Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”

Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”

Hadis Ru’yatullah termasuk hadis kontroversial yang diributkan baik ulama-ulama terdahulu maupun yang datang kemudian. Hadis ini diperbincangkan karena matannya mengandung lafaz yang mungkar yaitu Nabi SAW melihat Allah dalam bentuk Pemuda. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ummu Thufail. Dalam tulisan kali ini akan dibahas terlebih dahulu hadis Ummu Thufail

Takhrij Hadis Ummu Thufail

عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( رأيت ربي في المنام في صورة شاب موقر في خضر عليه نعلان من ذهب وعلى وجهه فراش من ذهب)

Dari Ummu Thufail Istri Ubay bin Ka’ab, ia berkata “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku melihat Rabbku di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lembat dengan pakaian hijau memakai sandal dari emas dan berada di atas tempat tidur dari emas”.

Hadis riwayat Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 25/143 no 346, Asmaa’ Was Shifaat Baihaqi hadis no 922, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 15/426, Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan 232, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 62/161, Abu Ya’la dalam Ibthaalut At Ta’wiilat no 130, 131 dan 132, Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 9 dan Al Maudhu’at 1/125. Semuanya dengan jalan Ibnu Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal dari Marwan bin Utsman dari Umaarah bin Amir bin Hazm Al Anshari dari Ummu Thufail.

Hadis ini sanadnya dhaif jiddan dan dengan matan yang mungkar maka tidak diragukan kalau hadis ini maudhu’ (palsu). Hadis ini mengandung illat

  • Marwan bin Utsman, dia seorang yang dhaif sebagaimana disebutkan Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/272 no 1244. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137 disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan Marwan bin Utsman majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/171 menyatakan ia dhaif sedangkan dalam Al Ishabah 8/246 no 12116 biografi Ummu Thufail ia menyatakan Marwan bin Utsman matruk.
  • Umaarah bin Amir, dia adalah perawi yang majhul. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 Ahmad bin Hanbal menyatakan “ia tidak dikenal”. Al Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 juga berkata “Umaarah tidak dikenal”. Adz Dzahabi dalam Mughni Adh Dhu’afa no 4404 juga berkata “tidak dikenal”.
  • Inqitha’ (sanadnya terputus) Umaarah dari Ummu Thufail. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 dan Tarikh Al Kabir juz 6 no 3111 bahwa Umaarah tidak diketahui mendengar dari Ummu Thufail. Ibnu Hibban memasukkan Umaarah dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 4682 dan menyatakan bahwa Ia tidak mendengar dari Ummu Thufail. Penyebutannya dalam kitab Ats Tsiqat tidak bisa dijadikan hujjah sebagai penta’dilan karena Umaarah telah dinyatakan majhul oleh Ahmad bin Hanbal dan Al Bukhari.

Cacat lain adalah pada sebagian sanadnya [Ibnu Jauzi, Ibnu Asakir dan Al Khatib] juga diriwayatkan oleh Nuaim bin Hammad dari Ibnu Wahb, dia walaupun dita’dilkan oleh sebagian orang tetapi ia juga dinyatakan dhaif oleh An Nasa’i [Ad Dhu’afa Wal Matrukin no 617], Abu Fath Al Azdi dan Ibnu Ady menuduhnya sebagai pemalsu hadis [At Tahdzib juz 10 n0 833]. Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyebutnya shaduq yukhti’u tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 7166 bahwa ia seorang yang dhaif. Kendati demikian Nuaim bin Hammad tidaklah menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Wahb. Bersamanya ada Ahmad bin Shalih Al Mishri [Ath Thabrani], Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb, Ahmad bin Isa [Baihaqi], dan Yahya bin Sulaiman [Ath Thabrani]. Oleh karena itu pendapat yang benar adalah hadis tersebut maudhu’ karena illat yang telah kami sebutkan.

Hadis ini tidak diragukan lagi adalah hadis maudhu’ sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ulama diantaranya Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al Maudhu’at 1/125. Ahmad bin Hanbal mengatakan hadis tersebut mungkar dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137. Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 4682 juga mengakui kalau hadis tersebut mungkar. Begitu pula yang dikatakan Bukhari dalam Tarikh Al kabir juz 5 no 4682. Bashar Awad Ma’ruf pentahqiq kitab Tarikh Baghdad 15/426 juga menyatakan hadis tersebut maudhu’. Bahkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6371 menyatakan hadis tersebut maudhu’. Jadi hadis tersebut bukan sekedar dhaif tetapi memang maudhu’.

Syaikh Al Albani melakukan keanehan yang luar biasa dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah Ibnu Abi Ashim hadis no 471. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan

ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما

Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah yang berkata menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad dan Yahya bin Sulaiman yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal yang menceritakan kepadanya, dari Marwan bin Utsman yang menceritakan kepadanya, dari Umaarah bin Amir dari Ummu Thufail istri Ubay bin Ka’ab yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk –kemudian menyebutkan perkataan-.

Syaikh berkomentar bahwa hadis ini shahih lighairihi, shahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, sanadnya dhaif gelap. Tentu saja bagi seorang peneliti pernyataan shahih lighairihi ini merupakan suatu keanehan. Pernyataan shahih lighairihi hanya berlaku bagi hadis yang sanadnya hasan lizatihi dan dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain. Hadis Ummu Thufail sudah jelas sangat dhaif sehingga tidak mungkin bisa naik menjadi shahih lighairihi.

Selain itu hadis Ru’yatullah riwayat Ummu Thufail adalah hadis yang berlafaz mungkar, lafaz itulah yang tidak disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dimana ia meringkasnya dengan kalimat –kemudian menyebutkan perkataan-. Tentu tidaklah sulit bagi seorang Syaikh Al Albani untuk mengetahui lafaz hadis Ummu Thufail tersebut secara lengkap, oleh karena itu sudah seharusnya Syaikh tidak menyatakan shahih hadis Ummu Thufail karena pada dasarnya hadis Ummu Thufail itu berbeda dengan hadis-hadis lainnya. Jika dikatakan bahwa hadis itu shahih hanya sebatas perkataan Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk, maka sudah seharusnya Syaikh memberikan pernyataan secara eksplisit tentang hal itu dan mengatakan bahwa lafaz hadis Ummu Thufail itu sebenarnya mungkar dan yang shahih hanya bagian Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk. Bagi kami hal seperti ini jelas sekali sangat penting apalagi hadis yang dibicarakan ini bukan masalah yang sederhana yaitu Nabi SAW melihat Rabb di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lebat.

Anehnya seorang ulama seperti Abu Zur’ah Ad Dimasyq tidak segan-segan mengakui kebenaran hadis Ummu Thufail yang berlafaz mungkar. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wilaat no 140, Abu Ya’la mengatakan kalau Abu Zur’ah menshahihkan hadis Ummu Thufail di atas. Abu Zur’ah berkata

كل هؤلاء الرجال معروفون لهم أنساب قوية بالمدينة فأما مروان بن عثمان فهو مروان بن عثمان بن أبى سعيد بن المعلى الأنصارى وأما عمارة فهو ابن عامر بن عمرو بن حزم صاحب رسول الله وعمرو بن الحارث وسعيد ابن أبى هلال فلا يشك فيهما وحسبك بعبد الله بن وهب محدثا فى دينه وفضله

Semua perawinya dikenal mempunyai nasab yang kuat di Madinah, Marwan bin Utsman dia adalah Marwan bin Utsman bin Abi Sa’id bin Al Ma’ally Al Anshari dan Umaarah dia adalah Ibnu Amir bin Amru bin Hazm sahabat Rasulullah. Amru bin Harits dan Sa’id bin Abi Hilal tidak diragukan keduanya dan cukuplah Abdullah bin Wahb muhaddis dalam agamanya dan keutamaannya.

Kami katakan perkataan Abu Zur’ah sungguh merupakan kekacauan yang patut disayangkan muncul dari beliau. Marwan bin Utsman telah disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan ia majhul dan Abu Hatim menyatakannya dhaif. Abu Zur’ah sendiri tidak menjelaskan keadaannya oleh karena itu tetaplah ia dengan predikat dhaif dan menjadi tertuduh karena hadis ini. Selain itu keadaan Umaarah sendiri tidak dijelaskan oleh Abu Zar’ah dan ulama lain telah menyatakan bahwa ia tidak dikenal. Jadi hadis tersebut maudhu’ dan tidak ada artinya penshahihan dari Abu Zar’ah. Sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana lafaz mungkar pada hadis tersebut bisa diakui kebenarannya oleh ulama sekaliber Abu Zur’ah. Jauh setelah Abu Zur’ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh 🙄

Iklan

25 Tanggapan

  1. @antirafidhah
    tulisan ini bagian dari tulisan yang menanggapi situs itu, ini cuma pembukaan dulu :mrgreen:

  2. @all
    Allah telah berfirman Laaisya Kamislihi Syaiun. Tidak suatupun menyerupaiNya. Jadi siapa yang mensifati /menyerupai adalah KAFIR.
    Jadi hadits rekayasa tersebut adalah MUNGKAR. Wasalam

  3. 😯 ada ya? *baru tau*

  4. @aburahat
    benar sekali, komentar yang tepat sasaran, singkat dan sangat jelas. Itulah aqidah yang benar 🙂
    @Lumiere
    ehem responnya sesuai dugaan :mrgreen:

  5. Pembahasan soal ini juga di bahas oleh blog abu salafy, perlu juga dibaca buat tambahan referensi !

    Bincang Bersama Abu Jauza -Hadis Melihat Tuhan-(5)

    http://abusalafy.wordpress.com/2009/10/22/bantahan-atas-abu-jauza%E2%80%99-dan-para-wahhabiyyun-mujassimun-musyabbihun-5/

  6. jelas lugas padat jos.bagi siapa yg haus kebenaran.

  7. @SP
    Jauh setelah Abu Zur’ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh.

    jwb:

    Coba lihat Surat Thaha :

    9. Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?
    10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya : “Tinggallah kamu (disini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.
    11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil : “Hai Musa”.
    12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu,………..dst

    Apakah Alqur’an juga “ANEH” telah melafazdkan Allah swt seperti api?

  8. :?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?::?:

    (maklum baru bisa gunakan emoticon :D:D:D:D:D:D)

  9. saya ralat:

    Apakah Al- Qur’an juga “ANEH” telah mewakili kehadiran Allah swt dengan api?

    saya mohon ampun dg pertanyaan saya,

    Wallahua’lam Bi showab.

  10. @kembali ke aqidah yang benar

    Coba lihat Surat Thaha :

    9. Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?
    10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya : “Tinggallah kamu (disini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.
    11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil : “Hai Musa”.
    12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu,………..dst

    Apakah Alqur’an juga “ANEH” telah melafazdkan Allah swt seperti api?

    Bagian mana dari ayat tersebut yang menyatakan kalau Allah SWT seperti api (naudzubillah). Jangan samakan dong ayat Al Qur’an dengan persepsi anda yang keliru. btw pembelaan buta anda kepada Ibnu Taimiyyah sampai ke taraf yang menyedihkan. Kita persingkat saja, menurut anda hadis Ummu Thufail itu berlafaz mungkar atau tidak?. Menurut anda, keyakinan bahwa Allah SWT berbentuk pemuda di dalam mimpi itu batil atau tidak?. Silakan dijawab

    Apakah Al- Qur’an juga “ANEH” telah mewakili kehadiran Allah swt dengan api?

    saya mohon ampun dg pertanyaan saya,

    Wallahua’lam Bi showab.

    Maaf ya, tidak ada indikasi seperti itu dalam ayat yang anda bawa. Itu adalah persepsi anda sendiri. Lagipula hadis yang kita bicarakan ini sangat jelas berbeda. Hadis itu terang-terangan bilang kalau di dalam mimpi tersebut Allah SWT itu berbentuk pemuda. Saya heran, mengapa anda ini begitu sulit memahami sebuah tulisan. Jelas sekali ayat Al Qur’an yang anda catut dan hadis Ummu Thufail memiliki perbedaan yang nyata. Saya pribadi ketika membaca Ayat Al Qur’an yang anda bawa tidak pernah terbersit seperti yang anda lafazkan itu. Berhati-hatilah, jangan sampai pembelaan buta anda kepada Ibnu Taimiyyah membuat anda melafazkan perkataan yang tidak pantas kepada Allah SWT atau kepada Al Qur’anul Karim.

  11. Koq bisa saudara KAB menganalogikan nalar hadits tsb dg ayat tsb?
    Jauh sekali dari bayangan saya bahwa Nabi Musa saat itu menganggap Tuhan itu adalah api tsb, apakah begitu yang ditafsirkan di madzhab anda atau hanya persepsi anda?
    Yang saya tahu Nabi Musa setelah sampai disana baru tahu bahwa beliau bertemu dg Allah.

    Wahhh..nalar anda koq masih mengagetkan kami2 yaa… 😦

    Wassalam

  12. @sp

    saya juga heran kenapa anda memahami dalil hanya secara LAFADZ.

    coba lihat lagi ayat berikutnya:

    17. Apakah yg di tangan kananmu, hai Musa?

    Secara lafadz, kalimat berbentuk pertanyaan diucapkan Allah swt, Apakah Allah swt Yang Maha Tahu tidak tahu bahwa yg di tangan kanan Nabi Musa as adalah tongkat? (kalau hanya dilihat secara lafadz)
    Maha Suci Allah swt dari sifat demikian.

    kembali ke hadits yg anda maksud, Syaikh Islam Ibnu Taymiyah tidak akan sedangakal anda dalam menafsirkan hanya SEBATAS LAFAZD.

  13. @KAB, tolong dijawab pertanyaan SP.

    “menurut anda hadis Ummu Thufail itu berlafaz mungkar atau tidak?. Menurut anda, keyakinan bahwa Allah SWT berbentuk pemuda di dalam mimpi itu batil atau tidak?. Silakan dijawab”

    1. Ya
    atau
    2. Tidak

  14. @KAB

    17. Apakah yg di tangan kananmu, hai Musa?

    Secara lafadz, kalimat berbentuk pertanyaan diucapkan Allah swt, Apakah Allah swt Yang Maha Tahu tidak tahu bahwa yg di tangan kanan Nabi Musa as adalah tongkat? (kalau hanya dilihat secara lafadz)
    Maha Suci Allah swt dari sifat demikian.

    Maaf ya Mas, tidak ada lafaz dari ayat yang anda kutip yang menunjukkan bahwa Allah SWT tidak mengetahui apa yang ada di tangan kanan Musa. Telah masyhur baik dari Al Qur’an atau hadis bahwa Allah terkadang bertanya kepada Nabi-Nya. Hal ini adalah salah satu bentuk cara Allah SWT menyampaikan petunjuk kepada Nabi-Nya. Maaf saja, bagi saya anda terkesan hanya mau membantah orang dengan membabi buta. btw tolong pertanyaan saya dijawab

    menurut anda hadis Ummu Thufail itu berlafaz mungkar atau tidak?. Menurut anda, keyakinan bahwa Allah SWT bisa berbentuk pemuda di dalam mimpi itu batil atau tidak?

    kembali ke hadits yg anda maksud, Syaikh Islam Ibnu Taymiyah tidak akan sedangakal anda dalam menafsirkan hanya SEBATAS LAFAZD.

    Anda tidak perlu sok tahu, coba tunjukkan apa penjelasan Ibnu Taimiyyah jika memang menurut anda tidak ada masalah. jangan cuma sekedar jadi pengacara yang banyak bicara, tunjukkan buktinya jika anda memang benar 🙂

    ehem sebelumnya anda pernah kupipes dari abul-jauzaa perkataan Ibnu Taimiyyah

    “Jika yang terjadi seperti itu, maka seseorang yang melihat Rabb-nya dalam mimpi dan berbincang-bincang dengannya adalah benar dalam ru’yah-nya. Namun tidak diperbolehkan untuk meyakini bahwasannya diri Allah (yang sebenarnya) itu seperti yang ia lihat dalam mimpi….” [lihat selengkapnya dalam Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah, 1/72-73].

    Bukankah kata-kata Ibnu Taimiyyah menunjukkan bahwa jika seseorang melihat Rabb-nya dalam mimpi maka benar dalam ru’yahnya. Ibnu Taimiyyah mengakui kalau hadis Nabi SAW melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi adalah shahih. Artinya Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa Ru’yah Nabi SAW itu memang benar dan itu berarti Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa Allah SWT memang menampakkan diri kepada Nabi SAW dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi. Bukankah ini sesuatu yang bathil?. Walaupun Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa tidak diperbolehkan untuk meyakini bahwasannya Allah (yang sebenarnya) itu seperti yang dilihat dalam mimpi, toh tetap saja ia mengatakan kalau ru’yah di dalam mimpi itu benar.

  15. @ SP

    saya rasa @KAB masih dengan kebingunganya untk menjawab. sabar ya menanti……….,

    @kembali ke akidah yang….?

    Hati2 jgn karena bantahan yg membabai buta akhirnya kehilangan akidah.
    Coba liat QS 37:159-160
    ::> MAHA SUCI ALLAH DARI APA APA YANG MEREKA SIFATKAN ITU,
    ::> KECUALI HAMBA HAMBA ALLAH YANG DISUCIKAN

    jadi hanya orang2 yang disucikan yang berhak mensifatkan Allah, lha kita ini sopo……………,

    salam

  16. @kembali ke akidah yang……….?

    makanya kalu belajar pake guru jgn belajar sendiri jadi klu bingung bisa tanya.

    salam

  17. @truthseeker08

    Itu terjadi kalau kita melihat dalil HANYA SEKEDAR LAFAZ….

    @zahra

    Yang jelas saya akan bertanya ke guru yang tidak melihat dalil HANYA SEKEDAR LAFAZ….

  18. TULISAN BLOG INI:

    Sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana lafaz mungkar pada hadis tersebut bisa diakui kebenarannya oleh ulama sekaliber Abu Zur’ah. Jauh setelah Abu Zur’ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh

    LAFAZ LAGI…. LAFAZ LAGI… KOK DIJADIKAN SASARAN KEMUNGKARAN.

    ❓ ❓

  19. Orang berilmu tahu orang yang bodoh.
    Orang bodoh tidak tahu orang berilmu

  20. @kembali
    justru lafazlah yang dlilihat karena itu yang tampak dengan jelas. Memangnya para ulama semisal Adz Dzahabi dan Baihaqi ketika menyatakan hadis ini mungkar, melihat apa?. lafaz kan, nah jadi apa artinya komentar anda itu 🙂

  21. @kembali ke aqidah yg ❓ ❓

    :mrgreen: :mrgreen: 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: