pada batas paling selatan Irak lagipula Irak sendiri bukan dataran tinggi tapi dataran rendah.

    Tihamah juga tidak masuk karena Tihamah bukan dataran tinggi tapi dataran rendah, lihat kata khatabi

    Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah

    seluruh wilayah Tihamah adalah dataran rendah begitu pula Irak adalah dataran rendah. Maka yang dimaksud Najd dalam lisan arab adalah semua tanah tinggi diantara Tihamah dan Irak. Tihamah dan Irak tidak masuk Najd karena dua-duanya dataran rendah bukan dataran tinggi

    Ibnu manzur tidak bermaksud memasukkan Irak sebagai Najd, ia hanya menjelaskan cakupan luas Najd di Jazirah Arab yang memang berbatasan dengan Irak dan tihamah. sampai disitu maksudnya batas

    satu lagikata salafi, timur adalah kanan barat adalah kiri , seharusnya mudah saja membantahnya. yaman juga terletak di kanan Madinah agak miring ke selatan, harusnya Yaman disebut timur juga dong bukan hanya irak. tapi tidak ada dalam sejarahnya yaman disebut timur.

  72. @Sp
    maaf saudara Sp ada yang lupa.

    hadis yang mengandung kata irak kami rancu atau janggal, dalam sejarah islam di zaman Nabi saw, irak masih dikuasai bangsa persia belum masuk wilayah islam jadi mustahil ada sahabat yang berkata irak kami.

    Irak berbeda dengan syam dan yaman, di masa Nabi saw sudah datang utusan dari syam dan yaman yang memeluk islam sedangkan irak tidak ada satupun utusan dari irak yang datang kepada Nabi saw. bagaimana bisa muncul kata irak kami? tanya kenapa

  73. @ibnusalafi
    Menarik juga sudut pandang Anda bhw pada masa Nabi SAW, Iraq belum masuk wilayah umat Islam & belum ada utusan dari Iraq datang kpd Nabi SAW.
    Bisakah Anda bantu sebutkan rujukan2 literatur bhw Iraq belum termasuk wilayah umat Islam & masih dikuasai Persia pada masa Nabi Muhammad SAW?

  74. Inilah fitnah itu:
    Begitu juga dengan fitnah yang berlaku di kalangan umat Islam, bermula dari zaman Sahabat sehinga ke hari ini, kebanyakannya berpunca di Iraq. Gerakan bughah (penentang khalifah), Khawarij dan Syiah pada zaman Khalifah ‘Uthman dan ‘Ali radhiallahu ‘anhuma yang menjadi punca tercetusnya fitnah perselisihaan di kalangan umat Islam bermula di Kufah. Begitu juga Perang Jamal, Siffin, Nahrawan, fitnah pembunuhan Husain cucunda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, fitnah Mukhtar Ath-Thaqafi yang mendakwa kenabian dan serangan tentera Tartar pada zaman kerajaan Bani Abbasiyyah, semuanya berlaku di Iraq.

  75. Asslm’alakm….kita tinggalkan sikap Ta’assub (Fanatik golongan atw individu)…….ketika bicara masalah Hadits itu tidak bisa dipisahkan dengan dengan kitab Syarahnya….kita berani mengatakan Al-Khattabi aneh….tunggu dulu…setandar org normal brfikir…klw mw kritik seseorang apalagi yg dkritik Imam besar dan agung sprti Al-Khattabi mesti Ilmu ente sama dl dgn Khattabi,,,udah baca biografi al-khattabi blum….? sekali lg jgn pisahkan Hadits dgn kitab Syarahnya….kemudian sebagai prtimbangan cobak bukak Mu’jam Al Buldan ada berapa Nejed yg prnah ada….dan mnjadi dilema ketika mengatakan Muhammad bin ‘abdul Wahhab yg lahir di Nejed merupakan negeri tanduk setan dan di tuduh satu diantara dua tnduk setan sebagaimana disebutkan ahmad zaini dahlan dan pengagumnya…yg anehnya sekian ratus tahun ini gak da yg memprmasalahkan Hadits ini, tp ketika dtg Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab baru dech rame2 pakek hadits ni utk mojokin “Wahhabi” dlu ketika klwrga Syarif yg nguasai Nejed gk da dibilang negeri tanduk setan….sejauh pengetahuan sya Hadits tentang nejed adalah nejed iraq,bukan berarti kita mencela penduduknya krn bnyak ulama besar lahir dr irak,tp secara fkta di irak lah bnyak timbulnya fitnah yg besar bhkan smpai skrng bisa d bktikan irak msih tidak aman karena bnyaknya fitnah..sekali lg kita bukan mncela penduduknya,,tp Nubuwwah nabi adalah berbicara mngenai kondisi…bca kitab syarah tanpa ta’assub dn dpt menilai dgn inshof dan ‘Adil klw bisa tunjukkan siapa ulama’ yg membantah pndapat khattabi, ibn hajar, bhwa nejed itu adalah irak

  76. Sekarang saya faham dimana kesesatan itu berada, dari uraian panjang lebar diatas tidak ada nukilan penjelasan ulama, disini kuncinya, terus berputar-putar pada logika.

  77. SUPRIYANTO
    ARTINYA PENJELASAN YG DIPAPARKAN MAS SP panjang lebar ANDA TAK PAHAM. Yg anda pahami hanya dan hanya perkataan ustad dan syeikh2 antum saja, selain itu tak ada. sungguh kasihan saya melihat antum ya akhi supriyanto

    silahkan antum kaitan tulisan mas sp diatas dgn tulisannya yg lain disini
    https://secondprince.wordpress.com/2011/02/15/dimanakah-masyriq-pada-hadis-fitnah/

    dan disini

    https://secondprince.wordpress.com/2011/02/06/hadis-khawarij-kaitannya-dengan-najd-dan-arah-timur/

    lalu ambil benang merahnya. pasti ketemu. ITU KALO ANTUM MAU MENGUTAKAN HADIST NABI DARIPADA UCAPAN BUALAN USTAD DAN SYEIKH2 ANTUM YG DISAUDI

  78. Usulan sesuai kaidah dalam ilmu Mukhtaliful-Hadits … Ambil jalan tengah saja, ke dua duanya benar bahwa najd itu adalah riyadh dan juga iraq karena memang dari sisi fakta hingga hari ini dan juga matan hadist menunjuk keduanya yaitu iraq dan najd adalah tempat munculnya fitnah.. karena kayaknya tidak mungkin antara hadist satu dan lainnya yang satu saling menghapus, dan jika ada dua hadist yang seolah bertentangan sebainya tidak ditinggalkan keduanya, tapi tetap digunakan, ini hadist LHO !!! jangan di buang atau di diamkan walaupun lemah selama sohih,.. (eh saya bukan pakar hadist lho so CMIIW)

    So najd itu adalah iraq dan juga riyadh ibu kota Saudi arabiyah, setuju …

  79. Ada satu kata kunci yg tak terbantahkan dlm hadits dlm berbagai versi di atas…yaitu selalu ada kata “dari SINI” akan muncul fitnah”…..kata dr “sini” berarti menunjuk tempat yg dekat….seandainya benar, yg dimaksud nabi itu iraq, tempat yg sangat jauh…tentu nabi akan bilang “dari SANA” akan muncul fitnah….jd tdk usah merubah2 sabda nabi demi supaya anda terhindar dr stigma kanjeng Nabi, sbgmn kebiasaan ulama wahabi..ikhwan…segeralah sadar …dan bertaubatlah sblum ajal menjemput

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: