Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy

Kritik Salafy Yang Menghalalkan Fallacy (Ambillah Kebenaran Dimana Saja Ia Berada)
Seorang saudara seiman pernah membuat tulisan yang menarik dengan judul Lihatlah Siapa Yang Berbicara. Tulisan ini menarik untuk dibahas(walaupun sebenarnya tulisan ini hanyalah kutipan dari sumber lain).Oleh karena itu tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya(walaupun banyak sekali perbedaan antara saya dan dia), Saya akan menanggapi tulisan saudara itu yang menisbatkan dirinya dengan Salafy.

Jangan Lihat Siapa Yang Berbicara, Tapi Lihat Apa yang Dibicarakan

Kata-kata ini adalah yang sering sekali didengar oleh banyak orang. Secara pribadi saya sangat setuju dengan kata-kata ini. Kebenaran, Hikmah dan Ilmu bisa berasal dari mana saja walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa mengambil dari orang-orang yang berilmu adalah lebih baik.
Saudara Antosalafy dan saya rasa pengikut Salafy sejenis dia sangat tidak setuju dengan kata-kata ini dan tidak segan-segan mereka menolaknya dengan berkata

Ucapan tadi sengaja dipopulerkan oleh orang-orang yang bermanhaj di sana senang di sini senang, sehingga mereka mengambil ilmu atau belajar dari siapa saja karena berpegang dengan ucapan tadi.

Tulisan ini adalah murni Penolakan saya terhadap klaim-klaim Mereka yang berlebihan
Saya setuju bahwa kebenaran bisa diambil dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetapi sayangnya itu tidak menafikan bahwa orang lain atau kelompok lain bisa juga mengatakan hal yang benar. Bersikap seolah kebenaran hanya terbatas pada kelompok tertentu dan menyatakan sikap seolah-olah setiap yang dikatakan orang lain yang berbeda kelompoknya adalah salah jelas merupakan tindakan berlebih-lebihan yang melampaui batas. Melampaui batas karena melihat dirinya serba cukup.

Ketahuilah, Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS Al ‘Alaq ; 6-7)

Penolakan Pertama Atas Dasar Rasional
Pada awalnya Mereka berkata dengan penuh keyakinan bahwa

ini bukanlah firman Allah, sabda Rasulullah ataupun kaidah ushul fiqh, sehingga kita tidak usah dipusingkan dengan ucapan tersebut.

Sayang sekali, mereka tidak memahami prinsip-prinsip universal yang disampaikan oleh Al Quran. Seolah-olah mereka tidak memahami bahwa kebenaran agama-agama Samawi ditegakkan atas prinsip Dengarkan Apa Yang Disampaikan Dan Pikirkan. Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi melandaskan pikirannya pada status quo bahwa beginilah bapak-bapak kami melakukannya. Bukankah mereka yang diseru oleh para Nabi itu hanya menerima apa saja yang sudah diwariskan nenek moyang mereka, dan mereka menolak seruan para Nabi karena mereka tidak memikirkan apa yang disampaikan.
Menerima Kenabian di tengah Status Quo atau pandangan dimana hampir seluruh orang melakukan kesesatan jelas membutuhkan pemikiran yang mendalam. Kebanyakan orang akan terdistorsi dalam konformitas bahwa lebih aman dan benar melakukan seperti kebanyakan orang lainnya. Dalam lingkungan seperti ini Kenabian akan sulit diterima. Oleh karena itu Dalil Aqli atau Rasional merupakan alat bantu yang baik dalam menerima Kenabian. Banyak sekali dalam Al Quran Allah SWT mengingatkan kepada mereka yang mengingkari para Nabi agar menggunakan akalnya. Dengarkan wahai orang-orang yang berakal

Penolakan Kedua Atas Dasar Dalil Naqli Atau Skripturalis
Al Quranul Karim menyatakan bahwa salah satu tanda dari orang yang mendapat petunjuk dan berakal adalah orang yang mendengar perkataan dan mengambil yang paling baik di antaranya. Jadi adalah prinsip yang benar untuk mendengarkan perkataan dan mengambil yang paling baik diantara perkataan itu.

Yang Mendengarkan Perkataan Lalu Mengikuti Apa Yang Paling Baik Di Antaranya. Mereka Itulah Orang-orang Yang Telah Diberi Allah Petunjuk Dan Mereka Itulah Orang-orang Yang Mempunyai Akal. (QS Az Zumar ; 18)

Sekali lagi tidak dinafikan bahwa adalah baik untuk menerima kebenaran dari mereka, orang-orang yang lurus. Bahkan hal ini sangat benar. Tetapi adalah kekeliruan kalau mengklaim bahwa kebenaran itu terbatas pada kelompok tertentu. Dan setiap apa yang berasal dari kelompok lain atau orang lain adalah salah. Kebenaran tidak suka dipasung.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang selalu dapat belajar dan berpikir, sehingga mereka memiliki potensi untuk mendapatkan kebenaran, tentu dengan kadar yang berbeda-beda tiap manusia. Dan tidak ada salahnya bagi sebagian manusia untuk mengmbil hikmah dari sesamanya. Tidak ada aturan bahwa setiap manusia harus selalu sependapat satu sama lain sama halnya tidak ada aturan bahwa setiap manusia harus saling menolak satu sama lain. Setiap manusia bisa saling mengingatkan dan menasehati dalam kebenaran.

Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.(QS Al ‘Ashr ; 1-3)

Bahkan seorang Nabi AS saja dapat menerima nasihat dari orang lain yang lebih rendah kedudukannya

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang member nasihat kepadamu”. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa “Ya TuhanKu, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu”. (QS Al Qashash ; 20-21)

Hikmah sekali lagi bisa diambil dari mana saja, Al Quran menyatakan bahwa seorang manusia dapat mengambil hikmah dari seekor burung

Kemudian Allah SWT menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? “ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS Al Maidah ; 31)

Penolakan Ketiga Atas Dasar Pandangan Ulama Salafus Salih
Berikutnya adalah tanggapan terhadap kata-kata mereka

Apakah ahlus sunnah tidak memiliki kebaikan atau kurang kebaikannya sehingga kita harus mengambil ilmu dari ahli bid’ah?

Padahal Ulama Salafus Salih ternyata juga mengambil ilmu dari ahli bid’ah yaitu dalam masalah hadis, Berikut adalah salah satu Ahli bid’ah yang diambil hadisnya
Yahya bin Jazaar Al Urani Al Kufi
Dalam Tahdzib At Tahdzib XI hal 192 terdapat pandangan ulama hadis tentang beliau

• Ibnu Sa’ad berkata “Dia orang yang ghuluw di dalam kesyiahannya,namun ia seorang yang tsiqah dan memiliki sejumlah hadis”
• Al Uqaili meriwayatkan dari Hakim bin Utaibah yang berkata “Yahya bin Jazaar itu ghuluw dalam kesyiahannya”
• Al Ajli berkata “Seorang penduduk Kufah yang tsiqah tetapi Syiah”
• Ibnu Hibban memasukkan beliau dalam Ats Tsiqat

Bukankah dalam persepsi orang seperti Antosalafy dan orang sejenisnya, maka seorang Syiah adalah ahli bid’ah, mereka malah menyebut Syiah agama yang berbeda dengan Islam. Tetapi anehnya Imam Muslim, An Nasai, Ibnu Majah, Abu Daud dan Tirmidzi malah mengambil hadis dari Yahya bin Jazaar padahal sudah jelas Kesyiahannya.

Masih banyak contoh lainnya, tapi untuk saat ini cukup sampai disini saja

Nah, nilailah sendiri

Salam damai

Iklan

59 Tanggapan

  1. Nah, lho. 😕
    Sekarang gimana mau lurusin mereka nih, Pak? Ucapan-ucapan mereka kan jelas-jelas bisa (atau malah sudah?) jadi bumerang yang menyerang mereka sendiri… 😕

  2. jadi sebenernya, Islam tu apa tho? :mrgreen:

    **tambah mbulet dari hari ke hari..**

  3. @secondprince
    bung terkait tulisan anda: ini pemikiran gue.

    orang kebanyakan bilang:
    fallacy = tidak logis, menyimpang dari kenyataan.
    kebenaran=logis, selaras dng kenyataan.

    kenyataannya dalam wacana keagamaan:
    fallacy=tidak selalu tidak logis dan tidak selalu menyimpang dari kenyataan (misalnya klaim Richard Dawkin dan atheist2 kelas “Ulul Albab” bahwa Tuhan “Tidak Ada”: kata meraka itu logis dan faktual).
    kebenaran: tidak selalu logis, tidak selalu selaras dengan kenyataan. (misalnya mukjizat para nabi!!)

    manusia itu dikutuk untuk hidup dalam simulakrum dimana ia melihat kebaikan/kebenaran dalam kesalahan/keburukan. ke sini sesat, ke sana sesat, ke sini benar, ke sana benar. maju kena, mundur kena, diam kena! setiap agamawan menawarkan “buhul tali” yang kuat, hidup lurus, Yesus, al-Qur’an-Sunnah, al-Qur’an-Ahlul Bait etc.

    menurut gue skeptisisme selalu mendahului apapun, termasuk rasionalisme dan iman, dan ini adalah proses yang berlangsung sampe mati. what do you think?

    @tikabanget
    islam itu adalah momen ketika kamu berhasil menyentuh puncak sensasimu dan jatuh pasrah dalam pelukan seorang tuan/puan yang baru saja kamu sadari dan baru saja kamu nobatkan sebagai penggemgam jiwa dan penguasa ragamu.

    *maaf bila offending keyakinan yang lain

  4. @Cynanthia
    semuanya selalu kembali ke orangnya

    @tikabanget
    Islam itu agama 😀
    Tapi ya perepsi manusia kan banyak
    Salam

    @gentole
    Fallacy itu artinya tidak sesuai kaidah logis
    sebenarnya ini juga terkait persepsi manusia tentang yang mana yang logis dan yang mana yang tidak
    Bagi saya adanya Nabi dan Mu’jizat mereka itu suatu hal yang logis

    manusia itu dikutuk untuk hidup dalam simulakrum dimana ia melihat kebaikan/kebenaran dalam kesalahan/keburukan. ke sini sesat, ke sana sesat, ke sini benar, ke sana benar. maju kena, mundur kena, diam kena! setiap agamawan menawarkan “buhul tali” yang kuat, hidup lurus, Yesus, al-Qur’an-Sunnah, al-Qur’an-Ahlul Bait etc.

    Bukan dikutuk sih, sebenarnya begitulah manusia punya persepsi dan interpretasi yang bermacam-macam

    menurut gue skeptisisme selalu mendahului apapun, termasuk rasionalisme dan iman, dan ini adalah proses yang berlangsung sampe mati. what do you think?

    Bisa saja, tapi skeptisisme hanyalah sebuah langkah awal dalam mencari kepastian
    dan rasanya begitu lebih baik dibanding dijadikan dasar untuk terus meragukan segala sesuatu

  5. @ Secondprince

    Udah terbukti lo, dengan merujuk pada diskusi-moderasi-spamming komentar yang membalikan pendapat mereka 😆

    @ Tika

    Kalau di KTP gw, islam itu Agama 🙄

    @ Gentole

    setiap agamawan menawarkan “buhul tali” yang kuat, hidup lurus, Yesus, al-Qur’an-Sunnah, al-Qur’an-Ahlul Bait etc.

    Artinya semua agama itu memberikan pencarahan dan hal tersebut membuktikan semua agama membawa kebaikan dan pencerahan 😀

  6. Pleonasme……@Secondprince…..betewe firstprincenya sapa ya….

    Anda semangat sekali mengkonter tulisan para salafyan itu?

    Jadi penasaran, motivasi Anda mengkonter semua tulisan Salafyan itu apa ya? hehehehe…..anyway, apapun motif anda, selama tulisan anda menyuarakan kebenaran (bukan pembenaran) akan saya ambil.

    Mohon maaf, saya bukan Salafyan or yang sejenisnya….tapi saya ingin pencerahan 🙂

  7. CERAH UNTUK SEMUA ( KECUALI YANG ENGGAN ) ….. heeemmmmm

  8. Yang saya suka dari post-post-nya Mas Secondprince adalah usahanya untuk membeberkan fakta yang berimbang, dengan sistematis dan seobyektif mungkin.
    Sayangnya mereka yang berusaha mempertahankan pendapatnya dari “terjangan” argumentasi Mas Secondprince terkesan “menghalalkan segala cara” yang penting bagi mereka seolah-olah sudah membantai argumen Mas Secondprince, termasuk dengan komentar yang fallacious, ad hominem, labelling people, dan mematikan dialog dua arah.

    Ini yang justru menyiratkan, pihak mana yang logikanya rendah :mrgreen:

  9. yaaa ………. memang kalau nafs udah bicara, kadang kadang nalar tentang keagamaan dikesampingkan, hanay untuk mengejar teks yang tersurat, tanpa mau memahami teks yang tersirat

  10. @ burit….jadi semestinya memahaminya harus kontekstual ya….hmmmm 🙂
    Tapi begini lho Oom, selama saya jadi blogwalker (wira wiri) ke blognya PakDe Antonsalafy or wahhabies and somekind like that or their opposites just like M3 and others, ada satu pola dekonstruktif yang berkembang. (mohon maaf kalo keliru).
    Dekonstruktif terhadap apa? ya terhadap masing-masing postingan. It’s okay kalo obyektif dan dilengkapi data-data dan referensi akurat bisa menambah pengetahuan (sekaligus keimanan?). Tapi kalo subyektif dan tendensius, akan seperti debat delman, seperti yang terjadi di thread sebelah…..

  11. @ hilda lex
    gitu yaaa …………. maksut saya itu, kita ini bukan ahli tafsir, bukan muhadist, bukan mufasir, bukan orang berilmu, beda dengan para hafid, muhadist, mufatsir dll yang diangkat derajatnya karena keilmuannya, kita hanya bisa baca, dengar dari orang, makanya rujukan dari orang yang ada kaitannya itu penting mbak, biar gak kesasar. banyak kok teks kitab suci yang tidak hanya membutuhkan penterjemahan, tapi juga harus ditafsirkan, dan yang menafsirkan lagi lagi bukan orang sembarangan …..

  12. @hildalexander
    wah dia ya, entahlah kemana
    kalau motivasi sih, yang jelas saya nulis karena saya ingin

    @burit
    monggo

    @Amed
    Hmmm terimakasih komennya

    @burit
    Sayangnya Mas, teks yang tersirat itu rentan sekali dipermainkan hawa nafsu
    Tersiratnya orang itu lain-lain 😀

    @hildalexander
    gapapa yang penting damai
    *halah apa nih*

    @burit
    Nah Mas karena yang namanya ulama rujukan itu banyak, maka metode memilihnya itu juga penting
    Atau setiap orang bebas ikut dengan ulamanya
    Ya udah silakan saja
    Yang penting tidak perlu merendahkan ulama lain atau orang lain
    setiap pendapat dinilai dari dalilnya bahkan seorang ulama

    Silakan saja berbeda pandangan
    Eh Mas, kalau soal yang pakai nafsu semua orang bisa bilang begitu 😀
    Salam

  13. @ second
    wah mas ini kadang lucu juga, kadang tegas, kadang memble …….. dimana mana namanya ulama ya yang lurus mas, gak asal ulama’, masak mau operasi cesar panggil mantri ( gak logis lah ) walaupun sama sama orang yang bisa ngobatin. klo masalah ulama sudah jelas, beliau beliau adalah penerus Nabi, tapi Nabi juga mengancam orang yang mengaku ngaku ulama dan berfatwah yang gak jelas, atau menyimpang dari ajaran Nabi …………….., masak mau maksakah sesuatu yang orang banyak bilang itu gak benar ……… nah itu yang saya maksut dengan nafs ( nafsu )

  14. @burit
    Nah itu Mas, Yang namanya “asal ulama” itu juga beda-beda
    Persepsi Mas dengan Ulama yang asal-asalan itu bisa beda dengan orang lain
    Bagi Mas Syaikh al Albani mungkin asal-asalan(maaf kalau salah)
    Bagi saya sih Beliau juga Ulama yang bisa dirujuk pendapatnya dan dipelajari karya-karyanya
    Toh kan belajar gak mesti ngikutin mentah-mentah

    Ah Mas kalau kebenaran itu gak ada tuh aturannya mesti selalu ngikutin banyak orang
    Kan tergantung apa dasarnya

  15. @burit
    yang penting itu kejujuran dan berfungsinya akal budi kita dalam menilai apakah suatu pernyataan itu logis dan bisa dipertanggungjawabkan. tak perduli siapa yang ngomong, apakah ulama atau orientalis yang suka mengkritik Islam. buat saya Bernard Lewis juga ulama.

    @second
    yang diperlukan itu komunikasi. ulama tidak kedap budaya dan sejarah. seandainya al-Albani tinggal di Mesir dan al-Qaradhawi tinggal di Albania, keduanya tidak akan menjadi seperti yang kita ketahui saat ini. dalam keragaman persepsi, setiap gagasan sebaiknya dikomunikasikan kepada orang lain agar terus teruji apakah gagasan itu “benar” atau “salah”.

  16. @ second
    menarik sekali pembicaraan mu, memang benar apa yang kamu sebut tapi contoh soalnya kan jadi beda dimana seseorang itu ternyata bukan ahlinya dan yang bicara adalah para ahli dari bidang itu, contoh mantri dan dokter specialis bedah, sama sama orang yang bisa menyembuhkan, tapi keilmuan mantri untuk mengoperasi menjadi tidak diakui oleh para dokter bedah mas ( kan mas seorang dokter )

    @ gentoel
    nah ini yang menurut saya rancu, anda menganggap semua orang sama, padahal syar’i membedakan orang islam dengan orang kafir, gak perduli orang kafir itu berbuat baik sebesar gunung …………….

  17. @burit
    orientalis yang menghabiskan masa hidupnya mempelajari ilmu hadist dan sirah nabi adalah seorang ahli dalam ilmu hadist dan sirah nabi meskipun ia seorang “kafir”. pengetahuan dan keyakinan itu dua hal yang berbeda, bung. kalo bicara syar’i, harus dibedakan dalam konteks apa pembedaan kafir dan bukan kafir itu. soal pengetahuan, teori gravitasi yang diformulasikan Newton jelas bisa diuji kebenarannya secara ilmiah dan bermanfaat bagi umat manusia sekalipun ia “kafir” menurut anda. anda harus membedakan mana yang historis seperti meneliti sejarah nabi dan yang teologis seperti menafsirkan makna terpendam dalam ayat-ayat al-Qur’an.

    anda benar, anda memang rancu.

    Salam

  18. @ burit
    Maaf ini OOT, mas/mbak…
    Tapi saya cuma pengen tau, Anda orang Kalimantan apa bukan? Soalnya nama Anda itu kalo di Kalimantan artinya rada kurang ngenakkin, hehe…

    Sekali lagi maaf… No offence…

  19. @gentole
    Yap saya sependapat

    @burit
    Makanya Mas, orang yang mau bicara harus ada dasarnya
    Kalau anda cuma mau bilang yng berhak bicara itu hanya ulama
    Wah, gimana orang-orang yang bukan ulama mau bicara, Memangnya Ulama itu selalu bicara dengan setiap orang
    kan nggak Mas
    Yang penting Mas, bicara itu ada dasarnya kalau soal agama
    kalau sudah disebutkan dalilnya maka yang sebaiknya adalah ditunjukkan kalau dalil dalil itu keliru
    Ulama itu layak menjadi rujukan karena mereka memiliki dasar dalam berfatwa
    Kenyataannya Ulama itu ada banyak dan fatwanya macam-macam dan tentu yang paling baik adalah menelaah dasar-dasar ulama tersebut
    Salam

    @gentole
    Hmm, bisa begitu 😀

    @Amed
    Sebenarnya sih kalau nurut Orng Palembang artinya juga rada gak enak 😀

  20. @ gentoel
    he he he he , barangkali memang benar orientalis yang mempelajari ilmu islam itu ada, tapi kita sebagai muslim gak wajib ngikutin pendapat dia, karena walaupun dia pandai dalam ilmu hadist misalnya, tapi dia bodoh dalam tauhid, dan akar dari muslim adalah tauhid, apa kita masih maksain diri untuk ngikut pendapat orang yang bodoh tauhidnya, ketimbang ikut orang yang bagus tauhidnya …… hi hi hi hi hi , jangan samakan dengan ilmu dunia mas …….
    @ amed
    ya gak papa lah, wong nama di dunia maya. mau kentut ……….. mau bantai, mau sejati …….. terserah
    @ second
    disini saya cuma bilang sesuatu itu harus pada tempatnya, dan dalam masalah agama mas saya kira peran ulama’ yang arifbillah itu perlu mas, bukan masalah lainnya ( posting ini kan kebanyakan mengulas masalah agama ) kan udah tak kasih contoh, mantri dan dokter ………. masak gak jelas karena bahasa yang saya gunakan bahasa pasaran .. hi hi hi hi hi hi
    lah definisi ulama’ aja anda gak faham, gimana mau tau dalamnya, musadhek disebut nabi oleh pengikutnya, iya to. tapi menurut orang banyak dia disebut orang gila, apa kita mau tetap menghargai pikiran gilanya ???????
    rancu ya …….

  21. @ gentoel
    pengetahuan dan keyakinan
    ya memang beda …………. contoh setalah tahu khomer itu menjadikan lupa ingatan, rusaknya beberapa jaringan tubuh, tapi keyakinannya yang membuat dia tetap minum, tapi pemikiran itu hanya untuk dirinya sendiri. trus gimana mau dipaksain atau disebarkan pemikiran dia tentang bahaya khomer kepada orang lain, wong dianya sendiri masih meminumnya ?? bingung ya hi hi hi hi wajarlah bahasa pasar
    sama kan dengan kaum onterialsi, mereka pintar beberapa ilmu islam, tapi mereka lupa ilmu islam yang utama adalah tauhid. lah kembali lagi masak mau kita pake dalil atau rujukan orang yang tauhidnya salah ……. klo kamu mau pake ya gak masalah tapi itu khusus buat kamu omm, seperti minum khomer yaa …

  22. @burit
    wah, anda pasti seorang ahli dalam berdebat.

  23. @burit
    Wah gaktahu ya Mas
    sejak awal kan definisi Ulama menurut Mas itu beda kan
    Menurut Mas mungkin Syaikh al Albani bukan ulama tapi menurut yang lain Beliau adalah ulama besar
    Sebenarnya maksud Mas itu kearah mana sih
    Apa maksudnya tulisan saya itu karena saya bukan ulama maka semuanya gak benar begitu?
    Ah itu kan terserah orang atau Mas mau mempersepsinya gimana
    Ukuran kebenaran itu dilihat dulu dari dalil
    kita merujuk ke ulama karena mereka berhujjah dengan dalil
    Kalau soal analogi Mas, mantri dan dokter
    Ya jelas beda kalau itu berkaitan dengan ketrampilan atau kewenangan Medis
    Gak pas kalau menurut saya dengan yang dibicarakan

  24. @ second
    nah mantri dan dokter itu kan contoh, gimana gak pas, wong sama sama orang yang bisa ngobati, jadi beda dikala yang ditangani itu kasus kesehatannya berbeda.
    klo ada ulama’ yang menurut mayoritas ulama’ bukan dari golongan muhadist ( walau dia pintar baca kitab ) tetapi kurang dalam persyaratannya ( karena tidak bertemu dengan muhadsti ) nah ini yang saya anggap kurang tepat bila kita mengambil rujukan dari beliau, karena persyaratannya kurang.
    contoh umat jaman sekarang, banyak yang mengkafirkan sahabat, ( sampai sampai ada ungkapan, semisal sahabat Abubakar dimasukkan kfe dalam surga, maka aku tidak akan masuk ke dalam surga ), nah ini kan pandangan yang keliru dan sesat dari siapa ungkapa seperti itu ??????
    dan lagi saya tegaskan coba nada carikan hujah yang tepat tentang ulama’ Al banni kalau memang dia muhadits, dan coba carikan saya hujjah tentang apa itu muhadist ……… syaratnya apa saja, apa cukup berpedoman kepada kitab tur berfatwah ????

  25. @secondprince….

    “Metode Memilih Ulama”, menarik juga….jadi kita (khususnya saya) punya otoritas untuk memilah dan memilih ulama mana yang benar (perkataan dan perbuatannya yang tentunya based on Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW). Dengan otoritas demikian, saya juga menjadi bebas untuk menyampaikan kritik terhadap ulama. Logikanya kan seperti itu.

    Nah yang menjadi pertanyaan saya adalah, adakah ulama yang bebas tafsir dan persepsi? karena ulama-ulama yang baik wahhabies maupun oppositesnya jadikan referensi adalah kebalikannya alias tidak bebas tafsir.

    *Mohon maaf kalo keliru…..ayo dong Oom secondprince bikin metode memilih ulama yang benar*

  26. ADA KOK ULAMA’ YANG BEBAS TAFSIR, TAPI NAMANYA BUKAN LAGI ULAMA’, CONTOHNYA MUSADHEK, LIA EDEN, DLL HI HI HI HI HI , maaf ………….

  27. @buritan
    Lho mereka itu ulama ya? Anda menganggap mereka ulama? halah…..kok bisa, metode yang Anda gunakan apa?

  28. katanya pengen contoh ulama’ yang bebas tafsir ( dalam arti tidak mengindahkan hukum hukum tafsir, atau syarat menjadi mufatsir ) nah dia tas itu contohnya, tanya sama yang menjadi pengikutnya, pasti mereka bilang adalah ulama’ malah ada yang ngatain Nabi segala, rohh malaikat segala, nah ulama saya nabi,a tau malaikat kan lebih tinggi derajatnya ….. hi hi hi hi hi . dan saya bukan pake metode yuk, tapi kata para pengikutnya seperti itu yuk.
    sebenarnya tidak ada kata bebas yuk, yang ada adalah sesuai denga tuntunan, atau aturan yang berlaku, coba cari satu aja contoh dalam kebebasan …….. pasti yang dihasilkan hanyalah khayalan tok

  29. @buritan
    Percayalah Mas, kalau soal analogi mantri dan dokter saya lebih tahu
    Dan maaf gak pas dengan apa yang dibahas
    Bagi Mas Ulama Mas adalah panutan
    Bagi Salafy Syaikh Al albani adalah panutan
    Bagi saya, saya lihat dalil-dalil yang dibawakan ulama. Jika benar saya terima jika tidak tidak saya ambil
    Kenapa Mas memusingkan soal siapa yang Muhadis
    Bagi saya Syaikh Al Albani adalah seorang ahli hadis yang mempelajari banyak kitab hadis dan kitab Jarh wat Ta’dil. hal ini membuatnya mempunyai kemampuan untuk menilai kedudukan suatu hadis
    Ulama Mas bisa saja punya sanad sendiri dan mungkin beliau juga belajar hadis dari kitab juga
    Bagi saya tidak ada masalah, yang aneh adalah anda yang begitu ngototnya mau menjatuhkan kredibilitas Syaikh al Albani
    Memangnya sejauh mana Mas pernah membaca hasil karya Syaikh Al Albani
    Bagi saya sikap Mas ini cuma taklid terhadap Tahzir yang dilakukan Ulama Alawy terhadap Syaikh Al Albani
    Silakan saja Mas, tetapi jangan paksakan orang lain karena tidak semua orang pengetahuannya sama

    @hildalexander
    Walah gak perlu panggil oom
    Metode memilih ulama sebenarnya lebih tepat metode memilih dalil yang digunakan Ulama
    Ah iya, gak ada Ulama yang bebas tafsir dan persepsi sama halnya gak ada manusia yang bebas tafsir dan persepsi
    Semua bisa benar atau bisa salah kecuali orang-orang yang memang dijaga oleh Allah SWT agar selalu dalam kebenaran

    @buritan
    Ah anda ngawur Mas 😀

    @hildaexander
    Pertanyaan bagus tuh 😀

    @buritan
    Artinya setiap pengikut akan menganggap panutannya sebagai Ulama ya Mas
    termasuk Mas atau pengikut Salafy atau Jamaah Tabligh atau Ikhwanul Muslimin
    Yah banyak kan ulamanya

  30. iya, dan semua akan menganggap benar jika keluar dari golongannya sendiri, dan saya setuju bahwa hanya orang tertentu yang dijaga oleh Allah ( terutama orang yang dianggap wali ) apalagi ulama keturunan ahlul bait (katanya harus berpegang kepada ahlul bait ) kenapa ragu berpegang kepada para keturunannya.
    iya lah analog mantir sama dokter sampena lebih tau wong pakarnya, sapa sih yang mau bantah, dalam sikap “keakuan”
    anda membanggakan hadist tsaqalain, hadist alquran mengatakan ahlul bait dalam kebenaran, tetapi kepada ulam’ keturunan anda masih pilih pilih hi hi hi, iya sih nanti dikira taklid buta ya klo cuma berpedoman hanya kepada satu golongan, ya begitulah nafs ………. klo cocok dengan dalilnya dan nafsnya tak perduli siapa yang ngeluarinnya pake aja, saya menjadi ngotot ketika anda memasukkan dalil yang sepihak, tanpa melihat dalil yang lainnya ( katanya sih metodenya udah paling yahud, sampek di jaman Nabi tak kutemukan metode yang hanya baca kitab )contoh hadist tsaqalain saja om anda berujar dengan sesuatu yang bertentangan, cara menghukumi riwayatnya saja anda hanya berpedoman dengan satu sumber (walau hadistnya sahhih ) pas ada sumber lain, anda katakan gak sahih lah, hadist doif lah, dll yang parah hanya bersumber satu riwayar sudah bisa ngatain orang itu salah, orang itu benar hi hi hi hi hi kayak kita yang bisa nilai orang saja,

  31. @bersatu

    anda membanggakan hadist tsaqalain, hadist alquran mengatakan ahlul bait dalam kebenaran, tetapi kepada ulam’ keturunan anda masih pilih pilih hi hi hi, iya sih nanti dikira taklid buta ya klo cuma berpedoman hanya kepada satu golongan,

    Lebih baik Mas bahas dulu Ahlul Bait dalam hadis Tsaqalain itu siapa, apakah semua keturunan Ahlul Bait?
    Lagian Mas kalau soal Ulama keturunan Ahlul Bait itu ada banyak, tidak hanya Ulama Mas bahkan Syiah punya banyak Ulama keturunan Ahlul Bait
    jadi kan Mas pilih-pilih juga
    Terus siapa bilang saya menolak Ulama keturunan Ahlul Bait, saya juga mempelajari karya Syaikh As Saqqaf seorang Ulama keturunan Ahlul Bait

    klo cocok dengan dalilnya dan nafsnya tak perduli siapa yang ngeluarinnya pake aja, saya menjadi ngotot ketika anda memasukkan dalil yang sepihak, tanpa melihat dalil yang lainnya ( katanya sih metodenya udah paling yahud, sampek di jaman Nabi tak kutemukan metode yang hanya baca kitab )contoh hadist tsaqalain saja om anda berujar dengan sesuatu yang bertentangan, cara menghukumi riwayatnya saja anda hanya berpedoman dengan satu sumber

    Saya heran kalau anda begitu mudahnya mengatakan hal yang tidak benar
    Dari awal saya sudah mengajak anda membahas hadis Tsaqalain, tetapi anda tidak merespon sama sekali

    Satu sumber dari mana, lucu Mas coba lihat tulisan saya tentang hadis Tsaqalain, ada banyak sumbernya
    Padahal sebenarnya andalah yang dari awal cuma memakai satu sumber yaitu pernyataan hasan gharib oleh Ulama Mas yang maaf cuma menukil pendapat Imam Tirmidzi

    Jangan bicara seolah anda tahu nafsu orang lain, karena jangan2 andalah yang cenderung pada nafsu

    walau hadistnya sahhih ) pas ada sumber lain, anda katakan gak sahih lah, hadist doif lah, dll yang parah hanya bersumber satu riwayar sudah bisa ngatain orang itu salah, orang itu benar hi hi hi hi hi kayak kita yang bisa nilai orang saja,

    Apa yang saya katakan selalu saya sertakan dasarnya, Maaf Mas pengetahuan orang itu beda-beda
    Ketidaktahuan anda bukan standar untuk orang lain
    Memangnya setiap orang mesti setuju dengan apa yang Mas katakan
    Kalau memang dalilnya kuat saya terima
    Masalahnya saya ragu anda tahu apa tidak itu yang namanya kuat atau yang tidak kuat
    Sepertinya bagi anda semua kata Ulama anda, itulah yang kuat

    Sepertinya Mas juga harus belajar berkomentar dengan baik, kalau mau berkomentar usahakan di tempat yang memang membahas apa yang anda komentari,, Biar gak rancu jadinya
    Nah saya tunggu anda kalau memang mau membahas hadis Tsaqalain atau hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

    Daripada bicara yang bukan-bukan coba tunjukkan bagian mana yang bertentangan
    Jangan sembarangan menuduh orang menuruti hawa nafsu, karena jangan2 anda sendiri yang cenderung pada nafsu

  32. @guys…..

    Please….jangan bahas ulama siapa yang paling benar (bersatu’s or second’s)….bahaslah dalil mana yang paling shahih yang dipakai para ulama (‘metode memilih dalil yang benar’ according to second)….

    jangan juga pendapat mainstream ulama yang dijadikan landasan. the truths is out there (mengutip the X Files), kebenaran bisa jadi ada di luar sana, di luar ranah kebenaran yang kita yakini selama ini.

    *halah sok tauuuu*

    Berdebat yang cenderung kepada nafsu tidak akan menghasilkan pengetahuan baru…..
    *saya masih menantikan diskusi yang elegan. blogwalker seperti saya masih haus akan pengetahuan*

  33. maaf hildax
    kadang anda rancu, anda berkata dalil, tapi mengesampingkan ulama’, jaman nabi semua dalil dari nabi, disampaikan kepada para sahabat smpai dengan sekarang, sekarangpun dalil tetap dari nabi kan. ya bisa dari kitab suci yang diturunkan kepada Nabi seorang, atau dari ucapan, tingkah laku nabi, nah yang dibutuhkan adalah seseorang yang mampu dan diakui banyak kalangan untuk menyampaikan dalil ( ulama’ adalah pewaris keilmuan para nabi ) dalil banyak tapi kita yang masih senang dengan dunia, tidak akan bisa menelaah sendiri dalil semaunya, car membaca dalil yang benar saja bukan jaminan ( contohnya silahkan cek para pengikut rafidah ) mereka mengatakan dalil yang dibawa benar, tapi mereka lupa ada sauatu untaian atau suatu tali yang tidak boleh terputus yang disebut sanad, dan hanya orang orang pilihan yang mengerti apa itu sanad, kita orang awam wahhhhh kliatannya cuma bisa baca lex ………. klo baca ya anak sd saja udah bisa lex ……. sekali lagi dalil hanya datangnya dari Allah yang disampaikan melalui nabi, selain itu adalah pendapat ulama’, tetapi dalil tanpa sanad yang bersambung sampai nabi, sulit untuk dijadikan hujjah ( saya kira alex ….. ngerti apa itus sanad ) orang yang dianggap lurus aja bisa dikatakan bengkok oleh segolongan orang, karena berbeda pendapat, contoh ulama’ wahabi dan sunni. sekali lagi kita bisa tahu dalil itu benar atau salah bukan dari buku tapi dari siapa yang menyampaikan dan terbukti sesalehannya bersambung dengan sayidunna Muhammad

  34. @ second
    kan udah jelas kata anda
    Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Berikut adalah hadis tentang Fadak yang dimaksud yang penulis ambil dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.
    Gak perlu bicara yang aneh, hadis yang saya kutip bahkan ada dalam Fath al bari
    Syaikh Al Albani dalam hal ini tidak merubah hadis tersebut, saya kan cuma mengutip hadisnya bukan Syarhnya Mas
    tapi anda bilang cuma ngutib kan ( tidak mau lihat sarahnya ) nah ini yang saya pertanyakan, bukan mau merendahkan anda sebagai ahli kutib, tapi mari kita benahi cara kita mengambil dalil yang benar, dalilnya sudah benar tapi jadi salah kaprah kalau tidak dibarengi dengan ilmu
    anda selalu bilang bahwa tiap komentar selalu diberengi dengan dasar yang kuat, tapi kok masalah sanad anda gak ngerti ya ………. gak bisa tahu seseorang itu bersambung sama nabi atau tidak, dan yang membuat saya tidak bisa mengerti anda berujar selalu memakai dasar kritik .
    kata anda
    Bagi saya Syaikh Al Albani adalah seorang ahli hadis yang mempelajari banyak kitab hadis dan kitab Jarh wat Ta’dil. hal ini membuatnya mempunyai kemampuan untuk menilai kedudukan suatu hadis
    jawab saya
    mempelajari mas, tapi gak pernah ketemu dengan yang membelajari ya ????
    ini pendapat imam bukhari yang sahih
    “”aku tak mau menyebut aib aib orang dalam riwayatku, karena aku tak mau dikumpulkan oleh Allah dalam kelompok ahlulghibah” (Siyar fii a’lamunnubala dan Tadzkiratul Huffadh).
    kita maklum riwayat fadak itu ada, tapi menjadi rancu dan salah kaprah jikalau pemahaman yang dangkal, pemuatan riwayat fadak bukan untuk cacian, tapi menjadi bahan cacian bagi sebagian orang, dan buat bahan ini salah itu salah, ini gak betul, itu gak betul yang bilang orang jfaman sekarang yang masih senang makannan enak ……………….. cam …cam

  35. @bersatu
    dua hal tentang rujukan dan jalan menuju kebenaran:

    soal sumber:
    kita harus bisa memastikan bahwa sumber yang kita baca itu asli dan autentik. bila kita tidak mampu mengatakannya autentik yah sudah diakui saja bahwa kita tidak bisa memastikannya. karena itu, common sense jadi satu2nya cara untuk menilai apakah suatu hadist bisa digunakan atau tidak. jarh wa ta’dil itu metode yang lemah sekali secara logika.

    soal tafsir:
    setiap teks/nash harus dipahami secara kontekstual, yakni dengan mengaitkannya dengan nash-nash yang lain.

  36. hemmmm ( apa tuh common sense ) hi hi hi hi

  37. @bersatu
    common sense tuh kalo orang yang berpandangan bahwa ahlul bait itu selalu dalam kebenaran dalam arti “infallible”, nah itu gak selaras dengan “common sense.” ups…sori bung second. 😀 kau pasti punya penjelasan.misalnya hadist yang bilang orang murtad harus dihukum mati, nah itu gak “make sense.”

  38. @ gentoel
    lah terus hukum untuk orang murtad itu apa dong

  39. @bersatu
    yah, gak apa2. emang maunya diapain mas?

  40. @ gentoel
    klo hukum zina seseorang yang sudah berkeluarga (menurut kitab suci lohhh ) hukum mencuri, hukum korupsi

  41. @bersatu
    saat ini,tidak ada pilihan selain menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam konteks yang lain dan tidak menerapkan apa yang ditulis secara harfiah. yah, memang sangat kabur dan beresiko kufur, tetapi membunuh orang dengan dilempar batu (dalam kondisi setengan terpendam) sampai mati karena berzina sudah tak sesuai lagi dengan nalar modern. tapi ini pendapat pribadi saya. terserah anda berpendapat bagaimana.

  42. @ gento-le
    hemmm, jadi menurut pribadi anda yang moderen hukum potong tangan, rajam ( yang kliatannya kejam ) itu tidak sesua lagi ya …… hemmmmm jadi enaknya menurut atau tunduk sama nafs atau tunduk patuh sama Dzat yang tidak kita tahu keberadaannya, tapi kita wajib yaqin bahwa itu ada ???
    nalar tertantang dengan keimanan ya ….

  43. @bersatu….

    “sekali lagi kita bisa tahu dalil itu benar atau salah bukan dari buku tapi dari siapa yang menyampaikan”

    Lalu bagaimana dengan yang ini, “Sampaikanlah (kebenaran) walau satu ayat”. Kebenaran itu ‘apa’ dan bukan ‘siapa’. Kalau yang menyampaikan kebenaran adalah seorang budak, berarti dia tidak memiliki otoritas untuk mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Anda? Budak adalah seseorang yang memiliki status sosial dan ekonomi serta posisi tawar yang marjinal.

    Dengan demikian, Anda baru percaya kalo yang mengatakannya ulama, kendati dia ditengarai berkata bukan kebenaran atau bukan yang sebenarnya,……

    Wah, bahas ini lagi, cape deeee

  44. @bersatu
    tidak harus bergitu bung. tetapi perbedaan penafsiran kadang tak terelakan. untuk isu rajam dan qisas kayaknya perlu entri khusus deh kalo mau didiskusiin. mungkin bung second mau bikin.

  45. @ hida
    tenang yuk hilda, sabar dong gak usah kawatir kata anda
    Lalu bagaimana dengan yang ini, “Sampaikanlah (kebenaran) walau satu ayat”. Kebenaran itu ‘apa’ dan bukan ’siapa’. Kalau yang menyampaikan kebenaran adalah seorang budak, berarti dia tidak memiliki otoritas untuk mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Anda? Budak adalah seseorang yang memiliki status sosial dan ekonomi serta posisi tawar yang marjinal.
    jawab saya
    budak di belahan bumi mana yuk, klo yang kamu buat contoh perbudakan barat barang kali betul, budak dilarang bicara, tapi klo contohnya bilal yang bekas budak di jama Nabi , giamna gimana juga bekas budak, tapi disisi Nabi wahhhhhhh sampek terompanya aja udah kedengarang di sorga, padalah beliau belum wafat. klo yang ngomong budak tapi sholeh dan dapat dipercaya ( ulama’ ) ya bisa yuk dijadikan rujukan, tapi yang ngomong profesor doktor tapi kafir ???, hemmmm definisi ulama’ itu apa sih ………
    satu aja kok rumusannya klo pengen selamat ikut Nabi titik

  46. @ gentoel
    gak usah ruang khusus om, begitu aja udah kliatan kok kareteristikmu, wong di kitab suci ada, lah klo kamu mo bilang ada beberapa isi dalam kitab suci yang tidak relefan dengan jaman sekarang, ya terserah, itu kan sama saja meragukan yang sedang mengatur dunia ini beserta isinya, lah klo udah ragu laen lagi , tak kasih tau ya dulunya iblis ( bapak moyangnya syetan ) itu adalah salah satu dari jajaran malaikat yang jutaan tahun mengabdi sama penciptanya hanya karena satu kali menentang tidak mau sujud jadilah dia penentang nomor wahid, dan kekal dalam penentangannya . bagaimana ibadahnya jutaan tahun ???? lenyap karena kalah dengan nafsunya untuk tidak ikut 1 perintah saja dari Tuhan

  47. @bersatu
    oke sip. nanti aku buat entrinya. bukan nafsu mas, tapi akal budi. orang gila aja kalo ada yang mau bunuh orang karena keluar dari Islam atau mendem orang terus ditimpukin sampe mati karena alasan apapun. hukuman mati harus dihapuskan di manapun, di negara sekuler maupun Islam. tinggal di Taliban aja bung kalo masih mikir perintah Tuhan melulu. di Indonesia gak ada tuh hukum rajam. anda tinggal di negeri taghut, baiknya pergi aja.

  48. @ gentoe
    nah ini kliatany lagi, gak usah ngatain isi kitab suci tidak relefan bung, dan gak usah minggat dari indonesia, saya cuma bilang bahwa hukum rajam itu ada, gak usah orang gila dipake contoh musadhek itu dianggap nabi oleh pengikutnya, tapi bagi roang islma kebanyakan adalah orang gila ya to ….. emang akla budi yang mana, ya sama dong dengan seyetan yang disesatkan karena sombong denga perintah yang menurut akalnya setan tidak relefan, wong setan dari api kok disuruh nyembah manusia dari tanah, itu akalnya setan ( kata lainnya akal budinya setan ), orang takut dirajam ya jangan zina, takut dipotong ya jangan yolong, adil kan ………. enak mana dihisab di dunia,a tao milih digebuki di neraka …………..

  49. […] sebagian orang, mungkin istilah ini terdengar aneh. Fallacy… apa pula itu fallacy? Sodaranya Salafy kah? Ah, bukan kayaknya. Ada hubungannya dengan filsafat kah? Hmm… kurang tepat kayaknya. Jadi […]

  50. @gentole
    “kenyataannya dalam wacana keagamaan:
    fallacy=tidak selalu tidak logis dan tidak selalu menyimpang dari kenyataan (misalnya klaim Richard Dawkin dan atheist2 kelas “Ulul Albab” bahwa Tuhan “Tidak Ada”: kata meraka itu logis dan faktual).
    kebenaran: tidak selalu logis, tidak selalu selaras dengan kenyataan. (misalnya mukjizat para nabi!!)”

    Mesti dibedakan antara logis dan pengalaman. “Logis” itu berisi kaidah-kaidah logika yang bebas dari ruang dan waktu. Misalnya, bagaimana kita bisa meyakini sejarah bahwa Rasulullah SAAW pernah hidup tanpa harus hidup sezaman dengan beliau. Misalnya lagi, logika bisa mengetahui apakah Tuhan itu satu atau lebih dari satu.

    Kalau “pengalaman” adalah pengetahuan yang timbul dari indera kita, disebut empirisme. Sesuatu yang ada adalah sesuatu yang bisa dicerap oleh indera.

    Coba anda paparkan pendapat Richard Darwin lalu kita kaji apabenar argumen dia itu logis atau empiris.

    Bagaimana dengan mu’jizat Nabi? Dari sudut pandang logika, ini logis. Dari empiris, tidak masuk akal.

    Logika orang yg awam banget deh, Tuhan Maha Kaya dan Maha berkehendak, mungkin tidak menjadikan Nabi Ibrahim tahan dari kobaran api? Ya pasti bisa! Jelas sebuah keberadaan hanya dapat mewujud dari potensinya jika diakibatkan oleh sebuah sebab yang LEBIH KAYA.

    Dari empirisme, mana ada sejarahnya manusia biasa dibakar hidup-hidup tidak mati. Inderawi=pengalaman.

    Gitu lho. “Addiinul aql”, agama adalah akal! “Inna fii dzaalika la ayaatal liqawmiy yatafakaruun/ya’qiluun…”

  51. @Dwi Qenthir
    Pendapat yang menarik 🙂

  52. bismillah

    di jaman ini banyak FITNAH (din),khususnya di indonesia banyak sekali orang2 yang mengaku nabi di beri hukuman yang sangat ringan.dan juga banyak dai2 sempalan di layar televisi bermodalkan lisan yang memukau tuk mencari nafkah (dai amplop).
    begitu banyak umat islam yang awam,yang jauh mengenal ilmu agama yang tidak sanggup lagi memilah milah mana yang HAQ dan mana yang BATHIL (bid’ah).
    bertebaranlah PARTAI2 berazaskan ISLAM,seolah olah merekalah berjuang di agama ini hampir semua tidak mengetahui.
    padahal mereka kader2 PARTAI ISLAM,tujuan hanyalah DUNIA mencari nafkah menjual agama slogan2 palsu tuk mengelabui umat islam tuk mencapai dukungan yang penuh.
    mereka anggap DAKWAH tauhid,menghalangi perjuangan mereka seolah olah mereka berJIHAD di medan perang.
    hakikat JIHAD mereka kaburkan dengan menTAKWIL jihad parlemen dengan JIHAD di medan perang sama.
    padahal mereka tidak mengetahui JIHAD MUNAFIQUN adalah JIHAD para ulama rabbaniyin.

    Membantah orang-orang munafiq dan para pembawa kebatilan termasuk bagian daripada jihad fisabilillah. Allah dengan tegas memerintahkan kepada Nabi-Nya:
    يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم، و مأواهم النار و بئس المصير
    Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal [At Taubah:73]

    Al Imam Al Mujahid Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Jihad melawan munafiqin ini lebih berat daripada jihad melawan orang-orang kafir. Jihad ini merupakan jihadnya orang-orang khusus dari umat ini, yaitu para ‘ulama pewaris para nabi. Maka orang-orang yang tampil menegakkan jihad jenis ini hanyalah segelintir orang saja, demikian juga orang yang mau membantu mereka hanya sedikit saja. Namun demikian, meskipun secara jumlah mereka itu sedikit, mereka sangat besar kedudukannya di sisi Allah.” –sekian dari Ibnul Qayyim-

    Al Imam Al Harawi meriwayatkan dengan sanad beliau dari Nashr bin Zakariya ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkata: “Saya mendengar Yahya bin Yahya berkata: “Membela Sunnah lebih utama daripada jihad fi sabilillah!” Muhammad bin Yahya berkata (keheranan): “Seorang mujahid telah menyerahkan hartanya, mengerahkan kekuatannya dan berjihad di jalan Allah, lantas (bagaimana mungkin) pembela sunnah itu lebih utama daripadanya?”
    “Benar, bahkan (pembela sunnah) jauh lebih utama!” jawab Yahya [Dzammul Kalam lembaran A-111].

    dengan sering mengembar gemborkan JIHAD lewat demo2 di jalan,tidak pernahlah kalian berpikir atau mengkoreksi diri dari perbuatannya yang menyelisihi sunnah nabi shallallahu alaihi wa salam,dan mereka mendustakan AGAMA menyeret2 agama ini ke lubang kebinasaan (demokrasi ala kuffar) seolah olah agama (TAUHID) ini tujuannya hanya untuk bikin PARTAI.
    wallahu musta’an di antara mereka ada orang2 yang berpendidikan,pernah mengenal SUNNAH dan mereka juga menjauhi SUNNAH ini dari umat islam.orang itu di tugaskan tuk mencounter orang2 yang mengHUJJAH firqahnya.

    Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata:
    “Barangsiapa mencari (ilmu, -pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.”

    umat islam mangkin bingung dari komentar2 satu sama lain yang menganggap dirinya yang paling benar.
    demi allah azza wa jalla tidak ada sanggup semua umat islam yang beri beban tuk MENELAAH antara HAQ dan BATHIL di antara kedua duanya mengunnakan DALIL hanya orang2 tertentu saja yang membedakan TAKWIL.

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-Ragha`ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulumuddin. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”

    sebuah contoh di atas perselisihan,semua di antara mereka mengunakan dalil,membuat umat islam sulit tuk menilai mana yang BATHIL mana yang HAQ?semuanya mengunakan dalil.
    makanya pentingnya umat islam menuntut ilmu agama karena menuntut ilmu agama adalah wajib.

    Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:
    “Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, -pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, -pen.) bagi mereka.”
    (An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11)

    demi allah ini murni dari tulisan ana,sebagian mengutip perkataan2 ulama salaf…………tidak ada satu katapun mengambil dari orang lain.walhamdulillah…….

  53. Assalamu ‘alaikum..

    judulnya aneh..
    isinya ana ga paham..afwan..

    semoga Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan hidayah ke jalan yang lurus kepada ana, antum, dan seluruh kaum muslimin..

  54. bro secondprince, saya senang membaca tulisan anda, walaupun tidak semua saya sepakati pendapat anda.

    saya memang sudah tidak mau terikat dengan label syalafi, syiah, sunni.. dsb, saya adalah Islam, tanpa embel2 lagi, penganut agama Allah yang diwahyukan kepada Muhammad SAW

    membaca tulisan anda menambah wawasan saya.
    semoga Allah menambah ilmu kepada anda, dan andapun tidak bosan mencurahkannya kepada setiap orang yang membutuhkan…

  55. […] dan sampah informasi? Mampukah semua blogger menerapkan pola diskusi yang sehat, bebas ad-hominem, fallacy, dan saling caci, demi mencapai solusi bersama, dengan melepaskan semua jubah, kesombongan dan […]

  56. anda juga mengklaim kebenaran 😀

  57. burit pada Januari 11, 2008 pukul 7:56 am
    @ gentoel he he he
    he , barangkali memang
    benar orientalis yang mempelajari ilmu islam
    itu ada, tapi kita sebagai muslim gak
    wajib ngikutin pendapat
    dia, karena walaupun
    dia pandai dalam ilmu
    hadist misalnya, tapi dia bodoh dalam tauhid, dan akar dari muslim adalah tauhid, apa kita masih maksain diri untuk ngikut pendapat orang yang bodoh tauhidnya, ketimbang ikut orang yang bagus tauhidnya…… hi hi hi hi hi , jangan samakan dengan ilmu dunia mas
    …….
    @ amed
    ya gak papalah, wong
    nama di dunia maya. mau kentut ……….. mau
    bantai, mau sejati ……..
    terserah
    @ second
    disini saya cuma bilang
    sesuatu itu harus pada
    tempatnya, dan dalam
    masalah agama mas
    saya kira peran ulama’ yang arifbillah itu
    perlu mas, bukan masalah lainnya ( posting ini kan kebanyakan mengulas
    masalah agama ) kan
    udah tak kasih contoh,
    mantri dan dokter ……….
    masak gak jelas karena
    bahasa yang saya
    gunakan bahasa pasaran .. hi hi hi hi hi hi
    lah definisi ulama’ aja
    anda gak faham, gimana mau tau dalamnya, musadhek
    disebut nabi oleh
    pengikutnya, iya to. tapi
    menurut orang
    banyak dia disebut
    orang gila, apa kita
    mau tetap menghargai
    pikiran gilanya ???????
    rancu ya …….
    #maaf nimbrung ini.
    @burit
    ada lho dokter/mantri yg ndak amanah, ‘main pukul’ bikin resep pun adanya apa, oh ngumpulin duiiiiiiit… jadinya si pasien ndak sembuh2. Oknum, smoga kagak banyak. Menurut saya para pinter/’ulama’ pun gitu juga. Dan penentunya pada orang itu sendiri, dia itu cenderung ke arah mana; kearah keimanan atau malah kearah kekufuran. Bisa dilihat pada perbuatnya, tulisannya dll. Dan menurut $aya kalo menyangkut agama, agama Islam, yg dipegang itu bukan perkataan orangnya, tapi dalil yg dipegang.
    (halah.. ngomong apa ya aku ini ?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: