Imam Bukhari Menyatakan Alaihas Salam Pada Sayyidah Fatimah

Pernyataan Alaihis Salam (AS) pada Ahlul Bait Rasulullah SAW seringkali mengundang keraguan di sebagian kalangan. Beberapa dari mereka menuduh hal tersebut bid’ah dengan alasan Ghulat atau Pengkultusan yang berlebihan. Kebanyakan dari mereka para Penuduh suka sekali menuduh bahwa orang-orang yang menyebutkan AS pada Ahlul Bait adalah Syiah. Dan seperti biasa lagu sumbang “Syiah Yang Sesat” kembali berkumandang.

Patut disayangkan, tetapi memang begitulah adanya. Keterbatasan Ilmu yang diiringi dengan tabiat suka menuduh membuat Syubhat ini merasuki banyak kaum muslim yang memang tidak terbiasa berkeras untuk tahu:mrgreen: . Syiahpobhia, begitulah saya menyebutnya.😦

Penyebutan AS pada Ahlul Bait adalah suatu bentuk penghormatan kepada mereka karena kedudukan mereka yang tinggi yaitu sebagai pedoman bagi Umat Islam seperti yang dinyatakan dalam Hadis Tsaqalain. Mereka Ahlul Bait adalah Pribadi-pribadi luhur yang merupakan Padanan Al Quranul Karim. Pribadi-pribadi yang selalu dalam kebenaran. Pribadi-pribadi yang memiliki keutamaan-keutamaan yang besar. Pribadi-pribadi yang dimuliakan oleh Allah dan RasulNya. Semua ini adalah alasan yang cukup jelas untuk menyandangkan gelar Alaihis Salam kepada mereka Ahlul Bait. (jadi gak mesti di Syiah-syiahkan dong) :mrgreen:

Lucunya ternyata Ahli hadis ternama Muhammad bin Ismail yang dikenal dengan panggilan Imam Bukhari (yang ternyata menjadi rujukan kebanggaan oleh para Penuduh) telah menggunakan istilah Alaihis Salam(AS) kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah binti Rasulullah. Tetapi tidak pernah ada terdengar tuduhan-tuduhan Syiah kepada Imam Bukhari. Jadi ada apa ini? sebuah konspirasi untuk merendahkan saudara-saudara kita yang Syiah. Atau salah satu bentuk kedunguan kekeliruan yang bersifat Pilih Kasih dan Langsung Cela kepada pihak-pihak yang berbeda mahzabnya.🙄 Silakan nilai sendiri

Berikut akan ditunjukkan bukti nyata kalau sang Imam Ahli hadis Al Bukhari menyandangkan AS pada Sayyidah Fatimah. Pernyataan itu tertulis dalam Kitab monumental Beliau Shahih Bukhari.


حدثنا ‏ ‏عبد العزيز بن عبد الله ‏ ‏حدثنا ‏ ‏إبراهيم بن سعد ‏ ‏عن ‏ ‏صالح ‏ ‏عن ‏ ‏ابن شهاب ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏عروة بن الزبير ‏ ‏أن ‏ ‏عائشة أم المؤمنين ‏ ‏رضي الله عنها ‏ ‏أخبرته ‏
‏أن ‏ ‏فاطمة ‏ ‏عليها السلام ‏ ‏ابنة رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏سألت ‏ ‏أبا بكر الصديق ‏ ‏بعد وفاة رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏أن يقسم لها ميراثها مما ترك رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏مما ‏ ‏أفاء ‏ ‏الله عليه فقال لها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏إن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏لا نورث ما تركنا صدقة فغضبت ‏ ‏فاطمة بنت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فهجرت ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فلم تزل مهاجرته حتى توفيت وعاشت بعد رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ستة أشهر قالت وكانت ‏ ‏فاطمة ‏ ‏تسأل ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏نصيبها مما ترك رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏من ‏ ‏خيبر ‏ ‏وفدك ‏ ‏وصدقته ‏ ‏بالمدينة ‏ ‏فأبى ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏عليها ذلك وقال لست تاركا شيئا كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يعمل به إلا عملت به فإني أخشى إن تركت شيئا من أمره أن أزيغ فأما صدقته ‏ ‏بالمدينة ‏ ‏فدفعها ‏ ‏عمر ‏ ‏إلى ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏وأما ‏ ‏خيبر ‏ ‏وفدك ‏ ‏فأمسكها ‏ ‏عمر ‏ ‏وقال هما صدقة رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏كانتا لحقوقه التي ‏ ‏تعروه ‏ ‏ونوائبه وأمرهما إلى من ولي الأمر قال فهما على ذلك إلى اليوم ‏
‏قال أبو عبد الله ‏ ‏اعتراك افتعلت من عروته فأصبته ومنه يعروه واعتراني ‏

Hadis ini dapat anda lihat di sini

Atau bisa dilihat hadis Shahih Bukhari versi bahasa Inggrisnya dengan Alaihis Salam versi Inggris juga:mrgreen:

It is related that ‘A’isha, Umm al-Mu’minin, reported that Fatima, peace be upon her, the daughter of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, asked Abu Bakr as-Siddiq after the death of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, to allot her her share of the inheritance from what the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, left of the spoils which Allah had given him. Abu Bakr said, “The Prophet, may Allah bless him and grant him peace, said, ‘We do not bequeath inheritance. What we leave is sadaqa.'” Fatima, the daughter of the Messenger of Allah, got angry and disassociated herself from Abu Bakr. She remained disassociated from him until she died. She lived for six months after the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace.”

She said, “Fatima used to ask Abu Bakr for her share of what the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, left of Khaybar and Fadak and his sadaqa in Madina. Abu Bakr refused to give her that and said, ‘I will not abandon anything that the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, used to do. I follow that. I fear that if I were to abandon some of his business, I would swerve. ‘ As for the sadaqa in Madina. ‘Umar gave it to ‘Ali and ‘Abbas, and as for Khaybar and Fadak, ‘Umar kept them and said, ‘These two are the sadaqa of the Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, which were for the rights and events which arose. Their business passes to the one in authority.”

Az-Zuhri observed, “They are still like that today.”

Hadis versi English itu dapat dilihat disini dengan no hadis 2926

Kalau mau yang bahasa Indonesia, maka saya ambil dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120]……

Kalau anda merujuk ke Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari seperti yang saya sebutkan, maka akan dapat dilihat teks arabnya yang jelas-jelas menyebutkan Alaihas Salam. jadi tidak ada penambahan apapun:mrgreen: (cuma hadisnya saya potong karena terlalu panjang, intinya kan kata AS itu). Mau lihat hadis versi lengkapnya, sudah saya bahas disini.

Jadi itu semua bukti otentik kalau Al Bukhari memang menyebutkan AS pada Sayyidah Fatimah. Jadi kepada para penuduh sekarang anda menjadi pihak tertuduh. Kenapa anda tidak menSyiahkan Al Bukhari?:mrgreen:

Salam Damai aja deh🙂

83 Tanggapan

  1. wah…jangan-jangan para penuduh itu bakal melancarkan tuduhannya lagi bahwa syi’ah menyusupkan hadits-hadits palsunya ke dalam kitab shahih bukhari. xixixixi….:D

  2. Lama2 kalau semakin banyak hadits Bukhori yg ternyata ikut memuliakan ahl bayt maka bisa2 oleh para pembenci ahl bayt Imam Bukhori dianggap syi’ah yg taqiyah..:mrgreen:

  3. Wah satu lagi masalah yang akan dibombardir oleh para “pembenci” syiah. “kalau udah sesat ya sesat aja, jangan bawa2 Bukhari”

  4. inilah para korban dikotomi sunni syiah..
    gak pernah dewasa-dewasa, agama maunya di belah, sunni syi’ah.., buktinya tahu deh..

  5. @masbadar
    yang jadi korban siapa mas? yang gak pernah dewasa siapa? dan yang agamanya maunya dibelah siapa?

  6. Alow sobat pa kbr ni sehat2 kan? Lam knal ya ni aq AR Eros mahluk unik dan langka dari lereng gunung Welirang tepate Prigen Pasuruan. bayi blogger yang lahir 8 juli 2008 kemarin (8-7-8 ) angka yg lumayan unik ya. oia aq boleh kn jd tmen km kn ? Add aq yach pliss. oia sempetin jg mampir ke web q ya? berbagi hal-hal umum, seru, kocak, gokil dsb. juga baca pgalaman q di datangi malaikat bukan untuk mengaku jadi imam mahdi apalagi jadi nabi akhir zaman tapi dia dy perantara utusan Allah SWT untuk melakukan perubahan dasyat klik sni ya : http://www.areros.co.cc

  7. Ah, terima kasih pencerahannya.

  8. @masbadar
    selama masih ada antek-antek Amerika dan Zionis yang berusaha memecah belah umat Islm dan mendistorsi ajaran agama Islam ini, maka selama ini itu pula kami akan terus menampakkan fakta-fakta ilmiah guna menjawab segala bentuk tindak-tanduk dari antek-antek Amerika dan Zionis yang berlindung dibalik baju keulamaan.

    hehehe…mang ada ya baju keulamaan? kayak apa yach?

  9. @ressay😆 saya rasa sih nggak
    bakal jadi senjata makan tuan itu

    @truthseeker
    he he he nggak bakal deh Mas:mrgreen:

    @Abu Syahzanan
    Nah kalau yang ini masih mungkin
    orang sesat memang gak pantas mengutip Imam Bukhari
    begitu kan, untung saya nggak sesat:mrgreen:

    @masbadar
    Alhamdulillah, saya tidak terjebak dengan dikotomi yang begituan
    he he he saya emang masih kecil Mas jadi maaf kalau kelihatan nggak dewasa.
    Bukannya Mas pernah juga tuh bahas Syiah dan Ibnu Saba di blognya Mas. Apa situ nggak terjebak dengan dikotomi apa itu tadi…..:mrgreen:

    @hildalexander
    dia kan lagi ngomongin saya Mbak
    *narsis nggak jelas*

    @AR Eros
    Salam kenal juga, eh itu beneran ya
    hebat banget:mrgreen:

    @gentole
    sama-sama
    *tetapi nggak ngerasa ngasih pencerahan*

    @ressay
    baju keulamaan itu baju yang kebesaran kan:mrgreen:

  10. dasar para syiahphobia. eh, bukan. tapi ketidak senangan terhadap ahlul bait. Demdam pribadi…
    ada-ada saja. nggak bisa lihat orang seneng dikit. bukan mo belain siah sih. apa itu syiah?

    *sedang bad mood abis-abisan dan mencari penyaluran saat ada kesempatan*

    maaf….😛

  11. ahsantu..

  12. @mas sp
    he..he…keblinger doang

    @masbadar,

    “inilah para korban dikotomi sunni syiah..
    gak pernah dewasa-dewasa, agama maunya di belah, sunni syi’ah.., buktinya tahu deh..”

    Mas Rasulullah pernah mengingatkan sebelum wafatnya, bahwa umatnya akan terpecah menjadi beberapa golongan (puluhan) dan hanya 1 yg benar. Masing masing golongan memiliki dasar, dalil serta alasan untuk menguatkan golongannya termasuk suni-syiah. Jadi disini tidak ada yg mau dibelah, akan tetapi ternyata peringatan Rasulullah itu adalah benar “terbelah”. Saya katakan sekali lagi TIDAK ADA YG MAU DIBELAH.

    Tidak ada yg dikotomi disini, apalagi tidak dewasa. Sepertinya mas sendiri yg belum dewasa yang tidak mau mencari golongan mana yang dimaksud oleh Rasulullah. Kita diberikan akal untuk berpikir dan dari berpikir itulah kita coba melihat makna yang dimaksud Rasulullah.

    Secara umum, jika mas mau melihat, tidak banyak perbedaan diantara golongan tersebut. Namun mungkin disadari atau tidak dan sudah banyak contoh, ada segelintir “oknum” atawa orang yang merasa bahwa golongannya lah yg paling benar. Dari “merasa” itulah timbul syndrom berkepala besar yang langsung memvonis bahwa selain golongannya adalah tidak benar, sesat, kafir………tentunya mas gak mau dicap sesat bin kafir, pastinya mas mengeluarkan argumen, dasar, dalil untuk membuktikan bahwa mas tidak seperti yang dimaksud diatas.

    Disini inilah mungkin rekan, saudara2 kita yang lain meluruskan pemahaman itu (apalagi anda tau syiah dibilang kafir ???? atau anda tidak tau ????atau lebih parah lagi anda tidak mau tau????). Yang kita ketahui bahwa kita tidak boleh mengkafir sesama muslim. Entah saya tidak tau islam seperti apa mereka itu, islam golongan gila ???? (adalagi islam golongan baru……)

    Syiah yang saya ketahui tidak pernah menyatakan bahwa golongan selain mereka adalah sesat, kafir…….mereka menganggap selain syiah adalah SAUDARA MUSLIM/SAUDARA SUNI dan itulah akhlak mereka, naaah justru golongan selain syiah itulah yg selalu menyatakan syiah SESAT bin KAFIR. Kita disini adalah bersaudara, dan saling meluruskan yang kita inginkan persatuan umat, persatuan Islam !!!!!! TIDAK ADA YG DIKOTOMI DISINI..wallahu alam ….yuk mari..HAIL

  13. Alow sobat pa kbr ni sehat2 kan? Lam knal ya ni aq AR Eros mahluk unik dan langka dari lereng gunung Welirang tepate Prigen Pasuruan. bayi blogger yang lahir 8 juli 2008 kemarin (8-7-8 ) angka yg lumayan unik ya. oia aq boleh kn jd tmen km kn ?

    Add aq yach pliss. oia sempetin jg mampir ke web q ya? berbagi hal-hal umum, seru, kocak, gokil dsb. juga baca pgalaman q di datangi malaikat bukan untuk mengaku jadi imam mahdi apalagi jadi nabi akhir zaman tapi dia dy perantara utusan Allah SWT untuk melakukan perubahan dasyat klik sni ya : http://www.areros.co.cc

  14. mang hadits 73 golongan itu shahih ya mas…..

    kasih pencerahan dunk….

    makasih ya mas

  15. Pengertian Ulil Amri dalam Al-Qur’an “Wahai Orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu” (An-Nisa;59). Kajian Al-Qur’an Setelah Allah menyerukan beribadah kepada Zat Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, menyebarkan ihsan kepada seluruh peringkat orang-orang yang beriman, dan menghinakan orang-orang yang mencela jalan yang terpuji ini atau yang benar-benar menyimpang dariNya, maka Dia memerintahkan orang-orang yang beriman kembali kepada suatu dasar, yang darinya membuahkan cabang-cabangnya, dengannya masyarakat Islam menjadikan dasar hukum, yaitu mengajak dan mencintai persatuan dan kesatuan antara mereka, dan menghilangkan setiap perselisihan dengan cara kembali kepada Allah dan RasulNya. Tidaklah patut untuk meragukan bahwa firman Allah SWT,”Taatilah Allah dan taatilah Rasul”, merupakan suatu kalimat untuk memgembalikannya kepada Allah dan Rasulnya ketika terjadi perselisihan kerana perkara ini merupakan asas dari seluruh syariat dan hukum Ilahi. Sebagaimana Allah SWT menegaskan dalam firmanNya: “Maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu perkara maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan RasulNya”. Kemudian perhatikan firman Allah SWT seperti berikut: “Apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang mengaku..”(An-Nisa:60). Dalam Surah an-Nisa: 64, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah”. Dalam Surah an-Nisa: 65, Allah SWT berfirman: “Maka demi Tuhanmu tidaklah beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan”. Dua Segi Ketaatan Kepada Rasulullah SAWA Tidak perlu diragukan bahwa mentaati Allah SWT itu adalah mentaati ilmu-ilmu dan syariatNya yang wahyukan melalui RasulNya. Sedangkan Rasulullah SAWA mempunyai dua segi: Pertama: Syariat (selain al-Qur’an ) yang diwahyukan Tuhan kepadanya, yaitu penjelasan yang beliau terangkan kepada manusia tentang perincian makna Ijmali (keseluruhan) yang terkandung dalam al-Qur’an, dan sesuatu yang berkaitan dengannya, sebagaimana firman Allah SWT,”Dan Kami turunkan kepadamu az-Zikr agar kamu memperjelas kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka”(an-Nahl:44). Kedua: Ketetapan yang beliau pandang benar yaitu ketetapan yang berkaitan dengan pemerintahan dan keadilan. Sebagaimana Allah SWT menyatakan dalam firmanNya,” supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang diwahyukan kepadamu” (an-Nisa:105). Ini adalah ketetapan yang menjadi dasar hukum undang-undang keadilan di antara manusia, dan Rasulullah SAWA menjadikannya dasar hukum dalam perkara-perkara yang diinginkan. Allah SWT memerintahkan bermusyawarah dalam mengambil suatu pendapat. Allah SWT berfirman,”Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam perkara itu, kemudian kamu membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah” (Ali Imran:159). Dan perkara ini diperintahkan bermusyawarah dengan mereka dan menyatukan keinginan yang kukuh. Setelah anda mengetahui hal ini, maka anda akan mengetahui bahwa taat kepada Rasul mempunyai makna tertentu, dan taat kepada Allah juga mempunyai mempunyai makna tertentu. Taat kepada Rasulullah pada hakikatnya taat kepada Allah karena Allah yang menetapkan syariat wajibnya ketaatan kepada RasulNya. Karena itu manusia wajib mentaati Rasulullah SAWA yakni seluruh penjelasannya tentang wahyu dan ketetapan yang beliau tetapkan. Allah Maha Mengetahui maksud pengulangan perintah ketaatan dalam firmanNya, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”. Para mufassir tidak menyebutkan bahwa pengulangan perintah ketaatan adalah taukid (penguat) dan seandainya maksud daripada taukid itu dapat dicapai tanpa adanya pengulangan kata itu seperti seandainya dikatakan, “Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul”, telah menunjukkannya dan lebih mendekatinya, karena mentaati Rasulullah pada hakikatnya mentaati Allah, dan dua ketaatan ini pada hakikatnya satu. Jika demikian, maka sia-sialah setiap pengulangan yang menunjukkan taukid. Perlu diketahui bahwa Ulil Amri itu tidak menerima wahyu. Mereka hanya mempunyai ketetapan dan pendapat. Ketetapan dan pendapat mereka itu wajib ditaati jika sejalan dengan ketetapan dan sabda Rasulullah SAWA. Justeru itu ketika Allah menyebutkan keharusan pengembalian dan kepatuhan, Dia tidak menyebutkan mereka tetapi dikhususkan kepada Allah dan RasulNya sebagaimana Allah SWT berfirman,”Maka jika kamu berbantah-bantah tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir”(an-Nisa:59). Ayat ini menunjukkan bahwa perintah kembali di sini ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana ditegaskan pada awal ayat,”Wahai orang-orang yang beriman”. Dan tidak perlu diragukan bahwa perselisihan itu adalah perselisihan di antara mereka. Perselisihan itu tidak boleh terjadi antara orang-orang yang beriman dengan Ulil Amri disebabkan mereka wajib ditaati. Jadi, yang dimaksudkan perselisihan dalam ayat itu adalah perselisihan yang terjadi di antara mereka orang-orang yang beriman bukan dengan Ulil Amri tetapi perselisihan di antara orang-orang yang beriman tentang pemahaman terhadap hukum Allah, yang hal ini ditunjukkan dengan oleh qarinah (hubungan) ayat-ayat berikutnya yang mencela orang yang kembali kepada thagut, tidak kepada hukum Allah dan RasulNya. Ia adalah hukum yang mewajibkan mengembalikan setiap perselisihan tentang hukum agama yang dijelaskan dan ditetapkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua hujjah yang qat’i bagi orang yang memiliki pemahaman hukum yang luas dari keduanya. Ketetapan Ulil Amrilah yang sesuai dengan hukum al-Qur’an dan Sunnah dan sebagai hujah yang qat’i kerana ayat itu menetapkan kewajiban mentaati mereka tanpa syarat dan batas, yang semuanya itu hakikatnya kembali al-Qur’an dan Sunnah. Dari sini jelaslah bahwa Ulil Amri itu bukan mereka yang membuat hukum baru dan menghapus hukum yang sudah kukuh dan kekal di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Jika tidak demikian, maka tidaklah wajib mengembalikan sumber-sumber perselisihan kepada al-Qur’an dan Sunnah atau mengembalikan kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana makna yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT,”Dan tidaklah patut bagi mukmin dan mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (al-Ahzab:36). Perintah Ketaatan Mutlak Dengan demikian maka ketetapan Allah adalah ketetapan syariat dan RasulNya baik dalam masalah ini mahupun masalah yang lebih umum. Maka karena itulah mereka harus menghadapkan pandangannya kepada masalah kelangsungan wilayah atau kepimpinan, dan menggali rahasia hukum Allah dan RasulNya tentang masalah ini dan masalah-masalah yang lain. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain bagi mereka Ulil Amri tentang ketetapan-ketetapannya kecuali apa yang ada pada Allah dan RasulNya yakni hukum yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah. Allah tidak menyebutkan mereka ketika menyebutkan pengembalian, sebagaimana dalam firmanNya,”Sekiranya kamu berbantah-bantah tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul”. Ini menunjukkan satu ketaatan kepada Allah dan satu ketaatan kepada Rasulullah dan Ulil Amri, karena itu Allah SWT berfirman,”Taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Tidak perlu diragukan bahawa perintah ketaatan dalam firmanNya, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”, merupakan ketaatan yang mutlak tanpa disyaratkan dengan suatu syarat, dan dibatasi oleh suatu batasan. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah, jika tidak demikian, maka kewajiban taat kepadanya bertentangan dengan Allah SWT, dan hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan kemaksuman Rasulullah SAWA. Demikian juga kemaksuman itu harus dimiliki oleh Ulil Amri di samping kekuatan ismah yang ada pada diri Rasulullah ketika memaparkan hujah-hujah aqli dan naqli. Orang yang ragu menyatakan ayat ini tidak menunjukkan adanya kemaksuman karena ia mengatakan bahawa Ulil Amri tidak wajib maksum dan ayat ini tidak menunjukkan pada makna itu. Pandangan seperti itu menjelaskan bahawa ayat ini menetapkan suatu hukum untuk kemaslahatan ummat dan keterpeliharaan masyarakat Islam dari perselisihan dan perpecahan sesama ummat Islam sehingga kepimpinan itu ditetapkan oleh ummat dan masyarakat kemudian dipilihlah salah seorang dari mereka untuk meneruskan kewujudan Islam dan ia wajib dipatuhi. Sementara mereka tahu bahwa pemimpinnya mungkin bermaksiat dan mungkin salah dalam menetapkan hukum tetapi jika ia telah diketahui jelas menentang undang-undang maka ia tidak boleh ditaati dan harus dinasihati atas kesalahannya. Jika tidak jelas kesalahannya, tetap dilangsungkan ketetapan hukumnya. Jika kesalahannya ternyata jelas, maka tidak perlu diperhatikan kesalahannya demi kemaslahatan persatuan masyarakat dan keterpeliharaan pemerintahan dari perpecahan. Pendapat tadi menyatakan inilah kenyataan kedudukan Ulil Amri dalam ayat ini yang wajib ditaati. Allah mewajibkan orang-orang beriman mentaati mereka. Jika mereka menyalahi al-Qur’an dan Sunnah, maka mereka tidak boleh ditaati dan tidak boleh dilaksanakan keputusan mereka karena Rasulullah SAWA bersabda: “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta”. Makna ini diriwayatkan oleh dua golongan dan dengan makna ini terbatasi kemutlakan ayat itu. Jika kesalahan dan pelanggaran itu diketahui, maka harus dikembalikan kepada kebenaran yaitu hukum al-Qur’an dan Sunnah. Jika kesalahan itu tidak jelas, maka hukumnya tetap dilangsungkan seperti tidak ada kesalahan, dan tidak ada masalah dengan kewajiban menerima dan mentaati hukum yang berbeda dengan hukum qat’i dalam bentuk ini, karena kemaslahatan terpeliharanya persatuan ummat, kejayaan dan keharmonisan dapat memperbaiki perbedaan ini. Dan hal seperti ini dapat merujuk kepada keadah usul fiqh tentang hujah cara-cara lahiriah. Demi kukuhnya kedudukan hukum dalam kenyataan dan jika dalam kenyataannya perbedaan ini mengarah kepada kerusakan yang lazim, maka dapat diperbaiki dengan cara kemaslahatan. Pandangan Yang Membataskan Ketaatan Mutlak Jika berdasarkan pendapat tadi maka mentaati Ulil Amri itu wajib walaupun mereka tidak maksum, memungkinkan berbuat kesalahan dan dosa. Maka jika mereka berbuat dosa maka mereka tidak boleh ditaati. Jika mereka berbuat kesalahan maka mereka harus kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah jika dalam hal itu mereka ketahui, dan jika kesalahannya tidak diketahui maka ketetapan hukumnya tetap berlaku. Tidak ada larangan melaksanakan apa yang berbeda dengan hukum Allah dalam hakikat bukan dalam lahiriah, demi kemaslahatan Islam dan ummatnya dan keterpeliharaannya kesatuan Islam. Jika anda berfikir tentang keterangan yang telah kami paparkan tadi, maka anda akan mengetahui betapa lemahnya dasar keraguan ini karena hal ini dapat mendekatkannya dan mendorong kita membatasi kemutlakan ayat itu dengan suatu kefasikan lalu menyebutkan sabda Rasulullah SAWA,” “Tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Pencipta”. Selanjutnya untuk menerapkan makna ini, maka menyebutkan ayat-ayat al-Qur’an seperti,”Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan yang keji” (al-A’raf:28). Dan juga ayat-ayat lain yang senada maknanya. Dan demikian juga, bahkan kenyataannya membuat ketetapan seperti hujah lahiriah tadi, seperti kewajiban mentaati pemimpin-pemimpin perang yang diangkat oleh Rasulullah SAWA, demikian juga pemimpin-pemimpin yang dilantik untuk memimpin negeri seperti Makkah dan Yaman, atau mereka yang diangksebagai pengganti di Madinah ketika Nabi SAWA pergi ke medan perang, dan seperti pendapat seorang mujtahid dan muqalidnya. Namun demikian, hal ini tidak dapat membatasi ayat itu. Maka suatu masalah yang benar adalah suatu perkara, adapun masalah yang ditetapkan berdasarkan lahiriah al-Qur’an adalah perkara lain. Dengan demikian maka ayat itu menunjukkan kewajiban mentaati Ulil Amri tanpa ada batasan yang membatasinya dan suatu syarat yang mensyaratinya. Tidak ada satu pun ayat-ayat al-Qur’an yang membatasi ayat ini dalam “madlulnya” sehingga makna firman Allah SWT:”Dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”, tidak dapat kita fahami, misalnya:”Taatlah kamu kepada Ulil Amri kamu selagi mereka tidak memerintahkan kemaksiatan atau selagi kesalahan mereka belum diketahui. Jika mereka memerintahkan kemaksiatan maka kalian tidak boleh mentaatinya, dan jika kalian telah mengetahui kesalahan mereka maka hendaklah kalian mengembalikan hal itu kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Semua itu bukan makna firman Allah SWT:” “Dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Sehubungan dengan masalah ketaatan yang berbeda dengan ketaatan yang diwajibkan dala masalah Imamah, Allah menjelaskan batasan ketaatan dengan sejelas-jelasnya dalam firmanNya: “Dan Kami mewajibkan manusia berbuat kebaikan kepada kedua orang tua. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang hal itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya”(al-Ankabut:8). Sedangkan dalam ayat yang mengandungi asas agama (an-Nisa:59), yang hal ini merupakan dasar dari seluruh kebahagian manusia di sana tidak ada satu pun batasan yang membatasinya sedangkan ayat ini menggabungkan antara Rasulullah dan Ulil Amri, dan menyebutkan untuk keduanya dalam satu perintah ketaatan. Perhatikan firman Allah SWT,”Dan taatilah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Dan Rasul tidak boleh memerintahkan kemaksiatan atau salah dalam menetapkan hukum. Jika hal ini dibolehkan bagi Ulil Amri, maka tiada lain kecuali menyebutkan batasan yang ditujukan kepada mereka. Sementar tidak ada satu pun dalil yang dapat membatasi ayat mutlak tanpa satu pun batasan, sedangkan kewajiban ismah bagi Ulil Amri sama dengan Rasulullah SAWA tanpa perbezaan. Pengertian Ulil Amri Kemudian yang dimaksudkan dengan kata “Amr” dalam “Ulil Amri” adalah suatu perkara yang merujuk kepada agama orang-orang yang beriman yang menjadi objek perintah ini, atau dunia mereka sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah SWT,”Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”(Ali Imran:159), dan firman Allah SWT dalam memuji orang-orang yang bertaqwa,”Sedang urusan mereka disyurakan di antara mereka”(asy-Syura:38). Dan walaupun dibolehkan memberikan makna “Amr” lawan daripada larangan, tetapi makna ini jauh dari yang dimaksudkan. Kata “Ulil Amri” dibatasi oleh kata “minkum” dan ada zharf yang jika dilahirkan adalah,”Ulil Amri ka baina kum” (Ulil Amri di kalangan kamu) dan ini sama halnya dengan firman Allah SWT: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di kalangan mereka”(al-Jumu’ah:2). Dan firman Allah SWT: “Rasul-Rasul di kalangan kamu yang menceritakan kepada kamu ayat-ayatKu”(al-A’raf:35). Kritik Terhadap Pandangan Ar-Razi dan Tafsir Al-Manar Tentang Pengertian Ulil Amri Dengan dasar ini tertolaklah apa yang telah dipaparkan oleh sebagian mufassir bahawa pembatasan “Ulil Amri” dengan kata (minkum) menunjukkan seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, dan mereka dari kita, sedang kita adalah orang-orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan ismah Ilahiyyah. Kemudian bahawa “Ulil Amri” adalah Isim Jamak yang menunjukkan banyak dan menghimpun mereka yang kemudian mereka dinamakan Ulil Amri. Hal ini tidak ada keraguan, tetapi yang diragukan adalah dasar pandangan yang menyatakan bahwa mereka adalah satu kesatuan pemimpin perkara, yang masing-masing mereka menyandang kewajiban ditaati, sehingga wajibnya ketaatan kepada mereka dinisbahkan kepada kata itu dan menggunakannya seperti kita mengatakan:”Laksanakanlah kewajiban-kewajibanmu, dan taatilah pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar bangsamu”. Yang mengherankan lagi pendapat ar-Razi bahwa makna ini mengharuskan kandungan makna jamak terhadap mufrad. Pendapat ini bertentangan dengan lahiriah kata itu. Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah umum digunakan dalam bahasa. Penggunaan seperti ini banyak terdapat dalam al-Qur’an seperti firman Allah SWT, “Maka janganlah taat kepada orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)”(al-Qalam:8). “Maka jangan taati orang-orang yang kafir”(al-Furqan:52). “Sesungguhnya kami telah taati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami” (al-Ahzab:67). “Dan janganlah kamu mentaai perintah orang-orang yang melampaui batas”(as-Syuara:151). “Peliharalah solat-solatmu”(al-Baqarah:238). Dan firman Allah SWT,”Dan berendah dirilah kamu kepada orang-orang yang beriman” (al-Hijr:88). Dan ayat-ayat yang lain dalam bentuk yang bermacam-macam, kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita dan kalimat perintah dan larangan. Adapun yang bertentangan “kandungan makna jamak terhadap mufrad” dengan lahiriah kata itu” adalah penggunaan kata jamak tetapi yang dimaksudkan satu dari kesatuan itu, bukan dari segi ketetapan suatu hukum terhadap jamak, yakni berlakunya hukum-hukum sesuai dengan jumlah kesatuan itu. Seperti kita mengatakan:”Muliakan ulama negerimu, yakni muliakan orang alim ini dan muliakan orang alim itu”. Tidak jelas pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan seperti Ulil Amri – mereka yang mempunyai kaitan dengan ketaatan yang diwajibkan – seluruh lembaga tertentu masing-masing kakitangannya termasuk Ulil Amri, yakni orang yang mempunyai pengaruh di kalangan manusia dan urusan mereka, seperti para panglima perang, ulama, para pemimpin negara dan tokoh-tokoh bangsa. Bahkan Tafsir al-Manar menyatakan bahawa Ulil Amri itu adalah Ahlul Halli wal Aqdi iaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu boleh terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslahatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi akhbar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan. Inikah yang dimaksudkan dengan Ulil Amri? Apakah Ulil Amri itu Ahlul Halli wal Aqdi? Apakah mereka itu para pemimpin lembaga-lembaga sosial umum? Pengertian seperti ini bererti telah menutupi kandungan makna ayat yang sempurna dengan pengertian yang tidak jelas. Ayat ini menunjukkan – sebagaimana yang anda ketahui – adanya ismah Ulil Amri tetapi para mufassir yang mempunyai pendapat seperti tadi memaksakan diri untuk menerima makna ini. Apakah yang mempunyai sifat ismah adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu, kemudian masing-masing mereka itu maksum, sehingga keseluruhan mereka itu maksum? Jika demikian semua mereka itu maksum. Tetapi yang jelas belum pernah terjadi di tengah-tengah atau kalangan ummat ini, di suatu zaman, para Ahlul Halli wal Aqdi berkumpul, yang semua mereka itu maksum dalam mengatur seluruh urusan ummat. Sedangkan di sisi lain mustahil Allah SWT memerintahkan sesuatu tanpa mempunyai misdaq di luar, atau mustahil ismah ini – sifat yang hakiki dimiliki oleh lembaga-lembaga yang kakitangannya bukan orang-orang yang maksum. Bahkan mereka ini sangat memungkinkan berbuat kemusyrikan dan kemaksiatan sebagaimana yang terjadi pada manusia umumnya. Maka, pendapatnya memungkinkan salah dan mengajak kepada kesesatan serta kemaksiatan. Berbedakah hal ini dengan pendapat lembaga tadi karena ismahnya? Hal ini mustahil, bagaimana mungkin menyifatkan subjek i’tibari dengan sifat yang hakiki, yakni menyifatkan lembaga sosial dengan ismah. Atau ismah lembaga ini bukan sifat kakitangan-kakitangannya dan bukan sifat lembaga itu sendiri, tetapi hakikatnya Allah memelihara lembaga ini dari memerintahkan kemasiatan atau berpendapat dengan pendapat yang salah, sebagaimana bahwa berita yang mutawatir itu terpelihara dari kedustaan. Sehubungan dengan hal ini, ismah itu bukan sifat dari masing-masing pembawa berita itu dan bukan pula sifat lembaga sosial tetapi hakikatnya bahwa pada umumnya hal ini terhindar dari kedustaan. Dengan pengertian lain Allah SWT memelihara berita yang keadaannya seperti ini, dari kesalahan dan kedustaan, sehingga pendapat Ulil Amri terhindar dari kesalahan walaupun kakitangannya dan lembaga itu tidak memiliki sifat ismah tetapi berita itu sebagai berita yang mutawatir terpelihara dari kedustaan dan kesalahan. Apakah pengertian seperti ini yang dimaksudkan ismah dalam Ulil Amri? Ayat ini tidak menunjukkan bahawa pendapat mereka yang paling banyak dokongan adalah tidak salah. Tetapi yang benar adalah yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Dialah yang telah mendapat pemeliharaan Allah SWT untuk ummatnya. Telah diriwayatkan dari Nabi SAWA bahawa beliau bersabda: “Ummatku tidak akan bersepakat atas kesalahan”. Jika riwayat ini sahih walaupun terasingnya sumber, maka ia menafikan kesepakatan ummat atas kesalahan, dan tidak menafikan kesepakatan Ahllul Halli wal Aqdi yang di antara mereka berada di atas kesalahan. Ummat mempunyai makna tersendiri dan Ahlul Halli wal Aqdi mempunyai makna lain. Dan tidak ada dalil untuk menghendaki makna kedua dari kalimat yang pertama. Demikian juga riwayat ini tidak menafikan kesalahan dari kesepakatan ummat tetapi ia menafikan kesepakatan atas kesalahan. Dua pengertian ini berbeda. Makna riwayat ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam suatu masalah tidak berarti kesalahan ummat tetapi di kalangan mereka itu harus ada orang yang selalu berdiri di atas kebenaran sama ada keseluruhan mereka atau sebagiannya walaupun yang maksum satu orang. Maka pengertian inilah yang sesuai dengan makna ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat Hadith yang menyatakan bahwa agama Islam, agama yang hak tidak akan musnah dari bumi ini bahkan ia kekal sampai Hari Qiamat. Allah SWT berfirman: “Jika orang-orang (Quraisy) mengingkari Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali kali tidak akan mengingkarinya”(al-An’am:89) “Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” (az-Zukhruf:28). “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan az-Zikr dan sesungguhya Kami benar-benar memeliharanya”(al-Hijr:9). “Dan sesungguhnya al-Qur’an adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan (ketika menerimanya) maupun dari belakang (ketika menyampaikannya)”(Fusilat:41-42). Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada ummat Muhammad, bahkan riwayat-riwayat yang sahih menunjukkan adanya perselisihan ummat, yaitu riwayat-riwayat yang bersumber dari banyak jalur dari Nabi SAWA, yang menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi terpecah kepada 71 golongan, dan Nasrani menjadi 72 golongan, dan ummat Islam menjadi 73 golongan, semuanya itu binasa kecuali satu. Riwayat ini telah kami kutip dalam kajian riwayat tentang ayat 103, Surah Ali Imran. Sehubungan dengan hal ini, kami tidak akan membicarakan tentang matan yang telah terasingkan dari sumber perbicaraan, walaupun sanadnya sahih tetapi di sini kami akan membicarakan tentang makna ismah Ahlul Halli Wal Aqdi ummat ini, jika makna inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT:”Ulil Amri minkum”. Faktor apakah yang mengharuskan adanya ismah Ahlul Halli wal Aqdi ummat Islam, dalam memaparkan pendapatnya? Kelompok manusia ini yang dijadikan sebagai Ahlul Halli wal Aqdi dalam urusan-urusan ummat yang tidak hanya dikhususkan pada ummat Islam, bahkan seluruh ummat, yang besar dan kecil, suku-suku dan kelompok-kelompok manusia yang terhitung jumlahnya. Mereka mempunyai kedudukan di tengah-tengah kekuatan dan pengaruh dalam urusan-urusan umum. Jika anda mengkaji sejarah dalam peristiwa-peristiwa ummat dan generasinya pada masa lampau dan masa kita sekarang, nescaya anda menemui banyak sumber di mana Ahlul Halli wal Aqdi bersepakat dalam perkara-perkara yang penting, berdasarkan pendapat yang mereka anggap benar, kemudian mereka merealiasikan dalam perbuatan, sementara pendapat itu mungkin salah dan mungkin benar. Walaupun kesalahan yang berada pada pendapat-pendapat individu lebih banyak dari pendapat-pendapat kesepakatan, tetapi pada dasarnya pendapat-pendapat kesepakatan tidak berarti tidak menerima kesalahan. Inilah sejarah dan realita, yang telah terbukti dalam banyak sumber dan kisah. Maka, jika pendapat kesepakatan dari Ahlul Halli wal Aqdi dalam Islam terpelihara dari kesalahan, hal ini bukan karena faktor-faktor yang biasa tetapi karena adanya faktor-faktor mukjizat yang luar biasa, yang hal ini merupakan pancaran cahaya karamah yang dikhususkan untuk meluruskan ummat ini dan memelihara mereka dari setiap keburukan yang menimpa jama’ah dan persatuan mereka. Dan berakhir dengan adanya sebab Ilahiyyah yang luar biasa ini, mereka membaca al-Qur’an , hidup dengan kehidupan al-Qur’an sehingga kehidupan ummat ini sesuai dengan kehidupan yang dikehendaki oleh al-Qur’an. Maka secara pasti al-Qur’an menjelaskan hukum-hukumnya dan keluasan kandungannya. Dengan al-Qur’an, Allah memberikan kurnia sebagaimana kurnia yang diberikan melalui al-Qur’an dan Muhammad SAWA. Dan Allah menjelaskan kelompok manusia ini dan kedudukannya di tengah-tengah masyarakat sebagaimana Dia menjelaskan hal itu bagi Nabi SAWA. Dengan al-Qur’an Nabi SAWA berwasiat kepada ummatnya terutama kepada sahabat-sahabatnya yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang sesudahnya menjadi Ahlul Halli wal Aqdi dan mereka mengurus kepimpinan perkara-perkara ummat. Dan diperjelas, apakah kelompok manusia ini dinamakan Ulil Amri, apakah hakikatnya dan apakah berbentuk satu lembaga untuk mengatur seluruh ummat Islam dan urusan umum mereka? Atau seluruh urusan ummat Islam harus mendapat kesepakatan keseluruhan Ulil Amri, kemudian mengatur seluruh jiwa, tujuan dan harta mereka? Suatu hal yang menjadi keharusan bagi ummat Islam. Mengapa Mereka Merahasiakan Hakikat Imamah? Hal ini adalah masalah yang sangat penting, yang harus diperhatikan oleh seluruh ummat Islam terutama para sahabat Nabi SAWA untuk ditanyakan kemudian dibahaskan. Sementara mereka telah menanyakan masalah-masalah penting lainnya seperti masalah bulan sabit, infaq, dan harta rampasan, sebagaimana termaktub dalam firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit”(al-Baqarah:189). “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infaqkan”(al-Baqarah:215). “Mereka bertanya kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan”(al-Anfal:1). Maka mengapa mereka tidak bertanya tentang masalah Imamah? Atau mereka sudah menanyakannya kemudian dianggapnya bukan masalah penting hingga masalah ini disembunyikan kepada kita? Maka berlakulah pada mayoritas ummat Islam, masalah penting ini didasarkan pada hawa nafsunya. Mereka menganggap dalam masalah ini tidak berdasarkan hawa nafsu, tetapi kenyataannya mereka menetapkan masalah ini berdasarkan dalil yang tidak jelas, sehingga hakikat masalah penting ini ditinggalkan dan dilupakan. Suatu hal yang harus dijadikan alasan dan bukti tentang masalah ini adalah terjadinya bermacam-macam perselisihan dan fitnah yang terjadi setelah Rasulullah SAWA wafat, yang peristiwa ini terjadi dari masa ke masa. Mengapa kenyataan-kenyataan ini dan pengaruhnya, tidak terdapat dalam hujjah-hujjah dan pandangan-pandangan mereka. Mereka menghiasi dan memperindahkan kenyataan ini tidak sedikitpun tampak dalam tulisan-tulisan dan kitab-kitab mereka? Kenyataani ini tidak ternyata di kalangan mufassir terdahulu yakni para sahabat dan tabi’in, kemudian sebagian mufassir kebelakangannya merujuk kepadanya seperti ar-Razi dan sebagian sesudahnya. Sehingga az-Razi menyatakan: Pendapat ini bertentangan dengan ijmak (persepakatan) karena sehubungan dengan makna Ulil Amri tidak lebih dari empat pendapat: Khulafa ar-Rasyidin, para panglima perang, ulama, dan para Imam maksum. Adapun pendapat yang kelima terkeluar dari ijmak. Kemudian ar-Razi memberikan jawaban bahwa pada hakikatnya pendapat ini merujuk kepada pendapat yang ketika (ulama), sehingga mengacaukan apa yang telah menjadi kemaslahatan. Maka semua ini menunjukkan bahwa perkara ini tidak sesuai dengan pendapat ini, dan tidak dapat difahami bahwa perkara ini adalah pemberian dan anugerah yang mulia yakni mukjizat dan karamah Islam yang luar biasa bagi Ahlul Halli wal Aqdi ummat Islam. Atau dengan kata lain: Bahwa ismah tidak disebabkan oleh faktor yang luar biasa, tetapi Islam membina pendidikan umum atas dasar prinsip-prinsip yang mendasar yang menghasilkan buah ini. Ahlul Halli wal Aqdi ummat Islam tidak akan salah apa yang mereka sepakati, dan pendapat mereka tidak akan melahirkan kesalahan. Pandangan yang tidak jelas ini batil, ia telah menolak kaedah yang umum yaitu”Pecapaian keseluruhan adalah Pencapaian seluruh bagian-bagiannya”. Jika masing-masing kakitangan boleh berbuat kesalahan, maka keseluruhannya boleh berbuat kesalahan. Kemudian kembali kepada masalah Ulil Amri dalam pengertian ini. Jika mereka ini adalah orang-orang yang selalu benar dan memiliki ismah dengan faktor tadi, maka kemanakah harus dilarikan kebatilan dan kerusakan – pengaruh mereka – yang memenuhi dunia Islam? Majlis Ahlul Halli Wal Aqdi Setelah Nabi SAWA Wafat Setelah Rasulullah SAWA wafat, tidak sedikit majlis, tempat Ahlul Halli wal Aqdi berkumpul, yang sengaja mereka ciptakan untuk membenarkan pendapat-pendapat mereka. Kemudian mereka tidak menambah kecuali kesesatan, tidak menambah kebahagiaan kecuali kesengsaraan. Dan setelah Rasulullah SAWA wafat, mereka tidak mengadakan majlis-majlis keagamaan kecuali mengarah kepada penguasa yang zalim dan memecah belah. Para peneliti yang kritis hendaklah mengkaji fitnah yang bertebaran setelah Rasulullah SAWA wafat. Peristiwa demi peristiwa yang diikuti oleh pertumpahan darah, tujuan-tujuan yang kotor, harta-harta yang terampas dan ketentuan-kententuan hukum yang sia-sia dan terlupakan! Kemudian kaji perkembangan, dasar dan akar-akarnya! Apakah faktor-faktor penyebabnya tidak berakar kepada pendapat Ahlul Halli wal Aqdi ummat, kemudian mereka meletakkannya di atas pundak-pundak manusia? Kenyataan inikah yang diyakini oleh orang yang mempercayai untuk dijadikan dasar pembinaan agama, yakni pendapat Ahlul Halli wal Aqdi. Wajarkah mereka ini yang dimaksudkan Ulil Amri yang maksum? Dengan demikian, maka tidaklah berdasar pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Ulil Amri adalah Ahlul Halli wal Aqdi. Di mana mereka ini boleh melakukan kesalahan dan boleh juga benar seperti manusia yang lain, bukan kelompok manusia yang memiliki keutamaan dan pengetahuan yang luas tentang perkara-perkara itu sebagai pendidik dan pembimbing yang kesalahanya sangat sedikit. Kemudian dalam perkara itu mereka (Ahlul Halli wal Aqdi) wajib ditaati dan bertolak-ansur terhadap kesalahannya demi kemaslahatan umum walaupun mereka menetapkan hukum yang merubah hukum al-Qur’an dan Sunnah. Mereka mengkategorikan ketetapannya sesuai dengan kemaslahatan ummat dengan menafsirkan hukum-hukum agama tidak sesuai dengan penafsiran sebelumnya atau merubah hukum yang disesuaikan dengan kemaslahatan zaman, keadaan ummat atau tuntutan dunia sekarang. Lalu mereka mengatakan ketetapan inilah yang diridhai oleh agama karena hanya menginginkan kebahagiaan dan kejayaan masyarakat dalam percaturan sosial sebagaimana hal ini nampak dan terjadi pada roda pemerintahan-pemerintahan awal Islam. Hal ini tidak menghalangi hukum-hukum yang berlaku pada zaman Nabi SAWA dan tidak menetapkan hukum sebagaimana perjalanan hidup dan Sunnah-Sunnahnya kecuali karena alasan-alasan itu. Sebab hukum sebelumnya mempersempitkan hak-hak ummat, sementara kemaslahatan keadaan ummat menuntut adanya hukum yang baru yang sesuai dengan zaman dan keadaan mereka atau menetapkan suatu ketetapan yang baru sesuai dengan cita-cita mereka demi kebahagiaan hidup mereka. Sebagian dari para pengkaji menjelaskan bahawa khalifah harus berbuat sesuatu yang berbeda dengan agama yang asal demi memelihara kemaslahatan ummat. Berdasarkan pendapat ini, maka keadaan agama Islam adalah keadaan seluruh masyarakat yang memiliki kelebihan kebudayaan kebendaan yang di dalamnya terdapat suatu kelompok manusia yang dipilih untuk menetapkan hukum dan undang-undang masyarakat sesuai dengan tuntutan keadaan dan zaman menurut pandangan dan kacamata mereka. Pendapat ini – sebagaimana – anda lihat – adalah pendapat orang yang memandang agama adalah ketentuan sosial yang melebur dalam acuan agama. Dalam konsepnya tampak agama sebagai mahkum (yang kena hukum) oleh hukum yang ditetapkan berdasarkan ketentuan-ketentuan masyarakat manusia, yang semuanya ini berkembang dalam perkembangan-perkembangan kesempurnaan yang bertahap, dan sama halnya dengan orang yang mengatakan bahawa agama tidak cocok kecuali pada kehidupan manusia yang hidup pada zaman Nubuwwah dan zaman yang dekat dengannya. Tuntutan ini adalah bahagian dari tuntutan-tuntutan masyarakat manusia, yang tidak layak di bahas hari ini kecuali sebagaimana para ahli geologi membahas tentang kekayaan bumi yang diperolehi dari bawah lapisan bumi. Orang yang berpendapat seperti pendapat ini tidak termasuk ke dalam pembicaraan kita tentang ayat:”Taatlah kepada Allah, dan taatilah kepada Rasul, dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Hal ini karena berbicara masalah ini menjadi suatu dasar yang mempengaruhi seluruh dasar dan ketentuan agama iaitu usuluddin, akhlak, dan syariat walaupun hal ini harus menguraikan peristiwa yang terjadi di kalangan para sahabat sejak Nabi SAWA sakit hingga wafatnya. Perselisihan-perselisihan yang disebabkan mereka, penyimpangan-penyimpangan para khalifah terhadap sebagian hukum dan sirah Nabi SAWA, kemudian pada zaman Muawiyah dan penerusnya, kemudian para penguasa Abbasiyyah dan penguasa-penguasa berikutnya. Semua ini adalah perkara yang meragukan yang menghasilkan suatu kesimpulan yang meragukan. Yang mengherankan adalah pendapat sebagian pengarang kitab yang menyatakan bahwa ayat:” Taatlah kepada Allah, dan taatilah kepada Rasul, dan Ulil Amri di kalangan kamu”, tidak menunjukkan sedikitpun perbedaan pendapat para mufassir: Pertama: karena kewajiban mentaati Ulil Amri pada dasarnya tidak menunjukkan adanya keutamaan dan keistimewaan mereka terhadap yang lain, tidak ubahnya seperti kita wajib mentaati penguasa-penguasa yang sombong dan zalim dalam keadaan terpaksa karena takut akan kejahatan mereka. Dengan demikian mereka tidak akan lebih utama dari kita di sisi Allah SWT. Kedua: karena hukum yang tersebut dalam ayat ini tidak berbeda dengan seluruh hukum yang penerapannya tergantung pada tercapainya subjek-subjeknya, seperti kewajiban berinfaq kepada orang-orang faqir dan larangan menolong orang-orang yang zalim. Maka kita tidak wajib untuk mendapatkan orang faqir atau orang yang zalim sehingga kita tidak menolongnya. Dua alasan ini jelas sekali batil, karena orang yang berpendapat demikian telah menetapkan dan memahami bahawa yang dimaksudkan Ulil Amri dalam ayat ini sebagai penguasa-penguasa dan raja-raja, sehingga tampaklah kebatilan dalam pemahaman yang tidak jelas ini. Alasan yang pertama tadi, telah melalaikan bahwa al-Qur’an penuh dengan larangan mentaati orang-orang yang zalim, yang berfoya-foya dan orang-orang yang kafir. Sangatlah mustahil Allah memerintahkan mentaati mereka, apatah lagi menyamakan ketaatan kepada mereka itu dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, walaupun ketaatan terhadap mereka itu adalah taqiyah, yang hal ini diajarkan dan dizinkan sebagaimana firman Allah SWT:”Kecuali karena menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya” [illa an-tattaqu min-hum tuqatan](Ali Imran:28). Tidak ada perintah mentaati mereka itu secara terang-terangan walaupun setiap yang menakutkan itu harus menjadi sesuatu yang sangat buruk dan berbahaya. Adapun alasan yang kedua tadi didasarkan pada alasan yang pertama tentang makna ayat ini. Andainya kewajiban mentaati mereka itu karena kedudukan mereka dalam agama, maka mereka itu harus maksum sebagaimana yang telah dijelaskan secara terperinci tadi. Mustahil Allah memerintahkan suatu ketaatan kepada seseorang yang bukan misdaq (sandaran) ayat ini, atau orang yang dijadikan misdaq kesepakatan dari suatu ayat yang mengandung dasar-dasar kemaslahatan agama, dan mengatur masyarakat Islam tanpa berdasarkan hukum secara mendasar. Bukankah anda menyadari bahwa kebutuhan kepada Ulil Amri tidak ubahnya seperti keperluan kepada Rasulullah yaitu keperluan akan kepimpinan urusan-urusan ummat Islam,yang hal ini telah kami jelaskan tentang ayat muhkamah dan mutasyabihah. Ulil Amri Adalah Para Imam Ahlul Bayt AS Kita kembali pada perbicaraan awal dalam ayat:”Dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Telah jelas bagi anda apa yang telah kami paparkan bahawa makna yang terkandung dalam firman Allah SWT,” Dan Ulil Amri di kalangan kamu”, bukan kelompok Ahlul Halli wal Aqdi, yakni lembaga sosial, dalam pengertian apa saja yang hendak kita tafsirkan. Tiada lain yang dimaksudkan dengan Ulil Amri adalah suatu kesatuan orang-orang yang maksum, yang seluruh ucapan mereka wajib ditaati. Maka karena itu, untuk mengetahui siapa mereka ini sebenarnya memerlukan ketetapan dari firman Allah SWT atau sabda NabiNya. Ternyata menurut riwayat-riwayat yang berjalur dari para Imam Ahlul Bayt AS bahwa Ulil Amri itu adalah mereka. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Ulil Amri adalah khulafah ar-rasyidin, para panglima perang atau ulama yang pendapatnya diikuti. Semua ini tertolak dengan suatu dasar: Pertama: Ayat ini menunjukkan adanya ismah pada diri mereka sementara mereka (selain Ahlul Bayt AS) jelas tidak memiliki ismah. Maka karena itu selayaknya sebagian ummat ini menyakini bahawa Wilayah ini (Ulil Amri) adalah hak Imam Ali AS. Kedua: Masing-masing pendapat yang tiga tadi adalah pendapat yang tidak mempunyai dalil yang menunjukkan ke atasnya. Adapun dasar yang menyatakan bahawa Ulil Amri adalah para Imam Ahlul Bayt as yang maksum adalah: Pertama: Ulil Amri telah ditetapkan secara jelas oleh Allah dan RasulNya. Walaupun dua orang memperselisihkan masalah ini setelah Rasulullah SAWA wafat. Dan hal ini telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah seperti ayat Wilayah, ayat Tathir dan lainnya, yang perinciannya akan kami jelaskan, dan seperti Hadith Safinah, yang maksudnya: “Perumpamaan Ahlul Baytku adalah seperti Bahtera Nabi Nuh barang siapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barang siapa yang tertinggal ia akan tenggelam”. Dan Hadith Tsaqalain yang artinya: “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara berat (tsaqalain) yaitu Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku, jika kamu berpegang teguh dengan keduanya, kamu tidak akan sesat selama-lamanya”. Hal ini telah kami bahas dalam kajian muhkam dan mutasyabih dalam jilid 3, kitab ini. Dan seperti Hadith-Hadith Ulil Amri yang diriwayatkan dari jalur Syi’ah dan Ahlul Sunnah, yang hal ini akan kami bahas dalam kajian riwayat berikut. Kedua: Taat kepada mereka disyaratkan mengenal mereka karena ketaatan tanpa mengenal mereka bererti membebankan tugas yang tidak mampu. Jika ketaatan itu disyaratkan, maka ayat itu menolak bentuk ketaatan tanpa pengenalan karena perintah ayat ini bersifat mutlak. Dalam hal ini: Jika ketaatan di sini disyaratkan adanya pengenalan secara mutlak, maka permasalahannya berpindah kepada yang dipermasalahkan yakni perbedaan antara pengenalan terhadap Ahlul Halli wal Aqdi dan pengenalan terhadap para Imam maksum. Pengenalan terhadap Ahlul Halli wal Aqdi sebagai misdaq ayat ini berdasarkan penjelasan Allah dan RasulNya. Dan tidak ada perbedaan syarat yang ditiadakan oleh ayat ini. Jika pengenalan itu digolongkan sebagai syarat, tetapi bukan dari sudut pandang syarat-syarat. Sungguh pengenalan itu mengacu kepada demi tercapainya dan sampainya suatu taklif (beban kewajipan) karena tidak ada taklif tanpa adanya pengenalan terhadap permasalahannya dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Dan pengenalan itu tidak merujuk kepada taklif dan mukallaf (orang yang dipertanggungjawabkan). Seandainya pengenalan ini termasuk ke dalam seluruh syarat-syarat, seperti kemampuan dala haji, dan menemukan air dalam waduk misalnya, niscaya selamanya tidak akan didapati taklif yang mutlak. Ketika itulah tidak akan ada maknanya suatu taklif sama ada kepada mukallaf yang sudah mengetahui atau yang belum mengetahui. Ketiga: Pada zaman kita ini, kita tidak mampu sampai kepada Imam maksum dan belajar ilmu dan agama darinya. Maka hal ini bukan bererti Allah melepaskan dari ummat ini kewajiban mentaati Imam maksum karena tidak ada jalan untuk itu. Dalam hal ini: Permasalahannya disandarkan kepada diri ummat itu sendiri, akibat perbuatan kejinya dan khianatnya bukan disandarkan kepada Allah dan RasulNya. Taklif ini tidak akan pupus karena sebagaimana jika ummat membunuh NabiNya kemudian mereka beralasan tidak dapat taat kepadanya. karena masalah ini dialihkan, maka hari ini kita tidak mampu menjadi ummat yang bersatu dalam Islam akibat adanya usaha-usaha yang dianggap benar oleh Ahlul Halli wal Aqdi ummat ini. Keempat: Allah SWT telah berfirman: “Jika kamu berbantah-bantah tentang sesuatu maka kembalilah kepada Allah dan RasulNya.” Seandainya yang dimaksudkan Ulil Amri adalah Imam maksum, maka harus dikatakan:”Jika kamu berbantah-bantah tentang sesuatu maka kembalilah kepada Imam”. Dalam hal ini: Jawaban pernyataan seperti itu telah dijelaskan tadi, yang dimaksudkan kembali kepada Imam adalah mengacu kepada Rasulullah SAWA. Kelima: Mereka yang berpendapat bahawa faedah mengikuti Imam maksum untuk menyelamatkan ummat dari kegelapan perselisihan dan bahaya pertikaian serta perpecahan, sementara lahiriah ayat ini menjelaskan hukum perselisihan dengan adanya Ulil Amri, dan ketaatan ummat kepada mereka seperti berselisihnya Ulil Amri dalam menetapkan hukum sebahagian peristiwa dan kenyataan. Sedangkan perbedaan pendapat dan perselisihan dengan adanya Imam maksum tidak boleh menurut mereka yang berpendapat demikian karena Imam maksum menurut mereka seperti Rasulullah SAWA. Dengan adanya kenyataan ini, maka mereka tidak ada gunanya. Di dalam hal ini: Jawaban terhadap pernyataan seperti ini telah kami paparkan juga. Perselisihan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah perselisihan yang terjadi di kalangan orang-orang yang beriman tentang hukum-hukum al-Qur’an dan Sunnah, bukan hukum-hukum Wilayah atau kepimpinan yang bersumber dari Imam dalam realiti-realiti dan peristiwa-peristiwa. Di bagian hadapan tadi telah diperjelaskan bahwa tidak ada suatu hukum kecuali milik Allah dan RasulNya. Jika di antara orang-orang yang beriman terjadi perselisihan dalam memahami hukum al-Qur’an dan Sunnah, maka mereka harus beristinbat (menarik kesimpulan hukum) dari keduanya. Jika mereka belum juga mampu memecahkannya, maka mereka harus bertanya kepada Imam maksum sebab pemahamannya maksum. Hal ini tidak ubahnya seperti mereka yang hidup pada zaman Rasulullah SAWA . Mereka memahami apa yang dapat di fahami atau bertanya kepada Rasulullah SAWA. Mereka bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang tidak mungkin mereka memahaminya berdasarkan istinbatnya. Dengan demikian, maka hukum mentaati Ulil Amri sama dengan hukum mentaati Rasulullah sebagaimana ditunjukkan oleh ayat ini. Adapun hukum berselisih yang disebutkan di dalam ayat ini sama dengan pada zaman Rasulullah sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat berikutnya, dan setelah beliau wafat sebagaimana ditunjukkan oleh perintah multak dalam ayat ini. Maka kembali kepada Allah dan RasulNya dalam ayat ini dikhususkan dengan gambaran perselisihan orang-orang yang beriman sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah SWT:”kalian berbantah-bantah”(tana za’tum). Ia tidak berfirman:”Maka jika Ulil Amri berbantah-bantah(fa-in tana za’a Ulil Amri)”, dan tidak berfirman:”maka jika mereka berbantah-bantah(fa-in tana za’au)”, kembali kepada Allah dan RasulNya. Ketika Rasul masih ada, maka bertanya kepada Rasulullah tentang hukum suatu masalah atau beristinbath dari al-Qur’an dan Sunnah bagi orang-orang yang mampu. Dan setelab beliau wafat bertanya kepada Imam tentangnya atau beristinbath, sebagaimana telah dijelaskan. Dengan demikian firman Allah SWT:”Maka apabila kamu berbantah-bantah tentang sesuatu perkara(fa-in tana za’tum fi-shai)”, tidak seperti dugaan orang yang menimbulkan masalah. Maka dari apa yang telah dipaparkan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan Ulil Amri dalam ayat tersebut adalah Imam-Imam ummat, sifat ismah bagi salah seorang dari mereka dan kewajipan mentaatinya seperti hukum yang berlaku pada diri Rasulullah SAWA. Dalam hal ini tidak dinafikan keumuman pengertian dan maksud kata “Ulil Amri” dari segi bahasa. Maka kata ini dari sudut pandangan bahasa mempunyai suatu pengertian. Sedangkan misdaq yang dikehendaki dan sesuai adalah suatu hal lain, yang hal ini tidak ubahnya seperti pengertian “Rasul” bermakna umum dan universal, tapi misdaq yang dikehendaki adalah Muhammad SAWA. Firman Allah SWT:”Wahai orang-orang yang beriman, taatilah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”, merupakan kelanjutan batasan dari apa yang dimaksudkan oleh ayat sebelumnya, maka firman Allah SWT:”Taatilah kepada Allah (Ati’ullah)”, mewajibkan taat kepada Allah dan RasulNya. Ketaatan ini merupakan masalah keagamaan yang dapat menjamin hilangnya setiap perselisihan yang akan terjadi, dan hilangnya setiap keperluan merujuk kepada selain Allah dan RasulNya. Sehingga ayat ini mempunyai maksud: “Taatlah kepada Allahà.dan janganlah taat kepada taghut”. Inilah yang kami maksudkan tadi. Perintah ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, sehingga memperjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan perselisihan dalam ayat ini adalah perselisihan di antara mereka, bukan perselisihan mereka dengan Ulil Amri, dan bukan pula perselisihan di antara Ulil Amri, karena: Pertama: Perselisihan antara mereka dengan Ulil Amri tidak sesuai dengan kewajiban mereka mentaati Ulil Amri. Kedua: Perselisihan di antara Ulil Amri tidak sesuai dengan adanya kewajiban mereka untuk ditaati, yang jika terjadi, mereka akan menuju kepada kebatilan. Di sisi lain, perintah dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman:”Maka jika kamu berbantah-bantah tentang sesuatu kembalilah”(Fa-in tana za’tum fi-syai’ fa-raduhuà”), walau kata “syai” (sesuatu) bersifat umum terhadap setiap hukum dan perkara dari Allah, RasulNya dan Ulil Amri tetapi setelah kata itu Allah berfirman:”Maka kembalilah kepada Allah dan Rasul”(fa-raduhu illa Allah wa-ar-Rasul). Hal ini menunjukkan perselisihan itu bukan perselisihan terhadap perintah-perintah Ulil Amri, seperti perintah perang, perdamaian atau lainnya. Jika demikian, kewajipan kembali kepada Allah dan RasulNya tidak mempunyai makna dalam masalah-masalah ini dimana Ulil Amri wajib ditaati. Dengan demikian, maka ayat ini menunjukkan kewajiban merujuk kepada hukum-hukum agama itu sendiri, yang tidak seorang pun berhak menetapkannya berlaku atau mansukhnya kecuali Allah dan RasulNya. Dan ayat ini memperjelaskan bahwa tidak seorang pun dari Ulil Amri dan selain mereka diperbolehkan membelokkan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Firman Allah SWT:”Jika kamu beriman kepada Allah”(in-kuntum tu’minuna-billah), mempertegaskan hukum ini dan memberi isyarat bahwa orang yang menyalahinya tiada lain karena adanya krisis keimanan dalam dirinya. Hukum ini sangat berkaitan dengan keimanan. Orang yang menyalahi hukum ini menunjukkan bahawa ia pura-pura beriman kepada Allah dan RasulNya, tetapi sebenarnya batinnya kufur. Hal seperti ini menunjukkan kemunafikan sebagaimana yang dinyatakan oleh ayat berikutnya: “Yang demikian itu yang paling baik dan sebaik-baik akibat (bagimu)”. Yakni, kembali ketika terjadi perselisihan atau mentaati Allah, RasulNya, dan Ulil Amri. Sedangkan “takwil” adalah kemaslahatan dalam realita yang ditumbuhkan oleh hukum kemudian disempurnakan dalam perbuatan. Kajian secara terperinci tentang makna “takwil” telah kami bentangkan dalam Jilid 3 kitab ini, yakni tentang Surah Ali Imran, ayat 7. Kajian Riwayat Di dalam Tafsir al-Burhan, dari Ibnu Babuwayh, yang bersanad dari Jabir bin Abdullah al-Ansari, ia mengatakan:Ketika Allah menurunkan kepada NabiNya ayat:” Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui Allah dan RasulNya tetapi siapakah Ulil Amri yang Allah kaitkan ketaatan kepada mereka dengan ketaatan kepadamu? Nabi menjawab: “Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku dan Imam ummat Islam sesudahku: Pertama Ali bin Abi Talib, kemudian al-Hasan, kemudian al-Husayn, kemudian Ali bin al-Husayn, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dalam Taurat dengan gelaran al-Baqir. Wahai Jabir kamu akan menemuinya dan jika kamu menemuinya sampaikan salamku kepadanya, kemudian as-Sadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian al-Hasan bin Ali, kemudian dua nama Muhammad dan dua gelaran Hujjatullah di bumiNya dan Baqiyatullah bagi hamba-hambaNya, Ibnu Hasan, dialah yang Allah bukakan sebutan namanya di bumi bahagian Barat dan Timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoncangkan keimanan kecuali bagi orang-orang yang Allah kukuhkan keimanan dalam hatinya. Selanjutnya Jabir berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, apakah keghaibannya memberikan manfaat kepada para pengikutnya? Rasulullah menjawab: “Demi Zat yang mengutusku dengan Nubuwwah, sungguh mereka mendapatkan cahaya sinarnya, dan memperolehi manfaat dengan wilayahnya dalam keghaibannya seperti manusia mendapat manfaat dari matahari walaupun ia ditutupi awan. Wahai Jabir, ia tersembunyi oleh rahasia Allah dan terpelihara oleh ilmuNya, maka Allah menyembunyikan kecuali dari Ahlinya”. Penulis mengatakan: Dalam makna yang sama juga diriwayatkan oleh Nu’mani dengan sanad dari Salim bin Qais al-Hilali, dari Ali AS dan diriwayatkan juga oleh Ali bin Ibrahim dengan sanad dari Salim, dari Ali AS. Dalam hal ini juga banyak riwayat-riwayat dari kalangan Syi’ah dan Ahlul Sunnah yang di dalamnya menyebutkan keimamahan mereka, dan nama-nama mereka. Siapa yang ingin membuktikan silakan membaca kitab “Yanabi al-Mawaddah”, kitab “Ghayatul Maram” oleh Bahrani dan kitab lainnya. Dalam tafsir al-Ayyasyi dari Jabir al-Ju’fi, ia berkata: Aku bertanya Abu Ja’far AS tentang ayat ini: Ia menjawab:”Mereka adalah para Wasi”. Penulis mengatakan: Dalam riwayat yang sama, Tafsir al-Ayyasyi menyebutkan:”Ali bin Abi Talib dan para Wasi sesudahnya”. Dan dari Ibnu Syahrasyub, Hasan bin Saleh bertanya kepada as-Sadiq AS tentang hal itu, ia menjawab:”Para Imam dari Ahlul Bayt Rasulullah SAWA”. Penulis mengatakan: Dalam hal yang sama as-Sadiq AS meriwayatkan dari Abu Basir, dari Al-Baqir AS, ia mengatakan:”Para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga Hari Qiamat”. Dalam al-Kafi dengan sanad dari Abu Masruq dari Abu Abdillah AS, ia berkata kepadanya: Kami berbincang dengan para ahli kalam, maka kami hujahkan mereka dengan firman Allah SWT:”Taatilah kepada Allah dan taatilah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”, kemudian mereka berkata:Ayat ini turun untuk orang-orang beriman. Kemudian kami berhujah dengan mereka dengan firman Allah SWT: Kemudian mereka mengatakan:Ayat ini turun untuk keluarga orang-orang Islam. Kami tidak dapat menjelaskan apa yang mereka sebutkan kecuali engkau menjelaskannya, maka Abu Abdillah AS berkata kepadaku:”Jika demikian ajaklah mereka bermubahalah, aku bertanya: Bagaimana caranya? Ia menjawab:Ucapkan janji baik pada dirimu tiga kali dan kepadanya, kemudian berpuasalah, sucikan dirimu dan keluarlah kamu berserta dia ke gunung, kemudian berjabat tangan kanan dengannya, dan ucapkanlah doa secara bergantian, dan mulailah dari dirimu: Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan bumi yang tujuh, Zat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Zat Yang Maha Rahman dan Rahim, jika Abu Masruq menentang kebenaran dan mengada-adakan kebatilan maka turunkan kepadanya siksa yang pedih dari langit; kemudian ajaklah dia mengucapkan: Dan jika menentang kebenaran dan mengada-adakan kebatilan, maka turunkan kepadanya siksa yang pedih dari langit”. Kemudian Imam berkata kepadaku:”Sungguh kamu tidak akan lama lagi melihat hal itu padanya, maka demi Allah, tidak aku temukan suatu peristiwa yang membuatku menjawab dengannya”. Dalam tafsir Al-Ayyasyi dari Abdullah bin Ajlan dari Abu Ja’far AS tentang firman Allah SWT:”Taatlah kepada Allah dan taatilah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Ia berkata:Ayat ini turun untuk Ali dan para Imam, yang Allah jadikan mereka ini sebagai penerus para Nabi, dan mereka ini tidak menghalalkan sesuatu dan tidak mengharamkan. Penulis mengatakan: Selain keterangan yang terdapat dalam riwayat ini, kami telah menjelaskan di akhir kajian ayat bahawa ayat ini menunjukkan tidak ada hukum yang disyariatkan kecuali hak Allah dan RasulNya. Dalam kitab al-Kafi dengan sanad dari Barid bin Muawiyah, ia mengatakan: Abu Ja’far AS membacakan kalimat: “Taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul, dan Ulil Amri di kalangan kamu, maka jika kamu takut berbantah-bantah tentang sesuatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Ia berkata: Bagaimana mungkin diperintahkan mentaati mereka dan dizinkan berselisih dengan mereka. Tiada hal itu dikatakan oleh orang-orang yang keluar dari agamanya, yang kepada mereka itu diserukan: Taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Penulis mengatakan: Riwayat ini menunjukkan bahwa apa yang dibacakan oleh Abu Ja’far AS adalah sebagai penjelasan terhadap ayat ini dan maksudnya. Keterangan dan penjelasan penggunaan dalil dalam masalah ini telah kami paparkan di atas. Dan yang dimaksudkan bukanlah bacaan sebagaimana tampak dari perkataannya:”Abu Ja’far AS membaca”. Hal ini ditunjukkan oleh adanya perbedaan kata yang ada pada riwayat-riwayat sebagaimana yang terdapat di dalam Tafsir al-Qummi dengan sanad dari Hafiz dari Abu Abdillah AS ia berkata:Ayat ini telah diturunkan, lalu ia mengatakan: “Maka jika kamu berbantah-bantah tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya dan Ulil Amri di kalangan kamu”. Riwayat dalam Tafsir Al-Ayyasyi dari Barid bin Muawiyah dari Abu Ja’far AS (yaitu riwayat al-Kafi tadi) dan dalam al-Hadith: Kemudian ia berkata kepada manusia:”Wahai orang-orang yang beriman, maka ia menghimpun orang-orang yang beriman hingga Hari Qiamat. Taatlah kamu kepaa Allah, dan taatlah kepada RasulNya dan kepada Ulil Amri dari kalian, khususnya kepada kami”, jika kamu takut berselisih tentang sesuatu perkara, maka kembalikanlah kalian kepada Allah, RasulNya dan kepada Ulil Amri kalian. Demikianlah maksud ayat itu turun. Maka bagaimana mungkin Allah memerintahkan mentaati Ulil Amri dan diizinkan berselisih dengan mereka. Sementara diperintahkan kepada orang-orang yang beriman:Taatilah kamu kepada Allah, dan taatilah kamu kepada RasulNya dan Ulil Amri kamu”. Dalam tafsir Al-Ayyasyi: Dalam riwayat Abu Basir dari Abu Ja’far AS, ia berkata: Ayat ini turun untuk Ali bin Abi Talib AS. Lalu aku berkata kepadanya: Sungguh manusia berkata kepada kami: Mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan keluarganya di dalam KitabNya? Abu Ja’far AS berkata: Katakan kepada mereka: Sungguh Allah menurunkan perintah solat kepada RasulNya, dan ia tidak menyebutkan tiga dan tidak juga empat, maka Rasulullah SAWA yang menafsirkannya. Demikian juga perintah haji, Ia tidak menurunkan perintah tawaf satu minggu, kemudian Rasulullah SAWA menafsirkannya kepada mereka. Demikian juga Allah menurunkan ayat: Taatilah kamu kepada Allah, dan taatilah kamu kepada RasulNya dan Ulil Amri kamu”, turun untuk Ali, Hasan, dan Husain AS. Untuk Ali beliau bersabda:”Barang siapa menjadikan aku sebagai mawlanya (pemimpin) maka Ali mawlanya juga”. Dan Rasulullah SAWA bersabda:”Aku wasiatkan kepada kamu dengan Kitabullah dan Ahlul Baytku, sungguh aku memohon kepada Allah agar tidak memisahkan antara keduanya sehingga keduanya kembali kepadaku di Haudh, maka Allah mengabulkan hal itu kepadaku”. Lalu beliau bersabda:”Maka janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih alim dari kamu, dan sesungguhnya mereka itu tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam pintu kesesatan”. Dan seandainya Rasulullah SAWA mendiamkan dan tidak menjelaskan tentang Ahlul Baytnya niscaya keluarga Abbas, keluarga Aqil dan keluarga si polan akan mengadakan-adakan. Bahkan Allah menyatakan dalam KitabNya:”Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kamu kekotoran (dosa-dosa) wahai Ahlul Bayt dan mensucikan kamu sebersih-bersihnya” (Al-Ahzab:33). Maka takwil ayat ini adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn AS, kemudian Rasulullah SAWA memegang tangan Ali, Fatimah, Hasan dan Husayn AS dan memasukkan mereka di bawah al-Kisa (selimut) di rumah Ummu Salamah, lalu Nabi SAWA bersabda:”Ya Allah sesungguhnya setiap Nabi mempunya tsaqal dan keluarga, maka mereka ini tsaqalku dan keluargaku”. Lalu Ummu Salamah berkata: Tidakkah aku termasuk keluargamu? Nabi menjawab:”Kamu adalah dalam kebaikan tetapi mereka adalah tsaqalku dan keluargaku”. Penulis berkata:Dengan riwayat yang sama al-Kafi meriwayatkan riwayat yang bersanad dari Abu Basir, dari Abu Ja’far AS dan dari Yasir berbeda dalam perkataan. Dalam Tafsir Al-Burhan dari Ibnu Syahrasyub dari Tafsir Mujahid menyatakan: Ayat ini turun untuk Amirul Mukminin, ketika ia dilantik sebagai pengganti Rasulullah di Madinah, ia berkata: Wahai Rasulullah apakah engkau mengangkatku sebagai khalifah untuk wanita dan anak-anak? Rasulullah menjawab:”Wahai Amirul Mukminin apakah engkau tidak ridha dariku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Ketika ia berkata kepada Rasulullah SAWA: Apakah engkau mengangkatku sebagai khalifah untuk kaumku dan kemaslahatan mereka? Maka Allah berfirman:”Ulil Amri kalian”. Ia mengatakan:Ali bin Abi Talib diangkat oleh Allah sebagai pemimpin perkara ummat setelah Nabi Muhammad SAWA dan ketika ia diangkat sebagai khalifahnya oleh Rasulullah SAWA di Madinah, maka Allah memerintahkan hamba-hambaNya mentaatinya dan melarang berselisih dengannya. Dalam kitab yang sama darinya, dari Ibanah al-Falaki menyatakan: Sesungguhnya ayat ini turun ketika Abu Buraidah mengadu tentang Ali AS. Dalam al-Abaqat dari Kitab Yanabi al-Mawaddah oleh Syaikh Sulaiman al-Balkhi dari Manaqib dari Salim bin Qais al-Hilali dari Ali dalam suatu Hadith, ia berkata:”Yang paling dekat bagi seorang hamba pada kesesatan adalah tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka Wa Ta’ala, sedangkan Ia menjadikannya sebagai bukti bagi hamba-hambaNya, yaitu orang yang Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya mentaatinya dan mewajibkan Wilayahnya. Salim mengatakan: Aku berkata: Wahai Amirul Mukminin, jelaskan kepadaku tentang mereka, ia berkata:Mereka adalah orang-orang yang Allah kaitkan dengan dirinya dan NabiNya, kemudian ia berkata: Wahai orang-orang yang beriman taatilah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada Ulil Amri kalian, kemudian aku berkata kepadanya: Allah menjadikan pengorbananmu lebih jelas bagiku, maka ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang Rasulullah SAWA sabdakan di berbagai tempat dan khutbahnya pada suatu hari di mana Allah memeliharanya:”Sungguh aku tinggalkan kepada kamu dua perkara berat, jika kamu berpegang teguh dengan kedua-duanya, kamu tidak akan sesat sesudahku, Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku, sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah menjanjikan kepadaku bahawa keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya kembali kepadaku di Haudh seperti dua seruan – antara dua zat yang berkumpul berenang menuju kepadanya – dan aku tidak mengatakan:Seperti dua seruan yang berenang dan yang ada di tengah lalu berkumpul menuju kepadanya – maka berpegang teguhlah kamu dengan keduanya dan janganlah kamu mendahului mereka sehingga kamu menjadi sesat. Penulis mengatakan: Banyak sekali riwayat dari para Imam Ahlul Bayt yang mempunyai makna seperti tadi. Kami hanya mengutip sebagian riwayat sesuai dengan jalan yang kami kehendaki, tetapi bagi sesiapa saja yang ingin mengetahui keseluruhan riwayat itu, silakan baca “Jawa’mi Al-Hadith”. Adapun riwayat yang diriwayatkan dari para mufassir terdahulu ada tiga kata: khulafa ar-rasyidin, para panglima perang, dan ulama. Ada riwayat tentang yang ketiga (ulama) adalah orang-orang yang banyak tertawa, bahwa mereka itu adalah para sahabat Nabi SAWA, lalu kata itu manqul darinya: Mereka itu adalah para sahabat Nabi SAWA, para da’i dan perawi. Dan tampaknya mengaitkan kata itu dengan ilmu, sehingga kata itu ditafsiri dengan “ulama”. Perlu diketahui juga bahwa pengutipan riwayat tentang Asbabul Nuzul ayat-ayat ini, banyak terdapat masalah dan kisah yang bermacam-macam. Tetapi, jika kita kaji dengan cermat dan teliti, maka tidak perlu diragukan lagi bahwa hal itu menunjukkan adanya penyeragaman pandangan para perawi. karena itulah kami tidak mengutipnya sebab tidak ada guna menukilnya. Tetapi jika anda ingin membuktikannya silakan baca kitab Ad-Dur al-Mantsur, Tafsir al-Tabari, dan sejenisnya. tolong di bahas om…..
  16. om sependapat

  17. yg ini juga…
    Tata Cara Shalat

    Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

    Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

    Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

    (Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

    Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:

    قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    (Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

    Setelah itu, ruku’lah dan baca:

    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

    (Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

    Kemudian bangunlah dari ruku’ sambil membaca:

    سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

    (Sami’allōhu liman hamidah)

    Setelah itu, sujudlah dan baca:

    سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

    (Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

    Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

    (Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih)

    Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas.

    Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

    Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca:

    بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

    (Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud)

    Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

    Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

    (Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

    Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.

    Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

    Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

    Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.

    Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

    Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud pertama sebagai berikut:

    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

    (Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

    Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:

    سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

    (Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

    Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.

    Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:

    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

    (Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).
    Catatan!

    Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan

  18. apa ini om? smua kukutip dari http://www.fatimah.org apa smua pencerahan..???

    Hadits Tentang Munculnya Wahabi

    Hadits-hadits yang memberitakan akan datangnya Faham Wahabi.

    Sungguh Nabi s a w telah memberitakan tentang golongan Khawarij ini dalam beberapa hadits beliau, maka hadits-hadits seperti itu adalah merupakan tanda kenabian beliau s a w, karena termasuk memberitakan sesuatu yang masih ghaib (belum terjadi). Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan sebagian yang lain terdapat dalam selain kedua kitab tsb. Hadits-hadits itu antara lain :

    1. Fitnah itu datangnya dari sini, fitnah itu datangnya dari arah sini, sambil memberikan ke arah timur (Najed-pen ).

    2. Akan muncul segolongan manusia dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak bisa membersihkannya, mereka keluar dari agamanya seperti anak panah yang keluar dari busurnya dan mereka tidak akan kembali ke agama hingga anak panah itu bisa kembali ketempatnya (busurnya), tanda-tanda mereke bercukur kepala (GUNDUL – pen).

    3. Akan ada dalam ummatku perselisihan dan perpecahan kaum yang indah perkataannya namun jelek perbuatannya. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi keimanan mereka tidak sampai mengobatinya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka menyeruh kepada kitab Allah, tetapi sedikitpun ajaran Allah tidak terdapat pada diri mereka. Orang yang membunuh mereka adalah lebih utama menurut Allah. Tanda-tanda mereka adalah bercukur (GUNDUL – pen).

    4. Di Akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang pandai bicara tetapi bodoh tingkah lakunya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah dan membaca Al Qur’an namun tidak sampai pada kerongkongan mereka, meraka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.

    5. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai mengobati mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (GUNDUL – pen).

    6. Kepala kafir itu seperti (orang yang datang dari) arah timur, sedang kemegahan dan kesombongan (nya) adalah (seperti kemegahan dan kesombongan orang-orang yang) ahli dalam (menunggang) kuda dan onta.

    7. Dari arah sini inilah databgnya fitnah, sambil mengisyaratkan ke arah timur (Najed – pen).

    8. Hati menjadi kasar, air bah akan muncul disebelah timur dan keimanan di lingkungan penduduk Hijaz (pada saat itu penduduk Hijaz terutama kaum muslimin Makkah dan Madinah adalah orang-orang yang paling gigih melawan profokator Wahabi dari sebelah timur / Najed – pen).

    9. (Nabi s a w berdo’a) Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, para sahabat berkata : Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau s a w bersabda : Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta disana pula akan muncul tanduk syaitan.

    10. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai membersihkan meraka. Ketika putus dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.

    Dalam hadits-hadits tsb dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul-pacul – pen). Dan ini adalah merupakan nash atau perkataan yang jelas ditujukan kepada kaum khawarijin yang datang dari arah timur, yakni para penganut Ibnu Abdil Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya bercukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikut kepadanya tidaklah dibolehkan berpaling dari majelisnya sebelum melakukan perintah tsb (bercukur – gundul pacul). Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dari aliran-aliran SESAT lainnya.

    Oleh sebab itu, hadits-hadits tsb jelas ditujukan kepada mereka, sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal, seorang mufti di Zubaid. Beliau r a berkata : “Tidak usah seseorang menulis suatu buku untuk menolak Ibnu Abdil Wahhab, akan tetapi sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah s a w itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidaklah pernah berbuat demikian selain mereka.

    Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabiisme – pen) sungguh pernah juga memerintah kaum wanitanya untuk bercukur (gundul – pen). Pada suatu saat ada seorang wanita masuk agamanya dan memperbarui Islamnya sesuai dengan infiltrasi yang dia masukkan, lalu dia memerintahkan wanita itu bercukur kepala (gundul pacul – pen). Kemudian wanita itu menjawab :”anda memerintahkan kaum lelaki bercukur kepala, seandainya anda memerintahkan mereka bercukur jenggot mereka maka boleh anda memerintahkan kaum wanita mencukur rambut kepalanya, karena rambut kaum wanita adalah kedudukannya sama dengan jenggot kaum lelaki.

    Maka dia kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa terhadap wanita itu. Lalu kenapa dia melakukan hal itu, tiada lain adalah untuk membenarkan sabda Nabi s a w atas dirinya dan para pengikutnya, yang dijelaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Jadi apa yang dia lalukan itu semata-mata membuktikan kalau Nabi s a w itu benar dalam segala apa yang disabdakan.

    Adapun mengenai sabda Nabi s a w yang mengisyaratkan bahwa akan ada dari arah timur (Najed – pen) keguncangan dan dua tanduk syaithon, maka sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk syaithon itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahhab.

    Sebagian ahli sejarah menyebutkan peperangan BANY HANIFAH, mengatakan : Di akhir zaman nanti akan keluar di negeri Musailamah seorang lelaki yang menyerukan agama selain agama Islam. Ada beberapa hadits yang didalamnya menyebutkan akan timbulnya fitnah, diantaranya adalah :

    1. Darinya (negeri Musailamah dan Muhammad bin Abdul Wahhab) fitnah yang besar yang ada dalam ummatku, tidak satupun dari rumah orang Arab yang tertinggal kecuali dimasukinya, peperangan bagaikan dalam api hingga sampai keseluruh Arab, sedang memeranginya dengan lisan adalah lebih sangat (bermanfaat – pen) daripada menjatuhkan pedang.

    2. Akan ada fitnah yang menulikan, membisukan dan membutakan, yakni membutakan penglihatan manusia didalamnya sehingga mereka tidak melihat jalan keluar, dan menulikan dari pendengaran perkara hak, barang siapa meminta dimuliakan kepadanya maka akan dimuliakan.

    3. Akan lahir syaithon dari Najed, Jazirah Arab akan goncang lantaran fitnahnya.

    Al-Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub As-Sayyid Abdullah Al-Haddad Ba’Alawi didalam kitabnya :”Jalaa’uzh zhalaam fir rarrdil Ladzii adhallal ‘awaam” sebuah kitab yang agung didalam menolak faham wahabi, beliau r a menyebutkan didalam kitabnya sejumlah hadits, diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin abdul Muthalib r a sbb :

    “Akan keluar di abad kedua belas nanti dilembah BANY HANIFAH seorang lelaki, tingkahnya seperti pemberontak, senantiasa menjilat (kepada penguasa Sa’ud – pen) dan menjatuhkan dalam kesusahan, pada zaman dia hidup banyak kacau balau, menghalalkan harta manusia, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah manusia, dibunuhnya manusia untuk kesombongan, dan ini adalah fitnah, didalamnya orang-orang yang hina dan rendah menjadi mulia (yaitu para petualang & penyamun digurun pasir – pen), hawa nafsu mereka saling berlomba tak ubahnya seperti berlombanya anjing dengan pemiliknya”.

    Kemudian didalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab dari Tamim. Oleh sebab itu hadits tersebut mengandung suatu pengertian bahwa Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang datang dari ujung Tamim, dialah yang diterangkan hadits Nabi s a w yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri r a bahwa Nabi s a w bersabda :

    “Sesungguhnya diujung negeri ini ada kelompok kaum yang membaca Al Qur’an, namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka membunuh pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala (Amerika, Inggeris dan kaum Zionis baik untuk penggalian berhala purbakala atau untuk kepentingan yang lain – pen), seandainya aku menjumpai mereka tentulah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.

    Dan ternyata kaum Khawarij ini telah membunuh kaum muslimin dan mengundang ahli berhala (Zionis dan konco-konconya – pen). Ketika Ali bin Abi Thalib dipenggal oleh kaum khawarij, ada seorang lelaki berkata : “Segala Puji bagi Allah yang telah melahirkan mereka dan menghindarkan kita dari mereka”. Kemudian Imam Ali berkata : “Jangan begitu, demi Tuhan yang diriku berada didalam Kekuasaan-Nya, sungguh diantara mereka ada seorang yang dalam tulang rusuknya para lelaki yang tidak dikandung oleh perempuan, dan yang terakhir diantara mereka adalah bersama dajjal.

    Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abubakar didalamnya disebutkan BANY HANIFAH, kaum Musailamah Al-Kadzdzab, Beliau s a w berkata : “Sesungguhnya lembah pegunungan mereka senantiasa menjadi lembah fitnah hingga akhir masa dan senantiasa terdapat fitnah dari para pembohong mereka sampai hari kiamat”.

    Dalam riwayat lain disebutkan :

    “Celaka-lah Yamamah, celaka karena tidak ada pemisah baginya” Di dalam kitab Misykatul Mashabih terdapat suatu hadits berbunyi sbb : “Di akhir zaman nanti akan ada suatu kaum yang akan membicarakan kamu tentang apa-apa yang belum pernah kamu mendengarnya, begitu juga (belum pernah) bapak-bapakmu (mendengarnya), maka berhati-hatilah jangan sampai menyesatkan dan memfitnahmu”.

    Allah SWT telah menurunkan ayat Al Qur’an berkaitan dengan BANY TAMIM sbb :

    “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti”. (QS. 49 Al-Hujurat : 4).

    Juga Allah SWT menurunkan ayat yang khitabnya ditujukan kepada mereka sbb : “Jangan kamu semua mengangkat suaramu diatas suara Nabi”. (QS. 49 Al-Hujurat 2)

    Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan : “Sebenarnya ayat yang diturunkan dala kasus BANY HANIFAH dan mencela BANY TAMIM dan WA”IL itu banyak sekali, akan tetapi cukuplah sebagai bukti buat anda bahwa kebanyakan orang-orang Khawarij itu dari mereka, demikian pula Muhammad bin Abdul Wahhab dan tokoh pemecah belah ummat, Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud adalah dari mereka”.

    Diriwayatkan bahwa Nabi s a w bersabda : “Pada permulaan kerasulanku aku senantiasa menampakkan diriku dihadapan kabilah-kabilah pada setiap musim dan tidak seorangpun yang menjawab dengan jawaban yang lebih buruk dan lebih jelek daripada penolakan BANY HANIFAH”.

    Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan : “Ketika aku sampai di Tha’if untuk ziarah ke Abdullah Ibnu Abbas r a, aku ketemu dengan Al-Allamah Syeikh Thahir Asy-Syafi’i, dia memberi tahukan kepadaku bahwa dia telah menulis kitab guna menolak faham wahabi ini dengan judul : “AL-INTISHARU LIL AULIYA’IL ABRAR”. Dia berkata kepadaku : “Mudah-mudahan lantaran kitab ini Allah memberi mafa’at terhadap orang-orang yang hatinya belum kemasukan bid’ah yang datang dari Najed (faham Wahabi), adapun orang yang hatinya sudah kemasukan maka tak dapat diharap lagi kebahagiannnya, karena ada sebuah hadits riwayat Bukhari : ‘Mereka keluar dari agama dan tak akan kemabali’. Sedang yang dinukil sebagian ulama yang isinya mengatakan bahwa dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah semata-mata meluruskan perbuatan orang-orang Najed, berupa anjuran terhadap orang-orang Baduy untuk menunaikan sholat jama’ah, meninggalkan perkara-perkara keji dan merampok ditengah jalan, serta menyeru kemurnian tauhid, itu semua adalah tidak benar.

    Memang nampaknya dari luar dia telah meluruskan perbuatan manusia, namun kalau ditengok kekejian-kekejiannya dan kemungkaran-kemungkaran yang dilakukannya berupa :

    1. Mengkafirkan ummat sebelumnya selama 600 tahun lebih (yakni 600 sebelum masa Ibnu Taimiyah dan sampai masa Wahabi, jadi sepanjang 12 abad lebih- pen).

    2. Membakar kitab-kitab yang relatif amat banyak (termasuk Ihya’ karya Al-Ghazali)

    3. Membunuh para ulama, orang-orang tertentu & masyarakat umum.

    4. Menghalalkan darah dan harta mereka (karena dianggap kafir – pen)

    5. Melahirkan jisim bagi Dzat Allah SWT.

    6. Mengurangi keagungan Nabi Muhammad s a w, para Nabi & Rasul a s serta para Wali r a

    7. Membongkar makam mereka dan menjadikan sebagai tempat membuang kotoran (toilet).

    8. Melarang orang membaca kitab “DALAA’ILUL KHAIRAT”, kitab Ratib dan dzikir-dzikir, kitab-kitab maulid Dziba’.

    9. Melarang membaca Shalawat Nabi s a w diatas menara-menara setelah melakukan adzan, bahkan telah membunuh siapa yang telah melakukannya.

    10. Menyuap orang-orang bodoh dengan doktrin pengakuan dirinya sebagai nabi dan memberi pengertian kepada mereka tentang kenabian dirinya dengan tutur kata yang manis.

    11. Melarang orang-orang berdo’a setelah selesai menunaikan sholat.

    12. Membagi zakat menurut kemauan hawa nafsunya sendiri.

    13. Dia mempunyai i’tikad bahwa Islam itu sempit.

    14. Semua makhluk adalah syirik.

    15. Dalam setiap khutbah dia berkara bahwa bertawasul dengan para Nabi, Malaikat dan para Wali adalah kufur.

    16. Dia mengkafirkan orang yang mengucapkan lafadz : “maulana atau sayyidina” terhadap seseorang tanpa memperhatikan firman Allah yang berbunyi : “Wasayyidan” dan sabda Nabi s a w kepada kaum anshar : “Quumuu li sayyidikum”, kata sayyid didalam hadits ini adalah shahabat Sa’ad bin Mu’adz.

    17. Dia juga melarang orang ziarah ke makam Nabi s a w dan menganggap Nabi s a w itu seperti orang mati lainnya.

    18. Mengingkari ilmu Nahwu, lughat dan fiqih, bahkan melarang orang untuk mempelajarinya karena ilmu-ilmu tsb dianggap bid’ah.

    Dari ucapan dan perbuatan-perbuatanya itu jelas bagi kita untuk menyakini bahwa dia telah keluar dari kaidah-kaidah Islamiyah, karena dia telah menghalkan harta kaum muslimin yang sudah menjadi ijma’ para ulama salafushsholeh tentang keharamannya atas dasar apa yang telah diketahui dari agama, mengurangi keagungan para Nabi dan Rasul, para wali dan orang-orang sholeh, dimana menurut ijma’ ulama’ keempat mazhab Ahlissunnah wal jama’ah / mazhab Salafushsholeh bahwa mengurangi keagungan seperti itu dengan sengaja adalah kufur, demikian kata sayyid Alwi Al-Haddad”.

    Dia berusia 95 tahun ketika mati dengan mempunyai beberapa orang anak yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali mereka disebut dengan AULADUSY SYEIKH atau PUTRA-PUTRA MAHA GURU AGUNG (menurut terminologi yang mereka punyai ini adalah bentuk pengkultus-individuan, mengurangi kemuliaan para Nabi dan Rasul tapi memuliakan dirinya sendiri – dimana kekonsistensiannya ? – pen). Mereka ini mempunyai anak cucu yang banyak dan kesemuanya itu dinamakan AULADUSY SYEIKH sampai sekarang. Hanya kepada Allah jualah kita pintakan semoga mereka diberikan petunjuk menuju jalan kebenaran (inilah pengikut Salaf yang sejati tidak pernah mendo’akan kejelekan kepada siapa saja yang telah mengucapkan kalimat Syahadat. mendo’a untuk kejelekan enggak pernah apalagi mengkafirkan atau memusyrikkan sesama muslim – pen)

    – TAMAT –

    Dari kitab : Durarus Saniyah fir Raddi alal Wahabiyah. Karya : Syeikhul Islam As-Sayyid Al-Allamah Al-Arif Billah Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i.

    Catatan : Kalau melihat 18 point doktrin Wahabi diatas maka jelaslah bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang preman dan petualang akidah serta sama sekali tidak dapat digolongkan bermazhab Ahlissunnah Wal Jama’ah atau mazhab Salafush-Sholeh. Ada lagi doktrin yang tidak disebutkan oleh penulis diatas yaitu :

    1. Melarang penggunaan alat pengeras untuk adzan atau dakwa atau apapun.

    2. Melarang penggunaan telpon.

    3. Melarang mendengarkan radio dan TV

    4. Melarang melagukan adzan.

    5. Melarang melagukan / membaca qasidah

    6. Melarang melagukan Al Qur’an seperti para qori’ dan qari’ah yakni yang seperti dilagukan oleh para fuqoha

    7. Melarang pembacaan Burdah karya imam Busiri rahimahullah

    8. Melarang mengaji “sifat 20” sebagai yang tertulis dalam kitab Kifatayul Awam, Matan Jauharatut Tauhid, Sanusi dan kitab-kitab Tauhid Asy’ari / kitab-kitab Ahlissunnah Wal Jama’ah, karena tauhid kaum Wahabi berkisar Tauhid “Rububiyah & Iluhiyah” saja.

    9. Imam Masjidil Haram hanya seorang yang ditunjuk oleh institusi kaum Wahabi saja, sedang sebelum Wahabi datang imam masjidil Haram ada 4 yaitu terdiri dari ke 4 madzhab Ahlussunnah yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Inilah apakah benar kaum Wahabi sebagai madzhab Ahlissunnah yang melarang madzhab Ahlissunnah, tepatnya Wahabi adalah : “MADZHAB YANG MENGHARAMKAN MADZHAB”.

    10. Melarang perayaan Maulid Nabi pada setiap bulan Rabiul Awal.

    11. Melarang perayaan Isra’ Mi’raj yang biasa dilaksanakan setiap malam 27 Rajab, jadi peraktis tidak ada hari-hari besar Islam, jadi agama apa ini kok kering banget ?

    12. Semua tarekat sufi dilarang tanpa kecuali.

    13. Membaca dzikir “La Ilaaha Illallah” bersama-sama setelah shalat dilarang

    14. Imam dilarang membaca Bismillah pada permulaan Fatihah dan melarang pembacaan Qunut pada shalat subuh.

    Jika demikian apa bedanya dengan kaum PRIMITIF ?. Dasar Baduy jahil, tahu agama sedikit sudah dimodifikasinya.

    Doktrin-doktrin Wahabi ini tidak lain berasal dari guru Muhammad bin Abdul Wahhab yang adalah seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah guna mengadu domba kaum muslimin Imprealisme / Kolonialisme Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru ditengah ummat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i, jadi Wahabiisme ini sebenarnya bagian dari program kerja kaum kolonial.

    Mungkin pembaca menjadi tercenggang kalau melihat nama-nama putra-putra Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali dimana adalah nama-nama yang tekait dekat dengan nama tokoh-tokoh ahlibait, hal ini tidak lain putra-putranya itu lahir sewaktu dia belum menjadi rusak karena fahamnya itu dan boleh jadi nama-nama itu diberi oleh ayah dari Muhammad bin Abdul Wahhab yang adalah seorang sunny yang baik dan sangat menetang putranya setelah putranya rusak fahamnya demikian pula saudara kandungnya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab sangat menentangnya dan menulis buku tentangan kepadanya yang berjudul :”ASH-SHAWA’IQUL ILAHIYAH FIRRADDI ALA WAHABIYAH”. Nama-nama itu diberikan oleh ayahnya tidak lain untuk tabarukan kepada para tokoh suci dari para ahlilbait Nabi s a w. Kemudian nama-nama itu tidak muncul lagi dalam nama-nama orang yang sekarang disebut-sebut atau digelari Auladusy Syaikh tsb.

    Diantara kekejaman dan kejahilan kaum Wahabi adalah meruntuhkan kubah-kubah diatas makam sahabat-sahabat Nabi s a w yang berada di Mu’ala (Makkah), di Baqi’ & Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah diatas tanah dimana Nabi s aw dilahirkan, yaitu di Suq al Leil di ratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, saat ini karena gencarnya desakan kaum muslimin international maka kabarnya dibangun perpustakaan. Benar-benar kaum Wahabi itu golongan paling jahil diatas muka bumi ini. Tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam

    Semula Alkubbatul Khadra atau kubah hijau dimana Nabi Muhammad s a w dimakamkan juga akan didinamit dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman international maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Semula seluruh yang menjadi manasik haji itu akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentang termasuk Sayyid Almutawalli Syakrawi dari Mesir maka diurungkanya.

    Setelah saya memposting 2 kali tentang Wahabi ini seorang ikhwan mengirim email ke saya melalui Japri dan mengatakan pada saya bahwa pengkatagorian Wahabi sebagai kelompok Khawarij itu kurang tepat, karena Wahabi tidak anti Bany Umaiyah bahkan terhadap Yazid bin Muawiyahpun membelanya. Dia memberi difinisi kepada saya bahwa Wahabi adalah gabungan sekte-sekte yang telah menyesatkan ummat Islam, terdiri dari gabungan khawarij, Bany Umaiyah, Murji’ah, Mujassimah, Musyabbihah dan Hasyawiyah. Teman itu melanjutkan jika anda bertanya kepada kaum Wahabi mana yang lebih kamu cintai kekhalifahan Bany Umaiyah atau Abbasiyah, mereka pasti akan mengatakan lebih mencintai Bany Umaiyah dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat yang pada intinya meskipun Bany Abbas tidak suka juga pada kaum alawi tapi masih ada ikatan yang lebih dekat dibanding Bany Umaiyah dan bany Umaiyah lebih dahsad kebenciannya kepada kaum alawi, itulah alasannya.

    ***

    Wahai saudaraku yang budiman, waspadalah terhadap gerakan Wahabiyah ini mereka akan melenyapkan semua mazhab baik Sunny (Ahlussunnah Wal Jama’ah) maupun Syi’ah, meraka akan senantiasa mengadu domba kedua mazhab besar. Sekali lagi waspadalah dan waspadalah gerakan ini benar-benar berbahaya dan jika kalian lengah, kalian akan terjenggang dan terkejut kelak. Gerakan ini dimotori oleh juru dakwa-juru dakwa yang radikal dan ekstrim, yang menebarkan kebencian dan permusuhan dimana-mana yang didukung oleh keuangan yang cukup besar.

    Kesukaan mereka menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahlil bid’ah, itulah ucapan yang didengung-dengungkan disetiap mimbar dan setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebincian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng Islam kan penduduk negeri ini.

    Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu jasanya telah meng Islam kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng Islam kan yang 10 % sisanya ? mempertahankan yang 90 % dari terkapan orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwa ke negeri kita ini tentu orang-orang yang asal bunyi dan menjadi corong bicara kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir lainnya (Naudzu Billah min Dzalik).

    Claim Wahabi bahwa mereka penganut As-Salaf, As-Salafushsholeh dan Ahlussunnah wal Jama’ah serta sangat setia pada keteladanan sahabat dan tabi’in adalah omong kosong dan suatu bentuk penyerobotan HAK PATEN SUATU MAZHAB. Mereka bertanggung jawab terhadap hancurnya peninggalan-pininggalan Islam sejak masa Rasul suci Muhammad s a w, masa para sahabatnya r a dan masa-masa setelah itu. Meraka menghancurkan semua nilai-nilai peninggalan luhur Islam dan mendatangkan arkiolog-arkiolog (ahli-ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan pra Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata dsb. Mereka dengan bangga setelah itu menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, maka jelaslah penghancuran nilai-nilai luhur peninggalan Islam tidak dapat diragukan lagi merupakan peleyapan bukti sejarah hingga timbul suatu keraguan dikemudian hari.

    Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-ngaku sebagai faham yang hanya berpegang pada Al Qur’an adan As-Sunnah serta keteladanan Salafushsholeh apalagi mengaku sebagai GOLONGAN YANG SELAMAT DSB, itu semua omong kosong dan kedok untuk menjual barang dagangan berupa akidah palsu yang disembunyikan. Sejarah hitam mereka dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang di namakan Saudi, suatu nama bid’ah karena nama negeri Rasulullah s a w diganti dengan nama satu keluarga kerajaan yaitu As-Sa’ud). Yang terbantai itu terdiri dari para ulama-ulama yang sholeh dan alim, anak-anak yang masih balita bahkan dibantai dihadapan ibunya.

    Shofi as-Shofi <ashshofi@yahoo.com

  19. piye om???? koko sama juga mencela dgn pemahaamaan sendiri….

  20. @ Om Jon….

    Why dont you just create your own blog?

  21. Salam
    Dalam blog lain, pernah ada yang membahas ini, katannya “alaihi salam” hanya untuk para nabi”.

    Allah Swt tidak menyampaikan salam kepada sebuah keluarga kecuali kepada keluarga Yaasiin. Dan Yaasiin adalah salah satu nama Nabi Muhammad saww.

    Bandingkan saja ejaan Ilyas إِلْيَاسَ ( “Ilyaasa” yang berarti nabi Ilyas) dlm Surah al-An’am ayat 85 , dengan Surah Ash-Shaffat 130 “Kesejahteraan (salam) terlimpahkan atas keluarga Yaasiin” (Surah Ash-Shāffāt : 130). dengan ‘alif’ dan ‘lam’ terpisah..sehingga berbunyi (dibaca) “Salamun ala il yasiina”.

    ”Ilyasa” dengan ”il Yasiina” Jelas Beda.

    Kalo terjemahan Depag RI, yg pernah saya lht, “Salam kesejahteraaan untuk Ilyas ? ” (pake tanda tanya (?) dibelakang)
    Ulama2 sunni sendiri seperti Fakhur Razi dll, mengatakan bahwa ayat tersebut untuk keluarga Nabi saww, bukan Ilyas… “ Salam sejahtera untuk keluarga Yaasiin” ( al Shaffat ayat 130).
    Tafsir Fakhrur Razi, juz 26, hal. 162, Cet. Al-Bahiyah Mesir, juz 7, atau hal. 163, cet. Dar Ath-Thaba’ah, Mesir atau Tafsir Al-Qurthubi, juz 15, hal. 119, dll.

    Jadi..kalaupun Bukhori tidak mengatakan “alaihi salam” untuk Fathimah (Ahlul Bait), maka orang syiah akan tenang aja kalau di pandang aneh sama yang bermazhab lain…lha wong mereka (orang syiah) berusaha ngikutin Al Qu’ran..jadi ya ga salah ngucap “alaihi salam” untuk keluarga Nabi saww. Al Qu’ran khan “Kalamullah”.

    Wassalam

  22. Om Jon….

    panjang banget tuh…..

  23. Alaihi Salam. Apa dulu artinya. klu saya tdk salah artinya salam sejahtera utknya. Dimana kesalahan menyebut AS kepda Ahlulbait?. Apakah kita melupakan kita ayat mengenai wajib bersalawat kepada Nabi? Lalu para sahabat menanyakan cara bersalawat? Jd menurut saya ini kewajiban kita menyebut AS
    Wasalam

  24. @Jon
    Saya setuju seluruh penjelasan anda yg panjang itu. Cuma ada sedikit koreksi mengenai Annisa 59 :Maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu perkara maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan RasulNya”.
    Sepotong ayat tersebut adalah kelanjutan atas ketaatan terhadap Allah , Rasul dan Ullil Amri Minkum. Menurut suatu perkara itu bukan mengenai hukum yg terjadi atau pemahaman mengenai Alqur’an atau Sunnah Rasul tetapi mengenai siapa yg akan menjabat Imam(ullil amri). Maka masalah tersebut dikembalikan pd Allah. Dan ternyata Allah dan Rasul telah menetapkan pd kejadian di Khaidir Ghum.
    Wasalam

  25. Terpana mamandang komen yang super panjang UP THERE!

    Sepakat sama Mbak hilda😛

  26. Shalawat dan salam tercurahkan kepada RasuluLLAH SAW berserta para keluarga dan sahabat Beliau ajma’in.

    Semoga para keturunan Siti Fathimah r.anha bisa menjadi para da’i dan mujjahid sesuai yang diperintahkan oleh Kakeknya SAW.
    Aamiin… 🙂

  27. @Muhibbin
    Keturunan fatimah as, terutama yang maksum selalu menjalankan perintah perintah datuknya saww koq mas..itu jaminan Allah..tergantung umat-nya, masih ada yang ndablek atau engga..

  28. Kenapa Imam Bukhari tidak dituduh sebagai syiah, padahal ia telah menambah AS (alaihis salam) pada nama Fatimah? Hal ini disebabkan:
    1. Imam Bukhari tidak mencaci ataupun mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    2. Imam Bukhari berkeyakinan bahwa al qur’an yg ada sekarang sudah lengkap.
    3. Imam Bukhari rukun imannya: Beriman kepada ALLAH, Malaikat, Nabi & Rasul, Kitab2Nya, Hari Akhir, Qodar Baik & Buruk, sedangkan syiah Rukun Imannya: yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-‘Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

    Itulah sebagian alasan kenapa Imam Bukhari BUKAN SYIAH Rafidah.

  29. @oky,
    maaf, tidak ada yang makshum kecuali RasuluLLAH SAW 🙂

    @Ali,
    Saya setuju dengan pendapat ente yaa akhi 🙂

  30. @Ali

    1. Imam Bukhari tidak mencaci ataupun mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Emangnya disini ada yg mencaci sahabat? Kita lagi membahas apa yg dicatat di hadits (termasuk Bukhari), emangnya gak dibaca tuhh cerita2 itu datangnya dr mereka koq bukan bikinan sendiri (dan kt tdk kategorikan sbg mencaci maki).

    2. Imam Bukhari berkeyakinan bahwa al qur’an yg ada sekarang sudah lengkap.

    Emang ada yg bilang gak lengkap. Tapi kalau ada catatan hadits2 Bukhari yg mencatat bhw ada sahabat yg bilang gak lengkap itu sih ada mas. Tapi ya sbg muslim kt wajib mengakui AQ lengkap dan dijaga oleh Allah SWT.
    Kalau ada yg bilang syi’ah menyatakan tdk lengkap ya ngawur (sebetulnya fitnah sihh) aja tuhh orang. Emang dah pernah lihat? Koq yaa parah amat bs percaya ada A lebih dr satu AQ. Kalau ada sunni yg percaya bhw AQ tdk lengkap atau diubah oleh syi’ah, berarti sama saja dia mengakui bhw AQ tdk terjaga (terserah yg mo ngubah siapa).

    3. Imam Bukhari rukun imannya: Beriman kepada ALLAH, Malaikat, Nabi & Rasul, Kitab2Nya, Hari Akhir, Qodar Baik & Buruk, sedangkan syiah Rukun Imannya: yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-’Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

    Sorry, sy sebetulnya tdk tahu syi’ah rukun imannya apa aja. Tapi sy mau pakai logika aja nih:
    Apakah sunni tdk mengimani Keesaan Tuhan?, Keadilan Allah? Kenabiaan? Kepemimpinan dlm islam? Hari kebangkitan? Sama deh kayaknya dg syiah, sunni jg mengimani yg diimani syi’ah.
    Apakah syiah tdk mengimani Allah?, Malaikat?, Kitab2 yg diturunkan Allah?, Rasul2/Nabi2? Hari Akhir dan Takdir? Sama deh kayaknya dg sunni, syiah mengimani yg diimani sunni.
    Memangnya kl sunni bilang rukun iman ada 6, trus yg lain dr itu tdk diimani?

    Ahhh..kayaknya cm musuh2 islam saja yg membeda2kan yg gak ada bedanya. Kalau syi’ah sihh kayaknya gak pernah ngeributin masalah ini, jd yg ngeributin siapa? ya yg pengen Islam berantem terus…😦

    Wassalam

  31. @Muhibbin
    Itu khan kata sampean, kata saya ya maksum….33:33..
    Semua nabi maksum mas, para imam maksum..Rasulullah adalah imam dari imam maksum…

    @Truthseeker..
    stuju sejutu…

  32. @oky,
    maksum darimana ya? Dalilnya donq, atau kalau misalnya ngga sanggup, ente katakan statement pribadi ente secara rasional🙂
    Tidak ada pribadi maksum dikalangan umat Beliau selain RasuluLLAH SAW sendiri, yang telah dijamin ALLAH langsung dalam Qur’an.

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
    (Al-Ahzab :21)

    Para ahlul bait Beliau dan beberapa sahabat Beliau dijamin ALLAH untuk disucikan dan diterima taubat mereka, seperti yang tercantum dalam surat Al-Ahzab : 33 beserta At-Taubah : 100 .

    Masihkah anda berusaha mengingkari atau memelintir ayat suci yang langsung ALLAH turunkan ?

    Coba ente sebutkan saja, apakah ada perkataan langsung dari ALLAH, RasulNYA, atawa para ahlul bayt Rasul yang menyatakan bahwa ahlul bayt Beliau SAW adalah maksum (terjaga dari kesalahan) 😀

    P.S : Tolong jangan berbohong atas nama Rasul maupun para ahlul bayt-nya. Dosanya berat euy… 🙂

  33. @Muhibbin
    Wah, tambah salut lagi…seolah anda hidup bersama rasulullah saww dan menjadi salah seorang sahabat beliau..HAHAHA (mimpi kali yeee…)

    Udah banyak penjelasan-nya ah, ente usaha dong cari sendiri..minta disuappin terus kayak baby..ati2 jenggotnya diusap dulu, ntar ada nasi nempel..(xi xi xi)

    Udah tau teknologi yang namanya google? Nah dicari deh..atau tau caranya riset di internet? Duh..cari buku judulnya
    “Internet researching for dummies”..

    Simpel aja, 33:33 darimana sahabatnya ya? gak ada sahabatnya disitu oom, justru siapa yang memelintir..

    Haha, ternyata kecerdasan dan pujian yang saya berikan kepada anda, nampaknya perlu saya batasi mas..anda belom secerdas itu dalam mencari informasi sendiri.

  34. @Oky
    “Haha, ternyata kecerdasan dan pujian yang saya berikan kepada anda, nampaknya perlu saya batasi mas..anda belom secerdas itu dalam mencari informasi sendiri ”

    Wkekekekekekekekekek…..so tau emang tuh Manusia…….

    kayak ud katam Alquran berxxx dan tau artinya dan maknanya aja yah,ud itu di tambah tambahin lagi….

    Damai….damai…..

  35. @Oky & Syiah yg lainnya

    Susah memang untuk menasihat syiah…yg sangat mengkultuskan imam-imam mereka,… yg mereka anggap maksum.
    Ketahuilah individu yg maksum hanyalah Nabi Muhammad, sedang para sahabat maupun yg sesudahnya TIDAK ADA YG MAKSUM.

    Mendingan kalian dengerin ceramah di Radio Rodja (gel 756AM atau lewat radio streaming) gih…, nanti kalau ada yg terasa ngak cocok dengan pemikiran anda…silakan telpon…tanyakan…Insya ALLAH ustadznya akan jawab dan jelaskan sesuai dengan Al Qur’an & Hadits yg shahih.

    Semoga kita semua selalu mendapat hidayah ALLAH.

  36. males aah dengerin radio rodja klo yang di denger cuma jelekin ahlul bayt…..dan caci maki….

    mendingan denger Delta FM

    Damai…damai..

  37. @Ali
    Terima kasih saran-nya mas, tapi saya dengerin radio kalo pagi doang..coba deh mas dengerin hard rock FM tiap pagi, Good Morning Hard Rocker show, menghibur sekali..ngga pernah jelekkin orang lain..hostnya Panji sama Stenny Agustav..tiap kamis ada bintang tamu-nya Liquina Hananto yang ngasuh Financial Planning.

    Nanti kalo ada yang terasa ngga cocok dengan pemikiran anda..silahkan telpon..tanyakan..insya Allah liquina akan menjawab masalah keuangan anda dengan praktek dan solusi yang menurutnya terbaik.

  38. @Ali
    insya Allah, terima kasih atas doa’nya mas Ali. Saya juga mendoakan semoga mas Ali dan keluarga selalu diliputi kesehatan dan kebahagiaan.

  39. @ali/muhibbin/haniifa
    Adakah yg salah dengan pengkultusan? Adakah yg salah dengan mengkultuskan Nabi saw dan manusia-manusia suci pilihan-Nya? Sementara Allah swt sendiri memberikan puji-pujianNya yang luar biasa?
    Sesungguhnya kecintaan dan pengkultusan kepada ahlulbait Nabi saw adalah suatu keniscayaan mengingat keutamaan dan kedudukan mereka di mata Allah swt akibat pribadi-pribadi dan jiwa mereka yg suci yang tidak dapat disamai dengan manusia-manusia umumnya (QS AlAhzab:33) serta perintah dari Nabi saw agar mereka dijadikan pedoman bersanding dgn Alquran untuk menyelesaikan segala persoalan, baik yg tersembunyi maupun yg terlihat, yg gelap maupun yg terang, yg dalam maupun dangkal (Hadits Tsaqalain, Alwaqi’ah: 79)

    Apakah mas tidak sadar bahwa mas-mas juga telah melakukan pengkultusan thd pribadi-pribadi tertentu (yang tidak pernah dianjurkan oleh Nabi saw bahkan tidak pernah disebut-sebut dalam AQ. Jadi keliru sih menurut saya).
    Apakah mas tidak menyadari bahwa pengakuan mas yang mengatakan bahwa “hanya Nabi saw yang MAKSUM, bahkan sahabat juga tidak maksum” hanya sebatas ucapan di ujung lidah?
    Mau bukti ? Begini:
    Jika saya katakan atau ada ahli tafsir yang mengatakan bahwa Nabi bermuka masam di surat Abasa dalam AQ sesungguhnya bukan ditujukan kepada Nabi saw, tapi ditujukan kepada sahabat Utsman bin Affan, gimana sikap mas?
    Mana tafsir yang menurut mas lebih pantas, Nabi yang bermuka masam kah atau Utsman bin Affan? Manakah menurut mas yang benar, Nabi memiliki akhlak yang sangat mulia yang terlepas dari segala sifat buruk, ataukah Utsman bin Affan yang kelebihan pribadinya tidak pernah disebut-sebut dalam AQ?
    Pertanyaan saya:
    (1) Siapa yang maksum, dan siapa yg tidak maksum?
    (2) Siapa yang mengkultuskan siapa?

  40. @Oky
    Mas ada lagu metalnya gak, sejenis Deicide atawa Cannibal Corpse. Abis pusing juga sama yg syiahphobia, ngotot terus sih, akhirnya buang waktu berngotot ria sama mereka. Entah mereka gak mau belajar lebih luas lagi, atau emang mereka keukeuh dgn ilmu yg sdh didapat. Padahal ilmu itu luas dan banyak…

    Makanya saya sedikit ngebatesin komen, ngeliat komen mereka aj deh sambil memahami pendapat mereka plus head banging keep in rock bro !! yuk mari HAIL

  41. @Abu Syahzanan

    Mas, enakan Nirvana or Silverchair..grunge abis..! hehehe

  42. @Abu Syahzanan
    Wah, gak ada mas..Tapi kalo entombed atau king diamond ada..hehehe (becanda..jadi inget jaman SMP/A dulu, dateng ke acara2 underground di poster kafe, bela2in cuman pengen nonton trauma)..

    Yah begitulah mas, mereka punya pendapat sendiri dan berdalih dalil, begitupun kita..toh yang penting kita ngga pernah memaksakan ya mas, tujuan utama-nya khan supaya kita ngga ikut2an yang ada diluar sana, konflik mazhab sampe jadi perang saudara..naudzubillah itu terjadi di Indonesia..

    Gimana travelling antum bos? exis bgt nih sampe keluar kota segala…

    @Bagir..
    Grunge asik abis!..apalagi saya ngefans bgt sama dave grohl.

  43. Waduh koq yang keinget malah dekade Iron Maiden, Testament, Helloween dan Megadeth yah ?? *maklum metal jadul* huehuehuehue
    koq ga ada yang nyebut Radio Prambors di pagi hari (acara Putus) dan Gen FM acara salah sambung ??

    buat para syiahphobia dan sunniphobia (kalo ada…)

    قل هاتوا برهنکم ان کنتم صدقین
    Katakanlah, bawakanlah argumentasimu.(3)

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa,
    Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab: 33)
    Sesungguhnya turunnya ayat ini kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain adalah termasuk perkara yang amat jelas bagi mereka yang mengkaji kitab-kitab hadis dan tafsir. Dalam hal ini Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.”[57] Ayat ini, disebabkan penunjukkannya yang jelas terhadap kemaksuman Ahlul Bait, tidak sejalan kecuali dengan mereka. Ini dikarenakan apa yang telah kita jelaskan, yaitu bahwa mereka itu adalah pusaka umat ini dan para pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Arti kemaksuman juga dengan jelas dapat disaksikan dari ayat ini, bagi mereka yang mempunyai hati dan mau mendengarkan. Hal itu dikarenakan mustahil tidak terlaksananya maksud jika yang mempunyai maksud itu adalah Allah SWT; dan huruf al-hashr (pembatasan) yaitu kata “innama” menunjukkan kepada arti ini. Yang menjadi fokus perhatian kita di dalam pembahasan ini ialah membuktikan bahwa ayat ini khusus turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

    @Muhibin.
    dan dalam ayat tersebut memang hanya Ahlul bait yang disucikan dan tidak di sebut para Sahabat ikut disucikan.

  44. @oky,
    Baca djug mengenai Surat At-Taubah : 100. Kan Ane ngasi keterangan 2 ayat diatas. Soal google, hehehe…. apakah ente baru saja belajar mengenai lingkungan dunia maya? Apakah semua yang di google bisa terjamin kebenarannya ??? Ntar kalo di google ada yang bilang ente adalah perampok, apakah mesti dipercayai juga ?
    Tolong berikan argumen secara benar. Kalau hanya untuk laga bacot kosong, orang gila juga lebih faseh 😀

    @halwa,
    kayak ud katam Alquran berxxx dan tau artinya dan maknanya aja yah,ud itu di tambah tambahin lagi….

    Waw….
    kalau begitu, coba ente tafsirkan dulu mengenai surat Al-Ahzab : 33 dan surat At-Taubah : 100 yan g Ane kasi diatas. Ane pengen liat, tafsiran ente yang sepertinya menyatakan lebih jago dalam Al-Qur’an 🙂

  45. @armand,
    Maaf, Ane hanya mengkultuskan ALLAH dan Rasul SAW saja. Untuk para ahlul bayt dan Sabat beliau SAW, Ane hanya sekedar menghormati dan memuji, karena mereka adalah golongan salafus shalih dan Rasul juga menyuruh untuk mengikuti jalan mereka 😀

    Mengenai surat Abassa, disitu menunjukan kemaksuman Rasul SAW, dimana ALLAH ta’ala langsung menegur Rasul SAW. Tidak seperti umat Beliau SAW lainnya, dimana semuanya diperingatkan ALLAH secara tidak langsung.
    Kalaupun memakai pandangan ente, bahwa yang masam tersebut adalah sayyidina Utsman ra, Ane rasa tidak ada masalah. Sahabat Rasul tetaplah manusia biasa yang bisa berbuat salah. Tapi satu fakta yang mesti diingat, bahwa Rasul SAW menikahkan kedua putri Beliau dengan pria yang satu ini. Dan Utsman merupakan salah satu sahabat sekaligus menantu Beliau SAW yang banyak mendapat pujian dari Beliau SAW.
    Tolong baca lagi At-Taubah : 100 🙂

  46. Tidak ada alasan untuk menilai bahwa Utsman adalah orang yang tidak menyimpang hanya dikarenakan ia menikahi puteri Nabi saww, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Tidak ada jaminan seperti ini. Nilai seseorang bergantung pada kepribadiannya, bukan pada perkawinannya. Buktinya, sebelum dinikahi Utsman, Ruqayyah dan Ummu Kultsum telah menikah dengan putera Abu Lahab, yaitu Utbah dan Utaibah, pada masa sebelum bi’tsah Nabi saww. Dan ternyata perkawinan tersebut tidak mengubah kepribadian serta karakter Utbah dan Utaibah, dengan kata lain perkawinan ini tidak menjamin kedudukan mereka, mereka tetap dalam kejahiliyahan.

    Demikian pula dengan Utsman, yang penyimpangannya telah dibuktikan oleh sejarah yang begitu banyak ditulis oleh ahli sejarah dari Ahlusunnah sendiri. Bahkan perkawinan Utsman ini semakin menguak dan membuktikan penyimpangannya dengan tidak menghargai puteri Rasul saww. Hal ini terlihat pada saat Ummu Kultsum meninggal, Utsman justru sedang menikmati hubungan seksual dengan isterinya yang lain, yang hal ini telah memedihkan hati Nabi saww hingga beliau mencucurkan air mata dan menyuruh Abu Thalhah (Zaid ibn Sahl Al-Anshari) untuk menguburkan puteri beliau tersebut. (Shohih Bukhori, jilid 1, kitab “Janaiz”), Mustadrak Al-Hakim, jilid 4, hal. 47, Musnad Ahmad, jilid 3, hal. 126, Ibn Hajar Al-Asqolani, “Fathul Bari”, jilid 3, kitab “Janaiz”)

  47. wala hawla wala quwwata illa billah

    Maaf jua @Muhibbin. ALLAH SWT tidak boleh saya sekutukan-NYA dengan Nabi Muhammad s.a.w.w dan juga segala sesuatu yang lain.

    salamun’alaika

  48. @Muhibin
    Waw….
    kalau begitu, coba ente tafsirkan dulu mengenai surat Al-Ahzab : 33 dan surat At-Taubah : 100 yan g Ane kasi diatas. Ane pengen liat, tafsiran ente yang sepertinya menyatakan lebih jago dalam Al-Qur’an.

    mas saya ga seberani mas untuk menafsirkan ayat ayat Alquran yang suci karena saya tau diri bahwa saya ini dalam pembelajaran.
    surat Al Waaqi`ah : 79.
    dan saya tidak menyatakan klo saya lebih jago dari anda.saya lagi belajar mas…

    dan walaupun saya kasih tafsirnya tetep aja ga ketemu sm tafsir ente mas.

    tar nya juga muter lagi…muter lagi..

    salam Peace Broo.

  49. @Muhibbin #45
    Mas bilang:
    “…Untuk para ahlul bayt dan Sahabat beliau SAW, Ane hanya sekedar menghormati dan memuji..”
    Tolong mas kasih pencerahan, apa yg mas maksud dengan: hanya sekedar menghormati dan memuji?

    Lanjutannya:
    “…Karena mereka adalah golongan salafus shalih..”
    Tolong mas kasih dalil (ayat/hadits) apa benar ahlul bayt Nabi saw adalah golongan salafus shalih?

    Lanjutannya lagi:
    “…dan Rasul juga menyuruh untuk mengikuti jalan mereka”
    Tahukah mas jika jalan antara ahlul bayt dan ‘sahabat’ keduanya berbeda? Satu jalan ke Utara, yang satu ngga tau saya kemana (mungkin Barat, mungkin Selatan, yang jelas bukan ke Utara juga)? Jalan mana yang mas harus ambil?

    Damai…damai

  50. @bagir, @oky, @abelardo
    Hhhm.. dasar pembela syiah, doyan lagu kenceng, sok lah diteruskan atuh, mangga yeuh !!! Ga ada yang nyambung iye teh…

    @oky
    Kenal Nino doong, kok gak ketemu yah, waktu launching Human Suffering ya ?? travelnya cape mas, nih lagi ngejeprok sambil main sama anak saya

    @Muhibbin
    “ Rasul SAW menikahkan kedua putri Beliau dengan pria yang satu ini”.

    Imam Ali dinikahkan dengan Fathimah, teladan bagi seluruh wanita mukmin, Rasulullah SAW bersabda” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.(Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi).

    Dan saya setuju dengan Pak Reessay, “Tidak ada alasan untuk menilai bahwa Utsman adalah orang yang tidak menyimpang hanya dikarenakan ia menikahi puteri Nabi saww, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Tidak ada jaminan seperti ini. Nilai seseorang bergantung pada kepribadiannya, bukan pada perkawinannya” .

    Seharusnya mas Bien (panggilan terbaru mas Muhibbin ya) tidak melihat keutamaan seorang sahabat Rasulullah hanya karena dinikahkan dengan putri Rasul. Kita jangan menutup mata akan sejarah yang mengungkap keburukan “sahabat”, tidak ada salahnya kan mas Bien, kita menggali kembali akar sejarah yang sesungguhnya, tanpa harus didikte, didoktrin oleh guru-guru kita terdahulu, Allah menyuruh kita untuk selalu berpikir, dan Allah gak akan zalim terhadap pikiran kita. Nash, dalil, rujukan atau apalah banyak tersebar, kok masih berkutat aja “sahabat” is the best, why can’t this be love ? (halah apa coba…)

  51. Betul mas Bien, saya juga mencintai Sahabat, tapi sahabat yang tidak Murtad setelah sepeninggalan Nabi Muhammad.

    ini saya baru dapet Hadis hadisnya, silahkan di telaah bersama-sama.
    1. Diriwayatkan dari Abdullah bn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw Bersabda :“Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengakar dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata : Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan : Sesungguhgnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.”
    Hadis ini diriwayatkan di dalam :
    – Shahih Bukhari , hadis no. 6089, 6090, 6527.
    – Shahih Muslim, hadis no. 4250
    – Ibn Majah, hadis no. 3048
    – Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya, Jil. 1, hlm. 384, 402, 406, 407, 425, 439, 453, 455 dan Jil. 5 hlm. 387, 393, 400.

    Oleh para ulama hadis Sunni, hadis ini diklasifikasikan sebagai hadis mutawatir.
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1322
    Bunyi hadis di atas belum menjelaskan apa yang menyebabkan para sahabat Nabi tidak ditolong Allah Swt? Mari kita lihat hadis berikut :

    2. Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Rasulullah Saw bersabda :“Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku memohon : Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku, dan termasuk umatku. Kemudia dikatakan : Tidak tahukah kamu apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka (yarji’uuna) langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abi Malikah berdoa : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami.”
    Hadis ini menjelaskan dengan tegas dan lugas bahwa sebagian besar para sahabat Nabi Saw langsung berbalik kafir segera setelah Rasulullah Saw. wafat. Hadis ini diriwayatkan di dalam :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 6104.
    – Shahih Muslim, hadis no. 4245.
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1320

    3. Diriwayatkan dari Sahal bahwa ia berkata : Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku mendahului kalian di telaga (al-Haudl). Barangsiapa yang sampai di sana tentu ia akan minum dan siapa yang minum tentu tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenalku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka.”
    Tentu tidak bisa dibantah lagi kaum yang mengenal Rasul Saw dan Rasul Saw pun mengenal mereka adalah para sahabat Nabi. Apalagi kita sudah mengetahui apa definisi sahabat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    Hadis di atas terdapat di dalam :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 6097
    – Shahih Muslim, hadis no. 4243
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 5, hlm. 333, 339

    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1318
    Jika Anda masih belum yakin dan belum merasa puas dengan keterangan keterangan hadis-hadis di atas, mari saya kutip beberapa hadis lagi :
    4. Diriwayatkan dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang lelaki Anshar menemui Rasulullah Saw lalu bertanya : Apakah engkau tidak ingin mengangkatku sebagaimana engkau mengangkat si fulan? Rasulullah Saw menjawab : Sesungguhnya kamu sekalian akan menemui sepeningalku para pemimpin yang egois, maka bersabarlah samapai kamu menjumpaiku di telaga kelak.”
    Siapa pemimpin yang egois yang dimaksud Rasulullah Saw sepeninggal Rasul Saw? Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa semua hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (Syaikhan) Lihat :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 3508, 6533
    – Shahih Muslim, hadis no. 3432
    – Shahih Tirmidzi, hadis no. 2115
    – Al-Nasaai, hadis no. 5288
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 351, 352
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik ini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1073

    5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid : Bahwa Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang ketika memenangkan perang Hunain. Beliau memberi orang-orang yang hendak dibujuk hatinya (orang yang baru masuk Islam). Lalu sampai berita kepadanya bahwa orang-orang Ansar ingin mendapatkan seperti apa yang diperoleh oleh mereka. Maka Rasulullah saw. berdiri menyampaikan pidato kepada mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda: Hai orang-orang Ansar, bukankah aku temukan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah menunjuki kalian dengan sebab kau? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya dengan sebab aku? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan terpecah-belah, lalu Allah mempersatukan kalian dengan sebab aku? orang-orang Ansar menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit.
    Kemudian beliau bersabda: Mengapa kalian tidak menjawabku? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit. Beliau bersabda: Kalian boleh saja berkata begini dan begini pada masalah begini dan begini. (Beliau menyebutkan beberapa hal. Amru, perawi hadis mengira ia tidak dapat menghafalnya). Selanjutnya beliau bersabda: Tidakkah kalian rela jika orang lain pergi dengan membawa kambing-kambing dan unta dan kalian pergi bersama Rasulullah ke tempat kalian? Orang-orang Ansar itu bagaikan pakaian dalam dan orang lain seperti pakaian luar (maksudnya orang Ansarlah yang paling dekat di hati Nabi saw.)
    Seandainya tidak ada hijrah, tentu aku adalah salah seorang di antara golongan Ansar. Seandainya orang-orang melalui lembah dan lereng, tentu aku melalui lembah dan celah orang-orang Ansar. Kalian pasti akan menemukan keadaan yang tidak disukai sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah kalian hingga kalian bertemu denganku di atas telaga (pada hari kiamat).”
    Hadis ini juga bisa dijumpai di dalam kitab :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 3985, 6704.
    – Shahih Muslim, hadis no. 1758
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 42
    Atau Anda klik : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=579

    6. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. menziarahi kuburan lalu Beliau berdoa, “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu.”. Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: Semoga Allah menjauhkan mereka.”
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari & Muslim):
    – Shahih Bukhari, hadis no. 2194
    – Shahih Muslim, hadis no. 367
    – Al-Nasaai, hadis no. 150
    – Abu Dawud, hadis no. 2818
    – Ibn Majah, hadis no. 4296
    – Ahmad bin Hanbal, di dalam Musnadnya jil. 2, hlm. 454, 467, 300, 375, 408.
    – Malik, di dalam al-Muwatha’-nya , hadis no. 53.
    Namun jika Anda masih belum juga percaya akan apa yang saya paparkan di atas. Coba Anda klik disini :
    http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=131

    Dari seluruh hadis yang saya ungkapkan di sini, siapakah sebenarnya yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi menjadi murtad sepeninggal Nabi Saw? Siapakah ynag menyatakan semua itu di atas? Siapa? Apakah al-Wahabiyyun itu tidak pernah membaca hadis-hadis ini? Saya pun meyakini bahwa tidak semua sahabat Nabi yang berbalik ke belakang sepeninggal Rasul Saw, karena memang ada beberapa sahabat Nabi Saw yang masih setia berpegang teguh kepada ajaran-ajaran dan wasiat-wasiat Nabi saw. Dari sini kita juga mengetahui bahwa kaum Wahabi sering berdusta dan meremehkan hadis-hadis Nabi Saw. Mereka senang menyembunyikan kebenaran, karena mereka inilah dajjal-dajjal masa kini! Betapa tidak, mereka membela mati-matian Kerajaan Saudi Arabia yang sudah banyak diketahui telah menjalin hubungan mesra dengan AS (Amerika Serikat) si Setan Besar. Sudah tidak dapat dibantah lagi fakta-fakta dan data-data tentang kemesraan Dinasti Saud dan Dinasti Bush. Dan di mana kaum Wahabi? Bukankah mereka hidup dari cucuran dana Kerajaan Saudi? Di mana ulama Wahabi? Bukankah mereka berlindung di balik ketiak para raja Saudi? Jadi wajar saja mereka membela mati-matian sang pengucur dana. Jika tidak ada Kerajaan Saudi darimana LPIA bisa hidup? Darimana ustadz-ustadz ini bisa terus berdusta dan menyebar fitnah terhadap orang-orang Syiah yang memusuhi AS dan Zionis Israel? Kita semua tahu para raja Saudi punya hubungan mesra dengan mereka (AS & Zionis Israel) dan jika kaum Wahabi mendustakan riwayat-riwayat ini maka INGATLAH hadis Rasulullah Saw lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Musa bahwa Nabi Saw telah bersabda: ”Sesungguhnya perumpamaanku sebagai utusan Allah adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya seraya berkata: Wahai kaumku! Sesungguhnya kau telah melihat dengan mata kepala sendiri sepasukan tentara dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak bersenjata, maka carilah keselamatan. Sebagian kaumnya ada yang mematuhi lalu pada malam hari mereka berangkat (menyelamatkan diri) dengan tidak terburu-buru. Sebagian yang lain mendustakan hingga keesokan paginya mereka masih berada ditempat semula maka diserbulah mereka oleh pasukan tentara tadi lalu dimusnahkan dan dibantailah mereka. Itu adalah perumpamaan orang yang patuh kepadaku dan mengikuti ajaran yang aku bawa serta perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa.”
    (Shahih Bukhari & Shahih Muslim)

    Catatan Kaki :
    1. Sahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584

    salam

  52. Hhhm.. dasar pembela syiah, doyan lagu kenceng, sok lah diteruskan atuh, mangga yeuh !!! Ga ada yang nyambung iye teh…

    sebenernya saya juga sedikit suka sama Gambus.

    Iyalah mas Bien, sebenarnya diskusi ini kan hanya membahas bahwa Imam Bukhari menyatakan Alaihis Salam kepada Sayiddah Fatimah as, sedangkan sering sekali bila kita menyebut Sayiddah Fatimah dengan Alaihis Salam maka kita di cap Syiah.

    coba deh renungkan …. *sambil diiringi music Instrumental nya Mashabi…*
    dan dalam diskusi hendaklah mencantumkan sebab yang bisa diterima, bukan doktrin semata. kadang apa yang menurut kita benar itu salah, dan apa yang menurut kita salah ternyata benar.
    tidak ubahnya jika anda bertanya suatu tempat/lokasi ke 2 orang, tapi anda mendapat jawaban yang berbeda.., dan dari 2 orang itu hanya 1 yg anda kenal… memang ada baiknya anda mencoba dengan informasi dari orang yang anda kenal, tapi kalo itu membuat anda muter2 atau bahkan tambah nyasar… tidak ada salahnya anda cepat2 mencoba informasi dari orang yang satunya lagi.
    …..
    Renungkanlaaaahhh…..

  53. betul mas Bien, saya rasa semua yang di sini pada mencintai sahabat semua kok, tapi sahabat yang tidak berpaling/Murtad setelah sepeninggalan Nabi Muhammad saw.

    saya baru dapet nih Hadis-hadisnya, mari sm2 kita telaah ( maklum saya masih bodoh nih Mas..he he he)

    1. Diriwayatkan dari Abdullah bn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw Bersabda :“Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengakar dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata : Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan : Sesungguhgnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.”
    Hadis ini diriwayatkan di dalam :
    – Shahih Bukhari , hadis no. 6089, 6090, 6527.
    – Shahih Muslim, hadis no. 4250
    – Ibn Majah, hadis no. 3048
    – Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad-nya, Jil. 1, hlm. 384, 402, 406, 407, 425, 439, 453, 455 dan Jil. 5 hlm. 387, 393, 400.

    Oleh para ulama hadis Sunni, hadis ini diklasifikasikan sebagai hadis mutawatir.
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas.
    Bunyi hadis di atas belum menjelaskan apa yang menyebabkan para sahabat Nabi tidak ditolong Allah Swt? Mari kita lihat hadis berikut :

    2. Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Rasulullah Saw bersabda :“Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku memohon : Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku, dan termasuk umatku. Kemudia dikatakan : Tidak tahukah kamu apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka (yarji’uuna) langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abi Malikah berdoa : “Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami.”
    Hadis ini menjelaskan dengan tegas dan lugas bahwa sebagian besar para sahabat Nabi Saw langsung berbalik kafir segera setelah Rasulullah Saw. wafat. Hadis ini diriwayatkan di dalam :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 6104.
    – Shahih Muslim, hadis no. 4245.
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas.

    3. Diriwayatkan dari Sahal bahwa ia berkata : Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku mendahului kalian di telaga (al-Haudl). Barangsiapa yang sampai di sana tentu ia akan minum dan siapa yang minum tentu tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenalku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka.”
    Tentu tidak bisa dibantah lagi kaum yang mengenal Rasul Saw dan Rasul Saw pun mengenal mereka adalah para sahabat Nabi. Apalagi kita sudah mengetahui apa definisi sahabat menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
    Hadis di atas terdapat di dalam :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 6097
    – Shahih Muslim, hadis no. 4243
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 5, hlm. 333, 339

    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas.
    Jika Anda masih belum yakin dan belum merasa puas dengan keterangan keterangan hadis-hadis di atas, mari saya kutip beberapa hadis lagi :
    4. Diriwayatkan dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang lelaki Anshar menemui Rasulullah Saw lalu bertanya : Apakah engkau tidak ingin mengangkatku sebagaimana engkau mengangkat si fulan? Rasulullah Saw menjawab : Sesungguhnya kamu sekalian akan menemui sepeningalku para pemimpin yang egois, maka bersabarlah samapai kamu menjumpaiku di telaga kelak.”
    Siapa pemimpin yang egois yang dimaksud Rasulullah Saw sepeninggal Rasul Saw? Sekali lagi ingin saya tekankan bahwa semua hadis di atas diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (Syaikhan) Lihat :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 3508, 6533
    – Shahih Muslim, hadis no. 3432
    – Shahih Tirmidzi, hadis no. 2115
    – Al-Nasaai, hadis no. 5288
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 351, 352
    Jika Anda masih tidak percaya akan apa yang saya paparkan di atas.

    5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid : Bahwa Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang ketika memenangkan perang Hunain. Beliau memberi orang-orang yang hendak dibujuk hatinya (orang yang baru masuk Islam). Lalu sampai berita kepadanya bahwa orang-orang Ansar ingin mendapatkan seperti apa yang diperoleh oleh mereka. Maka Rasulullah saw. berdiri menyampaikan pidato kepada mereka. Setelah memuji dan menyanjung Allah, beliau bersabda: Hai orang-orang Ansar, bukankah aku temukan kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah menunjuki kalian dengan sebab kau? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya dengan sebab aku? Bukankah aku temukan kalian dalam keadaan terpecah-belah, lalu Allah mempersatukan kalian dengan sebab aku? orang-orang Ansar menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit.
    Kemudian beliau bersabda: Mengapa kalian tidak menjawabku? Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mengungkit-ungkit. Beliau bersabda: Kalian boleh saja berkata begini dan begini pada masalah begini dan begini. (Beliau menyebutkan beberapa hal. Amru, perawi hadis mengira ia tidak dapat menghafalnya). Selanjutnya beliau bersabda: Tidakkah kalian rela jika orang lain pergi dengan membawa kambing-kambing dan unta dan kalian pergi bersama Rasulullah ke tempat kalian? Orang-orang Ansar itu bagaikan pakaian dalam dan orang lain seperti pakaian luar (maksudnya orang Ansarlah yang paling dekat di hati Nabi saw.)
    Seandainya tidak ada hijrah, tentu aku adalah salah seorang di antara golongan Ansar. Seandainya orang-orang melalui lembah dan lereng, tentu aku melalui lembah dan celah orang-orang Ansar. Kalian pasti akan menemukan keadaan yang tidak disukai sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah kalian hingga kalian bertemu denganku di atas telaga (pada hari kiamat).”
    Hadis ini juga bisa dijumpai di dalam kitab :
    – Shahih Bukhari, hadis no. 3985, 6704.
    – Shahih Muslim, hadis no. 1758
    – Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4, hlm. 42

    6. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. menziarahi kuburan lalu Beliau berdoa, “Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepadamu, hai kaum yang mukmin dan kami, insya Allah akan menyusulmu.”. Aku senang apabila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku. Para sahabat bertanya: Bukankah kami saudara-saudaramu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Engkau adalah sahabat-sahabatku, sedang saudaraku adalah orang-orang yang belum datang setelahku. Mereka bertanya lagi: Bagaimana engkau dapat mengenal umatmu yang belum datang di masa ini? Beliau bersabda: Tahukah engkau, seandainya ada seorang lelaki memiliki kuda yang bersinar muka, kaki dan tangannya kemudian kuda itu berada di antara kuda-kuda hitam legam, dapatkah ia mengenali kudanya? Mereka menjawab: Tentu saja dapat, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku akan datang dengan wajah, kaki dan tangan yang bersinar, bekas wudu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Ingat! Beberapa orang akan dihalang-halangi mendatangi telagaku, sebagaimana unta hilang yang dihalang-halangi. Aku berseru kepada mereka: Kemarilah! Lalu dikatakan: Sesungguhnya mereka telah mengganti (ajaranmu) sesudahmu. Aku berkata: Semoga Allah menjauhkan mereka.”
    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari & Muslim):
    – Shahih Bukhari, hadis no. 2194
    – Shahih Muslim, hadis no. 367
    – Al-Nasaai, hadis no. 150
    – Abu Dawud, hadis no. 2818
    – Ibn Majah, hadis no. 4296
    – Ahmad bin Hanbal, di dalam Musnadnya jil. 2, hlm. 454, 467, 300, 375, 408.
    – Malik, di dalam al-Muwatha’-nya , hadis no. 53.
    Namun jika Anda masih belum juga percaya akan apa yang saya paparkan di atas.

  54. Salamun’alaik

    Pastinya Tafsir dan Takwil tidak sama ertinya…

    wasSalam

  55. Assalamu alaikum wr.wb,
    kenapa blog salafy kerjanya cuma menyalahkan manhaj orang lain? dan kenapa ulama saudi yang paling keras sekalipun tidak bisa melarang jamaah haji syi’ah untuk berhaji? atau barangkali ulama salafy tidak bisa menunjukkan bukti yang kuat tentang kesesatan kaum syi’ah ini???

  56. Apakah antum sudah tau fatwa MUI bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariah adalah aliran yang sah di dalam Islam? dan apakah antum tau Fatwa Ulama Al-Azhar kairo bahwa setiap muslim bebas memilih mazhab yang diyakininya termasuk mazhab Syi’ah? dan apakah antum tau bahwa Mailk Abdullah beberapa bulan yang lalu mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh ulama sunni dan syi’i ? bahkan beliau memerintahkan kepada kurang lebih 40.000 dai Salafy untuk menjelaskan kepada rakyat mulai saat ini Mamlakah Saudi Arabia tidak menganut satu aliran manhaj???, dan apakah antum tau sekarang ini ada wakil Syiah di perwakilan rakyat saudi ? silahkan kilk http://satuislam.wordpress.com

  57. Sunni juga menyebut imam mahdi alaihissalam, jadi gak ada masalah. syiahphobia itu tidak ada yang ada justru syiahmania, mana orang takut… kan enak syiah kawin mut’ah

  58. @Farid

    anda sepertinya mau kawin mut`ah ya..ngomongnya mut`ah melulu.

    peace broo

  59. @Farid
    mungkin farid pingin nikah mut’ah sembarangan (zinah) di puncak sono.

  60. @ressay & @halwa
    He…he..mungkin sebenarnya mas farid ini lebih mengerti serta ahli mengenai nikah mut’ah dan udah melaksanakan nikah mut’ah yang kesekian kali mungkin sebentar lagi mau nyoba poligami.

    Maaf loh mas Farid, cuma becanda, belajar lagi yuk

  61. Salam..

    @ ALL

    ada yang menarik dan perlu dicermati di sini :

    http://www.al-islam.org/tahrif/yourimam/index.htm

    wassalam

  62. gini bro…tu cuman conto aja.. banyaknya syiahphobia itu perlu di survei ulang masak ada yang gak seneng mut’ah???munafik gitu loh… kebanyakan sekarang malah wahabiphobia dikit2 haram,dikit bid’ah, masuk akal kan klo banyak yg wahabiphobia???
    jangan tebang pilih men…harus adil…

  63. Saya masih tetap menunggu mas farid mau bediskusi ilmiah disini.

  64. Salamun alaykum….
    he..he…he…

    Kita setiap hari ngucapin assalamualaykum (damai sejahtera bagimu) kepada orang yang kita temui, kenapa kepada Keluarga Rosul dianggap Bid’ah?

    ada-ada aja…

  65. @Farid
    Haha, secara teori gitu bos, masalahnya fakta-nya sekarang berbicara beda. Di dunia keuangan, naiknya keuntungan secara teori harga saham juga naek, tapi prakteknya ngga gitu..untung naek, belom tentu harga saham naek..mentang2 di syiah ada nikah mut’ah, terus berarti syiah jadi laku? koq mikirinnya cuman gara2 selangkangan doang? dangkal amat..

    Keliatan situ belon ngerti soal mut’ah sob, gak cuman ada enaknya..ada ngga enaknya juga..mana ada sih sesuatu cuman ada enaknya doang? Kita belom nyampe sorga sob, mudah2an suatu saat kita ngerasain surga, dimana semua enak..gak ada enaknya…

  66. ups, maksudnya..gak ada gak enaknya..afwan

  67. Menarik sekali…. ada satu hadits yang dilontarkan barusan :

    Diriwayatkan dari Abdullah bn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw Bersabda :“Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengakar dengan beberapa kaum, namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata : Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan : Sesungguhgnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.”

    Yap,
    Ane sendiri sudah melihat sanad hadits ini pada shahih Muslim, dan memang muttawatir.
    Yang jadi sumber ngawur bagi yang mengatakan hadits diatas adalah :
    ” Mengapa dalil tersebut menjadi dasar untuk mencap hampir semua Sahabat Rasul Saw sebagai murtadin ?? Padahal tidak disebutkan nama ataupun identitasnya dalam hadits tersebut. Apakah para makhluk2 yang komen diatas barusan merasa lebih lihai dari ALLAH Ta’ala sendiri sehingga berani mencap hampir semua Sahabat Rasul Saw sebagai murtadin ?
    Lupakah mereka akan ayat 100 pada surat At-Taubah ?

    InnaliLlahi….

  68. Kedudukan Para Sahabat

    Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:

    1.Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid.Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.

    2.Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka.Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya.Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya.Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.)/Syi‘ah/Imam Dua belas.

    3.Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.

    Berdasarkan hadis Bukhari daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384(Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh), Bukhari meriwayatkan yg berikut:

    Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan(beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat/terbiar daripada pengembalanya)

    Makanya, bukanlah org2 dlm blog ini yg mengatakan bahawa kebanyakan sahabat telah irtada, tetapi Nabi saaw spt dlm riwayat Bukhari ini.

    Sementara Muslim dari Sahih Muslim Muslim,Sahih, edisi Muhammad Fuad ‘Abdu l-Baqi, Cairo,1339H, jilid iv, hlm.1793-1800 (Kitab al-Fadha‘il, bab Ithbat Haudhi n-Nabi (Saw.), meriwayatkan:

    Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah)/ ke Nerakalah mereka yang telah mengganti/ mengubah/ menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti/mengubah/menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

    Hadis2 ini bersesuaian dgn ayat2 al Quran berikut:

    Surah al-Saba’(34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103 “Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”,dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih,tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud(11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.”

    Salam

  69. @hadi,

    Keterangan ente sepertinya dipaksakan, bahkan Ane sampai kaget ketika membaca beberapa ayat Qur’an seperti surat Saba’ , Yusuf, dan Shad yang menyatakan beberapa peringatan dan kecaman terhadap orang musyrik, namun malah ditujukan kepada para Sahabat Rasul Saw.
    NaudzubiLlah !
    Coba ente baca lagi maksud dan tujuan surat tersebut kepada siapa, sesuai dengan arahan para ahli tafsir (Rekomendasi Ane, bisa baca tafsir Ibnu Katsir)😀

    Cukup 2 dalil berikut yang sebenarnya harus sangat kita cermati dan yakini sebagai hujjah keimanan kita dalam mencintai Rasul Saw beserta para keluarga dan sahabat Beliau RadiaLLahum ajma’in 🙂

    Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:100)

    عمران بن حصين ‏ ‏يحدث ‏
    ‏أن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏إن خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم قال ‏ ‏عمران ‏ ‏فلا أدري أقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏بعد ‏ ‏قرنه ‏ ‏مرتين ‏ ‏أو ثلاثة ‏ ‏ثم يكون بعدهم قوم يشهدون ولا يستشهدون ويخونون ولا يؤتمنون ‏ ‏وينذرون ‏ ‏
    ولا يوفون ويظهر فيهم السمن

    ” Dari Imran bin Hushain ra.:
    Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu ialah yang hidup pada zaman kurunku (sahabat), kemudian orang-orang yang hidup sesudah kurunku (tabiin), kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka (tabiit tabiin), kemudian orang-orang yang hidup sesudah mereka. Imran berkata: Aku tidak tahu apakah Rasulullah saw. mengatakan setelah kurun beliau dua kali atau tiga kali. Kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum yang memberikan kesaksian sedangkan mereka tidak dimintai kesaksian, dan mereka berkhianat sehingga tidak dapat dipercaya, mereka selalu bernazar namun tidak pernah memenuhinya dan akan tampak pada mereka kegemukan ”
    (HR. Muslim:4603)

    Kurang jelaskah kedua dalil tersebut, atau memang tidak ada kemauan bagi kamu semua untuk mengerti dan meyakini kedua dalil tersebut ?

    WaLlahu a’alam bishahwab 🙂

  70. @muhibbin

    Sepertinya anda terlepas pandang hadis yg dibawakan di atas

    Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan(beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat/terbiar daripada pengembalanya.

    Hadis ini tidak bercanggah dgn ayat2 yg dibawakan.

    Hadis yg anda bawakan itu jelas berseberangan dgn sejarah masa lalu ttg peperangan dan pembunuhan antara mereka yg jumlahnya mencecah puluhan ribu. Masakan itu yg dikatakan ‘terbaik sesudahku’

    Bahkan Mas SP telah membawakan artikel MEREKA YG LEBIH BAIK DARI SAHABAT NABI.

    Ayat yg anda dan kelompok pembela ‘sahabat’ sering bawakan di atas, apakah tertuju buat seluruh sahabat atau seluruh Muhajirin dan Ansar? Apa erti ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar ‘?

    Salam

  71. Lalu siapa saja yang termasuk sahabat,tabiin dan tabiit tabiin yang terbaik dari Hadits itu yah kalau boleh tahu ??

    salam,

  72. wah kalo begitu imam bukhori ternyata syiah dong?! abis ikut2an syiah pake menyebut “alaihi salam” kepada sayyidah Fatimah… ghulu…ghulu..

    gimanah nih salafy/wahabi?

  73. Analisa-1
    Bukhari juga di “GOBLOK-GOBLOK” kan sama Sial-Bani…. bukti sudah banyak dan bahkan Muslimpun mengalami nasib yang sama…… tidak SEMUA hadits-nya di pakai…..
    Analisa-2
    Padahal menurut pengakuan PECINTA BUKHORI….. Bukhori hapal lebih dari Puluhan Ribu Hadits dengan titik koma-nya…bahkan bila hadits tersebut di BOLAK BALIK dia mengetahui letak kesalahannya.
    Analisa-3
    Bagaimana ini… apakah si-AL-bani itu jauh melebihi Bukhori tingkat kepandaiannya ….. berarti si-Albani itu hapal ratusan ribu hadits dong…..!!! Apa mungkin???
    Analisa-4
    Bukhori yang pandainya sudah melebihi langit tersebut masih di GOBLOK-GOBLOK-an sama siALBani……. dengan tidak memakai semua hadits-nya…. diPILIH-i yang enak enak dan cocok-cocok aja untuk siAL-Bani dan Penguasa…… yang tidak cocok dibuang ajaaaaaa…….
    Analisa-5.
    Kalau si Bukhori sendiri kepandaiannya sudah melebihi langit…… L H A !!! Bagaimnana dengan Guru-gurunya…… berguru kepada siapa itu guru-gurunya…. guru diatas guru-guru Hadits hanya ada di JAKFAR AS SHODIQ yang juga cucu Rasulullah

  74. Dan memang didalam semua kitab hanifiah, malikiyah, syafi’iyah…. kitab yang terdahulu sebelum bukhari muslim, tirmidzi dkk….. sudah menyatakan bahwa mereka ” Mengakui ” kehebatan Ahlul Bait….. Jadi si Bukhari itu jauh panggang dari api kalau dia disebut IMAM ……… Jauuuuhhhh sekali……

  75. Mari sama-sama siapapun dari mazhab apapun kalau ingin menyebut nama mereka (ahlulbayt) kita sertakan alaihissalam dibelakang nama mereka ……

  76. taqiya bertebar dimana2,,hehehe – moso mengambil dalil dari kutubussittah,,ambil aja dalil dari yg gak jelas kayak imam2 lu pada,,,,taqiya bertebar dimana2,,moso lu katakan murtad dsamping itu lu nendang orang2 yg cinta pada nya,,taqiya dimana2,,kayak orang kristen aja suka taqiya,,,jujur sy mencintai ahlul bait,,jujur saya cinta sama sohabah sebagaimana rosul telah mengingat kan kita,,itu pun klw sampean percaya dgn kutubusittah,,duhhhhhhh bawel,,

  77. jujur di awal blog ini sy terpukaw dgn pembahasan nya,jujur sy sangka nih blog menunjukkan jalan g benar,eh ternyata admin/dedengkotnya bergelimang dgn taqiya,,sy bermazhab syafi’i,sy cinta kepada rasululloh dan ahli bait bgtu juga para sohabat tanpa terkecuali,,,masyaALLAH,,’auzu billahi minasyaithonirrajim,,,,

  78. ralat :jujur sy sangka nih blog menunjukkan jalan g benar * jalan yg benar maksud sya

  79. @ngebet
    ah anda ini suka sekali taqiya:mrgreen:

  80. syiah bisa dituduh menyusupkan riwayat ke shahh bukhari ini> Labaika Ya Husain

  81. yaaaaaaaaaaaaaaaa syi’ah lagi

  82. yaaaaaaaaaaaa wahabi lagi. CEPEDE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: