Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS. Seharusnya kita sebagai umat Islam menerima dengan baik keutamaan Imam Ali AS dan mengecam sikap-sikap yang menurunkan atau meragukan keutamaan Beliau. Berikut akan kami sajikan hadis keutamaan Imam Ali AS yang mungkin memicu keraguan dari sebagian orang.

Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

.

.

Kedudukan Hadis

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah kami melakukan penelitian lebih lanjut maka kami temukan bahwa hadis ini adalah hadis Shahih dan Yahya bin Sulaim Abi Balj adalah perawi tsiqat. Berikut analisis terhadap para perawinya.

.

.

Analisis Perawi Hadis

Muhammad bin Al Mutsanna
Muhammad bin Al Mutsanna Abu Musa Al Bashri adalah seorang Hafiz yang tsiqat. Hadisnya telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim serta Ashabus Sunan. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Daruquthni, Al Khatib dan Ibnu Hajar. Dalam At Tahdzib juz 9 no 698 disebutkan

قال عبد الله بن أحمد عن بن معين ثقة وقال أبو سعد الهروي سألت الذهلي عنه فقال حجة وقال صالح بن محمد صدوق اللهجة

Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqah” dan Abu Sa’ad Al Harawi bertanya kepada Adz Dzahili yang berkata “hujjah” dan Shalih bin Muhammad berkata “shaduq hujjah”.

وقال أبو حاتم صالح الحديث صدوق

Abu Hatim berkata “ hadisnya baik, shaduq (jujur)”

Ibnu Syahin memasukkan Muhammad bin Al Mutsanna dalam kitabnya Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1278. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dalam Taqrib At Tahdzib 2/129. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5134 juga menyatakan Muhammad bin Al Mutsanna tsiqat.
.

.

Yahya bin Hamad
Yahya bin Hamad Al Bashri adalah seorang perawi tsiqat yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dalam Nasikh Wa Mansukh, Trimidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 11 no 338

قال بن سعد كان ثقة كثير الحديث وقال أبو حاتم ثقة وذكره بن حبان في الثقات

Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat dan memiliki banyak hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.

Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 1971 menyatakan Yahya bin Hamad tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/300 menyatakan ia tsiqat. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6158 juga menyatakannya tsiqat.
.

.

Abu Awanah

Abu Awanah atau Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan, Ia telah meriwayatkan hadis dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hamad. Abu Awanah telah dinyatakan tsiqah oleh Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Ibnu Ma’in dan yang lainnya. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1937 berkata

وضاح أبو عوانة بصرى ثقة مولى يزيد بن عطاء الواسطي

Wadhdhah Abu Awanah orang Bashrah yang tsiqat mawla Yazid bin Atha’ Al Wasithi

Ibnu Syahin memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1508 dan berkata

قال يحيى بن معين أبو عوانة ثقة واسمه الوضاح

Yahya bin Ma’in berkata “Abu Awanah tsiqat namanya adalah Wadhdhah”

Dalam At Tahdzib juz 11 no 204 disebutkan bahwa Abu Hatim, Abu Zar’ah Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan Abu Awanah tsiqat, Ibnu Kharrasy menyatakan ia shaduq dan Yaqub bin Abi Syaibah menyatakan Abu Awanah seorang Hafiz yang tsabit dan shalih. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/283 menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga menyatakan ia tsiqah.
.

.

Yahya bin Sulaim Abi Balj
Yahya bin Sulaim adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Beliau dikenal dengan kunniyah Abu Balj dan ada pula yang menyebutnya Yahya bin Abi Sulaim. Beliau telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni. Dalam At Tahdzib juz 12 no 184 Ibnu Hajar menyebutkan

وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به

Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Bukhari berkata “perlu diteliti lagi” dan Abu Hatim berkata “hadisnya baik dan tidak ada masalah dengannya”.

Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wa Tarikh 3/106 menyebutkan tentang Abu Balj

قال يعقوب بن سفيان أبي بلج كوفي لا بأس به

Yaqub bin Sufyan berkata “Abi Balj Al Kufi tidak ada masalah dengannya”

Pernyataan Bukhari “fihi nazhar (perlu diteliti lagi)” terhadap Yahya bin Sulaim Abi Balj tidaklah benar. Kami telah menelusuri karya-karya Bukhari seperti Tarikh As Shaghir dan Tarikh Al Kabir ternyata tidak ada keterangan bahwa Bukhari menyatakan Abu Balj dengan sebutan “fihi nazhar”. Selain itu, Bukhari sendiri tidak memasukkan Abu Balj dalam kitabnya Adh Dhua’fa As Shaghir yang berarti Bukhari tidak menganggapnya cacat. Bukhari menyebutkan biografi Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996 dan beliau menyebutkan

يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم

Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Abdul Aziz “dia orang Kufah dan dikatakan juga orang Wasith Abu Balj Al Fazari, telah meriwayatkan darinya Tsawri dan Hasym, ada yang mengatakan Yahya bin Abil Aswad”. Sahl bin Hamad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim.

Dalam biografi Abu Balj yang disebutkan Bukhari tidak ada pernyataan Bukhari yang menyebutnya cacat apalagi dengan sebutan fihi nazhar bahkan dari keterangan Bukhari dapat diketahui bahwa Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya bin Abu Sulaim Abu Balj. Hal ini berarti Syu’bah menganggap Abu Balj sebagai tsiqah karena telah sangat dikenal bahwa Syu’bah tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi tsiqah. Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau Abu Balj seorang yang tsiqat.
.

.

Amr bin Maimun
Amr bin Maimun Al Audi adalah seorang tabiin yang tsiqah termasuk Al Mukhadramun menemui masa jahiliyah tetapi tidak bertemu dengan Nabi SAW. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1412 berkata

عمرو بن ميمون الأودي كوفي تابعي ثقة

Amr bin Maimun Al Audi Tabiin kufah yang tsiqat.

Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 181 bahwa selain Al Ajli, Amr bin Maimun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/747 mengatakan kalau Amr bin Maimun adalah mukhadramun yang dikenal tsiqat.
.

.

Kesimpulan
Hadis di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Dimana semua perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali Yahya bin Sulaim Abi Balj dan dia adalah perawi yang tidak diragukan ketsiqahannya. Oleh karena itu hadis tersebut sanadnya Shahih.

.

.

Catatan :

  • Semoga Hadis  ini bisa didiskusikan dengan sebijak mungkin tanpa hujatan dan tuduhan 🙂
  • Kepada seseorang, silakan dibaca hadiah saya yang tertunda :mrgreen:


Iklan

149 Tanggapan

  1. @SP

    Trimas utk artikel ini…mmg kami mencari sanadnya.

    Hmm…khalifah bagi mukmin sesudahku?

    Maksudnya…yg bukan mukmin…khalifahnya lain ya?

    Salam Damai

  2. @all
    Hadtis yang ditampilkan dalam posting ini tidak perlu dipersoalkan SHAHIHnya karena sudah cukup jelas bagi kita apa yang dijelaskan saudara kita SP.
    Yang menjadi persoalan kita adalah mengapa orang pada pasca Rasul tidak menempatkan hadits tersebut sesuai sabda Rasul. Dimana ketaatan mereka pada Rasul? Apa yang dikemukakan oleh mas SP sangat penting untuk dibahas agar kita mengetahui kepada siapa harus kita taati dan menjadi panutan kita. Sebab sejarah menjelaskan banyak terjadi perbedaan atas apa yang disampaikan oleh Khalifa dan apa yang disampikan oleh Imam Ali serta keturunannya melalui Syaidati Fatimah. Wasalam

  3. @All

    Sesungguhnya hadits2 dari Ahlul bait tersebar diberbagai mazhab/golongan, karena Islam pada setiap zamannya ada dibawah naungan para Imam Ahlul Bait as. Demikian juga apa yg disajikan oleh sdr SP mengenai Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW” dinukil dari para perawi yg tsiqat, sehingga hadis tsb sanadnya shahih.

    Salam

  4. Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang. Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.

    Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..

    KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

    Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.

    Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup (dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali), jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.

    Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun. Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.

    Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..

    Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.

  5. @Imem

    Coba anda perhatiakan sabda Rasulullah tsb yg menyatakan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi Rasulullah saw adalah sama seperti kedudukan Nabi Harun as di sisi Nabi Musa as, hanya tidak ada Nabi setelah Rasulullah saw. Dlm hadis tsb sangat jelas bahwa kedudukan Imam Ali as berlaku hingga akhir zaman.

    Salam damai

  6. @imem
    Coba anda pahami benar hadist tsb:KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu

    Kalau anda perhatikan dan berpikir secarah jernih maka kedudukan Ali as sama dengan Harun berarti diridhai oleh Allah. Dan menurut anda kedudukan ini sementara.
    Coba anda lihat kalimat selanjutnya
    Engkau sebagai KhalifaKu untuk setiap mukmin SETELAHKU.
    Maka Rasul tidak mengatakan selama AKU TIDAK BERADA DITEMPAT seperti apa yang dikatakan Nabi Musa pada Nabi Harun; Surah Al-A’raaf 142. Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.”
    Disini Nabi Harun mengganti sementara selama Nabi Musa selama 30 malam.
    Beda dengan apa yang anda maksud dengan kata SEMENTARA1 Wasalam

  7. Sebenarnya status Nabi Muhammad SAW saat pergi ke luar kota Madinah utk perang Tabuk msh menjadi khalifah atw tdk, sehingga dia menunjuk Imam Ali sbg “pengganti setelahku” ?

  8. @Nomad
    Pertanyaan anda sangat bagus.
    Kalau menurut saya kata2 beliau sebagai isyarat bahwa sepeninggalku Ali adalah penggantinya. Cobah pahami makna SETELAHKU pada hal Rasul masih hidup dan bersama mereka. Wasalam

  9. Salam

    Mungkin hadis berikut bisa mencerahkan bagi mereka yang suka bersilat lidah setiap kali menemukan hadis yang menyudut pegangan mereka:

    كتاب السلسة الصحيحة للألباني (5/222 ( صحيح )
    [2223 – ” ما تريدون من علي ؟ إن عليا مني و أنا منه و هو ولي كل مؤمن بعدي ” . ]

    Sabda Nabi saaw, ‘Apa yang kalian mahukan dari Ali? Dia adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah wali bagi mukmin sesudahku’.
    (al Albani menshahihkannya dlm kitab silsilat alahadith alsahihah jilid 5 hlm 222)

    Salam Damai

  10. Pemahaman yg saya uraikan sangat begitu jelas.. silahkan dipahami lagi…

    @Nomad
    Rasulullah bersabda demikian kepada Imam Ali untuk menyenangkan hati Imam Ali yg sedang kecewa karena tidak diikutkan dalam perang Tabuk.. sehingga beliau membuat perumpamaan yg berkaitan dg peristiwa ini.. dan perumpamaan Rasulullah tentang Nabi Musa dan Nabi Harun adalah sangat tepat.. bedanya Harun adalah seorang Nabi, sedangkan Ali bukanlah seorang Nabi… jadi Rasulullah menyerahkan kepemimpinan di Madinah untuk sementara kepada Imam Ali selama beliau pergi.. dan Rasulullah tetaplah pemimpin tertinggi saat itu.. Ingat ya, jabatan tsb juga pernah beliau berikan kepada sahabat2 yg lain selain Imam Ali.

  11. @hadi
    sama-sama, nggak gratis kok :mrgreen:

    @abu rahat
    🙂

    @dede
    setuju 🙂

    @imem

    Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang.

    Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.

    Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.

    pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.

    Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..

    mari kita lihat

    Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.

    silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?. Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

    Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup

    seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada. Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.

    (dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali),

    Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi. Dan coba perhatikan kata-kata anda sendiri kalau memang sahabat-sahabat yang lain banyak mengalami hal seperti itu mengapa para sahabat menganggap hadis Manzilah ini sebagai keutamaan Imam Ali yang begitu besar.

    jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.

    Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.

    Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.

    Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu

    Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.

    Jangan terburu-buru, dasar argumen anda adalah informasi sepotong yang tidak valid pula oleh karena itu silakan tunjukkan dulu validitas informasi yang anda gunakan sebagai dasar argumen anda.

    Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..

    Wah wah anda bukannya menjelaskan hadis tetapi malah merubah-rubah teks hadis :mrgreen:

    Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.

    Pertanyaan lagi buat anda, apakah sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah di atas Rasulullah SAW sudah memutuskan Imam Ali akan tinggal atau belum?. Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.

    @dede
    Benar sekali keutamaan Hadis Manzilah terus melekat pada Imam Ali dan tidak ada yang menyangkalnya kecuali mereka yang sudah terpengaruh hatinya

    @abu rahat
    kata “SetelahKu” itu jelas sekali ya Mas. Tapi jangan heranlah, sejelas apapun semuanya selalu bisa dicari-cari dalihnya oleh orang yang memang mau menolak.

    @Nomad
    Pertanyaan bagus, sayangnya ada yang tidak mengerti pertanyaan anda sehingga ia masih berkeras pada asumsinya sendiri :mrgreen:

    @Abu Rahat
    lho kok Mas yang jawab :mrgreen:

    @hadi
    ho ho ah Mas ini kayak nggak tahu aja, dalih itu selalu bisa dicari-cari 🙂

    @imem

    Rasulullah bersabda demikian kepada Imam Ali untuk menyenangkan hati Imam Ali yg sedang kecewa karena tidak diikutkan dalam perang Tabuk..

    Oooh jadi maksudnya hanya untuk menyenangkan saja, begitukah?. Pertanyaannya kata-kata yang diucapkan Rasul SAW untuk menyenangkan itu adalah kata-kata yang benar atau tidak menurut anda atau cuma untuk menghibur?.

    sehingga beliau membuat perumpamaan yg berkaitan dg peristiwa ini.. dan perumpamaan Rasulullah tentang Nabi Musa dan Nabi Harun adalah sangat tepat.. bedanya Harun adalah seorang Nabi, sedangkan Ali bukanlah seorang Nabi…

    Perumpamaan itu memang sangat tepat untuk menjelaskan Keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi di sisi Rasulullah SAW sama seperti keutamaan Harun di sisi Musa. Dan tentu sama seperti umat Nabi Musa AS saat itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Harun AS maka begitu pula Umat Nabi Muhammad SAW saat itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Imam Ali AS

    jadi Rasulullah menyerahkan kepemimpinan di Madinah untuk sementara kepada Imam Ali selama beliau pergi..

    Apakah anda bermaksud kedudukan Imam Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa bersifat sementara alias tidak berlaku lagi untuk masa setelah itu?. wah wah sungguh jauh sekali :mrgreen:

    dan Rasulullah tetaplah pemimpin tertinggi saat itu..

    Pemimpin tertinggi itu namanya Khalifah bukan? :mrgreen:

    Ingat ya, jabatan tsb juga pernah beliau berikan kepada sahabat2 yg lain selain Imam Ali.

    Jadi maksud anda, perumpamaan kedudukan Harun di sisi Musa juga dimiliki sahabat-sahabat lain selain Imam Ali AS? wah wah asumsi anda hebat sekali, bisakah anda membuktikannya.

  12. “Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. K’lo menurut saya arti kalimat ini adl jika Rasul pergi entah ke Tabuk, atw ke tempat lain dimana beliau meninggalkan sebagian umatnya (spt saat perang Tabuk) atw bahkan pergi selamanya ke hadirat Allah SWT, maka Ali kw. sepatutnya menjadi khalifah utk setiap mukmin. Pada sabda itu tdk ada kata keterangan tempat “Tabuk” dan “Madinah”.

    Apakah jika Nabi syhahid saat perang Tabuk maka Ali kw patut menjadi khalifah menurut hadis itu? Bgm juga Nabi SAW wafat setelah perang Tabuk selesai dan wafatnya di Madinah, siiapa yg patut menjadi khalifah k’lo menurut hadis itu? Perang Tabuk kan perang terakhir Nabi SAW.

    K’lo ingat perang Tabuk jadi ingat surat At Taubah. Dimana hampir setiap ayatnya membalas keberatan para sahabat yang tdk mau berangkat perang dgn berbagai alasan seperti udara yg panas lalu dijawab oleh Allah di ayat 81, perempuan Romawi cantik 2x, lalu dijawab oleh Allah di ayat 49 dll. Ibnu Abbas menyebut surat At Tawbah sebagai surat Al Mubaqqirah, yang membongkar kepalsuan iman sebagian sahabat. Perangnya sendiripun tdk tjd. Rupanya perintah perang hanyalah diturunkan tuhan utk memilah dgn tegas antara kaum mukmin dgn munafik. Ketika kembali dari Tabuk sejumlah sahabat berencana utk membunuh Nabi SAW dgn menjatuhkannya ke jurang. Percobaan pembunuhan pun dilakukan pada malam hari namun digagalkan oleh Hudzaifah. Nabi SAWpun memberitahukan nama 2x sahabat yg mencoba membunuhnya kpd Hudzaifah dan Ammar bin Yasir dan menyuruh mereka berdua merahasiakannya. (Utk lebih jelasnya kisah ini sebaiknya si SP saja yg ahli utk menjelaskannya, saya ga mau ngelangkahin dia hehehe…)

    Oh ya kira 2x pantes ga yah org yg mencoba membunuh Nabi SAW diangkat menjadi khalifah ? hehehe…..

    Bwt SP bgm sih caranya bikin simbol ketawa, senyum dsb dikomentar ini ? Masih gaptek hehe….

  13. @Nomad

    Iya sama, saya juga tdk bisa bikin simbol ketawa (smiley). Sudah kutak katik di internet, namun tdk bisa juga, maklum gaptek. Makanya ketawanya diketik hehehe…

    Salam

  14. Masih ada yang tidak mengakui maksud hadis yg dibawa ya…nah, cuba yang ini pula:

    قال رسول الله صلى الله عليه[ واله] وسلم انت مني بمنزلة هارون من موسى الا انك لست نبيا انه لا ينبغي ان اذهب الا وانت خليفتي في كل مؤمن بعدي

    “( Wahai Ali) kedudukanmu disisiku adalah seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya sahaja engkau bukan Nabi. Tidaklah pantas untuk aku meninggalkan (dunia) ini kecuali engkau sebagai KHALIFAH ATAS SETIAP MUKMIN SESUDAHKU’.
    (Ibn Abu Isam meriwayatkan dalam kitabnya Assunah hlm 519-520: Al-Albani menilainya Hassan,
    Al-Dzahabi dlm Al-Talkhees menyatakannya saheh
    Al-Hakem dlm Al-Mustarak menyatakannya saheh (3/132-134)

    Maka rasanya tidak ada alasan apapun utk menakwil hadis yg dibawakan Mas SP sebagai utk tempoh masa tertentu atau sementara.

    Salam Damai

  15. @hadi

    Itukan hadits yang sama dengan hadits yang SP bawakan di atas.. anda cek sndiri dech tulisan arabnya & periwayatnya.. anda hanya mengulangi hadits yg dibawakan oleh SP 😆

    Mana kata-kata yang bermakna meninggalkan (dunia) pada hadits di atas? saya lebih cenderung dg apa yg SP terjemahkan utk hadits tsb dan lebih setuju yg diuraikan oleh bung Imem dalam memahami hadits tsb.

  16. imem antirafidhah lamaru ternyata punya bakat sama, suka mengubah-ngubah hadis sesuai dengan fanatisme mahzabnya.

  17. untuk antirafidjah : anda berkatakan “saya lebih cenderung dg apa yg SP terjemahkan utk hadits tsb dan lebih setuju yg diuraikan oleh bung Imem dalam memahami hadits tsb” setuju hadis tapi menolak maknanya?????? TERBUKTI penentangf hadis

  18. untuk imem :anda berkatakan “Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..” bingung,….dari mana muncul kata “ke perang tabuk” dan kata “dimadinah”??????dapat pwangsiiiiiit???/ kekekeke,,,,, >>>mana kata-kata itu pada hadits di atas? berkatakan setuju terjemahan sp tp membuat terjemahan baru yang palsu keekkekeke……

  19. Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.

    Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..

    pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.

    Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.

    silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.

    Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali.. kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..

    Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

    Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja… jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya.. jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi.. kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..

    Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.

    seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada.

    Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..

    Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.

    ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.

    Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi.

    Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali, dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..

    penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..

    contoh :

    “Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari & Muslim)

    Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah. Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya

    Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.

    Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..

    Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.

    Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu

    Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini, sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat.. jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..

    Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.

    bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..

    Oooh jadi maksudnya hanya untuk menyenangkan saja, begitukah?. Pertanyaannya kata-kata yang diucapkan Rasul SAW untuk menyenangkan itu adalah kata-kata yang benar atau tidak menurut anda atau cuma untuk menghibur?.

    dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).

    Perumpamaan itu memang sangat tepat untuk menjelaskan Keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi di sisi Rasulullah SAW sama seperti keutamaan Harun di sisi Musa. Dan tentu sama seperti umat Nabi Musa AS saat itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Harun AS maka begitu pula Umat Nabi Muhammad SAW saat itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Imam Ali AS

    Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..

    Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

  20. @imem
    Apakah anda tidak mengetahui sebab2nya Rasul mengatakan Ali dan aku seperti Nabi Harun dan Nabi Musa tapi tidak ada nabi setelah aku.
    Apa dasar anda mengatakaan bermula sabda Rasul tsb pada waktu Rasul mau meninggalkan Madinah untuk menghadapi perang Tabuk.
    Pertanyaan saya: Apakah benar bahwa Hadits tersebut karena perang Tabuk? Harap dijawab. Wasalam

  21. @antirafidhah

    Kami bermaksud menunjukkan ttg pengesahan az Dzahabi dan al Hakim ttg status hadis tersebut.

    Mas…kata2 meninggalkan dunia itu dapat difahami dari kata ‘sesudahku’. Apakah anda memahaminya sbg ‘sesudah pergi ke medan peperangan’? Dari mana Mas Imem mendapatkan kesimpulan itu?

    Allamah Dr Muhammad Tahir ul Qadri al-Hanafi dlm buku beliau mengenai hadis2 keutamaan Imam Ali [as] ‘Kanzul Muttalib fee Fadail Manaqib Ali ibn Abi Talib’ mencatatkan ini pada hlm 62:

    ” Imran bin Husain meriwayatkan bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali setiap mukmin sesudahku’..

    [Sahih al-Tirmidhi, jilid 5, hlm 236, al Sahih Ibn Habban jilid 1 hlm 383, Mustadrak al Hakim , jilid 3, hlm 119, Sunan al Nasai jilid 5 hlm 132, Ibn Abi Shaiba jilid 6 hlm 383 Musnad Abu Yala jilid 1 hlm 293]”

    Imam Nisai in ‘Khasais’, Imam Hakim dlm ‘Mustadrak’ and Ibn Hajar Asqlani ‘Al-Istiab’, Mulla Mutaqi Hindi ‘Kanz ul Ummal’, Dahabi ‘Talkhees Mustadrak’ dan Al-Baani ‘Silsilat al-ahadith al-Sahiha’ menyatakannya ‘Sahih’.

    Kata ‘sesudahku’ adalah kata umum dan tidak mungkin memaksudkannya sebagai ‘saat aku tiada seketika’.

    Dan benar apa yg dikatakan Mas Jackov, Mas Imem membuat terjemahan baru yg lari dari konteks.

    Salam Damai

  22. @SP & Imem

    Terima kasih SP sudah mengomentari tanggapan dr imem.
    Kalau anti rafidah setuju dengan imem, maka saya setuju dengan SP saja.
    Saya hanya ingin membuat kesimpulan dari komentar saya, yaitu tanggapan imem lebih banyak ngawurnya.
    Mas imem, mbo sekali2 objektif, jangan terjebak pada subjektivitas dengan slogan: yang penting tolak terus apa2 yang menunjukkan kemuliaan ahlul bayt. Anda tidak harus jadi syi’ah koq untuk mencintai dan memuliakan ahlul bayt.
    Anda tidak takut ditolak oleh Rasulullah SAW krn menentang beliau?. Beliau sedang memberitahu pengikutnya bhw Imam Ali itu khusus/mulia, dan anda menggunakan nafsu anda untuk bertentangan dengan Beliau SAW.
    Kalau anda menolak penistaan kpd sahabat bukan berarti anda harus menentang Rasulullah SAW dg ahlul bayt beliau.

    Cintai dan muliakan ahlul bayt dan tolak penistaan thd sahabat, keduanya dapat beriringan

    Wassalam

  23. @imem

    Hadis manzilah bukan diucapkan Nabi saaw semata mata saat Perang Tabuk aja, bahkan dlm pelbagai peristiwa lainnya

    Ini satu darinya:

    و الذي بعثني بالحقِّّ، ما أخَّرْتُك إلا لنفسي، و أنت مني بمنزلة هارون من موسى غير أنّه لا نبي بعدي، أنت أخي و وارثِيْ.

    “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, aku tidak mengkahirkanmu melainkan untuk kupersaudarakan dengan diriku. Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku. Dan engkau adalah saudara dan pewarisku.”

    Ini adalah dlm peristiwa persaudaraan. Lalu apa maksudnya dlm hadis ini saat Nabi saaw menyatakan ‘ Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku’?

    Ulama2 berikut juga menyatakan bahawa hadis manzilah ini telah diucapkan oleh Rasul saaw dlm pelbagai peristiwa lain selain Perang Tabuk:

    a. Mas’udi dlm Muruj az Zahab jilid II, hlm 49
    b. Halabi dlm Siratu’l-Halabiyya, jilid II, hlm 26 dan 120
    c. Imam Abdu’r-Rahman Nisa’i dlm Khasa’isu’l-Alawiyya, hlm 19
    d. Sibt Ibn Jauzi dlm Tadhkira, hlm 13-14
    e. Sulayman Balkhi Hanafi dlm Yanabiu’l-Mawadda, bab 9 dan 17

    Salam Damai

  24. @all
    Karena saudara inem tidak menanggapi pertanyaan saya, maka saya akan menjalaskan ketidak mengertinya sdr Imem.
    Imem mengatakan kepada mas SP bahwa mas SP memahami hadits tsb textual. Dan bukan Sebabnya (Asbabun Wurud) mengapa Rasul bersabda.demikian
    Saya ingin menjelaskan bahwa hadits Manzila yang diposting mas SP hanya merupakan pengulangan . Yaitu jauh sebelumnya telah disampaikan oleh Rasul.
    Saya akan bawakan Sebabnya

    Dalam Tafsir Qur’an Abu Ishaq dalam Tafsir Al Kabir ia membahas ayat 55-56 Surah Al Maidah bersumber dari Abu Dzar Ghifari yang berkata:
    Kedua mataku akan buta dan kedua telingaku akan tuli sekiranya aku berkata kebohongan. Aku mendengar Rasulullah saw berkata:”Ali adalah pemberi petunjuk orang2 yang beriman dan penghancur orang kafir, orang yang membantunya akan beruntung dan yang meninggalkannya akan binasa.

    Suatu hari aku shalat berjamaah dibelakang Rasul. Seorang peminta minta, memohon sedakah.. Tapi tidak ada seorangpun memberi sesuatu. Saat itu Ali tengah ruku. Ia menyorongkan tangannya dimana melingkar sebuah cincin dijarinya pada peminta itu.
    Peminta-minta itu melepaskan cincin pada jarinya.
    Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, ia berkata: ” Ya Allah, saudaraku Musa memohon padaMu dengan mengatakan: ” Ya Tuhanku, lembutkanlah hatiku dan mudahkan segala urusanku! Lepaskan kekakuan lidahku agar mereka memahamiku! Tunjuklah dari keluargaku, Harun, saudaraku sebagai wakilku dan kuatkan diriku dengan kehadirannya dan ikutkan dia dalam misiku, sehingga kami senantiasa mengagungkan Mu dan mengingatMu. Sesungguhnya Engkau melihat kami dan memberinya liham: “Ya, Musa, semua permintaanmu telah dikabulkan.”
    Ya Allah, aku adalah hambaMu dan RasulMu. Lembutkan hatiku dan mudahkan segala urusanku dan tunjuklah dari keluargaku, Ali, sebagai wakilku dan memperkuat diriku dengan keberadaannya.
    Demi Allah Rasul belum selesai berdoa ketika Jibril turun bersama ayat 55-56 Surah Al-Maidah.
    (Allamah Zamakhasyari dalam tafsir al-Kasysyaf,: Sahih Bukhari 5.56,5700; Shahih Muslim vol.4 hal 1870-71 dan banyak lagi seperti Sunan Imam Maja; Musnad Ahmad b. Hambal dll)
    Demikian lah sebabnya Hadits Manzilah.
    Jadi saudara inem tidak mengerti hanya asal ngomong aja. Wasalam

  25. @abu rahat

    Mungkin sebaiknya ditanyakan dulu i’tikad dari saudara imem.
    Karena jika i’tikadnya mmg tidak mau mencintai dan memuliakan ahlul bayt, maka selesailah sudah diskusi dg imem. Karena dalil yg manapun akan bisa diplintir. Tidak usah imem, mereka yang terlibat langsungpun bisa menolak/ingkar, apalagi imem yang berjarak waktu dan ilmu.

    Wassalam

  26. @truthseeker08
    Terima kasih penjelasannya.

  27. Salam

    Menurut saya penjelasan Sdra. Hadi dan Sdra. Aburahat cukup jelas. Dan pernyataan atau saran dari Sdra. Truthseeker08 sangatlah tepat.

    Wassalam

  28. mau mencintai Ahlul Bayt tapi tidak mau memuliakannya…..bagaimana yah…??

    salam,

  29. @halwa
    Namanya CINTA MONYET. Hhehe

  30. @halwa

    Benar sekali mas halwa, sangat menyedihkan kondisi tsb.
    Semoga kita selalu istiqomah dalam mencintai ahlul bayt dengan cara yang mereka ajarkan.

    Keduanya adalah satu kesatuan. Keengganan memuliakan hadir dari kedengkian. Kedengkian tidak mungkin bersatu dengan cinta.
    Begitu jelas dan tegas Allah & Rasul-Nya mengabarkan dan memerintahkan kepada kita kemuliaan dan kecintaan kepada ahlul bayt. Secara logika terasa mudah mencintai keluarga Nabi (anak, mantu dan cucu2 Nabi kita sendiri), namun doktrin ribuan tahun telah merusak akal dan hati sebagian muslimin.

    Sangat janggal dan aneh mencintai kepada mereka yang dicintai Nabi menjadi begitu sulit. Semestinya tidak perlu dalil dan perintah atasnya.

    Allahumma shali ala Sy Muhammad wa ala ahl Sy Muhammad.

    Wassalam

  31. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad….

  32. @Nomad

    Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. K’lo menurut saya arti kalimat ini adl jika Rasul pergi entah ke Tabuk, atw ke tempat lain dimana beliau meninggalkan sebagian umatnya (spt saat perang Tabuk) atw bahkan pergi selamanya ke hadirat Allah SWT, maka Ali kw. sepatutnya menjadi khalifah utk setiap mukmin. Pada sabda itu tdk ada kata keterangan tempat “Tabuk” dan “Madinah”

    Penjelasan yang baik 🙂

    @imem

    Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..

    Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW

    Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.

    Saya tidak salah paham, saya menunjukkan ketidakhati-hatian anda dalam menggunakan kata-kata. Maafkan kalau saya katakan anda berbicara terlalu banyak sehingga lupa apa yang telah anda bicarakan. Sekarang anda mengatakan kalau tugas Imam Ali sangat berat karena harus menjaga stabilitas politik dan keamanan Madinah padahal sebelumnya anda mengatakan Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau. Itu kontradiksi anda yang harus anda jelaskan, kemudian pernyataan anda soal kaum munafik yang mengkhawatirkan adalah asumsi baru yang saya tidak tahu benar atau tidak

    Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali..

    Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.. Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

    kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..

    Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.

    Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja…

    asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.

    jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya..

    Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.

    jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi..

    Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.

    kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..

    Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.

    Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.

    Rasulullah SAW yang mengucapkan hadis tersebut dengan makna yang umum sehingga beliau memberi satu batasan bahwa hubungan yang dimaksud tidak mencakup Kenabian. Anda jelas tidak memperhatikan lafaz hadis yang diucapkan

    Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..

    Apa sebenarnya yang menutupi mata hati anda sehingga tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Bukankah anda mengatakan bahwa hadis Manzilah sebagai keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali, tetapi anda menyatakan bahwa hadis manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja terkait dengan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Madinah dan anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang seperti itu. Bukankah para sahabat menganggap hadis Manzilah sebagai keutamaan khusus Imam Ali. Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?

    ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.

    Saya tidak mengabaikan asbabul wurudnya, saya berpegang pada teks hadisnya dan mendudukkan asbabul wurud sebagai bagian dari keumuman lafaz hadisnya. sedangkan anda tidak memperhatikan lafaz hadisnya dan maaf salah mendudukkan asbabul wurudnya?. Buktinya adalah hadis-hadis yang menyebutkan asbabul wurud seperti kata anda pada saat Perang Tabuk tidak menunjukkan adanya indikasi mengkhususkan, hadis asbabul wurud itu justru menunjukkan Nabi SAW mengucapkan lafaz hadis yang umum saat Perang Tabuk 🙂

    Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali,

    Dan bukankah anda sebelumnya mengatakan bahwa hadis Manzilah terkait dengan jabatan memimpin Madinah, kalau memang terkait ya wajar kan saya bertanya adakah sahabat lain (yang menurut anda pernah memimpin Madinah) juga mendapatkan hadis Manzilah?.

    dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..

    Apa maksud dari pernyataan anda ini? saya tidak berani menduga-duga, jadi kalau anda mau jelaskan kalau tidak ya sudah 🙂

    penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..

    Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.

    contoh :

    “Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari & Muslim)

    Contoh yang anda bawa sangat tepat untuk menjelaskan asbabul wurud yang bersifat mengkhususkan atau tidak. Perhatikan lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW yaitu Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata:. Lafal ini bersifat khusus artinya aspek kesamaan Abu Bakar dengan Ibrahim telah dijelaskan oleh Nabi SAW sendiri. begitu pula lafal Nabi SAW terhadap Umar Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: lafal ini sudah jelas bersifat khusus dimana Nabi SAW telah menjelaskan letak kesamaan atau penyerupaannya.

    Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah.

    .
    tentu saja konteks yang anda maksud sangat terkait dengan lafal hadisnya yang bersifat khusus. Berbeda dengan Hadis Manzilah, Rasulullah SAW menyebutkan lafal yang umum sehingga itu mencakup keseluruhan kecuali yang Rasulullah SAW batasi yaitu Kenabian. Semoga anda bisa memahami penjelasan saya 🙂

    Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya

    Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja

    Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..

    Seperti itu bagaimana, silakan anda pahami dulu yang benar penjelasan saya :mrgreen:

    Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini,

    Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah. Lucu sekali, anda yang berhujjah kok saya yang harus buktikan dasar hujjah anda. Anda menyebutkan kitab Tarikh dari kalangan Muslim dan Ahli Kitab, jadi tugas anda untuk menyebutkan secara lengkap sumber informasi anda?. kemudian apakah anda mengakui semua yang ada dalam kitab tarikh adalah benar?. Bukankah saya pernah mengatakan jangan2 sumber yang anda gunakan adalah sumber yang justru anda lecehkan, maafkan kalau dugaan saya salah dan silakan membuktikannya

    sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat..

    Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?

    jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..

    Lho sekali lagi andalah yang berhujjah dengan itu bukan saya, sebelum saya menyatakan setuju atau tidak setuju maka saya harus yakin dulu apakah anda sedang berbohong atau tidak, apakah anda keliru atau tidak yaitu dengan cara terlebih dahulu tunjukkan referensi lengkap yang bisa saya rujuk. Kalau anda tidak bisa, maka lebih baik tidak usah anda gunakan sebagai hujjah 🙂

    bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..

    Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?

    dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).

    Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW 🙂

    Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..

    Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan 🙂

    Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

    Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung 🙄 tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu 🙂

    @abu rahat
    mari kita sama-sama menunggu 🙂

    @hadi

    ” Imran bin Husain meriwayatkan bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali setiap mukmin sesudahku’..

    [Sahih al-Tirmidhi, jilid 5, hlm 236, al Sahih Ibn Habban jilid 1 hlm 383, Mustadrak al Hakim , jilid 3, hlm 119, Sunan al Nasai jilid 5 hlm 132, Ibn Abi Shaiba jilid 6 hlm 383 Musnad Abu Yala jilid 1 hlm 293]”

    Saya tertarik dengan yang ini, hadis ini kalau tidak salah diucapkan juga oleh Rasulullah SAW kepada Buraidah setelah Imam Ali pergi ke Yaman artinya pasca perang Tabuk kan :mrgreen:

    @truthseeker08
    wah kata-kata yang membungkam :mrgreen:

    @hadi
    mari kita lihat apa jawaban dari saudara imem 🙂

    @abu rahat
    tunggu saja Mas, insya Allah ditanggapi oleh saudara imem

    @truthseeker08
    ah saya berprasangka baik saja kali ya, soalnya dia pasti bilang mencintai ahlul bait :mrgreen:

    @bagir
    terus penjelasan saya gimana :mrgreen:

    @halwa
    entahlah apa namanya, manis di mulut lain di hati, benar nggak ya?

    @abu rahat
    :mrgreen:

    @truthseeker08
    setuju 🙂

  33. @ imeem…

    kalimat seperti ini apakah anda anggap kalimat khusus ?

    خليفتي في كل مؤمن من بعدي

    KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

    heheheh…….

    OOt nih…

    Kesamaan Nabi Harun as dgn Imam Ali as yg lain adalah

    1. sama2 dikhianati oleh org2 utama disekitarnya
    2. Sama 2 dipesankan jgn membuat pecah umat
    jikA tdk didukung mayoritas umatnya.
    3. sama keluarga dengan yg dibantu.
    dst

  34. Salam

    @SP

    ntar dl doong maaas 🙄 khan imem belum jwb pertanyaan anda yg ini :

    Anda menyebutkan kitab Tarikh dari kalangan Muslim dan Ahli Kitab, jadi tugas anda untuk menyebutkan secara lengkap sumber informasi anda?. kemudian apakah anda mengakui semua yang ada dalam kitab tarikh adalah benar?. Bukankah saya pernah mengatakan jangan2 sumber yang anda gunakan adalah sumber yang justru anda lecehkan, maafkan kalau dugaan saya salah dan silakan membuktikannya

    wassalam

  35. Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW

    Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam..

    Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau

    Sudah saya terangkan maksud saya dengan :

    membuat beliau merasa kurang berperan saat itu

    Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?..

    Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk. Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.

    Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.

    Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.

    Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

    Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian. Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk, sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.

    Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.

    Sudah berulangkali saya jelaskan..

    asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.

    Sekali lagi sudah saya jelaskan.

    Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.

    Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..

    Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir. Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.

    Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.

    Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.

    Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.

    “Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah
    engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?”
    Rasulullah bersabda,
    “Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari)

    Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah. Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali. wallahu A’lam.

    Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?

    Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..

    Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.

    Saya sudah jawab di atas.

    Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja

    Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.

    Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah.

    Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :

    “Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya. Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.” Maka ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengatakan demikian maka hal ini menjadi dalil bahwa maksud beliau tidaklah demikian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku sebagaimana Harun menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa atas kaumnya ketika Musa ‘Alaihi Sallam keluar (pergi) untuk menujat kepada Allah.” (Tafsir Al Qurthubi 1/268)

    Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?

    Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..

    Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?

    Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.

    Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW

    Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.

    Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan

    Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :

    Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:

    قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20

    Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

    Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu

    Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.

  36. Dalil “POKOKNYA” dari para Wahabiyyun dan atau Syiahphobia berbunyi:

    (1) Pokoknya Abubakar adalah khalifah yg sah sepeninggal Nabi saw. Mau hadits Manzilah kek, hadits Tsaqalain kek, pokoknya Abubakar adalah pengganti Nabi saw yg sah.

    (2) Pokoknya kedudukan Imam Ali di sisi Nabi saw tdk mungkin melebihi kedudukan Abubakar & Umar. Silakan sodorkan kedudukan Imam Ali di sisi Nabi saw, maka kami akan menyodorkan pula riwayat-riwayat yg menandinginya.

    (3) Pokoknya kemuliaan Abubakar & Umar sdh pasti melebihi sahabat yg lain, tdk peduli dgn melimpahnya nash-nash kemuliaan ahlulbait.

    (4) Pokoknya apa pun yg diklaim Syiah mengenai keutamaan dan kedudukan Imam Ali harus dikoreksi karena sdh pasti keliru.

    (5) Pokoknya kecintaan kepada Imam Ali serta mengakui kemuliaannya sdh diucapkan di lidah. Perkara benar atau tidak, toh tdk ada yg tau serta tidak ada yg mampu memaksakan pembuktiannya.

    (6) Pokoknya bantah. Perkara berargumen hanya dg asumsi, tdk konsisten, semua nomer belakangan 🙂

    Salam

  37. Kalo saya disuruh mencintai ahlul bait model Rafidhah, sorry lah yao.. kalo mencintai Ahlul Bait dengan cara mengkultuskan mereka dan di sisi lain merendahkan sahabat2 Nabi, dengan sangat terpaksa cinta seperti itu kami tolak mentah-mentah. sorry ye.. wuakakak…

  38. @imem

    Kalo saya disuruh mencintai ahlul bait model Rafidhah, sorry lah yao..

    Cara rafidhah? cara yang mana? Siapa yang meminta anda mencintai ahlul bayt dengan cara rafidhah? Hanya ada 1 cara yaitu cara yang diajarkan ahlul bait. Bukankah bisa ditafsirkan bhw anda sejatinya menolak mencintai ahlul bayt (dg alasan itu cara rafidhah).

    kalo mencintai Ahlul Bait dengan cara mengkultuskan mereka dan di sisi lain merendahkan sahabat2 Nabi,

    Coba tolong anda jelaskan arti kata mengkultuskan?
    Juga supaya anda terhindar dari memfitnah, maka jelaskan lagi yang anda sebut cara tsb.
    Apakah anda tidak bisa memisahkan memuliakan ahlul bayt dengan merendahkan sahabat?
    Apakah anda tidak melihat ada saudara2 disini yang mencintai ahlul bayt sekaligus menolak untuk mencerca sahabat?

    dengan sangat terpaksa cinta seperti itu kami tolak mentah-mentah. sorry ye.. wuakakak…

    Apa makna dari tertawa anda? Tunjukkan dalil dari anda bahwa begini akhlak yang baik.

    Wassalam

  39. @Imem,

    ya terserah anda itu mah, itukan pilihan anda, blom tentu pilihan yang lain sama dengan anda..yang penting jangan memaksakan keinginan anda.pokoknya lebih cepat lebih baik deeh…

    salam,

  40. Kalo saya disuruh mencintai Ahlul Bait model nashibi yg bela2in muawiyah & Yazid LA ya sori layauuu…

  41. salam
    @ Imem

    Sekalipun saya fikir Mas SP telah menjelaskan dengan sangat baik – SemogaAllah mengganjarkan beliau selayaknya – anda masih sahaja bertegas menyatakan hadis ini terbatas keutamaannya hanya pada saat kepergian Rasulullah saaw pada peristiwa Tabuk sahaja. Dari periwayatan yg lain, mari kita cuba perhatikan hadis tersebut pada catatan Muslim dalam Sahihnya, pada Kitab Fadhail sahabah, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib r.a:
    عن ‏ ‏عامر بن سعد بن أبي وقاص ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏قال ‏ ‏أمر ‏ ‏معاوية بن أبي سفيان ‏ ‏سعدا ‏ ‏فقال ما منعك أن تسب ‏ ‏أبا التراب ‏ ‏فقال أما ما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من ‏ ‏حمر النعم ‏
    ‏سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول له ‏ ‏خلفه ‏ ‏في بعض مغازيه فقال له ‏ ‏علي ‏ ‏يا رسول الله ‏ ‏خلفتني ‏ ‏مع النساء والصبيان فقال له رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏أما ‏ ‏ترضى أن تكون مني بمنزلة ‏ ‏هارون ‏ ‏من ‏ ‏موسى ‏ ‏إلا أنه لا نبوة بعدي

    Muslim mencatatkan bahawa Amir bin Saad bin Abi Waqqas meriwayatkan dari bapanya (Saad) bahawa Muawiyyah bin Abi Sufyan telah melantik Saad sebagai Gabenor dan berkata: Apa yang menghalangmu dari melaknat Abu Turab (Ali bin Abi Thalib)? Saad menjawab, “Selagi mana aku masih mengingatkan tiga perkara yang diucapkan Rasulullah (saw) kepadanya, maka selagi itu aku tidak akan pernah melaknatnya, seandainya diberikan kepadaku salah satu sahaja dari ketiganya, itu lebih aku sukai berbanding sekiranya kuperolehi unta-unta merah. Aku mendengar Rasulullah (saw) berkata mengenai Ali ketika meninggalkannya pada sebuah perang (iaitu Tabuk). Ali berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah!, Engkau tinggalkan aku bersama perempuan-perempuan dan kanak-kanak.’ Yang atasnya Rasulullah (saw) menjawab: “Tidakkah engkau redha bahawa kedudukanmu di sisiku seumpama kedudukan Harun di sisi Musa, hanya sahaja tidak ada Nabi sesudahku!….”

    Perhatikan. Sekiranya pujian tersebut tidak membezakan Imam Ali dengan sahabat-sahabat lainnya dan tidak pula mengutamakannya ke atas para wakil Nabi dan para sahabat, Saad tentu tidak lebih tidak bercita-cita untuk mendapat pujian tersebut dan menyukainya berbanding kekayaan dunia dalam pemilikan unta-unta merah! Dan sekiranya pujian dalam hadis Manzilah bersifat khusus dan terbatas hanya pada peristiwa perang Tabuk sahaja, apa relevan Saad menyebutkannya lagi pada zaman pemerintahan Muawiyyah yang jaraknya dari perang Tabuk lebih dari 30 tahun lamanya?

    Silalah anda jelaskan.

  42. @SP
    Mari kita sama2 menunggu., sampai dipanggil Allah kehadhiratnya. Dan terus menunggu hingga dihadapkan kehadapan Allah untuk mempertanggung jawabkan semua amal kita terutama diblog ini. Wasalam

  43. @imem

    Sudah saya terangkan maksud saya dengan :

    membuat beliau merasa kurang berperan saat itu

    Ooh kalau begitu anda memahami bahwa tugas Imam Ali kurang berperan padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan. Ehem itu kata-kata siapa ya :mrgreen:

    Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk.

    Bukannya saudara hadi telah menunjukkan kepada anda riwayat bahwa hadis manzilah selain pada peristiwa perang tabuk dimuat oleh sebagian ulama, baik anda dan Mas Hadi telah membawa hujjah masing-masing, bedanya Mas Hadi menyebutkan hadisnya dengan jelas dan anda tidak menyebutkan nama ulama-ulama yang sepakat itu dengan jelas.

    Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.

    Disini letak perbedaan anda dan saya. Saya memandang bahwa hadis tersebut dikeluarkan oleh Nabi SAW ketika Imam Ali bertanya kepada Nabi. Di sini Nabi SAW menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali begitu tinggi di sisi Nabi layaknya keutamaan Harun di sisi Musa tetapi Nabi SAW memberi batasan bahwa keutamaan itu tidak mencakup Kenabian.

    Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.

    Anda salah menarik kesimpulan, semua kitab hadis yang anda sebutkan bersepakat bahwa hadis Manzilah pernah diucapkan Nabi SAW saat perang Tabuk. Sedangkan kesimpulan bahwa hadis tersebut tidak pernah disampaikan pada kesempatan lain harus melihat hadis-hadis di kitab lain. Dan salah satunya sudah disebutkan oleh saudara Hadi. Poin saya disini saya tidak menolak bahwa semua kitab hadis yang anda sebutkan memuat hadis Manzilah saat Perang Tabuk.

    Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.

    Dari dasar yang keliru maka anda menarik kesimpulan yang keliru pula. Hadis Manzilah di kitab-kitab hadis yang anda sebutkan tidak sedikitpun memuat pernyataan bahwa hadis tersebut terkhusus saat Perang Tabuk saja. Sehingga hadis-hadis tersebut tidak bisa anda jadikan dasar untuk menolak jika ada hadis lain yang menyebutkan hadis Manzilah di tempat yang lain. Seandainya ada Hadis Manzilah di tempat yang lain maka dengan merujuk adanya hadis Manzilah saat perang Tabuk, kesimpulan yang benar adalah hadis Manzilah diucapkan saat Perang Tabuk dan di tempat yang lain.

    Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.

    Mari kita analisa dengan baik logika anda. Anda mengatakan pengecualian Imam Ali bukan Nabi menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.Kata-kata Nabi SAW adalah kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahKu..
    Ada dua premis disini
    1. Premis pertama kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa. Premis ini menurut saya umum, sedangkan menurut anda khusus
    2. Premis kedua hanya saja tidak ada Nabi setelahku, premis ini bersifat khusus.
    Premis khusus diucapkan untuk membuat pengecualian premis umum sebelumnya, tidak ada suatu kaidah bahwa premis khusus membuat pengecualian premis yang khusus pula. sehingga pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi adalah untuk membatasi semua keutamaan yang dimiliki Harun di sisi Musa. Jika premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa bersifat khusus maka tidak perlu memberi batasan, kalau premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa seperti kata anda terbatas pada perang Tabuk saja maka tidak perlu memberi batasan dengan kata-kata hanya saja tidak ada Nabi setelahku.

    Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk

    Disinilah anda keliru, karena sebelum hadis Manzilah tersebut diucapkan Nabi SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pengganti Nabi di Madinah, hal yang bahkan saya lihat sudah anda setujui. Ditambah lagi tidak ada kata-kata secara zahir yang menyebutkan bahwa Imam Ali sebagai pengganti di Madinah pada saat perang Tabuk saja.

    sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.

    Kedudukan Harun dalam memimpin umat Nabi Musa adalah bagian dari keumuman kedudukan Harun disisi Musa. Hal itu yang harus anda pahami, dan jika anda mau mengetahui bagaimana kedudukan Harun disisi Musa, maka anda harus melihat banyak ayat lain. misalnya pada surah Thaha ayat 29-32 Nabi Musa AS berdoa kepda Allah SWT Jadikan untukku wazir (pembantu) dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku.. Sehingga dengan ayat ini dan ayat yang anda kutip maka kedudukan Harun di sisi Musa adalah seorang Wazir, saudara dan menjadi sekutu dalam urusannya termasuk ketika Nabi Musa akan pergi maka Nabi Harun AS yang akan memegang kepemimpinan.

    Sudah berulangkali saya jelaskan..

    dari awal juga saya tahu penjelasan anda, saya menunjukkan bahwa asbabul wurud hadis Manzilah tidak mengkhususkan lafal hadisnya sehingga dalam hal ini kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal jelas sangat berlaku 🙂

    Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..

    Silakan tidak ada paksaan disini, saya cuma menunjukkan penjelasan saya yang bersandar pada teks hadisnya dan penjelasan anda yang menambahkan asumsi anda sendiri. tidak ada masalah jika mau berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.

    Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir.

    Bahkan ketika Musa kembali dari bukit Thursina kedudukan Harun di sisi Musa tetaplah ada yaitu ia sebagai wazir, saudara, sekutu urusan Nabi Musa dan jika Musa pergi kembali maka Harun akan menggantikannya lagi. Maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi Muhammad SAW.

    Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.

    Hubungan Beliau Imam Ali dengan Rasulullah SAW memang begitu dekat sehingga Rasulullah SAW berkata “tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai KhalifahKu bagi setiap mukmin setelahKu.

    Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.

    Sayangnya anda tidak memiliki alasan atau bukti dari klaim anda ini, sehingga saya dengan mudah bisa saja berkata sebaliknya, kayaknya anda keliru

    “Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah
    engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda,
    “Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.”

    Saya rasa inilah asbabul wurud yang menjadi hujjah anda, sekarang perhatikanlah baik-baik Rasulullah SAW telah menunjuk Imam Ali sebagai pengganti di Madinah, maka Imam Ali berkata kepada Rasulullah Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? di sini Rasulullah SAW menjawab yang menurut anda untuk menenangkan Imam Ali yaitu dengan mengatakan bahwa Kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW begitu besar yaitu kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku. Disini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kepemimpinan di Madinah adalah bagian dari Kedudukan Imam Ali yang begitu tinggi yaitu seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Seandainya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanya terbatas pada pemimpin di Madinah maka apa bedanya sebelum hadis Manzilah diucapkan dan setelah hadis Manzilah diucapkan.
    Sebelum hadis Manzilah diucapkan, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin di Madinah.
    Setelah hadis Manzilah diucapkan, anda mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud adalah sebagai pemimpin di Madinah.
    Jadi tidak ada bedanya, dan saya jadi bingung apa makna keutamaan Imam Ali yang anda maksud. Apalagi anda mengatakan banyak sahabat lain yang memimpin Madinah, jadi tambah bingung saya makna keutamaan yang anda maksud
    Lain halnya dengan memperhatikan bahwa sebenarnya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum artinya mencakup semuanya seperti wazir, saudara dan sekutu dalam urusan termasuk kepemimpinan setiap Rasul SAW akan pergi, sehingga dalam hal ini keumuman tersebut dibatasi oleh Rasul SAW tidak mencakup Kenabian.
    Kemudian silakan anda perhatikan hadis manzilah yang saya kutip di atas,bukankah menurut anda hadis tersebut diucapkan saat perang Tabuk maka hadis tersebut justru membuktikan keumuman yang saya bicarakan. Ketika Imam Ali berkata Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? maka Rasulullah SAW menjawab sesungguhnya KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
    Rasulullah SAW mengatakan bahwa sama seperti kedudukan Harun disisi Musa bahwa dia akan menggantikan Musa sebagai khalifah bagi setiap umat Musa maka begitu pula Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin Umat Nabi SAW.

    Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah.

    Dari mana anda mengetahui tidak ada?. apakah jika ada sahabat lain yang bertanya seperti itu maka Rasulullah SAW juga akan menyebutkan hadis Manzilah?. Kalau anda bilang tidak, lalu apa gunanya anda menampilkan pernyataan itu.

    Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali.

    Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayangnya dengan menjelaskan keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi seperti kedudukan Harun disi Musa diantaranya Imam Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin setelah Nabi SAW.

    Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..

    lho Saya menanyakan apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah bukankah anda menyebutkan ada banyak sahabat yang memimpin di Madinah, jika keutamaan kedudukan Harun di sisi Musa adalah sebagai pemimpin di Madinah saat perang Tabuk saja maka dengan alasan apa anda membedakan sahabat2 lain yang memimpin Madinah seperti kata anda.

    Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.

    Silakan kita sudah sama-sama menjelaskan 🙂

    Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :

    Mari kita lihat apakah Al Qurtubi menuruti keinginannya semata untuk membantah syiah atau malah membantah hadis Manzilah itu sendiri

    Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya

    Perhatikan teks hadis di atas Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.. Perkataan Al Qurtubi bertentangan dengan perkataan Rasulullah SAW. Perkataan Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan

    Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.”

    Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seberapa valid informasi ini?. Kemudian poin yang dimaksud hadis Manzilah tersebut adalah kedudukan Harun di sisi Musa sama seperti kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad SAW. Kedudukan tersebut mencakup semuanya kecuali Kenabian seperti kedudukan sebagai wazir, sebagai saudara sebagai sekutu dalam urusan dan sebagai orang yang akan menjadi pemimpin jika yang lain pergi. Oleh karena itu saya katakan kepada anda, dengan melihat kedudukan Harun yang begitu tinggi maka ketika Nabi Musa AS pergi tidak ada satupun dari umat Musa yang layak menggantikan kecuali Harun dan begitu pula dengan Imam Ali, tidak ada satupun dari Umat Muhammad yang lebih layak sebagai pengganti Nabi SAW kecuali Imam Ali.

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku

    Sekali lagi hadis di atas dengan jelas membantah Al Qurtubi. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Imam Ali sebagai Khalifah tidak hanya bagi keluarga Beliau tetapi bagi stiap kaum mukmin dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa hal itu terjadi sepeninggal Beliau SAW, hal ini terlihat jelas dari kata-kata SetelahKu

    Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..

    Siapa yang berandai saya menunjukkan kepada anda bahwa keutamaan hadis Manzilah terletak pada Kedudukan Harun di sisi Nabi Musa dimana jika Nabi Musa AS pergi dan Nabi Harun masih ada maka tidak ada satupun Umat Musa AS yang berhak memegang kepemimpinan karena selagi Nabi Harun masih ada maka beliaulah yang layak memegang kepemimpinan. Dan begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, selagi Imam Ali AS masih ada maka tidak ada satupun dari Umat Muhammad SAW yang berhak memegang kepemimpinan kecuali Imam Ali.

    Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.

    Tidak masalah, yang tetap ada dan menjadi keutamaan melekat bagi Imam Ali adalah Kedudukannya di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa.

    Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.

    Contoh sederhana adalah hadis di atas, mau anda kemanakan kata-kata Rasulullah SAW Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. Rasulullah berkata dengan lafal umum untuk setiap mukmin, eh anda mengkhususkan untuk di Madinah saja :mrgreen:
    Nah bukankah ini namanya membatasi apa-apa yang sudah ditetapkan Rasulullah SAW

    Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:

    قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20

    Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

    Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa

    Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam

    Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda 🙄

    Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.

    Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi :mrgreen:

  44. Ya sudah.. yang jelas Imem dan SP berbeda dalam memahami hadits. dan saya salut sama bung Imem yg tetep tegas dan jelas prinsipnya dalam berdiskusi walopun banyak yang ngroyok dia 😆

    Bravo bung Imem! 😆

    tetapi yg membuat saya tersenyum dengan bantahan SP yg ini :

    Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa

    Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam

    Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda 🙄

    dan juga yang ini :

    Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi :mrgreen:

    Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya 😆 saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich 🙄

  45. @antirafidhah

    Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya 😆

    Saya juga yakin, tentu setelah anda mengatakan kalau anda tersenyum 😛

    saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich

    saya malah tersenyum dengan komentar anda. Bisa dibilang saya selalu menyesuaikan dengan lawan bicara saya. Dan saya rasa kalau anda melihat dengan lebih jeli, antara saya dengan orang yang anda sebut imem siapakah yang pertama-tama membawa hadis lain di luar tema tulisan ini alias tidak berkaitan? Orang tersebut terbukti sudah memperlebar topik. Nah silakan dilihat, biar anda bisa kembali tersenyum atau terdiam :mrgreen:

  46. @sp…

    Mari kita analisa dengan baik logika anda. Anda mengatakan pengecualian Imam Ali bukan Nabi menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.Kata-kata Nabi SAW adalah kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahKu..
    Ada dua premis disini
    1. Premis pertama kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa. Premis ini menurut saya umum, sedangkan menurut anda khusus
    2. Premis kedua hanya saja tidak ada Nabi setelahku, premis ini bersifat khusus.
    Premis khusus diucapkan untuk membuat pengecualian premis umum sebelumnya, tidak ada suatu kaidah bahwa premis khusus membuat pengecualian premis yang khusus pula. sehingga pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi adalah untuk membatasi semua keutamaan yang dimiliki Harun di sisi Musa. Jika premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa bersifat khusus maka tidak perlu memberi batasan, kalau premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa seperti kata anda terbatas pada perang Tabuk saja maka tidak perlu memberi batasan dengan kata-kata hanya saja tidak ada Nabi setelahku

    Mas @ Sp anda melakukan kesalahan yg paling fatal pada komentar anda..menurut saya.
    Anda berharap melakukan analisa logika @imeem.

    Padahal

    Dari semua komentar yg dibuat @Imeem tdk ada satu pun yg menunjukkan dia menggunakan AKALnya, dia hanya menggunakan pita recorder sejenis cd atau seluloid tape atau keping cakram atau mungkin flash disk barangkali.
    yg sudah dicopy kan oleh ustadnya atau syaikh “cingkrangnya” utk kemudian diputar ulang kepada anda.

    Jadi niat anda merunut logika @Imeem itu adalah pekerjaan sia2…karena sebenarnya dia hanya memiliki alat perekam dan pemutar bukan OTAK yg menghasilkan nalar/Logika..

    jadi lebih tepat pertanyaannya adalah apakah isinya tape recorder/FD ataukah Otak isi kepalanya

    wuakakakak

  47. @antirafidhah

    Jangan begitu, masak argumen SP anda bilang ga menggigit lagi?, saya ga tersenyum kok tetapi wuakakak…

    Yang penting saya dah jelasin semampunya, selanjutnya ya terserah pd masing2.. kalo mau ya Lanjutkan! tgl 8 wuakakak…

    @bob

    Lah kalo ente punya logika, monggo.. silahkan ikut diskusi.. tunjukkan analisa logika, AKAL, OTAK anda yg tok cher itu.. kok bisanya cuma ndremimil ga karuan kayak gitu & malah nyalahin SP.. bisa diusir lo nanti… wuakakak.. itu tandanya ga mampu… ayo tunjukkan dunk.. wuakakakak…

  48. @bob
    ah mungkin saya memang keliru kali ya :mrgreen:

    @imem

    Jangan begitu, masak argumen SP anda bilang ga menggigit lagi?, saya ga tersenyum kok tetapi wuakakak…

    iya mesti objektif ya bung imem :mrgreen:

    kok bisanya cuma ndremimil ga karuan kayak gitu & malah nyalahin SP.. bisa diusir lo nanti…

    Ah saya gak pernah ngusir orang, lihat saja anda, antirafidhah, lamaru tidak pernah saya usir 🙂

  49. @SP

    Konsisten untuk tidak konsisten adalah bagian yg tak terpisahkan dari argumen-argumen salafy. Ini memang menyebalkan. Sy salut SP konsisten utk sabar dan tetap sistematis.

    Yang sy tangkap dari komen2 Imem yakni, hadits Manzilah bukanlah untuk menunjukkan kedudukan dan keutamaan Imam Ali di sisi Nabi saw, namun hanya sekedar kata-kata hiburan dari Nabi saw untuk menyenangkan perasaan Imam Ali. Karena begitu Nabi saw tiba kembali di Madinah, maka keutamaan Imam Ali yg disebutkan dalam hadits Manzilah itu dengan sendirinya gugur.

    I’tikad ini harus tetap dipertahankan bagaimanapun caranya demi tetap menjaga sah-nya kekhalifahan Abubakar serta melindungi keunggulan sahabat lainnya.

    Salam

  50. Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali, tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem, tetapi bukanlah berarti keutamaan tersebut menutupi keutamaan sahabat-sahabat yang lain, karena setiap sahabat (termasuk Imam Ali) mempunyai keutamaan sendiri-sendiri berdasarkan hadits-hadits Rasullah Sahalallahu Alaihi Wassalam.

    Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.

    Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas, justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.

    Salam

  51. @antirafidhah & inem
    Saya sudah jelaskan kedudukan Imam Ali as disisi Rasul sama seperti kedudukan Nabi Harun disamping Nabi Musa bukan temporer dan bukan saja waktu Rasul meninggalkan Madinah. Saya jelaskan pd tgl 6/7-2009 jam 12.59.
    Kalau anda2 tidak setuju dan mau bantah, pakai Nash dong jangan asal ngomong sesuai fanatik anda.

  52. @armand

    Konsisten untuk tidak konsisten adalah bagian yg tak terpisahkan dari argumen-argumen salafy. Ini memang menyebalkan. Sy salut SP konsisten utk sabar dan tetap sistematis.

    saya cuma menyesuaikan diri :mrgreen:

    Yang sy tangkap dari komen2 Imem yakni, hadits Manzilah bukanlah untuk menunjukkan kedudukan dan keutamaan Imam Ali di sisi Nabi saw, namun hanya sekedar kata-kata hiburan dari Nabi saw untuk menyenangkan perasaan Imam Ali. Karena begitu Nabi saw tiba kembali di Madinah, maka keutamaan Imam Ali yg disebutkan dalam hadits Manzilah itu dengan sendirinya gugur.

    Memang begitu kesan yang ditangkap, makanya saya juga jadi bingung soal keutamaan yang dimaksud saudara imem

    @antirafidhah

    Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali,

    Mari kita lihat apa yang anda sebut jelas, anda mengatakan penyerupaan itu berupa pelimpahan wewenang di Madinah. Kemudian anda berkata

    tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem,

    Kalau anda mengakui bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah maka sahabat-sahabat lain juga ada yang mendapat pelimpahan wewenang di Madinah. Lalu apa bedanya dan dimana letak keutamaan yang anda maksudkan. Kalau anda bilang sahabat-sahabat lain tidak mendapat penyerupaan, hakikatnya sama saja karena anda mengatakan bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah dan para sahabat yang dimaksud imem itu telah mendapatkan pelimpahan ini. Lantas dimana keutamaan yang anda maksud?

    Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.

    Hadis Rasulullah SAW yang saya tulis di atas adalah sebaik-baik bukti bahwa pembatasan anda keliru. Rasulullah SAW mengatakan Imam Ali Khalifah bagi setiap mukmin Setelah Beliau SAW. Silakan kalau mau menolak

    Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas,

    Ada kok Mas, coba jawab keutamaan Hadis Manzilah itu apa bagi Imam Ali?.

    justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.

    Ini ngomongin siapa ya 🙄 .Saya pribadi mengakui bahwa sahabat Nabi memiliki keutamaan tetapi saya tidak pernah menganggap keutamaan mereka adalah hujjah yang membuat mereka selalu benar atau membuat mereka tidak layak untuk dikritik jika melakukan kesalahan.

  53. @ Ineem…

    coba anda sebutkan nalar/logika anda utk kutipan kata dalam hadits dibawah ini.

    وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

    Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu

    bagaimana akal anda menterjemahkan….
    sekali akal anda bukan tape recorder yah….

    monggo

  54. @antirafidhah

    Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas, justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.

    Keutamaan yg anda maksudkan ini, antara Imam Ali dan sahabat lain, apakah sama, yakni senada dengan hadits Manzilah di atas?

    Jika demikian, apakah maksud anda Nabi saw memberi isyarat mengenai siapa khalifah Beliau setelah kepergian Beliau disampaikan kepada lebih dari 1 orang (beberapa sahabat?). Serta membiarkan isyarat tsb terus menjadi pertanyaan yg membingungkan umat Beliau? Sehingga demi menolak klaim ketidak-konsistenan anda, anda ingin melemparkan ketidak-konsistenan itu pada diri Nabi saw?

    Mohon penjelasannya.

    Salam

  55. Allahumma sholli ala mauhammad wa ala aali muhammad

    sungguh bukan mata ini yang buta
    juga bukan telinga ini yang pekak
    apalagi mulut yang sudah menambah perih
    tapi butanya hati telah terkunci……….

    Kemanakah engkau berpaling
    Bagaimana manusia bisa kembali
    Kenapa kerusakan muncul beriring
    Sampai kapan insan mati terbaring

    Padahal cahaya didepan mata
    Cahaya di atas cahaya
    Cahaya dalam dinding semisal kaca
    Yang minyaknya pun hampir bercahaya

    Inilah cahaya redup lilin semalam
    Ragu mendampingi dunia tak dihalau pergi
    Sebab ulah perayu dan nafsu
    Tersirat mulai awal hingga penantian tak kekal

    Tapi mengapa insan ini buta
    Mata di kepala tidaklah faedah
    Mata hati tak perlu dikata
    Malang nian kegelapan meraja

    Namun bagaimana manusia tak resah
    Sebab tersebar dalam kitab pusaka
    Dan terdengar dari mulut yang dijaga
    Bahkan sederhana dalam logika

    Bahkan kaca itu nyata
    Yang seperti hati bagi AlMustafa
    Dan laksana nurani untuk Al Murtadha
    Pemimpin muslimah se-alam raya

    Mendekatlah agar engkau tersiram minyaknya
    Supaya terbuka akal dikepala
    Dan berdenyut jantung serta nadi
    Dan nanti engkau tak akan lari

    Bukankah mereka cahaya dari Sang Maha Cahaya
    Tidakkah Sang Maha Cahaya cukup bertitah
    Bahkan titahnya penyebab keindahan sementara
    Yang sementara pun manusia terlena

    Wahai… mengapa bayangan telah menyesatkan anda
    Kenapa tipudaya hampir-hampir mematikan beta
    Apakah tak cukup akal dari Sang Maha
    Bagaimana nafsu dan setan menjelma serupa

    Cukuplah perumpamaan bahtera Nabi-Nya
    Jelaslah permisalan Musa dan saudaranya
    Berterima kasihlah akan Nabi dan sepertinya
    Malulah pada wakil Tuhan di kapal Nuh

    Tak terkata namun tak mau membaca
    Tak terhitung tapi tidak pernah merenung
    Tak terlukis tetap saja terus mengiris
    Tak terpikir malah mulut meringis

    Merekalah tinggaln terbaik
    Yang puncaknya kekasih Ilahi
    Yang pemimpinya pintu kota ilmu
    Yang sayyidahnya laksana kunci
    Yang mutjabanya insan surgawi
    Yang syuhadanya pengawal perubahan nurani

    Merekalah sang itrah
    Yang dipuji oleh Sang Maha Terpuji
    Yang diagungkan oleh Yang Maha Agung
    Yang disucikan oleh Yang Maha Suci
    Yang dibenarkan oleh Sang Maha Benar

    Merekalah guratan paku bahtera Nuh
    Yang disebut-sebut dalam doanya Adam
    Yang disholawati oleh Pencipta seluruh alam
    Yang diujikan buat manusia tuk menyinari malam

    Namun wahai dimana mereka sekarang
    Adakah mereka dalam harimu duhai insan
    Munculkah mereka dalam doamu wahai jalang
    Atau masih kenalkah diri pada mereka …..makhluk yang malang

    Dimanakah mereka dalam hidupmu kawan
    Kemanakah engkau tanpa mereka wahai yang hilang
    Siapakah yang engkau ikuti saudaraku sayang
    Sampai kapan ini berakhir jembalang!

    Bukankah akal ditinggikan oleh Yang Maha Tinggi
    Namun dihinakan oleh makhluk hina
    Bukankah hatimu karunia dari Yang Maha Halus
    Namun diselubungi oleh setan terhunus

    Atau….
    Mungkinkah mereka bungkam
    Hingga tiada dikenal oleh para penikmat zam-zam
    Kecuali cerita penghibur ditepi malam
    Hingga lilin-lilin mengalahkan mentari
    Sampai-sampai bayangan menghilangkan matahari

    Wahai diri…
    Marilah bersedih selagi maut masih menanti
    Pakailah akal dan nurani supaya tidak dimurkai
    Lihatlah bagaiman setan-setan menari
    Dalam sejarah yang seperti mimpi
    Dalam bingkaian yang telah terpatri
    Dalam dogma yang tidak pasti
    Dalam liang lahat yang merajai sepi
    Dalam malam yang gelap tak bertepi
    Selagi cahaya mereka masih menyinari
    Dalam dekapan Al Mahdi

  56. @ape
    Subhanallah. Allahumma Shalli ala Muhammad wa alihi wa ahlulbaiti thaiibina thaahirini wa itrahti wal aimmati maksumina min allaadihi
    Sungguh luar biasa syair anda. Wasalam

  57. وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

    Engkau sebagai KhalifahKu untuk
    setiap mukmin setelahKu

    Arti “setiap mukmin” apa yah? Apakah masyarakat madinah saja? Apakah yang ikut perang tabuk tidak masuk dari lafadz “كل مؤمن” ? Terus kita masuk gak yah? Mohon pencerahannya!

  58. Ga ngerti bhs Indonesia kali, :mrgreen:

  59. @blockquote>
    وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

    Engkau sebagai KhalifahKu untuk
    setiap mukmin setelahKu

    Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu? 😆

    atau kalau mau ditafsirkan setelah Rasulullah wafat, ya bisa aja, bukankah Imam Ali memang telah menjadi Khalifah setelah Rasulullah wafat, yaitu khalifah ke 4 setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman… 😛

    Tetapi kalau kalian memahami bahwa khalifah yg dimaksud di atas adalah khalifah pertama setelah Rasulullah wafat haruslah Imam Ali, berarti kalian telah merendahkan Rasulullah, karena dalam hadits di atas disebutkan bahwa “Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan, dan ternyata pada kenyataannya yang menjadi khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, bukan Imam Ali.. maka mau ga mau pemahaman tsb adalah keliru dan pendapat di atas-lah yang benar sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh bung Imem, bahwa yg dimaksud khalifah dlm hadits di atas adalah khalifah/pengganti Rasulullah untuk sementara di Madinah di saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.

  60. Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar… dan hadits tersebut telah terbukti kebenarannya bahwa ternyata Abu Bakar-lah kemudian yang dikehendaki oleh Allah menjadi Khalifah Rasulullah dan dibai’at oleh seluruh kaum mukminin saat itu termasuk oleh Imam Ali sendiri…

    Saran saya kepada anda-anda sekalian… terimalah kenyataan yang ada dengan ikhlas, Ikutilah Imam Ali, beliau saja telah membai’at 3 khalifah sebelumnya.. beliau membai’at Abu Bakar, kemudian beliau membai’at Umar dan sebelum Umar wafat, beliau pun bersedia dipilih sebagai anggota formatur pemilihan khalifah pengganti Umar, dan ketika terpilih Utsman beliau pun membai’at Utsman… selama 3 periode kehalifahan ato 24 thn lebih beliau tetap konsisten dengan sikapnya tersebut… ya itu kalo kalian memang benar-benar pengikut beliau, tetapi kalo hanya di bibir aja saya maklum kalo kalian ga mau meneladani beliau bahkan menselisihi beliau… tapi ga ada paksaan kok…

  61. Engkau sebagai KhalifahKu untuk
    setiap mukmin setelahKu
    Yaitu Imam Ali adalah khalifah bagi siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT selepas Rasulullah SAW wafat. kata Kullu adalah kata yang bersifat umum mencakup semua, jika yang dimaksud mu’min, maka semua orang beriman tanpa terkecuali, kata mimba’di kata yang digunakan dalam bahsa arab untuk menunjukkan selepas Rasulullah SAw wafat.
    Perkataan mimba’di juga tidak bisa ditafsirkan setelah khalifah ke-3 karena kata mimba’di berkonsekuensi tepat setelahnya
    logika antirafidhah salah, perkataan Rasulullah memiliki banyak dimensi termasuk dimensi syariat artinya keniscayaannya bersifat tasyri bukan takwini, misalnya ketika Rasulullah SAW bersabda “aku tinggalkan dua hal yang kalau kamu pegang tidak tersesat” kemudian jika pada akhirnya banyak umat yang tersesat bukan berarti Rasulullah keliru, karena perkataan ini berifat tasyri, keniscayaan berlaku jika disertai ketaatan. Banyak sekali sabda Rasulullah yang seperti ini, perkataan Rasulullah sangat jelas dan hanya penentang yang selalu ingkar
    banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka, kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog

  62. banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka, kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog

    Apakah anda masukkan juga Imam Ali termasuk yang menentang Rasul? karena beliau telah berbai’at kepada ke 3 khalifah sebelum beliau? dan beliau pun turut berperan dalam pemerintahan ke 3 khalifah tsb?
    apakah menurut anda Rasul telah gagal mendidik umatnya? padahal jelas-jelas Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan memenangkan agama ini di atas agama-agama yang lain, dan ternyata orang-orang yang anda anggap menentang Rasul itulah yang Allah kehendaki untuk memenuhi janji-Nya tersebut… buka mata, buka hati, lihatlah kenyataan yang terjadi, buanglah virus rafidhah yg ada pada diri anda, supaya mati anda tenang dg tidak membawa warisan dendam dari musuh2 Islam yang telah dikalahkan pada masa lalu…

    anda hanya memahami hadits tsb secara tekstual dg mengabaikan asbabul wurudnya.. ya silahkan saja.. tidak ada paksaan kok…

  63. @ape
    syairnya bagus 🙂

    @aburahat
    yup

    @ubibakar

    Arti “setiap mukmin” apa yah? Apakah masyarakat madinah saja? Apakah yang ikut perang tabuk tidak masuk dari lafadz “كل مؤمن” ? Terus kita masuk gak yah? Mohon pencerahannya

    artinya semua mukmin kok, Rasulullah SAW tidak memberikan batasan yang membatasi keumumannya. Oleh karena itu hadis ini bisa dibilang tidak bisa ditakwil yang macam-macam kecuali malah akan merusak teks hadisnya atau struktur bahasa arab yang terkandung di dalamnya. Saya akanberbagi cerita sedikit dengan anda, banyak para penulis yang menolak Syiah seperti Ali As Salus ketika disodorkan kepada mereka hadisGhadirkum mereka menolak bahwa kata mawla diartikan khalifah karena dalam hadis tersebut tidak ada isyarat yang menunjukkan itu terjadi selepas Rasulullah kecuali jika teks hadisnya memuat kata-kata “setelahku”. Anehnya setelah disodorkan kepada mereka hadis yang memuat kata Khalifah dan kata “setelahku” mereka hanya bisa menolak hadis tersebut dan berkeras mendhaifkannya. Artinya mereka sendiri memahami konsekuensi berat dari arti hadis tersebut yang menyalahi takwil mereka terhadap hadis Ghadirkum.

    @Nomad
    lebih tepatnya gak ngerti bahasa Arab 🙂

    @antirafidhah

    Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu?

    Sesuatu yang sudah jelas malah anda buat kabur, hadis di atas tidak ada kata-kata “di Madinah” dan “pergi untuk perang Tabuk”. Itu yang sangat jelas, dan tidak terlihat oleh anda 🙂

    sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan,

    Setuju tapi penerapan anda keliru, saya misalkan saja Banyak Nabi yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Nabi tetapi ternyata kaum Nabi tersebut mengingkarinya dan menolak kenabian. Padahal yang menetapkan Kenabian itu adalah Allah SWT. Nabi tersebut tetaplah Nabi dan yang ingkar atau menolak kenabian tetap ada. Padahal penetapan Allah SWT merupakan suatu keniscayaan. silakan direnungkan analogi yang saya tampilkan.

    @imem

    Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar…

    Yah begitulah anda, dalil yang jelas anda paksakan kabur yang kabur anda paksakan jelas. Contohnya hadis yang anda bawa, sedikitpun tidak bicara soal kekhalifahan dan ngomong-ngomong bagaimana kalau orang lain berkata hadis itu terbatas waktu itu saja dan tidak berlaku selepas Rasulullah SAW wafat. Nah lho

    @Imam

    Yaitu Imam Ali adalah khalifah bagi siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT selepas Rasulullah SAW wafat. kata Kullu adalah kata yang bersifat umum mencakup semua, jika yang dimaksud mu’min, maka semua orang beriman tanpa terkecuali, kata mimba’di kata yang digunakan dalam bahsa arab untuk menunjukkan selepas Rasulullah SAw wafat.

    setuju lafaz kullu dalam bahasa arab bersifat umum dan hanya bisa dibatasi dengan adanya istitsna’

    logika antirafidhah salah, perkataan Rasulullah memiliki banyak dimensi termasuk dimensi syariat artinya keniscayaannya bersifat tasyri bukan takwini, misalnya ketika Rasulullah SAW bersabda “aku tinggalkan dua hal yang kalau kamu pegang tidak tersesat” kemudian jika pada akhirnya banyak umat yang tersesat bukan berarti Rasulullah keliru, karena perkataan ini berifat tasyri, keniscayaan berlaku jika disertai ketaatan. Banyak sekali sabda Rasulullah yang seperti ini, perkataan Rasulullah sangat jelas dan hanya penentang yang selalu ingkar

    Penjelasan yang sangat baik, ah saya ingat pernah diskusi dengan orang-orang yang logikanya keliru seperti ini tapi waktu itu diskusinya soal Iradah Allah SWT. Mereka menggunakan logika keliru karena mereka tidak mengetahui bahwa Iradah Allah SWT ada yang berupa Iradah Takwini dan ada yang Iradah Tasyri’.

    banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka,

    Karena manusia itu bermacam-macam, apalagi masalah sensitif seperti ini, sangat sulit ada orang yang mau mengakui bahwa apa yang ia yakini keliru dan orang lain yang benar, walaupun telah disodorkan kepadanya perkataan Rasulullah SAW. sayang sekali

    kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog

    Terimakasih juga sudah berkomentar 🙂
    Salam kenal

  64. Apakah anda masukkan juga Imam Ali termasuk yang menentang Rasul? karena beliau telah berbai’at kepada ke 3 khalifah sebelum beliau? dan beliau pun turut berperan dalam pemerintahan ke 3 khalifah tsb?

    anda memandang remeh persoalan, kita harus berpikir runtut terlebih dahulu. Imam Ali berbaiat kepada khalifah pertama setelah 6 bulan artinya pada awalnya Imam Ali tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar kemudian Beliau berbaiat semata-mata untuk kepentingan Agama Islam yang saat itu mendapat rongrongan dari pihak luar, oleh karena itu Imam Ali mengambil sikap bijak untuk meredakan penentangan internal yang pasif untuk menstabilkan keadaan. Bukan berarti Imam Ali menentang Rasul SAW karena beban ketaatan justru dilimpahkan kepada umat apakah mereka mau menerima Imam Ali sebagai Khalifah ataukah tidak, sikap Imam Ali yang tidak memberontak menunjukkan kebijakan Beliau

    apakah menurut anda Rasul telah gagal mendidik umatnya?

    Anda juga tidak berpikir luas, bayangkan ada seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya 100 macam ilmu, murid-muridnya paham yang 90 tetapi gak paham yang 10 padahal yang 10 itu sangat penting. Bahkan guru itu telah menjalskan dengan gamblang 10 ilmu itu tetapi murid-muridnya tidak mau menerima, mereka cukup dengan yang 90. Jelas ini bukan salah atau kegagalan guru tetapi kegagalan murid untuk mentaati gurunya.

    buanglah virus rafidhah yg ada pada diri anda, supaya mati anda tenang dg tidak membawa warisan dendam dari musuh2 Islam yang telah dikalahkan pada masa lalu…

    buanglah virus nawasib pada diri anda, karena membenci Ahlul Bait dengan menolak keutamaannya dapat menghapus amalan anda

    @Secondprince
    terimakasih tanggapannya, saya pribadi mereguk banyak ilmu di blog ini, Insya Allah saya akan terus mengikuti blog ini jadi tetaplah menulis

  65. Allah berfirman dalam Surah Al Anbiya 73 : ” Dan Kami menunjuk mereka itu sebagai pemimpin2 yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan kami WAHYUKAN kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksankan Shalat dan menunaikan zakat dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”

    Menurut ayat tsb diatas bahwa pemimpin2 yang akan memimpin UMAT Allah berdasarkan PETUNJUK Allah.
    Siapakah yang ditunjuk Allah menjadi pemimpin melalui Rasul?
    Dan siapakah yang mengusai ILMU Allah sehingga bisa memimpin hamba2nya yang mukmin?
    Saya akan bawakan beberapa Hadits berdasarkan REFERENSI Suni

    1.Rasulullah bersabda: ” Jikalau engkau ingin melihat keteguhan dalam diri Nabi Nuh, ilmu pengetahuan Nabi Adam, kemurahan Nabi Ibrahim, kecerdasan Nabi Musa dan ketaatan Nabi Isa, lihatlah Ali b. Abi Thalib. ( Shahih Bahaiqi, Musnad Ahmad ibn Hambal sebagai mana dikutipnya; Syarh Ibnu Abil Hadid jil. 2 hal. 449;
    Tafsir al-Kabir, Fakhruddin Razi jil 2 hal.288 dll)

    2.Salman Alfarisi meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda ” Aku dan Ali berasal dari cahaya yang sama dalam genggaman Allah empat belas ribu tahun sebelum Ia menciptakan Adam,. Ketika Allah mrenciptakan Adam, Ia membagi cahaya itu menjadi dua bagian, satu adalah cahayaku dan satu adalah cahaya Ali ” ( Mizan Al-I’tidal, Dzahabi jil I hal. 235; Fadha’il ash Shabah, Ahmad Hanbal jil.2 hal. 663 dll)

    3.Anas b. Malik meriwayatkan, ” Ketika kemtian Abubakar semakin dekat, Abubakar berkata bahwa ia mendengar Rasulullah berkata: ” Sebuah rintangan menghadang dijembatan SIRATH al-MUSTAQIN. Tidak ada seorangpun yang dapat melintasinya kecuali dengan izin Ali b. Abi Thalib. Aku jga mendengar sabda Rasulullah, Aku adalah penghulu para Nabi dan Ali adalah penghulu para pemimpin.”( Tarikh Khatib Baghdadi jil.10 hal.356; as Sawa’iq al- Muhriqah, Ibnu Hajar bab 9 sub jil 2 hal.195 )

    4. Umar bin Khattab berkata: ” Apabila seluruh planeet dan tujuh lapis langit diletakkan pada sebuah sisi timbagan dan ke imanan Ali pada sisi yang lain, sisi timbangan Ali akan memberati”.

    Dengan bukti2 ayat serta hadits tersebut menunjukan betapa tinggi derajat Imam Ali.
    Dan masihkah ada yang membatah bahwa Imam Ali as
    yang harus menjadi pimpinan umat setelah Rasul? Wasalam

  66. Salam
    @ Abu rahat

    Dengan bukti2 ayat serta hadits tersebut menunjukan betapa tinggi derajat Imam Ali.
    Dan masihkah ada yang membatah bahwa Imam Ali as
    yang harus menjadi pimpinan umat setelah Rasul?

    ada…para Nashibi, contohnya sdh ada disini, para pengekor Bani Ummayah, termasuk pengekor Ibn Tai-miyah !

    Wassalam

  67. @bagir
    Ada yang mengatakan bahwa: Bukti bahwa Allah meridhai Abubakar menjadi Khalifa, sehingga ia menjadi khalifa begitu juga Umar

    Apakah mereka tidak pernah membaca Alqur’an dimana ada Firman Allah yang mengatakan, Apabila Aku hendak menyesatkan sesuatu kaum/orang maka aku tambahkan keinginan mereka, sehingga mereka tersesat. Terkecuali mereka mendapat petunjukKu dan sadar.
    Mereka yang gila akan harta. Allah tambahkan harta mereka
    Mereka yang ingin kekuasaan Allah berikan kekuasaan.
    Sangat banyak firman2 Allah mengenai YUDILU MAN YASYAA WA YAHDII MAN YASHAA
    wASALAM

  68. anda memandang remeh persoalan, kita harus berpikir runtut terlebih dahulu. Imam Ali berbaiat kepada khalifah pertama setelah 6 bulan artinya pada awalnya Imam Ali tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar kemudian Beliau berbaiat semata-mata untuk kepentingan Agama Islam yang saat itu mendapat rongrongan dari pihak luar, oleh karena itu Imam Ali mengambil sikap bijak untuk meredakan penentangan internal yang pasif untuk menstabilkan keadaan. Bukan berarti Imam Ali menentang Rasul SAW karena beban ketaatan justru dilimpahkan kepada umat apakah mereka mau menerima Imam Ali sebagai Khalifah ataukah tidak, sikap Imam Ali yang tidak memberontak menunjukkan kebijakan Beliau

    Ah asumsi lagi.. seperti tau isi hati Imam Ali aja.. yang jelas dalam riwayat sunni tidak sepatah pun alasan seperti itu terucap dari bibir Imam Ali, yang ada beliau mengakui keutamaan para pendahulunya tersebut, dan itu sangat jelas jika anda juga mau mengakui hadits2 sunni yang lain, bukan hanya yg sesuai dg nafsu anda saja.. apapun alasannya Imam Ali telah berbai’at kepada Abu Bakar, dan sepengetahuan saya Imam Ali telah membai’at dua kali, yang pertama bersama dg kaum muslimin di hari kedua ato ketiga setelah Rasulullah wqafat dan yang kedua setelah 6 bulan berikutnya beliau perbaharui bai’at beliau kepada Abu Bakar untuk menepiskan keraguan kaum muslimin terhadap bai’at beliau yg pertama disebabkan perbedaan pendapat antara istri beliau (Fathimah) dengan Abu Bakar dalam masalah warisan..

    Kemudian ketika Abu Bakar wafat, digantikan Umar dan beliaupun membai’atnya, bahkan beliau pernah diserahi kepemimpinan di Madinah ketika Khalifah Umar pergi ke Palestina. dan beliaupun bersedia menjadi anggota tim formatur pemilihan khalifah selanjutnya dan membai’at khalifah yang terpilih yaitu Utsman.

    Sebenarnya andalah yang meremehkan dan meragukan ketulusan Imam Ali dalam bai’at beliau kepada pendahulunya, seolah-olah Imam Ali mempunyai sifat dua muka selama 24 tahun lebih, padahal Imam Ali sangat jauh dari sifat seperti itu, berhati-hatilah anda dalam berucap! …

    perhatikan hadits berikut ini, yang menunjukkan bahwa Imam Ali tidak pernah merasa beliau ditunjuk oleh Rasulullah menjadi khalifah sesudah Rasulullah wafat :

    Dari Abdullah Ibnu Abbas, bahwa Ali bin Abi Thalib Ra. keluar dari rumah Rasulullah SAW ketika Nabi sedang sakit menjelang wafat. Orang-orang bertanya kepada beliau: “Hai Aba Hasan (Ali bin Abi Thalib), bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Beliau (Ali) menjawab: “Alhamdulillah, beliau baik.” Tangan Ali kemudian dipegang oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi dan Ali), ia berkata: “Demi Allah, setelah tiga hari ini kamu akan menjadi ‘hamba tongkat’ (diperintah orang lain). Demi Allah, aku tahu wajah anak turun Abdul Muthalib menjelang wafat mereka (Rasulullah akan segera wafat). Ayo kita masuk kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kepada beliau siapa yang akan memerintah? Apabila diserahkan kepada kita, maka kita akan tahu dan kalau kepada orang lain pun kita akan tahu, atau kita minta agar beliau mewasiatkan kepada kita.”
    Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)

    Kisah ini diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq dari az-Zuhri dg makna yg sama. Dan dlm riwayat ini disebutkan, “Maka keduanya masuk menemui Rasulullah ketika beliau akan meninggal, di akhir riwayat disebutkan, “Wafatlah Rasulullah pada waktu dhuha setelah matahari meninggi pada hari itu. (Tarikh Ibnu Hisyam 2/654)

    Ibnu Katsir berkata, “Peristiwa itu terjadi pada hari Senin yaitu pada hari wafatnya Rasulullah. Dan ini menunjukkan bahwa ketika beliau wafat beliau tidak meninggalkan wasiat siapa yang menjadi pemimpin setelah beliau. (Al-Bidayah wan Nihayah)

    Maka saya lebih percaya hadits di atas 100% dr pada asumsi anda di atas.

    Anda juga tidak berpikir luas, bayangkan ada seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya 100 macam ilmu, murid-muridnya paham yang 90 tetapi gak paham yang 10 padahal yang 10 itu sangat penting. Bahkan guru itu telah menjalskan dengan gamblang 10 ilmu itu tetapi murid-muridnya tidak mau menerima, mereka cukup dengan yang 90. Jelas ini bukan salah atau kegagalan guru tetapi kegagalan murid untuk mentaati gurunya.

    Anda lupa bahwa Allah memenuhi janji-Nya adalah dengan mereka2 yg anda anggap menentang Rasul.

    buanglah virus nawasib pada diri anda, karena membenci Ahlul Bait dengan menolak keutamaannya dapat menghapus amalan anda

    Dimana letak kalimat saya yang membenci ahlul bait dan menolak keutamaannya? saya sih ga ambil pusing dg tuduhan anda, Allah yg lebih tau isi hati saya drpd anda.. so silahkan saja.. kagak ngaruh.. wuakakakak…

  69. @inem
    Anda mengatakan bahwa imam Ali 5 bln baru membaiat Abubakar. Benar. Tapi mengapa? Tapi itu bukan menjadi TOPIK pembicaraan disini.
    Yang kita bicarakan disini bukan soal senang/ tidak Imam Ali atas jabatan khalifa dikup Abubakar.
    Yang persoalannya adalaqh SIAPA YANG BERHAK MENJADI KHALIFA PASCA RASUL.
    Kemudian Imam Ali membaiat, itu menunjukan AKHLAK YG MULIA.
    Imam Ali as Iman dan ilmunya sangat dalam. Ia mengetahui apa yang Allah kehendaki dengan kejadian ini.
    Kalau tidak NERAKA nangis kekurangan umat.

  70. benar seperti yg @ sp bilang para nashibi mengaburkan sesuatu yg sudah jelas begini
    Kemudian mereka menyandarkan hujjah mereka pada hadits yg meragukan bahkan dhoif
    Sekalipun utk membatalkan hadits yg shohih.. Walaupun sudah tahu/diberitahu argument hadits mereka lemah
    Kalo yg kayak gini sih sudah jelas kenashibi annya.
    Mau nyumpet dgn argumentasi apapun juga. Semua org bisa melihat
    Saya doakan anda dan saya diberi hidayah

  71. @all
    Hadits HR BUKHARI yang disalin oleh sdr inem bagian terakhir berbunyi:”Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Bukhari)
    Apakah ini orang2 yang memuliakan Imam Ali sa
    Hadits ini sama dengan kata2 mereka Rasulullah bermuka masam (ABASAA).
    Pantaskah akhlak mereka yang mulia berakhlak demikian

    @ inem
    Tentu anda juga percaya 100% yang dalam Shahih Bukhari hadits 2.423 dan 4619 yang dirawayatkan oel Abu Hurairah, bahwa waktu Malaikat Maut datang menjemput atau mengambil nyawa Nabi Musa, Nabi Musa lalu menampar Malaikat Maut dengan keras sehingga satu matanya terlepas
    Pasti anda akan berdali itu benar kejadiannya. Sungguh hebat Nabi Musa. Wasalam

  72. Nashibi kayak Abunawas, yang Mudah di persulit, yang sulit yah tambah di bikin sulit….

    damai..damai.

  73. Mr. Nashibi

    Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, APABILA kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau MENOLOAKNYA, maka ORANG-ORANG selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.”

    Menunjukkan tidak ada kelanjutan apakah Rasul sww memberikan wasiat apa tidak..Hmmm…dan kenyataan tidak ada penolakan dari Rasul saww..mana penolakan beliau saww..?? Imam Ali (as) tidak meminta hal itu…tapi RASUL SAWW yang akan memberikannya tanpa diminta..!

    “Maka keduanya masuk menemui Rasulullah ketika beliau akan meninggal, di akhir riwayat disebutkan, “Wafatlah Rasulullah pada waktu dhuha setelah matahari meninggi pada hari itu.

    tetap aja ga ada penolakan dari Rasul saww..! dan tidak ada permintaan dari Imam Ali (as)…krn ud jelas bagi siapapun siapa “Mawla” mukmin setelah Rasul (saww)..kecuali yang munafik2 yg pura2 ga tau atau ga mau tau..!

    Lalu muncul :

    Ibnu Katsir berkata, “Peristiwa itu terjadi pada hari Senin yaitu pada hari wafatnya Rasulullah. Dan ini menunjukkan bahwa ketika beliau wafat beliau tidak meninggalkan wasiat siapa yang menjadi pemimpin setelah beliau.

    Udah dibilangin yang bau tetep bau..! lht pengakuan UMAR..! : (ud pernah baca ini khan..di tempat Ibnu Jakfari ….dari An Nidham As Siyasi: 142 ) :

    http://jakfari.wordpress.com/2009/06/24/lima-belas-bukti-palsu-khilafah-abu-bakar-6/

    Ini dari blog Ibnu Jakfari :

    Umar: Hai Abdullah jawablah dengan jujur, apakah Ali masih menyimpan di hatinya anggapan bahwa ia lebih berhak dalam jabatan khilafah ini?

    Ibnu Abbas: Ya, benar.

    Umar: Apakah ia mengklaim bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai Khalifah?

    Ibnu Abbas: Ya, benar, bahkan aku tanyakan tentang penunjukan itu kepada ayahku dan ia pun membenarkan.

    Umar: Aku tahu, bahwa ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Rasulullah, dan ketika beliau di hari–hari akhir ingin menunjuknya dengan nama terang, maka aku halangi beliau.”

  74. @bagir
    Bagaimana Rasul harus menolak Imam Ali as sebagai Khalifa?
    Allah yang memerintahkan melalui Rasul menunjuk Imam Ali as sebagai Khalifah.
    Jadi menurut saya kata2 terakhir yang disampaikan sdr inem
    tidak benar. Kata2 itu rekayasa mereka2 untuk menghilangkan kepimpinan Imam Ali. Dan sdr inem percaya 100%. Karena hadits tsb diriwayatkan oleh Bukhari.
    Makanya saya bawakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam SHAHIH BUKHARI, mengenai Nabi Musa menampar Malaikat Maut
    Yang saya heran atas hadits tsb adalah Nabi Musa berjasad menampar malaikat yang dari cahaya dan juga rupanya Nabi Musa tidak tahu bahwa Malaikat adalah utusan Allah. Wasalam

  75. @nasibi a.k.a wahabi

    Bagaimana anda mentakwilkan hadis berikut pula ya:

    Narrated Al-Aswad: In the presence of ‘Aisha some people mentioned that the Prophet had appointed ‘Ali by will as his successor. ‘Aisha said, “When did he appoint him by will? Verily when he died he was resting against my chest (or said: in my lap) and he asked for a wash-basin and then collapsed while in that state, and I could not even perceive that he had died, so when did he appoint him by will?”

    v4,book55( The book of Wasaya), chapter1, hadith 2741,page16

    Terjemahannya:

    Al Aswad meriwayatkan, dalam kehadiran Aisyah, ada sahabat yang mengatakan bahawa Nabi saaw telah melantik Ali sebagai pengganti. Aisyah lalu berkata, ‘Bilakah Rasul melantik beliau secara wasiat? Sungguh, beliau wafat saat bersandar di dadaku (atau pangkuanku) dan beliau meminta bejana air dan wafat dalam keadaan begitu, dan aku tidak mengetahui bahawa beliau telah wafat, lalu bilakah beliau berwasiat?’

    Utk onlinenya bisa dirujuk di sini http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/h…tml#004.051.004

    Bukankah hadis ini menunjukkan adanya wasiat Rasul saaw?

    Penolakan Aisyah bukanlah hujjah, kerna apa harus Rasul saaw berwasiat saat berada pada pangkuannya aja?

    Tambahan pula hadis ttg wafatnya Rasul di pangkuan Aisyah bertentangan dgn hadis wafatnya Rasul di pangkuan Imam Ali as oleh Ummu Salama dan Jabir bin Abdullah al Ansari.

    Salam

  76. @ Aburahat

    betul mas apa yg anda sampaikan..

    Allah yang memerintahkan melalui Rasul menunjuk Imam Ali as sebagai Khalifah

    hanya beda penulisan tp makna hampir sama dg yg saya maksud ketika menulis :

    Imam Ali (as) tidak meminta hal itu…tapi RASUL SAWW yang akan memberikannya tanpa diminta.

  77. @aburahat

    Maaf, MAS TELAH MELAKUKAN KEKELIRUAN BERULANGKALI

    Ybs namanya Imem. Bukan Inem. Imem itu logat Betawi dari kata Imam. Sedangkan Inem entah muncul darimana. Itu hanya asumsi dari mas sy kira.

    :mrgreen:

    Salam

  78. wah…iconnya ga muncul…?

  79. @Imem
    Maaf salah menulis nama anda. Saya tidak sengaja. Mata saya yang kurang awas. Untung ada peringatan dari sdr armand.
    Terima kasih

  80. Terimakasih kepada pemilik blog ini saya mendapatkan banyak manfaat….. jazakumullah ..

  81. @bagir

    Ini dari blog Ibnu Jakfari :

    Umar: Hai Abdullah jawablah dengan jujur, apakah Ali masih menyimpan di hatinya anggapan bahwa ia lebih berhak dalam jabatan khilafah ini?

    Ibnu Abbas: Ya, benar.

    Umar: Apakah ia mengklaim bahwa Rasulullah telah menunjuknya sebagai Khalifah?

    Ibnu Abbas: Ya, benar, bahkan aku tanyakan tentang penunjukan itu kepada ayahku dan ia pun membenarkan.

    Umar: Aku tahu, bahwa ia memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Rasulullah, dan ketika beliau di hari–hari akhir ingin menunjuknya dengan nama terang, maka aku halangi beliau.”

    itu sudah saya jawab bro.. tp smpai skrg msh under moderasi..

    Hah, itu oleh si Ibnu Jakfari diambil dari syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid! Sorry ye.. bukan referensi kita tuch kitab, tapi syi’ah punya! ga ada nilainya di sisi kami.. wuakakakak

    Oke kalo anda pake syarah Nahjul Balaghah, walopun kami tidak memakainya, coba perhatikan riwayat berikut ini, tentang pengakuan Imam Ali tentang sah-nya kepemimpinan Abu Bakar :

    “Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan ‘Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendu¬kung sebanyak-banyaknya’. Kemudian Ali menjawab : ‘Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada guna¬nya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam.” (Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abdil Hadid, juz I hal. 130)

  82. @hadi

    Al Aswad meriwayatkan, dalam kehadiran Aisyah, ada sahabat yang mengatakan bahawa Nabi saaw telah melantik Ali sebagai pengganti. Aisyah lalu berkata, ‘Bilakah Rasul melantik beliau secara wasiat? Sungguh, beliau wafat saat bersandar di dadaku (atau pangkuanku) dan beliau meminta bejana air dan wafat dalam keadaan begitu, dan aku tidak mengetahui bahawa beliau telah wafat, lalu bilakah beliau berwasiat?’

    Bukankah hadis ini menunjukkan adanya wasiat Rasul saaw?

    Siapa yang mengatakan itu? harus jelas dong. kalau tidak, itu berarti hanya rumor yg ada saat itu, hadits riwayat Bukhari mengenai perkataan Imam Ali yg dibawakan oleh saudara Imem di atas telah membantahnya, ditambah dg persaksian Aisyah ra.

    Ada lagi riwayat dari Imam Ali berikut ini:

    Ketika Sayyidina Ali ra akan meninggal, setelah dia dipukul dengan pedang oleh Abdurrahman bin Muljam), beberapa pengikutnya datang kepadanya dengan maksud agar Imam Ali ra mengangkat putranya yang bernama Hasan sebagai penggantinya.

    Mendengar permintaan tersebut, Imam Ali menjawab :

    لاَ اَمُرُكُمْ وَلاَ أَنْهَاكُمْ، أَتْرُكُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُول الله
    ( رواه احمد )

    “ Saya tidak akan memerintahkan atau melarang kalian. Tapi saya akan meninggalkan kalian, sebagaimana Rasulullah meninggalkan kalian”.
    ( H.R. Ahmad )

    Kata-kata Imam Ali ra diatas sebagai bukti, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat atau menunjuk seseorang sebagai penggantinya ataupun memberikan wasiat mengenai hal tsb.

  83. Saya tidak akan memerintahkan atau melarang kalian. Tapi saya akan meninggalkan kalian, sebagaimana Rasulullah meninggalkan kalian”.
    ( H.R. Ahmad )

    Benar dan Rasulullah SAW diatas telah meninggalkan untuk umatnya sabda yang mulia
    وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
    Begitulah yang ditinggalkan Rasulullah

  84. @Imam

    Artinya Imam Ali ingin mengikuti Rasulullah di saat beliau meninggalkan kaum muslimin yaitu tidak menunjuk pengganti

    Benar dan Rasulullah SAW diatas telah meninggalkan untuk umatnya sabda yang mulia
    وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
    Begitulah yang ditinggalkan Rasulullah

    Dan anehnya Imam Ali sendiri ndak merasa tuch… kok bisa ya? 😛 artinya kalian-lah yang keliru memahami hadits tsb.. makanya percaya dech ama kita 😆

  85. Banyak bukti menunjukkan Imam Ali mengklaim kekhalifahannya, salah satu buktinya adalah ketika di Rahbar Imam Ali meminta kesaksian para sahabat yang menyaksikan pengangkatan Beliau di Ghadirkum (HR Ahmad), artinya Imam Ali mengingatkan kepada Umat bahwa kekhalifahan yang dipimpin Beliau adalah khalifah pengangkatan Rasul tidak seperti khalifah sebelumnya. Rasulullah SWT telah meninggalkan bahwa Ahlul Bait yang mesti menjadi pemimpin bagi umat, begitulah hakikat hadis tsaqalain, maka dari itu Imam Ali merasa tidak perlu bicara soal penunjukkan karena Rasulullah SWT telah menunjuk Ahlul Bait sebagai pemimpin bagi umat. Seharusnya sunni sadar bahwa betapa dasar Imamah syiah bisa tegak berdiri dengan kitab-kitab referensi sunni
    kebenaran datang dan kebatilan lenyap hanya nafsu yang menari-nari membawa pengingkaran.

  86. @ Mr. Nashibi

    itu sudah saya jawab bro.. tp smpai skrg msh under moderasi..

    Tak tunggu wiiis..koyo opo tho jawabane Nashibi… 😛

    Hah, itu oleh si Ibnu Jakfari diambil dari syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid! Sorry ye.. bukan referensi kita tuch kitab, tapi syi’ah punya! ga ada nilainya di sisi kami.. wuakakakak

    Makanya dibaca lagi siapa menukil dari mana (ngerti mksdnya..?)…jangan geblek…Mu’tazili-pun jelas2 Suni..! Cuma Nashibi yg menolaknya dan mengatakan Ibn Abi Haddid adalah Syiah..! 😛

    Oke kalo anda pake syarah Nahjul Balaghah, walopun kami tidak memakainya, coba perhatikan riwayat berikut ini, tentang pengakuan Imam Ali tentang sah-nya kepemimpinan Abu Bakar :

    “Abu Sufyan mendatangi Ali AS dan mengatakan ‘Kalian dukung orang yang berasal dari marga yang terendah dikalangan Quraisy. Sungguh, kalau anda mau dicalonkan, akan kami kumpulkan pendu¬kung sebanyak-banyaknya’. Kemudian Ali menjawab : ‘Selama anda masih suka membuat onar dalam tubuh ummat Islam, tak ada guna¬nya dukungan anda itu. Kami tidak membutuhkan sumbangan ternak serta sekelompok pendukung, Andaikata Abubakar memang tidak pantas menduduki tempat itu, aku pasti tidak akan tinggal diam.”

    Pertama…

    Ente tau khan khutbah ke berapa yang disyarah..? makanya dibaca dulu, jangan asal copas artikel / buku cetakan nashibi nasibi sst yg seakan2 pas dg nafsu ente…

    Abu Sufyan si terkutuk yg ingin bani Hasyim dan kelompok Abu Bakar ataupun umar berperang dan melemahkan satu sama lainnya shg bani umayyah dapat meraih supremasi dirinya kembali atas bangsa arab. Ia hanya akan mengambil manfaat dengan kejadian saqifah…kejadian ini pas wafatnya Rasul (saww), pas orang2 pada “ngumpul” di saqifah..

    Kedua…

    Abu Sufyan datang ke rumah Imam Ali (as) dan bersajak yang memuji keluarga Nabi. Ia lalu berkata: “Wahai Bani Hasyim! Wahai Bani Abdul Manaf! Apakah kalian menerima Abu Fasil memerintah kalian? Demi Allah, jika kalian ingin, aku bersedia memenuhi kota Madinah ini dengan kuda-kuda dan pasukan.

    Imam Ali (as) menjawabnya spt ini lho Mr. Nashibi :

    “Pergilah wahai Abu Sufyan..! Demi Allah engkau tidak sungguh2 dengan apa yang engkau katakan..! Engkau selalu memperdaya Islam dan umatnya dan kami sedang sibuk dengan (pemakaman) Rasulullah saww. Dan (mereka yang berkomplot untuk merebut kursi khalifah), mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.” Syarh Nahjul Balaghah volme 6 hlmn 17 cetkn Dar Ihya Kutub al Arabiyyah, Tadzkira al Khawwash al Ummah hlmn 121 (olh ibn al Jauzi), Tarikh , al Ya’qubi vol. 2 ctkn. Beirut (Dar Sadir) hlmn 126

    Break dl sampai situ :

    Aneh ya..Abu Sufyan yang kedoknya jelas, dg latar belakang spt dia bisa tau HAK Imam Ali (as) atas Khalifah, masa sahabat2 yg lain kaga ngerti..?? Abu Sufyan ini musuh Nabi saww dan hanya menyerah selang 2 thn sebelum Nabi saww wafat dia ingin memanfaatkan situasi saat itu..mana mungkin Imam Ali (as) terkecoh dan terhasud..?? tape dweeeh..

    Sedangkan khutbahnya adalah :
    “Wahai manusia, menghindarlah dari gelombang2 bencana dengan bahtera keselamatan, berpalinglah dari jalan perpecahan, dan tinggalkanlah mahkota kesombongan”

    dan diakhir khutbahnya Imam berkata :

    “Jika aku berbicara (demi menuntut hakku), mereka berkata, ia haus kekuasaan.” Dan bila aku berdiam diri, mereka berkata, “Ia takut mati.” Tidak, tidak sama sekali, setelah kekisruhan itu. Demi Allah, ini putra Abu Talib lebih bergembira terhadap kematian melebihi kegemibraan seorang anak yang menyusu pada ibunya!”
    —-
    Yang seakan2 sesuai dengan nafsu anda, apalagi cuma asal comot dari artikel2/buku cetakan para Nashibi, wah pasti anda pakai yach (walaupun bilang “ga kepake”, nyatanya ttp aja ditampilin…hihihi..) nah kalo yang spt ini mngkin ga sesuai dg nafsu ente ya..? : :mrgreen: 😛

    Ibn Abi Al Hadid :
    “Suatu ketika aku bertanya kpd Ali bin al Fariqi, guru Madrasah Maghribiyah di Baghdad, mengapa Abu Bakar tidak memberikan Fadak kepada Fatimah, sedangkan Fatimah berkata benar ..? Ia tersenyum dan berkata lembut serta bersungguh-sungguh ; ‘bila Abu Bakar menyerahkan Fadak, maka ia mengakui kejujuran dan kebenaran Fatimah. Maka apabila esoknya Fatimah datang kepadanya lagi untuk menuntut hak kekhalifahan suaminya (Ali bin Abi Thalib), maka ia (Abu Bakar) tidak akan dpt mengelak, karena ia harus konsisten dengan pengakuannya atas kejujuran dan kebenaran Fatimah. Dan hal ini akan menggoyahkan kedudukannya sebagai khalifah’. (Syarh Nahjul Balaghah jild 16 halmn 284)

  87. Mr. Bagir Ar-Rafidhi

    Tak tunggu wiiis..koyo opo tho jawabane Nashibi… 😛

    Entenono.. kanthi sabar yo mas Rofidhi… wuakakakak.. 😛

    Makanya dibaca lagi siapa menukil dari mana (ngerti mksdnya..?)…jangan geblek…Mu’tazili-pun jelas2 Suni..! Cuma Nashibi yg menolaknya dan mengatakan Ibn Abi Haddid adalah Syiah..! 😛

    Sing geblek ki kowe, mu’tazili iku dudu sunni.. wah bocah iki sekolah po ra tho yo… rodo katrok Rofidhi siji iki whe la dalah! sing jelas padang jingglang Syarah Nahjul Balaghah kuwi pegangane Syi-ah rofidhoh koyok kowe kuwi.. ora laku, ora ono sanad-e.. wis pek2 en kono wis.. aku ra butuh wuakakakak..

    Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak… yang penting di situ jelas Imam Ali mengakui kepantasan Abu Bakar jadi khalifah dengan sangat jelas sekali.. dah cukup banget itu… yg laen mah lewaaat…wuakakakak..

    Kalo mo ambil syarah Nahjul Balaghah buat pegangan sampeyan para Rofidhi , silahkan..monggo… tp buat kita ga bangeeett… wuaakakak..

  88. @all

    Menurut saya sudah jelas dlm hadis2nya Nabi saw bersabda kepada Imam Ali : “Engkau sebagai KhalifahKu untuk
    setiap mukmin setelahKu”. Kalau tidak percaya akan kebenaran hadis ini berarti ia adalah orang yg munkar kepada Al Qur’an dan As Sunnah. 😮

    Salam

  89. @all

    Menurut saya sudah jelas dlm hadis2nya Nabi saw bersabda kepada Imam Ali : “Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. Kalau tidak percaya akan kebenaran hadis ini berarti ia adalah orang yg munkar kepada Al Qur’an dan As Sunnah. 😮

    Salam

  90. Demikian pula dgn Abubakar, Umar dan Utsman yg tidak mengakui Imam Ali as sebagai khalifah setelah wafatnya Rasulullah saw, eh… malah mengangkat diri sendiri di Saqifah Bani Sa’idah, tanpa musyawarah dgn Ahlulbait Nabi saw. Jelas ke-3 orang tsb adalah orang2 yg munkar. 😦

    Salam Damai

  91. @antirafidhah

    1. Hadis2 ttg pengangkatan Imam Ali as sbg khalifah sebelum wafatnya Rasul saaw banyak diketahui sahabat, sbb itulah mereka berbicara ttgnya(walaupun dinafikan Aisyah). Kami sajikan buat anda beberapa antaranya:

    a. Bara’ bin Azib meriwayatkan, ‘Kami bersama Rasul saaw dalam sebuah perjalanan dan kami berhenti di sebuah tempat bernama Ghadir Khumm. Lalu dilaungkan azan utk shalat. Suatu tempat di antara dua pohon dibersihkan buat Rasul saaw. Baginda saaw lalu melaksanakan shalat Zuhur. Setelah itu, Baginda saaw memegang lengan Ali dan bersabda, ‘Tahukah kalian bahawa aku lebih utama terhadap jiwa orang2 beriman? Mereka menjawab, ‘Bahkan’. Periwayat berkata, sambil memegang lengan Ali, Rasul saaw bersabda, ‘Barangsiapa yg menjadikan aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya. Ya Allah, kasihilah siapa yang mengasihinya dan musuhilah siapa yg memusuhinya’. Perawi meneruskan, ‘Setelah itu Umar dtg lalu mengucapkan, ‘Tahniah wahai putera Abi Talib, anda telah menjadi wali bagi setiap mukmin pagi dan petang selamanya’

    -Musnad (4:281); melalui dua jalur
    -Ibn Abī Shaybah, al-Musannaf (12:78 # 12167)
    -Hindī, Kanz-ul-‘ummāl (13:133, 134 # 36420)
    -Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (5:167, 168)
    -Ibn Kathīr al-Bidāyah wan-nihāyah (4:169; 5:464).
    -Manāwī Fayd-ul-qadīr (6:217)
    -Dhahabī Siyar a‘lām-in-nubalā’ (2:623, 624)

    b. Ibnu Buraidah meriwayatkan dari bapanya bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku wali maka Ali adalah walinya’

    -Ahmad bin Hambal al-Musnad (5:361), Fadā’il-us-sahābah (2:563 # 947)
    -Hākim, al-Mustadrak (2:131 # 2589)
    -Ibn Abī Shaybah, al-Musannaf (12:57 # 12114)
    -Tabarānī, al-Mu‘jam-ul-kabīr (5:166 # 4968), al-Mu‘jam-ul-awsat (3:100, 101 # 2204)
    -Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (45:143)
    -Haythamī, Majma‘-uz-zawā’id (9:108)
    -Hindī in Kanz-ul-‘ummāl (11:602 # 32905).

    c. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al Ansari, ‘Saat kami berada di Ghadir Khumm di Juhfah, Nabi saaw keluar sambil memegang lengan Ali dan bersabda, ‘Barangsiapa yang aku adalah Maulanya maka Ali Maulanya’.

    – Ibn Abī Shaybah al-Musannaf (12:59 # 12121)
    -Hindī, Kanz-ul-‘ummāl (13:137 # 32433)
    -Ibn ‘Asākir, Tārīkh Dimashq al-kabīr (45:169, 170, 172)
    -Ibn Kathīr al-Bidāyah wan-nihāyah (4:173), az Dzahabi menilainya hasan.

    Para sahabat telah menyaksikan dan mendengar pengangkatan Imam Ali as tersebut…makanya mereka berbicara ttg wasiat yg dinafikan Aisyah itu.

    Penafian Aisyah ttg adanya wasiat itu tidak bisa dijadikan hujjah kerna sikap permusuhannya pada Imam Ali as telah umum diketahui.

    Badr al Din Hanafi dlm “Umdah al Qari fi Sharh Sahih al Bukhari” jilid 2 hlm 740, bab 4 “Hud ul Mareez”- menjelaskan:
    ” Aisyah, tidak tidak bisa mendengarkan apa2 yg baik ttg Ali, dan ini adalah bukti yang kukuh ttg permusuhannya terhadap Ali”.

    2. Kami sering temukan riwayat2 Imam Ali as dlm kitab Bukhari yg bertolak belakang dari apa yg dianuti Syiah ttg Imam Ali as. Namun kebanyakannya(kami percaya semuanya) yg memuji muji Syeikhein adalah palsu dan buatan musuh2 Ahlul Bayt as. Begitu juga hadis ttg Abbas meminta Ali bertanyakan ttg wasiat. Hadis ini bermasalah pada beberapa sisi:
    a. Adanya banyak hadis ttg wasiat perlantikan Imam Ali as.
    b. Bertentangan dgn pernyataan Imam Ali yg mengakui haknya ke atas jabatan khalifah (Khutbah Syiqsiqiyah)

    3. Riwayat Ahmad yg anda bawakan bahawa Imam Ali tidak mengangkat Imam Hasan as kelihatannya bercanggah dengan riwayat berikut:

    Ali ibn Ibrahim has narrated from his father from Hammad ibn ‘Isa from Ibrahim ibn ‘Umar al-Yamani and ‘Umar ibn ’Udhayna from Sulaym ibn Qays who has said the following. “I witnessed Amir al-Mu’minin Ali’s (a.s.) will made before me in which he appointed his, al-Hassan (a.s.) as the executor. He called al-Husayn (a.s.), Muhammad and all his other sons, all the leaders among his followers and his whole family to bear testimony to his will. He then delivered the Book and the Armament to his son al-Hassan (a.s.) and said, “My son, the Messenger of Allah commanded me to appoint you as the executor of my will. (He commanded me) to deliver to you my books and my Armament just as the Messenger of Allah did. He made his will in which he appointed me as the executor, delivered to me his books and his Armament and commanded me to command you to deliver them to al-Husayn (a.s.) when you will be about to leave this world. Then he turned to his son, al-Husayn (a.s.) and said, “The Messenger of Allah has commanded you to deliver them to your son, this one. Then he held with his hand Ali ibn al-Husayn (a.s.) and said to him, “The Messenger of Allah has commanded you to deliver them to your son, Muhammad ibn Ali and convey to him the Islamic greeting of the Messenger of Allah and my Islamic greeting.” (al Kafi ,The Book about People with Divine Authority, H 773, Ch. 66, h 1)

    Ali ibn Ibrahim has narrated from his father from ibn abu ‘Umayr from’’Abd al-Samad ibn Bashir from abu al-Jarud from abu Ja‘far (a.s.) who has said the following. “When Amir al-Mu’minin Ali (a.s.) was about to leave this world, he called his son, al-Hassan (a.s.) saying, ” Come very close to me so I can speak to you secretly just as the Messenger of Allah did to me and entrust you with all that he entrusted me with and he did so.” ((al Kafi ,The Book about People with Divine Authority,H 774, Ch. 66, h 2)

    Mohon dijelaskan ya.

    Salam Damai

  92. @Imem
    Anda tidak mengakui hadits2 yang shahih tetapi percaya 100% hadits yang direkayasa.
    Sampai dimana KEJUJURAN anda mengakui ILMU PENGATAHUAN?
    Anda katakan: Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak… yang penting di situ jelas Imam Ali mengakui kepantasan Abu Bakar jadi khalifah dengan sangat jelas sekali.. dah cukup banget itu… yg laen mah lewaaat…wuakakakak
    Lalu ngapain anda diblog ini? Membaca tulisan anda yang untuk PROMOSI anti Syiah?

    @antirafidha
    Anda katakan:Kata-kata Imam Ali ra diatas sebagai bukti, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengangkat atau menunjuk seseorang sebagai penggantinya ataupun memberikan wasiat mengenai hal tsb.
    Saya sudah katakan anda2 Wahabi/Salafy tdik mengerti apa yang anda2 tulis apalagi bisa mengerti mengenai hadits/riwayat. Coba anda baca benar2 yang ditulis oleh sdr Hadi.
    Yah percuma aja otak kalian tidak bisa menjangkau pengertian yang ditulis

    Untuk anda2 Wahabi/ Salafy.
    Saya akan beberkan ketidak pantasan Abubakar, Umar dan sahabat yang anda2 agungkan. Insya Allah (yang menurut imem pantas)

  93. @hadi
    Percuma saja anda jelaskan pada mereka. Sdr kita SP sudah membahas. Sampai membawakan ayat Wilayah. Tapi tetap mereka tidak mengakui.
    Bagaimana mereka mengakui kebenaran sedangkan mereka menolak kebenaran maka bagi mereka berlaku ayat:
    Khattamullah ala Quluubihim., wa ala samihim wa ala absharihim. Wasalam

  94. Sdh jelas Imem tuh Nashibi, buktinya dia ngomong :
    “Hah, itu oleh si Ibnu Jakfari diambil dari syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid! Sorry ye.. bukan referensi kita tuch kitab, tapi syi’ah punya! ga ada nilainya di sisi kami.. wuakakakak” atw yg ini “Walopun ente jelasin ampe berbusa-busa, sy ga ambil pusink… itu bukan pegangan saya, itu pegangan Rofidhoh kyk sampean.. so useless banget. wuakakakak…”

    Dia tdk mau mengakui Nahjul Balgah, padahal jangankan muslimin, orientalis saja tahu bhw Nahjul Balgah adl puncak kefasihan sayyidina Ali kw dan merupakan salah satu KEUTAMAANNYA. Hehehe….. Nashibi yg bertaqiyyah, pura 2x mencintai Ahlul Bait, tp serapi – rapinya bangkai ditutup dia sendiri yg mengeluarkan baunya !

  95. @imem

    Pada Juli 13th anda telah membawakan riwayat..: “Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar…”

    Bukankah hadis ini dari riwayat anaknya sendiri Aisyah? Tidaklah menghairankan. Lalu persoalannya:

    a. Mana wasiat yg kononnya hendak dituliskan oleh Nabi saaw agar umat tidak memperebutkan jabatan?

    b. Mengapa Abu Bakar tidak pernah berhujjah dgn riwayat anaknya ini sampai mati?

    c. Jika wasiat ini ada, lalu mengapa Abu Bakar saat akan mati, berkata dgn penyesalan:

    ‘Aku tidak menyesali sesuatu dari dunia ini, kecuali:

    1. Tiga yang kulakukan, seharusnya tidak kulakukan (laitani kuntu taraktu hunna)
    2. Tiga yang tidak kulakukan, seharusnya kulakukan (laitani kuntu fa’altu hunna)

    Tiga yang kulakukan tapi seharusnya tidak kulakukan adalah:

    1. Aku ingin agar aku tidak membuka tirai rumah Fathimah biarpun dengan demikian akan timbul peperangan.
    2. Aku ingin agar tidak membakar Fuja’ah as­Silmi. Aku seharusnya segera membunuhnya dan menghabisinya.
    3. Aku ingin pada peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, aku memikulkan beban khalifah di pundak satu dari dua orang, ‘Umar atau Abu ‘Ubaidah dan aku jadi wazirnya.

    Tiga yang tidak kulakukan dan ingin kulakukan adalah:

    1. Seharusnya kupenggal leher Asy’ats bin Qays dan tidak membiarkan ia hidup.
    2. Sebaiknya kukirim Khalid bin Walid ke Syam dan ‘Umar bin Khaththab ke Irak.
    3. Aku mestinya bertanya kepada Rasul, siapa seharusnya jadi khalifah, agar tidak akan berselisih dua orang. Kuingin bertanya apakah kaum Anshar juga berhak atas kekhalifahan ini, dan aku ingin tanyakan mengenai warisan terhadap putrinya.
    (al Imamah wa al Siyasah, Ibnu Qutaibah.

    Salam Damai

  96. @aburahat

    Benar Mas…semboyan mereka…’Bantah aja apapun yg bisa membuktikan kebenaran kekhalifahan Ali walaupun shahih dgn cara:

    a. Cari cacat riwayatnya, jika tidak bisa
    b. Takwilkan riwayat itu dgn apa cara sekalipun, jika tidak bisa
    c. Bawakan hadis2 palsu yg mengutamakan lawan2 Imam Ali…

    Salam Damai

  97. Tambah Aneh nih Diskusinya ??

    jadi intinya Imem dan AntiRafidhah ga mau mengakui keutamaan Ahlul Bayt, tapi lebih mengutamakan Sahabat.
    Dan tidak mengakui Dalil dalil yang di berikan oleh yang lain.

    Yoo Wiss,

    salam damai.

  98. Mr. Nashibi

    Nhaaaa… klhtn bgt tho “anak didikan” si Taymiyah LA…wuakakakak….wis dikandani wong geblek yo geblek..khan cuma Nashibi Wahabi sing ngomong Mu’tazili bukan suni..emange Nashibi Wahabi iku suni..??? wuakakakaka…

    makanya jgn cuma bisa copas..lht tuh copasan anda,,,sama ga isinya sm yg ada di : Tadzkira al Khawwash al Ummah hlmn 121 (olh ibn al Jauzi), Tarikh al Ya’qubi vol. hlmn 126.

    Dasar gebleeek..gebleek…jenggot pitung ler di ingu..sifat Nahibi di ingu…wuakakakak

    @ All

    Pokonya dari copasan manpun kalo sesuai dg nafsu si Nashibi ini, pst mrk pakai…klo tidak maka “singkirkan”…hihihi..lha wong asal copas artikel2 Nashibi dan ga tau isi aslinya ko sok tau…wis pokoknya mirip Si Taymiyah lah sikapnya thd Ahlul Bait (as)…hihihi..

  99. @ All

    Bagi Nashibi Wahabi apapun yang membahayakan keyakina mereka akan selalu dibuang jauh2, mereka tidak segan untuk merubah isinya pdhl itu kitab2 suni sdri..anehnya mereka ngaku2 Suni, ibarat tubuh muslim adalah satu tubuh, dan Nashibi Wahabi ini adalah kanker alias penyakit..! Syeikh Muhammad Nuri Dirtsawi dlm Rudud ‘ala Syubahaat Salafiyah hlm. 249 mengatakan :

    “Merubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.

    Jadi mo kaya apapun dijelasin kalo ga sesuai nafsu mereka..yaaah sdh taulah jwb2 nashibi di atas spt…

  100. @imem
    tolong periksakan kejiwaan anda……
    kenapa anda sering melencengkan maksud dari hadist nabi, dosa nya besar lho…… gag takut apah?

  101. @hadi

    1. Hadis2 ttg pengangkatan Imam Ali as sbg khalifah sebelum wafatnya Rasul saaw banyak diketahui sahabat, sbb itulah mereka berbicara ttgnya(walaupun dinafikan Aisyah). Kami sajikan buat anda beberapa antaranya:

    Yang menafikan bukan hanya Aisyah tetapi Imam Ali sendiri, berdasarkan riwayat yg telah saya & saudara Imem sebutkan.

    Baik, saya tambah satu lagi (masih banyak yg lain kalau anda mau)

    Dalam Shahihain diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat), maka sesungguhnya dia telah berkata dusta!” Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah :

    Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. Dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan”. (Shahih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal muwada’ah bab zimmah al-muslimin 6/273 dari Fathul Bari, Shahih Muslim Hadits no. 1370, Abu Dawud dalam al-Manasik 2/216, Musnad Ahmad 2/44)

    Sedangkan hadits Ghadir Khum yg berbunyi : “Man kuntu MAULA fa’aliyyun maula” tidaklah kami memahaminya sebagai penunjukkan khalifah atas Ali setelah Rasulullah wafat, melainkan sebagai penegasan loyalitas (sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’) kepada Imam Ali yang saat itu baru kembali dari Yaman, yang saat itu beliau adalah pemimpin rombongan tsb. Hal tsb diucapkan Rasulullah berkenaan dengan keluhan dari beberapa anggota rombongan akan kepemimpinan Imam Ali. sehingga Rasul perlu mengucapkan perkataan tersebut, agar mereka kembali loyal & ta’at kepada Imam Ali. Jadi bukan masalah penunjukkan khalifah setelah Rasulullah wafat.

    2. Kami sering temukan riwayat2 Imam Ali as dlm kitab Bukhari yg bertolak belakang dari apa yg dianuti Syiah ttg Imam Ali as. Namun kebanyakannya(kami percaya semuanya) yg memuji muji Syeikhein adalah palsu dan buatan musuh2 Ahlul Bayt as. Begitu juga hadis ttg Abbas meminta Ali bertanyakan ttg wasiat. Hadis ini bermasalah pada beberapa sisi:
    a. Adanya banyak hadis ttg wasiat perlantikan Imam Ali as.
    b. Bertentangan dgn pernyataan Imam Ali yg mengakui haknya ke atas jabatan khalifah (Khutbah Syiqsiqiyah)

    Maaf argumentasi anda tidak berdasar dan lemah. Saya telah buktikan bahwa Imam Ali sendiri membantah bahwa beliau diberi wasiat kekhalifahan setelah Rasulullah wafat berdasarkan hadits2 shahih.

    3. Riwayat Ahmad yg anda bawakan bahawa Imam Ali tidak mengangkat Imam Hasan as kelihatannya bercanggah dengan riwayat berikut:

    Al-Kafi bukan referensi kami, jadi kami menolaknya, sebagaimana yg pernah saudara Imem sampaikan, bagi kami riwayat2 syi’ah tidak bisa dibandingkan dengan riwayat2 sunni. istilah bung Imem “ga level bro” 😆

  102. @Antirafidhah

    Riwayat yang anda bawakan: Dalam Shahihain diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat), maka sesungguhnya dia telah berkata dusta!” Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah :

    Saya katakan BOHONG
    Karena bertentangan dengan Firman Allah.
    Rasul banyak berwasiat kepada keluarganya dan Imam Ali.
    Salah contoh dalam Shahih al-Bukhari hadits 9468 dan 7573, 4393, 5716 dalam Shahih Muslim dalam Kitab Al-Wasyyiah, bagian at-Tark al-Wasyyiah jil 3 hal.1259

    Rasul bersabda: “Ambilkan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan PERNYATAAN
    yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku”
    Lalu Umar b. Khattab berkata: “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau”
    Dan apakah setelah Rasul tidak jadi menulis kemudian tidak berwasiat? Apakah Rasulullah mau menentang Firman Allah sehingga wasiat yang tidak jadi ditulis itu tidak
    disampaikan pada keluarganya atau Imam Ali . Dan banyak lagi wasiat Rasul

    Dan :Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. Dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan”. (Shahih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal muwada’ah bab zimmah al-muslimin 6/273 dari Fathul Bari, Shahih Muslim Hadits no. 1370, Abu Dawud dalam al-Manasik 2/216, Musnad Ahmad 2/44)

    Coba anda jelaskan maknanya. Kalau saja anda tidak merubah isinya.

    Dan:untuk arti MAULA yabg menurut anda tidak berarti pemimpin. Itu karena anda tidak memahami Alqur’an dan tidak membaca hadits2 Rasul

    Anda2 kelompok Wahabi/Salafy hanya berasumsi atau membawa hadits palasu dengan mengatas namakan

  103. @antirafidhah

    1.Anda keliru bila menyatakan bahawa Imam Ali as menafikan wasiat kekhalifahan Nabi saaw buat beliau. Buktinya:

    a. Imam Ali as tidak mahu membaiah Abu Bakar selama 6 bulan. Bisa anda nyatakan alasan tersebut? (anda tentu ‘ahli’ dlm hal2 pentakwilan nas2 muhkamat)

    b. Dan mengapa Bani Hasyim dan sahabat2 besar spt Salman, Abu Dzar dan Zubair turut memboikot Abu Bakar bersama Imam Ali as?

    c. Imam Ali as saat di al Rahbah telah meminta kesaksian ttg sabda Nabi saaw pada Ghadir Khumm dari para sahabat yg mendengar dan menyaksikan peristiwa itu..(Imam Ahmad Al-Musnad 4: 370)

    Tidakkah aneh bahawa dgn perilaku begini…Imam Ali as menafikan wasiat atasnya?

    2. Anda mengatakan bahawa argumentasi kami ttg hadis2 Sahihain yg menyangkut pujian Imam Ali as terhadap Syeikhein adalah lemah dan tidak berdasar? Anda hanya perlu meminta bukti dari kami aja…dan akan kami persembahkan buat anda sbg tatapan

    3. Anda ingin membahaskan ttg hadis ‘Man kuntu MAULA fa’aliyyun maula’ dari segi maknanya? Baiklah, kami siap.

    MAKSUD HADIS AL GHADIR

    Utk memahami hadis ini kita harus tahu apa hal2 berikut:

    a. Apakah ada perbedaan antara kata ‘wali’ dan ‘maula’? Ini kerna kata ‘wali’ wujud dlm sesetengah hadis dan sebagian lagi wujud dgn kata ‘maula’.

    b. Jika kedua kata itu memiliki satu maksud, apakah makna ‘maula’?

    c. Apakah maksud Nabi saaw dgn kata ‘aula’ yg muncul dlm banyak riwayat yg dibicarakan?

    Kedua kata ‘wali’ dan ‘maula’ memiliki makna yg hampir sama kecuali kata ‘wali’ bisa dikaitkan dgn urusan dan juga wujud rasional.
    Makanya, anda bisa mengatakan bahawa si fulan adalah wali masjid atau Allah adalah wali orang2 beriman.
    Namun kata ‘maula’ hanya bisa dikaitkan dgn wujud rasional. Makanya, anda bisa berkata Maula bagi orang2 beriman, namun tidak Maula bagi masjid.

    Terdapat kurang lebih 25 maksud Maula (Mas SP, bantu betulkan mana yg silap ya):
    1. Pengagum
    2. Jiran
    3. Tetamu
    4. Sekutu
    5. anak lelaki
    6. sepupu lelaki
    7. anak saudara lelaki
    8. menantu lelaki
    9. kerabat
    10. paman
    11. teman
    12. penderma
    13. yg diderma
    14 kelompok pakatan
    15. pembebas
    16. Tuhan
    17. pemilik
    18. Ketua
    19. hamba
    20. pengikut
    21. penolong
    22. orang yang lebih berhak
    23. pentadbir bagi sesuatu urusan
    24. wali
    25. sekutu

    Kata ‘maula’ mungkin telah digunapakai utk kesemua makna di atas. Namun 15 yg pertama tidak biasa digunakan dan tiada yg mengenal kata maula utk hal itu. Tiada dari maksud tersebut yg difahami dari kata ‘maula’ kecuali dgn bukti tambahan.
    Ini berarti apabila kata ‘maula’ disebut, para pendengar memahaminya pada 10 maksud terakhir di atas, bahkan hanya dua dari 10 itu yg paling sesuai dgn kata ‘maula’ iaitu Tuan/pemilik atau hamba.

    Dalam hadis al Ghadir, kata ‘maula’ tidak mengindikasikan 15 makna awal itu. Makna jiran, tetamu, sekutu, anak lelaki, anak saudara lelaki, menantu, teman tidaklah dimaksudkan Nabi saaw buat Imam Ali as dlm hadis al Ghadir. Ini kerna Rasulullah saaw bukanlah semua itu buat buat para sahabat yg mendengarkan hadis tersebut di Ghadir Khumm, juga bukanlah ‘maula’ itu bermaksud saudara maupun sepupu, kerna itu tidak masuk akal.

    Tidaklah waras jika dikatakan bahawa Rasul saaw mengumpulkan sahabat2 semata mata utk mengatakan bahawa Ali adalah sepupu Baginda saaw

    Tidaklah juga utk menyatakan bahawa Ali mengagumi siapapun yg dikagumi oleh Nabi saaw

    Tidak juga Nabi saaw ingin mengatakan ‘maula’ sbg yg mendapat derma kerna Nabi tidak memperolehnya dari manusia yg ramai tersebut

    Juga bukan utk mengatakan penderma kerna secara materi, Nabi saaw tidaklah menderma pada semua yg hadir itu

    Tidak juga sebagai pembebas kerna sebagian besar Muslim bukanlah hamba pada masa itu maupun sesudah itu

    Sepuluh maksud terakhir itu pun tidak semuanya sesuai kerna mustahil Nabi memaksudkan kata Tuhan (Lord) kerna itu menghina kesucian, tidak juga pengikut atau hamba kerna Nabi saaw bukanlah pengikut maupun hamba manusia, tidak juga pemilik sbb Nabi bukanlah pemilik manusia, tidak juga sekutu kerna Nabi saaw adalh pemimpin mereka dan bukan juga bermaksud sekutu spiritual kerna Nabi saaw bukanlah sekutu bagi mereka yg zalim yg berjumlah besar saat itu

    Tidak juga penolong, kerna Nabi saaw bukanlah penolong orang2 yg zalim ataupun mereka yg ingkar.

    Hanya tinggal empat maksud iaitu ketua, orang yg lebih berhak, pentadbir bagi sesuatu urusan dan wali. Namun kata wali tidak bisa dimaknai kecuali bagi tiga maksud pertama iaitu ketua, org yg lebih berhak dan pentadbir bagi sesuatu urusan kerna kata wali tidak bisa berdiri sendiri.

    Ketua adalah kata yg sesuai kerna ia bermakna pemimpin atau orang yang diikuti kerna Nabi saaw diikuti oleh seluruh umat Islam. Rasul saaw juga memiliki otoritas atas yg lainnya dan adalah pengatur urusan umat Islam. Semua makna ini mendekati satu sama lain dan serupa dgn makna pemimpin atau orang yg patut diikuti.

    Maka,apabila kata ‘maula’ bererti yg memiliki otoritas atas semua mukmin lebih dari diri mereka sendiri dan yang lebih berhak mengurus urusan mereka, maka Imam Ali as adalah pemimpin dan pengatur urusan kaum Muslim atas perintah Tuhan, kerna Nabi saaw adalah pemimpin dan pengatur urusan mereka atas perintah Tuhan.

    Nabi saaw ingin mengatakan bahawa Ali adalah seperti Baginda iaitu Maula bagi setiap orang Islam bagi setiap generasi.

    Lalu apa pula makna ‘aula’ apabila Nabi saaw menujukan pertanyaan tersebut kpd hadirin…’bukankah aku lebih ‘aula’ atas diri kamu dari kamu sendiri?’

    Ada dua makna ‘aula’ di sini:

    Pertama, orang yg lebih berhak.

    Kedua, yg lebih sesuai( ini lebih sesuai utk benda ketimbang manusia), kerna adalah mustahil utk Rasul saaw berkata, ‘Bukankah aku lebih sesuai ke atas orang beriman berbanding diri mereka sendiri?’. Rasul saaw ingin mengingatkan umat akan firman Allah berikut, ‘ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri…’ QS 33:6
    Ayat ini menjelaskan ttg hak Nabi saaw ke atas umat ketimbang diri mereka sendiri dlm segala urusan mereka dan mereka wajib menaati Baginda saaw.

    Al Quran berbicara ttg hal ini pada beberapa ayat, satu darinya:

    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
    QS. al-Ahzab (33) : 36

    Jika kita memahami hal ini maka tidaklah sulit utk kita menangkap apa maksud Nabi saaw saat mengucapkan kata2 yg sama di Ghadir Khumm…Nabi saaw ingin mengatakan bahawa Ali adalah spt beliau saaw dlm hal ini.

    Dan saat Nabi saaw berkata, ‘Barangsiapa aku maulanya maka Ali adalah maulanya’, tidaklah bermaksud lain kecuali hak atas urusan mereka sbgmana Nabi saaw berhak dlm hal itu atas mereka.

    Hadis Tsaqalain yg dibahaskan oleh Mas SP dlm blog beliau ini adalah pelengkap bagi maksud yg dikatakan oleh Nabi saaw.

    Jelas bukan? (Namun kami yakin, anda mahir dlm bersilat lidah)

    4. Anda menolak bukti dari jalur kami dgn alasan ia tidak bisa dibandingkan dgn riwayat2 jalur anda. Kami bersetuju dgn anda kerna ulama anda telah berbicara ttg perawi2 yg puak anda andalkan itu:

    Syu’bah berkata, ‘Aku tidak melihat seorangpun yg tidak melakukan tadlis kecuali Amr ibn Murra dan Ibn Aun’.
    -Tahdheeb al-Tahdheeb, tarjamah ttg Amr ibn Murra al-Jamali
    -Mizan al-Itidal, Vol. 5, p. 346

    Tajuddin Subki writes in “Tabaqat Shafia al-Kubra” under “Ahmad bin Saleh al-Misri”:
    “…If we give “Jarh” (criticizm) preference over “T’adeel” (defence) then NONE of Our ‘Aima (of Hadith) would be spared, while there is not even a SINGLE Imam who has not been Criticized/Cursed طعن from the Criticizer طاعنون

    Yahya bin Ma’in telah mengkritik Bukhari dgn berkata bahawa Bukhari adalah ahli bida’ah dan Murjiah.
    -Fathul Baree Volume 13 page 490
    – Tabaqat Shaafeeya Volume 2 pages 12-13
    – Tareekh Baghdad Volume 2 page 32

    Memang ga level bro…have a taste of your own medicine

    Salam Damai

  104. @antirafidhah

    Maaf ya lupa…bisa jelaskan mengapa Umar, setelah Nabi saaw mengumumkan kata MAULA buat Imam Ali as, dtg lalu mengucapkan tahniah sambil berkata, “Tahniah wahai putera Abi Talib, anda telah menjadi wali bagi setiap mukmin pagi dan petang selamanya”.

    Mohon pencerahan yg tidak berkelit ya

  105. @hadi
    Umar tidak pernah berkata begitu. Kami tidak mengenal hadits tsb. Hehehe. Jangan BERASUMSI saya mewakili NASHABI. Wasalam

  106. @aburahat

    Ah…kalau gitu saya berASUMSI bahawa Imam Ali as yg mengucapkan tahniah pada Umar…bisa terima ga ASUMSI kayak gini…hehe

    Salam Damai

  107. @hadi
    Kapan mereka berdalil dengan nash. Selama saya ikuti tdk pernah membawa nash Alqur’an. Atau kalau kita bawa nash Alqur’an pasti tidak dijawab. Tapi coba kita bawa hadits atau riwayat pasti dibantah dengan hadits rekayasa mereka atau mereka katakan hadits SYIAH.
    Dan kalau dibahas secara logika hampir semua adalah asumsi tanpa dasar. Jadi kita berasumsi aja dengan mereka.
    Seperti jawaban sdr arman utk lamaru.
    O ya sekali pernah nash Alqur’an yaitu 10 sahabat masuk surga. Wasalam.

  108. @hadi
    Kalau itu terlalu menyolok mas. Karena meliwati Abubakar

  109. @aburahat

    Hehe…benar juga tuh…

  110. mulai sekarang jangan kita mempersoalkan para sahabat rasulullah , tetapi hendaknya mulai merapatkan barisan untuk menghadapi yahudi dan nasrani yang telah berhasil memporak porandakan mayoritas ummat muslim sayang sekali, hanya sedikit muslim yang menyadari bahwa muslim selalu diadu domba mereka dengan mempersoalkan sejarah islam , mari kita mulai berlapang dada , jangan saling menikam sesama muslim, belajar dari yahudi yang walau punya banyak aliran namun satu pendirian dalam menghadapi goyim ( non yahudi ) , mereka hanya curang dan culas dalam bergaul dengan goyim , namun akan saling sayang menyayangi dengan sesama yahudi walau berbeda aliran baik yang sangat extrem maupun liberal , mari buka mata kita semua muslim dunia harus bahu membahu tanpa menghiraukan perbedaan mazhab / aliran

  111. @bekka plond

    Saya yakin anda pernah membaca sejarah.
    Sejarah mengenai penyerangan Abraha ke Makkah.
    Pada waktu itu Abdul Muthalib sebagai kuasa untuk menjaga Ka’abah. Disamping raja Abraha mau membawa Ka’bah juga merampas ternak Abdul Muthalib. Abdul Muthalib mendatangi
    raja Abraha dan meminta kembali ternaknya. Raja Abraha heran. Ia mengatakan anda menguasai Ka’bah. Mngapa anda tidak melarang saya mengambil Ka’bah, tapi yang anda minta adalah ternak? Supaya anda tahu karena Ka’bah maka saya kesini menyerang Makkah. Kok hanya ternak anda yang anda persoalkan dan bukan Ka’bah.
    Abdul Muthalib menjawab : Ka’abah ada Pemiliknya. Biar Dia yang mengurusnya. Tapi ternak adalah milikku maka aku yang mengurusnya.
    Jadi bukan Yahudi harus kita hadapi tapi diri kita dulu.
    Sudah benarkah kita dalam menjalankan agama yang kita anut? Soal musuh2 Islam kita serahkan pada Allah.
    Tetapi dengan adanya musuh2 Islam kita harus mawas diri. Wasalam .

  112. @imem:
    Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..

    He he memang kalau menurut Bukhori urutan org2 yg mempunyai keutamaan setelah Nabi saw diurutkan sesuai periode kekhalifahannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, Ali. He he lucu juga. Tapi apa dasar Bukhori menentukan urutan spt itu ? Apa Bukhori lebih tau dari Nabi saw ? he he ketauan banget rekayasanya.

    Kalau memang periode yg jadi patokan, berarti Nabi yg paling utama diantara para anbiya adalah Adam ? Saya kira engga mesti demikian dan nyatanya memang tdk demikian. Muhammadlah Nabi yg paling utama diantara para nabi lainnya. Dan yg ngomong adalah Al-Quran dan Nabi Muhammad sendiri.

    Memang sampai kapanpun pandangan Imem cs dan SP cs engga akan bisa ketemu. Imem cs beranggapan bahwa setelah khataman Nabiyyin, maka tdk ada lagi manusia suci/kepemimpinan ilahiyah sampai Hari Kiamat. Siapa saja boleh menjabat kekhalifahan pasca Nabi. Apakah org itu mantan penyembah berhala atau bukan engga ada masalah. Kebetulan Bukhori dll. dlm kitabnya menulis Bab Keutamaan para sahabat dg urutan di mulai dari Abu Bakar sampai Ali (sesuai periode kekhalifahan). Dan urutan ini sdh baku dan menjadi salah satu akidah Aswaja. Kalau urutan ini diacak-acak, wah bisa gawat tuh dan bisa kacau akidahnya ! Makanya dg berbagai argumentasi dipertahankan mati-matian.

  113. Mayoritas Umat Islam peserta ghadir kum meyakini keimamahan Ali sebagai khalifah pengganti Nabi, hanya saja mereka menolak membai’at Ali dengan berbagai alasan…‘Umar bin Khaththab, pada waktu Rasul habis berpidato di Ghadir Kum datang memberi
    selamat kepada ‘Ali sebagai pemimpin umat sesudah Rasul, akan tetapi kemudian ia ‘merampas’ kekhalifahan ‘Ali meskipun ia telah mengetahui hak ‘Ali untuk kekhalifahan

    Malapetaka terjadi bagi kaum aswaja sunni, karena mereka berpedoman pada hadis hadis Aisyah yang mengingkari wasiat Nabi nomor tiga tentang Imamah Ali…

    =====================================================
    TIGA KELOMPOK YANG MUNCUL KE PERMUKAAN, TEPAT SETELAH WAFATNYA RASUL

    tepat sesaat setelah wafatnya Rasul Allah saw ada tiga kelompok yang muncul ke permukaan yang berebut kekhalifahan, semua KELOMPOK umumnya mengakui Imam Ali sudah diangkat menjadi khalifah pengganti Nabi SAW di Ghadir Kum:

    1. Kelompok pertama terdiri dari Ali bin Abi Thalib , keluarga Banu Hasyim dan kawankawannya termasuk orang orang yang sedang berkumpul di rumah Fathimah, yakni: Salman alFarisi,Abu Dzarr alGhifari, Miqdad bin Amr, ‘Ammar bin Yasir, Zubair bin Awwam, Khuzaimah bin Tsabit, ‘Ubay bin Ka’b, Farwah bin ‘Amr, Abu Ayyub alAnshari, Utsman bin Hunaif, Sahl bin Hunaif, Khalid bin Said bin ‘Ash alAmawi serta Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah. Calon dari kelompok ini ialah Ali

    Rasul saw mempertahankan Ali di Madinah. Pada waktu itu Ali berusia 34 tahun.. Tindakan Rasul Allah saw mengirim pasukan Usamaha ke Suriah ialah untuk memudahkan Rasul Allah saw mengangkat Ali bin Abi Thalib menjadi pengganti beliau.

    ‘Ali berpendapat bahwa penguburan Rasul harus didahulukan dari segalagalanya….Ia merasa telah ditunjuk oleh Rasul sebagai penggantinya. Dan ia tidak menyangka akan timbul peristiwa seperti yang terjadi di Saqifah…Namun, setelah Rasul dimakamkan, hari ketiga setelah beliau wafat, agaknya ‘Ali telah mempertimbangkan untuk merebut kekuasaan

    Ali meletakkan istri (Fathimah) di punggung keledai pada malam
    hari, yaitu pada waktu Abu Bakar ashShiddiq dibaiat. Dengan menunggang keledai dan mengetuk pintupintu
    rumah para peserta Perang Badr, dan meminta
    mereka agar tidak mendukung Abu Bakar, dan agar mereka mendukung Ali.. Dan tidak ada yang menyambut kecuali empat atau lima orang.

    2. Kelompok kedua ialah kelompok kaum Anshar, yang melakukan pertemuan tersendiri di Saqifah. ‘Calon’ dari kelompok ini ialah Sa’d bin Ubadah 332 . Kelompok ini menjadi lemah tatkala sedang berlangsung perdebatan di Saqifah, karena ‘pembangkangan’ Usaid bin Hudhair, ketua Banu Aws, suku yang menjadi musuh bebuyutan sukunya, suku Khazraj. Seorang ‘pembangkang’ lainnya lagi ialah Basyir bin Sa’d, saudara misan Sa’d bin ‘Ubadah sendiri. Kedua ‘pembangkang’ ini, akan kita lihat. nanti, memegang peranan terpenting dalam memenangkan Abu Bakar. Kedudukan Sa’d bin ‘Ubadah, calon dari kaum Anshar untuk jabatan khalifah itu, menonjol. Ia memegang peranan sebagai tokoh utama kaum Anshar dalam membantu Rasul Allah saw dan melindungi Rasul Allah saw dari musuh musuh beliau kaum Quraisy jahiliah Makkah dan kaum munafik, selama sepuluh tahun. Ia turut dalam bai’atul Aqabah sebelum Rasul Allah saw hijrah ke Madinah. Dalam pembukaan Makkah, Sa’d diberi kehormatan oleh Rasul Allah saw sebagai salah satu dari empat orang pembawa panji. Karena sikapnya yang keras terhadap kaum jahiliah Quraisy, Rasul Allah saw memerintahkannya untuk menyerahkan panji itu kepada putranya, Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Kehormatan yang diberikan Rasul Allah saw kepada Sa’d bin ‘Ubadah ini cukup melukiskan betapa besar penghargaan Rasul Allah saw kepada tokoh kaum Anshar ini.

    Kelompok ini mengadakan rapat karena :
    -mereka takut akan dominasi kaum Quraisy dari Makkah yang mereka perangi selama sepuluh tahun terakhir, setelah mengetahui bahwa Rasul Allah saw telah wafat, segera mengadakan pertemuan di Saqifah Bani Sa’idah, yang terletak lima ratus meter di sebelah Barat Masjid Madinah. Kekhawatiran mereka akan dominasi kaum Quraisy Makkah yang telah mereka perangi selama sepuluh tahun terakhir.

    – mereka menganggap diri sebagai pemberi perumahan dan pelindung (iwa) dan penolong (nushrah), dan mereka melakukan hijrah.

    -Kedudukan mereka yang mayoritas, sebagai pelindung dan penolong Rasul dan kaum Muhajirin, prestasi mereka dalam mengembangkan Islam yang maju pesat di tangan mereka, dan kegagalan kaum Quraisy di Makkah, menjadi pendorong bagi mereka untuk melanjutkan peranan sebagai mesin untuk mengembangkan Islam.

    3. Kelompok ketiga ialah kelompok Umar bin Khaththab , Abu Bakar dan Abu ‘Ubaidah bin alJarrah. Dapat dimasukkan pula ke dalam kelompok ini Mughirah bin Syu’bah (ia bergabung dengan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin memerangi ‘Ali.) dan Abdurrahman bin ‘Auf ..‘Calon’ dari kelompok ini ialah Abu Bakar. Yang menyampaikan berita/ pembawa informasi tentang PERTEMUAN SAQiFAH kepada Umar adalah ‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi (Anshar).. Keduanya sangat menyintai Abu Bakar semasa Rasul masih hidup dan pada saat yang sama keduanya sangat membenci Sa’d bin ‘Ubadah, keduanya mendorong Abu Bakar dan Umar untuk mengambil kekuasaan dengan meninggalkan pertemuan kaum Anshar

    Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah ketiga tokoh ini, tanpa memberitahu kelompok Ali, pergi ke Saqifah. Bersama mereka ikut Mughirah bin Syu’bah, Abdurrahman bin ‘Auf dan Salim maula Abu Hudzaifah. Mereka juga berhasil menarik tokoh yang membawahi kaum Aus, Usaid bin Hudhair, Basyir bin Sa’d, ‘Uwaim bin Sa’idah dan Ma’n bin ‘Adi

    Mayoritas sahabat dan Ahlul Bait (anggota anggota keluarga Rasulullah) sedang sibuk mengurus penguburan Rasulullah; tetapi minoritas sahabat memperebutkan kekuasaan dengan cara KECURANGAN (Kolusi, Nepotism dan Kolusi) untuk menjadi IMAM (pemimpin) sebagai Khalifah Rasulullah (Pengganti Utusan Tuhan).
    ===================================================

    3 WASiAT NABi

    Syura dan ijtihad bisa dilakukan dalam sejumlah hal yang tidak memuat nash di dalamnya. “Dan musyawarahilah mereka dalam urusan itu (3: 159). Adapun berkaitan dengan pemilihan kepemimpinan yang akan memimpin manusia, Allah berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. (28: 68)

    Terlihat, dalam pidatonya, Abu Bakar membawa alasan bahwa kaum Quraisy lebih dekat pada Rasul, lebih dahulu masuk Islam, dan dengan demikian berhak menjadi pemimpin. Ia juga menyampaikan hadis Nabi yang mengatakan bahwa ‘Pemimpin adalah dari orang Quraisy’. Tetapi Abu Bakar tidak mengatakan bahwa Nabi menunjuknya atau memberi isyarat kepadanya untuk menjadi pemimpin. Malah di bagian lain Abu Bakar mengatakan: “Saya mengusulkan kepada kalian satu dari dua orang, terimalah siapa yang kalian senangi”. Ia kemudian mengangkat tangan ‘Umar bin Khaththab dan Abu ‘Ubaidah bin alJarrah.

    Dari pidato ini jelas bahwa Abu Bakar tidak merasa telah ditunjuk atau diisyaratkan sebagai suksesi Rasul dalam kepemimpinan umat. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa pengangkatan Abu Bakar didasarkan pada ‘musyawarah’.. tulah sebabnya Ibnu Katsir mengatakan bahwa Nabi tidak menunjuk pengganti beliau. Imam Nawawi, dalam keterangannya pada Shahih Muslim, memetik perkataan Aisyah, bahwa ‘Nabi tidak menunjuk pengganti beliau’. “Dengan ini,” kata Imam Nawawi dan Abu Hasan Al Asy’ari , ‘Jelaslah bagi Ahlus Sunnah, kekhalifahan Abu Bakar bukanlah berdasarkan nash

    Bagaimana mungkin Anda mematuhi para pemimpin yang dilantik oleh Bani Umawiyah atau Bani Abbasiah lalu meninggalkan para imam yang telah dilantik oleh Rasulullah SAWW lengkap dengan jumlah nya yang 12 orang….Mencengangkan Sikap Ibnu Umar yang membai’at Yazid :

    Shahih Bukhari | No. 6744 | KITAB FITNAH-FITNAH (UJIAN/SIKSAAN)
    Dari Nafi’ (maula Ibnu Umar), dia berkata: Ketika penduduk Madinah ingin menanggalkan (menurunkan jabatan) Yazid ibn Mu’awiyah, Ibnu Umar mengumpulkan jama’ahnya dan putra-putranya, lalu di berkata: “Sungguh aku mendengar Nabi saw. bersabda: “Akan dipasang sebuah bendera bagi setiap pengkhianat pada hari kiamat”. Dan sungguh kita telah membai’atkan laki-laki (Yazid) ini atas dasar berbai’at kepad Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh aku tidak mengetahui suatu pengkhianatan yang lebih besar dari pada bai’atnya seorang laki-laki atas dasar berbai’at kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian dia menyatakan berperang kepadanya. Dan sungguh aku tidak mengetahui seorang dari kamu yang menanggalkan dia (Yazid) dan tidak berbai’at (kepada seseorang) dalam urusan (kepemimpinan) ini kecuali adalah pemisah antara aku dengan dia (seorang dari kamu)”.

    ANEHNYA PERiNTAH NABi MEREKA CELA!!!!!
    Ketika sakit Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk
    memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?”

    Imam Ali r.a dan Syiah membai’at tiga khalifah sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I… Gaya bahasa yang digunakan Imam Ali adalah seperti gaya bahasa Nabi Yusuf as….dalam Al Quran : “Hai kafilah, sesungguhnya kamu orang orang yang mencuri’ (Qs.Yusuf ayat 80) padahal mereka tidak mencuri apapun, lalu dalam Al Quran : “Demikian lah Kami atur untuk (mencapai tujuan) Yusuf” (Qs.Yusuf ayat 76)

    Akan tetapi…..

    syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

    Shahih Bukhari | No. 6817 | KITAB HUKUM-HUKUM
    Dari Abdullah ibn Dinar, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah saw. mengutus utusan (pasukan, ke Ubna untuk memerangi Rumawi, dinegeri pembunuhan terhadap Zaid ibn Haritsah) dan mengangkat Usamah ibn Zaid sebagai pemimpin terhadap mereka. Lalu kepemimpinannya dikecam, dan beliau (saw.) bersabda: “Apabila kalian mengecam kepemimpinannya (Usamah) maka sungguh kalian dahulu mengecam kepemimpinan ayahnya (yakni Zaid ibn Haritsah) sebelumnya. Dan demi Allah, sungguh adalah dia (Zaid) benar-benar pantas (berhak) terhadap kepemimpinan dan sungguh dia benar-benar termasuk orang-orang yang aku cintai, dan sesungguhnya (Usamah, putranya) ini adalah benar-benar termasuk orang-orang yang aku cintai sesudahnya”.

    Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah dan RasulNya ????????
    —————————————–
    WASiAT NABi NOMOR 3 Di SEMBUNYiKAN PERAWi ASWAJA SUNNi

    Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat tiga hal saat menjelang wafatnya: Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”( Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.)

    Shahih Bukhari | No. 2911 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)
    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: “Hari Kamis. Apakah hari Kamis itu?” Kemudian Ibnu Abbas menangis sehingga air matanya membasahi kerikil, lalu dia berkata: “Rasulullah saw sakit keras pada hari Kamis, lalu beliau bersabda: “Bawalah alat tulis kepadaku, aku catatkan buat kalian suatu catatan yang sesudah itu kalian tidak akan tersesat selamanya.” Maka mereka bertengkar dan tidaklah seyogya disisi Nabi ada pertengkaran: Mereka berkata: “Rasulullah diam”. Beliau bersabda: “Biarkanlah aku; sesuatu yang sedang aku lakukan (bersiap-siap menghadapi wafat dll) adalah lebih baik daripada apa yang kalian ajakkan kepadaku”. Ketika wafat, beliau berwasiat dengan tiga hal, yaitu: Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab, berilah hadiah kepada tamu (utusan) sepadan aku (Nabi) memberi hadiah kepada mereka. Dan aku lupa terhadap yang ketiga

    Tidak syak lagi bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali sebagai khalifah dan imam sepeninggalnya. Namun si perawi enggan menyebutkannya

    Menurut Aisyah sejumlah orang telah mengklaim bahwa Nabi SAW telah mewasiatkan Imamah kepada Ali, tapi Aisyah menolak mentah mentah klaim tersebut …. Orang yang menyatakan Nabi telah memberi wasiat pada Ali termasuk Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Fadhil, Salman, Abu Zarr sementara Aisyah tidak berada di kamar Nabi sehingga Aisyah tidak tau wasiat Nabi…

    FAKTA : Ibnu Abbas dalam hadisnya menyebutkan bahwa Nabi berwasiat 3 hal !!!!!!!! Jadi siapa yang kita pegang ??? Aisyah atau Ibnu Abbas ???

    Ya jelas Aisyah yang mengingkari wasiat Nabi, sementara Ibnu Abbas menyatakan Nabi mewasiatkan tiga hal, dua wasiat disebutkan tapi wasiat ketiga disembunyikan perawi Aswaja agar Aswaja bisa tegak

    Seandainya Abu Bakar ayah Aisyah memang berniat baik maka kata-kata Fatimah tentang Imamah Ali, penyerbuan kerumahnya dan tuntutan Fadak telah cukup untuk menyadarkannya ( karena Fatimah marah padanya) . Tapi Abu Bakar tetap menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya.. Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

    =================================================

    DALiL KUBU IMAM ALi-FATiMAH YANG BENAR

    1. Hadis berikut ini membuktikan bahwa Abbas mengajak Imam Ali meminta wasiat tertulis berupa DOKUMEN TERTULiS dari Nabi… Wasiat lisan sudah diberikan oleh Nabi di Ghadir Kum… wasiat tertulis ingin diminta Abbas karena dia mengetahui ada desas desus bahwa kelompok Abubakar Umar dan klompok Saad bin Ubadah juga mengincar kekhalifahan

    Bukhari :: Book 5 :: Volume 59 :: Hadith 728
    Narrated ‘Abdullah bin Abbas:
    Ali bin Abu Talib came out of the house of Allah’s Apostle during his fatal illness. The people asked, “O Abu Hasan (i.e. Ali)! How is the health of Allah’s Apostle this morning?” ‘Ali replied, “He has recovered with the Grace of Allah.” ‘Abbas bin ‘Abdul Muttalib held him by the hand and said to him, “In three days you, by Allah, will be ruled by ‘abdun al ‘aashaa*, And by Allah, I feel that Allah’s Apostle will die from this ailment of his, for I know how the faces of the offspring of ‘Abdul Muttalib look at the time of their death. So let us go to Allah’s Apostle and ask him who will take over the Caliphate. If it is given to us we will know as to it, and if it is given to somebody else, we will inform him so that he may tell the new ruler to take care of us.” ‘Ali said, “By Allah, if we asked Allah’s Apostle for it (i.e. the Caliphate) and he denied it us, the people will never give it to us after that. And by Allah, I will not ask Allah’s Apostle for it.”

    Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah telah sembuh dengan izin Allah”.. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Demi Allah, dalam tiga hari kedepan anda akan dipimpin oleh hamba yang bermaksiat/durhaka/otoriter* .. Demi Allah, aku merasa bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali bagaimana wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada nya siapa yang akan mengambil alih kekhalifahan.. Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. Kita akan melaporkan kepadanya maka mungkin Nabi akan memberitahukan penguasa baru yang akan memerintah.. Ali bin Abi Thalib berkata : “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakan kepada Rasulullah (tentang kekhalifahan), lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka orang orang tidak akan pernah memberikannnya kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan menanyakan nya kepada Rasulullah (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

    * Teks arabnya : faqaala anta wallahi ba’da tsalaasin tahta ‘abdun al ‘aashaa, kata abdun ‘aashaa bermakna hamba yang bermaksiat/ durhaka/ otoriter

    Tapi tidak lama setelah peristiwa ini, pada hari kamis Nabi mencoba mewasiat kan 3 hal secara tertulis tapi di gagal kan oleh Umar.. Namun kemudian setelah mereka diusir Nabi mewasiatkan 3 hal secara lisan.. Wasiat ketiga disembunyikan Aswaja sehingga Aswaja bisa tegak

    Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk.. Ahlul bait sebagai khalifah pengganti Nabi ditambah hadis Tsaqalain dengan matan “khalifah”

    Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”. [diriwayatkan dalam Musnad Abu Daud Ath Thayalisi no 829 dan 2752, Sunan Tirmidzi no. 3713, Khasa’is An Nasa’i no 89, Musnad Abu Ya’la no 355, Shahih Ibnu Hibban no 6929, Musnad Ahmad 5/356 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Al Mustadrak 3/134, Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/468 menyatakan sanadnya kuat, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 2223].

    2.Shahih Bukhari | No. 4237 | KITAB PERANG

    Dari Anas katanya: “Ketika Nabi saw. sakitnya sudah keras (kritis) maka beliau jatuh pingsan. Lalu Fatimah berkata: “Aduh, sulitnya ayahku? Maka beliau berkata kepadanya: “Sudah tidak ada lagi kesulitan lagi bagi ayahmu setelah hari ini”. Maka ketika beliau sudah meninggal dunia, Fatimah berkata:’Lalu Ayahku, engkau telah memenuhi panggilan Tuhan, Duh ayahku siap yang menempati Sorga Firdaus, duh ayahku kepada Malaikat Jibril kita memberi khabar kematian”. Ketika Rasulullah telah dimakamkan, maka Fatimah as. berkata: “Hai Anas, Apakah jiwamu menjadi baik bila menaburkan debu kepada Rasulullah saw.”

    3.Shahih Bukhari | No. 4240 | KITAB PERANG

    Dari Salim dari ayahnya (Abdullah bin Umar) bahwa saw. menugaskan Usamah bin Zaid, lalu mereka (para sahabat)membicarakan tentangnya, lantas Nabi saw. bersabda: ‘telah sampai kepadaku bahwa kalian berkata tentang Usamah dan sesungguhnya ia adalah orang yang paling saya cintai”.

    4.Shahih Bukhari | No. 4214 | KITAB PERANG

    Dari Said bin Jabir katanya: “Ibnu Abbas telah berkata: “Pada hari kamis dan selain hari kamis sakit Rasulullah parah “. Maka Rasulullah saw. berkata: “Datanglah kalian kepada saya. Saya akan menulis sebuah surat untuk kalian. Kalian tidak akan sesat selamanya. Kemudian para sahabat bertengkar (berbeda pendapat). Tidak patut perbedaan pendapat yang timbu! dari satu Nabi”. Maka mereka berkata: “Apa keadaan Nabi saw., apakah beliau diam? Mintalah penjelasan kepadanya. Mereka pergi kembali kepada Nabi. Lantas beliau bersabda: “Tinggalkanlah aku, parkara yang sedang saya lakukan lebih baik dari apa yang kamu ajak aku kepadanya, dan beliau berwasiat kepada mereka tiga perkarat 1. Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. 2. Kirimkanlah delegasi sebagaimana saya telah mengirimkan delegasi. Perkara yang nomor tiga : “saya lupa dengannya”.

    5.Shahih Bukhari | No. 4216 | KITAB PERANG

    Dari Aisyah ra., katanya: “Nabi saw. memanggil Fatimah pada waktu sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, lantas beliau membaikkan sesuatu keadannya lantas Fatimah menangis, kemudian beliau membisikkan sesuatu kepadanya lantas dia tertawa, lalu kami bertanya tentang itu, lantas Fatimah menjawab: “Nabi saw. berbiaik kepadaku bahwa beliau akan meninggal dunia dalam sakit yang ia derita sekarang, lalu saya menangis, kemudian beliau berbiaik kepadaku, lalu beliau berikan khabar aku bahwa saya adalah keluarga yang pertama kali mengikutinya lantas saya tertawa”.

    6.Shahih Bukhari | No. 3544 |
    KITAB BERBAGAI KEUTAMAAN SAHABAT-SAHABAT NABI
    Dari Abdullah bin ‘Umar ra., Ia berkata: Nabi saw. mengirim perutusan (pasukan perang) dan beliau mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pimpinan atas mereka, lalu sebagian orang mencerca kepemimpinannya. Maka Nabi saw. bersabda: “Bila kalian mencerca kepemimpinannya, maka kalian mencerca pula kepemimpinan ayahnya sebelum (dia). Demi sumpah Allah, sungguh Ia (laid) diberi hak untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya Ia adalah orang yang paling aku cintai dan ini (Usamah) adalah orang yang paling aku cintai setelah dia”.

    Shahih Bukhari | No. 4241 | KITAB PERANG
    Dari Abdullah bin Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw . telah menggirim satu utusan dan menjadikan Usamah;sebagai pemimpinnya lantass orang banyak mengecam kepemimpinannya, lantas ia. sudah saw. berdiri sambil bekata: “Jika kalian mengecam kepemimpinannya, maka kalian benar-benar telah mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin, dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya orang ini benar-benar termasuk orang yang paling aku cintai sesudahnya”.

    Shahih Bukhari | No. 6302 | KITAB SUMPAH DAN NADZAR
    Dari Abdullah bin Umar ra. katanya. “Rasulullah saw. telah mengurus utusan dan telah menjadikan pemimpin mereka Usamah bin Zaid, lantas sebagian manusia mencela kepemimpinannya. Lantas Rasulullah saw. berdiri seraya bersabda: “Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka sungguh kalian mencela kepemimpinan ayahnya sebelum itu (muhammad). Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin. Dan sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang yang paling saya cintai dan sesungguhnya (orang) ini (Usamah) sungguh termasuk orang yang paling saya cintai sesudah itu”.
    ——
    MiSTERi PASUKAN USAMAH DAN iMAM SHALAT

    Tatkala penyakit Rasul Allah saw semakin berat Rasul berseru agar mempercepat pasukan Usamah. Abu Bakar beserta tokoh tokoh Muhajirin dan Anshar lainnya diikutkan Rasul dalam pasukan itu. Maka Ali yang tidak diikutkan Rasul dalam pasukan Usamah dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalifah itu bila saat Rasul Allah saw tiba, karena Madinah akan bebas dari orang orang yang akan menentang Ali. Dan ia akan menerima jabatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.

    Dengan membawa panji panji, pasukan berangkat dan berkemah di Jurf. Dan tidak ada lagi kaum Muhajirin yang awal dan kaum Anshar di Madinah. Semua ikut dengan pasukan Usamah. Di dalamnya, terdapat Abu Bakar AshShiddiq, Umar bin Khaththab, Abu ‘Ubaidah bin alJarrah,
    Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid dan lain lain.

    Bukti-bukti otentik mengatakan bahwa Abu Bakar saat itu termasuk yang diperintah Nabi saw. untuk bergabung dengan tentara di bawah komandan Usamah ibn Zaid. Jadi tidak mungkin Nabi saw. yang memerintah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat ketika itu (Fathu al Bâri,8/124, ath Thabaqât al Kubrâ; Ibnu Sa’ad,4/66, Tarikh al Ya’qûbi,2/77, Tarikh al Khamîs,2/154 dll.)

    Semua penulis sependapat bahwa Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah ditunjuk Rasul sebagai prajurit dalam pasukan Usamah, dua minggu sebelum wafatnya Rasul.

    Tidak ada nash utk memanggil kembali Abubakar…Setelah berada di Jurf, ketika mendapat berita sakit Rasul sudah sangat parah. Beberapa pembangkang mempunyai alasan kembali ke Madinah termasuk Abubakar dan Umar. Kalau istilah ketentaraan “lari dari kesatuan” dengan alasan Rasul sakit

    Pada hari Kamis tanggal 8 Rabi’ul Awwal, Umar bin Khattab juga telah menghalangi Rasul membuat wasiat, sehingga Rasul mengusirnya dari kamar… Dan tentang mengimami shalat, Ali menyampaikan bahwa Aisyah lah yang memerintahkan Bilal, maula ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami shalat, karena Rasul saw sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: ‘Agar orangorang shalat sendiri sendiri’, dan Rasul tidak menunjuk seseorang untuk mengimami shalat. Shalat itu adalah shalat subuh.

    Karena ulah Aisyah itu maka Rasul memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Ali dan Fadhl bin Abbas sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan…’.

    Banyak nasehat yang diberikan Rasul. Tapi mereka yang lebih tua memperlambat keberangkatan..Melihat pembangkangan mereka Rasul naik kemimbar padahal beliau dalam keadaan sakit, setelah memuji Allah yang Maha Kuasa

    beliau bersabda: ” WAHAI MANUSIA saya sangat sedih karena penundaan keberangkatan tentara itu. Nampaknya kepemimpinan Usamah tidak disukai oleh sebagian dari anda anda dan menangguhkan keberatan. Namun keberatan dan pembangkangan anda anda ini bukanlah yang pertama kali. dst….(Sirah ibn Hisam II hal. 642; al Nash wa al-Ijtihad hal 12 oleh Syaraf ad-Din Amili dll).

    Mereka telah disebut Rasul sebagai PEMBANGKANG…Karena kata kata Rasul sangat keras, terpaksa semua pergi Jurf..Senin Nabi SAW wafat..Itulah sebabnya Aisyah memanggil Abu Bakar dari pasukan Usamah yang sedang berkemah di Jurf pada pagi hari Senin, hari wafatnya Rasul dan bukan pada siang hari dan memberitahukannya bahwa Rasul Allah saw sedang sekarat;

    Ya ampyun Abubakar Umar Aisyah euy….
    Rasul masih hidup dan memerintahkan sahabat buat jadi anak buahnya usamah saja masih ada yang membangkang, malah wasiat tertulis Nabi digagalkan…wasiat lisan nomor tiga tentang imamah Ali diingkari Aisyah…Terus Rasul mewasiatkan Ali jadi Imam penggantinya supaya sahabat semua jadi pengikutnya ALi ( yah pasti lebih membangkang lagi), apalagi pas Rasul wafat dan yang dihadapi cuman wasi’nya Rasul…..Wong pas Rasul Masih hidup aja udah berani membangkang kok..Aya aya wae….

  114. kunjungi http://syiahindonesia1.wordpress.com
    ribuan salafi wahabi masuk syi’ah imamiyah itsna asyariah setelah membaca website ini

  115. kunjungi http://syiahindonesia1.wordpress.com
    ribuan salafi wahabi masuk syi’ah imamiyah itsna asyariah setelah membaca website ini

    ———

  116. sy memiliki foto rabithah alawiyah dijakarta ternyata dulunya adalah markas syiah imamiyah itsna asyariyah,salah satu pengurus mereka yg hadir dlm foto tsb ada habib ali kwitang

  117. Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula

    1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal

    الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229
    2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .

    2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.

    3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir

    قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم

    Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka

    Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan

    حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال
    رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم

    Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka

    Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari

    4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj

    a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah

    وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.

    b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar

    ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.

    c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan

    وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.

    d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah

    وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.

    e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana

    وقال الذهبي في (المقتنى): لين.

    f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.

    g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah

    وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.

    h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah

    قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه

    i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan

    الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.

    Kesimpulan

    Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban

    Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak

  118. Ulasan tambahan

    Sp berkata,’ Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan.’

    Sp ingin memberikan impression bahawa semua lafaz hadith tersebut diperakui oleh Syeikh Albani sebagai hasan

    Hakikatnya lafaz hadith tu memang diperakui sebagai hasan tapi syeikh Al Albani sendiri menolak tambahan ‘Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu’

    Beliau menjelaskan dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, vol. 4, ms. 343, no1750,

    أما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث و غيره أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في علي رضي الله عنه : ” إنه خليفتي من بعدي ” . فلا يصح بوجه من الوجوه , بل هو من أباطيلهم الكثيرة التي دل الواقع التاريخي على كذبها لأنه لو فرض أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله , لوقع كما قال لأنه ( وحي يوحى ) و الله سبحانه لا يخلف وعده

    Terjemahan: Adapun apa yang disebutkan oleh syiah berkenaan hadith (i.e. Hadith al-Ghadir) dan selainnya bahawa nabi SAW berkata kepada Ali ra ‘ Engkau adalah khalifahku untuk setiap mukmin selepasku’, tidaklah sahih dalam apa saja wajah bahkan ia adalah kebatilan banyak yang ditolak sejarah keatas kedustaannya …

  119. @SaifulIslam

    Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula

    1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal

    الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229
    2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .

    2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.

    Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.

    Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.

    Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].

    3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir

    قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم

    Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka

    Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan

    حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال
    رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم

    Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka

    Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari

    Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.

    4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj

    a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah

    وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.

    Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.

    b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar

    ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.

    Penukilan ini tidaklah tsabit. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ayahnya dari Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in bahwa Abu Balj tsiqat. Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.

    c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan

    وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.

    Pernyataan “melakukan kesalahan” terkait dengan pendapat ulama yang mempermasalahkan hadis Abi Balj padahal sebenarnya hadis tersebut shahih. Jadi kesalahan yang dituduhkan tidaklah tsabit

    d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah

    وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.

    Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat

    e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana

    وقال الذهبي في (المقتنى): لين.

    Pernyataan Adz Dzahabi disebabkan oleh hadis Abu Balj yang ia katakan mungkar. Dan pernyataan ini keliru karena hadis yang disebutkan Adz Dzahabi bukan hadis mungkar melainkan hadis shahih dan diriwayatkan dengan banyak jalan. [hadis yang dimaksud adalah hadis tutuplah pintu masjid selain pintu Imam Ali]

    f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.

    Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.

    g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah

    وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.

    Nah kebetulan anda menyebut Al Jawzjani disini, sekedar info buat anda karena sepertinya anda tidak tahu [sebab asal mengutip hujjah orang lain] bahwa As Sa’diy yang anda sebutkan sebelumnya adalah Al Jawzjaniy, dia ulama yang berlebihan dalam menjarh perawi apalagi perawi yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali sebab ia dikenal nashibi. Ada baiknya anda membaca At Tahdzib dimana Ibnu Hajar berkata tentang Abu Balj

    وقال إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني وأبو الفتح الأزدي كان ثقة
    Ibrahim bin Ya’qub Al Jawzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 12 no 184]

    Kami kutip ini sebagai contoh bagi anda bahwa ulama terkenal pun sering salah dalam mengutip. Dalam kitabnya Al Jawzjaniy jelas menyatakan Abi Balj tidak tsiqat tetapi Ibnu Hajar malah mengutip “tsiqat”. Al Jawzjaniy yang tanaqudh atau Ibnu Hajar yang salah mengutip. Makanya mencari “asal penukilan” itu sangat penting dalam pembahasan perawi hadis :mrgreen:

    h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah

    قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه

    Pernyataan ini tertolak karena kesalahan yang dituduhkan pada Abu Balj tidak terbukti. Hadis yang dikatakan kesalahan Abu Balj ternyata memiliki syawahid dengan banyak jalan sehingga kedudukannya shahih

    i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan

    الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.

    Hadis ini shahih, silakan baca penjelasan Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari 7/14

    وأخرج النسائي من طريق العلاء بن عرار بمهملات قال : فقلت لابن عمر : أخبرني عن علي وعثمان – فذكر الحديث وفيه – وأما علي فلا تسأل عنه أحدا وانظر إلى منزلته من رسول الله (ص) , قد سد أبوابنا في المسجد وأقر بابه ، ورجاله رجال الصحيح إلا العلاء وقد وثقه يحيى بن معين وغيره . وهذه الأحاديث يقوي بعضها بعضا وكل طريق منها صالح للاحتجاج فضلا عن مجموعها

    Ibnu Hajar sendiri telah menshahihkan hadis Abu Balj soal menutup pintu masjid selain pintu Imam Ali karena telah diriwayatkan dengan banyak jalan yang saling menguatkan. Jadi tuduhan hadis tersebut mungkar adalah keliru

    Kesimpulan

    Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban

    Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak

    Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.

  120. Sp katakan,

    Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.
    Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.

    Ulasan saya

    Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.

    Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil

    Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.

    Ini pandangan lemah

    Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.

    Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.

    Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)

    Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul

    Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??

    Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.

    Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka

    MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka

  121. Sp katakan,
    Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].

    Ulasan saya

    Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah

    Sp katakan,
    Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.

    Ulasan saya

    Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu

    Sp katakan,

    Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.

    Ulasan saya

    Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya

    Sp katakan

    Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.

    Ulasan saya

    Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil

    Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).

    Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?

    Sp katakan,

    Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat

    Ulasan saya

    Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee

    Sp katakan,

    Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.

    Ulasan saya

    Ia adalah hadith yang sama. Rujuk hadith panjang dalam Musnad Ahmad berkenaan 10 kemuliaan Ali r.a

    Sp katakan

    Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.

    Ulasan saya

    Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.

    Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud

  122. @SaifulIslam

    Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.
    Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil
    Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.
    Ini pandangan lemah

    Maaf anda tidak mengerti penjelasan saya. Perkataan ulama terkait penukilan atau pendapat ulama lain tidak selalu benar. Jika ulama yang dimaksud memang memiliki kitab yang memuat biografi perawi menurutnya maka mengoreksi penukilan ulama lain dengan kitab tersebut adalah sesuatu yang lumrah. Jika kitab yang dimaksud tidak ada maka kita menerima perkataan ulama tersebut. Banyak contohnya penukilan pendapat ulama yang tidak tsabit, itu telah dijelaskan oleh para muhaqqiq.

    Bukankah sudah saya kasih contoh dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata Al Jauzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy menyatakan Abu Balj tsiqat. Bisa saja saya mencukupkan diri dengan penukilan ini tetapi ternyata dalam kitab Al Jauzjaniy justru ia menyatakan Abu Balj tidak tsiqat. Maka saya katakana penukilan Ibnu Hajar itu tidak tsabit. Terus apa salahnya saya melakukan hal yang sama terhadap penukilan pendapat Bukhari.

    Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.
    Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.
    Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)
    Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul
    Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??

    Alangkah lucunya perkataan anda di atas. Apa yang anda katakan justru menjadi hujjah bagi saya. Pernyataan Bukhari memang ada dalam kitabnya, dalam hal ini Bukhari mengikuti apa yang dikatakan oleh Sulaiman bin Harb. Jarh tersebut ya memang ada dalam kitab Bukhari, hal ini menunjukkan bahwa apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya itu menjadi dasar bagi pendapatnya yang dikutip oleh Tirmidzi. Selain itu ada perbedaan nyata antara nukilan Tirmidzi dan Ibnu Hammad. Tirmidzi itu dikenal sebagai murid Bukhari tetapi saya tidak tahu kalau Ibnu Hammad.

    Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.
    Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka
    MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka

    Yah mungkin anda bisa menunjukkan kepada saya bukti bahwa Ibnu Hammad termasuk salah satu murid Al Bukhari. Itu akan menjadi tambahan info bagi saya

    Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah

    Rasanya Bukhari itu berkata “fihi nazhar” bukan “fi isnad nazhar” atau “fi hadits nazhar”. Jika memang seperti yang anda katakan maka pernyataan “fihi nazhar” Bukhari tidak selalu berarti komentar bagi kredibilitas perawi bisa jadi itu komentar hadis tertentu dari perawi tersebut.

    Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu

    Maaf andalah yang keliru, tidak tsabit penukilan Bukhari yang melemahkan Abu Balj karena ia sendiri dalam kitabnya tentang biografi perawi tidak sedikitpun mencela Abu Balj. Ini adalah hujjah yang utama. Bagaimana bisa penukilan Ibnu Hammad itu dikatakan tsabit jika Bukharinya sendiri tidak mencela Abu Balj dan tidak juga memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Apa Bukhari begitu “lazy” untuk sekedar menuliskan dua kata “fihi nazhar” dalam kitabnya ketika ia menulis biografi Abu Balj?. Hujjah anda soal kemungkinan itu tidak menafikan kemungkinan yang saya katakan. Berhujjah dengan kemungkinan bukan hujjah yang kuat

    Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya

    Kenapa tidak terpikir oleh anda apa dasarnya mengatakan Abu Balj keliru dalam menyebutkan nama perawi. Hadis Maimun Abu Abdullah ia riwayatkan dari Zaid bin Arqam sedangkan hadis ‘Amru bin Maimun ia riwayatkan dari Ibnu Abbas. Abu Balj tidak pernah meriwayatkan dari Maimun Abu Abdullah justru Abu Balj dikenal sering meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Jadi logika dari mana dikatakan Abu Balj salah menyebutkan nama.

    Perawi yang satu bernama ‘Amru sedangkan perawi yang lain bernama Maimun. Perawi yang satu meriwayatkan dari Ibnu Abbas sedangkan perawi yang lain meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Jadi bagaimana ceritanya Abu Balj dikatakan keliru. Orang yang mengatakan keliru itu tidak memiliki hujjah atau dasar selain dugaannya saja.

    Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil

    Kitab Nasa’I mana yang anda maksud, Adh Dhu’afa?. Yang benar saja kemana pikiran anda, apa anda akan menemukan nama perawi tsiqat menurut Nasa’I dalam kitabnya yang memuat perawi dhaif. Lucu sekali, lain ceritanya jika memang ada kitab Nasa’i yang secara jelas menyebutkan berbagai pendapatnya seputar perawi hadis. Silakan tampilkan saya ingin lihat

    Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).
    Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?

    Itulah fenomena nukil menukil dalam ilmu hadis. Tugas seorang peneliti ya membuktikan apakah penukilan itu tsabit atau tidak. Al Hakim dan Ibnu Jauzi itu tidak dikenal sebagai murid Ahmad bin Hanbal antara mereka terpisah jarak yang jauh. Anda tidak bisa belajar dari contoh yang saya berikan. Sebelumnya anda bilang Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdil barr mengutip bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj ternyata penukilan ini keliru karena justru yang tsabit adalah Ibnu Main menyatakan Abu Balj tsiqat. Maka sangat mungkin penukilan pendapat Imam Ahmad juga keliru mengingat tidak ada sanad yang tsabit sampai ke Ahmad bin Hanbal soal perkataan itu. Dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal ada menyebutkan tentang Abu Balj atau Yahya bin Abi Sulaim tetapi tidak ada sedikitpun ia mencelanya. Maka jika ada penukilan Ahmad bin Hanbal yang mencela Abu Balj silakan buktikan penukilan itu tsabit sanadnya sampai ke Ahmad bin Hanbal.

    Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee

    Silakan perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar. Dalam Lisân Mizânnya, Ibnu Hajar berkata, “Maka sesungguhnya seorang yang jeli jika ia memperhatikan pencacatan Abu Ishaq Al Jawzjâni tehadap penduduk kota Kufah pasti ia menyaksikan hal dahsyat, yang demikian itu disebabkan ia sangat menyimpang dalam kenasibiannya, sementara penduduk kota Kufah tersohor dengan kesyi’ahnnya. Engkau tidak menyaksiannya segan-segan mencacat siapa pun dari penduduk Kufah yang ia sebut dengan lisan sadis dan redaksi lepas. Sampai-sampai ia melemahkan seorang perawi seperti al A’masy, Abu Nu’aim, Ubaidillah bin Musa dan tokoh-tokoh hadis dan pilar-pilar riwayat. [Lisan Al Mizan 1/16]. Selain Ibnu Hajar, Daruquthni dan Ibnu Ady juga menyatakan kalau Al Jawzjaniy itu seorang nashibi. Bisa dimengerti kalau para pengikut nashibi menjadikan perkataan Al jawzjaniy sebagai hujjah ya karena ia adalah ulama nashibi panutan mereka.

    Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.
    Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud

    Pernyataan Bukhari “fihi nazhar” itu tidak tsabit. Seandainya tsabit pun tetap saja tidak menjadi jarh yang menjatuhkan Abu Balj karena terdapat juga perawi sahih yang ditsiqatkan ulama lain dan dikatakan Bukhari fihi nazhar seperti Habib bin Salim [perawi Muslim]. Pernyataan Ahmad itu tidak tsabit dan seandainya tsabitpun maka akar permasalahannya adalah hadis yang dikatakan mungkar oleh Ahmad adalah hadis yang shahih kedudukannya dan diriwayatkan dengan banyak sanad [insya Allah kalau sempat akan saya buat takhrijnya, doakan saja]. Pernyataan Al Jawzjaniy bukan hujjah karena ia sering berlebihan mencacatkan perawi tsiqat yang dituduh syiah atau yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali. Pernyataan Abu Hatim itu adalah bentuk ta’dil dan siapa bilang Abu Balj tafarrud dalam meriwayatkan hadis di atas. Bukankah ada lagi hadis dengan matan yang sama maknanya yaitu Waliy bagi setiap mukmin sepeninggalku, silakan lihat pembahasannya dalam tulisan saya tentang hadis tersebut.

  123. @SaifulIslam

    hentikanlah pendustaan anda wahai Mujassimah.. anda ni sesat lagi menyesatkan!

  124. Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu

    Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.

    Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan

    Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad

    Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau

    Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari

    Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini

  125. keren….euy…apakah yg ini yg diesbut2 kemarin ulama negri seberang yg undang @sp ke blog mereka…..two tumb to sp…ditunggu koment syaifulll…lanjutannya….yg berbobot dan tdk muter2

  126. Sp,

    Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya

    Narrated Al-Qasim bin Muhammad:

    ‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”

    Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.

    (Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)

  127. Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu
    Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.

    Silakan cek kembali komentar saya dan silakan pahami kata-kata yang saya gunakan. Saya masih maklum kalau anda tidak begitu memahami bahasa yang saya gunakan, apa daya saya tak pandai bahasa “seberang”.

    Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan

    Anehnya saya tidak mengerti apa yang anda maksud dari kata “tidak boleh diterima”. Meragukan suatu penukilan itu wajar-wajar saja jika penukilan tersebut tidak terdapat dalam kitab Ulama yang dinukil. Saya tidak menyatakan mutlak semua penukilan tidak diterima. Dan harap anda juga perhatikan ada perbedaan yang nyata dari dua fenomena berikut. Perawi yang memang tidak disebutkan dari kitab tersebut dan perawi yang disebutkan tetapi nukilannya tidak ada.

    Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad

    Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.

    Kedua, kitab Nasa’I yang ada pada saya memang Ad Dhu’afa. Lah kalau memang situ punya kitab lain ya silakan cek ada tidak disebutkan nama Abu Balj dan apa pendapat Nasa’i tentangnya.

    Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau

    Maaf kapan saya menetapkan begitu, komentar saya sebelumnya terkait dengan hujjah anda yang mengutip riwayat Tirmidzi dari Bukhari. Nah saya bandingkan dengan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari [yang anda kutip]. Saya katakana ada perbedaan nyata antara keduanya, pada riwayat itu Tirmidzi dikenal sebagai murid Bukhari sedangkan Ibnu Hammad pada awalnya saya tidak tahu siapa dia dan riwayatnya dari Bukhari itu seperti riwayat pengutipan bukan riwayat langsung [saya lihat sighat-nya yang memang berbunyi “Bukhari berkata”]

    Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari

    Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?. Btw sekedar info tuh buat anda dan sahabat tercinta anda itu “si Farid” silakan baca kutipan ini [kalian kan ahlinya kritik pakai kutip mengutip]

    قال أبو سعيد بن يونس كان أبو بشر من أهل الصنعة وكان يضعف

    Abu Sa’id bin Yunus berkata Abu Bisyr termasuk penduduk Shan’ah dan ia telah didhaifkan

    Adz Dzahabi memasukkan Ibnu Hammad dalam Mughni Adh Dhu’afa no 5255 dan berkata

    محمد بن أحمد بن حماد الحافظ أبو بشر الدولابي قال الدارقطني تكلموا فيه

    Muhammad bin Ahmad bin Hammad Al Hafizh Abu Bisyr Ad Duulabiy, Daruquthni berkata “ia telah diperbincangkan”

    Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan :mrgreen:

    Saya tetap konsisten dari awal. Hujjah utama saya adalah ya apa yang tertulis ulama dalam kitabnya dalam hal ini Bukhari dalam Tarikh Al Kabir. Ia menyebutkan Abu Balj tidak menjarh-nya bahkan menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan darinya. Ini adalah indikasi ta’dil, yah anda kan tidak akan mengharap Bukhari berkata “tsiqat” dalam kitab-kitabnya :mrgreen:

    Saya pribadi bukan pertama kalinya menghadapi kasus penukilan seperti ini. Nah ada yang lumayan mirip dengan kasus Abu Balj ini yaitu soal perawi yang bernama Sa’id bin Zaid

    نا عباس الدوري قال سمعت يحيى بن معين يقول: سعيد بن زيد اخو حماد بن زيد ليس بقوى

    [Abu Hatim berkata] telah menceritakan kepada kami ‘Abbas Ad Duuriy yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid “tidak kuat”. [Al Jarh Wat Ta’dil 4/21 no 87]

    Tetapi dalam kitabnya Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy yang tertulis adalah berikut

    سمعت يحيى يقول سعيد بن زيد أخو حماد بن زيد ثقة

    [Ad Duuriy] berkata “aku mendengar Yahya mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid tsiqat” [Tarikh Ibnu Ma’in no 3851]

    Yang menjadi hujjah jelas apa yang tertulis dalam kitab Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy sedangkan riwayat Abu Hatim walaupun bersanad langsung kepada Ad Duuriy keliru. Ini Cuma contoh mengapa kami katakan hujjah utama adalah apa yang tertulis dalam kitab ulama yang bersangkutan.

    Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini

    Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.

    Btw walaupun diskusi ini arahnya sudah tidak jelas, saya tetap akan menyesuaikan saja. Walaupun begitu tidak ada salahnya saya katakan satu permasalahan lagi buat anda para nashibi, penta’dilan terhadap Abu Balj itu sudah tsabit sedangkan jarh terhadapnya jika memang tsabit bukan jarh mufassar melainkan jarh mubham. Sedangkan soal hadis Abu Balj yang dikatakan mungkar atau khata’ maaf itu tidak terbukti karena ulama lain yang telah mengumpulkan sanad-sanadnya menyatakan hadis tersebut shahih [seperti Ibnu Hajar dan Asy Syaukani]. Pernyataan mereka berdua memang terbukti dari thuruq hadis tersebut sedangkan pernyataan mungkar dan khata’ itu cuma perkataan tanpa bukti alias dugaan semata. Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.

  128. @Sunnah

    Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya

    Narrated Al-Qasim bin Muhammad:

    ‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”

    Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.

    (Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)

    Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana. Coba anda lihat teks arabnya, apa benar artinya begitu. Banyak nashibi menuduh syiah berdusta tetapi faktanya nashibi pendusta juga

  129. Hadith di atas tu ada versi yang lainnya

    ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر
    الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
    خلاصة حكم المحدث: صحيح

  130. Sp katakan,

    Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.

    Ulasan saya

    Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??

    Sp katakan,

    Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?

    Ulasan saya

    Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi

    Sp katakan,
    Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan

    Ulasan saya

    Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi

    Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa

    Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:

    كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف

    Al-Daraqutni mengatakan:

    تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير.

    Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal

    Sp katakan

    Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.

    Ulasan saya

    Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.

    Sp katakan

    Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.

    Ulasan saya

    Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat

  131. @SaifulIslam

    Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??

    Tepat atau tidak itu terserah sampean. Poin yang saya tanggapi adalah “inkonsistensi” yang anda sebutkan. Bagi saya apa masalahnya kalau metode untuk menetapkan jarh lebih kuat dari metode penetapan ta’dil. Dalam ilmu hadis hasil akhir kesimpulan perawi digunakan kaidah ta’dil didahulukan dari jarh mubham kecuali jika jarh-nya mufassar maka jarh tersebut didahulukan. Untuk mengugurkan ta’dil maka diperlukan jarh yang tsabit dan mufassar, bukankah ini sesuai dengan metode ilmu hadis bukannya dibalik untuk menggugurkan jarh maka diperlukan ta’dil yang tsabit dan mufassar. Kalau anda punya kaidah ilmu sendiri ya silakan saja

    Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi

    Hey tolong bangun, sepertinya anda ini menggerutu soal yang bahkan tidak pernah saya nyatakan. Saya tidak pernah menolak periwayatan tetapi akar permasalahan yang kita bahas awalnya soal penukilan yang tidak tsabit. Silakan saja anda membawakan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari tetapi saya berhujjah dengan apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya. Yang mana yang lebih kuat, silakan anda jawab sendiri.

    Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi

    Sekali lagi betapa menyedihkan akal anda dalam menangkap apa yang saya katakan. Pandangan saya yang mana yang berubah. Sejak tadi itu itu saja, anda saja yang mempersepsi begitu. Anda mempersepsi sendiri kemudian menisbatkan persepsi itu kepada saya. Kapan saya katakan tidak menerima pernyataan verbal, itu kan ocehan anda saja. Awalnya kita bicara soal penukilan, sebelumnya saya anggap Ibnu Hammad itu cuma menukil perkataan Bukhari secara saya tidak tahu siapa dia tetapi setelah tahu bahwa ia adalah Ad Duulabiy maka saya bawakan kutipan jarh terhadapan Ad Duulabiy itu sebagai hadiah buat anda.Karena orang seperti anda suka melemahkan perawi hanya dengan menukil jarh terhadap perawi tersebut maka silakan lemahkan juga Ad Duulabiy

    Pandangan saya sendiri dari semula tetap apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya adalah hujjah yang utama. Bukankah sudah saya kasih contoh, sebagaimana Abu Hatim bisa tersilap soal riwayat dari Ad Duuriy maka Ad Duulabiy bisa juga tersilap soal riwayat dari Bukhari. Apa buktinya, silakan lihat apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya tidak ada sebutan “fihi nazhar”

    Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa

    Ucapan apa ini, kalau anda diskusi dengan patung lha iya maka anda bisa berucap sesuka hatinya. Mengapa tidak anda katakan kenyataan Abu Balj sudah memadai bagi ulama yang menerima beliau sebagi tsiqat. Sebagaimana anda melemparkan pendapat yang menjarh Ad Dulabi maka silakan lempar juga pendapat yang menjarh Abu Balj. Siapa nih yang sebenarnya inkonsisten

    Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:
    كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف
    Al-Daraqutni mengatakan:
    تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير
    Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal

    Masih tidak mengerti juga, tinggal saya ulang taustiq ulama awal terhadap Abu Balj itu sudah sangat jelas hingga para ulama menshahihkan hadisnya. Hanya saja ketika ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait muncul pendapat pendapat nyeleneh bin ajaib. Yang saya herankan mau anda kemanakan pendapat yang melemahkan Ad Duulabiy, apa dasar anda menafikannya hanya karena ada ulama yang menta’dilkan Ad Duulabiy kalau begitu seharusnya begitu juga dalam kasus Abu Balj ya nafikan saja pendapat yang melemahkan Abu Balj karena banyak ulama yang menta’dilkan Abu Balj. Disini Ad Duulabiy anda katakan tsiqat tetapi Abu Balj anda katakan dhaif.

    Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.

    Astaga, ternyata anda masih belum mengerti juga. Wajar saja anda muter muter disitu. Saya tidak pernah menafikan penukilan ulama terhadap ulama lain tetapi jika ulama yang dinukil memiliki kitab dimana ia menuliskan pendapatnya maka merujuk pada kitab tersebut adalah lebih utama dibanding penukilan. Itulah yang saya lakukan dalam kasus Bukhari terhadap Abu Balj. Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.

    Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat

    Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil? Kalau begitu gak usah ada kaidah jarh mufassar diutamakan dari ta’dil toh setiap jarh diutamakan daripada ta’dil. Praktekkan saja tuh, Ad Duulabiy ternukil pendapat yang menjarah-nya maka ini lebih diutamakan dari ta’dil. Nah itulah konsekuensi perkataan anda. Justru dengan perkataan anda maka banyak perawi tsiqat [bahkan perawi shahih] menjadi dhaif. Lucu sekali, tampaknya untuk membantah hujjah orang-orang seperti anda saya hanya cukup mengikuti cara berhujjah yang anda pakai.

  132. @Sunnah

    Hadith di atas tu ada versi yang lainnya

    ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر
    الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
    خلاصة حكم المحدث: صحيح

    Maaf apa saudara tidak bisa membaca komentar saya. Sebelumnya saya katakan Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana. Lafaz mana dari arab yang anda kutip memiliki arti seperti itu

  133. @saiful islam dan @Sp ..

    jika mengikuti diskusi anda sangat kelihatan benang merahnya…
    buat @saiful siapa saja yg menjarh ahlul bait walaupun dari nukilan sesorang yg tdk kuat, karena yg dinukil didalam bukunya sama sekali tdk menjarhnya, langsung dipakai.

    @sp berkata bukti yg paling kuat dari sesorang adalah kitabnya, sementara @saiful islam mengatakan boleh siapapun omongannya diambil walaupun tdk ada dalam kitab yg di nukil itu perkataannya.

    @saifulsilam juga tdk konsisten saat mengatakan Jarh apapun jenisnya Mubham atau mufassar lebih didahulukan dari ta’dil (walaupun sdh menabrak kaidah ilmu jahr wa tadil)
    karena tdk menggunakan metode ini saat menilai Ad Duulabiy

    Kelihatan betul @ syaiful islam dan kelompoknya sangat membenci ahlu bait sehingga meliburkan AKAL sehatnya pantas jika mereka disebut NASHIBI

  134. @Sp….

    Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.

    selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii

  135. Sp,

    Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain

    Kini saya bertanyakan hadith yang berikut

    ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر

    الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
    خلاصة حكم المحدث: صحيح

    The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.
    source: Sahih al-Jami’i 247.

  136. Sp katakan,

    Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.

    Ulasan saya

    Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi
    Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.

    Sp katakan

    Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil?

    Ulasan saya

    Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.

  137. @SaifulIslam

    Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi

    Ini jawaban orang ngedumel. Saya heran kok anda tidak paham pokok permasalahan yang saya jadikan hujjah. Anda malah sibuk mempertikaikan kalimat saya dan mencari bantahannya. Saya katakana lha iya memang ada kitab Bukhari yang juga telah hilang jadi kenapa?. Apa itu meruntuhkan hujjah saya? Tidak. Kitab yang hilang ya tidak bisa kita rujuk, kitab yang ada itulah yang harus kita rujuk. Itulah pendekatan secara metodologis. Jika anda tidak setuju dengan metode yang saya jadikan hujjah ya silakan. Ambil saja jarh “fihi nazhar” Bukhari itu untuk anda jadikan hujjah dan itu sedikitpun tidak mengganggu hujjah saya karena kalimat “fihi nazhar” di sisi Bukhari tidak selalu bersifat “jarh syadid” bahkan bisa juga ditujukan Bukhari untuk perawi dita’dilkannya. Selain itu dari segi jenis jarh-nya, “fihi nazhar” adalah jarh mubham bukan jarh mufassar. Silakan anda belajar ilmu musthalah hadis untuk mengetahui secara detailnya.

    Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.

    Pandangan Ibnu Hibban itu keliru, silakan anda lihat Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan mengutip riwayat sebagai bukti khata’ Abu Balj. Kekeliruan Ibnu Hibban sangat jelas karena hadis yang ia sebutkan itu telah dikuatkan oleh para ulama seperti At Tirmidzi dan Ibnu Thahir. Hadis-hadis Abu Balj lain yang dinyatakan mungkarpun tidak terbukti karena memiliki syawahid dan tidak ada bukti kemungkarannya.

    Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.

    Lha itu berarti anda gak ngerti saya bicarakan. Saya belum membicarakan soal “mayoritas” atau “sedikit” saya bicarakan dari segi kaidah ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham dan jarh mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil. Ini yang dibicarakan soal kaidahnya, Selain kaidah itu ya ada pula soal lain misalnya mengenai kualitas ulama yang menjarh dan menta’dil itu kan macam-macam. Ada yang pertengahan, ada yang tasahul dan ada yang berlebihan atau terlalu ketat, kemudian bagaimana tingkatan jarh atau ta’dil yang diberikan ulama-ulama tersebut. Termasuk soal lainnya adalah jumlah ulama yang menjarh dan menta’dil dan dari kalangan mana ulama tersebut apakah mutaqaddimin atau mutaakhirin .

    Kita gak usah panjang-panjang bicara soal metode [bisa lama]. Langsung to the point, si Abu Balj ini anda simpulkan bagaimana keadaannya. Kalau anda katakan ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud maka ia tidak tafarrud dalam meriwayatkan hadis tersebut. Kalau pandangan saya, ia jelas tsiqat karena tuduhan terhadapnya tidak tsabit [itu jika anda menelitinya dengan baik dan objektif bukan asal menukil ini itu]. Case closed kecuali kalau anda mau komentar “siklik” lagi ya silakan :mrgreen:

  138. @Sunnah

    Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain

    Heh bukannya anda yang menampilkan hadis tersebut dalam bahasa inggris kok nyuruh saya nanya penerjemahnya. Kalau saya yang buat ya iya, lha ini anda yang buat. Aneh sepertinya anda suka sekali membantah bukannya mengakui kalau salah menerjemahkan atau kalau anda tidak mau mengakui salah menerjemahkan maka silakan akui kalau anda berdusta. Kalau orang tidak sepaham dengan anda, akan mudah sekali anda tuduh bodoh, taqiyyah, syiah, rafidhah, munafik, pendusta tetapi jika diri anda terbukti seperti di atas, anda berkelit melemparkan kesalahan pada orang lain yang tidak jelas. Anehnya diri anda wahai nashibi

    Kini saya bertanyakan hadith yang berikut
    The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.
    source: Sahih al-Jami’i 247.

    Tepatnya apa yang akan anda tanya. Tulisan saya di atas membicarakan soal Imam Ali menjadi pemimpin sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada dalam lafaz hadis yang anda sebutkan keterangan yang membatalkan hadis yang saya jadikan hujjah di atas. Lain ceritanya jika anda tidak bisa membedakan lafaz hadisnya dengan persepsi anda soal hadis tersebut. Silakan terangkan lebih jelas apa hujjah anda dengan hadis Bukhari yang anda kutip baru kemudian akan saya tanggapi.

  139. @Rian

    Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.

    selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii

    Yah macam-macam modus mereka kan tergantung orangnya tetapi kalau yang dibicarakan adalah orang yang sedang diskusi tidak langsung dengan saya seperti efendi farid dan nashibi lainnya mereka suka melemahkan hadis keutamaan ahlul bait hanya dengan mengutip jarh ulama terhadap perawinya. Padahal hampir sebagian besar perawi bahkan perawi shahih pasti ada saja ternukil ulama yang menjarh-nya. Mereka ingin hadis shahih itu perawinya adalah perawi yang “zero jarh-nya”

    Modus lain adalah mereka suka mengkritik sanad hadis satu-satu seolah-olah hadis-hadis tersebut terpisah satu dengan lainnya sehingga jika setiap sanad tidak ada satupun yang selamat dari kritik maka dhaiflah hadis tersebut. Ini penyakit khas mereka kaum nashibi, kaidah seperti ini tidak ada dalam ilmu hadis. Hadis dengan pembahasan atau matan yang sama harus dikumpulkan jalan-jalannya walaupun tiap jalan mengandung kelemahan tetap dinilai apakah kelamahan itu saling menguatkan sehingga kedudukannya bisa terangkat menjadi hasan atau shahih sehingga dalam ilmu hadis dikenal istilah hasan lighairihi dan shahih lighairihi

  140. bravo…memang begitulah Nabi Saww mengajarkan/mensyiarkan kebenaran tentang ISlam….BERDIALOGLAH…! ingat sejarah awal dakwah Nabi Saww di Makkah dan Madinah…pada suatu saat NAbi Saww mengirim 2 orator handal ke yastrib/madinah yakni Mus’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarrah. mereka dikirim untuk berdialog dengan 2 orang pemimpin bani ‘abdl al asyhal, yakni Sa’ad bin Muaz dan Usaid bin huzair. Awalnya mereka 2 pemimpin bani abdl al asyhal itu lebih suka menghadapi utusan Nabi saw tsb. dengan pedang terhunus sehiungga kata kata kasar tersembur dari mulut mereka dihadapan utusan Nabi saww itu,..namun karena karena ketenangan 2 utusan Nabi Saww itu dan sudah terbekali oleh metode Dakwah Nabi Saw,..maka pertumpahan darahpun tak terjadi, dan dialoglah yg pada akhirnya membuat 2 pemimpin suku bani Abd alasyhal itu masuk Islam sehingga dalam waktu singkat, bahkan sebelum melihat Nabi saww seluruh suku Bani Al Asyhal itu memeluk Islam dan menjadi pembela agama suci ini..!

    Buktikan kebenaran itu dengan Hujjah yang valid dan genuine..! …..Bukan dengan cara Perang/ekspansi/kekerasan yang justru banyak dilakukan sebahagian sohabat Nabi Saww sepeninggal NabiuLLah Saww.

    Akibatnya Islam menjadi terlebelkan oleh Kaum Orientalis sebagai agama yg menyebarluas hanya dengan PEDANG dan KEKERASAN….!

  141. apapun statementsx ….
    Rosulullah SAW dan Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra adalah sahabat yang gigih n total dalam memperjuangkan Islam ..
    Jdi apapun alasanx, janganlah mnjelek2kan salah satu dari mereka …
    kalian, qta smua belum tentu derajatnya sama dengan mereka yang sudah terbukti dalam perjuanganx ..
    biarkan sejarahx tetap seperti i2 ..
    yang jauh terpenting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah qta smua bkan malah mempersoalkan hal yang sudah ..
    qta contoh yang baik2 saja dari mereka …
    toh Jika Nabi SAW ada sekarang, saya yakin beliau akan marah bila qta saling menjelekkan satu sama lain … n menjelekkan salah satu dari sahabat beliau …

  142. @hans

    Setuju..:)

  143. @imem khususnya. Bhw nabi beri perumpamaan spt itu adalah spy kita ngerti bhw kedudukan imam itu sgt berat. Jk anda membaca riwayat musa dan harun versi pentateuk nya bani israel mk me ngandungi maksud yg lebih dlm lg krn tdk semua bani israel adalah dpt menjd imam. Hanya dr suku levi sj. Bhw setelah nabi musa wafat mk kepemimpinan imamah dipegang oleh harun dan ketrunan levi. Analogi dgn itu mk imamah tdk akan lepas dr bani hasyim.

  144. yang jelas sewaktu Nabi Muhammad s.a.w meninggal semua sahabat setuju Abu Bakar sebagai khalifah pertama, Umar Bin Khatab kalifah kedua, ustman bin Afan kalifah ke tiga kemudian baru Ali, kalau memang hadits tsb didengar oleh Ali, tentu beliau tidak akan menafikan perintah Nabi kepadanya dan pasti para sahabat lain akan patuh. karena Abu Bakar, Umar bin Khatab serta Utsman orang sangat jujur dan iklas dalam membela nabi. tambahan lagi Abu Bakar bukan suku kuraisy, kenapa semua muslim awal/sahabat patuh padanya, terbukti perintah memerangi orang murtad dan nabi palsu diikuti tak ada yang menolak. Kalau hadits itu sahih maka anda yang kata mengangkat/mengkultuskan Ali berarti telah menuduh Ali pengecuh dan tak berani mengamalkan hadits nabi. Artinya para sahabat yang berempat saling hormat menghormati secara ikhlas baru setelah sekitar 15 th setelah nabi meninggal ternyata ada sahabat yang belum sempurna imannya mulai kemasukan iblis mulai menghasu umat muslim, dan mulailah menempuh jalan keji. Yang jelas khalifah ur rashidin (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman dan Ali) sama-sama pembantu Nabi yang setia serta pejuang Islam yang tangguh setelah nabi meninggal. akhirnya jangan ada yang menuduh lagi bahwa Ali a.s adalah pengcut karena tidak dapat melaksanakan perintah nabi kepada beliau, padahal beliau adalah “PEDANG ALLAH” merenunglah dengan kepala ikhlas dan jujur.

  145. INI SEMUA DEBAT KUSIR….. WAHAI SYIAH…. ALI RA SAJA TIDAK MERASA BELIAU DITUNJUK OLEH NABI SAW SEBAGAI KHALIFAH SETELAH WAFAT BELIAU….BAGAIMANA KAMU BISA NGOTOT SEPERTI ITU? SESAT…SESAT….SESAT…. INILAH DALILNYA :
    MEMBANTAH HAULA WAHABIYAH BAHWA ALI ADALAH KHALIFAH SETELAH WAFATNYA NABI SAW
    Syiah berpendapat bahwa kekhalifah Ali ra berdasarkan pada hadits di bawah ini :

    Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut :

    Hadits 1
    ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

    Derajat hadits tersebut adalah SHAHIH.

    Kalimat terakhir dari hadits diatas dipahami orang syiah sebagai pengganti Rasulullah saw secara langsung setelah wafat beliau.

    Mari kita cek secara jujur dan teliti …..

    Terjemahan diatas ada satu kata yang kurang, yaitu “jika” sehingga artinya adalah : Sesungguhnya tidak sepatutnya JIKA AKU PERGI KECUALI ENGKAU SEBAGAI KHALIFAHKU UNTUK SETIAP MUKMIN SETELAHKU.

    Syiah secara curang mengaburkan kalimat jika aku pergi dengan jika aku meninggal. Dua hal tersebut sangat berlainan maknanya.

    Apakah makna jika aku pergi dapat disama artikan dengan jika aku meninggal, mari kita lihat bagaimana pelaku amanah tersebut (yaitu Ali ra) memahami hadits diatas.

    Mari kita simak haditsnya :

    Hadits 2

    حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّ وَكَانَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ أَحَدَ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ تِيبَ عَلَيْهِمْ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَقَالَ النَّاسُ يَا أَبَا حَسَنٍ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ ثَلَاثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ يُتَوَفَّى مِنْ وَجَعِهِ هَذَا إِنِّي لَأَعْرِفُ وُجُوهَ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عِنْدَ الْمَوْتِ اذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْنَسْأَلْهُ فِيمَنْ هَذَا الْأَمْرُ إِنْ كَانَ فِينَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَاهُ فَأَوْصَى بِنَا فَقَالَ عَلِيٌّ إِنَّا وَاللَّهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعَنَاهَا لَا يُعْطِينَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    Telah menceritakan kepadaku Ishaaq : telah mengkhabarkan kepada kami Bisyr bin Syu’aib bin Abi Hamzah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Al-Azhariy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdullah bin Ka’b bin Maalik Al-Anshaariy – dan Ka’b bin Maalik adalah salah satu dari tiga orang yang diberikan ampunan (oleh Allah karena tidak ikut serta dalam perang Tabuk) : Bahwasannya Abdullah bin ‘Abbaas telah menceritakan kepadanya : ‘Aliy bin Abi Thaalib keluar dari menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau, orang-orang bertanya : “Wahai Abu Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; “Alhamdulillah, beliau sudah sembuh”. Ibnu Abbas berkata : “’Abbaas bin Abdul Muththalib memegang tangannya dan berkata : ‘Demi Allah, tidakkah kamu lihat bahwa beliau akan wafat tiga hari lagi, dan engkau akan diperintahkan dengannya ?. Sesungguhnya aku mengetahui wajah bani ‘Abdul-Muththallib ketika menghadapi kematiannya. Mari kita menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita tanyakan kepada siapa perkara (kepemimpinan) ini akan diserahkan? Jika kepada (orang) kita, maka kita mengetahuinya dan jika pada selain kita maka kita akan berbicara dengannya, sehingga ia bisa mewasiatkannya pada kita.” Lalu ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu berkata; “Demi Allah, bila kita memintanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau menolak, maka selamanya orang-orang tidak akan memberikannya kepada kita. Karena itu, demi Allah, aku tidak akan pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4447].

    Hadits 3
    حدثنا إسماعيل بن أبي حارث، ثنا شبابة بن سوَّار، ثنا شُعيب ابن ميمون، عن حصين بن عبد الرحمن، عن الشعبي عن شقيق، قال : قيل لعلي رضي الله عنه : ألا تَستخلف ؟ قال : ما استخلف رسول الله صلى الله عليه وسلم فَستخلف، وإن يردِ الله تبارك وتعالى بالناس خيرًَا فَسيجمَعهم على خيرهم، كما جمعهم بعد نبيِّهم على خيرهم.
    Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Abi Haarits : Telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar : Telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimuun, dari Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Asy-Sya’biy, dari Syaqiiq, ia berkata : Dikatakan kepada ‘Aliy : “Tidakkah engkau mengangkat pengganti (khalifah) ?”. Ia menjawab : “Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat pengganti hingga aku harus mengangkat pengganti. Seandainya Allah tabaaraka wa ta’ala menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka sebagaimana Ia telah menghimpun mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar 3/164 no. 2486].

    Dari paparan di atas kita ketahui bahwa syiah mengklaim bahwa Ali ra adalah khalifah pengganti Rosululloh saw setelah wafat beliau berdasarkan hadits 1, ini merupakan takwil yang salah, karena menurut hadits 2 di saat terakhir Rosululloh saw akan wafatpun Ali ra dan Abbas ra tidak merasa ditunjuk menjadi pengganti beliau. Dipertegas lagi hadits 3 di saat terakhir Ali ra beliau meneladani Rosululloh saw untuk tidak menunjuk pengganti.

    Wahai syiah…kalian tidak akan dapat membantah kecuali kalian harus mendhoifkan hadits 3 ini.
    Akan ada pembahasannya tentang derajat hadits 3 ini…insya Alloh.

    Mana yang benar…. syiah atau Ali ra.

    Alhamdulillah…

  146. kalau memang begitu menurut anda; kenapa Umar bin Abdul azis mengembalikan warisan Rasul kepada keturunan Rasulullah dan kenapa juga muawiyah mewariskan kepada yajid

  147. waa….aaah….pertanyaan syahrul ini ndak nyambung…yang dibicarakan kekhalifahan pengganti Nabi saw, yang ditanyakan warisan……hmm.

  148. kepada @musuh syiah..

    hadis 1 dan 2 nya Hasan kok om… Sahihnya oleh Sunni malahan.. nah yang ketiga aku ragu tuh

    1)untuk hadis 1 kok anda bahasnya cuman satu kata aja.. kalau “khalifah untuk mukmin setelahku” gimana tuh? mukmin setelahku berarti orang2 mukmin sepeninggal (yang ditinggal) Rasulullah-kan bukan pada saat jaman Rasulullah masih hidup, jadi mengaitkan kata ‘pergi’ dengan wafatnya baginda Rasulullah SAW itu tidak salah lhooo.

    2) terus hadis yang kedua Imam Ali memang menolak untuk meminta ke-khalifah-an kepada Rasulullah. Lah!! Emang Iyalah!! Karena Khalifah itu ditunjuk oleh Rasulullah dong om, bukan diminta, dan Imam Ali mengerti hak aturan kekhalifahan itu makanya beliau menolak untuk meminta tampuk kekhalifahan. makanya Imam Ali berkata sudah barang tentu Rasulullah akan menolak permintaannya dan tidak akan memberikannya. mengapa begitu?, logikanya Allah SWT aja menunjuk atau memilih siapa yang akan menjadi Nabi-Nya atau khalifah-Nya. tidak menunggu permintaan. tidak ada dalam sejarah manusia itu meminta menjadi Nabi atau Khalifah. Lagian Imam Ali itu menolak permintaan dari Abbas bin Abdul Muthalib, bukan menolak penunjukan dari Rasulullah SAW. coba dicermati lagi.

    3) Nah yang ketiga aku ragu om hadisnya sahih, Imam Ali itu manusia yang paling menaati Rasulullah SAW, mana mungkin Imam Ali bertentangan dengan Rasulullah SAW, gitu kan logika anda?

    mengapa saya ragu pada hadis ketiga soalnya Rasulullah ketika berperang selalu menunjuk pemimpin perang, dan ketika pemimpin perang itu gugur, maka beliau selalu menyiapkan penggantinya, dan ketika yang kedua gugur, beliau sudah menunjuk pengganti yang ketiga dan begitu seterusnya. itu terjadi ketika perang Mut’ah, Dan perang itu adalah Jihad kecil dalam agama, Jihad besar adalah melawan nafsu dari diri sendiri alias setelah perang, logikanya dalam Jihad kecil (perang) Rasulullah selalu menunjuk pengganti, apalagi Jihad Besar ketika setelah perang om, tidaklah mungkin Rasulullah enggan menunjuk pengganti beliau.

    apalagi hadis ke-3 ini bertentangan dengan hadis pertama. bukankah pada hadis pertama Rasulullah menunjuk siapa yang memimpin ketika beliau pergi?

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: