Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Imam Ali Sepeninggal Nabi SAW(1)

Kedudukan Hadis Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW

Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada Imam Ali bahwa sepeninggal Beliau SAW, umat akan mengkhianati Imam Ali. Hal ini telah dinyatakan dalam hadis-hadis shahih. Salah satunya dalam hadis berikut

حدثنا أبو حفص عمر بن أحمد الجمحي بمكة ثنا علي بن عبد العزيز ثنا عمرو بن عون ثنا هشيم عن إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس الأودي عن علي رضى الله تعالى عنه قال إن مما عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي بعده

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Umar bin Ahmad Al Jumahi di Makkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz yang berkata telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Al Awdi dari Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berkata “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”. [Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/150 no 4676 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi dalam At Talkhis]

Hadis ini adalah hadis yang shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Dulabi dalam Al Kuna Wal Asmaa’ 2/442 no 441

حدثنا يحيى بن غيلان ، عن أبي عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، وحدثنا فهد بن عوف ، قال ، ثنا أبو عوانة ، عن إسماعيل بن سالم ، عن أبي إدريس إبراهيم بن أبي حديد الأودي أن علي بن أبي طالب ، قال : عهد إلي النبي صلى الله عليه وسلم أن الأمة ستغدر بي من بعده

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dari Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dan telah menceritakan kepada kami Fahd bin Auf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Ismail bin Salim dari Abi Idris Ibrahim bin Abi Hadid Al Awdi bahwa Ali bin Abi Thalib berkata “telah dijanjikan oleh Nabi SAW bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”.

Hadis ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya yaitu sanad Yahya bin Ghailan dari Abu Awanah dari Ismail bin Salim dari Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali. Ibrahim adalah seorang tabiin yang melihat atau bertemu dengan Ali.

  • Yahya bin Ghailan dia adalah perawi Muslim Nasa’i dan Tirmidzi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 429 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sahl, Al Khatib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/312 menyatakan ia tsiqat.
  • Abu ‘Awanah dia adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 204 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abdil Bar. Dalam At Taqrib 2/283 ia dinyatakan tsiqat . Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga mengatakan ia tsiqah.
  • Ismail bin Salim adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 1 no 554 menyebutkan bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Daruquthni, Yaqub Al Fasawi, Abu Ali Al Hafiz dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/94 ia dinyatakan tsiqat.
  • Ibrahim bin Abi Hadid dia adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat juz 4 no 1613. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 908 menyebutkan keterangan tentangnya bahwa telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim tanpa menyebutkan jarh terhadapnya. Sehingga Ibrahim bin Abi Hadid adalah tabiin yang tsiqah dan Al Bukhari juga menyebutkan kalau ia bertemu atau melihat Ali bin Abi Thalib RA.

Jadi hadis riwayat Ad Dulabi dalam Al Kuna adalah hadis yang shahih. Sebelum mengakhiri tulisan ini kami akan membantah syubhat kalau Ibrahim bin Abi Hadid itu majhul dan hadisnya dari Ali mursal.

.

.

Syubhat Abu Hatim

Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 2/96 menyebutkan kalau riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal dan ia seorang yang majhul. Pernyataan ini tertolak dengan dasar ulama-ulama lain mengenalnya seperti Ibnu Hibban, Al Bukhari dan Ibnu Ma’in. Dalam Tarikh Ibnu Ma’in no 1861 riwayat ad Dawri berkata

سمعت يحيى يقول أبو إدريس إبراهيم بن أبى حديد قلت ليحيى هو الذي يروى عنه إسماعيل بن سالم قال نعم

Aku mendengar Yahya mengatakan Abu Idris Ibrahim bin Abi Hadid. Aku bertanya kepada Yahya “diakah yang telah meriwayatkan darinya Ismail bin Salim”. Ia menjawab “ benar”.

Kemudian juga disebutkan dalam Tarikh Ibnu Ma’in no 2547 dari Ad Dawri

سمعت يحيى يقول أبو إدريس إبراهيم بن أبي حديد صاحب إسماعيل بن سالم

Aku mendengar Yahya mengatakan Abu Idris Ibrahim bin Abi Hadid sahabat Ismail bin Salim.

Pernyataan Abu Hatim bahwa riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal adalah pernyataan keliru dan itu didasari oleh ketidaktahuannya akan siapa Ibrahim bin Abi Hadid. Al Bukhari berkata dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 908

قال لي بن زرارة أخبرنا هشيم قال حدثنا إسماعيل بن سالم عن أبي إدريس نظرت إلى علي

Telah berkata kepadaku Ibnu Zurarah yang mengabarkan kepada kami Husyaim yang menceritakan kepada kami Ismail bin Salim bahwa Abu Idris melihat Ali.

Atsar ini shahih. Ibnu Zurarah adalah Syaikh(guru) Bukhari dan telah dinyatakan dalam At Taqrib 1/735 bahwa ia tsiqat dan Husyaim bin Basyir disebutkan dalam At Taqrib 2/269 kalau ia tsiqat tsabit. Sedangkan Ismail bin Salim telah disebutkan ketsiqahannya. Riwayat Bukhari ini sebaik-baik bukti yang membantah pernyataan Abu Hatim.

Salam Damai

89 Tanggapan

  1. menyimak dan menunggu org menggerutu lagi…:)

  2. Ucapan yg jelas tentang pengkhianatan. Wong manusia yg ga suci kok, mungkin saja demi mengejar keduniawian, keimanan bergeser.

    Ngga tau gerutuan apa lagi yg akan dikeluarkan oleh oknum salafiyyun.🙂

    Salam

  3. buat apa debat sama orang-orang tidak mau tahu keutamaan keluarga Rasulullah saw

  4. Sebentar lagi para penghianat Imam Ali as dan para pendukung penghianat Imam Ali as akan muncul dengan segenap nafsu dan kedengkiannya,…..eng..ing…eng,…

  5. Ternyata Rasulullah saw telah mengetahui semasa masih hidup bahwa umat akan menghianati Imam Ali atas hak dan hujjahnya sebagai khalifah umat Islam. Hal ini terbukti dgn keputusan umat Islam yg membaiat Abubakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah sepeninggal Rasulullah saw.

    Wassalam…

  6. @wawan

    Dalam hadits sahih Ali bin Abi thalib ra sendiri membaiat Abu Bakar ra dan memujinya.

    Apakah Ali ra berkhianat terhadap dirinya sendiri?

  7. @kembali ke aqidah yang benar
    dalam hadis shahih Imam Ali tidak membaiat sampai 6 bulan [shahih bukhari], dan dalam hadis shahih Imam Ali juga pernah menganggap Abu Bakar sebagai seorang pendusta dan pengkhianat [shahih muslim]

  8. @kembali

    Coba tampilkan haditsnya dong… 🙂

  9. Ah, ternyata telah dijawab oleh Mas SP, terimakasih. 🙂

  10. Yang pertama, Keterangan dari Abu Hatim layak diperhatikan bahwa riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal dan ia seorang yang majhul.

    Yang kedua, seandainyapun riwayat tersebut bs diterima, kita telah tahu siapa para pengkhianat Imam Ali, yaitu Kaum Syi’ah dan Khawarij yang mereka adalah pengikut beliau sendiri pada awalnya, tetapi kemudian berkhianat, membelot dan akhirnya beliau perangi, bahkan seorang diantara mereka telah membunuh beliau dg cara yang licik, sejarah telah menuliskan dengan tinta darah pengkhianatan mereka terhadap Imam Ali dan ahlul baitnya.

    Yang ketiga, tidak bisa dikatakan bahwa hal tsb berkaitan dengan kekhalifahan, tidak ada dalam hadits di atas kalimat satupun yang menunjukkan hal tsb, dan kalimat di atas masih dalam bentuk umum. justru dalam hadits-hadits yang shahih disebutkan beliau memuji kedua khalifah sebelumnya dan hal tersebut terlihat saat beliau membai’at Abu Bakar, jika tidak, maka sungguh jauh Imam Ali dari sifat berbasa-basi, berbohong ataupun berpura-pura. benar kata kembali ke aqidah yg benar, beliau tidak mungkin mengkhianati dirinya sendiri.

    jadi riwayat di atas sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah, apalagi untuk mendukung faham syi’ah rafidhah. jadi leave it…:mrgreen:

    silahkan ngedumel.. ga ada larangan kok:mrgreen:

  11. @antirafidhah,

    Betul, yg membunuh Imam Ali adalah kaum Khawarij. Namun Syi’ah adalah yg membela dan mencintai Ahlul Bait Nabi Muhammad saw. Sedangkan Abubakar dan Umar bin Khattab adalah yg menghianati Ahlul Bait di Saqifah Bani Sa’idah.

    Wassalam…

  12. @antirafidhah

    Yang pertama, Keterangan dari Abu Hatim layak diperhatikan bahwa riwayat Ibrahim bin Abi Hadid dari Ali mursal dan ia seorang yang majhul.

    Ini bukti kalau sampean itu nggak ngerti apa-apa soal ilmu hadis, bisanya cuma taklid semata. btw situ gak merhatiin apa kalau Al Hakim dan Adz Dzahabi bersepakat menshahihkannya:mrgreen:

    Yang kedua, seandainyapun riwayat tersebut bs diterima, kita telah tahu siapa para pengkhianat Imam Ali, yaitu Kaum Syi’ah dan Khawarij yang mereka adalah pengikut beliau sendiri pada awalnya, tetapi kemudian berkhianat, membelot dan akhirnya beliau perangi, bahkan seorang diantara mereka telah membunuh beliau dg cara yang licik, sejarah telah menuliskan dengan tinta darah pengkhianatan mereka terhadap Imam Ali dan ahlul baitnya.

    bukannya yang lagi ngedumel sampean:mrgreen:

    Yang ketiga, tidak bisa dikatakan bahwa hal tsb berkaitan dengan kekhalifahan, tidak ada dalam hadits di atas kalimat satupun yang menunjukkan hal tsb, dan kalimat di atas masih dalam bentuk umum.

    kata-kata anda itu cuma omelan tak berguna. seandainya ada kata khalifah andakan biasa menolaknya dengan berdalih konteks yang dibuat-buat sendiri:mrgreen:

    justru dalam hadits-hadits yang shahih disebutkan beliau memuji kedua khalifah sebelumnya dan hal tersebut terlihat saat beliau membai’at Abu Bakar, jika tidak, maka sungguh jauh Imam Ali dari sifat berbasa-basi, berbohong ataupun berpura-pura. benar kata kembali ke aqidah yg benar, beliau tidak mungkin mengkhianati dirinya sendiri.

    bicara hadis shahih, bukannya anda menolak hadis shahih bahwa rumah Imam Ali mau diancam untuk dibakar, bicara hadis shahih Imam Ali menganggap Abu Bakar pendusta dan pengkhianat. Bicara hadis shahih Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah 6 bulan. apakah baiat itu memang butuh waktu selama itu?. Bukankah itu hadis-hadis shahih yang anda tolak?:mrgreen:

  13. Saya bantu nih siapa saja yg memerangi Imam Ali

    1. Aiysah binti Abu Bakr – dengan perang Jamal-nya disana termasuk Thalhah dan Zubair.

    2. Muawiyah bin Abu Sofyan – dengan perang Siffin-nya (oya sekedar info – Abu Hurairah ada di fihak ini)

    3. Ibn Muljam LA – Membunuh Imam Ali as ketika beliau sholat Subuh,

    Kalau dilihat lihat sih, semuanya adalah para “sesembahan”nya golongan tertentu nih, dimana mereka mengambil agama dari mereka,….Apa yg mau mereka katakan dihadapan Rasulullah Saww nanti di akhirat , kalau ditanya kenapa memihak musuh Ahlul Biat-nya ya

  14. @ jet-lee
    Kalau dilihat lihat sih, semuanya adalah para “sesembahan”nya golongan tertentu nih, dimana mereka mengambil agama dari mereka,….Apa yg mau mereka katakan dihadapan Rasulullah Saww nanti di akhirat , kalau ditanya kenapa memihak musuh Ahlul Biat-nya ya.

    jawab:
    kenapa sih anda terlalu melihat sejarah, tidak melihat hadits saja bahwa nabi saw meninggal dipangkuan aisyah ra.
    Apa Rasul saw tidak tahu kalau beliau meninggal dipangkuan “musuh ahlul baitnya” ? hehe…

  15. @sp

    kenapa anda tidak menjawab argumen antirafidah Yang Ketiga? Itu fakta yg tidak bisa dibantah, kan?

    Jadi sebetulnya siapa sih yg berkhianat thd imam Ali ra?

  16. mungkin inilah yg berkhianat kepada Ali ra

    http://persis.or.id/?p=895

    Jadi, jangan nuduh sembarangan…

  17. @kembali ke aqidah yang benar
    anda dan antirafidhah itu sama saja, bisanya cuma menggerutu saja. Silakan perhatikan baik-baik hadisnya
    Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”
    Jadi siapa yang nuduh:mrgreen:

  18. @antirafidah:
    “Yang kedua, seandainyapun riwayat tersebut bs diterima, kita telah tahu siapa para pengkhianat Imam Ali, yaitu Kaum Syi’ah dan Khawarij yang mereka adalah pengikut beliau sendiri pada awalnya, tetapi kemudian berkhianat, membelot dan akhirnya beliau perangi, bahkan seorang diantara mereka telah membunuh beliau dg cara yang licik, sejarah telah menuliskan dengan tinta darah pengkhianatan mereka terhadap Imam Ali dan ahlul baitnya.”

    Pernyataan anda kok dangkal amat. Tolong dicatat bahwa Syi’ah adalah sebutan untuk org2 yg mengikuti Imam Ali. Kalau kemudian berkhianat namanya buka lagi Syi’ah Ali dong ! Kok masih disebut Syi’ah sih ?

    Dalam sejarah tercatat bahwa ketika Imam Ali menjadi Khalifah ada beberapa kelompok yg memusuhi Imam Ali yaitu :

    1. Kelompok Ai’syah (Perang Jamal)
    2. Kelompok Khawarij (Perang Nahrawan)
    3. Kelompok Muawiyah (Perang Shifin)

    Jadi kalau ada org2 yg tadinya menjadi pengikut Ali kmdn bergabung dg salah satu kelompok tsb makanya jelas org2 tsb tdk lagi disebut Syi’ah Ali.

    Dan anda pasti tau dari sejarah bahwa yg memberontak dan menjatuhkan Imam Ali dari kekhalifahan adalah Muawiyah. Pemberontakan dan pengkhianatan terhdp Islam berlanjut dg pengangkatan anaknya yg bernama Yazid si pembantai Ahlul Bait (Imam Husein). Di sinipun sama kasusnya : ada org2 mengaku pengikut Ali/Husein (Syi’ah) tapi kemudian tdk mendukung atau membelot ke pihak Yazid. Apa namanya masih pengikut Ali/Husein (Syi’ah) yg setia ?

    Makanya luruskan dulu pandangan anda.

  19. @antirafidhah

    Yang kedua, seandainyapun riwayat tersebut bs diterima, kita telah tahu siapa para pengkhianat Imam Ali, yaitu Kaum Syi’ah dan Khawarij yang mereka adalah pengikut beliau sendiri pada awalnya, tetapi kemudian berkhianat, membelot dan akhirnya beliau perangi, bahkan seorang diantara mereka telah membunuh beliau dg cara yang licik, sejarah telah menuliskan dengan tinta darah pengkhianatan mereka terhadap Imam Ali dan ahlul baitnya.

    Eh, apakah anda ingin mengatakan bahwa yg dimaksud “umat” dalam hadits di atas adalah hanya kelompok yg anda sebutkan ini? Apakah manusia2 pd jaman Abubakar & Umar bukan termasuk “umat”? Apakah Abubakar dan Umar sendiri bukan umat Muhammad saw?

    Anda penasaran bukan, mengapa isyarat2 spt ini mesti ditujukan kepada Imam Ali as dan bukan kepada orang2 yg anda puja-puja?

    Salam

  20. @Armand,

    Bagi mereka Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Muawiyyah, dll bukan termasuk umat tapi “sesembahan” jadi yg namanya sesembahan ya pasti bukan umat, dan gak mungkin melakukan kesalahan, jadi perkataan Nabi tidak berlaku buatnya,…perbuatan dan perkataan mereka lebih tinggi derajatnya dari perkataan Nabi saww

    Contoh lagi nih. ” Nabi saww tidak pernah melakukan sholat dhuha, tapi karena Aisyah melakukannya maka menjadi sunnah lah sholat dhuha.

    Imam Ali as sang pewaris Ilmu Nabi mezaharkan Bismillah ketika membaca Alfatihah,tapi karena Muawiyah tidak membacanya maka ikutlah mereka dengan tidak membacanya,…,..

    Begitu juga dengan sholat Tarawih,…Nabi tidak pernah melakukannya tapi karena Umar memerintahkannya maka jadilah tarawih itu sunah.

    Faham ya mas Armand,…

  21. Nunggu para Wahabi Al Nashibi komentar dg otak dengkul dan pikiran kacaunya aaaah…..:mrgreen:

  22. Kedua Hadits diatas,…menyakinkan dan menjelaskan pertanyaan selama ini, knp Alquran dan Rasulullah saw sering dalam ucapannya menjadikan Kisah Nabi Musa as dan Nabi Harun sebagai perumpaman. Kisah Bani Israil (umat Nabi Musa as) banyak dijadikan itibar..

    Ternyata semua itu berkaitannya,
    Bahkan 12 Imam bani israil pun ternyata mirip dgn 12 khalifah dalam hadist shahih Muslim

    ahsantum….@Sp
    semoga dilindungi dan diberi kesehatan serta keberkahan oleh ALLAH swt,
    Btw mo jadi dokter apa ustad…nih…heheheh
    dua-duanya ajah sekaligus…tops abiss

  23. …..semoga (SP) dilindungi dan diberi kesehatan serta keberkahan oleh ALLAH swt…

    Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad…

    Amin Ya Rabb…

  24. @armand

    Eh, apakah anda ingin mengatakan bahwa yg dimaksud “umat” dalam hadits di atas adalah hanya kelompok yg anda sebutkan ini? Apakah manusia2 pd jaman Abubakar & Umar bukan termasuk “umat”? Apakah Abubakar dan Umar sendiri bukan umat Muhammad saw?

    justru kalau anda terjemahkan umat di sini yaitu seluruh kaum muslimin selain Ali ra, maka termasuk dalam pemgertian umat tersebut adalah : Fatimah, Abu Bakar, Umar, Ammar bin Yasser, Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi dll bahkan kita ini adalah umat sepeninggal Rasul.. seperti itukah? berarti Fatimah pun mengkhianati Ali, Ammar mengkhianati Ali, Abu Dzar mengkhianati Ali, semua orang yang merasa ummat Nabi Muhammad sepeninggal beliau mengkhianati Ali tak ada yang tersisa.. benarkah demikian? atau pengertian yang lain : bukanlah termasuk Al-Ummah orang2 yang tidak mengkhianati Ali… ??? Anda termasuk bagian Umat Islam sepeninggal Rasul bukan? kalo iya berarti anda adalah termasuk yang mengkhianati Ali.. benar demikian? wuakakakak..

    maka benar kata antirafidhah kalimat ummat tersebut masih umum pengertiannya, itupun kalo riwayat itu bener.. tidak ada ceritanya Imam Ali kok berbai’at dan memuji-muji orang-orang yang mengkhianati beliau sebagai orang-orang terbaik dan paling utama setelah Rasul.. menikahi mantan istri orang yg mengkhianati beliau, mengambil anak angkat anak dari orang yang mengkhianati beliau, menamai anak-anak beliau dengan nama2 orang-orang yang mengkhianati beliau, menikahkan anak perempuan beliau dengan orang yg mengkhianati beliau, belum lagi keturunan beliau mau menikah dengan keturunan para pengkhianat.. apakah beliau saat itu sedang mengkhianati diri beliau sendiri?.. IMPOSSIBLE!

    ayo lomba NGGERUTU & NGEDUMEL yuuuk.. wuakakakak…

  25. @Imem

    Coba baca lagi mas, justru yg sy koreksi adalah pengertian umat di masa Imam Ali as telah dikhususkan oleh sohib anda menjadi sekelompok manusia di jaman pemerintahan Imam Ali. Memang benar bahwa umat yg dimaksud di sini sangat mengisyaratkan umat yg semasa dgn Imam Ali as, yang artinya bukan sekedar umat di masa pemerintahan beliau, namun juga termasuk umat sebelum pemerintahan dan setelah pemerintahan beliau selama kehidupan beliau. Sehingga termasuk di dalamya masa pemerintahan Abubakar, Umar, Utsman dan jg Muawiyyah.

    Kemudian kalimat: “Diantara yang dijanjikan Nabi SAW kepadaku bahwa Umat akan mengkhianatiku sepeninggal Beliau”, tentu tdk dapat kita katakan bahwa semua orang/kelompok dalam umat akan berkhianat. Sebab penyebutan umat (dalam Islam) umumnya adalah untuk mewakili sekelompok besar komunitas dan tdk harus menunjukkan keseluruhan dari kelompok komunitas itu. Sama saja jika kita mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yg ramah, maka tdk berarti semua masyarakat di dalamnya ramah seperti yg disebut. Namun hal itu hanya dimaksud sebagian besar dari masyarakat Indonesia.

    Penyebutan umat yg sy terangkan ini juga dijelaskan oleh AQ surah Ar-Ra’d:30, yg bunyinya demikian:
    Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.”

    Kata-kata “padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah” adalah hanya mewakili sebagian besar dari umat yg dimaksud bukan keseluruhan. Begitu pula di beberapa ayat-ayat lain yg menggunakan kata umat.

    Semoga bisa dipahami.

    Nah, jika anda telah paham bahwa pengertian umat yg dimaksud di hadits di atas adalah sebagian besar kelompok manusia, bukan seluruh manusia, maka secara keseluruhan hadits tsb mestinya mengisyaratkan: sebagian besar manusia umat Muhammad saw berkhianat thd Imam Ali as dan hanya sebagian kecil manusia yg tdk berkhianat.

    Siapakah yg telah berkhianat? Mudah saja. Siapa yg telah berjanji (kepada Nabi saw/Imam Ali as) kemudian ia mengingkari maka ialah yg berkhianat.

    Nama-nama yg anda sebutkan seperti Fatimah, Ammar dan Abu Dzar anda masukkan juga sebagai pengkhianat? Silakan saja. Yang pasti tdk ada riwayat satu pun yg menunjukkan atau pun mengisyaratkan bahwa mereka mengingkari apa yg telah mereka janjikan (baiat).

    Silakan anda periksa dan coba sebut lagi nama-nama lain selain dari manusia-manusia utama dan pilihan di atas.

    Salam

  26. @armand

    Baik mari kita ikuti logika anda..

    Allah berfirman dalam Ali Imran : 110

    Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

    kita gunakan pengertian anda :

    Berarti sebagian besar manusia umat Muhammad saw saat itu (ketika wahyu tersebut turun) adalah manusia-manusia terbaik dan hanya sebagian kecil manusia yg tidak baik.

    Dalam ayat di atas jelas Allah memuji Umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu sebagai umat terbaik.. ini adalah ta’dil dari Allah Azza wa Jalla, dan Allah adalah sebaik-baik saksi, lalu bagaimana mungkin kemudian dikatakan sebagian besar manusia umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah dita’dil oleh Allah itu adalah pengkhianat? apakah mungkin Allah telah keliru memuji mereka?

    Apakah mungkin hadits bisa mengalahkan Al-Qur’an? apalagi hadits yang jelas masih diperselisihkan keshahihannya..

    Semoga bisa dipahami.

  27. @Imem

    Firman Allah di bagian ini, Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia… jika kita cermati adalah berbicara umat Muhammad saw di semua generasi Islam, bukan hanya di generasi awal.
    Sementara perbandingan yg disampaikan secara implisit oleh ayat tsb adalah perbandingan antara umat Muhammad saw (mencakup semua generasi Islam) dgn umat sebelumnya (ahli kitab, Daud, Musa. Isa). Dan bukan perbandingan antara umat di generasi awal Islam dengan generasi setelahnya / generasi sekarang, jika itu yg ingin anda sampaikan.
    Coba anda perhatikan kata2: Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
    Kata-kata ini jelas berbicara tentang umat sebelum umat Nabi Muhammad saw serta cara untuk memperbandingkannya dgn umat Nabi Muhammad saw.

    Sehingga pernyataan anda;

    Berarti sebagian besar manusia umat Muhammad saw saat itu (ketika wahyu tersebut turun) adalah manusia-manusia terbaik dan hanya sebagian kecil manusia yg tidak baik.

    Menjadi angan-angan semata karena anda telah keliru menyodorkan ayat yg sama sekali bukan memperbandingkan antara umat di generasi awal (turunnya wahyu) dgn generasi berikutnya.

    Kemudian kesimpulan anda yang ini;

    Dalam ayat di atas jelas Allah memuji Umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu sebagai umat terbaik.. ini adalah ta’dil dari Allah Azza wa Jalla, dan Allah adalah sebaik-baik saksi, lalu bagaimana mungkin kemudian dikatakan sebagian besar manusia umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah dita’dil oleh Allah itu adalah pengkhianat? apakah mungkin Allah telah keliru memuji mereka?

    Tentu saja semakin nyeleneh jika anda msh mengartikan “sebagian besar manusia umat Nabi Muhammad saw” adalah umat pada generasi awal. Padahal semestinya ia berbicara tentang generasi Islam secara menyeluruh. Logika anda sering terbalik atau anda gemar membalik-balikkan logika?

    Perhatikanlah bahwa pengkhianatan yg dimaksud adalah pengkhianatan thd Imam Ali as, yg berarti telah terjadi pengingkaran thd sebuah perjanjian dgn Imam Ali as semasa kehidupan Imam Ali as. Jadi konteks hadits di atas berbicara pada generasi awal Islam.

    Semoga bisa dipahami.

    Oh iya, semoga anda juga

    Salam

  28. @imem
    Apakah anda konsekwen dengan kata2 anda: “Apakah mungkin hadits bisa mengalahkan Al-Qur’an? apalagi hadits yang jelas masih diperselisihkan keshahihannya”

    Bagaimana denga Firman Allah dalam QS 9 : 8
    Hadits tsb diatas adalah pernyataan dari Firman Allah dalam QS 9 : 8 yang berbunyi:
    ” Bagiamana mungkin mereka menepati perjanjian tsb. (perjanjian didekat Masjidil Haram), padahal jika mereka memperoleh kemenangan atas kamu mereka tidak memelihara kekerabatan denganmu dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedangkan hatinya menolak. Kebanyakan mereka adalah orang2 FASIK.
    Apakah menurut anda Al Imran 110 yang anda sampaikan bertentangan dengan QS 9 : 8. Dimana dalam Umat Nabi ada yang FASIK.
    Sdr imem yang dimaksud dengan QS 2 : 110. ialah yang MUKMIN

  29. Maaf ada yg diperbaiki;

    Tentu saja semakin nyeleneh jika anda msh mengartikan “sebagian besar manusia umat Nabi Muhammad saw” adalah umat pada generasi awal. Padahal semestinya ia berbicara tentang generasi Islam secara menyeluruh. Logika anda sering terbalik atau anda gemar membalik-balikkan logika?

    Harusnya;

    Tentu saja semakin nyeleneh jika anda malah mengartikan “sebagian besar manusia umat Nabi Muhammad saw” adalah generasi Islam secara menyeluruh. Padahal semestinya berbicara tentang pengkhianatan umat pada generasi awal. Logika anda sering terbalik atau anda gemar membalik-balikkan logika?

    Maaf kebalik🙂

  30. @armand

    Ayat yang dibawakan oleh bung Imem itu sudah sangat jelas kok, turun di Madinah dan yang dimaksud dengan “kuntum” dalam ayat tersebut adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang yang bersamanya saat itu, belum ada umat Islam di dunia selain mereka pada waktu itu, maka mereka-lah yang paling berhak menyandang pujian sebagai umat yang terbaik, sedangkan kita umat akhir jaman ini? masih tanda tanya, tidak akan bisa menjadi umat yang terbaik jika keislaman kita tidak mengikuti mereka yang saat itu telah dipuji oleh Allah. Justru logika anda yang sering terbalik-balik dan berangan-angan mengikuti prakonsepsi🙂

    dan Ahli kitab yang dimaksud dalam ayat itu adalah ahlul kitab pada masa Nabi yaitu kaum Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya yang kebanyakan mereka tidak mau beriman dengan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. lihatlah ayat berikutnya yang menjelaskan tentang ahli kitab pada Ali-Imran : 110.

    Ali Imran : 111,
    Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.

    siapa yang dimaksud “mereka” dalam ayat itu? tidak lain adalah ahli kitab dari kalangan Yahudi yang tinggal di Madinah dan sekitarnya saat itu, silahkan anda lihat di kitab2 tafsir ttg ayat tsb, lalu siapa yang dimaksud “kamu” dlm ayat tersebut? tidak lain adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Jadi sangat jelas sekali yang dimaksud khaira ummah saat itu ya mereka yang ada saat wahyu tsb turun, yaitu generasi awal Islam.. orang awwam aja mudah kok memahaminya, hanya orang-orang yg di dalam hatinya ada sesuatu saja yang menolak kebenaran yg terang benderang spt itu.

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan tentang ayat QS Ali Imran : 111,
    Ini terjadi pada perang Khaibar, Allah membawa penghinaan dan aib yang memalukan kepada kaum Yahudi. Sebelum itu, Yahudi di Madinah, bani Qainuqa’, Nadhir dan Quraizhah juga telah dihinakan oleh Allah….

    Ok lah kalau anda mengatakan umat terbaik itu adalah seluruh umat Islam dari Jaman Nabi sampai akhir Jaman, maka anda lihat kan sampai detik ini mayoritas Umat Islam menganggap generasi awal Islam adalah generasi yang terbaik dengan manusia terbaik setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar kemudian Umar dan tidak menganggap mereka sebagai penghianat.. sedangkan kaum Syi’ah yg berpemahaman spt anda dari dulu hingga sekarang termasuk golongan minoritas, maka bisa diartikan kaum syi’ah adalah golongan yang tidak baik berdasarkan pemahaman anda tersebut.:mrgreen:

  31. @Imem/antirafidah

    Ayat yang dibawakan oleh bung Imem itu sudah sangat jelas kok,

    Ya sdh jelas memang

    turun di Madinah dan yang dimaksud dengan “kuntum” dalam ayat tersebut adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang yang bersamanya saat itu, belum ada umat Islam di dunia selain mereka pada waktu itu, maka mereka-lah yang paling berhak menyandang pujian sebagai umat yang terbaik,

    Harap tau saja mas, alquran diturunkan dan ditujukan utk semua generasi Islam, bukan hanya utk generasi awal. Heran, bukannya di sekolah-sekolah sdh sering diajarkan hal ini? Dan pengertian “kuntum” lebih tepat utk seluruh umat Islam, baik pada saat turunnya ayat maupun umat Islam generasi sekarang. Sy sendiri merasa ayat itu termasuk jg ditujukan ke sy. Jika anda merasa bahwa “kuntum” tidak tertuju pada diri anda, maaf, bukan salah sy.

    sedangkan kita umat akhir jaman ini? masih tanda tanya, tidak akan bisa menjadi umat yang terbaik jika keislaman kita tidak mengikuti mereka yang saat itu telah dipuji oleh Allah.

    Berbicara secara umum, justru generasi sekarang msh lebih baik dari generasi awal. Keimanan kita dan kecintaan kita kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw jauh lebih tinggi nilainya daripada generasi awal. Generasi sekarang tdk pernah mendengar suara Rasul, tdk pernah bertemu Rasul, tapi dengan penuh keyakinan dan kesadaran menyatakan keimanannya dan istiqamah terus mengikuti sunnah2nya. Generasi awal? Begitu banyak yg telah bertemu, begitu banyak yg telah bercakap-cakap dgn Rasul, begitu banyak yg telah menyaksikan kemuliaan Rasul, begitu banyak yg menyatakan kesetiaannya, sayangnya setelah Rasul wafat, tdk sedikit pula yg ingkar dan menunjukkan watak aslinya. Jika anda msh merasa bukan umat yg terbaik, sy katakan lagi, maaf, itu bukan salah saya.

    Justru logika anda yang sering terbalik-balik dan berangan-angan mengikuti prakonsepsi

    Sayang, anda msh tdk faham.

    Keterangan anda seterusnya mengenai ahli kitab sy anggap bukan hujjah, yang semestinya anda bertanya-tanya mengapa ia dimasukkan dalam ayat yg sama dgn “umat yg terbaik” itu.

    Ok lah kalau anda mengatakan umat terbaik itu adalah seluruh umat Islam dari Jaman Nabi sampai akhir Jaman, maka anda lihat kan sampai detik ini mayoritas Umat Islam menganggap generasi awal Islam adalah generasi yang terbaik

    Umat Islam yg mana mas? Jika berbicara orang-orang tertentu & kelompok kecil tertentu ya memang benar. Tapi jika berbicara secara keseluruhan, dimana di situ banyak yg fasik, munafik, bahkan setelah bertemu dgn Rasul saw, maka generasi sekarang msh lebih baik.

    …dengan manusia terbaik setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar kemudian Umar dan tidak menganggap mereka sebagai penghianat..

    Silakan saja anda bersikeras siapa-siapa manusia yg terbaik menurut anda. Masing2 orang kan punya idolanya. Namun yg jelas hadits di atas tetap teguh menyatakan bahwa ada orang2 yg berkhianat kepada Imam Ali as setelah kepergian Rasul saw. Dan yg berkhianat itu adalah umat di generasi awal.

    sedangkan kaum Syi’ah yg berpemahaman spt anda dari dulu hingga sekarang termasuk golongan minoritas, maka bisa diartikan kaum syi’ah adalah golongan yang tidak baik berdasarkan pemahaman anda tersebut.

    Silakan…silakan… tdk perlu ditanggapi kan?

    Salam

  32. @antirafidha
    Anda berkata:bahwa mereka yaqng mendapat pujian dari Allah adalah Rasulullah dan mereka yang berada bersama Rasulullah pada waktu itu. Sebutkan siapa mereka. Sebab ada Firman Allah yang yang menyebutkan bahwa sebagian mereka yang berada disekitarmu MUNAFIK.
    Jangan seenaknya menyatakan JELAS Firman Allah di QS 2 : 110 diperuntukan bagi mereka yang bersama Rasul. Dan juga sejarah membuktikan bahwa banyak dari mereka tidak melaksanakan NAHI MUNGKAR.

  33. @Imem/antirafidhah

    Ini ada hadits yg menunjukkan bahwa umat yang terbaik bukanlah umat di masa Nabi saw. Bisa dilihat lagi di salah satu postingan di sini:
    https://secondprince.wordpress.com/2008/09/30/420/

    Diriwayatkan dari Abu Jum’ah RA yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.

    Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata حديث صحيح hadis ini shahih.

    Semoga anda faham sekarang.

    Salam

  34. Harap tau saja mas, alquran diturunkan dan ditujukan utk semua generasi Islam, bukan hanya utk generasi awal. Heran, bukannya di sekolah-sekolah sdh sering diajarkan hal ini? Dan pengertian “kuntum” lebih tepat utk seluruh umat Islam, baik pada saat turunnya ayat maupun umat Islam generasi sekarang. Sy sendiri merasa ayat itu termasuk jg ditujukan ke sy. Jika anda merasa bahwa “kuntum” tidak tertuju pada diri anda, maaf, bukan salah sy.

    Hmm.. lemah benar argumentasi anda.. yang sangat jelas sekali ayat tersebut turun itu pada mereka yaitu Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya pada saat itu, anda, saya, SP dan semua yg ada di sini itu blom ada saat itu.. jadi ya jangan ngarep dipuji kalau ga ikut mereka yg telah dipuji, pujian itu akan sampai kepada umat Islam yang lain sampai akhir jaman, jika mereka mengikuti generasi awal yang dipuji oleh Allah tersebut, jadi sayapun tidak menolak jika umat Islam bisa menjadi khairu ummah, tetapi dengan syarat ikuti keislaman mereka yg telah terbukti dipuji oleh Allah sebagai Khairu Ummah.. jadi jangan kePEDEan dulu dech.. kalau mereka jelas sudah ada yang menjamin, bahkan hati-hati mereka pun Allah mengetahuinya, lihat Al-Fath : 18, sedangkan kita siapa yang menjamin?? orang yang mendiskreditkan, melecehkan umat terbaik kok ngarep pujian dari Allah.. Yang bener aja Mas😆

    Berbicara secara umum, justru generasi sekarang msh lebih baik dari generasi awal. Keimanan kita dan kecintaan kita kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw jauh lebih tinggi nilainya daripada generasi awal. Generasi sekarang tdk pernah mendengar suara Rasul, tdk pernah bertemu Rasul, tapi dengan penuh keyakinan dan kesadaran menyatakan keimanannya dan istiqamah terus mengikuti sunnah2nya. Generasi awal? Begitu banyak yg telah bertemu, begitu banyak yg telah bercakap-cakap dgn Rasul, begitu banyak yg telah menyaksikan kemuliaan Rasul, begitu banyak yg menyatakan kesetiaannya, sayangnya setelah Rasul wafat, tdk sedikit pula yg ingkar dan menunjukkan watak aslinya. Jika anda msh merasa bukan umat yg terbaik, sy katakan lagi, maaf, itu bukan salah saya.

    Hanya pada sisi inilah (karena tidak melihat Rasul) manusia setelah sahabat dikatakan lebih baik, tetapi kelebihan secara agregat umat setelah sahabat tidak ada yang bisa menandingi Generasi Rasulullah sebagaimana yg tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih. Allah dan Rasul-Nya adalah sebaik-baik saksi dalam hal ini.

    Silakan saja anda bersikeras siapa-siapa manusia yg terbaik menurut anda. Masing2 orang kan punya idolanya. Namun yg jelas hadits di atas tetap teguh menyatakan bahwa ada orang2 yg berkhianat kepada Imam Ali as setelah kepergian Rasul saw. Dan yg berkhianat itu adalah umat di generasi awal.

    Lho itu adalah keyakinan mayoritas Umat Islam lho.. berarti keyakinan minoritas seperti anda adalah salah sebagaimana pemahaman anda sendiri iya tho:mrgreen: sudah saya bilang hadits tsb tidak bisa dijadikan hujjah karena bertentangan dengan Al-Qur’an dan riwayat2 yang lain yang jauh lebih shahih.. kalaupun mau diterima ya spt penjelasan saya sebelumnya, para pengkhianat Imam Ali adalah kaum Syi’ah dan Khawarij, merekalah yang mengkhianati Imam Ali dan membunuh beliau.

    tapi ya silahkan saja, yg benar itu sgt terang kok dan salah itu pun sgt terang, silahkan anda melawan ayat-ayat Allah dan akal sehat anda sendiri.. ga ada paksaan kok:mrgreen:

  35. @armand

    hadits tsb sudah pernah kita jawab,

    perhatikan kalimat beliau : “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku”.

    Ada sebab yang disebutkan dalam hadits tsb mengapa ada kaum setelah sahabat dikatakan lebih baik, yaitu dilihat dari sisi mereka beriman kepada Rasul sedangkan mereka tidak melihat Rasul, dan ini tidak bertentangan dan bukan berarti menafikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yg lain mengenai keutamaan generasi awal Islam dibandingkan generasi sesudahnya, bahkan jauh lebih banyak keutamaan generasi awal Islam dibandingkan generasi sesudahnya sebagaimana contoh hadits Rasulullah :

    sebaik-baik Manusia adalah pada masaku, kemudian sesudahnya lagi, kemudian sesudahnya lagi”

    Belum lagi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang keutamaan mereka.

    Sehingga jika kita bandingkan antara generasi awal Islam dengan generasi sesudahnya secara Keseluruhan, Generasi Awal Islam tetaplah jauh lebih baik dan utama daripada generasi sesudahnya.

  36. @imem, antirafidhah

    Ikutan sharing,
    Ma’af penafsiran anda keliru apabila ayat tsb dihubungkan dgn hadits yg dibawakan oleh sdr Armand. Maksud umat yang terbaik dlm ayat tsb adalah bagi seluruh manusia diantara sekian banyak agama samawi, diantaranya Ahli Kitab. Namun didalam Islam sendiri, hanya sebagian kecil umat yang terbaik diantara para pemeluknya, yakni orang yg beriman dan bertakwa kepada perintah Allah dan Rasul-Nya yg meyakini hak dan hujjah Imam Ali sebagai khalifah Umat Islam sepeninggal Rasulullah saw. Apalagi dibandingkan dgn seluruh manusia, umat yg terbaik sangat sedikit sekali.

    Wassalam…

  37. @antirafidhah

    Ada sebab yang disebutkan dalam hadits tsb mengapa ada kaum setelah sahabat dikatakan lebih baik, yaitu dilihat dari sisi mereka beriman kepada Rasul sedangkan mereka tidak melihat Rasul,

    Situ perhatikan kata-kata Abu Ubaidah “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. “. Rasulullah SAW menjawab Ada yaitu kaum yang datang setelah kalian yang beriman kepadaku padahal tidak melihatKu. Disitu Abu Ubaidah telah menyebutkan keunggulan generasi sahabat yaitu memeluk islam dan berjihad bersama Nabi SAW tetapi walaupun telah disebutkan Nabi SAW tetap mengatakan bahwa kaum yang datang setelah mereka tetap lebih baik.

    dan ini tidak bertentangan dan bukan berarti menafikan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yg lain mengenai keutamaan generasi awal Islam dibandingkan generasi sesudahnya

    Ngomong-ngomong situ pernah baca hadis Al Haudh yang mutawatir bahwa banyak sahabat akan masuk neraka karena mereka mengada-adakan hal baru sepeninggal Nabi SAW. Menuruti logika anda maka ketika ayat tersebut turun mereka ini juga termasuk kan, tapi terbukti setelah Rasul SAW wafat mereka ada yang murtad dan ada yang mengada-adakan hal baru.

    bahkan jauh lebih banyak keutamaan generasi awal Islam dibandingkan generasi sesudahnya sebagaimana contoh hadits Rasulullah :

    sebaik-baik Manusia adalah pada masaku, kemudian sesudahnya lagi, kemudian sesudahnya lagi”

    Ehem kalau memakai logika anda, hadis ini khusus bicara soal kesaksian saja, karena pada bagian akhir hadis disebutkan perihal kesaksian, jadi kebaikan itu khusus soal kesaksian sahaja:mrgreen:

    Sehingga jika kita bandingkan antara generasi awal Islam dengan generasi sesudahnya secara Keseluruhan, Generasi Awal Islam tetaplah jauh lebih baik dan utama daripada generasi sesudahnya.

    Belum lagi ayat-ayat Al Qur’an yang mengkritik dan mengecam mereka. Timbang dengan adil dong:mrgreen:

  38. @armand

    Jadi menurutmu Ayat Ali-Imran:110 itu hanya sekedar lewat saja pada saat diturunkan kepada Rasulullah dan para sababatnya waktu itu? dan tidak ada nilainya sama sekali untuk mereka? bagaimana mungkin kelompok umat yg ditunjuk hidung & dipuji oleh Allah dengan sangat jelas dengan kalimat appointed “Kamu adalah Umat Terbaik” itu sebenarnya bukanlah ditujukan untuk Nabi dan umat yang menerima wahyu saat itu, tetapi pujian itu ditujukan untuk kelompok umat yang lain yang belum ada dan belum lahir pada saat itu? wuakakakak… it doesn’t make sense.. kasihan banget umat terdahulu dihina spt ini… sampai segini parah ya logikanya.. ampun dech.. wuakakakak…

  39. Situ perhatikan kata-kata Abu Ubaidah “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. “. Rasulullah SAW menjawab Ada yaitu kaum yang datang setelah kalian yang beriman kepadaku padahal tidak melihatKu. Disitu Abu Ubaidah telah menyebutkan keunggulan generasi sahabat yaitu memeluk islam dan berjihad bersama Nabi SAW tetapi walaupun telah disebutkan Nabi SAW tetap mengatakan bahwa kaum yang datang setelah mereka tetap lebih baik.

    Apakah menurut anda itu berarti menafikan perkataan Rasulullah yang lebih Shahih bahwa sebaik-baik manusia adalah masaku?:mrgreen: silahkan bandingkan kedudukan haditsnya, dan bagi saya riwayat bukhari Muslim yang ada dalam kutubusittah lebih shahih daripada musnad Ahmad, atau apakah hadits tsb juga menafikan penggolongan Allah spt berikut ini :

    Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Hadid:10)

    Ngomong-ngomong situ pernah baca hadis Al Haudh yang mutawatir bahwa banyak sahabat akan masuk neraka karena mereka mengada-adakan hal baru sepeninggal Nabi SAW. Menuruti logika anda maka ketika ayat tersebut turun mereka ini juga termasuk kan, tapi terbukti setelah Rasul SAW wafat mereka ada yang murtad dan ada yang mengada-adakan hal baru.

    Sini sudah pernah bacalah:mrgreen: , btw Ada nggak disebutkan nama2 sahahat2 tersebut? padahal Rasulullah pun menyebut Abdullah bin Ubay sebagai sahabat tuch.. & bukankah orang-orang murtad sudah diperangi oleh Abu Bakar pada masa beliau?:mrgreen:

    Ehem kalau memakai logika anda, hadis ini khusus bicara soal kesaksian saja, karena pada bagian akhir hadis disebutkan perihal kesaksian, jadi kebaikan itu khusus soal kesaksian sahaja

    Lho emang ada masalah dengan kesaksian Rasul?:mrgreen:

    Belum lagi ayat-ayat Al Qur’an yang mengkritik dan mengecam mereka. Timbang dengan adil dong

    Yang mana mas? dalam konteks apa? kepada siapa?:mrgreen:

  40. @SP
    Saya rasa kita telah keluar jauh dari thema yang harus didiskusikamn.
    Persoalan QS @ : 110 Supaya diketahui bahwa mereka menafsirkan sekehendak mereka. Firman tsb khusus ditujukan pada Rasulullah, Ahlulbait, Itrahti Ahlulbait serta Zuriat Rasul yang dpilih Allah. Banyak Firman Allah yang menyatakan mereka Umat yang paling Mulia. Dan dari merekalah kita mendapat petunjuk. Merekalah yang melaksanakan NAHI MUNGKAR. Begitu juga para pengikut yang setia.
    Kita bukan ahli tafsir untuk membahas ayat tsb.
    Wasalam

  41. @antirafidhah.
    Anda ngawur mengatakan:& bukankah orang-orang murtad sudah diperangi oleh Abu Bakar pada masa beliau?
    Baca sejarah dan pelajari yang benar. Abubakar menyebut mereka yang tidak membayar ZAKAT sebagai orang yang MURTAD. Dan mereka yang dikatakan murtad tidak pernah keluar dari agama Islam

  42. @antirafdhah

    yang sangat jelas sekali ayat tersebut turun itu pada mereka yaitu Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya pada saat itu, anda, saya, SP dan semua yg ada di sini itu blom ada saat itu..

    dan
    @imem

    Jadi menurutmu Ayat Ali-Imran:110 itu hanya sekedar lewat saja pada saat diturunkan kepada Rasulullah dan para sababatnya waktu itu? dan tidak ada nilainya sama sekali untuk mereka? bagaimana mungkin kelompok umat yg ditunjuk hidung & dipuji oleh Allah dengan sangat jelas dengan kalimat appointed “Kamu adalah Umat Terbaik” itu sebenarnya bukanlah ditujukan untuk Nabi dan umat yang menerima wahyu saat itu, tetapi pujian itu ditujukan untuk kelompok umat yang lain yang belum ada dan belum lahir pada saat itu?

    Yah…msh ga faham-faham juga rupanya. Sdh sy katakan bahwa ayat 110 Ali-Imraan adalah memperbandingkan umat-umat Nabi Muhammad saw dgn umat-umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw (ahli kitab, katakanlah umat Nabi Musa) dan yang ditetapkan sebagai umat terbaik adalah umat Muhammad saw. Umat Muhammad itu mencakup generasi awal hingga generasi sekarang ini, ya Imam Ali, Abubakar, Umar, saya, anda, SP dan Insya Allah semua anak cucu kita. Bukan seperti sangkaan anda berdua, memperbandingkan umat Muhammad saw di generasi awal dgn generasi setelahnya. Kemudian berangan-angan generasi awal adalah yang terbaik. Kan di situ ada perkataan mengenai ahli kitab : Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah….. sebagai bahan pembandingnya?

    Kemudian jika anda berdua msh tetap bersikeras bahwa generasi kita bukan termasuk “umat terbaik”, lebih baik daripada umat di generasi awal, ya silakan saja. Sy juga sdh menyodorkan hadits yg menyatakan seperti itu. Anda bebas kok mengingkari. Namun jangan katakan sy tdk mengabarkan sebelumnya ke anda-anda kalau di kemudian hari ternyata sy benar.

    Semoga anda benar-benar faham sekarang serta tdk mengulang-ulang bahasan. Yang penting anda berdua cermat dalam membaca argumen lawan bicara anda.

    Yang lain-lain ga perlu sy tanggapilah….nampak hanya klaim & permainan kata-kata saja serta pringas-pringis yg ga jelas.

    Salam

  43. @armand

    Hoalah.. ente itu yg ga paham tapi mengklaim orang lain ga paham.. ENTE YG GA TELITI BILANG ORG LAIN GA TELITI.. teliti lagi dunk penjelasan antirafidhah yg menunjukkan penafsiran anda itu keliru besar.. lihat dunk siapa yang ditunjuk oleh Allah sebagai khairu ummah dengan penunjukkan yang amat jelas ITU? emangnya ENTE ADA DI SANA WAKTU ITU? siapa yg dimaksud ahli kitab saat itu?, kapan hal itu terjadi? apakah Rasulullah dan para sahabatnya saat itu yang menerima wahyu terus ente anggap bukan Khairu Ummah?? UDAH MENGHINA KYK GITU EH DENGAN SANTAINYA TRUS NGAKU-NGAKU SEBAGAI KHAIRU UMMAH? kok mau enaknya sendiri tho sampeyan & AROGAN BANGET, umat yg jelas2 berhak menerima pujian itu anda nafikan eh trus ngaku2 diri sbg Khairu Ummah! seharusnya anda bercermin dulu dunk! Kalau anda ingin jadi umat yang terbaik seperti mereka ya ikuti mereka, bukannya malah menselisihi bahkan menghina mereka! Jangan pura2 ga paham dech Mas.. aneh banget anda ini.. jelas2 argumentasi anda sangat lemah kok masih aja ngeyel… KEBANGETAN BENER SICH SAMPEYAN ITU..

    Umat Muhammad itu mencakup generasi awal hingga generasi sekarang ini, ya Imam Ali, Abubakar, Umar, saya, anda, SP dan Insya Allah semua anak cucu kita. Bukan seperti sangkaan anda berdua

    Saya tidak mengingkari hal itu bahwa Umat Islam itu akan ada sampai hari kiamat nanti, tapi pertanyaan saya, ketika ayat tersebut turun apakah kita sudah ada? Siapa yang menjadi umat Islam saat itu? Rasulullah dan para sahabatnya kan? Berarti yang dimaksud oleh Allah saat itu adalah mereka, bahasa penunjukkannya sangat jelas mas, siapa yang diajak bicara oleh Allah saat itu? Rasulullah kan? Bersama siapa? Apa Sama sampeyan? Nggak kan.. trs sama siapa? Ya sama sahabat2nya, Nah baru kemudian orang-orang sesudahnya memeluk Islam dengan perantaraan mereka GENERASI AWAL ISLAM, dan mereka mengikuti bagaimana berislam nya generasi awal dari masalah akidah sampai ibadah, trs sambung menyambung sampai saat ini, lha sekarang kok anda bisa bilang & mengaku sebagai ummat terbaik dengan cara MENGINGKARI & MENAFIKAN GENERASI AWAL ISLAM? OPO TUMON? Apa ga kebalik akal anda Mas? Masak hal kyk gini aja musthi dijelasin kyk ngejelasin ke anak saya ajah.. wuakakakak..

  44. @aburahat

    Saya rasa kita telah keluar jauh dari thema yang harus didiskusikamn.

    oh iya ya, terimakasih sudah mengingatkan, mungkin lebih enak diskusi di thread yang memang tempatnya ya:mrgreen:

  45. @imem

    apakah Rasulullah dan para sahabatnya saat itu yang menerima wahyu terus ente anggap bukan Khairu Ummah?? UDAH MENGHINA KYK GITU EH DENGAN SANTAINYA TRUS NGAKU-NGAKU SEBAGAI KHAIRU UMMAH? kok mau enaknya sendiri tho sampeyan & AROGAN BANGET, umat yg jelas2 berhak menerima pujian itu anda nafikan eh trus ngaku2 diri sbg Khairu Ummah! seharusnya anda bercermin dulu dunk!

    jangan keburu emosi, yah dibaca dulu yang benar komentar saudara armand, jelas-jelas dia bilang

    Sdh sy katakan bahwa ayat 110 Ali-Imraan adalah memperbandingkan umat-umat Nabi Muhammad saw dgn umat-umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw (ahli kitab, katakanlah umat Nabi Musa) dan yang ditetapkan sebagai umat terbaik adalah umat Muhammad saw. Umat Muhammad itu mencakup generasi awal hingga generasi sekarang ini, ya Imam Ali, Abubakar, Umar, saya, anda, SP dan Insya Allah semua anak cucu kita

    Jangan terlalu sibuk dengan pikiran sendiri:mrgreen:

    Saya tidak mengingkari hal itu bahwa Umat Islam itu akan ada sampai hari kiamat nanti, tapi pertanyaan saya, ketika ayat tersebut turun apakah kita sudah ada? Siapa yang menjadi umat Islam saat itu? Rasulullah dan para sahabatnya kan? Berarti yang dimaksud oleh Allah saat itu adalah mereka, bahasa penunjukkannya sangat jelas mas, siapa yang diajak bicara oleh Allah saat itu? Rasulullah kan? Bersama siapa? Apa Sama sampeyan?

    Lho Al Qur’an kan bukan cuma untuk generasi awal saja, waduh-waduh kok kayak nggak pernah baca Al Qur’an aja. Banyak kok ayat Al Qur’an yang menggunakan kata-kata “kalian” dan itu merujuk pada umat islam bukan terbatas hanya sahabat, lha Al Qur’an kan untuk seluruh umat islam:mrgreen:

  46. Apa SP juga ingin dijelasin pake model ketika saya ngejelasin ke anak saya?? wuakakakak…

  47. @SP
    Nampaknya harus lebih bersabar menjelaskan kepada adek imem yang memang rada susah memahami kebenaran.

  48. @Imem,

    Jika anda menafsirkan khairu Ummah terbatas pada para sahabat, maka ini bertentangan dengan ayat.

    Q.S. 09.101. “Di antara orang-orang Arab yang ada di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”

    Perhatikan kata حَوْلَكُمْ “Haula” pada ayat diatas sama dengan yg terdapat pada Q.S 17:01 حَوْلَهُ artinya disekelilingnya/didekatnya yg mengandung arti dekat. jadi kalau mengartikan khairu ummah terbatas sebagai umat saat itu akan menjadi kontradiktif ayat2 al Quran. Masa khairu ummah banyak yg munafik,…

  49. Yah maklumlah sebagian besar umat kembali lagi kepada jaman jahilliyah. Al Qur’an itu universal berlaku kepada seluruh manusia untuk sepanjang zaman, didunia maupun akhirat.

    Wassalam…

  50. @all
    Maaf terpaksa saya harus menjelaskan lagi yang dimaksud dengan KHAIRA UMATIN AKHRIJAT dan KUNTUM
    Untuk mengetahui makna dari kata2 tersebut silahkan anda2 membaca seluruh Surah THAHAA, A; MUKMIN, Al AHZHAB dan Surah IBRAHIM.
    Intinya KHAIRA UMMATIN AKHRIJAT adalah:
    Pertama: TIDAK/BELUM PERNAH MENYEMBAH BERHALA.
    Kedua: MELAKSANAKAN NAHI MUNGKAR
    Ketiga: MAMPU MEMBERI PETUNJUK.
    Anda2 bisa pikirkan siapa2 yang termasuk pada ketiga katagori tsb. Apakah mereka dizaman Rasul atau untuk semua umat.
    Dan ini adalah Firman2 Allah.
    Mengenai KUNTUM.
    Kalau kita mengenal bahasa Alqur’an, maka KUNTUM disini khusus. Apabila untuk umum, maka akan dimulai dengan: Yaa ayyuhal ladzina Amanu, KUNTUM Khaira Umatiin Akhraajt. Perhatikan kata AKHRAJAT berarti dilahirkan/dimunculkan. Wasalam

  51. hehehe..

    sebelum saya menjawab, saya ingin menguji argumen anda secara logika…

    pertama nih, kalau benar hadits itu dimaknakan sebagai PENGKHIANATAN PARA SHAHABAT KEPADA ALI RA MAKA dengan demikian keadilan para shahabat tidak dapat dipercaya,,

    ini aksioma logika yang tidak bisa dibantah…

    kedua, dengan demikian MAKA segala ilmu riwayat hadits yang diambil dari semua shahabat adalah tidak bisa dipercaya..

    ketiga, maka sekarang PERTANYAANNYA NIH…

    dimana al Qur’an yang asli…apakah saudara2 syiah ini mempunyai al qur;an yang beda…
    kalau iya, sekarang buktikan dan tunjukkan mana al qur;an yang asli menurut versi syiah…

    itu aja dulu….kalau anda bisa menjawab logika sederhana ini, nanti baru pakai pembahasan secara lebih ilmiah lagi hehehe..

    saya tunggu lho…hehe..

    salam…

  52. hehehe,,,oya para pemirsa,,,lama2 kami ingin membuat blog bantahan terhadap tulisan2 dari ibnu jakfari ini…

    dengan judul KEDUSTAAAN DAN DISTORSI DARI TULISAN2 PARA PENULIS SYIAH SEMISAL IBNU JAKFARI…

    karena sudah ada rekomendasi dari para ulama MUI kok…

    klik disini ya, semoga bisa menjadi tambahan bacaan

    http://www.mui.or.id/konten/fatwa-mui/faham-syiah

    hehehe….salam…

  53. @Imem/antirafidhah

    Terpaksa lagi deh…

    Hoalah.. ente itu yg ga paham tapi mengklaim orang lain ga paham.. ENTE YG GA TELITI BILANG ORG LAIN GA TELITI.. teliti lagi dunk penjelasan antirafidhah yg menunjukkan penafsiran anda itu keliru besar.. lihat dunk siapa yang ditunjuk oleh Allah sebagai khairu ummah dengan penunjukkan yang amat jelas ITU?

    Baik. Kita lihat apa yg anda maksud sdh jelas itu
    (Mohon maaf nih SP ada yg ngajak jalan-jalan lagi)

    emangnya ENTE ADA DI SANA WAKTU ITU?

    Maaf sy belum lahir. Nah, siapa saja menurut anda ada di sana pada waktu wahyu itu turun? Sahabat? Berapa orang? Siapa saja? Apakah orang-orang yg tdk menyaksikan wahyu tsb turun termasuk di dalamnya? Apakah sahabat-sahabat yg fasik, munafik, dan yg akan khianat jg termasuk di dalamnya? Apakah sahabat Abdullah bin Ubay termasuk di dalamnya? Apakah bayi-bayi baru lahir jg termasuk di dalamnya? Apakah anda ingin mengatakan bahwa “pokoknya generasi awal Islam”? Siapa itu Generasi Awal Islam menurut anda?

    siapa yg dimaksud ahli kitab saat itu?

    Sdh jelas

    kapan hal itu terjadi? apakah Rasulullah dan para sahabatnya saat itu yang menerima wahyu terus ente anggap bukan Khairu Ummah??

    Mau nanya apa? Jika maksud anda karena menyaksikan Rasul menerima wahyu lantas dianggap umat yg terbaik, maka Iblis adalah lebih pantas dikatakan sebagai makhluk terbaik.

    UDAH MENGHINA KYK GITU EH DENGAN SANTAINYA TRUS NGAKU-NGAKU SEBAGAI KHAIRU UMMAH?

    Maaf siapa yg menghina dan siapa yg dihina? Sy hanya mengatakan bahwa orang-orang yg anda sebutkan sebelumnya bukan termasuk dari umat Islam yg terbaik. Bagaimana dikatakan terbaik jika sebagian besar dari mereka kemudian berpaling dan khianat? Cukup banyak riwayat mengenai ini, namun anda-anda segan utk menerima serta berusaha dgn berbaga macam cara utk menyanggah. Dibutuhkan akal yg sehat dan hati yg luas memang.

    kok mau enaknya sendiri tho sampeyan & AROGAN BANGET, umat yg jelas2 berhak menerima pujian itu anda nafikan eh trus ngaku2 diri sbg Khairu Ummah! seharusnya anda bercermin dulu dunk!

    Mau enaknya sendiri? Sy udah ngajak anda berdua, tapi kalian kan menolak?
    Silakan anda puji idola anda. Sy sdh mengatakan bahwa setiap orang tentu punya idolanya masing2.

    Kalau anda ingin jadi umat yang terbaik seperti mereka ya ikuti mereka, bukannya malah menselisihi bahkan menghina mereka!

    “Mereka” yang anda maksud itu siapa? Jika maksud anda manusia-manusia pilihan Nabi & Tuhan-Nya, maka tentu saja dgn dgn penuh kesadaran sy akan mengikuti mereka dan tdk perlu menunggu anda marah-marah dulu. Tapi jika maksud anda adalah manusia-manusia pilihan manusia, maka maaf sy tdk dapat melakukannya.

    Jangan pura2 ga paham dech Mas.. aneh banget anda ini.. jelas2 argumentasi anda sangat lemah kok masih aja ngeyel… KEBANGETAN BENER SICH SAMPEYAN ITU..

    Maaf sy tdk berpura-pura. Apa yg sy tulis adalah apa yg menurut sy benar.

    Semoga yg sekarang ini anda benar-benar faham

    Salam

  54. Kebenaran memang sulit di serap daripada cahaya.

  55. Sudahlah leave & forget atsar di atas.. jelas-jelas ga bisa dijadikan hujjah untuk menuduh umat Islam sebagai penghianat Ali ra, bahkan justru yg terdakwa adalah Kaum Syi’ah sendiri dan Khawarij. Sehingga hujjah tsb lemah dari sisi manapun juga.

    1. Bertentangan dengan Al-Qur’an
    2. Bertentangan dengan Hadits-hadits Shahih
    3. Masih diperselisihkan kedudukan dari atsar di atas
    4. Bertentangan dengan akal sehat

    Tetapi kalau kaum syi’ah mau memakai atsar tsb ya silahkan.. ga ada nilainya sama sekali di sisi kami:mrgreen:

    Ok.. Wassalam🙂

  56. @antirafidhah

    Sudahlah leave & forget atsar di atas.. jelas-jelas ga bisa dijadikan hujjah untuk menuduh umat Islam sebagai penghianat Ali ra, bahkan justru yg terdakwa adalah Kaum Syi’ah sendiri dan Khawarij.

    ah itu kan kata anda, orang lain juga bisa bilang lain:mrgreen:

    1. Bertentangan dengan Al-Qur’an

    Tidak ada bertentangan dengan Al Qur’an. Apalagi Al Qur’an pernah menyebutkan “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (Ali Imran 144)”

    2. Bertentangan dengan Hadits-hadits Shahih

    Justru klop banget dengan hadis-hadis shahih dan mutawatir bahwa sepeninggal Nabi SAW banyak sahabat yang mengada-adakan hal baru sehingga mereka dihalau dari Al haudh.

    3. Masih diperselisihkan kedudukan dari atsar di atas

    Tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang yang suka mencari-cari dalih dan tidak mengerti ilmunya. Mereka yang mengerti ilmunya akan tahu bahwa hadis tersebut shahih, Al Hakim dan Adz Dzahabi menshahihkannya lho btw seperti yang saya katakan sebagai muqallid anda pun benar-benar payah🙂

    4. Bertentangan dengan akal sehat

    Ah kalau yang namanya akal sehat itu harus sesuai dengan akal anda, yo wes lah tiap orang bisa ngaku-ngaku:mrgreen:

    Tetapi kalau kaum syi’ah mau memakai atsar tsb ya silahkan.. ga ada nilainya sama sekali di sisi kami

    ehem ngapain juga syiah pakai kitab hadis sunni, mereka mah punya kitab hadis sendiri kali:mrgreen:

  57. @antirafidhah

    Sy ga keberatan kok utk leave & forget. Sayangnya anda melakukan penutupan dgn kesimpulan2 yg “membuat jari-jemari ini menjadi gatal lagi”. Sayang sekali….

    Pertama. Selama diskusi kita berlangsung, tdk ada yg menuduh umat Islam sebagai pengkhianat Imam Ali as. Yang benar adalah, setelah kepergian Nabi Muhammad saw, di masa Imam Ali as, sebagian besar umat Nabi Muhammad saw telah berkhianat thd Imam Ali as. Haditsnya shahih kok, kecuali anda & Imem bisa menunjukkan ketidakshahihannya. Tolak sana-tolak sini….tdk ada hujjah satu pun yg menolak keshahihan hadits di atas.

    Kedua. Tdk dipungkiri bahwa ada sebagian manusia yg mengaku-aku pengikut Imam Ali as kemudian berkhianat dan memusuhi Imam Ali as. Jika dia telah berkhianat, maka lepas sdh ikatan mazhab (syiah) nya. Bukankah syiah artinya “pengikut”? Yang berkhianat dan memusuhi artinya bukan lagi “pengikut”. Begitu pula siapa yg memusuhi Muawiyyah & Yazid, maka dia bukan lagi pengikut (syiah)nya Muawiyyah. Anda dan Imem harus betul-betul memahami hal ini.

    Ketiga.
    (1) Bertentangan dgn Alquran? Apanya yg bertentangan? Rasa-rasanya belum ada satu pun ayat yg disodorkan di sini utk menentang hadits di atas?
    (2) Bertentangan dgn hadits-hadits shahih? Bukannya hadits di atas shahih? Apakah anda ingin mengatakan bahwa ada pertentangan antara hadits-hadits shahih?
    (3) Ya betul kita lagi memperselisihkannya. Terus apakah mempengaruhi kedudukannya?
    (4) Bertentangan dgn akal sehat? Wah jika menggunakan akal anda & Imem memang akan sangat bertentangan. Maaf, tapi sejak kapan anda mulai menggunakan akal sehat?

    Ya sdh jika memang anda tdk ingin memetik secuil pun kebenaran dari golongan lain itu terserah anda. Jangan dibilang nanti sy tdk pernah menyampaikan jika di kemudian hari ternyata ketahuan anda keliru.

    Btw, coba anda baca tafsir Ibnu Katsir mengenai siapa itu “kuntum khaira ummah”

    Salam

  58. eh udah dijawab SP ya…

  59. Tidak ada bertentangan dengan Al Qur’an. Apalagi Al Qur’an pernah menyebutkan “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (Ali Imran 144)”

    Lah mana yang menunjukkan hujjah dr ayat itu? bukankah itu pertanyaan saja? Bukankah Justru Abu Bakar-lah yang membawakan ayat tersebut untuk pertama kalinya ketika Rasulullah wafat, yang jelas atsar di atas adalah bertentangan dg Al-Qur’an sudah jelas itu:mrgreen:

    Justru klop banget dengan hadis-hadis shahih dan mutawatir bahwa sepeninggal Nabi SAW banyak sahabat yang mengada-adakan hal baru sehingga mereka dihalau dari Al haudh.

    Silahkan ditunjukkan ada ga nama2 sahabat yang dihalau di telaga tsb?:mrgreen:

    Tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang yang suka mencari-cari dalih dan tidak mengerti ilmunya. Mereka yang mengerti ilmunya akan tahu bahwa hadis tersebut shahih, Al Hakim dan Adz Dzahabi menshahihkannya lho btw seperti yang saya katakan sebagai muqallid anda pun benar-benar payah

    Ah silahkan ngedumel:mrgreen: jelas sekali kok ada yang mendhaifkan riwayat tersebut.. paling tidak saya tidak sepayah anda dalam anda membela paham syi’ah dg riwayat tsb:mrgreen:

    Ah kalau yang namanya akal sehat itu harus sesuai dengan akal anda, yo wes lah tiap orang bisa ngaku-ngaku

    Apalagi kalau sesuai dg akal anda, tiap orang juga bisa kok ngaku2:mrgreen:

    ehem ngapain juga syiah pakai kitab hadis sunni, mereka mah punya kitab hadis sendiri kali

    Itulah tanya kenapa? kok mereka pakai hadits2 sunni segala buat membela keyakinannya, aneh kan:mrgreen:

    @armand

    Yang benar adalah, setelah kepergian Nabi Muhammad saw, di masa Imam Ali as, sebagian besar umat Nabi Muhammad saw telah berkhianat thd Imam Ali as. Haditsnya shahih kok, kecuali anda & Imem bisa menunjukkan ketidakshahihannya. Tolak sana-tolak sini….tdk ada hujjah satu pun yg menolak keshahihan hadits di atas.

    Itulah yang bertentangan dengan Al-Qur’an, jelas2 Allah mengatakan bahwa mereka Khairu Ummah itu lah kenyataannya dan argumentasi&penafsiran anda itu sangat lemah jd percuma anda mempertahankannya, tapi kalo anda mau bersikeras ya silahkan..:mrgreen: dan yang jelas hadits tersebut masih diperselisihkan dan bertentangan dengan hadits2 yang lebih shahih yg sudah disebutkan di atas.

    Tdk dipungkiri bahwa ada sebagian manusia yg mengaku-aku pengikut Imam Ali as kemudian berkhianat dan memusuhi Imam Ali as. Jika dia telah berkhianat, maka lepas sdh ikatan mazhab (syiah) nya. Bukankah syiah artinya “pengikut”? Yang berkhianat dan memusuhi artinya bukan lagi “pengikut”. Begitu pula siapa yg memusuhi Muawiyyah & Yazid, maka dia bukan lagi pengikut (syiah)nya Muawiyyah. Anda dan Imem harus betul-betul memahami hal ini.

    Yang namanya pengkhianat itu ya dari awal mengaku-aku sebagai pengikut tetapi ternyata kemudian mereka membelot.

    Btw, coba anda baca tafsir Ibnu Katsir mengenai siapa itu “kuntum khaira ummah”

    Justru anda coba baca secara keseluruhan dan pahami dari ayat 110 – 111.. saya paham maksud anda, tapi Ingat satu hal ya, ini adalah logika yang sangat logis, adanya umat Islam sekarang ini, tidak bisa terlepas dari umat yang pertama, jadi benar kata Imem, anda tidak bisa mengaku (pengakuan anda itu diragukan) sebagai Umat yg terbaik jika anda menolak/tidak mengakui umat yang pertama sebagai umat yang terbaik.. sebagaimana anda mengaku sebagai pengikut Imam Ali, bukankah Imam Ali juga termasuk umat yang pertama? dan beliau berbai’at kepada mereka dengan disertai pujian kepada mereka, apakah kemudian beliau dikatakan mengkhianati diri beliau sendiri? seandainya anda memang benar sebagai pengikut Imam Ali, kenapa anda tidak mengikuti beliau dengan mengakui kekhalifahan orang2 yang beliau bai’at?

    Satu lagi, hadits2 Rasulullah yang dibawa oleh SP, periwayatnya adalah para sahabat, jika anda berkeyakinan bahwa para sahabat saat itu sebagian besar adalah pengkhianat, mengapa anda dan juga SP menjadikannya hujjah? kenapa ga lebih baik anda gunakan saja hadits2 dalam kitab2 Syi’ah yang hampir tidak memakai sahabat sebagai perawinya? sungguh hal yang sangat kontradiksi dan menyedihkan, menjadikan hujjah riwayat2 yang para perawinya sebagian besar adalah pengkhianat atau orang2 yang mengada-ngadakan hal baru atau lebih parah lagi mereka adalah murtad.. dan inilah yg terjadi pada blog ini.. sungguh benar2 menyedihkan..:mrgreen:

    saya ingin tanya kepada anda, Abu Dzar, Salman, Ammar radhiyallahu ‘anhum dan sahabat2 yang lain yang diakui oleh Syi’ah bahkan Imam Ali sendiri, mereka semua berbai’at saat itu kepada para khalifah, apakah mereka para pengkianat juga menurut anda? jika anda mengatakan bahwa mereka hanya mengikuti Imam Ali dalam hal tersebut, kenapa anda tidak? dan faktanya mereka berbai’at lebih dahulu daripada Imam Ali.

    dengan keyakinan anda bahwa sebagian besar Umat Islam yang pertama adalah pengkhianat maka secara otomatis anda telah melepaskan diri dari ikatan khairu ummah.. terserah anda, saya dan Imem sudah mengingatkan kepada anda ya.. jgn sampai nanti di “Sana” anda bilang tidak ada seorangpun yang mengingatkan anda akan kekeliruan pemahaman anda tsb.. ok wasalam.

  60. copas aja ah…
    daripada ngedumel tapi salah…

    Abu Dzar, Salman, Ammar radhiyallahu ‘anhum dan sahabat2 yang lain yang diakui oleh Syi’ah bahkan Imam Ali sendiri, mereka semua berbai’at saat itu kepada para khalifah, apakah mereka para pengkianat juga menurut anda?

  61. @ kembali ke aqidah

    abu dzar, salman, Miqdad, ammar, zubair, abu ayub, dan masih banyak lagi membaiat abu bakar setelah Imam Ali membaiat, yaitu setelah Sayyidah Fatima meninggal dunia…

  62. @antirafidhah

    Naga-naganya perjalanan ini bakal msh panjang ….

    jelas2 Allah mengatakan bahwa mereka Khairu Ummah itu lah kenyataannya

    Dari kemaren2 juga udah jelas hanya anda berdua saja yg memiliki angan-angan itu. Kok jadi maksain Allah yg ngomong begitu? Semua pembaca disini jadi saksinya, termasuk bahkan yg suka sama anda.

    dan yang jelas hadits tersebut masih diperselisihkan

    Oh iya siapa yg memperselisihkan? Kami faham kok bagaimana watak anda dalam usaha menolak hadits shahih. Faham bener. Jangan khawatir.

    dan bertentangan dengan hadits2 yang lebih shahih yg sudah disebutkan di atas.

    Nah jadi anda mengakui ya kalau hadits itu memang shahih, yah meski pun kalah shahih dgn hadits-hadits yg entah dari antah berantah mana. Syukurlah. Sy cukup surprise dgn sikap anda yg ini.
    Lagipula, jika begitu memang tdk keliru kalau dibilang manhaj anda memiliki hadits-hadits shahih yg saling bertentangan. Rasa-rasanya ada kata-kata dari anda atau entah siapa, yg menegaskan bahwa hadits-hadits shahih tdk mungkin terjadi pertentangan.

    Sebenarnya sy sdh tdk perlu menanggapi lagi pernyataan-pernyataan anda, karena sdh ada penegasan keshahihan atas kedudukan hadits yg kita bicarakan ini. Tapi utk menghargai anda yg telah bersusah-payah, akan sy teruskan;

    Yang namanya pengkhianat itu ya dari awal mengaku-aku sebagai pengikut tetapi ternyata kemudian mereka membelot.

    Inilah yg sy maksud bahwa sy meragukan anda menggunakan akal sehat anda. Masak anda ga ngerti kalau seseorang belum dapat disebut berkhianat hingga dia merusak/mengingkari baiat (perjanjian)?

    ini adalah logika yang sangat logis, adanya umat Islam sekarang ini, tidak bisa terlepas dari umat yang pertama

    O iya…Logika yg hebat. Lhuar biasa.

    jadi benar kata Imem, anda tidak bisa mengaku (pengakuan anda itu diragukan) sebagai Umat yg terbaik jika anda menolak/tidak mengakui umat yang pertama sebagai umat yang terbaik..

    Maaf, kembali sy ragukan akal sehat anda. Begini saja, jika umat yang pertama (grupnya sahabat) adalah yg terbaik, maka coba jawab. Mengapa tdk ada ajaran-ajaran atau tulisan-tulisan atau aturan-aturan fiqih dari pemimpin-pemimpin anda Abubakar, Umar, Utsman, Muawiyyah, dll siapa sajalah di generasil awal, yg dapat kita jadikan rujukan sekarang ini? Mengapa malah Abu Hurairah yg ngetop banget yg cuman bersama Rasulullah berapa tahun? 3 tahun? Mengapa lantas muncul Maliki, Hanafi, Hambali, dll yg lebih baik? Yang notabene melewati 1-2 generasi dari generasi awal? Mestinya predikat terbaik kan bisa dibuktikan dengan apa yg mereka hasilkan? Bukan sekedar doktrin-doktrin yg dipantek di kepala dari generasi ke generasi tanpa bukti nyata?

    Jika umat terdahulu lebih baik, maka mengapa kelompoknya Ibnu Taimiyyah, Syeik Albani yang anda gunakan sebagai hujjah? Mengapa bukan kakek buyut guru-guru mereka yg hidupnya ada di generasi yg jauh lebih awal? Mengapa anda malah setuju dgn pendhaifan mereka terhadap hadits-hadits Bukhari, Muslim dll yang nyata-nyata perawi-perawi ini merupakan generasi yg lebih awal? Coba deh dijawab jika anda telah mengenal yang namanya umat yg terbaik dan akal sehat.

    sebagaimana anda mengaku sebagai pengikut Imam Ali, bukankah Imam Ali juga termasuk umat yang pertama?

    Beliau as adalah sosok yg pertama dan yg utama.

    dan beliau berbai’at kepada mereka dengan disertai pujian kepada mereka,

    Setahu sy baiat beliau ditahan selama 6 bulan. Alasan-alasan yg tak pernah anda-anda pahami.

    apakah kemudian beliau dikatakan mengkhianati diri beliau sendiri?

    Ini mah logika yg kacau.

    seandainya anda memang benar sebagai pengikut Imam Ali, kenapa anda tidak mengikuti beliau dengan mengakui kekhalifahan orang2 yang beliau bai’at?

    Nah ini pertanyaan sip. Tentu saja sy akan mengikuti beliau as. Jika pada saat itu saya berada di sana ketika Imam Ali as membaiat, maka Insya Allah sy jg akan turut membaiat. Jika Imam Ali as menahan baiat beliau hingga 6 bulan, maka sy juga Insya Allah akan menahan baiat sy selama 6 bulan, kecuali Imam Ali as memerintahkan lain utk saya. Jika Imam Ali as mengakui kekhalifahan orang-orang ini, atau Imam Ali memerintahkan sy mengakui, maka Insya Allah sy jg akan mengakuinya. Pokoknya terserah Imam Ali as saja.

    Satu lagi, hadits2 Rasulullah yang dibawa oleh SP, periwayatnya adalah para sahabat, jika anda berkeyakinan bahwa para sahabat saat itu sebagian besar adalah pengkhianat, mengapa anda dan juga SP menjadikannya hujjah? kenapa ga lebih baik anda gunakan saja hadits2 dalam kitab2 Syi’ah yang hampir tidak memakai sahabat sebagai perawinya? sungguh hal yang sangat kontradiksi dan menyedihkan, menjadikan hujjah riwayat2 yang para perawinya sebagian besar adalah pengkhianat atau orang2 yang mengada-ngadakan hal baru atau lebih parah lagi mereka adalah murtad.. dan inilah yg terjadi pada blog ini.. sungguh benar2 menyedihkan..

    Lhah kalau sy menggunakan hujjah dari Syiah, apa anda mau mendengar? Ini lucu. Tujuan diskusi kan salah satunya utk meyakinkan lawan bicara bahwa apa yg kita sampaikan mengandung kebenaran? Lalu apa gunanya sy menyampaikan suatu hujjah, yg jika belum apa-apa sdh dipastikan akan anda tolak? Berapa banyak hadits-hadits yg di dalamnya terdapat perawi yg anda tuduh syiah lantas anda abaikan keshahihannya?

    Bagi sy hadits dari Bukhari dan penyusun lain yg di dalamnya ada perawi sahabat msh bisa dijadikan hujjah selama ia tdk bertentangan dgn Alquran & akal sehat. Meski pun berkhianat, apa lantas mereka bukan Islam dan berbuat kezaliman? Kan ngga? Imam Ali dan ahlulbait juga msh menerima keadaan (baca: kekurangan) mereka.

    saya ingin tanya kepada anda, Abu Dzar, Salman, Ammar radhiyallahu ‘anhum dan sahabat2 yang lain yang diakui oleh Syi’ah bahkan Imam Ali sendiri, mereka semua berbai’at saat itu kepada para khalifah, apakah mereka para pengkianat juga menurut anda? Jika anda mengatakan bahwa mereka hanya mengikuti Imam Ali dalam hal tersebut, kenapa anda tidak? dan faktanya mereka berbai’at lebih dahulu daripada Imam Ali.

    Sy tau mereka bukan termasuk di dalamnya. Riwayat2 yg sy baca, dari berbagai sisi membuktikannya. Kalau tdk salah di blog ini ada menyampaikan hadits mengenai keutamaan mereka sekaligus menyebutkan nama-nama mereka. Sy lupa dimana. Sy tdk tau fakta apa yg anda maksud. Apakah anda punya riwayatnya? Mengapa mereka melakukan baiat?
    Tapi kalau sahabat yg lain ada kemungkinan besar, sesuai riwayat-riwayat lain sebagai pendukungnya.

    Mengenai sy sendiri, urusan baiat-membaiat itu sdh lama banget, sy jelas belum ada saat itu. Jadi maaf sy tdk bisa memenuhi harapan anda untuk turut membaiat.

    Eh ya itu sekalian buat temen anda siapa itu? O ya si @kembali

    dengan keyakinan anda bahwa sebagian besar Umat Islam yang pertama adalah pengkhianat maka secara otomatis anda telah melepaskan diri dari ikatan khairu ummah..

    Waduh….msh ga faham juga ya? Nih baca dgn mata dibuka lebar-lebar, jangan asik membaca pikiran sendiri;

    Khairu ummah itu jika dibandingkan dgn umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Paham?

    terserah anda, saya dan Imem sudah mengingatkan kepada anda ya.. jgn sampai nanti di “Sana” anda bilang tidak ada seorangpun yang mengingatkan anda akan kekeliruan pemahaman anda tsb..

    Ah ga kreatif. Itu kan kata-kata sy yg telah anda distorsi sedikit? Sy kan sebelumnya ga menyebutkan kata “Sana”? Anda terbiasa mendistorsi sesuatu ya?

    Salam

  63. Betul sekali jika Islam kita sekarang tdk bisa lepas dr islamnya para Awallun Islam tetapi tdk ada kaitannya bahwa umat yg terbaik pastilah para Awallun tersebut….
    wahabi tdk lepas dr awallun islamnya si muawiyah bin abu sofyan,….Ahlussunah (Suni) tdk lepas dr Abu bakar umar usman dan Ali…. syiahpun begitu tdk lepas dr awallun Islam Ali bin Abithalib dan para Imam ketrunannya.

  64. @armand

    ini adalah logika yang sangat logis, adanya umat Islam sekarang ini, tidak bisa terlepas dari umat yang pertama

    O iya…Logika yg hebat. Lhuar biasa.

    Jelas logika yang sehat dan tepat, dan lucu sekali logika anda itu:mrgreen: anda menolak suatu kebenaran yang demikian terang! sudah dijelaskan berulang-ulang tapi anda ga ngerti2 juga, andalah yg berangan-angan tapi ga sadar.. tanya dong kepada ahli bahasa jika anda ga tau, jelas ayat tsb turun kepada umat Islam generasi yg pertama, dengan konteks yg ada saat itu. sedangkan umat islam generasi yg kedua, ketiga dan strsnya sampai kita itu blom ada saat itu, maka merekalah saat itu yg dimaksud khairu ummah, Allah berbicara kepada Nabi dan orang-orang yang bersamanya saat itu, jelas kan ini! apakah masuk akal kita menunjuk orang2 yang ada dihadapan kita, tetapi yang kita maksud adalah orang2 lain yang ga ada pada saat itu atau belum lahir di dunia ini? harus pake bahasa apa lg ngejelasin ini kepada anda? anda akan masuk menjadi khairu ummah sama seperti mereka yg ditunjuk oleh Allah saat itu jika anda mengikuti mereka! hal ini sesuai dengan At-Taubah : 100, kita akan menjadi umat yg diridhai oleh-Nya jika kita ini termasuk “walladzina taba’uhum bi ikhsan” (orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), lihat lagi Al-Hadid:10, Allah telah membedakan derajat manusia dan menurut Allah generasi awal adalah lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang2 sesudahnya, ini sangat berlawanan dengan klaim anda, jelas kan? apa bahasa saya terlalu tinggi buat anda? capek dech..😆

    Maaf, kembali sy ragukan akal sehat anda. Begini saja, jika umat yang pertama (grupnya sahabat) adalah yg terbaik, maka coba jawab. Mengapa tdk ada ajaran-ajaran atau tulisan-tulisan atau aturan-aturan fiqih dari pemimpin-pemimpin anda Abubakar, Umar, Utsman, Muawiyyah, dll siapa sajalah di generasil awal, yg dapat kita jadikan rujukan sekarang ini? Mengapa malah Abu Hurairah yg ngetop banget yg cuman bersama Rasulullah berapa tahun? 3 tahun? Mengapa lantas muncul Maliki, Hanafi, Hambali, dll yg lebih baik? Yang notabene melewati 1-2 generasi dari generasi awal? Mestinya predikat terbaik kan bisa dibuktikan dengan apa yg mereka hasilkan? Bukan sekedar doktrin-doktrin yg dipantek di kepala dari generasi ke generasi tanpa bukti nyata?

    Justru saya sangat meragukan kesehatan akal anda, kalau anda ga paham pegangan Sunni jangan mengklaim dulu dech, mending pelajari dulu, daripada entar anda malu, ok!

    Setahu sy baiat beliau ditahan selama 6 bulan. Alasan-alasan yg tak pernah anda-anda pahami.

    Dan jangan sok bilang anda memahaminya ya..

    apakah kemudian beliau dikatakan mengkhianati diri beliau sendiri?

    Ini mah logika yg kacau.

    logika anda yang kacau dan parah, bagaimana mungkin beliau berbai’at kepada orang yang mengkhianati beliau dengan disertai pengakuan & pujian thd keutamaan orang tsb? apakah beliau berbasa-basi & berpura-pura menurut anda?

    Nah ini pertanyaan sip. Tentu saja sy akan mengikuti beliau as. Jika pada saat itu saya berada di sana ketika Imam Ali as membaiat, maka Insya Allah sy jg akan turut membaiat. Jika Imam Ali as menahan baiat beliau hingga 6 bulan, maka sy juga Insya Allah akan menahan baiat sy selama 6 bulan, kecuali Imam Ali as memerintahkan lain utk saya. Jika Imam Ali as mengakui kekhalifahan orang-orang ini, atau Imam Ali memerintahkan sy mengakui, maka Insya Allah sy jg akan mengakuinya. Pokoknya terserah Imam Ali as saja.

    Ya udah tunggu apa lagi akui saja mereka sebagai khalifah, kalau perlu dengan pujian juga, jangan anda menselisihi apa yang telah dilakukan oleh Imam Ali, dan jangan banyak ngeles.

    Lhah kalau sy menggunakan hujjah dari Syiah, apa anda mau mendengar? Ini lucu. Tujuan diskusi kan salah satunya utk meyakinkan lawan bicara bahwa apa yg kita sampaikan mengandung kebenaran? Lalu apa gunanya sy menyampaikan suatu hujjah, yg jika belum apa-apa sdh dipastikan akan anda tolak? Berapa banyak hadits-hadits yg di dalamnya terdapat perawi yg anda tuduh syiah lantas anda abaikan keshahihannya?

    Ya sangat jelas itu, karena pada dasarnya syi’ah tidak punya pegangan kecuali nafsu belaka dan pendusta, dan buktinya adalah sekarang ini, anda & syi’ah yang lain menghalalkan segala cara demi membenarkan keyakinan anda dengan mencatut pegangan sunni, padahal jelas sunni punya pemahaman sendiri terhadap pegangannya.

    Bagi sy hadits dari Bukhari dan penyusun lain yg di dalamnya ada perawi sahabat msh bisa dijadikan hujjah selama ia tdk bertentangan dgn Alquran & akal sehat. Meski pun berkhianat, apa lantas mereka bukan Islam dan berbuat kezaliman? Kan ngga? Imam Ali dan ahlulbait juga msh menerima keadaan (baca: kekurangan) mereka.

    Tanyalah sama ahli hadits di blog ini, apakah seorang yang berkhianat bisa diambil haditsnya? orang yang berdusta aja ditinggalkan haditsnya kok, apalagi yang berkhianat, belum lagi kalo perawi adalah orang-orang yang mengadakan hal2 baru atau lebih parah lagi adalah murtad.. ahh logika anda itu bakal dibantai habis sama si SP:mrgreen:

    Sy tau mereka bukan termasuk di dalamnya. Riwayat2 yg sy baca, dari berbagai sisi membuktikannya. Kalau tdk salah di blog ini ada menyampaikan hadits mengenai keutamaan mereka sekaligus menyebutkan nama-nama mereka. Sy lupa dimana. Sy tdk tau fakta apa yg anda maksud. Apakah anda punya riwayatnya? Mengapa mereka melakukan baiat?

    Berdasarkan hadits yang shahih, yang melakukan bai’at setelah 6 bulan itu hanya Imam Ali saja, sedangkan yang lain semua sudah berbai’at kepada Abu Bakar termasuk sahabat2 di atas. Itu pun kami pahami bahwa bai’at Imam Ali setelah 6 bulan tersebut adalah bai’at yang kedua, dimana hal itu beliau lakukan untuk menghilangkan keraguan kaum muslimin terhadap beliau, beliau ingin menunjukkan bahwa beliau tidak ada masalah dengan pengangkatan Abu Bakar, hanya perbedaan pendapat soal harta warisan Rasulullah saja yg terjadi diantara mereka saat itu. dan bai’at yang pertama telah beliau lakukan di hari kedua setelah Rasulullah wafat bersama kaum muslimin.

    Waduh….msh ga faham juga ya? Nih baca dgn mata dibuka lebar-lebar, jangan asik membaca pikiran sendiri;

    Khairu ummah itu jika dibandingkan dgn umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Paham?

    Anda lah yang asyik berangan-angan & tidak paham.. saya sudah banyak sekali menjelaskan mengenai ayat tersebut di atas, ok lah sekali lg saya akan ikuti alur logika anda sebagai bentuk kasihan saya kepada anda, saya setuju, memang benar Umat Islam adalah Umat Yang terbaik diantara umat-umat yang lain sebelum Nabi Muhammad. dan Allah turunkan wahyu tersebut di Madinah, dan umat Islam saat itu hanya mereka saja belum ada yang lain. maka yang diperbandingkan dengan umat yang lain oleh Allah saat itu adalah Nabi bersama orang2 yang bersama beliau saat itu (tidak termasuk orang munafik tentunya) yang merupakan Pioneer dari umat Islam atau mereka adalah merupakan Laboratorium Allah yang pertama yang telah menunjukan hasil yg memuaskan, oleh karena itu langsung Allah bandingkan dengan umat yang lain, ingat belum ada generasi umat Islam yang lain selain mereka saat itu, Seandainya saat itu mereka tidak menunjukkan sifat sebagai umat yang terbaik, tentu Allah saat itu tidak akan membandingkan mereka dengan umat yang lain.. Atau Allah akan berfirman “Generasi Umat Islam sesudah kalian (misalnya ditambah juga dengan tahun tepatnya antara 1970 s/d 2010:mrgreen: ) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan diantara manusia”.😆

    Tetapi anda & SP & orang Syi’ah yg lainnya saat ini berkeyakinan bahwa Umat saat itu yang Allah telah katakan sebagai khairu ummah dan Allah bandingkan dengan umat sebelumnya adalah para pengkhianat sepeninggal Nabi, orang2 yg berbuat bid’ah atau orang2 yang murtad.. bukankah ini berarti pukulan telak thd citra mereka sebagai umat yang terbaik yang disematkan oleh Allah, maka klaim anda, SP dan lainnya bertentangan dengan Al-Qur’an.. karena Umat yang telah dikatakan yang terbaik oleh Allah ga mungkin mereka berkhianat dengan Perintah Rasul, berbuat bid’ah ataupun murtad, apakah Allah telah keliru menunjuk/menilai dan membandingkan mereka dg umat yg lain saat itu?.

    berarti sudah jelas anda adalah seorang yg berpemahaman Syi’ah jadi ga usahlah sok memakai hadits2 sunni sedangkan anda sendiri tidak mengakui para sahabat sebagai umat terbaik, maka tak ada gunanya berdebat dg anda yg sudah terinfeksi paham syi’ah hingga menghilangkan akal sehat anda! anda mau ngomong apa saja tentang pegangan kami ga ada nilainya sama sekali!

  65. Apakah khairun Ummah yg dimaksud oleh si Imem dan Anti rafidhoh itu adalah sahabat2 yg pernah ditulis Haditsnya oleh @ Sp
    dulu…yah

    1. Yg Murtad
    2. Yg meminum Arak
    3. Yg Menjual Khamar
    4. yg membunuh tanpa haq
    5. Yg pendusta dan pembohong
    etc

    Karena mereka termasuk org yg hadir saat perang badar, Uhud, oleh karenanya PERDEFINISI Imem dan anti rafidhoh mereka ini… Khairun Ummah…

    Kalau ummat terbaiknya kayak gini,…pantesan ajah…ummat setelahnya bebal yah…

  66. @antirafidhah

    Silahkan ditunjukkan ada ga nama2 sahabat yang dihalau di telaga tsb?

    ho ho ho jelas-jelas sahabat-sahabat itu kalau menuruti logika anda ya khairul ummah juga kan, bukankah menurut anda mereka yang dituju pada ayat tersebut:mrgreen:

    ehem dengan logika anda pula silakan perhatikan hadis berikut

    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَأَقُولُ أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي يَقُولُ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

    Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Mughirah dari Abi Wail yang berkata Abdullah berkata Nabi SAW bersabda “Aku akan mendahului kalian sampai di Al Haudh dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang dari kalian. kemudian ketika aku memberi minum mereka, mereka terhalau dariku maka Aku bertanya “Wahai RabbKu bukankah mereka itu sahabat-sahabatKu?. Dia menjawab “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”. [Shahih Bukhari 9/46 no 7049]

    btw hadis di atas jelas-jelas Rasulullah SAW sedang berbicara kepada sahabat-sahabatnya yang mendengarkan hadis dari Beliau SAW. Nah Rasulullah SAW jelas-jelas menunjuk mereka dengan kata-kata kalian. Jadi kalian itu berarti sahabat-sahabat yang mengada-adakan hal baru sepeninggal Nabi SAW. Mereka kan kalau menuruti logika anda ya khairul ummah:mrgreen:

  67. @bob

    Yang mana? berapa orang? apakah sudah bener begitu adanya? wuakakak

    masak 1 kwintal beras berwarna putih dibilang berwarna hitam hanya karena ada beberapa butir beras yang berwarna abu-abu.. itu pun kalo bener2 abu2 warnanya.. soalnya yg nglihat aja kagak yakin ama mata-nya sendiri… wuakakak.. kagak kuat logika ente Man.. wuakakak

    Mending daripada moyangnya adalah si Ibnu Saba’ CS yang mengaku-aku mencintai Imam Ali, tetapi oleh beliau malah divonis hukum bakar… kalo founding fathernya aja kyk gitu.. pantesan ajah.. umat setelahnya katrok murokab Yach.. wuakakakak..

  68. @antirafidhah

    ehem dengan logika anda pula maka simaklah ayat-ayat berikut

    Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [Al Jumu’ah 9-10]

    Ayat di atas juga menggunakan redaksi kamu yang sama dengan ayat khairul ummah, Nah apakah itu terkhusus untuk sahabat Nabi saja atau berlaku untuk semua umat islam?:mrgreen:

    Dan apabila melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:” Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan “, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki [Al Jumu’ah 11]

    Nah pertanyaan buat antirafidhah, kalau ayat ini siapakah mereka yang bubar itu?:mrgreen:

  69. sudah,pulanglah kau wahabi ke pangkuan sesembahanmu di istana saud sana. dan kalian pencinta ahlul bait,baliklah juga ke tanah asalmu. disini maaf kami di indonesia ini tidak butuh pertengkaran. karena kami mencintai Nabi kami,Nabi SAW dan Ahlul Baitnya.

  70. Islam adalah agama yg Rahmatan’lil Alamin, kenapa dinilai berdasarkan daerah asalnya? aneh ! :mrgreen:

  71. @antirafidha

    maka tak ada gunanya berdebat dg anda yg sudah terinfeksi paham syi’ah hingga menghilangkan akal sehat anda! anda mau ngomong apa saja tentang pegangan kami ga ada nilainya sama sekali!

    Ya…ya sy paham kok, bagaimana phobianya anda dgn syiah. Tdk usah khawatir, apa yg sy sampaikan jg sebenarnya tertuju kepada semua yg membaca debat ini, bukan khusus buat anda.

    Jika anda tdk berkeberatan sy pamit mundur. Apa yg perlu sy sampaikan rasanya sdh cukup, biar pembaca lainnya yg ambil alih🙂

    Salam

  72. @all

    Harap bedakan Ummat/kaum dengan manusia/person/individu. Bisa saja manusia terbaik tidak di jaman ummat terbaik.

    Untuk AR harap jangan seenak udel memilah2/membagi2. Bisa2 anda nanti juga mengatakan perintah shalat dan lain2 hanya untuk umat terdahulu. Kalau digunakan kata yang bersifat umum ya mbok jangan dikhususkan, jika dipakai kata khususan jangan digeneralkan.

    Salam damai.

  73. @SP

    Nah pertanyaan buat antirafidhah, kalau ayat ini siapakah mereka yang bubar itu?:mrgreen:

    Pasti umat yang sekarang….:mrgreen:
    Pokoknya gak mungkin umat waktu itu bisa separah itu. Mas SP jangan mengartikan sesuatu secara kontekstual. Memangnya mas SP belajar dimana ttg tafsir AQ? Dimana belajar bahasa arab? wong sampean orang indonesia koq berani2nya menafsirkan AQ. AQ itu diturunkan untuk mereka yg berbahasa arab..
    upppsssss…. sorry cuma mau mengendorkan urat saraf di hari jum’at agar week endnya gak terlalu tegang…😉

    Salam damai

  74. @antirafidhah/imem
    Saya ingin bertanya apakah anda2 mau menjaweab? Menurut saya anda2 tidak akan menjawab, pertanyaannya adalah:
    1. Apakah mereka yang dahulu KAFIR/JAHILYAH/SIRIK kemudian masuk Islam bisa dikatakan KUNTUM KHAIRA UMATIIN AKHRAJAT?
    2. Apakah mereka yang tidak melaksanakan NAHI MUNGKAR/ melaksanakan KEMUNGKARAN dapat disebut KHAIRA UMMATIIN AKHRAJAT?
    3. Apakah mereka yang tidak dapat memberi petunjuk dan hanya menerima petunjuk dapat disebut KHAITRA UMMATIIN AKHRAJAT?
    Silahkan anda menjawab
    Kalau anda2 tidak bisaq menjawab, saya katakan anda2 PEMBOHONG dan tidak mengerti mengenai Islam

  75. @SP

    Mana nama2 sahabatnya? kok ga ada?:mrgreen:

    ho ho ho jelas-jelas sahabat-sahabat itu kalau menuruti logika anda ya khairul ummah juga kan, bukankah menurut anda mereka yang dituju pada ayat tersebut

    hohoho emang benar merekalah yang berhak disebut oleh Allah Khairu Ummah kok..:mrgreen:

    Silahkan dibaca lagi tanggapan saya kepada armand, jangan salah dalam memahami perkataan saya ya:mrgreen: , saya sama sekali tidak menolak pemahaman dia bahwa yang dimaksud khairu ummah adalah seluruh kaum muslimin sampai akhir jaman, tetapi yg saya tekankan adalah jika seluruh kaum muslimin dikatakan sebagai umat yang terbaik diantara umat yang lain, tentunya umat tsb ada pangkal atau pendahulunya yang mereka telah hidup bersama Rasul di alam nubuwwah yaitu generasi yang pertama, apalagi ayat itu turun di masa mereka, sehingga merekalah yang memang berhak mendapatkan pujian itu sedangkan generasi selanjutnya adalah juga khairu ummah karena mereka mengikuti generasi pendahulunya. Clear kan? . Yang saya anggap ga masuk akal itu jika menganggap umat belakangan sebagai umat terbaik dengan menafikan umat yang pertama, terbalik itu namanya, padahal Allah saja telah menentukan urutan keutamaan manusia itu dengan urutan ascending bukan descending:mrgreen:

    btw hadis di atas jelas-jelas Rasulullah SAW sedang berbicara kepada sahabat-sahabatnya yang mendengarkan hadis dari Beliau SAW. Nah Rasulullah SAW jelas-jelas menunjuk mereka dengan kata-kata kalian. Jadi kalian itu berarti sahabat-sahabat yang mengada-adakan hal baru sepeninggal Nabi SAW. Mereka kan kalau menuruti logika anda ya khairul ummah

    1. tidak ada ceritanya hadits mengalahkan Al-Qur’an
    2. Sungguh telah diperangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat dan murtad ke belakang sepeninggal Nabi pada masa Abu Bakar padahal sebelumnya mereka adalah bagian dari kaum muslimin saat Rasulullah masih hidup, sehingga mereka yang diperangi secara otomatis bukanlah termasuk khairu ummah ataupun sahabat sejati Rasulullah. Mereka adalah masih semasa dengan Rasulullah dan pernah bertemu Rasulullah, salah satu faktor utama yang membuat mereka murtad & mengadakan hal2 baru adalah wafatnya Rasulullah yg membuat mereka spt org yg kehilangan induknya. sehingga tidak mengherankan sebelum meninggal beliau pun mengenal mereka dan mereka pun mengenal Rasulullah.
    3. Ada hadits yang lain juga yang memperjelas bahwa yang dimaksud hadits di atas adalah berkenaan dg kaum muslimin bukan hanya generasi pertama tetapi juga setiap muslim yg berbuat spt itu sampai akhir jaman.

    jadi apa masalahnya ?:mrgreen:

    Nah pertanyaan buat antirafidhah, kalau ayat ini siapakah mereka yang bubar itu?

    Ya jelas mereka adalah kaum muslimin pada masa Rasulullah, terus apa masalahnya ?:mrgreen: yang namanya masa tarbiyah itu ya seperti itu.. teguran dan peringatan itu sudah biasa kalee dalam masa tarbiyah, justru hal itu menunjukkan bahwa mereka selalu dijaga oleh Allah dari melakukan kesalahan2 yang fatal.. semua butuh proses mas.. emangnya anda bisa tahu seluk beluk hadits dengan tiba2 saja ga melalui proses belajar dan kesalahan?… dan akhirnya mereka pun lulus tarbiyah dengan predikat sebagai Khairu Ummah:mrgreen:

    Sekarang pertanyaan buat anda SP, dengan anda berkeyakinan bahwa sebagian besar Umat Islam (para sahabat) saat itu adalah pengkhianat, mengada-adakan sesuatu sepeninggal Rasul dan murtad, yang kita tahu bahwa semua hadits-hadits Rasulullah periwayatnya adalah mereka, mengapa anda menjadikan hujjah riwayat2 mereka dalam artikel2 anda? Bahkan anda kadang kelihatan ngotot sekali menjadikannya hujjah.. bagaimana bisa anda menjadikan hujjah suatu riwayat yang anda sendiri tidak meyakini keadilan para periwayatnya? atau memang anda hanya mengikuti prakonsepsi dan tidak perduli dengan riwayat yg anda bawakan, yg penting mendukung prakonsepsi anda gitu? Atau anda memang seorang syi’ah:mrgreen:

    Ada beberapa opsi untuk anda SP:

    1. jika anda meyakini bahwa sebagian besar sahabat setelah Rasul wafat adalah pengkhianat, berlaku bid’ah dan murtad berdasarkan riwayat2 yang anda sebutkan, maka batal-lah dengan sendirinya semua hujjah anda di mata kami yang berupa hadits-hadits dari Rasulullah dimanapun anda mengambilnya spt : hadits Ghadir Khum, Tsaqalain, Manzilah dan lain-lain. Karena ternyata anda sendiri tidak mengakui kredibilitas para perawi riwayat2 yg anda tampilkan.
    2. Anda merevisi keyakinan anda tersebut, sehingga kita sepakat satu keyakinan bahwa sahabat yang meriwayatkan hadits2 Rasulullah adalah adil, maka bisalah kita terus berdiskusi, karena kita sama-sama mengakui sumber yg kita gunakan sebagai hujjah, paling yang dipermasalahkan perawi-perawi di bawahnya.
    3. Anda akui saja bahwa anda adalah seorang syi’ah atau kelompok di luar sunni, sehingga kami akan maklum kalau anda bisa melakukan hal yg kontradiktif spt itu:mrgreen:
    4. Seperti biasa, silahkan berapologi (menurut dugaan, ini yang bakalan terjadi):mrgreen:

    wassalam

  76. @antirafidhah

    Mana nama2 sahabatnya? kok ga ada?

    ehem mana nama-nama sahabat yang anda maksud khairu ummah, kok gak ada:mrgreen:

    hohoho emang benar merekalah yang berhak disebut oleh Allah Khairu Ummah kok..

    ho ho ho iya khairu ummah yang anda maksud itu ternyata sebagiannya ada yang murtad, sebagiannya ada yang mengada-adakan hal baru sepeninggal Nabi SAW, sebagiannya ada yang meninggalkan Nabi SAW waktu khutbah jum’at. iya kan:mrgreen:

    tidak ada ceritanya hadits mengalahkan Al-Qur’an

    ho siapa yang bilang main menang kalah:mrgreen:

    Sungguh telah diperangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat dan murtad ke belakang sepeninggal Nabi pada masa Abu Bakar padahal sebelumnya mereka adalah bagian dari kaum muslimin saat Rasulullah masih hidup, sehingga mereka yang diperangi secara otomatis bukanlah termasuk khairu ummah ataupun sahabat sejati Rasulullah

    lho bukannya mereka itu bagian dari kaum muslimin yang juga hadir ketika turun ayat khairu ummah, nah kok sekarang anda bilang bukan khairu ummah. Apa itu berarti tidak semua orang yang hadir saat ayat itu diturunkan adalah khairu ummah?🙄

    Ada hadits yang lain juga yang memperjelas bahwa yang dimaksud hadits di atas adalah berkenaan dg kaum muslimin bukan hanya generasi pertama tetapi juga setiap muslim yg berbuat spt itu sampai akhir jaman

    halah halah bukannya sahabat itu juga umat Nabi SAW🙂 atau menurut anda bukan ya?

    Ya jelas mereka adalah kaum muslimin pada masa Rasulullah, terus apa masalahnya ?:mrgreen: yang namanya masa tarbiyah itu ya seperti itu.. teguran dan peringatan itu sudah biasa kalee dalam masa tarbiyah, justru hal itu menunjukkan bahwa mereka selalu dijaga oleh Allah dari melakukan kesalahan2 yang fatal

    apanya yang dijaga, mereka sudah melakukan kesalahan fatal kaliii, memangnya meninggalkan Rasulullah SAW berkhutbah hanya karena hal-hal yang duniawi itu bukan kesalahan yang fatal. Intinya mereka sama saja dengan muslim yang lain, perbuatan mereka tetap ditimbang dengan kacamata syari’at. btw mereka itu khairu ummah kan kalau menurut anda🙂

    emangnya anda bisa tahu seluk beluk hadits dengan tiba2 saja ga melalui proses belajar dan kesalahan?… dan akhirnya mereka pun lulus tarbiyah dengan predikat sebagai Khairu Ummah

    ehem kira-kira ayat mana sih yang turun duluan:mrgreen:

    Sekarang pertanyaan buat anda SP, dengan anda berkeyakinan bahwa sebagian besar Umat Islam (para sahabat) saat itu adalah pengkhianat, mengada-adakan sesuatu sepeninggal Rasul dan murtad, yang kita tahu bahwa semua hadits-hadits Rasulullah periwayatnya adalah mereka, mengapa anda menjadikan hujjah riwayat2 mereka dalam artikel2 anda?

    lho-lho jangan mengada-ada atas nama saya dong, saya cuma membawa hadis shahih kok:mrgreen:

    Bahkan anda kadang kelihatan ngotot sekali menjadikannya hujjah.. bagaimana bisa anda menjadikan hujjah suatu riwayat yang anda sendiri tidak meyakini keadilan para periwayatnya?

    saya mempelajari sesuai ilmunya, saya sih tidak terpengaruh dogma-dogma seperti yang situ punya. Bukankah semua itu ada standar ilmiahnya🙂

    atau memang anda hanya mengikuti prakonsepsi dan tidak perduli dengan riwayat yg anda bawakan, yg penting mendukung prakonsepsi anda gitu? Atau anda memang seorang syi’ah

    ah itu anda kalii, kalau dilihat-lihat yang paling sering menentang hadis shahih kan anda, yang sering berhujjah dengan hadis dhaif kan anda juga dan yang sering mendistorsi hadis kan anda juga:mrgreen:

    1. jika anda meyakini bahwa sebagian besar sahabat setelah Rasul wafat adalah pengkhianat, berlaku bid’ah dan murtad berdasarkan riwayat2 yang anda sebutkan, maka batal-lah dengan sendirinya semua hujjah anda di mata kami yang berupa hadits-hadits dari Rasulullah dimanapun anda mengambilnya spt : hadits Ghadir Khum, Tsaqalain, Manzilah dan lain-lain. Karena ternyata anda sendiri tidak mengakui kredibilitas para perawi riwayat2 yg anda tampilkan.

    memangnya siapa yang berhujjah dengan anda, gak perlu merasa-rasa deh, kan situ yang gak tahu juntrungannya datang-datang kesini. Saya sih cuma memaparkan hadis shahih sesuai dengan standar ilmunya. Kalau menurut anda standar tersebut bermasalah ya jangan salahkan saya dong:mrgreen:

    2. Anda merevisi keyakinan anda tersebut, sehingga kita sepakat satu keyakinan bahwa sahabat yang meriwayatkan hadits2 Rasulullah adalah adil, maka bisalah kita terus berdiskusi, karena kita sama-sama mengakui sumber yg kita gunakan sebagai hujjah, paling yang dipermasalahkan perawi-perawi di bawahnya

    Gampang aja Mas, kalau mau sepakat maka saya katakan kita sepakati dulu, yang jadi pegangan itu siapa Allah dan RasulNya?yang berarti Al Qur’an dan hadis shahih? atau para sahabat?.

    3. Anda akui saja bahwa anda adalah seorang syi’ah atau kelompok di luar sunni, sehingga kami akan maklum kalau anda bisa melakukan hal yg kontradiktif spt itu

    faktanya saya memang bukan syiah, dan kalau dibilang sunni juga gapapa nggak juga gak masalah. Sejauh ini saya cuma orang Islam yang menuntut ilmu. btw justru yang saya lihat anda seperti kebingungan dalam masalah ini, sampai bilang kontradiktif. Apakah itu berarti keyakinan anda itu bertentangan dengan hadis-hadis shahih?. Yah dogma dong kalau begitu. sudah seharusnya anda insaaf bahwa hal-hal seperti itu akan dipermasalahkan oleh orang yang memang berpandangan kritis. Orang kritis biasanya tidak mudah percaya akan dogma, mereka akan menguji kebenaran tersebut dengan metode yang ada, seandainya ada cacat pada metode itu bukan berarti mereka menganggap “harus tidak ada apa-apa” atau “cuek abis aja”. Saya heran dengan anda ini kalau menurut anda ada masalah dengan metode periwayatan hadis, kenapa anda malah menyalahkan saya atau mengajak saya harus seperti anda. Analisis dan timbang baik-baik apakah masalah itu memang benar adanya? atau justru bukan masalah? seharusnya itu yang anda lakukan bukannya menggerutu sambil menuduh-nuduh saya.:mrgreen:

    4. Seperti biasa, silahkan berapologi (menurut dugaan, ini yang bakalan terjadi)

    silakan menduga tapi faktanya anda sendiri sudah banyak berapologi. Sekarang coba perhatikan fakta ini, ada sahabat yang Allah sendiri menyatakan kalau ia fasiq tetapi hadis-hadisnya dijadikan hujjah oleh para ulama. Ada sahabat yang terbukti membenci Imam Ali padahal tidak ada yang membenci Imam Ali kecuali munafik tetapi ia tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Ada sahabat yang melakukan maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh dan sebagainya tetapi tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Bukankah itu berarti hal-hal seperti itu tidak dipermasalahkan oleh para ulama?. Anehnya jika hal seperti ini terjadi pada perawi hadis mereka para ulama tidak segan-segan mencacat bahkan mengecamnya. Menurut anda itu kontradiktif tidak?. Jika menurut anda tidak yo wes selesai, jika menurut anda kontradiktif ya apa hubungannya sama saya🙄

  77. @antirafidhah
    Anda katakan masa hadits mengalahkan Alqur’an. Tapi kenapa anda tidak menjawab pertanyaan saya diatas? Tidak mampu ya?
    Mungkin kalau and jawabpun NGAWUR

  78. beruntung Saya nyasar ke Thread ini
    redaksi yg mencerahkan, mendobrak & meleburkan segala dogma dan taqlid buta yg sdh mengakar di masyarakat kita.

    manusia adalah mahluk yg bebas dlm mencari kebenaran di tengah wajah Islam yg menakutkan seperti banyak ditampilkan di dunia maya, Islam tampak tak berdaya karena jadi bulan2an ejekan kaum apatis dan hipokrit
    suatu upaya yg patut diapresiasikan….

  79. 1. jika anda meyakini bahwa sebagian besar sahabat setelah Rasul wafat adalah pengkhianat, berlaku bid’ah dan murtad berdasarkan riwayat2 yang anda sebutkan, maka batal-lah dengan sendirinya semua hujjah anda di mata kami yang berupa hadits-hadits dari Rasulullah dimanapun anda mengambilnya spt : hadits Ghadir Khum, Tsaqalain, Manzilah dan lain-lain. Karena ternyata anda sendiri tidak mengakui kredibilitas para perawi riwayat2 yg anda tampilkan.

    memangnya siapa yang berhujjah dengan anda, gak perlu merasa-rasa deh, kan situ yang gak tahu juntrungannya datang-datang kesini. Saya sih cuma memaparkan hadis shahih sesuai dengan standar ilmunya. Kalau menurut anda standar tersebut bermasalah ya jangan salahkan saya dong

    ilmu yang mana mas? anda memaparkan tanpa mengimaninya gitu?😆 lalu maksud anda apa berhujjah dengan riwayat yang anda sendiri tidak mengakui kredibilitas periwayatnya? saya tidak menganggap bermasalah hadits2 tsb, kita sudah memahaminya kok, tentunya bukan spt pemahaman syi’ah:mrgreen: jadi ga perlu saya menyalahkan anda.. kok lucu aja menampilkan hadits2 tapi ga mengimani kredibiltas si periwayat hadits2 tsb. lalu apa tujuannya kalo gitu?😆

    Gampang aja Mas, kalau mau sepakat maka saya katakan kita sepakati dulu, yang jadi pegangan itu siapa Allah dan RasulNya?yang berarti Al Qur’an dan hadis shahih? atau para sahabat?.

    Gampang juga jawabannya, Ya jelas Allah dan Rasul-Nya yg jadi pegangan utama, pertanyaannya darimana kita mendapatkan Firman Allah jika tidak melalui sahabat sebelumnya, dan emangnya hadits shahih itu bukan sahabat yg meriwayatkannya ? lucu banget anda ini😆 terus apa jadinya kalau anda memahami sebagian besar sahabat tidak kredibel saat itu?

    btw justru yang saya lihat anda seperti kebingungan dalam masalah ini, sampai bilang kontradiktif. Apakah itu berarti keyakinan anda itu bertentangan dengan hadis-hadis shahih?.

    Saya merasa tidak bingung kok, bagi saya semuanya sudah jelas dan saya memahami hadits2 tsb dengan baik dan tidak ada yg bertentangan menurut saya kok, yang justru kontra diktif & kebingungan ya anda itu😆 masak selama ini ternyata anda berhujjah dengan hadits2 yg anda sendiri sebenarnya tidak meyakini kredibilitas perawinya karena sebagian besar mereka adlh pengkhianat, pembuat bid’ah dan murtad?? lalu apa sebenarnya tujuan anda itu.. bener2 spt org yg ga punya pegangan:mrgreen:

    Yah dogma dong kalau begitu. sudah seharusnya anda insaaf bahwa hal-hal seperti itu akan dipermasalahkan oleh orang yang memang berpandangan kritis. Orang kritis biasanya tidak mudah percaya akan dogma, mereka akan menguji kebenaran tersebut dengan metode yang ada, seandainya ada cacat pada metode itu bukan berarti mereka menganggap “harus tidak ada apa-apa” atau “cuek abis aja”. Saya heran dengan anda ini kalau menurut anda ada masalah dengan metode periwayatan hadis, kenapa anda malah menyalahkan saya atau mengajak saya harus seperti anda. Analisis dan timbang baik-baik apakah masalah itu memang benar adanya? atau justru bukan masalah? seharusnya itu yang anda lakukan bukannya menggerutu sambil menuduh-nuduh saya.

    Ah bukan dogma kok itu, insyaf dari apa?, kita pun sudah mengujinya dan menimbangnya dengan baik kok, andanya aja tuch sok kritis😆 yg layak dikritisi itu dogma rofidhoh tuch.. karena dogma itu, sampe2 org2 yg keliatan pinter jadi keblinger😆 saya tidak menuduh, tetapi memang kenyataan spt itu kok🙂

  80. @antirafidhah

    ilmu yang mana mas? anda memaparkan tanpa mengimaninya gitu?😆 lalu maksud anda apa berhujjah dengan riwayat yang anda sendiri tidak mengakui kredibilitas periwayatnya?

    kapan saya pernah bilang begitu, suka sekali anda ini memaksakan tuduhan kepada orang lain🙂

    saya tidak menganggap bermasalah hadits2 tsb, kita sudah memahaminya kok, tentunya bukan spt pemahaman syi’ah:mrgreen: jadi ga perlu saya menyalahkan anda..

    silakan, bukan urusan saya

    kok lucu aja menampilkan hadits2 tapi ga mengimani kredibiltas si periwayat hadits2 tsb. lalu apa tujuannya kalo gitu?

    lho siapa nuduh siapa, anda sendiri apa yang anda imani?. kredibilitas siapa yang anda imani?

    Gampang juga jawabannya, Ya jelas Allah dan Rasul-Nya yg jadi pegangan utama, pertanyaannya darimana kita mendapatkan Firman Allah jika tidak melalui sahabat sebelumnya, dan emangnya hadits shahih itu bukan sahabat yg meriwayatkannya ? lucu banget anda ini😆 terus apa jadinya kalau anda memahami sebagian besar sahabat tidak kredibel saat itu?

    anda itu logikanya kok lucu amat, memangnya dari sahabat langsung loncat ke kita. Pikir dong Mas dari sahabat ya generasi setelah sahabat dari generasi setelah sahabat ke generasi setelahnya baru sampai ke kita. jadi dalam hal ini kedudukan sahabat sama seperti yang lainnya sebagai penyampai berita. Lalu apa masalanya?.

    Saya merasa tidak bingung kok, bagi saya semuanya sudah jelas dan saya memahami hadits2 tsb dengan baik dan tidak ada yg bertentangan menurut saya kok

    silakan saja terserah anda mau bicara apa, orang lain melihat kok tabiat anda disini. memangnya sebelumnya yang ngomong soal hadis di atas “leave it” atau “forget it” itu siapa kalau bukan anda sndiri:mrgreen:

    yang justru kontra diktif, kebingungan ya anda itu😆 masak selama ini ternyata anda berhujjah dengan hadits2 yg anda sendiri sebenarnya tidak meyakini kredibilitas perawinya karena sebagian besar mereka adlh pengkhianat, pembuat bid’ah dan murtad?? lalu apa sebenarnya tujuan anda itu.. bener2 spt org yg ga punya pegangan

    lho memangnya saya yang bilang?, saya cuma bawa hadis shahih tuh, kalau menurut anda implikasinya seperti itu ya terserah anda. Orang lain punya cara lain untuk memahaminya gak kayak anda, jadi jangan jadikan keyakinan pribadi sebagai tolak ukur orang lain

    Ah bukan dogma kok itu, insyaf dari apa?, kita pun sudah mengujinya dan menimbangnya dengan baik kok, andanya aja tuch sok kritis😆 yg layak dikritisi itu dogma rofidhoh tuch..

    ya setiap orang bisa ngomong begitu, bahkan khawarij pun juga bisa bilang begitu. Apa peduli saya dengan dogma rafidhah?. sejak dulu ditanyakan bukti satu saja tuduhan anda ke saya yang terkait rafidhah, tapi kok gak ada bunyinya. Jadi siapa yang maksa-maksa menuduh kalau bukan anda. Siapapun bisa main tuduh dari dulu itu kan penyakit orang yang lemah akalnya:mrgreen:

    karena dogma itu, sampe2 org2 yg keliatan pinter jadi keblinger😆 saya tidak menuduh, tetapi memang kenyataan spt itu kok

    sepertinya anda ini memang harus diajari kayak anak kecil. Beda antara menuduh dengan fakta itu, kalau menuduh gak pake bukti tapi kalau fakta ada bukti nyata. nah silakan tunjukkan bukti nyata yang menurut anda sampe orang pinter jadi keblinger, jangan2 yang keblinger itu orang kayak anda dan sejenisnya, memangnya situ pinter:mrgreen:

    btw pertanyaan saya yang sebelumnya tolong dijawab

    Sekarang coba perhatikan fakta ini, ada sahabat yang Allah sendiri menyatakan kalau ia fasiq tetapi hadis-hadisnya dijadikan hujjah oleh para ulama. Ada sahabat yang terbukti membenci Imam Ali padahal tidak ada yang membenci Imam Ali kecuali munafik tetapi ia tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Ada sahabat yang melakukan maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh dan sebagainya tetapi tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Bukankah itu berarti hal-hal seperti itu tidak dipermasalahkan oleh para ulama?. Anehnya jika hal seperti ini terjadi pada perawi hadis mereka para ulama tidak segan-segan mencacat bahkan mengecamnya. Menurut anda itu kontradiktif tidak?.

    menjawab pertanyaan Itu lebih baik dari pada mengisi komentar dengan kata-kata tuduhan yang gak ada artinya. Lebih baik dijawb dengan jujur. Silakan dijawab, diskusi itu saling menanggapi diantara kedua belah pihak, kalau anda gak mau jawab ya apa urusan saya juga harus menanggapi anda.:mrgreen:

  81. Gampang juga jawabannya, Ya jelas Allah dan Rasul-Nya yg jadi pegangan utama, pertanyaannya darimana kita mendapatkan Firman Allah jika tidak melalui sahabat sebelumnya, dan emangnya hadits shahih itu bukan sahabat yg meriwayatkannya ? lucu banget anda ini terus apa jadinya kalau anda memahami sebagian besar sahabat tidak kredibel saat itu?

    anda itu logikanya kok lucu amat, memangnya dari sahabat langsung loncat ke kita. Pikir dong Mas dari sahabat ya generasi setelah sahabat dari generasi setelah sahabat ke generasi setelahnya baru sampai ke kita. jadi dalam hal ini kedudukan sahabat sama seperti yang lainnya sebagai penyampai berita. Lalu apa masalanya?.

    Yang anda serang itu adalah kredibilitas sahabat, perawi yang bertemu langsung dengan Rasulullah, yang kita tidak akan dapatkan Al-Qur’an yg ada skrg & hadits2 Rasululah kecuali pangkalnya adalah mereka, semua bertumpu pada kredibilitas mereka, kita belum bicara perawi2 di bawah mereka lho.. kalau sebagian besar perawi yang pertama aja anda sudah tidak respek & tdk mengakui kredibilitas mereka, ga perlu banget bicara soal perawi yg ada dibawah mereka:mrgreen: artinya batal semua hujjah anda dari awal, ga ada gunanya dech anda selama ini ngotot menshahihkan, mendhaifkan hadits2 ala muhaditsin kalau ternyata perawi awalnya saja sebagian besar tidak anda akui kredibilitasnya, jadi ibaratnya anda ini seperti non muslim yang belajar Islam dan berusaha mengkritisi Islam atau seperti orientalis yg mempelajari Islam dalam rangka menyerang Islam, atau spt orang syi’ah yg mempelajari kitab2 ahlus sunnah dalam rangka menyerang ahlussunnah.. mereka mempelajari tapi sama sekali tidak mengimani atau membenarkan yg dipelajarinya.. maka bagi kami tidak ada gunanya sedikitpun hujjah org2 seperti itu, mau mrk bilang dg alasan klise “kritis” kek apa kek atau bicara apa saja mengenai yg ada di sisi kami tetap tidak ada nilainya.. ya jelas karena mereka berada di luar area kami😆

    yang justru kontra diktif, kebingungan ya anda itu masak selama ini ternyata anda berhujjah dengan hadits2 yg anda sendiri sebenarnya tidak meyakini kredibilitas perawinya karena sebagian besar mereka adlh pengkhianat, pembuat bid’ah dan murtad?? lalu apa sebenarnya tujuan anda itu.. bener2 spt org yg ga punya pegangan

    lho memangnya saya yang bilang?, saya cuma bawa hadis shahih tuh, kalau menurut anda implikasinya seperti itu ya terserah anda. Orang lain punya cara lain untuk memahaminya gak kayak anda, jadi jangan jadikan keyakinan pribadi sebagai tolak ukur orang lain

    Kalau begitu tolong dunk Sharing, gimana cara anda memahaminya? sebagian besar sahabat menurut anda dalam memahami hadits2 di threat ini & hadits telaga haudh adalah pengkhianat, pembuat bid’ah dan murtad, lalu bagaimana anda bisa menjadikan hadits2 riwayat mereka sebagai hujjah? ditunggu lho..🙂

    Ah bukan dogma kok itu, insyaf dari apa?, kita pun sudah mengujinya dan menimbangnya dengan baik kok, andanya aja tuch sok kritis yg layak dikritisi itu dogma rofidhoh tuch..

    ya setiap orang bisa ngomong begitu, bahkan khawarij pun juga bisa bilang begitu. Apa peduli saya dengan dogma rafidhah?. sejak dulu ditanyakan bukti satu saja tuduhan anda ke saya yang terkait rafidhah, tapi kok gak ada bunyinya. Jadi siapa yang maksa-maksa menuduh kalau bukan anda. Siapapun bisa main tuduh dari dulu itu kan penyakit orang yang lemah akalnya

    Lah sudah terbukti berkali-kali kalee.. tapi andanya ajah yg ga sadar.. anda mungkin merasa tidak ada bukti dan aman2 saja, padahal anda sendiri-lah yg selama ini membuktikannya di blog ini… jarang ada maling mau mengaku maling walaupun bukti sudah tampak, orang awwam pun sudah bisa melihat dengan jelas kok, kalau anda tetep ga mengakui ya itu hak anda, tapi kita juga punya hak untuk menilai pengakuan anda tsb.. bersikap jujurlah..:mrgreen:

    btw pertanyaan saya yang sebelumnya tolong dijawab

    Sekarang coba perhatikan fakta ini, ada sahabat yang Allah sendiri menyatakan kalau ia fasiq tetapi hadis-hadisnya dijadikan hujjah oleh para ulama. Ada sahabat yang terbukti membenci Imam Ali padahal tidak ada yang membenci Imam Ali kecuali munafik tetapi ia tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Ada sahabat yang melakukan maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh dan sebagainya tetapi tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Bukankah itu berarti hal-hal seperti itu tidak dipermasalahkan oleh para ulama?. Anehnya jika hal seperti ini terjadi pada perawi hadis mereka para ulama tidak segan-segan mencacat bahkan mengecamnya. Menurut anda itu kontradiktif tidak?.

    menjawab pertanyaan Itu lebih baik dari pada mengisi komentar dengan kata-kata tuduhan yang gak ada artinya. Lebih baik dijawb dengan jujur. Silakan dijawab, diskusi itu saling menanggapi diantara kedua belah pihak, kalau anda gak mau jawab ya apa urusan saya juga harus menanggapi anda.

    Ahh anda hanya mau mengeles saja tampaknya😆 yang saya permasalahkan adalah anda menggunakan hadits dlm threat ini dan hadits telaga haudh untuk menyerang kredibilitas sebagian besar sahabat Nabi, sedangkan selama ini anda menggunakan hadits2 riwayat mereka sebagai hujjah.. apa ga kontradiktif itu? jangan kemana-mana dulu dech, Insya Allah akan saya jawab pertanyaan anda itu nanti di tempat lain.. kalau anda tidak mau menanggapi ya itu hak anda:mrgreen:

  82. @antirafidhah

    Sampeyan mestinya faham bahwa SP hanya memaparkan fakta, bukan membuat fakta baru. Memaparkan itu mengandung arti data yg diperoleh bukanlah data primer tapi data sekunder yakni data yg berasal dari informasi yg sdh tersedia kemudian diolah sedemikian rupa utk menguatkan hipotesa, bukan data yg diperoleh berdasarkan rekaan dan penelitian sendiri. Sifat2 perawi tsiqat, majhul, dll, serta kedudukan hadits shahih, hasan, dhaif, dll yg diperoleh SP bukanlah melalui penelitian dan keputusannya sendiri, melainkan diperoleh dari data-data yg sdh tersedia dari ulama/penulis terdahulu. Perhatikan, informasi dan data ini sdh tersedia, bukan diputuskan dan direka-reka sendiri oleh SP. Apa yg dipikirkan SP dan teman2 lain tentang kredibilitas si perawi bukanlah fakta objektif sehingga tdk seharusnya dikira-kira dan dituduh-tuduh seenaknya. Objektifnya adalah data2 perawi dan kedudukan hadits yg terekam bagaimana yg telah sampai ke kita. Pertanyaannya kemudian, apakah sampeyan punya bukti bahwa SP pernah mereka-reka, mengambil keputusan sendiri, meneliti sendiri bahwa perawi anu bersifat begini..begitu, hadits ini kedudukannya ini..itu dan kemudian menjadikannya sebagai hujjah utk mempertahankan argumen beliau? Tidak ada bukan?. Karena apa? Karena argumen SP semuanya an sichberdasar data-data yg telah tersedia yg telah melalui serangkaian penelitian dan analisa oleh para ulama terdahulu. Kontradiksi hadits shahih dan ketidakkonsistenan ulama-ulama tsb yg dipaparkan SP lah yg membuat sampeyan merasa panas dingin dan tidak nyaman sehingga kredibilitas SP yg pada akhirnya menjadi sasaran sampeyan. Begitu bukan?

    Salam

  83. kasian si Imem dan antirafidah…
    Makin banyak nulis makin kelihatan oon nya

  84. kasian si pembela syi’ah2 ya jd kalangkabut gara2 hanya 2 orang pembela sunnah ini. hihihihihihi

  85. Masih jauh dari moderasi dan reject/seleksi komentar yang dilakukan oleh situs2 salafy/wahaby….:mrgreen:

  86. Memang orang yang tidak mengenal imam zaman tetap seperti orang jahiliah. Wajar!

  87. @SP
    [quote]Sekarang coba perhatikan fakta ini, ada sahabat yang Allah sendiri menyatakan kalau ia fasiq tetapi hadis-hadisnya dijadikan hujjah oleh para ulama. Ada sahabat yang terbukti membenci Imam Ali padahal tidak ada yang membenci Imam Ali kecuali munafik tetapi ia tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Ada sahabat yang melakukan maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh dan sebagainya tetapi tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. Bukankah itu berarti hal-hal seperti itu tidak dipermasalahkan oleh para ulama?. Anehnya jika hal seperti ini terjadi pada perawi hadis mereka para ulama tidak segan-segan mencacat bahkan mengecamnya. Menurut anda itu kontradiktif tidak?.[/quote]

    Hmmm….anda tidak keberatan jika kita membicarakan hal2 di atas…?

    [quote]Sekarang coba perhatikan fakta ini, ada sahabat yang Allah sendiri menyatakan kalau ia fasiq tetapi hadis-hadisnya dijadikan hujjah oleh para ulama. [/quote]

    Silahkan kutipkan dahulu ayatnya…

    [quote]Ada sahabat yang terbukti membenci Imam Ali padahal tidak ada yang membenci Imam Ali kecuali munafik tetapi ia tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama. .[/quote]

    Silahkan sampaikan dahulu secara jelas…

    [quote]Ada sahabat yang melakukan maksiat seperti meminum khamar, berzina, membunuh dan sebagainya tetapi tetap dijadikan hujjah hadisnya oleh para ulama.[/quote]

    Maksud anda??

    [quote] Bukankah itu berarti hal-hal seperti itu tidak dipermasalahkan oleh para ulama?. Anehnya jika hal seperti ini terjadi pada perawi hadis mereka para ulama tidak segan-segan mencacat bahkan mengecamnya. Menurut anda itu kontradiktif tidak?[/quote]

    Anda kan tahu ilmu hadits, seharusnya anda sendiri sudah mengetahui jawabannya.🙂

  88. @damai

    Hmmm….anda tidak keberatan jika kita membicarakan hal2 di atas…?

    Nggak kok🙂

    Silahkan kutipkan dahulu ayatnya…

    ah maaf kayaknya anda pendatang baru kali ya, btw silakan cek di daftar artikel ada salah satu tulisan saya yang berjudul Sahabat Nabi Yang dikatakan Fasiq

    Silahkan sampaikan dahulu secara jelas…

    yang ini juga ada tuh tulisannya “sahabat Nabi yang menghina Ahlul Bait” silakan dicek

    Maksud anda??

    Ya silakan cek saja, sahabat Nabi yang dikatakan meminum khamar, yang dikatakan membunuh Ammar bin Yasir, yang dikatkan berzina, rasanya sudah ada tulisan khusus. Lihat di daftar artikel🙂

    Anda kan tahu ilmu hadits, seharusnya anda sendiri sudah mengetahui jawabannya.🙂

    Apa ya jawabannya? jelas saja kontradiktif:mrgreen:

  89. ————–[quote]Maaf, kembali sy ragukan akal sehat anda. Begini saja, jika umat yang pertama (grupnya sahabat) adalah yg terbaik, maka coba jawab. Mengapa tdk ada ajaran-ajaran atau tulisan-tulisan atau aturan-aturan fiqih dari pemimpin-pemimpin anda Abubakar, Umar, Utsman, Muawiyyah, dll siapa sajalah di generasil awal, yg dapat kita jadikan rujukan sekarang ini? Mengapa malah Abu Hurairah yg ngetop banget yg cuman bersama Rasulullah berapa tahun? 3 tahun? Mengapa lantas muncul Maliki, Hanafi, Hambali, dll yg lebih baik? Yang notabene melewati 1-2 generasi dari generasi awal? Mestinya predikat terbaik kan bisa dibuktikan dengan apa yg mereka hasilkan? Bukan sekedar doktrin-doktrin yg dipantek di kepala dari generasi ke generasi tanpa bukti nyata? [quote]—————–

    Orang yang nulis ini kayaknya emang nggak pernah baca kitab2 Fiqih.
    Moso kagak tahu betapa banyaknya pembahasan2 Fiqih yang di dalamnya menyebutkan pendapat2nya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ammar bin Yasir, ibnu Abbas, dan lain2..
    Bangun tho bro, bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: