Ternyata Hadis Manzilah Diucapkan Nabi SAW Selain Pada Perang Tabuk

Ternyata Hadis Manzilah Diucapkan Nabi SAW Selain Pada Perang Tabuk

Pembahasan kali ini bertujuan membantah klaim naïf salafy nashibi yang menyatakan bahwa hadis manzilah hanya terkait dengan kedudukan Ali saat perang Tabuk  saja. Mereka menyebarkan syubhat kalau kata-kata “kamu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Nubuwah” hanya menjelaskan bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi wanita dan anak-anak di Madinah ketika Nabi SAW bersama kaum muslimin keluar pada perang Tabuk.

Kami tidak menolak bahwa hadis ini diucapkan ketika perang Tabuk tetapi kami menolak pernyataan ngawur salafy nashibi kalau hadis ini terkhusus saat perang tabuk saja. Seolah-olah salafy itu ingin mengatakan kalau “kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa” hanyalah analogi semata “Ali menjadi pemimpin bagi wanita dan anak-anak di Madinah”. Justru yang sebenarnya adalah perkataan “kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa” bersifat umum menunjukkan bagaimana kedudukan sebenarnya Ali bin Abi Thalib di sisi Nabi SAW sehingga semua kedudukan Harun di sisi Musa dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib di sisi Nabi [kecuali Nubuwwah]. Jadi Nabi SAW telah menjelaskan kalau Nubuwwah atau kenabian dikecualikan dari kedudukan umum yang dimaksud.

Perkataan ini diucapkan pada saat Perang Tabuk karena memang ada kondisi yang sesuai yaitu Nabi SAW menugaskan Imam Ali sebagai pengganti Beliau di Madinah dan celaan kaum munafik. Kedudukan Ali di sisi Nabi SAW yang seperti kedudukan Harun di sisi Musa adalah kedudukan yang tidak terikat dengan waktu khusus saat perang tabuk. Bahkan setelah perang tabuk pun para sahabat mengenal perkataan itu sebagai keutamaan yang tinggi bagi Ali di sisi Nabi SAW. Jadi ini sangat tepat dengan istilah “kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal”. Lafal hadis tersebut bersifat umum dan sebab yang dimaksud adalah bagian dari keumuman lafal hadisnya.

Jika perkataan itu hanya sebagai hiburan atau hanya sebagai analogi kepemimpinan Imam Ali di Madinah maka beberapa sahabat Nabi yang lain pun juga pernah memimpin Madinah ketika Nabi dan kaum muslimin keluar untuk perang. Tetapi para sahabat Nabi tidak menganggap kepemimpinan mereka ini sebagai keutamaan yang tinggi. Jadi keutamaan itu bukan terletak pada tugas Imam Ali memimpin wanita dan anak-anak tetapi terletak pada perkataan bahwa kedudukan Beliau Imam Ali di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian [Nubuwwah]

Kapan tepatnya perkataan ini diucapkan. Telah disebutkan dalam kitab Tarikh kalau perkataan ini diucapkan Nabi SAW ketika Beliau SAW bersama kaum muslimin telah berangkat keluar dari Madinah.

خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب على أهله، وأمره بالإقامة فيهم، فارجف به المنافقون وقالوا ما خلفه إلا استثقالاً له وتخففاً منه. فلما قال ذلك المنافقون، أخذ علي سلاحه ثم خرج حتى أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو نازل بالجرف، فقال يا رسول الله، زعم المنافقون أنك إنما خلفتني تستثقلني وتخفف مني. قالكذبوا، ولكن خلفتك لما تركت ورائي، فارجع فاخلفني في أهلي وأهلك، ألا ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى، إلا أنه لا نبي بعدي. فرجع إلى المدينة.

Rasulullah SAW menugaskan kepada Ali untuk menjaga keluarganya dan mengurus keperluan mereka. Kemudian kaum munafik menyebarkan berita buruk, mereka berkata “Tidaklah Beliau [Nabi SAW] menugaskannya [Ali] untuk tinggal kecuali karena ia merasa berat untuk berjihad sehingga diberi keringanan”. Ketika orang-orang munafik berkata begitu maka Ali mengambil senjatanya dan keluar menyusul Rasulullah SAW ketika Beliau berada di Jarf. Kemudian Ali berkata “wahai Rasulullah kaum munafik menganggap Engkau menugaskanku karena Engkau memandangku berat untuk berjihad sehingga memberikan keringanan kepadaku”. Beliau SAW bersabda “mereka berdusta, kembalilah Aku menugaskanmu dan meninggalkanmu agar Engkau mengurus keluargaku dan keluargamu, Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahKu”. Maka Alipun akhirnya kembali ke Madinah [Tarikh Al Islam Adz Dzahabi 2/631]

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW berangkat keluar menuju Tabuk dan menugaskan Ali. Kemudian Ali berkata “Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita”. Nabi SAW berkata “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Shahih Bukhari 3/6 no 4416]

Hadis Bukhari di atas mengisyaratkan bahwa Rasulullah SAW telah berangkat terlebih dahulu menuju perang tabuk baru kemudian Ali menghadap Nabi SAW kembali. Hal ini disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dimana Syaikh Syu’aib berkata “shahih dengan syarat Bukhari”

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا سليمان بن بلال ثنا الجعيد بن عبد الرحمن عن عائشة بنت سعد عن أبيها ان عليا رضي الله عنه خرج مع النبي صلى الله عليه و سلم حتى جاء ثنية الوداع وعلى رضي الله عنه يبكى يقول تخلفني مع الخوالف فقال أو ما ترضى أن تكون منى بمنزلة هارون من موسى الا النبوة

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal yang menceritakan kepada kami Al Ju’aid bin Abdurrahman dari Aisyah binti Sa’ad dari ayahnya bahwa Ali pergi bersama Nabi SAW hingga tiba di balik bukit. Saat itu Ali menangis dan berkata “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian” [Musnad Ahmad 1/170 no 1463]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عفان ثنا حماد يعنى بن سلمة أنبأنا على بن زيد عن سعيد بن المسيب قال قلت لسعد بن مالك انى أريد ان أسألك عن حديث وأنا أهابك ان أسألك عنه فقال لا تفعل يا بن أخي إذا علمت أن عندي علما فسلني عنه ولا تهبني قال فقلت قول رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي رضي الله عنه حين خلفه بالمدينة في غزوة تبوك فقال سعد رضي الله عنه خلف النبي صلى الله عليه و سلم عليا رضي الله عنه بالمدينة في غزوة تبوك فقال يا رسول الله أتخلفني في الخالفة في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون منى بمنزلة هارون من موسى قال بلى يا رسول الله قال فأدبر علي مسرعا كأني أنظر إلى غبار قدميه يسطع وقد قال حماد فرجع على مسرعا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata menceritakan kepadaku Ayahku menceritakan kepada kami Affan menceritakan kepada kami Hammad yakini bin Salamah memberitakan kepada kami Ali bin Zaid dari Sa’id bin Musayyab yang berkata “aku berkata kepada Sa’ad bin Malik “sesungguhnya aku ingin bertanya kepada kamu sebuah hadis namun aku segan untuk menanyakannya”. Sa’ad berkata “jangan begitu wahai putra saudaraku. Jika kamu mengetahui bahwa pada diriku ada suatu ilmu maka tanyakanlah dan jangan merasa segan”. Aku berkata “tentang sabda Rasulullah SAW kepada Ali saat Beliau meninggalkannya di Madinah dalam perang tabuk. Sa’ad berkata “Nabi SAW meninggalkan Ali di Madinah dalam perang tabuk, kemudian Ali berkata “wahai Rasulullah apakah engkau meninggalkan aku bersama wanita dan anak-anak?”. Beliau menjawab “Tidakkah engkau rela bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Ali menjawab “baiklah wahai Rasulullah”. Ali pun segera kembali seolah aku melihat debu yang berterbangan dari kedua kakinya. Hammad berkata “Ali pun segera kembali” [Musnad Ahmad 1/173 no 1490 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib]

Jika kita menarik kesimpulan dari riwayat-riwayat di atas maka Nabi SAW keluar pergi menuju Tabuk dan menugaskan Imam Ali memimpin Madinah. Lantas kaum munafik membuat fitnah sehingga Imam Ali kembali menghadap Nabi SAW yang ketika itu ada di Jarf, ketika itu baik Imam Ali dan Nabi SAW sedang berjalan hingga sampai di balik bukit dan menyebutkan hadis ini yang disaksikan oleh para sahabat yang ikut dalam perang Tabuk. Dan setelah mendengar hadis tersebut Imam Ali kembali ke Madinah.

Jadi perkataan ini diucapkan setelah Nabi SAW keluar dari Madinah dalam arti kata setelah Nabi SAW menugaskan Ali sebagai pemimpin di Madinah. Nabi SAW mengucapkan ini untuk menenangkan hati Imam Ali sekaligus memberikan penjelasan bagi mereka [para sahabat yang bersama Nabi SAW] bahwa kedudukan Ali di sisi Nabi SAW itu begitu tinggi seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Kenabian. Para sahabat yang berada di Jarf mendengar langsung bahwa Nabi SAW berkata begitu diantaranya Jabir RA, Abu Said Al Khudri RA dan Saad bin Abi Waqash RA yang meriwayatkan hadis ini. Kemudian mari perhatikan hadis berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الله بن نمير قال ثنا موسى الجهني قال حدثتني فاطمة بنت علي قالت حدثتني أسماء بنت عميس قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يا علي أنت مني بمنزلة هارون من موسى الا انه ليس بعدي نبي

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa Al Juhani yang berkata telah menceritakan kepadaku Fathimah binti Ali yang berkata telah menceritakan kepadaku Asma’ binti Umais yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “wahai Ali engkau di sisiKu seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku” [Musnad Ahmad 6/438 no 27507]

Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan kalau hadis ini shahih dan memang demikianlah keadaannya. Perhatikan baik-baik Asma’ binti Umais mengaku mendengar langsung Rasulullah SAW berkata kepada Ali RA dan pendengaran ini bukan saat perang tabuk. Asma’ binti Umais jelas termasuk wanita yang tinggal di Madinah atau tidak ikut berperang saat perang tabuk. Padahal telah disebutkan bahwa Nabi SAW mengucapkan hadis ini setelah Beliau SAW keluar menuju perang tabuk [Adz Dzahabi menyebutkan ketika Nabi SAW berada di Jarf] dan ketika itu Asma’ binti Umais berada di Madinah. Sehingga lafaz pendengaran langsung Asma’ binti Umais menunjukkan bahwa Nabi SAW mengucapkan hadis ini bukan pada saat perang Tabuk tetapi situasi lain dimana Asma’ binti Umais menyaksikan Nabi SAW mengucapkannya. Hadis Asma’ binti Umais menjadi bukti kalau Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah juga pada saat lain selain perang tabuk. Tentu saja hadis Asma’ binti Umais ini meruntuhkan klaim ngawur salafy nashibi sekaligus menunjukkan bahwa berbagai tafsiran basa-basi ala salafy itu hanya dibuat-buat untuk mengurangi keutamaan Imam Ali. Begitulah mereka salafy nashibi jika tidak bisa menolak hadisnya maka setidaknya tebarkan syubhat atau kurangi keutamaannya.

Mari kita perhatikan kembali matan hadis “engkau disisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali Nubuwwah”. Bukankah kedudukan Harun di sisi Musa salah satunya adalah Harun sebagai orang yang terbaik atau paling utama setelah Musa di antara umat Musa AS. Siapa diantara salafy nashibi yang mau mengingkari atau mencari-cari umat Musa yang lebih utama dari Nabi Harun?. Nah maka begitupula jadinya kedudukan Imam Ali di sisi Nabi yaitu Beliau AS adalah orang yang terbaik dan paling utama setelah Nabi SAW. Kedudukan Imam Ali AS dalam hadis ini menunjukkan keutamaan yang tinggi melebihi semua sahabat lain termasuk Abu Bakar dan Umar. Hal ini menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar memang telah diriwayatkan dalam berbagai hadis shahih. Hadis-hadis yang sering diingkari oleh salafy nashibi baik sanad maupun matannya.

Syubhat paling populer di sisi salafy nashibi adalah syubhat mereka untuk membantah syiah bahwa hadis ini tidak menunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Nabi SAW wafat karena Nabi Harun AS tidak menjadi khalifah setelah Nabi Musa AS wafat. Nabi Harun AS hanya menjadi pengganti Nabi Musa AS ketika Nabi Musa AS mengahadap Allah SWT ke bukit ThurSina.

Hadis di atas memang tidak jelas menunjukkan bahwa Imam Ali adalah khalifah pengganti Nabi SAW setelah wafat [walaupun ada hadis manzilah yang shahih yang menyebutkan lafaz ini] tetapi hadis ini menunjukkan bahwa semulia-mulia manusia setelah Nabi SAW dan yang paling berhak memegang urusan kekhalifahan jika Nabi SAW pergi atau tidak ada adalah Imam Ali. Karena begitulah kedudukan Harun di sisi Musa, Harun akan menjadi pengganti Musa apabila Musa pergi atau tidak ada. Mengapa Harun AS tidak menjadi pengganti Musa ketika Musa AS wafat? Lha jelas sekali karena Harun AS wafat terlebih dahulu daripada Musa, seandainya Harun masih hidup ketika Musa AS wafat maka tidak diragukan kalau Beliaulah yang akan menggantikan Musa AS. Berbeda halnya dengan Imam Ali, beliau jelas masih hidup ketika Rasulullah SAW wafat sehingga dalam hal ini yang berhak menjadi pengganti Beliau SAW adalah Imam Ali.

Salafy nashibi mengatakan bahwa Imam Ali menjadi pemimpin di Madinah sama seperti Harun menjadi pemimpin bagi umat Musa ketika Nabi Musa AS pergi dan hanya inilah makna hadis manzilah menurut salafy nashibi yaitu khalifah semasa hidup bukannya setelah wafat. Sebenarnya salafy nashibi itu tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami sebuah analogi.

Yang mereka sebutkan hanyalah salah satu contoh saja dari keumuman lafal. Tugas Imam Ali menggantikan Nabi SAW di Madinah tentu saja adalah bagian dari keumuman lafal hadis manzilah dan penyerupaan itu sebenarnya adalah dari segi kedudukan Beliau Imam Ali yang dipercaya oleh Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun yang dipercaya oleh Musa AS. Atau dari segi kedudukan khusus Imam Ali yang jika Nabi SAW tidak ada maka Ali penggantinya sama seperti kedudukan Harun yang jika Musa AS tidak ada maka Harun penggantinya.

Silakan perhatikan hadis Shahih Bukhari di atas. Imam Ali bertanya kepada Nabi “Engkau menugaskanku untuk menjaga anak-anak dan wanita” maka Nabi SAW berkata “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahku”. Apakah itu maksudnya Imam Ali memimpin anak-anak dan wanita sama seperti Harun?. Jelas tidak karena Harun memimpin semua umat Musa tidak hanya wanita dan anak-anak, jadi Nabi SAW tidak sedang menyamakan kepemimpinan Imam Ali dengan kepemimpinan Harun tetapi sedang menunjukkan bahwa kedudukan Imam Ali itu di sisi Nabi sehingga ia mendapatkan tugas memimpin Madinah sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa sehingga Harun mendapatkan tugas menggantikan Musa . Jadi sekali lagi penyerupaan itu terletak pada kedudukan orang yang satu di sisi orang yang lain dan kedudukan ini tidak mencakup kepemimpinan semata tetapi juga mencakup sebagai saudara satu sama lain, wazir, orang paling mulia setelah yang satunya dan lain-lain kecuali Kenabian [karena Nabi SAW telah mengecualikannya]

Nah kami perjelas kembali, kepemimpinan Imam Ali di Madinah merupakan bagian dari kedudukan dalam hadis Manzilah tersebut. Apalagi kepemimpinan Imam Ali di Madinah itu tidak persis sama dengan kepemimpinan Harun. Imam Ali di Madinah adalah pemimpin bagi wanita dan anak-anak sedangkan Harun ketika itu memimpin semua umat Musa baik laki-laki wanita maupun anak-anak. Jadi penyerupaan itu adalah dari segi sifat kedudukannya bahwa orang yang satu menjadi pengganti jika orang yang satunya tidak ada. Sifat kedudukan inilah yang tidak terikat dengan waktu atau tidak hanya terbatas saat perang tabuk saja. Tidak ada dalam lafal hadis tersebut Nabi SAW mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanyalah kedudukan Harun saat Musa AS pergi ke Thursina saja. Justru pernyataan Nabi SAW itu bersifat umum tidak terikat waktu sehingga Beliau SAW membuat pengecualian yaitu “kecuali Nubuwwah [kenabian]” dan dapat dimengerti kalau Nabi SAW juga mengucapkan hadis ini pada peristiwa lain selain perang tabuk karena memang keutamaan hadis manzilah tidak terbatas pada saat perang tabuk saja. Silakan perhatikan jika kita analisis dengan baik maka hujjah salafy nashibi itu benar-benar ngawur dari segala sisinya dan kita harus bersyukur tidak menjadi bagian dari kelompok yang ngawur seperti mereka.

5 Tanggapan

  1. Mari kita nantikan bantahan nyeleneh kaum Qarnu Syaithan Salafiyun al-munafiqun.

  2. […] mengucapkan hadis ini di saat lain selain perang Tabuk seperti yang telah kami bahas sebelumnya. Hadis Asma’ binti Umais dengan penyimakan langsung dari Rasulullah SAW itu didengar pada peristiwa…. Perhatikan lafaz hadis yang diucapkan Rasulullah SAW “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan […]

  3. Dalam ekspedisi militer Nabi SAW dan kaum muslimin sering mengikutsertakan istri-istri mereka untuk ikut. Jadi bisa saja Asma’ binti Umais mendengar hadits manzilah pada saat dia ikut serta dalam ekspedisi Tabuk bersama suaminya Abu Bakar. tidak ada bukti bahwa Asma’ termasuk diantara wanita-wanita yg ditinggal di Madinah.

  4. SALAM …..USTADZ IJIN SHARE N’ COPY…..HE3X

  5. […] ini hanya sedikit tambahan pada tulisan sebelumnya dengan judul yang sama. Kali ini kami akan menambahkan jawaban terhadap syubhat salafiy [dan siapapun yang mengikutinya] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: