Hadis Sebutan Ash Shiddiq Bagi Imam Ali dan Abu Bakar?

Hadis Sebutan Ash Shiddiq Bagi Imam Ali dan Abu Bakar

Pada pembahasan sebelumnya kami pernah mengatakan bahwa gelar Ash Shiddiq adalah gelar bagi Abu Bakar dan Imam Ali. Terdapat hadis-hadis yang menyatakan Abu Bakar sebagai Ash Shiddiq secara jelas tetapi sayang sekali hadis tersebut dibicarakan sanad-sanadnya. Begitu pula terdapat hadis yang secara jelas menyatakan Imam Ali sebagai Ash Shiddiq dan hadis ini pun juga dibicarakan sanad-sanadnya. Aneh bin ajaib ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka salafiyun merasa keberatan kalau Imam Ali disebut Ash Shiddiq. Menurut mereka gelar Ash Shiddiq mutlak untuk Abu Bakar saja. Diantara hadis yang paling sering mereka jadikan hujjah adalah

حدثنا محمد بن بشار حدثنا يحيى بن سعيد عن سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس حدثهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صعد أحدا و أبو بكر و عمر و عثمان فرجف بهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697]

Pada hadis ini tidak terdapat penyebutan secara jelas kalau Ash Shiddiq yang dimaksud adalah Abu Bakar dan perlu diketahui terdapat hadis-hadis lain yang menyebutkan kalau tidak hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman yang berada disana tetapi juga terdapat Imam Ali dan sahabat yang lainnya.

.

.

.

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبد العزيز بن محمد عن سهيل بن أبي صالح عن ابيه عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان على حراء هو و أبو بكر و عمر و علي و عثمان و طلحة و الزبير رضي الله عنهم فتحركت الصخرة فقال النبي صلى الله عليه و سلم اهدأ إنما عليك نبي أو صديق أوشهيد

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih]

ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن حصين عن هلال بن يساف عن عبد الله بن ظالم قال خطب المغيرة بن شعبة فنال من علي فخرج سعيد بن زيد فقال ألا تعجب من هذا يسب عليا رضي الله عنه أشهد على رسول الله صلى الله عليه و سلم انا كنا على حراء أو أحد فقال النبي صلى الله عليه و سلم أثبت حراء أو أحد فإنما عليك صديق أو شهيد فسمى النبي صلى الله عليه و سلم العشرة فسمى أبا بكر وعمر وعثمان وعليا وطلحة والزبير وسعدا وعبد الرحمن بن عوف وسمى نفسه سعيدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair , Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id” [Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

.

.

.

Terdapat perbedaan mengenai tempat yang dimaksud, apakah di Uhud ataukah di Hira’?. Salafy berdalih mengatakan kalau pada hadis Anas hanya terdapat Abu Bakar, Umar dan Utsman dan itu terjadi di Uhud sedangkan di Hira’ adalah kejadian lain dimana ada banyak sahabat di sana selain Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Disini salafy ingin menafsirkan bahwa peristiwa di Uhud dengan jelas menyatakan Abu Bakar sebagai shiddiq dan dua orang syahid adalah Umar dan Utsman kemudian kejadian di Hira’ ditafsirkan dengan hadis Anas bahwa shiddiq disana adalah Abu Bakar. Tentu saja semua itu adalah penafsiran salafy dan terserah mereka kalau menafsirkan begitu. Menurut pendapat kami, yang lebih benar adalah baik itu terjadi di Hira’ atau Uhud Imam Ali juga ada disana jadi hadis Anas yang hanya menyebutkan Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah ringkasan [kemungkinan] dari para perawinya.

حدثنا محمد قثنا محمد بن إسحاق قثنا روح قثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال صعد النبي صلى الله عليه وسلم حراء أو أحدا ومعه أبو بكر وعمر وعثمان فرجف الجبل فقال اثبت نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata menceritakan kepada kami Rawh yang berkata menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Hira’ atau Uhud dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “ diamlah, ada Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [Fadha’il Ash Shahabah no 869 dishahihkan oleh Washiullah ‘Abbas]

Hadis di atas menjelaskan bahwa kejadian hadis Anas itu bisa jadi di Hira’ atau Uhud atau terjadi di keduanya. Baik di Hira’ ataupun Uhud Imam Ali juga berada di sana. Hal ini disebutkan dalam hadis Anas yang lain

ثنا يحيى بن خلف حدثنا أبو داود ثنا عمران عن قتادة عن أنس ابن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان على حراء فرجف بهم فقال أثبت فإنما عليك نبي أو صديق أو شهيد وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم وعمر وعثمان وعلي

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf yang menceritakan kepada kami ‘Abu Dawud yang menceritakan kepada kami ‘Imran dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian gunung mengguncangkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar, Utsman dan Ali [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1439]

Hadis di atas para perawinya tsiqat kecuali ‘Imran Al Qaththan. Dia adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan darinya yang berarti ia menganggapnya tsiqat. Ahmad berkata “ aku berharap hadisnya baik”. Ibnu Ma’in berkata “tidak kuat”. Abu Dawud terkadang berkata “termasuk sahabat Hasan dan tidaklah aku dengar tentangnya kecuali yang baik” terkadang Abu Dawud berkata “dhaif”. As Saji berkata “shaduq”. ‘Affan menyatakan tsiqat. Bukhari berkata “shaduq terkadang salah”. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Daruquthni berkata “banyak melakukan kesalahan”. Al Hakim berkata “shaduq” [At Tahdzib juz 8 no 226]. Pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang shaduq tetapi terdapat kelemahan pada hafalannya dan hadisnya hasan. Terdapat hadis lain yang menguatkan tentang penunjukkan tempat di Hira’

حدثنا عاصم الأحول ثنا معتمر عن أبيه عن قتادة عن أبي غلاب عن رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا على حراء فرجف بهم أو تحرك بهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم اثبت فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al ‘Ahwal yang menceritakan kepada kami Mu’tamar dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Ghallab dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman berada di atas Hira’ kemudian tanah mengguncangkan mereka atau menggerakkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1440]

Hadis Anas di atas bahkan tidak menyebutkan nama Abu Bakar melainkan nama Umar, Utsman dan Ali. Walaupun begitu kalau kita melihat berbagai hadis lain maka Abu Bakar juga ada bersama mereka.

.

.

.

ثنا عبيد الله بن معاذ ثنا أبي عن سعيد عن قتادة عن أنس بن مالك قال صعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحدا واتبعه أبو بكر وعمر وعثمان وعلي فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم اثبت أحد فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Uhud dan mengikutinya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Uhud, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1438]

Hadis ini para perawinya tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin [At Taqrib 2/193]. Hadis Anas ini dengan jelas menyebutkan bahwa di Uhud itu juga terdapat Imam Ali. Tentu saja kalau kita menuruti gaya salafy dalam menafsirkan hadis ini bahwa yang syahid adalah dua orang yaitu Umar dan Utsman maka yang tersisa adalah Ash Shiddiq, apakah Abu Bakar ataukah Ali?. Salahkah kita kalau lebih memilih Ash Shiddiq merujuk pada keduanya.

Jadi ketika kami mengatakan kalau riwayat Anas itu adalah ringkasan dari para perawinya, kami tidaklah mengada-ada. Terdapat petunjuk yang menguatkan bahwa tidak hanya Abu Bakar, Umar dan Utsman yang ada disana melainkan juga Imam Ali atau mungkin ada sahabat lainnya. Kami akan memberikan contoh lain dimana para perawi meringkas atau tidak menyebutkan sebagian nama sahabat

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا علي بن الحسن أنا الحسين ثنا عبد الله بن بريدة عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان جالسا على حراء ومعه أبو بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فتحرك الجبل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم أثبت حراء فإنه ليس عليك إلا نبي أو صديق أو شهيد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan yang berkata menceritakan kepada kami Husain yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas Hira’ dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman radiallahu ‘anhum kemudian gunung tersebut bergerak [bergetar] maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Hira’ sesungguhnya tidak ada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” [Musnad Ahmad 5/346 no 22986, Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”]

حَدَّثَنَا  مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الأَزْدِيُّ قَالَ نا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ أنا الْحُسَيْنُ بْنُ وَاقِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَلَى حِرَاءٍ فَتَحَرَّكَ ، فَقَالَ مَا عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Syaqiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian tanahnya bergerak-gerak. Beliau berkata “tidaklah diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali radiallahu ‘anhum ajma’iin [Musnad Al Bazzar no 4419]

Hadis riwayat Al Bazzar di atas sanadnya kuat. Muhammad bin Yahya Al Azdiy adalah perawi Bukhari, Muslim dan Nasa’i seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/145] dan perawi lainnya sama seperti riwayat Ahmad. Dalam riwayat Ahmad tidak disebutkan nama Imam Ali tetapi dalam riwayat Al Bazzar disebutkan nama Imam Ali. Artinya para perawi hadis tersebut meringkas nama-nama yang dimaksud, terkadang menyebutkannya dan terkadang tidak. Oleh karena itu sangat penting untuk melihat hadis-hadis lain

.

.

.

Pada dasarnya membedakan dua peristiwa yaitu yang satu di Uhud dan yang satu di Hira’ tidaklah menguatkan hujjah salafy. Karena baik di Uhud maupun Hira’ Imam Ali dan sahabat yang lain ada di sana. Silakan perhatikan hadis ini

حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمُغِيرَةِ قَالا ثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ قَالَ أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْكُوفَةِ فِي زَمَانِ زِيَادِ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ يَسُبُّ أَصْحَابَنَا وَاللَّهِ لا نَفْعَلُ أَشْهَدُ لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَطَلْحَةُ وَالزُّبَيْرُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَأَنَا وَفُلانٌ فَحَفِظَهُمْ زَيْدٌ حَتَّى اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلا عَلَى أُحُدٍ فَرَجَفَ بِنَا الْجَبَلُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” اسْكُنْ أُحُدُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ ” فَسَكَنَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Yazid bin Sinan dan ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abi Maryam yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepadaku Zaid bin ‘Aslam yang berkata mengabarkan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Iraq bahwasanya ia pergi ke masjid yaitu masjid kufah di zaman Ziyad bin Abi Sufyan dan dia [Ziyad] pada hari itu mencaci sahabat kami. [laki-laki itu berkata] “demi Allah jangan melakukannya, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, aku, dan fulan sampai dua belas orang diatas Uhud. Kemudian gunung tersebut berguncang maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “tenanglah Uhud sesungguhnya tidaklah berada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” maka tenanglah gunung Uhud [Al Kunna Ad Duulabiy 1/89]

Hadis di atas diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat hanya saja tidak disebutkan nama laki-laki yang merupakan sahabat Nabi [disebut sahabat karena ia menyaksikan sendiri peristiwa yang dimaksud]. Kemungkinan ia adalah Sa’id bin Zaid sebagaimana yang disebutkan oleh Ad Duulabiy .

  • Abu Khalid Yazid bin Sinan adalah perawi Nasa’i yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq tsiqat”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Yunus juga menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 540]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/325]
  • ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah adalah perawi yang tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Yunus menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 581]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/698]
  • Sa’id bin Abi Maryam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat dari yang tsiqat”. Daruquthni berkata “tidak ada masalah” [At Tahdzib juz 4 no 23]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/350]
  • Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Nasa’i berkata “shalih” terkadang berkata “hadisnya lurus”. Ibnu Hibban memasukkanya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 126]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/262]
  • Zaid bin ‘Aslam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibnu Sa’ad, Nasa’i, Ibnu Khirasy dan Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 728].

Pada hadis di atas laki-laki yang merupakan sahabat Nabi itu mengabarkan langsung kepada Zaid bin Aslam, jadi riwayat ini muttasil [bersambung] dan para perawinya tsiqat. Tidak diragukan lagi hadis di atas shahih.

.

.

Berikutnya kami akan membahas hadis lain yang dijadikan hujjah oleh pengikut salafy. Pengikut salafy itu mungkin merasa dirinya sebagai orang yang lebih ahli dalam ilmu hadis dibanding mereka yang bukan pengikut salafy. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثنا ابن أبي عمر حدثنا سفيان حدثنا مالك بن مغول عن عبد الرحمن بن سعيد بن وهب الهمداني أن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن هذه الآية { والذين يؤتون ما آتوا وقلوبهم وجلة } قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Umar telah menceritakan kepada kami Sufyaan telah menceritakan kepada kami Maalik bin Mighwal, dari ‘Abdurrahmaan bin Sa’iid bin Wahb Al-Hamdaaniy Bahwa ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aaisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175]

Pengikut salafy itu berhujjah dengan hadis ini seraya menyatakan shahih. Ia berkata “jika Aisyah adalah putri Ash Shiddiq, maka siapakah ayahnya?”. Lha tidak diragukan kalau ayahnya Aisyah radiallahu ‘anhu adalah Abu Bakar. Yang membuat semua tulisannya jadi aneh bin gak nyambung adalah kami pribadi tidak pernah menolak penyebutan Abu Bakar sebagai Ash Shiddiq. Kalau ia bisa membaca dengan benar maka dalam tulisan kami, kami hanya menegaskan kalau Ash Shiddiq tidak hanya merujuk kepada Abu Bakar tetapi juga Imam Ali. Yah mungkin saja ia membaca tetapi tidak memahami [hal yang sudah biasa dilakukannya]. Seandainya hadis yang ia jadikan hujjah di atas adalah shahih tetap saja itu tidak mengurangi atau menafikan bahwa Imam Ali juga layak disebut Ash Shiddiq.

Kembali kepada hadis yang ia jadikan hujjah, kami katakan hujjahnya itu hanya bisa mengecoh kaum awam salafy yang gemar bertaklid kepada ulama-ulama salafy beserta para da’inya. Hadis yang dikutip salafy tersebut sanadnya tidak shahih karena ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu. Abu Hatim berkata “Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani tidak pernah bertemu Aisyah radiallahu ‘anhu” [Jami’ Al Tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 429]. Jadi hadis tersebut sanadnya terputus, aneh sekali bagi salafi yang suka mengatakan orang lain lemah ilmu hadis tetapi dirinya sendiri malah menshahihkan hadis yang sanadnya inqitha’. Sungguh menggelikan🙄

Hadis ini juga diriwayatkan dengan sanad yang bersambung kepada Aisyah tetapi masih terdapat pembicaraan dalam sanadnya. Kami tidak perlu membicarakan sanad hadis tersebut karena matan hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara ini. Hadis tersebut diriwayatkan dengan jalan dari ‘Abdurrahman bin Sa’id bin Wahb Al Hamdani dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Aisyah sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ath Thabari 19/46 dengan lafaz jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “bukan” tanpa tambahan “putri Ash Shiddiq” dan disebutkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Awsath 4/198 no 3965 dengan lafaz “bukan wahai Aisyah” tanpa menyebutkan putri Ash Shiddiq. Disini masih terdapat kemungkinan kalau lafaz Ash Shiddiq itu adalah tambahan dari para perawinya.

Mengenai Alasan penamaan Ash Shiddiq bagi Abu Bakar yang dikatakan ia telah membenarkan peristiwa isra’ mi’raj maka kami katakan Imam Ali pun membenarkannya bahkan beliau adalah orang yang paling dahulu membenarkan risalah kenabian karena beliaulah yang pertama kali memeluk islam. Jadi jika dengan alasan tersebut Abu Bakar dikatakan Ash Shiddiq maka dengan alasan yang sama Imam Ali lebih layak untuk dikatakan shiddiq. Melihat berbagai dalil yang ada maka pandangan yang kami pilih adalah Imam Ali dan Abu Bakar keduanya adalah Ash Shiddiq. Salam damai

62 Tanggapan

  1. @SP
    Selamat atas kemampuan menghindari diri dari kefanatisme-an dan kejumudan.

    @Salafiyyun
    Selamat atas gelar ash-Shiddiq yg dimiliki atas maula anda.

    Salam

  2. Maaf ya Mas, hujjah anda tidak kuat, jika diperbandingkan seluruh riwayat yang anda sebutkan di atas, gelar Ash Shiddiq merujuk kepada Abu Bakar adalah lebih rajih dari segala sisi drpada merujuk kpd Imam Ali. sedangkan untuk Imam Ali sudah jelas adalah Asy Syahid sebagaimana juga Umar dan Utsman, karena mereka semua mati terbunuh. kecuali anda pribadi ingin menggelari Imam Ali dengan ash Shiddiq ya monggo kerso, tetapi bagi kami berdasarkan dalil2 yg sangat kuat gelar Ash Shiddiq saat itu hanya disandang oleh Abu Bakar 🙂

  3. @paiman2

    Maaf ya Mas, hujjah anda tidak kuat, jika diperbandingkan seluruh riwayat yang anda sebutkan di atas, gelar Ash Shiddiq merujuk kepada Abu Bakar adalah lebih rajih dari segala sisi drpada merujuk kpd Imam Ali.

    Mana dalilnya, btw dalih apa lagi yang akan anda kemukakan:mrgreen:

    sedangkan untuk Imam Ali sudah jelas adalah Asy Syahid sebagaimana juga Umar dan Utsman, karena mereka semua mati terbunuh.

    ehem kalau Nabi SAW sendiri apakah seorang shiddiq dan syahid menurut anda?. silakan dijawab dengan lugas. btw anda gak perhatikan hadisnya ya, itu tuh kan ada hadis yang bilang syahidnya ada dua, lha kalau menurut anda Umar dan Ustman, jadi yang tersisa tinggal shiddiq. Kayaknya saya sering banget denger kata-kata “hujjah anda tidak kuat” anehnya orang tersebut berhujjah saja tidak:mrgreen:

    kecuali anda pribadi ingin menggelari Imam Ali dengan ash Shiddiq ya monggo kerso, tetapi bagi kami berdasarkan dalil2 yg sangat kuat gelar Ash Shiddiq saat itu hanya disandang oleh Abu Bakar

    Kalau yang dimaksud dalil kuat karena anda yang bilang “dalilnya kuat” maka dengan logika yang sama maka semua dalil orang manapun ya jadi kuat karena mereka juga bisa bilang begitu. btw silakan ditampilkan dalil yang menurut anda kuat atau anda mesti menunggu jawaban dari ustad salafiyun anda itu, yah bisa dimaklumi:mrgreen:

  4. @SP
    Kami menharap anda TEGAS dan tdk perlu ada rasa toleransi terhadap yang BATHIL.
    Mas mengatakan : Lha tidak diragukan kalau ayahnya Aisyah radiallahu ‘anhu adalah Abu Bakar. Yang membuat semua tulisannya jadi aneh bin gak nyambung adalah kami pribadi tidak pernah menolak penyebutan Abu Bakar sebagai Ash Shiddiq. Kalau ia bisa membaca dengan benar……..
    Padahal anda ragukan kata2 Aisyah.
    Kalau dilihat dari riwayat yang anda sampaikan maka riwayat terbanyak yang terjadi di HIRA.
    Apakah tidak mungkin telah terjadi sesuatu rekayasa atas tempat kejadian serta mereka yang hadir?
    Orang yang berpikiran sehat belum bisa menerima gelar As-Shiddiq atas Abubakar karena perbuatan2nya sepeninggal Rasulullah SAW. Salam damai Wasalam

  5. Jika abu bakr disebut sebagai as shadiq maka imam ali adalah shiddiqul akbar dan jika umar disebut sebagai al faruq maka imam ali As adalah al faruqul adham(riwayat an nasai dll)
    Baca sebelum beri komentar belajar dulu ttg hadist dan sekali lagi baca seluruh kitab-hadist dan ilmux maka ucapanku tadi takkan tertolak kecuali oleh orang yg gak baca dan gak mau baca dan gak mau mendengar
    sabda nabi SAW “Kun aliman au mutaalliman au mustamian au muhibban………………”

  6. @mustafa
    mantaaap. Tapi tetap Abubakar tidak diberi gelar As-Shiddiq oleh Rasul

  7. @SP

    Mana dalilnya, btw dalih apa lagi yang akan anda kemukakan

    Kan kita udah tau, di atas dalil naqli dan aqli, bagi salafiyyun, msh ada dalil “pokoknya” ?🙂

    @paiman2

    Menurut sampeyan, bagaimana ceritanya shgg Abubakar memperoleh gelar Ash-Shiddiq?🙂

    Salam

  8. Coba dicek satu per satu dalil2 yg anda sebutkan

    1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    2. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair (keenamnya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya 6org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair , Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id” [Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

    TKP = Hira/Uhud (ada 2 peristiwa di tempat berlainan)
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair (semuanya tewas terbunuh)
    ? = Sa’ad, Abdurrahman, Sa’id
    Pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    4. Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata menceritakan kepada kami Rawh yang berkata menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Hira’ atau Uhud dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “ diamlah, ada Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [Fadha’il Ash Shahabah no 869 dishahihkan oleh Washiullah ‘Abbas]

    TKP = Uhud/Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    5. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalaf yang menceritakan kepada kami ‘Abu Dawud yang menceritakan kepada kami ‘Imran dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian gunung mengguncangkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar, Utsman dan Ali [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1439]

    TKP = Hira’
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq =
    Syahid = Umar, Utsman, Ali (ketiganya tewas terbunuh)
    Matan riwayat ini ganjil krn berbeda dg riwayat2 lain dg tdk disebutnya Abu Bakar, kemungkinan besar kekeliruan pada Imran Al- Qaththan karena lemah hapalannya. Ga bisa dijadikan hujjah

    6. Telah menceritakan kepada kami ‘Ashim Al ‘Ahwal yang menceritakan kepada kami Mu’tamar dari ayahnya dari Qatadah dari Abu Ghallab dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman berada di atas Hira’ kemudian tanah mengguncangkan mereka atau menggerakkan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1440]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    7. Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Uhud dan mengikutinya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Uhud, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1438]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar, jelas berdasarkan urutan dan maklum berdasarkan hadits-hadits yang lain dr Anas.
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh) berdasarkan riwayat2 lain dr Anas
    ? = Ali
    1. Matan riwayat ini pun ganjil, krn Shiddiq yg disebutkan Nabi SAW hanya utk 1 org dan dg melihat riwayat2 yg lain Abu Bakar lah yg dimaksud, atau memang saat itu yg paling dekat dg Nabi SAW adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka merekalah yg dimaksud oleh beliau sebagaimana riwayat2 yg lain disebutkan secara berurutan. Sedangkan Ali dalam riwayat ini tidak mendapat bagian krn urutannya yg terakhir. Mana mungkin 4 = 5
    2. Hal ini menunjukkan bahwa sabda Nabi di Uhud adalah untuk Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan di Hira’ Imam Ali termasuk yg dimaksud sebagai syahid

    8. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan yang berkata menceritakan kepada kami Husain yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas Hira’ dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman radiallahu ‘anhum kemudian gunung tersebut bergerak [bergetar] maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Hira’ sesungguhnya tidak ada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” [Musnad Ahmad 5/346 no 22986, Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya kuat”]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    9. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Syaqiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian tanahnya bergerak-gerak. Beliau berkata “tidaklah diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali radiallahu ‘anhum ajma’iin [Musnad Al Bazzar no 4419]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Utsman, Ali (ketiganya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya empat org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    10. Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Yazid bin Sinan dan ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abi Maryam yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepadaku Zaid bin ‘Aslam yang berkata mengabarkan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Iraq bahwasanya ia pergi ke masjid yaitu masjid kufah di zaman Ziyad bin Abi Sufyan dan dia [Ziyad] pada hari itu mencaci sahabat kami. [laki-laki itu berkata] “demi Allah jangan melakukannya, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, aku, dan fulan sampai dua belas orang diatas Uhud. Kemudian gunung tersebut berguncang maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “tenanglah Uhud sesungguhnya tidaklah berada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” maka tenanglah gunung Uhud [Al Kuna Ad Duulabiy 1/89]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Ali, Utsman, Thalhah, Zubair (semuanya tewas terbunuh)
    ? = Abdurrahman, Sa’ad, Sa’id
    Pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    Perhatikanlah, perawi selalu konsisten dengan Urutan Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali baru kemudian sahabat yang lain, urutan penyebutannya Nabi, Shiddiq, Syahid. Maka kesimpulan yg sangat jelas dan rajih adalah : Nabi SAW, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq, Sahabat2 yang Syahid.

    Disini saya tidak melihat adanya dalil bahwa shiddiq yg dimaksud adalah Ali, justru secara konsisten perawi menyebutkan urutan Shiddiq selalu jatuh pada urutan Abu Bakar.

  9. @paiman
    Sungguh hebat matematik anda. sorang polisi
    Bagaimana matematik dibawah ini
    Abubakar waktu mempertahankan Tanah Fadak menyatakan bahwa Para Nabi Tidak meninggalkan Warisan adalah satu kebohongan jadi tidak bisa dekatakan shiddiq
    Umar dibunuh karena mempertahanakan KEDUDUKAN=RAKUS dunia
    Utsman dibunuh karena mempertahankan kekayaan=Rakus harta/dunia
    Jadi Abubakar=berbohong
    Umar dan Utsman mati karena Rakus Dunia

  10. @paiman2

    Coba dicek satu per satu dalil2 yg anda sebutkan

    Silakan, sekalian saya cek cara berpikir anda atau cara anda berhujjah

    1. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar yang menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas yang menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah SAW mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung Uhud mengguncangkan mereka. Rasulullah SAW bersabda “diamlah wahai Uhud sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3697]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    Telah ditunjukkan bahwa perawi tersebut telah meringkas hadis yang dimaksud, jadi dengan mengumpulkan semua hadis riwayat Anas maka yang ada disana adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Merujuk kepada riwayat Anas dimana yang syahid disebutkan jumlahnya yaitu dua orang yang menurut anda adalah Umar dan Utsman maka yang shiddiq tinggal dua orang yaitu Abu Bakar dan Imam Ali. Jadi dengan hadis Uhud atau Hira riwayat Anas maka
    Nabi = Nabi Muhammad SAW
    Shiddiq= Imam Ali dan Abu Bakar
    Syahid = Umar dan Utsman
    Ngomong-ngomong anda belum menjawab pertanyaan saya, apakah Nabi SAW itu seorang shiddiq? atau apakah Nabi SAW seorang syahid? tolong dijawab🙂

    2. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah berada di atas Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair. Kemudian tanahnya bergerak-gerak, maka Nabi SAW bersabda “diamlah, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid” [Sunan Tirmidzi 5/624 no 3696 dengan sanad shahih]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Ali, Utsman, Thalhah dan Zubair (keenamnya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya 6org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan

    Saya bingung kayaknya anda ini yang punya kelainan, anda berkata dalam komentar anda

    krn Shiddiq yg disebutkan Nabi SAW hanya utk 1 org dan dg melihat riwayat2 yg lain Abu Bakar lah yg dimaksud,

    Silakan tuh perhatikan hadis Abu Hurairah, lafaznya Nabi atau shiddiq atau syahid. Kalau anda mau sok mengatakan shiddiq yang disebutkan satu orang maka syahid yang ada disana juga satu orang toh dengan logika anda yang sama pula. Faktanya anda menyebutkan lima orang. Apa dalam pikiran anda satu =lima atau satu=lima=enam [karena anda menyebut kekenamnya tewas terbunuh]:mrgreen:
    Kalau saya pribadi, perkataan shiddiq dan syahid itu tidak mesti satu orang. Dengan hadis Abu Hurairah
    Nabi=Nabi Muhammad SAW
    Shiddiq =Imam Ali dan Abu Bakar
    Syahid= Umar, Utsman, Thalhah, Zubair bisa keempatnya atau bisa pula tidak. Soalnya kan ada hadis Anas yang bilang syahidnya cuma dua
    Ngomong-ngomong saya mau tanya dengan anda. Apakah semua orang yang tewas terbunuh disebut syahid?. Kalau ia terbunuh karena membela sesuatu yang salah, apakah masih disebut syahid?. Silakan pikirkan dengan baik, sekedar ingin tahu cara anda menjawab

    3. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dari Hilal bin Yisaaf dari Abdullah bin Zhaalim yang berkata “Mughirah bin Syu’bah berkhutbah lalu ia mencela Ali. Maka Sa’id bin Zaid keluar dan berkata “tidakkah kamu heran dengan orang ini yang telah mencaci Ali, Aku bersaksi bahwa kami pernah berada di atas gunung Hira atau Uhud lalu Beliau bersabda “diamlah hai Hira atau Uhud, karena di atasmu terdapat Nabi atau shiddiq atau syahid. Kemudian Nabi SAW menyebutkan sepuluh orang. Maka [Sa’id] menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair , Sa’ad, Abdurrahman bin ‘Auf dan dirinya sendiri Sa’id” [Musnad Ahmad no 1638 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir]

    TKP = Hira/Uhud (ada 2 peristiwa di tempat berlainan)
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair (semuanya tewas terbunuh)
    ? = Sa’ad, Abdurrahman, Sa’id
    Pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    Nah sekarang kelihatan jelas logika anda. Anda menggunakan cara berpikir melihat sejarah para sahabat yang ada disana dan melihat siapa yang syahid [menurut anda] maka dimasukkanlah ia ke dalam hadis di atas sebagai syahid. Buktinya anda bingung Sa’ad, Abdurrahman dan Sa’id mau anda masukkan kemana?. Seharusnya dengan logika anda itu maka anda melihat pula sejarah Imam Ali dan maaf ya diantara semua sahabat yang disana Imam Ali lah yang pertama kali membenarkan Nabi SAW bahkan lebih dahulu dari Abu Bakar maka Beliau seorang yang shiddiq. Orang yang menolak fakta Imam Ali ini maka bisa dipastikan ia punya kelainan. jadi
    Nabi = Nabi Muhammad SAW
    Shiddiq = Imam Ali dan Abu Bakar
    Syahid = sisanya bisa semuanya atau tidak semuanya

    4. Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata menceritakan kepada kami Rawh yang berkata menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Hira’ atau Uhud dan bersamanya ada Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian gunung berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “ diamlah, ada Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid” [Fadha’il Ash Shahabah no 869 dishahihkan oleh Washiullah ‘Abbas]

    TKP = Uhud/Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya tiga org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    Sama dengan sebelumnya, riwayat Anas tersebut adalah ringkasan dari perawinya. Faktanya di sana juga terdapat Imam Ali. jadi
    Nabi= Nabi Muhammad
    Shiddiq= Imam Ali dan Abu Bakar
    Syahid= dua orang yaitu Umar dan Utsman
    soal apa yang anda tulis Uhud/Hira. Saya mau tanya maksud anda kejadian itu di Hira atau di Uhud atau di keduanya?. kalau anda bilang cuma satu saja yaitu bisa Hira saja atau Uhud saja maka atas dasar apa anda menafikan salah satunya. Kalau anda bisa bilang keduanya maka apa dasar anda?. kalau anda mau bilang berhujjah dengan hadis lain maka itu juga yang saya lakukan. Saya tidak menjadikan satu hadis tersebut sebagi satu-satu seolah-olah anda mau bilang satu hadis berarti satu kejadian dengan jumlah sahabat yang berbeda-beda padahal sangat jelas disini perawi hadis meringkas hadis yang dimaksud.

    7. Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Uhud dan mengikutinya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “diamlah Uhud, sesungguhnya diatasmu terdapat Nabi, shiddiq dan dua orang syahid” [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1438]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar, jelas berdasarkan urutan dan maklum berdasarkan hadits-hadits yang lain dr Anas.
    Dua orang syahid = Umar dan Utsman (keduanya tewas terbunuh) berdasarkan riwayat2 lain dr Anas
    ? = Ali

    Tidak ada logika sesuai urutan disini karena tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Nabi atau Shiddiq atau syahid itu terjadi dengan urutan.penyebutan.

    1. Matan riwayat ini pun ganjil, krn Shiddiq yg disebutkan Nabi SAW hanya utk 1 org dan dg melihat riwayat2 yg lain Abu Bakar lah yg dimaksud, atau memang saat itu yg paling dekat dg Nabi SAW adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka merekalah yg dimaksud oleh beliau sebagaimana riwayat2 yg lain disebutkan secara berurutan. Sedangkan Ali dalam riwayat ini tidak mendapat bagian krn urutannya yg terakhir. Mana mungkin 4 = 5

    Matan hadis tersebut tidak ganjil tetapi jalang pikiran anda yang ganjil, Kalau anda mengatakan shiddiq itu berarti satu maka seharusnya di hadis-hadis lain dengan lafaz “Nabi atau Shiddiq atau Syahid” seharusnya ada tiga orang saja lantas kenapa anda malah menyebutkan lebih dari tiga, silakan tuh dicek dari awal anda sudah tanaqudh. Contohnya di hadis Abu Hurairah, syahid itu seharusnya dengan cara pikir anda itu berarti satu lha kok anda menyebutkan lima. Jadi
    Nabi= Nabi Muhammad SAW
    Shiddiq=Imam Ali dan Abu Bakar
    Syahid=Umar dan Utsman sesuai dengan hadis tersebut yang menyebutkan jumlah syahid tersebut ada dua.

    2. Hal ini menunjukkan bahwa sabda Nabi di Uhud adalah untuk Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan di Hira’ Imam Ali termasuk yg dimaksud sebagai syahid

    Baik di Uhud atau di Hira sebenarnya sahabat yang ada disana tidak hanya mereka bertiga, selain mereka ada Imam Ali. Anda tidak punya dalil dalam menetapkan yang mana shiddiq dan yang mana syahid kecuali dengan sejarah yang anda ketahui atau anda asumsikan. makanya anda bisa bilang dengan jelas kalau Umar dan Utsman yang disebut syahid karena keduanya anda katakan tewas terbunuh dan anda sebut Abu Bakar sebagai shiddiq karena yang anda tahu dari dulu dari sejarah bahwa gelar Ash Shiddiq masyhur untuk Abu Bakar. Pada batas ini penafsiran anda masih bisa ditolerir dalam arti sah sah saja anda mau menafsirkan begitu tetapi ketika anda menafikan Imam Ali sebagai Ash Shiddiq atau gelar tersebut khusus untuk Abu Bakar maka anda keliru. Gelar masyhur Ash Shiddiq bagi Abu Bakar dalam sejarah itu dikatakan karena ia membenarkan peristiwa isra’ mi’raj, Nah Imam Ali juga membenarkan Nabi SAW bahkan kalau merujuk pada sejarahnya Imam Ali adalah orang pertama yang membenarkan Kenabian Nabi Muhammad SAW bahkan dikala Abu Bakar masih kafir. Jadi sangat layak gelar Ash Shiddiq itu disematkan bagi Imam Ali.

    9. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Syaqiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas Hira’ kemudian tanahnya bergerak-gerak. Beliau berkata “tidaklah diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali radiallahu ‘anhum ajma’iin [Musnad Al Bazzar no 4419]

    TKP = Hira
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Utsman, Ali (ketiganya tewas terbunuh)
    Disebutkan hanya empat org selain Nabi SAW, pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan

    Yang lucu bin ajaib adalah ketika ada hadis yang tidak menyebutkan nama Abu Bakar maka anda langusng bilang riwayat ini ganjil. Anehnya ketika ada riwayat yang tidak menyebutkan nama Imam Ali dan sahabat lainnya atau hanya menyebutkan nama Abu Bakar dan Umar dan Utsman saja maka anda bilang ini hujjah yang kuat. Kan gampang juga kalau mau dibilang ganjil mengingat di hadis-hadis lain yang lebih banyak disebutkan jumlahnya lebih dari tiga. Jujur ya logika separuh-separuh seperti itu seperti orang yang tidak punya metode sama sekali, kalau bahasa anda “ada kelainan”:mrgreen:

    10. Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Yazid bin Sinan dan ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin Mughirah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abi Maryam yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepadaku Zaid bin ‘Aslam yang berkata mengabarkan kepadaku seorang laki-laki dari penduduk Iraq bahwasanya ia pergi ke masjid yaitu masjid kufah di zaman Ziyad bin Abi Sufyan dan dia [Ziyad] pada hari itu mencaci sahabat kami. [laki-laki itu berkata] “demi Allah jangan melakukannya, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, aku, dan fulan sampai dua belas orang diatas Uhud. Kemudian gunung tersebut berguncang maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “tenanglah Uhud sesungguhnya tidaklah berada diatasmu kecuali Nabi atau shiddiq atau syahid” maka tenanglah gunung Uhud [Al Kuna Ad Duulabiy 1/89]

    TKP = Uhud
    Sesuai dengan urutan :
    Nabi = Nabi Muhammad
    Shiddiq = Abu Bakar
    Syahid = Umar, Ali, Utsman, Thalhah, Zubair (semuanya tewas terbunuh)
    ? = Abdurrahman, Sa’ad, Sa’id
    Pengertian yg jelas dan hujjah yg kuat kecuali org yg punya kelainan.

    Lagi-lagi anda menunjukkan kelainan disini. Apa artinya tanda tanya untuk Abdurrahman, Sa’ad dan Sa’id. Aneh anda bisa tahu dengan pasti kedudukan yang lain tetapi untuk mereka dikasih tanda tanya. Ngaku saja deh, anda itu dari awal sudah menetapkan terlebih dahulu siapa shiddiq dan syahid baru deh mencocokkan dengan hadis di atas. Saya tidak bilag itu salah, tapi jangan naif untuk mengatakan anda pasti benar karena dengan logika yang sama bahkan jauh lebih baik dengan melihat sejarah baik Abu Bakar dan Imam Ali maka Imam Ali itu lebih layak untuk dikatakan Ash Shiddiq.

    Perhatikanlah, perawi selalu konsisten dengan Urutan Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali baru kemudian sahabat yang lain, urutan penyebutannya Nabi, Shiddiq, Syahid. Maka kesimpulan yg sangat jelas dan rajih adalah : Nabi SAW, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq, Sahabat2 yang Syahid.

    Nggak kok, kalau anda meributkan soal konsisten atau tidak disini maka banyak hal yang seharusnya anda katakan tidak konsisten. Dimulai dari penyebutan tempat apakah di Hira ataukah di Uhud, dan dimulai dari jumlah sahabat ada yang menyebut tiga, ada yang menyebut empat, ada yang menyebut enam, ada yang menyebut sembilan. Apa anda mau katakan 3=4=6=9?. atau anda mau mengatakan hadis tersebut berbeda karena perawi yang menghafalkannya berbeda-beda, ada yang meringkas dan ada pula yang tidak.kalau begitu bukankah pemahaman yang utuh haruslah menggabungkan semua hadisnya. Nah jika digabungkan semua hadisnya maka kejadian tersebut terjadi di Hira atau di Uhud dan ada banyak sahabat yang ada disana termasuk didalamnya Imam Ali. Jadi Imam Ali masuk dalam keutamaan hadis tersebut?. Nabi ya jelas tidak mungkin, maka kemungkinannya ada dua yaitu Shiddiq atau Syahid. bagaimana cara menetapkannya maka metode saya adalah dengan melihat sejarah atau hadis-hadis lain dimana Imam Ali adalah orang pertama yang membenarkan Nabi.

    Disini saya tidak melihat adanya dalil bahwa shiddiq yg dimaksud adalah Ali, justru secara konsisten perawi menyebutkan urutan Shiddiq selalu jatuh pada urutan Abu Bakar.

    Justru kalau anda hanya berpegang pada hadis-hadis ini saja, ingat ya tanpa memakai informasi lain maka anda tidak punya dalil sedikitpun untuk menetapkan mana yang shiddiq dan mana yang syahid. Anda sendiri menetapkan mana yang syahid dengan informasi lain [sejarah] tentang para sahabat yang menurut anda tewas terbunuh. Sehingga untuk sahabat seperti Abdurrahman, Sa’ad dan Sa’id anda bingung mau menetapkan apa padahal mereka juga ada disana. Kemudian cara anda menetapkan Ash Shiddiq pun tidak lain karena gelar yang masyhur bahwa Abu bakar adalah Ash Shiddiq atau dengan berpegang pada sebagian hadis Anas karena menurut anda hanya ada tiga yaitu Abu bakar, umar dan Utsman dan menurut anda Umar dan Utsman adalah syahid maka Abu Bakar sudah jelas Shiddiq. Tentu saja hujjah anda ini sudah mentah duluan dengan dasar hadis Anas itu sebenarnya hanya ringkasan, sahabat yang ada disana lebih dari tiga dan Imam Ali berada disana. Jadi dimana letak hujjah kuat yang anda miliki, Saya tidak mengatakan anda salah soal Abu Bakar sebagai Shiddiq tetapi apa hak atau dalil anda mengatakan salah kalau Imam Ali juga adalah Ash Shiddiq. Saya memilih pendapat yang saya anggap lebih rajih dan kuat yaitu Imam Ali lebih layak dikatakan Ash Shiddiq karena ia selalu membenarkan Nabi SAW sejak pertama kali Nabi SAW diutus dan saya juga menerima Abu Bakar disebut sebagai Ash Shiddiq karena ia juga membenarkan Nabi SAW. Dari sudut pandang ini, pendapat saya jauh lebih kuat daripada anda.

  11. Intinya, jika kita melihat hadits2 yg anda bawakan di atas, terdapat matan yg berbeda-beda walaupun sebenarnya semisal. dan kalau diperhatikan dari 10 riwayat di atas 9 riwayat menyebutkan urutan setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakar baru kemudian sahabat yg lain. dan keseluruhan riwayat menyebutkan urutan kedudukan/predikat yaitu setelah Nabi kemudian Shiddiq. kesimpulannya karena yg kita bahas di sini adalah masalah ash shiddiq (bukan syahid) maka shiddiq yang dimaksud dalam riwayat2 tersebut adalah Abu Bakar sesuai dg urutan predikat, sedangkan predikat shiddiq utk selain Abu Bakar, saya tidak melihat adanya petunjuk pada riwayat2 di atas.

    jika mengikuti alur pikiran anda, yg digelari shiddiq selain Abu Bakar, bukan hanya Ali saja, tetapi bisa juga Umar, Utsman atau sahabat yg lain. justru hal ini menunjukkan kelemahan hujjah anda.

  12. Salam
    Dari pembahasan hadits-hadist di atas, tidak ditemukan keterangan yang jelas adanya penyebutan atau pemberian gelar ash-shiddiq yang dikhususkan kepada Abu Bakar oleh Rasulullah s.a.w.
    Gelar ash-shiddiq yang disematkan kepada Abu Bakar selama ini hanyalah karena beliau membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Di lain pihak, Imam Ali bin Abi Thalib juga mermbenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Kenapa gelar ash-shiddiq juga tidak disematkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ? Hal ini yang menjadi pertanyaan bagi orang yang mau berpikir. Mungkin nanti mas SP bisa menampilkan pembahsan yang lebih detail tentang hal ini.
    Bila melihat fakta sejarah ( mengingat hadis-hadis yang ada tidak merangkan secara jelas untuk siapa gelar ash-shiddiq diberikan ), maka yang paling pantas (asumsi) adalah Imam Ali bin Abi Thalib.
    Wallahu’alam
    Wassalam

  13. @ paiman2

    Siddiq-kah seorang yang mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi sementara dia LARI DARI PERANG?????

    Lalu ketika Nabi.saw memerintahkannya bergabung dengan pasukan Usamah Bin Zaid mengapa pula dia bersama dua temannya menolak keras perintah Nabi.saw sehingga Nabi.saw memarahinya, Nabi.saw bersabda: SEGERA BERANGKATKAN PASUKAN USAMAH, SIAPA YANG ENGGAN BERGABUNG MAKA LAKNAT ALLAH KEATASNYA” (Asy-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, Miqaddimah hlm.15)

    Kalau dia benar-benar Siddiq mengapa ia LARI dari perang, apakah itu karena dalamnya keimanannya????

  14. Kalau ada yang memberi PREDIKAT Shiddiq pada Abubakar maka orangnya adalah Umar b. Khattab. Karena Abubakar selalu membenarkan kata2 Umar tanpa
    bantahan dan mengamalkan. Wasalam

  15. Intinya, jika kita melihat hadits2 yg anda bawakan di atas, terdapat matan yg berbeda-beda walaupun sebenarnya semisal. dan kalau diperhatikan dari 10 riwayat di atas 9 riwayat menyebutkan urutan setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakar baru kemudian sahabat yg lain. dan keseluruhan riwayat menyebutkan urutan kedudukan/predikat yaitu setelah Nabi kemudian Shiddiq.

    Kalau memang cara berhujjah anda seperti ini, maka secara metodologi sudah jelas lemah. Anda mendasarkan siapa yang shiddiq berdasarkan urutan yang justru tidak ada relevansinya disini. Dalam hadis di atas tidak ada Urutan tersebut menjelaskan soal siapa shiddiq dan syahid. Bahkan ada tuh hadis yang menyebutkan dengan urutan Umar, Utsman dan Ali tanpa menyebutkan Abu Bakar. Riwayat itu sanadnya hasan

    kesimpulannya karena yg kita bahas di sini adalah masalah ash shiddiq (bukan syahid) maka shiddiq yang dimaksud dalam riwayat2 tersebut adalah Abu Bakar sesuai dg urutan predikat, sedangkan predikat shiddiq utk selain Abu Bakar, saya tidak melihat adanya petunjuk pada riwayat2 di atas.

    Lha kalau berdasarkan urutan maka seharusnya setiap orang juga bisa menyebutkan urutan versi masing-masing. Bahkan orang bisa bilang yang shiddiq adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali dan yang syahid adalah Thalha dan Zubair atau yang lainnya. nah toh dengan Urutan [metode anda yang aneh itu] saya masih bisa menegakkan hujjah saya dan anda tetap tidak punya hak menafikan sampai mana batas urutannya.

    jika mengikuti alur pikiran anda, yg digelari shiddiq selain Abu Bakar, bukan hanya Ali saja, tetapi bisa juga Umar, Utsman atau sahabat yg lain. justru hal ini menunjukkan kelemahan hujjah anda.

    Maaf itu berarti anda tidak memahami tulisan saya dengan baik. letak hujjah saya bahwa siapa Ash Shiddiq adalah dari sejarah bahwa Imam Ali adalah orang pertama yang membenarkan Nabi SAW, sedangkan Abu Bakar, Umar dan Utsman bukan yang pertama. Dan mengapa saya menerima Abu Bakar juga sebagai Ash Shiddiq karena terdapat hadis dimana Abu Bakar juga membenarkan Nabi ketika Umar dan Utsman masih mendustakan Nabi dan riwayat lain [yang dhaif] soal Abu Bakar membenarkan isra’ mi’raj. Salam🙂

  16. si @paiman…
    membahas hadits itu dgn dalil pokoknya…
    kalau ada kata shiddiq pokoknya harus abu bakar…even itu disebut Nabi atau shiddiq atau syahid…

    jadi si @paiman ini sdh berkesimpulan sebelum membicarakan…

    ini lah yg disebut dalil POKOKnya Salafy wa katrok-i..hehehhe

  17. yah begitulah klu orang menggunakan logika tanggung, akhirnya semua serba tanggung,
    klu mau dilihat dr kenyataan sejarah n dalil quran maka kita bisa lihat siapa sebenarnya yg pantas mendpt gelar asshiddiq.
    Qs ashaff 6.
    Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

    siapakah yg pertama kali yg membenarkan ttg kenabian muhammad?

    Qs alqashas34.
    Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkata- an)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.”

    lihatlah hadits,bhwsanya” aku n ali bagaikan musa n harun tp tdk ada nabi setelah aku”
    sdh jelas kan bhw ali as lah yg pantas mendapat gelar tsb.
    dan beliau sampai akhir hayatnya ttp konsisten.
    sedang abubakar umar n utsman telah menentang rosul, yaitu diwaktu rosul memerintahkan mereka berperang yg panglimanya adalah usamah bn zaid,
    jelaslah bhw gelar tsb tdk pantas disematkan ke mereka.
    sadar ya paiman….

  18. Salam

    “Dan mengapa saya menerima Abu Bakar juga sebagai Ash Shiddiq karena terdapat hadis dimana Abu Bakar juga membenarkan Nabi ketika Umar dan Utsman masih mendustakan Nabi dan riwayat lain [yang dhaif] soal Abu Bakar membenarkan isra’ mi’raj”

    Ternyata Umar bin Khattab dan Usman bin Affan sempat mendustakan peristiwa Isra dan Mi’raj Rasulullah s.a.w (riwayat dhaif). Apakah ada riwayat (yang dhaif sekali pun) yang menerangkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalih juga sempat mendustakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ?

    Wassalam

  19. @paiman
    Top ngetop hujjahnya akhi.. Si Secprice n friend kagak bise ngejawab cuma ngedumel pake akal-akalan versi syiah mereka.. ane lucu liat mereka kalo udah kena “batunya” mungkin ntar lagi ada “jurus” baru dari mereka pilintir ala syiah… mereka ini lebih berbakat jadi AKUPUNTUR

  20. Salam
    @abu jufri
    Mana pernyataan yang ente bilang hujjah? Dilihat dari hadits-hadits yang ditampilkan dalam makalah di atas dan dalam komentar-komentar, tidak ada satu pun hadits yang menerangkan secara jelas pemberian gekara ash-shiddiq baik kepada Abu Bakar maupun Imam Ali. Baik mas SP maupun mas paiman hanya melakukan pendekatan-pendekatan saja terhadap hadits-hadits tersebut. Pendekatan mereka bisa saja benar bisa juga keliru.
    Wallahu’alam
    Wassalam

  21. Salam
    @all
    Apakah makalah-makalah dalam blog ini sedang membicarakan tentang syi’ah ???
    Kayaknya ada pengunjung yang salah masuk blog tuh…!
    Wassalam

  22. @ abu jufri

    Kata anda:
    Top ngetop hujjahnya akhi.. Si Secprice n friend kagak bise ngejawab cuma ngedumel pake akal-akalan versi syiah mereka..

    Apa anda tidak salah tuduh???

    Yang medumel pake akal-akalan siapa? Kami nggak melihat adanya akal-akalan SP disini! Kalau menurut anda ada, yang mana akal-akalan SP dan Friendnya????

    Kata anda:
    ane lucu liat mereka kalo udah kena “batunya” mungkin ntar lagi ada “jurus” baru dari mereka pilintir ala syiah… mereka ini lebih berbakat jadi AKUPUNTUR

    Yang mana yang dipelintir oleh atau ala Syiah? Tolong ditunjukkan, gitu!

    Bukannya yang suka memelintir hadis golongan anda, yaitu Salafy (Generasi setan dari Najed) terutama makhluk terkutuk Ibnu Taimiyah GEMBONG SETAN Bani Mudhar.!!!

    Lihat aja di blog “INILAH IBNU TAIMIYAH” bukannya Ibnu Taimiyah dan Salafy tukang pelintir hadis.????

    Datang aja kesana dan mohon dibela tuh jagoan anda Ibnu Taimiyah Bin Mudhar al-Kadzab al-Munafiqun.

  23. @abu jufri
    wah payah selain tdk cerdas anda pun asbun

  24. @abu jufri
    Anda pernah lihat iklan AS 2000? Nah mulut yang ditutup dengan KABAR BURUNG itu adalahy anda .Anda berbicara berdasarkan apa kata yang memelihara anda

  25. @paiman

    Sy tdk pernah mendengar ada penarikan kesimpulan yg digunakan sebagai hujjah berdasarkan “metode urutan”. Bahkan di semua mazhab yg sy kenal. Apakah ini salah satu metode dari mazhab salafiyyun layaknya dalil “pokoknya”?

    @abujufri

    Apakah sampeyan jg pernah mendengar adanya metode penarikan kesimpulan seperti ini di mazhab sampeyan shgg sampeyan begitu gembiranya membaca tulisan sdr paiman?

    Salam

  26. Kenapa Sih hal-hal yang sudah jelas dipaksa jadi kabur? kita2 yg baca tidak semua bodoh & buta kok🙂

  27. @sok tau banget
    mana yg sdh jelas? n jelas menurut siapa?
    bukankah paiman memaksakan dalilnya
    ini krn anda sdh terdoktrinasi,tanpa anda teliti lalu anda main telan,tp ketika ada yg menelitinya lebih dlm,ternyata ada kesalahan,
    mestinya anda berfikir,mana yg benar,menelitinya scr mendlm kemudian terdpt kesimpulan,atau menerima informasi begitu sj n menerima kesimpulan sepihak?

  28. @ sok tau banget

    Anda keliru, justru sebaliknya hal-hal yang kabur diperjalas disini. Dengan dibongkarnya fakta2 seperti di atas oleh SP makin jelas bahwa orang yang selama ini diagung-agungkan secara berlebihan (tentunya dengan cara menutup-nutupi dan memperkosa fakta dan catatan sejarah serta mempermainkan hadis2 Nabi.saw) ternyata beliau tidak seagung doktrin palsu yang selama ini telah dianggap mapan.

    Dengan begitu banyak fakta yang terbongkar di sini makin jelas kebenaran dan hujjah ahlulbait dan sebaliknya akan meruntuhkan kebatilan2 dan membuat musuh-musuh Ahlulbait seperti Salafy Wahabi dan Sunni fanatik makin sesak dada, sakit hati, kebakaran jenggot karena ajaran-ajaran bohong mereka mulai tidak laku dan tidak mendapat tempat dalam kebenaran Islam.

    Kalau seandainya hal ini menyakitkan bagi Salafy Wahabi Nashibi maka itu adalah wajar sebagaimana Iblis dulunya sakit hati pada Adam.as.
    Bagi golongan munafik seperti Salafy Nashibi maka setiap fakta yang menyakitkan mereka tidak segan2 akan berkata seperti diatas dan nanti ujung2nya Syiah yang dikambing hitamkan atau SP nya yang akan dituduh macam2.

    Kalo soal tuduh menuduh, fitnah memfitnah, membolak-balik fakta, hingga caci maki maka Salafy Nashibi adalah jagonya, mentalnya sama dengan gombong munafik mereka yaitu Ibnu Taimiyah BIN MUDHAR (yang dikatakan oleh Nabi.saw sebagai setan dari BANI MUDHAR dan Muhammad bin Abdul Wahhab AN-NAJDI atau Bin Baz AN-NAJDI dari NAJED)

  29. Salam
    @aldj
    Sama kan dengan nicknamenya, SOK TAU BANGET

    @Ytse-Jam
    Mereka selalu mengatakan bahwa mencintai ahlul bayt, tapi tidak senang dengan riwayat yang menyebutkan tentang ahlul bayt. Apalagi kalau sampai mengikuti ahlul bayt. Itulah orang-orang yang katanya memegang teguh sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w.
    Wallahu’alam

    Wassalam

  30. @ PANTEREK

    Iya Mas. Benar Sekali.

    Mereka memang memegang teguh pada Sunnah Nabi.saw tapi yang palsu saja dan yang sesuai untuk mendukung kemunafikan dan hawa nafsunya saja.

    Salam

  31. ya ampun, kayak gini aja diributin….. sok tau banget loe pada… yg dikasih gelar aja ngga ada yg ribut…..

  32. @ obapak

    Anda Benar, tapi tidak benar-benar.
    Yang dikasih gelar memang nggak ribut karena yang satu mengetahui kalau memang gelar itu pantas baginya, dan yang satu lagi mungkin tidak tau kalau gelar itu di kemudian hari “diberikan oleh orang” padanya. Ngapain mereka ribut.

    Disini bukan sedang meributkan gelar2 itu tapi hanya sekedar untuk menunjukkan pada orang2 yang melihat apa yang berhak untuk mereka lihat agar kebenaran menjadi nyata.
    Dengan terungkapnya kebenaran maka kebatilan akan ditinggalkan kecuali oleh orang yang fanatik buta dan orang2 yang hatinya berpenyakit.

  33. assalamualaikum,

    yang mulai bung sp,, boleh ga saya minta alamtnya? silahkan hubungi saya lewat e-mail, demi Allah yang menumbuhkan biji-bijian, saya rindu sekali u bertemu dengan ahlulbait nabi saw, sesak dada rasanya mencintai tetapi tidak dapat bertatap atau berkata2.. adakah keluarga yng suci ini di provinsi saya? saya tinggal di jambi, insya Allah tanggal 11-14 juli ada di jakrta, saya akan tinggal di slipi… mohon petunjukny…

    wassalam

  34. assalamualaikum,

    yang penting gelar shidiqin itu hanya untuk orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, sesuai dengan Alquran surat Annisa [4} ayat 69 “dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”

    yang jadi pertanyaan Nikmat apa yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka dan siapa saja Para Shidiqqin dalam ayat tersebut?

    Wassalam

  35. Salamu Alaykum Mas SP, saya mau nanya neh.

    Dua Syahid yang dimaksud oleh hadits tersebut, apakah dapat dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ali Wassalam dan Imam Ali AS? Kalo dapat, apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ali Wassalam yang wafat dengan cara tidak dibunuh dapat dikatakan syahid? Meskipun ada beberapa orang yang berpendapat Beliau wafat diracun, tetapi ini juga masih diperdebatkan. Mohon penjelasannya ya Mas SP. Syukron.

  36. Wahabi memang sesat. dan diantara ciri-ciri kesesatan mereka adalah :
    1. Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar itu maksum. Bahkan ada diantara mereka yang ghuluw keterlaluan dengan mengatakan bahwa Nabi saja manusia biasa dan bisa berbuat dosa. Ada juga ghuluw yang menganggap Abu Bakar sebagai Nabi.

    2. Mereka adalah golongan pencaci sahabat Nabi. Ali, Salman, Abu Dzar, Miqdad dan Ammar adalah contoh sahabat2 nabi yang tidak lepas dari cacian mereka.
    3. Mereka juga bahkan tidak segan2 mencaci ahli Hadits yang tidak sesuai dengan mereka.
    4. Jika Abu Bakar dan Umar dianggap maksum dan setara dengan Nabi bahkan lebih, mereka yang ghuluw bahkan ada yang menuhankan Ibnu Taimiyah.
    5. Tuhan-nya Wahhabi/salafy itu cowok dan memiliki kemaluan, berambut keriting dan tubuhnya bisa membesar jika marah.

    6. Ulama mereka memperbolehkan dusta dan menyembunyikan kedustaan mereka itu dengan baju salaf. Salah satu kebiasaan mereka adalah mengarang dua jenis kitab. Kitab yang satu mengatakan bahwa mengkafirkan umat islam itu dilarang dan kitab satu-nya lagi justru banyak mengkafirkan golongan umat islam. Salah satu kedustaan terbesar mereka adalah mereka mengaku ahlussunnah tetapi mengkafirkan ulama-ulama mazhab ahlussunah.

    7. Wahhabi/salafy adalah golongan yang suka mengadakan bidah dan hal-hal baru didalam islam. Wahhaby/salafy ekstrem lebih parah. Mereka bahkan melarang mengucapkan sholawat kepada Nabi.

    8. Wahhabi/salafy adalah golongan yang melarang rasa cinta kepada Nabi dan Sahabat, karena menurut mereka itu berlebihan. Tetapi anehnya, mereka suka mencium2 tangan ulama-ulama mereka.

    Begitulah sekelumit kesesatan yang dimiliki wahhabi/salafy. Hati-hatilah kepada mereka dan jangan sampai tersesat dengan mengikuti mereka.

  37. @si kampret
    apa yang ente sebutkan ya jelas kebalkannya… NGACA EUY

  38. @ All

    Salafy Wahabi bukan kampret sebab kampret jauh lebih baik daripada mereka.

    Sebagaimana sabda Rasulullah.saw Salafy Wahabi adalah SETAN. Nah, gelar itu sudah pas banget dengan mereka.

    Sabda Nabi.saw “Dari Najed akan muncul generasi Setan”

    Faktanya sabda Nabi.saw terpenuhi, karena sekarang “Dari Najed telah muncul generasi Setan”

    Telah pasti dari Nabi.saw dengan dilengkap ciri2 yang disebut oleh beliau telah jelas tanpa sedikitpun keraguan bahwa Generasi Setan itu adalah Salafy Wahabi.

  39. @Para Pengunjung

    Salam
    Ada baiknya kita jangan saling menghujat satu sama lain. Apalagi kita sesama umat Islam. Jangan kita tonjolkan kelemahan kita umat Islam terhadap musuh-mush Islam. Berprasangka antar sesama tidaklah menguntungkan bagi kita. Mari kita bicarakan hal-hal yang berbeda ini dengan santun. Tunjukkan rasa hormat kita kepada pemilik blog ini, mas SP, yang telah bersusah payah menampilkan bahan-bahan untuk kita diskusikan bersama. Apalagi di blog ini setiap komentar dari para pengunjung tidak melalui mederasi, jadi kata-kata yang tidak pantas sebaiknya jangan diumbar. Suatu kebesaran hati dari mas SP yang tidak membuat proses medorasi setiap komentar yang masuk. Coba anda-anda bandingkan dengan blog-blog sejenis di luar sana. Mari sama-sama nikmati bersama apa yang telah disuguhkan oleh tuan rumah kita yang baik hati ini dengan sopan dan santun.
    Ma’af apabila ada perkataan saya yang kurang berkenan di hati teman-teman semua.
    Wassalam

  40. memang tdk perlu n tdk ada guna menghujat,cukup dalil sj yg bicara.
    @wahabi kampret
    sebaiknya anda berikan dalil2 yg anda sebutkan
    @ytse-jam
    dalil yg anda berikan sdh cukup urk mnilai,jd klu anda tmbh dgn hujatan maka nilai kebenaranya akan berkurang.
    anda toh tdk ingin imam 12 jg di hujat.

  41. @Ytse-Jam,

    Saya menyebutkan wahabi sebagai kampret bukannya tanpa alasan. Kampret adalah sejenis kelelawar yang mempunyai gaya hidup berlawanan dengan binatang lainnya. Jika berdiri, kepala mereka dibawah dan kaki mereka diatas. Malam mereka bekerja, siang mereka tidur.

    Coba sekarang liat wahhabi. Ternyata wahhabi sama persis dengan kampret. Perhatikan fakta berikut yang sangat penting tetapi sering diabaikan orang :
    1. Menurut Bin Baz, ulama top kebanggaan wahhabi, bumi itu ceper. Yang tidak percaya, berarti kafir. Nah lho, berbeda kan dengan bumi tempat manusia lainnya tinggal. Bumi kita bulat, sedangkan bumi tempat hidupnya wahhabi/salafy itu ceper. Jadi, ternyata wahhabi/salafy itu alien yang berbeda jenisnya dengan manusia kebanyakan. Makanya cara berpikir mereka berkebalikan dengan wahhabi/salafy.

    Jika anda mengatakan bahwa Rasulullah maksum, maka pasti wahhabi/salafy mengatakan Rasulullah itu manusia biasa yang tidak lepas dari dosa.

    Jika anda mengatakan bahwa sahabat itu bisa berbuat dosa, maka wahhabi/salafy mengatakan sahabat itu maksum.

    Jika anda mengkritik beberapa sahabat, wahhabi/salafy mengatakan anda sedang mengkritik seluruh sahabat.

    Lihat, begitulah cara alien (baca wahhabi/salafy) berpikir. Selalu berkebalikan dengan cara berpikirnya ahlussunah dan syiah. Persis kampret kan? Hal itu terjadi dikarenakan bumi yang mereka tempati berbeda dengan bumi yang ahlussunah dan syiah tempati.

    Fakta penting lainnya, gara2 bumi yang mereka tempati itu bentuknya ceper, otak mereka jadi ikut2an ceper…:) makanya, kalo bicara dengan mereka, jangan bicara yang susah2. Pasti mereka tidak bisa mengikuti logika anda. Wong, otak mereka ceper kok.

    2. Lagi-lagi menurut Bin Baz, bumi itu pusat tata surya. Yang tidak percaya kafir. Nah lho. Faktanya, ahlussunah dan syiah tinggal di bumi dimana matahari yang jadi pusat tata surya.

    Dua bukti yang saya sebutkan adalah bukti kuat yang tidak terbantahkan (kecuali oleh orang2 yang bodoh) bahwa ahlussnah dan syiah tinggal di bumi yang berbeda dengan wahhabi/salafy.

    Jadi, kesesatan wahhabi/salafyt sangat terang seterang matahari. Apa yang dianggap kebenaran bagi ahlussunah dan syiah, maka itu dianggap kesesatan bagi wahhabi/salafy. Apa yang dianggap kesesatan bagi ahlussunah dan syiah maka itu dianggap kebenaran bagi wahhabi/salafy. Persis kampret, kan?

  42. Ya…ya… saudara wapret (wahaby kampret) ada benarnya. Mereka memang makhluk aneh yang kelakuannya berbeda dgn manusia umumnya yg mestinya hidup di planet mrk sendiri. Geli saya:mrgreen:

    Tapi ada 1 fakta lagi yg terlupakan oleh saudara wapret. Yakni pernah lihat ga bagaimana cara kampret menutup tubuhnya dgn kedua sayapnya (bersedekap)?🙂

    Salam

  43. @armand, di/pada Juli 9, 2010 pada 1:25 pm Dikatakan: r

    Ya…ya… saudara wapret (wahaby kampret) ada benarnya.
    ………..Tapi ada 1 fakta lagi yg terlupakan oleh saudara wapret. Yakni pernah lihat ga bagaimana cara kampret menutup tubuhnya dgn kedua sayapnya (bersedekap)?🙂

    Salam

    abah zahra likes this.

  44. @aldj,

    Nabi Muhammad diutus di bumi seperti apa? Bumi yang bulat.
    Wahhabi/salafy hidup dibumi seperti apa? Bumi yang ceper.

    Tanyakan kepada ahli fisika/matematika seluruh dunia, apakah sama bumi yang bulat dengan bumi yang ceper? Tanyakan kepada anak SD, apakah sama bulat dengan ceper?

    Nah lho. Ternyata, Nabi Muhammad hidup di bumi yang berbeda dengan wahhabi/salafy.

    Artinya apa? Nabinya Wahhabi/salafy bukannlah Nabi Muhammad yang dikenal Ahlussunah dan syiah. Tuhannya wahhabi/salafy bukanlah Tuhannya yang dikenal Ahlussunah dan syiah.

    Jadi sah-sah saja, jika saya berkata wahhabi/salafy memiliki Tuhan, Nabi, dan Kitab AlQuran yang berbeda dengan Ahlussuna dan syiah.

    Jika Ahlussunah dan syiah itu muslim, maka wahhabi/salafy tidak. Mereka memiliki agama tersendiri. Tuhannya rambutnya kriwil dan memiliki kemaluan. Nabinya mereka Ibnu Taimiyah. Ulamanya mereka itu Ibnu Abdil Wahhab.

    Kurang bukti apa lagi coba untuk mengatakan wahhabi/salafy sesat?

  45. @wahabi_kampret
    Saya terkesan akan kata2 filosof sdr armand yakni:
    “Tapi ada 1 fakta lagi yg terlupakan oleh saudara wapret. Yakni pernah lihat ga bagaimana cara kampret menutup tubuhnya dgn kedua sayapnya (bersedekap)?
    Kalau kampret telah saya ketahui BAUnta busuk, Tapi apakah PENUTUPnya (sayapnya) juga berbau busuk? Atau tidak? Apakah sayapnya tidak bebau busuk utk menutupi kebusukan JATI DIRINYA saja.
    Anda lebih mengetahuinya. Salam damai wasalam

  46. @wahabi kampret
    yg sy maksud literatur yg anda dptkan dr kitab apa?
    hal brp.spy jelas ini bkn ucapan dr anda semata.

  47. Bahwa ‘Aaisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat : ‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut’ (Al Mu’minuun: 60)”. ‘Aaisyah bertanya : ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”. Beliau menjawab : “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan [Sunan Tirmidzi 5/327 no 3175]

    Kalau saya lihat dari matannya, maka ada kejanggalan yang tidak mungkin terjadi di level Sy Aisyah.
    Semestinya sangat jelas bahwa kandungan dr ayat tsb menceritakan tentang seseorang/kelompok yang dumuliakan Allah, sedangkan pertanyaan Sy Aisyah jauh api dari panggang (rasanya tidak mungkin ini ucapan Sy Aisyah yang terkenal cerdas), yaitu: ”Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”.

    Salam damai.

  48. @truthseeker08
    Menurut anda kata siti Aisyah: “Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri ?”.
    Tidak mungkin berasal dari Siti Aisyah, karena bukan levelnya. Sebab Siti Aisyah orangnya cerdas.
    Jadi apakah menurut anda kata2 tersebut berasal dari rekayasa orang yang TIDAK CERDAS? Dengan kata lain dari orang yang BODOH?. Salama damai wasalam

  49. @chany
    Ayat yang dibicarakan (al Mu’minuun: 60) adalah ayat yang menceritakan kelompok orang yang beriman. Khan sangat aneh jika Sy Aisyah bertanya apakah mereka (yang beriman tsb) adalah orang2 yang meminum khamar dan berjudi. Pertanyaan tsb tidak nyambung dengan ayat tsb.
    Correct me if i’m wrong.

    Salam damai.

  50. @truthseeker08 @chany

    Dari penjelasan anda berdua dlm menyikapi sikap Sy St Aisyah, apakah Beliau cerdas dlm bidang apa saja? tolong sebutkan hadis dari Rasulullah SAW mengenai hal tsb? apakah cerdas menjadi panglima perang, sehingga menjadi acuan pelopor amansipasi. Cerdas krn cemburu kepada Sy St Khadijah, sehingga pipinya kemerah-merahan dan dijadikan panggilan kesayangan Rasulullah SAW dgn sebutan ya humaira dlsb.

    Wassalam

  51. @sahabat
    Tidak perlu terlalu jauh dalam memahami pernyataan saya.
    Cukup dengan kecerdasan yang standard pun, tidak akan ada muncul pertanyaan (dialog) yang tidak nyambung spt itu.
    Coba anda baca lagi dengan hati2 dialog Rasulullah dengan Sy Aisyah tsb.
    Saya ulangi lagi, ayat tsb menceritakan mereka yang mukmin (sedang dipuji oleh Allah), bgm mungkin Sy Aisyah bertanya, apakah mrk itu orang2 yang meminum khamar dan mencuri… : mrgreen:
    Lihat bgm jawaban Rasulullah jauh bertentangan dg pertanyaan Sy Aisyah; “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan”

    Maaf jika harus diulang2.

    Salam damai

  52. @sahabat
    Menegnai kecerdasan Aisyah tdk ada sabda dari Rasul maupun sahabai Yang memberikan predikat CERDAS adalah para pencintanya.
    Saudara truthseekers 08 menyebut Aisyah cerdas saya rasa mempunyai maksud tertentu. Kalau para pencita Abubakar, Umar dan Utsman mengatakan Aisyah Cerdas. Maka anda bisa menulai cara bertanya Aisyah yang bertolak belakang dengan ayat tsb. Anda bisa menilai betapa tinggi cara berpikir para pencita. Abubakar, Umat dan Utsman
    Dan apabila memang betul ia cerdas maka pertanyaan tsb bukan dari Aisyah tapi REKAYASA PARA PENCINTA ABUBAKAR, UMAR DAN UTSMAN.
    Sekarang terserah bagi pencinta Abubakar, Umar dan Utsman. Apakah akan memilih:

    1. PERTANYAAAN TSB BENAR DARI AISYAH atau
    2. PERTANYAAN TSB ADALAH REKAYASA.
    Salam damai Wasalam

  53. @sahabat
    Maaf maksud saya pertanyaan dan jawaban Rasulullah SAW dan bukan hanya pertanyaan

  54. Revise:
    @sahabat
    Tidak perlu terlalu jauh dalam memahami pernyataan saya, penilaian saya thd kecerdasan Sy Aisyah adalah penilaian saya pribadi. Dan tentunya hal ini bukanlah inti masalah.
    Cukup dengan kecerdasan yang standard pun (kita anggap saja kecerdasan Sy Aisyah hanya normal2 saja), tidak akan ada muncul pertanyaan (dialog) yang tidak nyambung spt itu.
    Coba anda baca lagi dengan hati2 dialog Rasulullah dengan Sy Aisyah tsb.
    Saya ulangi lagi, ayat tsb menceritakan mereka yang mukmin (sedang dipuji oleh Allah), bgm mungkin Sy Aisyah bertanya, apakah mrk itu orang2 yang meminum khamar dan mencuri…:mrgreen:
    Lihat bgm jawaban Rasulullah jauh bertentangan dg pertanyaan Sy Aisyah; “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat, dan bersedekah. Mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan”

    Maaf jika harus diulang2.

    Salam damai

  55. mas sabda nabi al amin saw tidak didengar oleh ahli bait saja, ia di dengar oleh semua mahluk yang hidup di jaman nabi, dan ali bin abi talib menyikapi suatu hadis harus di sumpah baru ali bin abi talib percaya, dan harus di uji, kalua anda berani bersumpah seperti yang di sebut kan ali sebagai berikut ” kami keluar dari kehebatan dan kekuasaan Allah swt tentang hadis yang diriwayatkan menurut perawi ahli bait (syiah) kalau tidah haq” mak tolong kirim perawi hadis dari syiah kepada saya dan saya menerima dengan fitrah.
    kirim hadis tersebut persi indonesia+ arab.ke arismargono@gmail.com
    itu tantangan saya kepada kaum syiah.
    dan saya tantang juga imam2 anda yang saat ini hidup.
    dan salam kepada yang berpegang teguh pada kebenaran yang tidak berkiblat ketimur mau pun barat.
    wss aris margono

  56. @aris
    Disini kita tidak mengenal MAZHAB. Apakah Syiah, Suni. Kami hanya mengenal KEBENARAN. Dari siapa saja itu datang kami terima. Oleh karena itu dalam menganalisa suatu kebenaran kita menguji argument masing2 berdasarkan nash. Wasalam

  57. الصديقون ثلاثة : حبيب النجار مؤمن آل يس الذي قال : (يا قوم اتبعوا المرسلين)، و حزقيل مؤمن آل فرعون الذي قال : (أتقتلون رجلا أن يقول ربي الله)، و علي بن أبي طالب و هو أفضلهم

    “Para ash Shiddîqûn (orang yang bergelar ash Shiddiq) ada tiga; Habib An Najjâr, yaitu seorang Mukmin dari keluarga Yasin, yang pernah berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah para rasul!’ dan Hizqil, seorang Mukmin dari keluarga Fir’aun, yang pernah berkata, ‘Apakah kalian akan membunuh seorang yang mengatakan Rabbku adalah Allah?!’ dan Ali bin Abi Thalib dan ialah yang termulia.”
    Para Perawi Hadis Ini:

    Hadis ini telah diriwayatkan oleh banyak ulama Ahlusunnah dalam kitab-kitab berharga mereka, di antaranya adalah:

    1. Imam Ahmad ibn Hanbal dalam kitab al Manâqib-nya: 264 hadis no.196 dan 323 hadis no.241.
    2. Al Hafidz al Kinji dalam Kifâyah ath Thâlib pada bab 24 hal.123 dengan sanad yang sama dengan sanad Imam Ahmad. Kemudian ia berkata, “Ini adalah sanad yang diandalkan dijadikan hujjah oleh ad Dâruquthni.”
    3. Husâmuddîn al Hindi dalam Muntakhab Kanz al Ummâl,6/31.
    4. Ibnu al Maghâzili dalam Manâqibnya:246-147 hadis no.293 dan 294.
    5. As Suyuthi dalam al Jâmi’ ash Shaghîr,2/451, dan ia katakan bahwa hadis ini diriwayatkan Abu Nu’aim dalam kitab al Ma’rifah, Ibnu ‘Asâkir dari Ibnu Abi Lailâ, serta ia beri tanda:Hasan. Artinya hadis itu ia nilai sebagai hadis hasan (sebuah kualitas di atas hadis dha’if, apalagi palsu/maudhû’!.
    6. Al Munnawi dalam Faidhul Qadîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 4/238 dan ia tambahkan: “Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan ad Dailami”. Dan ia tidak keberatan dengan keterangan As Suyuthi di atas bahwa hadis ini hasan.
    7. Syeikh Ali ibn Ahmad ibn Muhammad Al Azizi asy Sayfi’i dalam as Sirâj al Munîr (Syarah al Jâmi’ ash Shaghîr), 2/403. Bahkan beliau menguatkan hadis tersebut dengan mengatakan, “Dan Ali. Dia adalah Shiddîq A’dzam (teragung)nya umat ini. Karenanya beliau (Ali) berkata: “Aku adalah ash Shiddîq al Akbar, tiada seorang pun yang mengatakannya selainku.”
    8. As Suyuthi dalam Ad Durr al Mantsûr, pada tafsir ayat 28-29 surah Yâsîn,5/492 dari riwayat Imam Bukhari dalam kitab Târîkhnya dari Ibnu Abbas dan dari riwayat Abu Daud, Abu Nu’aim, Ibnu ‘Asâkir dan ad Dailami dari Abu Lailâ.
    9. Muhibbuddîn ath Thabari dalam Dzakhâir al ‘Uqba:59.
    10. Al Qandûzi al Hanafi dalam Yanâbi’ al Mawaddah:126 dan 202 dari jalur al Khawârizmi dan Ibnu al Maghâzili.
    11. Ibnu Hajar al Haitami dalam ash Shawâiqnya:125 pada bab 9 pasal 2 tentang hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. hadis no. 30.

  58. @aris,
    >kalua anda berani bersumpah seperti yang di sebut kan ali sebagai berikut ” kami keluar dari kehebatan dan kekuasaan Allah swt tentang hadis yang diriwayatkan menurut perawi ahli bait (syiah) kalau tidah haq” mak tolong kirim perawi hadis dari syiah kepada saya dan saya menerima dengan fitrah.
    kirim hadis tersebut persi indonesia+ arab.ke arismargono@gmail.com
    itu tantangan saya kepada kaum syiah.

    @aris. Bagaimana kalo anda yang saya tantang untuk mengucapkan sumpah seperti ini : “kami keluar dari kehebatan dan kekuasaan Allah swt jika bumi itu bulat. kami juga keluar dari kehebatan dan kekuasaan Allah swt jika bumi mengelilingi matahari”.

    Berani gak lu? Bin Baz, idola ente sudah memfatwakan bahwa bumi itu ceper dan bukannya bulat. Dan bin Baz juga memfatwakan bahwa matahari yang melilingi bumi dan bukan sebaliknya.

    Berani gak lu sumpah kayak gitu? Kalo berani, gw kasih gaji gw satu bulan utuh nih… hehehee …

  59. @thirdprrince
    saya ucapkan terimakasih atas link-nya, dan silakan juga dibaca tanggapan kami atas link tersebut. Salam🙂

  60. wahabi kamprett

    liek untuk coment2 antum ….terkesan dakwa dalam suasana humor …..ane salut dengan da’wa antum …

    salam dri putra timur ……

    untuk pemilik blok ,,smoga allah swt panjangkan umur antum ..amin ya rabbal alamin …

  61. kenapa sh sesama islam harus seperti itu??
    mau abu bakar ataupun ali semua juga sahabat nabi yang utama,,
    ga penting mau gelar itu d kasi ama siapa juga,,yang paling penting itu mengikuti jejaknya n akhlaknya…
    dr pd cmn buat debat pinter2’n tp gamau mengikuti jejaknya buat apa…
    tongkosong semuanya yang ada…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: